Prolog
Sambil menghirup udara yang masuk melalui masker pengisap
Jaso, aku—Mire—memungut sebutir batu yang tergeletak di tepi sungai.
Aku mengeluarkan belati, mengerik lumut yang menempel di
batu itu, lalu memasukkan tangan ke balik masker untuk memakannya.
Sambil
merutuk dalam hati, aku menatap air yang menggenang di tepian sungai.
Permukaan
air yang lebih jernih dari biasanya memantulkan wajahku.
Rambut
hitam pendek yang dipotong rata, serta tatapan mata yang tajam.
Satu-satunya
benda yang bisa disebut aksesori hanyalah sebuah lonceng tak berbunyi yang
kujadikan hiasan rambut; tidak ada sedikit pun kesan feminin pada diriku.
Tentu
saja, bagian hidung ke bawah tertutup oleh masker pengisap Jaso—masker yang
berfungsi mencegah Jaso di udara masuk ke dalam tubuh.
"Haa……"
Padahal
ada air yang terlihat segar di depan mata, tapi aku tidak diizinkan meminumnya.
Persediaan
air di kantong minumku tinggal sedikit, jadi aku harus menghematnya.
Aku
memungut batu lain, mengerik lumutnya, lalu memasukkan tangan ke balik masker
untuk memakannya lagi.
Cara ini
memang cukup untuk memasok cairan tubuh, tapi mengerik dengan belati dan
mencernanya sangat menguras tenaga. Benar-benar tidak efisien.
Lagipula,
rasanya tidak enak.
Rasa
pedas yang menusuk lidah memang tidak buruk kalau sudah terbiasa, tapi aku
tetap mengernyit saat rasa pahit mulai menyerang ketika aku menelannya.
Rasanya
ingin cepat-cepat pulang ke permukiman dan minum air sepuasnya.
Karena
itulah, aku harus segera menemukan target.
Aku
meninggalkan tepian sungai dan melangkah membelah padang gundul.
Tanah
tandus ini bahkan tidak ditumbuhi sehelai rumput pun. Makhluk hidup normal
tidak akan bisa bertahan meski hanya beberapa hari di sini.
Manusia
pun bukan pengecualian.
Namun,
makhluk-makhluk yang "tidak normal" memang ada.
"Ketemu."
Dari
balik bayangan batu, aku mengamati targetku.
Nama rasnya adalah Wild Boar—monster berbentuk babi hutan.
Aku tidak
bisa mendekat lebih dari ini.
Sebab,
tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
Sambil
menahan napas dan menyembunyikan hawa keberadaan, aku menancapkan dua buah
beliung pada batu.
Suaranya
bergema di padang tandus.
Wild Boar
itu menyadari suaranya dan mulai celingukan ke sekeliling.
Beruntung,
dia tidak menyadari keberadaanku karena aku berada di arah bawah angin.
Aku
menyiapkan busur silang, lalu melepaskan anak panah tepat saat Wild Boar itu
membelakangiku.
—Kena!
Anak panah itu tertancap telak di bagian bokong sang Wild
Boar.
Terkejut oleh serangan mendadak, Wild Boar itu pun mulai
berlari.
Karena dia membelakangiku, tentu saja dia kabur ke arah yang
berlawanan dari tempatku berada.
Kalau begini
terus, dia bisa lolos.
Namun, anak panah
itu tersambung dengan dua utas kawat tipis yang kuat.
Ujung kawatnya
terikat kencang pada beliung yang kutancapkan tadi. Anak panahnya pun tertancap
dalam, tidak menunjukkan tanda-tanda akan lepas.
Raungan Wild Boar
itu terdengar sampai ke tempat persembunyianku.
Entah itu
teriakan kesakitan atau kemarahan, aku tidak tahu, dan tidak perlu tahu juga.
Tugas utamaku
hanyalah membunuhnya sebelum dia sempat kabur.
Aku berlari ke
depan.
Sadar tidak bisa
melarikan diri, Wild Boar itu melihatku dan langsung menerjang ke arahku.
Dia berniat
melawan.
Kecepatannya jauh
melampaui kuda bajak di permukiman.
Aku
melompat ke samping untuk menghindar.
Saat Wild
Boar itu melambat untuk berputar balik, aku menarik kawat di bawah kakiku.
Kawat itu
menyayat tubuh sang Wild Boar hingga darah menyembur keluar.
Kalau saja aku
tidak memakai sarung tangan, mungkin jari-jariku sudah putus.
Meski terluka,
Wild Boar itu tetap menatapku tajam dan kembali menyeruduk.
Namun,
kecepatannya jelas sudah menurun.
Kali ini
aku tidak menghindar ke samping, melainkan melompat ke atas.
Sambil
memutar tubuh, aku mendarat di punggung Wild Boar itu, mencabut belati, dan
menusukkannya tepat ke lehernya.
Wild Boar
itu mengamuk dalam perlawanan terakhir, namun tindakan itu justru semakin
memperpendek umurnya.
Perlahan-lahan
tenaganya hilang, dan akhirnya, dia berhenti bergerak.
"Fuu……"
Aku
berhasil mengalahkannya tanpa terluka.
Meski merasa
lega, rasa tenang itu hanya bertahan sekejap.
Menggunakan alat,
aku mencabut beliung, menyeka darah pada kawat, lalu mengumpulkannya kembali
bersama anak panah.
Anak panah
berkawat memang praktis, tapi merepotkan karena butuh waktu lama untuk
menyiapkannya kembali.
Apalagi kalau
digulung terburu-buru, kawatnya bisa kusut.
Dalam hal
itu, belati memang lebih baik.
Perawatannya
memang perlu, tapi bisa digunakan berkali-kali dan tidak makan tempat.
Kalau
sudah punya cukup uang, aku ingin membeli senjata yang lebih tajam.
Tapi
sebagai Hunter pencari bahan pangan—kasta terendah di antara para Hunter—bisa
bertahan hidup sehari-hari saja sudah syukur.
Namun, jika aku
tidak bekerja sekarang, kehidupan sehari-hari itu pun tidak akan terjamin.
Aku mengubah
suasana hati dan mulai menguliti Wild Boar.
Di sini aku hanya
melakukan proses sederhana seperti membuang darah dan mengeluarkan organ dalam,
tapi tetap saja menguras tenaga.
Tenggorokanku
mulai terasa kering.
Aku bimbang
apakah harus memakan lumut tadi atau meminum sisa air, tapi akhirnya aku
memilih tidak melakukan keduanya dan lanjut mengeluarkan organ dalam.
Karena organ
dalam tidak tahan lama, aku berpikir untuk membakarnya dan memakannya saat itu
juga. Namun, saat itulah...
Aku merasakan ada
hawa keberadaan yang mendekat.
Mungkin karena
kawanan Wild Boar? Pikirku, tapi ternyata bukan.
Hawa keberadaan
itu terasa dari angkasa.
"Wyvern!?"
Wyvern adalah
sub-naga berbentuk kadal dengan sayap raksasa. Katanya mereka berbeda dari
monster, tapi bagi manusia, mereka tetaplah pemangsa alami yang sama.
Mungkinkah dia
mencium bau darah? Namun sepertinya, dia hanya lewat di atas sana.
"Eh?"
Tanpa sadar aku
berseru.
Sebab, Wyvern itu
mencengkeram sesuatu—mungkin seorang manusia.
Dari sini aku
tidak tahu apakah itu laki-laki atau perempuan, tapi orang itu terlihat
meronta, jadi dia pasti masih hidup.
Sepertinya dia
berusaha menghunus belati untuk menusuk kaki sang Wyvern, tapi... eh?
Mungkin karena
panik dan bingung, bukannya menusuk kaki Wyvern yang mencengkeramnya, dia malah
menusuk bahunya sendiri dengan belati itu.
Setelah percobaan
ketiga, orang itu akhirnya berhasil menusukkan belatunya ke kaki depan
Wyvern—meskipun sesaat kemudian belatinya jatuh.
Sontak, Wyvern
itu melepaskan cengkeraman kakinya.
Tunggu, jatuh
dari ketinggian seperti itu pasti mati!
Sempat terlintas
di benakku untuk menangkapnya, tapi bukannya menolong, aku malah bisa ikut mati
tertindih.
Namun tiba-tiba,
orang yang jatuh itu mengeluarkan benda seperti kain dari tasnya. Kain itu
mengembang dan mulai menahan udara.
"Parasut!?"
Aku berteriak
spontan.
Ada legenda yang
mengatakan bahwa pada zaman kuno, saat kapal besi terbang di angkasa, ada benda
bernama Parasut yang terbuat dari kain untuk turun dari ketinggian. Aku tidak
menyangka benda seperti itu benar-benar ada.
Apalagi, parasut
itu tidak langsung ada di dalam tas, melainkan dibuat saat sedang terjatuh.
Kedengarannya
mustahil, tapi itulah kenyataannya.
Orang itu hanya
mengeluarkan kain, tali, dan benang, lalu dalam waktu singkat saat terjatuh,
dia mengikat, menjahit, dan merangkainya menjadi sebuah parasut.
Rasanya sulit
dipercaya dia adalah orang yang sama dengan yang menusuk bahunya sendiri tadi.
Kira-kira saat
dia hampir mendarat, si Wyvern berputar balik dan merobek parasut itu dengan
cakarnya yang tajam.
Akibatnya,
kecepatan jatuhnya meningkat drastis hingga dia menghantam tanah.
Mungkin menyadari
keberadaanku, Wyvern itu tidak menyerang lagi dan terbang menjauh.
Wyvern
memang kuat, tapi sifatnya penakut. Mungkin dia takut harus menghadapi dua lawan sekaligus.
Aku menghampiri
orang yang jatuh itu.
"Apa dia...
masih hidup?"
Ketinggiannya
tadi memang tidak mematikan selama tidak mendarat dengan posisi yang salah,
tapi dia sama sekali tidak bergerak.
Lalu, tubuhnya
bergidik sedikit.
Sepertinya dia
masih hidup.
Aku menoleh ke
bangkai Wild Boar di belakangku—memastikan tidak ada monster lain yang
mengincar—lalu mendekati orang itu.
"Laki-laki...
ya. Tapi..."
Yang tergeletak
di sana adalah seorang remaja berambut perak, usianya sekitar lima belas atau
enam belas tahun. Aku belum pernah melihatnya, mungkin dia berasal dari
permukiman lain.
Dan yang
mengejutkan, dia tidak memakai masker pengisap Jaso.
Apa terjatuh saat
dicengkeram Wyvern tadi?
Aku memang membawa masker cadangan, tapi—
"Manisnya..."
Remaja ini jauh lebih manis daripada aku yang seorang
perempuan.
Rasanya sayang jika wajah itu harus tertutup masker, tapi
aku tidak boleh egois, jadi aku memakaikan masker cadangan padanya.
Sepertinya kepalanya terbentur, tapi nyawanya tidak
terancam.
Aku memanggulnya kembali ke sisi Wild Boar, lalu menyalakan
api dengan arang dan batu api. Aku menusuk organ dalam Wild Boar dengan belati
dan membakarnya.
"Nn... are..."
Mungkin terpancing aroma masakan, remaja itu terbangun.
"Eh?
Aku—"
"Kamu tidak
apa-apa? Kamu tadi dicengkeram Wyvern."
"Wyvern...?
Apa Kakak yang menolongku?"
"Kamu tidak
ingat soal parasut tadi?"
"Rakka-san?
Siapa itu?"
"Maksudku
kain itu."
Aku menunjuk ke
arah parasut yang sudah kukumpulkan, tapi remaja itu hanya menatapnya dengan
wajah bingung.
Mungkinkah dia
hilang ingatan karena benturan di kepalanya?
Atau
jangan-jangan, dia memang tidak tahu kalau kain itu disebut parasut. Dia bahkan
bertanya, "Benda ini namanya parasut, ya?"
"Kamu
berasal dari permukiman mana?"
"Ah...
eeitu."
"Tidak bisa
mengatakannya?"
—Anak
ini, mungkin seorang buangan.
Orang buangan
adalah mereka yang diusir dari permukiman karena alasan tertentu.
Bisa karena
kriminal, tapi bisa juga karena "pengurangan mulut" untuk menghemat
stok pangan.
Melihat
wajahnya yang polos dan murni, dia tidak terlihat seperti kriminal. Mungkin kemungkinan kedua?
"Anu, masker
ini apa?"
"Masker
pengisap Jaso. Kamu tidak tahu?"
"Pengisap
Jaso... Apa ini alat untuk menyaring Jaso agar tidak masuk ke tubuh?"
"Iya,
benar."
Dunia ini telah
mati karena dua alasan.
Penyebab
pertama adalah awan hitam yang melayang di langit.
Jaso yang
disebarkan oleh awan itu tidak masalah jika terhirup sedikit, tapi akan
mematikan jika terhirup dalam jumlah banyak.
Air
sungai maupun danau semuanya tercemar oleh Jaso, manusia tidak diizinkan
meminumnya.
Meski ironisnya,
tanpa Jaso itu, kami manusia mungkin tidak akan bisa bertahan hidup.
Masker pengisap
Jaso berfungsi menyerap Jaso di udara, memungkinkan kami tetap hidup di dunia
yang dipenuhi zat berbahaya ini.
"Mau
makan daging? Aku tidak bisa menghabiskan organ dalam ini sendirian."
"Ah,
maaf sudah merepotkan. Biar kubantu persiapannya."
Setelah
berkata begitu, si remaja mengeluarkan sebuah panci tipis dari tasnya.
Anak ini,
padahal diusir tapi sempat-sempatnya membawa panci?
"Eh?
Belatiku—"
"Oh,
tadi jatuh jadi aku sekalian memungutnya."
Saat aku
menyerahkan belati itu, dia tersenyum—yang bisa kurasakan meski terhalang
masker—sambil mengucap terima kasih.
Walau hanya
belati besi, itu jelas merupakan karya mahakarya. Sejujurnya, aku merasa sayang
tidak bisa memilikinya.
Sempat terlintas
rasa sesal, apakah sebaiknya kuminta saja sebagai imbalan menyelamatkan
nyawanya. Aku pun memejamkan mata sejenak.
Sesaat setelah
pandanganku tertutup kelopak mata, aroma yang belum pernah kucium sebelumnya
menyerang saraf hidungku.
"Sudah
siap."
"……Eh?"
Begitu aku sadar,
di dalam panci tipis milik remaja itu sudah ada daging yang matang sempurna,
lengkap dengan tusukan besi. Aku tidak tahu kapan dia menyiapkan tusukannya.
Lagipula, proses
matangnya terlalu cepat.
(Apa? Panci itu, Relic?)
Relic adalah peralatan dengan kekuatan luar
biasa yang ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu pergi ke dunia langit.
Tapi tetap saja
aneh—aromanya terlalu harum untuk sekadar daging panggang.
Mataku tertuju
pada botol kecil berisi butiran kecil di samping remaja itu.
"Itu
apa?"
"Ini
lada."
"Lada!?"
Lada adalah
rempah yang sangat jarang dibawa oleh karavan pedagang. Harganya satu botol
saja bisa setara dengan penghasilanku selama berbulan-bulan.
Bagaimana bisa dia membawa barang berharga seperti itu?
Kalau diperhatikan lagi, dia tidak hanya memakai lada, tapi
juga garam batu.
"Anu, apa Kakak tidak suka lada?"
"Bukan, aku cuma belum pernah memakannya... eh, aku
boleh memakannya juga?"
"Tentu saja."
Dengan senyum lembut yang terasa hingga balik maskernya, dia
menyodorkan satu tusuk padaku.
Begitu
masuk ke mulut, rasa gurih dan manis dari daging organ dalam langsung meledak. Efek garam dan ladanya terasa, tapi
tingkat kematangannya pun sempurna.
"Ini,
silakan airnya."
Remaja itu
menyodorkan kantong air padaku.
"Boleh? Sampai diberi air juga."
"Iya. Ini tidak mengandung Mana—maksudku, Jaso.
Lagipula Kakak sudah membagi dagingnya denganku."
Dia menyerahkan
kantong air itu padaku.
Untuk
berjaga-jaga, aku meneteskan setetes ke jari dan menggunakan skill.
"Appraisal."
Cahaya
biru berpendar.
Sepertinya
tidak mengandung Jaso.
Aku pun
meminumnya sekadar untuk membasahi tenggorokan.
"Maaf
ya, bukan berarti aku tidak percaya padamu, tapi aku harus selalu mengecek air
minum."
"Tidak
apa-apa, waspada itu penting karena kita baru pertama kali bertemu."
Dia menjawab
tanpa terlihat tersinggung sedikit pun.
Setelah
menyelesaikan hidangan yang terasa seperti "makanan sungguhan"
setelah sekian lama, dia bertanya padaku.
"Apa rencana
Kakak setelah ini?"
"Aku berencana membawa Wild Boar ini ke permukiman. Apa kamu punya tempat tujuan?"
"Aku berniat
menuju Permukiman ke-38. Tadinya aku ke sana, tapi di tengah jalan ditangkap
Wyvern dan terpisah dari teman-temanku."
"Permukiman
ke-38 itu sangat jauh dari sini, lho?"
Dari mana dia
dibawa terbang tadi?
Melihat kecepatan
Wyvern, jarak yang ditempuh manusia selama berminggu-minggu mungkin hanya butuh
beberapa jam bagi mereka.
"Untuk
sementara, ikutlah ke permukimanku. Kalau kamu membantuku membawa Wild
Boar ini, aku akan memberimu imbalan. Nanti saat karavan pedagang datang, kamu
bisa jelaskan situasimu dan minta antar ke Permukiman ke-38."
"……Baik, dengan senang hati!"
Setelah berpikir sejenak, dia mengangguk dan langsung
mengangkat Wild Boar itu.
Tunggu,
eh?
Beratnya
sekitar dua ratus kilogram, tapi dia mengangkatnya sendirian?
Padahal
kalau aku sendirian, aku hanya sanggup membawa pulang bagian yang harganya
mahal saja.
"Aku
kurang pandai bertarung. Tapi kalau cuma jadi pembawa barang, aku pernah
melakukannya, jadi serahkan saja padaku!"
"……O-oh.
Oke, kuserahkan padamu."
Tadinya kupikir
meski dia membantu pun, jumlah yang bisa dibawa tidak akan sampai setengahnya.
Ini
keberuntungan yang tak terduga, tapi—
Siapa sebenarnya
anak ini!?
Kepalaku mulai
pusing memikirkannya.
Dunia ini pernah
hancur sekali di masa lalu.
Atau mungkin
lebih tepat jika dikatakan sedang dalam proses kehancuran?
Katanya, dahulu
kala ada orang hebat yang mencoba mendapatkan energi tanpa batas, namun malah
menciptakan monster terlarang.
Monster itu
menghasilkan Jaso dan mengubah dunia menjadi tempat yang tidak bisa ditinggali
manusia normal.
Karena itulah,
orang-orang hebat itu membuang dunia ini.
Mereka
menciptakan dunia baru dan pindah ke sana, lalu menyegel dunia ini dengan
fasilitas yang disebut Menara Iblis sambil terus menyedot energinya.
Padahal mereka
tahu bahwa tindakan itu akan mengubah dunia ini menjadi dunia kematian di mana
tanaman hampir tidak bisa tumbuh.
Tidak ada yang
tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang pindah ke dunia baru, yang disebut
sebagai Wataribito (Para Penyeberang).
Hanya saja,
leluhur kami memutuskan untuk tetap tinggal di dunia ini, dan bahkan setelah
lebih dari lima ribu tahun berlalu, kami masih terus bertahan hidup.
"Omong-omong,
kita belum saling memperkenalkan diri. Aku Mire. Namamu siapa?"
"Nama
saya Kuruto Rockhans."
Inilah kisah tentang dunia yang buruk, yang dimulai dari pertemuanku dengan remaja yang sedikit aneh—Kuruto.



Post a Comment