NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Chapter 8

Chapter 8

Pedang Munen Musou


Esok paginya. Setelah menyelesaikan rutinitas harian seperti biasa, kami berangkat menuju Perserikatan.

Akhirnya, aku membuka pintu Sword & Wand yang selama ini terus kuhindari.

Tadi malam setelah kembali ke penginapan benar-benar merepotkan.

Yulithia dan Atri yang mengetahui situasinya langsung datang menyerbu dengan aura yang sangat "berat", membuat lambungku sakit seolah menghabiskan jatah stres untuk seminggu ke depan hanya demi membujuk mereka.

Aku tidak menyangka mereka akan menahanku seolah-olah aku hendak pergi ke medan kematian... Di tengah jalan aku sampai kehabisan kata-kata, dan akhirnya terpaksa menekan mereka dengan suasana yang dibuat-buat seolah aku sangat percaya diri.

Meski merasa sedikit bersalah, ini adalah sesuatu yang harus kulalui sendiri, jadi kuharap mereka bisa memaafkanku.

Begitu melangkah masuk ke Perserikatan, aku langsung merasakan tatapan para petualang di sekitar serentak tertuju padaku.

"Oi, orang itu..."

"Ah, ternyata benar..."

Suara bisik-bisik terdengar dari segala penjuru.

Seperti yang Ramzey katakan, rumor tentang kondisi tubuhku sepertinya sudah tersebar luas.

"……"

Saat Master dan yang lainnya balas melotot dengan ketus, para petualang itu langsung memalingkan wajah dengan ekspresi "gawat" atau berpura-pura bersiul.

Setidaknya tidak ada kebencian yang nyata; mereka hanya tampak bingung bagaimana harus bersikap di hadapan orang yang dianggap "bermasalah" sepertiku.

Pertama-tama, aku meminta resepsionis memanggil Shannon.

Tak lama kemudian, Shannon meluncur dari tangga dalam dengan kecepatan yang seolah-olah dia terjatuh berguling.

"Wol-kuuuuuuun!!"

Sejak awal dia sudah dalam kondisi sangat panik. Rambut ikalnya yang seperti telinga anjing berdiri lebih tegak dari biasanya.

"A-aku sudah dengar ceritanya, tahu!? Dasar Wol-kun bodoh, kenapa kamu malah melakukan hal nekat seperti duel!?"

"Du-duel?"

Mataku terbelalak. Duel secara harfiah berarti "mari kita selesaikan masalah ini dengan baku hantam", metode terakhir penyelesaian pertikaian di kalangan petualang... Eh, ini soal Ramzey?

Kira mungkin ada kesalahpahaman, aku mencoba bertanya balik, tapi—

"Habisnya, orang bernama Ramzey itu mengajukan permohonan duel, tahu!? Tempat latihan bawah tanah sudah penuh sesak dengan orang yang mau menonton...!"

Kenapa jadi begini! Bukankah seharusnya cukup dengan adu tanding biasa saja!

"Kakak……"

Saat aku menoleh, teman-temanku sudah memasang ekspresi yang sangat serius dan "berat". Yulithia bertanya dengan mata berkaca-kaca.

"Benar-benar…… Benar-benar akan bertarung……?"

"──Ya."

Namun, aku tidak akan goyah sekarang. Meski tidak menyangka akan berkembang sampai jadi urusan duel, apa yang kubutuhkan saat ini hanya satu hal.

Aku paham perasaan mereka yang mencemaskanku. Justru karena itulah, aku ingin membuktikannya dengan hasil yang tak terbantahkan──bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Bahwa aku bisa bertahan hidup bahkan dengan tubuh seperti ini.

Jika aku bahkan tidak bisa menangani satu paman yang mencari gara-gara, membuat mereka merasa tenang untuk bangkit kembali hanyalah mimpi di siang bolong.

Dunia ini cukup sederhana. Karena di sini, prinsip "mari selesaikan dengan baku hantam" diakui secara legal.

"Tenang saja. ……Apa yang kulakukan tidak akan berubah."

……Ah, ternyata aku memang benar-benar cucu dari kakek tua gila pedang itu.

Tidak ada rasa cemas sedikit pun soal bagaimana jika aku kalah. Tapi bukan berarti aku juga terburu nafsu ingin menang dengan cara apa pun.

Aku hanya akan mengayunkan pedang sesuai kata hatiku.

Ini adalah titik balik yang akan menentukan masa depanku.

Seolah sedang diuji oleh takdir──aku bisa merasakan darah di sekujur tubuhku mulai bergejolak.

◆◇◆

Tempat latihan bawah tanah Perserikatan terdiri dari dua area utama.

Pertama adalah Free Area, di mana berbagai peralatan latihan diletakkan agar siapa pun bisa berlatih bebas.

Hari ini pun terlihat beberapa petualang sedang berlatih bersama rekan mereka, atau para veteran yang memberikan bimbingan dasar pada pemula.

Dan yang lainnya adalah Arena Area, yang digunakan untuk ujian praktik atau latihan format pertempuran sungguhan.

Di sanalah aku berdiri berhadapan langsung dengan Ramzey, dikelilingi oleh para petualang penonton yang jumlahnya sepuluh kali lipat dari bayanganku.

"──Jawabanmu belum berubah, ya."

Ramzey tadi malam tampak seperti tipikal pemabuk gagal, tapi setelah sadar dari mabuknya hari ini, dia kembali memiliki wibawa sebagai petualang berpengalaman.

Saat berhadapan seperti ini, pedang tua di pinggangnya tidak terlihat seperti tidak terawat, melainkan tampak seperti rekan seperjuangan yang sudah melewati banyak medan perang.

Petualang Peringkat B, Ramzey.

Dia termasuk golongan veteran di antara petualang Kota Suci, dan pernah memiliki pengalaman menjalankan misi bersama party peringkat A.

Secara kemampuan, tidak aneh jika dia berada di peringkat A, namun sifatnya yang bermulut kasar dan eksklusif menghambat kariernya hingga tertahan di peringkat B selamanya.

Ditambah lagi, sejak sepuluh tahun lalu dia kehilangan semangat dan mulai merosot.

Akhir-akhir ini prestasinya memburuk, hanya berburu monster seadanya dan menghabiskan hari-hari di kedai minuman.

Shannon memberitahuku bahwa Perserikatan sendiri sedikit kesulitan menanganinya, bahkan sudah berkali-kali memberinya peringatan soal penurunan peringkat.

Namun pria yang ada di depanku sekarang, untuk ukuran orang yang kehilangan semangat dan merosot──.

"Kamu belum lupa kejadian kemarin, kan……? Apa kamu masih belum menyerah meski sudah kucaci maki sejauh itu?"

"Justru karena 'sudah dicaci maki sejauh itu', makanya aku di sini."

Mungkin tadi malam dia memang sangat mabuk, karena Ramzey yang sekarang berbicara secara rasional dengan kaki menapak kuat di tanah. Dengan tatapan tajam seolah ingin menilaiku, dia berkata:

"Jadi ini bukan cuma sekadar hobi atau ingin main-main saja, ya…… Kamu benar-benar berniat terus menjadi pendekar pedang."

"Ya. Untuk itu, aku sedang meminta dicarikan kaki palsu yang lebih baik."

"Heh…… Begitu ya."

Orang-orang yang mendengar keributan ini terus memanggil orang lain, membuat area arena semakin dipenuhi petualang.

……Rasanya sudah ada sekitar seratus orang di sini. Pernahkah aku mengayunkan pedang di depan orang sebanyak ini seumur hidupku? Aku jadi sedikit gugup...

"Wol-kun!! Hajar saja dia sepuasmu!!"

"Wolka-san, jangan kalah dari orang seperti itu!!"

"Aku percaya kamu pasti bisa!!"

Dari balkon lantai dua──meskipun di bawah tanah, apa boleh disebut balkon lantai dua?

Intinya dari kursi penonton yang posisinya agak tinggi, Shannon dan kelompok petualang kenalanku memberikan dukungan.

Mungkin karena perilaku Ramzey sehari-hari, sebagian besar kelompok muda berada di pihakku.

Meski begitu, ada juga beberapa yang menunjukkan wajah pesimis, bergumam, "Dengan luka seperti itu, mana mungkin bisa menang...".

Di sisi lain, banyak juga para veteran di kursi penonton. Namun tidak ada yang mendukung Ramzey sebagai tandingan anak-anak muda itu.

"Apa dia serius mau bertarung sungguhan melawan orang cacat seperti itu……?"

"Le-lebih baik ini dihentikan saja, kan?"

"Ramzey bajingan, apa sih yang dia pikirkan?"

Sebagian besar dari mereka tampak bingung dengan situasi di depan mata.

……Yah, memang benar ada beberapa pasang mata yang menatapku dengan sinis. Apakah mereka itu rekan-rekan Ramzey?

"Benar-benar, semuanya──kenapa kalian hanya bisa hidup seperti itu──"

Ramzey menggumamkan sesuatu.

Namun, suaranya tenggelam oleh kebisingan dan sorak-sorai di sekitar sehingga tidak terdengar jelas.

Tak lama kemudian, Ramzey mengacak rambutnya sebentar lalu mendongak.

"Oi, Wolka."

"Apa."

Dia menatapku dengan wajah merengut yang parah. Bukan karena dia sedang kesal, tapi mungkin memang begitulah wajah normal pria bernama Ramzey ini.

"Seberapa serius kamu memikirkan hidupmu sendiri?"

"……Hah?"

Aku terperangah karena tiba-tiba dia membicarakan topik yang berat. Hi-hidup? Kenapa tiba-tiba sekali.

Ramzey melanjutkan dengan sangat serius.

"Apa kamu pikir kejadian kemarin cuma nasib buruk karena kebetulan diincar oleh pemabuk sampah? Apa yang kamu pikirkan saat datang ke sini hari ini? ……Pernahkah kamu benar-benar memikirkan jalan yang akan kamu pilih?"

Orang ini, barusan dia menyebut dirinya sendiri "sampah"... tidak, sebenarnya pembicaraan apa yang dia mulai ini. Bukankah kita akan berduel?

Namun, karena tatapan Ramzey sangat serius, aku jadi tidak enak untuk memotongnya. Tiba-tiba Ramzey berteriak keras.

"Oi, Simmons!!"

"Vek!?"

Seorang pria di kursi penonton tersentak kaget. Ramzey menunjuk pria itu dengan lurus.

"Kamu kemarin bilang, kan…… 'Itu karena dia bertarung dengan gaya aneh seperti teknik mencabut pedang atau apalah itu untuk bergaya. Sejak awal aku sudah merasa dia mencurigakan', begitu kan!!"

"Ti-tidak, itu…… a-aku cuma mabuk! Aku tidak benar-benar bermaksud begitu……!"

"Robert!!"

Dia menunjuk pria lain lagi.

"Kamu bilang, 'Kalau dia cepat-cepat pensiun, bukankah gadis-gadis di party-nya bisa kita incar', kan!?"

"Bugh──Ti-ti-ti-tidak pernah kubilang begitu!?"

"Dua paman di sana itu!! Setelah ini selesai, ikut ke ruang belakang!! Jangan coba-coba lari, ya!?"

"Cemburu antarpria tua itu benar-benar menjijikkan!!"

Di tengah cacian yang dilontarkan kelompok muda pimpinan Shannon, Ramzey kembali menatapku dengan senyum dingin yang tersirat di sudut mulutnya.

Hanya saja, aku merasa senyum itu tidak ditujukan padaku. Tidak ditujukan pada siapa pun di tempat ini──melainkan seperti bayangan dari ingatan masa lalu yang jauh.

"Kamu pasti sudah mulai menyadarinya…… Di dunia ini, tidak hanya ada orang baik yang mendukungmu. Ada banyak bajingan sampah lain seperti kami. Di masa depan pun pasti akan muncul lagi. Apa yang kukatakan kemarin adalah kata-kata dari para bajingan yang akan berkali-kali kamu dengar nantinya."

Seolah-olah dia pernah melihat dan merasakannya sendiri dengan mata kepalanya.

"Kalau cuma kamu sendiri, kamu mungkin tidak peduli apa pun yang dikatakan orang? Ya, mungkin saja. Tapi bagaimana dengan rekan-rekanmu yang akan mendengar kata-kata itu di sampingmu? Kemarin setelah itu, wajah seperti apa yang ditunjukkan Mastermu?"

Seolah-olah dia sedang mempertanyakan kebenaran jalan yang kupilih.

"Bajingan sampah yang berani menghina orang cacat tidak akan pernah paham meski kamu menjelaskannya sampai mulutmu berbusa. Mereka tidak akan berubah pikiran hanya karena kamu ditolong oleh rekanmu…… Kamu tidak punya pilihan selain membungkam mereka dengan kemampuan atau hasil nyata. Tapi bagaimana kamu melakukannya dengan tubuh seperti itu?"

Seolah-olah dia sedang tersiksa oleh ingatan yang tidak bisa dihapus.

"Monster juga sama, mereka punya kecerdasan untuk menghabisi manusia yang terluka terlebih dahulu karena lebih mudah. Mana mungkin kamu bisa bertarung sendirian. Kalau begitu, apa kamu akan membiarkan rekanmu menggendongmu selamanya sebagai beban yang tidak bisa bergerak? Apa gunanya orang cacat mencampurkan diri ke dunia di mana pilihannya hanya membunuh atau dibunuh?"

Dia mengepalkan tinju, menggigit bibir.

"Kalau kamu benar-benar ingin terus menjadi 'Pendekar Pedang', entah itu manusia atau monster, kamu sendiri harus menghancurkan dan melangkahi semua orang yang mengganggumu…… seumur hidup, dengan tubuh itu. Kalimat 'ternyata memang tidak bisa' itu adalah bad end yang akan menyeret semua rekan yang percaya dan mengikutimu jatuh ke jurang."

Dia menarik napas panjang.

"──Pernahkah kamu memikirkan hal itu secara serius, walau sekali saja?"

──Jujur, aku tidak terlalu mengerti apa yang dipikirkan Ramzey.

Aku paham maksud perkataannya, tapi aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia mengatakan hal itu.

Kenapa kepada aku yang praktis adalah orang asing baginya?

Kenapa tiba-tiba dia melakukan hal yang seolah menahanku... tidak, apakah ini sebenarnya tindakan menahan?

Kalau begitu, gangguan menyebalkannya kemarin bukan sekadar dorongan saat mabuk? Aku tidak mengerti.

"……"

Tapi setidaknya, aku paham maksud perkataannya.

Benar juga…… jalan yang akan kupilih pasti akan seperti yang dia katakan. Tetap menempuh jalan pedang meski dengan satu mata dan satu kaki.

Itu bukan pilihan yang akan dimengerti oleh semua orang.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya dianggap sebagai tindakan tidak tahu malu dari orang yang tidak mau menyerah.

Pasti akan muncul orang-orang yang menganggapku bodoh karena tidak bisa menghadapi kenyataan, lalu meremehkanku.

Tapi, wajar saja jika aku tidak mau menyerah.

Karena aku tahu dunia ini seperti apa. Karena aku sudah menyadari bahwa ini adalah dunia Dark Fantasy yang sialan.

Akan lebih baik jika masa depan sudah pasti aman, di mana aku bisa menghabiskan hari-hari damai bersama Master selamanya sehingga aku boleh membuang pedangku.

Tapi, pada akhirnya tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Pengetahuan asliku tentang cerita ini pun semuanya samar-samar dan tidak terlalu berguna.

Bahkan Kota Suci yang dilindungi oleh empat Orang Suci terkuat dalam karya aslinya pun, tidak aneh jika beberapa tahun lagi akan hancur karena invasi monster.

Aku telah mengubah akhir cerita yang musnah di karya aslinya.

Tapi, siapa yang bisa menjamin bahwa kejadian kedua tidak akan datang?

Siapa yang bisa menjamin anak seperti Luellie tidak akan muncul lagi di depanku?

Di dunia seperti itu, jika aku disuruh melepaskan pedang──satu-satunya kekuatan yang terus kuasah──apakah aku bisa mengangguk dan berkata "baiklah"?

Jika akibat menyerah itu, tubuhku tidak bisa bergerak dan tidak bisa melakukan apa-apa di saat genting.

Padahal jika aku terus berjuang tanpa menyerah, aku mungkin bisa mengubah sesuatu meski sedikit──jika aku sampai dihadapkan pada kenyataan seperti itu, aku tidak akan bisa tenang meski sudah mati berkali-kali.

Di dunia ini, tidak ada Dewa yang akan menolong saat kita kesulitan.

Justru karena aku tahu punggung sang protagonis karya asli yang terus berjuang meski telah kehilangan segalanya.

"Kalau kamu tidak punya tekad maupun kemampuan itu, maka di sini aku akan dengan senang hati──"

"──Ramzey."

Memotong Ramzey, aku membatalkan Accessorize pada pedang kesayanganku secara instan.

"Aku paham maksudmu. Tapi kamu juga bilang, kan, bahwa bajingan tidak akan paham meski dijelaskan sampai mulut berbusa. ……Kalau begitu, tidak perlu banyak bicara lagi, kan?"

Aku menggenggam sarung pedang dengan tangan kiri, dan menyorongkannya lurus ke arah Ramzey.

Sepertinya aku sudah mulai paham bahwa orang ini berdiri di depanku sekarang karena dia juga punya pemikiran tersendiri.

Namun, karena dia sudah susah payah membuat arena duel yang pas ini──maka adu mulut lebih jauh tidak lagi diperlukan.

"Tekad, kemampuan, atau apa pun itu, semuanya akan kutumpahkan ke dalam pedang ini."

Karena sejak awal, aku datang ke sini dengan niat untuk membungkam semua orang yang berisik.

"──Pasang kuda-kudamu."

"……!!"

Aku tidak peduli apa niat sebenarnya dari Ramzey.

Tidak perlu ada kebisingan sebelum pertarungan.

Saat pedang dicabut, melalui sensasi di tangan kanan, pedang kesayanganku dan jiwaku akan menyatu.

Seluruh darah yang mengalir di tubuhku menjadi jernih, menghapus segala pikiran kosong dari kesadaranku.

Ini berbeda dengan latihan yang kulakukan bersama Yulithia dan yang lainnya.

Sudah lama sekali──sebuah pertarungan sungguhan yang murni melawan musuh yang tidak kuketahui seberapa kuatnya, teknik pedang apa yang digunakannya, atau sihir apa yang dikuasainya.

Kikis habis semuanya.

Di panggung ini, hanya perlu ada dua hal: satu tebasan pedang dan musuh yang harus dikalahkan.

Dalam pandangan ini, hanya perlu ada perbedaan antara apa yang harus ditebas dan apa yang tidak boleh ditebas.

Lebih dalam──lebih dalam lagi ke dalam pedang.

◆◇◆

──Oi. Oi, kenapa kamu malah bengong. Bangunlah.

……Ah. Ah, Ramzey. Maaf, aku tadi sedang melamun……

Duh, masih terlalu dini bagimu untuk bersikap seperti orang tua pikun. Kalau begini terus, tidak ada yang tahu kapan kamu bisa kembali bertarung.

Haha, benar juga. ──Mungkin, aku sedikit lelah.

Selama beberapa hari terakhir, ingatan buruk terus melekat di benakku.

Kejadian dari sepuluh tahun yang lalu──namun masih terasa sangat nyata hingga sekarang, ingatan tentang masa terburuk dalam hidup Ramzey.

Bahkan sekarang, aku masih merasakan ketidaknyamanan seolah-olah saraf di kepalaku sedang dicakar.

Sejak awal, memang benar aku tidak menyukai pemuda bernama Wolka itu. Segala hal tentang dirinya selalu mengingatkanku pada teman lamaku.

Bagaimana dia hanya tahu cara hidup dengan pedang, bagaimana dia diberkati rekan-rekan hingga mencapai peringkat A, dan bagaimana dia sangat diharapkan masa depannya sebagai petualang.

Dan juga, bagaimana dia tiba-tiba kembali setelah kehilangan satu kaki suatu hari nanti.

Aku tahu, apa yang kulakukan hanyalah semacam pelampiasan rasa kesal.

Sangat salah untuk menumpahkan emosi yang sudah membusuk dan bernanah selama lebih dari sepuluh tahun kepada Wolka, apa pun alasannya.

Namun, sebagai orang yang tahu akhir dari manusia yang memilih jalan serupa, aku tidak bisa menahan hatiku yang mendidih.

Kupikir hanya kehilangan satu kaki tidak akan jadi masalah. Kupikir aku bisa segera kembali bertarung begitu punya kaki palsu. ……Aku tidak menyangka akan jadi sehebat ini rasa ketidakberdayaan itu.

Padahal itu semua demi menebus dosa karena gagal melindungi rekan party-nya, dan demi membalas dendam pada kaum Iblis yang telah merengut segalanya.

Teman lamaku memilih jalan yang siapa pun tahu betapa beratnya──dan kemudian dia menabrak dinding kenyataan, lalu hancur.

Hari ini aku hampir dikalahkan oleh monster peringkat C. Orang-orang kembali mencibirku dan menyuruhku menyerah. Aku mulai kehilangan tempat di Perserikatan. Aku bisa mendengarnya…… mereka bilang aku tidak tahu malu, mereka bilang aku harus melihat kenyataan.

Sampai akhir hayatnya, temanku itu menderita karena beban berat dari satu kaki yang hilang dan ketidakpahaman orang-orang di sekitarnya yang tak kunjung hilang.

Awalnya kupikir aku tidak perlu memikirkannya. Kupikir aku tidak akan peduli apa pun yang mereka katakan. ……Tapi setiap kali aku merasakan kenyataan bahwa aku tidak punya kaki, aku jadi semakin tidak bisa mengabaikannya.

Sedikit demi sedikit, mentalnya terkikis hingga dia menjadi sangat kuyu.

Justru karena dia hanya hidup untuk pedang, dia putus asa menghadapi kenyataan bahwa dia tidak bisa lagi melakukan apa pun dengan pedangnya.

Bertahan hidup dengan mengorbankan nyawa semua orang, tapi akhirnya malah jadi begini. ──Sungguh, membuatku muak.

Untuk menepis ketidakpahaman di sekitarnya, temanku butuh hasil nyata.

Untuk membungkam orang-orang berisik itu, dia harus membuktikan bahwa dia tetap bisa bertarung meski kehilangan satu kaki.

Temanku tersudut.

Setelah menabrak dinding dan hancur, dia tetap memaksakan diri demi hasil nyata.

Dan pada akhirnya, dia mati tanpa sempat menemukan Iblis yang menjadi musuh bebuyutannya──.

Itulah sebabnya, melihat Wolka membuatku kesal.

Bukannya aku ingin menahan pemuda nekat ini. Jika punya tekad, silakan saja pergi──tapi apakah kamu benar-benar paham betapa terjalnya jalan yang akan kamu lalui?

Bukankah kamu hanya keras kepala karena tidak bisa menerima kenyataan kehilangan satu mata dan satu kaki, dan bertindak secara emosional seperti anak kecil yang sedang mengamuk?

Tidak seperti temanku, kamu bukannya gagal melindungi siapa pun, justru luka itu adalah bukti bahwa kamu telah mempertaruhkan segalanya untuk melindungi mereka.

Lalu kenapa kamu masih ingin menempuh jalan penderitaan lebih jauh?

Lihatlah rekan-rekanmu. Apakah apa yang ingin kamu lakukan itu layak diperjuangkan sampai harus membuat rekan-rekan yang sudah susah payah kamu lindungi itu menderita?

Kenapa, hal seperti ini harus terjadi──

Di sudut pikirannya, ingatan buruk itu terasa sakit berdenyut-denyut.

Dunia ini memang sialan.

Dewa tidak pernah menyeimbangkan timbangan takdir.

Jumlah kebahagiaan dan kemalangan tidaklah setara.

Langit dengan wajah tak berdosa merampas masa depan orang, dan pada akhirnya dengan tenang menjerumuskan mereka ke dalam keputusasaan yang lebih dalam.

Tidak peduli apakah kamu punya kaki atau tidak, di dunia ini kamu tidak bisa melakukan apa pun tanpa kekuatan.

Jika tidak bisa mengalahkan satu bajingan di depan matamu, itu tidak akan membuktikan apa-apa.

Meski kamu orang cacat, justru karena kamu orang cacat, sekali kamu memilih jalan itu, kamu harus menundukkan semua rintangan yang mengganggu dengan kekuatanmu sendiri.

Jika kamu tidak memahami hal itu. Jika kamu tidak punya tekad maupun kemampuan.

Jika pada akhirnya kamu akan patah seperti temanku itu, maka akan jauh lebih baik jika kamu menabrak kenyataan sekarang juga di sini agar bisa hidup bahagia bersama rekan-rekanmu──

"……Heh. Apa-apaan itu."

──Segala pikiran rumit di kepalanya tiba-tiba tersapu bersih hingga ke akarnya.

Saat pendekar pedang bermata satu dan berkaki satu itu mencabut pedang dari sarungnya, Ramzey berdiri terpaku merasakan sensasi merinding yang kuat di kulitnya.

Itu adalah perasaan yang berbeda dari ketakutan; sekujur tubuhnya meremang, dan keringat murni mengalir di lehernya.

Wolka.

Rumor tentang orang yang memiliki kekuatan luar biasa dan mampu mengintimidasi orang lain hanya dengan auranya──hal itu kini benar-benar terjadi di depan mata Ramzey.

Pemuda yang seharusnya terlihat terluka parah dari sudut mana pun, kini seolah ingin mewarnai seluruh tempat latihan dengan aura bertarung yang terpancar dari tubuhnya.

Semua orang kehilangan kata-kata, menahan napas, dan seolah terhisap ke dalam keheningan yang disertai rasa merinding yang perih.

Namun anehnya, sensasi intimidasi itu hampir tidak terasa sama sekali.

Apa yang dirasakan kulit Ramzey bukan perasaan tidak menyenangkan seperti ditekan secara paksa dari atas.

──Melainkan seperti rasa takjub yang membersihkan jiwa dan raga, sama seperti saat melangkah ke dalam wilayah yang suci.

"──"

Wolka memasang kuda-kuda dengan pedang di tangan kanan di depan, dan sarung pedang di tangan kiri di belakang.

Gerakan yang tampak biasa itu justru sangat menarik perhatian hingga membuat orang menahan napas.

Itu adalah sebuah ayunan pedang yang tajam dan tanpa cela.

"Oho, bukannya kamu punya teknik mencabut pedang andalanmu itu?"

"Ya──"

Meski dicoba untuk diprovokasi dengan ringan, jawaban Wolka tetap tenang. Dari mata kiri yang berwarna hijau zamrud, terlihat kilatan cahaya tajam seperti petir. Tidak diragukan lagi, dia sedang melangkah ke dalam kondisi mental yang terpisah dari orang biasa.

──Orang ini, jiwanya benar-benar terbang ke dimensi lain. Antara tanpa cela atau tenang seperti permukaan air……

Melihat orang bodoh yang hanya fokus pada pedang sampai mencapai tingkat ini, rasanya malah menyegarkan.

……Sepertinya pemuda ini adalah orang bodoh sejati yang jauh melampaui imajinasi Ramzey.

Ramzey merasakan sudut mulutnya terangkat membentuk senyuman yang penuh kebencian.

"……Jadi tidak perlu banyak bicara lagi, ya. Benar juga."

Begitu lebih baik.

Bajingan merosot di depan matanya ini, lebih baik dihancurkan saja tanpa perlu banyak tanya.

Apa yang harus dilakukan Wolka sekarang adalah berkuasa dengan kemampuan yang tidak akan membiarkan siapa pun melayangkan protes.

Menciptakan sebuah cerita lucu yang menyenangkan di depan kerumunan orang banyak ini, tentang bagaimana seorang pendekar pedang muda bermata satu dan berkaki satu menghajar seorang petualang sampah.

Katakanlah──"Berisik, diamlah. Semua orang yang meremehkanku akan berakhir seperti ini."

"──Bagus kalau begitu!!"

Maka Ramzey mencabut pedangnya dan membalas dengan raungan keras.

"Tundukkan aku, sampai aku tidak bisa bicara apa-apa lagi!! ──Sampai aku tidak punya pilihan selain terpesona olehmu!! Kalau kamu cuma modal tampang, akan kuhajar sampai hancur!!"

……Jika harus kalah dari orang ini, lebih baik kalah sampai tidak ada yang tersisa.

Sampai ingatan yang berkarat dan rasa sakit di saraf ini tersapu habis tanpa sisa.

◆◇◆

"……Oyo? Wah, ternyata kamu juga datang menonton."

"Iya. ……Terima kasih atas bantuan Anda saat sidang tempo hari, Tuan Fuji."

Di sebuah sudut lorong dekat pintu masuk, ada dua sosok yang memperhatikan Wolka dan Ramzey yang sedang berhadapan di tempat latihan tanpa diketahui siapa pun.

Mereka adalah Rochshult, yang hari ini pun berjalan-jalan dengan setelan ksatria biasa, dan Fuji, yang seperti biasa tampak santai dan kurang bersemangat.

Dari posisi mereka, sosok Wolka terlihat sangat jelas, namun para penonton di arena tidak bisa melihat mereka berdua.

Keduanya berdiri di posisi yang sangat strategis, bersembunyi di balik bayangan tanpa membocorkan hawa keberadaan sedikit pun ke sekitar.

"Kenapa tidak menonton dari jarak lebih dekat saja? Kamu sudah memasang sihir penghambat pengenalan dengan benar, kan?"

"Tentu saja tidak ada celah. Tapi tetap saja, sosok seorang ksatria akan sedikit mencolok. Bagi saya, dari sini pun sudah cukup."

"Begitu ya."

Rochs mendengar kabar tentang keributan ini kemarin, tepat setelah ia selesai bertugas mengawal Saintess di ruang sidang.

Saat itu ia sedang pergi ke Distrik Seitei seperti biasa untuk menikmati makan malam bersama beberapa wanita.

"Eh, Nyonya sudah dengar?"

"Aduh, masa sih?"

Jaringan gosip para ibu-ibu yang menguasai segala rumor di kota selalu memberi Rochs informasi yang segar dan menarik.

Kabarnya—seorang petualang muda berkaki palsu terlibat masalah dengan seorang pemabuk, dan mereka akan melakukan 'adu tanding' di Perserikatan besok siang.

Tentu saja Rochs tidak merasa khawatir, tapi memikirkan segala kemungkinan, ia tidak bisa tinggal diam.

Begitu ia kembali ke Kediaman Suci dan melaporkan semuanya tanpa ditutup-tutupi, sesuai dugaan, Anze nyaris kehilangan akal sehatnya karena cemas.

Gadis itu bahkan sampai lupa mengganti jubah biarawatinya dan hendak melesat pergi, hingga Dia harus benar-benar memitingnya sekuat tenaga agar tidak kabur.

Setelah itu, dengan bantuan Yuri dan Alca, mereka terus membujuk Anze dengan sabar.

Akhirnya, Saintess memberikan misi penting kepada Rochs untuk melindungi Wolka dari balik bayangan.

Fuji sepertinya memahami situasi tersebut, sehingga ia tidak repot-repot mencari tahu alasan Rochs berada di sana.

Keduanya lalu menoleh ke arah tempat latihan secara bersamaan.

"Wah…… tapi tetap saja, Wolka-kun itu hebat ya."

"Iya, Anda benar sekali."

Keduanya tersenyum secara bersamaan.

Dari sosok Wolka yang berhadapan dengan pria bernama Ramzey itu, terpancar aura Ten-i Muho yang melampaui manusia biasa.

Aura itu membuat siapa pun di tempat itu merinding hebat, hingga mereka hanya bisa terpaku tanpa mampu mengeluarkan suara gumaman sedikit pun.

——Munen Muso.

Itu adalah puncak spiritual dalam bela diri yang akan dikejar seumur hidup oleh siapa pun yang mempersembahkan eksistensinya di jalan tersebut.

Rochs tidak bisa menahan sudut bibirnya yang terangkat.

Rasa syukur dan ekstasi yang tak terlukiskan memenuhi setiap sudut hatinya.

Inilah ranah yang dicapai oleh pria yang telah mendobrak 'Pintu' di ambang kematian dan membinasakan sang Grim Reaper .

Bisa menyaksikan momen ini secara langsung di depan mata, Rochs tidak bisa menemukan kata lain selain kebahagiaan murni.

Ia kemudian bertanya pada Fuji.

"Tuan Fuji, apakah sihir proyeksi di sini……"

"Tentu saja sedang berjalan."

Selama duel berlangsung, sebuah penghalang dipasang di sekitar tempat latihan untuk mencegah serangan nyasar ke arah penonton.

Di Perserikatan Kota Suci, penghalang tersebut juga dilengkapi dengan formula 'Sihir Proyeksi'.

Intinya, jalannya duel direkam dalam bentuk citra magis agar bisa ditinjau kembali jika nantinya ada protes mengenai kecurangan atau hal lainnya.

Ini adalah teknologi mutakhir yang sangat canggih, dan sejauh ini hanya dimiliki oleh cabang Perserikatan di Kota Suci dan Ibu Kota Kerajaan.

Rochs tersenyum semakin lebar.

"Kalau begitu, setelah duel selesai, bisakah Anda menyalin rekamannya ke dalam batu sihir untuk saya?"

"Eeh? Menyalin itu memakan banyak waktu dan tenaga, lho……"

"Ini adalah titah langsung dari Nona Angesheit dan Nona Lesterdia."

"Uwaah……"

Anze sendiri pasti sekarang sedang sangat cemas sampai tidak bisa fokus menjalankan tugasnya sebagai Saintess, dan kemungkinan besar sedang dimarahi oleh Dia.

Jika Rochs membawa pulang salinan rekamannya, gadis itu pasti akan sangat gembira dan memutarnya berulang kali setiap kali ada waktu luang.

Dan saat perasaannya sudah tidak terbendung lagi, Anze pasti akan memamerkan rekaman itu kepada orang-orang di sekitarnya.

Mulai dari Dia, tentu saja, hingga Star Eye Saint Yurilias, Holy Misfortune Saint Alkasiel—dan bahkan kepada dua Ksatria Suci lainnya selain Rochs.

Fuji menggaruk kepalanya.

"……Jadi intinya, kamu sama sekali tidak meragukan kemenangan Wolka-kun, ya?"

Rochs menjawab seketika tanpa perlu berpikir sedetik pun.

"Tentu saja. Pertanyaannya hanyalah bagaimana dia akan menang."

"Hahaha, kepercayaan yang cukup berat ya."

Tepat pada saat itu, di panggung tempat latihan, Ramzey mengaum dengan keras.

"Bagus kalau begitu!! Tundukkan aku sampai aku tidak bisa bicara apa-apa lagi!! ——Sampai aku tidak punya pilihan selain terpesona olehmu!! Kalau kamu cuma modal tampang, akan kuhajar sampai hancur!!"

Di dalam tempat latihan yang sunyi tanpa suara bisikan sedikit pun, Wolka dan Ramzey mulai melapisi senjata mereka dengan Heartless.

Udara yang tadinya seolah menelan para penonton, kini terasa semakin menegang dan tajam hingga membuat orang ragu untuk sekadar bernapas.

Karena duel resmi yang diakui Perserikatan wajib menggunakan Heartless, bisa dibilang hampir tidak ada risiko mengalami cedera serius.

Meski begitu, tekad yang berkobar di sana benar-benar terasa seperti pertarungan hidup dan mati di medan perang yang sesungguhnya.

"——Ah,"

Dari bangku penonton, terdengar suara pekikan kecil seorang gadis.

Diikuti oleh suara benda berbentuk tongkat yang jatuh membentur lantai dengan keras.

Sepertinya salah satu penyihir yang tertelan oleh aura bertarung Wolka tidak sengaja melepaskan tongkat sihirnya dari genggaman.

Itu menjadi tanda dimulainya pertarungan, dan angin kencang langsung menderu di arena.

Ramzey meledakkan Strength secara instan dan menyerjang maju dalam garis lurus yang sangat jujur.

Sebuah pertarungan depan-depanan tanpa intrik—entah karena dia membenci tipu muslihat dalam duel, atau karena dia menganggap remeh lawan yang kehilangan satu kaki.

Apa pun alasannya, gerakan Wolka untuk menyambutnya terasa secepat dan seakurat aliran air yang jernih.

Pedang Ramzey yang diayunkan secara vertikal melewati tubuh Wolka begitu saja.

"Ooh."

Fuji bergumam kagum secara singkat.

Tentu saja, pedang itu tidak benar-benar menembus tubuhnya.

Wolka mengalihkan pedang Ramzey ke arah belakang dengan gerakan yang sangat mulus hingga menciptakan ilusi seolah serangan itu menembus dirinya.

Ia memposisikan pedangnya sedikit miring saat Ramzey menebas, membiarkan mata pedang lawan tergelincir di atas bilah pedangnya, dan membiarkannya lewat dalam jarak yang nyaris bersentuhan dengan tubuh.

Bagi Ramzey sendiri, ia pasti merasa tebasannya tidak merasakan hambatan apa pun, seolah benar-benar menembus udara.

"……!?"

Karena momentum tebasan vertikal yang menebas angin secara tak terduga, tubuh Ramzey limbung ke depan.

Namun, keputusannya setelah itu sangat cepat dan tepat.

Ia segera berbalik dan melepaskan satu tebasan mendatar, nyaris menangkis balik pedang Wolka yang sudah bersiap melakukan serangan balasan.

Ramzey menjaga jarak untuk memulihkan posisinya, lalu mendecak lidah dengan senyum menantang.

"Cih…… teknik seperti itu, mana mungkin bisa dilakukan bocah tujuh belas tahun."

Suara bisik-bisik mulai terdengar dari para penonton.

Menangkis serangan lawan dengan gerakan minimal demi mendapatkan efisiensi maksimal—jika hanya diungkapkan dengan kata-kata, teknik itu terdengar sangat sederhana.

"Apa Wolka-kun tidak punya rasa takut sama sekali ya……"

"Orang biasa bahkan tidak akan berani mencoba menirunya."

Bagaimana tidak, dia membiarkan pedang lawan melintas sangat dekat hingga nyaris menggores kulit.

Jika ada sedikit saja kesalahan dalam ritme kekuatan atau penentuan waktu, ia akan langsung terkena serangan telak.

Itu adalah teknik tingkat tinggi yang hanya bisa terwujud berkat kemampuan luar biasa serta hati yang jernih tanpa keraguan maupun ketakutan.

Namun, tidak ada rasa terkejut di hati Rochs.

Baginya, wajar saja jika Wolka bisa melakukan hal itu.

Sebab jika hanya bicara soal kemampuan pedang, pria itu adalah sosok yang mampu bertarung seimbang melawan dirinya yang merupakan seorang Ksatria Suci.

"Trik yang sama tidak akan berhasil dua kali……!!"

Ramzey kembali merangsek maju.

Sesuai ucapannya, kali ini posisi Ramzey tidak goyah sedikit pun meski pedangnya dialihkan, ia justru terus melancarkan serangan beruntun yang tajam ke arah Wolka.

Sekilas ia tampak hanya mengayunkan pedang secara membabi buta, namun Rochs menyadari bahwa itu bukanlah ilmu pedang jalanan.

Kombinasi serangannya mirip dengan aliran pedang yang banyak dipelajari di negeri ini.

Itu adalah ayunan pedang dari seseorang yang pernah menempuh jalan pedang secara formal dengan sungguh-sungguh.

Rochs bertanya kepada Fuji.

"Seberapa banyak Anda sudah menyelidiki pria bernama Ramzey ini?"

"Hmm? Tidak, tidak, ada banyak hal yang tidak diketahui oleh paman tua ini, lho."

"Anda terlalu rendah hati."

Karena tidak ada yang menguping di sekitar mereka, Rochs langsung bertanya secara blak-blakan kepada Fuji yang berpura-pura bodoh itu.

"—Sebagai seorang Agen Khusus dari Seido Kyokai, mana mungkin ada sesuatu di Kota Suci ini yang luput dari penyelidikan Anda."

"……Kamu terlalu melebih-lebihkan aku."

Agen Khusus—mereka adalah anggota Seido Kyokai namun bukan pendeta maupun ksatria.

Bisa dibilang mereka adalah agen yang menyusup ke kalangan masyarakat sipil atas perintah gereja.

Dalam keadaan darurat, mereka diberikan wewenang komando yang setara dengan komandan ksatria jika diperlukan.

Mereka menjalankan investigasi serta pengumpulan informasi tanpa terikat oleh struktur formal gereja.

Saat ini ada enam Agen Khusus di Kota Suci.

Ada yang menyamar sebagai staf pemalas di Perserikatan Petualang, ada yang menjadi pengelola pelabuhan komersial, ada yang menjadi pedagang besar logistik, dan ada pula yang menjadi pemilik bar terkenal.

Semuanya membaur dalam kehidupan sehari-hari Kota Suci dengan identitas samaran.

Di antara berbagai jabatan di Seido Kyokai, mereka bisa dibilang sebagai kelompok yang paling misterius dan sulit ditebak kedalamannya.




Sejujurnya, bahkan bagi Roche yang seorang Holy Knight, dia tidak tahu detail mengenai kenyataan yang sebenarnya.

Sosok bernama "Fuji"—yang sering dicemooh sebagai pemalas nomor satu di Guild Petualang—apakah benar-benar ada di depan mata Roche sekarang, ataukah itu hanyalah identitas palsu yang diciptakan untuk membaur dengan masyarakat sipil?

"Yah, bagaimanapun aku ini orang Guild, jadi aku sudah menyelidiki hal-hal mendasarnya. Katanya—"

"Ora-ora, ada apa? Apa cuma bisa bertahan saja, hah!?"

Tepat saat Fuji hendak melanjutkan kalimatnya, provokasi Ramzey bergema kencang di seluruh area latihan.

Serangan bertubi-tubi Ramzey semakin ganas, namun Wolka menangkis semuanya tanpa cela sambil mundur selangkah demi selangkah.

Gerakannya begitu sinkron, seolah-olah itu adalah sebuah tarian yang alurnya sudah ditentukan sejak awal.

Wolka telah membaca seluruh gerakan pedang Ramzey dengan sempurna.

"Cih, menyebalkan...!!"

Hal itu membuat Ramzey tidak sabar. Dia melancarkan tebasan vertikal dengan kekuatan penuh dari posisi yang agak tinggi.

Namun, bagi Wolka, itu bukan masalah besar. Jika petualang biasa yang menghadapinya, mereka mungkin tidak akan sempat menyadari bahwa tebasan yang mendekat itu adalah ayunan besar yang ceroboh, sehingga jalur pedangnya sedikit melenceng.

Akan tetapi, di hadapan Wolka yang memiliki kemahiran luar biasa dalam teknik Battoujutsu, celah sesaat itu menjadi celah fatal yang mematikan.

Bunyi denting logam yang nyaring terdengar saat pedang beradu dengan pedang.

"gh—!?"

Pedang Ramzey tiba-tiba terpental ke atas. Terhadap jalur pedang yang lemah itu, Wolka membalas dengan tebasan ke atas secepat kilat, menghantam pangkal bilah pedang lawan dengan akurasi yang tak tertandingi.

Tubuh Ramzey yang momentum awalnya terhenti pun terbuka lebar secara vertikal.

Pada saat yang sama, Wolka sudah berada dalam posisi Battou di dalam jangkauan lawan.

"...!!"

Kulit Roche merinding seketika. Tidak, kau ini, gerakan itu agak tidak masuk akal—tepat di saat melepaskan tebasan ke atas, dia sudah masuk ke posisi Battou di pertahanan lawan.

Dengan teknik secepat dewa yang tidak bisa diikuti oleh mata maupun pikiran orang biasa, Wolka membalikkan keadaan antara menyerang dan bertahan dengan sangat mudah.

Satu tebasan.

Tentu saja, itu adalah Battou yang sangat tertahan agar tidak merusak kaki palsunya.

Kecepatannya dibuat sedemikian rupa agar orang biasa masih bisa merespons sedikit.

Faktanya, reaksi Ramzey nyaris sempat. Dia mencoba menahan bilah pedang yang terbang menyamping itu dengan bagian datar pedangnya.

Bunyi benturan logam yang keras mengguncang seluruh area latihan, dan tubuh Ramzey terpental jauh.

"Guaah...!?"

Ramzey nyaris bisa bertahan meski keseimbangannya sangat kacau.

Tetap saja, pria dewasa sepertinya tidak mampu menahan tumpuan dan meluncur hingga hampir setengah jarak area latihan sebelum akhirnya berhenti.

Kegaduhan para penonton semakin menjadi-jadi. Dari posisi Roche pun, suara-suara keterkejutan dan kebingungan mulai terdengar jelas.

"Oi, apa orang itu benar-benar pakai kaki palsu?"

"Ce-cepat banget sampai nggak bisa diikuti mata. Aku memang dengar rumornya, tapi..."

"Lagi pula, tebasan ke atas tadi aneh banget, kan? Bagaimana bisa dia masuk di waktu seperti itu? Apa rasa takutnya sudah rusak...?"

Di satu sisi ada petualang veteran yang bugar tanpa luka, di sisi lain ada orang dengan luka berat yang kehilangan satu mata dan satu kaki.

Mungkin, tidak sedikit orang yang berpikir bahwa duel ini tidak akan menjadi pertandingan yang seimbang.

(...Ah, benar. Justru karena itulah, kau...)

Ya, normalnya duel semacam ini tidak akan mungkin terjadi. Alasan Wolka bisa bertarung dengan hebat melawan Ramzey sekarang adalah murni karena latihan keras yang luar biasa yang telah dia tumpuk.

Meski dia menjatuhkan diri dalam pelatihan yang berdarah-darah, meski nyaris dibunuh oleh dewa kematian, meski dibebani belenggu berat berupa satu mata dan satu kaki, dia tetap mencoba membuka jalannya sendiri dengan pedangnya sendiri.

Mungkin itu bisa disebut sebagai cara hidup seorang pria bernama Wolka—hal itulah yang tak henti-hentinya menggetarkan hati Roche, pria yang dulu pernah dijuluki sebagai "Anak Emas Pedang".

"Hah, kalau cuma adu pedang, sepertinya kau lumayan juga...!"

"Ya—"

"Kalau begitu, bagaimana dengan yang ini!?"

Meski seharusnya dia sudah menyadari perbedaan kekuatan mereka, Ramzey sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Dia membenahi posisi pedangnya dan kembali maju.

Awalnya, itu terlihat seperti pengulangan serangan bertubi-tubi yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

—Sampai tiba-tiba dia menukikkan lintasan pedangnya dengan tajam, menyerang kaki palsu Wolka.

"...!"

Wolka dengan cepat menarik kaki palsunya untuk menghindar. Namun, reaksi spontan itu justru menjadi bumerang; pusat gravitasinya sedikit melayang di udara.

Membaca hal itu, Ramzey segera membalas dengan satu tebasan balik.

"Syaaahh!!"

Tentu saja, meski dikejutkan, gerakan tubuh Wolka masih memiliki kelonggaran. Singkatnya, dia berhasil menangkis serangan licik yang mengincar kaki palsu itu dengan gemilang.

Namun, untuk pertama kalinya, Wolka "menerima" pedang Ramzey. Dia tidak bisa mengalihkannya. Ramzey menyeringai licik.

"Kau tidak akan bilang ini curang, kan...? Kau menunjukkan kelemahan yang begitu jelas, wajar saja kalau diincar, kan?"

"O-orang tua mabuk bodoh ini—!! Apa kau tidak tahu kata sportivitas!? Dasar bodoh, bodoh, tolol, tukang curang—!!"

Seketika, protes keras Shannon meledak dari kerumunan penonton, disusul oleh sorakan ejekan yang tajam, terutama dari para petualang muda.

Menyerang kelemahan musuh dari depan memang bisa dianggap sebagai salah satu taktik, namun serangan itu dipertanyakan apakah pantas dilakukan di arena duel. Setidaknya, Roche tidak akan melakukan hal seperti itu.

Fuji pun menyipitkan matanya dengan ekspresi jengah.

"Aah, si bodoh itu, malah melakukan hal seperti itu..."

"Dia benar-benar bernyali ya. Kalau aku jadi dia, aku akan sangat takut dengan pembalasan Nona Lizel dan yang lainnya."

Melihat ketiga gadis yang marah itu tidak menyerbu masuk dan mengubah Ramzey menjadi kain pel, sepertinya batas kesabaran mereka masih bisa mempertahankan rasionalitas.

"Oya, kupikir kau akan sedikit marah."

"Tentu saja, jika dia adalah pria yang tidak pantas disebut pendekar pedang, aku tidak akan tinggal diam."

Pedang adalah cermin yang memantulkan hati penggunanya. Seberapa pun hebat kemampuannya diasah, pedang milik orang yang hidup dengan hati yang jahat akan terlihat buruk dan menyimpang.

Dalam hal itu, mengenai jalur pedang Ramzey, kesan Roche adalah setidaknya itu bukan pedang yang kotor.

Mengingat arti kata-kata yang dia tanyakan pada Wolka sebelum duel, sepertinya pria ini tidak menantang duel hanya karena niat jahat semata—

"Berikutnya yang ini...!"

Selanjutnya, Ramzey menendang tanah dan mulai mengubah jarak.

Jika sebelumnya dia bertarung dengan gagah berani dari depan, sekarang dia bergerak memutar ke sisi kiri—yakni, mengambil titik buta dari mata kanan Wolka yang hilang.

Tentu saja Wolka merespons dengan cepat, tapi—

"Ini dia!!"

"gh!?"

Tepat saat dia berbalik, sesuatu mengenai wajah Wolka. —Pasir. Ramzey telah menyiapkan pasir di saku jaketnya.

Bahkan Wolka yang hebat sekalipun, pasti tidak menduga bahwa pasir akan terbang dalam sebuah duel.

Mata kiri Wolka tertutup. Penglihatannya direnggut dan dia terlempar ke dalam kegelapan.

"Kehilangan satu mata itu artinya begini! Kalau aku memutar ke titik butamu dan melemparkan pasir, semuanya berakhir! Kau hanya bisa dihajar tanpa bisa berbuat apa-apa...!"

Posisi Wolka goyah, kaki palsunya terpeleset dan dia berlutut dengan satu kaki.

Tanpa melewatkan celah itu, Ramzey mengayunkan pedangnya dengan tebasan menyamping yang tanpa ampun.

Aku merasa mendengar teriakan seseorang. Apakah itu Shannon, Lizel, Yuritia, Atri, atau salah satu penonton yang namanya tak kukenal?

—Hingga akhir, Ramzey tidak menyadari bahwa meski posisinya goyah, tubuh Wolka telah mengambil posisi Battou.

Tidak, bahkan jika dia menyadarinya pun, dia pasti akan tetap mengayunkan pedangnya dengan cara yang sama.

Pedang Ramzey terbang ke udara.

"—,"

Pada saat itu, Ramzey sama sekali tidak mengerti mengapa pedang tiba-tiba menghilang dari tangannya.

Dan saat itu juga, beruntun kilatan pedang yang dilepaskan telah menebas Ramzey.

"Gah—"

Suara getaran udara bergema. Terpaku oleh dampak Mana yang dikonversi oleh Heartless Blade, tubuh Ramzey terlempar, berguling berkali-kali di tanah, dan baru berhenti di dekat pinggir arena.

Area latihan yang sebelumnya penuh kegaduhan, tiba-tiba kembali hening seketika.

"—Fufu. Fufufufufu..."

"...Oi, Roche-kun? Cara tertawamu menakutkan, lho?"

"Ups," Roche menutup mulutnya.

"Maaf. ...Habisnya, aku baru saja melihat teknik yang sangat indah, jadi tidak sengaja."

Ah, benar-benar, sampai sejauh mana pria ini akan terus menggetarkan hati Roche?

Alasan mengapa pedang Ramzey terbang ke udara; dengan memanfaatkan sifat Heartless Blade yang menekan daya bunuh, Wolka menebas ujung jari Ramzey yang menggenggam pedang.

Hasilnya, karena rasa sakit dan benturan yang tiba-tiba, kekuatan Ramzey mengendur secara refleks, dan hanya pedangnya yang terpental ke udara.

Wolka melakukan hal itu dalam sekejap mata seperti cahaya, di tengah kegelapan karena penglihatannya direnggut.

(Benar-benar, kau ini—)

Roche merasa kagum dari lubuk hatinya, dan sekali lagi dia merasa yakin.

Itu bukan karena dia dianugerahi bakat hingga dijuluki "Anak Emas Pedang", atau karena dia terpilih menjadi Holy Knight termuda dalam sejarah.

"Cahaya" terkuat dalam hidup Roche, tanpa diragukan lagi adalah—

"Ugeh, ada pasir masuk ke mulut..."

Dan orang yang menjadi tujuan dari persahabatan yang mendalam itu, justru sedang menepuk-nepuk pasir dari wajahnya dengan ekspresi konyol.

"Bajingan, kau seharusnya tidak bisa melihat tadi...!!"

"Ya. Aku hanya sedang beruntung."

Ramzey yang terpental mencoba mengerahkan tenaga ke kedua lengannya yang gemetar, berusaha bangkit secepat mungkin dari tubuhnya yang kehilangan kendali.

Wolka yang selesai membersihkan pasir menatap pria itu, dan hanya mengucapkan satu kata dengan tenang.

"Masih mau lanjut?"

"gh—"

Pemenang duel ditentukan saat salah satu pihak menyerah atau tidak bisa melanjutkan pertarungan.

Sejauh yang Roche lihat, bahkan tanpa keberpihakan pun, kekalahan Ramzey sudah terlihat jelas.

Meski daya bunuhnya ditekan oleh Heartless Blade, fakta bahwa dia kesulitan hanya untuk berdiri menunjukkan bahwa dia menerima kerusakan yang cukup besar.

"—Ya, masih belum."

Namun, Ramzey tetap tidak mau mengakui kekalahannya.

Dia mengangkat tubuhnya yang tidak bisa bergerak bebas hanya dengan kekuatan lengan, berlutut dengan satu kaki seolah merangkak, dan—

"Kalau cuma segini, aku masih belum bisa mengerti...!!"

Dia bangkit meski sempoyongan. Di wajahnya, tersungging senyum yang penuh kegarangan.

"Sudah kubilang, kan, buatlah aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi!! Aku masih bisa banyak bicara, jangan sok hebat menahan kekuatan penuhmu!!"

Provokasi murahan yang terkesan dipaksakan itu, seolah-olah dia memang berharap untuk dikalahkan oleh Wolka.

"...Melanjutkan pembicaraan tadi."

Fuji menggaruk kepalanya, lalu berbicara seolah sedang membacakan sesuatu.

"Ini cerita lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ada sebuah party petualang di Kota Suci. Mereka adalah bibit unggul yang menjanjikan, naik ke peringkat A dengan kecepatan luar biasa... persis seperti party Wolka-kun."

Roche tidak mengatakan apa pun, dia tetap menatap ke depan sambil mendengarkan kata-kata Fuji.

"Tapi, suatu hari mereka bernasib buruk diserang oleh ras iblis dan party itu hancur. Hanya ada satu yang selamat, dan dia menderita luka berat hingga kehilangan satu kakinya."

"..."

"Sepertinya dia mencoba membalas dendam untuk teman-temannya. Tapi akhirnya, di saat terakhirnya, dia tewas oleh monster yang seharusnya bukan apa-apa jika saja dia tidak terluka—"

Fuji memutus kalimatnya di sana, lalu menghela napas.

"Cerita yang menyebalkan seperti itu. ...Katanya, Ramzey adalah teman masa kecil orang itu."

Apa yang dilakukan Ramzey mungkin memang tidak benar.

Ramzey pun pasti menyadari hal itu.

Namun, manusia bukanlah makhluk yang begitu praktis hingga bisa hidup hanya dengan logika saja.

Di balik pemikiran usang bahwa orang yang terluka sebaiknya mengundurkan diri dengan tenang, ada keinginan di suatu tempat agar dirinya yang sekarang—yang hanya bisa menyangkal jalan yang ingin ditempuh temannya dulu—dihancurkan sampai tak bersisa.

Itulah sebabnya Ramzey mencoba terus berdiri di depan Wolka sampai akhir.

Roche tersenyum kecut. Baru beberapa hari sejak dia kembali ke Kota Suci, mengapa pria itu selalu dikerumuni oleh orang-orang dengan emosi yang rumit dan merepotkan seperti itu?

Dia merasa Wolka memang terlahir di bawah bintang yang seperti itu.

"Kita lanjut!!"

Ramzey meraung. Tanpa memungut pedangnya yang terpental, tanpa mengeluarkan senjata baru, dia mulai menyusun formula sihir serangan dengan Mana yang dilepaskan.

Sebuah lingkaran sihir besar muncul di belakang Ramzey, mulai bersinar dengan cahaya ungu.

"Berikutnya adalah sihir! Musuh tidak akan selalu bertarung dalam jarak dekat! Dengan kaki yang bahkan tidak bisa bergerak dengan benar itu, bagaimana kau akan bertarung melawan musuh yang tidak mau mendekat!?"

"..."

Sebaliknya, Wolka terdiam sejenak.

Lalu, dia tersenyum tipis seolah melemaskan ketegangan.

Sambil tersenyum, dia berkata.

"—Kau ini, benar-benar orang yang sangat menyebalkan ya."

◆◇◆

"Kau ini, benar-benar orang yang sangat menyebalkan ya."

"Apa kau mau cari ribut, bajingan...!!"

Begitu aku menunjukkan faktanya, dia malah marah. Begitulah dirimu.

Tidak, habisnya kan memang benar. Setelah bertukar pedang sampai sejauh ini, aku pun bisa merasakan kalau kau punya pemikiran tersendiri.

Tapi ini, aku benar-benar kena imbasnya, kan?

Caramu terlalu berputar-putar, apa tidak bisa dengan cara yang lebih baik sedikit?

...Yah, begitulah. Bukannya aku merasa kesal yang berlebihan. Justru, aku merasa sesak di dadaku sudah hilang dan terasa lega.

Aku ini lemah terhadap pola "kupikir dia orang menyebalkan, ternyata sebenarnya..." seperti ini.

Karena aku penganut paham happy ending, aku jadi merasa lega saat menyadari ternyata tidak ada orang yang benar-benar jahat.

Baik di dunia sebelumnya maupun dunia sekarang, jika tidak ada orang jahat, maka itu adalah hal yang terbaik.

Aku berkata.

"Sebenarnya, kurasa apa yang kau katakan itu benar."

"Ah...?"

Penyusunan formula sihir Ramzey terhenti. Aku melanjutkan,

"Kau bilang tadi, kan, kalau aku ini orang yang hanya bisa bergantung pada pedang. Itu benar. Aku hanya punya pedang. Aku payah dalam bersosialisasi, tidak terlalu pintar, dan sihirku pun hanya karena jumlah Mana-ku lebih banyak dari rata-rata. Aku sendiri berpikir, apa yang tersisa dariku jika pedang diambil dariku."

Pada akhirnya, aku memang bergantung pada pedang. Karena di dunia yang brengsek ini, sekarang itulah satu-satunya kekuatan bagiku untuk bisa melindungi seseorang.

Karena jika aku kehilangannya, aku benar-benar tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi.

Tentu saja bukan bohong kalau aku bilang aku suka pedang, tapi di baliknya memang benar ada perasaan keras kepala yang menolak untuk patah begitu saja.

Setelah bertemu dengan gadis bernama Luellie, aku menyadari hal itu dari lubuk hatiku yang terdalam.

"Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus hidup jika pedangku hilang."

Mungkin karena aku sedikit tahu isi hati Ramzey melalui duel ini, aku juga merasa ingin mencurahkan sedikit isi hatiku.

"Mungkin kau mengerti... di dunia ini, tidak ada Dewa yang akan menolong saat kita kesulitan. Kita harus menggerakkan kaki kita sendiri. Jika tidak, kita tidak bisa melindungi apa pun."

"..."

Tidak lain dan tidak bukan, karena tokoh utama dalam karya aslinya memang seperti itu.

"Alasanku tidak menyerah hanya karena itu... ah, jadi itu, apa ya."

Namun, karena aku segera merasa malu, aku berhenti.

Ya, aku memang sangat payah dalam menceritakan isi hatiku sendiri... Jika para Master mendengarnya, bisa-bisa terjadi kesalahpahaman lagi, jadi lebih baik berhenti di sini.

Aku bersiap. Menempatkan pedang yang tersarung di pinggang kiri dengan sisi kanan tubuh di depan—dalam posisi Battou.

"—Akan kutunjukkan kalau aku bukan cuma bicara besar. Majulah."

"...Hah."

Ramzey tertawa kecil, lalu melanjutkan penyusunan formula sihirnya. Sihir serangan atribut petir. Aku bisa melihat petir ungu berkumpul di atas kepala Ramzey, membentuk wujud seperti tombak.

Aku merasa kagum dengan kemampuannya yang di luar dugaan. Sihir di dunia ini adalah salah satu jenis ilmu pengetahuan, dan kemampuannya sebagian besar dipengaruhi oleh kecerdasan.

Apa orang ini sebenarnya tipe yang pintar belajar...? Master, maaf, soal kemampuan sihir sepertinya aku kalah telak.

"Kalau begitu, hancurkan aku!! Dengan begitu tidak akan ada yang protes lagi!!"

"Ya—"

Entah mengapa, mungkin karena perasaan sesak di dadaku sudah hilang.

Tanpa perlu berpikir lagi, kesadaran dan pedangku menyatu dalam sensasi yang setenang pernapasan.

Pandangan pedang yang baru saja kukuasai—ya, untuk sementara mari kita sebut dengan nama keren seperti Sword Realm.

Dunia yang hanya terdiri dari dua warna: "Putih" yang bisa ditebas, dan "Hitam" yang tidak bisa ditebas. Ini pertama kalinya aku masuk ke Sword Realm dalam pertarungan sungguhan.

Ramzey adalah "Putih", tapi aku tidak akan melakukan hal membosankan seperti menebasnya dari sini sebelum sihirnya aktif.

Aku akan menghancurkannya secara adil dari depan. Pedang kesayanganku memberitahuku di dalam mental yang tanpa kebisingan ini bahwa hal itu bukanlah hal yang mustahil.

"—Eight-Forked Lightning: Brixt!!"

Sihir Ramzey aktif. Tombak petir yang lebih besar dari tubuhku, dan sambaran petir kecil tak terhitung jumlahnya yang berasal dari sana.

Secara logika, orang cacat bermata satu dan berkaki satu tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa sihir.

Sejak awal, sihir harus dihadapi dengan sihir, dan aku yang mencoba mencegatnya hanya dengan sebilah pedang pada dasarnya adalah salah.

"Wolkaaaa...!!"

Master meneriakkan namaku.

Pasti aku sudah membuatnya memasang wajah yang hampir menangis lagi. Yuritia dan Atri juga—namun justru karena itulah, aku.

Di dunia tanpa Dewa ini, dengan tubuh yang kehilangan satu mata dan satu kaki ini, aku diberikan alasan untuk terus meronta tanpa patah semangat.

Putih.

—Jika apa yang terjadi pada saat itu harus diungkapkan dengan kata-kata, maka itu akan menjadi cerita yang agak puitis seperti bualan penyair kelana: "Kilat perak menebas kilat ungu".

Semua orang yang berkumpul di area latihan pasti melihatnya.

Semua orang merasakan dunia putih sesaat yang tanpa suara maupun gerakan.

Tepat saat Eight-Forked Lightning: Brixt milik Ramzey dilepaskan, yang mereka dengar bukanlah suara guntur yang menggelegar, melainkan hanya bunyi denting kecil saat Wolka menyarungkan pedangnya.

Keheningan pecah.

Saat warna kembali ke penglihatan orang-orang, kilat perak telah memotong-motong kilat ungu berkali-kali.

Dan kilat perak itu melompati ruang hingga mencapai Ramzey, membelah lingkaran sihir yang terbentang di belakangnya menjadi dua.

Lingkaran sihir, atau dengan kata lain, formula sihir itu sendiri.

Memang benar, jika formula sihir dihancurkan, maka aktivasi sihir akan terhenti.

Namun, formula sihir adalah sesuatu yang dipengaruhi oleh Mana, dan bukan sesuatu yang bisa dihancurkan secara fisik.

Seharusnya tidak bisa, tapi.

Dia menebas sesuatu yang seharusnya tidak bisa ditebas secara fisik—berapa banyak orang di tempat ini yang bisa memahami hal itu?

◆◇◆

"—K-khahaha... ah, apa-apaan itu tadi."

Ramzey yang terkapar telentang di tanah tertawa serak seolah-olah dia baru saja melihat sesuatu yang sangat konyol.

Petir yang hancur berantakan menjadi sisa-sisa Mana yang pudar, meninggalkan kilauan seperti debu bintang sebelum akhirnya larut dan menghilang ke angkasa.

Saat aku keluar dari Sword Realm yang hampir seluruhnya berwarna putih, area latihan terlihat sedikit lebih berwarna dari sebelumnya.

Huh, sukses... Yah, begitulah.

Aku tidak terkejut dengan teknikku sendiri.

Aku punya keyakinan mutlak bahwa aku bisa menebasnya.

 Karena itulah aku menebasnya sesuai dengan itu.

Mengubah masa depan tebasan yang ada di dalam kepala menjadi kenyataan.

Ya, benar... aku sudah ingat sepenuhnya, ini adalah sensasi saat aku menebas Grim Reaper.

Meski ingatan pertarungannya masih terputus-putus, perasaan bahwa teknik itu telah kembali dalam bentuk yang sempurna meresap ke seluruh tubuhku seperti aliran darah, dari ujung jari hingga telapak kaki.

Ramzey masih tertawa dengan perut yang kejang.

"Bukannya menangkis, kau malah menebas sihirnya... Kenapa kau malah jadi lebih kuat setelah kehilangan mata dan kaki, hah...?"

"Yah, banyak hal yang terjadi."

Lalu, aku melepaskan posisi Battou dan bertanya pada Ramzey.

"Masih mau lanjut?"

"...Tidaak."

Ramzey bangkit perlahan. Dia duduk dengan posisi kasar bertumpu pada satu lutut, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi di atas kepala sebagai tanda menyerah.

"Aku kalah! —Ini kekalahan telak yang tidak bisa kubantah sedikit pun!"

Dia melihat ke sekeliling penonton, lalu berteriak keras hingga mencapai setiap sudut area latihan.

"Kalian semua juga lihat, kan!! Setelah melihat teknik tadi, pasti tidak ada lagi yang akan memberinya komplain sampah, kan!! Kalau punya keluhan, lakukan hal yang sama dulu baru bicara!!"

O-oh, dia malah berbalik mengakuiku... Makanya kubilang berhenti, aku ini lemah dengan hal-hal seperti itu!

"Wolkaaaa!!"

"Wolka-kuuun!"

"Uo."

Pada saat itu, Master dan Shannon yang menangis bombastis seperti di manga berlari turun dari kursi penonton.

Master langsung menubruk perutku, sementara Shannon memegang tangan kananku dan mengguncangnya kuat-kuat.

"Hiks, buuu, aku sangat khawatir tahu!! Aku sangat khawatir, dasar bodoh, bodoh, bodoh!!"

"Benar sekali! Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi syukurlah Wol-kun menang!!"

"Uooooo."

Tunggu, bahaya, bahaya, aku bisa jatuh! Aku kan pakai kaki palsu... hm? Barusan sepertinya kaki palsuku berbunyi kriet-kriet...

Terlebih lagi, bagian pangkal kaki kiriku juga sedikit sakit.

Aku berniat bertarung sambil berhati-hati agar tidak memberi beban berlebih, tapi sepertinya tidak berjalan semulus itu.

Yah, setidaknya kaki palsuku tidak patah lagi, jadi ini sudah lumayan.

"Kerja bagus, Senior. ...Tadi sangat keren. Sangat."

"Hm. Ternyata, Wolka memang hebat..."

Yuritia dan Atri yang datang belakangan juga memberiku pujian.

Namun entah kenapa, mereka berdua memegang pipi mereka yang agak merona dengan kedua tangan.

"Haa... aku penasaran apa aku bisa tidur nyenyak malam ini..."

"...Aku, tidak bisa."

A-apa maksudnya itu...? Karena aku takut bertanya, bolehkah aku pura-pura tidak dengar saja?

Lalu, suara-suara pujian juga terdengar dari arah kursi penonton.

"Wolka, tadi keren banget! Kau memang hebat!"

"Tadi benar-benar melegakan! Kerja bagus!"

"Kapan-kapan ajari aku pedang ya!"

Aku melihat party kenalanku bersiul dan melambaikan tangan dengan semangat.

Dari sana, lingkaran itu semakin meluas dari orang ke orang, hingga akhirnya seluruh area latihan—termasuk petualang paruh baya yang sebelumnya bicara buruk tentangku, meski sambil mengerucutkan bibir—dipenuhi oleh suara tepuk tangan yang hangat.

Apakah ini... yang penting akhirnya baik, atau semacamnya?

"Kukuku, syukurlah kalau begitu. ...Kau mungkin benci jadi bahan pembicaraan, tapi kalau kau sekuat ini, jangan sembunyi-sembunyi lagi. Bersikaplah dengan gagah."

"..."

Ramzey sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyesal karena kalah, sebaliknya, dia malah memberikan kesan cerah seolah-olah beban dalam dirinya sudah hilang.

Aku tiba-tiba merasa heran. Sebenarnya, sampai sejauh mana duel ini adalah skenario yang disusun oleh Ramzey?

Setidaknya, pasti ada semacam tujuan dan bukan sekadar gangguan belaka—

"Hei, apa kau sengaja—"

"Mana mungkin."

Ramzey tiba-tiba menjadi seperti landak yang berduri.

"Jangan salah paham, apa kau sudah lupa apa yang kukatakan kemarin? Aku berniat menghancurkanmu dengan kekuatan penuh."

"...Yah, kalau kau bilang begitu."

Sepertinya dia berniat untuk tetap mempertahankan citra sebagai petualang senior yang menyebalkan. Iya, iya, aku mengerti, aku tidak akan mengejarnya lebih jauh.

Lalu di sana, Master yang menghirup ingusnya menjauh dari perutku.

Dia berbalik menatap Ramzey yang merasa semuanya sudah selesai sendiri, lalu memberikan tatapan tajam yang mengancam.

"Hei, kau."

"...Apa."

"Minta maaf."

Satu alis Ramzey berkedut—tidak, dia tampak terkejut.

"Kau bilang banyak hal jahat pada Wolka. Tadi juga mengincar kaki palsu, melempar pasir... minta maaf."

Seketika Yuritia juga menyusul dengan senyuman. Itu adalah senyuman yang sekali lihat saja sudah tahu kalau hatinya sama sekali tidak tersenyum, senyuman yang memancarkan tekanan yang tidak seperti gadis tiga belas tahun.

"Benar, silakan minta maaf. ...Kau mengakui Senior, kan? Kalau begitu kau bisa melakukannya, kan? Karena kau kan orang dewasa?"

"...,"

Ramzey mencoba melarikan pandangannya untuk kabur, tapi sebagai serangan pamungkas, Atri membentuk tangan kanannya seperti cakar.

"Kalau tidak bisa, aku akan mengajarimu cara minta maaf. ...Dengan paksa."

"............"

Melihat Ramzey yang terpojok oleh tiga orang gadis hingga kehilangan jalan keluar, maaf saja tapi itu cukup lucu.

Tidak ada pria yang bisa tetap bersikap santai dalam situasi seperti ini.

Ramzey menunduk cukup lama dengan wajah yang terlihat sangat masam, lalu perlahan-lahan dia memperbaiki posisi duduk bersilanya.

"Aku minta maaf, ini sungguhan. ...Aku bersumpah, tidak akan pernah mengganggu kalian lagi."

"O-oh."

Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam dan meminta maaf dengan cukup tulus. Agak aneh rasanya...

Tapi ya, dengan begini masalah benar-benar sudah selesai. Master juga mengangguk puas.

"—Kalau begitu, kami akan memaafkanmu dengan satu tamparan."

Ah, ternyata itu dihitung terpisah dari "minta maaf" ya...

Ramzey sepertinya sudah menyadari bahwa perlawanan itu sia-sia.

"...Lakukan sesukamu."

"Sikap yang bagus."

Master, Shannon, Yuritia, dan Atri mulai berbaris secara berurutan. Pertama-tama Master menyingsingkan lengan bajunya dengan penuh semangat.

"Baiklah, bersiaplah menerima ganjaranmu. ...Hmph!!"

Plaak!

"Nah, aku juga mewakili Guild. Ini dia... uryaaah!"

Plaak!

"E-eh... a-aku akan melakukannya dengan serius. Bersiaplah! —Taah!!"

Dhuarr-Plaak!

"Terakhir aku. —Gigi, rapatkan."

BOMM-Plaak!

"...Fuu, rasanya lega!"

"Hawaa, a-aku sudah menampar pria dengan sekuat tenaga..."

"Semuanya, itu pukulan yang sangat bagus."

"Benar-benar, jangan lakukan hal buruk lagi ya!"

Ramzey yang menerima empat tamparan beruntun yang dahsyat dari empat gadis itu terbang ke udara sambil berputar.

Dia terbang, dan...

"RAMZEEEEEY!!"

"Lihat, dia menjadi abu dengan wajah yang terlihat lega... Kau melakukan hal bodoh sekali..."

"Ramzey, aku tidak akan melupakanmu...!"

"..."

Para petualang paruh baya yang sepertinya kenalan Ramzey menangisi pengorbanan suci itu dengan air mata pria yang membara.

...Sepertinya, ini penutup yang cukup indah.

Master yang sudah merasa lega berjalan mendekat.

"Wolka, ayo pulang. Hari ini jangan memaksakan diri lagi, istirahatlah dengan tenang di penginapan!"

"Ya, akan kulakukan."

Aku mengangguk. Karena kaki kiriku sepertinya memang sedikit sakit, sebaiknya aku menghabiskan waktu dengan tenang agar tidak membuat mereka khawatir lagi.

Aku memegang tangan Master, melangkahkan kaki kiri ke depan—

—Pada saat itu, terdengar bunyi "krak" yang sangat tidak enak dan pandanganku terguling ke samping.

"Gah, Wolka!"

Untungnya Atri segera bereaksi dan menangkapku.

Namun aku tidak sempat mengucapkan terima kasih secara spontan, aku hanya bisa bergumam "Ah..." dengan perasaan pucat pasi sambil menyadari segalanya.

Gawat.

"Wolka!?"

"Senior!?"

"Wol-kun!? Tiba-tiba ada a—"

Master, Yuritia, dan Shannon, semuanya segera menyadari "hal itu" dan terpaku.

Tidak mungkin mereka tidak menyadari. Siapa pun yang melihatnya, ada fakta yang terpampang nyata dan tidak bisa dibantah.

Kaki palsunya patah.

"...A-anu, tunggu sebentar semuanya. Ini itu, anu."

Aku ingin memberi alasan.

Aku su-sudah berhati-hati agar tidak memberi beban berlebih saat bertarung, tahu?

Sejauh mana gerakanku masih aman, aku sudah mencobanya berkali-kali dalam latihan harian.

Ini bukan sengaja. Cuma itu, di bagian terakhir tadi suasananya terlalu terbawa perasaan...

...

Li-lihatlah, sampai barusan tadi bukannya sudah berakhir dengan cerita yang sangat bagus?

Master juga bilang sendiri, kan, ayo pulang ke penginapan dan istirahat. Aku juga setuju.

Tenang saja, hari ini aku benar-benar tidak akan memaksakan diri lagi. Aku akan diam tenang. Jadi tolong semuanya tenang dulu. Tenang—

............

E-eh, Master? Yuritia? Atri?

Kumohon kembalikan cahaya di mata kalian... Maaf, aku minta maaf! Tunggu, tunggu, ini di depan umum!

Shannon, jangan cuma melihat, hentikan mereka! Tunggu seb—

◆◇◆

"—Hei, Wolka."

Dan sekitar dua jam kemudian, di atas tempat tidur yang bersih dan putih di Katedral.

"Ada yang ingin kami bicarakan."

"A-apa itu?"

Tepat di depanku agak ke kanan, Master duduk bersimpuh di atas kasur.

Dia memasang senyum manis yang entah kenapa terasa tidak tersenyum, sebuah senyuman misterius yang membuat bulu kuduk merinding.

"O-ke? Dengarkan baik-baik ya."

"A-ah, ya..."

Saat aku mengalihkan pandangan ke kiri,

"Mengenai kaki palsu pengganti Tuan Wolka, sepertinya butuh waktu beberapa hari... kami benar-benar mohon maaf."

"Be-begitu ya. Aku yang minta maaf sudah merepotkan..."

Anje mendampingi di pinggir tempat tidur.

Dia mencondongkan tubuhnya cukup dekat sambil memegang tangan kiriku, memancarkan aura pemberkatan yang meluap-luap.

"Tapi jangan khawatir! Di sini adalah Katedral... agar tidak ada ketidaknyamanan sampai kaki palsu itu tiba, kami akan merawat Tuan Wolka dengan sepenuh hati!"

"..."

Di depan agak ke kiri, Yuritia yang juga duduk di atas kasur seperti Master, tersenyum dengan sangat lebar.

Sampai membuatku merasa cemas.

"Senior tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Dari selamat pagi sampai selamat tidur, serahkan semuanya pada kami ya~"

"...Ha-haha."

"Kami serius, lho? Karena Senpai-lah yang salah..."

Mulutku sedikit berkedut.

Entah perasaanku saja atau bukan, suasananya terasa kembali ke garis waktu saat aku sedang dalam masa pemulihan di Kota Luther. T

idak, malah tekanan dari semuanya terasa lebih kuat daripada saat itu—

"Wolka."

Terakhir, Atri mengintip wajahku dari sisi kanan tempat tidur.

Di atas tempat tidur yang tidak memberiku jalan untuk kabur maupun bersembunyi, di bawah pengepungan total dari empat orang gadis ini—dia merangkum situasinya sebagai berikut.

"Nenek pernah bilang. —Pekerjaan seorang laki-laki adalah bertanggung jawab."

Tanggung jawab soal apa?!

 






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close