Chapter 4
Penghakiman
"Uuuh.
Uuughhh~~. Dengar Luellie, Kakak ingin mengulang hari kemarin. Aku ingin
kembali ke masa saat Wolka-san belum tahu rahasiaku. Mengingatnya saja
membuatku malu sekali……"
"Lagipula
nanti juga bakal ketahuan, jadi lebih baik ketahuan dari awal saja."
"Kejam
sekali!!"
Pagi hari setelah
kunjungan anggota Silver Gray ke tempat Sieri.
Mengenai blunder
fatal di mana ia langsung ketahuan sebagai gadis rakus pada pandangan pertama, Luellie
masih harus meladeni keluh kesah kakaknya yang merengek tidak keruan.
Sambil memandangi
pemandangan sarapan kakaknya yang porsinya sama sekali tidak mencerminkan
seorang gadis anggun.
"Makan
sebanyak ini sejak pagi…… haah, syukurlah Kakak sepertinya sudah benar-benar
sehat."
"Ehehe.
Habisnya, masakan Katedral enak sekali, sih!"
"Aku jadi
teringat masa-masa saat dana pesta kita ludes gara-gara biaya makan
Kakak……"
"K-kurasa
tidak sampai ludes juga, kok!"
Di depan mata Luellie,
ekspresi Sieri berubah-ubah dengan cepat setiap kali ia berbicara. Baru saja
terlihat murung, ia tertawa, lalu marah, dan sedetik kemudian—
"Uuuh,
setidaknya aku ingin citra pertamaku adalah sosok yang cantik dan
anggun~~"
Ia kembali
terpuruk dengan cara yang menyedihkan.
Meski begitu, apa
pun ekspresinya, tangannya tetap lincah menyuapkan sarapan ke mulut tanpa
henti.
Cara makannya
benar-benar sanggup membuat siapa pun yang melihatnya ikut merasa kenyang.
Sosok ini
benar-benar kakak yang dikenal Luellie.
Karena
itulah ia berpikir—bagaimana mungkin kakaknya tidak gemuk sama sekali padahal
makan sebanyak itu setiap saat?
Malah,
kenapa hanya bagian tubuh tertentu yang terus tumbuh dengan subur?
Kenapa
Kakak begitu "berlimpah" sedangkan aku begitu "kekurangan"?
Nutrisi
yang sia-sia itu harusnya dibagikan sedikit ke otaknya—Luellie meneriakkan
keluh kesah atas ketimpangan sosial itu di dalam hatinya.
"Ini
sedikit mengejutkan."
"?
Apanya—?"
"Kupikir
Kakak tidak peduli dengan pandangan laki-laki terhadapmu."
Kenyataannya,
memang begitu saat mereka masih aktif sebagai petualang.
Sieri
sering kali terlalu ceroboh dan kurang waspada, sampai-sampai Luellie harus
membentuk "komunitas perlindungan" rahasia bersama Keine dan Lloyd.
Sieri memiringkan
kepalanya dengan polos.
"Benarkah?
Wolka-san kan penyelamat kita, Kakak juga pasti peduli lah~"
"Hmm……"
Yah, memang
benar. Luellie pun tidak ingin rahasia memalukannya diketahui oleh Wolka,
apalagi sampai membuatnya ilfil.
Jika
dipikir begitu, rengekan kakaknya ini mungkin hal yang normal?
"……Walah,
sudah jam segini. Kalau begitu Kakak, aku pergi dulu. Jangan minta tambah, makan sampai enam puluh
persen kenyang saja, ya."
"Iyaaa.
Shamaat jaayan."
Dilepas oleh
kakaknya yang mulutnya penuh dengan roti, Luellie berangkat meninggalkan area
perawatan medis menuju area luar.
Urusannya tentu
saja untuk menjalani Program Rehabilitasi hari ini.
Pihak Gereja
telah memberikan keringanan maksimal berupa status pengawasan kepada Luellie
yang sempat terlibat kejahatan sebagai alat para Ruffian.
Demi membalas
belas kasih itu, dan demi mendapatkan izin tinggal di Kota Suci, Luellie harus
bekerja keras dengan semangat pengabdian yang tulus.
Di bawah
bimbingan suster tua yang bertindak sebagai petugas pengawas, Luellie
menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan pelayanan di Katedral. Hingga
akhirnya, saat matahari sudah mulai meninggi.
"……?"
Di tengah
kegiatannya mencabuti rumput liar di taman tengah yang luas, Luellie mengangkat
wajahnya karena merasakan kehadiran banyak orang.
Mungkin sekitar
dua puluh orang. Sekelompok ksatria berbaju zirah perak berbaris dalam dua
banjar yang sangat rapi, berbaris menuju suatu tempat.
Jika hanya itu,
maka itu hanyalah parade ksatria biasa, namun Luellie menyadari ada sosok-sosok
yang jelas bukan ksatria tampak bersembunyi di sela-sela barisan zirah yang
teratur itu.
Karena penasaran,
ia menyipitkan mata. Ada dua pria dan dua wanita. Semuanya tampak
berusia sekitar pertengahan dua puluh tahun.
Wajah para ksatria terlihat sangat serius, seolah-olah
mereka sedang menggiring para pria dan wanita tersebut.
"Itu……"
Saat ia bertanya pada suster tua, suster itu menaikkan
kacamatanya yang berbentuk tajam dan menjawab.
"Mereka sedang menggiring terdakwa untuk penghakiman
yang akan segera dilaksanakan."
"Penghakiman……"
"Kecelakaan di Dungeon Gouzel yang melibatkan
anak-anak Silver Gray. Itu adalah party yang bertanggung jawab
atas sertifikasi penaklukan dungeon tersebut."
Luellie tersentak, lalu kembali menatap barisan ksatria itu.
——Jadi, itu mereka. Orang-orang
yang terlihat di sela-sela zirah ksatria itu.
(Gara-gara
orang-orang itu, Wolka-san jadi—)
Luellie,
yang dulunya adalah seorang petualang, tahu garis besar sistem sertifikasi
penaklukan dungeon. Itu adalah tugas penting untuk memastikan bahwa bos monster
telah dikalahkan dan kemunculan monster telah berhenti.
Karena
kesalahan investigasi mereka, Wolka diserang oleh bos monster kuat yang
tiba-tiba muncul.
"……"
Namun, meski tahu
hal itu, perasaan Luellie terasa rumit.
Jika party
itu menjalankan tugasnya dengan benar, kecelakaan tidak akan terjadi dan Wolka
tidak perlu menderita luka parah.
Dan jika Wolka
tidak terluka, Silver Gray pasti sudah meninggalkan kota Luther
sejak lama, dan masa depan di mana ia bertemu Luellie tidak akan pernah ada.
Dengan kata lain,
keberuntungan ia dan kakaknya bisa diselamatkan, serta pertemuan dengan
penyelamat berharga yang tak ingin ia tinggalkan ini, semuanya terjadi karena party
itu menyebabkan kecelakaan—
(—Aku jahat
sekali. Kenapa berpikir seperti ini.)
Luellie
menggelengkan kepala di dalam hati. Ia merasa ini adalah hal yang tidak boleh
dipikirkan lebih jauh lagi.
"……Lalu,
apakah orang-orang itu akan diadili karena telah berbuat jahat?"
"Tidak,
mereka diadili untuk memastikan hal itu."
Suster
tua menatap Luellie dengan pandangan yang tajam dan cerdas.
"Hanya
karena terjadi kecelakaan dalam sertifikasi penaklukan, tidak berarti semuanya
menjadi tanggung jawab tim investigasi. Bergantung pada struktur dan situasi
dungeon, investigasi terkadang tidak bisa dilakukan secara sempurna. Yang
terpenting adalah apakah ada kelalaian atau pengabaian kewajiban."
"Anu……"
"Meskipun
bukan salahmu, jika terjadi sesuatu kamu harus memikul seluruh tanggung
jawab—tidak akan ada orang yang mau melakukan pekerjaan dengan syarat sekejam
itu, bukan?"
Luellie
akhirnya mengerti. Karena itulah mereka dibawa ke tempat penghakiman, untuk
memastikan apakah kecelakaan itu salah mereka atau merupakan bencana yang tidak
terelakkan.
Di depan
mata Luellie, barisan ksatria tiba-tiba berhenti. Itu adalah tempat yang
gersang, tanpa bangunan maupun pepohonan, kecuali tembok luar yang mengelilingi
area Katedral.
Jika
diperhatikan baik-baik, di salah satu bagian tembok tertanam sebuah pintu besi
besar dan berat yang seolah menolak kedatangan orang asing.
"Itu
adalah pintu masuk menuju ruang pengadilan bawah tanah."
"Di tempat
seperti itu……?"
"Tentu saja,
pintu masuk resminya ada di tempat lain. Sudah aturannya terdakwa atau kriminal
yang akan diadili harus menggunakan pintu itu."
Seorang ksatria
membuka pintu tersebut, menimbulkan suara karat yang berdencing keras.
"Sebagian
besar penghakiman di Kota Suci dilakukan oleh Nona Yulirias, Star Eye Saint.
——Mata suci Dewa yang mampu menembus segala dosa dan kebohongan."
Suster tua
mengatakannya seolah sedang merapalkan ayat suci kuno yang tertulis di alkitab.
"Di antara
para penjahat yang digiring ke penghakiman, jarang sekali ada yang mencoba
melarikan diri karena gemetar ketakutan akan kekuatan beliau. Atau ada juga
bajingan yang menjadi putus asa setelah seluruh dosanya terungkap, lalu mencoba
mencelakai orang awam yang tidak bersalah……"
"……"
Kenapa pintu
masuk untuk penjahat berada di tempat yang sepi dan terpencil—dan kenapa
dibedakan dengan pintu masuk resmi, Luellie kini bisa membayangkannya.
Barisan itu
menghilang ke bawah tanah. Di saat yang sama, suster tua menepukkan telapak
tangannya.
"Ayo, jangan
melamun, kita lanjutkan. Waktu itu terbatas."
"Baik!"
Bagaimanapun
juga, tidak ada gunanya Luellie memikirkan hal ini lebih jauh. Ia kembali
melanjutkan pekerjaan pelayanannya.
Hal terpenting
baginya bukanlah soal penghakiman itu, melainkan menyelesaikan Program
Rehabilitasi ini dengan nilai sempurna dan mendapatkan izin untuk tinggal di
Kota Suci.
Sebab, itu
berarti ia akan bisa tinggal di dekat Wolka dan yang lainnya.
◆◇◆
Waktu luang
akhirnya tiba.
Sudah empat hari
berlalu sejak kami kembali ke Kota Suci.
Kami sudah
menerima hadiah dari sang Saintess di Katedral, menyelesaikan kesalahpahaman
dengan Shannon, melihat Sieri dan Luellie yang sudah sehat, serta menyapa
hampir semua kenalan.
Begitu
urusan-urusan mendesak selesai, aku baru sadar kalau sekarang aku benar-benar
tidak punya pekerjaan.
Biasanya,
pilihanku dalam situasi seperti ini adalah fokus melatih pedang atau mencari
uang biaya hidup dengan mengambil misi perburuan monster.
Namun, dengan
tubuh seperti ini, hal itu sulit dilakukan. Rencana upgrade kaki palsu
pun masih dalam proses; Anze sedang mencari pengrajin yang cocok, dan mungkin
butuh beberapa hari lagi sampai ada kemajuan.
Jadi, apa yang
harus kulakukan mulai hari ini?
"Teman-teman,
apa ada yang ingin kalian lakukan hari ini?"
Kami sedang
berada di kamarku di lantai dua penginapan Le Bouquet.
Waktu menunjukkan
pagi hari setelah rutinitas harian selesai dan matahari sudah naik cukup
tinggi.
Begitu aku
melempar topik "rencana ke depan", Master yang sedang berbaring di
kasurku sambil mengayunkan kakinya menjawab:
"Aku sih,
asal bersama Wolka, apa saja boleh!"
Ini adalah
jawaban yang paling sulit diputuskan dalam hubungan antarmanusia. "Apa
saja boleh"—ini adalah salah satu kata jebakan yang berbahaya jika
diterima mentah-mentah.
Meski dibilang
begitu, aku tetap harus memikirkan keinginan pihak lain.
Jika aku salah
mengartikan antara "kebebasan" dan "bersikap semau gue",
yang kudapat hanyalah tatapan dingin sambil berkata, "Memang aku bilang
terserah, tapi ya nggak begini juga..."
Saat aku sedang
berpikir keras, Yuritia yang berada di sampingku memberikan bantuan.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau hari ini kalian berdua beristirahat saja dengan santai?
Mumpung sudah kembali ke Kota Suci."
Begitu ya, kalau
tidak ada rencana, lebih baik santai saja.
Kalau
dipikir-pikir, memang sudah cukup lama aku tidak merasakan hari di mana aku
benar-benar tidak melakukan apa pun.
Terakhir kali
mungkin saat aku masih di kota Luther dan kaki palsuku belum sampai.
"Bagaimana dengan Yuritia dan Atri?"
"Kami…… sebenarnya ada hal yang ingin dilakukan."
"Nn."
Atri yang duduk di pinggir kasur sambil memainkan bantal
kuberada dalam pelukannya menyahut.
"Latihan.
Kita sudah janji mau latihan bareng kalau ada waktu luang."
"Selain
latihan rutin pagi hari, aku ingin berlatih lebih maksimal di tempat yang luas
di Distrik Houjou……"
Distrik Houjou adalah area pertanian yang subur
dengan banyak lapangan luas.
Pihak Katedral, yang tidak ingin para petualang sembarangan
mengayunkan senjata di tengah kota, membuka sebagian area di sana sebagai
tempat latihan.
Meski belakangan ini aku sudah mulai latihan rutin lagi,
porsinya hampir seluruhnya disesuaikan dengan kondisiku yang memakai kaki
palsu. Bagi Yuritia dan yang lain,
itu pasti terasa sangat kurang.
"──Karena
aku harus menjadi lebih kuat lagi."
……Apa perasaanku
saja, ya?
Entah kenapa
tatapan mata Yuritia terasa punya "bobot" yang sangat berat.
J-jangan terlalu
memaksakan diri sampai menyiksa diri sendiri, lho.
Di dunia ini,
laki-laki mungkin sudah biasa terluka, tapi perempuan harus benar-benar menjaga
tubuhnya.
Selagi aku
berpikir begitu, Yuritia sudah kembali ke sikapnya yang biasa.
"Jadi jangan
cemaskan kami, bersantailah dan istirahat ya!"
"Ah,
ya……"
Tapi tetap saja,
latihan di Distrik Houjou, ya…… irinya.
Aku pun sama,
tidak mungkin merasa puas hanya dengan menggerakkan tubuh sedikit. Monster kematian Grim Reaper
dan sihir roh tingkat tinggi Gluttonia.
Setelah
mengalahkan dua musuh kuat itu, aku berhasil mencapai tingkatan baru dalam
teknik mencabut pedang—yaitu mengubah "masa depan yang ditebas" di
dalam kepala menjadi kenyataan.
Rasanya
sangat gemas karena aku sudah menyentuh sensasi itu tapi tidak bisa
mempraktikkannya gara-gara kaki palsu ini.
Makin
dipikir, makin gatal rasanya ingin bergerak. A-apa tidak boleh dicoba sedikit
saja?
……Tidak,
kalau aku tidak sengaja merusak kaki palsu ini lagi, Master dan yang lain pasti
akan sangat cemas.
Aku harus
bersabar sampai kaki palsuku di-upgrade.
Aku tidak
boleh mengulangi masa-masa di mana aku harus terus merepotkan orang lain untuk
mendorong kursi roda, atau digendong saat ada tangga di depan mata.
Aku tidak mau
hidup dalam perawatan terus-menerus.
"Kalau
begitu Master, hari ini kita jalan-jalan santai sambil cari camilan saja,
yuk."
"……U-um.
Begitu ya……"
Namun, berbeda
dari dugaanku, jawaban Master terdengar agak ragu.
"Ada
apa?"
"T-tidak ada
apa-apa! Bukan apa-apa kok!"
Saat aku
menatapnya dengan heran, Master langsung bangkit dan buru-buru turun dari
kasur.
"Kalau
begitu kami siap-siap dulu ya……"
"? Ah,
oke……"
Dia langsung
membawa Yuritia dan Atri kembali ke kamar mereka di lantai tiga.
……Perasaanku saja
kah? Tadi sedetik
saja, mereka bertiga tampak memasang ekspresi yang terlihat sesak dan
menderita──.
"……Yah,
lebih baik aku juga siap-siap."
Tidak ada
gunanya dipikirkan terus. Jika saat berangkat nanti mereka masih aneh, aku akan
bertanya lagi.
Untuk
sekarang, aku harus bersiap-siap dan merapikan kamar. Bisa saja tadi itu memang
benar-benar hanya perasaanku.
Saat aku
berdiri, aku baru sadar.
"Eh,
Master, topinya ketinggalan. Sisir ini juga punya Master…Ah, bahkan benda ini
juga sudah ada di sini sejak kapan?"
Mulai
dari bantal yang diletakkan di kasurku seolah itu tempat aslinya, aku baru
sadar kalau barang-barang pribadi milik Master mulai meluaskan kekuasaannya di
kamarku.
Jika terus
begini, masa depan di mana kami hidup bersama di kamar ini sepertinya tidak
akan lama lagi.
Memang Master pasti
jauh lebih tua dariku, tapi mengingat penampilannya yang terlihat seperti gadis
mungil, bersikap terlalu tanpa waspada begini itu rasanya agak gimana
gitu──kalau aku yang dulu mungkin akan merasa heran.
Namun bagi diriku
yang sekarang, ini justru terasa menyedihkan karena aku melihatnya sebagai
wujud rasa bersalah dan penyesalan Master.
Master selalu
datang ke kamarku karena saking cemasnya, dia tidak bisa menjauh dariku meski
dia ingin.
"……"
Semoga saja upgrade
kaki palsuku bisa memberikan sedikit ketenangan bagi Master.
Setidaknya,
hari ini aku harus membuat Master bisa bersenang-senang sepuas hati.
Sambil
merapikan barang-barang Master di satu tempat, aku berdoa semoga pencarian
pengrajin oleh Anze bisa berjalan lancar secepat mungkin.
──Sementara itu,
di lantai tiga penginapan, Lizel dan yang lainnya……
"Senpai……
sebenarnya dia pasti ingin lebih sering mengayunkan pedangnya lagi, kan."
"……Eum.
Tentu saja. Hal yang biasanya bisa dilakukan, tiba-tiba jadi tidak bisa."
"Begitu……
ya. Bagi Wolka, hanya hal itu yang……"
Perubahan
ekspresi Wolka yang hanya sekilas dan samar tadi. Lizel, Yuritia, dan Atri bisa
merasakan perasaan yang tak terucapkan di balik itu, dan membuat hati mereka
semua menjadi sangat "berat".
──Sebenarnya aku
ingin berlatih lebih banyak, tapi tidak bisa. Karena kaki palsu yang sekarang
tidak bisa menahan beban teknik mencabut pedang, aku tidak punya pilihan selain
menyerah.
Mereka merasa
itulah perasaan menyesal yang disembunyikan Wolka di dasar hatinya. Karena itu,
Lizel berkata sambil menahan tangis:
"Karena
kitalah yang telah merampasnya dari Wolka……!"
Wolka, yang
memanggil nama Lizel dan kawan-kawan sambil memohon agar mereka harus bahagia.
Karena itulah Lizel
berpikir mereka tidak boleh terus-menerus menyesal, namun berkali-kali pula
mereka disadarkan akan beratnya dosa yang telah mereka perbuat.
Seseorang seolah
berbisik; Wolka menginginkan kebahagiaanmu, tapi bukankah Wolka menderita
sekarang karena salahmu?
Di antara akal
sehat yang terkikis dan emosi yang tak terbendung, hati Lizel dan kawan-kawan
terus terkoyak.
Perasaan yang
semakin besar dari hari ke hari ini sudah sulit untuk dibendung, seolah-olah
akan meluap dan mengamuk keluar dari tubuh mereka.
Ingin terus
bersama Wolka. Ingin melindungi Wolka. Ingin hidup demi Wolka. Dunia tanpa
Wolka tidaklah dibutuhkan.
Karena itu, tidak
boleh terulang lagi. Harapannya, hari-hari yang akan dilalui bersama Wolka
nanti akan selalu damai, dan tidak akan ada lagi hal yang membuatnya menderita.
Tapi mereka tidak
bisa optimis, tidak mungkin bisa──melihat Wolka yang sekarat tanpa bisa
melakukan apa pun, keputusasaan seperti neraka itu tidak boleh terulang lagi,
apa pun taruhannya.
"Lizel-san……
hari ini, tolong jaga Senpai ya."
"Aku, kali
ini pasti akan menjadi cukup kuat untuk melindungi Wolka."
"Eum. ──Aku
tidak akan pernah, tidak akan pernah melepaskannya."
Begitulah mereka
mencoba menahan diri sekuat tenaga.
Dan justru karena
mereka menahannya, perasaan gila itu membakar batin mereka hingga ke akar-akar
kesadaran mereka──.
Wolka, yang
sedang merapikan barang-barang Lizel di kamarnya, sama sekali tidak pernah
membayangkan hal itu bahkan dalam mimpi sekalipun.
"Kalau
begitu Senpai, Lizel-san, kami berangkat ya!"
"Bersenang-senanglah
untuk kami juga ya."
"Ya.
Hati-hati di jalan."
Setelah melepas Yuritia
dan Atri yang berangkat menuju Distrik Houjou, aku dan Master pun pergi
menuju Distrik Seiteigai.
Sekarang aku
sudah terbiasa dengan kaki palsu yang tidak stabil ini, dan selama jalannya
tidak terlalu rusak, aku bisa berjalan tanpa tongkat.
Meski
begitu, Master tetap saja langsung menggandeng tanganku begitu kami keluar,
sama seperti biasanya.
Di
sekitar sini banyak orang yang tahu hubungan kami, jadi tatapan hangat dan
penuh senyum yang menggelitik punggung kami terasa jauh lebih banyak daripada
di kota Luther.
"Wolka, apa
ada tempat yang ingin kamu kunjungi? Aku akan berjuang keras supaya Wolka bisa bersenang-senang……!"
Sambil
menarik tanganku, Master tampak terbakar oleh rasa tanggung jawab yang imut.
……Sepertinya
dia sudah kembali menjadi Master yang biasa. Berarti ekspresi menderitanya tadi
benar-benar hanya perasaanku saja. Syukurlah kalau begitu.
Lalu,
soal tujuan hari ini. Sebenarnya, aku pun sama; ke mana pun asal Master bisa
senang, aku tidak masalah.
Hanya
dengan menghabiskan keseharian biasa seperti ini bersama Master, aku
berkali-kali merasa senang karena benar-benar bisa menghindari Bad Ending
pemusnahan massal yang brengsek di karya aslinya.
Selama Master
terlihat senang, aku tidak peduli apakah kami akan makan jajanan di kaki lima,
makan di restoran berkelas, mencari buku sihir langka di toko barang antik yang
hampir roboh, atau tercengang melihat harga perlengkapan terbaru di toko
senjata di Distrik Shoukou.
Namun,
menjawab "Aku juga terserah" kepada Master yang sudah bilang terserah
itu bukan sebuah jawaban, dan aku bisa dianggap sebagai pria membosankan yang
tidak punya isi kepala. Hmm,
kalau begitu……
"Masih
terlalu pagi untuk makan jajanan, bagaimana kalau kita ke arah Katedral
menyusuri kanal? Di sekitar sana ada banyak toko."
"Eum!"
Cara terbaik
untuk menyenangkan Master adalah mengadakan tur keliling jajanan manis, tapi
karena baru keluar penginapan, ini bahkan belum masuk waktu makan siang.
Mungkin
pertama-tama kami bisa bermain game di toko sekitar, atau pergi agak
jauh ke Distrik Shoukou untuk belanja, atau memancing yang cukup populer
di Kota Suci.
Sebagai catatan, game
di dunia ini tentu bukan digital seperti di kehidupanku yang dulu, melainkan
permainan analog menggunakan kartu atau papan, serta kompetisi olahraga unik
yang digabungkan dengan sihir──
"──Uwooooooooy,
Wolka-kuuuuuun!"
Selagi berpikir
begitu sambil berjalan di sepanjang kanal, tiba-tiba terdengar suara aneh
seorang wanita entah dari mana.
Suara
yang sangat familiar. Sepertinya berasal dari arah kanal.
"Wolka-kuun!
Lizel-nyaaa! Wooy!"
Saat aku menoleh,
kulihat seorang gadis di atas perahu kecil yang melintasi kanal sedang
melambaikan tangan sekuat tenaga ke arah sini.
Dia adalah
Shannon, gadis lincah dari Perserikatan Petualang yang seperti anak anjing.
Entah dia baru
mau pergi bertugas atau baru selesai bertugas, gadis berseragam staf
perserikatan itu terlihat sangat bersemangat hari ini.
"Ah, dia
sadar! Wolka-kuun! Lizel-nyaaa!"
"N-nona,
berbahaya kalau berdiri begitu."
Paman tukang
perahu tampak kerepotan karena Shannon terus melompat-lompat tanpa peduli
perahunya goyang.
Namun Shannon
tidak ada tanda-tanda mau tenang, malah setelah kami menyadarinya, dia makin
semangat.
"Paman,
hentikan perahunya sekarang!! Itu teman-temanku!!"
"Hah?
T-tapi Nona, tidak ada dermaga di sekitar sini──"
"Pinggirkan
saja ke pinggir jalan!! Kalau tidak bisa berhenti, mepet saja tidak apa-apa,
aku bakal loncat!!"
"E-eh,
jangan……"
Perahu adalah
transportasi paling utama di Kota Suci, jadi tentu saja ada aturan lalu lintas
air yang ketat.
Dengan arah
perahu Shannon sekarang, menepi di sisi jalan ini selain di dermaga adalah
pelanggaran aturan.
Shannon mungkin
tidak masalah, tapi si paman tukang perahu bisa kena masalah hukum.
"Pokoknya,
saya bakal berhenti di tempat terdekat di depan sana ya……"
"Aaa
Wolka-kun! Wolka-kun pergi! Wolka-kuuuuuuuun!"
"……"
Suara Shannon
yang terdengar seperti anak anjing yang dibuang itu perlahan menjauh terbawa
arus. Boleh aku pura-pura tidak kenal saja tidak?
Master pun
menghela napas heran.
"Benar-benar……
Shannon harusnya belajar sedikit soal sikap anggun orang dewasa."
Kata-kata
itu──"padahal Master sendiri sering bersikap seperti anak
kecil"──kutelan bulat-bulat demi menjaga harga diri Master.
Setelah
menunggu sekitar lima menit diterpa angin sepoi-sepoi, akhirnya Shannon yang
baru saja lepas dari "penjara" perahu kecil itu berlari kencang
menyeberangi jembatan seperti anak anjing yang mengibas-ngibaskan ekornya.
Sejak
berbaikan dengan Master, Shannon benar-benar kembali ke sosoknya yang penuh
energi.
"Wolka-kun! Lizel-nyaaa!"
"Haa,
Shannon masih saja bersemangat seperti biasanya ya."
Master berdiri
di depanku sambil berlagak tenang.
"Heh
Shannon, tenang! Tenang dan dengarkan aku! Hari ini adalah hari libur berdua saja antara aku
dan Wolka. Biarpun itu kamu, aku tidak akan membiarkanmu menggang──"
"Lizel, aku
belikan camilan manis, mau?"
"……Te-terpaksa
ya. Karena kamu maksa, boleh deh sedikit saja."
Master……
Tadi siapa ya
yang dengan sombongnya bicara soal sikap anggun orang dewasa?
Bagaimanapun
juga, karena Shannon membelikan camilan di dekat situ, kami pun duduk di bangku
pinggir kanal sambil mengobrol santai.
"Apa tidak
apa-apa bicara di sini? Bukannya kamu sedang kerja?"
"Tidak
apa-apa, tidak apa-apa. Ini juga bagian dari pekerjaan kok."
Bagian mananya?
Memang mengetahui kabar terbaru dari party petualang bisa dibilang
berhubungan dengan pekerjaan, tapi itu sih cuma alasan saja.
"Nanti kamu
tidak ada bedanya dengan Paman Fuji, lho."
"Ugh. Si
Paman hari ini sedang serius mengerjakan tugasnya, jadi kata-katamu agak
menusuk ya……"
Hee? Aku
menaikkan alis.
"Jarang
sekali Paman Fuji bekerja dengan serius."
"……Eh?
Wolka-kun, jangan-jangan kamu belum tahu?"
Shannon menunjuk
ke arah timur menyusuri kanal, ke arah menara putih megah milik
Katedral──Menara Alnus.
"Kalian
ingat Flamberge (Cakar Api Naga)? Hari ini sedang ada penghakiman untuk
mereka di Katedral. Paman Fuji dipanggil sebagai salah satu saksi untuk
memberikan kesaksian…… begitu ceritanya."
"Wolka……
bukankah Anze sudah bilang."
Master menatapku
dengan mata setengah tertutup tanda heran, sementara remah biskuit menempel di
pipinya. E-eh, kalau dipikir-pikir benar juga.
Setelah upacara
penganugerahan kemarin lusa, saat berkumpul kembali dengan yang lain, mungkin
Anze memang ada bilang begitu.
"Lihat Lizel,
ada yang nempel di pipimu tuh."
"Uaa."
Biar aku beri
alasan, kejadian di Dungeon Gouzel bagiku sudah selesai.
Mengingat yang
menunggu di lantai terdalam adalah monster seperti Grim Reaper, itu
adalah kejadian sial di mana seseorang pasti harus menanggung akibatnya.
Malah, bagiku
sekarang adalah hasil terbaik karena aku bisa mematahkan Bad Ending asli
dan melindungi semua orang.
Jadi aku tidak
ingin terus membahas hal-hal negatif seperti mencari siapa yang salah atau
saling lempar tanggung jawab.
Mari kembali ke
pembicaraan.
"Saksi apa?
Apa hubungannya dengan Paman?"
"……Begitu
ya. Aku belum sempat menceritakannya dengan benar pada Wolka-kun ya."
Shannon, yang
baru saja membersihkan sisa makanan di sekitar mulut Master dengan sapu tangan,
tiba-tiba membuat rambut ikalnya yang biasanya bereaksi sesuai emosinya jadi
lunglai.
"Setelah
kecelakaan Gouzel terjadi…… apa kalian dengar kalau anggota Flamberge
melarikan diri di tengah interogasi?"
"Ya, aku
dengar sedikit."
Aku ingat cerita
dari Diia. Karena mereka melarikan diri, orang-orang jadi curiga kalau mereka
menyembunyikan sesuatu, dan itulah kenapa hari ini mereka diseret ke
pengadilan.
Shannon
mengangguk pelan.
"Paman-lah
yang mencari dan membawa mereka kembali. Mereka sudah sampai di dekat
perbatasan negara, dan Paman mengeluh kalau itu benar-benar melelahkan."
"Hee……"
Hebat juga Paman,
itu prestasi yang cukup besar.
Di dunia
fantasi seperti ini yang tidak punya teknologi digital, mencari dan menangkap
orang yang melarikan diri dengan cepat itu pasti bukan hal mudah.
Ternyata
si Paman benar-benar bukan cuma sekadar pemalas biasa.
Shannon
mengepalkan tangannya di atas lutut.
"Padahal dulu mereka itu party yang benar-benar
baik. Jahat sekali. Kenapa setelah
semuanya terlambat, baru jadi begini……"
Uwoh, Shannon!
Shannon sepertinya mau masuk ke mode gelap lagi! Tolonglah, kalau Shannon juga
jadi begitu, aku tidak akan sanggup menanganinya!
"Ah, tapi Nona Frixel itu pengecualian!"
Untungnya, Shannon berhasil kembali ke dirinya yang biasa.
Rambut ikalnya yang tadi lunglai kini berdiri tegak kembali.
"Nona Frixel sepertinya bertengkar dengan anggota
lainnya, dan sejak lama dia selalu bertindak sendirian. Dia bahkan tidak ikut
dalam investigasi sertifikasi penaklukan itu."
"Ah, aku juga dengar itu selintas. Semacam perpecahan internal, kan?"
"Benar.
Saat anggota lainnya melarikan diri, sepertinya dia sedang berada di Ibukota.
Makanya saat dia kembali, dia sangat marah──maksudku, dia benar-benar
mengamuk."
Prajurit
wanita dengan rasa keadilan yang tinggi yang selama ini membuatku penasaran……
namanya Frixel, ya.
Seperti
apa ya cara dia mengamuk? Aku hanya berharap tidak ada lagi orang yang jadi
terpuruk karena merasa bertanggung jawab secara berlebihan──
"Nona
Frixel membantu Paman menangkap anggota yang lain. ……Jadi, tolong jangan
membenci dia ya. Dia terlihat
sangat sedih saat itu."
"……B-begitu
ya."
……Aman, kan?
Tolong jangan sampai nanti dia datang sambil menangis minta maaf padaku, aku
benar-benar sudah cukup dengan yang begitu-begitu!
Sialan, baru saja
Shannon pulih, sekarang muncul lagi faktor kekhawatiran dari arah yang tak
terduga……
Jika ini adalah
"karya asli" di mana kami semua mati, akan seburuk apa jadinya ya.
Hanya karena
protagonis aslinya tidak mendekati Kota Suci sehingga tidak diceritakan, tapi
jika di dunia asli itu ada Anze, Shannon, atau Roche, dan mereka punya hubungan
pertemanan yang sama dengan kami sekarang.
Jika suatu hari
mereka tiba-tiba mendengar kabar duka tentang pemusnahan Silver Gray.
Aah, tidak,
tidak. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.
Ini semua salah
si Dewa (Penulis) karya aslinya. Dasar dunia Dark Fantasy keparat…… aku
tidak akan biarkan semuanya berjalan sesuai keinginanmu!
◆◇◆
Katedral mungkin
dikenal semua orang sebagai bangunan termegah dan paling berkilau di Kota Suci,
namun keagungannya tidak hanya terbatas pada apa yang terlihat di atas
permukaan tanah saja.
Contoh yang
paling nyata adalah sebuah ruang yang membentang di bawah tanah Katedral, yang
dikenal dengan sebutan "Pengadilan".
Banyak orang yang
menganggap organisasi bernama Gereja Suci Christcrest ini hanyalah
sebuah "lembaga keagamaan sekaligus institusi medis".
Tentu saja
anggapan itu tidak salah, karena iman dan medis memang merupakan dua pilar
utama yang menyokong Gereja Suci Christcrest.
Namun, peran yang
dijalankan Gereja sehari-hari sebenarnya jauh lebih beragam. Terutama Katedral
yang sejak zaman dahulu memegang tanggung jawab atas otonomi Kota Suci, mereka
mengelola berbagai urusan lintas bidang siang dan malam.
Bisa dikatakan,
mustahil bagi seseorang untuk hidup di Kota Suci tanpa terlibat sedikit pun
dengan Katedral.
Di antara semua
itu, salah satu peran Katedral yang paling krusial adalah
"Penghakiman".
Sebuah rangkaian
proses untuk menyingkap dosa yang dilakukan manusia ke bawah cahaya terang,
lalu memberikan hukuman yang diperlukan sesuai hukum.
Meski Kota Suci
membanggakan tingkat keamanan terbaik di dunia, kriminal kecil maupun besar
tetap saja ada.
Tak jarang,
penjahat yang sulit ditangani dari Ibu Kota atau kota-kota lain pun digiring
dari tempat yang sangat jauh ke sini.
Pengadilan adalah
tempat eksekusi penghakiman tersebut, sebuah panggung bagi keadilan Dewa.
"Haa~……
payah sekali, ya. Paman benar-benar tidak suka berada di ruangan ini."
Di sudut
pengadilan tersebut, seorang pria bergumam lesu seolah-olah seluruh semangat
hidupnya telah terkuras habis.
Dia adalah Fuji,
si paman pemalas dari Perserikatan Petualang.
Secara
garis besar, Pengadilan Katedral terdiri dari tiga area.
Pertama
adalah bagian tengah pengadilan tempat Fuji duduk sekarang, tempat bagi para
terdakwa dan saksi berdiri.
Area ini
dibuat menjorok ke bawah di tengah ruangan, posisi terendah yang memungkinkan
siapa pun di sana merasakan tekanan hebat karena dipandangi dari
ketinggian—sebuah desain yang sangat "perhatian" bagi para pendosa.
Berikutnya
adalah kursi penonton yang berjejer rapi di bagian belakang. Jika hanya
penghakiman biasa, kabarnya banyak orang akan berkumpul demi melihat kekuatan Star
Eye Saint.
Namun karena kali
ini topiknya cukup sensitif, pihak luar dilarang menonton.
Orang-orang yang
duduk di sana adalah para Kardinal—tangan kanan Saintess sekaligus pakar di
bidang masing-masing yang mengelola Kota Suci.
Dengan kata lain,
mereka adalah para petinggi tingkat atas Gereja.
Dan yang terakhir
adalah bagian depan, mimbar hukum yang bertahta di posisi tertinggi untuk
mengawasi segalanya—kursi bagi para klerus yang mengeksekusi penghakiman.
Dari wilayah suci
itulah, suara tawa riang para gadis yang terasa tidak pada tempatnya terdengar
mengalir turun.
"Fufu, sudah
lama ya kita berempat bisa berkumpul lengkap di sini. Aku senang sekali karena
biasanya aku sendirian dan merasa kesepian."
"Yah, meski
ini tetap saja akan jadi panggung tunggal buat Yuri, sih. Serahkan padamu ya,
Nona Star Eye Saint."
"Duh, Nona
Diia? Kita juga harus bersikap serius."
"Melelahkan……
haah, ayo cepat selesaikan saja……"
Berturut-turut
mereka adalah Yulirias sang Star Eye Saint, Lesterdiasang White Clay
Saint, Angesheit sang Saint of the Heavenly Sword Sword, dan Alkasiel
sang Misfortune Saint —empat Saintess yang menjadi simbol Gereja.
(Aku paham
kalau Putri Star Eye ada di sini, tapi tidak menyangka tiga orang
lainnya bakal ikut turun tangan juga……)
Penghakiman
adalah wilayah Yulirias untuk membongkar segala dosa dan kebohongan yang
dilakukan manusia seumur hidupnya.
Karena itu,
seharusnya tiga Saintess lainnya jarang sekali ikut campur, namun tampaknya
penghakiman kali ini termasuk dalam "pengecualian" yang langka itu.
Di ujung mimbar
hukum, seorang gadis juru tulis yang bertugas mencatat jalannya sidang tampak
gemetaran saking tertekannya.
Selain itu, di
balik bayang-bayang mimbar hukum, berdiri tiga Ksatria Suci yang melindungi
para Saintess.
Saintess, Ksatria
Suci, dan Kardinal. Situasi di mana seluruh jajaran pemimpin Kota Suci
berkumpul dengan jelas seperti ini.
Hanya para Saintess
yang punya kemewahan untuk menikmati obrolan santai, sementara atmosfer lainnya
terasa begitu kaku dan khidmat hingga bergerak sedikit pun terasa ragu.
Seluruh pintu
keluar masuk dijaga ketat oleh para ksatria yang berdiri tegak, membuat suasana
ini lebih mirip detik-detik sebelum eksekusi mati ketimbang pengadilan.
Kenyataannya,
bagi para terdakwa kali ini—party peringkat A, Flamberge (Cakar Api
Naga)—penghakiman ini mungkin memang setara dengan eksekusi mati.
Dan karena harus
terlibat dalam urusan merepotkan ini sebagai salah satu saksi, Fuji hanya bisa
terus menghela napas panjang di sudut ruangan.
"──Fuji."
"Uwoh!"
Fuji terlonjak
saat sebuah suara tiba-tiba jatuh tepat dari sampingnya.
Entah sejak
kapan, pelayan tua yang seharusnya berjaga di sudut mimbar hukum sudah muncul
di sebelahnya.
"Aduh, Kek,
jangan bikin jantungan dong."
"Oya,
padahal Anda mengatakan hal yang tidak sesuai isi hati."
"Tidak,
aku benar-benar kaget tahu……"
Kakek ini
benar-benar tidak bisa ditebak kemunculannya.
Rambut
perak yang disisir ke belakang, janggut tajam yang berwibawa, setelan tails
yang tampak baru tanpa kerutan sedikit pun, dan postur tubuh tegak yang menjadi
teladan bagi semua pelayan.
Tatapan
matanya setajam burung pemangsa yang menembus segalanya, dan tubuh terlatih
yang tak bisa disembunyikan oleh setelan itu—bukannya melemah karena usia,
auranya justru terasa semakin kuat.
Fuji
hanya bisa geleng-geleng kepala, merasa kakek ini sudah benar-benar melampaui
batas manusia biasa.
Yah,
karena sejak dulu keberadaannya sudah seperti curang, tidak ada gunanya
memprotes. Fuji bertanya lewat tatapan mata, "Ada urusan apa?"
"Saya
dengar, Andalah yang meringkus orang-orang itu."
"Yah……"
Fuji
mengalihkan pandangan ke tengah pengadilan. Di empat podium kesaksian yang
berjejer, empat orang pria dan wanita duduk di bawah pengawasan ketat para
ksatria.
Merekalah
Flamberge.
Di antara
mereka, mata Fuji bertemu dengan seorang wanita cantik dengan rambut side-tail
berwarna oranye.
"……"
Wanita itu
memberikan anggukan kecil. Atau mungkin, dengan melakukan itu, dia justru
berusaha segera mengalihkan pandangan dari Fuji.
Ekspresinya
tampak terpenjara oleh kemarahan dan penyesalan yang tak memiliki pelampiasan,
terus digerogoti oleh rasa bersalah yang mendalam.
Sosok aslinya
yang memiliki rasa keadilan tinggi dan tomboi sama sekali tidak berbekas. Fuji
pun memalingkan wajah darinya.
"……Lagipula,
itu kesalahan Perserikatan karena membiarkan mereka kabur. Sudah sewajarnya aku
melakukan itu."
Si pelayan tua
tidak membantah maupun membenarkan.
"Kabarnya,
Nona Alkasiel juga ikut membantu……"
"Tidak, itu
cuma bentuk keisengan dari putri kalian saja."
Saat Fuji menatap
ke arah mimbar hukum, sang putri yang dimaksud tampak melamun sendirian,
terpisah dari obrolan rekan-rekannya. Saintess eksentrik yang selalu
melayang-layang di udara di atas buaian berbentuk bulan sabit yang disebut Getsuten.
"Jarang-jarang
putri itu mau turun dari Kediaman Suci."
"Ya,
akhir-akhir ini suasana hatinya sedang tidak buruk. Mungkin pemuda bernama
Wolka itu memiliki daya tarik misterius tertentu."
Tunggu sebentar,
pikir Fuji.
"……Putri itu
bertemu dengan Wolka-kun? Aku dengar dia menerima hadiah dari Gereja,
sih."
"Ya, saat
itu. ……Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah panjang Kota Suci, Nona Alkasiel
turun dari Kediaman Suci hanya demi menemui seorang petualang tunggal."
"Waduh,"
Fuji tertawa kecut.
Pendekar pedang
yang berhasil menuntaskan pencapaian luar biasa dengan mengalahkan Grim
Reaper praktis sendirian itu, ternyata langsung diincar oleh Saintess lain
selain Angesheit.
Dia sudah tidak
bisa kabur lagi, kasihan sekali.
"Jadi,
bagaimana? Penilaian sang putri."
Terlepas dari
itu, Fuji tetaplah orang yang suka dengan gosip menarik. Pelayan tua itu
menyahut dengan nada sedikit senang.
"Tidak
buruk. Benar-benar disayangkan…… jika saja Roche berhasil menariknya menjadi
ksatria, saya tidak perlu pusing memikirkan penerus."
"Wolka-kun
sepertinya sama sekali tidak tertarik menjadi ksatria, sih."
"Sepertinya
begitu. ──Namun, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
──Wolka-kun,
ini sih serius kamu mungkin tidak akan dibiarkan keluar dari Kota Suci
selamanya……
Fuji sudah dengar
kalau Saint Of Heavenly Sword mulai bergerak untuk mencari kaki palsu
terbaik bagi Wolka.
Tentu saja itu
didasari keinginan kuat agar pendekar pedang bernama Wolka itu tidak berakhir
begitu saja, tapi jika keinginannya terwujud…… yang menanti bukanlah akhir yang
bahagia, melainkan pertempuran bawah air yang baru antara Silver Gray VS
Goreja Suci Christcrest.
Benar-benar tidak
bisa kabur lagi, kasihan sekali.
"Karena
itulah, penghakiman kali ini sangat penting. Anda juga harus bersemangat dan berikan
kesaksian dengan benar."
"Iya,
iya, aku mengerti."
Fuji
menghela napas. Memang ada rasa malas harus berperan sebagai saksi. Orang
sepertinya lebih cocok bergerak diam-diam di balik layar, mengemban tugas di
tempat yang mencolok seperti ini terasa sangat berat.
Tapi kalaupun dia
akan pulang, dia berniat untuk mengatakan apa yang perlu dikatakan terlebih
dahulu.
(Kami para
orang dewasa juga harus melakukan apa yang perlu dilakukan.)
Wolka telah
mempertaruhkan nyawa. Dengan bayaran satu mata dan satu kaki, serta masa
depannya sebagai pendekar pedang, dia berhasil melindungi seluruh rekannya.
Flamberge yang menyebabkan kecelakaan, dan
Perserikatan Petualang yang gagal mencegahnya—bisa dibilang, pemuda tujuh belas
tahun itu sendirian membersihkan kekacauan yang dibuat oleh orang-orang dewasa.
Jika para orang
dewasa tetap bungkam, tidak ada hal yang lebih tidak masuk akal daripada itu.
"──Tuan
Fuji."
"Hm."
Saat mengangkat
wajah, wanita berambut side-tail tadi sudah berdiri di depannya.
Dia dijaga ketat oleh dua ksatria di kiri dan
kanannya. Padahal dia bisa dibilang hampir mendekati korban, namun melihatnya
diperlakukan seperti penjahat begini membuat hati Fuji sedikit perih.
Tanpa sadar,
sosok pelayan tua tadi sudah menghilang begitu saja. Fuji menggaruk kepalanya.
"……Hai,
Frixel. Sepertinya kamu kurang tidur, ya."
Petualang wanita
dari Flamberge—Frixel—menunjukkan ekspresi canggung yang tampak seperti
gagal tersenyum kecut.
Tidak
separah Shannon yang dulu, memang. Tapi jika mengingat kepribadian asli Frixel,
sosoknya yang lemah dan kuyu ini terlihat seperti orang yang berbeda.
Frixel
mengangguk kecil, sangat kecil.
"Aku
tidak bisa berhenti memikirkan banyak hal. Tentang bagaimana aku harus meminta
maaf kepada anak-anak Silver Gray…… dan semacamnya."
"……"
Karena
"suatu alasan", dia sudah lama bertindak terpisah dari anggota party-nya,
dan dialah satu-satunya yang tidak ikut dalam investigasi sertifikasi di
Dungeon Gouzel.
Artinya,
sulit untuk mengatakan bahwa dia memiliki kesalahan langsung dalam kecelakaan
ini, dan dia bisa dibilang hanyalah korban yang terseret kecerobohan rekannya.
Namun di
antara empat orang anggota Flamberge, dialah yang paling merasa
bertanggung jawab dan sakit hati atas kenyataan bahwa satu mata dan satu kaki
Wolka telah terenggut.
Seandainya
dia bertindak bersama rekan-rekannya. Seandainya dia menghentikan mereka meski harus menghajar mereka.
Harusnya dia
melakukan sesuatu—dia terus menyalahkan dirinya sendiri sampai sekarang.
Mungkin karena
dia lahir sebagai putri ksatria, rasa keadilannya lebih kuat dari pria manapun,
dia benci ketidakjujuran, dan tertanam kuat dalam dirinya bahwa orang dewasa
harus menjadi pelindung bagi anak-anak.
"Wolka-kun
sudah kembali ke Kota Suci. Sejauh yang Paman lihat, dia sama sekali tidak
murung. Dia malah terlihat ingin segera kembali ke masyarakat secepat
mungkin."
"……Begitu
ya."
Untuk sesaat,
Frixel menunjukkan gelagat seolah sedang menahan emosi yang meluap kuat.
"……Setelah
semuanya selesai, aku harus menemuinya dan minta maaf. Aku tidak tahu apakah
orang sepertiku punya hak untuk menemuinya, tapi……"
"Wolka-kun
tidak akan mempedulikan hal semacam itu."
"Aku harus
mempedulikannya. ……Hal seperti ini, benar-benar, tidak bisa dimaafkan."
Gara-gara mereka
orang dewasa, hidup seorang pemuda yang bertahun-tahun lebih muda darinya harus
hancur—bagi Frixel, kenyataan ini pasti lebih menyakitkan daripada kehilangan
mata atau kakinya sendiri.
Tepat saat itu,
suara dentang lonceng yang jernih terdengar sayup-sayup dari atas permukaan
tanah.
"──Sudah
waktunya."
Mengakhiri
obrolan dengan rekannya, suara misterius Yulirias Star Eye Saint bergema. Suara
yang begitu belia hingga terasa mudah dipatahkan itu, anehnya terdengar merata
sampai ke telinga para Kardinal di kursi penonton.
Atas perintah
ksatria di sampingnya, Frixel memberikan anggukan hormat terakhir sebelum
kembali ke podium kesaksian. Senyum kaku dan rapuh yang ditunjukkan wanita itu
masih membekas tipis di benak Fuji.
(…Kenapa
jadinya malah serumit ini, ya.)
Lizel, Yuritia, Atri,
Shannon, Saint Of Heavenly Sword, bahkan Frixel—semuanya
menyalahkan diri sendiri dan menyesal.
Fuji merasa aneh
bagaimana masalah ini bisa menjadi begitu pelik.
Terlebih lagi,
sementara para gadis ini terus terpenjara rasa bersalah, sisa anggota Flamberge—tiga
orang yang menjadi pemicu langsung kecelakaan—hanya memikirkan cara untuk lolos
dari penghakiman ini, benar-benar brengsek.
Meski begitu,
untungnya adalah mustahil untuk mengelabui mata Yulirias.
"Penghakiman
kali ini akan kami eksekusi sepenuhnya di bawah nama Saintess. Mohon pahami
bahwa segala kebohongan maupun fitnah tidak akan berarti apa pun, bahkan diam
sekalipun tidak akan melindungimu. ……Aku menyarankan kepada semua orang yang
terlibat di sini untuk memberikan pernyataan yang jujur dan rasional."
Dilihat dari sisi
mana pun, dia hanyalah seorang Saintess lemah yang tampak seperti bocah
perempuan berusia sepuluh tahunan.
Namun dari
kata-kata indah yang terangkai tanpa cela itu, terpancar kedalaman misterius
yang terpupuk selama bertahun-tahun.
Kenyataannya,
bertolak belakang dengan penampilannya, dia adalah tetua kedua di Katedral yang
telah menjaga tatanan Kota Suci selama hampir seratus tahun.
"Kalau
begitu──mari kita mulai penghakimannya."
Yang dimulai
sekarang bukanlah sejenis misteri untuk mengungkap kebenaran yang tertutup
kegelapan.
Melainkan sebuah
babak eksekusi sepihak, di mana seluruh fakta akan dipaksa terbuka ke bawah
cahaya terang oleh sang Saintess.



Post a Comment