NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 5 Chapter 1

Chapter 1

Babak Final Turnamen Bela Diri


Pengundian untuk babak final turnamen dimulai.

Berbeda dengan babak kualifikasi tempo hari, jumlah pesertanya tidak terlalu banyak.

Bagan turnamen yang telah diputuskan diumumkan secara ringkas, namun aku memilih memisahkan diri dari Yura-san—pasanganku di turnamen ini—untuk mencari seseorang.

Ada dua orang yang sedang kucari.

Pertama adalah orang yang sangat mirip dengan Golnova-san, pemimpin party petualang "Taring Naga Api" tempatku bernaung dulu.

Warna rambutnya memang berbeda, tapi aku curiga bahwa peserta turnamen itu sebenarnya adalah Golnova-san.

Orang kedua adalah Yurishia-san, petualang utama yang bekerja di bengkel yang sama denganku.

Dia menghilang secara tiba-tiba, namun kabarnya dia ikut serta dalam turnamen ini dan berhasil lolos hingga ke babak final.

Informasi itu kudapatkan dari Liese-san yang bekerja di bengkel yang sama dan ikut membantuku mencari di area turnamen, namun tetap saja hasilnya nihil.

Apa benar kata Liese-san kalau dia sedang menyamar?

Saat aku sedang mengedarkan pandangan ke sekeliling, sesosok pria tertangkap oleh mataku.

"……!"

Orang itu.

Meskipun rambut yang dulunya merah kini berubah menjadi ungu, aku yakin tidak salah lagi.

Aku segera mengejarnya dengan terburu-buru.

Di tengah jalan, aku sempat disapa oleh orang-orang yang mengaku sebagai penggemarku dan nyaris terjatuh gara-gara belum terbiasa memakai rok, namun akhirnya aku berhasil menyusulnya.

"Anu, permisi!"

Begitu aku memanggilnya, pria itu menoleh.

Benar, dugaanku tepat.

Tidak salah lagi—orang ini adalah—

"Siapa kau? Ada perlu apa?"

"Anda Golnova-san, kan!?"

"──!?"

Pria berrambut ungu itu—Golnova-san—membelalakkan matanya karena terkejut mendengar ucapanku.

Golnova-san adalah pemimpin party "Taring Naga Api", tempatku bergabung dulu.

Aku memutuskan ikut turnamen ini karena merasa melihatnya di ruang tunggu pemain, dan ternyata penglihatanku memang tidak salah.

Ah, benar juga. Dengan penampilanku yang sekarang, dia pasti tidak akan mengenaliku.

"Golnova-san, dengan penampilanku yang sekarang mungkin Anda tidak mengenali saya, tapi aku sebenarnya—"

"Kau salah orang."

"……Eh?"

Ucapanku terpotong oleh kalimat dingin yang dilemparkannya begitu saja.

"Golnova? Aku tidak tahu siapa itu, tapi namaku bukan itu."

"Ta-tapi……"

Salah orang?

Benarkah?

Warna rambutnya memang berbeda, tapi wajah itu.

"Namaku Purple. Aku tidak kenal pria bernama Golnova. Maaf, tapi aku sedang mencari seseorang, jadi aku pergi dulu."

Pria bernama Purple yang sangat mirip Golnova-san itu pun melangkah pergi bersama seorang wanita berpakaian pelayan yang wajahnya tertutup topeng.

……Ternyata aku benar-benar salah orang.

Memang sih, warna rambutnya sangat berbeda dengan Golnova-san, apa mungkin ini cuma kebetulan ada orang yang mirip?

Aku sudah merepotkan Yura-san, tapi ujung-ujungnya malah salah orang.

Aku benar-benar tukang cari gara-gara.

◆◇◆

Sialan, bikin jantungan saja. Siapa sih perempuan tadi itu?

Bisa gawat kalau identitasku sebagai Golnova sampai terbongkar.

Soalnya, saat ini aku sedang menjadi buronan Kerajaan Homuros.

Gara-gara aku menceramahi sebuah restoran di ibu kota Homuros yang menyajikan makanan super tidak enak, para prajurit malah mencoba menahanku. Aku hanya membalas serangan mereka—cuma itu saja, lho.

Tapi, aku tidak menyangka akan ada orang yang bisa melihat menembus penyamaran sempurnaku ini.

Karena dia tidak terlihat seperti pemburu hadiah, kemungkinan besar dia cuma penggemar fanatikku atau semacamnya.

Yah, karena aku sudah membantahnya dengan tegas, harusnya tidak akan ada masalah lagi.

"Jadi, Maid Bertopeng. Apa Kuru ada di deretan kursi penonton?"

Aku bertanya pada Maid Bertopeng yang ada di sampingku—Elena, Golem pelayan yang agak payah—untuk memastikan keberadaan Kuruto.

Karena dia bekerja sebagai pelayan di ruang tamu VIP, aku menyuruhnya mendaftar sebagai peserta dengan nama samaran.

"Tidak, Purple. Saya tidak bisa menemukannya."

"Begitu ya. Padahal kalau si brengsek itu melihatku, dia pasti akan langsung memanggil, tapi sejauh ini yang memanggilku cuma satu orang pelayan tadi. Apa-apaan ini, apa aku memang punya nasib yang kuat dengan para pelayan?"

"Dia tadi bukan pelayan, melainkan pramusaji."

"Mirip-mirip saja, kan?"

"Berbeda."

Aku tidak paham letak perbedaannya di mana, tapi karena menakutkan jika membuat Elena marah, aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Elena ini adalah boneka—seorang Golem—yang ditemukan di reruntuhan misterius di Pegunungan Sheen, tempat yang katanya dulu merupakan lokasi Desa Haste.

Dia sangat kuat, dan sepertinya punya hubungan dengan si Kuruto itu.

Entah kenapa dia salah paham dan mengira aku dan Kuruto adalah sepasang kekasih, jadi aku memanfaatkannya untuk mencari keberadaan bocah itu.

"Tapi ini agak mengejutkan. Saya kira Purple menyukai tipe anak yang manis seperti Kuruto……"

"Hah? Bicara apa kau? Wanita cantik, makanan enak, senjata kuat, dan sorakan rakyat, semuanya sudah jelas diciptakan hanya untukku."




Hanya saja, yang satu ini pengecualian. Penampilannya memang gadis imut, tapi dia itu monster.

"Tapi, pramusaji tadi kelihatannya lumayan manis, lho."

"Hah?"

Aku menoleh dan melihat gadis yang tadi menyapaku sedang menunduk lesu.

Memang benar, kalau diperhatikan dia punya wajah yang imut. Tapi, entah kenapa...

"Melihat wajahnya saja membuatku naik darah."

Rasanya mirip sekali seperti sedang melihat Kuruto—bisikku dalam hati agar tidak terdengar oleh Elena.

Maid Golem ini punya kesalahpahaman tidak masuk akal bahwa dia harus menikahkan aku dengan Kuruto, jadi aku tidak boleh sampai keceplosan.

Pokoknya, pertama-tama aku harus memenangkan turnamen ini, membatalkan status buronanku, dan mendapatkan kekuasaan.

Lalu aku akan menangkap Kuruto dan membuat Putri Ketiga Kerajaan Homuros yang katanya sedang bersamanya itu bertekuk lutut. Itulah rencanaku.

"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu, Anda bisa bertarung sekuat tenaga meski harus melawannya, kan?"

"Ha? Apa maksudmu?"

"Berdasarkan bagan turnamen yang baru diumumkan, ada kemungkinan Anda akan melawan pasangan gadis itu dan Yura di babak kedua. Mereka adalah pasangan yang lolos kualifikasi sebagai peringkat pertama."

Aku juga sudah melihat bagannya, tapi tidak ingat detailnya. Tapi tunggu, pramusaji tadi peringkat satu kualifikasi?

Bercanda, ya? Dilihat dari sisi mana pun dia itu cuma kroco yang setipe dengan Kuruto. Apa rekan laki-lakinya yang bernama Yura itu sangat kuat?

Atau jangan-jangan...

"Aku ingat sekarang. Jangan melawak, lawan kita di babak kedua bukan kroco begitu, tapi Champ dan Ion."

Champ dan Ion adalah pasangan pemenang turnamen sebelumnya. Mereka pasti akan menang dan maju ke babak kedua.

"Benar. Tapi saya rasa Anda akan bertarung melawan pasangan Kurumi dan Yura."

"Kau... yakin si Mai—pramusaji itu bisa mengalahkan pemenang tahun lalu dan naik ke babak kedua?"

"Iya. Ada aura seperti itu darinya."

Elena mengangguk mantap.

...Kau serius?

Aku menatap punggung gadis bernama Kurumi yang berjalan lesu menjauh, tapi tetap saja aku tidak bisa memercayai perkataan Elena.

◆◇◆

Babak final turnamen bela diri telah dimulai.

Aku berpartisipasi dalam turnamen ini dengan menggunakan nama Yura.

Di sampingku, rekanku Kurumi sedang menonton jalannya pertandingan dari kursi khusus peserta.

Tadi dia kelihatan sangat murung, tapi sekarang dia menonton dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang lugu.

"…………"

Aku melirik ke arah kursi VIP.

Di sana mungkin ada Liese... dan juga Kuruto.

Apakah Kuruto yang sangat mengagumi petualang itu juga sedang menonton pertandingan dengan mata berbinar seperti Kurumi? Ataukah dia malah sedang sibuk mencariku?

Kalau yang kedua, aku merasa bersalah padanya.

"Ada apa, Yura-san?"

Yura... setiap kali mendengar nama itu, rasa bersalah menyergapku.

Identitas asliku adalah seorang petualang wanita bernama Yurishia.

Meski begitu, aku menyamar sebagai laki-laki dan mengikuti turnamen ini. Tujuannya adalah untuk menghancurkan rencana sepupuku, Kak Loretta—sang Penguasa Pulau Isisesma—yang berniat menikahkan aku dengan pemenang turnamen ini.

Namun, demi tujuan itu, aku malah memanfaatkan gadis polos seperti Kurumi.

Awalnya dia ikut turnamen ini karena ingin bertemu seorang pria, dan katanya keinginan itu sudah tercapai tadi.

Hanya saja, pria itu ternyata bukan orang yang dia cari. Dengan kata lain, dia salah orang.

Karena itu, sebenarnya Kurumi sudah tidak punya alasan lagi untuk bertarung. Namun, dia tetap terlibat karena kepentinganku.

"……Maaf ya."

"……Eh? Anda bicara sesuatu?"

"Tidak... selanjutnya giliran pertandingan kita."

"A—ah, benar juga!"

Tangan Kurumi yang mengucapkannya tampak gemetar.

Apa itu getaran semangat bertarung? Bukan, sepertinya dia cuma gugup biasa.

Mau bagaimana lagi—lawan kami di babak pertama adalah Champ dan Ion, pemenang turnamen sebelumnya. Mereka adalah kandidat kuat juara tahun ini.

"Aku akan bertarung sendirian, jadi tenang saja. Kurumi, tetaplah di posisi yang jauh. Kalau aku kalah, kau boleh turun dari panggung atau menyerah sesukamu."

"A-aku mengerti. Tapi, izinkan aku memberi bantuan."

"Tentu, aku mengandalkanmu."

Aku tersenyum tipis pada Kurumi. Seketika, wajahnya memerah.

"……Diandalkan dalam pertarungan…… mungkin ini pertama kalinya dalam hidupku. Aku senang sekali."

"A... ah, jangan terlalu membebani diri, ya."

Melawan pasangan kandidat juara dengan kondisi praktis bertarung sendirian. Rasanya turnamen ini langsung mencapai klimaksnya.

 

Aku dan Kurumi melangkah menuju panggung arena.

Karena saking gugupnya, tangan kanan dan kaki kanan Kurumi bergerak maju bersamaan. Cara gugup yang sangat klise.

"""""L-O-V-E, KURUMI-CHAAAN!"""""

Di kursi penonton, sekelompok pria yang tampaknya penggemar Kurumi bersorak sambil mengenakan pakaian berwarna merah muda.

"Kurumi-chaaan, semangat yaaa!"

"Jangan kalah dari Champ dan Ion!"

"Tapi jangan sampai terluka yaaa!"

Popularitas Kurumi luar biasa.

"KYAAAA, YURA-SAMAAAA!"

"Yura-sama, lihat ke siniii!"

……Popularitas namaku juga luar biasa.

Biasanya kalau kandidat juara muncul, sorakan untuk mereka akan lebih besar, tapi entah kenapa sebagian besar dukungan justru mengalir pada kami.

Mari kita tinjau kembali aturan turnamen ini.

Isi pertandingannya sederhana.

Bertarung berpasangan pria-wanita.

Pingsan, jatuh dari panggung, atau terkena 10-count down dianggap tidak mampu bertarung (Incapacitated) dan tidak boleh melanjutkan pertandingan.

Pasangan yang kedua anggotanya lebih dulu tidak mampu bertarung dinyatakan kalah.

Artinya, andai Kurumi langsung keluar panggung di awal laga pun, aku hanya perlu menang sendirian.

Penggunaan sihir dibebaskan. Penggunaan senjata dan peralatan juga bebas asalkan sudah didaftarkan sebelumnya. Tentu saja, membawa senjata sekelas artileri pengepungan dilarang.

Terakhir, dilarang membunuh lawan. Yah, kira-kira begitu.

"──Lawan kita populer sekali ya, Ion."

"Iya, aku jadi sedikit cemburu, Champ."

Mereka muncul. Pasangan Champ dan Ion.

Champ adalah tipe petarung garis depan murni. Katanya, tidak ada manusia yang selamat jika sudah masuk dalam jangkauan tinjunya.

Lalu Ion yang memegang cambuk. Cambuknya panjang, dan pengendaliannya luar biasa akurat. Dia bahkan bisa menghancurkan inti dari Baby Slime—monster kecil tingkat rendah—dengan presisi tinggi.

"Yah, bagaimana cara melawannya—bertarung dari depan akan merugikan."

"Anu…… Yura-san──"

Saat aku sedang bergumam, Kurumi membisikkan sebuah saran.

……Apa hal seperti itu benar-benar bisa dilakukan?

Aku ingin menanyakannya, tapi karena Kurumi bilang dia bisa, berarti dia memang bisa. Lagipula, anak ini sepertinya berasal dari Desa Haste yang sama dengan Kuruto.

"Baiklah, aku serahkan padamu."

Aku mengangguk, dan Kurumi pun mengangguk sambil tersenyum.

Lalu, Kurumi mendekati wasit wanita yang hendak mengumumkan dimulainya pertandingan dan membisikkan sesuatu di telinganya.

Melihat wasit yang mengangguk dalam diam dengan ekspresi heran, Champ dan Ion langsung memasang posisi waspada. Yah, itu wajar karena tindakan kami seolah memberi tahu kalau kami punya strategi khusus.

Wasit mengangkat tangannya.

"Kalau begitu, pertandingan pertama Blok C—Pasangan Yura & Kurumi VS Pasangan Champ & Ion dimulai──BERTANDING…… MULAI!"

Tepat setelah pengumuman itu, wasit langsung berlari dan melompat turun dari panggung.

Di saat bersamaan, Kurumi juga melompat mundur jauh bersamaku, lalu dia mengayunkan kapak raksasa yang digendongnya ke bawah.

Tentu saja, kapak itu tidak akan sampai mengenai Champ maupun Ion.

Namun, kapak yang dia ayunkan menghantam sasarannya dengan tepat.

──Yaitu panggung arena yang terbuat dari batu.

Retakan menjalar seketika dari titik hantaman kapak Kurumi. Lantai di bawah kaki Champ dan Ion hancur lebur dalam sekejap.

Dalam turnamen ini, panggung batu memang sudah sering hancur. Batunya tidak sekeras itu, jadi akan hancur jika dipukul kapak atau palu, bahkan petarung ahli pun bisa melubanginya dengan tangan kosong.

Namun, menghancurkan separuh panggung dalam satu serangan adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sesuai aturan, jika bagian tubuh menyentuh tanah, maka dianggap kalah karena keluar arena (Ring Out). Bahkan jika terjatuh ke dalam lubang yang muncul di atas panggung, itu tetap dihitung Ring Out.

Serangan kejutan yang sempurna. Tidak mungkin ada manusia yang bisa menghindari lubang jebakan yang mendadak muncul di bawah kaki mereka. Kalau aku ada di posisi Champ dan Ion, aku pasti sudah langsung kalah.

Tapi, mereka berbeda.

Sambil terjatuh ke dalam lubang yang muncul tiba-tiba, Ion tetap tenang dan mengayunkan cambuknya.

Cambuk itu melilit tubuh Champ, lalu Ion melemparkannya kembali ke sisa panggung yang masih utuh, menyelamatkannya dari kejatuhan. Sesaat setelah itu, Ion mendarat di tanah.

Dalam sekejap, dia memilih mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Champ.

Aku sangat kagum, memang benar-benar pasangan juara bertahan.

Champ yang nyaris terhindar dari Ring Out berkat Ion, kini berdiri tegak memandang kami.

"Kalian berhasil melakukannya ya. Aku benar-benar lengah. Akan kubalaskan dendam Ion."

Champ berucap sambil melepaskan haus darah (Lust for Blood).

Tekanan yang luar biasa. Sangat mengerikan sampai-sampai rasanya semua pori-pori di tubuhku terbuka.

Saat aku refleks memasang posisi tempur, tiba-tiba haus darah dan tekanan itu lenyap.

Kenapa dia berhenti? Apa dia mencapai kondisi pikiran tenang (State of Mind)?

Pikirku begitu, tapi entah kenapa Champ malah menggaruk kepalanya dengan bingung dan bertanya padaku.

"Hei, Dek. Gadis di sana itu, apa dia baik-baik saja?"

"Eh?"

Aku menoleh, dan di sana Kurumi sudah pingsan dengan mulut berbusa.

"……Sepertinya dia pingsan karena takut dengan tekananmu."

Aku menjawab sambil tertawa kecut.

Sungguh, kupikir dia sangat hebat setelah menunjukkan aksi ekstrem menghancurkan panggung, eh ternyata malah pingsan cuma karena gertakan.

Seberapa sensitif sih hatinya?

"Maaf. Boleh aku membawanya turun ke luar arena?"

"Ah... apa perlu kusuruh Ion mengobatinya?"

"Tidak apa-apa, tidak ada luka luar. Biarkan dia tidur saja nanti juga sembuh."

Setelah mendapat izin dari Champ dan wasit, aku menggendong Kurumi, turun dari panggung, dan membaringkannya di dekat dinding luar arena.

Anak ini benar-benar antara hebat dan payah.

Setelah itu aku kembali ke panggung untuk memulai kembali pertandingan... tapi suasana mencekam tadi sudah hilang. Ekspresi Champ juga tampak seperti orang yang sudah kehilangan niat jahat.

Meski begitu, bukan berarti kami tidak akan bertarung.

"Kurumi sudah berjuang keras. Aku juga tidak boleh kalah."

"Aku juga, karena Ion menontonku. Lagipula, aku lebih suka pertarungan antar laki-laki."

Champ tertawa lebar dengan wajah senang.

Padahal aku ini perempuan, lho. Tapi itu tidak mungkin kukatakan sekarang.

Aku mencabut pedang kesayanganku, Yukibana, yang dibuatkan oleh Kuruto, lalu memasang kuda-kuda.

Dan pertarungan kami pun dimulai.

 

"──Lho? Di mana ini?"

Kurumi terbangun satu jam setelah pertandingan melawan Champ dan kawan-kawan berakhir.

"Di ruang medis markas turnamen."

"Ruang medis?"

Melihat sekeliling dengan tatapan linglung, sepertinya Kurumi belum sepenuhnya paham dengan situasi saat ini. Namun perlahan fokus matanya kembali, dan dia berucap seolah baru saja teringat sesuatu.

"…………Ah! Pertandingannya! Bagaimana hasil pertandingannya!?"

"Tenang saja. Kita menang kok."

Mendengar ucapanku, Kurumi tersenyum.

Tapi tidak seperti dugaanku, senyumnya tampak sedikit sedih. Padahal kukira dia akan sangat kegirangan.

Tapi jujur saja, tadi itu pertarungan yang berat.

Alih-alih membiarkan daging teriris untuk memotong tulang, aku menang dengan metode yang bisa disebut membiarkan tulang dipatahkan untuk menyayat daging.

Meski aku menderita luka yang bagi pendekar pedang dianggap fatal, berkat obat luka yang dulu pernah kudapat dari Kuruto, semuanya sudah sembuh total.

"Hebat ya, Yura-san. Kalau aku benar-benar tidak berguna."

Sepertinya Kurumi memasang ekspresi begitu karena merasa dirinya tidak membantu sama sekali.

"Bicara apa kau. Mengalahkan Ion itu berkat jasamu, lho."

Aku menyentil dahinya pelan. Kurumi memegangi dahinya dengan mata sedikit berkaca-kaca.

Lho? Apa sentilanku terlalu keras? Padahal aku bermaksud menahan diri.

"Kau tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa…… itu, aku hanya senang Yura-san perhatian padaku…… dan bilang kalau aku berguna dalam pertarungan…… Ah! Panggungnya! Aku harus segera memperbaikinya!"

"Memperbaiki? Kurumi, apa kau berniat membetulkan panggung yang kau hancurkan itu?"

Meskipun mustahil mengembalikan panggung itu seperti semula... tidak, kalau Kurumi mungkin saja dia bisa. Karena kalau Kuruto pasti bisa melakukannya.

"Iya! Habisnya kalau kondisinya begitu, pertandingan selanjutnya tidak bisa dimulai, kan?"

"Tidak apa-apa. Pertandingannya sudah dipindah ke arena lain dan masih berlanjut sampai sekarang. Karena sejak awal babak semifinal memang direncanakan di arena yang berbeda, jadi mereka menggunakan itu lebih awal. Hanya saja, panitia penyelenggara memintaku supaya lain kali jangan merusak arena lagi."

"Begitu ya…… kalau begitu, aku harus memikirkan cara lain."

Apa dia masih bisa memikirkan cara aneh lainnya seperti tadi? Kalau aku tidak bertanya dulu sebelumnya, jantungku bisa tidak kuat menghadapinya.

Benar, ada satu hal lagi yang harus kusampaikan.

"Ah, satu lagi, lawan kita di babak kedua sudah diputuskan. Pasangan Purple dan Maid Bertopeng. Aku tidak melihat pertandingannya, tapi katanya Purple tidak ikut bertarung. Si Maid Bertopeng menangkis semua serangan dengan tangan kosong dan membalasnya sampai lawan tumbang. Kemampuannya masih misterius. Mereka disebut sebagai Dark Horse di turnamen ini."

Yah, sebutan Dark Horse itu juga berlaku untuk kita sih.

Kabarnya tiket pertandingan kita melawan tim Purple sudah habis terjual, dan harga tiket di tangan calo sudah melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dari harga normal.

"Babak kedua akan dimulai sebentar lagi, apa Kurumi bisa berangkat? Kalau tidak kuat, kita diskualifikasi saja."

"Aku tidak apa-apa. Setelah istirahat sebentar—anu, di mana barang-barangku?"

"Barangmu ada di sana."

Aku sudah membawakan barang bawaannya. Karena jumlahnya cukup banyak dan berat, membawanya jauh lebih merepotkan daripada menggendong Kurumi sendiri. Kurumi melirik barang-barangnya itu.

"……Anu, sepertinya pakaian ini memang agak sulit dipakai bertarung, jadi aku mau ganti baju."

"Ah, itu lebih baik. Perlu kubantu?"

"Tidak, itu……"

Kurumi menunduk dan tampak sulit mengatakannya. Hm? Ada apa?

"……Akan sangat membantu jika Anda keluar dari ruangan ini."

"Ah! Maaf, maaf!"

Apa-apaan aku tadi bilang 'perlu kubantu'... Padahal sekarang aku sedang menyamar jadi laki-laki.

Aku meminta maaf pada Kurumi lalu keluar dari ruang medis.

Sambil merutuki kegagalanku, aku menyadari ada seseorang di luar ruangan.

Aku terperangah karena sama sekali tidak merasakan kehadirannya sampai aku melihat sosoknya, tapi itu wajar saja. Sebab, yang berdiri di sana adalah Kak Loretta.

Di depan wanita yang merupakan dalang dari situasi ini, keringat dingin mulai membasahi punggungku.

"Apakah kondisi atlet Kurumi baik-baik saja? Atlet Yura."

Kak Loretta bertanya.

"Ya, dia baik-baik saja."

Aku menjawab sambil memalingkan wajah, berusaha agar suaraku tidak gemetar.

"Dia tidak terluka, hanya pingsan karena tekanan mental saja."

"Begitukah. Anda adalah kandidat juara, jadi saya lega tidak ada kejadian menang WO karena pasangan Anda absen."

Setelah berkata demikian, Kak Loretta langsung pergi begitu saja.

Aku menelan ludah sambil menatap punggungnya.

Apa dia benar-benar datang jauh-jauh ke sini karena khawatir pada Kurumi?

Ataukah jangan-jangan dia sudah menyadari identitas asliku?

Saat aku sedang bimbang, pintu ruang medis di belakangku terbuka.

"Yura-san, aku sudah selesai ganti baju…… anu, ada apa?"

"T-tidak, bukan apa-apa. Daripada itu, Kurumi. Kau serius sudah ganti baju?"

Kelihatannya tidak ada yang berubah dari sebelumnya.

"Iya, aku memakai celana di balik rok."

Sambil berkata begitu, Kurumi memegang ujung roknya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi untuk memperlihatkan celana pendeknya padaku.

Melihat pose memalukan itu, aku hanya bisa menghela napas sambil bergumam dalam hati, "Ke mana perginya rasa malumu yang tadi?"

◆◇◆

Di pertandingan pertama, aku, Kuruto, berhasil membantu Yura-san dengan menjatuhkan Ion-san keluar arena melalui serangan kejutan menghancurkan panggung—hal yang sebenarnya bisa dilakukan siapa saja.

Tapi, itu saja tidak cukup. Aksi menghancurkan panggungku sudah terlihat oleh semua orang.

Serangan kejutan yang sama tidak akan mempan pada lawan berikutnya.

Sekalipun aku menghancurkan panggung seperti di laga pertama, orang yang cukup ahli pasti bisa memperbaiki panggung tersebut sebelum terjatuh.

Tidak, mereka adalah orang-orang yang tersisa di babak final. Sebelum panggung hancur pun, mereka pasti bisa melepaskan serangan berlawanan fasa untuk meredam guncangannya secara total.

Setidaknya, itulah yang akan aku lakukan jika berada di posisi mereka.

Jika sudah begini, aku yang hanya bisa mengayunkan kapak tidak akan punya peran di tengah pertandingan.

Seperti kata Yura-san, pilihannya hanya menunggu di tepi panggung agar tidak mengganggu, atau menjatuhkan diri sendiri keluar arena.

Tapi, menurutku itu tidak benar. Apa yang bisa kulakukan?

Aku meninjau kembali aturannya. Pertarungan dua lawan dua pria-wanita, senjata bebas. Namun, alat yang tidak bisa dipegang tangan—seperti Ballista pengepungan—dilarang.

……Alat yang bisa dipegang tangan itu bebas? Kalau begitu, aku mungkin bisa menggunakan "itu".

Aku bertanya pada Yura-san yang sedang berjalan bersamaku menuju arena cadangan.

"Yura-san, apa masih ada waktu?"

"Hm? Masih ada sedikit jeda sampai pertandingan dimulai, ada apa?"

"Aku mau membuat alat. Aku memang tidak terlalu ahli membuat senjata penyerang, tapi tetap saja aku ingin melakukan apa yang aku bisa."

"……Waktunya tidak sampai dua puluh menit, lho? Apa bisa dibuat…… ah, aku tidak perlu bertanya ya."

Yura-san tertawa kecil dan berkata, "Lakukan saja sebisamu."

"Aku punya peralatannya, jadi akan kuselesaikan dalam lima menit!"

Aku mengeluarkan tas yang biasa kugunakan dari balik rokku.

"……Di mana kau menyembunyikan tas itu?"

Yura-san berkata dengan nada heran, tapi ya habisnya tas ini tidak cocok dengan baju ini, sih.

"Hm? Kurumi, tas itu…… ah, karena kalian dari desa yang sama, wajar saja kalau punya barang yang sama."

"Eh?"

Ini cuma tas yang bisa ditemukan di mana saja, tapi apa dia tertarik?

"Tidak, bukan apa-apa. Jadi, kau mau membuat apa?"

"Hanya aksesoris kecil……"

Tapi, alat dan bahan ini saja tidak cukup. ……Ah, toko itu.

"Yura-san! Ke sana!"

"Ke sana itu…… toko kerajinan kaca?"

"Iya, di sana aku bisa membuat benda yang kuinginkan!"

Aku masuk ke toko, menjelaskan situasinya pada pemilik toko kerajinan kaca, dan bertanya apakah aku boleh meminjam bengkel kerjanya sebentar.

Awalnya pemilik toko tampak ragu, tapi setelah Yura-san menyelipkan sesuatu ke tangannya, dia langsung setuju. Mungkin itu uang. Aku harus menggantinya pada Yura-san nanti.

Aku meminjam pondok kerja dan mulai membuatnya. Yura-san yang melihatku menyiapkan bahan dan peralatan bertanya lagi.

"Kurumi, kau mau buat apa? Beritahu aku dong."

"Kacamata."

"Kacamata? Kacamata sehebat apa itu? Apa benda sihir yang bisa mengeluarkan laser api dari kacanya?"

"Laser api? Aku kan bukan Golem, tidak mungkin keluar laser api."

"Eh, apa ada Golem yang bisa mengeluarkan laser api dari matanya?"

"Lho? Tidak ada ya?"

Sepertinya Yura-san tidak tahu. Berguna sekali lho untuk menghancurkan batu yang menghalangi jalan.

Ah, di kota mungkin tidak ada batu yang menghalangi jalan, jadi Golem laser tidak diperlukan ya.

"Tapi yang ini tidak mengeluarkan laser. Paling hanya bisa menangkal laser saja."

Kataku sambil menyerahkan kacamata yang baru saja kuselesaikan dengan kilat pada Yura-san.

Yura-san memasang ekspresi heran. Yah, wajar saja, penampilannya memang bukan seperti kacamata biasa.

Habisnya, meski namanya kacamata, ini adalah kacamata hitam (Sunglasses) yang biasa dipakai saat matahari terbenam menyilaukan mata.

"……Hanya sebentar aku memalingkan muka, sudah selesai saja. Kapan kau membuatnya?"

"Eh? Karena kecepatan adalah hal penting dalam membuat kacamata hitam? Saat matahari terasa menyilaukan, kita harus cepat-cepat membuat tungku di dekat sana, lalu menggunakan pasir silika dan sebagainya untuk membuatnya dengan gesit. Kalau kelamaan, mataharinya keburu terbenam. Memakai kacamata hitam saat malam itu berbahaya."

"Begitu…… ya? ……Tapi kupikir orang tidak akan membuat kacamata hitam sendiri hanya untuk langsung digunakan……"

Masa sih? Tapi petualang yang baik pasti menyiapkan kacamata hitam untuk berjaga-jaga dalam situasi seperti itu, kan.

Saat aku sedang memikirkan itu, Yura-san memiringkan kepalanya.

"Lagi pula, kacamata hitam untuk apa?"

"Aku mau pakai Flash Bang."

"Flash Bang?"

"Ini adalah kacamata untuk menangkal kilatan instan dari peledakan kristal sihir cahaya. Begitu aku dan Yura-san memakai kacamata hitam ini, aku akan meledakkan Flash Bang tersebut. Saat musuh kehilangan penglihatan karena ledakan cahaya, Yura-san bisa menyerang dan mengalahkan mereka dengan mudah."

"Rasanya agak curang, dan membuang-buang kristal sihir cahaya sekali pakai itu terasa mubazir... tapi, ya, itu taktik yang lumayan. Ada catatan penyihir cahaya menggunakan metode serupa di turnamen terdahulu, jadi ini tidak akan dianggap pelanggaran."

Bagus, aku sudah mendapat restu dari Yura-san.

Dengan ini, aku akan membuktikan kalau kami bisa menang di babak kedua.

Aku harus memikirkan lebih banyak strategi lagi supaya bisa membalas budi pada Yura-san, meski hanya sedikit.

 

Saat sedang menuju arena, kami menemukan orang yang tak terduga.

Dia adalah Kakaroa-san, salah satu petualang yang datang ke pulau ini bersamaku dan Liese-san.

Seharusnya tadi adalah jadwal pertandingan Yurail-san, petualang lain yang juga datang bersama kami. Kupikir Kakaroa-san masih di arena untuk menonton pertandingan lain, atau sedang menyemangati Yurail-san yang baru selesai bertanding.

"Kurumi-sama, selamat atas kemenangan di pertandingan pertama. Apa Anda punya waktu sebentar?"

Kakaroa-san menyapaku begitu dia menemukanku.

"Dia tidak terlihat seperti penggemar fanatik... Kurumi, apa dia kenalanmu?"

Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan Yura-san, Kakaroa-san sudah mendahului.

"Iya. Nama saya Kakaroa, orang yang dulu pernah sangat berutang budi pada Kurumi-sama."

Kakaroa-san berkata demikian sambil membungkuk sopan.

Saat aku mengobrol dengan Liese-san sebelumnya, Kakaroa-san juga ada di sana, jadi dia tahu kalau Kurumi dan Kuruto adalah orang yang sama.

"Hmph... maaf saja, tapi kami tidak punya banyak waktu sebelum pertandingan. Bisa bicara nanti saja setelah selesai?"

Yura-san mencoba menolak, tapi Kakaroa-san menggelengkan kepala.

"Tidak akan memakan waktu lama. Masih ada waktu sampai giliran Kurumi-sama dan Yura-sama."

"Pasalnya, pertandingan sebelum ini molor sampai satu jam, jadi sekarang pertandingan tepat sebelum giliran kalian baru saja dimulai."

"Satu jam? Apa yang terjadi? Batas waktu pertandingan adalah satu jam, jadi kecuali ada kejadian luar biasa, tidak mungkin waktunya molor sebanyak itu."

"Sepertinya terjadi masalah pada pasangan Kokola-Yurail, sehingga proses sidangnya memakan waktu lama."

"Apa terjadi sesuatu pada Yurail-san!?"

Mendengar perkataan Kakaroa-san, aku refleks berteriak.

Mungkinkah dia terluka parah? Kalau benar begitu, aku harus segera pergi mengobatinya.

Namun, Kakaroa-san menggelengkan kepalanya.

"Pertandingan berlanjut selama satu jam, dan hasilnya adalah kemenangan mutlak bagi pasangan Kokola-Yurail. Seharusnya pertandingan berikutnya langsung dimulai karena jadwal yang padat, tapi ada keberatan yang masuk sehingga pemeriksaan tubuh terhadap Kokola-sama dilakukan."

"Awalnya Kokola-sama menolak pemeriksaan itu, tapi akhirnya dia setuju. Hasilnya, Kokola-sama yang mendaftar sebagai laki-laki ternyata terungkap sebagai seorang perempuan."

"Kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat tim wasit dan sponsor di kursi VIP berkumpul untuk berdiskusi. Hasilnya, pasangan Kokola-Yurail diputuskan kalah karena pelanggaran—"

Mendengar penjelasan Kakaroa-san yang datar, keringat dingin mulai membasahi tubuhku.

Aku sama sekali tidak menyangka ada orang lain selain aku yang menyamar dan ikut turnamen ini.

Bagaimana kalau penyamaranku juga terbongkar, lalu gara-gara aku Yura-san jadi kalah karena pelanggaran?

Aku melirik Yura-san yang ada di sampingku.

"...Begitu... ya... Sayang sekali. Baik Yurail... maupun orang bernama Kokola itu."

Suara Yura-san juga terdengar gemetar.

Yura-san tampak bersimpati pada Yurail-san yang jarang ia ajak bicara, bahkan pada Kokola yang belum pernah ia temui, seolah-olah itu adalah masalahnya sendiri.

"Karena butuh waktu satu jam sampai hasil sidang keluar, pertandingan tepat sebelum Kurumi-sama dan Yura-sama—yaitu antara pasangan Upper-Cut melawan Dokyun-Muneatsu—baru akan dimulai sepuluh menit lagi."

"Oleh karena itu, pertandingan kalian baru akan dimulai satu jam sepuluh menit lagi... Jadi, Kurumi-sama, apakah Anda punya waktu sebentar?"

Saat ditanya oleh Kakaroa-san, aku menatap Yura-san.

Yura-san dengan senyum yang dipaksakan berkata, "A... ah, pergilah."

Dia pun mempersilakanku pergi.

 

Tempat yang didatangi Kakaroa-san bersamaku adalah area ruang VIP yang dilarang bagi pihak luar.

Tempat ini sepertinya hanya boleh dimasuki oleh kaum bangsawan, membuatku merasa sangat tidak pantas berada di sini... Eh, bukan begitu. Karena banyak tamu VIP, ada banyak pelayan maid di sini.

Jadi, aku yang memakai seragam maid justru terasa sangat pas berada di tempat ini.

Jangan-jangan, karena kekurangan tenaga kerja, mereka ingin aku membantu bekerja di sini?

Kakaroa-san mengetuk pintu ruangan yang tampak sangat mewah dan memutar gagangnya.

Tepat setelah itu.

Terdengar suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang terburu-buru dari dalam ruangan. Begitu pintu terbuka, pemilik langkah kaki itu langsung memelukku erat.

Itu adalah Liese-san.

"Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama-Kuruto-sama!"

"Anu... itu tadi dua puluh satu kali, ya."

"Apakah Anda menghitungnya?"

Yurail-san, yang sepertinya berada di ruangan itu bersama Liese-san, tampak terkejut melihatku menghitung jumlah panggilannya.

Yah, karena itu namaku sendiri, tentu saja aku bisa menghitungnya.

"Ah, Kuruto-sama, apakah Anda terluka? Apa ada luka?"

"Iya, aku baik-baik saja... Anu, Liese-san, tolong lepaskan sebentar. Sesak. Ah, jangan masukkan tangan Anda ke dalam rok!"

"Liese-sama, tolong tenanglah. Seperti yang saya katakan tadi, Kuruto-sama hanya pingsan karena tekanan mental, tidak ada luka luar."

Liese-san akhirnya ditarik menjauh oleh Yurail-san.

Begitu ya, Liese-san merasa khawatir karena mendengar aku pingsan.

Alasannya memasukkan tangan ke dalam rok mungkin karena aku pingsan setelah jatuh terduduk, jadi dia ingin memeriksa apakah ada memar atau tidak.

"Maaf sudah membuat Anda khawatir. Lalu, Yurail-san, sayang sekali ya soal pertandingannya."

"...Iya. Aku sudah memprotes, tapi mereka bilang itu kalah karena pelanggaran."

"Aku juga sudah berusaha agar mereka tetap bisa berpartisipasi, tapi mereka bilang pertandingan tidak bisa dilanjutkan jika bukan pasangan pria-wanita... Katanya kalau Yurail-san laki-laki, tidak akan ada masalah... Sungguh disayangkan."

Liese-san berkata demikian sambil memegang tanganku.

Rasanya wajahnya sama sekali tidak terlihat menyesal—malah kelihatannya dia sedang senang. Yurail-san pun tidak tampak sedih meski dinyatakan kalah.

Mungkin ini adalah bentuk perhatian mereka agar tidak memengaruhi pertandinganku.

"Lalu, Liese-san. Apa yang harus aku lakukan? Ah, apa perlu aku buatkan teh sekarang?"

"Itu tawaran yang sangat menarik. Aku sudah bosan minum air lumpur."

"Air lumpur?"

Apakah ada kebiasaan minum air lumpur di kota ini?

Rasanya itu bukan sesuatu yang bagus untuk kesehatan.

"Tidak, bukan apa-apa. Tawaran tehnya sangat menarik dan aku sangat ingin memintanya, tapi tujuanku memanggil Kuruto-sama bukan untuk bekerja. Ada alasan yang lebih istimewa."

Tiba-tiba Liese-san menatapku dengan mata yang sangat serius.

"Kuruto-sama, tolong mundurlah dari pertandingan berikutnya."

◆◇◆

"Kuruto-sama, tolong mundurlah dari pertandingan berikutnya."

Aku, Liselotte, memanggil Kuruto-sama dan memohon kepadanya.

Bisa dibilang, ini adalah permohonan yang amat sangat.

Aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri semua pertandingan dari para peserta yang kemungkinan akan melawan Kuruto-sama, dan memastikan kekuatan mereka.

Sebenarnya aku ingin sekali menjadi orang pertama yang berlari ke ruang medis tempat Kuruto-sama dibawa, tapi aku menahannya demi memantau jalannya turnamen.

Di antara mereka semua, lawan di pertandingan berikutnya, terutama wanita bernama Maid Bertopeng itu, sangatlah berbahaya.

Tidak ada satu pun gerakan sia-sia dalam tindakannya, namun ia sama sekali tidak memancarkan hawa keberadaan. Sebanyak apa pun ia bergerak, napasnya tidak memburu, seolah-olah ia tidak butuh bernapas sama sekali.

Dia tidak tampak seperti manusia biasa.

Aku akan lebih percaya jika ada yang bilang dia adalah ras iblis atau iblis yang menyamar jadi manusia.

Terlebih lagi, kekuatan hancur dari satu serangannya mungkin melampaui Orc Lord, bahkan mungkin melampaui tebasan kapak Kuruto-sama.

Lawan laki-lakinya di pertandingan sebelumnya memang berhasil selamat, tapi sampai sekarang masih belum sadarkan diri. Sepertinya dia tidak akan bisa makan dengan normal untuk sementara waktu.

Aku merasa ngeri membayangkan jika serangan itu diarahkan kepada Kuruto-sama. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk membujuk Kuruto-sama agar mengundurkan diri.

Namun—

"Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya."

Kata-kata yang keluar dari mulut Kuruto-sama adalah penolakan.

Itu sudah masuk dalam perkiraanku.

"Anda memikirkan Yura-san yang bertanding bersama Anda, bukan? Tapi, jika identitas Anda sebagai laki-laki terbongkar, Yura-san lah yang akan paling direpotkan."

"Soal pertandingannya, jangan khawatir. Sebagai pengecualian, aku sudah mendapatkan izin bagi Yurail-san untuk tampil sebagai pengganti pasangan Yura-san. Yurail-san memang kalah pelanggaran karena pasangannya memalsukan jenis kelamin, tapi wasit dan penonton tahu bahwa itu bukan kesalahannya."

"Mari biarkan Yurail-san yang mencari Yuri-san. Nama mereka juga mirip, mereka pasti akan menjadi pasangan yang serasi."

Berdasarkan apa yang kudengar, alasan Kuruto-sama ikut turnamen ini awalnya karena menemukan pria yang mirip Golnova.

Sekarang alasannya tinggal mencari Yurishia-san dan tanggung jawabnya sebagai pasangan Yura-san.

Jika semua itu diselesaikan, Kuruto-sama pasti tidak akan punya alasan lagi untuk ikut turnamen. Dia pasti akan mengundurkan diri atas kemauannya sendiri.

Begitulah pikirku. Namun, aku salah.

"Liese-san, sepertinya aku ini orang yang egois."

"Egois...?"

Mendengar kata yang terasa sangat jauh dari sosok Kuruto-sama, aku refleks bertanya balik.

"Iya. Mendengar perkataan Liese-san, demi Yura-san, sepertinya aku memang harus mengundurkan diri. Tapi, aku tidak ingin melakukannya."

Kuruto-sama berkata demikian sambil mengepalkan tangannya.

"Aku tidak berguna dalam pertarungan. Karena itu aku berpikir lebih baik aku diam saja. Aku selalu berpikir begitu, baik saat di 'Fire Dragon Tooth' maupun saat bertualang bersama semua orang di 'Sakura'."

"Tapi, setelah lolos ke babak final dan bertarung di babak pertama, lalu memikirkan strategi untuk babak kedua, aku tersadar. Meskipun aku tidak punya kelebihan apa pun, tapi bukankah kemampuan berpikirku bisa menjadi kekuatanku?"

"Bukankah dengan begitu aku bisa berguna bagi perjuangan semua orang? Itulah sebabnya aku ingin bertanding. Jika di sini aku digantikan hanya karena Yurail-san lebih kuat, aku rasa aku akan tetap menjadi orang yang tidak bisa apa-apa selamanya."

Mata Kuruto-sama saat mengatakan itu tampak sangat serius.

Bagian 'tidak punya kelebihan apa pun' itu akan kuabaikan saja untuk saat ini.

"Benar-benar egois ya."

"...Iya, benar kan?"

"Tapi, tidak apa-apa menjadi egois, kan? Karena menjadi egois berarti memutuskan jalan sendiri dan melangkah maju. Berjuanglah, Kuruto-sama. Jika identitas Anda sebagai laki-laki terbongkar, aku akan memberikan dukungan penuh. Sebagai gantinya—"

Aku memegang tangan Kuruto-sama dan berkata.

"Tolong, jangan melakukan hal yang nekat ya."

"Iya, aku akan berjuang sekuat tenaga!"

 

Sedikit lagi babak kedua Kuruto-sama dimulai. Aku di kursi VIP berusaha keras menjaga ketenangan.

Hanya dengan mengingat tatapan mata Kuruto-sama tadi, senyumku sudah tidak bisa berhenti mengembang.

Aku belum bisa melihat sosoknya dari kursi VIP, tapi saat ini beliau pasti sedang melakukan persiapan yang matang.

"Apakah tidak apa-apa? Membiarkannya pergi."

Yurail-san menanyakan hal yang sudah lewat.

"Jika ditanya apakah ini baik atau tidak, jawabannya sudah pasti tidak baik. Namun, setelah melihat tatapan jantan di mata Kuruto-sama tadi, tidak mungkin aku bisa menghentikannya."

"Padahal dari penampilan luarnya, dia lebih feminin daripada Tuan Putri, lho."

"...Yurail-san."

"Maaf, saya bicara terlalu banyak. Mohon ampuni saya."

Benar-benar.

Pasukan Phantom tempat Yurail-san dan Kakaroa-san bernaung adalah unit intelijen di bawah kendali langsung Mimiko-sama, penyihir istana kursi ketiga.

Meskipun secara nama mereka organisasi yang independen dari keluarga kerajaan, saat ini mereka bergerak sebagai pengawalku, jadi mereka harus menjaga ucapan mereka.

Meski begitu, kekesalan kecil semacam itu langsung buyar seperti kabut di depan angin kencang jika aku mengingat interaksiku dengan Kuruto-sama tadi.

"Yurail-san, Kakaroa-san. Maaf ya. Aku sampai membuat kalian didiskualifikasi demi membujuknya, tapi ternyata berakhir sia-sia."

Saat aku meminta maaf, mereka berdua tertawa kecut dan menggelengkan kepala.

Tentu saja Kuruto-sama tidak menyadarinya, tapi pasangan Yurail—si Kokola—identitas aslinya adalah Kakaroa-san, dan akulah yang menunjuk penyamaran laki-lakinya agar mereka didiskualifikasi.

Awalnya aku berniat memberi tahu Kuruto-sama tentang bahayanya menyamar jadi lawan jenis... tapi sepertinya itu tidak perlu.

Meskipun begitu, apakah dia menyadarinya?

Bukan bahayanya menyamar jadi perempuan, tapi bahaya menyamar jadi laki-laki.

Saat itu, sorakan penonton menjadi sangat riuh. Kuruto-sama dan pasangannya, Yura-san, naik ke atas panggung.

Aku tidak menatap Kuruto-sama, melainkan menatap tajam ke arah Yura-san yang ada di sampingnya.

"...Jika kau sampai membuat Kuruto-sama terluka, aku tidak akan tinggal diam, Yura-san... Bukan begitu—"

Di pertandingan pertama, setelah Kuruto-sama pingsan, aku akhirnya yakin setelah melihat pedang Yukibana yang dia cabut.

Sungguh, penyamaran selevel itu saja aku tidak bisa langsung mengenalinya, aku masih harus banyak belajar.

"Aku tidak akan tinggal diam, Yuri-san. Sungguh."

Aku berkata demikian sambil tersenyum manis.

◆◇◆

Aku, Yurishia, yang baru saja naik ke panggung merasa merinding hebat.

Apa itu tadi?

Itu bukan rasa permusuhan dari pintu masuk lawan.

Rasanya seperti ada musuh mengerikan yang mengarahkan haus darah kepadaku dari arah yang berbeda.

Yah, tidak ada gunanya memikirkannya sekarang.

Aku mengalihkan pikiran dan menatap pintu masuk tempat Purple dan Maid Bertopeng akan muncul.

Babak kedua baru akan dimulai setelah terlambat satu jam dari jadwal.

Penggemar aku dan Kurumi sepertinya bertambah banyak dibandingkan babak pertama. Mereka memberikan dukungan dengan gerakan yang sangat sinkron, yang katanya di luaran sana disebut sebagai otagei.

Si Kurumi itu masih tampak cemas dan gugup. Meski begitu, dibandingkan saat babak pertama, dia terlihat seperti baru saja mendapatkan pencerahan.

Pasti kenalannya tadi mengatakan sesuatu yang bagus padanya.

Justru karena itulah aku merasa bersalah.

Jika identitas perempuanku terbongkar, Kurumi juga akan ikut direpotkan.

Demi memikirkannya, mungkin lebih baik aku mengundurkan diri sekarang. Aku sempat berpikir begitu.

Di saat seperti itu, kata-kata si bodoh itu lah yang menggerakkanku.

'—Yurishia-san.'

Kuruto yang memanggil namaku dengan wajah polos—aku ingin dia terus memanggilku seperti itu.

Aku ingin terus berjalan di samping Kuruto.

Itulah sebabnya, aku tidak boleh kalah di pertandingan ini.

—Yah, begitulah kira-kira.

Gara-gara hanya memikirkan hal itu, saat aku memejamkan mata, aku seolah bisa mendengar suara Kuruto.

"Yura-san."

"Ada apa, Kuru... mi."

Bahaya, hampir saja aku memanggil Kurumi dengan sebutan Kuruto.

Karena berasal dari desa yang sama, Kurumi yang punya suara dan sifat yang mirip sekali dengannya selalu membuatku tumpang tindih.

Padahal jenis kelamin mereka berbeda.

"Aku akan menjelaskan situasinya pada wasit dan menyerahkan kacamata hitamnya dulu ya."

"Ah, benar juga."

Di pertandingan kali ini, kami akan menggunakan Flash Bang—semacam bom cahaya.

Benda itu tidak punya kemampuan membunuh, tapi bisa membutakan mata selama beberapa detik sampai puluhan detik. Untuk mencegahnya, kami harus memakai kacamata hitam buatan Kurumi.

Idealnya, aku ingin mengakhiri pertandingan sebelum penglihatan lawan pulih. Tapi repot juga kalau saat itu penglihatan wasit belum pulih.

Aturan memang tertulis bahwa kita menang jika lawan pingsan atau jatuh dari panggung, tapi aslinya sedikit berbeda.

Kemenangan baru sah jika wasit mengonfirmasi lawan pingsan atau jatuh, lalu memberikan keputusan kemenangan kepada kita.

Kurumi sepertinya sedang menjelaskan strategi sambil memberikan kacamata kepada wasit.

Wasit mendengarkan penjelasan Kurumi dengan patuh lalu mengenakan kacamatanya.

Wasit menatap matahari, lalu mengatakan sesuatu kepada Kurumi sambil tersenyum. Pasti dia memuji performa kacamatanya.

Kurumi bertepuk tangan dan mengatakan sesuatu. Mungkin dia memuji kacamata itu cocok dipakai sang wasit.

Lalu, Kurumi kembali.

"Sepertinya lawan juga sudah datang."

Di sisi lain panggung, muncul pelayan maid bertopeng dan seorang laki-laki berambut ungu.

Dari hawa keberadaannya saja, si Purple itu tampak sebagai pendekar pedang yang lumayan.

Namun, masalah sebenarnya adalah si Maid Bertopeng.

Jangankan membaca gerakannya, merasakan kehadirannya saja sulit sekali. Dia pasti sangat ahli dalam menyembunyikan diri.

Bagi aku yang terbiasa membaca hawa keberadaan lawan, dia adalah lawan yang merepotkan.

Aku benar-benar berharap bom cahaya Kurumi berhasil.

"Hadirin sekalian, maaf menunggu lama! Sesaat lagi, babak kedua, pasangan Yura-Kurumi melawan pasangan Purple-Maid Bertopeng dimulai!"

Begitu wasit berteriak, aku meletakkan tangan kanan pada gagang Yukibana dan memegang kacamata hitam dengan tangan kiri di belakang punggung.

Kurumi juga memasukkan tangannya ke dalam tas.

Sorakan penuh semangat meledak dari para penonton.

Wah, kalau pertandingan selesai tepat setelah dimulai, dan momen itu tidak terlihat gara-gara bom cahaya, kami pasti tidak akan lolos dari ejekan penonton.

Tapi aku bertarung bukan untuk menghibur mereka, melainkan untuk menang. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan penonton.

"Sesuai kata Maid Bertopeng, kalian benar-benar maju ke sini ya. Kalau tidak mau mati, cepat menyerahlah, dasar laki-laki cantik dan gadis pelayan."

Purple memprovokasi kami. Sepertinya mereka sama sekali tidak berpikir akan kalah.

Tapi, meski tinggal menunggu aba-aba mulai, kenapa laki-laki itu tidak memasang kuda-kuda sama sekali? Apa dia berniat tidak ikut bertarung?

Yah, kalau jadi satu lawan satu aku tidak akan kalah. Sekarang aku harus fokus pada Maid Bertopeng.

"Pertandingan, mulai!"

Sesaat setelah wasit yang memakai kacamata berteriak, aku pun memakai kacamataku, mencabut pedang, dan merangsek maju.

Seketika, cahaya menelan segalanya.

"Gwaaaaaaaakh!"

Suara memalukan milik Purple terdengar.

Cahaya yang lebih menyilaukan dari matahari mewarnai dunia menjadi putih. Padahal aku sudah memakai kacamata hitam.

Lawan yang tidak punya persiapan cahaya pasti tidak akan bisa membuka mata mereka sama sekali.

Di saat inilah aku akan mendepak Maid Bertopeng keluar arena—

Namun, bertolak belakang dengan perkiraanku, Maid Bertopeng yang seharusnya tidak bisa bergerak justru merangsek maju ke arahku.

Yang benar saja!? Apakah dia sudah memprediksi gerakanku dan menyongsongnya?

Aku refleks melompat ke samping—tapi Maid Bertopeng juga melompat ke arah yang sama denganku.

Apakah dia bisa membaca kehadiranku? Atau lewat suara langkah kaki?

Bukan—ini sulit dipercaya, tapi Maid Bertopeng itu tidak kehilangan penglihatannya.

Maid Bertopeng mengayunkan tinjunya. Aku menyambutnya dengan pedang.

...Apa!?

Pedangku justru terpental oleh tinju Maid Bertopeng.

—Benar, terpental. Pedangku tidak bisa menebasnya.

Bukannya aku menahan diri tanpa sadar. Tidak, meskipun aku menahan diri, tidak mungkin pedangku tidak bisa menebas.

Bagaimana bisa tinju Maid Bertopeng memiliki kekuatan yang setara dengan Yukibana?

Bom cahaya tidak mempan, dan pedang tidak bisa menebasnya.

Apakah manusia seperti itu benar-benar ada?

◆◇◆

Pertarungan antara Yura-san dan Maid Bertopeng-san semakin sengit. Entah kenapa, Maid Bertopeng-san sepertinya tahan terhadap Flash Bang.

Strategi andalanku, Kuruto, berakhir gagal total.

"...Ah."

Aku teringat sesuatu. Kalau dibiarkan, ini bisa gawat! Aku segera berlari menuju tempat Purple-san.

Purple-san sedang mengerang sambil menutupi matanya.

"Purple-san!"

"Suara itu, Kuru-kah!? Kenapa kau ada di sini!"

Purple-san berteriak sambil mengayunkan pedangnya membabi buta. Karena penglihatannya belum pulih, pedangnya tidak mengenai aku.

Kalau aku berada dalam jangkauan serangnya, aku pasti tidak akan bisa menghindar. Untunglah aku berada di luar jangkauan.

Tetap saja, jantungku berdegup kencang. Suara Purple-san saat memanggil namaku sangat mirip dengan suara Golnova-san saat memanggil namaku.

Tapi aku sadar dan maklum bahwa dia memanggil "Kuru" dari nama "Kurumi".

Bukan, ini bukan waktunya memikirkan itu.

"Purple-san, tolong dengarkan baik-baik. Cahaya tadi sangat kuat. Maid Bertopeng-san mungkin baik-baik saja, dan penonton di kejauhan juga aman, tapi Anda terkena dampaknya secara langsung. Jika dibiarkan, ada risiko penglihatan Anda akan menurun drastis, jadi tolong pakailah obat tetes mata ini sekali saja."

"Berisik! Aku jadi begini kan gara-gara ulahmu!"

Memang benar, akulah yang membuat Flash Bang itu. Terlalu muluk jika aku berharap dia memercayaiku sekarang.

Tapi, meski demi memenangkan pertandingan, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang akan memengaruhi masa depan lawan.

Aku sudah menjelaskan kepada Yura-san bahwa jika Maid Bertopeng-san tidak bisa dikalahkan, aku akan menggunakan obat ini, jadi tidak masalah.

Terlebih lagi, saat itu Yura-san sempat berkata:

'Masalah utamanya adalah apakah Purple akan memercayai kata-kata Kurumi saat kau menggunakan obat itu.'

Tepat seperti dugaannya. Tapi, aku hanya bisa membujuknya dengan gigih.

"Aku mohon! Tolong gunakan obat ini."

Mendengar permohonanku yang sangat serius, Purple-san menghela napas.

"...Baiklah. Tapi jangan mendekatiku. Hei, wasit! Orang ini mau memberiku obat, apa itu tidak melanggar aturan? Lagipula, apa pihak luar boleh masuk ke sini?"

Purple-san berteriak ke arah yang sama sekali berbeda dari tempat wasit berada.

"Eh? Pihak luar? Oh, secara aturan itu tidak masalah."

"Aturan yang sangat longgar ya—Kuru, lempar obatnya!"

Saat wasit menjawab dengan bingung, Purple-san berkata demikian sambil mengangkat tangan kirinya. Sepertinya dia sudah paham.

Sesuai perintahnya, aku melemparkan botol berisi obat tetes mata itu.

Kring... kring...

...Botol obat itu jatuh tepat di depan Purple-san.

"Ah, maaf, maafkan aku. Aku tidak pandai melempar barang."

"...Dasar, kau selalu saja begitu."

Eh? Selalu?

Aku tidak terlalu paham, tapi Purple-san dengan pasrah meraba-raba mencari botol obat itu.

Begitu menemukannya, dia membuka tutupnya dan menuangkannya secara berlebihan ke wajahnya.

Itu adalah cara Golnova-san menggunakan obat tetes mata.

"...Sudah lama sekali tidak memakai obat tetes matanya Kuru... khasiatnya masih sama seperti biasa... Hm? Pelayan?"

Purple-san menatapku dengan ekspresi heran.

"...Kupikir tadi suaranya Kuru, tapi tidak mungkin... Tapi obat ini..."

Purple-san menatapku dan botol obat itu secara bergantian. Seketika, suasana hatinya memburuk drastis.

"Begitu ya... Jadi begitu rupanya. Jangan bercanda denganku."

Dengan nada kasar, Purple-san mencabut pedang dan menodongkannya kepadaku.

"Kau bercanda sampai akhir ya. Sepertinya aku memang harus membunuhmu di sini."

Aku tidak mengerti kenapa, tapi Purple-san tampak sangat serius. Meskipun membunuh adalah pelanggaran, dia benar-benar berniat membunuhku.

Karena tekanan yang hebat itu, aku tidak bisa bergerak selangkah pun.

◆◇◆

Apakah tidak ada kelemahan sama sekali? Aku, Yurishia, mengobservasi gerakan Maid Bertopeng.

Meskipun sudah bertarung sengit seperti ini, napas Maid Bertopeng sama sekali tidak terengah-engah. Stamina-nya pasti di atas aku. Rasanya seperti sedang bertarung melawan Golem.

...Di saat itulah, sebuah kecurigaan melintas di kepalaku.

Hal itu menjadi celah bagi Maid Bertopeng untuk mendaratkan pukulan telapak tangan tepat di ulu hatiku.

"Gakh..."

Aku memuntahkan darah dan terpental.

Aku memutar tubuh untuk melakukan ukemi demi melindungi bagian belakang kepalaku, namun aku terus berguling hingga ke tepian panggung.

Darah mengalir dari kepalaku, membuatku sedikit lebih tenang.

Stamina tak terbatas, gerakan tanpa hawa keberadaan, tubuh yang sangat kokoh. Ini mustahil bagi manusia biasa.

Aku berhenti berpikir lebih jauh. Aku menyimpulkan bahwa Maid Bertopeng itu bukan manusia biasa.

Kalau tidak salah, aku pernah mendengar cara melawan Golem dari Kuruto. Lebih tepatnya, Kuruto bercerita kepada Sina, dan aku mendengarnya dari Sina.

'Sendi atau persendian Iron Golem biasanya hanya dihubungkan oleh kekuatan sihir.

Jadi, jika kita menusukkan belati sedikit saja untuk memutus aliran sihirnya, Golem itu akan hancur dengan mudah.'

Memutus aliran sihir hanya dengan menusukkan belati—biasanya hal semacam itu hanya bisa dilakukan oleh Kuruto.

Namun, aku memiliki teknik itu.

"Ini pertaruhan..."

Aku mendongak dan melihat Maid Bertopeng sedang mendekat. Sekarang saatnya!

Aku mengayunkan pedang tepat saat aku bangkit berdiri.

"Teknik Rahasia, Drain Sword!"

Sesaat kemudian, pergelangan tangan Maid Bertopeng yang tidak bisa kutebas dengan apa pun justru terlempar terbang.

Terdengar jeritan dari kursi penonton—namun mereka pun segera menyadari adanya keanehan.

Tentu saja mereka sadar. Pasalnya, meskipun pergelangan tangannya putus, tidak ada setetes darah pun yang keluar. Penampang potongannya memang tidak terlihat jelas, tapi sangat berbeda dengan manusia.

Teknik yang kugunakan adalah Drain Sword yang menyerap kekuatan sihir. Meskipun aku tidak bisa memotong persendiannya secara sempurna, aku bisa menyerap seluruh kekuatan sihir di sekitar area yang kutebas.

Tentu saja teknik pedang ini punya risiko.

(Ah... dengan ini identitas asliku pasti terbongkar oleh si Liese itu.)

Mengingat Tuan Putri penggila laki-laki yang ada di kursi VIP, aku menghela napas. Tapi ya sudahlah, pertandingan ini kemenanganku.

Karena kalau aku memberi tahu wasit bahwa lawan adalah Golem, mereka akan didiskualifikasi karena pelanggaran.

Namun—

"Target musuh, Yura, diputuskan sebagai ancaman. Beralih dari Mode Tempur ke Mode Pemusnahan."

Maid Bertopeng tiba-tiba menyatakan hal itu. Tunggu, jadi yang tadi itu dia tidak serius?

Tepat di saat aku berpikir begitu, sebuah sinar cahaya misterius yang dilepaskan dari Maid Bertopeng menerjang wajahku.

Tidak mungkin bisa kuhindari. Sinar itu menghantamku, dan aku terjungkal ke belakang karena guncangan yang luar biasa hebat.

"Konfirmasi serangan Sinar Penghancur Anti-Goblin tepat sasaran—Menonaktifkan Mode Pemusnahan."

Maid Bertopeng menyatakan kemenangannya dan berbalik membelakangiku. Namun aku malah ingin tertawa... Tidak, aku benar-benar tertawa terbahak-bahak.

Mendengar suara tawaku, Maid Bertopeng menoleh.

"——!?"

Ekspresi Maid Bertopeng tentu tidak terlihat karena topengnya. Namun perasaannya tersampaikan dengan sangat jelas.

"Golem pun bisa lengah dan terkejut ya."

Aku berkata demikian sambil menindih Maid Bertopeng dan menekan lehernya. Karena akan repot jika lehernya bergerak sendiri dan kembali menembakkan sinar misterius itu.

"Pencarian penyebab—Error... Konfirmasi serangan Sinar Penghancur Anti-Goblin tepat sasaran—Tapi kenapa..."

"Kenapa katamu? Memang kena kok. Kekuatannya luar biasa. Guncangannya hebat sampai aku pun terjatuh—tapi benda ini melindungiku."

Aku berkata demikian sambil melepas kacamata hitamku dan melemparkannya tepat di depan wajah Maid Bertopeng.

Karena sinar tadi, lensa sebelah kanan kacamataku hancur berkeping-keping.

Kacamata hitam buatan Kurumi—dia bilang tidak bisa mengeluarkan laser, tapi bisa menangkap laser. Saat itu kupikir itu cuma lelucon, tapi ternyata begini maksudnya.

"Menangkis Sinar Penghancur Anti-Goblin dengan kacamata hitam—Tidak diketahui, tidak diketahui, tidak diketahui, Error, Error, tidak diketahui."

"Ah, maaf karena membuatmu terkejut, tapi ada yang ingin kutanyakan padamu."

Untungnya wasit belum bisa mengikuti situasi yang luar biasa ini sehingga belum memberikan pernyataan pertandingan berakhir. Selagi ada waktu, mari lakukan interogasi.

Lagipula, aku sudah punya gambaran kasarnya. Golem yang menembakkan sinar dari mata dan bisa berbicara persis manusia.

Terlebih lagi, persiapan mental dengan menyiapkan senjata sekuat itu hanya untuk melawan goblin.

Orang yang membuat Maid Bertopeng ini adalah penduduk Desa Haste. Dan ada kemungkinan si Purple itu juga penduduk Desa Haste.

Mengingat kembali cerita Kurumi, orang yang dia cari adalah orang yang sangat mirip dengan Purple.

Mungkin Purple itu hanya nama samaran, dan dia adalah orang yang dicari Kurumi.

Saat aku menoleh ke arah Purple, laki-laki itu sedang menodongkan pedang ke arah Kurumi.

"Dasar bodoh! Padahal sudah kubilang supaya diam saja—Bukan."

Akulah yang salah. Karena aku tidak bisa langsung mengalahkan Maid Bertopeng, Kurumi jadi pergi mengobati Purple. Dan air susu dibalas dengan air tuba.

"Kurumi, lari ke luar arena! Urusan di sini sudah beres, biar aku yang menanganinya!"

Aku berteriak, tapi sepertinya tidak terdengar oleh Kurumi. Alasannya adalah kata-kata Maid Bertopeng yang terus berulang dan menimpa suaraku.

"Tidak diketahui, Error, tidak diketahui, Error."

"Berisik sekali."

"Konfirmasi kegunaan senjata Anti-Goblin lainnya adalah prioritas utama. Mode Demonstrasi diaktifkan—"

Tepat setelah Maid Bertopeng berkata begitu, kepalanya terlepas dan tubuhnya saja yang bangkit berdiri. Dia bisa menggerakkan tubuh meski kepalanya terlepas!?

Lalu, tubuh yang bangkit itu menjulurkan tangan kanannya ke depan.

"Pembersih Kotoran Semburan Api Anti-Goblin."

Dari pergelangan tangan yang kutebas, api melesat meliuk-liuk seperti ular menuju arah Kurumi.

"Kurumi! Menghindar!"

◆◇◆

Aku terpaku saat Purple-san menodongkan pedang ke arahku. Aku harus lari—Benar, aku harus lari ke luar arena.

"Ini semua salahmu, Kuru. Gara-gara kau menghilang seenaknya, aku jadi dikejar-kejar penjaga, bahkan diperlakukan buruk oleh maid itu."

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Gara-gara aku menghilang seenaknya? Aku baru pertama kali bertemu Purple-san sebelum turnamen final, dan saat itu justru Purple-san yang pergi meninggalkanku.

Saat aku sedang kebingungan, Purple-san melanjutkan.

"Semuanya salahmu—salah Kuru yang pergi meninggalkan party-ku tanpa izin."

Kata Purple-san. Gara-gara aku meninggalkan party tanpa izin? Party yang pernah kuikuti selain menjadi pengangkut barang di "Sakura" hanya ada satu.

"Mungkinkah, Anda benar-benar—"

Saat sebuah kesimpulan terbentuk di dalam kepalaku—di saat itulah.

"Kurumi! Menghindar!"

Aku mendengar suara Yura-san. Saat aku menoleh ke arah suaranya, api sudah berada tepat di depan mataku.

Eh? Bukankah api ini adalah alat penyembur api untuk membasmi rumput liar yang kupasang di Golem purwarupa, yang oleh paman di bengkel dinamakan Pembersih Kotoran Semburan Api Anti-Goblin?

Aku memasangnya karena benda itu praktis untuk membakar rumput liar di kebun menjadi abu, tapi kenapa sekarang?

Pertanyaan itu melintas di benakku, membuat keputusanku terlambat. Gawat, aku tidak bisa menghindar.

Tepat setelah itu. Orang itu berdiri di depanku. Seolah melindungiku. Seperti biasanya. Api itu menghantam punggung orang tersebut.

"Gwaaaaaaaakh!"

Panas api itu membuat Purple-san berteriak—bukan.

"Benar saja, Golnova-san... lagi-lagi, Anda menyelamatkanku..."

Aku telah berjuang dan berusaha agar suatu saat bisa berguna bagi Golnova-san, orang yang telah berkali-kali menyelamatkan nyawaku meski harus bertaruh nyawa.

Setelah diusir dari party, aku bekerja sebagai wakil pemilik bengkel (Atelier Meister), diakui oleh semua orang, dan aku merasa sudah sedikit berguna dalam pertarungan. Kupikir begitu.

Tapi ternyata aku salah. Aku masihlah sosok yang hanya bisa diselamatkan oleh Golnova-san.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close