NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 7 Chapter 7-8

Hukuman

Infiltrasi Pasukan Fenomena Demon Lord Pegunungan Kazit 1


──Operasi Pemusnahan dan Pembersihan Pegunungan Kazit, hari kelima.

Hujan yang mulai turun sejak pagi sedikit mereda saat tengah hari. Di tengah rintik hujan yang setipis benang, kami mulai bergerak. Melalui lorong bawah tanah menuju sisi timur. Memutar melewati garis punggung bukit, menyusuri jalan setapak binatang.

Ada dua alasan mengapa baris berbaris ini terasa tidak menyenangkan.

Pertama adalah kelembapan yang tinggi, dan yang kedua adalah keberadaan Dotta.

"Pasti mustahil."

Dotta masih saja menyuarakan keluhan dan ketidakpuasannya.

Sepanjang perjalanan mendaki jalan setapak bersamaku, dia terus begitu. Tanpa henti meracaukan kata-kata lemah, omelan, rengekan──pokoknya segala jenis opini pesimistis yang ada di dunia ini.

"Lebih baik berhenti saja. Kita bakal mati, sudah pasti. Aku tidak mau mati. Sakit…… menderita……"

"Asal tidak mati, tidak masalah, kan."

Aku membalas dengan jawaban yang sangat singkat. Seharusnya itu adalah jawaban yang sempurna.

"Kamu pasti bisa. Percayalah pada dirimu sendiri."

Sambil berkata begitu, aku mencengkeram bahu Dotta. Memberikan penekanan bahwa aku tidak akan membiarkannya kabur. Bocah ini akan langsung menghilang begitu melihat celah, jadi aku harus waspada. Meski begitu, aku tetap merasa was-was, jadi ada satu orang lagi sebagai penuntas. Teman perjalananku yang terus mengawasi Dotta.

Maksudku adalah Trishiel.

"Jangan pikirkan hal yang tidak perlu, Rubah Gantung."

Wanita ini memanggil Dotta dengan sebutan begitu. Rubah Gantung. Itu adalah hewan yang aku tahu. Di selatan, mereka juga disebut Rubah Sudare. Jenis rubah yang tinggal di hutan dan ahli berburu dari atas pohon.

Jika ditanya apakah mirip dengan Dotta, aku hanya bisa mengangguk sedikit.

"Bertarung lalu mati seketika lebih baik daripada mati kelaparan, kan. Jika kita tidak bisa mengamankan pasokan di sini, dalam beberapa hari kita akan kelaparan dan tidak bisa bergerak. Setidaknya kamu paham hal itu, kan."

Gaya bicara Trishiel selalu lugas dan tanpa ampun. Bagiku, itu adalah kualitas yang bagus sebagai seorang militer. Hal itu juga membuatku merasa lebih santai.

Trishiel, aku, dan Dotta. Ketiga orang inilah yang bertugas dalam operasi khusus kali ini. Yaitu, Operasi Pasokan Logistik. Atau bisa juga disebut Operasi Pencurian.

Karena ada tentara bayaran yang bercampur dalam kawanan Fairy musuh, sudah pasti ada stok makanan untuk manusia di suatu tempat. Mereka punya markas, bukan sekadar sarang.

Dan berdasarkan titik-titik di mana para tentara bayaran itu terlihat, kami telah menentukan perkiraan lokasinya.

Lagipula, tidak banyak tempat di gunung yang bisa ditinggali oleh manusia dalam jumlah tertentu.

(Kalau mereka mengumpulkan logistik di satu tempat, bakal jauh lebih mudah…… tapi rasanya tidak akan semudah itu.)

Sepertinya, ada seseorang yang paham cara bertarung manusia telah bergabung di pihak musuh.

Benar-benar tangguh. Aku pernah mendengarnya dari Jace sebelumnya, kalau tidak salah namanya adalah Tovitz Huker.

Jika bicara soal keluarga Huker, mereka seharusnya adalah bangsawan pusat. Cabang dari keluarga kerajaan garis keturunan Zeyal. Hanya saja, terlalu banyak orang yang menggunakan nama itu, jadi aku tidak tahu "Huker" yang mana.

(Sekarang yang penting adalah logistik. Semacam gudang ransum. Temukan tempatnya, lalu rebut.)

Demi tujuan ini, kami bergerak diam-diam melalui lorong bawah tanah, lalu menyusuri jalan setapak dari pintu keluar paling timur selama sekitar empat jam.

Situasinya sudah sedemikian rupa sehingga tidak aneh jika kami berpapasan dengan kawanan Fairy kapan saja.

"……Aku mengerti. Aku juga tidak mau mati kelaparan…… tapi,"

Sambil berjalan, Dotta masih terus bergumam. Dia memang penuh keluhan.

"Bagaimanapun juga, ini mustahil, lho……. Maksudku, pasti mustahil."

"Apanya yang mustahil?"

"Apanya, apanya! Menyusup ke dalam pasukan Demon Lord Phenomenon itu kubilang pasti mustahil!"

"Suaramu terlalu kencang."

"Benar sekali. Padahal dia punya kemampuan supranatural dalam hal infiltrasi, tapi kelakuannya merepotkan."

Aku dan Trishiel menyuarakan pendapat yang hampir sama. Dotta mengacak-acak rambutnya dengan wajah tidak puas.

"Aku ini sudah bertindak sesuai situasi dengan membuat keributan, tahu! Aku memikirkan baik-baik mana yang buruk dan mana yang baik! Tapi, itu hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan diriku sendiri…… bagaimana ya mengatakannya……"

"Ya. Singkat saja."

"Lakukan itu, Rubah Gantung. Aku juga tidak suka bicara berbelit-belit."

"Kalau begitu, aku akan bilang terus terang! Menyusup ke dalam pasukan Demon Lord Phenomenon itu tandanya sudah tidak waras!"

Suara Dotta mirip dengan jeritan anak kecil. Aku menutup satu telinga, sementara Trishiel menutup kedua telinganya.

"Mencuri pasokan musuh sih aku masih paham. Aku setuju. Soalnya gawat kalau tidak ada makanan…… tapi, menyusup ke unit musuh itu beda cerita, kan!"

"Tidak beda, kok. Masuk diam-diam, membaur di antara para tentara bayaran. Lalu sekalian mengambil informasi."

"Tingkat kesulitannya beda jauh! Untuk apa kita harus melakukan hal semacam itu?"

"Sudah kubilang, kan. Untuk informasi. Aku ingin tahu situasi musuh."

Bagi kami, ada satu informasi yang mutlak diperlukan. Yaitu, siapa komandan musuh. Aku yakin dia adalah Demon Lord Phenomenon, tapi orang seperti apa dia.

Jika tahu, kita bisa memikirkan langkah yang harus diambil. Sebaliknya, kalau tidak tahu, kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Apa pun boleh, saat ini kami butuh petunjuk.

"Anu, soal markas musuh itu. Benar-benar ketahuan?"

Dotta bertanya dengan nada ragu.

"Itu cuma perkiraanmu, kan, Xylo?"

"Benar. Tapi, aku pernah bertarung di Pegunungan Kazit ini."

Aku pernah memimpin unit sebagai Komandan Ordo Ksatria Suci Kelima dan bermarkas di area ini.

Dalam proses itu, aku tahu tempat-tempat yang cocok untuk mengumpulkan logistik dan membangun barak sangatlah terbatas.

Waktu itu semuanya masih ada. Rasanya apa pun yang kami lakukan selalu menyenangkan.

"──Aku sudah menemukannya, Komandan."

Eks-Ordo Ksatria Suci Kelima──kakak dari Diele bersaudara selalu menjadi pelopor unit.

Dia selalu mengajukan diri untuk melakukan pengintaian paksa, menyapu bersih musuh, dan memastikan keamanan. Dia tenang dan tidak pernah memaksakan diri.

Menyelesaikan segala sesuatu dengan persiapan matang. Dia adalah perwira yang baik.

"Tempat yang sempurna. Kalau diserahkan pada Yang Mulia Senerva, mungkin beliau bisa membangun penginapan mewah di sini."

"Ah──itu ide bagus."

Senerva tertawa senang, seharusnya begitu.

"Aku ini sebenarnya suka memanggil bangunan seperti itu. Xylo juga begitu, kan? Penginapan sumber air panas, tidak ada salahnya kan kalau ada banyak di dunia ini."

Memang benar, pikirku. Saat berada di gunung ini, aku hanya teringat hal-hal seperti itu.

"Komandan kan suka sumber air panas. Sepertinya Komandan Ryufen juga begitu. Apa sedang tren di kalangan para Komandan Ordo Ksatria Suci?"

Yang mengatakan ini adalah Efmat. Sersan Penembak Jitu Efmat Jonsoas.

"Aku juga. Suka sumber air panas."

Ini adalah adik dari Diele bersaudara.

"Kalian semua kurang waspada. Saat ini, kita bisa dibilang sedang dikepung. Kita butuh benteng yang kokoh."

Kalimat yang mirip gerutuan ini diucapkan oleh──siapa ya?

"Xylo."

Waktu itu──aku bisa mengingat ini. Yang terakhir memanggil namaku adalah Senerva.

"Kalau sudah menyelamatkan dunia, ayo pergi bersama. Wisata sumber air panas. Atau mau mengelola penginapan?"

Seperti apa ekspresi wajahnya saat mengatakan hal itu?

(Sial.)

Seharusnya aku memaki dalam hati, tapi sepertinya terucap lewat mulut. Dotta menatapku dengan cemas.

"Eh, apa? Xylo, kenapa? Kepalamu sakit?"

"Bukan apa-apa. Bukan masalah besar. Aku cuma kurang tidur sejak kemarin."

Aku sadar ternyata aku sedang memegangi kepala. Aku berbohong untuk menutupinya.

"Nah──kita hampir sampai di wilayah musuh. Ayo kita mengobrol sedikit lagi."

"Hah? Kenapa! Mau mati? Kita bakal ketahuan!"

Sudah kuduga, Dotta memberikan reaksi yang hebat. Sesuai perkiraan.

"Kalau mau menyelinap, kamu harus ikuti instruksiku!"

"Ini bukan menyelinap, tapi infiltrasi. Untuk itu, kita harus membiarkan musuh menemukan kita dulu."

"Eh…… aku sama sekali tidak paham lagi……. Kamu mau kita bunuh diri dengan cara yang paling gampang?"

"Bukan. Aku tidak berniat mati."

Hanya hal itu yang pasti. Aku tidak butuh Teoritta untuk mengatakannya padaku. Aku sudah memutuskan tidak akan memilih kematian atas kemauanku sendiri.

──Ingatanku mulai tidak bisa kupercayai. Aku tidak ingin mati lagi.

"Bagus. Berisik ada gunanya juga. Mereka datang ke arah sini dengan tepat."

Aku menepuk permukaan tanah dengan telapak tangan kiri. Dua kali, tiga kali. Aku tahu dari suara langkah kaki. Manusia. Sekitar lima puluh langkah. Mereka pasti mendengar obrolan kami dari jauh. Artinya rencanaku berhasil.

"──Siapa di sana?"

Suara seseorang yang sedang waspada. Aku balas berteriak sambil memiting Dotta yang meronta.

"Tolong! Musuh datang, satu orang kena! Di sini!"

"Musuh? Jangan-jangan, unit itu…… pasukan Forbartz muncul? Jangan bergerak, kami datang!"

Mereka mendekat. Sesuai prediksi, ada tiga orang manusia. Semuanya laki-laki. Persenjataan mereka bermacam-macam, tapi lumayan oke. Dua orang memegang Thunder Staff. Satu orang yang memimpin berlari sambil mengayunkan pedang seperti parang, menebas dahan-dahan pohon.

Tentu saja dalam waktu itu, aku menarik Dotta untuk bersembunyi di semak-semak, sementara Trishiel tiarap seolah-olah ambruk di tanah. Pria yang memegang pedang itu membungkuk, mencoba mengangkat tubuh Trishiel.

"Hei, lukanya di mana? Parah? Di mana musuhnya──ghh."

Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Lehernya telah ditebas oleh pedang Trishiel. Sebuah serangan dengan kekuatan fisik yang luar biasa hanya dengan satu tangan kanan. Kepalanya melayang. Aku bersyukur tidak membawa Teoritta kemari.

"Makhluk ini!"

Dua orang sisanya tidak cukup bodoh untuk berdiam diri. Kemampuan mereka lumayan. Mereka mencoba mengaktifkan Thunder Staff, tapi kami sudah bergerak lebih dulu. Aku berniat mengakhirinya dalam sekejap.

Tepatnya, aku melompat sambil mendekap Dotta. Lompatan menggunakan Flight Seal Sakara.

Memang tidak semudah jika dilakukan Teoritta, tapi kalau cuma membawa Dotta, aku masih bisa mengatasinya.

"Uuakh!"

Jeritan Dotta. Aku menjatuhkan Dotta tepat di atas kepala kedua pria itu. Tidak banyak orang yang bisa bereaksi akurat terhadap manusia yang tiba-tiba jatuh dari atas kepala.

Tembakan Thunder Staff dilepaskan dua kali. Benar-benar meleset dari sasaran. Dotta meringkuk di udara dan berhasil mendarat dengan posisi sempurna.

(Gerakan akrobat yang hebat. Apa dia kucing? Tak disangka, dia mungkin cocok jadi prajurit kilat.)

Saat aku mendarat sambil memikirkan hal itu, semuanya sudah hampir beres. Tebasan Trishiel menembus dada orang kedua, dan orang ketiga jatuh tersungkur karena digulung oleh Dotta yang jatuh menimpanya.

"Ce-cepat……!"

Tanpa sadar, di tangan Dotta sudah ada Thunder Staff yang sepertinya ia rampas dari pria itu.

"Sialan!"

Tembakan dilepaskan. Jarak dekat. Kepala pria itu terguncang hebat, lalu dia tumbang dan tidak bergerak lagi. Sesuai dugaan. Aku pernah melihatnya di Ibukota Pertama, Dotta memang ahli dalam gaya bertarung seperti ini.

"Xylo! Aku pikir aku bakal mati……!"

Dotta merangkak pergi dari tubuh pria itu seperti serangga. Lalu dia memprotesku dengan galak.

"Melemparku tiba-tiba begitu! Keterlaluan, bagaimanapun juga itu keterlaluan!"

"Eh? Tidak…… masa hal seperti itu saja membuatmu marah?"

"Terlalu kasar, tahu! Jelaskan dulu apa yang mau dilakukan!"

"Kalau kujelaskan, kamu bakal menjerit 'tidak mau', jadi aku tidak bilang. Kamu pasti bakal menjerit, kan."

"……Ya menjerit, sih……"

"Daripada meributkan itu, ini prestasi besar. Aku tidak menghabisi satu pun, tapi kamu satu orang, dan Trishiel dua orang. Nanti kamu boleh pamer. Bilang saja 'Xylo cuma menonton'."

Aku memberikan konsesi maksimal. Memang melemparku tiba-tiba mungkin agak berlebihan. Namun, Dotta sepertinya sangat bingung.

"Bukan begitu, maksudnya apa? Ini bukan prestasi besar. Kita kan tidak bisa pulang gara-gara ini……?"

"Ya. Dari sinilah babak utamanya dimulai."

Aku menatap pria-pria yang tumbang itu. Pakaian orang yang tertusuk dadanya terlalu berlumuran darah, tapi pakaian dua orang lainnya sepertinya bisa dipakai.

Kami akan menggunakan perlengkapan dan pakaian mereka untuk menyusup. Itulah tujuanku memancing mereka keluar.

"Dua set, ya. Yang menyusup adalah aku dan Dotta. Trishiel, tunggu di titik rencana pertama."

"Baiklah. Ukurannya juga tidak cocok denganku."

Trishiel mengangguk setelah melirik sekilas ke arah dua mayat itu.

"Hanya saja, tinggi kedua orang ini. Sepertinya masih terlalu besar untuk Rubah Gantung."

"Akan kupermak sedikit. Kalau cuma sebentar tidak akan ketahuan…… mungkin."

"Semoga saja. Kalau ketahuan jangan mengandalkanku, ya. Tidak seperti kalian, aku ini masih punya nyawa untuk mati secara normal."

"Enak sekali ya jadi kamu."

Aku bertukar seloroh dengan Trishiel sambil mengenakan pakaian prajurit yang mati. Hal yang menonjol bukan perlengkapannya, melainkan kain biru yang melilit di pinggang. Hanya ini yang dimiliki ketiganya. Mungkin semacam tanda pengenal.

"Kalian berdua ini……"

Dotta menatap kami seolah melihat sesuatu yang mengerikan.

"Kenapa dalam situasi begini, kalian bisa bercanda seperti itu? Apa kalian terlalu santai?"

"Bukannya santai. Tidak ada gunanya juga kalau cuma murung."

"Masa, sih."

"Sudahlah, kamu juga cepat pakai. Kamu mau berkeliaran di markas musuh dengan penampilan begitu?"

"Aku tidak mau berkeliaran dengan penampilan apa pun, tahu……"

Dotta menghela napas.

"Setelah memakai ini, kita mau apa?"

"Mencuri. Sebelum itu, mengumpulkan informasi dengan ramah."

"Itu kan kelemahan Xylo."

"Oh. Kamu mulai bersemangat, ya. Sudah mulai jago berseloroh."

Dia punya bakat di tempat yang aneh. Jika dilatih dengan benar, apa dia bisa jadi perwira yang baik?

"Memang bersikap ramah itu kelemahanku. Artinya, aku mengandalkanmu. Mohon bantuannya."

"Eh. Aku benci sekali dengar itu."

Saat punggungnya ditepuk, Dotta memasang wajah seperti ingin muntah.

"Jangan khawatir, Rubah Gantung."

Trishiel memberikan serangan susulan.

"Aku bilang tidak akan menolong, tapi kalau kamu mati, aku akan berusaha memungut jasadmu."

Wanita itu tertawa dengan cara yang sangat kelam. Terlebih lagi, ada percikan darah di pipinya yang tertawa.

"Jadi, jangan terlalu takut. Berapa kali pun kamu mati, aku akan membuatmu berdiri di medan perang. Sampai kamu menjadi pahlawan."

"Anu, soal itu, setiap kali dibilang aku selalu menjawab…… aku tidak tertarik dengan hal semacam itu……"

"Kamu mengatakan hal yang cukup cerdik, ya. Tapi, aku tahu. Kamu tidak cukup pintar untuk sekadar jadi prajurit biasa, dan kamu juga tidak benar. Kamu cocok jadi pahlawan, Rubah Gantung."

Trishiel terdengar sangat yakin.

Apakah kata-kata itu hanya seloroh belaka atau dia benar-benar serius, aku tidak tahu.


Hukuman

Infiltrasi Pasukan Fenomena Demon Lord Pegunungan Kazit 2


Medan tempur itu merupakan wilayah yang menyerupai kipas, terbentuk dari aliran sungai yang membelah Pegunungan Kazit.

Celah di antara lereng-lereng curam. Tanah terbuka tempat sungai mengalir.

Di sanalah kami tiba, di sebuah markas yang dibangun oleh pasukan gabungan manusia dan Fairy.

(Aku ingat tempat ini.)

Dulu, Ordo Ksatria Suci Kelima pernah bermarkas di sini. Jika dipikirkan lagi, ini hal yang wajar. Tidak banyak medan yang cocok untuk menempatkan pasukan dalam jumlah besar.

(Tempat ini tahan api. Tidak akan mudah terbakar.)

Pasalnya, sungai berada sangat dekat. Akan sulit untuk menyapu bersih persediaan logistik mereka dengan api.

(Kalau mau menyerang markas ini, bukan dengan api. ……Tapi air. Gunakan air……)

Sambil berjalan di atas tanah berlumpur, aku memikirkan hal itu. Aku melangkah di sela-sela tenda, berbaur dengan para prajurit seolah-olah aku memang bagian dari mereka. Observasi tidak boleh terlewatkan.

"Anu…… jumlah mereka banyak sekali ya," bisik Dotta pelan.

"Fairy-nya banyak, tapi manusianya juga. Seribu…… atau dua ribu orang?"

"Kira-kira segitulah. Lagipula, sepertinya moral mereka tinggi."

Hal itulah yang lebih membuatku penasaran. Tentara bayaran manusia yang memihak Demon Lord Phenomenon, tanpa perlu menyebut Trishiel sebagai contoh, biasanya memiliki aura yang suram. Tapi orang-orang di sini entah kenapa tampak santai.

"Sepertinya faksi simbiotik di utara memberikan perlakuan yang baik. Setidaknya cukup baik hingga mereka mau mendaftar jadi tentara dengan sukarela."

Mereka tidak akan kelaparan, dan tidak akan dijadikan mangsa oleh para Fairy.

Dengan jaminan dasar itu, ada kemungkinan mereka juga dijanjikan masa depan setelah kemenangan atas umat manusia.

"Pokoknya tenanglah, Dotta. Jangan celingukan."

Aku berusaha menjaga pandanganku agar tidak terlalu banyak bergerak.

"Ingat setelannya, kan?"

Infiltrasi membutuhkan penyamaan persepsi minimal. Meski tidak sehebat Vanetim, aku juga sedikit memutar otak.

"Namaku Ryuken, dan kamu Lars. Lahir dan besar di utara. Anu…… teman masa kecil dari desa bernama Kudonchev. Kita sukarelawan baru, jadi tidak tahu banyak soal urusan internal di sini. Ingat?"

"Aku tidak percaya diri, nih. Lagipula infiltrasi itu sama sekali bukan bidang keahlianku."

"Tapi setidaknya kamu lebih mending dariku, kan."

"Yah, itu benar sih……"

"Banyak bicara juga kamu."

Aku berniat menendang tulang kering Dotta, tapi dia menghindar dengan lincah.

Sepertinya dia mulai mendapatkan ritmenya.

"Ayo pergi."

Aku segera melangkah maju. Dotta tidak akan berani kabur sekarang.

Pasalnya, kami sudah berada di tengah-tengah kamp, dikelilingi oleh Fairy dan prajurit yang lalu lalang. Berlakulah sealami mungkin. Jangan terburu-buru.

Aku sudah punya tujuan yang jelas. Sebuah tenda besar yang berdiri di dekat area pusat.

(Itu pasti kantin.)

Sesuatu yang wajib ada di setiap pangkalan militer. Asap masakan mengepul dari sana, dan para prajurit manusia keluar dengan ekspresi yang jelas-jelas rileks.

Pada akhirnya, tempat seperti inilah yang terbaik untuk mengumpulkan informasi. Kewaspadaan manusia akan mengendur saat sedang makan.

"──Oi."

Saat kami hendak menyelinap masuk ke tenda kantin, sebuah suara memanggil dari samping.

Seorang pria berkumis. Dia menatap kami sambil mengernyitkan dahi. Dotta mengeluarkan suara 'hik' pelan dari tenggorokannya. Menurutku reaksinya terlalu berlebihan.

"Apa yang kalian lakukan?"

"Eh?"

Aku memasang wajah sebodoh mungkin.

"Apa? Anu, kami lapar jadi mau makan……"

"Kalau begitu tunjukkan kuponnya. Antre, dong."

Pria berkumis itu menengadahkan satu tangannya. Sepertinya dia adalah semacam penjaga kantin ini.

"Oi, cepat keluarkan. Kuponnya. Kalian tidak punya?"

Gaya bicaranya sangat menantang. Bahu Dotta bergetar kecil, dan dia menatapku dengan cemas.

Dia mencengkeram lenganku, seolah-olah memintaku untuk tidak menggunakan kekerasan. Aku tahu. Aku juga bukan pria yang menyelesaikan segala hal dengan kekerasan.

Sebisa mungkin aku bersikap rendah hati. Untuk saat ini, aku memberikan senyum ramah.

"Anu…… maaf, kupon itu apa ya? Kami baru saja dikirim kemari. Jadi belum paham soal aturan-aturan di sini. Belum diajari juga."

"Apa katamu? Anak baru ya. Lagipula, kainmu itu……"

Tatapannya beralih ke arah pinggangku. Ada kain biru di sana.

Jika dilihat baik-baik, kain di pinggang pria berkumis itu berwarna merah.

Apakah mereka membedakan asal atau divisi dengan warna kain?

Aku ingin menyelidiki ini lebih lanjut.

"Kalian dari keluarga Wyzofshin? Sial. Orang-orang di sana memang selalu begini……"

Wyzofshin. Aku pernah mendengar nama itu. Pasti bangsawan faksi simbiotik yang pernah disebutkan Nark.

"Berani-beraninya mengirim anak baru yang tidak tahu apa-apa…… harusnya diajari dulu, dong. Oi, siapa komandan unitmu? Kalau mau makan, kupon itu mutlak diperlukan. Nanti Tuan Mata Tiga bisa marah!"

Sepertinya ada petugas logistik yang sangat ketat di sini. Pria berkumis itu terus mengoceh.

"Dengar ya? Kita ini sedang berusaha menumpang di kuda pemenang. Kuda yang bernama Demon Lord Phenomenon. Berkat itu kita tidak perlu pusing soal makanan, dan tidak perlu bertarung di garis depan. Keluarga kita pun dilindungi. Kalian juga mendaftar karena alasan itu, kan?"

Tak disangka, aku mendapatkan informasi bagus. Sepertinya kali ini aku sedang beruntung.

Jadi prajurit manusia di sini spesialis dukungan logistik, dan bertarung di baris depan tidak termasuk dalam kontrak mereka.

"Makanya, kalau tidak ditertibkan dengan ketat, kita tidak akan bisa bergerak sebagai unit militer minimal. Aku tidak akan memaafkan orang-orang sembrono seperti kalian! Oi, kalian dengar tidak?"

"──Hei."

Aku menoleh ke arah Dotta.

"Ini mulai merepotkan. Boleh aku lanjut ke tahap kedua rencana kita?"

"Jangan. Anu, soal itu, kuponnya? Aku punya, kok……"

"Oh."

Aku benar-benar terkejut. Dotta menyodorkan dua buah kupon kayu.

Bentuknya sangat mirip dengan 'tanda' perintah yang digunakan di militer Aliansi Kerajaan.

Sepertinya mereka tidak punya mekanisme verifikasi menggunakan Segel Suci, tapi simbol yang terukir di sana berfungsi sebagai tanda pengenal.

"Ah. Apa-apaan, sih."

Pria berkumis itu mengangguk setelah melihat kupon kayu yang disodorkan Dotta. Dia memberi isyarat dengan dagunya agar kami masuk.

"Kalau punya ya keluarkan dari tadi. Serahkan di dalam."

Tentu saja, hanya di saat seperti inilah aku merasa ingin berterima kasih pada kebiasaan mencuri Dotta.

Aku tidak menyangka dia sudah beraksi dalam jarak pendek sebelum mencapai tenda ini.

Sambil melangkah masuk ke tenda bersama Dotta, aku bertanya dengan suara rendah.

"Hebat juga kamu. Sudah mencurinya?"

"Iya. Xylo, sesekali selesaikanlah masalah tanpa kekerasan……"

"Aku sudah berusaha keras tadi."

"Cuma sekitar lima detik, kan. Kamu sudah mau menyerah begitu saja."

"……Yah, begitulah."

Sejujurnya dikritik oleh Dotta membuat perasaanku campur aduk dan sedikit terhina, tapi mau bagaimana lagi. Kali ini aku memang kurang baik.

Mungkin aku memang terlalu berpikiran pendek. Baru saja aku hendak merenung.

"──Ah. Oi, tunggu sebentar! Dua anak baru!"

Suara dari belakang. Pria berkumis itu mendekat sambil mengangkat kupon kayu tadi.

"Kupon ini sudah kedaluwarsa! Siapa yang memberikan ini pada kalian?"

"A-ah……"

Wajah Dotta tampak sangat tidak enak.

Sial. Kedaluwarsa, ya. Dia mencuri dari orang yang salah──tapi orang yang mengelola logistik di sini sepertinya sangat teliti. Lawan yang merepotkan.

"Kalian pikir bisa masuk dengan ini? Oi, dari unit mana kalian?"

Tatapan pria berkumis itu sudah penuh dengan rasa curiga.

"Nama. Siapa nama kalian?"

"Itu──"

"Oi. ……Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini. Kau menghalangi jalan."

Tangan pria berkumis yang hendak menjangkauku terhenti sebelum sampai.

Seorang pria yang tampak masih muda, dengan rambut hitam yang diikat satu di punggungnya. Dia menyela seolah sengaja menghalangi.

Pria berkumis itu segera menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh sesuatu yang panas.

Bahkan, dia sampai memberikan hormat.

"Tuan Yukihito! Selamat bertugas!"

"Ya. Selamat bertugas."

Pria itu membalas dengan lambaian tangan. Sepertinya pria berambut hitam ini memiliki posisi yang lebih tinggi. Namanya Yukihito, ya.

Sambil menguap, dia menatapku dan si pria berkumis bergantian. Dia terlihat seperti pria yang santai. Namun, ada sesuatu yang aneh. Terutama lengan kanannya.

Dari bahu hingga ujung jari terbungkus sepenuhnya oleh sarung tangan besi. Sarung tangan yang berkilauan dengan warna hitam kusam.

Entah kenapa aku teringat pada Sijy Bau──pembunuh wanita yang aku temui di Kota Yof. Aku mengasosiasikannya dengan sarung tangan wanita itu.

"Jadi, ada apa?" tanya 'Tuan Yukihito' sambil menahan kantuk.

"Kenapa kalian bertengkar? Tolonglah, aku tidak suka melihat sesama kawan bertengkar. Aku benci itu……"

"Tidak, Tuan. Dua anak baru ini menyodorkan kupon kayu yang sudah kedaluwarsa!"

"Ah, begitu."

Dia bergumam seolah tidak tertarik, lalu menatap kami. Tatapan matanya membuatku merasa tidak nyaman.

 Bukan tatapan yang gelap, melainkan tatapan yang terlihat sangat lelah.

"Bukannya tidak apa-apa? Biarkan saja mereka makan. Banyak juga kan yang bergabung karena mengincar makanan. Masa bodohlah soal kupon kayu……"

"Tapi, Tuan Mata Tiga bilang──"

"Aku yang bilang 'tidak perlu'. Bilang saja begitu pada si Mata Tiga."

"Ba-baik."

"……Ah. Wajahmu seperti mau protes, ya."

"Ah, tidak! Sama sekali tidak!"

"Keputusan yang bagus. Mungkin kau bisa panjang umur…… Jadi, begitulah. Wahai para anak baru."

Yukihito tersenyum ke arah kami. Lagi-lagi, itu adalah senyuman yang terlihat lelah.

"Kalian lapar, kan? Ayo makan bareng. Hei, tidak apa-apa kan, Mata Dua?"

"A-anu…… wah, ini merepotkan ya. Duh."

Yukihito memanggil seseorang di belakangnya. Saat melihat sosok itu, aku sangat terkejut.

"Kalau aku sih tidak masalah…… tapi sepertinya aku bakal dimarahi si Mata Tiga. Itu agak gawat, sih."

Sosok itu menggaruk kepalanya yang berbulu lebat. Telinga anjing yang runcing bergerak-gerak.

"Aku juga bakal kena getahnya. Tolong jangan lakukan itu, Yukihito-san."

"Oh! Apa, kamu mau menghentikanku dengan kekuatan, Mata Dua?"

"Eh. Aku menolak. Soalnya nanti aku malah membunuhmu. Yukihito-san, sejujurnya kalau tanpa alat bantu, kamu itu sama sekali tidak kuat, kan…… membosankan tahu……"

"Hahahahaha! Kurang ajar sekali ya kamu. Tapi benar juga, sih. Tepat sekali."

Dia dipanggil Mata Dua. Makhluk ini adalah Demon Lord Phenomenon. Atau mungkin, Fairy.

Bentuknya seperti anjing atau serigala hitam yang berdiri tegak, dan adanya tanduk di dahi membuatnya mirip dengan spesies yang disebut Bogey.

Di pinggangnya tergantung dua buah pedang.

(Menggunakan senjata berarti dia bukan tubuh asli Demon Lord Phenomenon…… ya.)

Jika dia adalah penguasa fenomena, maka otoritasnyalah yang menjadi senjata terkuat. Jarang ada individu yang sengaja menggunakan pedang.

Lebih masuk akal jika menganggapnya sebagai Fairy. Fairy yang menggunakan senjata memang tidak sedikit, tapi tidak bisa ditemukan di mana-mana juga. Apalagi dia bisa bicara. Aku pernah melihat yang seperti itu.

Dalam rangkaian insiden terkait Seleksi Suci di Ibukota Pertama. Fairy yang menyerupai kadal.

Kelompok yang disebut Unit 7110 Wilayah Jutob. Yang aku temui dulu dipanggil Mata Enam.

(Apa dia kawannya?)

Bagaimanapun juga, ini adalah kesempatan bagus untuk mengumpulkan informasi.

Urusan internal Unit 7110 Wilayah Jutob.

Ditambah lagi, aku harus mencari tahu posisi macam apa yang dimiliki pria bernama Yukihito ini.

 Atau mungkinkah dia sebenarnya adalah Demon Lord Phenomenon. Aku harus memastikannya.

Aku menyenggol Dotta, lalu setelah berhasil mendapatkan jatah makanan, kami duduk di sudut kantin.

(Sepertinya urusan logistik mereka tidak buruk.)

Satu tangan penuh roti, dan sup rebusan daging babi. Menu harian medan perang yang tipikal.

Di dalam sup rebusan itu terdapat sayuran seperti lobak utara, dan bahkan ada apel rendaman cuka yang menyertainya.

Jika mereka menguasai seluruh wilayah lumbung pangan eks-Kerajaan Metto dan memanfaatkannya, mendapatkan makanan sebanyak ini bukanlah hal sulit.

Namun, ada masalahnya. Rasanya hambar.

"Bahannya mewah, tapi…… bumbunya hambar ya……" bisik Dotta dengan wajah masam.

"Benar, kan? Terlalu hambar. Tapi, ini sudah mendingan lho. Berkat bantuan si 'Bakal-Ahli-Strategi' itu."

Yukihito juga mengernyitkan dahi sambil menyeruput supnya. Dia cukup lincah meskipun tangan kanannya tertutup sarung tangan baja.

"Hei. Apa bagi kalian rasanya juga hambar, Mata Dua?"

Dia bertanya pada si kepala anjing di sampingnya. Makhluk itu sedang melahap makanannya seolah-olah hendak menenggelamkan wajahnya ke dalam piring.

"Fairy di unitmu biasanya makan apa?"

"Apa ya…… macam-macam. Kami dilatih untuk sebisa mungkin makan hal yang sama dengan manusia. Soalnya kalau makan manusia nanti dimarahi…… Kakak Mata Satu juga sangat ketat soal itu."

"Eh? Di sini juga memelihara manusia, kan. Aku tahu, lho. Apa itu bukan untuk kalian?"

"Itu untuk Tuan Gwythion."

"Begitu ya…… apa kalian tidak jadi ingin makan manusia? Lihat nih. Misalnya."

Terdengar bunyi logam, paki. Tangan kanan baja Yukihito berderit sedikit saat dia menunjuk dirinya sendiri.

"Aku, misalnya. Apa kalian tidak lapar melihatku?"

"Anu…… aku ini pemilih soal makanan. Kalau targetnya berdiri, berjalan, dan bicara di depanku, seleraku malah hilang……"

Lagi-lagi, keberuntunganku luar biasa. Aku berpikir──pada titik ini, aku sudah bisa membuat beberapa spekulasi.

'Tuan Yukihito' kemungkinan besar adalah manusia. Lalu Unit 7110 Wilayah Jutob sepertinya adalah unit yang berpusat pada Fairy. Sisanya adalah soal Tuan 'Gwythion'. Itu nama seseorang. Rasanya aku pernah mendengarnya.

"Tapi, benar-benar ya, urusan makan jadi makin lengkap. Aku ingin mereka lebih berusaha lagi…… soalnya si Bakal-Ahli-Strategi itu juga suka melakukan hal-hal aneh."

"Anu. Soal Ahli Strategi itu…… maksud Anda?"

Aku menyela, mencoba menggali informasi dengan hati-hati. Aku punya kecurigaan.

Sengaja aku memegangi dahi seolah sedang berusaha mengingat sesuatu. Berakting tidak tahu apa-apa sama sekali justru akan menjadi bumerang.

"Anu, siapa ya namanya. Orang manusia yang…… Tovitz, Tovik……"

"Tovitz Huker. Pria yang sangat menjijikkan itu. Kamu tahu soal dia?"

"Yah, kalau cuma namanya saja sih……"

"Tahu nama saja sudah cukup. Keputusan yang tepat untuk tidak terlibat dengannya. Tapi yah, dia itu setidaknya masih mudah dipahami."

Sesuai dugaan. Tovitz Huker. Menurut Jace, dia adalah pria yang sangat merepotkan.

"Hei, Mata Dua. Kamu juga benci Tovitz, kan?"

"Tentu saja. Soalnya dia menjijikkan sekali."

"Wah, selera kita sama! Bagaimana kalau kita bunuh saja dia?"

"Tidak mau. Tovitz-san itu lemah sekali seperti sampah…… lagipula sejujurnya, perlakuan terhadap kami memang jadi lebih baik. Makanan, tempat tidur, senjata, sampai pakaian. Orang itu sangat praktis."

"Benar! Terutama aku terkejut dia mengorganisir ulang unit khusus transportasi logistik.

Ditambah lagi perbaikan jalur transportasi. Itu hampir seperti jalan tol…… ah, hal seperti itu belum ada ya di sini? Dijelaskan pun kalian tidak akan paham."

Dia mengatakan hal aneh lalu memiringkan kepalanya sendiri.

Dia benar-benar pria yang unik. Siapa sebenarnya dia? Yukihito juga terdengar seperti nama yang asing.

Aku pernah mendengar nama seperti itu dari orang-orang asal semenanjung 'Tayul', jauh di sebelah barat gurun Won Daoran. Apakah dia berasal dari daerah itu?

"Yah, cukup ya soal ceritaku yang membosankan. Hei, ceritakan juga soal kalian."

"Eh?"

Tiba-tiba saja pembicaraan dilemparkan padaku. Yukihito menatap kami seolah menantikan sesuatu.

"Soal kami?"

"Kalian anak baru, kan. Dari mana asalnya? Desa dekat sini?"

"Iya. Agak lebih ke timur, sih……"

"Kalau begitu, pasti pernah dengar kan? Rumor soal 'Orang Suci' dan 'Pahlawan'. Terutama aku lebih tertarik soal 'Pahlawan'-nya."

"Ah. Anu, maksud Anda Prajurit Hukuman ya."

"Tidak tahu. Kami sama sekali tidak tahu dan tidak ada hubungannya dengan itu."

Saat aku sedang bimbang bagaimana harus berkelit, Dotta malah bicara yang tidak perlu.

Harusnya ada cara bicara yang lebih baik. Itu terdengar sangat mencurigakan. Namun, Yukihito sepertinya salah mengartikannya ke arah yang berbeda.

"Fufu! Jangan tegang begitu. Aku tidak peduli meskipun kalian sebenarnya mendukung Prajurit Hukuman. Aku cuma ingin tahu sesuatu. Sebenarnya bagaimana? Mereka populer, kan?"

"Soal populer sih, yah…… dulu memang iya."

Aku menginjak ujung kaki Dotta. Artinya 'jangan bicara macam-macam'. Kuharap dia mengerti.

"Tapi itu sampai baru-baru ini saja. Ternyata mereka memelihara Demon Lord Phenomenon, kan. Gara-gara itu semuanya langsung jadi dingin. Bukankah mereka kelompok yang mengerikan?"

"Masuk akal! Tapi ya, ada hal yang lebih penting, kan. Mereka itu──menang."

Jari Yukihito mengetuk meja berkali-kali.

"Mereka menang. Itulah yang penting. Aku sedang memperhatikan mereka. Aku merasa…… kelompok seperti itu akan kembali mengumpulkan dukungan dan melakukan sesuatu yang besar. Terutama, apa kamu tahu pria bernama Tatsuya?"

"Eh? Iya──sedikit."

"Itu…… Tatsuya, maksud Anda pahlawan dengan kapak tempur itu? Si Beast of Mockery. Aku juga tertarik padanya."

Mata Dua bergumam dengan suara agak tertahan. Telinga runcingnya bergerak-gerak.

"Kudengar dia punya kemampuan yang hebat, tapi sekarang dia sedang melarikan diri, kan? Sayang sekali…… padahal aku ingin sekali beradu kekuatan dengannya……"

Tatsuya. Aku tidak menyangka fakta bahwa dia kabur pun sudah diketahui.

Apa dia seterkenal itu di tempat seperti ini? Mungkin saja. Bagi para prajurit biasa dan Fairy, dia mungkin ancaman yang lebih nyata daripada Teoritta.

Namun, cara bicara Yukihito terasa agak janggal.

"Tatsuya, apa dia baik-baik saja?"




Seolah-olah, pria itu sedang menanyakan kabar kenalan lamanya.

"Yah, ditanya begitu pun kalian bingung ya. Di desa kalian──oops."

Tepat pada saat itulah, suara terompet tanduk bergema membelah udara.

Nadanya jelas menandakan keadaan darurat yang mendesak. Disusul teriakan kemarahan──suara sesuatu yang dipukul bertalu-talu secara beruntun. Mata Dua langsung berdiri, dan Yukihito pun menghela napas panjang.

"Serangan musuh, ya. Sayang sekali, padahal aku sedang asyik makan."

Sejak saat itu, situasi di sini bukan lagi tempat untuk mengumpulkan informasi.

Sebenarnya, ini adalah momen yang sangat genting. Meski aku tertolong karena bisa mendapatkan informasi lebih dari yang kubayangkan, tapi jika terus bicara, identitas kami bisa terbongkar.

Dotta sudah mencapai batasnya. Wajahnya pucat pasi, dan makanan yang menggunakan bahan-bahan kelas atas itu hampir tidak disentuhnya.

Namun, entah ini keberuntungan atau kesialan.

(Serangan musuh?)

Bagi para Demon Lord Phenomenon ini, siapakah musuh mereka?

Saat ini, di Pegunungan Kazit, selain kami para Prajurit Hukuman dan "Pasukan Forbartz" itu, apakah ada pihak lain yang bersifat bermusuhan? Jika mereka menyerang, maka──.

(Suku Yamanobe. Sang Penjaga Gunung!)

Tidak ada pemikiran lain, dan deduksi itu terbukti saat aku mengintip ke luar tenda.

"Orang-orang gunung datang!"

Ada prajurit yang berteriak sambil berlarian, dan mereka yang menyerang dari atas lereng adalah kelompok yang mengenakan kulit binatang. Semuanya mencolok karena memakai tudung yang menyerupai kepala binatang.

Meski tidak memegang Thunder Staff, mereka dipersenjatai busur dan panah yang diukir dengan Segel Suci. Anak-anak panah yang menghujani bumi itu menancap dan memercikkan bunga api yang menyulut api.

Api yang tidak padam meski terkena rintik hujan. Dengan tembakan itu sebagai pengalih perhatian, orang-orang yang memegang tombak dan kapak tangan mulai berlari turun dan memulai pertempuran.

Jumlah penyerangnya secara mengejutkan sangat banyak. Aku memperkirakan jumlah Fairy dan prajurit manusia di markas ini sekitar dua ribu sekian ratus orang──tapi suku Yamanobe yang menyerang sepertinya memiliki jumlah yang hampir setara.

(Kalau begitu, apakah ini "pertempuran penentuan" bagi mereka? Karena mengerahkan massa sebanyak ini, serangan mereka tidak main-main……!)

Dan yang terpenting, gerakan suku Yamanobe sangat bagus. Kemampuan fisik mereka tinggi hingga terasa janggal, dan tubuh mereka sangat besar. Sebagian besar dari mereka setidaknya dua kepala lebih tinggi dariku. Benar-benar raksasa. Mereka meraung dan mulai menjebol garis pertahanan darurat.

"Cukup ramai juga ya. ……Tapi ya, Mata Dua. Asal kau tahu, aku tidak akan ikut bertarung, lho."

Yukihito menyalakan sebatang rokok──atau semacam gulungan kertas. Sepertinya dia berniat merokok sejenak.

"Itu bukan bagian dari kesepakatan kita, kan."

"Aku mengerti…… mereka tidak terasa seperti musuh yang kuat, tapi mau bagaimana lagi. Biar kami yang urus."

Mata Dua meletakkan tangannya di pedang yang ada di pinggang. Dia mulai berlari dengan langkah kaki yang ringan.

"──Semuanya, berkumpul! Ikuti aku, kita hentikan mereka yang tangguh!"

Menanggapi suara itu, beberapa Fairy muncul dari berbagai arah. Entah di mana mereka bersembunyi selama ini.

Terlebih lagi, mereka jelas memahami kata-kata dan memegang senjata. Ada puluhan Fairy berbentuk manusia seperti itu.

Mereka mengikuti Mata Dua, menyambut musuh yang berlari turun dari lereng.

Yang paling menonjol adalah sekelompok pasukan dengan moral yang tinggi. Mereka meneriakkan seruan perang, mengayunkan tombak dan kapak, serta mendesak para Fairy dan prajurit manusia.

Terutama pria berambut merah di barisan depan, yang mengenakan baju zirah lengkap, dia benar-benar tidak normal.

Dia mengayunkan palu gada sebesar batang pohon dengan ringan, menghancurkan seorang Barghest yang ukurannya dua kali lipat tinggi tubuhnya sendiri.

Barghest adalah jenis Fairy yang besar dan termasuk dalam kategori infanteri berat. Menghancurkan tengkorak kokoh mereka adalah kekuatan fisik yang hampir tidak masuk akal.

Saat orang seperti ini memimpin di depan, para prajurit di belakangnya pun ikut bersemangat.

Mereka merobek tenda perkemahan, menginjak-injak api unggun, dan melompat menyerang.

Dalam sekejap, mereka mencerai-beraikan Fairy yang mencoba menghalangi.

Kelompok yang dipimpin Mata Dua berbenturan langsung dengan mereka.

(……Cepat! Mata Dua itu, dia berbahaya.)

Pria berambut merah itu mencoba menangkis tebasan Mata Dua──tapi, saat Mata Dua memutar tubuhnya seperti angin puyuh, leher pria itu sudah tertebas dalam.

Kemudian sedetik kemudian lengannya melayang, dan sedikit terlambat lagi, terakhir kakinya pun ikut terbang.

Dia melakukan tiga tebasan efektif dalam sekejap mata. Itu bukan kemampuan yang normal.

(Leher, siku, lutut. Dia mengincar celah baju zirah. Mirip ilmu pedang Patausche…… teknik bertarung utara?)

Begitu pria berambut merah itu tumbang, sisanya menjadi berat sebelah. Kemampuan fisik suku Yamanobe memang luar biasa, tapi tidak bisa menandingi Mata Dua. Gerakan bawahannya pun terkoordinasi dengan baik.

"Bagus sekali! Hebat!"

Yukihito bertepuk tangan sambil tertawa.

"Kau benar-benar hebat ya, Mata Dua! Wah, aku tidak mau bertarung melawanmu."

Benar sekali. Jika ada orang seperti itu, pertempuran jarak dekat akan sangat menyulitkan.

"……Xylo. Ayo pergi sekarang."

Dotta menarik lenganku yang sedari tadi sedang berpikir keras.

"Cepat. Selagi ada kesempatan."

"Informasi yang kukumpulkan belum seberapa, lho. Tapi ya, kurasa ini waktunya……"

"Sudahlah! Cepat!"

"Ada apa sih? Kamu buru-buru sekali…… apa terjadi sesuatu?"

"……Ti-ti-ti-ti-ti-ti-tidak ada apa-apa kok! Tidak ada apa-apa!"

"Hei, tunggu dulu."

Aku mencengkeram bahu Dotta yang mencoba menjauh dengan langkah kaki yang sangat cepat.

Aku punya firasat yang sangat buruk. Sambil mengikuti langkah Dotta, aku terus mendesaknya.

"Katakan yang sejujurnya! Sekarang kamu terlihat lebih mencurigakan daripada Vanetim."

"Jahat! Itu terlalu berlebihan!"

"Memang berlebihan, sih. Tapi, kamu pasti menyembunyikan sesuatu, kan!"

"……Aku mencurinya."

"Itu kan sudah biasa. ……Eh, tunggu dulu. Apa? Apa yang kamu curi?"

"Anu…… pedang milik si Mata Dua itu."

"Ah."

Fairy yang dipanggil Mata Dua itu memang membawa dua bilah pedang di pinggangnya. Salah satunya sudah hilang. Dotta memperlihatkan pedang kedua itu dari balik jubahnya.

"Makanya, kita harus lari…… kalau tidak, keadaan bisa jadi gawat……?"

"Dasar bodoh."

Aku ingin sekali memukulnya sampai jatuh. Setidaknya kalau mau mencuri, curilah makanan.

Dan masalah waktu saja sampai Mata Dua menyadari pedangnya telah dicuri──tidak. Sudah terlambat. Dia sudah menyadarinya.

Mata Dua yang hendak berlari mendaki lereng, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sangat jelas bahwa dia bermaksud mencabut pedang keduanya.

Gawat. Dia menoleh ke arah sini. Aku merasa mata kami bertemu.

"──Cepat!"

Aku mengatakan hal yang sudah jelas. Aku menepuk punggung Dotta. Kami mulai berlari.

"Kita ketahuan! Hei, ini seratus persen murni mutlak sepenuhnya salahmu, ya!"

"I-iya! Aku tahu!"

"Padahal niatnya mau mencuri makanan lalu kabur!"

"Setelah ini! Kita curi saja nanti!"

"Kamu yang bilang ya? Curi lho! Benar-benar harus dicuri!"

Terompet tanduk yang berbeda dari sebelumnya kini bergema. Sesuatu yang menyerupai genderang juga bertalu-talu──bukankah itu suara peringatan untuk mengejar kami?

"Keadaannya jadi sangat merepotkan, sialan!"

Aku berteriak dan menatap tajam ke jalan di depan.

Fairy. Ada beberapa Fuath. Mereka mengeluarkan suara raungan mengancam ke arah kami. Pertama-tama, aku harus menembus rintangan ini.

(Sial. Rencananya hancur berantakan lagi.)

Sambil terus memaki, aku segera mencabut pisauku.

 

Di samping Xylo yang berlari kencang, Dotta Luzulas merasa lega.

(Untunglah. Dia tidak menyadarinya.)

Sejak awal, tangannya tidak selamban itu sampai bisa disadari oleh Xylo. Dia menyembunyikannya di balik jubahnya.

(Ini, tanpa sengaja kucuri juga……)

Sebuah kalung emas. Tipe yang bisa dibuka-tutup.

Di dalamnya terdapat sebuah potret──lukisan wajah yang sangat halus. Profil wajah seorang gadis dengan warna rambut campuran putih dan biru.

Dia tidak tahu siapa gadis itu, tapi dia tahu kalau kalung ini terbuat dari emas murni dan dirawat dengan sangat baik.

Ini adalah barang yang dia curi dari balik pakaian pria bernama Yukihito.

(Kenapa aku mencurinya ya?)

Kelak, Dotta akan sangat menyesali hal ini.

Dia akan benar-benar merasa bahwa dia telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak pernah dia sentuh.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close