Chapter 8
Pedang Munen Musou
Esok
paginya. Setelah menyelesaikan rutinitas harian seperti biasa, kami berangkat
menuju Perserikatan.
Akhirnya,
aku membuka pintu Sword & Wand yang selama ini terus kuhindari.
Tadi
malam setelah kembali ke penginapan benar-benar merepotkan.
Yulithia
dan Atri yang mengetahui situasinya langsung datang menyerbu dengan aura yang
sangat "berat", membuat lambungku sakit seolah menghabiskan jatah
stres untuk seminggu ke depan hanya demi membujuk mereka.
Aku tidak
menyangka mereka akan menahanku seolah-olah aku hendak pergi ke medan
kematian... Di tengah jalan aku sampai kehabisan kata-kata, dan akhirnya
terpaksa menekan mereka dengan suasana yang dibuat-buat seolah aku sangat
percaya diri.
Meski
merasa sedikit bersalah, ini adalah sesuatu yang harus kulalui sendiri, jadi
kuharap mereka bisa memaafkanku.
Begitu
melangkah masuk ke Perserikatan, aku langsung merasakan tatapan para petualang
di sekitar serentak tertuju padaku.
"Oi,
orang itu..."
"Ah,
ternyata benar..."
Suara
bisik-bisik terdengar dari segala penjuru.
Seperti
yang Ramzey katakan, rumor tentang kondisi tubuhku sepertinya sudah tersebar
luas.
"……"
Saat Master
dan yang lainnya balas melotot dengan ketus, para petualang itu langsung
memalingkan wajah dengan ekspresi "gawat" atau berpura-pura bersiul.
Setidaknya
tidak ada kebencian yang nyata; mereka hanya tampak bingung bagaimana harus
bersikap di hadapan orang yang dianggap "bermasalah" sepertiku.
Pertama-tama, aku
meminta resepsionis memanggil Shannon.
Tak lama
kemudian, Shannon meluncur dari tangga dalam dengan kecepatan yang seolah-olah
dia terjatuh berguling.
"Wol-kuuuuuuun!!"
Sejak awal dia
sudah dalam kondisi sangat panik. Rambut ikalnya yang seperti telinga anjing
berdiri lebih tegak dari biasanya.
"A-aku sudah dengar ceritanya, tahu!? Dasar Wol-kun bodoh, kenapa kamu malah melakukan
hal nekat seperti duel!?"
"Du-duel?"
Mataku
terbelalak. Duel secara harfiah berarti "mari kita selesaikan masalah ini
dengan baku hantam", metode terakhir penyelesaian pertikaian di kalangan
petualang... Eh, ini soal Ramzey?
Kira mungkin ada
kesalahpahaman, aku mencoba bertanya balik, tapi—
"Habisnya,
orang bernama Ramzey itu mengajukan permohonan duel, tahu!? Tempat latihan
bawah tanah sudah penuh sesak dengan orang yang mau menonton...!"
Kenapa jadi
begini! Bukankah seharusnya cukup dengan adu tanding biasa saja!
"Kakak……"
Saat aku menoleh,
teman-temanku sudah memasang ekspresi yang sangat serius dan "berat".
Yulithia bertanya dengan mata berkaca-kaca.
"Benar-benar……
Benar-benar akan bertarung……?"
"──Ya."
Namun, aku tidak
akan goyah sekarang. Meski tidak menyangka akan berkembang sampai jadi urusan
duel, apa yang kubutuhkan saat ini hanya satu hal.
Aku paham
perasaan mereka yang mencemaskanku. Justru karena itulah, aku ingin
membuktikannya dengan hasil yang tak terbantahkan──bahwa tidak ada yang perlu
dikhawatirkan.
Bahwa aku bisa
bertahan hidup bahkan dengan tubuh seperti ini.
Jika aku bahkan
tidak bisa menangani satu paman yang mencari gara-gara, membuat mereka merasa
tenang untuk bangkit kembali hanyalah mimpi di siang bolong.
Dunia ini cukup
sederhana. Karena di sini, prinsip "mari selesaikan dengan baku
hantam" diakui secara legal.
"Tenang
saja. ……Apa yang kulakukan tidak akan berubah."
……Ah,
ternyata aku memang benar-benar cucu dari kakek tua gila pedang itu.
Tidak ada rasa
cemas sedikit pun soal bagaimana jika aku kalah. Tapi bukan berarti aku juga
terburu nafsu ingin menang dengan cara apa pun.
Aku hanya akan
mengayunkan pedang sesuai kata hatiku.
Ini adalah titik
balik yang akan menentukan masa depanku.
Seolah sedang
diuji oleh takdir──aku bisa merasakan darah di sekujur tubuhku mulai
bergejolak.
◆◇◆
Tempat latihan
bawah tanah Perserikatan terdiri dari dua area utama.
Pertama adalah Free
Area, di mana berbagai peralatan latihan diletakkan agar siapa pun bisa
berlatih bebas.
Hari ini pun
terlihat beberapa petualang sedang berlatih bersama rekan mereka, atau para
veteran yang memberikan bimbingan dasar pada pemula.
Dan yang lainnya
adalah Arena Area, yang digunakan untuk ujian praktik atau latihan
format pertempuran sungguhan.
Di sanalah aku
berdiri berhadapan langsung dengan Ramzey, dikelilingi oleh para petualang
penonton yang jumlahnya sepuluh kali lipat dari bayanganku.
"──Jawabanmu
belum berubah, ya."
Ramzey tadi malam
tampak seperti tipikal pemabuk gagal, tapi setelah sadar dari mabuknya hari
ini, dia kembali memiliki wibawa sebagai petualang berpengalaman.
Saat berhadapan
seperti ini, pedang tua di pinggangnya tidak terlihat seperti tidak terawat,
melainkan tampak seperti rekan seperjuangan yang sudah melewati banyak medan
perang.
Petualang
Peringkat B, Ramzey.
Dia termasuk
golongan veteran di antara petualang Kota Suci, dan pernah memiliki pengalaman
menjalankan misi bersama party peringkat A.
Secara kemampuan,
tidak aneh jika dia berada di peringkat A, namun sifatnya yang bermulut kasar
dan eksklusif menghambat kariernya hingga tertahan di peringkat B selamanya.
Ditambah lagi,
sejak sepuluh tahun lalu dia kehilangan semangat dan mulai merosot.
Akhir-akhir ini
prestasinya memburuk, hanya berburu monster seadanya dan menghabiskan hari-hari
di kedai minuman.
Shannon
memberitahuku bahwa Perserikatan sendiri sedikit kesulitan menanganinya, bahkan
sudah berkali-kali memberinya peringatan soal penurunan peringkat.
Namun pria yang
ada di depanku sekarang, untuk ukuran orang yang kehilangan semangat dan
merosot──.
"Kamu belum
lupa kejadian kemarin, kan……? Apa kamu masih belum menyerah meski sudah kucaci
maki sejauh itu?"
"Justru
karena 'sudah dicaci maki sejauh itu', makanya aku di sini."
Mungkin tadi
malam dia memang sangat mabuk, karena Ramzey yang sekarang berbicara secara
rasional dengan kaki menapak kuat di tanah. Dengan tatapan tajam seolah ingin
menilaiku, dia berkata:
"Jadi ini
bukan cuma sekadar hobi atau ingin main-main saja, ya…… Kamu benar-benar
berniat terus menjadi pendekar pedang."
"Ya. Untuk
itu, aku sedang meminta dicarikan kaki palsu yang lebih baik."
"Heh……
Begitu ya."
Orang-orang yang
mendengar keributan ini terus memanggil orang lain, membuat area arena semakin
dipenuhi petualang.
……Rasanya sudah
ada sekitar seratus orang di sini. Pernahkah aku mengayunkan pedang di depan
orang sebanyak ini seumur hidupku? Aku jadi sedikit gugup...
"Wol-kun!!
Hajar saja dia sepuasmu!!"
"Wolka-san,
jangan kalah dari orang seperti itu!!"
"Aku percaya
kamu pasti bisa!!"
Dari balkon
lantai dua──meskipun di bawah tanah, apa boleh disebut balkon lantai dua?
Intinya dari
kursi penonton yang posisinya agak tinggi, Shannon dan kelompok petualang
kenalanku memberikan dukungan.
Mungkin karena
perilaku Ramzey sehari-hari, sebagian besar kelompok muda berada di pihakku.
Meski begitu, ada
juga beberapa yang menunjukkan wajah pesimis, bergumam, "Dengan luka
seperti itu, mana mungkin bisa menang...".
Di sisi lain,
banyak juga para veteran di kursi penonton. Namun tidak ada yang mendukung Ramzey
sebagai tandingan anak-anak muda itu.
"Apa dia
serius mau bertarung sungguhan melawan orang cacat seperti itu……?"
"Le-lebih
baik ini dihentikan saja, kan?"
"Ramzey
bajingan, apa sih yang dia pikirkan?"
Sebagian
besar dari mereka tampak bingung dengan situasi di depan mata.
……Yah,
memang benar ada beberapa pasang mata yang menatapku dengan sinis. Apakah
mereka itu rekan-rekan Ramzey?
"Benar-benar,
semuanya──kenapa kalian hanya bisa hidup seperti itu──"
Ramzey
menggumamkan sesuatu.
Namun,
suaranya tenggelam oleh kebisingan dan sorak-sorai di sekitar sehingga tidak
terdengar jelas.
Tak lama
kemudian, Ramzey mengacak rambutnya sebentar lalu mendongak.
"Oi,
Wolka."
"Apa."
Dia
menatapku dengan wajah merengut yang parah. Bukan karena dia sedang kesal, tapi
mungkin memang begitulah wajah normal pria bernama Ramzey ini.
"Seberapa
serius kamu memikirkan hidupmu sendiri?"
"……Hah?"
Aku terperangah
karena tiba-tiba dia membicarakan topik yang berat. Hi-hidup? Kenapa tiba-tiba
sekali.
Ramzey
melanjutkan dengan sangat serius.
"Apa kamu
pikir kejadian kemarin cuma nasib buruk karena kebetulan diincar oleh pemabuk
sampah? Apa yang kamu pikirkan saat datang ke sini hari ini? ……Pernahkah kamu
benar-benar memikirkan jalan yang akan kamu pilih?"
Orang ini,
barusan dia menyebut dirinya sendiri "sampah"... tidak, sebenarnya
pembicaraan apa yang dia mulai ini. Bukankah kita akan berduel?
Namun, karena
tatapan Ramzey sangat serius, aku jadi tidak enak untuk memotongnya. Tiba-tiba Ramzey
berteriak keras.
"Oi,
Simmons!!"
"Vek!?"
Seorang pria di
kursi penonton tersentak kaget. Ramzey menunjuk pria itu dengan lurus.
"Kamu kemarin bilang, kan…… 'Itu karena dia bertarung
dengan gaya aneh seperti teknik mencabut pedang atau apalah itu untuk bergaya.
Sejak awal aku sudah merasa dia mencurigakan', begitu kan!!"
"Ti-tidak, itu…… a-aku cuma mabuk! Aku tidak
benar-benar bermaksud begitu……!"
"Robert!!"
Dia menunjuk pria lain lagi.
"Kamu bilang, 'Kalau dia cepat-cepat pensiun, bukankah
gadis-gadis di party-nya bisa kita incar', kan!?"
"Bugh──Ti-ti-ti-tidak
pernah kubilang begitu!?"
"Dua paman
di sana itu!! Setelah ini selesai, ikut ke ruang belakang!! Jangan coba-coba
lari, ya!?"
"Cemburu
antarpria tua itu benar-benar menjijikkan!!"
Di tengah cacian
yang dilontarkan kelompok muda pimpinan Shannon, Ramzey kembali menatapku
dengan senyum dingin yang tersirat di sudut mulutnya.
Hanya saja, aku
merasa senyum itu tidak ditujukan padaku. Tidak ditujukan pada siapa pun di
tempat ini──melainkan seperti bayangan dari ingatan masa lalu yang jauh.
"Kamu pasti
sudah mulai menyadarinya…… Di dunia ini, tidak hanya ada orang baik yang mendukungmu. Ada banyak bajingan sampah lain seperti
kami. Di masa depan pun pasti akan muncul lagi. Apa yang kukatakan kemarin
adalah kata-kata dari para bajingan yang akan berkali-kali kamu dengar
nantinya."
Seolah-olah dia
pernah melihat dan merasakannya sendiri dengan mata kepalanya.
"Kalau cuma
kamu sendiri, kamu mungkin tidak peduli apa pun yang dikatakan orang? Ya,
mungkin saja. Tapi bagaimana dengan rekan-rekanmu yang akan mendengar kata-kata
itu di sampingmu? Kemarin setelah itu, wajah seperti apa yang ditunjukkan Mastermu?"
Seolah-olah dia
sedang mempertanyakan kebenaran jalan yang kupilih.
"Bajingan
sampah yang berani menghina orang cacat tidak akan pernah paham meski kamu
menjelaskannya sampai mulutmu berbusa. Mereka tidak akan berubah pikiran hanya
karena kamu ditolong oleh rekanmu…… Kamu tidak punya pilihan selain membungkam
mereka dengan kemampuan atau hasil nyata. Tapi bagaimana kamu melakukannya
dengan tubuh seperti itu?"
Seolah-olah dia
sedang tersiksa oleh ingatan yang tidak bisa dihapus.
"Monster
juga sama, mereka punya kecerdasan untuk menghabisi manusia yang terluka
terlebih dahulu karena lebih mudah. Mana mungkin kamu bisa bertarung sendirian.
Kalau begitu, apa kamu akan membiarkan rekanmu menggendongmu selamanya sebagai
beban yang tidak bisa bergerak? Apa gunanya orang cacat mencampurkan diri ke
dunia di mana pilihannya hanya membunuh atau dibunuh?"
Dia
mengepalkan tinju, menggigit bibir.
"Kalau
kamu benar-benar ingin terus menjadi 'Pendekar Pedang', entah itu manusia atau
monster, kamu sendiri harus menghancurkan dan melangkahi semua orang yang
mengganggumu…… seumur hidup, dengan tubuh itu. Kalimat 'ternyata memang tidak
bisa' itu adalah bad end yang akan menyeret semua rekan yang percaya dan
mengikutimu jatuh ke jurang."
Dia menarik napas
panjang.
"──Pernahkah
kamu memikirkan hal itu secara serius, walau sekali saja?"
──Jujur,
aku tidak terlalu mengerti apa yang dipikirkan Ramzey.
Aku paham
maksud perkataannya, tapi aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia mengatakan
hal itu.
Kenapa
kepada aku yang praktis adalah orang asing baginya?
Kenapa
tiba-tiba dia melakukan hal yang seolah menahanku... tidak, apakah ini
sebenarnya tindakan menahan?
Kalau
begitu, gangguan menyebalkannya kemarin bukan sekadar dorongan saat mabuk? Aku
tidak mengerti.
"……"
Tapi
setidaknya, aku paham maksud perkataannya.
Benar
juga…… jalan yang akan
kupilih pasti akan seperti yang dia katakan. Tetap menempuh jalan pedang meski
dengan satu mata dan satu kaki.
Itu bukan pilihan
yang akan dimengerti oleh semua orang.
Bagi sebagian
orang, itu mungkin hanya dianggap sebagai tindakan tidak tahu malu dari orang
yang tidak mau menyerah.
Pasti akan muncul
orang-orang yang menganggapku bodoh karena tidak bisa menghadapi kenyataan,
lalu meremehkanku.
Tapi, wajar saja
jika aku tidak mau menyerah.
Karena aku tahu
dunia ini seperti apa. Karena aku sudah menyadari bahwa ini adalah dunia Dark
Fantasy yang sialan.
Akan lebih baik
jika masa depan sudah pasti aman, di mana aku bisa menghabiskan hari-hari damai
bersama Master selamanya sehingga aku boleh membuang pedangku.
Tapi, pada
akhirnya tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Pengetahuan asliku tentang cerita
ini pun semuanya samar-samar dan tidak terlalu berguna.
Bahkan
Kota Suci yang dilindungi oleh empat Orang Suci terkuat dalam karya aslinya
pun, tidak aneh jika beberapa tahun lagi akan hancur karena invasi monster.
Aku telah
mengubah akhir cerita yang musnah di karya aslinya.
Tapi,
siapa yang bisa menjamin bahwa kejadian kedua tidak akan datang?
Siapa
yang bisa menjamin anak seperti Luellie tidak akan muncul lagi di depanku?
Di dunia
seperti itu, jika aku disuruh melepaskan pedang──satu-satunya kekuatan yang
terus kuasah──apakah aku bisa mengangguk dan berkata "baiklah"?
Jika
akibat menyerah itu, tubuhku tidak bisa bergerak dan tidak bisa melakukan
apa-apa di saat genting.
Padahal
jika aku terus berjuang tanpa menyerah, aku mungkin bisa mengubah sesuatu meski
sedikit──jika aku sampai dihadapkan pada kenyataan seperti itu, aku tidak akan
bisa tenang meski sudah mati berkali-kali.
Di dunia ini,
tidak ada Dewa yang akan menolong saat kita kesulitan.
Justru karena aku
tahu punggung sang protagonis karya asli yang terus berjuang meski telah
kehilangan segalanya.
"Kalau kamu
tidak punya tekad maupun kemampuan itu, maka di sini aku akan dengan senang
hati──"
"──Ramzey."
Memotong Ramzey, aku membatalkan Accessorize pada
pedang kesayanganku secara instan.
"Aku paham maksudmu. Tapi kamu juga bilang, kan, bahwa
bajingan tidak akan paham meski dijelaskan sampai mulut berbusa. ……Kalau
begitu, tidak perlu banyak bicara lagi, kan?"
Aku menggenggam sarung pedang dengan tangan kiri, dan
menyorongkannya lurus ke arah Ramzey.
Sepertinya aku sudah mulai paham bahwa orang ini berdiri di
depanku sekarang karena dia juga punya pemikiran tersendiri.
Namun, karena dia sudah susah payah membuat arena duel yang
pas ini──maka adu mulut lebih jauh tidak lagi diperlukan.
"Tekad,
kemampuan, atau apa pun itu, semuanya akan kutumpahkan ke dalam pedang
ini."
Karena sejak
awal, aku datang ke sini dengan niat untuk membungkam semua orang yang berisik.
"──Pasang
kuda-kudamu."
"……!!"
Aku tidak peduli
apa niat sebenarnya dari Ramzey.
Tidak
perlu ada kebisingan sebelum pertarungan.
Saat
pedang dicabut, melalui sensasi di tangan kanan, pedang kesayanganku dan jiwaku
akan menyatu.
Seluruh
darah yang mengalir di tubuhku menjadi jernih, menghapus segala pikiran kosong
dari kesadaranku.
Ini
berbeda dengan latihan yang kulakukan bersama Yulithia dan yang lainnya.
Sudah
lama sekali──sebuah pertarungan sungguhan yang murni melawan musuh yang tidak
kuketahui seberapa kuatnya, teknik pedang apa yang digunakannya, atau sihir apa
yang dikuasainya.
Kikis
habis semuanya.
Di
panggung ini, hanya perlu ada dua hal: satu tebasan pedang dan musuh yang harus
dikalahkan.
Dalam
pandangan ini, hanya perlu ada perbedaan antara apa yang harus ditebas dan apa
yang tidak boleh ditebas.
Lebih
dalam──lebih dalam lagi ke dalam pedang.
◆◇◆
『──Oi. Oi,
kenapa kamu malah bengong. Bangunlah.』
『……Ah. Ah, Ramzey. Maaf, aku tadi sedang melamun……』
『Duh,
masih terlalu dini bagimu untuk bersikap seperti orang tua pikun. Kalau begini
terus, tidak ada yang tahu kapan kamu bisa kembali bertarung.』
『Haha,
benar juga. ──Mungkin, aku sedikit lelah.』
Selama
beberapa hari terakhir, ingatan buruk terus melekat di benakku.
Kejadian
dari sepuluh tahun yang lalu──namun masih terasa sangat nyata hingga sekarang,
ingatan tentang masa terburuk dalam hidup Ramzey.
Bahkan
sekarang, aku masih merasakan ketidaknyamanan seolah-olah saraf di kepalaku
sedang dicakar.
Sejak
awal, memang benar aku tidak menyukai pemuda bernama Wolka itu. Segala hal
tentang dirinya selalu mengingatkanku pada teman lamaku.
Bagaimana
dia hanya tahu cara hidup dengan pedang, bagaimana dia diberkati rekan-rekan
hingga mencapai peringkat A, dan bagaimana dia sangat diharapkan masa depannya
sebagai petualang.
Dan juga,
bagaimana dia tiba-tiba kembali setelah kehilangan satu kaki suatu hari nanti.
Aku tahu, apa
yang kulakukan hanyalah semacam pelampiasan rasa kesal.
Sangat salah
untuk menumpahkan emosi yang sudah membusuk dan bernanah selama lebih dari
sepuluh tahun kepada Wolka, apa pun alasannya.
Namun, sebagai
orang yang tahu akhir dari manusia yang memilih jalan serupa, aku tidak bisa
menahan hatiku yang mendidih.
『Kupikir hanya
kehilangan satu kaki tidak akan jadi masalah. Kupikir aku bisa segera kembali
bertarung begitu punya kaki palsu. ……Aku tidak menyangka akan jadi sehebat ini
rasa ketidakberdayaan itu.』
Padahal itu semua
demi menebus dosa karena gagal melindungi rekan party-nya, dan demi
membalas dendam pada kaum Iblis yang telah merengut segalanya.
Teman lamaku
memilih jalan yang siapa pun tahu betapa beratnya──dan kemudian dia menabrak
dinding kenyataan, lalu hancur.
『Hari ini aku
hampir dikalahkan oleh monster peringkat C. Orang-orang kembali mencibirku dan
menyuruhku menyerah. Aku mulai kehilangan tempat di Perserikatan. Aku bisa
mendengarnya…… mereka bilang aku tidak tahu malu, mereka bilang aku harus
melihat kenyataan.』
Sampai akhir
hayatnya, temanku itu menderita karena beban berat dari satu kaki yang hilang
dan ketidakpahaman orang-orang di sekitarnya yang tak kunjung hilang.
『Awalnya kupikir
aku tidak perlu memikirkannya. Kupikir aku tidak akan peduli apa pun yang
mereka katakan. ……Tapi setiap kali aku merasakan kenyataan bahwa aku tidak
punya kaki, aku jadi semakin tidak bisa mengabaikannya.』
Sedikit demi
sedikit, mentalnya terkikis hingga dia menjadi sangat kuyu.
Justru karena dia
hanya hidup untuk pedang, dia putus asa menghadapi kenyataan bahwa dia tidak
bisa lagi melakukan apa pun dengan pedangnya.
『Bertahan hidup
dengan mengorbankan nyawa semua orang, tapi akhirnya malah jadi begini.
──Sungguh, membuatku muak.』
Untuk menepis
ketidakpahaman di sekitarnya, temanku butuh hasil nyata.
Untuk membungkam
orang-orang berisik itu, dia harus membuktikan bahwa dia tetap bisa bertarung
meski kehilangan satu kaki.
Temanku tersudut.
Setelah menabrak
dinding dan hancur, dia tetap memaksakan diri demi hasil nyata.
Dan pada
akhirnya, dia mati tanpa sempat menemukan Iblis yang menjadi musuh
bebuyutannya──.
Itulah sebabnya,
melihat Wolka membuatku kesal.
Bukannya aku
ingin menahan pemuda nekat ini. Jika punya tekad, silakan saja pergi──tapi
apakah kamu benar-benar paham betapa terjalnya jalan yang akan kamu lalui?
Bukankah kamu
hanya keras kepala karena tidak bisa menerima kenyataan kehilangan satu mata
dan satu kaki, dan bertindak secara emosional seperti anak kecil yang sedang
mengamuk?
Tidak seperti
temanku, kamu bukannya gagal melindungi siapa pun, justru luka itu adalah bukti
bahwa kamu telah mempertaruhkan segalanya untuk melindungi mereka.
Lalu kenapa kamu
masih ingin menempuh jalan penderitaan lebih jauh?
Lihatlah
rekan-rekanmu. Apakah apa yang ingin kamu lakukan itu layak diperjuangkan
sampai harus membuat rekan-rekan yang sudah susah payah kamu lindungi itu
menderita?
『Kenapa, hal
seperti ini harus terjadi──』
Di sudut
pikirannya, ingatan buruk itu terasa sakit berdenyut-denyut.
Dunia ini memang
sialan.
Dewa tidak pernah
menyeimbangkan timbangan takdir.
Jumlah
kebahagiaan dan kemalangan tidaklah setara.
Langit dengan
wajah tak berdosa merampas masa depan orang, dan pada akhirnya dengan tenang
menjerumuskan mereka ke dalam keputusasaan yang lebih dalam.
Tidak peduli
apakah kamu punya kaki atau tidak, di dunia ini kamu tidak bisa melakukan apa
pun tanpa kekuatan.
Jika tidak bisa
mengalahkan satu bajingan di depan matamu, itu tidak akan membuktikan apa-apa.
Meski kamu orang
cacat, justru karena kamu orang cacat, sekali kamu memilih jalan itu, kamu
harus menundukkan semua rintangan yang mengganggu dengan kekuatanmu sendiri.
Jika kamu tidak
memahami hal itu. Jika kamu tidak punya tekad maupun kemampuan.
Jika pada
akhirnya kamu akan patah seperti temanku itu, maka akan jauh lebih baik jika
kamu menabrak kenyataan sekarang juga di sini agar bisa hidup bahagia bersama
rekan-rekanmu──
"……Heh.
Apa-apaan itu."
──Segala pikiran
rumit di kepalanya tiba-tiba tersapu bersih hingga ke akarnya.
Saat pendekar
pedang bermata satu dan berkaki satu itu mencabut pedang dari sarungnya, Ramzey
berdiri terpaku merasakan sensasi merinding yang kuat di kulitnya.
Itu adalah
perasaan yang berbeda dari ketakutan; sekujur tubuhnya meremang, dan keringat
murni mengalir di lehernya.
Wolka.
Rumor tentang
orang yang memiliki kekuatan luar biasa dan mampu mengintimidasi orang lain
hanya dengan auranya──hal itu kini benar-benar terjadi di depan mata Ramzey.
Pemuda yang
seharusnya terlihat terluka parah dari sudut mana pun, kini seolah ingin
mewarnai seluruh tempat latihan dengan aura bertarung yang terpancar dari
tubuhnya.
Semua orang
kehilangan kata-kata, menahan napas, dan seolah terhisap ke dalam keheningan
yang disertai rasa merinding yang perih.
Namun anehnya,
sensasi intimidasi itu hampir tidak terasa sama sekali.
Apa yang
dirasakan kulit Ramzey bukan perasaan tidak menyenangkan seperti ditekan secara
paksa dari atas.
──Melainkan
seperti rasa takjub yang membersihkan jiwa dan raga, sama seperti saat
melangkah ke dalam wilayah yang suci.
"──"
Wolka memasang
kuda-kuda dengan pedang di tangan kanan di depan, dan sarung pedang di tangan
kiri di belakang.
Gerakan yang
tampak biasa itu justru sangat menarik perhatian hingga membuat orang menahan
napas.
Itu adalah sebuah
ayunan pedang yang tajam dan tanpa cela.
"Oho,
bukannya kamu punya teknik mencabut pedang andalanmu itu?"
"Ya──"
Meski dicoba
untuk diprovokasi dengan ringan, jawaban Wolka tetap tenang. Dari mata kiri
yang berwarna hijau zamrud, terlihat kilatan cahaya tajam seperti petir. Tidak
diragukan lagi, dia sedang melangkah ke dalam kondisi mental yang terpisah dari
orang biasa.
──Orang
ini, jiwanya benar-benar terbang ke dimensi lain. Antara tanpa cela atau tenang seperti permukaan
air……
Melihat orang
bodoh yang hanya fokus pada pedang sampai mencapai tingkat ini, rasanya malah
menyegarkan.
……Sepertinya
pemuda ini adalah orang bodoh sejati yang jauh melampaui imajinasi Ramzey.
Ramzey merasakan
sudut mulutnya terangkat membentuk senyuman yang penuh kebencian.
"……Jadi
tidak perlu banyak bicara lagi, ya. Benar juga."
Begitu
lebih baik.
Bajingan
merosot di depan matanya ini, lebih baik dihancurkan saja tanpa perlu banyak
tanya.
Apa yang
harus dilakukan Wolka sekarang adalah berkuasa dengan kemampuan yang tidak akan
membiarkan siapa pun melayangkan protes.
Menciptakan
sebuah cerita lucu yang menyenangkan di depan kerumunan orang banyak ini,
tentang bagaimana seorang pendekar pedang muda bermata satu dan berkaki satu
menghajar seorang petualang sampah.
Katakanlah──"Berisik,
diamlah. Semua orang yang meremehkanku akan berakhir seperti ini."
"──Bagus
kalau begitu!!"
Maka Ramzey
mencabut pedangnya dan membalas dengan raungan keras.
"Tundukkan
aku, sampai aku tidak bisa bicara apa-apa lagi!! ──Sampai aku tidak punya pilihan selain terpesona
olehmu!! Kalau kamu cuma modal tampang, akan kuhajar sampai hancur!!"
……Jika harus
kalah dari orang ini, lebih baik kalah sampai tidak ada yang tersisa.
Sampai ingatan
yang berkarat dan rasa sakit di saraf ini tersapu habis tanpa sisa.
◆◇◆
"……Oyo? Wah,
ternyata kamu juga datang menonton."
"Iya.
……Terima kasih atas bantuan Anda saat sidang tempo hari, Tuan Fuji."
Di sebuah sudut
lorong dekat pintu masuk, ada dua sosok yang memperhatikan Wolka dan Ramzey
yang sedang berhadapan di tempat latihan tanpa diketahui siapa pun.
Mereka adalah
Rochshult, yang hari ini pun berjalan-jalan dengan setelan ksatria biasa, dan
Fuji, yang seperti biasa tampak santai dan kurang bersemangat.
Dari posisi
mereka, sosok Wolka terlihat sangat jelas, namun para penonton di arena tidak
bisa melihat mereka berdua.
Keduanya berdiri
di posisi yang sangat strategis, bersembunyi di balik bayangan tanpa
membocorkan hawa keberadaan sedikit pun ke sekitar.
"Kenapa
tidak menonton dari jarak lebih dekat saja? Kamu sudah memasang sihir penghambat
pengenalan dengan benar, kan?"
"Tentu saja
tidak ada celah. Tapi tetap saja, sosok seorang ksatria akan sedikit mencolok.
Bagi saya, dari sini pun sudah cukup."
"Begitu
ya."
Rochs mendengar
kabar tentang keributan ini kemarin, tepat setelah ia selesai bertugas mengawal
Saintess di ruang sidang.
Saat itu ia
sedang pergi ke Distrik Seitei seperti biasa untuk menikmati makan malam
bersama beberapa wanita.
"Eh, Nyonya
sudah dengar?"
"Aduh, masa
sih?"
Jaringan gosip
para ibu-ibu yang menguasai segala rumor di kota selalu memberi Rochs informasi
yang segar dan menarik.
Kabarnya—seorang
petualang muda berkaki palsu terlibat masalah dengan seorang pemabuk, dan
mereka akan melakukan 'adu tanding' di Perserikatan besok siang.
Tentu saja Rochs
tidak merasa khawatir, tapi memikirkan segala kemungkinan, ia tidak bisa
tinggal diam.
Begitu ia kembali
ke Kediaman Suci dan melaporkan semuanya tanpa ditutup-tutupi, sesuai dugaan,
Anze nyaris kehilangan akal sehatnya karena cemas.
Gadis itu bahkan
sampai lupa mengganti jubah biarawatinya dan hendak melesat pergi, hingga Dia
harus benar-benar memitingnya sekuat tenaga agar tidak kabur.
Setelah itu,
dengan bantuan Yuri dan Alca, mereka terus membujuk Anze dengan sabar.
Akhirnya, Saintess
memberikan misi penting kepada Rochs untuk melindungi Wolka dari balik
bayangan.
Fuji sepertinya
memahami situasi tersebut, sehingga ia tidak repot-repot mencari tahu alasan
Rochs berada di sana.
Keduanya lalu
menoleh ke arah tempat latihan secara bersamaan.
"Wah…… tapi
tetap saja, Wolka-kun itu hebat ya."
"Iya,
Anda benar sekali."
Keduanya
tersenyum secara bersamaan.
Dari
sosok Wolka yang berhadapan dengan pria bernama Ramzey itu, terpancar aura Ten-i
Muho yang melampaui manusia biasa.
Aura itu
membuat siapa pun di tempat itu merinding hebat, hingga mereka hanya bisa
terpaku tanpa mampu mengeluarkan suara gumaman sedikit pun.
——Munen
Muso.
Itu
adalah puncak spiritual dalam bela diri yang akan dikejar seumur hidup oleh
siapa pun yang mempersembahkan eksistensinya di jalan tersebut.
Rochs
tidak bisa menahan sudut bibirnya yang terangkat.
Rasa
syukur dan ekstasi yang tak terlukiskan memenuhi setiap sudut hatinya.
Inilah
ranah yang dicapai oleh pria yang telah mendobrak 'Pintu' di ambang kematian
dan membinasakan sang Grim Reaper .
Bisa menyaksikan
momen ini secara langsung di depan mata, Rochs tidak bisa menemukan kata lain
selain kebahagiaan murni.
Ia kemudian
bertanya pada Fuji.
"Tuan Fuji,
apakah sihir proyeksi di sini……"
"Tentu saja
sedang berjalan."
Selama duel
berlangsung, sebuah penghalang dipasang di sekitar tempat latihan untuk
mencegah serangan nyasar ke arah penonton.
Di Perserikatan
Kota Suci, penghalang tersebut juga dilengkapi dengan formula 'Sihir Proyeksi'.
Intinya, jalannya
duel direkam dalam bentuk citra magis agar bisa ditinjau kembali jika nantinya
ada protes mengenai kecurangan atau hal lainnya.
Ini adalah
teknologi mutakhir yang sangat canggih, dan sejauh ini hanya dimiliki oleh
cabang Perserikatan di Kota Suci dan Ibu Kota Kerajaan.
Rochs tersenyum
semakin lebar.
"Kalau
begitu, setelah duel selesai, bisakah Anda menyalin rekamannya ke dalam batu
sihir untuk saya?"
"Eeh?
Menyalin itu memakan banyak waktu dan tenaga, lho……"
"Ini adalah
titah langsung dari Nona Angesheit dan Nona Lesterdia."
"Uwaah……"
Anze sendiri
pasti sekarang sedang sangat cemas sampai tidak bisa fokus menjalankan tugasnya
sebagai Saintess, dan kemungkinan besar sedang dimarahi oleh Dia.
Jika Rochs
membawa pulang salinan rekamannya, gadis itu pasti akan sangat gembira dan
memutarnya berulang kali setiap kali ada waktu luang.
Dan saat
perasaannya sudah tidak terbendung lagi, Anze pasti akan memamerkan rekaman itu
kepada orang-orang di sekitarnya.
Mulai dari Dia,
tentu saja, hingga Star Eye Saint Yurilias, Holy Misfortune Saint
Alkasiel—dan bahkan kepada dua Ksatria Suci lainnya selain Rochs.
Fuji menggaruk
kepalanya.
"……Jadi
intinya, kamu sama sekali tidak meragukan kemenangan Wolka-kun, ya?"
Rochs menjawab
seketika tanpa perlu berpikir sedetik pun.
"Tentu saja.
Pertanyaannya hanyalah bagaimana dia akan menang."
"Hahaha,
kepercayaan yang cukup berat ya."
Tepat pada saat
itu, di panggung tempat latihan, Ramzey mengaum dengan keras.
"Bagus kalau
begitu!! Tundukkan aku sampai aku tidak bisa bicara apa-apa lagi!! ——Sampai aku
tidak punya pilihan selain terpesona olehmu!! Kalau kamu cuma modal tampang,
akan kuhajar sampai hancur!!"
Di dalam tempat
latihan yang sunyi tanpa suara bisikan sedikit pun, Wolka dan Ramzey mulai
melapisi senjata mereka dengan Heartless.
Udara yang
tadinya seolah menelan para penonton, kini terasa semakin menegang dan tajam
hingga membuat orang ragu untuk sekadar bernapas.
Karena duel resmi
yang diakui Perserikatan wajib menggunakan Heartless, bisa dibilang
hampir tidak ada risiko mengalami cedera serius.
Meski
begitu, tekad yang berkobar di sana benar-benar terasa seperti pertarungan
hidup dan mati di medan perang yang sesungguhnya.
"——Ah,"
Dari
bangku penonton, terdengar suara pekikan kecil seorang gadis.
Diikuti
oleh suara benda berbentuk tongkat yang jatuh membentur lantai dengan keras.
Sepertinya
salah satu penyihir yang tertelan oleh aura bertarung Wolka tidak sengaja
melepaskan tongkat sihirnya dari genggaman.
Itu
menjadi tanda dimulainya pertarungan, dan angin kencang langsung menderu di
arena.
Ramzey
meledakkan Strength secara instan dan menyerjang maju dalam garis lurus
yang sangat jujur.
Sebuah
pertarungan depan-depanan tanpa intrik—entah karena dia membenci tipu muslihat
dalam duel, atau karena dia menganggap remeh lawan yang kehilangan satu kaki.
Apa pun
alasannya, gerakan Wolka untuk menyambutnya terasa secepat dan seakurat aliran
air yang jernih.
Pedang Ramzey
yang diayunkan secara vertikal melewati tubuh Wolka begitu saja.
"Ooh."
Fuji
bergumam kagum secara singkat.
Tentu
saja, pedang itu tidak benar-benar menembus tubuhnya.
Wolka
mengalihkan pedang Ramzey ke arah belakang dengan gerakan yang sangat mulus
hingga menciptakan ilusi seolah serangan itu menembus dirinya.
Ia
memposisikan pedangnya sedikit miring saat Ramzey menebas, membiarkan mata
pedang lawan tergelincir di atas bilah pedangnya, dan membiarkannya lewat dalam
jarak yang nyaris bersentuhan dengan tubuh.
Bagi Ramzey
sendiri, ia pasti merasa tebasannya tidak merasakan hambatan apa pun, seolah
benar-benar menembus udara.
"……!?"
Karena
momentum tebasan vertikal yang menebas angin secara tak terduga, tubuh Ramzey
limbung ke depan.
Namun,
keputusannya setelah itu sangat cepat dan tepat.
Ia segera
berbalik dan melepaskan satu tebasan mendatar, nyaris menangkis balik pedang
Wolka yang sudah bersiap melakukan serangan balasan.
Ramzey menjaga
jarak untuk memulihkan posisinya, lalu mendecak lidah dengan senyum menantang.
"Cih……
teknik seperti itu, mana mungkin bisa dilakukan bocah tujuh belas tahun."
Suara bisik-bisik
mulai terdengar dari para penonton.
Menangkis
serangan lawan dengan gerakan minimal demi mendapatkan efisiensi maksimal—jika
hanya diungkapkan dengan kata-kata, teknik itu terdengar sangat sederhana.
"Apa
Wolka-kun tidak punya rasa takut sama sekali ya……"
"Orang
biasa bahkan tidak akan berani mencoba menirunya."
Bagaimana
tidak, dia membiarkan pedang lawan melintas sangat dekat hingga nyaris
menggores kulit.
Jika ada
sedikit saja kesalahan dalam ritme kekuatan atau penentuan waktu, ia akan
langsung terkena serangan telak.
Itu
adalah teknik tingkat tinggi yang hanya bisa terwujud berkat kemampuan luar
biasa serta hati yang jernih tanpa keraguan maupun ketakutan.
Namun,
tidak ada rasa terkejut di hati Rochs.
Baginya, wajar
saja jika Wolka bisa melakukan hal itu.
Sebab jika hanya
bicara soal kemampuan pedang, pria itu adalah sosok yang mampu bertarung
seimbang melawan dirinya yang merupakan seorang Ksatria Suci.
"Trik
yang sama tidak akan berhasil dua kali……!!"
Ramzey
kembali merangsek maju.
Sesuai
ucapannya, kali ini posisi Ramzey tidak goyah sedikit pun meski pedangnya
dialihkan, ia justru terus melancarkan serangan beruntun yang tajam ke arah
Wolka.
Sekilas
ia tampak hanya mengayunkan pedang secara membabi buta, namun Rochs menyadari
bahwa itu bukanlah ilmu pedang jalanan.
Kombinasi
serangannya mirip dengan aliran pedang yang banyak dipelajari di negeri ini.
Itu
adalah ayunan pedang dari seseorang yang pernah menempuh jalan pedang secara
formal dengan sungguh-sungguh.
Rochs
bertanya kepada Fuji.
"Seberapa
banyak Anda sudah menyelidiki pria bernama Ramzey ini?"
"Hmm?
Tidak, tidak, ada banyak hal yang tidak diketahui oleh paman tua ini,
lho."
"Anda
terlalu rendah hati."
Karena
tidak ada yang menguping di sekitar mereka, Rochs langsung bertanya secara
blak-blakan kepada Fuji yang berpura-pura bodoh itu.
"—Sebagai
seorang Agen Khusus dari Seido Kyokai, mana mungkin ada sesuatu di Kota
Suci ini yang luput dari penyelidikan Anda."
"……Kamu
terlalu melebih-lebihkan aku."
Agen
Khusus—mereka adalah anggota Seido Kyokai namun bukan pendeta maupun
ksatria.
Bisa
dibilang mereka adalah agen yang menyusup ke kalangan masyarakat sipil atas
perintah gereja.
Dalam
keadaan darurat, mereka diberikan wewenang komando yang setara dengan komandan
ksatria jika diperlukan.
Mereka
menjalankan investigasi serta pengumpulan informasi tanpa terikat oleh struktur
formal gereja.
Saat ini
ada enam Agen Khusus di Kota Suci.
Ada yang
menyamar sebagai staf pemalas di Perserikatan Petualang, ada yang menjadi
pengelola pelabuhan komersial, ada yang menjadi pedagang besar logistik, dan
ada pula yang menjadi pemilik bar terkenal.
Semuanya membaur
dalam kehidupan sehari-hari Kota Suci dengan identitas samaran.
Di antara berbagai jabatan di Seido Kyokai, mereka bisa dibilang sebagai kelompok yang paling misterius dan sulit ditebak kedalamannya.
Sejujurnya,
bahkan bagi Roche yang seorang Holy Knight, dia tidak tahu detail mengenai
kenyataan yang sebenarnya.
Sosok bernama
"Fuji"—yang sering dicemooh sebagai pemalas nomor satu di Guild
Petualang—apakah benar-benar ada di depan mata Roche sekarang, ataukah itu
hanyalah identitas palsu yang diciptakan untuk membaur dengan masyarakat sipil?
"Yah,
bagaimanapun aku ini orang Guild, jadi aku sudah menyelidiki hal-hal
mendasarnya. Katanya—"
"Ora-ora,
ada apa? Apa cuma bisa bertahan saja, hah!?"
Tepat saat Fuji
hendak melanjutkan kalimatnya, provokasi Ramzey bergema kencang di seluruh area
latihan.
Serangan
bertubi-tubi Ramzey semakin ganas, namun Wolka menangkis semuanya tanpa cela
sambil mundur selangkah demi selangkah.
Gerakannya begitu
sinkron, seolah-olah itu adalah sebuah tarian yang alurnya sudah ditentukan
sejak awal.
Wolka telah membaca seluruh gerakan pedang Ramzey dengan
sempurna.
"Cih, menyebalkan...!!"
Hal itu membuat Ramzey tidak sabar. Dia melancarkan tebasan
vertikal dengan kekuatan penuh dari posisi yang agak tinggi.
Namun, bagi Wolka, itu bukan masalah besar. Jika petualang
biasa yang menghadapinya, mereka mungkin tidak akan sempat menyadari bahwa
tebasan yang mendekat itu adalah ayunan besar yang ceroboh, sehingga jalur
pedangnya sedikit melenceng.
Akan tetapi, di hadapan Wolka yang memiliki kemahiran luar
biasa dalam teknik Battoujutsu, celah sesaat itu menjadi celah fatal
yang mematikan.
Bunyi
denting logam yang nyaring terdengar saat pedang beradu dengan pedang.
"gh—!?"
Pedang Ramzey
tiba-tiba terpental ke atas. Terhadap jalur pedang yang lemah itu, Wolka
membalas dengan tebasan ke atas secepat kilat, menghantam pangkal bilah pedang
lawan dengan akurasi yang tak tertandingi.
Tubuh Ramzey
yang momentum awalnya terhenti pun terbuka lebar secara vertikal.
Pada saat
yang sama, Wolka sudah berada dalam posisi Battou di dalam jangkauan
lawan.
"...!!"
Kulit
Roche merinding seketika. Tidak, kau ini, gerakan itu agak tidak masuk
akal—tepat di saat melepaskan tebasan ke atas, dia sudah masuk ke posisi Battou
di pertahanan lawan.
Dengan
teknik secepat dewa yang tidak bisa diikuti oleh mata maupun pikiran orang
biasa, Wolka membalikkan keadaan antara menyerang dan bertahan dengan sangat
mudah.
Satu
tebasan.
Tentu
saja, itu adalah Battou yang sangat tertahan agar tidak merusak kaki
palsunya.
Kecepatannya
dibuat sedemikian rupa agar orang biasa masih bisa merespons sedikit.
Faktanya,
reaksi Ramzey nyaris sempat. Dia mencoba menahan bilah pedang yang terbang
menyamping itu dengan bagian datar pedangnya.
Bunyi
benturan logam yang keras mengguncang seluruh area latihan, dan tubuh Ramzey
terpental jauh.
"Guaah...!?"
Ramzey
nyaris bisa bertahan meski keseimbangannya sangat kacau.
Tetap
saja, pria dewasa sepertinya tidak mampu menahan tumpuan dan meluncur hingga
hampir setengah jarak area latihan sebelum akhirnya berhenti.
Kegaduhan para
penonton semakin menjadi-jadi. Dari posisi Roche pun, suara-suara keterkejutan
dan kebingungan mulai terdengar jelas.
"Oi, apa
orang itu benar-benar pakai kaki palsu?"
"Ce-cepat
banget sampai nggak bisa diikuti mata. Aku memang dengar rumornya, tapi..."
"Lagi
pula, tebasan ke atas tadi aneh banget, kan? Bagaimana bisa dia masuk di waktu seperti itu? Apa
rasa takutnya sudah rusak...?"
Di satu sisi ada
petualang veteran yang bugar tanpa luka, di sisi lain ada orang dengan luka
berat yang kehilangan satu mata dan satu kaki.
Mungkin, tidak
sedikit orang yang berpikir bahwa duel ini tidak akan menjadi pertandingan yang
seimbang.
(...Ah, benar.
Justru karena itulah, kau...)
Ya,
normalnya duel semacam ini tidak akan mungkin terjadi. Alasan Wolka bisa
bertarung dengan hebat melawan Ramzey sekarang adalah murni karena latihan
keras yang luar biasa yang telah dia tumpuk.
Meski dia
menjatuhkan diri dalam pelatihan yang berdarah-darah, meski nyaris dibunuh oleh
dewa kematian, meski dibebani belenggu berat berupa satu mata dan satu kaki,
dia tetap mencoba membuka jalannya sendiri dengan pedangnya sendiri.
Mungkin
itu bisa disebut sebagai cara hidup seorang pria bernama Wolka—hal itulah yang
tak henti-hentinya menggetarkan hati Roche, pria yang dulu pernah dijuluki
sebagai "Anak Emas Pedang".
"Hah,
kalau cuma adu pedang, sepertinya kau lumayan juga...!"
"Ya—"
"Kalau
begitu, bagaimana dengan yang ini!?"
Meski seharusnya
dia sudah menyadari perbedaan kekuatan mereka, Ramzey sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda gentar. Dia membenahi posisi pedangnya dan kembali
maju.
Awalnya, itu
terlihat seperti pengulangan serangan bertubi-tubi yang tidak jauh berbeda dari
sebelumnya.
—Sampai tiba-tiba
dia menukikkan lintasan pedangnya dengan tajam, menyerang kaki palsu Wolka.
"...!"
Wolka dengan
cepat menarik kaki palsunya untuk menghindar. Namun, reaksi spontan itu justru
menjadi bumerang; pusat gravitasinya sedikit melayang di udara.
Membaca hal itu, Ramzey segera membalas dengan satu tebasan
balik.
"Syaaahh!!"
Tentu saja, meski dikejutkan, gerakan tubuh Wolka masih
memiliki kelonggaran. Singkatnya, dia berhasil menangkis serangan licik yang
mengincar kaki palsu itu dengan gemilang.
Namun, untuk
pertama kalinya, Wolka "menerima" pedang Ramzey. Dia tidak bisa
mengalihkannya. Ramzey menyeringai licik.
"Kau tidak
akan bilang ini curang, kan...? Kau menunjukkan kelemahan yang begitu jelas,
wajar saja kalau diincar, kan?"
"O-orang
tua mabuk bodoh ini—!! Apa
kau tidak tahu kata sportivitas!? Dasar bodoh, bodoh, tolol, tukang
curang—!!"
Seketika, protes
keras Shannon meledak dari kerumunan penonton, disusul oleh sorakan ejekan yang
tajam, terutama dari para petualang muda.
Menyerang
kelemahan musuh dari depan memang bisa dianggap sebagai salah satu taktik,
namun serangan itu dipertanyakan apakah pantas dilakukan di arena duel.
Setidaknya, Roche tidak akan melakukan hal seperti itu.
Fuji pun
menyipitkan matanya dengan ekspresi jengah.
"Aah, si
bodoh itu, malah melakukan hal seperti itu..."
"Dia
benar-benar bernyali ya. Kalau aku jadi dia, aku akan sangat takut dengan
pembalasan Nona Lizel dan yang lainnya."
Melihat ketiga
gadis yang marah itu tidak menyerbu masuk dan mengubah Ramzey menjadi kain pel,
sepertinya batas kesabaran mereka masih bisa mempertahankan rasionalitas.
"Oya,
kupikir kau akan sedikit marah."
"Tentu saja,
jika dia adalah pria yang tidak pantas disebut pendekar pedang, aku tidak akan
tinggal diam."
Pedang adalah
cermin yang memantulkan hati penggunanya. Seberapa pun hebat kemampuannya
diasah, pedang milik orang yang hidup dengan hati yang jahat akan terlihat
buruk dan menyimpang.
Dalam hal itu,
mengenai jalur pedang Ramzey, kesan Roche adalah setidaknya itu bukan pedang
yang kotor.
Mengingat arti
kata-kata yang dia tanyakan pada Wolka sebelum duel, sepertinya pria ini tidak
menantang duel hanya karena niat jahat semata—
"Berikutnya
yang ini...!"
Selanjutnya, Ramzey
menendang tanah dan mulai mengubah jarak.
Jika sebelumnya
dia bertarung dengan gagah berani dari depan, sekarang dia bergerak memutar ke
sisi kiri—yakni, mengambil titik buta dari mata kanan Wolka yang hilang.
Tentu saja Wolka merespons dengan cepat, tapi—
"Ini dia!!"
"gh!?"
Tepat saat dia berbalik, sesuatu mengenai wajah Wolka.
—Pasir. Ramzey telah menyiapkan pasir di saku jaketnya.
Bahkan Wolka yang hebat sekalipun, pasti tidak menduga bahwa
pasir akan terbang dalam sebuah duel.
Mata kiri Wolka tertutup. Penglihatannya direnggut dan dia
terlempar ke dalam kegelapan.
"Kehilangan
satu mata itu artinya begini! Kalau aku memutar ke titik butamu dan melemparkan
pasir, semuanya berakhir! Kau hanya bisa dihajar tanpa bisa berbuat
apa-apa...!"
Posisi Wolka
goyah, kaki palsunya terpeleset dan dia berlutut dengan satu kaki.
Tanpa melewatkan
celah itu, Ramzey mengayunkan pedangnya dengan tebasan menyamping yang tanpa
ampun.
Aku
merasa mendengar teriakan seseorang. Apakah itu Shannon, Lizel, Yuritia, Atri,
atau salah satu penonton yang namanya tak kukenal?
—Hingga
akhir, Ramzey tidak menyadari bahwa meski posisinya goyah, tubuh Wolka telah
mengambil posisi Battou.
Tidak,
bahkan jika dia menyadarinya pun, dia pasti akan tetap mengayunkan pedangnya
dengan cara yang sama.
Pedang Ramzey
terbang ke udara.
"—,"
Pada saat
itu, Ramzey sama sekali tidak mengerti mengapa pedang tiba-tiba menghilang dari
tangannya.
Dan saat itu
juga, beruntun kilatan pedang yang dilepaskan telah menebas Ramzey.
"Gah—"
Suara getaran
udara bergema. Terpaku oleh dampak Mana yang dikonversi oleh Heartless
Blade, tubuh Ramzey terlempar, berguling berkali-kali di tanah, dan baru
berhenti di dekat pinggir arena.
Area latihan yang
sebelumnya penuh kegaduhan, tiba-tiba kembali hening seketika.
"—Fufu.
Fufufufufu..."
"...Oi,
Roche-kun? Cara tertawamu menakutkan, lho?"
"Ups," Roche menutup mulutnya.
"Maaf. ...Habisnya, aku baru saja melihat teknik yang
sangat indah, jadi tidak sengaja."
Ah, benar-benar,
sampai sejauh mana pria ini akan terus menggetarkan hati Roche?
Alasan mengapa
pedang Ramzey terbang ke udara; dengan memanfaatkan sifat Heartless Blade
yang menekan daya bunuh, Wolka menebas ujung jari Ramzey yang menggenggam
pedang.
Hasilnya, karena
rasa sakit dan benturan yang tiba-tiba, kekuatan Ramzey mengendur secara
refleks, dan hanya pedangnya yang terpental ke udara.
Wolka melakukan
hal itu dalam sekejap mata seperti cahaya, di tengah kegelapan karena
penglihatannya direnggut.
(Benar-benar, kau
ini—)
Roche merasa
kagum dari lubuk hatinya, dan sekali lagi dia merasa yakin.
Itu bukan karena
dia dianugerahi bakat hingga dijuluki "Anak Emas Pedang", atau karena
dia terpilih menjadi Holy Knight termuda dalam sejarah.
"Cahaya"
terkuat dalam hidup Roche, tanpa diragukan lagi adalah—
"Ugeh, ada
pasir masuk ke mulut..."
Dan orang yang
menjadi tujuan dari persahabatan yang mendalam itu, justru sedang menepuk-nepuk
pasir dari wajahnya dengan ekspresi konyol.
"Bajingan,
kau seharusnya tidak bisa melihat tadi...!!"
"Ya.
Aku hanya sedang beruntung."
Ramzey
yang terpental mencoba mengerahkan tenaga ke kedua lengannya yang gemetar,
berusaha bangkit secepat mungkin dari tubuhnya yang kehilangan kendali.
Wolka
yang selesai membersihkan pasir menatap pria itu, dan hanya mengucapkan satu
kata dengan tenang.
"Masih
mau lanjut?"
"gh—"
Pemenang
duel ditentukan saat salah satu pihak menyerah atau tidak bisa melanjutkan
pertarungan.
Sejauh
yang Roche lihat, bahkan tanpa keberpihakan pun, kekalahan Ramzey sudah
terlihat jelas.
Meski
daya bunuhnya ditekan oleh Heartless Blade, fakta bahwa dia kesulitan
hanya untuk berdiri menunjukkan bahwa dia menerima kerusakan yang cukup besar.
"—Ya,
masih belum."
Namun, Ramzey
tetap tidak mau mengakui kekalahannya.
Dia
mengangkat tubuhnya yang tidak bisa bergerak bebas hanya dengan kekuatan
lengan, berlutut dengan satu kaki seolah merangkak, dan—
"Kalau
cuma segini, aku masih belum bisa mengerti...!!"
Dia
bangkit meski sempoyongan. Di wajahnya, tersungging senyum yang penuh
kegarangan.
"Sudah
kubilang, kan, buatlah aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi!! Aku masih bisa banyak bicara, jangan sok
hebat menahan kekuatan penuhmu!!"
Provokasi murahan
yang terkesan dipaksakan itu, seolah-olah dia memang berharap untuk dikalahkan
oleh Wolka.
"...Melanjutkan
pembicaraan tadi."
Fuji menggaruk
kepalanya, lalu berbicara seolah sedang membacakan sesuatu.
"Ini cerita
lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ada sebuah party petualang di Kota Suci.
Mereka adalah bibit unggul yang menjanjikan, naik ke peringkat A dengan
kecepatan luar biasa... persis seperti party Wolka-kun."
Roche tidak
mengatakan apa pun, dia tetap menatap ke depan sambil mendengarkan kata-kata
Fuji.
"Tapi, suatu
hari mereka bernasib buruk diserang oleh ras iblis dan party itu hancur. Hanya
ada satu yang selamat, dan dia menderita luka berat hingga kehilangan satu
kakinya."
"..."
"Sepertinya
dia mencoba membalas dendam untuk teman-temannya. Tapi akhirnya, di saat
terakhirnya, dia tewas oleh monster yang seharusnya bukan apa-apa jika saja dia
tidak terluka—"
Fuji memutus
kalimatnya di sana, lalu menghela napas.
"Cerita yang
menyebalkan seperti itu. ...Katanya, Ramzey adalah teman masa kecil orang
itu."
Apa yang
dilakukan Ramzey mungkin memang tidak benar.
Ramzey pun pasti
menyadari hal itu.
Namun, manusia
bukanlah makhluk yang begitu praktis hingga bisa hidup hanya dengan logika
saja.
Di balik
pemikiran usang bahwa orang yang terluka sebaiknya mengundurkan diri dengan
tenang, ada keinginan di suatu tempat agar dirinya yang sekarang—yang hanya
bisa menyangkal jalan yang ingin ditempuh temannya dulu—dihancurkan sampai tak
bersisa.
Itulah sebabnya Ramzey
mencoba terus berdiri di depan Wolka sampai akhir.
Roche tersenyum
kecut. Baru beberapa hari sejak dia kembali ke Kota Suci, mengapa pria itu
selalu dikerumuni oleh orang-orang dengan emosi yang rumit dan merepotkan
seperti itu?
Dia
merasa Wolka memang terlahir di bawah bintang yang seperti itu.
"Kita
lanjut!!"
Ramzey
meraung. Tanpa memungut pedangnya yang terpental, tanpa mengeluarkan senjata
baru, dia mulai menyusun formula sihir serangan dengan Mana yang
dilepaskan.
Sebuah
lingkaran sihir besar muncul di belakang Ramzey, mulai bersinar dengan cahaya
ungu.
"Berikutnya
adalah sihir! Musuh tidak akan selalu bertarung dalam jarak dekat! Dengan kaki
yang bahkan tidak bisa bergerak dengan benar itu, bagaimana kau akan bertarung
melawan musuh yang tidak mau mendekat!?"
"..."
Sebaliknya,
Wolka terdiam sejenak.
Lalu, dia
tersenyum tipis seolah melemaskan ketegangan.
Sambil
tersenyum, dia berkata.
"—Kau
ini, benar-benar orang yang sangat menyebalkan ya."
◆◇◆
"Kau
ini, benar-benar orang yang sangat menyebalkan ya."
"Apa
kau mau cari ribut, bajingan...!!"
Begitu
aku menunjukkan faktanya, dia malah marah. Begitulah dirimu.
Tidak,
habisnya kan memang benar. Setelah bertukar pedang sampai sejauh ini, aku pun
bisa merasakan kalau kau punya pemikiran tersendiri.
Tapi ini,
aku benar-benar kena imbasnya, kan?
Caramu
terlalu berputar-putar, apa tidak bisa dengan cara yang lebih baik sedikit?
...Yah,
begitulah. Bukannya aku merasa kesal yang berlebihan. Justru, aku merasa sesak
di dadaku sudah hilang dan terasa lega.
Aku ini lemah
terhadap pola "kupikir dia orang menyebalkan, ternyata sebenarnya..."
seperti ini.
Karena aku
penganut paham happy ending, aku jadi merasa lega saat menyadari
ternyata tidak ada orang yang benar-benar jahat.
Baik di dunia
sebelumnya maupun dunia sekarang, jika tidak ada orang jahat, maka itu adalah
hal yang terbaik.
Aku berkata.
"Sebenarnya,
kurasa apa yang kau katakan itu benar."
"Ah...?"
Penyusunan
formula sihir Ramzey terhenti. Aku melanjutkan,
"Kau bilang
tadi, kan, kalau aku ini orang yang hanya bisa bergantung pada pedang. Itu
benar. Aku hanya punya pedang. Aku payah dalam bersosialisasi, tidak terlalu
pintar, dan sihirku pun hanya karena jumlah Mana-ku lebih banyak dari
rata-rata. Aku sendiri berpikir, apa yang tersisa dariku jika pedang diambil
dariku."
Pada
akhirnya, aku memang bergantung pada pedang. Karena di dunia yang brengsek ini,
sekarang itulah satu-satunya kekuatan bagiku untuk bisa melindungi seseorang.
Karena jika aku
kehilangannya, aku benar-benar tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi.
Tentu saja bukan
bohong kalau aku bilang aku suka pedang, tapi di baliknya memang benar ada
perasaan keras kepala yang menolak untuk patah begitu saja.
Setelah bertemu
dengan gadis bernama Luellie, aku menyadari hal itu dari lubuk hatiku yang
terdalam.
"Aku bahkan
tidak tahu bagaimana harus hidup jika pedangku hilang."
Mungkin karena
aku sedikit tahu isi hati Ramzey melalui duel ini, aku juga merasa ingin
mencurahkan sedikit isi hatiku.
"Mungkin kau
mengerti... di dunia ini, tidak ada Dewa yang akan menolong saat kita
kesulitan. Kita harus menggerakkan kaki kita sendiri. Jika tidak, kita tidak
bisa melindungi apa pun."
"..."
Tidak lain dan
tidak bukan, karena tokoh utama dalam karya aslinya memang seperti itu.
"Alasanku
tidak menyerah hanya karena itu... ah, jadi itu, apa ya."
Namun, karena aku
segera merasa malu, aku berhenti.
Ya, aku memang
sangat payah dalam menceritakan isi hatiku sendiri... Jika para Master mendengarnya,
bisa-bisa terjadi kesalahpahaman lagi, jadi lebih baik berhenti di sini.
Aku bersiap.
Menempatkan pedang yang tersarung di pinggang kiri dengan sisi kanan tubuh di
depan—dalam posisi Battou.
"—Akan
kutunjukkan kalau aku bukan cuma bicara besar. Majulah."
"...Hah."
Ramzey tertawa
kecil, lalu melanjutkan penyusunan formula sihirnya. Sihir serangan atribut
petir. Aku bisa melihat petir ungu berkumpul di atas kepala Ramzey, membentuk
wujud seperti tombak.
Aku merasa kagum
dengan kemampuannya yang di luar dugaan. Sihir di dunia ini adalah salah satu
jenis ilmu pengetahuan, dan kemampuannya sebagian besar dipengaruhi oleh
kecerdasan.
Apa orang
ini sebenarnya tipe yang pintar belajar...? Master, maaf, soal kemampuan sihir
sepertinya aku kalah telak.
"Kalau
begitu, hancurkan aku!! Dengan begitu tidak akan ada yang protes lagi!!"
"Ya—"
Entah mengapa,
mungkin karena perasaan sesak di dadaku sudah hilang.
Tanpa perlu
berpikir lagi, kesadaran dan pedangku menyatu dalam sensasi yang setenang
pernapasan.
Pandangan pedang
yang baru saja kukuasai—ya, untuk sementara mari kita sebut dengan nama keren
seperti Sword Realm.
Dunia yang hanya
terdiri dari dua warna: "Putih" yang bisa ditebas, dan
"Hitam" yang tidak bisa ditebas. Ini pertama kalinya aku masuk ke Sword
Realm dalam pertarungan sungguhan.
Ramzey adalah
"Putih", tapi aku tidak akan melakukan hal membosankan seperti
menebasnya dari sini sebelum sihirnya aktif.
Aku akan
menghancurkannya secara adil dari depan. Pedang kesayanganku memberitahuku di
dalam mental yang tanpa kebisingan ini bahwa hal itu bukanlah hal yang
mustahil.
"—Eight-Forked
Lightning: Brixt!!"
Sihir Ramzey
aktif. Tombak petir yang lebih besar dari tubuhku, dan sambaran petir kecil tak
terhitung jumlahnya yang berasal dari sana.
Secara logika,
orang cacat bermata satu dan berkaki satu tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa
sihir.
Sejak awal, sihir
harus dihadapi dengan sihir, dan aku yang mencoba mencegatnya hanya dengan
sebilah pedang pada dasarnya adalah salah.
"Wolkaaaa...!!"
Master meneriakkan
namaku.
Pasti aku sudah
membuatnya memasang wajah yang hampir menangis lagi. Yuritia dan Atri
juga—namun justru karena itulah, aku.
Di dunia tanpa Dewa
ini, dengan tubuh yang kehilangan satu mata dan satu kaki ini, aku diberikan
alasan untuk terus meronta tanpa patah semangat.
Putih.
—Jika apa yang
terjadi pada saat itu harus diungkapkan dengan kata-kata, maka itu akan menjadi
cerita yang agak puitis seperti bualan penyair kelana: "Kilat perak
menebas kilat ungu".
Semua orang yang
berkumpul di area latihan pasti melihatnya.
Semua orang
merasakan dunia putih sesaat yang tanpa suara maupun gerakan.
Tepat saat Eight-Forked
Lightning: Brixt milik Ramzey dilepaskan, yang mereka dengar bukanlah suara
guntur yang menggelegar, melainkan hanya bunyi denting kecil saat Wolka
menyarungkan pedangnya.
Keheningan pecah.
Saat warna
kembali ke penglihatan orang-orang, kilat perak telah memotong-motong kilat
ungu berkali-kali.
Dan kilat perak
itu melompati ruang hingga mencapai Ramzey, membelah lingkaran sihir yang
terbentang di belakangnya menjadi dua.
Lingkaran sihir,
atau dengan kata lain, formula sihir itu sendiri.
Memang benar,
jika formula sihir dihancurkan, maka aktivasi sihir akan terhenti.
Namun, formula
sihir adalah sesuatu yang dipengaruhi oleh Mana, dan bukan sesuatu yang
bisa dihancurkan secara fisik.
Seharusnya tidak
bisa, tapi.
Dia menebas
sesuatu yang seharusnya tidak bisa ditebas secara fisik—berapa banyak orang di
tempat ini yang bisa memahami hal itu?
◆◇◆
"—K-khahaha...
ah, apa-apaan itu tadi."
Ramzey yang
terkapar telentang di tanah tertawa serak seolah-olah dia baru saja melihat
sesuatu yang sangat konyol.
Petir yang hancur
berantakan menjadi sisa-sisa Mana yang pudar, meninggalkan kilauan
seperti debu bintang sebelum akhirnya larut dan menghilang ke angkasa.
Saat aku keluar
dari Sword Realm yang hampir seluruhnya berwarna putih, area latihan
terlihat sedikit lebih berwarna dari sebelumnya.
Huh, sukses...
Yah, begitulah.
Aku tidak
terkejut dengan teknikku sendiri.
Aku punya
keyakinan mutlak bahwa aku bisa menebasnya.
Karena itulah aku menebasnya sesuai dengan
itu.
Mengubah masa
depan tebasan yang ada di dalam kepala menjadi kenyataan.
Ya, benar... aku
sudah ingat sepenuhnya, ini adalah sensasi saat aku menebas Grim Reaper.
Meski ingatan
pertarungannya masih terputus-putus, perasaan bahwa teknik itu telah kembali
dalam bentuk yang sempurna meresap ke seluruh tubuhku seperti aliran darah,
dari ujung jari hingga telapak kaki.
Ramzey masih
tertawa dengan perut yang kejang.
"Bukannya
menangkis, kau malah menebas sihirnya... Kenapa kau malah jadi lebih kuat
setelah kehilangan mata dan kaki, hah...?"
"Yah, banyak
hal yang terjadi."
Lalu, aku
melepaskan posisi Battou dan bertanya pada Ramzey.
"Masih mau
lanjut?"
"...Tidaak."
Ramzey bangkit
perlahan. Dia duduk dengan posisi kasar bertumpu pada satu lutut, mengangkat
kedua tangannya tinggi-tinggi di atas kepala sebagai tanda menyerah.
"Aku kalah!
—Ini kekalahan telak yang tidak bisa kubantah sedikit pun!"
Dia melihat ke
sekeliling penonton, lalu berteriak keras hingga mencapai setiap sudut area
latihan.
"Kalian
semua juga lihat, kan!! Setelah melihat teknik tadi, pasti tidak ada lagi yang
akan memberinya komplain sampah, kan!! Kalau punya keluhan, lakukan hal yang
sama dulu baru bicara!!"
O-oh, dia malah
berbalik mengakuiku... Makanya kubilang berhenti, aku ini lemah dengan hal-hal
seperti itu!
"Wolkaaaa!!"
"Wolka-kuuun!"
"Uo."
Pada saat itu, Master
dan Shannon yang menangis bombastis seperti di manga berlari turun dari kursi
penonton.
Master langsung
menubruk perutku, sementara Shannon memegang tangan kananku dan mengguncangnya
kuat-kuat.
"Hiks, buuu,
aku sangat khawatir tahu!! Aku sangat khawatir, dasar bodoh, bodoh,
bodoh!!"
"Benar
sekali! Aku tidak
mengerti apa yang terjadi, tapi syukurlah Wol-kun menang!!"
"Uooooo."
Tunggu,
bahaya, bahaya, aku bisa jatuh! Aku kan pakai kaki palsu... hm? Barusan sepertinya kaki palsuku berbunyi
kriet-kriet...
Terlebih lagi,
bagian pangkal kaki kiriku juga sedikit sakit.
Aku berniat
bertarung sambil berhati-hati agar tidak memberi beban berlebih, tapi
sepertinya tidak berjalan semulus itu.
Yah, setidaknya
kaki palsuku tidak patah lagi, jadi ini sudah lumayan.
"Kerja
bagus, Senior. ...Tadi sangat keren. Sangat."
"Hm.
Ternyata, Wolka memang hebat..."
Yuritia dan Atri
yang datang belakangan juga memberiku pujian.
Namun entah
kenapa, mereka berdua memegang pipi mereka yang agak merona dengan kedua
tangan.
"Haa... aku
penasaran apa aku bisa tidur nyenyak malam ini..."
"...Aku,
tidak bisa."
A-apa maksudnya
itu...? Karena aku takut bertanya, bolehkah aku pura-pura tidak dengar saja?
Lalu, suara-suara
pujian juga terdengar dari arah kursi penonton.
"Wolka,
tadi keren banget! Kau memang hebat!"
"Tadi
benar-benar melegakan! Kerja bagus!"
"Kapan-kapan
ajari aku pedang ya!"
Aku melihat party
kenalanku bersiul dan melambaikan tangan dengan semangat.
Dari sana,
lingkaran itu semakin meluas dari orang ke orang, hingga akhirnya seluruh area
latihan—termasuk petualang paruh baya yang sebelumnya bicara buruk tentangku,
meski sambil mengerucutkan bibir—dipenuhi oleh suara tepuk tangan yang hangat.
Apakah ini...
yang penting akhirnya baik, atau semacamnya?
"Kukuku,
syukurlah kalau begitu. ...Kau mungkin benci jadi bahan pembicaraan, tapi kalau
kau sekuat ini, jangan sembunyi-sembunyi lagi. Bersikaplah dengan gagah."
"..."
Ramzey sama
sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyesal karena kalah, sebaliknya, dia
malah memberikan kesan cerah seolah-olah beban dalam dirinya sudah hilang.
Aku tiba-tiba
merasa heran. Sebenarnya, sampai sejauh mana duel ini adalah skenario yang
disusun oleh Ramzey?
Setidaknya, pasti
ada semacam tujuan dan bukan sekadar gangguan belaka—
"Hei, apa
kau sengaja—"
"Mana
mungkin."
Ramzey
tiba-tiba menjadi seperti landak yang berduri.
"Jangan
salah paham, apa kau sudah lupa apa yang kukatakan kemarin? Aku berniat
menghancurkanmu dengan kekuatan penuh."
"...Yah,
kalau kau bilang begitu."
Sepertinya dia
berniat untuk tetap mempertahankan citra sebagai petualang senior yang
menyebalkan. Iya, iya, aku mengerti, aku tidak akan mengejarnya lebih jauh.
Lalu di sana, Master
yang menghirup ingusnya menjauh dari perutku.
Dia berbalik
menatap Ramzey yang merasa semuanya sudah selesai sendiri, lalu memberikan
tatapan tajam yang mengancam.
"Hei,
kau."
"...Apa."
"Minta
maaf."
Satu alis Ramzey
berkedut—tidak, dia tampak terkejut.
"Kau bilang
banyak hal jahat pada Wolka. Tadi juga mengincar kaki palsu, melempar pasir...
minta maaf."
Seketika Yuritia
juga menyusul dengan senyuman. Itu adalah senyuman yang sekali lihat saja sudah
tahu kalau hatinya sama sekali tidak tersenyum, senyuman yang memancarkan
tekanan yang tidak seperti gadis tiga belas tahun.
"Benar,
silakan minta maaf. ...Kau mengakui Senior, kan? Kalau begitu kau bisa
melakukannya, kan? Karena kau kan orang dewasa?"
"...,"
Ramzey mencoba
melarikan pandangannya untuk kabur, tapi sebagai serangan pamungkas, Atri
membentuk tangan kanannya seperti cakar.
"Kalau tidak
bisa, aku akan mengajarimu cara minta maaf. ...Dengan paksa."
"............"
Melihat Ramzey
yang terpojok oleh tiga orang gadis hingga kehilangan jalan keluar, maaf saja
tapi itu cukup lucu.
Tidak ada
pria yang bisa tetap bersikap santai dalam situasi seperti ini.
Ramzey
menunduk cukup lama dengan wajah yang terlihat sangat masam, lalu
perlahan-lahan dia memperbaiki posisi duduk bersilanya.
"Aku minta
maaf, ini sungguhan. ...Aku
bersumpah, tidak akan pernah mengganggu kalian lagi."
"O-oh."
Dia
menundukkan kepalanya dalam-dalam dan meminta maaf dengan cukup tulus. Agak
aneh rasanya...
Tapi ya,
dengan begini masalah benar-benar sudah selesai. Master juga mengangguk puas.
"—Kalau
begitu, kami akan memaafkanmu dengan satu tamparan."
Ah, ternyata itu
dihitung terpisah dari "minta maaf" ya...
Ramzey sepertinya
sudah menyadari bahwa perlawanan itu sia-sia.
"...Lakukan
sesukamu."
"Sikap yang
bagus."
Master, Shannon, Yuritia,
dan Atri mulai berbaris secara berurutan. Pertama-tama Master menyingsingkan
lengan bajunya dengan penuh semangat.
"Baiklah,
bersiaplah menerima ganjaranmu. ...Hmph!!"
Plaak!
"Nah, aku
juga mewakili Guild. Ini dia... uryaaah!"
Plaak!
"E-eh...
a-aku akan melakukannya dengan serius. Bersiaplah! —Taah!!"
Dhuarr-Plaak!
"Terakhir
aku. —Gigi, rapatkan."
BOMM-Plaak!
"...Fuu,
rasanya lega!"
"Hawaa, a-aku sudah menampar pria dengan sekuat
tenaga..."
"Semuanya,
itu pukulan yang sangat bagus."
"Benar-benar,
jangan lakukan hal buruk lagi ya!"
Ramzey
yang menerima empat tamparan beruntun yang dahsyat dari empat gadis itu terbang
ke udara sambil berputar.
Dia
terbang, dan...
"RAMZEEEEEY!!"
"Lihat,
dia menjadi abu dengan wajah yang terlihat lega... Kau melakukan hal bodoh
sekali..."
"Ramzey,
aku tidak akan melupakanmu...!"
"..."
Para
petualang paruh baya yang sepertinya kenalan Ramzey menangisi pengorbanan suci
itu dengan air mata pria yang membara.
...Sepertinya, ini penutup yang cukup indah.
Master yang sudah merasa lega berjalan mendekat.
"Wolka, ayo pulang. Hari ini jangan memaksakan diri lagi, istirahatlah dengan tenang di
penginapan!"
"Ya, akan
kulakukan."
Aku mengangguk.
Karena kaki kiriku sepertinya memang sedikit sakit, sebaiknya aku menghabiskan
waktu dengan tenang agar tidak membuat mereka khawatir lagi.
Aku
memegang tangan Master, melangkahkan kaki kiri ke depan—
—Pada
saat itu, terdengar bunyi "krak" yang sangat tidak enak dan
pandanganku terguling ke samping.
"Gah,
Wolka!"
Untungnya
Atri segera bereaksi dan menangkapku.
Namun aku
tidak sempat mengucapkan terima kasih secara spontan, aku hanya bisa bergumam
"Ah..." dengan perasaan pucat pasi sambil menyadari segalanya.
Gawat.
"Wolka!?"
"Senior!?"
"Wol-kun!? Tiba-tiba ada a—"
Master, Yuritia, dan Shannon, semuanya segera menyadari
"hal itu" dan terpaku.
Tidak
mungkin mereka tidak menyadari. Siapa pun yang melihatnya, ada fakta yang
terpampang nyata dan tidak bisa dibantah.
Kaki palsunya
patah.
"...A-anu,
tunggu sebentar semuanya. Ini itu, anu."
Aku ingin memberi
alasan.
Aku su-sudah
berhati-hati agar tidak memberi beban berlebih saat bertarung, tahu?
Sejauh mana
gerakanku masih aman, aku sudah mencobanya berkali-kali dalam latihan harian.
Ini bukan
sengaja. Cuma itu, di bagian terakhir tadi suasananya terlalu terbawa
perasaan...
...
Li-lihatlah,
sampai barusan tadi bukannya sudah berakhir dengan cerita yang sangat bagus?
Master juga
bilang sendiri, kan, ayo pulang ke penginapan dan istirahat. Aku juga setuju.
Tenang
saja, hari ini aku benar-benar tidak akan memaksakan diri lagi. Aku akan diam
tenang. Jadi tolong semuanya tenang dulu. Tenang—
............
E-eh, Master? Yuritia?
Atri?
Kumohon
kembalikan cahaya di mata kalian... Maaf, aku minta maaf! Tunggu, tunggu, ini
di depan umum!
Shannon, jangan
cuma melihat, hentikan mereka! Tunggu seb—
◆◇◆
"—Hei,
Wolka."
Dan sekitar dua
jam kemudian, di atas tempat tidur yang bersih dan putih di Katedral.
"Ada yang
ingin kami bicarakan."
"A-apa
itu?"
Tepat di depanku
agak ke kanan, Master duduk bersimpuh di atas kasur.
Dia memasang
senyum manis yang entah kenapa terasa tidak tersenyum, sebuah senyuman
misterius yang membuat bulu kuduk merinding.
"O-ke?
Dengarkan baik-baik ya."
"A-ah,
ya..."
Saat aku
mengalihkan pandangan ke kiri,
"Mengenai
kaki palsu pengganti Tuan Wolka, sepertinya butuh waktu beberapa hari... kami
benar-benar mohon maaf."
"Be-begitu
ya. Aku yang minta maaf sudah merepotkan..."
Anje mendampingi
di pinggir tempat tidur.
Dia mencondongkan
tubuhnya cukup dekat sambil memegang tangan kiriku, memancarkan aura
pemberkatan yang meluap-luap.
"Tapi jangan
khawatir! Di sini adalah Katedral... agar tidak ada ketidaknyamanan sampai kaki
palsu itu tiba, kami akan merawat Tuan Wolka dengan sepenuh hati!"
"..."
Di depan agak ke
kiri, Yuritia yang juga duduk di atas kasur seperti Master, tersenyum dengan
sangat lebar.
Sampai membuatku
merasa cemas.
"Senior
tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Dari selamat pagi sampai selamat tidur,
serahkan semuanya pada kami ya~"
"...Ha-haha."
"Kami
serius, lho? Karena Senpai-lah yang salah..."
Mulutku sedikit
berkedut.
Entah perasaanku
saja atau bukan, suasananya terasa kembali ke garis waktu saat aku sedang dalam
masa pemulihan di Kota Luther. T
idak, malah
tekanan dari semuanya terasa lebih kuat daripada saat itu—
"Wolka."
Terakhir, Atri
mengintip wajahku dari sisi kanan tempat tidur.
Di atas tempat
tidur yang tidak memberiku jalan untuk kabur maupun bersembunyi, di bawah
pengepungan total dari empat orang gadis ini—dia merangkum situasinya sebagai
berikut.
"Nenek
pernah bilang. —Pekerjaan seorang laki-laki adalah bertanggung jawab."
Tanggung jawab
soal apa?!



Post a Comment