NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sensei, Kyou kara Onaidoshi desu ne V1 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Experiment 6

"Mari kita coba menggunakan psikologi!"

Beberapa hari berlalu sejak "Operasi Malam Pertama" yang gagal. Di sudut perpustakaan yang sunyi, Kusuri menumpuk banyak buku tebal dan mengerutkan kening seorang diri.


Jika dilihat dari jauh, mungkin dia tampak seperti sedang belajar farmasi dengan serius, tapi buku-buku yang dibacanya adalah judul-judul seperti "Teknik Percintaan untuk Melumpuhkan Pria" atau "Cara Menaklukan Hati Pria", semuanya tentang panduan asmara.


(Bagaimana caranya aku bisa menaklukkan Sensei......)


Dia sudah menyatakan cinta secara langsung. Ditolak.


Dia sudah melakukan pendekatan secara agresif. Tapi Sensei tidak goyah. 


Dia sudah mengumpulkan keberanian untuk melakukan "malam pertama". Tapi, dia tidak menyentuhnya sama sekali.


(Lagipula! Gadis SMA kembang sekolah sudah bilang "Silakan ambil yang pertama dariku", tahu!? Itu sudah di depan mata, kan!? Bukankah sudah sepantasnya dia menyantapnya dengan nikmat sebagai bentuk etika!? Ya, yah, sebenarnya aku memang menyukai sisi setianya itu, sih!!)


Kusuri sendiri sampai tidak tahu apakah dia sedang marah atau memuji Satoru. Dia memang ingin Satoru menyentuhnya, tapi jika Satoru menyentuhnya dengan terlalu mudah di saat seperti itu, itu justru salah interpretasi.


Haaah... Kusuri menghela napas panjang.


Bukan berarti Satoru tidak paham atau tidak menyadarinya. Satoru menerima perasaan Kusuri, namun ia terus menahan diri karena ingin menjaga Kusuri dengan sebaik-baiknya.


Kusuri senang diperlakukan dengan berharga, tapi tidak bisakah dia bersikap sedikit lebih fleksibel?


(Lagipula, dia terus saja meningkatkan rasa sukaku sementara dia sendiri tetap tidak goyah, itu sangat jahat...)


Jika sampai sejauh itu saja tidak mempan, lalu apa lagi yang harus dia lakukan? Saat sedang bingung seperti itulah, tiba-tiba ada suara dari samping.


"Kusuri-chan, masalah cinta ya?"


Dia terkejut dan menoleh. Di sana berdiri seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut lembut yang tampak seperti kucing.


Kujou Kokoro. Jurusannya adalah Psikologi.


Suasananya seperti kucing rumahan yang sedang santai berjemur di bawah sinar matahari, dan gerakannya saat menguap terlihat sangat manis.


"Ke, kenapa kamu tahu? Ja, jangan-jangan ini yang disebut psikologi...?"


"Kalau kamu menumpuk buku seperti itu sambil merintih, siapa pun pasti tahu~"


Kusuri memerah. Sebagai seseorang yang disebut jenius, sedikit memalukan jika teman sekelasnya melihatnya sedang galau memikirkan cinta. Namun, dia penasaran dan bertanya.


"Nee, Kokoro-chan, apakah psikologi... bisa digunakan untuk percintaan?"


Meskipun dia jarang mendengar Kokoro membicarakan hal semacam itu, berada di sekolah ini berarti Kokoro pasti jenius dalam bidang psikologi. Meskipun tidak terlihat paham urusan asmara, tidak ada salahnya mencoba bertanya.


Kokoro tersenyum tipis.


"Hmm, justru psikologi itu bidang yang berkembang karena percintaan, lho."


"Hoho... contohnya, apakah ada teknik yang terkenal?"


"Hmm... misalnya, apakah kamu tahu 'Door-in-the-Face'?"


"Doa-in-ze-feisu?"


"Sederhananya, kamu mengajukan permintaan besar yang pasti akan ditolak, lalu setelah ditolak, kamu mengajukan permintaan kecil yang sebenarnya adalah tujuan utamamu, maka permintaan itu akan lebih mudah dikabulkan."


"Ho... ada teknik seperti itu ya..."


Mendapat jawaban yang lebih masuk akal dari dugaan, Kusuri segera mencatatnya.


"Itu adalah efek perbandingan di mana permintaan kedua terlihat lebih mudah daripada yang pertama. Ditambah lagi, itu memanfaatkan rasa bersalah karena sudah menolak sekali. Tidak hanya untuk cinta, teknik ini juga banyak digunakan dalam negosiasi atau bisnis."


Kusuri tidak sepenuhnya paham logikanya, tapi dia merasa teknik ini sepertinya ampuh. Setelah pulang sekolah, saat ada kesempatan berduaan, Kusuri langsung mempraktikkannya.


"Sensei, aku ada permintaan!"


"Ada apa?"


"Me, menikahlah denganku!"


"Apa yang kamu bicarakan?"


Meski sudah berani mengatakannya, dia merasa sedikit terluka karena langsung dijawab dengan tatapan tak habis pikir. Namun, Kusuri segera melancarkan langkah kedua.


"Kalau begitu sebagai gantinya, tolong usap kepalaku!"


Satoru sempat tertegun sejenak, namun akhirnya berkata, "...Yah, kalau cuma itu," lalu mengulurkan tangannya. Tangan yang besar dan hangat itu mengusap-usap kepala Kusuri dengan berantakan.


"Fuoooo...!"


"......Sudah cukup?"


"I, iya! Terima kasih banyak!"


Setelah berpisah dengan Satoru, Kusuri yang merasa berhasil segera membuka aplikasi pesan di ponselnya untuk melaporkan hasilnya pada Kokoro.


『Aku sudah melakukannya! Dia benar-benar mengusap kepalaku!! Psikologi itu hebat! Apa ada teknik lain yang bisa kupakai!?』


Dia mengirim pesan dengan penuh semangat. Bagaimanapun, di tengah kebuntuannya, dia kini melihat secercah harapan. Mungkin jika dia meminjam tangan Kokoro, dia bisa berhasil. Dia menunggu balasan dengan antusias. Namun... sampai kapan pun, pesannya tidak pernah dibaca.


Kujou Kokoro adalah gadis yang hidup dengan ritmenya sendiri. Kadang dia membalas cepat, tapi tidak jarang dia membalas seminggu kemudian seolah tidak terjadi apa-apa. Dia sering tidak masuk sekolah, jadi gerak-geriknya benar-benar sulit diprediksi.


"Uuu..."


Kembali ke kamarnya di asrama putri, Kusuri menggeliat di atas tempat tidur karena frustrasi. Rasanya seperti sudah di depan makanan lezat tapi dilarang memakannya.


──Aku tidak bisa menunggu.


Secara impulsif, dia memakai sepatunya kembali dan keluar dari asrama. Tujuannya adalah toko buku terdekat. Tentu saja yang dicarinya adalah...


"Psikologi Asmara, Psikologi Asmara... ah, ketemu."


Dia mengambil satu buku tebal dan langsung pergi ke kasir. Begitu sampai di kamar, dia berbaring tengkurap dan membolak-balik halaman buku itu dengan antusias. Ada banyak teknik psikologi asmara yang tidak dia ketahui.


(Mana yang bagus ya...)


Di tengah membacanya, pandangannya terhenti pada satu bagian.


──Efek Gain-Loss.


Singkatnya, "Meskipun kebaikannya sama, akan lebih efektif jika awalnya bersikap dingin, lalu setelah itu bersikap baik!"


──Apakah ini yang disebut Tsundere atau Gap Moe?


Kusuri mengangguk. Jika dipikir-pikir, selama ini dia selalu agresif menunjukkan rasa sukanya, mungkin ada baiknya sesekali dia mencoba memberikan perbedaan tempo.


Dia mengangguk kecil dan menutup bukunya.


"Baik, mulai besok kita praktikkan!"


Dan keesokan paginya.


Kusuri datang ke depan kamar Satoru seperti biasanya.


Biasanya, dia akan berangkat sekolah bersama Satoru, menggandeng tangannya, dan bermanja-manja. Tapi hari ini berbeda.


(Baik... mulai hari ini untuk sementara adalah fase 'Tsun'...! Aku akan mempraktikkan teknik psikologi yang kupelajari kemarin, Efek Gain-Loss...!)


Dia menepuk-nepuk pipinya untuk menyemangati diri. Dia sudah berulang kali melakukan simulasi di kepalanya. Dia akan sengaja bersikap dingin selama beberapa hari, lalu setelah itu bermanja-manja agar efek gap-nya semakin destruktif. 


Secara teori, ini sempurna. Sekarang, tinggal eksekusinya.


Dengan tangan gemetar, dia menekan bel pintu. Sesaat kemudian, Satoru keluar.


"Yo, selamat pag—"


"Bu, bukan berarti aku ingin berangkat sekolah bersamamu, ya!"


Saat aku mengatakannya tepat setelah pintu terbuka, dengan suara yang sedikit melengking, Satoru menatapku dengan wajah bingung.


"......O, oh?"


"Ma, maksudku, aku datang menjemputmu tiap pagi itu karena! Lihat, bukankah aku ini seorang jenius sekaligus gadis cantik? Kalau aku berjalan sendirian, ada kemungkinan aku diganggu orang iseng, diculik, atau bertemu orang aneh! Jadi, mau tidak mau, aku datang menjemputmu supaya kau bisa jadi pengawalku, tahu! Bukan berarti aku menyukaimu jadi ingin selalu bersamamu, ya!"


Karena melakukan hal yang tidak biasa, aku sendiri sampai tidak tahu apa yang sedang kukatakan, tapi Kusuri tetap berusaha keras melanjutkan akting "tsun"-nya.


"......Lagipula, bukankah jelas lebih memutar jika kau mampir ke rumahku?"


"Aku tidak peduli soal itu. Ce, cepatlah, jangan banyak bicara dan kawal aku sampai sekolah!"


Aku meraih tangan Satoru. 


Sebenarnya aku ingin merangkul lengannya atau menggenggam tangannya ala pasangan kekasih, tapi sekarang aku sedang dalam mode "tsun". Aku harus puas dengan sekadar bergandengan tangan biasa.


Di sisi lain, Satoru tampak sangat bingung.


(Bagus, bagus, dia bingung, dia bingung......! Ini pasti karena dia kaget tiba-tiba diperlakukan dingin olehku......!)


Dan setelah itu, strategi tsundere Kusuri terus berjalan lancar. Misalnya saat jam makan siang, aku membawakan bekal buatan sendiri untuk Satoru.


"Aku membuatkan bekal ini hanya karena stok bahan makanan di kulkas terlalu banyak! Jangan salah paham, ya!"


"Melihat kerumitannya, ini terlihat butuh banyak usaha...... tapi, terima kasih."


Misalnya saat di jalan pulang, sambil merangkul lengan Satoru.


"Aku menempel begini karena cuaca sedang dingin! Tidak lebih dan tidak kurang, ya!"


"Padahal menurutku hari ini justru cukup gerah sampai berkeringat......"


Begitulah Kusuri (menurut pendapatnya sendiri) bersikap sedingin mungkin kepada Satoru.


(......Fufufu, hari di mana Sensei tidak bisa berhenti memikirkanku pasti tak akan lama lagi......!)


Melihat Satoru yang bingung dengan tindak-tanduknya, rasa percaya diri dan kepuasan Kusuri semakin memuncak. Strateginya berjalan lancar, itulah yang diyakini Kusuri. Namun──strategi yang (di dalam kepalanya) sempurna itu, justru melenceng ke arah yang tidak terduga.



(......Begitu ya. Akhirnya dia mengerti jarak yang benar antara guru dan murid.)


Sambil menyeruput kopi di dalam kamarnya, Satoru menatap kosong ke luar jendela. Kusuri hari ini benar-benar tampak berbeda dari biasanya. Biasanya, dia akan merangkul lenganku sampai dadanya menempel, dan tidak mau berhenti meski sudah kuperingatkan. Bahkan saat aku mencoba menjaga jarak, dia malah jadi keras kepala dan semakin menempel. Tapi hari ini──dia hanya berhenti pada sekadar bergandengan tangan.


......Ya, sebenarnya menggandeng tangan saja saat berangkat sekolah itu sudah dipertanyakan, tapi itu urusan lain.


Sapaannya juga terasa sangat ketus, seperti mengatakan "Bukan berarti aku ingin berangkat sekolah bersamamu, ya!" dan perilaku lainnya yang entah kenapa terasa seperti dia sedang mencoba menjaga jarak. Jujur saja, aku bingung. Tapi mungkin itu──


(Dia mencoba mendisiplinkan dirinya dengan mengucapkannya lewat kata-kata.)


Kusuri adalah anak yang cerdas. Mungkin akhirnya dia sadar bahwa tindakannya selama ini tidak pantas dilakukan oleh guru dan murid.


Orang bijak akan berubah dengan cepat. Semakin cerdas seseorang, semakin cepat mereka mengubah arah begitu menyadari kesalahan mereka. Jika Kusuri secerdas itu, wajar baginya untuk menyadari perilaku liar dirinya dan mencoba menarik rem.


(......Sedikit kesepian, tapi jika anak itu mencoba untuk mandiri dariku, aku tidak boleh menahannya.)


Jika perilaku liar karena usia mudanya sudah mulai tenang dan dia bisa bertindak sesuai posisinya, itu adalah pertumbuhan yang patut disyukuri sebagai seorang guru.


Tiba-tiba dia mengambil ponselnya dan membuka folder foto.

Di sana berderet foto-foto dirinya bersama Kusuri, dari saat dia masih SD hingga saat ini.


Dia bisa melihat bagaimana gadis yang awalnya selalu berekspresi kaku itu, hari demi hari perlahan mulai tersenyum dengan lembut. Melihat itu, matanya terasa panas dengan sendirinya.


(Rasanya seperti melihat anak perempuan yang mulai mandiri dari orang tuanya......)


Anak yang manis, merepotkan, dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika anak itu akhirnya mulai berjalan sendiri...... sebagai orang dewasa dan sebagai guru, aku harus mendukungnya.


(Kalau dipikir-pikir, mungkin selama ini aku terlalu memanjakannya....)


Begitu dengar dia demam, aku langsung pergi ke rumahnya untuk merawatnya, dan aku bilang dia boleh menelepon kapan pun di tengah malam jika punya masalah. Belakangan ini bahkan sampai kencan setelah pulang sekolah.


Saat menoleh ke belakang, mungkin justru akulah yang jaraknya terlalu dekat dengannya. Jika perilaku protektif itu yang mempercepat tindakan liarnya, maka akulah yang harus merenung.


(Baik. Mulai sekarang, aku harus bertindak dengan lebih menyadari posisiku sebagai guru dan dia sebagai murid.)



"Bukan berarti aku tidak bisa melakukan ini sendiri! Tapi kalau memaksa, tidak apa-apa kalau Satoru-kun mau mengajariku!"


Di ruang kelas. Kusuri yang mendapatkan nilai di bawah standar untuk ujian kecil mata pelajaran yang tidak disukainya, berkata seperti itu sambil menyodorkan lembar jawabannya kepada Satoru.


Satoru menatap lembar jawaban itu. Biasanya, dia pasti akan tersenyum kecut dan berkata, "Ya sudah lah," lalu mengajarinya dengan teliti. ......Namun, yang terdengar justru suara yang terasa jauh lebih kaku dari biasanya.


"Begitu ya.......Kalau begitu, coba kerjakan sendiri dulu. Kalau tidak paham, jangan sungkan untuk bertanya."


Nada bicaranya lembut, dia bahkan tersenyum. Namun, Kusuri yang sudah mengenal Satoru hampir sepuluh tahun, merasakan adanya tembok tebal yang seolah berdiri di antara mereka.


"Kalau begitu, aku ada urusan setelah ini."


Begitu mengucapkannya, Satoru melangkah keluar kelas. Kusuri membelalakkan matanya lebar-lebar sambil menatap punggungnya yang menjauh.


Selama ini, Satoru selalu memprioritaskan Kusuri kecuali ada hal yang sangat mendesak. Namun, kali ini dia begitu saja berkata "ada urusan" dan meninggalkan Kusuri begitu saja.


Kusuri yang tertinggal sendirian di dalam kelas hanya bisa menatap sekeliling dengan cemas.


(Mu, mungkin ini hanya kebetulan. Pasti ada pekerjaan penting yang harus dia selesaikan...... ya, pasti begitu......)


Namun, kejadian itu tidak berhenti sampai di situ.



Sepulang sekolah.


Satoru sedang mengerjakan tugas administratif sebagai guru di salah satu ruang kelas kosong. Meskipun Satoru menghabiskan waktu sebagai siswa setelah meminum ramuan peremaja, itu tidak berarti dia sepenuhnya lepas dari tugas sebagai guru. Mengatur dokumen dan makalah yang dikumpulkan siswa, menyesuaikan jadwal rapat dengan peneliti dari negara lain, mengajukan izin penggunaan fasilitas eksperimen; ada banyak hal yang harus diselesaikan.


Hanya saja, karena statusnya sekarang adalah siswa, dia tidak bisa melakukannya di ruang guru, jadi dia meminjam ruang kelas kosong untuk dijadikan ruang kerjanya.......dan sosok Satoru yang sedang bekerja itu, diamati Kusuri dari balik celah pintu.


Meski hatinya berdebar-debar melihat profil samping Satoru yang sedang serius bekerja, dia memeriksa waktu di ponselnya.


Sudah hampir dua jam sejak dia mulai bekerja. Biasanya, Satoru seharusnya sudah memasuki waktu istirahat kecil. Dan benar saja, Satoru mengangkat pandangannya dari komputer dan menyandarkan punggung ke kursi. Di saat itulah, Kusuri mengetuk pintu dan masuk ke kelas.


"Pe, permisi!"


"Oh, ada apa Yakushiji?"


Mendengar panggilan itu, tubuh Kusuri menegang.


(Yakushiji......? ......Lho? Bukannya kita sudah tidak saling panggil nama keluarga lagi......?)


......Padahal sebelumnya mereka sudah berjanji untuk memanggil nama depan, tapi sekarang Satoru malah memanggilnya dengan nama keluarga. Meski begitu, Kusuri tidak menyerah. Dia mengangkat termos yang dibawanya.


"Se, sebenarnya! Kebetulan sekali aku mendapatkan biji kopi yang sangat enak! Ma, maksudku, Sensei kan suka kopi, jadi kupikir... mau kuberi sedikit!"


Biasanya, dari sini mereka akan mengobrol santai layaknya pesta teh kecil sambil beristirahat. Namun, Satoru hanya melirik termos itu, lalu tersenyum tenang dan berkata,


"Terima kasih. Tapi, bertukar barang pribadi antara guru dan murid di sekolah itu kurang baik. Maaf, tapi kopi itu bawa pulang saja."


"......Eh?"


Suaranya lembut. Justru, dia berusaha sehalus mungkin agar tidak menolak niat baik Kusuri. Namun, garis pembatas itu terlihat sangat jelas.


(Kenapa...... bersikap begitu formal seperti orang asing......?)


Kecemasan mulai menumpuk di dalam hatinya.



Puncaknya adalah saat sekolah berakhir, di saat senja.


"Se, Sensei! Aku datang berkunjung~!"


Kusuri mengunjungi apartemen Satoru. Begitu dia menekan bel, pintu terbuka.


"Begini! Aku membuat kari terlalu banyak, jadi aku datang untuk membagi sedikit!"


Dia mengangkat panci kari besar yang dipegangnya. Jelas sekali jumlahnya bukan karena "kebetulan membuat terlalu banyak".


Siapa pun bisa melihat bahwa ini adalah kode keras kalau dia ingin makan malam bersama. Biasanya, Satoru akan tertawa kecil sambil berkata "Ya sudah lah" dan mempersilakannya masuk untuk makan bersama. Namun, ekspresi Satoru tetap tenang seperti biasanya.


"Matahari akan segera terbenam. Bukan hal yang pantas bagi seorang siswi masuk ke rumah pria yang tinggal sendirian."


Suaranya lembut, tapi terdengar seolah dia tidak akan membiarkan Kusuri melangkah lebih jauh dari itu.


"Eh...... anu......"


"Kari itu juga bawa pulang saja. Kalau disimpan di wadah kecil, mungkin bisa tahan beberapa hari."


"Bu, bukan begitu...... aku ingin bersama Sensei......"


"Kalau begitu, hati-hati di jalan."


──Klik.


Pintu tertutup dengan tenang. Kusuri berdiri mematung sambil masih memegang panci.


(......Apa ini...... kenapa......?)


Bukan berarti dia dibenci. Tapi, sikap Satoru seperti orang asing.


Dalam perjalanan pulang yang bermandikan warna jingga matahari terbenam, langkahnya terasa berat. Suasana hatinya merosot. Tidak sampai ingin menangis, tapi dadanya terasa sesak oleh kecemasan.


(......Sensei...... terasa begitu dingin......)


Sambil memeluk panci kari, dia berjalan gontai.


Saat itulah, ponselnya berbunyi pekon♪.


(......Mungkinkah, Sensei......?)


Dengan penuh harap, dia mengintip layar ponselnya. Namun, notifikasi itu bukan dari Satoru, melainkan pesan dari Kokoro.


『Setelah itu, bagaimana kabarmu?』


......Hanya pesan itu saja. 


Setelah berhari-hari mengabaikan pesan dan tidak menyadarinya, dia benar-benar gadis yang santai. Tapi, orang yang sedang tenggelam akan mencoba memegang jerami sekalipun. 


Saat melihat pesan itu, Kusuri tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan segera menekan tombol telepon. Untungnya, kali ini responnya cepat.


『Kusuri-chan? Tiba-tiba menelepon, ada apa—』


"Kokoro-chan, tolong aku!"


Mendengar suara Kusuri yang terdesak, Kokoro yang biasanya santai pun mengeluarkan suara bingung.


『Eh? A, ada apa? Apa kamu bertengkar dengan Fuyutsuki-kun? 』


"Pokoknya, bisakah kita bertemu sekarang!? Ada yang ingin aku ceritakan!"



Tak jauh dari asrama putri Akademi Reimei. Di pojok kedai kopi kecil, Kusuri dan Kokoro duduk berhadapan dengan meja di tengah mereka.


......Entah kenapa, di kursi sebelah Kusuri ada panci kari besar. Aroma kari yang menggugah selera menyebar di dalam kedai dan menarik perhatian pelanggan lain, tapi Kusuri sama sekali tidak peduli dengan hal itu.


Kokoro mengangguk-angguk menanggapi cerita Kusuri sambil menggoyangkan rambutnya yang lembut seperti kucing. Matanya yang biasanya terlihat mengantuk, hari ini tampak sedikit ceria.


"Lihat ini, Kokoro! Padahal di sini tertulis: 'Efek Gain-Loss. Tingkatkan kesanmu dengan Tsun→Dere! Anak laki-laki yang kamu incar pasti akan penasaran padamu!'" 


Kata Kusuri sambil menunjukkan buku psikologi asmara yang dibawanya. Kokoro hanya tersenyum kecut.


"Ah, yang itu ya. Kurasa itu justru memberikan efek sebaliknya, lho."


"Eh!? Ta-tapi, bukankah di buku—!"


Kusuri menunjuk buku itu dengan jari gemetar. Kokoro tersenyum kecil lalu melanjutkan.


"Memang logikanya masuk akal, tapi sebaiknya jangan menelan mentah-mentah buku seperti itu. Kusuri-chan juga tahu kan, kalau obat punya cara kerja yang berbeda tergantung orangnya dan cara meminumnya? Itu sama saja."


"Ugh..."


Itu adalah ungkapan yang tepat untuk seseorang yang tidak bisa membantah lagi. Kusuri terdiam.


Dalam dunia farmasi, memperhitungkan waktu minum obat, kondisi fisik, hingga interaksi dengan obat lain adalah dasar dari segala dasar. Jika sudah diberi contoh seperti itu, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Orang itu cenderung menginterpretasikan segala sesuatu sesuai dengan apa yang menguntungkan bagi dirinya sendiri. Dalam kasus ini—"


Kokoro membalik-balik buku psikologi yang dibawa Kusuri dan membuka halaman tertentu.


"Bias interpretasi. Jika Sensei berpikir 'sebagai murid, dia harusnya mandiri nantinya', maka saat melihat sikapmu yang dingin, dia akan dengan bebas menginterpretasikannya menjadi: 'Ah, anak ini sudah tumbuh dewasa dan mencoba mandiri dariku'."


"Apa-apaan itu!? Aku tidak mau dia menginterpretasikan hal itu seenaknya sendiri!"


"Tapi, itulah psikologi manusia. Mereka selalu menginterpretasikan sesuatu berdasarkan asumsi pribadi."


"Begitukah..."


Kusuri menundukkan kepala dengan lemas. Kokoro menatapnya sambil tersenyum lembut.


"Semangat ya, Kusuri-chan. Kamu hanya perlu meluangkan waktu untuk meluruskan kesalahpahaman itu perlahan-lahan."


"──Tidak. Aku mengerti sekarang."


Kusuri tiba-tiba menarik kursinya dan berdiri.


"Aku akan langsung menunjukkan sikap 'dere' sekarang juga!!"


"......Eh? Kusuri-chan?"


"Terima kasih sudah mendengarkan curhatku! Intinya, Satoru-kun yang sekarang salah paham mengira aku menjauh darinya, kan? Kalau begitu──aku akan membuatnya sadar kalau hal itu tidak mungkin terjadi!"


"Tu-tunggu sebentar!? Bukankah terlalu mendadak itu tidak baik juga—"


"Tidak, kebaikan harus dilakukan segera! Memperbaiki kesalahpahaman secepat mungkin adalah tindakan rasional! Kalau begitu, aku pergi sekarang!!"


Sambil berteriak, Kusuri berlari secepat mungkin meninggalkan kedai kopi. Kokoro yang tertinggal hanya bisa menatap punggungnya dengan bengong──lalu terkikik geli.


"Fufu, mereka berdua memang selalu menarik ya.......Ngomong-ngomong, Kusuri-chan tadi tidak bereaksi sama sekali saat aku memanggil Fuyutsuki-kun 'Sensei'...... Apakah itu artinya Fuyutsuki-kun sudah dipastikan sebagai Fuyutsuki-sensei?"


Dia bergumam pelan lalu melompat turun dari kursi. Namun, dia berhenti karena menyadari sesuatu yang ditinggalkan Kusuri di atas kursi.


"......Terus, panci kari ini bagaimana?"


Kokoro terdiam cukup lama, bingung menghadapi panci kari tersebut.



Klik-klak. Suara ketukan papan ketik komputer menggema di dalam ruangan rumah yang tenang.


Pekerjaan sebagai guru di Akademi Reimei itu sibuk. Selalu ada saja hal yang harus dikerjakan. Namun, dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.


"......Sepi sekali ya."


Satoru bergumam dan menghentikan pekerjaannya. Sejak Kusuri memberinya ramuan peremaja, hari-harinya selalu ramai, namun tiba-tiba suasana menjadi sangat sepi.


"............"


Tiba-tiba, ekspresi Kusuri yang tampak sedih saat dia menolak ajakan makan malam tadi kembali terbayang di benaknya.


Tidak, tentu saja sebagai guru, membawa murid ke rumah di jam seperti itu adalah tindakan yang melanggar aturan, jadi dia tidak merasa salah. Tapi tetap saja, hatinya merasa gelisah saat mengingat wajah sedih gadis itu.


Entah kenapa, dia membuka folder di ponselnya dan melihat foto-foto yang diambil bersama Kusuri. Sebagai guru privat bagi gadis jenius yang terasing dari keluarganya, dia telah membangun hubungan yang cukup dekat demi kebaikan Kusuri.


Awalnya itu hanyalah pekerjaan, namun perlahan-lahan, melihat senyumnya menjadi sesuatu yang benar-benar membuatnya bahagia. Dalam sepuluh tahun terakhir, dia bahkan mulai merasakan sensasi, "Apakah rasanya seperti ini jika aku punya anak perempuan?"


Saat dia mulai menjaga jarak dengan Kusuri, sejujurnya dia merasa sangat kesepian.


"......Tidak boleh. Justru aku yang harus berhenti bergantung pada Kusuri."


Dia menertawakan dirinya sendiri. Kusuri sudah berusaha untuk mandiri, jika dia malah merasa kesepian, itu namanya memutarbalikkan fakta.


Saat sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba──


──Ting-tong.


Bel pintu berbunyi.


Saat dia bertanya-tanya siapa yang datang di jam seperti ini, seketika itu juga──


Ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong-ting-tong... 


......Saat Satoru merasa sedikit ketakutan karena bel ditekan secara brutal, terdengar suara Kusuri, "Sensei, bukakan pintu~~!"


"......Sepertinya ini hantu jenis baru atau semacamnya."


Sambil tersenyum kecut, dia berjalan ke pintu masuk dan membukanya.


"──TIDAK SEPERTI ITUUUU!!"


Begitu pintu terbuka, Kusuri yang air matanya menggenang langsung menerjang masuk ke pelukannya.


"Bukan seperti itu......! Aku tidak ingin menjauh dari Sensei......! Aku hanya ingin Sensei lebih menyukaiku...... di buku psikologi tertulis kalau tsundere itu bagus...... jadi aku mencoba bersikap tsun...... tapi Sensei malah semakin dingin padaku...... uwaaaaaaa......!"


Sambil terisak-isak, dia mencoba menjelaskan situasi sebenarnya dengan putus asa.


Singkatnya, dia mencoba taktik tsundere karena terlalu mempercayai buku percintaan, yang akhirnya justru membuatnya salah paham dengan Satoru.


"......Jadi, tolong jangan menjauh dariku...... kumohon......"


Mendengar Kusuri yang terisak-isak mengucapkan hal itu, Satoru hanya bisa tersenyum getir.


"Iya, iya, aku mengerti. Sudah SMA, jangan menangis karena hal seperti itu."


Satoru menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


──Entah kenapa, dia merasa suaranya sendiri sedikit lebih ceria dari biasanya.


Untuk sementara, karena Kusuri masih menangis, Satoru membiarkannya masuk ke dalam kamar.


(Tidak, ini bukan hal yang aneh. Mengusir murid yang sedang menangis begitu saja justru tindakan yang melanggar etika sebagai guru.)


Sambil mencari alasan di dalam hati, Satoru membiarkannya duduk di sofa dan mendengarkan ceritanya. Saat sedang berbicara, perut Kusuri berbunyi kruuu...... dengan suara yang sangat lucu. Kusuri merona malu sambil memegangi perutnya.


"Kau belum makan malam?"


"Iya...... ah! Tu, tunggu, aku meninggalkan panci kari di kedai kopi tadi...... sebentar, aku telepon dulu ya."


Kusuri mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon dengan panik.


"Ah, Kokoro-chan? Anu, soal panci kari yang kutinggalkan di kedai tadi...... ah, kau sudah membawanya pulang ke asrama? Eh? Berat sekali dan liftnya sedang rusak? Waaa, maafkan aku!!"


Dari potongan percakapan yang terdengar, Satoru bisa membayangkan Kokoro yang bertubuh mungil itu terhuyung-huyung menaiki tangga sambil memeluk panci kari yang besar. Satoru hampir saja tertawa lepas.


Setelah menutup telepon, Kusuri tertawa dengan sedikit canggung.


"Ahaha...... maaf sudah membuat keributan ya."


"......Kalau belum makan malam, mau makan di sini? Meski ya, tidak ada makanan yang mewah."


"Boleh kah!? Ka, kalau begitu aku terima tawarannya. Ehehe, sebenarnya aku sedang sangat lapar."


Begitulah, mereka akhirnya berdiri di dapur.......Meski sebenarnya Satoru tidak bisa memasak yang macam-macam.


Dia merebus air, lalu memasukkan mi instan persediaan mereka ke dalam panci untuk dua porsi. Saat Satoru sedang merebus mi, Kusuri tiba-tiba merangkul lengannya dengan lembut.


"Muu~, Sensei makan makanan seperti ini lagi? Padahal ini tidak baik bagi tubuh, lho?"


"Pemeriksaan kesehatanku hasilnya normal, jadi tidak apa-apa."


"Bukan itu masalahnya. Aduh, kalau begitu lain kali biar aku siapkan suplemen khusus buatanku sendiri, ya?"


"Suplemen buatanmu itu menakutkan dalam banyak arti, tahu......"


"Mu~ jahat sekali~. Aku tidak akan memasukkan bahan aneh-aneh ke dalamnya, kok~"


"Ingatlah reputasimu selama ini, ingatlah reputasimu."


Meski saling bercanda, Kusuri tetap merangkul lengan Satoru. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Satoru dan menggosok-gosokkan kepalanya dengan manja. Biasanya Satoru akan menegurnya, tapi hari ini dia tidak mengatakan apa-apa.


"......Mau pakai telur?"


"Iya! Tolong ya!"


Satoru memasukkan telur ke dalam panci, membiarkannya masak sebentar, lalu menyajikannya di mangkuk.


Di meja hanya ada mi instan dengan telur...... hanya itu saja. Namun, Kusuri menyatukan kedua tangannya dengan mata berbinar.


"Selamat makan!"


Dia menyeruput mi itu dengan suara yang terdengar sangat lezat.


Itu hanyalah makan malam yang sederhana, mi instan yang ditambah telur. Namun, melihat Kusuri menyantap mi itu dengan begitu bahagia, entah mengapa Satoru merasa makanan itu terasa jauh lebih enak dibandingkan makan sendirian biasanya.



──Meskipun caranya jauh dari apa yang ia rencanakan, efek gain-loss itu benar-benar bekerja dengan sempurna.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close