Chapter 3
Mencari
Petunjuk Sang Roh
Saat aku—Lise—pergi ke pintu depan bengkel, aku
berpapasan dengan Mimiko-san yang baru saja hendak pulang.
"Mimiko-san!
Tolong tunggu sebentar!"
"Lise-sama, juga Akuri-chan. Kalian sudah
pulang?"
"Iya! Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan
pada Mimiko-san mengenai Roh."
Aku pun menceritakan kejadian yang kulihat di Pemukiman
ke-169 di Dunia Lama—tentang fenomena hilangnya seluruh Roh di sana—kepada
Mimiko-san.
Sayangnya, di Kerajaan Homouros ini, penelitian mengenai
Roh memang jarang dilakukan. Sejak awal, manusia yang bisa mengenali Roh
sangatlah sedikit, dan dokumen pendukungnya pun tidak ada.
Mimiko-san yang sepertinya juga tidak terlalu paham
tampak mengernyitkan dahi....
"Mungkin Michelle-chan tahu sesuatu. Anak itu kan bangsa Elf."
Elf adalah ras yang memiliki afinitas tinggi dengan
Roh, dan mungkin mereka tahu lebih banyak tentang hal ini daripada kami kaum
manusia.
Mimiko-san memberikan isyarat dengan jarinya, lalu
sesosok Phantom turun dari balik loteng.
"Sampaikan pesan pada Michelle-chan. Katakan padanya
untuk datang ke bengkel sekitar malam ini."
Phantom itu mengangguk, lalu pergi kembali ke balik
loteng.
Menurutku dia bisa saja pergi lewat pintu seperti biasa,
tapi aku tidak berniat mencampuri metode pendidikan Mimiko-san.
"Lalu Mimiko-san. Satu lagi, aku ingin melihat
dokumen penelitian Ibu. Apa Kamu tahu di mana dokumen itu disimpan?"
"Dokumen penelitian Nyonya Francoise? Untuk
apa?"
"Menurut Akuri, Ibu pernah meneliti tentang Roh.
Karena beliau adalah Ibu, aku yakin beliau pasti melakukan penelitian yang
tidak diketahui publik."
"Begitu ya, Akuri-chan yang bilang."
Mimiko-san menyipitkan mata sambil menatap Akuri.
Mimiko-san pasti sudah tahu kalau Ibu adalah murid Sage
Agung—dengan kata lain, Akuri dan Ibu memiliki hubungan guru dan murid.
"Dokumen penelitian Nyonya Francoise aku yang
simpan dan kelola. Tapi, karena aku sendiri tidak tahu isinya, aku tidak
menjamin apakah dokumen yang Lise-sama inginkan ada di sana."
"Mimiko-sama sendiri belum pernah melihatnya?"
"Nyonya Francoise meninggalkan wasiat agar dokumen
itu tidak diperlihatkan kepada siapa pun sampai saatnya tiba."
Sampai saatnya tiba?
Apakah Ibu sudah tahu kalau hal seperti ini akan terjadi?
Pokoknya, mari kita pergi melihat dokumen itu. Aku,
Mimiko-san, dan Akuri menggunakan Teleportation Stone menuju ibu kota.
"Mimiko Cafe—apa dokumennya disimpan di sini?"
"Iya. Tempat ini aslinya adalah tempat persembunyian
yang dibangun Nyonya Francoise agar beliau bisa menyelinap keluar dari istana
untuk minum teh atau kopi. Sekalian juga berfungsi sebagai gudang untuk
menyimpan barang-barang mengganggu atau dokumen penelitian yang tidak bisa
diletakkan di istana."
Menyelinap keluar istana—Ibu memang luar biasa, ya.
Yah, aku yang keluar dari keluarga kerajaan demi
bertunangan dengan Kuruto-sama juga tidak dalam posisi untuk mengomentari hal
itu.
"Selamat datang kembali, Mimiko-sama. Juga Lise-sama
dan—kalau tidak salah Nyonya Akuri, putri dari Guru Kuruto, ya."
Vittel, murid Kuruto-sama sekaligus murid Mimiko-san,
membungkuk dengan hormat.
"Aku pulang, Vittel-chan. Maaf, aku sedang tidak
punya waktu luang. Lewat sini."
Mimiko-san berkata demikian sambil menuntun kami ke
ruangan di balik konter.
Ini pertama kalinya aku masuk ke sini, sepertinya ini
adalah kamar tidur Mimiko-san. Ruangannya terasa sangat manis dan lucu.
Lebih jauh lagi, di dalam lemari pakaian, terdapat tangga
yang menuju ke bawah tanah.
Mulai dari nenek Yurishia-san sampai Ibuku, sepertinya
mereka semua suka menyembunyikan dokumen rahasia di bawah tanah, ya?
Akuri tampak terkejut saat melihat ke dalam ruangan itu.
"Tertata rapi sekali, ya. Sama sekali tidak terlihat
seperti kamar Francoise."
"Waktu Nyonya Francoise masih hidup, ruangannya
berantakan sekali. Beliau akan sangat marah kalau aku membereskannya."
"Fufu, Ibu memang orang yang seperti itu, ya."
Bagiku dia adalah Ibu, bagi Mimiko-san dia adalah tuan
sekaligus teman, dan bagi Akuri dia adalah murid sekaligus cucu.
Meski posisi kami berbeda, kami semua memiliki ikatan
yang dalam dengannya. Meskipun sepertinya Ibu tidak tahu kalau Akuri adalah
cucunya sendiri.
"Ini adalah dokumen penelitian Nyonya
Francoise."
Kotak kayu itu terkunci, tapi tidak memiliki lubang
kunci.
"Lise-sama, coba tempelkan tanganmu di sini. Seharusnya kotak ini dirancang untuk terbuka dengan energi
sihirmu."
"Baiklah."
Begitu aku menempelkan tangan pada tutup kotak,
terdengar suara klik. Sepertinya kuncinya sudah terbuka.
"Tapi, kotak seperti ini kelihatannya bisa dibuka
paksa meski tanpa kunci."
"Benar. Tapi Akuri-chan, coba lihat sisi sebaliknya
dari tutup itu."
"Sisi sebaliknya?"
Akuri mengintip bagian bawah tutup kotak tersebut.
Seketika wajahnya memucat.
Aku pun ikut melihatnya. Batu merah—apakah ini kristal
sihir api? Ukurannya
cukup besar, tapi lingkaran sihir ini—jangan-jangan!?
"Explosion
Magic Circle!?"
"Jika tutupnya dibuka paksa, kotak ini akan meledak.
Benar-benar... dia harusnya memikirkan perasaanku yang tidur di sini."
Itu benar-benar tidak akan membuat siapa pun bisa
beristirahat dengan tenang.
Ngomong-ngomong, kristal sihir ini—aku merasa pernah
melihatnya di suatu tempat... ah!?
Seingatku, beberapa bulan sebelum Ibu meninggal, ada
laporan bahwa pencuri menyusup ke ruang harta dan mencuri batu delima pusaka
negara. Kalau diperhatikan baik-baik, kristal sihir ini sangat mirip dengan
batu delima itu.
"Jangan-jangan—"
"Nyonya Francoise yang mencurinya—maksudku, beliau
menyuruhku mencurinya. Saat itu aku benar-benar berpikir bahwa aku telah salah
memilih tuan untuk dilayani."
Mimiko-san menghela napas panjang. Akuri yang ada di
sampingnya juga ikut memegang kepalanya sendiri.
Sungguh, aku minta maaf. Izinkan aku meminta maaf
mewakili Ibu.
Tidak, sekarang dokumennya lebih penting. Aku
mengambil tumpukan kertas dan melihat isinya.
"Ini surat-surat—ah, milik nenek Yurishia-san,
ya."
Di rumah nenek Yuri-san pun ada surat-surat dari Ibu. Ini
pasti surat balasan yang mereka pertukarkan saat itu.
Akuri menatap surat itu dengan tatapan nostalgia.
Pasti anak ini telah berulang kali mengalami pertemuan
dan perpisahan, tidak hanya dengan Ibu atau nenek Yuri-san, tapi juga dengan
banyak murid lainnya.
Tumpukan kertas di bawah surat-surat itu—sepertinya
inilah dokumen penelitiannya. Aku mencoba membaliknya dan membaca, tapi isinya
terlalu teknis hingga aku hampir tidak bisa memahaminya.
Begitu kuberikan pada Mimiko-san dan Akuri, mereka
langsung mulai mendalami isinya.
"Akuri-chan, rumus matematika yang ini rasanya ada
yang mengganjal. Bagaimana menurutmu?"
"Di bagian sini salah. Tapi menurutku sudut
pandangnya bagus. Ditambah lagi, datanya lengkap."
"Benar. Nyonya Francoise mengumpulkan data dari
Kekaisaran Gurumak dan Kerajaan Homouros, data kedua negara ada di sini. Data
yang ini?"
"Mungkin ini data yang diterima dari Deira—nenek
Mama Yuri. Anak itu kan mengumpulkan informasi di Coskito."
"Begitu ya, makanya mereka saling berkirim
surat."
"..............."
Aku mendengarkan percakapan mereka, tapi hampir tidak
memahami isinya sama sekali. Sepertinya aku masih sangat kurang
belajar.
"Sebenarnya ini dokumen tentang apa?"
"Ini dokumen tentang aliran Roh, Mama Lise.
Mungkin berdasarkan data ini, beliau sedang menyelidiki aliran energi dari Menara
Sage."
"Apa itu bukan atas instruksi dari Akuri?"
"Bukan, aku tidak tahu alasannya, tapi
sepertinya mereka berdua menyelidikinya atas inisiatif sendiri."
Entah apa tujuannya, tapi sepertinya kami masih belum
bisa menemukan penyebab hilangnya para Roh.
◆◇◆
Aku—Yurishia—datang ke Pulau Ishisema, salah satu pulau
di Federasi Kota Kepulauan Coskito, setelah sekian lama. Tempat ini adalah
kampung halamanku.
Pulau ini masih tetap sama, seolah waktu telah berhenti
di sini. Budaya dari Negeri Yamato juga banyak diterapkan di sini.
Contohnya pintu Torii ini—di Negeri Yamato, pintu ini
dibangun sebagai pembatas ritual antara wilayah manusia dan wilayah dewa, tapi
di pulau kami, pintu ini dibangun sebagai simbol yang menunjukkan jalan bagi
para Roh.
Karena itu, kami selalu diajarkan untuk tidak berjalan di
tengah jalan yang memiliki Torii, karena bagian tengah adalah tempat lewatnya
para Roh.
Aku menundukkan kepala sekali lalu melewati Torii, menuju
ke kuil di bagian dalam. Saat aku membuka pintu, ada seorang nenek keriput
dengan tinggi sekitar seratus sepuluh sentimeter di sana.
"Geh, Si Nenek Tua."
"Hmph, sudah lama tidak pulang tapi bicaramu kasar
sekali. Kamu pikir siapa yang dulu menggantikan popokmu?"
"……Ternyata Kamu masih hidup ya."
"Aku ini masih segar bugar di usia seratus tujuh
belas tahun, tahu. Mana mungkin aku mati semudah itu."
Nenek itu tertawa hingga memperlihatkan gigi emasnya.
Seratus tujuh belas, itu usia di mana manusia normal seharusnya sudah
meninggal.
Yah, di sekitarku ada Elf yang sudah hidup delapan puluh
tahun, kaum Iblis yang berusia lebih dari seribu dua ratus tahun, dan seorang
putri yang sudah hidup lebih dari lima ribu tahun, jadi aku tidak akan terkejut
lagi hanya karena usia seratus tujuh belas tahun.
Nenek ini sudah bekerja di kuil ini sejak aku masih
kecil, dan dulu aku sering dimarahi karena berbuat nakal.
"Dasar, kalian punya Teleportation Stone jadi
sering-seringlah pulang. Sekarang bocah-bocah bodoh itu juga sudah mati dan
tidak ada lagi."
Yang dia maksud bocah bodoh pasti adalah orang-orang dari
Dewan Klan. Mereka yang mengendalikan Pulau Ishisema dan Federasi Kota
Kepulauan Coskito dari balik layar.
Namun, mereka telah dibunuh oleh Scripter, bawahan
dari Raja Dewa Iblis.
Seingatku, tetua Dewan Klan yang bernama Runens itu
usianya sekitar sembilan puluh tahun.... Tapi bagi Si Nenek ini, usia segitu
masih dianggap bocah bodoh, ya.
"……Iya, aku mengerti. Aku akan sesekali
pulang."
"Bawa juga suamimu dan putrimu ke sini. Ini adalah
keinginan terakhir dari nenek yang sisa umurnya sudah tidak lama lagi
ini."
"Sisa umur sudah tidak lama lagi katamu? Tadi
bicaramu beda sekali."
Nenek ini pasti bakal hidup setidaknya sepuluh tahun
lagi. Jangan-jangan dia dapat obat keabadian dari Kuruto.
"Lalu, di mana Kak Loreta?"
"Nona Muda ada di tempat latihan di bagian dalam.
Daripada itu, apa tidak ada oleh-oleh dari kerajaan?"
"……Aku tidak beli apa-apa, tapi aku punya koki
(cookie) kering."
Aku menyerahkan kue kering pemberian Kuruto yang kubawa
sebagai camilan kepada nenek itu.
"Apa ini kue kering dari tunangan yang dirumorkan
itu? Wah, ini bisa jadi bekal yang bagus buat ke akhirat nanti."
"Hati-hati, jangan sampai karena terlalu enak Kamu
malah beneran pergi ke akhirat."
"Hmph, bicara apa Kau ini."
Tidak, aku tidak bercanda, tahu? Apa
pun itu, ini adalah buatan tangan Kuruto sendiri.
Saking enaknya, tidak salah lagi Kamu pasti akan merasa
seperti melayang ke surga. Yah, melayang ke surga di sini maksudnya cuma
pingsan sebentar, dan kurasa itu malah bikin tubuh lebih sehat.
...Kalau nenek ini jadi lebih sehat dari sekarang,
jangan-jangan dia tidak cuma hidup sepuluh tahun lagi, tapi sampai usia dua
ratus tahun? Sepertinya memberikan kue itu adalah kesalahan.
Sambil memikirkan hal konyol itu, aku keluar dari kuil
dan menuju tempat latihan. Di sekitar sini dulu aku sering bermain.
Pemandangan yang kulihat dengan mata berkaca-kaca saat
aku terpaksa meninggalkan tempat ini masih tersisa persis seperti aslinya.
Hanya saja, aku tidak merasa seperti sedang
"pulang". Mungkin karena bagiku, tempat untuk pulang sekarang adalah
bengkel di Valha.
Nenek tadi bilang tempat latihan, tapi yang ada di
depan ini hanyalah halaman tengah biasa.
Hanya saja, karena aku dan Kak Loreta sering berlatih
ilmu pedang di sini, tempat ini lama-lama mulai disebut sebagai tempat latihan.
Di atas kerikil tempat latihan itu, Kak Loreta sedang memasang kuda-kuda dengan
pedang kayu.
Baru saja aku hendak menyapanya—
"Apakah itu Yurishia?"
Dialah yang lebih dulu memanggilku. Aku memang tidak
sedang menyembunyikan hawa keberadaanku, tapi dia bisa menyadari itu aku hanya
dari suara langkah kaki saja.
Sepupuku ini masih sehebat biasanya.
"Lama tidak bertemu, Kak Loreta."
"Benar sekali. Kamu tidak sedang pulang kampung
biasa, kan?"
"Iya, ada sedikit masalah merepotkan. Aku ingin
meminjam kebijaksanaanmu."
"Meminjam katamu? Apakah itu berarti Kamu punya niat
untuk mengembalikannya?"
"Ugh—"
Padahal aku cuma menggunakan ungkapan kiasan, tapi dia
malah membalas dengan hal aneh lagi.
Mana mungkin aku punya kebijaksanaan yang bisa
dikembalikan pada Kak Loreta.
"Itu—"
"Yurishia adalah sepupuku, jadi jika Kamu jujur
meminta tolong, aku akan selalu menolongmu sebagai seorang kakak."
"Eh?"
Kak Loreta menyeka keringat di dahinya, lalu meletakkan
pedang kayu dan duduk di teras samping.
"Kamu punya waktu untuk istirahat sejenak, kan? Mari
kita bicara sambil minum teh."
"Ah, dengan senang hati."
Saat aku ikut duduk, seolah sudah diperhitungkan, Si
Nenek tadi datang membawa teh dan kerupuk beras.
Melihat dia tidak mengeluarkan kue kering tadi,
sepertinya nenek itu memang berniat memakannya sendirian. Yah, tidak masalah,
sih.
Dulu kami berdua juga sering minum teh bersama seperti ini setelah selesai berlatih.
Seteguk teh masuk ke kerongkongan.
Pahit. Ah, aku baru ingat, aku selalu benci
teh seduhan Si Nenek karena selalu pahit seperti ini.
"Yurishia, sebentar lagi aku akan menikah,"
ucap Kak Loreta.
"Eh? Serius? Sama siapa?"
"Dia pria yang baik."
"Heh. Aku jadi ingin bertemu dengannya
kapan-kapan."
Kalau Kak Loreta sampai berkata begitu, dia pasti pria
yang luar biasa. Yah, meski kurasa dia tidak akan bisa menang melawan Kuruto,
sih.
"Karena aku baru akan membuka pendaftarannya, Kamu
baru bisa bertemu setelah orangnya terpilih nanti."
"Jadi baru di tahap pendaftaran!?"
Apa ini salah satu lawakan Kak Loreta?
Apakah reaksiku tadi sudah benar?
Kak Loreta memang selalu mengatakan hal-hal yang tidak
terduga, jadi aku tidak pernah tahu apakah dia sedang serius atau bercanda.
"Karena itulah, jabatan penguasa pulau akan
kuberikan pada anakku nanti. Yurishia tidak perlu mencemaskan urusan pulau
lagi."
"Eh?"
"Lalu, aku juga tidak akan melarangmu untuk memiliki
anak lagi. Karena Dewan Klan sudah tidak ada, Kamu bebas melakukan apa pun yang
Kamu suka."
"……Terima kasih, Kak."
"Itu hal yang wajar, kan? Jadi, apa yang ingin Kamu
bicarakan?"
Benar juga. Aku pun mulai menceritakan kejadian yang
kualami di Dunia Lama.
Kak Loreta juga tahu cukup banyak tentang Dunia Lama,
jadi aku sangat terbantu karena bisa langsung masuk ke inti pembicaraan tanpa
perlu berbasa-basi.
"Begitu ya──jadi masalahnya seperti itu."
"Apa Kakak tahu sesuatu?"
"Ada beberapa kemungkinan."
Benarkah? Aku sendiri sama sekali tidak punya bayangan,
jadi aku benar-benar kagum dengan luasnya pengetahuan Kak Loreta.
"Pertama, ada kemungkinan terdapat sesuatu yang
dibenci para Roh di sana. Contohnya, batu yang disebut Sesshoseki—batu
itu memiliki kekuatan untuk membunuh Roh, sehingga para Roh tidak akan mau
mendekatinya."
"Ada batu seperti itu, ya? Kalau begitu, aku tidak
boleh membiarkan Akuri mendekatinya."
"Tapi batu itu tidak punya kekuatan yang cukup untuk
membunuh Roh Agung, kok."
"Mendengarnya membuatku sedikit lega. Lalu,
kemungkinan lainnya?"
Mendengar pertanyaanku, wajah Kak Loreta berubah menjadi
serius.
"Kemungkinan ada seseorang yang sedang membunuhi
para Roh."
"Dengan Sesshoseki yang tadi?"
"Bukan. Roh tidak akan mati kecuali bersentuhan
langsung dengan Sesshoseki, dan Roh biasa pasti akan kabur sebelum
sempat menyentuhnya."
"Lalu?"
"Aku pun tidak tahu, tapi hanya sedikit
keberadaan yang mampu membunuh Roh. Yah, kita para War Maiden pun
termasuk keberadaan yang bisa menghidupkan sekaligus membunuh Roh, kan?"
"Bisa menghidupkan sekaligus membunuh Roh?"
Mendengar pertanyaanku, Kak Loreta berdiri sambil
membawa pedang kayunya, lalu mengangkat tangan.
Sebuah bola api meluncur dari tangannya.
Itu sihir api tingkat dasar. Ini pertama
kalinya aku melihat sihir Kak Loreta.
Bola api yang meluncur ke langit itu jatuh lurus ke
bawah. Dan kemudian—Kak Loreta menebas bola api tersebut.
"Ini adalah teknik Magic Slash──aku pernah
mengajarkannya padamu, kan?"
"……Iya."
"Lalu──"
Sekali lagi, dia melepaskan bola api. Dan sekali
lagi, dia menebasnya dengan pedang kayu.
Tapi kali ini sihirnya tidak menghilang. Sihir itu
justru menyelimuti bilah pedangnya.
Tidak salah lagi, itu adalah teknik Drain Sword
yang juga kugunakan.
Aku hanya bisa melakukannya dengan menggunakan Sekka,
pedang kesayanganku pemberian Kuruto, tapi Kak Loreta melakukannya hanya dengan
pedang kayu.
"Ini
adalah Magic Slash bentuk kedua, 'Maten'."
"……Maten."
Meski
aku bergumam seolah memahami maknanya, sebenarnya di dalam hati aku merasa
sangat malu. Ternyata teknik itu punya nama resmi, ya?
Malu
rasanya aku pernah memberi nama Drain Sword dengan penuh percaya diri.
──Tidak,
teknik itu berbeda! Kalau diperhatikan baik-baik, rasanya ada sedikit
perbedaan.
Pokoknya
mulai sekarang aku akan tetap menyebutnya Drain Sword... terbatas di
tempat yang tidak ada Kak Loreta saja.
Tanpa menyadari gejolak di hatiku, Kak Loreta melanjutkan
penjelasannya.
"Teknik ini tidak hanya berlaku untuk sihir, tapi
juga memberikan efek yang sama terhadap Roh. Walaupun sebenarnya ada sedikit
perbedaan antara sihir dan Roh."
"Efek yang sama………… ah!?"
Artinya, jika menebas Roh dengan Magic Slash
biasa, itu akan membunuh mereka.
Dan jika menggunakan Maten, Roh akan bersemayam di
pedang dan itu berarti memanfaatkannya.
Begitu ya, jadi itulah maksud dari 'War Maiden bertarung
dengan menyelimuti diri dengan Roh'.
"Dikatakan bahwa War Maiden yang pernah ada
di dunia ini mampu melenyapkan atau menundukkan ribuan bahkan puluhan ribu Roh
hanya dengan satu ayunan pedang."
"Begitu ya──berarti jika ada teknik serupa,
menciptakan wilayah kosong tanpa Roh bukanlah hal yang mustahil."
Dan kekuatannya pun sangat besar.
Dulu aku mengira menjadi keluarga War Maiden itu
merepotkan karena aturan dan Dewan Klannya, tapi mendengar cerita ini, aku jadi
paham kenapa garis keturunan ini harus sangat dirahasiakan.
Sepertinya ini tidak berhubungan dengan masalah kali
ini, tapi aku senang bisa mengetahuinya.
"Karena mumpung sedang di sini, mari kita perdalam
pengetahuanmu tentang Roh. Selain itu, ada juga monster pemakan Roh yang
disebut Spirit Eater. Meski disebut monster, dia adalah sejenis roh
jahat. Karakteristiknya adalah──"
Kuliah dari Kak Loreta pun berlanjut. Aku berharap ada
informasi yang bisa menjadi petunjuk di dalamnya....
Tapi karena semalam baru saja diceramahi Mimiko dan sejak
pagi tadi terus mengendalikan kereta kuda, mataku rasanya sudah sangat berat.
Aku harus berhati-hati agar tidak tertidur.
Sambil berpikir begitu, aku kembali menyesap teh pahit
itu ke dalam mulutku.
◆◇◆
"Terima kasih, Cretis-san."
"Tidak, maafkan saya karena tidak bisa banyak
membantu Guru Kuruto."
"Tidak apa-apa, kok."
Aku, Kuruto, telah mendengar banyak hal mengenai Roh dari
Cretis-san di kota ReKuruto.
Meskipun Cretis-san sepertinya tidak tahu tentang
fenomena hilangnya Roh, aku bisa mendengar banyak cerita menarik, seperti
hal-hal yang disukai oleh para Roh.
Cukup mengejutkan mengetahui bahwa banyak Roh yang
menyukai kembang gula, tapi kalau dipikir-pikir, Akuri pun suka kembang gula.
Nietzsche-san juga pernah bilang kalau dia bisa hidup
hanya dengan pupuk, air, dan fotosintesis, tapi sebenarnya dia suka makan
camilan yang menggunakan nektar manis.
Katanya Roh tidak bisa gemuk, jadi apa sebaiknya makanan
utama Akuri diganti menjadi camilan saja? Tapi sebagai keluarga, aku juga ingin
kami semua makan hidangan yang sama.
Ah, aku harus pergi ke tempat selanjutnya.
"Kakaroa-san, selanjutnya mari kita pergi ke Desa Haste."
"Baik. Saya akan mendampingi Anda."
Bersama Kakaroa-san, sang Phantom yang menemaniku
sebagai pengawal, kami mulai bergerak menuju Desa Haste.
Desa Haste saat ini berada di tengah padang rumput.
Sosok Roh hampir tidak terlihat oleh mataku, tapi
apakah mereka juga ada di sini?
Andai saja aku bisa membawa tanah di sini dan para
Roh akan ikut mengikutiku──yah, tidak mungkin semudah itu, sih.
Menurut Cretis-san, Roh berada di suatu tempat karena
mereka menyukai tempat tersebut.
Membawa tanah atau menanam sayuran saja belum tentu bisa
membuat Roh berpindah tempat. Apalagi jika sosok Rohnya saja tidak terlihat.
Dalam perjalanan menuju rumah, aku melihat sosok
orang-orang desa.
"Kuruto, selamat datang kembali! Hmm, apa Kamu
membawa istri baru lagi?"
"Kita harus merayakannya lagi, nih."
"Ayo kita pesta wine bersama!"
"Bukan! Kakaroa-san adalah pengawalku! Lagipula, aku
belum menikah dengan Yurishia-san dan Lise-san. Kami baru bertunangan!"
Aku sudah membantah, tapi mereka sama sekali tidak
mendengarkan.
"Ah, benar juga! Semuanya, aku mendengar tentang
permainan menarik dari Yamato. Namanya Shogi──"
Aku menyiapkan papan dan bidak Shogi, lalu
menjelaskan aturannya kepada mereka semua.
Aku pernah mendengar kalau sebelum aku lahir, orang-orang
dewasa di sini pernah tinggal di Negeri Yamato, tapi sepertinya mereka tidak
tahu tentang Shogi.
Mereka mendengarkan aturan dan istilahnya dengan penuh
minat.
Ini adalah desa terpencil yang tenang dan jauh dari kota.
Permainan baru seperti ini pasti akan disukai oleh semua orang.
Setelah kujelaskan aturannya, mereka semua langsung
menghafalnya dan mulai bermain Shogi.
Kecepatan mereka melangkah sekitar 0,5 detik per langkah.
"Sip, dengan begini ini kemenanganku."
"Ah, tidak mungkin. Kalau begini, mau
bagaimanapun juga aku akan Checkmate dalam 376 langkah lagi."
"Sekali lagi. Kali ini aku yang jalan duluan. Ini
lebih seru daripada permainan Reversi yang pernah kudengar dulu. Soalnya
permainan itu kalau terus dimainkan, ujung-ujungnya cuma jadi seri terus."
Pertandingan berakhir hanya dalam waktu sekitar satu
menit. Melihat kondisi ini, sepertinya mereka akan melupakan kami dan asyik
sendiri dengan Shogi.
"Kakaroa-san, ayo pergi."
"…………………………Baik."
Kakaroa-san mengangguk dengan tatapan mata seolah baru
saja melihat sesuatu yang sangat aneh.
Shogi memang permainan papan tradisional
Yamato, tapi memang jarang terlihat di negara ini.
Untuk saat ini, aku akan menuju ke rumah. Kebetulan sekali, Ayah sedang menyiram tanaman di depan rumah.
"Kuruto, Kamu sudah pulang?"
"Aku pulang, Ayah. Ini Kakaroa-san yang ikut
menemaniku sebagai pengawal."
"Saya Kakaroa. Saya banyak berutang budi kepada
Tuan Kuruto."
"Justru aku yang banyak berutang budi,"
sahutku.
Meskipun aku tahu itu hanya basa-basi, aku sama sekali
tidak merasa pernah membantunya.
Paling-paling aku hanya menyiapkan makanan untuk semua
orang atau membersihkan loteng secara berkala.
"Aku ingin bertemu Paman Urano, apa dia ada di rumah
belakang?"
"Kalau Urano-kun, dia ada di laboratorium. Ibu juga sedang ke sana."
"Ngomong-ngomong,
aku belum pernah ke laboratorium baru Paman Urano. Apa ada di bawah
tanah?"
"Bukan,
sekarang laboratoriumnya ada di dalam rumah seperti biasa. Ayo kuantar."
Ayah mengantarku ke tempat yang dekat dengan
peternakan babi dan kandang sapi di pinggiran desa.
"Sapi-sapi yang luar biasa. Sepertinya bisa
menghasilkan susu yang lezat."
"Iya. Keju dan mentega juga dibuat di sini,
lho."
"Waktu kecil, Kuruto sering sekali dimarahi
karena mencoba mendekati kandang sapi karena ingin melihat mereka," kata
Ayah sambil mengenang masa lalu.
Uwah, kuharap Ayah jangan membicarakan hal memalukan
di depan Kakaroa-san.
"Kenapa begitu? Bukankah di luar pagar
seharusnya aman?"
"Sapi itu kalau mengamuk bisa jadi sangat agresif.
Bahkan kalau dihentikan oleh lima orang dewasa sekalipun, mereka tetap tidak
mau mendengarkan."
Karena itulah, sewaktu kecil, orang yang paling kusegani
setelah petualang adalah Paman penggembala sapi.
Itu benar-benar tempat kerja yang mempertaruhkan nyawa.
Yah, pada dasarnya sapi-sapi di sini menyukai makanannya,
jadi mereka jarang sekali mengamuk. Justru mereka lebih sering
melindungi kami dari serangan Goblin.
"Be-begitu ya. Berarti peternakan babi juga
berbahaya?"
"Yah, begitulah. Tapi saat sedang membuat pakan
babi, terkadang ada Naga yang datang untuk minta jatah pakan. Jadi kami meminta bantuan mereka
untuk proses penyembelihan."
"Naga……
ah, benar juga ya."
Kalau tidak ada Naga, proses penyembelihan babi pasti
mustahil dilakukan.
Ngomong-ngomong, bagaimana kabar anak Naga yang ada di
dekat peternakan babi di Valha, ya?
Dia sangat jinak padaku, aku ingin bertemu dengannya
lagi.
"Lalu, bagaimana dengan ayam?"
"Sebagai ganti pemberian pakan, kami mendapatkan
telur yang tidak dibuahi."
"Jadi tidak ada kebiasaan memakan daging ayam,
ya."
Seperti yang Kakaroa-san katakan, daging ayam sangat
jarang tersaji di meja makan desa ini.
Paling-paling, terkadang kami membawa pulang dan memakan
ayam yang baru saja mati sebelum membusuk.
Karena itulah, aku sangat terkejut saat melihat hidangan
ayam muda di restoran ibu kota.
"Tapi, kenapa Paman membangun laboratorium di tempat
berbahaya seperti ini, ya?"
Saat aku bergumam begitu, terdengar suara dari
belakang.
"Itu karena di sekitar sinilah pergerakan Roh yang
paling aktif, Kuruto."
"Paman Urano! Halo. Ini Kakaroa-san yang menemaniku
sebagai pengawal. Eh? Orang itu siapa?"
Di samping Paman Urano, berdiri seorang pria asing yang
mengenakan tuksedo.
Dia terlihat sangat keren, tapi siapa ya?
Rasanya aku pernah mengenalnya di suatu tempat.
"Ah,
dia adalah Glass-Tan. Dia adalah Butler Golem."
"Golem!?"
"Ah,
ternyata Golem, ya. Apa ini model penerus dari
Elena-tan?"
Di samping Kakaroa-san yang matanya terbelalak, aku pun
merasa paham.
Aku merasa dia familier karena dia mirip dengan
Elena-tan.
"Kuruto. Namanya Elena-Tan, bukan Elena-tan. Karena
logam Mithril tidak cocok dengan Golem, maka bahan utamanya menggunakan
Tungsten, makanya kuberi nama begitu. Jangan sampai salah."
"Jadi begitu, ya. Selama ini aku tidak tahu artinya
dan mengira itu hanya nama panggilan sayang."
Tapi karena sebutan Elena-tan sudah melekat, biarlah
dalam hatiku aku tetap memanggilnya begitu.
"Dasar. Kuruto memang terkadang suka berprasangka
seenaknya," kata Ayah sambil tertawa, dan aku serta Paman Urano pun ikut
tertawa.
Hanya Kakaroa-san yang tidak tertawa.
Pasti karena dia sedang fokus menjalankan tugasnya
sebagai pengawal.
Saat ini pun dia masih menatap tajam ke arah Glass-Tan.
"……Inikah
Golem…… saat dengan Elena-san juga begitu, tapi konsep Golem
dalam pikiranku jadi……"
Pasti
dia sedang waspada jika seandainya Glass-san mendadak lepas kendali. Dia
benar-benar orang yang serius dalam bekerja.
Jika
Glass-san punya spesifikasi yang sama dengan Elena-tan, dia pasti punya
kemampuan untuk menghancurkan satu buah rumah dengan mudah.
Yah,
meski pada akhirnya dia hanyalah Golem yang gerakannya sudah ditentukan,
jadi aku, Ayah, atau Paman Urano bisa menghentikannya dengan mudah.
"Paman Urano, di mana Ibu?"
"Kalau
Kak Sophie, dia sedang membersihkan laboratorium. Padahal sudah kubilang tidak
perlu, tapi aku masih saja dianggap seperti anak kecil."
Paman Urano sebentar lagi akan berusia 23 tahun.
Tapi bagi Ibu, dia akan selalu menjadi adik laki-lakinya
yang terpaut usia cukup jauh.
Meskipun begitu, sama seperti saat aku melihat Ayah
tadi──
"Ada apa, Kuruto? Sampai menatap wajahku seperti
itu."
"Tidak, Paman Urano itu sangat mirip dengan
seseorang yang kukenal."
Meskipun warna rambutnya berbeda, tapi dia sangat mirip
dengan Rikuto-sama. Mungkinkah──
"Ayah. Apa di desa ini tidak ada orang yang
bernama Rikuto?"
"Hmm? Tidak, aku tidak tahu."
"Begitu ya. Tadinya aku berpikir mungkin
Rikuto-sama juga berasal dari desa ini... ternyata hanya kemiripan wajah antar
orang asing saja, ya."
Padahal aku sempat berharap kalau mungkin kami adalah
kerabat jauh.
Saat kami sedang berbincang, Ibu keluar dari dalam
laboratorium.
"Oh, Kuruto. Selamat datang kembali. Ada apa?"
Benar juga.
"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada
Paman Urano──"
Aku menceritakan kejadian di Dunia Lama kepada Paman
Urano.
"Aku mengerti. Kuruto, juga Kakaroa-san, kan. Tolong
ikut aku."
Paman Urano mengangguk dalam, lalu masuk ke dalam
laboratorium.
Kami pun mengikutinya──
"Eh?"
Kakaroa-san tersentak kaget. Aku pun sedikit terkejut.
Meskipun laboratorium itu dari luar hanya seukuran rumah
penduduk biasa, tapi di dalamnya seluas area bengkel.
Begitu ya, dia menggunakan prinsip Item Bag untuk
memperluas ruangannya.
Aku bisa membayangkan Ibu akan mengomel seperti,
"Duh, kenapa harus dibuat seluas ini sih, kan jadi repot
bersih-bersihnya."
Langit-langitnya tinggi, dan di dekat langit-langit
itu melayang model benda langit yang sudah ada sejak dulu.
Ah, jumlah bintangnya bertambah banyak dari
sebelumnya.
Sepertinya dia juga membuat planet katai yang tidak
ada pada pengukuran sebelumnya.
Apa alasan laboratorium ini diperluas adalah untuk
menempatkan model itu, ya?
Meski aku sudah sering pergi ke bulan dengan roket,
suatu saat nanti aku ingin pergi ke planet lain.
Jika teknologi teleportasi sudah terpecahkan, mungkin
kita bisa pergi ke sana dengan mudah.
Paman Urano berjalan menuju ruangan yang lebih jauh
di dalam.
Di tengah perjalanan, aku melihat beberapa pintu
ruangan yang terbuka, ada ruangan yang dihiasi fosil dinosaurus, ruangan yang
terendam air seperti potongan dari dasar laut, hingga ruangan untuk merakit Golem.
"Paman
Urano benar-benar punya banyak hobi, ya."
"Banyak
hobi…… apa ini benar-benar cuma masalah hobi…… ah, lupakan saja."
Apa Kakaroa-san sedang merasa takjub? Memang benar, kalau
seluas ini pasti membersihkannya akan sangat repot.
Kalau Paman Urano membersihkannya dengan serius, mungkin
akan selesai dalam waktu satu jam, tapi kalau dia sudah fokus pada penelitian,
urusan kebersihan pasti akan terbengkalai.
Aku jadi paham kenapa Ibu memaksa untuk datang
bersih-bersih.
"Etu, dokumen yang dicari──ah, di sebelah sana
ya."
Ruangan yang paling ujung terlihat seperti perpustakaan.
Semua buku yang ada di sini adalah dokumen penelitian Paman Urano.
"Jumlah dokumennya luar biasa, ya."
"Iya. Paman Urano sudah melakukan berbagai
penelitian sejak usia lima tahun. Itu adalah hobinya. Bahkan saat pindah rumah,
meskipun laboratoriumnya ditinggal, hanya dokumen-dokumen inilah yang selalu
dibawa dalam Magic Bag setiap kali pindah."
"Apakah dokumen-dokumen ini dibuat oleh Tuan
Urano seorang diri? Sepertinya ada sekitar seratus ribu buku."
Benar, memang sangat banyak.
Jika Paman Urano sedang dalam kondisi prima dan
meneliti seharian penuh, dia bisa menulis sekitar seratus buku dokumen
penelitian, jadi wajar saja kalau jumlahnya jadi sebanyak ini.
"Dasar Urano ini. Harusnya dia bisa meringkasnya
dengan lebih baik. Dokumen sebanyak ini pun sebenarnya kalau diringkas bisa
jadi kurang dari sepersepuluhnya saja, kan."
Tiba-tiba Ibu muncul sambil mengatakan hal itu.
Sepertinya beliau sedang membersihkan ruangan ini.
"Seperti yang Kakak katakan, kalau cuma
poin-poin pentingnya saja memang bisa diringkas, tapi terkadang informasi di
luar poin penting itu bisa jadi sangat krusial di kemudian hari," sahut
Paman Urano sambil mengerucutkan bibirnya.
Kemudian, dia mendirikan tangga lipat di dalam
ruangan, dan mengambil sebuah buku dari rak setinggi sekitar tiga meter.
"Apakah Tuan Urano mengingat letak semua dokumen
ini?"
"Karena aku sendiri yang menyimpannya, tentu
saja aku ingat."
Mata Kakaroa-san terbelalak, sementara Paman Urano turun
dari tangga dan meletakkan dokumen itu di atas meja. Begitu buku dibuka, model
planet ini pun muncul melayang.
Begitu ya, dia menggambar lingkaran sihir dengan tinta
yang terbuat dari lelehan kristal sihir, lalu merancangnya agar video atau
gambar muncul saat halamannya dibuka.
Dengan begini, dokumen seperti model yang memakan
tempat bisa disimpan secara ringkas dalam bentuk buku, ya. Sangat
praktis.
"…………Aku ingin makan sesuatu yang manis."
"Baiklah, aku akan menyeduhkan teh, ya."
"…………Terima kasih."
Melihat teh yang diseduhkan Ibu, Kakaroa-san tidak
mengambil cangkirnya, melainkan mengambil gula batu yang disediakan sebagai
pelengkap lalu mengunyahnya.
Terkadang Lise-san atau Yurishia-san juga hanya memakan
gula batunya saja, apa semua orang kota memang seperti itu, ya? Di desa ini,
hampir tidak ada orang yang hanya memakan gula batu saja.
Tidak, daripada itu, sekarang dokumennya.
"Paman Urano. Apa hubungannya ini dengan para
Roh?"
"Nah, coba perhatikan baik-baik."
Saat Paman Urano membalik halamannya lagi, kali ini
muncul kabut tipis di atas video planet tersebut dan mulai bergerak.
"Ini apa?"
"Ini adalah Roh. Ini adalah video yang
memvisualisasikan data Roh yang tidak terlihat oleh mata. Kamu tahu kan kalau
Desa Haste berpindah setiap sepuluh tahun sekali dan menempatkan perangkat
teleportasi?"
"Iya. Kemarin aku baru saja diberitahu oleh
Ayah."
"Inilah data yang memvisualisasikan aliran Roh
berdasarkan nilai pengukuran Roh yang ditempatkan di lokasi yang sama dengan
perangkat teleportasi tersebut."
Luar biasa. Pergerakan Roh yang selama ini kukira tidak
mungkin bisa dilihat, ternyata bisa divisualisasikan seperti ini.
Jika dilihat seperti ini, ada banyak hal yang jadi mulai
kupahami.
"Para Roh berkumpul di sini, ya."
Itu adalah Hutan Besar Utara.
"Benar. Di sana ada desa Elf. Bukan karena ada Elf
maka para Roh berkumpul, tapi kaum Elf yang memiliki afinitas tinggi dengan
Rohlah yang berkumpul di tempat para Roh berkumpul, lalu membentuk sebuah
pemukiman. Hutan yang subur itu adalah bukti bahwa banyak Roh yang berkumpul di
sana."
Di sisi lain, sepertinya jumlah Roh di Wilayah Iblis
sangatlah sedikit.
Mungkin karena itulah di sana banyak terdapat padang
pasir yang tandus.
"Apa yang menyebabkan aliran ini terbentuk?"
"Itu masih dalam tahap penelitian. Tapi, ada tempat
tertentu di mana jumlah Rohnya sangat sedikit."
"Tempat yang dibenci oleh para Roh?"
"Di sini."
Tempat ini adalah Desa Haste... bukan, maksudnya gurun
pasir besar, ya.
Meskipun sekarang sudah diubah menjadi daerah padang
rumput, tempat ini aslinya adalah gurun pasir yang luas.
"Apa penyebabnya?"
"Terdapat lubang yang menelan para Roh."
"Lubang yang menelan Roh? Semacam Black Hole?"
Aku pernah dengar kalau di luar angkasa ada benda langit
hitam bernama Black Hole yang menelan bintang-bintang.
Ah, tapi meskipun namanya lubang (hole), Black Hole
sebenarnya bukan benar-benar sebuah lubang, melainkan karena gravitasinya
terlalu kuat sehingga cahaya pun tidak bisa keluar, makanya tidak bisa
diobservasi, kan?
"Bukan, yang ini benar-benar sebuah lubang.
Sepertinya ini adalah lubang yang mengalir menuju ke Dunia Lama. Lihat, dulu
kan Kuruto pernah menemukan tempat di mana Miasma mengalir, kan? Ini
kebalikannya, Roh dari dunia ini mengalir menuju ke Dunia Lama melalui lubang
tersebut."
"Apa itu tidak apa-apa?"
"Entahlah. Untuk saat ini lubang di gurun ini sudah
kututup... tapi, jika melihat pergerakan Roh ini, lubang yang menelan Roh
tampaknya semakin bertambah di berbagai belahan dunia."
"Kalau begitu, apakah di daerah pemukiman yang tidak
ada Rohnya itu juga terdapat lubang yang sama?"
"Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Karena aku belum
pernah pergi ke Dunia Lama. Karena itu, kuberikan ini pada Kuruto. Glass."
"Baik."
Glass-san membawakan sesuatu yang mirip seperti penunjuk
arah angin dari ruangan dalam.
Namun, alih-alih berbentuk ayam, alat ini memiliki sebuah
panah.
"Ini adalah alat untuk mengukur aliran Roh. Di luar
daerah pemukiman itu seharusnya masih ada sedikit Roh yang tersisa, kan? Jika
Kamu mengamati aliran Roh di luar sana dengan alat ini──"
"Begitu ya, aku bisa tahu ke mana para Roh itu
pergi. Artinya jika ada lubang yang menelan Roh, aku pasti bisa
menemukannya."
Paman memang hebat.
Ternyata beliau sudah menyiapkan hal seperti ini.
Dengan alat ini, kurasa investigasi penyebab hilangnya
Roh akan sangat terbantu.
◆◇◆
Aku—Marlefiss—sedang minum wine sendirian.
Kuruto dan yang lainnya sejak pagi tadi sudah pergi untuk
menginspeksi Pemukiman ke-169.
Berkat itu, aku tidak perlu lagi merasa risi dengan
tatapan Yurishia dan kawan-kawan.
Minum wine sejak siang hari, sambil memakan keju
milik Kuruto.
Jika mengingat kehidupan di biara yang penuh dengan
kemiskinan, ini benar-benar kemewahan yang tidak masuk akal.
Ini pasti berkat statusku sebagai Saint (Saintess).
Tentu saja, aku tetap menjalankan tugasku sebagai Saint.
Di dunia tanpa sihir pemulihan ini, pengobatan dengan
sihirku adalah satu-satunya metode pengobatan yang ada.
Tentu saja peminatnya akan banyak.
Namun, karena diputuskan bahwa aku hanya akan mengobati
orang yang benar-benar membutuhkan pengobatan, jumlah orang yang kutangani
hanya beberapa orang saja per hari.
Sisanya, aku hanya mengumpulkan keyakinan orang-orang
sambil meminum wine seperti ini.
Fufu, luar biasa. Pasti para atasan di Gereja Polan juga
menjalani kehidupan seperti ini──tidak, karena mereka pasti jarang sekali turun
langsung untuk mengobati orang, mereka pasti menjalani kehidupan yang jauh
lebih nyaman lagi.
Apalagi posisiku sekarang, aku tidak punya saingan yang
harus disingkirkan, dan tidak perlu takut akan disingkirkan oleh orang lain,
jadi hari-hariku jauh lebih santai daripada mereka.
"Saint-sama, terjadi sesuatu yang gawat di luar
daerah pemukiman!"
Tiba-tiba Johan berlari masuk ke dalam ruangan.
Di saat-saat seperti ini, tidak adanya orang yang bisa
dititipi masalah merepotkan memang cukup menyusahkan.
"Ada apa gerangan?"
"Racun! Sepertinya ada racun yang tercampur di dalam
makanan!"
"Racun?"
"Iya. Semuanya memasang senyum di wajah, lalu diam
tak bergerak seperti orang mati──jangan-jangan di dalam dapur umum milik
kenalan-kenalan Anda──memang benar jika tidak bisa masuk ke daerah pemukiman,
pada akhirnya ajal pun akan menjemput. Jika begitu, lebih baik membiarkan
mereka tidur dengan tenang──jika itu memang pemikiran Anda, wahai Saint-sama."
"Aku tidak pernah memberikan instruksi seperti
itu. Aku akan pergi melihat keadaannya."
Mustahil bagi Kuruto untuk meracuni makanan.
Aku pun menuju tembok kota untuk melihat situasi.
Benar saja, orang-orang di luar tembok kota semuanya
tampak melongo menatap ke arah langit dan tidak bergerak sama sekali.
"Saint-sama... seperti yang Anda lihat."
"Ah... ini adalah..."
"Apakah Anda mengetahui penyebabnya?"
Mendengar perkataan Johan, aku mengangguk.
"Iya. Tapi bagaimana bisa? Bukankah masakan
dapur umum itu sudah dibumbui oleh Yurishia?"
"Iya, itu adalah kejadian kemarin malam. Ini terjadi
pagi tadi, sepertinya semuanya memakan bahan makanan yang dibawa pulang oleh
para pria itu, dan jadilah seperti ini. Terlebih lagi anehnya, meskipun mereka
tahu semuanya jadi seperti ini, masih saja ada orang yang terus-menerus memakan
bahan makanan tersebut. Bahkan ketika kami melarang mereka, mereka sama sekali
tidak mau mendengar."
Begitu ya, aku sudah paham situasinya.
"Sepertinya tidak ada masalah, ya."
"Eh?"
"Mereka itu bukan mati karena racun, tapi hanya
kehilangan kesadaran karena makanannya terlalu enak."
"Saint-sama, apa yang Anda katakan? Pingsan karena
terlalu enak itu──"
"Memang wajar jika Kamu tidak mengerti apa yang
kukatakan, tapi begitulah kenyataannya. Setelah beberapa saat mereka akan
kembali normal. Ini adalah kejadian yang sering terjadi."
"Kejadian yang sering terjadi?"
Kalau dipikir-pikir, aku juga ingat pernah pingsan saat
pertama kali memakan masakan Kuruto.
Meski Si Bandana bilang itu "hanya karena
kelelahan", tapi pasti aku juga kehilangan kesadaran seperti mereka.
Bagi orang yang tidak terbiasa, masakan itu setara
dengan obat bius dosis tinggi.
Jika mereka membiasakan lidah mereka dengan masakan Kuruto
mulai dari makanan yang rasanya hambar seperti bubur, mungkin mereka bisa
bertahan... tapi dalam situasi perut lapar dan kelelahan yang menumpuk, wajar
saja jika mereka jadi seperti ini setelah memakan masakan buatan tangan Kuruto
secara langsung, meskipun itu hanya makanan awetan.
Aduh, padahal untuk apa aku meminta Yurishia—yang
penampilannya saja sudah seperti orang yang tidak pandai memasak—untuk
membumbui makanannya.
Kalau begini kan perhatianku jadi sia-sia saja.
Setelah menunggu beberapa saat, seperti yang kukatakan,
orang-orang yang telah selesai makan mulai tersadar kembali satu per satu.
"Lihat, benar kan seperti yang kukatakan."
"Sepertinya memang begitu. Namun, tingkah laku
mereka aneh."
"Ah, itu pasti karena mereka terkejut melihat
kondisi tubuh mereka yang membaik atau penyakit mereka yang sembuh."
Aku sendiri pernah mengalami kutukanku hilang hanya
dengan memakan bola nasi (onigiri) buatan Kuruto.
Bahkan makanan awetan pun pasti punya efek setingkat itu.
"Saint-sama, apakah itu adalah mukjizat dari
Tuhan?"
"Ini adalah kejadian yang sering terjadi."
"Kejadian yang sering terjadi... benarkah?"
"Iya, ini adalah kejadian yang sering terjadi."
Setiap kali aku merasa ragu, Si Bandana selalu mengatakan
hal itu kepadaku.
Dan aku pun terpaksa menerimanya.
Aku terus mengatakan hal itu pada diriku sendiri, hingga
akhirnya aku tidak pernah lagi merasa ragu.
Johan juga sebaiknya begitu. Jika dia melakukannya, dia
akan merasa jauh lebih tenang.
"……Surga."
Johan bergumam pelan. Surga──kalau tidak salah itu adalah
tempat tujuan orang-orang di dunia ini setelah mereka meninggal... kan?
Kenapa kata itu yang keluar? Yah, itu bukan urusanku. Lebih baik aku kembali untuk melanjutkan minum wine-ku.



Post a Comment