Chapter 3
Dua Celestial Archmage
Keesokan
harinya, aku keluar rumah untuk menyerap hangatnya mentari pagi. Di sana, aku
melihat Katima berdiri mematung di tengah hutan.
Ia
memiliki kulit kecokelatan yang khas, sementara rambut peraknya memancarkan
kilau yang redup. Selain telinganya yang panjang, penampilannya benar-benar
terlihat seperti manusia biasa.
Sikapnya
yang agak linglung membuatnya terasa lebih kekanak-kanakan dibanding
penampilannya. Meski begitu,
usia fisik sama sekali tidak bisa dijadikan patokan jika menyangkut penghuni
pulau ini.
Saat aku sedang
asyik memperhatikan Katima, ia menyadari keberadaanku dan menoleh ke arahku
dengan mata merah delimanya.
"Oh, kau
rupanya, Arata."
"Selamat
pagi, Katima," sapaku. "Kau bangun pagi sekali."
"Ya, sinar
matahari yang menembus celah pepohonan hutan terasa sangat nyaman. Aku suka
berjemur di pagi hari."
"Oh,
benarkah?"
Tepat seperti
katanya, sinar matahari pagi yang lembut di sela-sela dedaunan memang terasa
menyenangkan. Berjemur ditemani suara kicauan burung dan desis angin di
pepohonan rasanya seperti ide yang sangat menarik.
"Maaf soal
kemarin," ucap Katima tiba-tiba.
"Hm? Oh,
maksudmu soal aku yang menyelamatkanmu? Jangan dipikirkan."
"Tidak,
seorang Alfr tidak pernah melupakan utang budi. Lagipula, aku juga makan banyak ikan tangkapan
kalian."
Ia menurunkan
bahunya dengan perasaan bersalah, membuatku tanpa sadar tersenyum canggung.
Menurutku dia tidak perlu meminta maaf.
Luna dan Elga-lah
yang menangkap ikan-ikan itu; aku sendiri tidak menangkap apa pun, kecuali jika
kau menghitung Katima sendiri sebagai "tangkapan".
"Kalau
begitu, bawakan sesuatu untuk Luna lain kali. Dialah yang menangkap sebagian besar ikan
itu."
"Baiklah.
Aku tidak melupakan utang budiku, dan aku akan membalasnya berkali-kali
lipat."
Sambil
mengepalkan tinju, Katima menyemangati dirinya sendiri. Meski ekspresinya tidak
banyak berubah, mudah sekali menebak apa yang sedang ia pikirkan.
"Tapi karena
kau yang menyelamatkanku, aku akan membalasnya padamu. Apa ada yang kau
butuhkan?"
"Aku? Umm,
biarku pikir dulu..."
Berkat tubuhku
yang tak terkalahkan, aku tidak pernah terluka atau sakit, benar-benar definisi
sehat walafiat. Selain itu, semua penghuni pulau ini sangat ramah, jadi aku
tidak punya masalah dalam hubungan sosial.
Makanannya lezat,
dan aku makan bahan-bahan segar setiap hari. Hidupku terasa begitu tenang dan
menyenangkan, sampai-sampai aku kesulitan memikirkan hal yang menggangguku.
Meski
begitu...
"Oh,
benar juga. Hei, Katima, kaum Alfar tinggal di pegunungan, kan?"
"Ya. Itu
karena di sana ada banyak roh api, tanah, dan kegelapan. Tempat yang nyaman
bagi kami."
"Lalu, apa
ada makanan lezat khas daerah yang hanya bisa didapatkan di sana?"
"'Makanan
lezat'?" Ia memiringkan kepala, mungkin karena tidak terlalu paham
maksudku.
"Maksudku,
apa ada sesuatu yang enak di tempat tinggalmu?"
"Ah,
aku mengerti. Ada banyak. Bagaimanapun juga, gunung adalah sumber dari segala
kehidupan."
Katima
membusungkan dadanya dengan bangga, mempertegas lekuk tubuh di balik pakaian
tipisnya.
Pakaiannya
terbuat dari kulit binatang; terlihat cukup kuat, namun terpisah antara bagian
atas dan bawah layaknya baju renang, membiarkan perutnya terbuka sepenuhnya.
Ia
tampaknya tidak peduli sama sekali, tapi sebagai seorang pria, aku agak
kesulitan menjaga pandanganku.
"Aku
merekomendasikan jamur," lanjut Katima.
Aku terdiam
sejenak. "Jamur-jamur itu aman dimakan, kan?"
"Kenapa
tiba-tiba kau merasa curiga? Tentu saja itu bukan jamur beracun."
Aku curiga karena
jamur di pulau ini tidak bisa dipercaya begitu saja. Sejujurnya, cerita Elga
kemarin masih membuatku ngeri.
Tetap saja, itu
tidak berarti semua jamur seperti itu. Dan perkataan Katima bahwa rasanya enak
mulai membangkitkan rasa ingin tahuku.
"Kalau
begitu, saat kami berkunjung ke gunung nanti, bolehkah aku mencicipinya
sedikit?" tanyaku.
"Tentu, aku
juga akan memberitahu para tetua. Kalian sudah menyelamatkanku, jadi seluruh
kaum Alfar berutang budi pada kalian. Aku yakin Roh Agung juga akan menyambut
kalian. Uh-huh," ucapnya sambil tersenyum.
Aku merasa dia
agak berlebihan, tapi tetap saja aku memang telah menyelamatkan nyawanya.
Semenjak datang
ke pulau ini, aku menyadari bahwa kunci untuk memperbaiki hubungan dengan orang
lain adalah dengan tulus menerima rasa terima kasih mereka dan mengungkapkan
rasa terima kasihmu sendiri.
"Jamur,
ya..."
Meskipun kami
berada di tengah hutan, sebenarnya tidak banyak jenis sayuran yang bisa kami
kumpulkan di area sekitar rumah.
Dan yang
menyebalkan, banyak tanaman di sini memiliki karakteristik yang merepotkan.
Di sisi lain,
kami punya pasokan daging yang melimpah, tapi itu meningkatkan risiko pola
makan yang tidak seimbang. Karena itu, aku ingin mencari sumber sayuran yang
stabil.
"Baiklah
kalau begitu, aku rasa aku akan mampir berkunjung kapan-kapan," kataku.
"Aku akan
menantikannya," jawab Katima.
Sambil
menghabiskan waktu mengobrol dengannya tentang berbagai jenis makanan, Reina
pun bangun, begitu pula Luna yang menginap di rumah kami semalam.
Mereka tampak
penasaran dengan apa yang kami bicarakan, dan saat aku menjelaskannya, keduanya
menunjukkan ketertarikan.
Luna bahkan
sangat antusias; saat kami berbicara, ia mulai meneteskan air liur, seolah
ingin segera pergi ke gunung saat itu juga.
"Masih
banyak bahan makanan yang kubawa, tapi kupikir akan lebih baik jika kita punya
lebih banyak sayuran," ujar Reina.
"Pegunungan
tempat tinggal Alfar penuh dengan kekayaan alam. Dan, kami juga membuat
beberapa hal sendiri," sahut Katima.
"Kalau
begitu, apa kalian punya yang seperti ini?"
Reina mulai
menghujani Katima dengan berbagai macam pertanyaan, seolah ada sakelar di dalam
dirinya yang baru saja menyala.
Dari pengalaman,
aku tahu percakapan akan menjadi sangat panjang jika dia sudah seperti ini.
"Luna, aku
mau cuci muka di sungai. Bagaimana denganmu?" tanyaku.
"Ummm..." Luna berpikir sejenak, lalu menjawab,
"Aku ikut!"
Karena ditahan oleh Reina, Katima tampak agak bingung
menghadapi rentetan pertanyaan yang begitu cepat.
Sepertinya dia tidak dalam kondisi bisa memperhatikan hal
lain.
Luna pasti berpikir jika aku meninggalkannya di sini
sendirian, dia tidak akan bisa ikut dalam percakapan dan akan merasa bosan.
"Baiklah
kalau begitu. Reina, Katima, kami pergi dulu sebentar," pamitku.
"Daaa-daah!"
seru Luna.
Sesampainya di
sungai, ternyata sudah ada orang lain di sana. Zelos, seorang Celestial
Archmage seperti Reina, sedang berlatih mengayunkan pedang api dengan
bertelanjang dada.
"Selamat
pagi, Zelos," sapaku.
"Hah? Oh,
kau rupanya..."
Keringat
bercucuran dari tubuhnya yang atletis, dan aku bisa tahu bahwa dia telah
berlatih cukup lama. Apakah begini cara seorang penyihir berlatih?
pikirku.
Zelos menatap
Luna, dan ekspresinya agak menegang.
"Umm, Tuan,
kenapa Anda menatapku seperti itu?" tanya Luna.
Sikap Zelos agak
mencurigakan, mungkin karena dia sangat memahami perbedaan kekuatan yang sangat
jauh antara dirinya dan Luna.
Padahal, kali ini
Luna sedang menekan mana-nya, jadi seharusnya dia tidak memancarkan aura yang
mengintimidasi.
Zelos pasti
menyadari pertimbangan Luna ini dan merasa bahwa sikapnya tidak sopan, karena
ekspresinya berubah menjadi canggung.
Lalu, tiba-tiba
ia memiringkan kepalanya.
"Apa aku
terlihat cukup tua sampai dipanggil 'Tuan'?" tanyanya.
Aku hampir saja
tertawa, tapi entah bagaimana aku berhasil menahannya.
"Tapi Anda
sudah paruh baya, kan?" celetuk Luna.
"Yah... Huh.
Ya, kurasa begitu."
Sebenarnya dia
terlihat seperti pria berusia pertengahan dua puluh tahun—tidak cukup tua untuk
disebut "paruh baya"—tapi tampaknya Luna tidak mendasarkan
penilaiannya pada penampilan fisik.
Kalau
dipikir-pikir, ras berumur panjang adalah standar di pulau ini, dan wajar bagi
mereka untuk memiliki perbedaan antara usia dan penampilan.
Jika aku tidak
salah ingat, Reina pernah bilang kalau Zelos sudah lewat dari lima puluh tahun.
Jika benar
begitu, agak aneh kalau dia terkejut, tapi yang lebih penting, ada sesuatu yang
harus kupastikan.
Bagaimanapun,
usiaku juga berbeda dari penampilanku.
"Hei, Luna.
Aku tidak paruh baya, kan?"
"Hah? Tidak, Kakak belum setua
itu."
"Kau
anak yang baik, Luna."
Tampaknya
baginya, usia tiga puluh masih dianggap muda.
Dia
memanggil Suzaku "Nenek," yang berarti mungkin ada rentang yang cukup
jauh di antara kedua istilah tersebut.
Aku mengelus
kepala Luna, dan dia tampak sangat senang.
"Ehe he
he..."
"Yah, dia
memang kuat, tapi tidak perlu takut pada makhluk seperti dia," ujar Zelos.
"Hei,
memanggilku 'makhluk' itu jahat. Aku punya nama! Namaku Luna!"
"Ah, maaf.
Baiklah, Luna, ini agak terlambat, tapi senang bertemu denganmu."
"Ya!
Senang bertemu denganmu juga!"
Berkat percakapan
ini, sikap Zelos terhadap Luna sedikit berubah. Ini hal yang bagus, dan
membuatku berharap mereka bisa saling mengenal lebih baik lagi.
"Luna, Zelos
belum terbiasa dengan pulau ini, jadi berhati-hatilah saat menunjukkan
kekuatanmu, ya?" pesanku.
"Aku
mengertiii."
Luna
mengangguk patuh. Ini adalah salah satu sisi baiknya; jika Tailtiu yang berada
di posisi ini, dia mungkin akan bersenang-senang dengan sengaja menakut-nakuti
Zelos.
"Maaf sudah
merepotkanmu," kata Zelos.
"Sama sekali
tidak," balasku. "Seseorang memang harus melakukannya selama kalian
belum terbiasa. Tapi, jika memungkinkan, aku ingin kau memandangnya sama
seperti orang lain."
"Tentu..."
Dia dan Merlyn
masih merasa takut pada penduduk pulau ini. Meski mereka mungkin mengerti
secara logika bahwa penduduk di sini tidak berniat jahat, pasti ada keraguan
naluriah untuk menerimanya.
Sebagai sesama
orang asing yang terdampar di sini, aku berharap mereka bisa akur dengan
semuanya.
"Lagipula,
mereka berdua tampaknya jauh lebih waspada dibanding Reina," gumamku pada
diri sendiri.
Atau mungkin
Reina-lah yang luar biasa fleksibel, meski keberadaanku di sampingnya mungkin
juga membantu. Terlepas dari itu, aku akan merasa kecewa jika Zelos dan Merlyn
terus-menerus merasa takut pada teman-temanku.
Dan, ada
juga insiden Shantak baru-baru ini yang perlu dipikirkan.
Jika aku terus
membiarkan mereka sendirian, mereka mungkin akan stres tinggal di sini.
Aku baru saja
bertemu mereka, dan aku tidak ingin hal itu terjadi.
"Apa kau
punya waktu setelah ini, Zelos?" tanyaku.
"Hah? Yah,
aku punya, tapi..."
Maka dari itu,
aku akan mengambil langkah drastis.
"Maukah
kalian sarapan bersama kami?" tanyaku.
Meski Zelos agak
meringis mendengar tawarku, dia akhirnya mengangguk setuju.
◇
"Hahh...
perutku sakit."
"Menyerah
sajalah, Merlyn."
"Zelos...
itu karena kau menyetujui sesuatu tanpa bertanya padaku dulu."
"Aku
melakukannya bukan karena aku mau!"
Bersama Luna, aku
kembali ke rumah setelah mencuci muka di sungai, sementara Merlyn dan Zelos
mengikuti di belakang kami sambil bertengkar kecil.
Aku hanya
mengajak mereka sarapan dengan santai, seperti mengajak tetangga, tapi mereka
memasang ekspresi putus asa seolah-olah akan melangkah ke lingkaran pertama
neraka.
"Hei, Kak
Arata? Kenapa mereka terlihat sangat depresi?" bisik Luna.
"Hmm,
bagaimana cara mengatakannya ya... Kurasa mereka terlalu banyak membuat asumsi
yang salah, itu saja."
"Oh,
benarkah?"
Cukup banyak hari
telah berlalu sejak aku bereinkarnasi di pulau ini, dan setiap orang yang
kutemui adalah orang baik. Tapi bukan berarti kami langsung menjadi teman dekat sejak awal.
Kami
membangun hubungan hingga seperti sekarang dengan cara makan bersama, tinggal
bersama, dan tertawa bersama.
Jadi aku
yakin begitu Zelos dan Merlyn mendapat kesempatan untuk makan bersama kami,
mereka juga akan mulai tersenyum.
"Hei, Arata.
Jalan di sekitar sini cukup mulus, ya?" tanya Zelos.
"Ya, aku
meratakan jalan yang sering kami lalui dengan sihir tanah," jawabku.
"Kau yang
melakukannya? Apa kau seorang penyihir?"
Berbeda dengan
Merlyn yang masih waspada padaku, Zelos ikut mengobrol, mungkin karena dia
sudah mulai terbiasa denganku.
Suaranya
terdengar lebih ramah dari sebelumnya, mungkin karena ini adalah bidang yang ia
minati.
"Aku tidak
cukup hebat untuk menyebut diriku penyihir, tapi aku memang belajar sihir dari
Reina."
"Begitu ya... Yah, dia cukup kuat untuk menyandang
gelar Omnimage, jadi dia mungkin guru yang baik."
"Omnimage?" Ini pertama kalinya aku
mendengar kata itu, dan aku memiringkan kepala dengan bingung.
"Apa? Kau tidak tahu?" Zelos balik bertanya sambil
ikut memiringkan kepalanya.
"Aku tidak
merasa perlu tahu. Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu kalau penyihir punya gelar
sampai kalian berdua datang ke sini."
Sebagai contoh, gelar Zelos adalah Flame of Ruin,
sementara Merlyn adalah Divine Water. Mudah ditebak penyihir macam apa
mereka setelah mendengar nama-nama itu.
"Apa arti
dari Omnimage?" tanyaku penasaran.
"Begini—"
"Tahan dulu
di situ. Kau tidak akan membocorkan informasi tentang penyihir lain padanya,
kan?" potong Merlyn. "Kau terlalu menurunkan kewaspadaanmu."
"Lantas
kenapa? Dia bukan musuh, jadi apa masalahnya?" balas Zelos.
"Tentu saja
ada masalah. Coba pikirkan—mungkin Reina punya alasan kenapa dia belum
memberitahunya."
"Oh... Ya,
kau mungkin benar." Ekspresi Zelos berubah agak canggung. "Pokoknya,
maaf, tapi jika kau ingin tahu alasannya, tanyakan saja langsung pada
Reina," katanya padaku.
"Ah,
baiklah. Aku tidak keberatan."
Sebenarnya aku
tidak sepenasaran itu, jadi bukan masalah besar.
Tapi kemungkinan
bahwa Reina sengaja tidak memberitahuku membuatku merasa sedikit kesepian.
Tentu saja,
mungkin dia merasa tidak perlu menyebutkannya padaku, karena aku tidak tahu
apa-apa tentang penyihir atau daratan utama.
Saat aku sedang
memikirkan hal ini, Luna yang berjalan di sampingku menarik ujung kemejaku.
"Kak
Arata?"
"Ya?"
"Tidak
apa-apa. Lagipula,
Kak Reina benar-benar menyayangimu."
Mungkin aku
memasang wajah lesu tadi. Tapi saat Luna menatapku dengan matanya yang murni
dan polos lalu mengatakan hal seperti itu dengan begitu gamblang, aku tidak
bisa menahan senyum.
"Ya, kau
benar. Aku juga menyukainya."
Tentu saja itu
sebagai teman, dan dia juga pernah mengatakan hal yang sama padaku.
Aku merasa
hubungan yang aku dan Reina bangun adalah hubungan yang baik, di mana kami
saling menghormati satu sama lain.
Aku pun menyadari
bahwa rasa kesepian yang baru saja kurasakan adalah salah sasaran.
"Terima
kasih, Luna."
Aku mengelus
telinga rubahnya yang lembut, dan dia tersenyum ceria.
"Kalau aku
hanya melihatnya seperti ini, aku mungkin akan berpikir dia anak yang manis
untuk diajak berteman," gumam Zelos.
Merlyn terdiam
sejenak. "Dia... mungkin memang imut."
Dua orang yang
berjalan di belakang kami itu memperhatikan interaksi kami dengan saksama.
◇
Kami terus
menyusuri jalan setapak hutan yang sudah biasa kulalui setiap pagi, dan rumahku
sudah terlihat di depan mata.
"Reina, kami
pulang!" seruku.
"Kami
pulaaang!" Luna menimpali.
Menanggapi sapaan
kami, Reina keluar dari rumah.
Dia mengenakan
kacamata baca kecil yang membuatnya tampak jauh lebih intelektual dari
biasanya.
Dia pasti sudah
selesai menghujani Katima dengan pertanyaan, lalu selesai menyiapkan sarapan,
dan sedang asyik membaca sampai kami kembali.
"Selamat
datang kembali, kalian berdua... Kenapa mereka ada di sini?" tanyanya.
"Sebenarnya
begini..."
Aku baru
menyadari bahwa dari semua hal yang terjadi kemarin, aku lupa memberitahunya
apa yang terjadi dengan Zelos dan Merlyn.
Setelah aku
menjelaskan semuanya, Reina berpikir sejenak, lalu menghela napas pelan.
"Apa
seharusnya aku tidak melakukannya?" tanyaku cemas.
Aku berharap dia
bisa meninggalkan masa lalu dan melangkah maju, tapi aku sangat mengerti bahwa
itu tidak semudah itu.
Dia sebelumnya pernah memberitahuku bahwa dia tidak akur
dengan Celestial Archmage lainnya.
Aku hanya berasumsi bahwa semuanya akan baik-baik saja
karena mereka bukan musuh, tapi mungkin aku terlalu optimis.
"Jangan
menatapku seperti itu," ujar Reina. "Jika itu yang ingin kau lakukan,
aku tidak keberatan. Hanya saja, aku punya pemikiran sendiri soal ini."
Dia pasti
mengerti kalau aku merasa tidak enak, karena ekspresi canggungnya berubah
menjadi senyuman.
"Aku ingin
akur dengan mereka, mengingat kita sama-sama tinggal di pulau ini,"
kataku.
"Ya, aku mengerti maksudmu... Ini bukan lagi daratan
utama, apalagi wilayah kerajaan." Reina berbalik menghadap Zelos dan
Merlyn. "Zelos, Merlyn... Pulau ini mungkin terdengar tidak masuk akal,
tapi setelah tinggal di sini beberapa lama, menurutku ini tempat yang bagus. Aku yakin kalian punya alasan
masing-masing, tapi mari kita lupakan masa lalu dan saling berdamai."
Zelos dan
Merlyn tampak sedikit canggung dan tidak menjawab. Pasti ada keretakan di
antara mereka yang tidak kuketahui.
Tetap
saja, sebagai orang luar, rasanya bukan tempatku untuk menanyai mereka soal
itu.
Dan aku bisa tahu
dari percakapan tadi bahwa mereka sama sekali bukan orang jahat.
Malah, mereka
adalah orang baik yang punya kepedulian pada orang lain, meskipun mereka sedang
kebingungan.
Mereka ragu apa
yang harus dilakukan terhadap tangan Reina yang terulur, tapi kemudian Zelos
bergerak lebih dulu. Dia menggaruk kepalanya dengan kasar, lalu melangkah maju.
"Gah!
Baiklah, aku mengerti, aku mengerti! Aku minta maaf soal semuanya, Reina! Aku
harap kita bisa akur!" Ia menjabat tangan Reina dengan erat.
"Aku juga
berharap begitu, Zelos."
Zelos menoleh ke
arah rekannya. "Ayo, lupakan saja semuanya."
Setelah beberapa
saat ragu, Merlyn berkata, "Baiklah, baiklah. Hahh, aku tidak pernah
menyangka hal ini akan terjadi setelah aku berhasil menjadi salah satu dari
Seven Celestial Archmage." Meski tampak lelah, ia menyambut tangan Reina.
"Reina... aku harap kita bisa akur kali ini."
"Aku
juga," jawab Reina.
Pemandangan dua
wanita cantik yang tersenyum berdampingan ini sungguh memukau.
Merlyn khususnya
memiliki daya tarik dewasa yang bisa memikat pria mana pun.
"Hei, asal
kau tahu, dia sebenarnya sudah cukup berumur," bisik Zelos padaku.
"Kurasa kau
tidak seharusnya mengatakan itu," jawabku.
Jika dia
terdengar, monster di pulau ini akan menjadi kekhawatiran terkecilnya; dia
mungkin akan segera meninggalkan dunia ini di tangan rekannya sendiri.
"Juga,
berhentilah bicara formal," katanya. "Aku berutang budi padamu, dan
aku benci bersikap kaku."
"Oh,
baiklah."
Reina dan
Merlyn sedang mengobrol agak jauh dari kami para pria.
Kalau
dipikir-pikir, satu-satunya teman pria yang kupunya di pulau ini hanyalah Elga
dan Gaius.
Aku
merasa senang secara tak terduga karena mendapat teman baru.
Luna,
yang sedari tadi diam, mendekat ke samping Zelos.
"Hei, boleh
aku tanya sesuatu?"
"Hah?
Apa?" sahutnya.
Luna menatapnya
dengan ragu. "Anda
tidak takut padaku lagi, kan?"
Mungkin Luna
cukup terkejut mengetahui mereka sempat takut padanya. Zelos tampaknya memahami
hal ini; meski ekspresinya sangat canggung, dia menatap Luna dengan yakin.
"Maaf
soal itu. Dan... tidak, tidak lagi. Oh, juga, aku lupa mengatakannya tadi, tapi terima kasih sudah
menyelamatkan kami kemarin."
"Ya!"
Luna pasti mengerti bahwa permintaan maaf dan terima kasihnya tulus dari hati.
Dia tersenyum lebar. "Senang bertemu denganmu, Paman Zelos!"
"Y-Ya."
"Pfft!"
Merlyn meledak dalam tawa. "'Paman?'
Aha ha! Paman Zelos!"
Tanpa bisa
menahan diri, ia tertawa terbahak-bahak. Di sampingnya, Reina juga tampak
tersenyum tipis.
Zelos melotot ke
arah mereka, tapi kemudian, menyadari sesuatu, dia berbalik ke arah Luna.
"Hei, Luna,
kau memanggil Reina apa?"
"Hah? Kak
Reina ya Kak Reina. Kenapa?"
"Begitu
ya..."
Zelos
menyeringai, lalu menunjuk ke arah Merlyn.
"Baiklah
kalau begitu, kau akan memanggil Merlyn apa?"
"Hah?
Umm..."
Merlyn berjengit
di bawah tatapan Luna.
"K-Kenapa
kau menatapku seperti itu?"
Sedangkan Luna,
ia memiringkan kepalanya dengan heran, menatap Zelos, lalu kembali menatap
Merlyn.
"Bibi
Merlyn!"
Melihat ekspresi
terkejut di wajah Merlyn, Zelos tertawa sekeras-kerasnya.
"Bwa
ha ha!"
"Apa—
'B-Bibi'?!" seru Merlyn tak percaya.
Melihat
Reina, aku melihat dia tidak sanggup ikut tertawa soal usia sesama wanita,
seperti yang sudah kuduga.
Tapi karena dia
tahu berapa usia asli Merlyn, dia juga tidak bisa membantahnya.
"Z-Zelos!
Kau tahu ini akan terjadi saat kau menanyakannya tadi, kan?!"
"Gah ha ha!
Rasakan itu karena sudah menertawakanku, Bibi Merlyn!"
"Agh!"
Dengan urat yang menonjol di dahinya, Merlyn tersenyum paksa dan melakukan
kontak mata dengan Luna. "Hei, namamu Luna, kan?"
"Yep! Aku
Luna!"
"B-Bisakah
kau beritahu kenapa kau memanggilku Bibi Merlyn?"
"Hah? Maksudku..." Luna melirik Reina, lalu ke
Zelos, lalu kembali menatap Merlyn. "Karena Anda lebih tua dari Paman
Zelos."
Merlyn mematung. Dia masih tersenyum, tapi keringat mengucur
di dahinya.
"Bwa
ha! Heh heh heh... Tepat sekali!" seru Zelos. "Itu membuktikan, tidak
peduli seberapa keras kau mencoba menutupi penampilanmu, kau tidak bisa
menyembunyikan betapa menyebalkannya sifat dalammu!" Ia kembali tertawa
terbahak-bahak, menikmati kemenangannya.
Merlyn
mencoba sekuat tenaga membujuk Luna agar memanggilnya "Kak Merlyn"
saja, tapi Luna hanya tampak bingung, seolah panggilan itu tidak terasa pas.
Dia tidak
menunjukkan niat untuk mengubah panggilannya.
Hal ini membuat
Zelos semakin geli dan tertawa terpingkal-pingkal, sementara Merlyn tampak
seperti ingin menangis.
"Yah...
kurasa ini berarti mereka sudah akur?" ujarku.
Meski awalnya
Zelos dan Merlyn takut pada Luna, sekarang mereka tampaknya tidak keberatan.
Mereka hanya
terlihat seperti orang dewasa yang dipermainkan oleh kepolosan seorang anak
kecil; pasti tidak ada yang akan percaya bahwa orang-orang ini sebenarnya
adalah penyihir terkuat di daratan utama.
Lalu, saat
suasana mulai tenang, Katima keluar dari rumah.
"Hei, Arata,
aku lapar," ucapnya.
Mendengar
itu, aku dan Reina tanpa sadar tersenyum. Kami menyadari bahwa ini sudah cukup
siang untuk sarapan.
"Baiklah,
ayo kita makan sekarang," ajak Reina. "Aku tahu! Aku akan memasak
habis-habisan hari ini, sebagai pesta sambutan untuk Merlyn dan Zelos."
"Yeeeaaa!"
teriak Luna kegirangan.
"Hm... aku
jadi bersemangat," sahut Katima. Keduanya memancarkan kebahagiaan dari
seluruh tubuh mereka.
Sedangkan aku,
aku merasa lega karena Zelos dan Merlyn sudah bisa menerima penduduk pulau ini.
"Kalau
begitu, senang bertemu dengan kalian," kataku pada mereka.
"Sama-sama,"
balas Zelos.
"Aku
juga," tambah Merlyn.
Aku tidak tahu
akan seperti apa kehidupan mereka di pulau ini ke depannya.
Mereka mungkin
akan melakukan apa saja untuk melarikan diri, menyusun berbagai macam rencana.
Aku tidak akan
melarang, dan bahkan akan membantu jika mereka meminta.
Pulau ini
adalah tempat yang bebas.
Aku bisa
melakukan hal-hal yang kuinginkan, dan hidup dengan cara yang membuatku
tersenyum.
Pasti
akan ada banyak pertemuan baru yang menantiku di masa depan. Dan, berbagai hal
konyol juga pasti akan terjadi.
Tapi aku ingin
menikmati hidupku di sini semaksimal mungkin, menerima apa pun yang datang.
◇
Sarapan
penyambutan untuk Zelos dan Merlyn telah usai, dan keduanya menjadi jauh lebih
nyaman berada di sekitar Luna.
Aku tahu ini
hanya masalah waktu berkat keramahan alami Luna, tapi aku tetap lega melihat
mereka akur.
Namun, kedua
penyihir itu tampak kesulitan menghadapi Katima, yang sepertinya memang tidak
terlalu pintar mengobrol.
Sebenarnya, aku
juga merasa Katima agak linglung.
Sepertinya dia
tidak benar-benar mencoba mengenal mereka—meski di sisi lain, dia juga tidak
memperlakukan mereka dengan buruk; dia hanya melakukan segalanya dengan
langkahnya sendiri, yang membuatnya sulit diikuti.
Dia mungkin hanya
bicara padaku dan Luna karena aku telah menyelamatkan nyawanya, dan karena kami
memberinya makanan gratis.
Tetap saja, dia
bukan gadis yang buruk, jadi aku yakin jika ada kesempatan, dia dan para
penyihir itu akan menjadi lebih dekat nantinya.
"Meskipun
tadi berisik sekali, rasanya jadi sepi setelah mereka pergi," kataku.
"Benar juga,
ya? Tapi, aku akan kelelahan jika suasananya terus seperti itu setiap
saat," sahut Reina.
"Ha
ha, kau mungkin benar."
Kami
berdua sedang membereskan sisa sarapan setelah semua orang pulang.
Seperti
Luna, Katima juga sudah kembali ke rumahnya.
Elga
pernah bilang kalau desa Alfr cukup jauh, jadi aku sempat ragu apakah tidak
apa-apa membiarkannya pergi sendirian.
Tapi melihat
sikapnya yang cuek dan santai, aku merasa dia akan baik-baik saja.
Zelos dan Merlyn
berkata bahwa mereka ingin mengurus apa yang mereka bisa sendiri, dan kembali
ke tenda mereka di tepi sungai. Jadi sekarang tinggal aku dan Reina.
"Saat aku
masih di daratan utama, aku tidak pernah menyangka mereka akan berakhir seperti
ini," ujar Reina.
"Maksudmu
Zelos dan Merlyn?"
"Benar. Kami sering bertemu di pertemuan,
tapi aku hampir tidak pernah bicara dengan mereka."
"Yah,
tidak mungkin tahu bagaimana atau kapan hubungan kita dengan orang lain akan
berubah."
Tampaknya, mereka
berdua akan mendiskusikan rencana masa depan mereka.
Mereka mendirikan
kamp agak jauh dari rumah kami karena harga diri mereka sebagai Celestial
Archmage, dan juga karena awalnya tidak ingin dekat dengan Reina yang tidak
akur dengan mereka.
Tapi karena
mereka sudah menyelesaikan perasaan buruk di antara mereka, tidak ada alasan
lagi untuk bersikap kaku seperti itu.
Ini berarti
sekarang seharusnya tidak ada masalah jika mereka tinggal di dekat kami.
"Mungkin
akan menyenangkan jika mereka benar-benar tinggal lebih dekat. Itu akan sangat membantu," kata
Reina.
"Oh,
benarkah? Membantu dalam hal apa?"
"Kau tahu
gelar Zelos, Flame of Ruin, kan?"
"Ya...
Sebagai pria, aku harus akui itu terdengar sangat keren."
Aku cukup yakin
tidak memiliki pola pikir chuunibyou seperti itu di kehidupan
sebelumnya, tapi setelah terlahir kembali di dunia fantasi, aku jadi agak
tertarik pada hal-hal semacam itu.
Meski begitu, aku
tidak terlalu memikirkannya dibandingkan kehidupan santaiku yang berharga ini.
"Dia
lebih hebat dariku dalam mengendalikan api. Itu seharusnya sangat membantu untuk
memasak," jelas Reina.
"Hm?"
Apa yang dia
bicarakan? pikirku.
Saat aku
memikirkan gelar Flame of Ruin, memasak adalah hal terakhir yang
terlintas dalam pikiranku.
"Juga,
Merlyn sangat ahli dalam sihir air sampai disebut Divine Water, jadi
jika dia yang mencuci baju atau membersihkan rumah, itu akan meningkatkan
kualitas hidup kita."
Aku tidak
terlalu yakin soal itu,
pikirku dalam hati, tapi kemudian aku teringat seperti apa kehidupan kami.
Intinya, Reina
bisa merapal sebagian besar mantra sederhana, dan dia membiarkanku menirunya.
Cukup mudah bagiku untuk mengeluarkan mantra menggunakan mana yang melimpah
jika terpaksa, tapi aku masih buruk dalam kontrol yang mendetail.
Itu berarti Reina
harus menangani banyak tugas dan pekerjaan rumah sehari-hari untukku.
"Jika mereka
akhirnya tinggal dekat sini, kurasa kita bisa mempercayakan hal-hal semacam itu
kepada mereka. Bagaimana menurutmu?"
Aku mengangguk
sambil tersenyum mendengar usulan Reina yang penuh percaya diri.
"Tentu,
kurasa itu ide yang bagus."
Sayangnya, gelar
seperti "Celestial Archmage" tidak ada artinya di pulau ini.
Meningkatkan standar hidup secara keseluruhan jauh lebih penting. Aku
benar-benar tidak sedang mencoba menghindar dari kritik dengan mengorbankan
mereka berdua, atau semacamnya.
Jika Zelos dan
Merlyn mendengar percakapan ini, mereka mungkin akan marah pada kami karena
tidak menganggap serius Seven Celestial Archmage, tapi kau tahu apa kata orang:
Jika tidak bekerja, kau tidak makan.
Demi kehidupan
yang lebih baik, kami harus membuat mereka melakukan segalanya, mulai dari
memasak sampai bersih-bersih.
"Karena
mereka ada di sini, aku akan mencoba memikirkan hal-hal yang bisa mereka
lakukan," kataku.
"Begitu
baru benar!" sahut Reina.
Sambil kami mengobrol bersama di dalam rumah, hari itu pun berlalu, tidak berbeda dengan hari-hari lainnya.



Post a Comment