NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku volume 7 Chapter 7

Chapter 7

Menjelang Kebangkitan Perak


Matahari yang mulai terbenam, menyinari sekeliling dengan semburat jingga senja.

Di sana, terdapat sebuah jalan kuno yang jarang dijamah manusia modern.

Dikelilingi pepohonan rimbun yang tumbuh liar, beberapa orang berjalan sembari mendengarkan suara alam serta kicauan burung dan hewan liar.

"Yang Mulia."

Salah satu pria dalam rombongan itu memanggil sosok yang berjalan di depan.

Sosok itu adalah wanita berambut violet pencinta buku yang pernah Ren temui dua kali.

Ia masih seperti sebelumnya, memeluk buku besar di dadanya dengan rambut violet yang bergoyang lembut seiring langkahnya.

"Mengapa kita tidak menghabisi keturunan Tujuh Pahlawan terlebih dahulu?"

"Habisnya, aku datang ke sini bukan untuk itu. Benar, kan?"

"Tapi mengapa? Menembus tenggorokan keturunan Tujuh Pahlawan adalah salah satu harapan utama yang dijunjung tinggi oleh Ordo, bukan?"

"Aku tahu. Tapi, ada hal yang harus kulakukan terlebih dahulu."

Wanita itu berbicara dengan nada tenang, seolah berkata bahwa pria itu seharusnya sudah paham.

Pria itu tampak ingin mendebat, namun ia tidak mengucapkan satu keluhan pun.

Entah karena rasa hormat atau takut, namun yang pasti, di dalam benak pria itu tertanam satu fakta mutlak:

Wanita ini jauh lebih kuat daripada siapa pun di sini. Bahkan di dalam Ordo Raja Iblis, ia adalah salah satu eksistensi puncak.

"Yang Mulia, sudah waktunya melakukan perapalan ulang."

"Hm, baiklah. Mari istirahat sejenak."

Wanita itu duduk di sebuah batang pohon tumbang dan menengadah menatap cahaya matahari yang menembus celah dedaunan.

Alam dan warna langit di sana terasa sangat damai dan indah.

Mereka sengaja berjalan di jalur kuno yang menjauh dari perkotaan, menyatu dengan alam yang asri.

Anehnya, tak satu pun monster muncul di sepanjang jalan.

Bukan karena monster-monster itu takut pada kekuatan mereka, melainkan karena sihir yang digunakan wanita tersebut.

Sihir itu memiliki efek kuat untuk menyembunyikan keberadaan mereka, baik dari monster, manusia, maupun deteksi alat magis.

 

The Ultimate Illusion (Fatamorgana Akhir)────.

Sebuah sihir unik yang menciptakan tirai mana untuk menutupi hawa keberadaan serta tekanan sihir secara total.

Karena sifatnya yang sangat khusus, hanya segelintir orang dalam sejarah panjang dunia ini yang terlahir dengan bakat untuk menggunakannya.

Catatan mengenai cara kerja dan jangkauan pengaruhnya pun sangatlah sedikit.

Namun, wanita itu merapalkannya dengan mudah tanpa perlu satu pun mantra.

Bakatnya tidak bisa lagi disebut sekadar luar biasa; itu adalah kejeniusan yang patut dicatat sejarah.

Meski begitu, sihir ini bukan berarti ia bisa menyusup sendirian ke ibu kota kekaisaran begitu saja.

Namun di tempat seperti ini, ceritanya berbeda.

"Tahukah kalian?"

Mendengar suara wanita itu, para pengikut Ordo Raja Iblis menoleh. Penampilan mereka sangat berbeda dengan anggota Ordo yang menyerang Leomel sebelumnya.

Beberapa dari mereka mengenakan pakaian formal layaknya ksatria terhormat, dan pembawaan mereka pun jauh lebih tenang.

"Lion King pernah memacu kudanya melewati jalan ini. Saat sedang singgah dengan pasukan kecil, ia diserang oleh pasukan musuh yang besar dan terpaksa melakukan pertempuran mundur. Dikatakan bahwa saat itu, meski dia seorang Raja, dia sendiri yang bertindak sebagai barisan belakang (rearguard)."

"Yang Mulia, mengapa Anda berbicara seolah... menyukai Lion King?"

"Maksudmu, aku terlihat tidak membencinya?"

"Benar. Saya tidak mengerti bagaimana kita bisa menyukai pendiri negara yang melahirkan Tujuh Pahlawan."

"Aku tidak menyukai Lion King. Tapi, aku juga tidak membencinya. Hanya itu."

"Mengapa Anda bisa berpikir demikian?"

"Entahlah. Mungkin karena aku memiliki pemikiran tersendiri."

Wanita itu tidak memberikan jawaban pasti. Ia hanya tersenyum samar.

"Semuanya belum jelas. Tapi suatu saat, aku akan menceritakannya padamu. Saat aku mendapatkan jawaban atas keraguan yang kupendam, pasti."

Setelah berkata demikian, wanita itu berdiri. Ia memeluk buku tebal di dadanya. Saat para pria itu melirik ke arah buku tersebut, si wanita berkata:

"Kembali ke topik awal, jangan hanya terpaku pada keturunan Tujuh Pahlawan saja."

"Maksud Anda, pengguna pedang hebat (Great Sword User) itu?"

"Benar. Dibandingkan keturunan Tujuh Pahlawan, aku justru lebih────"

Kalau tidak salah,

"────lebih tertarik pada anak bernama Ren Ashton itu."

Negara Leomel memiliki banyak bakat yang tak terhitung jumlahnya. Ada Chronoa, Lutreche, Estelle, hingga orang-orang dari Tujuh Keluarga Duke.

Belum lagi Vain dan keturunan Pahlawan lainnya, serta para pengguna pedang hebat. Militer mereka juga dipenuhi petinggi kuat, terutama Lion Holy Sanctuary yang tidak bisa diabaikan.

"Kami mengerti. Kami tidak tahu seberapa kuat dia, tapi dia memang pernah bertarung melawan Tuan Ophide."

"Bukan itu. Soal dia bertarung dengan Ophide atau tidak, itu tidak penting sekarang."

"Lalu──── apa yang Anda khawatirkan?"

"Dia itu aneh. Kejadian di Clausel dulu tidak bisa diabaikan begitu saja, kan?"

Suaranya tenang, namun mengandung kemauan kuat yang tidak bisa dibantah.

"Saat masih kecil, dia selamat setelah bertarung melawan Elf yang disegel... Yelkqu. Mungkin White Saintess melakukan sesuatu, tapi melihat apa yang terjadi setelahnya, dialah yang tidak bisa diabaikan."

Wanita itu membayangkan sosok Elf tersebut di benaknya. Dulu, pria itu pernah menghubunginya untuk mencari cara melepas segel di tubuhnya.

Meski pada akhirnya, ia tidak memiliki cara tersebut sehingga tidak ada informasi yang bisa diberikan.

"…Lagi pula, nama Ashton…"

Bukannya ia belum pernah mendengar nama keluarga itu, tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal.

Alasan itu ia simpan rapat di dalam hati. Wanita itu tersenyum tipis dan bergumam.

"────Anak itu juga terlihat seperti seorang pengguna pedang hebat."

Mengingat wajah remaja laki-laki yang pernah ia temui beberapa kali itu, berbagai pikiran muncul di benaknya.

Bukannya keinginan untuk membunuh, melainkan rasa ingin tahu. Ada alasan mengapa ia ingin tahu lebih banyak tentangnya, dan ia sangat berharap bisa──── bertemu dengannya lagi.

 

Tak lama kemudian, rombongan itu tiba di sebuah lapangan luas yang dikelilingi alam liar, dengan bangunan batu menjulang di tengahnya.

Wanita itu menyadari sampul buku di pelukannya bersinar redup. Ia mulai merangkai kata-kata dengan suara ringan seolah sedang bernyanyi.

"Nah Elfen, aku sudah sampai di sini."

Ia merentangkan kedua tangannya dan melangkah ringan menuju pintu bangunan. Namun, pintu itu bergeming dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.

Meski begitu, ia mulai menari dengan langkah elegan layaknya peri yang turun ke pesta dansa.

Bayangan hitam yang muncul dari jejak kakinya mulai bertambah banyak, berbaris rapi seperti pasukan yang patuh.

Wanita itu bertanya dengan anggun kepada bayangan-bayangan tersebut.

"Hei, siapakah aku?"

Suara yang terdengar seperti jeritan kebencian menyayat telinga itu bergema dalam bahasa kuno Benua Iblis.

────Engkau adalah pemangsa Dewa Agung.

 ────Engkau adalah peminum darah Dewa Agung.

"Lalu, siapakah kalian?"

────Kami adalah mereka yang memangsa Dewa Agung bersamamu.

 ────Kami adalah mereka yang meminum darah Dewa Agung bersamamu.

"Lalu, apa yang kalian inginkan?"

────Daging Elfen.

 ────Darah Elfen.

Wanita itu tertawa, menari, dan bernyanyi.

"Kalau begitu, mainkanlah. Perdengarkan jeritan anak-anak Elfen, biarkan aku mendengar kata-kata doa yang tak berbentuk itu."

Bayangan hitam pekat itu merambat menuju pintu yang tersegel.

Sepertinya butuh waktu lama sampai pintu itu terbuka, tapi itu hal sepele.

Apa yang telah ia cari sekian lama kini tertidur di balik pintu ini. Hal itu saja sudah cukup membuat hatinya berbunga-bunga.

 

Waktu sudah menunjukkan saat angin mulai bertiup sejuk.

"Kamu ditawari bergabung!?"

Saat senja, ketiga remaja yang kembali keluar menuju jembatan itu sedang membicarakan apa yang dikatakan Mistolfo kepada Ren.

Suara terkejut Licia membuat para turis di sekitar melirik ke arah mereka. Licia merasa malu dan merendahkan suaranya.

"Ditawari menjadi Palace Knight, kenapa bisa begitu…!?"

Fiona yang juga penasaran menambahkan.

"Kami pikir Anda sedang diberitahu informasi tentang Ordo Raja Iblis, tapi ternyata…"

"Iya… kenapa malah ditawari bergabung?"

"Sepertinya karena Elfenisme memiliki informasi yang tidak disebarluaskan, jadi mereka meminta imbalan," jawab Ren dengan senyum getir.

"…Jadi itu semacam syarat pertukaran ya."

Banyak informasi yang disimpan rapat oleh Tanah Suci.

Mereka paham jika ada syarat yang diajukan, tapi kedua gadis itu tetap merasa cemas.

Sementara itu, Ren yang ditawari tetap bersikap tenang.

"Aku memang sangat menginginkan informasi tentang Eve, tapi aku tidak punya niat menjadi Palace Knight."

Kedua gadis itu menghela napas lega mendengar perkataannya. Namun, karena Ren sangat ingin tahu tentang Eve, ia tetap berusaha menegosiasikan hal lain yang bisa ia lakukan. Saat itulah Mistolfo berkata:

'Maafkan aku. Aku hanya ingin tahu seberapa serius niatmu.'

Ternyata meski ditolak pun, Mistolfo memang berniat memberitahunya. Dan juga,

'Memang benar akan sangat menguntungkan jika Anda bersedia bergabung.'

Mistolfo mencampurkan niat tulusnya sembari menguji emosi Ren. Akhirnya, Mistolfo memberitahu bahwa Elfenisme sedang bergerak untuk berbagi informasi Ordo Raja Iblis dengan Leomel, serta sedikit informasi tentang Eve.

Meski ia mendengar tentang penyerangan saat itu yang dipimpin oleh Sang Pemimpin Ordo, karena mereka menyembunyikan identitas, yang diceritakan hanyalah betapa sengit dan tragisnya pertempuran tersebut.

"Sepertinya benar dugaan kita, Eve tidak bergerak bersama Ordo Raja Iblis. Sejak mencuri Elfen's Tear, kabarnya Eve tidak terlihat bekerja sama dengan mereka lagi."

"Setidaknya kita mendapat kepastian, tapi tetap saja informasinya sedikit ya."

"Apakah Sir Mistolfo mengatakan hal lain?" tanya Fiona.

"Hanya soal… betapa kuatnya dia."

Elfen's Tear disimpan di salah satu Kuil Agung.

Setiap Kuil Agung memiliki sistem pertahanan dari Elfenisme maupun negara setempat, yang terkadang memiliki penghalang (barrier) yang tidak kalah kuat dari istana negara besar.

Namun Eve menghancurkan semua kekuatan itu sendirian seolah-olah hanya pekerjaan sampingan.

"Mungkin aku sudah pernah bertanya sebelumnya… tapi seandainya kamu tahu di mana Eve berada, apa kamu benar-benar akan pergi mencarinya, Ren?" tanya Licia.

"Aku akan pergi. Pasti."

Meskipun tahu lawannya adalah sosok yang sangat kuat, Ren tidak ragu sedikit pun.

Walau begitu, musuhnya bukanlah lawan sembarangan. Ren tidak mungkin pergi sendirian, dan ia pasti akan melakukan persiapan yang jauh lebih matang dari biasanya.

Melihat Licia dan Fiona memasang ekspresi seolah ingin memprotes kebiasaannya yang nekat itu, Ren segera mengalihkan perhatian mereka. "Lihatlah," ucapnya.

Di depan mereka, pemandangan danau mulai berubah seiring datangnya malam.

Titik-titik cahaya yang mulai muncul saat kegelapan turun tampak berkilau seperti cahaya yang terlihat di dekat Gerbang Astral.

Langit pun mulai dihiasi gelombang cahaya, memberitahu semua orang bahwa Nights of Prayer telah tiba.

Fiona menengadah menatap langit.

"Cahaya di langit dan danau adalah mana khas daerah ini. Tapi, rasanya sulit dipercaya kalau hanya itu alasannya."

Awalnya acara ini dikenal sebagai Festival Akhir Perang.

Cahaya itu mungkin berasal dari jiwa para pejuang yang gugur di akhir perang panjang, atau doa dari orang-orang yang mengenang mereka. Banyak yang berpikir demikian.

Faktanya, Licia dan Fiona pun merasakan hal yang sama. Ketiganya bersandar di pagar jembatan, terpesona oleh kerlip cahaya yang memenuhi pandangan mereka.

"Semoga────"

White Saintess itu tiba-tiba bersuara, membuat kedua temannya menoleh.

"Semoga kita bisa datang melihat ini lagi bersama-sama nanti, ya?"

"Kalau begitu, tahun depan ya."

"Iya. …Tapi, saat itu aku sudah lulus."

"Aku dan Ren akan jadi kelas tiga. Tapi… aneh rasanya. Padahal aku merasa baru kemarin ujian akhir sebelum masuk sekolah selesai."

Setiap musim selalu ada kejadian, terkadang mereka bahkan harus mempertaruhkan nyawa. Sudah berkali-kali.

(…Satu tahun lagi.)

Ren adalah orang yang merasakan beban terberat dari kata-kata itu.

Mengenai alasan mengapa dua tragedi besar terjadi, ia merasa sudah jauh lebih dekat dengan kebenaran dibanding sebelumnya. Bukan hanya soal waktu, tapi terutama soal fakta yang tersembunyi.

Jika satu tahun dari sekarang, mereka masih bisa menghabiskan waktu seperti ini… Ren menyimpan doa tulus itu di dalam hatinya di hari Nights of Prayer ini.

Angin malam membelai pipinya dengan lembut. Cahaya mulai mereda setelah pukul sepuluh malam, namun jumlah turis tidak tampak berkurang.

Selama Nights of Prayer, Licia dan Fiona sibuk menyapa para bangsawan sebagai perwakilan ayah mereka.

 

Mereka bertiga memutuskan untuk menikmati pemandangan sedikit lagi sebelum pulang.

Saat mereka kembali ke kamar, waktu sudah menunjukkan larut malam, jauh melampaui jam mereka biasa pulang ke kediaman.

Sambil berjalan di lorong lantai atas menuju kamar masing-masing.

"Haa… sepertinya hari ini aku akan tidur nyenyak."

"Fufu. Apalagi selama Nights of Prayer tadi ada banyak sapaan formal ya."

"Iya. Jarang sekali aku mengerjakan tugas keluarga dari pagi sampai malam, tapi ini jadi pelajaran berharga."

"Karena itu, tolong istirahatlah dengan baik. Terutama Licia-sama."

"A-aku tahu kok!"

Licia tidak bisa membantah saat ditegur dengan tegas oleh Fiona.

Mereka terus mengobrol sampai tiba di depan kamar mereka yang bersebelahan.

Akhirnya Licia dan Fiona berpamitan, diikuti oleh Ren.

"Selamat malam, kalian berdua."

"Selamat malam. Sampai jumpa besok."

"Iya. Sampai jumpa besok pagi."

Setelah mengantar keduanya ke depan kamar, Ren kembali ke kamarnya yang tidak jauh dari sana. Seperti yang dibicarakan tadi, hari ini benar-benar hari yang sibuk.

Dari menghadiri pesta di pagi hari hingga pertemuan tak terduga dengan Mistolfo. Pria itu sepertinya sudah berangkat segera setelah itu, namun percakapan dengannya akan terus membekas di ingatan Ren untuk sementara waktu.

"…Aku tidak menyangka akan ditawari bergabung."

Ren bergumam mengingat interaksi tak terduga itu. Kemudian ia meregangkan tubuhnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah rasa lelahnya luruh bersama air, ia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dalam waktu kurang dari satu jam.

Begitu kelopak matanya mulai memberat, ia mematikan lampu magis di samping tempat tidur.

Akan jadi hari seperti apa besok? Sebelum kehilangan kesadaran, Ren terus memikirkan hal itu.

 

Dan────.

Beberapa jam kemudian, cahaya yang menembus celah gorden membangunkan Ren.

Ia biasanya tidur nyenyak setelah latihan di Lion Holy Sanctuary, tapi hari ini rasanya ia tidur lebih lelap lagi. Saat melihat jam, ternyata masih lebih awal dari yang direncanakan.

(…Masih pagi, tapi sebaiknya aku bersiap-siap dengan santai.)

Licia dan Fiona tertarik pada sebuah restoran di jalan luar, jadi mereka berjanji untuk sarapan di sana.

Tak lama kemudian, Ren meninggalkan kamarnya.

Setelah sarapan sesuai janji, ketiganya berjalan-jalan tanpa tujuan di sepanjang jalan selagi udara masih sejuk.

Apa yang harus mereka lakukan hari ini?

Mereka bisa pergi ke tempat yang belum mereka kunjungi, atau sekadar bersantai di penginapan sebagai hari libur…

Sembari mengobrol, mereka berdiri di pagar jembatan, mendengarkan suara aliran air danau.

"Mau masuk ke suatu tempat dan mengobrol?" tanya Ren.

"Boleh juga. Di sini juga enak, tapi ada toko yang belum kita datangi."

"Kalau begitu, mari kita ke toko yang kalian bicarakan kemarin."

Saat Ren mulai melangkah meninggalkan jembatan, di saat yang hampir bersamaan.

Di langit daerah yang mulai ramai oleh orang-orang ini────.

"────Itu!"

Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya biru pucat melesat di angkasa. Cahaya itu muncul dari arah Gerbang Astral dengan kekuatan yang seolah ingin menembus langit.

 

Sepuluh menit sebelumnya, di lapangan depan Gerbang Astral────.

Vain sedang berjalan-jalan pagi bersama Sarah dan Kaito ketika ia bertemu kembali dengan anak perempuan tempo hari.

Anak yang mendapatkan boneka dari Kaito di permainan tembak-menembak.

Anak itu berlari menghampiri Vain dan yang lain, sementara ayahnya tampak panik.

"M-mohon maaf! Kemarin saya tidak tahu siapa Anda dan telah berlaku tidak sopan…! Ayo, kamu juga harus memberi salam dengan benar!"

"Kakak, selamat pagi! Terima kasih buat yang kemarin… ya!"

"D-duh! Beri salam yang benar seperti yang Ayah bilang…!"

Sepertinya sang ayah baru mengetahui identitas asli Kaito dan yang lain belakangan, sehingga ia tampak sangat gugup.

Namun, anak itu tidak terlalu mengerti seberapa tinggi status bangsawan Kaito, sehingga ia tidak terlalu menanggapi teguran ayahnya.

Dan ketiganya pun tidak meminta perlakuan yang terlalu formal.

"Kami tidak keberatan kok. Jadi jangan terlalu dipikirkan," ucap Kaito sambil berlutut di depan anak itu agar sejajar dengan matanya.

"Selamat pagi. Apa boneka kemarin sudah dibawa pulang?"

"Iya! Aku tidur bareng bonekanya di kamar penginapan!"

"Syukurlah. Jaga baik-baik ya."

"Kaito? Boneka apa yang kamu bicarakan?" tanya Sarah.

"Waktu kita main terpisah kemarin di kedai. Anak ini kelihatannya sangat ingin boneka itu, jadi aku ambilkan di permainan tembak-menembak."

"Hee, ternyata kamu punya sisi baik juga ya."

Mendengar pujian Sarah yang dibalas tawa bangga Kaito, anak perempuan itu ikut tertawa senang.

"Jadi, kalian jalan-jalan pagi hari ini?"

"Iya! Ayah bilang pagi-pagi itu sejuk dan enak!"

"Yah, benar juga. Kalau begini rasanya────"

Sebelum Kaito yang sedang bersemangat itu menyelesaikan kalimatnya… tiba-tiba ia merasakan sebuah hawa keberadaan dan langsung terdiam.

Ia berdiri dan melihat ke sekeliling dengan waspada. Tidak ada perubahan apa pun di sekitarnya.

Namun, mengikuti langkahnya, Vain dan Sarah pun mulai memperhatikan keadaan sekitar.

Anak perempuan itu bertanya dengan takut-takut.

"────Kakak?"

"…Tunggu sebentar ya."

Kaito tersenyum menenangkan pada anak itu, lalu ia menatap ke arah Gerbang Astral, bahkan lebih jauh lagi ke dalamnya.

Ia melangkah maju seolah ingin melindungi anak itu dan ayahnya sembari memberitahu teman-temannya.

"Vain, Sarah."

"Aku tahu."

"Tenang saja. Kami juga merasakannya."

Ada yang aneh. Sebuah keanehan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata… identitas aslinya adalah.

"Apa ini? Mana yang tercampur di udara ini────!?"

Tiba-tiba, muncul sebuah tekanan luar biasa yang bahkan membuat sesak napas.

Ketiganya segera bersiap menghadapi tekanan itu sembari memasang posisi kuda-kuda ke arah Gerbang Astral.

Orang-orang lain yang sedang berjalan-jalan pun mulai merasakan tekanan tersebut, dan lapangan mulai riuh.

Hal itu terjadi hanya dalam hitungan detik. Mana yang mengapung di kolam depan Gerbang Astral bersinar lebih terang dari sebelumnya──── lalu sebuah cahaya kuat yang menembus angkasa ditembakkan dari balik Gerbang Astral.

Kemudian, Gerbang Astral mulai memancarkan cahaya serupa, dan meledak tepat saat Vain dan Sarah menghunus pedang mereka.

Sesaat sebelum itu, para keturunan Tujuh Pahlawan berteriak.

"…Sarah! Kita harus melindungi semua orang!"

"Iya!"

Sebelum puing-puing yang beterbangan dan gelombang kejut akibat ledakan gerbang mengenai orang-orang.

Di samping kedua temannya yang menangkis dengan pedang, Kaito menghentakkan kakinya ke tanah dan maju ke depan mereka.

"Hal seperti ini adalah tugasku, kan!"

Bersamaan dengan tinjunya yang menghantam jalan berbatu dengan kuat, ia menciptakan dinding mana yang penuh cahaya.

Sambil menahan gelombang kejut dan puing-puing, mereka mengernyitkan dahi melihat keanehan yang terus terjadi.

Namun, ini belum berakhir. Keanehan beruntun seolah akan muncul dari bawah jalan berbatu di lapangan tersebut.

Ketiganya secara bersamaan menjauh dari Gerbang Astral. Mereka harus melindungi orang-orang di sini. Tepat saat para keturunan Tujuh Pahlawan mulai bergerak untuk bertindak.

Angin berhembus di samping Sarah bersama dengan suara yang ringan.

"────Apa yang sebenarnya terjadi sekarang?"

Itu adalah suara seorang gadis. Tak lama kemudian, hawa dingin yang luar biasa melesat ke depan, dan tekanan pedang yang disertai angin putih mengamuk.

Setelah gelombang dua warna berhasil meredakan keanehan tersebut, Sarah dan yang lain melihat sosok tiga orang yang baru saja muncul.

"…Terima kasih. Berkat kalian sepertinya semua orang selamat."

Sosok yang ia lihat adalah Ren dan dua orang lainnya. Ketiganya berada di tempat yang agak jauh, namun segera datang begitu merasakan keanehan.

"Iya. Syukurlah kalau begitu, tapi────"

"Situasi ini… soal Gerbang Astral, kami juga tidak mengerti."

Licia dan Sarah saling bertukar kata, sementara di samping Ren yang berjalan ada Fiona.

Mereka meningkatkan kewaspadaan atas apa yang terjadi, dan melihat ke arah kolam yang tadinya berada di depan Gerbang Astral saat gerbang itu masih utuh.

Air yang terus memancar tidak berubah. Namun, air yang kehilangan arah mulai meluap ke jalan berbatu.

Ren mengernyitkan dahi dan berlutut, lalu menyentuh air yang mengalir di jalan berbatu. Saat menyentuh air, ia merasakan mana aneh yang berbeda dari kemarin. Sepertinya Fiona juga merasakan hal yang sama.

"…Ada yang aneh."

Keanehan yang dirasakan dari ujung jarinya terucap begitu saja.

"Kita harus membawa orang-orang di sini dan segera menjauh."

"Benar. Sekarang juga────"

Sebelum Fiona menyelesaikan kalimatnya, semuanya dimulai. Jalan berbatu hancur di sana-sini, dan cahaya terang mulai bocor dari dalam tanah.

Guncangan besar yang terjadi mengundang teriakan histeris dari orang-orang, dan ekspresi Ren serta yang lain berubah drastis.

Ren menatap Vain dan mereka saling mengangguk, berbagi tugas tanpa perlu kata-kata. Namun──── keanehan baru bukan hanya soal perubahan medan.

Ren adalah orang pertama yang menyadari hal itu.

Tak ada waktu untuk menjelaskan. Dia menghentakkan kakinya kuat-kuat ke depan, merangsek mendekati pusat anomali... tempat air itu meluap.

Beberapa saat kemudian, yang lainnya pun mulai bergerak, tapi—

"Jangan ke sini!"

Tepat saat Ren berteriak.

Lantai batu di tengah alun-alun melonjak naik membentuk bola, mengurungnya. Dia sempat menoleh sekilas ke arah Licia dan Fiona.

"────!"

Dia menggumamkan sesuatu.

Cahaya yang muncul sembari menghancurkan permukaan alun-alun itu melonjak tanpa batas, dalam sekejap mencapai langit.

Fenomena itu dibarengi dengan gelombang kejut yang belum pernah ada sebelumnya, serta kekuatan aneh yang sanggup merenggut stamina dan mana siapa pun yang menyentuhnya secara instan.

Tepat sebelum cahaya itu meluas ke seluruh alun-alun, Ren menyelimuti Mithril Magic Sword -nya dengan gelombang dua warna dan mengayunkannya tinggi-tinggi.

Gelombang dan cahaya.

Sembari merasakan kehadiran mana perak dan es yang membeku di punggungnya, pemuda itu pun tertelan oleh cahaya yang menyilaukan.

Di tengah benderang yang tak membiarkan siapa pun mendekat, kesadaran Ren perlahan-lahan menjauh.

◇◇◇

Itu adalah suara seseorang yang tidak Ren kenal.

Sebuah suara yang didengar olehnya yang telah kehilangan kesadaran.

“Kamu datang lagi ya.”

Ren merasa suara itu terdengar sangat dekat.

Meski sedang terlelap, suara itu terdengar sangat jelas. Suara misterius yang terasa akrab... namun terasa asing di saat yang sama.

Tapi suara itu segera menghilang. Yang terdengar kemudian adalah suara gemericik air yang bercampur dengan getaran tanah yang samar.

Mendengar suara-suara itu, Ren menggerakkan ujung jarinya sedikit. Kelopak matanya mulai bergetar, lalu dia perlahan bangkit duduk.

"────Di mana ini?"

Itu adalah tempat yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Seluruh pandangannya dipenuhi oleh struktur batu yang rumit layaknya labirin.

Sekelilingnya terbagi menjadi lantai-lantai yang kompleks, dengan aliran air yang terlihat di berbagai sudut.

Sekilas tempat ini tampak seperti saluran air bawah tanah, tapi ukurannya terlalu luas untuk itu.

Terdapat ukiran-ukiran indah di berbagai tempat, serta pilar-pilar yang menjulang dari lapisan terbawah hingga hampir mencapai permukaan.

Semuanya mengingatkan Ren pada distrik kuil di Ibu Kota Kekaisaran yang dia kunjungi tempo hari.

Ibaratnya, ini adalah sebuah kuil raksasa yang berada di bawah tanah.

(Lalu, suara yang terdengar tadi...)

Dia tidak tahu suara siapa itu, tapi sekarang bukan saatnya untuk berpikir terlalu dalam.

Hal yang harus dipikirkan adalah kronologi bagaimana dia bisa terjebak dalam situasi ini.

...Seingatku tadi aku berada di alun-alun tempat Gerbang Astral berada... ...Aku seharusnya sedang menangani anomali yang mendadak itu.

Sembari berusaha keras mengingat kejadian tersebut, Ren melirik jam tangannya.

Belum lama waktu berlalu sejak saat itu. Hal tersebut menunjukkan bahwa belum lama sejak Ren jatuh ke bawah tanah ini.

Seiring berjalannya waktu sejak dia terbangun, ingatannya pun semakin jelas. Alun-alun itu runtuh segera setelah Ren menahan ledakan tersebut.

Licia, Fiona... Vain dan yang lainnya juga telah berusaha keras, tapi Ren maju paling depan demi menjauhkan mereka semua.

Mengingat tak ada siapa pun di sini selain dirinya, dia segera menyadari bahwa dia berhasil melindungi mereka semua.

Dia berdiri dan sengaja berbicara keras-keras untuk merapikan pikirannya. Tentu saja, tidak ada suara yang menyahut.

"Kenapa aku bisa pingsan ya? Padahal kepalaku tidak terbentur sesuatu, dan aku juga tidak menggunakan mana secara berlebihan..."

Padahal dia hanya mengerahkan Authority Blade sekuat tenaga.

Ren tidak selemah itu sampai kehilangan kesadaran hanya karena hal sekecil ini. Dia sendiri memahami batas kemampuannya, karena itulah keraguan tetap tersisa.

Jika ada satu faktor yang memutarbalikkan premis tersebut, hanya ada satu kemungkinannya.

"────Jangan-jangan, cahaya itu?"

Hanya dengan menyentuh sedikit cahaya itu saja, dia didera sensasi seolah seluruh tenaga di tubuhnya terkuras habis.

Berbeda dengan Ren, teknik bertarung yang digunakan Licia di permukaan adalah Star Slash. Itu adalah teknik tingkat tinggi yang membuktikan bahwa seorang pengguna pedang hebat telah mencapai level Master Pedang, dan seharusnya memiliki sifat unik untuk melenyapkan sihir.

Namun, cahaya itu tetap tidak bisa dilenyapkan. Ren mengingat hal itu dengan jelas.

Itu berarti cahaya tersebut bukan berasal dari sihir.

"Kalau begitu, ini kekuatan alat sihir────"

Misalnya, cahaya itu tercipta dari sesuatu seperti alat sihir atau artefak suci.

Tapi kekuatannya terlalu besar, dan skala dampak yang ditimbulkannya pun terlalu masif.

...Tidak. Sedikit banyak, hawa dan kekuatannya mirip dengan kekuatan penyembuhan kemarin.

...Tapi kalau begitu, itu malah kontradiktif.

Ren juga mendapatkan penyembuhan dari kekuatan itu, tapi mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Pertanyaan semakin dalam, namun sulit menemukan jawabannya di sini.

"Aku ingin melihat keadaan yang lain, tapi..."

Karena alun-alunnya runtuh, dia seharusnya bisa melihat dunia luar jika menengadah. Namun meski dia menatap ke atas dengan tenang, tidak ada cahaya luar sama sekali.

Sebagai gantinya, yang terlihat adalah kabut tebal bercahaya di ruang yang sangat tinggi.

Kabut bercahaya itu sangat mirip dengan cahaya yang dia hadapi di permukaan.

Dia ingin menghindari kontak dengannya, dan menghancurkannya dari bawah tanah sepertinya akan berdampak besar pada lingkungan sekitar.

...Apa karena aku berhasil menekan cahaya itu? Makanya sekarang kondisinya tenang.

Meski begitu, dia merasa sebaiknya tidak gegabah mencampuri hal itu.

Semakin dia menajamkan matanya, semakin terlihat mana yang begitu pekat dan belum pernah dia lihat sebelumnya.

Jika dia memicu hal itu secara sembarangan dan menghancurkan permukaan sekali lagi...

"...Aku harus mencari jalan keluar lain."

Ren menajamkan indranya, dan dia merasakan aliran angin yang samar.

Dia berdiri dan sekali lagi memastikan tidak ada luka di tubuhnya, lalu mulai melangkah menuju arah datangnya angin.

Seperti yang dia pikirkan saat bangun tadi, ruang ini memang terasa seperti kuil.

Struktur rumit yang saling silang ke atas dan bawah tidak menghilangkan kesan labirin, namun keyakinannya bahwa tempat ini mungkin adalah sebuah kuil semakin menguat.

Langkah kaki satu orang menimpali suara air dan getaran tanah yang samar.

Meskipun tidak bisa dikatakan terang, cahaya dari fenomena tadi cukup membantunya melihat jalan di kaki.

Saat sedang mencari aliran angin sembari menaiki tangga, Ren menghentikan langkahnya di bordes tangga.

Saat dia berdiri di atas lantai batu itu, sebuah lambang yang sebelumnya tidak ada muncul dengan cahaya redup.

Sembari terkejut, dia merasa pernah melihatnya. Tak lama kemudian, dia teringat kejadian beberapa waktu lalu.

"Lambang ini...!"

Ini pasti milik Micsell, Dewa Permainan, yang pernah dia lihat di persembunyian Müdi.

Setelah menyadari hal itu, Ren mengalihkan pandangannya ke pintu besar di ujung tangga, dan di sana pun muncul lambang yang sama.

Angin berhembus menuju balik pintu itu... tampaknya itu menuju ke luar.

Dia melangkah ke depan pintu dan menyentuhnya, namun didorong atau ditarik pun, pintu itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.

Dalam situasi ini, tanpa ragu untuk merusak pintu, Ren menyiapkan Mithril Magic Sword-nya.

Tepat sebelum dia mengayunkan ujung pedangnya ke bawah, kata-kata yang tertera di samping lambang Micsell melintas di benaknya.

Itu adalah bahasa khusus yang disebut Bahasa Naga. Namun, Ren telah diberitahu oleh Ragna apa artinya.

Seingatnya—

"...'Berharaplah, nyanyikanlah, permainan Micsell'."

Tepat saat Ren menggumamkannya seolah teringat sesuatu──── pintu yang menghalangi jalannya bersinar redup dan terbuka perlahan.

Ren sekarang mengerti mengapa kata-kata itu ada bersama lambang Müdi.

Mungkin itu diperlukan untuk membuka pintu ini. Kata-kata yang didapatkan Müdi itu kini berada di tangan Ren setelah sekian lama.

"Tak kusangka, aku akan tertolong di tempat seperti ini."

Dengan senyum getir, dia melangkah maju.

Sejak pintu itu terbuka, aliran angin terasa semakin kuat. Dia harus segera keluar sesegera mungkin.

Didorong oleh keinginan itu, Ren terus melaju sementara pemandangan di sekitarnya perlahan berubah.

Material batu yang ditumbuhi lumut mulai menghilang.

Setelah melewati koridor dan tangga yang tersembunyi di balik pintu, Ren disambut oleh desain yang jauh lebih kental dengan nuansa kuil dibanding sebelumnya.

Pemandangan yang membentang di sana terasa kuno namun agung, benar-benar sebuah kuil sejati.

Dinding, lantai, dan langit-langit dipenuhi oleh batu yang dipoles mengkilap.

Permata besar tertanam di dinding dengan jarak yang teratur, bertugas sebagai lampu yang menerangi bagian dalam.

Sampai di sini, Ren mulai berpikir bahwa spekulasi dalam hatinya adalah benar.

...Kuil yang pernah dibicarakan bersama Senior Leonar dan yang lainnya?

...Jadi tempat ini memuja Dewa Permainan... begitu ya.

Mengingat pintu itu terbuka karena lambang yang dilihat di bawah tanah dan kata-kata yang diucapkan Ren, pemikiran itu terasa wajar.

Dia tidak tahu alasan mengapa lambang itu muncul setelah kedatangannya.

Jika lambang itu juga muncul dalam penyelidikan Biro Misteri, dia seharusnya sudah mendengar perkiraan bahwa kuil itu memuja Dewa Permainan atau sesuatu yang berhubungan dengannya.

Karena tidak ada pembicaraan seperti itu sama sekali, Ren menyadari bahwa lambang tersebut tidak ditemukan dalam penyelidikan Biro Misteri.

"...Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu."

Lagi pula, dia tidak punya kemewahan untuk berpikir santai.

Jangan-jangan, cahaya tadi ada hubungannya dengan tempat ini?

Sembari memikirkan beberapa hal, Ren melangkah dengan suara yang bergema di koridor kuil.

Dia mulai berlari lagi dan memasuki sebuah aula besar.

Tempat yang bisa dimasuki lewat tangga ganda itu sepertinya memiliki koridor serupa di sisi yang berlawanan dari arah kedatangan Ren.

Tepat saat Ren menginjakkan kaki di tangga ganda tersebut.

"Sesuai keinginan Anda."

"Yang Mulia. Kami undur diri."

Suara para pria terdengar dari balik aula, diikuti oleh suara seorang wanita.

"Terima kasih. Kalian segera keluarlah."

Wanita yang tadinya membelakangi Ren di depan pintu aula itu... baru saja menyadari kedatangan Ren dan berbalik.

Meski suara mereka tidak terdengar satu sama lain, kedua orang yang saling bertatapan itu mengerti apa yang diucapkan lawan bicaranya.

"...Kamu."

"...Anda."

Namun, wanita itu segera menempelkan tangannya ke pintu dan membukanya.

Melihat kabut yang mengandung cahaya biru pucat menyebar di kakinya, wanita itu maju tanpa ragu.

Sebelum Ren sempat merangsek maju, wanita itu sudah menghilang ke balik pintu.

Pintu tertutup, dan para pria yang tersisa di aula menatap Ren.

"Siapa kau?"

"Ah. Aku juga baru saja mau menanyakan hal yang sama."

Tanpa jeda, Ren menjawab sembari menuruni tangga.

Langkah kakinya pelan, setapak demi setapak.

Namun, para pria itu menyadari aura keberanian yang tersembunyi di balik langkah tersebut, sehingga mereka mengernyitkan dahi dan mengencangkan tubuh sembari mengamati situasi.

...Mustahil tidak ada hubungannya dengan cahaya tadi. ...Hanya perampok? Ataukah...

Meskipun belum ada bukti pasti, dia bisa menduga. Tidak mungkin orang yang sanggup memicu kekacauan skala besar seperti itu hanya perampok biasa.

Lagipula, wanita tadi adalah────

"Minggir dari sana."

"Bodoh sekali."

"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa sampai ke sini, tapi aku tidak akan membiarkanmu mengganggu."

Tiba-tiba, salah satu dari pria itu merangsek maju tanpa peringatan.

Pria itu bergerak secepat angin, menghunus dua bilah pedang di depan mata Ren dan mengayunkannya ke atas.

"Sendirian di jarak sedekat ini... kau terlalu meremehkan kami!"

Saat itu, mata Ren membelalak sesaat.

Dia tidak melewatkan fakta bahwa ketika pria itu mencoba melenyapkannya, segel Ordo Raja Iblis di tubuhnya benar-benar mengeluarkan kekuatannya.

Pria itu mengira dia sudah mengambil inisiatif serangan sepenuhnya.

Namun, dia menyadari bahwa dia sedang bertatapan mata dengan pemuda di depannya. Itu artinya, gerakannya saat ini sudah terbaca sepenuhnya.

"Aku sudah memutuskan untuk tidak akan pernah melepaskan kalian, Ordo Raja Iblis."

"Mustahil!? Masa, kecepatan ini...!?"

Yang sampai lebih dulu daripada jawaban adalah satu tebasan dari Mithril Magic Sword.

Pria itu nyaris tidak sanggup menangkisnya dengan pedang yang dia ayunkan. Namun dalam sekejap, kedua pedangnya hancur berkeping-keping.

Di depan serpihan pedang yang berhamburan, hal terakhir yang dilihat pria itu adalah sepasang mata tajam milik si pemuda sebelum tubuhnya menghantam dinding dengan keras.

Sensasi udara yang terkuras habis dari dalam tubuhnya seketika menyusul,

"Guh────"

Setelah satu-dua napas yang tersengal, dia kehilangan kesadaran.

Suara dingin Ren yang sudah memahami bahwa mereka adalah Ordo Raja Iblis memudar di udara.

"Tapi... kali ini berbeda."

Bukan hal aneh bagi penganut Ordo Raja Iblis untuk membawa tongkat sihir atau pedang. Namun, kekuatan mereka bisa terasa hanya dengan berdiri di sana.

Hal yang terlintas di benak Ren adalah para Master Pedang yang pertama kali beradu pedang dengannya. Itu adalah pemandangan saat dia menghadapi Kai dan Maydus di Pegunungan Baldor.

Pakaian mereka pun bukan jubah yang biasa dia lihat, melainkan pakaian ksatria yang elegan dan berwibawa.

Sembari Ren berpikir, para penganut Ordo itu mencoba merebut titik butanya dengan kecepatan yang tak kasat mata.

Ada yang menghunus pedang, menyiapkan sihir, dan ada pula yang tiba-tiba menyiapkan busur.

Salah satu dari mereka, yang kemungkinan memiliki kekuatan setingkat Master Pedang papan atas, merangsek paling kuat ke depan mata Ren.

Ini tidak normal.

Menurut Ren, itu berarti ada nilai yang cukup besar di tempat ini sampai mereka mengerahkan personel sebanyak ini.

Sama seperti saat mereka mengincar Fiona dan yang lainnya di Pegunungan Baldor.

Pemuda pengguna Magic Sword itu memperdalam pemahamannya dengan tenang, lalu—

"Haaaaaaaaaaaa!"

Satu tebasan.

Sihir pun buyar. Bahkan tak ada satu pun denting pedang yang sampai padanya.

Tak sanggup menahan tekanan dari satu tebasan itu, para penganut Ordo itu terpental dan jatuh pingsan di atas lantai batu yang hancur.

Ren segera berlari ke depan pintu dan menempelkan tangannya, meraba-raba sekeliling untuk mencari sesuatu... tapi dia tidak menemukan apa pun.

"Aku tidak boleh membiarkannya lolos...!"

Apa yang akan dilakukan wanita yang masuk ke dalam sana? Mengingat anomali yang terjadi di Gerbang Astral, firasat buruknya semakin menguat.

Tak lama kemudian, sebuah ide terlintas di benaknya berkat kekuatan Magic Sword tertentu────

◇◇◇

Licia dan Fiona yang tertinggal segera mencari Ren, memusatkan perhatian pada pusat alun-alun yang runtuh.

Di sana, puing-puing yang hancur terapung seperti tanaman air, dan sekelilingnya dipenuhi oleh gelombang cahaya.

Cahaya itu tidak boleh disentuh. Licia dan Fiona merasakan hal itu dengan kuat melalui insting mereka, namun mereka mendekati pusat alun-alun yang runtuh tanpa rasa takut.

Untungnya, orang-orang di sini berhasil dilindungi.

"Tadi itu, kamu lihat?"

"Iya. Saat runtuh, ada ruang luas di bawah tanah."

Meski hanya sekejap, tempat itu benar-benar ada.

Kedua gadis itu tidak melupakan fakta bahwa itu adalah ruang luas yang pasti buatan manusia, dan mereka sangat menyadarinya.

Tapi, ada hal yang jauh lebih membekas di hati mereka. Yaitu kata-kata yang diucapkan Ren saat menoleh ke arah mereka.

'Kaburlah dari sini.'

Suaranya tidak terdengar karena gemuruh ledakan, tapi mereka tahu dari gerak bibir dan gelagatnya.

"...Dia bilang kabur ya."

Fiona dan Licia berbagi perasaan yang tak terlukiskan secara diam-diam. Meskipun mereka memahami keinginan Ren, mereka tidak bisa menuruti permintaan itu.

Padahal mereka sudah berkali-kali ditolong olehnya, mustahil mereka akan pergi dari sini meninggalkan dia sendirian... Mereka benar-benar tidak bisa melakukannya, dan tidak mau melakukannya.

Di sisi lain, mereka juga memperhatikan keadaan sekitar. Mustahil mereka tidak melakukan hal yang sudah dilindungi oleh Ren.

Tepat saat mereka berpikir harus segera memimpin evakuasi, para ksatria dari keluarga Count datang.

"Semuanya! Segera menjauh dari tempat ini!"

"Menuju ke dermaga kapal sihir! Cepat!"

Melihat Vain dan yang lainnya juga ikut membantu, Licia paham bahwa rakyat bisa dipercayakan kepada mereka.

Fiona pun sama, dia memikirkan adanya orang-orang yang memiliki tugas di sini, dan apa yang harus mereka lakukan.

"Kalian berdua! Di mana Ren!?"

Sarah segera menghampiri mereka berdua.

Dia sempat berpikir yang bukan-bukan.

Fakta bahwa Ren tidak ada di sini, kemungkinan jatuh ke lubang bawah tanah, dan lubang itu dipenuhi oleh pemandangan seperti ini.

Namun, tidak ada raut keputusasaan di wajah Licia dan Fiona.

Ekspresi yang mereka tunjukkan adalah keberanian yang bahkan sanggup menggetarkan hati keturunan Tujuh Pahlawan.

Tanpa menjawab sepatah kata pun sembari menatap gelombang cahaya, seorang ksatria menghampiri Sarah dan kedua gadis itu.

"Kalian bertiga juga, cepatlah!"

Meski didesak, Licia bertanya. Dengan suara yang sangat tenang sampai siapa pun akan meragukan pendengaran mereka sendiri.

"...Bawah tanah alun-alun ini, terhubung ke mana?"

"D-dalam situasi seperti ini, jangan menanyakan hal────!"

"Sudah beri tahu saja. Kumohon."

"Mohon beri tahu kami. Ke mana arah bawah tanah ini?"

Anggun dan cantik, serta murni tanpa noda.

Ekspresi dan suara kedua gadis yang sangat cocok dengan kata integritas itu membuat sang ksatria terintimidasi tanpa sadar.

"B-bawah tanah ini adalah terowongan bawah tanah yang digunakan pada zaman Lion King! Digunakan untuk penyimpanan logistik saat perang dan mobilitas ke daerah sekitar... terowongan ini juga terhubung ke bangunan bawah tanah kuno!"

Tampaknya itu adalah tempat lama yang hanya dikelola secara minimal di zaman modern.

Bangunan bawah tanah kuno? Dia penasaran, tapi ada satu hal lagi yang harus ditanyakan.

"Di mana pintu masuk-keluar terdekat?"

Pintu masuk-keluar hampir semuanya sudah ditutup, dan yang tersisa hanya sedikit. Salah satunya... pintu terdekat adalah.

"Teruslah menyusuri jalan yang menuju Gerbang Astral tanpa berbelok...!"

"Begitu... Jadi di depan sana ya."

"Terima kasih sudah memberitahu kami."

Kedua gadis itu menjawab dengan datar sembari menatap jalan di depan Gerbang Astral yang sudah tak berbekas.

Selain saluran air berbatu, ada jalan berbatu serupa di kiri dan kanannya yang dibangun mengapit saluran tersebut.

Itu adalah jalan misterius yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun di sekitarnya.

Keduanya mulai berjalan menghindari bagian tengah alun-alun.

Tanpa ragu, mereka menuju ke depan Gerbang Astral dan menangkap pemandangan di sana dalam penglihatan mereka.

"T-tunggu! Licia!"

Siapa pun yang melihat pasti tahu apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.

Tapi, tak ada yang terpikir untuk menghentikannya.

Sarah, Vain, Kaito... semuanya mencemaskan Ren, dan mereka pun merasa gelisah bukan main memikirkan nasib Ren saat ini.

Namun, setiap orang memiliki tugas masing-masing.

Mendengar suara Sarah dari belakang, White Saintess itu menoleh.

"Sarah dan yang lainnya tolong urus kota ini. Sebagai keturunan Tujuh Pahlawan, lakukanlah tugas kalian."

"Kami juga akan segera kembali."

Mereka tidak bisa mengerahkan seluruh kekuatan yang ada di tempat ini sekarang demi satu orang saja.

Namun, seberapa penting satu orang itu──── seberapa berharganya dia bagi Licia dan Fiona.

Itu adalah konsep yang berada di dimensi yang sama sekali berbeda.

Keduanya segera berlari kencang. Tanpa memberi kesempatan bagi Sarah dan yang lainnya untuk membalas.

Tentu saja ada kemungkinan bahaya yang tak terduga muncul dengan menuju ke depan sana.

Keduanya memahami hal itu, namun langkah kaki mereka tidak berhenti.

"Jika kejadian tadi adalah perbuatan manusia, tidakkah menurutmu ada kemungkinan seseorang sedang menunggu di depan sana?"

"Memangnya kenapa? Tidak ada hubungannya kan."

Licia menjawab instan sembari membelah jalan yang dikelilingi alam itu.

"Jika memang ada yang menunggu, kita tinggal bertarung saja."

"Iya. Aku juga berpikiran begitu."

"Baguslah. Kalau begitu tidak perlu ragu lagi."

Namun mereka penasaran mengapa situasi ini bisa terjadi. Kekacauan sehebat itu.

Satu-satunya yang terpikir adalah Ordo Raja Iblis, tapi apakah mereka pernah memicu kekacauan sedahsyat ini sebelumnya?

Jika Ordo Raja Iblis terlibat, ini adalah kekacauan yang bahkan melampaui serangan di perairan dekat Eupeheim.

"Jika ini Ordo Raja Iblis, jangan-jangan mereka punya tujuan yang lebih besar dari yang kita bayangkan!"

"Cahaya tadi juga bukan sihir atau semacamnya kan! Sebaliknya, rasanya seperti kekuatan tempat ini sendiri!"

"Mungkin ini mirip dengan saat Ordo Raja Iblis memanfaatkan kekuatan artefak suci...!"

"Katanya ada kuil di depan sana, jadi mungkin saja ada hubungannya!"

Misalnya, perbuatan seorang Pendeta seperti Ophide yang pernah dihadapi Ren.

Jika benar begitu, sudah pasti itu adalah musuh yang sangat kuat, tapi dugaan seperti itu sudah terlambat sekarang.

Pada saat mereka mengerahkan kekuatan semacam itu, mereka bukan penganut Ordo Raja Iblis biasa.

"Tapi aneh! Kejadian tadi hanya terlihat seolah Gerbang Astral sedang mengalami anomali sesaat! Jika itu Ordo Raja Iblis, tidak mungkin berakhir hanya dengan begitu!"

"Mungkin mereka punya tujuan lain! Misalnya... pergi menyerang kuil di dalam kota...!"

"Kalau begitu untuk apa susah-susah datang ke Gerbang Astral!? Kuil sangat jauh dari sana────"

Sebelum Licia selesai bicara, dia... dan juga Fiona, sampai di tujuan. Sembari menggerakkan kaki sekuat tenaga, mereka berdua dibimbing menuju satu spekulasi.

"────Anomali Gerbang Astral terjadi karena ada tempat lain yang terpengaruh?"

Sembari berlari kencang, mereka mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan. Jika spekulasi itu benar, maka anomali ini belum berakhir.

◇◇◇

Sosok kedua gadis yang melangkah ke jalan di balik Gerbang Astral itu menghilang bukan karena langkah kaki mereka terlalu cepat.

Melainkan karena cahaya yang menyembur di alun-alun mulai terapung di dekat Gerbang Astral yang hancur, menutupi pandangan bagaikan kabut.

Kata-kata apa yang harus diucapkan pada mereka berdua... dan apa yang harus dilakukan.

Saat itu, Sarah dan yang lainnya yang juga sangat mencemaskan Ren, sempat kehilangan arah tentang apa yang harus mereka lakukan karena terlalu memikirkan teman mereka, melampaui pemikiran mereka sebagai anggota Tujuh Keluarga Duke.

Beberapa waktu berlalu, meskipun evakuasi sudah selesai dilakukan dengan bantuan para ksatria.

"Liz, apa yang barusan kamu katakan?"

Di kediaman Count Crushera. Sarah mengucapkan hal itu di ruang kerja agar bisa didengar oleh semua keturunan Tujuh Pahlawan yang berkumpul di sini.

"Ini sedikit mirip dengan kejadian Ophide. Tapi, cahaya yang kulihat dari penginapan tadi benar-benar tidak normal."

"Memang benar rasanya mana dan kekuatan kita langsung direnggut kalau menyentuhnya, tapi..."

"Bukan cuma itu, ini soal sifatnya. Itu bukan sesuatu yang dikerahkan melalui artefak suci. Misalnya, seperti... memicu kekuatan yang bersemayam di kuil untuk meledak secara paksa..."

Ledakan cahaya yang disertai benderang. Lizred yang merasa ganjil dengan hal itu, tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke rak buku yang memenuhi dinding ruang kerja.

Dia menatap sang Count yang sedang berbicara dengan ksatria dan pejabat sipil di ruang kerja.

"Maaf, Tuan Count! Apakah ada buku yang berhubungan dengan Kadipaten Medil!?"

"A-ah! Sepertinya ada di sekitar sana...!"

"Terima kasih banyak! Aku pinjam sebentar, ya!"

Apa hubungan antara Kadipaten Medil dengan situasi saat ini?

Meski banyak yang merasa heran, seluruh keturunan Tujuh Pahlawan menyadari arah pemikiran Lizred. Mereka segera menyusul gadis itu yang melangkah mendekati rak buku.

Jari jemarinya menelusuri deretan punggung buku, hingga akhirnya menemukan satu volume yang mencatat tentang hari-hari terakhir Kadipaten Medil.

Lizred membolak-balik halaman dengan tergesa, sampai matanya menemukan paragraf yang dicari.

"... Tepat sebelum negeri itu tenggelam ke dasar neraka, cahaya yang berkilauan membentuk pilar, menembus angkasa dari dalam kuil."

Setelah itu, mana hitam kemerahan menyelimuti seluruh ibu kota. Ketika pilar yang menembus langit itu menghilang, Kadipaten Medil pun lenyap dari dunia.

Setelah membaca ulang tentang akhir dari negeri itu, Lizred bergumam pelan, "... Mungkinkah?"

"Kekuatan yang sama dengan saat itu...? Kalau begitu, apa ada Forbidden Book yang terlibat...?"

"Oi, Liz! Apa maksudmu kekuatan ini sama dengan yang memusnahkan Medil!?"

"… Tidak. Terlalu dini untuk menyimpulkannya. Kekuatan tadi jelas mengandung aura ketuhanan, jadi aku merasa itu berbeda dengan mana hitam kemerahan yang ada dalam catatan."

"Tapi tetap saja, itu adalah salah satu kekuatan yang digunakan saat Medil hancur, 'kan!?"

"Kalau soal itu──── ya. Aku rasa kemungkinannya sangat tinggi."

Lizred merasa ada yang aneh.

Jika cahaya berkilauan itu berasal dari Forbidden Book, seharusnya daya hancurnya cukup untuk memusnahkan Medil, tapi ledakan tadi jelas tidak sampai sedahsyat itu.

Jika demikian, maka keduanya bukanlah hal yang identik.

"… Cahaya itu, seharusnya bukan kekuatan dari Forbidden Book."

Keturunan penyihir agung itu menunduk, tenggelam dalam pikirannya.

"Tapi, jika cahaya itu memancar sebelum kekuatan Forbidden Book diaktifkan, mungkinkah mereka saling berkaitan...?"

Dia harus menggali lebih dalam untuk mengungkap identitas aslinya.

Tak lama kemudian, matanya tiba-tiba membelalak.

"────Apakah cahaya itu merupakan syarat yang diperlukan untuk menggunakan kekuatan Forbidden Book?"

Pemikiran itu terasa sangat masuk akal.

Cahaya tadi mungkin adalah pertanda sebelum sesuatu dilakukan oleh Forbidden Book, atau persiapan awal untuk menggunakan kekuatannya.

"Kenapa hal ini berhubungan dengan Forbidden Book yang memusnahkan Medil... lalu kenapa itu digunakan di kota ini sekarang... banyak hal yang membuatku penasaran."

Squall angkat bicara, lalu Nemu menyambung.

"Entah Forbidden Book terlibat atau tidak, pikirkan itu nanti saja! Yang penting kita bisa melindungi semua orang, titik!"

Tepat setelah gadis itu bicara.

Vain bertanya kepada sang Count yang sejak tadi mendengarkan dengan perasaan terancam yang semakin memuncak.

"Count, ada kuil di balik Gerbang Astral, 'kan?"

"Ya. Kami tahu itu terhubung dengan ruang bawah tanah, tapi beberapa pintu tidak bisa dibuka sehingga penyelidikan tidak bisa dilanjutkan."

Bahkan penyelidikan dari Biro Misteri pun tidak membuahkan hasil.

Jika saja mereka menemukan lambang Micsell seperti yang dilakukan Ren, ceritanya pasti akan berbeda. Namun, fenomena seperti yang dialami Ren belum pernah terjadi sekali pun hingga sekarang.

"Jika kita pergi ke kuil itu, kita pasti akan menemukan sesuatu."

"Ayo kita ke sana sekarang! Kita harus menjemput Ashton dan yang lainnya!"

"Benar. Aku belum membalas budi karena dia telah menolongku di Windea!"

Teman-temannya setuju dengan ucapan keturunan sang Pahlawan itu.

Saat ini, evakuasi warga berjalan tanpa kendala. Banyak orang telah dipindahkan dari pusat kota menuju dermaga kapal sihir, dan persiapan untuk meninggalkan tempat ini mulai tertata.

Namun...

Tepat saat ketujuh orang itu membulatkan tekad untuk pergi, getaran dahsyat kembali terasa dari arah alun-alun tempat Gerbang Astral berada. Hal itu memicu mereka untuk kembali berlari keluar.

◇◇◇

Setelah berlari beberapa saat, Licia dan Fiona menghentikan langkah mereka.

Merasakan suatu hawa, mereka menoleh ke arah kota dan menyaksikan pilar cahaya raksasa yang hendak melonjak dari alun-alun.

"L-lagi!?"

"Tapi, kekuatan itu adalah...!"

Namun, bukan hanya cahaya.

Saat pilar cahaya itu muncul, mereka melihat dinding mana raksasa yang memancarkan kilau perak tercipta di dekatnya.

Terlihat pula panah hijau cerah yang diselimuti angin puyuh melesat menuju langit.

Kekuatan itu berasal dari para keturunan Tujuh Pahlawan. Tampaknya karena mereka bertujuh telah berkumpul, kekuatan asli mereka mulai bangkit.

"Kita juga harus cepat."

Licia menggerakkan kakinya, didorong oleh rasa cemas yang mendalam.

Jalan yang mereka lalui berakhir di sebuah alun-alun yang sangat luas.

Berbeda dari sebelumnya, keduanya melambatkan langkah dan melihat sekeliling.

Entah sejak kapan kabut telah menghilang.

Mereka bisa melihat hijaunya rumput yang segar di permukaan tanah, serta langit biru bersih tanpa awan saat menengadah.

Hanya ada satu bangunan di alun-alun itu.

Kedua gadis itu terbelalak melihat kemegahan bangunan yang menyiratkan betapa agungnya tempat itu di masa lalu.

Ukurannya lebih kecil dibandingkan kebanyakan kuil modern, dan kondisinya sudah sangat lapuk.

Beberapa bagian telah runtuh, dan tanaman merambat menutupi dinding-dindingnya.

Inilah kuil tanpa nama yang dibicarakan sang Count kepada Vain dan yang lainnya.

Sekali lihat, kedua gadis itu berpikir betapa tenangnya taman ini.

Ini adalah ruang yang hampir tidak tersentuh tangan manusia, seolah terisolasi dari dunia nyata.

Pemandangan yang disinari cahaya matahari hangat ini sungguh teramat indah.

Namun, mereka berdua tidak datang untuk menikmati pemandangan.

Mereka datang karena tempat ini seharusnya berada di dekat ujung ruang bawah tanah yang mereka lalui.

Saat mereka hendak mengamati situasi sekitar, mata mereka tertuju pada api dahsyat yang tiba-tiba membubung tinggi di tempat itu.

...Tadi itu, milik Ren? ... Magic Sword milik Ren-kun?

Api yang muncul menembus atap dari dalam kuil itu berasal dari Flame Magic Sword yang sudah berkali-kali mereka lihat.

Crimson Sword.

Itu adalah Combat Skill khusus milik Ren yang hanya bisa digunakan saat dia memegang Flame Magic Sword.

Keduanya yakin bahwa teknik itu baru saja digunakan.

Ren berada di bagian dalam kuil di depan sana. Mereka berdua hendak menuju ke kuil, namun langkah mereka terhenti karena menyadari sesuatu.

"… Itu kan."

Licia bersuara saat melihat dinding mana di pintu masuk kuil.

Dia segera tahu bahwa Ordo Raja Iblis terlibat setelah melihat banyaknya orang di dekat pintu.

Terutama Licia Clausel, sang White Saintess, yang memiliki kekuatan bawaan untuk merasakan kekuatan segel yang tidak bisa mereka sembunyikan sepenuhnya.

"Ternyata benar, pelakunya Ordo Raja Iblis."

"Tapi──── ini sedikit berbeda dari biasanya."

Sama seperti yang dihadapi Ren, mereka bukanlah orang-orang yang mengenakan jubah seperti penganut Ordo pada umumnya.

Semuanya mengenakan pakaian ksatria yang terlihat berkelas, dengan pedang atau tongkat sihir di pinggang mereka.

Bukan sekadar berpakaian rapi agar tidak ketahuan sebagai anggota Ordo.

Dari pembawaan mereka saja, mereka sudah berada di level yang berbeda dari penganut Ordo yang pernah dihadapi kedua gadis itu sebelumnya.

Para penganut Ordo itu menyadari kehadiran mereka, namun kedua gadis itu tetap bercakap-cakap dengan tenang.

"Menurutmu kita bisa masuk ke dalam tanpa melawan?"

"Entahlah. Menghancurkan kuilnya pun... sepertinya mustahil."

"Benar. Kalau dilihat baik-baik, mana yang sama dengan dinding itu menyelimuti seluruh kuil."

Mudah untuk menebak bahwa situasi ini berkaitan dengan anomali di Gerbang Astral.

Jika demikian, sesuatu sedang terjadi di dalam kuil itu. Mengingat Ren tidak kunjung keluar, pasti ada sesuatu yang harus dia waspadai.

Jika pintu diblokir, maka hal yang harus dilakukan adalah...

"Kalau begitu, kita tinggal menerobos dengan kekuatan!"

Licia menghunus Hakuen dan melangkah maju, sementara Fiona mengangkat satu tangan untuk merapal sihir es.

Udara dingin yang hebat muncul dari kaki Fiona, merambat di permukaan tanah lebih cepat daripada angin.

Saat mana biru jernih itu dilepaskan di dekat pintu masuk kuil, sejumlah besar duri es muncul mengepung semua orang di sana.

Sesaat kemudian, Licia merasa bingung.

"Uh… Lagi!?"

Sama seperti sebelumnya, aura yang menyelimutinya tidak stabil.

Mungkin karena dia terlalu bersemangat untuk segera menemui Ren, tapi tetap saja kekuatannya terasa meluap-luap.

Saat ini momentumnya terlalu kuat, seolah dia kesulitan mengendalikannya.

Dia merasakannya jauh lebih jelas dibandingkan beberapa hari lalu.

"Sepertinya kalian bukan ksatria Leomel, ya."

"Tidak peduli siapa kalian. Jika kalian mengarahkan pedang pada kami, kami tinggal membereskannya."

Dia tidak boleh hanya fokus pada auranya. Saat para anggota Ordo bergerak, Licia menggelengkan kepalanya.

"… Tidak! Sekarang bukan saatnya mengkhawatirkan itu!"

Para penganut Ordo menangkis es milik Fiona dengan sihir lain, namun serpihan es terus berhamburan berkali-kali. kilatan pedang perak menyambar berkali-kali di sana, membuat para anggota Ordo yang berkumpul terperangah.

"Strong Sword!? Ditambah lagi sihir sekuat ini...!?"

Teknik perak yang sempurna.

Sihir yang dilepaskan salah satu penganut Ordo langsung buyar dan berubah menjadi mana biasa. Di baliknya, sepasang mata White Saintess menatap tajam.

"Kami pasti akan lewat. Kami harus pergi ke dalam sana."

Para penganut Ordo berdiri di depan ujung pedang Hakuen.

"Siapa sebenarnya kalian ini...!?"

"Entahlah, siapa ya!"

Pedang yang luwes itu meninggalkan bayangan putih, menyerang para anggota Ordo bertubi-tubi.

Namun, Licia merasa aneh. Meski hanya ketidakenakan kecil, dia merasakan perbedaan yang jelas dibandingkan penganut Ordo yang pernah dia lawan sebelumnya.

...Ini bukan perasaanku saja. Mereka jauh lebih kuat dari biasanya.

Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Fiona di dalam hatinya.

Serangan beruntun dari sihir es dan tebasan pedang tidak berhenti, pertempuran berlanjut dengan keunggulan telak di pihak mereka──── namun dia tidak bisa berhenti memikirkan betapa kuatnya para anggota Ordo ini.

"Firasatku buruk. Kita harus segera bergabung dengan Ren-kun."

Licia setuju dengan Fiona, dia semakin gencar menekan lawan dengan tebasan pedangnya.

Saat Fiona mulai melepaskan sihir es yang lebih kuat—

"Eh────!?"

"Lingkaran sihir ini...!?"

Sejumlah lingkaran sihir bermunculan di udara dan tanah sekeliling, membuat mereka terkejut.

Semuanya menyimpan mana dalam jumlah masif yang membuat keduanya mengernyitkan dahi.

Meski mereka belum pernah melihatnya, lingkaran sihir itu entah bagaimana mirip dengan yang digunakan Ophide di Windea.

Para penganut Ordo yang bertugas sebagai barisan belakang mulai mencucurkan keringat dingin dalam jumlah banyak, berusaha keras untuk melepaskan kekuatan lingkaran sihir tersebut.

"… Itu bukan sesuatu yang bisa dikendalikan dengan kekuatan mereka────!"

Fiona menegaskan hal itu setelah melihat situasi sekeliling.

"Kalau begitu, berarti ada orang lain yang menyiapkannya!?"

"Ya! Kalau tidak, mustahil mereka bisa mengendalikan hal seperti itu!"

"Hoo…! Jadi karena itu mereka berusaha sekeras itu, ya!"

Apa pun alasannya, mereka tidak boleh membiarkan kekuatan lingkaran sihir itu dilepaskan.

Menghadapi gejolak mana yang luar biasa itu, hanya ada dua pilihan. Lari, atau lawan.

Secara realistis, hanya ada satu pilihan yang mau mereka ambil.

Para penganut Ordo yang memegang pedang menyingsingkan lengan baju mereka, memperlihatkan segel Ordo Raja Iblis yang terukir di lengan.

Mereka semua mengerahkan tenaga, mengalirkan kekuatan ke dalam lingkaran sihir.

Tekanan angin yang dahsyat mulai mengamuk di sekeliling, dan mana kegelapan yang pekat mulai menyelimuti udara.

Jika mereka menyerang dari depan, tubuh mereka yang tanpa perlindungan akan terkena mana tersebut secara langsung...

Sangat berbahaya untuk mendekat dan mengalahkan para penganut Ordo dalam situasi ini.

Jika begitu, Licia menarik napas dalam-dalam dan memantapkan tekadnya.

Begitu pula dengan Fiona.

Sembari mengawasi sekeliling, keduanya saling menyandarkan punggung.

"Gunakan sihir terkuatmu. Aku akan menyiapkan waktu untuk itu."

"Baik. Akan kulakukan meski harus bertaruh nyawa."




White Saintess berucap dengan lantang.

Black Priestess mengangguk tanpa ragu.

Tak lama kemudian, lingkaran sihir itu meledak.

Meski daya hancurnya tak sebanding dengan milik Ophide, itu hanya karena Ophide adalah pengecualian.

Kekuatan yang dilepaskan di sini tetaplah mengerikan, membawa serta kutukan dari Benua Iblis.

Mana hitam pekat memadat menjadi seberkas sinar laser, menerjang ke arah mereka berdua dengan tekanan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Licia mengangkat Hakuen sekali lagi.

"Enyahlah dari hadapanku──── Ordo Raja Iblis!"

Bersamaan dengan seruannya, dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.

Kekuatan Benua Iblis itu terlalu besar untuk ditahan satu orang saja.

Para penganut Ordo terus menguras mana mereka tanpa batas, yakin akan kemenangan mereka.

Namun... lawan mereka bukan sekadar gadis biasa.

Dia adalah White Saintess.

Sosok yang memiliki kekuatan paling murni untuk melawan segala jenis kejahatan. Musuh bebuyutan Ordo Raja Iblis.

"Memang benar mereka berbeda dari biasanya... tapi tetap saja!"

Keringat bercucuran di pelipis Licia.

Meski tangannya gemetar menahan desakan kekuatan itu, dia sama sekali tidak berniat mundur.

Di tengah bentrokan maut itu, dia merasa Aura yang menyelimutinya perlahan mulai stabil.

"────Fiona!"

Kebuntuan yang panjang itu akhirnya mencapai titik akhir. Licia memanggil nama kawannya tanpa embel-embel, semata-mata karena dia ingin menyampaikan tekadnya dalam kata yang singkat dan kuat.

Kecemasan sekaligus ketenangan Licia memicu panggilan akrab yang pertama kali itu.

Merasakan angin biru tiba-tiba berhembus di kakinya, Licia menyunggingkan senyum tipis.

"Tunjukkan! Kekuatanmu sebagai Black Priestess!"

"Tentu!"

Sekuntum bunga es raksasa mekar hingga mencapai langit di atas kuil. Kelopak bunga yang besar itu menyelimuti seluruh area, membentuk kristal es biru yang berkilau layaknya permata yang dipoles indah.

Udara ekstrem yang membekukan pun tercurah. Begitu bunga es itu merekah──── udara dan waktu seolah berhenti.

Kilatan biru yang terpancar dari mahkota bunga itu menerjang lingkaran sihir, membekukan segalanya.

Kekuatan di dalam lingkaran sihir itu terkikis dalam sekejap, namun...

"… Mustahil!?"

"Masih belum cukup juga...!?"

Kekuatannya masih tersisa sedikit.

Di dalam balutan es, lingkaran sihir itu mulai bergejolak kembali, bersiap melepaskan sisa mananya.

Demi meledakkan seluruh kekuatannya, lingkaran itu mulai mengubah bentuknya sendiri.

Daya hancur dari lingkaran sihir yang membengkak di tengah kehancurannya ini pasti akan melampaui serangan sebelumnya. Itu sudah bisa dibilang sebagai serangan bunuh diri.

Licia menggertak gigi. Bisakah dia menahan serangan berikutnya?

Jika tidak... dia bahkan tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi.

"Bagaimana jika... aku gagal menahannya?"

Hatinya bergetar, tapi bukan hanya karena merasa tidak berdaya.

Dia marah pada dirinya sendiri karena sempat memikirkan kegagalan itu meski hanya sesaat.

Tangannya mencengkeram erat gagang Hakuen.

Satu langkah lagi ke depan. Tiba-tiba, Licia merasa seolah melihat punggung pemuda itu di depannya.

Sosok yang harus dia kejar, yang saat ini sedang berjuang di kedalaman kuil.

"… Kalau kalah di sini, aku tidak akan layak berdiri di samping Ren."

Dia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

Menyadari kembali di mana posisinya dan di mana posisi Ren.

Perasaan tidak berdaya itu dia buang jauh-jauh.

Dia tidak hanya memikirkan keberanian dan kebaikan pemuda itu.

"Mengejar punggung seseorang itu tidak salah, tapi jangan terlalu terpaku padanya."

Dia merasa mulai memahami arti kata-kata yang pernah diucapkan Estelle itu. Meski tekanan Benua Iblis masih terasa mengerikan, Licia melangkah maju sekali lagi.

"Masih bisa gunakan sihir?"

Entah sejak kapan kepercayaan sedalam ini terjalin di antara mereka.

Mungkin, itu sudah terlihat sejak pertemuan pertama mereka.

Fiona mengangguk mantap dan menjawab, "Meski harus bertaruh nyawa," dengan nada yang sangat tenang.

Licia tertawa kecil mendengar jawaban yang bisa diandalkan itu.

"Hanya mencoba mengejarnya... itu bukan gayaku."

Bukan sekadar mengejar.

Di tengah situasi ekstrem ini, Licia menyeret kakinya mendekati tempat yang harus dia capai.

Untuk itulah dia terus berjuang selama ini.

Terus berjuang... Dan terus berjuang...

Hingga akhirnya, dia menemukan secercah cahaya.

Indranya menajam ke tingkat yang belum pernah dia rasakan, dan bentuk Aura-nya mulai berubah secara bertahap.

Tiba-tiba──── Licia merasa seluruh tubuhnya dipenuhi sensasi asing. Rasanya mirip dengan saat dia jatuh sakit tempo hari, namun kali ini indranya terasa sangat tajam.

Sensasi misterius itu perlahan berubah menjadi sebuah "nada".

Nada itu masih lemah dan belum stabil. Dibandingkan dengan nada yang pernah didengar Fiona di Eupeheim dulu, keberadaannya masih samar. Waktunya belum tiba sekarang. Ini hanyalah sekeping petunjuk.

Namun—

"Aku tidak akan menyerah! Karena aku────!"

Hakuen melepaskan satu tebasan yang diselimuti gelombang kekuatan. Sisa-sisa dari nada yang hampir tercipta itu bersemayam di sana.

"Aku adalah──── Licia Clausel!"

Itu adalah gelombang indah penuh kilauan yang mengingatkan pada debu berlian.

Tebasan yang dilepaskan hampir tanpa sadar itu menerjang lingkaran sihir yang membeku, menghancurkan sisa-sisa kekuatannya hingga tuntas.

Jarak antara mereka menjadi nol saat kilatan cahaya memercik hebat.

Lingkaran sihir itu kehilangan kekuatannya dan buyar, menciptakan pemandangan fantastis di mana kilau perak dan sisa-sisa es menari di udara.

Udara dingin yang merayap di tanah perlahan menghilang. Seluruh penganut Ordo Raja Iblis yang telah kehabisan tenaga pingsan di atas rumput tanpa terkecuali.

Tubuh Licia sedikit terhuyung, namun Fiona segera menghampirinya.

"… Aku ingin memuji kita berdua karena sudah berjuang keras, tapi,"

"Anda ingin bilang kalau pujian itu bisa menunggu nanti, 'kan?"

"Ya. Kalau tidak, kedatangan kita ke sini tidak akan ada artinya."

Mungkin karena dampak hancurnya lingkaran sihir tadi, dinding mana yang menutupi kuil juga ikut menghilang.

"Sepertinya kita sudah bisa masuk."

"Ayo. Tak ada waktu untuk istirahat."

Sembari melewati para penganut Ordo yang pingsan, mereka melangkah masuk.

Licia menggunakan sihir sucinya untuk memulihkan tubuh mereka sambil terus berbincang.

"Mereka bukan penganut Ordo biasa. Apa karena Ordo Raja Iblis mulai serius sekarang?"

"Mungkin saja. Teknik pedang dan sihir mereka jauh di atas penganut Ordo yang pernah kita lawan sebelumnya."

"Artinya, kuil ini memang memiliki nilai yang setinggi itu."

Jika tidak, mereka tidak mungkin menjadikan tempat ini target di saat kota sedang ramai-ramainya.

Pasti ada alasan mengapa harus di Crushera, dan harus di waktu sekarang ini.

"Tidakkah menurutmu sihir tadi mirip dengan sihir Ophide yang diceritakan Ren?"

"Iya, kekuatan kutukannya terasa sangat mirip."

"Benar. Karena penggunanya berbeda, memang tidak persis sama sih."

Licia bertanya-tanya siapa yang menyiapkan lingkaran sihir tadi.

Jika yang mengaktifkannya bukan penganut Ordo biasa melainkan sosok yang lebih kuat, entah seberapa dahsyat kehancuran yang akan ditimbulkannya.

Masih banyak hal yang mengganjal di pikiran mereka.

"Dia benar-benar selalu jauh di depan kita, ya."

Menyadari bahwa Ren menghadapi kutukan yang jauh lebih kuat sendirian, kedua gadis itu hanya bisa tersenyum getir membayangkan bagaimana pemuda itu bertarung di Windea.

"Ngomong-ngomong, soal pedang dan suara dari Licia-sama tadi...!"

"Nanti saja ya. Lagipula, belum ada yang benar-benar berubah kok."

Suara langkah kaki kedua gadis itu pun bergema, masuk semakin dalam ke jantung kuil.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close