NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V15 Chapter 3

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 3

Pahlawan vs No Name

Bagian 1

Hasil penelusuran ke tujuan teleportasi membawaku ke tengah hutan yang gelap.

Lokasinya di wilayah barat Kekaisaran, sebuah hutan yang dekat dengan perbatasan Kekaisaran Suci.

Di dalam hutan itu, berdiri sebuah pondok.

Tanpa ragu, aku pun masuk ke sana. 

“Ya ampun... kupikir tidak mungkin, tapi ternyata memang begitu.” 

Di dalam pondok itu.

Ada sosok berjubah hitam yang tadi.

Bersama dirinya, berdiri seseorang berpakaian serba putih tanpa noda sedikit pun, wajahnya tertutup topeng hitam.

Di tangannya tergenggam pedang sihir yang hitam legam mengerikan. 

“Silver...!? Kenapa kamu ada di sini...?”

“Itu justru kata-kataku. No Name.” 

Salah satu dari lima petualang peringkat SS yang ada di benua ini, No Name.

Dan dia berada di sini, bersama orang yang memanfaatkan Nigel untuk menebar kekacauan di Ibu Kota.

Maknanya hanya satu. 

“Bolehkah aku menganggap ini sebagai surat tantangan untukku?” 

“...”

“Bagaimana kalian bisa sampai ke tempat ini?” 

No Name terdiam.

Sebagai gantinya, sosok berjubah itulah yang membuka mulut. 

Yah, wajar saja jika itu terasa aneh. 

“Di Ibu Kota muncul seorang pengguna pedang sihir berbahaya, tapi menurutmu kenapa aku tidak bergerak? Karena aku sedang mencari dalang yang berada di belakangnya. Dalam urusan teleportasi, tidak ada seorang pun yang bisa menandingiku. Selama aku bisa mengamati prosesnya, pelacakan semacam ini mudah saja.” 

“Jadi... kamu mengawasi kami.” 

Bagi mereka yang mengandalkan alat sihir, teleportasi adalah teknologi yang penuh ketidakpastian.

Ucapan seseorang yang tidak bergantung pada alat sihir hanya bisa diterima sebagai sesuatu yang memang demikian adanya. 

Sosok berjubah itu tidak menanyakan apa pun lagi.

Tujuan mereka pun sebenarnya sudah bisa kutebak tanpa perlu bertanya. 

“Kalian berniat memberi makan Dis Pater dengan Mars untuk memperkuatnya?” 

“...Benar.” 

“Aku tahu kalian punya tujuan untuk melampaui Pedang Suci. Aku tidak menentangnya. Tapi kali ini sudah keterlaluan. Sedikit saja meleset, Ibu Kota bisa berubah menjadi lautan api.” 

No Name mendengarkan kata-kataku dengan tenang.

Dilihat dari sikapnya, sepertinya dia memang merasakan rasa bersalah.

Sebaliknya, sosok berjubah itu sama sekali tidak menunjukkan nuansa semacam itu. 

“Kami minta maaf karena telah mengusik wilayahmu. Namun, tidak ada kerusakan berarti. Bukannya itu sudah cukup?” 

“Menggelikan. Pelaku yang berkata seperti itu benar-benar membuatku tertawa. Jangan meremehkanku. No Name pendahulu.” 

Ucapan itu tidak disertai bukti apa pun.

Namun, aku yakin tebakanku tidak meleset. 

Wajah No Name yang pernah kulihat dulu terlalu muda.

Ciri-cirinya mirip vampir, tetapi dia tidak memiliki taring runcing khas vampir.

Kemungkinan besar dia keturunan campuran. Jika begitu, umur panjangnya tidak akan setara dengan vampir murni.

Meski begitu, dia tetap tampak muda. Dan lagi, itu tidak sejalan dengan penilaian Kakek Egor.

Artinya, No Name yang sekarang dan No Name di masa lalu adalah orang yang berbeda.

Itulah kesimpulan yang paling masuk akal.

Dan jika sosok berjubah itu adalah No Name terdahulu, maka keahlian pedangnya pun bisa dimengerti. 

“...Kamu datang ke sini dengan mengetahui semuanya.” 

Sambil berkata demikian, sosok berjubah itu menyingkap wajahnya.

Yang muncul adalah seorang wanita tua berambut perak.

Mata merahnya menatap lurus ke arahku, memantulkan warna niat membunuh. 

“Petualang SS terbaru, Silver. Aku meremehkanmu. Instingku mengatakan bahwa membungkam mulutmu di sini akan lebih menguntungkan.” 

“Begitu ya. Itu juga menguntungkan bagiku. Sejak awal aku memang datang dengan niat untuk bertarung.” 

Sejenak, keheningan menyelimuti tempat itu.

Detik berikutnya. 

Penghalangku dan tebasan pedang No Name pendahulu saling bertabrakan, gelombang kejutnya menyebar ke segala arah, dan pondok itu pun hancur terhempas. 

No Name pendahulu tampak terkejut oleh kekuatan penghalangku.

Namun.

“Sepertinya memang tidak cukup kalau hanya pedang biasa.” 

Dengan tenang dia berpindah tangan, menggenggam Mars, lalu menghadapiku dengan postur alami.

Dia tidak mengambil jarak, mungkin karena melawan penyihir, pertempuran jarak dekat adalah pilihan utama.

Alasan dia tidak langsung menggunakan Mars sejak awal adalah karena dia tidak ingin kehilangan, walau sedikit pun, mangsa bagi Dis Pater. 

Namun, pemikiran itu segera dia ubah. 

“Penyihir sekelasmu tampaknya bisa menjadi pengganti Mars.” 

“Kalau bisa, cobalah. Entah mimpi lintas berapa generasi itu, akan kuhancurkan bersama mimpi besarmu.” 

Dalam sekejap, tidak terhitung bola cahaya melayang di sekelilingku.

Bertarung jarak dekat dengan No Name pendahulu mungkin saja, tetapi masalahnya adalah No Name yang sekarang.

Dia tidak menunjukkan semangat bertarung sebesar pendahulunya. Bahkan cenderung pasif.

Namun, dia juga tidak berniat menghentikan pertarungan. 

Kalau begitu, dia harus dianggap sebagai musuh.

Dalam kondisi seperti itu, aku tidak bisa bertarung jarak dekat dengan santai.

Jika mereka ingin membungkamku, aku pun ingin membereskan dua orang yang bergerak diam-diam di balik layar ini. 

Soal kejadian kali ini, masih bisa kutoleransi.

Karena masih sejalan dengan tujuan membesarkan Dis Pater. Tentu saja, jika kerusakannya lebih besar, aku tidak akan tinggal diam, tetapi dengan tingkat kerusakan seperti sekarang, menutup mata masih bisa diterima.

Namun, membiarkan Raphael lolos tidak bisa kuterima.

Di tengah perebutan takhta, aku tidak bisa membiarkan mereka bergerak diam-diam. Terlebih lagi jika mereka menolong seseorang seperti Raphael, yang tidak jelas berada di pihak mana. Itu hanya akan mengaburkan gambaran keseluruhan.

Mereka seharusnya dibungkam di sini, jika memang siap bertarung. 

“Kamu akan menghancurkan harapan lama kami? Pernyataan yang cukup percaya diri.” 

“Menurutku, yang lebih percaya diri adalah memperlakukanku sebagai umpan.” 

No Name pendahulu hendak mengayunkan Mars.

Namun sebelum itu terjadi, bola-bola cahaya milikku menyerangnya. 

Meski begitu, itu bukan lawan yang bisa dijatuhkan dengan cara seperti itu.

Aku mengambil sedikit jarak dan bersiap menghadapi pertarungan dengan No Name pendahulu.

Untuk benar-benar menjatuhkan lawan di level itu, mau tidak mau dibutuhkan sihir tingkat tinggi. 

Bagaimana cara menciptakan celah untuk itu?

Saat aku tengah memikirkan langkah-langkahnya...

“Pertarungan itu, tunggu sebentar. Biar aku yang menangani.” 

Seorang penyusup tidak terduga pun muncul.


Bagian 2

Penyusup yang tidak terduga itu...

Seseorang yang seharusnya tidak berada di sini. 

“Apa sebenarnya maksudmu? Lienares.” 

“Seperti yang kamu lihat. Aku datang untuk menjadi penengah.” 

Penyusup itu adalah Lienares, seorang petualang peringkat SS.

Pada dasarnya, Lienares hampir tidak pernah keluar dari wilayah titik singularitas. 

Bukan hanya karena Linares bergerak, tetapi juga karena dia bisa muncul di tempat ini, tepat pada waktu seperti ini, itu sendiri sudah aneh. 

“Penengah? Lalu, apa hubunganmu dengan dua orang ini?” 

“Tidak ada hubungannya... No Name generasi sekarang dan aku adalah guru dan murid. Tempat ini dulunya adalah lokasi latihan kami. Sebuah pondok yang penuh kenangan, dan sekarang kalian malah menghancurkannya.” 

Sambil menatap pondok yang hancur, Lienares menghela napas.

Aku belum pernah mendengar bahwa Lienares dan No Name yang sekarang memiliki hubungan guru-murid. 

“Kamu dan No Name adalah guru dan murid? Kalau begitu, berarti kamu juga sekutu mereka?” 

“Kurang ajar. Aku tidak pernah membuang harga diri sebagai seorang petualang. Tentu saja aku juga tidak pernah mendidik muridku untuk mengutamakan penguatan senjatanya sendiri di atas keselamatan rakyat.” 

Lienares mengalihkan pandangannya ke No Name generasi sekarang.

No Name menundukkan wajahnya dengan tenang.

Seolah merasa tidak pantas untuk menatapnya. 

“Kalau begitu, tidak ada alasan bagiku untuk menghentikan ini, bukan?” 

“Kamu menyuruhku membiarkan para petualang SS saling bertarung? Perlu kuingatkan, ini wilayah Kekaisaran Suci. Sekalipun mereka menyerang lebih dulu, jika kamu menimbulkan masalah di wilayah ini, kamu pun akan dianggap bersalah.” 

“Jadi kamu ingin aku membiarkan mereka lolos? Rencana mereka jelas-jelas untuk menjerumuskan Ibu Kota ke dalam kekacauan. Mereka berniat merebut Mars dan bahkan menjadikan beberapa Kapten Kesatria Pengawal sebagai umpan.” 

“Serahkan penanganannya pada Guild. Lagi pula... apa kamu benar-benar tahu rencana mereka? Bukannya ini mungkin keputusan sepihak sang pendahulu?” 

No Name tidak mengatakan apa pun.

Cara bicara Lienares seolah tidak mencurigai No Name.

Namun. 

“Yang memegang Dis Pater adalah muridmu. Dan jika tidak ada yang menghalangi, mereka akan menggunakan Mars sebagai umpan. Itu berarti tetap bersalah.” 

“Aku mengerti amarahmu karena wilayahmu diinjak-injak. Tapi bisakah kamu sedikit lebih tenang? Pada akhirnya, kerusakan berhasil ditekan seminimal mungkin. Alasannya terlalu lemah untuk membuat para petualang SS bertarung habis-habisan.” 

Aku hendak membantah kata-kata Lienares, tetapi akhirnya menutup mulut.

Benar seperti yang dia katakan, tindakan No Name tidak dapat dibenarkan bagi seorang petualang SS. Namun, itu belum cukup kuat untuk dijadikan alasan meratakan tempat ini dengan tanah.

Kekaisaran mungkin akan berpihak padaku karena Ibu Kota terancam, tetapi Kekaisaran Suci akan membela No Name.

Dan saat itu, pertanyaan yang pasti muncul adalah, mengapa aku tidak menyerahkannya pada keputusan Guild? 

“...Dengan apa kamu berniat menengahi ini?” 

“Untuk saat ini, tolong hormati aku dan hindari pertarungan. No Name pendahulu, serahkan pedang sihir itu. Itu adalah benda yang kamu peroleh dengan membahayakan rakyat. Jika kamu masih memiliki harga diri sebagai mantan petualang, kamu seharusnya bisa menyerahkannya.” 

Mendengar kata-kata Lienares, No Name pendahulu berpikir sejenak, lalu melemparkan Mars ke arah Lienares. 

“Bukan karena harga diri sebagai mantan petualang, melainkan karena utang budi padamu, aku akan mundur untuk kali ini.” 

“Aku lebih berharap itu karena harga diri, bukan karena utang budi. Aku paham perasaan tergesa-gesamu, tapi kamu tidak boleh salah jalan.” 

“Tidak perlu ceramah. Bagi kami, yang terpenting adalah mewujudkan hasrat lama kami.” 

“Jangan libatkan muridku.” 

“Sebelum menjadi muridmu, dia adalah bagian dari klan kami.” 

Sambil berkata demikian, No Name pendahulu membawa pergi No Name generasi sekarang dan meninggalkan tempat itu.

Aku membiarkan mereka pergi.

Karena Lienares memperlihatkan niat bertarung seolah berkata bahwa jika aku bertindak, dialah yang akan menjadi lawanku. 

“...Aku sudah menghormati wajahmu, tapi tidakkah kamu pikir ini penengahan yang sama sekali tidak memberiku keuntungan?” 

“Aku tahu. Mari kita bicarakan ini di markas besar Guild. Kurasa aku juga bisa memberimu imbalan yang akan kamu sukai.” 

Lienares berkata demikian sambil mengangkat bahu.

Itu artinya, dia menyuruhku membuka gerbang teleportasi menuju markas besar Guild. 

Sambil berpikir bahwa dia benar-benar orang yang tidak tahu sungkan, aku pun membuka gerbang teleportasi.


* * *


Ruang Guildmaster di markas besar Guild.

Saat aku dan Lienares berteleportasi ke sana, Clyde menyemburkan teh merah yang sedang diminumnya. 

“Khoff khoff...!”

“Jijik sekali.” 

“Maaf mengganggu di saat sibuk.” 

“...Kalau memang merasa begitu, masuklah lewat pintu. Atau setidaknya kirim kabar sebelum datang.” 

Clyde mengatakan sesuatu yang sepenuhnya masuk akal.

Tentu saja itu yang ideal, tetapi kalau sudah ada urusan, biasanya selalu mendadak. Tidak ada waktu untuk menghubungi lebih dulu, dan masuk lewat pintu pun mustahil. 

“Sudahlah, sudahlah. Anggap saja ini imbalan karena aku mencegah bentrokan antara Silver dan No Name.” 

“Apa? Apa maksudmu?” 

“No Name bekerja sama dengan pendahulunya, lalu menyusupkan seorang pengguna pedang sihir yang sangat kuat ke Ibu Kota. Tujuannya untuk memancing bentrokan dengan Kesatria Pengawal dan merebut pedang sihir itu. Bahkan, mungkin saja mereka berniat menjadikan para Kesatria Pengawal sebagai umpan bagi Dis Pater.” 

“...Korban?” 

“Seorang pendekar tewas di Ibu Kota. Selain itu, paling hanya Komandan dan Wakil Komandan Kesatria Pengawal yang kelelahan.” 

“Benar-benar ajaib...” 

“Pedang sihirnya sudah kami amankan. Pedang sihir kuno, kelas barang antik tingkat tinggi. Kurasa satu golongan dengan Dis Pater. Pastikan kamu mengelolanya dengan ketat.” 

Sambil berkata demikian, Lienares meletakkan Dewa Api Mars di atas meja, lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

Aku pun duduk di hadapannya, menunggu Lienares mulai berbicara. 

Clyde mengerutkan wajahnya melihat kami bertahan di sana, tetapi keputusan ini diambil oleh Lienares.

Aku tidak punya pilihan. 

“Baiklah, sebaiknya mulai dari mana ya?” 

“Sejauh apa kamu berniat menjelaskannya, Liena?” 

“Semuanya. Kalau kamu sudah tahu soal No Name pendahulu, lebih cepat kalau kita bahas tuntas.” 

Sepertinya Clyde memang sudah mengetahui tentang No Name pendahulu.

Yah, kalau Lienares tahu, sebagai Guildmaster tentu wajar bila dia juga tahu. 

Lienares menatap langit-langit sejenak dengan tenang, lalu membuka mulut. 

“Lima ratus tahun yang lalu, ada seorang pendekar pedang yang bersaing dengan Armsberg, Pahlawan Pertama. Dialah leluhur No Name. Pendekar itu mencatatkan prestasi besar melawan para iblis, sampai-sampai disejajarkan dengan sang Pahlawan. Namun namanya tidak pernah tercatat dalam sejarah. Karena dia percaya bahwa dengan Pedang Suci, dialah yang bisa membunuh Raja Iblis, lalu menantang sang Pahlawan. Akibatnya, dia dicap sebagai musuh umat manusia.”


Bagian 3

“Jadi benang merahnya sudah terjalin sejak lima ratus tahun lalu... Karena tidak bisa meninggalkan nama dalam sejarah, maka disebut No Name. Upaya melampaui Pedang Suci yang dipertaruhkan oleh seluruh klan rupanya berawal dari sana.” 

“Benar. Tapi rencana untuk mendekatkan Dis Pater ke Pedang Suci bukanlah gagasan No Name.” 

“Apa?” 

Asal-usulnya adalah keyakinan itu, asal memiliki Pedang Suci. Dengan pemikiran tersebut, dia menantang sang Pahlawan.

Bagi umat manusia yang terdesak oleh gempuran Pasukan Raja Iblis, Pahlawan adalah harapan.

Menantang Pahlawan sama artinya dengan menantang umat manusia itu sendiri.

Karena itulah namanya dihapus dari sejarah.

Sejak saat itu, mereka berusaha melampaui Pedang Suci demi menandingi sang Pahlawan. 

Jika bukan alur cerita seperti itu, maka persoalannya menjadi jauh lebih rumit.

Artinya, ada kehendak pihak ketiga yang ikut campur. 

“Rencana Dis Pater. Rencana untuk menciptakan pedang sihir yang melampaui Pedang Suci dengan memanfaatkan pedang sihir yang dapat tumbuh, Dis Pater, yang pertama kali menggagasnya adalah seorang pria yang bertarung sebagai anggota tim Pahlawan lima ratus tahun yang lalu. Namanya Anaclet Lienares. Kakekku.” 

Sesaat aku kesulitan mencerna limpahan informasi itu.

Anaclet. Aku tahu nama itu.

Penyihir dari tim Pahlawan yang bertarung bersama Pahlawan Armsberg pertama, dan setelah perang menjadi Guildmaster Guild Petualang, tokoh pendiri kembali Guild Petualang.

Dialah yang membentuk wujud petualang seperti sekarang.

Tidak diragukan lagi, sosok dari lima ratus tahun lalu. Dan dia kakeknya? 

“Anaclet adalah orang yang menyaksikan kekuatan Raja Iblis dari jarak dekat. Karena itu, dia bersiap secara berlebihan terhadap kemungkinan invasi iblis berikutnya. Ketika Pahlawan memilih untuk mewariskan darah dan Pedang Suci, Anaclet memilih dua hal: memperpanjang usia dan melindungi kekuatan tempur lainnya. Perlindungan kekuatan tempur terwujud dalam bentuk petualang peringkat SS, dan perpanjangan usia pun berhasil.” 

Zaman sihir kuno.

Dari literatur yang ada, usia manusia saat itu tampaknya lebih panjang daripada sekarang.

Jika demikian, memperpanjang usia manusia seharusnya mungkin.

Namun, tetap saja ada batasnya. 

“Dengan terus menempuh segala cara perpanjangan usia, Anaclet dan putranya yang baru lahir hidup lebih dari tiga ratus tahun. Metode yang akhirnya mereka capai adalah terus berada lebih dari setengah hari di dalam penghalang khusus yang dipasang di titik singularitas. Namun, bagi Anaclet, itu adalah kegagalan. Yang dia inginkan adalah mempertahankan kekuatan di masa puncak. Tapi bertentangan dengan harapannya, kekuatannya justru perlahan menurun. Karena itu, Anaclet mengubah haluan, ke arah yang sama dengan Pahlawan.” 

“Mewariskan kekuatan pada generasi berikutnya, ya. Tapi sulit dipercaya. Seorang manusia yang hidup tiga ratus tahun masih memiliki kemampuan reproduksi?” 

Kemampuan reproduksi adalah naluri spesies.

Jika perpanjangan usia berhasil, naluri itu menjadi tidak diperlukan.

Naluri yang tidak lagi diperlukan biasanya mengalami kemunduran. 

“Bagi Anaclet pun itu sebuah pertaruhan. Tapi percobaannya berhasil. Putranya mencintai seorang wanita, dan dari mereka lahirlah seorang anak. Keajaiban cinta yang indah, itulah aku.” 

“Jangan bilang begitu tentang dirimu sendiri.” 

“Itu fakta. Pada akhirnya, kedua metode Anaclet berhasil. Aku memang bukan penyihir, tapi aku menjadi petualang peringkat SS, dan sistem petualang SS di Guild juga berfungsi. Namun, tidak semuanya berakhir baik.” 

Lienares menghela napas pelan.

Anaclet mengambil dua kebijakan.

Perpanjangan usia pada akhirnya melahirkan Lienares, itu bisa disebut keberhasilan. Setidaknya, tidak sia-sia.

Kebijakan lainnya adalah perlindungan kekuatan tempur lain.

Sistem petualang SS memang cocok untuk melindungi mereka yang “di luar nalar”.

Namun, pada titik lima ratus tahun lalu, yang paling di luar nalar itu adalah... 

“Anaclet memberikan Dis Pater kepada leluhur No Name, yang hidup teraniaya sebagai ‘musuh umat manusia’. Dia memberi mereka tujuan, suatu hari melampaui Pedang Suci. Karena dia berpikir bakat itu akan dibutuhkan ketika invasi iblis kembali terjadi. Dan sekaligus sebagai asuransi jika suatu saat Pedang Suci tidak bisa digunakan.” 

“Tidak mengandalkan satu jenius dan satu senjata saja, ya... Mahapenyihir Anaclet. Dia salah satu penyihir yang kukagumi.” 

“Buang saja kekaguman itu. Dia adalah pria yang takut pada invasi iblis berikutnya dan melakukan segala hal yang bisa dia lakukan. Banyak tindakannya tidak manusiawi. Mungkin saat itu masih ditoleransi. Dengan dalih ‘demi umat manusia’, apa pun bisa dilakukan. Puncak dari kegelapan itu adalah No Name sekarang.” 

Memberi “tujuan hidup” terdengar indah, tetapi pada akhirnya itu hanyalah pemanfaatan.

Selama lima ratus tahun, klan No Name terbelenggu olehnya, itu nyaris seperti kutukan. 

“Klan No Name yang terus memperkuat Dis Pater demi melampaui Pedang Suci, pada akhirnya mulai memperkuat darah mereka sendiri. Mereka menyerap berbagai garis keturunan, seperti keluarga kekaisaran di Kekaisaran Suci.” 

“Jadi benar...” 

“Alasan No Name generasi sekarang datang kepadaku saat masih kecil juga bagian dari itu. Mereka menginginkan darahku. Mereka mencoba menumbuhkan keterikatan.” 

“...Kenapa tidak kamu hentikan?” 

Lienares menunjukkan rasa muak yang jelas.

Wajar saja. Dia menyebut dirinya keajaiban cinta yang indah.

Dia bangga dilahirkan oleh cinta.

Bagi Lienares seperti itu, klan No Name yang mengirim seorang anak hanya demi darah tentu tidak bisa diterima. 

“Kamu pikir aku punya hak untuk menghentikannya? Aku cucu Anaclet. Bisa dibilang, aku bagian dari sumber masalah.” 

“Kalau begitu, Guild? Apa yang mereka lakukan?” 

“Sayangnya, Guild juga terikat oleh wasiat Anaclet. Rinciannya tidak pernah diwariskan, tapi kepada setiap Guildmaster selalu disampaikan satu kalimat: berikan dukungan semaksimal mungkin kepada pemilik Dis Pater. Karena itu Guild jadi serba salah menghadapi No Name.” 

“Konyol... Jadi selama ini kalian melindungi dan menyembunyikan No Name? Dan kamu mau bilang tidak masalah jika rakyat dipertaruhkan demi memperkuat Dis Pater?”

Demi rakyat. Jika hal ini dianggap remeh, maka keberadaan guild itu sendiri akan kehilangan maknanya. 

“Selama ini, para No Name masih menjaga batas minimum. Demi rakyat, mereka tidak pernah melampaui prinsip dasar itu. Yang mulai kehilangan kendali adalah generasi sebelumnya. Lebih tepatnya, sejak enam tahun yang lalu.” 

“Enam tahun yang lalu? Apa yang sebenarnya terjadi?” 

“Anak ajaib dari Keluarga Pahlawan. Elna von Armsberg memanggil Pedang Suci saat usianya baru 12 tahun. Kebangkitan kembali sang Pahlawan. Lawan yang sempurna untuk menuntaskan dendam lama, sekaligus cukup untuk menilai bahwa darah mereka belum melemah. Sejak saat itu, No Name generasi sebelumnya mulai diliputi kegelisahan... dan orang tua No Name generasi sekarang, yang tidak tega melihatnya seperti itu, menjadikan diri mereka sendiri sebagai makanan bagi Dis Pater. Sejak saat itu... tidak ada seorang pun yang bisa berhenti lagi.” 

Nama Elna yang muncul di luar dugaan membuatku tidak mampu berkata apa-apa. 

Ini sama sekali bukan salah Elna. 

Namun, kekuatan yang terlalu besar tanpa disengaja telah memicu tragedi. 

“Sejak saat itu, No Name generasi sebelumnya tidak lagi peduli pada penampilan atau cara. Dia mengangkat generasi sekarang sebagai penggantinya, dan mencurahkan seluruh tenaganya untuk memperkuat Dis Pater. Semuanya demi satu tujuan, pertarungan penentuan melawan Elna von Armsberg.” 

“...Bahkan ketika keberadaan iblis telah dikonfirmasi, apakah itu tetap tidak berubah? Jika mereka bentrok sekarang, yang diuntungkan hanyalah iblis.” 

“Cara sudah berubah menjadi tujuan. Awalnya ini adalah pertarungan untuk merebut kembali nama mereka, tapi kini tujuan itu bergeser menjadi melampaui sang Pahlawan dan Pedang Suci. Bahkan jika harus kembali menjadi musuh umat manusia, mereka pasti akan menyongsong duel itu sebagai cita-cita turun-temurun keluarga mereka.” 

“Masalahnya, No Name adalah kekuatan militer umat manusia. Bahkan jika ditaklukkan oleh petualang peringkat SS, tidak mungkin tanpa kerugian. Meski ditahan oleh beberapa orang, itu berarti tidak bisa menangani hal lain. Apa pun yang dilakukan, dari sudut pandang umat manusia ini tetap kerugian.” 

Sambil berkata demikian, Clyde memegangi kepalanya. 

Seandainya sudah pasti iblis tidak akan muncul lagi, mungkin mereka bisa bergerak bebas. Namun kemungkinan kemunculan iblis kembali masih sangat besar. 

Karena itu. 

“Sebagai Guild Petualang, sampai ancaman iblis benar-benar menjauh, kami tidak akan mengambil tindakan aktif terhadap No Name. Selama mereka tidak dibiarkan bertarung dengan Elna von Armsberg, itu sudah cukup. Dan yang paling ideal adalah, mereka saling menghabisi dengan iblis.” 

“Begitu ya... dan kamu pikir aku dan Kekaisaran akan menerima itu begitu saja?” 

Aku mengerti cara berpikirnya. Aku juga memahami latar belakangnya. 

Aku paham bahwa kisah keluarga No Name adalah tragedi, dan bahwa menghentikan mereka bukan perkara mudah. 

Namun, itu bukan alasan bagiku untuk berdiam diri. 

“Aku tidak bilang aku ingin membiarkannya lolos tanpa apa pun. Aku sendiri akan memperingatkan No Name. Seberapa pun generasi sebelumnya kehilangan kendali, No Name generasi sekarang adalah muridku. Dia pasti mau mendengarkan.” 

Sambil berkata demikian, Lienares berdiri dari sofa. 

Lalu dia meletakkan tangannya pada dinding di belakang Clyde. 

Sebagian dinding itu pun terbuka, menampakkan sebuah kotak kecil. 

Lienares menyerahkannya kepadaku. 

“Ini...?” 

“Salah satu dari Empat Relik Pusaka, Cincin Suci – Kabut Panas Vesta. Dulu digunakan Anaclet. Aku memberikannya padamu. Jadi, untuk kali ini saja, mundurlah.” 

Saat kotak itu kubuka, di dalamnya terbaring sebuah cincin berkilau. 

Inti dari masalah ini adalah apakah aku akan diam saja atau melaporkannya pada Kekaisaran. 

Jika aku tutup mulut, semuanya bisa diatur. 

Dan sebagai bahan tawar-menawar untuk itu, mereka sampai mengeluarkan Empat Relik Pusaka. Bergantung pada cara penggunaan dan siapa pemiliknya, benda ini bahkan bisa mengubah negara kecil menjadi negara kuat. 

Aku benar-benar tidak menyangka sejauh ini.


Bagian 4

Ini urusan orang dewasa.

Pembicaraan yang menyingkirkan emosi. 

Meski begitu.

“Dikira aku bisa diyakinkan hanya dengan harta berharga begini, rasanya menyebalkan.” 

“Silver.” 

“Aku bisa mengerti. Kamu berniat memberiku Empat Relik Pusaka, memperkuatku, lalu memperingatkan No Name, bukan? Generasi sebelumnya terlepas dulu, tapi generasi sekarang pasti akan mendengarkan nasihatmu. Untuk sementara mereka mungkin tidak akan menyentuh Kekaisaran. Itu bisa kupahami.” 

“Kalau begitu, seharusnya kamu menerimanya.” 

“Karena tidak menyentuh Kekaisaran, maka semuanya beres. Jika aku orang Kekaisaran, mungkin aku akan mengangguk setuju. Tapi aku ini petualang. Demi rakyat. Aku selalu berpegang pada prinsip dasar itu. Sekarang, aku tidak bisa begitu saja menginjak-injaknya.” 

“Jadi kamu mau bilang aku tidak merasa bangga pada prinsip dasar itu?” 

“Aku tidak mengatakan begitu. Aku paham ini adalah jalan terpaksa. Tapi aku tidak berniat bekerja sama dengan solusi tambal sulam yang tidak punya masa depan.” 

Lienares juga seorang petualang. 

Dia tentu tidak berpikir membiarkan No Name begitu saja adalah hal yang benar. Terutama generasi sebelumnya. 

Namun, generasi sekarang berada di bawah campur tangan generasi sebelumnya. Jika sesuatu terjadi pada generasi lama itu, generasi sekarang pasti akan melawan. 

Lagipula, generasi sebelumnya sendiri adalah mantan petualang peringkat SS. Terlalu besar untuk disingkirkan. 

Mempertahankan status quo adalah jalan yang paling aman. Sebuah kebijakan stabil. 

Namun. 

“Aku paham perasaanmu yang menyayangi muridmu. Aku juga paham bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menggunakan kekuatan. Tapi menunggu kesempatan yang mungkin saja tidak pernah datang bukan sifatku. Menunda masalah memang kadang penting, tapi untuk kasus ini, itu langkah yang salah.” 

“Lalu apa yang harus dilakukan? Menaklukkannya sebagai petualang peringkat SS? Negara yang menjadi panggungnya akan kehilangan kekuatan nasional secara besar-besaran. Saat ini, keseimbangan antarnegara berdiri di atas garis tipis. Dan petualanglah yang akan menghancurkannya.” 

“Aku tidak akan melakukan itu. Aku mengerti latar belakangnya. Penggunaan kekuatan secara langsung adalah pantangan.” 

Ada juga cara memindahkan mereka ke laut dengan teleportasiku, tapi lawannya adalah No Name. 

Tidak akan semudah itu. 

Jika gagal, tempat itu akan menjadi medan perang besar. 

Korban rakyat dan kerugian negara akan tidak terbayangkan. 

Perang antarnegara pasti pecah, dan dunia akan kacau. 

Itulah sebabnya Lienares dan Guild menginginkan status quo. 

“Tidak ada cara lain. Dengan membiarkan No Name, banyak korban bisa dihindari.” 

“Aku tidak masalah membiarkan mereka untuk saat ini. Suatu hari nanti, dengan tanganku sendiri, mereka akan menerima balasannya, tidak harus sekarang. Tapi dengarkan. Dengan status quo, tidak ada yang akan berubah. Apa kamu sungguh berpikir muridmu suatu hari akan sadar diri? Gadis yang sejak kecil hanya diajari cita-cita keluarga, apa dia akan secara sukarela menjauh dari generasi sebelumnya?” 

Bagi seorang anak, wali adalah segalanya. 

Apalagi jika orang tuanya telah berkorban. 

Tidak mungkin dia berhenti. 

“Kalau bisa menariknya paksa, sudah sejak dulu kulakukan! Kamu kira dengan perasaan apa aku membesarkan anak itu!? Meski begitu! Sebagai cucu Anaclet, aku tetap mematuhi kebijakan Guild! Aku mengembalikannya ke sisi generasi sebelumnya! Bahkan sekarang pun aku menyesal! Aku seharusnya kabur, meski harus menjadikan semuanya musuh! Tapi aku tidak melakukannya!” 

“Karena Guild mendukung generasi sebelumnya. Jika melawan, yang akan dikirim adalah petualang peringkat SS. Melarikan diri sambil membawa anak kecil adalah langkah yang merugikan. Bahkan jika kamu bisa membujuk petualang SS lainnya, itu berarti kehancuran Guild Petualang. Jadi kamu memilih stabilitas dunia ketimbang muridmu.” 

“Kalau kamu mengerti, terimalah dengan patuh dan tutup mata. Sudah kubilang, tidak ada cara lain.” 

Aku berkali-kali mengangguk mendengar kata-kata Lienares. 

Setiap kali mendengarnya, aku bisa mengerti. 

Aku bisa mengerti, tapi tidak bisa menerimanya. 

Mungkin aku akan dibilang ini hanya soal emosi. 

Mungkin aku akan dinasihati bahwa aku sentimental. 

Namun, orang dewasa tidak selalu benar. 

“...Aku menolak. Dengan caramu dan cara Guild, tidak ada apa pun dan tidak seorang pun yang bisa diselamatkan.” 

“Menyelamatkan? Hentikan bicara manis itu. Ini berbeda dengan menyelamatkan rakyat tidak berdaya. Lawan kita adalah petualang peringkat SS. Campur tangan ceroboh bisa mengacaukan dunia.” 

“Karena mereka kuat, maka tidak diselamatkan? Penolong dan yang ditolong dibedakan secara tegas, aku tidak pernah menerima ajaran seperti itu. Yang kuikuti adalah prinsip dasar petualang. Bukan ‘demi rakyat’ sebagai kata-kata yang diciptakan Anaclet, melainkan ‘demi rakyat’ sebagai sebuah ideal yang telah ditumpuk oleh banyaknya petualang selama lima ratus tahun. Karena ada yang kesulitan, maka ditolong. Menyelamatkan mereka yang tidak diselamatkan negara. Para pendahulu di Ibu Kota yang kulihat dari dekat setidaknya hidup dengan prinsip itu.” 

Aku berdiri di tempat. 

Menyerah untuk menyelamatkan, lalu memperlakukan mereka seperti barang rapuh memang mudah. 

Tapi itu terlalu menyedihkan, terlalu tidak adil, dan terlalu menunjukkan betapa tidak berdayanya kita. 

“Untuk insiden kali ini, aku akan tutup mata. Tapi aku akan melakukannya dengan caraku.” 

“Apa yang kamu rencanakan? Sebagai catatan, generasi sebelumnya memiliki hak perintah paksa atas jajaran atas Guild lewat alat sihir Anaclet. Jika kamu bergerak sembarangan, akibatnya akan merepotkan.” 

Clyde, yang sejak tadi diam, akhirnya membuka mulut. 

Yang terpancar di wajahnya adalah ketertarikan. 

Dia tampak menantikan rencanaku. 

Karena itu, aku membalas dengan kata-kata yang paling mencolok. 

“Suruh No Name generasi sekarang datang sendirian ke Ibu Kota. Jika dia ingin melampaui Keluarga Pahlawan Armsberg, maka dia seharusnya melihat dari dekat kekuatan itu.” 

“...Konyol.” 

“Aku selalu curiga kepalamu tidak waras, tapi ternyata memang begitu.” 

“Katakan sesukamu. Selama dia bersama generasi sebelumnya, pengaruh buruk pada No Name generasi sekarang tidak bisa dihindari. Langkah pertama adalah memisahkan mereka berdua. Itu seharusnya syarat yang menguntungkan. Selama aku ada di sini, mendekati Ibu Kota dengan membawa Dis Pater bukan perkara mudah bagi No Name. Generasi sebelumnya mungkin bisa, tapi generasi sekarang hampir pasti tidak akan mendapat kesempatan melihat Pedang Suci atau Keluarga Armsberg di Ibu Kota. Mereka pasti akan setuju.” 

Pada akhirnya, dia adalah lawan yang suatu hari harus dihadapi. 

Tentu dia ingin mengamati musuhnya. 

Sejauh apa Dis Pater saat ini telah mendekati Pedang Suci. 

Untuk mengukurnya, ini adalah kesempatan yang tepat. 

“Andai generasi sebelumnya menerima rencana itu... bukankah itu bisa menjadi langkah yang menghancurkan Ibu Kota?” 

“Aku pandai membaca karakter orang. No Name generasi sekarang bukan orang jahat, dan dia mengerti batas minimum. Dia tidak akan bertindak membabi buta sampai melibatkan warga Ibu Kota. Selain itu, jika dia bisa berdiri mandiri sebagai individu, masalah ke depan akan jauh berkurang.” 

“Kalau dia melawan generasi sebelumnya, hampir semua masalah akan selesai. Tapi ya...”

“Membahayakan Ibu Kota itu egois. Kamu kira berapa banyak orang yang tinggal di sana? Demi menyelamatkan satu orang, kamu mempertaruhkan banyak nyawa?” 

Tidak boleh ada risiko sekecil apa pun. 

Dan ini bukan hanya soal Ibu Kota. 

Jika No Name dan Elna bertarung di sana, keseimbangan antarnegara akan runtuh. 

Runtuhnya Kekaisaran di pusat benua berarti perang di seluruh benua. 

Menghadapi taruhan yang terlampau berbahaya itu, Lienares mengernyitkan kening.

Dan kemudian... 

“Jika No Name dibiarkan, suatu hari dia mungkin akan menimbulkan pengorbanan besar. Demi mencegah pengorbanan di masa depan itu, kamu justru membahayakan rakyat Ibu Kota yang hidup saat ini. Kamu pikir itu bisa dibenarkan? Kamu punya sihir teleportasi. Jika keadaan genting, kamu bisa melarikan diri. Tapi rakyat Ibu Kota tidak.” 

“Jadi menurutmu aku meremehkan nyawa rakyat Ibu Kota?” 

“Tidak salah jika orang berpikir begitu. Saat keadaan genting, kamu bisa kabur sambil membawa orang-orang terdekatmu.” 

“Orang-orang terdekat, ya... Bahkan bagiku jumlahnya terlalu banyak untuk bisa kuselematkan semuanya. Bagiku, seluruh Ibu Kota adalah rumah.” 

Sambil berkata demikian, aku menghela napas. 

Sulit dipercaya hanya dengan kata-kata. 

Jika di antara rakyat Ibu Kota tidak ada orang-orang yang berarti bagiku, maka memang aku akan terdengar tidak bertanggung jawab. 

Aku tidak menanggung risiko apa pun. 

Jika dalam perhitungan korban tidak termasuk diriku atau orang-orang terdekatku, maka itu memang rencana yang tidak bertanggung jawab. 

Karena itu, aku perlahan melepas topengku. 

“Pangeran Ketujuh Kekaisaran, Arnold Lakes Ardler. Sebagai pangeran Kekaisaran, aku akan mengundang No Name ke Ibu Kota. Jika perlu, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi Ibu Kota. Karena itu, lakukanlah seperti yang kukatakan.” 

“Pangeran Arnold...? Anda itu Silver? I-Ini bukan ilusi, ‘kan...?” 

Clyde berdiri dengan wajah terkejut. 

Karena terlalu kaget, mulutnya berkali-kali terbuka dan tertutup tanpa suara. 

Di sisi lain, Lienares menatapku tajam dan melontarkan pertanyaan. 

“Mengapa... sebagai seorang pangeran, Anda sampai sejauh ini?” 

“Karena ini bukan urusan orang lain. Sasaran No Name adalah sahabat masa kecilku. Jika dibiarkan, suatu hari nanti bilah kebencian itu akan diarahkan padanya. Mungkin sudah terlambat, tapi mungkin juga belum. Tergantung No Name generasi sekarang, dendam itu masih bisa diselesaikan.” 

Jika tujuannya adalah melampaui sang Pahlawan dan merebut kembali nama, maka tidak perlu saling membunuh. 

Cukup adakan duel satu lawan satu untuk membandingkan kekuatan. 

Jika Elna kalah, No Name akan terbebas dari dendam dan obsesi keluarganya. 

Bahkan jika No Name yang kalah, selama dia mampu menekan Elna yang memegang Pedang Suci, namanya tetap bisa dipulihkan. 

Lagipula, orang yang mampu melakukan itu jumlahnya bisa dihitung dengan jari. 

Kematian kedua belah pihak bukanlah keharusan. 

Mengatur arena duel satu lawan satu memang sulit, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. 

Namun, untuk itu No Name harus berdiri mandiri sebagai seorang petualang. Selama dia tetap berada di sisi generasi sebelumnya, hal itu tidak akan terwujud. 

Karena itulah...

“Bawa No Name generasi sekarang ke Ibu Kota. Dengan bersentuhan dengan orang-orang dan dunia luar, keadaannya pasti akan jauh lebih baik daripada terus bersama generasi sebelumnya. Jika itu pun tidak berhasil, barulah kita pikirkan langkah selanjutnya.” 

“Hebat sekali Anda bisa mempercayai No Name sejauh itu.” 

“Karena Fine berhasil berteman dengannya. Aku mempercayai Fine bahkan lebih dari diriku sendiri. Itu sudah cukup bagiku. Yah, itu standar penilaianku pribadi. Karena pasti masih ada kekhawatiran, untuk berjaga-jaga, pusatkan kekuatan tempur di Ibu Kota.” 

“Memusatkan kekuatan tempur, ya... Tapi kita tidak bisa menempatkan tiga petualang peringkat SS di Ibu Kota. Dua saja sudah bermasalah.” 

“Kalau begitu tempatkan peringkat S. Kalau tidak salah, ada rencana menempatkan petualang peringkat S di Ibu Kota, bukan?” 

“Ya. Rencananya akan menempatkan petualang peringkat S yang saat ini berada di Kekaisaran Suci.” 

“Ubah rencana itu. Jika pihak sana adalah guru dan murid, maka kita pun akan menantang dengan guru dan murid. Suruh ‘muridku’ datang ke Ibu Kota. Dia akan berguna setara petualang peringkat SS.” 

Sambil berkata demikian, aku menyeringai tipis.


Bagian 5

Setelah kembali ke Ibu Kota, aku langsung menuju ruang takhta. 

Melihatku berjalan, para kesatria memasang ekspresi terkejut, pemandangan yang kini sudah biasa bagiku. 

Tujuan kali ini adalah membuat Ayahanda menyetujui bahwa No Name akan datang ke Ibu Kota. 

Dalam kondisi normal, beliau pasti tidak akan setuju. 

Karena itu aku sudah menyiapkan alasan, sekaligus melakukan berbagai pendekatan terlebih dahulu. 

Fakta bahwa petualang peringkat SS Silver, memiliki seorang murid belum pernah diumumkan ke publik. 

Aku bertemu dengan murid itu sekitar tiga tahun yang lalu. 

“Dia” bersekolah di Akademi Sihir Kekaisaran, tempat yang mendidik para penyihir unggulan. 

Meski ketika aku datang ke sana, dia sudah dinyatakan tidak lulus. 

Alasan aku sengaja datang ke tempat itu adalah karena ada seorang murid yang berhasil menguraikan buku sihir kuno. 

Ada dua murid yang bisa membacanya. Satu hanya mampu membaca saja, sementara yang satunya lagi adalah dia, murid yang tidak lulus itu. 

Akulah yang mengambilnya sebagai murid. 

Seorang murid gagal yang tidak bisa menggunakan sihir, tetapi memiliki cadangan sihir yang melimpah. 

Dia memiliki bakat untuk menggunakan sihir kuno. Sama sepertiku. 

Namun, itu bukan satu-satunya alasan aku menerimanya sebagai murid. 

Dia sangat menyayangi ibunya yang sakit, dan prinsip tindakannya selalu demi sang ibu. 

Bagian itu pun mirip denganku. 

Waktu aku mengajarnya tidak lama. Bahkan mungkin belum sampai sebulan. 

Ibunya harus menjalani pengobatan penyakitnya selama beberapa tahun di negara ujung timur benua, Negara Pertapa Mizuho, dan aku memutuskan bahwa dia seharusnya berada di sisi ibunya. 

Namun, itu bukan berarti hubungan guru dan murid kami berakhir. 

Aku memberinya sebuah tugas. 

Jadilah petualang peringkat S. 

Saat terakhir kali aku memeriksa, peringkatnya sudah AAA. 

Kemampuannya tidak perlu diragukan, tetapi karena usianya terlalu muda, kenaikan ke peringkat S sempat ditangguhkan. 

Namun, dengan permintaanku, kenaikan itu akhirnya disetujui. 

Dia akan kembali ke Ibu Kota sebagai petualang peringkat S yang sah. 

Aku menantikannya. 

Sejak hari perpisahan itu, kami belum pernah bertemu lagi. Memang begitu kesepakatannya. 

Aku berkata bahwa aku akan menunggu, dan dia berkata akan datang menemuiku setelah menjadi petualang peringkat S. 

Akhirnya, janji itu akan terwujud. 

Dengan senyum tipis di balik topeng, aku membuka pintu ruang takhta. 

“Mohon kosongkan ruangan ini, Paduka Kaisar.” 

“Datang tiba-tiba lalu langsung minta itu? Kanu sungguh pria yang keterlaluan.” 

“Ini keadaan darurat.” 

“Baiklah.” 

Dengan berkata demikian, Ayahanda menyuruh semua orang keluar. 

Yang tersisa hanya Kanselir Franz di sisi beliau. 

Setelah memastikan itu, aku pun mulai menjelaskan. 

“Untuk sementara waktu, No Name akan datang ke Ibu Kota. Mohon perkenan Anda.” 

“Kamu pikir aku bisa menyetujuinya begitu saja?” 

“Untuk sementara aku akan meninggalkan Ibu Kota. Hanya selama itu. Ada persiapan menghadapi iblis.” 

“Kamu meninggalkan Ibu Kota? Angin apa yang membawa perubahan seperti ini?” 

Ada orang-orang yang menyebutku pelindung Ibu Kota. 

Karena pada dasarnya aku tidak pernah bergerak jauh dari sini. 

Aku memang berpindah dengan teleportasi, tetapi tidak pernah menjadikan tempat selain Ibu Kota sebagai pangkalan. 

Karena itu, kepergianku dari Ibu Kota adalah hal yang tidak biasa, dan digantikan oleh kedatangan No Name pun sama anehnya. 

“Guild tidak menganggap organisasi Grimoire telah sepenuhnya musnah. Kami akan menyelidikinya diam-diam. Jika ada pergerakan, kemungkinan besar dari pihak Kerajaan. Anggap saja ini sebagai langkah antisipasi.” 

“Alasannya masuk akal, tetapi apakah pantas petualang peringkat SS bergerak semudah itu? Maaf berkata kasar, tetapi kalian bergerak saja sudah bisa menimbulkan badai.” 

“Aku tidak bisa menyangkalnya. Namun, mohon percayai aku.” 

Meminta kepercayaan pada titik ini adalah langkah yang buruk. 

Aku memang memiliki kepercayaan itu. Tidak diragukan lagi. 

Justru karena itulah, menggantikan posisiku dengan kedatangan No Name ke Ibu Kota sulit untuk diterima. 

Jika harus diterima, pasti akan ada syarat. 

“Memang aku mempercayaimu. Namun justru karena itu, aku tidak bisa menerima usulan tersebut.” 

“Saya sependapat. Jika ini dibicarakan lebih jauh ke depan mungkin masih bisa, tetapi ini terlalu mendadak. Bukankah akan menimbulkan kebingungan di kalangan petualang Ibu Kota?” 

“Mungkin saja.” 

“‘Mungkin’ tidak cukup. Jika kebingungan benar-benar terjadi, No Name tidak diperlukan.” 

“Itu tidak bisa begitu saja. Penanganan iblis berada di tangan Guild. Ini hanya penyelidikan. Tidak akan berlangsung lama. Mohon persetujuannya.” 

Petualang peringkat SS memang bisa menimbulkan badai. 

Perkataan Franz benar. 

Menerima mereka di Ibu Kota yang padat penduduk tentu menimbulkan keberatan. 

Terlebih No Name adalah petualang peringkat SS yang penuh misteri. 

“Walaupun kamu memintaku menyetujui...” 

“Jika petualang peringkat SS menimbulkan masalah, cara untuk menanggulanginya sangat terbatas.” 

“Di Ibu Kota ada Keluarga Pahlawan.” 

“Kamu menyuruh menggunakan Pedang Suci di Ibu Kota? Untuk menghentikan petualang peringkat SS? Jika ada kemungkinan sekecil apa pun hal itu terjadi, aku tidak bisa menerima No Name di sini.” 

Ya, masuk akal. 

Aku hampir saja mengangguk setuju pada kata-kata Ayahanda. 

Namun, sebagai Kekaisaran, keputusan Guild Petualang tidak bisa begitu saja diabaikan. 

Keputusan tetaplah keputusan. 

Pada akhirnya, mereka harus menerimanya. 

Kalau memang harus menerima, tentu dengan syarat yang menguntungkan. 

Begitulah yang pasti akan dipikirkan.

“Sepertinya kita berputar di tempat. Jadi apa yang harus kulakukan?”

“Jika kamu ada di sini, ceritanya akan berbeda.”

“Begitu ya. Kalau aku berada di Ibu Kota, kalian bersedia menerima No Name. Haa... baiklah. Aku akan sesekali datang memantau dengan teleportasi. Bagaimana menurutmu?”

“Tidak buruk, tapi... apa boleh menggunakannya semudah itu?”

“Untuk penyelidikan, kebutuhan sihirnya tidak terlalu besar. Tidak perlu khawatir.” 

Kekhawatiran Ayahanda memang wajar.

Sihir teleportasi semakin menguras sihir secara drastis seiring bertambahnya jarak. Jika seperti dulu, usulan ini pasti akan menjadi beban besar. 

Namun sekarang, di jariku terpasang Cincin Suci yang kuterima dari Lienares.

Karena hanya disimpan di Guild pun akhirnya tidak lebih dari harta terpendam, Cincin Suci ini pun diserahkan kepadaku. Efeknya adalah “pemulihan sihir secara cepat”. 

Berbeda dengan Empat Relik Pusaka lainnya, Cincin Suci ini tidak memilih penggunanya. Hanya saja, efeknya lebih terbatas.

Memulihkan sihir pengguna berarti, bila dipakai oleh penyihir lemah, manfaatnya tidak seberapa. Jumlah total sihir mereka tidak bertambah. 

Namun jika digunakan oleh penyihir kuat, hasilnya langsung berbeda.

Mereka bisa melepaskan sihir dahsyat secara beruntun. Bahkan penyihir yang cukup kuat saja, dengan mengenakan ini, bisa seketika berubah menjadi sosok yang mampu membalikkan jalannya pertempuran. 

Itulah alasan cincin ini disimpan di Guild.

Karena sangat mudah disalahgunakan, cincin itu tidak pernah dipercayakan kepada siapa pun.

Dan kini, Lienares mempercayakannya kepadaku. 

Berkat itu, rencana ini bisa dijalankan tanpa masalah.

Kelemahanku, karena harus membagi sihir untuk aktivitas di balik layar sehingga tidak bisa mengerahkan seluruhnya untuk pertempuran, kini telah teratasi. 

“Kalau begitu, bukankah pengiriman No Name tidak lagi diperlukan?”

“Aku tidak selalu bisa kembali kapan pun. Anggap saja teleportasiku hanya sebagai asuransi.”

“Kalau begitu, tetap saja membuatku cemas.”

“Karena itulah aku juga mengusulkan pengiriman seorang petualang peringkat S yang baru diangkat. Dia berasal dari Kekaisaran. Aku jamin dia akan berguna.”

“Oh? Sampai sejauh itu kau bisa memastikan? Lagipula, aku belum pernah mendengar ada petualang peringkat S baru dari Kekaisaran.”

“Wajar kalau belum. Dia baru saja naik peringkat. Soal kemampuannya, bisa kujamin. Karena dia muridku.”

Sesaat, Ayahanda membelalakkan mata lalu menoleh ke arah Franz.

Franz pun tampak tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. 

“Muridmu...? Sejak kapan kamu menerima murid?”

“Tiga tahun lalu. Aku terus berada di Mizuho, jadi wajar kalau Anda tidak tahu.”

“Tidak kusangka ada talenta sehebat itu di Kekaisaran...”

“Kalau mau kutambahkan, dia lulusan Akademi Sihir Kekaisaran. Yah, meski dikeluarkan.”

“Apa? Talenta yang menjadi petualang peringkat S justru dikeluarkan? Akademi Sihir Kekaisaran yang melakukannya!?”

“Sihir kuno hanya bisa diajarkan oleh pengguna sihir kuno. Tidak ada yang bisa dilakukan.”

Aku mengangkat bahu.

Wajah Ayahanda terdistorsi penuh penyesalan. Wajar saja. Andai murid itu tetap terdaftar di Akademi Sihir Kekaisaran, dia bisa menjadi kekuatan milik negaranya sendiri. 

Mungkin setelah bertahun-tahun, kesalahan itu akan kembali dipersoalkan, tapi ya sudah. Yang salah adalah pihak akademi yang mengeluarkan muridku.

Biarlah mereka menerimanya. 

Siapa nama murid itu?

“Chloe. Muridku yang kelak akan menjadi petualang peringkat SS.

“Hmm. Kalau Silver mengawasi lewat teleportasi, ditambah muridmu juga datang, aku tidak keberatan. Meski sejujurnya aku lebih suka No Name tidak datang.”

“Itu keputusan Guild. Mohon bersabar.” 

Tidak perlu No Name, cukup Chloe yang berasal dari Kekaisaran saja.

Itulah isi hati Ayahanda yang sebenarnya.

Dan tampaknya Franz pun menyadari bahwa ada maksud tersembunyi di balik ucapanku. 

Namun, yang terpenting, rencana ini telah disetujui.

Dengan itu, seluruh persiapan pun selesai. 

Aku memberi hormat singkat, lalu meninggalkan tempat itu.


Bagian 6

Persiapan untuk mengundang No Name ke Ibu Kota telah rampung.

Mulai dari sini, semuanya tergantung pada No Name. 

Namun, itu bukan alasan untuk bermalas-malasan dalam persiapan. Apa pun yang terjadi, semuanya harus siap. 

“Oh? Jadi ini salah satu dari Empat Relik Pusaka, Cincin Suci. Padahal saat masih berkuasa dulu aku sudah menyuruh orang mencarinya. Kalau ternyata ada di markas guild, pantas saja tidak ketemu.” 

Sebuah ruangan rahasia di Istana Pedang Kaisar.

Di ruang persembunyian milik kakek, kakek kecil kami sedang mengamati Cincin Suci dengan penuh ketertarikan. 

“Bagi penyihir, ini adalah sekutu terbaik.” 

“Begitulah rupanya. Terutama untuk orang sepertimu yang boros dalam penggunaan sihir, ini bisa dibilang perlengkapan yang ideal.” 

“Bukannya aku menghamburkan sihir karena suka.” 

“Kamu ingin melakukan ini dan itu, serakah akan banyak hal, makanya sihir selalu kurang. Semakin besar sesuatu yang kamu inginkan, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. Kalau kamu berniat menunaikan tanggung jawab itu, wajar saja kalau tubuh dan sihir terkuras.” 

Kakek secara tersirat menegurku karena terlalu banyak ikut campur.

Sebenarnya, demi menjadikan Leo sebagai kaisar, aku tidak perlu melibatkan diri dengan No Name.

Bahkan belum tentu ada manfaatnya. 

Namun demikian. 

“Aku merasa diriku bukan tipe pria khas Keluarga Ardler... tapi kadang sifat asliku tetap saja muncul.” 

“Menyalahkan darah, ya. Memang benar Keluarga Ardler itu keluarga yang rakus, sih. Bagaimana menurutmu, Henrik?” 

Sambil berkata demikian, Kakek melirik ke sudut ruangan.

Di sana ada seorang pria bersandar di dinding, tubuhnya diselimuti jubah hitam pekat. Setengah wajahnya tertutup syal merah yang dia kenakan. 

Syal itu adalah alat sihir, tetapi tidak memiliki efek ilusi.

Fungsinya adalah meningkatkan kemampuan penyembuhan alami pemakainya.

Dengan mengombinasikannya bersama obat-obatan, Henrik kini bisa bergerak meski tubuhnya pernah dirusak racun es yang membeku. 

“Tolong jangan libatkan aku dalam pembicaraan ini, Guru.” 

“Kamulah hasil dari keserakahan itu sendiri, bukan?” 

“Mungkin benar. Tapi setidaknya, aku punya nilai guna.” 

“Menolong demi perhitungan bukanlah ciri Keluarga Ardler, begitu?” 

“Karena dengan perhitungan saja, seseorang tidak bisa mengangkat idealisme.” 

Sambil berkata demikian, Henrik mengangkat bahunya dengan ekspresi jengah.

Sifat perampas Keluarga Ardler lahir karena mereka mengejar idealisme.

Bagi kebanyakan orang, itu tidak lebih dari kebodohan.

Itulah Ardler. 

“Kalau begitu, tindakan Arnold kali ini mungkin memang ciri Keluarga Ardler. Karena emosinya lebih dulu bergerak daripada perhitungannya.” 

“Ada perhitungan, kok. Ada.” 

“Meski begitu, risikonya tidak sebanding dengan hasilnya. Sudah lama kupikirkan, tapi bagian dirimu yang paling mirip dengan Ayahanda adalah kecenderungan melakukan hal yang berlawanan dari orang lain. Kalau ada seseorang yang sudah menyerah, kamu justru tidak bisa ikut menyerah. Sungguh sifat iblis surgawi. Cobalah pikirkan perasaan orang yang harus mengikutimu.” 

“Kamu berani-beraninya mengomeli aku sekarang?” 

Ketika aku berkata sambil mengernyitkan wajah, Henrik terkekeh pelan dan menarik syalnya lebih dalam menutupi wajah.

Setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi, sehingga aku mengalihkan pandangan ke arah Kakek. 

“Pokoknya, kita perlu persiapan.” 

“Persiapan seperti apa? Kalau kita berharap pada perubahan pihak lawan, hal yang bisa dilakukan terbatas.” 

“Kita harus mencegah pengaruh buruk. Hama harus disingkirkan.” 

“Begitu rupanya. Memang, mereka tidak akan datang sendirian, meski hanya sebatas formalitas.” 

“Benar. Kita tidak boleh membiarkan pendahulunya mendekati Ibu Kota.” 

“Namun dia mantan petualang peringkat SS, ‘kan? Bagaimana caranya menghentikannya?” 

“Yang menghentikannya bukan Kakek dan yang lain. Kalian cukup bertindak sebagai penghubung.” 

No Name pendahulu, mantan petualang peringkat SS.

Jika dia benar-benar menyusup ke Ibu Kota dengan serius, Henrik tidak akan mampu menghentikannya.

Karena itu, bagian tersebut sudah kutitipkan pada orang lain. 

Meski begitu, aku tetap memintanya untuk datang sendirian. Dia tidak akan langsung memasuki Ibu Kota.

Kemungkinan besar dia akan menggunakan seorang penghubung untuk berkomunikasi dengan No Name generasi sekarang.

Penghubung itulah yang harus disingkirkan. 

“Baiklah.” 

Menjawab singkat, Henrik menggenggam dua tongkat pendek di tangannya.

Lalu dengan tatapan matanya, dia menyuruhku membuka gerbang teleportasi. 

“Kalau kamu tidak berkenan, kamu tidak perlu membantu. Sejujurnya, ini bahkan hampir tidak ada hubungannya dengan Kekaisaran, apalagi perebutan takhta.” 

“Mana mungkin. Ini jauh lebih menantang daripada pengumpulan informasi yang membosankan. Lagipula... kalau ada orang yang bisa diselamatkan, seharusnya diselamatkan. Selama berada di Ibu Kota ini, itu adalah tugas Keluarga Ardler.” 

Dengan berkata demikian, Henrik melangkah keluar istana melalui gerbang teleportasi yang kubuka.

Aku mengantarnya dengan pandangan, lalu menggelengkan kepala sambil menghela napas. 

“Sok dewasa sekali...” 

“Senang melihat adikmu berkembang?” 

“Apa kelihatannya aku senang?” 

“Sangat senang. Berterima kasihlah padaku. Aku yang membesarkan bocah manja itu menjadi seorang pria.” 

“Siapa yang mau berterima kasih? Dia jadi makin kurang ajar.” 

“Dari kekanak-kanakan menjadi kurang ajar berarti dia tumbuh dewasa. Bersyukurlah.” 

Kalau aku bilang A, dia jawab B.

Aku sempat berpikir bagaimana membalasnya, lalu menyerah.

Rasanya ini pertarungan yang pasti kalah. 

Henrik memang sudah berbeda.

Normalnya, meski memakai alat sihir dan obat-obatan, tubuhnya tidak akan bisa bergerak bebas setidaknya selama setahun. Kondisinya separah itu.

Dia bisa pulih sejauh ini berkat usaha tanpa henti yang dia lakukan sendiri. 

Dengan latihan dari Kakek, dia juga memperoleh kemampuan yang lebih dari cukup sebagai agen intelijen.

Henrik sudah berubah. 

Selama fakta itu ada, aku tidak mungkin menang dalam adu mulut ini. 

“Baiklah. Kalau begitu, aku serahkan padamu.” 

“Arnold.” 

Saat aku berbalik hendak pergi, Kakek memanggil namaku. 

Lalu... 

“Lima ratus tahun... beratnya waktu itu cukup untuk membelenggu manusia. Keluarga Pahlawan terikat pada tugas menjaga darah Pahlawan, dan Keluarga Ardler terus mengejar darah yang kuat. Itulah alasan sebuah keluarga bisa bertahan. Karena itu, jangan berharap pada sesuatu seperti perubahan diri.” 

“Memang, beban waktu itu mungkin tidak terukur. Namun, alasan keluarga-keluarga itu tetap bertahan karena adanya harapan untuk generasi mendatang. Dengan kata lain, sumbernya adalah harapan akan masa depan. Itu membuktikan bahwa manusia bisa berubah. Aku percaya akan itu. Aku yakin No Name juga bisa berubah.” 

“Bebas saja berharap, tapi jangan sampai kamu terpuruk saat harapan itu dikhianati.” 

“Tenang saja. Aku tidak punya kebiasaan berharap pada orang yang tidak layak diharapkan.” 

Dengan berkata demikian, aku pun meninggalkan tempat itu.


Bagian 7

Beberapa hari kemudian, aku menerima kabar dari Guild.

Isinya mengatakan bahwa No Name dan Chloe telah tiba bersama di markas guild, jadi aku diminta untuk menjemput mereka. 

Jika harus berpindah tanpa menggunakan teleportasi, waktu yang dibutuhkan akan terlalu lama.

Tentu saja, jika hanya No Name seorang diri, dia bisa bergerak jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan biasa, tetapi tetap saja masih kalah cepat dibandingkan teleportasi. 

Karena itu, aku langsung melompat ke markas guild. 

“Mereka sudah datang, ya...” 

Seperti biasa, aku berpindah langsung ke ruang Guildmaster, dan Clyde, dengan raut wajah lelah, menyambut kedatanganku. 

“Kelihatannya kamu lelah?” 

“Tentu saja. Penataan ulang petualang peringkat SS itu belum pernah terjadi sebelumnya.” 

Pada dasarnya, petualang peringkat SS adalah orang-orang yang bertindak sesuka hati.

Kecuali ada alasan yang benar-benar kuat, mereka tidak akan mengubah basis wilayah mereka sendiri. 

Dari sudut pandang Guild pun, tidak ada gunanya ikut campur terlalu jauh dan berisiko membuat petualang peringkat SS tidak senang.

Jauh lebih mudah memindahkan petualang lain dari wilayah yang sudah ditempati petualang peringkat SS. 

Itulah sebabnya, situasi seperti sekarang, di mana dua petualang peringkat SS sama-sama bergerak, tergolong langka. 

“Yah, kita sedang membersihkan sisi gelap Guild. Sedikit kerepotan tidak bisa dihindari.” 

“...Mulai sekarang pun aku akan tetap memperlakukanmu sebagai Silver. Aku tidak berniat bersikap sungkan secara berlebihan.” 

“Tentu saja. Justru aku ingin memintamu begitu.” 

“Syukurlah. Tapi kalau begitu, izinkan aku bertanya terus terang... apa kita benar-benar punya peluang menang? Dari sudut pandang kami, ini tampak seperti pertarungan yang pasti kalah.” 

Aku mengangguk menanggapi perkataan Clyde.

Skenario terburuk adalah Elna dan No Name saling bertabrakan dengan kekuatan penuh.

Dengan kata lain, benturan antara Pedang Suci dan Dis Pater. 

Namun.

“Peluangnya setengah-setengah. Tergantung bagaimana pihak sana memandang kesempatan ini.” 

“Maksudmu?” 

“Apakah mereka menganggapnya sebagai pengintaian kekuatan lawan, atau sebagai kesempatan emas yang hanya datang sekali seumur hidup. Kalau yang kedua, hampir tidak ada yang bisa kita lakukan. Jika mereka sudah berniat menyerang, begitu kita membiarkan mereka masuk ke Ibu Kota, itu berarti kita kalah.” 

“Hei, tunggu dulu...” 

“Tenang saja, kemungkinan itu kecil. Aku mengenal Pedang Suci dan Dis Pater. Sampai sekarang, Dis Pater masih belum mampu menyamai Pedang Suci. Pihak sana pasti menyadarinya juga. Kalau tidak, mereka tidak akan mencoba menjadikan Mars sebagai mangsa.” 

“Tapi bagaimana mereka akan bertindak di hadapan Pahlawan... itu tidak bisa diprediksi?” 

“Itu adalah ambisi lima ratus tahun. Ada kemungkinan mereka gelisah. Jika itu terjadi, kita tidak punya pilihan selain memaksa mereka berteleportasi... tapi kalau begitu, kesempatan ini akan hilang.” 

Tentu saja, yang hilang adalah kesempatan bagi No Name untuk berubah.

Dari sudut pandang Guild, itu merupakan kerugian. 

Gerak-gerik pendahulunya mencurigakan. Dia pernah menyusupkan Nigel ke ibu kota, dan sebelumnya juga menolong Raphael.

Katanya dia hanya menerima permintaan, tapi dari siapa? Pertanyaan itu muncul. 

Jika orang yang sedekat itu berada di pihak yang sama, akan sulit menghadapi iblis. Apalagi No Name adalah salah satu pilar kekuatan terbesar. 

Kalau bisa, kami ingin bersatu dalam pertempuran melawan iblis. 

“Semoga saja itu tidak terjadi.” 

“Ya, berharap saja begitu.” 

Setelah pembicaraan seperti itu, tidak lama kemudian. 

No Name akhirnya muncul lebih dulu di ruang Guildmaster.


* * *


“Aku masih ada pekerjaan. Sisanya kuserahkan padamu, ya? Silver.” 

“Baiklah.” 

Setelah mengatakan itu, Clyde pun meninggalkan ruangan. 

Beberapa saat berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya No Name membuka mulut. 

“...Pertama-tama, izinkan aku menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tempo hari. Perilaku pendahuluku sungguh tidak terpuji.” 

“Dari cara bicaramu, sepertinya kamu tidak tahu?” 

“Benar. Aku hanya diberi tahu bahwa aku bisa memperkuat Dis Pater, itulah sebabnya aku ada di sana. Namun, sekalipun aku mengetahui keadaannya sejak awal, aku tetap akan memilih memperkuat Dis Pater. Jadi, ketidaktahuanku bukanlah masalah besar.” 

“Begitu ya. Baiklah, kita anggap saja demikian. Itu sudah berlalu. Dari pihak Guild, aku sudah menerima permohonan maaf dan kompensasi. Sekarang tidak ada gunanya lagi membicarakan siapa yang salah.” 

Skenario kali ini adalah pihak Guild mengajukan usulan kepadaku agar No Name pergi ke Ibu Kota sebagai bagian dari upaya memperkuat Dis Pater. 

Dengan begitu, Guild bisa mengambil posisi seolah-olah mereka bekerja sama dengan No Name, dan meskipun pendahulunya mencurigai sesuatu, dia tidak punya pilihan selain ikut arus. 

Faktanya, No Name memang menerima usulan itu. 

Yang terpenting di sini adalah sikapku. 

Aku tidak boleh terlihat seolah terlalu menaruh minat pada No Name. 

“Keinginanmu untuk melampaui Pedang Suci dan Pahlawan itu sah-sah saja, tapi kali ini hanya observasi. Kita akan menghindari bentrokan langsung. Itu syaratnya.” 

“Tentu saja.” 

Jawaban No Name terdengar tanpa emosi. 

Entah seberapa jauh jawaban itu bisa dipercaya. 

Sambil memikirkan hal itu, aku tersenyum kecut. 

Mungkin pihaknya pun memikirkan hal yang sama. 

No Name barangkali sedang mencoba menakar niat sebenarnya yang tersembunyi di balik topengku. 

Soalnya, hampir tidak ada keuntungan apa pun bagiku dalam situasi ini. 

“...Silver. Apa kamu benar-benar menerima usulan Guild itu?” 

“Maksudmu?” 

“Aku tidak mengira kamu itu orang yang akan menerima tawaran orang lain begitu saja.” 

“Begitu ya. Rupanya kamu cukup menilaiku dengan baik. Memang benar, aku mengajukan syarat pertukaran. Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu. Jangan dipikirkan.” 

Karena akan merepotkan jika terus diselidiki, aku memutus percakapan ini dengan cepat. 

Saat itu juga. 

Pintu ruang Guildmaster terbuka. 

Dan kemudian... 

“Guru!” 

Suara ceria menggema memenuhi ruangan.


Bagian 8

Yang masuk ke dalam ruangan adalah seorang gadis berambut ungu tua, nyaris hitam. 

Begitu melihatku, mata yang warnanya sama dengan rambutnya langsung berbinar. 

Di pinggangnya terselip dua bilah pedang. Berbeda denganku, dia memang memiliki bakat pedang sejak awal, sehingga kini dia tumbuh menjadi seorang pendekar pedang yang menggunakan sihir kuno, sesuatu yang sangat langka di dunia ini. 

Cadangan mana yang sejak dulu sudah melimpah kini semakin berkembang, sekali pandang saja sudah tampak jelas betapa pesat peningkatan kekuatannya. 

Tampaknya tinggi badannya juga sedikit bertambah dibanding terakhir kali kulihat. Tiga tahun lalu, usianya pasti sekitar 13 atau 14 tahun, wajar saja jika sekarang lebih tinggi. 

Saat itu dia masih anak-anak, tetapi kini sudah jauh lebih dewasa. 

Meski begitu, senyum cerianya tidak berubah. Tanpa sadar, aku pun ikut tersenyum. 

Dengan senyum itu masih terpasang, muridku, Chloe, langsung memelukku dengan penuh semangat.

“Lama tidak bertemu!” 

“Lama tidak jumpa. Selamat atas kenaikanmu ke peringkat S. Badanmu juga sedikit lebih tinggi, dan rambutmu dipanjangkan?” 

“Iya! Cocok nggak?” 

“Ya, cocok.” 

Percakapan yang tidak terlalu panjang.


Sebagai pertemuan kembali setelah hampir tiga tahun, mungkin terasa cukup singkat. 

Namun, sama sekali tidak ada jarak di antara kami. 

Kami bisa berbincang seperti dulu karena Chloe terus tersenyum lebar sepanjang waktu. 

“Tidak kusangka kamu punya murid... cukup mengejutkan.” 

“Dia murid yang kubanggakan. Perkenalkan, ini Chloe, petualang peringkat S. Dan ini petualang peringkat SS, No Name.” 

“Jadi kamu No Name!? Benar-benar memakai topeng seperti Guru! Ah! Itu Dis Pater!? Aku juga menggunakan pedang sihir!” 

“Eh, a-anu...” 

Dengan wajah penuh senyum, Chloe mendekati No Name. Setelah mengamati topengnya, pandangannya beralih ke Dis Pater. 

Didekati secara tiba-tiba dari jarak sedekat itu, No Name tampak kewalahan. 

Di seluruh benua, hanya ada lima petualang peringkat SS. 

Dalam kondisi normal, orang-orang pasti akan ciut nyali atau setidaknya bersikap penuh hormat. 

Mengambil jarak adalah reaksi yang wajar. 

Namun, mungkin karena sudah terbiasa denganku, Chloe tampaknya hanya menganggap gelar itu sebagai tanda bahwa dia orang yang sangat kuat, tidak lebih. 

“Nanti kita kerja bareng di Ibu Kota, ya! Katanya kamu sangat kuat! Aku tidak sabar!” 

“Kerja bareng... maksudnya bagaimana?” 

“Belum dijelaskan padamu? Selama aku tidak ada, misi tingkat tinggi di Ibu Kota akan kalian berdua yang menyelesaikannya. Jadi, bertindaklah bersama.” 

“Bersama? Aku tidak membutuhkan beban.” 

“Aku tidak akan mengganggu! Aku hanya akan mengikuti dari belakang!”

“Bisa mengikutiku?” 

“Aku juga bisa memakai sihir kuno. Jadi soal itu, tidak perlu khawatir!” 

No Name sempat hendak menimpali, tetapi kemudian mengurungkannya. 

Itu adalah keputusan Guild. 

Dia sendiri pasti sudah bersiap bahwa setidaknya akan ada pengawasan yang mengikutinya, jadi ini bukan sesuatu yang benar-benar di luar dugaan. 

Hanya saja, orang yang ditunjuk sebagai pengawas terlalu ramah. 

“Kalau begitu, kita berangkat.” 

Sambil berkata demikian, aku pun membuka gerbang teleportasi.


* * *


Cabang Guild Petualang Ibu Kota Kekaisaran. 

Begitu aku berteleportasi ke sana, aku langsung menyadari bahwa suasananya berbeda dari biasanya. 

Pertama-tama, meja-meja ditumpuk tinggi seperti barikade. 

“Mereka datang!” 

“Dua peringkat SS dan satu peringkat S! Kalau terjadi apa-apa, Ibu Kota tamat!” 

“Setiap saat selalu saja bawa masalah! Dasar Silver sialan!” 

“Bodoh! Jangan memancingnya! Dia itu seperti anak kecil, tahu!” 

“Hari ini cabang ini berakhir juga, ya...”

“Barikade begini memang ada gunanya!?” 

“Tenang saja! Bahkan waktu Pahlawan dan Putri Pertapa datang pun tempat ini aman! Artinya, di sini aman!” 

“Benar juga. Kamu jenius, ya?” 

“Sudahlah, bikin malu saja.” 

Dasar orang-orang bodoh. 

Aku sempat terpikir untuk melemparkan satu peluru cahaya ke arah mereka, tapi kuurungkan niat itu. 

Kalau kulakukan, itu sama saja mengakui julukan “anak kecil”. 

Aku mengabaikan mereka dan hendak memperkenalkan dua orang ini pada petugas resepsionis guild, ketika aku menyadari bahwa Chloe tidak ada di sisiku. 

“Halo! Terima kasih sudah selalu menjaga guru saya!” 

Saat kulihat, Chloe sudah melompati barikade dan menghampiri para petualang yang sedang bersembunyi. 

Para petualang itu buru-buru mengambil jarak, seolah bertanya-tanya sejak kapan dia ada di sana, lalu terdiam memikirkan ucapannya. 

“Hah? Tunggu dulu.” 

“Guru?” 

“Terima kasih sudah menjaga?” 

“Peringkat SS petualang yang kami ‘urus’ cuma satu orang...” 

“Eh? Guru! Apa sebaiknya fakta kalau aku muridmu dirahasiakan?” 

“Tidak perlu. Sekarang pun bukan hal yang harus disembunyikan. Lagipula, aku tidak pernah ‘diurus’ oleh mereka.” 

“Ah, syukurlah. Kupikir aku keceplosan.” 

Chloe menjawab sambil tersenyum, tetapi para petualang yang mendengarnya serempak memasang ekspresi kaku. 

“M-Muridnya Silver!?” 

“Dia mengajar orang lain!?” 

“Orang yang seperti kumpulan rahasia itu punya murid segala...”

“Kalau begitu... gadis ini petualang peringkat S baru dan murid Silver berarti...”

“Pengguna sihir kuno!?” 

“Memang, aku juga bisa menggunakan sihir kuno, tapi pada dasarnya aku seorang pendekar pedang. Di Mizuho aku hampir selalu bergerak sendiri, jadi mungkin akan merepotkan kalian, tapi mohon kerja samanya.” 

Chloe membungkuk sopan. 

Melihat itu, semua petualang menoleh ke arahku. 

“Eh... anak ini sopan sekali...” 

“Benarkah dia muridnya...?” 

“Dia itu orang yang bicara santai pada Kaisar, lho? Mana mungkin bisa mengajarkan sopan santun...”

“Mungkin dia memang mengambil murid yang sudah beradab sejak awal. Syukurlah sifat buruk gurunya tidak menurun.” 

“Aku tidak mau diceramahi soal sopan santun oleh kalian. Chloe, cepat kemari.” 

“Iyaaa.” 

Sambil menghela napas tanpa sadar, aku kembali memperkenalkan No Name dan Chloe kepada staf guild cabang Ibu Kota. 

“Ini petualang peringkat SS No Name dan petualang peringkat S Chloe. Untuk sementara aku akan meninggalkan Ibu Kota, jadi mereka berdua akan menggantikanku.” 

“B-Baik! Kalau begitu, bolehkah kalian menuliskan nama di sini?” 

Sambil berkata demikian, resepsionis menyerahkan kertas kepada No Name dan Chloe. 

Itu pendaftaran sementara. Dengan menuliskan nama, mereka akan tercatat sebagai anggota cabang Ibu Kota. 

“Kami sudah menyiapkan penginapan untuk kalian berdua. Lokasinya sudah disampaikan sebelumnya, ‘kan?” 

“Ya. Kami sudah tahu.” 

“Kalau begitu, silakan saling berkomunikasi dari sana.” 

“Eh? Bukan rumah Guru?” 

“Kenapa aku harus menyediakan rumahku sebagai markas?” 

“Soalnya kami pengganti Guru.” 

“Itu bukan alasan.” 

“Hmph... eh! Masih ada waktu, ‘kan? Ayo antarkan kami berkeliling Ibu Kota! Aku dan No Name juga belum terlalu paham Ibu Kota.” 

Aku sebenarnya berniat langsung berteleportasi dan pergi, tetapi sebelum itu Chloe sudah menangkapku. 

No Name juga mencoba menolak, tetapi langsung dipotong oleh Chloe. 

“Aku...” 

“Sebagai petualang, informasi itu penting, ‘kan!? Di wilayah yang tidak dikenal, kita tidak bisa bergerak saat terjadi keadaan darurat. Menurutku, memberi panduan minimal itu bagian dari tanggung jawab!” 

“Ya ampun... selama tidak bertemu, kamu jadi makin pintar.” 

“Auh.” 

Aku menekan dahi Chloe ringan dengan jariku, lalu berbalik. 

Memang aku tidak punya banyak waktu luang, tetapi meluangkan sedikit waktu untuk muridku masih bisa. 

“Ikuti aku. Akan kutunjukkan bangunan-bangunan utama.” 

“S-Silver, aku...” 

“Sudah diputuskan!” 

Akhirnya, karena didesak Chloe, No Name pun tidak bisa berkata apa-apa dan ikut bersama kami.


Bagian 9

“Ramai sekali orangnya! Aku mau Ibu lihat ini!” 

“Ibumu sehat?” 

“Iya! Sekarang sudah benar-benar pulih, dan sedang berada di tempat Dokter Towi! Katanya, sampaikan salam untuk Guru.” 

Alasan mengapa ibu Chloe sampai harus tinggal di Mizuho, itulah keberadaan seorang tabib bernama Towi. 

Di Mizuho, tempat berkumpulnya banyak ras campuran, dia adalah sosok langka dari ras “Rusa Bijak”. Dokter terbaik di benua yang berada di Negara Pertapa Mizuho. 

Julukannya, “Tabib Pertapa”. 

Seorang pria aneh yang sekaligus pandai besi pedang dan juga dokter. 

Itulah tabib bernama Towi. 

“Kalau ada waktu luang, aku harus pergi menyapanya.” 

Sambil berjalan di jalan besar Ibu Kota, Chloe berkata begitu. 

Namun, aku tidak bisa mengangguk setuju. 

Hubunganku dengan Towi tidak bisa dibilang baik. Kesan pertama kami benar-benar buruk. 

Kami bertemu saat aku menemuinya untuk menanyakan penyakit Ibu. 

Towi menyatakan tidak sanggup menyembuhkannya dan menyerah begitu saja, dan aku terpancing untuk memprovokasinya. 

Towi pun balik memprovokasiku, dan situasinya nyaris meledak. 

Karena aku mempercayakan Chloe dan ibunya padanya, emosinya memang sedikit mereda, tetapi dia tetap bukan orang yang ingin kutemui. 

Karena meskipun dia adalah tabib terbaik di benua ini, dia pun tidak mampu menyembuhkan penyakit Ibu. 

Kenyataan itu terlalu pahit untuk dihadapi. 

Dalam percakapan itu, No Name tidak ikut menyela. 

Dia hanya berjalan diam di samping kami. 

“Meski bilangnya mengelilingi Ibu Kota, sebenarnya kalau sudah hafal jalan besar ini saja sudah cukup. Dari sini kita bisa menuju semua gerbang, juga ke istana.” 

“Tempat wisata ada?” 

“Kamu datang untuk liburan?” 

“Bukan sih, tapi kalau sudah di sini rasanya ingin lihat-lihat juga.” 

“Ya ampun... sudah naik ke peringkat S, tapi sifat santainya masih belum hilang, ya?” 

“Ini bukan santai! Ini ceria!” 

“Hampir sama saja.” 

“Beda jauh!” 

Sambil mengajukan protes, Chloe terus bertanya setiap kali melihat bangunan yang mencolok. 

Sambil menanggapi pertanyaannya, aku melirik No Name. 

Dia mengamati sekeliling dengan tenang. 

Lalu... 

“Begitu rupanya. Kukira ini semacam penghalang biasa, ternyata penghalang salah pengenalan.” 

“Kamu cepat menyadarinya.” 

“Aku dan kamu berjalan bersama, tetapi tidak satu pun orang memperhatikan kita. Itu mustahil. Artinya, kita terlihat seperti orang biasa, bukan?” 

“Benar. Memang hanya efektif terhadap orang yang benar-benar biasa saja, tapi untuk berjalan di kota sudah lebih dari cukup.” 

Aku cukup terkenal di Ibu Kota, dan No Name pun sangat mencolok. 

Meski begitu, alasan kami mudah menarik perhatian sebenarnya bukan hal sepele, melainkan karena kami berdua mengenakan topeng. 

Karena itulah aku memasang penghalang di sekitar kami. 

Penghalang yang membuat orang lain salah mengenali keberadaan kami. 

Yang mengesankan adalah kemampuan observasi No Name. 

Dia tidak mengetahui sihirnya secara langsung. 

Dia menyimpulkan semuanya dari reaksi orang-orang yang berpapasan. 

Bukan tanpa alasan dia seorang petualang peringkat SS. 

“Oh, begitu. Aku sama sekali tidak sadar.” 

“Kukira kamu mengira apa?” 

“Kukira karena ini Guru, orang-orang Ibu Kota sudah terbiasa.” 

“Orang Ibu Kota memang bermental baja, tapi tidak sampai menoleransi orang bertopeng berkeliaran begitu saja.” 

“Ahahaha! Benar juga!” 

Sambil tertawa, Chloe mendekat ke No Name dan merangkul lengannya. 

Mendapat perlakuan mendadak itu, No Name terlihat bingung dan hanya bisa pasrah. 

“Kalau begini, kelihatannya seperti teman, ya, Guru?” 

“Mungkin begitu.” 

“Tuh! No Name! Kita berteman!” 

“Teman...”

“Ah! Di sana ada sesuatu! Ayo kita lihat!” 

Chloe tetap tersenyum ceria sambil menarik No Name pergi. 

Mungkin latar belakang situasinya sudah dijelaskan sampai batas tertentu, tetapi sikap dan kata-kata Chloe sama sekali tanpa perhitungan. 

Dia bahkan tampak menikmati keadaan ini, dan benar-benar senang bisa bersama No Name. 

Karena selama ini selalu bertarung sendirian, mungkin bisa bekerja bersama orang lain saja sudah membuatnya bahagia. 

Justru karena kepolosannya itulah, No Name pun sulit menolaknya. 

Ini perkembangan yang baik.


* * *


Menjelang berakhirnya tur keliling Ibu Kota.

Aku membawa mereka berdua ke suatu tempat. 

Di sebuah kediaman besar yang berada di dalam wilayah Ibu Kota. 

“Ini tempat apa?” 

“Kediaman Keluarga Pahlawan Armsberg.” 

Setelah penjelasan itu, No Name mengangguk paham. 

Fakta bahwa dia tidak langsung menyerbu ke sini menunjukkan bahwa, bagi generasi sekarang, melampaui Keluarga Pahlawan hanyalah cita-cita turun-temurun semata. 

Sesuatu yang harus ditunaikan, bukan sesuatu yang benar-benar ingin diwujudkan. 

Kalau begitu, masih ada banyak kemungkinan. 

Saat aku berpikir demikian... 

“Sedang apa kalian di depan rumah orang lain, Silver?” 

Suara yang kukenal datang dari belakang. 

Aneh. Seharusnya hari ini dia bertugas menjaga istana...

“Selamat siang, Elna von Armsberg.” 

“Perasaanku tidak terlalu baik. Tiba-tiba aku dicopot dari tugas dan diperintahkan untuk berjaga di rumah. Apa kamu penyebabnya?” 

“Mungkin saja. Izinkan aku memperkenalkanmu. Yang bertopeng ini adalah petualang peringkat SS, No Name. Dan yang ini...”

“Aku Chloe, petualang peringkat S! Muridnya Silver!” 

Chloe memperkenalkan diri dengan senyum cerah. 

Namun, setelah mendengarnya, Elna menunjukkan ekspresi curiga. 

“Muridmu...?”

“Memangnya kenapa?” 

“Sulit dipercaya... seseorang yang bahkan tidak mau memperlihatkan wajahnya, mengajarkan sihirnya pada orang lain? Kalau bisa begitu, kenapa tidak sekalian membuka topeng saja?” 

“Setiap orang punya keadaannya masing-masing. Ngomong-ngomong, alasan kamu diperintahkan berjaga di sini barangkali agar kamu bisa segera menangani jika terjadi kejanggalan di Ibu Kota. Kalau sedang menjalankan misi, ada kalanya kamu tidak bisa bergerak bebas.” 

“Merepotkan sekali. Kenapa ada dua petualang peringkat SS sekaligus di Ibu Kota?” 

“Aku akan meninggalkan Ibu Kota untuk sementara. Selama itu, mereka berdua akan menggantikanku.” 

“Kamu saja yang bebas ke sana kemari sesukamu. Enak benar hidupmu.” 

“Iri?” 

“Mana mungkin.” 

Mengatakan itu, Elna melewatiku dan melangkah pergi. 

Sepertinya dia berniat kembali ke dalam kediaman. 

Namun, No Name memanggilnya untuk menghentikannya. 

“Elna von Armsberg.” 

“Ada apa, No Name?” 

“...Jika aku menantangmu duel satu lawan satu di sini, apa kamu akan menerimanya tanpa melarikan diri?” 

Tanpa melarikan diri. 

Kata itu adalah penghinaan terhadap garis keturunan sang Pahlawan. 

Karena Keluarga Pahlawan tidak pernah lari dari sebuah pertarungan. 

Namun. 

“Maaf, kutolak. Aku tidak berniat berselisih dengan Guild Petualang. Kita berdua punya posisi masing-masing, bukan? Duel yang akan menimbulkan masalah siapa pun pemenangnya, tidak ada gunanya kuterima.” 

Dengan sikap yang jauh lebih dewasa dari yang kukira, Elna menolak duel dengan No Name. 

Meski begitu, tampaknya No Name sendiri sudah menduga bahwa hasilnya tidak akan semudah itu. 

Dia hanya diam menyaksikan Elna kembali ke kediamannya. 

“Bukankah kesepakatannya hanya sebatas pengintaian situasi?” 

“Duel adalah cara terbaik.” 

“Kamu berniat meruntuhkan Ibu Kota? Kalau memang itu niatmu, aku yang akan menghadapi dirimu sebelum dia.” 

“Aku rasa aku masih tahu batas minimalnya. Aku tidak akan melakukan hal yang melibatkan warga sipil.” 

Setelah berkata demikian, No Name berbalik, membelakangi kediaman Keluarga Pahlawan. 

Aku dan Chloe saling berpandangan, lalu mengangkat bahu, sebelum menyusulnya. 

“No Name! Kamu tahu lokasi penginapannya?” 

“Penginapan untuk petualang peringkat SS dan peringkat S jumlahnya terbatas. Pasti penginapan mewah dekat istana. Guild juga harus menjaga wibawa.” 

“Bukan. Penginapan biasa dekat cabang guild Ibu Kota. Jangan banyak menuntut.” 

“...Di Kekaisaran Suci sebelumnya, aku selalu diperlakukan layaknya bangsawan.” 

“Ini Kekaisaran, dan yang membayar adalah cabang guild Ibu Kota. Terima saja.” 

“...Aku akan membayar sendiri.” 

“Staf guild akan kesulitan kalau harus datang ke dekat istana. Kalau memikirkan urusan komunikasi, itu lokasi terbaik. Jangan bilang kamu suka kemewahan yang tidak perlu?” 

“Bukan begitu maksudku, tapi...” 

“Aku sih di mana saja nggak masalah!” 

Mendengar suara ceria Chloe, No Name akhirnya menyerah untuk memprotes lebih lanjut. 

Karena kalau diteruskan, dia hanya akan terlihat seperti orang yang menuntut kemewahan. 

Sambil menahan tawa agar tidak ketahuan, aku membuka gerbang teleportasi menuju penginapan.


Bagian 10

Malam. 

Di salah satu ruangan istana, aku sedang berbincang dengan Fine. 

Di atas meja tergeletak sebuah buku tua yang selama ini tertidur di rak buku khusus keluarga kekaisaran, jauh di bagian terdalam perpustakaan istana. Aku memang menduga buku itu ada, dan ternyata benar-benar ada. 

Melihatnya, aku terpikir sebuah rencana tertentu, tetapi masih ragu apakah harus benar-benar melaksanakannya. 

Saat itulah Fine datang. 

“Saya juga menantikan pertemuan dengan No Name, tapi saya juga sangat ingin bertemu dengan murid Tuan Al.” 

“Jagalah hubungan baik dengannya.” 

Sambil tersenyum, aku menurunkan pandanganku ke arah Ibu Kota dari jendela. 

Saat ini masih damai, tetapi tergantung pada tindakan No Name, tempat ini bisa berubah menjadi lautan api kapan saja. 

Sebagai seorang pangeran kekaisaran, aku tidak akan pernah meninggalkan mereka, dan aku juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi. 

Namun, fakta bahwa aku menempatkan mereka dalam bahaya tetap tidak terbantahkan. 

Aku bukanlah kaisar, juga bukan kandidat pewaris takhta. 

Aku tidak memberi pengaruh apa pun pada masa depan rakyat, dan juga tidak berniat melakukannya. 

Jika orang sepertiku dengan keputusan sepihak menjerumuskan mereka ke dalam bahaya, itu tentu tidak bisa dibenarkan. 

“Anda menyalahkan diri sendiri?” 

“Menyalahkan diri sendiri? Tidak mungkin... Aku hanya menertawakan diriku karena merasa bodoh.” 

“Kekhawatiran yang tersisa seharusnya disingkirkan. Dalam melawan iblis, tidak boleh ada kegelisahan pada kekuatan tertinggi pihak manusia.” 

“Aku tahu. Tapi itu hanya alasan di permukaan. Kupikir jika kukatakan seperti itu, orang-orang akan menerimanya. Dan justru itulah yang membuatku merasa bodoh. Aku hanya... tidak sanggup membiarkan bilah yang mungkin diarahkan pada Elna.” 

Itu murni perasaan pribadi. Namun, meski begitu, aku tidak bisa dengan jujur berkata, “‘lalu kenapa jika itu perasaan pribadi?” 

Itulah kebodohanku. 

Dan yang paling bodoh dari semuanya adalah aku tahu bahwa pada akhirnya, satu-satunya yang bisa mengubah No Name hanyalah Elna. 

“Keinginan yang terpendam selama lima ratus tahun... aku tidak bisa sepenuhnya mengerti, tetapi pasti sangat berat dan kuat. Karena itulah, diperlukan sebuah pemicu untuk benar-benar melepaskannya. Apa pun yang terjadi, itu hanya bisa dituntaskan melalui penyelesaian dengan Keluarga Pahlawan.” 

“Benar. Sambil berharap bisa melindungi Elna, pada akhirnya aku tetap bergantung padanya. Dan jika salah langkah, ini bisa berubah menjadi pertarungan penentuan melawan No Name. Saat kupikir mungkin aku hanya mempercepat terjadinya duel itu... rasanya bodoh sampai ingin tertawa.” 

Aku membawa masalah yang tidak bisa kuselesaikan sendiri ke Ibu Kota. 

Tentu saja, penanganan dan pencegahan masih memungkinkan. 

Namun, penyelesaian sejatinya hanya bisa dicapai oleh No Name dan Elna. 

Kunci terakhir bukan berada di tanganku. 

“Tidak semua hal bisa diselesaikan sendirian. Anda tentu sudah mengetahuinya, bukan?” 

“Ya. Benar sekali. Aku sangat menyadarinya, betapa tidak berdayanya diriku.” 

“Aku percaya setiap orang memiliki perannya masing-masing. Ada saat kita menjadi tokoh utama, dan ada saat kita menjadi pendukung. Kali ini, mari terima bahwa Anda berada di peran pendukung. Meratapi ketidakberdayaan tidak akan membawa kita melangkah maju.” 

“...Memang tidak berjalan sesuai keinginan. Saat aku ingin bertindak seperti ini, aku bukanlah tokoh utama.” 

“Aku mengerti perasaan itu. Nona Elna, si jenius dari Keluarga Pahlawan, sang Pahlawan yang terlahir kembali... hampir tidak pernah terlibat bahaya. Karena bagi dirinya, kebanyakan hal memang bukanlah bahaya. Justru karena itulah, wajar jika Anda ingin melindunginya dari bahaya semacam itu. Dia adalah sahabat masa kecil yang selalu menolong Anda. Keinginan untuk melindunginya dengan tangan sendiri... jika itu disebut egoisme, maka itu adalah egoisme yang manusiawi.” 

Di situ Fine menghentikan ucapannya. 

Lalu dia melangkah ke sampingku dan menggenggam tanganku. 

“Namun, menopang dari belakang juga merupakan peran yang penting. Percayalah. Itu pun adalah salah satu bentuk.” 

“Fine...” 

“Dia sahabat masa kecil yang Anda banggakan, bukan? Tidakkah Anda bisa berbangga bahwa dia adalah yang terbaik di dunia?” 

“Haa... kamu memang pandai menyemangati orang. Terima kasih, aku merasa lebih baik.” 

“Syukurlah. Kalau begitu, apakah kita akan bergerak?” 

“Ya, mari jalankan. Jika menunggu tidak akan mengubah apa pun, maka kita yang harus menggerakkan keadaan.” 

Dan dengan demikian, aku pun memutuskan untuk memainkan satu langkah yang selama ini membuatku ragu.


* * *


Keesokan harinya. 

Aku memanggil Elna ke istana. 

Di hadapanku tergeletak buku tua yang sama seperti kemarin. 

“Ada apa? Terjadi sesuatu?” 

“Kalau ditanya ada apa, ya memang ada sesuatu. Kamu tahu No Name ada di Ibu Kota, bukan?” 

“Iya.” 

“Sejauh apa yang kamu ketahui?” 

“Kurang lebih soal dia berusaha melampaui Keluarga Pahlawan. Katanya dia memperkuat pedang sihirnya dan ingin menciptakan pedang yang melampaui Pedang Suci.” 

“Kamu tahu sampai sejauh itu...” 

“Kanselir tampaknya mendapatkan informasi dari pihak Guild. Dia sangat waspada. Lagipula, meskipun tidak diberi tahu, aku juga tidak berniat melakukan duel satu lawan satu dengan petualang peringkat SS dari negara lain. Apalagi petualang SS dari Kekaisaran Suci, siapa pun yang menang, tetap saja jadi masalah.” 

“Ya, kupikir begitu. Lalu bagaimana? Kalau berhadapan dengan No Name, jujur saja, menurutmu kamu bisa menang?” 

“Tidak tahu sebelum mencobanya. Dia lawan di level seperti itu.” 

Elna, yang biasanya seperti perwujudan kepercayaan diri, tidak bilang bahwa dia pasti menang. 

Itu saja sudah cukup menunjukkan betapa tinggi kemampuan No Name. 

“Menurut Silver, pedang sihir itu masih belum mencapai tingkat Pedang Suci. Ada kemungkinan pihak sana akan bergerak di waktu yang merepotkan. Menurutmu, bukannya ini saat yang tepat untuk memancing pertarungan?” 

“Jangan bodoh. Kalau dia berniat melampaui kami, justru itu bagus. Aku akan menunggu sampai dia benar-benar melampaui kami. Menantang duel setelah memastikan keuntungan di pihak sendiri, itu hanya akan mempermalukan nama Keluarga Pahlawan.” 

“Begitu ya. Jawaban tipikal Keluarga Pahlawan. Kalau begitu, aku balik bertanya. Bagaimana jika Pedang Suci dan pedang sihir sama-sama disegel?” 

“Tidak akan tahu sebelum mencobanya. Tapi...” 

Elna menatapku dengan sorot mata tajam. 

Lalu berkata, “Kalau Al bilang aku harus menang, maka aku akan menang. Kamu memang berniat membuat kami bertarung, bukan? Dengan cara yang paling minim masalah.” 

“...Buku ini disimpan dengan sangat hati-hati. Sepertinya ini adalah catatan yang ditinggalkan oleh Pahlawan Pertama. Di dalamnya tertulis tentang sebuah duel satu lawan satu yang terjadi lima ratus tahun yang lalu, tepat sebelum pertempuran penentuan melawan Raja Iblis.” 

“Kalau itu tidak diwariskan ke Keluarga Pahlawan, berarti Yang Mulia Pendiri benar-benar ingin meninggalkannya untuk generasi mendatang.” 

Lima ratus tahun yang lalu. 

Sang Pahlawan yang mengalahkan Raja Iblis diterima oleh Kekaisaran dengan gelar Pahlawan. Namun, saat itu belum jelas apakah posisinya akan benar-benar kokoh. 

Sebab tidak ada yang tahu sampai kapan darah sang Pahlawan akan terus berlanjut. 

Di sisi lain, keluarga kekaisaran sudah lama menjadi penguasa. Mereka pasti bisa memprediksi perkembangan di masa depan. 

Karena itulah buku ini dipercayakan kepada keluarga kekaisaran. 

“Duel itu adalah pertarungan memperebutkan Pedang Suci. Siapa pun yang menang akan menggunakan Pedang Suci untuk menantang Raja Iblis. Saat itu, keduanya sama-sama pejuang hebat yang layak disebut pahlawan. Mereka bertarung hanya dengan pedang biasa, dan Pahlawan Pertama keluar sebagai pemenang. Lalu dia menantang pertempuran melawan Raja Iblis, yang disebut-sebut mustahil dimenangkan.” 

“Dan dia menang. Lalu apa yang terjadi pada pihak yang kalah?” 

“Dia dianggap menentang sang Pahlawan, bahkan dicap sebagai musuh umat manusia. Namanya dihapus dari sejarah. Setelah itu, Pahlawan Pertama tampaknya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Meski begitu, Pahlawan tetap menyebutnya sebagai ‘rekan seperjuangan’.” 

Perang panjang melawan iblis. 

Sebagai harapan umat manusia, seharusnya mereka berdua bertarung di garis terdepan. 

Mereka pasti saling mengenal satu sama lain lebih baik daripada siapa pun. 

Jika dikatakan leluhur No Name sama sekali tidak memiliki ambisi, itu tentu bohong. Namun, ambisi bukanlah segalanya. 

Karena itulah.

“Pahlawan lain yang pernah bertarung dengan Pahlawan Pertama demi Pedang Suci. Dialah leluhur No Name, dan itulah alasan mengapa No Name berusaha melampaui sang Pahlawan. Sebuah keinginan keluarga, tekad yang dipendam selama lima ratus tahun. Itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan mudah. Waktu masih dibutuhkan. Namun, sebuah pemicu pasti bisa diciptakan. Dan hanya kamu yang bisa menciptakan pemicu itu.” 

“Tidak perlu basa-basi. Apa yang kamu mau?” 

“Tidak lama lagi ulang tahun Paduka Permaisuri akan tiba. Acara yang disiapkan dianggap terlalu sederhana dan mulai dipermasalahkan. Karena itu, aku ingin mengusulkan duel satu lawan satu antara dirimu dan No Name. Dulu, demi Pedang Suci, dua pahlawan bertarung dengan pedang biasa. Jika dia tahu hal itu, No Name pasti akan menerima tantangan ini. Maaf, tapi jadilah tontonan.” 

“Baiklah.” 

Elna menyetujuinya dengan enteng. 

Namun kemudian dia membusungkan dada dan berkata penuh percaya diri, “Tapi jangan harap aku kalah. Kalau sampai tercipta dendam yang berlanjut lima ratus tahun lagi, aku tidak mau tahu.” 

“Kalau begitu, serahkan saja pada orang-orang lima ratus tahun ke depan. Bertarunglah sepuasnya. Banyak orang pasti akan khawatir dengan kemungkinan kamu kalah, tapi... aku sama sekali tidak meragukan kemenanganmu.” 

“Siap. Akan kupersembahkan kemenangan ini kepada Yang Mulia. Demi nama Armsberg.”


Bagian 11

Keesokan harinya. 

Aku mengusulkan kepada Ayahanda agar diadakan pertandingan di hadapan istana antara Elna dan No Name, dan mendapat jawaban bahwa keputusan akhir akan diambil berdasarkan reaksi No Name. 

Dalam proses itu, semua informasi yang kuketahui telah kuungkapkan.

Tentang leluhur No Name, dan tentang keluarga No Name itu sendiri. 

Dengan memahami bahwa, jika salah langkah, hal itu bisa saja membahayakan Keluarga Pahlawan, Ayahanda menyampaikan satu kalimat saja. 

“Aku mengerti semuanya secara rinci.” 

“...Hanya itu?” 

“Dia berniat melampaui Keluarga Pahlawan dan Pedang Suci. Latar belakang seperti itu sudah sesuai dengan dugaanku. Setidaknya, dia bukan orang gila yang bertindak hanya berdasarkan dorongan sesaat.” 

“Jika sampai dibiarkan terjadi pertarungan langsung, ada kemungkinan dia akan menggunakan pedang sihir. Kalau itu terjadi, Elna tidak punya pilihan selain menghunus Pedang Suci.” 

“Bukankah Silver menilai bahwa pedang sihir itu masih belum menyamai Pedang Suci? Kalau begitu, biarkan saja. Seperti dulu, ketika dia bertarung dengan Pahlawan Pertama, biarkan mereka berduel tanpa membandingkan keunggulan senjata. Ini juga merupakan tanggung jawab keluarga kekaisaran yang pernah menyambut sang Pahlawan ke dalam Kekaisaran. Setidaknya, kami harus menyiapkan panggungnya. Kalau tidak, arwah para kaisar terdahulu pasti akan memarahi kita.” 

Sambil berkata demikian, Ayahanda tersenyum. 

Di sampingnya, Franz memasang ekspresi muram. 

“Ini pertaruhan yang berbahaya.” 

“Selama lima ratus tahun, kami adalah pihak yang paling memahami betapa sulitnya mempertahankan garis darah. Dia tidak akan menantang pertempuran yang tidak bisa dimenangkan hanya karena emosi sesaat. Justru, yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan Elna kalah dalam pertarungan tanpa Pedang Suci.” 

“Itu pun termasuk faktor risiko. Nama besar Keluarga Pahlawan bisa saja ternodai.” 

“Elna... tidak akan kalah.” 

Kemerosotan reputasi bela diri akan mengundang peremehan. Dan dari sana, pertempuran yang tidak perlu bisa saja terjadi.

Kekhawatiran Franz memang wajar. 

Namun, Elna tidak akan kalah. 

“Bolehkah saya menanyakan dasar keyakinan Anda?” 

“Karena Elna sendiri yang mengatakan demikian.” 

“Dia tentu akan berkata begitu, tetapi lawannya adalah petualang peringkat SS. Kelasnya berbeda.” 

“Kalau memang kalah, kita pikirkan saat itu juga. Sekalipun kalah, Pedang Suci maupun Elna sendiri tidak akan melemah secara signifikan. Itu hanya berarti lawannya memang lebih kuat. Soal reputasi, itu bisa dipulihkan kapan saja di perang berikutnya.” 

“Anda terlalu bergantung pada mereka berdua. Apakah pedang sihir akan digunakan atau tidak sepenuhnya bergantung pada No Name. Kemenangan atau kekalahan pun tidak bisa diprediksi.” 

Mendengar ucapan Franz, Ayahanda mengangguk sekali, lalu bangkit dari singgasana.

Dia mendekati jendela dan memandang ke bawah, ke arah Ibu Kota. 

“Alasan Silver sengaja membawa No Name ke Ibu Kota adalah karena dia menginginkan penyelesaian atas ikatan lama itu. Begitulah penilaianku. Di saat iblis telah muncul, tidak boleh ada kegelisahan semacam itu jika kita ingin bertempur bersama.” 

“Kalaupun demikian, apakah harus dilakukan di negeri kita? Bukankah bisa di tempat lain?” 

“Kalau begitu, mereka bisa bertarung sampai salah satu kehilangan nyawa. Itu tidak boleh terjadi. Keduanya dibutuhkan oleh umat manusia. Kita akan menetapkan banyak batasan, dan membuat mereka berduel di hadapan rakyat. Ini sudah diputuskan. Meskipun ada penentangan, aku akan tetap melaksanakannya.” 

“Ya ampun...” 

Dengan wajah tercengang, Franz menghela napas dan memberi hormat di tempat. 

Beliau benar-benar memaksanya menerima keputusan ini.

Yah, pada akhirnya, keputusan ada di tangan Ayahanda. 

“Hanya saja... kalau hanya membuat mereka berduel begitu saja, bukannya itu membosankan? Bagaimana menurutmu, Arnold?” 

“Kebetulan sekali. Aku juga memikirkan hal yang sama.” 

“Kalau begitu, mari kita siapkan segalanya semaksimal mungkin. Ini adalah pertarungan antara dua pendekar terbaik di benua. Tanpa hadiah, itu justru akan terasa tidak sopan.” 

Menangkap maksudnya, aku menundukkan kepala dengan tenang. 

Sekarang, tinggal menunggu tanggapan dari pihak No Name.


* * *


“Aku tidak berniat menjadi tontonan.” 

Sebagai Silver, aku mengunjungi penginapan No Name dan menyampaikan rencana pihak Kekaisaran.

Namun, No Name menggeleng pelan. 

“Bukannya saling menguji juga bisa menjadi pengintaian kekuatan lawan?” 

“Di depan banyak penonton, situasinya berbeda. Ada harga diri keluarga yang dipertaruhkan. Kalau sekadar uji tanding ringan masih bisa, tapi duel satu lawan satu dengan panggung yang sudah disiapkan... kekalahan tidak bisa ditoleransi.” 

“Kalau begitu, menang saja.” 

“Ini bukan lawan yang bisa dikalahkan hanya dengan tekad. Tujuan kali ini murni untuk mengukur kekuatan lawan. Aku tidak akan melangkah lebih jauh dari yang perlu.” 

“Tujuanmu dan tujuan keluargamu adalah melampaui sang Pahlawan. Karena itu kamu memperkuat Dis Pater bukan?” 

“Lalu?” 

“Tidak, rupanya ada sebuah buku peninggalan Pahlawan Pertama yang selama ini disimpan oleh keluarga kekaisaran.” 

Sambil berkata demikian, aku meletakkan buku itu di atas meja di dekatnya.

Hingga saat itu, reaksi No Name terbilang datar, tetapi begitu mendengar nama Pahlawan Pertama, respons yang datang kali ini jelas berbeda. 

“Kenapa buku seperti itu bisa ada di sini!?” 

“Karena keluarga kekaisaran mengetahui latar belakangnya. Dan setelah itu, mereka mengajukan usulan duel kali ini.” 

“...Kamu juga sudah membacanya?” 

“Sekilas saja. Sepertinya Pahlawan Pertama dan leluhurmu pernah bertarung mempertaruhkan Pedang Suci. Dengan pedang biasa, tanpa keistimewaan apa pun. Jika tujuanmu adalah mewujudkan cita-cita turun-temurun, bukankah ini kesempatan? Melampaui Pedang Suci berarti juga melampaui sang Pahlawan. Namun, jika melihat pertarungan antara Pahlawan Pertama dan leluhurmu, bukannya melampaui sang Pahlawan tidak bisa disebut demikian kecuali jika kamu menang dalam pertarungan dengan semua hal tambahan disegel?” 

“Itu...” 

“Bacalah buku ini dan pikirkan sendiri. Oh, ini barang pinjaman dari keluarga kekaisaran. Jaga baik-baik.” 

Hanya itu yang kukatakan sebelum meninggalkan tempat tersebut.

Keputusan ada di tangan No Name. 

Lalu aku berpindah ke sebuah gang belakang, agak jauh dari penginapan.

Di sana, Henrik baru saja menyelesaikan satu urusan. 

“Kali ini ada tiga orang?” 

“Mereka yang sejak awal sudah menyusup. Mereka bergerak diam-diam, berusaha mencari kesempatan untuk melakukan kontak.” 

Sambil berkata begitu, Henrik menyarungkan kembali tongkat pendek yang dipegangnya.

Di dekatnya, tiga pria tergeletak di tanah.

Barangkali mereka dilumpuhkan oleh Henrik hingga tidak sadarkan diri. 

“Informasinya?” 

“Tidak ada yang berarti. Sepertinya mereka hanya pion.” 

“Begitu, ya. Tapi kalau komunikasi mereka terus terputus seperti ini, pada akhirnya mereka pasti akan mengirim bidak yang lebih kuat untuk mencoba mendekat.” 

“Tenang saja. Hama akan kubersihkan.” 

“Kuserahkan padamu.” 

Setelah mengucapkan satu kalimat itu, aku meninggalkan tempat tersebut.

Sejak awal, kami mengambil posisi bahwa Silver tidak bisa lama berada di Ibu Kota, sehingga No Name yang dikirim sebagai gantinya. 

Karena itu, sebagai Silver, aku tidak bisa berlama-lama di Ibu Kota.

Kalaupun No Name akhirnya menolak, mungkin tidak akan ada kelonggaran untuk memikirkan hal-hal semacam itu... tapi rasanya kekhawatiran itu tidak perlu. 

Selama hama-hama itu terus disingkirkan, No Name akan mengambil keputusan sendiri.

Dan keputusan itu adalah sesuatu yang boleh kami harapkan. 

Dengan pikiran itu, aku membuka gerbang teleportasi menuju istana.

Masih ada sesuatu yang harus kucari.


Bagian 12

Di pinggiran Ibu Kota Kekaisaran. 

Di sanalah No Name dan Chloe sedang menyelesaikan sebuah permintaan dari Guild Petualang. 

“Yah!” 

Lawan mereka adalah Bloodhound.

Jumlahnya lima ekor, setara monster peringkat A. 

Dengan dua pedang di tangannya, Chloe menebas mereka satu per satu dengan cekatan.

Sementara itu, No Name mengamati dari jarak agak jauh. 

“Baik! Sudah selesai! No Name!” 

“Terima kasih. Maaf semuanya jadi aku serahkan padamu.” 

“Tidak apa-apa kok. Memang ini bukan permintaan yang seharusnya melibatkan petualang peringkat SS.” 

Sambil berkata begitu, Chloe dan No Name mulai berjalan.

Permintaan kali ini adalah penumpasan monster yang mulai bermunculan di berbagai desa. 

Karena peringkat monster yang tidak menentu, tidak ada petualang yang mau mengambilnya, sehingga cabang Ibu Kota kebingungan.

Akhirnya, permintaan itu jatuh ke tangan Chloe dan No Name. 

Jika ada permintaan yang mendesak namun tidak ada yang mau menerimanya, biasanya akan diteruskan ke Silver. 

“Terus terang, aku tidak menyangka kamu sering menangani permintaan semacam ini.” 

“Bagi Guru, seluruh wilayah Kekaisaran itu seperti halaman rumah sendiri. Sepertinya beliau menerimanya hanya dengan perasaan ‘cari angin’.” 

“Orang yang merepotkan. Karena sikap seperti itulah permintaan seperti ini terus datang.” 

“Maksudnya?” 

“Kalau guild cabang Ibu Kota melempar permintaan yang terlalu sulit untuk petualang biasa, Silver pasti akan turun tangan. Kalau tahu mekanisme itu, orang tidak perlu lagi mengajukan permintaan pribadi ke Silver. Permintaan pribadi butuh tiga koin pelangi, tapi lewat permintaan biasa bisa jauh lebih hemat.” 

“Begitu, ya. Tapi rasanya Guru memang melakukan itu dengan sadar. Soalnya beliau sama sekali tidak peduli soal uang.” 

Chloe tertawa sambil berkata begitu.

Melihatnya, No Name menghela napas pelan. 

Dalam hal seperti ini, guru dan muridnya benar-benar mirip, pikirnya. 

Permintaan ini sebenarnya sempat membuat guild ragu, apakah akan diberikan pada Chloe dan No Name atau tidak.

Namun Chloe yang lebih dulu mengambilnya.

Tanpa benar-benar mengecek isi maupun imbalannya. 

“Sepertinya kamu juga tidak terlalu peduli soal uang. Lalu, mengapa memilih menjadi petualang?” 

“Aku? Yah, selain karena tidak ada hal lain yang bisa kulakukan... alasan aku terus menjalani ini karena aku mengagumi sosok Guru.” 

Awalnya, Silver-lah yang menuntunnya ke jalan petualang.

Namun yang berjalan di jalur itu adalah dirinya sendiri.

Dan yang menjadi sumber semangatnya adalah terus melihat punggung sang guru, Silver. 

“Aku ingin menjadi seperti beliau. Orang yang selalu muncul dengan gagah di saat genting dan menyelesaikan semuanya. Seperti beliau yang menolongku dulu, aku juga ingin menjadi seseorang yang bisa menolong orang lain.” 

“Kekaguman pada guru, ya...” 

“Kalau No Name, kamu punya guru juga?” 

Pertanyaan yang begitu lugas membuat No Name terdiam sejenak.

Namun Chloe tidak mendesaknya.

Dia hanya tersenyum dan menunggu jawaban. 

Menyadari bahwa Chloe benar-benar hanya penasaran, No Name pun mulai berbicara pelan. 

“Guruku... tidak, guruku juga seorang petualang peringkat SS. Aku dilatih oleh Pertapa Tinju Dua Kutub... Lienares.” 

“Eh!? Kalau begitu, berarti kamu senior dong!” 

“Senior...?” 

“Sebagai murid petualang peringkat SS, kamu berdiri sejajar dengan Guru, ‘kan? Berarti senior!” 

“Aku sejajar dengan Lienares...? Tidak mungkin. Kekuatanku berasal dari pedang sihir. Aku sendiri tidak seberapa.” 

Di balik topengnya, No Name tersenyum pahit. 

Lienares, yang menempa tubuhnya sendiri hingga mencapai puncak tertinggi di benua, dan dirinya yang hanya terlahir dalam keluarga pembuat pedang sihir, lalu mewarisi pedang itu beserta status petualang peringkat SS. 

Menyebut diri mereka sejajar terasa terlalu sombong.

Itu akan menjadi penghinaan bagi para pendekar di seluruh benua. 

Merasakan nada merendahkan diri itu, Chloe memperlihatkan kedua pedangnya. 

“Ini karya Guru Towi, sang tabib pertapa Mizuho sekaligus pandai pedang terbaik. Beliau menempa ulang pedang sihir lama agar cocok untukku. Saat memberikannya, beliau berkata, ‘Sebagus apa pun senjatanya, kalau penggunanya hanya kelas rata-rata, hasilnya tetap rata-rata.’ Karena itu aku bertekad untuk tidak membiarkan diriku disebut rata-rata.” 

“...”

“Pedang sihir tetaplah pedang sihir. Kalau memang segalanya tergantung pada penggunanya, bukannya orang yang benar-benar mencatatkan prestasi dengan pedang itu layak disebut hebat?” 

“Begitukah... Aku rasa tidak.” 

Dis Pater, kecuali Pedang Suci, tidak diragukan lagi adalah pedang sihir terkuat di benua.

Pedang yang akan tetap kuat, siapa pun penggunanya. 

Prestasi yang diraih dengan pedang seperti itu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.

Begitulah penilaian No Name. 

Namun. 

“Kalau begitu, tanpa pedang sihir, apakah No Name lemah?” 

“Entahlah... Aku rasa tidak sampai lemah, tapi...” 

“Kalau Guru, tanpa sihir sama sekali tidak ada apa-apanya, lho. Kalau beliau tidak pakai sihir, aku rasa aku bisa menang dengan mudah. Itu kesanku setelah sempat berlatih ringan.” 

“Sihir adalah hasil dari usaha. Sihir adalah kekuatannya.” 

“Kalau begitu, bisa menggunakan pedang sihir juga merupakan kekuatan No Name. Mengatakan bahwa segalanya hanya karena pedang sihir rasanya kurang tepat. Pedang tetaplah pedang. Nilainya berubah tergantung siapa yang mengayunkannya.” 

“Kamu ini... aneh, ya.” 

Kata-kata Chloe yang diucapkan dengan senyum entah bagaimana membuat No Name merasa bahwa mungkin saja itu benar.

Tanpa dasar apa pun. Hanya karena Chloe benar-benar percaya. 

Justru karena itu, perasaan tersebut terasa nyaman bagi No Name.

“Begitu ya? Syukurlah kalau begitu, kelihatannya kamu jadi lebih bersemangat.” 

“Bersemangat... memang, aku jadi terasa lebih bersemangat. Kalau boleh sekalian, bolehkah aku bertanya satu hal?” 

“Ya! Apa itu?” 

Dengan nada ceria, Chloe menjawab.

Desa berikutnya sudah tepat di depan mata.

Kalau ingin bertanya, sekaranglah satu-satunya kesempatan.

Dia tidak boleh didengar orang lain. 

“...Aku tidak pandai menentukan sesuatu sendiri. Karena selama ini aku tidak pernah menjalani hidup dengan cara seperti itu.” 

“Begitu ya?” 

“Ya. Karena itu, aku ingin mendengar pendapatmu. Menurutmu... apa aku bisa mengalahkan Pahlawan generasi sekarang?” 

“Pahlawan? Maksudnya Nona Elna von Armsberg, yang disebut-sebut sebagai kebangkitan Pahlawan itu? Hmm, bagaimana ya... karena kalian berdua lebih kuat dariku, aku jadi tidak begitu tahu.” 

Chloe menjawab dengan raut wajah sedikit merasa bersalah.

Lawan yang kekuatannya berada di atas dirinya.

Bahkan memperkirakannya saja sulit.

Lagipula, dia belum pernah melihat kekuatan penuh keduanya.

Dari cara bergerak mereka, dia hanya bisa tahu bahwa keduanya sangat kuat.

Dia paham bahwa dirinya sendiri tidak akan mampu menandingi mereka, tetapi siapa yang lebih unggul di antara keduanya, dia tidak bisa menilainya. 

“Begitu... ya...” 

Dengan nada agak kecewa, No Name bergumam.

Namun, kepada No Name yang seperti itu, Chloe justru menampilkan senyum paling cerah. 

“Tapi! Ini sih pendapat pribadiku, tapi menurutku pertarungan itu dimulai dari keyakinan untuk bisa menang! Kalau perbedaan kekuatannya terlalu jauh, mungkin itu saja tidak cukup... tapi kalau selisihnya sedikit, aku rasa itu bisa memperkecil jaraknya. Soalnya, kalau tidak percaya bisa menang, kita tidak akan berani menghadapi lawan, ‘kan? Menurutku, sikap seperti itu jauh lebih keren! Karena guru yang aku kagumi juga seperti itu.” 

Kata-kata itu sederhana, bahkan terdengar naif.

Tak ubahnya sekadar pendapat pribadi.

Namun, bagi No Name, itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab kegelisahannya. 

Kesempatan yang telah ditunggunya selama lima ratus tahun akhirnya datang.

Namun mengapa dia tidak langsung mengambilnya?

Karena dia takut kalah. 

Lima ratus tahun telah membuat No Name menjadi terlalu berhati-hati.

Dia memikul seluruh beban klannya.

Jika dia kalah, semua perbuatan klannya mungkin akan sia-sia.

Memikirkan itu, dia tidak sanggup bertindak dengan ringan. 

Namun, lawan yang dihadapinya bukanlah pihak yang bisa dikalahkan oleh seseorang dengan pikiran seperti itu.

Karena selalu memikirkan kemungkinan kalah, dia tidak pernah bisa menang.

Jika dia terus menunggu sampai benar-benar yakin bisa menang mutlak, dia tidak akan pernah bertarung. Sementara itu, pihak lawan pun terus berkembang. Tidak ada jaminan jarak kekuatan akan menyempit.

Jika kesempatan ini terlewat, mungkin tidak akan ada kesempatan berikutnya. 

Kalau begitu... 

“Ah! Itu monster burungnya!” 

Chloe menemukan monster burung raksasa yang terbang di dekat desa.

Pada saat yang sama...

Suara gemuruh mengguncang area sekitar. 

No Name mengayunkan tebasan tangan di tempat.

Serangan itu melahirkan sabit angin yang dahsyat, membelah monster burung raksasa itu menjadi dua, lalu terus melesat jauh ke kejauhan. 

Sejak dia memegang Dis Pater, dia sudah jarang melakukan serangan tanpa menggunakan Dis Pater.

Namun, tampaknya kemampuannya tidak tumpul sedikit pun. 

“Waah... hebat sekali...” 

“Ini yang terakhir. Sisanya biar Guild yang mengurus. Aku ada sedikit urusan. Bolehkah kita kembali ke Ibu Kota?” 

“Y-Ya!” 

Mendengar jawaban Chloe, No Name pun mulai melangkah pergi.


Bagian 13

“Aku akan menerima pertarungan itu.” 

Dua hari kemudian.

Kepada diriku yang datang menemuinya, No Name menyampaikan keputusan itu. 

Mendengar jawabannya, aku mengangguk sekali. 

“Persiapan akan diurus oleh orang-orang istana. Tapi kenapa berubah pikiran?” 

“Kalau berubah pikiran, apa itu merepotkanmu? Bukannya kamu memang ingin aku menerimanya?” 

“Aku tidak ingin kamu menerimanya. Aku hanya menyediakan tempat. Itu bagian dari kesepakatan.” 

“Kalau begitu, bolehkah aku menolaknya?” 

“Itu keputusanmu.” 

Tidak mungkin dia menolak.

No Name telah memutuskan untuk menghadapi Elna.

Apa pun yang terjadi, dia pasti akan bertarung. 

Karena aku sudah tahu itu, aku pun menampilkan sikap santai. 

Melihat sikapku, No Name tersenyum. 

“Santai sekali. Apa itu hanya gertakan?” 

“Ada dasarnya. Aku cukup mengakui kemampuanmu. Orang yang bilang mau bertarung lalu mundur bukan orang yang bisa jadi petualang peringkat SS.” 

“Penilaian yang masuk akal. Namun, penilaian itu akan segera berubah.” 

Sambil berkata demikian, No Name mengambil pedang yang disandarkan di sana.

Sepertinya dia hendak keluar. 

“Mau ke mana?” 

“Chloe bilang dia bersedia menemaniku berlatih.” 

“Begitu ya. Syukurlah, sepertinya dia tidak menghambatmu.” 

“...Dia sangat membantu. Untuk itu, aku berterima kasih.” 

“Tidak perlu berterima kasih padaku. Sampaikan saja pada Chloe.” 

No Name mengangguk kecil, lalu meninggalkan tempat itu.


* * *


Lorong belakang tempat kami berpindah melalui teleportasi. 

Di sana, Henrik berhasil memojokkan seorang pria berpenampilan seperti penyihir. 

“Sial! Pengguna alat sihir!” 

Pria itu melepaskan sihir api, tetapi Henrik langsung membekukannya seketika dengan tongkat di tangan kirinya.

Lalu, dia mengarahkan tongkat di tangan kanannya ke arah pria itu dan menembakkan peluru sihir. 

Peluru sihir itu menghantam tubuh pria tersebut, melemparkannya hingga menabrak dinding dan melumpuhkannya. 

“Katakan. Atas perintah siapa?” 

“Siapa yang...”

“Begitu ya. Kalau begitu, kita pakai cara lain.” 

Sambil berkata demikian, Henrik mengeluarkan sebuah botol kecil yang dibawanya, lalu memaksa pria itu menghirup aroma yang keluar dari botol tersebut.

Pria itu sempat meronta, tetapi perlahan tenaganya terkuras dan tubuhnya melemas. 

“Atas perintah siapa?” 

“...Dari pihak... yang berhubungan dengan... Guild Petualang... mereka yang meminta...”

“Petualang, ya. Masuk akal.” 

Henrik menyimpan kembali botol kecil itu, lalu menoleh ke arahku.

Obat rahasia milik Kakek. Alat sihir maupun ramuan, semuanya dia gunakan dengan cekatan. 

“Sudah mulai memanfaatkan petualang.” 

“Kelihatannya begitu. Kalau sudah begini, akan sulit membedakan siapa yang bertindak sebagai penghubung, bukan?” 

“Soal itu tidak perlu dikhawatirkan. Selama bukan pembunuh bayaran profesional, orang mencurigakan pasti akan menunjukkan kejanggalan.” 

“Kalau begitu, kuserahkan padamu. No Name sudah menyetujui duel satu lawan satu. Aku tidak ingin mendekatkan serangga yang bisa menimbulkan keraguannya.” 

“Baiklah. Tapi ada kemungkinan pendahulunya tidak sabar dan masuk ke Ibu Kota?” 

“Itu tidak akan terjadi. Pendahulunya akan dihentikan oleh orang lain.” 

“Kalau kamu yang bilang begitu, pasti memang begitu. Baiklah, aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan.” 

Sambil berkata demikian, Henrik membelakangiku.

Pria yang terkapar itu, cepat atau lambat, pasti akan ditemukan seseorang.

Pendahulu itu tidak sebodoh itu sampai memanfaatkan kembali bidak yang sudah sekali gagal.

Orang itu sudah tidak berguna lagi. 

Saat aku memikirkan hal itu, Henrik menoleh kembali ke arahku. 

“...Apa itu tidak apa-apa?” 

“Apa maksudmu?” 

“Kamu menerima duel satu lawan satu berarti kamu menilai bisa menang. Pertarungan itu akan sangat sengit. Apa benar tidak masalah?” 

“Soal Elna?” 

“Ya. Bukannya kamu tidak mau dia berada dalam bahaya?” 

“Jangan meremehkanku. Tidak ada pendekar pedang yang lebih hebat darinya. Kalau duel satu lawan satu, dia tidak akan kalah. Dia tidak akan masuk ke dalam bahaya.” 

“Sudah lama kupikirkan, tapi... keberpihakanmu pada sahabat masa kecilmu itu sudah tidak normal. Meski begitu, keberpihakan sahabat masa kecil di pihak sana malah lebih tidak normal lagi.” 

Dengan ekspresi jengah, Henrik pun pergi meninggalkan tempat itu.

Sejak dulu dia memang menyebalkan, tapi sekarang menyebalkannya ke arah yang berbeda. Dibanding dulu, dia jadi lebih sulit ditangani, bisa dibilang memburuk. 

“Pengaruh Kakek, ya. Merepotkan sekali.” 

Sambil bergumam demikian, aku berpindah ke kamar di dalam istana.

Di kamar itu, Sebas sudah menungguku. 

“Selamat datang kembali.” 

“Bagaimana hasilnya?” 

“Tidak menggembirakan.” 

Sambil menghela napas, aku mengangguk kecil, karena memang sudah kuduga.

Saat ini, semua orang istana yang sedang tidak bertugas dikerahkan untuk mencari sesuatu di perpustakaan.

Tentu saja, pencarian besar-besaran ini dilakukan karena perintah langsung dari Kaisar. 

“‘Nama yang dihapus dari sejarah’. Tidak akan mudah menemukannya.” 

“Namun, Anda yakin itu ada, bukan?” 

“Ya. Ayahanda juga berpikir begitu, makanya mengerahkan orang untuk mencarinya. Perpustakaan istana adalah yang terbesar di seluruh benua. Tidak mungkin hanya sebuah nama tidak bisa ditemukan.” 

“Tetapi, waktu kita tidak banyak.” 

“Kita cari sampai batas akhir. Mulai hari ini mungkin harus begadang.” 

Sambil berkata demikian, aku meregangkan tubuh ringan.

Ada buku-buku yang hanya bisa dibaca oleh keluarga kekaisaran.

Mencarinya dari sana adalah tugasku. 

Sekilas, ini tampak seperti pekerjaan yang mustahil, tetapi yang harus dicari hanyalah buku-buku dari lima ratus tahun lalu.

Itu saja sudah sangat mempersempit ruang pencarian. 

Pahlawan Pertama telah mencatat duel satu lawan satu pada masa itu dengan baik.

Kalau begitu, seharusnya nama juga dicatat. 

Nama leluhur No Name yang tidak tercantum di buku itu. 

Ini adalah tanggung jawab Kekaisaran yang telah mengikat seorang Pahlawan dalam pelukannya.

Sebagai negara yang jelas-jelas bertahan sejak saat itu, kami harus menebus kesalahan masa lalu. 

Meski pernah dinilai sebagai musuh umat manusia, sebelumnya mereka jelas adalah pelindung umat manusia.

Meski rakyat melupakan, keluarga kekaisaran yang menjadi lapisan pemimpin tidak boleh melupakannya. 

Lima ratus tahun.

Waktu yang lebih dari cukup untuk sebuah penebusan. 

“Aku pasti akan menemukan nama No Name.” 

Dengan tekad itu, aku pun menuju perpustakaan bersama Sebas.


Bagian 14

Ulang tahun Permaisuri. 

Sebuah festival berskala besar pun digelar di Ibu Kota Kekaisaran.

Daya tarik utamanya adalah duel satu lawan satu yang berlangsung di arena koloseum raksasa yang berada di pusat kota. 

“Terima kasih sudah memasang penghalang. Silver.” 

“Ah, itu perkara mudah. Justru aku yang berterima kasih karena sudah menyiapkan tempat ini.” 

Sambil berkata demikian, Ayahanda duduk di kursi yang disediakan di bangku kehormatan dan berbincang dengan Silver.

Aku yang menyaksikan dari kursi keluarga kekaisaran kemudian diajak bicara oleh Silver. 

“Kudengar yang membujuk Elna von Armsberg adalah Yang Mulia Arnold. Aku tidak menyangka Anda sendiri yang turun tangan.” 

“Lebih baik begitu daripada duel dilakukan di luar pengawasanku.” 

“Namun, duel satu lawan satu selalu membawa risiko.” 

“Pola pikir petualang sekali. Kamu mengira No Name akan menang?” 

“Hah, cara berpikir keluarga kekaisaran. Sepertinya kamu sama sekali tidak mengira Armsberg akan kalah.” 

“Mau bertaruh?” 

“Heh... percaya diri sekali. Dengan dirimu, kamu tidak bisa mempertaruhkan sesuatu yang kuinginkan, jadi aku tidak akan bertaruh. Tapi yang menang kemungkinan besar adalah No Name.” 

“Sahabat masa kecilku tidak akan kalah.” 

Percakapan pun terhenti di sana.

Tidak pantas bagi seorang keluarga kekaisaran dan petualang peringkat SS untuk terus berdebat.

Orang-orang di sekitar mulai gelisah, bertanya-tanya ada apa. 

Di tempat ini hadir Kaisar, Permaisuri, para keluarga kekaisaran yang berada di ibu kota, bahkan para duke besar.

Kami tidak boleh terlalu mencolok. 

“Tidak kusangka Arnold sampai terpancing begini. Leonard, menurutmu bagaimana?” 

“Tentu saja Elna yang akan menang.” 

“Begitu ya. Brunhilde, bagaimana menurutmu?” 

“Aku juga memilih Elna sebagai pemenang.” 

“Kamu terpojok, Silver.” 

Ayahanda tampak terhibur dan mulai mengumpulkan pendapat dari sekeliling.

Namun, ini adalah bangku kehormatan Kekaisaran. 

“Jika terlalu banyak yang berpihak pada petualang, bukankah itu akan merepotkan Anda, Paduka Kaisar?” 

“Benar juga. Tapi kalau begini rasanya kurang menarik.” 

“Kalau begitu, izinkan saya memberi satu suara untuk No Name.” 

“Oh? Ini bukan sekadar iseng, bukan, Eric?” 

Dengan Eric ikut bergabung dalam adu prediksi, Ayahanda tampak senang mendengar alasannya.

Seperti biasa, tanpa mengubah ekspresi, Eric menjawab. 

“Aku tidak percaya pada No Name, melainkan percaya Silver. Silver telah melihat langsung kekuatan Elna, dan dia mendukung No Name. Itu sudah cukup untuk dipercaya.” 

“Masuk akal. Memang begitu.” 

“Yang Mulia Eric bijaksana. Namun aku seorang penyihir. Yang akan berlangsung adalah duel antara pendekar pedang kelas atas. Prediksi seperti ini tidak bisa diandalkan.” 

Sambil berkata demikian, Silver menggelengkan kepala.

Gerakannya tampak sangat alami. 

Silver ini sebenarnya adalah Henrik yang menyamar menggunakan ilusi.

Sebagai keluarga kekaisaran, aku harus hadir, tetapi Ayahanda memanggil Silver untuk duduk di sisinya.

Untuk menghindari kecurigaan, Henrik dijadikan pengganti. 

“Kalau begitu, mari kita tanya para pendekar. Alida, Theodore. Menurut kalian, siapa yang akan menang?” 

Ayahanda meminta pendapat Alida dan Theodore yang bertugas sebagai pengawal.

Keduanya adalah pendekar setara, bahkan mungkin lebih hebat, dari Elna. 

Namun. 

“Elna.” 

“Elna, tanpa ragu.” 

Jawaban itu datang seketika.

Aku mengira mereka akan memberikan jawaban yang lebih beragam.

Sepertinya Ayahanda pun berpikir sama. 

“Mengejutkan. Kenapa bisa secepat itu? Kalau ingatanku tidak salah, dalam latihan, Elna biasanya berada di posisi kurang menguntungkan dibanding kalian berdua.” 

“Latihan dan duel satu lawan satu itu berbeda. Dalam latihan, meski kalah, selama ada pelajaran yang didapat, Elna menganggapnya cukup. Namun dalam duel, dia tidak mencari pembelajaran. Dia akan bertarung untuk menang mutlak. Menghadapi Elna dengan sikap seperti itu, saya rasa tidak seorang pun bisa menang.” 

“Lagipula, terakhir kali kami bertarung dengan Elna sepenuh tenaga adalah beberapa tahun lalu. Elna saat itu dan Elna sekarang tidak bisa dibandingkan. Dia sendiri tampaknya merasa teknik pedangnya masih di bawah kami, tapi... setahun lalu mungkin masih imbang, sekarang kami justru yang akan kalah.” 

“Jadi julukan anak ajaib Keluarga Pahlawan itu bukan sekadar hiasan.” 

Mendengar pendapat keduanya, Ayahanda berkali-kali mengangguk.

Kehebatan Keluarga Pahlawan Armsberg, hal yang tampak seolah dipahami, namun sebenarnya tidak.

Bagian yang hanya bisa dimengerti oleh para pendekar, tampaknya Alida dan Theodore benar-benar memahaminya. 

Yah, sejak Elna berhasil merebut Pedang Suci dari Pahlawan, sebenarnya sudah bisa dibayangkan.

Di dalam Keluarga Armsberg, yang penuh dengan individu di luar nalar, Elna, yang dijuluki anak ajaib, adalah keberadaan yang benar-benar berbeda.

Sebagaimana pendahulu No Name yang mulai bertindak gegabah setelah mengetahui keberadaan Elna, dia adalah sosok di luar standar, bahkan di antara mereka yang luar biasa. 

“Jadi tetap Elna yang lebih unggul, ya.” 

“Namun lawannya adalah petualang peringkat SS. Betapa pun Elna hebat, ini bukan lawan yang mudah. Hasilnya takkan bisa dipastikan sampai akhir.” 

“Benar juga.” 

Mendengar ucapan Permaisuri, Ayahanda mengangguk dan bersandar lebih dalam di kursinya. 

Sebentar lagi duel akan dimulai.

Hasilnya takkan pernah bisa dipastikan sebelum pertarungan benar-benar terjadi.

Apalagi ini adalah duel antara dua petarung kelas puncak. 

Duel antara anak ajaib Keluarga Pahlawan dan petualang peringkat SS membuat arena dipenuhi lautan manusia.

Jelas jumlahnya sudah melampaui kapasitas, dan masih banyak orang yang tidak kebagian masuk di luar.

Pemandangan seperti ini benar-benar jarang terjadi. 

“Kakak.” 

“Hm?” 

“Tidak apa-apa, ‘kan? Aku dengar rumor kalau tujuan No Name untuk melampaui Keluarga Pahlawan.” 

“Di mana-mana memang selalu ada tukang gosip. Dan ya, itu benar. Karena itulah aku menyiapkan panggung duel ini.” 

“Aturannya memang sudah ditetapkan, tapi kalau mau dilanggar, tetap bisa saja. Apa kita bisa mempercayainya?” 

“Entahlah. Kalau aturan dilanggar dan jadi bebas tanpa batas, Elna juga akan bertarung tanpa batas. Tapi kurasa itu tidak akan terjadi. Silver tampaknya menjamin pihak No Name.” 

“Aku jamin. Selama Elna von Armsberg tidak memanggil Pedang Suci, tidak akan terjadi hal yang sampai menghancurkan arena. Meski, jujur saja, bahkan dalam duel biasa pun, mereka berdua adalah orang yang bisa menghancurkan arena kalau benar-benar berniat.” 

“Justru itu yang bikin aku makin cemas...”

Meskipun Leo ragu, keduanya diumumkan akan memasuki tempat acara.


Bagian 15

“Hadirin sekalian. Karena persiapan telah selesai, dengan ini kami akan memulai Turnamen Kekaisaran.” 

Kanselir Franz menggunakan sihir untuk menyampaikan pengumuman itu ke seluruh arena.

Sesaat, koloseum menjadi senyap. 

Akhirnya, kedua petarung akan muncul. 

Sempat ada usulan agar beberapa pertandingan pendahuluan digelar terlebih dahulu sebagai pemanasan, namun Ayahanda menolaknya.

Siapa pun yang bertarung sebelum mereka berdua pasti akan tenggelam dan tidak akan menjadi pembuka yang layak.

Para penonton pun datang semata-mata untuk menyaksikan duel satu lawan satu ini.

Keputusan itu jelas tepat. 

Jarang sekali seorang petualang peringkat SS tampil di hadapan publik dengan begitu terbuka.

Apalagi dalam posisi menantang Keluarga Pahlawan. 

Para keluarga kekaisaran, para prajurit garis depan, dan para petualang.

Orang-orang ini berbeda dari warga Ibu Kota biasa.

Dalam kondisi normal, hampir tidak pernah ada kesempatan untuk melihat anggota Keluarga Pahlawan ataupun petualang peringkat SS, terlebih lagi menyaksikan pertarungan melawan lawan yang setara. 

Rakyat sudah tidak sabar ingin melihatnya.

Bahkan Ayahanda, yang terbiasa dengan hampir segala bentuk kemewahan, tampak sangat antusias. 

Namun, para penonton yang demikian ramai itu mendadak terdiam.

Semangat juang dari dua orang yang melangkah keluar bersamaan telah menelan mereka semua. 

Yang satu berambut merah muda dengan mata hijau giok, anak ajaib kebanggaan Kekaisaran dari Keluarga Pahlawan, Elna.

Yang satunya lagi adalah sosok misterius berjubah putih dengan topeng hitam, petualang peringkat SS, salah satu dari hanya lima orang di seluruh benua, No Name. 

Keduanya bertangan kosong.

Pedang akan disediakan oleh pihak Kekaisaran. 

Di tengah keheningan total, Kanselir pun berbicara dengan tenang. 

“...Paduka Permaisuri. Demi Paduka, dua orang pendekar telah mengajukan diri. Yang pertama adalah Kapten Kesatria Pengawal Regu Ketiga, Elna von Armsberg. Yang kedua adalah petualang peringkat SS dari Guild Petualang, No Name. Keduanya adalah pendekar terbaik di benua ini.” 

“...Kami berterima kasih kepada kalian berdua.” 

Permaisuri menjawab singkat.

Tidak perlu kata-kata panjang. 

Kemudian, beberapa bilah pedang disiapkan di hadapan mereka. 

“Silakan pilih senjata dari sini. Atas nama kehormatan Kekaisaran, kami menjamin tidak ada kecurangan.” 

Mendengar itu, keduanya mengulurkan tangan ke arah pedang.

Pedang biasa sekalipun akan berubah menjadi pedang termasyhur di tangan mereka. 

Namun... 

“Silver.” 

“Ada apa, Pangeran Arnold?” 

“Aku tidak ingin nanti ada yang mencari-cari kesalahan. Aku tidak mau mendengar alasan setelah kalah.” 

“Yang kamu maksud teman masa kecilmu?” 

“Tentu saja No Name.” 

“Menarik. Tapi memang, menyerahkan segalanya pada pihak Kekaisaran mungkin tidak sepenuhnya adil. Yang Mulia Kanselir!” 

Silver menyebarkan suaranya ke seluruh arena.

Ini adalah interupsi yang tidak direncanakan.

Namun Kanselir tetap tenang. 

“Ada apa, Silver?” 

“Sebagai salah satu petualang peringkat SS, biar aku yang menyiapkan senjatanya. Aku tidak meragukan Kekaisaran, tapi mungkin saja ada orang yang tidak ingin Keluarga Pahlawan kalah. Kecurangan kecil di tingkat bawah sulit sepenuhnya dicegah, bukan?” 

“Itu ada benarnya. Lalu, bagaimana kamu mengusulkannya?” 

“Gunakan pedang milik muridku. Tempatnya sudah disediakan Kekaisaran, jadi tidak ada keberatan, bukan?” 

Kata-kata terakhir itu diarahkan pada Ayahanda.

Ayahanda mengangguk sekali. 

“Tidak masalah. Lakukan sesukamu. Namun, tanggung jawabnya ada padamu.” 

“Baik. Aku bersumpah atas seluruh pencapaianku, aku tidak akan membiarkan duel ini ternodai. Chloe!” 

Dipanggil demikian, Chloe menampakkan diri dari lorong tempat No Name masuk.

Kali ini, Chloe bertindak sebagai pendukung sekaligus pengawal No Name.

Meski sebenarnya lebih tepat disebut pengusir gangguan. 

Chloe melemparkan sepasang pedangnya ke arah kedua petarung. 

“Karya Towi, tabib pertapa dari Mizuho! Ketahanannya terjamin!” 

Sepasang pedang itu menancap di dekat kaki mereka.

Keduanya meraih pedang itu, memastikan rasanya di tangan, lalu... 

No Name mengayunkannya ke kiri, Elna ke kanan.

Satu ayunan.

Hanya dengan satu ayunan, pedang-pedang lain yang disiapkan di sisi masing-masing terbelah dua dan terhempas pergi. 

Sejak awal, sepasang pedang itu telah ditempa ulang agar mampu menahan Darkness Force milik Chloe.

Menahan kekuatan mereka berdua seharusnya bukan masalah. 

“Ada masalah?” 

“Tidak.” 

“Tidak ada masalah.” 

“Syukurlah. Kondisi senjata sama. Yang membedakan hanya kemampuan masing-masing. Mari kita nikmati.” 

“Enak sekali ya, menonton dari atas. Kalau mau, setelah ini aku juga bisa bertarung denganmu.” 

“Aku menolak. Namun...”

Silver melirik ke arahku sejenak.

Agar tidak ketahuan, aku tidak mengubah ekspresi maupun bereaksi.

Ini sudah sesuai dengan skenario yang ditetapkan. 

Setelah memastikan keadaanku, Silver berkata dengan tenang. 

“Anggap saja kekalahan No Name sebagai kekalahan seluruh petualang peringkat SS. Seperti halnya kamu mewakili Kekaisaran, No Name mewakili para petualang di benua ini. Nama Kekaisaran memang berat, tapi No Name memikul seluruh benua. Sebaiknya jangan meremehkan rekan-rekanku.” 

“Itu terdengar menyenangkan.” 

Mendengar jawaban Elna, Silver menoleh ke arah Kanselir.

Tinggal penjelasan aturan saja. 

“Terakhir, kami akan menjelaskan aturan. Batas waktu sepuluh menit. Kedua pihak dilarang menggunakan pedang sihir maupun Pedang Suci. Kematian akibat hal yang tidak disengaja tidak akan dianggap sebagai kejahatan. Sekian.” 

Aturan yang sederhana.

Jika tidak disengaja, membunuh pun diperbolehkan, karena pada dasarnya, serangan mereka berdua hampir selalu mematikan.

Yang membatasi mereka hanyalah senjata dan waktu. 

Setelah selesai menjelaskan, Kanselir memandang Ayahanda.

Ayahanda berdiri dan mengangkat satu tangan. 

“Atas nama Kaisar Kekaisaran, Johannes...”

Elna dan No Name mengangkat pedang mereka pada saat yang bersamaan.

Tidak ada ketegangan berlebihan. 

Namun... 

“Mulai!!!!” 

Pada detik tangan Kaisar diayunkan turun.

Kedua pedang itu berbenturan.


Bagian 16

Elna dan No Name. 

Benturan pedang mereka mengguncang seluruh arena dengan hebat. 

Bukan karena teknik khusus apa pun. 

Itu hanyalah satu serangan pembuka, semacam salam. 

Namun, daya hancurnya sebesar ini. 

Tanpa penghalang milik Silver, ini jelas bukan lagi tontonan yang bisa dinikmati. 

Akan tetapi, penghalang Silver memang ada. 

Menyadari hal itu, rakyat pun merasa lega dan bersorak menyambut pertarungan kedua orang itu. 

Di tengah sorak-sorai itulah, pertarungan sesungguhnya dimulai. 

Keduanya tidak melangkah satu inci pun, hanya mengayunkan pedang. 

Serangan tebasan dari atas Elna dialihkan oleh No Name, lalu dia langsung mengayunkan pedangnya dari bawah. 

Namun Elna menahan serangan itu dan memantulkannya kembali. 

Tidak satu pun mau mundur. 

Selama pertahanan lawan tidak bisa ditembus, trik kecil tidak akan menentukan hasil. 

Hal itu sudah sama-sama mereka pahami. 

Yang dibutuhkan adalah satu serangan dahsyat yang bisa merobohkan pertahanan, atau serangan dengan sudut yang berbeda. 

Meski begitu, keduanya tetap tidak bergerak. 

Tanpa melangkah, mereka terus mengayunkan pedang. 

Itu memang keras kepala, tapi juga lahir dari rasa bahaya. 

Jika mundur selangkah saja melawan lawan ini, segalanya akan berakhir buruk. Naluri sebagai pendekar itulah yang membuat kaki mereka terpaku. 

“Pantas saja disebut petualang peringkat SS.” 

“Mengejutkan kamu masih sempat berbicara.” 

“Justru kamu yang terlihat santai.” 

“Tidak sesantai yang kamu kira.” 

Sambil bertukar kata, mereka terus melancarkan teknik pedang. 

Kecepatan ayunan perlahan meningkat. 

Untuk menekan lawan hanya dengan teknik, kecepatan adalah kuncinya. 

Seiring itu, kekuatan tiap serangan pun ikut naik. 

Embusan sisa dari serangan yang meleset saja sudah cukup membuat arena bergetar. 

Tanpa penghalang, dinding arena pasti sudah hancur. 

Setelah rentetan serangan semacam itu... 

Elna melayangkan tebasan dari atas, dan No Name menahannya. 

Namun dia tidak mampu sepenuhnya menahan momentum, dan tubuh No Name terpental. 

Akhirnya, pergerakan terjadi. 

Penonton pun bersorak gegap gempita, menganggap kemenangan telah berada di tangan Elna. 

Di tengah sorakan itu, No Name menarik napas panjang. 

Dia telah berkali-kali membayangkan pertarungan melawan lawan yang lebih kuat darinya, bertarung dalam pikirannya tanpa henti. 

Namun kenyataannya, lawan di hadapannya bahkan lebih kuat dari bayangan itu. 

“Anak ajaib Keluarga Pahlawan, reinkarnasi sang Pahlawan. Julukan itu memang pantas.” 

“Kamu bicara hal yang membosankan.” 

“Membosankan?” 

“Iya, sangat. Aku adalah aku.” 

Sambil berkata begitu, Elna langsung mempersempit jarak dengan No Name. 

Tusukan dengan ancang-ancang. 

Daya hantamnya jauh melampaui serangan sebelumnya. 

No Name kembali menahannya, tetapi dia terpental lebih jauh lagi. 

Setiap serangan terasa begitu berat. 

Dalam duel antar pendekar, jika kalah dalam bobot satu serangan saja, alur pertarungan akan sepenuhnya direbut lawan. 

Dia mencoba melawan kekuatan dengan teknik, tetapi pada pertarungan sebelumnya, keunggulan teknik sudah jelas. 

Paling banter, teknik mereka seimbang. Namun kekuatannya, pihak sana unggul. 

Bertarung secara lurus seperti ini, tidak ada peluang menang. 

Kata “kekalahan” melintas di benak No Name. 

Semua orang menginginkannya. 

Kemenangan sang Pahlawan yang melindungi Kekaisaran. 

Wajar jika itulah yang diharapkan rakyat Kekaisaran. 

Namun... 

“Kamu tidak akan menang kalau ragu, tahu?” 

Suara itu jatuh dari atas. 

Para penonton menengadah, bertanya-tanya apa yang terjadi. 

Di atas arena, tampak sosok manusia. 

“Ya ampun, selain harus menjalankan urusan Silver, aku juga terlambat gara-gara rekan seperjalanan yang jalannya lambat.” 

“Hei, kakek sialan. Menurutmu siapa penyebab kita telat? Kamu yang salah jalan berkali-kali!” 

“Petunjuknya yang buruk.” 

“Siapa juga yang lari duluan tanpa dengerin orang!” 

“Yang salah itu yang jalannya lebih lambat dariku!” 

“Benar. Kakimu yang lambat juga penyebabnya.” 

“Kenapa ujung-ujungnya aku yang disalahkan, ini nggak masuk akal...” 

Mereka adalah para petualang puncak umat manusia. 

Tiga petualang peringkat SS yang tersisa. 

Seolah mendapatkan kursi VVIP, mereka duduk di atas arena dan mulai menonton duel itu. 

“Sepertinya kita kedatangan tamu istimewa.” 

“Tidak perlu sambutan, Paduka. Kami hanya penonton.” 

“Kalau begitu, silakan menonton dari sana. Kakek Egor, kalau kamu berminat, maukah ikut turun?” 

“Hahaha, orang tua ini sudah pensiun. Lagipula, bukannya aku sudah menyuruh Silver menyampaikannya? Kekalahan No Name adalah kekalahan kami. Kalau dia menang, mau disebut Pendekar Suci atau yang terkuat di benua pun silakan. Yah, kalau dia bisa menang.” 

“Huh, inilah alasan aku benci orang Kekaisaran. Kalian semua pikir selama ada Pahlawan, musuh apa pun bisa dikalahkan. Ajarin mereka, No Name. Dunia nggak semanis itu.” 

“Kamu naik ke panggung dengan keyakinan bisa menang, ‘kan? Kalau begitu, percaya saja sampai akhir bahwa kamu akan menang.” 

Mendengar kata-kata mereka, No Name terkekeh pelan di balik topengnya. 

Lalu dia menoleh ke arah Elna, yang sempat menghentikan gerakannya. 

“Kamu punya teman-teman yang baik, ya?” 

“Teman-teman... mungkin saja. Elna von Armsberg, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.” 

“Apa itu?” 

“Bagimu, apa arti Pedang Suci?” 

“Aku tidak tahu maksud pertanyaanmu, tapi akan kujawab. Itu hanya pedang. Benda yang diwariskan turun-temurun, tentu saja berharga. Namun tetap saja pedang. Yang patut dibanggakan adalah diriku yang berhasil memanggilnya. Diriku yang diakui leluhur. Bukan Pedang Suci-nya.” 

“Begitu... sepertinya satu keraguanku terjawab.” 

“Syukurlah. Kalau begitu, sekalian saja kuberitahu rahasiaku. Alasan aku memanggil Pedang Suci itu karena aku ingin dibilang hebat oleh sahabat masa kecilku. Bagi diriku, sesederhana itu.” 

“Alasan pemanggilan termuda hanya karena itu... lalu, apa kata sahabatmu itu?”

“Aku dimarahi dan disuruh berhenti karena berbahaya. Pemanggilan saat tubuh belum terbentuk sempurna bebannya terlalu besar. Sahabat masa kecilku yang terlalu khawatir itu sedang menonton. Karena itu, aku tidak bisa berpura-pura kalah.” 

Sambil berkata demikian, Elna langsung menerobos masuk ke jarak dekat No Name. 

Ujung pedang mendekati tubuh No Name. 

Namun serangan itu ditahan oleh pedang yang digenggam di tangan kiri No Name. 

Pada saat yang sama, tangan kanan No Name perlahan ditempelkan ke perut Elna. 

Tidak percaya dengan apa yang terjadi, Elna refleks menarik jarak dan menyelipkan tangan kirinya di antara tangan kanan No Name dan tubuhnya. 

Pada detik itu juga, dari jarak nyaris nol, No Name melancarkan satu hantaman telapak tangan yang dahsyat, membuat Elna terpental jauh. 

“Kh!” 

Merasa nyaris celaka, Elna segera menata ulang kuda-kudanya. 

Di hadapannya, Elna melihat No Name perlahan melepas topengnya.


 “Aku pun sama... guruku sedang menyaksikan, jadi aku tidak boleh kalah.” 

“Jadi akhirnya kamu serius juga...”

No Name melempar topeng yang ada di tangan kanannya. 

Lalu dia mengambil sikap bertarung. 

“Aku adalah petualang peringkat SS No Name... nama guruku adalah Lienares.” 

“Pantas saja...” 

“Aku datang.” 

Serangan barusan, bagaimana pun dilihat, lebih menyerupai serangan seorang petarung tangan kosong daripada pendekar pedang. 

Selain pedang, serangan fisik pun harus diwaspadai. 

Kewaspadaan Elna terhadap No Name yang maju menyerangnya pun langsung meningkat drastis.


Bagian 17

Pertarungan itu seimbang.

Elna memiliki keunggulan dalam jangkauan pedang, tetapi jika dia melangkah lebih dekat, tinjunya bisa dijangkau dan pukulan No Name akan lebih kuat. 

“Haaaahhh!!”

Elna menyelinap masuk ke dalam jarak No Name dengan memainkan tempo cepat dan lambat, lalu melancarkan tusukan. 

No Name berhasil menggeser lintasan tusukan itu, tetapi bahunya tetap tergores dangkal. 

Namun, itu adalah jarak milik No Name. 

“Haahhhhh!!” 

Tinju kanan melesat ke arah Elna. 

Terlalu dekat untuk menghindar. 

Kalaupun diterima, luka takkan terelakkan. 

Kalau begitu... 

Elna refleks mengayunkan kaki kanannya ke atas. 

Pada saat kaki kanan itu menghantam perut No Name, tinju kanan No Name juga menghantam perut Elna. 

Waktunya bersamaan. 

Keduanya sedang dalam posisi menyerang, sehingga tidak sempat menghindar dan terpental keras ke arah berlawanan. 

“Guh...” 

Menghantam dinding, No Name terjatuh. 

Namun Elna pun sama. 

Meski dia membalas dengan insting bertarung yang luar biasa, kekuatan serangan fisik tetap berada di pihak No Name. 

Ini bukan sekadar saling meniadakan. 

Meski begitu, No Name juga tidak baik-baik saja. 

Tebasan pedang Elna perlahan mulai mengenai tubuhnya, dan serangan pukulannya pun semakin tajam. 

Jika pertarungan berlarut-larut, dia akan dirugikan. 

Menyadari itu, No Name mengertakkan gigi dan bangkit berdiri. 

Alasan No Name dikirim ke bawah asuhan Lienares adalah karena dia menginginkan darah Lienares. 

Namun selain itu, dia juga ingin menyerap teknik Lienares. 

Klan No Name, yang telah menyerap banyak garis keturunan, juga rakus akan teknik. 

Mereka telah mempelajari banyak aliran pedang, semuanya demi melampaui sang Pahlawan. 

Namun ada kemungkinan bahwa ilmu pedang saja tidak cukup untuk melampauinya. Karena itulah dia mengincar teknik Lienares. 

Jika tidak bisa unggul dengan pedang, maka cukup menciptakan selisih lewat seni tubuh. 

Sekalipun mampu melampaui Pedang Suci, jika tidak bisa melampaui sang pemiliknya, kekalahan tetap mungkin terjadi. 

Untuk melampaui sang Pahlawan, baik Pedang Suci maupun sang Pahlawan itu sendiri harus dilampaui. 

Penilaian itu tidak salah. 

“...”

Di ujung pandangannya, Elna belum bangkit. 

Sekarang adalah kesempatannya. 

Namun tubuhnya tidak bergerak semudah yang dia bayangkan. 

Dia menarik napas dalam-dalam, dengan cepat menata kembali tubuhnya. 

Mengalirkan sihir ke seluruh tubuh, dia menekan rasa sakit untuk sementara sambil memperkuat diri. 

Pikirannya masih jernih. Kehendaknya masih ada. 

Yang tersisa hanyalah membuat tubuhnya bergerak. 

“Aku akan... menang!!” 

Dengan memaksa tubuhnya bergerak, No Name berlari maju. 

Dia memperpendek jarak hingga ke Elna yang terpental ke sisi berlawanan. 

Elna, meski berlutut, masih mengangkat pedangnya. 

Namun itu hanyalah tipuan. 

Pedang No Name diayunkan dari atas, dan Elna nyaris saja berhasil menahannya. 

“Masih lemah!!” 

Kaki No Name terayun ke atas. 

Elna yang perhatiannya tertarik ke atas, menerima tendangan itu tepat di depan. 

Tubuhnya terlempar dengan mudah, seakan terbuat dari kertas, lalu kembali menghantam dinding. 

Tidak ada jalan untuk kabur. 

Sekarang saatnya menyerang. 

No Name langsung memperkecil jarak. 

“Haahhhhh!!!!” 

Rentetan serangan pedang menghunjam. 

Elna menerima semuanya, namun celah yang tercipta dari pertahanan itu dimanfaatkan No Name untuk melancarkan pukulan demi pukulan. 

Tidak ada lagi stamina atau ruang untuk menghindar. 

Elna hanya bisa menerima tinju No Name. 

Saat tinju kiri menghantam, tubuhnya terlempar ke kanan; saat tinju kanan menghantam, tubuhnya terlempar ke kiri. 

Dia sudah seperti samsak hidup. 

Para penonton di arena menjerit. 

Tidak ada yang menyangka perkembangan seperti ini, semua diliputi kepanikan. 

“Perlu kita hentikan, Franz?” 

“Saya tidak bisa memastikan.” 

“Tidak perlu.” 

Menanggapi ucapan Kaisar, Al yang menjawab. 

Tatapannya tertuju pada Elna yang terus dipukuli. 

“Kalau begini, dia bisa mati.” 

“Kalau situasinya memang sejauh itu, para petarung kuat di tempat ini pasti sudah turun tangan. Fakta bahwa tidak ada yang bergerak berarti... keunggulan No Name tidaklah sepihak seperti yang terlihat.” 

Kaisar melirik Alida dan Theodore yang berada di dekatnya. 

Keduanya mengangguk, membenarkan perkataan Al. 

Mengikuti alur itu, Alida bertanya pada Al. 

“Yang Mulia, mengapa Anda berpikir demikian?” 

“Elna belum melepaskan pedangnya. Lagipula, waktu kecil aku diajari olehnya. Kalau dipukul, kendurkan tubuhmu.” 

Nasihat yang Elna berikan saat melihat Al tidak mampu membalas. 

Cara untuk menghindari luka serius. 

Dengan merilekskan tubuh, dampak serangan akan mengalir pergi, sehingga tidak menerima kerusakan besar. 

Karena tahu itu, Al paham bahwa Elna sedang menunggu kesempatan untuk membalas. 

“Kalau Kakak menggenggam terlalu kuat, nanti berdarah, tahu?” 

“Diam.” 

Leo, yang juga menyadari Elna tengah menanti momen serangan balik, tersenyum kecut sambil menepuk tangan Al. 

Al menggenggam tinjunya erat, sempat mengendur saat ditegur, tetapi segera menggenggamnya lagi. 

Melihat itu, Leo tertawa. 

“Kakak memang gampang cemas.” 

Setelah ucapan itu... 

No Name menyadari ada yang janggal dengan sensasi serangannya. 

Namun tinjunya jelas mengenai sasaran. 

Hanya saja, kekuatannya dialirkan pergi. 

No Name sampai pada kemungkinan itu, tetapi dia berpikir hanya gurunya Lienares yang mampu melakukan hal semacam itu. 

Elna tetaplah seorang pendekar pedang, bukan petarung tangan kosong. 

Tidak mungkin. Dengan keyakinan itu, No Name melancarkan satu pukulan lurus dengan seluruh tenaganya. 

Serangan yang mustahil untuk dialirkan dayanya. 

Namun, sebelum pukulan itu sempat mencapai sasaran... 

No Name sudah lebih dulu menerima tebasan pedang Elna.

Darah menyembur dari perutnya. Karena dia refleks menarik tubuhnya, lukanya tidak fatal. 

Namun, pendarahannya parah. 

Serangan itu datang hampir dari luar kesadarannya. 

Karena dia sudah terlalu lama bisa menyerang secara sepihak, kesadaran akan pertahanan pun menipis. 

“Sungguh... kamu memukul sesukamu, ya.” 

Sambil berkata demikian, Elna menyeka darah di sudut bibirnya. 

Harga yang harus dibayar untuk melepaskan satu serangan itu tidaklah murah. 

Dia memang mengendurkan tubuhnya untuk mengalirkan daya serangan, tetapi tidak mungkin mengalirkannya sepenuhnya. 

Beberapa kali kesadarannya hampir lenyap, namun dia bertahan dengan tekad semata. 

Semuanya demi satu momen, saat No Name melancarkan pukulan dengan segenap tenaga, dia bisa menyerang balik. 

“Baiklah, sekarang giliranku.” 

“Jangan meremehkanku... kamu juga pasti sudah limbung.” 

“Aku masih sangat santai.” 

“Aku juga masih punya banyak tenaga.” 

Keduanya tertawa bersamaan, lalu kembali membenturkan pedang mereka.


Bagian 18

Sorak sorai lenyap dari arena. 

Rakyat membayangkan sebuah duel antar pendekar kelas tertinggi. 

Mereka mengira akan disuguhi pertukaran jurus yang indah dan memukau. 

Namun, yang terjadi di hadapan mereka adalah pertempuran. 

Pedang Elna merobek kulit No Name, sementara pada saat yang sama tinju No Name menghantam organ dalam Elna. 

“Sudah cukup... menyerahlah!” 

Pedang Elna menembus bahu No Name. 

Namun, bersamaan dengan itu, tinju No Name menghantam perut Elna. 

Sebuah serangan balik yang sempurna. 

Tidak ada waktu untuk mengalirkan dampaknya. 

“Khah...!”

“Justru kamu... keras kepala!” 

Pukulan itu menyerang bagian dalam tubuh, membuat Elna memuntahkan darah dan berlutut. 

Memanfaatkan celah itu, No Name mencabut pedang Elna yang tertancap di bahunya dan mundur mengambil jarak. 

Keduanya terengah-engah, namun tekad bertarung mereka tidak surut. 

“Tidak lucu... aku bahkan belum mengeluarkan setengah kekuatanku, tahu...?”

“Begitu ya... aku sendiri baru sekitar tiga puluh persen.” 

“Salah sangka rupanya... aku bahkan belum mengeluarkan dua puluh persen.” 

“Aku pun belum sampai sepuluh persen...”

Meski tubuh mereka penuh luka, adu mulut itu terus berlanjut. 

Namun, niat sudah tidak lagi sejalan dengan tubuh. Keduanya telah menerima terlalu banyak serangan. 

Meski begitu, mereka tetap menggerakkan tubuh dengan tekad semata. 

Sesaat, sosok mereka menghilang dari pandangan penonton. 

Lalu, di tengah arena, keduanya saling menghantamkan serangan. 

Menghadapi pedang Elna, No Name mengerahkan tinju yang diperkuat sihir. 

Tidak satu pun mundur, hingga akhirnya kekuatan mereka meledak di tempat. 

Terseret oleh gelombang dampaknya, Elna dan No Name terhempas hingga ke dinding. 

“Sungguh... kepala batu...” 

Elna bergumam sambil bangkit berdiri. 

Di arah pandangnya, No Name juga bangkit. 

Waktu hampir habis. 

Batas waktu yang ditetapkan kian mendekat. 

Jika terus saling menggerus seperti ini, waktu akan habis begitu saja. 

Elna tidak menginginkan akhir seperti itu. 

“Aku sudah... berjanji akan menang.” 

Perlahan, sihir mulai terkumpul di pedang Elna. 

Di arena yang sempit, kesempatan untuk mengeluarkan jurus besar jarang datang. 

Namun, dengan kedua belah pihak sama-sama kelelahan, mereka tidak punya pilihan selain bertaruh pada satu serangan penentu. 

Karena waktu kian menyempit. 

No Name pun mengumpulkan sihir ke pedangnya dengan cara yang sama. 

Dengan pedangnya, Elna menggambar sebuah pentagram. 

Namun, No Name pun melakukan hal yang sama. 

Pilihan terakhir mereka, kebetulan, adalah jurus yang identik. 

“Teknik Rahasia...” 

“...Ukiran Bintang.” 

Teknik milik Keluarga Pahlawan yang dahulu mengalahkan leluhur No Name dalam duel penentuan. 

Tentu saja, teknik itu diwariskan dalam Keluarga Pahlawan. 

Namun, teknik yang sama juga diwariskan dalam keluarga No Name, mereka yang pernah menerimanya secara langsung. 

Demi hari pertarungan yang akan datang. 

Agar tidak tertinggal dalam hal teknik. 

Itu adalah warisan dari para leluhur. 

Keduanya menerjang maju sambil menusuk ke pusat pentagram masing-masing. 

Dua teknik yang sama bertabrakan di tengah arena, mengguncang seluruh tempat itu dengan gelombang kejutnya. 

Elna dan No Name pun terselimuti cahaya. 

Kekuatan mencari jalan keluar ke luar, menembus penghalang Silver dan melesat ke langit. 

Saat penghalang itu pecah, para petualang peringkat SS yang hadir langsung bersiap tempur. 

Jika keadaan memburuk, merekalah yang harus menghentikannya. 

Namun, hanya Silver yang tetap tidak bergerak. 

“...Waktunya habis.” 

Pasir di jam pasir yang disiapkan telah jatuh seluruhnya, dan terompet penanda waktu pun ditiup. 

Suara itu menggema di seluruh arena, lalu menyebar ke seantero Ibu Kota. 

Seiring dengan bunyi itu, cahaya perlahan meredup. 

Di tengah arena. 

Elna berdiri tegak. 

Ujung pedangnya mengarah ke tenggorokan No Name yang berlutut di hadapannya. 

Namun. 

Pedang No Name juga terarah tepat ke dada Elna. 

Mengingat kemampuan mereka masing-masing, mustahil serangan dari jarak itu bisa meleset. 

Karena itulah. 

“Cukup!! Atas nama Kaisar Kekaisaran, duel ini dinyatakan seri!!” 

Perintah itu dilontarkan seketika oleh sang Kaisar. 

Bersamaan dengan suaranya, para Kapten Kesatria Pengawal memasuki arena. 

Dikhawatirkan, dua petarung yang terlalu larut dalam pertarungan akan memaksakan penentuan akhir. 

Terlebih, keduanya telah menanggung luka yang sangat berat. 

Maksudnya juga untuk memberi perawatan...

Namun, keduanya menolak bantuan para Kapten Kesatria Pengawal. 

“Mundur saja.” 

“Tidak perlu perawatan.” 

Mereka mengusir para Kapten Kesatria Pengawal, lalu saling menatap. 

Kemudian...

“Lain kali aku pasti menang.” 

“Itu kalimatku.” 

Keduanya menerima hasil hari ini. 

Kondisinya setara. Mereka pun sadar batas waktunya terbatas. 

Dan justru karena itu, mereka mengakui bahwa belum mampu menentukan pemenang adalah batas kemampuan mereka saat ini. 

Melihat mereka berdua, sang Kaisar angkat bicara. 

“Aku telah menyaksikan duel yang luar biasa. Tidak banyak kaisar yang pernah melihat duel sekelas ini. Aku dan Permaisuri sangat puas. Kalian telah berjuang dengan baik.” 

Mendengar kata-kata itu, Elna berlutut. 

No Name tidak berlutut, tetapi menundukkan kepala dengan tenang. 

Itulah tata krama minimum yang dia berikan. 

Sambil memandang mereka, sang Kaisar menerima sebuah buku dari tangan Kanselir. 

“Duel ini akan dikenang dan diceritakan turun-temurun. Duel yang pantas dikenang seperti ini harus diberi ganjaran, atau generasi mendatang akan menertawakan kami. Namun, kalian adalah petualang peringkat SS dan Pahlawan generasi ini. Apa yang bisa kuberikan sangatlah terbatas.” 

Sambil berkata demikian, Ayahanda mengangkat tangan kanannya. 

Sebagai isyarat itu, banyak alat sihir berbentuk bola raksasa dibawa masuk ke arena. 

“Alat-alat sihir itu terhubung dengan seluruh cabang Guild Petualang di seluruh benua. Melalui cabang-cabang itu, suaraku akan disampaikan ke seluruh penjuru benua.” 

Itu adalah pidato berskala benua, hasil kerja sama Guild Petualang, Kekaisaran, dan banyak negara. 

Dan pidato itu adalah...

Itu adalah penebusan dosa yang melampaui lima ratus tahun. 

“Untuk seluruh insan yang tinggal di benua ini. Aku adalah Kaisar Kekaisaran Adrasia, Johannes Lakes Ardler. Mohon maafkan ketidaksopananku karena tiba-tiba menyapa kalian semua. Kali ini, ada sesuatu yang harus kusampaikan.” 

Suara sang Kaisar disiarkan ke seluruh penjuru benua. 

Dalam keadaan normal, hal seperti ini mustahil terjadi. 

Namun, ini adalah sesuatu yang memang harus dilakukan. 

“Lima ratus tahun yang lalu, pada masa perang melawan iblis, ada seorang pendekar pedang yang berjasa besar. Pendekar yang berdiri sejajar dengan Pahlawan Pertama, sebelum pertempuran terakhir melawan Raja Iblis, mengajukan permohonan duel satu lawan satu kepada Pahlawan Pertama. Itu adalah duel untuk menentukan siapa yang berhak menggunakan Pedang Suci. Pada akhirnya, pendekar tersebut kalah, dan umat manusia menganggapnya musuh seperti iblis, lalu menghapus namanya dari sejarah.” 

Karena tindakannya dianggap menghambat langkah sang Pahlawan, dia dipandang sebagai musuh umat manusia. 

Bukan sesuatu yang patut dipuji, tentu saja. 

Namun, meski begitu, jasa-jasanya di masa lalu tidak serta-merta lenyap. 

“Akan tetapi, pendekar itu terus bertarung demi umat manusia. Demi umat manusia yang terpojok, dia berdiri di garis terdepan pertempuran melawan iblis bersama sang Pahlawan. Hanya karena satu kesalahan, namanya dihapus dari sejarah selama lima ratus tahun. Ini bisa dikatakan sebagai kesalahan umat manusia. Duel itu adalah duel yang jujur dan terhormat. Memang, waktunya tidaklah tepat. Namun, apakah mereka yang hanya diselamatkan memiliki hak untuk menyalahkannya? Pahlawan Pertama berharap bahwa suatu hari nanti nama pendekar itu akan diselamatkan dari kegelapan sejarah. Aku ingin mewujudkan harapan tersebut.” 

Sang Kaisar membuka sebuah buku. 

Itu adalah buku tanpa nama pengarang. Tidak diketahui siapa yang menulisnya. 

Namun, buku itu disimpan dengan sangat hati-hati di tempat yang hanya bisa diakses oleh keluarga kekaisaran. 

Yang menemukannya adalah Al. 

Buku itu berisi catatan tentang perang melawan iblis lima ratus tahun lalu, dan pada halaman terakhirnya tertulis nama dua orang pendekar yang memberikan kontribusi terbesar dalam perang tersebut. 

Salah satunya adalah Pahlawan Pertama. 

Dan satu lagi... 

“Sebagai penguasa negara yang secara nyata terus bertahan sejak lima ratus tahun lalu, aku, Kaisar Johannes Lakes Ardler, menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan lima ratus tahun silam. Kita seharusnya tidak melupakannya. Nama pendekar yang dihapus dari sejarah adalah ‘Arvine Knox’. Di tempat ini, atas nama kaisar, aku mengembalikan nama itu. Terima kasih karena lima ratus tahun lalu telah melindungi umat manusia. Dan juga terima kasih karena hingga kini masih terus menjadi pelindung umat manusia sebagai petualang peringkat SS. Dengan dua ungkapan terima kasih dan permohonan maaf ini. Terima kasih, dan aku sungguh minta maaf. Keturunan keluarga Knox... No Name.” 

Dengan tenang, sang Kaisar menundukkan kepala. 

Mengikuti sikap itu, seluruh anggota keluarga kekaisaran yang berada di tempat tersebut pun berdiri dan menundukkan kepala bersama-sama.


Bagian 19

Permohonan maaf dari Keluarga Ardler. 

Itu adalah peristiwa yang langka dalam skala seluruh benua. 

Bukan permintaan maaf atas nama individu, melainkan permintaan maaf atas nama satu keluarga. 

Sebuah kekaisaran yang sejak lima ratus tahun yang lalu telah berdiri kokoh sebagai negara kuat. 

Para anggota keluarga kekaisaran itu mampu memahami beratnya waktu yang dipikul No Name. 

Karena mereka pun sama. 

Itulah sebabnya, mereka menyampaikan permintaan maaf atas nama benua. 

Menghadapi sikap Keluarga Ardler seperti itu, No Name tetap terdiam. 

“Katakan sesuatu.” 

“...”

“Kamu...”

“Keluarga Elang Emas... sekarang aku benar-benar mengerti mengapa begitu banyak orang terpesona oleh keluarga kalian.” 

Setelah berujar demikian, No Name perlahan berlutut. 

Lalu... 

“Selama lima ratus tahun, mengembalikan nama kami adalah cita-cita terbesar keluarga kami... Kami pikir satu-satunya jalan hanyalah mengalahkan sang Pahlawan dan mengumumkan nama kami sendiri... Namun, rupanya di Kekaisaran masih ada orang-orang yang tidak melupakan nama keluarga kami... Dari lubuk hati terdalam, aku mengucapkan terima kasih, Paduka Kaisar.” 

“Tidak perlu berterima kasih. Nama ini adalah sesuatu yang kamu raih sendiri. Memang terdengar sepihak, tetapi... jika kamu kalah telak dari Pahlawan era ini, Elna, aku sama sekali tidak berniat memberimu penghargaan. Aku, Kaisar Johannes, mengakuinya. Keluargamu memang telah berdiri sejajar dengan Keluarga Pahlawan.” 

Sambil berkata demikian, sang Kaisar menghentikan seluruh alat sihir di arena. 

Tugasnya telah selesai. 

Seluruh benua kini menjadi saksi. 

Bahwa petualang peringkat SS No Name adalah keturunan Arvine Knox yang namanya dihapus dari sejarah lima ratus tahun lalu, dan kini, melampaui rentang lima abad, dia telah berdiri sejajar dengan Keluarga Pahlawan. 

Cukup itu saja yang perlu disampaikan. 

“No Name... alat sihirnya sudah kuhentikan. Suaraku kini hanya terdengar oleh orang-orang yang berada di tempat ini. Jika kamu tidak keberatan, bolehkah aku mendengar namamu?” 

Sang Kaisar menanyakan nama pribadi No Name. 

Arvine Knox adalah nama leluhurnya. 

No Name adalah nama yang diwariskan. 

Dan sudah pasti, No Name generasi sekarang yang berdiri di sini pun memiliki nama. 

Itulah alasan pertanyaan tersebut. 

Namun. 

“Paduka Kaisar... memang benar aku juga memiliki nama. Akan tetapi, aku ini pun seorang pejuang, meski hanya setitik. Aku masih memiliki harga diri. Jika aku menang, mungkin lain ceritanya, tetapi dengan hasil imbang, aku tidak pantas mengumumkan namaku. Perkenankan aku menundanya untuk kesempatan lain.” 

“Begitu rupanya... Aku yang tidak tahu diri. Maafkan aku.” 

Setelah mendengar ucapan kaisar, No Name memberi hormat, lalu meninggalkan arena. 

Kepada No Name yang hendak pergi itu, Elna bersuara. 

“Padaku saja, kenapa tidak menyebutkan namamu?” 

“Kamu penasaran?” 

“Tentu saja. Apa kamu berniat selamanya memakai nama No Name?” 

“Awalnya itu hanya berarti tanpa nama, tetapi sekarang No Name adalah nama petualanganku. Sebagai petualang peringkat SS, banyak orang yang mengenalku lewat nama itu. Sekalipun aku bisa menyebutkan nama asliku, aku akan tetap menjadi No Name.” 

Sambil berkata demikian, No Name memungut topeng yang tadi dia buang, lalu mengenakannya kembali.

Melihat itu, Elna mengernyit. 

“Kenapa para petualang suka sekali memakai topeng, sih?” 

“Kamu mau coba juga?” 

“Tidak. Jangan memaksakan seleramu padaku.” 

“Sayang sekali.” 

“Jadi, kamu sungguh mau pulang tanpa menyebutkan namamu? Ini kesempatan langka, tahu?” 

Jarang ada panggung sebesar ini. Kesempatan sempurna untuk menonjolkan diri. 

Dia telah menunggu lima ratus tahun. Bukankah sayang jika kesempatan ini disia-siakan? 

Dengan perasaan itulah ucapan itu keluar. 

“Aku terkejut kamu begitu ingin tahu namaku. Kalau begitu, jika lain kali kamu berhasil mengalahkanku, akan kuberitahukan.” 

“Apa!? Maksudmu aku tidak akan bisa menang dalam pertandingan ulang!?” 

“Entahlah.” 

Sambil berkata begitu, No Name mengulurkan tangannya. 

Elna tidak sebodoh itu sampai mengira uluran itu sebagai ajakan berjabat tangan. 

Dia menyerahkan pedang Chloe yang ada di tangannya kepada No Name. 

“Lain kali, aku yang akan menang.” 

“Itu harusnya kalimatku.” 

Setelah berkata demikian, No Name membelakangi Elna dan melangkah menuju lorong arena. 

Di sana, Chloe telah menunggu. 

“Kerja kerasnya luar biasa! No Name!” 

“Terima kasih. Pedang ini juga... berkat pedangmu, aku bisa bertarung tanpa penyesalan. Aku sungguh berterima kasih.” 

“Tidak... kalau bisa membantumu, pedang ini juga pasti senang. Untuk sementara, mari kita ke ruang tunggu. Luka-lukamu juga harus diobati.” 

Setelah mengembalikan dua pedang kepada Chloe, No Name mulai berjalan. 

Namun, langkahnya lambat. 

Chloe menatapnya dengan raut heran. 

“Jangan-jangan... kamu menangis?” 

“Tidak...” 

“Begitu ya... ini hanya pendapatku saja, tapi... kamu sangat baik hati. Dalam banyak hal.” 

“Benar... memang sangat baik hati...” 

Sambil bertukar kata seperti itu, mereka berjalan perlahan. 

Di tengah jalan, No Name terhuyung dan menahan tubuhnya dengan satu tangan di dinding. 

“Kamu tidak apa-apa!?” 

“Iya... sepertinya bebannya... lebih berat dari yang kukira...” 

“Peganglah aku.” 

Chloe meminjamkan bahunya pada No Name. 

Lalu memaksanya untuk terus berjalan. 

“Kalau mau pingsan, lakukan itu di ruang tunggu saja. Sampai akhir, kamu harus tetap menjaga harga dirimu.”


“Benar sekali... mari kita berusaha lebih keras lagi...”

Kata No Name, sambil tersenyum tipis di balik topengnya.


* * *


Setelah duel satu lawan satu itu. 

Di atas tembok Ibu Kota, empat petualang peringkat SS berkumpul. 

“Nih, Silver.” 

Sambil berkata demikian, Egor menyerahkan selembar pelat kepada Silver. 

Itu adalah sebuah alat sihir. 

“Itu hak perintah mutlak terhadap Guild yang dulu dipegang oleh generasi sebelumnya. Sepertinya dia menilai berhadapan dengan kami bertiga terlalu berbahaya, jadi langsung menyerahkannya begitu saja.” 

Ketiganya, sebelum datang ke Ibu Kota.

Atas permintaan Silver, mereka mendatangi No Name pendahulu. 

Tujuan mereka adalah hak perintah mutlak terhadap Guild, dan merebut alat sihir yang menjadi intinya. 

Di saat iblis masih ada, alat sihir yang memungkinkan seseorang memberi perintah kepada Guild terlalu berbahaya untuk dibiarkan. 

Karena itulah mereka bergerak untuk menyingkirkannya. 

“Kalian sudah bersusah payah.” 

Sambil berkata demikian, Silver menghancurkan alat sihir itu tepat di hadapan mereka bertiga. 

Jika dibiarkan, benda itu hanya akan menjadi sumber bencana di kemudian hari. 

“Tapi, apa benar tidak masalah membiarkannya hidup? Maaf saja, tapi orang yang sudah dirasuki dendam seperti itu biasanya tidak akan menyerah, tahu?” 

“Walaupun begitu, kalau kita menghabisinya di sini, itu namanya serangan licik. No Name generasi sekarang pun pasti tidak akan bisa menerimanya. Bagaimanapun juga, mereka masih keluarga. Kalau saat dia pergi ke Ibu Kota kita justru membunuh generasi sebelumnya, itu akan meninggalkan luka yang tidak terselesaikan.” 

“Memang sih. .. tapi pengawasan Guild itu mudah ditembus, ‘kan? Dia ‘kan mantan petualang peringkat SS.” 

“Soal itu, kita serahkan saja pada No Name generasi sekarang. Alasan keluarga No Name terbelenggu dendam sudah tidak ada lagi. Sisanya adalah urusan pribadi masing-masing, sebagai individu yang hidup di masa kini.” 

No Name telah mencapai tujuannya. Dia mendapatkan kembali namanya, dan juga kehormatannya. 

Bahkan keluarga kekaisaran pun secara terbuka menyatakan bahwa itu adalah kesalahan umat manusia, lalu mewakili semuanya untuk meminta maaf. 

Tidak ada lagi yang bisa mempermasalahkannya. 

“Untuk sementara, kekhawatiran Guild dimanipulasi sudah lenyap. Langkah para petualang peringkat SS juga akan bisa diselaraskan. Selanjutnya adalah Kerajaan Perlan. Kalau ada kemungkinan iblis berada di suatu tempat, itu pasti negara itu.” 

Sambil berkata demikian, Silver mengalihkan pandangannya ke arah barat.

Bagian 20

“Aduh, sakit... perutku sakit...”

“Kalau sakitnya separah itu, sebaiknya kamu minta seseorang untuk menyembuhkanmu...”

“Itu akan membuatmu terlihat seperti sedang berjuang! Lima detik lagi dan aku pasti menang!”

Elna mengerang kesakitan di tempat tidur di kamarku.

Tentu saja. Dia telah menerima banyak pukulan dari No Name, pelajaran langsung dari Lienares.

Di tengah pertandingan, No Name menyadari bahwa Elna menangkis pukulan dan beralih menyerang organ dalamnya. 

“Oke, oke, aku mengerti.” 

“Kamu tidak percaya padaku, ‘kan!?”

Elna meringis sambil duduk.

Hal yang luar biasa tentang Elna adalah dia bisa bergerak jika dia memaksa dirinya sendiri.

Menurut Chloe, No Name hampir tidak bisa bergerak dan jelas membutuhkan perawatan.

Mengingat kondisinya setelah pertandingan, lima detik lagi mungkin bukan berlebihan.

No Name diselamatkan oleh waktu. Bisa dilihat seperti itu. 

“Ini bukan soal percaya atau tidak. Hasilnya tetap hasil. Hasil imbang tetap sama, kamu tahu?” 

“Ada perbedaan antara hasil imbang biasa dan hasil imbang yang hampir menang!”

“Hasil imbang tetap hasil imbang.” 

“Tidak! Ahh...!”

Elna meronta-ronta dengan tangan dan kakinya di tempat tidur. 

Dia seperti anak kecil.

Dia pasti sangat kesal dengan hasil imbang itu. Dia tidak mau mengakuinya. 

“Lawanmu petualang peringkat SS. Hasil imbang akan menjadi hasil yang bagus.”

“Itu yang terburuk! Hasil imbang dalam turnamen di depan banyak orang! Aku bertekad untuk menang...”

Apa pun selain kemenangan adalah kekalahan.

Mungkin begitulah pikirannya. 

“Tidak ada yang akan meremehkanmu atau Keluarga Pahlawan. Malahan, mereka mungkin akan menyadari betapa hebatnya dirimu. Bahkan Ayahanda pun memikirkan hadiah apa yang harus dia berikan padamu, ‘kan?”

“Aku tidak butuh hadiah! Aku ingin menang!”

“Haahhh...”

Mengingatkanku pada masa kecil.

Setiap kali Elna kalah dari kesatria veteran yang tidak mungkin dia kalahkan, dia datang ke kamarku dan merajuk.

Setiap kali, aku akan bilang padanya bahwa jika dia mendapatkan sesuatu, itu adalah kemenangannya.

Akhirnya, Elna berhenti kalah, dan bahkan ketika dia kalah, dia mampu menerimanya.

Namun, kali ini, sepertinya dia tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri. 

“Lawanmu adalah seseorang yang telah mempelajari Keluarga Pahlawan selama berabad-abad. Kamu tidak membiarkan itu mengganggumu. Kamu seharusnya bangga, ‘kan?”

“Tapi...”

“Apa kamu peduli dengan janji yang kamu buat padaku?”

“...Aku bilang aku akan menang...”

“Selalu ada kesempatan berikutnya. Jika kamu tetap kuat, No Name pasti akan mencoba melampauimu. Sampai saat itu, kamu bisa menepati janjimu padaku.”

Elna, yang sebelumnya belum sepenuhnya yakin, sekarang tampak agak yakin.

Saat itulah Leo masuk ke dalam kamar. 

“Dugaanku benar, kamu memang ada di sini.” 

“Ayahanda mencariku?” 

“Tepat sekali. Sepertinya beliau ingin memberi penghargaan pada Elna.” 

“Paduka? Tapi...”

“Pergilah. Kalau soal hadiah, minta saja pertandingan ulang suatu hari nanti. Ayahanda pasti tidak bisa menolaknya.” 

“Oh, ide itu ada juga ya! Keren, Al!” 

Seolah mendapat akal cemerlang, Elna bertepuk tangan lalu bangkit dari tempat tidurnya. 

Sesaat wajahnya terlihat menegang, tetapi dengan menahan rasa sakit, dia tetap keluar dari kamar. 

“Nanti pastikan dia benar-benar menjalani perawatan, ya?” 

“Memangnya kalau aku yang bilang, dia bakal nurut?” 

“Kalau begitu, pakai cara paksa saja.” 

“Kamu ini benar-benar tidak berubah sejak kecil.” 

“Menurutku itu hal yang baik. Ada orang yang tidak berubah, itu juga sesuatu yang berharga.” 

Sambil berkata demikian, Leo duduk di sofa. 

Sepertinya ada hal yang ingin dia bicarakan. 

“Ada apa?” 

“...Katanya Pangeran Ketiga Kerajaan telah ditunjuk sebagai panglima tertinggi seluruh pasukan.” 

Itu sebenarnya bisa diduga. 

Pangeran Ketiga Kerajaan Perlan. 

Usianya sedikit lebih tua dari kami. 

Dulu dia digadang-gadang akan menjadi Raja Pejuang yang memikul masa depan Kerajaan. 

Bahkan Leticia menyebutnya sebagai jenius perang. Meski pengalaman tempurnya sedikit, hasil yang dia raih tidak terukur. 

Lalu mengapa orang seperti itu tidak pernah muncul ke permukaan sampai sekarang? 

Jawabannya sederhana. Dia pernah diracun dalam upaya pembunuhan, membuat tubuhnya tidak lagi bisa bergerak normal. 

Secara harfiah, dia dikabarkan terus terbaring di tempat tidur. 

Akibatnya, posisi Putra Mahkota saat ini, Lucian, menjadi sangat kokoh. 

Siapa yang meracuni dirinya, bahkan anak kecil pun bisa menebaknya. 

“Bukannya dia dulu bersumpah tidak akan pernah berpihak pada Putra Mahkota? Angin apa yang bertiup sekarang?” 

“Kata Leticia, dia punya kakak perempuan yang sangat dia sayangi.” 

“Sandera, ya... Yah, orang yang berniat menyingkirkan Leticia. Apa pun yang mereka lakukan sudah tidak mengherankan.” 

“...Jika Pangeran Ketiga kembali ke panggung utama, para pendekar lama yang belum bersumpah setia pada Putra Mahkota juga akan bangkit kembali. Artinya, keadaan bisa mengulang masa lalu.” 

“Perang berlumpur dengan Kerajaan, ya.” 

Lebih dari sepuluh tahun lalu, Kerajaan dan Kekaisaran pernah terjerumus ke dalam perang besar. Namun, pasukan Kekaisaran tidak mampu menembus benteng kebanggaan Kerajaan. 

Situasi itu berarti kebuntuan, dan hanya darah yang tumpah sia-sia. 

Kejadian seperti itu harus dihindari. 

“Membujuk Leticia pun tidak akan banyak berarti. Entah kita bisa menang jika bertempur langsung atau tidak, tapi ada satu hal yang pasti.” 

“Kita harus memisahkan Kadipaten Albatro. Kalau tidak, mustahil ada peluang menang.” 

Begitulah yang terjadi pada perang sebelumnya. 

Kerajaan dan Kekaisaran. 

Dalam kekuatan militer, Kekaisaran unggul. Namun, saat situasinya menjadi Kekaisaran menyerang dan Kerajaan bertahan, bahkan pasukan Kekaisaran pun tidak mampu menembusnya, dan perang pun buntu. 

Dalam kondisi seperti itu, pengepungan logistik biasanya efektif, tetapi Kerajaan punya sekutu yang sangat kuat. 

Kadipaten Albatro. 

Begitu angkatan laut Albatro memberi dukungan dari laut, pasukan Kekaisaran langsung terdesak. 

Para jenderal yang bersinar saat itu tidak berpihak pada Putra Mahkota. 

Namun kini, sumber daya manusia Kerajaan telah berkumpul di bawah Putra Mahkota. 

Jika hubungan dengan Kadipaten Albatro tidak dipisahkan, hasilnya akan sama seperti sebelumnya. 

“Berarti aku sama sekali tidak boleh gagal.” 

“Bukan hanya itu, ini juga berbahaya. Ada kemungkinan mereka sudah bergerak lebih dulu.” 

“Mungkin saja. Tapi ya... tidak pergi juga bukan pilihan, ‘kan?” 

“Memang sih...”

“Kita pikirkan caranya nanti. Kamu bersiaplah menghadapi Kerajaan. Walaupun kita tidak berniat memulai, pihak sana jelas bersemangat. Ini tidak bisa dihindari. Lagipula, kalau ketegangan terus berlanjut, Leticia juga tidak akan pernah bisa keluar dari posisinya yang serba sulit.” 

Sambil berkata demikian, aku menepuk bahu Leo. 

Saat ini, Leticia berada di wilayah Duke Kleinert. 

Agar jika terjadi sesuatu, dia bisa segera menuju perbatasan barat. 

Posisinya yang rumit ada karena hubungan dengan Kerajaan tidak kunjung membaik. 

Satu-satunya cara untuk keluar dari situasi ini adalah memperbaiki hubungan dengan Kerajaan. 

“Menyedihkan ya, kalau perang memang tidak bisa dihindari...” 

“Mereka yang menantang kita. Kita juga tak bisa begitu saja diinjak-injak. Lagipula... ada sesuatu yang terasa janggal dengan negara itu sekarang.” 

Sambil berkata demikian, aku dan Leo pun mengarahkan pandangan ke arah barat.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close