Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Experiment 8
"...Aku menambahkannya sedikit."
Istirahat makan siang keesokan harinya. Di perpustakaan.
"Lalu, Satoru-kun bilang 'kamu sudah berjuang keras' sambil memujiku, bahkan dia memelukku..."
"Begitu ya, baguslah kalau begitu, Kusuri-chan~"
"Iya! ...Ehehe, dipeluk erat olehnya terasa sangat membahagiakan..."
Yakushiji Kusuri bercerita dengan penuh perasaan sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Mengenai kejadian di ruang kelas kosong kemarin, Satoru mati-matian berusaha pura-pura tidak tahu saat ditanya... namun, Kusuri langsung membeberkan semuanya hanya dengan sedikit pertanyaan.
Bagaimanapun, Kusuri adalah gadis SMA yang sedang dalam masa puber. Dia sangat menyukai obrolan soal cinta. Apalagi kemarin, laki-laki yang dia sukai memeluknya dengan erat. Tentu saja dia ingin bercerita pada temannya. Lebih tepatnya, dia pasti bercerita.
Orang yang mendengarkan cerita itu adalah Kujou Kokoro, yang mengangguk-angguk sambil menggoyangkan rambut lembutnya. Berkat insiden gain-loss beberapa hari yang lalu, hubungan Kusuri dan Kokoro menjadi semakin akrab.
(Obrolan cinta dengan teman ternyata menyenangkan sekali...!)
Batin Kusuri sambil terus mengoceh dengan riang.
Pasalnya, saat Satoru masih menjadi guru, tentu saja Kusuri tidak bisa menceritakan perasaan cintanya kepada siapa pun. Tapi sekarang, dia dan Satoru berstatus sesama siswa. Bercerita pada teman jadi terasa aman. Dan setelah mencobanya sekali, ternyata rasanya luar biasa seru. Tak heran jika dia jadi sedikit kelepasan bicara.
"Kalian masih mesra seperti biasanya ya dengan 'Sensei', Kusuri-chan~"
"Fufu, benar kan, benar kan? Akhir-akhir ini kurasa Sensei sudah mulai banyak menunjukkan sisi manisnya lho~"
"Iya, iya. ...Omong-omong, barusan kamu memanggil Fuyutsuki-kun dengan sebutan 'Sensei' ya."
"Eh? ...A..."
Kusuri terjebak dengan mudahnya ke dalam jebakan kata-kata Kokoro yang santai.
"Ternyata benar ya, Fuyutsuki-kun itu sebenarnya Fuyutsuki-sensei. Awalnya aku antara percaya dan tidak, tapi ternyata dia benar-benar menjadi muda kembali."
"Ma-mana mungkin begitu~ Ja-jadi muda kembali itu... kamu terlalu banyak baca komik atau nonton anime ya?"
Kusuri berusaha menutupi dengan keringat dingin bercucuran. Meskipun standar moral Kusuri agak berantakan, dia tetap tahu kalau 'percintaan guru dan murid' itu bermasalah. Apalagi ini melibatkan ramuan peremaja yang belum diumumkan ke publik. Jika bocor ke dunia luar, pasti akan terjadi kehebohan besar.
"Meski begitu, jadi muda ya... Aku sering dengar Kusuri-chan itu jenius farmasi, tapi tidak menyangka sampai sehebat itu."
"I-itu hanya salah paham...!"
"Ngomong-ngomong, Satoru-kun sudah mengaku kalau dirinya adalah Fuyutsuki-sensei, lho."
"Eh!? Be-benarkah!?"
"Nggak deng, bohong. Tapi reaksimu barusan sudah mengonfirmasinya."
"......Uwaaa! Kokoro-chan jahat banget~~!!"
Kusuri menelungkupkan wajahnya yang merah padam ke atas meja. Kokoro terkikik geli sambil menatap Kusuri dengan tatapan senang.
"Tenang saja. Aku tidak akan memberitahu siapa pun, kok."
"......Benarkah?"
"Iya. Tapi... boleh aku minta satu permintaan?"
Suara Kokoro tetap tenang dan ekspresinya tersenyum, namun matanya menyipit dengan misterius.
"Per-permintaan...?"
"Iya. Tapi bukan hal yang aneh, kok. Aku hanya ingin dibiarkan mengama—maksudku, mendukung cinta kalian berdua."
"Mendukung...?"
"Iya. Aku juga ingin temanku, Kusuri-chan, bahagia. Ilmu psikologi yang kupunya pasti bisa membantu perjuangan cintamu."
"Kokoro-chan...!"
Wajah Kusuri langsung berbinar.
Meskipun Satoru sekarang sudah muda, target cintanya tetaplah seorang guru. Kusuri selama ini tidak berani curhat pada siapa pun karena takut akan reaksi orang lain. Namun, Kokoro menerima kenyataan bahwa Satoru adalah Fuyutsuki-sensei dan bahkan menawarkan bantuan. Tentu saja Kusuri merasa sangat senang.
Melihat Kusuri yang matanya berbinar karena haru, Kokoro justru mengangkat bahu dengan raut wajah sedikit sulit.
"Tapi, rintangannya cukup tinggi ya~"
"......Eh?"
"Bagi Sensei, menjalin asmara dengan Kusuri-chan itu—yah, semacam Incest Taboo."
"In-insest... tabu...?"
Kusuri bertanya balik karena tidak paham artinya. Kokoro mengangguk kecil.
"Iya. Intinya, sebuah penghalang naluriah yang bilang 'hubungan sedarah itu tidak boleh!'."
"──Se-sedarah!? Apa-apaan sih!? Aku dan Sensei tidak punya hubungan kotor seperti—!!"
"Artinya mencakup itu juga, tapi bukan cuma soal hubungan fisik. Hmm... Kusuri-chan sudah berhubungan dengan Sensei selama hampir 10 tahun, kan?"
"I-iya..."
"Hubungan yang sudah terjalin sangat lama itu membuat status 'Guru dan Murid' di dalam diri Sensei menjadi penghalang psikologis yang sekuat hubungan darah."
Kokoro mulai mengetukkan jarinya ke meja: tuk, tuk, tuk. Iramanya perlahan semakin cepat. Sambil mendengarkan suara itu, tanpa sadar rasa cemas mulai menumpuk di dalam diri Kusuri.
"Bagi tipe pria kaku seperti Sensei, menaruh perasaan cinta pada gadis yang sudah ia asuh sejak kecil itu secara psikologis sangat sulit diterima. Mungkin bagi Sensei, Kusuri-chan sudah dianggap seperti 'anak perempuan' sendiri."
"A-anak perempuan..."
Kusuri mengerutkan kening dan mengerucutkan bibirnya. Dia ingin membantah, tapi banyak hal yang terasa masuk akal.
Jujur saja, dia senang disayang seperti itu. Tapi, jika tujuannya adalah hubungan yang ia dambakan... yaitu menjadi 'istri Sensei', maka status itu adalah penghalang besar.
"Lalu, apa yang harus kulakukan...?"
"Kamu harus keluar dari zona 'seperti anak sendiri' di mata Sensei dan menjadi 'lawan jenis' baginya. Tapi, bagi tipe pria seperti dia, itu pasti sangat sulit. Mungkin kamu butuh cara yang agak berani."
"Uuuugh..."
"Omong-omong, sejauh ini cara apa saja yang sudah kamu pakai untuk mendekatinya?"
"Itu... anu..."
Meskipun malu, Kusuri membisikkan sesuatu ke telinga Kokoro. Seketika, mata Kokoro terbelalak.
"Menyelinap ke tempat tidurnya di malam hari? Kamu sampai melakukan hal sejauh itu?"
"Wa-wa-wa!? Suaramu terlalu keras, tahu!?"
"Tapi... heeh... begitu ya..."
"....?"
Kokoro bergumam pelan, "Ternyata boleh sampai sejauh itu ya," namun kata-kata itu tidak sampai ke telinga Kusuri. Kokoro melanjutkan dengan wajah yang entah kenapa tampak senang.
"Hei, Kusuri-chan. Kamu kan jenius farmasi, kan?"
"......Yah, begitulah katanya."
"Kalau begitu, bisakah kamu membuat obat yang seperti ini?"
Gantian Kokoro yang membisikkan sesuatu ke telinga Kusuri. Seketika, wajah Kusuri memerah padam seolah akan meledak.
"Apa yang kamu katakan!? I-itu artinya, kan...!"
"Tidak perlu melakukan semuanya, kok. Hanya butuh satu langkah saja agar Satoru-kun maju dengan keinginannya sendiri, itu sudah sukses besar ♪ Rintangan untuk berpacaran denganmu pasti akan langsung runtuh, kan?"
"I-itu maksudnya bagaimana..."
Melihat Kusuri yang kebingungan, Kokoro menyipitkan matanya dengan tatapan yang sedikit menggoda.
"Dalam diri manusia, langkah pertama adalah yang paling krusial."
"Langkah pertama...?"
"Iya. Entah itu hal baik atau buruk, rintangan tertinggi selalu ada pada pengalaman pertama. Tapi bagaimanapun bentuknya, sekali saja dilakukan, rintangan untuk yang kedua kali dan seterusnya akan langsung rendah. Sampai di sini paham?"
Kusuri mengangguk kecil.
Memang benar, Kusuri butuh bertahun-tahun untuk sekadar menyatakan cinta pada Satoru, tapi setelah sekali melakukannya, rasa malunya langsung hilang. Sekarang dia bahkan bisa mengajaknya kencan setiap hari dengan jujur.
"Satoru-kun pasti berpikir bahwa dia tidak boleh menyukai Kusuri-chan sebagai lawan jenis, tidak boleh melihatmu dengan tatapan mesum," bisik Kokoro dengan suara manis.
"Makanya, longgarkan saja nalarnya sedikit. Misalnya... dengan cara apa pun, buatlah Fuyutsuki-kun menyentuh tubuh Kusuri-chan atas keinginannya sendiri."
"Menye... menyentuh...!?"
"Benar. Dengan begitu, dia sudah melangkah maju. Setelah itu, Satoru-kun tidak akan bisa lagi melihatmu selain sebagai seorang wanita."
Nada bicaranya yang lambat dan unik itu meresap ke dalam hati Kusuri layaknya hipnotis.
"Kusuri-chan, apa kamu mau selamanya dianggap sebagai anak kecil oleh Sensei?"
"I-itu... tapi, kalau aku melakukannya, Sensei pasti akan marah..."
"Dimarahi itu bukan masalah besar dibandingkan dengan impian cintamu yang terwujud, kan? Lagipula... kalau kamu terlalu lamban, dia bisa saja diambil orang lain, lho."
"...Eh?"
"Fuyutsuki-kun itu bagaimanapun juga menarik, kan? Yang menyukainya belum tentu cuma Kusuri-chan saja. Malah, orang lain yang tidak punya status 'anak angkat' mungkin lebih diuntungkan... kalau dibiarkan, Fuyutsuki-kun bisa jadi milik orang lain, lho."
Ini adalah hukum psikologi Loss Aversion—manusia lebih benci kehilangan sesuatu daripada keinginan untuk mendapatkan keuntungan.
'Fuyutsuki-kun diambil orang lain'. Disuguhi kemungkinan kehilangan yang terburuk seperti itu, Kusuri mulai berandai-andai.
Kalau dipikir-pikir, sejak menjadi muda, Satoru memang jadi mudah tergoda oleh gadis lain. Dia sering tertangkap basah melirik dada atau paha siswi lain, dan tampak salah tingkah jika diajak bicara.
──Lalu ia teringat, dulu pernah mendengar siswi di kelas bilang, "Satoru-kun itu lumayan keren juga ya."
──Jika Sensei diambil orang lain... jika suatu pagi saat ia menjemputnya, ia melihat Sensei tidur tanpa busana di atas ranjang bersama wanita lain...
"NNYAAAAAAAHHHHHH!?!?"
Otak Kusuri serasa hancur karena imajinasinya sendiri. Ia mengeluarkan suara aneh dan menelungkupkan wajahnya ke meja dengan keras.
"......Kusuri-chan, kamu tidak apa-apa?"
Kokoro mencolek Kusuri yang tampak gemetar. Seketika Kusuri mengangkat wajahnya. Matanya membara dengan api tekad.
"......Ada satu masalah. Karena aku sudah sering meracuninya, sepertinya Sensei jadi waspada dan menghindari makan-minum buatanku. Kunci cadangannya juga sudah disita, jadi aku tidak bisa menyerangnya saat tidur... Bagaimana cara memberinya obat?"
"Serahkan itu padaku. Aku yang akan memikirkan caranya, Kusuri-chan cukup fokus kembangkan obatnya."
"Dimengerti!" ujar Kusuri sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.
Satu minggu kemudian.
"Satoru-kun, Satoru-kun. Kalau tidak keberatan, maukah ikut pesta teh bersama kami?"
Saat jam istirahat setelah pelajaran pagi usai, Kusuri yang didampingi Kokoro menyapa Satoru.
"Pesta teh?"
"Iya! Sebenarnya, di kelas pilihan tadi pagi, aku dan Kokoro-chan membuat kue kering bersama. Karena hasilnya sangat bagus, aku ingin Satoru-kun mencicipinya!"
"O-oh, begitu."
Undangan itu sebenarnya menyenangkan, tapi wajah Satoru tampak kaku. Bagaimanapun, ini adalah camilan buatan Kusuri.
Berdasarkan pengalamannya selama ini, ia hanya merasakan firasat buruk. Apalagi Satoru tahu kalau selama seminggu terakhir, Kusuri hampir tidak pernah menunjukkan batang hidungnya dan terus mengurung diri di laboratorium.
"......Kau tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh, kan?"
"Muu~, ini cuma pesta teh biasa! Karena aku berhasil memanggangnya dengan enak, aku hanya ingin Satoru-kun mencicipinya juga. Iya kan, Kokoro-chan?"
"Iya. Ayo, Fuyutsuki-kun, makan bareng-bareng yuk~?"
Kokoro berkata sambil menarik-narik pelan lengan Satoru.
"......Sejak kapan kalian berdua jadi seakrab ini?"
"Sudah dari kemarin-kemarin kok. Ya kan, Kokoro-chan?"
"Iya~"
Melihat keduanya saling melempar senyum, Satoru sedikit membelalakkan matanya.
(......Hmm.)
Kujou Kokoro. Gadis jurusan psikologi yang sekelas dengan Satoru dan Kusuri. Sejak masuk sekolah, dia tidak pernah menonjol dan tipikal siswi yang santai serta sulit ditebak. Dia membangun hubungan baik dengan siapa saja, tapi di sisi lain, dia tidak pernah benar-benar akrab dengan orang tertentu. Ini pertama kalinya Satoru melihatnya begitu kompak dengan seseorang.
Sebagai guru, melihat pergaulan siswanya meluas adalah hal yang membahagiakan. Untuk mengenalnya lebih jauh, ikut serta dalam pesta teh ini mungkin bukan ide yang buruk.
(Lagipula, kalau ada Kujou, Kusuri pasti tidak akan melakukan hal yang macam-macam.)
Berbekal kelengahan itu, Satoru pun melangkah menuju ruang kelas kosong yang biasa ia gunakan sebagai ruang kerja untuk mengadakan pesta teh tersebut.
Pesta teh itu ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang dibayangkan. Beberapa meja di kelas kosong itu digabungkan menjadi satu meja besar, di atasnya tersaji kue kering, teh, dan kopi. Ruangan itu dipenuhi aroma yang sangat harum.
Kusuri dan Kokoro. Melihat kedua gadis itu berbincang riang sambil menyeruput teh dan mengemil kue adalah pemandangan yang sangat manis dan artistik, membuat Satoru tanpa sadar ikut tersenyum. Mulai dari gosip remeh, soal pelajaran, hingga cerita lucu yang baru saja terjadi.
Sambil mendengarkan obrolan mereka, Satoru yang duduk di seberang meja menyesap kopi buatannya sendiri. Sebagai guru, kesempatan untuk mendengar suara hati para siswa seperti ini sangatlah berharga. Satoru benar-benar menikmati pesta teh ini sambil sesekali menimpali percakapan mereka.
"Satoru-kun, kenapa kuenya tidak dimakan? Kamu tidak benci makanan manis, kan?"
"Enak lho? Lihat, ini kami berdua yang memanggangnya sendiri~"
Keduanya tersenyum lebar sambil menyodorkan kue kering ke arah Satoru.
"Hm? Oh, benar juga......"
Satoru melirik sekilas ke arah mereka...... keduanya tampak melahap kue itu tanpa ragu sedikit pun. Kalau sudah begini, kecurigaannya tadi terasa konyol.
Ini adalah pesta teh yang damai dan menyenangkan. Tidak perlu merusak suasana dengan terus-menerus menolak secara keras kepala.
Satoru menghela napas pendek, lalu menjulurkan tangannya ke arah piring kue.
"Kalau begitu, aku makan ya. Ho...... hasilnya bagus juga."
Ia memeriksa tampilannya sejenak lalu menggigitnya. Tekstur crunchy yang menyenangkan. Terasa renyah saat digigit, lalu hancur lembut di dalam mulut. Tingkat kematangannya sempurna, rasanya tidak terlalu manis. Gurihnya telur dan mentega perlahan menyebar di atas lidah.
"Hooo, ini lezat. Bahkan toko kue ternama pun jarang ada yang selevel ini."
Pujian tulus terlontar begitu saja. Sejujurnya, ini di luar ekspektasinya.
"Ehehe, aku memang ahli membuat kue. Karena menakar dosis dan waktu dengan akurat itu sama saja dengan meramu obat-obatan."
"Mendengarnya membuat perasaanku agak campur aduk."
Meski berkata begitu, tangannya tidak bisa berhenti. Secara alami, ia terus mengambil kue itu lagi dan lagi.
Kualitasnya tidak kalah dari toko kue mewah. Ia merasa sanggup menghabiskan berapa keping pun. Apakah si jenius ini bahkan jenius dalam hal membuat kue?
──Tepat saat ia berpikir demikian, ia menyadari ada keringat yang mulai membasahi dahinya.
(......Hm?)
Tenggorokannya terasa kering. Wajahnya memanas. Jantungnya mulai berdegup kencang dengan irama dug-dug, dug-dug.
Ia melirik ke arah Kusuri...... Mata Kusuri tampak gelisah. Keringat dingin bercucuran. Kesadaran Satoru langsung ditarik kembali ke realitas.
"Kau...... jangan-jangan, kau......"
"E-e-ettdo, itu, anu......"
Kusuri mengalihkan pandangannya sambil memainkan jari-jemarinya dengan gugup.
"......Aku sudah mencampurkan obat perangsang."
"Maksudmu 'aku mencampurkannya', begituuuu!?"
Teriakan Satoru menggema di seluruh ruang kelas kosong itu.
†
"Ka-kau, obat perangsang katanya......"
Pikiran Satoru langsung panik.
Setelah memakan kue buatan Kusuri, kondisi tubuhnya jelas terasa aneh. Jantungnya berdebar liar seperti lonceng yang dipukul bertubi-tubi, dan napasnya mulai memberat. Kondisi gairah yang jelas. Dan yang paling gawat...... bagian bawah tubuhnya terasa panas.
"Sial...... kenapa aku bisa selengah ini......! Padahal aku sudah bertekad tidak akan menyentuh apa pun yang diberikan Kusuri......!"
"Nhehehe~ biar aku yang jelaskan ya~"
Suara Kokoro terdengar sangat geli.
"Pertama, ada yang namanya Tekanan Teman Sebaya. Manusia itu punya kecenderungan ingin melakukan hal yang sama jika melihat orang lain melakukannya. Karena aku dan Kusuri-chan makan kue dengan lahap, Fuyutsuki-kun jadi merasa harus ikut makan juga, kan?"
"Ugh......"
"Ditambah lagi, Kusuri-chan terlihat sangat bahagia, kan? Terus-menerus mencurigai gadis semanis itu akan menimbulkan stres, jadi pikiranmu secara alami lebih mudah memilih untuk percaya. Ini namanya menghindari Disonansi Kognitif."
Lalu, ia mengangkat piring yang berisi kue tersebut.
"Dan kartu as terakhirnya adalah kue ini. Kusuri-chan memanggangnya dengan sepenuh hati demi Fuyutsuki-kun. Merasa ingin menghargai pemberian orang lain itu adalah sifat dasar manusia, kan? Ini namanya Prinsip Timbal Balik."
"Ta-tapi, kalau begitu...... kalian juga...... tadi makan banyak kue itu......!"
"Soal itu, aku sudah minta tolong Kusuri-chan untuk memberiku obat penawar efek perangsangnya terlebih dahulu."
"Kalian benar-benar licik yaaaa......!"
Satoru mencoba memprotes, tapi kekuatannya untuk berpikir jernih semakin menipis.
"Nah, kalau begitu~"
Sambil berkata demikian, Kokoro berjalan pelan menutup tirai, bahkan ia mengunci pintu ruangan itu.
"O-oi!? Kujou, apa yang kau lakukan......"
"Habisnya, kalian pasti tidak mau diganggu saat sedang bermesraan, kan?"
Ia tersenyum manis lalu menghampiri Kusuri yang wajahnya sudah memerah padam dan tampak gelisah.
"Nah, Kusuri-chan, berjuanglah ya~"
Puk, Kokoro mendorong punggung Kusuri hingga gadis itu terhuyung mendekat ke arah Satoru.
"Satoru-kun...... tidak, Sensei......"
"Tu-tunggu!? Tenanglah, Kusuri!?"
Satoru mundur selangkah demi selangkah saat Kusuri mempersempit jarak dengan perlahan. Namun, dalam sekejap ia sudah terpojok di dinding.
"〜〜〜〜〜っ"
"Tidak apa-apa...... aku tidak akan melakukan apa pun. Hanya saja......"
Dengan suara gemetar, Kusuri menatap Satoru dengan mata berkaca-kaca dari bawah. Tangannya diletakkan dengan lembut di atas dadanya sendiri.
"Kalau dari Sensei...... boleh...... menyentuh dadaku, lho......?"
"A, apa-apaan kau ini, bodoh sekali..."
"Apa maksudmu dengan bodoh! Lagipula, Sensei tidak akan melakukan apa-apa kalau aku tidak melakukan ini, kan!"
"Bukankah aku sudah mengusap kepalamu dan semacamnya!?"
"Itu saja tidak cukup! Aku ingin Sensei menyentuhku sebagai lawan jenis! Tapi Sensei terus saja menganggapku anak kecil!"
Mungkin karena sudah merasa nekat, Kusuri protes sambil setengah menangis.
"Ti, tidak apa-apa kok! Kalau itu Sensei... apa pun yang kau lakukan padaku... aku tidak akan membencinya..."
Mata yang berkaca-kaca. Pipi yang memerah. Dua gundukan di balik dadanya. Karena pengaruh obat perangsang, semuanya terasa begitu menggoda tanpa bisa ditahan.
"Aku... sudah siap secara mental."
Ucap Kusuri dengan suara bergetar namun tegas.
Satu kalimat itu bagaikan bensin yang disiramkan ke api. Di benak Satoru, terbayang adegan di mana ia benar-benar menindih Kusuri di tempat itu juga.
Satoru melirik sedikit ke arah Kokoro, yang sedang memeluk toples kue dengan tatapan antusias, seolah-olah dia sedang menonton film.
(Ini bukan bercanda lagi... gawat...!)
Napasnya kian memberat. Jantungnya berdegup kencang seperti lonceng. Panas di bagian bawah tubuhnya semakin menjadi-jadi.
"Tidak apa-apa, Sensei... Akulah yang menggoda Sensei duluan... Sensei tidak salah..."
"U... guuu..."
"Jika Sensei menginginkanku... sampai ke titik terdalam pun...!"
Tepat saat itu──Satoru mencengkeram kedua bahu Kusuri dengan kuat.
"Fumya!?"
Tubuh Kusuri menegang karena kaget. Saat Kusuri mendongak, ia melihat Satoru menatapnya dengan napas terengah-engah. Kokoro pun berhenti mengunyah kuenya, menonton adegan ini dengan penuh debar.
"A, anu!? Meski aku yang memulainya, tapi ini benar-benar pertama kalinya bagiku, jadi tolong lakukan dengan lembut... anu... to, tolong bimbing aku...!"
Kusuri memejamkan mata rapat-rapat seolah sudah pasrah, dan memajukan bibirnya──tepat pada saat itulah.
"......Obat perangsang yang kau buat ini... ini adalah penemuan revolusioner! Bisa dijadikan obat untuk ED!!"
"............Hah?"
Mendengar kata-kata tak terduga yang keluar dari mulut Satoru, Kusuri tanpa sadar bertanya balik dengan polos.
"......Hah? Eh? Anu... Erectile Dysfunction...?"
"ED adalah Erectile Dysfunction. Artinya, kondisi di mana penis tidak bisa ereksi atau tidak bisa dipertahankan selama hubungan seksual, sehingga tidak bisa melakukan hubungan seksual dengan memuaskan."
"......Pe-penis!?"
Wajah Kusuri seketika berubah merah padam. Namun, Satoru tidak memedulikannya dan malah menghadap ke papan tulis, menulis dengan kapur secara cepat.
"Ke, kenapa kau menggambarnya, Sensei... Eh, tunggu, eh... kyaaaa!?"
Yang digambar di papan tulis adalah diagram alat kelamin pria. Sangat detail, dengan dua versi: saat normal dan saat ereksi.
"Kusuri, obat perangsang yang kau buat ini adalah impian umat manusia sejak zaman dahulu. Ini adalah bongkahan potensi."
Satoru mulai menjelaskan dengan sangat bersemangat. Kusuri hanya bisa ternganga tanpa bisa mengeluarkan suara. Sementara itu, Kokoro yang sedang mengunyah kue bertepuk tangan kecil dengan kekaguman.
"Wow... Displacement activity. Dia menimpa hasrat seksualnya dengan gairah mengajar..."
Sembari melakukan itu, kuliah Satoru terus berlanjut.
"Pertama, obat perangsang itu sudah lazim dalam karya fiksi, tapi belum ada obat dengan efek afrodisiak sekuat ini di dunia nyata. Sudah diteliti sejak zaman dahulu; dulu tomat atau cokelat sempat dianggap sebagai afrodisiak, tapi kau tahu sendiri kenyataannya."
Satoru menulis "Hasrat Seksual" di papan tulis lalu mencoretnya besar-besar dengan tanda silang.
"Nah, alasan kenapa hal ini diteliti sejak zaman dahulu adalah karena ini obat untuk Psychogenic ED—kondisi di mana penis sulit ereksi akibat trauma atau penurunan libido. Kemandulan akibat hal itu adalah masalah hidup dan mati bagi para raja di masa lalu."
"Su, sudah dari tadi... anu, menyebut pe-penis... atau ereksi... tolong hentikan... uuu..."
Kusuri yang berwajah merah padam memprotes dengan suara kecil, tapi Satoru tidak mendengarkannya.
"Apa yang kau katakan? Sebagai orang yang berkecimpung di dunia medis, mengetahui hal ini adalah kewajiban. Lagipula, ED adalah penyakit nasional yang diderita oleh banyak pria, pasangan, dan suami istri, jadi jangan malu dan dengarkan baik-baik."
"I, itu memang benar, tapi kenapa harus sekarang... auuu..."
Kusuri menutup matanya dengan kedua tangan karena tidak tahan menanggung malu. Tatapannya bolak-balik antara gambar di papan tulis dan bagian bawah tubuh Satoru, lalu dia menutup matanya lagi karena tetap saja malu.
"Ayo lanjut pelajarannya! Berikutnya adalah manfaat utama obat perangsang lainnya: peningkatan kenikmatan seksual. Tentu saja, semakin terangsang maka kepuasan akan semakin meningkat. Ini juga bisa mencegah kerenggangan rumah tangga akibat sexless marriage, serta meningkatkan kualitas hidup (QOL) bagi lansia yang libido-nya menurun!"
"Ja, jangan bicara soal hal mesum seperti itu!"
"Hei, peningkatan kualitas hidup melalui kepuasan seksual adalah bidang penelitian medis yang diakui negara. Jangan katakan hal seperti itu sebagai seseorang yang bekerja di dunia medis."
"Meski dibilang begitu... uu... uaaaa..."
Kusuri hanya bisa merintih karena terlalu malu. Namun Satoru tanpa ampun terus menulis gambar dan kata-kata di papan tulis. Kusuri tanpa sadar terus membandingkan gambar di papan tulis dengan bagian bawah tubuh Satoru.
"Su, sudah cukup... tolong aku, Kokoro-chaaan..."
Kusuri meminta tolong pada Kokoro dengan lemah, tapi Kokoro hanya tersenyum senang sambil mencicipi kue.
"Nggak bisa. Sensei sedang bersemangat mengajar, jadi kamu harus mendengarkan sampai selesai."
"Uuuu...!"
"Yakushiji. Jangan malu dan dengarkan baik-baik."
Satoru terus berbicara dengan penuh gairah sambil mengetuk papan tulis dengan kapur. Kalau dilihat dari sosoknya saja, dia tampak seperti guru yang berdedikasi. Namun, pemandangan di mana seorang guru terus meneriakkan kata "ereksi" dan "penis" kepada siswi SMA yang sedang menjerit karena malu adalah sesuatu yang jelas-jelas tidak etis.
Tetapi Satoru tidak berhenti. Atau lebih tepatnya, dia tidak bisa berhenti. Meski dia sadar dia sedang mengajar dengan cara yang benar-benar tidak pantas—atau bisa dibilang sudah sangat parah—karena pengaruh obat itu, Satoru sudah berada dalam kondisi yang sangat genting.
Jadi, ia pun membiarkan akal sehatnya terbang entah ke mana dan tenggelam dalam semangat mengajar. Ia terus menambahkan diagram dan penjelasan baru di papan tulis, melanjutkan kuliah tentang "obat perangsang" yang sudah sangat melampaui batas kewajaran.
Dan──
"Uwaaaaaaa! Aku yang salah, jadi tolong hentikan iniiiiiiii!!"
Karena rasa malunya sudah mencapai batas, Kusuri berteriak histeris dan lari tunggang-langgang keluar dari kelas.
"A-aku... menang..."
Satoru jatuh terduduk, terengah-engah sambil bahunya naik-turun menahan napas. Melihat Satoru yang lemas, Kokoro bertepuk tangan dengan santai.
"Bravo."
"Kujou...! Kau juga akan kuceramahi nanti, ingat itu...!"
"Hm, itu boleh saja sih... tapi Fuyutsuki-kun, atau haruskah aku memanggilmu Sensei? Boleh aku bertanya satu hal?"
Sambil berkata begitu, Kokoro berjongkok di depan Satoru. ...Pada saat itu, celana dalam berwarna merah muda pucat terlihat sekilas, dan Satoru berusaha sekuat tenaga untuk memalingkan wajah.
"Kenapa Sensei tidak melakukan apa-apa pada Kusuri-chan?"
"Mana mungkin aku melakukannya! Aku ini guru, tahu!?"
"Tapi, bukankah ada pepatah 'makanan yang sudah disajikan tidak dimakan adalah aib bagi laki-laki'? Lagipula, baik aku maupun Kusuri-chan tidak akan menyebarkan hal ini ke orang lain, kok?"
Mendengar pertanyaan Kokoro, Satoru menghela napas panjang.
"Jawabannya tidak akan berubah. Karena 'aku' adalah seorang guru."
Satoru mengatakannya dengan tenang, namun tegas.
"Guru adalah posisi yang bertugas menjaga siswanya sampai mereka mandiri dan membimbing mereka ke sana. Karena kami dititipi anak-anak oleh orang tua mereka, kami tidak boleh sedikit pun mengkhianati kepercayaan itu. Tidak peduli apa pun keadaannya."
"Bahkan jika siswanya yang sepenuhnya salah seperti kejadian tadi?"
Kokoro menyipitkan matanya sambil masih menggigit kue.
"Meskipun aku yang menghasut ini, korbannya kan sebenarnya Sensei sendiri, bukan?"
"Tetap saja."
Satoru menunduk sedikit, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Tentu saja jika mereka berbuat salah, aku akan memarahi mereka. Namun, jika seorang anak berbuat salah atau melakukan kesalahan, itu juga tanggung jawab orang dewasa yang tidak bisa membimbing mereka dengan benar. Memanfaatkan atau membiarkan kesalahan itu terjadi adalah hal yang paling pantang dilakukan oleh seorang guru."
"Huuun..."
Kokoro bergumam pendek, lalu tiba-tiba ia mengulurkan kedua tangannya ke wajah Satoru.
"Eh!?"
Wajah Satoru ditarik paksa untuk menghadap ke arah Kokoro.
...Pada saat itu, celana dalam Kokoro kembali masuk ke pandangannya, dan Satoru segera memalingkan wajah dengan panik.
"Sensei, tatap mataku baik-baik."
"Bukan itu... a-aku bisa melihat celana dalammu..."
"Hm? Ah, tidak masalah kok. Aku tidak terlalu memedulikan hal seperti itu."
"Tolong pedulikanlah, akal sehatku bisa mati kalau kau terus begitu!?"
Satoru mati-matian memusatkan pandangannya ke mata Kokoro agar tidak melirik ke bawah. Mereka saling menatap selama sekitar sepuluh detik. Kokoro kemudian tersenyum puas.
"Heee... begitu ya."
"Begitu ya, apanya yang..."
"Nng-nggak, bukan apa-apa. Kalau begitu, aku sudah puas, aku pulang dulu ya~"
Kokoro mengatakan itu, lalu berdiri dengan tegak dan berjalan menuju pintu kelas.
Tepat sebelum keluar ruangan, ia menoleh ke belakang dan memasang senyum yang sangat manis.
"Main lagi ya lain kali."
Sambil melambaikan tangan, ia melenggang pergi dengan santai. Kini hanya ada Satoru seorang diri di dalam kelas yang sunyi.
"......Benar-benar berbahaya tadi..."
Gumamnya sambil mengembuskan napas panjang. Detak jantungnya masih belum tenang. Seandainya tadi ia tidak terpikir untuk langsung mulai mengajar, entah apakah ia bisa mempertahankan akal sehatnya atau tidak...
...Diam-diam, ia malah membayangkan skenario seperti itu.
(──Guaaaaaaaak!?)
Satoru refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengerang kesakitan menahan rasa malu atas imajinasinya sendiri di tempat itu.




Post a Comment