Epilog
"Baru seminggu ya, sejak saat itu."
Merasakan waktu yang berlalu seolah-olah jauh lebih lama,
aku──Kuruto Rockhans──bergumam pelan.
Satu minggu telah berlalu sejak musnahnya Spirit Eater.
Berkat satu hantaman tongkat Marlefiss-san, Spirit
Eater hancur berantakan, dan para roh yang terperangkap di dalamnya pun
terbebas seketika.
Meskipun kami hampir tidak bisa melihat wujud para roh,
sepertinya ada banyak sekali roh yang selama ini tertelan. Tempat di mana Spirit
Eater berada memancarkan cahaya redup yang sangat indah.
Pemandangan saat cahaya itu memenuhi lorong tambang
benar-benar terasa fantastis.
Dalam seminggu ini, perbaikan perangkat penghalang di
pemukiman sekitar Distrik Pemukiman ke-77 telah selesai.
Berkat para roh yang telah bebas, aku merasa tanah di
sekitarnya perlahan mulai kembali mendapatkan vitalitasnya.
Lalu, di sepanjang jalan setapak dan area di sekitar
pemukiman tersebut, Pohon Wajah Manusia telah disiagakan untuk memurnikan
energi jahat.
Pengiriman logistik antar-pemukiman yang sebelumnya
sangat bergantung pada karavan pengangkut, kini mulai bisa dijalankan di bawah
instruksi kepala distrik.
Tentu saja, karena Pohon Wajah Manusia saja tidak cukup
untuk melawan monster atau makhluk tabu, orang-orang masih belum bisa bergerak
bebas. Meski begitu, setidaknya kehidupan penduduk akan menjadi sedikit lebih
sejahtera.
Dan, waktunya bagiku──Kuruto──untuk berangkat pun tiba.
Aku tidak bisa terus berada di sini selamanya.
Meskipun memastikan keselamatan Marlefiss-san adalah
pencapaian besar, keberadaan Golnova-san masih belum diketahui.
"Marlefiss-san akan tetap tinggal di sini,
kan?"
"Iya, tentu saja. Dunia ini memiliki jauh lebih
banyak penduduk daripada yang kita duga."
"Seandainya nanti mereka harus bermigrasi ke
dunia sana, mendapatkan kepercayaan penduduk sangatlah penting. Saat itulah
gelar Saint akan sangat berguna."
"Marlefiss-san!? Jadi Anda memikirkan hal itu
sampai sejauh itu!?"
"Tentu saja. Lalu, aku sudah menceritakan kalau
saat aku sadar, Golnova sudah tidak ada dan aku diselamatkan oleh Bookman,
kan?"
"Mengenai hal itu, tadi malam aku sedikit
teringat tentang apa yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaran."
"Benarkah!?"
Marlefiss-san mengangguk pelan.
Dengan ini, mungkin aku bisa mendapatkan sedikit petunjuk
ke mana Golnova-san pergi.
"Kami diserang secara mendadak oleh seseorang
yang mengenakan zirah hitam. Seluruh tubuhnya tertutup zirah, sehingga
penampilan maupun jenis kelaminnya tidak diketahui."
"Hanya dengan satu ayunan pedangnya, Golnova
langsung tumbang."
"Hanya dengan satu serangan!? Padahal biar
begitu, Golnova punya kemampuan yang hebat meski kepribadiannya
bermasalah."
"Benar. Walaupun sifatnya buruk, Pedang Api
miliknya sudah disesuaikan oleh Kuruto-sama, jadi dia seharusnya memiliki
kekuatan setara petualang peringkat S."
Mendengar perkataan Yurishia-san dan Lise-san, Marlefiss-san
mengangguk dengan ekspresi serius.
"Begitulah. Bahkan Golnova yang bermasalah itu
saja bisa dikalahkan dalam satu serangan. Aku sendiri ikut tumbang terkena
dampak serangannya."
"Setelah itu, orang tersebut memanggul Golnova
dan pergi."
Tak disangka hal seperti itu terjadi.
Sebenarnya apa tujuan mereka menculik Golnova-san?
Tapi, fakta bahwa dia dipanggul berarti tujuannya
bukan untuk membunuh.
Jika begitu, ada kemungkinan Golnova-san masih hidup.
Orang yang mengenakan zirah hitam di sekujur tubuh
rasanya cukup langka.
Jika menjadikannya sebagai petunjuk, mencari informasi
pasti akan lebih mudah.
Aku pun mengucapkan terima kasih kepada Marlefiss-san
karena telah mengingat hal itu.
"Terima
kasih banyak, Marlefiss-san."
"Sosok
berzirah itu jelas sangat berbahaya. Jika bisa, aku tidak ingin kamu terlibat
dengannya, tapi kamu akan tetap mencari Golnova, kan?"
"Iya. Itu adalah permintaan dari Bandana-san, dan
meskipun bukan permintaan pun, aku tetap ingin mencarinya."
"Aku hanyalah seorang pesuruh yang selalu merepotkan
semua orang, sih."
Pada akhirnya, hal yang bisa kulakukan hanyalah
menyiapkan makanan dan merawat peralatan.
Urusan bertarung kuserahkan pada Yurishia-san, negosiasi
dengan penduduk pemukiman pada Lise-san, dan transportasi teleportasi pada Akuri.
Jika harus bertarung dengan orang berzirah hitam itu, Yurishia-san
lah yang akan berdiri di garis depan.
Aku merasa bersalah karena telah menyeret semua orang
dalam keegoisanku.
"Kuruto Rockhans. Kamu bukan sekadar seorang
pesuruh."
"Eh?"
Ini pertama kalinya Marlefiss-san memanggil nama
lengkapku.
"Karena kamu adalah mantan pesuruh dari party
pahlawan, bertindaklah dengan sedikit lebih percaya diri. Dengan begitu, kamu
akan terlihat sedikit lebih mendingan."
Marlefiss-san mengatakan itu padaku sembari
menyunggingkan senyum yang lembut.
Mantan pesuruh dari party pahlawan.
Benar juga, aku pun awalnya adalah anggota dari Dragon
Fang.
Aku tidak boleh mencoreng nama itu.
"Papa kelihatan senang. Syukurlah."
"Tumben sekali Marlefiss bicara hal yang
benar."
"Padahal biasanya dia cuma bicara hal-hal yang tidak
perlu."
"Berisik sekali, ya. Itu tadi cuma sekadar iseng
saja."
"Kuruto, sebelum berangkat, ada satu makanan yang
ingin aku buatkan."
"Baik! Apa itu keju? Kalau keju, aku sudah
menyiapkan cukup banyak. Ada juga keju asap spesial buatan Ayah, lho."
Bukan hanya keju, aku juga meminta bantuan untuk
mendapatkan sekitar lima puluh barel anggur agar bisa kuberikan pada Marlefiss-san
saat dia kembali ke Desa Haste nanti.
Saat aku bilang ingin memberikannya pada orang yang telah
membantuku, mereka bilang aku boleh membawa seribu barel sekalipun...
Tapi aku menolak karena takut Marlefiss-san malah akan
terus minum anggur dan jatuh sakit.
"Bukan. Aku juga akan menerima itu, tapi hari ini
aku ingin makan onigiri buatanmu."
Tentu saja aku tidak punya alasan untuk menolak
permintaan Marlefiss-san.
Sebaliknya, aku justru mulai berpikir keras tentang isian
apa yang akan kumasukkan ke dalam onigiri itu nanti.
◇ ◆ ◇ ◆ ◇
Di Mimiko Cafe, aku──Mimiko──menangkap selembar kertas
yang jatuh dari langit-langit tepat di udara.
Itu adalah laporan bahwa Lise-sama dan yang lainnya telah
berhasil mengalahkan Spirit Eater dengan selamat.
Aku mengembuskan napas lega.
Ada Yurishia-chan bersama mereka, dan Akuri-chan juga
bisa diandalkan.
Apalagi Kuruto-chan, dia sudah berada di level yang
melampaui imajinasiku.
Meskipun aku tahu hal buruk jarang terjadi pada mereka,
tetap saja aku merasa tenang setelah mendengar kabar keselamatan mereka.
Bagaimanapun, Lise-sama adalah anak satu-satunya dari
Francoise-sama.
Francoise-sama adalah penyelamat yang menarikku keluar
dari kegelapan saat aku hanya mengenal darah dan pembantaian. Beliau adalah
segalanya bagiku.
Karena ada beliaulah, sosokku yang sekarang bisa ada.
Jika aku tidak bertemu dengannya, mungkin saat ini aku
masih berada di dunia yang bersinggungan dengan kematian, atau mungkin sudah
tidak ada lagi di dunia ini.
Aku menuangkan teh untuk tiga orang ke dalam cangkir dan
meletakkannya di meja.
"Jadi,
Michelle-chan. Bagaimana hasilnya di Dunia Lama?"
"Iya. Sesuai perintah Mimiko-sama, saya sudah
memasang penanda pada beberapa roh."
"Roh Mikro yang memakan kue buatan Kuruto-san kini
sudah bisa bergerak lincah setara Roh Tingkat Rendah."
"Jika mereka naik ke dunia ini, kita bisa segera
menemukannya. Aduh, panas."
"Terima kasih, Michelle-chan."
Aku mengucapkan terima kasih pada Michelle-chan yang
membuka mulutnya untuk mendinginkan lidah karena tehnya yang terlalu panas.
"Apa tidak apa-apa? Tidak mengatakan apa pun pada Lise
dan yang lainnya."
Ophelia-chan menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Lise-sama dan yang lainnya sekarang sedang
sibuk dengan urusan mereka sendiri. Aku tidak ingin membebani mereka dengan
kekhawatiran yang tidak perlu."
Ucapku sembari melihat dokumen.
Dokumen yang ditinggalkan Francoise-sama dan
diamanahkan kepada Lise-sama.
Apa yang dilihat Lise-sama dan Akuri-chan hanyalah
sebagian dari dokumen yang beliau tinggalkan. Dokumen itu sebenarnya masih
memiliki kelanjutan.
Aku mengetahuinya, namun aku memutuskan untuk tidak
memberitahu mereka berdua.
Data roh yang disiapkan Michelle-chan, serta dokumen
peninggalan Francoise-sama.
Jika ada ini, kemungkinan besar informasi yang beliau
inginkan bisa didapatkan.
"Keinginan yang Anda tinggalkan itu──biarkan aku
yang meneruskannya, Francoise-sama."
Aku bergumam pelan sembari menyesap tehku.
Teh yang gulanya belum larut sempurna itu sama sekali tidak manis, namun aromanya terasa sangat kaya.



Post a Comment