Chapter 5
Flamberge
──Seandainya, Dewa
mau mengabulkan satu saja permintaan.
Frixel pasti akan
memohon untuk dikirim kembali ke dua bulan yang lalu, agar ia bisa menghajar
wajah mereka satu per satu.
Masalah mereka
yang mabuk kepayang oleh wanita hingga foya-foya, atau mulai menguras tabungan
yang telah dikumpulkan bersama dengan susah payah, sebenarnya masih mending
selama itu hanya menjadi urusan internal party.
Seharusnya ia
menghentikan mereka saat itu juga—ia harusnya menghajar para bodoh itu sekuat
tenaga agar mereka sadar.
Gara-gara
pertengkaran internal mereka yang konyol, orang lain yang tidak ada hubungannya
harus menderita luka parah.
Anak-anak
yang bertahun-tahun lebih muda dari mereka terseret, dan kehidupan salah satu
dari mereka hancur berantakan.
……Hal semacam
itu, seharusnya tidak boleh terjadi. sama sekali.
Awal mulanya
bermula dari kejadian lebih dari setengah tahun yang lalu.
Saat itu, Frixel
dan anggota Flamberge (Cakar Api Naga) lainnya sedang beraktivitas
secara kecil-kecilan bertiga saja sambil mencari anggota baru, karena penyihir
yang sudah lama berpetualang bersama mereka memutuskan pensiun setelah menikah.
Pemimpin party, Rex, seorang pendekar pedang sihir
berambut merah.
Dino, prajurit berat berambut pirang.
Dan
dirinya sendiri, Frixel, prajurit wanita pengguna tombak.
Masalahnya,
mereka tidak punya petarung barisan belakang. Karena itulah, merekrut penyihir
baru menjadi prioritas utama.
Namun,
mencari bakat yang siap tempur untuk party peringkat A yang punya
reputasi bukanlah perkara mudah.
Alhasil,
mereka tak kunjung mendapatkan pengganti meski waktu terus berlalu.
Di tengah
situasi itulah, Rex dan Dino tiba-tiba pulang ke penginapan membawa seorang
penyihir yang tidak dikenal.
"Frixel.
Mulai sekarang, aku berniat mengajaknya bergabung ke party kita. Kami
kebetulan bertemu di kedai minum tadi, dan katanya dia juga sedang mencari
kelompok."
"Dia
seorang penyihir, dan punya pengalaman di party peringkat A juga. Pas
banget buat kita, kan?"
Sang
pemimpin, Rex, adalah pemuda tampan dengan penampilan lembut bak bangsawan,
namun di sisi lain ia agak mudah terbawa arus dan bimbang.
Dino
adalah pria perkasa dengan otot liat yang bisa diandalkan, namun di sisi lain
ia agak kasar dan serampangan.
Entah
kata-kata manis macam apa yang digunakan dua orang bermuka dua ini untuk
merayunya, penyihir itu adalah wanita yang sangat rupawan bahkan di mata Frixel
sekalipun.
Usianya
mungkin tidak jauh berbeda dengan Frixel, tapi tatapan matanya lembut dan
senyumnya memiliki kesan elegan—benar-benar berkebalikan dengan Frixel yang
dikenal punya watak keras.
Rambut
panjangnya yang berwarna ungu pucat bergelombang ringan, memiliki kilau manis
yang secara fundamental berbeda dari wanita biasa; jika kau menyisirkan jari di
sana, jemarimu pasti akan meluncur mulus hingga ke ujung tanpa hambatan sedikit
pun.
Penampilannya
sangat bersih dan rapi, lebih mirip biarawati dari suatu negara ketimbang
seorang petualang.
Kenyataannya,
ia adalah penyihir dari negeri asing yang baru saja pindah ke negara ini, dan
mengaku pernah memiliki pengalaman di beberapa party peringkat A hingga
B. Frixel hanya bisa melongo.
"……Kalian,
hebat juga bisa membuat orang seperti ini mau mendengarkan. Tidak kalian cekoki
minuman lalu diculik, kan?"
"Mana
mungkin kami melakukan hal itu!"
"Sialan, kau
pikir kami ini apa, hah……"
"Dua
orang bodoh yang cuma menang tampang."
"Apa
katamu—?"
"Apa?"
"Sudahlah,
jangan bertengkar terus……"
Frixel dan Dino
saling melotot, sementara Rex menengahi dengan wajah lelah.
Tentu saja mereka
tidak benar-benar berniat berkelahi; Flamberge memang sudah menjadi party
yang blak-blakan satu sama lain sejak awal pembentukannya.
Biasanya Frixel
atau Dino yang cepat naik darah akan memulai duluan, lalu Rex akan mengikuti
sambil mengerang sakit kepala.
Mereka adalah
kawan sejak kecil.
Sang
penyihir tertawa kecil dengan sangat anggun.
"Fufu,
sepertinya ini party yang ramai, ya."
"Berisik,
lebih tepatnya. ……Yah, untuk
sementara, tidak ada salahnya mencoba bekerja sama."
Frixel
mengulurkan tangan kanannya.
"Aku tidak
tahu kata-kata manis apa yang mereka berikan padamu, tapi standarku sangat
tinggi, lho."
Penyihir itu
menatap tangan Frixel selama beberapa detik, lalu menyipitkan mata dan menjawab
dengan sangat ramah.
"──Baik.
Mohon bantuannya ya, Frixel-senpai."
Membawa penyihir
asing ini──Alfana──ke dalam party, pada akhirnya menjadi akar dari
segala petaka.
Jika ditanya
kapan semuanya mulai menjadi aneh, Frixel pun sulit menjawabnya.
Setidaknya pada
awalnya mereka beraktivitas seperti party normal, dan Alfana pun tidak
pernah membuat masalah sekali pun.
Namun setelah
satu bulan berlalu, Rex dan Dino menjadi sangat akrab dengan Alfana dengan cara
yang tidak biasa.
Selain saat
beraktivitas sebagai party, mereka sering mengajak Alfana pergi ke suatu
tempat di waktu pribadi mereka.
Meski begitu,
saat itu Frixel masih menganggapnya sebagai lingkup pertemanan normal antar
rekan satu kelompok.
Tanpa
disadari, segalanya menjadi tidak beres.
Saat
memasuki bulan ketiga, mereka berdua mulai memberikan perlakuan istimewa kepada
Alfana setiap hari──
Atau
lebih tepatnya, mereka mulai menyisihkan uang untuk memanjakannya.
◆◇◆
Kesalahan
pertama Frixel terjadi sekitar empat bulan setelah Alfana bergabung dengan party.
"Frixel.
Aku berencana mengambil misi Investigasi Sertifikasi Penaklukan Dungeon,
bagaimana menurutmu?"
"Hah?"
Begitu
Rex kembali ke penginapan dan mengatakan hal itu, Frixel refleks bertanya balik
dengan nada tinggi di akhir kalimat. Ia mengira Rex akhirnya kembali
bersemangat setelah hampir seminggu tidak mengambil misi, tapi ternyata—
"Dengar...
kita kan sudah pernah melakukan Investigasi Sertifikasi sebelumnya. Karena kita
punya rekam jejak, pihak Perserikatan juga sudah memberi lampu hijau."
"Memang
benar, tapi……"
Secara
rekam jejak, Rex tidak salah. Namun itu adalah cerita sebelum Alfana datang.
Sekarang,
posisi barisan belakang yang dulunya diisi teman lama mereka telah digantikan
Alfana, dan kondisi party telah mengalami banyak perubahan.
Jika
ditanya mana yang lebih sempurna sebagai sebuah tim, Frixel akan menjawab tim
mereka yang dulu tanpa ragu.
Frixel
merasa heran kenapa Rex berani mengambil misi dengan tanggung jawab sebesar
itu. Rex menjawab dengan penuh percaya diri.
"Tenang
saja. Target investigasinya adalah Dungeon Gouzel…… skalanya kecil, dan
tidak ada laporan monster kuat yang muncul di sana. Kalau cuma segitu, Alfana
juga tidak akan masalah, kan? Malah ini waktu yang pas untuk latihan."
"Bukan
itu masalahnya……"
Tentu
saja, Frixel tidak bermaksud mengatakan Alfana kurang berbakat sebagai
penyihir.
Meski
teman lamanya masih setingkat lebih unggul, Alfana punya pengalaman berkelana
dengan berbagai party.
Namun
Frixel menggelengkan kepala dan mengeluh.
"Dengar
ya, Sertifikasi Penaklukan itu tingkat tanggung jawabnya beda jauh dengan misi
biasa. Kalau terjadi sesuatu,
kita bisa kena sanksi penurunan peringkat, lho? Ini bukan sesuatu yang bisa
dikerjakan dengan mentalitas 'latihan'—"
"Kalau
Alfana, pasti akan baik-baik saja."
……Selalu begini.
Belakangan ini, setiap kali Rex membuka mulut, isinya hanya Alfana, Alfana, dan
Alfana.
Frixel tidak mau
ikut campur karena tidak tertarik, tapi frekuensi Rex mengajak Alfana makan di
luar jelas meningkat, dan ia juga tampak membelikan berbagai macam item
untuknya.
Hal itu
pun berlaku bagi Dino. Entah
kenapa pria itu juga bisa sepercaya diri itu.
"Aku setuju.
Kalau Alfana, misi selevel ini sih kecil."
"……Haah."
Intinya, Rex dan
Dino sedang mabuk kepayang karena ada wanita cantik luar biasa yang bergabung
ke tim.
Ditambah posisi
mereka sebagai 'senior' yang menjaga Alfana, harga diri lelaki mereka
terpuaskan dan mereka jadi besar kepala.
Apakah mereka
serius ingin mengemban tanggung jawab Sertifikasi Penaklukan dengan kondisi
seperti itu?
"D-duh.
Rex, Dino, kalian berlebihan……"
Di samping Rex,
Alfana tampak tersipu malu. Sambil menahan sakit kepala, Frixel bertanya.
"Dengar ya……
aku cuma mau tanya, kalian tidak sedang tergiur imbalannya, kan? Belakangan ini
kalian kelihatannya sedang boros sekali."
Karena
Sertifikasi Penaklukan adalah tugas dengan tanggung jawab yang sangat berat,
imbalan yang dijamin pun jauh berbeda dengan misi lainnya.
Mengingat
belakangan ini mereka berdua terus berfoya-foya demi Alfana, kondisi kantong
mereka pasti sedang tidak longgar.
"Terus? Apa
kalian mau pakai imbalan itu untuk mengajak Alfana makan di restoran mewah
lagi?"
Bukannya
Frixel menganggap mengambil misi demi uang itu buruk. Pekerjaan petualang
memang mempertaruhkan nyawa, jadi wajar jika mereka mendapat bayaran besar.
Namun, ada perbedaan besar antara mengambil
misi secara bertanggung jawab demi imbalan, dengan mengambil misi secara
gegabah karena mata duitan.
Setidaknya,
ini bukan misi yang boleh diambil oleh petualang yang sedang dimabuk cinta.
Frixel merasa ia benar-benar harus menegur mereka.
"Kalian
ini, memanjakan Alfana juga ada batasnya—"
"Tuh
kan Rex, benar kataku. Anak ini pasti bakal cerewet dan banyak komplain."
Frixel
melotot ke arah Dino. Biasanya, ia memang sering saling ejek dengan pria
ini—tapi ucapan barusan jelas mengandung niat untuk mengejek Frixel.
Dino
balas melotot.
"Frixel……
kau ini, belakangan kalau ada urusan soal Alfana pasti bawaannya protes terus. Sejak kapan kau jadi merasa sehebat itu,
hah?"
"Itu karena
kalian memang hanya melakukan hal-hal yang pantas diprotes! Kemarin kalian
habis berapa demi Alfana? Kalian sudah terlalu terobsesi, apa kalian sadar bisa
menjalankan Sertifikasi Penaklukan dengan benar dalam kondisi begitu?"
Dino membuang
muka dengan tatapan malas, lalu mengorek telinganya sambil menghela napas
panjang seolah-olah ini adalah urusan yang sangat merepotkan.
"Kalau tidak
punya semangat, tidak usah ikut juga tidak apa-apa. Ada orang yang cuma bisa
protes malah bikin suasana jadi tidak enak."
"……Oh,
begitu."
Entah kenapa……
meskipun reaksi tidak sopan dari pria ini sudah sering ia terima berkali-kali
sebelumnya.
Meskipun biasanya
ia akan membalas dengan kata-kata kasar tanpa ampun seperti anak nakal di
lingkungan sekitar.
Ia sedikit banyak
menyadarinya. Semakin Rex dan Dino akrab dengan Alfana, jurang pemisah di
hubungan mereka dengan Frixel perlahan mulai terbentuk.
Mungkin karena
itulah—ucapan barusan benar-benar membuat perasaannya mendingin.
"Rex…… apa
kau juga punya pendapat yang sama dengan dia?"
"……,"
Rex yang
dipandangi tampak ragu dan menatap Alfana. ——Kenapa kau melihatnya?
Yang bertanya itu
aku, dan yang ditanya itu kau. Berpikirlah dengan kata-katamu sendiri dan
jawab.
Alfana
menggenggam tangan Rex dengan lembut menggunakan kedua tangannya.
"Rex, tidak
apa-apa. Aku ada di pihakmu."
Seketika,
keraguan di mata Rex menghilang seperti ombak yang surut.
"……Frixel,
kau terlalu berpikiran sempit. Harusnya kau lebih seperti Alfana,"
"Sudahlah.
Terserah. Lakukan sesukamu!"
Frixel tidak
mendengar jawaban Rex sampai habis.
Ia langsung
keluar kamar, berlari menuruni tangga, dan keluar dari penginapan.
Ia berjalan cepat
dengan amarah yang meluap, hingga akhirnya bersandar di pagar pembatas kanal
dan menghela napas panjang yang seolah tenggelam sampai ke dasar bumi.
"……Apa-apaan
sih. Alfana, Alfana, Alfana melulu."
Memang Frixel
punya watak yang keras dan tidak punya daya tarik feminin sama sekali.
Jika dibandingkan
dengan Alfana yang cantik dan ramah, wajar jika mereka lebih ingin
memanjakannya.
Tapi bukan
berarti mereka harus makan di restoran mahal berkali-kali dalam seminggu,
membelikan berbagai item, bahkan perhiasan yang tidak berguna dalam
pertempuran—meski terdengar keren sebagai pria yang bertanggung jawab, bukankah
mereka sudah terlalu berlebihan?
Ia bergumam.
"Sekalian
saja mereka gagal total……"
Dungeon Gouzel,
ya—lebih baik kalau dungeon-nya belum benar-benar ditaklukkan, pikirnya.
Sangat jarang
bagi petualang untuk salah mengidentifikasi bos monster, tapi bukan berarti
belum pernah terjadi.
Biar saja
mereka diserang mendadak oleh bos monster yang masih hidup.
Biar
mereka lari terbirit-birit pulang, lalu diadili sampai mati karena kelalaian
menganggap remeh dungeon skala kecil.
Memang
karier party akan tercoreng, tapi itu obat yang manjur buat orang-orang
bodoh yang sedang dimabuk cinta.
"Haah……"
Frixel
menghela napas berat sekali lagi sambil memegang kepalanya, bingung harus
berbuat apa—saat itulah, ia mendengar suara yang familiar dari arah belakang
dan menoleh.
"Duh, Lizel-san dan Atri-san jajan terus sih……"
"Fufun,
perut untuk camilan itu beda urusan, lho—"
"Nn. Makan
sambil jalan, Calories Zero."
"Mana ada
logika begitu……"
"Ada
tahu!"
"Ada."
Penyihir mungil
berambut perak, gadis berambut merah muda pucat, gadis berkulit cokelat, dan
seorang pemuda dengan rambut abu-abu panjang yang diikat.
(Ah, anak-anak
itu……!)
Mereka adalah Silver
Grey.
Frixel tidak
kenal mereka secara langsung dan mereka pun pasti tidak tahu tentangnya, tapi
ini adalah party petualang yang belakangan ini menarik perhatian
pribadinya.
Sepertinya hari
ini mereka libur bertualang dan sedang menikmati waktu istirahat.
Lizel dan Atri
berjalan sambil makan wafel, sementara Wolka dan Yuritia berjalan santai
mengikuti dari belakang.
Kenapa Frixel
belakangan ini tertarik pada mereka? Alasan utamanya adalah,
(Haa~~~~~ anak-anak itu benar-benar menggemaskan
setiap kali dilihat. Benar-benar penyembuh jiwa…)
Terus terang,
Frixel memang sangat menyukai anak-anak yang lebih muda darinya.
Bukan hanya
petualang muda seperti Wolka atau Atri, tapi juga Yuritia yang masih awal
belasan tahun, bahkan Lizel yang terlihat seperti anak sepuluh tahun.
Party yang begitu muda dan segar sangatlah
jarang ada di Kota Suci.
Apalagi semuanya
imut. Semuanya masuk kriterianya. Sangat berharga.
Tentu saja, bukan
hanya karena mereka lebih muda.
"Ini sudah
lewat tengah hari, Yuritia tidak mau jajan juga sesekali?"
"A-aku,
ituu…… na-na-nanti gemuk…… jadi tidak usah."
"Kurasa kau
terlalu cemas……"
"Kecerobohan
itu bisa fatal, tahu! Lagipula belakangan ini, daripada perutku……"
"Daripada
perutmu……?"
"T-t-tidak
ada apa-apa!! Uuugh……"
Entah bagaimana……
party itu punya hubungan antar anggota yang sangat erat.
Sebagai orang
yang saling menitipkan nyawa dalam petualangan, hubungan baik memang sudah
sewajarnya.
Namun anak-anak Silver
Grey lebih terlihat seperti 'keluarga' ketimbang sekadar 'rekan'.
Ia yakin
anak-anak itu tidak pernah bertengkar seperti dirinya sekarang.
Mereka
pasti akan terus hidup bersama apa pun yang terjadi—sebuah hubungan yang bahkan
harus dicontoh oleh Frixel yang lebih dewasa.
Benar-benar
menyilaukan.
"……Lho,
ke mana Master dan Atri?"
"Eh?"
Selagi ia
memperhatikan, Lizel dan Atri sudah tertarik ke kios jajanan lain.
"Heh,
Nona-nona…… aku tahu wafel itu, dari toko Timothy kan? Tapi punyaku tidak kalah
enak, lho. Cobalah rasakan."
"Hoho……?
Hmm, boleh juga. Berikan aku satu."
"Aku
juga."
Wolka dan
Yuritia serentak tertunduk lemas.
"Ah, mereka
jajan lagi……"
"Duh, kalian
berdua, nanti tidak bisa makan malam lho!?"
Tanpa sadar,
senyum mengembang di wajah Frixel.
Suasana hatinya
yang tadi begitu suram langsung membaik hanya dengan melihat sosok Silver
Grey. Benar-benar deh, ia ingin Rex dan Dino belajar sedikit dari Wolka.
Di saat Wolka
dikelilingi tiga gadis cantik, dia tetap membangun party yang harmonis
tanpa ada rumor aneh.
Orang-orang bodoh
di timnya tidak akan pernah bisa meniru itu meski sambil jungkir balik
sekalipun.
Wolka dan yang
lainnya menyeberangi jembatan kanal, lalu menghilang di balik bangunan Distrik Seiteigai.
Frixel terus
memperhatikan sampai sosok mereka benar-benar hilang, lalu—
"……Oke!
Aku juga harus mengubah suasana hati."
Lagipula
Rex dan yang lainnya akan pergi investigasi untuk beberapa lama. Selama itu,
Frixel juga akan menyegarkan diri sendirian.
Kesal
juga dibilang berpikiran sempit, tapi mungkin ia memang agak kurang tenang
tadi. Ia akan mencoba bicara baik-baik lagi nanti.
Akhirnya,
Frixel memutuskan untuk tidak ikut dengan Rex dan kawan-kawan.
Inilah
kesalahan pertamanya. Seharusnya pada titik ini, Frixel segera melapor ke
Perserikatan mengenai kondisi party-nya.
Tentu
saja, Perserikatan tidak punya wewenang untuk mencampuri urusan pribadi party.
Tapi setidaknya, ia bisa membuat mereka menaruh kecurigaan pada investigasi Rex
dan kawan-kawan.
Alasan
kenapa pikiran itu tidak terlintas sama sekali, mungkin karena jauh di lubuk
hatinya, ia memang berharap Rex dan yang lainnya gagal total.
Ia
berharap dengan merasakan kegagalan yang telak, mereka akan tersadar. Meski ini
adalah party-nya sendiri, Frixel sempat menganggapnya sebagai urusan
orang lain.
──Tepat
sebelum Frixel keluar dari penginapan, ia tidak menyadari senyum miring yang
tersungging di wajah Alfana.
Kesalahan kedua
terjadi sekitar dua minggu setelahnya.
"──Jangan
bercanda ya."
"Hah? Duh,
baru datang sudah mau ngajak berantem saja."
Frixel baru saja
menggerebek sebuah kamar di penginapan yang terlalu mewah untuk ukuran
petualang, yang terletak di dekat pelabuhan dagang sisi utara Distrik Seiteigai.
Hal pertama yang
dilakukan Rex dan kawan-kawan setelah menerima imbalan besar dari Sertifikasi
Penaklukan adalah pindah dari penginapan murah lama mereka ke penginapan mewah
ini bersama Alfana.
Mereka
meninggalkan Frixel di penginapan lama tanpa diskusi sepatah kata pun,
benar-benar keputusan sepihak.
Sebenarnya itu
tidak masalah. Tidak ada aturan yang mengharuskan semua anggota party
tinggal di penginapan yang sama, jadi mau pindah ke mana pun dengan uang
sendiri itu terserah mereka. Namun, alasan Frixel membentak Rex sekarang adalah
hal lain.
"Kalian
menyentuh uang tabungan party, kan?"
Sejak dulu, Flamberge
rutin menabung untuk masa depan dengan bantuan kenalan pedagang—namun entah
sejak kapan, mereka diam-diam mengambil sebagian besar uang yang sudah
dikumpulkan selama bertahun-tahun itu. Tentu saja, tanpa ada pembicaraan atau
izin dari Frixel.
Di dalam kamar
yang luasnya dua kali lipat penginapan lama itu, Dino bersandar di sofa dengan
wajah yang terlihat sangat terganggu.
"Pemimpin
kita yang hebat sudah bilang boleh, kok."
"Kami sedang
butuh dana yang agak besar. Tabungan itu memang untuk saat-saat seperti ini,
kan?"
Rex pun tampak
sangat tenang. Dengan Alfana yang duduk di tengah-tengah mereka berdua, mereka
tampak seperti pelayan yang sedang melayani putri bangsawan dengan penuh
hormat.
Frixel memukulkan
tinjunya ke meja yang penuh dengan botol anggur sekuat tenaga.
"Kalau
begitu katakan dipakai untuk apa! ──Katakan padaku, sekarang juga!!"
Pasti untuk
memanjakan Alfana lagi.
Tabungan party
tentu saja adalah uang yang dikumpulkan oleh seluruh anggota, termasuk Frixel
dan bahkan bagian dari teman lama mereka yang sudah pensiun.
Tapi mereka
menggunakannya seolah-olah itu adalah dompet pribadi mereka sendiri.
"Terserah
kami, dong. Lagipula, apa hak orang yang membolos misi kemarin untuk ikut
campur?"
"Kalau itu
imbalan misi, terserah kalian mau pakai buat apa. Tapi tabungan itu beda
urusan! Itu bukan uang yang dikumpulkan untuk memenuhi gengsi konyol
kalian!!"
Padahal Frixel
sudah berusaha sabar untuk berkomunikasi sejak saat itu, tapi ternyata mereka
sama sekali tidak peduli. Benar-benar tidak bisa dipercaya.
Apakah mereka
berdua sudah dicuci otak oleh Alfana? Ia hanya bisa berpikiran begitu agar
tetap waras.
"Rex, kau
juga, bahkan kau pun──sama saja? Apa kau tidak merasakan apa-apa setelah aku
bicara sampai begini?"
Jujur saja, ia
merasa kesabarannya sudah sangat luar biasa. Jika ini adalah orang yang tidak
terlalu akrab, ia pasti sudah menghajar mereka dan membiarkan mereka dihukum
oleh Gereja.
Alasan kenapa
Frixel masih mencoba bertahan sampai akhir adalah karena—meski mereka jadi
begini, mereka adalah rekan seperjalanan sejak lama, 'teman' yang tak
tergantikan.
Kali ini,
Rex tidak ragu.
"Frixel……
jujur saja, sikapmu
belakangan ini sudah keterlaluan. Kau benar-benar hanya bisa protes apa pun
yang kami lakukan. Bukankah kaulah yang sebenarnya merusak keharmonisan party?"
Semuanya sia-sia.
"Jika terus
begini…… terpaksa, aku harus memikirkan tindakan yang sesuai."
"Rex, jangan
bicara begitu. Aku
yakin Frixel-senpai hanya sedang kurang tenang saja……"
"Alfana
memang baik, ya."
"Aku
harap 'seseorang' di sini bisa mencontohnya."
──Party
ini bukan lagi Flamberge yang ia kenal.
Sudah
berakhir. Rex dan Dino sudah dibuat tidak berdaya oleh Alfana hingga tak
bersisa lagi sosok lama mereka.
Mungkin
jika sekarang ada anak kecil yang diserang monster di depan mata pun, mereka
akan lebih memprioritaskan Alfana dan membiarkan anak itu mati.
Rex dan
Dino yang dikenal Frixel sudah tidak ada lagi di mana pun.
"──Frixel-senpai,
biar kuberi satu saran."
Tanpa disadari,
Alfana sudah tidak menggunakan bahasa sopan lagi kepada Frixel.
"Lebih baik
kau pikirkan baik-baik langkahmu selanjutnya. Selagi kau cuma bisa protes
ini-itu, sudah ada 'perbedaan' yang sangat jauh antara aku dan kau."
Sikap sopan dan
berkelas saat awal bertemu sudah lenyap entah ke mana. Yang ada hanyalah senyum
buruk yang penuh dengan rasa superioritas yang menyimpang, seolah-olah ia jauh
lebih 'tinggi' daripada Frixel.
Ah, begitu ya.
Jadi tujuan
wanita ini sejak awal adalah……
"……Sudahlah."
Rasa 'kekecewaan'
yang mutlak yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidup ini terasa begitu
sunyi, seperti malam yang gelap gulita.
"Rex, Dino……
aku kecewa pada kalian. Benar-benar kecewa."
"Duh,
kejamnya. Tidak apa-apa, kalian berdua. Aku ada di pihak kalian kok."
Rasanya ingin
muntah.
Inilah kesalahan
kedua. Inilah garis batas terakhir yang seharusnya ia hentikan meski harus
menghajar mereka bertiga.
Seharusnya saat
itu sifat cepat naik darahnya meledak saja. Seharusnya ia tidak usah berpikir
dan langsung mengamuk, menghajar mereka dengan segenap jiwa raga.
Namun tampaknya
ketika amarah sudah melewati batas, manusia justru akan menjadi sangat dingin.
Dengan sangat
tenang dan dingin──sejak hari itu, Frixel menghilang dari hadapan Rex dan
kawan-kawan.
◆◇◆
"──Frittchi,
kamu hebat! Hebat banget! Kamu sudah berjuang keras, lho! Kalau aku jadi kamu,
sudah kuhancurkan mereka semua dengan sihir!"
"Begitu,
ya……"
Tiga hari
kemudian, Frixel sedang menumpahkan unek-uneknya kepada seorang teman lama yang
dulu merupakan rekan party-nya di sebuah bar di Ibu Kota, Eisen Vista.
Semenjak kejadian
itu, ia merasa tinggal di Kota Suci terasa konyol. Tanpa pikir panjang, ia
melompat ke kapal feri dan terdampar di Ibu Kota hanya dengan pakaian di badan.
Namun ternyata──.
"Ngomong-ngomong,
apa kita hajar saja mereka sekarang? Suamiku sedang meneliti sihir tempur di Magisterica
(Lembaga Hukum Sihir). Pas banget tiga lawan tiga, ayo kita perang,
perang!"
"Ti-tidak
usah sampai sejauh itu."
Frixel baru
ingat, orang ini ternyata jauh lebih cepat naik darah daripadanya.
Ia mencoba
menenangkan temannya yang sepertinya sudah mulai mabuk itu.
Si teman
menenggak habis sisa minuman di gelasnya dalam sekali teguk.
"Aku sempat
bingung kenapa kamu tiba-tiba datang ke Ibu Kota, ternyata ada masalah begitu,
ya…… Siapa tadi nama perempuan itu? Alpaca?"
"……Alfana.
Apa-apaan Alpaca itu."
"Ahahahaha!"
Temannya tertawa dengan nada yang aneh.
"Aku tidak
tahu Alpaca itu wanita macam apa, tapi yang jelas Rex dan Dino yang salah.
Payah! Benar-benar mengecewakan!"
"Iya,
kan……"
Frixel menghela
napas panjang seolah membuang seluruh udara dalam tubuhnya, lalu menyandarkan
kepalanya dengan lesu di atas meja yang modis dan tanpa goresan sedikit pun.
"Rasanya…… apa ini sudah benar-benar berakhir,
ya?"
"Yah, kamu sudah berkali-kali memperingatkan tapi
hasilnya tetap begitu, sih—kalau aku, sudah kutinggalkan dan bilang bye-bye
dari dulu."
"……Kamu memang selalu berpikiran praktis, ya."
Frixel tidak bermaksud mencela, tapi mungkin kalimatnya
terdengar sedikit sinis.
Namun temannya
tidak keberatan, ia justru mengedipkan mata dengan genit sementara wajahnya
merona merah karena alkohol.
"Tentu saja,
aku kan sampai keluar dari party-mu demi bisa bersama suamiku."
"Aku
iri dengan ketegasanmu itu……"
"Makanya,
mending Frittchi cari laki-laki yang oke juga saja. Tinggalkan saja dua orang itu. Menikah itu enak,
lho~"
"Kamu
ini."
Frixel
mengerucutkan bibirnya. Temannya
ini pasti sengaja bicara begitu karena tahu ia sama sekali tidak punya
pengalaman dalam urusan asmara.
"Tidak
ada orang yang seperti itu……"
Melihat
Frixel yang merajuk, temannya justru semakin bersemangat.
"Ah,
Frittchi kan suka yang lebih muda, ya. Bahkan seleramu itu cukup serius. Harus 'anak-anak' baru oke, kan?"
"Ja-jangan──"
──ngan bicara
sembarangan! Frixel hampir saja berteriak namun berhasil menahannya di detik
terakhir. Ia menyesal setengah mati; seharusnya ia tidak pernah membicarakan
selera pria kepada orang ini.
Bukan begitu
maksudnya. 'Suka yang lebih muda dan harus anak-anak' itu terdengar seperti
orang berbahaya, padahal Frixel hanya merasa tertarik pada anak laki-laki
berusia sekitar lima belas atau tujuh belas tahun—usia transisi yang samar
antara anak-anak dan dewasa.
"Frittchi,
sekadar mengingatkan ya──"
Temannya condong
ke arah Frixel, lalu berbisik dengan senyum paling lebar yang ia tunjukkan hari
itu.
"Minimal
lima belas tahun, ya. Kalau lebih muda dari itu, aku benar-benar akan merasa
jijik padamu. Higyaaa!"
Tentu saja,
Frixel langsung mengeksekusi temannya dengan hukuman 'pelintir pipi' mautnya.
Keesokan harinya.
Setelah kejadian itu, Frixel memutuskan untuk melupakan rekan-rekannya yang
telah jatuh dan menikmati perjalanan di Ibu Kota.
Ibu Kota Eisen
Vista──sebagai kota sihir terkemuka di dunia, kota ini dipenuhi dengan
berbagai Magic Tool yang tidak pernah ia lihat di Kota Suci.
Pintu toko yang
terbuka sendiri saat didekati, rak barang yang mengeluarkan produk setelah koin
dimasukkan, lampu jalan yang menyala dan mati sendiri pada jam tertentu, Automata
yang mengerjakan berbagai tugas sederhana menggantikan manusia, hingga jam
astronomi raksasa yang bisa meramal cuaca esok hari sampai orbit bintang.
Mencari tempat tanpa Magic Tool di sini justru lebih sulit.
Berbagai
teknologi yang lahir dari penelitian sihir tiada henti di Ibu Kota.
Di antaranya,
kendaraan bernama 'Kereta' yang baru saja diterapkan secara praktis adalah hal
yang paling memukau.
Kendaraan itu
bisa mengangkut lebih dari seratus penumpang sekaligus dan melesat di atas
tanah dengan kecepatan yang jauh melampaui kereta kuda maupun kapal.
Saat ini
jangkauannya memang masih terbatas pada area utama Ibu Kota, tapi seandainya di
masa depan jalur darat antara Kota Suci dan Ibu Kota terhubung oleh satu garis
rel──.
"……Benar-benar
ya, di mana-mana penuh dengan benda praktis."
Saat ia
bergumam kagum sambil memegang minuman di kafe sudut jalan, temannya menjawab
dengan riang.
"Iya,
kan? Kamu tahu? Kursi kedua dari Sevens (Tujuh Hukum), Sang Hukum
Kreasi, Lord Elfiette. Katanya dia itu orang yang sangat aneh—eh, maksudku
unik, tapi berkat dialah kehidupan di Ibu Kota berubah drastis~"
Barusan
dia hampir menyebut orang hebat di Ibu Kota sebagai 'orang aneh', ya.
Terlepas
dari itu, otoritas pengambilan keputusan tertinggi, Sevens──secara
kasar, mereka berada di posisi yang mirip dengan empat Saintess di Kota Suci.
Kelompok
tujuh orang yang terdiri dari empat Ksatria Suci dan tiga Bijak yang berdiri di
puncak negara sebagai simbol kemakmuran Ibu Kota.
Bagi
Frixel yang lahir dan besar di Kota Suci, ini sulit dipercaya, tapi katanya
secara posisi pemerintahan, mereka bahkan lebih tinggi daripada Saintess.
Gelar
'Tertinggi' di depan nama mereka bukan sekadar pajangan atau iseng semata.
Dan yang
bertahta di kursi kedua adalah Elfiette, Sang Hukum Kreasi.
Penyihir
agung luar biasa yang konon memajukan teknologi sihir dunia ini seratus tahun
lebih cepat sendirian.
Pasti dia
adalah sosok yang sangat berwibawa, pikir Frixel sambil membayangkan siluet
bijak yang penuh kharisma.
──Tentu
saja, ia tidak punya cara untuk mengetahui bahwa Elfiette yang asli adalah
gadis aneh manja tanpa kharisma yang sedang meronta-ronta sambil berteriak,
"Bosaaaaann!! Tidak ada
hal seru sama sekali!! Aku ingin melakukan eksperimen manusiiiiaaaaa!!"
"Sevens,
ya…… antara Ksatria Suci di sini dan Ksatria Suci di tempat kita, kira-kira
mana yang lebih kuat?"
"Entahlah.
Tapi Lord Hukum Suci di kursi ketiga kabarnya dirumorkan sebagai 'Ksatria Suci
Terkuat'. Yah, karena belum pernah ada pertarungan sungguhan, tidak ada yang
tahu pastinya bagaimana—"
"Hukum
Suci……"
Nama julukan yang
sangat muluk.
Rasanya tidak
mungkin itu gelar yang diberikan kepada manusia biasa, dan kenyataannya,
orang-orang yang disebut Ksatria Suci memang konon memiliki kekuatan yang
melampaui batas normal tanpa pengecualian.
Jika orang itu
disebut yang terkuat di antara para Ksatria Suci, mungkin meski Frixel membawa
seribu orang pun tidak akan ada peluang menang.
"……"
Frixel
menatap pemandangan kota dengan hampa. Lampu jalan yang otomatis, Automata,
jam astronomi raksasa, kereta yang melesat cepat, penyihir agung terbaik,
ksatria suci terkuat.
Sambil menopang
dagu, ia menghela napas.
"Kalau
dipikir kembali, dunia ini luas sekali, ya……"
"Tepat
sekali. Sekarang sadar kan kalau masalahmu itu sepele?"
"Iya, iya,
terserah. Aku memang wanita sepele──"
Temannya tertawa.
Karena itu, Frixel pun ikut tertawa seolah mengakui kekalahannya.
Jika dipikirkan
lagi, itu memang benar. Jika ia mengingat kembali jalanan di Kota Suci tempat
ia tumbuh besar, jalanan Ibu Kota yang ada di depan matanya sekarang, dan
pemandangan dunia yang telah ia lalui sebagai petualang, masalah yang sedang
dihadapi Frixel pasti hanyalah seperti batu kerikil di pinggir jalan.
Tanpa terasa
sebulan telah berlalu. Frixel yang sudah puas menyegarkan diri memutuskan untuk
segera pulang ke Kota Suci.
Begitu sampai, ia
akan mengucapkan selamat tinggal pada party seperti itu.
Alfana mungkin
akan tertawa puas karena semuanya berjalan sesuai keinginannya, tapi dengan
gaya hidup boros seperti itu, cepat atau lambat party itu pasti akan
hancur. Saat uang habis, segalanya berakhir.
Lebih baik segera
memutuskan hubungan sebelum ia ikut terseret lebih jauh.
Kalau mereka
menangis minta tolong setelah jatuh miskin nanti, ia tidak akan peduli.
Benar,
sekalian saja ia mengajak anak-anak Silver Grey untuk makan bersama.
Karena mereka juga sering makan dan minum di
restoran mahal, tidak ada alasan bagi Rex untuk protes jika ia makan dengan
orang yang ia sukai. Ini mungkin ide yang cemerlang.
(Ta-tapi,
apa orang dewasa sepertiku yang menyapa mereka tidak akan dianggap sebagai
kasus kriminal, ya…… Uuuh, tapi kalau cuma memperhatikan dari jauh terus juga
rasanya kurang, setidaknya sesekali! Aku ingin menyemangati mereka dari dekat sekali
saja! Ah, ini semua salah mereka karena terlalu menggemaskan! Duh!)
Frixel yang
menggeliat malu di geladak kapal feri menuju Kota Suci benar-benar seorang
penyuka anak muda yang agak berbahaya.
Singkat cerita,
satu bulan berlalu dan ia kembali ke Kota Suci, kembali ke kamarnya sendiri.
Setelah merapikan
barang, ia segera mencari Rex dan kawan-kawan, namun ketiganya tidak ada di
penginapan mewah itu.
Menurut pelayan,
mereka sudah pergi dan tidak pulang selama dua atau tiga hari.
Jangan-jangan,
uang mereka sudah habis dan tidak bisa bersenang-senang lagi? Frixel berpikir "rasakan itu",
tapi ia memutuskan untuk mencoba mengeceknya di Perserikatan.
(──?)
Namun,
begitu melangkah masuk ke Perserikatan, Frixel langsung mengerutkan kening.
Suasananya terasa aneh, sangat berisik dan terburu-buru.
Tapi ia
kurang yakin, rasanya dulu tempat ini memang selalu ramai seperti ini.
Akhirnya
Frixel menyimpulkan bahwa ia hanya merasa begitu karena sudah lama tidak ke
sini, lalu ia menyapa resepsionis yang sudah dikenalnya.
Melihat Frixel, mata resepsionis itu membelalak kaget.
"Ah, Frixel-san!? Ke mana saja Anda selama ini!?"
"Eh, kenapa?
Ada apa?"
"Pokoknya,
Anda harus ikut memberi penjelasan! Jangan kabur ya!?"
Frixel
tidak mengerti maksudnya.
"Kabur
apa maksudmu? Ngomong-ngomong suasananya agak berisik, apa terjadi
sesuatu?"
"Apa
terjadi sesuatu katanya──"
Resepsionis
itu tampak heran seolah ingin bilang "orang ini bicara apa sih",
namun tiba-tiba wajahnya berubah serius. Setelah berpikir beberapa detik, ia
bertanya.
"──Jangan-jangan,
Anda benar-benar tidak tahu apa-apa?"
"Ah……
sebulan terakhir aku pergi ke Ibu Kota sendirian, dan baru saja pulang hari
ini."
"Se-sebulan……!?
Eh, kalau begitu Frixel-san tidak terlibat……?"
"Dengar……"
Sadar
kembali, resepsionis itu berbisik ke telinga Frixel.
"Di
dungeon yang kalian investigasi sebelumnya, terjadi Kecelakaan Sertifikasi
Penaklukan! Apalagi, Rex-san dan yang lainnya sudah menghilang sejak beberapa
waktu lalu……!"
"──Hah?"
Apa pun
yang dikatakan resepsionis itu, Frixel tidak bisa memahaminya meski sudah
memikirkannya berkali-kali.
"Apa
maksudmu? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya──"
"……Anu, di
mana Rex-san sekarang? Kami sudah mencari ke seluruh Kota Suci tapi tidak ada,
mereka dicurigai melarikan diri, tahu?"
"……"
Ah, begitu ya.
Mereka akhirnya
jatuh sampai ke titik itu, ya.
"Pokoknya,
aku akan panggilkan orang yang lebih paham!"
Resepsionis itu
berlari pergi, dan tak lama kemudian Fuji—staf yang terkenal misterius dan
pemalas—datang. Frixel dibawa ke ruang khusus di lantai dua yang jarang ia
masuki.
Lalu, ia
diberitahu apa yang terjadi selama ia pergi.
"──Bo-bohong."
"……Paman
tidak mungkin bercanda soal hal seperti ini."
Ketakutan dan
keputusasaan yang ia rasakan saat itu mungkin tidak akan pernah Frixel lupakan
seumur hidupnya.
Perasaan
'pandangan menjadi gelap gulita' menyerangnya bukan sebagai kiasan, melainkan
secara harfiah.
Pusing yang luar
biasa membuat punggungnya membungkuk, ia kehilangan indra keseimbangan, dan
hanya bisa bernapas tersengal-sengal tanpa tahu bagaimana posisi tubuhnya
sekarang.
──Party
peringkat A, Silver Grey, diserang oleh bos monster yang sangat kuat di
Dungeon Gouzel, dan berhasil mengalahkannya dengan susah payah.
Namun, pemuda
bernama Wolka sempat berada di ambang kematian sebelum akhirnya kehilangan mata
kanan dan kaki kirinya──.
Jantungnya
terus berdegup kencang tepat di samping telinganya.
"Pokoknya
karena alasan itu, untuk sementara identitasmu akan ditahan oleh
Perseri──"
Saat
penglihatannya perlahan kembali, Frixel sudah menendang kursinya dan
mencengkeram kerah baju Fuji.
Ia berteriak.
"Kenapa,
kenapa!! Anak-anak itu, kenapa!! Kenapa bisa jadi begini……!!"
Fuji sedikit
terbelalak.
"……Kamu
kenal dengan Wolka-kun dan yang lainnya?"
"Ghh……"
Ia tidak bisa
dibilang kenal. Frixel hanya merasa tertarik secara sepihak dan merasa sedang
mendukung mereka dari kejauhan──namun, tetap saja.
Bayangan
mereka muncul dan hilang silih berganti di benaknya. Lizel yang terlihat
bahagia saat memakan wafel. Yuritia yang sensitif soal perutnya.
Atri yang tetap tanpa ekspresi meski sedang makan enak.
……Dan Wolka, yang mengawasi rekan-rekannya dengan tatapan mata yang tenang.
Hancur.
Sosok
mereka dalam ingatan Frixel hancur berantakan.
"──Ini
salahku."
Padahal ia tidak
ingat kapan terakhir kali ia menangis.
"Karena
aku…… tidak menghentikan mereka……!"
Bukan
hanya tidak menghentikan.
Pada hari
ketika Rex mengumumkan akan mengambil misi Sertifikasi Penaklukan itu, apa yang
dipikirkan Frixel?
Apa yang
ia harapkan?
──Bukannya
ia sempat berharap mereka gagal karena ia sedang merajuk?
Bukannya
ia sempat berharap mereka diserang bos monster sebagai bentuk pelampiasan?
Lihatlah,
semuanya terjadi persis seperti yang ia harapkan.
Rex dan yang
lainnya gagal dalam Sertifikasi Penaklukan seperti yang diharapkan Frixel, bos
monster ternyata belum dikalahkan, dan gara-gara itu anak-anak baik yang tidak
bersalah──
"A-aaaaaaaghhhh……!!"
Sambil tetap
mencengkeram kerah baju Fuji, Frixel jatuh berlutut tanpa daya di tempat itu.
Ia ingin mereka
memiliki kehidupan yang lancar. Ia berharap mereka tidak mengalami perpecahan
tim yang konyol seperti dirinya, dan terus hidup selamanya seperti keluarga.
Karena itu sudah
sewajarnya, bukan──meskipun ia tidak membantah kalau ia memandang mereka dengan
perlakuan khusus, tapi pada dasarnya anak-anak adalah sosok murni yang sudah
sepantasnya tumbuh dengan bahagia.
Bahkan
kegemarannya pada yang lebih muda pun bukan dilakukan karena alasan tidak murni
yang tak bisa diceritakan pada orang lain.
Kesukaannya pada
anak-anak ini berasal dari pengaruh ibunya. Ibunya adalah ksatria teladan yang
mengabdikan hidupnya pada Gereja Suci Christcrest, karena itulah sejak
kecil Frixel tumbuh sambil melihat apa yang disebut sebagai semangat ksatria
dari ibunya yang jujur dan kaku.
Di antaranya, ada
satu keyakinan penting yang tidak pernah diabaikan ibunya seumur hidup, dan
kata-kata itu memberikan pengaruh besar bagi Frixel yang sekarang.
Yaitu──Jadilah
pelindung bagi anak-anak.
Karena itulah
Frixel menyukai anak-anak. Seandainya Rex dan Dino tidak mengajaknya
bertualang, mungkin sekarang ia bukan berada di Perserikatan, melainkan menjadi
anggota Gereja Suci Christcrest dan bekerja sebagai pendidik di suatu
panti asuhan atau sekolah.
"Kenapa……!!
Kenapa harus jadi begini……!!"
Air mata yang
menetes menjatuhkan satu, dua bayangan kecil di lantai.
Ah, betapa ini
adalah kesalahan yang paling menjijikkan dan terburuk.
Gara-gara para
orang dewasa seperti mereka tidak menjalankan tanggung jawab, anak-anak yang
tidak berdosa harus menjadi korban.
Hal
seperti itu seharusnya benar-benar, benar-benar tidak boleh terjadi.
"……Saat ini
paman-paman yang lain sedang mencari keberadaan rekan-rekanmu. Jadi jika kamu
tahu sesuatu──"
"Izinkan aku
membantu juga……!"
Tanpa menunggu
kalimat Fuji selesai, Frixel mengangkat wajahnya dengan mata yang basah oleh
air mata.
Ia
mengerahkan seluruh tenaga ke lututnya yang gemetar dan berdiri tegak.
"Maafkan
aku. Aku tidak tahu kata-kata apa yang bisa kugunakan untuk meminta maaf……
Jadi, gunakanlah aku. Seperti seekor anjing."
Jantungnya terasa
sakit. Jika ia tidak menggertakkan gigi dan menahannya, rasanya tubuhnya akan
terbelah menjadi dua dari dada.
Namun tetap saja,
ia pikir ini bukan saatnya untuk menunduk dan menangis.
Karena yang ingin
menangis, yang sedang menangis, adalah anak-anak yang kedamaiannya tiba-tiba
direnggut itu.
──Kalau begitu,
tidak ada waktu untuk berlutut, Frixel!!
"Aku pasti
akan menemukan mereka──lalu aku akan menghajar mereka sepuas hati."
Rex dan Dino.
Sejak dulu mereka memang dua orang bodoh yang tidak bisa diandalkan, tapi
melarikan diri di tengah situasi seperti ini benar-benar keterlaluan. Orang
bodoh pun tahu apa konsekuensinya jika melakukan hal itu. Pasti rubah betina
itu telah melakukan sesuatu yang tidak perlu lagi.
Makanya, kali ini
aku harus menghentikan mereka.
"……Baiklah."
Fuji mengangguk
sekali dengan berat, namun segera menunjukkan senyum tanpa semangatnya yang
biasa.
"Kalau
begitu, Paman tidak akan sungkan menerima bantuanmu. Paman sudah tidak kuat
lagi kalau harus melakukan kerja fisik."
"Ya. ……Lalu,
apa yang harus kulakukan?"
"Mari kita
lihat, pertama-tama──"
Tepat saat Fuji
yang sedang mengusap janggut tipisnya hendak menjawab, pintu ruangan diketuk
dua kali dengan sopan. Suara rendah resepsionis terdengar dari balik pintu.
"Anu, Tuan
Fuji. Seseorang dari Christ Knights (Pasukan Ksatria Suci) ingin menemui
Anda……"
"Wah,
panjang umur."
Fuji menyahut
seolah-olah mendapatkan bantuan di saat yang tepat.
"Aku
mengerti, bisa tolong bawa dia ke sini?"
"E-eh, apa
tidak apa-apa? Bagaimana dengan pembicaraannya……"
"Tidak
apa-apa, pas sekali baru saja selesai."
"Baiklah,"
jawab resepsionis itu, dan langkah kakinya pun menjauh. Frixel sempat bertanya,
"……Apa aku harus keluar?" namun Fuji menggeleng.
"Tidak,
kamu boleh ikut mendengarkan. Karena ini informasi tentang rekan-rekanmu."
"……Oke."
Karena dikatakan
begitu, ia tidak punya pilihan selain ikut serta. Setelah menunggu sekitar satu
menit, seorang pria dengan zirah perak yang tampak biasa saja masuk ke ruangan.
Begitu melihat Frixel, pria itu mengerutkan kening dengan tajam.
"Dia anggota
Flamberge yang tersisa. Perlakukan dia sebagai kooperator."
Sebelum pria itu
sempat membuka mulut, kalimat Fuji yang tidak menerima bantahan langsung
memotongnya. Pria itu terdiam beberapa detik, lalu──.
"Sesuai
perintah."
Ia hanya menunduk
sedikit. Meski ada sedikit keraguan, jika orang ini yang mengatakannya, maka ia
tidak akan banyak bicara──begitulah cara ia menjawab.
"Laporannya?"
"Baik. Burungnya sudah bergerak."
"Heh──cepat juga ya. Baguslah."
──Apa itu sejenis
bahasa sandi?
Frixel tahu bahwa
dalam bidang investigasi kriminal yang ditangani Christ Knights, ada
kasus-kasus di mana mereka menghindari ekspresi langsung agar tidak menimbulkan
kecemasan atau kekacauan yang tidak perlu pada masyarakat umum.
Dari suasana
percakapannya, ia bisa menebak secara garis besar bahwa mereka telah menemukan
jejak Alfana dan yang lainnya──.
"Kalau
begitu ayo segera bergerak. Ah,
tambahkan satu ekor kuda lagi untuknya."
"Siap. ……Dan
juga, ini."
Pria itu kemudian
menyerahkan sebuah liontin kepada Fuji. Liontin itu juga tampak biasa saja,
hanya aksesori dengan salib Gereja yang tergantung.
"Benda
ini……"
"Baru saja
diantarkan. Katanya, ini berisi Moonlight Prayer agar segera pulang ke
Kota Suci."
Apa bahasa sandi
lagi? Kedengarannya seperti sejenis jimat, tapi Fuji yang menerimanya sedikit
terbelalak.
"……Begitu
ya. Kalau begini, sepertinya Paman harus benar-benar mulai serius."
Sambil
memperhatikan interaksi keduanya, ada tiga pertanyaan yang melintas di benak
Frixel.
Pertama. Mengapa
Fuji memahami bahasa sandi Pasukan Ksatria seolah-olah itu hal yang lumrah?
Tentu saja,
Perserikatan Petualang dan Pasukan Ksatria adalah organisasi yang benar-benar
berbeda.
Jika diperlukan,
mereka memang bekerja sama seperti sekarang, tapi sebaliknya, jika tidak perlu,
mereka akan membatasi wilayah masing-masing dan tidak saling campur tangan.
Rasanya agak aneh
jika staf Perserikatan biasa sangat ahli dalam ekspresi eufemisme yang hanya
digunakan oleh Pasukan Ksatria.
Kedua. Mengapa
Fuji memberikan instruksi kepada ksatria, dan ksatria itu mematuhi Fuji?
Pasukan Ksatria
adalah organisasi publik di bawah otoritas langsung Gereja Suci Christcrest
yang mengelola Kota Suci, dan secara posisi jelas berada di atas Perserikatan.
Biasanya
Perserikatanlah yang meminta instruksi dari Pasukan Ksatria, dan investigasi
berjalan di bawah pimpinan Pasukan Ksatria.
Ini pertama
kalinya ia melihat seorang ksatria menunduk dan berkata "Sesuai
perintah" kepada orang dari Perserikatan.
Ketiga. Arti dari
liontin itu.
"──Kalau
begitu, saya akan mengumpulkan pasukan di Benteng Barat."
"Ya, aku
titip ya."
Saat ia sedang
tenggelam dalam pikirannya, tanpa sadar percakapan antara Fuji dan ksatria itu
telah berakhir. Setelah menunggu suara langkah kaki ksatria yang keluar ruangan
benar-benar menghilang, Frixel yang sudah tidak mengerti apa-apa bertanya.
"Tuan Fuji……
Anda ini sebenarnya siapa?"
Staf yang
reputasinya paling berantakan di Perserikatan Petualang.
Penampilannya
sangat serampangan dengan seragam yang kancingnya dibiarkan terbuka, lengan
baju yang digulung asal-asalan, dan kemeja yang keluar dari celana panjangnya.
Meskipun ada
desas-desus bahwa kemampuannya nyata karena ia selalu memberikan instruksi dan
pengawasan ujian yang tepat jika diperintahkan bekerja──.
"Tentu saja,
cuma seorang paman pemalas. Seperti yang kamu lihat sendiri, kan."
Orang
yang bersangkutan ternyata hanya kembali mengelak dengan senyum tanpa
semangatnya yang biasa.
◆◇◆
Setelah
itu, Frixel berangkat dari Kota Suci bersama sekitar sepuluh orang pasukan
ksatria untuk mengejar Alfana dan yang lainnya.
Kuda
tempur milik Christ Knights yang terlatih itu berlari secepat makhluk
dari dunia lain; hanya dalam satu hari, mereka mampu menempuh jarak yang
terdengar seperti lelucon.
Pengejaran
itu dilakukan secepat kilat, memangkas segala hal yang tidak perlu kecuali
istirahat yang sangat minim.
Kedisiplinan
para ksatria itu sungguh mengerikan; bahkan dengan stamina Frixel yang telah
ditempa melalui berbagai petualangan, mengikuti mereka bukanlah perkara mudah.
Namun, ia tidak
merasa lelah. Rasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak menghentikan
rekan-rekannya, serta kemarahan pada orang-orang bodoh yang telah jatuh ke
titik terendah, terus ia bakar sebagai api untuk memaksanya bergerak.
Dan akhirnya──ia
berhasil menyusul mereka.
"──Ketemu
juga kalian, dasar bodoh!!"
Logika bahwa
mereka adalah rekan sejak kecil meski sudah bejat, atau keributan mendadak akan
berbahaya jika ada warga sipil di sekitar, seketika menguap begitu ia melihat
sosok mereka.
Frixel
menghentakkan kakinya ke tanah dan melompat maju, mengincar pria berambut merah
yang berdiri tegak sambil membentangkan peta di bawah langit mendung.
"Rasakan
ini, Rex bodoooh!!"
"……!?"
Kepalan tangan
Frixel yang diayunkan tanpa ampun itu berhasil ditangkis oleh lengan kiri sang
pria—Rex—yang merespons di detik terakhir.
Pria itu
terhuyung beberapa langkah akibat dampak benturan, namun wajahnya tidak
menunjukkan keterkejutan, melainkan rasa kesal yang amat sangat.
Ekspresi yang
menunjukkan bahwa ia merasa terganggu karena ditemukan di tempat seperti ini.
"Tsk,
Frixel……!"
"Sialan,
kenapa kau ada di sini……!"
Dino juga
berdecak kesal, mundur dengan cepat sambil melindungi Alfana.
Ah, jadi
kalian benar-benar menunjukkan ekspresi seperti itu──dinginnya kekecewaan yang
mendalam, yang sudah entah keberapa kalinya ia rasakan, membakar pikiran
Frixel.
"Frixel-senpai……!
Kenapa harus di saat seperti ini……!"
Dan terakhir,
Alfana. Si rubah betina yang mendekati Rex dan Dino agar mereka memanjakannya
dengan uang, lalu sebaliknya memperlakukan Frixel dengan dingin dan
mengucilkannya, hingga secara praktis berhasil merebut kendali Flamberge.
Tempat itu adalah
sebuah pesinggahan di daerah terpencil yang entah seberapa jauh dari Kota Suci,
bahkan mungkin sudah mendekati perbatasan negara.
Lokasi transisi
yang menyediakan fasilitas penginapan sederhana bagi petualang yang hendak
menantang dungeon di pelosok, atau bagi ksatria yang ingin beristirahat sejenak
saat patroli, disebut sebagai 'Pesinggahan Perjalanan'.
Ukurannya tidak
cukup besar untuk disebut kota dan tidak terlalu ramai, namun karena daerah ini
merupakan zona padat dungeon, terlihat beberapa petualang di sana-sini, serta
suara pedagang yang menjajakan makanan dan item.
Di tengah suasana itu, seorang wanita
tiba-tiba berteriak dan memukul seorang pria; seketika sekeliling menjadi sunyi
senyap karena orang-orang tertegun melihat apa yang terjadi.
Rex
merendahkan posisinya dan bersiaga, sambil memilih kata-katanya dengan
hati-hati.
"……Frixel,
ini salah paham. Ini sebenarnya,"
"Kata
pertama untuk rekan yang tidak kau temui lebih dari sebulan adalah alasan?
Sepertinya kau memang punya banyak dosa, ya."
Dari
belakang Frixel, suara zirah perak berdentang saat para ksatria tiba, mengepung
Rex dan yang lainnya dengan gerakan teratur tanpa celah. Raut wajah Alfana
menunjukkan kecemasan yang nyata.
"Tunggu,
kenapa sampai ada ksatria yang bergerak!?"
"Tentu
saja mereka bergerak. Apa kalian sadar dengan apa yang sudah kalian
perbuat?"
Tidak,
mustahil mereka tidak sadar. Justru karena sadar itulah mereka melarikan diri,
demi rasa sayang pada diri sendiri, sampai ke pelosok yang isinya hanya dungeon
begini.
Padahal kejadian
itu telah terjadi.
Padahal
pertengkaran konyol kalian telah merenggut masa depan anak-anak yang tidak ada
hubungannya sama sekali.
Hasrat yang tak
tertahankan membuat tubuh Frixel hampir bergerak menyerang──namun di saat itu,
suara Fuji yang seperti biasa tidak serius terdengar dari belakang seolah-olah
menghentikannya.
"Haah,
akhirnya terkejar juga…… ampun deh, kalian lari sampai ke tempat sejauh
ini."
Pada akhirnya,
Frixel tidak tahu apa-apa tentang siapa Fuji sebenarnya hingga hari ini.
Meskipun ia
mencoba menyelidiki selama pengejaran, tetap menjadi misteri jaringan informasi
apa yang ia gunakan untuk melacak Alfana, atau mengapa ia diberi wewenang untuk
memimpin pasukan ksatria.
Satu hal yang
pasti adalah kelompok elit pilihan yang biasanya memandang rendah petualang ini
mematuhi perintah Fuji tanpa menunjukkan wajah kesal sedikit pun.
Fuji
berdiri di samping Frixel sambil menggaruk tengkuknya.
"Nah……
sepertinya Paman tidak perlu menjelaskan satu per satu kenapa kalian berakhir
seperti ini, kan?"
"Ghh……!"
Sebaliknya,
Alfana berteriak dengan wajah agresif yang tak terbayangkan saat awal pertemuan
mereka.
"Kami
sudah bilang kalau kami melakukan investigasi dengan benar, kan!? Kecelakaan Sertifikasi Penaklukan? Aku
sama sekali tidak tahu apa maksudnya!"
"Ah, Paman
sudah dengar itu berkali-kali. ……Tapi kalau begitu, kenapa kalian tiba-tiba
memilih untuk melarikan diri?"
Sudah jelas
jawabannya. Awalnya mereka bersikap kooperatif saat diperiksa karena mengira
bisa berkelit. Lalu mereka tiba-tiba kabur karena menyadari bahwa mereka tidak
bisa lagi berbohong.
"Kalau tidak
salah…… kalian menghilang tepat setelah Gereja mengeluarkan surat pemberitahuan
agar 'hadir dalam persidangan pada waktu yang ditentukan', kan?"
"Kalian
keberatan, kan? Kalau sampai ada persidangan. ……Kalian takut, kan? Jika dibawa
ke hadapan Star Eye Saint. Karena kebohongan kalian pasti akan
terbongkar."
Benar. Dengan
kata lain, kecelakaan kali ini terjadi karena mereka melakukan 'sesuatu' yang
harus disembunyikan mati-matian, sebuah keniscayaan yang terjadi karena memang
seharusnya terjadi──
"──Seberapa
busuk lagi kalian sampai merasa puas, hah!!"
"Ghh……!"
Benar-benar
tidak bisa dipercaya. Terlepas dari Alfana, Rex dan Dino adalah petualang hebat
yang sudah hidup dari kekuatan mereka selama lebih dari sepuluh tahun.
Mereka tentu tahu betapa bahayanya dungeon,
dan mereka pasti paham betapa tidak bertanggung jawab dan bodohnya mengabaikan
tugas dalam Sertifikasi Penaklukan.
Dan yang
paling tidak bisa dimaafkan oleh Frixel adalah dirinya sendiri, yang meski tahu
Rex dan yang lainnya tidak pantas mengemban tugas sertifikasi saat itu, ia
justru membiarkannya, bahkan sempat berharap "sekalian saja mereka gagal
total".
Pada akhirnya,
Frixel pun sama saja, hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ia hanya marah
melihat rekan-rekannya yang jatuh, tanpa memikirkan kemungkinan orang lain yang
tidak bersalah akan terseret, atau masa depan yang tidak bisa diperbaiki lagi.
Gara-gara itu, Silver
Grey harus merasakan ketakutan diserang oleh monster di luar nalar yang
disebut Grim Reaper.
Bahkan Wolka
dikabarkan menderita luka parah hingga hampir mati, serta kehilangan satu mata
dan satu kakinya.
Itu terlalu
menyakitkan.
Padahal anak-anak
itu sama sekali tidak terlibat.
Padahal sebagai party
petualang muda yang sedang naik daun, mereka seharusnya memiliki masa depan
yang jauh lebih cerah.
Frixel
dan rekan-rekannya telah merenggut masa depan itu. Benar-benar, hatinya rasanya
ingin gila karena penyesalan yang mendalam.
Fuji
meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Frixel yang napasnya tidak teratur,
lalu maju selangkah dengan tenang dan berkata.
"Pokoknya,
Paman akan sangat terbantu kalau kalian menyerah dengan patuh. Paman tidak
menyarankan kalian untuk memperparah situasi ini."
……Sejujurnya
Frixel mengira, setelah sampai di titik ini, bahkan orang-orang ini pun akan
menyerah.
Seperti yang
dikatakan Fuji, jika mereka masih melawan meski sudah dikepung ksatria, mereka
akan benar-benar menjadi kriminal.
Apa pun alasan
bodoh mereka melarikan diri, menyerah dengan patuh untuk dibawa pulang jauh
berbeda artinya dengan melawan secara memuakkan sampai ditangkap paksa.
Ia terlalu
meremehkan mereka.
"Re-Rex,
Dino, kalian akan melindungiku, kan……!?"
Suara Alfana yang
manja dan penuh kepura-puraan itu sungguh menjijikkan untuk didengar.
"……Hei, Rex.
Dino."
Frixel merasa
pening. Saking muaknya, tawa aneh justru keluar dari sudut bibirnya. Frixel
merasakan pikirannya yang tadi mendidih kini membeku secara paksa.
"──Itu tidak
lucu, tahu."
Rex memegang
pedang lurus merahnya, sementara Dino memegang pedang besar hitamnya.
……Mereka berdua
melepaskan status Accessorize pada senjata masing-masing. Itu berarti
orang-orang bodoh di depannya ini memilih untuk menambah rasa malu mereka di
situasi genting ini.
Rex tidak
tertawa.
"Aku
serius. Alfana tidak ada hubungannya dengan masalah ini, semua tanggung jawab
ada pada kami."
"Kalau
begitu, kenapa kalian mencoba lari!!"
"Untuk
melarikan Alfana. Selama pemeriksaan Perserikatan, aku menyadarinya…… bahwa aku
tidak bisa melindungi Alfana jika terus begini. Meski dia tidak terlibat, dia
tidak akan luput dari tanggung jawab renteng, dan pasti akan ada orang yang
melontarkan kata-kata kejam padanya. Kami tidak ingin dia terlibat lebih jauh
lagi."
"……,"
Frixel baru bisa
memahami maksud perkataan Rex setelah mendengar pertanyaan Fuji berikutnya.
"……Jadi,
kalian berniat melarikan wanita itu saja ke luar negeri, hah?"
"Ya."
Dino
mengangkat pedang besarnya dan mengangguk.
"Asal
itu bisa dilakukan, kami akan kembali ke Kota Suci dengan patuh, hadir di
persidangan, dan menerima hukuman apa pun yang diberikan. ……Jadi, biarkan
Alfana saja yang pergi."
Melindungi
Alfana, dan menanggung semua dosa demi Alfana──begitulah yang mereka katakan.
Frixel
tidak bisa memahaminya.
Bahkan
jika benar Alfana sama sekali tidak bersalah seperti yang mereka katakan, di
mana letak nilai wanita itu hingga mereka harus melindunginya mati-matian
sampai merencanakan pelarian ke luar negeri? Frixel sama sekali tidak mengerti.
Bahkan
jika ia harus mengalah seratus langkah, memanjakan Alfana dengan uang masih
bisa dimaklumi.
Mungkin
mereka ingin merasa seperti senior, atau terangsang naluri perlindungannya……
atau mungkin, ada perasaan cinta.
Apa pun itu,
setidaknya masih bisa dijelaskan dengan logika.
Tapi ini
benar-benar aneh. Tidak masuk akal.
Apakah
Rex dan Dino masih waras?
Apa yang
telah dilakukan pada mereka?
Apa yang telah
dilakukan Alfana pada mereka berdua?
Ini benar-benar
seperti boneka yang bergerak demi kenyamanan Alfana──.
"……Maaf,
Tuan Fuji. Sepertinya orang-orang ini memang harus dihajar dulu baru bisa
sadar."
"Waduh,
waduh……"
Bagaimanapun,
yang jelas sekarang adalah tidak ada cara lain selain membungkam mereka dengan
kekuatan.
Frixel maju ke
depan, menggenggam tombaknya yang sudah kembali ke bentuk aslinya di tangan
kanan.
Para ksatria juga
menegang sambil memegang pedang mereka satu per satu; suasana mencekam itu
membengkak dalam sekejap.
Para petualang
dan pedagang yang menonton mulai pucat pasi, lalu segera pergi menjauh karena
tidak ingin terseret masalah.
Frixel
tertawa. Sebuah tawa mengejek diri sendiri.
(……Tak
disangka, hari di mana aku harus bertarung dengan rekanku sendiri akhirnya
datang juga.)
Belum
lama ini—meski sudah terlambat untuk mengatakannya—mereka adalah party
biasa yang menempuh jalan yang cukup lancar, tapi kenapa bisa berakhir jadi
begini?
Namun, ia
segera membuang sentimen yang tidak perlu.
Tergantung
cara berpikirnya, ini jauh lebih baik daripada mereka melarikan diri dengan
cara yang pengecut dan memuakkan.
Ia akan menghajar
mereka di sini. Lalu ia akan mencengkeram kerah baju mereka dan menyeret mereka
kembali ke Kota Suci, membawa mereka ke persidangan, agar mereka diadili
bersama dengan Frixel──jika tidak, ia tidak akan punya muka untuk bertemu
anak-anak itu.
(Aku harus
minta maaf. Aku harus bertemu dan meminta maaf dengan benar──)
Selesai sudah
anggapannya terhadap mereka sebagai rekan. Frixel merendahkan pinggulnya dalam
posisi kuda-kuda, dan bersamaan dengan helaan napas yang tenang, ia
mengaktifkan Strength Enhancement──
"──Haah.
Akhirnya, semuanya terjadi persis seperti dugaan Tuan Putri."
Apakah karena
semua orang sudah dalam posisi siap tempur?
Helaan napas Fuji
yang terdengar lesu itu terdengar sangat jelas hingga cukup untuk menghentikan
sesaat pikiran tajam semua orang.
"Mundur
saja. Biar Paman yang urus."
"Eh──"
Fuji
memegang bahu Frixel, menyuruhnya mundur sementara ia sendiri maju ke depan.
Frixel
bingung. Tentu saja, ia sadar bahwa Fuji sebenarnya adalah orang yang punya
kemampuan. Namun, Rex dan Dino pun adalah petualang peringkat A.
Rex
adalah seorang all-rounder yang ahli dalam pedang maupun sihir tanpa
celah dalam jarak dekat maupun jauh, dan Dino adalah orang bodoh yang hanya
mengandalkan kekuatan fisik; di depan tebasan pedang besarnya, monster pun akan
terbang seperti secarik kertas.
Ini
berbeda dengan menaklukkan preman sombong. Namun,
"Kalian
juga, mundurlah."
"Siap!"
Fuji yang
memerintah para ksatria itu memiliki nada suara yang sangat tegas dan
berwibawa, tak terbayangkan dari penampilannya yang biasanya tak bersemangat.
"Heh, jadi
si Paman ini mau maju sendirian, ya?"
Namun saat Dino
mengarahkan ujung pedang besarnya, Fuji sudah kembali ke penampilannya yang
lesu seperti biasa.
"Tidak,
tidak. Paman malas kalau harus melakukan kerja berat seperti itu. Paman sudah
tidak muda lagi, tahu."
Sambil mengangkat
bahu secara berlebihan, yang ia keluarkan bukanlah senjata atau apa
pun──melainkan liontin misterius berbentuk salib Gereja Suci Christcrest.
Ia menyodorkannya
ke arah Rex seolah ingin memamerkannya. Alfana tertawa mengejek dari belakang mereka
berdua,
"Apa?
Jangan-jangan kau mau bilang kalau Dewa sedang melihat, jadi kami harus
bersikap manis?"
"Haha.
Yah, kalau soal itu, benar juga──"
Gelombang
mana kecil terpancar dari Fuji. Karena itulah Frixel akhirnya menyadari.
Bukan──itu
bukan sekadar liontin biasa.
Itu
adalah Magic Tool.
"──Ini
hanyalah sedikit wahyu dari Dewa."
Apa yang
terjadi pada saat itu, Frixel tidak pernah memahaminya dengan jelas sampai
akhir.
Rasanya
ia melihat liontin itu bercahaya biru keputihan, namun karena di bawah sinar
matahari siang hari meski langit mendung, ia tidak yakin.
Satu hal
yang pasti adalah Magic Tool milik Fuji telah aktif dalam bentuk
tertentu──
Hal yang
tak terpercaya terjadi.
"──Aku,
mengerti. Kami akan kembali ke Kota Suci……"
"Ya, benar……
mari kita segera kembali……"
"……!?"
Rex dan Dino
menurunkan senjata mereka begitu saja atas kemauan sendiri.
Keduanya yang
telah melepaskan kuda-kuda menoleh ke arah Alfana dengan tatapan agak kosong.
"Alfana juga
tidak keberatan, kan?"
"Tidak ada
pilihan lain. Karena
memang itu yang harus dilakukan."
Alfana
memegang dahinya dengan satu tangan, terhuyung sekali seolah pikirannya sedang
diselimuti kabut. Sambil menggelengkan kepala dengan gerakan lamban, ia
berkata,
"Ya……
benar, ya. Kita memang harus
kembali ke Kota Suci. Kenapa ya tadi kita melakukan hal semacam ini……"
──Tunggu dulu,
apa-apaan ini?
Logikanya tidak
bisa mengikuti. Padahal baru sesaat yang lalu mereka mencoba melawan tanpa
mempedulikan apa pun, tapi kenapa tiba-tiba mereka bicara seperti itu?
Mustahil mereka
sedang pura-pura menyerah untuk membuat lawan lengah.
Perkembangannya
terlalu mendadak, hingga Frixel hanya bisa berdiri mematung tanpa tahu harus
melakukan apa dengan tombak di tangan kanannya.
Alfana menoleh ke
arah sini. Fokus mata mereka bertiga perlahan mulai stabil, dan ekspresi mereka
pun menjadi jernih.
Seolah-olah kabut
di dalam kepala mereka telah menghilang──atau seolah-olah ada sesuatu yang
meresap ke dalam kepala mereka.
"Ya, sudah
tidak apa-apa. Maafkan kami Frixel-senpai, sudah merepotkanmu."
"Hah? Ah,
ya, asal kalian sadar sih tidak apa-apa……?"
Tidak, ini sama
sekali tidak "tidak apa-apa".
Hasilnya memang
patut disambut, tapi ia tidak bisa menerimanya sama sekali. Sesuatu yang tidak
diketahui Frixel sedang terjadi.
Apa yang
sebenarnya terjadi sehingga tanpa alasan apa pun, mereka tiba-tiba berubah
pikiran untuk berhenti melawan dan menyerah dengan sukarela──.
……Tidak, bukankah
tadi ada pemicunya? Liontin yang digunakan Fuji.
Salah satu
ksatria bergumam dengan nada yang bergetar karena haru.
"Ooh……
inilah kekuatan Tuan Alkasiel……"
──Alkasiel?
Bicara soal Alkasiel,
dia adalah Misfortune Saint (Saintess Kemalangan) yang menghabiskan
hampir seluruh hidupnya di kedalaman tempat suci, dan konon sangat jarang turun
ke dunia bawah──.
"……Aduh,
kekuatannya masih saja mengerikan seperti biasa."
Fuji melemparkan
liontin itu ke atas lalu menangkapnya kembali.
"Oke. Kalau
begitu, sisanya kuserahkan pada kalian."
"Siap!"
Mengikuti
perintah Fuji, para ksatria mengepung dan membawa pergi mereka bertiga.
Itu adalah
pemandangan penangkapan buronan yang sangat janggal.
Ksatria bahkan
tidak mengikat mereka bertiga, dan ketiganya pun bersikap sangat kooperatif
tanpa membantah sepatah kata pun.
Para penonton
yang melihat dari jauh pasti sedang kebingungan, bertanya-tanya keributan tadi
sebenarnya untuk apa.
Frixel pun hanya
bisa bertanya kepada Fuji dengan tatapan kosong.
"Tuan Fuji……
Anda ini sebenarnya, siapa──"
"Ah, Paman
tidak melakukan hal aneh, kok. Sudah Paman katakan, kan? Ini hanyalah sedikit
wahyu dari Dewa."
Fuji menunjukkan
senyum misterius yang tak terduga, lalu bergumam sambil menatap liontin di
tangannya.
"──Karena
apa yang dikatakan Dewa, harus ditaati dengan baik, kan?"



Post a Comment