Chapter 4
Dunia dengan Kecepatan 300 km/jam
Saat aku kembali
ke aula, sepertinya sebagian besar pertandingan babak pertama telah berakhir.
Begitu pula
dengan timku. Senior Takebayashi, Aoi, dan Sakuma bersaudara sudah
menyelesaikan pertandingan mereka dan sedang beristirahat.
"Jelaskan
apa maksudnya ini, Asuka……!!"
"Ti-tidak, ini…… bukannya begitu……"
"Apanya yang bukan!? Memohon pada lawan agar mengalah
itu berarti kamu sudah gagal sebagai pemain shogi!"
Asuka sepertinya dianggap melakukan pengaturan skor karena
negosiasinya denganku tadi. Ia kini dipojokkan dan menuai antipati dari
rekan-rekan setimnya sendiri.
Suara Asuka sebenarnya sudah cukup pelan, ditambah lagi
suasana aula yang selalu bising dan ramai, sehingga suara biasanya mudah
tenggelam.
Meski
begitu, sepertinya orang yang bertanding tepat di sebelah kami mendengar
semuanya dengan jelas.
Wakil
kapten lawan yang tadi bertanding melawan Sakuma Kaito tampak mengamuk sambil
menginterogasi Asuka.
Yah,
melihat situasi itu, sepertinya dia tidak akan bertingkah sombong untuk
sementara waktu.
"Oi,
Tuan Kapten."
"?"
Saat aku
hendak duduk sambil memikirkan hal itu, tiba-tiba sebuah suara memanggilku dari
belakang.
Begitu menoleh,
Sakuma Kaito sudah berdiri di sana.
"……Ehm, itu.
Kamu sudah berjuang keras ya."
Mendengar Kaito
yang jarang-jarang memujiku, aku pun membuang muka dengan malu.
"Ka-kamu
dengar, ya……"
"Ya iyalah,
kan aku di sebelahmu. Sepertinya kamu punya masa lalu dengan kapten lawan, tapi
kamu tidak apa-apa?"
"Yah…… anggap saja aku sudah memutus hubungan
itu."
"Begitu ya."
Kaito tidak bertanya lebih jauh lagi.
Sebagai gantinya, ia duduk di sebelahku dengan ekspresi
wajah yang tampak penuh penyesalan.
"Lagipula,
aku tidak menyangka kamu sekuat itu. Menyaksikan cara mainmu yang mendominasi
kapten lawan dari kursi sebelah itu benar-benar membuatku merinding. ……Mungkin
sudah terlambat, tapi jujur aku meremehkanmu. Aku salah sangka dan mengira kamu
cuma anak baru biasa. ──Soal yang kemarin-kemarin, aku benar-benar minta maaf.
Aku minta maaf secara resmi."
Sambil berkata
begitu, Kaito meletakkan kedua tangannya di atas lutut dan menundukkan
kepalanya dalam-dalam.
"Tidak
apa-apa. Memang benar aku masih anak baru yang belum lama bergabung, dan jujur
aku juga sempat tidak percaya diri bisa mengemban tugas sebagai kapten. Saat
itu, aku bahkan berpikir untuk fokus menjadi umpan saja."
"Kamu
memikul beban kapten dan menyumbangkan poin kemenangan. Aku tidak akan pernah
dan tidak bisa lagi menyebutmu umpan. Malah sepertinya lebih baik aku yang jadi
umpan saja."
"Haha."
Aku tidak
menyangka hari di mana aku bisa mengobrol seperti ini dengan Sakuma bersaudara
akan tiba. ……Meski baru dengan si kakak, sih.
"──Masaya-kun!"
Saat kami sedang
asyik mengobrol, Tojo yang sudah menyelesaikan pertandingannya berlari ke arah
kami.
Karena Tojo
adalah pemain posisi pertama (senpaku), ia bertanding di tempat yang
paling jauh dariku selaku kapten. Karena itu, seharusnya ada jarak yang cukup
jauh di antara kami, tapi……
Kecepatan lari
Tojo bukannya melambat, malah makin kencang.
Saat Kaito
tiba-tiba menggeser kursinya di tengah jalan, aku sempat merasakan firasat
buruk. Sayangnya, kemampuan prediksiku sepertinya hanya berlaku untuk shogi──.
"Selamat,
ya!!"
"Tunggu!?"
Tojo memelukku
dengan kekuatan yang luar biasa kencang.
"Tu-tunggu sebentar, Tojo-san……!?"
"Kamu tidak
apa-apa? Orang itu tidak melakukan sesuatu padamu? Dia tidak bilang hal-hal jahat, kan? Kalau dia
macam-macam, biar aku yang beri dia pelajaran sebagai gantinya!?"
Tojo masih
memelukku, bahkan ia semakin mempererat pelukannya alih-alih melepaskannya.
Tunggu dulu,
ketimbang mengkhawatirkan kondisiku, otakku malah gagal memproses pelukan
mendadak ini! Maksudku, ini menempel!
Ada sesuatu yang
sangat lembut yang tertekan ke tubuhku! Belum lagi aromanya yang harum──bukan,
bukan itu, tapi ini benar-benar kontak fisik yang berlebihan……
"A-aku tidak
apa-apa, kok. Aku
menang dengan benar dan dia tidak bilang apa-apa."
"Begitu
ya……! Syukurlah! Syukurlah kalau begitu……! Aku benar-benar khawatir,
tahu!"
"I-iya. Daripada itu, bagaimana dengan Tojo-san
sendiri? Apa kamu menang?"
"Aku? Tentu
saja! Mana mungkin aku kalah!"
Hebat sekali.
Mengingat kemampuan Asuka, anggota Dojo Ryutei seharusnya sangat tangguh, namun
Tojo bisa begitu yakin dengan kemenangannya. Memang kemampuan Tojo sudah tidak
perlu diragukan lagi.
……Ngomong-ngomong,
sampai kapan posisinya bakal begini?
Bisa berpelukan
dengan Tojo adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah mampir dalam mimpiku, tapi
karena ini di depan umum, aku jadi merasa malu sendiri.
"Tojo-senpai~?
Sampai kapan Senpai mau menempel terus pada Masaya-senpai~?"
Tanpa kusadari,
Kizaraki sudah berdiri di sana dengan wajah cemberut sambil memelototi kami.
"Ah, ma-maaf
ya! Aku cuma terlalu terbawa suasana! Ahaha……"
"Muu……"
Melihat Kizaraki
yang menunjukkan tatapan iri, Tojo pun melepaskanku dengan wajah yang memerah
padam.
Secara pribadi,
aku senang bisa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan ini, tapi sayangnya
karena pikiranku sedang terlalu fokus pada pertandingan, aku tidak bisa
benar-benar menikmati momen indah ini.
Saat itu aku
sadar bahwa sebagai kapten, aku belum mengecek laporan hasil tim dan memastikan
kemenangan kami. Aku pun bergegas menoleh ke sekeliling.
Ternyata Senior
Takebayashi sudah berjalan menuju meja panitia. Sepertinya ia sudah mewakili
aku untuk melaporkan hasilnya.
Aku selalu
berpikir, di balik sifatnya yang berani dan blak-blakan, dia benar-benar
cekatan.
Terlebih lagi,
melaporkan hasil sebenarnya adalah tugasku, jadi aku merasa agak tidak enak
karena dia melakukan semuanya untukku……
Oke, lain kali
aku akan mentraktirnya sesuatu.
"E-eh, maaf
baru tanya sekarang. Boleh aku tahu hasilnya? Aku tahu Tojo-san menang,
tapi……"
Aku melirik
ekspresi yang lain sambil menanyakan hasilnya pada mereka berdua.
Sepertinya yang
lain sudah tahu hasilnya, tapi aku sendiri belum. Jika kami kalah, itu artinya
kami harus langsung pulang.
Lagipula, meski
aku atau Tojo menang, jika mayoritas anggota tim kalah, maka tim akan dianggap
gugur. Itulah aturan turnamen beregu. Selain hasil pribadiku, kemenangan tim
secara keseluruhan jauh lebih penting.
"Kita menang
dengan selamat, kok. SMA kita ini kan isinya pemain-pemain tangguh."
Sambil berkata
begitu, Tojo menyerahkan selembar kertas berisi catatan hasil pertandingan
masing-masing anggota kepadaku.
"Ah!
Tojo-senpai, jangan!"
Sebelum sempat
mendengar peringatan Kizaraki yang mencoba menghentikan, aku sudah telanjur
melihat isi kertas tersebut.
Kapten:
Watanabe Masaya 〇
Wakil Kapten:
Sakuma Kaito 〇
Pemain Ketiga:
Takebayashi Tsutomu 〇
Pemain
Menengah: Kizaraki Natsu ×
Pemain Kelima:
Aoi Reina 〇
Pemain Keenam:
Sakuma Hayato 〇
Pemain
Pertama: Tojo Mika 〇
Hasilnya tertulis
seperti itu.
"Yah, kenapa
Senpai malah melihatnya sih……"
Kizaraki
bergumam dengan ekspresi kecewa.
Begitu
rupanya, hanya Kizaraki yang mendapatkan tanda silang (kalah).
Namun, aku justru
terkejut karena semua anggota lainnya menang.
Bukannya aku
meremehkan kemampuan rekan setimku, tapi bisa menang telak melawan musuh kuat
benar-benar membuat mereka terasa sangat bisa diandalkan.
Dalam artian,
kekalahan Kizaraki kali ini hanyalah hal sepele. Tidak perlu diambil pusing.
"Uuu……
cuma aku saja yang kalah,
rasanya memalukan sekali……"
"Apa sih,
Kizaraki. Kamu kan tipe slow starter, jadi tidak perlu khawatir.
Lagipula ini pertandingan beregu. Yang penting tim kita menang secara
keseluruhan."
Tojo memberikan
kata-kata penghiburan.
"Benar.
Seperti kata Tojo-san, ini adalah pertandingan tim, jadi kamu tidak perlu
memikirkan satu kekalahan saja."
"Terima
kasih, Masaya-senpai! Kata-katanya meresap sampai ke hati!"
"Hoi,
kata-kataku tadi kamu abaikan!?"
Benar, ini adalah
turnamen beregu, sebuah pertarungan tim. Daripada menyalahkan lawan atas
kemenangan atau kekalahan, lebih baik kita bersyukur karena telah berjuang
bersama.
Aku pun tidak
tahu kapan kaki ini akan dijegal oleh orang lain.
"Ah,
Mikado-cchi! Kamu sudah kembali ya~!"
Aoi
melompat-lompat kecil sambil melambaikan tangan ke arahku.
Di saat yang
sama, Senior Takebayashi juga kembali sambil tertawa keras, sepertinya dia
sudah selesai melapor.
Padahal baru saja
menyelesaikan pertandingan, tapi dua orang ini energik sekali.
"Kerja
bagus, Watanabe-kun! Sayang sekali buat Kizaraki-kun tadi!"
"Uuu…… berikutnya aku pasti menang!"
"Wahahaha!! Semangat yang bagus! Dan omong-omong, lawan
kita berikutnya sudah diputuskan!"
Sambil berkata begitu, Senior Takebayashi menunjukkan tabel
pertandingan yang ia dapatkan dari meja panitia.
"──Cabang Gin-funari?"
Tojo memasang ekspresi heran saat membaca nama tim misterius
yang belum pernah ia dengar itu.
Ah…… ternyata nama timnya tidak harus merujuk pada nama
sekolah atau nama dojo, ya.
Gin-funari (Perak Tak Berpromosi), sesuai namanya,
adalah istilah yang digunakan dalam shogi ketika seseorang sengaja tidak
mempromosikan bidak Perak miliknya.
Dalam shogi, saat bidakmu berada di tiga baris terakhir area
lawan, kamu bisa memilih untuk mempromosikannya atau tidak saat bidak itu
bergerak.
Karena bidak yang sudah dipromosikan tidak bisa kembali ke
bentuk semula, ini adalah pilihan yang sangat krusial.
Bidak
Perak adalah yang paling sering membuat pemain bimbang.
Sebab
jika dipromosikan, ia akan berubah menjadi Nari-gin (Emas Promosi) yang
pola gerakannya mirip bidak Emas, sehingga kekuatan tempurnya tidak terlalu
berubah drastis namun pola geraknya berbeda total.
Jika Emas
adalah tipe spesialis pukulan, maka Perak adalah spesialis tendangan.
Jadi,
kelompok bernama "Gin-funari" ini kemungkinan adalah kumpulan orang
dengan selera niche yang bersikeras tidak akan mempromosikan Perak apa
pun yang terjadi.
──Jika
boleh jujur, mereka ini sekelompok orang yang suka tampil beda demi gaya saja.
Meski
begitu, mereka adalah tim yang berhasil lolos dari babak pertama. Setidaknya,
mereka bukan lawan yang bisa ditumbangkan dengan mudah.
"Uwah,
serius. Itu Tojo, kan……?"
"Ugh…… sial banget."
Saat aku sedang melamunkan itu, anggota dari Cabang
Gin-funari mulai berkumpul di dekat kami.
Begitu melihat Tojo, mereka langsung tampak kecewa. Dan saat
melihat Aoi yang entah sejak kapan sudah memegang dan meminum boba di samping
Tojo, ekspresi mereka makin terlihat muak.
"Glek…… ada Aoi Reina juga……"
"Sepertinya
kita harus bersiap menelan dua atau tiga kekalahan."
"……Cih."
Sakuma Hayato
yang menguping dari dekat mendecih mendengar ucapan mereka yang seolah-olah
sudah yakin tidak akan kalah lebih dari empat kali.
Terlebih lagi,
jika diperhatikan, mereka adalah pelajar.
Sepertinya bukan
siswa SMA Nishigasaki, melainkan kumpulan murid dari SMA atau SMP sekitar.
Mungkin mereka berasal dari dojo yang sama.
Setelah menilai
kami satu per satu, mereka menatap wajahku dengan tanda tanya.
"Ngomong-ngomong
Senpai, apa Senpai pernah melihat kapten mereka?"
"Hmm……?"
Anggota Cabang
Gin-funari itu mengintip wajahku dari jarak yang agak jauh.
"……Tidak,
belum pernah lihat. Aku tidak ingat ada orang seperti itu di turnamen-turnamen
sebelumnya."
"Benar
kan!? Kalau begitu dia cuma pelengkap saja, dong……! Asyik……!"
Sepertinya
mereka berniat bicara tanpa terdengar olehku, tapi aku masih bisa menangkap
suara mereka.
"Oi, oi,
jangan lengah. Meski cuma pelengkap, mungkin saja dia punya tingkatan Kyu
satu atau dua."
"Mana
mungkin aku kalah dari pemain tingkat Kyu!"
Benar-benar
diremehkan.
Meski aku memang
tidak populer, aku tidak menyangka bakal dianggap pecundang hanya karena tidak
ikut turnamen selama beberapa tahun.
Ternyata Asuka
bukan pengecualian; semua orang yang tidak tahu soal Jimetsutei pasti
akan menganggapku sebagai pemain pelengkap.
Iya, iya, aku
memang pecundang di mana-mana.
Atau
jangan-jangan, aura suram yang terpancar dariku ini yang membuat orang berpikir
aku lemah? Kalau begitu, lain kali aku harus minta Senior Takebayashi
mengajariku cara mengeluarkan aura yang kuat.
Saat aku sedang
berpikir begitu, seorang remaja setinggi anak SMP yang menjabat sebagai kapten
lawan menghampiriku sambil tersenyum mengejek.
"Mohon
bantuannya yaaa. Ah, tapi jangan mengeluh kalau kalah nanti, oke? Akhir-akhir
ini banyak orang dewasa yang gampang marah cuma karena kalah dari anak-anak.
Yah, Senpai mungkin tidak tahu soal itu karena sepertinya tidak pernah ikut
turnamen."
Remaja itu
mengejekku bahkan sebelum bertanding. Dengan wajah penuh percaya diri, ia duduk
di kursi tepat di depanku.
Sopan santunnya
buruk sekali pada orang yang lebih tua. Punya nyali itu bagus, tapi sebaiknya
pilih kata-kata provokasimu dengan benar, Nak──.
"……Ah, benar
juga."
Aku mengatur
napas dengan tenang, menenggelamkan pikiranku ke dasar air di mana papan
permainan terbentang.
Lalu, perlahan
aku membuka mata.
"──Mari kita
sepakat untuk tidak mengeluh saat kalah nanti, satu sama lain."
Setelah beralih
kembali ke pola pikir Jimetsutei, aku memulai babak kedua.
◇
Ada yang aneh
dengan Kizaraki.
Tiga puluh menit berlalu sejak pertandingan melawan Cabang
Gin-funari dimulai. Tepat saat
permainan akan memasuki babak akhir, aku menyadari sebuah kejanggalan.
"Argh, sial,
kenapa bisa begini……!?"
Sambil
mengabaikan lawan di depanku yang sedang mengerang frustrasi karena langkahku,
aku melirik ke arah kiri untuk mengecek kondisi rekan-rekan yang lain.
Meski aku tidak
bisa melihat jelas wajah Tojo, Hayato, atau Aoi yang berada di sisi jauh, aku
masih bisa mengamati posisi Kizaraki dari sini.
Kaito dan Senior
Takebayashi tampak sedang berpikir keras karena sudah memasuki babak akhir,
namun dari kedalaman ekspresi mereka, aku bisa melihat kilatan mata yang yakin
akan keunggulan mereka.
Namun──hanya
Kizaraki yang terlihat aneh.
"……ugh."
Keringat dingin
menetes dari pipinya. Pandangannya terpaku pada papan dengan mata sayu,
seolah-olah ia sedang demam tinggi.
Keanehan itu
bukan soal posisi permainannya bagus atau buruk. Tapi kondisi, atau lebih
tepatnya kondisi mentalnya yang tampak tidak wajar.
Apalagi, ini
bukan jenis penyakit seperti flu atau demam. Rasanya dia sedang memaksakan diri
untuk melangkah dalam keadaan mental yang terhambat atau terbelenggu oleh
sesuatu.
(Itu…… jangan-jangan……)
Aku mengenali
kondisi itu. Lagipula, aku sudah merasakan tanda-tandanya pada Kizaraki……
tidak, pada Laika, sejak lama.
Namun, ini adalah
semacam racun. Masalah yang akan memburuk jika dibiarkan. Ini adalah salah satu
skenario yang sudah kuprediksi, tapi melihatnya muncul secara nyata di
permukaan seperti ini, aku harus segera bertindak.
Jika terus
begini, kami tidak akan bisa juara, dan "Janji"-ku tidak akan
terpenuhi.
Tidak, untuk
sekarang aku harus fokus pada pertandinganku sendiri dulu.
"Sial……!
Sial……!"
Kapten Cabang
Gin-funari yang tampak terguncang dan gelisah karena langkahku itu terus
memegang kepalanya, kebingungan mencari langkah balasan.
Lalu, mungkin
karena melihatku membuang muka dari papan permainan, kapten lawan itu
memelototiku dengan tatapan penuh kecurigaan.
"O-oi……!
Kamu tidak sedang berbuat curang, kan……!?"
Mungkin
karena tidak bisa menerima kekalahannya sendiri, ia mengalihkan permusuhan
emosionalnya padaku, berbeda jauh dengan sikapnya saat awal tadi.
"Curang? Bagaimana caranya aku curang dalam situasi
begini? Aku bahkan tidak
meninggalkan tempat duduk."
"Mu-mungkin
saja kamu pakai earphone tersembunyi, atau seseorang memberimu kode mata
untuk memberi tahu langkah terbaik……!"
Sambil
berkata begitu, pria di depanku menoleh ke sana kemari, mencoba mencari bukti
kecurangan yang ia bayangkan.
"Hah…… kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri."
"Di-diam! Kenapa orang yang bahkan tidak pernah ikut
turnamen sepertimu bisa punya selisih kekuatan sebesar ini dariku! Tidak
mungkin……! Benar-benar tidak mungkin……! Langkahmu terlalu cepat, kamu
benar-benar mencurigakan……!"
"Pola
pikirmu dengki sekali ya."
Mendengar
kata-katanya yang kasar, aku melipat tangan dan mengistirahatkan pikiranku
sejenak.
Orang dengan
mental yang lemah cenderung menyalahkan faktor luar saat mereka terdesak. Dia
masih anak SMP yang jarang menghadapi kenyataan pahit seperti ini, jadi wajar
jika dia mencurigai aku berbuat curang.
Tapi jangan
remehkan aku, Nak. Ini bukan sekolah atau turnamen kelas amatir biasa. Ini
adalah pertandingan umum yang sesungguhnya.
Kamu tidak akan
diistimewakan atau dikasihani hanya karena kamu masih anak SMP atau SD.
Shogi adalah
permainan untuk menjatuhkan lawan dengan kecerdasan dan taktikmu sendiri.
Karena itulah
anak kecil bisa menang melawan orang dewasa, dan tidak jarang anak kecil
terpilih menjadi kapten.
Malah, anak muda
dengan putaran otak yang cepat dianggap lebih kuat.
Itulah sebabnya
aku tidak berniat mengalah pada siapa pun lawannya, dan aku sudah memutuskan
untuk bertarung dengan kekuatan penuh.
Jika ada selisih
besar dalam posisi permainan, itu tidak lain karena ada perbedaan besar dalam
kemampuan shogi antara aku dan kamu.
Aku tidak butuh
kecurangan.
"Jika kamu
begitu curiga aku berbuat curang, laporkan saja pada wasit."
"Kh……!"
Tidak ada argumen
yang lebih efektif daripada menyerahkan hak pelaporan kepada lawan.
Remaja itu
bungkam mendengar kata-kataku. Sambil menggigit bibir, ia memikirkan langkah
selanjutnya.
Dan
kondisi tragis ini sebenarnya dimulai dari hal yang sangat sederhana.
Setelah
pertandingan dimulai, aku memprioritaskan pertahanan tanpa memajukan pion
Benteng.
Kapten Cabang
Gin-funari kemudian menggunakan taktik yang disebut Kaku-kokan Shiken-bisha
(Benteng Jalur Empat dengan Pertukaran Gajah), atau disingkat KKS.
Taktik ini sangat
populer di kalangan amatir pada akhir era Heisei.
Keuntungannya
beragam; meskipun merupakan Furibisha (Benteng Berayun) yang bertujuan
untuk serangan balik, taktik ini bisa disusun menjadi formasi variasi yang
fokus pada serangan.
Kamu bisa
bertarung dengan formasi tanpa celah sambil memaksa lawan melakukan pertukaran
Gajah.
Jika lawan
menolak pertukaran Gajah, kamu tetap bisa menyusun bidak dalam posisi yang
selalu siap tempur.
Jika cita-cita
era Showa adalah Ishida-ryu Sanken-bisha, maka cita-cita era Heisei
adalah Kaku-kokan Shiken-bisha.
Kapten
Cabang Gin-funari melancarkan taktik tersebut. Setelah melakukan pertukaran
Gajah dengan penuh semangat, ia mengubah formasinya menjadi Mukai-bisha
(Benteng Berhadapan) dan melancarkan serangan sederhana bernama Bo-gin
(Perak Batangan) dengan terus memajukan bidak Perak ke depan.
Ini
adalah jalur serangan ideal seperti yang tertulis di buku panduan.
Sisi Furibisha
akan semakin unggul jika bidak-bidaknya bisa bergerak bebas. Terus melakukan pertukaran bidak
seharusnya membuat kendali permainan jatuh ke tangannya.
Itulah sebabnya,
meskipun aku bermain sebagai Ibisha (Benteng Statis), aku mengayunkan
Bentengku dan menjadikannya Furibisha.
Tidak ada
aturan yang melarang Ibisha untuk mengayunkan Benteng. Karena aku
menahan pergerakan Benteng sejak awal, aku belum bisa dikategorikan secara
mutlak sebagai Ibisha.
Dia pikir
dia sedang membuka kotak berisi kucing, padahal yang ia buka adalah Kotak
Pandora. ──Melancarkan serangan egois tanpa mencoba memahami isi
"kotak" lawan adalah tindakan yang sangat bodoh.
──Yodo
Furibisha (Benteng Berayun yang Menyesatkan). Ini adalah semacam jebakan.
Aku berpura-pura bertarung sebagai Ibisha, tapi kemudian memainkan Furibisha.
Keunggulan
lawan adalah mengubah pertukaran bidak menjadi keuntungan bagi Furibisha-nya.
Jika aku juga menggunakan Furibisha, maka keunggulan itu akan saling
meniadakan dan menjadi nol.
Alhasil,
lawan yang menghabiskan banyak langkah untuk menyerang akan mengalami kerugian
langkah (teson) secara sepihak, sementara aku mendapatkan keuntungan
langkah sebanyak itu.
Sisanya,
aku tinggal memanfaatkan perbedaan kecepatan itu untuk menyerang lebih cepat
darinya.
Lihat,
pertandingan yang sangat mudah, bukan?
"Ah,
sial……! Kenapa, kenapa bisa beginiii……!"
Empat
puluh menit sejak pertandingan dimulai. Dalam waktu itu, wajah kapten Cabang
Gin-funari telah diwarnai keputusasaan.
Semakin ia
melangkah, posisinya semakin memburuk menuju kehancuran. Serangan balik yang ia
lancarkan dengan memanfaatkan celah pun tertelan oleh jebakan yang kupasang dan
lenyap begitu saja.
Karena terdesak
ke dalam situasi yang mustahil, kapten lawan itu akhirnya mulai meneteskan air
mata penyesalan.
Namun, aku
melihatnya dengan ekspresi dingin dan terus memojokkannya tanpa ampun.
"……kh,
sa-saya menyerah……"
Kepada remaja
yang bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar itu, aku membungkukkan
kepala untuk membalas salamnya.
"Terima
kasih atas pertandingannya."
Dengan begitu,
aku berhasil memenangkan babak kedua dengan selamat.
◇
Lawan yang lebih
lemah. Perbedaan kemampuan shogi yang bahkan bisa kumenangkan meski aku
memberikan handicap bidak.
Aku bisa
merasakan perbedaan kekuatan yang begitu mencolok sampai-sampai aku tahu
langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya dengan mudah.
──Di depan lawan
seperti itu, tangan Kizaraki yang bertindak sebagai pemain tengah terhenti.
"……ugh."
Tangan yang ia
ulurkan untuk memegang bidak, ditahan oleh tangannya yang lain.
Padahal
ia belum memutuskan langkah, tapi tangannya bergerak sendiri. Kizaraki
merasakan sensasi mengerikan dari hal itu.
(……Apa ini…… menakutkan……)
Sensasi
kehilangan kendali atas diri sendiri, seolah ditarik paksa ke dalam
ketidaksadaran.
Trauma? Stres?
Atau mungkin Yips?
Berbagai
spekulasi muncul di benaknya, tapi tidak ada yang benar-benar cocok.
Ia merasa
tidak sedang dalam kondisi buruk. Ia juga tidak merasa lelah. Namun, ia tidak bisa melakukan langkah yang
memuaskan dan terus tertahan.
(Salah baca……?
Ada yang terlewat……? Kenapa pikiranku tidak bisa fokus……!)
Kizaraki sudah
merasakan sedikit keanehan saat ia kalah di babak pertama.
Langkah tidak
keluar sesuai keinginan. Prediksi tidak berjalan lancar. Meski tubuhnya tidak
bermasalah, ia merasa berat seolah ditekan oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Wajar jika kalah
dari lawan yang lebih kuat. Namun, lawan di babak pertama jauh lebih lemah dari
Kizaraki yang biasanya. Tapi ia malah kalah.
Lawan di babak
kedua bahkan lebih lemah lagi, benar-benar jauh di bawah levelnya.
Meski begitu,
Kizaraki kembali terdesak ke ambang kekalahan.
(……kh.
Apa yang terjadi denganku……)
Pertarungan
babak akhir di mana bayangan kekalahan (tsumi) mulai terlihat. Posisi
yang seharusnya bisa diprediksi dan dijalani dengan mudah oleh Kizaraki yang
asli.
Dalam
posisi seperti itu, Kizaraki justru melakukan pemikiran panjang selama 20
menit, membuang sisa waktunya yang berharga ke dalam selokan.
Langkahnya sudah
diputuskan. Ia merasa tidak ada pilihan lain. Melangkah di sini akan membawanya
pada kemenangan.
Jadi,
melangkahlah──.
Insting dari
inderanya terus berteriak begitu, mengganggu pikiran Kizaraki dengan suara
bising yang mengaburkan fokus.
(Berisik,
diamlah……!!)
Tidak mungkin ada
shogi yang dimainkan hanya dengan perasaan. Itu adalah pilihan yang terlalu
sombong.
Berpikir jernih,
membaca langkah dengan seksama, dan mengambil langkah yang masuk akal. Itulah
jalan pintas menuju hasil terbaik.
Kizaraki dengan
serius memikirkan kembali langkahnya dari awal.
Lalu ia
mengerucutkan beberapa kandidat langkah dan secara logis menyimpulkan langkah
mana yang paling baik dalam situasi tersebut.
Kemudian, ia
menyadari bahwa langkah instingtif tadi adalah langkah yang salah dan hanya
menang di "atmosfer" saja.
(……Lihat, benar
kan itu salah.)
Semakin ia
berpikir, semakin langkah tadi terlihat seperti langkah buruk (akushu),
dan ia merasa takut menyadari otaknya sempat ingin mengambil langkah buruk itu
secara otomatis.
Kizaraki
bersikeras pada langkahnya yang tenang dan terkendali.
(Kalau
saja "suara bising" yang mengganggu ini tidak ada, aku pasti bisa
membaca langkah lebih dalam lagi──)
Namun sesaat
kemudian, Kizaraki terperangah melihat langkah balasan lawan.
"Eh……?"
Serangan Pion
dari tangan lawan. Langkah biasa itu adalah langkah yang tidak ada dalam
prediksi Kizaraki, dan itu adalah──langkah kematian mendadak (tonshi).
(Eh……? Kenapa……?
Loh……?)
Tonshi, itu adalah vonis mati. Cap kekalahan.
Dalam posisi yang
Kizaraki pikir ia sedang unggul, ia melakukan satu kesalahan kecil yang membuat
keadaan berbalik.
(……Bohong…… kenapa, kenapa bisa begini……)
Ia tidak mengerti. Ia tidak paham alasan ia kalah.
Hanya karena satu kesalahan kecil, keadaan berbalik dan ia
kalah. Ia paham prosesnya.
Namun Kizaraki tidak mengerti mengapa ia bisa memikirkan dan
mengambil langkah yang salah itu.
Padahal ia sudah berpikir keras sebelum melangkah, padahal
ia sudah berpikir secara logis, tapi celah kecil itu tidak pernah memaafkannya.
(……Kenapa. Sejak
kapan aku jadi selemah ini……)
Kizaraki yang
seolah akan hancur saat itu juga, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai
tanda menyerah.
"……"
Masaya,
satu-satunya orang yang menyadari keanehan Kizaraki, perlahan bangkit dari
kursinya.
◇
Empat jam telah
berlalu sejak Koryu-sen dimulai. Pertarungan panjang telah melewati separuh
jalan, dan kini tiba saatnya istirahat makan siang.
"……"
Tim SMA
Nishigasaki kami berhasil memenangkan pertandingan babak kedua melawan Cabang
Gin-funari tanpa kendala.
Segalanya lancar,
jalan lurus menuju juara. ──Namun, suasana istirahat makan siang tidak seceria
itu.
"……"
Suasana hati
Kizaraki yang duduk di depanku sedang sangat rendah. Malah, dia terlihat sangat
muram sampai-sampai tidak tega melihatnya.
"Kizaraki……"
"……"
Kizaraki bahkan
tidak mendengarkan perkataan Tojo, ia hanya melamun dengan tatapan kosong.
Penyebabnya sudah
jelas, pasti karena pertandingannya melawan Cabang Gin-funari tadi.
Hasil
pertandingan babak kedua melawan Cabang Gin-funari adalah sebagai berikut:
Kapten:
Watanabe Masaya 〇
Wakil Kapten:
Sakuma Kaito 〇
Pemain Ketiga:
Takebayashi Tsutomu 〇
Pemain
Menengah: Kizaraki Natsu ×
Pemain Kelima:
Aoi Reina 〇
Pemain Keenam:
Sakuma Hayato 〇
Pemain
Pertama: Tojo Mika 〇
Hasilnya sama
persis dengan babak pertama, sekali lagi hanya Kizaraki yang kalah.
Sepertinya
Kizaraki tidak bisa menyembunyikan keguncangannya atas hasil ini. Setelah
sempat izin keluar selama 10 menit untuk mencari udara segar, ia baru kembali
di waktu makan siang ini.
"Ehm…… maafkan aku……"
"La-Laika-cchi
tidak perlu minta maaf! Hari
buruk seperti ini kan kadang terjadi!"
"……"
Ekspresi Kizaraki
tetap muram, matanya meredup seolah ia akan menangis kapan saja.
Seandainya Senior
Takebayashi ada di sini, mungkin dia bisa menyemangati Kizaraki. Sayangnya,
Senior sedang pergi melaporkan hasil. Terlebih lagi, mulai babak berikutnya
turnamen final untuk tim yang lolos kualifikasi akan dimulai, jadi dia juga
harus mengambil undian.
Karena semua
tugas administratif itu dikerjakan oleh Senior Takebayashi, kami bisa menikmati
waktu makan siang dengan santai…… tapi untuk kali ini, aku ingin dia membagi
sedikit keceriaannya pada Kizaraki.
"……He-hei,
Kizaraki!"
"Ehm, aku
permisi dulu ya."
"Ah……"
Tojo mencoba
menyemangatinya, tapi Kizaraki dengan wajah muram langsung beranjak dari kursi
dan pergi menuju toilet.
"Masaya-kun…… apa kita tidak bisa melakukan sesuatu
untuknya……"
"……"
Melakukan sesuatu, maksudnya mungkin adalah mengembalikan
Kizaraki ke kondisinya yang semula.
Namun, itu justru bisa berakibat sebaliknya.
Saat ini
kondisi mental Kizaraki sedang sangat tidak stabil. Memaksanya untuk kembali
normal dalam keadaan seperti itu justru dikhawatirkan akan memicu penolakan.
Itu bukan pilihan
terbaik.
"Tojo-san,
apa kamu merasa Kizaraki jadi lebih lemah?"
"Eh?"
"Pertandingan
Kizaraki tadi. Terang saja, catatan permainannya berantakan. Langkah-langkahnya
tidak seimbang, dia terus-menerus melakukan langkah yang kacau. Melihat itu,
apa kamu merasa Kizaraki jadi lemah?"
Mendengar
pertanyaanku, Tojo langsung menjawab.
"Mana
mungkin. Kizaraki terus bermain shogi demi turnamen ini. Dia bahkan sampai
bolos sekolah demi mencurahkan seluruh tenaganya. Aku tidak akan pernah sudi
mengatakan Kizaraki jadi lemah."
Tojo membalas
ucapanku dengan ekspresi sedikit marah.
"……Iya,
kamu benar. Aku juga berpikir begitu. Kizaraki tidak menjadi lemah."
"Iya,
kan. Pasti dia cuma sedang tidak dalam kondisi prima saja. Sejak dulu
persentase kemenangannya memang tidak stabil, jadi mungkin sisi buruknya sedang
keluar. Pasti nanti akan membaik──"
"Tidak,
bukan begitu juga."
"Eh……?"
Tojo
terkejut dengan bantahan mendadakku, anggota tim yang lain juga mengalihkan
pandangan ke arahku.
"Kizaraki
tidak sedang dalam kondisi buruk. Dia tidak sedang sakit, juga tidak sedang
kelelahan."
Benar,
Kizaraki sama sekali tidak sedang dalam kondisi buruk.
Sebenarnya,
cara melangkah yang sekilas terlihat berantakan itu memiliki jejak pemikiran
yang mendalam.
Bahkan
jika hanya diperlihatkan catatan permainannya (kifu), aku bisa tahu
kalau itu adalah langkah Kizaraki karena ada kebiasaan khasnya di sana.
Namun ia
terus-menerus mengambil pilihan yang salah dan hampir tidak pernah melakukan
langkah terbaik. Itu adalah langkah khas Kizaraki, tapi di saat yang sama itu
adalah parade langkah buruk yang tidak mencerminkan dirinya.
Maka, hanya ada
satu kesimpulan dari kontradiksi ini.
"Kalau
begitu, kenapa……"
Aku tidak
menjawab pertanyaan itu, hanya membalikkan badan dan kembali ke aula.
Dan di babak
ketiga, tanpa menemukan solusi apa pun, kami harus menghadapi pertandingan
berikutnya.
Lawan kami adalah
Dojo Kinoshita, sebuah dojo bersejarah yang dikenal sebagai legenda di Distrik
Barat. Mereka mengirim tim langganan bernama "Kazamidori" yang
terdiri dari para murid dojo tersebut.
Di level ini,
pemain lanjut usia mulai bermunculan. Gaya permainan mereka cenderung kaku di
mana pengalaman lebih berbicara daripada kecepatan bacaan atau kemampuan
teknis.
Namun, aku dan
Kizaraki yang terbiasa bermain di Shogi Wars seharusnya bisa
memanfaatkan keuntungan bermain cepat (hayazashi) untuk membuat lawan
berpikir panjang dan menyerang lewat waktu.
──Setidaknya,
itulah yang dipikirkan semua orang.
"……"
Dua jam setelah
pertandingan dimulai, di babak kedua yang suasananya mulai memanas, kami justru
diselimuti aura yang sangat berat.
"……ugh,
uuu……kh."
Suara erangan
Kizaraki hanya terdengar oleh rekan-rekan setimnya.
Kapten: Watanabe
Masaya 〇 Wakil Kapten: Sakuma Kaito × Pemain
Ketiga: Takebayashi Tsutomu 〇 Pemain Menengah: Kizaraki Natsu × Pemain Kelima: Aoi Reina 〇 Pemain Keenam: Sakuma Hayato × Pemain
Pertama: Tojo Mika 〇
Babak
ketiga──pertandingan melawan "Kazamidori" berakhir dengan skor empat
menang dan tiga kalah.
Di sini, Sakuma
bersaudara akhirnya harus menelan kekalahan, tapi karena lawan mereka adalah
pemain level kartu as, kekalahan mereka tidak terlalu berpengaruh banyak.
Namun yang
menjadi masalah tetaplah Kizaraki.
Menurut Tojo,
lawan Kizaraki adalah pemain yang levelnya jauh di bawah anggota tim lainnya.
Namun Kizaraki
kalah telak, dan sekali lagi ia meninggalkan catatan permainan yang berantakan.
Meskipun kami
berhasil lolos ke babak berikutnya, kali ini kami terdesak sampai mengalami
tiga kekalahan, situasi yang cukup berbahaya.
Kizaraki yang
sepertinya merasa bertanggung jawab atas hal itu tampak meringkuk dan
menelungkupkan wajahnya ke atas meja.
"Kizaraki-kun……?
Kamu tidak apa-apa, Kizaraki!?"
Senior
Takebayashi yang akhirnya menyadari keanehan Kizaraki menghampirinya dengan
wajah yang benar-benar khawatir.
"Ma-maafkan aku…… aku tidak bermaksud begini, aku tidak
berniat merepotkan semuanya…… ugh, uuu……!!"
"Apa yang
kamu katakan! Justru karena kamu sudah berjuang, yang lain bisa meraih
kemenangan! Tidak perlu merasa bertanggung jawab hanya karena
kalah!"
"Uuu…… kh, ugh…… ah…… kh."
"Kizaraki……"
Segala bentuk penghiburan sepertinya tidak akan mempan bagi
Kizaraki saat ini.
Sebab, alasan Kizaraki menangis bukan sekadar soal
kontribusi kepada tim.
Ia merasa seluruh kerja keras yang ia bangun selama ini
tidak membuahkan hasil; bahkan, usaha kerasnya itu justru berbalik mencekik
lehernya sendiri.
Ia yang seharusnya menjadi pilar penopang tim, kini malah
menjadi beban yang menghambat langkah mereka.
Kekecewaan dan kemarahan pada diri sendiri itulah yang kini
memenuhi seluruh relung hati Kizaraki.
Setelah puas menumpahkan tangisnya, Kizaraki bangkit dengan
langkah sempoyongan. Tanpa menoleh
pada siapa pun, ia berlari keluar meninggalkan aula pertandingan.
Anggota tim yang
lain hanya bisa terpaku melihat punggungnya menjauh.
"I-itu tidak
apa-apa……? Dia tidak
akan kabur dan tidak kembali lagi, kan?"
"……"
"Kizaraki……"
"……Di saat
seperti ini, andai saja ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuknya."
Tojo mengepalkan
tinjunya dengan penuh penyesalan.
Shogi adalah
pertarungan sunyi di mana seseorang harus berhadapan dengan dirinya sendiri.
Dalam kompetisi satu lawan satu ini, tidak akan ada orang yang bisa menjadi
sekutu di atas papan.
Meski turnamen
ini bertajuk kompetisi beregu, pada akhirnya yang mereka lakukan hanyalah
pertarungan individu.
Tidak ada yang
bisa membantu saat langkah buntu, dan tidak ada kawan yang bisa menyelamatkanmu
dari situasi genting.
Untuk menang
dalam pertarungan, seseorang harus selalu tumbuh bersama dirinya sendiri.
"……"
Tim ini mulai
retak. Bahkan dalam situasi berbahaya yang mengancam keutuhan tim ini pun, aku
masih berusaha untuk bersabar.
Hingga akhirnya,
babak keempat──babak semifinal pun tiba.
Lawan kami adalah tim favorit juara, "Ginsen Dojo
26". Begitu mendengar namanya, aku merasa tidak asing; ternyata mereka
adalah organisasi puncak yang membawahi Dojo Ryutei tempat Asuka
bernaung──dengan kata lain, mereka adalah sang bos besar.
Aku tidak tahu apa arti angka 26 di belakangnya, tapi hanya
dengan melihat raut wajah para anggota dojo tersebut, aura angkuh dan
menyebalkan langsung terasa menusuk kulit.
Kami semua duduk di kursi masing-masing, dan pertandingan
pun dimulai dengan alur yang tenang namun mencekam.
Anggota Ginsen Dojo memang patut diacungi jempol;
langkah-langkah mereka sangat mantap tanpa keraguan.
Dalam situasi apa pun, mereka mampu mengambil keputusan
tepat dengan pemikiran instan, meluncurkan langkah-langkah yang didasari oleh
pembacaan strategi yang sangat kuat.
Ini adalah tipe lawan yang merepotkan; meski kalah di fase
pembukaan (joseki), mereka akan membalikkan keadaan di babak akhir.
Lawan tipe ini adalah musuh alami bagiku dan Kizaraki, namun
biasanya menjadi makanan empuk bagi Tojo atau Senior Takebayashi.
Namun, tiga puluh menit setelah pertandingan dimulai──sebuah
anomali terjadi.
"……Saya menyerah."
Suara itu membuat semua orang tersentak kaget.
Suara itu berasal
dari──siapa sangka, Tojo Mika.
"Eh……?"
"Bohong……"
Aoi dan Kizaraki
menatap Tojo dengan mata yang seolah tak percaya.
Kekalahan Tojo,
satu-satunya orang yang sama sekali tidak terbayangkan akan kalah, membuat
seluruh anggota tim kehilangan ketenangan mereka.
"Yossh……!"
"Ini
kemenangan kita……!"
Sebaliknya, moral
anggota Ginsen Dojo meledak hebat karena berhasil menumbangkan tembok terbesar
mereka, Tojo. Kemenangan kini terasa sudah berada di depan mata mereka.
Setelah itu,
hasil pertandingan yang lain pun menyusul satu per satu.
Saat empat puluh
menit berlalu sejak awal laga, semua pertandingan telah usai kecuali milik
Kizaraki.
Dan sebuah
situasi yang bisa disebut terburuk dari yang terburuk kini terukir di papan
skor.
Kapten:
Watanabe Masaya 〇
Wakil Kapten:
Sakuma Kaito ×
Pemain Ketiga:
Takebayashi Tsutomu 〇
Pemain
Menengah: Kizaraki Natsu
Pemain Kelima:
Aoi Reina 〇
Pemain Keenam:
Sakuma Hayato ×
Pemain
Pertama: Tojo Mika ×
Tiga menang dan
tiga kalah, menyisakan Kizaraki sebagai penentu──.
Kecuali aku,
semua orang menyadari bahwa SMA Nishigasaki kini berada di ambang kekalahan.
◇
……Selesai sudah.
Posisi yang putus
asa, situasi yang buntu, dan pikiran yang hancur berantakan.
Lawan yang
kuhadapi adalah kartu as dari Ginsen Dojo, Togo Yoshinobu.
Dia
adalah sosok besar yang bahkan aku pun mengenalnya. Seseorang yang berkali-kali
melawanku di masa SMP, dan aku tidak pernah menang sekalipun darinya.
Togo,
pria kaku yang selalu menatap lawan dengan pandangan mengintimidasi,
menggumamkan sesuatu saat melihat langkahku.
"Hanya
sebatas 'Ratu Tanpa Mahkota', ya. Sejak tadi langkahmu terasa sangat
lembek."
"……kh."
──Ratu Tanpa
Mahkota.
Sebuah julukan
hinaan bagiku yang berkali-kali ikut turnamen namun tidak pernah sekalipun
menjadi juara.
Ada yang berbisik
di belakangku bahwa aku sengaja mengalah, atau mungkin aku memang tidak
tertarik untuk menjadi juara sejak awal.
Padahal tidak
begitu.
Aku sudah
berjuang mati-matian dengan caraku sendiri, bertarung sekuat tenaga, dan terus
mengulurkan tangan hingga batas kemampuanku.
Namun, aku tetap
tidak bisa juara. Persentase kemenanganku tidak pernah stabil.
Bahkan di
turnamen kali ini pun sama. Padahal semua lawan yang kuhadapi seharusnya
memiliki kemampuan di bawahku, tapi aku tidak bisa menang satu kali pun.
Dan di tengah
kondisi hancur seperti ini, aku justru dipertemukan dengan lawan yang jauh
lebih kuat dariku.
Apa lagi yang
tersisa selain keputusasaan?
(Kenapa pikiran
ini tidak mau mendengarkan perintahku……!)
Pikiran yang
kacau tanpa alasan yang jelas mulai menghancurkan pandangan strategis yang
selama ini kubangun.
Saat aku melirik
ke kiri dan ke kanan, rekan-rekan setimku sedang memperhatikan nasibku. Tatapan
cemas mereka terasa seperti menusuk tepat ke dadaku.
Tojo-senpai
kalah, skor menjadi tiga-tiga, dan seluruh nasib tim kini dibebankan ke
pundakku.
"……Aku…… tidak mungkin…… bisa……"
Aku
bergumam dengan suara yang nyaris hilang.
Para anggota
Ginsen Dojo sudah beristirahat, mereka bahkan tidak sudi menonton
pertandinganku. Mereka pasti sudah sangat yakin dengan kemenangan kartu as
mereka.
(……Sudah cukup,
aku sudah sampai batasnya……!)
Tanpa bisa
menahan air mata yang akan tumpah, aku bangkit berdiri dengan kasar dari kursi,
membuang pertandingan begitu saja, dan berlari keluar aula.
"Kizaraki……!?"
"Tunggu!"
"Biar
aku yang pergi. ──Maaf, permisi sebentar ya?"
Aku sudah
tidak tahan lagi. Aku tidak sanggup lagi. Daripada terus meluncurkan
langkah-langkah buruk, lebih baik aku lari saja sekalian.
Rasionalitasku
tidak mampu mengejar tindakan spontan ini; aku hanya terus berlari sampai
akhirnya keluar dari aula.
Baru setelah
terkena udara luar, perlahan kesadaranku mulai kembali.
"Maafkan aku, maafkan aku…… ugh."
Hanya
kata maaf yang terus mengalir deras dari bibirku. Namun, tak ada siapa pun di sini untuk
mendengarnya.
Saat aku
mendongak, langit biru yang jernih menyambut pandanganku. Aku merasakan betapa
konyolnya diriku yang hanya bisa menatapnya dengan linglung.
"……Aneh ya.
Seharusnya otakku juga sejernih ini…… tapi kenapa begitu banyak langkah yang
bermunculan dan mengganggu pikiranku……"
Selalu seperti
itu.
Sosok diriku yang
lain, yang memiliki pemikiran instingtif, selalu menghalangi logikaku. Seekor
monster yang mencoba meluncurkan langkah berdasarkan insting buas, tanpa
secercah pun rasionalitas.
Awalnya ia
penurut, tapi entah sejak kapan pemikiran itu mulai mendominasi pikiran
tenangku.
Sosok pengganggu
yang mencoba melangkah hanya berdasarkan perasaan, tanpa memikirkan teori
langkah yang benar.
Aku sedang
dimangsa olehnya. Karena itulah, hari ini pun──.
"──Wajahmu
buruk sekali."
Sebuah suara
terdengar dari belakang, membuatku berbalik pelan.
"Masaya,
Senpai……"
Melihat wajahku
yang sembab karena tangis, Masaya-senpai tetap memasang ekspresi datar seperti
biasanya. Ia tidak
mendekat, hanya berhenti di depan pintu.
"Tidak
kembali?"
"……Tidak
apa-apa. Kalau aku kembali pun, aku pasti kalah."
"Begitu
ya."
Masaya-senpai
tidak mendesak lebih jauh. Ia
hanya berdiri mematung di depan pintu.
Satu menit, dua
menit, tiga menit…… Hanya
keheningan yang mengalir di antara kami.
Masaya-senpai
tidak mengucapkan hal yang tidak perlu. Mungkin karena jika ia membahas isi
pertandingan dan ada yang melihat, itu akan dianggap sebagai pelanggaran.
Tapi toh, itu
tindakan yang sia-sia. Sisa waktuku hanya tinggal lima menit. Selama aku di
sini, selisih keadaan akan terus melebar dan peluangku untuk kalah semakin
meningkat.
Lagipula, kalau
kembali sekarang pun aku akan kalah karena kehabisan waktu. Saat aku
meninggalkan kursi tadi, aku sudah membuang sisa beberapa persen peluang
kemenangan yang kumiliki.
"……Kenapa
Senpai tidak membawaku kembali?"
"Membawamu
kembali? Dengan menarik paksa tangan seorang gadis? Entah seperti apa
pandangan orang-orang di sekitar nanti…… Maaf, aku tidak mau."
"Kalau
begitu, kenapa……!"
Kalau begitu,
kenapa dia ada di sini? Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Sambil
memegangi kepala dengan satu tangan, aku memelototi Masaya-senpai.
"Sejak tadi
kepalaku kacau, aku tidak bisa menjernihkannya……! Sebanyak apa pun aku
berpikir, langkah insting selalu mengganggu. Saat mencoba berhitung pun muncul
suara bising, aku sama sekali tidak bisa membaca langkah ke depan……!"
Aku menumpahkan
seluruh isi hatiku pada Masaya-senpai.
Meski aku tahu
dia tidak akan mengerti, aku tetap menyuarakan kondisi abstrak dan ambigu yang
kurasakan kepadanya.
"……Aku ini
tak bermahkota. Semua orang terus menyebutku si tanpa mahkota. Tidak pernah
juara di turnamen mana pun, tak peduli seberapa sering aku ikut. Si bodoh yang
salah mengira tingkat kemampuannya sendiri. Aku adalah Ratu Tanpa Mahkota.
Wanita yang hanya mengenakan kulit pemain tangguh, tapi tak pernah juara satu
kali pun. ……Aku sudah lelah dengan semua ini."
Tak peduli
seberapa banyak aku membohongi diri atau seberapa keras aku berusaha, pada
akhirnya aku dijatuhkan oleh bakatku sendiri.
Aku tahu ini
adalah dunia di mana bakat berbicara, tapi tetap saja ada bagian dari diriku
yang berharap.
Aku tidak
dimaafkan. Orang sepertiku tidak diizinkan untuk hidup di dunia ini.
"Tanpa mahkota, ya…… Kedengarannya seperti
lelucon."
"Masaya-senpai
tidak tahu apa-apa tentangku!!"
Aku
menjadi emosional dan merangsek maju ke hadapannya.
"Ya,
aku memang tidak tahu. Kita
baru bertemu hari ini."
"Kalau
begitu……!"
"Tapi, aku
merasa tahu langkahmu lebih baik daripada siapa pun."
"……!"
Kata-kata
Masaya-senpai membuat gerakanku terhenti.
"Tanpa
mahkota? Siapa yang bilang begitu? Seingatku, 'Laika' yang kukenal sudah
memenangkan semua turnamen yang diadakan di Shogi Wars."
"Itu karena…… karena aku tidak bertemu Masaya-senpai di
sana……!"
"Tetap saja,
kamu menang melawan semua orang selain aku. Bukankah itu faktanya?"
"……"
Satu-satunya
turnamen di mana aku tidak pernah kalah dari siapa pun──itu adalah turnamen di
dalam Shogi Wars.
Di sana aku
berkali-kali menjadi juara. Berkali-kali memanjat ke puncak.
Padahal di dunia
nyata aku dijuluki Ratu Tanpa Mahkota, tapi di sana aku adalah──.
"Lebih santailah, jadilah dirimu yang alami. ……Semuanya
mengkhawatirkanmu, tahu."
"Meski Senpai bilang begitu…… kalau aku kembali
sekarang pun, aku……"
Melihatku yang
terus menggerutu, Masaya-senpai menarikku mendekat.
"Eh──"
Sesaat aku tidak
paham apa yang terjadi.
Sadar-sadar, aku
sudah berada dalam pelukan Masaya-senpai.
"……"
Pelukan yang
hangat. Sebuah sensasi lembut yang membuatku merasa seperti di atas awan, di
mana segala pikiran buruk sirna seketika.
"……Senpai
jahat. Senpai hanya berpura-pura tidak peka, ya."
"……Entahlah."
Bisikan
Masaya-senpai di telingaku terasa sangat nyaman, seolah ia menerima segala
kekuranganku.
Emosiku yang
tadinya hancur berantakan, perlahan-lahan mulai pulih kembali.
"……Mungkin
aku akan melakukan langkah yang mengerikan, lho."
"Ya."
"Tanpa
perhitungan atau membaca langkah, aku akan melangkah sesuka instingku…… Senpai
mungkin akan kecewa."
"Jika
itu adalah langkah yang ingin kamu ambil, maka itu pasti langkah yang paling
benar melebihi apa pun."
Seolah
menegaskan tekadku, Masaya-senpai menaruh ekspektasi pada langkahku dengan
jujur.
Padahal
aku sudah berjuang keras untuk menjadi "benar" karena merasa diriku
salah, tapi orang ini justru berkata tidak apa-apa jika aku salah.
Padahal aku sudah
melawan insting itu mati-matian, tapi dia menyuruhku untuk melepaskannya.
Jika memang harus
kalah, lakukan saja sepuasnya.
"……Aku
mengerti. Aku pergi sekarang."
Begitu
aku menjawab, Masaya-senpai menepuk punggungku dua kali untuk mengantarku.
"Ya,
pergilah. ──Wahai Ratu Pemegang Seluruh Mahkota."
◇
Kebisingan aula
mulai terdengar di telingaku.
Air mata
yang mengalir tadi sudah berhenti. Begitu aku merasakan atmosfer aula, suara
bising kembali muncul dalam pikiranku.
Suara bel
terdengar dari arah kursiku.
Itu
adalah tanda hitung mundur (byoyomi). Jika aku tidak segera kembali, aku
akan kalah karena kehabisan waktu.
Aku belum
memutuskan langkah selanjutnya. Tidak mungkin sudah putus.
Sebanyak
apa pun aku berhitung, aku tidak bisa menemukan langkah untuk membalikkan
keadaan, hanya membuang waktu dengan sia-sia.
Namun,
berbanding terbalik dengan pikiran rasional itu, pemikiran instingtifku justru
berakselerasi. Suara bising yang kuat menimpa logikaku, menghancurkan pandangan
strategis yang sudah ada.
(Ah,
begitu ya. Ternyata begitu.)
Pandangan strategis yang hancur itu membangun fondasi yang
baru.
Lebih luas, lebih dalam, dan lebih perkasa dari
sebelumnya──.
(Ternyata aku bukannya sedang tidak dalam kondisi prima.)
Waktu terasa berhenti.
Suara bel bergema seperti gema, memicu sensasi seolah dunia
berputar di sekelilingku.
Wahai
insting. Aku, aku adalah──
Silver di posisi 7-9. Langkah
pertahanan yang membosankan. Namun, aku membalasnya dengan Promoted Silver
di 7-8, sebuah benturan logam yang memekakkan telinga dalam pikiranku.
Togo
mencoba bertahan dengan Bishop di 7-8, tapi aku tak membiarkannya
bernapas. Silver kembali mendarat di 7-7. Disusul Silver
lawan di 8-7.
(Langkah
variasi: Jika dia menggunakan Silver di 6-8, maka aku akan
membalas dengan Promoted Incense di 4-2. Jika dia memakan dengan Gold,
aku akan meluncurkan Pawn di 2-4. Skenario ini akan berakhir
dengan Knight di 3-5 dan kemenangan mutlak bagiku.)
Namun, kenyataan
di atas papan sedikit berbeda. Pertukaran Silver dan Gold terus terjadi di petak 7-8
dan 8-9.
Gemertak
bidak yang saling beradu terdengar seperti detak jantung yang terpacu cepat. Gold
lawan terjun di 8-8, kubalas dengan Gold di 7-8. Lalu Gold
di 7-7, dibalas Gold di 8-9.
Kalkulasi ini
terus berputar, melompat dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain tanpa henti.
Bishop di 7-5. Silver di 8-8. Promoted Silver
di 7-8.
(Langkah variasi:
Jika dia menggunakan Knight di 5-4, maka Promoted Horse
akan jatuh di 5-3. Disusul Promoted Silver di 7-8, lalu Gold
di 7-7. Skakmat dalam dua puluh langkah ke depan.)
Aku tidak
lagi menggunakan logika. Aku menggunakan rasa. Promoted Bishop milikku
meledak di posisi 9-7, sebuah pengorbanan yang merobek jantung
pertahanan lawan.
Togo
memakannya dengan Raja, tapi itu adalah awal dari akhir baginya. Silver
mendarat di 8-8. Gold di 8-8.
Lalu,
naga itu terbangun. Dragon milikku melesat ke posisi 3-7.
Udara di sekitar
papan terasa semakin menipis. Togo mencoba membangun tembok dengan Pawn
di 6-7, tapi Promoted Silver milikku sudah mengunci di 7-6.
Langkah demi
langkah terus berlanjut dalam kecepatan yang tak masuk akal. Gold di 8-6.
Dragon di 4-6. Bishop di 7-7.
Semua jalur
pelarian telah tertutup. Knight di 7-5. Silver di 7-6.
Promoted Knight di 8-7.
Togo mencoba serangan terakhir dengan Promoted Incense
di 4-2, berharap bisa membalikkan keadaan. Namun, jariku sudah bergerak
lebih dulu bahkan sebelum dia menyadari kekalahannya.
Dragon milikku mendarat dengan telak di
posisi 3-1.
Hening.
Dunia yang tadinya berputar dengan kecepatan 300 km/jam seketika berhenti
total.
──Aku
tidak akan ragu lagi.
Bunga
yang mekar di ujung samudra awan akhirnya menyingkap penyamarannya di saat-saat
terakhir.
Jika ingin
meraihnya──hanya pada momen ini.
"……Hah?"
Tepat satu detik
sebelum hitung mundur habis, aku menjalankan langkahku. Wajah Togo yang tadinya
penuh kemenangan kini sedikit berkedut.
"──Kenapa
kamu memasang wajah seolah sudah menang? Aku belum mati, tahu."
Sambil
mengarahkan mata yang menyala merah ke arah Togo, aku melemparkan senyuman
tipis.
◇
Saat aku hendak
menyusul Kizaraki masuk ke aula, seseorang memanggilku.
"Kamu
menyuruhku ikut karena ingin menunjukkan sesuatu, tak kusangka aku justru
melihat tontonan yang sangat menarik."
Suara itu
milik sang penyelenggara turnamen. Namanya kalau tidak salah…… Ketua
Wilayah, Suzuki Tetsuro.
"Dilarang memberi tahu isi pertandingan kepada pemain
yang sedang bertanding. Namun, kamu sama sekali tidak membicarakan isi
pertandingan. Keputusanmu
memanggilku sudah tepat. ──Terutama karena hanya ada kamu di sana."
"Senior Takebayashi…… Kapten dan anggota lainnya sudah
melihat papan permainannya. Di
tempat itu, hanya aku satu-satunya yang belum melihat isi pertandingan.
……Sebenarnya aku tidak suka hal-hal merepotkan seperti ini."
"……Kamu
sengaja duduk di tempat jauh agar tidak bisa melihat papan permainannya karena
sudah memprediksi hal ini bakal terjadi?"
"Entahlah,
aku tidak tahu apa maksud Anda."
Aku hanya ingin
Kizaraki menjadi lebih kuat.
Akan
sangat disayangkan jika dia hancur dan berakhir di sana.
"Heh, pria yang licin. ……Siapa namamu?"
"Watanabe Masaya."
"Begitu ya, Masaya-kun──aku ingin bertanya satu hal,
apa kamu tertarik dengan dojo?"
"……Dojo, ya?"
"Ya, biarpun begini aku punya dojo sendiri. Meski masih
berupa tempat pembibitan kecil dibandingkan yang lain, saat ini aku sedang
kekurangan tenaga pengajar."
Terasa tidak enak menolak tawaran yang begitu berharga, tapi
aku tidak punya kenangan indah tentang dojo.
Terlebih lagi, dari nada bicara Ketua Suzuki, ini bukan
ajakan masuk sebagai murid, melainkan posisi mengajar sebagai instruktur atau
guru.
Kalau begitu, aku
semakin merasa tidak cocok.
"……Maaf,
sepertinya kemampuanku belum cukup."
"Begitu ya.
Yah, maaf sudah memaksamu. Padahal aku bisa menjanjikan fasilitas yang cukup
bagus."
"Kalau
begitu, pasti banyak orang yang akan langsung menerimanya."
"Pintuku
selalu terbuka. Kalau bisa, aku ingin gadis yang pandai mengurus orang
lain."
"Kalau
begitu aku tambah tidak bisa."
"Hahaha. ……Baiklah, aku permisi dulu. Berjuanglah di
turnamen."
"Baik."
Setelah berkata begitu, Ketua Suzuki masuk ke ruang panitia.
Aku pun membungkuk, lalu melangkah masuk ke aula tempat
pertandingan berlangsung.
"……Nah."
──Atmosfer aula masih membeku. Tekanan yang membuat orang
tidak sanggup berdiri kini mengarah tepat ke Kizaraki.
Tak ada yang yakin akan kemenangan, tak ada yang menatap
dengan penuh harap. Paling-paling mereka hanya berpikir bagaimana cara
menghibur Kizaraki yang akan kalah nanti.
"Watanabe-kun……"
Senior Takebayashi menghampiriku dengan ekspresi cemas.
"……Ah,
Kapten, Anda belum makan siang, kan? Sebaiknya makanlah sekarang."
"Aku ini
kapten kalian! Aku
tidak bisa makan dengan tenang sambil meninggalkan kawan yang sedang
berjuang!"
"Bukan
begitu maksudku."
"Apa……?"
Sepertinya
dia salah paham dan mengira aku sudah menyerah pada kekalahan Kizaraki.
Karena
itu, sambil sedikit tersenyum, aku berkata kepada Senior Takebayashi.
"Babak
semifinal sudah kita menangkan, jadi aku menyarankan Anda mengisi tenaga untuk
babak final nanti."
"……Apa kamu
serius mengatakan itu?"
"Iya."
"Apa yang
kamu katakan pada Kizaraki-kun?"
"Aku lupa
karena terlalu lelah."
"……Begitu
ya. Sepertinya aku tidak perlu bertanya lebih jauh lagi."
Mendengar itu,
Senior Takebayashi berbalik menuju ruang istirahat.
"Sampaikan
pada Kizaraki-kun setelah ini selesai. Katakan padanya──kerja bagus."
"Tentu
saja."
Mungkin Senior
Takebayashi juga sudah menyadari sesuatu. Aku tidak tahu apakah dia
membiarkannya karena memiliki pemikiran yang sama denganku, atau karena ingin
memercayai kemandirian juniornya.
Namun, pusaran
api yang menyala di punggungnya memberikan kesan kekuatan dari sudut pandang
yang berbeda dari Tojo atau Aoi.
Aku berbalik
untuk menonton pertandingan Kizaraki. Atmosfer yang tadinya membeku kini mulai
berubah menjadi sesuatu yang lain.
(Dia berniat
membalikkan keadaan dari situasi putus asa ini? ……Berhenti melakukan perlawanan
yang sia-sia, kamu hanya akan mengotori catatan permainannya, Kizaraki Natsu.)
Suara yang
bergumam dalam hati itu adalah milik kartu as Ginsen Dojo 26, Togo Yoshinobu.
Aku tahu pria
ini. Saat aku masih SD, dia adalah pria yang mewakili Distrik Barat dan
bertarung di kelas tertinggi tingkat prefektur.
Dia kaku seperti
penampilannya, dan punya kecenderungan merendahkan orang lain.
Selain itu,
karena dia selalu berpikir matang sebelum melangkah, dia lemah terhadap
serangan waktu. Namun, dalam format 30 menit dengan hitung mundur 30 detik
seperti ini, ini adalah wilayah kekuasaannya.
Sebaliknya,
Kizaraki sudah masuk ke fase hitung mundur 30 detik. Waktu sudah hampir habis.
Neraka di mana ia harus melangkah dalam waktu kurang dari 30 detik hingga akhir
ini bukanlah kecepatan yang bisa ditahan manusia biasa.
Namun,
Kizaraki yang sekarang berbeda.
(……Langkah apa
itu?)
Togo merasakan
keanehan kecil pada langkah Kizaraki.
Tapi, ia belum
menyadarinya.
Bakat tak dikenal
yang lahir dari silsilah otodidak melampaui pemahaman orang biasa dan
menimbulkan keraguan.
Itu adalah
langkah abnormal yang bahkan Kizaraki sendiri tidak bisa memahaminya. Namun,
langkah itulah yang menunjukkan potensi manusia.
Sebuah teori
kosong yang dibawa oleh makhluk fana, sebuah ranah yang melampaui batas
pemahaman. Langkah ekstrem yang hanya diizinkan bagi manusia.
"……Eh?"
Orang yang
pertama kali menyadari abnormalitas ini adalah Tojo, yang terkuat di antara
anggota tim.
Tojo merasakan
keanehan dalam cara melangkah Kizaraki, lalu matanya membelalak melihat
Kizaraki yang terus melangkah tanpa memedulikan hal itu.
Kizaraki
sudah masuk fase hitung mundur. Artinya, ia terikat aturan harus melangkah
dalam 30 detik.
Dalam
kondisi itu, manusia normal akan menggunakan 30 detik tersebut sampai batas
maksimal.
Bahkan
jika ia sudah menemukan langkah berikutnya dalam 10 detik, jika masih ada sisa
waktu, ia akan menggunakannya untuk memikirkan langkah selanjutnya lagi.
Waktu 30
detik sangatlah berharga. Seseorang harus menggunakannya tanpa sisa untuk
berpikir sebanyak mungkin.
Padahal
begitu, sejak tadi Kizaraki terus melangkah no-time (tanpa jeda).
Kizaraki
yang seharusnya terpojok, justru membuang waktu 30 detik yang berharga itu dan
melancarkan serangan waktu terhadap Togo yang masih memiliki banyak waktu.
Ini
seolah-olah dia sedang bermain dengan hitung mundur hanya 5 detik.
Abnormalitas
itu sangat jauh dari gaya bermain Kizaraki yang biasanya menyukai
langkah-langkah tenang. Bagaimana tidak, ini adalah tindakan gila yang sanggup
membuat Tojo sekalipun terperangah.
Tapi, saat ini
Kizaraki tidak memiliki pemikiran teoretis seperti perhitungan atau
rasionalitas. Ia
hanya melangkah berdasarkan insting. Tidak ada logika di sana.
Di titik
ini, Aoi dan Sakuma bersaudara mulai sedikit mengerti.
"……Jangan-jangan,
ini……"
"……!"
Sudut
bibir Tojo terangkat. Warna mata anggota SMA Nishigasaki yang tadinya redup
oleh keputusasaan kini mulai berubah.
"……Apa-apaan
ini……"
Babak akhir. Togo
yang tadinya tinggal mengambil Raja Kizaraki yang sudah terpojok di tepi
jurang, perlahan kehilangan ketenangannya menghadapi kegigihan abnormal
Kizaraki.
Tidak
mati. Entah kenapa tidak mati. Padahal sudah dipojokkan, tapi semakin diserang,
ia terus bangkit kembali seperti zombi.
Kizaraki
terus menahan serangan dengan mengisi celah memakai bidak kecil, berulang kali
bertahan dan menghindar, sambil terus mengumpulkan poin sedikit demi sedikit
sembari mengincar peluang balik. Itu bukan langkah yang dilepaskan dari kondisi
mental yang waras.
(Tunggu,
apa-apaan ini? Kenapa pertahanannya tidak hancur……? Kenapa situasinya perlahan
berbalik ke arahnya……!?)
Togo yang tadinya
mendominasi, kini mulai ragu dan menatap ke arah Kizaraki.
"……Kamu, apa
kamu bisa melihat langkahku……?"
"──"
"──kh!?"
Hanya sesaat,
tapi Togo yang melihat ekspresi wajah Kizaraki menunjukkan reaksi seolah-olah
baru saja diterkam binatang buas. Dengan keringat dingin, ia masuk ke posisi
siaga penuh untuk menyambut serangan.
Tapi sudah
terlambat, sudah terlambat, Togo. Kizaraki yang sekarang bahkan tidak bisa
kuhentikan. Lagipula, dia sedang berdiri di pusat dunia.
"Dia
bukannya sedang tidak dalam kondisi prima ya……?"
Mendengar
gumaman Tojo, aku tersenyum dan membantahnya.
"Bukan,
justru sebaliknya."
"Bohong,
kan……?"
"Benar,
kok."
Ya,
Kizaraki bukannya sedang tidak dalam kondisi prima. Justru
sebaliknya──kondisinya sedang terlalu prima.
Pertumbuhan
pesat dan perluasan pikiran yang luar biasa akibat menembus batas konsentrasi.
Kizaraki hanya belum bisa mengejar kemampuannya sendiri yang membengkak hebat.
Ah,
benar. Sejak awal Kizaraki berada dalam kondisi terbaiknya.
Suasana
hati itu, ekspresi itu, dari sudut mana pun dilihat itu adalah tanda seseorang
yang hampir mencapai puncak.
Kizaraki
merasa takut pada langkah-langkah tak dikenal yang bangkit dari luar batas
pengalamannya, sehingga ia mencoba melangkah secara teoretis dengan membuang
paksa langkah-langkah itu dari pikirannya.
Tapi itu
sama saja dengan membuang langkah kunci dan sengaja meluncurkan langkah yang
lemah.
Padahal
jawaban yang benar sudah muncul, tapi ia tidak bisa menerima prosesnya dan
tidak bisa memercayai hasilnya. Karena itulah ia menghabiskan energinya untuk menahan diri hingga tampak
menderita.
Bukannya
mengeluarkan seluruh kemampuan, dia justru sedang mati-matian menahan diri.
Itulah penyebab dia terpojok.
Karena dia
sendiri tidak menyadarinya, pasti ada rasa takut yang luar biasa di sana.
Tapi
sekarang berbeda. Kizaraki melangkah sesuai instingnya.
Kekuatan yang
tertahan kini terlepas, ia menyatu dengan permainan dan melintasi dunia.
Dulu, seorang
pemain legendaris pernah berkata:
"Ayrton
Senna berkata bahwa ia melihat Tuhan di dunia berkecepatan 300 km/jam. Dalam
shogi pun, di tengah pemikiran yang mendalam, ada dunia berkecepatan 300
km/jam."
Kizaraki sedang
melihat dunia berkecepatan 300 km/jam itu sekarang.
Di tengah pikiran
yang terus berakselerasi tanpa batas, rasa takut dan kegembiraan menerjang di
balik batas kemampuannya.
Apakah ia punya
keberanian untuk menginjak pedal gas di sana, itulah titik balik menuju puncak.
"──"
Dan, Kizaraki
yang keraguannya telah sirna tidak lagi ragu.
Ia mengeluarkan
segalanya secara no-time, melepaskan langkah-langkah instingtif yang
mengabaikan segala bentuk efisiensi.
Gas pol, memasuki
ranah ekstrem dengan kecepatan penuh. Masuk ke wilayah akselerasi tanpa rem
dengan seluruh jiwa dan raganya.
"……Dia sudah
masuk, ya."
"……"
Tojo yang
mengerti apa yang terjadi pada Kizaraki menatapnya seolah sedang melihat
manusia super.
Benar,
Kizaraki pada saat ini sedang menyentuh prinsip langit.
──Dia telah
memasuki Zone.
(Mustahil……!?)
Pertahanan
Kizaraki yang tadinya hampir hancur, dalam sekejap mata pulih kembali dan
berubah menjadi benteng besi yang tak tertembus.
Togo berusaha
keras melancarkan serangan balik untuk menghancurkannya, tapi pikiran Kizaraki
selalu selangkah atau dua langkah di depan.
Tentu saja,
Kizaraki yang sekarang sudah tidak berada dalam jangkauan pemikiran manusia
biasa.
Bahkan AI Shogi
terkuat sekalipun tidak akan bisa mencapai langkah ekstrem yang ia keluarkan
secara instan, jadi mana mungkin orang biasa bisa menang melawannya.
Saat ini,
Kizaraki telah menginjakkan kaki di ranah surgawi. Pikirannya dirasuki oleh
pemikiran yang paling mendekati "Langkah Tuhan".
Katanya manusia
tidak bisa melampaui mesin penghitung, tapi pikiran manusia yang telah bangkit
bisa terbang jauh melampaui logika akal sehat yang bisa diukur dengan
perhitungan.
Kemahakuasaan
ini, apakah benar-benar boleh lahir dari seorang manusia?
Pip.
"Apa……!?"
Waktu Togo habis,
dan ia akhirnya masuk ke fase hitung mundur.
"Mustahil,
Togo-san sampai masuk fase hitung mundur……!?"
Kedua belah pihak
yang tadinya memiliki selisih waktu yang sangat jauh, tanpa sadar kini berdiri
di panggung yang sama.
Meskipun Kizaraki
dalam kondisi hitung mundur, ia berhasil menghabiskan seluruh waktu milik Togo.
Situasi yang seharusnya tidak mungkin terjadi.
Alasan Kizaraki
terus bertahan tanpa menyerang sejak tadi sepertinya memang bertujuan untuk
ini.
Jika dipikirkan
sekarang, tindakan itu sangat masuk akal. Tapi, Kizaraki sendiri tidak
memikirkan hal itu. Pasti instingnya yang memerintahkan untuk melakukannya.
"──"
Begitu waktu Togo
habis, Kizaraki berhenti bertahan dan langsung beralih melakukan serangan
kilat.
"Kh……!?"
Togo yang titik
lemahnya diserang tak kuasa menahan ekspresi wajahnya yang berkedut.
Kizaraki mungkin
tidak tahu kalau Togo lemah terhadap serangan waktu.
Tapi Zone
memahami segalanya. Ekspresi lawan, gerakan, emosi, bahkan perasaan
terdalamnya. Ia memahami seluruh isi dunia yang terlihat olehnya.
Lalu, ia menarik
jawaban yang paling optimal saat itu juga tanpa ragu sedikit pun. Ini adalah
jenis ketidakadilan yang luar biasa.
Sudut bibirku
tanpa sadar terangkat, rasa antusias tidak bisa berhenti meluap.
(Nikmatilah lebih dalam, Togo Yoshinobu. Sosok yang ada di depanmu adalah
entitas yang paling mendekati Dewa Shogi.)
Sayang
sekali, andai saja aku yang duduk di kursi itu. Aku ingin menjadi lawannya.
Dalam
hidup manusia yang panjang, momen seperti itu hanya datang sekejap saja bagi
mereka yang terpilih. Bisa menjadi lawan dari momen tersebut adalah
keberuntungan yang tak ternilai.
Jika
dilihat, wajah Togo kini penuh dengan kegelisahan.
(──Jangan
remehkan aku……! Aku adalah kartu as dari Ginsen Dojo!!)
Seolah melawan
arus angin, Togo meluncurkan langkah penuh semangat ke atas papan.
Langkah
berani dengan mengorbankan bidak Emas. Jika diambil akan menjadi Ote-hisha
(Skak sekaligus mengincar Benteng), jika kabur akan menjadi Tsumi
(Skakmat), jadi lawan terpaksa harus bertahan.
"──"
Namun,
tepat satu detik setelah Togo melepaskan langkah itu, sebuah serangan balik
dengan kekuatan ratusan kali lipat diluncurkan oleh Kizaraki.
"Apaaa……!?"
Serangan
balik Gyaku-ote-hisha (Skak balik sekaligus mengincar Benteng), sebuah
langkah Tsumero-nogare-no-tsumero (Langkah yang menggagalkan skakmat
lawan sekaligus memberikan ancaman skakmat balik). Kizaraki memanfaatkan jurus mematikan lawan untuk
meluncurkan jurus mematikannya sendiri.
Terlebih lagi,
serangan itu pasti kena.
"A-apa dia
sekuat itu…… Kizaraki……"
Sakuma Hayato
bergumam dengan wajah yang benar-benar syok.
Wajar saja kalau
dia terkejut. Tidak
ada manusia yang tidak terkejut melihat hal itu.
Dia bisa
membaca tuntas dalam sekejap sebuah langkah yang bahkan belum bisa kubaca. Rasanya
seperti melihat sesuatu yang bukan manusia.
"Bohong…… Bukannya dia cuma Ratu Tanpa Mahkota……!"
"Apa kita
akan kalah dari sekelompok pelajar seperti ini……? Kamu bercanda, ya……?"
"To-Togo-san
mana mungkin kalah……"
Wajah anggota
Ginsen Dojo mulai diwarnai keputusasaan.
"……!"
Togo tersentak
dan mendongak dari papan permainan saat Kizaraki menghentikan gerakannya.
Racun yang
bercampur dalam buket bunga tak dikenal menari-nari tertiup angin.
Mungkin dia
merasa masih bisa melakukannya. Mungkin setelah terus menginjak pedal gas, ia
melihat dunia baru lagi di depannya.
Kizaraki menatap
Togo, lalu memberikan senyuman yang mencampurkan kengerian seorang penyihir
dengan kecantikan yang luar biasa.
"──Sepertinya
aku melangkah sedikit terlalu pelan, ya. Mari kita naikkan sedikit
temponya."
Kizaraki
telah melampaui tembok pembatas satu tingkat lagi.
"……Hah?"
Di saat yang
sama, cahaya meredup dari sepasang mata Togo.
◇
Turnamen telah
memasuki babak akhir, dan banyak tim mulai berguguran.
Aula yang tadinya
sesak kini terasa lebih lengang, menyisakan para pemain yang sedang menonton
pertandingan lain atau mereka yang terjun di babak penentuan juara.
Tim kami, SMA
Nishigasaki, yang sebelumnya tidak dilirik siapa pun, kini mulai menarik
perhatian. Tanpa sadar, belasan pasang mata telah tertuju pada Kizaraki dan
kawan-kawan.
"Hei,
bukankah itu si gadis Tanpa Mahkota……?"
"Benar. Masa
dia bisa bertarung seimbang melawan Togo-san? Gila."
Mereka pasti
tidak tahu betapa terpojoknya Kizaraki tadi. Mereka mengira Kizaraki bertarung seimbang
sejak awal.
Memang,
posisi mereka saat ini berimbang.
Namun,
mereka tidak tahu bahwa posisi imbang ini awalnya adalah kekalahan telak bagi
Kizaraki. Mereka tidak tahu fakta bahwa Kizaraki-lah yang menyeret paksa
situasi dari kalah menjadi seimbang.
Kizaraki,
yang sudah berada di kecepatan puncak, menaikkan giginya satu tingkat lagi dan
melancarkan serangan badai.
Seketika,
Togo yang tadinya terus menyerang, kini dipaksa untuk meringkuk dalam
pertahanan.
"Mustahil…… Togo-san seharusnya sudah menang
tadi……!!"
Anggota Ginsen Dojo mengepalkan tangan dengan wajah pucat
pasi.
"Kh……!!"
Togo mati-matian
memikirkan langkah pertahanan dengan ekspresi menderita.
Sebaliknya, napas
Kizaraki sama sekali tidak teratur. Dengan napas yang tenang dan stabil, ia
mengurai benang kusut di atas papan shogi secara instan, menebas segalanya
tanpa belas kasihan.
Kecepatan
berpikir dan alur langkah Kizaraki yang telah terbangun ini, bahkan Tojo
sekalipun mungkin takkan sanggup mengejarnya.
Di tengah bunyi
bel hitung mundur yang tak berhenti bergema, Kizaraki mendongak dengan wajah
penuh keyakinan, lalu berucap singkat pada Togo.
"──Tolong
ralat."
"Apa
katamu……?"
Pang!
Jam catur
ditekan kuat dengan jari telunjuk dan jari tengah. Sembari menekan jam, Kizaraki memelototi Togo,
menuntut ralat atas kata-kata pria itu sebelumnya.
"Tolong
ralat ucapanmu yang menyebutku Ratu Tanpa Mahkota."
"Kh……!"
Wajah Togo berkerut hebat.
Bagi Kizaraki, ralat itu adalah hal yang krusial.
Ia sedang mencoba merebut kembali harga dirinya yang terluka
dengan kemampuannya sendiri. Melontarkan hinaan kepada lawan seperti itu hanya
membuktikan bahwa Togo tidak tahu apa-apa soal penderitaan dan kegagalan.
"Jangan besar kepala, gadis kecil……! Jangan harap pecundang sepertimu bisa
menentangku. Tidak ada orang di wilayah ini yang mampu menandingiku!"
Togo
mengertakkan gigi, lalu beralih menyerang dengan penuh amarah.
Langkah-langkah
skak (Ote) dilepaskan bertubi-tubi, namun pikirannya menjadi dangkal
karena rasa tidak sabar dan emosi.
Namun,
ada pepatah 'Ote wa ou te' (skak hanyalah langkah mengejar). Serangan
Togo yang dangkal bukannya memojokkan Kizaraki, malah justru terlihat seperti
sedang mengekor dari belakang. Setiap kali itu terjadi, bidak-bidak kecil di
atas meja bidak Togo menghilang satu per satu.
"Apa kamu
takut kehilangan mahkotamu?"
"Diam……"
"Aku
selalu berada di titik nol. Tak
peduli seberapa keras usahaku, seberapa mati-matiannya aku, pada akhirnya aku
tak mendapatkan apa-apa. Aku terus dipaksa menyandang gelar Tanpa
Mahkota."
"……kh."
Kizaraki
meletakkan tangannya di atas meja bidak. Dari posisi bidak di papan dan jumlah
bidak di tangan, ia mulai menghitung kombinasi untuk menjatuhkan Raja milik
Togo.
Akhirnya, ia
masuk untuk melakukan penyelesaian.
"Tapi,
gelar itu akan hilang sekarang. Aku bukan lagi si Tanpa Mahkota. ──Sebab, aku akan merebut satu mahkota
darimu!"
"Diam
kau──!"
Memanfaatkan
celah kecil yang tercipta dari serangan Kizaraki, Togo mengambil langkah nekat
"membiarkan dagingnya tersayat demi mematahkan tulang lawan".
Namun, sebelum
tangan Togo sempat menyentuh bidak, Kizaraki sudah menggenggam bidaknya lebih
dulu.
"Ginsen
adalah entitas yang membawa revolusi bagi shogi! Ini bukan jalan yang bisa
dilewati sembarang pelajar yang hanya bermain-main!!"
"Aku
tidak tertarik pada ideologi kalian. Jangan menghalangi jalanku, wahai sang
juara yang hanya tahu berjalan di jalan yang sudah diaspal mulus──!"
Tepat
saat Togo menjalankan langkahnya, Kizaraki langsung menghantamkan bidaknya ke
atas papan seolah menimpa langkah lawan.
Percikan
api dari Emas, Perak, Satria, dan Tombak berhamburan, bahkan sisa-sisanya pun
dihancurkan lebih jauh oleh bidak-bidak besar di papan.
Serangan dan
pertahanan dahsyat yang dimulai dari sana memancarkan kilatan sesaat, melesat
seperti sambaran petir.
Itu bukanlah baku
hantam yang seimbang.
"Gugh……!?"
Mendominasi,
benar-benar memukau. Dari tengah papan shogi, dari Tennouzan, Gajah
milik Kizaraki menyilangkan sabit sang pencabut nyawa, memancarkan Grand
Cross bercahaya dari pusat koordinat.
Dalam pertarungan
senjata yang terjadi dalam sekejap itu, hanya serangan Kizaraki yang semuanya
tepat sasaran.
Togo mencoba
bertahan hidup dengan menjadikan Benteng—bidak terkuatnya—sebagai umpan, namun
Kizaraki bahkan tidak melirik Benteng itu dan terus memojokkan Raja milik Togo.
Inilah pemikiran
seseorang yang berada di batas ekstrem; kondisi non-manusia yang hanya mengejar
langkah terbaik.
Perangkap yang
diciptakan dari pemikiran biasa takkan mungkin bisa menjeratnya.
"Guh……!
Belum, ini belum berakhir……!"
Togo
meronta-ronta, mencoba mengendalikan situasi yang sudah kacau balau itu menjadi
miliknya kembali.
Terhadap itu,
Kizaraki bersiap menghentikan napas lawannya.
"Tidak, ini
sudah berakhir. Dalam tiga puluh tujuh langkah──"
"……Hah?"
Tiba-tiba,
kata-kata yang tidak terdengar seperti ucapan manusia meluncur dari bibir
Kizaraki.
"Hah? ……Skakmat dalam tiga puluh tujuh langkah……
katamu?"
Hayato mengulang
kata-kata Kizaraki seolah ia salah dengar.
Tiga puluh tujuh
langkah skakmat──artinya, tak peduli bagaimana pun lawan bertahan, kemenangan
sudah terkunci dalam tiga puluh tujuh langkah.
Bukan
"mungkin menang", tapi "kemenangan sudah dipastikan". Dalam
catur, ini sama saja dengan checkmate.
Dalam situasi yang sangat rumit, skakmat dalam tiga puluh
tujuh langkah adalah angka yang jarang terlihat bahkan di pertandingan
profesional sekalipun. Mengingat ia membacanya dalam kondisi hitung mundur,
entah berapa puluh juta kemungkinan cabang yang telah ia pahami.
Pemikiran yang sedang berlangsung di dalam kepala Kizaraki
saat ini benar-benar di luar imajinasi.
"……Itu cuma
gertakan."
"Kalau
begitu, mari kita buktikan."
Tangan Kizaraki
terus melangkah tanpa henti, membuat wajah Togo perlahan memucat.
Seorang amatir
mustahil bisa membaca tuntas tiga puluh tujuh langkah skakmat dalam
pertandingan sungguhan. Jika itu bisa dilakukan, maka ini bukan lagi soal
teknik shogi. Ini adalah sesuatu yang melampaui manusia.
Namun,
orang-orang justru menggantungkan impian pada eksistensi yang melampaui akal
sehat seperti itu.
"Mu-mustahil……!?"
Langkah-langkah
Kizaraki dilepaskan tanpa keraguan sedikit pun, tanpa jeda waktu.
Seolah mengerucut
pada jawaban yang telah dihitung mundur, permainan melesat menuju akhir.
Terus berlari,
berlari, dan berlari──di dunia yang ditembus dengan pedal gas penuh, Kizaraki
telah menemukan jawaban yang pasti.
Dan, tiga puluh
tujuh langkah kemudian──.
"…………Hah?"
"…………Apa-apaan
ini……"
"A-aa……"
Mereka yang
menonton pertandingan Kizaraki terdiam seribu bahasa.
Ia
membuktikannya──. Posisi di papan adalah skakmat mutlak bagi Togo.
Sesuai
deklarasinya, Kizaraki menghabisi Raja milik Togo tepat dalam tiga puluh tujuh
langkah.
"Terima
kasih atas pertandingannya."
Kepada Togo yang
mematung tanpa bisa mengucapkan kata menyerah, Kizaraki membungkukkan kepala
dan mengakhiri pertandingan.
"……Apa aku
sedang bermimpi?"
"Ini
kenyataan, lho."
"Hal seperti ini…… benar-benar terjadi di dunia nyata,
ya……"
"……Begitulah shogi."
Aku menjawab kebingungan Tojo dengan suara yang lega.
Tojo kemudian
menghampiri Kizaraki yang baru saja selesai bertanding untuk memberikan
kata-kata pujian.
"Kerja
bagus, Kizaraki. Itu pertandingan yang sangat layak ditonton──"
"Masaya-senpai──!!"
"Tunggu, aku
dicuekin lagi!?"
Kizaraki melewati
Tojo begitu saja dan menerjang ke arahku.
Oi tunggu,
bukankah ini yang namanya deja vu──.
"Aku sangat
menyukaimu──!!"
"Tunggu
dulu!?"
"Kizaraki!?"
Sambil
meneriakkan kata-kata itu, Kizaraki memelukku dengan sangat kencang.
Karena aku sedang
duduk, posisiku lebih rendah, sehingga kelembutan Kizaraki menempel erat di
pipiku dan membuatku sulit bernapas.
Karena merasa
hampir mati lemas, aku terpaksa mengambil napas, namun aroma harum khas gadis
remaja menggelitik hidungku dan membuat pikiranku nyaris berhenti.
"Kamu ini,
selalu saja ada yang memelukmu ya……"
"……"
Melihat Kaito
yang berkomentar dengan mata malas, aku tidak punya kata-kata untuk membalas.
Bagaimanapun,
berkat kemenangan Kizaraki, kami berhasil menumbangkan Ginsen Dojo 26.
Hasilnya adalah
sebagai berikut:
Kapten: Watanabe
Masaya 〇 Wakil Kapten: Sakuma Kaito × Pemain
Ketiga: Takebayashi Tsutomu 〇 Pemain Menengah: Kizaraki Natsu 〇 Pemain Kelima: Aoi Reina 〇 Pemain Keenam: Sakuma Hayato × Pemain Pertama: Tojo Mika ×
Empat menang dan
tiga kalah melawan tim favorit juara. Meski tipis, kami berhasil memastikan
kemenangan.
Dan kami, SMA
Nishigasaki, meski ini adalah penampilan perdana, berhasil mencatatkan sejarah
dengan melaju ke babak final.
"……Kizaraki,
bisa tolong lepaskan sekarang?"
"Eeeh! Kenapaaa! Sebentar lagi saja, tolong biarkan aku
seperti ini sebentar lagi! ……Snuft, snuft…… Aaah, aku suka bau
Masaya-senpai……"
"Masalahnya, Tojo…… Tojo-san menatap kita dengan
tatapan yang mengerikan……"
……Babak final nanti, apa akan baik-baik saja ya.
◇
"Oi, lihat itu. Tim pelajar masuk ke final."
"……Serius.
Lagipula itu bukannya Tojo Mika? Dia bukan kaptennya ya."
"Omong-omong,
siapa cowok yang jadi kapten itu? Pernah lihat?"
"Entah?
Tidak kenal."
Melihat kami yang
melaju hingga final, para penonton mulai berbisik-bisik.
Atmosfer kaku
yang menyelimuti aula saat awal turnamen kini telah sirna, digantikan oleh
ketegangan yang membuat siapa pun menahan napas.
"……Entah
kenapa aku jadi gugup."
"Bahkan
Tojo-san bisa gugup juga."
"Tentu saja,
lihat siapa lawan kita."
"Lawan……?"
"Ah,
Masaya-kun belum lihat ya. Lawan di babak final nanti benar-benar gila."
"Serius……"
Bahkan Tojo yang
hebat itu sampai membuat wajahnya menegang. Pasti lawan yang sangat kuat.
"Watanabe-kun,
kamu sudah berjuang keras sampai sini. Kamu telah menjalankan tugasmu sebagai
kapten dengan sangat baik."
"Terima
kasih. Tapi simpan pujiannya sampai kita menang nanti."
"Ah, tentu saja……!"
"Omong-omong, Kizaraki……"
Saat aku melirik ke arah Kizaraki, ia memancarkan
konsentrasi yang luar biasa meski hanya berdiri diam. Aku seperti melihat aura
petir ungu yang menyambar-nyambar di sekelilingnya. Apa itu halusinasi?
"……Sepertinya
lebih baik tidak mengajaknya bicara sekarang."
Bagaimanapun,
mode kebangkitan Kizaraki masih berlanjut. Jika terus begini, ia pasti bisa
mengamankan satu kemenangan.
Tojo memang kalah
di pertandingan sebelumnya, tapi tidak ada masalah dengan kondisinya. Dengan
kemampuan catur miliknya, ia seharusnya bisa menang stabil bahkan melawan musuh
di final nanti.
Lalu Aoi dan
Senior Takebayashi masih belum terkalahkan sampai saat ini. Aku baru
menyadarinya sekarang, tapi mereka bahkan menang melawan Ginsen Dojo.
……Jangan-jangan,
mereka berdua tidak serius saat latihan melawanku? Perbedaan kekuatan mereka
saat latihan dan turnamen terlalu jauh.
Namun, ini
berarti tim kami setidaknya punya empat orang yang bisa menghasilkan persentase
kemenangan tinggi.
Selain itu,
meskipun perolehan menang-kalah Sakuma bersaudara agak tertinggal, kudengar
semua kekalahan mereka hanyalah kekalahan tipis.
Dan sampai saat
ini, tidak ada satu pun anggota yang kalah di seluruh pertandingan.
Setidaknya, klub
shogi SMA Nishigasaki ini tergolong sangat kuat, bisa dibilang tim papan atas.
"Nah, musuh di babak final sudah muncul……!"
Senior Takebayashi memasang senyum gila seolah hendak
menghadapi binatang buas saat lawan kami keluar dari ruang istirahat dan
memasuki aula.
"Eh."
Melihat jajaran
anggota itu, aku tak kuasa menahan suara terkejut. Beberapa dari mereka adalah
orang terkenal yang kukenal.
Kepada pria
mencolok yang berjalan paling depan dengan santai, Senior Takebayashi
memberikan penjelasan.
"Dia adalah Furune Daichi…… sama seperti Sakuma-kun,
dia mantan peserta pelatihan (kenshuusei). Lagipula, levelnya saat itu
lebih tinggi dari Sakuma-kun."
Berjalan di belakang Furune Daichi adalah seorang pria yang
tampak ramah dengan tangan di saku.
"Itu Narita
Seiya. Biarpun terlihat seperti itu, dia mantan penguasa Distrik Barat. Kudengar dia sempat dilarang ikut
turnamen di dalam kota karena terlalu sering mengacaukan kompetisi. Belakangan
ini dia hanya muncul di turnamen resmi amatir."
……Serius?
"Gadis
kecil berkulit gelap yang berjalan di belakangnya itu adalah Aobara Akari.
Seharusnya dia berasal dari Distrik Pusat, tapi bagaimana bisa dia ikut
turnamen ini ya……"
"Apa dia
kuat?"
"Bukan
sekadar kuat. Dia adalah kartu as dari Dojo Gaisen, dojo yang menjunjung tinggi
kebanggaan 'Tak Terkalahkan'. Kalau tidak salah, dia adalah perwakilan
prefektur di turnamen Amatir Meijin tahun lalu. Jujur saja, menurutku dia ikut
turnamen ini cuma untuk bersenang-senang."
Senior
Takebayashi bercerita dengan senyum kecut.
……Eh? Tunggu
sebentar. Eh? Ini baru orang ketiga, kan? Anggotanya terlalu sangar!
"Lalu yang
di belakangnya itu…… tidak
perlu kujelaskan lagi, kan."
"Tunggu
dulu, dua orang itu kan……"
Aku
terperangah melihat wajah yang baru saja kulihat tadi pagi.
"Ya,
Wakil Ketua Wilayah Kawauchi Masanobu, dan──Ketua Wilayah Suzuki Tetsuro."
"Itu
kan Ketua dan Wakil Ketua yang menyapa kita tadi pagi!? Apa mereka boleh ikut turnamen!?"
"Secara
aturan, oke saja. Karena ini turnamen yang bisa diikuti siapa saja selama dia
amatir."
Apa dia serius?
Jadi Ketua dan Wakil Ketua itu adalah pemain shogi aktif……
"Lalu gadis
SMP di belakangnya itu adalah si pemain serbabisa (all-rounder) murni
yang dijuluki Iblis Distrik Barat, Wakil Kapten Maicho Reina."
"All-rounder……"
Kualitas bakat yang diimpikan oleh semua pemain shogi──All-rounder.
Jenius yang bisa menguasai semua strategi secara bebas, sosok terburuk dari
yang terburuk yang dikatakan tidak memiliki kelemahan sama sekali.
Aku
memang seorang all-rounder, tapi aku tidak menjadikan status itu sendiri
sebagai senjataku.
Seseorang
yang menjadikan kecerdasan universal sebagai senjatanya…… seorang all-rounder
sejati akan sangat merepotkan.
"Dan
yang terakhir, pria di paling belakang itu adalah Tenryu Kazuki. ……Tentang dia,
rasanya tidak perlu dijelaskan lagi. Dia adalah penguasa absolut yang bertakhta
di Distrik Barat saat ini."
"……!"
Aku
tersentak saat melihat pria bernama Tenryu itu.
Benar,
aku ingat. Pria yang mengukir namanya di turnamen Koryu. Pemain shogi
amatir legendaris yang membangkitkan Distrik Barat yang hancur hingga menjadi
wilayah terkuat.
Tenryu
Kazuki…… kalau tidak salah
itu namanya. Bahkan
aku yang ansos di internet pun tahu sosok besar di antara yang terbesar ini!
"……Total
tujuh orang, lawan yang seperti neraka."
"Ha,
hahaha……"
Pantas
saja Tojo kehilangan rasa percaya dirinya. Lawan-lawannya adalah orang-orang
kelas atas di antara yang teratas.
Bukannya
soal menang atau kalah, diragukan apakah ini bisa disebut pertandingan yang
seimbang.
Menghadapi
tim seperti itu di babak final, mungkin memang layak disebut sebagai lawan
terakhir, tapi ini benar-benar anggota tim legendaris.
"Tapi nama timnya…… 'Team Funakko' itu apa
maksudnya……"
Aoi menatap
mereka dengan mata malas.
……Benar juga. Di
nama tim tertulis "Team Funakko". Padahal prestasinya mentereng, tapi
namanya santai sekali.
Namun, seolah
tidak memedulikan hal itu, para anggota Team Funakko memasuki aula dan duduk di
kursi depan kami dengan ekspresi penuh percaya diri.
"Nah, lawan pertamaku adalah…… Watanabe Masaya…… kun,
ya. Mohon bantuannya."
"Mo-mohon
bantuannya."
Yang duduk di
depanku tentu saja kartu as tim lawan, Tenryu Kazuki.
Penampilannya
tampak sedikit lebih tua dariku, sekitar dua puluh tahun. Aku tidak dalam
posisi untuk menghakimi, tapi jujur saja penampilannya tidak mencolok, wajahnya
biasa saja, tipe pemuda yang bisa ditemukan di mana saja.
Tapi,
atmosfernya benar-benar berbeda. Ada sesuatu yang luar biasa besar yang ia
sembunyikan di balik penampilannya itu.
Apa
perasaan ini? Hanya berhadapan dengannya saja membuatku merinding──.
"──Aneh
ya. Aku merasakan aura yang mirip denganku dari dirimu."
"……"
Setelah
menatapku dengan mata yang seolah bisa melihat tembus kemampuanku, Tenryu
menyusun bidak-bidaknya dengan gerakan tangan yang pelan.
"Dia
tidak selevel denganmu, Guru."
Tiba-tiba,
gadis yang duduk di sebelah Tenryu──Reina sang Wakil Kapten──membuka suara.
"Entahlah.
Kita tidak akan tahu kalau belum bertarung."
"Begitukah? Bagiku dia tidak terlihat sekuat itu…… ah,
begitu ya. Maaf, aku salah
bicara."
Reina menatap
mataku, lalu membuang muka seolah menyadari sesuatu.
Apa-apaan orang-orang ini…… apa mereka bisa membaca
informasi orang hanya dengan melihat mata? Itu kan pelanggaran privasi.
"……Hei, aku
ingin kamu fokus ke sini."
Kaito yang tidak
senang karena Reina menanggapi aku, memelototi Reina dengan tatapan tajam.
"Ara, maaf
ya. Karena belum dimulai, aku ingin sedikit melihat-lihat yang lain."
"Apa kamu
sudah merasa menang? Gadis yang sombong."
"Bisa saja
bicaramu. Biarpun begini, aku belum pernah kalah sekalipun di turnamen resmi
amatir musim ini, lho. ──Apa kamu sanggup mengalahkanku?"
"Jangan
membual."
Reina dan Kaito
saling melotot dengan percikan api yang menyambar, membuat suasana di sebelahku
terasa panas bahkan sebelum pertandingan dimulai.
"Nah, mari
kita mulai. Silakan dikocok (furigoma)."
Mendengar
kata-kata Tenryu, aku mengangguk pelan.
Bidak
yang dikocok melayang di udara. Bidak-bidak pertama yang akan menentukan takdir
menari di angkasa. Lima bidak Pion yang jatuh berguling di atas papan dengan
suara gemeretak.
Semua
Pion terbalik, menjadi lima buah bidak Tokin, menentukan siapa yang
melangkah pertama dan kedua.
"……Tak
kusangka semuanya terbalik, aku beruntung ya."
Ucap
Tenryu, sementara aku mengumpulkan Pion-pion yang berserakan.
Karena
aku menjadi pemain kedua (gote), aku bebas menentukan posisi jam catur,
jadi aku meletakkannya di sebelah kanan karena aku tidak kidal.
Tenryu
tersenyum tipis melihat itu, lalu mengeluarkan tangan kirinya dan membelai
pelan meja bidaknya.
"Kalau
begitu, mari kita mulai──"
Bersamaan dengan
aba-aba Tenryu, semua orang di tempat ini menahan napas.
""Mohon
bantuannya.""
Pertandingan
beregu final Turnamen Koryu Distrik Barat. ──Pertarungan di puncak
tertinggi akhirnya dimulai.



Post a Comment