NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Chapter 4

Chapter 4

Penghakiman


"Uuuh. Uuughhh~~. Dengar Luellie, Kakak ingin mengulang hari kemarin. Aku ingin kembali ke masa saat Wolka-san belum tahu rahasiaku. Mengingatnya saja membuatku malu sekali……"

"Lagipula nanti juga bakal ketahuan, jadi lebih baik ketahuan dari awal saja."

"Kejam sekali!!"

Pagi hari setelah kunjungan anggota Silver Gray ke tempat Sieri.

Mengenai blunder fatal di mana ia langsung ketahuan sebagai gadis rakus pada pandangan pertama, Luellie masih harus meladeni keluh kesah kakaknya yang merengek tidak keruan.

Sambil memandangi pemandangan sarapan kakaknya yang porsinya sama sekali tidak mencerminkan seorang gadis anggun.

"Makan sebanyak ini sejak pagi…… haah, syukurlah Kakak sepertinya sudah benar-benar sehat."

"Ehehe. Habisnya, masakan Katedral enak sekali, sih!"

"Aku jadi teringat masa-masa saat dana pesta kita ludes gara-gara biaya makan Kakak……"

"K-kurasa tidak sampai ludes juga, kok!"

Di depan mata Luellie, ekspresi Sieri berubah-ubah dengan cepat setiap kali ia berbicara. Baru saja terlihat murung, ia tertawa, lalu marah, dan sedetik kemudian—

"Uuuh, setidaknya aku ingin citra pertamaku adalah sosok yang cantik dan anggun~~"

Ia kembali terpuruk dengan cara yang menyedihkan.

Meski begitu, apa pun ekspresinya, tangannya tetap lincah menyuapkan sarapan ke mulut tanpa henti.

Cara makannya benar-benar sanggup membuat siapa pun yang melihatnya ikut merasa kenyang.

Sosok ini benar-benar kakak yang dikenal Luellie.

Karena itulah ia berpikir—bagaimana mungkin kakaknya tidak gemuk sama sekali padahal makan sebanyak itu setiap saat?

Malah, kenapa hanya bagian tubuh tertentu yang terus tumbuh dengan subur?

Kenapa Kakak begitu "berlimpah" sedangkan aku begitu "kekurangan"?

Nutrisi yang sia-sia itu harusnya dibagikan sedikit ke otaknya—Luellie meneriakkan keluh kesah atas ketimpangan sosial itu di dalam hatinya.

"Ini sedikit mengejutkan."

"? Apanya—?"

"Kupikir Kakak tidak peduli dengan pandangan laki-laki terhadapmu."

Kenyataannya, memang begitu saat mereka masih aktif sebagai petualang.

Sieri sering kali terlalu ceroboh dan kurang waspada, sampai-sampai Luellie harus membentuk "komunitas perlindungan" rahasia bersama Keine dan Lloyd.

Sieri memiringkan kepalanya dengan polos.

"Benarkah? Wolka-san kan penyelamat kita, Kakak juga pasti peduli lah~"

"Hmm……"

Yah, memang benar. Luellie pun tidak ingin rahasia memalukannya diketahui oleh Wolka, apalagi sampai membuatnya ilfil.

Jika dipikir begitu, rengekan kakaknya ini mungkin hal yang normal?

"……Walah, sudah jam segini. Kalau begitu Kakak, aku pergi dulu. Jangan minta tambah, makan sampai enam puluh persen kenyang saja, ya."

"Iyaaa. Shamaat jaayan."

Dilepas oleh kakaknya yang mulutnya penuh dengan roti, Luellie berangkat meninggalkan area perawatan medis menuju area luar.

Urusannya tentu saja untuk menjalani Program Rehabilitasi hari ini.

Pihak Gereja telah memberikan keringanan maksimal berupa status pengawasan kepada Luellie yang sempat terlibat kejahatan sebagai alat para Ruffian.

Demi membalas belas kasih itu, dan demi mendapatkan izin tinggal di Kota Suci, Luellie harus bekerja keras dengan semangat pengabdian yang tulus.

Di bawah bimbingan suster tua yang bertindak sebagai petugas pengawas, Luellie menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan pelayanan di Katedral. Hingga akhirnya, saat matahari sudah mulai meninggi.

"……?"

Di tengah kegiatannya mencabuti rumput liar di taman tengah yang luas, Luellie mengangkat wajahnya karena merasakan kehadiran banyak orang.

Mungkin sekitar dua puluh orang. Sekelompok ksatria berbaju zirah perak berbaris dalam dua banjar yang sangat rapi, berbaris menuju suatu tempat.

Jika hanya itu, maka itu hanyalah parade ksatria biasa, namun Luellie menyadari ada sosok-sosok yang jelas bukan ksatria tampak bersembunyi di sela-sela barisan zirah yang teratur itu.

Karena penasaran, ia menyipitkan mata. Ada dua pria dan dua wanita. Semuanya tampak berusia sekitar pertengahan dua puluh tahun.

Wajah para ksatria terlihat sangat serius, seolah-olah mereka sedang menggiring para pria dan wanita tersebut.

"Itu……"

Saat ia bertanya pada suster tua, suster itu menaikkan kacamatanya yang berbentuk tajam dan menjawab.

"Mereka sedang menggiring terdakwa untuk penghakiman yang akan segera dilaksanakan."

"Penghakiman……"

"Kecelakaan di Dungeon Gouzel yang melibatkan anak-anak Silver Gray. Itu adalah party yang bertanggung jawab atas sertifikasi penaklukan dungeon tersebut."

Luellie tersentak, lalu kembali menatap barisan ksatria itu. ——Jadi, itu mereka. Orang-orang yang terlihat di sela-sela zirah ksatria itu.

(Gara-gara orang-orang itu, Wolka-san jadi—)

Luellie, yang dulunya adalah seorang petualang, tahu garis besar sistem sertifikasi penaklukan dungeon. Itu adalah tugas penting untuk memastikan bahwa bos monster telah dikalahkan dan kemunculan monster telah berhenti.

Karena kesalahan investigasi mereka, Wolka diserang oleh bos monster kuat yang tiba-tiba muncul.

"……"

Namun, meski tahu hal itu, perasaan Luellie terasa rumit.

Jika party itu menjalankan tugasnya dengan benar, kecelakaan tidak akan terjadi dan Wolka tidak perlu menderita luka parah.

Dan jika Wolka tidak terluka, Silver Gray pasti sudah meninggalkan kota Luther sejak lama, dan masa depan di mana ia bertemu Luellie tidak akan pernah ada.

Dengan kata lain, keberuntungan ia dan kakaknya bisa diselamatkan, serta pertemuan dengan penyelamat berharga yang tak ingin ia tinggalkan ini, semuanya terjadi karena party itu menyebabkan kecelakaan—

(—Aku jahat sekali. Kenapa berpikir seperti ini.)

Luellie menggelengkan kepala di dalam hati. Ia merasa ini adalah hal yang tidak boleh dipikirkan lebih jauh lagi.

"……Lalu, apakah orang-orang itu akan diadili karena telah berbuat jahat?"

"Tidak, mereka diadili untuk memastikan hal itu."

Suster tua menatap Luellie dengan pandangan yang tajam dan cerdas.

"Hanya karena terjadi kecelakaan dalam sertifikasi penaklukan, tidak berarti semuanya menjadi tanggung jawab tim investigasi. Bergantung pada struktur dan situasi dungeon, investigasi terkadang tidak bisa dilakukan secara sempurna. Yang terpenting adalah apakah ada kelalaian atau pengabaian kewajiban."

"Anu……"

"Meskipun bukan salahmu, jika terjadi sesuatu kamu harus memikul seluruh tanggung jawab—tidak akan ada orang yang mau melakukan pekerjaan dengan syarat sekejam itu, bukan?"

Luellie akhirnya mengerti. Karena itulah mereka dibawa ke tempat penghakiman, untuk memastikan apakah kecelakaan itu salah mereka atau merupakan bencana yang tidak terelakkan.

Di depan mata Luellie, barisan ksatria tiba-tiba berhenti. Itu adalah tempat yang gersang, tanpa bangunan maupun pepohonan, kecuali tembok luar yang mengelilingi area Katedral.

Jika diperhatikan baik-baik, di salah satu bagian tembok tertanam sebuah pintu besi besar dan berat yang seolah menolak kedatangan orang asing.

"Itu adalah pintu masuk menuju ruang pengadilan bawah tanah."

"Di tempat seperti itu……?"

"Tentu saja, pintu masuk resminya ada di tempat lain. Sudah aturannya terdakwa atau kriminal yang akan diadili harus menggunakan pintu itu."

Seorang ksatria membuka pintu tersebut, menimbulkan suara karat yang berdencing keras.

"Sebagian besar penghakiman di Kota Suci dilakukan oleh Nona Yulirias, Star Eye Saint. ——Mata suci Dewa yang mampu menembus segala dosa dan kebohongan."

Suster tua mengatakannya seolah sedang merapalkan ayat suci kuno yang tertulis di alkitab.

"Di antara para penjahat yang digiring ke penghakiman, jarang sekali ada yang mencoba melarikan diri karena gemetar ketakutan akan kekuatan beliau. Atau ada juga bajingan yang menjadi putus asa setelah seluruh dosanya terungkap, lalu mencoba mencelakai orang awam yang tidak bersalah……"

"……"

Kenapa pintu masuk untuk penjahat berada di tempat yang sepi dan terpencil—dan kenapa dibedakan dengan pintu masuk resmi, Luellie kini bisa membayangkannya.

Barisan itu menghilang ke bawah tanah. Di saat yang sama, suster tua menepukkan telapak tangannya.

"Ayo, jangan melamun, kita lanjutkan. Waktu itu terbatas."

"Baik!"

Bagaimanapun juga, tidak ada gunanya Luellie memikirkan hal ini lebih jauh. Ia kembali melanjutkan pekerjaan pelayanannya.

Hal terpenting baginya bukanlah soal penghakiman itu, melainkan menyelesaikan Program Rehabilitasi ini dengan nilai sempurna dan mendapatkan izin untuk tinggal di Kota Suci.

Sebab, itu berarti ia akan bisa tinggal di dekat Wolka dan yang lainnya.

◆◇◆

Waktu luang akhirnya tiba.

Sudah empat hari berlalu sejak kami kembali ke Kota Suci.

Kami sudah menerima hadiah dari sang Saintess di Katedral, menyelesaikan kesalahpahaman dengan Shannon, melihat Sieri dan Luellie yang sudah sehat, serta menyapa hampir semua kenalan.

Begitu urusan-urusan mendesak selesai, aku baru sadar kalau sekarang aku benar-benar tidak punya pekerjaan.

Biasanya, pilihanku dalam situasi seperti ini adalah fokus melatih pedang atau mencari uang biaya hidup dengan mengambil misi perburuan monster.

Namun, dengan tubuh seperti ini, hal itu sulit dilakukan. Rencana upgrade kaki palsu pun masih dalam proses; Anze sedang mencari pengrajin yang cocok, dan mungkin butuh beberapa hari lagi sampai ada kemajuan.

Jadi, apa yang harus kulakukan mulai hari ini?

"Teman-teman, apa ada yang ingin kalian lakukan hari ini?"

Kami sedang berada di kamarku di lantai dua penginapan Le Bouquet.

Waktu menunjukkan pagi hari setelah rutinitas harian selesai dan matahari sudah naik cukup tinggi.

Begitu aku melempar topik "rencana ke depan", Master yang sedang berbaring di kasurku sambil mengayunkan kakinya menjawab:

"Aku sih, asal bersama Wolka, apa saja boleh!"

Ini adalah jawaban yang paling sulit diputuskan dalam hubungan antarmanusia. "Apa saja boleh"—ini adalah salah satu kata jebakan yang berbahaya jika diterima mentah-mentah.

Meski dibilang begitu, aku tetap harus memikirkan keinginan pihak lain.

Jika aku salah mengartikan antara "kebebasan" dan "bersikap semau gue", yang kudapat hanyalah tatapan dingin sambil berkata, "Memang aku bilang terserah, tapi ya nggak begini juga..."

Saat aku sedang berpikir keras, Yuritia yang berada di sampingku memberikan bantuan.

"Kalau begitu, bagaimana kalau hari ini kalian berdua beristirahat saja dengan santai? Mumpung sudah kembali ke Kota Suci."

Begitu ya, kalau tidak ada rencana, lebih baik santai saja.

Kalau dipikir-pikir, memang sudah cukup lama aku tidak merasakan hari di mana aku benar-benar tidak melakukan apa pun.

Terakhir kali mungkin saat aku masih di kota Luther dan kaki palsuku belum sampai.

"Bagaimana dengan Yuritia dan Atri?"

"Kami…… sebenarnya ada hal yang ingin dilakukan."

"Nn."

Atri yang duduk di pinggir kasur sambil memainkan bantal kuberada dalam pelukannya menyahut.

"Latihan. Kita sudah janji mau latihan bareng kalau ada waktu luang."

"Selain latihan rutin pagi hari, aku ingin berlatih lebih maksimal di tempat yang luas di Distrik Houjou……"

Distrik Houjou adalah area pertanian yang subur dengan banyak lapangan luas.

Pihak Katedral, yang tidak ingin para petualang sembarangan mengayunkan senjata di tengah kota, membuka sebagian area di sana sebagai tempat latihan.

Meski belakangan ini aku sudah mulai latihan rutin lagi, porsinya hampir seluruhnya disesuaikan dengan kondisiku yang memakai kaki palsu. Bagi Yuritia dan yang lain, itu pasti terasa sangat kurang.

"──Karena aku harus menjadi lebih kuat lagi."

……Apa perasaanku saja, ya?

Entah kenapa tatapan mata Yuritia terasa punya "bobot" yang sangat berat.

J-jangan terlalu memaksakan diri sampai menyiksa diri sendiri, lho.

Di dunia ini, laki-laki mungkin sudah biasa terluka, tapi perempuan harus benar-benar menjaga tubuhnya.

Selagi aku berpikir begitu, Yuritia sudah kembali ke sikapnya yang biasa.

"Jadi jangan cemaskan kami, bersantailah dan istirahat ya!"

"Ah, ya……"

Tapi tetap saja, latihan di Distrik Houjou, ya…… irinya.

Aku pun sama, tidak mungkin merasa puas hanya dengan menggerakkan tubuh sedikit. Monster kematian Grim Reaper dan sihir roh tingkat tinggi Gluttonia.

Setelah mengalahkan dua musuh kuat itu, aku berhasil mencapai tingkatan baru dalam teknik mencabut pedang—yaitu mengubah "masa depan yang ditebas" di dalam kepala menjadi kenyataan.

Rasanya sangat gemas karena aku sudah menyentuh sensasi itu tapi tidak bisa mempraktikkannya gara-gara kaki palsu ini.

Makin dipikir, makin gatal rasanya ingin bergerak. A-apa tidak boleh dicoba sedikit saja?

……Tidak, kalau aku tidak sengaja merusak kaki palsu ini lagi, Master dan yang lain pasti akan sangat cemas.

Aku harus bersabar sampai kaki palsuku di-upgrade.

Aku tidak boleh mengulangi masa-masa di mana aku harus terus merepotkan orang lain untuk mendorong kursi roda, atau digendong saat ada tangga di depan mata.

Aku tidak mau hidup dalam perawatan terus-menerus.

"Kalau begitu Master, hari ini kita jalan-jalan santai sambil cari camilan saja, yuk."

"……U-um. Begitu ya……"

Namun, berbeda dari dugaanku, jawaban Master terdengar agak ragu.

"Ada apa?"

"T-tidak ada apa-apa! Bukan apa-apa kok!"

Saat aku menatapnya dengan heran, Master langsung bangkit dan buru-buru turun dari kasur.

"Kalau begitu kami siap-siap dulu ya……"

"? Ah, oke……"

Dia langsung membawa Yuritia dan Atri kembali ke kamar mereka di lantai tiga.

……Perasaanku saja kah? Tadi sedetik saja, mereka bertiga tampak memasang ekspresi yang terlihat sesak dan menderita──.

"……Yah, lebih baik aku juga siap-siap."

Tidak ada gunanya dipikirkan terus. Jika saat berangkat nanti mereka masih aneh, aku akan bertanya lagi.

Untuk sekarang, aku harus bersiap-siap dan merapikan kamar. Bisa saja tadi itu memang benar-benar hanya perasaanku.

Saat aku berdiri, aku baru sadar.

"Eh, Master, topinya ketinggalan. Sisir ini juga punya Master…Ah, bahkan benda ini juga sudah ada di sini sejak kapan?"

Mulai dari bantal yang diletakkan di kasurku seolah itu tempat aslinya, aku baru sadar kalau barang-barang pribadi milik Master mulai meluaskan kekuasaannya di kamarku.

Jika terus begini, masa depan di mana kami hidup bersama di kamar ini sepertinya tidak akan lama lagi.

Memang Master pasti jauh lebih tua dariku, tapi mengingat penampilannya yang terlihat seperti gadis mungil, bersikap terlalu tanpa waspada begini itu rasanya agak gimana gitu──kalau aku yang dulu mungkin akan merasa heran.

Namun bagi diriku yang sekarang, ini justru terasa menyedihkan karena aku melihatnya sebagai wujud rasa bersalah dan penyesalan Master.

Master selalu datang ke kamarku karena saking cemasnya, dia tidak bisa menjauh dariku meski dia ingin.

"……"

Semoga saja upgrade kaki palsuku bisa memberikan sedikit ketenangan bagi Master.

Setidaknya, hari ini aku harus membuat Master bisa bersenang-senang sepuas hati.

Sambil merapikan barang-barang Master di satu tempat, aku berdoa semoga pencarian pengrajin oleh Anze bisa berjalan lancar secepat mungkin.

 

──Sementara itu, di lantai tiga penginapan, Lizel dan yang lainnya……

"Senpai…… sebenarnya dia pasti ingin lebih sering mengayunkan pedangnya lagi, kan."

"……Eum. Tentu saja. Hal yang biasanya bisa dilakukan, tiba-tiba jadi tidak bisa."

"Begitu…… ya. Bagi Wolka, hanya hal itu yang……"

Perubahan ekspresi Wolka yang hanya sekilas dan samar tadi. Lizel, Yuritia, dan Atri bisa merasakan perasaan yang tak terucapkan di balik itu, dan membuat hati mereka semua menjadi sangat "berat".

──Sebenarnya aku ingin berlatih lebih banyak, tapi tidak bisa. Karena kaki palsu yang sekarang tidak bisa menahan beban teknik mencabut pedang, aku tidak punya pilihan selain menyerah.

Mereka merasa itulah perasaan menyesal yang disembunyikan Wolka di dasar hatinya. Karena itu, Lizel berkata sambil menahan tangis:

"Karena kitalah yang telah merampasnya dari Wolka……!"

Wolka, yang memanggil nama Lizel dan kawan-kawan sambil memohon agar mereka harus bahagia.

Karena itulah Lizel berpikir mereka tidak boleh terus-menerus menyesal, namun berkali-kali pula mereka disadarkan akan beratnya dosa yang telah mereka perbuat.

Seseorang seolah berbisik; Wolka menginginkan kebahagiaanmu, tapi bukankah Wolka menderita sekarang karena salahmu?

Di antara akal sehat yang terkikis dan emosi yang tak terbendung, hati Lizel dan kawan-kawan terus terkoyak.

Perasaan yang semakin besar dari hari ke hari ini sudah sulit untuk dibendung, seolah-olah akan meluap dan mengamuk keluar dari tubuh mereka.

Ingin terus bersama Wolka. Ingin melindungi Wolka. Ingin hidup demi Wolka. Dunia tanpa Wolka tidaklah dibutuhkan.

Karena itu, tidak boleh terulang lagi. Harapannya, hari-hari yang akan dilalui bersama Wolka nanti akan selalu damai, dan tidak akan ada lagi hal yang membuatnya menderita.

Tapi mereka tidak bisa optimis, tidak mungkin bisa──melihat Wolka yang sekarat tanpa bisa melakukan apa pun, keputusasaan seperti neraka itu tidak boleh terulang lagi, apa pun taruhannya.

"Lizel-san…… hari ini, tolong jaga Senpai ya."

"Aku, kali ini pasti akan menjadi cukup kuat untuk melindungi Wolka."

"Eum. ──Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah melepaskannya."

Begitulah mereka mencoba menahan diri sekuat tenaga.

Dan justru karena mereka menahannya, perasaan gila itu membakar batin mereka hingga ke akar-akar kesadaran mereka──.

Wolka, yang sedang merapikan barang-barang Lizel di kamarnya, sama sekali tidak pernah membayangkan hal itu bahkan dalam mimpi sekalipun.

 

"Kalau begitu Senpai, Lizel-san, kami berangkat ya!"

"Bersenang-senanglah untuk kami juga ya."

"Ya. Hati-hati di jalan."

Setelah melepas Yuritia dan Atri yang berangkat menuju Distrik Houjou, aku dan Master pun pergi menuju Distrik Seiteigai.

Sekarang aku sudah terbiasa dengan kaki palsu yang tidak stabil ini, dan selama jalannya tidak terlalu rusak, aku bisa berjalan tanpa tongkat.

Meski begitu, Master tetap saja langsung menggandeng tanganku begitu kami keluar, sama seperti biasanya.

Di sekitar sini banyak orang yang tahu hubungan kami, jadi tatapan hangat dan penuh senyum yang menggelitik punggung kami terasa jauh lebih banyak daripada di kota Luther.

"Wolka, apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi? Aku akan berjuang keras supaya Wolka bisa bersenang-senang……!"

Sambil menarik tanganku, Master tampak terbakar oleh rasa tanggung jawab yang imut.

……Sepertinya dia sudah kembali menjadi Master yang biasa. Berarti ekspresi menderitanya tadi benar-benar hanya perasaanku saja. Syukurlah kalau begitu.

Lalu, soal tujuan hari ini. Sebenarnya, aku pun sama; ke mana pun asal Master bisa senang, aku tidak masalah.

Hanya dengan menghabiskan keseharian biasa seperti ini bersama Master, aku berkali-kali merasa senang karena benar-benar bisa menghindari Bad Ending pemusnahan massal yang brengsek di karya aslinya.

Selama Master terlihat senang, aku tidak peduli apakah kami akan makan jajanan di kaki lima, makan di restoran berkelas, mencari buku sihir langka di toko barang antik yang hampir roboh, atau tercengang melihat harga perlengkapan terbaru di toko senjata di Distrik Shoukou.

Namun, menjawab "Aku juga terserah" kepada Master yang sudah bilang terserah itu bukan sebuah jawaban, dan aku bisa dianggap sebagai pria membosankan yang tidak punya isi kepala. Hmm, kalau begitu……

"Masih terlalu pagi untuk makan jajanan, bagaimana kalau kita ke arah Katedral menyusuri kanal? Di sekitar sana ada banyak toko."

"Eum!"

Cara terbaik untuk menyenangkan Master adalah mengadakan tur keliling jajanan manis, tapi karena baru keluar penginapan, ini bahkan belum masuk waktu makan siang.

Mungkin pertama-tama kami bisa bermain game di toko sekitar, atau pergi agak jauh ke Distrik Shoukou untuk belanja, atau memancing yang cukup populer di Kota Suci.

Sebagai catatan, game di dunia ini tentu bukan digital seperti di kehidupanku yang dulu, melainkan permainan analog menggunakan kartu atau papan, serta kompetisi olahraga unik yang digabungkan dengan sihir──

"──Uwooooooooy, Wolka-kuuuuuun!"

Selagi berpikir begitu sambil berjalan di sepanjang kanal, tiba-tiba terdengar suara aneh seorang wanita entah dari mana.

Suara yang sangat familiar. Sepertinya berasal dari arah kanal.

"Wolka-kuun! Lizel-nyaaa! Wooy!"

Saat aku menoleh, kulihat seorang gadis di atas perahu kecil yang melintasi kanal sedang melambaikan tangan sekuat tenaga ke arah sini.

Dia adalah Shannon, gadis lincah dari Perserikatan Petualang yang seperti anak anjing.

Entah dia baru mau pergi bertugas atau baru selesai bertugas, gadis berseragam staf perserikatan itu terlihat sangat bersemangat hari ini.

"Ah, dia sadar! Wolka-kuun! Lizel-nyaaa!"

"N-nona, berbahaya kalau berdiri begitu."

Paman tukang perahu tampak kerepotan karena Shannon terus melompat-lompat tanpa peduli perahunya goyang.

Namun Shannon tidak ada tanda-tanda mau tenang, malah setelah kami menyadarinya, dia makin semangat.

"Paman, hentikan perahunya sekarang!! Itu teman-temanku!!"

"Hah? T-tapi Nona, tidak ada dermaga di sekitar sini──"

"Pinggirkan saja ke pinggir jalan!! Kalau tidak bisa berhenti, mepet saja tidak apa-apa, aku bakal loncat!!"

"E-eh, jangan……"

Perahu adalah transportasi paling utama di Kota Suci, jadi tentu saja ada aturan lalu lintas air yang ketat.

Dengan arah perahu Shannon sekarang, menepi di sisi jalan ini selain di dermaga adalah pelanggaran aturan.

Shannon mungkin tidak masalah, tapi si paman tukang perahu bisa kena masalah hukum.

"Pokoknya, saya bakal berhenti di tempat terdekat di depan sana ya……"

"Aaa Wolka-kun! Wolka-kun pergi! Wolka-kuuuuuuuun!"

"……"

Suara Shannon yang terdengar seperti anak anjing yang dibuang itu perlahan menjauh terbawa arus. Boleh aku pura-pura tidak kenal saja tidak?

Master pun menghela napas heran.

"Benar-benar…… Shannon harusnya belajar sedikit soal sikap anggun orang dewasa."

Kata-kata itu──"padahal Master sendiri sering bersikap seperti anak kecil"──kutelan bulat-bulat demi menjaga harga diri Master.

Setelah menunggu sekitar lima menit diterpa angin sepoi-sepoi, akhirnya Shannon yang baru saja lepas dari "penjara" perahu kecil itu berlari kencang menyeberangi jembatan seperti anak anjing yang mengibas-ngibaskan ekornya.

Sejak berbaikan dengan Master, Shannon benar-benar kembali ke sosoknya yang penuh energi.

"Wolka-kun! Lizel-nyaaa!"

"Haa, Shannon masih saja bersemangat seperti biasanya ya."

Master berdiri di depanku sambil berlagak tenang.

"Heh Shannon, tenang! Tenang dan dengarkan aku! Hari ini adalah hari libur berdua saja antara aku dan Wolka. Biarpun itu kamu, aku tidak akan membiarkanmu menggang──"

"Lizel, aku belikan camilan manis, mau?"

"……Te-terpaksa ya. Karena kamu maksa, boleh deh sedikit saja."

Master……

Tadi siapa ya yang dengan sombongnya bicara soal sikap anggun orang dewasa?

Bagaimanapun juga, karena Shannon membelikan camilan di dekat situ, kami pun duduk di bangku pinggir kanal sambil mengobrol santai.

"Apa tidak apa-apa bicara di sini? Bukannya kamu sedang kerja?"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ini juga bagian dari pekerjaan kok."

Bagian mananya? Memang mengetahui kabar terbaru dari party petualang bisa dibilang berhubungan dengan pekerjaan, tapi itu sih cuma alasan saja.

"Nanti kamu tidak ada bedanya dengan Paman Fuji, lho."

"Ugh. Si Paman hari ini sedang serius mengerjakan tugasnya, jadi kata-katamu agak menusuk ya……"

Hee? Aku menaikkan alis.

"Jarang sekali Paman Fuji bekerja dengan serius."

"……Eh? Wolka-kun, jangan-jangan kamu belum tahu?"

Shannon menunjuk ke arah timur menyusuri kanal, ke arah menara putih megah milik Katedral──Menara Alnus.

"Kalian ingat Flamberge (Cakar Api Naga)? Hari ini sedang ada penghakiman untuk mereka di Katedral. Paman Fuji dipanggil sebagai salah satu saksi untuk memberikan kesaksian…… begitu ceritanya."

"Wolka…… bukankah Anze sudah bilang."

Master menatapku dengan mata setengah tertutup tanda heran, sementara remah biskuit menempel di pipinya. E-eh, kalau dipikir-pikir benar juga.

Setelah upacara penganugerahan kemarin lusa, saat berkumpul kembali dengan yang lain, mungkin Anze memang ada bilang begitu.

"Lihat Lizel, ada yang nempel di pipimu tuh."

"Uaa."

Biar aku beri alasan, kejadian di Dungeon Gouzel bagiku sudah selesai.

Mengingat yang menunggu di lantai terdalam adalah monster seperti Grim Reaper, itu adalah kejadian sial di mana seseorang pasti harus menanggung akibatnya.

Malah, bagiku sekarang adalah hasil terbaik karena aku bisa mematahkan Bad Ending asli dan melindungi semua orang.

Jadi aku tidak ingin terus membahas hal-hal negatif seperti mencari siapa yang salah atau saling lempar tanggung jawab.

Mari kembali ke pembicaraan.

"Saksi apa? Apa hubungannya dengan Paman?"

"……Begitu ya. Aku belum sempat menceritakannya dengan benar pada Wolka-kun ya."

Shannon, yang baru saja membersihkan sisa makanan di sekitar mulut Master dengan sapu tangan, tiba-tiba membuat rambut ikalnya yang biasanya bereaksi sesuai emosinya jadi lunglai.

"Setelah kecelakaan Gouzel terjadi…… apa kalian dengar kalau anggota Flamberge melarikan diri di tengah interogasi?"

"Ya, aku dengar sedikit."

Aku ingat cerita dari Diia. Karena mereka melarikan diri, orang-orang jadi curiga kalau mereka menyembunyikan sesuatu, dan itulah kenapa hari ini mereka diseret ke pengadilan.

Shannon mengangguk pelan.

"Paman-lah yang mencari dan membawa mereka kembali. Mereka sudah sampai di dekat perbatasan negara, dan Paman mengeluh kalau itu benar-benar melelahkan."

"Hee……"

Hebat juga Paman, itu prestasi yang cukup besar.

Di dunia fantasi seperti ini yang tidak punya teknologi digital, mencari dan menangkap orang yang melarikan diri dengan cepat itu pasti bukan hal mudah.

Ternyata si Paman benar-benar bukan cuma sekadar pemalas biasa.

Shannon mengepalkan tangannya di atas lutut.

"Padahal dulu mereka itu party yang benar-benar baik. Jahat sekali. Kenapa setelah semuanya terlambat, baru jadi begini……"

Uwoh, Shannon! Shannon sepertinya mau masuk ke mode gelap lagi! Tolonglah, kalau Shannon juga jadi begitu, aku tidak akan sanggup menanganinya!

"Ah, tapi Nona Frixel itu pengecualian!"

Untungnya, Shannon berhasil kembali ke dirinya yang biasa. Rambut ikalnya yang tadi lunglai kini berdiri tegak kembali.

"Nona Frixel sepertinya bertengkar dengan anggota lainnya, dan sejak lama dia selalu bertindak sendirian. Dia bahkan tidak ikut dalam investigasi sertifikasi penaklukan itu."

"Ah, aku juga dengar itu selintas. Semacam perpecahan internal, kan?"

"Benar. Saat anggota lainnya melarikan diri, sepertinya dia sedang berada di Ibukota. Makanya saat dia kembali, dia sangat marah──maksudku, dia benar-benar mengamuk."

Prajurit wanita dengan rasa keadilan yang tinggi yang selama ini membuatku penasaran…… namanya Frixel, ya.

Seperti apa ya cara dia mengamuk? Aku hanya berharap tidak ada lagi orang yang jadi terpuruk karena merasa bertanggung jawab secara berlebihan──

"Nona Frixel membantu Paman menangkap anggota yang lain. ……Jadi, tolong jangan membenci dia ya. Dia terlihat sangat sedih saat itu."

"……B-begitu ya."

……Aman, kan? Tolong jangan sampai nanti dia datang sambil menangis minta maaf padaku, aku benar-benar sudah cukup dengan yang begitu-begitu!

Sialan, baru saja Shannon pulih, sekarang muncul lagi faktor kekhawatiran dari arah yang tak terduga……

Jika ini adalah "karya asli" di mana kami semua mati, akan seburuk apa jadinya ya.

Hanya karena protagonis aslinya tidak mendekati Kota Suci sehingga tidak diceritakan, tapi jika di dunia asli itu ada Anze, Shannon, atau Roche, dan mereka punya hubungan pertemanan yang sama dengan kami sekarang.

Jika suatu hari mereka tiba-tiba mendengar kabar duka tentang pemusnahan Silver Gray.

Aah, tidak, tidak. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.

Ini semua salah si Dewa (Penulis) karya aslinya. Dasar dunia Dark Fantasy keparat…… aku tidak akan biarkan semuanya berjalan sesuai keinginanmu!

◆◇◆

Katedral mungkin dikenal semua orang sebagai bangunan termegah dan paling berkilau di Kota Suci, namun keagungannya tidak hanya terbatas pada apa yang terlihat di atas permukaan tanah saja.

Contoh yang paling nyata adalah sebuah ruang yang membentang di bawah tanah Katedral, yang dikenal dengan sebutan "Pengadilan".

Banyak orang yang menganggap organisasi bernama Gereja Suci Christcrest ini hanyalah sebuah "lembaga keagamaan sekaligus institusi medis".

Tentu saja anggapan itu tidak salah, karena iman dan medis memang merupakan dua pilar utama yang menyokong Gereja Suci Christcrest.

Namun, peran yang dijalankan Gereja sehari-hari sebenarnya jauh lebih beragam. Terutama Katedral yang sejak zaman dahulu memegang tanggung jawab atas otonomi Kota Suci, mereka mengelola berbagai urusan lintas bidang siang dan malam.

Bisa dikatakan, mustahil bagi seseorang untuk hidup di Kota Suci tanpa terlibat sedikit pun dengan Katedral.

Di antara semua itu, salah satu peran Katedral yang paling krusial adalah "Penghakiman".

Sebuah rangkaian proses untuk menyingkap dosa yang dilakukan manusia ke bawah cahaya terang, lalu memberikan hukuman yang diperlukan sesuai hukum.

Meski Kota Suci membanggakan tingkat keamanan terbaik di dunia, kriminal kecil maupun besar tetap saja ada.

Tak jarang, penjahat yang sulit ditangani dari Ibu Kota atau kota-kota lain pun digiring dari tempat yang sangat jauh ke sini.

Pengadilan adalah tempat eksekusi penghakiman tersebut, sebuah panggung bagi keadilan Dewa.

"Haa~…… payah sekali, ya. Paman benar-benar tidak suka berada di ruangan ini."

Di sudut pengadilan tersebut, seorang pria bergumam lesu seolah-olah seluruh semangat hidupnya telah terkuras habis.

Dia adalah Fuji, si paman pemalas dari Perserikatan Petualang.

Secara garis besar, Pengadilan Katedral terdiri dari tiga area.

Pertama adalah bagian tengah pengadilan tempat Fuji duduk sekarang, tempat bagi para terdakwa dan saksi berdiri.

Area ini dibuat menjorok ke bawah di tengah ruangan, posisi terendah yang memungkinkan siapa pun di sana merasakan tekanan hebat karena dipandangi dari ketinggian—sebuah desain yang sangat "perhatian" bagi para pendosa.

Berikutnya adalah kursi penonton yang berjejer rapi di bagian belakang. Jika hanya penghakiman biasa, kabarnya banyak orang akan berkumpul demi melihat kekuatan Star Eye Saint.

Namun karena kali ini topiknya cukup sensitif, pihak luar dilarang menonton.

Orang-orang yang duduk di sana adalah para Kardinal—tangan kanan Saintess sekaligus pakar di bidang masing-masing yang mengelola Kota Suci.

Dengan kata lain, mereka adalah para petinggi tingkat atas Gereja.

Dan yang terakhir adalah bagian depan, mimbar hukum yang bertahta di posisi tertinggi untuk mengawasi segalanya—kursi bagi para klerus yang mengeksekusi penghakiman.

Dari wilayah suci itulah, suara tawa riang para gadis yang terasa tidak pada tempatnya terdengar mengalir turun.

"Fufu, sudah lama ya kita berempat bisa berkumpul lengkap di sini. Aku senang sekali karena biasanya aku sendirian dan merasa kesepian."

"Yah, meski ini tetap saja akan jadi panggung tunggal buat Yuri, sih. Serahkan padamu ya, Nona Star Eye Saint."

"Duh, Nona Diia? Kita juga harus bersikap serius."

"Melelahkan…… haah, ayo cepat selesaikan saja……"

Berturut-turut mereka adalah Yulirias sang Star Eye Saint, Lesterdiasang White Clay Saint, Angesheit sang Saint of the Heavenly Sword Sword, dan Alkasiel sang Misfortune Saint —empat Saintess yang menjadi simbol Gereja.

(Aku paham kalau Putri Star Eye ada di sini, tapi tidak menyangka tiga orang lainnya bakal ikut turun tangan juga……)

Penghakiman adalah wilayah Yulirias untuk membongkar segala dosa dan kebohongan yang dilakukan manusia seumur hidupnya.

Karena itu, seharusnya tiga Saintess lainnya jarang sekali ikut campur, namun tampaknya penghakiman kali ini termasuk dalam "pengecualian" yang langka itu.

Di ujung mimbar hukum, seorang gadis juru tulis yang bertugas mencatat jalannya sidang tampak gemetaran saking tertekannya.

Selain itu, di balik bayang-bayang mimbar hukum, berdiri tiga Ksatria Suci yang melindungi para Saintess.

Saintess, Ksatria Suci, dan Kardinal. Situasi di mana seluruh jajaran pemimpin Kota Suci berkumpul dengan jelas seperti ini.

Hanya para Saintess yang punya kemewahan untuk menikmati obrolan santai, sementara atmosfer lainnya terasa begitu kaku dan khidmat hingga bergerak sedikit pun terasa ragu.

Seluruh pintu keluar masuk dijaga ketat oleh para ksatria yang berdiri tegak, membuat suasana ini lebih mirip detik-detik sebelum eksekusi mati ketimbang pengadilan.

Kenyataannya, bagi para terdakwa kali ini—party peringkat A, Flamberge (Cakar Api Naga)—penghakiman ini mungkin memang setara dengan eksekusi mati.

Dan karena harus terlibat dalam urusan merepotkan ini sebagai salah satu saksi, Fuji hanya bisa terus menghela napas panjang di sudut ruangan.

"──Fuji."

"Uwoh!"

Fuji terlonjak saat sebuah suara tiba-tiba jatuh tepat dari sampingnya.

Entah sejak kapan, pelayan tua yang seharusnya berjaga di sudut mimbar hukum sudah muncul di sebelahnya.

"Aduh, Kek, jangan bikin jantungan dong."

"Oya, padahal Anda mengatakan hal yang tidak sesuai isi hati."

"Tidak, aku benar-benar kaget tahu……"

Kakek ini benar-benar tidak bisa ditebak kemunculannya.

Rambut perak yang disisir ke belakang, janggut tajam yang berwibawa, setelan tails yang tampak baru tanpa kerutan sedikit pun, dan postur tubuh tegak yang menjadi teladan bagi semua pelayan.

Tatapan matanya setajam burung pemangsa yang menembus segalanya, dan tubuh terlatih yang tak bisa disembunyikan oleh setelan itu—bukannya melemah karena usia, auranya justru terasa semakin kuat.

Fuji hanya bisa geleng-geleng kepala, merasa kakek ini sudah benar-benar melampaui batas manusia biasa.

Yah, karena sejak dulu keberadaannya sudah seperti curang, tidak ada gunanya memprotes. Fuji bertanya lewat tatapan mata, "Ada urusan apa?"

"Saya dengar, Andalah yang meringkus orang-orang itu."

"Yah……"

Fuji mengalihkan pandangan ke tengah pengadilan. Di empat podium kesaksian yang berjejer, empat orang pria dan wanita duduk di bawah pengawasan ketat para ksatria.

Merekalah Flamberge.

Di antara mereka, mata Fuji bertemu dengan seorang wanita cantik dengan rambut side-tail berwarna oranye.

"……"

Wanita itu memberikan anggukan kecil. Atau mungkin, dengan melakukan itu, dia justru berusaha segera mengalihkan pandangan dari Fuji.

Ekspresinya tampak terpenjara oleh kemarahan dan penyesalan yang tak memiliki pelampiasan, terus digerogoti oleh rasa bersalah yang mendalam.

Sosok aslinya yang memiliki rasa keadilan tinggi dan tomboi sama sekali tidak berbekas. Fuji pun memalingkan wajah darinya.

"……Lagipula, itu kesalahan Perserikatan karena membiarkan mereka kabur. Sudah sewajarnya aku melakukan itu."

Si pelayan tua tidak membantah maupun membenarkan.

"Kabarnya, Nona Alkasiel juga ikut membantu……"

"Tidak, itu cuma bentuk keisengan dari putri kalian saja."

Saat Fuji menatap ke arah mimbar hukum, sang putri yang dimaksud tampak melamun sendirian, terpisah dari obrolan rekan-rekannya. Saintess eksentrik yang selalu melayang-layang di udara di atas buaian berbentuk bulan sabit yang disebut Getsuten.

"Jarang-jarang putri itu mau turun dari Kediaman Suci."

"Ya, akhir-akhir ini suasana hatinya sedang tidak buruk. Mungkin pemuda bernama Wolka itu memiliki daya tarik misterius tertentu."

Tunggu sebentar, pikir Fuji.

"……Putri itu bertemu dengan Wolka-kun? Aku dengar dia menerima hadiah dari Gereja, sih."

"Ya, saat itu. ……Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah panjang Kota Suci, Nona Alkasiel turun dari Kediaman Suci hanya demi menemui seorang petualang tunggal."

"Waduh," Fuji tertawa kecut.

Pendekar pedang yang berhasil menuntaskan pencapaian luar biasa dengan mengalahkan Grim Reaper praktis sendirian itu, ternyata langsung diincar oleh Saintess lain selain Angesheit.

Dia sudah tidak bisa kabur lagi, kasihan sekali.

"Jadi, bagaimana? Penilaian sang putri."

Terlepas dari itu, Fuji tetaplah orang yang suka dengan gosip menarik. Pelayan tua itu menyahut dengan nada sedikit senang.

"Tidak buruk. Benar-benar disayangkan…… jika saja Roche berhasil menariknya menjadi ksatria, saya tidak perlu pusing memikirkan penerus."

"Wolka-kun sepertinya sama sekali tidak tertarik menjadi ksatria, sih."

"Sepertinya begitu. ──Namun, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan."

──Wolka-kun, ini sih serius kamu mungkin tidak akan dibiarkan keluar dari Kota Suci selamanya……

Fuji sudah dengar kalau Saint Of Heavenly Sword mulai bergerak untuk mencari kaki palsu terbaik bagi Wolka.

Tentu saja itu didasari keinginan kuat agar pendekar pedang bernama Wolka itu tidak berakhir begitu saja, tapi jika keinginannya terwujud…… yang menanti bukanlah akhir yang bahagia, melainkan pertempuran bawah air yang baru antara Silver Gray VS Goreja Suci Christcrest.

Benar-benar tidak bisa kabur lagi, kasihan sekali.

"Karena itulah, penghakiman kali ini sangat penting. Anda juga harus bersemangat dan berikan kesaksian dengan benar."

"Iya, iya, aku mengerti."

Fuji menghela napas. Memang ada rasa malas harus berperan sebagai saksi. Orang sepertinya lebih cocok bergerak diam-diam di balik layar, mengemban tugas di tempat yang mencolok seperti ini terasa sangat berat.

Tapi kalaupun dia akan pulang, dia berniat untuk mengatakan apa yang perlu dikatakan terlebih dahulu.

(Kami para orang dewasa juga harus melakukan apa yang perlu dilakukan.)

Wolka telah mempertaruhkan nyawa. Dengan bayaran satu mata dan satu kaki, serta masa depannya sebagai pendekar pedang, dia berhasil melindungi seluruh rekannya.

Flamberge yang menyebabkan kecelakaan, dan Perserikatan Petualang yang gagal mencegahnya—bisa dibilang, pemuda tujuh belas tahun itu sendirian membersihkan kekacauan yang dibuat oleh orang-orang dewasa.

Jika para orang dewasa tetap bungkam, tidak ada hal yang lebih tidak masuk akal daripada itu.

"──Tuan Fuji."

"Hm."

Saat mengangkat wajah, wanita berambut side-tail tadi sudah berdiri di depannya.

 Dia dijaga ketat oleh dua ksatria di kiri dan kanannya. Padahal dia bisa dibilang hampir mendekati korban, namun melihatnya diperlakukan seperti penjahat begini membuat hati Fuji sedikit perih.

Tanpa sadar, sosok pelayan tua tadi sudah menghilang begitu saja. Fuji menggaruk kepalanya.

"……Hai, Frixel. Sepertinya kamu kurang tidur, ya."

Petualang wanita dari Flamberge—Frixel—menunjukkan ekspresi canggung yang tampak seperti gagal tersenyum kecut.

Tidak separah Shannon yang dulu, memang. Tapi jika mengingat kepribadian asli Frixel, sosoknya yang lemah dan kuyu ini terlihat seperti orang yang berbeda.

Frixel mengangguk kecil, sangat kecil.

"Aku tidak bisa berhenti memikirkan banyak hal. Tentang bagaimana aku harus meminta maaf kepada anak-anak Silver Gray…… dan semacamnya."

"……"

Karena "suatu alasan", dia sudah lama bertindak terpisah dari anggota party-nya, dan dialah satu-satunya yang tidak ikut dalam investigasi sertifikasi di Dungeon Gouzel.

Artinya, sulit untuk mengatakan bahwa dia memiliki kesalahan langsung dalam kecelakaan ini, dan dia bisa dibilang hanyalah korban yang terseret kecerobohan rekannya.

Namun di antara empat orang anggota Flamberge, dialah yang paling merasa bertanggung jawab dan sakit hati atas kenyataan bahwa satu mata dan satu kaki Wolka telah terenggut.

Seandainya dia bertindak bersama rekan-rekannya. Seandainya dia menghentikan mereka meski harus menghajar mereka.

Harusnya dia melakukan sesuatu—dia terus menyalahkan dirinya sendiri sampai sekarang.

Mungkin karena dia lahir sebagai putri ksatria, rasa keadilannya lebih kuat dari pria manapun, dia benci ketidakjujuran, dan tertanam kuat dalam dirinya bahwa orang dewasa harus menjadi pelindung bagi anak-anak.

"Wolka-kun sudah kembali ke Kota Suci. Sejauh yang Paman lihat, dia sama sekali tidak murung. Dia malah terlihat ingin segera kembali ke masyarakat secepat mungkin."

"……Begitu ya."

Untuk sesaat, Frixel menunjukkan gelagat seolah sedang menahan emosi yang meluap kuat.

"……Setelah semuanya selesai, aku harus menemuinya dan minta maaf. Aku tidak tahu apakah orang sepertiku punya hak untuk menemuinya, tapi……"

"Wolka-kun tidak akan mempedulikan hal semacam itu."

"Aku harus mempedulikannya. ……Hal seperti ini, benar-benar, tidak bisa dimaafkan."

Gara-gara mereka orang dewasa, hidup seorang pemuda yang bertahun-tahun lebih muda darinya harus hancur—bagi Frixel, kenyataan ini pasti lebih menyakitkan daripada kehilangan mata atau kakinya sendiri.

Tepat saat itu, suara dentang lonceng yang jernih terdengar sayup-sayup dari atas permukaan tanah.

"──Sudah waktunya."

Mengakhiri obrolan dengan rekannya, suara misterius Yulirias Star Eye Saint bergema. Suara yang begitu belia hingga terasa mudah dipatahkan itu, anehnya terdengar merata sampai ke telinga para Kardinal di kursi penonton.

Atas perintah ksatria di sampingnya, Frixel memberikan anggukan hormat terakhir sebelum kembali ke podium kesaksian. Senyum kaku dan rapuh yang ditunjukkan wanita itu masih membekas tipis di benak Fuji.

(…Kenapa jadinya malah serumit ini, ya.)

Lizel, Yuritia, Atri, Shannon, Saint Of Heavenly Sword, bahkan Frixel—semuanya menyalahkan diri sendiri dan menyesal.

Fuji merasa aneh bagaimana masalah ini bisa menjadi begitu pelik.

Terlebih lagi, sementara para gadis ini terus terpenjara rasa bersalah, sisa anggota Flamberge—tiga orang yang menjadi pemicu langsung kecelakaan—hanya memikirkan cara untuk lolos dari penghakiman ini, benar-benar brengsek.

Meski begitu, untungnya adalah mustahil untuk mengelabui mata Yulirias.

"Penghakiman kali ini akan kami eksekusi sepenuhnya di bawah nama Saintess. Mohon pahami bahwa segala kebohongan maupun fitnah tidak akan berarti apa pun, bahkan diam sekalipun tidak akan melindungimu. ……Aku menyarankan kepada semua orang yang terlibat di sini untuk memberikan pernyataan yang jujur dan rasional."

Dilihat dari sisi mana pun, dia hanyalah seorang Saintess lemah yang tampak seperti bocah perempuan berusia sepuluh tahunan.

Namun dari kata-kata indah yang terangkai tanpa cela itu, terpancar kedalaman misterius yang terpupuk selama bertahun-tahun.

Kenyataannya, bertolak belakang dengan penampilannya, dia adalah tetua kedua di Katedral yang telah menjaga tatanan Kota Suci selama hampir seratus tahun.

"Kalau begitu──mari kita mulai penghakimannya."

Yang dimulai sekarang bukanlah sejenis misteri untuk mengungkap kebenaran yang tertutup kegelapan.

Melainkan sebuah babak eksekusi sepihak, di mana seluruh fakta akan dipaksa terbuka ke bawah cahaya terang oleh sang Saintess.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close