NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 12 Epilog

Epilog


"Baru seminggu ya, sejak saat itu."

Merasakan waktu yang berlalu seolah-olah jauh lebih lama, aku──Kuruto Rockhans──bergumam pelan.

Satu minggu telah berlalu sejak musnahnya Spirit Eater.

Berkat satu hantaman tongkat Marlefiss-san, Spirit Eater hancur berantakan, dan para roh yang terperangkap di dalamnya pun terbebas seketika.

Meskipun kami hampir tidak bisa melihat wujud para roh, sepertinya ada banyak sekali roh yang selama ini tertelan. Tempat di mana Spirit Eater berada memancarkan cahaya redup yang sangat indah.

Pemandangan saat cahaya itu memenuhi lorong tambang benar-benar terasa fantastis.

Dalam seminggu ini, perbaikan perangkat penghalang di pemukiman sekitar Distrik Pemukiman ke-77 telah selesai.

Berkat para roh yang telah bebas, aku merasa tanah di sekitarnya perlahan mulai kembali mendapatkan vitalitasnya.

Lalu, di sepanjang jalan setapak dan area di sekitar pemukiman tersebut, Pohon Wajah Manusia telah disiagakan untuk memurnikan energi jahat.

Pengiriman logistik antar-pemukiman yang sebelumnya sangat bergantung pada karavan pengangkut, kini mulai bisa dijalankan di bawah instruksi kepala distrik.

Tentu saja, karena Pohon Wajah Manusia saja tidak cukup untuk melawan monster atau makhluk tabu, orang-orang masih belum bisa bergerak bebas. Meski begitu, setidaknya kehidupan penduduk akan menjadi sedikit lebih sejahtera.

Dan, waktunya bagiku──Kuruto──untuk berangkat pun tiba.

Aku tidak bisa terus berada di sini selamanya.

Meskipun memastikan keselamatan Marlefiss-san adalah pencapaian besar, keberadaan Golnova-san masih belum diketahui.

"Marlefiss-san akan tetap tinggal di sini, kan?"

"Iya, tentu saja. Dunia ini memiliki jauh lebih banyak penduduk daripada yang kita duga."

"Seandainya nanti mereka harus bermigrasi ke dunia sana, mendapatkan kepercayaan penduduk sangatlah penting. Saat itulah gelar Saint akan sangat berguna."

"Marlefiss-san!? Jadi Anda memikirkan hal itu sampai sejauh itu!?"

"Tentu saja. Lalu, aku sudah menceritakan kalau saat aku sadar, Golnova sudah tidak ada dan aku diselamatkan oleh Bookman, kan?"

"Mengenai hal itu, tadi malam aku sedikit teringat tentang apa yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaran."

"Benarkah!?"

Marlefiss-san mengangguk pelan.

Dengan ini, mungkin aku bisa mendapatkan sedikit petunjuk ke mana Golnova-san pergi.

"Kami diserang secara mendadak oleh seseorang yang mengenakan zirah hitam. Seluruh tubuhnya tertutup zirah, sehingga penampilan maupun jenis kelaminnya tidak diketahui."

"Hanya dengan satu ayunan pedangnya, Golnova langsung tumbang."

"Hanya dengan satu serangan!? Padahal biar begitu, Golnova punya kemampuan yang hebat meski kepribadiannya bermasalah."

"Benar. Walaupun sifatnya buruk, Pedang Api miliknya sudah disesuaikan oleh Kuruto-sama, jadi dia seharusnya memiliki kekuatan setara petualang peringkat S."

Mendengar perkataan Yurishia-san dan Lise-san, Marlefiss-san mengangguk dengan ekspresi serius.

"Begitulah. Bahkan Golnova yang bermasalah itu saja bisa dikalahkan dalam satu serangan. Aku sendiri ikut tumbang terkena dampak serangannya."

"Setelah itu, orang tersebut memanggul Golnova dan pergi."

Tak disangka hal seperti itu terjadi.

Sebenarnya apa tujuan mereka menculik Golnova-san?

Tapi, fakta bahwa dia dipanggul berarti tujuannya bukan untuk membunuh.

Jika begitu, ada kemungkinan Golnova-san masih hidup.

Orang yang mengenakan zirah hitam di sekujur tubuh rasanya cukup langka.

Jika menjadikannya sebagai petunjuk, mencari informasi pasti akan lebih mudah.

Aku pun mengucapkan terima kasih kepada Marlefiss-san karena telah mengingat hal itu.

"Terima kasih banyak, Marlefiss-san."

"Sosok berzirah itu jelas sangat berbahaya. Jika bisa, aku tidak ingin kamu terlibat dengannya, tapi kamu akan tetap mencari Golnova, kan?"

"Iya. Itu adalah permintaan dari Bandana-san, dan meskipun bukan permintaan pun, aku tetap ingin mencarinya."

"Aku hanyalah seorang pesuruh yang selalu merepotkan semua orang, sih."

Pada akhirnya, hal yang bisa kulakukan hanyalah menyiapkan makanan dan merawat peralatan.

Urusan bertarung kuserahkan pada Yurishia-san, negosiasi dengan penduduk pemukiman pada Lise-san, dan transportasi teleportasi pada Akuri.

Jika harus bertarung dengan orang berzirah hitam itu, Yurishia-san lah yang akan berdiri di garis depan.

Aku merasa bersalah karena telah menyeret semua orang dalam keegoisanku.

"Kuruto Rockhans. Kamu bukan sekadar seorang pesuruh."

"Eh?"

Ini pertama kalinya Marlefiss-san memanggil nama lengkapku.

"Karena kamu adalah mantan pesuruh dari party pahlawan, bertindaklah dengan sedikit lebih percaya diri. Dengan begitu, kamu akan terlihat sedikit lebih mendingan."

Marlefiss-san mengatakan itu padaku sembari menyunggingkan senyum yang lembut.

Mantan pesuruh dari party pahlawan.

Benar juga, aku pun awalnya adalah anggota dari Dragon Fang.

Aku tidak boleh mencoreng nama itu.

"Papa kelihatan senang. Syukurlah."

"Tumben sekali Marlefiss bicara hal yang benar."

"Padahal biasanya dia cuma bicara hal-hal yang tidak perlu."

"Berisik sekali, ya. Itu tadi cuma sekadar iseng saja."

"Kuruto, sebelum berangkat, ada satu makanan yang ingin aku buatkan."

"Baik! Apa itu keju? Kalau keju, aku sudah menyiapkan cukup banyak. Ada juga keju asap spesial buatan Ayah, lho."

Bukan hanya keju, aku juga meminta bantuan untuk mendapatkan sekitar lima puluh barel anggur agar bisa kuberikan pada Marlefiss-san saat dia kembali ke Desa Haste nanti.

Saat aku bilang ingin memberikannya pada orang yang telah membantuku, mereka bilang aku boleh membawa seribu barel sekalipun...

Tapi aku menolak karena takut Marlefiss-san malah akan terus minum anggur dan jatuh sakit.

"Bukan. Aku juga akan menerima itu, tapi hari ini aku ingin makan onigiri buatanmu."

Tentu saja aku tidak punya alasan untuk menolak permintaan Marlefiss-san.

Sebaliknya, aku justru mulai berpikir keras tentang isian apa yang akan kumasukkan ke dalam onigiri itu nanti.

Di Mimiko Cafe, aku──Mimiko──menangkap selembar kertas yang jatuh dari langit-langit tepat di udara.

Itu adalah laporan bahwa Lise-sama dan yang lainnya telah berhasil mengalahkan Spirit Eater dengan selamat.

Aku mengembuskan napas lega.

Ada Yurishia-chan bersama mereka, dan Akuri-chan juga bisa diandalkan.

Apalagi Kuruto-chan, dia sudah berada di level yang melampaui imajinasiku.

Meskipun aku tahu hal buruk jarang terjadi pada mereka, tetap saja aku merasa tenang setelah mendengar kabar keselamatan mereka.

Bagaimanapun, Lise-sama adalah anak satu-satunya dari Francoise-sama.

Francoise-sama adalah penyelamat yang menarikku keluar dari kegelapan saat aku hanya mengenal darah dan pembantaian. Beliau adalah segalanya bagiku.

Karena ada beliaulah, sosokku yang sekarang bisa ada.

Jika aku tidak bertemu dengannya, mungkin saat ini aku masih berada di dunia yang bersinggungan dengan kematian, atau mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Aku menuangkan teh untuk tiga orang ke dalam cangkir dan meletakkannya di meja.

"Jadi, Michelle-chan. Bagaimana hasilnya di Dunia Lama?"

"Iya. Sesuai perintah Mimiko-sama, saya sudah memasang penanda pada beberapa roh."

"Roh Mikro yang memakan kue buatan Kuruto-san kini sudah bisa bergerak lincah setara Roh Tingkat Rendah."

"Jika mereka naik ke dunia ini, kita bisa segera menemukannya. Aduh, panas."

"Terima kasih, Michelle-chan."

Aku mengucapkan terima kasih pada Michelle-chan yang membuka mulutnya untuk mendinginkan lidah karena tehnya yang terlalu panas.

"Apa tidak apa-apa? Tidak mengatakan apa pun pada Lise dan yang lainnya."

Ophelia-chan menatapku dengan tatapan penuh tanya.

"Lise-sama dan yang lainnya sekarang sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Aku tidak ingin membebani mereka dengan kekhawatiran yang tidak perlu."

Ucapku sembari melihat dokumen.

Dokumen yang ditinggalkan Francoise-sama dan diamanahkan kepada Lise-sama.

Apa yang dilihat Lise-sama dan Akuri-chan hanyalah sebagian dari dokumen yang beliau tinggalkan. Dokumen itu sebenarnya masih memiliki kelanjutan.

Aku mengetahuinya, namun aku memutuskan untuk tidak memberitahu mereka berdua.

Data roh yang disiapkan Michelle-chan, serta dokumen peninggalan Francoise-sama.

Jika ada ini, kemungkinan besar informasi yang beliau inginkan bisa didapatkan.

"Keinginan yang Anda tinggalkan itu──biarkan aku yang meneruskannya, Francoise-sama."

Aku bergumam pelan sembari menyesap tehku.

Teh yang gulanya belum larut sempurna itu sama sekali tidak manis, namun aromanya terasa sangat kaya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close