NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 7 Chapter 12

Hukuman

Pencegahan Pembunuhan Lyuphen Kaulon 2


Pesisir utara Valligarhi tengah diguyur hujan lebat.

Akhir-akhir ini, hujan turun hampir setiap hari. Rasanya sudah berhari-hari aku tidak melihat celah langit cerah sejak ditugaskan ke wilayah utara setelah menyeberangi selat. Malam ini pun, curah hujan masih tetap deras.

(Aku benci musim begini.)

Ryufen Kaulon mengenakan jas hujan dan mengikat tali sepatu botnya dengan perasaan masygul.

(Mana suhu udaranya makin tinggi, rasanya jadi pengap dan panas……)

Bukan sekadar tidak nyaman, cuaca seperti ini juga memengaruhi pengawetan logistik. Di kampung halamannya di wilayah Barat, tepatnya di tanah Won Daoran, iklim seperti ini sangat langka. Di wilayah pusat pun jarang terjadi.

(Menyebalkan, terlalu banyak hal yang harus kupikirkan.)

Prioritas utamanya saat ini adalah mengatur lalu lintas pengangkutan logistik. Dia harus merapikan jadwal kereta kuda agar tidak terjadi kemacetan atau salah jalur yang hanya akan membuang tenaga. Meski merepotkan, sudah jelas jika tidak dilakukan sekarang, dia akan menghadapi situasi yang jauh lebih pelik nantinya.

Karena alasan itulah, Ryufen tidak tidur di Benteng Brock Numea, melainkan di sebuah "Stasiun" sementara yang didirikan di sebelah utara, di antara benteng dan Nophan. Itu adalah markas untuk menimbun barang agar bisa segera dimuat ke kereta kuda. Keberadaan tempat seperti ini otomatis menarik perhatian para pedagang──sebuah desa kecil bahkan mulai terbentuk di sekitarnya.

(Benar juga. Apa aku bisa meminjam tenaga para pedagang untuk transportasi logistik, ya? Kalau berhasil, pekerjaanku bisa lebih ringan.)

Saat sedang bersiap-siap untuk berangkat, sebuah suara menyapanya dari belakang.

"Tuan Muda."

Sosok yang memanggil Ryufen dengan sebutan itu adalah seorang pria paruh baya bernama Jiaosu. Dia sudah seperti kepala pelayan bagi keluarga Kaulon dan telah mendampingi Ryufen sejak kecil. Bahkan setelah Ryufen menjadi Ksatria Suci, dia tetap setia mengikutinya dan bekerja dalam posisi yang menyerupai wakil komandan.

"Anda mau pergi sekarang? Di jam selarut ini?"

"Iya. Aku akan kembali sebelum subuh."

Ryufen berdiri sambil menenteng lentera tipe Segel Suci. Cahaya biru pucat berpendar samar dari sana.

"Mari saya siapkan pengawal. Mohon tunggu sebentar."

"Eh? Tidak usah. Cuma sampai sana, kok."

"Kalau begitu, setidaknya ajaklah Nona Nivrenne."

"Kalau dibangunkan, dia pasti bakal merengut. Malah repot urusannya nanti."

"Kalau begitu, saya yang akan mendampingi Anda."

Sepertinya pria itu memang sudah siap untuk berangkat sejak tadi.

"Jika terjadi sesuatu pada Tuan Muda, saya tidak akan punya muka untuk menghadap Tuan Besar."

Jiaosu melangkah maju sambil mengenakan jas hujannya. Di pinggangnya tersampit sebilah pedang dan sebuah Thunder Staff.

(Dia ini terlalu protektif, sih.)

Pikir Ryufen. Di mata pria itu, mungkin Ryufen masih tetap dianggap sebagai anak kecil berusia sepuluh tahun.

"Cuma sampai sana, kok. Ke gedung stasiun. Aku harus segera menyesuaikan jadwal kereta kuda."

Mereka mulai berjalan menembus hujan. Gedung stasiun berada tepat di depan mata.

"Aku sudah membuat jadwalnya. Kita harus meminimalkan jumlah kereta kuda yang berjalan dalam keadaan kosong……"

Gudang-gudang darurat, perumahan, dan toko-toko yang berjejer tampak basah kuyup tersiram hujan. Jumlahnya memang belum banyak, tapi suatu saat nanti tempat ini mungkin akan berkembang menjadi kota besar.

"Targetku adalah sistem tiga jadwal; pagi, siang, dan malam. Untuk itu, kurasa pemukiman yang berada di tengah-tengah antara sini dan Nophan bisa dimanfaatkan. Keluarga Kurdel yang berjaga di sana sudah menguasainya. Kalau bisa memakai itu, semuanya akan jadi lebih mudah."

Dari ujung rambut sampai ujung kaki, isi kepala Ryufen hanyalah cara untuk bersantai. Baginya, sedikit bersusah-payah di awal demi kemudahan di masa depan adalah hal yang wajar.

"Meski ancaman Demon Lord Phenomenon masih ada di utara, jadi kita belum bisa melakukan transportasi skala besar."

"Kudengar para Fairy sedang berkumpul di Pegunungan Kazit," gumam Jiaosu pelan.

Ryufen tersenyum pahit. Dia tahu apa yang ingin dikatakan pelayannya itu.

"Maksudmu soal Xylo dan yang lain, kan? Aku tahu. Aku dengar mereka dikirim ke sana untuk misi pembasmian sebagai bentuk hukuman. 'Operasi Pemusnahan', ya? Istilah yang hebat."

"Tuan Muda, apakah Anda tidak ingin pergi menolong mereka?"

"Hmm…… ya, begitulah."

"Nona Nivrenne juga sempat mengeluh, kenapa kita tidak pergi membantu."

"Yah, mau bagaimana lagi."

Nivrenne memang tampak sangat kesal, tapi gadis itu sendiri pasti paham kalau permintaan itu mustahil. Dalam kondisi begini, mereka hanya bisa menjaga jarak satu sama lain. Itu juga alasan kenapa Ryufen sulit mengajaknya pergi keluar seperti ini.

"Aku sudah menyiapkan bantuan, tapi itu hanya bersifat sementara. Bagaimanapun juga, menyembunyikan Demon Lord Phenomenon adalah tindakan yang tidak bisa dibela. Bagaimana bisa Rhyno bergabung dengan Prajurit Hukuman, ya……"

Hal itulah yang mengganjal di pikirannya. Siapa sebenarnya yang memutuskan untuk memasukkan Demon Lord Phenomenon ke dalam Pasukan Prajurit Hukuman? Apakah orang yang bertanggung jawab itu juga ditipu oleh orang bernama Rhyno itu?

Untuk menyelidiki hal itu, dia butuh kekuatan keluarganya. Meski berisiko, kemampuan agen intelijen wilayah Barat sangatlah mumpuni. Jika dia bisa meminjam kekuatan itu──

"Tuan Muda."

Tiba-tiba, Jiaosu mencengkeram lengan Ryufen. Suaranya terdengar tajam.

"Mohon waspada. Sepertinya ada penyusup."

"Ah…… jadi mereka benar-benar datang. Merepotkan saja."

Ryufen pun menyadarinya. Di balik tirai hujan yang tipis, tampak enam bayangan manusia. Mereka berdiri diam, seolah-olah sedang mengadang jalan.

"Tapi, ini mengejutkan. Jangan-jangan mereka Fairy?"

Bayangan-bayangan itu jelas merupakan Fairy. Jenis yang disebut Knocker. Tubuh mereka seolah dilapisi oleh bijih mineral, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka dulunya adalah manusia.

"Apa Fairy sekarang menyerang manusia dengan cara seperti ini?"

Bagi Ryufen, ini adalah hal yang mengejutkan sekaligus ancaman. Mereka menyelinap ke pemukiman manusia dan mengincar target untuk dibunuh. Benar-benar mirip pembunuh bayaran manusia.

Terlebih lagi, mereka menggenggam senjata di tangan. Pedang pendek.

"Tuan Muda, mohon mundur."

Jiaosu menghunus pedang lengkung dan Thunder Staff-nya. Dia melangkah maju──bersiap menyambut serangan para Fairy tersebut.

"Mungkin ini akan sedikit sulit."

Sesaat kemudian, kata-katanya terbukti. Para Knocker merangsek maju. Pedang pendek mereka sepertinya dilapisi tinta hitam untuk menghilangkan kilau, membuatnya sangat sulit dilihat.

Jiaosu segera membalas serangan mereka. Pertama, dengan Thunder Staff. Satu tembakan jarak dekat menghancurkan kepala salah satu Knocker. Setelah itu, pertempuran jarak dekat yang sengit pun pecah. Dia menghindar, menangkis, dan menyerang balik di antara lima bilah pedang yang mengayun. Teknik tempa dari Barat memang unik; ketajamannya konon sanggup membelah besi sekalipun.

Tentu saja, Ryufen tidak bisa hanya berdiri diam. Dia menangani Knocker yang berhasil lolos dari pertahanan Jiaosu dan mengincar dirinya. Dia mencabut pedang lengkungnya dan mulai beradu bilah.

(Untung aku bawa pedang…… tapi, makhluk ini……)

Lengannya terasa kebas saat menahan serangan.

(Kuat sekali. Apa dia menggunakan teknik pedang?)

Bukan sekadar memiliki kekuatan fisik yang besar, tapi dia jelas sudah terlatih menggunakan senjata. Sejauh yang Ryufen tahu, meski itu adalah Fairy tipe manusia, mereka paling-paling hanya mengayunkan benda yang mereka genggam secara asal. Namun, makhluk ini bahkan sanggup melakukan serangan tipuan untuk memancing lawan.

Ryufen merasakan bulu kuduknya meremang. Mungkin ada sesuatu yang sedang berubah di antara para Demon Lord Phenomenon.

Meski begitu, dia masih bisa menanganinya. Teknik pedang Ryufen adalah ajaran dari Jiaosu. Walau dia bukan murid yang teladan, dia tidak boleh mempermalukan dirinya sendiri di depan gurunya. Ryufen menangkis bilah lawan lalu menebas ke bawah──dengan satu sabetan itu, lawannya tumbang.

Terasa mantap, namun di saat yang sama, ada kejanggalan yang sangat kuat.

(Terlalu gampang. Bahkan aku saja bisa mengalahkannya. Apa mereka hanya menyerang dengan kekuatan seadanya begini?)

Ryufen tiba-tiba merasakan firasat buruk.

"Jiaosu! Ada yang aneh dengan mereka!"

Jiaosu baru saja hendak menghujamkan bilahnya ke leher musuh terakhir. Pada saat itu, sekelebat kilat menyambar.

Itu bukan kilatan petir alami dari awan mendung. Terdengar suara kering dari kejauhan. Kilat itu menembus kaki Jiaosu, membuatnya jatuh tersungkur. Knocker yang tersisa sudah habis dihabisi──tapi ternyata masih ada yang lain. Penembak jitu. Jiaosu terkapar sambil mengerang.

Ryufen refleks hendak berlari menghampiri.

"Hei! Tadi itu──"

"Jangan bergerak……!"

Jiaosu berteriak lantang. Dia tidak bisa berdiri. Kakinya tertembak tembus──musuh sengaja melukainya seperti itu. Tujuannya adalah untuk menembak siapa pun yang bergerak untuk menolongnya.

"Target mereka adalah Tuan Muda. Mereka menunggu Anda bergerak. Tolong…… jangan beranjak dari sana."

Ryufen menyandarkan punggungnya ke dinding. Kalau dia bergerak, dia akan ditembak.

(Sial. Ini lebih gawat dari dugaanku.)

Siapa sangka Fairy bisa bergerak secara terencana seperti ini. Mereka bahkan menempatkan penembak jitu.

(Aku harus minta tolong. Kalau ada Nivrenne……!)

Ryufen menoleh ke arah asrama sementaranya. Nivrenne. Kalau ada gadis itu, semuanya pasti beres.

Namun, saat menoleh, pemandangan yang dilihatnya adalah──

Asap dan warna merah yang berkobar. Asrama tempatnya bernaung kini dilahap si jago merah──pemandangan itu membuat Ryufen merasa pening.

"Bohong, kan……!"

Di tengah kegelapan malam, api membumbung dengan terangnya. Di asrama itu ada sekitar sepuluh personel dari Orde Ksatria Suci Keenam. Selain itu, seharusnya ada sang Goddess, Nivrenne.

(Sampai sejauh ini, ya?)

Pergerakan musuh sangat terperinci dan tanpa celah. Apa tidak ada jalan keluar?

Saat Ryufen mengedarkan pandangannya mencari celah, tiba-tiba──

"──Komandan Ksatria Suci Ryufen Kaulon!"

Seorang pria bermata merah muncul. Ryufen merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Dengan rambut perak yang basah kuyup karena hujan, pria itu melompat keluar dari gang belakang──lalu tersungkur di hadapannya.

"Sepertinya…… aku sempat, ya."

Gumamnya sambil tersenyum. Bibirnya pucat pasi. Dia tampak sangat letih, namun karena itulah senyumnya terasa begitu mengerikan. Pakaiannya berlumuran lumpur dan juga darah.

Selagi Ryufen ragu harus menjawab apa, pria berambut perak itu memperkenalkan dirinya.

"Namaku Vanetim Leopold. Salam kenal."

(Begitu ya. Prajurit Hukuman……!)

Pantas saja Ryufen merasa tidak asing. Pria ini adalah komandan Pasukan Prajurit Hukuman 9004, tim tempat Xylo bernaung. Belum sempat Ryufen bertanya kenapa dia ada di sini, Vanetim melebarkan senyumnya. Sebuah senyum yang mencampurkan rasa rendah diri dan ejekan terhadap diri sendiri.

"Aku datang untuk meminta tolong──Komandan Kaulon."

Setelah menarik napas sejenak, kata-kata itu terucap.

"Tolong selamatkan aku."

Ryufen melongo, benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi.

"Stasiun ini sudah dikepung. Ini di luar perhitunganku. Semua pembunuh bayaran yang kusewa sudah dipukul balik. Padahal saat Pemilihan Suci trik ini berhasil…… ternyata menggunakan cara yang sama adalah sebuah kesalahan……"

"Tunggu…… apa? Barusan kau bilang apa? Pembunuh bayaran yang kau sewa?"

"Iya. Anu, sebenarnya aku menyewa puluhan pembunuh bayaran untuk membunuh Anda. Tapi, aku tidak menyangka faksi lain akan bergerak di saat yang bersamaan."

Ryufen benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan pria ini. Ini sudah benar-benar melampaui akal sehat.

"Kita harus segera kabur kalau tidak mau celaka──hanya Anda harapanku satu-satunya. Kumohon, tolong selamatkan aku. Ya, benar-benar sekarang──guekh."

"Ketangkap!"

Ucapan Vanetim berubah menjadi erangan kesakitan. Itu gara-gara sebuah bayangan kecil yang melompat ke punggungnya. Seorang gadis lincah dengan rambut dikuncir satu. Tentu saja Ryufen mengenalnya. Sang Goddess, Nivrenne.

"Hehe, percuma saja! Aku tidak akan melepaskanmu, dasar penjahat! Kau pikir aku lengah karena aku tidak bisa melukai manusia? Sayang sekali, kalau cuma segini──ah."

Di saat itulah Nivrenne baru menyadari keberadaan Ryufen. Dia tersenyum ceria sambil melambaikan tangan.

"Ryufen! Lihat, aku menangkap penjahatnya! Dialah yang membawa orang-orang jahat itu dan membakar asrama kita! Lagipula setelah itu ada serangan Fairy juga…… ah, Ryufen, kau dengar tidak? Kenapa kau tertawa? Hei!"

"Haha. ……Hahahaha!"

Ryufen tidak bisa menahan tawa. Tawa yang lama-kelamaan menjadi gelak tawa yang meledak.

"Aku benar-benar tidak paham lagi! Hebat sekali, ya, komandan timnya Xylo itu!"




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close