Chapter
6
Di
Katedral Bagian 2
Satu jam telah berlalu sejak Kai memasukkan uang ke
dalam kotak dana bantuan.
Sosok itu, yang baru saja mendapatkan waktu istirahat
selama 30 menit karena pergantian sif, langsung bergerak tanpa membuang waktu
sedetik pun.
Pertama-tama, ia menjelaskan bahwa ia tidak bisa
beristirahat bersama dengan berkata, "Maaf, Kakak. Aku ada urusan
mendadak!"
Selanjutnya, ia melangkah cepat mendatangi para staf dan
menanyakan kesaksian mereka, "Apa kalian melihat pria dengan luka di dekat
mata kirinya?"
Hasilnya, ia mendapatkan informasi bahwa pria itu
'berjalan menuju taman', lalu ia pun segera berlari lurus ke sana.
Setelah tujuh menit mencari di dalam taman yang luas itu,
Nina akhirnya menemukan sang penyelamat nyawa yang sedang beristirahat di bawah
bayangan pohon, seolah sedang menghindari pandangan orang banyak.
Sosok yang sangat ingin ia temui itu kini terpantul jelas
di matanya yang lebar──.
"An-Anda—!!"
"Hm? Ah... eh, tu-tunggu!! Tunggu sebentar!?"
Berharap akan ditangkap, Nina menerjang maju secepat
mungkin demi bisa mendekat lebih awal.
Akibatnya──.
"Ugh."
Wajah Nina menabrak perut Kai dengan telak.
"Sa-sakit sekali……."
"Ya jelas sakit kalau kamu tidak menginjak rem
begitu……. Lagipula, itu harusnya dialogku, tahu."
Hidungnya berdenyut nyeri karena benturan itu. Namun,
rasa sakit tersebut segera sirna oleh gelombang kebahagiaan.
Nina melingkarkan lengannya ke punggung Kai dan
memeluknya erat-erat.
Ia menggosokkan pipinya sepuas hati, lalu menatap ke
atas untuk merekam wajah asli Kai yang sudah lama tidak ia lihat ke dalam
ingatannya.
"He-hei……. Bisa lepaskan aku sekarang? Kalau ada
yang melihat kita di tempat seperti ini, bisa gawat urusannya."
"Pasti tidak apa-apa……."
"Akunya yang kenapa-napa, tahu."
Satu demi satu, Kai melepaskan jemari Nina yang melingkar
di pinggangnya. Meski Nina mengerahkan tenaga agar tidak terlepas, ia tetap
bukan tandingan kekuatan orang dewasa.
"Nah, selesai."
Kedua bahu Nina dicengkeram oleh tangan besar Kai,
membuatnya tidak bisa memeluk pria itu lagi.
"Ba-baiklah. Aku tidak akan memeluk Anda lagi…….
Jadi, tolong lepaskan tangan Anda dari bahuku."
"Dari matamu saja aku tahu kalau kamu mau mencoba
melakukannya lagi."
"……"
Niatnya terbongkar dengan begitu mudah.
"Ha-habisnya mau bagaimana lagi. Sejak Anda tidak
pernah datang lagi ke penginapan itu, aku berpikir kalau aku sedang
dihindari……."
"Waktu itu aku sedang sibuk-sibuknya, tahu.
Lagipula, kalau aku memang berniat menghindarimu, aku pasti sudah meminta
kembali kunci cadangannya."
"Kalau begitu, aku akan menduplikat kunci
cadangannya agar tetap bisa mengantisipasi apa pun yang terjadi."
"Itu kedengarannya bukan ide yang bagus dalam
banyak hal."
Tentu saja Nina mengerti kalau itu adalah hal yang
dilarang.
Namun, Nina benar-benar tidak ingin hubungan mereka
terputus sampai sejauh itu.
"Terlepas dari itu, apa tidak apa-apa kamu
meninggalkan pekerjaanmu?"
"Iya. Lagipula sekarang aku sedang jam
istirahat."
"Kalau begitu, mau duduk dan istirahat di bangku itu
dulu……? Aku tidak tahu apa kita boleh duduk sembarangan di sini."
"Fufufu, jangan khawatir. Itu tempat yang boleh
diduduki oleh siapa saja."
"Kalau Nina yang bilang begitu, aku
tenang."
"Iya!"
Nina sama sekali tidak menyangka bisa beristirahat
bersama seperti ini.
Begitu mereka duduk berdampingan, ia langsung menempel
hingga bahu dan lutut mereka bersentuhan.
Kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang
lagi. Waktu istirahatnya pun hanya tinggal sedikit.
Karena itulah, ia ingin bermanja-manja sebanyak mungkin.
"Ngomong-ngomong, aku melihatmu tadi. Saat Nina
sedang bekerja keras. Kamu benar-benar bisa diandalkan, ya."
"Te-terima kasih banyak! Padahal itu cuma tugas
memegang kotak dana bantuan yang bisa dilakukan siapa saja……."
"Tidak, justru kemampuanmu menyapa setiap orang
dengan ramah tanpa menunjukkan rasa lelah itu hebat. Bisa
memasang senyum yang manis juga hal yang luar biasa."
"A-aku senang sekali Anda bilang begitu……."
Karena duduk di bangku panjang, kaki Nina yang tidak
menyentuh tanah pun terayun-ayun kecil.
Meski ia tahu itu kurang sopan, perasaannya sedang
melambung tinggi hingga ia tidak bisa menahannya.
Dan karena perasaan inilah, ada sesuatu yang ingin ia
sampaikan.
"Lalu, anu, aku juga melihatnya. Saat Anda
memberikan bantuan kepada suster lain, bukan kepada kami."
"Wah,
tiba-tiba alur bicaranya berubah, ya."
"Karena aku merasa dihindari, tentu saja aku harus
mengatakannya. Kalau kejadian itu tidak ada, aku pasti akan jauh lebih
bahagia."
Nina menggembungkan pipinya sedikit, menunjukkan ekspresi
merajuk dengan mahir.
"Me-memang benar kalau dibilang menghindar, tapi itu
karena aku tidak ingin membuatmu semakin sibuk. Soalnya antrean di tempat Nina
yang paling panjang."
"Hmm……."
"Kamu tidak percaya?"
"Bukan begitu. Hanya saja, dalam acara seperti ini,
ada aturan bahwa doa individu tidak boleh diberikan kecuali di tempat bantuan.
Jadi, aku iri kepada suster yang mendapatkan doa dari Anda."
"Kalau begitu, nanti aku akan berkunjung lagi. Saat
itu, biarlah Nina yang memperbarui doanya."
"I-iya! Dengan senang hati!!"
Sebenarnya ia dilarang menyetujui permintaan semacam
itu, tapi selalu ada pengecualian untuk segala hal.
Baginya, tidak ada kehormatan yang lebih besar dari
ini.
Siapa pun yang ia mintai izin nanti, pasti akan
memaafkannya.
"Ehehe, hari ini benar-benar jadi hari yang membahagiakan."
Segera setelah memastikan tidak ada orang di sekitar.
Nina menyandarkan tubuh bagian atasnya dengan manja,
lalu memeluk lengan Kai dengan kedua tangannya.
Rasanya memang jauh lebih nyaman memeluk Kai saat ia
tidak mengenakan pelindung; suhu tubuhnya terasa lebih hangat dan menenangkan.
"Aku senang kalau hari ini jadi hari yang
membahagiakan bagimu, tapi tolong berhentilah menempel diam-diam begini. Kamu
sendiri yang bakal kena penalti nanti, Nina. Mungkin."
"Habisnya, jarang-jarang saya bisa melihat Anda
tanpa zirah begini, jadi mau bagaimana lagi."
"Mana mungkin begitu."
Kai mencoba melepaskan pelukannya, tapi Nina justru
memperkuat tenaganya agar tidak terlepas.
Adu tenaga itu berlanjut sejenak, hingga akhirnya Kai
seolah 'menyerah', dan Nina berhasil mendapatkan kebebasannya untuk tetap
menempel.
"Padahal tadi kamu kelihatan dewasa sekali,
Nina."
"Kalau saya bisa bertemu Anda setiap hari, saya juga
tidak akan melakukan hal memalukan seperti ini..."
"Dari kegigihanmu ini, kamu sama sekali tidak
kelihatan sedang malu, tuh."
"...Meskipun tertutup rambut, telinga Anda merah
padam, lho. Rasanya sangat panas."
"Oh ya?"
"Ah, tidak boleh! Jangan lihat, Anda!"
Melaporkan fakta itu memang tidak memalukan, tapi jika
Kai sampai melihatnya langsung, itulah hal yang paling memalukan bagi Nina saat
ini.
Begitu Kai mencoba mengintip wajahnya, Nina langsung
membungkukkan punggung dan meringkuk kecil untuk menyembunyikan diri. Ia
memastikan agar telinganya tidak terlihat.
"Kalau Anda mencoba memastikannya lagi, saya... saya
mungkin akan berontak!"
"Kalau begitu, apa kamu akan melepaskan
lenganku?"
"Saya akan berontak tanpa melepaskannya."
"Haha, kalau begitu aku menyerah."
Meskipun Kai menunjukkan keinginan agar mereka menjaga
jarak agar tidak dimarahi orang lain, Nina tetap tidak mau mengalah karena ia
tahu betapa sulitnya kesempatan untuk bertemu pria ini.
Namun, waktu yang ramai dan menyenangkan itu akhirnya
harus berakhir.
"Apa yang sedang kalian lakukan di tempat seperti
ini? Ayo kembali bertugas, Nina."
"Baik, Kakak!"
Karena sudah memantau waktu istirahat, Nina tahu bahwa
seseorang akan datang memanggilnya dalam waktu dekat.
Beberapa puluh detik setelah ia melepaskan pelukannya dan
menjaga jarak yang sopan, Marie pun muncul.
"Terima kasih banyak karena sudah menemani adikku.
Ayo Nina, sampaikan terima kasihmu juga."
"Terima kasih banyak!"
"Ah, tidak, sama-sama..."
"Terima kasih atas perhatian Anda. Karena tugas kami
sudah menanti, kami mohon pamit."
"Kami permisi!"
"A-ah, iya..."
Begitu saja, Nina melambaikan tangan berpisah dengan
orang terkasihnya dan berjalan kembali menuju Katedral.
Di saat itulah, Marie mulai menunjukkan sifat aslinya.
"Ngomong-ngomong, kalian kelihatan akrab sekali. Itu
kenalanmu, Nina? Dia orang yang memberi donasi sangat besar tadi, kan?"
"Kakak juga pernah bertemu dengannya sebelumnya,
kok."
"Hah? Cowok ganteng tipe begitu kayaknya belum
pernah kulihat, deh."
"Fufu, mana mungkin begitu."
"Ko-kok perasaan Kakak nggak enak ya lihat
tingkahmu..."
Sambil terus bercakap-cakap, mereka pun kembali bekerja.
◆◇◆
Tiga jam telah berlalu sejak Kai berpisah dengan Nina dan
Marie yang menjemputnya.
"Ah! Kalau dipikir-pikir, aku memang belum pernah
memperlihatkan wajahku pada Marie-san... Makanya sikapnya tadi begitu..."
Di sela-sela waktu istirahat dari tugas pengawasan
pribadinya, Kai akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan yang mengganjal di
kepalanya: mengapa Marie bersikap seolah baru pertama kali bertemu dengannya.
"Berarti, Nina sama sekali tidak memberitahu
keluarganya soal wajahku, ya? Kenapa?"
Satu teka-teki terjawab, muncul teka-teki baru.
"Jangan-jangan... karena masalah spionase itu?
Karena dia pikir aku agen rahasia, jadi dia tidak mau memengaruhi
pekerjaanku..."
Meski tidak tahu jawaban pastinya, alasan itu terasa
masuk akal untuk menjelaskan mengapa Nina merahasiakannya bahkan dari
keluarganya sendiri.
Dan jika benar begitu, Kai ingin sekali bilang: 'Maaf
karena sudah membuatmu repot sampai sedetail itu.'
Dulu ia berbohong secara spontan hanya demi menolong dan
mendapatkan kepercayaan mereka, tapi sekarang ia baru menyadari betapa parahnya
kebohongan yang ia buat.
(Sudah tidak bisa dikoreksi lagi, sih... dalam banyak
hal.)
Misalnya, kenapa dulu ia ada di tempat itu? Kenapa ia
berbaur di tengah para penjahat?
Jika bukan agen rahasia, lalu apa pekerjaannya?
Kai tidak bisa memberikan jawaban yang wajar untuk
pertanyaan-pertanyaan mendasar itu.
"Haa. Terlambat sih, tapi harusnya aku pakai
kebohongan yang lebih masuk akal... Rasanya beberapa kali percakapanku tidak
nyambung juga gara-gara hal semacam ini..."
Sambil bersedekap, ia mulai menganalisis situasinya
dengan tenang.
Semakin dipikirkan, rasanya segalanya bergerak ke
arah yang tidak bisa diperbaiki.
Saat ia mencoba menenangkan debaran dadanya dan
mengalihkan pandangan ke arah Katedral, saat itulah...
"Ah."
"A-ah.
Halo yang tadi..."
Bak
gayung bersambut, sepertinya waktu ini adalah jadwal membersihkan area
Katedral.
Ia
bertemu pandang dengan Marie yang datang ke taman sambil membawa sapu dengan
kedua tangannya.
Padahal
mereka pernah bertemu di kediaman Kai, jadi harusnya tidak ada alasan untuk
merasa canggung, tapi...
"Fufu. Terima kasih banyak ya karena sudah menemani
Nina tadi."
"Ti-tidak, sama sekali bukan masalah."
Melihat Marie yang bersikap seolah ini adalah pertemuan
pertama mereka, Kai pun kehilangan momen untuk mengungkapkan identitas aslinya.
Karena memilih untuk mengikuti permainan Marie, ia jadi
kehilangan rasa kedekatan. Ia terpaksa menggunakan bahasa formal yang kaku.
"Nina itu jarang sekali berduaan dengan lawan jenis,
jadi jujur saja aku tadi sempat terkejut."
"Ha-haha...
Kami punya sedikit hubungan baik."
(Aduh...
susah banget ngobrolnya...)
Karena
tahu sifat asli Marie, karena nada bicaranya terlalu sopan, dan karena harus
pura-pura baru kenal, semuanya terasa serba salah bagi Kai.
Situasi
ini sangat melelahkan, tapi Marie—mungkin sebagai bentuk keramahan—tetap
menyapu di jarak yang memungkinkan mereka untuk mengobrol.
"Anu, mohon maaf karena saya kurang tahu, tapi Anda
adalah salah satu petugas keamanan yang kami sewa, bukan?"
"......"
"Bukan, ya?"
"A-ah, tidak... benar begitu."
Karena Kai sudah berada di Katedral selama
berjam-jam, mustahil jika ia dianggap sebagai pengunjung biasa.
Sebenarnya ia bukan petugas keamanan resmi, tapi
karena sudah telanjur berada di sana begitu lama, atmosfernya terasa seolah ia
akan dianggap mencurigakan jika tidak menjawab begitu.
"Ternyata benar. Maaf jika ini terdengar
sombong, tapi sebagai petugas, Anda sangat pandai membaur seperti pengunjung
biasa, lho."
"......"
"Ufufu. Wajah Anda seolah bertanya-tanya 'kok
bisa ketahuan'."
(Bu-bukan karena itu, kok...)
"Sebenarnya Nina memberitahuku kalau Anda pernah
bertemu dengannya sekali, jadi aku menyimpulkan semuanya dari sana."
"O-begitu rupanya..."
(Aku baru tahu kalau di Katedral ini ada petugas keamanan
yang menyamar... Berarti kehadiranku benar-benar tidak dibutuhkan, ya...)
Orang awam mana mungkin bisa menandingi profesional.
Benar-benar perhatian yang luar biasa terhadap keamanan.
"Sejauh ini, apa ada hal yang mencurigakan?"
"Ti-tidak ada yang mengkhawatirkan."
"Kalau begitu saya lega. Mohon bantuannya terus
setelah waktu istirahat Anda selesai."
"...Ba-baik."
Setelah percakapan itu, Marie kembali menyapu.
"......"
"......"
Karena obrolan sudah selesai, harusnya Kai tidak perlu
memaksakan diri, tapi keheningan ini terasa sangat mencekik.
Akhirnya, Kai memutuskan untuk menggunakan Nina sebagai
topik pembicaraan.
"Anu, Nina...-sama sekarang ada di mana?"
"Nina ada di ruang istirahat di dalam Katedral. Dia
memang penuh semangat, tapi karena masih anak-anak, kami memastikan dia
mendapat banyak waktu istirahat."
"Begitu, ya."
"Mungkin kami sedikit terlalu protektif, tapi
bagaimanapun nyawanya telah diselamatkan oleh Tuan Shikkoku. Fufu,
mungkin bagi petugas keamanan, insiden jembatan itu meninggalkan kesan yang
kurang baik, ya?"
"Ehem. Yah, insiden jembatan itu memang sangat
merepotkan. Kami sampai dipanggil mendadak."
Jika ingin memperluas percakapan tanpa menimbulkan
kecurigaan, berpura-pura menjadi petugas adalah pilihan yang tidak terelakkan
lagi.
"Mohon maafkan kami atas kejadian itu. Seperti yang Anda tahu, itu adalah pertarungan yang tak terelakkan demi
menangkap dalang dari sekte agama baru."
"Te-tentu saja."
Padahal aslinya, dialah pelakunya. Tentu saja ia akan
gawat jika tidak dimaafkan.
"Lalu, saya punya satu permintaan. Akhir-akhir ini
saya dengar Tuan Shikkoku sering pergi ke luar kota... Jika Anda
kebetulan bertemu dengannya, sudikah Anda menyampaikan bahwa Marie dari
keluarga Ansage ingin menyapanya? Secara pribadi, saya sangat mengagumi
beliau."
"Akan saya sampaikan."
Harusnya itu adalah kata-kata yang membuatnya tersipu,
tapi karena Marie menyampaikannya dengan begitu tenang seolah itu hanyalah
formalitas belaka, Kai bisa menjawabnya tanpa merasa goyah.
"...Kalau begitu, saya harus kembali bertugas."
"Terima kasih banyak."
"Baik. Saya permisi."
Sambil mengingat cara bicara petugas yang tadi disebutkan
Marie, Kai membungkuk sopan layaknya seorang penjaga dan meninggalkan tempat
itu.
(Benar-benar,
Marie-san pintar sekali menyembunyikan sifat aslinya ya... Kalau aku bisa
melakukan hal yang sama, mungkin aku bisa terlihat lebih berwibawa...)
Sambil
memikirkan hal itu, Kai melanjutkan tugas pengawasan amatirannya dengan serius
di sisa waktu yang ada.
◆◇◆
Sore
harinya, saat acara dapur umum telah berakhir dan para pengunjung serta staf
mulai berangsur-pulang.
Di meja
pendaftaran dekat gerbang, Nina melayani orang-orang, sementara Marie berjaga
di bagian dalam untuk mengembalikan senjata atau benda berbahaya yang
dititipkan pengunjung saat masuk.
"Kakak!
Tuan Dose sudah datang, mohon bantuannya!"
"Baik."
Setelah
mendengar nama dari adiknya, Marie pertama-tama memastikan wajah orang
tersebut.
Kemudian,
ia memeriksa nama yang tertempel pada senjata dan catatan ciri fisik singkat
untuk memastikan tidak ada kesalahan, lalu menyerahkannya sambil mengucapkan
terima kasih atas kunjungannya.
Pekerjaan ini telah berlangsung selama sekitar 30 menit
ketika...
"Ah!!"
"Kerja bagus untuk hari ini, Nina."
"Anda juga, kerja bagus! Terima kasih banyak untuk
hari ini!"
"Ahahaha. Aku masih dalam jam kerja jadi mungkin
agak kurang sopan, tapi kamu sudah bekerja keras hari ini."
"Ehehe, itu karena Anda ada di sini!"
"Apa-apaan itu."
Marie mendengar suara Nina yang tidak biasanya mengobrol
santai. Begitu ia melirik ke meja pendaftaran, di sana berdirilah pria dengan
luka di dekat mata kiri—petugas keamanan yang tadi ia ajak bicara di taman.
(Eh, gaya bicara santai begitu jelas-jelas gawat, lho!
Kalau Nina nggak negur, petugas itu bisa kena marah atasan!)
Meskipun Marie punya pemikiran santai seperti 'nggak
apa-apa gaya bicaranya hancur asal lawan bicaranya oke-oke saja', beda
ceritanya kalau itu bisa membuat orang tersebut kena masalah.
Saat ia sedang panik memikirkan cara menanggapinya,
percakapan aneh berikutnya terdengar.
"Nah, karena aku mau pulang, aku mau ambil
senjataku. Aku cuma perlu sebut nama, kan?"
"H-Hah!
A-anu, mengenai nama Anda... karena tuntutan pekerjaan... eh, itu... aku harus
bagaimana!?"
"Ah, jangan sungkan begitu. Aku menitipkannya atas
nama Kai, jadi mohon bantuannya."
"Ba-baik!! Kakak, Tuan Kai sudah datang!"
"Iya..."
(Nina kayaknya aneh banget, apa dia nggak apa-apa ya...)
Semangat Nina langsung berubah drastis saat pria itu
datang.
Sambil mengkhawatirkan perubahan mendadak adiknya, Marie
pun menemukan senjata dengan label nama 'Kai'.
"……Eh."
Suara Marie tertahan, tangannya yang hendak mengambil
senjata itu mendadak kaku.
Yang bersandar di sana adalah sebuah pedang hitam
legam, yang seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya.
"…………"
Marie sama sekali tidak paham soal senjata, tapi ia
pernah melihat pedang unik dan berwibawa yang tiada duanya ini sekali. Ia tidak
mungkin melupakannya.
Sosok yang mengenakan zirah hitam legam, menyandang
pedang hitam legam.
Nama julukan yang diberikan karena penampilannya
itu—sosok yang terukir dalam di ingatan Marie.
Mengapa senjata milik 'Shikkoku' bisa ada di
tempat ini?
"Ti-tidak... mungkin, kan..."
Alasan mengapa Nina berduaan dengan lawan jenis saat jam
istirahat. Mengapa ia bilang 'Kakak juga pernah bertemu dengannya sekali'.
Alasan mengapa ia ragu menyebutkan namanya. Sekarang,
semua titik di kepala Marie terhubung menjadi satu garis lurus.
Semuanya terhubung, tapi otaknya menolak untuk
memahaminya.
"Serius...? Ja-jangan bercanda..."
Bukan itu saja. Fakta bahwa ia baru saja bilang 'Secara
pribadi, saya sangat mengagumi beliau' langsung ke orangnya membuat Marie ingin
menghilang dari muka bumi. Pikirannya mendadak kosong.
"Kakak! Ada apa!?"
"……Tidak. Aku... aku akan segera ke sana..."
Pada akhirnya, tanpa sempat merapikan kekacauan di
kepalanya, ia mengambil pedang itu dan melangkah maju untuk menyerahkannya.
──Senyum palsu yang ia banggakan bahkan tidak bisa
terbentuk dengan sempurna.
"Te-terima kasih... untuk hari ini."
"Sama-sama. Terima kasih sudah menjaga
senjataku."
"……"
"……"
Melihat pria itu tetap bersikap sebagai 'petugas
keamanan' hanya di depannya, Marie merasa kepalanya seolah mau meledak karena
rasa malu. Sepertinya emosi itu terpancar sampai ke pria tersebut.
"Ka-kalau begitu, karena senjata sudah kuterima, aku
permisi dulu."
"Ah!"
Pria itu langsung pergi dengan langkah cepat, lebih awal
dari siapa pun.
"Padahal aku ingin melambaikan tangan saat
berpisah..."
Mendengar gumaman Nina yang menyesal karena tidak sempat
menahan pria itu, Marie langsung mencubit pipi adiknya. Ia menariknya
lebar-lebar ke samping sambil membuka mulut.
"Heh... Nina."
"A-ada apa sih tiba-tiba, Kakak..."
"Kakak baru sadar gara-gara senjata tadi. Kenapaaa
kamu nggak kasih tahu Kakak!? Kalau pria itu ternyata Tuan Shikkoku!"
"I-itu karena bakal mengganggu pekerjaan Tuan Shikkoku..."
"Kakak baru saja bilang hal yang memalukan
banget ke orangnya langsung, tahu! Gimana dong tanggung jawabmu!?"
"Ka-kakak..."
"Apa!?"
"Tolong, tenanglah sedikih..."
"Mana bisaaa!!"
Meski tahu ia hanya melampiaskan kekesalan, Marie
merasa jika saja Nina memberitahunya lebih awal, ia tidak perlu menanggung rasa
malu yang luar biasa ini.



Post a Comment