NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 7 Chapter 13-14

Hukuman

Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit 1


──Operasi Pemusnahan dan Pembersihan Pegunungan Kazit, hari kedelapan. Tersisa lima hari sebelum batas waktu penyelesaian operasi.

Hujan mulai reda, tapi situasi pertempuran sama sekali tidak membaik. Penyebabnya adalah karena kami membuang keuntungan terbesar kami dengan tangan sendiri.

Kami tidak lagi menggunakan lorong bawah tanah yang menghubungkan berbagai titik di Pegunungan Kazit. Sekarang, tempat itu justru berbahaya.

Mungkin sekitar setengah dari jalur bawah tanah sudah ditemukan musuh.

Kami memutuskan untuk menjadikan Gunung Daktarev sebagai benteng pertahanan. Hanya jalur bawah tanah di gunung ini yang tidak terhubung dengan gunung-gunung lainnya.

Kami mengumpulkan seluruh logistik ke dalam lorong bawah tanah berskala kecil di dalam gunung ini, lalu mendekam di sana.

Ini adalah kartu as yang disiapkan Senerva sebagai upaya terakhir. Saat itu pun, kami sudah sepakat bahwa jika terdesak, tempat inilah yang akan menjadi markas.

Gunung Daktarev terletak di ujung utara Pegunungan Kazit, sehingga jika bala bantuan muncul dari Nophan, kami bisa menjepit musuh di ngarai yang memisahkan keduanya.

Namun, apakah kemungkinan itu masih ada? Kami sama sekali tidak tahu seberapa keras Patausche berjuang di sana.

Kami hanya melakukan apa yang bisa kami lakukan. Menimbun logistik, memasang jebakan, dan bersiap menghadapi serangan.

Mungkin kami masih punya waktu beberapa hari, atau mungkin serangan akan dimulai satu jam lagi. Kami hanya bisa bergegas.

(Lakukan semua yang bisa dilakukan. Pertama-tama, buat cara agar pasukan besar tidak bisa mendekat.)

Jebakan yang memanfaatkan medan. Hal itu sendiri tidak sulit. Seluruh topografi Gunung Daktarev sudah terekam di kepalaku. Entah kenapa, hal-hal seperti ini justru menempel kuat di ingatan.

(Dengan jebakan ini, seberapa banyak yang bisa kita tahan──)

Saat aku sedang tenggelam dalam pekerjaan, sebuah suara menyapa.

"Tuan Forbartz!"

Itu adalah tepian sungai yang mengalir di kaki Gunung Daktarev. Ada sebuah jembatan kecil di sini. Aku sedang di tengah proses memasang mekanisme agar jembatan itu runtuh saat dilewati.

"Dapat babi hutan! Lihat, besar sekali. Hari ini kita masak sup besar, ya?"

Nalk Dexter melambaikan tangan. Dia mengangkut babi hutan hasil buruannya menggunakan dahan pohon besar dan tali. Memang besar.

"Saya yang menghabisinya, tapi ini berkat jebakan buatan Saritaff."

Nalk menoleh ke arah bayangan kecil di belakangnya. Saritaff dari suku Yamanobe yang memakai tudung serigala. Berdasarkan reaksi Teoritta dan Nalk, aku mulai paham kalau sosok ini sepertinya bukan laki-laki, melainkan perempuan.

"Cuma segini, gampang buatku."

Saritaff menarik tudung serigalanya lebih dalam hingga menutupi mata. Nada bicaranya terdengar seperti orang yang sedang merajuk.

"Orang-orang dataran rendah memang tidak tahu cara berburu."

Sombong sekali bicaranya, tapi dia memang punya modal untuk itu. Pasalnya, dialah yang tahu lokasi "Gudang Tersembunyi" milik suku Yamanobe. Gudang itu adalah gua tempat menimbun makanan awetan, bahan bakar, dan perbekalan lainnya untuk keadaan darurat.

(Stoknya ternyata lebih banyak dari dugaan, tapi──)

Tetap saja, jika dimakan oleh empat puluh orang, itu hanya akan bertahan paling lama dua hari.

Jika ditambah dengan jatah daging kering, mungkin bisa satu hari lagi. Kalau kami benar-benar berhemat, mungkin bisa diperpanjang. Kami harus irit.

Hanya saja, besok pertempuran pasti pecah. Musuh pasti sudah mulai sadar kalau kami berniat bertahan di Gunung Daktarev. Setidaknya untuk hari ini, kami harus makan yang kenyang.

"Malam ini kita pesta. Tapi kalau mau agak mewah, rasanya kita butuh tambahan makanan lagi."

"Ah! Kalau soal itu!"

Nalk Dexter menunjuk ke arah belakangku. Ke arah sungai. Sebuah sungai tanpa nama mengalir menyisir kaki Gunung Daktarev. Permukaan airnya bergoyang, dan aku merasa melihat sebuah bayangan.

"Tsav sedang mencobanya sekarang."

"Apa?"

Begitu aku menajamkan pandangan ke permukaan sungai, sesuatu yang berwarna hijau pekat dan tampak seperti gumpalan tanaman melompat keluar dari sana.

"Buaah!"

Suara itu terdengar bersamaan dengan gelengan kepala, barulah aku sadar kalau itu adalah manusia.

Sosok itu tertutup ranting dan dedaunan, menyerupai Tree Demon.

Hanya matanya yang tampak berkilat licik terpapar cahaya matahari musim hujan yang redup. Aku langsung mengenali identitas monster ini.

Itu Tsav. Kenapa dia dandan seperti itu?

"──Bos! Aku berhasil!"

Dia memegang tombak kasar di satu tangannya. Benda asal-asalan yang hanya berupa bilah tajam yang diikat ke ujung dahan pohon. Di ujung tombak itu, tertancap ikan sungai besar yang masih menggelepar.

"Ikan Mas Akabiki! Besar banget kan, Bos?"

Tsav berjalan membelah air sungai dan naik ke daratan. Mas Akabiki adalah sejenis ikan mas yang memiliki ciri khas garis merah seperti pita di punggungnya.

"Yah, di saat seperti inilah Tsav-kun beraksi! Menggantikan kalian semua yang tidak punya kemampuan bertahan hidup dengan membawakan makanan setiap hari! Mengharukan sekali! Rasanya aku sudah selevel orang suci, ya? Apa nanti aku daftar jadi Uskup Agung saja?"

Sambil mengoceh, dia kembali menggelengkan kepalanya dengan kuat. Air memercik dari tanaman yang melekat di tubuhnya.

Melihat itu, aku langsung menanyakan hal yang paling mengganjal.

"Terserahlah soal itu…… tapi apa-apaan baju aneh itu? Kau meniru Tree Demon?"

"Aku mencoba membuat sesuatu yang sudah kupikirkan sejak lama! Ini ide dari Saritaff-chan!"

Saat Tsav menunjuk Saritaff, gadis itu mengernyitkan wajah dengan tidak senang. Ekspresinya menunjukkan rasa muak karena terus-menerus diajak bicara secara sepihak. Aku sangat memahaminya.

"Kalau pakai ini dan bersembunyi di hutan, bakal susah banget ditemuin. Lihat! Di misi kali ini aku pasti disuruh menembak lagi, kan? Jadi mumpung ada kesempatan, aku coba-coba berbagai hal!"

"Ooh, jadi karena itu…… ya, mungkin bisa berguna."

Konsep kamuflase memang sudah ada sejak dulu dan berbagai metode telah dicoba.

Tapi, menurutku kostum ini cukup nekat. Mungkin tidak cocok untuk pertempuran kelompok, tapi sangat pas untuk operasi tunggal.

"Tapi, apa perlu sampai menyelam di sungai? Kukira kau Fairy. Nyaris saja kuserang tadi."

"Bukan begitu, barang seperti ini tidak ada gunanya kalau tidak dicuci di sungai sebelum dipakai. Harus benar-benar dilumuri lumpur dan diguyur hujan supaya menyatu. Jauh lebih alami daripada barang baru, kan?"

Kalau dipikir-pikir, mungkin dia benar. Dengan lumpur, kerikil, dan lumut sungai yang menempel, tampilannya memang terasa menyatu dengan alam.

"Itu juga diajarkan Saritaff?"

"Bukan, ini ide orisinalku sendiri! Karena aku jenius, kalau diajari satu hal, aku bisa paham sampai dua puluh atau tiga puluh hal!"

"Maaf ya, Saritaff. Abaikan saja omongan si bodoh ini. Dia memang tidak tertolong."

"Dia ini…… untuk ukuran orang dataran rendah, cukup becus. Kemampuan berburunya juga tidak buruk……"

Saritaff bergumam pelan. Sepertinya dia tidak menutup diri dari percakapan.

"Tapi dia berisik dan merepotkan. Aku tidak suka."

"Tega! Jahat banget ya anak ini, Bos! Padahal aku cuma ingin kalian bersikap lebih lembut padaku──"

"Perutku sudah lapar. Ayo cepat kuliti babi hutannya. Kita kembali ke lubang kubur."

"Ah, Bos sudah bosan! Tidak didengarkan!"

Lubang kubur adalah sebutan untuk markas kami di Gunung Daktarev. Kedengarannya memang tidak menyenangkan, tapi kalian akan paham setelah mendengar sejarahnya.

Di dalam Gunung Daktarev yang berbentuk limas agak miring ini, Senerva pernah memanggil struktur yang sedikit berbeda dari "kereta bawah tanah".

Dia bilang itu adalah makam raja dari dunia lain. Struktur itu memiliki ruang tengah yang disebut "Kamar Jenazah", dengan beberapa lorong dan ruangan di sekitarnya.

Kalau diingat kembali──saat itu kami mengeluh, "Apa kita harus mendekam di makam saat keadaan darurat?", tapi Senerva memang suka sarkasme seperti itu. Kami pun tidak membencinya.

Mungkin dia berpikir, candaan buruk yang sengaja diucapkan tidak akan menjadi kenyataan.

"……Nalk."

Aku menggelengkan kepala untuk mengusir ingatan itu. Sekarang aku harus fokus pada situasi di depan mata.

"Ada orang lain yang sedang di luar gunung?"

"Pasukan Milete sedang melakukan patroli. Mereka sangat bersemangat."

"Oke, kalau begitu jadikan hari ini hari terakhir untuk berburu dan patroli. Mulai besok, musuh pasti akan mengepung kita."

"Berarti, pertempuran akhirnya akan dimulai."

"Begitulah. Tapi…… sepertinya kau terlihat senang. Kau paham tidak situasi kita sekarang?"

"Saya paham. Meski begitu, saya merasa bahagia."

"Kau sudah gila. Apa yang membuatmu bahagia?"

"Bisa bertarung di bawah komando Tuan Forbartz. Saya tidak pernah menyangka impian ini akan terwujud. Saya tidak akan menyesal meski harus gugur di sini!"

"Dasar bodoh."

Suasana hatiku memburuk. Aku mencengkeram kerah baju Nalk.

"Coba pikirkan perasaan prajurit yang dipimpin oleh komandan yang ngebet mati. Kalau kau mengatakannya lagi, akan kuusir kau dari gunung ini."

"……Mohon maaf. Saya salah bicara."

Nalk menunduk. Dia terlihat sangat kecewa. Aku merasa agak berlebihan, tapi mau bagaimana lagi.

"Hehehe! Jangan dimasukkan ke hati, Pak Nalk. Justru kata-kata itu yang paling tidak ingin didengar dari Bos Xylo──ah, bukan, lupakan!"

Tsav tertawa keras, yang sejujurnya membuatku jengkel, tapi dia langsung diam saat kupelototi.

"Ayo balik."

Hasil hari ini bisa dibilang memuaskan. Babi hutan dan ikan. Setidaknya cukup untuk makan malam hari ini.

Saat kami kembali ke "Lubang Kubur" sambil membawa hasil buruan, Norunagayu sudah menunggu.

Dia menata beberapa lempengan batu hasil curian Dotta di depan lubang dan mengukirnya. Orang-orang yang terampil dengan tangan membantu pekerjaannya.

Saat itu, mereka bahkan sedang merakit sebuah alat setinggi tubuhku menggunakan dahan-dahan pohon.

"Kau lambat, Panglima Xylo."

Norunagayu melotot ke arahku. Dia tampak sangat tidak senang.

"Tanpamu, pertahanan kerajaanku akan menjadi tidak stabil. Apa kau tahu apa yang paling harus diwaspadai saat ini?"

"Entahlah. Terlalu banyak hal…… yang mana maksudmu?"

"Pembunuhan," ucap Norunagayu dengan lantang.

"Pembunuhan terhadapku, atau sang Goddess Teoritta. Itulah kartu as yang diincar musuh! Apalagi aku belum menunjuk penerus, dan tidak ada orang yang pantas untuk itu. Jika sesuatu terjadi padaku, negara akan kacau balau."

Kata-kata Norunagayu, seperti biasa, setengahnya tepat sasaran.

Terlepas dari soal penerus atau negara yang kacau, pembunuhan terhadap Teoritta memang hal yang paling harus diwaspadai. Jika sesuatu terjadi padanya, maka tujuan operasi kali ini akan musnah.

Tanpa dia, musuh pasti akan mengabaikan kami dan langsung fokus menyerang Nophan.

Namun lebih dari sekadar kematian Teoritta──aku berusaha untuk tidak memikirkan kemungkinan yang lebih buruk dari itu.

Aku harus melindunginya. Kali ini, harus berhasil.

"Cukup sekian teguran dariku, Panglima Xylo. Sekarang bantu aku. Waktu adalah segalanya."

"Boleh saja…… tapi tolong kasih tahu. Sebenarnya kau sedang membuat apa?"

"Ini adalah senjata rahasia pertama. Secara struktur, ini mirip dengan pelontar batu."

Memang benar. Mirip senjata pengepungan yang melontarkan batu besar. Namun karena terbuat dari bahan-bahan kasar dan dihiasi banyak Holy Seal di sana-sini, alat ini terlihat agak mengerikan.

"Kau mau melontarkan batu besar dengan ini?"

"Tidak. Batu yang dilontarkan tidak perlu besar. Alat ini akan menyebarkan kerikil-kerikil kecil dalam jumlah banyak. Kerikil yang sudah diukir dengan Holy Seal. Itu sudah cukup."

Mendengar penjelasan itu, aku paham fungsi pelontar ini. Menyebarkan kerikil. Benar juga, tidak butuh massa atau kecepatan yang terlalu besar.

Presisi juga tidak diperlukan. Dengan melontarkannya dari atas lereng ke arah bawah, kerikil itu akan mendapatkan akselerasi yang cukup. Holy Seal yang diukir pada kerikil akan menambah daya rusaknya.

"Pasukan kita berada di posisi yang lebih tinggi dari musuh. Kita harus memanfaatkan keuntungan ini semaksimal mungkin."

"Kau benar."

Kami memang punya beberapa keunggulan. Tapi kelemahan kami jauh lebih banyak. Bagaimana caranya kami memaksakan keunggulan kami dalam pertempuran? Bagaimana cara memanfaatkan kelemahan kami sendiri?

Itulah hal yang harus kupikirkan.

"Sebelum lanjut, ayo makan dulu──Saritaff, ajari kami masakan suku Yamanobe. Terutama bubur kemarin, itu enak sekali. Bumbu apa yang kau pakai? Bukan cuma garam, kan?"

"Bagi kami, itu cuma garam biasa."

Saritaff mendengus. Saat membicarakan makanan, raut wajahnya yang suram tampak sedikit melunak.

"……Ikan kering dan jamur dihaluskan menjadi bubuk, lalu dicampur garam. Jauh lebih enak daripada garam orang dataran rendah."

Setidaknya, ini adalah salah satu keunggulan kami dibandingkan musuh.

Kami bisa makan lebih enak daripada mereka. Akumulasi dari hal-hal kecil seperti itulah yang akan memengaruhi kekuatan tempur di situasi kritis──itulah yang pernah dikatakan Ryufen Kaulon.

Jika pria itu yang mengatakannya, aku percaya itu adalah sebuah kebenaran.

Patausche Kivia dipanggil ke sebuah kuil yang terletak di dekat alun-alun pusat Kota Nophan.

Dia menelusuri koridor yang anehnya sepi, menuju ruangan yang berada paling pojok. Sebuah ruangan dengan papan nama bertuliskan "Arsip Catatan Sejarah Suci". Di depan pintu masuk, tampak sekitar sepuluh prajurit berjaga dengan ketat.

(Pendeta Bersenjata? Apalagi yang berpangkat cukup tinggi…… apa mereka dikirim sampai ke Utara ini?)

Kenyataan bahwa pihak kuil mengirim mereka sampai ke Nophan cukup mengejutkan. Pengiriman personel dengan kecepatan yang tidak kalah dari Galtuil. Sudah bisa ditebak kalau ini adalah pengaturan dari Nikold Iburton.

Sambil melirik mereka, Patausche melangkah masuk ke ruangan itu, dan yang menunggunya adalah wajah-sosok yang tidak terduga.

(Dua orang Goddess……!)

Terlebih lagi, tidak ada satu pun Ksatria Suci di sana.

Kelflora sang Goddess Bayangan, dan Irinarea sang Goddess Baja. Hanya mereka berdua yang duduk di meja bundar dari kayu ek yang sudah tua.

Cahaya matahari yang masuk dari jendela berterali tampak lemah, seolah sengaja memberikan bayangan pada ekspresi wajah mereka.

"──Ngapain cuma berdiri di situ, Patausche Kivia?"

Irinarea adalah yang pertama angkat bicara.

"Duduklah. Atau kau mau aku mengeluarkan 'Perintah' Goddess dulu?"

"Ah…… tidak. Mohon maaf."

"Frensy Mastivolt tidak ada? Padahal aku bermaksud mengundang kalian berdua."

"Dia sedang ada urusan lain."

Pergi berdua hanya akan membuang waktu, jadi Frensy memilih untuk bicara dengan para bangsawan yang masih bisa dia pengaruhi. Gaya berpikir yang sangat khas Frensy.

"Justru Anda berdua, kenapa tidak bersama para Ksatria Suci?"

"Justru mereka yang sedang diawasi oleh Esgain. Bisa-bisa malah dicari-cari kesalahannya."

Irinarea mengetuk meja bundar dengan ujung jarinya. Gerakan yang tampak tidak sabar.

"Sebaliknya, kami lebih bebas bergerak sendirian. Beribadah di kuil sudah menjadi rutinitas harian…… Bahkan si tukang lapor itu pun tidak akan berani mendekat jika kami menggerakkan para Pendeta Bersenjata."

"……Saya terkejut para Pendeta Bersenjata sudah dikirim ke Utara."

"Kakek Nikold Iburton memang bergerak sangat cepat. Sesuai permintaanku, dia mengirimkan unit yang sudah kulatih sendiri."

"Dilatih? Oleh Nona Irinarea sendiri?"

"Yah, setidaknya di kuil ada Pendeta Bersenjata yang secara pribadi bisa kuandalkan. Aku harus menjalin hubungan baik dengan kuil agar bisa membela diri. Tugas Goddess bukan cuma berdoa dan tanda tangan…… tapi,"

Sambil bicara, Irinarea menunjuk Kelflora di sampingnya.

"Gadis ini sepertinya tidak punya niat seperti itu. Adif terlalu protektif padanya."

"Iya."

Kelflora mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

"Aku tidak apa-apa selama ada Adif. Adif bisa melakukan apa saja."

"Iya deh, terserah."

"……Ah. Iya, Guio juga cukup kuat, kok. Dia selalu menghargai Re-a……"

"Tsk. Kau sedang mencoba menghiburku? Kata-katamu itu berlebihan."

"Tidak seberlebihan Re-a, kok."

"Makanya, itu yang kusebut berlebih──ah, pembicaraannya tidak jalan-jalan! Oke, cukup basa-basinya."

Irinarea menumpukan siku di meja dan mencondongkan tubuhnya.

"Ayo langsung ke inti masalah. Kalian sudah tahu, kan──soal Prajurit Hukuman. Aku dengar kalian dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal."

"Benar. Tugas kami adalah pemusnahan kekuatan musuh di Pegunungan Kazit."

Itu bukan hal yang bisa dilakukan oleh hanya segelintir orang. Karena belum ada laporan kehancuran, berarti saat ini mereka masih bertahan hidup.

Namun situasinya tidak diketahui. Sangat logis untuk berpikir bahwa mereka sebisa mungkin menghindari pertempuran dan bersembunyi sambil percaya pada bala bantuan dari Nophan, tapi──lawannya adalah Xylo Forbartz.

Patausche merasa percuma saja menebak-nebak tindakan nekat apa yang sedang dilakukan pria itu.

"Bagaimana pun cara berpikirnya, itu adalah misi yang mustahil. Prajurit Hukuman memang unit yang tidak boleh menyayangkan nyawa mereka, tapi Nona Teoritta juga ikut bersama mereka."

"Aku sendiri tidak terlalu mengenal Teoritta. Dia bukan urusanku, tapi──"

Patausche merasa itu bohong. Dia sangat mengenal pria yang bicara seperti itu. Semakin dia ketus bilang "bukan urusanku", biasanya justru semakin peduli.

"Goddess Pedang adalah aset perang yang berharga. Setidaknya menurut pandanganku," ucapnya dengan sedikit ragu.

"Terlepas dari senjata lainnya, 'Pedang Suci' itu. Cuma yang satu itu yang terasa berbeda. Benar-benar unik. Tidak ada satu pun senjata dari dunia lain yang kupanggil yang bisa melenyapkan Demon Lord Phenomenon mana pun seperti pedang itu."

Mungkin dalam kata-katanya tersirat sedikit rasa kompetisi.

Irinarea sang Goddess Baja bisa dibilang adalah ahli senjata. Dia bisa memanggil senjata dari dunia lain dan tahu cara menggunakannya. Jika dia sampai menyebutnya unik, berarti 'Pedang Suci' Teoritta memang sangat spesial.

"Sejujurnya aku sangat ingin membantu. Karena dia akan jadi kekuatan tempur yang berguna di saat genting."

"Aku juga ingin membantu. Karena Teo adalah temanku."

"──Kalau begitu,"

Patausche membusungkan dada. Dia merasa inilah saatnya. Untuk menuntaskan perannya mengumpulkan bala bantuan di Nophan, dia harus mempertaruhkan segalanya di sini.

"Kami, para Prajurit Hukuman, memang sekumpulan pendosa besar yang punya masalah perilaku. Namun, ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Kami bertarung demi umat manusia. Bukan demi kebahagiaan atau kekayaan pribadi, bukan demi keluarga atau teman, tapi murni demi umat manusia!"

Dan ada sosok yang dengan sukarela membimbing orang-orang seperti mereka: Goddess Teoritta. Dialah sosok yang seharusnya diselamatkan. Jika tidak, maka segalanya tidak akan masuk akal. Bagi Patausche, ini adalah hal yang sangat penting.

"Saya memohon. Tiga ribu. Tidak, dua ribu personel saja sudah cukup. Dengan kekuatan sebesar itu, saya berjanji akan memusnahkan kekuatan musuh di Pegunungan Kazit──dan menyelamatkan Nona Teoritta."

Patausche tidak menyebutkan apa yang akan terjadi pada nyawa para Prajurit Hukuman.

Secara tidak sadar, dia mengeluarkan nyawanya sendiri dan nyawa Xylo Forbartz dari perhitungan.

Dia berpikir Frensy pasti akan sangat marah mendengarnya.

"Kami butuh bala bantuan. Jika ada bantuan dari Anda berdua, pasti──"

"Maaf, tapi itu mustahil."

"Iya. Sulit."

"Eh?"

Jawaban cepat yang memotong bicaranya membuat Patausche membatu.

"Anu, bukankah barusan arah pembicaraannya adalah Anda berdua akan mencoba melakukan sesuatu……"

"Kau salah paham. Kami datang ke sini justru untuk bilang kalau dengan keadaan sekarang, itu benar-benar mustahil."

"Iya. Hampir tidak mungkin."

"Kalian para Prajurit Hukuman sekarang dicap sebagai penjahat keji yang memelihara Demon Lord Phenomenon."

"Rasanya…… reputasi kalian di mata para prajurit juga sangat buruk……"

Diberondong secara bergantian oleh Irinarea dan Kelflora, Patausche hanya bisa terdiam.

Memang benar reputasi Prajurit Hukuman sudah jatuh drastis. Dia pun merasakannya sendiri.

Bahkan reputasi mereka yang berhasil memukul mundur Demon Lord Phenomenon dengan jumlah personel sedikit pun dianggap sebagai sandiwara atau hasil transaksi gelap.

"Tapi kami tetap ingin membantu. Itu sungguhan. Adif juga bilang begitu."

Kelflora menambahkan. Komandan Ksatria Suci Adif Twibel. Bahkan bagi pria yang sangat ahli dalam pertarungan politik itu pun, situasi sekarang sepertinya sudah buntu.

"Apa tidak ada cara lain, Patausche Kivia? Trik sulap atau apa pun, terserah."

Ujung jari Irinarea terus mengetuk meja bundar dengan tidak sabar.

"Aku dengar kalian ahli dalam hal-hal tipu-tipu seperti itu."

(Itu──)

Pria yang ahli dalam hal itu memang ada. Tapi sekarang dia seharusnya tidak bisa diandalkan.

"Sepertinya memang sudah tidak ada──"

Baru saja Patausche hendak mengatakannya, suara tajam seperti letupan bunga api terdengar.

Suara itu berasal dari sekitar pinggang Irinarea. Ada sebuah papan komunikasi kecil di sana. Sepertinya dia membawanya seolah itu adalah perisai sungguhan.

"Apaan sih tiba-tiba. Dari mana ini…… sumber pengirim…… otoritas Komandan Ksatria Suci? Guio? Padahal aku sedang sibuk……!"

Sambil mengomel, Irinarea mengambil papan itu.

"Ada apa, Guio? Apa situasinya berubah?"

──Situasinya──gawat.

Suara yang terdengar serak dan penuh gangguan. Irinarea mengerutkan kening.

"Hah? Bukan Guio…… siapa kau? Papan komunikasi ini cuma bisa menerima sinyal dari otoritas Komandan Ksatria Suci. Bagaimana kau bisa menghubungi ke sini?"

──Tolong bantu aku. Aku mohon.

Patausche merasa pernah mendengar suara itu. Mungkinkah? Namun ini benar-benar tidak masuk akal. Kenapa pria itu bisa melakukan komunikasi seperti ini?

Namaku Vanetim Leopold. Nyawa Yang Mulia Ryufen sedang terancam, jadi──aku tahu kalian pasti tidak paham apa yang kubicarakan──

"Hah? Ya jelas tidak paham sama sekali! Bicara yang urut!"

Cepat kirimkan bala bantuan sekarang juga. Aku bisa mati. Rencana pembunuhan terhadap Yang Mulia Ryufen sudah dijalankan. Kami sedang melarikan diri karena nyaris terbunuh. Kumohon, tolong kami──

"Makanya kubilang aku tidak paham!"

Irinarea berteriak seperti sedang menjerit. Patausche sangat memahami perasaannya.

Karena dia sendiri pun sering dibuat bingung setiap kali bicara dengan Vanetim.

Namun, ada perasaan aneh yang muncul.

Perasaan di mana dia justru menaruh harapan pada kekacauan yang ditimbulkan pria itu.


Hukuman

Pemusnahan Reruntuhan Pegunungan Kazit 2

──Operasi Pemusnahan dan Pembersihan Pegunungan Kazit, hari kesembilan.

Pagi itu langit cerah sejak awal. Pandangan pun sangat luas. Aku bisa melihat dengan jelas gerombolan Fairy yang mulai mengepung Gunung Daktarev ini.

Mereka kemungkinan baru akan bergerak saat malam tiba. Sampai sekarang, pergerakan musuh masih lamban.

Kami memutuskan untuk memasang jebakan sebanyak mungkin di sekitar "Lubang Kubur", lalu menarik diri setelah lewat tengah hari.

Mulai saat ini, penjagaan menjadi tugas yang sangat krusial.

"Patroli akan dilakukan oleh Pasukan Forbartz kami," ucap Nalk.

Anak ini pasti punya kepribadian yang sangat teliti. Dia membawa peta Gunung Daktarev yang sudah dipenuhi dengan tumpukan catatan kecil.

"Aku akan menetapkan tiga lapis garis peringatan. Hari ini, kita berjaga sampai garis terluar. Kita akan menarik mundur garis itu secara bertahap. Kami tidak akan membiarkan musuh lolos sedikit pun!"

Semangatnya luar biasa berapi-api, tapi memang benar, ini adalah tugas penting. Ketahanan posisi pengepungan ini bergantung pada seberapa cepat kita menyadari pendekatan musuh.

"Kalau musuh langsung menyerang frontal dengan kekuatan penuh, malah lebih gampang sih."

"Benar. Jika mereka mengerahkan seluruh kekuatan sekaligus, pasti ada Demon Lord Phenomenon Gwythion di dalamnya."

"Mari kita asumsikan mereka tidak sebodoh itu. Prioritasnya adalah menemukan musuh lebih dulu."

"Serahkan pada saya. Saya pasti akan memenuhi ekspektasi Tuan Forbartz!"

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Panggilan "Tuan Forbartz" itu terdengar menjijikkan, tapi rasanya bodoh jika aku mengatakan sesuatu yang bisa menurunkan moral di situasi seperti ini. Akhirnya, aku hanya bisa melambai sok keren lalu pergi dari sana.

(Rasanya canggung sekali.)

 

Begitu aku kembali ke "Lubang Kubur", aku melihat Teoritta sedang melakukan hal aneh di depan pintu masuk.

"Hiat!"

Dia mengayunkan pedang tipis dan pendek dengan kedua tangannya. Sepertinya dia sedang berlatih ayunan dasar.

Melihat cara tangan kirinya menopang, dasarnya pasti Ilmu Pedang Pusat yang berfokus pada penggunaan satu tangan.

Namun, gerakan tangan dan langkah kakinya tampak sangat kaku. Sepertinya dia sudah berlatih cukup lama, karena seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya pun terengah-engah.

Tsav dan Trishill mengawasinya. Kombinasi yang langka.

"Nah, begitu! Bagus, Teoritta-chan!"

Tsav memberikan sorakan penyemangat.

"Semakin lelah, harus semakin teliti! Wah, jadi teringat bimbingan Pak Tua Nekulus, ya."

"……Goddess Pedang. Sadari kuda-kudamu. Lenganmu mulai turun."

Trishill bergumam dengan wajah masygul.

"Daripada mengejar jumlah, fokuslah pada gerakan yang benar. ……Sial. Apa-apaan ini? Dia punya bakat jauh lebih besar daripada si Rubah Gantung……! Bagaimana bisa si bodoh itu kalah dari anak kecil seperti ini?"

"……Apa yang kalian lakukan?"

Begitu aku bertanya, Tsav menoleh dengan riang.

"Oh! Bos, baru balik ya? Lihat nih, teknik pedang Teoritta-chan! Kami sedang mengajarinya. Bisa dibilang kami ini gurunya! Hebat, kan? Jadi guru seorang Goddess bisa jadi bahan cerita seumur hidup!"

"Ya, mungkin saja, tapi……"

Aku sedikit bimbang harus bicara apa. Ini bukan hal buruk. Faktanya, Teoritta pernah belajar sedikit cara menggunakan pisau, dan itu terbukti berguna.

Tapi, apakah dia harus menguras tenaga di situasi begini?

"……Aku paham apa yang kau pikirkan."

Saat aku ragu, Trishill menyela dari samping.

"Tapi, dia adalah Goddess Pedang. Tidak ada salahnya dia belajar cara memegang senjata selagi ada waktu luang. Meskipun hanya ayunan dasar. Aku sama sekali tidak berniat mengajarkan teknik tingkat tinggi."

"Eh! Masa? Padahal aku mau mengajarkan teknik pedang pembunuh! Tahu kan, soal titik vital manusia atau racun mematikan yang manjur banget!"

"Untuk apa kau ajarkan itu? Kau bodoh ya, Pembunuh Bayaran? Mana mungkin seorang Goddess bisa menyerang titik vital manusia."

"Eits, jangan salah! Teoritta-chan sepertinya tertarik, dia pernah bertanya padaku!"

"Itu karena dia tanya soal pertolongan pertama dan medis! Isi kepalamu itu sebenarnya apa sih……"

"Isi kepalaku sih taman bunga yang indah. Mau kulihatkan tidak, isi hatiku yang cantik ini?"

Sepertinya Teoritta berusaha mempelajari berbagai hal dari Tsav dan Trishill.

Mengetahui ada percakapan seperti itu di luar pengawasanku membuatku merasa sangat cemas. Terutama Tsav. Seperti yang terlihat dari percakapan tadi, dia pasti hanya akan mengajarkan hal-hal yang tidak benar.

"Yah──bagaimanapun juga, Goddess itu mulai berlatih sendiri bahkan kalau dibiarkan," tambah Trishill.

"Akan merepotkan kalau dia salah urat karena cara ayunan yang aneh. Setidaknya dia harus berguna."

Wanita ini memang punya pemikiran yang sangat praktis. Mungkin karena itulah dia bisa beradaptasi dari tentara bayaran pengikut Demon Lord Phenomenon menjadi pengawas Dotta.

"……Tapi, ada yang aneh. Xylo, kau sadar tidak?"

"Apa?"

"Meskipun dia Goddess Pedang, dia sama sekali tidak bisa menggunakan pedang. Apakah dia diciptakan agar benar-benar bergantung pada kontraktornya dalam hal bertarung? Logika itu terasa tidak pas bagiku."

Teoritta penuh dengan misteri. Kenapa dia disembunyikan? Apa maksud dari kemampuan abnormal 'Pedang Suci' itu? Aku bahkan ingin bertanya pada orang yang menciptakannya. Teoritta itu sebenarnya──

"Xylo!"

Suara Teoritta menghentikan lamunanku.

"Bagaimana menurutmu teknik pedangku? Gerakanku sudah mulai lumayan, kan?"

Dia mengangkat pedangnya dengan senyum lebar meski bersimbah keringat. Memang, ya, setidaknya gerakannya sudah mulai berbentuk. Cukup untuk membuatku mengenali kalau itu adalah pegangan Ilmu Pedang Pusat hanya dengan melihat ayunannya.

"Kalau terjadi apa-apa, aku yang akan melindungi Xylo!"

"……Begitulah."

Aku hanya bisa memberikan jawaban seadanya.

Rasanya sangat familier, Deja vu.

Melihat Teoritta mengulang-ulang ayunan pedangnya membuatku ingin segera pergi dari sana.

"Agar tidak…… menjadi beban! Aku juga harus…… membangun kekuatan! Musuh pasti akan menyerang sampai ke sini, kan?"

"Tergantung perkembangan nanti. Aku mau membicarakan itu dengan Norunagayu──apa dia di dalam?"

"Ya, sepertinya sedang bekerja. Bersama Dotta dan orang-orang dari Pasukan Forbartz!"

"Panggilan itu, benar-benar tidak bisa diubah ya……"

"Apa yang kau katakan? Semua orang jadi bersemangat karena merasa menjadi bagian dari Pasukan Forbartz. Menyerah saja dan terimalah!"

Teoritta tertawa penuh kemenangan. Dia benar-benar berenergi. Padahal, kita sedang sangat terdesak sekarang.

(Tapi, ada peluang menang.)

Itu artinya kami tidak benar-benar terisolasi. Ada tentara di Nophan. Bahkan jika Patausche tidak bisa menggerakkan mereka, keberadaan mereka saja sudah punya arti. Musuh tidak akan bisa mengabaikan fakta itu.

"Bos──Bos."

Tsav menyenggol bahuku. Senyum tipisnya masih ada, tapi suaranya merendah.

"Nanti malam, mereka pasti bakal menyerang, kan?"

"Kalau tidak, berarti mereka tipe yang sangat waspada. Atau penakut."

"Hehe! Kalau begitu sih bagus. Tapi kalau perang pecah, aku tidak bisa menjamin keselamatan Teoritta-chan, ya. Jangan mengandalkanku untuk itu, cuma buat jaga-jaga saja."

"Tidak apa-apa. Kau fokus saja pada bidikanmu. Incar saja target-target besar."

Pada akhirnya, perang pengepungan pun sama saja. Bagaimana caranya agar serangan kita kena. Peran penembak jitu dan mekanik adalah yang paling vital.

"Bagi kau sih gampang, kan?"

"Hehe……"

Tsav tertawa, tampak sedikit malu.

"Kalau Bos Xylo yang bilang begitu, mau bagaimana lagi."

Ekspresi yang langka. Aku baru menyadari kalau dia mungkin tipe pria yang suka diandalkan seperti itu.

Ruangan di dekat pintu masuk "Lubang Kubur" adalah yang paling luas.

Ruangan itu cukup besar untuk menampung dua puluh pekerja beserta peralatan dan bahan-bahan mereka. Di bawah bimbingan ketat Norunagayu, pengukiran Holy Seal sedang dilakukan. Suasananya persis seperti pabrik.

Di antara mereka, Dotta adalah yang paling sering kena semprot.

"Apa-apaan tarikan garis dasarmu ini!"

Saat aku melangkah masuk, kemarahan Norunagayu yang meluap-luap sedang dihujamkan ke arah Dotta.

"Sudah kubilang berapa kali, kalau belum terbiasa, ukur panjangnya dengan benar! Gunakan aritmetika untuk menentukan titik potongnya! Jangan menarik garis hanya dengan perkiraan asal-asalan!"

"Jangan minta yang mustahil dong……"

Dotta mendongak dengan wajah kesal.

"Kalau aku bisa melakukan hal rapi seperti itu, aku sudah kerja kantoran dari dulu!"

"Itu bukan hal yang patut dibanggakan! Dotta, kau punya bakat ketangkasan tangan yang alami. Gunakan itu demi kerajaanku! Dengar, buat sepuluh lagi seperti ini sebelum hari berakhir!"

"Eeeh…… lagipula, sebenarnya aku disuruh buat apa sih? Emangnya sepenting itu?"

"Sangat penting. Aku akan membangun singgasanaku di Kamar Jenazah yang di dalam. Ini adalah Holy Seal untuk dekorasinya. Selain fungsi berpendar dalam berbagai warna, ini juga akan meningkatkan kekuatan fisik singgasana tersebut."

"……Nggak penting banget! Kukira kau buat senjata!"

"Bodoh! Jangan remehkan wibawa singgasana raja! Lagipula, mana mungkin aku menyerahkan pembuatan senjata pada orang yang menarik garis saja masih asal-asalan sepertimu. Lihat Saritaff! Tangannya memang kaku, tapi karena dia mengukur dengan benar, ukirannya jauh lebih akurat daripada punyamu!"

Norunagayu menunjuk ke arah gadis bertudung serigala di sudut ruangan.

Saritaff. Meski tampak terganggu oleh teriakan Norunagayu, dia memang mengukir garis yang sangat tajam. Terlihat jauh lebih akurat daripada milik Dotta.

"──Kau tampak sangat terbiasa, apa kau punya pengalaman?"

Aku menunduk menatap tangan Saritaff dan bertanya. Lagi-lagi, dia memasang wajah yang agak tidak senang.

"……Suku kami juga mewarisi teknik pengukiran Holy Seal. Ini bukan cuma teknik milik orang dataran rendah."

"Baguslah kalau begitu. Terima kasih sudah mau membantu."

"Ini karena aliansi. Kalau Holy Seal ini bisa membantai mereka semua, aku akan bantu."

Sejak pagi tadi, Norunagayu sudah mulai mengerjakan "mekanisme besar". Ini adalah sesuatu yang berbeda level dengan sekadar menyebar kerikil ber-Holy Seal atau membuat pagar pertahanan.

"Kata Yang Mulia Norunagayu, ini senjata mematikan. Dia itu, meski kelihatannya begitu, kemampuannya luar biasa hebat."

"Aku tahu. Dia berisik, omongannya juga ngaco…… tapi dia benar."

Saritaff menatap Norunagayu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Justru hal itulah yang membuatku sulit menerimanya."

Sambil mengerang, Saritaff sepertinya selesai mengukir.

Benda yang dia ukir adalah sebilah plat besi panjang. Saritaff mencengkeramnya dengan kedua tangan, lalu perlahan memberikan tenaga untuk membengkokkannya. Kekuatan lengannya benar-benar tidak masuk akal.

"Wah, gila……"

Dotta mengintip ke arah tangannya dan menahan napas.

"Lengan kanan Trishill memang hebat, tapi ini beda ya…… Apa semua orang gunung seperti itu?"

"Benar. Jangan samakan kami dengan orang dataran rendah yang lemah. Dan juga, jangan mendekat, dasar sampah."

"Hii!"

"Kau suka mencuri milik orang lain. Kalau sekali lagi kau menyentuh barangku, akan kupelintir lehermu sampai mati."

"Hiii……"

Dotta mundur dengan wajah pucat. Dia memang tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya bahkan di saat seperti ini. Jangan-jangan dia benar-benar mencuri sesuatu milik Saritaff. Itu sangat mungkin terjadi.

"Dengar, kami berbeda dari orang dataran rendah. Kalau kami bilang akan membunuh, kami akan membunuh. Kami punya kekuatannya. Jangan remehkan kami!"

"Ti-tidak berani meremehkan! Sumpah! Jangan bunuh aku! Tolong!"

"Orang dataran rendah tidak bisa dipercaya. Terutama kau!"

Saritaff tidak menyembunyikan kebenciannya yang mendalam. Dotta semakin menciut.

Sejujurnya kemarahan Saritaff sangatlah beralasan. Aku juga setuju kalau Dotta harus dihukum berat.

Namun ironisnya, yang mengusulkan untuk menyelamatkan Saritaff adalah Dotta sendiri. Jika si sampah pencuri ini adalah murni bajingan dalam segala hal, mungkin akan lebih mudah dipahami.

Tentu saja aku tidak menceritakan hal itu pada Saritaff, jadi kemarahannya tidak terbendung.

"Orang dataran rendah itu pembohong. Kalian datang belakangan tapi seenaknya menetap dan merampas…… kami tidak lupa! Alasan aku tidak membunuh kalian adalah karena aliansi dengan orang ini."

Saritaff menunjukku dengan jempolnya. Sepertinya dia masih belum sepenuhnya ikhlas, tapi setidaknya kehadiranku menjadi penahan minimal.

"Aku akan membantai semua Fairy di gunung ini. Aku membantu demi itu. Cuma itu."

"……Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, wahai gadis Yamanobe."

Tiba-tiba Norunagayu angkat bicara. Matanya tertuju pada bagian kepala Saritaff. Tempat di mana tanduknya berada. Saritaff refleks membetulkan tudung serigalanya.

"Apa. Kau mau lihat tandukku? Ini bukan tontonan!"

"Aku tahu itu. Dengar, jangan melihat orang hanya berdasarkan prasangka buruk! Lama-lama kau hanya bisa mengukur orang dengan kebencian. Yang ingin kutanyakan adalah sejarah suku Yamanobe kalian."

Norunagayu mengelus jenggotnya. Sesekali dia memang menjadi sangat penuh rasa ingin tahu.

"Apakah di suku Yamanobe diajarkan bahwa orang dataran rendah──kami──datang belakangan?"

"Benar. Kalian seenaknya mulai tinggal di dataran rendah. Pembohong dan sewenang-wenang. Kami sangat membenci kalian!"

"Menurut sejarahmu, dari mana orang dataran rendah berasal?"

"Sudah pasti dari Gerbang Leluhur."

Gerbang yang digumamkan Saritaff itu juga aku ketahui. Itu adalah reruntuhan yang ada di Utara. Sekarang tidak ada yang tahu asal-usul namanya──aku teringat Sigria Parchlact pernah menelitinya dengan sangat antusias.

"Orang dataran rendah tidak tahu, ya? Padahal kalian semua berasal dari sana."

"Hmm."

Norunagayu terdiam sambil mengelus jenggotnya. Entah kenapa, aku juga merasa ada yang janggal.

"Ada yang mengganggu pikiranmu, Yang Mulia?"

"……Apakah kamilah yang dipanggil, atau mereka? Atau justru keduanya? Ini adalah subjek yang ingin kupelajari lebih dalam suatu saat nanti, termasuk soal Gerbang Leluhur……"

Siapa sebenarnya yang menciptakan dunia ini? Hal itu sudah lama menjadi bahan perdebatan.

Kuil mengajarkan bahwa 'Langit' yang mengirimkan Goddess ke bumi adalah sang pencipta. Tentu saja sedikit yang benar-benar mempercayainya.

Jika menelusuri buku sejarah kerajaan yang lebih tua, muncul berbagai teori tentang pencipta dunia. Mulai dari leluhur para Goddess, anak dari bumi dan langit, hingga lautan kekacauan.

Mungkin saja, suku Saritaff mewarisi penggalan dari mitos tertua tersebut.

Entah kenapa, aku merasa begitu.

"Kita mulai sekarang."

Boojum mengumumkannya di tengah kegelapan.

Setelah sempat bimbang, pada akhirnya, kapan harus memulai hanyalah masalah momentum.

Sebenarnya dia ingin mengumpulkan lebih banyak kekuatan Fairy di sekitar Pegunungan Kazit dan membangun markas di sebelah utara dan barat Gunung Daktarev.

Ada juga kemungkinan bala bantuan dari Tovitz akan tiba dalam beberapa hari ke depan.

Namun, sebanyak apa pun waktu yang dia habiskan, musuh pun akan ikut bersiap. Itu hal yang wajar.

Jika musuh memang sengaja menjadi umpan, maka mengulur waktu adalah salah satu tujuan mereka.

Saat bertarung melawan Rhyno di Ibu Kota Kedua, dia pernah terpancing oleh taktik itu dan mengalami kesulitan.

(Tetap saja, kewaspadaan itu perlu. Musuh bukan cuma Prajurit Hukuman di Gunung Daktarev.)

Ada tentara di Nophan. Berbahaya jika melupakan fakta itu. Boojum sudah memperhatikan cara bertarung para Prajurit Hukuman sejak dari Kota Yoaf.

Mereka adalah orang-orang yang bahkan berani menggunakan Goddess sebagai umpan jika situasinya menuntut.

Jika dia memusatkan seluruh kekuatannya di Gunung Daktarev lalu Nophan mengerahkan pasukannya, maka pihaknya yang akan hancur.

Karena itu, dia memulainya dari pengintaian, deteksi musuh, pengukuran Gunung Daktarev, serta pemetaan topografi. Memakan waktu, tapi perlu.

Dia juga tidak boleh mengabaikan kemungkinan musuh sudah menyembunyikan tentara di suatu tempat.

(Terhadap para Prajurit Hukuman itu. Aku tidak boleh lengah.)

Terhadap pengepungan yang rapi ini, dia sempat memikirkan taktik serangan kilat dengan meminta bantuan Gwythion untuk terjun langsung.

Namun, Gwythion bersikap pasif terhadap serangan total.

Boojum. Aku tidak berniat ikut campur dalam perangmu, ucap Gwythion dengan tegas.

Apa kau terlalu haus akan prestasi? Memangnya apa perlunya terburu-buru?

Boojum merasa itu salah, tapi ini adalah wilayah kekuasaan Gwythion.

Sebagian besar Fairy berada di bawah kendali Gwythion. Selama dia meminjam kekuatan itu untuk bertarung, dia tidak bisa memaksa.

(Inilah yang terbaik. Dan, aku tidak bisa membuang terlalu banyak waktu.)

Ada pasukan yang mendekati sepuluh ribu di belakangnya. Kekalahan adalah hal mustahil. Masalahnya hanyalah harus menang dengan cepat.

"Pertama, biarkan unit Mata Ketiga menyelidiki kekuatan musuh. Kalian boleh mengorbankan Fairy sebanyak mungkin. Aku ingin tahu jumlah musuh dan jebakan yang mereka pasang."

"Dimengerti."

"Mata Kedua bersiap. Jika Goddess mencoba menerobos pengepungan, jangan biarkan dia lolos."

"Ah…… oke. Jadi semacam cadangan ya. Paham."

"Mata Keempat dan aku akan menjadi penyerang utama. Kami akan melangkahi jebakan yang telah diungkap oleh Mata Ketiga, lalu membunuh Goddess Pedang."

"……Dimengerti."

Jawaban Mata Keempat terdengar seperti bisikan. Dia memiliki tinggi badan yang jauh lebih pendek dibandingkan anggota Unit 7110 lainnya.

Kulitnya halus dan bersifat logam──kudengar dia adalah spesimen hasil persilangan antara Goblin dan Knocker. Dia pendiam, tapi sangat ahli dalam memimpin pertempuran kelompok.

"Bagus. Bergeraklah. Tidak peduli berapa banyak Fairy yang mati, tapi kalian jangan sampai mati."

Bagaimanapun, kekuatan intinya adalah Unit 7110. Menggunakan gerombolan sepuluh ribu Fairy untuk melumat musuh akan memerlukan keterlibatan Gwythion, jadi itu harus dianggap sebagai kartu terakhir.

(Seberapa besar persiapanmu, Prajurit Hukuman…… sampai berani memasang umpan di hadapan pasukan besar ini?)

Mungkin itu jebakan, tapi ini jelas merupakan peluang yang tak terduga.

Jika ada peluang sekecil apa pun untuk membunuh Teoritta, dia harus menuntaskannya bagaimanapun caranya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close