NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Takou no Koori Hime wo Tasuketara Volume 4 Chapter 5

 Penerjemah: Lucretia Von Reese

Proffreader: Lucretia Von Reese


Chapter 5

Di dalam kereta yang berguncang dengan suara gatan-goton. Apakah karena belakangan ini sedang musim flu sehingga kereta terasa lebih sepi dari biasanya? Pemanas ruangan menyala di dalam kereta, dan udara dingin mengalir masuk dari pintu yang terbuka setiap kali tiba di stasiun.

"Nagi, perbedaan suhunya lumayan drastis, kamu tidak apa-apa?"

"Iya, tidak apa-apa. ...Souta-kun sendiri bagaimana? Karena semua angin yang mengarah padaku dihalangi oleh Souta-kun."

Dan, di sebelahku—ada seorang gadis yang terlihat seperti perwujudan peri salju. Rambut putih bersih, dengan kulit sewarna susu. Lalu, mata biru yang mengingatkan pada lautan.

Shinonome Nagi. Seorang gadis yang di sekolah lain dijuluki 【Putri Es】. Kami menjadi dekat setelah aku menolongnya saat ia mengalami pelecehan di kereta... Melalui berbagai lika-liku, ia melampaui status kekasih dan kini menjadi tunanganku. Aku tidak mengatakannya sembarangan, ini adalah hal yang telah disetujui oleh kedua orang tua kami.

Kami menghabiskan akhir tahun dan awal tahun di rumah orang tuaku, dan pada awal tahun kami pergi ke kuil bersama teman-teman. Lalu, mengenai masa laluku... meskipun bukan sesuatu yang luar biasa, aku telah menceritakan kepadanya tentang perundungan yang pernah kualami dan bagaimana aku dulu tidak memiliki teman.

Liburan musim dingin yang terasa panjang namun sebenarnya singkat telah berakhir, dan sekolah kembali dimulai... tapi dengan cepat, perhatian kecilku sudah ketahuan olehnya.

"Aku tidak apa-apa kok. Aku juga memakai syal dan sarung tangan pemberian Nagi."

"Muu... syukurlah kalau itu berguna."

Meskipun menjawab begitu, ia masih terlihat sedikit tidak puas. Aku yakin itu karena ia murni mengkhawatirkanku. Dia memang gadis yang sangat baik. Meskipun begitu, tetap saja.

"Lagipula tubuhku lebih besar. Jadi lebih mudah untuk menjadi tameng."

"A-aku juga bisa memeluk dan menghangatkan Souta-kun, lho?"

"Aku senang dengan niatmu, tapi itu akan terlalu menarik perhatian."

Bukannya Nagi itu bertubuh mungil, tapi di sisi lain, sebagai laki-laki tubuhku juga tidak bisa dibilang kecil. Lebih mudah bagiku untuk melindunginya, tapi jika Nagi berusaha... Apapun itu, berpelukan di dalam kereta akan sangat mencolok, atau dengan kata lain, tidak pantas dengan tempat dan situasinya. Entah apakah dia juga mengerti akan hal itu, ia hanya mengatakannya namun tidak bertindak.

Setelah beberapa stasiun diiringi percakapan seperti itu, tibalah di stasiun tempat Nagi turun.

"Kalau begitu Souta-kun, sampai jumpa saat pulang nanti."

"Ya, sampai jumpa nanti. Hati-hati di jalan."

Aku memperhatikan Nagi turun dari kereta sambil melambaikan tangan kecilnya. Kemudian, dengan hati yang dipenuhi perasaan hangat, aku berangkat menuju sekolah.

Hampir setahun yang lalu... saat aku baru masuk sekolah, dan juga sebelum itu, semuanya berbeda. Segalanya.

Diberkati dengan kekasih dan teman-teman—tidak diragukan lagi bahwa ini adalah hari-hari yang membahagiakan.

Akan tetapi, berdiam diri dengan keadaan ini adalah hal yang salah. Situasinya telah berubah begitu banyak dibandingkan setahun yang lalu, dan hari-hari seperti ini tidak akan terus berlanjut dengan cara yang sama.

Aku juga akan segera naik ke kelas dua SMA. Sekarang mungkin masih baik-baik saja, tapi di paruh pertama kelas dua nanti, aku harus menetapkan jalur pendidikanku... dan memikirkan tentang masa depan.

◆◆◆

Tiba di sekolah dan waktu istirahat siang pun datang. Tidak ada yang berubah sejak sebelum liburan musim dingin, aku menyantap bekal makan siang bersama sahabatku, Makisaka Eiji. Bekalku ini dibuatkan oleh Nagi, berisi tamagoyaki, sayuran rebus, irisan ikan salmon, tomat ceri, dan hidangan penuh warna lainnya yang sangat lezat.

Sambil mengobrol saat makan, aku teringat akan sesuatu yang ingin kutanyakan pada Eiji.

"Ngomong-ngomong, apakah kamu bekerja paruh waktu, Eiji?"

"Hm? Kerja paruh waktu? Tidak... ah, apa itu bisa disebut kerja paruh waktu, ya."

Biasanya kami tidak pernah membicarakan hal semacam ini, tapi setelah berpikir sejenak, Eiji bergumam seolah berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian ia menatapku.

"Aku pernah cerita kalau kakak perempuanku bekerja di toko Pakaian, kan?"

"Ya, aku pernah dengar."

"Itu adalah toko Pakaian wanita, tapi saat mereka kekurangan tenaga laki-laki, aku pergi membantu. Statusku secara resmi adalah pekerja paruh waktu... karena ada juga pelanggan yang penasaran bagaimana penampilan mereka di mata laki-laki. Pada dasarnya aku sering berada di sana bersama Kirika, terkadang kami berdua pergi bekerja paruh waktu untuk mencari uang saku tambahan."

"Hee. Aku baru pertama kali mendengarnya."

"Yah, aku memang baru pertama kali menceritakannya. Saat bermain denganmu dan yang lain, aku memprioritaskan hal itu. Kalau aku mengatakannya, kamu pasti akan merasa sungkan, kan? Kamu juga selalu menyuruhku untuk memprioritaskan hubunganku dengan Kirika."

...Itu sangat mirip dengan Eiji. Tapi memang benar, ketika aku mengajaknya bermain, pertanyaan pertamaku pasti, "Apakah kamu ada jadwal kerja paruh waktu di akhir pekan ini?"

"Ngomong-ngomong, ada apa tiba-tiba? Apakah Souta juga mau bekerja paruh waktu?"

"...Yah, begitulah. Aku sedang berpikir ingin melakukannya."

Eiji yang peka sudah bisa menebaknya. Tapi itu tidak masalah karena aku memang berniat menceritakannya sejak awal.

"Kenapa? Hanya sekadar tidak punya uang untuk bermain?"

"Itu salah satunya. Aku tidak bisa terus-terusan bergantung pada ibu dan yang lainnya. Selain itu, kalau aku ingin memberikan hadiah untuk Nagi, terus-menerus mengambil dari uang saku... rasanya kurang pantas."

"Dari sudut pandang mereka mungkin tidak masalah, tapi bagi kita laki-laki, itu pasti mengganggu pikiran, ya."

"Benar. Selain itu, ada juga alasan sederhana yaitu untuk menambah pengalaman."

Setelah disusun seperti ini, ternyata ada banyak alasan mengapa aku ingin bekerja paruh waktu. Sampai sekarang aku tidak punya banyak kelonggaran untuk memikirkannya, tapi sekarang situasinya berbeda.

"Begitu ya. Kamu mau kerja paruh waktu di mana? Kudengar minimarket itu pekerjaannya banyak dan lumayan berat. Apa pekerjaan pelayanan yang lain?"

"Aku belum memikirkan sejauh itu. Hanya saja, aku ingin mendengar cerita dari orang yang sudah pernah bekerja paruh waktu... dan hanya Eiji yang bisa kutanyai."

"Jadi begitu. Yah, tapi memang benar sih. Waktu pasti akan tersita, dan menurutku orang-orang yang bekerja paruh waktu itu identik dengan nilai yang buruk... tapi kalau Souta, tidak masalah, kan? Aku dan Kirika juga sebelumnya kacau, tapi setelah mengadakan kelompok belajar, nilai ujian kami jadi lebih baik."

Waktu untuk belajar pasti akan berkurang, tapi aku merasa semua akan baik-baik saja karena ada Nagi bersamaku. Jika Eiji juga berpikir demikian, mungkin memang tidak akan masalah.

Saat itu, Eiji memiringkan kepalanya dan mengerutkan kening.

"Hm? ...Tunggu sebentar. Ngomong-ngomong, kamu mau jadi apa di masa depan?"

"...Aku juga masih bingung soal itu, atau lebih tepatnya, belum memikirkannya."

"Oh, begitu ya. Kukira kamu punya rencana untuk meneruskan bisnis keluarga itu, Keluarga Shinonome. Di zaman sekarang, sistem pewarisan juga tidak diwajibkan... meskipun aku tidak tahu kalau untuk keluarga terpandang. Bagaimana tentang hal itu?"

"Entahlah, bagaimana ya."

Aku tidak pernah diajak berdiskusi mengenai penerusan bisnis oleh Souichirou-san... ayah mertuaku. Tapi, dari apa yang kudengar, sepertinya Nagi sedang menerima pendidikan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Fakta bahwa Nagi berlatih tarian tradisional Jepang juga seharusnya berhubungan dengan pekerjaan ayah mertua.

"Untuk berjaga-jaga, aku berencana untuk menanyakannya juga kepada Souichirou-san. Soal pekerjaan paruh waktu."

"Oh, menurutku itu ide yang bagus. Siapa tahu ada kemungkinan ia akan memberikan referensi tempat kerja padamu. Koneksi itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya."

"Kurasa ia tidak akan sampai merekomendasikan tempat kerja padaku, sih."

Aku berpikir sambil tersenyum pahit mendengar kata-kata Eiji. Jika... aku diajak bicara mengenai penerusan pekerjaan Souichirou-san, atau lebih tepatnya perusahaannya, apa yang harus kulakukan? Tidak, saat ini kemampuanku masih jauh dari kata cukup.

Yah, aku akan memikirkannya setelah bertanya padanya.

Aku meyakinkan diriku sendiri, dan kembali melanjutkan obrolan dengan Eiji.

◆◆◆

Sepulang sekolah, aku pergi menuju gerbang sekolah bersama Eiji... dan di sana aku melihat sosok yang tidak asing.

"Eh...? Nagi?"

"Hm? Oh, benar juga. Tidak ada pesan masuk, ya?"

"...Seharusnya tidak ada."

Aku memeriksa ponselku sekali, namun tidak ada notifikasi yang masuk. Karena bertanya-tanya ada apa, aku mendekatinya. Nagi menyadari kehadiran kami dan melambaikan tangan kecilnya.

"Souta-kun, Eiji-san, selamat sore."

"O-oh, selamat sore."

"Selamat sore. ...Nagi, ada apa?"

"Sebenarnya ada sedikit urusan dengan Souta-kun. Lebih tepatnya, bukan urusanku, tapi urusan ayahku."

"Souichirou-san?"

Nagi mengangguk dengan wajah serius. Saat aku menoleh ke samping, tatapan Eiji seolah bertanya padaku, 'Sebaiknya aku tidak ikut campur, ya?'. Aku tidak bisa berkata apa-apa karena tidak tahu apa yang akan dibicarakan.

"Ini pembicaraan yang penting, tapi bukan sesuatu yang buruk... eh, tidak bisa dibilang seluruhnya positif juga sih. Apapun itu, aku ingin kamu datang ke rumah."

"Tentu saja aku akan pergi."

Aku tidak punya urusan lain, dan tidak ada alasan untuk menolak. Bahkan jika aku sedang sibuk, aku rasa aku akan tetap memprioritaskan hal ini.

Saat aku menjawab demikian, wajah Nagi langsung berseri-seri dan ia tersenyum.

"Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku akan memanggil mobilnya, ya."

"Ternyata kamu datang pakai mobil."

Pantas saja dia tiba begitu cepat. Sambil mengangguk paham, aku menatap Eiji.

"Maaf, Eiji. Sepertinya kita berpisah di sini untuk hari ini."

"Jangan dipikirkan. Tapi kalau terjadi sesuatu, cerita ya? Dalam batasan yang bisa kamu ceritakan saja... mulutku ini bisa menjaga rahasia."

"Terima kasih."

"Ya, sama-sama."

Aku menerima kata-kata itu dengan penuh rasa terima kasih, lalu menunggu Nagi selesai menelepon.

Segera setelah Nagi selesai menelepon, sebuah mobil berhenti di dekat gerbang sekolah. Dari kelihatannya saja, itu adalah mobil mewah.

"Pengemudinya bukan Souichirou-san, ya?"

"Sesekali ayahku yang menyetir, tapi pada dasarnya itu adalah pengemudi yang disewa oleh Keluarga Shinonome. Nanti akan kuperkenalkan setelah kita masuk."

"...Belakangan ini aku hampir lupa, tapi saat-saat seperti ini menyadarkanku kalau kamu memang seorang nona muda dari keluarga kaya, ya."

Aku tertawa mendengar ucapan Eiji, lalu dengan cepat masuk ke dalam mobil agar tidak mengganggu orang-orang di sekitar.

"Sampai jumpa, kalian berdua."

"Ya, sampai jumpa besok."

"Sampai jumpa dalam waktu dekat, ya."

Percakapan dengan Eiji itu menjadi penutup sebelum kami berangkat menuju rumah Nagi.

◆◆◆

"...Sebenarnya sudah lama sekali, kan? Sejak terakhir kali kamu datang ke rumahku."

"Benar juga. Terakhir kali adalah saat itu, ya."

Biasanya Nagi yang datang ke rumahku. Terkadang ia juga menginap... tapi kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah lagi pergi ke rumah Nagi.

"Mengingat sudah cukup lama, aku jadi sedikit gugup."

"Kalau begitu, agar kamu tidak gugup lagi, mulai sekarang kamu harus lebih sering datang ke rumahku."

Nagi tersenyum sambil menggenggam tanganku—rasa gugupku mereda, dan senyuman alami terukir di wajahku.

"Benar juga. Mulai sekarang aku akan berusaha lebih sering datang."

"Iya. Walaupun begitu, sepertinya itu masih akan terwujud beberapa waktu lagi."

"...? Apa maksudmu?"

"Hal itu juga akan segera kamu dengar dari Ayah... dari Papa."

(TLN: Terkadang Nagi manggil ayah kadang juga papa efek blm terbiasa manggil papa,di raw nya juga manggil oto-sama lalu koreksi manggilnya papa)

Sepertinya Nagi sudah mendengarnya. Sambil berkata demikian, ia berjalan menuju gerbang. Saat aku mengikutinya, gerbang terbuka—dan ada sosok yang sudah lama tidak kulihat.

"Selamat datang kembali, Oujo. Dan juga, Minori-sama."

"Aku pulang, Suzaka-san."

"L-lama tidak berjumpa, Suzaka-san."

Orang yang ada di sana adalah Suzaka Shouko-san... seorang asisten rumah tangga Keluarga Shinonome, yang secara khusus melayani Nagi. Aku pertama kali bertemu dengannya saat pertunjukan tarian tradisional Jepang Nagi, dan ini pertama kalinya aku melihatnya lagi sejak kunjunganku ke rumah Nagi sebelumnya.

"Tuan Besar sedang berada di ruang keluarga. Saya akan mengantar Anda."

"Baik! Mohon bantuannya!"

Ia membungkuk dengan anggun, lalu kami mengikuti di belakang Suzaka-san. Dulu aku sangat gugup sehingga pandanganku menyempit, tapi sekarang aku bisa melihat bahwa tempat ini sangat luas, lengkap dengan taman dan lainnya.

Aku berjalan bersama Nagi sambil berhati-hati agar tingkah lakuku tidak terlihat mencurigakan... meski begitu, di tengah jalan Nagi memandangiku dengan senyum geli, jadi sepertinya aku tidak berhasil menutupinya dengan baik.

Kemudian, kami tiba di ruang keluarga, ruangan yang sama seperti yang kudatangi sebelumnya.

"Tuan Besar, saya telah mengantar mereka berdua."

"Terima kasih, silakan masuk."

Setelah percakapan singkat antara Suzaka-san dan Souichirou-san, kami masuk ke ruang keluarga—

"Selamat datang kembali, Nagi, dan juga Souta-kun."

"Aku pulang, Papa."

"L-lama tidak berjumpa, Souichirou-san."

"..."

"A-ah, bukan, Ayah Mertua."

Orang yang menutup laptop di atas meja rendah yang panjang dan besar itu adalah seorang pria berambut disisir ke belakang yang terlihat sangat awet muda... Shinonome Souichirou-san. Namun, berbeda dari sebelumnya, auranya kini terasa jauh lebih lembut. Omong-omong, karena Nagi memanggil orang tuaku dengan sebutan Ibu Mertua dan Ayah Mertua, aku pun mulai memanggil Souichirou-san dan istrinya dengan sebutan yang sama.

Tanpa sadar aku memanggilnya Souichirou-san, dan karena ia terlihat sedikit tidak puas, aku pun memanggilnya “Ayah Mertua”... sepertinya itu adalah jawaban yang tepat, karena sudut bibirnya sedikit mengendur.

“Nah, silakan duduk, Souta-kun.”

“Ya, anggap saja seperti rumah sendiri. Meski mungkin itu masih sulit bagimu.”

“T-tidak. Terima kasih banyak.”

Aku duduk setelah dipersilakan oleh mereka berdua, namun rasa gugupku masih belum hilang... Aku memejamkan mata sekali dan secara sadar mengendurkan ketegangan di bahuku.

...Ya, aku merasa sedikit lebih tenang.

Saat aku membuka mata, pandanganku bertemu dengan Ayah Mertua.

“Souta-kun, bagaimana kabarmu?”

“Na, Nagi-sa... tidak, berkat Nagi aku dalam keadaan sehat.”

Bahuku hampir kembali menegang, namun Nagi yang berada di sebelahku menggenggam tanganku sehingga aku kembali rileks. Apakah masih sulit bagiku untuk bersantai secara tidak sadar? Tidak, aku juga tidak berniat menunjukkan sikap yang terlalu santai. Seperti kata pepatah, tetap harus ada kesopanan meski dalam hubungan yang dekat.

“Bagaimana dengan Ayah Mertua dan Ibu Mertua... um, apakah kalian berdua sehat-sehat saja?”

“Tidak perlu terlalu formal begitu. Kami di sini, termasuk istriku, baik-baik saja dan tidak mengidap penyakit serius apa pun. Nagi juga tentu saja... belakangan ini mungkin Souta-kun lebih tahu dariku.”

Karena tidak tahu harus menjawab apa, aku membalasnya dengan senyum canggung. Gawat. Aku terlalu jarang punya kesempatan mengobrol seperti ini dengan orang yang lebih tua. ...Tidak, tidak apa-apa. Selama aku memiliki rasa hormat, itu pasti akan tersampaikan.

“Pekerjaan juga berjalan seperti biasa... meski ini mungkin hanya dipahami oleh orang-orang yang bekerja di perusahaan. Aku harap kamu tenang karena skala pekerjaan kami tidak menyusut setelah insiden waktu itu.”

“B-begitu ya. Syukurlah.”

Aku juga mengkhawatirkan hal itu, jadi aku lega mendengarnya. Meski aku tidak yakin apakah pantas bagiku untuk berkata “Syukurlah”.

“Hanya saja... benar juga. Mari kita mulai masuk ke topik utama sedikit demi sedikit.”

Bersamaan dengan kata-kata itu, aura Ayah Mertua berubah. Sepertinya ini pembicaraan yang penting. Pada saat yang sama, Suzaka-san membawakan teh, dan setelah meminum seteguk, Ayah Mertua melanjutkannya.

“Ini mengenai Keluarga Minamikawa.”

“...Keluarga Minamikawa.”

Aku bergumam tanpa sadar. Keluarga Minamikawa—itu adalah keluarga yang melamar Nagi. Aku tidak tahu detail ceritanya, tapi kalau tidak salah mereka bergerak di bidang yang sama dengan Ayah Mertua. Sebuah keluarga terpandang yang menjalankan bisnis kimono.

Aku menggali informasi tersebut dari dasar ingatanku, lalu kembali memusatkan perhatian pada kata-kata Ayah Mertua.

“Aku akan menyampaikan faktanya terlebih dahulu. Saat ini, Keluarga Minamikawa terbagi menjadi dua... tidak, tiga kubu.”

“Tiga kubu?”

“Ya. Secara garis besar... sepertinya ada pihak yang mendukung kepala keluarga saat ini, pihak yang berusaha menggulingkannya, dan pihak netral yang tidak memihak keduanya.”

Aku sama sekali tidak mengerti soal Keluarga Minamikawa... tidak, benar juga. Kalau tidak salah, orang yang melamar Nagi sepertinya adalah tokoh yang cukup penting.

“Pria yang melamarku, Minamikawa Haruto-san, adalah putra dari kepala keluarga saat ini. Meskipun disebut kepala keluarga, ia menduduki berbagai posisi... anggap saja ia eksis seperti presiden direktur. Skala perusahaan mereka jauh lebih besar, tapi dalam hal pimpinan perusahaan, kedudukannya sama dengan Papa.”

“Begitu ya.”

Singkatnya, aku bisa menganggapnya sebagai perwakilan perusahaan atau grup. Putra dari pria seperti itu telah melamar Nagi. ...Meskipun akulah yang menghancurkan semuanya.

Aku teringat sekilas kejadian hari itu, tapi aku menghentikannya. Mendengarkan pembicaraan ini lebih penting sekarang.

“Benar, kalian berdua bisa memahaminya seperti itu. Dan yang menjadi masalah adalah cara lamaran itu diajukan... itu adalah keputusan sepihak dari kepala keluarga saat ini.”

“...Keputusan sepihak?”

“Terkait lamaran tersebut, mereka mengajukan syarat yang sangat menguntungkan pihak kita. Belakangan diketahui bahwa itu adalah keputusan sepihak dari sang kepala keluarga, dan kini Keluarga Minamikawa sedang kacau.”

“Aku akan mengatakannya lebih dulu, ini bukan salah Souta-kun.”

Saat aku menahan napas, Nagi menambahkan hal itu secara bersamaan. Kemudian, Ayah Mertua juga mengangguk kuat mendengar perkataan Nagi. Matanya menatap lurus ke arahku.

“Itu benar. Ini adalah kesalahanku... dan lebih jauh lagi, ini bukan tanggung jawab satu orang saja. Aku memiliki tanggung jawab, begitu pula dengan kepala Keluarga Minamikawa yang mengambil keputusan sepihak. Tidak ada gunanya membicarakan hal yang tidak terjadi, namun bahkan jika kita tidak menolak lamaran itu, hal yang serupa kemungkinan tetap akan terjadi.”

Aku menerima perkataan Ayah Mertua... lalu meminum teh agar pikiranku tidak berhenti bekerja sambil mendengarkan kelanjutannya.

“Lalu mengenai Keluarga Minamikawa ini... di antara mereka, ada orang-orang yang tidak menyukai kita. Mulai dari sinilah topik utamanya.”

Tatapan Ayah Mertua menusuk lurus ke arahku. Secara alami punggungku tegak... meskipun begitu, gadis di sebelahku masih terlihat dalam pandanganku. Aku tidak sendirian. Menguatkan tekadku, aku membalas tatapan Ayah Mertua.

“Souta-kun telah menjadi tunangan Nagi. Karena hal ini... saat ini, kami tidak bisa menjamin bahwa tidak ada orang yang mencoba melukaimu.”

“...Begitu ya.”

Jika ada orang yang mendendam pada Keluarga Shinonome, tidak aneh jika ada juga orang yang mendendam padaku. Keberadaanku sebagai tunangan Nagi sepertinya juga telah dipublikasikan.

“Tentu saja kemungkinan ada yang mencoba melukaimu sangatlah kecil. Sejak awal orang-orang yang berniat melukai kami sangat terbatas, dan orang yang benar-benar mengambil tindakan akan jauh lebih sedikit lagi. Keluarga Minamikawa juga merupakan keluarga terpandang, jika mereka tahu ada orang berbahaya seperti itu, mereka pasti akan mengambil tindakan yang sesuai. ...Meskipun begitu, kita tidak boleh membiarkan kemungkinan satu banding sepuluh ribu atau bahkan seratus juta terjadi. Penyelamat Keluarga Shinonome, sekaligus calon menantu kami, tidak boleh terluka.”

“...Ayah Mertua.”

“Oleh karena itu, ada satu hal yang ingin kuminta darimu. Aku sudah mendapatkan izin dari kedua orang tuamu...”

“Hm?”

Tiba-tiba aura Ayah Mertua berubah. Menjadi lebih lembut seperti sebelumnya. Aku sedikit terkejut melihatnya... tapi Ayah Mertua terus melanjutkan tanpa peduli.

“Selama masalah dengan Keluarga Minamikawa belum mereda, aku ingin kamu tinggal di sebuah apartemen. Dengan cara tinggal bersama Nagi.”

“I-itu...”

“Sebisa mungkin aku ingin mengurangi kemungkinan ada yang melukaimu. Apartemen tempat Souta-kun tinggal saat ini memang memiliki keamanan yang baik, tapi apartemen yang aku inginkan untuk kalian tempati memiliki keamanan yang sangat sempurna. Jika terjadi sesuatu, penjaga keamanan bisa segera bergegas ke sana. Tinggal berdua bersama Nagi juga akan memberikan banyak pelajaran. Bagaimana?”

Kepalaku dipenuhi tanda tanya, dan tanpa sadar aku menatap Nagi di sebelahku. Gadis yang menatapku dengan mata birunya itu telah mengubah ekspresinya dari sebelumnya, dan kini tersenyum.

“Souta-kun, pinjam telinganya sebentar ya.”

“A-ah.”

Nagi berkata demikian dan mendekatkan bibirnya ke telingaku. Lalu ia berbisik.

“Apa yang Papa katakan sebenarnya lebih condong pada poin yang kedua... tinggal berdua akan menjadi pembelajaran, itulah tujuan utamanya.”

“...Maaf, aku masih kurang mengerti.”

“Kita ini sepasang tunangan. Di masa depan, kita akan tinggal bersama. Tentu saja, akan ada masalah yang muncul nantinya. Ini adalah usulan dari Mama, bagaimana kalau kita mencoba tinggal bersama dulu untuk sekadar merasakan suasananya.”

“A-aku memang berpikir kenapa dia tidak terlihat, ternyata Ibu Mertua juga terlibat, ya...”

“Iya. Tentu saja selama masa itu, biaya sewa rumah Souta-kun akan kami tanggung. Masalah ini sepertinya juga sudah didiskusikan dengan kedua orang tua Souta-kun. Tentu saja, alasan agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Souta-kun... juga bukanlah kebohongan. Begitulah keadaannya.”

Kata-kata terakhirnya diucapkan Nagi sambil menjauhkan bibirnya dari telingaku dan tersenyum. Singkatnya, jika dilihat dari tujuannya, ini lebih condong ke arah uji coba tinggal bersama. Dan di saat yang sama, ini juga bisa menyingkirkan kemungkinan menghadapi bahaya.

“Sekali lagi, bagaimana menurutmu? Souta-kun.”

“...Yah, begitulah. Kau benar. Semuanya akan terlambat jika sudah terjadi sesuatu, aku mengerti.”

“...! Baik! Kalau begitu, mari pindahkan barang-barangnya akhir pekan ini! Ah, peralatan rumah tangga dan lain-lain akan kami sediakan di sini, jadi kamu cukup membawa Pakaian ganti, sikat gigi, dan barang-barang sejenisnya saja!”

“Ya. Kalau begitu, aku akan mengurus prosedurnya. Ini dokumen tentang kamar kalian.”

Aku menerima dokumen berisi alamat dan denah apartemen dari Ayah Mertua. Ternyata tidak begitu jauh dari rumah Nagi. ...Lebih tepatnya, segera setelah aku menyetujuinya, semuanya berjalan dengan sangat cepat. Tanpa sadar mereka juga sudah mendapat izin dari ibu dan ayahku, sepertinya aku memang sudah dikepung dari segala arah.

“Apakah ada sesuatu yang ingin kau tanyakan? Kalau nanti baru teringat, kau bisa menanyakannya kapan saja.”

“Um, tidak a-- ah. Anu, bolehkah aku menanyakan satu hal? Ini sedikit berbeda dari masalah yang tadi, tapi ada hal yang ingin kukonsultasikan dengan Ayah Mertua.”

“Ada apa?”

Ini tidak persis dengan “sesuatu yang ingin ditanyakan”, tapi... bukan berarti sama sekali tidak berhubungan. Kebetulan sejak awal aku memang ingin membicarakan hal ini jika ada kesempatan.

Nagi yang duduk di sebelahku memasang wajah bingung. Wajar saja karena aku belum memberitahunya soal ini.

“Sebenarnya belakangan ini aku sedang memikirkan tentang masa depan... sekaligus untuk menambah pengalaman, aku berpikir ingin bekerja paruh waktu.”

“Oh, kerja paruh waktu, ya.”

“Iya. Lalu, mengenai masa depanku juga--“

“Hmm. Kamu bertanya-tanya apakah aku ingin Souta-kun mewarisi bisnisku, dan jika iya, apakah lebih baik kamu bekerja paruh waktu yang berhubungan dengan bisnisku... seperti itukah?”

“I-iya.”

Semua yang ingin kutanyakan telah ditebaknya. Aku tidak menyangka ia bisa menunjukkan dengan tepat apa yang ingin kutanyakan sejauh ini.

Ayah Mertua menunduk seolah sedang memikirkan sesuatu... lalu ia mengarahkan pandangannya padaku dan Nagi.

“Aku tidak ingin ada kesalahpahaman, tapi kalian tidak perlu memaksakan diri untuk mewarisi bisnisku. Ini berlaku untuk Souta-kun dan tentu saja Nagi juga.”

“...Aku juga?”

Di sebelahku, Nagi membelalakkan matanya. Dengan wajah serius, Ayah Mertua melanjutkan, “Ya.”

“Jika kalian memiliki sesuatu yang ingin dilakukan, aku ingin kalian memprioritaskannya. Baik dari segi finansial maupun koneksi, aku akan memberikan dukungan apa pun yang aku bisa. Misalnya, jika ingin membuka restoran, aku bisa menyiapkan penyewaan tempat, biaya sekolah kejuruan, dan mengurus distributor bahan bakunya. Tentu saja, jika kamu ingin menjadikan tarian tradisional Jepang sebagai profesi... dalam hal ini, kalian mungkin tidak membutuhkan bantuanku. Tapi aku akan melakukan apa yang aku bisa.”

“S-sampai sejauh itu...?”

“Tentu saja. Malah, aku ingin kalian mengandalkanku di saat-saat seperti ini. Itulah gunanya kami sebagai orang tua.”

Nada suaranya sangat lembut, seakan-akan menyusup masuk langsung ke dalam hati.

“Kalian masih punya banyak waktu. Jika kalian belum bisa menentukan rencana masa depan selama tiga tahun di SMA, kalian bisa memikirkannya di universitas. Jika kalian tetap tidak menemukannya... dan kalian tertarik dengan bisnisku, aku akan mengajarkan pengalaman dan pengetahuanku.”

“Tapi, Papa. Kalau begitu, bagaimana dengan impian Papa...”

“Impianku sudah hampir setengah terkabul. Berkat Nagi. Tentu saja, aku juga akan merasa senang kalau kalian mau membantu.”

Impian Ayah Mertua... Souichirou-san? Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah mendengar alasan ia mendirikan bisnis kimononya. Kalau tidak salah, ia mengadopsi Nagi karena penampilannya terlihat bisa membantu bisnisnya yang berekspansi ke luar negeri. Dan dari sanalah Nagi juga mulai menyukai tarian tradisional Jepang.

“Seperti apakah impian Ayah Mertua itu?”

“Aku belum pernah menceritakannya padamu ya, Souta-kun. Bukan hal yang rumit. Tujuanku adalah agar kebudayaan Jepang, termasuk tarian tradisional Jepang, tidak lenyap dimakan zaman... aku ingin menyebarluaskannya.”

Sambil berkata demikian, pandangan Ayah Mertua beralih ke Nagi. Tatapan matanya memancarkan rasa nostalgia.

“Saat kecil, aku juga belajar tarian tradisional Jepang. Aku tidak memiliki bakat, dan meski beruntung mendapatkan seorang guru yang hebat, aku tidak bisa melampaui kemampuan yang biasa-biasa saja. Guru itu sangat terkenal, bahkan dirumorkan akan dinobatkan sebagai Harta Karun Nasional Hidup dalam beberapa puluh tahun ke depan. ...Sayangnya, saat aku masih SMA, beliau meninggal dunia karena sakit.”

“B-begitu ya.”

Aku baru pertama kali mendengar cerita itu... karena beratnya kisah tersebut, kata-kataku seolah tersangkut di tenggorokan, tapi aku berhasil mengeluarkannya. Nagi mendengarkan dengan tenang di sebelahku, sementara Ayah Mertua meminum tehnya dan menghela napas pendek.

“Impianku adalah impian guruku. Menyebarluaskan kebudayaan Jepang seperti tarian tradisional Jepang ke seluruh dunia. Tapi aku tidak memiliki bakat dalam tarian itu. Terlalu terlambat bagiku untuk belajar Kabuki atau Noh. Namun, beruntung aku memiliki bakat bisnis. Chie juga mendukung impianku. ...Sebenarnya, Chie adalah putri dari guruku itu.”

“...! Begitu rupanya.”

“Apa aku belum pernah menceritakannya pada Nagi? Iya, benar. Nagi juga bisa menjadi murid dari gurunya saat ini berkat koneksi dari ibunya ibu... neneknya.”

“A-ah, Harta Karun Nasional Hidup itu.”

“Benar. Ichitake Tsuru-san. Dia adalah guru dari guruku.”

Titik-titik itu kini terhubung menjadi sebuah garis. Kalau tidak salah, saat pertunjukan tari, Nagi diperkenalkan sebagai satu-satunya murid dari orang tersebut... Aku pikir itu karena koneksi Ayah Mertua, tapi ternyata begitu ceritanya.

Setelah itu, Ayah Mertua tertawa. Berbeda dari sebelumnya, tawa ini terdengar seperti sedang menertawakan dirinya sendiri.

“Lalu, aku mengembangkan bisnis kimono yang menargetkan pasar luar negeri. Dengan memanfaatkan Nagi.”

“Meskipun begitu, aku merasa bersyukur telah diadopsi oleh Papa dan Mama. Memang benar pada awalnya aku tidak terlalu antusias, tapi semua pelajarannya menyenangkan. Aku juga bisa memakai kimono yang lucu-lucu.”

“...Aku merasa tertolong mendengarmu berkata begitu.”

Nagi langsung membalas perkataan Ayah Mertua. Memang benar, sebelum Nagi diadopsi ke keluarga ini... dan setelah diadopsi pun pasti ada banyak hal yang terjadi, tapi selama dia bahagia sekarang, aku rasa itu sudah cukup.

Hubungan keluarga mereka kini semakin harmonis dibandingkan saat itu, dan sangat mengharukan. Entah karena hal itu terpampang jelas di wajahku, Ayah Mertua berdeham pelan.

“Singkatnya begitulah. Meskipun ini adalah impianku, aku tidak bermaksud memaksakannya pada kalian berdua.”

“...Tapi, kalau aku ingin membantu, aku boleh saja ikut membantu, kan?”

“Tentu saja, aku akan sangat senang kalau kau melakukannya.”

“Kalau begitu, aku akan membantu sebisa mungkin. Aku juga masih berniat melanjutkan tarian tradisional Jepang, apalagi untuk mengasah kemampuanku... aku masih membutuhkan waktu hingga puluhan tahun.”

Pandangan mata Nagi tertuju pada Ayah Mertua, lalu beralih padaku. Kembali ke topik pembicaraan mengenai masa depanku dan Nagi... ia memberitahu kami apa yang ingin ia lakukan di masa depan.

“Hanya saja, mungkin aku tidak akan menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk itu. Jika Souta-kun memiliki hal yang ingin dilakukan, aku akan membantumu. Meskipun begini, aku sudah banyak diajari oleh Papa dan Mama.”

Mendengar perkataan itu, aku mulai berpikir. Tentu saja bagiku sendiri, aku juga ingin Nagi melakukan hal yang ia skai di masa depan.

“Aku... maaf. Aku belum memutuskan ingin melakukan hal seperti apa.”

“Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku sudah menentukannya sejak kecil, dan beruntung aku memiliki bakat serta lingkungan yang mendukung untuk mewujudkan impianku itu.”

“Meski itu semua juga berkat usaha keras Nagi. Souta-kun bisa memikirkannya pelan-pelan... hmm, benar juga.”

Ayah Mertua menghentikan kata-katanya di tengah jalan, dan ia kembali menunduk sambil meletakkan tangan di dagunya seakan memikirkan sesuatu. Aku dan Nagi menatapnya dengan perasaan bertanya-tanya... lalu tatapan tajamnya tertuju padaku.

“Souta-kun. Menurutku akan lebih baik kalau kamu mencoba berbagai macam kerja paruh waktu.”

“Eh? I-iya. Itu benar.”

“Ya. Segala jenis pengalaman akan menjadi bekal hidupmu. ...Dan untuk itu, menurutku tidak ada salahnya mencoba pengalaman yang tidak bisa dirasakan oleh orang biasa.”

“Apa maksudnya...?”

Saat aku bertanya balik karena tidak mengerti, Ayah Mertua tersenyum. Pandangan tajamnya berpindah dariku ke arah Nagi—dan ketika aku melihat ke sana, Nagi tampak membelalakkan matanya. Tanpa mengeluarkan suara, bibirnya bergerak menggumamkan kata “Jangan-jangan”.

Kemudian, mata Ayah Mertua kembali menatapku—

“Souta-kun. Maukah kamu mencoba bekerja sebagai asisten Nagi?”

Ia mengatakan hal tersebut dengan mata yang berbinar tajam.

∆∆∆

“...Jadi, kamu tiba-tiba akan tinggal bersama dan juga bekerja paruh waktu sebagai asisten Nagi-san?”

Yang menatapku dengan tatapan tak habis pikir di depanku bukan hanya Eiji...

“Langkahmu cepat sekali ya, Nagirin. Padahal rekor terlamaku saja cuma menginap sebulan penuh saat liburan musim panas.”

“Itu kan hampir sama seperti tinggal bersama...? Ah, tidak, ada keluarga yang lain jadi berbeda, ya. Cerita soal itu akan kudengarkan lain kali saja. Tapi tidak kusangka kamu sampai menjadi asistennya juga, ya.”

Sepulang sekolah, anggota kelompok kami yang biasa telah berkumpul di kafe. Selain aku, Nagi, dan Eiji—

Seorang gadis periang berambut cokelat terang dengan potongan bob adalah kekasih Eiji, Nishizawa Kirika.

Lalu, seorang gadis dengan rambut pirang yang diikat ekor kuda dan terlihat mencolok... tapi berbanding terbalik dengan penampilannya, ia sangat serius. Ia adalah Hayama Hikari, yang bersekolah di SMA yang sama dengan Nagi. Aku berteman dengan Kirika melalui Eiji, dan dengan Hikari melalui Nagi.

Mereka berdua juga sama seperti Eiji, tak habis pikir... atau lebih tepatnya tercengang. Setelah meminum seteguk kopinya, Hikari menatapku dan Nagi sambil tersenyum.

“Kalau kalian berdua, kurasa akan baik-baik saja. Tapi kalau terjadi sesuatu, berkonsultasilah dengan kami, ya.”

“Baik! Terima kasih banyak!”

Melihat interaksi itu membuat hatiku menghangat. Kemudian, Kirika mengajakku berbicara sambil memakan es krim yang ada di atas soda melonnya.

“Ngomong-ngomong Minorin, ada satu hal yang membuatku penasaran.”

“Hm? Ada apa?”

“Sebagai asisten Nagirin, apa saja yang kamu lakukan?”

“Sepertinya ada banyak hal yang harus dilakukan... begini.”

Mendengar pertanyaan Kirika, aku menelusuri ingatanku kemarin. Untuk menjadi asisten Nagi, tentu saja aku sudah dijelaskan tentang apa saja tugasnya.

“Tugas utamaku adalah mengatur jadwal Nagi, membawakan barang-barangnya saat menemaninya di pertunjukan... lalu, aku juga diserahkan tugas untuk mengurus korespondensi email.”

“Ternyata lebih serius dari yang kubayangkan. Minorin juga yang mengurus email?”

“Iya. Sepertinya cukup banyak tawaran untuk tampil di pertunjukan atau permintaan wawancara yang datang untuk Nagi. Aku akan berdiskusi dengan Nagi untuk memastikan apakah jadwalnya memungkinkan, lalu melaporkan keikutsertaan Nagi dalam pertunjukan kepada Souichirou-san.”

“Permintaan wawancara? Ternyata dia juga melakukan hal seperti itu. Rasanya seperti manajer idola, ya. Meski ini murni hanya bayanganku saja.”

“Mungkin manajer idola lebih berat karena mereka harus mencari pekerjaan sendiri, tapi Souichirou-san juga bilang kalau pekerjaanku ini mirip dengan tugas seorang manajer.”

Tidak hanya pertunjukan... ia sepertinya juga diundang untuk acara apresiasi seni di sekolah-sekolah dan sejenisnya. Malahan, ia bilang akan ada acara semacam itu akhir pekan depan. Sepertinya acara itu akan mengundang siswa dari beberapa SMP ke teater, dan Nagi diundang sebagai salah satu penampil.

“Intinya, ini seperti membantu hal-hal yang selama ini dilakukan oleh Souichirou-san dan Nagi. Ini diatur secara resmi sebagai pekerjaan paruh waktu, jadi aku juga akan mendapatkan gaji.”

“Begitu, ya. Bukankah itu sangat bagus? Artinya kamu bisa bertemu Nagirin bahkan saat sedang bekerja paruh waktu, kan?”

“...Kau benar.”

Aku sempat berpikir kalau bekerja paruh waktu pasti akan sangat mengurangi waktuku untuk bisa bersama Nagi. Tentu saja, meskipun disebut sebagai asisten Nagi, bukan berarti aku akan terus bersamanya setiap saat... tapi tetap saja, kami akan menghabiskan banyak waktu bersama. ...Tidak mungkin aku tidak senang memiliki lebih banyak waktu bersama orang yang kusayangi.

Lagipula, kata-kata Kirika sama sekali tidak bermaksud untuk menggodaku. Menyadari hal itu dari ekspresinya, aku mengangguk pelan, dan Eiji pun ikut tertawa.

“Yah, jadinya cukup berbeda dari saat kamu berkonsultasi denganku waktu itu. Tapi menurutku, selama kamu menikmatinya, itu bagus. Pekerjaan di bidang pelayanan atau paruh waktu di restoran waralaba bisa kamu cari kapan saja asalkan punya niat dan tenaga. Semangat, ya.”

“Iya. Aku akan berusaha.”

Dengan demikian, laporan kepada teman-teman pun selesai—dan keseharian yang baru sudah menanti di depan mata.

◆◆◆

Sabtu pagi. Aku membawa koper yang sudah kusiapkan dan berangkat menuju tempat tujuan... meskipun sebenarnya, pengemudi Keluarga Shinonome mengantarkanku sampai ke apartemen.

“...H-hebat sekali.”

Apartemen yang kudatangi ini—berkali-kali lipat lebih indah dan besar dari yang kubayangkan, membuat pipiku tanpa sadar menjadi kaku. Kamar yang disewakan oleh orang tuaku juga cukup bagus... tapi aku tidak yakin apakah aku bisa tinggal di tempat seperti ini bahkan setelah aku menjadi pekerja nanti. Kamarnya juga sepertinya sangat luas. Lagipula, ternyata ada meja resepsionisnya? Benar-benar seperti hotel. Ada staf resepsionisnya... juga. Karena dipilih langsung oleh Souichirou-san, keamanannya memang terlihat sangat sempurna.

Aku menyapa staf resepsionis. Karena mereka sudah diberitahu sebelumnya, aku menyerahkan kartu identitas untuk diperiksa, lalu menerima kartu kunci. Setelah itu, aku naik lift menuju lantai tujuan. Kudengar Nagi sudah ada di dalam...

“Di sini, ya.”

Tiba di depan kamar yang dituju, aku mengeluarkan kartu kunci. Karena belum terbiasa menggunakannya, aku sedikit kesulitan, namun pada akhirnya aku berhasil menggunakannya... dan pintu pun terbuka.

Begitu aku membuka pintu—aroma manis yang lembut langsung tercium. Aromanya seperti kue.

Kemudian, terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari mendekat. Sosok yang muncul setelahnya adalah—Nagi yang mengenakan celemek.

“Maaf, aku datang hampir terlambat.”

“...Ya ampun. Bukan begitu, Souta-kun.”

Meskipun aku meminta maaf karena datang tepat sebelum waktu yang diperkirakan, Nagi justru menunjukkan ekspresi merengut. Aku langsung mengerti apa yang ingin ia sampaikan, dan senyum pun tersungging di bibirku.

“Aku pulang, Nagi.”

“Iya! Selamat datang kembali, Souta-kun!”


Ekspresinya berubah seketika dan Nagi pun tersenyum. Kemudian, saat aku masuk ke lorong pintu masuk... Nagi menatapku lekat-lekat, lalu memajukan wajahnya dan memejamkan mata. Menyadari apa yang ingin ia lakukan... aku meletakkan koperku dan mendekatinya.

Lalu, bibir kami bersentuhan.

Rasa bahagia yang manis seakan membuat otakku mati rasa. Jika lengah, rasanya aku ingin terus melakukan ini selamanya... tapi, situasinya tidak memungkinkan untuk itu.

Entah bagaimana aku meyakinkan diriku sendiri untuk melepaskan tautan bibir kami, dan mata Nagi menunjukkan sedikit raut kesepian.

“Lanjut nanti lagi, ya.”

“...! Iya!”

Matanya berbinar, ekspresi gembiranya membuat jantungku berdebar kencang... Karena sepertinya aku akan kembali lepas kendali, aku mengalihkan perhatianku ke hal lain.

“Omong-omong, ada aroma yang enak. Kamu sedang memasak sesuatu?”

“Iya! Aku sedang memanggang panekuk! Aku juga sudah menyiapkan untuk Souta-kun... kamu mau makan, kan?”

“Ya, tentu saja. Aku juga belum sarapan.”

“Syukurlah. Kalau begitu aku akan menyiapkannya, ya.”

“Nagi.”

Aku memanggil untuk menghentikan langkahnya yang hendak kembali ke dapur dengan sandal selopnya. Bahkan gerakannya saat menoleh pun terlihat indah. Begitu indahnya sampai rasanya aku bisa memandanginya selamanya jika diabadikan dalam foto... tapi, alasanku memanggilnya sekarang bukanlah karena ingin melihatnya menoleh.

“Terima kasih, ya. Atas persiapan panekuknya, dan karena sudah menyempatkan diri menyambutku di pintu masuk.”

Mendengar hal itu, Nagi membelalakkan matanya, lalu menghela napas pelan.

“...Sama-sama. Souta-kun.”

“Hm?”

Saat namaku dipanggil, kini giliranku yang memiringkan kepala. Cara ia memanggil namaku sedikit berbeda dari biasanya... terdengar seperti campuran berbagai macam emosi dalam nada suaranya.

“Sikapmu yang seperti itu, aku benar-benar sangat menyukainya. ...Nanti aku akan menciummu banyak-banyak, ya.”

Pipi Nagi sedikit merona—lalu ia kembali ke dapur setelah menyampaikan peringatan yang mengerikan (dalam artian baik) itu. Sepertinya tidak bisa dihindari kalau aku sampai mematung selama beberapa detik setelahnya... kurasa begitu.

◆◆◆

“...! Enak sekali!”

“Fufu, syukurlah. Ini pertama kalinya aku membuatnya, jadi aku sedikit khawatir.”

“Pertama kali...? Hebat sekali. Ini benar-benar sangat enak.”

Setelah mencuci tangan dan berkumur, aku menyantap panekuk bersama Nagi. ...Setelah pulang dari luar tadi, bukankah seharusnya aku berkumur terlebih dahulu sebelum kami berciuman? Namun penyesalan itu datang terlambat. Untuk berjaga-jaga, aku sudah menyuruhnya berkumur.

Dan panekuk itu rasanya begitu lezat sampai tidak terlihat seperti buatan pertama kali.

“Adonannya empuk, manis, dan enak. Benar-benar lezat.”

“Aku senang kamu menyukainya. Silakan dinikmati dengan madu atau sirup, pilih saja yang kamu suka.”

Atas saran Nagi, aku mencoba berbagai cara memakannya... dan bahkan dimakan tanpa tambahan apa pun sudah terasa enak. Lagipula, sudah lama aku tidak makan panekuk, dan meski aku berpikir untuk menikmatinya pelan-pelan, tanganku tak mau berhenti bergerak... Aku mengalihkan sebagian kesadaranku untuk mengunyah agar bisa benar-benar meresapi rasanya.

Nagi juga makan panekuk di sebelahku, tapi rasanya ia lebih lama menatapku daripada memakan hidangannya.

“Souta-kun.”

Tiba-tiba ia memanggil namaku. Saat aku menoleh untuk melihat ada apa—wajah Nagi sudah berada tepat di depan mataku. Itu terjadi tepat saat aku baru saja menelan makananku, dan meskipun aku hendak bertanya ada apa, aku sedikit terlambat menyadari... kilau jahil yang tersirat di matanya.

Tepat di sebelah bibirku terasa seperti dijilat pelan. Sebelum aku sempat berpikir apa yang menggelitikku—di ujung pandanganku, kulihat ia menjulurkan lidahnya sedikit.

“Fufu, manis.”

Kesadaranku seketika goyah. Alasan untuk mempertahankan akal sehat sudah tidak ada lagi di tempat ini.

“Nagi.”

Akal sehatku yang runtuh dengan susah payah memanggil namanya. Dan kemudian, begitu saja... bibir kami kembali bersentuhan.

—Perasaan manis yang kurasakan ini mungkin bukan sekadar ilusi... seharusnya. Saat aku menyadari bahwa rasanya lebih manis daripada sirup atau madu, rasa bahagia yang jauh lebih manis dari apa yang kumakan tadi telah berputar-putar di dalam kepalaku.

Akal sehatku akhirnya berhasil mengambil alih kembali kendali, dan aku melepaskan ciuman kami.

“...Ah.”

Namun, mendengar suara dan melihat tatapan yang tampak kesepian itu membuat akal sehatku kembali meleleh. Tapi, jika aku menciumnya lagi, sudah jelas aku tidak akan bisa berhenti.

Aku mengulurkan tangan dan meletakkannya di atas rambutnya yang terlihat seperti rajutan salju. Saat aku mengelusnya seperti sedang menyisir, mata birunya memancarkan warna yang hangat.

“Souta-kun.”

Sebuah suara yang terdengar santai... tidak, sebuah suara yang menunjukkan bahwa ia sangat nyaman denganku, layaknya sedang berendam di air hangat. Ada apa? Saat aku bertanya pelan, ia merentangkan kedua tangannya sedikit.

“Aku ingin dipeluk, sekali saja.”

“...Sekali saja cukup?”

“Untuk sekarang sekali saja cukup. Kalau tidak, panekuknya nanti keburu dingin.”

“Mengerti.”

Sambil tersenyum karena menyadari kebenarannya, aku melingkarkan tanganku di punggungnya dan memeluknya.

“Aku sangat mencintaimu, Souta-kun.”

“Aku juga sangat mencintaimu, Nagi. Mohon bantuannya mulai dari sekarang.”

“Iya. Mohon bantuannya.”

Kami berpelukan erat, dan aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

Begitulah, kehidupan bersamaku dan Nagi pun dimulai.

◆◆◆

“Baiklah. Kalau begitu untuk pembagian tugas rumah tangga, apakah seperti ini cukup?”

“Ya. Kalau ada masalah, mari kita bicarakan lagi.”

Setelah menghabiskan panekuk dan membereskan barang bawaan, kami mengadakan diskusi. Diskusi untuk menyelaraskan pandangan dalam menjalani kehidupan bersama, serta pembagian tugas rumah tangga.

Nagi kembali melihat papan tulis putih untuk memastikan.

“Aku bagian memasak dan mencuci pakaian. Souta-kun yang membuang sampah. Membersihkan rumah dilakukan seminggu sekali di akhir pekan, dan pembagian tugas bersih-bersihnya seperti ini.”

“Ya. Karena kamu sudah mengurus cucian, aku akan bekerja keras untuk bagian bersih-bersih. Kalau ada yang sakit atau sedang sibuk, kita bisa memberitahu sebelumnya dan saling menggantikan.”

Ibu dan yang lainnya juga berpesan saat keputusan untukku dan Nagi tinggal bersama sementara waktu dibuat, bahwa sebaiknya kami menentukan pembagian tugas di hari pertama. Dan juga, tentang menyelaraskan pandangan.

Awalnya aku merasa kurang enak jika Nagi mengerjakan bagian mencuci dan memasak sekaligus, tapi setelah ia mengatakan bahwa ia malu jika aku melihat pakaian dalamnya, aku memutuskan bahwa lebih baik menyerahkannya padanya. Sebagai gantinya, aku memutuskan untuk berusaha lebih keras dalam hal bersih-bersih... meskipun Nagi memasang wajah rumit karena aku menyesuaikan dengan keadaanku sendiri, entah bagaimana aku berhasil meyakinkannya.

Semua ini dilakukan agar kami bisa saling menghargai dan hidup bahagia dalam kebersamaan.

“Untuk belanja kebutuhan, pada dasarnya kita lakukan berdua, ya.”

“Iya. Kita berdua pasti ada kalanya sibuk, jadi kita akan menyesuaikannya secara fleksibel tanpa memaksakan diri.”

Setelah berdiskusi, aku merasa bahwa mengadakan sesi seperti ini memang sangat penting. Hal mengenai keuangan juga tak kalah penting. Untuk biaya hidup, pada akhirnya Ayah Mertua yang akan menanggung semuanya.

’Kali ini kami melibatkanmu ke dalam masalah ini. Setidaknya biarkan kami yang mengeluarkan uangnya.’

Kalau sudah dibilang begitu, aku tidak bisa menolaknya. Pada dasarnya Nagi yang akan mengatur keuangannya, tapi ia bilang jika ada yang kurang, ia ingin aku segera memberitahunya.

Pasti akan ada hal-hal lain yang mengganjal di hati kami masing-masing nantinya. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk meluangkan waktu berdiskusi setidaknya sekali sehari.

“Jangan saling memaksakan diri. Jika ada hal sekecil apa pun yang mengganggu pikiran, baik itu rasa tidak aman atau ketidakpuasan, kita harus menyampaikannya.”

“Iya. Kita sudah sama-sama tahu bahwa jika kita saling membicarakannya dengan baik, perasaan kita pasti akan tersampaikan.”

Nagi menuliskan hal-hal yang telah disepakati di papan tulis putih. Kami sudah masuk ke lembar keempat.

Nagi kembali memeriksanya, lalu menatap bagian kosong di lembar keempat tersebut.

“Te-terakhir, satu lagi. Eh, tidak, dua lagi. Bolehkah aku menambahkan peraturannya?”

“Hm? Apa itu?”

Mata biru Nagi sedikit berguncang. Namun, setelah menetapkan hatinya, ia menatapku lurus.

“Yang pertama adalah... mengucapkan selamat pagi, selamat jalan, dan selamat pulang. Lalu, mengucapkan selamat malam dan memberikan ciuman sebagai tanda berbaikan.”

“I-itu kalimat yang cukup panjang untuk dirangkum jadi satu peraturan, ya?”

Tapi aku mengerti maksudnya, jadi tidak masalah. Hanya saja, ada satu hal yang membuatku penasaran.

“Ciuman tanda berbaikan, maksudnya...?”

“Ini seandainya kita bertengkar. Karena kita tinggal di rumah yang sama, suasananya mungkin akan menjadi canggung. Makanya, saat berbaikan nanti, kurasa kita perlu berciuman untuk mempererat hubungan kita kembali.”

“Begitu ya. Ide yang bagus. ...Itu ide yang bagus, kan?”

Aku merasa sedikit kewalahan dengan logikanya. Yah, seharusnya ini bukan hal yang buruk.

Selain itu, untuk berjaga-jaga jika kami bertengkar, serta karena ada kalanya kami ingin sendirian, kami juga sudah menyiapkan kamar masing-masing di luar kamar tidur utama. Jika bertengkar, kami bisa menenangkan pikiran di sana dan berbaikan secepat mungkin.

Selagi aku memikirkannya, Nagi menatapku lekat-lekat.

“Selain untuk berbaikan, itu juga karena aku ingin berciuman dengan Souta-kun.”

“O-oh... kamu sangat jujur, ya.”

“Tidak perlu menutup-nutupinya lagi sekarang. ...Berciuman dengan Souta-kun membuatku sangat bahagia. Aku ingin lebih terbiasa... atau lebih tepatnya, aku ingin menjadikannya sebagai bagian dari keseharian kita.”

Mendengar jawaban itu, aku langsung mengangguk. Karena aku juga setuju dengannya.

“Aku mengerti. Ayo kita lakukan itu.”

“...! Iya!”

Nagi menambahkan tulisan di papan tulis sambil tersenyum bahagia. Tanpa sadar wajahku ikut tersenyum melihatnya.

Srek, srek, setelah menulis dengan spidolnya, Nagi kembali menatapku.

“A-ah, dan satu lagi.”

“Ya. Apa itu?”

“Aku rasa ini tidak akan masalah. Tapi setidaknya sekali sehari... um, aku ingin menyampaikan bahwa aku sangat mencintaimu.”

Dengan pipi yang sedikit merona merah, Nagi tersenyum malu-malu.

“Papa pernah bilang. Hal yang paling ia sadari betapa pentingnya saat hidup bersama, adalah menyampaikan rasa cinta secara terbuka satu sama lain.”

“...Kalau dipikir-pikir, dulu Ayah juga pernah mengatakan hal yang sama.”

Akhir-akhir ini, perceraian di usia lanjut semakin meningkat. Bahkan jika tidak sampai seperti itu, aku pernah melihat berita bahwa pasangan yang bercerai setelah beberapa tahun menikah juga bertambah. Saat itulah ayahku mengatakan hal tersebut.

’Hal terpenting saat hidup bersama adalah menyampaikan perasaanmu dengan jujur. Terutama kata cinta, rasanya akan lebih baik bagi satu sama lain kalau diucapkan secara langsung, kan?’

Meskipun setelah itu, Ibu menambahkan bahwa semuanya ada batasnya.

“Itu memang penting, ya.”

“Iya! Karena itulah, aku ingin memasukkannya!”

“Ya, kau benar. Aku juga ingin memasukkannya.”

“Iya!” balasnya dengan riang. Nagi kemudian menuliskannya di papan tulis putih.

“...Kalau begitu, boleh kita langsung mulai sekarang? Padahal tadi aku baru saja mengatakannya.”

“Tentu saja boleh.”

Nagi meletakkan papan tulis dan spidolnya. Ia menatapku lekat-lekat. Wajahnya perlahan mendekat.

Aroma manis mempercepat degup jantungku. Kemudian, tangan Nagi diletakkan dengan lembut di dadaku.

Hangat. Saat aku meletakkan tanganku di atas tangannya, Nagi membalikkan tangannya dan menggenggam tanganku erat. Wajahnya kini berada tepat di depanku. Ia melingkarkan tangannya yang satu lagi di punggungku.

Tuk, dahi kami bersentuhan. Wajah Nagi yang cantik memenuhi pandanganku—matanya sungguh indah, membuatku tak bisa berhenti memandanginya. Ada cahaya redup yang menyala di dalam mata birunya. Bagaikan berada di dasar laut yang diterangi sinar matahari, terasa dingin namun juga hangat.

“Aku sangat mencintaimu, Souta-kun.”

Dahinya menjauh sejenak, wajahnya miring, dan bibir kami kembali bersentuhan.

Seberapa kalipun ini terjadi, aku tidak akan pernah terbiasa. Jantungku berdebar kencang, perasaan bahagia mengalir masuk, hatiku bersukacita, dan rasa kasih sayangku meluap-luap.

Bahkan setelah bibir itu menjauh... di detik yang sama, aku kembali menempelkan bibirku padanya.

Saat ini, gadis di hadapanku ini terasa begitu berharga. Dari lubuk hatiku yang terdalam—aku memikirkannya.

“Aku sangat mencintaimu, Nagi.”

Setelah membalasnya dan menjauhkan bibir, pipi Nagi mengendur manis.

Ia terlihat sangat menggemaskan. Saat aku menyentuh pipinya, Nagi memejamkan mata. Pipinya kenyal, lembut, dan halus. Rasanya aku ingin menyentuhnya selamanya.

Waktu berlalu selagi aku menusuk-nusuk pipinya yang kenyal dan mengelusnya.

“Souta-kun.”

Tangan Nagi menyentuh pipiku. Terasa hangat layaknya sinar mentari.

“Mulai sekarang, mari kita berusaha bersama, ya. Aku yakin akan ada banyak kesulitan nantinya. Tapi kalau bersama Souta-kun, aku bisa melewati semuanya.”

“Ya. Kalau bersama Nagi, aku pasti bisa berusaha keras.”

Walaupun semuanya terjadi secara tiba-tiba, asalkan bersama Nagi, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak memiliki kekhawatiran sedikit pun.

Malahan—

“Aku sangat menantikannya.”

“Fufu. Aku juga.”

Karena aku akan hidup berdua bersama Nagi. Tentu saja aku sangat menantikannya.

“Aku benar-benar merasa—seolah-olah aku sudah menjadi istri Souta-kun. Aku senang sekali.”

Ucap Nagi. Lalu ia kembali tertawa kecil.

Lekat-lekat. Mata birunya, dengan cahaya lembut yang menyala di dalamnya, menatapku lurus—

“—Suamiku.”

Sensasi aneh merambat di punggungku, membuatku merinding. Sesuatu bergejolak dari dasar perutku.

“Fufu. Kalau panggilan ‘Papa’, sepertinya itu masih terlalu cepat. ...Aku juga suka panggilan ‘Sayang’, sih. Souta-kun lebih suka yang mana?”

“A, aku... mana saja.”

“Suamiku.”

Suara aneh hampir keluar dari tenggorokanku. Nagi tertawa kecil.

“Souta-kun ternyata lebih suka yang ini, ya.”

“...”

Wajahku terasa semakin panas. Aku berusaha memalingkan wajah, tapi tidak bisa.

Nagi meraih tanganku, lalu menautkan jari-jemari kami.

“Kalau begitu, sekali lagi. Meskipun aku masih banyak kekurangan, mohon bimbingannya, ya. —Suamiku.”

Diucapkan dengan senyuman yang begitu indah—

“...S-sama-sama, mohon bantuannya juga.”

—Hanya itu yang bisa kubalas kepadanya.

Mulai sekarang, meski hanya untuk waktu yang singkat, kehidupan tinggal bersama kami telah dimulai. Walaupun ini baru hari pertama, rasanya berbagai hal sudah mencapai batas kemampuanku. Ah, tidak, aku hampir tidak perlu menahan diri lagi, sih...

◆◆◆

Hari itu tidak ada lagi urusan untuk pergi ke luar. Setelah mengecek ulang barang-barang habis pakai untuk memastikan tidak ada yang kurang, dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal di rumah, kami menghabiskan waktu dengan bersantai. Besok Nagi ada jadwal latihan tarian tradisional, jadi kami memprioritaskan untuk membiasakan diri dengan lingkungan baru ini.

Meskipun begitu, karena kami melakukan berbagai hal tanpa keluar rumah, waktu berlalu dengan sangat cepat. Setelah makan malam dan mandi, selanjutnya tinggal mempersiapkan hari esok dan waktunya untuk tidur.

“Souta-kun besok akan pergi bersamaku, kan?”

“Ya. Karena aku ini pada dasarnya adalah asisten... atau lebih tepatnya semacam manajer, Ayah Mertua bilang sebaiknya aku menyapa guru Nagi. Sepertinya ada kalanya Nagi juga ikut serta dalam ceramah gurumu.”

Selain pertunjukan, sepertinya lumayan banyak permintaan wawancara yang datang. Menurut Ayah Mertua, meski belum bisa disebut sebagai selebritas, tetapi sebagian besar orang yang tertarik dengan tarian tradisional Jepang pasti mengenal Nagi. Jika mencari nama Nagi di internet, sepertinya ia cukup dikenal hingga namanya muncul di hasil pencarian. Menjadi murid dari seorang Harta Karun Nasional Hidup tentu saja menjadi salah satu alasannya... tapi itu juga berarti penampilannya memang semenarik itu. Kalau dibilang begitu, aku bisa memakluminya.

“Selama Nagi berlatih, aku akan mengerjakan tugas dari Ayah Mertua... dan aku berpikir untuk pergi ke perpustakaan. Aku ingin mencari tahu sedikit banyak tentang tarian tradisional Jepang.”

Nagi mengangguk-angguk mendengar perkataanku, lalu ia mengangkat alisnya seolah memikirkan ide yang bagus.

“Kalau begitu, haruskah aku bertanya pada guru apakah kamu boleh meminjam ruang referensinya? Di sana bukan hanya ada referensi tentang tarian tradisional Jepang, tapi juga kompilasi dari pertunjukan yang pernah aku ikuti serta rangkuman tentang para penari yang sedang naik daun belakangan ini. Di sana juga ada meja dan kursi sehingga kamu bisa menggunakan laptop dan bekerja.”

“...Bolehkah?”

“Aku harus menanyakannya dulu, tapi... sejak kecil aku sering masuk ke sana, dan aku juga sudah menceritakan tentang Souta-kun kepada guru, jadi kurasa tidak masalah. Hari ini sudah larut, jadi aku akan mencoba menghubunginya besok pagi.”

“Terima kasih.”

Ini adalah tawaran yang tidak terduga, tapi sangat kusyukuri. Tentu saja ada kemungkinan ditolak, tapi kalau itu terjadi, aku tinggal pergi ke perpustakaan saja.

“Kalau begitu, besok kita sepertinya bisa makan siang bersama... iya, kan? Bolehkah aku membuatkan bekal untuk Souta-kun juga?”

“Jika tidak merepotkan, mohon bantuannya.”

“Baik, serahkan padaku. ...Kalau begitu, meskipun sedikit lebih awal, haruskah kita pergi ke tempat tidur sekarang?”

Nagi tersenyum manis, lalu beranjak berdiri. Aku membalas dengan satu anggukan dan ikut berdiri, kemudian kami menuju kamar tidur.

Kamar tidur ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kamar tempatku tinggal sebelumnya. Ada dua buah meja yang bisa digunakan olehku dan Nagi, serta ada juga rak buku. Pakaian kami dikumpulkan di kamar lain sehingga tidak ada lemari Pakaian di sini, yang membuat ruangan ini terasa makin luas. Tempat tidurnya berukuran ganda, dan hanya dengan melihatnya saja sudah ketahuan kalau ranjang itu sangat empuk.

“Kalau begitu, aku duluan, ya.”

Nagi berkata demikian lalu merebahkan dirinya di tempat tidur lebih dulu. Belakangan ini kami memang sering tidur bersama... tapi itu terjadi di kamar sewaanku atau di rumah orang tuaku. Berganti kamar membuatku merasa sedikit gugup... Jadi begini perasaan Nagi selama ini.

“Souta-kun.”

“A-ah. A-aku juga, permisi.”

Dipanggil oleh Nagi, aku menjadi panik hingga terbata-bata. Suaraku hampir pecah, dan saat aku berdeham, Nagi tertawa kecil. Kemudian ia menghadap ke arahku dan merentangkan kedua tangannya sedikit.

“──Sini.”

Gumamannya terdengar pelan—namun, itu adalah hal yang paling menggetarkan hatiku hari ini.

Ada cahaya lembut yang menyala di matanya, membuatku merasakan kehangatan layaknya sinar matahari. Dan dengan nada bicara yang berbeda dari biasanya, jantungku berdebar semakin kencang, dan aku bisa merasakan wajahku memanas.

Seolah mengabaikan semua itu, aku menutup mata rapat-rapat sekali—lalu perlahan-lahan merebahkan diri di tempat tidur. Bersamaan dengan itu, Nagi langsung memelukku erat.

“Fufu, peluk~”

Kehangatan bagaikan sinar matahari menyelimuti tubuhku. ...Di saat yang sama, aku juga merasakan kelembutan. Wajah Nagi berada tepat di depan mataku, dan ia menempelkan keningnya ke keningku dengan bunyi tuk pelan.

“Souta-kun, detak jantungmu lebih cepat dari biasanya, ya.”

“Anehnya, kalau lingkungannya berbeda, rasanya jadi begini... ternyata Nagi juga merasakan hal yang sama selama ini, ya.”

“Begitulah. Waktu aku menginap di rumah Souta-kun dan di rumah orang tuamu, aku juga merasa berdebar-debar. Sekarang pun aku sedikit deg-degan. Apakah kamu bisa mendengarnya?”

“S-sedikit.”

“Cuma sedikit? Kalau begitu... bagaimana dengan ini?”

“...!”

Nagi mengencangkan pelukannya. Bersamaan dengan itu, tubuhnya semakin merapat padaku—bersama dengan kelembutannya, dari dalam sana terdengar suara degup jantung yang kencang.

“Aku bisa mendengarnya.”

“Syukurlah. ...Meskipun aku merasa berdebar, aku merasa tenang saat menempel dengan Souta-kun seperti ini. Layaknya gelas yang dipenuhi air, hatiku dipenuhi oleh kebahagiaan. Benar-benar menakjubkan.”

Kening kami yang saling bersentuhan kini terlepas. Namun, matanya semakin mendekat—dan bibir kami kembali bertaut.

“Kalau kita berciuman, hati kita akan lebih cepat terpenuhi, lho. Tapi sebagai gantinya, detak jantung kita juga akan semakin cepat.”

Ucap Nagi setelah ciuman kami terlepas, lalu ia mengendurkan pelukannya. Akan tetapi, kedekatan tubuh kami tidak berubah... tangannya kini menyentuh pipiku.

“Aku juga suka menyentuh Souta-kun seperti ini. Fufu. Ternyata Souta-kun juga menyukainya, ya. Wajahmu jadi terlihat sayu begitu... Jangan disembunyikan.”

Ditegur oleh Nagi, wajahku memanas, dan meski aku mencoba menyembunyikannya dengan tanganku, aku tak bisa melakukannya. Saat aku dengan patuh menurunkan tanganku yang menutupi wajah, ia mengembuskan napas panjang lalu tersenyum.

“Aku mencintaimu, Souta-kun. Aku sangat mencintaimu hingga aku pusing memikirkan bagaimana caranya agar seluruh perasaan ini bisa tersampaikan sepenuhnya padamu.”

“...Ah.”

“Aku selalu merasa sudah berusaha keras untuk menyampaikannya, tetapi karena sekarang kita tinggal bersama, aku ingin memanfaatkannya untuk menyampaikannya dengan sepenuh hati. Membisikkan cinta setiap malam mungkin terdengar terlalu romantis, tapi...”

Jari Nagi membelai pipiku pelan. Jarinya yang lain menggelitik telingaku, membuatku berhalusinasi seolah wajah, seluruh tubuh, bahkan hatiku telah dikuasai olehnya. ...Atau mungkin, ini bukan lagi sekadar halusinasi.

“Setiap hari, perasaanku padamu terus membesar. Padahal setiap harinya aku merasa sudah begitu penuh oleh rasa cinta ini, tetapi perasaanku terus bertumbuh dari hari ke hari. Rasanya aku tidak bisa berhenti.”

Jarinya menelusuri tepi telingaku. Wajah Nagi kembali mendekat... dan kali ini, bibirnya berada tepat di sebelah telingaku.

“Aku sangat mencintaimu, Suamiku.”

Bisikan lirih itu menggetarkan gendang telinga dan hatiku, nyaris melelehkannya. Aku berusaha mati-matian menahan suara yang hampir lolos keluar, lalu kali ini napas hangatnya menggelitik telingaku.

“Aku sangat menyukai sisi keren dan imut darimu. Jika aku sudah tak bisa berhenti... tolong berusahalah menerimanya, ya.”

“...Tentu saja.”

Akhirnya aku bisa membalas kata-katanya. Di saat yang sama, aku menggerakkan tanganku dan ikut menyentuh pipinya.

“Nagi juga harus menerimanya, ya. Karena perasaanku padamu juga semakin besar setiap harinya.”

“Fufu. Tentu saja. Sebanyak apa pun, aku akan menerimanya.”

Sambil berkata demikian, ia menggosokkan pipinya ke telapak tanganku. Dengan ekspresi bahagia yang sama seperti biasanya... namun, matanya memancarkan cahaya yang sedikit berbeda.

Begitulah kami saling menyampaikan seluruh perasaan cinta kami dengan puas, lalu terlelap pada hari pertama kami hidup bersama.

◆◆◆

Aku bukanlah tipe orang yang bisa langsung bangun tidur dengan segar. Mungkin itu karena aku sangat suka tidur.

Momen saat terombang-ambing di antara batas mimpi yang akan terlupakan kala terbangun dengan realitas, memiliki kenyamanan tersendiri yang tak tergantikan. Hal yang sama berlaku untuk momen sebelum tertidur... itulah mengapa aku sangat menyukai tidur kembali setelah bangun (tidur ayam) karena bisa menikmati keduanya sekaligus.

Alasan mengapa saat aku terbangun pada hari itu terasa sebagai pagi terbaik yang pernah kurasakan seumur hidup, aku yakin sepenuhnya bahwa itu berkat dirinya.

“Souta-kun, hari sudah pagi.”

Sebuah suara yang damai dan hangat, layaknya kicauan burung kecil. Saat kesadaranku perlahan dibangunkan dan aku membuka mata, sesosok bayangan putih tampak samar dalam pandanganku yang masih buram.

“...Nagi.”

“Iya. Ini Nagi kesayanganmu.”

Bersamaan dengan nada bicara yang terdengar sedikit menggoda itu, kurasakan sesuatu yang hangat mengelus pipiku.

Kemudian, bayangan di depanku mendekat dan sesuatu yang lembut menekan keningku. Aku bisa menyadari bahwa itu adalah sebuah ciuman, yang mana menjadi bukti seberapa sering bibirnya menyentuh tubuhku belakangan ini.

“Sarapannya sebentar lagi siap, jadi aku datang untuk membangunkanmu. Lagipula waktunya masih cukup longgar, kamu mau tidur lima menit lagi?”

Tawaran itu sangatlah menggoda, tapi di sisi lain ada perasaan di mana aku tidak ingin terus tidur seperti ini. Saat aku sedang bimbang, wajahnya yang tampak iseng muncul di pandanganku yang mulai jernih.

“...Atau kamu mau bangun sekarang, sikat gigi, lalu berciuman denganku? Oh ya, kalau pun Souta-kun memutuskan untuk tidur lagi, aku tidak keberatan untuk menciummu semauku, lho.”

“...Aku bangun.”

“Anak pintar.”

Diiringi tawa kecilnya, ia mengelus kepalaku. Aku benar-benar merasa diperlakukan seperti anak kecil, tapi fakta bahwa aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu membuatku merasa sudah sedikit terlalu dimanjakan.

Sambil meregangkan tubuh dan beranjak bangun, wajah Nagi yang tersenyum riang menyambut pandanganku.

“Nagi, selamat pagi.”

“Iya, selamat pagi. Souta-kun. Apakah tidurmu nyenyak?”

“Ya. Berkatmu aku bisa bangun dengan segar. Terima kasih sudah membangunkanku. Juga untuk sarapannya.”

“Sama-sama. Kalau begitu aku akan kembali menyiapkan makanan, ya.”

“Oke.”

Setelah itu, Nagi melangkah kembali ke dapur dengan gembira. Aku pun melakukan satu regangan tubuh lagi sebelum beranjak menuju kamar mandi.

◆◆◆

Sehabis sarapan, kami bersiap-siap untuk pagi ini. Berkat Pakaian kami yang diletakkan di ruangan yang berbeda, kami bisa berganti Pakaian dengan leluasa sendiri-sendiri. Mengurangi hal-hal kecil yang bisa memicu stres seperti ini sangatlah penting.

Lalu kami bersantai sampai waktunya tiba, dan sekali lagi memeriksa barang bawaan kami. Meski begitu, barang bawaanku hanyalah buku jadwal dan laptop yang diberikan oleh Ayah Mertua.

Untuk berjaga-jaga, aku dan Nagi saling memeriksa barang bawaan masing-masing untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. Sama seperti saat kami tiba di apartemen, sopir pribadi yang mengantarkan kami.

“...Di sini?”

“Iya. Kamu terkejut, kan? Aku juga dulu sangat terkejut.”

“A, ah. Benar-benar... luar biasa.”

Pemandangan dari balik jendela mobil memperlihatkan sebuah kediaman besar. Saat aku berkunjung ke rumah Nagi, aku juga sudah dibuat terkejut, tapi mungkinkah...

“Kalau dari luas tanahnya saja, rumah guru lebih besar dibandingkan rumahku, lho.”

Pikiranku yang terlintas sesaat lalu dibenarkan oleh perkataan Nagi. Ternyata memang sebesar itu, ya.

“Meskipun begitu, bangunannya sendiri tidak sebesar itu... ralat, memang besar sih. Tapi hanya ada ruang untuk tinggal dan tempat penyimpanan dokumen referensi.”

“Kalau begitu, ada sesuatu yang lain yang luas?”

“Tebakanmu tepat. Ada paviliun terpisah yang ruangannya lumayan luas, makanya lahan rumah ini sangat luas. Di sanalah aku selalu berlatih tarian tradisional Jepang.”

“Begitu ya. Ngomong-ngomong, ternyata kamu dilatih di rumah gurumu, ya.”

“Iya. Karena aku ini satu-satunya muridnya, daripada menyewa tempat di luar, fasilitas di sini jauh lebih lengkap.”

Sembari mengangguk paham mendengar penjelasan Nagi, kami tiba di area parkir lalu turun dari mobil. Kami melangkah menuju gerbang yang mirip dengan gerbang rumah Nagi, dan sebelum aku sempat menekan bel, pintu gerbang telah terbuka lebih dulu.

Aku membeku sesaat karena terkejut, dan kulihat di sana berdiri seorang wanita berambut putih.

“Guru!”

“Suara mobil kalian terdengar, makanya aku keluar. Selamat datang, Nagi.”

Kesan pertamaku terhadapnya adalah ‘keren’. Ekspresi wajahnya yang berwibawa serta postur tubuhnya yang tegap tegak membuatnya tampak sangat awet muda. Namun, kesan itu segera memudar... ketika ia menujukan senyuman yang sangat hangat dan lembut kepada Nagi.

Kemudian, senyuman lembut itu beralih menatapku.

“Kau pasti Minori Souta-kun, ya.”

“I-iya. S-salam kenal. Nama saya Minori Souta, yang kini menjadi tunangan dari Shinonome Nagi-san.”

“Terima kasih atas sapaan sopanmu, Minori-kun. Namaku Ichitake Tsuru. Nagi sudah banyak bercerita tentangmu. Aku senang bisa bertemu denganmu.”

“S-saya juga, sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda.”

“Tidak usah setegang itu. Aku ini hanya nenek-nenek yang umurnya sudah melewati delapan puluh tahun.”

“Delapan puluh...? M-maafkan saya. Habisnya Anda terlihat sangat awet muda.”

“Wah, kau pandai sekali memuji. Tapi memang banyak yang bilang begitu, sih.”

Ichitake-san menanggapi dengan ekspresi ceria, namun... dia benar-benar terlihat sangat muda. Pujian dariku barusan sama sekali bukan sekadar basa-basi.

“Nah, cukup basa-basinya, silakan masuk. Sebenarnya aku ingin mengobrol lebih banyak lagi, tapi kau ingin menggunakan ruang referensi, kan?”

“I-iya!”

“Baiklah, mari kuantar.”

“Terima kasih banyak.”

Nagi sudah menanyakannya tadi pagi, tapi mendengarnya secara langsung membuatku merasa lega.

“Nagi, bisakah kau pergi duluan? Setelah mengantarnya, aku akan segera menyusul.”

“Mengerti. Kalau begitu Souta-kun, nanti siang aku akan menjemputmu, ya.”

“Ya, sampai jumpa nanti.”

Di sana aku berpisah dengan Nagi, lalu Ichitake-san memanduku masuk ke dalam kediaman. Di tengah jalan, Ichitake-san mengajakku mengobrol.

“Nagi sering bercerita tentang Minori-kun, lho. Sejak hari ia bertemu denganmu, senyumnya semakin sering terlihat... Ia juga tampak lebih menikmati latihan tarian tradisional dibandingkan sebelumnya.”

“Benarkah begitu?”

“Iya. Terutama sejak pertunjukan waktu itu, ia seolah berhasil memecahkan satu cangkangnya... Minori-kun, apa kamu tahu seberapa besar bakat tarian tradisional yang dimiliki anak itu?”

“E-eh. Pokoknya saya hanya tahu kalau dia sangat luar biasa.”

Pertunjukan waktu itu adalah pertama kalinya aku melihat panggung tarian tradisional Jepang. Meski dari mata orang awam aku tahu bahwa Nagi sangat menakjubkan, aku sama sekali tak mengerti soal teknisnya. ...Benar-benar sama sekali tidak paham.

Hatiku dipenuhi rasa malu, namun Ichitake-san tidak menertawakanku.

“Iya, kau benar. Nagi sungguh anak yang sangat luar biasa. Bakatnya jauh melampaui diriku, dan ia telah terus berusaha dengan tekad baja selama lebih dari sepuluh tahun—bahkan kata ‘dua kali lipat dari orang biasa’ tak cukup untuk mendeskripsikan kerasnya usahanya. Sebagai seorang guru, dia adalah murid yang amat sangat sepadan untuk diajari.”

Perkataan beliau sama sekali tidak terdengar seperti pujian yang melebih-lebihkan tentang Nagi... setidaknya itulah yang kurasakan. Aku yakin bahwa seseorang yang telah terpilih sebagai Harta Karun Nasional Hidup tak mungkin memberikan penilaian yang bias dan berlebihan menyangkut tarian tradisional Jepang.

“Gadis itu saat ini telah mencapai tingkatan yang baru bisa kucapai setelah tiga puluh tahun lamanya. Selama beberapa tahun terakhir ini perkembangannya agak tersendat, tapi sejak bertemu denganmu, ia berhasil menetaskan satu cangkangnya lagi.”

Suara dan matanya memancarkan warna yang lembut. Dan pada saat yang bersamaan, aku benar-benar bisa merasakan dari lubuk hatiku betapa besar harapan yang ia berikan pada Nagi.

“Aku sungguh tak sabar ingin melihat bagaimana ia akan berkembang ke depannya. ...Meski begitu, aku tentu tidak berniat untuk kalah darinya. Sampai kedua kaki ini tak bisa bergerak lagi, aku tetaplah seorang pelakon panggung.”

“...Tolong senantiasa jaga kesehatan Anda.”

“Tentu saja, karena tujuanku adalah aktif berkarya seumur hidup.”

Kesan awalku terhadapnya memang keren dan serius, tetapi ternyata beliau adalah tipe orang yang punya sisi iseng dan ceria.

Sembari asyik mengobrol, Ichitake-san menghentikan langkahnya.

“Nah, ini adalah ruang referensinya. Sebisa mungkin aku ingin kau menghindari makan dan minum di dalam, tetapi kalau hanya sekadar minum air putih tidak masalah. Ah, apa kau butuh minum?”

“Tidak perlu, saya sudah membawa botol air minum sendiri.”

“Baiklah. Kalau airmu habis, di sebelah sana ada dapur. Di dalam kulkas ada air putih, jadi kau boleh memindahkannya ke dalam botolmu, ya.”

“Mengerti. Terima kasih banyak.”

“Kalau begitu, sampai jumpa nanti. Semangat bekerja, ya.”

Setelah percakapan singkat itu, Ichitake-san tersenyum dan melambaikan tangannya... kemungkinan besar melangkah kembali ke tempat Nagi. Setelah melepas kepergiannya, aku pun melangkah masuk ke dalam ruang referensi.

“──Tempat ini juga luar biasa.”

Di dalamnya terlihat seperti sebuah ruang kerja. Terdapat sebuah meja dan sebuah kursi, sementara sisanya dipenuhi oleh rak-rak buku.

Aku meletakkan barang bawaanku di atas meja untuk sementara waktu, lalu melihat-lihat sekilas ke arah rak buku... dan menyadari suatu hal.

“Rak buku di bagian depan ini isinya referensi yang berKaitan dengan Nagi, ya.”

Terdapat berbagai macam hal mulai dari kliping koran dan majalah, hingga artikel internet yang telah dicetak. Tidak hanya seputar tarian tradisional Jepang, tapi juga hal-hal yang berKaitan dengan bisnis... bahkan ada referensi yang memuat foto Nagi bersama Ayah Mertua.

Di rak buku sebelahnya, berjejer banyak buku dengan judul yang sepertinya merupakan judul lakon tarian tradisional Jepang... mungkinkah itu lakon-lakon yang pernah dipentaskan oleh Nagi? Mengingat betapa banyaknya referensi tentang Nagi sejauh ini, kemungkinannya sangat tinggi.

Dari rak buku di bagian yang lebih dalam barulah dipenuhi oleh referensi yang lebih umum mengenai tarian tradisional Jepang—saat aku sedang melihat-lihat, tumpukan buku itu berganti lagi menjadi kliping majalah dan koran.

“Siapa ini?”

Mataku tertuju pada sebuah referensi yang terlihat cukup usang, dan dengan hati-hati aku mengambilnya. Itu adalah kliping foto seorang wanita. Nama dan wanita yang tidak kukenali. Kisaragi Chika-san, kah? ...Tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat?

Kupikir beliau mungkin adalah tokoh terkenal dalam dunia tarian tradisional Jepang yang belum kuketahui, jadi aku menelusuri teks di bawah fotonya. Kalau beliau orang terkenal, mungkin aku pernah melihatnya di televisi—eh?

“Murid dari Ichitake-san? ...Tunggu sebentar. Kalau tidak salah, guru dari gurunya Ayah Mertua adalah Ichitake-san. Kalau begitu, guru Ayah Mertua adalah──”

Aku teringat akan cerita yang kudengar dari Ayah Mertua beberapa hari yang lalu. Titik-titik itu kini terhubung menjadi sebuah garis yang utuh.

“Ibunya Chie-san... berarti orang ini adalah neneknya Nagi, ya.”

Karena ceritanya sebatas ‘guru dari Ayah Mertua’, aku sempat tidak menyadarinya, tapi ternyata orang ini adalah nenek mertuaku. Hubungan yang sungguh luar biasa.

Setelah mengetahui siapa orang tersebut, aku membaca sekilas isinya, lalu dengan hati-hati mengembalikannya ke rak buku. Sisa dari rak tersebut dipenuhi oleh referensi tentang tarian tradisional Jepang lainnya.

Aku akan membacanya nanti. Sekarang, aku harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ayah Mertua terlebih dahulu.

Aku kembali ke mejaku dan mengeluarkan laptop dari dalam tas. Saat ini aku sedang bekerja dan digaji sebagai asisten Nagi. Aku harus bekerja keras.

Saat aku menyalakan laptop dan membuka file dari foldernya, tugas dari Ayah Mertua terpampang di layar.

’Pikirkan satu buah pertanyaan untuk ditanyakan kepada para siswa di acara pertunjukan nanti.’

Pada acara pertunjukan minggu depan, mereka akan mengundang siswa dari beberapa SMP ke teater untuk menyaksikan tarian tradisional Jepang. Pada kesempatan tersebut, para siswa akan diminta untuk menuliskan kesan dan pertanyaan pada selembar kertas, dan pihak penyelenggara juga diperbolehkan untuk menentukan satu buah pertanyaan. Meskipun aku sempat berpikir, ‘Kenapa harus aku?’, Ayah Mertua berkata, ’Aku ingin kamu yang memikirkannya karena pengetahuanmu tentang tarian tradisional Jepang masih sedikit. Lagipula, usiamu lebih dekat dengan mereka dibandingkan kami. Kamu adalah orang yang tepat.’

Aku harus menyelesaikannya sebelum besok, tetapi karena hari ini aku sedang menemani latihan Nagi dan punya waktu luang, aku pun menerima tugas tersebut.

...Memang aku menerimanya, tapi tidak bisa dimungkiri bahwa ini adalah tugas yang sulit. Pertanyaan itu harus singkat dan mudah dipahami, tetapi di saat yang sama harus sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Ayah Mertua.

Apa yang diharapkan oleh Ayah Mertua? Ia ingin menemukan cara untuk lebih menyebarluaskan tarian tradisional Jepang kepada lebih banyak orang. Jika begitu, kali ini aku harus berpikir dengan berlandaskan pada cara menyebarkan daya tarik tarian tradisional Jepang kepada anak SMP. Tentu saja, bertanya tentang hal itu secara langsung juga... tidaklah buruk, tetapi aku merasa ada cara bertanya lain yang lebih tepat.

“...Hmm. Apa yang harus aku lakukan, ya.”

Boleh saja aku terus berpikir seperti ini, tapi mumpung sedang berada di sini, lebih baik aku berpikir sambil melihat-lihat referensi yang ada. Jika pengetahuanku menjadi terlalu banyak, aku tidak akan bisa menempatkan diriku di posisi para siswa, tetapi rasanya tidak masalah kalau hanya melihat kliping tentang Nagi.

Aku beranjak berdiri dan berjalan menuju rak buku di bagian depan—mataku tertuju pada sebuah dokumen referensi terbaru.

“Ini foto dari pertunjukan waktu itu, ya.”

Pertunjukan yang kami datangi atas undangan Nagi. Ada foto Nagi juga yang digunakan di sana.

Nagi pada waktu itu... tidak, semua hal di pertunjukan itu sangat luar biasa.

Perhatian seluruh ruangan dikuasai oleh sang penari. Sebuah dunia diciptakan di atas panggung, dan penonton tenggelam di dalamnya. Terasa seolah-olah diri kita sendiri menjadi pengamat dari dunia tersebut.

Suaranya, gerakannya, semuanya sangat indah. Sungguh. Sampai-sampai membuatku berpikir betapa ruginya aku karena tidak pernah menontonnya selama ini.

“──Ah, benar juga.”

Aku baru saja teringat sebuah ide bagus. Atau mungkin... bagaimana kalau ini? Bukan pertanyaan, melainkan sebuah permintaan.

...Tapi, bukankah ini lebih mendekati apa yang diharapkan oleh Ayah Mertua?

Setelah berpikir sejenak, aku mengambil ponselku. Aku akan menanyakannya terlebih dahulu. Jika tidak diizinkan, aku bisa memikirkannya ulang nanti. Aku masih punya banyak waktu.

Aku mengirimkan pesan kepada Ayah Mertua, dan segera terlihat tanda bahwa pesannya sudah dibaca. Ia membalas dengan, ‘Ide yang bagus’.

Bersamaan dengan gumaman ‘bagus’ dari mulutku, datanglah balasan berisi pujian yang berbunyi, ‘Kau bisa memikirkannya dengan baik. Teruslah berpikir fleksibel seperti ini ke depannya.’ Tanpa sadar aku merasa gembira.

‘Terima kasih banyak. Saya akan mengirimkannya kembali lewat email,’ balasku, lalu aku hendak menyimpan ponselku kembali... dan berhenti. Aku baru teringat kalau ada satu hal lagi yang ingin kuminta darinya.

Setelah menanyakan hal itu dan melihat balasannya, barulah aku membuat kembali draf pertanyaannya... Aku membuatnya sambil mencari tahu cara menulis email yang benar sebelum akhirnya mengirimkannya. Sebenarnya ini mungkin pertama kalinya aku mengirim email. Biasanya aku hanya menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, sih.

Setelah email itu terkirim, balasan yang mengatakan bahwa email itu telah diterima langsung datang, dan aku pun merasa lega. Dengan ini, untuk sementara tugas dari Ayah Mertua telah selesai. Setidaknya untuk kali ini sepertinya Ayah Mertua yang akan menyampaikannya kepada pihak sekolah.

Nah, karena tugas sudah selesai, sekarang waktunya bagiku untuk menambah pengetahuan tentang tarian tradisional Jepang. Untungnya ada banyak referensi yang bisa kugunakan di sini.

◆◆◆

Saat aku sedang asyik membaca dokumen referensi, Nagi datang menjemputku. Tanpa terasa, ternyata waktu makan siang sudah tiba.

Kami berpindah dari ruang referensi ke ruang keluarga. Di sana aku makan bersama Nagi dan Ichitake-san... tetapi, Ichitake-san terlihat jauh lebih bahagia daripada sebelumnya.

“Ichitake-san, Anda terlihat sangat senang, apakah terjadi sesuatu?”

“Eh? Apakah sangat kentara? Kemampuan menari Nagi berkembang dengan pesat. Hal itu membuatku sangat bahagia.”

“Fufu, hari ini aku juga banyak dipuji, lho. Belakangan ini aku tidak punya banyak waktu untuk berlatih, jadi aku sedikit khawatir sebenarnya.”

“...Benar juga. Kamu menghabiskan akhir dan awal tahun di tempatku, kan.”

Lagipula, dia juga cukup banyak menghabiskan waktu bersamaku. Waktu berlatihnya pasti berkurang dibandingkan sebelumnya. Mengingat hal itu, menurutku sungguh luar biasa jika kemampuannya tetap dikatakan berkembang.

Mendengar perkataanku dan Nagi, Ichitake-san tersenyum.

“Begitu juga tidak apa-apa. Latihan setiap hari bukanlah satu-satunya hal yang berKaitan dengan peningkatan kemampuan tarian tradisional Jepang. Berbagai macam pengalaman akan memperluas jangkauan ekspresi... meskipun kurasa Nagi-lah yang paling menyadari hal itu.”

“Iya, aku sangat menyadarinya. Terutama setelah bertemu dengan Souta-kun... dan mengenal cinta.”

Nagi menatapku lalu tersenyum, dengan lembut ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku. Saat aku membalas genggamannya, ia tersenyum dengan sangat bahagia.

“Mengatakan bahwa jatuh cinta membuat seorang gadis menjadi lebih cantik mungkin terdengar usang, namun faktanya jatuh cinta memang memperluas jangkauan ekspresi. Cara seseorang mengolah dan menjadikan pengalamannya sebagai bekal itu berbeda-beda bagi setiap individu. Dan suatu saat, kepribadian yang terus diasah itu pun akan mekar. Momen ketika Nagi menemukanmu hari itu adalah contohnya.”

Perkataan Ichitake-san mengingatkanku pada kejadian saat itu. Memang benar bahwa pada saat itu, aura Nagi berubah dan ia mulai memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Jika hal itu yang disebut sebagai kepribadian Nagi, aku bisa memakluminya.

“Aku sangat menantikan bagaimana dia akan tumbuh ke depannya... tapi, pastikan pandanganmu tidak menyempit, ya, Nagi.”

“Aku akan berhati-hati... namun, mungkin ada kalanya aku tidak menyadarinya sendiri karena ketidakdewasaanku. Jika aku sampai salah melangkah, aku mohon bimbingan Anda.”

“Tentu saja.”

Aku menikmati bekal makan siangku sembari mendengarkan interaksi mereka berdua. Sepertinya Nagi memiliki hubungan yang akrab dengan gurunya, Ichitake-san. Setelahnya pun mereka tampak asyik mengobrol tentang berbagai hal, mulai dari tarian tradisional Jepang hingga kehidupan sekolah.

◆◆◆

Pada sore hari, Nagi kembali berlatih, dan aku juga kembali ke ruang referensi untuk mencari tahu lebih banyak tentang kebudayaan Jepang, termasuk tarian tradisional Jepang. Aku sendiri belum menyadarinya, tetapi sepertinya aku menyukai kegiatan mencari tahu seperti ini.

Begitu fokusnya bekerja hingga lupa waktu... jam pulang akhirnya tiba. Setelah Nagi memanggilku, aku berpamitan pada Ichitake-san dan bersiap untuk pulang.

“Kalau begitu Nagi, sampai jumpa hari Rabu minggu depan, ya. Sayang sekali aku tidak bisa menonton pertunjukanmu akhir pekan nanti, tetapi tetaplah semangat.”

“Baik. Agar tidak mempermalukan nama Anda sebagai murid dari seorang guru──”

“Nagi hanya perlu menikmatinya saja. Ketertarikan akan melahirkan kepiawaian. Hal terpenting adalah menyadari bahwa Minori-kun sedang melihatmu... Ah, tapi akhir pekan nanti Minori-kun juga ikut, ya.”

Ichitake-san menujukan senyumannya kepadaku, membuat punggungku langsung tegak... tapi, keteganganku sudah jauh mereda dibandingkan saat pertama kali datang kemari.

“I-iya. Sepertinya saya tidak akan menonton dari kursi penonton, melainkan dari samping panggung.”

“Itu juga tidak masalah. Kalau Nagi, dia pasti bisa menampilkan pertunjukan yang jauh lebih menakjubkan daripada siapa pun. Kulihat, sepertinya kamu juga tidak gugup seperti biasanya.”

“...? Iya. Aku sudah sering tampil, jadi dalam seminggu sebelum acara biasanya aku jarang merasa gugup.”

Nagi sedikit memiringkan kepalanya. Apakah kata-kata yang diucapkan barusan itu tidak biasa dilontarkan? Kemudian, Ichitake-san melanjutkan──

“Oh? Begitukah? Kudengar kali ini Minamikawa Uka-san juga ikut tampil, jadi kupikir kamu akan gugup. Karena sepertinya dia sangat mengagumimu, Nagi.”

“...Eh?”

“...Hm?”

Aku dan Nagi berseru secara bersamaan. Kemungkinan besar karena alasan yang sama.

“Apakah Minamikawa Uka-san juga ikut tampil?”

“Nagi, marga Minamikawa itu, jangan-jangan...”

Marga yang terasa familier. Sepertinya... ini bukan sekadar kebetulan nama marga yang sama.

“Iya, dugaan Souta-kun benar. Dia anak dari Keluarga Minamikawa yang itu. Karena usianya satu tahun di bawah kita, seharusnya dia masih anak SMP.”

“Adik dari Minamikawa Haruto-san?”

“Bukan, kalau tidak salah dia sepupunya.”

Sepupu, ya. Apa pun itu, faktanya tidak berubah bahwa dia memiliki hubungan dengan Keluarga Minamikawa.

“Apakah Ayah Mertua tahu soal ini...?”

“Kurasa tidak mungkin beliau tidak tahu, tapi ini memang sedikit membuat kepikiran. Guru, dari mana Anda mendapatkan informasi ini?”

“Eeto, kalau tidak salah kudengar dari guru Uka-san, Ono-san. Maafkan aku, karena diundang ke berbagai acara pertunjukan dan ceramah, ingatanku sedikit kabur.”

“...Tidak apa-apa, terima kasih banyak. Mengetahui bahwa Anda tidak mendengarnya dari ayahku saja sudah cukup.”

Berarti ada kemungkinan Ayah Mertua juga tidak mengetahuinya. Meskipun kemungkinannya sangat kecil.

“Nagi, biar kutanyakan hal itu kepada Ayah Mertua. Sebenarnya aku ada keperluan dengan Ayah Mertua dan sudah janji bertemu dengannya setelah ini.”

“Begitukah? Kalau begitu aku juga... tidak, melihat situasinya, sepertinya lebih baik aku tidak ikut campur.”

“...Maaf. Aku ingin berbicara berdua saja dengan Ayah Mertua.”

Sifat peka Nagi sangat membantuku. Sebisanya aku memang ingin merahasiakan urusanku ini.

“Souta-kun akan langsung menuju ke rumah beliau dengan mobil, kan?”

“Aku berpikir ingin berbelanja bersamamu dulu. Kalau ada barang yang berat, aku akan membawanya ke apartemen.”

“Beras masih ada, dan kita hanya perlu membeli bahan untuk makan malam hari ini dan sarapan besok, jadi aku bisa melakukannya sendiri, kok.”

“Syukurlah.”

Meskipun aku sudah menduganya, perkataan itu membuatku merasa lega. Setelah itu, aku kembali mengarahkan pandanganku pada Ichitake-san. Aku jadi penasaran apakah Ichitake-san tahu mengenai masalah ini.

“Aku juga sudah mendengarnya, jadi tidak usah khawatir. Aku tidak berniat ikut campur terlalu dalam mengenai masalah keluargamu. ...Lebih tepatnya, posisiku bukanlah orang yang bisa ikut campur terlalu dalam.”

“Begitu, ya.”

Sepertinya rasa penasaranku terpampang jelas di wajahku, karena Ichitake-san menjelaskannya kepadaku. Memang benar, posisi sebagai Harta Karun Nasional Hidup pasti memiliki pengaruh yang sangat besar. Beliau tidak bisa sembarangan menyatakan keberpihakannya pada pihak mana pun. Saat aku sedang memikirkan hal itu, Ichitake-san berdeham pelan.

“Namun, sebagai guru Nagi, rasanya tidak masalah jika aku mengatakan setidaknya hal ini. Fakta bahwa Nagi masih bisa tersenyum hingga saat ini adalah berkatmu. Terima kasih banyak.”

“...!”

Aku mematung, tak menyangka akan menerima ucapan terima kasih. Di sebelahku, Nagi tersenyum manis, dan senyum Ichitake-san pun tidak luntur. Seolah-olah menantikan jawabanku.

Ada satu kalimat yang terus terngiang di pikiranku, tapi segera kutepiskan dengan pikiran, “Tidak mungkin”, dan pada saat itu... Nagi menggenggam tanganku.

“Sama, sama-sama.”

“Ya! Karena hanya Minori-kun yang bisa melakukannya, jadi tolong busungkanlah dadamu.”

Tampaknya itu adalah jawaban yang tepat, karena senyuman Ichitake-san terlihat semakin lebar. Ternyata masalah sejauh itu pun sudah diceritakan padanya, ya. Bagiku juga, tidak menerima ucapan terima kasihnya sama saja dengan meremehkan Nagi, jadi kurasa ini memang yang terbaik... kan? Meski aku merasa sangat segan. Lagipula, beliau terlihat sangat puas, jadi sepertinya tidak masalah. Sesuai dengan apa yang dikatakannya, aku harus membusungkan dadaku.

“Baik!”

Aku menjawab mantap, lalu membalas genggaman tangan Nagi. Keberadaannya di sampingku memberiku rasa tenang dan menghangatkan hatiku. Akan tetapi, lebih dari itu, hal itu membuat punggungku tegak. Aku harus berusaha keras agar menjadi sosok yang pantas untuk mendampinginya. Nagi mungkin tidak mengharapkannya sampai sejauh itu... tapi aku sendirilah yang ingin menjadi sosok seperti itu.

Karena aku ingin selalu terlihat keren di mata Nagi.

◆◆◆

“Selamat datang kembali, Souta-kun. Bagaimana tadi?”

“...A-ah. Aku pulang.”

Saat aku kembali ke rumah setelah bertemu Ayah Mertua, Nagi menyambutku di pintu masuk dengan memakai celemek. Penampilan yang juga kulihat kemarin itu kembali membuat jantungku berdetak kencang.

Padahal seharusnya aku sering melihat Nagi mengenakan celemek... tapi ternyata hanya dengan disambut di pintu masuk saja perasaannya bisa seberbeda ini. Ah, bukan berarti Nagi dalam balutan celemek itu tidak lucu, tentu saja dia sangat imut.

“Ada apa? Souta-kun.”

“Tidak, itu... Sama seperti kemarin, aku hanya merasa sangat berdebar-debar.”

Saat kubalas pertanyaannya dengan berkata demikian pada Nagi yang sedang mengintip wajahku dengan sedikit memiringkan kepala, ia tertawa malu-malu.

“Sebenarnya aku juga merasa begitu. Rasanya sangat, um... seperti pasangan suami istri, kan.”

Pipinya merona tipis. Dia sungguh manis sekali... sampai membuat hatiku terasa diremas-remas. Tapi, sekarang aku harus menenangkan diri. Banyak hal yang ingin aku bicarakan dengannya.

“...Nagi, aku ingin memelukmu nanti.”

“Tentu saja! Aku siap menjadi bantal gulingmu berapa kalipun kamu mau!”

Syukurlah Nagi berkata begitu, sehingga aku pun entah bagaimana berhasil menenangkan diri.

“Aku mau mengobrol sedikit, apakah tidak apa-apa sekarang?”

“Iya. Aku belum menyalakan api... Apa mengobrol di dapur tidak masalah?”

“Ya, aku akan menyusul setelah mencuci tangan dan berkumur. Pembicaraannya tidak akan lama kok.”

Setelah itu, aku menuju kamar mandi sejenak, menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan, lalu berjalan menuju dapur. Sementara itu, aku menyusun hal-hal di kepalaku untuk menceritakan mengenai pertemuanku dengan Ayah Mertua tadi.

“Tadi aku mengobrol dengan Ayah Mertua, dan tentang Minamikawa Uka-san... atau lebih tepatnya keluarganya, mereka adalah faksi netral di dalam Keluarga Minamikawa.”

“Hmm. Berarti mereka adalah pihak yang tidak mendukung kepala keluarga saat ini, tapi juga tidak berniat untuk menggulingkannya, ya.”

“Benar. Meskipun tidak tahu alasan detailnya, Ayah Mertua bilang mereka adalah orang-orang yang aman. Minamikawa Uka-san mengagumimu...? Ayah Mertua bilang itu juga ada hubungannya, intinya beliau juga sudah tahu kalau dia akan berpartisipasi. Karena tidak ingin membuatmu takut tanpa alasan, Ayah Mertua berencana menceritakannya sehari sebelum acara.”

Setelah mendengar hal itu, Nagi memasang wajah sedikit bingung.

“Minamikawa Uka-san... Aku pernah melihatnya beberapa kali.”

“Kamu tidak mengenalnya secara pribadi?”

“Hanya sebatas saling menyapa saja. Aku juga tidak merasa ada alasan mengapa dia sangat mengagumiku...”

Nagi terlihat merenung, yang mana itu jarang terjadi, lalu mengangguk pelan, sepertinya ia memang tidak bisa memikirkan alasannya.

“Tapi yang pasti, tidak ada bahaya, kan.”

“Sepertinya begitu. Ayah Mertua bilang kalian mungkin akan saling menyapa, tapi dia tidak akan ikut campur terlalu jauh secara berlebihan.”

“Aku mengerti. Jika Papa bilang begitu, pasti tidak akan ada masalah. Ngomong-ngomong, apakah keperluan Souta-kun berjalan lancar? Kamu tidak perlu memberitahu isinya, kok.”

“...Iya, urusanku juga berjalan lancar.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Ayah Mertua dengan baik hati mau mendengarkan konsultasiku. Meskipun aku merasa cukup gugup, sepertinya urusanku berjalan dengan lancar. Aku juga harus sebisa mungkin tidak ketahuan oleh Nagi.

◆◆◆

Setelah makan malam. Di ruang keluarga, setelah kami mandi, suara lembaran buku yang dibalik terdengar silih berganti. Bersamaan dengan itu, sepasang mata biru yang mengingatkan pada warna lautan tersebut bergerak ke atas dan ke bawah.

Terkadang, Nagi menghentikan gerakannya seolah sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia menatap lekat pada deretan huruf di depannya sembari menopang dagu.

”Kalau dipikir-pikir, belakangan ini buku-buku yang baru kubeli tapi belum sempat kubaca makin bertambah, ya.”

Kata-kata itulah yang menjadi awal mulanya. Tentu saja, aku sangat menyukai waktu yang kami habiskan berdua. Dan syukurlah, Nagi juga merasakan hal yang sama.

Namun terlepas dari itu, waktu untuk diri sendiri dan hobi juga penting. Aku sudah bilang padanya untuk tidak memedulikanku dan silakan membaca bukunya.

Kukira dia akan membaca di kamarnya, tapi Nagi mulai membaca di ruang keluarga. Bagiku sebenarnya tidak masalah di mana pun ia ingin membaca.

Sementara Nagi membaca, aku menyempatkan diri mencuci piring dan melakukan hal kecil lainnya, dan saat aku kembali, ia menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya, sehingga di sinilah aku sekarang, duduk di sampingnya.

“...”

Nagi terus membaca dalam diam. Hanya saja, mungkin karena rambutnya mulai panjang, poninya sepertinya sedikit mengganggu. Ia beberapa kali mengubah posisi tubuhnya sambil mencoba menyingkirkan rambutnya ke belakang.

Aku berpikir sejenak, lalu melihat ke atas meja... Ah, ada jepit rambut yang biasa ia Pakai.

Mungkin karena baru selesai mandi, ia belum memakainya. Lagipula, ia biasa melepasnya saat tidur. Ia baru membutuhkannya saat sedang asyik membaca, tetapi mungkin adegan yang sedang ia baca terlalu seru hingga ia tak mau membuang waktu sedetik pun untuk menjepitnya.

Saat itulah, aku teringat sebuah ide bagus. ...Apakah aku bisa melakukannya? Yah, lebih baik aku coba sambil mencari tahu caranya.

Sambil mencari panduan di ponsel, sebelah tanganku memegang jepit rambut.

Secara perlahan, kusentuh bagian tengah poni Nagi. Tidak ada reaksi. Ia pasti sangat berkonsentrasi.

Eeto. Dari sini, putar sedikit rambutnya... Begitu ya. Jadi, diarahkan ke belakang mengikuti arah rambut, kan. Harus hati-hati supaya tidak menarik rambutnya. Memang sedikit berbeda dari gaya rambutnya saat di luar, tapi untuk membaca buku, gaya seperti ini sepertinya lebih baik.

Kalau aku jepit dari belakang seperti ini... Oke, sisanya tinggal menyelipkan poni bagian sampingnya ke belakang telinga.

Selesai. Seharusnya ini tidak masal—

“...”

Nagi masih asyik membaca bukunya seperti biasa. Ia memang masih membaca bukunya, tetapi...

Nagi dengan poni yang dijepit ke atas terlihat sangat, sangat berbeda. Kesan yang ia tampilkan benar-benar berubah drastis.

Keningnya yang biasa tertutupi kini terlihat jelas. Bukan berarti aku melakukan hal yang aneh. Aku hanya membantunya agar lebih nyaman saat membaca buku.

Meskipun begitu... Ada apa ini? Perasaan apa ini?

Sambil menahan dadaku yang berdesir aneh, aku terus menatap Nagi. Menatapnya lekat-lekat.

Entah sudah berapa menit berlalu. Suara jarum jam yang berdetak dan suara Nagi yang membalik halaman buku. Serta suara detak jantungku saling bersahutan selama beberapa saat.

“...Fuu.”

Nagi menghela napas pelan lalu mengangkat wajahnya.

“Terima kasih banyak. Padahal ceritanya lagi seru-serunya, jadi kamu sangat membantuk...? Souta-kun?”

Tanpa kusadari, aku telah memalingkan wajahku dari Nagi.

Tenanglah, diriku. Tenang.

“A-ada apa? Jangan-jangan, kamu tidak suka karena merasa kuabaikan sejak tadi?”

“B-bukan begitu. Aku tahu kamu sedang fokus membaca. Aku tahu itu, tapi...”

Setelah sedikit ragu. Aku akhirnya menyerah dan dengan suara yang tertahan di tenggorokan, aku bergumam pelan.

“Itu... kalau kamu mengangkat ponimu, auramu jadi berbeda. Itu terlihat sangat manis...”

“...!”

Setiap saat, aku selalu berpikir Nagi itu cantik dan menawan. Sebisa mungkin aku juga selalu mengungkapkannya dengan kata-kata. Namun, apakah hanya karena auranya sedikit berubah, rasanya jadi sesulit ini untuk mengatakannya?

Wajahku terasa sangat panas. Aku memutuskan untuk tidak memakai alasan ‘pemanas ruangannya terlalu kencang’...

Nagi menatapku lalu tersenyum kecil.

“Begitu rupanya.”

“N-Nagi? Bukumu...”

“Aku sudah sampai di bagian yang pas untuk berhenti, kok.”

Nagi menyelipkan pembatas buku dan meletakkan bukunya di atas meja. Lalu, ia dengan lembut menyentuh pipiku dengan tangannya yang putih dan indah.

Pandangan kami saling bertemu. Wajah Nagi berada tepat di depan mataku—

“Fufu.”

Ia terlihat sangat, sangat bahagia.

“Aku senang mendengarnya.”

Setelah mengatakannya sendiri, ia memindahkan tangannya dari pipiku dan menyentuh pipinya sendiri yang sedikit memerah.

“Meskipun hanya kebetulan, ditata oleh tangan Souta-kun, dengan gaya rambut yang menurut Souta-kun lucu... Tidak mungkin aku tidak senang.”

Cahaya hangat dan lembut memancar dari mata birunya. Seolah mencoba menyembunyikan senyumnya yang merekah, tangannya meremas-remas pipinya sendiri.

Tiba-tiba, Nagi menggerakkan alisnya sedikit.

“Ah, aku punya ide bagus.”

Tangannya merogoh saku Pakaiannya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah ikat rambut biru, senada dengan warna matanya.

“Biar kusentuh rambutmu sebentar, ya.”

“A, ah.”

Nagi menyentuh poniku—dan aku merasakan tarikan kecil.

“Nah, sudah selesai.”

Nagi mengangguk puas. Lalu ia mengambil ponselnya dan memotretku dengan bunyi klik.

“Coba lihat ini, kamu kelihatan manis sekali!”

Yang terpampang di layar adalah—aku dengan poni yang diikat menjadi satu dengan ikat rambut.

“Mumpung sudah begini, ayo kita foto berdua!”

Matanya seolah bertanya “Bagaimana?”, dan aku pun mengiyakan, lalu membiarkan kami berfoto berdua.

“Fufu. Benar-benar manis... Ini menyenangkan.”

Nagi tersenyum dengan raut wajah bahagia. Benar-benar bahagia.

Jantungku berdebar kencang tak karuan. Wajahku terasa semakin panas.

Apalagi, berbeda dari biasanya, wajahku saat ini sama sekali tidak tertutupi. Bukan hanya telinga, keningku pun pasti sudah memerah.

Nagi kembali menatapku dan tersenyum simpul.

“Kita kembaran, ya, Souta-kun. Meski yang satu Pakai jepit rambut dan yang satu ikat rambut. Kita kembaran dalam arti Souta-kun menata rambutku, dan aku juga menata rambut Souta-kun.”

Wajahnya mendekat. Sensasi hangat dan lembut menyelimutiku.

“Muu. Kalau begini Souta-kun mungkin agak sulit mendengarnya... agak sulit merasakannya, kan?”

Aku memiringkan kepala karena tidak mengerti maksudnya, lalu Nagi semakin merapatkan tubuhnya. Seolah menempelkan dirinya padaku.

“Kalau begini pasti kedengaran.”

Seperti yang Nagi katakan, saat aku memusatkan pendengaran—aku memang mendengarnya. Suara detak jantung Nagi yang berdegup kencang.

“Ini juga kita kembaran, lho. Aku juga sangat berdebar-debar. Sebenarnya, sejak rambutku disentuh oleh Souta-kun.”

“M-maaf.”

“Tidak apa-apa. Lagipula, aku sama sekali tidak merasa terganggu atau tidak suka.”

Tuk, kening kami bersentuhan. Biasanya rambut kami akan saling bersentuhan, tetapi karena saat ini rambut kami berdua diangkat, rambut kami tidak saling mengenai. Panas tubuhnya tersalurkan secara langsung kepadaku.

“Selain itu, aku juga teringat sebuah ide bagus.”

“Ide bagus?”

“Iya.”

Nagi akhirnya melepaskanku—kalau dibilang begitu mungkin terdengar tidak sopan baginya. Aku sama sekali tidak merasa benci atau perasaan semacam itu. Hanya saja, mentalku benar-benar terkuras habis.

“Ada satu permintaanku pada Souta-kun.”

Nagi mengumpulkan rambut panjangnya yang tergerai hingga punggung menjadi satu lalu mengatakan hal itu. Matanya masih menatapku lekat-lekat.

“Tolong, aturkan rambutku.”

Permintaan yang begitu tiba-tiba. Reaksiku tertunda karena sama sekali tidak menduganya.

“R-rambutmu?”

“Iya. Aku ingin Souta-kun mencoba berbagai gaya rambut untukku dan menemukan mana yang paling Souta-kun suka.”

Nagi tersenyum lembut dengan manis.

“T-tapi. Aku, aku sama sekali belum pernah melakukan hal seperti itu.”

“Fufu. Padahal Souta-kun sendiri yang memulainya?”

Terdengar suara tertahan dari pangkal tenggorokanku. Kata-kata yang dilontarkannya tiba-tiba tanpa bahasa formal seperti biasanya, membuat jantungku yang sedari tadi sudah berisik, berdegup semakin kencang.

Pandangan Nagi terangkat. Sudah jelas bahwa ia sedang menatap jepit rambut yang menahan poniku.

“Disentuh oleh Souta-kun──rasanya aku sangat senang.”

“...”

Hatiku terasa diguncang hebat. Wajahnya yang begitu manis, perasaan bahagia ini... Rasanya kepala dan hatiku sudah mau meledak. Aku mengambil napas dalam-dalam—namun setiap kali aku melakukannya, aroma manis seperti bunga menggelitik hidung dan otakku.

Aku merasa pusing, entah karena terlalu banyak bernapas atau karena kekurangan oksigen. Bagaimana ya caraku bernapas selama ini? Bahkan hal itu pun aku tidak ingat lagi.

Saat itulah, Nagi menempelkan tangannya di keningku. Berkat kehangatannya, perlahan-lahan aku mulai mengingat cara bernapas yang benar.

“...Nagi.”

Mata biru lautnya menatapku dengan cemas, namun di dalamnya tersimpan secercah kebahagiaan.

Melihat Nagi yang terus tersenyum manis... Aku berpikir sejenak, dan mengucapkan kata-kata yang terlintas di pikiranku.

“Nagi, kamu sadar tidak kalau kamu makin hari semakin imut?”

“...Eh?”

“Aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana, tapi aku merasa begitu.”

Ini bukan sekadar perasaanku saja. Karena, sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini.

Manisnya Nagi membuatku lupa cara bernapas. Itu bukan sekadar kiasan, tapi benar-benar terjadi selama beberapa detik. Tidak, mungkin puluhan detik.

“B-begitukah?”

Pipi Nagi bersemu merah layaknya buah apel. Aku tidak ingin siapa pun melihat ekspresi ini. Aku bahkan merasa ingin menyimpannya untuk diriku sendiri.

“K-kita kembali ke topik, ya.”

Kalau dibiarkan terus begini, hatiku bisa-bisa tertelan oleh perasaan yang semakin membengkak ini. Nagi mungkin tidak bermaksud begitu, dan jika aku membiarkan diriku tertelan oleh perasaan yang meluap dari lubuk hatiku ini... Nagi mungkin akan menerima semuanya. Ya, untuk sekarang, mari kita kesampingkan dulu pikiran itu.

“Soal rambutmu. Kalau kamu mau, aku ingin mencobanya.”

“...!”

“Alasannya juga karena aku suka menyentuh rambutmu. Tapi, lebih dari itu...”

Aku mengulurkan tanganku, lalu menyentuh poninya yang terjepit. Selembut mungkin agar tatanannya tidak berantakan.

“Aku merasa itu akan sangat menyenangkan. Bisa mengubah gaya rambut Nagi. Kalau bisa melihat berbagai sisi Nagi yang berbeda, tentu saja aku mau.”

“Iya!”

Tentu saja, aku juga menyukai Nagi dengan penampilannya yang biasa.

“Kalau begitu, mari kita mulai besok!”

“Ya. Karena tanganku ini tidak terlalu terampil... melakukannya setiap hari mungkin akan sulit.”

“Tentu saja tidak masalah. Lakukan saja saat kamu ingin melakukannya.”

Sambil berpikir bahwa mungkin ini adalah salah satu keuntungan dari tinggal bersama, perlahan senyuman terukir di wajahku.


◆◆◆

Di dalam kamar yang diterangi sinar matahari, Nagi sedang bersenandung gembira.

“Eeto. Diambil begini... lalu begini, ya.”

Sambil mendengarkan senandungnya, aku sibuk memperhatikan ponselku dan menata rambutnya.

“Selesai. Begini... tidak apa-apa, kan?”

“Iya! Sempurna!”

Gaya rambut ini dibuat dengan mengambil setengah bagian atas rambut dari samping, lalu memelintir dan mengikatnya. Singkatnya, ini adalah gaya half-up.

“Sayangnya, aku belum bisa membuat kepangan dan semacamnya. Jadinya lumayan simpel begini.”

“Tidak apa-apa. Nanti akan ada banyak kesempatan untuk berlatih, kok. Benar juga, half-up sendiri ada banyak macamnya. Selanjutnya, ayo kita coba gaya rambut kepang tiga!”

“Oke. Nanti kita coba lagi.”

Karena keterbatasan waktu, aku tidak bisa menata rambutnya lebih rumit lagi. Kalau sepulang sekolah mungkin masih bisa, tapi sekarang kami harus berangkat. Kalau gaya rambut Nagi jadi berantakan saat pergi ke sekolah, membayangkannya saja sudah membuatku sangat takut.

“Bolehkah aku berlatih di rumah juga untuk sementara waktu?”

“Iya! Tentu saja boleh!”

Jawaban gembira dan senyumannya itu tanpa sadar juga menerbitkan senyuman di wajahku.

“Cocok, kan?”

“Ya. Sangat cocok denganmu, Nagi.”

“...Jiii.”

Meskipun aku sudah menjawab begitu, Nagi terus menatapku melalui pantulan cermin, seolah ingin mengatakan bahwa bukan itu jawaban yang ia harapkan. Aku hanya ragu sesaat.

“Menurutku... ini sangat imut. Sangat imut.”

“Iya! Terima kasih banyak!”

Entah mengapa, saat ditanya secara langsung seperti ini, rasanya jadi memalukan. Padahal biasanya aku selalu berusaha mengungkapkannya dengan kata-kata.

Setelah memikirkan hal itu, aku kembali melihat bayangan Nagi di cermin.

Nagi dengan gaya rambut half-up memberikan kesan yang sangat berbeda. Alih-alih hanya cantik, aura imutnya seperti peri jadi lebih menonjol. Rasanya aku ingin mencoba berbagai macam gaya, tapi... karena waktunya sudah mepet, aku akan menyimpannya untuk lain kali.

“Kita berangkat sekarang?”

“Iya! Barang bawaanmu sudah siap semua?”

“Ya. Semua buku pelajaran juga sudah kubawa.”

Aku sudah membawa semua buku pelajaran dan buku tulis yang kubutuhkan. Semalam aku juga sudah memeriksanya kembali, jadi tidak ada masalah.

“Kalau begitu, ayo berangkat, Souta-kun!”

“Ayo.”

Nagi tampaknya sedang sangat bersemangat, suaranya terdengar ceria dan langkahnya pun riang. Aku tahu alasannya.

Sesampainya kami di depan pintu masuk, Nagi berbalik badan.

“Souta-kun.”

Rambutnya berayun ringan seiring dengan gerakannya, lalu Nagi menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga. Kemudian, ia menutup matanya.

Menatapnya yang berdiri diam namun tampak sedikit gelisah, membuatku tak bisa menahan keinginan untuk memeluknya.

Namun untuk saat ini, aku harus menahan perasaan itu—dan mendekatkan wajahku.

Karena kami akan pergi ke sekolah, Nagi tidak memakai riasan apa pun. Meskipun begitu, kulitnya putih bersih, dan bibirnya berwarna merah muda pucat yang sangat menarik perhatian.

Aku menyentuh lembut pipinya. Terasa halus, sangat lembut dan lembap bagaikan kulit bayi. Berkat apa yang aku ketahui sekarang, aku mengerti betapa besar usaha yang ia lakukan untuk menjaga kulitnya tetap seperti ini.

Karena sering menari tarian tradisional Jepang, Nagi harus memakai banyak make-up berat, yang bisa membuat kulitnya mudah rusak. Meskipun mungkin ia bisa sedikit menutupinya dengan riasan biasa, Nagi bukanlah tipe orang yang akan mengabaikan perawatan kulit gara-gara hal itu.

Cara terbaik untuk menjaga kulitnya adalah dengan tidur awal. Sejak dulu—meskipun belakangan ini ada kalanya ia tidur sedikit lebih larut, pada dasarnya ia selalu tidur sebelum jam sepuluh malam. Sebelumnya, ia bahkan sudah tidur sebelum jam sembilan malam.

Selain itu, asupan gizinya juga sangat terjaga. Itulah salah satu alasannya mengambil tugas memasak, karena menu masakannya memiliki nilai gizi yang sangat seimbang. Bukan hanya sehat, rasanya pun lezat. Ia pernah berkata, ‘Kalau tidak makan enak, nanti stres. Dan stres itu musuh terbesar kulit.’

Ditambah lagi, ia tidak pernah lupa mengaplikasikan toner dan losion setelah mandi. Semua itu konon sudah menjadi rutinitas hariannya, namun di mataku, itu tak lain adalah ‘buah dari usahanya’.

Sempat terlintas di pikiranku, pantaskah aku menyentuh kulit yang dirawatnya dengan begitu telaten ini dengan santai?

“...?”

Nagi yang berada di depanku saat ini memunculkan raut wajah penuh tanda tanya. Bahkan ekspresi bingungnya saja terlihat begitu indah dan imut bak sebuah lukisan.

Saat aku ingat bagaimana Nagi pernah mengetahui bahwa aku sedang memikirkan masalah ini, dia berkata kepadaku...

’Selain untuk tarian tradisional, aku merawat kulitku juga demi Souta-kun, lho. Kalau Souta-kun tidak mau menyentuhku, aku sendiri yang akan membuatmu menyentuhnya.’

Jika Nagi sudah berkata demikian sambil menggosokkan pipinya ke tanganku, tentu saja aku tidak akan pernah bisa melawannya.

Sekarang, aku tidak boleh membuat Nagi menunggu lebih lama lagi.

Dengan lembut, aku mengusap pipinya menggunakan ibu jari—lalu mendaratkan sebuah ciuman sekilas.

Hanya dengan begitu saja, rasa bahagia yang teramat manis membuat otakku mati rasa. Tanpa sadar tanganku bergerak ingin meraih sesuatu, lalu Nagi langsung menggenggam tanganku. Kemudian, ia menautkan jemari kami. Ia tersenyum dengan sangat, sangat gembira.

Tanpa melepaskan genggaman tangannya, dengan langkah yang terlihat seperti sedang melompat-lompat riang, Nagi berputar ke arahku hingga ia berada di dekat pintu utama, lalu ia menarik tanganku kuat-kuat.

Kali ini, bibir Nagi duluan yang mendarat di bibirku.

Aku balas meremas tangannya, lalu ia juga membalas menggenggam tanganku sama kuatnya.

Lima detik, sepuluh detik pun berlalu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ciuman kami terasa sangat lama.

“...Ah.”

Dengan raut wajah yang enggan berpisah, akhirnya ia melepaskan tautan bibir kami. Menatapku dalam-dalam dengan mata birunya, Nagi perlahan melepaskan tautan tangan kami, lalu merentangkan kedua tangannya.

“Ehehe.”

Saat aku memeluk erat tubuh rampingnya itu, Nagi tertawa gembira.

“Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Souta-kun.”

“Ya. Aku juga sangat mencintaimu, Nagi.”

Nagi balas memelukku dengan pelukan yang sangat kuat. Bahkan karena terlalu erat, napasku sedikit sesak.

Namun, rasa sesak ini membuatku bahagia. Karena aku merasa semua perasaan Nagi bisa tersalurkan lewat pelukan ini.

“Karena ada Souta-kun, aku bisa bersemangat hari ini. Dan aku juga bisa bersemangat mulai besok.”

Nagi menempelkan wajahnya ke dadaku. Ia benar-benar terlihat seperti seekor kucing yang menempelkan kepalanya di tanganku.

“Ada aroma Souta-kun.”

Dengan senyum bahagia yang merekah, ia membenamkan wajahnya.

“Ada kehangatan Souta-kun.”

Ia menempelkan tubuhnya padaku sambil tertawa gembira.

“Dan ada Souta-kun. Di sini, saat ini juga.”

Setelah mengatakan hal itu, Nagi segera mengendurkan pelukannya. Saat aku juga ikut melonggarkan pelukanku, ia mundur setengah langkah. Wajahnya terlihat sangat puas.

“Komponen Souta-kun ku sudah terisi penuh. Ayo berangkat!”

Aku menganggukkan kepala dan menggandeng tangannya kembali, lalu Nagi tiba-tiba menggumamkan sesuatu.

“Souta-kun.”

“Hm?”

“Hati-hati ya.”

“Ya. Nagi juga hati-hati.”

“Iya!”

Setelah menganggukkan kepala mendengar perkataan Nagi, aku membatin bahwa aku juga harus bersemangat lagi hari ini.

◆◇◆

“Gaya rambutmu baru, ya? Sangat cocok denganmu.”

Begitu sampai di sekolah pagi ini, Hikari-chan langsung menegurku. Meskipun aku berharap ia akan menyadarinya, saat ia benar-benar menyadarinya, aku merasa sangat bahagia.

“Tahu tidak, rambutku ditata oleh Souta-kun, lho. Lucu, kan?”

“Oh, begitu ya. Terampil juga dia... Atau dia bekerja keras demi pacarnya yang imut ini, ya?”

“Fufu, kamu benar sekali. Dia berusaha keras dan mencari-cari referensi untukku.”

Mengingat kejadian pagi tadi saja sudah membuat senyumku mengembang. Mendapat sentuhan lembut dari Souta-kun saja sudah membuatku sangat gembira, apalagi dia rela berupaya keras demi aku.

“Kemarin saat aku sedang membaca buku, Souta-kun menjepitkan jepit rambutku... Ah, benar juga. Coba lihat ini. Kemarin aku mengambil foto bersama Souta-kun.”

“Oh... Nagi, aku tahu kalau kau memang pandai mengambil foto, tapi... Meskipun tanpa filter, kualitasnya bagus banget. Tapi memang modelnya juga cantik, sih.”

Saat aku memamerkan foto kami kemarin, Hikari-chan memujiku. Aku sangat senang mendengarnya.

“Tapi ya ampun, kalian ini mesra banget. Kemarin aku agak khawatir, tapi ternyata sekarang kalian terlihat baik-baik saja.”

“Iya! Souta-kun sangat perhatian padaku! Meskipun ini baru permulaan.”

Perasaannya masih sama seperti saat menginap. Tetapi ke depannya, tugas harian seperti membuang sampah dan bersih-bersih juga akan bertambah, jadi seiring berjalannya waktu, rasa tinggal bersama itu pasti akan semakin terasa.

“Ngomong-ngomong, kalian punya kamar masing-masing untuk sendiri, kan?”

“Iya. Kami punya kamar masing-masing yang bisa digunakan saat kami butuh waktu sendiri tanpa ragu. Kalau ada pertengkaran, kami bisa menenangkan pikiran di sana.”

“Oh begitu... Ya ampun, sepertinya aku tidak usah terlalu khawatir tentang itu.”

Hikari-chan berkata demikian sambil seperti memikirkan sesuatu, lalu melirikku sejenak. Kemudian, ia merendahkan suaranya.

“Kemarin aku juga sudah bilang, kalau ada hal yang sulit untuk kamu bicarakan dengan dia, kamu bisa curhat padaku atau Kirika. Pasti banyak hal yang cuma bisa dipahami oleh sesama perempuan, kan.”

“...Iya, aku akan melakukannya.”

“Hm. Aku ini orang yang sering banget diajak curhat. Mungkin aku agak sedikit khawatir berlebihan, tapi kalau kamu diam saja saat ada sesuatu, aku akan merasa sangat tidak enak.”

“Kamu sangat membantuku, terima kasih ya, Hikari-chan.”

“Sama-sama.”

Saat dia membalas ucapan terima kasihku dengan ringan, hatiku terasa sangat hangat. Kata-kata yang sangat bagus, sungguh.

“Ngomong-ngomong, karena kita sedang membahas ini, boleh kulihat bagaimana rasanya tinggal bersama?”

“Tentu saja! Sebenarnya, setiap Souta-kun pulang, aku selalu menyambutnya dengan memakai celemek...”

“Wow, kukira kau hanya memberikan sedikit gambaran, ternyata kau langsung memamerkan semuanya, ya.”

Aku tertawa menanggapi kalimat yang terasa tak asing itu, lalu menceritakan apa yang terjadi kemarin dan kemarin lusa.

Hikari-chan adalah pendengar yang sangat baik, dan aku pun jadi bercerita banyak.

◆◇◆

“Bagaimana kehidupan tinggal bersamamu?”

“Jangan langsung melempar pertanyaan tiba-tiba seperti itu. Sangat menyenangkan kok.”

Di sekolah. Saat aku sedang membaca buku di mejaku, sosok yang tak asing menghampiriku, menepuk pundakku sambil menanyakan hal itu. Orang itu tak lain adalah Eiji.

“Oh, ya? Ada masalah nggak? Cerita aja.”

“Untuk saat ini... tidak ada.”

“Itu bukan jawaban yang mengindikasikan nggak ada masalah, tahu.”

Sesuai dugaan, Eiji langsung menangkap kegagapanku di akhir kalimat. Hal seperti inilah yang membuatku merasa sangat perlu untuk mengonfirmasi ulang dan meyakinkannya.

...Meskipun begitu, apakah aku benar-benar harus curhat tentang ini kepada Eiji? Yah, cepat atau lambat aku pasti akan membicarakannya. Kurasa aku harus menyerah.

“...Sebenarnya,”

“Sebenarnya?”

“I-itu, Nagi terlalu imut.”

“Noro...... Baik, aku berhasil menelannya. Lalu?”

“Ah, ini lebih terdengar seperti pamer kemesraan daripada sebuah masalah.”

Eiji memberiku tatapan tajam yang menyiratkan ‘Padahal aku sudah berusaha menelannya’, tapi aku akan mengabaikannya. Jika aku bercerita tentang ini, mungkin sembilan dari sepuluh orang akan berkata, ‘Itu pamer kemesraan, tahu’. Eiji adalah satu-satunya orang waras di sisa sembilan orang itu yang mau mendengarkan.

“Itu... Saking imutnya dia, rasanya perasaanku sangat kewalahan... Seolah akal sehatku dikuras habis-habisan. Ngerti nggak, sih?”

“...Oh, maksudnya begitu. Aku sedikit paham apa yang mau kamu sampaikan.”

Bahkan aku sendiri tidak yakin apakah ini bisa disebut sebagai masalah. Namun, yang pasti aku berharap ada solusinya.

“Setiap aku pulang dan membuka pintu masuk, Nagi menyambutku memakai celemek. Pagi-pagi pun aku dibangunkan olehnya yang juga mengenakan celemek... Selain itu, aku jadi melihat langsung usaha perawatan kulit dan hal-hal lain yang dilakukannya setiap hari. Hal itu menyadarkanku kembali kalau aku benar-benar mencintainya. Ditambah lagi, kami jadi sering berpelukan dan kontak fisik lainnya, hatiku benar-benar kelabakan.”

“.........Tunggu, apa jangan-jangan kalian diam-diam sudah melampaui kami? Hah? Masa sih? Kami sudah menjalin hubungan lebih dari sepuluh tahun lho! Padahal kami terlalu lama sadarnya... Meskipun begitu aku belum mau mengakuinya.”

“Tidak, mungkin ini karena aku dan Nagi sudah membuat banyak kenangan bersama lebih cepat daripada kalian berdua.”

Ini hanya karena situasi kami sedikit istimewa saja. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain, dan kalaupun ada, Eiji dan Kirika pasti sudah bermain ke berbagai tempat dan membuat lebih banyak kenangan dibandingkan kami. Dan lagi...

“Eiji dan Kirika itu kan menghabiskan banyak waktu bersama, jadi rasanya lebih seperti teman yang juga pacar, kan? Waktu yang kalian habiskan bersama juga berbeda.”

“...Yah, kamu ada benarnya juga. Jadi masalahnya, mentalmu terkuras... dalam artian baik, begitu?”

“Benar. Saat aku tidak tahan, aku selalu memeluknya atau melakukan sesuatu untuk menyampaikannya... Lagipula, Nagi pasti akan menerima segalanya.”

“Tentu saja kamu nggak mau memperlihatkan sisi tidak kerenmu padanya, kan. Padahal di matanya, mungkin itu sama sekali bukan hal yang tidak keren.”

Aku mengangguk membenarkan ucapan Eiji. Aku ingin selalu terlihat keren di mata Nagi. Meskipun aku tahu memaksakan diri seperti itu juga tidak baik.

“Kalau begitu, sebaiknya kamu yang memanjakannya sepuasmu.”

“Maksudnya?”

“Kalau kamu hampir gila karena Nagi terlalu imut, tumpahkan seluruh perhatianmu untuk memanjakannya. Dengan begitu, kamu nggak perlu menunjukkan sisi yang tidak keren, dan semuanya bisa terselesaikan dengan baik.”

“...Lalu bagaimana kalau perasaanku malah semakin tergerus saat melihatnya bersikap manja?”

“Itu juga alirkan semuanya untuk memanjakannya. Bukannya kamu lebih jago memanjakan ketimbang bersikap manja?”

“Aku sendiri nggak yakin aku jago atau tidak.”

Namun, benar juga. Memanjakannya, ya. Lagipula, belakangan ini aku sangat sering dibantu oleh Nagi... aku juga jadi lebih tahu seberapa keras usahanya dibandingkan sebelumnya.

“Terima kasih, aku akan mencobanya.”

“Oh, semangat ya. ...Meskipun ujung-ujungnya setelah kamu memanjakannya habis-habisan, kamu juga akan dimanjakan habis-habisan olehnya, sih.”

“Hm? Apa katamu?”

“Ah, nggak apa-apa. Kalau ada apa-apa, cerita aja lagi, ya.”

Aku merasa ada kalimat yang terlewat, tetapi dia dengan santainya mengalihkan pembicaraan.

◆◆◆

Di atas sofa. Di sanalah aku memeluk Nagi. Aku mengatakan ingin memeluknya, dan ia langsung menyetujuinya tanpa banyak tanya, dan begitulah akhirnya kami berada dalam posisi ini.

Dia selalu mau memelukku tanpa bertanya alasannya. Ciuman pun juga ia berikan. ...Kurasa, itu karena ada kalanya Nagi juga merasa ‘Aku ingin memeluknya tanpa alasan’.

“Nagi. Bolehkah aku menyentuh pipimu?”

“Tentu saja boleh. ...Padahal kamu tidak perlu meminta izin, lho, Souta-kun bisa menyentuhku kapan saja. Aku tidak akan pernah menolaknya. Ah, tapi kalau aku sedang memasak, sebaiknya kamu tanya dulu, karena berbahaya. Mungkin aku perlu meletakkan pisau atau mematikan kompornya terlebih dahulu.”

“Jadi kamu tidak akan menolak, ya. Tapi, aku merasa bersalah kalau menyentuhmu tanpa izin... aku—“

“Begitukah? Pokoknya, aku takkan pernah menolakmu. Tanyalah padaku kapan pun dengan tenang, ya.”

Nagi hampir saja mengendalikan ritmeku lagi, namun aku berhasil beralih. Saat menyentuh pipinya, kulitnya terasa sangat kenyal, halus, dan menyenangkan untuk disentuh. Rasanya aku ingin menyentuhnya selamanya.

“...Aku harus bilang lagi kalau kamu luar biasa, Nagi.”

“...? Apanya yang luar biasa?”

“Pertama-tama, soal perawatan kulitmu itu. Menggunakan toner, pelembap, dan semacamnya. Kamu benar-benar meluangkan begitu banyak waktu setiap hari untuk itu, dan itu benar-benar luar biasa.”

“Terima kasih. Tapi, karena itu sudah jadi kebiasaanku setiap hari, jadinya tidak terlalu seberat itu kok.”

“Bisa melanjutkannya sampai menjadi kebiasaan harian, itu luar biasa lho. Sungguh.”

Dia tidak hanya merawat kulitnya setiap hari setelah mandi... melainkan banyak hal.

“Kau juga mengikuti berbagai macam kursus, tapi tetap melanjutkan rutinitasmu. Kalau aku yang menjalaninya, pasti aku sudah kelelahan dan langsung tidur begitu sampai di rumah.”

“Itu juga masalah kebiasaan. Di awal-awal memang terasa berat, tapi sekarang sudah menjadi bagian dari rutinitasku. Meskipun, belakangan ini aku sedikit mengurangi kursusnya.”

“Tapi tetap saja luar biasa. Oh ya, bahkan bisa mengembalikan intensitas kursus setelah sempat menguranginya, itu luar biasa juga.”

“Fufu, ada apa denganmu ini? Tiba-tiba saja kamu memujiku banyak sekali. Senang sih, tapi agak sedikit geli.”

Nagi tertawa lalu mengusapkan pipinya di telapak tanganku.

“Aku menyadari lagi betapa luar biasanya Nagi, jadi aku berpikir ingin lebih banyak memujimu. Karena menurutku, Nagi pantas mendapatkannya.”

“...Bisa saja suamiku ini berkata manis.”

Pipi Nagi memerah. Lalu ia mengulurkan tangannya dan mengusap pipiku sama seperti apa yang kulakukan padanya.

“Aku juga berpikir bahwa Souta-kun itu hebat. Padahal lingkunganmu tiba-tiba berubah secara drastis, tapi kamu sama sekali tidak pernah mengeluh... sebaliknya, kamu justru memperhatikanku seperti ini. Kamu adalah suami kebanggaanku.”

Mata birunya menatapku lurus. Akhirnya, tangan yang mengusap pipiku berpindah ke kepalaku dengan niat membelainya...

“Padahal hari ini aku yang ingin memanjakanmu, lho.”

“Fufu, benar juga ya. Kalau begitu, aku akan bermanja-manja padamu.”

Nagi seketika melepaskan tangannya. Sama seperti yang ia katakan, seolah-olah ia sedang bermanja kepadaku, ia langsung menempelkan tubuhnya dan bersandar padaku.

“Belai kepalaku.”

“...Ya.”

Sambil berusaha menahan rasa geli mendengarkan perkataannya, aku meletakkan tanganku di atas rambut putihnya yang seputih salju. Rambut seputih salju segar yang begitu halus dan nyaman disentuh.

Lalu, ketika tanganku menyentuh kepalanya, raut wajah Nagi langsung melunak. Kalau dia terus menunjukkan wajah seperti ini, aku pasti tak akan bisa berhenti membelai kepalanya.

“Ehehe.”

Sambil tersenyum riang, Nagi mengusap-usapkan wajahnya di dadaku. Sungguh... betapa manisnya dia, sampai-sampai rasanya aku ingin menghela napas saking gemasnya.

“Selalu terima kasih untuk hidangannya yang lezat, Nagi.”

“Sama-sama. ...Apakah rasanya benar-benar lezat?”

“Sangat. Semuanya sangat lezat, selalu.”

“Fufu, aku sudah tahu kok. Karena kamu selalu melahapnya dengan begitu nikmat.”

Kata-katanya yang ceria terdengar seperti belaian di telingaku. Aku seharusnya memanjakannya, namun aku sendirilah yang lebih banyak merasakan kebahagiaan ini.

Saat aku membelai rambutnya seperti menyisirnya, rambut itu menjuntai di jari-jemariku tanpa kusut sedikit pun. Jika bukan karena usahanya, mustahil rambut ini bisa sehalus ini.

“Sepertinya kamu bersenang-senang.”

“Ya. Lebih dari sekadar bersenang-senang, ini sangat membahagiakan.”

Aku menundukkan wajahku, dan wajah Nagi ada di depan mataku. Hanya dengan melihatnya saja senyumku langsung merekah. Begitu cantik dan manis, sangat aku cintai.

“Sekarang aku sudah mengetahui usaha diam-diam yang selama ini kau lakukan. ...Yah, aku yakin masih ada lebih banyak lagi, tapi aku jadi sedikit lebih paham dari sebelumnya. Itulah yang membuatku sangat bahagia.”

Sebelumnya, aku selalu ingin tahu lebih banyak tentang Nagi. Dan berkat waktu yang kami habiskan bersama, aku jadi bisa belajar banyak. Aku yakin ke depannya aku akan tahu lebih banyak lagi.

Nagi langsung membenamkan wajahnya, lalu tertawa kecil.

“Aku juga, Souta-kun.”

Kini gilirannya menyentuh pipiku.

“Sejak kita tinggal bersama, aku jadi bisa lebih banyak mengenal Souta-kun. Dan lagi, aku juga bisa memperkenalkanmu kepada guru. Aku sangat bahagia.”

“...Oh, begitu ya.”

Setelah memperbaiki rambut yang sedikit berantakan karena belaianku, aku kembali menegakkan tubuhku.

“...Nah, mari kita lanjut ke hal selanjutnya.”

“Hal selanjutnya?”

“Ya, hal selanjutnya.”

Sofa yang sedang kududuki bersama Nagi saat ini cukup besar untuk kami berdua berbaring. ...Oke.

Aku mengulurkan tangan, mengambil pembersih telinga dari kotak kecil di atas meja.

“Sini, Nagi.”

“...! Pembersih telinga!”

Dengan raut wajah penuh kegembiraan, Nagi membaringkan kepalanya di pangkuanku. ...Dan tanpa ragu, ia menghadap ke arah perutku.

“Ehehe. Sudah lama aku tidak berbantalkan paha Souta-kun.”

“Soalnya akhir-akhir ini aku terus yang bermanja-manja padamu. Waktu di rumah orang tuaku juga aku yang berbantalkan pahamu. Bukannya agak tidak nyaman tidur menghadap ke situ?”

“Aroma Souta-kun sangat kuat di sini, jadi rasanya aku bisa tidur dengan nyenyak.”

Melihatnya membenamkan wajah di perutku membuatku merasa sedikit malu, namun melihat Nagi yang terlihat begitu bahagia, kuputuskan untuk membiarkannya dan mengelus kepalanya pelan.

“Kalau terasa sakit atau geli, bilang ya.”

“Baiiik.”

Melihat Nagi menjawab dengan riang, aku tersenyum sambil membetulkan genggamanku pada pembersih telinga agar tak melkainya secara tak sengaja.

“Baiklah, aku mulai ya.”

Sejujurnya... ini pertama kalinya aku membersihkan telinga orang lain. Aku sedikit gugup.

“Hn, fufu. Agak geli.”

“Maaf, tahan sebentar ya. Aku akan segera terbiasa.”

Mungkin karena gugup, aku memberikan tekanan yang agak terlalu kuat. Jika aku tidak rileks, Nagi juga tidak akan bisa rileks. ...Meski aku ingin melihat Nagi sedikit lebih lama dalam keadaan geli, aku harus membersihkannya dengan benar.

Namun, setelah melanjutkannya, ternyata aku bisa terbiasa dengan cukup cepat. Melihat Nagi memejamkan matanya dengan nyaman membuatku merasa lega.

Telinganya sangat bersih sehingga prosesnya cepat selesai, dan terakhir aku menggunakan kapas di ujung pembersih telinga untuk menyelesaikannya──

“Henyun!”

“............Maaf. Seharusnya aku memberitahumu dulu.”

“S-Souta-kun. Aku hampir tertawa, lho. Kamu usil.”

“Maaf, maaf. Habisnya kamu lucu, sih.”

Mendengar suara yang tak terduga itu, aku tanpa sadar tertawa, lalu mengelus kepalanya sebagai tanda permintaan maaf.

“Nagi, giliran telinga sebelahnya, ya.”

“Muu... Lain kali beritahu aku dulu, ya.”

“Iya, kali ini aku akan beritahu. Maaf, ya.”

Nagi berbalik arah. Meski menghadap ke arah berlawanan, ia sedikit menggeliat dan mendekatkan tubuhnya padaku. Bagian belakang kepalanya kini menempel di perutku. Padahal senyumku sudah mengembang, tapi rasanya senyumku akan semakin lebar melihat tingkahnya.

“Nn... enak rasanya.”

“Syukurlah.”

Saat aku membersihkan telinganya, perlahan mata Nagi mulai sayu. Ia menunjukkan raut wajah mengantuk.

“Kalau mengantuk, kamu boleh tidur, kok.”

“Nn... belum, tidak mau.”

“Begitu, ya. Aku mengerti.”

Meskipun mata Nagi terlihat mengantuk, masih ada sedikit binar kesadaran di sana. Jawabannya terdengar kekanak-kanakan, tapi kalau aku menggoda lebih lanjut, ia mungkin tidak akan membiarkanku melakukannya lagi, jadi kuputuskan untuk diam.

Apa pun itu, karena ia secara jelas menyatakan bahwa ia tidak ingin tidur, tidak baik jika aku terus membuatnya mengantuk... Aku menarik kembali tanganku yang hendak membelai kepalanya.

Sampai proses pembersihan selesai, Nagi berhasil mempertahankan kesadarannya meskipun terlihat sangat mengantuk.

“Nagi, aku akan Pakai kapasnya, ya. Mungkin akan sedikit geli.”

“Iya. ...Nnyuk.”

Mendengar suara lucunya membuatku tersenyum. Setelah selesai, aku pun merapikan pembersih telinga.

Kemudian, dengan raut wajah sedikit linglung, Nagi merentangkan kedua tangannya.

“Mau ke kasur?”

“Tolong, ya.”

“Mengerti. Pegangan yang erat, ya. Aku akan berusaha agar kamu tidak terjatuh.”

“Iya...”

Ini... aku harus menggendongnya dengan benar.

Aku menyelipkan lenganku di bawah lutut dan punggungnya yang sedang berbaring di sofa──lalu mengangkatnya.

“Apakah aku tidak berat?”

“Tidak berat, kok. Sama sekali tidak, malah terasa sangat ringan.”

“Syukurlah... Berarti kalau aku tumbuh semakin besar pun, tidak apa-apa ya.”

“...? Begitulah. Masih tidak masalah, kok.”

Meskipun tumben Nagi mengatakan hal seperti itu, mengingat nafsu makannya, hal itu tidak akan menjadi masalah. Karena proporsi tubuh Nagi bagus, mungkin tingginya masih akan bertambah, jadi aku juga harus terus melatih tubuhku.

“Kita ke kamar, ya.”

“Fyaai.”

Sambil memicingkan mata dan kembali menutupnya dengan raut wajah linglung, kami melangkah menuju kamar tidur.

◆◆◆

“Ehe... Peluk.”

“Ya, peluk.”

Di atas tempat tidur. Hari ini Nagi membaringkan kepalanya di dadaku, memelukku dengan erat... ya, tidak seerat itu sih, tapi ia tetap memelukku.

“Aku sangat suka suara detak jantung Souta-kun.”

“Dengarkanlah sepuasmu. Kalau Nagi menyukainya.”

“Kalau begitu, aku akan mendengarkannya teeeerus. Mulai sekarang dan selamanya, aku akan mendengarkannya.”

“Iya. Hanya untuk Nagi, kok. Dulu maupun nanti.”

“...Un. Kita akan terus bersama selamanya.”

Mungkin karena mengantuk, sepertinya ia berbicara tanpa berpikir panjang. Ia hanya mengucapkan apa yang ada di dalam benaknya.

“Terima kasih, Nagi. Aku sangat mencintaimu.”

“...Aku juga, sangat mencintaimu. Souta-kun. Aku senang bisa banyak bermanja-manja padamu.”

Gumam Nagi sambil memejamkan mata. Perkataan itu membuat hatiku terasa hangat.

“Aku akan membuat lebih banyak hari-hari seperti ini lagi. ...Selamat malam, Nagi.”

“Selamat, malam. Souta-kun.”

Dengan kata-kata itu sebagai penutup, tak lama terdengar suara napas Nagi yang teratur. Padahal niatku hari ini ingin memanjakannya, tetapi justru aku yang lebih banyak merasa terhibur dan disembuhkan olehnya. Namun, rasa lelah karena Nagi ‘terlalu manis’ dari hari-hari sebelumnya mulai berkurang, jadi bisa dibilang ini adalah sebuah keberhasilan. Rasa cintaku tidak berubah... Ternyata kata ‘cinta’ itu memiliki begitu banyak arah dan bentuk.

Dengan perasaan kasih sayang dan kebahagiaan yang memenuhi dadaku, aku pun ikut terlelap.

◆◆◆

Akhir pekan telah tiba. Karena ada gladi bersih dan berbagai persiapan lain, aku dan Nagi sudah tiba di teater sejak pagi.

Ayah Mertua tidak ada hari ini. Sebagian besar prosedur dan jadwal sudah Nagi pahami, jadi untuk awalnya aku akan belajar dari Nagi.

Sambil menyapa banyak orang dan bertukar kartu nama... Aku berusaha keras mengingat wajah dan nama mereka dalam otakku, karena kami pasti akan sering bertemu di kemudian hari. Saat aku sedang sibuk menghafal, sesuatu terjadi.

“...Ah.”

“Nagi?”

“Orang yang di sebelah sana itu adalah Minamikawa Uka-san.”

Sesuai dengan apa yang Nagi katakan, kulihat ia dan rombongannya berada di depan ruang ganti.

Seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang menjuntai di punggung. Aura yang terpancar darinya sangat elegan... Hanya dengan melihatnya sekilas, kata ‘Nona Muda’ langsung terlintas di pikiranku.

Lalu, di sebelahnya ada seorang anak laki-laki. Jarak kedekatan mereka sekilas menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang baik. Usia mereka sepertinya berdekatan, dan wajah keduanya terlihat memiliki kemiripan.

“Apakah kamu tahu siapa anak laki-laki di sebelahnya?”

“Kemungkinan besar dia adalah Minamikawa Seiya-san. Kalau tidak salah, dia adalah kakak kembar Uka-san.”

“Begitu, anak kembar.”

Sepertinya itu hal yang cukup jarang. Setidaknya, belum ada anak kembar di sekitarku selama ini.

“Bagaimana kalau kita sapa...”

Namun sebelum kalimatku selesai, terdengar sebuah suara.

“Ah!”

Suara itu bukan dari Nagi, melainkan──Minamikawa Uka-san.

Aku sempat tertegun oleh situasi yang tiba-tiba ini, namun punggungku langsung tegak saat gadis itu mendekat.

“Lama tidak berjumpa, Nona Shinonome Nagi. Saya Minamikawa Uka.”

“L-lama tidak berjumpa. Saya Shinonome Nagi. Tidak usah terlalu formal, Uka-san.”

Nagi membalas dengan ramah pada Uka-san yang membungkuk hormat, kemudian seorang anak laki-laki berlari tergesa-gesa menyusul dari arah belakangnya.

“Uka!”

“Ini adalah kakak saya, Minamikawa Seiya. Onii-sama, memberi salam adalah dasar dari komunikasi, lho.”

“Uka, ingat apa yang dikatakan Haruto-niisama.. sudahlah. Namaku Minamikawa Seiya.”

Berbeda dengan Minamikawa Uka-san yang memiliki aura lembut, Minamikawa Seiya-san terlihat sedikit memberikan tekanan. ...Ah tidak, tekanan ini sepertinya tertuju padaku.

“Kita baru pertama kali bertemu ya, Seiya-san. Ini adalah tunangan saya, Minori Souta.”

“Salam kenal. Nama saya Minori Souta.”


Saat memberikan salam, reaksi keduanya saling bertolak belakang. Seiya-san menatapku dengan sorot mata yang semakin tajam. Aku sudah tahu dari Nagi kalau orang cantik yang sedang marah itu menakutkan... ternyata hal itu juga berlaku untuk laki-laki.

Di sisi lain, Uka-san──menunjukkan senyuman yang sangat cerah.

“Wah! Jadi Anda adalah Minori Souta-sama! Salam kenal.”

“ Uka!”

“Hanya salam saja tidak apa-apa, kan, Onii-sama. Onii-sama tahu betul kan, seberapa besar keinginanku untuk bertemu dengan Nagi-sama?”

“...Tapi.”

“Tidak ada tapi-tapian. Kalau sikap Kakak terlalu tajam begitu, Kakak hanya akan mencoreng nama Keluarga Minamikawa, lho.”

“Ukh...”

“E-ehm, tidak apa-apa, kok. Saya sadar betul kalau kami juga telah melakukan hal yang pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti itu.”

Sembari memutar otak memikirkan apa yang harus kulakukan, Nagi mendahuluiku mengatakan hal tersebut. ...Apakah ini langkah yang tepat? Kalau aku yang mengatakan hal yang sama, mungkin aku malah akan menyakiti perasaan Nagi.

“Mengenai masalah itu, Keluarga Shinonome sudah secara resmi meminta maaf. Onii-sama, apa pun yang Onii-sama pikirkan adalah hak Onii-sama, tapi menunjukkannya dalam sikap sangatlah kekanak-kanakan.”

“...Hmph. Maaf ya, aku ini memang kekanak-kanakan.”

Minamikawa Seiya-san sepertinya tidak menyukaiku. Dan kelihatannya, yang tidak disukainya bukan Nagi melainkan aku... Mengingat apa yang telah kulakukan, aku tidak bisa bilang kalau sikapnya itu kekanak-kanakan. Apalagi, kalau mereka anak kembar, berarti dia juga masih anak SMP. Meski aku juga sama, tapi dia masih tergolong anak-anak.

Dan lagi, meskipun Uka-san berkata seperti itu secara tersurat, kenyataannya kemungkinan besar ia juga tidak menyukaiku. Meskipun aku tidak begitu yakin bagaimana perasaannya terhadap Nagi.

“Ya ampun, maafkan kelancangan kakakku. Nagi-sama, Souta-sama.”

“T-tidak, kami benar-benar tidak keberatan, kok. Iya kan, Souta-kun.”

“I-iya.”

Kami membalasnya saat Uka-san kembali menundukkan kepala dengan sopan. Setelah itu, Uka-san mendekati Nagi dengan penuh semangat.

“Sebenarnya, jika bertemu dengan Nagi-sama, ada hal yang ingin saya bicarakan──”

“ Uka, kita masih di tengah-tengah memberikan salam, lho.”

“Eeh! Sebentar saja tidak apa-apa, kan! Aku sudah sangat menantikan hari ini, lho!”

“Orang yang bilang ‘mencoreng nama Keluarga Minamikawa’ itu kamu sendiri, lho, Uka. Sudahlah, ayo kita pergi.”

“Muu... Baiklah. Kalau begitu Nagi-sama, mari kita mengobrol nanti, ya. Souta-sama juga, ya!”

“E-eh, ya. Nanti, kan?”

Setelah itu, Uka-san pergi sambil setengah diseret. Dia benar-benar seperti topan.

“Anak-anak yang luar biasa, ya.”

“Iya. Kupikir saat pertama kali kami bertemu, dia tidak seantusias ini.”

Nagi sedikit memiringkan kepalanya, lalu menatapku.

“Souta-kun. Mengenai Minamikawa Seiya-san...”

“Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak memikirkannya. Tapi seperti yang kamu bilang, aku juga sadar kalau aku telah melakukan hal yang pantas untuk diperlakukan seperti itu.”

“Tidak, Souta-kun tidak──Yang salah sepenuhnya adalah kami.”

“Aku rasa tidak sepenuhnya salah kalian. Untuk saat ini, mari kita lanjutkan memberikan salam ke yang lain.”

“...Benar juga.”

Tentu saja aku tidak akan mengatakan kalau semua tanggung jawab ada padaku, tapi membicarakan hal ini akan memakan waktu lama. Membicarakannya di sini juga akan menarik perhatian, jadi kami menghentikan pembicaraan dan melanjutkan memberikan salam... namun, kami tidak punya waktu untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut. Waktu pertunjukan akan segera dimulai.

“Nagi.”

“Jangan khawatir, tidak apa-apa kok. Aku sangat pandai mengalihkan perasaanku.”

Di ruang ganti, kami diberitahu bahwa sudah hampir waktunya untuk berpindah tempat. Mengingat kejadian tadi, aku merasa sedikit cemas, namun tidak ada keraguan di mata Nagi.

“Aku bukan sedang sok kuat, tapi aku merasa cukup tenang sampai-sampai aku sendiri sedikit takut.”

“...Begitu, ya.”

“Iya. Mungkin karena ada Souta-kun di sini. Tubuh dan pikiranku cukup waspada, tapi di saat yang sama aku merasa tenang... Rasanya sama seperti saat aku memeluk Souta-kun, dadaku berdebar-debar tapi aku merasa tenang.”

Ucap Nagi sambil tertawa kecil. Kemudian ia berdiri, dan berputar pelan sambil menatapku.

“Omong-omong, aku belum menanyakannya, bagaimana pakaianku hari ini?”

“Sangat cantik. Sungguh.”

“Syukurlah.”

Penampilan Nagi hari ini, sama seperti saat pertunjukan waktu itu, ia mengenakan kimono dengan rambut disanggul dan dihiasi tusuk konde. Hanya saja, bunga yang tergambar di kimononya berbeda dari waktu itu.

“Ini bunga azalea, ya.”

“Iya, bunga azalea merah. Bunga azalea sendiri punya banyak makna dalam bahasa bunga, tapi makna dari bunga azalea merah adalah ‘Keceriaan Cinta’.”

Nagi tersenyum lembut. Lalu ia melangkah mendekat... dan berhenti tepat di depanku.

“...Tadinya aku ingin memeluk atau menciummu, tapi sekarang aku tidak bisa, ya. Seharusnya aku melakukannya sebelum memakai riasan tadi.”

“Bisa gawat kalau kimonomu jadi kusut atau lipstikmu luntur. Nanti saja... Ah, benar juga.”

Sayang sekali kami tidak bisa berciuman atau berpelukan saat ini, namun ada hal lain yang bisa kami lakukan.

“Nagi, ulurkan tanganmu.”

“Iya!”

Mungkin ia langsung menyadarinya karena Nagi langsung mengulurkan kedua tangannya. Aku menyatukan telapak tanganku pada kedua tangannya, dan menggenggamnya seakan-akan menyelimutinya. Tangannya tidak bisa dibilang dingin, tapi suhu tubuhku terasa lebih hangat dari tangannya.

“Meski tempat duduknya berbeda dari sebelumnya, aku akan memperhatikanmu dengan saksama. Aku sangat menantikannya.”

“...! Fufu. Souta-kun tahu betul bagaimana cara membuatku bersemangat, ya.”

Nagi melepaskan tangannya sejenak, lalu kali ini dialah yang menggenggam tanganku seakan-akan menyelimutinya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Sepertinya sudah waktunya untuk tampil. Ayo kita pergi, Souta-kun.”

“Ya, ayo.”

Aku menggenggam tangan Nagi dan kami berjalan menuju sayap panggung bersama. Kukira ia akan melepaskan tangannya di tengah jalan, namun tangan kami tak kunjung terlepas bahkan ketika kami sampai di sayap panggung.

Tampaknya pertunjukan kedua dari urutan sebelum Nagi baru saja selesai, karena tepuk tangan menggema di dalam teater. Dan di sayap panggung, terlihat dua sosok yang baru saja kami ajak bicara tadi.

“ Uka-san.”

 Uka-san, yang sama seperti Nagi mengenakan kimono dan riasan lengkap, berada di sana. Rambutnya disanggul dan dihiasi tusuk konde seperti Nagi, dan ia mengenakan kimono berwarna oranye hangat.

Penampilan yang sangat cantik. Nagi sepertinya juga memiliki pemikiran yang sama denganku karena matanya sedikit membelalak kagum.

“Nagi-sama. Meskipun kemampuan saya masih sangat tertinggal hingga saya bahkan belum bisa melihat punggung Anda, saya harap Anda bersedia menyaksikan penampilan saya.”

“Tolong jangan merendahkan diri Anda seperti itu. Reputasi Anda sudah sampai ke telinga saya. Saya juga sempat melihat latihan Anda tadi, dan saya rasa teknik Anda berada di tingkatan yang tidak bisa dicapai hanya dengan usaha yang biasa-biasa saja.”

“Terima kasih atas pujian Anda. Padahal jika dibandingkan dengan Anda, Nagi-sama, penampilan saya seperti bumi dan langit... Nah, cukup sampai di sini saja obrolannya.”

Pengumuman di dalam tempat pertunjukan hampir selesai, dan seiring dengan itu, percakapan kami pun berakhir.

Terakhir, Uka-san menatap Seiya-san.

“Onii-sama, tolong saksikan juga ya, seberapa jauh Uka telah berkembang.”

“Ya, aku akan melihatnya.”

Meskipun singkat, kata-kata Seiya-san memiliki beban yang pasti. Uka-san tampak puas dan tersenyum tipis... lalu melangkah memasuki panggung.

Saat tirai terangkat, seluruh atmosfer ruangan diselimuti oleh auranya.

Suara alat musik perkusi dan seruling, lalu tarian. Berbeda dengan sebelumnya, ini adalah pertama kalinya aku melihatnya dari sisi sayap panggung... Tentu saja, pertunjukan ini ditujukan ke arah penonton. Aku sempat berpikir bahwa dengan pemandangan yang berbeda, akan sulit bagiku untuk bisa meresapinya.

Akan tetapi, aku salah. Penampilan yang luar biasa itu, bahkan mampu memukau kami yang hanya berada di sisi panggung.

Aku tidak mengerti soal teknis secara mendetail. Memang, aku sudah belajar banyak sejak saat itu... tetapi aku tidak akan berbesar hati dengan menganggap bahwa aku sudah memahami segalanya.

Akan tetapi, aku bisa memahaminya. Seperti yang Nagi katakan, teknik itu bukanlah sesuatu yang bisa dikuasai dalam waktu singkat. Itu adalah hasil dari dedikasi dan latihan bertahun-tahun.

Aku menahan napas, dan tanganku hampir berkeringat. Aku baru menyadari bahwa aku masih menggenggam tangan Nagi, dan saat aku mencoba melepaskannya... aku tidak bisa.

Nagi menggenggam tanganku dengan erat, matanya tak berkedip menatap Uka-san. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalihkan pandangannya.

Aku juga hanya menatap Nagi sesaat, lalu kembali memusatkan perhatianku pada Uka-san.

...Benar-benar luar biasa. Begitu indahnya hingga membuatku hampir melupakan fakta bahwa usianya berada di bawahku.

Baik aku maupun Nagi terpukau oleh tarian Uka-san, tak bisa melepaskan pandangan—dan sama seperti waktu itu, tanpa terasa pertunjukan Uka-san telah usai.

Sangat luar biasa. Aku tak menyangka akan begitu terpukau.

“...Luar biasa.”

Mendengar gumaman Nagi dari sampingku, aku tanpa sadar menganggukkan kepala. Benar-benar luar biasa. Hanya kata-kata itu yang bisa terucap.

Sembari meresapi perasaan kagum yang tersisa, Uka-san membungkuk hormat lalu kembali ke sayap panggung. Seluruh tempat pertunjukan dipenuhi oleh gemuruh tepuk tangan.

“...Fuu. Nagi-sama, bagaimana penampilan saya?”

“Sangat, sangat luar biasa. Selanjutnya, saya pastikan untuk menyaksikannya dari kursi penonton.”

“Tentu, dengan senang hati. Saat saya mengadakan pertunjukan lagi nanti, saya akan mengirimkan undangannya. Sekarang, giliran saya untuk memusatkan pandangan pada tarian Anda, Nagi-sama.”

Nagi menganggukkan kepala mantap membalas ucapannya. Kemudian, ia menggenggam tanganku kuat-kuat untuk terakhir kalinya, lalu melepaskannya.

“Tolong perhatikan aku ya, Souta-kun. ...Karena di antara semua orang, akulah yang paling bisa memukaumu.”

“...Iya, aku akan melihatmu.”

Nagi pasti menyadari kalau aku sempat terpana melihat tarian Uka-san. Tapi yah, rasanya tidak ada yang tidak akan terpana setelah melihat pertunjukan seperti itu. Bahkan sekarang pun, tepuk tangan di tempat pertunjukan ini belum juga mereda.

Meskipun begitu, aku sama sekali tidak merasa khawatir pada Nagi.

“Aku sangat menantikannya.”

“Baiklah, aku akan berjuang.”

Tak ada sedikit pun kekhawatiran, yang ada hanyalah ekspektasi yang tinggi. Mata birunya memancarkan cahaya hangat layaknya lautan yang disinari mentari—lalu Nagi melangkah memasuki panggung.

Seketika itu juga, penonton bersorak riuh. Belakangan ini aku hampir lupa, tapi penampilan fisik Nagi memang sedikit mirip dengan orang asing... mungkin orang Eropa atau sejenisnya.

Namun, keriuhan itu segera mereda bersamaan dengan Nagi yang membungkuk hormat. Dan sebelum sempat mengedipkan mata, Nagi telah sepenuhnya menguasai seluruh ruangan.

Sama seperti waktu itu, penampilannya diawali dengan keheningan. Bagaikan aliran air sungai, tariannya mengalir dengan begitu mulus.

──Indah.

Ini adalah kedua kalinya aku menyaksikannya, tetapi kata-kata itu mendominasi seluruh pikiranku.

Merinding merambat di sekujur tubuhku, dan aku enggan berkedip sedetik pun. Detak jantungku yang berdebar kencang bahkan terasa sayup-sayup, karena seluruh kesadaranku sepenuhnya tertuju pada Nagi. Bahkan untuk bernapas pun, aku harus melakukannya secara sadar, seakan hal sekecil itu pun terasa mengganggu.

“──Ah, sungguh indah.”

Secara tak sadar, aku menganggukkan kepala mendengar gumaman dari sampingku itu. Sebelum otakku bisa memproses kata-kata yang masuk ke telingaku.

Ia sangat cantik, anggun... dan juga ada sentuhan keimutan di dalamnya. Keindahan yang kusaksikan pada paruh kedua pertunjukannya waktu itu, kini sudah terpancar sejak awal. Tidak, kali ini auranya jauh lebih memikat dari sebelumnya. Mungkin karena... mengutip kata-kata Ichitake-san, Nagi terus bertumbuh dan berkembang bahkan setelah bakatnya mekar.

Pengetahuanku tentang tarian tradisional Jepang masih setara dengan pemula. Namun, aku merasa bahwa ekspresi dan gerakannya sangat mencerminkan sosok Nagi yang sesungguhnya.

Cantik, imut, dan anggun. Dan di atas segalanya, ia sangat lembut.

──Ah, astaga. Seberapa besar lagi aku harus mencintai Nagi?

Tariannya akhirnya mencapai penghujung... dan saat ia membungkuk hormat, hatiku terasa diremas begitu kuat hingga menyesakkan dada. Aku ingin sekali langsung memeluk Nagi saat ini juga. Akan tetapi, aku harus menahannya.

Sempat tidak ada tepuk tangan di ruang pertunjukan itu... tetapi saat Nagi melangkah kembali, tepuk tangan yang menggelegar dan memekakkan telinga langsung memenuhi seluruh teater.

“Bagaimana menurutmu? Souta-kun.”

“Hanya kata ‘aku sangat mencintaimu’ yang ada di kepalaku sekarang.”

“Bagiku, itu adalah pujian terbaik.”

Karena tak bisa berkata-kata, Nagi pun membalas ucapanku dengan senyuman. Lalu, pandangan mata birunya tertuju ke sampingku... Ah, ternyata Uka-san berdiri di sampingku. Memang benar kalau tempat ini adalah yang paling strategis untuk menonton.

“Apakah Uka-san juga bisa menikmatinya?”

“Ya, tentu saja... Saya sangat menikmatinya sampai-sampai rasanya saya ingin memanggil Anda ‘Onee-sama’.”

“...? Kalau Anda menikmatinya, saya ikut senang.”

Aku sedikit tidak mengerti maksud perkataan Uka-san, tapi aku tahu kalau dia juga sangat menikmati penampilannya, sama sepertiku.

“Benar kan, Onii-sama. Sangat menakjubkan, bukan?”

“...Ya.”

“Meskipun reaksinya begini, sebenarnya Onii-sama sangat jarang memuji orang lain, lho. Walaupun sikap Onii-sama kurang pantas untuk dipuji, tapi sebenarnya dia benar-benar menganggap penampilan Anda sangat luar biasa.”

“Terima kasih banyak.”

Seiya-san yang berdiri di sebelah Uka-san, meskipun tidak menoleh ke arah kami, sepertinya tidak lagi memasang ekspresi kesal seperti tadi.

“Nah, kita tidak bisa terus-terusan mengobrol berdiri di sini. Saya akan kembali ke ruangan untuk berganti pakaian.”

“Ya, aku mengerti.”

Selama Nagi berganti pakaian, apa yang harus kulakukan, ya. Kesan dan pertanyaan yang menjadi tugas bagi para siswa rencananya baru akan diterima beberapa hari lagi...

Baiklah, aku akan menunggu di depan ruang gantinya saja. Aku juga tidak bisa mondar-mandir tanpa tujuan di dalam teater.

“A-anu! Nagi-sama, apakah nanti kita bisa berbicara sebentar...”

“ Uka.”

Panggilan Uka-san kepada Nagi dihentikan oleh Seiya-san. Mendengar teguran itu, Uka-san memonyongkan bibirnya dengan cemberut.

“Muu. Memangnya kenapa, sedikit saja juga tidak apa-apa, kan. Kedua orang tua kita juga bilang tidak keberatan, kok.”

“...Haa. Terserah kamu sajalah. Asal jangan sampai menyusahkan.”

“Kata-kata itu kuberikan balik pada Onii-sama. ...Tapi, karena izinnya sudah keluar, bagaimana Nagi-sama?”

“Tentu, dengan senang hati... boleh kan? Souta-kun.”

“Iya, tidak masalah.”

Aku sudah diberitahu oleh Ayah Mertua bahwa laporannya bisa disampaikan lewat telepon nanti, dan jika tidak ada hal khusus, pesan teks saja sudah cukup. Aku juga tidak punya jadwal lain, jadi seharusnya tidak masalah.

“Kalau begitu, mari kita berbincang setelah saya berganti pakaian dan menyapa beberapa orang lagi.”

“Baik! Saya akan mampir nanti saat waktunya pas!”

Setelah itu, kami berpisah dengan Uka-san dan kembali ke ruang ganti.

◆◆◆

Setelah itu, Nagi berganti pakaian dan berkeliling menyapa beberapa orang... lalu kami mengobrol di ruang ganti Uka-san. Sepertinya kami boleh menggunakan ruang ganti selama sekitar satu jam, karena masih banyak pihak yang belum selesai bersiap untuk pulang.

Pembicaraan itu berkaitan dengan tarian tradisional Jepang, jadi aku mendengarkan percakapan mereka dengan tenang dari dekat. Namun di tengah-tengah percakapan, sebuah pertanyaan melintas di benakku.

“ Uka-san. Sejak tadi aku tidak melihat Seiya-san, apakah terjadi sesuatu?”

Sejak kami mendatangi ruang ganti Uka-san, Seiya-san sama sekali tidak terlihat. Awalnya kupikir dia sedang pergi ke toilet atau semacamnya, tapi dia tidak kunjung kembali... Apakah dia memang tidak mau menampakkan diri di depanku? Tetapi, haruskah ia membiarkan Uka-san bertemu dengan kami sendirian? Batinku dalam hati.

Mendengar pertanyaanku, Uka-san mengernyitkan dahinya seolah baru menyadarinya.

“Tadi dia bilang mau menyusul setelah dari toilet, tapi memang sudah agak lama... jangan-jangan.”

“Apa terjadi sesuatu?”

“Eeto, Onii-sama memiliki indra penunjuk arah yang... unik, ia tipe orang yang bisa tersesat di tempat yang tak terduga.”

“Oh begitu.”

Jadi ada kemungkinan dia tersesat.

“Maafkan saya, Souta-sama. Jika Anda berkenan, maukah Anda pergi ke toilet untuk melihat keadaannya? Jika dia tidak ada di jalan maupun di dalam toilet, tolong beritahu saya.”

“Saya mengerti. Saya akan pergi melihatnya.”

Jika tersesat... itu cukup merepotkan, namun jika terjadi sesuatu padanya, itu akan menjadi masalah besar.

Saat aku berdiri, Nagi menatapku dengan sedikit cemas.

“Souta-kun.”

“Tidak apa-apa. Aku cuma mau memanggilnya, kok.”

“Jika Onii-sama bersikap tidak sopan pada Anda, tolong beritahu saya. Saya akan menceramahinya nanti.”

“...Terima kasih.”

 Uka-san sepertinya juga menyadari apa yang dikhawatirkan Nagi, sehingga ia tersenyum masam setelah mengatakannya.

Aku lalu berpisah dari Nagi dan yang lainnya sejenak untuk pergi mencari Seiya-san. Dari sini, area lobi depan mungkin yang paling dekat.

Sambil berpikir, kalau dia tidak ada, aku akan melihat ke sisi sebaliknya, aku berjalan menuju lobi depan. Di sepanjang jalan, aku berpapasan dengan staf teater dan staf acara, namun sosok Seiya-san tidak terlihat.

Aku terus berjalan sampai ke toilet, tetapi tidak ada siapa pun di dalam.

Apakah dia pergi ke arah yang berlawanan? Pikirku sambil menoleh ke arah lobi depan... dan syukurlah aku melihatnya. Di kursi panjang dekat pintu masuk lobi depan, Seiya-san sedang duduk. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop cokelat besar yang muat untuk kertas ukuran A4.

“Itu dia, Seiya-san.”

“...Minori-sama, ya. Ada urusan denganku?”

“ Uka-san mengkhawatirkanmu. Aku diminta untuk mencarimu karena kamu belum juga kembali.”

“Ah, Uka ya.”

Seiya-san memasang raut wajah muram. Ia kembali memasang ekspresi kesal, tapi itu tidak bisa dihindari.

“Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa. Kalau kamu mau tetap di sana, aku akan memberitahu Uka-san.”

“Tunggu. Aku akan kembali, tapi sebelumnya ada yang harus kuberikan padamu.”

“Hm?”

Ucap Seiya-san, lalu ia menyerahkan amplop cokelat di tangannya kepadaku.

“Ini apa?”

“Kudengar ini adalah kertas kesan dan pesan dari para siswa yang datang menonton hari ini. Tadi diserahkan oleh penyelenggara acara. Kurasa mereka menyerahkannya kepadaku karena tahu Uka sangat mengagumi Shinonome Nagi-sama dan sedang bersamanya sekarang.”

“Hm? Bukannya kertas kesan dan pesan semacam ini akan diberikan beberapa hari lagi?”

“Katanya, para siswa lebih bersemangat dari yang diperkirakan. Beberapa siswa yang ingin segera menyampaikan kesan mereka kepada para penari, menggunakan kertas sisa dan menulisnya layaknya papan pesan bersama. Untungnya, belum ada satu pun penari yang pulang, jadi mereka memberikannya secara bergiliran.”

“Oh, begitu ya. Terima kasih. ...Ternyata cukup banyak, ya.”

Amplop cokelat itu terasa cukup berat untuk sekadar berisi kertas. Saat aku terkejut, Seiya-san pun menjelaskannya.

“Kalau satu orang melakukannya, orang lain akan ikut-ikutan. Kalau satu kelas melakukannya, kelas lain pun juga. Dan entah dari mana asalnya, siswa SMP lain sepertinya juga ikut-ikutan. Jumlahnya mungkin berbeda-beda untuk tiap penari, tapi bagian Uka saja isinya setidaknya ada 20 lembar. Milik Nona Shinonome Nagi pasti jauh lebih banyak.”

“Begitu, ya. ...Terima kasih banyak.”

“Tidak masalah. Aku hanya tidak sampai setega itu untuk tidak memberikannya.”

Karena aku tidak menduganya akan memberitahuku, ucapanku tertahan sesaat. Meski aku tidak disukainya, apakah sebenarnya dia tipe orang yang suka mengurus orang lain?

“Alasanku memanggilmu hanya itu saja.”

“Mengerti. Kalau begitu ayo kita kembali, Seiya-san.”

“...Ya.”

Karena Seiya-san berdiri, aku menganggap ia juga akan kembali dan mengajaknya. Meskipun tidak ada obrolan, kurasa nada bicara dan raut wajahnya sedikit lebih melembut dibandingkan sebelumnya...? Apakah hanya perasaanku saja?

Meskipun merasa penasaran, aku tidak berani menanyakannya. Kalau aku bertanya, mungkin dia akan marah lagi. Aku tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi... tapi jika nanti kami bertemu, aku pasti akan mengetahuinya.

Dengan demikian, pertunjukan pertama sejak aku menjadi asisten Nagi pun telah berakhir.

(TLN: Selain tersiksa dengan gula,aku juga tersiksa dengan bahasa formal ini)

◆◆◆

“Fuu. Akhirnya sampai rumah.”

“Kamu pasti sangat lelah hari ini, Nagi. Benar-benar kerja bagus.”

“Bukan hanya karena pertunjukannya, tapi juga karena bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tidak kulihat... dan tentu saja mengobrol banyak dengan Uka-chan yang hampir baru pertama kali kutemui. Tentu saja, bukannya aku tidak bersenang-senang, sih.”

“Menyenangkan tapi menguras tenaga, hal seperti itu bisa terjadi bersamaan. Tapi syukurlah kalian sepertinya jadi cepat akrab.”

Pertunjukan telah berakhir, dan kami kembali ke rumah. Nagi sepertinya menjadi cukup akrab dengan Uka-san, karena tanpa sadar ia tidak menggunakan panggilan ‘-san’ lagi. ...Entah kenapa Uka-san memanggil Nagi dengan sebutan ‘Nagi-chan-senpai’, tapi karena Nagi sepertinya tidak keberatan, aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

Saat aku membuka pintu dan mempersilakannya masuk, Nagi mengucapkan terima kasih dan melangkah masuk. Kemudian ia memutar tubuhnya setengah putaran, lalu menatapku dengan senyuman yang sama sekali tidak menampakkan rasa lelah.

“Souta-kun, ciuman ‘aku pulang’ dan ‘selamat datang’-nya... Ah, tapi kita baru saja sampai, ya.”

“I-iya. Sebaiknya kita cuci tangan dan berkumur dulu.”

Hari ini kami bertemu banyak orang, entah mengapa aku merasa ragu untuk langsung berciuman.

Bisa gawat kalau ada virus flu yang terbawa masuk. Kami berdua menuju kamar mandi, mencuci tangan dan berkumur.

Lalu, di antara handuk putih dan handuk biru yang tergantung di sana, aku menggunakan handuk biru untuk menyeka mulut dan tanganku. Handuk putih adalah milik Nagi. Demi alasan higienis, kami memang menyiapkannya seperti itu.

Dan tepat setelah Nagi selesai menyeka mulut dan tangannya...

Nagi mengalungkan kedua tangannya di leherku, menarik tubuhku mendekat──lalu menciumku.

Sensasi dingin yang tak biasa kurasakan, namun rasa manis yang bisa membius otakku ini sama sekali tidak berubah.

Bersamaan dengan ciuman itu, ia memelukku erat. Setelah waktu yang terasa lebih lama dari biasanya, ia pun melepaskan tautan bibir kami.

“Mulutmu sudah jadi hangat, ya.”

“Tsk...”

Pelukannya begitu kuat hingga rasanya seperti terdengar suara decitan. Wajah Nagi berada tepat di depanku.

“Kalau begitu, mari kita ulangi. Selamat datang kembali, Souta-kun.”

“...Iya. Aku pulang, Nagi. Dan selamat datang kembali juga untuk Nagi. Kamu sudah berusaha sangat keras hari ini.”

“Fufu. Aku pulang, Souta-kun.”

Dengan memaksakan otakku yang masih mati rasa untuk bekerja, aku menjawab seperti itu, lalu aku pun mengendurkan ketegangan di bahuku.

◆◆◆

“...Fufu. Aku senang. Souta-kun, lihat ini. Di sini ditulis kalau mereka pasti akan datang lagi kalau ada pertunjukan selanjutnya. Bahagia sekali rasanya.”

Setelah makan malam, kami membaca kertas kesan dan pesan dari para siswa yang datang hari ini, yang tadi diserahkan oleh Seiya-san. Omong-omong, karena kupikir Nagi juga kelelahan, untuk makan malam hari ini kami membeli bento dari minimarket berjejaring.

“Di sini dibilang kalau kimonomu sangat cocok denganmu, Nagi. Aku juga ikut senang membacanya.”

Tentu saja kertas-kertas kesan dan pesan ini hanya berisi hal-hal positif... Melihat betapa banyaknya kertas tersebut sungguh membuat kami merasa bahagia.

Saat kami sedang asyik membacanya bersama, mata Nagi tertuju pada satu kertas tertentu.

“Ngomong-ngomong, Souta-kun, apa pertanyaan dari pihak kita yang merupakan tugas dari Papa itu sudah kamu tulis?”

“...Jangan-jangan sudah ada yang menuliskannya di sana?”

“Ada yang menulis, ‘Saya pasti akan melakukan apa yang Anda minta!’”

Kalau dipikir-pikir aku memang belum memberitahunya pada Nagi. Lagipula dia bilang akan menyerahkan sepenuhnya padaku... Apakah tidak masalah kalau kuberitahu?

“Sebenarnya yang aku pikirkan bukanlah pertanyaan, melainkan permintaan. Tulisannya begini: ‘Ini bukan pertanyaan melainkan permintaan, tapi apabila kalian merasa senang telah datang ke pertunjukan ini, ceritakanlah hal itu pada siapa saja, entah pada keluarga atau teman kalian, karena hal itu akan membuka jalan bagi masa depan’.”

“Itu permintaan yang sangat khas dirimu ya, Souta-kun.”

Nagi membelalakkan matanya sesaat, lalu tersenyum. Ia menyentuh kertas itu dengan lembut, lalu menujukan mata birunya padaku.

“Memang, cara itu akan lebih menghubungkan kita pada impian Papa. Dan ternyata itu juga menjadi kekuatan bagi kita seperti ini.”

“Kurasa para siswa menulisnya bukan semata-mata karena permintaan itu, sih.”

“Entahlah, siapa yang tahu. Tapi aku merasa permintaan Souta-kun telah memberikan dorongan pada mereka. Juga itu hanya sekadar dugaanku yang membuatku merasa bahagia, jadi aku akan menganggapnya begitu saja.”

Nagi meletakkan kertas itu, lalu aku pun ikut meletakkan kertasku dengan hati-hati. Saat aku meregangkan tubuh, tulang-tulangku berbunyi. Meski tidak separah Nagi, sepertinya aku juga cukup tegang hari ini.

“Souta-kun sepertinya juga lelah, ya.”

“Ah, tidak. Aku sama sekali tidak apa-apa kok. Nagi pasti jauh lebih lelah.”

“Rasa lelahku dan rasa lelah Souta-kun itu sama lho. Tidak ada perbandingan siapa yang lebih lelah. Souta-kun pasti punya rasa lelah sendiri. Kamu kan menyapa banyak orang yang baru pertama kali kamu temui lebih banyak dari yang kulakukan.”

“...Memang benar, sih.”

Mendengar ucapan Nagi, aku menganggukkan kepala. Ini bukan sesuatu yang bisa dibandingkan satu sama lain.

“Iya, jadi intinya kamu juga sudah bekerja keras hari ini, Souta-kun.”

Nagi tersenyum dengan senyuman yang teramat manis. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membelai kepalaku. Meskipun sedikit geli, sentuhan tangannya terasa hangat. Sangat nyaman, membuatku memejamkan mata.

Tiba-tiba──ada sesuatu yang sangat lembut menyentuh keningku.

Saat aku membuka mata, wajah Nagi sudah berada tepat di hadapanku.

“Souta-kun silakan mandi lebih dulu.”

“Hm? Tidak, kamu pasti kelelahan juga, sebaiknya kamu duluan──”

“Tidak, kamu duluan, Souta-kun. Ini bukan soal siapa yang lebih lelah. Sepertinya kamu tidak sadar kalau kamu sebenarnya jauh lebih lelah dari yang kamu kira.”

Suaranya terdengar lembut, tapi menyiratkan kemauan keras yang tak akan mengalah.

“Lagi pula, aku akan langsung mandi setelah kamu selesai. Jadi, jangan cemaskan aku.”

“...Kalau aku bilang tidak usah mencemaskanku, bagaimana?”

Untuk jaga-jaga. Saat aku mencoba mengatakan itu untuk berjaga-jaga, Nagi malah tertawa kecil.

Wajahnya semakin mendekat──berbisik di telingaku.

“Aku akan menyeret Souta-kun ke kamar mandi... dan berubah menjadi gadis nakal yang ikut mandi bersama.”

Sesaat, rasanya jantungku berhenti berdetak.

“Mengerti, kan? Souta-kun.”

Ia sedikit menjauhkan wajahnya dan tersenyum usil.

“Atau, kamu lebih suka aku berubah menjadi gadis nakal? Kalau iya, aku akan langsung menyeretmu sekarang.”

“──Tsk, a-aku akan mandi dengan patuh.”

“Fufu, baguslah kalau begitu.”

Wajahnya memperlihatkan campuran setengah menggoda, setengah... artinya, setengahnya lagi ia mungkin serius. Tidak, Nagi yang sekarang mungkin benar-benar akan melakukannya dengan senyuman di wajahnya. Itu akan sangat berbahaya.

“K-kalau begitu, aku akan bersiap untuk mandi.”

“Ya, selamat mandi. Berendam santai ya. Tapi awas jangan sampai ketiduran lho.”

Peringatannya yang penuh kekhawatiran itu membuatku tertawa masam.

“Aku tidak apa-apa kok. Terima kasih ya, Nagi.”

“Sama-sama. Terima kasih kembali!”

Nagi menerima rasa terima kasihku lalu kembali membaca lembar kesan pesan para penonton, sedangkan aku segera menyiapkan diri untuk mandi.

◆◆◆

“Haa...”

Saat kurendamkan diri di dalam bak mandi yang penuh air hangat, tanpa sadar aku mengembuskan napas panjang. Sangat nyaman.

Perlahan-lahan seluruh tubuhku terasa hangat, dan lelahku mulai menguap. Wangi floral dari sabun mandinya juga menenangkan.

Bak mandinya cukup luas, sepertinya masih ada sisa ruang meskipun dua orang berendam bersama. Tapi tentu saja, aku mandi sendirian.

Aku meregangkan kakiku sepenuhnya, merasakan kehangatan di seluruh tubuhku.

──Ah, nyamannya.

Seperti kata Nagi, ternyata rasa lelahku lebih menumpuk dari yang kubayangkan. Tubuhku yang sempat menegang karena gugup kini mengendur, bahkan hatiku terasa seakan telah dipijat perlahan, membuatnya lebih rileks.

“...Hwaah.”

Aku refleks menguap. Gawat, ini terlalu nyaman.

Aku duduk dan meregangkan badan, membuat beberapa sendiku bergemeretak. Ini mungkin karena akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu dengan duduk.

“Haa...”

Sekali lagi, aku menghela napas.

Seperti yang pernah kubicarakan dengan Nagi, meluangkan waktu sendirian itu penting. Tentu saja ada keinginan untuk terus bersama Nagi, tapi waktu sendirian adalah momen yang berharga dengan sendirinya.

Hanya saja, karena mengantuk, otakku seakan berhenti bekerja.

“...Ah, bahaya. Harus hati-hati jangan sampai ketiduran.”

Kamar mandi juga merupakan tempat berharga untuk menghabiskan waktu sendiri, tapi juga bukan tempat di mana seseorang bisa diasingkan sepenuhnya.

“Souta-kun.”

“...Nagi?”

Mendengar namaku dipanggil. Kukira aku salah dengar, tapi aku memanggil namanya sambil menoleh ke arah pintu kamar mandi. Lewat kaca buram, aku bisa melihat siluet bayangannya.

“Ada apa?”

“Maaf karena mengganggu waktu santaimu. ...Hanya saja, Souta-kun kelihatannya sangat lelah tadi, jadi aku sedikit cemas.”

“Oh, begitu ya.”

Ia pasti khawatir aku akan ketiduran.

“Terima kasih sudah memeriksaku. Aku memang sedikit mengantuk tadi. Bisa temani aku mengobrol lima menit?”

“Iya, tentu saja.”

Perhatiannya itu sangat membantuku tanpa perlu merasa sungkan. Kalau dibiarkan, mungkin aku benar-benar akan kalah oleh rasa kantuk.

“Lalu, bagaimana ya. Kita mau ngobrol apa?”

“Kira-kira apa ya... Oh iya. Novel yang waktu itu direkomendasikan Nagi, aku sudah membacanya. Mau bahas bareng?”

“...! Ternyata kamu membacanya!”

“Meski agak butuh waktu, sih.”

Akhir-akhir ini, aku banyak menghabiskan waktu bersama Nagi dan belajar banyak hal... tetapi di sela-selanya, aku juga punya waktu untuk diriku sendiri.

“Kalau begitu! Siapa karakter favorit Souta-kun?! Kalau aku, suka adiknya tokoh utama...!”

“Ya, adegan terakhirnya bagus banget, kan. Aku juga suka adiknya. Terus, aku juga suka sama gurunya.”

“...! Aku mengerti itu!”

Suara antusias Nagi dari balik pintu membuat senyumku mengembang.

Kami pun asyik mengobrol, dan saking asyiknya, aku hampir saja pusing karena terlalu lama berendam di air hangat.

◆◆◆

“...E-eeto. Nagi?”

“Iya, ada apa?”

Setelah aku mandi, Nagi juga bergantian masuk ke kamar mandi. Sekarang, aku terpojok di atas kasur.

“Itu... Agak sedikit memalukan sih. Lebih tepatnya, bukankah seharusnya aku yang melakukannya.”

“Dulu, aku sudah banyak dimanjakan. Lagipula, aku juga suka bermanja-manja dan memanjakan lho. Kali ini, giliran Souta-kun.”

Saat aku menggaruk pipi dan mengalihkan pandangan, tangan lembutnya menggenggam tanganku.

“Atau, kamu lebih suka kalau aku sedikit memaksamu, Souta-kun?”

Nagi benar-benar licik, pikirku. Kalau dia bilang begitu──aku jadi tidak bisa menolak.

“...Bukan begitu.”

“Fufu. Kalau begitu, kemarilah, Souta-kun. Malam ini giliranmu.”

Dengan senyum hangatnya, Nagi merentangkan kedua tangannya menyambutku.

“Karena Souta-kun sudah bekerja keras hari ini, aku akan memanjakanmu sepuasnya.”


...Aku tidak bisa melawan Nagi.

Dengan patuh, aku membiarkan diriku dipeluk olehnya. Berbeda dari biasanya... kali ini aku berada di posisi dipeluk di dadanya.

Suara detak jantung yang bergema lembut di kepalaku. Sambil mendengarkannya, aku menutup mata.

“Sekali lagi, kerja bagus untuk hari ini.”

“...Iya. Kamu juga.”

Meskipun wajahku memanas, suara detak jantungnya entah bagaimana menenangkan hatiku. Lalu ia mengelus kepalaku.

“Dan, maafkan aku untuk hari ini.”

“...Soal Seiya-san?”

“Iya. Alasan dia tidak menyukaimu, itu karena aku──”

“Nagi, jangan memikul semuanya sendirian. Nanti kamu dimarahi oleh Ayah Mertua, lho. ...Tidak, aku yang akan memarahimu.”

Aku mengangkat wajahku dan menatap matanya. Mata birunya bergetar layaknya riak air.

“Kejadian itu terbentuk dari berbagai benang yang saling terjalin rumit. Dan aku juga salah satu dari benang itu. ...Aku malah akan sedih kalau dibilang tidak terlibat.”

“Itu... aku tidak akan pernah mengatakannya sampai mulut ini robek. Menyangkal keterlibatanmu sama saja dengan mengatakan bahwa Souta-kun tidak ada dalam hidupku.”

Mendengar jawabannya, aku merasa lega. Kalau dia benar-benar bilang aku tidak terlibat, aku pasti akan sangat sedih. ...Meski aku bisa berkata begitu karena aku yakin dia takkan pernah mengucapkannya.

“Kalau begitu, bisa dibilang aku juga punya andil tanggung jawab di dalamnya.”

“Tapi, yang membuat benang ini saling terkait itu aku, dan keluargaku.”

“Kalau begitu, aku ingin kamu memasukkanku ke dalam keluarga itu juga.”

“...Ah.”

Getaran di matanya semakin kuat. Tak lama, air mata menggenang di sudut matanya, lalu ia menyekanya dengan jari.

“Aku mengerti kalau Nagi tidak ingin aku terluka. Tapi aku juga punya perasaan yang sama. Sebisa mungkin aku tidak ingin Nagi terluka, dan kalaupun harus terluka, aku ingin memikulnya bersamamu. Secara hukum kita memang belum berkeluarga, tapi sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, kan.”

Saat Nagi hendak menggigit bibir bawahnya, aku menyelipkan jari telunjukku untuk menghentikannya.

“Jangan menyakiti dirimu sendiri, Nagi. Kalau terluka, kita harus bersama-sama.”

“...Aku tidak pernah menyangka akan membenci masa laluku dengan cara seperti ini.”

Nagi mempererat pelukannya. Mengikuti kekuatan pelukannya, detak jantungnya juga semakin cepat, dan aku pun balas memeluknya seerat yang kubisa.

“Masa lalu takkan pernah kembali sekeras apa pun kita menyesalinya. ...Kalau begitu, yang bisa kulakukan sekarang adalah bertindak untuk masa depan. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.”

“Sebenarnya aku ingin bilang ‘Tidak ada manusia yang tidak pernah gagal’... tapi selama Nagi berpikir seperti itu, kurasa semuanya akan baik-baik saja. Kan ada aku, Ayah Mertua, Eiji dan kawan-kawan, juga Ayahku.”

Seharusnya aku dan Nagi akan baik-baik saja. Tentu saja, kami tidak boleh menjadi lengah.

Setelah mengatakan hal itu, aku tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi.

Ada perasaan yang janggal. Pada kata-kataku sendiri, dan juga pemikiranku. Entah mengapa rasanya sangat ringan... tapi, perasaan ini seharusnya adalah perasaanku yang sebenarnya.

“Benar juga. Mulai sekarang aku akan berusaha. Agar kamu dan aku, bisa selalu tersenyum.”

“...”

Aku tidak tahu harus membalas senyuman Nagi dengan kata-kata apa, jadi aku memilih diam.

Padahal masalah hari ini seharusnya sudah selesai──tapi ada sesuatu yang mengganjal.

◆◆◆

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

“...Kadang kamu menyeramkan, tahu. Kenapa kamu bisa sadar?”

“Begini-begini aku peka lho terhadap perubahan teman dekatku. Yah, meskipun ada alasan kenapa aku terpaksa harus peka.”

Di sekolah. Saat aku sedang asyik berpikir sambil menunggu kedatangan Eiji, tiba-tiba Eiji yang baru saja tiba menyapaku dengan kalimat seperti itu. Meskipun kata-kata terakhirnya membuatku sedikit penasaran, Eiji kembali melanjutkan perkataannya.

“Yah, jangan pedulikan aku. Jadi, ada apa? Coba ceritakan pada sahabatmu ini.”

“...Bukan berarti ‘ada apa’, sih. Aku juga tidak terlalu mengerti.”

“Kalau begitu, ceritakan saja semuanya dari awal sampai akhir. Mungkin kamu bisa menyadarinya sendiri selagi bercerita.”

Mendengar ucapan Eiji, aku bimbang. Ini bukan hal yang bisa diceritakan dengan santai... Tidak, justru karena ini bukan hal yang sepele, ia tipe orang yang akan menyuruhku bercerita.

Setelah sedikit ragu, akhirnya aku menceritakan semuanya dengan jujur.

Tentang kami yang menghadiri pertunjukan tari dan bertemu dengan Keluarga Minamikawa. Salah satu dari mereka jelas-jelas tidak menyukaiku. Mengetahui hal itu, Nagi justru merasa lebih terluka daripada aku... Meskipun kami langsung membicarakannya hari itu juga dan menganggapnya selesai, ada perasaan janggal yang tertinggal.

“Rasanya aneh. Padahal apa yang kuucapkan itu dari lubuk hatiku, tapi rasanya sangat ringan... seperti bukan kata-kataku sendiri.”

“...”

“Yah, wajar kalau kamu juga bingung tiba-tiba diceritakan hal seperti ini. Aku sendiri juga bingung. Rasanya seperti ada sesuatu yang terlewatkan.”

“...”

Tumben sekali Eiji hanya diam. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu... tapi berbeda dari biasanya. Bukannya berpikir, ia malah terlihat seperti sedang gundah.

“...”

“Eiji? Kamu nggak apa-apa?”

Karena kesunyiannya terlalu lama, aku tanpa sadar menegurnya. Eiji menatapku sambil mengerutkan kening.

“Orang dari Keluarga Minamikawa itu... Minamikawa Seiya, kan. Kira-kira ke depannya kalian akan bertemu lagi?”

Tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan seperti itu.

“Untuk saat ini sih tidak ada rencana begitu... Tapi karena Nagi sepertinya masih ada jadwal pertunjukan dan wawancara, kemungkinan bertemunya lumayan besar.”

“...Begitu ya.”

Jawabannya kali ini juga terdengar lemah. Eiji kembali menunduk seolah memikirkan sesuatu... lalu kali ini ia menatapku lebih dulu sebelum aku sempat memanggilnya.

“Maaf. Kalau soal ini, aku tidak bisa kasih saran.”

“...Maksudnya?”

Nada bicaranya terdengar seperti ia menyadari sesuatu, jadi meskipun ia bilang tak bisa memberiku saran, aku secara refleks bertanya balik.

“Aku nggak bisa kasih saran, tapi... Sial.”

“...Ada apa sebenarnya, Eiji?”

Tumben sekali dia mengumpat. Dia terlihat seperti sedang cemas, atau mungkin marah.

“Nggak apa-apa. ...Souta.”

Eiji berdiri dari kursinya dan menghela napas panjang. Melihatnya menunjukkan emosinya secara terang-terangan seperti ini... itu terakhir kalinya terjadi pada hari itu.

“Pada akhirnya nanti kamu juga bakal tahu apa yang mengganjal itu. ...Secara pribadi aku berharap kamu tidak menyadarinya, sih. Tapi kalau kamu, kurasa kamu pasti bakal sadar.”

“...”

Aku tidak begitu mengerti maksud perkataannya. Meskipun tidak mengerti, intuisiku mengatakan bahwa aku harus mendengarkannya.

“Pilihan apa pun yang kamu ambil saat itu, aku bakal terima semuanya. Ingat itu baik-baik.”

“...Pilihan apa maksudmu. E-Eiji, kamu mau ke mana?”

“maaf, aku agak tidak enak badan, mau ke UKS. Tolong bilangin ke guru. ...Mungkin aku bakal pulang cepet.”

Pulang cepat? Eiji yang nggak pernah telat atau bolos?

Tapi memang benar ia terlihat tidak enak badan... atau lebih tepatnya ada yang aneh dengannya.

Dari tatapannya, ia mengisyaratkan agar aku tidak mengejarnya, dan aku hanya bisa terpaku di kursiku tanpa bisa bergerak.

◆◇◆

Satu jam kemudian, di Kediaman Makisaka.

“Dasar bodoh. Si Tolol yang bodoh.”

Di cermin terpantul bayangan wajahku sendiri.

Sebenarnya aku nggak pengen menghina wajahku sendiri... tapi untuk saat ini, cuma itu yang bisa kukatakan.

“Apanya yang sahabat. Apanya yang keputusan terbaik. ...Yang bikin Souta narik pelatuknya kan aku, heh. Punya muka dari mana aku berbicara seperti itu.”

Pada akhirnya, aku cuma si bodoh yang mikirin diriku sendiri dan hal-hal di depan mataku doang.

“Emangnya nggak ada cara lain? Pasti ada kan. Aku bisa lebih banyak bertindak sebelum kejadian itu. Itu bukan opsi kedua terbaik, tapi murni sebuah kebodohan kan.”

Kutarik kembali memori dari sudut kepalaku. Ingatan di hari Souta menembaknya, hari di mana aku tak bisa menghubunginya lalu menyuruhnya pergi ke rumah cewek itu.

“Apa maksudmu semuanya udah tamat saat itu... Mau sekeras apa pun berusaha, dia emangnya harus terluka?!”

Pandanganku kabur dan bayangan di cermin pun mengabur.

“Sialan. Jangan bercanda... Dasar aku.”

Kakiku lemas, lalu aku terduduk lemas di depan wastafel kamar mandi.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara pintu masuk dibuka.

◆◇◆

“Kirika. ...Eiji di mana?”

’Nggak apa-apa! Karena ada aku di sini, jadi nggak ada masalah!’

Setelah kejadian pagi tadi, Eiji terlihat sangat aneh, jadi aku menghubungi Kirika.

Kirika pun langsung bolos sekolah dan pergi ke rumah Eiji... Di pertengahan jam pelajaran pertama, ia mengirim pesan berbunyi, ’Sudah ketemu Eiji!’. Sempat terpikir olehku untuk membolos kelas dan meneleponnya, tapi Kirika melarangku. Katanya, jangan lakukan itu karena Eiji nanti malah kepikiran.

Lalu, tepat setelah jam pelajaran pertama usai, aku segera menghubungi Kirika.

“Aku nggak bisa cerita detailnya karena agak ribet. Yang penting sekarang dia udah baikan. Ada aku kok, jadi tenang aja! Jangan dipikirin!”

“Syukurlah kalau begitu. Tapi, maaf ya. Mungkin gara-gara omonganku──”

“Jangan minta maaf.”

Tanpa perlu memikirkannya pun, sudah jelas kejadian tadi pagi adalah penyebabnya. Bagaimanapun akulah penyebabnya, jadi aku mencoba meminta maaf... tapi dihentikan oleh suara serius Kirika.

“Minorin sama sekali nggak perlu minta maaf. Justru... nggak, pokoknya jangan minta maaf. Baik ke aku maupun ke Eiji. Kalau kamu minta maaf, Eiji bakal makin kepikiran.”

“...Aku ngerti.”

Lebih banyak hal yang aku tidak mengerti, tapi aku menelan semuanya dan menjawab begitu.

“Sip. Oh iya Minorin, aku mau minta tolong satu hal.”

“...Apa itu?”

“Akhir pekan ini kamu kosong nggak? Kalau nggak bisa, hari kerja kapan aja juga nggak masalah.”

“Akhir pekan ini? Tunggu sebentar.”

Sambil sedikit bingung dengan tawarannya yang tiba-tiba, aku membuka buku jadwal yang kubawa dan mengeceknya.

“Kalau Minggu siang aku kosong. Aku... dan Nagi juga.”

’Wah, pas banget kalau gitu. Aku harus cek jadwal Hikarin dulu sih.’

Aku tidak begitu mengerti apa yang ia rencanakan... bukan, sebenarnya aku paham. Berarti mengecek jadwal itu adalah...

“Kalau gitu, hari Minggu aku mau main ke rumah Minorin sama Nagirin! Sekalian pesta baikan!”

“...Begitu ya. Aku ngerti. Aku akan tanya Nagi.”

Ada banyak hal yang tidak kumengerti, tapi setidaknya yang satu ini aku paham. Mungkin ini bukan bertengkar, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa bicara dengan normal bersama Eiji saat ini. Alasan kenapa Eiji jadi seperti itu pun aku tidak tahu.

Tapi kalau aku tidak melakukan ini, suasananya pasti akan canggung saat bersama Eiji nanti.

Setelah itu aku mendapat izin dari Nagi... Hikari juga punya waktu kosong, jadi secara mendadak ketiga orang itu akan main ke rumah kami pada akhir pekan.

◆◆◆

“Permisiii!”

“Permisi. ...Tampak luarnya aja udah wow, tapi dalemnya ini luar biasa luas ya.”

“...Permisi.”

Saat pintu dibuka, tiga orang melangkah masuk. Orang terakhir ditarik tangannya oleh orang pertama.

“Selamat datang, kalian bertiga. ...Lama nggak ketemu, Eiji.”

“...Oh. Maaf soal yang kemarin, aku sampai bolos segala—Bugh!”

Melihat Eiji yang tumben sekali tidak bersemangat... di tengah kalimatnya terdengar suara tepukan keras yang memukulnya. Pelakunya adalah Kirika yang berada di sampingnya.

“Tegakin badanmu! Pacarku yang tersayang!”

“...Iya iya, maafkan ak—Aw?! Eh, kenapa tadi tiba-tiba menamparku!?”

“Soalnya Eiji belum balik kayak biasa! Mau kuttampar lagi?”

“T-tidak! Nggak usah! Itu sakit beneran tahu!”

Aku dan Nagi terpaku melihat interaksi mereka... sementara Hikari tersenyum masam.

“Kalau gitu sekali lagi!”

“Aku minta maaf! Kemarin tiba-tiba pulang terus bolos sekolah! Tapi seperti yang kalian lihat, sekarang aku udah saking sehatnya sampai ada cap tangan Kirika nempel jelas di punggungku!”

“Nggak usah ngomong yang aneh-aneh!”

“Aw!!?”

Entah kenapa punggung Eiji ditampar sekali lagi... Tanpa sadar aku tertawa melihatnya.

“...Fufu. Syukurlah kalau kamu udah sehat lagi.”

“Yoi! Pokoknya aku udah sehat! Terus soal hal itu... Untuk sekarang kita anggap nggak pernah bahas! Aku putuskan untuk mikirin itu kalau waktunya tiba! Sampai saat itu tiba, kita santai aja kayak biasa!”

“Oke. Kalau udah sadar nanti, kasih tahu aku ya.”

Pada akhirnya, aku tidak tahu kenapa Eiji tiba-tiba jadi seperti itu... tapi kalau Eiji sudah bilang begitu, lebih baik aku tidak mendesaknya. Kalau ia sudah menyadarinya, ia akan memberitahuku.

Tapi kemungkinan besar omongankulah penyebabnya, dan sebenarnya aku ingin minta maaf... namun aku mengurungkan niatku setelah teringat kata-kata Kirika bahwa kalau aku minta maaf, Eiji akan semakin kepikiran.

“Jadi masalah itu udah selesai ya untuk sekarang?”

“Iya. Maaf juga udah bikin Nagi khawatir.”

“Ah, jangan bilang begitu. Tiap hari dia khawatir banget mikirin Eiji-san, sampai-sampai mondar-mandir terus di kamar. Ujung-ujungnya aku tangkap dan seret dia ke kasur, itu kerjaanku seminggu ini.”

“Kok aku tiba-tiba dengerin pamer kemesraan yang luar biasa gini, ya.”

“Ha, haha... Maafkan aku sudah membuat khawatir.”

“...Aku juga bikin Kirika khawatir setengah mati, ya.”

“Di rumahku tiap hari yang diomongin juga soal Minorin terus! Kalau dihitung-hitung minggu ini doang, dia lebih sering nyebut nama Minorin daripada namaku, tahu. Padahal aku pacarnya!”

Tampaknya di sana juga keadaannya sama, Eiji memegang dadanya seakan baru saja ditusuk pedang dari belakang.

“Yah, aku juga ngerasa sedikit bersalah sih... Tapi lupakan aja hal itu! Sekali lagi, permisi!”

“Yoo! Ayo semangat! Permisi!”

“...Mumpung lagi bahas, aku ulang juga deh? Permisi. Kalau dilihat lagi beneran luas ya.”

“Fufu. Sekali lagi, selamat datang kalian bertiga.”

Setelah mengulang sapaan tadi, kali ini Nagi merespons sambil tersenyum manis.

“Ngomong-ngomong aku baru sadar, Nagi pakai celemek ya. Ternyata emang cocok banget.”

“Wah! Berdiri di depan pintu sambil pakai celemek, auranya bener-bener kayak istri baru sekali, Imut sekali!”

“Terima kasih. Aku tipe orang yang suka masuk ke suasana lewat penampilan, sih.”

Nagi berputar setengah lingkaran. Lalu ia menggenggam tanganku erat. Apakah kedatangan mereka bertiga membuatnya sangat bersemangat? Aku juga merasakan hal yang sama. Apalagi suasana Eiji juga sudah perlahan kembali seperti semula.

“...Tapi gila sih, ini beneran berasa rumah orang lain.”

“Ya wajarlah kan ini rumah orang. Aku sendiri aja masih belum biasa.”

Sampai sekarang aku masih belum terbiasa dengan aroma pewangi ruangan di lorong pintu masuk ini. Walaupun baunya wangi. Karena ada meja resepsionis di lobi, mungkin rasanya lebih mirip tinggal di hotel.

Mendengar obrolanku dan Eiji, Nagi tertawa kecil, lalu mempersilakan kami masuk.

“Karena denger kalian bertiga akan datang, aku bikin panekuk lho. Mau coba?”

“Mau!”

“Aku suka manis!”

“Fufu, sip. Souta-kun bilang Makisaka-san kurang suka yang terlalu manis, kan? Makanya aku kurangi takaran gulanya, jadi bisa dinikmati pakai mentega saja. Gimana?”

“Eh, serius?”

Eiji menatapku, dan aku pun mengangguk. Aku ingat dia pernah bilang kalau dia kurang suka makanan manis. Malah, mustahil aku melupakannya. Karena hal itulah, Nagi menjemputku ke SMA di tengah hujan lebat.

“Hebat bener Souta...! Kamu masih ingat hal itu!”

“Masa yang kayak gitu aja aku lupa. Terus kamu mau makan apa nggak?”

“Terima kasih banyak, dengan senang hati!”

“Oke, mengerti. Kalau begitu, mari kita ke ruang tamu.”

Merespons ajakan Nagi, aku mengangguk dan mulai memandu mereka bertiga melihat-lihat apartemen.

“Oh ya, kamar mandi ada di sana. Kamar tidur di sebelah sana.”

“Beneran luas banget. Berasa kayak rumah biasa.”

“Iya nih. Perabotannya juga kelihatan mahal.”

“Saking luasnya malah bikin nggak tenang ya.”

Aku menganggukkan kepala menyetujui ucapan Hikari. Tapi biar seluas apa pun, ini tetaplah sebuah apartemen, jadi kami segera sampai di ruang tamu.

“Nah, ini ruang tamunya.”

“Wahh! Luas bangeeet!”

“Gila! TV-nya gede banget!”

“Sofanya juga kelihatan empuk banget.”

Mereka bertiga menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. Syukurlah mereka terlihat senang. Eiji juga sudah sepenuhnya kembali seperti semula.

“Untuk ditinggali berdua, ini terlalu luas sampai agak membingungkan.”

“Fufu. Padahal kalau ada tiga orang... apalagi kalau ada satu anak yang energik, pasti bakal seru.”

Celetukan Nagi dari arah belakang sontak membuat bahuku melonjak.

“N-Nagi. Itu bikin jantungan... mengatakan hal yang begitu.”

“Fufu, maaf. Terlalu cepat ya membicarakan hal itu.”

“...Remnya Nagirin emang suka blong tiba-tiba ya. Dari dulu sih.”

Senyuman manis Nagi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Tapi, aku hampir saja memaafkannya.

Kalau ditanya apa aku marah, aku tidak marah sama sekali. ...Karena aku juga tidak membencinya.

“Kalau begitu, aku ke dapur dulu ya, Souta-kun.”

Nagi memberiku isyarat mata singkat. Memahami maksudnya, aku pun mengangguk.

“Tuh kan. Mereka berdua malah ngobrol lewat mata aja lho.”

“Oke, kita coba juga yuk. Coba tebak aku lagi mikirin apa?”

“Hmm. ............Aku lapar!”

“Itu kan yang kamu pikirin.”

“Ehe. Abis denger panekuk aku jadi laper.”

“Ya ya, sini. Silakan duduk di mana aja.”

Setelah menyuruh pasangan mesra (mungkin?) dan Hikari duduk, aku menyusul Nagi untuk membantunya bersiap.

“Souta-kun. Tolong bawa dua piring ini, ya. Yang sebelah kanan itu panekuknya Eiji-san.”

“Ya, makasih.”

“Sama-sama, aku juga terima kasih karena kamu udah mau bantu.”

Tatapannya tadi memang bermaksud meminta bantuanku. Tanpa perlu disuruh secara langsung... meski pada akhirnya dia tidak mengatakannya, aku sudah mengerti. Toh aku memang berniat membantunya, jadi tidak ada masalah.

Ngomong-ngomong, di sebelah pintu yang menghubungkan ke ruang tamu terdapat sebuah meja khusus untuk meletakkan makanan. Awalnya aku tidak tahu apa fungsinya, tapi ternyata sangat praktis.

“Maaf menunggu lama. Ini panekuknya.”

“Udah kutunggu-tunggu! Ya, padahal aku sama sekali nggak nunggu sih!”

“Warnanya cantik banget. Kelihatannya enak banget.”

“Nah, ini punyamu Eiji.”

“Terimakasih! Sekali lagi, terima kasih banyak ya.”

Eiji mengucapkan terima kasih kepadaku dan Nagi dengan sopan. Sisi Eiji yang seperti inilah yang khas darinya.

“Ah, iya. Aku lupa bilang. Makasih ya Nagirin!”

“Dengan senang hati aku menerimanya. Terimakasih, Nagi.”

“Fufu. Sama-sama untuk kalian semua.”

Melihat mereka berdua dan Eiji menangkupkan kedua tangan seolah sedang berdoa kepadanya, Nagi tersenyum.

Lalu, Nagi bergumam pelan teringat sesuatu. Pada saat yang bersamaan, aku juga berdiri.

“Sirup, madu, dan minumannya, kan? Biar aku yang ambil. Kalian bertiga mau minum apa? Air mineral, teh hijau, kopi, atau cokelat panas? Ada jus jeruk sama cola juga sih.”

“Teh aja deh, tolong!”

“Aku mau cokelat panas!”

“Kalau aku kopi aja. Entah pahit atau sedikit manis juga nggak apa-apa.”

“Oke, aku kasih yang sedikit manis ya. Biarpun namanya kopi, itu cuma kopi kaleng yang dituang ke gelas. Begitu juga yang lain.”

“Nggak apa-apa kok, santai aja. Justru aku nggak mau ngerepotin kalian.”

Itu benar juga. Dia pasti tidak ingin kami merasa sungkan. Panekuknya sudah ada di depan mata, sayang kalau keburu dingin.

“Mengerti. Nagi mau minum apa?”

“Aku temani ya.”

“Tidak usah, aku yang ambil. Nagi kan sudah kerja keras.”

“...Kalau gitu aku mau teh ya, tolong.”

“Siap. Aku segera kembali, tunggu sebentar ya.”

Aku pun berjalan menuju dapur.

◆◇◆

“Souta-kun selalu seperti ini, lho.”

“Hmm. Bagus deh. Dia benar-benar membantu, ya.”

“Iya! Kami berdua merasa saling membantu saat ada waktu luang itu sangat penting!”

Mendengarnya memuji Souta-kun membuatku sangat bahagia. Tanpa sadar, senyum mengembang di wajahku.

“Nagirin, kamu kelihatannya senang banget. Banget.”

“Tentu saja. Setiap harinya definisi ‘menyenangkan’ bagiku selalu terbarui. Aku sangat, sangat bahagia.”

Membuka mata di pagi hari dan melihat wajah Souta-kun adalah hal pertama yang kulakukan. Dan di malam hari, aku tidur sambil memandangi wajah Souta-kun. Hal itu saja sudah membuatku sangat senang dan bahagia.

Selain itu, bisa mengenal sisi baru dari Souta-kun setiap harinya juga sangat menyenangkan.

“Oh ya? Ada kejadian seru apa belakangan ini? Cerita dong.”

“Akhir-akhir ini, setelah makan malam kami sering main game! Kami bawa game dari rumah Souta-kun, dan itu seru sekali!”

Kami berdua butuh hiburan. Sampai beberapa hari yang lalu, kami belajar atau membaca buku bersama, tapi belakangan ini kami mulai main video game.

Ada banyak jenis game, dan Souta-kun yang mengajariku cara mainnya. Memang sulit, tapi bermain bersama saja sudah cukup membuatku senang.

“Oh iya. Kalian kelihatannya selalu main dengan seru, kan.”

“Souta-kun!”

Saat asyik mengobrol, Souta-kun kembali. Aku langsung berdiri untuk membantunya karena nampan yang dibawanya penuh dengan gelas.

“Terimakasih, Nagi.”

“Sama-sama!”

Aku pun membantunya membagikan minuman kepada semuanya.

“Terima kasih ya. Tapi beneran deh, syukurlah Nagirin juga kelihatan bahagia”

“Terimakasih. Setuju banget. Pas dengar kalian mau tinggal bersama, aku kaget sekali tahu.”

Mendengar ucapan itu, aku mengangguk sambil tersenyum.

“Tentu saja ada banyak tantangannya. Mengingat gaya hidup kami berubah drastis dari sebelumnya.”

Ini benar-benar sulit. Memindahkan tempat tinggal dari rumah yang sudah kutempati selama belasan tahun. Begitu pula bagi Souta-kun, ini adalah pertama kalinya ia hidup jauh dari orang tua sejak masuk SMA.

Dulu aku pernah marah, tapi wajar kalau dia jadi tidak punya waktu luang untuk memasak. Perubahan lingkungannya sangatlah besar.

Aku pernah meminta maaf soal itu, dan Souta-kun berkata kepadaku, ‘Tapi bagaimanapun juga aku harus makan yang benar... lagipula, masalah itu sudah Nagi yang selesaikan, kan.’

“Kami banyak berdiskusi tentang hal itu. Salah satu yang paling sulit mungkin tentang jam tidur.”

“Bener banget. Jam tidur kami bener-bener beda jauh.”

Dulu... sebelum bertemu Souta-kun, aku selalu tidur jam sembilan. Setelah itu, aku usahakan tidur jam sepuluh. Berbanding terbalik dengan Souta-kun yang tidurnya sekitar jam dua belas malam. Jaraknya lumayan jauh.

“Souta-kun akhirnya menyesuaikan jadwal tidurnya denganku. Pada dasarnya kami sepakat untuk tidur sekitar jam sepuluh.”

“Ya, tidur sekitar jam dua belas malam kan itu cerita lama, dan sebelum ini juga aku perlahan membiasakan diri tidur di jam yang sama dengan Nagi. Tidak terlalu berat, kok.”

“Fufu. Selain itu, kulit Souta-kun juga jadi lebih sehat, lho.”

Selesai meletakkan gelas, aku membelai pipi Souta-kun. Dulu kulitnya memang sudah bagus, tapi sekarang jauh lebih bagus lagi.

Akhir-akhir ini aku yang memakaikan pelembap di wajahnya, jadi kulitnya makin kenyal. Awalnya dia mau memakainya sendiri, tapi pas kucoba sekali, ternyata sangat seru jadi aku teruskan. Ekspresi geli Souta-kun sangatlah menggemaskan.

Teringat kejadian itu... membuatku merasa sangat, sangat gembira. Sedikit dorongan iseng pun muncul di benakku.

“Ke depannya, aku akan menyulapmu menjadi sosok suami yang lebih tampan lagi.”

Ups, keceplosan. Seketika itu juga, senyuman Souta-kun—suamiku—terlihat kaku.

Sambil menahan tawa, aku melirik ke arah mereka bertiga. Sesuai dugaan, mereka terlihat bengong.

◆◇◆

“Fufu.”

Anak usil ini, harus kuapakan dia?

Melempar komentar bom berkekuatan luar biasa dengan memanggilku ‘Suamiku’.

Ia menatap ketiga orang yang ternganga. Lalu ia menatapku, dan tersenyum gembira layaknya anak kecil.

Sebagai bentuk protes, aku menyentuh kedua pipinya.

“Fugyu.”

Sekalian sedikit mencubit pipinya. Tentu saja tanpa menyakitinya.

Pipi Nagi sangat kenyal, halus, dan enak disentuh. Ia sendiri pun memicingkan matanya, terlihat menikmati sensasinya.

“Ehehe.”

“Heh heh heh. Jangan terlalu bermesraan di depan kami. Yah, nggak apa-apa sih. Nggak masalah kok.”

“Pipinya Nagirin kenyal banget, kelihatan enak...”

“Sekarang ini giliranku.”

“Pelit amat!”

Jawabku sambil menusuk pipi Nagi dengan jari telunjukku. Nagi tampak kegelian, dan karena aku sudah puas, aku pun melepaskannya.

Saat itulah, aku sadar kalau Hikari sedang menatapku sambil tersenyum menggoda.

“...Oh, jadi dipanggil ‘Suami’ ya?”

“I-itu tolong dilupakan saja.”

“Yee?” Hikari mengerucutkan bibirnya, lalu beralih menatap Nagi.

“Nagi, kamu sering manggil dia Suamiku?”

“Itu, umm. Ehehe.”

Nagi memicingkan matanya dan menatapku dengan gembira. Kalau sudah dikasih muka seperti itu... aku jadi tidak bisa bilang apa-apa lagi.

Sebagai bentuk perlawanan kecil, aku mengacak-acak rambutnya dengan brutal. Karena rambutnya jadi berantakan, aku pun merapikannya kembali.

“...Beneran nggak buang kesempatan sekali ya buat mesra-mesraan?”

“B-berisik.”

“Fufu. Sebenarnya aku ingin mengobrol lebih banyak lagi, tapi sayang kalau keburu dingin. Mari kita bicarakan sambil makan.”

Mendengar ucapan Nagi, Hikari dan yang lainnya langsung tersadar. Rupanya bagi mereka, menghabiskan panekuk yang ada di depan mata adalah prioritas utama.

“Nah silakan, selamat menikmati.”

“Selamat makan!”

“Selamat makaaan!”

“Selamat makan!”

“Selamat makan.”

Seiring ucapan Nagi, semuanya menyatukan kedua tangan dan mulai menyantap panekuk.

“Aku mau pake apa dulu ya... Udah pasti mulai dari yang biasa dulu! Manisnya pas banget.”

“Iya, tahu banget. Manisnya aja udah enak... lho, enak banget.”

“Aaa! Enaaak!”

“Hm, mantap!”

Panekuk buatan Nagi sangat populer di kalangan ketiganya. Meski tak ditambah apa pun sudah terasa nikmat. Tentu saja, kalau ditambah aneka sirup pun tak kalah enak.

“Waah, bahaya, enak. ...Enak banget!”

“Empuk bangeeet. Beneran super enak.”

“Udah berapa tahun ya nggak makan panekuk? Sumpah ini enak banget.”

Mereka bertiga terlihat begitu menikmati panekuknya. Bagiku pribadi, melihat masakan buatan Nagi disantap dengan lahap seperti ini sangat membahagiakan.

“Syukurlah kalau pada suka! Menurut Souta-kun enak nggak?”

“Ya, enak. Enak banget.”

Ini murni pujian jujur dari dalam hati. Semua masakan Nagi memang lezat.

Sepertinya ia bisa melihat ekspresi puas di wajahku, karena ia langsung menganggukkan kepalanya dengan gembira.

Biasanya, Nagi memang sering menatapku saat sedang makan. Hal itu terkadang membuatku sedikit geli, jadi aku pernah menanyakannya.

’Melihat wajah orang yang kusayangi saat sedang bahagia itu membuatku sangat bahagia. Selain itu, aku juga merasa kalau akulah yang sedang membuatnya bahagia. Makanya, aku jadi terus-terusan memandangnya.’

Begitulah jawabannya. Meskipun sedikit memalukan... tetapi yang paling menonjol adalah rasa bahagiaku.

“Ah, terus Nagirin, kamu sering ya manggil Minorin dengan sebutan ‘Suamiku’?”

Pertanyaan Kirika hampir saja membuat panekuk di mulutku tersedak. Entah bagaimana aku berhasil menelannya, dan untuk berjaga-jaga aku langsung meneguk kopi.

Nagi sempat menatapku cemas, tapi saat aku mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja melalui tatapan mataku, ia merespons dengan satu anggukan.

“Aku tidak selalu memanggilnya begitu, kok. Kalau soal frekuensinya, mungkin sekitar satu sampai dua kali seminggu, ya.”

“Eh, kenapa? Padahal perasaanku mengatakan kalau kamu mengucapkannya setiap saat pun tidak akan aneh. Lagi pula, panggilan ‘Suamiku’ dari Nagi terdengar sangat cocok untuknya.”

Nagi tersenyum manis menanggapi perkataan Hikari.

“Kupikir sekarang masih terlalu dini. Lagipula, aku juga punya kriteria tersendiri kapan aku akan memanggilnya ‘Suamiku’.”

Dengan bangga ia membusungkan dadanya dan tertawa kecil. Cara tertawa yang tidak biasa untuknya.

“Aku mengucapkannya di saat Souta-kun merasa paling senang mendengarnya. Kalau aku melakukan itu, jantung Souta-kun akan berdegup sangat kencang... Aku sangat menyukai hal itu.”

“N-Nagi?”

“Oho? Spesifiknya saat seperti apa itu, Nagirin?”

Sementara aku masih bimbang apakah harus menghentikannya atau tidak, Nagi mulai berbicara.

“Misalnya, sebagai serangan kejutan saat ia pulang ke rumah. Atau di pagi hari saat Souta-kun baru bangun, sambil menatap langsung ke dalam matanya... dan hal-hal semacam itu. Selebihnya bukanlah hal yang bisa diceritakan di depan orang lain. Benar begitu kan, Suamiku?”

“...”

Di saat aku kehilangan kata-kata, Nagi dengan lembut menempelkan tangannya di dadaku. Seakan memastikan suara debaran keras dari dalam sana, Nagi tersenyum manis dan menggemaskan.

“Kurang lebih seperti itulah rasanya.”

“B-berbahaya... Nagirin benar-benar sudah berubah menjadi wanita yang ahli menggoda.”

“Kemampuannya semakin terasah dibandingkan sebelumnya, ya. Tapi, selama dia terlihat bersenang-senang, bukankah itu yang terpenting?”

“Benar juga. Dan syukurlah Souta juga kelihatannya sangat menikmatinya.”


Jari Nagi yang ramping diletakkan di atas jantungku yang berdegup kencang. Setiap kali detak jantungku berbunyi di dalam dada, aku merasa senyuman Nagi semakin mengembang.

Jari itu menjauh, dan kali ini ia menuntun telapak tanganku untuk diletakkan di atas dadanya sendiri.

Tanpa sadar mataku bergerak dan melihatnya. Ia menarik sudut bibirnya dan tersenyum.

"Apakah kamu penasaran? Bagaimana detak jantungku sekarang."

Tuk, jari seputih salju itu menunjuk dada kirinya. Jari itu dengan mudahnya tenggelam di dadanya yang lembut, membuatku secara refleks memalingkan wajah. Di ujung pandanganku, Eiji sudah sibuk menyantap panekuknya.

Sambil semakin memalingkan pandangan, aku menutupi wajah dengan tangan dan merasakan hawa panas mengalir dari telapak tanganku. Aku berdeham, lalu memaksakan suara keluar dari tenggorokanku.

"...I-itu sepertinya akan menjadi pemandangan yang luar biasa gawat, jadi sebaiknya jangan."

"Fufu, begitu ya. Sayang sekali. Kalau begitu nanti lagi, ya."

Tidak ada nada kekecewaan dalam kata-katanya. Kurasa dia memang sudah tahu kalau aku akan menolaknya.

"A-aku beritahu kalian, ya."

Aku memalingkan wajah dari Nagi dan menatap ke arah Eiji dan yang lainnya. Entah karena sedang makan panekuk, Eiji memiringkan kepalanya, sementara Kirika dan Hikari menatap kami sambil tersenyum menggoda.

"K-kami tidak selalu seperti ini, kok. Hari ini hanya sedikit... tidak, suasana hati Nagi hanya sedang sangat bagus saja."

"Hmm? Oh... Lalu biasanya Minorin dan Nagi seperti apa?"

Kata-kata itu mengingatkanku pada kejadian kemarin.

Kemarin setelah makan malam, kami bermain game sebentar. Game aksi 2D yang bisa dimainkan secara kooperatif.

Mungkin karena Nagi belum pernah bermain game sebelumnya, ia bermain dengan sangat hati-hati.

Menyelesaikan rintangan pertama saja butuh perjuangan keras, tapi, justru karena itulah rasa senangnya menjadi berkali-kali lipat saat kami berhasil menyelesaikannya.

Melihat Nagi yang tampak begitu gembira membuatku ikut merasa bahagia──

"Hoooi? Minoriiiin? Kamu senyum-senyum sendiri tuh?"

"Ukh... m-maaf. Aku cuma sedang memikirkan apa yang terjadi kemarin."

"Ya ampun, dasar pasangan yang dimabuk asmara."

Untuk sementara waktu, aku memakan panekuk demi melupakan senyuman Nagi yang tak mau enyah dari benakku. Rasa manis yang pas ini sangat cocok untuk mengalihkan pikiranku.

"Tapi tetap saja, rasanya persneling kalian naik satu tingkat lagi, ya. Souta dan Nagi."

"Ah, aku juga berpikir begitu. Ternyata setelah bertunangan dan tinggal bersama, semuanya berubah, ya... Ah, sepertinya aku suka memakannya dengan madu."

Aku tersenyum masam mendengar ucapan Eiji dan yang lainnya. Soalnya kami tidak bermaksud menaikkan persneling atau apa pun.

"Kekasih, ya."

Tiba-tiba, Hikari bergumam. Meskipun pelan, kata-kata itu pasti tidak akan dilewatkan oleh para gadis.

"Ada apa, ada apa! Hikarin mau punya kekasih!?"

"Pastinya Hikari-chan akan langsung dapat! Pasti akan bertemu dengan pria yang baik!"

"Tung-tunggu sebentar. Bukan begitu maksudku. Semangat kalian... Semangat kalian berlebihan."

Hikari sedikit terkejut dan mundur mendapati respons mereka berdua.

"Di sini kan semuanya pasangan kecuali aku. Ah, tapi aku tidak terlalu memikirkannya lho? Kalau disuruh memilih, aku lebih suka melihat orang lain. Aku kan tipe orang yang suka baca manga romantis."

"Jadi kami ini sama seperti manga romantis, ya..."

"Ah, mungkin caraku mengatakannya sedikit salah. Aku memang suka melihat orang lain bahagia."

Hikari tertawa setelah mengatakan hal itu.

"Aku cuma kepikiran, jangan-jangan aku malah membuat kalian merasa sungkan. Aku sendiri bersenang-senang dengan caraku, jadi tolong jangan terlalu memedulikanku, ya."

"Kalau Hikarin bilang begitu! Baiklah Eiji, ayo kita bermesraan! Ayo, makan ini!"

"Bodoh, kamu tahu kan kalau aku tidak suka yang manis-manis! Terus jangan menjulurkan garpu begitu! Bahaya!"

Melihat Eiji yang menghindari panekuk berlumur madu, kami semua tertawa.

◆◆◆

"Ternyata kamu lumayan juga! Padahal aku sudah sering main game ini, lho!"

"Aku juga sering memainkannya sejak dulu... sendirian."

Setelah memakan panekuk, kami bermain game. Saat ini aku sedang bertanding melawan Eiji di sebuah game pertarungan.

"...! ...!"

"Nagirin, mungkin melihatnya saja sudah terasa menyenangkan, ya."

"Kamu menonton dengan sangat fokus, ya. Wajahmu jadi kelihatan menggemaskan sekali."

"H-habisnya, itu. I-ini sangat menarik."

Ada percakapan yang sangat menarik perhatian terjadi di belakangku dan Eiji. Aku sangat ingin melihat ke sana, tapi...

"Rasakan ini! Ada celah!"

"Uwoh!?"

"Sip! Kena kau!"

"Ah! Souta-kun kalah!"

Karakterku terlempar oleh karakter Eiji, dan tulisan GAME SET muncul di layar.

"...Kalah, ya."

"Hahaha. Masih seratus tahun terlalu cepat buatmu untuk mengalahkanku."

"Yah, tapi pertandingannya cukup sengit lho. Bukankah kamu akan kalah di pertandingan berikutnya?"

"Oh? Aku tidak akan kalah! Lanjut, lanjut! Ayo kita main sekali lagi!"

Sambil mengangguk menyetujui ucapan Eiji, aku menoleh ke belakang.

"Kalian tidak mau main?"

"Aku suka memainkannya. Tapi, menonton ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang aku bayangkan. Jadi aku ingin menonton sedikit lebih lama lagi."

"Aku juga suka menonton, mungkin aku akan memainkannya nanti."

"Aku jugaaa!"

Kalau begitu tidak apa-apa, pikirku sambil melihat layar kembali. Saat itulah.

"Ah, Souta-kun. Permisi, aku duduk di sebelahmu, ya."

"...Nagi?"

"Dari sini lebih mudah melihatnya."

Nagi duduk tepat di sebelahku. Lebih tepatnya, saking dekatnya hingga tubuh kami bersentuhan.

"Berada di sebelah Souta-kun memang terasa paling pas, ya."

"B-begitukah?"

"Iya. Lagipula, aku juga punya perasaan ingin terus diperhatikan oleh Souta-kun."

Ujung bajuku digenggam erat. Saat aku menoleh ke arahnya, ia tersenyum dengan suara "Ehehe" yang keluar dari bibirnya.

"Yang kayak gitu kan maksudmu, Hikarin."

"Iya, iya. Si Putri Es itu sekarang malah jadi Putri Gula Batu yang manis banget, ya."

Mendengar perkataan dari arah belakang itu, telinga Nagi memerah. Meskipun begitu, raut wajahnya terlihat sedikit senang.

"Souta! Kali ini aku juga tidak akan kalah!"

"...Ya, aku juga tidak akan kalah."

Nagi berada di sebelahku... dan Eiji juga telah kembali menjadi Eiji yang biasanya dibandingkan saat pertama kali tiba di sini.

Selama bermain, aku juga bisa bersenang-senang dan melupakan apa yang sempat mengganjal di hatiku.

◆◆◆

Waktu yang menyenangkan selalu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa matahari telah terbenam.

Eiji bilang ia ingin melihat pemandangan dari balkon, lalu ia memberiku isyarat mata... Kami berdua pun keluar ke balkon. Udara dingin langsung menusuk kulit.

"Kamu benar-benar tidak mau makan malam di sini?"

"Iya. Tidak enak kalau mengganggu terlalu lama. Aku juga udah bilang ke keluarga kalau malam ini makan di rumah."

"Begitu ya. Kalau begitu apa boleh buat."

Padahal mereka sama sekali tidak mengganggu, tapi kalau keluarganya sudah menyiapkan makan malam, lebih baik ia memprioritaskan hal tersebut.

Kemudian Eiji menatapku. Raut wajahnya terlihat serius.

"Hei, Souta."

"Ada apa?"

"...Bukan apa-apa."

"Ada apa sih. Kalau ada yang ingin kamu sampaikan, lebih baik katakan saja."

Baru saja ia memanggilku, ia langsung memalingkan wajahnya. Merasa pasti ada sesuatu yang mengganjal, aku memaksanya berbicara, dan Eiji pun menghela napas panjang.

"Seandainya Souta... membenciku, itu saat yang seperti apa?"

"Aku membenci Eiji?"

Aku secara refleks bertanya balik. Itu adalah situasi yang sangat mustahil... tapi mengabaikannya begitu saja rasanya tidak tepat.

Membenci... Membenci, ya. Seandainya aku membenci Eiji, kapan hal itu akan terjadi?

"Maaf, sudah kupikirkan tapi jawabannya tidak ada."

Dan pada akhirnya, itulah jawabanku. Aku tidak mengabaikannya karena menganggapnya mustahil, melainkan setelah memikirkannya matang-matang, jadi kurasa jawaban itu tidak salah.

"Seandainya ada kemungkinan aku membencimu... itu hanya akan terjadi jika Eiji yang lebih dulu membenciku. Dan setelah itu, kepribadianmu juga harus berubah menjadi sangat buruk."

Jika terjadi sesuatu dan Eiji membenciku, mungkin saja itu bisa terjadi, tetapi jika harus ditambah dengan kemungkinan kepribadiannya menjadi buruk, kemungkinan itu sangat mendekati nol.

"Menyakiti Nagi, Kirika, atau Hikari dengan niat jahat. Selama kamu tidak melakukan hal sejauh itu, aku rasa aku tidak akan membencimu."

"...Kenapa nama Souta tidak ada di dalamnya?"

"Kalau Eiji menyakitiku dengan niat jahat, aku hanya akan merasa sedih. Di saat seperti itu aku pasti sudah dibenci oleh Eiji, jadi aku tidak akan sampai membencimu balik. ...Meskipun di saat seperti itu, mungkin Nagi dan yang lain akan marah atau membenci Eiji."

Dipikir-pikir lagi, aku membenci Eiji benar-benar sebuah situasi yang tidak masuk akal.

Pandangan Eiji berkelana tak tentu arah... menunjukkan ekspresi gelisah yang biasanya tidak pernah ia perlihatkan.

"Lalu, bagaimana kalau aku menyakitimu tanpa niat jahat?"

"Kalau tidak ada niat jahat, tidak ada alasan untuk membencimu, kan. Kupikir hubungan kita bukan tipe hubungan yang akan hancur hanya karena sebuah kesalahan atau kesalahpahaman."

Hubungan kita bukanlah sesuatu yang akan runtuh hanya dengan satu kesalahan... Setidaknya itulah yang aku yakini.

"Kalau yang terluka itu Nagi atau orang di sekitar kita, aku mungkin akan merasa agak kesal. Tapi, meskipun begitu aku yakin Eiji pasti akan meminta maaf, dan orang yang terluka juga akan memaafkanmu. Kalau orang yang terluka itu aku, bahkan tanpa perlu meminta maaf pun aku pasti sudah memaafkanmu... kalau aku bilang begini, Nagi mungkin akan marah padaku, sih."

Tapi, di saat seperti itu, aku merasa Nagi, Kirika, atau Hikari akan marah pada Eiji mewakiliku. Tentu saja, mereka tidak akan menyalahkan Eiji secara berlebihan.

"Pokoknya, aku tidak akan pernah membenci Eiji. Memangnya menurutmu sudah seberapa banyak kamu membantuku selama ini?"

"Souta... Ah, sial."

Wajahnya terlihat sangat cemas... tiba-tiba Eiji menggaruk kepalanya dengan kasar.

"Iya, kamu memang orang yang seperti itu."

"Kata-kata itu kukembalikan padamu. Kalau posisinya dibalik, Eiji pasti akan bilang hal yang sama, kan."

"...Mungkin saja."

Setelah itu, Eiji menghela napas panjang.

"Sekali lagi aku minta maaf soal kejadian waktu itu."

"Meskipun kubilang jangan dipikirkan, Eiji pasti akan terus memikirkannya. Baiklah. Aku terima permintaan maafmu. ...Meskipun sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba jadi seperti itu."

Semenjak saat itu aku sudah memikirkannya, tapi aku tidak bisa menangkap identitas asli dari kejanggalan itu. Dari cara bicara Eiji, rasanya dia juga punya kaitan dengan hal tersebut.

"... Terimakasih. Tapi, kalau bisa, aku tidak ingin kamu menyadarinya."

"...Entahlah. Mungkin aku bisa mencoba untuk sebisa mungkin tidak memikirkannya, tapi ya..."

"Ya, walau aku yang bilang begini, tolong jangan terlalu dipikirin. Ini cuma keegoisanku aja."

Jika Eiji berkata begitu, aku pun mengangguk. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba untuk tidak memedulikannya, mungkin saja aku akan tiba-tiba menyadarinya.

──Saat itulah, pintu yang menghubungkan balkon dengan ruangan terbuka.

"Halo, dua orang yang lagi asyik bermesraan dan mengabaikan pacar-pacar lucu kalian ini! Kalau kelamaan di luar nanti masuk angin, lho! Oh ya, Eiji, ayo kita pulang!"

"Hm? Oh, ayo."

Yang memanggil kami adalah Kirika, dan di sebelahnya aku bisa melihat Nagi dari balik jendela. Hikari berada di belakang mereka berdua.

"Souta."

"Ya?"

"Terakhir aku mau bilang, berubah pikiran itu bukan hal yang buruk lho."

"...Tentang aku tidak akan pernah membencimu, itu?"

"Iya. Tidak ada manusia yang pikirannya tidak pernah berubah. Tolong jangan berpikir kalau 'karena aku udah mengatakannya sekali, maka pikiranku tidak akan pernah berubah'... Kalau soal hal lain sih terserah, tapi khusus buat yang ini, jangan."

"...Aku akan mengingatnya."

"Baiklah. Cuma itu aja."

Lalu Eiji tersenyum. Senyuman yang cerah seperti biasanya.

Tadi aku sedikit khawatir, tapi sekarang sepertinya ia sudah tidak apa-apa. Memang ada hal-hal yang mengganjal, tapi memikirkannya sekarang juga tidak akan mengubah apa pun, jadi biarkan saja dulu.

Kami kembali dari balkon ke dalam ruangan, dan Eiji mengambil tasnya. Mereka berdua sepertinya juga sudah siap untuk pulang, dan sudah mengenakan mantel yang terlihat hangat.

"Diantar sampai pintu masuk saja tidak apa-apa, kok. Malam hari udaranya sangat dingin."

"Dimengerti. Kapan-kapan mampir lagi ya. Kami masih akan tinggal di sini untuk beberapa waktu."

"Iya! Nanti kita adain kelompok belajar bersama, ya! Kan sebentar lagi ada ujian akhir semester!"

"Oh, ide bagus. Nanti kita adain ya."

"Baiklah! Souta-kun, tolong atur jadwalnya ya!"

"Serahkan padaku."

Masih ada waktu sebelum ujian, dan jadwalnya juga tidak terlalu padat, jadi seharusnya tidak masalah.

Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, kami mengantar mereka hingga ke pintu masuk.

"Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah."

"Ya, sampai jumpa di sekolah. ...Oh iya, seharusnya aku memberitahumu materi pelajaran minggu ini, ya. Ya sudahlah, besok aku akan mengajarimu sedikit di sela-sela jam pelajaran. Untuk detailnya, nanti saja saat kita belajar untuk ujian."

"Wah, terimakasih banyak."

Kalau hanya materi seminggu, dia pasti bisa mengejarnya. Itu hanya setara dengan waktu absen karena flu musiman, dan lagipula Eiji juga punya kemauan belajar.

"...Yup, kalian berdua kelihatannya juga baik-baik aja. Kalau gitu, sampai jumpa lagi kapan-kapan!"

"Sampai jumpa di sekolah ya, Nagi."

"Iya! Sampai jumpa di sekolah. Kirika-chan juga, sampai jumpa dalam waktu dekat!"

Ketiganya melambaikan tangan, lalu keluar dari pintu. Tinggal aku dan Nagi di dalam apartemen.

"Suasananya langsung jadi sepi, ya."

"Iya. Terasa sedikit sepi."

Nagi tersenyum setelah mengatakan hal itu, dan dengan lembut merapatkan dirinya di sampingku. Ia juga menggenggam tanganku, mata birunya menatapku lurus-lurus. Terlihat sedikit cemas.

"...? Nagi, ada apa?"

"...Tidak."

Setelah jeda sesaat, Nagi menggelengkan kepalanya. Tapi jeda itu seolah memberikan jawaban bahwa memang ada sesuatu. Meski begitu, aku tak berniat memaksanya bercerita.

Namun, seakan mengerti isi kepalaku, Nagi menarik tanganku dan memanggilku.

"Tadi, aku mendengar sedikit cerita dari Kirika-chan. Tentang Eiji-san."

"Apakah itu... sesuatu yang sebaiknya tidak kudengar secara detail?"

"Kirika-chan memintaku untuk tidak terlalu membicarakannya. Dan bagiku sendiri... aku juga merasa agak enggan."

"Begitu ya. Kalau begitu tidak usah."

Tentu saja aku penasaran dengan isinya, tapi kalau ia tidak mau membicarakannya, pasti ada alasannya tersendiri. Dan alasan itu mungkin... demi kebaikanku.

Mata Nagi masih bergetar, dan ia mengubah genggamannya dari satu tangan menjadi kedua tangannya, membungkus tanganku.

"Tapi, itu... Apa pun yang kamu lakukan, Souta-kun tidak sendirian. Tolong ingat dan tanamkan hal itu baik-baik di kepala dan hatimu."

"Ya, tentu saja. Aku tahu."

Ada Nagi, Eiji, Kirika, dan Hikari. Meski jarak memisahkan kami, ada ayah dan ibuku, dan tentu saja Ayah Mertua serta Ibu Mertua. Itu sangat menguatkanku.

"Dan karena akulah yang berada paling dekat denganmu lebih dari siapa pun, seandainya kamu melupakannya pun, aku akan mengingatkanmu."

"Aku mengandalkanmu. ...Karena itu, Nagi juga harus mengandalkanku, ya."

"Tentu saja!"

Nagi tersenyum sambil mendekap erat tanganku di dadanya, dan kami terdiam di depan pintu masuk dalam posisi itu untuk beberapa saat.

◆◆◆

Minggu ketiga sejak kami mulai tinggal bersama. Sedikit demi sedikit... benar-benar hanya sedikit demi sedikit, kami mulai terbiasa dengan kehidupan ini.

Tidak ada hal yang membuatku merasa tidak nyaman selama hidup bersama Nagi. Terkadang memang ada perbedaan pandangan di antara kami, tapi setiap kali hal itu terjadi, kami selalu mendiskusikan dan menyelaraskannya. Sejauh ini bisa dibilang berjalan lancar. ...Meski terkadang Nagi bertingkah terlampau menggemaskan sampai membuatku hampir gila, tapi setiap kali hal itu terjadi, aku akan melampiaskannya dengan memanjakannya sepuasnya, jadi semuanya terkendali.

Hanya saja──ada sedikit masalah di luar kehidupan tinggalku bersamanya.

"...Ee-to. Hari ini tidak bisa karena jadwalnya padat, yang ini harus ku-diskusikan dengan Nagi. Dan yang ini harus kukonsultasikan dengan Ayah Mertua..."

Bukan di kamar tidurku dan Nagi, melainkan di kamarku sendiri. Di sana aku membandingkan laptop dengan buku jadwalku, lalu mencatat jadwal-jadwal jika diperlukan.

Hampir tak ada lagi ruang kosong yang tersisa di buku jadwalku, dan aku sudah memanfaatkan catatan tempel sepenuhnya. Di tengah kesibukanku, aku memejamkan mata dan menghela napas.

"...Haa."

Aku memijat pelipisku dengan jari, dan setelah jeda istirahat beberapa detik, aku kembali melanjutkan pekerjaanku.

Kudengar setelah pertunjukan tahun lalu, popularitas Nagi semakin meroket. Mulai dari tampil di pertunjukan, memberi ceramah, hingga menjadi bintang tamu di kelas tarian tradisional Jepang, kabarnya banyak sekali tawaran pekerjaan yang datang... tetapi, karena ia ingin memprioritaskan waktunya bersamaku untuk beberapa saat, ia telah menolak sebagian besar tawaran tersebut.

Namun, sejak kehidupan tinggal bersama ini dimulai, Nagi perlahan-lahan mulai menerima tawaran pekerjaan semacam itu. Mendengar kabar tersebut, pihak-pihak yang sebelumnya pernah ditolak kembali datang memberikan tawaran pekerjaan, dan hasilnya, kotak masuk email kami dipenuhi oleh pesan dalam jumlah yang sangat banyak. Jumlahnya yang jauh lebih banyak dari minggu lalu ini... mungkin juga disebabkan oleh fakta bahwa alamat email ini mulai dikenal sebagai kontak resmi pekerjaan Nagi. Ayah Mertua juga pernah bilang bahwa beliau akan mulai memberitahukan perubahan kontak ini kepada orang-orang di sekitarnya.

Mulai dari mengecek apakah ada jadwal yang kosong, hingga memastikan kepada Nagi apakah tidak ada masalah dengan detail pekerjaannya. Selanjutnya, mengenai apakah bayarannya sesuai atau tidak... karena aku sudah diajari sedikit oleh Ayah Mertua, aku merangkum tawaran dengan bayaran yang terlalu tinggi, terlalu rendah, atau yang sama sekali tidak mencantumkan bayaran, lalu meneruskannya kepada beliau. Kemudian, jika jadwalnya berbenturan, aku membalas email tersebut dengan penolakan atau menawarkannya di lain kesempatan.

Semakin banyak jumlahnya, semakin sulit pula mengelolanya. Meskipun Ayah Mertua kabarnya juga meninjau email yang masuk ke sini, jadi kemungkinan Nagi menerima pekerjaan yang isinya jelas-jelas aneh sangatlah kecil. Tetap saja, melakukan tugas yang belum terbiasa ini membuatku kelelahan secara mental.

Sebelum mengeklik tombol ‘Kirim’, aku melakukan pengecekan terakhir──dan napasku seketika tercekat.

“Gawat. Aku salah menulis nama pengirimnya.”

Jantungku rasanya mau copot, lalu aku mengembuskan napas lega dan mengoreksinya. Anggap saja aku beruntung karena bisa menyadarinya sekarang.

...Tunggu. Email-email yang kukirim sebelum ini tidak ada yang salah, kan?

Mungkin karena aku baru saja membuat satu kesalahan, pikiran itu terus menempel di sudut kepalaku. Tidak, memeriksa kembali semua email yang telah kukirim akan memakan waktu yang sangat lama. Lebih baik aku memeriksa sekilas email yang rencananya akan dikirim besok pagi saja, lalu menyelesaikannya. Kalau diteruskan, aku hanya akan membuat lebih banyak kesalahan.

Saat mengecek email terakhir yang akan dikirim──di tengah-tengah itu, tanganku terhenti.

“...Apa yang sedang kulakukan ini.”

Menjadi asisten Nagi. Pekerjaan paruh waktu ini memang membutuhkan banyak pengecekan, tetapi setiap tugasnya sendiri sama sekali tidaklah sulit. Mulai dari pengaturan jadwal, hingga apa yang harus ditulis saat mengirim email, semuanya bisa kutemukan di internet jika aku mencarinya. Mengenai kliennya pun, jika itu adalah pihak yang belum pernah berhubungan sebelumnya, aku hanya perlu mencari tahu tentang mereka lalu melaporkannya kepada Ayah Mertua dan Nagi. Memang banyak hal baru yang harus dipelajari, tapi aku bukanlah orang yang buruk dalam belajar. Lagipula, sebelum bertemu Nagi, aku selalu melakukan semuanya sendirian.

Hanya untuk hal ini saja aku menghabiskan banyak waktu, dan bukan hanya itu, aku juga melakukan kesalahan. Terlebih lagi, kehilangan konsentrasi... sungguh memalukan. Padahal Nagi berjuang berkali-kali lipat lebih keras dariku, dan dia bahkan masih sempat memasak dan mencuci untukku.

“Kukerjakan sedikit lagi, deh.”

Setidaknya aku akan merangkum semua email yang masuk hari ini agar besok bisa kulaporkan langsung kepada Nagi dan Ayah Mertua. Sambil berpikir demikian, aku mengucek mataku yang mulai mengantuk. Saat itulah.

Tok, tok, terdengar suara pintu diketuk. Hanya ada satu orang yang akan mengetuk pintu ruangan ini──

“Souta-kun.”

“Ya, masuk saja.”

Saat aku merespons suara dari balik pintu itu, pintunya perlahan terbuka. Lalu, sosok yang masuk ke dalam kamar adalah Nagi yang mengenakan piama berbulu halus.

“Sudah waktunya tidur, lho.”

“...Ternyata sudah jam segini.”

Saat aku melihat jam, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Sejak tinggal di sini, aku mulai membiasakan diri untuk tidur sekitar jam sembilan atau sepuluh, jadi ini adalah pertama kalinya aku begadang lagi setelah sekian lama. Namun...

“Nagi, maaf, tapi aku ingin kau tidur duluan. Aku belum selesai.”

“...Apakah ada pekerjaan yang mendesak?”

“Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin mengerjakannya sedikit lagi.”

Nagi yang tampak mengantuk memiringkan kepalanya, lalu berjalan menghampiriku dengan langkah santai. Kemudian──

“Eih!”

“...!? Nagi!?”

──Nagi memelukku yang sedang duduk. Karena aku duduk di kursi dan Nagi berdiri, tentu saja tinggi kami berbeda, dan hasilnya... wajahku terbenam di dadanya.

“Kamu bisa berusaha kapan saja. Entah itu besok setelah bangun pagi, atau setelah pulang sekolah.”

Suara detak jantungnya yang berirama konstan menggema di dekat telingaku. Kata-kata yang terucap masuk dengan lembut seolah membelai telingaku.

“Oleh karena itu, kamu tidak perlu memaksakan diri sampai memotong waktu tidurmu.”

“...Tapi,”

“Tidak ada kata tapi.”

“Mmph!”

Tepat saat aku hendak berkata ‘setidaknya sampai bagian ini selesai’, tenaga pelukannya menguat. Ia secara harfiah membungkam mulutku. Sebagai gantinya, suara detak jantungnya terdengar semakin dekat.

“Sekali saja kamu mengurangi waktu tidurmu, hal itu akan semakin mudah dilakukan untuk yang kedua dan ketiga kalinya. Kalau memang ada pekerjaan yang mendesak tidak apa-apa, tapi jika tidak, jauh lebih baik untuk tidur saja.”

“...Nn.”

Karena dipeluk dengan sangat erat, aku tidak bisa mengeluarkan suara dengan baik, jadi aku hanya mengangguk kecil. Setelah itu, tawa kecil yang bercampur dengan helaan napasnya menggelitik rambutku.

“Kalau begitu, mari kita sudahi pekerjaanmu sampai di sini untuk hari ini. Kudengar, menghentikan pekerjaan saat sedang setengah jalan justru lebih baik daripada menyelesaikannya secara tuntas, lho.”

“Aku mengerti.”

Karena Nagi melepaskan pelukannya setelah berkata demikian, aku meresponsnya, lalu menyimpan data dan mematikan laptop. Pemeriksaan email akan kulakukan besok pagi saja.

Saat aku berdiri, Nagi mengulurkan tangannya dengan senyum lembut di wajahnya. Saat aku menggenggam tangannya, ia mengangguk puas.

“Terima kasih, Nagi.”

“Sama-sama. Aku memang menyukai Souta-kun yang rajin bekerja, tapi aku tidak ingin kamu sampai jatuh sakit.”

Ia merapatkan dirinya di sisiku dan menggamit lenganku. Jarak ke kamar tidur sangatlah dekat, namun hal-hal seperti inilah yang terasa sangat manis.

Kemudian, ketika kami tiba di kamar dan merebahkan diri di tempat tidur.

“Ngomong-ngomong──eh, tidak, bukan apa-apa.”

“...? Ada apa?”

Nagi sedikit tersentak seolah teringat sesuatu, lalu memalingkan wajahnya. Tumben sekali dia seperti ini.

Karena sedikit penasaran, aku menatapnya lekat-lekat... Nagi terus mengalihkan pandangannya, tetapi seolah telah membulatkan tekad, ia akhirnya membalas tatapanku.

“Sebenarnya tadi, Papa menghubungiku.”

“Dari Ayah Mertua?”

“Iya. Beliau... ingin Souta-kun datang ke rumah besok.”

Ke rumah? Kenapa ya? Apakah ada kaitannya dengan pembicaraan kami sebelumnya, atau──apakah aku melakukan suatu kesalahan?

“Aku tidak memberitahumu tadi karena aku tahu hal itu akan membuatmu langsung kepikiran. Aku memang tidak tahu urusannya apa, tapi menurutku alasan Papa memanggilmu bukanlah karena alasan yang buruk.”

“...Ah, maaf.”

“Tidak apa-apa, sekarang aku merasa lega karena sudah menyampaikannya padamu.”

Aku menyadari alasan kenapa Nagi tadi sempat ragu dan meminta maaf, namun ia menggelengkan kepalanya pelan.

Tanpa menjelaskan alasannya──Nagi mendekatkan wajahnya.

Kemudian, bibir kami saling bertaut.

“...Nn.”

Sensasi kenyal, lembut, dan sedikit basah di bibirku. Rasanya aku jadi ragu apakah aku sendiri juga benar-benar memiliki bagian tubuh ini.

Berkali-kali ia mengecup bibirku layaknya sedang mematuk, membuat tenagaku perlahan-lahan menguap. Pikiranku juga mulai sulit untuk fokus.

Saat pikiran dan hatiku mulai terasa melayang, Nagi melepaskan tautan bibirnya... namun ia berhenti di jarak di mana kami masih bisa saling merasakan embusan napas.

“Sekarang, meskipun pikiran Souta-kun mulai mengarah ke hal yang buruk, aku bisa dengan mudah mewarnainya dengan diriku. ...Kalau di luar, aku tidak bisa melakukan ini, kan.”

“...I-iya, kamu benar.”

Soal ciuman... aku memang pernah sekali melakukannya di luar karena tidak tahan, tapi itu pun setelah berpindah ke tempat yang tidak terlihat orang. Paling-paling, kami hanya bergandengan tangan atau menggamit lengan saja.

Aku mengangguk mengiyakan kata-kata Nagi... karena wajah kami masih terlalu dekat, aku mencoba sedikit menjauh, tapi ia langsung mempersempit jarak kami lagi.

“Nagi?”

“Ini belum selesai, Souta-kun.”

“T-tidak. Aku sudah merasa baikan──”

“Aku rasa tidak baik kalau kau lengah setelah merasa tenang. Jadi, kumohon biarkan sedikit lagi.”

Nagi mengatakan hal itu sambil kembali memberiku ciuman. Kali ini bukan di bibir, melainkan di keningku.

“Apakah ada hal lain yang ingin kamu lakukan? Apa pun tidak masalah, lho. ...Kan, kamu ini Suamiku.”

“Ukh...”

Rambut putih bagaikan salju menggelitik pipiku, dan seluruh pandanganku dipenuhi oleh Nagi yang sedang tersenyum. Mata birunya memancarkan pendar kehangatan yang pasti... saat aku melingkarkan tangan di punggungnya, ia langsung membalas pelukanku.

“Souta-kun, kamu suka berpelukan, ya.”

“Aku suka semua hal yang kulakukan bersamamu... tapi, benar juga. Kalau ditanya hal apa yang paling ingin kulakukan bersama Nagi, pelukan adalah hal pertama yang terlintas di pikiranku.”

Aku juga suka berciuman, tetapi aku masih merasa sedikit malu untuk memulainya dengan santai. Bukan berarti aku tidak bisa melakukannya dengan santai, kalau memang dari awal aku berniat menciumnya atau ada waktu beberapa detik untuk membulatkan tekad, aku pasti akan melakukannya.

Selain itu, ada juga hal seperti mengusap kepala atau bergandengan tangan... tapi di antara semua kontak fisik itu, yang paling mudah dilakukan dengan santai adalah berpelukan.

“Aku juga suka berpelukan. Soalnya kalau aku memelukmu erat seperti ini, aku bisa merasakan keberadaan Souta-kun dengan seluruh tubuhku. Aroma tubuh Souta-kun, suhu tubuhmu, hingga detak jantungmu. Seluruh pandanganku dipenuhi oleh Souta-kun──”

Setelah mengatakan hal itu, Nagi membenamkan wajahnya di pangkal leherku.

Lalu ia mencium pangkal leherku──tunggu, bukan.

“Am.”

Sensasi geli menjalar dari pangkal leher hingga ke ubun-ubunku, membuat punggungku merinding. Setelah itu, barulah aku sadar bahwa ia sedang memberiku ‘gigitan-gigitan kecil’.

“...Nn. Dengan ini, aku sudah menaklukkan kelima indramu.”

Suara Nagi terdengar cukup puas. Syukurlah kalau ia menikmatinya.

──Dan dengan demikian, malam pun semakin larut.

◆◆◆

Keesokan harinya sepulang sekolah. Aku datang sendirian ke rumah Nagi. Nagi sendiri sedang pergi berlatih tarian tradisional Jepang.

“Minori-sama, selamat siang.”

“Suzaka-san. Selamat siang.”

Suzaka-san sedang menyapu di depan pintu masuk. Tidak ada tanda-tanda terkejut darinya, sepertinya ia sudah tahu aku akan datang hari ini.

“Mari saya antar ke dalam.”

“Ah, tidak usah. Jangan repot-repot untukku.”

“Tadi saya berpikir untuk membersihkan halaman sambil menunggu kedatangan Anda. Selain itu, saya juga ingin mengobrol sedikit dengan Anda.”

“Begitu, ya?”

Suzaka-san mengangguk sembari tersenyum, lalu menuntunku masuk ke dalam rumah sambil membawa peralatan kebersihannya.

“Oujo-sama... Apakah Nagi-sama dalam keadaan sehat?”

“Iya. Nagi dan aku sama sekali tidak jatuh sakit dan menjalani hari-hari dengan sehat. Aku juga berusaha sebisa mungkin agar jadwal kerja Nagi tidak terlalu padat.”

“Syukurlah. ...Meskipun baru berjalan sekitar dua minggu, saya tetap merasa khawatir, ya. Walaupun bukannya kami tidak pernah bertemu sama sekali, sih.”

Aku membalas dengan senyuman dan mengangguk kepada Suzaka-san yang bergumam dengan nada lega.

“Itu menunjukkan betapa Suzaka-san menyayangi Nagi. Saat awal aku mulai tinggal sendirian, ayah dan ibuku juga sangat mengkhawatirkanku.”

Kasih sayang Suzaka-san kepada Nagi sudah terasa sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Dan tentu saja, Nagi juga pasti menyadarinya.

“Kupikir, Nagi juga menganggap Anda seperti orang tua ketiganya.”

“Itu... adalah hal yang sangat membahagiakan untuk didengar.”

“Ini bukan sekadar basa-basi, lho.”

“Iya, tentu saja. Dan fakta bahwa ketulusan itu tersampaikan, membuat saya merasa sangat bahagia.”

Suzaka-san sedikit menghentikan langkahnya dan menghela napas panjang. Wajahnya yang tampak penuh emosi itu sama sekali bukan halusinasi. Kenyataannya, waktu yang dihabiskan Nagi bersama Suzaka-san tidak jauh berbeda dengan waktu bersama kedua orang tuanya, Souichirou-san dan Chie-san... Tidak, sebagai asisten rumah tangga pribadi Nagi, mungkin Suzaka-san menghabiskan waktu jauh lebih banyak daripada mereka berdua. Apapun itu, memang benar bahwa Nagi sangat menyayangi Suzaka-san.

Setelah itu kami kembali melangkah, menuju ruang keluarga yang sama seperti sebelumnya.

Dan yang menunggu di sana──bukanlah Ayah Mertua saja.

“Maaf karena tiba-tiba memanggilmu kemari, Souta-kun. Suzaka, terima kasih juga karena sudah menyambutnya menggantikanku.”

“Tidak, jangan dipikirkan. Lagi pula, Anda juga sudah mengabari Ichitake-san soal ini.”

Pekerjaanku sebagai asisten Nagi tidak berarti aku harus selalu menemaninya setiap saat. Terutama saat ia latihan tarian tradisional Jepang, sebagian besar waktuku dihabiskan dengan belajar di ruang referensi.

Suzaka-san membungkuk hormat kepada Ayah Mertua dan Ibu Mertua, lalu meninggalkan ruangan, sepertinya untuk menyeduh teh.

“Chie-sa... Ibu Mertua ternyata juga ada di sini, ya.”

“Iya. Aku juga merasa penasaran.”

“...? Penasaran?”

“Astaga, apa kalian masih belum membicarakannya?”

“Kupikir lebih baik kalau mendengarnya langsung setelah kau datang. Kalau begitu, biarpun terlalu cepat, mari kita langsung masuk ke intinya.”

Kata-kata itu secara refleks membuat punggungku tegak... namun, raut wajah Ayah Mertua tetap terlihat lembut.

“Meski begitu, ini bukan pembicaraan yang berat. Aku cuma ingin tahu bagaimana kehidupan tinggal kalian berdua. Jika ada ketidaknyamanan, tolong katakan saja tanpa ragu.”

“...Ah, jadi tentang itu.”

Kalau dipikir-pikir, kami memang pernah membicarakan tentang pekerjaan paruh waktuku, tapi kami belum pernah membahas tentang kehidupan sehari-hari kami. Wajar saja kalau Ayah Mertua dan Ibu Mertua merasa penasaran.

“Untuk saat ini, kami hidup tanpa ada masalah besar sama sekali. ...Hanya saja, secara pribadi aku merasa cemas karena khawatir aku terlalu banyak merepotkan Nagi.”

Tiap pagi aku selalu dibangunkan oleh Nagi, dan aku juga menyerahkan urusan sarapan dan bekal padanya. Memang itu adalah hal yang sudah kami sepakati bersama, tapi terkadang aku masih merasa khawatir apakah aku menjadi beban bagi Nagi. Kemarin pun aku baru saja dibantu olehnya.

Akan tetapi, Ibu Mertua tertawa mendengar ucapanku.

“Fufu. Nagi juga mengatakan hal yang hampir serupa, lho. ‘Aku rasa aku terlalu membebani Souta-kun’.”

“...Nagi bilang begitu?”

Karena tak menduganya, aku secara refleks bertanya balik. Bukan berarti Nagi tidak mengandalkanku, namun jika dibandingkan, sepertinya aku yang lebih sering merepotkannya.

“Iya. Katanya sejak Souta-kun mulai bekerja paruh waktu, bebannya terasa sangat jauh berkurang. Ayahnya ini kan sibuk, jadi ia sering kali kesulitan mengelola penjadwalan secara terperinci.”

“Jadi... begitu, ya.”

“Tidak hanya itu, ia juga sangat terbantu dengan pekerjaan rumah. Katanya, dalam urusan bersih-bersih ia jadi banyak belajar darimu. Soalnya kan, di rumah ini kami menyerahkan urusan tersebut pada para asisten rumah tangga seperti Suzaka-san.”

“...Aku paham sekarang.”

Saat aku akan mulai tinggal sendiri, ibuku banyak mengajariku tentang hal-hal praktis saat bersih-bersih dan sebagainya. Mengingat hal itu, kurasa pembagian tugas ini adalah keputusan yang tepat.

Ditambah lagi, aku sangat senang mengetahui bahwa meskipun ini hanya pekerjaan paruh waktu, aku berhasil mengurangi beban Nagi.

“Iya. Nagi bahkan mengirimi kami pesan setiap hari untuk memberitahu betapa serunya kehidupan barunya. Sudah tidak bisa diragukan lagi bahwa Souta-kun sangat membantu Nagi.”

Mendengar Ayah Mertua berkata demikian──di saat yang bersamaan, muncul sebuah pertanyaan kecil di kepalaku.

“...Nagi ternyata lebih sering menghubungi kalian berdua daripada yang aku bayangkan, ya.”

Tepat saat mendengar pertanyaanku, raut wajah Ayah Mertua dan Ibu Mertua seketika berubah menjadi jauh lebih lembut.

“Benar. Semenjak hari di mana Souta-kun berkunjung ke rumah ini, Nagi jadi lebih sering mengobrol dengan kami dibandingkan sebelumnya. Tentu saja, kami juga jadi banyak bercerita kepadanya. Kami jadi bisa menjalin hubungan yang lebih dekat lagi.”

“Ya. Sungguh, tak peduli seberapa banyak kami mengucapkan terima kasih, rasanya tak akan pernah cukup untuk membalas kebaikan Souta-kun.”

Senyum kedua orang tua itu terlihat sangat cerah dan lembut. Sedemikian rupa hingga tanpa sadar membuatku ingin ikut tersenyum juga.

“Bahkan, kami juga sudah berjanji untuk pergi bermain. Kami berencana pergi berbelanja baju bersama, dan Suzaka-san juga ikut.”

“...! Begitu rupanya!”

“Fufu. Kami juga membicarakan rencana untuk pergi jalan-jalan sekeluarga dalam waktu dekat. Ini semua berkatmu. ...Karena berkatmu, akhirnya kami bisa berinteraksi selayaknya sebuah keluarga.”

Sesuatu yang hangat menyeruak dari dalam dadaku, membuatku tak hanya ingin tersenyum, tapi juga merasakan luapan emosi yang meluap-luap.

Syukurlah. Keluarga Nagi akhirnya bisa menjadi akrab layaknya sebuah keluarga sungguhan. ...Apalagi setelah semua hal yang tidak bisa mereka lakukan selama ini.

Dan yang terpenting, aku sangat senang melihat Ibu Mertua menceritakannya dengan wajah yang begitu berseri-seri.

“Lain kali, bagaimana kalau Souta-kun juga ikut pergi bersama kami?”

“Jika saya boleh ikut, dengan senang hati.”

“Jangan berkata seperti itu. Kami juga menganggap Souta-kun sebagai keluarga kami. Tentu saja, Suzaka-san juga ikut bersama kita.”

“...Baik!”

“Jika Anda berkenan, dengan senang hati saya akan ikut.”

Tepat pada saat itu, Suzaka-san datang membawakan teh, dan kami pun membuat janji itu. Bagiku sendiri, keinginan untuk lebih dekat dengan keluarga Ibu Mertua ini sangatlah tulus.

Lalu, Ayah Mertua berdeham pelan.

“...Nah, mari kita kembali sedikit ke pembicaraan awal. Souta-kun, apakah ada sesuatu yang kurang dari kehidupanmu saat ini?”

“Hmm... untuk saat ini, tidak ada yang secara khusus kurang atau bagaimana.”

“Begitu. Lalu, apakah ada hal lain yang mengganjal pikiranmu?”

Hal yang mengganjal... ya. Kira-kira ada tidak ya?

“Bagaimana dengan pekerjaan paruh waktumu? Apakah kamu merasa butuh waktu lebih luang, atau semacamnya?”

“...!”

Mendengar kata-katanya, aku langsung teringat kejadian kemarin malam. Aku menyusun email dan mengurus jadwal hingga larut malam, sampai akhirnya dihentikan oleh Nagi.

“...Tidak. Memang ada banyak hal yang harus saya pelajari, tapi saat ini prioritas saya adalah untuk terbiasa dengan pekerjaan itu. Terlebih lagi, Nagi berjuang berkali-kali lipat lebih keras daripada saya.”

“Hmm.”

Setelah berpikir sejenak dan menjawab demikian, Ayah Mertua mengangguk-angguk sambil menatap lekat ke arahku.

“Perkataanmu itu ada benarnya. Meskipun sibuk pada awalnya, begitu kau terbiasa, efisiensi kerja akan meningkat dan kau akan memiliki lebih banyak waktu luang.”

“B-baik!”

“Akan tetapi, bagian akhir dari perkataanmu itu sedikit mengganjal.”

Ekspresi Ayah Mertua sedikit berubah. Menjadi serius. Hal itu otomatis membuat punggungku juga ikut tegak.

“Memang benar Nagi berusaha dengan sangat keras. Ia pasti berusaha keras bahkan di tempat yang tidak terlihat oleh kita. ...Namun, itu bukan berarti aku menganggap usahamu kurang.”

Suaranya tidak begitu keras, namun terdengar sangat tegas dan langsung mengena di hati.

“Ini pasti pertama kalinya kau mengalami banyak hal. Berinteraksi dengan banyak orang dewasa di pertunjukan, apalagi kesempatan mengirim email semacam itu jarang dialami oleh anak SMA. Ditambah lagi, kau harus mempelajari hal-hal baru dari nol. Terlebih, untuk menyeimbangkannya dengan pelajaran sekolah, kau pasti harus berusaha keras untuk itu.”

“...Itu...”

Menyeimbangkannya dengan pelajaran sekolah... apakah aku bisa melakukannya dengan baik? Waktu belajarku berkurang dibandingkan sebelumnya, jadi aku sedikit cemas memikirkan ujian akhir semester nanti.

Bahkan, jangankan itu, kemarin saja aku hampir membuat kesalahan saat mengirim email──

“Souta-kun.”

Tanpa sadar aku menundukkan pandangan, lalu mendongak ketika Ibu Mertua memanggil namaku.

“Kalau ada yang membuatmu khawatir, tolong katakan saja. Kami selalu ada di pihakmu.”

“...Terima kasih banyak.”

Aku merasa, ada baiknya jika aku membicarakannya.

Mereka sepertinya sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi, dan jika aku tidak mengatakannya... aku merasa masalahnya akan menjadi semakin besar nanti.

“Saya... merasa kalau diri saya sangat kaku dan lamban. Saya sudah berusaha keras, tapi masih banyak hal yang belum saya kuasai... Rasanya saya ini sungguh payah.”

Kalau Nagi, dia pasti bisa melakukannya dengan jauh lebih gesit. Kupikir dia tidak akan menghabiskan waktu hingga larut malam hanya untuk membalas email dan mengurus jadwal seperti yang kulakukan kemarin.

“...Meskipun kau berkata begitu, kupikir kau sudah bekerja dengan sangat baik. Tentu saja gaya tulisanmu di email sudah bagus, orang-orang yang kau sapa di acara pertunjukan tempo hari juga memuji sikapmu yang sopan.”

“Ayah? Hal-hal seperti itu harusnya disampaikan lebih awal, lho.”

“Maaf, tadinya aku memang berniat menyampaikannya hari ini.”

Meskipun Ayah Mertua memujiku, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman masam.

“Terima kasih banyak. Tapi, saya benar-benar masih harus banyak belajar.”

“Hmm.”

Kesalahan kemarin pun hanya kutemukan secara kebetulan, jangan-jangan masih banyak kesalahan lain yang belum kusadari selama ini.

“Mungkin kau terlalu tegang. Yah, itu bisa dimengerti sih.”

“Mungkin saja.”

Banyak hal yang baru pertama kali kualami. Banyak interaksi dengan orang lain, tidak mudah untuk langsung terbiasa. Yah, kurasa waktu yang akan menyelesaikannya.

“...”

Mata Ayah Mertua menatap tajam ke arahku yang sedang berpikir seperti itu. Eh, apakah wajahnya terlihat sedikit lebih keras dari sebelumnya...?

“Kupikir hanya ada satu hal yang kurang darimu.”

Firasatku tidak salah. Suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya, membuat otot-otot punggungku yang sudah tegak semakin kaku.

Sesuatu yang kurang dariku. Kira-kira apa, ya? Banyak hal yang terlintas di kepalaku.

“Rasa percaya diri.”

“...!”

“Jika kau punya rasa percaya diri, sebagian besar kekhawatiranmu pasti akan teratasi.”

Ayah Mertua mengatakan hal itu sambil melipat kedua tangannya. Pandangannya sama sekali tak lepas dariku, dan ekspresi wajahnya pun tak berubah.

“Sepertinya aku sedikit salah menilaimu. Saat pertama kali kau datang kemari, kau memang bersikap sangat sopan, tapi kau terlihat cukup percaya diri.”

“I-itu karena saya... sedang sangat putus asa.”

“Lalu, apa artinya sekarang kau sudah tidak putus asa lagi?”

“Bukan berarti...”

Aku tidak bisa menjawabnya dengan tegas. Aku mencoba memikirkannya di dalam kepala.

Apakah aku yang sekarang sudah tidak merasa putus asa? Tidak, bukan begitu. Waktu itu aku tidak hanya putus asa, tapi aku juga tidak punya banyak waktu. Sekarang aku punya lebih banyak waktu, makanya aku menambah proses pengecekan──ah.

“Kau sudah menyadarinya?”

“...Mungkin saya yang sekarang bersikap terlalu hati-hati.”

“Tepat sekali. Jika kau pikirkan lebih jauh lagi, kau sebenarnya tidak memercayai dirimu sendiri. Kau kurang percaya diri.”

Aku mengangguk membenarkan ucapan Ayah Mertua. Benar sekali. Alasan kenapa aku berani datang kemari saat itu adalah karena aku memiliki keyakinan kuat bahwa ‘Aku pasti bisa membahagiakan Nagi’.

“Kau ini lebih pintar dari yang kau kira. Kau juga punya keberanian. Jadi, satu-satunya hal yang kau butuhkan sekarang hanyalah ‘rasa percaya diri’.”

Setelah mengatakan hal tersebut, sudut bibir Ayah Mertua sedikit terangkat.

“Percaya dirilah, Souta-kun. Kau ingin hidup bahagia bersama Nagi, kan?”

“...Baik! Pasti. Aku akan membahagiakannya lebih dari siapa pun. Juga diriku sendiri.”

“Syukurlah aku bisa mendengar kata-kata itu.”

Memiliki rasa percaya diri. Itu bukanlah hal yang sulit.

“Mulai sekarang, kalau kamu merasa bimbang, ingatlah hal ini. Kamu adalah laki-laki yang dicintai oleh gadis paling manis sedunia.”

Mendengar kata-kata Ibu Mertua, aku menganggukkan kepalaku. Bisa dicintai oleh orang yang sangat kucintai. Itu saja sudah cukup untuk memberiku rasa percaya diri yang besar.

“Terima kasih banyak. Mulai dari sekarang, saya bisa terus berusaha keras.”

“Tapi jangan sampai memaksakan diri, ya. Kalau ada apa-apa, tolong andalkan kami.”

“Baik!”

Hatiku terasa sangat ringan. Syukurlah aku membicarakan masalah ini.

...Saat aku sedang memikirkannya, aku menyadari bahwa Ayah Mertua kembali menatapku dengan wajah serius.

“Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu, Souta-kun.”

“Sesuatu yang ingin disampaikan... apa itu?”

Saat aku bertanya balik, ada jeda sesaat. Jeda itu bukan disengaja, melainkan ia terlihat ragu untuk mengatakannya... kurasa ini sangat jarang terjadi.

Dan aku langsung mengerti alasannya setelah mendengar kata-kata selanjutnya.

“Aku tahu betul kalau kalian berdua sangat saling mencintai. Fakta bahwa kalian tinggal bersama pun menjadi buktinya. Hanya saja... aku yakin Souta-kun juga pasti sudah tahu akan hal ini. Tolong pastikan agar kalian memakai kontrasepsi dengan benar.”

“...B-baik. Tentu saja.”

“Dan, kalau sampai terjadi sesuatu di luar dugaan, tolong segera beri tahu aku atau Chie.”

“Baik. Menurut saya itu tidak akan terjadi, tapi jika sampai terjadi, saya pasti akan memberitahukan hal itu.”

Saat liburan musim dingin lalu, orang tuaku juga mengingatkanku soal ini. Ini adalah masalah yang sangat penting. Karena baik aku maupun Nagi masih berstatus pelajar SMA.

“Yah, kami selalu percaya padamu, Souta-kun. Apa yang baru saja kusampaikan itu tak lain adalah tanggung jawab kami sebagai orang tua.”

“Padahal sampai saat-saat terakhir dia masih bingung lho. Terus memikirkan bagaimana cara terbaik menyampaikannya, dia bahkan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memilih kata-kata yang tepat daripada saat bekerja.”

“C-Chie. Kau tidak perlu memberitahukan hal itu.”

“Fufu, maafkan aku.”

Mendengar perbincangan mereka berdua, tanpa sadar senyum kembali mengembang di wajahku. Aku jadi membayangkan betapa santai dan hangatnya suasana saat Nagi sedang bersama mereka.

Saat aku sedikit memalingkan pandangan dan melihat ke belakang, kulihat Suzaka-san juga tengah menatap ke arah kami dengan senyum hangat di wajahnya.

◆◆◆

“Begitu rupanya. Ternyata untuk memastikan keadaan hidup kita, ya.”

“Ya. Kami juga banyak membicarakan hal-hal santai, aku merasa hubungan kami dengan Ayah dan Ibu Mertua semakin dekat sekarang.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Setibanya di rumah, aku menceritakan pada Nagi apa saja yang telah kubicarakan dengan Ayah dan Ibu Mertua. Tentu saja kalau diceritakan semuanya akan terlalu panjang, jadi aku hanya menceritakan garis besarnya saja.

Itu karena ada satu hal penting yang harus kubicarakan dengannya.

“Dan satu lagi, Nagi, ada hal yang ingin kukonsultasikan denganmu.”

“Apakah itu?”

“Ada permintaan wawancara untukmu.”

Aku mengambil ponsel dan membuka kotak masuk emailku. Tadi aku sudah membicarakan hal ini dengan Ayah Mertua, dan beliau menyuruhku untuk membicarakannya dengan Nagi dan memutuskannya bersama-sama. Tentu saja, kalau itu hanya sekadar wawancara biasa, aku tidak akan terlalu memikirkannya, tapi...

“Wawancara ini terkait dengan acara apresiasi seni siswa SMP waktu itu. Jadwalnya hari Jumat minggu ini, jam 5 sore.”

“Kalau hanya melihat sejauh ini, sepertinya tidak ada yang aneh. Dan seingatku, hari itu jadwalku juga kosong.”

“Benar. Tapi wawancara ini bukan cuma untukmu saja. Minamikawa Uka-san juga akan diwawancarai.”

“ Uka-chan? Ah, tidak terlalu mengejutkan sih.”

Aku menyetujui ucapan Nagi. Kalau ditanya siapa dua penari yang paling menonjol di acara itu, pasti jawabannya adalah Nagi dan Uka-san. Memang tidak ada yang aneh.

“Bagaimana menurutmu? Ayah Mertua menyerahkan keputusan sepenuhnya pada kita. Boleh kamu terima, boleh juga kamu tolak.”

“...”

Nagi tertunduk, sepertinya sedang berpikir dalam. Jika dilihat dari raut wajahnya, ia sepertinya kurang setuju dengan tawaran ini.

“Apakah ada kenangan buruk tentang wawancara ini? Kalau dipikir-pikir, aku memang jarang dengar soal wawancara.”

“Tidak, bukan seperti itu. Semua wawancara yang kulakukan selama ini selalu berjalan dengan baik. Hanya saja, kalau Uka-chan ada...”

Sambil berkata demikian, Nagi menujukan sepasang mata birunya ke arahku. Seolah-olah mengkhawatirkanku.

“Aku agak tidak suka mengatakan ini, tapi kalau Uka-chan datang, Seiya-san mungkin juga akan ikut dengannya. Kalau bisa, aku tidak ingin mempertemukan Souta-kun dengan orang yang tidak menyukaimu.”

“Oh, begitu ya.”

Memang benar, saat terakhir kali kami bertemu, Seiya-san menunjukkan rasa tidak sukanya padaku... ia sama sekali tidak berusaha menutupi rasa bencinya. Dan ia dengan jelas menunjukkan bahwa yang dibencinya adalah aku, bukan Nagi.

“Meskipun di akhir pertemuannya sikapnya sedikit melunak...”

“Tapi tetap saja sikapnya tidak bisa dibilang normal. Kalau ia memperlakukan Souta-kun sama sepertiku, mungkin itu beda cerita.”

“...Hmm.”

Aku bisa mengerti apa yang Nagi maksud. Kalau aku berada di posisinya, pasti aku juga akan merasa tidak nyaman.

“Benar juga, ya. Kali ini kita tolak saja...”

Sambil mengatakan hal itu, aku membaca ulang email dari Ayah Mertua, dan menyadari ada satu hal yang lupa kusampaikan.

“...Maaf Nagi, ada bagian yang terlewat.”

“Yang mana?”

“Untuk wawancara ini, Uka-san bilang dia sangat ingin Nagi ikut serta.”

“Kalau begitu... kita tidak bisa menolaknya.”

Setelah memastikan tidak ada bagian lain yang terlewat, aku kembali menatap Nagi.

“Apakah memang tidak pantas kalau ditolak?”

“Sepertinya begitu. Walaupun mereka dari faksi netral, mereka tetap keluarga Minamikawa. Mengabaikan itikad baik mereka rasanya kurang pantas...”

Nagi mengerutkan kening dan menopang dagunya, terlihat sedang berpikir keras. Setelah beberapa saat, ia menatapku dengan mata yang lebih sendu dari biasanya.

“...Souta-kun, maafkan aku. Mungkin kamu akan merasa tidak nyaman, tapi bisakah aku menerima tawaran ini?”

“Jangan meminta maaf, Nagi. Kan seperti yang kubilang sebelumnya, aku juga ikut andil dalam masalah ini.”

Nagi memejamkan mata. Lalu ia mengangguk dan mendekatkan badannya kepadaku.

“Baiklah. Kalau begitu, tolong balas emailnya dan sampaikan bahwa kita menerimanya.”

“Siap.”

“Tapi, karena ada hal yang mengganjal pikiranku, besok sepulang sekolah aku akan membicarakannya dengan Papa dan Mama.”

“Mengerti.”

Aku membalas perkataan Nagi dengan anggukan, dan segera membalas email tersebut. Sebaiknya balasan dikirimkan secepatnya.

Dengan demikian, perjumpaan kami dengan Minamikawa Uka-san sepertinya akan datang jauh lebih cepat dari perkiraan kami.

◆◇◆

“Selamat datang kembali, Oujo-sama.”

“Aku pulang, Suzaka-san!”

Keesokan harinya sepulang sekolah, aku mampir ke rumah orang tuaku. Karena terkadang aku juga meminta bantuan Suzaka-san untuk berbelanja, aku tidak merasa sudah lama tidak bertemu dengannya... tapi tetap saja, aku merasa senang dan lega. Kehidupan di sini juga merupakan keseharianku.

“Saya sudah mendengar kabar dari Minori-sama, tapi... apakah Anda dalam keadaan sehat?”

“Iya, aku selalu sehat lho. Apakah Suzaka-san juga sehat?”

“Iya, tentu saja.”

Sembari mengobrol santai, kami masuk ke dalam rumah. Suzaka-san terlihat memamerkan senyuman yang lebih cerah dari biasanya.

“Bagaimana dengan sekolah dan latihan menarinya?”

“Semuanya berjalan menyenangkan. Terutama soal latihannya, karena ada Souta-kun di sana, perasaanku jadi jauh lebih tenang.”

Karena perjalananku pergi dan pulang latihan selalu ditemani oleh Souta-kun, belum lagi pengelolaan jadwalku juga sudah diserahkan padanya. Selama ini aku tak menyadarinya, tapi ternyata tugas-tugas itu cukup menyita pikiran... belakangan ini aku jadi bisa lebih fokus pada latihanku.

“Aku benar-benar takkan pernah bisa berterima kasih secukupnya pada Souta-kun. ...Ah, tentu saja aku juga sangat berterima kasih pada Suzaka-san. Terima kasih sudah mau berbelanja untukku di saat-saat sibuk.”

“Fufu, sama-sama. Karena tugasku sebagai pelayan pribadimu masih belum dibebaskan, lho.”

“Mulai sekarang aku akan terus mengandalkanmu, ya.”

Mendengar kata-kataku itu, langkah Suzaka-san terhenti. Ia lalu menatapku lekat-lekat.

“Ada apa?”

“...Ah tidak, bukan apa-apa. Rasanya sedikit memalukan jika harus mengatakannya.”

“Jangan merasa malu begitu. Aku tidak akan pernah menertawakan keluargaku sendiri.”

“...!”

“Ikatan keluarga itu kan tidak hanya terbatas pada hubungan darah. Kalau begitu, aku juga tidak memiliki hubungan darah dengan Papa dan Mama. Jika orang-orang yang berharga di hati bisa disebut sebagai keluarga, maka Suzaka-san juga keluargaku.”

Jika sebuah keluarga hanya ditentukan dari hubungan darah, aku jadi tak tahu apakah aku memiliki keluarga di dunia ini. Aku tak pernah tahu siapa orang yang telah melahirkanku, dan mereka pun mungkin tidak tahu apakah aku masih hidup atau tidak. Oleh sebab itu, aku menyebut orang-orang yang paling kusayangi ini sebagai keluargaku. Dan tentu saja, Suzaka-san adalah salah satunya.

“...Oujo-sama. Ah bukan, Nagi-sama.”

Dengan suara yang sedikit bergetar, Suzaka-san memanggil namaku. Ekspresinya terlihat sangat bahagia, sehingga mau tak mau senyumku pun turut mengembang.

“Permisi sebentar.”

“Wah.”

Kemudian──ia memelukku. Tumben sekali Suzaka-san memelukku. Waktu aku masih kecil... saat Papa dan Mama sibuk bekerja, dia sering sekali memelukku ketika aku kesepian ditinggal sendirian di rumah.

“...Fufu.”

Rasa bahagia memenuhi hatiku, dan aku pun membalas pelukannya. Aroma yang berbeda dari Mama──namun tetap memberikan rasa tenang.

Kami berpelukan sampai merasa puas, setelah itu kami melangkah masuk ke dalam rumah.

◆◆◆

“Maaf karena mendadak, Papa.”

“Tidak usah sungkan. Ayah kan sudah berpesan pada Nagi dan Souta-kun untuk membicarakan apa pun yang mengganjal. Mulai dari sekarang juga jangan sungkan untuk bercerita. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”

Aku senang mendengar kata-katanya, tapi aku memutuskan untuk langsung masuk ke intinya.

“Ini mengenai Minamikawa Uka-chan.”

Seketika kusebut namanya, mata Papa sedikit berkedut. Bukan karena ia menyembunyikan sesuatu, melainkan karena itu adalah kebiasaannya ketika sedang mencoba mengingat sesuatu.

“Maksudnya adalah kenapa ia repot-repot memintaku untuk hadir di wawancara ini?”

“Iya. ...Tindakan yang telah aku lakukan pada Keluarga Minamikawa itu sangat fatal──”

“Kita yang melakukannya, Nagi.”

“...! Benar juga, ya. Maafkan aku.”

Di tengah ucapanku, Papa menyela dengan kata-kata tegas, membuatku buru-buru meralatnya. Aku mengucapkannya tanpa sadar. Padahal pada Souta-kun aku sudah bilang kalau kami yang melakukannya... Sambil mengintrospeksi diri, aku mengalihkan pikiran dan kembali ke topik.

“Jadi, tentang Uka-chan. Sejujurnya, menurutku reaksi dari Minamikawa Seiya-san terhadap kita jauh lebih wajar.”

Aku sudah menceritakan pada Papa dan Mama tentang kejadian saat pertunjukan tempo hari. Dan aku melakukannya bukan untuk mengadu bahwa perlakuan Minamikawa Seiya-san sangat tidak menyenangkan. Reaksi semacam itu sudah berada dalam dugaanku. ...Walaupun aku merasa agak kesal karena ia melampiaskannya pada Souta-kun alih-alih padaku.

“Dia bilang dia menghormatiku, tapi biarpun itu benar... dengan adanya kejadian waktu itu, sangat wajar jika rasa hormatnya kepadaku berubah menjadi rasa kecewa, atau bahkan kebencian.”

“...Ayah setuju bahwa tidak aneh jika perasaannya berubah seperti itu.”

Setelah mengatakan itu, Papa melanjutkan, “Tetapi”.

“Kurasa, tidak aneh juga kalau perasaannya sama sekali tidak berubah.”

“Maksud Papa?”

“Alasannya bermacam-macam. Tapi, jika harus menyebutkan satu... Ayah hanya bisa mengatakan kalau Minamikawa Uka adalah gadis yang sulit ditebak.”

“...?”

Tumben sekali Papa menggunakan kata-kata yang sangat abstrak. Saat aku memiringkan kepala karena tidak mengerti maksudnya, ia melanjutkan penjelasannya.

“Ayah juga pernah beberapa kali melihatnya, tapi... jalan pikirannya tidak bisa ditebak.”

Kata-kata itu membuatku terkejut. Sejak dulu, Papa selalu bilang kalau ia punya kepercayaan diri yang tinggi dalam menilai seseorang. Aku pun berpikiran sama. Dan Papa yang seperti itu... merasa tidak bisa menebak jalan pikirannya.

“Gadis yang sulit ditebak itu... matanya berbinar-binar selayaknya anak seusianya saat menonton pertunjukan Nagi. Karena itulah Ayah hanya bisa mendeskripsikannya sebagai gadis yang sulit ditebak.”

“Maksud Papa, karena dia adalah gadis yang sulit ditebak, aku tidak boleh menilainya dengan standar pemikiranku sendiri?”

“Benar. Maafkan Ayah karena hanya bisa memberitahumu sejauh ini. Sisanya, Ayah harap Nagi bisa menilainya dengan matamu sendiri. Dibandingkan Ayah yang cuma pernah bertemu dan menyapanya beberapa kali, Nagi yang sudah mengobrol langsung dengannya pasti lebih bisa memahaminya.”

“...Aku mengerti.”

Kalau Papa berkata demikian, mungkin memang sebaiknya aku melakukannya. Toh sejak awal tujuanku kemari hanya untuk meminta sedikit saran. Meskipun begitu, masih ada satu hal lagi yang menjadi kekhawatiranku.

“Sebenarnya, mungkinkah Uka-chan adalah bagian dari Keluarga Minamikawa yang mencoba untuk mencelakai kita... atau setidaknya, sangat dekat dengan orang-orang semacam itu?”

Kemungkinan bahwa perkataannya tentang menghormati dan mengagumiku hanyalah kebohongan semata. Saat kutanyakan hal itu, Papa menggelengkan kepalanya pelan.

“Kemungkinannya sangat kecil. ...Fakta bahwa Minamikawa Bersaudara sangat akrab dengan Minamikawa Haruto-kun sudah menjadi rahasia umum. Ditambah lagi, dari lubuk hatinya, Minamikawa Haruto-kun tidak membenci kita. Belum lama ini, ia bahkan berjanji akan menghentikan siapa pun dari pihak keluarganya jika ada yang mencoba mencelakai kita. Kemungkinan ada anggota keluarga yang mencoba mencelakai kita dengan mengabaikan peringatannya sangatlah kecil. ...Meskipun Ayah tidak bisa bilang kalau ini bukan murni sekadar tebakan.”

“Tidak, mendengar sejauh itu saja sudah cukup bagiku.”

Aku yakin Papa pasti juga sedang menyelidiki informasi tersebut di balik layar. Memikirkannya lebih jauh hanya akan membuatku semakin curiga padanya, jadi lebih baik kuhentikan saja sampai di sini.

──Tepat pada saat itu.

“Ah, syukurlah. Mama tepat waktu.”

“...Mama?”

Mama masuk ke dalam ruangan. Kalau tidak salah, Mama bilang hari ini ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan sehingga kami tidak bisa bertemu. Aku memaklumi kesibukannya, tapi jujur saja aku merasa sedikit kesepian... tapi.

“Mama cepat-cepat pulang karena ingin bertemu dengan Nagi, lho.”

“...! Benarkah!”

Saking senangnya mendengar kata-kata itu, tanpa sadar suaraku jadi sedikit meninggi. Papa memandangiku dengan tatapan penuh kasih sayang, sementara Mama duduk di sebelahku.

“Bagaimana kehidupan barumu? Apakah ada sesuatu yang membuatmu khawatir, atau mengganjal pikiranmu?”

“Fufu, setiap harinya terasa sangat menyenangkan, lho. Sekolah dan latihanku juga sangat menyenangkan... Tentu saja tidak semuanya berjalan mulus, tapi kalau aku pulang ke rumah dan bertemu Souta-kun, semua itu langsung terlupakan.”

Kalau di sekolah, ada pandangan dari orang-orang sekitar... terutama dari para siswa laki-laki. Meskipun sudah berkurang dibandingkan sebelumnya, hal itu tetap saja memberikan sedikit tekanan. Dan untuk tarian tradisional Jepang, akhir-akhir ini aku memang bisa merasakan sendiri kemampuanku meningkat dengan pesat... tapi tentu saja ada kalanya ada hal yang tidak berjalan dengan lancar. Berkaitan dengan tarian, aku juga menikmati masa-masa sulit itu, tapi itu juga bisa jadi alasanku untuk bermanja-manja pada Souta-kun. Meski aku tetap akan bermanja padanya walau tak punya alasan apa pun, sih.

“Syukurlah kalau begitu. Nagi bisa bersenang-senang adalah hal yang paling penting.”

“Iya!”

Kehidupan tinggal bersama dengan Souta-kun bisa dibilang sangat menyenangkan. Ada banyak sekali hal yang bisa kupelajari. Mulai dari perbedaan kecil dalam kebiasaan hidup kami, dan siapa yang harus beradaptasi. Mendiskusikan dan memutuskan apa saja hal-hal yang bisa dikompromikan dan yang tidak. Kurasa kepribadian kami sangat cocok karena kami saling peduli tapi tidak merasa sungkan berlebihan satu sama lain... tapi tentu saja aku tidak akan pernah lengah.

“...Tapi, kalau terjadi sesuatu pada kami, aku pasti akan mengadu pada Mama. Soalnya... aku sama sekali tidak mau berpisah dari Souta-kun.”

Mama sempat terlihat bingung sejenak──lalu tersenyum. Senyuman yang begitu lembut.

“Tentu saja. Asal kamu tahu, Mama dan Papa dulu juga sering sekali bertengkar, lho.”

“Benarkah begitu?”

“Itu cerita masa lalu, sih. Terutama sebelum Papa merintis usahanya... kami sering sekali berbeda pendapat. Nagi tahu kan, Papamu ini kurang pandai merangkai kata-kata? Meskipun kami sering bertengkar, anehnya setelah pertengkaran usai, perasaanku yang ingin mendukungnya justru semakin kuat. Saking sukanya, sampai-sampai Mama merasa ingin menikahinya.”

Itu adalah cerita yang belum pernah kudengar sebelumnya. Dari sudut pandangku, kulihat Papa memasang wajah canggung... pemandangan yang sangat langka, sampai-sampai aku refleks tertawa. Melihatku tertawa, Mama──menggenggam tanganku.

“Nagi dan Souta-kun pasti akan baik-baik saja. Sifat kalian berdua itu mirip, lho. Rasa cinta kalian yang begitu dalam terhadap satu sama lain juga sangat terlihat bahkan di mata orang lain. Terlebih lagi, kalian juga mampu mengungkapkannya dengan jelas lewat kata-kata.”

“...Iya!”

Kata-kata Mama begitu lembut, meresap hangat ke dalam hatiku. Mendengar kata-kata Mama memang membuatku sangat senang──tapi bukan itu saja.

Karena ini adalah sesuatu yang kuimpikan sejak aku masih kecil. Bisa berbincang-bincang hangat dan akrab layaknya sebuah keluarga bersama Papa dan Mama.

Sungguh, aku tak tahu bagaimana harus membalas budi pada Souta-kun. Sebagai gantinya, aku akan membahagiakannya lebih banyak lagi mulai sekarang. Mari kita berbahagia bersama.

◆◆◆

Setelah mengobrol banyak dengan Papa, Mama, dan Suzaka-san──waktunya untuk pulang pun tiba.

“Kapan-kapan datanglah ke apartemen kami. Nanti kita ngobrol banyak bersama Souta-kun.”

“Iya, tentu saja. Papa sangat menantikannya.”

Dengan itu, mereka mengantarku sampai ke pintu masuk──di tengah jalan, Mama tiba-tiba menyentuh pundakku pelan.

“Nagi, boleh Mama bicara sebentar?”

“Ada apa, Ma?”

Ekspresi Mama terlihat lembut, namun serius. Aku bisa merasakan bahwa ini bukan sekadar obrolan biasa.

“Ada satu hal yang ingin Mama sampaikan tentangnya, tentang Souta-kun.”

Mendengar kata-kata itu, secara otomatis aku merasa raut wajahku ikut menjadi serius. Aku menghentikan langkahku, menatap Mama dan menunggu ia melanjutkan kata-katanya.

“Tadi Mama bilang kan, kalau Nagi dan Souta-kun punya sifat yang mirip? Nah, di antara sifat-sifat itu, ada satu sifat yang menurut Mama sangat mirip.”

“Sifat... apakah itu?”

“Kalian berdua sama-sama orang yang sangat serius.”

Sesaat aku hampir memiringkan kepala, tapi kemudian aku mengangguk setuju. Memang benar, Souta-kun adalah orang yang sangat serius. Tapi, apa hubungannya dengan hal itu... sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, Mama menjelaskannya padaku.

“Menjadi orang yang serius itu hal yang sangat bagus. Tapi, karena hal itu juga kalian bisa terluka. ...Mama yakin Nagi sangat paham maksud Mama.”

“...Iya.”

Sifat terlalu serius itu kadang menyulitkan. Aku sendiri pernah beberapa kali mengalami hal di mana aku menelan semua masalah mentah-mentah hingga rasanya aku tidak bisa bernapas. Di saat-saat seperti itu, Suzaka-san... dan juga Guru, merekalah yang menolongku. Cerita yang belakangan baru kudengar, ternyata Mama dan Papa diam-diam bertanya pada Suzaka-san apakah ada cara untuk bisa memberiku nasihat. Waktu itu mungkin karena aku menghabiskan lebih banyak waktu bersama Suzaka-san dibanding dengan Papa dan Mama.

“Suatu saat mungkin akan tiba waktunya... saat di mana Souta-kun terlalu serius menanggapi semuanya dan berusaha menanggung semuanya sendiri... hingga ia merasa hampir meledak. Saat waktu itu tiba, tolong Nagi bantu dia, ya.”

“Iya, pasti.”

Kalau dipikir-pikir, belum lama ini ia juga hampir begadang karena terlalu fokus bekerja. Kalau terjadi hal seperti itu lagi, aku harus menghentikannya. Aku akan mengawasinya dengan baik agar ia tidak memaksakan diri.

Mendengar jawabanku, Mama tersenyum dan mengangguk. Saat aku baru akan melangkah lagi... kali ini Papa yang memanggilku.

“Nagi, dari Ayah juga boleh? Topiknya sedikit berbeda, sih.”

“Tentu saja.”

Aku menjawab sambil bertanya-tanya apa yang akan dikatakannya. Sama seperti Mama tadi, Papa memasang wajah serius──

“Soal wawancara di mana Minamikawa Uka memintamu untuk ikut hadir. Setelah Ayah pikirkan lagi, ada satu hal yang terlintas di pikiran Ayah.”

“Tolong beritahu aku.”

Secara refleks aku berkata demikian. Biarpun aku akan lebih mengenal Uka-chan ke depannya, kami terlalu kekurangan informasi mengenai kejadian kali ini.

Papa mengangguk pelan──lalu membeberkan apa yang menjadi tujuan mereka.

◆◇◆

“Lama tidak berjumpa! Nagi-chan-senpai! Souta-sama!”

“L-lama tidak berjumpa... Meski rasanya baru sekitar setengah bulan yang lalu kita bertemu. Uka-chan, Seiya-san juga.”

“Lama tidak berjumpa, Uka-san. Seiya-san.”

“...Lama tidak berjumpa. Shinonome Nagi-sama, Minori Souta-sama.”

Di lantai satu kantor surat kabar. Tepatnya di area resepsionis, ada dua orang yang berdiri di sana. Mereka adalah Uka-san dan Seiya-san yang mengenakan seragam sekolah.

“Kalian datang di waktu yang tepat. Kami baru saja meminta untuk memanggilkan staf penanggung jawab.”

“Oh, begitu ya. ...Ngomong-ngomong, Uka-san dan Seiya-san sekarang kelas 3 SMP, kan?”

“Iya, sebentar lagi kami akan lulus.”

Sambil menunggu, Nagi mengajak Uka-san mengobrol. Aku sempat ragu apakah aku harus mengajak Seiya-san bicara, tetapi menyadari bahwa diajak bicara oleh orang yang dibencinya pasti tidak menyenangkan, aku mengurungkan niatku dan mendengarkan percakapan Nagi dan Uka-san.

“Tampil di pertunjukan, ditambah dengan wawancara hari ini... Kalian sangat luar biasa bisa menyeimbangkan semuanya dengan persiapan ujian masuk SMA di tengah kesibukan kalian.”

“Syukurlah, kami berdua memang suka belajar sejak kecil. Semboyan Keluarga Minamikawa adalah menguasai dua bidang, yakni seni dan akademis... Yah, ada juga alasan lain yaitu kalau kami tidak berprestasi di sekolah atau nilainya turun, kami akan dipaksa berhenti dari kursus.”

“ Uka.”

“Fufu, permisi. Tolong lupakan perkataan saya barusan.”

...Rasanya aku baru saja mendengar sesuatu yang luar biasa, tapi aku akan mengikuti sarannya dan melupakannya. Nagi pun tumben sekali sampai tersenyum masam.

“Akan tetapi, Nagi-chan-senpai jauh lebih luar biasa dalam menyeimbangkan sekolah dengan tarian tradisional dibandingkan denganku... Ups, cukup sampai di sini dulu obrolannya.”

 Uka-san menghentikan ucapannya dan mengalihkan pandangannya ke samping. Pintu lift kemudian terbuka, dan keluarlah seseorang yang sepertinya merupakan seorang jurnalis wanita.

Beliau lalu berjalan setengah berlari menghampiri kami.

“Maaf membuat Anda menunggu. Perkenalkan, saya Sasaki yang akan bertugas mewawancarai hari ini. Senang berkenalan dengan Anda semua.”

Sambil berkata demikian, beliau, Sasaki-san, memberikan kartu namanya dan mengarahkan kami ke ruangan wawancara.

Dalam perjalanan, Nagi dan aku saling bertukar pandang. Kemungkinan besar ia juga memikirkan hal yang sama denganku.

...Bagaimana bisa Uka-san tahu bahwa jurnalis ini akan datang bahkan sebelum liftnya tiba? Padahal ia sama sekali tidak melihat ke arah lift tersebut.

◆◆◆

“B-begitu rupanya. Uka-san sangat menghormati Nagi-san, ya.”

“Ya. Tidak hanya kelenturan gerakan dan ekspresinya, bahkan aura yang dipancarkannya pun... dia mampu mengendalikan semuanya. Sepengetahuan saya, hanya Ichitake-sama, guru Nagi-san yang mampu melakukan hal itu.”

“Guru... Saya mengerti. Nagi-san dianugerahi dengan seorang guru yang hebat, ya.”

“Itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Selain beruntung menemukan guru yang baik, Nagi-san juga pastinya telah melakukan usaha yang jauh lebih keras dibandingkan orang lain. Sampai-sampai, saya rasa Nagi-san memiliki potensi untuk dinobatkan sebagai Harta Karun Nasional Hidup di masa depan.”

Wawancara telah dimulai, namun di tengah-tengahnya Nagi memamerkan senyum yang terlihat kaku seolah dipaksakan. Alasannya sudah sangat jelas: Uka-san tak henti-hentinya memuji Nagi dengan antusiasme yang luar biasa.

Entah bagaimana, auranya sungguh luar biasa. Cara ia memujinya terasa seperti seorang penggemar yang berhadapan langsung dengan idola kesayangannya, dan antusiasmenya sangat terasa. ...Selain itu, aku juga jadi sedikit paham mengapa Nagi dipanggil ke sini. Jika Uka-san sebegitu mengidolakannya, kehadirannya pasti diwajibkan.

“P-pujian itu terlalu berlebihan untuk saya, Uka-sama.”

“Nagi-sama. Tolong panggil saya Uka-chan.”

“Eh, tapi caramu memanggilku...”

“Sangat wajar untuk bersikap sopan kepada seseorang yang lebih tua, terlebih lagi kepada orang yang sangat saya hormati. Karena itu, tolong panggil saya Uka-chan saja.”

“...Baiklah, Uka-chan.”

Nagi tampaknya juga kewalahan menghadapi Uka-san, sehingga situasinya berubah menjadi sedikit aneh. Ini pertama kalinya aku melihat Nagi menampilkan senyum yang hampir kaku seperti itu.

“Terutama perkembangan pesat Nagi-sama semenjak pertunjukan tahun lalu itu sangatlah tidak bisa diabaikan. Saat itu, kalimat ‘Aku takkan pernah bisa mengejarnya bahkan jika kuberikan seluruh hidupku’ terukir dengan jelas di hatiku.”

“Pertunjukan tahun lalu... apakah itu berarti ada suatu pemicu khusus bagi Nagi-san?”

Sasaki-san bertanya dengan mata yang berbinar penuh rasa penasaran. Mata biru Nagi melirik ke arahku sejenak, dan ia mengangguk seolah mengisyaratkan bahwa tidak apa-apa untuk menceritakannya.

“Guru saya menganalisis bahwa itu karena saya sedang jatuh cinta.”

“Wah! Jatuh cinta, ya! Apakah itu berarti orangnya adalah...?”

“Iya. Dia adalah tunangan saya sekarang. Pertemuan saya dengannya, dan berbagai pengalaman yang saya lalui, membuat saya akhirnya mampu mengeluarkan jati diri saya yang sebenarnya. Itulah yang dikatakan guru saya.”

“Begitu, ya. Mengenai berbagai pengalaman tersebut... apakah ada pengalaman saat ia menyelamatkan Anda di kala sedang kesulitan?”

Pertanyaan lanjutan itu membuat Nagi tampak sedikit bimbang.

Setelah jeda beberapa detik, ia perlahan membuka mulutnya.

“Y-ya, begitulah. Sejak awal pertemuan kami juga seperti itu. Saya tidak akan membicarakan detailnya, tapi ia menyelamatkan saya dari bahaya. Setelah itu pun, ia terus menyelamatkan saya berkali-kali... dia telah mengubah hidup saya.”

Meski aku bisa menebak alasan mengapa Nagi gelisah, ia pasti tahu bahwa ia tidak bisa menceritakan hal yang mengisyaratkan insiden tersebut di sini, di mana ada mereka berdua.

Wawancara pun berlanjut, mencakup pertanyaan-pertanyaan seputar tarian tradisional Jepang, seperti bagaimana cara mulai mempelajarinya, hingga lakon apa yang bisa dinikmati oleh pemula.

 Uka-san dan Nagi menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan lancar, menunjukkan bahwa mereka sudah sangat berpengalaman. Kalau dipikir-pikir, di ruang referensi kediaman Ichitake-san juga banyak dokumen yang menunjukkan Nagi pernah diwawancarai. Sebelumnya aku hanya membaca dokumen dasar tentang tarian tradisional Jepang, jadi lain kali aku akan membacanya dengan lebih saksama.

“...Terima kasih banyak. Ini adalah pertanyaan terakhir. Sebagai penutup, apakah ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan kepada para pembaca artikel wawancara ini?”

Nagi dan Uka-san saling bertukar pandang. Mereka sempat saling mempersilakan, namun Uka-san tetap tersenyum dan tidak mau mengalah, sehingga akhirnya Nagi-lah yang berbicara lebih dulu.

“Saya sangat berharap Anda sekalian berkenan untuk datang ke pertunjukan kami. Belakangan ini memang ada video resmi yang diunggah di situs berbagi video, namun saya ingin Anda menyaksikannya secara langsung di atas panggung. Sama seperti film, saya rasa atmosfernya akan terasa sangat berbeda.”

Setelah berkata demikian, Nagi mengalihkan pandangannya kepada Uka-san untuk memberikan giliran bicara.

“Jika Anda hendak pergi ke pertunjukan, saya sangat menyarankan untuk menonton penampilan Nagi-sama. Karena Nagi-sama masih seorang siswi SMA, jadwal pertunjukannya pasti ada pada hari Sabtu, Minggu, atau hari libur yang mudah untuk dikunjungi. Sosok Nagi-sama di atas panggung sangatlah anggun, bahkan saya yang sesama perempuan pun sampai terpesona melihatnya.”

“Kostum panggung Uka-chan juga sangat luar biasa. Tekniknya pun jauh melampaui rekan-rekan seusianya. Jangan hanya terpaku pada saya, silakan datang juga ke pertunjukan di mana Uka-chan tampil.”

“Fufu. Kalau begitu, agar memudahkan semua orang, mungkin kita bisa menyelaraskan jadwal pertunjukan agar bisa tampil bersama. Seperti tempo hari.”

“Itu ide yang bagus.”

 Uka-san memuji Nagi setinggi langit, dan Nagi membalasnya dengan tergesa-gesa. Pada akhirnya pembicaraan berakhir dengan kesepakatan untuk tampil bersama... namun, apakah hal seperti ini boleh dibicarakan dalam wawancara? Aku rasa itu bukan kewajiban, tapi rasanya Uka-san sedang berusaha memojokkan situasi agar hal itu benar-benar terjadi. Mungkinkah Uka-san sudah merencanakan ini dari awal? Ah, mungkin aku hanya berpikir berlebihan.

“Terima kasih banyak. Sebagai penutup, saya ingin mengambil beberapa foto... Apakah kedua pria di sana, Tuan Tunangan dan Onii-san, bersedia untuk ikut berfoto?”

Aku tidak menyangka akan dipanggil, sehingga aku sempat terpaku. Di saat yang sama, berbagai pikiran muncul di kepalaku dan membuatku ragu. Bukannya aku keberatan masuk koran, tapi jika aku berfoto di sini, itu berarti aku akan berfoto tidak hanya dengan Nagi, tapi juga dengan Uka-san dan kakaknya. Mengingat banyak orang di Keluarga Minamikawa yang tidak menyukaiku, bukankah ini hal yang buruk...?

“Souta-sama, mohon jangan cemaskan kami.”

Pikiranku terhenti oleh kata-kata Uka-san. Tanpa sadar aku tertunduk, dan saat aku mengangkat wajah, Uka-san sedang tersenyum.

“Justru dengan mengambil foto bersama, itu akan memberikan keuntungan bagi kami. Benar kan, Kakak?”

“Aku serahkan pada Uka.”

“Wah, dingin sekali. Tapi kalau begitu, urusannya jadi cepat selesai, ya, Souta-sama.”

“...Baiklah.”

Aku tidak bisa membaca niat asli Seiya-san, tapi jika Uka-san berkata begitu, kurasa tidak apa-apa. Untuk berjaga-jaga, aku melirik ke arah Nagi, dan ia mengangguk seolah mengatakan tidak ada masalah.

Sasaki-san menunjukkan tatapan penuh rasa ingin tahu, namun Uka-san tetap tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Hanya dengan itu, sang reporter mundur dan mengeluarkan kamera dari tasnya.

“Baiklah, saya akan mengambil fotonya. Silakan kedua narasumber duduk berdampingan... ya, kira-kira seperti itu.”

Nagi dan Uka-san duduk bersisihan. Kemudian aku berdiri di samping Nagi, dan Seiya-san berdiri di samping Uka-san.

“Kakak, tolong jangan memasang wajah seram seperti itu. Tersenyumlah, tersenyum.”

“Ya, tolong senyumnya! Wah, Tuan Tunangan punya senyum yang bagus, ya.”

“...Ugh.”

Aku berusaha melemaskan bahu agar bisa terlihat natural. Jika sendirian mungkin aku tidak bisa melakukannya, tapi karena ada Nagi di sampingku, aku bisa tersenyum. Terlepas dari itu, aku rasa dengan dipanggilnya aku ke sini, Seiya-san justru semakin sulit untuk memaksakan senyum.

“Aduh, Onii-sama. Tersenyumlah. Apa perlu aku yang membentuk senyum di wajahmu seperti dulu?”

“M-mana mungkin aku menunjukkan tingkah memalukan seperti itu di sini. Aku bisa tersenyum sendiri.”

“...Kakak. Menurutku wajahmu itu manis, tapi dengan ekspresi seperti itu, bayi yang tidak sengaja melihat fotomu nanti bisa menangis, lho.”

“Apa-...”

Meskipun Uka-san mengatakan berbagai hal, tampaknya hubungan mereka sebagai saudara memang sangat kuat. Sesi pemotretan pun selesai dalam waktu sekitar lima menit.

“Terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk datang di tengah kesibukan Anda hari ini.”

“Tidak, sayalah yang berterima kasih karena telah diundang.”

“Fufu. Saya ingin memberi tahu banyak orang tentang betapa hebatnya Nagi-sama. Saya sangat berterima kasih karena Anda memahami niat saya.”

 Uka-san terlihat sangat bersemangat, suaranya terdengar ceria. Berbanding terbalik dengannya, Seiya-san tampak kesal, tapi... aku rasa tidak baik jika terlalu memikirkannya. Sikapku yang terlalu cemas justru mungkin akan membuat pihak lain merasa tidak nyaman, jadi aku harus berhati-hati.

“Souta-sama, terima kasih juga untuk hari ini.”

“Ah, sama-sama. Terima kasih kembali. Aku mendapatkan pengalaman yang berharga.”

“Fufu, saya rasa pengalaman seperti ini akan semakin banyak ke depannya. ...Ngomong-ngomong, mulai sekarang jika ada keperluan dengan Nagi-sama seperti hari ini, saya bisa menghubungi Souta-sama, kan?”

“Benar. Aku akan memberikan kontakku.”

Sesuai pembicaraan tadi, mungkin saja ada keperluan seperti mengajak tampil di pertunjukan yang sama. ...Mungkin membuat kartu nama adalah ide yang bagus.

Aku mengeluarkan buku catatan, menuliskan alamat email-ku, merobek halaman tersebut, lalu memberikannya kepada Uka-san. Mengingat betapa jelasnya kesan positif yang ia miliki terhadap Nagi, kurasa ini akan aman.

“Terima kasih banyak. Kalau begitu, jika ada sesuatu, saya akan mengirim pesan ke sini. Secepat mungkin.”

Setelah Uka-san menyimpan kertas itu, ia kembali menujukan pandangannya kepadaku dan Nagi.

“Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini. Saya akan sangat senang jika kita bisa menjalin hubungan baik mulai sekarang.”

“Saya juga berterima kasih. Kami pun akan menghubungi Anda jika ada sesuatu.”

“Baik! Sampai jumpa dalam waktu dekat. Souta-sama juga.”

“Ya, sampai jumpa. Seiya-san juga.”

“...Hmph.”

“Onii-sama!”

Aku berusaha memberikan salam perpisahan dengan sopan, namun karena diabaikan, aku hanya bisa tersenyum masam. Seiya-san pun langsung melangkah keluar dari kantor surat kabar.

“Aduh, Onii-sama itu benar-benar... Souta-sama, saya mohon maaf.”

“Tidak apa-apa, jangan dipikirkan.”

Menghadapi orang yang membenciku memang sulit. Aku tidak tahu apa tindakan yang paling benar. Apakah lebih baik tidak berinteraksi sama sekali agar tidak membuat pihak lain merasa tidak nyaman?

Sembari memikirkan hal itu, aku menyampaikan hal tersebut kepada Uka-san, dan ia membalas dengan membungkuk sopan sambil mengucapkan terima kasih.

“Saya juga akan menasihati Onii-sama nanti. Kalau begitu, saya permisi dulu.”

Dengan kata-kata itu, Uka-san mulai berjalan menyusul Seiya-san. Nagi melambaikan tangan kecilnya, dan Uka-san pun membalas lambaian itu dengan senyuman.

“...Apakah salam terakhirku tadi kurang baik?”

“Souta-kun tidak bersalah. Apakah kamu memanggilnya atau tidak, hasilnya kemungkinan besar akan sama.”

Nagi memejamkan matanya dengan ekspresi rumit. Setelah itu, ia menghela napas pendek.

“Mari kita pulang juga. Kita harus memanggil mobil jemputan, dan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sedikit dengan Souta-kun.”

“Baiklah.”

Kami berdua keluar dari kantor surat kabar. Sosok mereka berdua sudah tidak ada, kemungkinan besar pengemudi mereka sudah menunggu. Karena kami sudah mendapat izin untuk menggunakan tempat parkir dengan bebas, kami menunggu di pojok sembari menghubungi pengemudi kami.

“Jadi Nagi, hal yang ingin kamu bicarakan itu... apakah tentang ‘memahami niat’ yang dikatakan Uka-san tadi?”

“Sangat membantu karena kamu cepat tanggap. Ini adalah cerita yang kudengar dari Ayah... Kemungkinan besar, perselisihan dengan Keluarga Minamikawa akan segera berakhir dalam waktu dekat.”

Nagi menyentuhkan tangannya dengan lembut ke tanganku. Karena udara di luar dingin, kami pun bergandengan tangan. Kemudian ia mengeluarkan syal dari tasnya, dan sambil melilitkannya pada kami berdua, ia melanjutkan pembicaraan.

“Apakah karena perselisihan itu akan berakhir, makanya kita mengambil foto bersama tadi?”

“Benar. Itu adalah cara untuk menunjukkan kepada Keluarga Minamikawa, dan juga orang-orang di sekitar, bahwa hubungan mereka dengan Keluarga Shinonome tidak buruk. Pihak kami pun ingin menjalin hubungan baik dengan Keluarga Minamikawa. Aku rasa Uka-chan dan kakaknya berperan sebagai jembatan untukku sebagai pihak netral.”

“Begitu rupanya. Jadi itu tujuannya. Memang dia terlihat sangat menyukai Nagi, jadi kurasa dia adalah pilihan paling tepat dari Keluarga Minamikawa, ya?”

“Aku bisa saja meragukan seberapa tulus pujian-pujiannya itu, tapi jika aku mencurigai segalanya... itu mungkin akan menyakitinya. Aku ingin memercayainya.”

Aku tersenyum mendengar kata-kata yang sangat khas Nagi itu. Memang benar, jika aku meragukan ketulusan perasaannya, hal itu akan menyakitinya jika ia mengetahuinya.

“Menurutku itu bagus. Sepertinya kita akan terus berinteraksi ke depannya, dan jika bisa berteman... hmm?”

Di ujung pandanganku, sebuah mobil berhenti. Itu bukan mobil yang kami panggil untuk pulang.

Kukira itu adalah karyawan kantor surat kabar... namun sosok yang turun adalah seseorang yang kukenal.

“Eh, Seiya-san?”

“Ada apa ya? Dia terlihat sangat panik.”

Seperti yang dikatakan Nagi, ekspresinya tampak sangat gelisah. Tanpa melirik ke arah kami sedikit pun, ia langsung bergegas masuk kembali ke dalam kantor surat kabar.

“Padahal tadi Uka-chan dan yang lainnya sudah pergi...”

“Aneh ya, aku jadi penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Entahlah. Apakah ada barang yang tertinggal...?”

Aku berpikir sejenak mendengar ucapan Nagi. ...Tidak bisa, aku sama sekali tidak bisa membayangkannya.

“Aku akan pergi bertanya sebentar.”

“Kalau begitu aku juga—“

“Jangan, Nagi tunggu di sini saja. Pengemudi kita akan segera sampai. Kalau tidak ada apa-apa, aku akan segera kembali.”

Aku melepas lilitan syal kami dan melilitkannya kembali pada Nagi dengan benar. Kemudian aku menggenggam tangan Nagi yang menatapku dengan cemas.

“Tidak apa-apa. Hari ini pun... meski akhirnya diabaikan sedikit, tapi dia tidak setajam sebelumnya. Aku akan segera kembali.”

Alasanku tidak ingin membawa Nagi adalah... jika Seiya-san memberikan respons yang dingin, yang akan terluka bukanlah aku, melainkan Nagi. Aku tidak berniat mengatakannya secara gamblang, tapi Nagi kemungkinan besar sudah menyadarinya.

“...Jika terjadi sesuatu, segera beri tahu aku. Aku akan langsung menyusulmu.”

“Ya, terima kasih.”

“Sama-sama.”

Kepada Nagi yang menerima rasa terima kasihku dengan senyuman... aku teringat bahwa hari ini aku belum mendengar kata ‘Sama-sama’.

“...Alasan kenapa Nagi bilang kata ‘Sama-sama’ itu langka, sepertinya aku mulai paham.”

“Fufu. Aku masih merasa ragu untuk menggunakannya dalam situasi yang berkaitan dengan pekerjaan. Sepertinya ada orang yang tidak menyukai kata itu. Tapi, menurutku mengucapkannya di antara teman atau keluarga adalah hal yang penting.”

Aku selalu berusaha mengucapkannya setiap hari, namun memang benar seperti kata Nagi, tidak semua orang akan menganggap baik kata tersebut. Yang terbaik adalah menyesuaikannya secara fleksibel.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. ...Ah, sarung tangannya aku titip padamu juga.”

“Terima kasih banyak. Kalau begitu, hati-hati di jalan.”

Setelah memakaikan syal dan memberikan sarung tangan, aku masuk kembali ke dalam gedung. Seiya-san tidak ada di lobi, jadi aku bertanya kepada staf resepsionis.

“Permisi, saya dari pihak Keluarga Shinonome yang baru saja mengikuti wawancara. Sepertinya ada barang yang tertinggal di ruangan wawancara tadi, apakah saya boleh masuk kembali?”

“Oalah, apakah Anda juga memiliki barang yang tertinggal? Silakan. Mohon lapor kembali ke resepsionis saat Anda hendak keluar nanti.”

“Terima kasih.”

Ternyata benar Seiya-san juga mencari barang yang tertinggal. Tapi fakta bahwa wajahnya terlihat sangat terdesak membuatku khawatir.

Rasanya sedikit tidak enak karena harus berbohong kepada resepsionis, tapi... aku datang ke sini bukan untuk berbuat jahat.

Aku langsung naik lift menuju ruangan wawancara tadi. Tepat saat tanganku menyentuh gagang pintu, terdengar suara dari dalam.

“...Tidak ada. Di mana? Di mana aku menjatuhkannya?”

Suaranya terdengar sama gelisahnya dengan ekspresi wajahnya tadi. Aku menggerakkan tangan yang sempat terhenti dan membuka pintu.

“Siapa itu!?”

“Ini aku, Seiya-san.”

“...Minori Souta. Ada urusan apa?”

“Tadi aku melihatmu di tempat parkir. Karena kamu terlihat sangat panik, aku jadi khawatir dan datang menyusul.”

“...Ini bukan urusanmu. Pergilah.”

Mungkin karena sedang terdesak, sikap tajamnya kembali muncul ke permukaan. Memang benar keputusanku untuk tidak membawa Nagi sudah tepat.

“Maaf ya, tapi aku ini memang orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Kalau ada barang yang tertinggal... atau lebih tepatnya barang yang hilang, bukankah lebih baik jika dicari oleh lebih banyak orang?”

Tiba-tiba aku teringat kejadian saat baru masuk sekolah tahun lalu.

Di hari pertama, aku menghilangkan dompetku dan sempat panik di dalam kelas──lalu Eiji membantuku.

Aku tahu betul rasanya saat kehilangan barang berharga, pandangan kita menjadi sempit dan konsentrasi menjadi buyar.

“...”

“Aku memang penasaran, tapi aku tidak akan bertanya detailnya. Jika kamu memberi tahu apa yang kamu cari, aku bisa bertanya kepada resepsionis agar pencariannya lebih mudah... Tentu saja, aku tidak akan memberi tahu siapa pun tentang apa yang kamu cari. Tidak kepada orang-orang Keluarga Shinonome, tidak juga kepada Nagi. Aku pun tidak akan menceritakannya kepada teman atau keluargaku.”

“...Kamu pikir aku bisa memercayaimu?”

“...Kalau ditanya begitu, aku memang tidak punya jawaban kuat.”

Jika ia tidak bisa memercayaiku, maka tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku tidak bisa mencari jika tidak tahu apa yang sedang dicari.

“Kalau begitu, tolong bandingkan keuntungan dan kerugiannya. Kehadiran satu orang tambahan akan membawa perubahan. Selagi kamu mencari, aku bisa bertanya ke resepsionis... atau jika hilangnya di luar, aku bisa bertanya ke pos polisi terdekat. Itu akan menghemat waktu dan mengurangi kemungkinan ada tempat yang terlewat.”

Jika ia tidak bisa memercayaiku, satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menawarkan keuntungan. Jika kali ini pun ditolak, aku hanya bisa pulang dengan patuh. Namun, ternyata tidak begitu.

“...Gantungan kunci payung.”

“...! Baiklah. Apa warnanya?”

“Hitam. Tidak terlalu besar, ukurannya seperti gantungan kunci pada umumnya.”

“Dimengerti. Aku akan bertanya ke resepsionis apakah ada yang melaporkan penemuan barang hilang.”

Tampaknya faktor keuntungan telah menang. Karena aku sudah tahu detail barang yang hilang, untuk sementara aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan.

“...Orang aneh.”

Tepat saat aku melangkah keluar ruangan, aku mendengar suara itu dari belakang, namun aku memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengarnya.

Namun, meskipun sudah bertanya kepada resepsionis dan mencari di sepanjang jalan menuju ruang wawancara, gantungan kunci itu tetap tidak ditemukan.

“...Tidak ada. Kenapa bisa?”

“Mungkin jatuhnya bukan di kantor surat kabar ini. Kapan terakhir kali kamu memastikannya?”

“Seharusnya masih ada saat aku pulang sekolah. Jika tidak ada, aku pasti sudah sadar.”

“Berarti, gantungan itu terpasang di tasmu?”

Seiya-san mengangguk kecil. Jika begitu, ada kemungkinan jatuh karena suatu hal.

“Bagaimana dengan di dalam mobil?”

“Kalau ada di sana, Uka pasti sudah sadar. Dia lebih peka terhadap hal-hal seperti itu dibandingkan aku.”

“Begitu ya. Kalau begitu... apakah kamu langsung menuju kantor surat kabar ini dari sekolah?”

“Iya... eh, tidak. Karena ada sedikit waktu luang, aku sempat mampir ke taman di sebelah.”

“...Ah! Tempat itu, ya.”

Kalau dipikir-pikir, memang ada sebuah taman kecil di sebelah gedung ini. Seingatku, di sana hanya ada ayunan, perosotan, kotak pasir, dan beberapa bangku taman. Yah, alasan dia mampir ke sana tidaklah penting. Ada kalanya seseorang mampir hanya karena sedang ingin, kan.

Seiya-san menganggukkan kepalanya sekali, lalu mulai melangkah.

“Akan aku periksa taman itu sebentar.”

“Aku ikut. Aku akan minta resepsionis menghubungimu kalau menemukannya.”

“Y-ya. Baiklah.”

Seiya-san mengangguk setuju atas usulku untuk berjaga-jaga. Jika nanti barang itu ditemukan, aku akan pastikan resepsionis menghubunginya.

Selama berada di dalam lift, aku mengirimkan pesan kepada Nagi, ‘Aku pergi ke taman di sebelah bersama Seiya-san sebentar, tapi tidak perlu khawatir’, lalu aku pun menuju taman tersebut.

◆◆◆

“Apakah kamu ingat di mana kamu meletakkan tasmu di taman ini?”

“Tidak, aku selalu membawanya bersamaku. Aku diajak berkeliling oleh Uka, tapi... ugh. Karena kami berjalan-jalan, area pencariannya jadi semakin luas tanpa perlu.”

“Kalian akrab sekali, ya... Kalau begitu aku akan mencari dari sisi kiri, dan Seiya-san silakan mulai dari kanan. Gelap sih, tapi apakah kamu punya senter?”

“............Aku punya senter ponsel. Meskipun baterainya agak menipis.”

Aku juga hanya punya senter ponsel, tapi baterainya masih penuh. Seharusnya aku membawa senter kecil.

Sambil memikirkan hal itu, aku mengeluarkan power bank dan kabel dari dalam tasku.

“Seiya-san, kalau colokannya cocok, tolong pakai ini. Ini bisa dipakai untuk mengisi daya ponsel sampai dua kali penuh.”

“Ah, terima kasih... Ini sangat membantu.”

“Sama-sama. Lagipula, anak SMP kan jarang butuh pakai power bank, ya.”

Untungnya colokannya cocok, jadi aku langsung menyerahkan power bank itu kepadanya.

Setelah itu, aku dan Seiya-san berpencar untuk mencari. Untuk menghindari ada yang terlewat, kami memfokuskan pencarian di area yang ditumbuhi rerumputan.

Kemudian, saat aku menyibak semak-semak rumput di bawah sebuah pohon──

“...Seiya-san! Kemarilah sebentar!”

“Apa kamu menemukannya!?”

Saat aku memanggil dengan suara sedikit keras, Seiya-san langsung berlari menghampiriku. Aku menunjukkan gantungan kunci yang baru saja kupungut kepadanya... gantungan kunci berbentuk payung berwarna hitam. Bagian cincin yang mengaitkan ke tas telah rusak, kemungkinan besar terlepas karena tersangkut di dahan pohon atau sejenisnya.

“Apakah ini barang yang hilang itu?”

“Benar! Ini dia!”

“Syukurlah. Bagian cincinnya memang rusak, tapi sepertinya masih bisa diperbaiki.”

Sambil menyerahkan gantungan kunci itu, aku mematikan senter ponselku. Lalu, aku menghela napas panjang seakan melepaskan ketegangan. Seiya-san sepertinya juga merasakan hal yang sama... Di tengah kegelapan ini, untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi lega di wajahnya. Ini mungkin pertama kalinya aku melihatnya berekspresi selain terlihat kesal.

“...Saat aku baru masuk SD, ini adalah barang berharga yang kubeli bersama Uka. Uka punya gantungan kunci berbentuk payung putih.”

“Begitu ya. ...Syukurlah kita berhasil menemukannya.”

Sekali lagi, aku bisa melihat betapa akrabnya ia dengan Uka-san, dan di saat yang sama, aku pun jadi paham mengapa ia tidak mencari barang ini bersama dengan Uka-san. Memang ini agak sulit untuk dikatakan padanya, ya.

Setelah menyimpan gantungan kunci itu dengan hati-hati ke dalam saku samping tasnya, Seiya-san menatapku. Kemudian, perlahan-lahan ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit rumit.

“...Kenapa kamu membantuku?”

“Kenapa, katamu. Bukankah dari awal sudah kubilang? Aku ini orang yang suka mencampuri urusan orang lain.”

“...Benarkah hanya karena itu?”

Aku terdiam mendengar ucapan Seiya-san. Yah, sebenarnya tidak ada alasan bagiku untuk merahasiakannya.

“Sebenarnya, aku juga pernah mengalami hal serupa. Saat hari pertamaku menjadi murid SMA, aku menghilangkan dompetku. Kebetulan, saat itu aku baru saja pindah ke Tokyo untuk hidup sendirian. Aku pikir dompetku tertinggal di sekolah, jadi aku segera mengecek laci mejaku, tapi saat tidak menemukannya, aku sangat panik.”

Ingatan dan perasaan yang kualami saat itu masih bisa kuingat dengan sangat jelas hingga sekarang.

Meskipun tidak merasa kepanasan, keringat dingin bercucuran dari seluruh tubuhku, dan perutku terasa mulas seperti diremas. Pandanganku menyempit, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku benar-benar merasa sendirian.

“Pada saat itu, siswa yang duduk di belakangku menyapaku. Sepertinya ia meninggalkan kotak tempat kartu komuternya di atas meja, jadi ia bertanya padaku, ‘Apa barang yang tertinggal darimu?’. Saat aku bilang aku meninggalkan dompetku, ia terlihat panik seolah itu adalah dompetnya sendiri, lalu ia membantuku mencarinya.”

Saat itu, aku sedang berada dalam fase di mana aku merasa bahwa hidup sendirian ternyata tidak sesulit yang kubayangkan. Kejadian itu menyadarkanku betapa sepinya hidup sendirian, dan kehadirannya di saat itu sangat berarti bagiku.

“Mungkin aku melihat sosokku di masa lalu dalam dirimu. Itulah sebabnya aku jadi ikut campur.”

“...”

Seiya-san menatapku lekat-lekat. Namun, matanya terlihat bergetar.

“...Aku,”

Kata-kata yang terucap dari bibirnya bergetar seperti matanya.

“Aku, tidak mengerti dirimu.”

“...Tidak mengerti?”

“Aku membencimu.”

Yang selanjutnya kudengar adalah──kata-kata yang diarahkan langsung padaku.

Ini adalah kali pertama seseorang mengatakan kepadaku bahwa ia membenciku secara terang-terangan seperti ini, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Gara-gara kamu, Keluarga Minamikawa jadi hancur. Paman dan Haruto-sama kehilangan tempat di keluarga, dan tidak bisa bebas keluar rumah. Mereka bagaikan tahanan rumah. Meskipun begitu, setiap hari mereka terus-terusan dicaci maki oleh kerabat-kerabat lain. Paman yang selama ini menopang keluarga, dan Haruto-niisama yang rencananya akan meneruskannya.”

Kata-kata meluncur deras dari mulut Seiya-san bagaikan bendungan yang jebol. Aku hanya bisa diam mendengarkannya.

“Kenapa, kenapa Haruto-niisama yang begitu baik hati harus dicaci maki dan disebut tidak kompeten dan bodoh? Paman juga sudah bekerja siang dan malam agar budaya, tradisi, dan seni pertunjukan Jepang tidak punah. Tapi kenapa sekarang beliau justru dituntut untuk bertanggung jawab dan mengundurkan diri?”

Seiya-san menggigit bibirnya dengan kuat. Setetes cairan merah mengalir dari ujung bibirnya.

“Kenapa orang-orang yang memiliki hubungan darah harus saling bermusuhan? Mereka bilang suruh Paman mengundurkan diri, siapkan penerus yang lain, bagaimana dengan putra dari orang itu, meskipun tidak sempurna, Haruto-niisama masih punya potensi sebagai seorang pemimpin, tolong hormati tradisi dan garis keturunan, menjadikan anak yang lebih rendah dari orang yang tidak kompeten sebagai penerus adalah kebodohan belaka. Setiap hari, setiap hari, setiap hari cacian itu terus terlontar. Namaku disebut-sebut seenaknya dan dicap sebagai sosok yang lebih rendah dari orang yang tidak kompeten. Orang tuaku juga dihina karena dianggap membesarkan anak yang lebih rendah dari orang yang tidak kompeten. Apa kamu bisa mengerti perasaanku?”

Taman ini sangat gelap. Namun, cahaya remang dari bintang dan lampu jalan tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya.

“Ya, Haruto-niisama dan Paman memang bersalah. Terutama Paman yang bertindak semaunya sendiri. Tapi... tapi. Aku menyayangi Haruto-niisama dan Paman. Aku menghormati mereka berdua. Tidak mungkin aku tega memberikan pukulan tambahan pada mereka berdua yang sudah dicaci maki siang dan malam.”

Wajahnya──berlinang air mata. Ia pasti sudah memendamnya, terus memendamnya selama ini sendirian.

“Lagi pula, Haruto-niisama pernah bilang begini. Pihak lawan sama sekali tidak bersalah. Semua ini adalah kesalahanku, jadi jangan membenci mereka. ...Karena itulah, aku membenci kalian. Gara-gara kalian Haruto-niisama harus mengalami hal seperti itu, lalu keluarga kami hancur berantakan. Bahkan ada beberapa orang sepertiku yang tanpa izin dicap sebagai sosok yang lebih rendah dari orang yang tidak kompeten dan tidak bisa keluar kamar. Apa kamu percaya? Orang itu, masih anak SD lho.”

Mendengar kata-katanya itu──akhirnya aku menyadari apa sebenarnya kejanggalan yang selama ini mengganjal di hatiku.

──Ah, jadi ternyata aku sama sekali tidak memikirkan nasib pihak lawan setelah aku sendiri yang menghancurkan pertunangan itu, ya.

“Aku membenci kalian. Aku membencimu, Minori Souta. Haruto-niisama yang jauh lebih baik hati dan bertanggung jawab jauh lebih keren darimu. Nona Shinonome Nagi tidak bisa menilai orang dengan baik.”

Seiya-san menyeka wajahnya dengan lengan bajunya. Meskipun begitu... air mata dan darah yang mengalir dari bibirnya tak kunjung berhenti.

“──Padahal aku sudah terus mengingatkan hal itu pada diriku sendiri. Kenapa, kenapa kamu bersikap baik padaku, hah.”

“...Seiya-san.”

Suaraku yang tercekik terdengar bergetar. Kakiku rasanya seperti mau runtuh.

Tapi, aku telah memutuskan bahwa aku tak akan memalingkan wajahku dari Seiya-san.

“Seandainya aku tidak ada... setidaknya, pertunangan itu pasti akan berjalan lancar.”

Mengesampingkan apa yang akan terjadi setelahnya, setidaknya pada hari itu, pertemuan antar keluarga itu akan tetap berjalan... dan dari apa yang kudengar dari Nagi, mereka bahkan mungkin akan melangsungkan pertunangan.

“Tapi, aku ada di dunia ini. Ada sahabat yang memukul punggungku dan membangunkanku, ada juga teman-teman yang membantuku untuk membahagiakan Nagi.”

Namun, itu semua hanyalah pengandaian belaka. Tidak peduli seberapa sering aku mengulang hari itu, aku akan tetap mengambil keputusan yang sama. Bahkan setelah mendengar semua hal ini darinya.

“...Demi membahagiakan Nagi, aku telah menyakiti kalian. Tapi, aku tidak bisa bertanggung jawab. Aku tidak punya uang untuk meminta maaf, aku juga tidak memiliki barang apa pun yang bisa digunakan sebagai kompensasi.”

Bagaimana mungkin seorang anak SMA bisa bertanggung jawab atas semua ini? Dengan mengorbankan sisa hidupku untuk Keluarga Minamikawa? Tidak mungkin nyawa satu orang saja bisa menyatukan kembali sebuah keluarga terpandang yang telah terpecah belah.

Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuknya hanyalah──ini.

“Karena itulah aku akan menerimanya.”

“...Ugh.”

“Kamu boleh mencaci makiku sebanyak apa pun. Kamu boleh memakiku semaumu. Tidak apa-apa jika kamu membenciku dan mendendam padaku. Aku memiliki andil dalam rasa sakit yang kalian rasakan. Kamu berhak melakukannya.”

Sikap dingin yang ditunjukkannya padaku selama ini pasti karena kalau ia tidak melakukannya, ia mungkin akan hancur terbebani oleh semuanya. Begitu beratnya hal ini... ini terlalu berat untuk ditanggung oleh seorang anak SMP.

Jika dengan melakukan ini Seiya-san merasa sedikit lega, aku tidak keberatan. Jika ia punya perasaan yang tak bisa tersalurkan, ia boleh melampiaskannya padaku. Jika dengan begitu ia takkan hancur, harga ini sepadan.

Seiya-san mendekat ke arahku, dan ia mencengkeram kerah bajuku──

“Kau ini...!”

“Onii-sama, cukup sampai di sini.”

──Tangan yang mencengkeram kerahku dihentikan oleh tangan yang lain. Entah sejak kapan Uka-san berada di sana──bersama Nagi.

“... Uka.”

“Onii-sama, pendarahannya masih belum berhenti, lho.”

Suara Seiya-san terdengar lirih, dan Uka-san menekan sudut mulutnya dengan sapu tangan.

Kemudian, Nagi mendekatiku dan──

“Souta-kun bodoh!”

──Tiba-tiba ia memelukku erat.

“...Sejujurnya, aku ingin menamparmu. Tapi, aku tak ingin menyakitimu.”

Seolah sebagai ganti dari tamparan itu, ia memelukku dengan kekuatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

“Memang benar kamu mengatakan hal itu padaku. Saat aku bilang bahwa hanya keluargakulah yang harus memikul tanggung jawabnya, kamu bilang kalau begitu aku harus menjadikanmu bagian dari keluarga. ...Tapi ini salah. Aku bisa dengan tegas mengatakan kalau cara ini sangatlah salah.”

Nagi mempererat pelukannya──lalu seketika mengendurkannya. Kemudian, ia menatapku dengan mata birunya... mata yang bergetar.

“Tak peduli siapa pun itu di dunia ini, tak seorang pun memiliki hak untuk menyakitimu. Hal seperti ini bukan disebut dengan memikul tanggung jawab.”

“...Tapi,”

“Nagi-sama-chan-senpai benar, Souta-sama. Menyakiti orang lain hanya karena kau tersakiti... logika macam apa itu... bukan, ini bahkan tidak layak disebut logika. Ini lebih rendah daripada sekadar pembenaran diri yang konyol.”

Berdiri di belakang Nagi, Uka-san mengangguk pelan dan menatap Seiya-san.

“Semuanya berawal saat pihak sana menyetujui syarat yang diajukan oleh kita, yang pada akhirnya mereka batalkan sendiri. Memang benar mereka membatalkannya di hari-H, tapi kita sudah menerima permohonan maaf dari mereka. Setelah itu, kerabat kita bertengkar sendiri. Melemparkan kesalahan atas hal itu padanya hanyalah... pelampiasan kekesalan anak-anak saja, Onii-sama. Aku sangat paham betapa sakitnya perasaanmu... tapi melampiaskannya pada mereka adalah hal yang salah.”

Seiya-san terdiam... tak bisa menyangkalnya. Mungkin, jauh di lubuk hatinya, ia sendiri sudah menyadari hal itu.

“Lagi pula, seandainya pertunangan itu berhasil dilangsungkan, kecaman yang ditujukan pada Paman dan Haruto-niisama pasti takkan berbeda. Mau dibatalkan atau tidak, fakta bahwa Paman memaksakan syarat yang menguntungkan bagi Keluarga Shinonome tidaklah berubah. Mungkin saja, keadaannya malah akan menjadi jauh lebih buruk daripada saat ini.”

“...Aku tahu.”

“...Iya, Uka tahu kalau Onii-sama tahu. Dan Uka juga yakin kalau Onii-sama... tahu apa yang harus Onii-sama lakukan sekarang.”

Setelah mengatakan hal tersebut, Uka-san melepaskan sapu tangannya dari bibir Seiya-san. Kemudian Nagi melonggarkan pelukannya... Seiya-san menatapku. Aku bisa merasakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

“...Saya benar-benar minta maaf atas kejadian tadi.”

“Tunggu. Seiya-san tidak perlu meminta maaf──”

“Tolong terimalah permintaan maafnya, Souta-sama. Demi Onii-sama... agar Onii-sama tidak berakhir hanya sebagai anak kecil yang melampiaskan kekesalannya saja.”

Mendengar ucapan Uka-san, aku langsung bungkam. Perkataannya memang benar, kali ini ucapanku tak lebih dari sekadar keegoisan belaka.

“Minori Souta-sama. Atas kejadian ini, saya benar-benar meminta maaf dari lubuk hati saya yang terdalam. ...Saya sendiri pun menyadarinya. Bahwa apa yang saya katakan hanyalah kepuasan ego belaka, dan hanya akan menyakiti Anda saja.”

“...Permintaan maafmu aku terima. Tapi aku juga sadar, kalau lingkungan tempat tinggalmu saat ini sangatlah berat, jauh lebih berat dari yang bisa kubayangkan.”

“Terima kasih... banyak.”

“Di atas semua itu, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu.”

Namun, aku takkan membiarkan semua ini berakhir hanya dengan menerima permintaan maafnya. Ada hal yang ingin kusampaikan juga padanya.

“Aku sama sekali tidak pernah disalahkan atas kejadian kali ini... kejadian di mana aku membatalkan perjodohan Nagi dan Haruto-san.”

Ayah Mertua—Souichirou-san, Chie-san, Nagi, Suzaka-san, dan bahkan Ayah dan Ibu pun tidak ada yang menyalahkanku. Belum lama ini, aku juga pernah membahas tentang tanggung jawab bersama Nagi, dan saat itu pun aku tidak disalahkan sedikit pun.

“Tidak ada seorang pun yang menyalahkanku. Aku pun tidak berusaha untuk memahami kondisi Keluarga Minamikawa. Karena itulah, kurasa di suatu sudut hatiku... ada perasaan seolah-olah ini bukanlah urusanku. Terutama yang berkaitan dengan Keluarga Minamikawa.”

Itulah identitas asli dari kejanggalan yang selama ini mengendap di sudut hatiku. Karena aku tidak tahu, dan bahkan tidak berusaha untuk tahu tentang Keluarga Minamikawa, ucapan bahwa aku akan memikul sebagian tanggung jawab yang kuutarakan pada Nagi terasa sedikit dangkal.

Namun, sekarang berbeda.

“Terlepas dari apa pun bentuknya, kenyataan bahwa Seiya bersedia memberitahuku tentang situasi saat ini benar-benar sangat membantuku. Meskipun saat ini aku belum bisa bertanggung jawab, aku merasa ada perbedaan yang sangat besar antara ‘tidak tahu’ dan ‘tahu’.”

Bahkan jika aku mengetahuinya, yang berubah hanyalah sudut pandangku saja. Situasi rumit yang tengah membelit Seiya dan keluarganya tidak akan berubah sama sekali.

“Seiya bilang bahwa ia menyakitiku hanya untuk memuaskan egonya sendiri, tapi itu tidak sepenuhnya benar. Ada sisi di mana ia juga telah menyelamatkanku. Kuharap ia mengingat hal tersebut.”

“...Terima kasih... banyak.”

“Souta-sama, bolehkah saya menyampaikan satu hal?”

“Ada apa?”

Tiba-tiba, Uka mengangkat tangannya sedikit.

“Souta-sama tadi mengatakan bahwa Anda tidak bisa memikul tanggung jawab atas hal ini, tapi menurut saya itu tidak benar.”

“...Tapi, tanggung jawab yang bisa kupikul itu sangat terbatas. Paling banter, aku hanya bisa menjadi tempat bagi Seiya dan keluarganya untuk meluapkan perasaan yang selama ini mereka pendam.”

“Anda telah bersedia mengikuti wawancara bersama kami hari ini. Dengan ini saja, situasinya akan berubah drastis, lho.”

Mendengar kata-katanya, aku teringat apa yang dikatakan Nagi sebelumnya. Ia bilang bahwa wawancara hari ini... bertujuan untuk menghapus perselisihan antara Keluarga Shinonome dan Keluarga Minamikawa.

“Fakta bahwa saya menjalin hubungan baik dengan Keluarga Shinonome dan Nagi-chan-senpai, setidaknya akan mengubah situasi kami saat ini. Dan, bagi siapa pun di Keluarga Minamikawa yang masih bisa menggunakan akal sehatnya, mereka pasti akan menyadarinya. Keuntungan menjalin hubungan dengan Keluarga Shinonome.”

“...Keuntungan.”

“Benar, keuntungan. Shinonome Souichirou-sama berhasil membangun semuanya dari nol dalam satu generasi. Ditambah lagi, target pasar kami ada di dalam negeri, sedangkan Keluarga Shinonome ada di luar negeri. Meskipun pasar domestik mereka akan terus berkembang, menjalin hubungan baik jauh lebih menguntungkan daripada menjadikan mereka saingan. Dan jika demikian, tentu lebih baik ada pihak yang memiliki kedekatan dengan Keluarga Shinonome.”

“Dan di sanalah Uka akan berperan sebagai jembatan, begitu?”

“Tebakan Anda setengah benar. Setengahnya lagi adalah fakta bahwa Shinonome Souichirou-sama dan Paman saling mengenal satu sama lain. Jika dipikir-pikir dengan saksama, menyingkirkan Paman dari posisi kepala keluarga adalah sebuah kebodohan yang nyata. ...Meski tanpa adanya kejadian hari ini, mereka mungkin tidak akan mendapat kesempatan untuk menyadarinya.”

Setelah mengatakan hal itu, Uka tersenyum. Namun, senyuman itu berbeda dari sebelumnya, senyuman yang membuat punggungku merinding.

“Bahkan di tengah Keluarga Minamikawa yang dipenuhi oleh orang-orang bodoh sekalipun, selama Paman masih menjabat sebagai kepala keluarga... setidaknya sampai kami dewasa nanti, tidak akan ada masalah. Walaupun entah apa yang akan terjadi setelah itu.”

“... Uka?”

“Fufu, maafkan saya. Intinya, Anda sudah memikul tanggung jawab itu.”

“Mungkin lebih tepatnya, kitalah yang telah diberi kesempatan untuk memikul tanggung jawab tersebut.”

Nagi menambahkan penjelasan Uka. Di saat yang sama, senyuman Uka kembali melembut seperti biasanya.

“ Uka-chan mengajak kami hari ini dengan maksud untuk menghapus... atau setidaknya meringankan rasa bersalah yang aku dan Souta-kun rasakan. Benar, kan?”

“Saya bisa saja bilang bahwa tebakan Anda terlalu berlebihan, tapi kata-kata seperti itu takkan mempan pada Nagi-chan-senpai, ya. Saya tak ingin melihat raut wajah orang yang saya hormati mendung... Saya tak ingin ada setitik pun keraguan dalam penampilannya. Bohong jika saya bilang saya tidak punya perasaan seperti itu.”

Nagi mengangguk dengan ekspresi serius. Sepertinya ia sama sekali tidak terkejut.

“Oleh karena itu, Anda berdua sudah memikul tanggung jawab itu... meskipun pada dasarnya, Anda berdua tak punya kewajiban untuk melakukannya.”

“...Terima kasih. Mendengarmu berkata begitu benar-benar membuatku merasa lega.”

“Sama-sama. Saya pun merasa berutang budi pada Souta-sama. Perkembangan Nagi-chan-senpai pasti sangat dipengaruhi oleh Anda.”

Mendengarnya berbicara begitu membuatku sedikit malu. Tapi, aku sangat senang.

“Dan satu lagi, Souta-sama. Anda bisa memanggil saya dan Onii-sama tanpa sebutan kehormatan, lho. Kami berdua lebih muda dari Anda.”

“...Apakah tidak apa-apa? Seiya juga?”

“Y-ya. Dipanggil dengan sebutan kehormatan oleh orang yang lebih tua rasanya sedikit aneh. Aneh... jadinya.”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan memanggil kalian Seiya dan Uka. Tolong jangan panggil aku dengan sebutan ‘Tuan’ juga, rasanya terlalu kaku. Panggil saja dengan nama atau panggilan yang lain.”

“Kalau begitu, saya akan memanggil Anda Souta-san.”

“A-aku...”

Berbeda dari sebelumnya, Seiya terdengar ragu. Aku tersenyum untuk meredakan ketegangannya.

“Panggil saja aku dengan namaku langsung. Dan tidak perlu pakai bahasa formal juga. Sepertinya kamu lebih nyaman bicara seperti itu, kan.”

“...Kalau kamu bilang begitu, aku merasa sangat terbantu. Tapi, aku tidak ingin memanggil namamu begitu saja... bolehkah aku memanggilmu Souta-senpai?”

“...Senpai?”

“T-tidak boleh, ya?”

Reaksi terkejutku wajar saja──karena ini pertama kalinya ada yang memanggilku seperti itu.

“Bukan tidak boleh. Kalau itu membuatmu lebih nyaman, silakan saja.”

“...K-kalau begitu, aku akan memanggilmu Souta-senpai.”


Mendengar perkataan Seiya, Uka yang berada di sebelahnya tersenyum──lalu menepuk tangannya sekali.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita berpisah sekarang? Berada di luar lebih lama dari ini tidak baik untuk kesehatan.”

“Kamu benar. Kita juga sudah membuat pengemudi menunggu terlalu lama.”

Aku mengangguk menyetujui ucapan Uka dan Nagi. Ini juga sudah waktunya makan malam.

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi dalam waktu dekat. Nagi-chan-senpai, Souta-san.”

“Iya. Jika ada apa-apa, tolong hubungi kami, ya.”

“Mari kita berbincang tentang tarian tradisional Jepang lagi nanti!”

“Aku menantikannya. Seiya-san juga. ...Aku lebih terbiasa menggunakan panggilan ‘-san’, apakah tidak apa-apa?”

“T-tidak masalah. Aku juga akan memanggilmu Nagi-san.”

“Iya, tentu saja.”

Seiya tampak sedikit gugup... kemudian ia menoleh ke arahku.

“Souta-senpai. Um, maaf karena telah berulang kali merepotkanmu.”

“Ah. Seiya pasti sedang mengalami masa-masa sulit... Kuharap kau bisa melaluinya. Kalau sekadar mendengarkan keluh kesah, aku siap kapan saja. Aku ini bisa menjaga rahasia, lho.”

“...Terima kasih.”

Meskipun Uka sudah berkata demikian tadi, situasi yang mereka hadapi saat ini kemungkinan masih akan terus berlanjut untuk beberapa waktu. Selama masa itu, hal yang bisa kulakukan hanyalah mendengarkan keluh kesahnya.

“Lalu, aku... sebelumnya aku bilang aku membencimu, tapi aku tidak sebenci itu pada Souta-senpai yang sekarang. Aku ingin mengenalmu lebih jauh.”

“Aku juga ingin lebih mengenal Seiya. Ke depannya kita pasti akan sering bertemu, mari kita mengobrol banyak hal.”

“...! Iya!”

Setelah itu, Seiya memamerkan senyumannya padaku. Sebuah ekspresi yang sama sekali tidak ia perlihatkan sejak tadi. Memang ada banyak hal yang terjadi, tapi kurasa ia sudah sedikit membuka hatinya.

“Satu lagi, terima kasih sudah membantuku mencari gantungan kuncinya.”

“...! Sama-sama!”

Karena merasa senang, tanpa sadar aku membalasnya seperti biasa. Seiya tampak terbengong sesaat, lalu ia tertawa kecil.

“...Sama-sama, ya.”

“Bagi kami, itu adalah kata-kata yang sepertinya hanya bisa ditemukan di dalam buku. Tetapi, itu adalah kata-kata yang sangat indah, ya.”

“Kamu benar.”

Mendengar ucapan mereka, Nagi terlihat sangat bahagia, lalu ia menggenggam tanganku.

“Fufu. Kalau begitu, kami permisi dulu, ya.”

“Baik. Sampai jumpa lagi dalam waktu dekat.”

Setelah itu Uka dan... Seiya juga ikut melambaikan tangan kecil, dan aku pun membalas lambaian mereka bersama Nagi.

◆◆◆

Setibanya di rumah──setelah mandi untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan, dan selesai makan malam. Aku sedang berada di dalam kamarku.

Tempat itu... memang ada tempat tidur, tapi ini bukanlah kamar tidur utama kami. Ruangan ini merangkap sebagai ruang kerja... sebuah ruangan yang diperuntukkan saat aku ingin menyendiri, misalnya setelah bertengkar dengan Nagi. Soalnya, setelah mengetahui situasi Keluarga Minamikawa hari ini, aku jadi ingin memikirkannya sendirian. ...Dan juga, untuk mengintrospeksi diri.

──Souta-kun bodoh!

Mungkin ini pertama kalinya Nagi marah sebesar itu padaku. Hal itu juga... karena aku terlalu menyalahkan diriku sendiri.

Aku hanya memikul sebagian dari tanggung jawab itu, bukan semuanya. Meskipun begitu, aku mencoba untuk menerima semua perkataan Seiya mentah-mentah. Itu bukanlah hal yang baik bagiku, maupun bagi Seiya.

Oleh karena itu, saat ini aku sedang merenung sendirian di kamar ini.

“...Sulit juga ya, yang namanya hidup ini.”

“Aku mengerti. Memang sulit, ya.”

Gumamanku mendapat balasan. Dengan begini, itu bukan lagi sekadar gumaman.

Saat aku menoleh, Nagi sudah duduk tepat di sebelahku. Sambil menyandarkan punggungnya ke kasur... dalam balutan jubah mandi.


“...Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Sejak kapan kamu di situ?”

“Sejak sekitar tiga puluh menit yang lalu. Karena saat aku mengetuk pintu tidak ada jawaban, dan saat aku duduk di sebelahmu pun kamu tidak menyadarinya.”

“Selama itu. Kamu bisa masuk angin.”

“Saat masuk ke kamar, aku sudah menyalakan penghangat ruangan kok. Lagipula, aku merasa senang karena bisa terus memandangi wajah Souta-kun.”

Saat kulihat, penghangat ruangan memang sudah menyala. Bahkan hal itu saja aku tidak menyadarinya... batinku.

Nagi tersenyum gembira, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Rambutnya yang terurai halus menggelitik pipiku.

“...Ngomong-ngomong, pakaian apa itu?”

“Ini jubah mandi.”

“Tidak, aku tahu itu. Tapi kenapa jubah mandi?”

“Aku menyukainya, jubah mandi. Meskipun berbeda dari kegunaan aslinya, aku memakainya sebagai pakaian tidur.”

“...Begitu ya.”

Padahal kulitnya tidak terlalu banyak terekspos, tapi entah kenapa aku merasa tidak seharusnya menatapnya terlalu lama. Kenapa ya? ...Sebaiknya tidak usah kupikirkan terlalu dalam.

“Lalu, kenapa kamu ada di sini? Padahal hari ini aku sedang ingin sendirian.”

“Karena aku tidak ingin membiarkanmu sendirian.”

Nagi mengatakan itu sambil meraih tanganku. Kemudian, ia membelai jari-jariku seolah memastikan sentuhannya, lalu menggenggam tanganku.

“Kamu sedang berpikir untuk merenung karena merasa terlalu menyalahkan diri sendiri, bukan?”

“...Iya. Aku merasa sikapku hari ini agak kurang baik.”

“Menurutku justru pemikiran seperti itulah yang disebut menyalahkan diri sendiri. Bagaimana menurutmu?”

Perkataan Nagi membuat tenggorokanku tercekat... Aku menghela napas pelan. Aku mengerti. Aku sudah menyadarinya.

“Benar juga, ini kontradiktif. Merenungi diri karena merasa terlalu menyalahkan diri sendiri.”

“Ya. Dan untuk itu kamu menyendiri. Tanpa mencoba bersandar padaku sama sekali.”

Nagi mengatakan itu sambil tersenyum. ...Senyuman yang entah mengapa terasa mengintimidasi.

“Souta-kun, ini saatnya untuk menceramahimu lagi.”

Nagi mengatakan itu dan mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan denganku. Namun, genggaman tangannya tetap tidak terlepas──ia menarik tanganku dengan kuat.

“Woah,”

Keseimbanganku goyah──dan aku tertahan di pelukan dada Nagi. Kemudian, agar aku tidak bisa lari, ia melingkarkan tangannya yang lain ke punggungku dan memelukku erat.

Saat aku menatap ke atas, sepasang mata biru berada tepat di depan mataku.

“──Lebih mudah, bukan? Menyalahkan diri sendiri.”

“...”

“Aku mengerti. Dulu aku juga begitu. Terutama saat itu... setelah kita pergi ke taman hiburan dan aku memberitahumu tentang perjodohan itu. Bahkan setelah kamu datang ke rumahku dan kita menjadi sepasang kekasih, setiap kali aku memimpikan hari itu, aku merasa akan gila jika tidak menyalahkan diriku sendiri.”

Perkataan Nagi terasa berat menekan hatiku. Rasanya benar-benar membuat napas sesak... tapi, dia tidak membiarkanku lepas.

“Tapi, itu tidak boleh. Cara seperti itu salah. Kamu menyalahkan diri sendiri agar merasa lebih baik, dan karena itu membuatmu merasa lebih baik, kamu terus menyalahkan diri. Itu hanya akan menjadi lingkaran setan.”

Mata biru itu. Riak muncul di matanya yang bagaikan permukaan air yang tenang. Kemudian, guncangan di matanya mulai membesar.

“Kumohon, andalkanlah aku. Bersandarlah padaku. ...Kamu menganggapku sebagai keluargamu, bukan?”

Dengan mata yang masih berkaca-kaca──Nagi mendekatkan wajahnya. Kemudian, ia menempelkan bibirnya ke bibirku.

Pada saat yang sama, satu atau dua tetes air mata mengalir dari mata birunya, membasahi kulitku. Terasa sedikit asin──Nagi perlahan melepaskan ciumannya.

“Pasti ada saat-saat di mana kamu merasa kesulitan dan ingin sendirian. ...Tapi, selain untuk mendinginkan kepala saat sedang emosi, menyendiri sering kali malah membuat kita terjebak dalam lingkaran setan. Di saat-saat seperti itu, andalkanlah aku.”

“...Maafkan aku.”

“Ya. Berjanjilah untuk sama sekali tidak melakukannya lagi. Jika kamu melakukannya, setiap kali itu pula aku akan mengingatkanmu seperti ini, bahwa akulah yang berada paling dekat denganmu.”

Aku mengusap sudut matanya dengan jariku, lalu balas memeluk Nagi. Dug dug, suara detak jantungnya terdengar lebih dekat dari biasanya.

“Aku tidak akan lupa lagi. Terima kasih, Nagi.”

“Fufu. Sama-sama. Apa pun itu, tolong jangan terlalu memikirkan masalah keluarga Minamikawa lagi. Cukup tanyakan saja bagaimana perkembangannya saat kamu bertemu dengan Uka-chan nanti.”

“Benar juga. Mari kita lakukan itu.”

Aku bernapas perlahan sambil mendengarkan detak jantung Nagi. Aroma manis memenuhi paru-paruku, dan jantungku berdebar seiring dengan hal itu... tapi di saat yang sama, aku juga merasa tenang. Perasaan yang sungguh aneh.

“Ngomong-ngomong, aku juga harus menghubungi Eiji dan yang lainnya. Kemungkinan besar hal inilah yang dikhawatirkan Eiji, kan?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Anak itu, intuisinya terlalu tajam. Jadi, dia merasa menyesal karena dialah yang mendorongku bertindak, yang akhirnya membuatku mengacaukan keluarga Minamikawa dan dibenci oleh mereka.”

“Aku juga tidak mendengar semuanya, tapi secara garis besar mungkin memang seperti itu.”

“...Dan dia pikir aku akan membencinya karena hal itu, ya. Tidak, justru karena dia tahu aku tidak akan membencinyalah, makanya dia bertanya seperti itu.”

Aku teringat saat Eiji dan yang lainnya datang ke rumah ini, saat kami pergi ke balkon bersama. Sekarang setelah aku mengetahui sumber perasaan janggal waktu itu, semuanya menjadi masuk akal.

“Aku harus berbicara dengan Eiji. Secara tatap muka.”

“Fufu. Kamu boleh menghubunginya dalam posisi seperti ini, lho.”

“...Kalau terus begini, sejujurnya aku merasa sedikit malu.”

“Tapi, kamu lebih merasa senang daripada malu, kan?”

“Aku tidak bisa menyangkalnya.”

Sambil tersenyum kecut, aku tidak beranjak dari posisiku. Aku mengeluarkan ponsel dari saku dan mulai mengetik pesan.

“...Balasannya cepat sekali.”

“Sudah ada balasan?”

“Iya. Dia bahkan bilang ingin datang besok pagi.”

“Besok hari libur, bukan? Bukankah itu bagus?”

“Benar juga. Lagipula sepertinya kami hanya akan mengobrol. Katanya dia ada pekerjaan paruh waktu di siang harinya.”

“Kalau begitu kebetulan sekali.”

“Hm?”

Sambil membalas pesan Eiji bahwa dia boleh datang besok, aku mendengarkan perkataan Nagi. Kebetulan sekali?

“Besok siang, mari kita pergi kencan, Souta-kun.”

“...Kencan?”

“Ya. Belakangan ini kita sibuk dan hanya bisa berkencan di rumah saja. Bagaimana?”

Aku menghentikan obrolanku dengan Eiji dan menatap Nagi. Dia menyentuhkan dahinya ke dahiku. Matanya bersinar cerah bagaikan lautan yang terpapar sinar matahari.

“Kedengarannya bagus. Aku sangat ingin pergi.”

“Baiklah! Kalau begitu, besok siang kita kencan!”

Dengan begitu, jadwal untuk besok sudah terisi penuh. Pagi hari mengobrol dengan Eiji dan yang lainnya, dan siang harinya kencan dengan Nagi. Beban di hatiku telah hilang, dan sepertinya besok akan menjadi hari yang menyenangkan.

Alhasil, rencanaku untuk tidur sendirian hari itu batal──dan aku pun tertidur sambil dipeluk oleh Nagi yang mengenakan jubah mandi.

◆◆◆

“Selamat pagi, Minorin. Nagirin.”

“Selamat pagi, Souta. Nagi-san.”

“Pagi. Kalian berdua.”

Pagi harinya, ketiga orang itu datang. Sepertinya Kirika dan Hikari juga memiliki jadwal kosong. ...Namun, berbeda dari biasanya, ekspresi wajah mereka bertiga terlihat sangat serius.

“Selamat pagi. Tumben sekali kalian bertiga terlihat kurang bersemangat sejak pagi.”

“Selamat pagi. Rasanya ini benar-benar hal yang langka, ya.”

Aku membalas sapaan mereka dan Nagi pun tersenyum, namun ekspresi ketiga orang itu tidak kunjung cerah.

“...Sepertinya ini parah. Tidak hanya Eiji, tapi kalian berdua juga.”

“Yah, begitulah. Meskipun yang menyemangatimu secara langsung adalah Eiji, tapi kami juga ikut membantu. Walaupun Hikarin hanya memberi tahu alamat rumah Nagirin!”

“Kalau soal ikut membantu, aku juga sama. ...Dan mungkin juga, dengan alasan yang sama seperti Eiji.”

“...”

Eiji memasang wajah rumit. Sama seperti waktu itu.

“Untuk saat ini, mari kita mengobrol di dalam. Silakan masuk.”

Karena rasanya kurang sopan mengobrol sambil berdiri di pintu masuk, aku membimbing mereka bertiga ke ruang tamu. Tidak hanya Eiji... kedua gadis itu juga berjalan dengan langkah gontai.

“...Kukira Kirika lebih suka jika suasananya bersemangat?”

“Waktu itu... aku selalu mensugesti diriku, pokoknya setidaknya sampai Minorin menyadarinya.”

“Begitu ya. Terdengar sangat seperti dirimu.”

Cara dia memperhatikan perasaan orang lain berada di tingkat yang berbeda, dan kenyataan bahwa dia bisa bersikap seperti biasa benar-benar luar biasa. Padahal itu pasti menguras beban mentalnya.

“Mari kita pastikan terlebih dahulu. Aku menghentikan perjodohan antara Nagi dan Minamikawa Haruto-san, dan karena itu keluarga Minamikawa menjadi berantakan... Kalian bertiga, terutama Eiji, merasa bertanggung jawab atas hal itu. Apakah itu benar?”

“...Ya, benar. Aku tidak ingin menyesalinya... tapi aku berpikir, andai saja aku bertindak lebih cepat.”

“Begitu. Apakah Hikari juga merasakan hal yang sama?”

“Yah, begitulah. Kami terlalu lambat dalam bertindak. Kami juga lambat menyadarinya. Aku berpikir, andai saja kami mendesakmu lebih awal, mungkin Souta dan yang lainnya tidak akan dibenci.”

Aku merenungkan perkataan Eiji dan Hikari. Aku bisa mengerti apa yang ingin mereka sampaikan. Jika saja aku bisa menyatakan perasaanku pada Nagi seminggu lebih awal, pembicaraan mengenai perjodohan itu pasti tidak akan terjadi.

“Kirika bahkan datang ke rumah bersamaku dengan Eiji waktu itu.”

“...Iya, benar. Waktu itu aku hanya berpikir untuk menyemangati Minorin, tanpa memikirkan konsekuensinya. Tanpa memikirkan siapa yang akan direpotkan. Bahkan, aku sampai berpikir bahwa keluarga pihak sanalah yang jahat.”

Kirika juga bersikap seperti itu, dan aku bertukar pandang dengan Nagi sambil tersenyum kecut. Sekali lagi aku kagum dia bisa menyembunyikannya dengan sangat baik... tapi. Sebaiknya langsung kusampaikan saja.

“Aku rasa kalian sudah bisa menebaknya, tapi aku sama sekali tidak membenci kalian bertiga. Aku juga tidak marah... tidak, sepertinya aku memang sedikit marah.”

“Aku juga marah, lho.”

Aku menghentikan ucapanku di tengah jalan dan meralatnya. Jika ditanya apakah aku marah atau tidak, aku memang marah.

“Tidak mungkin aku memiliki perasaan lain selain rasa terima kasih kepada kalian bertiga. Aku sama sekali tidak berpikir bahwa alasan Seiya membenciku adalah kesalahan Eiji.”

“Aku sependapat dengan Souta-kun. Tidak mungkin aku berpikir bahwa masalah dengan keluarga Minamikawa adalah kesalahan Kirika-chan dan Hikari-chan. Pada dasarnya, akar permasalahannya adalah kesalahpahaman di dalam keluarga kami sendiri. Jadi, sama sekali tidak ada alasan untuk menyalahkan kalian yang telah menyelamatkan kami dari situasi tersebut.”

Aku bukan tipe orang yang suka melempar tanggung jawab dengan menyalahkan Eiji dalam situasi ini, dan lagi pula, menyalahkan orang yang telah menolong kita adalah hal yang sangat tidak masuk akal.

“Tapi... Jika saja aku mendorongmu lebih cepat...”

“Kalau begitu, ceritanya akan berubah menjadi andai saja aku menyatakan perasaanku lebih cepat. Lagipula, memprediksi kejadian sejauh ini sebelum bertindak, itu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan.”

Keluarga Nagi saling salah paham, dan jika kehilangan sedikit saja momen yang tepat, pilihannya hanya ada dua: membuat keluarga Minamikawa berantakan atau gagal membuat Nagi bahagia. ...Itu sungguh kacau.

“Lagipula, fakta bahwa tebakan Eiji tentang ‘Nagi yang berselisih dengan keluarganya’ itu benar saja sudah sangat luar biasa. Meskipun mungkin juga ada faktor intuisi di dalamnya.”

“Itu memang benar. Tapi, saat itu aku... hanya berniat untuk menghentikan perjodohan itu. Aku tidak menyangka bahwa keluarga pihak sana akan tertimpa masalah besar, dan bahwa mereka akan sangat membenci Souta karena hal itu... Itu sama saja dengan aku memaksamu menarik pelatuknya.”

“Memang benar, Eiji-lah yang menyadarkanku.”

Jika tidak ada Eiji, mungkin aku tidak akan bisa bangkit. Aku juga tidak akan bisa pergi ke rumah Nagi.

“Tapi itu kulakukan agar bisa bahagia bersama Nagi. Meskipun aku bisa mengulang hari itu, aku akan melakukan hal yang sama. Pasti. Aku memang akan mencari apakah ada jalan lain yang lebih baik, tapi aku akan membuat pilihan yang sama berkali-kali demi bahagia bersama Nagi.”

“Aku pun, kami pun juga begitu. Jika kami hanya bisa mengulang hari itu, kami hanya bisa melakukan hal yang sama. Untuk mencapai kebahagiaan kalian berdua dari titik itu, hanya itu satu-satunya cara... meskipun kami akan mencari apakah ada cara lain.”

“...Aku senang mendengarnya. Selain itu, ada juga alasan yang pasti.”

Jika dibiarkan, ini mungkin tidak akan menjadi perdebatan tanpa akhir, tapi perbincangan ini pasti akan semakin memanas.

“Nagi, tidak masalah kalau aku membicarakan hal itu, kan?”

“Iya. Tentu saja dengan janji bahwa kalian tidak akan menceritakannya kepada orang lain... tapi jika itu kalian bertiga, kurasa tidak ada masalah.”

Aku tahu bahwa mereka bertiga bisa menjaga rahasia. Mereka juga sudah mengetahui situasinya, jadi lebih baik kuberitahukan.

“Seperti yang Nagi katakan, aku ingin kalian tidak membocorkannya... Kemarin, Nagi dan Minamikawa Uka diwawancarai oleh perusahaan surat kabar.”

“Wawancara...? Oh, jadi begitu. Pantas saja kalian bilang ada kerja paruh waktu kemarin.”

“Ya. Nagi dan Uka diwawancarai bersama-sama. Kami juga berfoto berempat, termasuk aku dan Seiya.”

“...Apakah itu tidak apa-apa? Minamikawa Seiya itu orang yang membencimu, kan? Lagipula, dari sudut pandang keluarga Minamikawa, itu pasti foto yang sangat tidak menyenangkan bagi mereka.”

Aku tersenyum kecut mendengar perkataan Eiji. Ada banyak hal yang terjadi antara aku dan Seiya kemarin. Aku akan menceritakannya nanti.

“Uka-chan bilang, penting untuk menunjukkan bahwa dia memiliki hubungan denganku. Hubungan dalam hal pekerjaan atau hubungan dalam tarian tradisional Jepang. Artinya, kami mungkin bisa membangun hubungan yang saling menguntungkan.”

“...Mungkin tidak enak didengar, tapi bukankah keluarga Nagirin memiliki hubungan yang buruk dengan keluarga Minamikawa?”

“Ya, mungkin lebih banyak orang yang tidak menyukai kami. Namun, dalam konteks bisnis, kami bisa membangun hubungan yang baik. Jika ada seseorang di keluarga Minamikawa yang menyadari hal itu, kekacauan di keluarga mereka akan mereda, dan mungkin kami bisa menjalin hubungan yang bersahabat... yah, aku tidak akan melangkah sejauh itu, tapi setidaknya perselisihan kami akan menghilang. Sepertinya dia berpikir seperti itu.”

“...Tapi bukankah saat ini posisi puncak di keluarga Minamikawa sedang goyah? Kamu bilang mereka mencoba melamar dengan persyaratan yang terlalu menguntungkan bagi keluarga Nagi.”

“Benar. Tapi, berdasarkan cerita Uka-chan, kepala keluarga saat ini adalah sosok yang tidak tergantikan bagi keluarga Minamikawa. Menurut pandangan Uka-chan, kepala keluarga tidak akan diganti. Setidaknya, keluarga tersebut tidak akan hancur dan berantakan dalam beberapa tahun ke depan... begitulah katanya.”

Mereka bertiga mendengarkan perkataan Nagi dengan saksama. Ekspresi mereka terlihat lebih serius dari biasanya. Hal itu menunjukkan betapa besarnya rasa tanggung jawab yang mereka rasakan. ...Persis sepertiku hingga kemarin, mengkhawatirkan hal yang tidak perlu secara berlebihan.

“Tentu saja saya tidak memercayai semuanya begitu saja, tapi Ayah juga pernah bilang bahwa kepala keluarga Minamikawa yang sekarang adalah sosok yang tak tergantikan. Pandangan Ayah pun serupa, jadi saya rasa informasi itu bisa dipercaya.”

“……Kalau begitu, skenario terburuk yang dikatakan Eiji—seperti keluarga Minamikawa yang pecah dan membuat banyak orang telantar—tidak akan terjadi?”

“Kemungkinan itu sangat rendah. Lagipula, dari apa yang saya dengar tentang kekacauan di keluarga Minamikawa, meskipun pemicunya adalah kami, aspek perselisihan internal mereka jauh lebih besar. ……Meski tidak ada gunanya berandai-andai, saya rasa hal serupa akan tetap terjadi dalam waktu dekat meskipun hari itu Eiji-san tidak menyemangati Souta-kun.”

“……Benarkah?”

“Iya, benar. Jadi, kalian bertiga tidak bersalah. Setidaknya, hal terburuk yang dibayangkan Eiji tidak terjadi.”

Mendengar itu, Eiji mengembuskan napas panjang.

“……Jadi, tidak ada kejadian mengerikan yang bertumpuk hingga memakan korban jiwa, kan?”

“Aku harus menambahkan bahwa ini berdasarkan apa yang kudengar dari Seiya. Tapi, sepertinya memang tidak ada.”

Melihat betapa meledaknya emosi Seiya waktu itu, aku merasa dia pasti akan mengatakannya jika ada seseorang yang meninggal. Sepertinya ada anak yang sampai tidak bisa keluar kamar juga…… tapi kurasa aku tidak perlu menceritakan bagian itu kepada Eiji dan yang lainnya.

“Keadaan akan membaik sedikit demi sedikit mulai sekarang. Jadi, tolong jangan terlalu merasa bersalah.”

“……Syukurlah. Jadi kalian berdua tidak perlu memikul beban yang sangat berat, ya.”

“Aku tidak tahu apakah tepat untuk merasa lega. Yang terbaik adalah jika tidak ada yang terluka. Yah, meskipun itu hanya sekadar idealisme.”

Mendengar perkataan Nagi, Kirika dan Hikari pun ikut mengembuskan napas lega. Kata-kata itu sangat mencerminkan kepribadian mereka, membuat ekspresiku pun ikut melunak secara alami.

“Benar. Meskipun idealnya tidak ada yang terluka, kenyataannya tidak begitu. ……Sekarang aku bisa mengatakan tanpa ragu bahwa aku berniat memikul beban ini bersama Nagi dan yang lainnya.”

Jika itu aku yang dulu, aku pasti akan merasa janggal dengan ucapanku sendiri. Hilangnya perasaan itu adalah sebuah kemajuan besar. Aku juga telah menemukan sisi buruk dari diriku sendiri.

Lagipula──

“Kalian bertiga benar-benar baik ya.”

“……Hanya karena aku tidak ingin merasa tidak tenang saja. Rasanya berat melihat sahabat yang kuberi motivasi malah memikul beban yang terlalu besar.”

“Eiji, alasanmu terlalu dipaksakan tahu? Kamu itu pria yang sampai mengambil cuti lima hari karena mengkhawatirkan Minorin, kan?”

“Daripada dibilang baik, rasanya aneh jika sebagai teman kita sama sekali tidak memikirkan tanggung jawab. Menurutku ini hal yang wajar.”

Melihat mereka bertiga yang mulai kembali seperti biasa, aku kembali menyadari betapa beruntungnya aku memiliki mereka sebagai teman.

“A-apa lihat-lihat, Souta? Kamu tersenyum sendiri begitu.”

“Bukan apa-apa. Aku hanya berpikir betapa beruntungnya aku memiliki kalian sebagai teman.”

“Kamu mengatakan hal yang memalukan dengan wajah serius begitu……”

“Sesuatu tidak akan tersampaikan jika tidak diucapkan. Yah, aku tidak akan mengatakannya setiap saat, jadi setidaknya di saat seperti ini. Aku benar-benar berterima kasih.”

Bukan hanya dalam hati, perasaan harus diungkapkan agar tersampaikan. Aku tidak mengatakannya setiap hari, jadi di saat seperti ini kurasa tidak apa-apa.

“Mohon bantuannya untuk ke depan juga ya.”

“……Tentu saja. Jika terjadi sesuatu, aku juga akan ikut bertanggung jawab dan bersedih bersamamu, jadi percayalah padaku sepenuhnya dan jangan ragu untuk berkonsultasi.”

“Aku juga! Nagirin juga harus sering-sering bercerita ya!”

“Ehm, aku juga. Saat itu aku hanya bisa menjentik dahi Nagi saja.”

“Fufu. Saya mengandalkan kalian.”

Eiji, Kirika, dan Hikari. Meski terlihat sedikit malu, mereka menerima kata-kataku dengan tulus.

Bersama mereka bertiga, kehidupan sekolah menengah ke depanku pasti akan baik-baik saja. Pasti.

◆◆◆

“Halo, Souta-kun.”

“……Halo, Nagi. Maaf membuatmu menunggu.”

Taman di depan stasiun. Alih-alih berangkat bersama dari rumah, kami memutuskan untuk bertemu di sana. Itu adalah usul dari Nagi. Berangkat bersama dari rumah memang tidak buruk, tapi dia ingin merasakan sensasi menunggu janji temu.

“Ini kan karena keinginanku. Saya juga tidak menunggu lama kok. ……Lebih dari itu, Souta-kun, bagaimana penampilan saya hari ini?”

Nagi berputar pelan, membuat roknya mengembang cantik di udara.

Hari ini Nagi mengenakan mantel berwarna krem cerah dengan rok berbahan tebal. Aku sempat berpikir apakah dia tidak kedinginan, tapi sepertinya dia memakai stoking di baliknya.

“Iya, menurutku itu cocok untukmu.”

“Apakah aku terlihat imut?”

“……Kamu manis sekali, sungguh.”

Karena ini kencan setelah sekian lama, aku sedikit ragu untuk mengucapkan kata-kata itu di luar ruangan.

Ini tidak baik. Aku harus bisa mengatakannya secara spontan.

“Terima kasih. Souta-kun juga terlihat keren.”

“Terima kasih.”

Pipi Nagi merona kemerahan. Saat aku mengulurkan tangan, dia menggenggamnya erat dengan jari yang saling bertautan.

“Kalau begitu, mari kita berangkat, Souta-kun.”

“Iya, mari.”

Hari ini adalah hari kencan kami di siang hari, seperti yang sudah dibicarakan kemarin. Akhir-akhir ini kami lebih sering berkencan di rumah, dan bepergian berdua pun biasanya hanya saat aku menemaninya pergi les, jadi ini terasa seperti kencan yang sesungguhnya setelah sekian lama.

Aku menggenggam tangannya erat agar tidak terpisah, dan kami pun mulai berjalan.

◆◆◆

“Variasinya banyak sekali ya.”

“Iya. Harganya juga terjangkau.”

Aku dan Nagi sedang berada di sebuah toko kosmetik yang cukup besar. Alasannya adalah karena Nagi ingin mencoba memakai pewarna kuku. Sepertinya dia terpengaruh oleh Kirika dan Hikari.

Toko ini adalah rekomendasi dari mereka berdua.

Sejujurnya aku tidak terlalu paham definisi kosmetik, tapi toko ini menyediakan berbagai macam produk kecantikan, perawatan kulit, hingga perlengkapan kuku. Harganya pun disesuaikan untuk pelajar. Faktanya, harganya sangat terjangkau bagi aku dan Nagi. Apalagi mulai bulan depan aku sudah punya gaji dari pekerjaan paruh waktu.

“Ada banyak jenisnya ya. Yang ini berkilauan.”

“Sepertinya itu mengandung gliter. Kalau yang di sana itu seni kuku (nail art).”

“Karena saya masih pemula, kita coba itu lain kali saja. Mari mulai dari yang sederhana dulu.”

“Benar juga.”

Nagi menatap deretan rak barang dengan saksama, lalu menatapku.

“Souta-kun suka warna yang seperti apa?”

“Hmm…… biru tua, mungkin. Biru yang dalam seperti lautan.”

“Begitu…… rupanya……”

Sesaat matanya tertuju pada rak barang, namun segera kembali menatapku.

Sepasang mata yang berwarna biru sedalam lautan itu menatapku tajam.

“Mungkinkah, itu warna mataku?”

“……Benar.”

Aku balas menatap mata biru itu sambil tersenyum.

Mata yang tampak seperti lautan dalam yang membuat siapapun seolah tenggelam di dalamnya, namun terkadang bersinar terang seolah menangkap cahaya matahari.

“Fufu, begitu ya. Saya senang sekali.”

Cahaya terang terpancar dari matanya, dan dia menyipitkan mata dengan bahagia. Aku sangat menyukai ekspresi itu.

“Kalau begitu, Souta-kun…… mungkin warna seperti ini?”

“Ya, benar. Terima kasih.”

Nagi mengambil sebuah botol kecil berwarna biru. Aku menerimanya dan memperhatikannya. Kebiruan yang seolah menghisapmu seperti lautan…… ya, warna ini yang paling mirip dengan warna mata Nagi.

“Kalau begitu…… warna apa yang cocok untukku?”

“Nagi tidak punya warna kesukaan?”

“Hmm. Aku punya banyak warna yang kusukai, tapi……”

Nagi mengulurkan tangan dan mengambil satu warna.

Warna itu adalah──hitam. Karena itu pilihan warna yang cukup tak terduga, aku pun membelalakkan mata.

“……Rambutku kan berwarna putih.”

Nagi menyisir rambutnya yang panjang ke depan.

Rambut berwarna seputih salju itu sangat indah dan halus, hingga membuatku ingin menyentuhnya.

“Terkadang saya berpikir, alangkah baiknya jika rambutku hitam, warna yang sama dengan Souta-kun.”

“……Nagi.”

“Tidak, aku menyukai rambut, kulit, dan warna mata ini juga kok. Ini hanya soal ‘rumput tetangga terlihat lebih hijau’ saja.”

“Kalau begitu, mari pilih warna itu.”

Nagi mengangguk dan tersenyum manis padaku.

Lalu, dia memasukkan cat kuku berwarna hitam itu ke dalam keranjang.

“Setelah ini…… mari beli beberapa rekomendasi dari toko ini. Jika Souta-kun punya warna lain yang disukai, mari kita beli juga.”

Setelah itu, kami berdua menghabiskan waktu sejenak untuk memilih berbagai produk.

◆◆◆

Setelah membeli cat kuku dan perlengkapan perawatan kuku, karena masih terlalu awal untuk pulang, aku dan Nagi berkeliling ke toko buku.

“Rasanya sudah lama sekali tidak ke toko buku. Padahal dulu aku datang hampir setiap minggu.”

“Baru belakangan ini juga kan Nagi mulai membaca buku lagi.”

Sepertinya waktu membacanya sudah mulai meningkat dibanding sebelumnya, tapi Nagi bilang tumpukan buku yang belum dibacanya masih banyak.

“Mulai sekarang waktu untuk membaca pasti akan bertambah. Saya ingin membaca banyak buku lagi. ……Ah, ada buku baru yang terbit. Semua karya penulis ini sangat menarik.”

“Nama ini…… penulis buku yang kupinjam sebelumnya kan? Yang genre misteri romansa.”

“……! Kamu mengingatnya! Iya! Ini karya penulis tersebut!”

Aku ingat sekali buku itu karena plot twist di bagian akhirnya sangat luar biasa. Gaya bahasanya juga mudah dipahami, sehingga aku bisa membacanya dengan lancar.

“Kalau begitu, mungkin aku juga akan membelinya.”

“Iya! Mari baca dan diskusikan banyak hal lagi, Souta-kun!”

Nagi menggenggam tanganku erat. Sepertinya dia sangat senang hingga pipinya sedikit memerah dan sudut bibirnya terangkat. Dia terlalu manis. Jika dia menunjukkan ekspresi seperti ini, rasanya aku sanggup membaca buku sebanyak apapun…… meski kedengarannya seperti motivasi yang kurang murni.

“Beri tahu aku jika ada buku rekomendasi lainnya. Aku juga ingin membaca berbagai macam buku.”

“Kalau begitu…… karya yang ini sepertinya mendapat bimbingan dari ahli, jadi ceritanya sangat realistis.”

Dengan langkah ringan, dia mengambil satu buku dan menunjukkannya padaku. Judul buku itu terasa tidak asing……

“Ah, bukankah ini yang sedang tayang filmnya?”

“Ternyata kamu tahu. Iya, benar sekali. Katanya alurnya cukup berbeda dengan versi buku, tapi naskahnya ditulis sendiri oleh penulisnya dan mendapat ulasan yang sangat baik.”

“Begitu ya. ……Ngomong-ngomong, apakah menonton filmnya akan menjadi spoiler untuk bukunya?”

“Fufu. Banyak ulasan yang mengatakan bahwa membaca buku lalu menonton filmnya, atau sebaliknya, tetap terasa menarik.”

Aku mengangguk paham dan menerima buku itu dari Nagi.

“Mendengar ceritamu, aku jadi ingin menontonnya. Bagaimana kalau kita pergi menonton setelah selesai dari toko buku?”

“Mari kita pergi, Souta-kun.”

Sepertinya dugaanku benar bahwa dia sedang mengajakku menonton film secara tidak langsung. Setelah diperiksa, ternyata masih ada waktu sebelum jam tayang berikutnya, jadi aku menghabiskan waktu mendengarkan presentasi Nagi tentang berbagai karya lainnya.

“Ma-maafkan aku. Sepertinya hanya aku yang terus berbicara.”

“Tidak apa-apa, kok. Aku menikmatinya.”

“Tidak bisa begitu. ……Sebenarnya belakangan ini saya juga mulai tertarik dengan komik. Lain kali, beri tahu saya tentang karya-karya yang Souta-kun sukai ya.”

Nagi menyandarkan bahunya padaku, dan aroma manisnya menggelitik hidungku. Di saat yang sama, dia memeluk lenganku…… aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.

“Tentu saja. Tapi Nagi, bukankah jarak kita sedikit terlalu dekat?”

“Benarkah? Bukankah biasanya memang sedekat ini?”

……Benarkah begitu? Akhir-akhir ini aku memang terlalu sering menghabiskan waktu bersama Nagi di rumah, jadi aku mulai bingung. Apalagi saat keluar rumah biasanya kami berada di tempat les yang suasananya formal.

“Lagipula, sebagai sepasang kekasih…… tunangan, saya rasa jarak sejauh ini tidak masalah.”

“……Benarkah?”

“Iya. Tidak apa-apa.”

“Anu…… saking dekatnya, aku sampai bisa merasakan detak jantungmu.”

Saat aku mencoba menyampaikannya secara tidak langsung, dia tertawa kecil.

“Sudah terlambat untuk membicarakan itu sekarang.”

Sambil mengatakan hal itu, telinga Nagi memerah seperti apel…… dan aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Namun di samping itu, aku harus mulai membiasakan diri kembali dengan jarak kami yang biasanya.

……Rasanya detak jantungku jauh lebih berisik daripada saat di rumah. Mungkin, dia pun merasakan hal yang sama.

◆◆◆

“~~♪ Hari ini harga daging sedang murah ya. Bagaimana kalau kita makan steak saja?”

Nagi sedang bersenandung dengan riang. Suasana hatinya menjadi jauh lebih baik…… mungkin karena film yang baru saja kami tonton.

Film itu benar-benar luar biasa. Menurut Nagi, meskipun tidak banyak perbedaan pada karakternya, bagian-bagian yang terasa sedikit mengganjal saat membaca novelnya terselesaikan dengan sangat memuaskan melalui visual film tersebut.

Terlebih lagi, karena sudah membaca perkembangan cerita di novelnya, ada bagian-bagian tertentu yang bisa dinikmati lebih dalam…… dia juga bilang bahwa membaca bukunya setelah menonton film pasti akan sangat menarik.

Pokoknya, filmnya sangat seru.

Dan karena waktunya sudah pas, kami memutuskan untuk belanja bahan makanan untuk makan malam sebelum pulang ke rumah.

“Kalau begitu, untuk hidangan pendampingnya... sup jagung dan salad sudah cukup, ya? Souta-kun, apa ada hal lain yang ingin kamu makan?”

Sambil seolah menyentuh pelan tanganku yang sedang menggenggam pegangan kereta belanja, Nagi bertanya dengan riang. Melihatnya terlihat begitu bahagia hanya dengan berbelanja, aku pun ikut merasa senang.

“Tidak, tidak usah. Kurasa porsinya sudah pas.”

“Baiklah. Kalau begitu selanjutnya... susunya sudah habis, ya. Mari kita pergi, Souta-kun.”

Kemudian Nagi menggenggam tanganku beserta pegangan kereta belanja dan mulai berjalan.

“...Aku ingin menyentuhmu, Souta-kun.”

Nagi bergumam pelan, mencoba menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jariku.

...Aku menelan perasaan yang tiba-tiba meluap dari lubuk hatiku, dan menerima jemarinya.

“Kita sama, ya.”

“....!”

Saat aku bergumam pelan, Nagi membelalakkan matanya. Lalu, ia menunjukkan senyuman cerah bagaikan bunga yang sedang mekar penuh.

“Kalau begitu, biarkan sedikit lebih dekat.”

Nagi perlahan mendekat. Tidak sampai bersentuhan, tetapi jaraknya cukup dekat hingga aku bisa merasakan suhu tubuhnya.

“Berbelanja bersama Souta-kun sungguh menyenangkan. Setiap hari terasa menyenangkan.”

“Aku juga. Karena ada Nagi, setiap hariku terasa menyenangkan.”

“Kita sama, ya.”

“Ya, kita sama.”

Nagi menggenggam tanganku erat-erat dengan gembira. Senyumannya begitu ceria, sampai-sampai aku berpikir, jika Nagi punya ekor, dia pasti sedang mengibaskannya dengan kencang saat ini.

“Terima kasih untuk hari ini, Nagi. Ini pertama kalinya aku pergi ke toko kosmetik, tapi memilih barang bersamamu sangat menyenangkan.”

“Aku juga. Berkeliling toko buku dan menonton film tadi sangat menyenangkan. Sesampainya di rumah, mari kita memakai cat kuku bersama, ya.”

“Ya. Aku menantikannya.”

Kencan kami belum berakhir. Masih banyak hal yang ingin kami lakukan bersama setelah pulang nanti.

“Nanti setelah dipakai, mari kita foto dan tunjukkan pada Kirika-chan dan Hikari-chan. Aku sudah tidak sabar.”

Nagi bergumam dengan raut wajah yang tulus bahagia, senyumnya tidak pernah pudar. Kemudian, ia mengarahkan sepasang mata birunya kepadaku.

“Mari kita berkencan lagi seperti hari ini ya, Souta-kun.”

“Ya, tentu saja. Lain kali, aku yang akan merencanakan kencannya.”

“Aku akan menunggunya dengan senang hati.”

Ke mana kami harus pergi lain kali? Mungkin aku terlalu cepat memikirkannya, tapi aku sangat menantikannya. Ada banyak sekali tempat yang ingin kukunjungi bersama Nagi.

Kebun binatang atau akuarium. Planetarium sepertinya juga menarik... pergi ke museum seni bersama Nagi mungkin juga akan terasa menyenangkan.

Membayangkannya saja membuat hatiku terasa hangat, dipenuhi oleh perasaan bahagia.

◆◆◆

Saat ini, tanganku sedang dikuasai oleh Nagi.

Lenganku diletakkan di atas meja, sementara telapak tanganku digenggam erat olehnya. Ekspresi wajahnya sangat serius... namun, telapak tanganku yang sesekali dielus olehnya terasa sangat geli.

“Souta-kun, sudah terpakai dengan rapi. Coba lihat.”

“Ah, terima kasih. Ini sangat bagus.”

“Sepertinya belum kering, jadi tolong jangan disentuh dulu untuk sementara waktu, ya.”

“Mengerti.”

Cat kuku berwarna biru, menyerupai warna lautan. Warnanya mirip dengan mata Nagi dan terlihat sangat indah.

“...Terima kasih banyak, Nagi.”

“Sama-sama. Lagipula, ini juga permintaanku.”

Setibanya di rumah, kami sepakat untuk segera mencobanya. Lalu, Nagi mengusulkan, ’Awalnya, aku yang ingin memakaikannya.’

Jujur saja, pengetahuanku soal cat kuku sama sekali nol. Mengingat Nagi rutin melakukan perawatan kuku, dia pasti lebih memahaminya. Dan saat dia memakaikan cat kuku itu, Nagi bercerita bahwa dia telah bertanya kepada Kirika dan Hikari tentang cara memakai cat kuku agar hasilnya merata.

“...”

Setelah itu, giliran Nagi yang memakaikan cat kuku pada jari-jarinya sendiri. Ia melakukannya dengan ekspresi yang sangat serius.

Mata birunya menatap lurus ke arah tangannya, dan setiap kedipan matanya semakin menonjolkan keindahan bulu matanya yang panjang. Ia terlihat sangat cantik hingga rasanya aku bisa memandanginya selamanya.

“Baiklah, sudah selesai. Souta-kun, bagaimana?”

...Aku benar-benar terus memandanginya sampai dia selesai.

Sambil tersenyum, Nagi memperlihatkan punggung tangannya kepadaku—dan aku sedikit terkejut.

Cat kuku berwarna hitam. Warnanya sama dengan rambut dan mataku. Warna yang sangat sering kulihat. Meskipun begitu, ketika Nagi yang memakainya, warna itu menciptakan kontras yang menarik dengan kulit dan rambutnya yang seputih salju.

Dengan kata lain—

“Sangat cocok dan cantik. Bagaimana ya mengatakannya... ada kecantikan dari sisi yang berbeda dari biasanya.”

Entah mengapa, rasanya seperti saat pertama kali aku bertemu Nagi di luar sekolah. Kelucuan yang berbeda dari biasanya. Aku merasa senang, seolah-olah menemukan sisi baru dari dirinya lagi.

“Terima kasih. Souta-kun juga terlihat rapi dan keren. Daya tarik yang berbeda dari biasanya.”

Nagi menatap tangannya sendiri, lalu menatapku lekat-lekat.

“Fufu, aku senang bisa memiliki warna yang sama dengan warna rambut Souta-kun.”

“...Aku juga senang. Warnanya sama dengan mata Nagi.”

Itu adalah warna yang menarik perhatianku sejak pandangan pertama, dan sekarang warna itu menjadi warna kesukaanku.

Saat aku memandanginya, Nagi tersenyum kepadaku dan mengeluarkan ponselnya.

“Souta-kun, ayo kita berfoto. Aku ingin mengirimkannya pada Hikari-chan dan Kirika-chan.”

“Ya, baiklah. Nanti kirimkan kepadaku juga, ya.”

“Tentu saja!”

Kemudian, aku dan Nagi berfoto dengan memanfaatkan cermin.

Pertama-tama kami memotret kedua tangan kami, lalu menggunakan kamera depan untuk berfoto berdua. Setelah itu, memotret pantulan dari cermin—dan kami juga mengambil satu foto dari cermin besar yang menampilkan seluruh tubuh.

“Entah kenapa rasanya jadi semakin menyenangkan. ...Kalau dipikir-pikir, kita jarang mengambil foto di rumah ini, ya.”

“Benar juga.”

Baik Nagi maupun aku bukanlah tipe orang yang banyak mengambil foto, tapi tidak sampai sama sekali tidak berfoto. Namun, mungkin kami belum mengambil satu foto pun di rumah ini.

“Mulai sekarang, bagaimana kalau kita saling berfoto kapan pun kita mau? Aku juga ingin memiliki kenangan dalam bentuk fisik.”

“Ide yang bagus.”

Suaraku terdengar ceria menanggapi usul Nagi. Saat sedang sendirian, aku terkadang memandangi foto-fotoku bersama Nagi, jadi ini adalah usulan yang sangat menggembirakan.

“Mungkin saat kamu memakai celemek, atau saat sedang membaca buku. Aku ingin memotret momen-momen seperti itu.”

“Benar juga. Aku juga ingin memotret Souta-kun saat sedang belajar, atau saat sedang makan. ...Dan juga, saat kamu sedang tidur.”

“Saat sedang tidur...? Maksudnya aku, kan?”

Saat aku bertanya balik, pandangan Nagi tampak gelisah, dan ia sedikit memalingkan wajahnya.

“Ehm, itu... aku menyukai wajah tidur Souta-kun. Sebenarnya, setiap pagi aku memandanginya sekitar sepuluh menit sebelum beranjak bangun. Tentu saja kalau kamu tidak suka, aku tidak akan memaksanya.”

“...Begitu, ya. Aku sih tidak keberatan.”

“A-Apakah boleh?”

“Yah, kalau Nagi yang memintanya. ...Tapi pastikan jangan sampai ketahuan oleh Kirika atau Hikari, ya? Aku juga akan berhati-hati.”

“B-Baik! Tentu saja!”

Aku tidak mengira Nagi akan dengan senang hati menunjukkannya pada mereka, tapi kalau sampai ketahuan, rasa canggungnya pasti luar biasa. Yah, jika itu Nagi, kurasa tidak akan ada masalah.

“Kalau begitu. Nanti pagi, saat Souta-kun sedang tidur, aku izin untuk memotretnya.”

“Mengerti. Aku juga mungkin akan memotret Nagi kalau kamu sedang tidur.”

“Fufu, silakan potret sebanyak yang kamu mau.”

Seperti sudah menduganya, Nagi menerima tawaran itu. Kemudian, saat mata birunya menatap ke bawah, ia berseru pelan.

“Balasannya sudah masuk. ...Ehm, Kirika-chan sepertinya sedang bersama Makisaka-san.”

“Eiji juga melihatnya, ya. Kalau itu sih tidak masalah.”

“Sepertinya begitu. Syukurlah kalau kamu tidak keberatan. ...Fufu, semuanya ikut senang.”

Nagi menunjukkan layar ponselnya kepadaku.

[Sangat manis! Terasa bagus saling bertukar warna begitu!]

[Suasananya jadi berubah total, ya. Lagipula kelihatannya menyenangkan.]

Membaca balasan itu, dan melihat Nagi yang terus tersenyum, membuat sudut bibirku ikut terangkat secara alami.

“Syukurlah kalau terlihat cocok.”

“Iya! ...Lain kali setelah memakainya, mari kita pergi keluar bersama, ya!”

“Ya, mari kita lakukan. Aku menantikannya.”

Kehidupan satu atapku dengan Nagi masih akan berlanjut sedikit lagi. Kelompok belajar dengan Eiji dan kawan-kawan juga baru akan dimulai, dan hal ini telah menjadi rutinitas baru bagiku.

Tinggal beberapa bulan lagi... memikirkannya membuatku merasa sedikit kesepian. Namun, bukan berarti aku akan berpisah dengan Nagi. Meskipun masa tinggal bersama ini berakhir, aku akan usahakan untuk menginap di rumah Nagi sesekali. Aku ingin memperdalam hubunganku dengan Ayahnya Nagi dan yang lainnya. Dan juga—aku ingin lebih dekat dengan Seiya dan teman-temannya.

Ngomong-ngomong, mulai bulan depan uang hasil kerja paruh waktuku akan masuk. Mumpung mendapat gaji pertama, aku ingin membelikan sesuatu untuk Ibu dan Ayah... dan juga Nagi. Aku tidak boleh boros demi mempersiapkan hari itu, tapi meskipun anggarannya dikurangi, masih ada sisa yang lumayan. Aku akan memikirkannya nanti.

Lagipula, dengan adanya uang dari kerja paruh waktu, jangkauan tempat bermain dengan Nagi juga akan bertambah luas. Kami bisa membuat banyak kenangan—Ah, benar juga.

Teringat ada suatu hal yang ingin kudiskusikan dengannya, aku pun menegakkan punggungku.

“Nagi.”

“Iya, ada apa?”

“Apakah ada hal lain yang ingin kamu lakukan atau tempat yang ingin kamu kunjungi seperti hari ini?”

Mendengar pertanyaanku, Nagi menatap ke kejauhan seperti sedang berpikir.

“Biarku pikirkan. Ada banyak sekali, tapi... sepertinya menikmati pertunjukan seni tradisional Jepang bersama Souta-kun akan menyenangkan, lalu berkeliling museum dan galeri seni juga terdengar bagus. Selain itu, pergi ke akuarium atau kebun binatang, lalu—“

Nagi sejenak menghentikan kata-katanya. Kemudian, ia tertawa kecil.

“Selanjutnya... ya. Pergi ke tempat yang jauh dan menginap di sana sepertinya juga menyenangkan.”

“—Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi berlibur?”

Saat aku mengatakan itu, Nagi terlihat terkejut. Sepasang mata birunya yang membulat menatap ke arahku.

“Begini. Sebenarnya aku mulai kerja paruh waktu karena ada barang yang ingin kubeli... tapi setelah dihitung-hitung, meskipun sudah dipotong untuk barang itu dan untuk jalan-jalan denganmu, kelihatannya aku bisa menabung cukup banyak.”

Awalnya aku berpikir untuk meminta orang tuaku mengurangi uang saku bulanan. Tapi... ketika aku mulai kerja paruh waktu, Ibu dan Ayah berkata padaku.

’Gunakan seluruh uang hasil kerjamu untuk bersenang-senang dengan Nagi-chan dan yang lainnya. Boleh saja kalau mau ditabung, tapi yang jelas, Ibu ingin kamu tetap mengandalkan kami untuk biaya hidup.’

’Ayah bekerja itu untuk Ibu dan Souta. Jadi, biarkan kami mengurus kebutuhanmu yang sebesar itu. Setidaknya sampai Souta lulus SMA... bukan, sampai kamu bekerja dan menjadi bagian dari masyarakat.’

...Oleh karena itu, uang hasil kerja paruh waktuku hanya kugunakan untuk jalan-jalan bersama Nagi dan sisanya ditabung. Namun, aku dan Nagi tidak mungkin pergi ke berbagai tempat setiap pekannya. Apalagi mulai sekarang Nagi memiliki pekerjaan, sehingga frekuensi kami untuk pergi keluar pasti akan berkurang. Setelah berdiskusi dengan Ayah Nagi dan menghitungnya—

“Saat liburan musim panas nanti, rencananya aku akan memiliki tabungan yang cukup untuk kita menginap beberapa malam di suatu tempat yang jauh. Jadi... karena kita juga sudah bertunangan. Mungkin agak berbeda dengan bulan madu, sih. Tapi, maukah kamu pergi bersamaku?”

“Ayo pergi!”

Berbeda denganku yang merasa sedikit malu, Nagi mencondongkan wajahnya dengan penuh antusias.

“Bisa dibilang, ini adalah wisata pertunangan, ya. ...Pasti, pasti akan sangat menyenangkan! Kita harus, benar-benar harus pergi!”

“Y-Ya. ...Meskipun begitu, kita tetap harus meminta izin dari Ayahmu dulu.”

“Aku akan meminta izin sekarang. Kebetulan ada satu hal yang ingin kutanyakan juga padanya.”

Belum selesai ia berbicara, Nagi langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon. Tindakannya sungguh cepat, tapi aku merasa senang melihatnya begitu bersemangat.

Sambil memperhatikan Nagi yang sedang menelepon... di tengah percakapan, mata Nagi tiba-tiba berbinar terang. Meskipun aku ingin segera mendengar hasilnya, aku sabar menunggu sampai teleponnya selesai.

“Baiklah, kalau begitu tolong bantuannya, ya! ...Souta-kun!”

Saat Nagi menutup teleponnya, dia langsung memelukku. Ketika aku menyambut pelukannya, ia memberikan senyuman gembira kepadaku.

“Aku berhasil mendapatkan izinnya! Dan ada satu hal lagi.”

“Syukurlah... tapi, satu hal lagi?”

Aku sedikit memiringkan kepalaku mendengarnya, meskipun entah mengapa aku sudah agak menduganya.

“Sebenarnya Papa memiliki sebuah vila di Okinawa.”

“V-Vila?”

Aku mengulangi perkataannya tanpa sadar, mendengar kata yang biasanya hanya muncul di TV atau manga. Namun Nagi tidak memedulikannya dan menjawab dengan ceria, “Iya!”

“Dan lagi, Papa bilang kita boleh menggunakannya dengan bebas! Jadi, musim panas tahun ini mari kita ke sana! Ke Okinawa!”

“...Okinawa, ya. Boleh juga, aku belum pernah ke sana.”

Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah laut, dan kalau dipikir-pikir, ada akuarium juga di sana. Pasti ada banyak juga tempat wisata lainnya.

“Ditambah lagi, karena kita menggunakan vila, kita bisa tinggal lebih lama di sana. Jika anggaran untuk hotel bisa dihemat, kita mungkin bisa menginap selama seminggu atau bahkan lebih!”

“Itu tawaran yang sangat menggiurkan, ya.”

Jika kami menginap di hotel, biayanya pasti mahal sehingga kami mungkin hanya bisa menginap dua atau tiga malam. Belum lagi, kami akan membutuhkan surat persetujuan dari wali. Masalah-masalah tersebut bisa teratasi sekaligus.

“Baiklah, kalau begitu kita terima saja kebaikan dari Ayahmu. Meskipun kurasa ini masih terlalu awal.”

“Iya! Semakin awal kita pesan, tiket pesawatnya pasti akan lebih murah!”

Ucap Nagi sambil memelukku dengan erat. Ia tampak sangat bahagia, hingga membuatku ikut tersenyum.

...Bulan Agustus. Menurut cerita Ayah Nagi, hal itu pasti akan siap tepat pada waktunya dengan kelonggaran waktu yang cukup.

—Aku harus sedikit berusaha keras agar perjalanan ini menjadi kenangan seumur hidup kami.



Kata Penutup

Halo semuanya, sudah lama tidak berjumpa. Saya Haru Satsukihi, penulis ”Takou no Koori hime wo Tasuketara, Otomodachi kara Hajimeru Koto ni Narimashita”.

Volume kali ini menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh dari keluarga Minamikawa secara langsung. Ceritanya mengalami perubahan yang cukup signifikan dibandingkan dengan versi Web. Lagipula, di versi Web, Seiya dan yang lainnya baru muncul ketika Souta dan kawan-kawan naik ke kelas dua.

Mari kita langsung membahas isinya. Souta-kun menghentikan perjodohan demi menyelamatkan Nagi-chan, namun hal itu menyebabkan keluarga Minamikawa runtuh... dan anak-anak yang tidak ada sangkut pautnya, seperti Seiya-kun dan Uka-chan, secara mental menjadi terpojok. Tentu saja yang bersalah adalah sebagian orang di keluarga Minamikawa, tetapi apakah Souta-kun bisa dengan mudah menerima hal itu begitu saja, itu adalah masalah yang berbeda. Bagaimana hubungan mereka akan berkembang ke depannya akan diceritakan pada kisah-kisah selanjutnya. Khususnya Uka-chan yang masih memiliki banyak misteri, hal tersebut juga pastinya akan terungkap.

Kemudian, mungkin ada pembaca yang merasa bingung setelah membaca cerita kali ini. Bukankah di kata penutup volume 3 penulisnya berkata sesuatu seperti, “Saya menulis setiap volume dengan semangat seakan-akan ceritanya akan tamat di sana”? Ya. Sebenarnya, berkat dukungan para pembaca sekalian, saya mendapat kesempatan untuk menulis kelanjutannya, yaitu volume kelima! Atau lebih tepatnya, saat ini saya sedang menulisnya!

Seperti yang disebutkan di bagian akhir cerita, isi dari volume lima adalah wisata pertunangan! Ditambah dengan berbagai rencana tulisan lainnya! Masih banyak hal yang ingin saya bicarakan, tapi karena halaman kata penutup ini sudah hampir habis... yang bisa saya katakan hanyalah, saya harap Anda tidak perlu menunggu terlalu lama.

Mulai dari sini, pembahasannya akan sedikit menyimpang dari cerita volume keempat. Saat ini, adaptasi komik ”Takou no Koori hime” yang digambar oleh Kuro Wanda-sensei telah terbit hingga volume ketiga. Isi komiknya mengadaptasi bagian akhir dari novel volume pertama, jadi bagi yang penasaran, silakan baca buku fisiknya atau di Alive+. Selain itu, setelah penerbitan novel volume ketiga, saya diberi kesempatan untuk menulis cerita masa lalu Eiji-kun di Dengeki Novecomi+. Di sana juga terdapat ilustrasi dari Misumi-sensei, jadi jangan sampai terlewat. Eiji-kun dan Kirika-chan terlihat sangat bagus, lho!

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih.

Pertama-tama, kepada Misumi-sensei yang telah menangani ilustrasi untuk volume keempat. Sekali lagi, Nagi-chan dan tokoh-tokoh lainnya digambar dengan begitu cantik dan manis, terima kasih banyak. Lalu, kepada editor saya yang selalu banyak membantu, meskipun saya sering merepotkan, Anda tetap membantu agar volume keempat ini menjadi karya yang jauh lebih baik. Terima kasih yang sebesar-besarnya. Selanjutnya, untuk Kuro Wanda-sensei yang bertugas mengerjakan adaptasi komiknya. Saya selalu membacanya dengan gembira. Saya sangat menantikan cerita-cerita selanjutnya!

Akhir kata, kepada semua pihak yang terlibat dalam penerbitan ”Takou no Koorihime”, dan kepada seluruh pembaca. Terima kasih banyak.

Saya sangat berharap dapat berjumpa dengan Anda semua lagi di volume kelima.


Previous Chapter | ToC | 

Post a Comment

Post a Comment

close