NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 9 Prolog

Prolog


Sudah satu bulan berlalu sejak pertarungan melawan Raja Iblis berakhir—seorang Paus dari Gereja Poran yang sengaja menempuh jalan kejahatan demi menguji kekuatan umat manusia.

Aku, Kuruto, mengunjungi Desa Haste yang merupakan kampung halamanku bersama Yuri-san dan Lise-san yang merupakan rekan satu bengkel, serta putriku, Akuri.

Yah, meski kusebut kampung halaman, sebenarnya ini bukan tempat lahirku yang asli karena penduduk desa sudah pindah ke kota yang dibangun dari hasil penghijauan gurun luas yang dulunya disebut Gurun Kematian.

Ngomong-ngomong, saat terakhir kali ke sini, aku langsung pergi ke bulan menggunakan roket untuk melihat bulan segera setelah tiba di desa. Jadi, sudah lama rasanya tidak bersantai di Desa Haste seperti ini.

Namun, aku merasa tidak tenang.

Alasannya adalah—

"Ibu Mertua, bagaimana menurutmu rasa bumbu yang ini?"

"Ya, ini enak sekali, Lise-san. Kuruto pasti akan senang."

"Sophie-san, bukankah rebusan yang ini juga sudah terlihat pas?"

"Benar, Yuri-san. Mari kita biarkan mendidih sebentar lagi. Soalnya kentang ini sepertinya masih agak keras."

Tiga orang yang sedang memasak di dapur adalah Ibuku, Lise-san, dan Yuri-san.

Dari posisi yang menghadap ke dapur, aku duduk di kursi bersama Ayah sambil menunggu masakan matang.

Ayah membuka suara sambil tersenyum tipis.

"Kuruto, syukurlah kamu menemukan pasangan nikah yang baik. Apalagi sekarang kamu sudah jadi bangsawan, jadi tidak masalah kalau menikah dengan dua orang sekaligus. Hebat sekali, bukan?"

"Ah, tentu saja Ayah tetap setia hanya pada Ibu seorang, kok."

Inilah alasan kenapa aku merasa canggung.

Yuri-san telah menyatakan bahwa dia menyukaiku sebagai seorang pria, bukan lagi sekadar sebagai subjek yang harus dilindungi atau dikawal.

Lise-san, yang sebenarnya adalah Putri Liselotte dari Kerajaan Homuros ini, telah keluar dari keluarga kerajaan dan mengatakan dia menyukaiku sama seperti Yuri-san.

Lalu, Yuri-san dan Lise-san berdiskusi berdua dan memutuskan karena mereka berdua adalah ibu Akuri, maka tidak masalah jika kami bertiga menikah saja.

Sepertinya, rangkaian pembicaraan itu terdengar sampai ke telinga Ayah dan Ibu.

Gara-gara itu, saat kami sedang meminum anggur berusia 1200 tahun di permukaan bulan, beritanya tersebar ke seluruh penduduk desa. Entah sejak kapan, muncul rumor bahwa aku, Yuri-san, dan Lise-san berpacaran dengan tujuan untuk menikah.

"Aku... mau mencari angin segar di luar sebentar."

Setelah mengatakan itu, aku berdiri dari kursi dan pergi ke balkon di lantai dua.

Sinar matahari di tempat ini, yang terletak jauh di selatan dari Valha tempat bengkel kami berada, terasa sangat menyengat sampai-sampai aku tidak percaya ini adalah musim yang sama dengan di Valha.

"Niatnya mau mendinginkan kepala sambil berpikir, tapi sepertinya mustahil... Yah, setidaknya aku senang jemurannya jadi cepat kering."

Aku bergumam sendiri sambil memasukkan baju-baju yang dijemur Ibu ke dalam keranjang, lalu mulai berpikir dengan kepala yang sedikit pening.

Mengenai pernikahan dengan Yuri-san dan Lise-san.

Sejujurnya, jika aku bilang tidak pernah memikirkan pernikahan dengan mereka berdua, itu adalah kebohongan.

Bagaimanapun juga, kami bertiga memiliki seorang putri bernama Akuri.

Selain itu, mereka berdua baik dan cantik. Aku rasa wajar bagi seorang pria untuk berpikir betapa bahagianya jika bisa menikah dengan wanita luar biasa seperti mereka.

Namun, di saat yang sama, ada hal yang membuatku bimbang.

"Papa, apa yang sedang Anda pikirkan?"

Tanpa kusadari dia sudah muncul—mungkin dia menggunakan Teleport—Akuri memanggilku.

"Akuri, urusanmu sudah selesai?"

"Iya, Paman Buyut Urano mengajarkan banyak hal padaku. Beliau adalah orang yang meneliti struktur dunia, jadi aku mendapat banyak saran konstruktif tentang bagaimana seharusnya Menara Sage ke depannya."

Kalau tidak salah, Paman Urano—adik Ibu—memang pernah bilang kalau dia sedang meneliti hal semacam itu.

Akuri tersenyum manis seperti malaikat, tapi cara bicaranya sudah seperti wanita dewasa yang matang.

Setelah pertarungan melawan Raja Iblis, dia melakukan perjalanan ke masa lalu demi menyelamatkan dunia lama, dan telah hidup selama ribuan tahun di Menara Sage.

Jadi meski itu hal yang wajar, aku tetap saja belum terbiasa.

"Mungkinkah, ini soal Mama dan yang lainnya?"

"E-eh... yah, begitulah. Anu, Akuri, bagaimana menurutmu tentang pernikahan kami bertiga?"

"......Itu membingungkan, ya."

Akuri menunjukkan reaksi yang tak terduga.

Padahal aku mengira dia akan langsung setuju.

"Kira-kira, aku harus menjadi veil girl untuk Mama Lise atau Mama Yuri? Kalau melakukan keduanya sekaligus... rasanya agak mustahil, kan?"

Ternyata bukan itu, dia justru bingung memikirkan rencana konsep upacara pernikahannya.

"......? Apa jangan-jangan, Papa tidak mau menikah? Atau Papa sedang berpikir, 'apa mereka akan bahagia jika menikah denganku?', begitu?"

"Bukan begitu, kok. Memang kalau aku yang dulu mungkin akan berpikir begitu, tapi—"

Sejak pertarungan melawan Raja Iblis berakhir, sedikit demi sedikit aku mulai bisa memiliki kepercayaan diri. Meski aku tidak tahu kenapa, karena saat itu aku hampir selalu tertidur.

"Kalau begitu—"

Akuri hendak mengatakan sesuatu, namun kemudian dia menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Papa pasti sedang memikirkan banyak hal, kan? Kalau begitu, aku tidak akan mengatakan apa pun. Aku mau pergi menyapa Kakek dan Nenek dulu, ya."

Setelah berkata demikian, Akuri masuk kembali ke dalam rumah dari balkon.

"Terima kasih, Akuri. Karena sudah mengerti..."

Tepat setelah aku berterima kasih pada Akuri, terdengar suara dari dalam rumah yang mengabarkan bahwa makan siang sudah siap.

Aku melangkah menuju ruang makan tempat Lise-san dan Yuri-san menunggu.

Ada rasa desakan di dalam diriku bahwa aku tidak boleh membiarkan mereka menunggu lebih lama lagi.

Aku harus memberikan jawaban yang jelas.

Mulai dari sini, inilah kisah keseharian aku—Kuruto Rockhans—yang hidup di dunia yang telah damai.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close