Prolog
Satu minggu telah berlalu sejak aku, Kuruto, kembali ke
bengkel bersama rekan-rekan satu mediaku, Lise-san dan Yurishia-san, setelah
berpartisipasi dalam turnamen bela diri yang diadakan di Pulau Paos, Federasi
Kota Kepulauan Koskito.
Setibanya di rumah, kami disambut oleh Hildegard-chan, gadis
suku bertanduk yang merupakan teman masa kecilku.
Dia datang bersama rekannya, Solflare-san, serta Chicchi-san
yang banyak membantu kami selama di Pulau Paos.
Mengejutkannya, Hildegard-chan memberi tahu kami bahwa putri
kami, Akuri, ternyata adalah seorang Artificial Spirit.
Demi menyelidiki
identitas Akuri lebih dalam, dia mengajukan sebuah permintaan khusus kepada
kami.
Permintaannya
adalah agar kami pergi melintasi waktu menuju Desa Haste di masa lalu—yang
merupakan kampung halamanku.
Setelah itu,
Hildegard-chan langsung pergi meninggalkan bengkel karena sepertinya ada urusan
mendesak, dan sejak saat itu belum ada kabar lagi darinya.
Sejujurnya, aku
tidak begitu paham apa maksud dari melintasi waktu itu.
Apakah itu
berarti bukan Desa Haste yang sekarang ada di Pegunungan Sheen, melainkan
lokasi Desa Haste sebelum pindah dulu?
Lise-san sedang
sibuk dengan pekerjaannya sebagai penguasa wilayah, dan Yurishia-san pergi
mengawalnya, jadi mereka sudah lama tidak ada di rumah dan aku tidak bisa
berkonsultasi.
Di sisi lain, aku
hanya melakukan pekerjaan bengkel seperti biasa…… Aku jadi berpikir, apa tidak
apa-apa hanya aku yang menikmati keseharian santai seperti ini?
Sambil memikirkan
hal itu, aku menggumam saat sedang duduk melamun di bangku taman setelah
mengangkat jemuran.
"Apa boleh
aku tetap seperti ini saja?"
"……Yah,
menurutku sih tidak boleh, ya?"
Yang menjawab
adalah Kans-san, salah satu anggota party petualang eksklusif bengkel kami,
"Sakura", yang baru saja datang dan duduk di sebelahku.
"Benar
juga, ya. Memang tidak boleh."
"Iya…… Tadi aku kan minta dipinjami pedang kayu latihan
dan kamu memberiku benda ini. Tapi, sebenarnya apa ini? Baru diayunkan pelan
saja tanahnya langsung jebol, lho."
"Eh?
Itu kan pedang kayu biasa?"
"Bahannya
apa?"
"Aku pakai
dahan pohon yang diberi oleh Nietzsche-san."
Begitu aku
menjawab, seorang gadis berambut hijau yang kebetulan lewat di taman……
Nietzsche-san, menyahut.
"Benar,
beliau menggunakan dahan saya."
Dia adalah gadis
berkulit kecokelatan dan bermata biru yang tinggal di kebun buah bengkel.
Namun, identitas
aslinya adalah belahan jiwa dari Great Spirit Dryad.
Sebenarnya saat
meninggalkan Pulau Paos, aku mendapatkan dahan dari pohon raksasa yang menjadi
inang sang Dryad.
Sesuai
instruksinya, aku melakukan sambung pucuk di kebun buah bengkel, dan dahan itu
tumbuh besar dalam sekejap hingga memunculkan sosok Nietzsche-san.
Sepertinya dia
terhubung dengan Dryad di Pulau Paos, karena sesekali Yurishia-san menerima
pesan dari Loretta-sama, sang tokoh penting di Koskito, melaluinya.
Sambil menatap
Nietzsche-san, Kans-san menghela napas.
"Jadi itu
penyebabnya…… Pedang
kayu dari dahan Dryad yang disambung pucuk, ya…… Benda itu sih bukan buat
latihan lagi, tapi sudah bisa menghancurkan Iron Golem dalam satu
serangan."
"Kalau
cuma menghancurkan Iron Golem, pakai galah jemuran ini saja sudah cukup,
kok."
Aku
mengatakannya sambil tertawa, lalu mengayunkan galah jemuran yang baru saja
kosong dan memeragakan gerakan menusuk sambil berseru "Eiyah!".
Iron
Golem termasuk jenis yang rapuh di antara golem tipe logam, jadi mengatasinya
itu mudah.
"Menghancurkan
Iron Golem pakai galah jemuran, ya? Kalau benar-benar bisa sih hebat,
tapi…… bagaimana? Mau coba simulasi tanding? Tentu saja, cuma sampai serangan
hampir kena saja."
Kans-san
mengambil galah jemuran lain dan menantangku.
Simulasi
tanding!
Benar
juga, aku harus menunjukkan pada Kans-san bagaimana aku sudah berkembang di
turnamen bela diri kemarin.
"Baik,
mohon bantuannya!"
Aku
membungkuk hormat padanya.
—Ini
adalah kisah tentang seorang pemuda yang berpartisipasi dalam turnamen bela
diri dan menjadi seorang ksatria, meski baru setengah matang.
"Kalau
begitu, biarkan saya yang menjadi wasitnya."
Tepat
setelah Nietzsche-san berkata begitu sementara aku dan Kans-san sudah memasang
kuda-kuda dengan galah jemuran, aku langsung bergerak.
Dalam
pertandingan, ada dua cara bertarung.
Pertama,
memperhatikan pergerakan lawan dengan saksama.
Kedua
adalah Sente Hisshou—kemenangan bagi yang menyerang duluan, yakni
bergerak tepat saat pertandingan dimulai.
Karena selama
turnamen aku selalu menggunakan metode serang duluan, kali ini pun aku
melakukan hal yang sama.
"Eiii—!"
Aku melancarkan
tusukan dengan galah jemuran.
Namun, Kans-san
hanya menatapku dengan wajah heran.
Aku pun merasa
telah melakukan kesalahan bodoh.
Soalnya, galah
jemuran itu saking bertenaganya malah terlepas dari tanganku. Bukannya mengenai
Kans-san, benda itu justru terbang jauh ke arah yang tidak jelas.
"Ah, gawat!
Bahaya kalau kena orang! Maaf, aku akan segera mengambilnya!"
Aku
membungkuk meminta maaf pada Kans-san dan Nietzsche-san, lalu berlari mengejar
arah terbangnya galah jemuran tadi.
◆◇◆
"Sudah lama
ya Mimiko tidak main ke sini. Akuri pasti senang."
"Aku
senang mendengarnya, Yurishia-chan. Aku juga ingin bertemu Akuri-chan."
Aku—Yurishia—membawa
Mimiko dari ibu kota kembali ke bengkel di Valha.
Mimiko adalah
Penyihir Istana Urutan Ketiga.
Sekarang karena
berbagai alasan dia menjadi guru di sekolah Rikurt, tapi kebetulan dia sedang
kembali ke ibu kota saat aku dan Lise pergi melaporkan kejadian di Koskito,
jadi dia ikut saat aku pulang ke bengkel.
Dia yang juga
merupakan atasan dari unit intelijen Phantom yang sangat membantu kali
ini, sebenarnya ingin langsung mendengar laporan kami di hari kepulangan kami.
Hanya saja,
karena aku dan Lise terus-menerus ditahan di istana, hal itu jadi tidak
memungkinkan.
Karena itulah,
selama perjalanan menuju ke sini, dia menginterogasiku habis-habisan tentang
segala hal yang terjadi di Koskito.
Aku menghela
napas lega saat bangunan bengkel mulai terlihat.
"Tapi hebat
juga ya si Lise itu, dia tidak pulang menemui Kuruto selama tiga hari demi
menyelesaikan tugasnya. Padahal kupikir dia bakal menyelinap keluar istana
setiap hari untuk datang ke sini."
"Yurishia-chan,
bukankah kamu terlalu tidak sopan pada Liselotte-sama? Beliau itu putri
kerajaan, lho."
"Tumben
bicaramu benar, Mimiko. Tapi melihat Lise bisa tahan jauh dari Kuruto,
jangan-jangan nanti bakal hujan tombak?"
Tepat
setelah aku bergurau begitu, Mimiko mendongak ke langit.
"Sepertinya
yang jatuh hujan galah jemuran, deh?"
"Eh?"
Merespons
ucapan Mimiko, aku langsung mendongak. Tepat di depanku, sebuah tongkat—galah
jemuran—jatuh dan menancap di tanah.
Kenapa
galah jemuran?
Sepertinya
terbang dari arah bengkel.
Saat aku
memegang galah itu sambil kebingungan, Kuruto berlari mendekat sambil
mengenakan celemek, mungkin dia tadi sedang mengerjakan tugas rumah tangga.
"Maafkan
aku—! Apa ada yang terluka?"
"Kuruto, apa
kamu yang melempar ini?"
"Iya. Tadi
aku simulasi tanding pakai galah jemuran dengan Kans-san di kebun buah, tapi
malah terlepas dari tangan. Ah, Mimiko-san, selamat datang. Maaf ya, aku sedang
berpakaian seperti ini."
"Tidak
apa-apa, itu cocok sekali untukmu, Kuruto-chan."
Memang cocok,
sih. Si Kuruto ini, aura bapak rumah tangganya makin terasah saja saat memakai
celemek.
Tiba-tiba, rintik
hujan mulai turun.
"Ah!
Jemurannya masih di dalam keranjang! Maaf, aku permisi dulu!"
Setelah berkata
begitu, Kuruto mengambil galahnya dan berlari kembali.
"Anak
yang grasak-grusuk ya. Padahal
kalau dia bisa lebih tenang sedikit, dia pasti bisa mengeluarkan kekuatannya
saat bertarung."
"Hei, Yurishia-chan. Berapa jarak dari kebun buah
sampai ke sini?"
"Hmm?
Sekitar tiga ratus meter sepertinya…… ah."
Di dunia
ini memang ada taktik melempar tombak, meski itu bukan galah.
Ahli tombak
terbaik di Kerajaan Homuros adalah Jenderal Pertama Pasukan Ekspedisi Kerajaan,
Sannoba Listkatz.
Soal
menunggang kuda dan ilmu tombak, tidak ada yang menandinginya.
Bahkan
ada cerita legendaris yang diketahui hampir semua prajurit kerajaan bahwa dia
pernah melempar tombak dari atas kuda dan menembus jantung komandan musuh dari
jarak lima puluh meter.
Namun,
bahkan orang sehebat dia pun rasanya tidak akan bisa melempar tombak sejauh
seratus meter.
"Seperti
biasa, kemampuan Kuruto itu benar-benar tidak seimbang."
Tapi,
predikat Kuruto yang disebut nol besar dalam kemampuan bertarung akan berakhir
hari ini.
Soalnya, kami
membawa senjata rahasia yang dibuat oleh Mimiko.
Karena hujan
sepertinya akan menderas, aku dan Mimiko pun bergegas kembali ke bengkel.
Beberapa saat
setelah aku dan Mimiko sampai di bengkel, Kuruto datang ke kamarku.
Dia membawakan
jemuran yang sudah dicuci tapi sempat menumpuk karena dia tidak berani masuk ke
kamarku tanpa izin.
Akuri
yang sepertinya baru bangun tidur siang juga ikut bersamanya.
"Sini,
Akuri."
Begitu
aku memanggil, Akuri langsung menggunakan Teleportation dan memelukku.
"Senangnya
ya, Akuri."
Kuruto
tersenyum lalu memasukkan jemuran ke dalam lemari bajuku.
Tentu
saja, karena aku mencuci pakaian dalamku sendiri, benda-benda itu tidak ada di
sini. Itu adalah permintaanku, sekaligus permintaan Kuruto juga.
Setelah
memastikan semua baju tersimpan rapi, Mimiko yang sedang bersantai di sofa
mengeluarkan "benda" itu.
"Ini
senjata baru yang kubuat khusus untuk Kuruto-chan."
Mimiko
menyerahkan sebuah alat sihir yang bagian ujungnya berbentuk seperti tabung
silinder kepada Kuruto.
"Senjata
baru? Untukku?"
"Iya.
Kuruto-chan, kamu kan punya Aptitude peringkat G untuk pedang,
tombak, kapak, panah, tongkat, tinju, sampai tongkat sihir, kan? Jadi, kupikir mungkin kamu bisa memakai
senjata yang benar-benar baru."
"Mimiko-san,
Anda sampai memikirkanku sejauh itu."
Kuruto gemetar
karena terharu.
"Papa,
nangis? Apa Kakak Mimiko jahatin Papa?"
"Bukan begitu, Akuri. Papa cuma senang…… Terima kasih
banyak, Mimiko-san. Lalu, bagaimana cara memakainya? Sepertinya ini alat untuk
menembakkan Magic Power dari dalam tabungnya."
"Kuruto-chan bisa tahu hanya dengan melihatnya, ya.
Benar, ini adalah Magic Gun, alat untuk melepaskan Magic Power
yang sudah diisi. Kuruto-chan, kamu kan cuma tidak bisa pakai sihir, tapi
jumlah Magic Power milikmu itu di atas rata-rata orang biasa, kan?"
"Eh?
Benarkah?"
Mata Kuruto
membelalak, dia masih saja tidak sadar diri ya.
Padahal dengan Magic
Power-nya sendiri, dia sanggup menumbuhkan pohon raksasa yang jadi inang
Dryad, tapi dia masih belum paham betapa hebatnya dirinya.
Yah, kalau dia
sampai paham, dia bakal pingsan dan hilang ingatan, sih.
"Benar. Magic
Gun ini menggunakan Magic Power penggunanya untuk menciptakan sihir
buatan. Sayang sekali cuacanya buruk, tapi apa boleh aku minta kamu mencoba
menembakkannya di luar?"
"Tentu saja,
tidak apa-apa."
Kami pun pindah
ke halaman belakang bengkel. Karena sedang hujan, aku memakaikan Akuri jas
hujan bermotif kucing.
Di halaman
belakang, Danzo yang merupakan anggota "Sakura" sudah menunggu di
depan sebuah barang yang ditutupi kain.
"Danzo-chan,
terima kasih kerjanya. Apa benda itu tidak ada masalah?"
"Tentu saja
tidak ada masalah, de gozaru."
Sambil
berkata begitu, Danzo menyingkap kain penutupnya.
Di sana,
terikat erat seperti dendeng—
"Goblin!?"
Ya, itu
adalah goblin.
Sepertinya
Mimiko sudah meminta Danzo untuk menangkap goblin.
"Ggya!
Ggya!"
Goblin
yang mulutnya tidak disumpal itu meronta-ronta dengan panik, tapi ikatannya
tidak akan terlepas.
"Nah, Kuruto-chan, ayo kita segera basmi goblinnya. Kamu cukup tarik pelatuk ini saja."
"Tu-tunggu
sebentar, Mimiko-san. Masa tiba-tiba langsung disuruh melawan goblin."
Seperti biasa,
trauma Kuruto terhadap goblin memang luar biasa.
Yah, mau bagaimana lagi kalau sejak kecil dia sudah sering
dibuat menderita oleh goblin.
Lagipula, yang tidak suka goblin bukan cuma Kuruto.
Meskipun berhasil menangkapnya, tatapan Danzo saat melihat
goblin itu berbeda dari petualang biasa. Dulu dia pernah dikepung banyak sekali
goblin saat pergi menolong Kuruto bersama "Sakura", jadi mungkin dia
punya sedikit trauma juga.
Tanpa memedulikan
kegelisahan Kuruto dan Danzo, Mimiko mulai menjelaskan.
"Tenang
saja, tali itu tidak akan putus. Kuruto-chan sepertinya punya kebiasaan
menyerang ke arah yang salah kalau sedang tegang, jadi pertama-tama, lihatlah
lewat Scope ini—tabung kaca ini—dan setelah mengunci targetnya, tekan
tombol ini. Setelah itu, perangkat pelacak otomatis akan aktif. Selama selisih
sudut antara target dan lintasan peluru kurang dari tiga belas derajat ke
segala arah, pelurunya akan mengejar target secara otomatis."
"Ugh…… Baik, aku mengerti."
Karena sudah terikat, dia tidak akan diserang.
Setelah memahami hal itu, meski tegang, Kuruto mengarahkan Magic Gun tersebut ke arah si goblin sesuai instruksi Mimiko.
"Nah, sekarang tinggal tarik pelatuknya."
"Baik."
Duel antara 'Kuruto, Petualang Terlemah' melawan 'Goblin
yang Terikat Seperti Dendeng'—sebuah pertarungan yang bahkan tidak ada dalam
turnamen bela diri mana pun—kini akan segera dimulai.
Kuruto menarik
napas dalam-dalam, lalu menarik pelatuknya. Sebutir bola cahaya pun
meluncur dari moncong Magic Gun.
……Atau lebih tepatnya, meluncur……?
"Lucunya!"
Seru Akuri
dengan nada riang.
Benda
yang keluar dari moncong senjata itu adalah bola cahaya yang menyerupai
gelembung sabun. Bola itu melayang-layang dengan lembut ke arah si goblin.
Akuri
memang terlihat senang, tapi aku dan Mimiko benar-benar tidak habis pikir.
Meski
begitu, Magic Power itu tetap mengunci target dan terbang mendekati
wajah si goblin──
Fuuu.
Bola cahaya itu
padam hanya karena tiupan napas si goblin.
Memangnya itu api
lilin apa?!
"Tidak mungkin…… Secara teoritis, dengan kapasitas Magic
Power milik Kuruto-chan, seharusnya dia bisa menghancurkan goblin dalam
sekejap."
"Sudah kubilang ini mustahil bagiku. Biar sehebat apa
pun alat buatan Mimiko-san, aku tetap tidak bisa membasmi goblin."
Kuruto berkata
demikian, tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran.
"Kuruto,
bisa pinjamkan Magic Gun itu sebentar?"
"Iya,
silakan."
Nah, jika teori
Mimiko benar, maka di dalam Magic Gun ini telah terisi Magic Power
milik Kuruto—kekuatan yang seharusnya sanggup menghancurkan goblin dalam
sekejap.
Namun, yang
ditembakkan tadi hanyalah bola cahaya yang bahkan tidak bisa mengalahkan Slime,
apalagi goblin.
Kalau begitu,
bukankah seharusnya masih ada sisa Magic Power yang tidak terpakai di
dalam Magic Gun ini?
Sebagai
percobaan, aku menarik pelatuk Magic Gun itu ke arah langit.
Dan──sebuah
lubang raksasa terbentuk di awan mendung di atas kepala kami, membuat cahaya
matahari menyeruak masuk.
"Cerah!"
Akuri
berlari mendekat dengan gembira, tapi aku sendiri tidak bisa merasa senang.
Aku
menitipkan Akuri kepada Kuruto, lalu mulai berbisik serius dengan Mimiko.
"Mimiko,
kamu pasti paham, kan──"
"Tentu saja,
hal ini tidak boleh dilaporkan. Kekuatannya sekitar seribu kali lipat dari output
maksimal yang diperkirakan untuk Magic Gun ini. Kalau sampai dunia tahu,
Kuruto-chan bisa berakhir jadi roda gigi di pabrik produksi senjata sebagai
petugas pengisi daya. Apalagi jika siapa pun selain Kuruto-chan yang menarik
pelatuknya tetap menghasilkan kekuatan yang sama."
"Selain Kuruto…… ya."
Aku bergumam, lalu mendekati Kuruto sambil membawa Magic
Gun tersebut.
"Kuruto.
Coba gunakan Magic Gun ini ke arah langit seperti yang kulakukan tadi,
pakai perasaan yang sama seperti saat itu."
"Baiklah."
Kuruto menyahut
sambil menitipkan Akuri padaku, lalu ia melepaskan sihir ke arah langit.
Seketika, sebuah
garis cahaya dengan output yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya
melesat terbang.
"Ah, aku
bisa! Ini semua berkat saran Yurishia-san. Dengan begini aku bisa mengalahkan goblin. Aku
tinggal menembakkannya ke langit, lalu mengubah lintasannya agar mengenai
goblin."
"Tunggu dulu, Kuruto-chan. Sudut untuk pelacakan
otomatis itu kurang dari tiga belas derajat. Kalau kamu menembak ke langit, peluru itu tidak akan bisa melacak otomatis,
lho."
"Benar juga
ya. Kalau begitu, izinkan aku memodifikasinya sebentar."
Setelah berkata
begitu, Kuruto mengeluarkan kotak perkakas dari tasnya dan mengutak-atik
sesuatu.
"Sekarang
alat ini bisa melacak otomatis ke mana pun arah tembakannya."
"Eh? Bohong, cuma dalam sekejap begini?"
"Iya, kalau
begitu, aku mulai ya!"
Setelah mengunci
target ke arah goblin, Kuruto menembakkan Magic Gun-nya ke arah langit.
Sesuai ucapan Kuruto,
serangan itu tiba-tiba berubah sudut secara drastis di udara dan menukik tajam
ke arah si goblin.
Fuuu.
Dan serangan
itu──si bola cahaya—kembali padam hanya karena tiupan napas sang goblin.
Pertandingan maut
Kuruto pun ditutup dengan drama komedi yang jarang terjadi dalam beberapa tahun
terakhir.
─Kisah ini adalah
cerita tentang seorang pemuda yang berpartisipasi dalam turnamen bela diri dan
menjadi seorang ksatria, meski baru setengah matang. ─
Kisah ini adalah cerita tentang seorang pemuda eksentrik yang tidak berubah sedikit pun meski sudah berpartisipasi dalam turnamen bela diri.



Post a Comment