Hukuman
Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit 6
Belakangan aku
baru menyadari bahwa singkatnya, bala bantuan dari Ryufen tidak datang tepat
waktu.
──Operasi
Pembersihan dan Pemusnahan Pegunungan Kazit, hari ketiga belas.
Bagi kami, ini
adalah hari terakhir. Hujan yang turun sejak hari sebelumnya sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Ini adalah hari yang membuat suasana
hati terasa buruk dalam segala aspek.
Dimulai sebelum
fajar. Kami yang telah bersiaga di dalam "Lubang Kubur" mendadak
diserang diiringi raungan yang memekakkan telinga.
Musuh didominasi
oleh Fairy berukuran kecil, mulai dari Fuua, Bogey, hingga Alraune. Fairy
dengan tubuh yang lebih besar dari itu pada dasarnya tidak bisa masuk ke dalam
"Lubang Kubur".
Sepertinya mereka
membutuhkan waktu cukup lama untuk mengumpulkan unit-unit kecil ini dalam
jumlah besar.
Pertempuran
pertama dimulai dengan adu kekuatan di depan pintu masuk "Lubang
Kubur".
"Sepertinya
mereka sudah datang," ucap Nark Dexter.
"Gugus yang
berkumpul di sana mulai bergerak."
Melewati gundukan
tanah yang kami buat di pintu masuk "Lubang Kubur", aku bisa melihat
musuh mendekat dari bawah lereng.
Mereka
bergerak dalam beberapa baris formasi.
Ya, formasi.
Mengingat perilaku Fairy selama ini, hal itu agak sulit dipercaya.
"Apakah Nona
Teoritta akan baik-baik saja?"
"Dia punya
tugasnya sendiri."
"Benar.
Setidaknya Nona Teoritta harus kita pulangkan dalam keadaan selamat. Meski
harus menukar nyawa sekalipun……!"
"Jangan
bicara begitu. Dia bukan tipe orang yang akan senang mendengar hal itu."
"Tolong
rahasiakan ini darinya. Ini hanya soal kesiapan mental. Aku merasa jika
demi sesuatu yang besar…… sesuatu yang kuyakini berharga, aku bisa berjuang
lebih keras dari biasanya. Aku
bersyukur Nona Teoritta ada bersama kita."
Mungkin memang
begitu. Aku pun teringat alasanku menjadi tentara. Jika aku hanya menyayangi
nyawaku sendiri, aku tidak seharusnya berada di tempat seperti ini.
Berbeda dengan
warga sipil yang wajib militer, orang-orang ini adalah sukarelawan. Sedikit
banyak, mereka punya tekad. Begitulah dunia saat ini.
──Tekad untuk
terluka, tekad untuk membunuh musuh──dan tekad untuk mati bertempur jika
situasi terburuk terjadi.
"Teoritta,
ya? Gadis itu punya nyali yang cukup besar," gumam Saritaff yang sedari
tadi mendengarkan percakapan kami dengan wajah bosan.
"Aku
tidak percaya pada orang-orang Goddess. Tapi dia istimewa. Tidak
buruk."
Cara
bicaranya terasa agak mengganjal. Orang-orang Gunung.
Apakah
mereka punya kenangan buruk dengan Goddess?
Jika Norgayu ada
di sini, dia pasti akan tertarik.
Namun, tidak ada
waktu untuk menanyakan hal itu sekarang.
"Lalu,
kalian orang-orang dataran rendah. Kalian juga sudah sedikit lebih baik."
Saritaff bergumam
sambil meraba mata kapak genggamnya dengan jari.
"Jika
kalian sudah punya tekad untuk mati bertempur, aku akan menghormati kalian
meski kalian orang dataran. Jangan cuma besar mulut saja."
"Jangan
salah paham, Saritaff," potong Nark.
"Kami
punya tekad untuk bertarung, tapi kami tidak akan mati semudah itu. Karena aku
ingin mendengar lebih banyak lagi kisah kepahlawanan Tuan Forbartz. Aku punya
kewajiban untuk mencatatnya menggantikan Milete."
Nark
sudah mulai bisa melontarkan lelucon yang lumayan. Beberapa prajurit bahkan
sampai tertawa sembur. Terhadap itu, aku hanya bisa membalas dengan satu
kalimat.
"Terserah
kau saja."
Di lereng
bawah sana, pekikan aneh membubung. Fairy berukuran kecil mulai bergerak
serentak.
Mereka
berlari. Mereka mempercepat
langkah menuju ke sini, membentuk formasi penerjangan. Mereka berlari sembari
menyepak tanah yang becek.
Di tengah hujan
yang mengguyur, pemandangan itu tampak seperti badai lumpur.
"Waktunya
bekerja. Kita habisi semua Fairy ini di sini."
Aku bersiap
dengan tongkat petir bersama yang lain. Meletakkan badan tongkat di atas
gundukan tanah.
Tanpa perlu
mengintip lewat lensa pun, jumlah musuh sangat luar biasa.
Tembakan kami
pasti akan mengenai sesuatu. Karena itu, kami menembak bersamaan, dalam satu
aba-aba.
Aku
memberikan perintah.
"Tembak!"
"Siap!"
Suara
ledakan pecah. Kilat yang kami lepaskan telak mengenai para Fuua yang memimpin
di barisan depan tanpa sisa. Namun, serangan sebesar itu hampir tidak
menyurutkan momentum musuh.
Selain
itu, beberapa Bogey yang lincah melompat keluar dari balik punggung Fuua.
Menangani mereka adalah tugas Saritaff.
"Andalkan
kamu, Saritaff."
Bahkan
sebelum aku memberi instruksi pun, dia sudah bergerak.
"Kua-!"
Dia
melompat keluar dari balik bayangan gundukan tanah tempatnya bersembunyi, lalu
mengayunkan kapak genggamnya. Satu ekor, dua ekor.
Dia
membereskan mereka dengan cepat berturut-turut. Kemampuan fisik yang luar
biasa. Saritaff menyeringai, memperlihatkan gigi taringnya yang runcing.
"Ini
masih terlalu mudah, Prajurit! Berikan lebih banyak lagi ke arah sini!"
Dengan
ini kami punya waktu luang. Satu tembakan lagi.
"Tembak!"
"Si……
ap!"
Atas
aba-abaku, kilat menembus kegelapan di tengah hujan. Semua tembakan kena sasaran lagi.
Namun tetap saja,
hampir tidak ada pengaruhnya terhadap terjangan musuh.
Mungkin itu
karena individu Fuua yang memimpin di depan, yang ukurannya satu tingkat lebih
besar dari yang lain. Kulitnya yang berwarna warni berkilau legam terkena
hujan.
Meski terkena
telak sambaran kilat, dia hampir tidak menunjukkan tanda-tanda gentar.
Keberadaannya
mengobarkan semangat Fuua lainnya dan membuat mereka mengamuk membabi buta.
"……Tsav."
Aku menyentuh Holy
Seal di leherku dan berbisik.
"Yang
di depan, yang besar dan mencolok itu. Bereskan."
『Oke,
oke, siap──hap!』
Tidak
perlu menunggu sedetik pun. Bersamaan dengan suara Tsav yang santai, kepala
Fuua besar yang mencolok itu meledak hilang. Tubuh raksasanya tumbang, dan
seluruh kawanan itu terlihat jelas menjadi gentar.
『Gimana?
Sempurna, kan?』
Hanya Tsav
yang aku tempatkan di luar "Lubang Kubur". Dengan begini musuh tidak
hanya harus memperhatikan "Lubang Kubur", tapi juga area luar.
Faktanya, sebuah unit terpisah mulai bergerak. Sepertinya mereka mencoba
melacak posisi Tsav dan memburunya.
"Musuh mulai
mencarimu ke sana. Tolong
tangani sendiri."
『Waduh.
Si jenius Tsav populer banget ya! ──Beres lah, Abang-abang sekalian juga jangan
sampai mati ya. Aku nggak suka suasana suram soalnya!』
"Begitulah
rencananya──oke, berikutnya."
Aku
memberikan aba-aba untuk ketiga kalinya. Memberikan sambaran kilat berikutnya
ke arah kerumunan Fuua yang langkahnya mulai kacau.
"Tembak!"
Kilatan
cahaya menembus dan membunuh para Fuua. Lakukan tembakan ini beberapa kali
lagi. Setelah itu, ledakkan bom tanam buatan Norgayu untuk menghentikan
momentum mereka. Dengan begitu, kami tidak punya pilihan selain mundur ke dalam
"Lubang Kubur".
Jika
sudah begitu, sisanya tinggal meruntuhkan pintu masuk untuk mengulur waktu,
lalu melakukan penghadangan di dalam.
(Apakah kau
ada di sana, Boojum?)
Aku mencari sosok
komandan di balik kerumunan Fairy.
Menarik musuh ke
dalam "Lubang Kubur" ini. Hanya di sanalah satu-satunya peluang untuk
menang.
◆
(Situasinya
jadi gawat.)
Dotta menahan
napas di bawah cahaya remang-remang dari lampu Holy Seal, menunggu saat
itu tiba.
Kegelapan di
dalam "Lubang Kubur" ini terasa sangat menyesakkan. Sejak awal dia
memang benci tempat sempit. Mungkin pengalaman dikurung dalam penjara dalam
waktu lama sebelum dijatuhi hukuman Prajurit Hukuman yang membuatnya begitu.
Meskipun ini
adalah ruang yang relatif luas di dalam "Lubang Kubur", rasa sesak
itu tetap ada.
(Apa mereka
sudah masuk?)
Hawa keberadaan
musuh. Suara langkah kaki Fairy, pekikan aneh, suara ledakan, dan suara
benturan. Suara-suara itu mulai terdengar secara bersahutan. Seharusnya Xylo
dan yang lain sedang membalas serangan di pintu masuk, tapi apakah musuh sudah
berhasil menerobos?
(Seharusnya
aku ikut ke tempat Xylo saja. Biar bagaimanapun, dia bisa diandalkan di saat
seperti ini.)
Dotta menyesal.
Dialah yang memilih untuk di sini, tapi mungkinkah itu sebuah kesalahan?
Dia sudah
mendengar rencana pertahanan di "Lubang Kubur" dari Xylo. Tujuan
utamanya adalah membagi pasukan menjadi dua untuk memecah kekuatan musuh. Dan
salah satu sisi akan dijadikan jebakan.
Satu pihak
terdiri dari Xylo dan Teoritta. Ditambah dengan elit "Pasukan Forbartz"
dan Saritaff, totalnya sepuluh orang.
Pihak lainnya
adalah Norgayu dan Trishir. Ditambah sisa "Pasukan Forbartz",
totalnya lima belas orang.
『Pilih yang
mana? Sejujurnya, buatku kau ikut mana saja tidak masalah──』
Saat ditanya
begitu, Dotta memilih yang terakhir.
Karena jumlah
orangnya lebih banyak, dan dia tahu target musuh adalah Teoritta. Serangan
musuh pasti akan terkonsentrasi di sisi Xylo. Karena penilaian itulah dia
mengajukan diri ke sini.
"Tapi, nggak
terlalu beda jauh ya…… jumlah musuhnya sepuluh ribu, kan?"
"Baru
sekarang kau mau merengek, Rubah Gantung?"
Yang menanggapi
gumaman itu adalah Trishir, yang bersiaga di sebelah kanan Dotta.
"Menyesal
sekarang pun tidak ada gunanya. Tidak ada tempat untuk lari."
"Yah, benar sih…… buatku sih nggak apa-apa karena
paling buruk aku bisa hidup lagi."
Dotta
bahkan tidak berani melirik Trishir. Karena dia takut. Hanya saja, saat ini
Trishir tampak sedang dalam suasana hati yang sedikit bagus.
"Tapi
kau kan nggak begitu. Kalau kau mati, ya benar-benar mati."
"Hmph!
Apa ini, kau sedang mengkhawatirkanku, Rubah Gantung?"
"Eh? Ah…… bukan begitu, tapi rasanya…… kalau kau
mati."
"Kalau aku
mati, kenapa?"
"Aku merasa
aku juga pasti bakal mati. Kalau levelmu saja sampai mati, aku sudah pasti
tamat…… jadi, tolong berusahalah semaksimal mungkin biar nggak mati……
oke……?"
"Dasar
bodoh yang tak terbayangkan."
Suasananya
berubah drastis, Trishir menggeram seperti binatang buas.
"Hal
seperti 'berusaha agar tidak mati' tidak perlu kau katakan padaku."
"Cukup
bicara omong kosongnya. Mereka
datang."
Norgayu bergumam.
Kata-kata pria ini entah kenapa terasa sangat berwibawa. Tidak adil rasanya.
"Dotta.
Dengan ini Aku menunjukmu sebagai ksatria sementara. Kau memang pencuri kelas
teri, tapi apa boleh buat."
Sembari berkata
begitu, dia menempelkan pedang di tangannya ke kepala Dotta. Sisi depan dan
belakang, dua kali. Mungkinkah itu ritual saat pelantikan ksatria? Dotta tidak
tahu.
"Dotta,
Ksatria Pengawal-Ku, tunjukkan kepemimpinanmu yang luar biasa dalam pertempuran
ini."
Dia disuruh
melakukan hal yang mustahil.
(Aku ini bukan
Xylo atau Patausche, tahu.)
Dia
berharap setidaknya Tsav ada di sini. Atau sekalian Rhyno saja──tapi tidak ada pilihan lain. Dia sempat mencoba
meminta Trishir untuk menjadi komandan, tapi tentu saja ditolak mentah-mentah.
"Aku
menolak. Sudah saatnya kau tumbuh dewasa, Rubah Gantung. Tunjukkan kemampuanmu
yang sebenarnya."
"Kemampuanku
itu nol besar…… gimana kalau gagal? Aku belum pernah jadi komandan……"
"Aku bilang
jangan sampai gagal. Jangan membuatku kecewa."
"Ah,
iya……"
Dotta meremas
dadanya dengan kuat, mencoba menghentikan detak jantungnya yang berdegup
kencang.
"Ka…… kalau begitu, semuanya."
Meniru gaya komandan. Apakah Xylo selalu bertarung di tengah
ketegangan seperti ini?
"Sesuai rencana. Kita akan menyerang musuh sambil
memancing mereka…… begitu katanya."
Indra Dotta yang tajamnya melebihi manusia biasa telah
mendeteksi pendekatan musuh sepenuhnya. Tinggal berapa langkah lagi. Dia bahkan bisa merasakan jarak yang
akurat.
"Mereka
datang!"
Dia
berteriak sambil menggenggam erat tongkat petirnya. Mengarahkan ujung tongkat
ke dalam kegelapan. Suara langkah kaki dan lolongan.
Dia bisa
merasakan sekawanan bayangan seperti anjing yang membengkak dan berubah bentuk
secara mengerikan sedang menerjang masuk.
"Anu,
tembak serentak!"
"Kata
'anu' itu tidak perlu."
Kritik
dari Trishir.
"Cepat
mulai."
"Aku
tahu──Tembak! Tembak! Kalian boleh tembak sepuasnya!"
Xylo
sudah memberi instruksi seperti itu. Mereka boleh bertarung seolah ingin
menghabiskan seluruh magasin Phosphorescent.
Jika itu masih
tidak berhasil, maka sudah tidak ada jalan lagi.
(Rencana
yang mengerikan.)
Dotta
mengertakkan gigi sambil melepaskan kilat.
(Ini
bukan tugasku.)
Namun,
jika dia tidak melakukannya sekarang──dia hanya akan diam melihat orang lain
dibantai, dan dia sendiri juga akan mati. Setidaknya yang bisa dia lakukan hanyalah
menjalankan tugas sesuai perintah Xylo.
Dotta membidikkan
tongkat petirnya dengan tangan gemetar. Pintu masuk ruangan.
Karena para Bogey
menyerbu masuk, dia bahkan tidak perlu membidik dengan teliti.
Asal tembak pasti
kena. Satu. Dua. Tiga. Empat──ganti magasin. Itu menjadi celah. Mereka tidak
bisa sepenuhnya menahan musuh yang masuk ke ruangan.
Dotta
buru-buru mengangkat tangan.
"M-mundur!
Mereka sudah masuk!"
"Sudah
mau mundur saja, Rubah Gantung? Penilaianmu terlalu cepat…… tapi."
Lengan kanan Trishir bergerak. Tombak lempar──yang ujungnya
telah diukir dengan Holy Seal. Sepertinya mekanismenya mirip dengan
tombak tempur udara yang sesekali digunakan Jace.
Cahaya dan api meledak tepat di tengah-tengah musuh,
membantai para Fairy yang sedang menyerbu pintu masuk.
"Di sini
keputusanmu itu terasa berguna. Penempatan personel yang tidak buruk, Xylo Forbartz."
"Umu.
Sudah sewajarnya karena dia adalah panglima besar angkatan bersenjata-Ku."
Norgayu
mengangguk dengan bangga. Dia sama sekali tidak ikut menembak.
Sebagai
gantinya, dia membuka kotak terakhir yang berisi magasin Phosphorescent,
bergerak ke sana kemari memeriksa dan mengisi ulang tongkat petir.
"Trishir, kau juga berusahalah membangun prestasi
militer. Saat kemenangan tiba, Aku akan memberimu imbalan berupa wilayah
manusia yang telah kita rebut kembali."
"Kau dermawan sekali ya, Raja Badut," Trishir
tersenyum sinis sambil mengayunkan pedangnya. Dia menebas kepala Bogey yang
berhasil lolos dari hadangan dan menerjang masuk.
"Kalau
begitu, aku minta bekas ibu kota Kerajaan Metto saja."
"Fumu. Jadi
kau berasal dari sana?"
"Kau tidak
tahu adat istiadat bangsawan Metto? Anak berambut merah sangat dibenci.
Setidaknya saat aku lahir dulu."
Sambil mendengus
kecil, Trishir mencengkeram lengan Dotta dan menariknya dengan kuat.
"──Cukup
bicara omong kosongnya. Rubah Gantung, cepat lari. Kita mundur, kan!"
"I-iya aku
tahu! Norgayu, semuanya, cepat!"
Dotta melepaskan
satu tembakan ke arah belakang──kali ini tidak kena sama sekali.
Kilat
Dotta terbang ke arah yang tidak jelas dan hanya melubangi langit-langit.
Tembakan serentak dari "Pasukan Forbartz" lainnya jauh lebih efektif.
Semua peluru mengenai sasaran, benar-benar menghentikan momentum musuh.
"Anu, Kapten
Dotta, setidaknya satu tembakan kena dong."
"Maksudku,
kok bisa-bisanya nggak kena ya? Malah nembak langit-langit."
Dotta mendapat
tawa kecil yang terdengar pasrah. Dia hanya bisa membalas dengan wajah
kaku.
"Kalian ini…… sarafnya terbuat dari apa sih? Nggak
kayak aku, kalau kalian dibunuh ya bakal mati tahu."
Apa mereka tidak takut? Dia bertanya dengan maksud begitu,
tapi para prajurit malah saling berpandangan.
"Yah, itu sih…… tapi, masa Kapten Dotta ngomong
begitu?"
"Soalnya kalau selamat, aku sudah janji bakal dapat
wilayah dari Baginda Norgayu……"
"Lagipula kalau ditinggal kan kasihan, Kapten Dotta
pasti bakal menangis."
"……Aku kan bukan anak kecil."
Begitu dia membantah, tawa serentak membalasnya. Hal seperti
inilah yang membuat Dotta merasa tidak nyaman.
Gurauan yang
terasa tidak serius sama sekali seperti Xylo. Padahal nyawa mereka sedang
dipertaruhkan.
(Kalian semua
sudah gila.)
Dia tidak habis
pikir. Tidak serius sama sekali. Kenapa tidak bisa sedikit lebih
sungguh-sungguh?
(Lagi pula…… mereka memanggilku Kapten.)
Sebutan itu
terasa sangat tidak nyaman. Meski hanya bercanda, itu adalah candaan terburuk.
Dia tidak akan kuat menanggung tanggung jawab seberat itu.
(Xylo
memaksaku melakukan terlalu banyak hal. Dia bahkan lebih kejam dari Trishir……!)
Meski begitu,
Dotta tidak punya pilihan selain menjalankan peran itu. Karena tidak ada tempat
untuk lari. Apakah ini semacam hukuman? Hanya dia sendiri yang harus mengalami nasib
malang seperti ini.
Setelah
melewati satu ruangan lagi, sudah tidak ada jalan setelahnya.
◆
Bagian
dalam "Lubang Kubur" ini tampak seperti labirin kecil.
Itulah
alasan kenapa aku membagi pasukanku yang jumlahnya sedikit menjadi dua. Dengan
begitu, setidaknya aku bisa memecah kekuatan lawan.
Ada dua
jalur yang menuju ke bagian dalam──jalur sempit dan jalur lebar.
Unit yang
kupimpin mengambil tanggung jawab di jalur yang lebar.
Seperti
dugaan, serangan musuh sangatlah sengit──tidak ada ruang untuk bersantai
sedikit pun. Namun, kami bisa mengulur waktu.
Dalam
pertempuran seperti ini, pihak penyerang berada dalam posisi yang sangat tidak
menguntungkan.
Kami
memahami sepenuhnya letak setiap sudut di sini, dan kami bisa melakukan
penyergapan.
Menyerang
musuh yang sedang melewati lorong secara terkonsentrasi sangatlah mudah.
"Oke,
tembak serentak! Sekali saja, tembak!"
"Siap……!"
Konsentrasi
daya tembak. Beberapa garis kilat menyambar, menembus musuh.
Yang
menyerbu lorong ini adalah kawanan Fuua.
Berpusat
pada makhluk serupa katak yang punya mobilitas dan pertahanan tinggi, ditambah
beberapa individu Alraune berukuran besar.
Daya
dorong mereka cukup kuat, tapi ukuran tubuh Fuua dan Alraune justru menjadi
kelemahan mereka.
Mayat-mayat
mereka mulai menumpuk seperti tanggul yang menghalangi musuh di belakangnya.
Mereka
yang mencoba melompat melewatinya menjadi mangsa empuk bagi Saritaff.
"Kuaaaa-!"
Diiringi
raungan itu, kapak genggam menyambut mereka. Itu adalah belahan yang sangat
rapi seolah sedang membelah kayu bakar.
Meskipun
tidak sehebat Tatsuya, kekuatan lengannya luar biasa.
"Berikutnya
datang! Tuan Forbartz! Apa kita akan tembak serentak lagi?"
Penghadangan
menggunakan tongkat petir sudah mulai mencapai batasnya. Karena magasin Phosphorescent
juga terbatas. Paling banyak hanya tersisa dua kali tembakan lagi.
Kami
harus mundur ke dalam──tapi "bagian dalam" itu pun sudah tidak banyak
lagi. Hanya tersisa "Ruang Makam" dan sebuah ruangan kecil di
depannya.
"Cukup sampai di sini dulu, mundur ke lorong! Evakuasi,
aku akan mengulur wak──"
Pada saat itu, tanah di belakang kami bergejolak. Sesuatu melompat keluar.
(Baru muncul
sekarang ya……!)
Bogart. Dua ekor Fairy
berkaki banyak. Mereka berputar lewat bawah tanah. Padahal aku sudah menanam
beberapa Holy Seal penghadang di dalam tanah, tapi tetap saja ada
kemungkinan mereka menemukan titik yang lemah dan melakukan penerobosan paksa.
Karena
itu, aku langsung mengambil keputusan.
"Bagian
belakang biar aku yang tangani. Cukup satu orang saja!"
Aku
menyentak tanah, melompat rendah. Aero Seal Sakara. Aku
menghunus pisau dan menusukkannya ke celah antara kepala dan badannya.
Ledakan
terjadi dalam sekejap. Tubuh Bogart hancur terpental. Satu ekor lagi juga tidak
sulit. Aku menghindari serudukannya yang meliuk, menendangnya, lalu menghunus
pedang dan menghantamkannya. Pekikan nyaring terdengar.
(Sisanya──)
Aku
menyentakkan Detection Seal ke bawah kaki. Aku bisa merasakan beberapa
Bogart lainnya sedang bergerak di bawah tanah. Jumlahnya memang tidak banyak,
tapi gelombang berikutnya akan datang.
"Nark!
Di sini aku tidak bisa lepas tangan, lakukan tembakan serentak sekali
lagi──"
Saat aku
menoleh, situasi di garis depan sudah memburuk secara drastis.
Saritaff terisolasi.
Sesosok Alraune yang ukurannya luar biasa besar menerjang masuk secara paksa. Saritaff
menahannya. Namun, ukuran makhluk itu terlalu besar untuk diberi luka fatal
oleh kapak genggamnya.
Paling
bagus situasinya hanya imbang. Prajurit lainnya pun sudah kewalahan menghadapi
Fuua yang berukuran kecil.
"Sial!"
Aku tidak
bisa pergi menolong Saritaff. Bogart berikutnya muncul dengan menghancurkan
tanah. Jika aku meloloskan satu ekor saja, bagian belakang kami akan diserang.
Dalam
sekejap mata Saritaff terdesak. Itu adalah individu Alraune yang sangat kuat.
Makhluk itu mengayunkan empat sulur seperti tanaman rambat, menyudutkan Saritaff.
Meski dengan kekuatan lengan dan kecepatan reaksi Saritaff yang luar biasa, dia
tidak mampu menahan semuanya.
Setiap
kali sulur itu membelah angin, luka di tubuh Saritaff bertambah.
"Ku──akh."
Saritaff berhasil
menebas putus salah satunya, tapi selebihnya dia sudah tidak sanggup.
Sulur
yang diayunkan merobek dalam paha Saritaff. Saritaff jatuh berlutut. Berikutnya
adalah leher──serangan ini berhasil ditangkisnya. Sebagai gantinya, lengan
kirinya tertebas putus. Penampang luka berwarna merah tua. Percikan darah
membentuk busur di udara kosong.
"Kuaaaaaaaakh!"
Saritaff menjerit
histeris sambil terjerembap ke belakang. Sulur berikutnya mengincar dadanya.
Segalanya
terasa buruk. Saritaff yang terisolasi, aku yang tidak bisa menolongnya──dan
Nark Dexter yang bergerak untuk memberikan bantuan pun sama saja. Semuanya
buruk.
"Tundukkan
kepalamu!"
Sambil
melompat seolah berguling, Nark mengaktifkan tongkat petirnya.
"Tunduk,
Saritaff!"
Jarak
sangat dekat. Sambil menyusup di antara Saritaff dan Alraune, dia melepaskan
kilat. Tembakan bertubi-tubi.
Bunga
raksasa yang merupakan kepala Alraune seketika meledak hancur. Suara lengkingan
seperti jeritan terdengar.
Namun,
momentum sulurnya tidak berhenti──tiga sulur yang tersisa melesat.
Sebagai
ganti Saritaff, Nark menerima semuanya. Lengan yang memegang tongkat petir,
pergelangan kaki──lalu tubuhnya.
Luka
fatal. Aku melihatnya sembari menginjak hancur kepala Bogart yang terakhir.
Alraune itu berhenti bergerak sambil kejang-kejang.
(Sialan.)
Saritaff
mendekap Nark. Keduanya tidak bisa bergerak. Mereka terkepung──Alraune besar
itu sudah mati, sisanya hanya tinggal Fuua kecil.
"Sial──Teoritta!"
Menanggapi
panggilanku, beberapa pedang jatuh menghujam dari langit-langit.
Sekarang
ini bukan lagi trik yang bisa digunakan berkali-kali, dan bidikannya pun tidak
akurat, tapi itu sudah cukup bagi para Fuua.
Mereka
tertusuk. Beberapa ekor berhasil meloloskan diri, tapi jumlah segitu bisa
dibereskan dengan satu kali tembakan serentak.
──Intinya,
saat aku sampai di samping Nark, segalanya sudah terlambat.
"Tuan
Forbartz," ucap Nark. Suaranya masih memiliki tenaga.
Mungkin──jika
ada Sprite dari Goddess darah di sini, dia bisa diselamatkan. Aku
tidak tahu. Lukanya terlalu dalam.
"Maaf. Seharusnya aku…… mencatat kisah kepahlawanan
Anda. Tapi…… Saritaff, syukurlah kau selamat."
"Jangan
bercanda, orang dataran! Kau bodoh sekali!"
Saritaff
sangat marah. Sambil menekan lengan kirinya, dia menoleh padaku dengan tatapan
tajam seolah ingin menggigit.
"Dengan
luka begini, aku sudah tidak bisa bertarung lagi. Seharusnya dia yang bertahan
hidup! Dia!"
"Tidak.
Jangan bicara sembarangan, Saritaff."
Aku mulai
menghentikan pendarahan di lengan kiri Saritaff.
Memang
tidak terlalu steril, tapi aku mengikatnya dengan kain yang kurobek.
Aku masih punya Coagulation Seal medis. Sebelum itu,
apa perlu didisinfeksi dulu? Orang ini pasti selamat.
"Mana mungkin aku cuma diam melihat orang yang akan
dibunuh di depan mataku? Apa di Gunung berbeda?"
"……Tidak
berbeda."
Sambil
bergumam, Saritaff mengerang tidak jelas dari dalam tenggorokannya.
"Itu
tidak berbeda. Tapi, fakta bahwa kau menyelamatkanku, entah kenapa…… aku tidak bisa memaafkannya……!"
"Tahan saja.
Pihak yang diselamatkan tidak punya pilihan selain menahannya."
Kalau
dipikir-pikir, itu adalah kata-kata yang kuucapkan untuk diriku sendiri.
Seharusnya hanya aku yang tidak bisa mati inilah yang bertarung. Cukup aku saja
yang mati. Hal seperti ini sejak awal sudah salah──dan itu pun, aku harus
menahannya.
"Maaf ya,
Nark. Aku ingin mentraktirmu bir atau rokok, tapi daging sintetis saja sudah
tidak ada. Bahan makanan sudah habis kemarin."
"Iya. Aku
tahu. Hanya saja…… Tuan Forbartz. Apakah Anda…… ingat?"
"Ingat
apa?"
"Kakak
laki-laki saya. Namanya…… Sewill Dexter……"
Seolah nama itu adalah kuncinya, aku mengingat semuanya.
Aku tahu.
"Saya dulu
menjabat sebagai wakil komandan Anda di Ordo Ksatria Kelima."
Sewill Dexter. Dia adalah wakil komandanku. Aku sudah sangat
sering merepotkannya soal logistik──wajahnya yang kaku dan teliti itu.
Selama
pertempuran berpindah-pindah di Pegunungan Kazit ini pun, dia selalu ada di
sisiku. Dia pencemas, hemat, tapi punya keberanian yang bagus di saat-saat
genting.
『Saya punya
seorang adik laki-laki.』
Seharusnya aku
pernah mendengar kalimat itu.
『Kalau
pertempuran di Pegunungan Kazit ini sudah mereda, maukah Anda pergi menemui dia
bersamaku?』
Saat itu, nada
bicaranya sedikit tidak biasa, seolah sedang mengonsultasikan sesuatu yang agak
memalukan.
『Aku ingin
menunjukkan sisi diriku yang sedikit hebat di depan adikku. Karena akulah yang
selama ini menggantikan peran orang tua baginya.』
──Hal seperti
ini, kenapa aku bisa melupakannya?
"Menjadi
petarung seperti Kak Sewill adalah impianku."
Suara Nark
terputus-putus, tapi masih terdengar jelas. Saritaff terus menatapnya sambil menggeram
rendah.
"Apakah
saya…… berhasil melakukannya, Tuan Forbartz?"
"Ya."
Aku menepuk bahu
Nark. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi selain itu.
Kejadian
ini benar-benar yang terburuk. Memang buruk, tapi meski begitu, aku tidak punya
pilihan selain terus berakting.
Sekarang, selain
melakukan itu, apa lagi yang bisa kubuat untuk Nark? Paling banter, aku hanya
bisa memerankan sosok "Tuan Forbartz yang hebat" atau semacamnya.
"Kau adalah
orang yang hebat. Karena itu, kisah kepahlawananmu dan Milete, akan aku yang
abadikan."
"Itu…… memalukan sekali. Tapi,"
Nark
tampak benar-benar tersipu. Setidaknya
di mataku terlihat seperti itu.
"Saya merasa
terhormat Anda mengatakan hal itu. ……Lalu, Saritaff."
Mata Nark bergerak. Apakah dia masih bisa menangkap sosok Saritaff
dalam pandangannya?
"Sisanya, aku percayakan padamu."
Benar saja, kata-kata Nark Dexter tetap terdengar jelas
sampai akhir.
Sambil mendengarkan Saritaff melolong seperti binatang buas,
aku merasa telah menemukan apa yang harus kulakukan.
Kisah untuk para pahlawan itu diperlukan.
Bukan tentang kami para Prajurit Hukuman──tapi agar
seseorang yang mungkin akan kulupakan, tidak akan pernah terlupakan oleh dunia.
(Aku tidak
ingin mati.)
Pikirku.
Aku harus
menyampaikan ingatan tentang pertempuran yang kuketahui ini kepada seseorang.
Tentang betapa
hebatnya Nark dan Sewill, aku ingin menceritakannya sebanyak apa pun.
Hal yang bisa
kulakukan sekarang, hanyalah sebatas itu.
"……Bisa
bergerak, Tuan Forbartz? Musuh sudah mundur."
Salah satu
anggota "Pasukan Forbartz" yang tersisa bicara sambil menyeka
percikan darah di wajahnya.
Sepertinya urutan
kepemimpinan di antara mereka sudah diputuskan sebelumnya. Mulai dari sini,
dialah yang akan mengoordinasi komando. Dia pria dengan mata yang melotot.
"Jenazah
Kapten Nark akan kami yang bawa. Musuh pasti akan mulai serius, dan serangan
berikutnya adalah yang terakhir."
"Aku juga
akan ikut membawanya. Ada tugas besar yang menunggu kalian──simpan tenaga
kalian baik-baik."
"……Biar aku
yang bantu. Aku sudah dititipi amanah."
Saritaff mengangkat
jenazah Nark dengan satu tangan secara perlahan. Entah terbuat dari apa
tubuhnya, tapi darahnya sudah mulai berhenti mengalir. Dia luar biasa tangguh.
"Kisah……
kisah kepahlawanan Nark, aku juga akan mengabadikannya. Aku janji. Agar
semua orang tidak melupakannya."
◆
Dotta Luzulas benci medan perang.
Teriakan kemarahan bersahutan, darah mengalir, dan biasanya
seseorang akan marah padanya. Entah itu Xylo, Jace, atau terkadang Patausche.
Tapi sekarang berbeda──dialah yang berada di posisi pemberi
komando. Bahkan Trishir pun bertanya padanya.
"Bagaimana? Mereka akan segera datang lagi."
Ini adalah aula
terakhir tempat mereka terpojok.
"Rubah
Gantung. Tunjukkan kepemimpinanmu yang hebat."
"Jangan
bilang begitu dong."
Dia
merasa kesulitan. Semuanya adalah hal yang tidak pernah dia alami.
Hampir
tidak ada jebakan yang tersisa. Mereka baru saja memukul mundur musuh sekitar
satu jam yang lalu, dan istirahat sejenak itu hanya terasa seperti sekelebat
mata.
Dia sangat
kelelahan, bahkan sampai lupa bahwa dia sedang lapar. Makanan sudah habis total
sejak kemarin.
Prajurit selain
Dotta juga tidak jauh berbeda. Mereka terluka. Bahkan Trishir pun tampak
berjongkok, berusaha menghemat tenaga meski hanya sedikit.
Hanya Norgayu
seorang yang duduk di "Singgasana" di bagian dalam ruangan, tampak
masih segar bugar.
"Di sinilah
tempat pertempuran penentu itu, ya."
Norgayu
mengangguk dengan angkuh, memandang rendah ke arah Dotta dan yang lain.
"Aku percaya
pada kalian, Aku tidak akan beranjak dari sini. Tunjukkan bahwa kalian bisa
melindungiku."
"Kenapa kau
bicara sok hebat begitu, sih!"
Kali ini, Dotta
benar-benar naik pitam. Dia sendiri sedikit merasa aneh karena berani membentak
Norgayu.
"Norgayu
juga harus ikut bertarung sedikit! Kau kan masih segar! Kalau cuma komando,
lakukan saja sendiri!"
Dia sadar bahwa
ini hampir seperti pelampiasan amarah. Namun, reaksi Norgayu tetap tenang.
"Aku sama
sekali tidak punya bakat militer. Kau jauh lebih mending."
"Aku juga
nggak punya!"
"Ada. Kau
hanya tidak menyadarinya saja. Bukankah kau sudah melakukannya dengan baik
sampai sejauh ini?"
"Nggak baik,
tahu! Aku sudah mencapai batas, Trishir! Lagipula, seharusnya kau saja
yang──"
"Kalau aku
tidak berdiri di barisan depan, lalu siapa lagi? Di kelompok ini, akulah
kekuatan tempur terkuat, tahu."
Trishir
mengayunkan pedang dengan lengan kanannya. Ujung pedang itu menyentuh leher
Dotta.
"Menyerahlah.
Sekarang kau adalah orang yang paling tepat."
"Masa
sih."
Kaki Dotta terasa
lemas. Bilah pedang yang menyentuh lehernya terasa dingin.
Tepat saat itulah
para Fairy menyerbu masuk ke dalam aula. Pintu masuk yang tadinya
tertutup meledak hancur dalam satu serangan.
Seekor Fairy berbentuk anjing besar──Barghest. Sepertinya tubuh sebesar itu masih bisa
masuk ke sini. Di belakangnya, ada puluhan Bogey. Tidak tahu berapa banyak lagi
pengikutnya.
"S-sambut
mereka!"
Dotta
berteriak.
"Tembak!
Yang besar itu, Trishir!"
"Tentu
saja."
Pertempuran
semacam ini benar-benar tidak membuat terbiasa. Atas instruksi Dotta, tembakan
serentak dilakukan.
Para
Bogey menjadi gentar──Trishir menerjang ke arah Barghest.
Terjadi
kebuntuan situasi pertempuran dalam waktu yang sangat singkat.
Ada
seseorang yang berlari keluar dari barisan depan. Goblin. Empat ekor goblin
yang dipersenjatai dengan pedang pendek.
Mereka
jelas-jelas mengincar Dotta. Bahkan di mata Dotta pun, gerakan mereka terlihat
sangat terkoordinasi. Entah kenapa Dotta teringat pada Tsav.
Mereka
merendahkan postur tubuh dan menggunakan pedang pendek dengan tajam. Gerakan
yang mirip pembunuh profesional.
"Kapten,
silakan mundur."
"Maksudku,
Anda cuma menghalangi saja."
Dua orang
prajurit mendorong Dotta sambil melontarkan kata-kata pedas. Keduanya menghunus pedang dan
beradu dengan empat ekor goblin tadi. Suara gesekan dan benturan logam bergema.
(Jangan
bercanda ya……!)
Hasil
pertempurannya hampir seperti saling bunuh.
Dua ekor
goblin tewas tertebas, dan dua orang dari pihak mereka pun roboh sambil
memuntahkan darah.
Tersisa
dua ekor goblin lagi──Trishir masih sibuk menghadapi Barghest.
Prajurit lain
tampak berusaha bergegas ke sini.
(Jangan
bercanda, benar-benar, jangan bercanda ya……!)
Dotta tahu apa
yang akan terjadi jika dua prajurit itu datang ke sini. Mereka tidak akan
sanggup menahan terjangan Bogey.
Artinya, hanya
tinggal dirinya sendiri.
"Jangan
datang!"
Dotta
sadar dia menggumamkan sesuatu yang aneh.
"Biar
aku yang kerjakan!"
Dua ekor
goblin mengayunkan bilah pedang mereka. Dia menghindar. Bilah yang melintas
tepat di depan matanya terlihat dengan sangat jelas. Dia menghindar lagi di
serangan berikutnya. Ternyata tidak sulit sama sekali.
(Benar
juga. Kalau dibandingkan dengan Xylo atau Trishir, makhluk-makhluk ini sama
sekali nggak……)
Tidak
seberapa. Dia tidak merasa takut.
Dia jauh
lebih cepat, dan bisa merespons dengan leluasa. Saat dia menghindar untuk ketiga dan keempat
kalinya, Dotta baru sadar. Di belakangnya adalah dinding. Dia sudah terpojok.
"Gawat."
Dia terlalu
terbawa suasana. Dua bilah pedang menusuk dari bawah secara bersamaan.
Meski berpikir
tidak akan bisa menghindar, Dotta melompat seolah-olah menyelinap di antara
serangan itu. Seharusnya itu mustahil.
Setidaknya dia
pasti akan terkena salah satu pedang. Dia sudah yakin akan hal itu dan bersiap
menahan sakit──namun, rasa sakit itu tidak kunjung datang.
Entah kenapa, dia
berhasil menghindar.
Salah satu bilah
pedang terhalang oleh sesuatu.
Tanpa sempat
memikirkan alasannya, Dotta menyambar tongkat petir milik salah satu prajurit
yang tewas tadi.
Dia berputar satu
kali, lalu memasang posisi menembak saat berbalik badan.
(Supaya
tembakanku ini kena)
Satu ekor goblin
yang mengejar Dotta──pedang pendeknya menusuk ke arahnya.
Dia
menghindar dengan memutar lehernya sambil merangsek maju. Wajah lawan sudah sangat dekat. Di jarak segini,
pasti akan kena. Dia mengaktifkan tongkatnya tepat di leher lawan.
Blam! Kepala goblin itu meledak. Dotta mengertakkan gigi.
(Belum
selesai!)
Masih ada
satu lagi. Tapi yang itu, dia tidak perlu membunuhnya.
Sesosok
bayangan besar menindih makhluk itu dan menghujamkan pedang tepat di
jantungnya. Itu Norgayu.
"Apa
yang kau lakukan?"
Dotta
bertanya dengan suara bergetar. Dia segera menyadari bahwa Norgayu juga tidak
baik-baik saja. Pedang goblin tertancap di perutnya.
"Norgayu,
kau berdarah…… itu gawat, tahu."
"Umu."
Norgayu menendang mayat goblin itu hingga tumbang, lalu
berlutut di tempat.
"Dotta.
Kebajikanmu hanya satu. Itu memang ada…… yaitu…… kau tidak akan meninggalkan
orang yang lebih lemah darimu. Contohnya, para prajurit yang kau
pimpin."
Norgayu menekan perutnya yang bersimbah darah, tubuhnya
perlahan condong ke depan.
"……Karena itulah, setidaknya untuk keadaan darurat
negara, kau layak untuk dipercaya…… uuuh. Sakit…… sakit sekali ya ini."
"Kau ini
sudah gila ya."
Gigi
Dotta gemeretuk karena gugup. Dia tidak berlari menghampiri Norgayu. Karena dia tahu itu tidak ada gunanya. Dia
sudah mati.
"Sudah
gila."
Dia
mengulanginya. Trishir berhasil menebas mati Barghest. Para prajurit berada di
posisi unggul.
Mereka akan
memukul mundur musuh di sini. Hal itu mungkin saja terjadi. Sekarang, hanya ada
satu jalan untuk bertahan hidup.
"Gunakan Crushing
Seal!"
Dotta memutuskan
untuk menggunakan jebakan terakhir menggantikan Norgayu.
"Gunakan
sekarang! Hentikan mereka di sini!"
Crushing Seal──mengubah pintu masuk aula menjadi lumpur
hisap dan meruntuhkan lorong. Tanah dan bebatuan akan mengulur waktu untuk
mereka. Itu adalah jebakan terakhir. Begitu ini digunakan, sisanya tinggal
berdoa.
Semoga Xylo
menyelesaikan segalanya dengan baik.
"Wajahmu
jadi sedikit lebih lumayan, ya, Rubah Gantung."
Trishir berkata
begitu, tapi Dotta merasa itu tidak mungkin. Entah kenapa semua ini terasa
sangat konyol.
(Sudah gila.)
Dotta hanya terus
mengulang kata-kata itu di dalam kepalanya. Ini hanya untuk kali ini saja.
Demi nyawa
Norgayu, dia akan memainkan peran ini hanya untuk kali ini. Dia merasa seperti
itu.
(Aku nggak
bakal mau melakukan hal kayak gini lagi.)
Tubuhnya tidak
berhenti gemetar──kali berikutnya, dia akan melarikan diri sebelum seseorang
mati.
◆
Setelah
melihat situasi pertempuran, Boojum mengambil keputusan.
(Aku
akan merangsek ke dalam "Lubang Kubur". Aku tidak akan membiarkan
mereka mengulur waktu lebih lama lagi.)
Informasi
yang dibawa oleh unit 7110 sangat berguna──arah di mana Goddess pedang Teoritta
berada.
Para
Prajurit Hukuman itu membagi jumlah mereka menjadi dua, memanfaatkan struktur
internal yang seperti labirin untuk terus melarikan diri ke bagian terdalam.
Meski
begitu, seharusnya ini sudah hampir mencapai titik paling ujung. Mengingat
ukuran Pegunungan Daktaref, tidak mungkin ada ruang lebih dalam lagi.
Hasil pengukuran sudah membuahkan hasil. Dalam hal mendetail
seperti inilah, pengetahuan dan informasi menunjukkan kekuatannya.
"Mata Empat. Ikuti aku."
"Baik."
Yang menyertainya adalah Mata Empat dan unitnya. Jumlah
mereka sudah berkurang drastis menjadi sekitar dua puluh ekor saja, tapi inilah
pasukan yang paling bisa dipercaya.
Mata Tiga tidak bisa dipisahkan dari tugas pengawalan
Gwythion. Gwythion sangat tidak suka jika Boojum terlalu fokus pada penaklukan
Pegunungan Daktaref.
『Bisa saja terjadi sesuatu yang tidak terduga,』 ucap
Gwythion.
『Lagipula di
mataku, kau tampak terlalu terburu-buru mengejar prestasi sampai-sampai
kehilangan rasionalitasmu. Kemarin kau meminjam pasukanku untuk menyerang, dan
sebagian besar dari mereka hilang.』
Gwythion
jelas-jelas menaruh curiga pada Boojum. Melalui komunikasi via Tir na nOg, hal
itu tersampaikan dengan sangat jelas.
『Aku tidak
mungkin bisa menyerahkan seluruh kekuatan tempur padamu. Kau harus meninggalkan
pengawal untukku.』
Argumen itu masuk
akal──berkat itu, dia terpaksa meninggalkan unit Mata Tiga.
Unit Mata Dua
sedang dalam masa hukuman.
Karena telah
bersikap lunak dalam pertempuran kemarin, Mata Dua telah dijatuhi sanksi. Satu
matanya dicungkil, dan tulang kedua kakinya dihancurkan.
Matanya mungkin
tidak akan kembali. Dia perlu memastikan nanti seberapa besar makhluk itu sudah
merenungkan kesalahannya.
"Ada di
depan ini, Tuan Boojum."
Mata Empat tidak
banyak bicara. Dia menunjuk ke arah pintu dengan ujung tongkat petirnya.
Sampai di sini,
hampir tidak ada perlawanan yang berarti. Hanya jebakan lumpur dan runtuhan
lorong saja.
Meskipun sempat
mengulur waktu sedikit, itu bukan hambatan besar jika ada otoritas Boojum.
Dengan darah yang
dibekukan──melalui "Alkimia Darah", dia menyangga lorong dan
melangkah melewatinya.
(Bisa
dilakukan.)
Selain dua puluh
ekor dari unit 7110, dia juga membawa para Fairy yang telah dia rasuki
sendiri.
Para Fairy
ini akan disiagakan di lorong sebagai pasukan cadangan. Meskipun Teoritta
mencoba menerobos, dia tidak akan membiarkannya lolos.
(Di sini, aku
akan membunuh Goddess Teoritta.)
Jika itu berhasil
dilakukan, dia tidak keberatan meski harus mati bersama. Dia sudah membulatkan
tekad.
Boojum
mengayunkan lengannya dengan kuat dari jarak yang agak jauh dari pintu. Ini
adalah cara penggunaan otoritas yang dia beri nama "Pusaran Darah". Syuuut!
Seperti badai, percikan darah berpusar dan menghancurkan pintu itu.
Sepertinya memang
ada semacam jebakan──dia melihat kilat memercik, tapi tidak ada kerusakan di
pihaknya.
(Aku sudah menyudutkanmu…… akhirnya.)
Sebuah ruangan yang sedikit lebih luas dari yang lain. Di
bagian terdalamnya, ada musuh Boojum.
Di ruangan itu hanya ada cahaya obor yang tidak seberapa.
Berpusat pada satu orang pria yang sangat dikenal Boojum,
ada juga wajah-wajah prajurit manusia yang belakangan ini sering dia lihat.
Mereka membentuk
formasi, tapi jumlahnya sedikit. Mungkin sekitar tiga puluh orang.
Ada juga yang
terluka di antara mereka.
Yang aneh adalah
setiap orang mengenakan kain putih di kepala mereka, apakah itu semacam senjata
Holy Seal?
Ataukah pakaian
pelindung?
Meskipun harus
waspada, tujuan mereka hanyalah si Goddess.
"──Akhirnya
kau datang juga. Sudah lama ya, Boojum."
Pria yang berada
di tengah-tengah para prajurit itu──Xylo Forbartz, mengangkat satu tangannya.
"Kau rupanya
masih hidup."
"Begitulah.
Aku masih hidup. Sudah lama ya."
Boojum menanggapi. Selama itu pula, matanya terpaku pada sosok di samping Xylo. Karena di
ruangan ini hampir tidak ada cahaya, sosok itu sulit dilihat dengan jelas, tapi
dia memang ada di sana.
Sesosok bayangan
gadis mungil. Dia melakukan gerakan seolah menyentuh lengan Xylo.
"Ksatria-ku."
Goddess Pedang Teoritta──suara itu tidak mungkin
salah. Akhirnya dia berhasil menangkapnya.
"Aku akan
memberikan berkat kemenangan padamu."
"Aku tahu.
Aku nggak bakal kalah──jadi, hei, Boojum. Bisakah kau mundur saja dari
sini?"
Xylo Forbartz
menyunggingkan senyum seolah sedang mengasihani pihak lawan.
"Di
pihak sini ada berkat Goddess. Kami bakal menang lho."
"Begitu
ya."
Boojum
mengangguk, lalu menggunakan otoritasnya sendiri. Darah meluap, berubah menjadi
pelindung yang menutupi dirinya sendiri.
"Aku
tidak berniat menemani permainan mengulur waktumu lebih lama lagi──aku sudah
belajar."
Darah
membentuk sebuah tombak. Boojum memasang posisi seolah sedang menarik busur
panah.
Gerakan itu
sendiri adalah sebuah sinyal. Mata Empat dan unit 7110 bergerak. Mereka mengepung Xylo dan
mengarahkan tongkat petir.
"Karena
sebelumnya, aku sudah pernah merasakan pahitnya terjebak permainan kalian
itu."
"Benar juga.
Syukurlah kau rajin belajar."
Xylo
mencengkeram bahu si Goddess dan menariknya mendekat. Teoritta tampak
menegangkan tubuhnya.
"Akhirnya
permainan strategi kita bisa nyambung. Kau tahu tidak? Kalau soal mengulur
waktu, justru kami yang jauh lebih benci jika kalian yang melakukannya. Kami harus mendapatkan hasil hari ini
juga, tahu."
"……Apa
maksudmu?"
"Maksudku,
justru kamilah yang ingin memaksakan pertempuran jangka pendek ini segera
berakhir."
Boojum tidak
mengerti maksudnya. Kenyataannya dia sudah menyudutkan mereka seperti ini.
Pihaknya sedang menuju pencapaian target strategis──yaitu, pembunuhan Goddess
Teoritta.
Apakah pria ini
mencoba menyembunyikan sesuatu? Atau dia mencoba mengalihkan perhatian?
(Tapi, dari
apa?)
Boojum mencoba
memahami lawannya. Ada sesuatu yang aneh.
"Ksatria-ku."
"Aku tahu, Teoritta──"
Teoritta
bergumam, dan Xylo mengangkatnya.
──Lalu, tiba-tiba
dia melemparkannya ke arah sini.
(Apa?)
Boojum
bingung, tapi Mata Empat dan yang lain tidak begitu. Mereka dilatih untuk
membuang segala emosi dan prasangka, serta patuh pada perintah. Dengan kata
lain, itu adalah serangan terhadap target pembunuhan prioritas utama.
"Berhenti!"
Dia
berteriak seketika, tapi sudah terlambat. Kilat yang dilepaskan serentak dari
tongkat petir Mata Empat dan yang lainnya semuanya menusuk si Goddess
yang sedang melayang di udara, lalu meledak. Cahaya yang menyilaukan mata.
Suara ledakan dan api.
Di saat
itulah, Boojum samar-samar melihat sesuatu.
(Boneka.)
Itu bukan
Teoritta. Itu hanyalah tiruan kasar yang dibentuk menyerupai dirinya, dengan
pakaian yang menutupi kerangka boneka.
Hanya
saja, dengan sedikit gerakan di bagian sendi dan perangkat yang memutar suara
secara berulang──di dalamnya terdapat senjata Holy Seal. Ledakan dan
cahaya yang dahsyat──bagaimana dengan kerugian di pihak kami──.
"Teknisi
kami itu memang jenius……"
Hanya gumaman Xylo
yang entah kenapa terdengar sangat jelas.
"Dia bilang
dia dapat ide setelah melihat boneka yang kau kendalikan dari jarak jauh.
Meskipun gerakannya nggak seberapa, tapi itu sudah cukup buat menipu kalian. Kalian sulit membedakan individu
manusia, kan?"
Boojum
segera mencoba melindungi diri. Dia membentangkan pelindung darahnya lebih
tebal lagi.
Dari
sekeliling, dia menerima tembakan serentak. Para prajurit di sekitar Xylo Forbartz.
Pelindung darahnya terkikis dalam sekejap mata.
Kalau
dipikir-pikir, dia sudah menghabiskan terlalu banyak darah dengan sangat cepat.
Penerobosan paksa jebakan lorong. Pintu masuk tadi.
(Ternyata
jebakan──)
Boojum
tidak menyesal. Dia
memfokuskan pikirannya pada apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Goddess palsu. Anak buahnya bilang mereka melihat
Teoritta memanggil pedang.
Apakah itu juga
semacam jebakan untuk menghujankan pedang?
Jika
begitu, di mana yang asli?
Dia pasti ada di
suatu tempat. Teoritta yang bertarung kemarin adalah yang asli. Pedang suci
yang asli──.
"Barisan
belakang! Mundur!"
Boojum
berteriak.
"Cari
Goddess yang melarikan diri! Abaikan tempat ini!"
Sepertinya di
dalam "Lubang Kubur" yang seperti labirin ini, pasti ada jalan
rahasia.
Jika begitu, dia
harus berasumsi bahwa pria ini telah meloloskan si Goddess secara
diam-diam sementara dia menarik perhatian mereka.
Tentu saja dia
juga sudah mencurigai kemungkinan itu.
Dia telah
mengukur daerah sekitar dengan gigih dan menemukan titik-titik yang mungkin
menjadi jalan keluar.
Jika
sekarang, seharusnya dia belum pergi terlalu jauh. Setidaknya si Goddess
harus tertangkap.
"Kegagalan
strategis ya, Boojum."
Xylo
tertawa. Prajurit unit 7110 yang mencoba melarikan diri satu per satu terbunuh.
Mereka
tertusuk dengan tepat oleh hujan pedang yang turun dari atas kepala.
"Duniaku……
maksudku Goddess kami, menginginkan kalian semua musnah. Mana mungkin
dia lari dari sini."
"……Te, tentu
saja!"
Suara gadis yang
tertahan terdengar. Berasal dari kerumunan prajurit──bukan itu saja, suara itu
terdengar serentak dari berbagai arah.
Perangkatnya
pasti──senjata Holy Seal. Ada alat yang mengirimkan suara dari jarak
jauh. Itu rupanya.
Jika begitu, di
mana tubuh aslinya?
Apakah dia
menyamar dengan memakai baju pelindung?
Pasti salah satu
dari sosok bayangan yang paling mungil. Membedakan individu manusia.
Itu adalah bidang
yang sulit bagi Fenomena Raja Iblis, tapi jika itu dirinya, dia pasti bisa
melakukannya. Seharusnya begitu.
(Kalau begini
tidak mungkin……! Jika saja ada waktu)
Karena cahaya
ledakan tadi, pandangannya yang terbakar tidak bisa melihat dengan jelas. Suara
terdengar menggema dari segala arah.
"Aku tidak
bisa membiarkan hanya Xylo saja yang beraksi…… kan!"
Suara
bergema di suatu tempat, dan pedang dipanggil. Satu demi satu unit 7110 tertusuk dan jumlah
mereka berkurang.
Tapi,
belum. Ini belum berakhir. Teoritta yang asli ada di sini. Dia sengaja membuat
si Goddess bersuara.
Itu pasti
karena mereka lengah. Jika salah satu di antara mereka adalah si Goddess,
maka dia tinggal membantai semuanya.
"Mata Empat!
Batalkan penarikan mundur!"
Membunuh Teoritta.
Hanya itu yang dia pikirkan sekarang. Dia tidak keberatan meski harus mati
bersama.
"Bunuh! Si Goddess
itu adalah salah satu dari para prajurit, bunuh dia! Gunakan para Fairy!"
"S-siap……!"
Mata Empat dan
anak buahnya mulai menembak.
Para Fairy
yang disiagakan di belakang pun melompat masuk meski dalam keadaan kacau. Fuua
dan Alraune.
Kilat yang
dilepaskan, serta taring dan cakar. Perlawanan singkat.
Serangan mereka
memang berhasil menangkap beberapa prajurit──tepat saat dia berpikir begitu,
api berkilat.
Wush! Membakar kegelapan dan meledak.
(……Boneka…… dan
Explosion Seal!)
Boojum melihatnya. Tubuh seekor Fuua yang menggigit seorang prajurit meledak hancur. Orang
yang digigitnya ternyata boneka.
Kalau
dipikir-pikir, bukankah gerakan saat membidikkan tongkat petir tadi terasa
kaku?
Apakah
itu hanya batang kayu biasa?
Karena mereka
mengenakan kain putih di kepala, ditambah kegelapan ini, gerakannya menjadi
sangat sulit dilihat.
"Mana
mungkin aku cuma buat satu boneka. Tidakkah kau berpikir begitu?"
Jika sudah
begini, para Fairy mengalami disfungsi. Jika itu Mata Empat dan unit
7110 mungkin masih mendingan, tapi tetap saja tidak mungkin mereka bisa
membedakan manusia dan boneka. Semuanya adalah sosok bayangan yang mengenakan
kain putih.
"Hentikan
mereka! Hentikan para Fairy, Mata Empat, hentikan tembakan juga!
Mundur!"
"Terus-menerus──membatalkan
perintah sampai dua tiga kali itu bukan hal yang bagus lho."
Kata-kata Xylo
adalah provokasi. Dia tahu itu.
"Unitku sih
bisa merespons dengan leluasa, tapi bagaimana dengan unitmu? Apa mereka tipe
yang bisa mengikuti komandan seperti itu?"
Sesuai dugaan,
unit 7110 jatuh ke dalam kekacauan. Mereka yang mencoba keluar dari ruangan terpanggang api dan
bergulingan.
Sepertinya masih
ada jebakan lainnya.
Mereka yang
berusaha mundur mengikuti perintah Boojum pun tewas satu per satu.
Pertempuran
secara terorganisir tidak dapat dilakukan.
Apa yang
harus dilakukan.
Saat
itulah Boojum menyadari bahwa semuanya adalah langkah untuk membuat pihaknya
kacau.
Teoritta yang
mengeluarkan suara pasti disengaja.
Sudah jelas bahwa
dirinya akan memprioritaskan pembunuhan Goddess.
Si Goddess
ada di suatu tempat. Hal itulah yang membuat tindakan Boojum menjadi
terburu-buru.
"Tuan
Boojum."
Mata Empat
mendekat padanya. Menatapnya dengan mata memohon.
"Berikan
perintah."
Boojum tidak bisa
menjawab apa pun. Boojum merasa takut.
Dia melihat Xylo Forbartz
sedang mendekat dari belakang Mata Empat.
Xylo melompat
dengan leluasa menggunakan Aero Seal, sambil mengayunkan pisau.
Sosok itu terasa
sangat menakutkan.
Mata Empat
seketika menahan napas, lalu sepertinya dia mengambil sebuah keputusan.
Sambil
mendorong Boojum, dia merentangkan kedua tangannya. Dia menerima serangan Xylo dari arah punggung.
──Bruk.
Suara
ledakan yang terdengar agak diredam bergema. Pandangan Boojum kembali
terbakar putih.
Explosion Seal Zatte Finde.
Mata Empat roboh di tempat. Lengan kanannya hancur dari
pangkalnya, dan tubuhnya terkoyak sampai setengah.
Dia jatuh
tersungkur sambil mengeluarkan jeritan tanpa suara.
Dia dilindungi.
Boojum sangat menyadari hal itu.
Di hadapannya ada
Xylo Forbartz.
"Boojum."
Di tangan kanan Xylo
ada sebuah pedang.
Boojum
menyadari dirinya sendiri sedang meraung.
Lengan
kanan──"Alkimia Darah".
Dia
mengumpulkan sisa darah untuk membuat bilah pedang. Pedang pendek satu tangan.
Hanya sebesar itulah yang bisa dia buat.
Kalau
dipikir-pikir, dia telah dikuras habis-habisan.
Selama beberapa
hari ini, bukan hanya para Prajurit Hukuman saja yang bertarung tanpa pasokan
logistik yang layak, tapi dirinya juga. Hasilnya adalah ini.
"Duel satu
lawan satu sih bukan tugas komandan ya."
Xylo mengayunkan
pedangnya. Boojum menangkisnya.
"Tapi
sesekali boleh lah."
Serangan tebasan
yang sangat kuat. Tidak sanggup menahannya, pedang "Alkimia Darah"
itu pun patah.
(Benar saja,
otoritas pribadiku sudah melemah. Bahkan tidak bisa menyamai kekuatan besi.)
Dia mencoba
menghindari tebasan berikutnya dengan mencondongkan tubuh ke belakang. Bahunya
tertebas. Masih dangkal. Tapi, jika terus begini tidak ada jalan lain. Dia
harus melakukan serangan balik.
(“Darah
Mendidih”……! Kalau cuma sekali lagi!)
Boojum menuangkan
otoritas ke dalam darah yang menetes dari bahunya.
Darah itu
seketika berubah menjadi darah yang mendidih dan menyembur keluar.
Dia pikir dia
sudah mendapatkannya, tapi itu hanyalah bayangan Xylo saja. Cepat sekali.
Langkah kaki yang unik seolah-olah berpapasan secara diagonal──tebasan.
Lagi, bagian
tubuhnya tertebas di suatu tempat. Dia tidak bisa mengejar lintasan bilah
pedang yang berputar dan langkah kaki yang tidak masuk akal itu.
(Kuat. Tanpa
otoritas pun, mustahil bisa menang melawan orang ini.)
Tapi──dia masih
punya kartu as. Tadi, dia merasakan tembakan tongkat petir mengoyak
pinggangnya.
Darah mengalir
dari sana. Dia akan menggunakan ini sebagai senjata. "Darah Penusuk".
Dia akan melubangi perut lawannya juga.
(Setidaknya,
pria ini……!)
Demi
konsentrasi, Boojum mencoba bernapas sejenak seolah sedang terengah-engah.
Napas itu
tersumbat. Sesuatu telah dilakukan padanya. Ada rasa ganjil seolah dadanya
sedang kejang. Tangan kiri Xylo ditempelkan di sana. Getaran tersalurkan ke
tubuhnya. Apakah itu semacam Holy Seal?
"Selesai
sudah, Boojum. Penyebab kekalahanmu adalah kurangnya pengalaman sebagai
komandan──dan kurangnya latihan."
Jangan dengarkan
kata-kata Xylo Forbartz, pikir Boojum.
(Itu cuma
provokasi. Dia mencoba mengacaukan konsentrasiku.)
Dia menjaga
jarak. Sekali lagi, dia menciptakan senjata dari darah. Sambil mengerahkan sisa
tenaganya, dia membentuk bilah pedang.
"Dalam
latihan unit, yang dilatih bukan cuma prajurit saja lho. Komandannya juga ikut
terlatih. Contohnya,"
Boojum
merasakan seseorang mencengkeram lehernya. Tubuhnya terangkat. Seorang prajurit
sedang mengangkatnya. Prajurit berlengan satu, hanya dengan satu tangan──sulit
dipercaya.
"Sampai
mana perintah diberikan, dan dari mana diserahkan pada keputusan masing-masing.
Hal seperti itu sulit untuk
dipelajari…… Hebat juga kau, Saritaff."
"──Ku-aa──aaaaaaaakh!"
Prajurit berlengan satu yang dipanggil Saritaff itu
membantingnya ke bawah kakinya.
Kekuatan yang sangat dahsyat, tidak seperti manusia.
Guncangan.
Dia merasa pandangannya berkedip-kedip. Tulang di tubuhnya
pun pasti ada yang patah.
Saat dia dibanting berulang kali untuk kedua dan ketiga
kalinya, Boojum menyadari kekalahannya.
Kedua lengan dan kedua kakinya hancur. Dia bahkan tidak bisa
lagi menggunakan otoritasnya untuk menyembuhkannya.
Dia bahkan tidak
punya kekuatan lagi untuk memberikan perintah kepada para Fairy.
Pikirannya tidak
tersampaikan.
Para Fairy
cadangan yang disiagakan di belakang pun jatuh ke dalam kondisi panik──mereka
berusaha melarikan diri dari gua ini secepat mungkin. Dia bahkan sudah tidak
bisa menghentikan itu lagi.
(Aku
kekurangan darah. Tidak bisa bergerak.)
Itulah batas
kemampuan Boojum. Jika darah di dalam tubuhnya tidak mencukupi, dia bahkan
tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri.
Dalam
pandangannya yang menengadah, prajurit berlengan satu itu sedang mengangkat
kepalan tangannya.
Dengan kekuatan
sebesar itu, jika tinju itu dihantamkan──dia pasti akan binasa. Boojum berusaha
keras untuk bergerak.
Dibandingkan rasa
sakit karena kematian, dia merasa lebih pedih karena tidak bisa memenuhi
harapan "Raja"-nya.
Namun, tinju itu
tidak menghantam kepalanya.
"……Kalau
cuma membunuhmu saja tidak akan cukup. Aku tidak bisa memaafkanmu."
Suara benturan.
Tinju Saritaff dihantamkan tepat di samping wajah Boojum.
"Bagaimana, Xylo.
Prajurit. Kau bilang
kau punya rencana, kan?"
"Benar
juga. Apa kau masih bisa bergerak, Boojum? Pasti nggak bisa kan?"
Tanpa
sadar, Xylo Forbartz sudah menatap rendah ke arahnya.
"Dalam
situasi di mana ada Goddess di depan matamu, kau tidak datang untuk
membunuh dengan membabi buta. Itu artinya kau sudah mencapai batasmu. Tulangmu
patah juga ya?"
Analisis
yang sangat tenang. Bukankah hal inilah yang kurang darinya?
"Nah, diam
saja di situ. Aku nggak bakal membunuhmu. Setidaknya untuk saat ini ya."
"……Aku
benar-benar tidak mengerti. Apa yang kau pikirkan?"
Boojum
bergumam dengan jujur.
"Kenapa kau
tidak membunuhku di sini?"
"Kau akan
kujadikan tawanan."
Kata-kata Xylo
terdengar sangat tiba-tiba.
"Hal itu jauh lebih bermakna. Tawanan Fenomena Raja
Iblis yang bisa bicara itu kan yang pertama di dunia."
Prajurit berlengan satu yang bernama Saritaff itu menatapnya
dengan tidak puas.
Mungkin
tadi ada perbedaan pendapat di antara mereka. Tapi dia tidak mengerti.
"Sebenarnya,
inilah kartu asku…… karena bantuan tidak datang, aku hanya punya cara ini. Aku
akan menangkapmu dan melakukan sedikit penipuan. Ini adalah keahlian si
bajingan Vanetim itu sih."
"Apa yang kau katakan…… aku tidak mengerti
maksudnya."
"Menarikmu ke dalam "Lubang Kubur" ini adalah
inti dari rencana ini. Kau terjebak dengan manis, kan? Untuk bisa menangkapmu,
aku perlu mengurungmu di sini."
"Diam kau……"
Boojum mencoba mengerahkan kekuatan pada keempat anggota
tubuhnya. Dia mengumpulkan sisa
darah dan kekuatan otoritasnya, tinggal sedikit lagi.
(Tunggu…… apa
yang aku pikirkan? Apa ada gunanya?)
Tiba-tiba, muncul keraguan dalam diri Boojum. Kemungkinan dia bisa mati bersama di sini
sangatlah rendah.
Dia hanya sanggup
membuat pisau kecil dari darah. Itu pun masih diragukan.
(Itu adalah
kematian yang sia-sia. Aku tidak akan bisa mempertanggungjawabkannya. Kepada
"Raja"-ku. Dan juga)
Boojum
menggerakkan bola matanya dengan susah payah. Di sampingnya, Mata Empat sedang
terbaring.
Dia sudah lama
tewas. Jenazah Mata Empat.
"Ada apa,
Boojum?"
Xylo menatap
rendah padanya dengan mata tanpa emosi.
"Apa kau
merasa bersalah pada teman yang melindungimu?"
"……Teman?"
Boojum mengulangi
kata-kata itu. Prajurit berlengan satu itu entah kenapa sesaat memasang wajah
seperti sedang terluka.
(Teman ya?)
Dia mengetahui
konsepnya. Apakah Mata Empat adalah teman baginya?
Dan apakah
sebagian perasaan yang dia rasakan sekarang adalah hal itu? Dia memikirkannya
sejenak.
(Aku tidak
tahu. Tapi──aku tidak boleh mati konyol. Itu tidak rasional.)
Bagaimana pun dia
memikirkannya, dia harus bertahan.
Dia masih punya
nilai guna.
Jika masih ada
sedikit saja kemungkinan untuk menyingkirkan ancaman bagi sang
"Raja", maka melakukan pertarungan yang sama saja dengan bunuh diri
di sini adalah hal yang bodoh.
(──Namun, jika
begitu, lalu kenapa aku)
Meski tahu itu
mustahil, kenapa dia sempat berpikir untuk mati bersama? Hal itulah yang jauh
lebih aneh.
Saat berpikir
demikian, Boojum menyadari dirinya sedang menatap jenazah Mata Empat.
Jenazahnya.
Sambil menatapnya, apakah dia merasakan
sesuatu?
Ternyata dia
tetap tidak tahu. Daripada melanjutkan pemikiran berputar-putar yang tidak
berarti, lebih baik dia mengambil keputusan sekarang.
Jawaban yang
rasional──hanya ada satu.
"Aku
mengerti."
Sambil memendam
gejolak batinnya sendiri, Boojum bergumam dengan dingin seolah ingin
menyembunyikannya.
Dia bahkan tidak
tahu kenapa dia berpikir untuk menyembunyikannya.
"Aku
menyerah."
Hukuman
Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit – Akhir
Aku melihat asap
sinyal membubung—sepertinya, Xylo dan yang lain berhasil melakukannya.
Karena situasinya
sudah begitu, membunuh Gwythion adalah perkara mudah bagi Tsav.
Aku mengintip
melalui lensa tongkat bidik, sudah lama menantikan kesempatan ini.
Aku bersembunyi
di atas pohon, terus bergerak mengacaukan musuh, dan bertahan selama beberapa
jam.
Setelah asap
sinyal membubung dari arah "Lubang Kubur", tiba-tiba aku merasakan
kawanan musuh bergerak.
(Datang juga.)
Di tengah hujan,
semuanya terlihat jelas.
Jika pasukan
sebesar ini bergerak, percikan air dan lumpur akan ikut bergerak, bahkan lereng
gunung pun terkikis.
Fairy berukuran besar tidak akan bisa berpindah
tempat secara sembunyi-sembunyi dengan mudah.
Tanda-tanda
"mundur" yang jelas. Itulah yang ditunggu Tsav. Aku mencondongkan
tubuh dan mempertajam pandangan. Pusat pergerakannya pun mulai terlihat.
Sesuatu
bergerak di balik ngarai yang terbentuk dari jajaran pegunungan. Kegaduhan
terjadi, dan para Fairy melompat keluar.
Dari
dalam kabut merah yang menyelimuti tempat itu, sebuah cangkang raksasa perlahan
menampakkan wujudnya.
(Benar
saja—dia menggunakan otoritasnya sendiri sebagai tabir asap untuk bersembunyi.)
Karena mereka
mulai mundur, mereka tidak punya pilihan selain keluar dari sana.
Apalagi, mereka
tampak sangat terburu-buru. Seharusnya mereka menyemprotkan kabut merah dan
bergerak maju perlahan sambil menyembunyikan diri.
Sesuatu telah
terjadi pada Boojum. Karena hal itu, mereka mulai bergerak dengan panik. Apakah
mereka menuju ke utara?
(Sayang
sekali. Itu tidak akan bisa.)
Setelah
berpikir begitu, tidak sampai tiga detik bagiku untuk mengaktifkan tongkat
petir.
Hal
seperti ini bergantung pada bagaimana kita menangkap peluang. Setidaknya bagi Tsav,
begitulah adanya.
(Yak!)
Kilat
menembus Gwythion dan menghancurkan cangkangnya.
(Selesai!)
Satu
detak kemudian, suara ledakan menggelegar. Seharusnya suaranya tersamar oleh
bunyi guntur.
Sarana
untuk menghancurkan cangkang Gwythion ada pada tongkat bidik khusus ini. Karena
Norgayu telah melakukan modifikasi tambahan, bentuk aslinya sudah tidak bersisa
lagi. Ini adalah Tongkat Bidik "Tsukubane" Custom—mungkin sudah edisi
ke-50.
Sebagai
ganti daya tembus yang meningkat, ada entakan besar yang dihasilkan. Rasanya
sampai membuatku mengira tulangku akan patah.
(Tapi,
kekuatannya memang luar biasa.)
Tsav
memutar lengannya ringan. Tidak apa-apa. Tidak patah.
Gwythion
meronta, menyemburkan cairan tubuhnya, dan perlahan tumbang. Para Fairy
jatuh ke dalam kondisi panik, mulai melarikan diri, atau mengamuk membabi buta.
Namun, di antara mereka, ada
satu kelompok yang sangat terorganisir.
Lewat
lensa tongkat bidik, Tsav melihatnya. Sesosok Fairy humanoid dengan
tanduk bercabang seperti rusa menjadi pusat komando. Dilihat dari bentuk
tubuhnya, mungkin dia tipe perempuan. Sedikit mirip dengan individu bernama
"Mata Enam" yang pernah dilawan sebelumnya. Tidak salah lagi, dialah
komandannya.
Meskipun
mereka berusaha keras untuk tetap bersatu sebagai kelompok, aku tahu mereka
sedang jatuh dalam kekacauan. Sambil berusaha mempertahankan formasi unit, mereka mencari sang penembak
jitu—yaitu aku.
(Begitu, ya.)
Sambil membidik
komandan Fairy itu dengan ujung tongkat bidik, Tsav tidak menembaknya.
Aku berniat
membiarkannya pulang dalam keadaan hidup.
(Sampaikan
saja pada teman-temanmu. Bahwa di antara Prajurit Hukuman, ada penembak jitu
dengan kemampuan yang mengerikan.)
Aku akan
membiarkannya membawa pulang rasa takut itu. Karena ada seseorang yang ingin
aku beri tahu.
Soula Odd. Aku
harus membalas utang pada si pembunuh itu. Aku tidak berniat membiarkan diriku diremehkan
begitu saja. Tsav menyadari dirinya sedang tersenyum.
(Ini
agak menyenangkan, ya. Nah—bagaimana dengan Kakak dan yang lain?)
Tsav
menggerakkan lensa tongkat bidiknya ke arah "Lubang Kubur", lalu dia
terperangah.
(──Apa-apaan
itu?)
Xylo terisolasi
dan dikepung oleh musuh.
◆
Saat Patausche
Kivia mencapai Pegunungan Kazit, matahari sudah mulai terbenam.
(Tidak ada
waktu.)
Vanetim sudah
menuju ke Naufan. Jika Ryufen Caulon bekerja sama, penipuan itu mungkin akan
berhasil. Jika semuanya sukses, Rhyno dan Tatsuya akan diampuni, dan perintah
eksekusi mati terhadap Xylo dan yang lain seharusnya ditarik kembali.
Namun, itu semua
hanya bisa terjadi jika para Fairy di sekitar sini bisa dibereskan.
Meskipun
perintahnya ditarik, tidak akan ada artinya jika mereka masih dikepung Fairy.
Agar mereka bisa meloloskan diri, Patausche mempercepat laju barisannya. Ada
cukup banyak yang tertinggal, tapi seperti yang diduga, tidak ada satu pun
kavaleri dari mantan Ordo Ksatria Ketigabelas yang terlambat.
"Ah—wah. Ternyata sudah dimulai, ya."
Zofreck, sang pemimpin kavaleri, bergumam.
"Southern Night Demon, dan itu, sepertinya unit si
Madritz. ……Lumayan juga mereka. Petualang memang tidak bisa diremehkan."
Sepertinya Frensie sudah membawa pasukan infanteri, bergegas
tiba lebih awal, dan memulai serangan.
Gunung Daktaref. Kami sudah mengonfirmasi bahwa Xylo dan
yang lain bertahan di sana.
Entah kenapa, mereka mengambil posisi bertahan di dalam gua.
Itu adalah pemikiran yang membuat orang meragukan kewarasan mereka, dan aku
tidak tahu apa tujuannya, tapi entah kenapa mereka membuahkan hasil.
Pasukan musuh yang berjumlah sepuluh ribu tampak berkurang
hampir setengahnya. Komunikasi masih
tidak bisa dilakukan, tapi dari hasil pengamatan dari arah Naufan, tidak ada
penjelasan lain selain itu.
"Xylo Forbartz.
Dia benar-benar mencoba memusnahkan mereka……"
Sienna, sang
pemimpin penembak jitu, bergumam. Wajahnya tampak lebih ke arah tercengang.
"Jumlah
musuh juga sudah berkurang. Tidak kusangka, hanya dengan sepuluh orang saja
bisa membuat mereka hancur separuh."
"Benar!
Benar-benar tidak bisa dipercaya, kan. Sienna, kalau kau yang ada di sana, apa yang akan kau lakukan?"
"……Entahlah.
Kurasa mustahil. Komandan Kivia, apa yang sebenarnya dia lakukan?"
"Mungkin
sejenis senjata buatan Norgayu."
Patausche
menjawab. Meskipun detailnya tidak jelas, dia pikir memang begitulah adanya.
Jika itu teknisi abnormal itu, tidak aneh jika dia bisa mencapai hasil
pertempuran sehebat ini.
"Serang,
semuanya! Kita tidak bisa membiarkan hanya Southern Night Demon saja yang
beraksi."
Patausche
menghunus pedangnya. Dari sini, mereka akan melesat sekaligus menuju kaki
Gunung Daktaref. Tepat saat mereka akan mulai maju, Sienna menyadarinya.
Matanya memang sangat tajam.
"Tunggu
sebentar. Para Fairy sedang bergerak. Ini……"
Sienna mengangkat
tongkat bidiknya dan menyipitkan mata lewat lensa.
"Mereka
melarikan diri? ……Sepertinya tidak salah lagi. Hampir semua Fairy
melarikan diri…… ke
utara."
"Apa?"
Tapi, sepertinya
itu memang kenyataan.
Patausche pun
sampai meragukan matanya sendiri.
Kawanan
besar musuh sedang bergerak. Ke utara.
Selain
itu, pergerakan mereka tidak bisa dibilang teratur.
Sebagian
besar kawanan melarikan diri dengan kacau balau.
"Apa
yang terjadi?"
Patausche
bergumam, meski dia tahu tidak mungkin ada jawaban untuk itu.
Tepat
saat itulah Holy Seal di lehernya berdenyut, dan suara Tsav terdengar.
『Ah—……
halo, Kak Patausche? Kedengaran nggak?』
"Jangan-jangan,
Tsav? Kau ada di mana?"
Suara Tsav
terdengar agak cemas. Ini adalah hal yang sangat jarang terjadi.
『Oh.
Tersambung! Alat buatan Yang Mulia ini jangkauannya lebih jauh dari dugaan—oke,
karena nggak ada waktu, aku langsung ke intinya saja ya. Sekarang bukan
waktunya buat bercanda atau ngobrol!』
"Memangnya
pernah ada waktu untuk melakukan itu? Apa yang terjadi? Musuh melarikan diri, apa jangan-jangan kalian
menang?"
『Yah, begitulah.
Kakak dan yang lain berhasil melakukannya. Mereka menjadikan Fenomena Raja
Iblis bernama Boojum sebagai tawanan, dan bos musuh yang ketakutan pun mulai
kabur ke utara—』
"Tidak bisa
dipercaya. Kalian benar-benar melakukannya."
Entah kenapa, dia
merasa lemas karena lega.
Membawa bala
bantuan sampai ke sini mungkin adalah langkah yang sia-sia—tidak, kemungkinan
untuk membebaskan Rhyno dengan menggunakan Vanetim seharusnya akan berguna ke
depannya.
"……Baiklah,
sampaikan pada Xylo. Baru kali ini, aku akan memuji keberuntungan dan bakatmu
di medan perang."
『Aduh, tapi itu
nggak bisa, Kak.』
"Apa?"
Dia mendapat
firasat buruk. Sebuah firasat yang sangat kuat yang belum pernah dirasakan
sebelumnya, bahkan sudah mendekati keyakinan.
"Apa
maksudmu? Xylo, jangan-jangan dia—"
『Dia hidup kok,
mungkin. Tapi, yah, situasinya jadi agak gawat. Soalnya—』
Suara Tsav
mengandung sedikit tawa tipis.
『Kakak diculik,
lho.』
"Hah?"
『Gimana ya
bilangnya, dijadikan tawanan atau semacamnya. Lumayan gawat, kan? Kami sih
nggak bakal mati, tapi kalau tertangkap itu agak jadi masalah—ah, benar juga. Teoritta-chan
aman kok.』
Patausche
kehilangan kata-kata. Dia tidak bisa segera memproses informasi itu.
『Ada bajingan
tipe baru yang muncul. Si
brengsek itu menculik Kak Xylo. Aduh, jelasinnya ribet—ya sudahlah. Pokoknya
begitu situasinya! Aku bakal mengejar dari sini. Kalau sampai kehilangan jejak
bakal gawat, kan.』
"Tunggu,
jangan bertindak semaumu. Tidak,
lagipula, apa perlu dikejar? Kalau di posisi kami, dengan Holy Seal di
leher—"
『Sepertinya itu
nggak bakal bisa, agak merepotkan situasinya—ah. Phosphorescent-nya
sudah mencapai batas. Sampai nanti!』
"Hei! Tsav!
Kau!"
Komunikasi
terputus tiba-tiba. Zofreck bertanya dengan ragu-ragu.
"Anu…… Komandan Kivia? Ada sesuatu yang terjadi? Tawanan itu, apa maksudnya……?"
"……Entahlah."
Hanya itu yang
bisa dijawab oleh Patausche.
◆
Matahari sudah
mulai terbenam saat kami keluar dari "Lubang Kubur".
Seharusnya masih
sempat. Begitu hari berganti, eksekusi mati kami akan dilaksanakan. Sebelum
itu, kami harus menyukseskan negosiasi. Sekarang, hal itu bukan lagi
kemustahilan.
Sekarang, di
tangan kami ada tawanan Fenomena Raja Iblis yang mungkin pertama kalinya di
dunia.
Apalagi, Fenomena
Raja Iblis yang bisa bicara. Awalnya aku berpikir untuk menangkap Gwythion,
tapi Boojum ini jauh lebih berharga daripada itu.
"……Xylo. Ini
beneran nggak apa-apa?"
Dotta bertanya
padaku sambil memanggul Boojum yang sudah diikat kuat.
Selama itu,
Boojum tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menatapku dan Teoritta
dengan pandangan kosong.
"Makhluk
ini…… apa nggak bakal tiba-tiba ngamuk terus mencoba membunuhku?"
"Kalau dia
bisa melakukan itu, hal pertama yang dia lakukan pasti membunuh Teoritta
bagaimanapun caranya."
Sejauh ini, dia
juga tidak mencoba melakukan pencemaran menjadi Fairy di sekitar sini.
Kami memperkuat
pertahanan dengan Holy Seal, dan di sini juga ada Teoritta.
Jika dia merasa
hal itu efektif, dia pasti sudah melakukannya sejak tadi.
Melihat para Fairy
yang dibawanya juga kacau dan kocar-kacir, mungkin dia bahkan tidak punya sisa
tenaga untuk mempertahankan komando.
Kemampuan
Fenomena Raja Iblis untuk mengendalikan Fairy berbeda-beda tergantung
tingkat kelelahan mereka.
Mengetahui hal
seperti ini saja sudah membuktikan bahwa dia berharga untuk ditangkap.
Sisanya tinggal
bagaimana bernegosiasi dengan Galtuill.
(Aku harus
semangat. Semoga saja proses resusitasi Vanetim sudah selesai.)
Mungkin itu
harapan yang terlalu tinggi. Yang pertama harus dilakukan adalah mengangkut
makhluk ini dengan aman sampai ke Naufan.
(Tapi, wajah
semuanya kok jadi hancur begini ya.)
Norgayu telah
menjadi mayat akibat pertempuran tadi. Trishir pun tampak sangat kelelahan.
Meski begitu, hanya Teoritta yang menatapku dengan wajah tegar.
"Ayo! Mari
kita pergi, Xylo."
Dia berpura-pura
bersemangat. Padahal
tidak mungkin begitu. Dia lapar, dan dia juga lelah. Aku bisa merasakannya.
"Tinggal
satu perjuangan lagi! Kita akan menjadikan orang ini sebagai tawanan dan
bernegosiasi dengan Esgain itu, kan?"
"Bukan
Esgain, tapi Galtuill. Mereka itu sekumpulan orang rasionalis. Orang-orang itu tidak akan bisa
mengabaikan oleh-oleh ini. Kuil pun pasti akan berpikiran sama."
Departemen
analisis Galtuill, ditambah perserikatan sarjana Kuil atau unit
investigasi—mereka pasti akan sangat ingin meneliti Boojum bagaimanapun
caranya. Aku akan memanfaatkan hal itu.
Aku akan
membuat mereka percaya bahwa jika mereka mengeksekusi kami di sini, maka sampel
yang berharga ini akan hilang. Seharusnya ada cara untuk melakukannya. Mereka
tidak tahu tentang "Pasukan Forbartz".
"Dotta,
pegang dia yang bener. Kalau jatuh bakal aku bunuh, maksudku kau bakal mati
dieksekusi lho."
"Aku
tahu kok…… Trishir, mau bantu nggak?"
"Jangan minta yang mustahil. Aku sudah kewalahan
membawa mayat Norgayu. Mau
tukaran?"
"Ja-kalau
begitu, Saritaf……"
"Diam,
pencuri. Jangan bicara padaku."
"Eh. Kok
rasanya Saritaff cuma galak kepadaku saja sih?"
"Itu karena
kau mencuri barang milik Saritaff, kan. Kenapa kau sampai mencoba mencuri
tudung serigalanya juga?"
"Jangan
tanya kepadaku! Kalau aku bisa mencuri sambil mikirin alasannya, aku nggak
bakal jadi Prajurit Hukuman!"
Suara
Dotta yang terdengar marah. Kenapa
aku malah jadi seperti pihak yang dimarahi. Kejadian ini benar-benar lucu
sampai aku ingin tertawa.
Aku tertawa di
dalam tenggorokan, Teoritta pun tersenyum pahit, dan sisa-sisa Pasukan Forbartz
yang selamat pun sepertinya merasakan hal yang sama.
Kami pun mulai
melangkah perlahan.
──Saat itulah aku
menyadari bahwa kami telah dikepung.
"Maaf saja,
tapi sampai di sini dulu. Berhenti di situ, para Prajurit Hukuman."
Terdengar sebuah
suara. Di balik pepohonan. Di balik hujan yang mulai mereda, pria itu berdiri di sana.
Seorang
pria berambut panjang dengan wajah yang tampak sangat lelah. Salah satu
lengannya ditutupi dengan pelindung tangan hitam. Aku sudah tahu nama orang
itu.
"Yukihito."
Boojum bergumam. Suaranya serak. Hanya untuk bicara saja dia terlihat sangat
kepayahan.
"……Kenapa
kau ada di sini?"
"Apa-apaan
kau. Ternyata kau melakukan penyergapan tanpa memberi tahu Boojum ya."
Aku melangkah
maju satu langkah sambil tetap waspada. Seolah-olah menyembunyikan Teoritta di
belakangku. Dia mencengkeram lengan bajuku.
"Kau teliti
sekali ya. Jadi kau sudah menduga kalau kami entah bagaimana bisa lolos?"
"Yah,
begitulah."
Yukihito
membenarkan. Aku memasang postur rendah, menepuk tanah dengan tangan kiri—ada
lebih dari seratus Fairy. Namun, ada arah yang penjagaannya longgar. Ini
tidak bisa dibilang pengepungan yang solid. Benar saja, kualitas Fairy miliknya
berbeda dengan unit 7110.
"Dengar
ya? Aku tidak punya niat buat bertarung dengan kalian. Serahkan saja dia
padaku."
Yukihito
menunjuk—ke arah Dotta dan Boojum yang dipanggulnya. Aku merasa sempat melihat kilasan rasa benci di
matanya.
"Tinggalkan
dia di sini. Ini kesepakatan yang tidak buruk, kan?"
"……Begitu
ya. Makhluk itu……"
Aku melirik wajah
Dotta yang tampak sangat pucat.
Aku tahu. Boojum
adalah garis hidup kami sekarang. Dengan menjadikannya tawanan, barulah peluang
untuk bertahan hidup akan muncul. Karena itu—hanya ada satu hal yang harus
kulakukan.
"Kesepakatan
yang mustahil. Aku menolak."
Aku mendorong
bahu Dotta dengan kuat. Dotta terjerembap maju, memberinya momentum ke arah
lereng bawah.
Itu adalah arah
di mana pengepungannya relatif tipis.
"Pergi!
Lari, biar aku yang jadi pasukan belakang!"
"Tunggu,
Xylo!"
Aku
melompat sambil mendengarkan suara Teoritta di belakangku. Aku mengerahkan Aero
Seal sepenuhnya, merangsek maju ke arah Yukihito.
"Kalau
begitu aku juga──"
"Jangan.
Aku serahkan sisi sana
padamu. Oke?"
Teoritta merasa
tidak puas. Aku tahu itu, tapi kami berdua paham betul bahwa hanya pembagian
peran ini yang paling masuk akal. Akhirnya dia tidak punya pilihan selain
mengikuti rencanaku.
Yang penting
sekarang adalah mengantarkan Boojum sampai ke Naufan. Kekuatan Teoritta yang
bisa membantai banyak Fairy seharusnya digunakan untuk menerobos sisi
sana. Untuk menghadapi Yukihito yang kekuatannya tidak diketahui, lebih baik
aku yang menahannya.
"Aku akan
segera menyusul. Aku nggak berniat mati, kau pikir aku ini siapa?"
"……Baiklah.
Ksatria-ku!"
Teoritta mulai
berlari menyusul Dotta. Sebagai bantuan terakhir, dia berteriak.
"Wahai
pedang! Hantamlah musuh-musuh para pahlawanku!"
Pedang-pedang
bercahaya berjatuhan. Serangan itu menyapu bersih musuh di jalur lari Dotta,
dan juga membunuh para Fairy yang mencoba menghalangi lompatanku.
"Kalau
sampai mati, aku benar-benar akan marah padamu!"
Terakhir,
Teoritta berkata begitu. Suaranya terdengar serius.
Begitulah,
aku dan si Goddess mulai bergerak ke arah yang berlawanan. Kami membagi
diri menjadi dua kelompok. Teoritta, Pasukan Forbartz, Trishir, dan Saritaff mengikuti
Dotta.
Di sisi sini,
hanya aku sendiri.
Kalau aku menjadi
pasukan belakang, seperti ini jauh lebih santai.
"Ugh."
Wajah Yukihito
menjadi muram.
"Sepertinya
kau salah paham. Merepotkan saja, apalagi kau itu kuat……"
Fuua berukuran
kecil menyerbuku. Itu adalah kebiasaan para Fairy. Mengincar musuh yang
terlihat lemah atau yang terisolasi. Dalam hal ini, berarti aku. Aku menyambut
mereka. Aku mengambil salah satu pedang peninggalan Teoritta, lalu
menghantamkannya.
Aku berputar
memanfaatkan entakannya, lalu membunuh satu ekor yang mencoba menyelinap lewat
sampingku.
(Lagi.
Percepat gerakannya, percepat. Jangan melakukan hal yang setengah-setengah.)
Aku memacu diriku
sendiri. Bergerak tanpa mempedulikan rasa lelah. Aku sudah menjalani latihan
seperti ini.
Aku melancarkan
satu serangan sambil berbalik, lalu lanjut ke berikutnya. Sambil menendang, aku
memanfaatkan entakannya untuk berguling, menghindari terjangan, taring, dan
cakar, lalu mencari target berikutnya. Aku melihat empat ekor Bogart
menghancurkan tanah dan melompat ke arahku.
Mereka adalah Fairy
tipe lipan berkaki banyak, tapi mereka tidak terlalu besar. Sepertinya hanya
kroco yang disiapkan terburu-buru.
(Sudah
terbaca!)
Saat aku menepuk
tanah tadi, aku sudah tahu mereka mendekat lewat Detection Seal Rawad.
Aku punya langkah pencegahannya.
Aku mencengkeram
Bogart yang pertama kali mengeluarkan kepalanya. Sambil meresapkan Explosion
Seal, aku menggunakan tubuh panjangnya sebagai senjata dan mengayunkannya.
Aku memecutkannya seperti cambuk, menghantam mereka yang mendekat sembarangan,
satu ekor, dua ekor──jeritan yang memekakkan telinga terdengar. Terakhir, aku
melepaskan Bogart yang kujadikan senjata itu lalu menendangnya.
(Rasakan
ini!)
Suara
ledakan blar bergema.
Kilatan
cahaya dan ledakan. Ini adalah serangan balasan yang kuat, sekaligus berfungsi
sebagai pengalih perhatian.
Menjadikan tubuh
lawan sebagai senjata itu sendiri.
Ini jelas cara penggunaan Explosion Seal Zatte Finde
yang salah. Ada satu hal yang perlu diperhatikan. Harus sangat berhati-hati
saat meresapkannya. Tubuh makhluk hidup memiliki struktur yang jauh lebih
kompleks daripada batu atau besi. Jika gagal, aku bisa berakhir konyol karena meledakkan diri sendiri.
(Justru
karena bertarung dengan cara yang berbahaya seperti inilah, peluang menang itu
muncul.)
Aku tidak
berniat mati. Karena aku tidak ingin melupakannya. Milete. Nark Dexter. Dan
masih banyak lagi yang lainnya. Orang-orang dari Pasukan Forbartz yang telah
gugur.
Sampai
aku bisa menyampaikannya pada seseorang dan mencatatnya, aku tidak boleh mati.
"Woah──nggak
bisa dipercaya. Ternyata ada orang sehebat ini. Jadi ini Xylo Forbartz……"
Aku
mendengar suara Yukihito. Itu
artinya, konsentrasinya mulai pecah.
(Ayo fokus.
Semangat lagi……!)
Aku mencabut
pedang berikutnya dari tanah.
Teoritta dan yang
lainnya──apakah mereka bisa menerobos dengan selamat? Tapi aku tidak punya
waktu untuk menoleh. Karena aku harus mengulur waktu selama mungkin, walau
hanya satu menit atau satu detik saja.
"Kenapa,
Yukihito? Musuhmu cuma satu orang lho."
Sambil
memprovokasi pria yang sepertinya adalah komandan ini, aku mengayunkan pedang.
Menebas lidah Fuua, menebas kakinya, dan terakhir wajahnya.
"Sini, kau
sendiri yang hadapi aku!"
"Nggak
ah──makasih. Aku nggak merasa bisa menang kalau melawanmu secara fisik. Seperti
kata Tovey, kau itu tipe musuh yang bakal bikin kita terlihat bodoh kalau
dihadapi dengan serius. Pengepunganku juga sudah diterobos……"
Yukihito ternyata
cukup tenang. Dia mengerucutkan bibirnya seolah sedang kesulitan, lalu
mengangkat satu tangannya.
"Terpaksa
deh, pakai kartu as. Tolong, Empusa."
"Entah apa
pun itu, nggak bakal aku biarkan……!"
Kartu as. Sesuatu
akan datang. Sebelum itu terjadi, aku berniat membereskan Yukihito.
Agak dipaksakan
memang, tapi kupikir di sini aku bisa melakukannya. Aku mengaktifkan Aero
Seal Sakara dengan kekuatan penuh, meresapkan Zatte Finde ke dalam pedang,
lalu bermaksud melibatkan dia dalam ledakan skala besar. Hal itu akan membuatku
ikut terluka, tapi aku tidak peduli. Aku akan membunuhnya.
Seharusnya itu
akan menjadi serangan yang mirip dengan bunuh diri.
(──Apa ini?)
Rasanya kakiku
terpeleset.
Lumpur ada di
depan mataku. Tanah. Aku menghantam tanah. Aku menyadari diriku sendiri telah
terjatuh. Ada yang aneh.
Seharusnya aku
sudah mengaktifkan Aero Seal dengan kekuatan penuh, tapi aku hampir
tidak bisa melompat. Karena itulah kakiku terpeleset──Holy Seal-nya
tidak merespons. Explosion Seal juga tidak meresap ke dalam pedang.
Rasanya sangat aneh.
Sesuatu telah
dilakukan padaku.
(Tapi, apa?)
Sambil terjatuh
dan merasakan dinginnya lumpur di wajahku, aku melotot ke arah Yukihito.
Ada seseorang di
belakangnya. Apakah seorang wanita──rambutnya yang berkilau warna biru tua
perlahan bergoyang meski tidak ada angin, sambil memercikkan bunga api.
(Fenomena Raja
Iblis ya)
Aku hampir merasa
yakin. Alasannya adalah kakinya. Kakinya berbentuk kuku kuda. Telinganya pun
mirip telinga kuda. Terlebih lagi lengan kirinya──lengan kiri yang dibalut kain
hitam itu tampak panjang dan kurus, terasa tidak proporsional.
"Baguslah.
Ternyata beneran ampuh ya……"
Suara Yukihito
mengandung sedikit rasa lega dan keterkejutan.
"Tovey
yang mengirimnya, ternyata sangat berguna. Syukurlah aku mengamankannya tanpa
sepengetahuan Boojum. Dia kan nggak bakal kepikiran soal kesepakatan kayak
begini."
Apa
maksudnya. Aku mencoba bangkit dan bergerak.
Fairy datang. Mereka melompat untuk
membunuhku──tapi makhluk itu remuk di udara. Terdengar suara basah seolah
sesuatu baru saja menabrak, cetar. Rasanya lengan kanan Yukihito
bergerak, tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Tunggu
dulu. Bakal repot kalau dia terbunuh."
Ucap Yukihito.
"Biarkan dia
tetap hidup. Dia itu bahan kesepakatan yang penting."
"──Benar.
Berhenti, wahai para binatang."
Fenomena Raja
Iblis berkuku kuda itu juga membuka suara. Gaya bicaranya terdengar sedikit
kuno.
"Aku tidak
ingin melakukan cara kasar. Wahai Elang Guntur, aku menaruh hormat
padamu──sebagai pembantai kejam yang dibanggakan umat manusia. Jangan lakukan
perlawanan yang sia-sia. Aku tidak akan menyakitimu."
"Aku nggak
ngerti."
Sambil merangkak,
aku mengutarakan apa yang sejujurnya kupikirkan.
"Bahan
kesepakatan?"
"Iya. Kami
akan menangkapmu dan melakukan kesepakatan."
Kata-kata
Yukihito terdengar seperti lelucon yang buruk.
Bukankah itu sama
dengan apa yang ingin kami lakukan terhadap Boojum? Apakah dia sedang
menyindir, atau dia mengatakannya dengan serius?
"Apa kau
bodoh?"
Pertama-tama, aku
meragukan kewarasan orang-orang ini. Tadi dia bilang "Para Prajurit Hukuman". Itu adalah ucapan
seseorang yang tahu tentang kami.
"Apa
kau nggak tahu soal Holy Seal di leher kami? Di mana pun kami berada,
benda ini bakal──"
"Gimana
kalau ada cara buat menghentikan fungsi Holy Seal itu?"
Yukihito
melangkah satu langkah mendekatiku. Dia menatap rendah ke arahku.
"Apa tadi Aero
Seal-mu aktif? Bagaimana dengan Explosion Seal-mu?"
Aku terpaksa
harus mengakui kata-katanya. Sekarang pun masih sama. Dalam satu gerakan untuk
bangkit, aku mencoba melompat dan melarikan diri, tapi pada akhirnya aku hanya
terjatuh lagi dengan memalukan. Kemungkinan besar, Empusa-lah yang melakukan
sesuatu.
Makhluk ini bisa
menghentikan fungsi Holy Seal. Aku tidak punya pilihan selain berpikir
begitu. Jika begitu──.
"Ups! Jangan
lakukan itu."
Aku mengeluarkan
pisau dan berniat menggorok leherku sendiri. Rasa sakit menjalar di tanganku.
Tulangku
dipatahkan──oleh lengan kanan Yukihito. Lengan yang dibalut pelindung tangan
itu memanjang dengan kecepatan yang tidak wajar dan meremukkan pergelangan
tanganku. Rasanya
lengan itu bergerak-gerak seperti tentakel dan seolah membengkak.
"Awalnya
ini ide si Tovey itu."
Sambil
terus mencengkeram pergelangan tangan kananku, Yukihito bergumam.
"Cara
untuk melumpuhkan Prajurit Hukuman yang tidak bisa mati. Menangkap tanpa
membunuh, lalu memenjarakan mereka. Efektif, kan?"
Aku tidak
menjawab. Mungkin memang benar begitu.
"Diam
saja di situ. Aku ingin
melakukan kesepakatan secara pribadi dengan Dotta Luzulas itu."
Dotta. Bukan
Boojum──ternyata incaran orang-orang ini adalah dia?
Jangan-jangan, si
brengsek itu mencuri sesuatu yang lain lagi ya.
"Nah, buat
jaga-jaga. Apa lengan satunya kupatahkan juga ya……"
"Berhenti.
Aku tidak mengizinkanmu melukai orang ini lebih dari yang diperlukan. Ikat saja
dia."
Yang menghentikan
Yukihito adalah Empusa. Fenomena Raja Iblis berkuku kuda. Dia mengintip ke
arahku.
Saat itulah aku
menyadari sesuatu. Warna mata kiri dan kanan Empusa berbeda. Yang kanan
berwarna biru, tapi mata kirinya berkilau hitam pekat, dan terlihat basah
seolah sedang menangis.
"Sang
Pembantai, Xylo Forbartz."
Empusa
memanggilku dengan sebutan seperti itu.
"Aku menaruh
minat dan rasa suka padamu. Berbeda dengan saudara-saudaraku yang lain. Aku percaya bahwa rasa
ingin tahu seperti inilah yang diharapkan dariku. Karena itu aku bersikap baik
padamu. Benar, kan?"
Begitulah
cara Empusa membuat senyuman. Senyum milik Fenomena Raja Iblis itu sama sekali tidak bisa dipercaya.
Meskipun kata-katanya bisa dimengerti, bukan berarti logika manusianya juga
bisa dimengerti.
"Jika kau
berjanji untuk menjadi tawanan, kau akan menjadi tamuku. Aku akan
memperlakukanmu dengan sopan. Tidak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu. Sejak
dulu aku sudah ingin berbincang-bincang denganmu."
"Yah,
begitulah situasinya, Xylo Forbartz."
Yukihito masih
waspada terhadap lengan kiriku. Kali ini dia mencengkeram bahu kiriku dengan
tangan kanannya.
"Ikutlah
bersama kami. Tovey
juga bilang ingin bicara denganmu."
"Tovey…… Huker, ya. Ada urusan apa si brengsek itu denganku?"
"Persuasi.
Katanya, kalau kau keluar, maka para Prajurit Hukuman tidak akan semenakutkan
itu lagi. Katanya sih supaya pertempuran ke depannya jadi lebih
menguntungkan──nah, detailnya tanya saja sendiri padanya."
"Konyol
sekali."
Inilah yang
sejujurnya kupikirkan. Benar-benar membuatku muak.
"Kalau
begitu langkah kalian itu tidak ada gunanya. Tanpa aku pun para Prajurit
Hukuman tidak akan kesulitan, dan seandainya pun Prajurit Hukuman hilang dari
medan perang, itu tidak akan memengaruhi situasi secara keseluruhan."
Masih ada Ordo
Ksatria Kesebelas yang dipimpin oleh Vieux Wintier, dan ada Ryufen Caulon.
Selama mereka berdua ada, laju pasukan manusia tidak akan pernah berhenti.
Nilai keberadaanku dan teman-temanku itu hampir tidak ada.
Jika aku tidak
ada, seseorang yang tidak beruntung lainnya hanya akan menggantikanku
melakukannya.
"Mungkin
saja."
Yukihito
mengangguk seolah mengakui hal itu dengan mudah.
"Tapi,
bagiku yang mana saja boleh. Bagiku sih nggak masalah yang mana saja──tapi, apa
kau mau diam menurut?"
"Kalian
ini benar-benar melakukan hal yang nggak ada gunanya ya. Kalau kalian sudah tahu soal itu, ya terserah
kalian sajalah."
"Oh! Kalau
begitu, bisa dianggap kau setuju ya?"
Empusa
bertepuk tangan dengan gembira.
"Ini
membuatku senang! Hmm. Baiklah, aku harus mengadakan pesta penyambutan. Benar
begitu kan, Yukihito?"
"Terserah
kau saja lah. Itu bukan urusanku."
"Pria
yang dingin ya──nah, Xylo Forbartz! Apa ada merek teh yang kau suka? Oh benar, aku juga harus menyiapkan
makanan. Apa yang dimakan oleh Prajurit Hukuman? Apa sama dengan manusia biasa?
Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, jangan sungkan untuk mengatakannya."
Seolah-olah
sedang ingin memelihara hewan baru. Aku tahu seseorang yang bertingkah seperti
ini. Ayahnya Frensie. Dengan cepat aku mulai merasa muak.
Begitulah,
kesepakatan pun tercapai.
Seolah-olah ditukar dengan Boojum, aku menjadi tawanan mereka.



Post a Comment