NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Ouja no Ban Kuruwase -Netto Shougi no Teiou ~ Kiryuu no Ouja to Taiji suru ⁓ Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Turnamen Koryu


『【GawatSiapa Sih Sebenarnya Player Amatir Kuat Bernama Jimetsu-tei Ini? Part 10

Anonim 328

: Lho? Jimetsu-tei mati ya?

Anonim 329

: Beneran. Rekor kemenangan beruntunnya berhenti.

Anonim 330

: Tadi pagi dia kalah sama player tingkat Kyu (Peringkat Bawah).

Anonim 331

: Berhenti di 97 kemenangan ya, sayang banget.

Anonim 332

: Padahal 100 kemenangan sudah di depan mata.

Anonim 333

: >>330 Kalah sama tingkat Kyu itu maksudnya gimana? Kalah sama pemula?

Anonim 334

: Itu mah "Peringkat Bawah yang Mengerikan".

Anonim 335

: >>333 Tipe begini mah tampilannya aja Kyu, tapi aslinya player tingkat Dan tinggi. Player jago yang nyamar jadi pemula itu biasa disebut "Peringkat Bawah yang Mengerikan".

Anonim 336

: Oh, paham. Jadi intinya Jimetsu-tei kalah sama player jago ya.

Anonim 337

: Tapi emangnya ada player tingkat Dan yang lebih jago dari Jimetsu-tei?

Anonim 338

: Jimetsu-tei juga manusia, wajar kalau sesekali kalah sama yang di bawahnya.

Anonim 339

: Serius, Jimetsu-tei itu manusia? Aku kira dia alien Shogi atau sejenisnya.

Anonim 340

: Yah, kalau lihat kekuatannya sih emang level alien.

Anonim 341

: Kalau hadapan langsung bisa bikin kena mental sih wkwk. Untung aja dia nggak pernah muncul di turnamen dunia nyata.

Anonim 342

: Barusan aku cek profil "Peringkat Bawah yang Mengerikan" yang ngalahin Jimetsu-tei, kok tampilannya bug ya.

Anonim 343 : Beneran, profilnya bug. Eh, bukannya ini kena BAN?

Anonim 344

: Maksudnya?

Anonim 345

: >>344 Artinya dia pakai cheat buat ngalahin Jimetsu-tei. Jadi intinya Jimetsu-tei nggak beneran kalah.

Anonim 346

: Apaan sih, bikin kaget aja bilang Jimetsu-tei kalah. Ternyata lawannya tukang cheat.

Anonim 347

: Nggak mungkin Jimetsu-tei kalah tanpa alasan jelas.

Anonim 348

: Kasihan Tei-chan.

Buruk sekali…….

Setelah entah bagaimana berhasil melewati ujian simultan kemarin, hari ini aku berangkat sekolah seperti biasa, tapi semangatku benar-benar hancur lebur.

Dasarnya aku memang benci pagi hari dan sulit menghilangkan rasa malas, tapi hari ini ada kejadian yang jauh lebih menyedihkan.

Melihat wajahku yang penuh keputusasaan ini, kalian pasti sudah bisa menebaknya.

Ya, di aplikasi Shogi yang kumainkan, "Shogi Wars", aku baru saja kalah tepat sebelum mencapai 100 kemenangan beruntun…….

Memang tidak ada hadiah apa pun meski menang 100 kali, tapi saat target yang kutetapkan sendiri lenyap begitu saja di depan mata, rasanya menusuk ke hati. Sakit banget…….

Kalau aku kalah karena kurangnya kemampuanku sendiri, aku bisa menerimanya dan tidak akan marah.

Masalahnya adalah, aku tidak kalah melawan manusia, melainkan melawan AI.

Singkatnya, aku dicurangi.

"Haaa……."

Helaan napas tidak berhenti keluar setiap kali aku melangkah di pinggir jalan.

Karena ini game online, aku tidak bisa melihat kondisi lawan, jadi aku bahkan tidak sadar kalau dicurangi menggunakan AI.

Jika semua langkahnya adalah langkah terbaik atau pilihan kedua yang sangat sempurna, aku pasti curiga itu cheat. Tapi kalau dicampur dengan langkah manusia, membedakan antara cheat dan kemampuan asli jadi mustahil.

Manusia tidak akan mungkin menang melawan mesin, apalagi dalam permainan kilat di mana perbedaan kemampuan komputasi sangatlah telak.

Kekalahan itu sudah mutlak.

"Haaa……."

Helaan napas berat kedua hari ini. Sebenarnya sudah berkali-kali sejak tadi.

Kecepatan jalanku pun sedikit melambat.

Untungnya, lawan sepertinya memang tukang cheat kambuhan, karena saat aku mengecek profilnya, dia sudah terkena BAN.

Pihak pengembang pasti sudah mengonfirmasi kecurangannya.

Tapi, meski lawan kena BAN, hasil kekalahanku tidak akan hilang. Kalah tetaplah kalah, catatan buruk tetaplah catatan buruk.

Lagipula, kasus seperti ini lumrah di dunia Shogi online. Setiap kali ada BAN massal, banyak yang protes minta poin dikembalikan atau kekalahan dihapus, tapi karena masalah teknis, pihak pengembang hampir tidak pernah menanggapi.

Jika itu sudah menjadi hukum di dunia kompetisi ini, maka aku harus menerimanya.

Akibat kekalahan melawan peringkat bawah ini, poin peringkatku dikuras habis, dan aku langsung terlempar jauh dari puncak klasemen.

Meski peringkatku masih Dan 9, kalau aku kalah beberapa kali lagi, aku bisa turun ke Dan 8.

Cheat itu haram. Serius…… tolonglah.

"Haaaaaa……."

Helaan napas berat ketiga hari ini.

Aku menendang kerikil di pinggir jalan lalu mendongak.

Yah, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Aku tinggal menang lagi nanti.

Lagipula, suatu saat nanti aku ingin bisa menang melawan AI. Meski saat ini dianggap mustahil dan persentasenya mendekati nol setiap harinya, aku percaya itu tidak akan pernah menjadi nol mutlak.

Bisa menang melawan AI terkuat dengan kemampuan murni adalah tantangan yang setara dengan mencetak sejarah umat manusia.

Kalau aku bisa menang meski dicurangi, itu baru namanya orang kuat yang keren dan patut dikagumi.

Sambil membayangkan gambaran ideal di masa depan, aku sedikit memulihkan semangat dan terus berjalan.

Sekitar 10 menit lagi sampai di sekolah, lebih baik aku mendengarkan musik untuk membunuh waktu──.

Baru saja berpikir begitu, tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang.

"Pa-pagi."

Eh? Barusan dia bilang apa? Pagi? Nggak mungkin.

Aku tidak punya teman yang akan menyapaku. Bagaimanapun juga, aku ini siswa SMA penyendiri yang kupernya minta ampun. Pahlawan macam apa yang mau menyapa orang sepertiku…….

Begitu aku menoleh, mataku terbelalak saking kagetnya.

"To-to-Tojo-san!?"

"I-iya……."

Eh? Kenapa Tojo ada di sini? Ini kan jalur berangkat sekolahku? Aku nggak salah jalan, kan……? Lagian kenapa dia menyapaku? Seram, seram banget……! Cewek kasta tertinggi itu menakutkan!

"Anu, pagi Tojo-san. Ada urusan denganku……?"

"Nggak, itu…… aku cuma mau minta maaf soal kemarin."

"Eh?"

Soal kemarin……?

"Soal aku yang tiba-tiba pergi…… kemarin Ketua menghubungiku dan bilang kalau aku harus minta maaf dengan benar. Jadi, maaf ya?"

"A-ah……! Nggak, aku sama sekali nggak keberatan kok! Lagian Tojo-san sendiri nggak apa-apa? Anu, kemarin kamu nangis."

"Apa!? Aku nggak nangis ya! I-itu tadi cuma……! Su-sudahlah, lupakan!"

Oh, Tojo yang biasanya sudah kembali. Karena tadi dia tiba-tiba jadi kalem, aku sempat mengira dia orang lain.

Setelah menatap wajahku sejenak, Tojo menunduk dan bergumam.

"……Kemarin setelah pulang, aku belajar mati-matian."

"……Begitu ya."

"A-aku tegaskan ya, ini cuma soal Shogi! Kalau soal pelajaran, aku nggak akan kalah darimu!"

"Nggak, aku juga nggak salah paham dan nggak ngajak saingan kok……."

Tojo menunjukkan sifat keras kepalanya di hal-hal yang aneh.

Selain Shogi, dia juga juara dalam pelajaran dan olahraga, jadi jelas sangat berbeda denganku yang cuma punya kelebihan di Shogi.

Tojo kemudian berjalan di sampingku dan terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu.

"……Dulu, aku benci sekali dengan orang yang jago Shogi."

Di tengah keheningan, tiba-tiba Tojo menggumamkan kata-kata itu.

Aku segera bertanya balik.

"Kenapa?"

"……Karena aku merasa mereka berdiri di sana hanya karena bakat."

Kalimat yang menusuk hati dan terasa akrab itu masuk ke telingaku.

Kata-kata Tojo itu sama persis dengan keluhan yang sudah kuteriakkan dalam hati puluhan kali selama ini.

"Aku juga sadar kalau aku punya sedikit bakat, jadi aku nggak bermaksud munafik. Tapi, aku selalu berpikir kalau aku berusaha seperti yang kamu bilang, aku pasti bisa menang. Aku pikir aku bisa melampaui siapa pun. ……Tapi saat aku melihat ke atas, ada banyak sekali orang yang lebih kuat dariku, dan aku nggak bisa menang melawan mereka meski sudah berusaha sekuat tenaga."

Benar-benar ironis. Pemandangan orang berbakat dikalahkan oleh orang yang lebih berbakat adalah hal yang lumrah.

Karena Tojo jago Shogi, dia pasti sudah melihat dunia yang lebih luas. Karena itu, dia juga sudah merasakan keputusasaan yang lebih banyak.

"Makanya aku pikir aku kalah karena mereka semua punya bakat yang lebih hebat dariku. Aku selalu salah paham dan mengira orang-orang kuat itu nggak pernah berusaha, dan cuma menang karena bakat."

Tojo yang tadinya berekspresi muram sedikit mengendurkan bibirnya dan melanjutkan.

"……Tapi, baru-baru ini muncul orang aneh di depanku. Orang itu lebih payah dariku dalam pelajaran maupun olahraga, tipe cowok yang selalu meringkuk di pojok kelas. Sama sekali nggak kelihatan punya bakat. Nggak punya selera, nggak kelihatan punya semangat, dan rambutnya selalu berantakan."

Haha, itu benar-benar aku. Rasanya pengen nangis.

Namun, berbeda dengan apa yang kupikirkan, Tojo melanjutkan.

"……Tapi, cowok itu menghajarku dengan wajah yang seolah nggak terjadi apa-apa. Dalam permainan yang butuh kecerdasan, cowok itu menghancurkan aku yang merupakan siswa terpintar di angkatan. Lucu banget ya. Saking anehnya………… aku sampai nangis tanpa sadar."

Mendengar kejujuran Tojo, aku tidak bisa berkata apa-apa.

Tojo terus berjalan dengan langkah yang sama denganku, menceritakan kelemahannya. Sama seperti yang aku katakan kemarin.

Wajahnya terhalang bayangan sehingga aku tidak bisa melihat matanya, tapi senyum tipis tersungging di bibirnya.

"……Kamu ternyata sudah berusaha, jauh lebih banyak dariku."

"……Yah, begitulah."

Aku menjawab dengan malu-malu.

Aku tidak menceritakan detail "usahaku" pada Tojo. Yang aku katakan hanyalah apa saja yang sudah kulakukan.

Meski begitu, alasan Tojo bisa memahami isi dari usahaku adalah karena kami saling membenturkan perasaan melalui Shogi.

Konon, pemain hebat bisa membaca jalan hidup seseorang hanya dari satu langkahnya.

Kami memang cuma amatir, tapi sepertinya kami sudah sangat mendalami Shogi sampai bisa memahami perasaan satu sama lain.

"……Terima kasih. Berkatmu aku sadar kalau selama ini aku terlalu manja."

Tojo berkata begitu sambil berdiri di depanku dan membungkuk.

Aku yang tidak menyangka akan diperlakukan begitu secara langsung segera melambaikan tangan dengan panik, memintanya untuk mendongak.

"Lalu, maaf soal perkataan kasar yang pernah aku ucapkan. Aku benar-benar salah menilaimu."

"Ahaha…… jangan dipikirkan. Aku juga nggak sepenuhnya paham semua usahamu kok. Jadi kita impas."

Mendengar itu, Tojo tampak lega.

Setelah memastikan suasana sudah kembali normal, aku mengumpulkan keberanian khas penyendiri untuk merangkai kata-kataku sendiri.

"Jadi, anu…… bolehkah kita tetap berteman sebagai sesama anggota klub Shogi?"

"……! Tentu! Mohon bantuannya ya, Masai-kun!"

Tojo yang agung memanggil namaku……!

Karena aku kira dia membenciku selamanya, syukurlah…….

"Kalau begitu, ayo berangkat. Nanti kita telat."

"Iya, tapi bukannya lebih baik kalau kita jalan agak jauhan? Kalau kita masuk sekolah begini, nanti orang-orang bakal lihat kita dengan aneh."

"Eh?"

"Eh?"

Tojo menatapku dengan tatapan polos seolah bertanya "Apa yang kamu bicarakan?".

Nggak, nggak, nggak! Nggak mungkin cowok kuper sepertiku berangkat sekolah bareng cewek kasta tertinggi! Hidupku sebagai siswa bisa berakhir!

"……? Kenapa melamun, ayo cepat!"

Sambil berkata begitu, Tojo menarik tanganku paksa menuju sekolah.

Jarak ke sekolah sekitar 200 meter lagi.

Ya, hidupku berakhir──ini namanya skakmat.

Katanya perundungan zaman sekarang itu bersifat terselubung, tapi kenyataannya yang terjadi adalah pembicaraan dari mulut ke mulut yang merendahkan orang lain dan menciptakan suasana yang tidak nyaman.

Mungkin banyak yang berpikir, "Cuma segitu doang?" atau "Kan nggak dipukuli?". Tapi yang bicara begitu biasanya adalah mereka yang tidak pernah merasakannya sendiri.

Hampir semua orang paham kalau perundungan itu buruk, dan mereka yang tahu hal itu akan berusaha agar tindakan mereka tidak dianggap sebagai pelaku utama perundungan.

Tapi pada akhirnya, mereka hanya membuat garis batas tipis antara perundungan atau bukan, tanpa mengubah fakta bahwa mereka sedang menyerang orang lain.

"Kayaknya akhir-akhir ini Tojo-san sering deket sama Watanabe ya."

"Watanabe siapa?"

"Itu lho, si kuper yang ada di pojok kelas."

"Ooh, si kuper itu…… hihihi……."

Entah karena suara mereka yang memang keras atau sengaja ingin terdengar, yang jelas kata-kata itu sampai ke telingaku.

Pagi tadi saat aku masuk gerbang bersama Tojo, kami menarik perhatian banyak orang.

Bagi mereka yang beda angkatan, mungkin kami cuma terlihat seperti dua orang biasa, tapi aku tahu teman-teman seangkatanku terbelalak kaget.

Kenapa Tojo bisa bareng orang kayak dia. Itulah isi hati yang terbaca dari tatapan mereka.

"……"

Setelah wali kelas mengakhiri jam pelajaran, aku bersiap menuju klub.

Fakta bahwa aku yang tadinya anggota klub pulang-langsung tiba-tiba masuk klub Shogi membuat orang-orang menatapku dengan pandangan "Ada apa dengan orang ini?".

Ada teori yang bilang kalau orang lain sebenarnya tidak terlalu memperhatikanmu. Itu benar jika kamu menjalani rutinitas harian yang sama, tapi orang akan langsung menyadari saat rutinitas itu berubah.

Karena itulah, manusia sebenarnya lebih peka terhadap "perubahan" orang lain daripada yang dikira.

Aku mengambil tasku dan berlari keluar kelas seolah ingin kabur dari tatapan-tatapan itu.

Pada akhirnya, fakta bahwa aku sekarang masih terpuruk sebagai orang kuper tidak lain adalah karena kurangnya usahaku sendiri.

Aku bisa saja bertindak lebih aktif, mengubah gaya rambut, atau hal lainnya.

Karena aku tidak melakukannya, makanya sekarang aku terpuruk di kasta terendah ini.

Meski aku bicara besar pada Tojo, pada akhirnya aku hanyalah orang biasa yang mengeluhkan keadaanku sambil mengabaikan kurangnya usahaku sendiri.

"……Memang salahku sendiri."

Sambil menggumamkan itu, aku sampai di depan ruang klub Shogi.

Aku berdiri di depan pintu, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan semangat.

Daripada menghabiskan waktu untuk menyesal, lebih baik berusaha mengubah diri sendiri. Manusia akan berkembang jika memiliki kemauan untuk menantang apa pun dan melangkah maju.

Baiklah, sekarang saatnya──!!

"S-selamat sore……."

Aku masuk ke ruang klub dengan salam yang lirih seperti tikus got.

Di dalam ruangan, anggota biasa termasuk Tojo sudah berkumpul. Melihat kedatanganku, Senior Takebayashi langsung memberi komando.

"Oh, Watanabe-kun sudah datang! Oke, semuanya berkumpul. Ada pengumuman penting!"

Senior Takebayashi berdiri di depan papan tulis putih dan mulai menulis sesuatu dengan spidol.

Anggota lain sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan ditulis, karena wajah mereka tampak sangat bersemangat.

"Sudah lama menunggu, rekan-rekan! Akhir pekan depan akan ada turnamen wilayah Barat yang disponsori langsung oleh Ketua Prefektur! Namanya adalah Turnamen Oryu-sen!! Ini adalah turnamen resmi tingkat amatir yang masuk kategori nasional!"

"Ooh!"

Senior Takebayashi mengumumkannya dengan pose mantap. Hanya Aoi yang bertepuk tangan untuk memeriahkan suasana.

Oryu-sen…… aku pernah mendengarnya.

Kalau tidak salah, itu adalah nama turnamen yang membuat wilayah Barat yang tadinya diremehkan sebagai wilayah terlemah menjadi pusat perhatian besar.

Pada turnamen saat itu, seorang pemain tidak dikenal tiba-tiba muncul dan membantai semua lawan hingga menjadi legenda.

Maksudku, sang juara Oryu-sen periode sebelumnya──siapa ya namanya. Aku nggak terlalu ingat.

Karena cuma main Shogi online, aku jadi nggak terlalu paham soal wilayah tempat tinggalku sendiri. Kayaknya ini agak gawat ya…….

Saat aku sedang berpikir begitu, Senior Takebayashi melanjutkan penjelasannya.

"Di Oryu-sen ini ada kategori individu dan tim, tapi kita akan turun di kategori tim!"

"Tanya dong! Kenapa kita nggak ikut kategori individu?"

Aoi mengangkat tangan, dan Senior Takebayashi menjentikkan jarinya ke arah Aoi.

"Pertanyaan bagus, Aoi-kun! Aku juga ingin kalian semua ikut kategori individu, tapi di wilayah Barat, kategori individu hanya bisa diikuti jika memiliki hak unggulan (Seed Power)!"

Hak unggulan……?

"Hak unggulan hanya bisa didapat jika masuk peringkat juara di Oryu-sen tahun lalu, atau menjuarai turnamen lain yang disponsori wilayah Barat! Dan di klub kita, cuma Tojo-kun yang punya hak unggulan! Jadi untuk kategori individu, cuma Tojo-kun yang akan turun! Dan kemenangan Tojo-kun sudah pasti! Jadi! Pertandingan tim adalah fokus utama kita!"

Senior Takebayashi menjelaskan dengan semangat yang berapi-api melebihi biasanya.

Begitu ya, jadi kategori individu di turnamen kali ini sistemnya seperti itu.

Lagian, berani banget bilang kemenangan Tojo sudah pasti. Itu kan bisa bikin Tojo tertekan.

Aku pun melirik ke arah wajah Tojo.

"Hmph, tentu saja."

Nggak, dia sama sekali nggak kelihatan tertekan. Malah wajahnya seolah bilang kalau menang itu hal yang wajar. Dari mana datangnya rasa percaya diri itu? Apa klub ini isinya orang-orang sombong semua?

"Karena itu, agenda hari ini adalah rapat strategi untuk Turnamen Tim Oryu-sen! Coba kalian diskusikan urutan timnya! Karena ini pertandingan serentak, sebenarnya urutan tidak berpengaruh, tapi ada tujuh peran yaitu Senpo, Jiho, Gosho, Chuken, Sansho, Fukusho, dan Taisho!"

"Sudah lama aku penasaran, apa ada arti dari peran-peran itu?"

Kaito, si kakak dari Sakuma bersaudara, bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

"Arti besar sih nggak ada! Tapi kita nggak boleh menentukannya asal-asalan! Pertandingan tim adalah pertarungan tujuh lawan tujuh! Tim yang menang empat kali lebih dulu dianggap pemenang! Singkatnya, nggak ada gunanya kalau cuma kamu yang menang tapi teman-temanmu kalah!"

Pertandingan tim bukanlah sistem gugur berantai, melainkan pertandingan individu yang dilakukan tujuh orang secara serentak.

Lawanmu hanya satu dari tujuh orang tersebut. Jika jumlah kemenangan dari tujuh pertandingan itu melebihi setengahnya, maka tim tersebut menang.

Di sana, aku menanyakan hal yang mengganjal pada Senior Takebayashi.

"Anu, biasanya tim lain mengisi peran-peran itu dengan cara bagaimana?"

"Pertanyaan bagus, Watanabe-kun! Kalau melihat sekolah-sekolah di tahun lalu, kebanyakan menentukan Taisho berdasarkan senioritas, lalu diikuti berdasarkan urutan kekuatan!"

Begitu ya, kalau berdasarkan senioritas berarti banyak tim yang punya harga diri tinggi ya.

Kalau dipikir sederhana, susunan paling standar adalah menempatkan pemain terkuat sebagai Taisho (Jenderal Utama) dan pemain terlemah sebagai Senpo (Pion Depan).

Tapi kalau berdasarkan senioritas, berarti kelas tiga jadi Taisho dan kelas satu jadi Senpo. Dalam kasus ini, kekuatannya jadi acak-acakan dan sulit ditebak.

Idealnya, kita membenturkan pemain lemah kita ke pemain kuat lawan, dan menempatkan pemain yang kira-kira bisa menang tipis melawan pemain lemah lawan.

Dengan begitu, kita bisa mencuri empat kemenangan atau lebih untuk menang secara total. Itu adalah strategi counter-mainstream yang umum.

Tapi strategi ini punya dua cacat.

Pertama, kalau lawan melakukan hal yang sama, kita bisa terjebak dalam masalah.

Kedua, kehormatan pemain yang dijadikan tumbal akan terluka.

Disuruh maju melawan orang yang sudah pasti tidak bisa dikalahkan itu sama saja dengan umpan.

Pasti banyak pemain yang tidak terima.

Dan dari pemikiran itu, biasanya orang akan sampai pada kesimpulan "Yah, nggak usah terlalu dipikirin juga nggak apa-apa, kan?".

Mungkin itulah maksud Senior Takebayashi saat bilang "Arti besar sih nggak ada, tapi jangan asal-asalan".

Secara pribadi, aku sih lawan siapa pun oke-oke saja, jadi menurutku ditentukan pakai rolet atau undian juga nggak masalah.

Lagipula anggotanya ada tujuh orang, menentukan urutan pasti cuma bakal bikin ribut. Mending diurutkan berdasarkan peringkat Dan saja.

……Eh? Tunggu dulu? Tujuh orang?

Aku, Tojo, Senior Takebayashi, Aoi, Sakuma bersaudara. ……Lho? Kalau ditotal cuma ada enam orang, kan?

"Anu, satu orang lagi ada di mana?"

"Hm? Oh! Maksudmu Raizaki-kun? Dia jarang menampakkan diri di klub. Tapi dia bilang bakal datang saat turnamen, jadi urutannya terserah saja katanya!"

Serius? Sampai nggak pernah ke klub. Pantas saja aku nggak pernah lihat wajahnya sekalipun.

"Kalau begitu, boleh aku usul satu hal?"

Tojo berdiri lalu melingkari namanya sendiri dan nama Raizaki di papan tulis.

"Aku dan Raizaki nggak akan kalah siapa pun lawannya. Jadi silakan atur urutan kami sesuka kalian. Sebagai gantinya, boleh aku yang menentukan posisi satu orang lagi?"

"Boleh saja! Itu kata si kartu as klub, ayo sampaikan pendapatmu!"

Setelah mendapat izin dari Senior Takebayashi selaku Ketua, Tojo menunjuk telunjuknya ke arahku.

"Aku merekomendasikan dia, Masai-kun, sebagai Taisho."

Woi, tunggu dulu, orang ini ngomong apa sih.

"……Eh?"

Tojo yang tiba-tiba menunjukku, mengumumkan kalau dia merekomendasikan aku sebagai Taisho (Jenderal Utama) di pertandingan tim.

Anggota lain di sekitar langsung melongo kaget.

"Tu-tunggu sebentar. Taisho lho? Meski rekomendasi, apa nggak salah menjadikan orang kayak dia sebagai Taisho, Tojo Mika……!"

"Maaf, aku setuju dengan kakakku. Lagipula dia kan anggota baru yang baru masuk tiga hari. Masa langsung jadi Taisho di turnamen pertamanya…… ini sih terlalu berlebihan!"

Sesuai dugaan, yang pertama menyatakan keberatan adalah Sakuma bersaudara.

"Orang kayak dia? Baru masuk tiga hari? Kalian berdua, bukannya kemarin baru saja dikalahkan oleh Masai-kun dalam kondisi Hirate, bahkan dalam pertandingan simultan?"

"……gh!"

"Itu……! Itu cuma kebetulan karena kondisiku lagi nggak fit saja!"

Hayato menjawab dengan terbata-bata.

"Tojo-kun, boleh aku tahu alasanmu merekomendasikan Watanabe-kun?"

"Alasan? Nggak perlu ditanya lagi, kan. Dia mengalahkan kita semua dalam kondisi Hirate. Singkatnya, nggak berlebihan kalau dibilang dia yang terkuat di klub ini."

Tojo menegaskan hal itu dengan penuh keyakinan.

"Berlebihan itu! Dia kan baru menang sekali saja!"

"Lagipula, di pertandingan kemarin, awalnya kami yang unggul kok……!"

"Hee~ tapi kalian sekarang masih peringkat Dan 2, kan? Masai-kun itu sudah Dan 5, lho?"

"Ugh……!"

Berkat kemenanganku melawan empat orang sekaligus kemarin, peringkatku naik menjadi Dan 5 per hari ini.

Bagi Sakuma bersaudara, mungkin rasanya menyebalkan melihat anak baru yang tiba-tiba muncul langsung melesat ke peringkat yang lebih tinggi dari mereka.

Yah, meski mereka sedang meributkan soal diriku, aku yang jadi topik utama malah merasa terasing…… maklum, namanya juga cowok kuper. Aku mana punya hak suara.

Sejujurnya bagiku mau jadi Taisho atau Senpo sama saja, tapi kurasa Tojo punya alasan tertentu selain alasan formal kenapa dia bersikeras merekomendasikanku sebagai Taisho.

"Sudah-sudah, kalian berdua tenanglah~. Aoi mengerti kok perasaan Tojo-senpai yang ingin menjagokan kekuatan Mikado-cchi, tapi Aoi juga paham pendapat Hayato-cchi dan Kaito-cchi yang tidak mau posisi perwakilan tim diberikan kepada anggota yang baru bergabung!"

Aoi menengahi kami sambil berusaha merangkul pendapat kedua belah pihak.

"Jadi, bagaimana kalau kita ambil jalan tengah dengan menjadikan Aoi yang paling imut dan menggemaskan ini sebagai Taisho? Kalau Aoi yang turun, cowok-cowok di tim lawan pasti langsung bertekuk lutut dalam sekejap~? Nyahaha~!"

Aoi tertawa menggoda.

Namun, suasana di ruangan tetap kaku. Tojo maupun Sakuma bersaudara hanya menatapnya dengan pandangan dingin seolah ingin bilang, "Orang ini ngomong apa sih?".

"……C-cuma bercanda kok. Maaf deh."

Aoi meminta maaf dengan tulus.

Tenang Aoi, aku mendukungmu kok. Kalau adik kelas yang imut jadi Taisho, tim lawan pasti akan lengah. Itu strategi untuk menusuk mereka dari celah itu, kan? Benar-benar masuk akal.

"……Baiklah, intinya aku sudah paham pendapat Tojo-kun. Lalu, bagaimana menurutmu sendiri, Watanabe-kun?"

Begitu Senior Takebayashi bertanya, semua anggota klub serentak menoleh ke arahku.

Aku benar-benar benci tatapan seperti ini, rasanya seperti sedang ditunjuk guru di depan kelas dan jadi pusat perhatian…….

"Aku…… yah…… mana saja boleh sih……"

Karena tidak bisa memikirkan jawaban yang bagus, aku memberikan jawaban plin-plan khas orang kuper.

"Mana saja boleh katanya……? Ketua, aku keberatan menjadikan orang yang bahkan tidak punya rasa tanggung jawab seperti ini sebagai Taisho!"

Terus aku harus jawab apa dong? Kalau aku bilang "Aku bakal jadi Taisho yang hebat!", apa kalian bakal setuju? Lagian kalau aku bilang begitu, orang-orang pasti bakal mikir "Siapa sih nih orang?".

Saat aku sedang membatin begitu, Aoi kembali angkat bicara.

"……Tujuan utamanya adalah menyusun formasi yang paling mantap untuk melawan tim musuh, kan?"

Kali ini Aoi memberikan pendapat dengan wajah serius.

"Benar!"

"Kalau begitu Aoi mau tanya, kira-kira tim lawan bakal pakai susunan seperti apa?"

Setelah berpikir sejenak, Senior Takebayashi menjawab pertanyaan Aoi.

"Kemungkinannya paling cuma ada empat tipe! Tim yang menaruh pemain terkuat dari urutan atas, tim yang sengaja menaruh pemain terlemah dari urutan atas, tim yang menaruh pemain kuat di tengah untuk menghindari dua tipe tadi, dan terakhir adalah urutan berdasarkan senioritas!"

Prediksi Senior Takebayashi ternyata mirip dengan apa yang kupikirkan.

Mendengar itu, Aoi bangkit dari duduknya, mengambil spidol hitam dari tangan Senior Takebayashi, lalu mulai menulis di papan tulis.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pasang Mikado-cchi yang pernah mengalahkan Tojo-senpai sebagai Taisho, lalu Tojo-senpai di posisi seberangnya yaitu Senpo. Raika-cchi di posisi tengah sebagai Chuken, lalu di samping kiri-kanannya diisi oleh Aoi dan Ketua yang merupakan terkuat berikutnya. Sisanya, posisi Jiho dan Fukusho diisi oleh Kaito-cchi dan Hayato-cchi. Dengan begini, bukankah kita bisa menghadapi semua tipe tim yang Ketua sebutkan tadi?"

Aoi menggerakkan spidolnya dengan lincah, menuliskan urutan posisi setiap anggota.

Eh? Tunggu, tadi dia bilang "Raika"? Ah, mungkin cuma perasaanku saja.

"Bagaimana kalau begini?"

Aoi menutup tutup spidolnya.

Di papan tulis, terpampang susunan tim yang dibuat oleh Aoi.

Senpo: Tojo Mika

Jiho: Sakuma Hayato

Gosho: Aoi Reina

Chuken: Raizaki Natsu

Sansho: Takebayashi Tsutomu

Fukusho: Sakuma Kaito

Taisho: Watanabe Masai

Begitu ya, ini masuk akal.

Jika lawan menggunakan urutan kekuatan dari atas, kita punya strategi untuk menang telak dari posisi Chuken ke bawah. Sebaliknya, jika lawan menggunakan urutan dari yang terlemah, kita bisa menang dari Chuken ke atas.

Bahkan jika lawan memperkuat bagian tengah, kita punya Aoi, Ketua, dan orang bernama Raizaki yang kata Tojo sangat kuat. Jadi bagian tengah kita tidak akan mudah tumbang.

Meski kita tidak menjebak lawan, kita juga tidak akan terjebak oleh mereka. Ini adalah formasi yang menjamin kemenangan selama kemampuan kita memang memadai.

Hebat juga pemikiranmu, Aoi. Ide ini sangat ideal sampai aku bertanya-tanya ke mana perginya lelucon garingmu yang tadi.

"Tunggu, kenapa Tojo jadi Senpo dan si anak baru ini jadi Taisho! Kalau peran mereka sama, bukannya harusnya dibalik!"

"Tojo-senpai sendiri yang merekomendasikan Mikado-cchi jadi Taisho, lho? Lagipula Tojo-senpai tadi bilang urutannya boleh bebas diatur. Jadi bukankah susunan ini sangat wajar?"

"……gh."

Kaito masih ingin protes, tapi dia terbungkam oleh logika Aoi.

"……Baiklah, itu usulan dari Aoi-kun. Apa ada yang punya pendapat lain? Kalau ada yang tidak puas dengan posisinya, silakan bicara! Tapi ingat, ini adalah pertarungan tim untuk menang bersama. Aku tidak menerima alasan sentimen pribadi!"

Senior Takebayashi mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada yang tampak ingin protes.

Sakuma bersaudara sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi mereka sadar itu akan masuk dalam kategori sentimen pribadi, jadi mereka urung bicara.

"Hmm, sepertinya sudah diputuskan!"

Senior Takebayashi pun mengulang kembali peran masing-masing.

"Senpo adalah Tojo-kun, Jiho adalah Hayato-kun, Gosho adalah Aoi-kun, Chuken adalah Raizaki-kun, Sansho adalah Tsutomu-kun, Fukusho adalah Kaito-kun, dan Taisho adalah Watanabe-kun!"

"Ooh!"

Lagi-lagi cuma Aoi yang bertepuk tangan.

Eh, tunggu, barusan Senior Takebayashi menyebut dirinya sendiri "Tsutomu-kun"? Ke mana perginya kata ganti "Ore" yang biasa dia pakai?

"Kalau begitu semuanya, bersiaplah untuk turnamen hari Minggu besok! Meski singkat, mulai besok sampai hari turnamen adalah masa latihan intensif! Karena itu, penelitian atau hafalan Joseki yang sedang kalian lakukan harap dihentikan sementara, kita akan fokus pada pertandingan latih tanding untuk persiapan hari H! Paham!?"

Semua anggota mengangguk pelan menanggapi kata-kata Senior Takebayashi.

Begitulah, kami memulai latihan intensif menuju turnamen besar yang bernama Oryu-sen.

Di dalam ruangan yang gelap dengan tirai tertutup.

Meski matahari belum terbenam, ruangan itu terasa gelap gulita. Seorang gadis dengan kantung mata yang tebal terus menatap layar komputer.

"Lima kemenangan lagi, maka target hari ini tercapai……"

Dia bergumam sendirian di kamar yang sepi, lalu ponsel di sampingnya bergetar.

Bzzz bzzz!

Gadis itu mengambil ponselnya dengan malas, lalu menyadari itu adalah surel dari kenalannya di sekolah yang sama. Dia pun membuka notifikasinya.

Ternyata hanya urusan pembagian tim turnamen yang sebenarnya tidak terlalu dia minati.

Tojo Mika: Pembagian tim untuk turnamen besok sudah diputuskan.

Raizaki Natsu: Begitu ya.

Tojo Mika: Sesekali datanglah ke sekolah. Setidaknya tunjukkan wajahmu di klub, nanti namamu bisa terlupakan lho? Lagipula baru-baru ini ada orang menarik yang baru masuk.

Raizaki Natsu: Tidak tertarik.

Tojo Mika: Ya sudah. Aku tahu kamu suka Shogi, tapi jangan berlebihan ya.

Raizaki Natsu: Aku tidak terlalu suka kok.

Tojo Mika: ……Begitu ya. Ini daftar timnya, pastikan kamu datang saat turnamen nanti, ya?

Senpo: Tojo Mika

Jiho: Sakuma Hayato

Gosho: Aoi Reina

Chuken: Raizaki Natsu

Sansho: Takebayashi Tsutomu

Fukusho: Sakuma Kaito

Taisho: Watanabe Masai

Melihat daftar tim yang dikirimkan itu, gadis tersebut tertegun sejenak dan menggumam.

"Watanabe Masai…… Mikado……"

Dia tersentak. Dia merasa sudah parah karena sampai mengasosiasikan nama seperti itu dengan "dia". Gadis itu pun memegang kepalanya.

Sore hari di hari kerja saat turnamen semakin dekat.

Di lingkungan kerja yang buruk di mana hanya cahaya komputer yang menerangi ruangan, seorang gadis──Raizaki Natsu──sedang menatap tajam ke arah layar komputer.

Tanpa berkedip sedikit pun, aplikasi "Shogi Wars" terbuka di monitornya.

Natsu yang sedang dalam performa terbaik dengan kemenangan beruntun, tiba-tiba kedatangan lawan baru.

Nama yang muncul di layar adalah nama dari seseorang yang mengukir sejarah sebagai yang terkuat di abad ini.

──Jimetsu-tei · Dan 9 (Sedang dalam 49 kemenangan beruntun)──

"……gh."

Aura keagungan yang luar biasa, rasa takut, dan kengerian. Dialah monster yang menyandang nama "Penghancur Diri".

Katanya, sebagian besar pemain akan langsung menyerah saat nama orang itu muncul sebagai lawan.

Padahal beberapa hari lalu rekor kemenangannya sempat kembali ke angka nol gara-gara akun tukang cheat, tapi tahu-tahu dia sudah bangkit dan meraih 49 kemenangan lagi.

Malah kecepatan meraih kemenangannya sekarang terasa lebih cepat dari sebelumnya. Langkah sang kaisar terus menunjukkan kecepatan pertumbuhan yang berbeda level.

Pemain peringkat atas terkuat di Shogi online. Pemain amatir misterius yang terus menduduki peringkat Dan 9 yang tak tergoyahkan──"Jimetsu-tei".

Saat ini, Natsu sedang bertarung sengit melawan monster tersebut.

"Kali ini aku pasti menang……!"

Pertandingan memasuki fase pertengahan. Dengan strategi bernama Kakugawari yang sudah diteliti habis hingga versi terbaru, pertarungan keduanya memasuki fase tanpa pertahanan (No-guard).

Gaya permainan keduanya yang seperti pertandingan resmi profesional ini benar-benar sebuah pertarungan riset. Ini adalah adu pengetahuan tentang siapa yang memiliki riset lebih mendalam.

Bahkan Jimetsu-tei yang biasanya mendominasi pun terasa sedikit lebih berhati-hati dalam menghadapi langkah Natsu.

Menyadari hal itu, Natsu merasa bahwa dialah yang lebih menguasai Joseki lebih jauh, sehingga dia terus menyambung serangan dengan tempo permainan cepat.

Seolah merespons hal itu, langkah Jimetsu-tei juga ikut menjadi lebih cepat.

Keduanya saling jual beli serangan tanpa pertahanan, pertarungan di mana masing-masing pihak berada dalam kondisi terdesak. Kelengahan sesaat akan langsung berujung pada kematian.

Namun, yang pertama kali terpeleset adalah Natsu.

"Eh, tunggu, apa-apaan itu……gh."

Di ambang fase akhir, Jimetsu-tei mengeluarkan satu langkah di luar Joseki, yang membuat Natsu panik dan melakukan Bad Move.

"Ah…… ah……!"

Itulah risiko bertarung dalam kondisi terdesak; sekali saja salah melangkah, tidak akan ada jalan untuk selamat.

Raja Natsu yang jatuh dari tebing langsung tersudut dengan mulus, dan tanpa bisa memberikan perlawanan sedikit pun, tanda titik pun dijatuhkan.

──Tulisan "Kekalahan" muncul di layar.

"……Aaaaah……"

Hanya dari satu kesalahan langkah, permainan langsung diselesaikan dengan sangat cepat seolah sedang memecahkan teka-teki.

Natsu membenamkan kepalanya yang terasa berat ke atas meja sambil mengerang kesal.

"Duh, sebenarnya siapa sih cowok ini! Yah, aku nggak tahu dia cowok atau bukan, tapi dia terlalu kuat! Benar-benar deh……!!"

Langkah yang terlalu cepat, jumlah pembacaan langkah yang tak terkejar, dan langkah yang dihasilkan dari sirkuit berpikir luar biasa itu bahkan menentukan hasil akhir di masa depan.

Antara Natsu dan Jimetsu-tei, ada perbedaan spesifikasi yang terpaut sangat jauh.

"Mooooh!!" (Duh!!)

Natsu meronta-ronta dengan tangan dan kaki layaknya seekor sapi.

Jarang sekali dia yang biasanya bersikap tenang dan dingin bisa sampai kehilangan kendali seperti ini.

"……Kalau begini terus tidak akan bisa. Aku harus berusaha lebih keras."

Natsu kembali menghadap komputernya, melihat kembali rekam jejak pertandingannya melawan Jimetsu-tei, dan mulai melakukan analisis menggunakan AI untuk mencari di mana letak kesalahannya.

Saat dia melirik ke pojok kanan atas layar, terlihat notifikasi merah pada ikon lonceng. Begitu dibuka, ada komentar yang berbunyi: "Ditunggu unggahan video berikutnya!".

Selain seorang pemain Shogi, Natsu juga aktif sebagai seorang streamer.

Biasanya dia dikenal sebagai "Streamer Shogi Raika", mengunggah video pertandingan, video penjelasan, atau mengadakan sesi riset bersama melalui siaran langsung.

Namun, bagi Natsu yang turnamennya sudah dekat, dia tidak punya waktu luang untuk membuat video.

"Hah, kenapa jadi begini ya……"

Natsu menghela napas sambil menjajajarkan catatan langkah pertandingannya melawan Jimetsu-tei.

──Orang pintar tidak bisa menang melawan orang jenius, dan orang jenius tidak bisa menang melawan orang yang punya bakat luar biasa (Kisai).

Jimetsu-tei pasti adalah seorang Kisai.

Siapa pun lawannya, dia tetap menjalankan permainannya sendiri dan terus maju tanpa rasa takut. Dia bisa memainkan langkah yang terkalkulasi dengan sempurna seolah-olah dia adalah AI.

Karena itulah dia sangat kuat, kuat seperti iblis.

Natsu pun sampai beberapa tahun lalu pernah disebut sebagai Kisai.

Dia meraih prestasi gemilang di turnamen wilayah, menjadi juara kedua berkali-kali di turnamen prefektur, dan bersaing sengit dengan orang-orang kuat lainnya.

Bahkan dia pernah mengalahkan Tojo Mika yang saat itu mendominasi turnamen SMP putri dan dipuja-puja sebagai "Anak Ajaib".

Benar-benar seperti matahari yang sedang naik daun. Jalannya menuju dunia profesional putri disebut-sebut sudah pasti terjamin.

Namun, meskipun memiliki kekuatan sehebat itu, Natsu belum pernah menjuarai turnamen satu kali pun.

Entah karena kurang beruntung atau kekuatannya yang tidak stabil. Seberapa banyak pun dia mengalahkan lawan yang jauh lebih kuat, dia juga akan kalah oleh lawan yang peringkatnya di bawah dia.

Berapa kali pun dia ikut, berapa kali pun dia bertarung, dia selalu hanya menjadi juara dua atau tiga, tidak pernah bisa meraih juara satu. Dia tidak pernah bisa menang.

Tanpa disadari, suara-suara yang menaruh harapan padanya mulai berkurang, dia tidak lagi dianggap sebagai lawan yang menakutkan, dan akhirnya dia hanya dilihat sebagai pemain Shogi biasa.

Sejak saat itu, Natsu mulai mengurung diri di rumah dan tidak lagi pergi ke sekolah.

Di rumah, dia terus mengabdikan diri pada riset Shogi, dan bertahan hidup dari pendapatan video siaran yang dihasilkan sebagai produk sampingannya.

Meskipun dia mencoba mencari jalan keluar, dia tetap merasa cemas karena tidak tahu pasti kenapa dia bisa kalah.

Di "Shogi Wars", meskipun dia berada di kelas tertinggi yaitu Dan 7, persentase kemenangannya tidak stabil dan dia terus naik-turun antara Dan 6 hingga Dan 8.

Natsu mengejek dirinya sendiri dalam hati, membayangkan betapa dia akan menjadi bahan tertawaan di mata Jimetsu-tei yang selalu mencatatkan persentase kemenangan stabil di peringkat atas.

Di belakang Natsu, terpajang berbagai hadiah dari berbagai turnamen yang pernah ia ikuti.

Meskipun kuat, ia belum pernah juara sekalipun.

Meskipun menunjukkan kekuatan dan gaya permainan yang luar biasa, ia belum pernah sekalipun bertahta di puncak tertinggi.

Namanya adalah Raizaki Natsu. Atau nama panggilannya yang lain adalah──.

──"Ratu Tanpa Mahkota".

"……"

Sambil merasakan hari turnamen yang semakin dekat, aku bermain "Shogi Wars" di ruang klub.

Klub ini pada dasarnya sangat menghargai kemandirian masing-masing anggota, dan tidak mengekang anggotanya dengan menu latihan atau jadwal tertentu.

Hal yang dikatakan Senior Takebayashi kali ini hanyalah "hentikan riset dan hafalan, fokuslah pada pertandingan".

Artinya, jika ingin bertanding, melakukan Shogi online atau menggunakan aplikasi seperti ini juga diperbolehkan.

Dan lawan yang sedang kuhadapi sekarang adalah streamer Shogi bernama Raika.

Selama ini aku belum pernah kalah darinya.

Bahkan, aku belum pernah merasa hampir kalah. Biasanya aku selalu menang sesuai strategi atau menang telak karena perbedaan kemampuan.

Tapi, kali ini aku merasa hampir kalah.

Rasanya aku benar-benar tersudut sampai ke tepi tebing.

Aku berhasil menang karena di saat terakhir pihak lawan melakukan kesalahan, tapi kalau dia tidak melakukan kesalahan sampai akhir, mungkin aku akan kalah.

Yah, menang tetaplah menang. Dengan ini aku meraih 50 kemenangan beruntun.

"Akhirnya sudah sampai setengah jalan, ya."

Mendengar gumamanku, Tojo yang sedang sibuk minum teh di sebelahku mendekat dengan wajah santai.

"Setengah jalan maksudnya apa? Lagian Masai-kun lagi ngapain sih?"

"Main Shogi Wars. Mau lihat?"

"Ah, begitu ya! Mau lihat dong! Sebenarnya aku juga main kok, kalau mau nanti kita bisa jadi friend──"

Di tengah percakapan itu, tanpa sengaja aku mengarahkan layar ponselku ke arah Tojo.

Di sana terpampang──nama akun bertuliskan "Jimetsu-tei" dan layar yang menunjukkan "Sedang dalam 50 Kemenangan Beruntun".

Ah, gawat.

"BUUUUFFFFHHH!!!?"

"!?"

"Ada apa?"

"Tojo-kun!?"

"Senpai!?"

Tojo menyemburkan teh yang ada di mulutnya, dan semuanya mendarat tepat di wajahku.

"Tu-tunggu, Tojo-senpai, kamu nggak apa-apa!?"

Melihat Tojo yang tiba-tiba menyemburkan teh, anggota klub lainnya menatapnya dengan wajah terkejut.

"N-nggak apa-apa! Aku cuma kena Ote-bisya (Skak-Benteng) mendadak saja!"

Kena Ote-bisya mendadak itu maksudnya apa sih. Dalam Shogi, kalau kena Ote-bisya itu sudah luka fatal, levelnya sudah harus menyerah. Lagian kenapa sampai berefek ke tubuh di dunia nyata juga.

Sejak kapan Shogi jadi permainan kegelapan.

"Oalah, ternyata cuma kena Ote-bisya ya."

"Begitu ya, cuma kena Ote-bisya!"

"O-ooh begitu ya. Syukurlah kalau cuma itu."

Eh, apa-apaan nih? Apa di klub ini kena Ote-bisya itu sudah jadi makanan sehari-hari? Itu kan kelemahan fatal. Turnamen sudah dekat, mending segera diperbaiki deh.

Eh, tapi nggak ada yang mau mengkhawatirkanku nih? Wajahku basah kuyup lho.

Sambil berpikir begitu, aku menoleh ke arah Aoi dengan wajah yang masih meneteskan air teh. Aoi hanya mengacungkan jempol dan tersenyum lebar.

"Mikado-cchi…… syukurlah ya!"

Syukurlah apanya.

"Ma-maaf ya! Sampai menyembur ke wajahmu……"

"Iya nggak apa-apa sih……"

Aku mengelap wajahku dengan handuk yang diberikan Tojo.

Lalu, Tojo semakin mendekatkan tubuhnya ke arahku, sampai-sampai posisinya hampir menempel, lalu dia berbisik di telingaku.

"He-hei, ngomong-ngomong, itu beneran? Masai-kun ternyata adalah Jimetsu-tei……!?"

Tojo bertanya dengan suara sangat pelan agar tidak terdengar yang lain.

Mungkin karena posisi kami yang sangat dekat, tercium aroma yang sangat harum dari tubuh Tojo.

Karena sudah begini aku tidak mungkin bisa mengelak lagi, jadi aku hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Tojo.

"A-apa…… kenapa nggak bilang dari awal sih……! Kalau aku tahu kamu itu Jimetsu-tei, aku nggak akan bersikap belagu begitu……!"

Padahal waktu perkenalan aku sudah bilang kalau aku Dan 9 lho…….

"Wuaaaa……! Eh……!? Bagaimana ini……! Nggak nyangka aku bisa ketemu langsung sama Jimetsu-tei……! A-anu, boleh minta tanda tangan nggak!?"

Kamu pikir aku artis apa. Mana bisa aku kasih tanda tangan. Aku ini cuma pecandu Shogi online.

Lagipula dari tadi dadamu nempel terus lho…….

"Ta-tanda tangan sih nggak bisa, tapi kalau mau jadi friend boleh saja kok."

"Beneran!? Yattaaaa!"

Tojo sangat kegirangan sambil berbisik.

Ternyata kalau sedang begini Tojo sangat lugu ya. Atau malah imejnya agak hancur.

"Tunggu, Tojo-senpai? Mikado-cchi~? Kalian berdua ngapain sih nempel-nempel begitu~? Nggak boleh melakukan hal mesum saat jam klub lho~?"

"B-bukan begitu!"

Karena Aoi salah paham, Tojo langsung menjauh dariku dengan sangat cepat.

Namun, Tojo kemudian mengambil papan Shogi dan kotak bidak dari belakang, meletakkannya di meja panjang yang biasa kami pakai, lalu memberiku isyarat tangan.

"Jimet…… Masai-kun! Maukah kamu berm--berkenankah Anda bermain satu babak denganku?"

"Kenapa pakai bahasa formal?"

"Tojo-senpai sepertinya sudah rusak ya."

Woi jangan begitu, jangan menunjukkan keanehan di saat begini. Senior Takebayashi yang lagi sibuk urusan administrasi di belakang sampai menatap ke sini dengan wajah heran lho!

Dengan wajah panik, aku duduk di depan Tojo dan berbisik pelan.

"Biasanya saja tidak apa-apa kok……! Kalau sikapmu berubah drastis nanti mereka curiga……!"

"O-oke, aku mengerti……!"

Meski sesama pemain "Shogi Wars", menunjukkan nama "Jimetsu-tei" saja bisa sampai mengubah sikapnya begini. Pengaruh "Jimetsu-tei" kuat banget ya…….

Apa besok-besok kalau perkenalan aku bilang saja, "Halo, aku Jimetsu-tei"?

……Nggak mungkin lah, siapa juga yang mau perkenalan pakai nama yang mengejek diri sendiri begitu.

"Begitu ya, Masai-kun ternyata Jimetsu-tei…… pantas saja kamu kuat banget……. Tidak mungkin pemain peringkat atas di 'Shogi Wars' bisa kalah melawan anggota klub biasa sepertiku."

Tojo menggumamkan itu pelan sambil menata bidak.

"Itu penilaian yang berlebihan, Tojo-san. Aku mungkin kuat di internet, tapi di dunia nyata itu beda lagi."

"Justru kamu yang terlalu rendah hati. Setelah bertanding langsung, aku baru sadar perbedaan kelas kita. Masai-kun yang sekarang sudah level nasional, bahkan…… level pemain profesional. Ternyata keputusanku merekomendasikanmu sebagai Taisho tidak salah."

Tojo selesai menata bidak terakhirnya, lalu menjawab dengan penuh semangat.

Aku selevel pemain profesional……? Itu tidak mungkin.

Mana mungkin orang yang bahkan gagal masuk Syo-reikai (Asosiasi Pelatihan Profesional) bisa setara dengan mereka yang berada di puncak.

"……Sepertinya aku harus memberitahumu betapa lemahnya aku sebenarnya."

"Iya, beri tahu aku. Seberapa tidak masuk akalnya keberadaanmu itu, Masai-kun."

Begitulah, pertarungan demi harga diri yang misterius antara aku dan Tojo pun dimulai.

Satu hari sebelum turnamen, Raizaki Natsu masih terpaku di depan layar komputer di dalam kamarnya yang gelap.

Sambil meminum minuman energi, ia mempelajari buku Joseki dan melakukan analisis AI secara bersamaan.

Riset yang tidak kunjung usai, jawaban yang tidak kunjung terurai, dan masalah yang justru semakin bertambah setiap kali risetnya semakin mendalam.

Akhirnya Natsu yang sudah mencapai batasnya berteriak frustrasi sambil mengucek matanya.

"Aaaah beneran deh! Aku bener-bener nggaaaak pahaaaaam!!!"

Bagian yang sedang diteliti Natsu saat ini adalah transisi dari fase menengah (mid-game) ke pintu masuk fase akhir (end-game), bagian yang dianggap paling krusial dalam Shogi.

Bisa dikatakan, apakah ia mampu menguasai bagian ini dengan sempurna atau tidak akan langsung menentukan hasil menang-kalah dalam setiap pertandingan Natsu.

"Haaa... seandainya aku bisa bertemu Jimetsu-tei..."

Nama yang tiba-tiba terucap itu adalah kunci termudah untuk menyelesaikan masalahnya.

Jimetsu-tei pasti sudah menuntaskan analisis di bagian ini. Jika Natsu bisa mendapatkan satu saja opini darinya, semua titik akan terhubung dan masalahnya akan tuntas.

Dia benar-benar sosok yang paling ingin ditemui Natsu saat ini.

Namun, eksistensi itu terlalu besar. Tidak mungkin bisa ditemui dengan mudah, bahkan Natsu tidak tahu dia ada di mana.

Melihat dari forum-forum internet yang menjulukinya sebagai "Pemain Amatir Kuat Misterius", jelas bahwa dia adalah sosok tanpa nama yang bahkan tidak pernah menampakkan diri di turnamen mana pun.

Terhubung dengan sosok seperti itu hanyalah mimpi di siang bolong.

"Haaa..."

Natsu kembali menghela napas dan tertunduk lesu.

Meski penuh kecemasan dan ketidakpuasan, Natsu tidak benar-benar membenci penderitaan yang ia rasakan demi mencapai kebahagiaan itu.

Dirinya yang sekarang bisa bertahan, semuanya berkat Jimetsu-tei.

Natsu masih mengingat jelas kata-kata saat itu, ketika sosok itu menjadi satu-satunya yang menjawab dirinya yang sedang berputus asa.

"Aku main Shogi karena aku suka Shogi. Kamu main Shogi karena cuma Shogi kelebihanmu. Tidak ada perbedaan di sana, tidak butuh alasan, tidak butuh cara berpikir yang muluk-muluk. Fakta bahwa kita sedang melangkah itulah segalanya."

Sosok penolong yang memberikan kata-kata itu kepada dirinya yang tidak dikenal nama maupun wajahnya, hingga kini masih terus berlari di puncak dunia Shogi online.

Apakah dia masih mengingat kata-kata yang ia berikan kepada gadis yang hanya punya kelebihan di bidang Shogi ini?

Jika mereka bisa bertemu, akankah dia mengingat kata-kata masa lalu itu?

"...Yah, andai aku bisa bertemu sosok idola itu, alangkah bahagianya..."

Natsu membuka halaman pertemanan di Shogi Wars. Iseng-iseng, ia mengklik profil Jimetsu-tei untuk melihat apakah ada keajaiban ia bisa berteman dengannya.

"...Hm?"

Namun, saat mengintip profilnya, ia melihat Jimetsu-tei hanya mendaftarkan satu akun saja di daftar temannya. Begitu melihatnya, mata Natsu terbelalak dan tubuhnya membeku.

"...Ha-eh?"

Akun itu adalah milik kakak kelas di klub Shogi-nya sendiri, Tojo Mika.

"....???????????"

Otak Natsu langsung mengalami korsleting.

Pertandingan tim pertama bagi Klub Shogi SMA Nishigasaki. Pada Jumat pagi sebelum pertandingan penting itu, diadakan upacara sekolah, dan namaku dipanggil di depan seluruh siswa.

Dipanggil pun, aku bukan pemeran utamanya. Hanya saja karena anggota klub Shogi akan berangkat mewakili SMA Nishigasaki, nama setiap anggota dipanggil satu per satu.

Nama-nama dipanggil mulai dari posisi Senpo. Semua orang mengira si kartu as, Tojo, yang akan menjadi Taisho, namun saat posisi Taisho disebutkan, namaku yang dipanggil.

"Hei, Watanabe itu siapa?"

"Entahlah...?"

"Emangnya ada ya orang kayak gitu di angkatan kita?"

Suara-suara bernada sangsi bergema di antara para siswa.

Siapa dia? Kapan dia masuk klub Shogi? Kenapa bukan Tojo yang jadi Taisho?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab di kepala mereka hanya dalam beberapa detik.

Begitu ya, mereka menaruh Tojo yang merupakan kekuatan utama di posisi Senpo, dan menjadikan Taisho sebagai umpan.

Yah, itu kesimpulan yang wajar.

Jika pemain tak dikenal tiba-tiba diberi peran Taisho, sementara kartu as yang selama ini ada malah ditaruh di Senpo, jawaban yang muncul otomatis adalah taktik formasi terbalik.

Mayoritas siswa menganggap urutan itu disusun dengan menaruh orang paling lemah di posisi paling atas.

Setelah upacara berakhir, aku melihat Tojo sedang berbicara dengan seseorang di koridor menuju kelas.

"Aku dengar lho, Tojo-san! Ternyata kamu sendiri yang menunjuk Watanabe itu jadi Taisho!"

"Tojo-san ternyata licik juga ya! Aku sampai tertawa pas dengar itu!"

Saat aku memperhatikan lebih dekat, yang bicara dengan Tojo adalah komplotannya—siswi-siswi kelas atas di kasta sekolah yang sama dengan Tojo.

"Bicara apa?"

Tojo bertanya balik dengan wajah datar, seolah tidak mengerti maksud mereka.

"Eh? Ya itu, menjadikan Watanabe sebagai Taisho itu buat jadi tumbal, kan? Ini kan pertandingan penting demi nama sekolah, nggak mungkin Tojo-san dibiarkan kalah."

"Iya, iya! Strategi mengorbankan satu orang demi kemenangan tim, itu keren banget! Aku benar-benar mikir Tojo-san pintar banget~!"

Apa-apaan, ternyata mereka cuma sedang menjelek-jelekkanku. Sudah biasa, abaikan saja.

Tepat saat aku berniat lewat sambil menyembunyikan wajah di antara siswa lain, hal itu terjadi.

"Kalian sedang mengajak berkelahi, ya?"

Suara Tojo yang mengandung nada amarah terdengar.

"Eh...?"

"Tojo-san...?"

Melihat kedua orang itu terbelalak kaget, Tojo membalas dengan wajah serius.

"Aku menunjuknya sebagai Taisho karena dia memiliki kemampuan yang pantas untuk posisi itu."

"Eh...?"

Melihat nada bicara Tojo yang berbeda dari biasanya, kedua siswi itu tampak gelisah.

"Ta-tapi Watanabe itu kan baru saja masuk klub, kan? Memangnya dia bisa main Shogi?"

"I-iya! Lagian Watanabe kan nggak terlalu pintar, dia pasti cuma pemula."

"...Haa, melihat kalian membuatku merasa muak seperti melihat diriku yang dulu..."

Tojo bergumam pelan, lalu mengucapkan kebenaran kepada mereka.

"Aku sendiri tidak pernah menang sekali pun melawannya."

"...Eh?"

"Ka-kamu bercanda, kan?"

"Kapan aku pernah bercanda?"

Kedua siswi itu kehilangan kata-kata mendengar jawaban tak terduga dari Tojo.

"O-orang kayak dia..."

"A-ahaha... Tojo-san pasti sengaja mengalah, kan? Begitu kan maksudnya? Soalnya lawannya kan si Watanabe itu. Nggak mungkin dia bisa menang lawan Tojo-san."

"I-iya, benar juga. Ahaha..."

Mereka tidak bisa percaya bahwa cowok kuper itu terus-menerus mengalahkan Tojo, sang jenius yang unggul dalam akademik maupun olahraga.

Ekspresi itu terbaca jelas dari wajah mereka berdua.

"Daripada membuang waktu meremehkan orang lain berdasarkan spekulasi, kenapa kalian tidak belajar saja supaya bisa mengejar nilainya?"

"A-apa maksudmu..."

"Peringkat ujian akhir kemarin, Masai-kun ada di urutan ketiga. Kalian berdua masih di angka dua digit, kan? Berani-beraninya kalian menghina dia bodoh dengan muka seperti itu."

Setelah Tojo menggertak seperti itu, para siswi pengikutnya tidak bisa berkata apa-apa lagi dan segera menyelinap kembali ke kelas dengan lesu.

Melihat punggung mereka pergi, Tojo mengedipkan mata ke arahku yang sedang menguping di balik bayangan, lalu ia sendiri kembali ke kelas.

"..."

Rasanya... aku jadi merepotkannya ya.

Akhir pekan sekolah selesai, dan dua hari pun berlalu.

Cuaca hari ini benar-benar cerah.

Kondisiku prima. Persiapan sudah matang. Akhirnya, hari pertandingan pun tiba.

Meski dikatakan berkumpul di lokasi pada waktu yang ditentukan, karena ini turnamen pertamaku, aku berangkat lebih awal agar tidak terlambat.

Akibatnya, aku sampai 30 menit sebelum waktu yang dijadwalkan.

"N-nggak ada siapa-siapa..."

Gedung pertemuan belum dibuka. Saat aku melihat sekeliling, baru terlihat para panitia masuk melalui pintu belakang untuk melakukan persiapan.

Yah, bagaimana ya cara membunuh waktu? Aku ingin main Shogi Wars, tapi aku ingin menghindari kelelahan sebelum pertandingan agar tidak jadi bumerang.

Sekarang aku sedang dalam 91 kemenangan beruntun, tinggal sedikit lagi menuju 100, tapi aku harus bersabar...

Saat sedang memikirkan hal itu, suara yang akrab terdengar dari belakang.

"Lho, bukannya itu Masai-kun? Selamat pagi."

"Ah, Tojo-san, pagi."

Syukurlah. Aku tidak harus menghabiskan 30 menit sendirian...

"Cepat sekali ya datangnya, apa kamu terlalu bersemangat karena ini turnamen pertama?"

"Yah, begitulah..."

Tojo berdiri di sampingku, sesekali mengecek ponselnya dengan wajah cemas.

Sepertinya dia sedang menunggu kabar dari seseorang.

"...Hei, boleh aku tanya satu hal?"

"?"

Tojo bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Kenapa kamu memutuskan masuk klub Shogi?"

Pertanyaan yang ia ajukan secara mengejutkan menusuk langsung ke inti masalahku.

"..."

"Aku selalu penasaran sejak aku tahu kalau Masai-kun adalah Jimetsu-tei. Dengan kekuatan sehebat itu, kenapa kamu repot-repot masuk ke klub ini?"

Mendengar pertanyaan Tojo, aku menundukkan kepala.

"...Ada alasannya."

Benar, aku punya alasan untuk masuk ke klub ini.

Bukan karena ini Klub Shogi SMA Nishigasaki. Klub sekolah mana pun tidak masalah bagiku asalkan bisa ikut turnamen.

Aku punya sebuah "Janji". Untuk memenuhinya, sekarang aku hanya memanfaatkan klub ini.

"Kalau boleh, maukah kamu memberitahuku?"

Tojo berhenti melihat ponselnya dan menoleh ke arahku.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka mengatakannya pada orang lain, tapi jika itu Tojo, aku merasa tidak apa-apa untuk bercerita.

"...Mungkin karena aku ingin bertemu seseorang."

"...Seseorang?"

Tojo mengerutkan dahi merespons kata-kataku.

"Orang terkenal, sangat terkenal."

"Lebih dari Jimetsu-tei?"

"Tentu saja."

Saat aku menjawab begitu, Tojo kembali tampak berpikir keras.

"Mungkinkah salah satu pemain profesional...?"

"Ahaha, mungkin dia jauh lebih hebat daripada pemain profesional."

"Eh...?"

Mendengar petunjukku, Tojo tampak bingung.

Sayangnya, orang itu bukan pemain profesional. Namun, dibandingkan orang itu, bahkan pemain profesional pun tampak tidak ada apa-apanya.

"Aku masuk klub ini demi bertemu orang itu... tidak, demi mengalahkannya. Memang alasan yang egois. Tapi untuk saat ini, hanya ini satu-satunya cara bagiku untuk memenuhi 'Janji' itu."

"Apakah orang itu akan muncul di turnamen kali ini?"

"Entahlah."

Aku memberikan jawaban yang ambigu dan tidak bicara lebih lanjut.

"Hmm... tidak sangka Masai-kun bisa begitu terobsesi pada seseorang. Aku jadi tertarik ingin tahu siapa orang itu."

Tojo meletakkan tangan di bibirnya, tampak sedang mencoba memecahkan teka-teki tentang sosok yang kusebutkan.

Kepada Tojo yang seperti itu, kali ini aku yang bertanya.

"...Boleh aku tanya satu hal juga?"

"Oh, apa itu?"

"Soal kemarin... waktu kamu membelaku saat aku dijelek-jelekkan, aku ingin bilang terima kasih."

"Ah, soal itu. Jangan dipikirkan. Aku hanya mengatakan apa yang sejujurnya kupikirkan, kok."

"Tetap saja, bagi orang dengan posisi sepertiku, itu membuatku senang."

Jika terus-menerus berkompromi dalam segala hal, tanpa sadar seseorang akan jatuh ke posisi di mana ia tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dan bagiku yang membiarkan hal itu terjadi, sebenarnya sudah tidak ada harapan sejak awal.

Karena itulah, tindakan Tojo benar-benar membuatku senang.

"...Aku benar-benar salah sangka."

"...?"

"Setahuku, seorang 'penyendiri kuper' tidak akan bicara sambil menatap mata seperti ini, apalagi mengucapkan terima kasih sendiri. ...Kesan dan kesalahpahaman itu memang menakutkan ya."

Bukannya aku tidak bisa bicara dengan orang lain. Hanya saja, karena aku menganggapnya tidak perlu dan mengabaikan usaha di bidang itu, maka terbentuklah diriku yang sekarang.

Dalam arti itu, aku memang benar-benar seorang penyendiri kuper.

"Karena cuma main Shogi terus, tanpa sadar aku jadi begini."

"Fufu, kamu benar-benar berusaha ya. Sampai mempertaruhkan seluruh dirimu."

"Tojo-san sendiri, rasa sakit dalam memilih jalan itu pasti tidak main-main."

"Ternyata kamu mengerti ya?"

"Aku sadar waktu kita bertanding kemarin. Kalau tidak sadar, berarti aku tidak peka."

"Heh? Kalau begitu, apa kamu bisa membaca perasaanku terhadap Masai-kun juga?"

"..."

Melihat Tojo yang mengatakannya dengan senyum menggoda, aku sedikit membuang muka dengan wajah masam.

Dulu, ada orang yang mengatakan hal serupa dan menggoyahkan perasaanku. Saat itu, aku di dalam hati pasti merasa sangat senang.

Tapi, disukai hanya karena jago Shogi itu hanyalah cerita dongeng. Jika tidak punya daya tarik sebagai laki-laki, pada akhirnya hanya akan berakhir dengan penyesalan.

"Maaf, aku bicara yang tidak-tidak."

Seolah menyadari sesuatu, Tojo menarik diri dariku.

"...Semoga 'Janji' itu bisa terpenuhi ya."

"...Iya."

Saat aku dan Tojo sedang bercakap-cakap seperti itu, seorang gadis tak dikenal turun dari bus dan berlari ke arah kami.

"...Dia datang."

"Kenalan Tojo-san? ...Kayaknya dia lari ke sini dengan semangat banget."

Entah apa yang membuatnya terburu-buru, gadis yang berlari dengan kecepatan penuh itu langsung mendekat ke arah Tojo begitu melihat wajahnya.

Lalu, dengan wajah serius yang tidak cocok untuk hari Minggu jam tujuh pagi, ia menginterogasi Tojo.

"Selamat pagi, Raizaki—"

"Ba-ba-ba-bagaimana caranya kamu bisa jadi friend sama Jimetsu-tei!? Apa pakai uang!? Suap!? Atau kamu menjual tubuhmu!? Aku kecewa padamu, Tojo-senpai!! Kenalkan juga padaku! Ini permintaan seumur hidup! Kumohon! Berikan Jimetsu-tei padaku!!"

Wah, gila juga. Identitasku bakal terbongkar dalam hitungan detik nih.

Seorang gadis bertubuh pendek yang menginterogasi Tojo dengan nada bicara yang sangat berapi-api.

Rambut peraknya berkilau diterpa sinar matahari, kecantikan platinumnya membuat siapa pun yang melihatnya merasa dia adalah gadis cantik yang istimewa.

Namun, entah kenapa gayanya sangat santai... atau lebih tepatnya, selera berpakaiannya seadanya seperti baju laki-laki.

Datang ke sini berarti dia pastinya peserta turnamen. Dan, seperti yang akan dikatakan Tojo tadi, anak ini adalah anggota terakhir Klub Shogi yang tersembunyi, Raizaki.

Mengingat dia memanggil Tojo dengan sebutan "Senpai", berarti Raizaki adalah adik kelas satu tingkat di bawah.

Namun, kalau dilihat dari jauh tadi aku tidak sadar, ternyata anak ini pendek sekali ya. Tidak sampai sependek anak SD sih, tapi bisa salah sangka mengira dia anak SMP.

"Tojo-senpai? Kamu dengar nggak!?"

"Iya, iya, aku dengar. Sudah berapa tahun ya sejak terakhir kali kamu sesemangat ini."

Eh, sampai segitunya? Berarti biasanya dia tipe karakter yang cool?

Memang matanya terlihat sedikit tipe downer atau mata sayu. Jika Tojo memancarkan kesan cool dari suasana dan pembawaannya, Raizaki terasa cool dari ekspresi wajahnya.

Tapi semangat ini... jauh sekali dari kata cool.

"Cepat jawab! Bagaimana caranya bisa jadi friend... nggak, gimana ceritanya bisa terlibat sama Jimetsu-tei!?"

"Aah, mmm, soal Jimetsu-tei ya..."

Tojo melirik ke arahku dengan ekspresi bingung.

Karena sifatnya, dia pasti ragu untuk berbohong, sepertinya dia ingin aku membantunya.

Bagiku sih, aku tidak berniat menyembunyikan identitas Jimetsu-tei, meski tidak berniat membeberkannya juga.

Saat masuk klub Shogi dulu, ketika Senior Takebayashi bertanya, aku menjawab jujur kalau aku main Shogi Wars, dan saat ditanya peringkat pun aku menjawab tegas kalau aku Dan 9.

Aku tidak akan koar-koar kalau aku adalah Jimetsu-tei, tapi jika ditanya apakah aku Jimetsu-tei, aku berniat menjawab iya.

Aku mengangguk pelan menanggapi tatapan Tojo.

"Aah... Raizaki, kamu ingin bertemu Jimetsu-tei?"

"Tentu saja!! Di mana dia? Tokyo? Osaka? Nagoya? Apa jangan-jangan di luar negeri? Nggak apa-apa kok, aku punya cukup uang tabungan buat pergi-pulang...!"

"Begitu ya..."

Raizaki memberikan jawaban berlebihan atas pertanyaan Tojo sambil mengembuskan napas pendek-pendek.

Seolah ingin mengalihkan antusiasme Raizaki, Tojo mengarahkan telapak tangannya ke arahku, lalu sambil memejamkan mata ia menunjukku.

"Ehem... kalau begitu, izinkan aku memperkenalkannya. Orang ini adalah teman sekelasku, namanya Watanabe Masai-kun."

Tojo mengucapkannya dengan bahasa yang sopan.

"...? Ah, iya? Anu, salam kenal, mohon bantuannya?"

"I-iya. Salam kenal..."

Raizaki bertukar salam denganku secara refleks.

Lalu setelah terdiam sejenak, ia berbalik ke arah Tojo dan mendesaknya lagi.

"...Terus, Jimetsu-tei ada di mana!?"

"Iya, makanya, orangnya ya dia ini."

Tojo kembali mengarahkan telapak tangannya ke arahku.

"...Hah?"

Raizaki menatapku dan Tojo bergantian dengan wajah bingung.

Karena aku tidak tahu harus bilang apa, aku hanya mengangguk kecil ke arah Raizaki. Padahal tadi baru saja salam kenal.

Melihat itu, Raizaki tersentak dan mulai melakukan proses konfirmasi ulang.

"...Eh? Eh?"

Beberapa saat kemudian, seolah baru menyadari situasinya, matanya terbelalak lebar dan ia bertanya sambil seluruh tubuhnya gemetar hebat.

"...O-orang ini, adalah Jimetsu-tei...???"

Aku dan Tojo mengangguk pelan.

"Bukan palsu...?"

Aku dan Tojo mengangguk pelan.

"Bukan prank...?"

Aku dan Tojo mengangguk pelan.

"N-nggak mungkin..."

Tojo dengan sigap merampas ponselku, membuka halaman profil Shogi Wars, lalu menunjukkan bukti kalau aku adalah si Jimetsu-tei yang asli dalam keheningan.

"Hyuk—"

Raizaki mengeluarkan suara tertahan lalu membeku karena syok.

Duh, sama kayak Tojo waktu itu, kenapa semua orang bereaksi berlebihan sih sama nama Jimetsu-tei... aku kan cuma anak SMA biasa...




"Be-be-be-be-beneran asli……?"

Raizaki menoleh ke arahku sembari menggerakkan tubuhnya yang kaku—krieek, krieek—seperti mesin karatan.

Padahal saat salam kenal tadi dia sama sekali tidak melirikku, tapi begitu tahu aku adalah Jimetsu-tei, dia langsung menerjang maju dengan semangat yang luar biasa.

"A-a-a-a-aku pengin banget ketemuuuu……!! Jimetsu-tei! Bukan, Yang Mulia Jimetsu-tei……!!"

"O-oi……"

Raizaki menggerakkan kedua tangannya ke arahku, mengayun-ayunkannya ke atas dan ke bawah dengan cepat.

Ritual apa ini?

"Tidak disangka kalau Jimetsu-tei ternyata seorang anak SMA……!! Apalagi satu sekolah denganku, ini adalah kecerobohan terbesar dalam hidupku……!! Kalau tahu begini, aku pasti masuk sekolah setiap hari supaya bisa kenalan lebih awal……!!"

Iya, masuk sekolah setiap hari. Itu hal yang normal, tahu. Aku saja masuk tiap hari, jadi tolong lebih berusahalah sedikit, Raizaki.

Lagipula, sekarang aku malah diperlakukan seperti tokoh besar, padahal aku bukan orang hebat yang seperti itu…….

"Ma-maaf ya. Ternyata sosok asli Jimetsu-tei cuma cowok kuper begini……"

"Apa yang Anda katakan! Wajah maupun penampilan tidak ada hubungannya dengan sosok yang aku kagumi! Aku jatuh cinta pada langkah-langkah caturmu! Jadi, tidak peduli bagaimana Anda diperlakukan di kehidupan sehari-hari, kekagumanku ini tidak akan pernah pudar! Minta tanda tangan!"

Iya, makanya, aku tidak bisa menulis tanda tangan.

Sama seperti Tojo waktu itu, kenapa semua orang alurnya selalu berujung minta tanda tangan? Apa ini sudah jadi tradisi di dunia Shogi?

"Ta-tanda tangan sih tidak bisa, tapi kalau mau jadi friend boleh saja kok."

Aku mengulang kalimat yang persis sama dengan yang kuucapkan pada Tojo tadi.

Seketika, Raizaki menyodorkan ponselnya ke arahku dan menengadahkan wajahnya ke langit dengan tenang.

"Terhubung…… dengan Jimetsu-tei…… Akhirnya aku…… mencapai kebahagiaan……"

Begitulah, Raizaki seolah-olah baru saja naik ke surga.

"……Hm? Eh? Akun ini……"

Saat aku mengambil ponsel Raizaki untuk mendaftarkannya sebagai teman, aku melihat nama akun yang sangat familier.

──Raika. Itulah yang tertulis di halaman profil Raizaki.

"Ah, maaf aku telat memperkenalkannya! Namaku Raizaki Natsu, aku sering melakukan streaming Shogi dengan nama Raika!"

"……Serius?"

Dunia ternyata sempit sekali. Tidak disangka kalau Raizaki adalah sosok asli dari Raika itu sendiri.

Begitu ya, namanya diambil dari Raizaki Natsu—Rai-zaki Natsu-ka. (Raika).

"P-pendaftaran selesai! Terima kasih banyak, Jimetsu-tei…… ah bukan, maksudku, Masai-senpai! Rasanya seperti mimpi bisa terlibat denganmu seperti ini……!"

"Ahaha, aku bukan orang sehebat itu kok. ……Tapi, terima kasih ya sudah bilang begitu."

Karena aku jarang dipuji secara langsung, rasanya agak malu juga saat diberikan rasa suka yang tulus seperti ini.

"Oh, kalian bertiga cepat juga datangnya!"

"Senpaaaaai~!!"

Saat kami sedang mengobrol, suara Senior Takebayashi dan yang lainnya terdengar dari kejauhan.

Mungkin karena urusannya sebagai ketua klub atau entah apa, Senior Takebayashi menggendong tas besar seolah-olah ingin pergi berkemah.

Sebaliknya, Aoi hanya membawa tas selempang kecil, penampilannya sangat santai seperti mau pergi ke minimarket saja.

Sedangkan Sakuma bersaudara tetap berjalan dengan gaya angkuh dan penuh percaya diri seperti biasanya.

"Mereka datang."

Tojo bergumam pelan sembari menoleh ke arah Senior Takebayashi.

Sepertinya sekarang semua anggota sudah berkumpul.

"Semuanya, kalian sudah berusaha keras sampai hari ini! Tapi mulai sekarang, ini adalah medan perang. Ini adalah panggung sebenarnya di mana kita bertarung sebagai satu tim. Apa kalian semua sudah siap?"

Mendengar ucapan Senior Takebayashi, semua orang menyunggingkan senyum di sudut bibir mereka.

"……Bagus! Kalau begitu, ayo kita semua yang ada di sini pergi untuk merebut juara!"

Senior Takebayashi memberikan deklarasi dengan suara lantang, dan kami pun melangkah masuk ke dalam gedung turnamen dengan semangat membara.

Sepuluh menit setelah Masai dan yang lainnya memasuki gedung, para pemain lain mulai berdatangan dan berkumpul di depan aula untuk melakukan persiapan sebelum turnamen dimulai.

"Hei, kamu dengar nggak? Katanya tahun ini SMA Nishigasaki ikut bertanding."

"Nishigasaki? Di mana itu?"

"Itu lho, sekolah tempat Tojo Mika dan Raizaki Natsu bernaung."

"Ah, benar juga. Kayaknya aku pernah dengar."

Mendengar hal itu, salah satu pemain tampak tidak terkejut maupun gentar. Dia justru meremehkan dengan ekspresi seolah mereka bukan tandingan yang berarti.

"Lagipula, pertandingan tim kali ini sistemnya tujuh lawan tujuh. Biar mereka berdua hebat, kalau jumlah poin kemenangannya kalah ya percuma saja. Terus, jangan bawa-bawa nama lama seperti Raizaki deh. Dia kan cuma 'Ratu Tanpa Mahkota'? Dia itu lawan yang bagus buat kasih kita kemenangan gratis."

"Yah, benar juga. Yang merepotkan paling cuma Tojo Mika saja."

Para pemain itu tertawa terbahak-bahak, memandang rendah keberadaan mereka berdua.

Kenyataannya, SMA Nishigasaki memang termasuk sekolah yang cukup kuat.

Namun, itu hanya berlaku untuk sekolah-sekolah yang ada di wilayah Barat saja. Bukan berarti mereka mewakili seluruh pemain amatir di wilayah tersebut.

Di wilayah Barat, terdapat banyak tempat pelatihan (dojo) untuk membina para pemain kuat, dan turnamen Oryu-sen kali ini adalah tempat bagi para murid dari tempat pelatihan tersebut untuk datang menantang secara berkelompok.

Bisa dibilang, ini adalah pertarungan untuk menentukan siapa yang terkuat di wilayah Barat. Ini bukanlah turnamen remeh di mana satu sekolah biasa bisa dengan mudah mencuri perhatian.

"Ngomong-ngomong, nama Taisho-nya belum pernah kudengar ya. Watanabe…… dibacanya apa nih? Shinsai?"

"Paling cuma buat umpan atau semacamnya. Kalau tidak begitu, mana mungkin mereka bisa menang lawan kita yang merupakan murid aktif dari tempat pelatihan."

"Hahaha! Benar juga."

Semua orang tertawa meremehkan.

Pada akhirnya, mereka hanyalah sekumpulan pemain amatir biasa. Jika seseorang memang benar-benar kuat, namanya pasti sudah tersebar luas seperti Tojo atau Raizaki.

Namun, nama pemuda itu tidak pernah didengar oleh siapa pun, bahkan oleh anggota tempat pelatihan mana pun.

Artinya, pemuda itu adalah orang yang sama sekali tidak dikenal—tidak punya riwayat menjuarai turnamen, tidak punya catatan pernah mengalahkan pemain besar. Singkat kata, dia hanyalah seorang pemula.

Jika sudah begitu, kesimpulannya hanya satu. Pemuda itu pasti dijadikan tumbal. Kasihan sekali. Dijadikan umpan tim hanya agar mereka bisa meraih poin kemenangan di posisi lain.

Namun, saat ini mereka belum menyadari bahwa pemuda tersebut akan menjadi sebuah anomali luar biasa yang akan mengacaukan seluruh turnamen ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close