NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Chapter 5

Chapter 5

Flamberge


──Seandainya, Dewa mau mengabulkan satu saja permintaan.

Frixel pasti akan memohon untuk dikirim kembali ke dua bulan yang lalu, agar ia bisa menghajar wajah mereka satu per satu.

Masalah mereka yang mabuk kepayang oleh wanita hingga foya-foya, atau mulai menguras tabungan yang telah dikumpulkan bersama dengan susah payah, sebenarnya masih mending selama itu hanya menjadi urusan internal party.

Seharusnya ia menghentikan mereka saat itu juga—ia harusnya menghajar para bodoh itu sekuat tenaga agar mereka sadar.

Gara-gara pertengkaran internal mereka yang konyol, orang lain yang tidak ada hubungannya harus menderita luka parah.

Anak-anak yang bertahun-tahun lebih muda dari mereka terseret, dan kehidupan salah satu dari mereka hancur berantakan.

……Hal semacam itu, seharusnya tidak boleh terjadi. sama sekali.

Awal mulanya bermula dari kejadian lebih dari setengah tahun yang lalu.

Saat itu, Frixel dan anggota Flamberge (Cakar Api Naga) lainnya sedang beraktivitas secara kecil-kecilan bertiga saja sambil mencari anggota baru, karena penyihir yang sudah lama berpetualang bersama mereka memutuskan pensiun setelah menikah.

Pemimpin party, Rex, seorang pendekar pedang sihir berambut merah.

Dino, prajurit berat berambut pirang.

Dan dirinya sendiri, Frixel, prajurit wanita pengguna tombak.

Masalahnya, mereka tidak punya petarung barisan belakang. Karena itulah, merekrut penyihir baru menjadi prioritas utama.

Namun, mencari bakat yang siap tempur untuk party peringkat A yang punya reputasi bukanlah perkara mudah.

Alhasil, mereka tak kunjung mendapatkan pengganti meski waktu terus berlalu.

Di tengah situasi itulah, Rex dan Dino tiba-tiba pulang ke penginapan membawa seorang penyihir yang tidak dikenal.

"Frixel. Mulai sekarang, aku berniat mengajaknya bergabung ke party kita. Kami kebetulan bertemu di kedai minum tadi, dan katanya dia juga sedang mencari kelompok."

"Dia seorang penyihir, dan punya pengalaman di party peringkat A juga. Pas banget buat kita, kan?"

Sang pemimpin, Rex, adalah pemuda tampan dengan penampilan lembut bak bangsawan, namun di sisi lain ia agak mudah terbawa arus dan bimbang.

Dino adalah pria perkasa dengan otot liat yang bisa diandalkan, namun di sisi lain ia agak kasar dan serampangan.

Entah kata-kata manis macam apa yang digunakan dua orang bermuka dua ini untuk merayunya, penyihir itu adalah wanita yang sangat rupawan bahkan di mata Frixel sekalipun.

Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Frixel, tapi tatapan matanya lembut dan senyumnya memiliki kesan elegan—benar-benar berkebalikan dengan Frixel yang dikenal punya watak keras.

Rambut panjangnya yang berwarna ungu pucat bergelombang ringan, memiliki kilau manis yang secara fundamental berbeda dari wanita biasa; jika kau menyisirkan jari di sana, jemarimu pasti akan meluncur mulus hingga ke ujung tanpa hambatan sedikit pun.

Penampilannya sangat bersih dan rapi, lebih mirip biarawati dari suatu negara ketimbang seorang petualang.

Kenyataannya, ia adalah penyihir dari negeri asing yang baru saja pindah ke negara ini, dan mengaku pernah memiliki pengalaman di beberapa party peringkat A hingga B. Frixel hanya bisa melongo.

"……Kalian, hebat juga bisa membuat orang seperti ini mau mendengarkan. Tidak kalian cekoki minuman lalu diculik, kan?"

"Mana mungkin kami melakukan hal itu!"

"Sialan, kau pikir kami ini apa, hah……"

"Dua orang bodoh yang cuma menang tampang."

"Apa katamu—?"

"Apa?"

"Sudahlah, jangan bertengkar terus……"

Frixel dan Dino saling melotot, sementara Rex menengahi dengan wajah lelah.

Tentu saja mereka tidak benar-benar berniat berkelahi; Flamberge memang sudah menjadi party yang blak-blakan satu sama lain sejak awal pembentukannya.

Biasanya Frixel atau Dino yang cepat naik darah akan memulai duluan, lalu Rex akan mengikuti sambil mengerang sakit kepala.

Mereka adalah kawan sejak kecil.

Sang penyihir tertawa kecil dengan sangat anggun.

"Fufu, sepertinya ini party yang ramai, ya."

"Berisik, lebih tepatnya. ……Yah, untuk sementara, tidak ada salahnya mencoba bekerja sama."

Frixel mengulurkan tangan kanannya.

"Aku tidak tahu kata-kata manis apa yang mereka berikan padamu, tapi standarku sangat tinggi, lho."

Penyihir itu menatap tangan Frixel selama beberapa detik, lalu menyipitkan mata dan menjawab dengan sangat ramah.

"──Baik. Mohon bantuannya ya, Frixel-senpai."

Membawa penyihir asing ini──Alfana──ke dalam party, pada akhirnya menjadi akar dari segala petaka.

Jika ditanya kapan semuanya mulai menjadi aneh, Frixel pun sulit menjawabnya.

Setidaknya pada awalnya mereka beraktivitas seperti party normal, dan Alfana pun tidak pernah membuat masalah sekali pun.

Namun setelah satu bulan berlalu, Rex dan Dino menjadi sangat akrab dengan Alfana dengan cara yang tidak biasa.

Selain saat beraktivitas sebagai party, mereka sering mengajak Alfana pergi ke suatu tempat di waktu pribadi mereka.

Meski begitu, saat itu Frixel masih menganggapnya sebagai lingkup pertemanan normal antar rekan satu kelompok.

Tanpa disadari, segalanya menjadi tidak beres.

Saat memasuki bulan ketiga, mereka berdua mulai memberikan perlakuan istimewa kepada Alfana setiap hari──

Atau lebih tepatnya, mereka mulai menyisihkan uang untuk memanjakannya.

◆◇◆

Kesalahan pertama Frixel terjadi sekitar empat bulan setelah Alfana bergabung dengan party.

"Frixel. Aku berencana mengambil misi Investigasi Sertifikasi Penaklukan Dungeon, bagaimana menurutmu?"

"Hah?"

Begitu Rex kembali ke penginapan dan mengatakan hal itu, Frixel refleks bertanya balik dengan nada tinggi di akhir kalimat. Ia mengira Rex akhirnya kembali bersemangat setelah hampir seminggu tidak mengambil misi, tapi ternyata—

"Dengar... kita kan sudah pernah melakukan Investigasi Sertifikasi sebelumnya. Karena kita punya rekam jejak, pihak Perserikatan juga sudah memberi lampu hijau."

"Memang benar, tapi……"

Secara rekam jejak, Rex tidak salah. Namun itu adalah cerita sebelum Alfana datang.

Sekarang, posisi barisan belakang yang dulunya diisi teman lama mereka telah digantikan Alfana, dan kondisi party telah mengalami banyak perubahan.

Jika ditanya mana yang lebih sempurna sebagai sebuah tim, Frixel akan menjawab tim mereka yang dulu tanpa ragu.

Frixel merasa heran kenapa Rex berani mengambil misi dengan tanggung jawab sebesar itu. Rex menjawab dengan penuh percaya diri.

"Tenang saja. Target investigasinya adalah Dungeon Gouzel…… skalanya kecil, dan tidak ada laporan monster kuat yang muncul di sana. Kalau cuma segitu, Alfana juga tidak akan masalah, kan? Malah ini waktu yang pas untuk latihan."

"Bukan itu masalahnya……"

Tentu saja, Frixel tidak bermaksud mengatakan Alfana kurang berbakat sebagai penyihir.

Meski teman lamanya masih setingkat lebih unggul, Alfana punya pengalaman berkelana dengan berbagai party.

Namun Frixel menggelengkan kepala dan mengeluh.

"Dengar ya, Sertifikasi Penaklukan itu tingkat tanggung jawabnya beda jauh dengan misi biasa. Kalau terjadi sesuatu, kita bisa kena sanksi penurunan peringkat, lho? Ini bukan sesuatu yang bisa dikerjakan dengan mentalitas 'latihan'—"

"Kalau Alfana, pasti akan baik-baik saja."

……Selalu begini. Belakangan ini, setiap kali Rex membuka mulut, isinya hanya Alfana, Alfana, dan Alfana.

Frixel tidak mau ikut campur karena tidak tertarik, tapi frekuensi Rex mengajak Alfana makan di luar jelas meningkat, dan ia juga tampak membelikan berbagai macam item untuknya.

Hal itu pun berlaku bagi Dino. Entah kenapa pria itu juga bisa sepercaya diri itu.

"Aku setuju. Kalau Alfana, misi selevel ini sih kecil."

"……Haah."

Intinya, Rex dan Dino sedang mabuk kepayang karena ada wanita cantik luar biasa yang bergabung ke tim.

Ditambah posisi mereka sebagai 'senior' yang menjaga Alfana, harga diri lelaki mereka terpuaskan dan mereka jadi besar kepala.

Apakah mereka serius ingin mengemban tanggung jawab Sertifikasi Penaklukan dengan kondisi seperti itu?

"D-duh. Rex, Dino, kalian berlebihan……"

Di samping Rex, Alfana tampak tersipu malu. Sambil menahan sakit kepala, Frixel bertanya.

"Dengar ya…… aku cuma mau tanya, kalian tidak sedang tergiur imbalannya, kan? Belakangan ini kalian kelihatannya sedang boros sekali."

Karena Sertifikasi Penaklukan adalah tugas dengan tanggung jawab yang sangat berat, imbalan yang dijamin pun jauh berbeda dengan misi lainnya.

Mengingat belakangan ini mereka berdua terus berfoya-foya demi Alfana, kondisi kantong mereka pasti sedang tidak longgar.

"Terus? Apa kalian mau pakai imbalan itu untuk mengajak Alfana makan di restoran mewah lagi?"

Bukannya Frixel menganggap mengambil misi demi uang itu buruk. Pekerjaan petualang memang mempertaruhkan nyawa, jadi wajar jika mereka mendapat bayaran besar.

 Namun, ada perbedaan besar antara mengambil misi secara bertanggung jawab demi imbalan, dengan mengambil misi secara gegabah karena mata duitan.

Setidaknya, ini bukan misi yang boleh diambil oleh petualang yang sedang dimabuk cinta. Frixel merasa ia benar-benar harus menegur mereka.

"Kalian ini, memanjakan Alfana juga ada batasnya—"

"Tuh kan Rex, benar kataku. Anak ini pasti bakal cerewet dan banyak komplain."

Frixel melotot ke arah Dino. Biasanya, ia memang sering saling ejek dengan pria ini—tapi ucapan barusan jelas mengandung niat untuk mengejek Frixel.

Dino balas melotot.

"Frixel…… kau ini, belakangan kalau ada urusan soal Alfana pasti bawaannya protes terus. Sejak kapan kau jadi merasa sehebat itu, hah?"

"Itu karena kalian memang hanya melakukan hal-hal yang pantas diprotes! Kemarin kalian habis berapa demi Alfana? Kalian sudah terlalu terobsesi, apa kalian sadar bisa menjalankan Sertifikasi Penaklukan dengan benar dalam kondisi begitu?"

Dino membuang muka dengan tatapan malas, lalu mengorek telinganya sambil menghela napas panjang seolah-olah ini adalah urusan yang sangat merepotkan.

"Kalau tidak punya semangat, tidak usah ikut juga tidak apa-apa. Ada orang yang cuma bisa protes malah bikin suasana jadi tidak enak."

"……Oh, begitu."

Entah kenapa…… meskipun reaksi tidak sopan dari pria ini sudah sering ia terima berkali-kali sebelumnya.

Meskipun biasanya ia akan membalas dengan kata-kata kasar tanpa ampun seperti anak nakal di lingkungan sekitar.

Ia sedikit banyak menyadarinya. Semakin Rex dan Dino akrab dengan Alfana, jurang pemisah di hubungan mereka dengan Frixel perlahan mulai terbentuk.

Mungkin karena itulah—ucapan barusan benar-benar membuat perasaannya mendingin.

"Rex…… apa kau juga punya pendapat yang sama dengan dia?"

"……,"

Rex yang dipandangi tampak ragu dan menatap Alfana. ——Kenapa kau melihatnya?

Yang bertanya itu aku, dan yang ditanya itu kau. Berpikirlah dengan kata-katamu sendiri dan jawab.

Alfana menggenggam tangan Rex dengan lembut menggunakan kedua tangannya.

"Rex, tidak apa-apa. Aku ada di pihakmu."

Seketika, keraguan di mata Rex menghilang seperti ombak yang surut.

"……Frixel, kau terlalu berpikiran sempit. Harusnya kau lebih seperti Alfana,"

"Sudahlah. Terserah. Lakukan sesukamu!"

Frixel tidak mendengar jawaban Rex sampai habis.

Ia langsung keluar kamar, berlari menuruni tangga, dan keluar dari penginapan.

Ia berjalan cepat dengan amarah yang meluap, hingga akhirnya bersandar di pagar pembatas kanal dan menghela napas panjang yang seolah tenggelam sampai ke dasar bumi.

"……Apa-apaan sih. Alfana, Alfana, Alfana melulu."

Memang Frixel punya watak yang keras dan tidak punya daya tarik feminin sama sekali.

Jika dibandingkan dengan Alfana yang cantik dan ramah, wajar jika mereka lebih ingin memanjakannya.

Tapi bukan berarti mereka harus makan di restoran mahal berkali-kali dalam seminggu, membelikan berbagai item, bahkan perhiasan yang tidak berguna dalam pertempuran—meski terdengar keren sebagai pria yang bertanggung jawab, bukankah mereka sudah terlalu berlebihan?

Ia bergumam.

"Sekalian saja mereka gagal total……"

Dungeon Gouzel, ya—lebih baik kalau dungeon-nya belum benar-benar ditaklukkan, pikirnya.

Sangat jarang bagi petualang untuk salah mengidentifikasi bos monster, tapi bukan berarti belum pernah terjadi.

Biar saja mereka diserang mendadak oleh bos monster yang masih hidup.

Biar mereka lari terbirit-birit pulang, lalu diadili sampai mati karena kelalaian menganggap remeh dungeon skala kecil.

Memang karier party akan tercoreng, tapi itu obat yang manjur buat orang-orang bodoh yang sedang dimabuk cinta.

"Haah……"

Frixel menghela napas berat sekali lagi sambil memegang kepalanya, bingung harus berbuat apa—saat itulah, ia mendengar suara yang familiar dari arah belakang dan menoleh.

"Duh, Lizel-san dan Atri-san jajan terus sih……"

"Fufun, perut untuk camilan itu beda urusan, lho—"

"Nn. Makan sambil jalan, Calories Zero."

"Mana ada logika begitu……"

"Ada tahu!"

"Ada."

Penyihir mungil berambut perak, gadis berambut merah muda pucat, gadis berkulit cokelat, dan seorang pemuda dengan rambut abu-abu panjang yang diikat.

(Ah, anak-anak itu……!)

Mereka adalah Silver Grey.

Frixel tidak kenal mereka secara langsung dan mereka pun pasti tidak tahu tentangnya, tapi ini adalah party petualang yang belakangan ini menarik perhatian pribadinya.

Sepertinya hari ini mereka libur bertualang dan sedang menikmati waktu istirahat.

Lizel dan Atri berjalan sambil makan wafel, sementara Wolka dan Yuritia berjalan santai mengikuti dari belakang.

Kenapa Frixel belakangan ini tertarik pada mereka? Alasan utamanya adalah,

(Haa~~~~~ anak-anak itu benar-benar menggemaskan setiap kali dilihat. Benar-benar penyembuh jiwa…)

Terus terang, Frixel memang sangat menyukai anak-anak yang lebih muda darinya.

Bukan hanya petualang muda seperti Wolka atau Atri, tapi juga Yuritia yang masih awal belasan tahun, bahkan Lizel yang terlihat seperti anak sepuluh tahun.

Party yang begitu muda dan segar sangatlah jarang ada di Kota Suci.

Apalagi semuanya imut. Semuanya masuk kriterianya. Sangat berharga.

Tentu saja, bukan hanya karena mereka lebih muda.

"Ini sudah lewat tengah hari, Yuritia tidak mau jajan juga sesekali?"

"A-aku, ituu…… na-na-nanti gemuk…… jadi tidak usah."

"Kurasa kau terlalu cemas……"

"Kecerobohan itu bisa fatal, tahu! Lagipula belakangan ini, daripada perutku……"

"Daripada perutmu……?"

"T-t-tidak ada apa-apa!! Uuugh……"

Entah bagaimana…… party itu punya hubungan antar anggota yang sangat erat.

Sebagai orang yang saling menitipkan nyawa dalam petualangan, hubungan baik memang sudah sewajarnya.

Namun anak-anak Silver Grey lebih terlihat seperti 'keluarga' ketimbang sekadar 'rekan'.

Ia yakin anak-anak itu tidak pernah bertengkar seperti dirinya sekarang.

Mereka pasti akan terus hidup bersama apa pun yang terjadi—sebuah hubungan yang bahkan harus dicontoh oleh Frixel yang lebih dewasa.

Benar-benar menyilaukan.

"……Lho, ke mana Master dan Atri?"

"Eh?"

Selagi ia memperhatikan, Lizel dan Atri sudah tertarik ke kios jajanan lain.

"Heh, Nona-nona…… aku tahu wafel itu, dari toko Timothy kan? Tapi punyaku tidak kalah enak, lho. Cobalah rasakan."

"Hoho……? Hmm, boleh juga. Berikan aku satu."

"Aku juga."

Wolka dan Yuritia serentak tertunduk lemas.

"Ah, mereka jajan lagi……"

"Duh, kalian berdua, nanti tidak bisa makan malam lho!?"

Tanpa sadar, senyum mengembang di wajah Frixel.

Suasana hatinya yang tadi begitu suram langsung membaik hanya dengan melihat sosok Silver Grey. Benar-benar deh, ia ingin Rex dan Dino belajar sedikit dari Wolka.

Di saat Wolka dikelilingi tiga gadis cantik, dia tetap membangun party yang harmonis tanpa ada rumor aneh.

Orang-orang bodoh di timnya tidak akan pernah bisa meniru itu meski sambil jungkir balik sekalipun.

Wolka dan yang lainnya menyeberangi jembatan kanal, lalu menghilang di balik bangunan Distrik Seiteigai. Frixel terus memperhatikan sampai sosok mereka benar-benar hilang, lalu—

"……Oke! Aku juga harus mengubah suasana hati."

Lagipula Rex dan yang lainnya akan pergi investigasi untuk beberapa lama. Selama itu, Frixel juga akan menyegarkan diri sendirian.

Kesal juga dibilang berpikiran sempit, tapi mungkin ia memang agak kurang tenang tadi. Ia akan mencoba bicara baik-baik lagi nanti.

Akhirnya, Frixel memutuskan untuk tidak ikut dengan Rex dan kawan-kawan.

Inilah kesalahan pertamanya. Seharusnya pada titik ini, Frixel segera melapor ke Perserikatan mengenai kondisi party-nya.

Tentu saja, Perserikatan tidak punya wewenang untuk mencampuri urusan pribadi party. Tapi setidaknya, ia bisa membuat mereka menaruh kecurigaan pada investigasi Rex dan kawan-kawan.

Alasan kenapa pikiran itu tidak terlintas sama sekali, mungkin karena jauh di lubuk hatinya, ia memang berharap Rex dan yang lainnya gagal total.

Ia berharap dengan merasakan kegagalan yang telak, mereka akan tersadar. Meski ini adalah party-nya sendiri, Frixel sempat menganggapnya sebagai urusan orang lain.

──Tepat sebelum Frixel keluar dari penginapan, ia tidak menyadari senyum miring yang tersungging di wajah Alfana.

Kesalahan kedua terjadi sekitar dua minggu setelahnya.

"──Jangan bercanda ya."

"Hah? Duh, baru datang sudah mau ngajak berantem saja."

Frixel baru saja menggerebek sebuah kamar di penginapan yang terlalu mewah untuk ukuran petualang, yang terletak di dekat pelabuhan dagang sisi utara Distrik Seiteigai.

Hal pertama yang dilakukan Rex dan kawan-kawan setelah menerima imbalan besar dari Sertifikasi Penaklukan adalah pindah dari penginapan murah lama mereka ke penginapan mewah ini bersama Alfana.

Mereka meninggalkan Frixel di penginapan lama tanpa diskusi sepatah kata pun, benar-benar keputusan sepihak.

Sebenarnya itu tidak masalah. Tidak ada aturan yang mengharuskan semua anggota party tinggal di penginapan yang sama, jadi mau pindah ke mana pun dengan uang sendiri itu terserah mereka. Namun, alasan Frixel membentak Rex sekarang adalah hal lain.

"Kalian menyentuh uang tabungan party, kan?"

Sejak dulu, Flamberge rutin menabung untuk masa depan dengan bantuan kenalan pedagang—namun entah sejak kapan, mereka diam-diam mengambil sebagian besar uang yang sudah dikumpulkan selama bertahun-tahun itu. Tentu saja, tanpa ada pembicaraan atau izin dari Frixel.

Di dalam kamar yang luasnya dua kali lipat penginapan lama itu, Dino bersandar di sofa dengan wajah yang terlihat sangat terganggu.

"Pemimpin kita yang hebat sudah bilang boleh, kok."

"Kami sedang butuh dana yang agak besar. Tabungan itu memang untuk saat-saat seperti ini, kan?"

Rex pun tampak sangat tenang. Dengan Alfana yang duduk di tengah-tengah mereka berdua, mereka tampak seperti pelayan yang sedang melayani putri bangsawan dengan penuh hormat.

Frixel memukulkan tinjunya ke meja yang penuh dengan botol anggur sekuat tenaga.

"Kalau begitu katakan dipakai untuk apa! ──Katakan padaku, sekarang juga!!"

Pasti untuk memanjakan Alfana lagi.

Tabungan party tentu saja adalah uang yang dikumpulkan oleh seluruh anggota, termasuk Frixel dan bahkan bagian dari teman lama mereka yang sudah pensiun.

Tapi mereka menggunakannya seolah-olah itu adalah dompet pribadi mereka sendiri.

"Terserah kami, dong. Lagipula, apa hak orang yang membolos misi kemarin untuk ikut campur?"

"Kalau itu imbalan misi, terserah kalian mau pakai buat apa. Tapi tabungan itu beda urusan! Itu bukan uang yang dikumpulkan untuk memenuhi gengsi konyol kalian!!"

Padahal Frixel sudah berusaha sabar untuk berkomunikasi sejak saat itu, tapi ternyata mereka sama sekali tidak peduli. Benar-benar tidak bisa dipercaya.

Apakah mereka berdua sudah dicuci otak oleh Alfana? Ia hanya bisa berpikiran begitu agar tetap waras.

"Rex, kau juga, bahkan kau pun──sama saja? Apa kau tidak merasakan apa-apa setelah aku bicara sampai begini?"

Jujur saja, ia merasa kesabarannya sudah sangat luar biasa. Jika ini adalah orang yang tidak terlalu akrab, ia pasti sudah menghajar mereka dan membiarkan mereka dihukum oleh Gereja.

Alasan kenapa Frixel masih mencoba bertahan sampai akhir adalah karena—meski mereka jadi begini, mereka adalah rekan seperjalanan sejak lama, 'teman' yang tak tergantikan.

Kali ini, Rex tidak ragu.

"Frixel…… jujur saja, sikapmu belakangan ini sudah keterlaluan. Kau benar-benar hanya bisa protes apa pun yang kami lakukan. Bukankah kaulah yang sebenarnya merusak keharmonisan party?"

Semuanya sia-sia.

"Jika terus begini…… terpaksa, aku harus memikirkan tindakan yang sesuai."

"Rex, jangan bicara begitu. Aku yakin Frixel-senpai hanya sedang kurang tenang saja……"

"Alfana memang baik, ya."

"Aku harap 'seseorang' di sini bisa mencontohnya."

──Party ini bukan lagi Flamberge yang ia kenal.

Sudah berakhir. Rex dan Dino sudah dibuat tidak berdaya oleh Alfana hingga tak bersisa lagi sosok lama mereka.

Mungkin jika sekarang ada anak kecil yang diserang monster di depan mata pun, mereka akan lebih memprioritaskan Alfana dan membiarkan anak itu mati.

Rex dan Dino yang dikenal Frixel sudah tidak ada lagi di mana pun.

"──Frixel-senpai, biar kuberi satu saran."

Tanpa disadari, Alfana sudah tidak menggunakan bahasa sopan lagi kepada Frixel.

"Lebih baik kau pikirkan baik-baik langkahmu selanjutnya. Selagi kau cuma bisa protes ini-itu, sudah ada 'perbedaan' yang sangat jauh antara aku dan kau."

Sikap sopan dan berkelas saat awal bertemu sudah lenyap entah ke mana. Yang ada hanyalah senyum buruk yang penuh dengan rasa superioritas yang menyimpang, seolah-olah ia jauh lebih 'tinggi' daripada Frixel.

Ah, begitu ya.

Jadi tujuan wanita ini sejak awal adalah……

"……Sudahlah."

Rasa 'kekecewaan' yang mutlak yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidup ini terasa begitu sunyi, seperti malam yang gelap gulita.

"Rex, Dino…… aku kecewa pada kalian. Benar-benar kecewa."

"Duh, kejamnya. Tidak apa-apa, kalian berdua. Aku ada di pihak kalian kok."

Rasanya ingin muntah.

Inilah kesalahan kedua. Inilah garis batas terakhir yang seharusnya ia hentikan meski harus menghajar mereka bertiga.

Seharusnya saat itu sifat cepat naik darahnya meledak saja. Seharusnya ia tidak usah berpikir dan langsung mengamuk, menghajar mereka dengan segenap jiwa raga.

Namun tampaknya ketika amarah sudah melewati batas, manusia justru akan menjadi sangat dingin.

Dengan sangat tenang dan dingin──sejak hari itu, Frixel menghilang dari hadapan Rex dan kawan-kawan.

◆◇◆

"──Frittchi, kamu hebat! Hebat banget! Kamu sudah berjuang keras, lho! Kalau aku jadi kamu, sudah kuhancurkan mereka semua dengan sihir!"

"Begitu, ya……"

Tiga hari kemudian, Frixel sedang menumpahkan unek-uneknya kepada seorang teman lama yang dulu merupakan rekan party-nya di sebuah bar di Ibu Kota, Eisen Vista.

Semenjak kejadian itu, ia merasa tinggal di Kota Suci terasa konyol. Tanpa pikir panjang, ia melompat ke kapal feri dan terdampar di Ibu Kota hanya dengan pakaian di badan.

Namun ternyata──.

"Ngomong-ngomong, apa kita hajar saja mereka sekarang? Suamiku sedang meneliti sihir tempur di Magisterica (Lembaga Hukum Sihir). Pas banget tiga lawan tiga, ayo kita perang, perang!"

"Ti-tidak usah sampai sejauh itu."

Frixel baru ingat, orang ini ternyata jauh lebih cepat naik darah daripadanya.

Ia mencoba menenangkan temannya yang sepertinya sudah mulai mabuk itu.

Si teman menenggak habis sisa minuman di gelasnya dalam sekali teguk.

"Aku sempat bingung kenapa kamu tiba-tiba datang ke Ibu Kota, ternyata ada masalah begitu, ya…… Siapa tadi nama perempuan itu? Alpaca?"

"……Alfana. Apa-apaan Alpaca itu."

"Ahahahaha!" Temannya tertawa dengan nada yang aneh.

"Aku tidak tahu Alpaca itu wanita macam apa, tapi yang jelas Rex dan Dino yang salah. Payah! Benar-benar mengecewakan!"

"Iya, kan……"

Frixel menghela napas panjang seolah membuang seluruh udara dalam tubuhnya, lalu menyandarkan kepalanya dengan lesu di atas meja yang modis dan tanpa goresan sedikit pun.

"Rasanya…… apa ini sudah benar-benar berakhir, ya?"

"Yah, kamu sudah berkali-kali memperingatkan tapi hasilnya tetap begitu, sih—kalau aku, sudah kutinggalkan dan bilang bye-bye dari dulu."

"……Kamu memang selalu berpikiran praktis, ya."

Frixel tidak bermaksud mencela, tapi mungkin kalimatnya terdengar sedikit sinis.

Namun temannya tidak keberatan, ia justru mengedipkan mata dengan genit sementara wajahnya merona merah karena alkohol.

"Tentu saja, aku kan sampai keluar dari party-mu demi bisa bersama suamiku."

"Aku iri dengan ketegasanmu itu……"

"Makanya, mending Frittchi cari laki-laki yang oke juga saja. Tinggalkan saja dua orang itu. Menikah itu enak, lho~"

"Kamu ini."

Frixel mengerucutkan bibirnya. Temannya ini pasti sengaja bicara begitu karena tahu ia sama sekali tidak punya pengalaman dalam urusan asmara.

"Tidak ada orang yang seperti itu……"

Melihat Frixel yang merajuk, temannya justru semakin bersemangat.

"Ah, Frittchi kan suka yang lebih muda, ya. Bahkan seleramu itu cukup serius. Harus 'anak-anak' baru oke, kan?"

"Ja-jangan──"

──ngan bicara sembarangan! Frixel hampir saja berteriak namun berhasil menahannya di detik terakhir. Ia menyesal setengah mati; seharusnya ia tidak pernah membicarakan selera pria kepada orang ini.

Bukan begitu maksudnya. 'Suka yang lebih muda dan harus anak-anak' itu terdengar seperti orang berbahaya, padahal Frixel hanya merasa tertarik pada anak laki-laki berusia sekitar lima belas atau tujuh belas tahun—usia transisi yang samar antara anak-anak dan dewasa.

"Frittchi, sekadar mengingatkan ya──"

Temannya condong ke arah Frixel, lalu berbisik dengan senyum paling lebar yang ia tunjukkan hari itu.

"Minimal lima belas tahun, ya. Kalau lebih muda dari itu, aku benar-benar akan merasa jijik padamu. Higyaaa!"

Tentu saja, Frixel langsung mengeksekusi temannya dengan hukuman 'pelintir pipi' mautnya.

Keesokan harinya. Setelah kejadian itu, Frixel memutuskan untuk melupakan rekan-rekannya yang telah jatuh dan menikmati perjalanan di Ibu Kota.

Ibu Kota Eisen Vista──sebagai kota sihir terkemuka di dunia, kota ini dipenuhi dengan berbagai Magic Tool yang tidak pernah ia lihat di Kota Suci.

Pintu toko yang terbuka sendiri saat didekati, rak barang yang mengeluarkan produk setelah koin dimasukkan, lampu jalan yang menyala dan mati sendiri pada jam tertentu, Automata yang mengerjakan berbagai tugas sederhana menggantikan manusia, hingga jam astronomi raksasa yang bisa meramal cuaca esok hari sampai orbit bintang. Mencari tempat tanpa Magic Tool di sini justru lebih sulit.

Berbagai teknologi yang lahir dari penelitian sihir tiada henti di Ibu Kota.

Di antaranya, kendaraan bernama 'Kereta' yang baru saja diterapkan secara praktis adalah hal yang paling memukau.

Kendaraan itu bisa mengangkut lebih dari seratus penumpang sekaligus dan melesat di atas tanah dengan kecepatan yang jauh melampaui kereta kuda maupun kapal.

Saat ini jangkauannya memang masih terbatas pada area utama Ibu Kota, tapi seandainya di masa depan jalur darat antara Kota Suci dan Ibu Kota terhubung oleh satu garis rel──.

"……Benar-benar ya, di mana-mana penuh dengan benda praktis."

Saat ia bergumam kagum sambil memegang minuman di kafe sudut jalan, temannya menjawab dengan riang.

"Iya, kan? Kamu tahu? Kursi kedua dari Sevens (Tujuh Hukum), Sang Hukum Kreasi, Lord Elfiette. Katanya dia itu orang yang sangat aneh—eh, maksudku unik, tapi berkat dialah kehidupan di Ibu Kota berubah drastis~"

Barusan dia hampir menyebut orang hebat di Ibu Kota sebagai 'orang aneh', ya.

Terlepas dari itu, otoritas pengambilan keputusan tertinggi, Sevens──secara kasar, mereka berada di posisi yang mirip dengan empat Saintess di Kota Suci.

Kelompok tujuh orang yang terdiri dari empat Ksatria Suci dan tiga Bijak yang berdiri di puncak negara sebagai simbol kemakmuran Ibu Kota.

Bagi Frixel yang lahir dan besar di Kota Suci, ini sulit dipercaya, tapi katanya secara posisi pemerintahan, mereka bahkan lebih tinggi daripada Saintess.

Gelar 'Tertinggi' di depan nama mereka bukan sekadar pajangan atau iseng semata.

Dan yang bertahta di kursi kedua adalah Elfiette, Sang Hukum Kreasi.

Penyihir agung luar biasa yang konon memajukan teknologi sihir dunia ini seratus tahun lebih cepat sendirian.

Pasti dia adalah sosok yang sangat berwibawa, pikir Frixel sambil membayangkan siluet bijak yang penuh kharisma.

──Tentu saja, ia tidak punya cara untuk mengetahui bahwa Elfiette yang asli adalah gadis aneh manja tanpa kharisma yang sedang meronta-ronta sambil berteriak, "Bosaaaaann!! Tidak ada hal seru sama sekali!! Aku ingin melakukan eksperimen manusiiiiaaaaa!!"

"Sevens, ya…… antara Ksatria Suci di sini dan Ksatria Suci di tempat kita, kira-kira mana yang lebih kuat?"

"Entahlah. Tapi Lord Hukum Suci di kursi ketiga kabarnya dirumorkan sebagai 'Ksatria Suci Terkuat'. Yah, karena belum pernah ada pertarungan sungguhan, tidak ada yang tahu pastinya bagaimana—"

"Hukum Suci……"

Nama julukan yang sangat muluk.

Rasanya tidak mungkin itu gelar yang diberikan kepada manusia biasa, dan kenyataannya, orang-orang yang disebut Ksatria Suci memang konon memiliki kekuatan yang melampaui batas normal tanpa pengecualian.

Jika orang itu disebut yang terkuat di antara para Ksatria Suci, mungkin meski Frixel membawa seribu orang pun tidak akan ada peluang menang.

"……"

Frixel menatap pemandangan kota dengan hampa. Lampu jalan yang otomatis, Automata, jam astronomi raksasa, kereta yang melesat cepat, penyihir agung terbaik, ksatria suci terkuat.

Sambil menopang dagu, ia menghela napas.

"Kalau dipikir kembali, dunia ini luas sekali, ya……"

"Tepat sekali. Sekarang sadar kan kalau masalahmu itu sepele?"

"Iya, iya, terserah. Aku memang wanita sepele──"

Temannya tertawa. Karena itu, Frixel pun ikut tertawa seolah mengakui kekalahannya.

Jika dipikirkan lagi, itu memang benar. Jika ia mengingat kembali jalanan di Kota Suci tempat ia tumbuh besar, jalanan Ibu Kota yang ada di depan matanya sekarang, dan pemandangan dunia yang telah ia lalui sebagai petualang, masalah yang sedang dihadapi Frixel pasti hanyalah seperti batu kerikil di pinggir jalan.

Tanpa terasa sebulan telah berlalu. Frixel yang sudah puas menyegarkan diri memutuskan untuk segera pulang ke Kota Suci.

Begitu sampai, ia akan mengucapkan selamat tinggal pada party seperti itu.

Alfana mungkin akan tertawa puas karena semuanya berjalan sesuai keinginannya, tapi dengan gaya hidup boros seperti itu, cepat atau lambat party itu pasti akan hancur. Saat uang habis, segalanya berakhir.

Lebih baik segera memutuskan hubungan sebelum ia ikut terseret lebih jauh.

Kalau mereka menangis minta tolong setelah jatuh miskin nanti, ia tidak akan peduli.

Benar, sekalian saja ia mengajak anak-anak Silver Grey untuk makan bersama.

 Karena mereka juga sering makan dan minum di restoran mahal, tidak ada alasan bagi Rex untuk protes jika ia makan dengan orang yang ia sukai. Ini mungkin ide yang cemerlang.

(Ta-tapi, apa orang dewasa sepertiku yang menyapa mereka tidak akan dianggap sebagai kasus kriminal, ya…… Uuuh, tapi kalau cuma memperhatikan dari jauh terus juga rasanya kurang, setidaknya sesekali! Aku ingin menyemangati mereka dari dekat sekali saja! Ah, ini semua salah mereka karena terlalu menggemaskan! Duh!)

Frixel yang menggeliat malu di geladak kapal feri menuju Kota Suci benar-benar seorang penyuka anak muda yang agak berbahaya.

 

Singkat cerita, satu bulan berlalu dan ia kembali ke Kota Suci, kembali ke kamarnya sendiri.

Setelah merapikan barang, ia segera mencari Rex dan kawan-kawan, namun ketiganya tidak ada di penginapan mewah itu.

Menurut pelayan, mereka sudah pergi dan tidak pulang selama dua atau tiga hari.

Jangan-jangan, uang mereka sudah habis dan tidak bisa bersenang-senang lagi? Frixel berpikir "rasakan itu", tapi ia memutuskan untuk mencoba mengeceknya di Perserikatan.

(──?)

Namun, begitu melangkah masuk ke Perserikatan, Frixel langsung mengerutkan kening. Suasananya terasa aneh, sangat berisik dan terburu-buru.

Tapi ia kurang yakin, rasanya dulu tempat ini memang selalu ramai seperti ini.

Akhirnya Frixel menyimpulkan bahwa ia hanya merasa begitu karena sudah lama tidak ke sini, lalu ia menyapa resepsionis yang sudah dikenalnya.

Melihat Frixel, mata resepsionis itu membelalak kaget.

"Ah, Frixel-san!? Ke mana saja Anda selama ini!?"

"Eh, kenapa? Ada apa?"

"Pokoknya, Anda harus ikut memberi penjelasan! Jangan kabur ya!?"

Frixel tidak mengerti maksudnya.

"Kabur apa maksudmu? Ngomong-ngomong suasananya agak berisik, apa terjadi sesuatu?"

"Apa terjadi sesuatu katanya──"

Resepsionis itu tampak heran seolah ingin bilang "orang ini bicara apa sih", namun tiba-tiba wajahnya berubah serius. Setelah berpikir beberapa detik, ia bertanya.

"──Jangan-jangan, Anda benar-benar tidak tahu apa-apa?"

"Ah…… sebulan terakhir aku pergi ke Ibu Kota sendirian, dan baru saja pulang hari ini."

"Se-sebulan……!? Eh, kalau begitu Frixel-san tidak terlibat……?"

"Dengar……"

Sadar kembali, resepsionis itu berbisik ke telinga Frixel.

"Di dungeon yang kalian investigasi sebelumnya, terjadi Kecelakaan Sertifikasi Penaklukan! Apalagi, Rex-san dan yang lainnya sudah menghilang sejak beberapa waktu lalu……!"

"──Hah?"

Apa pun yang dikatakan resepsionis itu, Frixel tidak bisa memahaminya meski sudah memikirkannya berkali-kali.

"Apa maksudmu? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya──"

"……Anu, di mana Rex-san sekarang? Kami sudah mencari ke seluruh Kota Suci tapi tidak ada, mereka dicurigai melarikan diri, tahu?"

"……"

Ah, begitu ya.

Mereka akhirnya jatuh sampai ke titik itu, ya.

"Pokoknya, aku akan panggilkan orang yang lebih paham!"

Resepsionis itu berlari pergi, dan tak lama kemudian Fuji—staf yang terkenal misterius dan pemalas—datang. Frixel dibawa ke ruang khusus di lantai dua yang jarang ia masuki.

Lalu, ia diberitahu apa yang terjadi selama ia pergi.

"──Bo-bohong."

"……Paman tidak mungkin bercanda soal hal seperti ini."

Ketakutan dan keputusasaan yang ia rasakan saat itu mungkin tidak akan pernah Frixel lupakan seumur hidupnya.

Perasaan 'pandangan menjadi gelap gulita' menyerangnya bukan sebagai kiasan, melainkan secara harfiah.

Pusing yang luar biasa membuat punggungnya membungkuk, ia kehilangan indra keseimbangan, dan hanya bisa bernapas tersengal-sengal tanpa tahu bagaimana posisi tubuhnya sekarang.

──Party peringkat A, Silver Grey, diserang oleh bos monster yang sangat kuat di Dungeon Gouzel, dan berhasil mengalahkannya dengan susah payah.

Namun, pemuda bernama Wolka sempat berada di ambang kematian sebelum akhirnya kehilangan mata kanan dan kaki kirinya──.

Jantungnya terus berdegup kencang tepat di samping telinganya.

"Pokoknya karena alasan itu, untuk sementara identitasmu akan ditahan oleh Perseri──"

Saat penglihatannya perlahan kembali, Frixel sudah menendang kursinya dan mencengkeram kerah baju Fuji.

Ia berteriak.

"Kenapa, kenapa!! Anak-anak itu, kenapa!! Kenapa bisa jadi begini……!!"

Fuji sedikit terbelalak.

"……Kamu kenal dengan Wolka-kun dan yang lainnya?"

"Ghh……"

Ia tidak bisa dibilang kenal. Frixel hanya merasa tertarik secara sepihak dan merasa sedang mendukung mereka dari kejauhan──namun, tetap saja.

Bayangan mereka muncul dan hilang silih berganti di benaknya. Lizel yang terlihat bahagia saat memakan wafel. Yuritia yang sensitif soal perutnya.

Atri yang tetap tanpa ekspresi meski sedang makan enak. ……Dan Wolka, yang mengawasi rekan-rekannya dengan tatapan mata yang tenang.

Hancur.

Sosok mereka dalam ingatan Frixel hancur berantakan.

"──Ini salahku."

Padahal ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menangis.

"Karena aku…… tidak menghentikan mereka……!"

Bukan hanya tidak menghentikan.

Pada hari ketika Rex mengumumkan akan mengambil misi Sertifikasi Penaklukan itu, apa yang dipikirkan Frixel?

Apa yang ia harapkan?

──Bukannya ia sempat berharap mereka gagal karena ia sedang merajuk?

Bukannya ia sempat berharap mereka diserang bos monster sebagai bentuk pelampiasan?

Lihatlah, semuanya terjadi persis seperti yang ia harapkan.

Rex dan yang lainnya gagal dalam Sertifikasi Penaklukan seperti yang diharapkan Frixel, bos monster ternyata belum dikalahkan, dan gara-gara itu anak-anak baik yang tidak bersalah──

"A-aaaaaaaghhhh……!!"

Sambil tetap mencengkeram kerah baju Fuji, Frixel jatuh berlutut tanpa daya di tempat itu.

Ia ingin mereka memiliki kehidupan yang lancar. Ia berharap mereka tidak mengalami perpecahan tim yang konyol seperti dirinya, dan terus hidup selamanya seperti keluarga.

Karena itu sudah sewajarnya, bukan──meskipun ia tidak membantah kalau ia memandang mereka dengan perlakuan khusus, tapi pada dasarnya anak-anak adalah sosok murni yang sudah sepantasnya tumbuh dengan bahagia.

Bahkan kegemarannya pada yang lebih muda pun bukan dilakukan karena alasan tidak murni yang tak bisa diceritakan pada orang lain.

Kesukaannya pada anak-anak ini berasal dari pengaruh ibunya. Ibunya adalah ksatria teladan yang mengabdikan hidupnya pada Gereja Suci Christcrest, karena itulah sejak kecil Frixel tumbuh sambil melihat apa yang disebut sebagai semangat ksatria dari ibunya yang jujur dan kaku.

Di antaranya, ada satu keyakinan penting yang tidak pernah diabaikan ibunya seumur hidup, dan kata-kata itu memberikan pengaruh besar bagi Frixel yang sekarang.

Yaitu──Jadilah pelindung bagi anak-anak.

Karena itulah Frixel menyukai anak-anak. Seandainya Rex dan Dino tidak mengajaknya bertualang, mungkin sekarang ia bukan berada di Perserikatan, melainkan menjadi anggota Gereja Suci Christcrest dan bekerja sebagai pendidik di suatu panti asuhan atau sekolah.

"Kenapa……!! Kenapa harus jadi begini……!!"

Air mata yang menetes menjatuhkan satu, dua bayangan kecil di lantai.

Ah, betapa ini adalah kesalahan yang paling menjijikkan dan terburuk.

Gara-gara para orang dewasa seperti mereka tidak menjalankan tanggung jawab, anak-anak yang tidak berdosa harus menjadi korban.

Hal seperti itu seharusnya benar-benar, benar-benar tidak boleh terjadi.

"……Saat ini paman-paman yang lain sedang mencari keberadaan rekan-rekanmu. Jadi jika kamu tahu sesuatu──"

"Izinkan aku membantu juga……!"

Tanpa menunggu kalimat Fuji selesai, Frixel mengangkat wajahnya dengan mata yang basah oleh air mata.

Ia mengerahkan seluruh tenaga ke lututnya yang gemetar dan berdiri tegak.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu kata-kata apa yang bisa kugunakan untuk meminta maaf…… Jadi, gunakanlah aku. Seperti seekor anjing."

Jantungnya terasa sakit. Jika ia tidak menggertakkan gigi dan menahannya, rasanya tubuhnya akan terbelah menjadi dua dari dada.

Namun tetap saja, ia pikir ini bukan saatnya untuk menunduk dan menangis.

Karena yang ingin menangis, yang sedang menangis, adalah anak-anak yang kedamaiannya tiba-tiba direnggut itu.

──Kalau begitu, tidak ada waktu untuk berlutut, Frixel!!

"Aku pasti akan menemukan mereka──lalu aku akan menghajar mereka sepuas hati."

Rex dan Dino. Sejak dulu mereka memang dua orang bodoh yang tidak bisa diandalkan, tapi melarikan diri di tengah situasi seperti ini benar-benar keterlaluan. Orang bodoh pun tahu apa konsekuensinya jika melakukan hal itu. Pasti rubah betina itu telah melakukan sesuatu yang tidak perlu lagi.

Makanya, kali ini aku harus menghentikan mereka.

"……Baiklah."

Fuji mengangguk sekali dengan berat, namun segera menunjukkan senyum tanpa semangatnya yang biasa.

"Kalau begitu, Paman tidak akan sungkan menerima bantuanmu. Paman sudah tidak kuat lagi kalau harus melakukan kerja fisik."

"Ya. ……Lalu, apa yang harus kulakukan?"

"Mari kita lihat, pertama-tama──"

Tepat saat Fuji yang sedang mengusap janggut tipisnya hendak menjawab, pintu ruangan diketuk dua kali dengan sopan. Suara rendah resepsionis terdengar dari balik pintu.

"Anu, Tuan Fuji. Seseorang dari Christ Knights (Pasukan Ksatria Suci) ingin menemui Anda……"

"Wah, panjang umur."

Fuji menyahut seolah-olah mendapatkan bantuan di saat yang tepat.

"Aku mengerti, bisa tolong bawa dia ke sini?"

"E-eh, apa tidak apa-apa? Bagaimana dengan pembicaraannya……"

"Tidak apa-apa, pas sekali baru saja selesai."

"Baiklah," jawab resepsionis itu, dan langkah kakinya pun menjauh. Frixel sempat bertanya, "……Apa aku harus keluar?" namun Fuji menggeleng.

"Tidak, kamu boleh ikut mendengarkan. Karena ini informasi tentang rekan-rekanmu."

"……Oke."

Karena dikatakan begitu, ia tidak punya pilihan selain ikut serta. Setelah menunggu sekitar satu menit, seorang pria dengan zirah perak yang tampak biasa saja masuk ke ruangan. Begitu melihat Frixel, pria itu mengerutkan kening dengan tajam.

"Dia anggota Flamberge yang tersisa. Perlakukan dia sebagai kooperator."

Sebelum pria itu sempat membuka mulut, kalimat Fuji yang tidak menerima bantahan langsung memotongnya. Pria itu terdiam beberapa detik, lalu──.

"Sesuai perintah."

Ia hanya menunduk sedikit. Meski ada sedikit keraguan, jika orang ini yang mengatakannya, maka ia tidak akan banyak bicara──begitulah cara ia menjawab.

"Laporannya?"

"Baik. Burungnya sudah bergerak."

"Heh──cepat juga ya. Baguslah."

──Apa itu sejenis bahasa sandi?

Frixel tahu bahwa dalam bidang investigasi kriminal yang ditangani Christ Knights, ada kasus-kasus di mana mereka menghindari ekspresi langsung agar tidak menimbulkan kecemasan atau kekacauan yang tidak perlu pada masyarakat umum.

Dari suasana percakapannya, ia bisa menebak secara garis besar bahwa mereka telah menemukan jejak Alfana dan yang lainnya──.

"Kalau begitu ayo segera bergerak. Ah, tambahkan satu ekor kuda lagi untuknya."

"Siap. ……Dan juga, ini."

Pria itu kemudian menyerahkan sebuah liontin kepada Fuji. Liontin itu juga tampak biasa saja, hanya aksesori dengan salib Gereja yang tergantung.

"Benda ini……"

"Baru saja diantarkan. Katanya, ini berisi Moonlight Prayer agar segera pulang ke Kota Suci."

Apa bahasa sandi lagi? Kedengarannya seperti sejenis jimat, tapi Fuji yang menerimanya sedikit terbelalak.

"……Begitu ya. Kalau begini, sepertinya Paman harus benar-benar mulai serius."

Sambil memperhatikan interaksi keduanya, ada tiga pertanyaan yang melintas di benak Frixel.

Pertama. Mengapa Fuji memahami bahasa sandi Pasukan Ksatria seolah-olah itu hal yang lumrah?

Tentu saja, Perserikatan Petualang dan Pasukan Ksatria adalah organisasi yang benar-benar berbeda.

Jika diperlukan, mereka memang bekerja sama seperti sekarang, tapi sebaliknya, jika tidak perlu, mereka akan membatasi wilayah masing-masing dan tidak saling campur tangan.

Rasanya agak aneh jika staf Perserikatan biasa sangat ahli dalam ekspresi eufemisme yang hanya digunakan oleh Pasukan Ksatria.

Kedua. Mengapa Fuji memberikan instruksi kepada ksatria, dan ksatria itu mematuhi Fuji?

Pasukan Ksatria adalah organisasi publik di bawah otoritas langsung Gereja Suci Christcrest yang mengelola Kota Suci, dan secara posisi jelas berada di atas Perserikatan.

Biasanya Perserikatanlah yang meminta instruksi dari Pasukan Ksatria, dan investigasi berjalan di bawah pimpinan Pasukan Ksatria.

Ini pertama kalinya ia melihat seorang ksatria menunduk dan berkata "Sesuai perintah" kepada orang dari Perserikatan.

Ketiga. Arti dari liontin itu.

"──Kalau begitu, saya akan mengumpulkan pasukan di Benteng Barat."

"Ya, aku titip ya."

Saat ia sedang tenggelam dalam pikirannya, tanpa sadar percakapan antara Fuji dan ksatria itu telah berakhir. Setelah menunggu suara langkah kaki ksatria yang keluar ruangan benar-benar menghilang, Frixel yang sudah tidak mengerti apa-apa bertanya.

"Tuan Fuji…… Anda ini sebenarnya siapa?"

Staf yang reputasinya paling berantakan di Perserikatan Petualang.

Penampilannya sangat serampangan dengan seragam yang kancingnya dibiarkan terbuka, lengan baju yang digulung asal-asalan, dan kemeja yang keluar dari celana panjangnya.

Meskipun ada desas-desus bahwa kemampuannya nyata karena ia selalu memberikan instruksi dan pengawasan ujian yang tepat jika diperintahkan bekerja──.

"Tentu saja, cuma seorang paman pemalas. Seperti yang kamu lihat sendiri, kan."

Orang yang bersangkutan ternyata hanya kembali mengelak dengan senyum tanpa semangatnya yang biasa.

◆◇◆

Setelah itu, Frixel berangkat dari Kota Suci bersama sekitar sepuluh orang pasukan ksatria untuk mengejar Alfana dan yang lainnya.

Kuda tempur milik Christ Knights yang terlatih itu berlari secepat makhluk dari dunia lain; hanya dalam satu hari, mereka mampu menempuh jarak yang terdengar seperti lelucon.

Pengejaran itu dilakukan secepat kilat, memangkas segala hal yang tidak perlu kecuali istirahat yang sangat minim.

Kedisiplinan para ksatria itu sungguh mengerikan; bahkan dengan stamina Frixel yang telah ditempa melalui berbagai petualangan, mengikuti mereka bukanlah perkara mudah.

Namun, ia tidak merasa lelah. Rasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak menghentikan rekan-rekannya, serta kemarahan pada orang-orang bodoh yang telah jatuh ke titik terendah, terus ia bakar sebagai api untuk memaksanya bergerak.

Dan akhirnya──ia berhasil menyusul mereka.

"──Ketemu juga kalian, dasar bodoh!!"

Logika bahwa mereka adalah rekan sejak kecil meski sudah bejat, atau keributan mendadak akan berbahaya jika ada warga sipil di sekitar, seketika menguap begitu ia melihat sosok mereka.

Frixel menghentakkan kakinya ke tanah dan melompat maju, mengincar pria berambut merah yang berdiri tegak sambil membentangkan peta di bawah langit mendung.

"Rasakan ini, Rex bodoooh!!"

"……!?"

Kepalan tangan Frixel yang diayunkan tanpa ampun itu berhasil ditangkis oleh lengan kiri sang pria—Rex—yang merespons di detik terakhir.

Pria itu terhuyung beberapa langkah akibat dampak benturan, namun wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan, melainkan rasa kesal yang amat sangat.

Ekspresi yang menunjukkan bahwa ia merasa terganggu karena ditemukan di tempat seperti ini.

"Tsk, Frixel……!"

"Sialan, kenapa kau ada di sini……!"

Dino juga berdecak kesal, mundur dengan cepat sambil melindungi Alfana.

Ah, jadi kalian benar-benar menunjukkan ekspresi seperti itu──dinginnya kekecewaan yang mendalam, yang sudah entah keberapa kalinya ia rasakan, membakar pikiran Frixel.

"Frixel-senpai……! Kenapa harus di saat seperti ini……!"

Dan terakhir, Alfana. Si rubah betina yang mendekati Rex dan Dino agar mereka memanjakannya dengan uang, lalu sebaliknya memperlakukan Frixel dengan dingin dan mengucilkannya, hingga secara praktis berhasil merebut kendali Flamberge.

Tempat itu adalah sebuah pesinggahan di daerah terpencil yang entah seberapa jauh dari Kota Suci, bahkan mungkin sudah mendekati perbatasan negara.

Lokasi transisi yang menyediakan fasilitas penginapan sederhana bagi petualang yang hendak menantang dungeon di pelosok, atau bagi ksatria yang ingin beristirahat sejenak saat patroli, disebut sebagai 'Pesinggahan Perjalanan'.

Ukurannya tidak cukup besar untuk disebut kota dan tidak terlalu ramai, namun karena daerah ini merupakan zona padat dungeon, terlihat beberapa petualang di sana-sini, serta suara pedagang yang menjajakan makanan dan item.

 Di tengah suasana itu, seorang wanita tiba-tiba berteriak dan memukul seorang pria; seketika sekeliling menjadi sunyi senyap karena orang-orang tertegun melihat apa yang terjadi.

Rex merendahkan posisinya dan bersiaga, sambil memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"……Frixel, ini salah paham. Ini sebenarnya,"

"Kata pertama untuk rekan yang tidak kau temui lebih dari sebulan adalah alasan? Sepertinya kau memang punya banyak dosa, ya."

Dari belakang Frixel, suara zirah perak berdentang saat para ksatria tiba, mengepung Rex dan yang lainnya dengan gerakan teratur tanpa celah. Raut wajah Alfana menunjukkan kecemasan yang nyata.

"Tunggu, kenapa sampai ada ksatria yang bergerak!?"

"Tentu saja mereka bergerak. Apa kalian sadar dengan apa yang sudah kalian perbuat?"

Tidak, mustahil mereka tidak sadar. Justru karena sadar itulah mereka melarikan diri, demi rasa sayang pada diri sendiri, sampai ke pelosok yang isinya hanya dungeon begini.

Padahal kejadian itu telah terjadi.

Padahal pertengkaran konyol kalian telah merenggut masa depan anak-anak yang tidak ada hubungannya sama sekali.

Hasrat yang tak tertahankan membuat tubuh Frixel hampir bergerak menyerang──namun di saat itu, suara Fuji yang seperti biasa tidak serius terdengar dari belakang seolah-olah menghentikannya.

"Haah, akhirnya terkejar juga…… ampun deh, kalian lari sampai ke tempat sejauh ini."

Pada akhirnya, Frixel tidak tahu apa-apa tentang siapa Fuji sebenarnya hingga hari ini.

Meskipun ia mencoba menyelidiki selama pengejaran, tetap menjadi misteri jaringan informasi apa yang ia gunakan untuk melacak Alfana, atau mengapa ia diberi wewenang untuk memimpin pasukan ksatria.

Satu hal yang pasti adalah kelompok elit pilihan yang biasanya memandang rendah petualang ini mematuhi perintah Fuji tanpa menunjukkan wajah kesal sedikit pun.

Fuji berdiri di samping Frixel sambil menggaruk tengkuknya.

"Nah…… sepertinya Paman tidak perlu menjelaskan satu per satu kenapa kalian berakhir seperti ini, kan?"

"Ghh……!"

Sebaliknya, Alfana berteriak dengan wajah agresif yang tak terbayangkan saat awal pertemuan mereka.

"Kami sudah bilang kalau kami melakukan investigasi dengan benar, kan!? Kecelakaan Sertifikasi Penaklukan? Aku sama sekali tidak tahu apa maksudnya!"

"Ah, Paman sudah dengar itu berkali-kali. ……Tapi kalau begitu, kenapa kalian tiba-tiba memilih untuk melarikan diri?"

Sudah jelas jawabannya. Awalnya mereka bersikap kooperatif saat diperiksa karena mengira bisa berkelit. Lalu mereka tiba-tiba kabur karena menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi berbohong.

"Kalau tidak salah…… kalian menghilang tepat setelah Gereja mengeluarkan surat pemberitahuan agar 'hadir dalam persidangan pada waktu yang ditentukan', kan?"

"Kalian keberatan, kan? Kalau sampai ada persidangan. ……Kalian takut, kan? Jika dibawa ke hadapan Star Eye Saint. Karena kebohongan kalian pasti akan terbongkar."

Benar. Dengan kata lain, kecelakaan kali ini terjadi karena mereka melakukan 'sesuatu' yang harus disembunyikan mati-matian, sebuah keniscayaan yang terjadi karena memang seharusnya terjadi──

"──Seberapa busuk lagi kalian sampai merasa puas, hah!!"

"Ghh……!"

Benar-benar tidak bisa dipercaya. Terlepas dari Alfana, Rex dan Dino adalah petualang hebat yang sudah hidup dari kekuatan mereka selama lebih dari sepuluh tahun.

 Mereka tentu tahu betapa bahayanya dungeon, dan mereka pasti paham betapa tidak bertanggung jawab dan bodohnya mengabaikan tugas dalam Sertifikasi Penaklukan.

Dan yang paling tidak bisa dimaafkan oleh Frixel adalah dirinya sendiri, yang meski tahu Rex dan yang lainnya tidak pantas mengemban tugas sertifikasi saat itu, ia justru membiarkannya, bahkan sempat berharap "sekalian saja mereka gagal total".

Pada akhirnya, Frixel pun sama saja, hanya memikirkan dirinya sendiri.

Ia hanya marah melihat rekan-rekannya yang jatuh, tanpa memikirkan kemungkinan orang lain yang tidak bersalah akan terseret, atau masa depan yang tidak bisa diperbaiki lagi.

Gara-gara itu, Silver Grey harus merasakan ketakutan diserang oleh monster di luar nalar yang disebut Grim Reaper.

Bahkan Wolka dikabarkan menderita luka parah hingga hampir mati, serta kehilangan satu mata dan satu kakinya.

Itu terlalu menyakitkan.

Padahal anak-anak itu sama sekali tidak terlibat.

Padahal sebagai party petualang muda yang sedang naik daun, mereka seharusnya memiliki masa depan yang jauh lebih cerah.

Frixel dan rekan-rekannya telah merenggut masa depan itu. Benar-benar, hatinya rasanya ingin gila karena penyesalan yang mendalam.

Fuji meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Frixel yang napasnya tidak teratur, lalu maju selangkah dengan tenang dan berkata.

"Pokoknya, Paman akan sangat terbantu kalau kalian menyerah dengan patuh. Paman tidak menyarankan kalian untuk memperparah situasi ini."

……Sejujurnya Frixel mengira, setelah sampai di titik ini, bahkan orang-orang ini pun akan menyerah.

Seperti yang dikatakan Fuji, jika mereka masih melawan meski sudah dikepung ksatria, mereka akan benar-benar menjadi kriminal.

Apa pun alasan bodoh mereka melarikan diri, menyerah dengan patuh untuk dibawa pulang jauh berbeda artinya dengan melawan secara memuakkan sampai ditangkap paksa.

Ia terlalu meremehkan mereka.

"Re-Rex, Dino, kalian akan melindungiku, kan……!?"

Suara Alfana yang manja dan penuh kepura-puraan itu sungguh menjijikkan untuk didengar.

"……Hei, Rex. Dino."

Frixel merasa pening. Saking muaknya, tawa aneh justru keluar dari sudut bibirnya. Frixel merasakan pikirannya yang tadi mendidih kini membeku secara paksa.

"──Itu tidak lucu, tahu."

Rex memegang pedang lurus merahnya, sementara Dino memegang pedang besar hitamnya.

……Mereka berdua melepaskan status Accessorize pada senjata masing-masing. Itu berarti orang-orang bodoh di depannya ini memilih untuk menambah rasa malu mereka di situasi genting ini.

Rex tidak tertawa.

"Aku serius. Alfana tidak ada hubungannya dengan masalah ini, semua tanggung jawab ada pada kami."

"Kalau begitu, kenapa kalian mencoba lari!!"

"Untuk melarikan Alfana. Selama pemeriksaan Perserikatan, aku menyadarinya…… bahwa aku tidak bisa melindungi Alfana jika terus begini. Meski dia tidak terlibat, dia tidak akan luput dari tanggung jawab renteng, dan pasti akan ada orang yang melontarkan kata-kata kejam padanya. Kami tidak ingin dia terlibat lebih jauh lagi."

"……,"

Frixel baru bisa memahami maksud perkataan Rex setelah mendengar pertanyaan Fuji berikutnya.

"……Jadi, kalian berniat melarikan wanita itu saja ke luar negeri, hah?"

"Ya."

Dino mengangkat pedang besarnya dan mengangguk.

"Asal itu bisa dilakukan, kami akan kembali ke Kota Suci dengan patuh, hadir di persidangan, dan menerima hukuman apa pun yang diberikan. ……Jadi, biarkan Alfana saja yang pergi."

Melindungi Alfana, dan menanggung semua dosa demi Alfana──begitulah yang mereka katakan.

Frixel tidak bisa memahaminya.

Bahkan jika benar Alfana sama sekali tidak bersalah seperti yang mereka katakan, di mana letak nilai wanita itu hingga mereka harus melindunginya mati-matian sampai merencanakan pelarian ke luar negeri? Frixel sama sekali tidak mengerti.

Bahkan jika ia harus mengalah seratus langkah, memanjakan Alfana dengan uang masih bisa dimaklumi.

Mungkin mereka ingin merasa seperti senior, atau terangsang naluri perlindungannya…… atau mungkin, ada perasaan cinta.

Apa pun itu, setidaknya masih bisa dijelaskan dengan logika.

Tapi ini benar-benar aneh. Tidak masuk akal.

Apakah Rex dan Dino masih waras?

Apa yang telah dilakukan pada mereka?

Apa yang telah dilakukan Alfana pada mereka berdua?

Ini benar-benar seperti boneka yang bergerak demi kenyamanan Alfana──.

"……Maaf, Tuan Fuji. Sepertinya orang-orang ini memang harus dihajar dulu baru bisa sadar."

"Waduh, waduh……"

Bagaimanapun, yang jelas sekarang adalah tidak ada cara lain selain membungkam mereka dengan kekuatan.

Frixel maju ke depan, menggenggam tombaknya yang sudah kembali ke bentuk aslinya di tangan kanan.

Para ksatria juga menegang sambil memegang pedang mereka satu per satu; suasana mencekam itu membengkak dalam sekejap.

Para petualang dan pedagang yang menonton mulai pucat pasi, lalu segera pergi menjauh karena tidak ingin terseret masalah.

Frixel tertawa. Sebuah tawa mengejek diri sendiri.

(……Tak disangka, hari di mana aku harus bertarung dengan rekanku sendiri akhirnya datang juga.)

Belum lama ini—meski sudah terlambat untuk mengatakannya—mereka adalah party biasa yang menempuh jalan yang cukup lancar, tapi kenapa bisa berakhir jadi begini?

Namun, ia segera membuang sentimen yang tidak perlu.

Tergantung cara berpikirnya, ini jauh lebih baik daripada mereka melarikan diri dengan cara yang pengecut dan memuakkan.

Ia akan menghajar mereka di sini. Lalu ia akan mencengkeram kerah baju mereka dan menyeret mereka kembali ke Kota Suci, membawa mereka ke persidangan, agar mereka diadili bersama dengan Frixel──jika tidak, ia tidak akan punya muka untuk bertemu anak-anak itu.

(Aku harus minta maaf. Aku harus bertemu dan meminta maaf dengan benar──)

Selesai sudah anggapannya terhadap mereka sebagai rekan. Frixel merendahkan pinggulnya dalam posisi kuda-kuda, dan bersamaan dengan helaan napas yang tenang, ia mengaktifkan Strength Enhancement──

"──Haah. Akhirnya, semuanya terjadi persis seperti dugaan Tuan Putri."

Apakah karena semua orang sudah dalam posisi siap tempur?

Helaan napas Fuji yang terdengar lesu itu terdengar sangat jelas hingga cukup untuk menghentikan sesaat pikiran tajam semua orang.

"Mundur saja. Biar Paman yang urus."

"Eh──"

Fuji memegang bahu Frixel, menyuruhnya mundur sementara ia sendiri maju ke depan.

Frixel bingung. Tentu saja, ia sadar bahwa Fuji sebenarnya adalah orang yang punya kemampuan. Namun, Rex dan Dino pun adalah petualang peringkat A.

Rex adalah seorang all-rounder yang ahli dalam pedang maupun sihir tanpa celah dalam jarak dekat maupun jauh, dan Dino adalah orang bodoh yang hanya mengandalkan kekuatan fisik; di depan tebasan pedang besarnya, monster pun akan terbang seperti secarik kertas.

Ini berbeda dengan menaklukkan preman sombong. Namun,

"Kalian juga, mundurlah."

"Siap!"

Fuji yang memerintah para ksatria itu memiliki nada suara yang sangat tegas dan berwibawa, tak terbayangkan dari penampilannya yang biasanya tak bersemangat.

"Heh, jadi si Paman ini mau maju sendirian, ya?"

Namun saat Dino mengarahkan ujung pedang besarnya, Fuji sudah kembali ke penampilannya yang lesu seperti biasa.

"Tidak, tidak. Paman malas kalau harus melakukan kerja berat seperti itu. Paman sudah tidak muda lagi, tahu."

Sambil mengangkat bahu secara berlebihan, yang ia keluarkan bukanlah senjata atau apa pun──melainkan liontin misterius berbentuk salib Gereja Suci Christcrest.

Ia menyodorkannya ke arah Rex seolah ingin memamerkannya. Alfana tertawa mengejek dari belakang mereka berdua,

"Apa? Jangan-jangan kau mau bilang kalau Dewa sedang melihat, jadi kami harus bersikap manis?"

"Haha. Yah, kalau soal itu, benar juga──"

Gelombang mana kecil terpancar dari Fuji. Karena itulah Frixel akhirnya menyadari.

Bukan──itu bukan sekadar liontin biasa.

Itu adalah Magic Tool.

"──Ini hanyalah sedikit wahyu dari Dewa."

Apa yang terjadi pada saat itu, Frixel tidak pernah memahaminya dengan jelas sampai akhir.

Rasanya ia melihat liontin itu bercahaya biru keputihan, namun karena di bawah sinar matahari siang hari meski langit mendung, ia tidak yakin.

Satu hal yang pasti adalah Magic Tool milik Fuji telah aktif dalam bentuk tertentu──

Hal yang tak terpercaya terjadi.

"──Aku, mengerti. Kami akan kembali ke Kota Suci……"

"Ya, benar…… mari kita segera kembali……"

"……!?"

Rex dan Dino menurunkan senjata mereka begitu saja atas kemauan sendiri.

Keduanya yang telah melepaskan kuda-kuda menoleh ke arah Alfana dengan tatapan agak kosong.

"Alfana juga tidak keberatan, kan?"

"Tidak ada pilihan lain. Karena memang itu yang harus dilakukan."

Alfana memegang dahinya dengan satu tangan, terhuyung sekali seolah pikirannya sedang diselimuti kabut. Sambil menggelengkan kepala dengan gerakan lamban, ia berkata,

"Ya…… benar, ya. Kita memang harus kembali ke Kota Suci. Kenapa ya tadi kita melakukan hal semacam ini……"

──Tunggu dulu, apa-apaan ini?

Logikanya tidak bisa mengikuti. Padahal baru sesaat yang lalu mereka mencoba melawan tanpa mempedulikan apa pun, tapi kenapa tiba-tiba mereka bicara seperti itu?

Mustahil mereka sedang pura-pura menyerah untuk membuat lawan lengah.

Perkembangannya terlalu mendadak, hingga Frixel hanya bisa berdiri mematung tanpa tahu harus melakukan apa dengan tombak di tangan kanannya.

Alfana menoleh ke arah sini. Fokus mata mereka bertiga perlahan mulai stabil, dan ekspresi mereka pun menjadi jernih.

Seolah-olah kabut di dalam kepala mereka telah menghilang──atau seolah-olah ada sesuatu yang meresap ke dalam kepala mereka.

"Ya, sudah tidak apa-apa. Maafkan kami Frixel-senpai, sudah merepotkanmu."

"Hah? Ah, ya, asal kalian sadar sih tidak apa-apa……?"

Tidak, ini sama sekali tidak "tidak apa-apa".

Hasilnya memang patut disambut, tapi ia tidak bisa menerimanya sama sekali. Sesuatu yang tidak diketahui Frixel sedang terjadi.

Apa yang sebenarnya terjadi sehingga tanpa alasan apa pun, mereka tiba-tiba berubah pikiran untuk berhenti melawan dan menyerah dengan sukarela──.

……Tidak, bukankah tadi ada pemicunya? Liontin yang digunakan Fuji.

Salah satu ksatria bergumam dengan nada yang bergetar karena haru.

"Ooh…… inilah kekuatan Tuan Alkasiel……"

──Alkasiel?

Bicara soal Alkasiel, dia adalah Misfortune Saint (Saintess Kemalangan) yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kedalaman tempat suci, dan konon sangat jarang turun ke dunia bawah──.

"……Aduh, kekuatannya masih saja mengerikan seperti biasa."

Fuji melemparkan liontin itu ke atas lalu menangkapnya kembali.

"Oke. Kalau begitu, sisanya kuserahkan pada kalian."

"Siap!"

Mengikuti perintah Fuji, para ksatria mengepung dan membawa pergi mereka bertiga.

Itu adalah pemandangan penangkapan buronan yang sangat janggal.

Ksatria bahkan tidak mengikat mereka bertiga, dan ketiganya pun bersikap sangat kooperatif tanpa membantah sepatah kata pun.

Para penonton yang melihat dari jauh pasti sedang kebingungan, bertanya-tanya keributan tadi sebenarnya untuk apa.

Frixel pun hanya bisa bertanya kepada Fuji dengan tatapan kosong.

"Tuan Fuji…… Anda ini sebenarnya, siapa──"

"Ah, Paman tidak melakukan hal aneh, kok. Sudah Paman katakan, kan? Ini hanyalah sedikit wahyu dari Dewa."

Fuji menunjukkan senyum misterius yang tak terduga, lalu bergumam sambil menatap liontin di tangannya.

"──Karena apa yang dikatakan Dewa, harus ditaati dengan baik, kan?"




Previous Chapter | ToC | Next chapter

0

Post a Comment

close