NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 10 Prolog

Prolog


Sambil menghirup udara yang masuk melalui masker pengisap Jaso, aku—Mire—memungut sebutir batu yang tergeletak di tepi sungai.

Aku mengeluarkan belati, mengerik lumut yang menempel di batu itu, lalu memasukkan tangan ke balik masker untuk memakannya.

Sambil merutuk dalam hati, aku menatap air yang menggenang di tepian sungai.

Permukaan air yang lebih jernih dari biasanya memantulkan wajahku.

Rambut hitam pendek yang dipotong rata, serta tatapan mata yang tajam.

Satu-satunya benda yang bisa disebut aksesori hanyalah sebuah lonceng tak berbunyi yang kujadikan hiasan rambut; tidak ada sedikit pun kesan feminin pada diriku.

Tentu saja, bagian hidung ke bawah tertutup oleh masker pengisap Jaso—masker yang berfungsi mencegah Jaso di udara masuk ke dalam tubuh.

"Haa……"

Padahal ada air yang terlihat segar di depan mata, tapi aku tidak diizinkan meminumnya.

Persediaan air di kantong minumku tinggal sedikit, jadi aku harus menghematnya.

Aku memungut batu lain, mengerik lumutnya, lalu memasukkan tangan ke balik masker untuk memakannya lagi.

Cara ini memang cukup untuk memasok cairan tubuh, tapi mengerik dengan belati dan mencernanya sangat menguras tenaga. Benar-benar tidak efisien.

Lagipula, rasanya tidak enak.

Rasa pedas yang menusuk lidah memang tidak buruk kalau sudah terbiasa, tapi aku tetap mengernyit saat rasa pahit mulai menyerang ketika aku menelannya.

Rasanya ingin cepat-cepat pulang ke permukiman dan minum air sepuasnya.

Karena itulah, aku harus segera menemukan target.

Aku meninggalkan tepian sungai dan melangkah membelah padang gundul.

Tanah tandus ini bahkan tidak ditumbuhi sehelai rumput pun. Makhluk hidup normal tidak akan bisa bertahan meski hanya beberapa hari di sini.

Manusia pun bukan pengecualian.

Namun, makhluk-makhluk yang "tidak normal" memang ada.

"Ketemu."

Dari balik bayangan batu, aku mengamati targetku.

Nama rasnya adalah Wild Boar—monster berbentuk babi hutan.

Aku tidak bisa mendekat lebih dari ini.

Sebab, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Sambil menahan napas dan menyembunyikan hawa keberadaan, aku menancapkan dua buah beliung pada batu.

Suaranya bergema di padang tandus.

Wild Boar itu menyadari suaranya dan mulai celingukan ke sekeliling.

Beruntung, dia tidak menyadari keberadaanku karena aku berada di arah bawah angin.

Aku menyiapkan busur silang, lalu melepaskan anak panah tepat saat Wild Boar itu membelakangiku.

—Kena!

Anak panah itu tertancap telak di bagian bokong sang Wild Boar.

Terkejut oleh serangan mendadak, Wild Boar itu pun mulai berlari.

Karena dia membelakangiku, tentu saja dia kabur ke arah yang berlawanan dari tempatku berada.

Kalau begini terus, dia bisa lolos.

Namun, anak panah itu tersambung dengan dua utas kawat tipis yang kuat.

Ujung kawatnya terikat kencang pada beliung yang kutancapkan tadi. Anak panahnya pun tertancap dalam, tidak menunjukkan tanda-tanda akan lepas.

Raungan Wild Boar itu terdengar sampai ke tempat persembunyianku.

Entah itu teriakan kesakitan atau kemarahan, aku tidak tahu, dan tidak perlu tahu juga.

Tugas utamaku hanyalah membunuhnya sebelum dia sempat kabur.

Aku berlari ke depan.

Sadar tidak bisa melarikan diri, Wild Boar itu melihatku dan langsung menerjang ke arahku.

Dia berniat melawan.

Kecepatannya jauh melampaui kuda bajak di permukiman.

Aku melompat ke samping untuk menghindar.

Saat Wild Boar itu melambat untuk berputar balik, aku menarik kawat di bawah kakiku.

Kawat itu menyayat tubuh sang Wild Boar hingga darah menyembur keluar.

Kalau saja aku tidak memakai sarung tangan, mungkin jari-jariku sudah putus.

Meski terluka, Wild Boar itu tetap menatapku tajam dan kembali menyeruduk.

Namun, kecepatannya jelas sudah menurun.

Kali ini aku tidak menghindar ke samping, melainkan melompat ke atas.

Sambil memutar tubuh, aku mendarat di punggung Wild Boar itu, mencabut belati, dan menusukkannya tepat ke lehernya.

Wild Boar itu mengamuk dalam perlawanan terakhir, namun tindakan itu justru semakin memperpendek umurnya.

Perlahan-lahan tenaganya hilang, dan akhirnya, dia berhenti bergerak.

"Fuu……"

Aku berhasil mengalahkannya tanpa terluka.

Meski merasa lega, rasa tenang itu hanya bertahan sekejap.

Menggunakan alat, aku mencabut beliung, menyeka darah pada kawat, lalu mengumpulkannya kembali bersama anak panah.

Anak panah berkawat memang praktis, tapi merepotkan karena butuh waktu lama untuk menyiapkannya kembali.

Apalagi kalau digulung terburu-buru, kawatnya bisa kusut.

Dalam hal itu, belati memang lebih baik.

Perawatannya memang perlu, tapi bisa digunakan berkali-kali dan tidak makan tempat.

Kalau sudah punya cukup uang, aku ingin membeli senjata yang lebih tajam.

Tapi sebagai Hunter pencari bahan pangan—kasta terendah di antara para Hunter—bisa bertahan hidup sehari-hari saja sudah syukur.

Namun, jika aku tidak bekerja sekarang, kehidupan sehari-hari itu pun tidak akan terjamin.

Aku mengubah suasana hati dan mulai menguliti Wild Boar.

Di sini aku hanya melakukan proses sederhana seperti membuang darah dan mengeluarkan organ dalam, tapi tetap saja menguras tenaga.

Tenggorokanku mulai terasa kering.

Aku bimbang apakah harus memakan lumut tadi atau meminum sisa air, tapi akhirnya aku memilih tidak melakukan keduanya dan lanjut mengeluarkan organ dalam.

Karena organ dalam tidak tahan lama, aku berpikir untuk membakarnya dan memakannya saat itu juga. Namun, saat itulah...

Aku merasakan ada hawa keberadaan yang mendekat.

Mungkin karena kawanan Wild Boar? Pikirku, tapi ternyata bukan.

Hawa keberadaan itu terasa dari angkasa.

"Wyvern!?"

Wyvern adalah sub-naga berbentuk kadal dengan sayap raksasa. Katanya mereka berbeda dari monster, tapi bagi manusia, mereka tetaplah pemangsa alami yang sama.

Mungkinkah dia mencium bau darah? Namun sepertinya, dia hanya lewat di atas sana.

"Eh?"

Tanpa sadar aku berseru.

Sebab, Wyvern itu mencengkeram sesuatu—mungkin seorang manusia.

Dari sini aku tidak tahu apakah itu laki-laki atau perempuan, tapi orang itu terlihat meronta, jadi dia pasti masih hidup.

Sepertinya dia berusaha menghunus belati untuk menusuk kaki sang Wyvern, tapi... eh?

Mungkin karena panik dan bingung, bukannya menusuk kaki Wyvern yang mencengkeramnya, dia malah menusuk bahunya sendiri dengan belati itu.

Setelah percobaan ketiga, orang itu akhirnya berhasil menusukkan belatunya ke kaki depan Wyvern—meskipun sesaat kemudian belatinya jatuh.

Sontak, Wyvern itu melepaskan cengkeraman kakinya.

Tunggu, jatuh dari ketinggian seperti itu pasti mati!

Sempat terlintas di benakku untuk menangkapnya, tapi bukannya menolong, aku malah bisa ikut mati tertindih.

Namun tiba-tiba, orang yang jatuh itu mengeluarkan benda seperti kain dari tasnya. Kain itu mengembang dan mulai menahan udara.

"Parasut!?"

Aku berteriak spontan.

Ada legenda yang mengatakan bahwa pada zaman kuno, saat kapal besi terbang di angkasa, ada benda bernama Parasut yang terbuat dari kain untuk turun dari ketinggian. Aku tidak menyangka benda seperti itu benar-benar ada.

Apalagi, parasut itu tidak langsung ada di dalam tas, melainkan dibuat saat sedang terjatuh.

Kedengarannya mustahil, tapi itulah kenyataannya.

Orang itu hanya mengeluarkan kain, tali, dan benang, lalu dalam waktu singkat saat terjatuh, dia mengikat, menjahit, dan merangkainya menjadi sebuah parasut.

Rasanya sulit dipercaya dia adalah orang yang sama dengan yang menusuk bahunya sendiri tadi.

Kira-kira saat dia hampir mendarat, si Wyvern berputar balik dan merobek parasut itu dengan cakarnya yang tajam.

Akibatnya, kecepatan jatuhnya meningkat drastis hingga dia menghantam tanah.

Mungkin menyadari keberadaanku, Wyvern itu tidak menyerang lagi dan terbang menjauh.

Wyvern memang kuat, tapi sifatnya penakut. Mungkin dia takut harus menghadapi dua lawan sekaligus.

Aku menghampiri orang yang jatuh itu.

"Apa dia... masih hidup?"

Ketinggiannya tadi memang tidak mematikan selama tidak mendarat dengan posisi yang salah, tapi dia sama sekali tidak bergerak.

Lalu, tubuhnya bergidik sedikit.

Sepertinya dia masih hidup.

Aku menoleh ke bangkai Wild Boar di belakangku—memastikan tidak ada monster lain yang mengincar—lalu mendekati orang itu.

"Laki-laki... ya. Tapi..."

Yang tergeletak di sana adalah seorang remaja berambut perak, usianya sekitar lima belas atau enam belas tahun. Aku belum pernah melihatnya, mungkin dia berasal dari permukiman lain.

Dan yang mengejutkan, dia tidak memakai masker pengisap Jaso.

Apa terjatuh saat dicengkeram Wyvern tadi?

Aku memang membawa masker cadangan, tapi—

"Manisnya..."

Remaja ini jauh lebih manis daripada aku yang seorang perempuan.

Rasanya sayang jika wajah itu harus tertutup masker, tapi aku tidak boleh egois, jadi aku memakaikan masker cadangan padanya.

Sepertinya kepalanya terbentur, tapi nyawanya tidak terancam.

Aku memanggulnya kembali ke sisi Wild Boar, lalu menyalakan api dengan arang dan batu api. Aku menusuk organ dalam Wild Boar dengan belati dan membakarnya.

"Nn... are..."

Mungkin terpancing aroma masakan, remaja itu terbangun.

"Eh? Aku—"

"Kamu tidak apa-apa? Kamu tadi dicengkeram Wyvern."

"Wyvern...? Apa Kakak yang menolongku?"

"Kamu tidak ingat soal parasut tadi?"

"Rakka-san? Siapa itu?"

"Maksudku kain itu."

Aku menunjuk ke arah parasut yang sudah kukumpulkan, tapi remaja itu hanya menatapnya dengan wajah bingung.

Mungkinkah dia hilang ingatan karena benturan di kepalanya?

Atau jangan-jangan, dia memang tidak tahu kalau kain itu disebut parasut. Dia bahkan bertanya, "Benda ini namanya parasut, ya?"

"Kamu berasal dari permukiman mana?"

"Ah... eeitu."

"Tidak bisa mengatakannya?"

—Anak ini, mungkin seorang buangan.

Orang buangan adalah mereka yang diusir dari permukiman karena alasan tertentu.

Bisa karena kriminal, tapi bisa juga karena "pengurangan mulut" untuk menghemat stok pangan.

Melihat wajahnya yang polos dan murni, dia tidak terlihat seperti kriminal. Mungkin kemungkinan kedua?

"Anu, masker ini apa?"

"Masker pengisap Jaso. Kamu tidak tahu?"

"Pengisap Jaso... Apa ini alat untuk menyaring Jaso agar tidak masuk ke tubuh?"

"Iya, benar."

Dunia ini telah mati karena dua alasan.

Penyebab pertama adalah awan hitam yang melayang di langit.

Jaso yang disebarkan oleh awan itu tidak masalah jika terhirup sedikit, tapi akan mematikan jika terhirup dalam jumlah banyak.

Air sungai maupun danau semuanya tercemar oleh Jaso, manusia tidak diizinkan meminumnya.

Meski ironisnya, tanpa Jaso itu, kami manusia mungkin tidak akan bisa bertahan hidup.

Masker pengisap Jaso berfungsi menyerap Jaso di udara, memungkinkan kami tetap hidup di dunia yang dipenuhi zat berbahaya ini.

"Mau makan daging? Aku tidak bisa menghabiskan organ dalam ini sendirian."

"Ah, maaf sudah merepotkan. Biar kubantu persiapannya."

Setelah berkata begitu, si remaja mengeluarkan sebuah panci tipis dari tasnya.

Anak ini, padahal diusir tapi sempat-sempatnya membawa panci?

"Eh? Belatiku—"

"Oh, tadi jatuh jadi aku sekalian memungutnya."

Saat aku menyerahkan belati itu, dia tersenyum—yang bisa kurasakan meski terhalang masker—sambil mengucap terima kasih.

Walau hanya belati besi, itu jelas merupakan karya mahakarya. Sejujurnya, aku merasa sayang tidak bisa memilikinya.

Sempat terlintas rasa sesal, apakah sebaiknya kuminta saja sebagai imbalan menyelamatkan nyawanya. Aku pun memejamkan mata sejenak.

Sesaat setelah pandanganku tertutup kelopak mata, aroma yang belum pernah kucium sebelumnya menyerang saraf hidungku.

"Sudah siap."

"……Eh?"

Begitu aku sadar, di dalam panci tipis milik remaja itu sudah ada daging yang matang sempurna, lengkap dengan tusukan besi. Aku tidak tahu kapan dia menyiapkan tusukannya.

Lagipula, proses matangnya terlalu cepat.

(Apa? Panci itu, Relic?)

Relic adalah peralatan dengan kekuatan luar biasa yang ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu pergi ke dunia langit.

Tapi tetap saja aneh—aromanya terlalu harum untuk sekadar daging panggang.

Mataku tertuju pada botol kecil berisi butiran kecil di samping remaja itu.

"Itu apa?"

"Ini lada."

"Lada!?"

Lada adalah rempah yang sangat jarang dibawa oleh karavan pedagang. Harganya satu botol saja bisa setara dengan penghasilanku selama berbulan-bulan.

Bagaimana bisa dia membawa barang berharga seperti itu?

Kalau diperhatikan lagi, dia tidak hanya memakai lada, tapi juga garam batu.

"Anu, apa Kakak tidak suka lada?"

"Bukan, aku cuma belum pernah memakannya... eh, aku boleh memakannya juga?"

"Tentu saja."

Dengan senyum lembut yang terasa hingga balik maskernya, dia menyodorkan satu tusuk padaku.

Begitu masuk ke mulut, rasa gurih dan manis dari daging organ dalam langsung meledak. Efek garam dan ladanya terasa, tapi tingkat kematangannya pun sempurna.

"Ini, silakan airnya."

Remaja itu menyodorkan kantong air padaku.

"Boleh? Sampai diberi air juga."

"Iya. Ini tidak mengandung Mana—maksudku, Jaso. Lagipula Kakak sudah membagi dagingnya denganku."

Dia menyerahkan kantong air itu padaku.

Untuk berjaga-jaga, aku meneteskan setetes ke jari dan menggunakan skill.

"Appraisal."

Cahaya biru berpendar.

Sepertinya tidak mengandung Jaso.

Aku pun meminumnya sekadar untuk membasahi tenggorokan.

"Maaf ya, bukan berarti aku tidak percaya padamu, tapi aku harus selalu mengecek air minum."

"Tidak apa-apa, waspada itu penting karena kita baru pertama kali bertemu."

Dia menjawab tanpa terlihat tersinggung sedikit pun.

Setelah menyelesaikan hidangan yang terasa seperti "makanan sungguhan" setelah sekian lama, dia bertanya padaku.

"Apa rencana Kakak setelah ini?"

"Aku berencana membawa Wild Boar ini ke permukiman. Apa kamu punya tempat tujuan?"

"Aku berniat menuju Permukiman ke-38. Tadinya aku ke sana, tapi di tengah jalan ditangkap Wyvern dan terpisah dari teman-temanku."

"Permukiman ke-38 itu sangat jauh dari sini, lho?"

Dari mana dia dibawa terbang tadi?

Melihat kecepatan Wyvern, jarak yang ditempuh manusia selama berminggu-minggu mungkin hanya butuh beberapa jam bagi mereka.

"Untuk sementara, ikutlah ke permukimanku. Kalau kamu membantuku membawa Wild Boar ini, aku akan memberimu imbalan. Nanti saat karavan pedagang datang, kamu bisa jelaskan situasimu dan minta antar ke Permukiman ke-38."

"……Baik, dengan senang hati!"

Setelah berpikir sejenak, dia mengangguk dan langsung mengangkat Wild Boar itu.

Tunggu, eh?

Beratnya sekitar dua ratus kilogram, tapi dia mengangkatnya sendirian?

Padahal kalau aku sendirian, aku hanya sanggup membawa pulang bagian yang harganya mahal saja.

"Aku kurang pandai bertarung. Tapi kalau cuma jadi pembawa barang, aku pernah melakukannya, jadi serahkan saja padaku!"

"……O-oh. Oke, kuserahkan padamu."

Tadinya kupikir meski dia membantu pun, jumlah yang bisa dibawa tidak akan sampai setengahnya.

Ini keberuntungan yang tak terduga, tapi—

Siapa sebenarnya anak ini!?

Kepalaku mulai pusing memikirkannya.

 

Dunia ini pernah hancur sekali di masa lalu.

Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan sedang dalam proses kehancuran?

Katanya, dahulu kala ada orang hebat yang mencoba mendapatkan energi tanpa batas, namun malah menciptakan monster terlarang.

Monster itu menghasilkan Jaso dan mengubah dunia menjadi tempat yang tidak bisa ditinggali manusia normal.

Karena itulah, orang-orang hebat itu membuang dunia ini.

Mereka menciptakan dunia baru dan pindah ke sana, lalu menyegel dunia ini dengan fasilitas yang disebut Menara Iblis sambil terus menyedot energinya.

Padahal mereka tahu bahwa tindakan itu akan mengubah dunia ini menjadi dunia kematian di mana tanaman hampir tidak bisa tumbuh.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang pindah ke dunia baru, yang disebut sebagai Wataribito (Para Penyeberang).

Hanya saja, leluhur kami memutuskan untuk tetap tinggal di dunia ini, dan bahkan setelah lebih dari lima ribu tahun berlalu, kami masih terus bertahan hidup.

 

"Omong-omong, kita belum saling memperkenalkan diri. Aku Mire. Namamu siapa?"

"Nama saya Kuruto Rockhans."

Inilah kisah tentang dunia yang buruk, yang dimulai dari pertemuanku dengan remaja yang sedikit aneh—Kuruto.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close