NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenmetsu END wo Shinimonogurui de Kaihishita ~ Party ga Yanda Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Hal yang Tak Pernah Berubah


Keesokan harinya, Shannon membantu tugas-tugas di Guild Petualang Luthal bersama Fuji.

Sejujurnya, ia sendiri heran kenapa masih bisa mempertahankan kesadaran yang cukup untuk bekerja. Kemarin, ia bahkan tidak ingat bagaimana caranya bisa sampai di penginapan untuk beristirahat.

Namun begitu terbangun, ia tetap mencuci muka, mengisi perut, dan berganti pakaian dengan seragam Guild di depan cermin seperti biasa.

Fakta bahwa Wolka kehilangan mata kanan dan kaki kirinya—serta belum sadarkan diri—adalah kenyataan pahit.

Meski begitu, fakta bahwa setidaknya nyawa pemuda itu tertolong menjadi garis hidup terakhir yang menyambung kewarasan Shannon.

"Shannon-chan. Besok pagi, mari kita coba pergi ke Gereja sekali lagi."

Fuji menawarkan hal itu saat senja mulai menyelimuti, tepat ketika pekerjaan mereka hampir selesai.

"Siapa tahu situasinya sudah lebih tenang dan kita diizinkan menjenguk. Kita pastikan itu saja, lalu setelahnya kita kembali ke Ibu Kota Suci. Orang-orang di sana juga sudah menunggu Paman."

Benar, Shannon dan yang lainnya datang jauh-jauh ke sini hanya untuk investigasi fakta dan memberikan dukungan, bukan untuk bertemu langsung dengan Silver Gray.

Apalagi Shannon adalah pihak yang secara administratif terlibat dalam kecelakaan ini. Ia tidak berada dalam posisi yang diizinkan untuk tinggal lebih lama hanya demi keinginan pribadinya, yaitu 'ingin bertemu Wolka dan yang lainnya'.

Ia sangat mengerti hal itu.

Namun jika diizinkan, ia ingin bertemu mereka meski hanya sekilas. Ia ingin menyapa meski hanya satu kata.

Entah apa yang harus ia katakan. Mungkin memang tidak ada kata-kata yang pantas diucapkan dalam kondisi sekarang, tapi tetap saja.

Rasanya menyesakkan. Di saat semua orang sedang menderita dan berjuang, ia bahkan tidak bisa berlari ke sisi mereka untuk sekadar menemani.

—Aku ingin bertemu.

Aku ingin bertemu dengannya, Wol-kun.

 

Begitu pagi tiba, Shannon membereskan barang bawaannya lalu melangkah menuju Gereja sekali lagi.

Namun baru saja keluar dari penginapan, rasa cemas dan ketakutan yang gelap mulai merambat di kakinya. Seandainya permohonannya dikabulkan dan ia diizinkan menjenguk mereka.

Melihat sosok Wolka yang terbaring tanpa satu mata dan satu kaki, juga melihat Razel dan yang lainnya yang pasti sedang putus asa dan kelelahan, sanggupkah ia menahannya? Bukankah lebih baik pulang ke Ibu Kota Suci sekarang agar tidak perlu menyesal?

Meskipun sangat ingin bertemu, sisi pengecut dalam dirinya membisikkan hal itu di sudut hati.

Saat sampai di tanjakan landai menuju Gereja, Fuji yang berjalan di depan menoleh ke belakang.

"Kamu baik-baik saja, Shannon-chan?"

"……Tentu saja tidak, Paman."

Shannon menjawab tanpa tahu apa yang ia tertawakan dari jawabannya sendiri. Mana mungkin ia baik-baik saja.

Jika ada tempat untuk memuntahkan perasaan hitam yang bergejolak di lubuk hatinya, ia ingin sekali mengayunkan tinjunya sekuat tenaga saat ini juga.

Fuji memilah kata-kata di dalam mulutnya sejenak sebelum berkata.

"Kalau memang terasa berat, biar Paman saja yang pergi—"

"……Paman, sejak datang ke sini, entah kenapa kamu jadi bisa diandalkan, ya. Tak disangka."

Di Guild kemarin pun, Fuji bekerja dengan sangat cekatan, sangat berbeda dari biasanya.

Meski penampilannya tetap terlihat lesu tanpa semangat seperti 'lampu di siang hari', ia justru tetap tenang dengan pandangan luas.

Alih-alih sekadar memberi bantuan, ia malah dipercaya untuk memimpin di pusat komando.

Selain itu, ia juga sangat perhatian pada Shannon secara tidak langsung.

Shannon tahu kalau pria ini sebenarnya bisa diandalkan saat keadaan mendesak, tapi melihat kehebatannya secara langsung membuat Shannon merasa sayang karena keseharian Fuji yang biasanya sangat berantakan.

"Paman, ternyata kamu benar-benar orang dewasa, ya."

"Oho, apa kamu baru saja menemukan pesona dandy dari Paman ini? Silakan saja kalau mau makin kagum, lho~"

"Iya, iya."

Berkat ucapan konyol dan santai itu, Shannon berhasil terhindar dari rasa cemas dan takut yang nyaris menelannya.

Apakah Fuji sengaja bersikap konyol karena sudah melihat menembus hatinya? Jika benar begitu, entah kenapa... rasanya sedikit menyebalkan.

"……Terima kasih, Paman."

Gara-gara itu, ucapan terima kasihnya hanya keluar dengan suara pelan dan bibir yang mengerucut.

Mereka terus menanjak. Tak lama kemudian, mereka menyadari ada sesosok bayangan yang berjalan turun dari arah Gereja.

Awalnya Shannon mengira itu adalah seorang biarawati, tapi penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti kaum klerus. Bukan, bahkan lebih dari itu.

"Eh—"

Kulit kecokelatan yang jarang ada di negeri ini, serta pakaian asing yang sedikit terbuka.

Dia adalah salah satu anggota Silver Gray yang sangat ingin ia temui, Atri.

"A-Atri……!?"

"……?"

Shannon berlari menyalip Fuji. Atri sama sekali tidak terkejut melihat kenalannya muncul tiba-tiba. Gadis itu hanya memiringkan kepala dengan tatapan datar yang sudah sangat dikenal Shannon.

"……Shannon?"

"I-iya."

"Yo, Atri-chan."

"Fuji juga……"

Atri membalas sapaan Fuji yang baru menyusul dengan suara lirih.

Tanpa ekspresi dan irit bicara, gadis misterius yang sulit ditebak pikirannya—dia adalah Atri yang sama seperti yang Shannon kenal dulu.

"E-anu……"

Shannon mendadak kehilangan kata-kata. Situasi ini terlalu tiba-tiba hingga kepalanya hampir kosong.

Apa yang harus kulakukan? Tak disangka akan bertemu di tempat seperti ini.

Haruskah aku bersikap ceria seperti Fuji, atau haruskah aku diam menemani karena mengerti kesedihannya?

Ah, sial. Padahal ia sangat ingin menyapa meski hanya satu kata.

"──Ada urusan apa?"

"Eh,"

Sebelum Shannon menentukan jawaban, Atri lebih dulu berucap.

Kata-kata yang sangat dingin dan datar, tanpa emosi sedikit pun di dalamnya.

"Kalau tidak ada urusan, menyingkirlah. Mengganggu."

"……A-Atri? Anu, itu,"

Napas Shannon tercekat.

Dada yang tadinya merasa lega karena melihat Atri baik-baik saja, kini seolah tertancap kuku tajam.

"Atri-chan, apa kamu ada urusan penting?"

Fuji bertanya mewakili Shannon yang tidak sanggup bicara, namun jawabannya tetap ketus.

"Luar. Aku mau berburu monster."

Shannon tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Eh? Jangan-jangan, kamu mau pergi sendirian—"

"Terus kenapa?"

Atri menjawab seolah semuanya sudah tidak penting lagi baginya.

—Ada yang aneh. Ini bukan Atri yang biasanya.

Memang Atri tidak pandai bersosialisasi dan memiliki kepribadian kaku yang jarang bicara lebih dari seperlunya.

Saat pertama kali mengenalnya pun, ia selalu menjawab dengan ketus dan memiliki aura yang sulit didekati.

Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai menunjukkan perubahan ekspresi, dan Shannon ingat betapa ia merasa lega saat menyadari gadis ini pun memiliki perasaan.

Tapi Atri yang ada di depan matanya sekarang, mungkin lebih parah daripada saat pertama kali mereka bertemu.

"Tu-tunggu, sekarang Wol-kun sedang—"

"Berisik."

Ucapan Shannon yang mencoba menahannya dipotong begitu saja tanpa ampun.

Ekspresi Atri akhirnya bergerak. Perasaan tidak berdaya dan penyesalan karena tidak bisa melindungi Wolka sebagai rekan.

Lalu di sisi lain, ada keyakinan gila seolah ia ingin mempersembahkan seluruh hidupnya. Ia mengatupkan emosi yang kacau, meluapkannya, dan seolah ingin membakar habis raga dan jiwanya sendiri.

"Minggir. ……Jangan, ganggu aku."

Itu memang bukan niat membunuh, tapi.

Shannon menyingkir membukakan jalan bukan karena kalah oleh tekanan Atri atau karena takut.

Melainkan karena ia ditarik oleh Fuji saat ia membeku tak bisa bergerak, hingga ia nyaris terjungkal ke belakang.

Atri memalingkan pandangannya sepenuhnya dari Shannon dan yang lainnya, lalu berjalan turun menuruni tanjakan tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan pun.

Penduduk Arsvarem. Punggung sang ksatria itu terasa sangat tegang hingga membuat merinding, seolah ia sedang dirasuki oleh sesuatu.

"……Karena dia yang dilindungi, ya."

Fuji bergumam pelan pada dirinya sendiri. Kemudian ia menepuk bahu Shannon dengan lembut.

"Atri-chan pasti baik-baik saja. Penduduk Arsvarem tidak akan menggunakan nyawa mereka dengan cara seperti itu."

"Ggh……"

Rasa tidak berdaya yang menyesakkan melanda Shannon, membuatnya mengepalkan tinju erat-erat.

Suara tangisan Razel yang masih terngiang di telinga, dan kata-kata Atri yang menyimpan tekad menyedihkan serta menyakitkan.

Silver Gray yang sangat Shannon sayangi telah hancur berkeping-keping hingga tak sanggup dilihat. Wolka, Razel, Yulithia, Atri—semuanya sedang menderita.

Kenyataan itu membuatnya ingin menangis sejadi-jadinya.

"……Ayo pergi."

"……Baik, Paman."

Ia melangkah maju sambil mengatupkan gigi. Begitu sampai di Gereja, biarawati tua yang menyambut mereka adalah orang yang sama seperti kemarin lusa.

Biarawati itu menyambut Shannon dengan senyum cemas yang seolah sudah menduga kedatangan mereka.

"Kamu datang lagi, ya……"

Fuji menjelaskan identitas dan urusannya dengan singkat.

"Bagaimana? Aku berharap situasinya sudah sedikit lebih tenang."

"Dibanding kemarin lusa, mereka sudah agak tenang. Kalau sekarang, jika hanya bertemu sebentar saja……"

"……!"

Seketika itu juga, Shannon menundukkan kepala dan memohon.

"Tolong! Benar-benar sebentar saja tidak apa-apa……!"

"……Ya, aku mengerti perasaanmu."

Shannon mengangkat wajahnya perlahan. Biarawati tua itu menatapnya dengan pandangan tenang, seolah sedang menasihatinya lewat tatapan mata.

"Baru saja gadis berkulit cokelat itu keluar…… Apa kalian bertemu dengannya?"

"I-iya."

"Apa kalian sempat bicara?"

"……Tidak, hampir tidak bicara apa-apa. Dia bilang, jangan ganggu dia……"

"Begitu ya," Biarawati tua itu mengangguk.

"Dua orang lainnya jauh lebih parah daripada gadis itu. ……Kamu tetap ingin masuk?"

Lebih parah dari Atri—mendengar itu, Shannon merasakan sakit di dadanya seolah dikuliti, namun ia tetap menjawab.

"──Iya."

"……Baiklah. Ikuti aku."

Dipandu oleh biarawati tua, mereka menyusuri lorong Gereja. Isak tangis Razel tidak terdengar.

Bahkan saat ia menajamkan pendengarannya, yang terdengar hanyalah suara langkah kaki mereka dan kicauan burung kecil.

Cahaya matahari masuk dengan terangnya melalui jendela-jendela besar, terpantul berkilauan di lantai yang bersih.

Suasananya begitu hangat, seolah bisa digunakan untuk berjemur dengan nyaman.

Jika hanya melihat bagian ini, tempat ini terasa seperti halaman dari dunia indah yang dipenuhi berkah Dewa.

"Ada satu hal yang perlu kalian perhatikan. Aku bilang mereka sudah tenang, tapi itu hanya jika dibandingkan dengan kemarin lusa."

"Seperti yang kukatakan sebelumnya…… jangan katakan hal-hal yang bisa memicu ingatan mereka tentang Dungeon."

"……Baik."

"Paman akan diam saja di sana. ……Shannon-chan, berbicaralah pada mereka sebagai seorang teman."

Tak lama kemudian, biarawati tua itu berhenti di depan sebuah kamar. Pintu kayu biasa yang bisa ditemukan di rumah mana pun.

"Tunggu sebentar."

Biarawati itu mengetuk pintu dengan lembut, lalu masuk sendirian ke dalam kamar pasien.

Shannon merasa menunggu sekitar satu menit. Pintu terbuka perlahan, dan biarawati itu memberi isyarat dengan matanya untuk 'masuk'.

Shannon menarik napas dalam-dalam, lalu memantapkan hati untuk melangkah maju.

"P-permisi……"

Hal pertama yang ia rasakan saat masuk ke ruangan itu adalah; terang. Di sini juga ada jendela besar, penuh cahaya dan hangat—hingga rasanya seperti sebuah sindiran yang kejam.

Jika dipikirkan, itu hal yang wajar. Meskipun ada orang yang terluka parah dan belum sadar sedang beristirahat di sini, bukan berarti seluruh ruangan harus tenggelam dalam udara gelap dan dingin.

—Di atas tempat tidur, Wolka yang tubuhnya tertutup selimut benar-benar terlihat seperti hanya sedang tertidur saja.

Dan di dua kursi yang berjajar, ada dua punggung kecil yang sangat Shannon kenal.

"Razel, Yulithia……"

Shannon memanggil nama mereka dengan sekuat tenaga, namun tidak ada reaksi. Ia menatap biarawati tua untuk memastikan apakah ia boleh mendekat, dan setelah mendapat anggukan, ia melangkah maju dengan ragu.

Ia berlutut dan mengintip wajah mereka berdua.

"Ggh──!!"

Seketika itu juga, Shannon merasakan dorongan kuat untuk memeluk mereka berdua seerat mungkin.

Di mata mereka yang menatap Wolka di tempat tidur, tidak ada apa pun yang terpantul. Tidak ada cahaya, emosi, hati, maupun kehidupan—tidak ada satu pun.

Melihat mata mereka, rasanya mata kaca yang kusam pun masih terasa lebih memiliki kehangatan manusiawi.

"Razel, Yulithia……!"

"──Ah,"

Begitu ia memanggil nama mereka sedikit lebih keras, akhirnya Yulithia merespons. Di matanya yang kosong, secercah cahaya emosi yang buram perlahan kembali.

Ada jeda beberapa detik.

"……Shannon-san? Kenapa Anda ada di sini……"

"……Hehe, kenapa ya."

Shannon memaksakan senyum ceria di wajahnya. Jika tidak melakukan itu, ia merasa hatinya pun akan ikut hancur.

"Aku mengkhawatirkan kalian……"

"……Maafkan kami."

Yulithia menggigit bibir dan menunduk. Rambut indah mereka berdua kini tampak kusam, dan area mata mereka merah serta lecet.

Mereka pasti sudah menangis berkali-kali hingga air mata kering, lalu melemah karena tidak makan dan tidur dengan benar. Mereka tampak sangat layu hingga bisa pingsan kapan saja. Shannon belum pernah melihat manusia yang terlihat seperti cangkang kosong seperti ini.

"──Ggh."

Dadanya sesak. Padahal ia punya cukup waktu untuk mempersiapkan hati, tapi begitu berada di depan mereka, tubuhnya membeku karena ketakutan yang mencekam.

Ia disadarkan bahwa dirinya hanyalah gadis kecil yang tidak memiliki kekuatan spesial apa pun.

Apa yang bisa ia katakan sekarang? Apa yang sebenarnya bisa ia lakukan?

Rasanya seperti berdiri di depan tebing terjal yang puncaknya tak terlihat, membuatnya merasa pusing.

Ia berdiri seolah ingin melarikan diri, lalu menatap Wolka di tempat tidur. Selimut yang mengikuti lekuk tubuhnya terlihat amblas secara tidak wajar di bagian kaki kiri.

Itu karena bagian tubuh yang seharusnya ada di sana kini telah tiada. Di mata kanannya, bekas luka sobekan dari dahi hingga pipi masih tersisa, dan ia mungkin harus terus menutupinya dengan penutup mata seumur hidup.

Dadanya seolah terkoyak-koyak, hingga pandangannya kabur karena air mata yang tak terbendung. Lebih dari sekadar sedih, rasa amarah yang tak terlukiskan mulai meluap.

Padahal Wolka baru berusia tujuh belas tahun. Dia adalah laki-laki yang lebih muda dari Shannon. Jika dia menanggung luka seberat ini, maka kehidupan dia ke depannya akan—

"Kenapa…… kenapa harus begini……"

Pikiran mengerikan merasuki otaknya, dan Shannon menggumamkan hal itu tanpa sadar.

Dan itulah kesalahannya.

"─────Kenapa?"

Suara hitam pekat yang emosinya telah mati.

Razel. Ia duduk di kursi sambil menunduk, tak bergerak sedikit pun, hanya bibirnya yang bergumam.

"Kenapa? ……Maksudmu, kenapa—"

"……Eh?"

Shannon menoleh. Biarawati tua itu menyadari sesuatu dan mencoba menengahi Shannon dan Razel.

Namun terlambat.

"────ITU YANG KAMI INGIN TAHU!!!"

Jeritan menyakitkan yang entah berupa teriakan marah atau jerit tangis, terdengar seperti kain yang disobek paksa.

Razel menendang kursinya hingga terjungkal dan berdiri. Kursi yang jatuh ke lantai menimbulkan suara keras yang kering, memberi tahu Shannon bahwa ada sesuatu yang telah hancur secara fatal saat itu juga.

Razel tidak melihat siapa pun. Dengan mata kosong yang tidak fokus pada apa pun, ia membungkukkan tubuhnya seolah sedang menutup telinga.

"Kenapa!? Kenapa harus Wolka!? Kenapa…… hei, kenapa!! Beritahu aku!!"

"Eh, a──"

"Kenapa…… kenapa kenapa kenapa!! Kenapaaaa!!"

Mana meledak dari tubuh Razel, membuat rambut peraknya memancarkan cahaya yang indah namun terdistorsi. Fenomena Mana Riot yang hanya terjadi pada mereka yang menguasai sihir tingkat tinggi.

Mana yang tidak terkendali menciptakan angin yang menderu, menjadi gelombang yang menggetarkan kaca jendela, dan mulai mengganggu benda-benda di sekitarnya tanpa pandang bulu.

"Razel-san……!"

Mungkin ini bukan yang pertama kalinya. Yulithia memeluk Razel sekuat tenaga beserta mana yang meledak-ledak itu, lalu berkata dengan suara lembut seolah tidak terjadi apa-apa.

"Razel-san, kalau begitu nanti berbahaya. Aku ada di sini, ya?"

Shannon yang berdiri terpaku ditarik lengannya oleh biarawati tua, lalu diseret paksa menuju pintu keluar.

"Sudah kubilang kan, hati-hati……!"

"……T-tidak, aku,"

Pikirannya tidak bisa mengejar apa yang terjadi hingga ia terduduk di lantai. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia tidak paham kenapa jadi seperti ini.

"Kenapa"—hanya karena itu.

Hanya karena satu kata itu.

"Pergi……!! Yang tidak ada hubungannya, semuanya pergi……!! Biarkan kami sendiri!!!"

Entah untuk melindungi diri atau untuk menghentikan amukan Razel, biarawati tua itu menyusun formula sihir dengan kecepatan yang tak kalah dari penyihir handal. Fuji berdiri melindungi Shannon sambil memasang kuda-kuda ringan.

Sebab ledakan mana yang terlalu kuat terkadang bisa memicu ledakan formula sihir yang tak terduga.

Hasilnya—untungnya, situasi tidak memburuk lebih dari itu.

"Pergi──PERGIIIII!!!"

Mana yang dilepaskan bersama amarah itu membuat kaca jendela retak—dan setelah itu berakhir.

Ledakan mana berhenti, mereda, dan yang tersisa hanyalah suara isak tangis penyihir muda yang memeluk Yulithia.

"……"

Shannon tidak bisa lagi berkata apa-apa. Tidak bisa melakukan apa-apa. Jangankan menyapa, untuk berdiri pun ia tak sanggup.

Itu adalah pemahaman yang sangat kejam; bahwa tidak ada satu pun yang bisa ia lakukan.

"……Ayo pergi, Shannon-chan."

Fuji meletakkan telapak tangannya dengan lembut di bahu Shannon yang masih terduduk terpaku.

"Sepertinya tidak ada yang bisa Paman dan yang lainnya lakukan di sini."

Ah—kenapa dirinya begitu tidak berdaya.

Ia ingin melakukan sesuatu. Sebagai 'kakak' yang paling mendukung kegiatan Wolka dan yang lainnya di Ibu Kota Suci, ia ingin memberikan sedikit sandaran bagi mereka.

Jika jadi begini, bukannya tidak melakukan apa-apa jauh lebih baik?

Seharusnya Shannon tidak perlu datang ke kota ini sejak awal.

"──Ra-Razel, Yulithia,"

Suaranya bergetar hebat hingga tak tega didengar. Ia berusaha keras untuk setidaknya tersenyum, tapi ekspresinya pasti sama sekali tidak terlihat seperti senyuman.

"A-aku akan menunggu. Aku akan menunggu kalian pulang ke Ibu Kota Suci……!!"

Pada akhirnya, hanya itu yang bisa ia katakan.

Dan bahkan kata-kata itu pun, di depan Razel dan Yulithia saat ini, hanya bergema hampa tanpa sampai ke telinga siapa pun lalu menghilang begitu saja.

 

Dengan rasa tidak berdaya yang luar biasa hingga tak sanggup berjalan tegak, Shannon ditarik tangannya oleh Fuji untuk kembali ke lobi.

Ia dipersilakan duduk di kursi tunggu di pinggir dinding. Di sudut kesadarannya yang seolah akan tertutup kegelapan, percakapan menyesakkan antara biarawati tua dan Fuji terdengar sangat jauh.

"……Maafkan aku. Sepertinya memang masih belum saatnya mempertemukan mereka."

"Tidak…… kami yang minta maaf sudah merepotkan."

Jeritan Razel masih terus terngiang di kepalanya.

Memalukan. Biasanya ia bersikap sok dewasa layaknya seorang kakak, tapi di saat Razel dan yang lainnya menderita, ia malah berakhir seperti ini.

Ia tidak bisa menjadi sandaran apa pun.

Ia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri yang tidak berguna dan bodoh hingga rasanya ingin mengoyak tubuhnya sendiri.

"Berikan mereka sedikit waktu lagi untuk istirahat. Begitu kami tahu apa yang terjadi di Dungeon, Guild akan segera memberikan kabar."

"Terima kasih. Itu sangat membantu."

"Ini sudah menjadi tugas seorang biarawati. Walaupun terasa berat."

"Ya…… benar sekali."

Fuji melepas kacamata dan menutupi wajah dengan kedua tangannya.

Semuanya terpatri di balik kelopak matanya.

Tekad sedih Atri, keputusasaan hampa Yulithia, kepedihan mendalam Razel, mata kanan Wolka yang penuh luka, serta kaki kirinya yang hilang.

Sosok Silver Gray yang hancur berantakan itu tertanam jelas di ingatannya.

(──Ini semua salahku)

Kecelakaan persetujuan penaklukan Dungeon Gozel. Secara realistis, mungkin mustahil bagi Shannon yang hanya bertugas mengurus administrasi untuk mencegah hal itu.

Mungkin semuanya hanyalah khayalan sia-sia yang takkan pernah terwujud.

Namun, pasti ada banyak titik balik takdir. Dan jika saja ia melakukan satu hal saja di antaranya. Meragukan validitas investigasi persetujuan.

Menahan Wolka dan yang lainnya agar tidak pergi ke Dungeon. Jika saja Shannon bisa melakukan satu hal saja—

Namun, kenyataan tidak berkata demikian.

(Karena aku tidak bisa melakukan apa pun──)

Sejak bertemu dengan Silver Gray, hari-harinya terasa sangat menyenangkan.

Ia merasa memiliki adik-adik laki-laki dan perempuan lucu yang tidak bisa dibiarkan sendirian.

Shannon yang terkadang terlalu agresif pada orang yang disukainya pasti sering mengganggu, tapi Wolka dan yang lainnya menerimanya tanpa wajah kesal, memperlakukannya secara setara, dan ia ingat betapa bahagianya ia saat itu.

Namun, hubungan itu mungkin sudah hancur sekarang.

Keseharian yang berharga selama ini hancur berkeping-keping di depan matanya, runtuh begitu saja, dan meskipun ia ingin mengumpulkannya kembali dengan putus asa,

"Ayo pulang, Shannon-chan. Shannon-cha—"

Hatinya terasa perih luar biasa, dan ia berkali-kali menyeka air mata yang tumpah dengan tangannya.

Ia menyekanya.

Menyekanya.

Menyekanya.

Berkali-kali, berkali-kali, ia menyekanya—

"……Maaf. Bisa tolong biarkan aku istirahat sebentar?"

"……Tentu saja."

Meskipun ini adalah tubuhnya sendiri, ia sudah tidak bisa lagi menahan isak tangis yang tumpah begitu saja.

Dunia seperti ini, aku benar-benar membencinya.

Ia memikirkan hal itu dari lubuk hatinya yang terdalam.

◆◇◆

"──Maaf ya, maafkan aku semuanya. Aku, aku... di saat kalian sedang menderita, aku malah tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak berguna, aku malah melakukan hal yang tidak perlu…… ugh."

"……O-oh. Jadi, begitu ya ceritanya……"

──Jadi, begitulah kronologi kejadian yang berlangsung antara teman-temanku dan Shannon saat aku masih terlelap.

Umu. Izinkan aku mengutarakan isi hatiku saat ini dalam satu kata yang singkat, padat, dan jelas.

Gila, ini berat banget sampai aku mual.

Tunggu dulu, bukannya ini seleranya terlalu buruk? Ini benar-benar tipe bad ending akibat salah paham total yang tidak menyisakan senyum bagi siapa pun!

Mendengar ceritanya saja membuat kesadaranku serasa melayang... perutku, perutku berbunyi aneh dan serasa diaduk-aduk!

Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka situasinya bakal jadi serumit ini.

Awalnya aku mengira Shannon hanya mencoba melakukan prosedur interogasi demi tuntutan pekerjaan, lalu itu menyinggung perasaan Master──hanya sebatas itu.

Namun kenyataannya, Shannon hanya ingin berada di sisi kami karena mencemaskan kami.

Ini benar-benar sebuah kesalahpahaman tragis yang terjadi karena waktu dan keberuntungan yang sangat buruk.

Pantas saja Master terlihat sangat tidak enak hati. Bagi Master, ini sama saja dengan melampiaskan kemarahan kepada orang yang justru mengkhawatirkannya.

Setelah selesai bercerita, Shannon terisak-isak hingga ia kesulitan untuk bicara lagi.

"Wolka-kun sampai jadi begini karena kesalahan Guild, d-dan aku sama sekali tidak menyadarinya…… Maaf, maaf, maafkan aku……!!"

Rambut ikalnya yang merupakan ciri khas utamanya—yang mirip telinga anjing itu—kini terkulai lemas kehilangan semangat.

Rambut ikal itu entah bagaimana seolah terhubung dengan emosi Shannon; saat senang akan memantul lincah, dan saat sedih akan terkulai layu seperti ini.

Apa itu benar-benar cuma rambut ikal? Jangan-jangan itu asli telinga anjing……?

……Oke, cukup sampai di sini pelarian realitasnya.

"……Maaf sudah membuatmu cemas, Shannon."

Meski aku harus mengorbankan mata dan kakiku demi mengubah alur 'skenario asli' dengan tekad mati-matian, aku sedikit pun tidak menyesal.

Namun, baru sekarang aku benar-benar tersadar bahwa tindakanku tidak hanya melukai diriku, tapi juga Master, Yulithia, Atri, Anze, dan Shannon──begitu banyak orang yang ikut terluka.

Shannon menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Wolka-kun tidak salah apa-apa……! Padahal Wolka-kun yang terluka parah sampai nyaris mati, sampai kehilangan bagian tubuh begitu, dan yang paling menderita itu harusnya Wolka-kun……!!"

So-tolong jangan menangis sehebat itu dong……

Sifat Shannon yang terlalu berempati hingga menangis seolah-olah ia sendiri yang mengalaminya adalah kelebihan sekaligus kekurangannya sebagai seorang gadis.

"Ini salah Guild…… salah kami."

Shannon melepas kacamata dan menyeka air matanya dengan kasar.

"Party yang melakukan konfirmasi penaklukan Gozel…… namanya Flamberge."

"Ah, soal itu kami juga sudah dengar. Katanya memang banyak hal yang mencurigakan."

Itu adalah informasi yang aku dapatkan dari Dia──Sang Suci Lesterdia.

Master dan yang lainnya juga sudah tahu sebagian besar ceritanya. Saat aku bicara dengan Dia, Anze rupanya sudah membagikan informasi serupa kepada Master dan kawan-kawan.

"Begitu ya," gumam Shannon sambil mengangguk kecil.

"Kalau begitu kalian paham, kan? Bahwa apa yang menimpa kalian ini mungkin adalah bencana akibat ulah manusia. Karena itu……!"

"……Meskipun begitu, Shannon tidak bersalah sedikit pun, kan?"

Party Flamberge yang menerima permintaan, staf lain yang melayani di resepsionis, dan Shannon hanya bertugas mengurus administrasinya belakangan.

Menyalahkan Shannon atas hal ini benar-benar keterlaluan. Memang benar jika dia menyadari kejanggalan Flamberge, dia punya posisi untuk menghentikan prosedur itu, tapi hal yang sama juga berlaku bagi staf lainnya.

Lagi pula, kalaupun ada yang menyadarinya, tetap saja harus ada seseorang yang mendapat "undian sial" untuk bertarung melawan Grim Reaper.

Ini benar-benar "Masalah Trem" (Trolley Problem) di mana pengorbanan tidak bisa dihindari ke mana pun arahnya.

Jadi, biarkan pengadilan Gereja memberikan hukuman yang pantas bagi orang yang seharusnya, lalu anggap saja masalah ini selesai dengan bersih. Jangan terjebak di masa lalu, mari bidik Happy End!

"Aku tidak apa-apa. Dengan kaki ini pun aku bisa pulang dengan selamat, dan pagi tadi aku juga sudah berlatih bersama yang lain."

Aku sudah mulai terbiasa dengan kaki palsu ini.

Belakangan ini aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat, dan aku pun sudah mulai berlatih pagi lagi dengan Yulithia dan yang lain. Rasanya lumayan oke.

Meski kaki palsu ini membuatku tidak bisa bergerak lincah secara agresif, hal itu justru mempertajam seluruh inderaku. Gerakan lawan kini terlihat lebih jelas dari sebelumnya.

Mungkin ini yang disebut berkah di balik musibah. Berkat pengalaman bertarung dengan mempertaruhkan segalanya, aku jadi bisa menyatu lebih dalam dengan pedang hingga duniaku terasa berubah.

Karena itulah, sekarang aku punya pandangan yang cukup cerah soal masa depanku sendiri. Jadi sungguh, tidak perlu khawatir.

"Tidak ada yang menganggap ini salahmu. Mana mungkin kami berpikir begitu?"

Ayo Master! Sekarang saatnya. Kalau mau minta maaf, sekaranglah waktunya!

Master tersentak melihat isyarat mataku yang cepat.

"A-ah, anu, soal waktu itu aku minta maaf, ya. Aku sudah tidak apa-apa, jadi, to-tolong maafkan aku……"

Atri dan Yulithia pun ikut menimpali.

"Aku juga…… maaf ya. Aku malah melampiaskan kekesalanku padamu……"

"Tidak ada yang membenci Shannon-san. Kami semua suka Shannon-san yang baik hati!"

"──"

Shannon mendengus kecil menahan ingus.

Beberapa detik kemudian, air mata tiba-tiba tumpah deras dari matanya seperti di dalam komik.

"Uwaaaaaa kalian semua terlalu baik hatiiiiiiii!!"

"Gyaaa!?"

Dia menerjang Master. Dia memiting kepala kecil Master dengan kedua lengannya.

"Hiks, hugh, aku juga sayang kalian semua……!! Sayang banget……!!"

"Mugu, gue──hei hentikan!? Le-pas-kan!!"

"Kalau ada yang bisa aku bantu, katakan saja apa pun……! Aku akan berusaha sekuat tenaga melakukan apa pun untuk kalian……!!"

"Sudah kubilang lepaskan, kan!!"

Master meronta-ronta mencoba melawan, tapi Shannon tidak bergeming sedikit pun.

Shannon mengelus kepala Master sambil menangis bahagia.

"Ehehe, Lizel memiliki tangan yang kecil dan lucu ya."

"Wolka tolong akuuuuuuuu!!"

Kali ini Master yang hampir menangis, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebagai permintaan maaf karena sudah membentak Shannon, Master harus menunjukkan sedikit kemurahan hati.

Melihat Shannon yang akhirnya kembali tersenyum seperti biasa, tanpa sadar rasa sakit di perutku pun hilang sepenuhnya.

"Le-pas-kan!!"

Hanya Master yang masih terus meronta.

 

"……Fufu, fufufu. Biarlah, aku memang cuma anak kecil kuntet…… anak kecil memang pantasnya digendong seperti ini. Fufu……"

"Habisnya, Lizel lucu banget sih, jadi tidak apa-apa kan."

"Tidak apa-apa apanya!"

Saat Master mulai merana karena pasrah menyadari perlawanannya sia-sia dalam dekapan Shannon.

Mumpung bisa bertemu Shannon, aku memutuskan sekalian melaporkan kepulangan kami ke Ibu Kota Suci.

Seharusnya aku pergi ke Guild secara resmi, tapi saat ini aku belum sanggup menampakkan diri secara terang-terangan di sana.

Aku butuh sedikit waktu lagi.

Mendengar kejadian yang menimpa kami sampai tiba kembali di Ibu Kota Suci──yakni insiden Lulie dan kawan-kawan dari Windmill──rambut ikal Shannon sedikit terkulai.

"……Begitu ya. Ternyata ada kejadian seperti itu."

Laporan mengenai jatuhnya korban dalam party petualang bukanlah hal yang langka. Dan bagi staf seperti Shannon, sesering apa pun dia mendengarnya, hal itu bukan sesuatu yang bisa diterima begitu saja.

Meski begitu, pada akhirnya dia tersenyum lembut.

"Kerja bagus. ……Sungguh, terima kasih karena sudah pulang dengan selamat."

"……Tentu saja kami pulang."

Ini kota yang bagus, Ibu Kota Suci ini. Justru karena aku mengingat pengetahuan dari 'karya asli', aku semakin menyadari betapa damai dan nyamannya kota ini untuk ditinggali.

Kalau cuma soal fasilitas, mungkin Ibu Kota Kerajaan lebih unggul…… tapi ya, di sana ada sisi gelap yang tidak bisa dibicarakan keras-keras. Seperti eksperimen manusia dan semacamnya.

"Kalau begitu, soal Guild serahkan semuanya padaku."

"Maaf merepotkan."

"Tidak apa-apa, aku mengerti kalau kalian masih sulit menampakkan diri di sana. Kalian semua sudah melalui banyak hal sulit, jadi istirahatlah yang cukup!"

Shannon yang saat pertama kali datang ke kamarku tampak seolah akan hancur oleh rasa bersalah, kini sudah tidak ada lagi.

Begitu akhirnya melepaskan Master dari dekapannya, dia berdiri dengan penuh semangat.

"Baiklah! Kalau begitu aku akan segera kembali ke Gui──"

Namun sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Shannon tiba-tiba mengalami vertigo yang hebat.

Master dan Atri dengan sigap menahan tubuhnya yang nyaris ambruk, lalu dengan heran mendudukkannya kembali ke kursi secara perlahan.

"A-apa yang terjadi? Ada apa?"

"Pening..."

"Lho──"

Shannon menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang sangat lamban, memejamkan dan membuka matanya beberapa kali.

"Ma-maaf ya. Tiba-tiba saja kepalaku terasa berputar……"

Kalau dipikir-pikir, di bawah mata Shannon…… meski sulit terlihat karena dia baru saja menangis hebat, sepertinya ada lingkaran hitam tipis.

Wajahnya juga benar-benar pucat pasi, dia tampak sangat tidak sehat.

"Shannon, bukankah kamu sedang kelelahan?"

Kalau dipikir-pikir, apakah Shannon bisa beristirahat dengan benar sampai hari ini?

Jika dia terus menderita karena rasa bersalah dan perasaan tidak berdaya, sangat masuk akal jika rasa lelah itu menyerangnya secara mendadak setelah beban pikirannya terangkat karena berdamai dengan Master.

"Ti-tidak begitu, kok!"

Shannon memaksa diri untuk berdiri. Kali ini dia tidak terhuyung, tapi.

"Lihat, aku baik-baik saja! Iya kan!"

Sama sekali tidak baik-baik saja. Senyumnya benar-benar kaku, dan dari sisi mana pun terlihat jelas kalau dia cuma sok tegar.

Benar saja, baru satu langkah berjalan dia sudah kehilangan keseimbangan lagi. Yulithia yang tidak tega segera menghalangi jalannya.

"Ti-tidak boleh! Kamu kan sedang limbung begitu!"

"Uu, uuu……"

Shannon sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya lemas, dan akhirnya dia disangga lagi oleh Atri dari belakang.

"Tidak bisa jalan lurus, bahaya."

"Jangan dipaksakan, tolong istirahatlah!"

"Ta-tapi. Laporan kalian semua harus segera dicatat di Guild……"

Heh, soal itu mah belakangan juga tidak apa-apa. Kenapa malah bicara seperti budak korporat begitu.

Benar-benar ya, beraninya dia menyuruh kami istirahat padahal dirinya sendiri seperti itu──saat aku hendak ikut menegurnya sambil merasa heran,

"──Oooi, Wolka-kun. Kamu ada di dalam?"

Tiba-tiba terdengar suara pria yang tidak asing dari luar kamar. Gaya bicara yang santai dan seenaknya ini.

"……Paman Fuji?"

"Ya. Boleh aku masuk?"

"Masuk saja."

Sepertinya dia datang untuk menjemput Shannon. Sosok yang muncul dengan santai setelah pintu dibuka memang benar si Paman itu.

Tentang perwakilan pria paruh baya berantakan di Guild Petualang, yang akrab dipanggil 'Paman' Fuji.

Sejujurnya, bahkan dari sudut pandangku yang sudah cukup mengenalnya, dia adalah sosok yang misterius.

Secara resmi, dia memang menempati posisi semacam instruktur yang menangani berbagai ujian Guild dan pendidikan petualang pemula, tapi rasanya dia terlalu kurang semangat untuk posisi itu.

Karena hampir tidak pernah terlihat memiliki motivasi dalam kesehariannya, tidak sedikit petualang yang mengejeknya sebagai 'lampu di siang hari'.

Kenyataannya, jika tidak ada panggilan tugas, dia sering menghabiskan waktu dengan bersantai di sofa kantor, yang membuat Shannon dan staf lainnya merasa heran sekaligus jengkel.

Rambut hijaunya yang keabu-abuan memiliki helai-helai berantakan seperti bekas bangun tidur, ditambah dengan janggut tipis di pipinya membuat penampilannya kurang menarik.

Meskipun memakai seragam Guild seperti Shannon, kerahnya dibiarkan terbuka, lengan baju digulung setengah hati, dan kemeja yang keluar dari celana panjangnya menunjukkan betapa berantakannya dia.

Berantakan, tidak punya motivasi, dan penampilannya sebagai staf Guild pun tidak rapi; dia benar-benar paket lengkap dari seorang Paman yang payah.

Namun di dalam hati, aku curiga Paman ini sebenarnya adalah orang yang sangat hebat.

Misalnya saat dia memberikan pelajaran dasar bertarung pada pemula, atau saat melerai perkelahian petualang; di saat-saat tertentu dia memancarkan aura yang seolah menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.

Aku merasa dia memiliki hawa keberadaan seperti orang yang menyembunyikan banyak senjata tajam di balik bayangan tubuhnya yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Meski begitu, pada dasarnya dia hanyalah Paman yang berantakan. Dia memasang ekspresi santai seperti biasa dan berkata,

"Aku datang untuk menengok. Shannon-chan──"

Dia menyadari Shannon yang tampak kepayahan sambil bersandar pada Atri, lalu menghela napas pendek.

"Sudah bicara dengan benar, kan?"

"I-iya……"

"Kalau begitu baguslah. Dengan kondisi seperti itu, kamu pasti tahu kalau kamu sudah mencapai batasmu, kan? Hari ini istirahatlah, soal Guild biar aku yang urus."

Lalu dia menatap kami.

"Shannon-chan ini sudah bekerja terus-menerus selama sebulan terakhir. Ditambah lagi, dia hampir tidak tidur meskipun sudah pulang ke rumah. Paman jadi repot sendiri."

"……Shannon."

"Uuu……"

Yah, karena kami jugalah yang membuatnya seperti itu, aku tidak bisa bicara terlalu keras.

Tapi kalau dia terus memaksakan diri dan pertemuan kami berikutnya adalah di ruang perawatan Katedral, itu benar-benar bukan lelucon.

Dan Fuji sepertinya sudah menduga situasi ini sejak awal.

"Karena itulah──Rose!"

"Iyaaa, hadir!"

Sepertinya sudah bersiap di lorong, kali ini Rose si waria tampan yang bisa diandalkan pun muncul.

Dengan tubuhnya yang tinggi, dia menatap Shannon dengan lembut.

"Shannon-chan, istirahatlah di sini. Kebetulan hari ini tamu sedang sepi jadi ada kamar yang kosong."

"Ta-tapi itu merepotkan. Sebentar saja, kalau aku istirahat sebentar saja──"

"──Shannon-chan."

Rose memotong perkataan Shannon dengan tegas.

"Bekerja terus selama sebulan dan tidak tidur dengan benar…… menurutmu apakah Kakak akan membiarkanmu pergi setelah mendengar itu?"

"Eh? Anu…… hyaa."

Tiba-tiba, Rose menyeka pipi Shannon dengan ujung jarinya.

Entah apa yang dia rasakan hanya dengan sentuhan itu, tapi Rose mendadak menaikkan alisnya seolah sedang marah.

"Tuh kan, benar! Padahal kulitmu sangat cantik, tapi sekarang mulai kasar begini! Kakak tidak akan memaafkan hal ini. Sebelum istirahat, kamu harus merasakan perawatan kulit (skin care) rekomendasiku!"

"Hie…… tidak, itu, anu,"

Selagi Shannon kebingungan, sisanya berlangsung secepat angin puyuh.

"Lalu makanan! Rambutmu benar-benar kekurangan nutrisi. Pertama-tama istirahatlah yang cukup, lalu saat bangun nanti Kakak akan menyuguhkan menu penyegar spesial buatanku!"

"Ro-Rose-san? Hyaaa!?"

Rose menggendong Shannon dengan gaya bridal carry.

"Ngomong-ngomong belakangan ini Kakak sedang hobi membuat lilin aroma (aroma candle). Nanti akan Kakak nyalakan saat kamu istirahat, jadi beri tahu pendapatmu ya? Kalau hasilnya bagus, Kakak mau menjadikannya layanan baru di penginapan ini~"

"A-anu──!?"

"Kalau begitu, serahkan anak ini pada Kakak ya~!"

Begitulah, dalam sekejap Shannon sudah dibawa pergi.

Keheningan menyelimuti setelah angin puyuh itu lewat. Di tengah-tengah kami yang melongo karena terperangah, hanya Fuji yang tertawa kecil.

"Yah, seperti yang diharapkan dari Rose. Dia memang bisa diandalkan."

"……Kau benar."

Jika dibilang baik-baik tidak mempan, maka paksa saja untuk istirahat──kemampuan Rose untuk mengeksekusi hal itu dengan begitu ceria tanpa meninggalkan kesan kasar benar-benar luar biasa.

Rasanya aku bisa tenang jika menyerahkan segalanya pada orang itu.

Mulai dari Roche sampai Rose, jajaran pria di sekitarku semuanya adalah orang-orang tampan yang kompeten.

Begitu ya, jadi ini rasanya menjadi karakter figuran yang terpukau di depan kemampuan karakter elit……

Yah, kenyataannya aku memang cuma figuran sih.

◆◇◆

Aku sempat bermimpi, sebuah mimpi yang terasa sedikit melegakan sekaligus bernuansa rindu.

Itu adalah kisah dari sekitar dua tahun yang lalu. Kala itu, Shannon sudah cukup lama bekerja di Guild Petualang, dan dia tengah menikmati hari libur pertamanya dengan menggunakan apa yang disebut "Cuti Berbayar".

Karena merasa ingin berjalan-jalan, dia memutuskan untuk menyusuri kota. Di dekat pintu masuk Distrik Istana Suci, tepat di depan papan pengumuman wisata, dia melihat sekelompok anak asing yang tampak seperti petualang.

Itulah momen pertemuan pertamanya dengan Wolka dan yang lainnya.

 

Keempat anak itu menatap peta yang tergambar di papan pengumuman, jemari mereka menelusuri garis-garis di sana seolah sedang memastikan rute jalan.

Saat itu, insting Shannon meyakini bahwa mereka adalah petualang yang baru saja tiba dari luar Kota Suci.

Tentu saja, dia tidak menghafal seluruh petualang yang aktif di sini, namun penampilan mereka sangatlah mencolok.

Terutama gadis-gadisnya—ada dua gadis kecil yang sekilas tampak baru berusia sepuluh tahun, serta seorang gadis berkulit kecokelatan dengan pakaian eksotis yang khas.

Mungkin rata-rata usia party mereka hanya sekitar tiga belas atau empat belas tahun.

Jika petualang semuda dan sesegar ini aktif di Kota Suci, Shannon pasti setidaknya pernah melihat mereka sekali dan akan langsung mengingatnya.

"Permisi~ Apa kalian sedang kesulitan mencari jalan?"

Salah satu keahlian Shannon yang sedikit jumlahnya adalah "bisa menyapa dan akrab dengan orang asing tanpa rasa takut". Tidak peduli laki-laki, perempuan, tua, maupun muda.

Bahkan jika yang berdiri di sana adalah sekumpulan paman petualang berwajah sangar sekalipun, Shannon pasti akan menyapa mereka dengan cara yang sama.

Orang pertama yang bereaksi terhadap sapaan tiba-tiba Shannon dari belakang adalah si gadis kecil berambut warna bunga sakura. Dengan suara bening bagaikan sinar matahari pagi, dia menjawab.

"Ah... Anu, bisa dibilang kami sedikit tersesat..."

Dia melirik ke arah ketiga rekannya. Kemudian, si gadis kecil penyihir melanjutkan dengan gaya bahasa yang kuno.

"Saat mencoba menyeberangi jembatan, kami malah berputar-putar sampai tidak tahu lagi sedang berjalan di mana..."

Si gadis eksotis menambahkan dengan nada dingin.

"Seperti labirin."

"Ah—benar juga. Aku pun di awal-awal tinggal di sini sempat berpikir betapa enaknya kalau bisa terbang di langit."

Kota Suci memang dibanggakan sebagai salah satu kota dengan keamanan dan kenyamanan hidup terbaik di dunia, namun satu-satunya kekurangan adalah jalannya yang agak rumit.

Karena banyaknya kanal yang membentang di seluruh penjuru kota, jembatan-jembatan untuk menyeberanginya pun tersebar di mana-mana.

Akibatnya, saat berjalan ke kiri dan ke kanan mengikuti jembatan, sering kali orang kehilangan orientasi arah dan tersesat.

"Ah, maaf ya tiba-tiba mengajak bicara. Sebenarnya, aku staf Guild Petualang..."

Shannon mengeluarkan kartu identitas stafnya dan menunjukkannya kepada kelompok berempat itu. Dia merasa keputusannya untuk selalu membawa kartu itu bahkan di hari libur adalah pilihan yang tepat.

Baru saat itulah, anggota terakhir dari kelompok itu—seorang pemuda berambut abu-abu—akhirnya angkat bicara seolah merasa itu sebuah kebetulan.

"Begitu rupanya."

"Iya. Kalian petualang, kan?"

Setelah itu, mereka saling memperkenalkan diri secara singkat. Ternyata saat itu Wolka dan yang lainnya baru saja membentuk party berempat dengan bergabungnya Yuritia, anggota termuda.

Karena Yuritia masih kecil dan belum terbiasa bepergian jauh, mereka berdiskusi untuk menetap di sebuah kota sebagai basis kegiatan. Kota Suci menjadi kandidat utama, itulah alasan mereka datang untuk melakukan survei.

Mereka tidak punya tujuan spesifik, hanya ingin berkeliling melihat suasana kota layaknya turis.

Shannon mengangguk-angguk antusias seperti seekor anjing kecil.

"Kalau begitu, jika kalian tidak keberatan, biarkan aku menjadi pemandu kalian! Aku akan menunjukkan tempat wisata, toko terkenal, dan semacamnya secara garis besar!"

"Itu sangat membantu, tapi... apa tidak apa-apa?"

Wolka memperhatikan penampilan Shannon. Karena hari ini Shannon sedang cuti, tentu saja dia mengenakan pakaian kasual, bukan seragam Guild.

"Sepertinya kamu sedang libur..."

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa! Kebetulan aku memang sedang jalan-jalan! Aku sangat ahli dalam hal seperti ini!"

Shannon suka membantu orang lain, apalagi jika lawannya adalah petualang yang tampak lebih muda darinya, semangatnya pun langsung membara.

Dia membusungkan dada dengan bangga, mencoba bersikap seperti seorang kakak.

Namun sayangnya, karena rambut mencuatnya yang selalu bergerak-gerak lincah mengikuti emosinya, saat itu Shannon hanya dianggap "mirip anjing peliharaan" oleh mereka—.

 

Begitulah ceritanya, Shannon akhirnya menjadi pemandu dadakan bagi kelompok Wolka di Distrik Istana Suci.

Katedral Besar yang merupakan pusat dari Gereja Suci Christcrest, hingga pelabuhan dagang besar yang membentang di sisi utara kota.

Sambil memastikan tempat-tempat penting itu tidak terlewat, dia juga memandu mereka ke berbagai tempat lain yang terlintas di pikirannya.

Dan tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan senja.

"Ma-ma-ma-maafkan aku! Ternyata aku menyeret kalian sampai jam segini...!"

Padahal awalnya dia hanya berniat memandu selama dua jam agar tidak terlalu mengganggu, namun kenyataannya justru dua kali lipat dari itu.

Dia malah asyik membawa mereka berkeliling selama empat jam.

Shannon merasa terpukul. Kebiasaan buruknya kumat lagi—karena terlalu ingin membantu, perasaannya jadi meluap-luap hingga bertindak berlebihan.

Namun, tidak ada satu pun dari kelompok Wolka yang tampak keberatan.

"Tidak kok! Kami sangat terbantu karena kamu memberi tahu banyak hal!"

"Umu. Lagipula hari ini kami memang berniat bersantai menikmati pemandangan sampai matahari terbenam."

"Uu, maaf ya, terima kasih banyak..."

Kebaikan hati Yuritia dan Lizel meresap hingga ke lubuk hati Shannon.

Mereka anak-anak yang baik sekali...! Shannon merasa terharu.

Meskipun usia mereka rata-rata masih awal belasan tahun, mereka semua sangat penurut, sopan, dan tidak menyusahkan siapa pun di mana pun mereka berada.

Mungkin itu terdengar biasa, namun di antara para petualang, ada persentase tertentu yang kasar dan hanya mengandalkan otot.

Jadi, menemukan party yang semua anggotanya orang baik bukanlah hal yang bisa dianggap lumrah.

Singkatnya, Shannon sudah benar-benar menyukai kelompok Wolka.

Menurut senior di Guild, ada beberapa staf berpengalaman yang menjadi "Penanggung Jawab" bagi party yang mereka sukai, lalu menjalin hubungan dekat bahkan di luar urusan pekerjaan.

Shannon berpikir, jika Wolka dan yang lainnya menjadikan Kota Suci sebagai basis, dia ingin mengajukan diri sebagai penanggung jawab mereka.

Tentu saja, dia tidak bisa mengatakannya sekarang karena mereka baru saja saling kenal hari ini.

"——Ah. Anu, kita sudah sampai. Ini adalah Guild Petualang."

Sambil melewati jembatan yang diwarnai semburat jingga, Shannon dan yang lainnya tiba di tujuan terakhir hari itu.

"Kalian akan tinggal di Kota Suci untuk sementara waktu, kan? Mulai besok aku sudah bekerja seperti biasa di sini, jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk datang menemui aku!"

"Ya. Terima kasih banyak untuk hari ini."

"Bukan masalah besar! Bagaimanapun, aku ini lebih tua dari kalian, lho!"

Seketika, suasana di antara Shannon dan kelompok Wolka menjadi sunyi dan terasa sedikit canggung.

Wolka dan yang lainnya menatap Shannon dengan ekspresi "Hah?" yang penuh keraguan. Meski terasa menyebalkan, itu adalah reaksi yang sudah sangat sering diterima Shannon.

Sambil merasakan sudut bibirnya berkedut, Shannon berujar.

"Anu. Biarpun begini, aku sudah hampir delapan belas tahun..."

"Ja-jadi kamu lebih tua ya... Maaf, aku kira tadi seumuran."

"...Aku juga, kupikir kamu lebih muda."

"Aku juga mengira kamu seumuran dengan Atri-san..."

"Muuuuuuu—!!"

Shannon marah sampai rambut mencuatnya menegang tajam.

"Su-sudah kuduga kalian bakal berpikir begitu! Sini biar kutebak! Kalian pasti tadi berpikir kalau aku ini mirip anjing, kan!?"

"""..."""

"Uwaaaaaaaaannn!!"

Ya, Shannon memiliki satu masalah hidup yang sangat serius. Mungkin karena tinggi badannya yang tidak seberapa, atau mungkin karena rambut mencuatnya yang mirip telinga anjing, dia hampir selalu dianggap lebih muda dari usia aslinya oleh orang yang baru ditemui.

Bagi Shannon yang akan segera memasuki dunia orang dewasa, ini adalah kenyataan pahit yang sangat mengkhawatirkan.

Dengan kesedihan mendalam, dia menundukkan kepalanya lesu.

"Uu, aku sudah tahu kok... Aku memang selalu begini. Padahal sudah hampir dewasa, tapi tidak ada yang percaya dan malah menertawakanku..."

Namun, tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh bahu Shannon dengan lembut.

Lizelarte. Meskipun dia adalah salah satu yang termuda di party namun menjabat sebagai pemimpin, dia menampakkan senyum penuh kasih sayang bagaikan Bunda Suci.

"Aku mengerti... Aku mengerti perasaanmu itu. Aku pun selalu kesulitan karena hal yang sama..."

"Eh? Ahaha, Lizel kan memang baru sekitar sepuluh tahun, kan? Kamu kan memang terlihat seperti gadis kecil yang manis, jangan mengejek orang yang lebih tua—"

Shannon tersentak. Lizel yang seharusnya menjadi Bunda Suci tiba-tiba matanya berkaca-kaca, pipinya menggembung, dan tangannya meremas roknya hingga bergetar—.

"AKU LEBIH TUA DARIMU, BODOHHHHHH——!!"

"Eh... EEEEEEEHHH——!?"

Itu benar-benar momen yang paling mengejutkan dalam hidup Shannon.

 

——Hanya dengan mengingatnya sekarang pun, hatinya terasa hangat.

Bagi Shannon, itu adalah pertemuan paling berharga dengan orang-orang yang paling dia cintai.

Selama sebulan terakhir, dia bahkan tidak bisa tidur dengan cukup.

Menutup mata di kegelapan saja terasa menakutkan baginya.

Tapi kali ini, setelah sekian lama, dia merasa baru saja melihat mimpi yang indah.

"——Nn. Eh, di sini..."

Dia terbangun. Sepertinya dia tertidur tanpa sadar.

Yang tertangkap oleh penglihatan Shannon adalah langit-langit berwarna putih susu yang terasa tidak asing.

Itu adalah bangun tidur yang tenang.

Sudah berapa lama dia tidak merasakan bangun yang senyaman ini?

Sejak kecelakaan persetujuan penaklukan itu terjadi, sejak dia mengetahui cedera Wolka, hal pertama yang dia rasakan saat terbangun biasanya adalah rasa bersalah dan penyesalan yang luar biasa.

Seluruh tubuhnya terasa ringan, seolah-olah setengah melayang di udara.

Karena rasanya terlalu nyaman, dia berniat untuk tidur lagi dan mencoba membalikkan badan, namun—

——Tunggu. Ini di mana?

"——Eh,"

Rasa dingin menjalar. Dia terperanjat bangun. Sambil melihat sekeliling, dia menyadari bahwa tempat ini adalah sebuah penginapan.

Dia melihat tubuhnya sendiri dan menyadari bahwa dia tadi tidur di ranjang. Terakhir, aroma terapi yang samar membangkitkan kembali ingatannya.

"Ah... Be-benar juga. Aku tadi dipersilakan istirahat di Le Bouquet..."

Bikin kaget saja, aku kira tadi aku diculik atau apa— Sambil tertawa kecil selama beberapa detik, dia tersentak.

"——Tapi, AAAHHH!? Se-sekarang jam berapa!? ...Su-sudah gelap—!?"

Saat dia membuka tirai di dekatnya, di luar matahari sudah tenggelam dan suasana mulai temaram.

Shannon mengunjungi Le Bouquet tidak lama setelah lewat tengah hari.

Artinya, dia yang awalnya hanya berniat istirahat sebentar, malah tidur dengan sangat nyenyak sampai sore berakhir—.

"..."

Sambil merasakan sensasi darah yang tersedot turun dari wajahnya, Shannon bergegas melakukan "restart".

Dia hampir saja berlari keluar kamar namun segera berbalik untuk mengambil kacamata di nakas, lalu merapikan penampilannya seadanya di depan cermin.

Barulah kali ini dia benar-benar berlari keluar kamar menuju lantai satu.

Saat dia meminta staf resepsionis memanggilkan Rose.

"Ara, Shannon-chan, sudah bangun? Apa kamu bisa istirahat dengan nyenyak?"

Sepertinya Rose sedang sibuk menyiapkan makan malam, dia muncul dari dapur dengan pakaian koki yang rapi. Tentu saja, Shannon langsung meminta maaf berkali-kali.

"Ma-ma-maafkan aku! Ni-niatnya cuma mau istirahat sebentar, tapi ternyata...!"

"Tidak apa-apa, dari awal aku memang berniat membiarkanmu istirahat lama. Fuji juga bilang begitu."

Rose tersenyum ceria.

"Apa kamu punya selera makan? Aku juga memasakkan porsi untukmu, jadi makan malamlah di sini."

"Ti-tidak mungkin! Itu berlebihan, aku sudah merepotkan sebanyak ini."

"Menu penyegar spesial buatanku, Hamburg kesukaan Shannon-chan lho~. Tentu saja dengan pendamping kentang goreng yang hangat!"

"!?"

Aliran listrik seolah menyambar Shannon. Dia tahu Rose sangat pandai memasak, tidak kalah dari restoran kelas atas mana pun.

Dan Shannon—meski malu mengakuinya di usia sekarang—sangat menyukai Hamburg dan kentang hangat. Shannon memejamkan mata rapat-rapat, bertarung dengan batinnya.

"Apa kamu tidak mau makan?"

Itu adalah kalimat pamungkas.

"............Ma-mau makan..."

Shannon menyerah pada nafsunya sendiri. Padahal baru saja dia tidak merasa lapar sama sekali, namun begitu mendengar kata Hamburg, perutnya langsung menyahut dengan sangat semangat.

Karena terlalu malu, Shannon merasa ingin menghilang saja.

"Fufu, baiklah."

Entah Rose tersenyum karena jawaban yang mana.

"Masih butuh waktu sebentar lagi, jadi bicaralah dulu dengan Wolka-chan dan yang lainnya. Nanti aku panggil kalau sudah jadi."

"Baik..."

Makanya aku selalu dibilang mirip anjing... Shannon tertunduk lesu bersama rambut mencuatnya.

Kalau dipikir-pikir, saat pergi makan siang dengan rekan kerja pun, hanya dia yang selalu memesan menu kekanak-kanakan.

Dia merasa rasa makanan yang enak dan mengenyangkan lebih penting daripada penampilan yang modis, lagipula dia tidak suka rasa alkohol.

Jalan menuju menjadi kakak perempuan yang hebat terasa masih sangat jauh.

Dia mencoba menenangkan diri. Setidaknya di depan Wolka dia ingin bersikap seperti kakak yang baik. Dia naik ke lantai dua dan mengetuk pintu kamarnya.

Tanpa alasan yang jelas, dia berdehem kecil.

"Wol-kun... apa aku boleh masuk?"

"Ya, Shannon. Silakan."

Begitu masuk, Wolka yang duduk di kursi tepat di depannya menyambut Shannon.

"Ah——"

Shannon sedikit menahan napas. Wolka sedang melepas kaki palsunya. Itu berarti, kaki kiri Wolka yang sudah hilang kini terpampang jelas di depan matanya.

Wolka menyadari tatapan Shannon.

"Ah... kalau tidak perlu berjalan, aku melepasnya. Kalau dipakai terus, kakinya bisa bengkak."

Kalimat Wolka hanya terdengar setengahnya oleh Shannon.

Ternyata memang benar-benar sudah tidak ada— pikirnya.

Tanpa kaki palsu itu, dia kembali disadarkan secara paksa bahwa tubuh Wolka kini bahkan tidak bisa berdiri dan berjalan sendiri.

Padahal dia sangat suka mendalami ilmu pedang, selalu berlatih setiap ada waktu luang, dan sudah berusaha dengan sangat, sangat keras.

"Wol-kun...!"

Tak tahan lagi, Shannon berlari ke sisi pemuda itu dan berlutut. Melihat kondisi orang yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri berubah seperti ini. Jika saja dia bisa menggantikannya, entah itu kaki kiri atau kedua kakinya, dia akan dengan senang hati menyerahkannya sekarang juga.

Wolka menampakkan ekspresi sedikit bingung.

"Shannon, tidak usah memasang wajah seperti itu. Aku tidak apa-apa."

Shannon yakin Wolka mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Dia yakin Wolka memang berusaha untuk menjadi seperti itu.

...Karena jika dia tidak bersikap tegar, Shannon, Lizel, Yuritia, Atri, dan orang-orang di sekitarnya akan terus merasa menyesal dan terluka.

Dia tidak ingin terus-menerus membuat mereka khawatir.

Itulah sebabnya dia bahkan menyunggingkan senyum tipis dan berkata.

"Perhatikan saja. Kamu akan segera tahu kalau aku tidak perlu dikhawatirkan."

"...Hebat ya, Wol-kun ini."

Tanpa sadar, Shannon menghela napas yang setengah basah oleh air mata.

Seandainya dia berada di posisi Wolka, apakah dia bisa tetap menatap ke depan seperti itu?

Meski di permukaan bisa bersikap ceria, dia yakin hatinya akan hancur oleh rasa cemas.

Akan jadi apa aku nanti, apa aku bisa hidup dengan layak, apa aku masih bisa menjalani hidup normal—dia yakin akan kewalahan hanya untuk menahan ketakutan semacam itu.

Namun, Wolka sama sekali tidak takut. Dia tidak merasakan kecemasan sedikit pun.

Bukan berarti dia akan mulai melangkah lagi. Dia sudah melangkah, sejak sekarang.

(Wol-kun——)

Mungkin karena dia baru saja memimpikan pertemuan pertama mereka.

Di saat itu, di dalam dada Shannon, meledaklah sebuah perasaan yang perih, menyesakkan, menyakitkan, namun terasa hangat luar biasa.

Punggung yang tadinya dia anggap sebagai adik, kini terlihat begitu besar, tegak, kuat, dan menyilaukan. Karena itulah Shannon tidak bisa lagi menahan diri.

"Wol-kun...!"

"Ya?"

——Aku akan terus, terus mendukungmu. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di pihakmu. Aku akan melakukan apa saja jika itu bisa membantumu.

Itu adalah dorongan perasaan yang ingin dia sampaikan bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga tindakan.

Karena bagaimanapun, Shannon adalah kakak perempuan yang lebih tua dari Wolka.

Meskipun dia sering tidak terlihat seperti orang yang lebih tua, meskipun dia mungkin tidak bisa diandalkan sama sekali, setidaknya di saat seperti ini—biarkan dia memeluknya dengan lembut.

Hanya itu saja.

Benar-benar hanya sebentar.

Jadi, dengan perasaan yang meluap-luap ini, Shannon perlahan mengulurkan tangannya ke arah Wolka—

"——Shanno~n, apa yang sedang coba kamu lakukan, hah?"

"Fwahyaaaaaaaahhh!?"

Dia benar-benar terkejut setengah mati.

Kedua lengannya yang hendak merangkul leher Wolka pun hanya memeluk angin. Shannon yang kehilangan keseimbangan jatuh terjungkal ke lantai dengan bunyi gedebuk!

Untungnya, kacamatanya masih selamat. Sambil membenarkan letak kacamata dan mata melotot, dia terbangun.

Entah sejak kapan, Lizel sudah berada di atas ranjang, menatap Shannon dengan pandangan yang sangat tajam.

Shannon merasa seperti disiram air es.

"Li-li-li-li, Lizel!? Sejak kapan kamu di situ...!?"

Lizel memasang wajah cemberut maksimal.

"Sejak awal aku sudah duduk di sini. Sejak awal."

"Se-sejak awal?"

"Secara harfiah. Sejak kamu masuk ke kamar ini."

"...Nuwaaa."

Shannon memegangi kepalanya. Ini adalah kesalahan fatal. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi dia benar-benar tidak menyadarinya.

Begitu masuk ke kamar, pikirannya hanya terisi oleh Wolka, sampai dia tidak menyangka ada orang lain di sana.

Wolka tertawa kecut.

"Aku sempat curiga, tapi ternyata kamu benar-benar tidak sadar ya?"

"Ma-maafkan akuuu..."

Rasanya bahkan lebih malu daripada saat suara perutnya terdengar tadi, Shannon merasa ingin segera lenyap.

Lizel menatapnya dengan pandangan mata seperti bahan peledak yang sumbunya hampir habis terbakar.

"Shannon, sepertinya aku harus bicara serius denganmu..."

"Ugu... bu-bukan begitu! Tadi itu, itu karena aku ingin menyemangati Wol-kun! Bagaimanapun juga, aku ini sudah mau dua puluh tahun, tahu!?"

Begitu dia berteriak dengan nada bicara yang terbata-bata, suasana kamar mendadak menjadi sunyi senyap.

Lho, perasaan ini, sepertinya aku baru saja merasakannya di dalam mimpi tadi.

Lizel dan Wolka saling bertukar pandang, lalu memancarkan aura yang terasa seolah mereka mengasihani Shannon.

"Begitu ya... Shannon, kamu sudah mau dua puluh tahun ya..."

"Dua puluh... dua puluh tahun? Jangan-jangan kamu bohong soal umur..."

"Apa-apaan reaksi itu!? A-aku ini sudah tumbuh dewasa, tahu!? Dari sisi mana pun aku terlihat seperti orang yang sudah mau dua puluh tahun, kan!?"

"Yah... sejujurnya, sampai sekarang pun kamu masih terlihat lebih muda dari Atri..."

"Kacamata itu pun, hanya terlihat seperti anak kecil yang mencoba terlihat dewasa."

"Uwaaaaaaaaannn!!"

Shannon menangis karena kritik yang begitu telak.

Padahal dia sudah berhasil berbaikan dengan Lizel dan yang lainnya, tapi kenapa langkah terakhirnya selalu saja berantakan.

Sepertinya, jalan menuju sosok kakak perempuan idaman masih terasa sangat jauh dan terjal.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close