Side
Story
Mata-mata
yang Bersembunyi di Valha
Hari-hariku sebagai Olado, pemilik generasi keempat
sebuah toko roti, dimulai dengan memanggang roti di oven sebelum fajar
menyingsing, lalu menatanya dengan rapi.
Bahkan bagiku yang sudah terbiasa berkejaran dengan
waktu sejak dini hari, pagi di kota ini—Kota Perbatasan—terasa sangat awal.
Kota ini awalnya bermula dari sebuah benteng yang
paling dekat dengan Wilayah Iblis, dan situasi tersebut masih bertahan hingga
sekarang.
Beberapa hari yang lalu, seorang Gubernur secara
resmi dilantik di tanah ini, dan kota ini pun diberi nama Valha. Seolah waktu
yang telah lama berhenti mulai bergerak kembali, kota ini mulai mengalami
perubahan besar.
"Olado-san, selamat pagi."
"Halo, Nyonya. Tiga roti hitam seperti biasa, ya.
Ngomong-ngomong—"
Sambil memasukkan tiga roti hitam ke dalam keranjang yang
dibawa oleh pelanggan tetapku itu, aku bertanya.
"Bagaimana kabar suamimu belakangan ini? Dia tidak
mengeluh karena disuruh melakukan pekerjaan mirip penjaga gerbang di bengkel
baru itu, kan?"
"Sama sekali tidak. Awalnya kupikir orang-orang di
bengkel itu pasti golongan kelas atas yang menyebalkan, tapi ternyata mereka
semua anak-anak yang baik."
"Malah suamiku sempat keceplosan bilang kalau di
sana banyak wanita cantik, jadi begini deh."
Wanita itu mengepalkan tinjunya dengan ekspresi gemas.
Sambil melanjutkan obrolan santai, aku memasukkan satu roti lagi di luar
pesanan roti hitamnya.
"Ini, aku beri bonus satu roti baruku. Kalau enak,
silakan beli lain kali."
"Wah, terima kasih. Roti di toko ini selalu enak,
jadi aku sangat menantikannya."
Begitu katanya sebelum pergi. Sambil melepasnya pergi
dengan senyuman, aku menyaring informasi dari obrolan santai tadi.
Singkatnya, aku adalah seorang intelijen atau mata-mata
yang ditempatkan di tanah ini. Jika ditanya sejak kapan, jawabannya adalah
sejak aku lahir.
Sebab, kakek buyutku yang memulai toko roti di tempat ini
jugalah seorang mata-mata. Bukan dari negara lain, melainkan bawahan dari Count
Usan di Kerajaan Homuros yang sama.
Aku tidak tahu alasan kakek buyutku mulai menjadi
mata-mata. Mungkin karena paman dari kakek buyutku adalah petinggi departemen
intelijen saat itu.
Bagaimanapun, selama beberapa generasi, kami terus
meningkatkan kepercayaan penduduk setempat, lalu menyaring informasi sekecil
apa pun yang terkumpul untuk dikirimkan kepada sang Count.
Meskipun begitu, informasi yang diinginkan Count
sebenarnya terbatas karena kota ini awalnya hanya kota benteng. Namun, situasi
berubah ketika sebuah bengkel didirikan di sini.
Apalagi setelah diketahui bahwa bengkel itu diprakarsai
oleh Putri Ketiga Liselotte, Penyihir Istana Urutan Ketiga Mimiko, dan Atelier
Meister Ophilia.
Ditambah lagi fakta bahwa Atelier Meister Lict
diangkat menjadi anak angkat dari Margrave Tycoon, permintaan informasi pun
mulai sering datang kepadaku. Namun, aku tidak bisa bergerak gegabah.
Itu karena semua orang yang terlibat dengan bengkel
tersebut adalah orang-orang yang sulit dihadapi. Kecuali penjaga gerbang
seperti suami wanita tadi, ada tujuh orang yang menjadi pusat perhatian.
Atelier Meister Lict Cocolucca. Pemilik bengkel di
kota ini yang asal-usul dan riwayatnya sebelum menjadi Atelier Meister
sama sekali tidak diketahui.
Ia direkomendasikan oleh Mimiko, Ophilia, dan Liselotte.
Berkat jasanya membasmi iblis, ia menjadi anak angkat Margrave Tycoon dan resmi
dilantik sebagai Gubernur.
Liselotte Homuros. Putri ketiga Kerajaan Homuros yang
sedang menjalani pelatihan di bengkel ini selama satu tahun sesuai tradisi
kerajaan.
Entah kenapa, ia menyembunyikan nama aslinya dan
bertindak sebagai Lise. Ia juga aktif sebagai wakil Gubernur menggantikan Lict
yang sering bepergian.
Yurishia. Petualang utama di bengkel dan mantan petualang
bawahan langsung keluarga kerajaan yang baru saja mendapat gelar Baronet
wanita.
Kabarnya ia sangat menyukai makanan manis. Ada informasi
juga kalau ia sering menatap lekat-lekat boneka beruang di toko serba ada.
Danzou. Pemimpin kelompok petualang Sakura dari negara
jauh di Timur bernama Yamato—seorang pendekar yang disebut Samurai.
Ia menggunakan pedang jenis Katana. Dengan auranya
yang misterius, ia telah memikat banyak wanita, meski belum ada rumor ia
menjalin hubungan dengan siapa pun.
Kans, Rekan Danzou yang merupakan seorang Heavy
Warrior. Ia lebih mahir bertarung dengan tinju daripada pedang.
Ia cukup populer di kalangan wanita, namun sepertinya
ia sangat menjaga adik perempuannya, Sina, dan belum berniat mencari kekasih.
Sina, Adik perempuan Kans yang merupakan seorang Ranger.
Kemampuan pisaunya cukup mahir dalam pertarungan jarak dekat.
Kuruto Rockhans. Pesuruh di bengkel yang dulunya
anggota Dragon Fang. Entah kenapa, ia mendapat gelar bangsawan kehormatan dan
menjadi wakil Atelier Meister.
Hanya saja, karena tingkat kepentingannya dianggap
rendah, diputuskan bahwa penyelidikan mendalam tentangnya tidak diperlukan.
Itulah orang-orang yang keluar masuk bengkel... Ah,
ada satu lagi yang terlupakan.
Akuri, Anak kecil berusia sekitar tiga tahun yang
tinggal di bengkel.
Ia memanggil Kuruto "Papa", serta Lise dan Yurishia
sebagai "Mama".
Identitas orang tua kandungnya tidak diketahui.
Namun, jika ia benar-benar putri kandung Liselotte, itu
akan menjadi skandal besar, jadi tingkat penyelidikannya sangat tinggi.
Kedelapan orang itulah yang menjadi target
penyelidikanku.
Terutama Akuri, dia sangat menggemaskan sampai-sampai aku
ingin punya anak sendiri.
Tapi sebagai mata-mata, aku tidak diizinkan memiliki anak
secara sembarangan. Tak lama lagi, aku akan menikahi seorang wanita dari
keluarga mata-mata lain demi meneruskan tugas ini.
Meski begitu, jika kami punya anak nanti, anak itu akan
dididik sebagai mata-mata. Dia tidak akan pernah bisa memiliki senyum murni
seperti Akuri.
Ah, aku malah jadi mengeluh. Sudahlah, tugasku hanyalah
mengumpulkan rumor sekecil apa pun di kota ini.
Saat melakukan pengantaran sore hari, aku berhenti di
depan sebuah rumah.
"Kaine-san, aku datang mengantarkan roti."
Aku menunggu sejenak, namun tidak ada jawaban.
Biasanya dia langsung keluar.
"Kaine-san, apa Anda ada di dalam?"
Tetap tidak ada balasan. Merasa curiga, aku mengintip
dari jendela dan mendapati rumah itu sudah kosong melompong.
Bahkan pencuri pun tidak akan mengosongkan rumah sebersih
ini. Sepertinya, mereka sudah kena.
Penghuni rumah ini, Duncan dan Kaine, adalah pasangan
yang mengaku baru pindah. Tapi sebagai sesama profesi, aku tahu mereka adalah
mata-mata negara lain.
Kemungkinan besar identitas mereka terbongkar saat
menyelidiki bengkel. Mereka pasti sudah ditangkap dan seluruh barang bukti di
rumah ini disita.
Sejauh yang kuketahui, sudah ada tujuh kasus mata-mata
yang tertangkap. Di luar sana, jumlahnya mungkin bisa puluhan kali lipat.
Menyelidiki bengkel itu benar-benar tugas mustahil.
Bengkel itu dijaga oleh unit intelijen Phantom
yang dibentuk oleh Mimiko. Saat aku sedang mengintip jendela...
"Olado-san, apa yang sedang kamu lakukan?"
Suara itu berasal dari Yurishia. Sial, mengintip rumah
orang benar-benar membuatku terlihat seperti orang mencurigakan.
"Yurishia-san, selamat siang. Anu, sebenarnya aku
ingin mengantar roti tapi sepertinya tidak ada orang, jadi aku bingung."
"A... ah. Orang di rumah ini kabarnya sudah
pindah."
"Tapi kemarin mereka baru saja memesan roti."
"Katanya mendadak harus pulang untuk meneruskan
bisnis keluarga."
Yurishia membuang muka saat bicara. Dia benar-benar payah
dalam berbohong. Apakah semua petualang tidak bisa bersandiwara?
"Begitu ya. Kalau begitu, Yurishia-san, mau coba
roti ini? Ini
produk baru kebanggaanku—"
"Roti
ya... Tidak, terima kasih. Aku hargai tawarannya."
Dia pun pergi. Gagal lagi. Biasanya aku masuk ke dalam
lingkaran sosial target dengan memberikan roti gratis, tapi staf bengkel tidak
pernah menerimanya.
Mereka menatap rotiku dengan tatapan dingin. Sepertinya
di dalam bengkel ada seseorang yang memanggang roti yang jauh lebih enak
daripada buatanku.
Tujuan berikutnya adalah kantor penyalur kerja, Hallowork
Station—alias Halowa. Tentu saja bukan untuk pindah kerja, tapi sebagai
kedok mencari karyawan.
Sebenarnya aku tidak berniat mempekerjakan orang asing
karena risikonya terlalu besar bagi seorang mata-mata. Aku ke sini hanya untuk
mencari informasi dari daftar lowongan dan pencari kerja.
"Yah, ternyata hampir tidak ada apa-apa."
Namanya juga kantor baru, informasinya masih sangat
sedikit.
"Olado-san,
sedang mencari karyawan?"
Yang
menyapaku adalah Kirschel, kepala cabang Halowa di sini.
"Halo,
Kirschel-chan. Aku sedang mencari gadis manis untuk jadi ikon toko, siapa tahu
bisa sekalian jadi istri."
"Jangan mencari jodoh di sini ya, kami bukan biro
jodoh. Oh ya, ini ada roti, mau?"
"Eh, boleh? Bukankah ini barang dagangan?"
"Iya, tapi pemesannya mendadak pindah. Keluarga
Duncan, kamu tahu mereka?"
"Duncan-san
dan Kaine-san? Tidak, aku tidak tahu. Wah, kelihatannya enak. Terima kasih
ya."
Kirschel
menerima roti itu dengan riang. Nah, begini baru benar. Kalau suasana hatinya
bagus, dia akan lebih mudah berbagi informasi.
"Ngomong-ngomong,
Kirschel-chan. Tadi Yurishia-san dari bengkel bilang—"
Baru
saja aku menyebut nama itu, tiba-tiba Kirschel menutup telinganya dan gemetar
hebat.
"Aku
tidak dengar apa-apa aku tidak dengar apa-apa aku tidak dengar apa-apa!"
Dia mulai meracau seperti merapalkan kutukan.
"Anu... aku cuma mau bilang kalau Duncan-san
pindah—"
"Ah, cuma itu ya."
Seketika Kirschel tersenyum manis seolah tidak terjadi
apa-apa. Reaksinya benar-benar aneh. Sepertinya dia tahu sesuatu tentang
rahasia Yurishia dan diancam untuk tutup mulut.
"Harum sekali. Roti buatan Olado-san memang yang
terbaik."
"Tentu saja, Cooking milikku kan peringkat B.
Aku merasa sudah melampaui generasi sebelumnya."
"Generasi sebelumnya... maksudmu orang tuamu yang
pindah ke kota yang tenang itu?"
"Iya. Mereka sudah tua, jadi ingin menghabiskan masa
tua di tempat yang minim monster."
Padahal sebenarnya mereka hanya pindah tugas mata-mata ke
wilayah lain.
"Aku ingin memperluas jangkauan penjualan. Kalau
saja orang-orang di bengkel mau beli, pasti akan jadi promosi yang bagus. Apa
mungkin di sana ada koki roti yang sangat hebat, misalnya peringkat S?"
Saat aku melontarkan candaan itu, wajah Kirschel mendadak
membeku lagi.
"Jam operasional hari ini sudah berakhir.
Silakan datang lagi lain kali."
"Eh, tunggu, ini baru jam sepuluh pagi—"
Dia langsung menutup loket. Dari balik konter,
terdengar lagi suaranya yang gemetar ketakutan bahwa dia tidak tahu apa-apa.
Mencurigakan. Apakah benar ada koki peringkat S di
bengkel itu? Apakah itu identitas asli sang Atelier Meister Lict?
Jangan biarkan rasa penasaran membunuhmu, mata-mata.
Tiba-tiba kata-kata ayahku terngiang. Aku harus
berhati-hati. Sebaiknya aku tidak terlalu sering muncul di Halowa atau
berurusan langsung dengan orang bengkel untuk sementara.
Aku kembali ke toko. Saat sedang melamun memikirkan ide
roti baru, pelanggan datang. Mereka adalah Kuruto Rockhans dan Akuri.
Padahal baru saja aku bertekad menjaga jarak, tapi mereka
malah datang sendiri.
"Selamat datang."
"Halo. Aku ingin membeli telur dan susu, apakah
ada?"
"Telur dan susu!" seru Akuri lucu.
"Tentu saja ada. Mau berapa banyak?"
Sambil menyiapkan pesanan, aku mencoba berbincang santai.
Kuruto pernah membantuku saat pinggangku encok dengan memberiku koyo buatan
desa asalnya. Efeknya luar biasa, pinggangku sembuh dalam tiga detik.
"Kuruto-san, terima kasih soal koyo tempo hari.
Sangat membantu."
"Itu koyo tradisional dari desaku, syukurlah kalau
cocok."
"Desamu? Jadi itu bukan buatan bengkel?"
"Iya, aku yang membuatnya."
Aku terkejut. Kukira itu teknologi bengkel, ternyata
buatan Kuruto sendiri? Aku harus merevisi informasi yang kukirim ke Count.
"Papa, roti ini kelihatannya enak!"
"Benar juga. Tolong tambah roti ini satu ya."
"Ambil saja, anggap sebagai bonus terima kasih atas
koyonya."
"Eh, jangan begitu, aku tidak enak."
"Sudahlah, kamu kan sudah beli telur dan susu
banyak. Anggap saja ini keramahan toko roti kami."
Aku memasukkan roti itu ke keranjang mereka. Akuri langsung menggigitnya dengan riang.
"Enak!" serunya dengan senyum lebar.
Benar-benar anak yang manis.
Rasanya aku ingin berhenti menjadi mata-mata sekarang
juga dan bekerja sebagai pemilik toko roti yang jujur.
Namun, sekali kau menjadi mata-mata, tidak ada jalan
tersisa untuk melepaskan diri dan menjadi bebas.
"Ini telur dan susunya. Oh iya, aku juga baru
mendapatkan tepung gandum dengan harga murah, apakah Anda berminat?"
"Maaf, stok gandum kami masih cukup banyak karena
kami menanamnya sendiri di halaman belakang."
"Begitu ya."
……Di halaman belakang?
Lahan bengkel memang luas, tapi apa cukup luas untuk
menanam gandum yang bisa memenuhi kebutuhan pangan delapan orang?
"Halaman belakang Anda luas sekali ya. Kalau begitu,
sepertinya Anda juga bisa memelihara ayam atau sapi di sana," ucapku
bercanda.
"Ayam, ya. Waktu kecil aku pernah dikejar-kejar
kawanan ayam, jadi aku agak trauma."
"Ah, ayam memang suka mengejar anak kecil."
"Ayahku yang datang menolong pun kalah telak
dari mereka."
"Kalah!? Ayah Anda!?"
"Iya. Tapi masalahnya selesai setelah kami
bernegosiasi. Kami membuat kontrak untuk memberi mereka pakan setiap hari,
sebagai gantinya mereka memberikan telur tak dibuahi kepada kami──"
"Kontrak dengan ayam!?"
Apa dia bercanda? Tapi dia tidak kelihatan seperti
sedang berbohong.
Seluruh penduduk desa tidak bisa menangkap mereka,
lalu bernegosiasi untuk mendapatkan telur?
Dibandingkan ayam, aku lebih bisa menerima jika dia
bilang itu adalah sejenis monster seperti Cockatrice. Benar-benar misterius.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Dah-dah!"
"Ah, te-terima kasih banyak."
Gawat. Aku lupa bertanya soal roti itu. Hmm, aku jadi
penasaran.
Bagi aku, orang-orang di bengkel adalah target
penyelidikan, tapi aku tidak membenci mereka. Malah, aku menyukai mereka.
Sebab aku──bukan, seluruh penduduk kota ini, nyawa
kami semua telah diselamatkan oleh mereka.
Saat iblis mengepung kota ini, iblis-iblis itu
berhasil dimusnahkan berkat Magic Crystal cahaya yang ditemukan oleh
pihak bengkel. Kini hal itu telah menjadi rahasia umum.
Dan tentu saja, ada orang-orang yang bergerak untuk
mendapatkan detailnya.
Begitu pula dengan majikan yang kulayani.
[Gali informasi tentang Magic Crystal milik bengkel
sebisa mungkin.]
Perintah itu datang sudah cukup lama.
Meskipun begitu, mata-mata kelas tiga sepertiku tidak
akan bisa menyelinap ke dalam bengkel, jadi aku terus menghindar dengan
berbagai alasan... Tapi karena aku juga penasaran soal rotinya, aku
memutuskan untuk melancarkan sebuah strategi.
Hari ini, aku pergi ke hutan bersama anggota Sakura.
Aku mengajukan permintaan pengawalan dengan alasan
mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan toko.
Jika aku mengajukan permintaan khusus, itu akan
mencurigakan.
Jadi aku mempersempit kriteria pencarian agar kemungkinan
besar ketiga anggota Sakura yang menjadi pengawal.
Pikirku, jika monster muncul, aku bisa melihat cara
mereka bertarung, dan jika beruntung, aku bisa berteman dengan mereka lalu
mengorek informasi tentang Magic Crystal.
Seandainya petualang lain yang mengambil permintaan ini,
aku berniat menolaknya dengan berbagai alasan, tapi ternyata keberuntungan
berpihak padaku dan mereka bertiga yang menjadi pengawal.
"Wah, ini sangat membantu. Rasanya sangat tenang
jika dikawal oleh tiga petualang dari bengkel."
Ucapanku itu murni dari lubuk hati yang paling dalam.
Hutan ini dekat dengan Wilayah Iblis dan disebut sebagai
Hutan Besar.
Kabarnya di dalam hutan ini terdapat desa tersembunyi
bangsa Elf, tapi orang biasa bahkan tidak tahu di mana lokasinya.
Lebih jauh lagi menembus hutan, terdapat wilayah bangsa
iblis──Wilayah Iblis.
Banyak monster kuat di sini, bukan tempat yang boleh
dimasuki oleh orang awam.
"Tenang saja. Serahkan semuanya pada kami."
"Aduh, Kakak, jangan sombong begitu. Kurasa
sudah tidak ada iblis lagi, tapi monster di sini banyak, jadi
berhati-hatilah."
"Umu. Kita tidak boleh lengah sedikit pun."
Kans, Sina, dan Danzou menyahut bergantian. Benar-benar
bisa diandalkan.
Baiklah, karena alasannya adalah pengawalan untuk
mengumpulkan bahan, aku harus benar-benar mengumpulkannya.
Aku memetik buah berwarna merah muda yang tumbuh di
pohon.
Itu adalah Plannapple, buah lezat yang enak
dipanggang di atas roti manis.
Namun, jika menggunakan ragi yang dibuat dari buah ini,
roti yang dihasilkan akan menjadi sangat empuk dan lembut.
"Mau kubantu petik?" tawar Sina.
"Boleh kah?"
"Tentu. Tubuhku ringan, jadi aku ahli memanjat
pohon."
"Kalau begitu, aku juga──"
"Kalau Kakak yang memanjat, dahan pohonnya bakal
patah karena berat zirahmu! Sana, jaga area sekitar saja!"
Sambil berkata begitu, Sina memanjat pohon dengan gesit
dan melemparkan Plannapple kepadaku dari atas dahan.
Aku menangkapnya dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Sepertinya pengumpulan bahan ini akan selesai lebih cepat
dari dugaan. Ini sangat membantu... eh, gawat.
Jika semuanya berjalan selancar ini, permintaan
pengawalan ini akan segera berakhir.
Tolong, muncullah monster.
Seolah permohonanku terkabul, semak-semak di dekat kami
bergoyang-goyang.
"Bagus... maksudku, gawat! Ada monster!"
"Itu bukan monster."
"Eh?"
Seperti yang dikatakan Danzou, yang muncul dari
semak-semak hanyalah seekor kelinci liar kecil.
Kelinci itu menatap kami sejenak, lalu lari tunggang
langgang ke arah lain.
Yah, ternyata bukan monster.
"Dulu kita sering menangkap kelinci seperti itu
untuk dijual bulunya, ya. Waktu itu kita benar-benar tidak punya uang."
"Yang menangkap itu aku dan Danzou. Kakak kan tidak berhasil menangkap satu pun."
"Jangan bicara begitu. Karena Kans membasmi para
Goblin yang terpancing aroma darah, kami jadi bisa fokus berburu kelinci."
Danzou membela Kans.
Meskipun aku buta soal dunia petualang, menurutku
mereka adalah trio yang hebat.
Akhirnya, tidak ada serangan monster dan pengumpulan Plannapple
pun hampir selesai.
"Sudah siang ya. Sina, tolong."
Begitu Kans bicara, Sina mengeluarkan kotak bekal
dari tas punggungnya. Karena berada di tengah hutan, sulit mengetahui waktu,
tapi jam biologisku mengatakan ini sudah tengah hari tepat.
Padahal aku membawa roti untuk empat orang, tapi
sepertinya tidak dibutuhkan. Kalau begitu, roti ini akan kumakan
sendiri──hm?
Isi kotak bekal mereka adalah roti lapis.
Isinya ada telur, ham dan selada, tonkatsu, ayam
teriyaki, kentang tumbuk, dan... apa itu buah dan krim?
Memang ada toko yang menjual bekal untuk petualang,
tentara bayaran, atau penjaga, tapi bekal petualang yang dijual di Valha
paling-paling hanya daging kering dan roti keras.
Bekal mewah seperti itu tidak dijual di mana pun.
Jangan-jangan, itu bekal buatan bengkel?
Jika benar, maka roti itu adalah──
"……Kelihatannya enak sekali."
Tanpa sadar aku mengatakannya.
"Mau coba?"
Kalimat itulah yang kunantikan. Meskipun aku merasa
sedikit tidak tahu malu, aku menjawab, "Boleh kah? Terima kasih
banyak," lalu mengambil satu.
Yang kuambil adalah roti lapis telur, roti tawar putih
yang menjepit telur dadar tebal dan saus tomat.
Begitu menyentuhnya, aku langsung tahu bahwa rotinya
sangat lembut.
Roti buatanku yang menggunakan ragi alami pun cukup
empuk, tapi tidak selembut ini.
Bukan, masalahnya bukan di kelembutan roti. Tapi rasanya.
Aku menggigit roti itu.
──Begitu
ya... Kebenaran dunia ternyata sama dengan katrol di sumur.
"Olado-san,
sadarlah! Olado-san!"
"Hah!"
Baru
saja aku merasa telah menggenggam kebenaran dunia, tapi kesadaranku langsung
kembali setelah dipanggil oleh Kans, dan aku melupakan segalanya.
Sepertinya aku sempat kehilangan kesadaran karena
kelezatan roti yang luar biasa ini.
Sesaat setelah memakannya, aroma gandum yang harum
langsung merebak di dalam mulut, dan rasa manisnya memenuhi lidah saat
dikunyah.
Air liur terus mengalir demi mengecap anugerah rasa
tersebut.
Aku tersiksa oleh kontradiksi antara ingin merasakan
waktu ini selamanya dan ingin segera menelannya, namun rasa tersiksa itu pun
terasa indah.
Waktu yang kuhabiskan rasanya lebih dari sekadar
"kebahagiaan".
Jika ini adalah roti yang asli, lalu apa yang selama ini
kubuat, kujual, dan kumakan?
Bukan hanya rotinya. Telur dan saus tomatnya pun berada
di level yang tidak kukenali, dan yang paling penting, harmoninya dengan roti
sangatlah sempurna.
Sering dikatakan bahwa dalam sebuah harmoni, satu
ditambah satu bisa menjadi sepuluh atau seratus.
Tapi dalam kasus ini, satu ditambah satu menjadi satu
juta atau sepuluh juta.
"Kans-san, siapa sebenarnya yang membuat roti lapis
ini──jangan-jangan Sang Atelier Meister──"
"Tuan Olado, jangan mencari tahu hal yang tidak
perlu. Kami adalah petualang bengkel. Kami tidak bisa
membocorkan informasi internal bengkel."
Saat aku hendak bertanya pada Kans, Danzou
memperingatiku dengan suara rendah.
Aku menatap tanganku yang tadi memegang roti lapis,
dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Duh, Danzou. Tidak perlu bicara menakutkan
begitu, kan. Olado-san kan tukang roti, jadi dia cuma penasaran saja.
Maaf ya, Olado-san. Aku tidak bisa memberitahu siapa yang membuatnya, tapi ini,
coba roti lapis kentangku juga."
"Umu, maafkan aku. Kalau begitu, terimalah roti
lapis buah dariku."
"Ah, maafkan aku karena telah menanyakan hal yang
tidak sopan."
Tapi kedua roti lapis itu tetap kumakan.
Aku tidak kehilangan kesadaran untuk kedua kalinya──lebih
tepatnya, rasanya sayang sekali jika aku kehilangan kesadaran lagi.
Akhirnya, aku tidak punya kesempatan untuk bertanya soal Magic
Crystal.
Segera setelah kembali ke kota, aku menutup toko untuk
melakukan penelitian dan mengurung diri di dapur... Tapi gagal. Hasilnya jauh
dari roti itu.
Aku berulang kali melakukan percobaan dan kegagalan demi
mengembangkan roti, tapi sebanyak apa pun aku mencoba, aku tidak bisa
menciptakan kembali rasa roti dari roti lapis di ingatanku.
Apa masalahnya di gandum?
Ragi?
Cara menguleni?
Cara memanggang?
Atau resepnya memang benar-benar berbeda?
Aku bahkan menggunakan tabungan yang kusiapkan untuk
biaya renovasi toko demi memanggil pengrajin dari ibu kota untuk membangun
ulang oven roti dengan model terbaru, tapi tetap sia-sia.
Mungkin mereka menggunakan alat sihir khusus untuk
memanggang roti.
Jika begitu, aku sudah tidak punya cara lagi.
Setelah sekitar satu minggu terus mencoba, aku terpaksa
harus membuka toko kembali.
Sebenarnya aku ingin melakukan percobaan seharian penuh,
tapi tabunganku sudah menipis dan stok roti hasil percobaan sudah menumpuk
banyak.
Saat sedang memikirkan konsep roti sambil menjaga toko──
"Apa kamu mendengarkan? Gara-gara ketidakbecusanmu,
aku dimarahi oleh Count!"
Seorang pelanggan──bukan, seorang
perantara──mengatakan hal yang tidak masuk akal. Sepertinya dia marah karena
aku tak kunjung membawa informasi tentang Magic Crystal.
Aku tidak menyadari karena hanya menjawab sekenanya,
tapi karena jujur bilang "aku tidak mendengarkan" hanya akan
membuatnya semakin marah, jadi aku meminta maaf saja.
"Benar-benar ya, kerjalah yang becus. Kami sudah
membayar mahal untukmu."
……Bicara apa dia?
Paman dari kakek buyutku memang petinggi intelijen
yang melayani Count Usan dan kabarnya digaji sangat tinggi.
Konon keturunan ketiganya sekarang masih memegang posisi
itu.
Tapi, tidak peduli seberapa banyak uang yang diterima
oleh kerabat jauh yang bahkan belum pernah kutemui itu, itu tidak ada
hubungannya denganku.
Uang yang kuterima hanyalah recehan, dan aku tidak
berniat bekerja demi uang seperti itu.
Lagipula, sejak awal aku tidak punya rasa setia.
Alasan aku tetap menjadi mata-mata hanyalah karena
pendidikan cuci otak yang kuterima sejak kecil, dan yang terpenting, aku takut
akan pembalasan jika mengkhianati Count.
Aku tahu aku telah dicuci otak namun tetap tidak bisa
lepas, rasanya memang bodoh, tapi ini sudah seperti kutukan turun-temurun.
"──Yah, sudahlah. Malam ini, mata-mata yang
menyelinap ke kota ini akan masuk ke bengkel untuk mengambil informasi."
"Bukankah itu berbahaya? Bengkel dijaga oleh Phantom."
"Phantom memang mata-mata kelas satu. Tapi,
mereka semua wanita, kemampuan fisik mereka kalah dari pria. Jadi, kita cukup
gunakan mata-mata pria kelas satu. Memang mahal, tapi persiapannya sudah
matang. Meski begitu, aku tidak optimis informasi bisa dicuri
begitu saja. Jadi, jika mereka ketahuan Phantom dan terpaksa melarikan
diri, mereka akan berlindung di bawah tanah toko ini."
"……Baiklah."
Sebenarnya aku tidak ingin terlibat.
Risikonya terlalu besar jika identitasku sebagai
mata-mata terbongkar.
Tapi, aku tidak bisa menolak.
"Paman, tidak apa-apa?"
Setelah si perantara pergi, aku kembali melamun.
Aku bahkan tidak sadar sampai Akuri yang berada di
depanku memanggil.
"Tidak semangat?"
"Tidak apa-apa, Paman cuma sedang banyak pikiran. Kuruto-san,
selamat datang juga."
Anak berusia tiga tahun tidak mungkin sendirian, tentu
saja Kuruto bersamanya.
Di saat aku sedang pusing memikirkan bengkel, malah
pesuruh bengkel yang datang.
Andai saja dia bukan pesuruh, melainkan orang yang punya
kedudukan, aku bisa menculiknya dan memaksanya bicara.
Itu pasti jauh lebih mudah daripada menyelinap ke dalam
bengkel yang menjadi sarang Phantom.
Meski begitu, aku tidak akan tega membuat anak kecil di
depanku ini menangis.
"Hari ini aku mau beli telur lagi, apa Paman
benar-benar baik-baik saja?"
"Iya, cuma agak lelah sedikit."
"Begitu ya. Saat sedang lelah, paling enak makan
yang manis-manis. Aku punya kue kering, kalau Paman mau, silakan
dicicipi."
"Terima kasih. Aku minta satu ya."
Belakangan ini aku hanya makan roti buatanku sendiri,
jadi tawaran ini sangat menyenangkan.
Aku mengambil satu keping dan memasukkannya ke mulut.
──Seketika itu juga, hatiku mengerti.
Kue kering ini dan roti dari roti lapis itu dipanggang
oleh orang yang sama.
Level kue kering ini benar-benar setinggi itu.
"Kuruto-san, kue kering ini──"
Saat itu juga, kata-kata ayahku dan Danzou terngiang
kembali.
[Mata-mata harus membuang rasa ingin tahu. Kalau tidak,
kau akan mati.]
[Tuan Olado, jangan mencari tahu hal yang tidak perlu.]
……Malam ini, mata-mata akan menyelinap ke bengkel. Jika
aku mencoba menggali informasi di saat seperti ini, itu sangat berbahaya.
Tapi, tidak, justru karena itulah aku tidak tahan untuk
tidak bertanya.
Jika mereka gagal, aku pun akan terkena dampaknya.
Kalau begitu, aku ingin tahu sebelum aku tertangkap. Tentang kue kering ini, tentang roti itu.
"──Siapa
yang memanggangnya!?" tanyaku.
Bahkan
dengan suara yang belum pernah kukeluarkan sekeras itu. Akuri
sampai terkejut karena suaraku yang terlalu keras.
Tapi, Kuruto tidak tampak terganggu dan menjawab
dengan senyuman.
"Ah, apa jangan-jangan tidak enak?"
"Tidak, sangat enak."
"Syukurlah. Aku sendiri yang
memanggangnya."
……Hah? Kuruto yang memanggang kue kering ini?
"Jangan-jangan, roti lapis milik anggota Sakura
juga?"
"Iya, urusan makan mereka semua adalah tanggung
jawabku. Karena aku ini kan pesuruh."
"Be-begitu ya."
Sambil merasa terguncang, aku menyiapkan telur yang
dipesannya. Kuruto mengucapkan terima kasih lalu pulang.
Hingga malam tiba, aku terus terperangkap dalam pusaran
pikiran.
Secara logika, tidak mungkin Atelier Meister Lict
yang seharusnya berada di ibu kota malah memanggang roti di bengkel.
Lebih masuk akal jika pesuruhlah yang menyiapkan makanan.
Tapi aneh. Kalau begitu, kenapa Kirschel begitu ketakutan
saat aku bicara soal roti lezat di bengkel?
Kenapa Danzou sangat waspada saat aku bertanya siapa
pembuat roti lapisnya?
Apa Kuruto berbohong?
Jika itu benar?
Rasanya tidak mungkin pesuruh biasa bisa membuat masakan
seperti itu. Jangan-jangan──
"Mungkinkah, Kuruto Rockhans adalah Sang Atelier
Meister?"
Jika benar, apa gelar bangsawan kehormatan yang misterius
itu diberikan untuk melindunginya?
Apa Lict hanyalah umpan untuk melindungi Kuruto?
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki. Kupikir
mata-mata yang menyelinap ke bengkel sudah datang, tapi──
"Wah, ternyata intuisi Anda tajam sekali ya."
Itu suara wanita. Padahal mata-mata dan perantara
semuanya adalah pria.
"Siapa!?"
"Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya kita bertemu
secara langsung."
Bersamaan dengan suara itu, tiba-tiba di depanku muncul
seorang wanita yang memegang pisau dan dua sosok bertopeng.
Sosok bertopeng itu pastilah Phantom.
Aku sulit mempercayai mereka ada di sini, tapi yang lebih
mengejutkan adalah──
"……Putri Ketiga Liselotte Homuros."
Tak kusangka Sang Putri sendiri yang muncul di hadapanku.
"Wah,
Anda juga mengenalku ya, Olado-san."
"Tentu
saja. Kedatangan Anda ke sini hari ini berarti──"
"Iya.
Para penyusup yang menyelinap ke bengkel, termasuk perantaranya, semuanya telah
kami tangkap."
"Begitu...
ya."
Ternyata
gagal. Mereka semua tertangkap, lalu mungkin disiksa, dan demi memohon ampun,
mereka membocorkan informasiku juga.
Sial, lebih baik mereka mati saja sekalian.
"Ah, Anda mungkin salah paham, tapi kami sudah tahu
sejak lama kalau Anda adalah mata-mata Count Usan."
"Eh? Lalu kenapa..."
"Karena jika kami menangkap dan mengusir semua
mata-mata dari kota, mata-mata baru akan masuk lagi. Jadi, kami membiarkan
mata-mata yang tidak berbahaya tetap tinggal. Selama tidak melakukan tindakan
yang melampaui batas, kami tidak akan bertindak... Meski begitu, kami tidak
bisa membiarkan penyusupan ke bengkel. Kami sudah mendapatkan informasi
sebelumnya bahwa mata-mata Count Usan akan menyelinap, jadi kami menangkap
mereka segera setelah mereka memasuki area bengkel."
"Begitu ya──"
Jadi saat Count Usan memutuskan untuk mengirim mata-mata,
nasibku sudah tamat.
"Lalu, apa Anda tidak berniat berhenti menjadi
mata-mata?"
"Mustahil. Pada akhirnya, aku tidak punya keberanian
untuk melawan Count."
"Lho? Anda tidak perlu melawan, kok."
"Eh?"
Apa maksudnya? Bukankah dia datang untuk menghabisiku?
"Entah kenapa, besok Count Usan akan menyerahkan
gelar bangsawannya kepada putranya, Kusai. Di saat yang sama, seluruh
organisasi intelijen milik keluarga Count akan dibubarkan. Perantara yang berhubungan langsung denganmu sudah menghilang, dan
seluruh dokumen tentangmu telah musnah. Karena seluruh informasi tentangmu
sudah hilang, maka hampir mustahil bagi siapa pun untuk menghubungimu lagi. Jika
Anda ingin terus menjadi tukang roti, kami tidak akan melakukan apa pun."
Aku hampir tidak bisa mempercayai kata-kata Putri Liselotte.
"Apa itu benar?"
"Iya. Tapi, dilarang keras membocorkan informasi
tentang Tuan Kuruto yang baru saja Anda sadari. Jika Anda bicara──tidak, jika
terlihat tanda-tanda Anda akan bicara, aku tidak tahu apa yang akan terjadi
pada Anda."
"Tentu saja. Saya tidak akan mengatakannya. Bahkan
sampai mati pun tidak akan saya katakan."
Sambil berkata begitu, aku bersumpah dengan melakukan Dogeza,
cara bersujud yang berasal dari negeri Yamato jauh di Timur. Tapi, aku tidak
tahan untuk tidak bertanya.
"Kenapa Anda memaafkan saya? Setahu saya, Phantom
tidak akan membiarkan orang yang mengetahui informasi tetap hidup."
Ini tindakan bodoh.
Bagaimana jika dia berubah pikiran dan memutuskan untuk
membunuhku.
Tapi, dia tidak marah karena hal itu.
"Karena Akuri bilang roti pemberianmu sangat enak
saat dia memakannya. Walaupun dia juga bilang kalau roti buatan Papa masih jauh
lebih enak. Alasannya hanya itu."
"Haha."
Sepertinya nyawaku diselamatkan berkat anak kecil itu.
Begitu ya, meskipun dia terbiasa makan roti kelas atas
setiap hari, dia tetap bilang rotiku enak.
Sebagai tukang roti, rasanya aku sedikit mendapatkan
kembali rasa percaya diriku.
"Kalau begitu, saya permisi."
Sambil berkata begitu, dia mengangkat pisau yang
dipegangnya, lalu menghilang seperti asap.
Aku ingin menganggap ini mimpi, tapi aku tidak seoptimis
itu.
Bekas keringat di dahi yang menempel di lantai menjadi
buktinya. Jika melihat ke luar jendela, pagi sudah dekat.
Aku harus menyiapkan adonan roti untuk besok agar toko
bisa buka tepat waktu.
"Olado-san, selamat pagi."
"Halo, Nyonya. Tiga roti hitam seperti biasa ya.
Ngomong-ngomong──"
Sambil memasukkan tiga roti hitam ke dalam keranjang
pelanggan tetapku, aku bertanya.
"Katanya monster di hutan sudah berkurang
belakangan ini, apa Anda dengar sesuatu?"
"Bukankah bagus kalau damai? Tapi kalau monster
hilang, petualang mungkin akan pergi dari kota. Jadi katanya untuk mencegah
petualang pindah ke kota lain, ada pembicaraan untuk memberikan mereka
permintaan menjaga keamanan kota. Padahal justru petualang yang paling sering
mengganggu keamanan, ya."
Nyonya itu tertawa lalu menambahkan, "Ah, tapi
petualang dari bengkel itu pengecualian. Mereka semua anak baik."
Begitu ya, memberikan permintaan menjaga keamanan kepada
para petualang... Tunggu, aku sudah tidak perlu mengumpulkan informasi lagi.
Sudah jadi kebiasaan bagiku untuk mengorek informasi.
"Tetap saja, petualang di kota kami sepertinya masih
berkelakuan baik. Ah, Nyonya, aku beri bonus satu roti baru ya."
"Terima kasih. Ngomong-ngomong, roti Olado-san
belakangan ini jadi makin enak ya, apa ada yang berubah?"
"Anda sadar ya? Aku baru saja mengganti oven rotiku.
Selain itu, aku juga sudah menemukan roti yang ingin kujadikan tujuan."
Sambil berkata begitu, aku memasukkan roti bonus ke dalam
keranjangnya.
Setelah itu, aku yang tidak perlu lagi menghabiskan waktu
untuk kegiatan mata-mata mulai mencurahkan seluruh tenagaku untuk membuat roti.
Aku berhasil meraih bintang pertama dalam Misholun
Guidebook di kota ini dan seketika toko kami menjadi terkenal.
Meski begitu, aku tidak menjadi sombong dan tetap
menghargai pelanggan setia.
Karena aku selalu memberikan bonus roti baru kepada
mereka, orang-orang mulai menjulukiku sebagai "Toko Roti dengan Banyak
Bonus".
Namun, karena hidupku diselamatkan hanya oleh satu bonus
roti, ini adalah semacam jimat keberuntungan bagiku, jadi aku tidak akan pernah
berhenti melakukannya.



Post a Comment