NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ouja no Ban Kuruwase -Netto Shougi no Teiou ~ Kiryuu no Ouja to Taiji suru ⁓ Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Konfrontasi dengan Masa Lalu


Tiga tahun yang lalu──.

Saat itu aku masih duduk di bangku SMP, dan aku berpacaran dengan Asuka, teman masa kecilku.

Tolong jangan desak aku dengan pertanyaan seperti, "Kenapa orang suram sepertimu bisa punya pacar?". Aku tidak pernah melakukan pendekatan apa pun padanya; hubungan kami terasa dangkal, tahu-tahu kami sudah berpacaran begitu saja.

Namun bagi aku yang dulu, masa muda itu terasa sangat besar hingga seolah menjadi seluruh arti hidupku.

Alasan kenapa orang sepertiku bisa menyentuh hal bernama percintaan, pasti karena keberuntungan dan momentum yang sedang berpihak padaku.

Jika dalam hidup ini ada yang namanya "masa kejayaan", maka masa kejayaanku pasti terjadi saat itu.

"Hei, bagaimana kalau kita putus saja?"

Di jalanan setelah hujan, tepat di bawah pepohonan yang masih meneteskan sisa air, Asuka tiba-tiba mengatakan hal itu padaku.

Itu terjadi dalam perjalanan pulang dari kencan, setelah aku sedikit memaksakan diri mentraktirnya makan malam yang mahal.

"Ke-kenapa……"

Sesaat aku tidak mengerti apa yang dia katakan, dan proses memahami kalimat itu pun rasanya akan menjadi trauma tersendiri.

Aku masih ingat betapa terguncangnya aku, sampai-sampai aku merasa jantungku akan berhenti berdetak.

"Habisnya, bersamamu itu membosankan. Lagipula, sekarang aku berpacaran dengan Inomata-kun."

"Ha……?"

Kata-kata yang keluar dari mulut Asuka benar-benar di luar nalar.

Inomata adalah pria populer di kelas yang dipuja-puja karena jago olahraga dan tampan. Kepribadiannya bertolak belakang denganku, dan aku pernah mendengar desas-desus kalau dia sering mempermainkan wanita.

Asuka berpacaran dengan orang seperti itu. Fakta itu saja sudah membuat kepalaku mau pecah, tapi aku tidak menyangka dia akan menjadikannya alasan untuk memutus hubungan kami.

Bukan putus lalu baru pacaran, tapi karena sudah pacaran dengan orang lain maka dia minta putus. Dengan kata lain, Asuka telah menyelingkuhiku.

"Apa-apaan itu……"

"Ya, pokoknya begitu."

"T-tunggu dulu. Bagaimana pun juga, ini terlalu mendadak……"

Aku berusaha keras menahan Asuka yang hendak berbalik pergi. Asuka pun menoleh dengan wajah jengkel, seolah heran kenapa aku masih tidak mengerti juga.

"Haa…… kamu tahu kan kalau aku bercita-cita menjadi pemain profesional wanita?"

"I-iya."

"Dengar ya, aku itu…… Tidak, maksudku, karena orang-orang bilang kamu adalah bocah ajaib dari Tennoji dan kumpulan talenta, makanya aku mau-mau saja berpacaran denganmu. Aku pacaran denganmu karena kupikir kamu bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan impianku di masa depan. Tapi setelah dijalani, ternyata kamu tidak berguna sama sekali. Gagal ujian Shoreikai, bahkan tidak bisa masuk Kenshukai, dan tidak pernah ikut turnamen. Memangnya apa nilai yang tersisa darimu sekarang?"

Kata-kata itu menghunjam tepat di dadaku.

Isi hati yang dilontarkan oleh teman masa kecil yang sudah bersamaku selama bertahun-tahun ini adalah hujan kata-kata kejam; fakta bahwa aku hanya dimanfaatkan, dan pernyataan bahwa aku tidak memiliki nilai apa pun.

"……Kamu pacaran denganku…… hanya demi Shogi……?"

"Tentu saja, kan? Memangnya apa lagi kelebihanmu? Kamu kan cuma punya itu."

Asuka mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sangat wajar.

Kalau dipikir-pikir, saat masih pacaran dulu, Asuka sepertinya memang tidak pernah melihat ke arahku.

Saat istirahat siang dia selalu mengobrol dengan siswi lain, dan saat pulang sekolah, dia selalu beralasan mengajak kencan padahal ujung-ujungnya aku hanya mengajarinya Shogi.

Bagi Asuka, keberadaanku hanyalah sarana edukasi Shogi—bisa dibilang, cara untuk mengumpulkan Experience Points. Dia mendekatiku hanya karena berpikir Shogi-nya akan jadi lebih kuat, dia memanfaatkanku dengan cara yang halus.

Lalu, karena aku tetap menjadi pemain Shogi tidak berguna yang tak kunjung berkembang, dia memutuskan untuk menyudahinya dan memutuskan hubungan.

Padahal sejak awal hubungan ini memang dangkal, tapi aku setiap hari selalu melayang kegirangan karena merasa punya pacar. Aku berusaha keras untuk membangun hubungan yang setidaknya jadi lebih baik.

Benar-benar lelucon yang bahkan tidak lucu sama sekali.

"……Begitu ya, jadi kelebihanku cuma Shogi."

"Iya. Yah, wajahmu memang tidak jelek-jelek amat, tapi Inomata-kun jauh lebih tampan. Kamu sudah tidak berguna lagi bagiku. Dah."

Asuka pergi begitu saja, meninggalkan aku sendirian di tempat itu.

"……Ahaha, kata-katanya pedas sekali ya. Sampai-sampai air mata pun tidak mau keluar."

Aku berdiri mematung di sana untuk beberapa saat, tertawa hambar meratapi hatiku yang sudah dicincang habis oleh belati kata-kata yang dilemparkannya tadi.

Jika ada yang bertanya kenapa aku mau berpacaran dengan orang seperti itu, telingaku akan terasa panas karena malu.

Pelajar di masa puber memang rata-rata seperti itu. Terutama tipe pendiam sepertiku yang mudah salah paham saat menerima kebaikan dari orang lain.

Hanya karena diperlakukan sedikit manis, hanya karena diberi sedikit perhatian, hanya karena ditembak oleh gadis yang lumayan cantik, orang bodoh sepertiku akan langsung salah sangka.

Tapi, berkat itu aku jadi sadar betapa tidak menariknya diriku. Aku kembali menyadari bahwa aku memang pria di level itu.

Dilihat dari sisi lain, mungkin ini adalah pengalaman bagus untuk mengenal kerasnya dunia sosial.

──Ah, kalau dipikir-pikir, ada yang lupa kukatakan pada Asuka.

Tentang aku yang memiliki akun bernama Jimeitsui di Shogi Wars, dan di sana aku sudah mencapai peringkat Dan 7. Alasan aku tidak ikut turnamen adalah karena aku belum mau memamerkan hasil riset dan janji dengannya. Aku lupa memberitahunya.

Guncangan karena diputuskan secara mendadak membuatku kehilangan kata-kata untuk membalasnya.

Yah, sekarang hal itu sudah tidak penting lagi.

Mewakili SMA Nishigasaki, aku ikut serta dalam kategori tim turnamen Oryu-sen yang diadakan di wilayah Barat. Aku melangkah masuk ke dalam venue mengikuti punggung Senior Takebayashi.

Entah kenapa Raizaki dan Aoi berjalan menempel di kedua sisiku, tapi Tojo yang berjalan di depan sesekali melirik ke arah sini dengan tatapan tidak senang—entah apa maksudnya.

Tapi serius, tempatnya luas sekali. Ini bukan pertama kalinya aku masuk ke tempat turnamen, tapi tetap saja gairah dan energi di sini terasa sangat luar biasa.

Shogi adalah olahraga pikiran yang menggunakan otak, karena itu tidak ada yang namanya pemanasan fisik. Maka para pemain yang sampai di venue masing-masing mengeluarkan ponsel atau buku dari tas mereka, lalu membacanya dengan tekun.

Mereka yang mengeluarkan ponsel memeriksa Joseki (teori langkah standar) yang akan digunakan, sementara yang mengeluarkan buku sedang memecahkan soal Tsume Shogi. Mungkin ini adalah cara mereka melakukan pemanasan sebagai pemain Shogi.

Selain itu, ada juga yang sengaja mendatangi lawan untuk memberikan informasi palsu sebagai taktik psikologis, atau mencoba akrab dengan staf dan juri untuk menggali informasi tentang pemain lain.

Sekilas ruangan ini tampak ramah, namun di bawah permukaan pasti ada strategi yang sedang dipikirkan masing-masing orang. Karena selama berdiri di sini, semua orang pasti membidik gelar juara.

Kalau dipikir-pikir, suasananya mungkin lebih tegang dibanding olahraga lainnya.

"Ketua~, registrasinya belum selesai~?"

"Ini sedang mengantre! Biar urusan ini aku yang bereskan semua, kalian bersiap-siap saja sebelum bertanding! Jangan lupa pergi ke toilet sebelum turnamen dimulai!"

Membalas ucapan Aoi, Senior Takebayashi mengambil alih semua tugas bahkan untuk bagianku yang merupakan Taisho. Dia baik sekali, ya.

"Disuruh bersiap-siap juga bingung ya~. Apa kita lakukan rapat strategi tim?"

"Meskipun ini tim, yang bertarung sebenarnya adalah individu, jadi tidak ada strategi macam-macam. Urutan pemain sudah diputuskan, jadi sisanya kita semua tinggal mengerahkan seluruh tenaga untuk menantang mereka."

Tojo mengatakan itu dengan tegas sambil memasang wajah yang tampak tenang.

Aku iri melihat Tojo yang seperti ini. Padahal aku baru saja dari toilet, tapi perutku sudah mulai sakit lagi karena gugup.

Setelah itu kami duduk di kursi terdekat menunggu Senior Takebayashi menyelesaikan registrasi.

Tiba-tiba, namaku dipanggil dari arah belakang.

"Masai……? Kamu Masai, kan? Lama tidak bertemu!"

Saat menoleh, di sana ada wajah yang sangat kukenal.

"Asuka……?"

"Apa, kenalanmu?"

"Temannya Mikado-cchi ya?"

Yang berdiri di depanku adalah teman masa kecil sekaligus mantan pacarku, Asuka.

"Iya, benar. Tidak sangka bakal ketemu di tempat seperti ini. Lagipula, apa-apaan? Kamu juga ikut turnamen?"

"……Yah, begitulah."

Menghadapi Asuka yang langsung bicara dengan nada biasanya sejak awal, aku menjawab sambil menundukkan pandangan.

Jujur saja, aku tidak ingin bicara banyak dengan wanita ini. Kalau bisa, aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya. Aku sengaja memilih SMA yang agak jauh agar tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang.

……Begitu ya, kalau ikut turnamen seperti ini memang ada kemungkinan untuk bertatap muka.

"Begitu ya. Kamu ternyata masih main Shogi ya, padahal tidak punya bakat."

Berisik sekali. Meskipun tidak punya bakat, tidak ada salahnya kan kalau aku main Shogi.

"Eh! Kalau dilihat-lihat, ini kan kertas untuk Taisho, kenapa kamu yang pegang? Jangan-jangan kamu jadi Taisho? Bohong kan? Kamu!?"

Asuka merampas kertas isian Taisho yang aku pegang.

"Kamu yang tidak pernah menang sekalipun melawanku saat latihan Shogi, serius mau jadi Taisho di turnamen tim sebesar ini? Ah, atau jangan-jangan karena kamu terlalu lemah, kamu sengaja dijadikan tumbal? Kalau benar begitu, konyol sekali!"

Asuka meletakkan kertas yang baru saja dirampasnya itu di atas kepalaku lalu mengguncang-guncangkan kepalaku dengan kasar. Mungkin karena tidak mau menyentuhku langsung, hanya kertas yang sudah lecek itu yang jatuh dari atas kepalaku.

Apa-apaan orang ini? Hanya karena aku orangnya pendiam, dia langsung menghujanku dengan makian saat baru bertemu. Rasanya jauh lebih tidak menyenangkan dibanding Sakuma bersaudara.

Karena sudah sangat kesal, aku berniat mencengkeram lengan Asuka.

Tapi saat itulah──.

"Diam sedikit kau, sialan."

Bukan aku yang mengucapkan kata-kata itu.

──Tojo yang tampak geram tiba-tiba mencengkeram lengan Asuka dari samping.

Tojo mengeluarkan nada bicara yang mengandung kemarahan yang belum pernah kudengar sebelumnya, membuatku refleks menoleh.

Lalu aku menyadarinya.

Bukan hanya Tojo yang marah. Aoi, Raizaki, bahkan Sakuma bersaudara pun melemparkan tatapan tidak senang ke arah Asuka.

"……Tu-tunggu, lepaskan."

Asuka berusaha melepaskan lengannya, tapi Tojo justru bicara dengan tenang namun dengan wajah yang sangat marah.

"Dari tadi kamu ini bicara apa sih pada Masai-kun? Aku diamkan saja malah bicara soal tumbal, tidak punya bakat, dan seenaknya menghina Taisho kami. Memangnya kamu siapa? Masai-kun itu kartu as kami, tahu."

Aku merinding mendengar nada bicara Tojo yang tidak terbayangkan sebelumnya.

"Ha-haha! Eh? Kartu as? Serius? Dia itu sampah pecundang yang sudah kubuang, tahu! Mana mungkin pantas jadi Taisho. Lagipula lepaskan tanganku, menjijikkan tahu!"

Asuka memaksa melepaskan cengkeraman tangan Tojo lalu mengambil jarak.

Orang ini, sifatnya jadi jauh lebih kasar dibanding saat masih pacaran denganku dulu. Seperti binatang buas yang baru lepas dari kandang.

Sembari melirik Tojo dan Asuka yang saling melotot di depanku, aku memungut kertas yang jatuh ke lantai. Tiba-tiba, Raizaki bergumam lirih dari arah belakang.

"──Benar-benar tidak punya talenta, ya."

"……Hah?"

Raizaki berdiri di sampingku dan menatap rendah Asuka yang lebih tinggi darinya.

Asuka mengernyitkan alis mendengar kata "tidak punya talenta" itu, lalu melemparkan tatapan mengejek ke arah Raizaki.

"Sepertinya Anda tidak memahami kemampuan Masai-senpai barang satu milimeter pun. Orang seperti Anda, dia bisa menang bahkan sambil memejamkan mata. Tidak menyadari perbedaan kekuatan itu, bukankah Anda sendiri yang tidak sadar betapa konyolnya Anda? Dasar manusia biasa yang dangkal ilmunya."

Raizaki mengatakannya dengan nada marah yang tenang, melemparkan tatapan penghinaan yang biasa ditujukan pada orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa.

Eh, tunggu dulu. Biar aku yang bilang pun, menang sambil memejamkan mata itu sulit, lho. Meski sebenarnya bisa sih.

"……Ahahahaha! Menang sambil merem? Yang tidak paham perbedaan kekuatan itu kalian! Dengar ya, dia ini tidak punya kelebihan selain Shogi, tapi bahkan di Shogi pun dia tidak pernah menghasilkan prestasi apa-apa. Dia itu pecundang yang bahkan gagal ujian Shoreikai tingkat 6-Kyu, tahu."

Peringkat 6-Kyu di Shoreikai itu setara dengan level Dan 4 di tingkat amatir. Saat itu aku yang masih SD memang belum punya kemampuan setinggi itu, dan aku dipaksa menerima kegagalan pahit di ujian tersebut.

"Mana mungkin orang seperti itu bisa menang melawanku, jangan mimpi kejauhan deh. ……Yah, karena itulah sampai sekarang dia masih mempermalukan diri sebagai orang tak dikenal seperti ini. Ahahaha!"

Seketika, tatapan mata Tojo kembali menghunjam Asuka.

Seolah tidak terima aku dihina, Tojo yang tampak murka mengulurkan tangan hendak mencengkeram kerah baju Asuka.

"Kau, lama-lama──"

Namun, tangannya berhenti tepat sebelum menyentuhnya.

"Ah, aku tentu saja tahu soal kamu juga. Si Bocah Ajaib dari Nishigasaki."

"Apa!"

Asuka mengatakan itu, lalu menunjuk Raizaki, Sakuma bersaudara, dan Aoi secara berurutan.

"Ratu tanpa mahkota, kakak-beradik mantan anggota Kenshukai, dan yang di belakang itu si trickster penyuka gaya aneh yang pernah juara di kejuaraan SD-SMP, kan? Anggota timmu mewah sekali ya?"

Kata-kata Asuka membuat kelima orang itu menunjukkan rasa tidak suka secara terang-terangan.

"Aku tahu seberapa kuat kalian. Dan aku juga tahu kalian masih di bawahku. Lagipula, sepertinya kalian salah paham, aku ini cuma memberi 'peringatan' padanya. Kalau kalian merasa dia sedang dihina, bukankah itu berarti perkataanku benar? Ahahahaha!"

Cara bicaranya benar-benar tidak nyambung. Aku tidak merasa pernah minta diberi peringatan padanya. Bukannya dia sendiri yang tiba-tiba datang dan mengajak bicara?

Aku tidak tahu kenapa Asuka begitu gigih menghinaku, tapi aku memang tidak akan pernah paham apa yang dipikirkan oleh orang yang baut di kepalanya sudah lepas.

"Benar-benar tidak habis pikir……"

Aku bergumam pelan agar tidak terdengar siapa pun.

Berkat Tojo dan yang lainnya yang sudah marah untukku, amarahku sendiri sudah cukup mereda.

Namun, Tojo sepertinya sudah tidak tahan lagi, dia mengarahkan niat membunuh pada Asuka seolah siap menerjang kapan saja.

Aku memegang ujung lengan baju Tojo dan menariknya pelan.

"……!"

Saat Tojo menyadarinya, aku berdiri dan menghadap ke arah Asuka.

"Sudah selesai bicaranya?"

Mendengar pertanyaanku, Asuka menjawab dengan wajah puas.

"Ya. Meskipun kalian tidak akan mungkin menang melawanku, setidaknya kelompok aneh ini bisa jadi hiburan di turnamen. Berusahalah agar tidak kalah di semua pertandingan, ya?"

"Iya, aku akan berusaha. Jadi kalau urusanmu sudah selesai, pergilah. ──Sekarang juga."

Begitu aku mengatakannya, Asuka mendengus remeh dan pergi menjauh.

Lalu aku menghadap ke arah teman-temanku yang terdiam, dan menggumamkan satu kalimat.

"Terima kasih, semuanya. ……Sudah mau bersabar."

"Kalau ini bukan di tempat turnamen, aku pasti sudah memukulnya."

"Aku juga terpikir untuk mencengkeramnya. Tapi, itu adalah langkah buruk (Akushu)……"

Mereka orang-orang yang baik. Mau marah demi orang sepertiku. Padahal dulu aku tidak punya teman satu pun, tapi sekarang aku punya sebanyak ini. Benar-benar pemandangan yang seperti mimpi.

Tapi kalau Tojo dan yang lainnya sampai memukul tadi, pasti akan jadi masalah besar. Malah, ada kemungkinan Asuka memang mengincar hal itu.

Ini adalah turnamen Shogi, medan perang untuk mengadu kecerdasan, pengetahuan, dan strategi. Cabang olahraga yang berada di posisi berlawanan dengan kekerasan. Jika menggunakan kekerasan di sini, kemenangan yang sudah di depan mata pun bisa hilang.

Benar, kami datang ke sini untuk menang. Kami bukan berada di sini untuk kalah.

Aku memegang tangan Tojo yang masih gemetar dengan kedua tanganku, menggenggamnya dengan lembut.

"Masai-kun……"

Bagi aku yang bahkan belum pernah berpegangan tangan dengan Asuka, menyentuh tangan perempuan adalah pengalaman pertama dalam hidupku.

Jujur saja, ini butuh keberanian besar. Aku dilingkupi rasa cemas jika dia menolakku, merasa jijik, atau menyuruhku jangan menyentuhnya.

Tapi, aku merasa ini adalah cara terbaik.

"……Terima kasih."

"Sudah tenang?"

"Iya."

Begitu Tojo menjawab, dia mengatur napasnya dalam-dalam dan kembali menjadi Tojo yang biasanya.

Iya, Tojo yang ini memang lebih cocok dengan auranya.

"……Mikado-cchi~"

Tiba-tiba, Aoi memeluk punggungku dari belakang dan mendekatkan wajahnya.

"Aoi benar-benar tidak tahan, tahu! Apa-apaan sih orang itu!!"

Tolong jangan berteriak di telingaku. Lagipula wajahmu terlalu dekat.

"Apa Mikado-cchi tidak merasa kesal!? Dihina habis-habisan begitu! Itu rasanya seperti sudah digencet mesin pres lalu dihancurkan pakai mesin penghancur kertas sampai jadi serpihan!"

Perumpamaan apa itu, aku jadi debu dong.

"Yah, soalnya Masai-senpai itu orangnya baik, sih……"

Raizaki yang seolah sudah mengenalku membela dengan senyum kecut.

Namun, aku justru menyanggah perkataan Raizaki tersebut.

"Tidak, aku merasa kesal dan marah seperti orang normal, kok."

Melihatku yang mengatakan itu dengan wajah serius, teman-teman di sekitarku tampak terkejut.

"Dihina, direndahkan, dan diprovokasi sebanyak itu, secara normal pasti aneh kalau tidak marah. Kenyataannya sekarang aku sedang marah sekali…… kalau Tojo-san tidak marah untukku tadi, aku mungkin sudah terpancing provokasinya."

Benar, sekarang aku marah seperti orang biasa.

Kemarahanku mereda hanya di permukaan saja, di dalamnya aku dipenuhi amarah yang mendidih.

Dan aku bukanlah orang suci yang bisa membiarkan amarah yang meluap dari dasar hati ini begitu saja.

Sejujurnya, aku sempat ragu seberapa serius aku harus bertarung di turnamen ini.

Tentu saja aku serius dalam bertanding dan berniat mengeluarkan seluruh tenaga. Tapi itu adalah tenaga sebagai Watanabe Masai, bukan keseriusan sebagai Jimeitsui.

Gaya bermain Jimeitsui adalah gaya bermain penuh kebencian yang tidak terpaku pada perang saraf. Tidak peduli soal tata krama, selama masih dalam aturan, aku akan melakukan segalanya demi kemenangan.

Sama seperti saat pertandingan simultan waktu itu, aku ragu untuk bermain dengan pemikiran Jimeitsui.

Itu adalah teknik yang hanya bisa kulakukan tanpa batas karena berada di dunia internet. Jika aku bermain seperti itu di dunia nyata setiap saat, aku pasti akan kehilangan teman.

Aku adalah orang suram. Aku adalah orang yang selama ini selalu sendirian. Karena itulah aku tahu rasa takut akan kesepian lebih dari siapa pun, dan justru karena sekarang aku punya teman, perasaan tidak ingin sendirian lagi menjadi semakin besar.

Oleh karena itu, aku berniat bertanding sekuat tenaga sebagai Watanabe Masai, termasuk pertumbuhan yang benar dengan membiasakan diri pada sensasi bermain di dunia nyata.

──Tapi, aku berubah pikiran.

Asuka telah berkali-kali melontarkan kata-kata yang tidak boleh diucapkan padaku.

Tidak apa-apa menghina penampilanku. Tidak apa-apa merendahkan tindak-tandukku. Bahkan soal dia berselingkuh pun, aku tidak pernah mendesaknya.

Sebab itu adalah hasil dari kurangnya usahaku, sebuah dampak buruk yang lahir karena perjuanganku yang kurang.

Tapi soal "Shogi" ini, aku tidak pernah sekalipun melalaikan usahaku.

Bagiku, ini adalah kristalisasi yang kubangun dengan mempertaruhkan seluruh hidupku. Menyangkal hal itu sama saja dengan menyangkal hidupku sendiri.

Asuka telah berkali-kali menghina hidupku yang seperti itu. Dia menghancurkannya, melumatnya, dan menyangkal hidupku dengan perasaan seperti menendang kerikil di pinggir jalan.

──Mana mungkin aku bisa memaafkannya, kan?

"……Jika salah satu dari kalian harus bertarung melawan Asuka…… tolong bertarunglah tanpa belas kasihan."

Saat aku mengatakannya dengan ekspresi tegas yang jarang kutunjukkan, ketiga gadis itu mengangguk setuju.

"Tentu saja."

"Baik."

"Si-siap~……!"

Di saat itulah, Senior Takebayashi kembali dari meja registrasi.

"Maaf menunggu lama! Registrasinya sudah selesai! ……Loh, ada apa? Apa terjadi sesuatu?"

Menyadari suasana aneh di antara kami, Senior Takebayashi bertanya dengan wajah khawatir.

"Anu, itu……"

Aoi kesulitan menjelaskan situasi yang rumit itu dan melemparkan tatapan canggung pada Senior Takebayashi.

"Tidak ada apa-apa kok. Omong-omong, lawannya sudah diputuskan?"

"Oh iya! Lawan untuk babak pertama adalah Cabang 'Ryutei'!"

Eh, nama cabang macam apa yang kelewat chuunibyou begitu……

"……Hmm? Kalau tidak salah Ryutei itu bukannya cabang di bawah naungan Komite Ginzen?"

"Ah, tempatnya Ginzen ya. Berarti mereka kandidat juara dong?"

Gawat, aku sama sekali tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka.

Komite Ginzen? Cabang naungan? Karena tidak pernah ikut turnamen, aku benar-benar tidak tahu……

Saat aku memikirkan hal itu, Asuka yang seharusnya sudah pergi tadi kembali berjalan ke arah kami.

……Kenapa dia ke sini lagi? Mau apa lagi dia……

Aku memasang wajah masam, namun tak lama kemudian aku sampai pada satu kesimpulan yang membuat keringat dingin bercampur gairah mengalir di tubuhku.

……Jangan-jangan.

"Wah, baru berpisah beberapa menit ya. Tidak sangka kita langsung bertemu di babak pertama. Semuanya dari SMA Nishigasaki?"

──Ah, aku beruntung. Dendam pribadiku datang sendiri ke hadapanku.

Setelah upacara pembukaan selesai, kami anggota SMA Nishigasaki duduk di kursi masing-masing dengan jam catur dan papan Shogi di depan kami.

Di depan mata kami adalah orang-orang dari "Dojo Ryutei" yang berpusat pada Asuka.

Berdasarkan penjelasan singkat Senior Takebayashi tadi, "Dojo Ryutei" ini adalah dojo kuat yang baru saja berdiri di wilayah Barat.

Tujuannya adalah untuk mengalahkan "Dojo Kamikita" yang berada di wilayah Utara.

Karena "Dojo Kamikita" awalnya merupakan dojo tingkat teratas di prefektur, Komite Ginzen yang melihat nilai dalam metode pengajaran dan pendidikan muridnya pun membangun dojo baru.

Begitulah cara "Dojo Ryutei" ini terbentuk.

Lingkungan pengajaran yang keras berdasarkan sistem Sparta dan meritokrasi. Pihak yang kalah tidak punya hak untuk bicara, dan hanya pemenang yang terus menanglah yang diizinkan berdiri di puncak.

Semua anggota "Dojo Ryutei" yang dilatih setiap hari di lingkungan seperti itu memiliki kepercayaan diri yang luar biasa atas kekuatan mereka sendiri.

"Wahahaha! Tidak sangka kita akan langsung bertemu dengan salah satu kandidat juara! Semuanya, maaf! Sepertinya keberuntunganku dalam mengocok undian memang tidak terlalu bagus!"

Senior Takebayashi yang tidak bisa membaca suasana meminta maaf sambil tertawa.

"Tidak perlu dipikirkan. Toh kita akan menang."

"Benar. Aku, Tojo-senpai, dan Masai-senpai pasti menyumbang tiga kemenangan. Sisanya tinggal satu orang lagi saja yang menang dari empat orang lainnya, jadi santai saja."

Tojo dan Raizaki mengatakannya dengan volume suara yang cukup terdengar oleh anggota Dojo Ryutei.

"Oi, kalian dengar itu? Katanya mereka mau menang melawan kita."

"Duh, takutnya~."

Anggota Dojo Ryutei tidak memedulikan provokasi Tojo dan yang lainnya, mereka duduk dengan ekspresi yang sangat tenang.

Lalu Asuka yang sepertinya adalah pemimpin Dojo Ryutei membuka suara dengan senyum penuh kemenangan.

"Yah, meskipun dojo kami berisi orang-orang kuat, mengalahkan Tojo Mika sendirian memang sulit. Tapi ini turnamen tim. Kemenangan satu orang tidak akan ada artinya."

Asuka mengatakannya sembari menatap rendah kami.

Ekspresinya benar-benar menunjukkan keyakinan akan kemenangan mereka sendiri. Mungkin ini adalah jenis ketenangan yang lahir dari kekuatan yang haus akan kesombongan dan keangkuhan.

……Membosankan.

Satu per satu anggota Dojo Ryutei duduk di kursi masing-masing, dan pandangan kami beralih dari Asuka ke lawan di depan mata.

Namun, kursi di depanku masih kosong.

Benar, karena orang yang seharusnya duduk di sana masih berdiri.

"Tidak sangka kamu benar-benar jadi Taisho. Kupikir tadi cuma bercanda."

Asuka mengatakannya sambil meminum teh sedikit.

Sepertinya dia merasa aku bukan tandingannya, matanya benar-benar meremehkanku, melemparkan tatapan seolah aku ini mahluk rendahan.

Menghadapi Asuka yang seperti itu, aku tidak mengatakan apa-apa dan mulai menyusun bidak dalam diam.

"Kamu dari dulu memang hobi diam begitu ya. Selalu mengabaikan hal-hal yang tidak menguntungkan bagimu, dari dulu itu benar-benar menyebalkan."

Ada saja balasannya. Diam salah, bicara pun pasti salah.

Kenapa ya, orang kuat itu sepertinya tidak punya keraguan sama sekali untuk merendahkan orang lain?

Sambil menyusun bidak, aku bertanya pada Asuka yang baru hendak duduk.

"……Hei, Asuka. Apa kamu tahu aku bermain Shogi Wars?"

"Tahu atau tidak, dulu kan kamu yang mengajariku pakai aplikasi itu. Memangnya kenapa?"

Asuka memiringkan kepala, tak mengerti arah pertanyaanku.

Saat masih berpacaran dulu, aku memang sering bermain Shogi Wars di sampingnya. Bukan cuma sekadar di depan matanya, aku bahkan pernah bertanding melawan Asuka sendiri.

Artinya, Asuka adalah orang pertama yang melihat bahwa namaku di sana adalah Jimeitsui.

"……Tidak, bukan apa-apa."

Begitu ya, ternyata Asuka memang sama sekali tidak tertarik padaku.

Seandainya dia tahu kalau aku adalah Jimeitsui, Asuka yang sombong itu pun pasti tidak akan berani meremehkanku sampai sebegininya. Aku bisa menebaknya dari reaksi Tojo atau Raizaki.

Jadi, Asuka bahkan tidak terpikir barang satu milimeter pun kalau aku adalah si pemilik akun itu.

Apa ingatan masa lalu itu sudah terhapus dari kepalanya, atau sejak awal dia menganggapku tidak berharga untuk diingat?

……Ini pertama kalinya aku merasa semarah ini.

Pasti, dia juga sudah melupakan "janji" itu.

"……Kalau begitu, ayo kita mulai."

"Jangan sok mengatur. Sudah pasti aku yang melakukan Furigoma."

Asuka merebut inisiatif untuk menentukan siapa yang jalan duluan dengen mengocok bidak. Setelah bidak dilempar, urutan jalan tim pun ditentukan.

Bersamaan dengan itu, staf di venue memegang mikrofon dan memberi aba-aba dimulainya pertandingan.

"Baiklah, dengan ini turnamen tim Oryu-sen wilayah Barat babak pertama resmi dimulai. Silakan mulai pertandingan secara serentak."

Merespons kata-kata itu, kerumunan pemain di aula menundukkan kepala dan memulai duel mereka.

""Selamat bertanding.""

Dan begitulah, tirai pertarunganku dengan Asuka resmi dibuka.

Pada saat yang sama, di sudut aula, seseorang tampak mengintip jalannya turnamen dengan sembunyi-sembunyi.

Gadis itu memiliki penampilan menawan dengan kulit putih bersih, serta wajah cantik yang tak kalah dari seorang idola. Dari sisi mana pun, ia adalah definisi gadis cantik sejati. Ia bersandar di dinding sambil bersedekap, mengamati suasana turnamen.

"Oh, ada tamu yang tidak biasa di sini."

Orang yang menyapa gadis itu adalah Suzuki Tetsuro, penyelenggara turnamen Oryu-sen wilayah Barat sekaligus ketua asosiasi tingkat prefektur.

"Suzuki Tetsuro, ya. Kamu sudah kelihatan sangat tua."

"Ahaha, kata-katamu pedas sekali. Tapi kamu sendiri terlihat sangat…… ah, tidak, lupakan saja."

Suzuki Tetsuro mengurungkan niatnya dan menelan kata-kata lanjutannya.

"Omong-omong, bagaimana kabar Gensui?"

"Kabar baik…… inginnya aku bilang begitu, tapi sepertinya belakangan ini pinggangnya bermasalah, jadi sekarang dia harus pakai tongkat."

"Turut berduka cita…… Memang tidak ada yang bisa menang melawan usia, ya."

"Ironis sekali mendengarnya dari mulut anak muda sepertimu."

"Aku tidak muda."

Menghadapi gadis yang sulit ditebak pikirannya itu, Suzuki Tetsuro mengikuti arah pandangannya ke tengah aula.

Lalu, ia melontarkan pertanyaan yang paling mengganjal di hatinya.

"……Jadi, apa yang akan terjadi setelah ini?"

Mendengar itu, si gadis hanya melirik ke arah Suzuki Tetsuro.

"Tempat ini bukan tempat yang seharusnya didatangi sosok 'besar' sepertimu. Tapi kamu datang ke sini. Kamu yang biasanya tidak pernah menunjukkan minat pada siapa pun. Jika demikian, pasti akan terjadi sesuatu di arah pandanganmu itu. Bisa tolong beritahu aku?"

Setelah terdiam sejenak, gadis itu menjawab.

"Apa kamu tidak bisa melihatnya?"

"Yah, mataku sudah tua."

"Kalau begitu pakai mata batin."

"Hei, jangan minta yang mustahil."

Suzuki Tetsuro menggaruk kepalanya dengan wajah bingung menghadapi candaan gadis itu.

"──Padahal aku sendiri yang ingin bertanya, kenapa aku sampai melangkahkan kaki ke sini……"

Sesaat, nada suara gadis itu berubah seperti orang yang berbeda. Ia bergumam dengan suara bening yang bahkan tidak tertangkap oleh telinga Ketua Suzuki, lalu ia berbalik dengan anggun dan meninggalkan aula.

"Kamu sudah mau pulang?"

"Aku tidak punya waktu luang untuk menonton pertandingan yang hasilnya sudah ditentukan."

Suzuki Tetsuro tidak bisa membalas kata-kata itu, ia hanya menatap punggung si gadis yang menjauh.

Kemudian ia memastikan kembali arah pandangan gadis itu tadi, mencoba membaca apa yang sebenarnya ia pikirkan.

"……Itu kan."

Di ujung pandangan itu, sedang berlangsung pertarungan antara Dojo Ryutei dan SMA Nishigasaki.

Mesin penjual otomatis zaman sekarang memang hebat. Pilihan minumannya sangat banyak.

Waktu aku masih SD pilihannya tidak sebanyak ini, tapi sekarang variasinya luar biasa.

"……Enak juga."

Aku mencoba meminum teh lemon yang baru saja kubeli, dan ternyata aromanya sangat harum. Apalagi harganya cuma 100 yen, sepertinya aku bakal ketagihan.

Aku memasang kembali tutup botol plastik itu, meletakkannya di samping, lalu dengan gerakan mengalir aku mengamati papan dan memeriksa jam.

Waktu yang digunakan dalam turnamen ini adalah 30 menit dengan tambahan waktu 30 detik. Artinya, jika waktu 30 menit habis, setiap langkah harus dilakukan dalam waktu kurang dari 30 detik.

Sisa waktuku adalah 29 menit 16 detik. Sedangkan sisa waktu Asuka tinggal 7 menit 12 detik.

"……Kamu, apa yang sebenarnya kamu lakukan……?"

Asuka tanpa sadar menggumamkan hal itu.

Aduh…… kamu masih punya nyali buat mengajakku bicara? Beda denganku, sisa waktumu tinggal tujuh menit lagi, lho.

"……Tidak ada. Aku cuma melangkah seperti biasa."

Permainan baru saja memasuki awal fase menengah (midgame). Asuka mencoba mengikuti Joseki untuk menarikku ke dalam ritmenya, tapi aku menghindari semua jebakan itu dan membawanya ke dalam perang urat syaraf yang panjang.

Dan sejak pertandingan dimulai hingga sekarang, aku melakukan semua langkah dalam waktu kurang dari tiga detik.

(Tidak mungkin……! Seharusnya aku yang unggul…… tapi kenapa!)

Strategi yang dikeluarkan Asuka adalah Sanken Nakabisha, taktik yang belakangan ini mulai populer kembali di kalangan profesional.

Sejak awal Asuka menggunakan taktik serangan cepat yang disebut Haya-Ishida, lalu setelah melihatku bergerak menuju permainan bertahan, ia membentuk formasi ideal Shogi yang disebut Ishida-ryu Hon-gumi.

Formasi ideal telah selesai── secara normal, pada titik ini Asuka pasti sudah yakin akan kemenangannya.

Namun, situasi di papan sudah sejelas siang hari. Aku menangkis formasi Ishida-ryu Hon-gumi miliknya hanya dengan satu Benteng (Hisha), lalu menggerakkan semua bidak kecil yang tersisa untuk menekan bagian atas pertahanan Asuka.

Karena bagian atas pertahanannya sudah terkunci, Asuka tidak bisa memperkuat pertahanan lagi. Tapi jika dia nekat menyerang, bidak penyerangnya justru akan jatuh ke tanganku, dan aku bisa langsung melancarkan serangan balik mematikan dari bagian atas yang sudah kutekan itu.

──Dengan kata lain, dia tidak bisa berkutik. Itulah kondisi Asuka sekarang.

(Padahal sudah membentuk formasi ideal, kenapa aku bisa terpojok begini…… oleh orang sepertimu……!)

Dari wajah kesal Asuka, aku bisa menebak apa yang dia pikirkan.

Memang benar formasi Asuka adalah formasi ideal dalam Shogi.

Dan Asuka bermain dengan berbagai trik kecil dari fase awal hingga menengah demi memastikan formasi ideal itu terbentuk sempurna.

Jika aku menyuarakan pikirannya, mungkin bunyinya begini: "Kalau sudah jadi formasi ideal aku pasti menang, jadi aku cukup riset cara membentuk formasi itu saja."

Memang, itu pemikiran yang sangat logis.

……Tapi, sejak awal konsep berpikir Asuka sudah salah total.

──Dalam Shogi modern, tidak ada yang namanya formasi ideal.

Secara teknis, apa yang disebut formasi ideal dalam Shogi hanyalah "formasi yang dianggap paling nyaman untuk dimainkan oleh manusia".

Artinya, hanya karena kamu berhasil membentuknya, bukan berarti kamu pasti menang atau otomatis unggul. Ideal tetaplah ideal, itu cuma soal kenyamanan pemain, tidak ada hubungannya dengan kondisi papan yang sebenarnya.

"Kh……!"

Gerakan Asuka yang sedang menatap tajam ke papan terhenti sesaat.

Keringat dingin mengucur dari pipinya. Ia bahkan tidak berani mengangkat pandangan.

Hari ini, di detik ini── posisiku dan Asuka akan segera berbalik.

(……Jangan sok hebat ya, dasar orang suram. Aku ini kartu as Dojo Ryutei! Mana mungkin aku kalah dari orang sepertimu……!)

Mata Asuka bergerak ke sana kemari, berusaha keras memikirkan langkah selanjutnya.

Langkah yang dia pikirkan mungkin antara 3-6 Pion (Fu), 8-5 Pion (Fu), atau 6-2 Emas (Kin). Semuanya sudah ada serangan baliknya; di titik ini, aku sudah bisa membaca jalur kemenanganku sampai akhir.

"──Ah."

Tiba-tiba, Asuka kembali bersemangat dan mengangkat sudut bibirnya, lalu melangkah 6-2 Emas (Kin). Begitu dia melangkah, aku langsung membalas tanpa membuang waktu sedetik pun.

"……Ha……? Kenapa, bagaimana kamu bisa tahu……"

Melihat Asuka yang terkejut dan panik, aku menghela napas panjang.

"Aku tahu, kok."

"Eh……?"

Meskipun kami memainkan strategi yang berlawanan antara Ibisha dan Furibisha, aku bisa merasakannya sedikit demi sedikit.

Rasanya seperti cermin simetris yang saling berhadapan. Sensasi nostalgia seolah-olah aku sedang bertarung melawan diriku sendiri.

Wajar jika aku merasakannya, dan aku tidak bisa menahan rasa kecewa pada Asuka yang masih saja berlindung di bawah nama besar orang lain.

"──Soalnya yang mengajarimu itu, aku."

Benar, itu adalah segala hal yang kuajarkan padanya dengan telaten.

Strategi itu, teknik itu, cara menang itu. Cara bertarung yang mengejar logika murni, memangkas kelemahan secara tuntas, dan menghubungkan posisi ideal menjadi kemenangan.

Gaya bermain yang sangat manusiawi karena mengikuti jejak pembelajaran masa lalu itu memiliki potensi untuk menjatuhkan lawan yang jauh lebih kuat sekalipun.

Pandangan Shogi yang sudah terasah itu, cara menggenggam senjata yang membuatnya merasa sudah menjadi kuat itu…… semua itu hanyalah teknik imitasi yang ia dapatkan dariku.

Brak!

Aku menekan jam dengan jari tengah secara cepat, membalas langkah Asuka tanpa menggunakan waktu sama sekali.

"Hiih!"

Baru sekarang Asuka menyadari kalau dia telah menyentuh sisik naga yang tertidur. Ia gemetar ketakutan karena sadar akan kekalahannya, menatapku dengan mata seperti hewan kecil yang terpojok.

Sudah menghina orang habis-habisan, tapi cuma segini kemampuanmu?

──Atau kamu benar-benar berpikir taring hasil mencuri hasil kerja keras orang lain bisa menang melawan orang yang mempertaruhkan hidupnya sebagai Jimeitsui?

Kalau begitu, sepertinya aku yang dulu salah cara mengajar.




Asuka tidak sanggup memahami sosok yang ada di hadapannya saat ini.

Segala asahan kemampuan dan teknik yang ia bangun selama ini sama sekali tidak mempan melawan pria di depannya.

Tanpa sadar, posisinya sudah seperti mangsa yang terjerat sarang laba-laba; tak berkutik, tak bisa lari, dan tak bisa melawan. Belenggu itu terus mengerat.

(Ti-tidak mungkin……!)

Konon, siapa pun yang bertarung melawan sang Jimetsutei—Kaisar Penghancur Diri—akan gemetar ketakutan karena kekuatannya yang luar biasa.

Asuka telah meremehkan kekuatan pria itu, kekuatan Watanabe Masaya.

Saat mereka masih berpacaran dulu, Asuka sering diajari banyak hal oleh Masaya. Namun, karena Masaya selalu membahas pengetahuan dan taktik tersebut seolah itu bukan hal spesial, Asuka tidak pernah menganggapnya berharga.

Lalu, saat lulus SMP, Asuka mulai memenangkan berbagai turnamen.

Gaya permainan yang sempurna, cara bertarung yang ideal, serta langkah-langkah brilian yang mengikuti teori standar membuat banyak orang terpesona dan memujinya.

Namun, itu semua adalah kekuatan semu.

Tentu saja ada pertumbuhan kemampuan yang diasah Asuka sendiri. Tapi, faktor terbesar yang menentukan kemenangannya adalah cara bertarung yang selama ini dicekokkan oleh Masaya—sebuah "taktik" yang nyata.

Asuka yang tidak menyadari hal itu mulai merasa terganggu dengan keberadaan Masaya yang makin tenggelam dari dunia kompetisi, berbanding terbalik dengan dirinya yang kian bersinar. Akhirnya, ia mencampakkan pria itu begitu saja di pinggir jalan.

──Saat itu, Asuka tidak menyadari satu hal.

Bahwa selama ini Masaya selalu mengalah saat bertanding dengannya, hanya karena Asuka akan merajuk jika kalah.

Bahwa alasan Asuka bisa bermain dengan begitu nyaman dan tenang adalah karena cara mengajar Masaya yang lebih hebat dari siapa pun.

Dan bahwa Watanabe Masaya adalah sang Jimetsutei itu sendiri.

"Ka-kamu ini Masaya, kan……? Bukan orang lain, kan……?"

Asuka menatap Masaya dengan wajah pucat pasi, seolah sedang melihat orang yang sama sekali berbeda.

Permainan belum berakhir, bahkan belum memasuki babak akhir. Namun, Asuka tidak mampu melangkahkan satu bidak pun ke depan.

"Dari dulu sampai sekarang, aku memang Watanabe Masaya, kok."

"Bo-bohong……! Habisnya, kamu itu tidak mungkin se-seperti ini……"

Asuka menggelengkan kepala dengan bibir gemetar mendengar jawaban jujur Masaya.

"……Kamu tidak mungkin sekuat ini."

Akhirnya, Asuka menumpahkan perasaan yang selama ini ia pendam dalam hati. Ia memelototi Masaya dengan tatapan seolah sedang melihat sesuatu yang tidak masuk akal.

Perhitungannya meleset. Harusnya tidak begini. Jika ia tahu Masaya sekuat ini, dia pasti punya cara lain.

Sejak awal, dia tidak akan pernah lengah──.

Melihat kilatan mata yang penuh penyesalan itu, Masaya hanya melontarkan satu kalimat dingin.

"……Terus?"

Tatapan itu begitu kejam, seolah-olah Masaya tengah memandang seekor serangga yang malang.

"Apakah kekuatanku ada hubungannya denganmu?"

"Itu……!"

Asuka terdesak, kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Kecemasan itu berakar pada kenyataan bahwa saat ini Asuka memikul beban sebagai kartu as di Dojo Ryutei.

'Asuka, kamu benar-benar bisa melakukannya, kan?'

'Tentu saja. Kamu pikir aku ini siapa?'

Sehari sebelum turnamen Koryu-sen. Saat anggota Dojo Ryutei berdiskusi tentang siapa yang akan menjadi kapten, Asuka dengan percaya diri mengajukan diri.

Itu adalah tindakan dengan risiko sekaligus imbalan yang tinggi.

Dojo Ryutei berada di bawah pengaruh Komite Ginsen yang menjunjung hukum rimba. Jika ia kalah, taruhannya bukan sekadar turun peringkat; skenario terburuknya adalah dikeluarkan dari dojo.

Namun, jika ia berhasil membawa tim menuju kemenangan sebagai kapten, posisinya sebagai favorit Komite Ginsen akan menjamin kenaikan tingkat dan masa depan yang cerah.

Bagi Asuka yang mengincar gelar pemain profesional wanita, ini adalah kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan.

──Dan mimpi itu kini sedang berada di ambang kehancuran.

"Hei, Masaya? Apa kamu masih marah soal yang tadi?"

Demi mimpinya, Asuka membuang harga dirinya dan mulai merayu Masaya dengan suara yang dibuat-buat manja.

"Hah?"

Masaya menjawab dengan nada suara yang datar tanpa emosi.

"Ma-maafkan aku, ya? Aku tidak bermaksud jahat saat mengatakannya. Aku hanya sedikit gugup tadi……"

Sikapnya berubah drastis. Sambil tersenyum licik di dalam hati, Asuka memperpendek jarak dan menatap Masaya dengan pandangan memelas, mencoba meredam amarahnya.

Dulu pun dia berhasil melakukannya. Dia bisa menjerat pria itu dengan cara ini. Menaklukkan pria suram yang tidak laku itu sangatlah mudah; cukup buang permusuhan dan merayunya dengan suara manja.

Dengan pemikiran itu, Asuka berusaha keras mengalihkan perhatian Masaya dari papan permainan.

"O-oh iya! Bagaimana kalau setelah ini kita pacaran lagi? Aku sudah putus dengan Inomata-kun tak lama setelah itu. Yah, pria yang tidak cerdas memang tidak cocok denganku! A-aku rasa, aku memang lebih suka pria pintar dan kuat seperti Masaya. Ma-makanya──"

Setelah merangkai kata-kata manis yang dirasa akan menguntungkan Masaya, Asuka memberikan jeda sejenak sebelum mengutarakan keinginan aslinya.

"Bisa tidak, sekali ini saja kamu mengalah padaku?"

Alis Masaya berdenyut.

"Permintaan yang tidak masuk akal" itu sudah sering dikabulkan oleh Masaya berkali-kali di masa lalu.

──Aku akan mengalah padamu. Entah sudah berapa puluh atau ratusan kali hal itu terulang.

"Te-tentu saja bukan cuma-cuma! Kali ini, kita akan melakukan hal-hal yang selayaknya sepasang kekasih, oke?"

Di tengah kebisingan penonton yang mulai ramai di sekitar mereka, Asuka berbisik manja dengan volume suara yang hanya bisa didengar oleh Masaya.

Dulu, ia selalu bisa mengendalikan pria ini dengan cara begini.

Jadi, kali ini pun pasti akan berhasil──.

"Ba-bagaimana?"

Entah sedang berpikir atau tidak, Masaya tidak memberikan reaksi apa pun.

"……Hei?"

Sepuluh detik, tiga puluh detik, satu menit──. Berapa lama pun ia menunggu, Masaya tetap tidak bergeming.

"He-hei, kamu dengar tidak? Mikado──"

"Aku dengar, kok. ──Terima kasih sudah berbaik hati menghabiskan waktu berpikirmu hanya untukku."

"Apa……!?"

Pria di hadapannya yang seharusnya adalah sosok suram yang bahkan tidak berani menatap mata orang lain, kini menatapnya tajam tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.

Negosiasi gagal──bahkan lebih buruk dari itu.

Masaya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada Asuka.

Waktu berpikir yang terus berkurang, ditambah posisi yang sangat terdesak. Masaya, yang sudah unggul secara posisi, hanya memikirkan cara untuk mengunci kemenangan mutlak.

Lagipula, sejak dulu Masaya memang tidak pernah tergoda.

Dia adalah orang yang mencintai dan tenggelam dalam dunia shogi, bertarung dalam kesunyian sampai akhirnya muncul lawan jenis dengan hobi yang sama. Wajar jika ia merasa tertarik, dan dari ketertarikan itulah cinta tumbuh.

Namun, setelah Asuka menyangkal permainan shogi dan seluruh hidup Watanabe Masaya dari akarnya, tidak ada lagi rasa iba yang tersisa.

──Asuka telah menginjak ranjau daratnya.

"Ka-kamu mau mengalahkanku……!?"

"……"

"Padahal kamu tidak punya kelebihan apa-apa……!"

"Haaah."

Masaya menghela napas lelah. Tatapannya kini kosong seperti orang lain, kehilangan cahaya yang biasa ada di sana.

"──!?"

Seketika, Asuka merasa seolah seluruh tubuhnya ditusuk oleh ribuan bilah tajam.

"Tatapan penuh niat membunuh" itu tidak mungkin keluar dari seorang pria pemalu. Jantung Asuka berdegup kencang dengan irama yang menyakitkan, seolah sedang diremas kuat-kuat.

Rasa merinding menjalar ke seluruh tubuhnya, diikuti keringat dingin yang mengucur deras.

……Dengan ujung jari yang gemetar, Asuka menjalankan bidaknya dan menekan tombol jam catur. Saat itu juga, tangan Masaya sudah bergerak.

Tepat saat Asuka menekan tombol, Masaya langsung membalas tanpa jeda waktu sedikit pun (no-time).

Pikiran dan strateginya──semuanya telah terbaca.

(Tidak…… Bohong, ini pasti bohong……!)

Kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kini menghadang di depan mata.

Setidaknya, ia tidak pernah menghadapi gaya permainan yang begitu menekan dan tidak masuk akal seperti ini.

Apakah ini benar-benar sebuah kekuatan? Apa ada seseorang yang membisikkan langkah padanya dari belakang? Langkah-langkah Masaya terasa begitu mustahil hingga Asuka mulai meragukan kewarasan situasi ini.

(Kenapa dia bisa jadi sekuat ini…… Kenapa dia bisa bertarung seperti ini……!)

Asuka mengepalkan tinju, memelototi sisa waktu di jam yang terus berkurang.

Jika saja dia tahu pria ini sekuat ini, jika saja dia tahu pria ini bisa menunjukkan kekuatan sebesar ini.

──Maka Asuka tidak akan pernah mencampakkan Masaya.

(Apa kamu menipuku selama ini……? Tidak, kamu tidak mungkin punya akal bulus seperti itu──!)

Asuka mengalihkan kemarahannya bukan kepada Masaya, melainkan ke papan permainan. Ia mencoba memungut kembali sisa-sisa pemikiran yang sempat ia buang.

(Benar…… Aku…… tidak mungkin kalah──dari orang sepertimu……!!)

Setelah kembali fokus dalam lima langkah terakhir, jelas bahwa itu sudah menjadi luka fatal di babak akhir. Masaya tidak melewatkan kebodohan Asuka yang mencoba mencari celah kemenangan dengan langkah yang membabi buta.

Meski begitu, langkah nekat Asuka yang tidak mau mundur mencoba menerobos prediksi Masaya.

"Bagaimana……!"

"……"

Dengan keringat dingin yang mengalir, Asuka merasa sedikit mendapatkan kembali kendali permainan.

Masaya, yang sebelumnya selalu bergerak instan, untuk pertama kalinya mulai terdiam dalam pemikiran panjang (choko).

Itu bukan gertakan. Itu adalah bukti nyata bahwa prediksinya telah meleset.

"Sekarang, aku bisa menganggap tawaran tadi tidak pernah ada. ……Jika kamu menyerah sekarang, aku akan bilang pada orang-orang kalau ini adalah pertarungan sengit yang luar biasa."

Asuka memutar otaknya sekuat tenaga untuk menjerat Masaya kembali ke meja negosiasi.

──Namun, Asuka tidak menyadari bahwa kepalanya yang sedang berpikir itu sebenarnya sudah terpisah dari lehernya.

Sejauh ini, Masaya bergerak hampir tanpa waktu karena langkah Asuka selalu sesuai dengan langkah terbaik──atau "langkah yang paling tidak disukai" menurut Masaya.

Prinsip dasar dalam shogi adalah melakukan langkah yang paling dibenci lawan. Dengan kata lain, seseorang harus mulai dengan memikirkan apa langkah yang paling tidak ingin ia hadapi.

Fakta bahwa Masaya mulai berpikir panjang karena prediksinya meleset berarti Asuka tidak melakukan langkah yang paling dibenci Masaya.

──Singkatnya, itu adalah langkah buruk (akushu).

Sepuluh menit pemikiran panjang. Masaya menggunakan sisa waktunya sepenuhnya untuk membaca sisa permainan──yang ternyata sudah menuju akhir.

"……!"

Asuka terkejut saat Masaya tiba-tiba melakukan skak (ou-te), namun ia mencoba membalasnya.

──Tapi, sejak saat itu, tangan Masaya tidak berhenti.

Skak, skak, skak──serangkaian skak bertubi-tubi.

(Bohong…… ini bohong, kan……? Apa dia cuma menggertak di saat terakhir……? Tidak, bukan!)

Tangan Masaya tidak berhenti bergerak. Dari sini, semuanya hanyalah "prosedur".

Kondisi Tsumi (skakmat) dalam shogi adalah teka-teki dengan jawaban pasti di tengah kerumitan permainan yang luar biasa.

Untuk menyusun teka-teki yang sudah terpecahkan, tidak diperlukan waktu untuk berpikir lagi.

Sepuluh menit tadi adalah waktu yang digunakan Masaya untuk mengayunkan pedang sebelum menebas leher Asuka.

(Jangan bercanda──!? Dia membaca semua ini sampai tuntas!? Dia tahu ini adalah kematian mendadak!? Di posisi serumit ini…… mana mungkin!!)

Bahkan Asuka sendiri tidak menyadari jalur kematian mendadaknya, membuat keringat mengucur deras dari dahinya.

"Tunggu, tung──"

Di posisi di mana kekalahan sudah mutlak ini, memohon ampun sudah tidak ada gunanya.

Kepala Asuka sudah terpenggal. Sisanya hanyalah formalitas untuk memastikan siapa yang menang, karena hasilnya sudah diputuskan sejak tadi.

"Ah…… aaah……!"

Wajah Asuka pucat pasi. Masaya hanya menatap papan permainan.

Sejak awal tidak ada ruang untuk negosiasi, apalagi mengalah. Kata-kata, rayuan, bahkan ekspresi memelas yang ditunjukkan Asuka dianggap tidak ada oleh Masaya.

Karena orang yang memutuskan hubungan yang dulunya menyimpan kemungkinan itu adalah──Asuka sendiri.

(Sial, aku tidak mau kalah…… Di babak pertama seperti ini, padahal aku sudah dipercaya jadi kapten. Kalau lawannya Tojo Mika atau 'Ratu Tanpa Mahkota' sih masih mending, tapi dikalahkan oleh orang tidak dikenal seperti ini──)

Asuka membayangkan masa depannya dan merasa mual.

Jika ini turnamen lain, mungkin masih tertolong.

Toh, ini hanya turnamen amatir. Meski terhubung ke tingkat nasional dan jalur profesional, bagi Asuka, satu-satunya tempat pembuktian adalah Koryu-sen.

Dia mempertaruhkan segalanya di sini, dimulai dari penyisihan tingkat prefektur ini.

Tapi ternyata──.

"Masaya……!"

Untuk pertama kalinya Asuka menaikkan suaranya, membuat orang-orang di sekitar menoleh sejenak.

Asuka tersentak dan langsung merendahkan suaranya, berbisik memohon.

"Ma-maaf. Aku akan minta maaf dengan benar, oke? Ya? Kumohon……?"

Waktu Asuka sudah habis, ia kini memasuki hitungan detik terakhir (byo-yomi).

"Kumohon……! Kalau begini terus, aku……!"

Ia memohon dengan putus asa, bahkan air mata mulai menggenang.

"Hei……!"

Hitungan mundur byo-yomi seolah menandakan berakhirnya masa depan Asuka.

"Dengarkan aku……!"

Sudah terlambat bahkan untuk menggerakkan bidak.

"Tidak…… ah……"

──Waktu habis.

Seketika, suara mekanis dari jam catur terdengar. Asuka membeku dengan tubuh gemetar dan kepala tertunduk.

"Terima kasih atas pertandingannya."

Masaya membungkuk hormat, lalu berdiri dan melewati Asuka seolah-olah wanita itu hanyalah udara kosong.

Ia pergi meninggalkan tempat itu tanpa melakukan sesi diskusi pascapertandingan (kanso-sen).

Pertandingan tim pertama──laga antar kapten berakhir dengan kemenangan mutlak Masaya.

Kesadaranku baru kembali setelah aku masuk ke toilet untuk beristirahat sejenak usai pertandingan melawan Asuka.

Benang ketegangan mengendur, dan suara-suara di sekitar yang tadinya teredam mulai terdengar jelas kembali. Perasaan mahakuasa seolah dunia berputar di sekelilingku yang kurasakan tadi lenyap, digantikan oleh sensasi biasa yang normal.

"Haaah……"

Aku memegang kepala dan menghela napas panjang.

Rasanya lega. Mungkin itu kata yang tepat.

Aku bertarung dengan sekuat tenaga dan berhasil menuntaskan dendamku pada Asuka selama ini. Selain itu, aku menang dan bisa berkontribusi bagi tim.

Benar-benar hasil yang sempurna.

Tapi, aku tidak tahu apakah itu tindakan yang benar.

Ini berbeda dengan saat aku masih memegang "kapak belalang" yang lemah dulu. Sekarang aku berdiri di sini dengan kekuatan yang nyata di punggungku.

Pemikiran yang didasari emosi adalah racun. Itu mengaburkan pandangan objektif dan membuatku sulit mengambil keputusan yang tenang.

Namun, seperti halnya niat membunuh yang bisa membangkitkan tenaga, emosi juga bisa menjadi obat yang mempercepat pemikiran jika digunakan dengan benar.

(Kaisar Penghancur Diri, apa yang akan kau pikirkan──)

Suara yang bergema di dalam batin hanyalah sisa-sisa gema yang tidak memberikan jawaban. Aku pun mengesampingkan jawaban yang ada di depan mata, menyadari bahwa ini adalah masalah pribadiku sendiri.

──Lagi, aku harus lebih kuat lagi. Aku harus tumbuh lebih dari ini.

"……Ayo kembali. Tojo dan yang lainnya masih bertarung."

Aku keluar dari toilet dan melangkahkan kaki kembali menuju ruang turnamen.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close