NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V14 Chapter 2

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 2

 Iblis Air

Bagian 1

“Terima kasih sudah menangani para bangsawan. Kamu benar-benar menolongku, Fine.”

“Tidak, saya hanya melakukan sebisanya.” 

Beberapa hari telah berlalu sejak pernikahan Kak Trau akhirnya diakui.

Istana yang sempat riuh oleh persiapan pernikahan dan berbagai urusan lainnya kini mulai sedikit tenang.

Di kamar pribadiku di istana itu, aku menyampaikan rasa terima kasih kepada Fine, yang telah menanggung sendiri urusan menghadapi para bangsawan.

Sudah beberapa hari ini kami hampir tidak punya kesempatan berbincang, jadi ini saat yang tepat.

Sekalian saja kudengar bagaimana akhir dari semua kejadian itu. 

“Tapi... aku benar-benar tidak menyangka kamu bisa meyakinkan Kak Therese. Itu mengejutkanku.”

“Itu... berkat saran dari Nyonya Mitsuba.”

“Walaupun rasanya kesal karena semuanya berjalan persis seperti dugaan Ibu... tetap saja, aku harus berterima kasih karena itu menyelamatkan kita.” 

“Namun, tidak semuanya berjalan sesuai rencana.”

Aku mengangguk menanggapi ucapan Sebas. 

Meski dalam batas tertentu aku bisa bergerak bebas tergantung kebijakan Kak Trau, kenyataannya aku telah ditetapkan kanselir sebuah negara.

Untuk sementara waktu, pasukan Kekaisaran akan melindungi Negara Bagian itu menggantikan pasukan mereka yang telah melemah.

Baik di bidang militer maupun administrasi dalam negeri, Kekaisaran akan ikut campur, dan aku kemungkinan besar akan bertanggung jawab di sisi administrasi.

Dilihat dari waktunya, ketika pasukan Kekaisaran ditarik mundur, aku pun seharusnya kembali ke Kekaisaran. Sebelum itu, aku harus memusatkan kekuasaan pada Kak Trau dan menyatukan Negara Bagian tersebut. 

“Lagipula ini hanya jabatan kanselir sementara. Kalau aku bisa membangun fondasi agar Kak Trau lebih mudah memerintah, lalu kembali ke Kekaisaran, ini bukan kesepakatan yang buruk.” 

“Sampai saat itu, saya akan melindungi ibu kota!” seru Fine dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangan. 

Namun. 

“Maaf mematahkan semangatmu, tapi kamu akan kubawa ke Negara Bagian.”

“Eh...?” 

“Ibu kota tanpa kehadiranku itu berbahaya. Lagipula, di Negara Bagian, tipu muslihat tidak semudah di ibu kota. Semua orang akan memperhatikanku. Untuk bergerak di balik layar, aku butuh rekan yang sudah kukenal betul.”

“T-Tapi... alasan membawa saya...”

“Alasan seperti itu bisa dibuat sebanyak yang kamu mau. Atau... kamu tidak mau?”

“B-Bukan... kalau tidak merepotkan Anda... saya dengan senang hati.” 

“Kalau begitu sudah diputuskan. Tapi sebelum berangkat ke sana, ada satu hal yang harus dilakukan.” 

Sambil berkata demikian, aku melirik Sebas.

Sebas langsung mengerti, merogoh sakunya, mengeluarkan selembar kertas terlipat, lalu menyerahkannya padaku. 

“Semuanya sudah saya selidiki.”

“Kerja bagus.” 

“Apa itu?”

“Markas organisasi Grimoire yang berada di wilayah Kekaisaran.” 

Catatan yang ditinggalkan Kak Zandra berisi banyak hal.

Ada lokasi markas, serta para petinggi yang dia ketahui.

Beberapa markas memang sudah ditinggalkan, tetapi tampaknya markas penting tidak bisa dipindahkan dan masih tersisa di Kekaisaran.

Mereka sudah menarik diri dari Negara Bagian, namun tetap bertahan di Kekaisaran, itu berarti mereka masih merencanakan sesuatu di sini. 

Keluarga Pahlawan pernah mengatakan bahwa perebutan takhta mungkin saja berada di telapak tangan seseorang. Dia juga menyebut kemungkinan keluarga kekaisaran telah diserang.

Yang paling berisiko menjadi sasaran adalah para selir. Melalui merekalah, ada kemungkinan kutukan diarahkan pada keluarga kekaisaran.

Yang paling jelas adalah Selir Kelima Zuzan, dan Kak Zandra. Ada jejak keterlibatan yang terang dengan Grimoire, dan sejak titik itu, menurut Kak Zandra, mereka mulai berubah. 

Selama ini aku menganggap mereka hanya organisasi kriminal yang terlibat dalam kasus Leticia, tetapi kegelapan mereka ternyata jauh lebih dalam dari yang kubayangkan.

Jika benar keluarga kekaisaran diserang, mustahil Grimoire tidak terlibat.

Namun, hanya mereka saja sepertinya tidak cukup. Pasti ada kaki tangan di dalam. 

Aku akan pergi ke Negara Bagian, menyelidiki kematian Putra Mahkota, dan sambil itu membongkar siapa pun pengkhianat di dalam... tetapi masalah utamanya tetap Grimoire.

Entah sejak kapan mereka bergerak di balik layar. 

“Sejak pemberontakan di ibu kota, gerakan mereka menjadi semakin aktif. Terlalu berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Dan juga...”

“Ada hal lain?”

“Aku harus membalas perlakuan yang sudah mereka lakukan padaku.” 

Bayangan Kak Zandra dan Kak Gordon yang mengembuskan napas terakhir melintas di benakku.

Jika itu adalah akhir yang disebabkan oleh kegilaan orang lain...

Sebagai adik mereka, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. 

“Niat membunuh Anda bocor ke mana-mana, Tuan.”

“...Maaf.” 

Saat sadar, Sebas sudah menarik Fine dan menjaga jarak dariku.

Tampaknya tanpa kusadari, emosiku meluap tidak terkendali. 

“Di hadapan saya dan Nona Fine mungkin tidak masalah, tetapi mohon berhati-hati di depan orang lain.”

“Benar juga. Demi kestabilan mentalku sendiri... aku ingin segera menghancurkan mereka.” 

“Jadi, Anda tidak akan bergerak sekarang?”

“Kalau bergerak, aku akan menghancurkan semuanya dalam satu hari. Tidak akan kubiarkan satu pun lolos. Tapi itu masih sedikit lebih lama.” 

“Maksudnya?”

“Akan merepotkan jika situasi berubah saat aku sedang bergerak sebagai Silver. Besok, laporan dari berbagai daerah akan sampai ke Kaisar. Setelah informasi itu ditelaah, barulah aku bergerak.” 

“Begitu rupanya... kalau begitu, serahkan urusan pengalihan perhatian pada saya!”

“Ya, kumohon.” 

Sambil mengatakan itu, aku berjuang keras menahan emosi yang bergolak.

Kalau bisa, aku ingin segera menghancurkan mereka, tetapi jika sampai ada yang lolos, semuanya akan sia-sia.

Aku sudah menunggu sejauh ini demi bergerak dengan persiapan sempurna.

Sambil meyakinkan diri sendiri demikian, aku pun menenangkan hatiku.


* * *


Keesokan harinya. 

Para kurir dari berbagai daerah datang menghadap Ayahanda.

Ada laporan dari wilayah utara, juga dari wilayah selatan.

Namun, yang paling penting di antara semuanya adalah laporan dari wilayah barat. 

“Bagaimana keadaan di front barat?”

“Lapor! Pasukan Penjaga Perbatasan Barat yang dipimpin oleh Yang Mulia Leonard telah menekan habis pasukan Kerajaan dan berhasil menangkap tiga jenderal musuh!”

“Oh! Seperti yang diharapkan dari Leonard!”

“Pasukan Penyihir yang dikerahkan juga menunjukkan peran besar dan kini menjadi kekuatan utama di wilayah barat!” 

Selama ini, dalam tentara Kekaisaran tidak pernah ada unit yang hanya terdiri dari para penyihir.

Metode yang digunakan adalah menempatkan beberapa penyihir di tiap unit, namun Kekaisaran Suci sudah membuktikan hasil dengan penggunaan penyihir secara terpusat.

Karena itu, tentara Kekaisaran meniru cara tersebut dan membentuk unit khusus yang hanya beranggotakan penyihir.

Itulah Pasukan Penyihir. 

Karena Kak Zandra terlibat dalam pendiriannya, unit ini sempat lama ditunda pengerahannya.

Namun Leo membawanya saat berangkat ke medan perang, dengan alasan bahwa unit ini akan efektif melawan pasukan Kerajaan Perlan.

Dan tampaknya, perhitungannya tepat. 

“Bagus! Dengan ini, kita bisa menganggap serangan dari pihak Kerajaan hampir sepenuhnya berhenti, Franz?”

“Kemungkinan besar begitu. Namun, pihak sana tentu tidak akan mundur begitu saja. Mereka tahu kita bergerak dengan kekuatan yang terbatas.”

“Perang dengan Negara Bagian sudah usai. Untuk sementara, kita bisa memusatkan perhatian pada Kerajaan. Mereka takkan mampu menembus pertahanan kita.”

“Kita bisa mempertahankan kondisi saat ini. Namun, jika perang berlarut-larut, ada kemungkinan Kekaisaran Suci akan ikut bergerak.”

“Benar juga... Kudengar perundingan damai berjalan alot?”

“Yang Mulia Eric sedang bernegosiasi dengan para menteri Kerajaan, tetapi katanya mereka sama sekali tidak mau berkompromi.”

“Sikap yang berani... apa mereka kira kita takkan menyerang?”

“Mungkin mereka merasa sanggup bertahan meski diserang. Di pihak mereka ada benteng yang sulit ditembus. Bahkan dahulu kita pun gagal merebutnya.”

“Situasinya sudah berbeda dari saat itu. Kadipaten di selatan kini berpihak pada Kekaisaran. Tidak ada lagi suplai dari laut.” 

Sebelas tahun lalu.

Kerajaan dan Kekaisaran pernah terlibat dalam perang besar.

Namun karena benteng milik Kerajaan terus menerima suplai lewat laut, Kekaisaran akhirnya terpaksa mundur.

Yang menangani suplai itu adalah Kadipaten Albatro. 

Namun. 

“Ini juga bisa dibilang sebagai prestasi Leonard dan Arnold.”

“Semua ini hasil dari kebetulan yang saling bertumpuk. Meski begitu, sebaiknya kita tetap waspada sampai mendapat jawaban resmi dari Kadipaten Albatro.”

“Saya juga sepakat. Beberapa hari lalu, aku telah mengirimkan surat kepada Kadipaten Albatro. Seharusnya balasan akan segera tiba.”

“Bagus. Jika Kadipaten Albatro berpihak pada kita, kita akan menyerang Kerajaan. Namun tujuan kita adalah perdamaian. Sampaikan juga hal itu kepada Eric.”

“Baik, Paduka.” 

Dengan itu, Ayahanda berdiri dari takhta, menandai berakhirnya rapat.

Aku mengembuskan napas panjang, lalu meninggalkan ruangan itu. 

“Sepertinya Leo menjalankan tugasnya dengan baik.”

“Bagi Tuan Leonard, ini adalah pertempuran yang harus dimenangkan.”

“Kalau masalah dengan Kerajaan belum terselesaikan, posisi Leticia juga tidak akan stabil.”

“Yang satu merancang intrik karena tidak ingin menikah, yang satu lagi mengayunkan pedang di medan perang karena ingin menikah. Kalian benar-benar selalu berada di dua kutub yang berlawanan.”

“Begitulah kami sebagai saudara.” 

Sambil berkata demikian, aku masuk ke kamarku.

Di dalam, Fine sudah menunggu, dan di atas meja tergeletak topeng perak. 

“Kalau begitu, lakukan sesuai rencana.”

“Baik, akan saya laksanakan.”

“Hati-hati di jalan.” 

“Ya... mulai sekarang waktunya bergerak di balik layar.” 

Sambil mengucapkannya, aku mengenakan topeng perak itu, dan berubah menjadi Silver.


Bagian 2

Sebuah fasilitas bawah tanah di wilayah selatan Kekaisaran. 

Aku tengah mengobrak-abrik dokumen di dalam fasilitas itu.

Di sana terdapat banyak sekali berkas yang berkaitan dengan Santa Leticia. Tampaknya mereka terus melanjutkan penelitian berdasarkan data yang diperoleh saat Leticia ditangkap.

Mereka tidak pernah kapok. 

“Sialan... Silver...”

Mendengar suara parau dari belakang, aku menoleh.

Di sana berdiri seorang penyihir berjubah hitam.

Namun, dia hanya berdiri saja.

Seluruh tubuhnya berlumuran darah, seolah akan roboh kapan saja. 

“Masih ada yang selamat rupanya?” 

Saat aku menyerbu fasilitas bawah tanah ini, semua yang melawan sudah kutempelkan ke dinding satu per satu.

Aku tidak ingin pertarungan ceroboh membuat dokumen hilang atau fasilitas ini rusak. 

Setelah melemparkan dokumen-dokumen itu ke dalam gerbang teleportasi, aku perlahan mendekati sang penyihir.

Dengan sisa tenaga yang dia miliki, penyihir itu melepaskan sihir ke arahku, tetapi sama sekali tidak mampu menembus penghalangku. 

“Kenapa... dengan kekuatan sebesar itu... kenapa kamu tidak mau mengerti tujuan kami...!?”

“Aku tidak mau tahu... demi rasa ingin tahu kalian sendiri, sudah berapa banyak manusia yang kalian korbankan!?” 

Aku mendorong penghalang ke arah penyihir itu.

Tubuhnya terdorong hingga terjepit di dinding, lalu hancur tergilas. 

“Lanjut ke tempat berikutnya.” 

Markas ini bukan yang kucari.

Tentu saja, fakta bahwa mereka masih meneliti hal-hal terkait Leticia tetap merupakan temuan, tetapi itu sudah bisa kuduga sejak awal.

Bukan itu yang ingin kuketahui. 

Yang ingin kuketahui adalah tujuan sejati Grimoire.

Rasa ingin tahu adalah sumber penggerak mereka.

Sebagai penyihir, sikap itu memang benar. Hanya saja, cara yang mereka tempuh sangat keliru.

Namun, tanpa ketertarikan, tidak akan ada tujuan.

Lalu, sebenarnya tujuan itu diarahkan pada apa? 

“Pasti bukan hal yang baik...” 

Aku bisa menebak sampai batas tertentu.

Namun, belum ada kepastian.

Demi mencari jawaban itulah, aku kembali berpindah tempat melalui teleportasi.


* * *


Tempat berikutnya yang kudatangi adalah sebuah kastel tua yang telah ditinggalkan di wilayah perbatasan barat.

Aku menatap kastel itu dari udara.

Jauh di bawah tanahnya terdapat markas mereka. 

Pertahanan tempat ini jelas berbeda.

Perbedaannya bagai langit dan bumi dibandingkan markas lain.

Berlapis-lapis penghalang sihir, ditambah perlindungan fisik berupa struktur bawah tanah. 

Menurut catatan yang ditinggalkan Kak Zandra, pemimpin Grimoire tampaknya menyebut dirinya “Archduke”.

Dia adalah sosok yang jarang menampakkan diri, dan hanya para petinggi yang bisa menemuinya.

Dan markas ini adalah markas salah satu petinggi tersebut. 

Namanya “Haagenti”.

Dia kabarnya sering berhubungan dengan Zuzan.

Di antara orang-orang yang bermarkas di Kekaisaran, dia mungkin yang berpangkat tertinggi. 

“Sedikit kasar pun sepertinya tidak masalah...”

Sambil bergumam, aku mengarahkan tangan kananku ke kastel tua itu.

Jika aku menembakkan sihir kuno dengan rapalan penuh, ada kemungkinan dokumen-dokumen berharga akan ikut rusak.

Karena itu... 

“Kalau begitu, kuambil jalan jumlah daripada kualitas.” 

Peluru-peluru sihir bermunculan melayang di sekelilingku.

Jumlahnya melampaui seribu.

Meski disebut mengutamakan jumlah, setiap satu peluru memiliki daya hancur yang melampaui sihir yang dilepaskan seorang penyihir biasa dengan seluruh kekuatannya. 

Dengan kecepatan tinggi, aku menembakkan semuanya ke arah kastel tua itu.

Benturan dahsyat membuat kastel tersebut lenyap seketika, menyingkap fasilitas yang berada di bawahnya.

Penghalang berlapis-lapis yang terpasang pun hancur dalam satu hentakan, dan bagian atas fasilitas itu porak-poranda.

Di titik itu, peluru-peluru sihirku juga habis. 

“Sepertinya aku terlalu menahan diri.” 

Saat aku turun perlahan, terlihat orang-orang tergeletak di mana-mana.

Hampir semuanya sudah tidak bernapas.

Dengan dampak sebesar itu sampai merusak fasilitas, mereka yang berada di dalam jelas tidak mungkin selamat. 

Namun, fasilitas itu masih memiliki lapisan bawah tanah.

Aku menemukan tangga dan mulai menuruni kedalaman dengan perlahan.

Dengan penghalang sebanyak itu, Grimoire pasti memiliki penyihir yang layak diwaspadai. 

Semakin ke bawah, aku tiba di sebuah ruang luas.

Tampaknya semacam laboratorium. 

“Sudah kuduga tamunya bakal datang dengan cara kasar... rupanya seorang petualang peringkat SS.” 

Dari ujung laboratorium yang luas itu, muncul seorang wanita paruh baya mengenakan jas putih.

Kacamata membingkai wajahnya, benar-benar tampak seperti seorang peneliti.

Namun naluriku berteriak memperingatkan.

Wanita ini berbahaya. 

“Kamu Haagenti?”

“Tepat sekali. Aku salah satu petinggi Grimoire. Tapi kalau kamu sampai di sini, kurasa kamu sudah tahu itu.” 

“Ada yang ingin kutanyakan.”

“Setelah menghancurkan markas kami sampai tidak bisa dipakai lagi, kamu masih ingin bertanya? Bukannya itu agak tidak sopan?”

“Mulutmu sendiri pun tidak pantas bicara soal sopan santun.” 

Aku mengentakkan kaki kananku ke lantai.

Hanya dengan itu, ular-ular air yang bersembunyi di sekeliling langsung terpental dan lenyap.

Pasti ciptaan Haagenti untuk menyerangku. 

“Ah, sungguh... setengah-setengah kuat itu dosa, tahu.”

“Mau kucoba, setengah-setengah atau tidak?”

“Tidak perlu. Sudah tidak diperlukan lagi.” 

Sambil berkata demikian, Haagenti menjentikkan jarinya.

Dalam sekejap.

Pandangan mataku dipenuhi air.

Sejenis penghalang air tipe jebakan. 

“Ini kandang khusus hasil karyaku. Tinggallah di sini sampai tenagamu habis.” 

Nada bicara Haagenti terdengar seolah sudah tidak peduli.

Tampaknya dari seranganku tadi, dia menyimpulkan bahwa kandang ini tidak bisa ditembus. 

Namun... 

“Diremehkan seperti ini... gelar peringkat SS itu bukan hiasan belaka.” 

Sambil melindungi diri dengan penghalang, aku memaksa menerobos kandang air itu.

Tanpa penghalang, tubuhku pasti sudah tercabik-cabik menjadi daging cincang.

Namun untuk mengurungku, kekuatannya jelas kurang. 

“Apa...?”

“Kenapa? Wajah penuh percaya dirimu menghilang, ya?”

“...Perubahan rencana. Luar biasa... kamu akan kutangkap hidup-hidup di sini.” 

“Jadi aku cuma dianggap bahan eksperimen? Yah, aku pun tidak jauh beda.” 

Aku sendiri hanya memandangnya sebagai sumber informasi.

Karena kami sama-sama tidak menganggap lawan sebagai manusia, tidak ada bedanya siapa pun di antara kami.


“Aku sudah menyerang markas-markas lain, tapi rasanya hambar... terlalu rapuh untuk menampung amarahku!” 

Sambil melepaskan kekuatan sihirku, aku melangkah menuju Haagenti.

Tanpa sedikit pun gentar, Haagenti menyambut seranganku. 

“Masih belum kelihatan dasar kekuatan sihirmu... benar-benar di luar nalar... tolong jadilah bahan penelitianku!”

“Justru kamu yang akan menjadi sumber informasiku. Tumpahkan semuanya tanpa sisa!” 

Haagenti pun melepaskan kekuatan sihirnya.

Kekuatan kami saling berbenturan, mengguncang dinding-dinding di sekeliling seperti gempa.

Dan kami berdua pun mengarahkan tangan kanan masing-masing ke arah lawan.


Bagian 3

Haagenti menembakkan sejumlah besar peluru air ke arahku, tetapi aku memaksa menahannya dengan penghalang yang kubentangkan di depan tangan kananku sambil terus memperpendek jarak. 

“Percaya diri sekali, ya? Padahal kamu seorang penyihir.” 

“Memang perlu.” 

Aku langsung melakukan serudukan ke arah Haagenti.

Tindakanku yang tidak terduga itu membuat gerakan Haagenti sedikit terlambat. 

Memanfaatkan celah tersebut, aku menciptakan gerbang teleportasi di belakang Haagenti, lalu mendorongnya masuk bersama diriku sendiri.

Dan kemudian... 

“Sungguh... kalau ini disebut menjemput, caranya kasar sekali.” 

“Mulai sekarang bakal lebih kasar lagi.” 

Kami berpindah ke dataran luas di wilayah utara. Tepatnya, di di atasnya.

Tempat di mana dulu aku pernah bertarung melawan Kura-Kura Roh.

Kalau mengamuk di sini, seharusnya tidak jadi masalah. 

“Teleportasi Silver... aku memang sering dengar rumor tentangnya, tapi ternyata memang praktis. Jangan-jangan jarak jauh maupun dekat bisa kamu lakukan sesuka hati?” 

“Kalau memang begitu, lalu kenapa?” 

Aku langsung berteleportasi dan muncul di belakang Haagenti, lalu menendangnya.

Tubuh Haagenti menghantam tanah dengan keras, kemudian terguling sambil menimbulkan kepulan debu. 

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, aku mulai melantunkan mantra. 

“Aku adalah pembawa kehendak langit. 

“Aku adalah pengetahuan dari hukum langit dan bumi. 

“Saat penghakiman telah tiba. 

“Mereka yang bersalah gemetarlah, dan yang tidak berdosa bersukacitalah. 

“Kata-kataku adalah firman para dewa. 

“Pukulanku adalah sentuhan para dewa. 

“Terkumpullah di tangan ini api bencana yang membakar langit. 

“Wahai nyala surgawi, bakarlah pendosa menjadi abu. 

“Execution Prominence.”

Lawan menggunakan air.

Aku sengaja memakai api, yang jelas tidak menguntungkan secara elemen, untuk menguji sejauh mana kekuatannya. 

Dari lingkaran sihir yang terbentang di hadapanku, semburan api raksasa dilepaskan dan melesat ke arah Haagenti.

Menanggapi itu, Haagenti mengumpulkan air dari sungai di dekatnya dan mengubahnya menjadi seekor banteng raksasa.

Lalu dia menabrakkannya langsung ke arah Execution Prominence milikku. 

Kupikir dia akan menghindar, ternyata memilih adu kekuatan secara frontal. 

“Jangan meremehkanku...!” 

“Jadi inikah sihir kuno milik Silver... sungguh menarik.” 

Banteng air dan kobaran api saling bertabrakan, beradu kekuatan selama beberapa saat.

Namun akhirnya, keduanya mencapai batas dan meledak di udara. 

Meski memang ada sungai di dekat sini, mampu meniadakan Execution Prominence milikku tetap saja di luar dugaan...

Dan lebih dari itu, dia bahkan tidak melantunkan mantra yang jelas. 

“Kebiasaan burukku... kalau ada sesuatu yang menarik, aku selalu ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.” 

“Makanya kamu membiarkanku berteleportasi dan menyerang?” 

“Tepat sekali. Luar biasa.” 

“Begitu ya...”

Aku mengembuskan napas panjang.

Aku sudah menduganya, tetapi menerima kenyataan di depan mata tetap terasa melelahkan.

Karena aku tahu, mulai sekarang ini akan menjadi masalah besar. 

“Tidak mungkin itu jurus terakhirmu, ‘kan? Masih ada yang lain?” 

“Itu justru kalimatku. ‘Iblis’ yang dimiliki oleh Grimoire... apa cuma kamu saja?” 

Iblis tidak menggunakan sihir. Mereka tidak perlu.

Karena iblis memiliki kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh iblis itu sendiri, yang disebut “Otoritas”. 

Saat bertarung di wilayah selatan, iblis bernama Fulcas menciptakan pedang raksasa, itu bukan karena dia menggunakan sihir, melainkan karena itulah Otoritas yang dimilikinya. 

Otoritas bersifat sangat terspesialisasi, dan karena digunakan oleh iblis yang jauh melampaui manusia, kekuatannya melampaui sihir dengan perbedaan yang mencolok. 

Karena itu, dapat diasumsikan bahwa Haagenti adalah iblis.

Menetralkan sihirku tanpa mantra apa pun, yang mampu melakukan hal seperti itu hanyalah iblis. 

Inilah situasi yang paling ditakuti oleh Guild Petualang. 

Keluarga Ardler mengasah garis keturunannya, dan Guild Petualang terus mempertahankan keberadaan petualang peringkat SS yang di luar nalar, semuanya berakar pada keberadaan iblis. 

Lima ratus tahun yang lalu, iblis muncul di benua ini. Kekuatan mereka begitu mengerikan hingga umat manusia hampir mengalami kekalahan total. 

Kemenangan hanya diraih karena kemunculan Pahlawan, dan bahkan itu pun hanyalah kemenangan di atas lapisan es tipis.

Bahkan dikatakan bahwa kemenangan tersebut sejatinya adalah sebuah keajaiban. 

Bukti dari ketakutan itu adalah keberadaan Guild Petualang.

Takut akan kebangkitan kembali iblis, guild tersebut selama waktu yang sangat panjang tetap menjadi organisasi netral yang tidak mencampuri urusan negara. 

Hal yang sama juga berlaku bagi Keluarga Ardler.

Keinginan akan kaisar yang kuat dalam perebutan takhta memang bertujuan menjaga kekaisaran tetap kuat, tetapi ada alasan lain, yakni untuk melawan iblis. 

Pertikaian internal sejatinya bukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan.

Perebutan takhta tak ubahnya racun serangga.

Demi melahirkan keturunan yang kuat, yang lain disingkirkan. 

Semua itu dilakukan demi bersiap menghadapi kebangkitan kembali iblis.

Segalanya berakar pada iblis. 

Dan kini, iblis itu berdiri tepat di hadapanku. 

Masalahnya, bagaimana pun aku memandangnya, dia tampak sepenuhnya seperti manusia.

Ketakutan yang dulu muncul saat Fulcas pertama kali menampakkan diri kini menjadi kenyataan. 

Iblis telah berbaur di antara manusia. 

Aku sudah menduganya.

Suatu ketika, aku pernah menginterogasi Duke Kruger.

Saat itu, yang menggangguku adalah seorang iblis. 

Dia adalah keberadaan berbahaya yang mencoba menggunakan tubuh sementara sebagai wadah.

Namun saat itu, belum menjadi masalah besar. 

Masih ada kemungkinan bahwa dia dipanggil secara tidak sengaja, seperti insiden pemanggilan iblis yang terjadi di wilayah selatan.

Kasus pemanggilan tidak disengaja memang pernah terjadi beberapa kali di masa lalu. 

Yang ditakuti oleh Guild Petualang bukanlah satu iblis tunggal, melainkan kemunculan banyak iblis sekaligus di benua ini. 

Namun sekarang, segalanya menjadi jauh lebih jelas. 

Ini bukan pemanggilan yang terjadi secara kebetulan.

Ini adalah organisasi kriminal yang terhubung dengan Duke Kruger.

Jika itu adalah Grimoire, maka semuanya akan saling terhubung.

Termasuk insiden yang menyeret Leticia ke dalamnya, semuanya bisa dijelaskan. 

Menggunakan Santa sebagai wadah untuk memanggil iblis adalah pertaruhan yang terlalu besar.

Tidak mungkin organisasi seperti Grimoire, yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang, langsung nekat melakukan pertaruhan sebesar itu tanpa persiapan.

Pasti sudah ada uji coba sebelumnya.

Dan karena ada contoh keberhasilan, barulah mereka berani mengeksekusinya. 

Jika dipikir begitu, hal ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.

Namun, kekacauan yang ditimbulkannya berskala seluruh benua. 

Iblis yang dahulu hampir memusnahkan umat manusia kini menyusup ke dalam masyarakat manusia dengan wujud manusia.

Dan jumlahnya pun tidak sedikit. 

Ini adalah kasus besar yang menuntut penanganan sangat hati-hati. 

Namun, Haagenti justru tertawa kecil. 

“Jadi akhirnya ketahuan juga. Tapi ketahuan pun tidak jadi masalah.” 

“Grimoire berniat memanggil iblis dengan menjadikan Santa sebagai wadah. Kupikir itu ide konyol... tapi ternyata kalian sudah berhasil, dan hasilnya malah membuat kalian mengincar tingkatan yang lebih tinggi.” 

“Petualang peringkat SS yang selalu muncul saat Kekaisaran berada dalam krisis. Pantas saja otakmu tajam. Kurang lebih memang begitu. Ada dua jenis wadah bagi iblis. Mayat segar, atau manusia yang secara mental mendekati iblis. Namun, tingkat keberhasilan menggunakan mayat segar sangatlah rendah. Hampir semua keberhasilan hanyalah hasil kebetulan. Karena itu, kami mengumpulkan orang-orang dengan kondisi mental yang mirip dengan iblis, lalu memanggil iblis satu per satu. Dan salah satunya adalah aku.” 

“Lalu bagaimana dengan kepribadian aslinya? Sepertinya tidak ada tanda-tanda kalian hidup berdampingan.” 

“Kuserap perlahan seiring waktu. Tidak mungkin seseorang bisa menampung iblis dalam waktu lama sambil mempertahankan egonya. Itu di luar batas normal.” 

“Begitu ya... cerewet juga kamu.” 

Banyak hal yang bisa kupahami dari percakapan ini.

Ada iblis yang menggunakan mayat sebagai wadah, dan yang dipanggil bukan hanya Haagenti seorang. 

Dia sengaja berbicara panjang lebar.

Karena dia punya kelonggaran.

Dan ketenangan itu sama sekali tidak goyah sejak tadi. 

“Kudengar kamu membasmi iblis yang menggunakan mayat sebagai wadah di wilayah selatan... namun antara manusia hidup dan manusia mati, kualitas sebagai wadah jelas lebih unggul yang hidup. Artinya, kekuatan iblis dapat dikerahkan sepenuhnya.” 

Merasakan keanehan, aku menengadah ke langit.

Di sana, tombak-tombak air berjajar rapat tanpa celah sedikit pun.

Dia pasti memanfaatkan air yang sebelumnya tersebar. 

Melakukan aksi sebesar ini tanpa gerakan persiapan apa pun.

Memang, dia tampak berada di tingkat yang lebih tinggi dari iblis yang kutemui di selatan. 

Namun, apakah itu berarti dia lawan yang tidak bisa dikalahkan, itu soal lain. 

“Kamu beruntung.” 

“Apa maksudmu?” 

“Kamu terlihat tidak masalah kalau kuhantam dengan kekuatan penuh.” 

Sambil berkata demikian, aku menyatukan kedua tanganku di depan dada.

Lalu. 

“Akulah yang memahami hukum perak.

“Akulah yang terpilih oleh perak sejati.”

Aku pun segera memulai pelafalan mantra.


Bagian 4

“Akulah yang memahami hukum perak.

“Akulah yang terpilih oleh perak sejati.”

Iblis itu kuat.

Lima ratus tahun yang lalu, baru setelah begitu banyak makhluk yang hidup di benua ini menyatukan kekuatan, mereka akhirnya bisa menang. Benar-benar monster sejati. 

Saat itu, mereka tampaknya muncul di benua tanpa bergantung pada wadah apa pun. Namun melihat kekuatan yang ditunjukkan sekarang, Haagenti di hadapanku ini tampaknya mampu mengerahkan kekuatan yang mendekati iblis pada masa itu. 

Apa pun literatur yang dibaca, semuanya menilai bahwa kemenangan umat manusia dalam perang besar lima ratus tahun yang lalu adalah sebuah keajaiban. Itu menunjukkan betapa putus asanya pertempuran tersebut. 

Dan kini, lawanku adalah sosok yang mendekati iblis kuno itu.

Terlebih lagi, bukan hanya dia. Bisa diperkirakan setelah ini masih ada iblis yang jauh lebih kuat. 

Karena itulah aku bilang ini keberuntungan.

Dia adalah lawan yang tidak kurang apa pun. 

Untuk mengukur selisih kekuatan antara diriku dan para monster purba, monster sejati itu. 

“Ini Sihir Perak Pemusnah terkuat yang dibanggakan Silver? Aku ingin melihatnya! Tunjukkan padaku!” 

Sambil berkata begitu, Haagenti menurunkan hujan tombak air dari atas kepalaku.

Aku menahannya dengan penghalang sambil terus melanjutkan pelafalan. 

“Cahaya perak membakar langit. 

“Bintang perak menembus kegelapan.”

Sihir Perak Pemusnah memang dahsyat, tetapi kelemahannya juga banyak.

Yang paling mencolok adalah sulitnya mengenai sasaran. 

Selain panjangnya pelafalan, jika lawan tidak ditahan, mereka bisa saja menghindar.

Karena itu, menahan pergerakan lawan menjadi keharusan. 

“Yang jatuh adalah gulita. 

“Yang menyinari adalah perak surgawi.”

Penggunaannya pun terbatas pada lawan tertentu.

Monster berukuran besar, atau musuh yang bisa dikekang. 

Selama ini itu sudah cukup, tetapi jika lawannya setara, semuanya akan jadi jauh lebih sulit.

Bahkan jika pelafalan berhasil, sekali meleset, semuanya berakhir. 

Namun, untuk mengalahkan lawan yang tidak bisa kutahan, sihir tanpa pelafalan jelas kurang bertenaga. 

“Pada perak itu cahaya emas meredup.

“Pada perak itu sinar pelangi ditelan.”

Satu langkah pamungkas untuk menumbangkan lawan yang setara denganku.

Sihir Perak Pemusnah yang pasti mengenai sasaran. 

Selama pelafalan selesai, kekalahan bukanlah kemungkinan.

Itulah jawabanku. 

“Bersinarlah, seberkas cahaya perak. 

“Kegelapan, berlutut dan tunduklah.”

Penghalangku mulai mencapai batas.

Tombak-tombak air Haagenti masih memiliki kekuatan dan jumlah yang mencukupi.

Jika terkena langsung, bahkan aku pun tidak akan selamat. 

Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku merasakan bahaya kematian dalam wujud Silver ini? Mungkin ini yang pertama kalinya. 

Selama ini aku selalu memusnahkan dari posisi unggul.

Aku selalu bertindak agar hal itu terjadi. 

Namun dunia ini luas.

Ada mereka yang tidak bisa kupandang dari atas. 

Aku tahu itu.

Bahwa ada lawan yang setara denganku. 

Ini... Sihirku untuk menghadapi mereka, dan juga para petualang peringkat SS. 

“Wahai kilau perak, bersemayamlah dalam diriku. 

“Untuk memusnahkan musuhku.

“Silvery Force.”

Setelah menyelesaikan pelafalan panjang dua belas bait, kilau perak yang tercipta di kedua tanganku mengalir masuk ke dalam tubuhku.

Pada saat yang sama, penghalangku hancur dan tidak terhitung tombak air menyerbu. 

Dalam kondisi normal, aku pasti akan terempas jatuh oleh kekuatan dan jumlahnya.

Namun aku tetap berdiri di tempat, tanpa luka sedikit pun. 

“...Sihir pertahanan...?”

“Bukan. Ini sihir untuk memusnahkan musuh.” 

Kilau perak yang masuk ke dalam diriku menyebar di sekeliling tubuhku seperti selaput.

Itulah yang sepenuhnya menahan tombak-tombak air tadi. 

Melihat itu, Haagenti bergumam dengan nada kecewa bahwa itu sihir pertahanan, tetapi sebenarnya itu hanyalah energi sisa.

Tidak lebih dari produk sampingan. 

“Oh? Kalau begitu, mari kita lihat.” 

Sambil berkata demikian, Haagenti menciptakan seekor elang air raksasa.

Ukurannya bahkan lebih besar dan auranya lebih kuat daripada banteng air yang sebelumnya meniadakan Execution Prominence. Elang air itu membuka paruhnya lebar-lebar dan menerjang ke arahku. 

Menanggapi itu, aku mengayunkan tangan kananku ke arah elang air dengan santai.

Yang terlepas hanyalah peluru sihir biasa, hanya saja warnanya perak. 

Peluru perak itu bertabrakan dengan elang air yang melesat, menembusnya dengan mudah, lalu merobek lengan kanan Haagenti. 

“Tanpa pelafalan...?”

“Silvery Force adalah sihir penguatan menyeluruh. Bukan hanya kemampuan fisik, tetapi juga indera dan kendali sihir ikut diperkuat. Namun, ciri terbesarnya adalah, dalam kondisi ini, semua serangan yang kulepaskan menjadi Sihir Perak Pemusnah.” 

Dalam sekejap aku sudah berada di belakang Haagenti sambil mengatakan itu.

Bukan teleportasi, melainkan gerak cepat. 

Teleportasi memang praktis, tetapi tetap membutuhkan proses membuka gerbang.

Bagi yang kuat, itu sudah cukup untuk membaca pergerakan. 

Namun kondisi ini murni soal kecepatan.

Karena itu, Haagenti pun tidak mampu menyadari pendekatanku. 

“Luar biasa...! Jadi inikah kekuatan penyihir terkuat di benua ini!” 

Sambil berkata demikian, Haagenti menjauh dariku dan mulai mengumpulkan air di sekitarnya ke arah dirinya.

Tidak lama kemudian, dengan Haagenti sebagai inti, terbentuklah seekor banteng bersayap. 

Wujud raksasa itu memiliki tekanan yang mendekati naga.

Namun tingkat bahayanya tidak bisa dibandingkan dengan naga biasa. 

Saat banteng bersayap itu mengepakkan sayapnya, tidak terhitung tombak air melesat ke arahku.

Aku menangkisnya dengan satu ayunan tangan kiri, tetapi saat itu Haagenti sudah berada di udara. 

Seperti banteng aduan, dia mengaiskan kaki depannya, lalu sebagai banteng bersayap, Haagenti menerjang lurus ke arahku. 

“Dalam kondisi di mana semua serangan menjadi Sihir Perak Pemusnah ini... tentu saja, jika aku menggunakan Sihir Perak Pemusnah itu sendiri, hasilnya akan jauh lebih diperkuat.” 

Aku mengarahkan tangan kananku ke arah Haagenti yang sedang menyerbu, lalu bergumam singkat.

“Silvery Lightning.”

Kilat perak mengamuk, mengelupas seluruh air yang membentuk banteng bersayap itu, lalu membakar inti di dalamnya, Haagenti. 

“Manusia yang melampaui batas... Petualang peringkat SS... di luar perhitunganku...”

“Jangan samakan aku dengan yang lain. Sekarang aku berada di peringkat SSS.” 

Aku mendekati Haagenti yang sudah compang-camping, lalu menghantamkan tinju kananku.

Kilatan cahaya perak melesat, dan tubuh Haagenti pun lenyap tanpa sisa. 

Iblis yang menjadikan manusia sebagai wadah memang dikenal memiliki daya hidup yang luar biasa keras, tetapi jika sampai dimusnahkan sedemikian rupa tanpa meninggalkan jejak, mustahil dia masih hidup.


“Huh...”

Aku membatalkan Silvery Force dan mengembuskan napas panjang.

Konsumsi energi sihirnya memang sangat besar, dan ini juga pertama kalinya kugunakan dalam pertempuran nyata, tetapi aku masih bisa bergerak tanpa masalah. 

Tantangan berikutnya adalah bagaimana caranya membawa sihir itu hingga aktif jika lawannya iblis yang lebih kuat daripada Haagenti.

Itu memang masalah, tetapi... 

Masalah itu bisa diselesaikan jika aku tidak gengsi. 

“Kalau melawan iblis, sepertinya mau tidak mau harus bertarung bersama petualang peringkat SS lainnya.” 

Selama ini aku pada dasarnya selalu bertarung sendirian.

Penyihir yang lengkap sebagai satu kesatuan.

Aku tidak membutuhkan rekan untuk membangun garis depan. 

Namun, jika yang dihadapi adalah lawan setara, gaya bertarung itu harus diubah. 

“Untuk sekarang, mari kita mulai dengan mengais-ngais dokumen.” 

Sambil berkata demikian, aku pun berteleportasi kembali ke reruntuhan markas Haagenti yang telah kuhancurkan.


Bagian 5

Kembali ke markas Grimoire, aku mengobrak-abrik ruang eksperimen tempat Haagenti berada. 

Hal pertama yang menarik perhatianku adalah darah yang disimpan di dalam botol.

“Jadi, inilah sumbernya.” 

Pada botol itu tertulis “vampir”.

Di sebelahnya terdapat beberapa cairan lain dengan warna yang berbeda.

Mungkin itu obat yang digunakan Kruger saat pemberontakan, ramuan yang mengubah manusia menjadi monster. 

Di atas meja yang tertata rapi, terdapat banyak dokumen rencana.

Di antaranya ada rencana eksperimen yang menggunakan anak-anak bermata heterokromia, dan di situ tertulis pula nama Kak Zandra dan Kak Gordon. 

Kak Zandra menerima pasokan anak-anak untuk eksperimen, sementara Kak Gordon menerima anak-anak untuk pengoperasian senjata.

Organisasi penculik manusia yang bekerja sama dengan Kruger, ke mana ujungnya terhubung, kini semuanya jelas. 

Artinya. 

“Dimulai dari wilayah timur... mereka terlibat dalam hampir semua insiden.” 

Alasan para vampir di wilayah timur tidak mau buka mulut sampai nyaris mati mungkin karena ada iblis di belakang mereka. Dengan tingkat kekuatan seperti itu, iblis jelas mampu menguasai para vampir dengan kekuatan murni. 

Seruling sihir Hamelin yang mampu mengendalikan monster pun, jika Grimoire yang bergerak, pasti bisa didapatkan.

Lalu darah vampir itu dialirkan ke tubuh Kruger. 

Selain itu, mereka terus memanfaatkan anak-anak dari berbagai daerah sebagai bahan eksperimen, sambil makin mendorong kegilaan Kak Zandra dan Kak Gordon. 

“Semua ini ulah mereka...” 

Sambil bergumam, aku melemparkan seluruh dokumen yang ada ke dalam gerbang teleportasi.

Dokumen-dokumen itu akan berpindah ke ruang Kakek, dan Sebas pasti akan mengaturnya. 

Saat memikirkan hal itu, sebuah dokumen rencana dengan kata-kata yang terasa familiar menarik perhatianku. 

“Yang Mulia...?”

Satu lembar rencana.

Di sana tertulis bahwa Yang Mulia dan Archduke menjalin hubungan kerja sama, dan semuanya berjalan kurang lebih sesuai rencana. 

Namun, dokumen itu terputus di tengah.

Seharusnya ada halaman lanjutan, tetapi tidak ditemukan. 

“Sepertinya hal yang benar-benar berbahaya sudah mereka singkirkan...” 

Waktu yang berlalu sejak aku turun ke bawah tidaklah lama.

Lagipula, Haagenti sempat menunjukkan sikap sangat santai. 

Meski begitu, rupanya dia tetap menganggap bagian ini berbahaya dan menghilangkannya.

Artinya, ada sesuatu yang benar-benar ingin dia sembunyikan. 

“Archduke adalah pemimpin Grimoire. Yang Mulia pasti seorang keluarga kekaisaran dari suatu negara...”

Mengingat begitu banyak manuver yang dilakukan terhadap Kekaisaran, akan lebih masuk akal jika ada anggota keluarga kekaisaran yang terlibat.

Dan ada satu kandidat pewaris takhta yang sama sekali tidak pernah bergerak. 

Eric. 

Namun... 

“...Terlalu sederhana.” 

Bagaimanapun juga, rasa janggal itu tidak mau hilang.

Rasanya jawabannya tidak sesederhana itu. 

Karena itu, untuk sementara aku menghentikan pemikiran soal ini.

Aku masih memiliki tujuan utama. 

“Untuk sekarang, hancurkan markas yang lain.” 

Setelah berkata demikian, aku meninggalkan markas yang sudah kuambil semua dokumennya, lalu berteleportasi ke markas berikutnya.


* * *


Setelah itu, penghancuran markas berjalan lancar. 

Semua markas yang berhasil diidentifikasi sudah kuhancurkan, dan sejauh yang diketahui, seluruh markas Grimoire di wilayah Kekaisaran sudah dimusnahkan. Tidak ada satu pun yang lolos. 

Namun, iblis yang muncul hanya Haagenti seorang. 

“Sepertinya kekuatan utama mereka memang ada di Kerajaan Perlan,” kataku kepada Sebas dan Kakek, setelah berteleportasi ke ruang Kakek di dalam kastel, tempat mereka sedang mengatur dokumen. 

“Kalau begitu, hasilnya lumayan besar juga, bukan?” ujar Kakek tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen rencana. 

Memang, ini adalah bukti yang jelas.

Kekaisaran telah menjadi sasaran Grimoire.

Namun, hal itu sebenarnya sudah bisa diperkirakan sampai batas tertentu. 

“Ada hasil, tapi belum menentukan. Lagi pula... isinya kebanyakan tentang hal-hal yang sudah terjadi.” 

Tidak ada temuan yang berkaitan dengan masa depan.

Masa lalu tidak bisa diubah.

Yang bertambah hanyalah amarahku terhadap Grimoire. 

“Namun, ini bukan berarti semuanya sia-sia.” 

“Benar. Bukti bisa menggerakkan orang.” 

“...Ya.” 

Dengan bukti yang jelas, orang bisa diyakinkan.

Jika bisa diyakinkan, kerja sama pun bisa diperoleh. 

Lawan kami adalah sebuah organisasi.

Dan bukan organisasi biasa.

Menghadapi organisasi yang mampu menyerang negara besar sendirian jelas tidak rasional.

Pihak kami juga harus bertarung sebagai sebuah organisasi. 

“Kakek, maaf.”

“Untuk sementara waktu, aku akan berpura-pura menjadi Arnold Lakes Ardler. Pergilah dengan tenang.” 

“Terima kasih. Sebas, dokumennya?” 

“Sudah saya rangkum.” 

Aku menerima dokumen dari Sebas lalu menarik napas dalam-dalam.

Apa yang sudah hilang takkan kembali. Namun, masih mungkin mengurangi korban di masa depan. 

“Selebihnya kuserahkan padamu. Aku akan pergi ke markas pusat guild.” 

“Semoga bisa mengerahkan para petualang dari berbagai daerah.” 

“Tidak... yang akan dikerahkan hanya petualang berperingkat tinggi. Petualang biasa hanya akan menambah korban. Dengan kondisi markas guild sekarang, mereka pasti memahami urgensinya.” 

Jika masih markas guild yang lama, mungkin mereka akan bergerak lamban.

Namun, sekarang Guildmaster adalah Clyde. 

Iblis yang menyamar sebagai manusia, bahkan bersembunyi di dalam organisasi kriminal.

Dia pasti mengerti betapa tidak normal dan berbahayanya situasi ini. 

“Baiklah, aku berangkat.” 

Setelah berkata demikian, aku langsung berteleportasi ke markas pusat guild. 

Setelah beberapa kali teleportasi beruntun.

Aku tiba di ruang Guildmaster. 

“Aku punya urusan.” 

“Ugh! Kalau punya urusan, ketuk pintunya dulu sebelum masuk!” 

Clyde, yang sedang minum, tersedak saat melihatku tiba-tiba muncul. 

Mengabaikan protesnya, aku membentangkan dokumen di atas meja. 

“Aku sudah menghancurkan markas Grimoire di wilayah Kekaisaran. Ini hasilnya.” 

“Hei, hei... ini...”

“Dan satu lagi... mereka berhasil menetapkan metode pemanggilan iblis dengan manusia sebagai wadah. Aku sudah bertarung langsung, dan yang bisa menangani mereka dengan pasti hanyalah petualang peringkat SS.” 

“...Iblis kembali muncul di benua ini...”

Mendengar ucapanku, wajah Clyde menjadi serius. 

Sejak serangan Raja Iblis, Guild Petualang mengambil sikap netral dan berperan melindungi seluruh benua.

Seperti keluarga kekaisaran yang telah bersiap, Guild Petualang pun melakukan hal yang sama.

Untuk saat yang akan datang. 

“Ikut aku.” 

“Mau bergerak bagaimana?” 

“Kita akan membahasnya. Bersama para pemimpin di seluruh benua.” 

Setelah berkata demikian, Clyde memberi perintah kepada bawahannya yang menunggu di luar pintu. 

“Dengan wewenang Guildmaster, panggil para raja dari tiap negara. Selenggarakan Dewan Raja Bijak. Sampaikan pada mereka bahwa ini adalah krisis benua!” 

Guild Petualang memiliki banyak teknologi rahasia yang hanya diketahui oleh guild.

Komunikasi jarak jauh adalah salah satunya.

Teknologi yang berpotensi memperparah peperangan itu tidak pernah dibocorkan ke luar. 

Namun, karena sangat berguna, teknologi itu tetap dimanfaatkan.

Sebab teknologi tersebut diperlukan untuk melindungi benua. 

Guildmaster memiliki wewenang untuk mengadakan pertemuan dengan para raja menggunakan teknologi itu.

Dan topik yang dibahas hanya satu. 

Krisis yang mengancam seluruh benua.


Bagian 6

Ruang bawah tanah markas pusat guild. 

Mengikuti Clyde, aku tiba di sebuah ruang komunikasi jarak jauh khusus.

Di sana terdapat sebuah meja bundar.

Di depan setiap kursi diletakkan sebuah kristal. 

Ruang yang sama juga ada di ibu kota kerajaan masing-masing negara.

Pertemuan yang menggunakan ruangan ini disebut “Dewan Raja Bijak”. 

Hak untuk menyelenggarakannya hanya dimiliki oleh Guildmaster, dan dapat diadakan berdasarkan keputusan pribadi Guildmaster atau atas permintaan dari raja setidaknya tiga negara. 

“Panggil Kaisar Kekaisaran Adrasia terlebih dahulu.” 

Di depan kristal sudah bersiaga para staf guild dari cabang ibu kota tiap negara.

Mereka bertugas menyampaikan undangan rapat kepada para raja. 

Namun, kali ini Kekaisaran Adrasia dipanggil lebih dulu. 

“Kekaisaran adalah pihak yang terlibat langsung. Kupikir situasinya perlu dijelaskan lebih dulu. Apa ini terlihat seperti perlakuan istimewa?” 

“Kalau diam saja, para raja dari negara lain tidak akan tahu. Lagipula, kami jadi menyita waktumu. Seharusnya kami menjelaskan dulu sebelum memanggil.” 

“Masalahnya cukup besar. Kamu datang paling awal justru sangat membantu.” 

Sambil berbincang seperti itu, kami menunggu sang Kaisar. 

Pertama-tama, Kaisar yang berada di kastel harus ditemui, lalu dibimbing ke cabang guild ibu kota.

Itu memakan waktu.

Namun, memanggil seorang raja memang seperti itu prosesnya. 

Lalu, dari salah satu kristal, asap mulai mengepul, dan di dalam asap itu muncul wajah seseorang. 

“...Sepertinya aku membuat kalian menunggu.” 

“Tidak, kami justru berterima kasih atas tanggapan cepat Paduka Kaisar.” 

“Kalau Dewan Raja Bijak, tentu saja itu harus diprioritaskan di atas segalanya. Namun... hanya aku saja?” 

Ayahanda mengernyitkan dahi melihat tidak ada peserta lain.

Mungkin dia sudah membatalkan semua jadwal dan datang tergesa-gesa. Jika begitu, wajar kalau suasana ini tidak menyenangkan baginya. 

“Sebenarnya, hanya Paduka Kaisar yang kami minta datang lebih dulu. Penjelasannya akan disampaikan oleh Silver.” 

“Padahal kamu bisa saja menjelaskannya di ibu kota. Lagipula, kamu bisa menyusup masuk ke kastel kapan saja sesukamu.” 

“Aku menilai menggerakkan guild adalah prioritas utama. Aku minta maaf atas ketidakefisienan ini. Namun, ini adalah masalah yang layak didengar. Akan kujelaskan secara singkat. Semua markas Grimoire di wilayah Kekaisaran sudah dihancurkan. Selain itu, ditemukan bukti bahwa Grimoire terlibat dalam berbagai insiden di dalam Kekaisaran.” 

“Oh...” 

“Paduka tampaknya tidak terlalu terkejut?” 

“Jika begitu banyak insiden terjadi beruntun, lebih masuk akal bila ada pihak yang berada di baliknya. Jika itu Grimoire, aku bisa menerimanya.” 

“Namun, itu saja tidak cukup untuk mengadakan pertemuan ini. Masalah sebenarnya adalah adanya iblis di jajaran petinggi mereka. Penampilannya sama sekali tidak berbeda dari manusia. Mereka sudah menyatu di tengah masyarakat.” 

“Apa...!?” 

Ekspresi Ayahanda berubah. 

Ini bukan soal iblis yang dipanggil secara kebetulan di wilayah selatan.

Itulah inti permasalahannya. 

“Grimoire telah menyempurnakan metode pemanggilan iblis dengan manusia sebagai wadahnya. Dan iblis yang dipanggil sangat kuat. Tanpa kekuatan setara petualang peringkat SS, hampir mustahil untuk menang dengan pasti.” 

“...Jadi, para iblis kembali mencoba merebut benua ini?” 

“Mereka sudah mulai bergerak. Apakah Kekaisaran menjadi target karena lima ratus tahun yang lalu ia memberikan perlawanan sengit, atau karena adanya seorang Pahlawan, apa pun alasannya, mereka menargetkan Kekaisaran. Dan kini Kerajaan dan Kekaisaran masih berperang. Untuk saat ini, semuanya masih berjalan sesuai skenario mereka.” 

“Semuanya berada di telapak tangan mereka...? Termasuk aku yang mengeksekusi putriku sendiri, dan putraku yang membunuh kakaknya...?”

“Keluarga kekaisaran sangat unggul. Jika jumlahnya berkurang, kekuatan nasional pun melemah. Mereka memanfaatkan perebutan takhta itu... namun, bahkan perebutan takhta tersebut pun patut dipertanyakan apakah benar-benar terjadi secara alami.” 

“...Jadi maksudmu mereka bahkan terlibat dalam kematian Putra Mahkota?” 

“Itu masih sebatas dugaan. Namun, sulit membayangkan Putra Mahkota itu tewas di medan perang. Bukankah Paduka juga lebih condong menganggapnya sebagai pembunuhan ketimbang kecelakaan?” 

“...”

Ayahanda terdiam.

Sepertinya dia tengah menahan amarahnya. 

Melihat hal itu, Clyde mengganti topik pembicaraan. 

“Alasan diadakannya pertemuan ini adalah keberadaan iblis tersebut. Organisasi kriminal yang memanfaatkan iblis. Kami menilai ini sebagai masalah yang menyangkut seluruh benua.” 

“Benar... apa pun caranya, mereka harus dihancurkan.” 

“Karena itu, kami memiliki satu permohonan. Kami ingin Paduka meredakan perang dengan Kerajaan Perlan dalam bentuk gencatan senjata.” 

“...Kami sudah masuk tahap persiapan untuk ofensif penuh.” 

“Kami mengerti hal itu. Namun, mohon pertimbangkan kembali.” 

“...Negara itu menyerang saat kami tengah dilanda kekacauan... ada kemungkinan mereka terhubung dengan Grimoire! Tanpa melakukan apa pun lalu menyetujui gencatan senjata, tidak seorang pun akan menerimanya!” 

“...Mohon tenang.” 

Menanggapi ucapan Ayahanda, aku berbicara.

Aku pun sama-sama tidak bisa menerima jika hanya berhenti begitu saja. 

Saat Grimoire mulai bergerak di permukaan, Kerajaan juga mulai bertindak.

Dan tempat Grimoire melarikan diri adalah Kerajaan.

Akan aneh jika menganggap tidak ada keterkaitan sama sekali. 

Aku ingin segera membongkar hubungan itu, namun kami juga memiliki posisi dan pertimbangan. 

Karena itu... 

“Jika nantinya terbukti bahwa Kerajaan Perlan ada kaitannya dengan Grimoire... maka mereka akan menjadi musuh seluruh benua sebagai negara yang bekerja sama dengan iblis. Itu berarti mereka akan menjadi target penaklukan para petualang. Dalam hal itu, aku berjanji akan bertarung bersama Paduka. Aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka lolos.” 

“Silver...” 

“Namun, itu adalah pembahasan selanjutnya. Paduka Kaisar, jika Anda bersedia mundur selangkah, jalannya pertemuan akan jauh lebih mudah. Mohon kerja samanya. Demi benua ini.” 

“...Jika demi benua, aku tidak punya alasan untuk menolak. Sejak awal, rencananya memang memberi satu serangan lalu memaksa perjanjian damai. Aku tidak bisa sepenuhnya menerima gencatan senjata tanpa melakukan apa pun, tetapi... jika alurnya mengarah ke sana, aku akan menyetujuinya.” 

“Terima kasih banyak.” 

Dengan ini, negosiasi pendahuluan telah rampung.

Tinggal memanggil para raja dari negara lain. 

Bagaimana reaksi Kerajaan Perlan nantinya, itu akan menentukan langkah selanjutnya... 

“Oh ya, Guildmaster. Ada satu hal yang harus kusampaikan.”

“Ada apa?” 

“Raja Persatuan Kerajaan tidak dapat menghadiri pertemuan.” 

“Apa maksudnya?” 

“Saat ini dia sedang diam-diam dalam perjalanan menuju negara kami. Katanya, untuk membahas hubungan ke depan dengan kami.” 

Itu laporan yang sama sekali tidak bisa dianggap ringan.

Bahkan, situasi ini justru semakin memperburuk posisi Persatuan Kerajaan. 

“Mohon Guildmaster menyampaikan hal ini terlebih dahulu.” 

“Begitu ya... kalau begitu, mari sampaikan bahwa kehadiran perwakilan pun tidak masalah. Tidak hadir sama sekali justru akan menjadi nilai minus yang terlalu besar.” 

Persatuan Kerajaan adalah salah satu negara yang menyerbu Kekaisaran.

Jika mereka tidak hadir di sini, kecurigaan pasti akan tertuju pada mereka. 

Namun, rupanya mereka sudah lebih dulu bergerak.

Benar-benar tipikal pria itu.

Begitu situasi dalam negerinya stabil, dia langsung bergerak paling awal untuk memperbaiki hubungan dengan Kekaisaran. 

“Kalau begitu, mari kita panggil raja-raja dari negara lain. Untuk membahas krisis yang tengah melanda benua ini.” 

Menanggapi ucapan Clyde itu, para staf guild yang berada di ibu kota masing-masing kerajaan pun segera bergerak.


Bagian 7

“Tidak kusangka selama masa pemerintahanku masih sempat terselenggara Dewan Raja Bijak, ya...”

Sambil berkata demikian, sosok yang pertama kali muncul adalah seorang lelaki tua berambut putih.

Janggut panjangnya pun memutih, dan keriput yang terukir di wajahnya seolah menceritakan panjangnya waktu yang telah dia lalui. 

Namanya Mikhail Ara Sokal.

Usianya telah melampaui delapan puluh tahun, menjadikannya raja tertua di antara mereka.

Dia adalah Kaisar Suci yang memerintah Kekaisaran Suci Sokal. 

“Terima kasih atas tanggapan yang cepat, Paduka Kaisar Suci.”

“Jika ini menyangkut krisis benua, itu sudah sewajarnya. Namun, sudah lama sekali ya, Kaisar.” 

“Sejak aku masih Putra Mahkota, kalau tidak salah. Kamu masih juga menjadi penguasa, panjang umur kamu ini, Kaisar Suci.” 

Kekaisaran Suci Sokal selalu menjadi rival Kekaisaran Adrasia.

Jika Kekaisaran menguasai wilayah tengah benua, maka Kekaisaran Suci Sokal mengendalikan sebagian besar wilayah timur.

Kedua negara itu telah berkali-kali saling berbenturan. 

Karena itu, jarang sekali para rajanya bertatap muka langsung. Biasanya hanya para wakil yang bertemu.

Namun, Dewan Raja Bijak berbeda. 

“Orang memang seharusnya hidup panjang. Tapi sepertinya kamu cukup kesulitan dengan perebutan takhta, hm? Kalau kamu mau menundukkan kepala, bukan tidak mungkin aku membantumu.” 

“Tidak perlu ikut campur. Justru Kekaisaran Suci-mu yang katanya mengalami kerusakan besar akibat monster raksasa. Kalau kamu mau menundukkan kepala, mungkin aku bisa mempertimbangkan memberi bantuan. Kekaisaran kami makmur, tahu.” 

Tatapan mereka saling beradu.

Aura di antara keduanya jelas menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak berniat bergandengan tangan. 

Di tengah suasana itu, satu sosok lagi muncul. 

“Paduka Kaisar dan Paduka Kaisar Suci hadir bersamaan rupanya. Mohon maaf, sebagai orang muda saya datang terlambat.” 

Yang berkata demikian adalah seorang pemuda.

Rambut pirangnya berwarna platinum dan panjang, dengan mata ungu pucat.

Senyum tipis melekat di wajahnya, namun di balik matanya tersimpan kesejukan yang dingin.

Seorang pria tampan dengan aura misterius, begitulah kesannya. 

Namun, dia adalah sosok yang terasa tidak pada tempatnya di sini. 

“Ini adalah Dewan Raja Bijak. Yang Mulia Pangeran Pertama. Ke mana Paduka Raja?” 

“Saya sekarang adalah Putra Mahkota. Ayahanda jatuh sakit dan terbaring, jadi saya hadir sebagai wakil.” 

“Bukankah lebih tepatnya kekuasaan dirampas oleh putranya lalu sang raja dikurung? Bukankah begitu, Putra Mahkota Lucian?” 

Ayahanda melontarkan sindiran itu.

Pemuda ini bernama Lucian de Perlan.

Putra sulung Raja Perlan saat ini sekaligus Putra Mahkota.

Dia adalah pemimpin de facto faksi anti-Kekaisaran dan pada praktiknya telah menggenggam hampir seluruh kekuasaan Kerajaan Perlan. 

“Hahaha, Paduka hanya bercanda. Hubungan saya dan Ayahanda sangat baik. Di negara kami, tidak ada hal memalukan seperti seorang ayah digulingkan oleh putranya.” 

Dengan senyum, Lucian membalas Ayahanda.

Ayahanda yang disebut memalukan itu tidak menunjukkan amarah, dia hanya menyipitkan mata.

Itu tanda dia benar-benar tersinggung. 

“Kamu masih muda, Putra Mahkota. Penuh darah panas.” 

“Mohon maaf, Paduka Kaisar Suci. Saya memang penuh semangat.” 

“Masih menyimpan dendam karena negaranya tidak bekerja sama menyerbu Kekaisaran? Aku tidak sebodoh mencampuradukkan keberanian dengan kebodohan.” 

“Negara kami bodoh?” 

“Faktanya memang begitu, bukan?” 

“Yah, kalau dipikir-pikir, memang benar. Kami kurang beruntung dalam memilih sekutu.” 

“Kalian kalah karena bahkan tidak punya nyali bertarung sendirian.” 

“Sungguh pelajaran berharga. Tidak heran, Paduka pernah bertarung sendirian melawan Putri Jenderal.” 

Dengan sindiran terselubung, seolah berkata bahwa dia tertahan oleh Kakak Lize seorang diri, Lucian memprovokasi.

Namun Kaisar Suci menanggapinya dengan wajah tenang. 

“Masih lebih baik daripada negara yang bahkan dengan aliansi pun tidak mampu menembus perbatasan. Setidaknya kami berhasil menembus wilayah Negara Bagian dan Persatuan Kerajaan. Memang benar, tampaknya kamu kurang beruntung dengan sekutu.” 

“Ah, itu telak. Dalam adu mulut saya jelas kalah.” 

Sambil berkata demikian, Lucian melirik ke arah Ayahanda.

Ayahanda tetap diam. 

Lucian hendak mengatakan sesuatu kepadanya.

Namun. 

“Jangan terlalu meremehkan Keluarga Ardler.” 

Kata-kata Lucian terhenti.

Ayahanda menatapnya dengan tatapan sungguh-sungguh.

Tatapan yang jelas menunjukkan bahwa jika mereka berada berdekatan, dia sudah mencabut pedang.

Tatapan seseorang yang bersumpah akan membunuh. 

Bahkan Lucian pun tampaknya tidak berniat memprovokasi lebih jauh, dan dengan tenang dia menundukkan kepala. 

“Mohon maaf.” 

“Maafkan saya, Guildmaster. Aku sedikit terbawa emosi.” 

“Wajar saja, mengingat para raja yang sedang berperang bertemu langsung,” jawab Clyde dengan nada aman. 

Yang hadir di sini adalah para kepala negara dari tiga kekuatan terbesar di benua.

Jika hanya berhenti pada perang kata-kata, itu sudah tergolong tenang. 

Sementara itu, satu per satu raja dari berbagai negara mulai bermunculan.

Ada Raja Albatro dan Raja Rondine juga. 

Dan kemudian. 

“Hm!? Tiba-tiba muncul banyak wajah sekaligus?” 

“...Yang Mulia Putri Pertapa. Bagaimana dengan rajanya?” 

“Katanya diserahkan padaku! Tentu saja! Jika ini krisis benua, yang datang adalah aku!” 

Sambil berkata demikian, muncullah Putri Pertapa Mizuho, Orihime.

Berbeda dengan saat Lucian muncul, tidak seorang pun memprotes. 

Negara Mizuho adalah negara yang dipertahankan oleh sang Putri Pertapa.

Bahkan bisa dikatakan, dia lebih pantas menjadi wakil negara dibandingkan rajanya sendiri. 

Terlepas dari apakah dia benar-benar cocok atau tidak.

“Namun, karena ini pertemuan para raja, suasananya benar-benar pengap ya! Bahkan Kakek dari Kekaisaran Suci Sokal pun ikut hadir!” 

“Tentu saja aku ada di sini.” 

“Masih hidup rupanya. Yah, kelihatannya sudah renta juga. Kamu tidak sempat menaklukkan penghalang negaraku selama masih hidup, ya. Usahamu patut dipuji, tidurlah dengan tenang.” 

“Jangan membunuhku sepihak begitu.”

Benar-benar bertindak semaunya sendiri.

Bahkan ketika lawannya sesama raja, sikapnya tidak berubah sama sekali, entah ini harus dianggap kelebihan atau justru kekurangan. 

Beberapa raja tampak mengernyitkan dahi, namun Ayahanda justru menyunggingkan senyum tipis. 

“Sudah lama tidak bertemu, Yang Mulia Putri Pertapa.” 

“Oh! Lama tak jumpa! Bagaimana kabar Arnold?” 

“Baik. Akhir-akhir ini sempat ribut karena muncul pembicaraan soal pernikahan.” 

“Apa!? Arnold mau menikah? Jangan sungkan, biar aku saja yang mengambilnya! Akan kubekali dia dengan setumpuk koin emas sebelum mengirimnya pergi!” 

“Penawaran yang menggiurkan, tetapi tampaknya orangnya sendiri tidak berniat menikah.” 

“Namanya juga Arnold! Kamu juga berpikir begitu, bukan, Silver?” 

Sambil tersenyum lebar, Orihime menyapaku.

Menanggapi itu, aku hanya menghela napas. 

“Entahlah. Aku tidak sedekat itu dengannya.” 

“Jawaban yang membosankan.” 

“Tidak ada alasan untuk membuatnya menarik. Apa persiapannya sudah siap?” 

“Perwakilan Persatuan Kerajaan belum tiba.” 

“Ke mana rajanya?” 

“Katanya sedang tidak berada di tempat. Negara itu belum sepenuhnya stabil, jadi kami sudah menyampaikan bahwa kehadiran perwakilan pun tidak masalah.” 

Clyde menjawab pertanyaan Kaisar Suci demikian.

Sebagai kebohongan spontan, itu tergolong cukup rapi. 

Jika dikatakan sang raja sedang jauh dari istana, orang akan menerimanya begitu saja.

Terlebih itu bukan negara biasa, melainkan negeri para Kesatria Naga.

Jarak yang bisa ditempuh jelas tidak bisa dibandingkan dengan kuda. 

Tidak lama kemudian, dari kristal milik Persatuan Kerajaan, muncul sosok seorang pria. 

“Saya mohon maaf jika kehadiran orang seperti saya sebagai pewakilan raja terasa kurang pantas. Saya Roger, Kapten Kesatria Naga Hitam dari Kesatria Naga Persatuan Kerajaan.” 

“Kesatria Naga terkuat, ya. Kurasa sudah lebih dari cukup.” 

“Terima kasih atas pujiannya, Paduka Kaisar Suci. Namun, gelar terkuat itu sudah kami lepaskan, di langit Kekaisaran.” 

Sambil berkata demikian, Roger tersenyum.

Senyum itu terasa jernih dan lapang.

Itu menandakan betapa dia mengakui Finn. 

“Dengan ini, seluruh peserta telah hadir. Maka, Dewan Raja Bijak akan kita mulai.” 

Dengan deklarasi Clyde itu, pertemuan pun resmi dimulai.


Bagian 8

“Pertama-tama, terima kasih telah berkumpul, Paduka sekalian.” 

“Langsung ke inti saja. Kalian memanggil kami karena keadaan mendesak, bukan?” 

Menanggapi sapaan pembuka Clyde yang bersifat formal, Kaisar Suci mendesaknya demikian.

Clyde mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya kepadaku.

Dan kemudian... 

“Iblis telah muncul. Dengan menjadikan manusia sebagai wadah, mereka menyusup ke dalam masyarakat manusia.” 

Dengan singkat aku menyampaikan situasinya.

Raut wajah para raja yang hadir seketika berubah. 

“Bisa kamu jelaskan lebih rinci, Silver?” 

Sang Putra Mahkota Perlan meminta penjelasan dariku.

Sambil bergumam dalam hati, “padahal kamu yang paling mencurigakan di sini”, aku melanjutkan. 

“Saat kami memusnahkan markas Grimoire yang berada di wilayah Kekaisaran, muncul iblis yang menggunakan manusia sebagai wadah. Dari cara bicaranya, besar kemungkinan lebih dari satu.” 

“Silver... maksudmu, iblis itu sudah ditaklukkan?” 

“Yang itu sudah ditaklukkan.” 

Menjawab pertanyaan Raja Albatro, suasana lega mulai mengalir di antara para raja.

Namun seolah menegangkan kembali udara, Ayahanda membuka mulut. 

“Di negara kami, ini sudah kali ketiga iblis muncul. Tidak mungkin ini sekadar kebetulan.” 

“Benar. Dilihat dari dokumen yang ada di dalam markas tersebut, berbagai insiden di Kekaisaran belakangan ini melibatkan Grimoire dalam berbagai bentuk. Lebih tepat jika kita menganggap mereka menyerang Kekaisaran dengan memanfaatkan iblis. Atau sebaliknya, mereka dimanfaatkan oleh iblis, bagaimanapun juga hasilnya sama.” 

“Yang jelas, ini tetap merupakan krisis. Untuk berani menyerang negara besar, mereka pasti memiliki kekuatan militer yang signifikan. Para iblis kembali melancarkan serangan terhadap benua.” 

Kebangkitan kembali tragedi lima ratus tahun yang lalu.

Kegelisahan menjalar di antara para raja, kecuali satu orang. 

“Hm hm, jadi intinya, tinggal kita hajar saja, bukan? Silver.” 

“Jangan meremehkannya. Iblis yang dipanggil jauh lebih tangguh daripada di selatan Kekaisaran. Dan mereka adalah sebuah organisasi. Untuk memusnahkannya, kita akan membutuhkan beberapa petarung sekelas petualang SS.” 

“Tapi kamu sendiri tidak berpikir akan kalah, bukan? Aku, sang Putri Pertapa, akan meminjamkan kekuatanku. Jika perlu, panggil aku kapan saja!” 

“Terima kasih atas dukungannya, Yang Mulia Putri Pertapa. Dari pihak Guild Petualang, kami berniat mengerahkan para elit peringkat AAA ke atas untuk menumpas Grimoire. Sebisa mungkin secepatnya, sebelum jumlah iblis bertambah.” 

“Mereka telah menetapkan metode pemanggilan iblis, dengan menggunakan manusia hidup atau mayat yang masih segar sebagai wadah. Jika kita berlarut-larut, mereka bisa menyusup ke inti pemerintahan. Penampilan mereka sama seperti manusia. Jika mereka bertindak normal, akan sulit untuk menyadarinya.” 

“Begitu... memang benar ini krisis benua. Namun, sejauh ini target mereka tampaknya hanya Kekaisaran, bukan?” 

“Apa kamu sungguh percaya naga dan iblis itu kebetulan bangkit? Kaisar Suci.” 

“Tujuan mereka adalah Kekaisaran. Itu pun bisa dianggap sebagai bagian dari strategi penaklukan Kekaisaran.” 

Memang, krisis sedang mendekat.

Namun yang benar-benar menghadapinya saat ini hanyalah Kekaisaran.

Negara lain belum mengalami kerugian berarti. 

Di sinilah pembicaraan menjadi rumit. 

“Tidak masalah jika Guild Petualang bekerja sama dengan Kekaisaran. Namun jika seluruh benua harus ikut serta, itu cerita lain, bukan?” 

Sang Putra Mahkota berkata demikian sambil tersenyum tipis.

Imbalan dari kerja sama adalah penghapusan krisis.

Namun lawannya bukan sembarang pihak. Mengirim kekuatan nasional bisa berujung pada tidak pernah kembalinya pasukan. 

Para raja khawatir akan hal itu.

Tidak ingin negaranya sendiri merugi.

Jika bisa, mereka lebih memilih Kekaisaran saja yang melemah. Isi hati itu tampak jelas. 

“Memang, untuk saat ini wilayah aktivitas utama mereka adalah Kekaisaran.” 

“Jika targetnya Kekaisaran, bukankah cukup Guild Petualang saja yang melindungi Kekaisaran? Tidakkah kamu berpikir begitu, Silver?” 

Sang Putra Mahkota menatapku dengan sorot mata dingin.

Tatapan tanpa emosi.

Ada kesan tidak terukur yang terasa menyeramkan. 

Lalu kenapa?

Bagi seorang petualang, rasa menyeramkan bukan alasan untuk berhenti. 

“‘Mungkin’... itulah kata yang digunakan petualang saat memburu monster. Mungkin akan menyerang manusia. Mungkin berbahaya. Pada tahap kemungkinan saja, petualang sudah memburu monster. Demi mengurangi korban di masa depan. Kamu tahu itu, bukan, Putra Mahkota?” 

“Tentu saja.” 

“Kalau begitu, kamu pun bisa menerima ini. Saat ini, Grimoire telah memindahkan markas mereka ke wilayah Kerajaan Perlan. Karena mereka berpotensi membahayakan benua, Guild Petualang akan melakukan penyelidikan menyeluruh. Jika ada sedikit kerugian, anggaplah itu demi benua. Terima saja.” 

Mendengar kata-kataku, ekspresi Putra Mahkota membeku.

Raut wajah para raja lainnya pun ikut mengeras, warna muka mereka sedikit memucat.

Pendapat itu bisa dibilang terlalu ekstrem.

Namun, dengan alasan itulah aku menumbangkan Naga Suci Persatuan Kerajaan.

Saat itu memang mereka belum berbuat apa-apa, tetapi sudah cukup berpotensi menjadi ancaman bagi rakyat. 

Begitu pula dengan iblis.

Keberadaannya saja sudah merupakan ancaman. Karena itu, mereka harus disingkirkan.

Itulah pelajaran sejak lima ratus tahun yang lalu. Jika dibiarkan, lalu mereka muncul secara massal, tidak ada jaminan kita bisa menang. 

Fakta bahwa mereka bergerak diam-diam dari balik layar berarti persiapan mereka belum sempurna.

Jika ingin membersihkan mereka, sekaranglah saatnya. 

“Silver, apa kamu mencurigai Kerajaan kami?” 

“Tentu saja. Pihak yang diuntungkan dari melemahnya Kekaisaran adalah Kerajaan dan Kekaisaran Suci. Dan Kerajaan memanfaatkan pemberontakan di Kekaisaran untuk menyerbu, sambil menyeret Negara Bagian dan Persatuan Kerajaan. Organisasi kriminal yang menyerang Kekaisaran, dan Kerajaan yang mengintai celah Kekaisaran, apa terlalu aneh jika menganggap mereka bekerja sama?” 

“Menyerbu saat negara musuh melemah adalah hal yang mendasar. Kami tidak punya kewajiban mengetahui alasan di baliknya. Tolong hentikan logika yang dipaksakan.” 

“Namun Anda tidak kooperatif. Negara yang mencurigakan bersikap tidak kooperatif. Bukankah wajar jika kecurigaan semakin dalam?” 

“Jika Kerajaan kami benar-benar bekerja sama dengan iblis, kami akan berkolaborasi secara besar-besaran. Kami tidak akan melakukan setengah-setengah. Justru karena kami tahu akan ada serangan balik seperti ini.” 

Begitu keberadaan iblis diketahui, Kerajaan akan menjadi pihak yang pertama dicurigai.

Karena adanya pertemuan ini. 

Jika itu aku, aku akan bergerak lebih cerdik.

Dengan logika semacam itu, Putra Mahkota menghindari tudinganku. 

Namun, kalau dia memakai logika itu... 

“Begitu ya. Memang benar. Aku minta maaf atas ketidaksopanan ini. Namun, fakta bahwa Grimoire telah memindahkan markasnya ke wilayah Kerajaan adalah kebenaran. Putra Mahkota yang bijaksana tentu paham apa yang harus dilakukan demi benua ini, bukan?” 

“...Saat ini Kerajaan kami sedang berperang dengan Kekaisaran.” 

“Jika demi benua, gencatan senjata pun tidak terelakkan. Kami akan segera menarik pasukan.” 

Ayahanda menutup jalan mundur Putra Mahkota.

Putra Mahkota melirik Ayahanda dengan tajam, lalu menghela napas. 

“Ya ampun... jika gencatan senjata dilakukan, kami akan mengizinkan penyelidikan. Silakan bertindak sesuka kalian.” 

“Begitu katanya.” 

“Kami akan segera mengirim personel dari Guild Petualang.” 

“Kuharap kalian tidak bertindak terlalu kasar. Guild Petualang selalu bertangan keras. Kamu bisa berjanji tidak akan sampai mengubah bentuk wilayah Kerajaan setelah semuanya selesai?” 

“Itu tergantung lawannya.” 

“Kami akan berusaha sebaik mungkin. Kalau begitu, dari pihak Guild Petualang akan dikirim personel yang dipimpin oleh tiga petualang peringkat SS. Keberatan?” 

Tidak ada satu pun raja yang mengajukan keberatan.

Selama markasnya berada di Kerajaan, penyelidikan sudah menjadi jalur yang tidak terhindarkan.

Perang antara Kekaisaran dan Kerajaan yang menjadi kekhawatiran pun berujung pada gencatan senjata. 

Jika masih mengajukan keberatan, mereka bisa dianggap berpihak pada iblis. 

“Namun, jika kita berhasil memusnahkan seluruh markas, kami akan bertindak bebas setelah itu. Tidak masalah, bukan, Guildmaster.” 

“Jika semuanya telah berakhir, kami tidak akan mencampuri urusan negara.” 

“Terima kasih. Begitu katanya, Paduka Kaisar.” 

“Kalau begitu, Kekaisaran kami juga akan bertindak bebas. Setelah semuanya selesai, tentu saja.” 

Putra Mahkota dan Ayahanda saling menatap tajam.

Gencatan senjata tetaplah hanya gencatan senjata.

Setelah itu akan masuk ke perundingan damai, namun jika syarat tidak tercapai, perang akan meletus kembali.

Dan keduanya sama-sama tidak mengira kesepakatan akan mudah tercapai. 

“Bagaimana rencanamu memilih petualang peringkat SS, Guildmaster?” 

“Kami akan mengirim Jack, Lienares, dan Egor. Penjagaan wilayah timur akan dipercayakan pada No Name, dan di pusat kami akan menempatkan Silver yang memiliki kemampuan teleportasi.” 

“Keputusan yang bijak. Kalau sampai diminta mengirim No Name, aku benar-benar akan kerepotan.” 

“Ucapan yang tidak tulus. Kudengar kamu berhasil mengembangkan sihir ritual skala besar? Bahkan yang berkaitan dengan teleportasi.” 

“Cepat sekali telingamu, Putri Pertapa.” 

“Tentu! Telingaku tajam!” 

Orihime menggerak-gerakkan telinganya dengan bangga.

Melihat itu, Kaisar Suci bergumam dengan wajah setengah jengah. 

“Namun itu masih belum sempurna. Dampak baliknya terlalu besar. Jujur saja, aku tidak berniat menggunakannya. Meski begitu, jika memang benar-benar membutuhkan No Name, bukan tidak mungkin aku akan mempertimbangkannya.” 

“Mungkin saat itu kami akan memohon bantuan.” 

Clyde menundukkan kepala pada Kaisar Suci.

Lalu... 

“Kalau begitu, setelah detailnya ditetapkan, mohon kabari. Kami akan menarik pasukan di garis depan mulai sekarang.” 

“Kami juga akan melakukan hal yang sama. Akan kukirim utusan.” 

“Baik. Kami menunggu.” 

Dengan itu, Putra Mahkota dan Ayahanda menghilang.

Melihat mereka, Kaisar Suci pun menghilang, disusul satu per satu para raja lainnya. 

“Sampai jumpa, Silver!” 

“Sampai bertemu lagi.” 

Aku berpamitan pada Orihime.

Yang tersisa hanyalah Roger. 

“Terima kasih atas pertimbangannya, Guildmaster.” 

“Itu tawaran dari Paduka Kaisar. Jika ingin berterima kasih, ucapkan pada Kekaisaran... Namun, pertemuan rahasia antara Kekaisaran dan Persatuan Kerajaan, ya. Semoga tidak terjadi apa-apa.” 

“Semoga saja begitu. Namun, itu hanya para raja yang mengetahuinya.” 

Dengan berkata demikian, Roger pun menghilang.

Dan begitulah, Dewan Raja Bijak resmi berakhir.


Bagian 9

Setelah berbincang dengan Clyde mengenai langkah ke depan, aku kembali ke ibu kota.

Saat itu, ibu kota sudah tenggelam dalam kegelapan malam. 

“Selamat datang kembali.” 

“Bagaimana? Ada hal yang berubah?” 

“Tidak, tidak ada yang khusus.” 

“Tidak ada yang datang berkunjung?” 

“Saya mengatakan bahwa Anda sedang tidur.” 

“Begitu ya. Kalau bagi Kakek, pasti bosan setengah mati.” 

Sambil tertawa kecil, aku melepas topengku.

Hari sudah larut malam.

Orang-orang di istana pun telah terlelap. 

Di tengah keheningan itu, aku menatap gerbang utama istana dari jendela.

Ketika penglihatanku kuperkuat dengan sihir, entah mengapa di depan gerbang utama tampak pasukan kesatria pengawal.

Seolah-olah mereka sedang menunggu seseorang. 

“Datang larut malam karena kunjungan rahasia, ya. Yah, memang tidak ada pilihan lain.” 

“Ada tamu yang akan datang?” 

“Raja Persatuan Kerajaan diam-diam menuju ke sini. Itulah sebabnya dalam Dewan Raja Bijak beliau hanya mengirim perwakilan.” 

“Raja Persatuan Kerajaan, ya. Padahal baru saja menstabilkan kondisi dalam negerinya. Orang yang sibuk.” 

“Dia pasti berpikir hubungan dengan Kekaisaran sebaiknya segera diperbaiki. Tapi dia adalah raja dari negara yang hingga belum lama ini masih berperang dengan kita. Tidak mungkin datang secara terbuka. Jadi kunjungan rahasia, tentu saja.” 

Sambil berbicara, aku berbalik dan melangkah menuju pintu kamar. 

“Anda ada urusan?” 

“Tidak dengannya.” 

“Lantas dengan siapa?” 

“...Jika Persatuan Kerajaan benar-benar ingin memperbaiki hubungan dengan Kekaisaran, ada banyak masalah yang menghalangi. Salah satunya adalah soal penanganan keluarga kekaisaran yang mereka lindungi. Karena pernah bertarung, aku tahu betul, dia tidak akan menyeret orang-orang yang ketakutan dengan paksa. Namun, jika bernegosiasi secara langsung, masalah itu pasti akan menghadang. Darah keluarga kekaisaran adalah harta Kekaisaran. Dan fakta bahwa dia datang sendiri berarti... adikku juga ikut datang.” 

“Tolong jaga tutur kata Anda. Seperti halnya Gordon mantan pangeran dan Zandra mantan putri yang sudah bukan lagi kakak Anda, keluarga kekaisaran yang berkhianat bukanlah adik Anda.” 

“Aku tidak butuh ceramah. Masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.” 

Dengan berkata demikian, aku meninggalkan ruangan sambil mendengar helaan napas jengah dari Sebas.


* * *


Koridor menuju ruang takhta.

Di sanalah aku bersandar pada dinding, menunggu seseorang datang. 

Tidak lama kemudian, di dalam istana yang sunyi di tengah malam, langkah kaki mulai bergema.

Jumlahnya cukup banyak. 

Disinari cahaya lembut dari alat sihir, orang-orang yang kutunggu akhirnya datang bersama para kesatria pengawal. 

“Tidak kusangka kamu sendiri yang keluar menyambut.” 

Yang membuka mulut adalah seorang pria berambut pirang kemerahan.

Mata merah keunguan itu tampak sedikit membelalak karena terkejut.

Wajahnya tampan dan tertata rapi, namun di saat yang sama memancarkan kesan liar yang aneh. 

“Karena posisiku telah berubah, sudah sepantasnya aku memberi salam. Pangeran Ketujuh Kekaisaran... Arnold Lakes Ardler.” 

“Tentu aku mengenalmu. Raja Persatuan Kerajaan Egret... ‘Raja Naga’ William van Dramond.” 

Penguasa baru yang mengendalikan seluruh Kesatria Naga Persatuan Kerajaan dan berhasil merebut ibu kota hanya dalam waktu singkat.

Itulah William saat ini. 

Pemicu semuanya adalah ketika raja lama dan Putra Mahkota berusaha melimpahkan seluruh tanggung jawab kekalahan perang kepada William.

Akibatnya, bukan hanya para Kesatria Naga, sebagian besar militer pun berpihak padanya.

Konon pihak raja lama bahkan tidak mampu memberi perlawanan berarti. 

Akhirnya, raja lama dan Putra Mahkota dikurung di daerah terpencil, dan Persatuan Kerajaan pun dipersatukan di bawah William yang naik dari Pangeran Naga menjadi Raja Naga. 

“Di utara dulu aku banyak berutang padamu, Arnold. Kita memang tidak terlalu sering berbincang, tapi kita pernah saling mempertaruhkan nyawa di medan perang. Rasanya sekarang kamu seperti sahabat lama.” 

“Begitu ya. Aku juga cukup mempercayaimu layaknya seorang rekan. Karena itu aku tahu, adikku yang ada di belakangmu tidak dibawa ke sini dengan paksaan.” 

Di belakang William.

Di sana berdiri seorang pria muda dengan wajah pucat.

Rambut hijau yang sama seperti Kak Zandra, dengan raut wajah yang tampak gugup. 

Dia tidak berubah. Namun dibanding terakhir kali kulihat, ekspresinya kini jauh lebih tegas dan keras. 

“...Jangan menghalangiku, Arnold.” 

“Jangan menghalangimu? Kamu tahu apa yang menantimu jika langsung bertemu Ayahanda? Anggur Kekaisaran. Kamu paham itu ‘kan, Henrik?” 

Pangeran Kesembilan Kekaisaran, Henrik Lakes Ardler.

Dia yang berpihak pada Kak Gordon dilaporkan ikut menuju Persatuan Kerajaan bersamaan dengan mundurnya pasukan William. 

Kekaisaran tidak memaafkan keluarga kekaisaran yang berkhianat.

Apa pun akhirnya, aku sudah menduga takkan ada akhir yang baik.

Namun aku sama sekali tidak menyangka dia akan datang sendiri ke sini. 

“Aku sudah siap.” 

“Buang kesiapan bodoh itu! Kamu ingin menempuh jalan yang sama seperti Kakak kita!?” 

“Aku akan menerima ganjaran atas pengkhianatanku.” 

“Hentikan kepuasan diri itu! Jangan biarkan Ayahanda membunuh putranya lagi! Kalau mau mati, matilah sesukamu!” 

Memikul tanggung jawab memang wajar.

Dia telah melakukan perbuatan sebesar itu.

Namun menyerahkan penghakiman kepada orang lain adalah hal yang berbeda. 

Seberkhianat apa pun, bagi Ayahanda dia tetaplah seorang putra. 

“Ada alasannya. Bagaimana nyawaku digunakan, itu akan kutentukan sendiri.” 

“Kamu berkhianat sesuka hati, lalu sesuka hati pula ingin diadili Ayahanda? Akan kusaksikan sampai akhir. Mati saja di sini, sekarang.” 

“...Aku menghargai perhatianmu. Aku tahu kamu ingin meringankan beban Ayahanda, dan aku juga tahu kamu tidak ingin aku menderita. Seperti dugaan, kamu memang baik hati dan cerdas. Jauh berbeda denganku.” 

“Kalau kamu mengerti...”

“Meski begitu... aku takkan lari ke jalan yang mudah. Aku tidak punya hak untuk itu.” 

Henrik berusaha melewatiku.

Aku refleks meraih lengannya. 

Lengannya terasa dingin secara tak wajar. 

“Kamu...” 

“Sampai akhir... maaf telah merepotkanmu, Kakak.” 

Henrik menepis tanganku dan melangkah menuju ruang takhta.

William menyusul di belakangnya. 

“Tekadnya sudah bulat. Kata-kata takkan lagi bisa menghentikannya... maafkan aku.” 

William bergumam demikian.

Dari nada itu saja sudah terasa bahwa dia telah mengerahkan seluruh bujuk rayunya. 

Para kesatria pengawal pun mengikuti William.

Aku hanya bisa menatap punggung mereka, tanpa mampu berbuat apa-apa.


Bagian 10

Ruang takhta.

Di sana berdiri Kaisar Johannes dan Kanselir Franz. 

“Sudah lama ya, Pangeran William... atau seharusnya kupanggil Raja Naga William?” 

“Sudah lama sekali, Paduka Kaisar.” 

“Sejak pemberontakan di ibu kota... saat itu aku pikir kita takkan pernah bertemu lagi.” 

“Saya pun... tidak menyangka bisa bertemu kembali.” 

Satu pihak adalah mereka yang terlibat dalam pemberontakan.

Pihak lainnya adalah mereka yang menjadi korban pemberontakan itu. 

Dalam situasi apa pun, posisi mereka membuat pertemuan kembali nyaris mustahil.

Namun takdir yang aneh mempertemukan mereka lagi.

Sebagai sesama penguasa. 

“Persatuan Kerajaan Egret menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas keterlibatan kami dalam konflik internal Kekaisaran kali ini. Semua itu adalah perbuatan raja sebelumnya. Mulai sekarang, demi masa depan yang cerah bagi kedua negara, kami berharap dapat saling bergandengan tangan.” 

“Terlambat... pemberontakan sudah berakhir, invasi ke Negara Bagian pun telah usai. Perang dengan Kerajaan Perlan juga akan segera memasuki gencatan senjata. Sekarang, apa keuntungan saling bergandengan tangan?” 

“Gencatan senjata dengan Kerajaan Perlan hanyalah sementara. Sekalipun masalah iblis terselesaikan, ambisi teritorial Kerajaan tidak akan sirna. Demi ambisi itu, mereka bahkan membuang simbolnya sendiri, Santa Leticia. Pertempuran pasti akan terulang. Saat itu terjadi, para Kesatria Naga kami akan menjaga langit Kekaisaran.” 

“Artinya kamu memutus aliansi dengan Kerajaan?” 

“Dalam rencana semula, saat kami menahan wilayah utara, pasukan Kerajaan seharusnya menembus perbatasan barat. Karena janji itu telah dilanggar, aliansi tersebut tidak lagi bermakna.” 

“Memang. Negara Bagian dan Persatuan Kerajaan telah menjalankan perannya. Saat Dewan Raja Bijak, ucapan Kaisar Suci itu tepat sasaran. Kalian memang tidak beruntung dengan sekutu kalian. Meski bisa juga dibilang, kalian yang salah memilih.” 

“Jika diberi kesempatan untuk menebus kesalahan itu, kami akan sangat berterima kasih.” 

Persatuan Kerajaan adalah negara kepulauan.

Dalam perang apa pun, mereka memiliki keunggulan untuk tetap netral. 

Selain itu, mereka memiliki kekuatan udara berupa banyak Kesatria Naga, negara yang sulit diserang, namun mampu menyerang ke mana pun mereka kehendaki.

Lebih baik menjadikannya sekutu daripada musuh. 

Jika dendam terhadap Negara Bagian bisa dilepaskan, maka dendam terhadap Persatuan Kerajaan pun bisa dilepaskan. 

Namun. 

“Apakah kesempatan menebus kesalahan itu diberikan atau tidak, tergantung pihakmu.” 

Sambil berkata demikian, Johannes mengalihkan pandangannya kepada putranya yang berdiri di belakang William. 

Menerima tatapan itu, Henrik berdiri dan melangkah maju seorang diri. 

“...Henrik menyampaikan salam kepada Ayahanda... Sudah lama tidak bertemu...”

“Lama tidak melihatmu... setelah mengkhianati negara ini, kamu masih berani menunjukkan wajahmu. Dari rangkaian peristiwa sejak pemberontakan itu... kamu tahu berapa banyak darah yang telah menggenang!?” 

“...Semuanya adalah tanggung jawabku yang bodoh ini.” 

“Benar sekali! Kamu yang selalu bersaing dengan Leonard, memandang rendah Arnold! Kamu seharusnya berdiri di garis depan melawan para pemberontak! Tidak seperti Zandra, kamu seharusnya menunjukkan sikap bahwa sebagai anggota keluarga kekaisaran, kamu akan mengabdi pada Kekaisaran! Namun apa yang kamu lakukan!? Dengan mudahnya kamu berpihak pada Gordon! Ke mana kamu buang harga dirimu sebagai keluarga kekaisaran!? Kamu dihormati lebih dari yang lain karena memikul tanggung jawab melindungi negara di saat genting! Kamu menikmati hak istimewa itu, lalu berkhianat ketika saat genting tiba! Kamu harus malu!” 

Johannes meluapkan emosi yang selama ini dipendamnya. 

Seandainya Gordon gugur di medan perang, seperti itu, mungkin dia masih bisa menerima.

Meski berseberangan, setidaknya ada satu keyakinan yang dipegang teguh. Itu cukup untuk meyakinkan dirinya sendiri. 

Namun ini berbeda, hanya terombang-ambing oleh keadaan, bahkan tidak mampu memilih mati. 

“Kamu melarikan diri dari ibu kota, melarikan diri dari medan perang, melarikan diri ke Persatuan Kerajaan... kamu hanya terus lari! Untuk apa kamu datang ke sini!? Apa kamu belum cukup membuatku kecewa!? Bukan dirimu yang kuinginkan! Bukankah sudah kusampaikan! Raja Persatuan Kerajaan! William! Aku akan melupakan semuanya, jadi bawalah istri Gordon dan putrinya ke sini!” 

Putri Gordon yang disembunyikan.

Cucu perempuan Kaisar Johannes. 

Johannes mengetahui keberadaan anak itu.

Itulah sebabnya dia tidak mengeluarkan perintah pengejaran saat William mundur. 

Pelarian itu sendiri sudah sulit. Jika pengejaran dilakukan, keberadaan sang anak kecil bisa saja tidak terlacak.

Semuanya demi cucu perempuannya. 

“Paduka Kaisar... putri Gordon akan dibesarkan oleh ibunya di negara kami. Kami berpendapat bahwa sebaiknya dia hidup tenang, tanpa diberi tahu apa pun tentang Gordon.” 

“Bukan kamu yang berhak memutuskannya! Darah keluarga kekaisaran adalah harta Kekaisaran! Terlebih lagi, dia adalah cucu pertamaku! Mustahil aku menyerahkannya pada negara lain!” 

“...Ayahanda.” 

Demi putri Gordon, Johannes bahkan sempat mempertimbangkan untuk mengampuni Henrik.

Henrik memang pengkhianat, namun bukan dalang utama. Dia hanyalah pengecut yang terseret arus keadaan. Dibiarkan pun, dia tidak akan menjadi ancaman. 

Satu-satunya kekhawatiran adalah jika dia meninggalkan keturunan, tetapi dengan pengawasan, hal itu masih bisa diatasi.

Yang lebih penting dari segalanya adalah putri Gordon.

Karena itulah, setelah menerima kabar itu lewat sepucuk surat, Henrik datang ke tempat ini.

Dia menyadari bahwa inilah saatnya menggunakan nyawanya. 

“Aku tidak pantas dipanggil Ayahanda olehmu!” 

“Tidak... izinkan aku memanggil Ayahanda...! Ayahanda! Mohon, gunakanlah kepalaku untuk menyelesaikan semuanya! Dunia belum mengetahui keberadaan putri Kak Gordon! Yang mengetahuinya hanya segelintir orang! Jika dia kembali ke Kekaisaran, penderitaan sebagai anak pemberontak sudah pasti menantinya! Demi dirinya, lebih baik dia hidup tanpa mengetahui apa pun di Persatuan Kerajaan!” 

“Tugas keluarga kekaisaran adalah meneruskan darah! Di generasi cucu, hanya anak itu yang ada! Selama tidak ada kandidat lain, siapa pun ayahnya, anak itu akan tetap berada di sisiku!” 

“Bukan sebagai Kaisar... melainkan sebagai seorang ayah! Sebagai seorang kakek! Mohon ambillah keputusan yang bijak! Jika dia dibesarkan sebagai anak pemberontak, kelak pasti akan muncul luka dan distorsi dalam dirinya! Demi masa depannya! Ayahanda masih memiliki banyak putra! Cucu-cucu lain akan lahir di kemudian hari! Mohon... lepaskanlah keponakanku!” 

Setelah mengucapkannya sampai tuntas, Henrik mengembuskan napas kasar.

Dan ketika dia sadar, darah telah mengalir dari mulutnya.

Indra tubuhnya hampir lenyap. 

Namun demikian.

Henrik tetap menatap ke depan. 

“Henrik... kamu...”

“...Aku tidak akan merepotkan Ayahanda lagi... Aku mengerti sepenuhnya dosa yang kuemban... aku menjatuhkan hukuman pada diriku sendiri...”

“Jangan bicara! Panggil tabib! Aku tidak akan membiarkanmu mati sesukamu!” 

“Aku belum mendengar jawabannya...! Selama nyawa ini masih ada, aku tidak akan beranjak dari sini! Aku memutuskan untuk menghabiskan nyawaku yang tidak berharga di sini! Mohon... abaikanlah keberadaan putri Kak Gordon...!”

“Kamu pikir aku akan bergerak hanya karena permohonan dengan taruhan nyawa!?” 

“Benar! Ayahanda berhati lembut! Bahkan terhadap putra yang berkhianat, jika melihatnya sekarat di depan mata, perasaan Ayahanda pasti terguncang! Aku mengerti semuanya...! Mohon dengarkan permohonan terakhir dari putra yang pengecut ini... darah ini terlalu berat... jika bisa tidak memikulnya... bukankah itu lebih baik... jika Ayahanda pun tidak sanggup melepaskannya... mohon tunggulah hingga dia berusia 16 tahun... sebagai ganti nyawaku ini... hingga dia dewasa... jika dia anak yang pantas menyandang nama Ardler... dia akan mampu melewati semuanya...”

Sambil memuntahkan darah, Henrik menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Di belakangnya, William pun ikut menunduk. 

“Saya pun mohon dengan sangat! Demi nama seorang sahabat! Saya bersumpah tidak akan memanfaatkannya! Tolong percayalah pada saya, yang bahkan bersedia terjun ke dalam perang berlumpur demi sahabat saya!” 

“...Mengapa sampai sejauh itu...? Apakah putri Gordon sepenting itu bagimu?” 

“...Dadaku terasa sakit... rasa sakit kehilangan keluarga... aku hanya bisa menyaksikan Kak Gordon menerjang ke depan... aku tidak bisa berlari bersamanya, hanya bisa melihatnya... rasa sakit saat itu tidak pernah hilang... dan rasa sakit itu telah kulimpahkan pada begitu banyak orang... aku meninggalkan banyak orang di medan perang, menjatuhkan mereka ke neraka... padahal mereka juga memiliki keluarga... karena itu... setidaknya aku harus melindungi keluarga... agar bisa menjadi diri yang dapat mereka banggakan...”


“Aku tidak bilang akan membunuhnya!” 

“Ada kalanya dibunuh justru lebih baik... jika ketahuan sebagai putri seorang pemberontak, nyawanya pun pasti akan terancam... lagipula... meski Ayahanda tidak berniat membunuhnya... orang lain belum tentu sama... akan ada yang memanfaatkannya, dan tidak sedikit pula yang ingin menghabisinya... menyembunyikan keberadaannya berarti melindunginya... dia tidak boleh tinggal di Kekaisaran... mohon ambillah keputusan itu...”

Sambil berkata demikian, Henrik tersenyum.

Dia tahu betul keputusan apa yang akan diambil oleh ayahnya yang berhati lembut itu. 

“...Baik. Gordon tidak memiliki seorang putri, dan istrinya telah wafat. Begitu?” 

“Terima kasih... dan... maafkan aku... aku tidak mampu membanggakan Ayahanda... namun, jangan risau... masih ada putra lain yang bisa membanggakan Ayahanda...”

Dengan kata-kata itu, Henrik perlahan memejamkan mata.

Lalu pandangannya menggelap.

Di sana, terbentang kegelapan yang terasa begitu menenangkan.


Bagian 11

Saat berikutnya aku melihat Henrik.

Dia sedang diangkut oleh para kesatria pengawal dengan wajah pucat kebiruan. 

“Apa yang terjadi!?” 

“Sepertinya beliau meminum racun atas kemauannya sendiri...”

“Dia masih bisa diselamatkan!?” 

“...Sudah tidak ada yang bisa dilakukan... racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh...”

Jawaban kesatria pengawal itu membuat jengkel.

Siapa pun bisa mengatakan “tidak ada yang bisa dilakukan”. Bukankah tugas kesatria pengawal justru untuk mengatasi situasi seperti ini? 

Cacian meluap di dalam hatiku, namun tidak keluar dari mulut.

Aku tahu itu hanyalah pelampiasan amarah semata. 

Saat itulah, Sebas menyapaku dengan suara tenang. 

“Racun yang diminumnya kemungkinan besar adalah ‘Racun Beku’.” 

Mendengar ucapan Sebas, aku hanya bisa mengangguk.

Racun Beku memang tidak seterkenal Anggur Kekaisaran, tetapi dikenal sebagai racun yang sangat mematikan. 

Begitu diminum, tubuh akan mendingin secara mengerikan, lalu perlahan-lahan mengalami gangguan dari dalam. Pada akhirnya, korban akan mati setelah menderita akibat gangguan tubuh dan rasa dingin yang menyiksa.

Racun itu akan terus bertahan di dalam tubuh sampai targetnya mati.

Jika ditangani sejak dini mungkin masih ada harapan, tetapi jika sudah menyebar sepenuhnya, tiada lagi yang bisa dilakukan. 

“Permisi. Kami mendapat perintah untuk membawanya ke ruang medis...” 

“...”

Henrik masih hidup. Namun, dia sudah menjadi seseorang yang hanya menunggu kematian. 

Sambil menatap tubuh Henrik yang dibawa pergi, aku bertanya dengan suara pelan. 

“Sebas... bisakah kamu menyelamatkan Henrik?” 

“Saya bukan tabib.” 

“Tapi kamu ahli membunuh, bukan?” 

“Begitu rupanya... sulit, tetapi patut dicoba. Namun, setelah membunuhnya, apa yang Anda rencanakan?” 

“Ada caranya. Pokoknya, aku serahkan padamu.” 

“Di sekelilingnya ada kesatria pengawal. Tanpa menyingkirkan mereka, mustahil untuk membunuhnya.” 

“Aku yang akan mengurusnya.” 

“Baik, saya mengerti.” 

Setelah berkata demikian, Sebas menghilang dari tempat itu.

Mungkin dia pergi untuk melakukan persiapan. 

Setelah mengantar kepergian Sebas dengan pandangan, aku pun menyusul Henrik.


* * *


Saat ini, Ayahanda pasti sedang merapatkan syarat-syarat perdamaian dengan William di ruang takhta.

Bagaimanapun juga, Persatuan Kerajaan adalah pihak yang kalah perang.

Mereka tidak punya pilihan selain menerima syarat-syarat yang menguntungkan Kekaisaran.

Itu tidak akan menjadi pertemuan yang terlalu sulit.

William sendiri pasti sudah siap sampai batas tertentu.

Karena itu, inilah kesempatannya, dan waktunya tidak panjang. 

“Yang Mulia Arnold...” 

“Henrik ada di dalam...?”

“Ya.” 

“...Biarkan kami berdua saja.” 

“Tapi...” 

“Sebodoh apa pun dia... dia itu tetap adikku. Di saat-saat terakhirnya, aku ingin mengantarnya dengan pujian.” 

Saat aku berkata demikian, kesatria pengawal itu mengangguk seolah tidak ada pilihan lain.

Kemudian para kesatria pengawal yang berada di dalam ruangan pun keluar. 

Dengan racun yang telah menyebar ke seluruh tubuhnya, tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Yang dilakukan para kesatria pengawal hanyalah mengawasi kapan kematian akan tiba.

Bukan pengobatan.

Itulah sebabnya mereka bersedia meninggalkan kami berdua saja. 

“Henrik...” 

Henrik yang terbaring di atas ranjang sudah seperti mayat.

Napasnya nyaris tidak terdengar, dan kesadarannya telah lenyap. 

“Meminum racun sendiri... itu tidak seperti dirimu.” 

Pasti dia telah belajar banyak.

Dari seorang keluarga kekaisaran yang naif, kini dia mampu melihat realitas dengan lebih nyata.

Itu seharusnya hal yang patut disyukuri, jika saja dia tidak sedang sekarat di atas ranjang. 

“Maaf saya terlambat.” 

“Mulai.” 

“Siap.” 

Sebas segera bergerak dengan cekatan.

Dia membuat Henrik menelan beberapa jenis obat, lalu menusukkan banyak jarum ke tubuhnya. 

Yang sedang dia lakukan adalah proses membunuh Henrik.

Lebih tepatnya, proses membuatnya berada dalam kondisi mati suri. 

Jika tidak mati, dia tidak akan bisa lolos dari cengkeraman Racun Beku.

Untuk menghindari kematian yang sesungguhnya, satu-satunya jalan adalah mati terlebih dahulu. 

“Apakah Anda yakin? Jika salah langkah, dia benar-benar akan mati.” 

“Kalau kamu ragu, biar aku yang melakukannya. Dibiarkan begitu saja pun dia akan mati.” 

“Ini pekerjaan yang sangat rumit. Biarlah saya yang melakukannya. Namun... meski dia terbangun kembali, tubuhnya akan berada dalam kondisi buruk.” 

“Aku sudah siap dengan semua itu.” 

Mendengar jawabanku, Sebas dengan tenang menusukkan jarum terakhir.

Tubuh Henrik tersentak sesaat, lalu kekuatannya menghilang sepenuhnya. 

“Sepertinya berhasil.” 

“Kalau begitu, pergilah. Mulai sekarang, giliranku berakting.” 

“Mohon pastikan tidak menimbulkan kecurigaan.” 

“Kamu bicara pada siapa?” 

Sebas tersenyum dan meninggalkan ruangan.

Kini, hanya aku dan Henrik yang tersisa. 

Aku memejamkan mata dengan pelan.

Rasanya terlalu menyedihkan untuk ditahan. Dadaku terasa sesak.

Aku membiarkan perasaanku bergerak, membuat diriku semakin rapuh. 

Tidak lama kemudian, air mata besar mulai mengalir dari mataku.

Aku mendekat ke sisi Henrik dan menggenggam tangannya. 

“Henriiiiikkkkkk!!!!!!!!” 

Aku berteriak keras, terisak tanpa bisa ditahan.

Para kesatria pengawal bergegas masuk ke ruangan.

Dan mereka pun segera memahami situasinya. 

“Yang Mulia...” 

“Tolong sembuhkan dia... kumohon...”

“Mohon maafkan kami...” 

Suara kesatria pengawal yang penuh penyesalan bergema di ruangan.

Di saat itu, aku bangkit berdiri dengan goyah. 

“Yang Mulia...?” 

“Aku akan... menyampaikannya pada Ayahanda...”

“Paduka Kaisar masih rapat.” 

“Aku tidak peduli!!” 

Aku menerobos larangan para kesatria pengawal dan berlari menuju ruang takhta.


* * *


Saat aku membuka pintu ruang takhta, di dalam ada Ayahanda, Kanselir, dan William.

Semua mata tertuju padaku. 

Di tengah tatapan itu, aku berbisik pelan. 

“Henrik telah meninggal... berapa banyak lagi anggota keluarga yang harus hilang sebelum ini berakhir?” 

Mendengar ucapanku, Ayahanda menatap ke atas dengan tenang.

Aku melangkah maju dan berdiri di hadapannya. 

“Bolehkah Ayahanda menjelaskan? Mengapa Henrik harus mati?” 

“...Karena dia berkhianat.” 

“Pasti ada alasan lain. Dia sengaja meminum racun dan datang menghadap Ayahanda. Itu berarti ada tujuan di balik tindakannya.” 

“...Raja William. Silakan lanjutkan pembahasan dengan Kanselir.” 

“Baik.” 

“Kuserahkan padamu, Franz.” 

“Siap.” 

Ayahanda menyuruh mereka berdua keluar.

Lalu... 

“...Sejauh apa yang kamu ketahui?” 

“Tidak ada apa-apa soal perkara ini. Hanya saja, kebetulan Sebas menyadari keberadaan kesatria pengawal di depan gerbang utama, sehingga kami tahu tentang kedatangan Henrik dan rombongannya.” 

“...Henrik mengajukan sebuah permintaan kepadaku. Ini adalah rahasia negara. Namun, berdasarkan kepercayaan pada jasa-jasamu selama ini, akan kuceritakan. Gordon memiliki seorang putri.” 

“...Berarti dia keponakanku?” 

“Cucuku, dan juga keponakan bagi Henrik.” 

Begitu rupanya.

Aku sudah bisa menebaknya. 

Alasan mengapa Henrik sampai datang ke sini. 

“Dia memohon agar anak itu dianggap tidak pernah ada, bukan?” 

“Aku berniat membawanya ke sisiku. Menitipkan darah kekaisaran pada negara lain adalah hal yang berbahaya. Di setiap zaman, para kaisar selalu mengambil keputusan itu. Namun, Henrik datang untuk menghentikannya dengan mempertaruhkan nyawanya. Dia membaca bahwa aku akan goyah oleh perasaan.” 

“Dan Ayahanda memang goyah?” 

“Aku goyah. Kamu mau tertawa?” 

“Jika hanya karena perasaan...” 

“Hmph... Kekaisaran saat ini berbahaya. Orang yang bisa dipercaya semakin sedikit. Apalagi jika kamu dan Traugott pergi ke Negara Bagian. Keluarga kekaisaran jelas sedang menjadi sasaran. Aku pun berpikir ulang bahwa bersiap menghadapi kemungkinan terburuk itu penting. Terutama setelah mendengar perkataan Henrik bahwa dia tidak bisa membiarkan anak itu tetap berada di Kekaisaran.” 

“Memisahkan darah? Sebagai cadangan jika sesuatu terjadi pada keluarga kekaisaran di dalam negeri?” 

“Peran itu seharusnya menjadi tugas Traugott. Namun, cadangan untuk cadangan pun tetap diperlukan.” 

Ini adalah cara berpikir yang berbeda dari para kaisar sebelumnya.

Selama ini, kaisar memikul tanggung jawab penuh untuk meneruskan darah kekaisaran di dalam negeri. 

Namun, dalam situasi sekarang, di mana serangan sudah jelas, bertindak seperti biasa justru berisiko dimusnahkan sekaligus.

Memisahkan garis darah berarti menyebar risiko.

Tentu saja, ada pula bahaya bahwa darah itu akan dimanfaatkan pihak lain. 

Namun, tidak ada pilihan yang hanya berisi keuntungan semata. 

“Berarti bujukan Henrik tidak sia-sia...” 

“Mungkin pikiranku memang sudah usang. Sampai Henrik mengatakannya, aku hanya memikirkan untuk membesarkannya di bawah pengawasanku. Menyerahkan darah pada negara lain terasa mustahil.” 

“Di masa damai, itu memang benar. Tapi sekarang sulit disebut damai. Lagipula, William adalah raja yang bisa dipercaya. Selama William masih berkuasa, takkan ada masalah.” 

“Sepertinya aku akan turun dari takhta lebih dulu sebelum William. Soal putri Gordon... kuserahkan padamu. Mau kamu sampaikan pada kaisar berikutnya atau tidak, terserah.” 

“Padaku?” 

“Ya. Karena itu... jangan sampai mati.” 

Dengan nada lelah, Ayahanda bangkit dari singgasananya.

Melihatnya, aku mengajukan satu permohonan. 

Permohonan yang sudah kutahu akan ditolak. 

“Pemakaman Henrik tidak bisa diadakan, bukan?” 

“Tidak mungkin.” 

“Kalau begitu... bolehkah urusan pemakamannya diserahkan padaku?” 

“Ya, kamu bisa mengurusnya.” 

Ayahanda pergi dari ruangan itu dengan senyum muram.

Melihat senyum itu, dadaku terasa sedikit perih. 

Dengan ini, Ayahanda telah kehilangan tiga putra dan satu putri.

Ditambah lagi, tiga selir juga telah tiada. 

Barangkali, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berduka. 

Justru karena itulah. 

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun kehilangan keluarga lagi.” 

Sambil berbisik pelan, aku meninggalkan ruang takhta.


Bagian 12

“...Di mana ini...?” 

Henrik terbangun di dalam sebuah gubuk kecil. 

“Tempat latihanku.” 

“Silver...? Kenapa kamu...? Lagipula, kenapa aku bisa...?”

“Kamu hampir mati, jadi kami membuatmu berada dalam keadaan mati suri dan menyingkirkan racunnya. Setelah itu, kamu dianggap sudah mati dan kami membawamu ke sini.” 

“Begitu... jadi aku gagal mati... apa ini perintah Ayahanda...?” 

“Tidak, ini keputusanku. Aku tidak ingin melihat ada keluarga yang mati lagi.” 

Sambil berkata demikian, aku melepas topeng perak di hadapan Henrik. 

Terkejut melihat wajah asli di balik topeng itu, Henrik pun akhirnya tersenyum. 

“...Begitu rupanya... jadi kamu menyembunyikan identitasmu... tidak kusangka ternyata kamu... Arnold...”

“Kamu boleh memanggilku Kakak.” 

“Hanya sekali seumur hidup... setelah ini aku takkan memanggilnya lagi...” 

“Begitukah. Yah, aku juga tidak terlalu berharap dipanggil begitu.” 

Sambil berbicara, aku membuka sebuah buku yang tergeletak di atas meja. 

Lalu... 

“Haduh, akhirnya bisa keluar juga. Sempit sekali di dalam sana, seperti biasa.” 

“Dulu kamu juga berpindah-pindah dengan cara begitu, bukan? Tahanlah sedikit, Kakek.” 

“A-Apa ini...? Orang kecil? Tidak, peri...?” 

“Mana mungkin ada peri seperti ini.” 

“Kurang ajar sekali. Biarkan aku memperkenalkan diriku, Pangeran Kesembilan Henrik. Aku Gustav Lakes Ardler, kakek buyut kalian.” 

“Kaisar Gila...? Kenapa...?”

Fakta demi fakta yang terungkap membuat Henrik tampak tidak mampu mengikutinya. 

Melihat itu, aku menjelaskannya secara singkat. 

“Dia yang mengajariku sihir. Dulu, yang mengamuk di ibu kota kekaisaran dan dibunuh oleh sang Pahlawan hanyalah iblis yang merasuki tubuhnya. Kesadarannya sendiri disegel di dalam buku ini. Karena itu, dia masih hidup.” 

“...Kepalaku mulai sakit... Kaisar Gila masih hidup, dia guru Silver, dan Silver itu Arnold...”

“Haduh... anak ini lambat sekali menangkapnya. Sepertinya butuh waktu untuk menjelaskannya.” 

“Kita tidak punya waktu. Jelaskan singkat saja.” 

Kami melanjutkan pembicaraan, meninggalkan Henrik yang bingung. 

Tidak tahan diabaikan, Henrik pun menyela. 

“T-Tunggu dulu... kalian sedang membicarakan apa...?” 

“Soal melatihmu.” 

“Melatihku...?” 

“Aku akan meninggalkan ibu kota. Tentu aku bisa kembali kapan saja, tapi untuk itu aku harus tahu situasi di sana. Terus terang, aku kekurangan orang. Jadilah mataku dan telingaku.” 

“Aku...? Jangan bercanda... mana mungkin orang sepertiku bisa membantu Silver...? Aku ini kegagalan di antara keluarga kekaisaran... aku benar-benar pangeran sisa... semua kelebihan keluarga kekaisaran sudah dibawa kakak-kakakku...”

“Meski begitu, kamu tetap keluarga kekaisaran. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan. Dan kamu ingin melindungi keponakanmu, bukan? Menyerahkannya pada orang lain lalu selesai begitu saja... itu egois. Lindungi sendiri.” 

Mendengar kata-kataku, Henrik menunduk. 

Tiada semangat dalam dirinya. 

Dulu, satu-satunya kelebihannya hanyalah rasa percaya diri kosong yang entah datang dari mana, tapi kini bahkan itu pun lenyap. Benar-benar kosong. 

“...Apa yang bisa kulakukan...? Di medan perang maupun intrik politik... aku tidak berguna... kamu pasti paling tahu soal itu...” 

“Itulah sebabnya aku bilang akan melatihmu. Kakek ini adalah instruktur kelas satu. Dia tidak sekadar membaca buku tanpa alasan.” 

“Walaupun dilatih, kemampuanku tetap terbatas... carilah orang lain... tidak harus aku, ‘kan...” 

“Kamu kira rahasia Silver ini murah? Yang tahu hanya Kakek, Sebas, lalu Fine dan Jack sang petualang peringkat SS. Kamu kami libatkan karena tidak ada pilihan lain. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu. Jadi, sebagai imbalannya, bantulah kami. Dengan segenap kemampuanmu.” 

“Aku tidak pernah meminta untuk diselamatkan! Di sanalah seharusnya hidupku digunakan! Sekarang kamu menyuruhku hidup bagaimana!? Aku tidak punya nilai apa pun!” 

“Nilai itu bukan sesuatu yang diberi, tapi sesuatu yang ditunjukkan. Jika sekarang kamu tidak punya nilai, asahlah dirimu dan buktikan. Dapatkan kekuatan untuk bertarung di medan perang. Dapatkan kecerdasan untuk bertahan dalam intrik politik. Memang, sebagai keluarga kekaisaran, kamu tidak punya keunggulan yang menonjol. Tapi justru karena itu, kamu seimbang. Apa pun bisa kamu lakukan, meski hanya sampai tingkat tertentu.” 

“Apa gunanya itu!? Artinya aku pasti selalu kalah dalam sesuatu!” 

“Kalau begitu, jadilah seseorang yang pasti unggul di suatu titik. Setidaknya, bahkan dirimu yang sekarang pun punya satu hal yang mengungguli aku dan Leo.” 

“Aku... punya keunggulan...?” 

“Ya. Target musuh adalah Kekaisaran dan keluarga kekaisaran. Perhatian mereka tertuju pada yang masih hidup. Karena itu, dirimu yang seharusnya sudah mati berada di luar pengawasan mereka. Artinya, kamu bisa bergerak bebas. Orang yang sudah mati justru lebih mudah bergerak di balik layar. Itulah keunggulanmu, dan alasan aku menjadikanmu rekan. Kamu sudah mati sekali. Putuskan hubungan dengan dirimu yang lama, dan jadilah dirimu yang baru. Aku menaruh harapan padamu.” 

Henrik yang sekarang hanya cangkang kosong.

Dia sudah siap menghadapi kematian, membakar nyala terakhir dalam hidupnya.

Jika tiba-tiba dikatakan bahwa dia sebenarnya masih hidup, wajar bila dia bingung. Dan jika disuruh berusaha sekali lagi, barangkali dia tidak akan sanggup. Namun, mau tidak mau dia harus berusaha. 

Kenyataannya, kami memang kekurangan personil. Dan hanya dengan memiliki satu orang keluarga kekaisaran sebagai sekutu, cakupan hal yang bisa dilakukan akan jauh lebih luas. 

“...Banyak orang yang menaruh harapan padaku... lalu kecewa... kamu pun mungkin akan begitu...?” 

“Mungkin saja. Tapi bisa jadi kamu justru orang pertama yang menunjukkan sesuatu yang melampaui harapan. Jangan meremehkan dirimu sendiri. Setidaknya, kamu sudah memengaruhi masa depan dua negara dan melindungi keluargamu. Itu saja sudah lebih dari cukup. Sebenarnya aku ingin membiarkanmu hidup tenang, tapi sayangnya dunia ini tidak tenang. Jadi, pinjamkan sedikit tenagamu, Henrik.” 

“...Aku tidak tahu... Aku sendiri paling tahu betapa tidak becusnya diriku... tapi kalau kamu tetap menginginkannya, aku akan bekerja sama.” 

“Itulah adikku.” 

Sambil berkata begitu, aku mengusap kepala Henrik.

Henrik menepis tanganku seolah menyuruh berhenti, tetapi rautnya kini jauh lebih bersemangat dibanding sebelumnya.

Mungkin karena dia akhirnya punya niat untuk bergerak.

“Lalu? Apa yang harus kulakukan?” 

“Berlatih di bawah bimbingan Kakek. Setelah itu, bergerak sesuai perintahnya. Tapi untuk sekarang, yang utama adalah memulihkan diri.” 

“Tidak ada waktu untuk pemulihan... sekarang juga aku...!?”

Henrik mencoba turun dari ranjang, namun kehilangan keseimbangan.

Sambil menopangnya, aku mengembalikannya ke atas tempat tidur. 

“Jangan memaksakan diri.” 

“Benar. Aslinya kamu sudah mati, tapi dipaksa hidup kembali.” 

“Apa maksudnya...?” 

“Racun Beku memang sudah hilang, tapi tubuh yang sudah rusak tidak akan kembali seperti semula. Suhu tubuhmu sekarang jauh lebih rendah dari batas normal manusia. Tubuhmu ditopang oleh alat sihir. Organ dalammu juga mengalami kerusakan parah, jadi untuk sementara akan dipulihkan dengan ramuan rahasia.” 

“Tubuhmu tidak akan pernah benar-benar pulih. Tanpa alat sihir dan ramuan rahasia, tubuhmu takkan bisa bergerak dengan layak. Begitulah keadaanmu sekarang.” 

“...Terus terang sekali bicaramu...”

“Apa lebih baik kalau berbelit-belit?” 

“Tidak... lebih baik bicara terus terang. Kalau memang tidak bisa, katakan saja tidak bisa. Aku terus membuat kesalahan karena tidak pernah diberi tahu begitu. Atau mungkin karena aku tidak mau mendengarkan?” 

“Kalau begitu, dengarkanlah perkataanku. Lagi pula, aku punya banyak alat sihir rahasia. Arnold jarang memakainya, jadi semuanya berdebu. Aku akan melatihmu sampai setidaknya bisa menghadapi kesatria pengawal istana.” 

“...Mohon bimbingannya. Paduka... maksudku, Guru.” 

“Hmm!” 

Entah karena senang kembali dihormati setelah sekian lama, Kakek pun membusungkan dada dengan bangga.

Ya ampun. Sulit dipercaya orang ini pernah menjadi kaisar. 

“Baiklah, Kakek, aku serahkan padamu.” 

“Tenang saja!” 

“Kamu akan pergi ke Negara Bagian?” 

“Tidak ada pilihan lain. Tapi sebelum itu, tergantung hasil operasi Guild Petualang. Akan bagus kalau semuanya selesai...”

“Tidak akan selesai. Kalau organisasi itu semudah itu ditangkap, sejak dulu pasti sudah musnah.” 

“Benar juga.” 

Mengangguk mendengar kata-kata Kakek, aku melangkah keluar dari gubuk. 

Di samping gubuk terbentang sebuah danau besar, dikelilingi hutan lebat.

Lebih jauh lagi, seluruh kawasan itu diselimuti penghalang penyamaran, menolak segala campur tangan dari luar. 

Saat melangkah lebih jauh, tampak sebuah cermin besar berdiri sendirian.

Itulah satu-satunya pintu masuk.

Hanya alat sihir itu yang bisa membawa seseorang ke ruang ini. 

Aku melangkah melewati cermin itu dan tiba di kamar Kakek yang berada di dalam istana. 

“Selamat datang kembali. Bagaimana hasilnya?” 

“Sangat baik. Bisa diserahkan sepenuhnya pada Kakek.” 

“Mendengar bahwa iblis mulai bergerak secara serius, beruntung Tuan Gustav bersedia bekerja sama.” 

“Dia sendiri juga pernah dipermainkan habis-habisan oleh iblis. Nanti akan kuberi balasan yang pantas, termasuk untuk hal itu.” 

Sambil berkata demikian, aku pun meninggalkan ruangan bersama Sebas.


Bagian 13

Perbatasan barat Kekaisaran.

Leo, yang memegang komando pasukan melawan Kerajaan Perlan, menerima seorang utusan dari ibu kota. 

“Gencatan senjata?” 

“Benar. Ini adalah keputusan Dewan Raja Bijak, jadi mohon segera tarik mundur pasukan di garis depan.” 

“Bagaimana jika pasukan Kerajaan tidak mematuhinya?” 

“Guild Petualang kemungkinan akan melancarkan serangan habis-habisan.” 

Mendengar kata-kata sang utusan, Leo mengangguk beberapa kali.

Lalu dia menyampaikan satu kata. 

“Dimengerti.” 

Setelah itu, Leo mempersilakan utusan tersebut pergi.

Dan kemudian... 

“Bagaimana menurutmu, Leticia?” 

“Maksudmu bagaimana langkah yang diambil Kerajaan nanti, Leo?” 

Leticia, yang menunggu di ruangan sebelah, mendekat ke sisi Leo yang sedang duduk di kursi sambil bertanya.

Saat Leo mengangguk, Leticia menjawab dengan nada tenang. 

“Seberapa keras pun sikap Yang Mulia Putra Mahkota, aku rasa mereka tidak akan berani menentang keputusan Dewan Raja Bijak. Itu sama saja dengan memusuhi seluruh benua.” 

“Kalau biasanya, mungkin begitu. Tapi sikap Kerajaan sejauh ini tidak normal. Padahal Negara Bagian dan Persatuan Kerajaan yang dulu sekutu mereka sudah menarik diri dari medan perang, mereka tetap menolak berdamai. Bahkan setelah pasukan garis depan mereka dikalahkan, rasa percaya diri dan sikap agresif itu tidak berubah. Dari mana datangnya keyakinan sebesar itu?” 

“Mungkin mereka berpikir masih bisa mengatasinya jika lawannya hanya Kekaisaran.” 

“Dan keterlibatan petualang peringkat SS benar-benar di luar dugaan mereka?” 

“Kemungkinan besar begitu.” 

Sambil mendengarkan pendapat Leticia, Leo menyilangkan lengannya dan tenggelam dalam pikiran.

Sebuah kartu truf yang membuat mereka yakin mampu menghadapi Kekaisaran, apa sebenarnya itu?

Perasaan tidak enak terus menggelayut, membuat Leo diliputi kecemasan. 

Leticia pun meletakkan tangannya di bahu Leo. 

“Aku mengerti kegelisahanmu. Tapi untuk saat ini, kita tidak punya pilihan selain mengikuti perintah.” 

“...Benar juga. Tarik mundur pasukan yang berada di garis depan. Setelah itu, kita mungkin akan dipanggil kembali ke ibu kota.” 

Leo menumpangkan tangannya di atas tangan Leticia yang ada di bahunya.

Selama menangani situasi di wilayah utara, Leo terus terpisah darinya.

Baru saja dia ditempatkan di front barat dan akhirnya bisa berada di dekat Leticia, situasi kembali berubah. 

“Tidak ada yang bisa dilakukan... kita sedang berperang.” 

“Aku berniat mengakhirinya secepat mungkin... maafkan aku.” 

“Itu bukan sesuatu yang perlu kamu sesali. Kamu berhasil meredam perang saudara di utara dan datang ke sini. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.” 

“Bagiku, itu belum cukup.” 

“Walaupun kamu bilang begitu... para pembelot dari Kerajaan masih terus bertambah. Untuk menyatukan mereka, aku harus tetap berada di sini...” 

“Memiliki posisi masing-masing di saat seperti ini benar-benar menyebalkan.” 

Sambil menghela napas panjang, Leo menarik tangan Leticia yang ada di bahunya ke arah dirinya.

Kehilangan keseimbangan, Leticia menjerit kecil dan terjatuh ke arah Leo.

Leo menangkapnya, dan tanpa sadar Leticia pun berada di atas pangkuannya. 

“A-Apa yang kamu lakukan...?” 

“Kalau aku pergi ke ibu kota, aku ingin membawamu pulang bersamaku.” 

“Jangan memaksakan hal yang mustahil...” 

“Aku sedih, tahu...” 

Leo kembali menghela napas panjang sambil memeluk Leticia erat-erat.

Beberapa saat pun berlalu begitu saja. 

Melihat sikap Leo, Leticia bergumam dengan nada jengah. 

“Terlalu banyak menuruti keinginan sendiri itu tidak baik, tahu?” 

“Bukannya ini cuma permintaan kecil?” 

“Kalau begitu, jika aku bilang aku kesepian, apa kamu akan tinggal?” 

“Kamu kesepian!? Kalau begitu tentu saja! Aku akan menulis surat pada Ayahanda, bilang bahwa Leticia kesepian, jadi aku akan tinggal!” 

“Jangan menulis hal memalukan seperti itu! Tetap tidak boleh! Tolong pergilah ke ibu kota!” 

“Yah...” 

“Mungkin ini bukan kata yang tepat untuk menenangkan... tapi Yang Mulia Putra Mahkota tidak akan menyerah. Cepat atau lambat, Kekaisaran dan Kerajaan pasti akan kembali berperang. Gencatan senjata ini hanyalah ketenangan sebelum badai.” 

“...Kapan semua ini akan berakhir, ya.” 

Leo bergumam pelan.

Pertempuran kian hari kian sengit. 

Saat dia terjun ke dalam perebutan takhta, dia sudah memantapkan tekad.

Namun, skala konflik terus membesar, hingga kini berkembang menjadi perang antarnegara besar. 

Kapan akan berakhir? Kapan bisa diakhiri?

Pertempuran tanpa akhir itu perlahan menguras Leo. 

“Suatu hari nanti akan berakhir. Perang adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari umat manusia. Manusia selalu berperang. Namun, tidak ada perang yang berlangsung selamanya. Jadi, suatu hari nanti pasti akan berakhir.” 

“Suatu hari, ya... kalau bisa, semoga secepatnya.” 

“Leo pasti bisa.” 

“Kalau kamu bilang begitu, rasanya aku memang bisa.” 

Sambil berkata demikian, Leo tersenyum.

Seolah menganggap pembicaraan sudah selesai, Leticia hendak turun dari pangkuannya, namun Leo tidak melepaskan tangannya. 

“Kenapa mau turun?” 

“Karena memalukan! Turunkan aku! Bagaimana kalau ada yang melihat kita!?” 

“Dilihat juga tidak apa-apa, ‘kan?” 

“Kamu tidak malu!?” 

“Tidak juga. Para kesatria pengawal pasti tahu diri dan tidak akan masuk. Benar begitu, Kapten Lambert?” 

Leo memanggil Lambert, Kapten Regu Keenam Kesatria Pengawal yang telah meraih banyak kesuksesan di wilayah utara dan ikut bersamanya ke front barat.

Dari balik pintu, terdengar sebuah suara. 

“Tentu saja. Kami tidak akan mengganggu kesenangan Yang Mulia.” 

Suara itu disertai tawa tipis.

Mendengarnya, wajah Leticia langsung memerah. 

Sambil menikmati reaksi Leticia, Leo pun memberikan perintah. 

“Perintahkan pasukan garis depan untuk mundur. Aku tidak bisa bergerak saat ini.” 

“Siap.”


“Baiklah, sekarang kita sudah punya waktu. Bagaimana kalau tetap seperti ini sedikit lebih lama?” 

Sambil menyeringai, Leo mengeratkan pelukannya pada Leticia.


* * *


“Tarik mundur pasukan garis depan. Kekaisaran juga akan mundur.” 

Setelah memberi perintah singkat kepada bawahannya, Putra Mahkota Lucian dari Kerajaan Perlan mengurung diri di kamarnya. 

Penyelidikan terhadap kerajaan oleh Dewan Raja Bijak benar-benar di luar dugaan.

Dia tidak punya pilihan selain mengubah rencana. 

“Para petualang peringkat SS akan turun tangan. Jangan harap aku akan membantumu, oke?” 

“Tentu saja, Yang Mulia. Jangan khawatir.” 

Lucian mengangguk mendengar suara yang memantul dari dinding. 

Apa yang bisa dilakukan sangatlah terbatas.

Di antara semua pilihan itu, langkah terbaik adalah tidak bergerak. 

“Kuserahkan semuanya padamu. Masih terlalu dini untuk berhadapan langsung dengan para petualang peringkat SS. Mengerti?” 

“Perintah diterima.” 

Suara dari dinding itu berasal dari sebuah bayangan.

Awalnya bayangan itu berbentuk manusia, namun perlahan berubah menjadi bayangan seekor burung sebelum keluar dari ruangan. 

Setelah mengantarkannya dengan pandangan, Lucian mengembuskan napas panjang. 

Lalu. 

“Pertarungan ini kita tunda dulu, Ardler.” 

Dia bergumam sambil menatap ke arah Kekaisaran.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close