Chapter 7
Pengembangan
Benar kata pepatah yang menyebutkan bahwa rumah bisa di mana
saja; kehidupanku di pulau ini sudah mulai stabil, dan setiap harinya terasa
memuaskan.
Namun di saat yang sama, ketika orang mulai terbiasa dengan
rutinitas, mereka cenderung mencari kenyamanan lebih.
"Karena itu,
kurasa kita harus membuat jalan menuju desa Divine Beastfolk," kataku.
"Apa
maksudmu dengan 'karena itu'?" tanya Reina, bingung dengan saran
mendadakku.
"Maksudku,
belakangan ini aku merasakannya saat pergi ke desa untuk mencari Luna...
Jalannya agak kurang memadai, tidak menurutmu?"
"Yah,
asalnya ini memang hutan yang belum tersentuh."
"Tepat
sekali. Tapi sekarang kita di sini, dan kita sering ke desa untuk bertukar
berbagai barang, jadi..."
Bagi aku dan
Reina hal itu bukan masalah besar karena kami bisa menggunakan sihir Storage,
tetapi Zelos dan Merlyn menggunakan jalan setapak hewan untuk segala urusan,
yang pasti sangat tidak nyaman.
Karena hal ini,
mereka belum bisa pergi ke desa untuk memberi salam, meski mereka sudah
menjalin hubungan pribadi dengan Luna dan Elga.
Faktor
terbesarnya hanyalah waktunya yang belum pas, tetapi selain itu, aku juga
berpikir bahwa sulitnya akses ke sana adalah masalah tersendiri.
"Aku
berharap dengan membuat perjalanan lebih nyaman, kita semua bisa saling bertemu
dengan lebih mudah," tambahku.
"Hmm... Yah,
kenapa tidak? Jika ada jalan, akan lebih mudah bagiku untuk pergi ke sana juga.
Tapi, apa kau yakin tidak apa-apa?"
"Huh? Kenapa
memangnya?"
"Area ini awalnya wilayah Divine Beastfolk, kan? Saat ini mereka mengizinkan kita
menggunakannya, tapi bagaimana jika mereka tidak suka kita membuka lahan untuk
jalan?"
"Oh..."
Aku tidak
mempertimbangkan hal itu sampai dia menyebutkannya. Aku hanya berpikir kita
akan bisa memperdalam hubungan setelah ada jalan menuju desa, tidak lebih.
"Apa yang
harus kulakukan?"
"Pertama-tama,
cobalah tanya Suzaku. Jika dia bilang boleh, maka kita bisa membangun jalannya.
Jika tidak, kita akan cari cara lain."
Saat kami
berbicara sambil menuju desa Divine Beastfolk, kami berpapasan dengan Elga,
tetapi ketika kami menjelaskan situasinya kepadanya, dia berkata bahwa Suzaku
sedang menghilang entah ke mana.
"Dia
pergi?" tanyaku.
"Ya, dia
berangkat ke tempat Wilhelmina kemarin dan belum kembali," jawab Elga.
Tampaknya dia
pergi dengan terburu-buru yang tidak biasa, dan ini pertama kalinya Elga
melihatnya seperti itu.
"Apa dia
akan baik-baik saja?" tanyaku.
"Yah, dia
bisa hidup kembali kalau mati, jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkannya, tapi
banyak kaum Beastfolk yang sangat cemas setelah melihat tetua kami terburu-buru
begitu. Ugh, aku lelah sekali..."
Elga
menyampaikannya dengan cara yang sangat khas dirinya; dia selalu bicara kasar,
tetapi dia orang yang peduli.
Dia mungkin telah
memberikan nasihat kepada semua Beastfolk yang cemas.
Mungkin itulah
sebabnya dia tampak lebih lelah dari biasanya dan seolah kehilangan semangatnya
yang biasa.
"Jadi, apa
yang ingin kau bicarakan dengan tetua kami?" tanyanya.
"Oh,
sebenarnya..."
Aku pun
menyampaikan apa yang telah kubicarakan dengan Reina. Membangun jalan akan
membuat perdagangan lebih lancar, dan yang terpenting aku ingin memperdalam
hubungan kami dengan kaum Divine Beastfolk.
Juga—meskipun aku
tidak menyebutkan ini pada Reina—setelah kembali dari pemanggilan singkat ke
tempat yang jauh itu, aku menyadari sesuatu: Aku menyayangi pulau ini
seolah-olah aku lahir di sini.
Itulah alasan
mengapa aku ingin belajar lebih banyak tentang tempat ini, dan mengapa aku
sangat ingin berbicara dengan orang-orang dari berbagai ras lain yang tinggal
di sini.
Langkah
pertamanya adalah mempermudah akses mencapai Divine Beastfolk yang sudah
menjalin hubungan dengan kami.
"Apa, cuma
itu? Kami juga akan senang jika ada jalan, jadi itu bukan masalah besar,"
kata Elga.
"Huh?
Benarkah tidak apa-apa?" kataku.
"Tentu saja.
Kami Divine Beastfolk bisa melewati jalur itu tanpa masalah, tetapi kaum
Beastfolk tidak tahu kapan monster mungkin muncul. Jika jalan itu memiliki
aromamu, monster-monster tidak akan berani mendekat, jadi kau sebenarnya
membantu kami dengan membuatnya lebih aman." Kemudian, dia memberikan
tawaran yang menyenangkan. "Bahkan, aku akan membantumu."
"Kalau
begitu hari ini aku akan menyusun rencana. Aku akan mulai mengerjakan jalannya
besok," kataku.
"Ngomong-ngomong, Arata, bagaimana caramu
membangunnya?" tanya Reina.
"Huh? Maksudku, aku akan menebang pohon-pohon dengan
sihir, lalu menggunakan sihir tanah seperti biasa untuk meratakan
tanahnya," jawabku.
Aku berasumsi bisa membangun jalan itu dengan cara yang sama
seperti saat aku membuat jalan ke sungai, tetapi Reina menghela napas kesal.
"Kau tahu,
Arata, mana itu tidak tak terbatas. Jarak ke desa ini jauh, dan kau akan
kehabisan mana sebelum selesai... Tunggu, apa kau pernah kehabisan mana?"
"Belum
pernah, seingatku."
Begitu aku
mengatakan itu, Reina menatapku dengan kaget, seolah dia tidak percaya dengan
apa yang didengarnya.
Akhir-akhir ini
dia selalu menepis hal-hal absurd yang kukatakan dengan jawaban singkat,
"Yah, begitulah Arata," tapi aku sudah lama tidak melihat ekspresi
tercengang darinya seperti itu.
"Aku tidak percaya... Apa kau benar-benar bisa
melakukannya? Tapi kalau begitu, itu
berarti kapasitas mana milikmu..." Suaranya mengecil.
"Oh, tapi
aku juga tidak yakin, oke? Bisa jadi karena aku belum pernah menggunakan
seluruh manaku. Aku mungkin sebenarnya punya jumlah yang cukup sedikit."
"Itu sudah
pasti tidak mungkin, tidak jika kau bisa menggunakan sihir Storage
sebanyak itu."
Setelah dia
menyebutkannya, aku ingat dia pernah berkata beberapa waktu lalu bahwa sihir Storage
berskala sebanding dengan kapasitas mana seseorang.
Mengingat aku
belum melihat batas dari sihir Storage-ku, mungkin kapasitas manaku,
seperti segala hal lain tentang diriku, memang abnormal.
"Hahh..." Reina menghela napas lagi. "Yah, sudahlah. Aku akan pusing jika
memikirkan hal ini lebih lama lagi... Selain itu, ada hal lain."
"Apa
itu?"
"Apa yang
akan kau lakukan dengan pohon-pohon yang kau tebang? Semuanya mungkin muat di
dalam sihir Storage-mu, tapi..."
"Oh... Benar
juga."
Aku bisa saja
memasukkan kayu-kayu itu ke dalam Storage, tapi bukan itu masalahnya.
Membangun jalan
yang panjang menembus hutan akan membutuhkan penebangan pohon dalam jumlah
besar.
Dan pohon juga
makhluk hidup.
Aku tidak tahu
seberapa penting alam bagi penduduk pulau, tetapi mereka pasti akan kehilangan
kepercayaan pada manusia yang menghancurkannya sembarangan.
"Jika itu
yang kau khawatirkan, berikan saja kayunya pada kami," kata Elga.
"Nanti, kaum Beastfolk akan membuat sesuatu yang lain darinya."
"Entahlah...
Kita bicara tentang
jumlah yang sangat besar," kataku.
"Mungkin
kita bisa membangun bengkel kerja. Kita akan menyimpan sebanyak mungkin kayu di
sana dulu, lalu sisanya biarkan di Storage-mu untuk sementara
waktu."
Ini mungkin
berasal dari pola pikir untuk mengurangi limbah sebanyak mungkin.
Benar saja,
memasukkan kayu ke dalam sihir Storage-ku berarti kayu itu tidak akan
membusuk, dan jika itu terlalu banyak untuk kutangani, kami bisa mencari cara
lain untuk mengolahnya.
"Baiklah
kalau begitu, mari kita lakukan itu," kataku. "Aku akan mulai dengan
membangun jalan selama beberapa hari ke depan, jadi bisakah kau menjelaskan
semuanya kepada desa?"
"Serahkan
padaku," kata Elga. "Jika kalian bisa mengumpulkan kayunya, maka kami
bisa mengalihkan tenaga kerja kami untuk hal lain. Itu akan sangat
membantu."
"Kalau
begitu sebagai ganti kayunya, beri aku sesuatu yang lain, oke?"
"Katakan
saja apa yang kau mau."
Konsep
uang tidak ada di pulau ini, jadi barter adalah norma yang berlaku.
Selain
itu, secara umum diasumsikan bahwa pihak yang mengusulkan perdagangan harus
memberikan tawaran yang menguntungkan pihak lain.
Aku pikir
ini menciptakan lingkungan di mana orang mudah untuk meminta sesuatu dari orang
lain tanpa khawatir merepotkan siapa pun.
"Baiklah,
kurasa aku akan mulai bekerja sekarang," kataku.
"Aku juga
akan membantu," kata Reina.
Kami pulang ke
rumah dan menghabiskan sepanjang hari untuk bersiap-siap, lalu kami mulai
bergerak, menebang pohon sambil berjalan.
◇
Membuka lahan
baru di pulau ternyata jauh lebih berat dari yang kubayangkan.
Membuka ruang
untuk jalan memang mudah dengan sihir, dan aku punya stamina fisik yang
berlebih juga.
Tapi, jalannya
memang sangat jauh.
Jarak yang
membutuhkan waktu tiga puluh menit bagiku atau Elga untuk berlari, dalam
konteks kehidupanku sebelumnya, rasanya seperti membangun jalan raya.
"Dengan ini,
kurasa kita sudah mencapai sekitar sepersepuluh perjalanan," kataku.
"Fiuh... Itu baru menebang pohon? Ini akan memakan waktu lama," kata Reina.
Sudah tiga hari
bekerja, dan inilah hasilnya.
Aku menebang
pohon dengan santai menggunakan sihir, dan aku menyerahkan pekerjaan yang lebih
detail kepada Reina.
Kami
memprioritaskan pembersihan lahan terlebih dahulu sebelum mulai meratakan
tanah.
Sepertinya ini
semua akan memakan waktu yang cukup lama.
"Ya, kau
benar sekali," kataku. "Bahkan di kehidupanku yang dulu, membangun
jalan tidaklah mudah, meskipun dengan banyak orang dan alat berat."
"Alat
berat?"
"Intinya
mereka seperti perkakas yang bergerak sendiri."
"Huh... Apa
mereka seperti Artifact atau Magic Item?"
Kata-kata itu
dipenuhi dengan nuansa fantasi.
Sejujurnya, aku
agak penasaran, tapi saat ini aku ingin memprioritaskan membangun jalan.
"Bagaimana
dengan Zelos dan Merlyn?" tanyaku.
"Mereka
sudah kehabisan mana sejak lama. Sejujurnya, ini mungkin mulai terasa berat
bagiku juga."
"Begitu ya... Kalau begitu, mari kita sudahi hari ini
sampai di sini."
Melihat ke arah
hutan, keadaannya masih rimbun, dan merintis jalan ke depan akan sulit.
Aku akan
baik-baik saja jika terus memaksakan diri, tetapi itu pasti akan sulit bagi
yang lain, baik secara fisik maupun magis.
Namun, berjalan
di bagian jalan yang sudah selesai kami bersihkan menjadi jauh lebih mudah.
Setelah semua
ini, kami akan mulai bekerja meratakan jalan yang bergelombang, tetapi
mengingat kecepatan saat ini, hal itu tidak akan mungkin dilakukan dalam waktu
dekat.
"Tubuhku
kotor terkena banyak tanah, jadi aku benar-benar ingin mandi," kata Reina.
"Ide
bagus. Kau pasti berkeringat juga, kan? Aku akan menyiapkan air mandinya, jadi
kau bisa bersiap-siap."
"Benarkah?
Kalau begitu, aku akan menerima tawaranmu."
Matahari masih
tinggi di langit, tetapi menyenangkan memiliki hari seperti ini sesekali.
Dunia ini bukan
tempat di mana kami memiliki tugas harian spesifik yang harus diselesaikan.
Setiap hari, kami
bangun, bersenang-senang, bekerja, dan tidur sesuka hati kami, karena itulah
yang bisa kami lakukan di sini.
Sejujurnya, aku
mungkin bisa menyelesaikan pengembangan ini dengan lebih cepat jika aku bekerja
sendirian.
Aku ragu ada
batasan pada manaku, dan tubuhku juga tidak pernah merasa lelah.
Jika aku melesat
sampai ke ujung dan menyelesaikan semuanya, itu pasti akan sangat cepat.
Tetapi aku tidak
melakukannya, hanya karena tidak akan menyenangkan melakukan semuanya
sendirian.
Aku ingin
menikmati kehidupan sehari-hari yang santai, entah itu melakukan sesuatu
bersama Reina, atau mengenal Zelos dan Merlyn lebih baik.
"Maksudku,
aku bereinkarnasi di sini. Tidak apa-apa bagiku untuk menggunakan kesempatan
ini untuk menjadi sedikit egois."
Aku berbisik
pelan pada diriku sendiri sambil menatap punggung gadis cantik yang berjalan di
depanku.
◇
"Tuan Arata!
Kami dataaang."
Aku sempat bosan
saat Reina sedang mandi, tapi kemudian Luna datang berkunjung.
"Hei,
Luna, dan..."
"Grr!"
"Garr!"
Dua ekor Bloody
Wolf, Grr dan Garr, berlarian dengan gembira membentuk lingkaran di kakiku.
Anak-anak
anjing ini, yang masih dalam usia selalu ingin bermain, melihatku sebagai sosok
yang berada di atas mereka, jadi mereka benar-benar menyukaiku.
"Dan
selamat datang, kalian berdua," kataku.
Aku
menggendong salah satu dari mereka, dan yang satunya mencakar kakiku, tidak mau
ketinggalan.
Karena tidak ada
pilihan lain, aku merangkul keduanya.
Tapi kemudian
giliran Luna yang mendongak menatapku.
"Baiklah,
baiklah."
"Yey!"
Aku menggendong
dan mendekap mereka bertiga di lenganku. Luna terkikik gembira, yang membuatku
merasa tenang.
Kami sangat dekat
satu sama lain sehingga kami sudah seperti keluarga.
Dengan mereka
masih di pelukanku, aku melompat ke arah pepohonan hutan.
"Wahhh!"
seru Luna. "Grr, Garr, kita tinggi sekali!"
"Grrrr!"
"Garrrr!"
Pada awalnya aku
tidak mengetahui kekuatanku sendiri, dan aku sering melakukan hal-hal yang
keterlaluan, tetapi akhir-akhir ini aku sudah jauh lebih baik dalam
mengendalikan diri.
Aku melompat dari
pohon ke pohon, sesekali meningkatkan kecepatanku atau tiba-tiba melompat
tinggi ke langit seperti roller coaster.
Teriakan
kegembiraan terdengar dari mereka bertiga di pelukanku.
Aku pasti
bergerak dengan momentum yang cukup besar, tetapi mereka tidak takut;
sebaliknya, mereka tampak senang.
"Haruskah
aku pergi lebih cepat lagi?" tanyaku.
"Ya!"
kata Luna.
Meskipun dia
masih anak-anak, dia adalah salah satu dari Divine Beastfolk—dia tidak
menunjukkan tanda-tanda merasa terintimidasi, meskipun kecepatanku sangat
tinggi.
Grr dan
Garr juga tampak sangat tenang. Itu berarti aku tidak perlu menahan diri, jadi
aku langsung mempercepat gerakanku.
"Iiiih!
Ini seruuu bangeeeet!"
"Grrrr!"
"Garrrr!"
Begitulah,
aku berkeliling seluruh pulau dengan Luna, Grr, dan Garr di pelukanku.
Monster-monster
yang kutemui mencoba melarikan diri, tetapi aku tidak sedang berburu hari ini,
jadi aku berharap mereka tidak merasa terlalu takut.
"Baiklah,
untuk penutup, aku akan pergi ke sungai, jadi berusahalah agar tidak
jatuh!"
"Ya!"
Air yang
selalu kami ambil dari sungai penuh dengan mineral dari tanah pulau ini, sangat
murni, dan rasanya luar biasa.
Ketika kami
sampai di sana, kami duduk berdekatan, minum air, dan tersenyum satu sama lain.
"Mm-hmm,
dingin dan enak!" kata Luna.
"Ya, air di
sini memang luar biasa, seperti biasanya."
Semenjak
mendapatkan tubuh ini, kata "lelah" tidak berarti apa-apa bagiku,
namun meski begitu, aku samar-samar merasa haus setelah berlarian ke sana
kemari.
Jadi, saat aku
meminum air yang lezat, senyuman otomatis muncul di wajahku.
"Reina akan
memasak makanan setelah ini, tapi apa yang akan kalian lakukan?" tanyaku.
"Kami mau
makan!" jawab Luna.
"Grrrr!"
"Garrrr!"
"Aku
senang melihat kalian begitu bersemangat. Kalian sudah memberitahu Elga dan
Livia sebelum datang, kan?"
Luna terdiam
sejenak. "Oh..."
Dia sepertinya
pergi tanpa izin lagi.
Namun, Elga dan
Livia akhir-akhir ini sudah berasumsi bahwa jika Luna tidak ada di rumah
mereka, dia sedang mengunjungi kami, jadi aku tidak terlalu khawatir.
"Tapi itu
akan jadi masalah jika Livia sedang memasak makanan, jadi mulai sekarang,
pastikan kau memberitahu mereka, oke?" kataku.
"Oke..."
Luna tampak agak menyesal.
Kemampuannya
untuk dengan tulus mengakui ketika dia melakukan kesalahan adalah salah satu
sisi baiknya.
"Kalau
begitu, bagaimana jika aku meminta Reina membuatkan bungkusan?"
"Bungkusan?"
"Beberapa
makanan untukmu, Elga, dan Livia. Dengan begitu, kalian semua bisa makan bersama malam ini, kan?"
"Grrrr."
"Oh, maaf.
Aku akan siapkan untuk kalian berdua juga."
Kedua serigala
itu mulai berjingkrak-jingkrak di sekitar sungai, seolah-olah berkata,
"Baiklah!"
Melihat mereka
sungguh menghangatkan hati, seperti menonton anak anjing.
"Apa kau
yakin?" tanya Luna.
"Ya. Kami
baru saja mendapatkan beberapa bahan baru lagi baru-baru ini, meskipun aku
harus bertanya pada Reina dulu."
Tetap saja, Reina
suka memasak, jadi dia mungkin tidak akan keberatan.
Selain itu, dia
sebelumnya pernah berkomentar bahwa lebih mudah dan menyenangkan membuat
makanan untuk banyak orang daripada hanya dua orang.
"Sebagai
gantinya, beri kami porsi sesuatu yang enak yang kalian miliki sebagai Divine
Beastfolk lain kali ya," kataku.
"Oke!
Masakan Nona Livia sangat enak, jadi aku akan bawakan beberapa."
"Aha ha
ha."
Sangat khas
dirinya untuk tidak mengatakan bahwa dia sendiri yang akan memasaknya, pikirku,
dan sambil memikirkan itu, aku berbalik untuk membawa mereka kembali ke rumah
kami.
"Tuan Arata,
ada sesuatu yang hanyut di sungai," tiba-tiba Luna berkata.
"Hm?"
Terpacu oleh
suaranya, aku melihat ke arah hulu, di mana aku melihat seorang gadis berkulit
gelap yang kukenal sedang mengapung ke arah kami.
Aku menatap
matanya—itu adalah Katima, sang Alfr.
Dia tampak sedang
memegang sebatang kayu saat arus membawanya, jadi dia tidak tenggelam seperti
terakhir kali.
Dia memberiku
tatapan memohon yang seolah berkata, "Arata... Selamatkan aku..."
jadi aku mencabut sebuah pohon di dekatku dan mendekatkannya padanya.
Di sana, dia
meletakkan tangannya pada pohon yang kuulurkan dan berpindah ke atasnya, lalu
aku menariknya keluar dari sungai.
"Terima
kasih, Arata," katanya.
"Ya...
Ngomong-ngomong, kenapa kau hanyut lagi oleh—"
Aku terhenti di
situ saat menyadari kondisi pakaian Katima yang agak berbahaya.
Kaumnya memuja
alam, yang berarti pakaian biasanya menutupi sesedikit mungkin, dan pusarnya
terlihat.
Dan sekarang, dia
basah kuyup; akibatnya, atasannya merosot, dan dadanya yang mungil hampir
terlihat.
"Ada apa,
Arata?"
"Oh, bukan
apa-apa... Untuk sekarang, pakailah ini." Sambil membuang muka, aku
menyerahkan mantelku padanya.
"Hm?
Tapi aku tidak dingin."
"Pakai
saja."
Dia pasti tidak
punya rasa malu yang besar, karena dia tidak keberatan tubuhnya terekspos
seperti itu.
Aku tahu dari
Elga dan Livia bahwa setidaknya beberapa orang di sini menjalin hubungan, tapi
mungkin hal semacam ini disebabkan oleh variasi antar ras yang berbeda.
Terlepas dari
itu, Katima dengan patuh mendengarkan permintaanku dan memakai mantelku, jadi
aku akhirnya berbalik menghadapnya lagi.
Kebetulan, Luna,
Grr, dan Garr mengamati kami diam-diam dari kejauhan, mungkin karena mereka
enggan basah-basahan.
"Kenapa kau
hanyut di sungai lagi?" tanyaku pada Katima.
"Sebenarnya... Ada sesuatu yang perlu kubicarakan
denganmu."
"Aku?"
Maksudku, aku tidak benar-benar melihat hubungan antara
perlu bicara denganku dan hanyut oleh sungai, tapi baiklah.
"Aku ini
pintar, jadi aku punya ide," kata Katima. "Gunung tempatku tinggal
dan rumahmu jaraknya sangat jauh. Tapi, aku pikir akan lebih cepat dan mudah
untuk sampai ke sana jika aku menyusuri sungai."
Aku terdiam
sejenak. "Dengan kata lain?"
"Saat aku
menyusuri sungai, kakiku kram dan aku tidak bisa kembali ke tepi."
"Oke, kurasa
sebaiknya kau tidak mendekati air untuk sementara waktu."
Seseorang
berharap gadis sepintar pengakuannya akan belajar satu atau dua hal dari
kejadian pertama.
"Tapi ini
kebetulan yang luar biasa kau ada di sini... Tidak, ini pasti takdir dari para Great
Spirit."
Dia tampak
sedikit terharu, padahal itu benar-benar hanya kebetulan, yang membuatku
canggung untuk mengatakan apa pun.
Satu-satunya
pikiranku adalah dia bisa saja datang menemuiku dengan normal, tanpa takdir
semacam itu.
"Ngomong-ngomong,
kau bilang ada sesuatu yang perlu kau bicarakan denganku?" kataku.
"Oh, benar
juga. Kaum Alfr tidak pernah melupakan apa yang telah dilakukan orang lain
untuk mereka. Jadi, aku berpikir untuk mengundang kalian semua ke desa tempatku
tinggal."
Itu adalah
undangan yang akan memungkinkan aku untuk membuka kehidupanku di pulau ini ke
suasana yang baru.
◇
Pertama-tama, aku
rasa perlu mendiskusikan hal ini dengan Reina, jadi aku membawa Katima pulang
bersamaku.
Reina, yang sudah
selesai menyiapkan makan siang, menatap Katima lalu menatapku.
"Arata, aku
tidak akan marah, jadi jawab aku dengan jujur. Apa yang kau lakukan kali
ini?"
"Tunggu
sebentar, oke?" kataku. "Kurasa tidak benar bagimu untuk memulai
dengan mencurigaiku."
"Tapi,
maksudku..."
Tentu, masalah
biasanya mengikutiku ke mana pun aku pergi.
Tapi ini bukan masalah... Setidaknya, seharusnya tidak!
Bahkan seandainya setelah ini terjadi suatu insiden di desa
Alfr, itu tetap bukan salahku... Setidaknya, seharusnya tidak!
"Itu
kelihatannya enak!" kata Luna.
"Grrrr!"
"Garrrr!"
"Oh, benar
juga, aku sudah selesai membuat makan siang," kata Reina.
"Ngomong-ngomong, aku membuat pizza hari ini, yang berarti satu orang
tambahan tidak akan jadi masalah. Jadi, Katima..."
Dia terdiam,
mungkin mengingat lahapnya Katima saat makan terakhir kali dia di sini.
"Bolehkah
aku makan juga?" tanya Katima.
Reina terdiam
sejenak. "Tentu. Dan, kalian semua bisa makan duluan. Aku akan memanggang
pizza lagi," katanya, menyerahkan pizza itu dengan pasrah.
Dia pasti sudah
memprediksi bahwa tidak akan ada yang tersisa untuknya. Luna dan Katima
berteriak kegirangan.
"Aku akan
bantu," kataku.
"Oke. Terima
kasih."
Aku mungkin tidak
akan bisa melakukan hal yang penting, tetapi aku tetap berpikir bahwa ada
maknanya jika kami memanggangnya bersama.
Karena semua
perdagangan yang telah kami lakukan dengan Divine Beastfolk, daging Emperor
Boar sepertinya akan habis dalam waktu dekat.
Tapi kami masih
punya daging dari Shantak yang diburu Luna, dan mangsa yang dibunuh Tailtiu dan
aku bersama.
Kami tidak akan
punya masalah dengan makanan untuk sementara waktu.
"Ngomong-ngomong,
untuk apa Katima datang ke sini?" tanya Reina.
"Kedengarannya
dia mengundang kita ke desa Alfr. Mereka akan mengadakan pesta penyambutan, sepertinya."
"Oh,
benarkah? Aku penasaran bagaimana cara Elf—maksudku, kaum Alfr tinggal. Di
benua, mereka tetap tinggal di hutan, dan kau hampir tidak pernah melihat
mereka."
Aku pernah
mendengar dari Elga bahwa Alfr dan Elf awalnya berasal dari ras yang sama,
tetapi terpecah karena perbedaan Great Spirit yang mereka sembah.
Tampaknya, tidak
ada makhluk supranatural seperti Great Spirit di benua sejak awal, dan
di antara para Elf tidak ada kaum Alfr.
Mungkin dalam
pengertian itu, mereka berdua sama saja dari sudut pandang Reina.
"Yah,
bagaimanapun juga, aku tidak keberatan," kata Reina. "Tapi kita juga
harus memikirkan pembangunan jalan ke desa Divine Beastfolk..."
"Ah, benar
juga."
Menurut Katima,
jaraknya setengah hari berjalan kaki dari sini ke pegunungan tempat desa Alfr
berada.
Jika kita pergi
ke sana hari ini, kita tidak akan sampai di sana hingga larut malam.
"Kalau
begitu, haruskah kita meminta Katima membuatkan peta atau semacamnya, lalu
pergi ke sana nanti?" kataku.
"Tapi jika
mereka berencana mengadakan pesta untuk kita, mereka perlu menyiapkan segala
sesuatunya untuk kita."
"Oh..."
Itu berarti kita
harus menunda pembangunan jalan... Tapi aku juga tidak suka itu.
Rasanya seperti
kita meninggalkan sesuatu yang belum selesai.
"Tidak perlu
khawatir soal itu."
"Katima?"
kataku.
Dengan sisa keju
masih di bibirnya, Katima sedang memperhatikan kami saat kami membuat pizza
dan—Tidak, dia pasti di sini hanya demi pizza yang baru dipanggang.
Maksudku, tatapannya benar-benar terpaku pada
itu.
"Aku yakin
kalian pasti punya hal yang harus dikerjakan dulu, jadi rencananya aku akan
menghubungi desa begitu kalian siap. Kalian bisa memakan waktu selama yang
kalian butuhkan," kata Katima.
"Oh,
benarkah?" kataku. "Tetap saja, aku tidak ingin membuatmu menunggu
selamanya..."
"Kaum Alfr
sangat sabar. Kau bahkan bisa tidak datang selama lima puluh tahun dan mereka
akan tetap baik-baik saja."
"Begitu
ya..."
Kalau begitu, aku
tidak perlu khawatir.
Semenjak datang
ke pulau ini, aku telah menemui banyak sikap yang berbeda dari manusia biasa,
dan bagiku sepertinya rahasia untuk hidup di sini adalah tidak terlalu
memusingkan hal-hal tersebut.
Reina sudah
menyesuaikan dirinya dengan mereka, atau lebih tepatnya, dia hampir tidak
peduli sama sekali.
Dia begitu santai
sehingga saat ini, dia mungkin sedang berpikir apakah akan ada cukup pizza
untuk dimakannya.
"Jika
begitu, apa yang akan kau lakukan selama menunggu?" tanyaku.
"Hm?
Bukannya ada yang bisa kulakukan di rumah, jadi aku akan tinggal di rumahmu
saja. Kenapa?" tanya Katima seolah-olah itu adalah hal yang wajar. Itu
hampir membuatku merasa akulah yang aneh di sini.
Lagipula, Katima,
aku cukup yakin bukan berarti kau tidak punya pekerjaan.
Bukankah
orang bilang kalau tidak bekerja, maka tidak makan?
Secara
pribadi, aku tidak punya masalah dengan itu, jadi aku menatap Reina; dia
sepertinya tidak punya keluhan juga.
"Bagaimanapun
juga, aku ini seorang ahli," kata Katima. "Aku akan membantu apa
saja."
"Ya, tentu
saja," jawabku.
Kami menyambut
penghuni sementara kami yang baru.
Namun saat kami melakukannya, kami berdua berpikir, Seorang ahli tidak akan hanyut di sungai sampai dua kali.



Post a Comment