NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei shitara saikyo-shu-tachi ga sumau shimadeshita ⁓ Kono shima de suroraifu o tanoshimimasu Volume 2 Epilog

Epilog

Langkah Pertama Menuju Impian


Seluruh Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk muda berbaris, duduk bersimpuh di atas tanah.

Awalnya mereka masing-masing menunjukkan perlawanan, tetapi setelah dikalahkan berkali-kali, mereka tampaknya menyadari celah kekuatan di antara kami, dan sekarang mereka cukup penurut.

"A-Aku belum... selesai..."

"Aku juga... masih bisa... bertarung..."

Yah, itu pengecualian untuk pemimpin mereka masing-masing.

"Mana sudi Ancient Dragonfolk yang bangga sepertiku... kalah dari... orang asing ini..."

"O Leluhur Fierce Ogre yang agung... Pinjamkan aku kekuatanmu..."

Keduanya seharusnya terluka cukup parah, tetapi melihat mereka terbaring di tanah sambil melotot ke arahku memberikan pemandangan yang cukup intens. Terlepas dari kondisi mereka, aku merasa mereka sedikit menyeramkan.

"Hei, Tailtiu, apa kamu tahu nama mereka?" tanyaku.

"Ini Gram, dan itu Gyes," jawabnya.

"Begitu ya, jadi Gram dari Ancient Dragonfolk dan Gyes dari Fierce Ogrefolk."

Meskipun sepertinya mereka tidak akan bisa bangkit dalam waktu dekat, dengan besarnya kekuatan yang mereka miliki, masuk akal jika mereka menjadi pemimpin kelompok masing-masing.

Mereka pasti masih dalam tahap pertumbuhan, tapi suatu hari nanti mereka mungkin akan menjadi sekuat Elga.

"Omong-omong, kenapa kalian berdua bertarung?" tanyaku.

Masih terbaring di tanah, mereka saling melotot dalam diam sejenak sebelum memalingkan muka.

Sepertinya mereka tidak sedang dalam suasana hati untuk menjawabku.

Aku sempat berpikir untuk bertanya kepada yang lain, tetapi kemudian Tailtiu menarik ujung kemejaku.

"Orang dewasa Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk sama-sama menyuruh mereka bertarung agar menjadi lebih kuat," katanya.

"Begitu ya..."

Aku dengar dari Elga kalau hubungan mereka buruk, tapi ternyata mereka awalnya mulai bertarung karena disuruh oleh orang dewasa?

"Biar kutebak: Begitu mereka benar-benar mulai bertarung, mereka jadi sungguhan saling membenci?"

"Benar..."

"Hei! Tailtiu, dasar pengkhianat!" potong Gram.

"P-Pengkhianat?! Kalian bahkan tidak membiarkanku ikut bertarung bersama!"

"Kamu sudah tahu siapa Leluhurmu, jadi ini tidak ada hubungannya denganmu!"

"B-Benar, sih... tapi... aku tetap ingin ikut..."

Dengan lesu, Tailtiu menundukkan kepalanya.

Kenyataan bahwa dia tidak membalas ucapan itu seolah menyiratkan ada alasan mengapa mereka mengecualikannya.

Aku sempat mengira itu hanya karena dia terlalu kuat dan membuat pertarungan jadi tidak adil, tapi rupanya bukan itu saja.

"Hei, apa maksudnya dengan 'tahu Leluhurmu'?" tanyaku.

"Kamu tahu kan kalau aku adalah Ancient Dragonfolk yang Leluhurnya adalah Bahamut, Sayang?"

"Iya, lagipula kamu selalu mengatakannya."

Saat pertama kali kami bertemu, dia mengatakan sesuatu seperti, "Namaku Tailtiu! Leluhurku adalah Divine Dragon Bahamut, dan aku adalah Naga Kuno terkuat di pulau ini!" Penduduk pulau ini umumnya menyebutkan keturunan siapa mereka saat memperkenalkan diri.

"Kalau untuk Divine Beastfolk, Leluhur Elga adalah Fenrir, Livia adalah Leviathan, dan Gaius adalah Behemoth, kan?" kataku.

"Benar... Kamu mungkin tidak tahu ini karena kamu lebih sering bertemu orang dewasa, tapi mereka yang belum bangkit kekuatannya sebenarnya tidak tahu mereka keturunan siapa."

"Oh, begitu. Jadi itu sebabnya Luna tidak menyebutkan siapa Leluhurnya."

Dengan pengetahuan video game-ku, aku berasumsi dia adalah rubah ekor sembilan atau semacamnya, tapi rupanya dia sendiri memang belum tahu.

"Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk sangat menghargai kekuatan, jadi sudah menjadi tradisi bagi mereka untuk berulang kali bertarung seperti ini agar menjadi lebih kuat dan mewarisi nama Leluhur mereka, tapi..."

"Itulah sebabnya tidak benar bagimu untuk ikut campur dalam pertarungan kami, karena kamu sudah bangkit dan mewarisi nama Leluhurmu sebelum kami!" kata Gram.

"Benar. Kami tidak hanya bertarung untuk bersenang-senang," tambah Gyes.

"Hmm..." gumamku.

Bagaimanapun, sekarang aku mengerti situasinya.

Mereka bertarung untuk membangkitkan dan mempelajari nama Leluhur mereka, jadi kehadiran Tailtiu yang sudah bangkit jelas membuat mereka tidak nyaman.

Mereka tidak sekadar bertarung untuk kesenangan.

Ternyata ada alasan sah untuk mengecualikan Tailtiu selain karena dia terlalu kuat.

"Tapi kamu ingin bergabung, kan, Tailtiu?" kataku.

"Iya... Aku tidak suka dikucilkan oleh semua orang dan disebut penyendiri..."

Aku berjongkok, agar garis mataku sejajar dengan dua orang yang merayap di tanah itu.

"Kalian dengar dia, kan? Bagaimana kalau kalian membiarkannya ikut?"

"Apa kamu mendengarkan tadi?! Kukatakan ini bukan urusannya!"

"Jika kami membiarkannya ikut, itu hanya akan berakhir dengan dia menghancurkan kami semua. Membangkitkan dan mewarisi nama Leluhur itu terlalu signifikan..."

"Hah? Tapi, tahu tidak..."

Aku merendahkan suaraku hingga tidak terdengar oleh Tailtiu dan yang lainnya yang duduk di dekat situ, lalu berbisik, "Bukankah kalian berdua sebenarnya sudah tahu nama Leluhur kalian?"

Gram dan Gyes menatapku dengan ekspresi kaku, begitu terkejut hingga mereka kehilangan kata-kata. Aku tersenyum lebar pada mereka.

"Aku tidak tahu alasan kalian, tapi apa kalian benar-benar yakin apa yang kalian lakukan ini baik-baik saja?"

"Ah, uh, apa..."

"Ngh, hng..."

"Dengar, aku teman Tailtiu, jadi aku ingin melihat senyum di wajahnya."

Dia sudah seperti adik perempuan yang menggemaskan, menempel padaku sejak pertama kali kami bertemu.

Dia bersikeras bahwa dia adalah istriku, tapi yah, itu tidak penting sekarang.

Melihatnya selalu ceria dan penuh energi membuatku bahagia juga. Jadi, aku tidak ingin membiarkannya merasa kesepian.

"Sayang?" panggil Tailtiu.

"Kami bertiga akan mengobrol sebentar, jadi tunggu sebentar, ya? Oh, dan kalian semua boleh duduk santai."

Aku mencengkeram bahu Gram dan Gyes, lalu mengangkat mereka untuk menjauh dari yang lain.

Penduduk pulau ini memiliki segala macam kemampuan luar biasa, jadi aku bergegas menuju tempat yang kupastikan kami tidak akan terdengar.

"Nah sekarang, kenapa kalian tidak memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi?"

"Ngh?!" mereka mendengus serempak.

"Aku akan menegaskan ini dulu: Jangan berbohong, oke? Jika aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu... aku akan memberitahu rahasia kalian kepada semua orang."

"A-Aku mengerti! Aku sudah mengerti!" kata Gram.

"Jangan beritahu mereka, aku mohon padamu!" seru Gyes.

Lalu, saat aku mendesak mereka, ternyata itu bukan masalah besar sama sekali.

Rupanya, mereka melihat bagaimana yang lain memperlakukan Tailtiu, tetapi mereka masih ingin bertarung dan takut akan diusir juga jika rahasia mereka ketahuan.

"Jadi begitu ceritanya..."

Orang dewasa tahu betapa hebatnya kekuatan mereka, jadi mereka memastikan untuk tidak menggunakannya secara sembarangan.

Di sisi lain, anak-anak akan mengusir mereka berdua karena dianggap berbeda.

Gram dan Gyes memiliki kekuatan yang melimpah dan mereka ingin terus menggunakannya, tetapi mereka tidak mau kehilangan kesempatan itu selamanya.

Pada akhirnya, mereka tetaplah anak-anak.

"Jadi, kalian merahasiakan bahwa kalian sudah bangkit, dan kalian menekan kekuatan kalian saat bertarung bersama yang lain, begitu?"

Mereka diam.

Aku bisa memahami perasaan mereka, walau hanya sedikit. Jika seorang siswa tiba-tiba menjadi orang dewasa yang bekerja keesokan harinya, tidak akan mudah bagi mereka untuk melepaskan semua yang mereka nikmati hingga saat itu.

Mereka berdua pasti tidak sanggup menerima kenyataan harus meninggalkan teman-teman mereka.

"Tapi saat kamu menutupi kebohongan dengan lebih banyak kebohongan, kamu akan kehilangan jati dirimu yang sebenarnya," kataku.

Gram akhirnya berkata, "Aku sudah tahu."

"Ya... Dan kami sadar bahwa hal ini tidak bisa berlanjut selamanya," tambah Gyes.

Mereka berdua mengangguk dengan sungguh-sungguh.

Mereka pasti tidak menyangka bahwa perlakuan mereka terhadap Tailtiu akan berbalik merugikan mereka.

Itulah sebabnya mereka begitu bimbang sekarang.

Namun menilai dari betapa menyesalnya mereka, aku tahu bahwa, seperti Tailtiu, mereka tidak bermaksud jahat.

"Baiklah! Gram, Gyes, ayo kita lakukan!"

Beberapa hari kemudian. Cahaya berkilat, bumi terbelah, dan langit bergetar. Membangkitkan kekuatan Leluhur berarti berada di kelas tersendiri, di atas semua makhluk tingkat Calamity lainnya di pulau ini.

"Namaku Gram, dan Leluhurku adalah Fafnir! Terimalah iniiii!"

Gram dalam wujud naganya menembakkan seberkas cahaya, yang melesat ke arahku saat aku melayang di langit.

Kekuatannya berada di tingkat yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan tembakan lain yang pernah mengenaiku sebelumnya; kupikir itu mungkin akan terasa sedikit sakit jika aku diam saja dan menerimanya mentah-mentah.

Jadi aku menjulurkan tangan ke depan dan menangkapnya, dan lenganku sedikit terdorong ke belakang.

"Oh? Tidak sekuat Gaius, tapi kurasa ini masih cukup intens?" kataku.

"Itulah yang kukatakan! Kenapa kamu bisa menghentikannya hanya dengan mengangkat tangan?! Kamu kuatnya nggak ngotak, Bro!"

"Yah, beginilah aku..."

Sayangnya, aku mulai mengerti mengapa semua orang akhir-akhir ini sering berkata, "Yah, namanya juga Arata." Itu adalah kalimat yang cukup praktis.

"Hnnnoooaahhhh! Nama Leluhur agungku adalah Hecatoncheir! Ingatlah dalam ingatanmu kekuatan Raksasa Bertangan Seratus!" raung Gyes, cukup keras hingga membuat langit bergema.

Gyes berada dalam wujud raksasanya, yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, dan lengan yang tak terhitung jumlahnya sekarang tumbuh dari punggungnya.

Dia bersiap melemparkan bongkahan batu besar ke arahku.

"Padahal, sebenarnya, itu lebih cocok disebut gunung," kataku.

Itu adalah bongkahan batu yang sangat masif, sepertinya dipanggil dengan sihir.

Saat dia melemparkan puluhan batu itu ke arahku, aku menangkap salah satunya.

"Bagaimana kamu bisa menangkapnya dengan mudah begitu, Kak?!"

"Oh, jangan khawatirkan itu. Nih, kukembalikan padamu!"

Aku melemparkan kembali batu itu ke arah Gyes di tanah.

Dia berhasil menangkapnya, meski sambil berteriak.

"Hnwaaaahhh?! Kamu monsteeeeerrr!"

"'Monster' itu kejam sekali..."

Tetap saja, mungkin itu bisa dimengerti melihat kehancuran saat ini.

Semua Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk selain Gram dan Gyes sudah terkapar di tanah dan tidak berdaya.

Bahkan dua orang yang tersisa pun belum berhasil memberikan kerusakan padaku.

Di mata mereka, aku adalah monster sejati.

"Tapi tetap saja..."

"Sayang!" teriak Tailtiu. "Terimalah iniiii!"

"Aku senang kamu merasa lebih baik, Tailtiu."

Dalam wujud naganya, Tailtiu sedang mengisi semacam bola energi hitam di mulutnya.

Kekuatannya jauh lebih besar daripada serangan Gram atau Ancient Dragonfolk lainnya, dan di dalamnya aku merasakan ancaman yang sama seperti yang kurasakan dari Mina atau Suzaku.

"Haruskah aku menghindar?" tanyaku pada diri sendiri.

Tapi jika aku melakukannya, dia mungkin akan menangis dan berkata, "Kenapa cuma punyaku yang tidak kamu tangkap?"

Saat aku memikirkan itu, Tailtiu sepertinya selesai mengisi energi, dan langit yang cerah tertelan oleh kilatan cahaya hitam.

Pandanganku menjadi gelap gulita, dan kulitku terasa perih; ini adalah kekuatan yang belum pernah kurasakan hingga sekarang.

"Yah, setelah semua itu, aku tidak terluka."

"Sayang, kamu benar-benar nggak adiiiilll!"

Aku seketika mendekati Tailtiu yang baru saja selesai menembakkan serangannya, lalu memegang ekornya dan membantingnya ke tanah dengan lemparan bahu satu tangan.

Sepuluh menit kemudian, aku menjemput Gram dan Gyes yang sempat kukubur di dalam tanah dengan seranganku, dan kami melakukan evaluasi.

"Ada apa sih dengan orang ini?!"

"Apa menurutmu dia mungkin lebih kuat dari para tetua?!"

"Apa memang perlu sampai menguburku di tanah?!"

"Iya, Sayangku memang luar biasa!"

"Luar biasa? Lebih tepatnya abnormal. Ada yang salah dengan kepalanya, belum lagi tubuhnya..."

Aku merasa lebih banyak dari mereka yang meluapkan amarah atas betapa tidak masuk akalnya aku daripada melakukan evaluasi, tapi yah, itu tidak terlalu penting.

Baik Ancient Dragonfolk maupun Fierce Ogrefolk kini mengesampingkan perbedaan mereka dan bersatu, menganalisis cara melawan lawan yang tidak adil—yaitu aku—di masa depan.

Tailtiu juga ada dalam lingkaran itu, dan melihatnya aktif memberikan pendapat membuatku merasa seperti orang tua yang melihat anaknya di dalam kelas.

"Semuanya berjalan dengan sangat lancar ya?"

Tailtiu telah dikucilkan oleh yang lain karena dia terlalu kuat dan sudah membangkitkan kekuatannya.

Gram dan Gyes kemudian menyembunyikan kekuatan mereka karena tidak ingin berakhir seperti dia. Saranku kepada mereka adalah: Lawan saja seseorang yang jauh lebih kuat.

"Lagipula akan sia-sia jika aku tidak menggunakan tubuh ini untuk sesuatu."

Mereka awalnya bertarung untuk membangkitkan kekuatan Leluhur dan menjadi dewasa.

Itu berarti tidak ada kebutuhan khusus bagi lawan mereka untuk menjadi Ancient Dragonfolk atau Fierce Ogrefolk secara spesifik.

Beruntung, seorang dewa memberiku tubuh yang sepertinya kebal ini, jadi mereka bisa menggunakan kekuatan mereka padaku sesuka hati.

Awalnya, kedua kelompok itu ragu-ragu untuk mengerahkan segalanya pada seseorang yang bahkan bukan rival mereka, tetapi setelah membiarkan mereka menyerangku berkali-kali, mereka mulai mengerti: Oh, tidak peduli seberapa banyak kita memukulnya, kita tetap tidak bisa berbuat apa-apa...

Meski begitu, tidak ada dari mereka yang menyerah, dan mereka terus mencari cara untuk melawanku. Aku berasumsi itu adalah sifat rasial khusus milik mereka.

Namun begitu mereka mengerti betapa mustahilnya aku, mereka semua mulai bekerja sama untuk melawanku.

Sementara itu, Gram dan Gyes berpura-pura baru saja bangkit di tengah semua kekacauan itu.

"Dan anak-anak itu tidak bisa melakukannya sendirian, jadi Tailtiu ikut bergabung dalam pertarungan juga..."

Bahkan dengan adanya Tailtiu di sisi mereka, mereka tetap tidak bisa menjatuhkanku, tetapi sepertinya semua perasaan buruk di antara mereka telah sirna.

Dia tampak bahagia saat menyahut dengan lantang bersama semua orang; aku tidak bisa membayangkan ada orang yang memanggilnya penyendiri lagi.

Reina dan Luna kemudian muncul dari kedalaman hutan. Aku menyuruh Reina pergi untuk menghindari terkena penyakit mana selama pertarungan besar tadi.

"Apa kalian sudah selesai, Arata?" tanya Reina.

"Iya. Mereka sedang rapat sekarang," jawabku.

Dia terdiam sejenak, lalu berkata, "Kedengarannya lebih seperti keluhan tentang betapa konyolnya dirimu daripada sebuah rapat."

"Apa mereka membencimu?" tanya Luna.

"Tidak, mereka hanya sedang melakukan percakapan konstruktif bersama tentang cara mengalahkan musuh yang kuat."

Aku lebih suka kalau kamu tidak mengatakan hal-hal yang menyakitkan seperti itu. Tubuhku mungkin kebal, tapi hatiku terbuat dari kaca.

Tapi saat aku mengulanginya dengan lantang, mereka berdua tampak jengkel.

"Sepertinya tidak serapuh itu menurutku," kata Reina.

"Iya, kamu cukup tidak tahu malu, Tuan Arata," kata Luna.

Aku terdiam. "Aneh sekali..."

Mungkin rapat lain dengan mereka perlu dilakukan. Agendanya adalah memperjelas apa sebenarnya definisi dari "Yah, namanya juga Arata."

"Lagipula, lupakan semua hal tidak penting itu," kata Reina.

"Tidak penting?!"

"Ayo makan sekarang. Yang lain di sana pasti lapar juga. Bisa tolong panggil mereka, Luna?"

"Okeeey."

Sama sekali mengabaikanku, Reina mulai mengeluarkan berbagai peralatan dan perkakas dari sihir Storage miliknya.

Saat dia menyiapkan apa yang di kehidupanku dulu disebut sebagai pemanggang barbeku, dia tampak tak berbeda dari seorang mahasiswa yang sedang bersenang-senang di luar ruangan.

"Umm, ada sebelas orang dari mereka, lalu ada aku, Arata, Luna, dan Elga... Dan Merlyn serta Zelos mungkin juga akan datang, jadi..."

Menghitung jumlah orang dengan jarinya, dia dengan sigap menyiapkan segalanya, lalu tiba-tiba menoleh padaku seolah baru saja teringat sesuatu.

"Siapkan dagingnya, Arata."

"Ah, mengerti."

Seseorang dilarang membangkang Reina saat sedang memasak.

Aku melakukan apa yang dia katakan, membuka sihir Storage-ku dan mengeluarkan monster yang telah diburu Luna dan Tailtiu, lalu menyiapkannya agar lebih mudah untuk dia masak.

"Aku sudah benar-benar terbiasa dengan ini, ya?" gumamku pada diri sendiri.

Sekadar menguliti hewan dulunya adalah pekerjaan yang berat, tetapi setelah belajar banyak dari semua orang, aku sekarang bisa membedah mereka dengan mudah.

Ini juga merupakan pertumbuhan, pikirku.

Di saat yang sama, Luna membawa semua orang kemari.

"Halo, Arata," kata Elga. "Sepertinya kalian benar-benar beraksi habis-habisan lagi."

"Ya, ini olahraga yang cukup bagus," jawabku.

"Heh heh heh," Elga terkekeh sambil melihat tanah yang gersang.

"Mereka masih anak-anak, tapi mereka adalah Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk. Kamu mungkin satu-satunya orang yang bisa bermain dengan mereka tanpa terluka."

Bagi pejuang Divine Beastfolk agung sepertinya, pertarungan mereka tidak diragukan lagi hanyalah permainan anak-anak.

"Tapi kudengar dulu kamu juga nakal seperti mereka," kataku.

Dia terdiam. "Siapa yang memberitahumu itu?"

"Suzaku."

"Nenek pengganggu itu! Dia pergi berkeliling menyebarkan cerita memalukan di belakang punggungku?!"

Mungkin yang terbaik adalah aku tidak menyebutkan bahwa dia telah mengungkapkan semuanya dengan riang.

Sebagai ibu angkatnya, dia sangat bersemangat menceritakan segala macam kisah tentang masa lalu Elga, termasuk awal mula cintanya dengan Livia.

Pasti mengerikan jika orang tuamu tahu begitu banyak tentang apa yang kamu lakukan dengan pasanganmu...

Jaringan informasi pedesaan adalah hal yang menakutkan.

"Oke, dengan ini, persiapan kita sudah selesai," kataku.

Termasuk tenda-tendanya, barang-barang Reina memang ditujukan untuk digunakan oleh tentara, artinya ada cukup tempat untuk menampung semua orang.

Di bawah kisi-kisi panggangan, aku bisa melihat arang merah yang mengeluarkan bau sedap yang sangat kontras dengan tanah tandus di sekitar kami. Daging apa pun yang ditaruh di sana pasti akan terasa lezat.

Reina mengangkat sendok sayur dan wajan lalu membenturkannya. "Semuanya! Waktunya makan!"

"Yeeeaaahhhh!"

Ancient Dragonfolk dan Fierce Ogrefolk berdiri dan mendekat sambil berteriak.

Mereka bertingkah hampir seperti tim bisbol sekolah menengah yang lapar setelah latihan. Luna juga bergegas mendekat bersama mereka.

Dengan senyum tipis yang tak sadar tersungging, aku berdiri di samping Reina.

"Dagingnya ada di sini!" kata Reina. "Masak porsi kalian sendiri, dan jangan berkelahi! Jika kalian tidak bisa mengikuti aturan ini, kalian tidak akan dapat jatah! Mengerti?"

"Siap, Kak!" kata Gram.

"Tentu saja, Kakak!" sahut Gyes.

"Baiklah... Kalau begitu, selamat makan!"

"Yeeeaaaaaahhhhh!" teriak mereka semua lagi.

Sebagai tanda hormat, para Ancient Dragonfolk memanggilku "Bro," hampir seperti aku adalah atasan yakuza, sementara Fierce Ogrefolk menggunakan panggilan kuno "Kakak," seolah-olah mereka adalah samurai.

Dan mereka memanggil Reina seperti yang baru saja mereka lakukan.

Mereka mulai memanggilku begitu setelah aku menunjukkan celah kekuatan kami, sedangkan untuk Reina, itu sepenuhnya karena dia memberi mereka makanan lezat.

"Tuan Arata, ini Shantak yang aku buru," kata Luna sambil menunjuk ke piringnya untuk memamerkan hasil buruannya. Mungkin ini adalah perilaku alami miliknya.

Itu adalah sepotong daging ayam panggang merata yang tampak lezat, dan menurut Luna, itu adalah daging berkualitas tinggi. Aku mengambil sepotong dan memakannya.

"Mmmm."

Daging itu dibumbui dengan banyak garam dan merica, dan saat aku menggigitnya, sensasi rasa yang kuat menyebar di mulutku.

Kulitnya renyah sementara bagian dalamnya padat dan kenyal, dan lemaknya pecah di dalam mulutku.

Apa aku takut wajahku kotor?

Tidak, aku tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan hal itu!

Rasanya lebih enak daripada ayam mana pun yang pernah kumakan di Jepang, dan aku secara naluriah meraih minumanku untuk meneguknya dalam jumlah besar.

"Mmmm!"

"Aha ha ha, ada sisa kulit di sekitar mulutmu!" kata Luna. Mulutnya mungkin sama berantakannya dengan mulutku, jadi kami saling menertawakan.

"Aduh, kalian berdua jorok sekali," kata Reina.

"Mhmm."

Dia menyeka mulut Luna persis seperti seorang ibu. Setelah bersih, Luna pergi mengejar potongan daging berikutnya, berdesakan di samping Gram, Gyes, dan yang lainnya.

Mereka sepertinya menerimanya, mungkin karena dia masih anak-anak, atau mungkin karena mereka luluh oleh penampilannya yang polos.

"Pemandangan yang manis," kataku. Benar-benar luar biasa melihat anak sepertinya menyeberangi batasan ras untuk mencari teman, pikirku.

Reina mencoba menyeka wajahku dengan handuk, berkata, "Kamu juga, Arata."

"A-Aku bisa melakukannya sendiri!"

"Bisa?"

Seperti yang bisa kalian duga, akan sangat memalukan jika seorang wanita seusianya menyeka mulutku untukku.

Aku membersihkan diri dengan handuk yang diberikan Reina, lalu menoleh kembali ke arah semua orang yang sedang bersenang-senang.

"Jika dilihat seperti ini, perbedaan spesies sama sekali tidak menjadi masalah..."

"Iya," kata Reina.

Kami pernah mengadakan pesta dengan Divine Beastfolk sebelumnya, dan meskipun Tailtiu juga ikut bergabung, aku hampir belum pernah melihat jumlah ras yang berbeda sebanyak ini makan dan minum bersama. Tapi sekarang...

"Divine Beastfolk, Ancient Dragonfolk, Fierce Ogrefolk... Dan kita manusia juga, kurasa," kataku.

"Ini mungkin karena Luna masih anak-anak, tapi saat aku melihatnya bersenang-senang, itu membuatku berpikir bahwa impianmu mungkin saja terwujud," kata Reina.

"Ya..."

Sejak bereinkarnasi di sini, mengadakan pesta dengan semua ras di pulau ini telah menjadi impian sekaligus tujuanku.

"Kudengar beberapa dari mereka tidak terlalu menyukai satu sama lain, sih..."

Divine Beastfolk dan Alfar adalah salah satu contohnya, dan Ancient Dragonfolk serta Fierce Ogrefolk sekarang adalah contoh lainnya.

Tapi semua itu pasti akan terselesaikan setelah mereka saling mengenal lebih baik.

"Lagipula, sepertinya porsiku akan habis jika terus begini, jadi aku akan mengambil beberapa," kata Reina.

"Benar. Mungkin aku juga akan—"

Ambil sedikit lagi, pikirku, tapi Reina memberi isyarat agar aku berhenti.

"Kamu harus menjaga dia, Arata."

"Hah?"

"Sayang-kuuu! Aku telah tibaaa!"

"Oof."

Itu adalah tubrukan dengan kekuatan penuh, setara dengan kekuatan Gaius. Jika aku adalah salah satu dari Ancient Dragonfolk, aku pasti sudah terpental jauh.

"Sayang, Sayang, Sayang-kuuu!" Dia memeluk pinggangku sekuat tenaga dan menggosokkan kepalanya padaku. Melepaskannya akan mudah, tapi dia mungkin akan menangis, jadi akhir-akhir ini aku membiarkannya melakukan apa yang dia suka. "Kamu benar-benar luar biasa, Sayang!"

"Iya, makasih. Tapi, kenapa begitu?"

"Lihat ke sana!"

Tailtiu menunjuk ke tempat yang telah kuamati sejak tadi, di mana semua orang sedang makan daging. Dia baru saja berada di lingkaran yang sama dengan mereka.

"Aku sedang sangat bersenang-senang sekarang!" Dia menyeringai, memamerkan taringnya yang memiliki sisa kulit kecil yang menempel. "Maksudku, tidak ada lagi yang memanggilku penyendiri dan meninggalkanku!"

"Begitu ya."

Lahir di pulau ini, dia telah memperoleh kekuatan yang jauh melampaui orang lain seusianya. Tapi secara mental dia masih anak-anak, jadi dia lebih menginginkan teman dan kawan daripada kekuatan.

"Ini semua berkat kamu, Sayang!" katanya.

"Sama sekali bukan, Tailtiu. Itu karena kerja kerasmu sendiri."

Dia tampak bingung. "Padahal aku tidak melakukan apa-apa."

Dia sendiri tidak menyadarinya, ya? Aku hanya mengelus kepalanya, dan dia tampak bahagia.

"Tahu tidak, Tailtiu, kamu memastikan untuk menekan kekuatanmu saat bersama para penyihir, kan?" kataku.

"Hrm? Tapi bukankah itu wajar? Lemah seperti Zelos akan muntah jika aku tidak melakukannya."

"Aha ha ha... Bicara soal Zelos, kamu juga mulai menubruknya, kan?"

Mungkin karena kami menyebut namanya, Zelos sedang menatap kami dari jarak dekat sambil makan.

Tapi dia sepertinya lebih memprioritaskan makanannya pada akhirnya, karena dia tidak mendekat.

"Kamu bisa bersama semua orang sekarang karena kamu belajar untuk tenggang rasa kepada orang-orang seperti Zelos," jelasku.

"Aku tidak terlalu mengerti."

"Yah, mungkin itu tidak masalah untuk saat ini."

Dia menekan kekuatannya agar mereka tidak sakit karena mananya, dan dia menahan diri cukup banyak saat menubruk mereka agar mereka tidak terluka.

Dia selalu menggunakan seluruh kekuatannya padaku, tapi dia telah tumbuh menjadi seseorang yang sekarang bisa memberikan toleransi kepada orang lain.

"Jadi, semua ini hanyalah sebuah kesempatan," kataku.

"Begitukah?"

"Ya, benar. Semua orang menerimamu karena kamu sudah cukup tumbuh untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya."

Tailtiu terdiam sejenak. "Meskipun begitu..."

"Ya?"

"Kamulah yang memberiku kesempatan itu! Jadi... aku mencintaimu, Sayang!" Dia melompat dan mencium pipiku.

Aku terdiam.

"I-Ini agak memalukan..." katanya.

Meskipun wajahnya sedikit merah, dia tersenyum lembut padaku. Aku hanya menatapnya dengan tercengang.

"A-Aku mau ambil daging lagi!"

Karena aku tidak mengatakan apa-apa, dia pergi menuju semua orang di sekitar panggangan barbeku.

"Dia menciumku..."

"Hei, dasar penakluk wanita."

Seseorang dengan mantap merangkul bahuku—itu Zelos, yang baru saja melahap daging beberapa saat yang lalu.

"Oh, halo, Zelos," kataku.

"Berhati-hatilah agar popularitasmu tidak membuatmu ditikam karena cemburu suatu hari nanti," katanya.

"Jangan katakan sesuatu yang menyeramkan begitu!"

"Merlyn telah memberinya beberapa ide, jadi dia mungkin mulai mencoba beberapa trik padamu."

Dengan itu, Zelos pergi untuk makan daging lagi.

"Itu tidak jauh lebih baik dari apa yang kamu katakan tadi..."

Ditinggal sendirian di sana, aku menatap Reina saat dia memberikan ceramah kepada anak-anak yang sepertinya bertengkar memperebutkan daging.

Luna berada di tempat lain, bermain dengan para Fierce Ogrefolk.

Dan Tailtiu sedang tertawa bersama Ancient Dragonfolk lainnya. Ini adalah pemandangan yang kuharapkan.

Tidak jauh dari situ, Elga dan Livia juga sedang mengamati, mungkin bertindak sebagai pelindung.

Zelos dan Merlyn menjaga jarak yang sempurna dari anak-anak, mungkin karena mereka akan mati jika mendekat dengan sembarangan.

Aku ingin memperluas lingkaran ini lebih jauh lagi dan mengadakan pesta besar dengan semua orang suatu hari nanti, tanpa memandang spesies, usia, jenis kelamin, atau apa pun.

Menatap langit yang diterangi oleh matahari yang cerah, aku mengajukan pertanyaan kepada dewa yang telah membiarkanku bereinkarnasi di dunia ini.

Tuhan, apa yang akan terjadi selanjutnya dalam hidupku di pulau ini?

Tentu saja, tidak ada tanda-tanda jawaban, tapi...

Aku akan menantikannya.

Aku merasa seolah-olah mendengar suara yang menyenangkan dan ceria.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close