NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V5 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Masa Lalu yang Menyerang

Sehari setelah berkeliling di Akuarium Atlanta.


Semenjak kejadian itu, Haruya pulang ke rumah sendirian menggunakan kereta. Ia bahkan tidak bisa memaksa dirinya untuk menghubungi teman-temannya yang lain.


Kazamiya sempat mengirim pesan pribadi berbunyi, 『Kalau Akasaki bergerak sekarang, situasinya akan makin rumit, jadi tahan dirimu dan tetaplah diam, 』 sehingga Haruya setidaknya bisa merasa tenang di bagian itu. Namun, sejak acara menginap itu berakhir dengan cara yang paling buruk, wajah Haruya terus-menerus menunjukkan ekspresi pahit. 


Apa pun yang ia lakukan, ia selalu teringat kejadian kemarin. Mengingat bagaimana ia menolak Rin, dan wajah pilu yang ditunjukkan gadis itu. Bahkan saat ia mencoba mengguyur kepalanya dengan pancuran air demi menjernihkan pikiran, bayangan itu tetap melekat erat dan enggan pergi. Membaca manga shoujo yang sangat ia sukai pun sekarang terasa menyakitkan. 


Tentu saja ia tidak punya semangat untuk berkonsultasi dengan "Nayu", dan saat ini ia hanya ingin sendirian. Logikanya, ia juga tidak mungkin bisa bertemu dengan Rin dalam wujud aslinya.


"Ah, stok mi instan sudah habis ya."


Karena tidak ada gairah untuk memasak sendiri, ia memeriksa persediaan makanan instan dan menyadari stoknya sudah kosong. Ia memeriksa freezer, tapi makanan beku pun sudah habis.


(Makan pun rasanya malas sekali...)


Pokoknya, ia hanya ingin tidak memikirkan apa pun. Tidur saat mengantuk. Hidup yang sangat malas, pikirnya. Tapi itu semua karena ia sudah tidak memiliki ketenangan batin. Ingatan masa lalu yang terus terulang semakin memperparah keadaannya. 


Meski ia tahu bahwa ia telah bersikap kejam, memikirkan tentang Rin tetap terasa menyesakkan. Gadis yang baik, murni, dan memiliki senyuman yang sangat manis. Gadis ceria yang paling cocok dengan wajah tertawa. Namun, ia telah merampas senyuman itu.


"……Sial."


Ia mengacak-acak rambutnya sendiri lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Haruya bahkan tidak punya energi tersisa untuk membersihkan kamarnya yang berantakan. Ia tidak menyesali pilihannya. 


Meskipun ia bisa berkata demikian dengan tegas, ia tetap tidak bisa lari dari luka yang ada. Semakin dalam hubungan dengan seseorang, semakin besar pula luka yang timbul. Akan jadi seperti apa nantinya? 


Dada Haruya terasa sesak memikirkan masa depan. Meski ia tahu ini adalah pelarian dari kenyataan, ia ingin menghabiskan waktu tanpa memikirkan apa pun. Ia ingin tenggelam dalam kantuk yang sangat dalam.


──Ting tong.


Tiba-tiba, suara bel pintu berbunyi. Jujur saja, ia merasa ingin mengabaikannya, namun suara bel itu terus berulang berkali-kali.


(Apalagi dah... di saat seperti ini.)


Masalahnya, ia tidak terpikir siapa yang akan datang. Lagipula, sangat jarang ada orang yang berkunjung ke rumahnya. 


Dengan terpaksa ia membangkitkan tubuhnya yang terasa berat dan menuju pintu depan.


"Iya……"


Ia keluar dengan wajah yang suram. Karena sudah agak lama tidak terkena sinar matahari, matanya refleks terasa sakit karena silau. Akibatnya, ia tidak bisa langsung melihat siapa sosok pengunjung tersebut.


(Kenapa juga aku keluar rumah……)


Saat itulah ia pertama kali menyesal telah keluar. Seharusnya ia berpura-pura tidak ada di rumah, tapi karena otaknya sedang tumpul, ia malah menjawab dengan jujur.


Sebelum ia bisa memastikan sosok itu dengan matanya yang masih menyipit, si pengunjung membuka suara.


"……Uwah. Kelihatannya payah sekali ya."


"──!?"


Begitu mendengar suara itu, tubuh Haruya refleks tersentak karena terkejut.


(Bo-bohong kan…… Ke-kenapa?)


Matanya terbelalak lebar, dan tubuhnya membeku keras seperti batu. Melihat kondisi Haruya, si pengunjung melanjutkan:


"Astaga, aku masuk ke dalam ya."


"……Eh."


Haruya hanya bisa mengeluarkan suara yang serak. Pertanyaan "kenapa" terus melekat di kepalanya. Tidak ada kenalannya yang tahu lokasi rumah ini. Di antara orang-orang terdekatnya, ia tidak terpikir ada yang tahu alamatnya. Namun, itu hanya berlaku bagi kenalan atau teman-temannya. Tentu saja, keluarga adalah pengecualian.


"Lagi apa sih, Haru-nii. Ayo, jangan berdiri saja di situ, masuk ke dalam."


"………"


Benar. Sosok pengunjung itu bukanlah Sara ataupun Yuna, melainkan adik perempuan Haruya, yaitu Maya.


(……Kenapa dia datang ke sini.)


Meskipun keluarganya yang datang, hati Haruya tidak kunjung cerah.


(……Bukankah aku sudah menghancurkan segalanya.)


Luka lama di masa lalu kembali menyayat hatinya. Kegelapan yang bersemayam dalam diri Haruya. Sumber dari trauma yang ia pendam. Justru karena adiknya sangat terlibat dalam hal itulah Haruya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Bahkan saat ini pun, ketika melihat wajah adiknya, ia teringat wajah itu. Wajah saat adiknya menangis dan terluka di masa SMP dulu... Padahal yang menyebabkan hal itu adalah Haruya sendiri...


Adiknya berkata dengan nada yang santai:


"Oke, untuk sekarang, ayo kita bersih-bersih dulu."


***


Untuk beberapa saat setelah kunjungan adiknya, Haruya tidak bisa merasa tenang. Meski musim ini terus dilanda panas yang menyengat, hatinya terasa dingin membeku.


"……Kenapa kamu datang?"


Setelah pikirannya mulai jernih di tengah kegiatan bersih-bersih, barulah Haruya bisa bertanya. Mungkin itu karena instruksi adiknya seperti, "Nih! Kantong sampah!" datang tiba-tiba tanpa basa-basi. 


Karena Maya tidak mengungkit masa lalu dan hanya memberikan instruksi bersih-bersih dengan lugas, Haruya perlahan-lahan bisa menenangkan diri seiring berjalannya waktu.


"……Dari Ibu," ucap Maya menjawab pertanyaan Haruya tanpa jeda.


"Eh?"


"Ibu khawatir, jadi dia menyuruhku menjengukmu. Makanya aku datang."


"Ibu ya... Te-terima kasih atas perhatiannya, tapi aku bisa mengurus diriku sendiri, Maya."


Meskipun ia tidak bisa menatap wajah adiknya, Haruya memanggil namanya saat berbicara.


(Ibu terlalu berlebihan... Lagipula, bertemu Maya sekarang pun rasanya sangat berat bagiku.)


Ia hanya bisa berharap dalam hati agar Maya mengerti dan mau pulang ke rumah orang tua mereka. Meski merasa tidak enak karena Maya sudah jauh-jauh datang, kondisi mental Haruya saat ini sudah mencapai batas hanya dengan memikirkan masalahnya sendiri.


"……Bisa mengurus diri sendiri?" 


Maya menyipitkan mata.


"Nggak bisa, kan. Haru-nii yang sekarang ini beneran nggak sehat."


"……ugh."


"Rumah berantakan, wajahmu juga suram," Maya menunjuk satu per satu dengan jarinya. 


"Singkatnya, kamu beneran nggak sehat, Haru-nii."


"Itu cuma... kebetulan saja sedang menumpuk..."


Haruya tidak bisa mengeluarkan semangat sedikit pun. Selain karena ia tidak berani menatap wajah adiknya, ada rasa bersalah yang mendalam terhadap Maya.


"Huum. Kalau begitu, aku akan di sini sampai aku melihat sendiri dengan mata kepalaku kalau kamu sudah sehat."


"Ha... hah?"


Pikiran Haruya tidak bisa mengejar. Perkataan Maya yang terdengar datar justru membuatnya semakin bingung, karena itu berarti adiknya berniat untuk menginap.


"Menginap... lagipula──kasur dan perlengkapan lainnya belum siap──"


Sebelum ia selesai bicara, Maya langsung memotong dan membungkam argumennya.


"Tinggal beli saja, kan."


"Apa..."


"Lagian, aku yang keluar uang kok."


Terus, Maya menambahkan, 


"Kalau kamu nggak suka, cukup tunjukkan kalau kamu sudah mandiri, maka urusanku akan cepat selesai."


"……………"


Haruya merasa kewalahan oleh Maya yang bicara sesuka hatinya, namun tanpa sadar tangannya mengepal kuat.


──Setelah apa yang terjadi dulu, kenapa kamu masih mau mengurusku?

──Bukannya kamu sudah membenciku? Kenapa? Bagaimana bisa?


Karena kondisi mentalnya yang tidak stabil, tatapan mata Haruya menjadi tajam.


"……Kumohon, pergilah. Saat ini mentalku benar-benar sedang hancur."


Haruya mengatakannya dengan jujur.


"Kalau begitu, aku makin nggak bisa membiarkanmu sendirian."


Mata Maya yang lurus menusuk Haruya. Karena tidak sanggup membalas tatapan itu, serta karena rasa kesal dan ketidakberdayaan pada dirinya sendiri, Haruya menghela napas berat.


Kata-kata tentang masa lalu sudah berada di ujung lidahnya, namun ia terlalu takut untuk masuk ke topik tersebut.


"Yah, soal beban yang Haru-nii pikul, aku akan dengar pelan-pelan nanti saja," ucap Maya sambil duduk, seolah menyadari suasana akan menjadi gelap, ia pun mengganti topik. 


"Sudah makan belum?"


Tanpa terasa jarum jam sudah menunjuk ke angka satu siang. Karena sudah waktunya makan siang, tiba-tiba perut Maya berbunyi nyaring.


"……Maaf, Haru-nii. Ternyata aku yang lapar."


Wajah Maya sedikit memerah karena malu. Melihat sosoknya yang seperti itu membuat Haruya merasa rindu, namun di saat yang sama luka lamanya terasa perih. Tanpa sadar ia mencengkeram dadanya dengan kuat.


Entah apa yang dipikirkan Maya saat melihat kakaknya seperti itu, ia langsung meraih tangan Haruya.


"Ayo, berangkat!"


"……Eh?"


Haruya tidak bisa menyembunyikan kebingungannya saat Maya menuntunnya keluar. Ia tidak berdaya menghadapi Maya yang menarik tangannya menuju pintu keluar.


Mungkin ini adalah rasa bersalah terhadapnya. Senyuman yang diberikan Maya padanya saat ini terasa terlalu menyilaukan, hingga Haruya merasa tidak akan sanggup menatapnya secara langsung untuk sementara waktu.


***


Di luar, panasnya udara terasa sangat menyesakkan. 

Matahari yang terik seolah membakar kulit. Rasanya ingin menyerah pada panas yang seolah bisa melelehkan tubuh ini, namun situasi tidak mengizinkannya.


"Satu Hire-katsu Don porsi besar! Tambah topping dua kerang goreng ya!"


"………Katsu Don porsi kecil saja."


Berbeda terbalik dengan Maya yang ceria, Haruya memesan dengan nada suram. Mereka berdua pergi ke restoran spesialis katsu terdekat. Mungkin karena kehadiran Maya membuat mentalku semakin tertekan, ia sama sekali tidak memiliki nafsu makan saat ini. Berat sekali. Di saat seperti ini, makanan seperti ini benar-benar tidak cocok.


"Ah, Haru-nii. Jangan pasang muka cemberut terus begitu dong."


"………"


Tentu saja ia cemberut. Suasana hatinya tidak mungkin membaik begitu saja.


"Jadi, ada kejadian apa?" tanya Maya tiba-tiba saat mereka menunggu pesanan.


"……………"


Haruya tidak bisa bicara. Karena penyebabnya adalah masalah cinta, Haruya merasa sulit mengatakannya pada Maya.


"Ternyata memang ada sesuatu ya."


Melihat Haruya yang hanya diam menunduk, Maya semakin yakin dengan dugaannya.

"Aku nggak akan maksa tanya kok, jadi tenang saja.” 


Sepertinya ia menyadari bahu Haruya yang sempat tersentak kaget. Haruya sendiri sudah mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk menjaga agar isi hatinya tidak terbaca.

"Nah, sekarang ayo makan katsu-don pelan-pelan."


(……Kenapa kamu repot-repot mengurusku?)


Bahkan setelah sekian lama meninggalkan rumah orang tuaku pun, Haruya masih merasakan kejanggalan ini. Kejanggalan saat melihat adiknya, Maya, begitu perhatian padanya.


Maya bilang ia datang karena disuruh ibu. Memang tidak ada yang aneh jika seorang ibu khawatir dan menyuruh anaknya menjenguk. Seorang siswa SMA yang tinggal sendirian; wajar saja jika keluarga ingin memastikan apakah ia hidup dengan benar atau tidak. Namun, masalahnya berbeda jika itu menyangkut adiknya.


Sosok Maya yang terakhir kali dilihat Haruya adalah...


Mengingatnya saja sudah membuat dadanya sesak. Justru karena Maya yang sekarang terlihat sangat ceria, kejanggalan itu tidak bisa hilang dari benak Haruya.


"……Wah! Katsu di sini besar banget lho, Haru-nii."


Saat pesanan tiba, mata Maya berbinar-binar sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Memang benar, potongan dagingnya besar-besar. Menu ini sangat cocok bagi mereka yang ingin asupan kalori besar. Sebagian besar pelanggan di dalam restoran adalah pegawai kantoran laki-laki.


"…………"


Uap panas yang mengepul menggelitik indra penciumannya. Warna jahe merah di pinggir piring pun sebenarnya menggugah selera. Namun, itu semua hanya berlaku jika dalam kondisi "biasanya".


"Maaf, tapi bisa tolong bantu habiskan punyaku sedikit?"

Saat ini, Haruya benar-benar tidak memiliki nafsu makan sama sekali.


"Boleh saja, tapi bukannya tadi kamu bilang punya nafsu makan?" tanya Maya sambil memiringkan kepalanya sedikit.


"Sama sekali nggak ada."


"Eeh~ Terus kenapa di rumah tadi banyak banget sampah mi instan? Kelihatannya baru-baru ini dimakan juga."


"Itu kupaksakan makan. Kupaksa masuk ke dalam perut."


Ia makan seolah sedang menyiksa dirinya sendiri. Karena saat makan, ia tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak perlu. 


Bukannya ia punya nafsu makan, Haruya ingin menjelaskan bahwa sampah itu adalah tumpukan dari yang lama, namun sepertinya Maya sudah tahu. Haruya menyadari bahwa kebohongan picisan tidak akan mempan pada adiknya.


"……Ya sudah, aku minta ini satu ya."


Satu potong rosemary katsu diambil dari mangkuk Haruya. Meski itu ukuran paling kecil dan dagingnya berkurang satu, porsinya tetap terasa banyak bagi Haruya. Saat melihat mangkuk Maya, volumenya tergolong sangat besar untuk ukuran seorang perempuan. Apalagi ia juga memesan kerang goreng (kaki furai) di piring terpisah; benar-benar kuat makan, pikir Haruya.


"Nah, tukar dengan ini ya."

Baru saja satu potong daging berkurang dari mangkuk Haruya, satu potong hire-katsu malah ditambahkan ke mangkuknya.


"Lho, porsinya kan nggak berubah kalau begitu."


Haruya minta dikurangi satu karena tidak sanggup menghabiskannya, jadi tidak ada gunanya jika ditukar. Maya tersenyum dan melanjutkan, 


"Aku kasih satu kerang goreng juga deh."


"Malah nambah……"


Protes Haruya terasa sia-sia. Ia masih belum terbiasa dengan ritme bicara adiknya, sehingga percakapan mereka masih terasa kaku.


"Selamat makan."


Haruya mengikuti ucapan Maya setelah jeda sesaat. Maya segera melahap katsu-don itu dengan suapan besar.


"Hmm, enak banget!"


Maya menikmatinya dengan mata terbelalak. Ia terus menatap Haruya seolah bertanya, "Enak, kan? Kan?"


(Memang enak sih……)


Haruya mencicipi satu suap dan lidahnya mengakui kelezatan makanan itu. Namun, kata-kata itu tidak mungkin keluar dari mulutnya.


"……Haru-nii?"


Suara cemas terdengar diarahkan padanya.


"…………?"


Haruya melirik sekilas, dan ia melihat kecemasan Maya bukan hanya dari nadanya, tapi juga dari ekspresi wajahnya.


"Kenapa?" 


Maya menjeda sejenak sebelum melanjutkan. 


"Kenapa kamu makan dengan wajah yang kelihatan menderita begitu?"


"…………—!"


Haruya tersentak saat mendengarnya. Ia mengira sudah makan seperti biasa. Ia mengira sudah berhasil menutupinya. Mungkin saat ia terus-menerus makan berlebihan sampai batas limit lambungnya dulu, ia juga memasang wajah yang sama.


"……Nggak ada…… apa-apa," gumam Haruya dengan nada pedih sambil terus memaksakan makanan masuk ke mulutnya.


Ia benar-benar tidak ingin memikirkan apa pun. Namun saat ia mulai sadar, bayangan Rin terus melintas di pikirannya.


"……Begitu ya."


Melihat Haruya yang terus makan dengan ekspresi menderita, Maya sempat tidak bisa menyembunyikan kegundahannya sejenak, namun ia segera mengubah suasana dan mengangguk beberapa kali di tempatnya. Seolah telah memantapkan sebuah keputusan, ia bergumam sangat pelan hingga tidak terdengar oleh Haruya.


"Aku akan tetap di sisimu, sampai Haru-nii benar-benar bisa melaluinya."


***


Setelah beberapa jam dibawa berkeliling ke sana-kemari oleh adiknya. Hari ini Haruya benar-benar disetir oleh Maya, namun rasa cemas dalam dirinya justru semakin menumpuk. Ada pesan dari Kazamiya agar ia jangan bergerak dulu, tapi pesan lanjutannya belum juga datang.


Saat kembali ke ruang tengah, Maya sudah menyalakan video gim. Meskipun sudah lama tidak memainkannya, melihat layar gim yang memenuhi seluruh pandangan terasa begitu bernostalgia.


"Haru-nii, ada apa? Kok malah bengong menatap layar?"


"Tidak ada apa-apa..."


"……Jangan ketus begitu dong. Mau main gim tidak?"


"……Tidak."


"Eeh~ lalu mau apa?"


"Belajar. Ada tugas musim panas."


"……Jahat sekali."


Mendengar itu, Haruya tidak bisa membantah. Maya mengerucutkan bibirnya. Namun seketika, ekspresinya berubah dan ia berkata:


"Satu pertandingan saja. Mau ya, satu pertandingan saja?"


"………—!"


Haruya refleks menahan napas. Bukan karena ia terkejut Maya mencondongkan tubuh saat mengajaknya.

"I-itu, gimnya……"


Haruya terkejut melihat gim yang dinyalakan Maya.


"……Nostalgia sekali, kan? Dulu kita sering tanding gim ini."


Gim tersebut adalah gim khusus olahraga yang bisa mensimulasikan berbagai macam cabang atletik. Bisa dibilang itu adalah gim yang cukup aktif hingga bisa membuat pemainnya berkeringat.


"………Aku ingin istirahat sebentar."


"Tolong main sebentar saja denganku, ya?"


"Aku... tidak punya hak untuk itu..."


Kata-kata lemah itu tanpa sadar terlontar dari mulutnya. Maya terdiam sejenak lalu tersenyum tipis.


"……Kalau begitu, mainlah demi aku. Bukan soal punya hak atau tidak, tapi mainlah demi aku yang tidak suka main gim sendirian."


Maya mengatakannya dengan nada suara yang sangat lembut. 


Mendengar kata-katanya, luka lama dalam diri Haruya kembali berdenyut. Dulu ia sangat tergila-gila dan sering memainkan gim ini. Ia membawanya saat memutuskan untuk tinggal sendirian, namun pada akhirnya ia tidak pernah memainkannya sekalipun.


"Satu pertandingan saja. Ya? Aku tidak akan mengganggu belajarmu setelah ini."


"……Hanya satu pertandingan, ya."


"Yey!"

Maya mengepalkan tangannya dengan suara yang terdengar sangat senang. Sebenarnya Haruya ingin menolak, tapi ia merasa tidak punya hak untuk menolak sekarang. 


Setelah Maya bicara sejauh itu, menolaknya terasa seperti sebuah pengkhianatan... karena insiden di masa lalu, Haruya tidak bisa menghapus rasa bersalahnya terhadap Maya.


"Memang harus begini ya…… ciri khas kita."


"……ugh."


Dari sekian banyak cabang olahraga, Maya memilih atletik. Padahal gim bola biasanya lebih populer, kategori atletik dalam gim ini justru kurang diminati. Namun, bagi Haruya dan Maya, atletik memiliki kenangan yang istimewa.


"………"


"Kita tanding ini, ya."


Haruya mengangguk sekali untuk menunjukkan persetujuannya. Meskipun temanya atletik, ini tetaplah video gim. Pemain tidak benar-benar berlari. Mereka hanya perlu mengayunkan lengan dengan remote control yang melingkar di pergelangan tangan.


"Oke, Haru-nii. Ayo bertanding!"


Setiap kali layar berubah, rasa nostalgia semakin meluap.


"Ngomong-ngomong, Haru-nii masih lari tidak?"


"………—!"


Di layar tunggu sebelum gim dimulai, Maya bertanya dengan nada santai. Haruya merasa itu pertanyaan yang terlalu dalam. Karena kata-kata itu pasti akan mengorek luka lama, Haruya menganggap ada kesepakatan tidak tertulis di antara mereka untuk tidak menyentuh topik tersebut.


"………Kalau tidak mau jawab tidak apa-apa kok."


Setelah menghela napas pendek, Maya menoleh ke arahnya. Tepat saat Haruya hendak membuka mulutnya yang terasa berat, suara tanda mulai bergema dari layar. Itu adalah suara start dari gim atletik tersebut.


"……Ah, waktunya tidak pas!"


Haruya merasa terselamatkan. Mungkin Maya pun sadar. Dari jeda singkat tadi, ia tahu bahwa kakaknya tidak ingin menjawab. Selagi ia memikirkan itu, permainan sudah dimulai.


"………ugh."


Haruya terlambat mengayunkan tangannya. Meskipun tertinggal saat start, perlahan jarak antara Haruya dan Maya semakin menipis.


"Lho……"


Maya membuka mulutnya seolah terkejut. Haruya terdiam, menggerakkan lengannya dengan ritme yang teratur dan pas. Gim ini bukan sekadar soal siapa yang mengayunkan tangan paling kencang. Pemain harus menciptakan ritme sendiri dan mengayunkan tangan secara ringkas dan konstan. Meski cuma gim, sistemnya dibuat tidak sesederhana itu.


"……Heeh."


Maya mengangkat sudut bibirnya dan mulai membentuk ritme lengannya sendiri. Ia memperlebar jarak dengan Haruya dan perlahan mulai berakselerasi.

"……Ah."


Haruya sudah mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk mengejar punggung Maya yang semakin menjauh, menyalipnya terasa sangat sulit.


"……Begitu ya. Aku mengerti sekarang."


Mengerti apa? Haruya bahkan tidak punya celah untuk bertanya balik. Ia menatap layar dengan serius, berusaha keras untuk mengejar.


"Yah, kemenanganku, kan?"


Hasilnya, Haruya gagal melakukan pembalasan dan kalah telak dari Maya. Rasa nostalgia dari masa itu bangkit kembali, bersamaan dengan rasa kesal karena kalah.


"…………"


Namun, Haruya memalingkan wajah karena tidak ingin rasa kesalnya ketahuan.


"………Syukurlah."


Apa dia sesenang itu karena bisa menang dariku?


"Bukan. Bukan itu..."


Maya menjawab seolah-olah ia bisa membaca isi hati Haruya.


"Aku senang bukan karena menang. Hanya saja..."


Di sana, Maya menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.


"Aku senang karena ternyata masih terus berlari. Sangat senang."

"Eh..."


Haruya membelalakkan matanya dan tanpa sadar menatap Maya. Ia tertegun melihat ekspresi adiknya yang memancarkan kebahagiaan yang begitu tulus. 


Bagaimana bisa dia tahu?


"...Ba-bagaimana kau tahu?"


"Aku tahu dari cara lenganmu berayun."


"...Ma-mana mungkin hal seperti itu..."


"Aku tahu. Karena selama ini aku selalu memperhatikanmu. Aku selalu memperhatikan cara Haru-nii berlari."


"………Ini kan cuma gim, mungkin saja gerakannya berbeda."


"Tidak. Tidak ada bedanya. Karena aku merasa itu tidak ada bedanya, maka itu tidak berbeda."


"……ugh."


Benar-benar tidak masuk akal. Haruya tak menyangka gerakan lengan saja bisa mengungkap fakta tentang kegiatan atletiknya di dunia nyata.


"Aku tidak tahu beban apa yang sedang Haru-nii pikul sekarang. Tapi," Maya meletakkan tangan di dadanya dan menatap Haruya dengan tatapan yang seolah sudah memantapkan hati. 


"Pasti kamu sudah bertemu dengan orang-orang yang baik, ya."


"………—!"

Haruya ingin Maya berhenti memberikan senyum yang begitu menyilaukan itu.


Benar. Itu memang pertemuan yang indah. Tapi, semua itu hancur karena masalah asmara...


Sama seperti waktu itu, segalanya runtuh berantakan. Semuanya sudah terlambat dan tidak ada yang bisa dilakukan, karena itulah di balik kesedihan ini ia hanya bisa berdoa. Setidaknya, ia berharap ada Sara atau Yuna yang menemani Rin.


Melihat Haruya yang menunduk, Maya tampaknya merasa tidak bisa mendesak lebih jauh. Ia pun kembali menggunakan nada bicara yang biasa.


"Nah. Haru-nii mau belajar, kan?"


"……Iya."


Haruya menjawab dengan lesu dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


***


Setelah selesai makan malam, tiba saatnya untuk mandi.


"Ah, aku masuk duluan tidak apa-apa?"


Karena tidak ada alasan untuk menolak, Haruya setuju. Selama itu, Haruya mencuci dan merapikan peralatan makan yang telah digunakan. Setiap kali membilas piring, ia merasakannya.


(……Maya. Ternyata dia sudah sejago ini memasak.)


Rasanya benar-benar meniru masakan rumah orang tua mereka.

Haruya hanya memakan makanan buatan adiknya. Jika diungkapkan dengan kata-kata mungkin terdengar biasa saja, entah kenapa ia merasa tubuhnya menjadi sedikit lebih bugar.


(Begitu aku mulai pulih, aku malah jadi terus-terusan memikirkan Kohinata-san……)


Mengingat senyum yang dipaksakan itu. Betapa egoisnya aku, pikirnya. Dia sendiri yang menyakiti, tapi dia juga yang merasa sesak saat memikirkannya.


Tetap saja, ia tidak bisa menghapus bayangan itu dari kepalanya, ia tidak bisa berhenti memikirkannya.


Setelah sekitar dua puluh menit ia melamunkan hal itu...


"Haru-nii, sudah boleh masuk mandi sekarang~"


Sepertinya Maya sudah selesai mandi. Ia kembali ke ruang tengah sambil tampak risi dengan rambutnya yang basah dan berkilau. Melihat sosok adiknya itu, Haruya pun melangkah menuju kamar mandi. 


Kamar mandi dengan air hangat yang terisi penuh.


Mengingat kembali, rasanya sudah lama sekali ia tidak berendam di rumah. Apalagi di musim panas yang terik ini, ia lebih sering hanya sekadar mandi di bawah shower.


Begitu menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bak mandi, rasa lelah di tubuhnya seakan luruh.


"Hari ini benar-benar padat ya……"


Biasanya ia hanya menjalani hidup yang bermalas-malasan, lalu tiba-tiba adiknya datang. Dibawa berkeliling oleh adiknya... Main gim, makan bersama...


Mengingat kembali, ini adalah hari di mana ia mengeluarkan energi paling banyak akhir-akhir ini. Namun anehnya, ia merasa vitalitasnya mulai kembali. Padahal ia merasa tidak punya hak untuk itu. Maya hanya sedang mengurusnya karena tidak tega melihat kondisi kakaknya. Kalau begitu...


"……Aku harus berhenti bermalas-malasan dan menyuruh Maya pulang ke rumah Ibu."


Ia tidak boleh terus bermanja. Tekad adiknya itu nyata, dan dari kata-kata serta tindakannya selama ini, jelas dia tidak akan pulang begitu saja. Haruya bersumpah di dalam bak mandi seolah sedang memperingatkan dirinya sendiri.


***


Begitu selesai berendam, rasa kantuk langsung menyerang dengan hebat. Pemandangan dari celah tirai menunjukkan bahwa hari sudah benar-benar malam. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Biasanya ini adalah jam di mana ia masih terjaga dan belum tidur, tapi sepertinya rasa lelah hari ini benar-benar menumpuk. Tubuhnya sudah dalam mode siap istirahat total.


Setelah menyikat gigi dan berbaring di kamar tidur, Maya berada tidak jauh darinya.


"……Tidak apa-apa. Biar Haru-nii saja yang pakai tempat tidurnya."


"Tidak, berdua saja tidak apa-apa. Aku akan tidur duluan, tapi kamu tidak perlu memaksakan diri mengikuti jam tidurku."


"Tidak kok. Aku juga sudah capek hari ini."


Mereka berdua menggelar kasur lantai dan berbaring berdampingan. Haruya kembali merasa situasi ini sangat aneh. Lampu sudah dimatikan dan kamar sudah menjadi gelap.


"……Hei, Haru-nii."


Tiba-tiba Maya membuka suara.


"Hm?"


"………Nggak jadi deh, lupakan saja."


"Begitu ya."


Dalam situasi seperti ini, biasanya orang akan merasa penasaran setengah mati jika sebuah pembicaraan dibatalkan di tengah jalan, tapi bagi Haruya, rasanya berbeda. 


Ia menyadari bahwa Maya sebenarnya ingin membahas masa lalu. Haruya tentu tidak sanggup memulainya, dan Maya pun tampaknya masih merasa berat untuk menyentuh topik itu.


(……Yah, sebaiknya aku tidur saja selagi bisa.)


Untungnya, rasa kantuknya sudah mencapai puncak. Tak lama setelah ia memejamkan mata, kesadarannya mulai kabur.


"………Haru-nii?"


Maya memanggil Haruya yang tidur membelakanginya. Namun, tidak ada jawaban verbal; sebagai gantinya, suara napas teratur yang halus terdengar sebagai balasan.


"……Begitu ya. Sudah tidur, ya."


Maya memastikan sekali lagi bahwa Haruya benar-benar telah terlelap, lalu ia mengambil ponselnya. Ia mengirimkan pesan kepada seseorang.


『Hari ini, aku sudah bertemu Kakak. Seperti yang kamu bilang, penampilannya benar-benar kacau, sampai aku nggak tega melihatnya. Tapi setelah mengobrol, aku merasa Kakak tetaplah Kakak yang dulu.』


『Begitu ya. Itu kabar bagus.』


『Iya. Makanya aku berterima kasih padamu. Tapi aku tetap belum punya keberanian. Membahas masa lalu itu ternyata masih menakutkan bagiku.』


『Aku mengerti. Tapi kalau tidak begitu, kurasa dia tidak akan pernah bisa melaluinya.』


『……Aku takut kalau nanti dia malah menolakku……』


『Kalau itu terjadi, aku yang akan melakukan sesuatu padanya. Jadi, Maya-chan, tolong hadapi dia dengan sungguh-sungguh. Jangan lari, hadapi dia secara lurus.』


『Iya. Terima kasih. Kalau itu bisa membuat Kakak melangkah maju sebagai dirinya sendiri, itu sudah cukup bagiku.』


『Ya. Masih ada waktu. Jangan terburu-buru. Tapi, kalau hari ini kamu sudah merasakan adanya kemajuan, aku ingin kamu mencoba melangkah satu tahap lebih dalam lagi.』


『Ada kemajuan kok. Awalnya ekspresinya kaku dan dia pendiam sekali, tapi lama-lama dia mulai banyak bicara juga……』

『Kalau begitu, tidak ada pilihan selain menyentuh soal masa SMP kalian.』


『Menakutkan sih, tapi aku akan berusaha.』


『Iya. Berjuanglah. Kurasa ini adalah hal yang hanya bisa dilakukan olehmu, Maya-chan.』


Setelah selesai bertukar pesan panjang itu, Maya merenung.


(Hanya bisa dilakukan olehku……)


Memang benar. Dulu ia hanyalah sosok tidak berdaya yang tidak bisa berbuat apa-apa saat Haruya terluka. Ia tidak mau menjadi seperti itu lagi.


Dulu Kakak... bukan, Haru-nii telah menolongnya. Sekarang giliran dirinya yang membalas budi.


Maya memejamkan mata dan berdoa ke arah rembulan yang tersembunyi di balik tirai.


──── Semoga, Haru-nii bisa melaluinya dan tidak pernah kehilangan senyumnya lagi.


***


Sampai duduk di bangku SMP, ia merasa tak terkalahkan. Ia selalu menjadi idola kelas, suaranya sangat didengar, dan ia punya banyak teman, baik laki-laki maupun perempuan.


Siapa bintang di kelas ini? Siapa tokoh pusatnya? Siapa yang paling berpengaruh? Jika pertanyaan itu dilemparkan, nama yang akan pertama kali muncul adalah Akasaki Haruya. Ia unggul dalam pelajaran maupun olahraga di atas rata-rata. Ia tidak pernah merasakan kesulitan yang berarti dan memandang hidup dengan sedikit meremehkan. Mungkin saat pandangan itu terpatahkanlah, kehidupan Haruya yang sebenarnya baru dimulai.


"Bagaimana kalau lomba larinya diserahkan kepada Akasaki saja semuanya?"


Ini adalah cerita tentang Festival Olahraga pertama di SMP. Kelas mereka sedang bingung menentukan urutan lari Haruya—apakah menjadi pelari pertama atau anchor. Karena ini festival olahraga pertama dan seluruh kelas bersatu karena ingin menang, mereka merekomendasikan Haruya sebagai pelari terakhir. Haruya adalah yang tercepat di kelas.


Lalu salah satu murid laki-laki dari komite olahraga melontarkan candaan itu. Niatnya mungkin hanya bercanda, dan seluruh kelas pun tertawa.


"Duh, aku juga tidak punya stamina sehebat itu tahu," sahut Haruya sambil menggaruk belakang kepala dan tertawa kecil.


Tepat saat tawa di kelas mulai mereda dan suasana menjadi hening, seorang murid laki-laki mengangkat tangannya.


"……Tunggu. Aku juga ingin jadi pelari terakhir."


“””Eh……”””


Tak ada yang menyangka akan ada orang yang berkata seperti itu. Semua orang terbelalak dengan wajah terkejut.


"Anu, serius?" tanya anak laki-laki dari komite olahraga dengan bingung.


Di saat semua mata tertuju pada sosok itu, Haruya berkata dengan nada santai:


"Kalau begitu, aku tidak masalah kok. Aku tidak begitu ambisius jadi pelari terakhir, kuberikan saja pada Ryuuzaki-kun."


"……Aku tidak mau. Aku ingin menentukannya setelah berduel secara adil dengannya."


"Eh?"


Sambil membetulkan posisi kacamata, ia berbicara dengan lantang dan berwibawa. Haruya dibuat terperangah oleh sikapnya itu.


“””Eeeh~ Ternyata Ryuuzaki tipe orang yang penuh gairah begitu ya!”””


Seluruh kelas menjadi riuh karena tantangan duel tersebut. Mereka seolah tidak percaya ada yang berani menantang Akasaki Haruya.


"Begitulah situasinya. Ayo bertanding lari denganku, Akasaki."


Haruya tidak bisa menyembunyikan kegundahannya saat menatap mata yang penuh tantangan itu.


"Bohong kan……"

"Eh, Akasaki………"

"Akasaki-kun……"


Kekalahan telak bagi Haruya—sesuai dengan guncangan yang tak bisa disembunyikan oleh semua orang yang ada di lapangan olahraga saat itu. Ryuuzaki menunjukkan lari yang luar biasa hingga Haruya sama sekali tidak berkutik. Padahal, Ryuuzaki sebelumnya tidak pernah menunjukkan kemampuan fisik yang menonjol. Dia pasti sudah berlatih lari dengan sangat keras.


"……Bagaimana, Akasaki?"


Ryuuzaki menyapa Haruya saat mereka berdua baru saja selesai berlari.


"Eh……"


"Di atasmu itu ada banyak sekali orang. Tentu saja, orang yang jauh lebih hebat dariku pun ada segudang."


"Apa maksudmu?"


Haruya paham soal itu. Tanpa diberitahu pun ia tahu bahwa di dunia yang luas ini, jika dicari, akan ada banyak orang yang levelnya jauh di atasnya.


Ryuuzaki seolah bisa membaca isi hati Haruya, lalu berkata dengan nada malas:


"Intinya begini. Aku tidak menyukaimu."


"……—!"


Ini adalah pertama kalinya. 


Memang, mungkin ada teman sekelas yang tidak menyukai Haruya, tapi Ryuuzaki adalah orang pertama yang mengatakannya secara jujur dan lantang tepat di depan wajahnya.


"Orang hebat itu ada banyak sekali. Tapi, kau selalu menganggap orang-orang di sekitarmu itu berada di bawahmu. Aku tidak suka itu."


"……"


Haruya terperangah, namun Ryuuzaki tidak mengendurkan serangannya.


"Di luar kau bersikap seolah memperhatikan semua orang, padahal di lubuk hatimu kau bosan karena merasa tidak ada yang lebih hebat darimu. Tapi kau sendiri tidak mau melompat ke dunia tempat orang-orang hebat itu berada."


Ryuuzaki menghela napas dan menatap tajam Haruya.


"Aku tidak tahan melihatmu main jadi 'Raja di Gunung Kecil'. Akasaki, kau sendiri... apa kau punya hal yang menyenangkan?"


"…………Ha, haha."


Dihina sampai sejauh itu, Haruya tidak membalas melainkan hanya tertawa kering.


"Ke-kenapa kau tertawa?"


"Hei, Ryuuzaki. Nama depanmu siapa?"


"Hah? Takuma."


"Takuma. Aku menyukaimu."


"……Eh, apa kau masokis? Jijik sekali."


"Mohon bantuannya ya, Takuma."


"Bahkan tidak membantah, kau benar-benar sudah habis, Akasaki."


Dan sejak saat itu, setelah mengobrolkan hal-hal konyol, Haruya mulai mengakrabkan diri dengan Ryuuzaki—atau sekarang ia panggil Takuma.

Haruya merasa senang. Lebih dari segalanya, ia senang ada seseorang yang mau melangkah sejauh itu ke dalam dunianya.


Selama ini orang-orang hanya menatapnya dengan kekaguman. Tentu saja temannya banyak, tapi ia merasa hubungan itu dangkal. Mohon maaf pada mereka, tapi ia merasa hubungan itu tidak sampai ke tahap saling memperlihatkan isi hati.


Bagi Haruya yang hanya memiliki hubungan pertemanan seperti itu, keberadaan Takuma tampak berkilau. Ia menyukai Takuma yang menantangnya setelah memahami dirinya dengan benar.


Jika diingat kembali, itulah pemicunya. Alasan Haruya tertarik pada atletik dan masuk klub atletik adalah karena ia ingin menjaga pertemanannya dengan Takuma.


Sebenarnya ia bisa melakukan olahraga apa pun di atas rata-rata, jadi tidak ada klub khusus yang ingin ia masuki. Ia masuk klub atletik hanya karena Takuma bilang ia akan masuk ke sana.


Awalnya Takuma bersikap dingin, tapi karena Haruya terus berusaha mendekatinya dengan gigih, Takuma perlahan mulai membuka diri.


Sejak saat itu, hari-hari yang menyenangkan berlangsung untuk sementara waktu. Hari-hari berlatih di klub bersama Takuma. Di Festival Olahraga, akhirnya Takuma-lah yang menjadi pelari terakhir, membuat Haruya merasa cukup kesal. Ia terus berlatih lari agar bisa mengalahkan Takuma, hingga akhirnya mereka menjadi rival di klub atletik. Masa-masa itu berlangsung sekitar satu tahun. Itu adalah saat-saat yang benar-benar menyenangkan.


***


“"Kalau begitu, sekali lagi untuk merayakan kemenangan kalian berdua~~ Tos!"”

“"Tos!"”


Suara melengking dari grup berempat itu bergema. Mereka membenturkan gelas dengan wajah yang berseri-seri.


Dari luar, mereka tampak seperti sekumpulan anak klub yang baru selesai latihan. Dengan seragam olahraga dan aroma samar parfum semprot antisesak, mereka adalah tipikal anak klub setelah berkegiatan.


Hari itu adalah kejuaraan atletik tingkat daerah. Kejuaraan ini merupakan babak kualifikasi untuk tingkat provinsi, dan dari grup pertemanan mereka, ada dua orang yang keluar sebagai pemenang. Meski tingkat daerah, menjadi juara adalah prestasi yang luar biasa. Itulah sebabnya sekarang mereka merayakannya di restoran keluarga.


"──Rasanya agak tidak enak ya."


Laki-laki yang menggaruk bawah hidungnya itu adalah Ryuuzaki Takuma. Sahabat terbaik Haruya.


"Sudah kubilang kan, jangan dipikirkan."


Alasan Takuma merasa agak tidak nyaman adalah karena ia memikirkan hasil Haruya. Mereka berdua di klub yang sama dan berlomba di nomor yang sama: lari jarak pendek. Pertarungan sengit itu dimenangkan oleh Takuma dengan selisih tipis, sementara Haruya berada di posisi kedua.


"……Aku juga bisa ikut tingkat provinsi, jadi lain kali aku tidak akan kalah."


Haruya tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya, dan Takuma pun membalas dengan senyuman.

"Aku juga tidak boleh lengah kalau begitu."


Saat mereka sedang saling bertukar tatapan semangat, protes datang dari dua anggota perempuan.


"Astaga! Jangan lupakan keberadaan kami dong!"


Gadis yang menggembungkan pipinya karena tidak puas itu adalah── Suou Miyuki. Pemenang lainnya dalam grup mereka. Alisnya tegas dengan kelopak mata ganda dan mata besar yang bulat. Rambutnya diikat side-tail di satu sisi. Garis hidungnya yang cantik dan bibir mungilnya mengingatkan orang pada model cantik luar negeri.


"……Maaf, Miyuki. Larimu tadi juga luar biasa hebat."


"Benar. Seperti kata Haruya, selamat ya Miyuki."


"Mufufu. Tentu saja."


Miyuki melipat tangan di depan dada dengan bangga dan membusungkan tubuhnya dengan sengaja.


"Ahaha. Maaf ya saat kau sedang bangga begini, Miyuki. Ada saus tomat di mulutmu."


"Tu-tunggu──apa yang kau lakukan!? Maya!"


"Sudahlah, diam saja."


Gadis yang duduk di samping Miyuki berbicara sambil menempelkan handuk basah ke mulut Miyuki. Ia menyeka sudut bibir Miyuki dengan lembut. Gadis yang wajahnya memancarkan kecerahan itu bernama Akasaki Maya. Satu-satunya di antara mereka yang bukan atlet, melainkan manajer. Formasi mereka terdiri dari tiga atlet dan satu manajer.

"Wah~ Maya-chan baik sekali ya. Padahal aku tadi berpikir untuk membiarkannya begitu saja dulu," goda Takuma pada Miyuki.


Seketika wajah Miyuki memerah dan ia menunjuk Takuma dengan tajam.


"Berarti kau sudah tahu dari awal!? Padahal aku juara, tapi diperlakukan begini!"


"Aku juga juara, jadi trik itu tidak mempan padaku."


"Mumuu…… Kalau begitu Akasaki-senpai juga tahu dari awal!?"


"E-entahlah……"


Begitu Haruya mengalihkan pandangan, teriakan "Jahat sekali!" sampai ke telinganya.


"Tapi," ucap Haruya kemudian sambil menatap mata Miyuki. Miyuki menatap balik Haruya dengan pandangan bertanya-tanya.


"Takuma juga ada di sini lho," kata Haruya sambil menunjuk sudut bibirnya sendiri.


Miyuki, yang seolah langsung mengerti maksudnya, segera menimpali, 


"Senpai juga tidak bisa bicara sembarangan ya!"


"A-apa katamu!?"


Tatapan Takuma yang seolah bertanya, 'Kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi?' langsung menusuk Haruya. Melihat Takuma yang buru-buru menyeka mulutnya dengan handuk basah, Haruya langsung berseru, 


"Bohong!"


"Bohong ternyata, sialan!"


Suasana pun pecah oleh tawa mereka yang terpingkal-pingkal. Takuma dan Miyuki adalah pencipta suasana, sementara Haruya adalah sosok yang menyatukan mereka. Dan kemudian───.


"Astaga, Miyuki dan Ryuzaki-senpai benar-benar terlalu bersemangat," ucap Maya sambil mengelus kepala Miyuki.


"Mayaaa~~ Kamu memang selalu jatuh cinta pada keimutanku, kan?"


"Iya, iya," sahut Maya seadanya sambil terus mengelus kepala sahabatnya itu.


Miyuki yang tampak nyaman diperlakukan begitu tiba-tiba memeluk Maya lagi karena saking senangnya. 


"Aku sayang kamu, Maya-chan. Ayo pacaran lalu kita menikah!"


"Tahapannya terlalu jauh!" sela Takuma yang sedari tadi mengawasi. 


"Miyuki, kalau saja kau tidak punya sifat aneh seperti itu, kau pasti cepat dapat pacar."


Sifat polos kekanak-kanakan itu memang ciri khas Miyuki. Meski hal itu sudah menjadi bahan bercandaan rutin di grup mereka, Haruya tertawa mengejek.


"……Ugh, aku bisa kok! Pokoknya aku pasti dapat pacar lebih dulu dari Akasaki-senpai! Iya kan, Maya?"


"Maaf ya, aku tidak bisa memacarimu."


"Jangan pakai nada serius begitu dong! Sialan. Tapi aku tidak akan kalah dari Akasaki-senpai!"


"Heeh, berani juga ya. Kamu bicara seolah-olah aku ini belum punya pacar saja."


"Eh, memangnya ada!?"


"Eh, ya tentu saja itu………"


Miyuki menatap Haruya dengan wajah terkejut. Ia mencondongkan tubuhnya, berkedip berkali-kali karena saking penasarannya ingin tahu detailnya. Haruya memasang wajah bangga yang penuh percaya diri.


"Eh, oi oi, serius nih, Haruya?" 


Takuma pun ikut menatap Haruya dengan raut wajah tertarik. Di bawah sorotan mata semua orang, Haruya akhirnya membuka mulut.


"Tidak ada……"

"Ka, kan memang tidak ada!"


Meski ia sengaja menjeda kalimatnya, semua orang di sana kecuali Miyuki sudah bisa menebak punchline-nya.


"Yah, sepertinya memang tidak ada yang punya kekasih di antara kita sekarang ya," sela Maya dengan rendah hati sambil menggaruk pipinya, seolah mencari waktu yang tepat untuk menengahi.


"Yah, benar juga." 


Takuma mengangguk setuju pada Maya. Miyuki bertanya lagi, 


"Akasaki-senpai benar-benar tidak punya?"


"Iya, aku tidak punya," jawab Haruya sambil meminum ginger ale-nya dalam satu tegukan besar.


"Begitu ya," Miyuki menatap dengan pandangan tak percaya, namun Takuma malah memberikan tatapan sinis.


"Yah, kalau jumlah orang yang menyatakan cinta padanya sih sepertinya gila-gilaan, khusus untuk Haruya ini."


──Buk.


Karena itu topik yang sulit dibicarakan, Haruya menyikut perut Takuma yang duduk di sebelahnya.


"Aduh, sakit tahu. Tega sekali memperlakukan sang juara begini. Sialan," gerutu Takuma, meski ia tampak tetap dalam suasana hati yang bagus.


"Ahaha. Duo Senpai ini tetap akrab seperti biasanya ya~~~" 


Miyuki menatap mereka dengan hangat yang membuat Haruya merasa sedikit malu.


"……Tapi~ kita berdua juga nempel terus kok." 


"Aduh, Miyuki. Jangan menggesekkan pipimu begitu. Kan sudah kubilang, yang begitu cuma kalau kita sedang berdua saja!"


Karena dipeluk tiba-tiba, isi hati Maya meluncur begitu saja dari mulutnya. Namun ia segera menyadari kesalahannya.


"……Ah."


Tapi sudah terlambat──.


"Fuu-mu." 


Takuma tidak melewatkan ucapan itu, ia menyeringai lebar yang terasa agak jahil. 


"Jadi kalau sedang berdua saja, lebih parah lagi ya?"


"───!?"


Melihat Maya yang tak bisa berkata-kata, Haruya menangkap tatapan adiknya yang seolah memohon pertolongan.


(……Benar-benar tidak ada pilihan lain ya.)


Haruya sengaja merangkul bahu Takuma dan menunjukkan senyum lebarnya.


"……O-oi. Haruya, apa yang kau lakukan?"


"Kita juga kalau sedang berdua saja lebih parah, kan!"

"Jangan bicara hal menjijikkan begitu!"


Miyuki memperhatikan interaksi mereka sambil bahunya berguncang karena tertawa kecil. Di sana, semua orang menumbuhkan bunga senyuman di wajah masing-masing.



"……Waktu libur musim panas nanti, aku terpikir ingin pergi ke kolam renang, bagaimana menurut kalian?" tanya Haruya di tengah suasana perayaan di restoran keluarga yang akan segera berakhir.


Melihat arus pelanggan yang datang, terlihat perubahan waktu dari sore menuju malam. Pasangan seumuran atau pelanggan yang datang sendiri mulai berkurang, digantikan oleh beberapa keluarga yang membawa anak kecil. Pemandangan di luar jendela sudah mulai gelap, dan sisa matahari terbenam yang mulai kehilangan warnanya memberikan sedikit rasa haru di hati.


"Eh, aku mau pergi! Mau banget!" 


Miyuki mengangguk dengan mata berbinar.


"Ya. Aku juga mau. Lagipula sudah lama sekali aku tidak ke kolam renang," kata Takuma sambil mengepalkan tangan.


"……Kalau semuanya pergi, ya tentu saja aku juga harus ikut, kan?"


Maya berkata sambil menyunggingkan senyum tipis, sepertinya ia juga tidak keberatan dengan ide itu.


Karena mereka sudah dipastikan lolos ke tingkat provinsi, mulai sekarang hari-hari mereka akan diisi dengan latihan keras tanpa ada waktu istirahat yang berarti. Karena itulah... dengan menyelipkan satu acara besar, mereka ingin menikmati hari libur yang singkat itu semaksimal mungkin.

"Sip! Kalau begitu sudah diputuskan ya. Liburan musim panas ini kita semua pergi ke kolam renang! Untuk penyesuaian jadwalnya nanti kukirim pesannya."


Semua orang tampak setuju dengan usulan itu, mereka mengangguk dengan ekspresi wajah yang lebih rileks.


"Siap! Aku sudah tidak sabar ingin main di kolam arus!"


"Aku mau naik perosotan air berkali-kali!"


Masing-masing dari mereka menunjukkan wajah ceria dengan mata yang berbinar. Acara perayaan kemenangan ini pun Haruya yang mengusulkan, dan memang sudah menjadi ciri khas grup ini di mana Haruya selalu menjadi penggerak utama dalam setiap rencana kegiatan.


"Kalau begitu, kita harus beli baju renang dulu ya."


Maya mengangguk pelan sambil berbicara kepada Miyuki.


"Iya! Aku sih luang kalau mau pergi sekarang juga!"


"Tapi apa tokonya masih buka jam segini……?"


"Hmm, agak mepet ya. Kalau begitu, bagaimana kalau besok setelah latihan?"


"Aku tidak masalah sama sekali kok."


Miyuki dan Maya pun membuat janji untuk pergi membeli baju renang bersama.


"Kalau begitu kami ikut juga ya," ucap Haruya sengaja mencoba menyelinap ke tengah percakapan mereka, namun kedua gadis itu langsung merapat melindungi satu sama lain.


"Tidaaak boleeh! Rahasia baju renangnya harus disimpan sampai hari-H nanti!"


"Niat mau ikut menyusul itu sih benar-benar menjijikkan tahu," sahut Maya ketus.


Kata 'menjijikkan' itu menyakitkan lho, jangan begitu ya. Nanti kakakmu ini bisa menangis.


Saat Haruya sedang menangis sesenggukan di dalam hatinya, tiba-tiba Takuma merangkul lehernya dengan kuat. Leherku sakit mau patah tahu……


"……Biarkan saja mereka. Kita yang laki-laki pergi beli baju renang berdua saja besok."


"Ah, benar juga."


Maka, diputuskanlah bahwa grup berempat itu akan pergi ke kolam renang.


***


──── Percakapan telepon pihak perempuan setelah sampai di rumah.


Setelah selesai mandi dan bersiap untuk tidur, Maya mulai menelepon Miyuki.


『……Sekali lagi, selamat ya untuk hari ini.』


『Ah, iya. Terima kasih, Maya!』

Meski hanya lewat telepon, Maya bisa merasakan nada bicara Miyuki yang sudah tenang. Ia merasa senang karena Miyuki menunjukkan watak aslinya.


Miyuki sebenarnya adalah gadis yang pembawaannya tenang, baik suara maupun energinya. Namun saat sedang bersama grup berempat, ia selalu berusaha bersikap lebih ceria dari biasanya. Ia adalah sosok pekerja keras yang fokus pada atletik, sekaligus menjadi pemeriah suasana yang sengaja bertingkah konyol agar grup tetap ceria.


Hanya aku di grup ini yang mengetahui hal itu. Rasa bangga karena menjadi satu-satunya yang tahu itu memenuhi hati Maya dan membuatnya senang. Meski tidak setiap hari, mereka rutin menelepon seperti ini.


『……Anu, sebenarnya ada yang ingin kukonsultasikan hari ini.』


『Hm? Ada apa?』


Suara Miyuki terdengar serius, tidak seperti biasanya. Maya pun refleks menahan napas karena merasakan ketegangan dalam suara sahabatnya itu.


『……Nanti di kolam renang. Itu…… aku berencana untuk menyatakan cinta.』


『Eh, bukannya terlalu cepat?』


Maya sudah tahu kalau Miyuki punya seseorang yang disukai. Bahkan topik utama telepon mereka biasanya adalah konsultasi cinta Miyuki. Namun mendengar kata "pernyataan cinta", Maya bisa merasakan ada sedikit ketergesaan dalam perasaan sahabatnya.


『Iya. Aku sendiri juga tahu itu…… tapi aku sangat ingin kalau bisa jadian selama liburan musim panas ini.』


『Alasannya……?』


『Kemarin aku menonton drama──. Kamu tahu tidak? Yang sedang viral itu──』


Drama yang dibicarakan Miyuki adalah karya romantis yang belakangan ini sedang populer. Ceritanya tentang seorang gadis SMA yang divonis sisa umurnya tidak lama karena penyakit, bertemu dengan seorang pemuda di rumah sakit, lalu mereka menikmati masa muda dalam waktu yang singkat itu. Kurasa begitulah jalan ceritanya.


Hanya mendengar premisnya saja, aku sudah tahu kalau drama itu sengaja dibuat untuk menguras air mata, jadi aku tidak tertarik menontonnya. Menangis itu membuang-buang energi dan melelahkan.


『Oh. Jadi gara-gara nonton itu kamu tiba-tiba ingin jatuh cinta secepatnya?』


Ciri khas Miyuki adalah ia mudah terpengaruh, baik dalam hal baik maupun buruk. Ia pasti terbawa suasana setelah melihat gambaran masa muda yang rapuh di drama itu.


『……Tepat seperti kata Maya.』


『Fufu, padahal lagi galau begitu tapi tetap bisa juara satu, Miyuki memang hebat ya.』


『Kekuatan cinta itu luar biasa lho. Saat lari tadi, pikiranku cuma satu: aku ingin Senpai melirikku.』


『Begitu ya. Tapi, apa tidak apa-apa tiba-tiba menyatakan cinta padahal kejuaraan provinsi sudah dekat……?』


Jika pernyataannya berhasil tentu tidak masalah, tapi Maya khawatir jika hasilnya tidak sesuai harapan.


『Senpai juga, kan. Setelah musim panas ini berakhir, tahun depan dia sudah harus fokus ujian masuk universitas.』


『………Benar juga.』


『Iya. Makanya aku merasa liburan musim panas ini adalah waktu terbaik kalau mau menyatakan cinta. Apalagi setelah menonton drama kemarin.』


『……Baiklah. Aku akan mendukungmu.』


『Iya. Tolong ya.』


Merasakan keseriusan Miyuki, rasa ingin mendukung pun meluap di dada Maya. Ia ingin memberikan dorongan pada sahabatnya itu.


『……Kalau begitu, besok kita harus memilih baju renang yang paling pas.』


『Tentu saja! Aku akan pilih yang paling luar biasa!』


Setelah itu, mereka melanjutkan obrolan ringan dengan penuh semangat.


***


── Percakapan telepon pihak laki-laki.


Sementara itu, di saat yang sama──Haruya juga sedang asyik mengobrol lewat telepon dengan Takuma. Karena besok mereka akan pergi membeli baju renang, mereka mengobrol sambil bermain gim bersama.


『……Ah, sial. Kalah lagi.』


『Kau terlalu meremehkan, Takuma.』

『Liat saja, aku akan menang di ronde berikutnya!』


Setelah selesai merapikan rencana membeli baju renang untuk besok, dan tepat saat Haruya memenangkan pertarungan di gim konsol tersebut, nada suara Takuma berubah.


『Hei, Haruya……』


『Hm? Ada apa?』


『Apa kau... punya orang yang kau sukai?』


『………Tiba-tiba sekali.』


Jarang sekali mereka membicarakan masalah asmara. Selagi Haruya mencoba menebak niat sebenarnya, Takuma mulai berbicara dengan ragu-ragu.


『Aku... punya seseorang yang kusukai.』


『Oh, begitu.』


『Reaksimu tipis sekali!?』


Meskipun Takuma memprotes, sebenarnya Haruya sudah tahu. Lebih tepatnya, dia sudah punya firasat. Terlintas dalam benaknya bayangan saat Takuma sedang menatap para atlet lari putri yang sedang berlari. Di ujung pandangannya saat itu, ada Miyuki. Meski tidak yakin seratus persen, Haruya sudah memprediksi bahwa Takuma setidaknya menaruh perhatian pada gadis itu.


『Jangan-jangan... kau sudah tahu?』


『Aku tidak yakin sih, tapi ya begitulah.』


『Orang itu adalah... Miyuki.』

『………Sudah kuduga.』


『Ternyata ketahuan banget ya. Aku yang malu-malu begini jadi kelihatan bodoh kan.』


『Maaf, maaf. Tapi kenapa kau memberitahuku sekarang?』


『………Aku berniat menyatakan cinta.』


『…………Serius?』


『Sangat serius. Aku memang sudah berencana menyatakan cinta di suatu waktu selama libur musim panas, dan kupikir pergi ke kolam renang adalah waktu yang sangat pas.』


『Bukankah tidak ada salahnya menunggu sampai hasil kejuaraan provinsi keluar?』


『……Ya. Tapi, kalau menunggu sampai kejuaraan provinsi selesai, libur musim panas sudah berakhir. Tahun depan kita sudah harus fokus ujian masuk. Kau mengerti maksudku, kan……?』


『……Yah, benar juga.』


『Lagipula, setelah melihat lari Miyuki hari ini... melihat senyumnya saat selesai berlari, aku merasa perasaanku sudah tidak bisa dibendung lagi.』


『……Baiklah. Aku akan mendukungmu.』


『Terima kasih, Haruya.』


Mendengar nada bicara Takuma yang begitu serius, Haruya tidak bisa berkomentar lebih jauh.


『Lalu, bagian mana dari dirinya yang membuatmu suka!?』

『……Malu tahu kalau harus cerita.』


『Kau kan sudah cerita sampai sejauh ini, tanggung kalau berhenti!』


『Aduh, ampun! Tolong jangan paksa aku!』


── Demikianlah, Haruya dan yang lainnya akhirnya tiba di hari mereka pergi ke kolam renang.


***


Hari itu cuaca sangat cerah dan menyegarkan. Baju renang kedua gadis itu tampak dipilih dengan penuh niat; bikini yang cukup terbuka itu membuat Haruya bingung harus membuang muka ke mana, namun di saat yang sama ia merasa mereka sangat cantik.


Mereka berempat menikmati waktu bersama di kolam arus. Mereka menghabiskan waktu cukup lama terapung-apung di atas ban pelampung besar berbentuk lumba-lumba yang mereka bawa.


Melihat mereka saling mencipratkan air dan tertawa riang di atas pelampung membuat Haruya ikut senang. Namun, di tengah keceriaan itu, Haruya menyadari bahwa Miyuki sesekali melirik ke arah wahana water slider.


Sepertinya sudah saatnya... Haruya mencari waktu yang tepat lalu berseru kepada semuanya.


"Oke, oke! Mumpung suasananya lagi asyik, ayo kita ke perosotan air!"


"Eeh... padahal lagi seru-serunya di sini! Tapi ya sudahlah, boleh juga."


"Aku juga tadi sempat berpikir ingin ke perosotan, jadi ayo!" 


Maya mengangguk sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan semangat.


"Aku juga mau ke sana, terima kasih banyak!" 


Miyuki pun tersenyum dengan semangat yang meningkat.


Maka, mereka semua pun bergerak menuju wahana perosotan air.


***


(Akasaki-senpai…… memang luar biasa.)


Begitulah pikir Miyuki dalam perjalanannya menuju perosotan. Saat melihat Haruya yang sesekali mengobrol dengan Takuma namun tetap memperhatikan dan mengajaknya bicara, dada Miyuki terasa hangat. Tubuhnya terasa panas, seolah tidak mau kalah dengan teriknya matahari. Dia sangat perhatian. Singkatnya, itulah alasan Miyuki menyukainya...


(Akasaki-senpai selalu menjadi orang pertama yang menyadari hal-hal yang tidak disadari orang lain……)


Hal-hal sepele yang bahkan sahabatnya, Maya, atau orang tuanya sendiri tidak sadari, Haruya bisa mengetahuinya. 


Sambil berjalan, Miyuki teringat saat mereka hanya berdua saja di restoran keluarga───.


Hari itu, aku sedang merasa sangat terpuruk karena rekor lariku tidak kunjung membaik. Kenapa aku tidak bisa lebih cepat? Kenapa, bagaimana caranya? Aku sudah berlari setiap hari dan terus berusaha keras. Namun, saat masa-masa stagnan ini berlanjut, rasanya sangat menyakitkan. Apa yang harus kulakukan agar bisa lebih cepat?

Jawabannya pasti sederhana. Aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi. Memberikan beban lebih, membatasi pola makan dengan ketat, dan memperbaiki posisi lari. Tidak ada cara lain.


Padahal aku punya kedai takoyaki langganan, tapi aku juga harus menahan diri untuk tidak ke sana...


Tepat saat aku sedang memantapkan tekad itu...


『……Miyuki. Mau ikut denganku sebentar?』


Akasaki-senpai mengajakku dengan nada bicara yang terdengar santai.


『Ke mana!? Senpai mau membawaku ke mana!』


Aku menunjukkan semangat di depan Akasaki-senpai dengan mata yang berbinar-binar. Senpai sempat mengerutkan dahi sejenak, namun ia segera memasang wajah cerah dan berkata:


『Bagaimana kalau kencan di taman?』


『Eh, taman……?』


Jawaban yang tak terduga itu membuatku terdiam. 


Apa maksudnya? 


Aku benar-benar tidak paham apa yang sedang dipikirkan Senpai. Lagipula, sebelumnya dia tidak pernah mengajakku pergi berdua saja.


"Eh, kenapa tiba-tiba……"


Melihatku yang tampak kebingungan, Senpai meraih tanganku dan mulai berlari.

"Sudah, ikut saja! Miyuki."


"Ah……"


Tanpa bisa membantah, aku pun membiarkan diriku ditarik oleh Senpai.


***


Apa tujuannya? Apa yang ingin dia lakukan?


Selagi aku masih bertanya-tanya, Senpai mampir ke kedai takoyaki langgananku yang ada di dekat taman dan membelinya. Lalu, ia menyodorkan satu kotak padaku.


"Nih. Ini ucapan terima kasih karena sudah menemaniku."


"……Menemani apanya, aku kan ditarik paksa ke sini."


"Haha. Maaf, maaf."


"Lagipula, aku sudah tidak mau makan takoyaki lagi."


"Kenapa?"


"Aku... aku sudah jadi orang yang makan sedikit dan tubuhku sudah tidak merasa lapar lagi────"


Kruyuuuk~~ tiba-tiba perutku berbunyi nyaring.


Sial sekali. Senpai tertawa terpingkal-pingkal sambil mengejekku.


"Wah, payah sekali bohongmu."


"……Po-pokoknya, aku sudah memutuskan untuk berhenti makan ini!"

"Apa karena hasil larimu tidak kunjung membaik?"


"……—!"


Melihatku yang refleks menahan napas, Senpai melanjutkan.


"Begitu ya. Aku mengerti perasaanmu, tapi kamu tidak perlu menyiksa diri sejauh itu. Sedih rasanya kalau adik kelasku yang hobi makan takoyaki di sini tiba-tiba menghilang."


Apa itu alasan pribadi Senpai saja? 


Aku ingin memprotesnya, namun nada suara Senpai berubah menjadi serius.


"……Kalau kamu terlalu tertekan seperti itu, hasil yang bagus tidak akan pernah datang."


"Itu sih karena Senpai orang yang selalu menang, makanya bisa bicara begitu……"


"Selalu menang? Bodoh. Aku juga sering kalah. Rekor kekalahanku dari Takuma juga banyak. Ada masanya aku merasa muak dan berpikir bahwa berusaha keras itu sia-sia."


"Kalau Senpai pernah merasakannya, Senpai pasti mengerti kan."


Bahwa aku tidak punya pilihan selain menyiksa diriku sendiri. Hanya itu yang bisa kulakukan. Saat aku menatapnya dengan tajam, Senpai menggelengkan kepalanya perlahan.


"Baiklah. Kalau tekadmu sekuat itu, aku menyerah. Tapi, makanlah satu saja, setelah itu aku akan pulang dengan tenang."


"Aku menghargai traktiranmu, tapi……"

"Satu butir saja, tolong makanlah."


Karena merasa tidak enak dan demi menghargai permintaannya, aku mencoba menggigit satu butir. Tepat saat wajahku hampir tersenyum karena kelezatannya...


"Hahaha, akhirnya kamu tersenyum juga. Benar kan, senyum palsu yang kamu buat akhir-akhir ini tidak cocok untukmu, Miyuki."


"……! Ja-jangan lihat! Dilarang melihat!"


"Reaksimu lucu juga ya."


"……ugh."


Aku merasa sangat malu, tapi orang ini berhasil menyadarinya. Di saat tidak ada orang lain yang sadar, dia tahu bahwa senyumanku sebenarnya tidak tulus.


Sejak hari itu, aku mulai menaruh perhatian pada Akasaki-senpai. Setelah mulai menyadarinya, anehnya aku jadi bisa melihat melalui percakapan grup bahwa dia juga sangat perhatian kepada orang lain agar mereka tidak merasa terbebani. Dia melakukan itu tanpa terlihat sok pahlawan; dia sering bercanda dan menyesuaikan energinya baik dengan orang yang populer maupun orang yang pendiam.


Aku pun semakin jatuh cinta pada Senpai.


***


Setibanya di area perosotan air, Haruya memberikan isyarat mata kepada Takuma.


"Maya. Kita berdua saja yang meluncur di sini."

"Eh…… kenapa?"


"Ya karena aku ingin meluncur bersamamu. Aku ingin merasakan suasana masa kecil kita. Dulu kita sering ke sini, kan?"


"………?"


Meski agak memaksa dan ditatap dengan curiga, Maya akhirnya menghela napas dan menjawab, 


"Baiklah."


"Kamu ini siscon sampai tingkat menjijikkan, tapi apa boleh buat, aku akan meluncur bersamamu. Tapi nanti traktir yakisoba ya."


"Terima kasih."


Haruya menggaruk bagian belakang kepalanya dan sengaja mengatur agar Miyuki dan Takuma menjadi satu pasangan.


“(Terima kasih)”—Takuma mengirimkan isyarat mata tersebut.


Maka, mereka pun terbagi menjadi dua kelompok di perosotan.


"Anu…… Akasaki-senpai! Nanti meluncur bersamaku juga ya. Ah, Maya juga!"


"Beres!"


Haruya menjawab sambil mengangkat tangan tanpa terlalu memikirkan makna di balik kata-kata Miyuki, lalu berjalan pergi.


***


Kegembiraan Takuma karena bisa berdua saja dengan Miyuki segera memudar.


Sebenarnya ia sudah merasakannya sedikit sejak saat mereka bermain pelampung tadi; pandangan mata Miyuki selalu tertuju pada Haruya. Bahkan saat berpisah dengan Haruya tadi, wajahnya tampak sedikit kecewa dan lesu. Karena Takuma selalu memperhatikan Miyuki, ia bisa langsung menyadari perubahan kecil itu.


───── Begitu ya. Benar juga.


Semuanya menjadi masuk akal. Seorang gadis yang sedang jatuh cinta memang akan terlihat sangat cantik dan menawan.


────Apakah aku jatuh cinta pada Miyuki yang sedang jatuh cinta pada Haruya?

 

Menyadari sejak awal bahwa cintanya tidak akan berbalas, perasaan Takuma pun tenggelam dalam kesedihan.

 

***

 

Setelah selesai bermain perosotan air, entah mengapa kesempatan untuk berduaan dengan Miyuki malah semakin bertambah. Meski Haruya melemparkan pandangan ke arah Takuma, Takuma hanya menggelengkan kepalanya pelan. Haruya merasa seolah-olah dia sedang digiring oleh adiknya, Maya, agar terus berduaan dengan Miyuki. Dan Takuma pun tampak memberikan persetujuan dalam diam.


……Apa maksud semua ini?


Rasa janggal dalam diri Haruya semakin membesar. Dan prasangka buruk itu akhirnya menjadi kenyataan dalam bentuk yang paling pahit.


Saat itu adalah waktu kepulangan. Ketika mereka mampir ke area hutan kecil dekat kolam renang setelah berganti pakaian, Miyuki memastikan keadaan sekitar sedang sepi dan mencoba menyampaikan perasaannya.


"Aku... selama ini selalu memperhatikan sosok Haruya-senpai yang ceria dan selalu berjuang dengan gigih."


"…………"


"Akasaki-senpai menyadari perubahan sekecil apa pun dalam diriku…… bagiku, Senpai adalah sosok yang sangat keren."


"Karena itu───"


Tepat di saat Haruya menyadari bahwa ekspresi Miyuki adalah ekspresi seseorang yang hendak menyatakan cinta, Haruya memotongnya.


"Aku menghormati sifatmu yang lurus seperti itu, Miyuki-chan. Sebagai adik kelas."


"……—!"


"Semuanya sudah menunggu, ayo kita pulang."


"…………"


Bahkan untuk sekadar mengungkapkan perasaan pun tidak diizinkan? 


Orang ini…….


Saat melihat ekspresi Haruya, Miyuki tahu bahwa Senpai-nya itu merasa terganggu. Haruya sama sekali tidak memiliki perasaan cinta padanya. Miyuki mengerti sekarang. Orang ini, sampai kapan pun, akan selalu menganggap "semuanya" sebagai yang terpenting. Grup ini adalah segalanya baginya. Dia tidak mengizinkan adanya hubungan yang lebih dari itu dengan individu secara pribadi. Aku tidak akan pernah bisa menjadi orang yang spesial baginya...


Begitu menyadari hal itu, tubuh Miyuki bergerak dengan sendirinya. Ia tidak ingin berada di tempat ini───. 


Mungkin karena perasaan itu sudah meledak dalam dirinya.


"……Ah."


Haruya berhenti mengejarnya. Apa gunanya mengejar?


Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi pasti tidak apa-apa. Waktu akan menyelesaikannya. Begitulah keyakinan Haruya.

 

Namun, kenyataan tidak berjalan sesuai keinginan Haruya. Ia didorong dengan keras oleh Takuma.


Bugh───.


Suara benturan tumpul bergema di kepalanya.


『Kau ini! Kenapa kau bahkan tidak membiarkan Miyuki mengungkapkan perasaannya───!』


Takuma, yang selalu memperhatikan Miyuki, pasti menyadari ada yang aneh dan menanyakan situasinya. Wajah yang mencampuradukkan kemarahan dan kesedihan itu adalah pemandangan yang pertama kali Haruya lihat, dan itu menyayat hatinya.


『……Aku hanya ingin terus bersama dengan semuanya……』


『Jangan bercanda!』

Kerah baju Haruya dicengkeram kuat.


『Apa kau menganggapku serendah itu? Apa hubungan kita selama ini hanya sebatas itu saja bagimu?』


Kata-kata itu terasa sangat berat. Namun, Haruya tahu. Ia tahu bahwa Takuma mencintai Miyuki. Dan ia ingin agar perasaan Takuma terbalas. Karena itulah───.


Saat Haruya terdiam seribu bahasa, Takuma mendorongnya hingga terjatuh.


『Aku kecewa padamu, Haruya…… Tidak, Akasaki.』


『……—!』


Haruya terbelalak. Takuma bilang dia "kecewa".


Ingatan setelah itu terasa seperti dipenuhi gangguan sinyal.


Ia tidak ingin memikirkan apa pun. Ia tahu bahwa jika ia mendengarkan perasaan cinta itu, semuanya akan hancur. Karena itulah, ia mencegah perasaan itu terucap. Ia percaya itulah cara untuk menjaga keutuhan grup mereka. Sebab, Takuma mencintai Miyuki───.

 

Namun setelah semua ini terjadi, perbaikan grup sudah mustahil dilakukan. Jika ia mendengarkan perasaan Miyuki, Takuma akan terluka. Jika ia tidak mendengarkan perasaan Miyuki, Miyuki yang terluka. Mereka tidak akan pernah bisa kembali menjadi grup berempat yang bisa tertawa bersama dengan bahagia───.


Asmara. Hanya satu kata, tapi bisa menjungkirbalikkan hubungan antarmanusia.


"Ha, haha."


Hanya tawa kering yang keluar. 


Jika disukai orang lain, maka peluang bagi semua orang untuk tertawa bersama akan terenggut. Kalau begitu, ia hanya perlu membangun hubungan di mana ia tidak akan disukai. Menyembunyikan jati diri, berpura-pura, dan hidup tanpa menarik perhatian. Ia mulai percaya bahwa itulah jalan terbaik.

 

***

 

"Ugh…… uuu."


Suara erangan Haruya yang tampak menderita dalam tidurnya bergema di dalam kamar.


"Haru-nii………"


Meskipun ia tahu suaranya tidak akan sampai kepada kakaknya, Maya tetap membisikkan kata-kata cemas. Entah mimpi buruk seperti apa yang sedang ia lihat saat ini.


Ia menatap wajah tidur kakaknya lekat-lekat. Wajah itu tampak sangat menderita, membuat hati Maya serasa diremas. Keinginan kuat untuk menolongnya pun meluap.


(Hei... Haru-nii. Masalah asmara lagi ya yang membuatmu jadi begini?)


Ini adalah hal yang langsung ia rasakan begitu mereka bertemu kembali; sosok Haru-nii yang dulu sama sekali tidak berbekas. Seseorang yang dulu begitu ceria dan menjadi panutannya, kini hanyalah bayang-bayang yang menyembunyikan eksistensinya.


(……Aku sudah memutuskan untuk berada di sisi Haru-nii.)

Sampai dia benar-benar bisa melaluinya. Sampai kakaknya bisa kembali menjadi sosok yang membanggakan.


Melihat wajah tidur Haruya, Maya kembali merenung.


(Hei... Haru-nii. Aku sudah menemukan jawabannya, tahu?)


Dengan tatapan penuh kasih yang sekali lagi diarahkan pada Haruya, Maya mengenang kembali memori masa lalu itu.


***


『……Maya. Aku menyukai Senpai.』


Hari di mana Miyuki mengungkapkan perasaannya. Itu terjadi tak lama setelah Miyuki bergabung dengan klub atletik dan mulai menunjukkan hasil yang bagus.


Sejak hari itu, aku pun ikut bergabung ke dalam lingkaran grup mereka. Aku ingat betapa seringnya kami berempat menghabiskan waktu di kafe, restoran keluarga, atau pusat perbelanjaan. Aku menyukai waktu yang kami habiskan berempat.


Miyuki sering bercerita padaku betapa kerennya Haru-nii saat sedang berjuang keras. Dia merasa malu dan tidak percaya diri untuk mendekatinya.


『Hei, Maya... aku harus bagaimana?』


Melihatnya menangkup pipi dengan wajah semerah tomat, aku tulus merasa dia sangat manis dan ingin mendukungnya. Lalu aku memberitahunya; jika dia bisa menunjukkan hasil bagus di turnamen atletik, hati Haru-nii pasti akan goyah. Faktanya, saat aku mencoba memancing informasi dari kakakku di rumah, setiap kali aku bercerita tentang prestasi Miyuki, dia sering bergumam bahwa itu "keren" atau "hebat".

Sudah pasti Haru-nii mengagumi Miyuki. Karena itulah─── aku bilang, jika dia memberikan hasil di turnamen berikutnya dan menyatakan cinta, semuanya akan berhasil. Tapi, sepertinya itu adalah sebuah kesalahan.


『Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengatakannya……』


Di hadapan Miyuki yang menangis karena bahkan tidak diizinkan menyatakan cinta, aku ingin sekali menginterogasi Haru-nii. Tapi, kakaknya hanya bisa mengulang kata-kata yang sama dengan tak berdaya.


『Maaf. Aku hanya ingin kita tetap bersama-sama.』


Kata-kata kakaknya tertahan. Aku memahami maksudnya.


Jika dia membiarkan pernyataan cinta itu terjadi, hubungan mereka akan hancur. Maka, dia bertindak sedemikian rupa agar perasaan itu tidak pernah tersampaikan. Aku mengerti prinsip tindakan kakaknya, dan saat melihat wajahnya yang tampak begitu tersiksa, aku tidak bisa berkata apa-apa. Tapi, aku tidak bisa membiarkan kakaknya menderita sendirian. Situasi ini tidak boleh dibiarkan. Meski sempat kehilangan kesempatan, saat sebuah pesan masuk dari teman Haru-nii──aku merasa ini adalah sebuah peluang.


Aku ingin kakakku menjadi sosok yang bisa bangga pada dirinya sendiri. Aku ingin melihat senyumnya. Aku berlari menemui Miyuki dan terus menemaninya agar dia bisa mengeluarkan keluh kesahnya, agar kami bisa tetap menjadi sahabat. Hasilnya, hubunganku dan Miyuki tetap berlanjut hingga sekarang.


Aku percaya bahwa meski kita terluka, jika kita tidak melarikan diri, hubungan itu pasti bisa diperbaiki. Aku ingin memercayai hal itu. Karena itulah, Maya datang ke tempat Haruya sekarang───.


Mengingat masa lalu itu membuat tekad Maya semakin bulat.


"Ugh, uu..."


Melihat Haruya yang merintih karena mimpi buruk, Maya membatin dengan kuat.


(Besok, aku pasti akan masuk ke dalam hatimu, Haru-nii.)


***


Keesokan harinya.


Haruya terbangun dalam kondisi suasana hati yang buruk.


(Ternyata itu memang bukan mimpi ya………)


Ia memeriksa waktu; jam baru saja melewati pukul tujuh pagi. 


Ada matras asing yang terhampar di lantai, menjadi bukti nyata yang menyakitkan bahwa kedatangan Maya bukanlah mimpi. 


Begitu ia membuka tirai dan menyapa sinar matahari tipis, lalu keluar ke koridor, aroma sup miso yang lembut menusuk hidungnya.


"Ah, selamat pagi Haru-nii."


"A-ah, pagi..."


Di ruang tengah, Maya tampak sedang menyiapkan sarapan.


"Sup miso, telur mata sapi, dan sosis. Sederhana sih, tapi maaf ya cuma ini."


"………A-ah, iya."

Keahlian mengurus rumah tangga adiknya ternyata sudah jauh melampauinya. Maya tampak sudah sangat siap untuk hidup mandiri.


"Ah, sebelum itu, cuci muka dulu sana."


"Oh, benar juga."


Mungkin karena otaknya belum sinkron dengan kenyataan ada adiknya di sini, Haruya merasa linglung namun tetap menuruti perkataan Maya menuju wastafel.


Setelah mencuci muka, menyikat gigi, dan mengumpulkan kesadarannya, ia kembali ke ruang tengah di mana sarapan sudah tersaji di meja. Adiknya pasti terburu-buru menyiapkannya agar selaras dengan waktu bangunnya. Karena jarang sekali sarapan sejak mulai hidup sendiri, Haruya merasakan sedikit nostalgia.


(……Dulu saat acara menginap, kami juga sarapan ya.)


Tapi, ingatan buruk kembali terlintas dan Haruya memegang perutnya.


"……Tidak apa-apa?"


Melihat Maya yang berwajah cemas, Haruya mengingat kembali tekadnya kemarin.


(Benar. Aku sudah memutuskan untuk segera menyuruh Maya pulang ke rumah orang tua. Jika aku bersikap normal dan mandiri, dia akan segera pulang.)


Sebab jika tidak, ia merasa keseharian yang menyesakkan ini akan terus berlanjut. Karena itulah, ia harus bisa mengurus diri sendiri───.


Sambil berpikir begitu, aku mengucapkan salam makan lalu menyesap sup miso itu sedikit. Sama seperti sup miso saat makan kari kemarin, tapi bumbunya yang lembut dengan kelezatan rumput laut dan tahu menyebar di mulutku.


"Enak."


"……Syukurlah."


"……Anu, begini."


Haruya mengambil napas dalam-dalam di dalam hati sebelum bicara.


"Terima kasih banyak. Aku benar-benar... berterima kasih pada Maya. Aku sudah tidak apa-apa sekarang. Jadi tidak masalah kalau kamu pulang ke rumah orang tua lebih awal."


Aku berusaha keras agar tidak bicara terlalu cepat. Aku berpura-pura tenang dan memasang senyum agar isi hatiku tidak terbaca.


"………Kebohonganmu tidak akan mempan."


Namun, Maya mengatakannya dengan telak. Mendengar perkataan yang penuh keyakinan itu, Haruya refleks menarik diri.


"Bu-bukan begitu. Berkat Maya, wajahku jadi lebih segar dan suaraku jadi lebih cerah, kan?"


Lagipula, aku sudah mencukur janggutku dengan rapi di wastafel tadi. Sudah cukup... ini sudah lebih dari cukup.


"Iya. Aku rasa memang begitu. Tapi, Kak────"


"……—!?"


Aku ingin dia berhenti. Maya mencoba menyentuh inti permasalahannya. Hal itu langsung terasa dari tarikan napas dan nada suaranya. Namun, Maya menarik napas dalam-dalam lagi sebelum berkata kepada Haruya:


"Bukankah kamu cuma sedang melarikan diri dari hubungan manusia yang rumit karena masalah asmara?"


"…………—!"


"Sampai kapan kamu berniat terus memalingkan mata dari kenyataan?"


"………—!"


Maya kemungkinan besar sedang membicarakan masa lalu. Itu bukan pernyataan yang muncul karena masalah Rin. 


Merasa tidak nyaman, Haruya mencoba beranjak dari tempat itu. Namun, lengannya segera dicengkeram kuat, menghalangi langkahnya.


"……—!"


"Melarikan diri tidak akan mengubah apa pun!"


"Aku tahu itu!"


Refleks, aku mencoba melepaskan lenganku. Namun, kekuatan Maya ternyata lebih besar dari dugaanku sehingga aku gagal melepaskan diri.


"……Haru-nii. Biarkan aku percaya! Percaya padamu."


"……—!"


"Bahwa kamu benar-benar bisa melangkah maju."


Maya menatap Haruya dengan mata yang tampak pedih.


"……Kenapa Maya bisa bersikap sekuat itu────"


Harusnya Maya yang paling membenci pembicaraan ini. Sosok Maya yang terakhir aku lihat adalah dia yang menutup hatinya rapat-rapat. Namun, kepalaku dipenuhi tanda tanya; bagaimana dia bisa menjadi sekuat ini?


"……Terluka karena hubungan antarmanusia itu tidak bisa dihindari. Tapi, meski begitu, aku sudah memutuskan untuk tidak lari. Sejak hari itu, Miyuki-chan mulai menjauh dariku, dan aku pun terluka. Tapi, aku tidak menyerah dan terus mengajaknya bicara berkali-kali."


"………—!"


"Itu adalah hal yang diajarkan oleh Haru-nii padaku."


Haruya tidak bisa melakukan apa pun selain memalingkan muka dari tatapan lurus adiknya.


"Jadi, biarkan aku percaya padamu. Haru-nii……"


Menerima tatapan yang seolah memohon itu, kekuatanku perlahan lenyap. Aku merasa tidak boleh mengkhianati perasaan Maya ini.


"……Aku akan mendengarkanmu. Aku sungguh-sungguh."


Maya melanjutkan dengan nada suara yang serius.


"……Apa kamu mau mengulanginya lagi? Apa kamu benar-benar tidak apa-apa dengan itu, Kak?"


"……… (menggeleng pelan)"


Aku menjawab dengan gelengan kepala yang lemah.


(Aku tidak bisa mengandalkan siapa pun... Maya, aku tidak tahu harus bagaimana...)


"Aku tahu sulit bagimu untuk mengandalkanku. Tapi ya. Aku rasa hanya orang yang tahu luka masa SMP-mu yang bisa menyembuhkan lukamu sekarang……"


"Aku tidak punya hak untuk disembuhkan………"


"Punya. Kalau tidak begitu, semua orang akan terus terluka. Apa kamu pikir orang yang pernah mencintaimu benar-benar ingin Haru-nii terus memendam luka selamanya?"


"………Itu……… kurasa tidak."


Haruya mengatakannya dengan suara berat. Maya menatap lurus mata Haruya dan melanjutkan.


"……Kamu harus menemukan jawabannya. Bicaralah dengan sungguh-sungguh."


"……Apa semuanya akan selesai jika aku menghadapinya?"


"Mungkin tidak akan kembali seperti semula. Tapi, itu semua mutlak tergantung padamu, Kak."


Maya menambahkan dengan bergumam di akhir kalimatnya.


"Termasuk soal Miyuki dan Ryuzaki-senpai."


"………………"

Sejauh mana Maya memahami situasinya? Apakah dia tahu tentang masalah Rin yang sedang kuhadapi sekarang? Seolah menjawab keraguan Haruya, Maya lanjut berkata:


"……Haru-nii. Nanti, setelah beberapa saat, pergilah ke restoran keluarga."


"A-apa maksudmu?"


Haruya tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.


***


Waktu menunjukkan menjelang siang saat Haruya akhirnya berangkat ke restoran keluarga. Sebelumnya, ia menghabiskan waktu dengan Maya membicarakan hal-hal ringan tentang keseharian mereka.


Melarikan diri tidak akan mengubah apa pun. Aku ada di sisimu. Dan yang terpenting, Biarkan aku percaya padamu.


Kata-kata itu menusuk jauh ke dalam hati Haruya. Maya tidak lari. Kalau begitu, aku pun...merasa bahwa mengkhianati dirinya sendiri sama saja dengan mengkhianati adiknya.


Maya sepertinya memutuskan untuk tetap di rumah, sehingga Haruya datang sendirian ke restoran keluarga yang telah ditentukan. Katanya ada seseorang yang ingin dipertemukan dengannya. Maya berpesan agar ia berkonsultasi dengan sungguh-sungguh kepada orang tersebut.


"Yo, Akasaki..."


"Hah..."


Saat Haruya sedang duduk menunggu dengan gelisah, sebuah wajah yang sangat ia kenal muncul di hadapannya.


"……Kazamiya."


"Apa-apaan. Tampangmu sudah mendingan juga ternyata."


Kazamiya memeriksa penampilan Haruya. Di sana berdirilah Haruya dengan "wajah aslinya". Berpakaian rapi, yang jika dilihat oleh teman sekelas yang tidak tahu apa-apa, pasti akan membuat mereka sangat terkejut.


"……Sudah makan siang?"


"Belum..."


"Kalau begitu," 


Kazamiya mengangkat sudut bibirnya dan berkata, 


"Ayo makan bersama."


"……………"


Kenapa Kazamiya ada di sini? Belum sempat pertanyaan itu terlontar, Haruya sudah terseret sepenuhnya ke dalam ritme Kazamiya.


***


Akasaki Haruya.


Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat baru masuk SMP. Begitu melihatnya, aku langsung berpikir bahwa dia tipe orang yang menyebalkan. Seseorang yang langsung menjadi idola kelas begitu masuk sekolah. Dari sudut pandang orang lain, mungkin ini terdengar seperti rasa iri. Aku tidak berniat membantahnya, tapi entah kenapa dia terasa seperti sedang merendahkan orang lain. Bicara santai, bersikap asal-asalan terhadap perempuan, tapi anehnya banyak orang berkumpul di sekitarnya. Bukankah itu aneh?


Dunia ini tidak adil. Wajah tampan, pintar, dan jago olahraga. Aku pun sebenarnya sama. Tapi orang-orang yang berkerumun di sekitarnya jauh lebih banyak.


──Intinya, dia adalah orang yang menyebalkan secara pribadi bagiku.


Seharusnya aku menghabiskan waktu dengan kesan seperti itu, tapi tiba-tiba dia menyapaku.


“Hei, Kazamiya tahu banyak soal anime ini, kan? Aku baru saja menontonnya kemarin.”


“Bagaimana hasil ujian kemarin? Aku selalu merasa Kazamiya itu kelihatan pintar.”


Sebuah benda asing tiba-tiba menginvasi ruang kesendirianku. Dia masuk tanpa melepas sepatu, dan meski aku memasang wajah yang sangat tidak suka, dia tidak menyerah untuk terus melangkah masuk agar bisa akrab denganku.


Aku tidak akan pernah luluh padanya────. 


Seharusnya aku berpikir begitu. Namun tanpa sadar, perasaan tidak suka itu menghilang. Melalui interaksiku dengan Haruya, aku menyadari bahwa dia tidak mencoba berteman denganku hanya demi "status", melainkan dia benar-benar melihat diriku apa adanya. Pernah suatu kali aku bertanya kepadanya mengapa dia memedulikan orang sepertiku di tengah posisinya di kelas.


“Hei, kenapa kamu mengurusi orang sepertiku?”


“……Aku ingin berteman dengan banyak orang.”


“…………”


“Karena bagiku, semakin banyak teman, semakin banyak hal yang bisa kunikmati.”


“Bagaimana kalau ternyata tidak menyenangkan?”


“Itu tidak mungkin. Karena aku sudah berniat untuk mengenal orang itu agar bisa bersenang-senang bersamanya.”


Aku terpana. 


Begitu besarkah keinginannya untuk berhubungan dengan orang lain?


Awalnya aku merasa agak ngeri melihatnya seserius itu. Namun di saat yang sama, aku merasa dia keren. Jika dia bisa mendalami sesuatu sejauh itu, maka itu adalah sesuatu yang asli. Hubungan manusia yang dibangun Akasaki Haruya pasti tulus.


Karena, pikirkanlah. Akasaki Haruya yang sampai segitunya mendekati orang lain, yang bahkan menyapa orang sepertiku yang suram, pendiam, dan sinis ini──hubungan yang dia bangun tidak mungkin tidak indah. Jika tidak begitu, maka aku yang memercayainya pun akan terasa seperti kepalsuan.


Itulah sebabnya, insiden di kelas dua SMP itu benar-benar mengguncangku. Itu adalah momen di mana hubungan antarmanusia hancur berkeping-keping. Suou Miyuki, adik kelas di klub atletik, kabarnya menyatakan cinta kepada Haruya. Dan Miyuki adalah sahabat baik Maya, adik Haruya sendiri. Haruya, Ryuzaki, dan Miyuki. Kelompok bertiga ini membentuk sebuah grup yang menjadi pusat kecemburuan satu sekolah. Namun, Miyuki menyatakan cinta kepada Haruya. Itulah saat di mana keretakan terjadi. Haruya menolak tanpa mau mendengarkan pernyataan cintanya. Sahabatnya pun memojokkannya karena dianggap tidak mau menghadapi perasaan orang secara personal, dan mengatakan bahwa dia kecewa. Namun Haruya tidak bisa berkata apa-apa kepada sahabatnya...


Haruya mulai menjauh dari Miyuki, dan juga dari Ryuzaki yang menyukai Miyuki.


(Jangan bercanda... jangan bercanda.)


Saat itu, Kazamiya merasa sangat marah hingga hampir hilang kendali. Marah kepada Haruya.


Hubungan manusia yang telah dibangun Akasaki Haruya; dia sama sekali tidak bisa menerima bahwa hubungan itu hancur hanya karena hal semacam itu. Rasanya menyakitkan, seolah diriku yang memercayainya pun sedang disangkal.


Tapi, saat aku mencoba bicara pada Akasaki────Akasaki hanya menatap dengan mata kosong dan berkata:


“……Aku harus belajar untuk ujian. Lagipula, orang sepertimu tidak akan mengerti. Perasaan ini.”


Mendengar itu, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lebih tepatnya, melihatnya yang sudah kehilangan semangat membuatku terkejut dan dadaku sesak oleh rasa kesal.


『Orang sepertimu tidak akan mengerti.』


Kata-kata itu benar-benar membuatku muak.


Memang benar, aku bahkan tidak berdiri di arena yang sama dengan Haruya. Saat itu, aku hanyalah penonton dari luar. Karena itulah, aku bertekad untuk mengejarnya.


──Makanya.


“Mau masuk klub atletik? Tapi sekarang suasananya lagi tidak enak, lho.”


“Iya!”


“Wah, semangatmu bagus juga! Tapi, bagaimana kalau poni dan kacamata itu kita bereskan dulu? Siapa namamu?”


“Iya!”


Setelah menjawab dengan lantang sekali lagi, aku menyisir rambutku ke belakang dan melepas kacamata.


“……Namaku Kazamiya Yuki.”


Begitulah, aku mulai berlatih dengan tekun di klub yang sudah ditinggalkan oleh Haruya dan yang lainnya. Aku bergabung dalam grup chat klub atletik karena ingin berada di posisi yang sama dengan Haruya. Jika tidak, aku merasa dia akan kembali mencibirku dengan kata-kata, 『Kamu tidak akan mengerti』...


Namun, pada akhirnya aku tidak bisa mencetak prestasi yang bagus.

Aku kembali menyadari betapa hebatnya Akasaki. Aku lulus begitu saja, dan karena rasa malu karena gagal menjadi "Akasaki kedua", aku memilih SMA yang jauh sebagai tujuan sekolahku. Namun, hal itu justru membawa pertemuan yang tak terduga.


“……Akasaki Haruya?”


Begitu melihat buku daftar nama, aku langsung yakin. Dan saat melihat wajahnya, aku benar-benar terkejut.


(Dia memancarkan aura yang sama denganku yang dulu……)

"Jangan mendekat." 

"Kalian semua menyembunyikan sesuatu yang kotor."

"Semuanya memuakkan."


Dia adalah orang yang memancarkan aura seperti itu.


(Ini kesempatan…… aku tidak boleh melepaskan kesempatan bertemu Akasaki lagi ini.)


Berpikir demikian, Kazamiya menyeringai dan menyapa Haruya.


“Hei, hei, Akasaki, kamu sudah dengar belum……”


***


“─────Begitulah kira-kira jati diriku yang sebenarnya,” ucap Kazamiya santai sambil mencomot kentang goreng.


(Duh, dia terlalu tenang menceritakannya……)


Haruya bergumam dalam hati menanggapi sikap temannya itu.


“……………”


Tapi, ia benar-benar tidak percaya. Tak disangka jati diri Kazamiya adalah teman sekolahnya saat SMP. Haruya merasa bersalah pada Kazamiya, tapi karena saat itu ia ingin melupakan segalanya, ia mengunci rapat ingatannya. Lagipula, dulu Kazamiya adalah tipe siswa laki-laki yang suram dan pendiam, sangat tidak cocok dengan sosok Kazamiya yang sekarang.


“Tapi, masa tidak sadar juga? Benar-benar teman bukan, sih?”


Kazamiya menyindir dengan tatapan sinis.


“……Ha, haha. Benar-benar maaf.”


──Dari pembicaraan selanjutnya, terungkap bahwa ternyata Kazamiya berhubungan dengan Maya. Katanya, ia mendapatkan kontak Maya karena mereka berdua pernah berada di grup chat klub atletik yang sama. Melihat Haruya kembali terluka karena masalah asmara, ia pun menghubungi Maya.


(Rasa janggal itu akhirnya hilang.)


Pantas saja Haruya merasa aneh. Maya datang tepat di saat ia sedang terpuruk. Jika disebut kebetulan, rasanya terlalu pas.


“Dengar ya. Maya-chan mungkin sudah mengatakannya, tapi aku pun mengagumi Akasaki yang dulu, tahu?”


Cara Haruya membangun hubungan manusia. Cara hidup seorang laki-laki bernama Akasaki Haruya.


“………………”


Karena itulah, Kazamiya memberikan tatapan yang jauh lebih serius dari sebelumnya.


“Biarkan aku juga percaya padamu. Apa itu asmara? Jangan biarkan hal semacam itu mematahkan semangatmu.”


“……Benar, ya.”


Haruya merasa seperti sedang melihat cermin tua. Sama seperti saat bersama Maya, ia merasakannya dengan kuat dari Kazamiya yang sekarang. Tidak ada dasar yang kuat... ini hanya argumen emosional. Namun, melihat ekspresinya yang begitu gigih, Haruya jadi ingin menanggapinya.


……Haha, ternyata sosokku yang dulu cukup "berbahaya" ya. 


Jika seseorang menatapku dengan mata yang percaya seperti itu, aku merasa tidak boleh mengkhianatinya.


Jujur, ia sama sekali tidak percaya diri bahwa semuanya akan berjalan lancar kedepannya. Namun────.


“Hadapilah dengan benar dan melangkah ke depan.”


“Kau bicara seenaknya saja…… padahal meski dicari pun, mungkin yang ada hanya jalan yang menyakitkan.”


“Jangan bodoh. Memangnya ada hubungan manusia yang sejak awal tidak menyakitkan?”


“Benar juga, ya.”


Tapi, Haruya berkata lagi. Sekarang, ia bisa menanyakannya pada Kazamiya yang benar-benar tahu masa lalunya.


“……Meski aku menghadapinya, bukankah kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan?”


Benar. Seberapa keras pun Haruya mencoba menghadapi mereka, jika pihak lawan tidak memiliki keinginan yang sama, segalanya akan sulit.


“Tidak. Mereka akan datang……” jawab Kazamiya seketika.


“Pasti, Akasaki…… tidak, Haruya, mereka akan muncul di hadapanmu. Jadi percayalah dan tunggulah.”


“……Bagaimana kau bisa seyakin itu?”


“Tentu saja, karena mereka tidak selemah yang kau bayangkan, Haruya…… Jadi, berjanjilah satu hal padaku. Jika mereka menunjukkan tekad untuk menghadapimu dengan sungguh-sungguh, kau harus menanggapinya──”


Cemas. Rasanya takut bukan main. Apa yang akan terjadi setelah ia menghadapinya? Haruya tidak tahu jawaban di baliknya. Ia takut untuk mengetahuinya.


────Namun. Maya berhasil melewati kesulitan karena mengingat sosok Haruya yang dulu. Kazamiya pun melangkah di jalan tanpa penyesalan karena mengagumi Akasaki Haruya.


(Karena itu, aku bisa percaya. Pada Akasaki Haruya.)


Sebab ada orang yang tahu masa lalunya, namun tetap menerima dan mendukungnya. Haruya menatap balik mata Kazamiya dengan mantap dan berkata,


“……Iya. Aku akan menanggapinya dengan benar.”


“Heh, ternyata kamu bisa juga kalau mau.”


“Apa-apaan nada bicara sok merendahkan itu?”


Setelah itu, Haruya dan yang lainnya melanjutkan obrolan ringan dengan penuh tawa.


Di tengah suasana itu, Haruya tiba-tiba terpikir satu hal.


(Kira-kira, apa yang sedang mereka lakukan saat ini……)


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close