NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonde ita Game Sekai no Akuyaku Mob ni Tensei Shimashita Volume 2 Epilog

Epilog


"──Oi, Leila. Sebenarnya apa yang terjadi di wilayah yurisdiksimu?"

Tempat ini adalah ibu kota kekaisaran, Verdia.

Sebuah ruangan dengan meja bundar di dalam istana kekaisaran, tempat sang penguasa bersemayam.

Pertemuan antara Wakil Kaisar dan sembilan orang berbaju zirah megah—total sepuluh orang—baru saja berakhir.

"Apa maksudmu dengan wilayahku?"

"Hah? Jangan pura-pura bego, deh."

Tepat setelah Wakil Kaisar meninggalkan ruangan, suasana langsung mencekam oleh haus darah yang dipancarkan oleh seorang pria beastman dengan pedang raksasa di punggungnya.

"Kamu sudah dengar, kan? Ada orang yang bertindak semaunya di wilayahmu. Rumornya, dia bahkan berani memakai nama organisasi kita, lho?"

"Ah, aku juga dengar soal itu. Dia muncul tiba-tiba, kan? Si 'Shikkoku' itu. Sejujurnya, membiarkan orang luar berbuat sesukanya itu agak keterlaluan, bukan? Organisasi ini ada karena kewibawaannya."

Seorang pria bermata sipit yang tampak ceria menyela sambil memainkan jemarinya.

Leila, wanita dengan pakaian ringkas berambut hitam-ungu yang kini dipojokkan dua lawan satu itu, sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar.

Ia menghela napas panjang dan menunjukkan raut wajah jengah sebelum menjawab.

"Apa-apaan kalian ini. Kejadian kali ini benar-benar tidak bisa dihindari. Aku sedang ditugaskan di tempat lain, dan itu terjadi saat aku meninggalkan wilayahku. Lagipula, aku sudah memerintahkan salah satu bawahanku untuk menyelidiki segala informasi sampai aku kembali."

"Benar kata Leila-chan, rasanya tidak adil kalau dia yang disalahkan~. Padahal dia sudah berjasa menangkap komplotan Redfreed yang menculik putri dari Tiga Kekuatan Besar, bahkan sampai menghancurkan mereka yang membantu komplotan itu."

Kali ini, seorang wanita bersayap naga dengan nada bicara yang sama sekali tidak memancarkan hawa kekuatan ikut menengahi.

Lima orang lainnya yang menyaksikan perdebatan ini hanya bisa mengeluarkan aura 'mereka mulai lagi' karena merasa kerepotan.

Pertemuan sudah berakhir, dan seharusnya ini saatnya mereka kembali ke 'wilayah masing-masing'—ke kota mereka—tapi mereka tidak bisa pergi begitu saja.

Mereka harus tetap di sana untuk memastikan situasi tetap terkendali jika ada yang benar-benar mengamuk.

"Cih, mau kamu ada di wilayahmu atau tidak, maksudku itu jangan sampai kita diremehkan seperti ini, Bodoh."

"Apa katamu? 'Bodoh'? Kalau kamu mengajak berkelahi, akan kulayani. Aku akan melubangi dahi itu dalam satu serangan."




"Jangan meremehkanku!"

"Bagus, bagus!"

Pria ceria itu terus memanas-manasi keadaan dengan senyum lebar, membuat sang beastman langsung mencengkeram gagang pedang raksasanya.

Di sisi lain, Leila menggerakkan tangannya ke arah paha, menyentuh Magic Item yang tersimpan di dalam holsternya.

Suasana mencekam yang siap meledak kapan saja mendominasi ruangan itu. Rasanya, tidak akan aneh jika detik berikutnya seseorang langsung menyerang.

"Oke, cukup sampai di sini."

Berdasarkan pengalaman selama ini, mustahil menghentikan mereka hanya dengan suara saja.

Seorang anggota lain yang menyadari hal itu pun langsung menghantam meja makan dengan keras. BRAK!

"Ah……"

Melihat meja mewah itu seketika retak seribu seperti sarang laba-laba, anggota tersebut langsung mengeluarkan suara yang terdengar menyedihkan.

"O-oi... Apa yang kamu lakukan? Keterlaluan banget, sih."

"Kamu bisa lihat sendiri kan kalau ini terbuat dari kaca? Tidak masuk akal kalau sampai hancur begini."

"Benar juga, ya."

"Meja ini mahal, lho? Tidak apa-apa?"

Keempat orang yang menjadi penyebab tidak langsung keributan itu justru bersikap seolah itu bukan urusan mereka.

Sementara itu, anggota lainnya hanya bisa menatap mereka dengan tatapan dingin yang menusuk.

"Aku akan... pergi minta maaf sebentar……"

Seorang pria akhirnya meninggalkan ruangan dengan bahu terkulai lemas.

Kini, keheningan mulai menguasai atmosfer di ruangan tersebut.

"Cih. Sudahlah. Aku sudah tidak mood."

"Sayang sekali, aku juga."

"Padahal aku pikir bakal melihat sesuatu yang seru—"

"Kamu itu berisik tahu!"

Berkat hancurnya meja tersebut, situasi akhirnya mulai mereda.

Setelah perdebatan tadi berakhir, suasana di ruangan itu berubah menjadi tanda bahwa mereka sudah boleh pergi atau kembali ke wilayah masing-masing.

Pria beastman yang memanggul pedang raksasa itu berjalan menuju pintu keluar, lalu memanggil "Leila" sambil memberikan tatapan tajam.

"Buat orang yang sudah meremehkan kita itu... berikan ganjaran yang setimpal dengan caramu. Aku tegaskan sekali lagi, kita tidak boleh diremehkan."

"Kita melakukan ini dengan rasa bangga, tahu."

"Pendapat itu memang ada benarnya juga, sih~. Kalau kita diremehkan, kita tidak bisa lagi menjadi peringatan bagi orang-orang jahat, dan sepertinya kali ini orang dari ibu kota itu memang sedang memprovokasi."

"Yah, kalau Leila sih pasti akan baik-baik saja, kan? Meski sepertinya lawan kali ini memang setara dengannya."

"Kalian semua, jangan bicara seolah ini hal sepele. Aku akan menyelidiki apakah pria bernama Shikkoku itu benar-benar menyamar atau tidak, tapi aku pasti akan membuatnya menyesal karena telah bertindak yang memicu kesalahpahaman bagi orang sekitar."

"Heh, kalau begitu baguslah."

Karena memahami kemampuan Leila, pria itu tidak perlu bicara lebih banyak lagi.

Setelah mengucapkan kata-kata terakhir tersebut, sang beastman dengan pedang di punggungnya pun melangkah keluar.

"Nah, aku juga harus segera kembali ke wilayahku. Ada banyak hal yang harus kukerjakan mulai sekarang."

"Oke."

"Lalu, tolong sampaikan pada yang lain, 'Maaf karena aku tadi sempat terpancing emosi'. ...Semuanya, tolong ya."

Leila berkata sambil menggaruk pipi putihnya dengan ekspresi bersalah sekaligus malu, lalu menjulurkan lidahnya sedikit.

Ia memunculkan Magic Wand dengan sekali sentakan, lalu duduk menyamping di atasnya untuk terbang.

Mereka semua adalah kumpulan orang dengan kepribadian yang unik dan sulit ditebak, namun memiliki kekuatan yang luar biasa besar.

Inilah salah satu cuplikan dari pertemuan rutin dua bulan sekali para anggota Vertall.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close