Hukuman
Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit 1
──Operasi
Pemusnahan dan Pembersihan Pegunungan Kazit, hari kedelapan. Tersisa lima hari
sebelum batas waktu penyelesaian operasi.
Hujan mulai reda,
tapi situasi pertempuran sama sekali tidak membaik. Penyebabnya adalah karena
kami membuang keuntungan terbesar kami dengan tangan sendiri.
Kami tidak lagi
menggunakan lorong bawah tanah yang menghubungkan berbagai titik di Pegunungan
Kazit. Sekarang, tempat itu justru berbahaya.
Mungkin sekitar
setengah dari jalur bawah tanah sudah ditemukan musuh.
Kami memutuskan
untuk menjadikan Gunung Daktarev sebagai benteng pertahanan. Hanya jalur bawah
tanah di gunung ini yang tidak terhubung dengan gunung-gunung lainnya.
Kami mengumpulkan
seluruh logistik ke dalam lorong bawah tanah berskala kecil di dalam gunung
ini, lalu mendekam di sana.
Ini adalah kartu
as yang disiapkan Senerva sebagai upaya terakhir. Saat itu pun, kami sudah
sepakat bahwa jika terdesak, tempat inilah yang akan menjadi markas.
Gunung Daktarev
terletak di ujung utara Pegunungan Kazit, sehingga jika bala bantuan muncul
dari Nophan, kami bisa menjepit musuh di ngarai yang memisahkan keduanya.
Namun, apakah
kemungkinan itu masih ada? Kami sama sekali tidak tahu seberapa keras Patausche
berjuang di sana.
Kami hanya
melakukan apa yang bisa kami lakukan. Menimbun logistik, memasang jebakan, dan
bersiap menghadapi serangan.
Mungkin
kami masih punya waktu beberapa hari, atau mungkin serangan akan dimulai satu
jam lagi. Kami hanya bisa bergegas.
(Lakukan
semua yang bisa dilakukan. Pertama-tama, buat cara agar pasukan besar tidak
bisa mendekat.)
Jebakan
yang memanfaatkan medan. Hal itu sendiri tidak sulit. Seluruh topografi Gunung
Daktarev sudah terekam di kepalaku. Entah kenapa, hal-hal seperti ini justru
menempel kuat di ingatan.
(Dengan
jebakan ini, seberapa banyak yang bisa kita tahan──)
Saat aku
sedang tenggelam dalam pekerjaan, sebuah suara menyapa.
"Tuan
Forbartz!"
Itu
adalah tepian sungai yang mengalir di kaki Gunung Daktarev. Ada sebuah jembatan kecil di sini. Aku
sedang di tengah proses memasang mekanisme agar jembatan itu runtuh saat
dilewati.
"Dapat babi
hutan! Lihat, besar sekali. Hari ini kita masak sup besar, ya?"
Nalk Dexter
melambaikan tangan. Dia mengangkut babi hutan hasil buruannya menggunakan dahan
pohon besar dan tali. Memang besar.
"Saya yang
menghabisinya, tapi ini berkat jebakan buatan Saritaff."
Nalk menoleh ke
arah bayangan kecil di belakangnya. Saritaff dari suku Yamanobe yang memakai
tudung serigala. Berdasarkan reaksi Teoritta dan Nalk, aku mulai paham kalau
sosok ini sepertinya bukan laki-laki, melainkan perempuan.
"Cuma
segini, gampang buatku."
Saritaff menarik
tudung serigalanya lebih dalam hingga menutupi mata. Nada bicaranya terdengar seperti orang yang
sedang merajuk.
"Orang-orang
dataran rendah memang tidak tahu cara berburu."
Sombong
sekali bicaranya, tapi dia memang punya modal untuk itu. Pasalnya, dialah yang
tahu lokasi "Gudang Tersembunyi" milik suku Yamanobe. Gudang itu
adalah gua tempat menimbun makanan awetan, bahan bakar, dan perbekalan lainnya
untuk keadaan darurat.
(Stoknya
ternyata lebih banyak dari dugaan, tapi──)
Tetap saja, jika
dimakan oleh empat puluh orang, itu hanya akan bertahan paling lama dua hari.
Jika ditambah
dengan jatah daging kering, mungkin bisa satu hari lagi. Kalau kami benar-benar
berhemat, mungkin bisa diperpanjang. Kami harus irit.
Hanya saja, besok
pertempuran pasti pecah. Musuh pasti sudah mulai sadar kalau kami berniat
bertahan di Gunung Daktarev. Setidaknya untuk hari ini, kami harus makan yang
kenyang.
"Malam ini
kita pesta. Tapi kalau mau agak mewah, rasanya kita butuh tambahan makanan
lagi."
"Ah! Kalau
soal itu!"
Nalk Dexter
menunjuk ke arah belakangku. Ke arah sungai. Sebuah sungai tanpa nama mengalir
menyisir kaki Gunung Daktarev. Permukaan airnya bergoyang, dan aku merasa
melihat sebuah bayangan.
"Tsav sedang
mencobanya sekarang."
"Apa?"
Begitu aku
menajamkan pandangan ke permukaan sungai, sesuatu yang berwarna hijau pekat dan
tampak seperti gumpalan tanaman melompat keluar dari sana.
"Buaah!"
Suara itu
terdengar bersamaan dengan gelengan kepala, barulah aku sadar kalau itu adalah
manusia.
Sosok itu
tertutup ranting dan dedaunan, menyerupai Tree Demon.
Hanya matanya
yang tampak berkilat licik terpapar cahaya matahari musim hujan yang redup. Aku langsung mengenali identitas
monster ini.
Itu Tsav.
Kenapa dia dandan seperti itu?
"──Bos!
Aku berhasil!"
Dia
memegang tombak kasar di satu tangannya. Benda asal-asalan yang hanya berupa
bilah tajam yang diikat ke ujung dahan pohon. Di ujung tombak itu, tertancap
ikan sungai besar yang masih menggelepar.
"Ikan
Mas Akabiki! Besar banget kan, Bos?"
Tsav
berjalan membelah air sungai dan naik ke daratan. Mas Akabiki adalah sejenis
ikan mas yang memiliki ciri khas garis merah seperti pita di punggungnya.
"Yah, di
saat seperti inilah Tsav-kun beraksi! Menggantikan kalian semua yang tidak
punya kemampuan bertahan hidup dengan membawakan makanan setiap hari!
Mengharukan sekali! Rasanya aku sudah selevel orang suci, ya? Apa nanti aku
daftar jadi Uskup Agung saja?"
Sambil
mengoceh, dia kembali menggelengkan kepalanya dengan kuat. Air memercik dari
tanaman yang melekat di tubuhnya.
Melihat
itu, aku langsung menanyakan hal yang paling mengganjal.
"Terserahlah soal itu…… tapi apa-apaan baju aneh itu?
Kau meniru Tree Demon?"
"Aku mencoba membuat sesuatu yang sudah kupikirkan
sejak lama! Ini ide dari Saritaff-chan!"
Saat Tsav menunjuk Saritaff, gadis itu mengernyitkan wajah
dengan tidak senang. Ekspresinya
menunjukkan rasa muak karena terus-menerus diajak bicara secara sepihak. Aku
sangat memahaminya.
"Kalau pakai
ini dan bersembunyi di hutan, bakal susah banget ditemuin. Lihat! Di misi kali
ini aku pasti disuruh menembak lagi, kan? Jadi mumpung ada kesempatan, aku
coba-coba berbagai hal!"
"Ooh, jadi karena itu…… ya, mungkin bisa berguna."
Konsep kamuflase memang sudah ada sejak dulu dan berbagai
metode telah dicoba.
Tapi, menurutku
kostum ini cukup nekat. Mungkin tidak cocok untuk pertempuran kelompok, tapi
sangat pas untuk operasi tunggal.
"Tapi, apa
perlu sampai menyelam di sungai? Kukira kau Fairy. Nyaris saja kuserang
tadi."
"Bukan
begitu, barang seperti ini tidak ada gunanya kalau tidak dicuci di sungai
sebelum dipakai. Harus benar-benar dilumuri lumpur dan diguyur hujan supaya
menyatu. Jauh lebih alami daripada barang baru, kan?"
Kalau
dipikir-pikir, mungkin dia benar. Dengan lumpur, kerikil, dan lumut sungai yang
menempel, tampilannya memang terasa menyatu dengan alam.
"Itu juga
diajarkan Saritaff?"
"Bukan, ini
ide orisinalku sendiri! Karena aku jenius, kalau diajari satu hal, aku bisa
paham sampai dua puluh atau tiga puluh hal!"
"Maaf ya,
Saritaff. Abaikan saja omongan si bodoh ini. Dia memang tidak tertolong."
"Dia
ini…… untuk ukuran orang dataran rendah, cukup becus. Kemampuan berburunya juga
tidak buruk……"
Saritaff
bergumam pelan. Sepertinya dia tidak menutup diri dari percakapan.
"Tapi
dia berisik dan merepotkan. Aku tidak suka."
"Tega!
Jahat banget ya anak ini, Bos! Padahal aku cuma ingin kalian bersikap lebih
lembut padaku──"
"Perutku
sudah lapar. Ayo cepat kuliti babi hutannya. Kita kembali ke lubang
kubur."
"Ah, Bos
sudah bosan! Tidak didengarkan!"
Lubang kubur
adalah sebutan untuk markas kami di Gunung Daktarev. Kedengarannya memang tidak menyenangkan, tapi
kalian akan paham setelah mendengar sejarahnya.
Di dalam
Gunung Daktarev yang berbentuk limas agak miring ini, Senerva pernah memanggil
struktur yang sedikit berbeda dari "kereta bawah tanah".
Dia bilang itu
adalah makam raja dari dunia lain. Struktur itu memiliki ruang tengah yang
disebut "Kamar Jenazah", dengan beberapa lorong dan ruangan di
sekitarnya.
Kalau diingat
kembali──saat itu kami mengeluh, "Apa kita harus mendekam di makam saat
keadaan darurat?", tapi Senerva memang suka sarkasme seperti itu. Kami pun
tidak membencinya.
Mungkin dia
berpikir, candaan buruk yang sengaja diucapkan tidak akan menjadi kenyataan.
"……Nalk."
Aku menggelengkan
kepala untuk mengusir ingatan itu. Sekarang aku harus fokus pada situasi di
depan mata.
"Ada
orang lain yang sedang di luar gunung?"
"Pasukan
Milete sedang melakukan patroli. Mereka sangat bersemangat."
"Oke,
kalau begitu jadikan hari ini hari terakhir untuk berburu dan patroli. Mulai
besok, musuh pasti akan mengepung kita."
"Berarti,
pertempuran akhirnya akan dimulai."
"Begitulah.
Tapi…… sepertinya kau terlihat senang. Kau paham tidak situasi kita sekarang?"
"Saya paham.
Meski begitu, saya merasa bahagia."
"Kau sudah
gila. Apa yang membuatmu bahagia?"
"Bisa
bertarung di bawah komando Tuan Forbartz. Saya tidak pernah menyangka impian
ini akan terwujud. Saya tidak akan menyesal meski harus gugur di sini!"
"Dasar
bodoh."
Suasana hatiku
memburuk. Aku mencengkeram kerah baju Nalk.
"Coba
pikirkan perasaan prajurit yang dipimpin oleh komandan yang ngebet mati. Kalau
kau mengatakannya lagi, akan kuusir kau dari gunung ini."
"……Mohon
maaf. Saya salah bicara."
Nalk menunduk.
Dia terlihat sangat kecewa. Aku merasa agak berlebihan, tapi mau bagaimana
lagi.
"Hehehe!
Jangan dimasukkan ke hati, Pak Nalk. Justru kata-kata itu yang paling tidak
ingin didengar dari Bos Xylo──ah, bukan, lupakan!"
Tsav tertawa
keras, yang sejujurnya membuatku jengkel, tapi dia langsung diam saat
kupelototi.
"Ayo
balik."
Hasil
hari ini bisa dibilang memuaskan. Babi hutan dan ikan. Setidaknya cukup untuk
makan malam hari ini.
Saat kami
kembali ke "Lubang Kubur" sambil membawa hasil buruan, Norunagayu
sudah menunggu.
Dia
menata beberapa lempengan batu hasil curian Dotta di depan lubang dan
mengukirnya. Orang-orang yang terampil dengan tangan membantu pekerjaannya.
Saat itu,
mereka bahkan sedang merakit sebuah alat setinggi tubuhku menggunakan
dahan-dahan pohon.
"Kau
lambat, Panglima Xylo."
Norunagayu
melotot ke arahku. Dia tampak
sangat tidak senang.
"Tanpamu,
pertahanan kerajaanku akan menjadi tidak stabil. Apa kau tahu apa yang paling
harus diwaspadai saat ini?"
"Entahlah. Terlalu banyak hal…… yang mana
maksudmu?"
"Pembunuhan,"
ucap Norunagayu dengan lantang.
"Pembunuhan
terhadapku, atau sang Goddess Teoritta. Itulah kartu as yang diincar
musuh! Apalagi aku belum menunjuk penerus, dan tidak ada orang yang pantas
untuk itu. Jika sesuatu
terjadi padaku, negara akan kacau balau."
Kata-kata
Norunagayu, seperti biasa, setengahnya tepat sasaran.
Terlepas dari
soal penerus atau negara yang kacau, pembunuhan terhadap Teoritta memang hal
yang paling harus diwaspadai. Jika sesuatu terjadi padanya, maka tujuan operasi
kali ini akan musnah.
Tanpa dia, musuh
pasti akan mengabaikan kami dan langsung fokus menyerang Nophan.
Namun lebih dari
sekadar kematian Teoritta──aku berusaha untuk tidak memikirkan kemungkinan yang
lebih buruk dari itu.
Aku harus
melindunginya. Kali ini, harus berhasil.
"Cukup
sekian teguran dariku, Panglima Xylo. Sekarang bantu aku. Waktu adalah
segalanya."
"Boleh saja…… tapi tolong kasih tahu. Sebenarnya kau
sedang membuat apa?"
"Ini adalah
senjata rahasia pertama. Secara struktur, ini mirip dengan pelontar batu."
Memang
benar. Mirip senjata pengepungan yang melontarkan batu besar. Namun karena
terbuat dari bahan-bahan kasar dan dihiasi banyak Holy Seal di
sana-sini, alat ini terlihat agak mengerikan.
"Kau
mau melontarkan batu besar dengan ini?"
"Tidak.
Batu yang dilontarkan tidak perlu besar. Alat ini akan menyebarkan
kerikil-kerikil kecil dalam jumlah banyak. Kerikil yang sudah diukir dengan Holy
Seal. Itu sudah cukup."
Mendengar
penjelasan itu, aku paham fungsi pelontar ini. Menyebarkan kerikil. Benar juga,
tidak butuh massa atau kecepatan yang terlalu besar.
Presisi
juga tidak diperlukan. Dengan melontarkannya dari atas lereng ke arah bawah,
kerikil itu akan mendapatkan akselerasi yang cukup. Holy Seal yang
diukir pada kerikil akan menambah daya rusaknya.
"Pasukan
kita berada di posisi yang lebih tinggi dari musuh. Kita harus memanfaatkan
keuntungan ini semaksimal mungkin."
"Kau
benar."
Kami
memang punya beberapa keunggulan. Tapi kelemahan kami jauh lebih banyak. Bagaimana caranya kami memaksakan
keunggulan kami dalam pertempuran? Bagaimana cara memanfaatkan kelemahan kami
sendiri?
Itulah hal yang
harus kupikirkan.
"Sebelum
lanjut, ayo makan dulu──Saritaff, ajari kami masakan suku Yamanobe. Terutama
bubur kemarin, itu enak sekali. Bumbu apa yang kau pakai? Bukan cuma garam, kan?"
"Bagi
kami, itu cuma garam biasa."
Saritaff
mendengus. Saat membicarakan makanan, raut wajahnya yang suram tampak sedikit
melunak.
"……Ikan
kering dan jamur dihaluskan menjadi bubuk, lalu dicampur garam. Jauh lebih enak
daripada garam orang dataran rendah."
Setidaknya, ini
adalah salah satu keunggulan kami dibandingkan musuh.
Kami bisa makan
lebih enak daripada mereka. Akumulasi dari hal-hal kecil seperti itulah yang
akan memengaruhi kekuatan tempur di situasi kritis──itulah yang pernah
dikatakan Ryufen Kaulon.
Jika pria itu
yang mengatakannya, aku percaya itu adalah sebuah kebenaran.
◆
Patausche Kivia
dipanggil ke sebuah kuil yang terletak di dekat alun-alun pusat Kota Nophan.
Dia menelusuri
koridor yang anehnya sepi, menuju ruangan yang berada paling pojok. Sebuah
ruangan dengan papan nama bertuliskan "Arsip Catatan Sejarah Suci".
Di depan pintu masuk, tampak sekitar sepuluh prajurit berjaga dengan ketat.
(Pendeta
Bersenjata? Apalagi yang berpangkat cukup tinggi…… apa mereka dikirim sampai ke Utara ini?)
Kenyataan bahwa
pihak kuil mengirim mereka sampai ke Nophan cukup mengejutkan. Pengiriman
personel dengan kecepatan yang tidak kalah dari Galtuil. Sudah bisa ditebak
kalau ini adalah pengaturan dari Nikold Iburton.
Sambil melirik
mereka, Patausche melangkah masuk ke ruangan itu, dan yang menunggunya adalah
wajah-sosok yang tidak terduga.
(Dua orang Goddess……!)
Terlebih lagi,
tidak ada satu pun Ksatria Suci di sana.
Kelflora sang Goddess
Bayangan, dan Irinarea sang Goddess Baja. Hanya mereka berdua yang duduk
di meja bundar dari kayu ek yang sudah tua.
Cahaya matahari
yang masuk dari jendela berterali tampak lemah, seolah sengaja memberikan
bayangan pada ekspresi wajah mereka.
"──Ngapain
cuma berdiri di situ, Patausche Kivia?"
Irinarea adalah yang pertama angkat bicara.
"Duduklah.
Atau kau mau aku mengeluarkan 'Perintah' Goddess dulu?"
"Ah…… tidak. Mohon maaf."
"Frensy Mastivolt tidak ada? Padahal aku bermaksud
mengundang kalian berdua."
"Dia sedang
ada urusan lain."
Pergi berdua
hanya akan membuang waktu, jadi Frensy memilih untuk bicara dengan para
bangsawan yang masih bisa dia pengaruhi. Gaya berpikir yang sangat khas Frensy.
"Justru Anda
berdua, kenapa tidak bersama para Ksatria Suci?"
"Justru
mereka yang sedang diawasi oleh Esgain. Bisa-bisa malah dicari-cari
kesalahannya."
Irinarea
mengetuk meja bundar dengan ujung jarinya. Gerakan yang tampak tidak sabar.
"Sebaliknya,
kami lebih bebas bergerak sendirian. Beribadah di kuil sudah menjadi rutinitas harian…… Bahkan si tukang lapor
itu pun tidak akan berani mendekat jika kami menggerakkan para Pendeta
Bersenjata."
"……Saya
terkejut para Pendeta Bersenjata sudah dikirim ke Utara."
"Kakek
Nikold Iburton memang bergerak sangat cepat. Sesuai permintaanku, dia
mengirimkan unit yang sudah kulatih sendiri."
"Dilatih?
Oleh Nona Irinarea sendiri?"
"Yah,
setidaknya di kuil ada Pendeta Bersenjata yang secara pribadi bisa kuandalkan.
Aku harus menjalin hubungan baik dengan kuil agar bisa membela diri. Tugas
Goddess bukan cuma berdoa dan tanda tangan…… tapi,"
Sambil bicara, Irinarea menunjuk Kelflora di sampingnya.
"Gadis ini sepertinya tidak punya niat seperti itu.
Adif terlalu protektif padanya."
"Iya."
Kelflora
mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
"Aku tidak
apa-apa selama ada Adif. Adif bisa melakukan apa saja."
"Iya deh,
terserah."
"……Ah. Iya,
Guio juga cukup kuat, kok. Dia selalu menghargai Re-a……"
"Tsk.
Kau sedang mencoba menghiburku? Kata-katamu itu berlebihan."
"Tidak
seberlebihan Re-a, kok."
"Makanya,
itu yang kusebut berlebih──ah, pembicaraannya tidak jalan-jalan! Oke, cukup
basa-basinya."
Irinarea
menumpukan siku di meja dan mencondongkan tubuhnya.
"Ayo
langsung ke inti masalah. Kalian
sudah tahu, kan──soal Prajurit Hukuman. Aku dengar kalian dipaksa melakukan pekerjaan
yang tidak masuk akal."
"Benar.
Tugas kami adalah pemusnahan kekuatan musuh di Pegunungan Kazit."
Itu bukan
hal yang bisa dilakukan oleh hanya segelintir orang. Karena belum ada laporan
kehancuran, berarti saat ini mereka masih bertahan hidup.
Namun
situasinya tidak diketahui. Sangat logis untuk berpikir bahwa mereka sebisa
mungkin menghindari pertempuran dan bersembunyi sambil percaya pada bala
bantuan dari Nophan, tapi──lawannya adalah Xylo Forbartz.
Patausche
merasa percuma saja menebak-nebak tindakan nekat apa yang sedang dilakukan pria
itu.
"Bagaimana
pun cara berpikirnya, itu adalah misi yang mustahil. Prajurit Hukuman memang
unit yang tidak boleh menyayangkan nyawa mereka, tapi Nona Teoritta juga ikut
bersama mereka."
"Aku
sendiri tidak terlalu mengenal Teoritta. Dia bukan urusanku, tapi──"
Patausche merasa
itu bohong. Dia sangat mengenal pria yang bicara seperti itu. Semakin dia ketus
bilang "bukan urusanku", biasanya justru semakin peduli.
"Goddess
Pedang adalah aset perang yang berharga. Setidaknya menurut pandanganku,"
ucapnya dengan sedikit ragu.
"Terlepas
dari senjata lainnya, 'Pedang Suci' itu. Cuma yang satu itu yang terasa berbeda.
Benar-benar unik. Tidak ada satu pun senjata dari dunia lain yang kupanggil
yang bisa melenyapkan Demon Lord Phenomenon mana pun seperti pedang
itu."
Mungkin dalam
kata-katanya tersirat sedikit rasa kompetisi.
Irinarea sang Goddess
Baja bisa dibilang adalah ahli senjata. Dia bisa memanggil senjata dari dunia
lain dan tahu cara menggunakannya. Jika dia sampai menyebutnya unik, berarti 'Pedang Suci' Teoritta memang
sangat spesial.
"Sejujurnya
aku sangat ingin membantu. Karena dia akan jadi kekuatan tempur yang berguna di
saat genting."
"Aku juga
ingin membantu. Karena Teo adalah temanku."
"──Kalau
begitu,"
Patausche
membusungkan dada. Dia merasa inilah saatnya. Untuk menuntaskan perannya
mengumpulkan bala bantuan di Nophan, dia harus mempertaruhkan segalanya di
sini.
"Kami, para
Prajurit Hukuman, memang sekumpulan pendosa besar yang punya masalah perilaku.
Namun, ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Kami bertarung demi umat
manusia. Bukan demi kebahagiaan atau kekayaan pribadi, bukan demi keluarga atau
teman, tapi murni demi umat manusia!"
Dan ada
sosok yang dengan sukarela membimbing orang-orang seperti mereka: Goddess
Teoritta. Dialah sosok yang seharusnya diselamatkan. Jika tidak, maka segalanya
tidak akan masuk akal. Bagi Patausche, ini adalah hal yang sangat
penting.
"Saya memohon. Tiga ribu. Tidak, dua ribu personel saja
sudah cukup. Dengan kekuatan sebesar itu, saya berjanji akan memusnahkan
kekuatan musuh di Pegunungan Kazit──dan menyelamatkan Nona Teoritta."
Patausche tidak
menyebutkan apa yang akan terjadi pada nyawa para Prajurit Hukuman.
Secara tidak
sadar, dia mengeluarkan nyawanya sendiri dan nyawa Xylo Forbartz dari
perhitungan.
Dia
berpikir Frensy pasti akan sangat marah mendengarnya.
"Kami
butuh bala bantuan. Jika ada bantuan dari Anda berdua, pasti──"
"Maaf, tapi
itu mustahil."
"Iya.
Sulit."
"Eh?"
Jawaban cepat yang memotong bicaranya membuat Patausche
membatu.
"Anu, bukankah barusan arah pembicaraannya adalah Anda
berdua akan mencoba melakukan sesuatu……"
"Kau salah paham. Kami datang ke sini justru untuk
bilang kalau dengan keadaan sekarang, itu benar-benar mustahil."
"Iya. Hampir tidak mungkin."
"Kalian para Prajurit Hukuman sekarang dicap sebagai
penjahat keji yang memelihara Demon Lord Phenomenon."
"Rasanya…… reputasi kalian di mata para prajurit juga
sangat buruk……"
Diberondong secara bergantian oleh Irinarea dan Kelflora, Patausche
hanya bisa terdiam.
Memang benar
reputasi Prajurit Hukuman sudah jatuh drastis. Dia pun merasakannya sendiri.
Bahkan reputasi
mereka yang berhasil memukul mundur Demon Lord Phenomenon dengan jumlah
personel sedikit pun dianggap sebagai sandiwara atau hasil transaksi gelap.
"Tapi kami
tetap ingin membantu. Itu sungguhan. Adif juga bilang begitu."
Kelflora
menambahkan. Komandan Ksatria Suci Adif Twibel. Bahkan bagi pria yang
sangat ahli dalam pertarungan politik itu pun, situasi sekarang sepertinya
sudah buntu.
"Apa tidak
ada cara lain, Patausche Kivia? Trik sulap atau apa pun, terserah."
Ujung
jari Irinarea terus mengetuk meja bundar dengan tidak sabar.
"Aku
dengar kalian ahli dalam hal-hal tipu-tipu seperti itu."
(Itu──)
Pria yang
ahli dalam hal itu memang ada. Tapi sekarang dia seharusnya tidak bisa diandalkan.
"Sepertinya
memang sudah tidak ada──"
Baru saja Patausche
hendak mengatakannya, suara tajam seperti letupan bunga api terdengar.
Suara itu berasal
dari sekitar pinggang Irinarea. Ada sebuah papan komunikasi kecil di sana.
Sepertinya dia membawanya seolah itu adalah perisai sungguhan.
"Apaan sih
tiba-tiba. Dari mana ini…… sumber pengirim…… otoritas Komandan Ksatria
Suci? Guio? Padahal aku sedang sibuk……!"
Sambil mengomel, Irinarea mengambil papan itu.
"Ada apa,
Guio? Apa situasinya berubah?"
『──Situasinya──gawat.』
Suara yang
terdengar serak dan penuh gangguan. Irinarea mengerutkan kening.
"Hah? Bukan Guio…… siapa kau? Papan komunikasi ini cuma bisa menerima sinyal
dari otoritas Komandan Ksatria Suci. Bagaimana kau bisa menghubungi ke
sini?"
『──Tolong bantu
aku. Aku mohon.』
Patausche merasa
pernah mendengar suara itu. Mungkinkah? Namun ini benar-benar tidak masuk akal. Kenapa pria itu bisa melakukan komunikasi
seperti ini?
『Namaku Vanetim
Leopold. Nyawa Yang Mulia Ryufen sedang terancam, jadi──aku tahu kalian pasti
tidak paham apa yang kubicarakan──』
"Hah? Ya
jelas tidak paham sama sekali! Bicara yang urut!"
『Cepat kirimkan
bala bantuan sekarang juga. Aku bisa mati. Rencana pembunuhan terhadap Yang
Mulia Ryufen sudah dijalankan. Kami sedang melarikan diri karena nyaris
terbunuh. Kumohon, tolong kami──』
"Makanya
kubilang aku tidak paham!"
Irinarea
berteriak seperti sedang menjerit. Patausche sangat memahami perasaannya.
Karena
dia sendiri pun sering dibuat bingung setiap kali bicara dengan Vanetim.
Namun,
ada perasaan aneh yang muncul.
Perasaan
di mana dia justru menaruh harapan pada kekacauan yang ditimbulkan pria itu.
Hukuman
Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit 2
──Operasi
Pemusnahan dan Pembersihan Pegunungan Kazit, hari kesembilan.
Pagi itu langit
cerah sejak awal. Pandangan pun sangat luas. Aku bisa melihat dengan jelas
gerombolan Fairy yang mulai mengepung Gunung Daktarev ini.
Mereka
kemungkinan baru akan bergerak saat malam tiba. Sampai sekarang, pergerakan
musuh masih lamban.
Kami memutuskan
untuk memasang jebakan sebanyak mungkin di sekitar "Lubang Kubur",
lalu menarik diri setelah lewat tengah hari.
Mulai saat ini,
penjagaan menjadi tugas yang sangat krusial.
"Patroli
akan dilakukan oleh Pasukan Forbartz kami," ucap Nalk.
Anak ini pasti
punya kepribadian yang sangat teliti. Dia membawa peta Gunung Daktarev yang
sudah dipenuhi dengan tumpukan catatan kecil.
"Aku akan
menetapkan tiga lapis garis peringatan. Hari ini, kita berjaga sampai garis
terluar. Kita akan menarik mundur garis itu secara bertahap. Kami tidak akan
membiarkan musuh lolos sedikit pun!"
Semangatnya luar
biasa berapi-api, tapi memang benar, ini adalah tugas penting. Ketahanan posisi
pengepungan ini bergantung pada seberapa cepat kita menyadari pendekatan musuh.
"Kalau musuh
langsung menyerang frontal dengan kekuatan penuh, malah lebih gampang
sih."
"Benar. Jika
mereka mengerahkan seluruh kekuatan sekaligus, pasti ada Demon Lord
Phenomenon Gwythion di dalamnya."
"Mari kita
asumsikan mereka tidak sebodoh itu. Prioritasnya adalah menemukan musuh lebih
dulu."
"Serahkan
pada saya. Saya pasti akan memenuhi ekspektasi Tuan Forbartz!"
Aku tidak tahu
harus menjawab apa.
Panggilan
"Tuan Forbartz" itu terdengar menjijikkan, tapi rasanya bodoh jika
aku mengatakan sesuatu yang bisa menurunkan moral di situasi seperti ini.
Akhirnya, aku hanya bisa melambai sok keren lalu pergi dari sana.
(Rasanya
canggung sekali.)
Begitu aku
kembali ke "Lubang Kubur", aku melihat Teoritta sedang melakukan hal
aneh di depan pintu masuk.
"Hiat!"
Dia
mengayunkan pedang tipis dan pendek dengan kedua tangannya. Sepertinya dia
sedang berlatih ayunan dasar.
Melihat
cara tangan kirinya menopang, dasarnya pasti Ilmu Pedang Pusat yang berfokus
pada penggunaan satu tangan.
Namun, gerakan
tangan dan langkah kakinya tampak sangat kaku. Sepertinya dia sudah berlatih
cukup lama, karena seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya pun terengah-engah.
Tsav dan
Trishill mengawasinya. Kombinasi yang langka.
"Nah,
begitu! Bagus, Teoritta-chan!"
Tsav memberikan
sorakan penyemangat.
"Semakin
lelah, harus semakin teliti! Wah, jadi teringat bimbingan Pak Tua Nekulus,
ya."
"……Goddess
Pedang. Sadari kuda-kudamu. Lenganmu mulai turun."
Trishill
bergumam dengan wajah masygul.
"Daripada
mengejar jumlah, fokuslah pada gerakan yang benar. ……Sial. Apa-apaan ini? Dia
punya bakat jauh lebih besar daripada si Rubah Gantung……! Bagaimana bisa si bodoh itu kalah dari anak kecil
seperti ini?"
"……Apa yang
kalian lakukan?"
Begitu aku
bertanya, Tsav menoleh dengan riang.
"Oh! Bos, baru balik ya? Lihat nih, teknik pedang Teoritta-chan! Kami
sedang mengajarinya. Bisa dibilang kami ini gurunya! Hebat, kan? Jadi guru
seorang Goddess bisa jadi bahan cerita seumur hidup!"
"Ya,
mungkin saja, tapi……"
Aku
sedikit bimbang harus bicara apa. Ini bukan hal buruk. Faktanya, Teoritta
pernah belajar sedikit cara menggunakan pisau, dan itu terbukti berguna.
Tapi,
apakah dia harus menguras tenaga di situasi begini?
"……Aku
paham apa yang kau pikirkan."
Saat aku
ragu, Trishill menyela dari samping.
"Tapi,
dia adalah Goddess Pedang. Tidak ada salahnya dia belajar cara memegang
senjata selagi ada waktu luang. Meskipun hanya ayunan dasar. Aku sama sekali
tidak berniat mengajarkan teknik tingkat tinggi."
"Eh!
Masa? Padahal aku mau mengajarkan teknik pedang pembunuh! Tahu kan, soal titik
vital manusia atau racun mematikan yang manjur banget!"
"Untuk apa
kau ajarkan itu? Kau bodoh ya, Pembunuh Bayaran? Mana mungkin seorang Goddess bisa
menyerang titik vital manusia."
"Eits,
jangan salah! Teoritta-chan sepertinya tertarik, dia pernah bertanya
padaku!"
"Itu karena
dia tanya soal pertolongan pertama dan medis! Isi kepalamu itu sebenarnya apa
sih……"
"Isi
kepalaku sih taman bunga yang indah. Mau kulihatkan tidak, isi hatiku yang
cantik ini?"
Sepertinya
Teoritta berusaha mempelajari berbagai hal dari Tsav dan Trishill.
Mengetahui ada
percakapan seperti itu di luar pengawasanku membuatku merasa sangat cemas.
Terutama Tsav. Seperti yang terlihat dari percakapan tadi, dia pasti hanya akan
mengajarkan hal-hal yang tidak benar.
"Yah──bagaimanapun
juga, Goddess itu mulai berlatih sendiri bahkan kalau dibiarkan,"
tambah Trishill.
"Akan
merepotkan kalau dia salah urat karena cara ayunan yang aneh. Setidaknya dia
harus berguna."
Wanita ini memang
punya pemikiran yang sangat praktis. Mungkin karena itulah dia bisa beradaptasi
dari tentara bayaran pengikut Demon Lord Phenomenon menjadi pengawas
Dotta.
"……Tapi, ada
yang aneh. Xylo, kau sadar tidak?"
"Apa?"
"Meskipun
dia Goddess Pedang, dia sama sekali tidak bisa menggunakan pedang. Apakah dia diciptakan agar
benar-benar bergantung pada kontraktornya dalam hal bertarung? Logika itu terasa tidak pas bagiku."
Teoritta penuh
dengan misteri. Kenapa dia disembunyikan? Apa maksud dari kemampuan abnormal
'Pedang Suci' itu? Aku bahkan ingin bertanya pada orang yang menciptakannya.
Teoritta itu sebenarnya──
"Xylo!"
Suara Teoritta
menghentikan lamunanku.
"Bagaimana
menurutmu teknik pedangku? Gerakanku sudah mulai lumayan, kan?"
Dia
mengangkat pedangnya dengan senyum lebar meski bersimbah keringat. Memang, ya,
setidaknya gerakannya sudah mulai berbentuk. Cukup untuk membuatku mengenali
kalau itu adalah pegangan Ilmu Pedang Pusat hanya dengan melihat ayunannya.
"Kalau
terjadi apa-apa, aku yang akan melindungi Xylo!"
"……Begitulah."
Aku hanya bisa
memberikan jawaban seadanya.
Rasanya sangat
familier, Deja vu.
Melihat Teoritta
mengulang-ulang ayunan pedangnya membuatku ingin segera pergi dari sana.
"Agar tidak…… menjadi beban! Aku juga harus…… membangun
kekuatan! Musuh pasti akan menyerang sampai ke sini, kan?"
"Tergantung perkembangan nanti. Aku mau membicarakan
itu dengan Norunagayu──apa dia di dalam?"
"Ya,
sepertinya sedang bekerja. Bersama Dotta dan orang-orang dari Pasukan Forbartz!"
"Panggilan
itu, benar-benar tidak bisa diubah ya……"
"Apa yang
kau katakan? Semua orang jadi bersemangat karena merasa menjadi bagian dari
Pasukan Forbartz. Menyerah saja dan terimalah!"
Teoritta tertawa
penuh kemenangan. Dia benar-benar berenergi. Padahal, kita sedang sangat
terdesak sekarang.
(Tapi, ada
peluang menang.)
Itu artinya kami
tidak benar-benar terisolasi. Ada tentara di Nophan. Bahkan jika Patausche
tidak bisa menggerakkan mereka, keberadaan mereka saja sudah punya arti. Musuh
tidak akan bisa mengabaikan fakta itu.
"Bos──Bos."
Tsav menyenggol
bahuku. Senyum tipisnya masih ada, tapi suaranya merendah.
"Nanti
malam, mereka pasti bakal menyerang, kan?"
"Kalau
tidak, berarti mereka tipe yang sangat waspada. Atau penakut."
"Hehe! Kalau
begitu sih bagus. Tapi kalau perang pecah, aku tidak bisa menjamin keselamatan
Teoritta-chan, ya. Jangan mengandalkanku untuk itu, cuma buat jaga-jaga
saja."
"Tidak
apa-apa. Kau fokus saja pada bidikanmu. Incar saja target-target besar."
Pada akhirnya,
perang pengepungan pun sama saja. Bagaimana caranya agar serangan kita kena.
Peran penembak jitu dan mekanik adalah yang paling vital.
"Bagi kau
sih gampang, kan?"
"Hehe……"
Tsav tertawa,
tampak sedikit malu.
"Kalau Bos Xylo
yang bilang begitu, mau bagaimana lagi."
Ekspresi yang
langka. Aku baru menyadari kalau dia mungkin tipe pria yang suka diandalkan
seperti itu.
◆
Ruangan di dekat
pintu masuk "Lubang Kubur" adalah yang paling luas.
Ruangan itu cukup
besar untuk menampung dua puluh pekerja beserta peralatan dan bahan-bahan
mereka. Di bawah bimbingan ketat Norunagayu, pengukiran Holy Seal sedang
dilakukan. Suasananya persis seperti pabrik.
Di antara mereka,
Dotta adalah yang paling sering kena semprot.
"Apa-apaan
tarikan garis dasarmu ini!"
Saat aku
melangkah masuk, kemarahan Norunagayu yang meluap-luap sedang dihujamkan ke
arah Dotta.
"Sudah
kubilang berapa kali, kalau belum terbiasa, ukur panjangnya dengan benar!
Gunakan aritmetika untuk menentukan titik potongnya! Jangan menarik garis hanya
dengan perkiraan asal-asalan!"
"Jangan
minta yang mustahil dong……"
Dotta mendongak
dengan wajah kesal.
"Kalau aku
bisa melakukan hal rapi seperti itu, aku sudah kerja kantoran dari dulu!"
"Itu
bukan hal yang patut dibanggakan! Dotta, kau punya bakat ketangkasan tangan yang alami. Gunakan itu demi
kerajaanku! Dengar, buat sepuluh lagi seperti ini sebelum hari berakhir!"
"Eeeh…… lagipula, sebenarnya aku disuruh buat apa sih?
Emangnya sepenting itu?"
"Sangat penting. Aku akan membangun singgasanaku di
Kamar Jenazah yang di dalam. Ini adalah Holy Seal untuk dekorasinya.
Selain fungsi berpendar dalam berbagai warna, ini juga akan meningkatkan
kekuatan fisik singgasana tersebut."
"……Nggak
penting banget! Kukira kau buat senjata!"
"Bodoh!
Jangan remehkan wibawa
singgasana raja! Lagipula, mana mungkin aku menyerahkan pembuatan senjata pada
orang yang menarik garis saja masih asal-asalan sepertimu. Lihat Saritaff!
Tangannya memang kaku, tapi karena dia mengukur dengan benar, ukirannya jauh lebih
akurat daripada punyamu!"
Norunagayu
menunjuk ke arah gadis bertudung serigala di sudut ruangan.
Saritaff. Meski
tampak terganggu oleh teriakan Norunagayu, dia memang mengukir garis yang
sangat tajam. Terlihat jauh lebih akurat daripada milik Dotta.
"──Kau
tampak sangat terbiasa, apa kau punya pengalaman?"
Aku menunduk
menatap tangan Saritaff dan bertanya. Lagi-lagi, dia memasang wajah yang agak
tidak senang.
"……Suku kami
juga mewarisi teknik pengukiran Holy Seal. Ini bukan cuma teknik milik orang dataran
rendah."
"Baguslah
kalau begitu. Terima kasih sudah mau membantu."
"Ini karena
aliansi. Kalau Holy Seal ini bisa membantai mereka semua, aku akan
bantu."
Sejak pagi tadi,
Norunagayu sudah mulai mengerjakan "mekanisme besar". Ini adalah
sesuatu yang berbeda level dengan sekadar menyebar kerikil ber-Holy Seal
atau membuat pagar pertahanan.
"Kata Yang
Mulia Norunagayu, ini senjata mematikan. Dia itu, meski kelihatannya begitu,
kemampuannya luar biasa hebat."
"Aku tahu.
Dia berisik, omongannya juga ngaco…… tapi dia benar."
Saritaff menatap
Norunagayu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Justru hal
itulah yang membuatku sulit menerimanya."
Sambil mengerang,
Saritaff sepertinya selesai mengukir.
Benda
yang dia ukir adalah sebilah plat besi panjang. Saritaff mencengkeramnya dengan
kedua tangan, lalu perlahan memberikan tenaga untuk membengkokkannya. Kekuatan
lengannya benar-benar tidak masuk akal.
"Wah,
gila……"
Dotta
mengintip ke arah tangannya dan menahan napas.
"Lengan
kanan Trishill memang hebat, tapi ini beda ya…… Apa semua orang gunung seperti itu?"
"Benar.
Jangan samakan kami dengan orang dataran rendah yang lemah. Dan juga, jangan mendekat, dasar
sampah."
"Hii!"
"Kau suka
mencuri milik orang lain. Kalau sekali lagi kau menyentuh barangku, akan
kupelintir lehermu sampai mati."
"Hiii……"
Dotta mundur dengan wajah pucat. Dia memang tidak bisa
menghilangkan kebiasaan buruknya bahkan di saat seperti ini. Jangan-jangan dia benar-benar mencuri sesuatu
milik Saritaff. Itu sangat mungkin terjadi.
"Dengar,
kami berbeda dari orang dataran rendah. Kalau kami bilang akan membunuh, kami
akan membunuh. Kami punya kekuatannya. Jangan remehkan kami!"
"Ti-tidak
berani meremehkan! Sumpah! Jangan bunuh aku! Tolong!"
"Orang
dataran rendah tidak bisa dipercaya. Terutama kau!"
Saritaff
tidak menyembunyikan kebenciannya yang mendalam. Dotta semakin menciut.
Sejujurnya
kemarahan Saritaff sangatlah beralasan. Aku juga setuju kalau Dotta harus
dihukum berat.
Namun ironisnya,
yang mengusulkan untuk menyelamatkan Saritaff adalah Dotta sendiri. Jika si
sampah pencuri ini adalah murni bajingan dalam segala hal, mungkin akan lebih
mudah dipahami.
Tentu saja aku
tidak menceritakan hal itu pada Saritaff, jadi kemarahannya tidak terbendung.
"Orang dataran rendah itu pembohong. Kalian datang
belakangan tapi seenaknya menetap dan merampas…… kami tidak lupa! Alasan aku
tidak membunuh kalian adalah karena aliansi dengan orang ini."
Saritaff menunjukku dengan jempolnya. Sepertinya dia masih
belum sepenuhnya ikhlas, tapi setidaknya kehadiranku menjadi penahan minimal.
"Aku akan membantai semua Fairy di gunung ini.
Aku membantu demi itu. Cuma itu."
"……Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, wahai
gadis Yamanobe."
Tiba-tiba Norunagayu angkat bicara. Matanya tertuju pada bagian kepala Saritaff.
Tempat di mana tanduknya berada. Saritaff refleks membetulkan tudung
serigalanya.
"Apa. Kau
mau lihat tandukku? Ini bukan tontonan!"
"Aku tahu
itu. Dengar, jangan
melihat orang hanya berdasarkan prasangka buruk! Lama-lama kau hanya bisa
mengukur orang dengan kebencian. Yang ingin kutanyakan adalah sejarah suku
Yamanobe kalian."
Norunagayu
mengelus jenggotnya. Sesekali dia memang menjadi sangat penuh rasa ingin tahu.
"Apakah
di suku Yamanobe diajarkan bahwa orang dataran rendah──kami──datang
belakangan?"
"Benar.
Kalian seenaknya mulai tinggal di dataran rendah. Pembohong dan
sewenang-wenang. Kami sangat membenci kalian!"
"Menurut
sejarahmu, dari mana orang dataran rendah berasal?"
"Sudah pasti dari Gerbang Leluhur."
Gerbang yang digumamkan Saritaff itu juga aku ketahui. Itu
adalah reruntuhan yang ada di Utara. Sekarang tidak ada yang tahu asal-usul
namanya──aku teringat Sigria Parchlact pernah menelitinya dengan sangat
antusias.
"Orang
dataran rendah tidak tahu, ya? Padahal kalian semua berasal dari sana."
"Hmm."
Norunagayu
terdiam sambil mengelus jenggotnya. Entah kenapa, aku juga merasa ada yang janggal.
"Ada yang
mengganggu pikiranmu, Yang Mulia?"
"……Apakah
kamilah yang dipanggil, atau mereka? Atau justru keduanya? Ini adalah subjek
yang ingin kupelajari lebih dalam suatu saat nanti, termasuk soal Gerbang
Leluhur……"
Siapa sebenarnya
yang menciptakan dunia ini? Hal itu sudah lama menjadi bahan perdebatan.
Kuil mengajarkan
bahwa 'Langit' yang mengirimkan Goddess ke bumi adalah sang pencipta.
Tentu saja sedikit yang benar-benar mempercayainya.
Jika menelusuri
buku sejarah kerajaan yang lebih tua, muncul berbagai teori tentang pencipta
dunia. Mulai dari leluhur para Goddess, anak dari bumi dan langit,
hingga lautan kekacauan.
Mungkin saja,
suku Saritaff mewarisi penggalan dari mitos tertua tersebut.
Entah kenapa, aku
merasa begitu.
◆
"Kita mulai
sekarang."
Boojum
mengumumkannya di tengah kegelapan.
Setelah sempat
bimbang, pada akhirnya, kapan harus memulai hanyalah masalah momentum.
Sebenarnya dia
ingin mengumpulkan lebih banyak kekuatan Fairy di sekitar Pegunungan
Kazit dan membangun markas di sebelah utara dan barat Gunung Daktarev.
Ada juga
kemungkinan bala bantuan dari Tovitz akan tiba dalam beberapa hari ke depan.
Namun, sebanyak
apa pun waktu yang dia habiskan, musuh pun akan ikut bersiap. Itu hal yang
wajar.
Jika musuh memang
sengaja menjadi umpan, maka mengulur waktu adalah salah satu tujuan mereka.
Saat bertarung
melawan Rhyno di Ibu Kota Kedua, dia pernah terpancing oleh taktik itu dan
mengalami kesulitan.
(Tetap saja,
kewaspadaan itu perlu. Musuh bukan cuma Prajurit Hukuman di Gunung Daktarev.)
Ada tentara di
Nophan. Berbahaya jika melupakan fakta itu. Boojum sudah memperhatikan cara
bertarung para Prajurit Hukuman sejak dari Kota Yoaf.
Mereka adalah
orang-orang yang bahkan berani menggunakan Goddess sebagai umpan jika
situasinya menuntut.
Jika dia
memusatkan seluruh kekuatannya di Gunung Daktarev lalu Nophan mengerahkan
pasukannya, maka pihaknya yang akan hancur.
Karena itu, dia
memulainya dari pengintaian, deteksi musuh, pengukuran Gunung Daktarev, serta
pemetaan topografi. Memakan waktu, tapi perlu.
Dia juga tidak
boleh mengabaikan kemungkinan musuh sudah menyembunyikan tentara di suatu
tempat.
(Terhadap para
Prajurit Hukuman itu. Aku tidak boleh lengah.)
Terhadap
pengepungan yang rapi ini, dia sempat memikirkan taktik serangan kilat dengan
meminta bantuan Gwythion untuk terjun langsung.
Namun, Gwythion bersikap pasif terhadap serangan total.
『Boojum. Aku tidak berniat ikut campur dalam perangmu,』 ucap
Gwythion dengan tegas.
『Apa kau terlalu
haus akan prestasi? Memangnya apa perlunya terburu-buru?』
Boojum merasa itu
salah, tapi ini adalah wilayah kekuasaan Gwythion.
Sebagian besar Fairy
berada di bawah kendali Gwythion. Selama dia meminjam kekuatan itu untuk
bertarung, dia tidak bisa memaksa.
(Inilah yang
terbaik. Dan, aku tidak bisa membuang terlalu banyak waktu.)
Ada
pasukan yang mendekati sepuluh ribu di belakangnya. Kekalahan adalah hal
mustahil. Masalahnya hanyalah harus menang dengan cepat.
"Pertama,
biarkan unit Mata Ketiga menyelidiki kekuatan musuh. Kalian boleh mengorbankan Fairy
sebanyak mungkin. Aku ingin tahu jumlah musuh dan jebakan yang mereka
pasang."
"Dimengerti."
"Mata Kedua
bersiap. Jika Goddess mencoba menerobos pengepungan, jangan biarkan dia
lolos."
"Ah…… oke.
Jadi semacam cadangan ya. Paham."
"Mata
Keempat dan aku akan menjadi penyerang utama. Kami akan melangkahi jebakan yang
telah diungkap oleh Mata Ketiga, lalu membunuh Goddess Pedang."
"……Dimengerti."
Jawaban
Mata Keempat terdengar seperti bisikan. Dia memiliki tinggi badan yang jauh
lebih pendek dibandingkan anggota Unit 7110 lainnya.
Kulitnya
halus dan bersifat logam──kudengar dia adalah spesimen hasil persilangan antara
Goblin dan Knocker. Dia
pendiam, tapi sangat ahli dalam memimpin pertempuran kelompok.
"Bagus.
Bergeraklah. Tidak peduli berapa banyak Fairy yang mati, tapi kalian
jangan sampai mati."
Bagaimanapun,
kekuatan intinya adalah Unit 7110. Menggunakan gerombolan sepuluh ribu Fairy
untuk melumat musuh akan memerlukan keterlibatan Gwythion, jadi itu harus
dianggap sebagai kartu terakhir.
(Seberapa besar persiapanmu, Prajurit Hukuman…… sampai
berani memasang umpan di hadapan pasukan besar ini?)
Mungkin itu
jebakan, tapi ini jelas merupakan peluang yang tak terduga.
Jika ada peluang
sekecil apa pun untuk membunuh Teoritta, dia harus menuntaskannya bagaimanapun
caranya.



Post a Comment