NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sensei, Kyou kara Onaidoshi desu ne V1 Chapter 5

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Experiment 5

"A-aku akan membuat fakta yang tak terbantahkan!"

"Lagipula! Bagaimana kau bisa masuk!? Aku sudah mengunci pintunya, tahu!"


"Eh, itu...... ada paket yang datang dari Ketua Yayasan...... Saat kubuka, isinya kunci cadangan kamar ini, kostum, dan kartu pesan bertuliskan 『Semangat ya』......"


"Jangan-jangan Ketua Yayasan brengsek itu mendorong siswanya ke arah yang aneh-aneh seperti itu!?"


Aku bersumpah dalam hati untuk menghajar wajah menyebalkan itu begitu aku kembali. Tapi sekarang, bukan saatnya memikirkan hal itu.


"Ja, jadi...... begini......"


Sambil tetap menunggangi Satoru, Kusuri bertanya dengan suara gemetar.


"Ba, bagaimana......? Kalau dariku, aku sudah berusaha mengeluarkan keberanian yang sangat besar......"


Mendengar kata-katanya, mataku tak sengaja menatap tubuh Kusuri.


Melihat matanya yang berkaca-kaca menahan malu dan wajahnya yang merah padam, aku merasakan kepolosan darinya, tapi tubuh itu sendiri sudah sepenuhnya memiliki daya tarik sebagai seorang wanita. Bahu-bahunya sangat ramping, namun di dadanya terdapat lekukan lembut khas wanita. 


Melihat ukuran yang satu tingkat lebih besar dari yang kubayangkan, aku tak sengaja memikirkan hal yang tidak pada tempatnya, "Ternyata dia tipe yang terlihat kurus kalau pakai baju, ya."


Babydoll berwarna merah muda itu terbuat dari bahan yang sangat tipis, memperlihatkan pinggang rampingnya yang tampak seperti bisa direngkuh dengan kedua tangan. Jenis baju yang terbuka di bagian depan itu membuat pusar yang sesekali mengintip dari celahnya terlihat sangat menggoda.


Meskipun tahu tidak boleh, mataku justru turun lebih jauh ke bawah. Bagian bawah tubuhnya hanya ditutupi oleh pakaian dalam putih dengan renda manis. Pemandangan yang biasanya tersembunyi di balik rok dan tak boleh kulihat, kini terpampang tepat di depan mata.


Bahkan jika aku mencoba mengalihkan pandangan, dia menunggangiku dalam keadaan seperti itu. Kehangatan dan kelembutan tubuh Kusuri perlahan meresap masuk.


"Po, pokoknya turun dari sana!"


Aku mengerahkan seluruh akal sehatku untuk mencoba menyingkirkannya dari atasku. Tapi...... tubuhnya terasa sangat berat. Tangan yang kuangkat dengan mudah diraih pergelangan tangannya dan ditekan dengan mudah.


"A, apa-apaan ini......!"


"Maafkan aku. Itu, sebenarnya aku memberikan semacam obat kelumpuhan berefek cepat saat Sensei sedang tidur......"


"Bukankah tadi aku sudah memperingatkanmu untuk tidak meracuni orang lain!?"


"Yang ini kubuat dari campuran herbal yang dijual bebas, jadi secara hukum ini dianggap sebagai bahan makanan."


"Bukan itu masalahnya!?"


Aku berusaha keras melawan, tapi tetap saja tidak ada tenaga. Dengan mudahnya aku ditekan, dan Kusuri menatap Satoru dengan sedikit mencondongkan tubuh ke depan.


"......Ti, tidak bolehkah?"


Melihat mata Kusuri yang basah dan suaranya yang terdengar begitu pilu, Satoru kehilangan kata-kata.


......Selama ini, meskipun menerima pendekatan Kusuri, Satoru tanpa sadar sering menganggapnya enteng sebagai "ucapan anak-anak". Lagipula, mereka sudah saling kenal sejak dia masih SD.


Ada kalanya dia berkata, "Jadikan aku istrimu kalau aku sudah besar nanti," jadi Satoru tanpa sadar merasa situasi ini hanyalah kelanjutan dari hal tersebut. Tapi tubuh itu sekarang sudah benar-benar memiliki daya tarik sebagai wanita. Walaupun tahu tidak boleh, pandanganku tanpa sadar tersedot ke belahan dada Kusuri yang condong ke depan.


Aku menelan ludah dengan susah payah, lalu segera sadar kembali dan memalingkan muka dengan panik. Namun, bayangan tubuh Kusuri sudah telanjur terpatri di mataku. Hal yang paling gawat adalah...... Kusuri sekarang sedang menunggangi pinggang Satoru.


Suhu tubuh yang perlahan meresap di balik kain tipis. Sensasi kulitnya yang lembut. Setiap kali pusat gravitasi Kusuri bergoyang sedikit saja, sensasi itu langsung menstimulasi tubuh remaja laki-laki SMA ini.


"Sensei...... tolong tatap aku dengan benar......"


"Ja, jangan bergerak...... serius, kau ini benar-benar tidak tahu kontrol diri......!"


Sambil mengatakan itu, Satoru benar-benar panik. Tidak peduli seberapa keras dia menahannya dengan akal sehat, tubuh muda ini tidak bisa tidak bereaksi.


"Hm? Apa ini yang keras ini? ......!?"


Begitu menyadari apa itu, wajah Kusuri memerah padam sampai terlihat jelas bahkan dalam keremangan cahaya. Dia hanya bisa membuka-tutup mulutnya dengan suara "au, au......" sambil berkaca-kaca.


"He, hei. Jangan memaksakan diri terlalu keras, ya?"


"A, aku tidak memaksakan diri! A, aku masih sanggup, tahu......!"


Suara Kusuri saat mengatakannya terdengar sedikit menangis.

Tapi meskipun begitu, Kusuri tidak berhenti.


"La, lagi pula...... kalau sudah jadi seperti ini...... artinya Sensei juga...... memikirkan hal itu tentang diriku, kan......?"


"I, itu hanya reaksi fisiologis biasa!"


Aku berteriak dengan putus asa, tapi di telingaku sendiri itu terdengar seperti alasan belaka.


Tentu saja, Kusuri tidak akan berhenti hanya karena itu. Dengan lembut, dia menjangkau ujung baju tidur kemeja yang dipakai Satoru.


"Aku sudah...... mempelajari semuanya dengan matang. Aku juga sudah membulatkan tekad. Jadi, tidak apa-apa....... Sensei, silakan hitung saja noda di langit-langit......"


"He, hentikaaaannnn!!"


..................。

..................。


"............?"


......Kusuri tidak bergerak.


Tangannya masih memegang kemeja, dan dia gemetar seperti hewan kecil. Matanya berkaca-kaca, dan kalau melihat ekspresinya saja, orang tidak akan tahu siapa yang sebenarnya sedang diserang.


"Jika dipikir secara rasional, ini adalah solusi optimal...... fakta yang tak terbantahkan...... fakta yang tak terbantahkan......"


Aku bisa mendengar gumaman itu seolah dia sedang meyakinkan dirinya sendiri. Napasnya sangat berat. Tapi, itu lebih terasa seperti hiperventilasi karena gugup daripada karena sedang bergairah.


"......Ah...... Kusuri? Benar-benar jangan memaksakan diri. Ya? Jadilah anak baik dan mari kita bicara dengan tenang......"


"Ka, kau memperlakukanku seperti anak kecil lagi! Aku kan sudah jadi orang dewasa yang pantas!"


Kusuri berkata begitu, lalu dengan dorongan emosi, dia menyingkap kemeja Satoru.


"......Eu?"


Seketika itu juga, Kusuri membeku.


Apa yang dilihat Kusuri jauh lebih...... tidak, benar-benar di luar dugaannya. Itu adalah tubuh Satoru yang atletis, kencang, dan berotot indah.


Perut yang terbentuk dengan sempurna dan lentur. Otot dada yang bidang. Melihat keindahan tubuh yang sama sekali tak terduga itu, Kusuri mengerjapkan matanya dengan ekspresi seperti orang yang baru saja menemukan spesies makhluk hidup baru.


"Ke, kenapa tubuh Sensei bisa sekekar ini!? Bukankah tipe orang seperti Sensei biasanya bertubuh kurus seperti kecambah!?"


"Ah...... belajar itu lebih efisien kalau dibarengi dengan menggerakkan tubuh. Jadi, selama masa sekolah aku terus belajar sambil latihan beban, akhirnya jadi begini."


"Ja, jadi karena alasan itu tubuh Sensei seksi begini...... auuuu......"


"......Hei, Kusuri. Benar-benar berhenti sampai di sini saja. Kau tidak cocok melakukan hal seperti ini."


"Ti, tidak mau! Kau tahu berapa banyak keberanian yang kukumpulkan hanya untuk melakukan ini!?"


Sudah terlanjur keras kepala, Kusuri tetap menjulurkan tangannya ke tubuh Satoru dengan gerakan yang masih gemetar karena gugup. Ujung jarinya menggelitik area dada Satoru.


"Kh......"


Satoru mengernyitkan wajah dan mengeluarkan suara manis yang tertahan.


"~~~~~~~~~~~~~!!"


Seketika itu juga, sesuatu di dalam otak Kusuri mengalami korsleting total. Tanpa sadar, dia terkulai lemas di atas dada Satoru.


"He, hei Kusuri!?"

"Kyuu......"


Kusuri jatuh pingsan di atas tubuh Satoru dengan mata berputar. Wajahnya begitu matang sampai rasanya uap panas keluar dari kepalanya. Begitulah, operasi malam pertama Kusuri berakhir dengan kegagalan yang tenang.



Keesokan paginya.


Kusuri terbangun di atas tempat tidur sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Kelopak matanya setengah tertutup, kesadarannya masih seperti berada di dalam mimpi.


"Nng...... ini, di mana......"


"Kau sudah bangun?"


"Fue...... Sensei......?"


Saat dia menoleh, Satoru sedang sarapan di meja. Kusuri menatap Satoru dengan tatapan kosong selama beberapa saat, seolah tidak mengerti mengapa Satoru ada di sana. Lalu, dia menatap tubuhnya sendiri dan membeku seketika.


Pakaian dalam. Babydoll. Masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam. Pipinya seketika berubah merah, dan dia dengan panik menarik selimut hingga menutupi dadanya.


"A, anu...... sa, saat aku tidur, apakah Sensei, itu, melakukan sesuatu pada diriku......?"


"Mana mungkin aku melakukan itu!"


"............Jadi tidak melakukan apa-apa?"


"Jangan memasang wajah kecewa begitu!"


"Tapi, tapi Sensei, tadi malam...... itu...... Sensei...... sangat bereaksi padaku, kan......?"


"Tck...... i, itu! ......I, itu adalah reaksi fisiologis pria! Pria secara alami akan jadi seperti itu di malam hari!"


Aku sadar alasan itu sangat dipaksakan, tapi aku tidak mungkin sebagai seorang guru mengakui, "Aku sangat terangsang melihat siswiku berpakaian seperti itu."


Namun, Kusuri malah menjatuhkan bahunya dengan lesu.


"......Apakah aku ini, tidak menarik sama sekali......?"


Suaranya hampir menangis. Satoru akhirnya merasa tersentak dan terdiam cukup lama.


Aku memang merasa dia terlalu nekat...... tidak, aku benar-benar merasa dia terlalu nekat, tapi tetap saja, melakukan percobaan malam itu pasti membutuhkan tekad yang luar biasa bagi Kusuri.


Jika ternyata usahanya tidak membuahkan hasil sama sekali dan malah ditolak mentah-mentah oleh orang yang dicintai, wajar saja jika dia merasa jatuh.


Setelah pergulatan batin sesaat. Satoru menimbang berbagai hal di kepalanya, lalu menghela napas pendek. Dia berjalan mendekati Kusuri dan duduk di tepi tempat tidur.


"Bukan berarti kau tidak menarik."


"Tapi Sensei, Sensei tidak melakukan apa-apa padaku. Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga......"


Satoru menghela napas lagi melihat Kusuri yang merajuk.


"Dengar ya, mana mungkin seorang guru bisa menyentuh muridnya. ......Tapi, yah, itu...... ada benarnya."


"?"


Kusuri menatap Satoru dengan curiga karena bicaranya yang sedikit terbata-bata.


"............Kalau aku bilang aku sama sekali tidak merasakan daya tarikmu sebagai wanita, itu bohong...... mungkin."


Mendengar kata-kata itu, Kusuri mengerjapkan matanya yang besar.


"Be, benarkah?"


"Ugh...... ya, yah, sebagai guru ini memang tidak pantas, tapi aku merasa menarik karena kau begitu menyukaiku, jadi ya, aku merasa kau menarik."


"Kalau begitu......!"


"Tapi, kau adalah murid yang berharga bagi 'diriku'."


Satoru melanjutkan dengan nada tegas seolah memperingatkan.


"Kusuri, kau adalah seorang gadis, jadi tolong jangan lakukan hal seperti semalam lagi. Aku juga seorang pria, kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan......"


"Aku malah sangat menyambutnya, kok......"


"Jangan bilang menyambut! Pokoknya, jangan bertindak impulsif seperti itu, aku ingin kau lebih menghargai tubuhmu sendiri. Lagipula, hubungan asmara pria dan wanita itu seharusnya......"


Satoru terus berbicara seperti itu.


Kusuri adalah anak yang cerdas. Kalau aku menghadapinya dengan tulus dan berbicara dengan sepenuh hati, dia pasti mengerti.......

Begitulah pikirku, namun Kusuri malah menggembungkan pipinya dan tampak sangat tidak puas.


"Aa...... eh, Kusuri?"


"Justru hal seperti itu yang membuatku menyukai Sensei, Senseiiiii!!"


"Uoh!?"


Saat aku bingung tidak mengerti mengapa dia marah, sebuah bantal dilemparkan ke arahku.


"Justru hal-hal seperti itulah yang membuatku menyukai Sensei! Sensei itu jujur, tulus, memperlakukanku dengan sangat berharga, dan bahkan saat aku memaksa pun Sensei sama sekali tidak goyah! Jangan menaikkan rasa sukaku lebih dari ini saat Sensei tidak mau goyah sama sekali!!"


"Meskipun kau bilang begitu......"


"Lagi pula, menjaga diri sendiri itu kan hal yang wajar! Salahkah kalau aku ingin memberikan 'yang pertama' hanya kepada orang yang kusukai karena dia sangat berharga bagiku!?"


"Bu, bukan begitu, tapi......"


"Kalau begitu, aku balik bertanya. Sensei ingin aku bahagia, kan!? Sensei ingin aku menggapai mimpi-mimpiku, kan!?"


"Tentu saja."


"Masa depanku adalah menikah dengan orang yang kusukai, punya banyak anak yang lucu, dan membangun keluarga yang ramai dan bahagia! ......Dan orang yang kusukai itu adalah Sensei!? Kalau Sensei tidak mau berpaling padaku, mimpiku tidak akan terwujud, dong!? Bagaimana tanggung jawab Sensei!?"


"Yah, eh, itu......"


"Jadi begitulah! Kalau Sensei menjadikanku istrimu, semuanya beres, kan! Beres! Argumen selesai!"


Di akhir kalimat, dia kembali menunjuk Satoru dengan jari telunjuknya, seolah sedang menyatakan perang.


"Aku pasti, mutlak, akan menghancurkan apa yang Sensei sebut sebagai 'prinsip seorang guru' itu, dan membuat Sensei jatuh cinta padaku! Aku tidak akan menyerah!"


Setelah berkata begitu, dia menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya.


"......Muridku benar-benar terlalu tangguh," gumam Satoru.


Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, hanya bisa tersenyum getir.



Di sisi lain, Kusuri yang baru saja meluapkan segalanya secara sepihak dan bersembunyi di balik selimut, sedang meronta-ronta di dalamnya.


(A, apa yang sudah kukatakan barusan!?)


Telinganya memerah padam. Karena emosinya meledak, dia tanpa sadar meluapkan semua isi hatinya.


(Ingin menjadi istri, punya banyak anak...... padahal aku berniat merahasiakannya karena tidak mau dianggap terlalu posesif......!)


Dia memegangi kepalanya di dalam selimut. Kusuri sangat sadar bahwa tindakannya benar-benar gila dan bahwa Satoru sepenuhnya berada di pihak yang benar.


(Ta, tapi Sensei juga salah! Mengapa dia mempermainkan hatiku sampai sejauh ini......!)


Sejak awal saat aku menyatakan cinta, dia bilang alasannya menolak hanyalah karena perbedaan usia. Dia bahkan bilang kalau saja usia kami sama, dia tidak akan menolak. Jadi, aku membuatnya menjadi muda kembali.


Lalu sekarang, dia jelas-jelas terlihat gugup dan menganggapku sebagai lawan jenis. Dia bahkan bilang aku menarik. Tapi, dia malah membuat garis batas yang tegas dengan alasan dia adalah guru dan aku adalah murid.


Padahal, dia justru terus meningkatkan rasa sukaku yang sudah berada di level maksimal. Wajar saja jika aku ingin marah dan berkata, "Jangan bercanda!"


Namun......


Dia menyadariku. Dia bilang aku menarik. Memikirkannya saja membuatku malu, tapi tubuh Sensei pun tadi bereaksi padaku.


Setelah ini, tinggal satu langkah lagi: menghancurkan prinsipnya sebagai seorang guru, maka kemenanganku sudah mutlak.


(Aku tidak akan pernah kalah......!)


Sambil memeluk bantalnya erat-erat, Kusuri memperbarui sumpah di dalam hatinya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close