Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Experiment 7
"Tolong puji aku!"
Mengumpulkan anak-anak jenius dari berbagai bidang dan menyediakan lingkungan yang layak untuk mengembangkan bakat luar biasa mereka... itulah visi dari Akademi Reimei. Namun, para siswa tetaplah anak-anak di bawah umur. Mereka tidak bisa hanya mempelajari bidang yang mereka kuasai saja.
Oleh karena itu, Akademi Reimei juga mengajarkan mata pelajaran umum seperti SMA biasa, lengkap dengan ujian tengah semester dan ujian akhir semester.
Akhir Mei. Satoru hanya bisa tersenyum kecut melihat hasil ujian tengah semester Kusuri yang tergeletak di meja.
"......Ini parah sekali."
Nilai mata pelajaran sainsnya tidak perlu diragukan. Bahkan, ada beberapa jawaban yang jelas-jelas melampaui pemahaman seorang guru. Malah, dia sempat-sempatnya mengkritik soal ujian dengan tulisan seperti, 'Teori ini agak kuno, dalam penelitian terbaru adalah—'.
......Namun, nilai mata pelajaran sastranya benar-benar hancur sampai-sampai Satoru ingin menutup mata.
──Sepulang sekolah. Di ruang kerja Satoru.
"Negara apa ini?"
"Nng...... Eurasia?"
"......Itu bukan negara, tapi benua. Lagipula yang kutunjuk ini Australia, lho."
"Eh, bohong. Eurasia itu bukan nama negara ya......?"
"Bukan. Kalau yang ini?"
"Kalau itu aku tahu dong. Rusia, kan?"
"......Ini Kanada. Paling tidak salah jawab Amerika lah......"
Satoru menengadah ke langit-langit sementara Kusuri memiringkan kepalanya bingung. Karena jawaban ujian Kusuri sangat berantakan, Satoru mencoba mengajarinya karena berpikir 'Ini gawat kalau dibiarkan', tapi ternyata tingkat ketidaktahuannya di luar dugaan.
"Lagipula, waktu SD dan SMP dulu harusnya kamu bisa lebih dari ini, kan?"
"Sayang kalau kapasitas otakku dipakai untuk hal selain farmasi. Jadi, aku sudah melupakannya."
"Sisakanlah sedikit untuk level pengetahuan umum......"
Melihat Satoru yang menutup wajah sambil meratap, Kusuri cemberut dan melayangkan protes.
"Habisnya, aku tidak tertarik dengan mata pelajaran lain. Aku kan ahli farmasi. Tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak penting juga tidak apa-apa......"
"......Benar juga."
Satoru mengangguk kecil.
"Kamu adalah ahli farmasi. Di bidang itu, kamu pasti jenius nomor satu di dunia."
"Ehehe......♪"
"Namun, justru karena itulah kamu harus mempelajari mata pelajaran lain setidaknya pada tingkat minimal."
"......?"
Kusuri memiringkan kepalanya dengan wajah polos.
"Dengar ya, Kusuri. Kamu jenius. Dan bagi orang yang punya bakat menonjol sepertimu, pasti akan muncul orang-orang yang ingin memanfaatkanmu."
Suara Satoru terdengar lebih serius dari biasanya.
"Mungkin ada orang yang akan menyalahgunakan bakatmu, atau ada orang yang mencoba menggiringmu ke arah yang salah dengan informasi palsu. Kamu harus bisa melihat bahaya itu dan mampu mengambil keputusan yang benar."
Kusuri adalah jenius yang tak terbantahkan. Satoru tidak bisa membayangkan berapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan jika bakat itu terus berkembang.
Namun...... manusia juga bisa memikirkan cara untuk menyalahgunakan bakat tersebut.
"Keputusan yang benar membutuhkan wawasan. Kamu butuh kemampuan bahasa untuk memahami arti kata dengan benar. Jika kamu tahu sejarah dan norma umum, kamu bisa memahami latar belakang dan esensi dari segala sesuatu. Pengetahuan dari bidang lain mungkin saja bisa menjadi inspirasi bagi ide farmasimu."
"......Hmm. Tapi sejujurnya, aku tidak bisa tertarik pada hal selain farmasi......"
"Begitukah? Padahal kamu sampai jatuh cinta padaku dan membuat ramuan peremaja?"
"I, itu curang membawa-bawa hal itu!"
Wajah Kusuri memerah padam dan dia mulai panik. Namun, karena tidak bisa membantah kata-kata itu, dia hanya menggembungkan pipinya dan menunduk.
"......Tapi, kalau Sensei menikah denganku, Sensei akan mendukung seluruh hidupku. Kalau begitu masalahnya selesai, kan?"
"Heei."
Pesh! Satoru menjentikkan jarinya pelan ke dahi Kusuri.
Interaksi ini sudah sering mereka lakukan sejak Kusuri masih kecil. Meski Kusuri mengernyit, sudut bibirnya sedikit terangkat. Gerakan itu terlihat sangat manis, sampai-sampai Satoru tanpa sadar memalingkan muka.
"Tapi ya, mungkin butuh semacam hadiah agar kamu lebih semangat."
"Hadiah......?"
"Ya, bagaimana? Sesuatu yang manis atau......"
"Ka, kalau begitu tolong cium aku!"
Besh! Kali ini jentikan dahinya lebih keras dari sebelumnya.
"Auuu......"
"Yang itu ditolak."
"Eeeeh...... bukankah tadi itu kode? Kesempatan untuk menciumku yang semanis ini dengan dalih hadiah...... Ah, maaf, aku bercanda. Tolong jangan pasang kuda-kuda jentikan dahi sungguhan."
Satoru menghela napas panjang.
"Ada hal lain?"
"Kalau begitu...... puji aku banyak-banyak, seperti dulu."
"Seperti dulu?"
Melihat Satoru yang bingung, Kusuri menjawab dengan sedikit malu.
"Dulu kan Sensei sering melakukannya. Aku senang sekali kalau dipuji begitu."
Satoru pun teringat.
Saat masih SD, Kusuri yang terasing dari keluarganya adalah anak yang sangat kesepian. Agar rasa sepinya sedikit terobati, Satoru dulu sering memujinya dengan cara yang agak berlebihan. Mengingat kenangan manis itu, Satoru tersenyum dan mengangguk.
"......Yah, kalau cuma itu, tidak apa-apa."
"Okeee, aku akan berjuang!"
Kusuri yang tiba-tiba bersemangat pun segera membuka buku catatannya dan mulai belajar dengan giat. Dan beberapa hari kemudian, saat ujian susulan tiba, hasilnya adalah... semuanya nilai sempurna.
"Luar biasa."
Di ruang kerja sekolah, Satoru menatap lembar jawaban itu sambil tersenyum kecut tanpa sadar.
Seandainya saja dia selalu seserius ini... tidak, lebih baik aku tidak mengatakan itu.
Di sampingnya, Kusuri tampak tidak sabar sambil terus mengintip ke arah tangan Satoru.
"Sensei, Sensei, janji soal hadiahnya, kan? Kan?"
Kusuri memutar posisinya hingga berada tepat di depan Satoru, lalu mendekat dengan mata yang berbinar-binar. Dengan pipi yang sedikit merona dan binar harapan di matanya, dia benar-benar terlihat seperti seekor anak anjing.
"Iya, iya, aku mengerti."
Meski berkata dengan nada seolah tak habis pikir, sudut bibir Satoru tetap terangkat. Disukai dan dipinta untuk memuji oleh murid sendiri bagaimanapun juga terasa membahagiakan sebagai seorang guru.
Kusuri sedikit memiringkan kepalanya, menatap ke arah Satoru dengan tatapan mendongak sambil gelisah menanti belaian.
Satoru menjulurkan tangannya dan menaruhnya dengan lembut di atas kepala Kusuri.
"Kau sudah berjuang keras. Anak pintar."
Sensasi rambut yang halus terasa di telapak tangannya. Kusuri pasti merawat rambutnya dengan sangat baik; hanya dengan menyentuhnya saja terasa sangat nyaman.
"Haaa... tangan Sensei... hangat... rasanya enak sekali..."
Suaranya terdengar seolah meleleh. Kusuri menyipitkan mata dengan syahdu, benar-benar menikmati setiap usapan di kepalanya.
Saat Satoru merasa sudah cukup dan hendak menarik tangannya, Kusuri menarik sedikit ujung lengan baju Satoru seolah berkata 'lagi'. Satoru sempat ragu, tapi karena ini adalah hadiah, dia pikir tidak apa-apa. Saat dia mulai mengusapnya kembali, Kusuri memejamkan mata dengan ekspresi bahagia.
(...Dia benar-benar manis ya... anak ini.)
Melihat Kusuri yang seperti kucing—menggosokkan kepalanya ke tangan Satoru untuk bermanja-manja—membuat bagian dalam dada Satoru terasa hangat secara perlahan.
"Sensei, lagi..."
Permintaan manja yang menggemaskan itu membuat dadanya terasa sesak. Biasanya, Satoru bersikap agak dingin kepada Kusuri demi menjaga posisinya sebagai guru dan kesantunan sebagai orang dewasa. Namun, melihat murid yang sudah ia anggap seperti anak sendiri begitu mencintainya, tidak mungkin ia tidak merasa gemas.
Awalnya ia hanya mengusap dengan lembut agar rambut Kusuri tidak berantakan, namun perlahan ia mulai mengusapnya dengan sedikit lebih berani.
Kusuri tidak keberatan. Malah, dia tersenyum bahagia dan mendorong kepalanya sendiri ke arah tangan Satoru, seolah meminta 'tolong lakukan lebih banyak lagi'. Rasanya memang agak berlebihan, tapi kali ini kan hadiah. Tidak ada salahnya memanjakannya sedikit, pikir Satoru.
Tepat saat ia berpikir demikian, tiba-tiba—pufun—Kusuri membenamkan wajahnya di dada Satoru.
"He, hei..."
"Dulu..."
Suara Satoru yang hendak menegurnya terhenti di tengah jalan. Kusuri menatap ke arahnya dari balik dada Satoru dengan mata yang terlihat sedikit kesepian.
"Dulu Sensei sering memujiku seperti ini. ...Mengusap kepalaku... memelukku erat..."
Lengan Kusuri melingkar di punggung Satoru. Namun, sosoknya saat ini tidak terlihat seperti sedang menggoda, melainkan lebih seperti seorang anak yang merindukan kehangatan orang tuanya.
"Tapi sejak aku masuk SMP, Sensei sama sekali tidak pernah melakukannya lagi... aku merasa kesepian tahu...?"
Kalimat itu membuat tenggorokan Satoru terasa tercekat.
──Dia teringat kembali.
Saat masih kecil, Kusuri selalu memendam kesepian. Demi sedikit saja mengobati kesepian itu, Satoru sering melakukan kontak fisik seperti mengusap kepalanya atau memeluknya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Kusuri menyipitkan mata dengan lega dan manja setiap kali ia mendekap tubuh kecil itu.
...Namun, sejak Kusuri masuk SMP, Satoru menghentikan semua kontak fisik itu secara tiba-tiba. Satoru menilai bahwa Kusuri sudah lebih tenang dan punya teman, lalu menyimpulkan sendiri bahwa gadis remaja pasti tidak suka disentuh oleh pria dewasa sepertinya, sehingga ia hampir tidak pernah menyentuhnya lagi.
Keputusan itu mungkin benar sebagai seorang guru. Namun, ia baru menyadari sekarang bahwa keputusannya itu salah bagi perasaan Kusuri yang menjadikannya sandaran hati. Kusuri hanya berpura-pura baik-baik saja meski ia merasa kesepian.
"......Maafkan aku."
"Tidak apa-apa kok, aku paham apa yang Sensei pikirkan....Tapi sebagai ganti untuk yang selama ini, aku ingin diusap lebih banyak lagi..."
Sambil berkata demikian, Kusuri mengambil tangan Satoru dan menempelkannya dengan lembut ke pipinya.
Satoru sempat berpikir apakah boleh menyentuh wajah seorang gadis, namun Kusuri memejamkan mata dengan bahagia dan menggosokkan pipinya ke tangan Satoru. Dia menyampaikan perasaan 'aku sangat menyukaimu' tanpa menyembunyikannya sedikit pun.
Gerakan itu membuat dada Satoru terasa sesak. Kusuri yang sekarang bukan terlihat seperti gadis yang sedang jatuh cinta, melainkan seperti anak kecil yang merajuk pada orang tuanya.
(...Ah, anak ini, sekarang dia benar-benar hanya ingin bermanja-manja saja.)
Jika ini adalah pendekatan untuk menjalin hubungan asmara, Satoru tidak boleh meresponsnya sebagai guru. Namun, jika seorang gadis yang ia anggap seperti anak sendiri hanya ingin bermanja, meresponsnya bukanlah hal yang buruk.
Sambil mencari pembelaan di dalam hati, Satoru kembali meletakkan tangannya di atas kepala Kusuri. Rambutnya yang halus seperti sutra terasa sangat nyaman. Kusuri membenamkan wajahnya di dada Satoru, menggosokkan dahinya berulang kali.
"......Aroma Sensei...... aku suka......"
Satoru tidak bisa menahan rasa gemasnya pada Kusuri. Dan di saat yang sama, rasa bersalah muncul karena selama ini ia membiarkan Kusuri merasa kesepian akibat keputusannya sendiri.
Jangan-jangan, semua pendekatan agresif yang berlebihan selama ini hanyalah bentuk lain dari rasa kesepiannya karena ingin diperhatikan.
"Aa—... aku hanya ingin memastikan satu hal."
Mendengar suara Satoru, Kusuri mendongakkan wajahnya. Matanya tampak sayu karena bahagia.
"Nn... ada apa?"
"Kau... tidak keberatan jika aku menyentuh atau memelukmu?"
"Tentu saja tidak. Kenapa? Apa Sensei mau memelukku? Aku sangat menyambutnya, lho?"
Suaranya terdengar menggoda. Meski mulutnya berkata begitu, ia sepertinya tidak benar-benar mengira Satoru akan melakukannya.
"Begitu ya. Baiklah."
Satoru melingkarkan lengannya ke punggung Kusuri.
"......Fue?"
Kusuri mengeluarkan suara cengo. Sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, Satoru sudah mendekap tubuh Kusuri dengan erat.
"Eh? Eh? ......っ!?!!?"
Begitu menyadari situasi yang sedang dialaminya, wajah Kusuri langsung memerah padam sampai ke telinga dalam sekejap.
"A, anu, anu, Sensei? I, ini maksudnya..."
"Yah...... itu, bagaimana ya. Anggap saja ini penebusan dosa karena sudah membiarkanmu merasa kesepian selama ini. ......Kau benci?"
Kusuri menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat. Lalu, ia kembali membenamkan wajahnya di dada Satoru, dan kali ini Kusuri sendiri yang balas memeluk Satoru dengan sangat erat.
"Anu, itu, ka, kalau aku minta dipeluk lebih erat lagi, apa boleh..."
"......Begini?"
Saat Satoru mengerahkan tenaga pada lengannya, tubuh Kusuri sedikit gemetar karena tegang. Namun tak lama kemudian, tubuhnya melemas dan ia menyandarkan seluruh berat badannya pada Satoru.
"......Aku ingin dipeluk lebih kencang lagi sampai terasa sesak......"
Satoru khawatir akan meremukkan tubuhnya yang ramping, tapi ia tetap menuruti permintaan itu.
"......Sensei, aku sangat mencintaimu......"
Terasa hangat dan lembut. Ramping dan kecil. Begitu berharga. Dada Kusuri yang mulai berisi menempel rapat pada dada Satoru.
Sejak menjadi muda kembali, terkadang Satoru memang sempat melihat Kusuri dengan pandangan "pria kepada wanita". Namun anehnya, saat ini perasaan seperti itu tidak muncul. Ia hanya merasakan kehangatan yang lembut dan detak jantung yang merambat melalui kulit, yang entah kenapa membuatnya merasa tenang.
(......Ah, sial...... dia manis sekali.)
Gadis yang berada dalam pelukannya ini sangat mempercayainya, menyerahkan jiwa dan raganya. Kepercayaan itu terasa sangat menyentuh hati.
──Ini hanyalah perasaan 'sayang' kepada seorang murid... atau kepada sosok seperti anak sendiri.
Satoru mengucapkan kata-kata itu di dalam kepalanya seolah sedang mendisiplinkan diri sendiri. Dan memang benar, tidak ada kebohongan di sana. Saat ini ia benar-benar menyayangi Kusuri sebagai sosok anak.
......Namun, antara rasa 'suka' sebagai lawan jenis dan rasa 'sayang' sebagai sosok anak; jika mengesampingkan nafsu, seberapa besar sebenarnya perbedaan di antara keduanya?
"Nee, Sensei...... tolong dengarkan ini sebagai candaan saja ya......"
Sambil tetap membenamkan wajahnya, Kusuri sedikit mendongak dan menatap Satoru dengan mata yang berkaca-kaca.
"Seandainya sekarang...... aku bilang ingin berciuman, apakah Sensei mau melakukannya......?"
"............Ma, mana mungkin aku mau!"
──Dalam hati, Satoru merasa sangat malu karena ia sempat telat merespons selama satu detik.
"Begitu ya. Sayang sekali."
Kusuri sepertinya juga tidak serius; seolah tidak terjadi apa-apa, ia kembali membenamkan wajahnya dan menikmati kehangatan Satoru.
Sementara Satoru...... detak jantungnya sedikit meningkat.
†
Beberapa menit berlalu. Satoru perlahan meletakkan tangan di bahu Kusuri dan melepaskan pelukannya.
"Hadiah untuk hari ini cukup sampai di sini."
Ia berusaha mengeluarkan suara setenang mungkin. Jika diteruskan, instingnya memberi peringatan bahwa ini akan berbahaya. Alarm bahaya mulai berbunyi di kepalanya.
"......Terima kasih banyak. Rasanya sangat, manis dan membahagiakan."
Kusuri sendiri tampak sudah lunglai tak berdaya.
"......Oi, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apaaa...... hehehe......"
"Ah—...... begini. Aku masih punya banyak urusan setelah ini, jadi kau pulanglah duluan hari ini."
"Baikkk......"
Dengan langkah gontai seperti orang mabuk, Kusuri berjalan menuju koridor dengan perasaan seperti di alam mimpi.
Saat tangannya memegang pintu, ia menoleh sekali lagi.
"Lain kali...... peluk aku lagi ya...... Sensei......"
Dengan wajah yang meleleh karena bahagia, Kusuri pun keluar dari ruangan.
Keheningan kembali melanda. Tinggallah Satoru yang membuang napas panjang dan berdiri mematung di sana untuk beberapa saat. Baru sekarang jantungnya mulai berdegup kencang secara tiba-tiba.
(......Bukankah aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat gawat?)
Ia hanya ingin menyayangi muridnya yang manis. Ia ingin beralasan seperti itu, tapi tetap saja 'berduaan di kelas kosong dan memeluk siswi selama beberapa menit' adalah pelanggaran berat.
Sebagai guru, ia sepenuhnya bersalah. Di lengannya, masih tersisa sensasi lembut dari tubuh Kusuri. Sensasi tubuh yang lembut. Kehangatan. Kepercayaan yang diberikan kepadanya, suara yang manja, dan tatapan mata yang berkaca-kaca. Memikirkannya saja membuat wajahnya terasa panas.
Jika Kusuri datang dengan paksaan 'aku ingin jadi pacarmu', nalar gurunya akan bekerja untuk menolaknya. Tapi jika dia bersikap manja seperti anak kecil seperti itu......
(Sial, pada akhirnya dipeluk dengan manja tanpa maksud terselubung itu yang paling mempan.)
Satoru mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Ia meletakkan tangan di dada dan mengambil napas dalam. Meski merasa konyol, ia terus meyakinkan diri bahwa 'aku hanya menyayangi Kusuri sebagai murid'.
"......Sebaiknya aku juga pulang."
Ia bergumam pelan dan membereskan barang-barangnya. Ia keluar dari kelas menuju koridor. Namun, ia mendadak berhenti saat melihat sosok yang berdiri di depannya.
"Halo, Fuyutsuki-kun."
Di sana berdiri Kujou Kokoro. Siswi jurusan psikologi yang memiliki atmosfer lembut dan santai.
──Namun, hari ini ada yang berbeda darinya.
"O-oh. Kujou, kau masih di sini ya."
"Iya. Ada sesuatu yang mengusik pikiranku."
Sambil tersenyum manis, matanya menatap Satoru dengan penuh minat seolah sedang menonton sesuatu yang menarik.
"Tadi aku berpapasan dengan Kusuri-chan yang wajahnya terlihat sangat 'lemas' bahagia, lho?"
"Be-begitu ya."
"Kalian berdua sangat akrab ya, apa kalian berpacaran?"
"Tidak, bukan begitu......"
"Itu kelas kosong, kan? Apa yang kalian lakukan berduaan di sana?"
"Itu...... anu......"
"......Sesuatu yang mesum?"
"Mana mungkin!? Aku dan Yakushiji itu, anu...... karena hasil ujian susulannya sudah keluar, kami sedang membicarakan hal itu......"
Keringat dingin mengucur. Di hadapan Satoru yang berusaha keras memberi penjelasan, Kokoro terus menatapnya dengan tajam seolah sedang membedah isi kepalanya.
Kejadian pelukan dengan Kusuri tadi terlintas di benak Satoru, membuatnya tanpa sadar memalingkan wajah.
Lalu──Kokoro tiba-tiba menyipitkan mata dan tatapannya melunak.
"Begitu ya. Kalau begitu, aku pulang duluan ya. Bye-bye, Fuyutsuki-kun."
"O-oh......?"
Sambil tersenyum manis seolah telah puas dengan sesuatu, Kokoro melambaikan tangan dan pergi.
Satoru hanya bisa menatap punggungnya dengan bingung.



Post a Comment