Chapter 4
Perjamuan
para Raja Iblis
Ketika aku mengaktifkan perangkat pemindah yang berada di
dalam gua sumber Miasma, di bagian terdalam wilayah suci Negara Yamato,
Ayah muncul.
"Kenapa Paman Nicholas bisa ada di sini?!"
"Kenapa, ya? Habisnya, aku mendengar suara panggilan
dari perangkat pemindah yang ada di ruang bawah tanah rumah kita."
Yurishia-san
bertanya, dan Ayah menjawab santai.
Kemunculan
Ayah yang tiba-tiba membuat semua orang terkejut. Namun, aku sudah merasa ada
yang familier; kalung Mire-san memiliki ciri khas buatan paman pemilik toko
serba ada, dan perangkat penghalangnya mirip gaya bibi pemilik toko pakaian di
desa kami.
Dan
karena perangkat pemindah ini memiliki ciri khas Ayah, aku sempat menduga hal
ini, dan ternyata benar.
"Lise-san sepertinya tidak terlalu terkejut,
ya."
"Aku terkejut, tapi aku sudah menduga kalau Desa Haste
pasti terlibat. Misalnya, teh di desa ninja ini sangat enak. Pasti mereka
mewarisi resep dari Desa Haste."
Lise-san melanjutkan penjelasannya dengan tenang.
"Terlebih lagi, ayah dan ibu Kuruto-sama pernah
bilang kalau mereka dulu pernah tinggal di negara ini. Sejarah desa ninja ini
adalah 1.220 tahun. Itu sangat cocok."
"Tunggu sebentar! Ayah dan ibu Kuruto pernah tinggal
di sini, dan kenapa itu bisa cocok dengan 1.220 tahun yang lalu?!"
Mire-san berseru dengan nada bicara yang kaget.
Ah, sepertinya aku memang harus menjelaskan bagian
itu.
"Yah, orang-orang di desa kami itu semuanya suka
selera anggur. Mereka penasaran seperti apa rasa anggur berusia 1.200
tahun, jadi kami melompat melintasi waktu sekitar 1.200 tahun."
Ayah memberikan penjelasan yang (menurutnya) mudah
dimengerti. Namun, selain Lise-san, Yurishia-san, Danzo-san, dan dua orang dari
Phantom, semua orang menunjukkan ekspresi aneh.
"Maaf, itu memang aneh, ya. Kalau cuma mau minum
anggur berusia 1.200 tahun, harusnya cukup membuat gudang bawah tanah dengan
aliran waktu yang lambat dan membiarkan anggurnya menua di sana."
“““““Enggak, enggak, enggak, enggak, enggak!”””””
Banyak orang yang menyangkal ide cemerlangku itu.
"Begini lho, itu adalah bentuk kasih sayang
orang tua yang ingin membuka botol anggur itu bersamaan dengan saat kamu sudah
dewasa."
"Ayah…… tapi anggur itu sama sekali tidak enak,
lho."
"Kalau itu sih, murni kesalahanku. Maaf, ya."
Ayah meminta maaf dengan nada bicara yang ceria.
Yah, rasanya tidak sampai membuatku tidak bisa meminumnya
sama sekali, dan itu bisa jadi bahan obrolan yang menarik, jadi tidak masalah.
"Ngomong-ngomong,
di mana Akuri? Aku ingin melihat wajah cucuku setelah sekian lama."
Ayah melihat sekeliling sambil bertanya.
"Maaf, aku sedang tidak bersama Akuri
sekarang."
"Begitu ya, sayang sekali."
"Lain kali aku akan main ke sana bersama
Akuri."
"Itu akan sangat menyenangkan. Omong-omong,
siapa orang-orang di sana?"
Ayah bertanya sambil menatap ke arah Hiiragi-san.
"Ah, mereka ini──"
"Permisi. Mungkinkah, Anda adalah penduduk dari
Desa Hasuno?"
Hiiragi-san menyela.
Tidak, desa kami sejak dulu menamai diri sebagai Desa
Haste──
"Desa Hasuno? Ah, rindu sekali! Memang pernah ada
masa ketika desa kami dipanggil begitu."
"Eh? Pernah?"
"Iya. Benar juga, tidak enak kalau kita
mengobrol sambil berdiri di sini. Kalau kalian berkenan, silakan lewat
sini. Meski ruangannya agak sempit──"
Begitu melewati perangkat pemindah, kami benar-benar
sampai di ruang bawah tanah rumah lamaku.
Karena ruang bawah tanah ini juga berfungsi sebagai
gudang anggur kecil, aku tidak diperbolehkan masuk saat masih kecil. Aku bahkan
tidak menyadari kalau ada perangkat pemindah di sini.
"Ibu, Kuruto dan yang lainnya sudah pulang!"
"Aduh, aduh, Kuruto ini. Ibu kan selalu bilang,
hubungi dulu kalau mau pulang. Sampai minggu lalu kami sedang jadwal piket
kebersihan, jadi tidak bisa menyambutmu."
Ibu yang sedang mencuci piring di dapur menoleh dan
menyapa.
"Begitu ya. Pasti melelahkan."
Di desa kami, ada sistem giliran untuk membersihkan desa
dan area sekitarnya.
"Tidak ada komentar soal anakmu yang tiba-tiba
pulang lewat ruang bawah tanah, ya. Terus, 'melelahkan' itu maksudnya apa?
Kalau penduduk Desa Haste, bukannya bersih-bersih akan selesai dalam
sekejap?"
Yurishia-san bertanya, namun aku menggelengkan kepala.
"Memang benar penduduk desa semuanya ahli dalam
bersih-bersih sepertiku. Membersihkan parit, mengambil debu di atap dan jalan,
atau merapikan jalanan itu bisa selesai cepat, tapi──"
"Merapikan jalanan itu sepertinya sudah bukan
kategori bersih-bersih lagi, deh?"
"Tapi, di sekitar desa kami itu rumput liar dan
semak belukar cepat sekali tumbuh. Mencabut dan menebasnya itu yang
melelahkan."
Hari bersih-bersih itu benar-benar menghabiskan waktu
seharian penuh.
"Semenjak pindah ke desa ini, rumput lebih banyak
tumbuh daripada pohon, jadi agak lebih ringan. Yah,
ada beberapa orang yang merasa bersih-bersihnya kurang menantang dan terlihat
bosan, sih. Terlepas dari itu, semuanya, terima kasih sudah jauh-jauh
datang ke sini. Kami tidak bisa menjamu dengan mewah, tapi silakan
beristirahat."
Ibu berkata begitu sambil menyiapkan teh untuk semuanya.
"Ini teh hasil panen desa."
Kami semua pun meminum teh tersebut.
"Nyonya──teh ini, mungkinkah ini adalah Teh
Legendaris dari Desa Hasuno?"
"Aduh, Desa Hasuno, ya? Rindu sekali. Kalau tidak
salah, waktu itu ada orang dari desa tetangga yang datang meminta bantuan
pekerjaan, lalu saat aku suguhi teh ini, mereka bertanya soal resepnya."
Ibu berkata dengan nada bicara yang santai.
Ternyata benar, ibulah yang memberikan resep teh itu
kepada desa ninja. Aku memang merasa rasanya sangat familier.
"Leluhur teh legendaris yang diwariskan di desa
ninja──"
"Ini benar-benar cita rasa Dewa."
"Nyonya, bolehkah Anda mengajari kami cara
pembuatannya sekali lagi?"
Para ninja tersebut tampak sangat terharu dengan rasa
tehnya.
"Ayah. Apa maksudnya Desa Hasuno? Apa dulu namanya
berbeda?"
Aku bertanya pada Ayah yang sedang menyeruput teh.
"Kami sih menyebutnya Desa Haste dari dulu. Tapi
karena ada bunga teratai (Hasu) besar yang mekar di kolam desa, orang-orang
salah sangka dan menyebutnya Desa HasuNo.Ngomong-ngomong, dulu ada permintaan
bantuan karena ada kebocoran Miasma yang meresahkan, jadi aku yang
menanganinya. Untuk sementara aku beri pertolongan darurat, tapi agar bisa
cepat ditangani jika ada masalah lagi, aku memasang perangkat pemindah di
sana."
Luar biasa Ayah, layanan purnajualnya benar-benar
sempurna.
Aku harus menirunya.
Saat aku sedang berpikir begitu, tiba-tiba para ninja
langsung berlutut di tempat.
"Tuan Kuruto, tidak, Kuruto-sama! Mohon maafkan
ketidaksopanan kami selama ini karena tidak tahu bahwa Anda adalah penduduk
Desa Hasuno!"
"Eh? Tunggu sebentar. Aku tidak melakukan
apa-apa."
"Tidak, desa ninja kami adalah keturunan dari klan
yang diselamatkan oleh penduduk Desa HasuNo.Kami berkembang hingga sekarang
berkat ninjutsu yang ditinggalkan oleh penduduk desa Anda. Namun, bukannya
membalas budi, kami malah merepotkan Anda……"
"Apakah ninjutsu itu asalnya dari desa kami?"
Ketika aku bertanya pada para ninja, Ayah menggelengkan
kepala.
"Tidak, ninjutsu itu sendiri sepertinya sudah ada
sejak lama. Tapi batu untuk menggunakan ninjutsu itu tidak ada, jadi perlahan
menghilang. Makanya, aku memodifikasi alat untuk menggunakan ninjutsu itu agar
bisa dipasangi batu yang mengandung sedikit Miasma."
Batu
yang mengandung Miasma──maksudnya Magic Stone.
Ternyata
benar, ninjutsu itu pastilah sebuah Skill.
"Lalu, kenapa Kuruto dan yang lainnya ada di gua
itu?"
"Soal itu──"
Aku pun menjelaskan situasinya.
"Jadi ada kejadian begitu, ya. Tapi ini gawat juga. Seekor naga, ya? Anu, apakah sulit untuk
menjinakkannya dengan makanan?"
"Iya, naga itu adalah individu yang tumbuh besar
karena Miasma, jadi kurasa indra perasanya sudah tumpul. Dia
tidak akan terpancing bau makanan. Lagipula, dia menjaga lorong itu──"
"Ah, pasti di balik sana ada telurnya. Di antara
jenis naga, ada spesies yang bertelur di gua sempit untuk melindungi diri dari
musuh luar."
Sepertinya Ayah pun tidak punya ide.
Soalnya desa kami memang tidak pandai dalam hal bertarung
melawan monster.
"Kalau begitu, bagaimana kalau minta tolong pada
orang-orang yang ada di balai pertemuan? Kurasa mereka mau meminjamkan
kekuatan. Biar kupanggilkan sebentar."
"Orang-orang itu?"
Siapa yang dimaksud Ibu dengan 'orang-orang itu'?
Setelah Ibu keluar ruangan, aku sempat bertanya pada
Ayah soal penghalang dan cerita masa lalu. Aku juga meminta Ayah menyiapkan
sesuatu yang nantinya akan dibutuhkan, namun──
"Sudah
lama ya, Kuruto."
"Hildegard-chan?!"
Orang
yang dipanggil Ibu adalah teman masa kecilku yang juga salah satu dari Empat
Raja Iblis Agung, sang Kaisar Tua, Hildegard-chan.
Dan bukan dia saja.
"Kami numpang lewat, ya."
"Permisi."
Sambil berkata begitu, seorang pria Beastman
berwajah singa, dan seorang pria dari ras Dragonewt──ras langka di
antara kaum iblis──masuk ke ruangan.
Mereka adalah sang Beast King dan sang Magic Dragon
Emperor.
Kedatangan mendadak tiga Raja Iblis yang memimpin kaum
iblis ini membuat Yurishia-san dan Lise-san terkejut setengah mati.
Kenapa mereka bertiga ada di desa ini?
"Atas permintaan Magic Dragon Emperor, Walpurgisnacht──pertemuan
para Raja Iblis sedang diadakan di Desa Haste."
"Umu, hidangan di sini sangat lezat."
"Aku juga menyukai masakan daging di sini jadi aku
tidak akan protes. Tapi Dragon Emperor, apa yang sedang kau makan itu bukannya
pakan babi?"
"Mau pakan babi pun, bagiku ini adalah hidangan
tertinggi."
Magic Dragon Emperor berkata sambil mengibaskan
ekornya.
Sepertinya dia sangat menyukainya, ya.
"Jadi,
sepertinya kau sedang dalam masalah merepotkan, ya?"
Hildegard-chan
bertanya.
"Iya,
sebenarnya──"
Karena
ini berkaitan erat dengan urusan dalam negeri Negara Yamato, aku meminta izin
pada Hiiragi-san sebelum menjelaskan situasinya pada mereka bertiga.
Lalu──
"Kau ini selalu saja mencampuri urusan merepotkan. Bisa tidak sih lebih tenang sedikit?"
Hildegard-chan
berkata dengan nada bicara yang agak marah.
"Bukankah
ini menarik? Sudah lama aku tidak bertarung dengan lawan yang tangguh. Oi,
bocah. Bawa aku ke gua tempat naga Yamata no Orochi itu berada."
"Berbicara
soal Yamata no Orochi, meski dia makhluk rendahan yang lebih dekat dengan ular
daripada naga, dia diperlakukan setara dengan kaum Naga kami karena
kekuatannya. Jika dia bersarang di tanah yang memiliki hubungan dengan Desa Haste
yang telah memberiku budi besar, aku juga akan ikut membantu."
"Kalau
membiarkan dua orang ini pergi sendiri, aku tidak tahu apa yang akan mereka
perbuat. Baiklah, bawa aku juga."
Ketiga
Raja Iblis itu akhirnya setuju untuk membantu membasmi Yamata no Orochi.
Aku punya firasat kalau ini akan menjadi kejadian yang
luar biasa.
Suara dentuman, ledakan, dan kehancuran bergema di
dalam gua.
"Gahahahaha! Rapuh, terlalu rapuh!"
"Berani-beraninya mengaku sebagai kaum Naga
dengan level seperti ini, sungguh menggelikan."
"Kalian berdua, pikirkan sedikit soal menahan diri!
Bagaimana kalau guanya runtuh!"
"Nenek tua yang pertama kali melepaskan sihir
raksasa sampai membuat lubang di langit-langit berani bicara apa!"
Itu adalah pemandangan yang luar biasa.
Pertempuran antara Raja Iblis dan Yamata no Orochi
dimulai dengan sihir Hildegard-chan.
Begitu Hildegard-chan melepaskan sihir ke arah Yamata no
Orochi, tiang api raksasa melonjak naik dan membuat lubang besar di
langit-langit.
"Kaisar Tua, jangan tiba-tiba pakai sihir bodoh
begitu! Jatah kami jadi hilang, kan!"
"Ada risiko reruntuhan, jadi tahanlah dirimu."
"Berisik! Sulit tahu kalau harus menahan diri!"
Atap kubah itu tidak akan runtuh hanya karena satu
lubang, tapi kekuatan api yang menembus sampai puncak gunung setinggi ratusan
meter itu benar-benar di luar nalarku.
"Sekarang aku baru mengerti sepenuhnya perkataan Scripter,
bahwa jika kondisi kesehatan Hildegard sedang prima, maka penghalangnya tidak
akan ada gunanya sama sekali."
"Waktu itu dia benar-benar sedang dalam kondisi
lemah, ya. Dia memang layak menyandang gelar salah satu sayap Raja Iblis."
Yurishia-san dan Lise-san berkata sambil melongo.
Begitulah, sihir Hildegard-chan jauh lebih kuat
daripada sihir mana pun yang pernah kulihat. Para ninja
pun tampak sangat terkejut sampai tidak bisa mengeluarkan suara.
Namun, Yamata no Orochi cukup gigih.
Ia menggugurkan kepalanya yang sudah hangus menjadi arang
serta sisik terkarbonisasi yang menutupi permukaan tubuhnya, lalu meregenerasi
kepala dan sisik baru.
"Bukannya kalau semua kepalanya diledakkan, Yamata
no Orochi akan mati?"
"Normalnya begitu, tapi sepertinya dia telah
berevolusi secara unik karena menyerap Miasma selama bertahun-tahun.
Pilihannya cuma dua: hancurkan jantungnya, atau ledakkan sampai dia tidak bisa
beregenerasi lagi."
Di samping Hildegard-chan yang sedang memiringkan kepala,
Beast King membunyikan buku-buku jarinya dengan penuh minat, lalu berlari
kencang.
Ia menghindari kepala Yamata no Orochi yang mencoba
menggigit, lalu menangkapnya dengan kedua tangan.
Tentu saja, leher Yamata no Orochi itu lebih tebal
daripada pohon besar.
Meski disebut menangkap, itu lebih terlihat seperti
ia merentangkan tangan dan mengerahkan tenaga.
Namun──
"Hup!"
Beast King merapatkan kedua tangannya dan memutarnya,
memelintir putus leher Yamata no Orochi.
Tenaga lengan dan kekuatan cengkeraman macam apa itu?
"Bahaya!"
Yamata no Orochi mencoba menyabet Beast King dengan
ekor raksasanya.
Namun, kali ini sang Raja menyambar ekor tersebut dan
melemparkannya dengan sekuat tenaga.
“““““Eeeeeeeeeeeeh?!”””””
Aku dan para ninja berteriak kaget.
Padahal perbedaan berat badan mereka tidak
terbayangkan.
"Aku juga akan maju."
Begitu berkata demikian, Magic Dragon Emperor
mengepakkan sayapnya dan terbang ke angkasa, lalu menghilang.
"Eh? Dia pergi ke mana?!"
"Di sana!"
Yurishia-san menunjuk ke satu arah.
Di samping Yamata no Orochi yang baru saja bangkit, Magic
Dragon Emperor sudah berdiri.
Di dekatnya, ada tiga kepala Yamata no Orochi yang
tergeletak putus.
Padahal aku baru saja kehilangan jejaknya sekejap, tapi
dia sudah memutus tiga kepala sekaligus.
"Tapi penampang potongannya terlihat seperti
teriris, ya. Padahal beliau tidak membawa pedang, bagaimana caranya?"
Lise-san yang sepertinya juga kehilangan jejak bertanya,
lalu Yurishia-san menjawabnya.
"Dia menyayatnya dengan cakar. Cakarnya memanjang seperti pedang."
Begitu ya. Tapi kurasa cakarnya bukan memanjang,
melainkan kembali ke ukuran aslinya.
Magic Dragon Emperor itu aslinya memiliki tubuh yang jauh
lebih besar, namun dia mengendalikan tubuhnya agar berukuran sedikit lebih
besar dari manusia biasa.
Kali ini dia hanya mengembalikan bagian cakar ke ukuran
asli dan menyayatnya seperti pedang.
Meski aku paham teorinya, aku sama sekali tidak bisa
melihat gerakannya.
Kalau harus bertarung dengannya, aku pasti tidak akan
bisa berkutik.
Yah, meski dia tidak memanjangkan cakarnya pun, aku
tetap tidak akan berkutik, sih.
Pertempuran terus berlanjut.
Di tengah jalan, Hildegard-chan berhenti menyerang
dan menggunakan sihir penghalang agar gua tidak hancur. Sebagai gantinya, Beast
King dan Magic Dragon Emperor-lah yang mendominasi pertarungan. Itu benar-benar
pemandangan yang dahsyat.
"Tidak ada perlawanan berarti, tapi aku suka
semangatmu yang berkali-kali regenerasi!"
"Tapi bukankah apimu ini terlalu lemah? Suhu segini
bahkan tidak bisa untuk menyeduh teh, camkan itu."
"Kalian berdua, hentikan! Serangan kalian membuat
penghalangku terkena damage tahu!"
Hildegard-chan terus mengeluh, tapi sihir penghalang yang
bisa menyerap semua serangan Magic Dragon Emperor dan Beast King itu
benar-benar hebat.
"……Anu, Kuruto, apa ini benar-benar tidak apa-apa?
Umat manusia tidak akan punah, kan?"
Mire-san
bertanya dengan wajah cemas yang tak tertahankan.
Apakah
berbahaya jika kaum iblis menjadi musuh?
Tapi
menurutku mereka bertiga adalah orang baik, jadi pasti tidak apa-apa.
Saat
aku sedang berpikir bagaimana menjawabnya, Hildegard-chan terbang ke arah kami
dan mendarat di depan Mire-san.
"Kamu──"
"Eh?
Aku?"
Mire-san
melihat sekeliling seolah tidak percaya ia baru saja disapa. Hildegard-chan
mengabaikan ekspresi itu dan melanjutkan.
"Dari
tadi kamu akrab sekali dengan Kuruto, sebenarnya siapa kamu? Apa hubunganmu
dengan Kuruto?"
"Anu,
Kuruto itu──"
"Mire-san
adalah orang baik yang menolongku saat aku diculik Wyvern dan terdampar di
tanah asing."
Begitu aku menjelaskan, Mire-san mengangguk
berkali-kali.
"Cuma itu, cuma itu kok. Bukan hubungan spesial……
kok."
"……Begitu. Sepertinya kau sudah menjaga Kuruto, ya.
Dan lagi, aku suka wanita yang tahu diri."
Setelah berkata begitu, Hildegard-chan sempat melirik ke
arah Yurishia-san dan Lise-san sebelum kembali ke tempat semula.
Entah kenapa Mire-san gemetaran. Mungkin dia ketakutan
karena sihirnya terlalu kuat.
Tapi, eh?
"Lise, itu tadi……"
"Maksudnya ditujukan pada kita, kan?"
Entah kenapa Yurishia-san dan Lise-san juga gemetaran.
Dan pertempuran pun semakin memanas. Yamata no Orochi
hanya bisa bertahan──tidak, bahkan ia tidak sempat bertahan dan akhirnya kalah
telak.
"Gahahaha, menyenangkan sekali. Karena hawa monster
lain juga sudah tidak ada, kami memutuskan untuk pulang sekarang. Kalau ular
besar ini muncul lagi, panggil saja kami. Mulai besok kami akan minta bayaran.
Pakai minuman keras juga boleh. Minuman Desa Haste itu yang terbaik."
"Aku berbeda dengan singa di sana, aku tidak
akan memungut biaya. Sebagai balasan karena selalu disuguhi makanan
berkualitas, aku akan meminjamkan kekuatan kapan saja."
Begitu berkata demikian, Beast King dan Magic Dragon
Emperor pulang menggunakan perangkat pemindah.
Kami mengucapkan terima kasih dan mengantar mereka pergi.
"Kuruto. Jangan terlalu memaksakan diri melakukan
hal gila, ya. Kamu harus berumur panjang setidaknya seratus tahun
lagi."
Hildegard-chan
mendongak menatapku sesaat sebelum pergi. Saat itu,
kata-kata Hildegard-chan terlintas kembali di benakku.
'Kuruto, hiduplah yang lama. Meski hanya sedetik,
lebih lamalah dari Lise atau Yurishia. Dan setelah kamu mengantar mereka pergi,
minumlah obat ini untuk menjadi muda kembali, lalu menikahlah denganku.'
Aku merasa wajahku memerah.
"Kuruto-sama, apa yang sedang Anda ingat?"
"Hildegard, apa yang kau katakan pada Kuruto?"
"Bukan apa-apa. Itu urusan yang tidak ada
hubungannya dengan kalian."
Dari kata-kata Hildegard-chan, tersirat makna: 'Lagipula
ini pembicaraan tentang masa setelah kalian mati.'
Meski aku selalu menunjukkan sisi yang memalukan, aku
senang Hildegard-chan masih menyukaiku sampai sekarang.
Setelah semuanya pulang, kami kembali menuju ke bagian
dalam lorong. Di sana, seperti dugaan kami, terdapat telur Yamata no Orochi.
Totalnya ada delapan buah, dan bentuknya lebih lonjong daripada telur biasa.
"Jadi dia melindungi telur-telur ini, ya."
"Bagi kita ia adalah monster yang merepotkan,
tapi monster itu juga adalah seorang ibu."
Yurishia-san dan Mire-san berkata dengan nada penuh
haru.
Tapi, telur itu──
"Lagipula ini adalah telur yang tidak dibuahi,
jadi ditunggu sampai kapan pun anaknya tidak akan menetas. Kalaupun dibuahi
pun, karena ini monster, telurnya harus dihancurkan."
"Ah, tapi sepertinya ini masih segar, jadi ayo
kita bawa pulang. Nanti kita jadikan telur dadar gulung."
Aku berkata begitu sambil memasukkan telur-telur
besar itu ke dalam tas.
Biasanya kalau masakan telur itu seringnya telur mata
sapi, telur orak-arik, atau telur rebus. Tapi telur dadar gulung khas Negara
Yamato itu sangat enak.
Akan enak juga kalau dicampur kaldu menjadi Dashimaki
Tamago.
Karena ini adalah telur Yamata no Orochi, cangkangnya
sangat keras, jadi kurasa tidak perlu khawatir pecah meski terkena sedikit
guncangan.
"Aku memang ingin makan telur dadar buatan Kuruto,
sih."
"Tapi kalau ingat ini telur Yamata no Orochi, selera
makanku jadi……"
"Bagi kolektor barang langka atau pencinta kuliner
ekstrem, mereka mungkin rela membayar ratusan koin emas hanya untuk
memakannya."
Yurishia-san,
Danzo-san, dan Lise-san berkomentar.
Tapi
dari yang kudengar, telur Yamata no Orochi itu memiliki cita rasa yang unik dan
kuat jika dibandingkan telur ayam biasa, tapi katanya sangat lezat.
Kalau mau dibuat Dashimaki, aku harus menyesuaikan
rasa kaldunya. Masakan telur lainnya pun butuh sedikit kreativitas.
Dan lagi, bagi orang yang hobi memasak, mungkin mereka
rela membayar dengan koin emas untuk bereksperimen. Sejujurnya aku juga merasa
sedikit bersemangat.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan, Kuruto-sama."
Hiiragi-san berkata padaku.
"Anu, Hiiragi-san. Anda tidak perlu bicara sesopan
itu padaku. Lagipula yang membuat perangkat penghalang di sini adalah
Ayah."
"Tidak, penduduk Desa Hasuno bagi kami setara dengan
Kaisar. Tidak, bahkan lebih mulia dan merupakan sosok yang
paling harus kami hormati."
"Lebih dari Kaisar?! Tolong jangan begitu! Aku
tidak bisa menolongmu kalau kau ditangkap atas tuduhan penghinaan terhadap
Kaisar, lho."
Bukan hanya Hiiragi-san, ninja-ninja lainnya juga
menatapku dengan pandangan penuh rasa hormat.
"Memang benar Kurumi-chan itu…… sosok yang
mulia."
Entah kenapa Kaede-san mengatakan hal yang aneh. Apalagi
ia memakai nama samaranku. Harusnya ia sudah memanggilku Kuruto, tapi mungkin
memang sulit untuk mengingat kembali nama asli orang lain yang sudah terlanjur
diingat salah.
"(……Lise, sepertinya perasaan hormat Kaede-san pada
penduduk Desa Haste bercampur aduk dengan rasa sukanya pada Kurumi-chan, ya.
Dia layak diakui sebagai anggota resmi Klub Penggemar Kurumi-chan meski berasal
dari negara lain.)"
"(Aku tidak suka bagian 'layak diakui'-nya
itu.)"
Yurishia-san dan Lise-san sedang membisikkan sesuatu di
belakang, tapi yang lebih membuatku penasaran adalah apa yang ada di balik
tempat telur-telur ini berada──tujuan utama kami yang sebenarnya.
Setelah berjalan sebentar, sebuah perangkat mulai
terlihat di kejauhan.
"Perangkat penghalang sudah mulai terlihat."
Di sisi lain perangkat itu terdapat lorong, dan
sepertinya sebuah penghalang menutupi jalan tersebut.
"……Penghalangnya sudah mulai melemah, ya. Kata Ayah,
untuk pengisian energi penghalang, dulu ia menyerahkan perawatannya kepada
orang yang paling cocok untuk memasang penghalang di negara ini."
"Dan orang itulah yang kemudian disebut sebagai
keluarga Kaisar. Yah, mengelola penghalang yang menahan Miasma itu sama
saja dengan memegang hak atas hidup dan mati orang banyak."
Mengelola sesuatu membutuhkan kekuasaan. Karena Miasma
berbahaya, Ayah bercerita bahwa pemimpin di sekitar sini akhirnya mengambil
peran tersebut agar pengelolaan dilakukan dengan benar.
Dalam catatan sejarah yang diajarkan Hiiragi-san pun,
Kaisar di masa lalu tidak pernah sombong dan bekerja demi rakyat.
Leluhur Mire-san ternyata adalah orang-orang yang baik,
ya.
Menurut cerita Ayah, tidak salah lagi dialah yang membuat
alat ini, namun Ayah sendiri belum pernah melihat apa yang ada di baliknya.
"Apa aku harus meletakkan loncengnya di sini?"
"Iya. Silakan pasang lonceng milik Nona Mire."
Mire-san memasang lonceng pada perangkat tersebut sesuai
instruksi Hiiragi-san.
"Tapi, sebenarnya bagaimana cara kerja alat ini,
ya?"
Karena Mire-san bertanya dengan penasaran, aku pun
mencoba mengingat kembali cerita yang kudengar dari Ayah.
"Cara kerjanya sama dengan Skill, atau sama
dengan ninjutsu para ninja. Di dalam lonceng Mire-san terdapat Magic Stone,
yang fungsinya menyimpan energi penghalang dan mengisi ulang energi tersebut
melalui perangkat ini."
"Lalu, bagaimana dengan kecocokan yang Ayah
katakan?"
"Maksudnya adalah kecocokan Skill."
Skill pun memiliki peringkat kecocokan.
Karena kecocokan Skill konon mudah diwariskan,
anak dari pengelola pertama, lalu cucunya, dan seterusnya akan terus
mengelolanya hingga akhirnya mereka menjadi keluarga Kaisar.
Meski begitu, penghalang buatan Ayah ini luar biasa.
Padahal Miasma dari sisi seberang tertahan
sepenuhnya, tapi perpindahan Miasma dari sisi sini ke sana sama sekali
tidak terhambat.
Ini adalah penghalang satu arah.
Mungkin fungsinya mirip dengan katup penahan arus balik.
Selagi kami mengobrol, Hiiragi-san yang sejak tadi
mengamati perangkat dengan serius akhirnya angkat bicara.
"Terima kasih atas kerja keras Anda, ritual telah
selesai. Mewakili rakyat Negara Yamato, saya haturkan terima kasih yang
mendalam kepada Nona Mire."
Sepertinya pemulihan penghalang sudah rampung.
"Tidak apa-apa, kok. Lagipula, penyebab semua ini
karena leluhurku menghilang begitu saja dan merepotkan para ninja di
sini."
Mire-san melambaikan tangan, menolak pujian itu
dengan rendah hati.
"Terlepas dari itu, Kuruto."
"Iya!"
Selagi ada kesempatan, aku mengubah pengaturannya.
Pertama, aku memasang benda yang diberikan Ayah──lonceng
yang sama dengan milik Mire-san──ke perangkat penghalang.
Sip,
dengan begini sudah aman.
"Hiiragi-san, kemarilah."
"Baik."
Aku meminta Hiiragi-san mengulurkan tangannya di atas
perangkat.
Bagus, sekarang pengelola penghalang ini bukan lagi
Kaisar, melainkan Hiiragi-san.
Klan ninja Hiiragi-san telah menjaga tempat ini selama
lebih dari seribu tahun atas perintah Kaisar.
Dalam hal mengelola tanah ini, tidak ada yang lebih
kompeten daripada mereka.
Apalagi keluarga Kaisar yang tersisa di Negara Yamato
sepertinya bahkan tidak mau mendekati tempat ini sejak leluhur Mire-san
menghilang.
"Tuan Kuruto, Nona Mire. Kami benar-benar berterima
kasih karena kalian telah bersedia membantu menyelesaikan kekacauan kami hingga
tuntas."
Danzo-san
berlutut memberikan penghormatan. Para ninja lainnya pun mengikuti.
"Tolong hentikan! Benar-benar deh!"
Aku melambaikan tangan seperti yang dilakukan Mire-san
tadi, meminta mereka semua berdiri.
Lalu aku dan Mire-san saling bertatapan, tertawa canggung
karena tidak terbiasa menerima sanjungan bertubi-tubi.
"Semuanya sudah beres, ya. Akhirnya kita bisa pulang
ke Valha."
"Tidak, Yurishia-san. Aku punya satu permintaan
terakhir."
Kataku.
"Aku ingin melihat sisi seberang penghalang
ini."
"Kuruto, itu──"
"Tolonglah."
Aku tahu aku ini bodoh.
Di balik penghalang itu penuh dengan Miasma.
Padahal baru saja aku dimarahi Hildegard-chan agar
tidak bertindak nekat.
Namun, aku merasa jika melewatkan saat ini, aku tidak
akan pernah tahu mengapa leluhur Mire-san sampai terdampar di Dunia Lama.
"Kalau begitu, biarkan kami yang memeriksa ke
depan lebih dulu."
Ucap Hiiragi-san.
"Jangan, biarkan aku sendiri yang pergi."
Mendengar perkataanku, Yurishia-san dan Lise-san
berteriak bersamaan.
"Mana mungkin boleh!"
"Hal seperti itu tidak mungkin diizinkan!"
"Tenang saja. Menurut Beast King, hawa monster
sudah tidak ada, jadi tidak akan berbahaya."
Lagi pula jika ada jebakan, bergerak dalam kelompok
besar justru bisa lebih berisiko.
Tiba-tiba, Mire-san meletakkan tangannya di bahuku.
"Kuruto, aku akan ikut denganmu!"
"Mire-san, tapi──"
"Kamu kan sedang mencari asal-usulku! Tidak
akan ada artinya kalau aku tidak ikut! Lagi pula aku ini seorang Hunter, aku
sudah menerima pelajaran dasar tentang penyelidikan reruntuhan seperti ini.
Jadi, sudah diputuskan──"
"Tunggu, kalau begitu aku juga──"
"Aku ikut!"
Yurishia-san dan Lise-san menawarkan diri, tapi aku
menggelengkan kepala.
"Maaf, meski Mire-san terpaksa ikut, biarkan kami
berdua saja yang pergi. Ayah memberiku obat sebagai jaga-jaga jika aku
menyelidiki sisi seberang. Ini obat untuk menetralkan Miasma yang masuk
ke dalam tubuh. Ayah bilang dia sendiri tidak melangkah lebih jauh karena Miasma-nya
jauh lebih pekat dari biasanya. Kalung yang dipakai aku atau Mire-san saja
tidak akan sanggup menahannya. Dan obat ini menggunakan bahan yang sangat
langka, Ayah hanya bisa menyiapkan dua botol saja."
Aku menjelaskan sambil mengeluarkan botol kecil.
"Kalau begitu, biar Mire dan aku yang──"
"Yurishia-san, jika di depan sana ada perangkat
yang berkaitan dengan Miasma, apakah Anda bisa memperbaikinya?"
"Itu…… tidak, aku tidak bisa."
Yurishia-san hampir tidak pernah menggunakan alat sihir. Lise-san
pun, meski pernah belajar di tempat Nona Ophelia, Nona Ophelia sendiri jarang
berurusan dengan alat sihir.
Aku pun bukan ahli alat sihir.
Namun, setidaknya aku punya sedikit pengetahuan.
Di sini, hanya aku yang bisa bergerak.
"Mire-san, meskipun aku tidak bisa diandalkan,
maukah kau ikut bersamaku?"
"Tenang saja, aku pasti akan melindungi Kuruto."
"Maaf ya, aku selalu saja dilindungi."
"Enggak kok, Kuruto sudah cukup sering melindungiku
sampai sekarang."
Mire-san tersenyum.
Seingatku, aku tidak merasa pernah melindungi Mire-san
seperti itu.
Tapi, benar juga. Tidak boleh terus-menerus
dilindungi.
Kali ini giliranku melindungi Mire-san.
"Kuruto, sebelum pergi, kemari sebentar."
Sambil berkata begitu, Yurishia-san membawaku kembali ke
aula tempat Yamata no Orochi dikalahkan tadi.
"Tanam potongan dahan Nietzsche di sini. Jika
terjadi sesuatu padamu dan kamu tidak bisa kembali ke sini, kita butuh sarana
untuk berkomunikasi. Untungnya, berkat lubang besar yang dibuat Hildegard di
langit-langit, ada sedikit sinar matahari yang masuk. Untuk Roh Agung sekelas
Nietzsche, cahaya itu sudah cukup untuk berfotosintesis."
Sarana komunikasi?!
Benar juga, Yurishia-san benar. Aku benar-benar
melupakannya.
"Tapi, bukankah lebih baik dipasang di luar saja
daripada di sini?"
"Meskipun ada penghalang anti-penyusup di luar,
mungkin saja ada orang bodoh yang masuk lewat lubang di langit-langit, atau
mungkin ada keanehan pada penghalang penahan Miasma. Dalam keadaan
darurat seperti itu pun, Nietzsche akan menjadi yang pertama
menyadarinya."
Luar biasa Yurishia-san. Pikirannya sangat tajam.
Setelah mendapat izin dari Hiiragi-san, aku menanam dahan
Nietzsche-san.
Berkat pupuk kotoran naga yang selalu kubawa, dahan itu
segera tumbuh menjadi pohon dewasa, dan Nietzsche-san muncul dalam wujud
rohnya.
Begitu dijelaskan situasinya, Nietzsche-san segera
mengerti dan menyuruh kami menyerahkan sisanya padanya.
◆◇◆
Kami melewati penghalang dan terus melangkah masuk.
Miasma-nya sangat pekat.
Namun, tidak sampai tahap termaterialisasi menjadi
monster seperti di Pegunungan Scene.
Mungkin karena penghalangnya sempat rusak dan Miasma-nya
terus bocor keluar, hal itu justru membawa keuntungan tersendiri.
"Kuruto, obat yang kamu bilang tadi, bukannya
sudah waktunya diminum?"
"Maaf,
Mire-san. Cerita tadi itu bohong. Miasma di sini memang pekat, tapi
kalung kita berdua sudah lebih dari cukup untuk menahannya."
"Eh?
Kenapa kamu berbohong? Apa untuk melindungi Yurishia-san dan Lise-san?"
"Bukan,
bukan itu. Jika aku yang dulu mungkin akan berpikir begitu, tapi aku yang
sekarang…… meski ini terdengar seperti orang jahat, aku sudah punya kesiapan
mental untuk melibatkan mereka berdua."
Jika tidak, aku tidak akan membawa mereka pergi ke Dunia
Lama bersamaku.
"Lalu kenapa?"
"Desa Haste tempat tinggalku dulu sering
berpindah-pindah ke seluruh dunia. Sepertinya, jika ada sumber Miasma
seperti ini, mereka akan menanganinya dengan cara menyegel atau memasang
penghalang. Pekerjaan itu tidak diajarkan sebelum dewasa, jadi aku baru
mengetahuinya belakangan ini."
Karena itulah, aku yakin bukan kebetulan kami membangun
desa di Pegunungan Scene, atau Ayah dan Ibu dulu tinggal di Negara Yamato.
Namun, tidak ada satu pun orang di desa yang tahu alasan
mengapa mereka memulai hal itu.
Awalnya, aku berpikir mereka melakukannya karena tidak
tega membiarkan orang yang sedang kesulitan.
Tapi, penduduk desa kami tidak pandai bertarung, dan
tidak memiliki bakat yang sangat menonjol.
Kalau begitu, daripada kami repot-repot mencari sumber Miasma,
bukankah lebih baik menyerahkannya pada orang lain saja?
"Aku berpikir…… mungkinkah ini adalah sebuah
penebusan dosa?"
"Penebusan dosa?"
"Aku berpikir jangan-jangan leluhur kami pernah
melakukan kesalahan besar, dan sebagai penebusannya, kami berkeliling
dunia──dan penyebabnya berkaitan dengan sumber Miasma ini."
"Tapi, seandainya dugaan Kuruto benar, kenapa Kuruto
yang harus merasa bertanggung jawab? Yang bersalah bukan Kuruto, kan."
"Benar juga. Tapi, aku merasa kami sedang menerima
balasannya. Penduduk Desa Haste sulit memiliki anak, dan
persalinan memberikan beban yang sangat berat pada sang ibu. Selain
itu, terkadang kami kehilangan kesadaran dan ingatan secara tiba-tiba. Aku
sempat mengira itu penyakit endemik, tapi saat pergi ke tempat lain, aku tidak
pernah mendengar ada penyakit seperti itu……"
Ucapku sambil terus melangkah di tengah Miasma.
"Aku berpikir jangan-jangan ini adalah sebuah
kutukan."
Itu hanyalah dugaanku saja. Bisa jadi cuma salah paham.
Tapi, bisa jadi juga itu benar.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat aku menikah
dengan Yurishia-san dan Lise-san nanti.
Bagaimana jika mereka hamil?
Katanya saat aku lahir, Ibu hampir saja meninggal.
Jika gara-gara aku sesuatu terjadi pada mereka berdua……
Jika memungkinkan, aku ingin menyelesaikannya sebelum
menikah dengan mereka. Aku ingin melepaskan kutukan yang membelenggu kami.
Demi hal itu juga──
"Aku ingin mencari asal-usulku. Tapi, aku belum
ingin Yurishia-san dan Lise-san mengetahuinya."
"……Kuruto."
"Maaf ya, Mire-san jadi terseret dalam permintaan
egoku ini. Padahal akan lebih aman jika ada Yurishia-san dan Lise-san."
Haa, setelah mengatakan hal ini, Mire-san pasti akan
merasa jengah denganku.
Atau mungkin dia akan marah? Karena aku memaksanya
mengikuti keinginanku yang egois ini.
Begitulah yang kupikirkan, namun──
"Enggak kok, aku malah senang. Aku ingin tahu kenapa
aku ada di dunia sana. Kuruto ingin tahu kenapa kampung halamannya mudah
terkena penyakit aneh. Kita ini kawan seperjuangan yang mencari asal-usul,
ya."
Mire-san berkata sambil tertawa.
"Iya!"
Kawan seperjuangan mencari asal-usul, ya. Mendengarnya
membuatku sedikit senang.
Kami terus melaju hingga ke dasar gua. Di sana, aku
menemukan sebuah perangkat raksasa.
"Apa ini?"
"Sepertinya ini perangkat pemindah yang sama
dengan yang tadi. Safety Lock-nya tidak terpasang, tapi──hmm, rusak,
ya."
Sepertinya penyebabnya adalah benturan keras dari
luar.
Jika diperhatikan baik-baik, sebagian perangkatnya
tampak penyok. Aku membuka penutup pemeliharaan dan melihat ke dalamnya.
"Sepertinya pernah ada upaya perbaikan. Dugaan
kutu, sang putri yang menghilang dari desa mungkin mencoba memperbaikinya di
tengah ritual. Tapi karena dia melakukan perbaikan tanpa mematikan saklar
perangkat, alat ini aktif dalam kondisi setengah jadi…… dan akhirnya, entah ke
mana, dia terlempar ke sisi seberang."
"……Kenapa leluhurku melakukan hal semacam itu?"
Apakah leluhur Mire-san tahu apa yang ada di balik
perangkat pemindah ini?
Aku mematikan perangkat pemindah itu sejenak dan mencoba
memperbaikinya.
Setelah diperiksa kembali, sepertinya perbaikannya cukup
mudah. Aku mengeluarkan peralatan perbaikan dari kantongku.
Begitu ya, bagian ini terlepas karena termakan usia.
Tapi sebenarnya ini perangkat dari puluhan ribu tahun
yang lalu, ya?
Sambil memikirkan hal itu, aku menyelesaikannya dengan
cepat.
──Sip, kurasa ini tidak akan rusak selama sepuluh ribu
tahun ke depan.
Begitu dinyalakan kembali, alat itu beroperasi dengan
lancar.
"Dengan ini kita bisa berpindah ke
seberang."
"Aman? Begitu pindah, kita tidak akan terjebak
dan tidak bisa kembali, kan?"
"Iya, jika perangkat di tujuan rusak, perangkat
semacam ini sejak awal tidak akan bisa aktif. Kita bisa
kembali lagi melalui perangkat di sana."
"Jadi, apakah ujung dari perangkat pemindah ini
adalah dunia kami?"
"Kurasa tidak. Dengan output perangkat
pemindah ini, tidak mungkin bisa melakukan perpindahan lintas dimensi."
Untuk berpindah ke dunia lain dibutuhkan energi yang luar
biasa besar.
Jika ada kekuatan Akuri──sang Roh Agung Ruang dan
Waktu──mungkin perpindahan bisa dilakukan meski dengan output segini,
tapi jika tidak, batas terjauhnya hanyalah suatu tempat di dunia ini.
Karena itu, jika ingin mencari penyebab sang putri bisa
sampai ke Dunia Lama, kami harus pergi ke depan.
"Aku akan pergi duluan. Jika terasa berbahaya, aku
akan segera kembali."
Saat aku hendak menggunakan perangkat pemindah
tersebut──
"Apa-apaan sih, padahal tidak bisa bertarung. Kita pergi berdua."
Sambil berkata begitu, Mire-san menyambar lenganku.
Lalu, kami berdua pun berpindah.
◆◇◆
Tempat tujuannya ternyata juga berupa gua.
"Ugh, di sini Miasma-nya jauh lebih
pekat."
Berkat kalung, setidaknya aku tidak mati, tapi
rasanya agak sesak. Kondisi tubuhku sepertinya akan sedikit menurun.
"Mire-san, minumlah ini. Obat dari Ayah untuk
menetralkan Miasma untuk sementara."
"Obat
itu beneran ada, ya."
Kami
berdua meminum obat itu.
Sip, dengan begini sepertinya aman. Aku mengamati
sekeliling gua.
"Tidak ada apa-apa, ya. Aku
juga tidak merasakan hawa monster."
"Iya. Mari kita ke dalam."
Kami melangkah ke bagian dalam gua.
……Aneh.
Sang putri datang ke sini sekitar seratus tahun yang
lalu. Sejak saat itu tidak ada kabar ada orang lain yang hilang dari desa, jadi
seharusnya tidak ada orang yang datang ke sini.
Tapi jika dilihat dari tumpukan debunya, meski
sepertinya sudah tidak digunakan selama beberapa bulan terakhir, rasanya tempat
ini digunakan secara rutin sampai setahun yang lalu──begitulah kesannya.
Semakin kami maju, Miasma-nya semakin pekat, dan
di tengah jalan ada sebuah persimpangan.
Satu arah menuju tempat di mana Miasma-nya semakin
pekat.
Satu arah menuju tempat di mana Miasma-nya semakin
menipis.
Selagi efek obat masih ada, kami harus menuju ke arah di
mana Miasma-nya semakin pekat.
Berpikir demikian, kami melangkah ke arah tersebut hingga
akhirnya sampai di jalan buntu yang berisi perangkat pemindah lainnya.
Perangkat pemindah yang ini terlihat jauh lebih kompleks
dan memiliki output yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan ini,
mungkinkah──
"Lho?"
"Ada apa, Kuruto?"
"Ada buku di sini."
Di celah dinding batu gua, terselip sebuah buku yang
tersembunyi.
"Wah, sudah hancur──ini kalau dibuka lembarannya
bisa langsung rontok, kan?"
Miasma memiliki kekuatan untuk membusukkan
benda-benda, sepertinya buku ini menjadi rapuh karena terpapar terus-menerus.
"Tidak apa-apa."
Menggunakan metode yang sama saat aku mengembalikan surat
Danzo-san yang sudah jadi abu, aku mengembalikan buku itu ke kondisi baru.
Setelah kembali ke bentuk semula, ternyata ini bukan buku
biasa melainkan sebuah catatan.
Catatan tulisan tangan…… mungkinkah ini──
"Ini sepertinya catatan milik sang putri yang
menghilang itu."
"Milik
leluhurku?!"
"Iya.
Mire-san, cobalah membacanya."
"E-eh,
iya."
Mire-san
membaca catatan itu dengan saksama.
"Sepertinya
dia menyelidiki tentang mekanisme perangkat ini. Leluhurku menulis bahwa dia
diajari bahwa perangkat ini adalah alat untuk mengirim Miasma ke dunia
lain."
"Oleh
siapa?"
"Oleh
pria yang mengaku sebagai Paus dari negeri asing──katanya."
"Paus?!"
Paus yang dimaksud pasti Paus dari Gereja Poran, kan? Sosok yang dulunya adalah sang Demon God King.
Orang itulah yang menjelaskan cara penggunaan
perangkat ini kepada sang putri?
"Sisanya tertulis tentang cara penggunaan alat,
cara perbaikan, dan banyak lagi…… Kuruto, tolong bacakan. Aku tidak mengerti
setengahnya pun."
"Apakah tidak apa-apa?"
"Aku ini cucu atau cicit dari sang putri pemilik
catatan ini, jadi tidak ada masalah."
Kalau begitu, baiklah. Aku menerima catatan itu.
Isinya tidak menuliskan hal-hal yang terlalu sulit.
Seperti yang dikatakannya, isinya menjelaskan tentang perangkat dan metode
perbaikan.
"Ternyata justru sebaliknya."
"Sebaliknya gimana?"
"Kita selama ini mengira bahwa Miasma keluar
dari sini, tapi ternyata bukan. Perangkat ini justru untuk mengumpulkan Miasma
di sini dan memprosesnya."
"Memproses?! Maksudnya bisa menghilangkan energi
jahat?!"
"Bukan, tepatnya──"
Tepat saat aku hendak menjelaskan, Mire-san tiba-tiba
menoleh ke belakang.
"Ada a──"
"Sst, pelankan suaramu. Seseorang
datang ke sini."
"Eh? Monster menyelinap masuk?"
"Bukan, dia benar-benar menghilangkan suara
langkah kakinya. Meski ada jenis monster liar yang berjalan seperti itu,
kebiasaan ini kurasa milik manusia."
"Ada orang? Di tempat dengan Miasma
sepekat ini?"
Apakah orang yang menggunakan gua ini sampai beberapa
bulan yang lalu?
"……Kuruto, dilihat dari caranya menghilangkan
hawa keberadaan, kurasa levelnya di atas aku. Jika dia berniat bertarung, kita
gunakan perangkat pemindah ini."
"……Tapi."
Perangkat pemindah ini kemungkinan besar terhubung ke
Dunia Lama. Namun, letaknya di mana masih belum pasti.
"Jika leluhurku berpindah dari sini, kurasa
tempat tujuannya dekat dengan Sektor Pemukiman ke-121 atau ke-536. Dan jika
kita sudah menanam Nietzsche-san dan bisa menghubungi Akuri-chan, mereka bisa
menjemput kita dengan Teleport, kan?"
"……Iya, aku mengerti."
Suara langkah kakinya tidak terdengar, tapi aku
percaya pada Mire-san dan menahan napas.
Lalu pada detik berikutnya, sebuah bayangan manusia
muncul dengan santainya.
"Lho? Kok ada Kuru di sini ya?"
"Eh?! Kenapa──?!"
Yang muncul adalah mantan anggota party 'Fangs of
the Flame Dragon' tempatku dulu bernaung, seorang Ranger yang juga
merupakan murid dari Akuri──Bandana-san.
Mungkin karena Miasma-nya terasa menyesakkan, ia
melilitkan bandana yang biasanya ada di kepala untuk menutupi mulutnya.
Melihat sosoknya,
Mire-san tampak kebingungan.
"Siapa?"
"Dia ini Bandana-san. Anu—"
"Penjelasannya agak ribet, sih, tapi singkatnya, aku
temannya Kuru. Terus, Nona kecil ini siapa? Dilihat dari pakaiannya, sepertinya
kamu orang asing, ya?"
Ah, aku baru ingat kalau sekarang Mire-san sedang memakai
pakaian dari Negara Yamato.
"Salam
kenal, namaku Mire.... Orang asing?"
"Bandana-san, sebenarnya ini di mana?"
"....? Ini di Tambang Macramuliah, Kekaisaran Poran,
lho."
Eeeeeeeeeeeeeeeh?!
Apa kami baru saja berpindah sejauh itu?
"Ah, Kuru. Aku ingin dengar ceritanya, tapi sebelum
itu, bisa kita keluar dulu? Di sini Miasma-nya pekat banget. Kok kalian
bisa santai-santai saja, sih?"
"Berkat obat yang dibuat Ayah, kami jadi tidak
apa-apa. Tapi, bisa tunggu sebentar? Aku mau memperbaiki perangkat ini
dulu."
"Eh? Benda itu rusak?"
"Sepertinya, perangkat ini berfungsi mengumpulkan Miasma
yang bocor dari Dunia Lama ke dunia ini, lalu mengirimnya kembali ke sana.
Sekarang fungsi penarik dan pemindahnya rusak, makanya Miasma jadi
menumpuk di dalam gua ini."
"Jadi itu maksudnya 'menghilangkan Miasma',
ya."
Mire-san
berucap dengan nada kecewa.
Kalau
saja Miasma bisa benar-benar dimusnahkan, Dunia Lama pasti akan jadi
tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali.
Perbaikan perangkatnya ternyata cukup mudah.
Begitu mesinnya dijalankan, Miasma di sekitar
perlahan mulai menipis.
Pasti semuanya sedang dikirim kembali ke Dunia Lama.
"Fuuuh, selamat, deh."
Bandana-san melepas masker yang menutupi mulutnya, lalu
melilitkannya kembali ke kepala.
Kami pun akhirnya melangkah keluar dari tambang. Setelah
berjalan beberapa saat, di dalam pondok penambang yang ada di depan sana—
"Papa?!"
"Akuri?!"
Akuri sedang duduk manis di kursi sambil meminum jus
jeruk.
Ia melompat turun dari kursi dan berlari ke arahku.
"Kenapa Papa ada di sini?! Bukannya Papa pergi ke
Negara Yamato?! Aku senang Mire-san selamat, tapi di mana Mama dan Paman
Danzo?"
"Mereka bertiga masih di Negara Yamato. Ternyata di sana ada perangkat pemindah yang terhubung ke dalam tambang
ini."
Aku menjelaskan singkat kejadian yang menimpa kami,
sambil memperlihatkan catatan sang Putri kepada Akuri dan Bandana-san.
Melihat itu, Bandana-san mengernyitkan dahi.
"Paus memberikan cara memperbaiki perangkat
ini—tapi kenapa dia sendiri tidak memperbaikinya, ya?"
"Mungkin karena Paus ingin orang-orang di dunia ini
memiliki kekuatan untuk melawan Monster Tabu? Karena itulah dia berdiri sebagai
Raja Dewa Iblis di hadapan manusia, dan memanggil Monster Tabu ke Pegunungan
Scene."
Akuri menyahuti Bandana-san.
Ekspresi saat ia berbicara dengannya bukan lagi seperti
Akuri putri kami, melainkan sosok Maha Penyihir yang dikagumi Bandana-san.
Meski begitu, apa itu benar-benar niat sang Paus?
Memberitahu cara perbaikannya, tapi ingin perbaikan itu
dilakukan oleh tangan manusia sendiri.
"Begitu ya.... Yamata no Orochi yang dibilang Kuruto
itu, mungkin saja berpindah ke sana lewat sini saat masih kecil, sebelum
alatnya rusak. Dulu memang ada laporan penampakan di sekitar sini, dan kaum
Naga memang tahan terhadap Miasma. Lalu dia bersembunyi di suatu tempat
sampai tumbuh besar."
Begitulah spekulasi Bandana-san.
Memang benar, gua di seberang sana sangat terjal dan
punya banyak tempat untuk bersembunyi.
Jangan-jangan, yang merusak perangkat pemindah itu juga
Yamata no Orochi saat masih kecil.
"Lalu, kenapa Akuri dan Bandana-san ada di sini?
Kalau di Kekaisaran Poran, aku tidak heran melihat Kardinal Bandana, tapi
tambang kosong begini bukan tempat yang biasa dikunjungi seorang Kardinal,
kan?"
"Kami sedang menelusuri jejak Vivinocke dan
memeriksa dokumen. Ternyata beberapa tawanan yang ditangkap Kekaisaran Poran,
termasuk Vivinocke, dikirim ke tambang ini sebagai pekerja paksa."
"Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau ada
alat untuk mengirim Miasma ke Dunia Lama. Selain
Menara Penyihir, ada banyak menara lain untuk menyedot energi dari Dunia Lama,
mungkin salah satunya digunakan untuk ini."
Mendengar perkataan Akuri dan Bandana-san, aku
memiringkan kepala.
"Tapi, kenapa Paus mengirim para kriminal ke Dunia
Lama?"
"Kalau itu, aku tidak tahu. Mungkin kita akan paham
sesuatu jika pergi ke titik tujuannya."
Mendengar percakapan itu, aku tiba-tiba teringat sesuatu
yang ingin kutanyakan pada Bandana-san.
"Anu.... Bandana-san! Bisa kita bicara berdua
sebentar?"
"Apa? Mau nembak, ya? Yah, aku memang mau punya
istri manis seperti Kuru, tapi jadi ayah dari Maha Penyihir itu
rasanya...."
"Tolonglah."
"Ah, oke, oke. Maha Penyihir, mohon izin sebentar.
Kuru, kemari."
Bandana-san mengangguk menatap mataku, lalu membawaku ke
ruangan dalam setelah berpamitan pada Akuri.
"Jadi, ada perlu apa?"
"Bandana-san tahu tentang masa lalu, kan? Tentang
Desa Haste juga—"
"Iya. Aku sudah tahu soal Desa Haste sejak lama.
Habisnya, keberadaan Desa Haste itu sangat krusial agar Maha Penyihir bisa
terlahir.... Tentu saja, bukan cuma itu alasannya."
"Perangkat di dalam tadi.... tidak, bukan cuma itu.
Alat sihir pemindah di reruntuhan peradaban Laplace, juga perangkat di Menara
Maha Penyihir—jangan-jangan, semua itu dibuat oleh leluhurku?"
"—?! Kuru, kamu, bicara apa sih. Kamu yakin tidak
apa-apa memikirkan hal semacam itu?"
"Maksudnya 'tidak apa-apa'?"
"Ah, lupakan, lanjutkan saja. Kenapa kamu berpikir
itu buatan orang Desa Haste?"
"Alat sihir itu memiliki ciri khas pembuatnya. Dan
ciri khas itu bukan cuma milik individu, tapi juga seluruh desa. Misalnya
perangkat untuk memasang penghalang di sektor pemukiman Dunia Lama—teknologi
itu mirip dengan milik desa kami, meski terasa ada yang berbeda. Tapi, alat
sihir yang kulihat hari ini dan yang ada di Menara Penyihir, benar-benar
memiliki ciri khas buatan orang desa kami."
"Ah.... yah, begitulah. Sebenarnya saat migrasi ke
dunia ini, penduduk Desa Haste sempat ikut membantu sedikit—yah, sebenarnya
hampir semuanya, sih."
Kalimat terakhirnya tidak terdengar jelas, tapi tetap
saja ada yang mengganjal di hatiku.
"Lalu, kenapa mereka mau membantu?"
"Kenapa, ya? Ya karena aku yang minta, lah! Aku
tanya, 'Bisa bantu tidak?', terus orang-orang Desa Haste jawab, 'Oke~', lalu
mereka membantu dengan senang hati."
"Cuma itu?"
"Iya, cuma itu."
Bandana-san tampak heran, tapi aku masih merasa ada yang
tidak beres.
"Padahal teknologi desa kami tidak seberapa, kenapa
mereka dilibatkan dalam pekerjaan sepenting itu?"
"Kuru pun kalau lihat orang susah pasti menolong,
kan? Sama saja. Karena aku sedang kesusahan, mereka menolongku. Sesederhana
itu."
"Begitu.... ya."
"Kenapa? Mukamu kelihatan tidak puas begitu."
"Tidak, aku hanya berpikir.... mungkin ada
hubungannya antara penyakit endemik kami dengan alasan penduduk Desa Haste mau
membantu."
Mendengar
itu, mata Bandana-san membelalak.
"Ah, kalau itu.... maaf, aku sendiri tidak tahu.
Tapi, mungkin ada cara untuk mengetahuinya."
"Benarkah?!"
"Kuru, apa kamu punya peta Dunia Lama?"
"Iya, ini kan?"
Aku mengeluarkan peta dari kantong. Bandana-san menunjuk
ke satu titik di peta itu.
"Ini adalah negara asalku. Di perpustakaan besarnya,
ada ruang arsip terlarang yang hanya boleh dimasuki oleh Paus dari generasi ke
generasi. Mungkin di sana kamu bisa menemukan penyebab penyakit endemik Desa Haste."
"Di sini?"
"Iya. Golnova dan Marlefiss sekarang sedang hilang
di Dunia Lama, tapi kalau mereka sudah ketemu, rencananya mereka akan
berkeliling Dunia Lama. Karena mereka pasti akan lewat daerah sini, kamu bisa
minta mereka mampir ke perpustakaan besar untuk mencari dokumen tentang Desa Haste.
Jadi, sekarang fokuslah mencari mereka berdua dulu."
"Baiklah."
Aku menatap peta itu lekat-lekat.
Titik yang ditunjuk Bandana-san berada di benua lain,
berbeda dengan tempat Mire-san dulu berada.
Untuk menyeberang ke sana, kami butuh kapal.
Di atas laut, aku tidak bisa menanam Nietzsche-san.
Bahkan jika aku menanamnya di kapal yang diberi
tanah, dia tidak bisa berpindah jika jalurnya tidak terhubung dengan urat bumi.
Sepertinya mustahil pergi ke sana sendirian.
Aku melipat kembali petanya.
"Sudah paham?"
"Iya."
"Kalau begitu, ayo balik. Ah, tapi untuk kembali
ke tempat alat pemindah tadi, kita butuh satu lagi alat sihir penangkal Miasma.
Kuru punya?"
"Ah, kalau itu tidak masalah."
Aku menanam dahan Nietzsche-san di samping pondok
penambang.
Lalu, menggunakan kekuatan Akuri, kami berempat
berpindah kembali ke gua tempat Yamata no Orochi berada.
"Akuri?!"
"Terus kenapa Bandana juga ikut?! Sebenarnya ada apa
di dalam sana?"
Lise-san dan Yuri-san tampak terkejut.
Sepertinya aku harus menjelaskan lagi, ya. Kalau bergerak
terpisah begini, penjelasannya memang jadi repot.
Aku menjelaskan kepada semuanya tentang perangkat
yang ada di bagian dalam. Lalu, aku menyampaikan fungsi asli gua ini dan
spekulasi dari Akuri.
"Jadi begitu ceritanya, ya."
"Artinya, Miasma di sekitar sini akan
dikirim ke dunia lain secara bertahap?"
Hiiragi-san bertanya untuk memastikan.
"Iya. Kurasa Miasma di daerah ini akan
menghilang sedikit demi sedikit."
Wajah para ninja tampak berseri-seri. Aku senang bisa
membantu mereka.
Setelah ini, kalau kami bisa mengetahui keadaan Dunia
Lama lewat perangkat pemindah di dasar Tambang Macramuliah, semuanya akan
selesai, kan?
"Semuanya, boleh minta perhatiannya sebentar?"
Ucap Nietzsche-san.
"Ada sesuatu yang sedang menuju ke arah gua
ini."
"Sesuatu
itu—"
"Bentuknya
mirip Treant, tapi berbeda."
Mirip
Treant tapi berbeda.... jangan-jangan itu—
Pohon
Berwajah Manusia?!
Eh? Tapi bukannya pembersihan sudah selesai, jadi mereka
tidak akan kemari untuk sementara waktu?!
Pokoknya, kami segera keluar.
Dan di sana, pemandangan yang kami lihat adalah—
"Hutannya bergerak."
"Jangan-jangan, itu semua adalah Pohon Berwajah
Manusia?!"
Bahkan bagi aku yang ahli menebang pohon pun, sepertinya
menebang sebanyak itu akan terasa sedikit melelahkan.



Post a Comment