"Ooh. Jadi ini penjara Khayangan."
Tempat yang kami capai adalah bangunan berwarna hitam pekat.
Awan hitam bergelayut di sekelilingnya, diiringi suara guntur yang menggelegar.
Berbeda drastis dengan atmosfer Khayangan sebelumnya, suasana di sini benar-benar mencekam.
"Tapi bangunan Khayangan ini rasanya aneh ya."
"Awan Khayangan bisa berubah bentuk dan sifat tergantung tempat pengambilannya. Yang digunakan untuk bangunan adalah Sekiuunbo, dan yang digunakan untuk penjara ini disebut Gokuunbo, jenis yang sangat keras."
Heh, jadi sifat awannya berbeda-beda tergantung lokasi, ya.
Kalau diingat-ingat, awan yang mengapung tadi mirip kembang gula, tapi yang di sini rasanya agak lengket.
Apa ada awan yang sekeras batu juga? Menarik sekali.
"Hmm? Tapi bukannya itu ada lubangnya?"
Saat mengamati bangunan dari luar, aku menemukan bekas reruntuhan.
Lubang pada dinding yang katanya terbuat dari Gokuunbo itu menembus sampai ke dalam bangunan.
"Nuaaa!? Apa-apaan ini!?"
"Ini terlihat seperti bekas sesuatu yang menerjang masuk dengan paksa."
"Bisa ditembus seperti dinding tanah biasa…… Apa material ini benar-benar keras?"
Grim dan Behal melirik sinis. Jiriel pun panik dan mencoba menjelaskan.
"I-Ini benar, lho! Bahkan sihir Lloyd-sama pun tidak akan mudah menghancurkannya!"
"Hmm, masa sih."
"Minggir."
Sesaat setelah suara itu terdengar, Behal di dalam diriku mengayunkan ekor yang ia tempati.
Duarrr! Terdengar suara dentuman keras dan dinding itu hancur berantakan.
"Lagi pula…… cih, dinding level begini tidak mungkin tidak bisa dihancurkan oleh Lloyd."
Behal mengibaskan ekornya dengan bangga untuk mengusir debu. Ah, aku tidak ikut-ikut, ya.
"A-Awan Gokuunbo yang membanggakan kekerasan tertinggi di Khayangan dihancurkan semudah itu……"
"Tidak perlu kaget sekarang. Kalau Lloyd-sama mau, seluruh bangunan ini pun bisa dia hancurkan."
"Dasar bodoh. Pemahaman kalian masih dangkal! Jika itu Lloyd, bukan cuma bangunan, seluruh Khayangan pun bisa dia jadikan abu!"
Hei, hei, kalian ini menganggapku apa, sih.
Kalian tidak sopan sekali menyebut orang seperti barang berbahaya. Kalaupun aku bisa melakukannya, aku tidak akan melakukan hal seperti itu.
"……Tapi awan Unbo ini cukup menarik minatku."
Semakin dilihat, ini adalah zat yang sangat unik.
Waktu dulu ke Khayangan aku tidak menyadarinya, tapi meski terlihat seperti benda mati, aku merasakan aktivitas kehidupan yang samar.
Saat kulihat dengan Appraisal, ini tampak lebih dekat dengan tumbuhan.
Mungkin sihir penyembuh juga bisa bekerja pada ini. Mari kita coba sedikit.
Begitu aku menempelkan tangan, dinding itu perlahan mulai kembali ke bentuk semula.
"Geh!? Dindingnya kembali seperti semula!? Menjijikkan!"
"Ada cerita bahwa jika bangunan Khayangan hancur, para Dewa tingkat tinggi akan memperbaikinya dengan menuangkan mana. Melakukannya seorang diri, Lloyd-sama memang luar biasa."
"Tadi setelah kupukul aku jadi paham, material ini punya resistansi kuat terhadap mana. Bahkan bagi Dewa pun, sihir penyembuh yang dasarnya lemah akan memakan waktu lama untuk perbaikan. Namun, kau memperbaikinya dengan begitu mudah. Hebat, Lloyd. Memang pantas kau jadi rivalku! Fuhahahaha!"
Ketiga orang ini entah kenapa jadi bersemangat sendiri, tapi sebenarnya siapa yang tadi melubangi dinding ini?
Behal memang bisa menghancurkannya dengan mudah, tapi kekerasan dinding ini bukan level yang bisa dihadapi oleh orang seperti si Alka-siapa-tadi…… yah, lupakan saja.
Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah masuk, lalu suara gaduh terdengar dari ujung lorong.
"Hmm, apa itu penjaga atau semacamnya?"
"Penyusupan kita ketahuan…… walau sebenarnya kita sama sekali tidak bersembunyi sih."
"Yah, dengan suara sekeras tadi, wajar saja kalau jadi keributan."
"Tidak peduli. Semua malaikat hanya perlu dibantai habis!"
Aduh, berisik sekali mereka.
Meski begitu, pertarungan melawan malaikat memang yang kuinginkan.
Si Alka-siapa-tadi terlalu lemah jadi aku tidak bisa bereksperimen sama sekali. Aku pun bersiap jika mereka datang, tapi—
"……Kok tidak datang-datang, ya."
"Malah hawa keberadaan mereka semakin menipis……"
Namun suara pertarungan masih terdengar.
Sepertinya mereka sedang bertarung di dalam dengan pihak lain yang tidak ada hubungannya denganku. Apa ini ada hubungannya dengan orang yang melubangi dinding tadi?
Saat aku mendekat diam-diam dan mengintip, di sana ada seorang pemuda yang sedang menginjak-injak beberapa prajurit malaikat.
"Holy King……!"
"Oya, bukannya ini Lloyd-kun. Kebetulan sekali bertemu di tempat seperti ini."
Ia melambaikan tangannya dan mendekat ke arahku yang sedang terkejut.
Kenapa orang ini ada di sini……? Saat aku bertanya-tanya, Behal di dalam diriku mengibaskan ekornya dengan liar.
"Khahahaha! Berani sekali kau menampakkan diri di hadapanku, Holy King! Akhirnya kita bertemu juga, sekarang bersiaplah untuk matiiii!"
"Tunggu, tunggu, mari kita dengarkan dulu ceritanya."
Aku buru-buru menahan Behal yang hendak menerjang. Aku tahu mereka bergabung agar bisa bertarung melawan Holy King, tapi sekarang bukan saatnya.
"Lho—? Lloyd-kun, rasanya ada yang sedikit berbeda darimu ya?"
"Banyak hal yang terjadi. Kamu sendiri kenapa babak belur begitu."
"Hahaha, sebenarnya tepat setelah konser itu aku dipanggil oleh Dewa-sama. Aku memberi sedikit kritik kalau tindakan Dewa untuk membasmi Raja Iblis yang belum melakukan apa pun itu bermasalah, eh malah jadi begini nasibku."
"Apa!? Apa maksudnya itu!?"
Behal di dalam ekorku berteriak, membuat Holy King membelalakkan mata.
"Oya Raja Iblis, aku merasa ada yang aneh, ternyata sekarang kau diserap oleh Lloyd-kun ya, bukan oleh si gadis kacamata manis itu?"
"Itu tidak penting! Cepat jelaskan maksud ucapanmu tadi!"
"Ah, itu ya. Begini, meskipun dia Raja Iblis, kalau dia tidak melakukan apa-apa tapi langsung disegel dan dibunuh itu kan tidak baik? Dewa-sama marah besar, tapi aku yang cinta damai ini tidak setuju. Karena serangga, binatang, manusia, dewa, bahkan iblis sekalipun, semuanya adalah rekan yang sama-sama hidup di dunia ini."
"Hah? Bodoh sekali…… Iblis dan manusia adalah keberadaan yang saling berlawanan, kalau bertemu ya harus saling membunuh, itu sudah hukum alam."
Menanggapi sanggahan Behal, Holy King berpikir sejenak lalu menjawab.
"—Aku lahir di desa terpencil yang isinya hanya gunung. Saat bekerja di ladang, sering ada binatang liar yang datang merusak. Orang desa membasmi mereka, tapi sebaliknya, banyak juga orang yang terbunuh oleh binatang itu. Jika masing-masing punya prinsip yang tidak bisa dikompromikan, benturan itu wajar terjadi. Itu berlaku juga untuk iblis dan manusia."
Apa yang dikatakan Holy King tidak salah.
Jika kepentingan saling tumpang tindih, pertarungan akan terjadi tanpa memandang ras.
"Lalu kenapa kau membiarkan Behal pergi? Bukankah kalian musuh bebuyutan?"
"Yah, sebagai penganut paham damai, aku rasa konflik antara manusia dan iblis itu tidak terhindarkan. Tapi jika berlebihan itu tidak boleh. Manusia membakar hutan demi keserakahan, binatang buas yang menggila membunuh manusia, iblis yang membunuh manusia demi kesenangan, dan Dewa yang membunuh iblis yang tidak melakukan apa-apa hanya karena mereka 'tampaknya' akan berbuat jahat. Perbuatan Dewa-sama sudah jelas berlebihan. Sudah kewajibanku sebagai penengah untuk menghentikannya."
Jawab Holy King sambil menatap lurus ke depan.
Sorot matanya tampak serius, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kupikir dia cuma pria konyol, tapi ternyata dia berpikir cukup dalam.
"Setelah melihat Raja Iblis secara langsung, rasanya dia tidak seperti rumornya, malah kelihatan seperti orang baik. Makanya aku tidak memberikan serangan pamungkas."
"O-Orang baik? Berani sekali kau bicara omong kosong begitu di depan Sang Raja Iblis……"
"Tapi itu kenyataan. Saat bertarung kau memasang penghalang agar rakyat tidak terlibat, dan kau juga membaur dengan dunia manusia. Terlebih lagi, banyak orang yang bergerak demi menyelamatkanmu. Itu bukti kalau kau dipercaya."
Holy King mengedipkan mata padaku.
Begitu ya, jadi itu alasan dia membantu kebangkitan Raja Iblis.
"Hanya karena mereka iblis, aku tidak akan merampas nyawa mereka yang hidup dengan tenang secara tidak adil, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun melakukannya—itulah harga diriku sebagai penganut paham damai."
"……Cih, makanya aku benci orang-orang seperti kalian."
Behal bergumam kecil, dan niat bertarung yang tadi meluap-luap mulai memudar.
Mungkin alasan Behal bilang dia tidak suka pada Holy King adalah karena sifatnya yang seperti ini.
"Fuh, semangatku langsung hilang. ……Jadi, kau sedang dalam proses melarikan diri?"
"Waduh, benar juga. Yah, aku berencana menyampaikan sepatah dua patah kata pada Dewa. Kalau kalian mau, bagaimana kalau ikut denganku?"
"Tanpa kau minta pun, aku memang berniat menemui Dewa."
"Ahha! Kebetulan sekali. —Kalau begitu aku yang akan jadi pemandunya. Aku tahu jalan pintas."
Holy King mengangguk penuh percaya diri, lalu memimpin jalan di depan kami.
◇
"Lho lho lho? Kok aneh ya?"
Holy King memiringkan kepala sambil berjalan semakin jauh ke dalam penjara.
Katanya ada jalan pintas makanya kami ikut, tapi tidak ada tanda-tanda kami akan sampai ke tujuan.
"Masih belum sampai juga?"
"Hmm, seingatku lewat sebelah sini deh……"
Katanya begitu sambil celingak-celinguk dan mondar-mandir.
Mencurigakan. Apa benar jalan pintas itu ada?
"Jangan-jangan ini jebakan? Tapi rasanya dia bukan karakter tipe begitu……"
"Si brengsek itu, jangan-jangan dia cuma buta arah?"
"Bisa jadi. Pergi ke bagian dalam penjara rasanya tidak akan menjadi jalan pintas menuju istana. Hei, jangan main-main ya."
"A-Ahahaha…… Tenang saja, mungkin, pasti sampai kok."
Ditatap sinis oleh Grim dan yang lain, Holy King mulai berkeringat dingin.
Yah, kalau mau keluar tinggal terjang saja penjaranya, dan kalau ini benar, sepertinya akan jadi hal yang menarik. Mari kita ikuti sebentar lagi.
Jalan yang semakin ke dalam semakin menyerupai labirin itu terus kami lalui hingga akhirnya kami menemukan cahaya.
"Ah! Lihat itu Lloyd-kun! Tuh, ada cahaya kelihatan. Tuh kan, aku tidak tersesat!"
Holy King mendengus bangga. Ia hendak berlari keluar, tapi—
"Ofuuh!?"
Ia terhempas setelah terkena ribuan anak panah cahaya.
Itu adalah pasukan malaikat yang keluar sambil berteriak gaduh.
"Ada penyusup!"
"Jangan biarkan lewat dari sini!"
Sepuluh, dua puluh…… bahkan lebih.
Melihat jumlah ini, sudah pasti ada sesuatu di depan sana.
"……Hmm, apa itu?"
Di balik kegelapan, terlihat sesuatu seperti lampu.
Itu…… sel penjara? Sepertinya ada seseorang yang dikurung di sana.
"Pokoknya kita ke sana dulu."
"Halo, Lloyd-kun—? Aku sedang bertarung nih—? Tidak ada niatan membantu—?"
Aku mengabaikan teriakan Holy King dan melangkah menuju lampu itu.
"Lloyd-sama jahat sekali! Yah, walau aku ragu dia bakal kalah lawan malaikat kroco begitu sih."
"Yang lebih mengerikan adalah kemampuan Lloyd-sama menghilangkan hawa keberadaan. Bahkan malaikat di dekatnya pun tidak sadar……"
"Yah, kalaupun mereka menyerang pasti langsung mati dalam sekejap. Malah bisa dibilang mereka beruntung."
Aku pun tidak suka pembunuhan yang sia-sia.
Mengabaikan gerutuan Grim dan yang lain, aku berdiri di depan sel. Di dalamnya ada seorang kakek tua.
"……Mumu, selanjutnya harus ditaruh di mana ya……"
Di balik jeruji, ia bergumam sendiri sambil menumpuk batu.
Rambut dan jenggotnya putih bersih dan dibiarkan memanjang, kacamata yang dipakainya retak, dan pakaiannya robek di mana-mana. Kakinya dirantai agar tidak bisa lari.
Meski dalam situasi begitu, pria itu terus menumpuk batu.
"Oho! ♪ Berhasil, berhasil. Wah, sudah ratusan tahun sejak terakhir kali aku mencapai tiga ratus tingkat."
……Dia terlihat sangat menikmatinya.
"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan kakek tua ini……"
"Sepertinya dia terlalu senggang sampai main tumpuk batu……"
"Apa dia sudah pikun……?"
Grim dan yang lain memasang wajah lelah, namun orang yang dikurung di penjara Khayangan tidak mungkin orang biasa.
Pasti dia tahu sesuatu yang menarik. Berpikir begitu, aku mendekat dan menyapanya secara tiba-tiba.
"Halo—"
"……Mu? Siapa Anda……"
Pria itu membetulkan posisi kacamatanya dan menoleh padaku.
Gara-gara gerakan itu, kakinya menyenggol tumpukan batu. Gubrak, menara batu itu pun runtuh.
"NOAAAAA! Padahal aku hampir memecahkan rekor baru dalam seribu tahun terakhirrrr!"
Pria itu lesu seketika. Aku mengerti perasaannya, tapi reaksinya terlalu berlebihan.
Di tengah tatapan dingin semua orang, kakek itu menghela napas dan menatapku.
"Hmm? ……Apa Anda manusia? Walau sekarang sepertinya tercampur banyak hal."
"Heh, kau tahu ya."
"Ya, begitulah. Tapi melihat manusia masuk ke penjara ini adalah hal yang langka. Apa yang telah Anda lakukan?"
"Tidak ada. Aku datang cuma karena tempat ini kelihatannya menarik."
"Menarik…… be-begitu ya……"
"Oit, kalau manusia, di sini juga ada lho! Holy King hadir di sini!"
Holy King yang baru saja sampai berpose dengan bangga. Sepertinya dia sudah membereskan para malaikat.
Bukannya apa-apa, tapi kalau dia terlalu heboh begitu, aku jadi agak malu.
"Mumu…… Holy King!? Jadi Anda adalah Holy King yang itu. Luar biasa. Anda juga tertangkap?"
"Iya, tapi aku memutuskan untuk keluar sekarang. Sekalian mau protes sedikit pada Dewa-sama. Aku sedang menuju ke sana bersamanya!"
"Hoho! Menuju Dewa. Itu sangat mengagumkan. Jika berkenan, bolehkah Anda menghancurkan belenggu saya juga?"
"Eh, tidak mau."
Holy King menolak mentah-mentah dan melanjutkan ucapannya.
"Kalau tertangkap, berarti kakek melakukan tindak kejahatan, kan? Tidak bisa semudah itu. Apalagi kakek dikurung jauh di dalam sini. Bagaimana kalau kakek ternyata penjahat kelas kakap? Ih, ngeri."
Holy King berpura-pura ketakutan. Kakek itu menghela napas dan mengangguk.
"……Baiklah. Saya akan ceritakan alasannya, barangkali Anda bisa maklum. —Dulu saya adalah pelayan yang melayani Dewa. Namun, saya tidak sengaja memecahkan piring kesayangan-Nya. Sebagai hukuman, saya dijebloskan ke penjara ini, dan sudah lebih dari seribu tahun saya di sini."
"Cuma gara-gara itu seribu tahun…… Bukankah hukumannya terlalu berat?"
"Sepertinya saya sudah dilupakan oleh-Nya. Hahaha."
Kakek itu tertawa dengan aura kesedihan.
Uhm, malang sekali nasibnya.
"Tidak, Lloyd-sama juga tipe orang yang suka melupakan orang lain, sih."
"Aku juga pernah dilupakan berkali-kali, lho."
"Aku juga. Membuat Raja Iblis menunggu adalah hal yang tidak termaafkan."
Grim dan yang lain mengirimkan tatapan dingin.
……Pernah ada kejadian begitu ya? Mungkin saja ada. Mau bagaimana lagi, aku kan sibuk.
Saat aku memalingkan wajah dari tatapan mereka, Holy King menghela napas dan memotong jeruji besi itu.
"Ooh! Menghancurkan jeruji penjara dengan begitu mudahnya……"
"Hukuman seribu tahun cuma karena memecahkan piring itu terlalu berat. Kakek juga sepertinya tidak bohong."
Setelah menghancurkan belenggu tangan dan kaki kakek itu, ia berkata;
"Sekarang kakek bebas. Pergilah ke mana pun kakek suka."
"Terima kasih banyak. Jika berkenan, izinkan saya memberikan tanda terima kasih."
"Tanda terima kasih?"
"Ya, alasan Anda sekalian datang ke sini adalah untuk mencari jalan pintas menuju istana Dewa, kan? Saya tahu di mana letaknya."
"Benarkah!?"
Ternyata cerita soal jalan pintas itu benar.
"Tapi arahnya justru berlawanan dari sini, lho."
"A-Ahaha? Masa sih?"
Holy King mencoba tertawa garing sementara Grim dan yang lain menatapnya sinis.
"Saya sudah lama bekerja di istana, jadi serahkan pemanduan pada saya. ……Tapi sebelum itu, penampilanku sekarang agak kurang pantas. —Hup!"
Begitu kakek itu menanggalkan pakaian compang-campingnya, ia diselimuti cahaya terang.
Setelah cahaya memudar, muncullah pria dengan pakaian rapi, rambut dan jenggot yang tertata, penampilannya benar-benar seperti seorang kepala pelayan (butler).
Sepertinya ia menciptakan pakaian itu menggunakan Light Armor.
"Fuh, sudah lebih segar. Izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya adalah Rigo. Mohon bantuannya."
"Aku Lloyd. Salam kenal."
"Salam kenal juga. Kalau begitu, mari kita berangkat."
Rigo berjalan dengan mantap.
Ternyata memang benar-benar di arah yang berlawanan. Terlebih lagi tujuannya cukup dekat, kami sampai setelah berjalan beberapa menit.
Namun tidak ada apa pun di sekeliling kami. Mengabaikan kebingungan kami, Rigo mulai menyentuh dinding di depannya.
"Eeto, seingatku di sekitar sini…… Oh, ada. Tekan di sini."
Terdengar suara klik, lalu dinding itu pun terangkat.
Yang muncul adalah sebuah ruangan kecil. Di lantainya tergambar sesuatu yang menyerupai lingkaran sihir.
"Ooh! Magic Circle! Lagipula tulisan yang tertulis di sana terlihat menarik!"
Sistem sihir yang digunakan di Khayangan seperti Light Armor ditulis dengan bahasa sihir yang berbeda dari yang biasa kami gunakan.
Itu adalah Karakter Dewa. Sampelnya sangat sedikit, apalagi yang ditulis langsung seperti ini, benar-benar sangat berharga.
Aku pun berjongkok dan mulai mengamatinya dengan saksama.
"……Fumu fumu, sepertinya ini jenis sihir teleportasi. Tapi agak berbeda dengan bahasa sihir yang digunakan di Light Armor, ya?"
"Oya, Anda tahu ya. Lingkaran sihir ini memang sudah ada sejak zaman kuno. Namun bisa menguraikannya dengan mudah seperti itu, Anda sungguh luar biasa."
"Begitu ya, jadi lingkaran teleportasi ini terhubung ke istana tempat Dewa tinggal. Baiklah, mari kita coba sedikit."
Begitu aku melempar batu kecil ke dalamnya, batu itu langsung diselimuti cahaya terang dan melesat ke atas dengan kecepatan luar biasa.
Setelah itu, ia melewati lubang di langit-langit dan menyentuh awan yang mengapung tepat di atasnya, lalu melesat jauh karena lingkaran sihir yang tertulis di sana.
"A-Apa yang sebenarnya terjadi tadi!?"
"Heh, bukannya teleportasi, ini lebih seperti perpindahan kecepatan super ya."
Sihir teleportasiku adalah berpindah secara instan melalui lorong yang diciptakan oleh rumus sihir menuju dimensi yang berbeda.
Sedangkan lingkaran ini cara kerjanya sederhana, yaitu memberikan daya dorong yang luar biasa untuk melompat.
"Kecepatannya luar biasa. Benar-benar seperti cahaya, metode transportasi yang hanya bisa dilakukan oleh tubuh mana. Manusia biasa bisa langsung mati kalau mencoba ini."
"E-Eeto, Lloyd-kun? Kalau begitu, apa jangan-jangan aku tidak bisa ikut teleportasi?"
"Ah, benar juga……"
Aku benar-benar lupa kalau Holy King itu cuma manusia biasa.
Jika aku bisa mengendalikan Magic Barrier dengan sangat presisi tergantung arah terbangnya, mungkin dampaknya bisa diredam……
"Tapi pengendalian sepresisi itu tidak mungkin dilakukan oleh siapa pun kecuali Lloyd-sama."
"Bukannya pamer, tapi aku memang payah dalam urusan sihir. Hahahaha!"
Benar-benar bukan sesuatu yang bisa dipamerkan. Yah, sihir memang sulit dipahami bagi orang yang tidak tertarik, jadi mau bagaimana lagi.
"Fumu. Kalau begitu aku akan membungkus tubuh Holy King dengan Magic Barrier yang punya tingkat kekerasan super tinggi. Kalau penghalangnya difokuskan penuh pada pertahanan, mungkin akan baik-baik saja."
Meskipun terjadi benturan kecepatan super, tidak akan ada masalah selama ada kekerasan yang bisa menahannya.
"Eeh…… tapi bukannya dampak guncangannya tetap akan sampai kepadaku yang ada di dalam penghalang?"
"Aku akan masukkan awan ini sebagai bantalan. Kalau aku beri sihir penyembuh maksimal, harusnya dia bisa menahan deformasi. Mungkin."
"Hei, kata-katamu banyak 'mungkin' dan 'harusnya' ya?"
"Tenang saja, percaya padaku. Kalaupun gagal, dengan kekuatanku yang sekarang, aku masih bisa menghidupkanmu kembali dari serpihan daging asalkan baru saja mati."
Sambil berkata begitu, aku membungkusnya dengan Magic Barrier.
"Dia tadi mau bilang sesuatu sebelum terkurung……"
"Uumu, malang sekali……"
"Wajahnya terlihat sangat ketakutan tadi……"
Grim dan yang lain tampak ngeri, tapi yah, pasti baik-baik saja. Mungkin.
Karena itu, aku pun naik ke lingkaran sihir dan mengaktifkan rumusnya.
◇
Waktu
sedikit berputar mundur. Saria yang terbaring sakit di tempat tidur tiba-tiba
terbangun.
Keadaan
di sekitarnya remang-remang, dan dari kejauhan terdengar gaung berbagai jenis
musik.
"……Kalau
tidak salah, ini sudah waktunya festival dimulai ya."
Saria
bangkit dari tempat tidur, dan dengan langkah yang masih goyah, ia menuju ke
lokasi acara.
"Onn!"
Yang
menyokong tubuhnya adalah Shiro. Anjing itu mengesekkan bulunya yang empuk ke
kaki Saria.
"Shiro,
kau…… mau membawaku ke
sana?"
"Onn!"
"Terima
kasih, ya."
Saria mengusap
kepala Shiro yang menjilati wajahnya, lalu ia naik ke punggung anjing itu.
Shiro berlari
secepat angin, hingga akhirnya mereka sampai di lokasi festival.
Tempat itu
diselimuti hawa antusiasme yang luar biasa, dan suara permainan dari berbagai
grup musik terdengar campur aduk.
Saria mencari
suara yang dimainkan oleh Isha dan yang lainnya dengan telinganya, dan ia
langsung menemukannya.
Suara
yang bening seperti kristal ini adalah milik Isha. Permainan alat musik yang sangat terampil ini
pasti milik Holy King. Dan suara ketukan yang menimpali itu
adalah──jangan-jangan castanet?
"Sepertinya
itu Lloyd."
Dalam lembaran
musik yang ia lihat sebelumnya, memang masih ada celah kosong. Jika castanet
digunakan untuk mengisi celah itu, maka semuanya masuk akal.
Bagaimanapun,
jalan menuju panggung terlalu sesak oleh manusia, mustahil baginya untuk lewat
jika tetap menunggangi Shiro.
"Terima
kasih. Cukup sampai di sini saja, Shiro."
"Kwuun."
Saria turun dari
punggung Shiro, lalu melangkah menuju panggung dengan langkah kaki yang ringan.
Tubuhnya terasa
enteng seolah sakit yang tadi ia rasakan hanyalah bohong belaka.
Permainan
musik itu benar-benar luar biasa. Itu sudah setara…… tidak, bahkan
melampaui dirinya.
Sambil merasakan rasa iri sekaligus lega, ia seolah tersedot
untuk melangkah maju ke depan.
"Ngomong-ngomong, pria hitam kemarin bilang kalau aku
butuh motivasi selain semangat bertarung agar bisa bermain lagi. Dia menyuruhku
mencari titik awalku."
Saria teringat ia jatuh pingsan karena mencoba menggali
ingatannya sesuai perintah pria itu, dan tahu-tahu ia sudah terbangun di tempat
tidur.
"Tapi saat
itu, sepertinya aku hampir mengingat sesuatu…… Tsuh!?"
Saria meringis
karena sakit kepala yang tiba-tiba menyerang.
Ia belum bisa
mengingatnya secara utuh, namun ia merasa sudah hampir bisa menggenggam
sesuatu.
Ia tidak tahu apa
itu, tapi itu adalah "sesuatu". Jawabannya ada di depan sana.
Seolah didorong
oleh sesuatu, ia terus menuju panggung dan akhirnya sampai di sana.
──♪
Yang tertangkap
oleh matanya adalah sosok Isha dan yang lainnya yang sedang bermain musik di
atas golem aneh buatan kakak-kakaknya.
Di sana ada Holy
King, dan juga Lloyd. Ternyata benar, pemilik castanet itu adalah Lloyd.
Melihat
pemandangan mereka yang sedang bermusik, perasaan yang sempat terlupakan
bangkit kembali dari dasar hati Saria.
──Benar, itu
terjadi pada hari ketika Lloyd lahir.
Di kota sedang
diadakan festival, dan seluruh tempat dipenuhi suasana perayaan atas kelahiran
pangeran baru.
Hari itu, Saria
diajak oleh kakak-kakaknya untuk mengintip ke kamar sang bayi guna melihat adik
yang baru lahir itu.
Di saat
kakak-kakaknya begitu bersemangat, Saria sendiri merasa dingin.
Ia sudah punya
banyak adik, jadi apa pedulinya jika bertambah satu lagi?
Lagipula,
Saria memang tidak punya ketertarikan besar pada orang lain.
Namun di
saat ia menengadah ke langit──langit itu meledak. Bola api melambung tinggi ke
angkasa, dan ledakan besar terjadi.
Kakak-kakaknya
terbelalak kaget melihat langit yang membara dengan suara gemuruh.
Namun,
Saria justru terpikat oleh "suara" yang dihasilkan oleh ledakan itu
daripada apinya sendiri.
──♪
Itu
adalah melodi yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Tentu saja itu hanyalah suara ledakan biasa.
Namun, dari dasar
suara itu, ia merasakan sebuah tekad yang sangat, sangat kuat.
Seolah suara itu
berteriak dengan lantang bahwa ia ingin menguasai sesuatu hingga ke puncaknya.
Tanpa sadar Saria
terpesona oleh tekad yang membara itu.
Sebuah perasaan
kalah untuk pertama kalinya. Hal itu terukir dalam di hati kecilnya.
Jika
dipikir-pikir, mungkin semuanya dimulai sejak saat itu.
Agar tidak kalah
dari tekad itu, ia pun menanamkan api di dalam hatinya.
──Aku tidak mau
kalah. Saria yang memancangkan tekad kuat itu di hatinya juga memutuskan untuk
menguasai sesuatu.
"Aku ingat…… alasanku bermain musik adalah untuk menang
melawan 'itu'……!"
Begitulah awal mula Saria mulai menggeluti musik dengan
serius.
Hari demi hari, ia tidak pernah berhenti bermain meski
jemarinya terkilir atau saat ia sedang flu, hingga akhirnya ia menjadi pemusik
nomor satu di Saloum.
Titik
awal Saria bermusik tidak lain dan tidak bukan adalah semangat bertarung.
Pantas saja ia
tidak menemukannya saat mencari hal lain. Karena hal itu sudah lama bersemayam
di dalam hatinya.
Setelah menyadari
hal itu, segala keraguan lenyap dari mata Saria.
◆
"Kak
Saria!?"
Kehadiran Saria
yang tiba-tiba membuat semua orang di sana terkejut, namun Isha tetap tidak
berhenti menyanyi.
Holy King pun
tidak berhenti, dan tentu saja aku pun tidak bisa berhenti.
Saria melangkah
mendekati Holy King, lalu memaksa duduk di kursi piano yang sama hingga
mendorong setengah tubuh Holy King keluar.
"Hai Saria-chan. Ada apa tiba-tiba?"
"Aku hanya
ingin bermain. Itu saja."
Saria menjawab
singkat, lalu menabrakkan sepuluh jemarinya ke atas tuts piano.
──♪
Jemari
yang bergerak lincah, melodi yang indah namun terasa mengerikan.
Itu
benar-benar suara Saria yang dulu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi
sepertinya dia sudah pulih sepenuhnya.
"Uwooooo!
Saria-tan bangkit kembali! Saria-tan bangkit! Saria-tan
BANG-KIT-KEM-BA-LI!"
"Kau terlalu
bersemangat, Malaikat Sialan. ……Tapi syukurlah ya, Lloyd-sama. Akhirnya Sang
Kakak bisa bermain lagi."
Permainan Saria
yang luar biasa seolah memaksa Holy King untuk mengikutinya.
Bukan hanya pulih
total, tapi ini lebih dari itu. Dia berkali-kali lipat lebih hebat dari Saria
yang sebelumnya.
"……Aku
terkejut. Permainanmu melampauiku, ya. Selamat atas kebangkitanmu. Boleh aku
tanya apa yang terjadi sebagai referensi?"
"Tidak ada yang khusus. ……Jika harus dibilang, aku
hanya ingat. Alasan kenapa aku mulai
bermusik."
"Tapi
bagaimanapun aku melihatnya, itu adalah semangat bertarung, kan? Aku bisa
merasakannya dari caramu bermain. Padahal aku yakin sudah mematahkan semangat
itu sampai ke akar-akarnya."
"Iya,
dasarku memang adalah semangat bertarung. Tapi selama ini, tanpa sadar aku
menganggap semua orang di sekitarku sebagai musuh. Karena sekarang aku
menyadarinya dengan jelas, aku jadi teringat pada sosok yang benar-benar tidak
ingin kukalahkan."
Sambil
berbicara dengan Holy King, Saria melirik ke arahku.
Eh? Kenapa aku?
Bukan Holy King?
……Entahlah, aku
tidak terlalu paham, yang jelas aku sendiri sudah kewalahan mengikuti irama
agar susunan mantranya tidak hancur.
"Karena
itulah aku tidak akan kalah. Aku akan melampaui batasan apa pun──!"
Bersamaan dengan
kata-katanya, ketajaman jemari Saria semakin meningkat.
Hei, hei, sampai
sejauh mana kau mau menaikkannya? Aku sudah hampir mencapai batas, lho.
Karena ritme
lagunya berubah terlalu cepat, pembaharuan sihir sistem kontrolku tidak bisa
mengejar.
Lagipula, jika
perubahannya seekstrim ini, secara struktur anatomi tubuh manusia sudah
mustahil untuk diikuti dengan castanet.
Tanganku rasanya mau kram…… eh, tunggu dulu.
Benar, Magic Song harus dibalas dengan Magic Song.
Selain castanet, aku tinggal menciptakan Magic Song tambahan
saja.
"■"
Melalui pelafalan berkas sihir, aku menciptakan ribuan sihir
mikro yang tak terhitung jumlahnya.
Api yang meledak, air yang mengalir, batu yang pecah, angin
yang berhembus; berbagai fenomena yang diciptakan melalui sihir menghasilkan
suara, menciptakan sebuah lagu.
──Pada dasarnya, Magic
Song adalah susunan mantra yang dimasukkan ke dalam suara itu sendiri.
Aku melakukan hal yang sebaliknya; aku mengubah suara yang
dihasilkan dari sihir menjadi sebuah lagu.
"Uwooooo! Sebuah lagu yang begitu murni hingga membuat
segala hal yang terjadi tadi terlihat seperti mainan anak-anak! Kekuatan yang bahkan menelan permainan Saria-tan
yang tadi menelan segalanya! Inilah pertunjukan musik melalui sihir milik Lloyd-sama!"
"Ternyata
ini benar-benar 'Lagu Sihir' ya. Terlebih lagi, lagu sihir ini menciptakan lagu
sihir lainnya sehingga membentuk sebuah loop. Hanya butuh konsumsi mana
di awal saja, lalu setelahnya akan terus berlanjut tanpa batas…… efisiensi yang
mengerikan!"
Seperti yang
dikatakan Grim, suara yang dihasilkan oleh sihir menenun Magic Song
baru, yang kemudian memicu aktivasi sihir selanjutnya.
Satu sihir bisa
dimanfaatkan berkali-kali, dan menghasilkan suara yang lebih bagus pula.
Meski begitu,
jika tidak diberikan senDewa tangan, kekuatannya akan melemah perlahan, dan
jika ada gangguan suara (noise), efeknya tidak akan muncul, jadi tidak
benar-benar mahakuasa.
"Aku
bisa melakukan ini karena menyesuaikan diri dengan Magic Song milik Holy
King dan suara milik Saria."
Loop sihir tak terbatas melalui Magic
Song.
Namun
karena cara ini tidak menggunakan instrumen musik, aku pasti akan sangat
dicurigai dalam pertunjukan biasa.
Aku tidak
akan bisa menggunakannya kecuali dalam situasi seperti ini, tapi sekarang tidak
masalah karena tidak ada orang yang punya waktu luang untuk memperhatikan hal
detail seperti itu. Nah,
mumpung sedang di sini, mari kita naikkan lagi levelnya.
──♪
"Lloyd……!
Fufu, akhirnya aku mengerti. Inilah keunikanmu. ……Baiklah. Kali ini aku akui kekalahanku. Tapi
setelah ini, aku akan memintamu menemaniku berkali-kali. Asal kau tahu saja,
semangat bertarungku tidak akan pernah patah lagi untuk kedua kalinya, jadi
bersiaplah."
Saria
menggumamkan sesuatu, tapi setidaknya lagu ini akhirnya mulai stabil.
Mereka bertiga
mengikutiku, dan kami terus memainkan Magic Song sesuai keinginan hati.
──♪
Pusaran suara
yang dihasilkan oleh sihir bergema, terasa seperti hujan warna-warni yang turun
membasahi bumi.
Yah, aku memang
tidak terlalu tertarik pada musik, tapi melihat berbagai susunan mantra yang
terjalin dengan indah ini rasanya sangat menyenangkan.
Jika formatnya
seperti ini, mungkin sesekali aku tidak keberatan untuk bermain musik lagi.
Dalam suasana
hati yang menyenangkan itu, lagu pun mencapai bagian akhirnya.
◇
──Akibat
sisa-sisa keindahan permainan yang terlalu luar biasa, suasana di sekitar
menjadi sunyi senyap. Tidak ada satu pun orang yang bersuara, semuanya membeku.
Seluruh penonton
dalam jangkauan pandangan terlihat meneteskan air mata, gemetar dalam sukacita
yang meluap.
Hanya suara napas
terengah-engah dari Isha dan yang lainnya yang kelelahan yang terdengar di
telinga.
Di tengah
keheningan itu, sekelebat kilat menyambar.
Bersamaan dengan
suara gemuruh, petir menyambar area di sekitar tenda belakang panggung.
Menembus puing-puing tenda yang hancur,
sesosok bayangan manusia melambung tinggi ke angkasa.
"Fuhahahahaaaa!
AKU TELAH BANGKIT KEMBALI!"
Sosok
yang bersedekap dan berteriak lantang itu, tentu saja, adalah Behal.
Sepertinya
dia sudah pulih sepenuhnya, tubuh Connie kini diselimuti oleh tubuh mana hitam
dan topeng hitam.
Oh,
sepertinya berhasil.
Dalam
perhitunganku, jika dia pulih sekitar dua puluh persen saja itu sudah sangat
bagus, tapi mungkin karena kami menaikkan level permainan terlalu tinggi, efek
yang muncul melampaui ekspektasi.
Mana
milik Behal tampak meluap-luap hampir pecah, bahkan terasa lebih kuat daripada
sebelumnya.
"Oups,
ternyata aku berada di depan para manusia. Kukuku, mari perkenalkan diriku
sekali lagi. ──Dengarlah wahai kalian yang berada di kejauhan, dan lihatlah
wahai kalian yang berada di dekatku! Akulah Raja Iblis Behal! Penguasa dunia
iblis! Bersujudlah! Fuhahahaha!"
Behal tertawa
terbahak-bahak, namun──seluruh orang di sana, kecuali aku, tidak ada yang
menoleh ke arah suaranya.
Saria jatuh
tersungkur kelelahan, Isha berbaring telentang karena lelah bernyanyi, Albert
dan yang lainnya pingsan karena terlalu terharu, dan para penonton tampak
kehilangan kesadaran diri.
"……E-Eh……?
Hei, aku ini Raja Iblis, lho…… Hei, apa yang sebenarnya terjadi, Lloyd!?"
"Sepertinya
permainan kami tadi membuat semua orang kehilangan kesadaran."
Sejak pertengahan
lagu, para penonton mulai tumbang satu per satu.
Mungkin permainan
kami memberikan rangsangan yang terlalu kuat.
Saria dan yang
lainnya saja sampai kelelahan dan pingsan. Sepertinya kami benar-benar sudah
melampaui batas yang seharusnya.
"O-Oh…… begitu
ya…… yah, tidak masalah soal para manusia itu! Incaranku adalah Holy King! KAU!
Saatnya aku membalas dendaaaam!"
Behal menunjuk tajam ke arah panggung, namun──Holy King
sudah menghilang entah sejak kapan.
"APA──!? Ke-Ke mana perginya si Holy King itu!?"
"Dia pergi sesaat sebelum kau muncul."
Segera
setelah pertunjukan selesai, Holy King menghilang entah ke mana.
Kemungkinan
besar dia sudah tahu efek apa yang akan dihasilkan dari permainan musik tadi.
"Tapi jika
dia tahu dan tetap mau bekerja sama…… apa sebenarnya yang dia pikirkan?"
Padahal awalnya
dia datang untuk menyegel Raja Iblis, tapi dia malah membantu proses
kebangkitannya.
Apa alasannya?
Apa demi memenuhi
tanggung jawabnya pada Saria?
Atau dia menilai
bahwa Behal sebenarnya tidak berbahaya?
……Aku sama sekali
tidak bisa membaca niatnya.
"Hei Lloyd?
Kau juga mau mengabaikanku? Bukankah perlakuanku ini terlalu kejam?"
Sambil
mengabaikan rengekan Behal, aku terus tenggelam dalam pikiranku sendiri.
◆
"Kau, apa
maumu? Kenapa kau membantu kebangkitan Raja Iblis?"
"Hmm?"
Di tengah
kegelapan malam, Holy King membalas pertanyaan Guisarm dengan suara yang
santai.
"Tujuanmu
adalah menyegel Raja Iblis, kan? Aku bertanya kenapa kau melakukan hal yang
sebaliknya."
"……Kenapa,
ya? Entahlah."
"Hei……"
"Jika harus
memberi alasan, mungkin karena itu kelihatannya lebih menarik. Yah, pekerjaan
ini ternyata cukup membuat stres. Sesekali aku ingin bergerak sesuai
keinginanku sendiri, bukan hanya melakukan apa yang diperintahkan."
"……Kukuku,
alasan yang konyol. Kau gagal sebagai Holy King yang merupakan utusan Dewa."
"Apa kau
berhak bicara begitu? Bukankah kau sendiri juga memberikan saran pada gadis
berkacamata itu? Wahai kaum iblis~?"
"……Hanya
iseng," jawab Guisarm sambil berdecak karena merasa diawasi.
"Aku juga
sama. Tapi hal-hal seperti itulah yang justru bisa dinikmati."
Holy King
terkekeh pelan melihat Guisarm yang bergumam setuju.
"Begitu
ya. Kau biasanya terlihat seperti orang bodoh yang tidak memikirkan apa pun,
tapi sebenarnya kau hanya 'berusaha' untuk tidak memikirkan apa pun, kan?
Kukuku, sepertinya kau sangat membenci Dewamu itu. Kupikir Holy King adalah
pria yang kaku dan membosankan, tapi ternyata kau orang yang cukup
menarik."
"Aku
juga tidak membencimu, kok. Giza-giza-kun."
"Tutup
mulutmu, manusia."
Sambil
saling melontarkan gurauan, Holy King menatap ke langit malam.
"Dewa,
ya……"
Gumamannya
yang pelan tertiup angin dingin dan menghilang begitu saja.
◆
Selagi
semua orang masih pingsan, kami meninggalkan lokasi acara.
Di kamar
tempat Connie tidur, aku menceritakan apa yang terjadi selama Behal kehilangan
kesadaran.
"──Begitulah kejadiannya."
"Fuumu…… hal seperti itu terjadi saat aku sedang
tumbang ya…… kukuku, benar-benar memalukan."
Melihat Behal yang baru bangkit itu mengejek dirinya
sendiri, Jiriel langsung melompat keluar untuk menyela.
"Benar itu, Behal! Kau dihajar habis-habisan oleh Holy
King, dan bahkan bangkit kembali berkat musiknya. Kau benar-benar badut,
renungkanlah itu!"
"……Jangan berisik, kutu busuk. Akan kulenyapkan kau."
"Hiiih! T-Lloyd-sama……!"
Namun,
hanya dengan satu lerekan dari Behal, Jiriel langsung bersembunyi di dalam
tanganku. ……Lemah sekali. Padahal kalau takut tidak usah bicara macam-macam.
"Yah,
perkataan Malaikat Sialan itu ada benarnya juga, sih. Holy King itu
memang hebat. Jika kau membalas dendam dengan sembarangan, kau pasti akan kalah
lagi."
"……Hun,
waktu itu aku hanya belum serius saja. Lain kali aku pasti akan menjatuhkannya. Fuhaha!"
Behal tertawa pongah, tapi…… dia terlihat memalukan seperti
penjahat kelas teri.
Ke mana perginya
wibawa sebagai Raja Iblis?
Aku pun
sebenarnya ingin melihat pertarungan ulang dengan Holy King, tapi jika
kondisinya begini, sepertinya dia bakal kalah lagi dalam sekejap.
"T-Tatapannya
apa itu, Lloyd! Asal kau tahu, kekuatan sejatiku tidak hanya segitu, lho!? Jika
aku menggunakan kekuatan 'itu', Holy King bukanlah apa-apa!"
"Heh—begitu ya—……"
"Muu…… kau tidak percaya? Aku akan menunjukkan rahasia terdalam kaum iblis,
jurus pamungkas 'Fusion'!"
"Fusion?"
Mendengar
kata kunci yang menarik, aku langsung terpancing. Behal pun melanjutkan
bicaranya dengan wajah bangga.
"Umu! Kami
para tubuh mana bisa melakukan Fusion untuk mendapatkan peningkatan
kekuatan yang luar biasa!"
"Heh…… rasanya sudah biasa ya."
Karena kami adalah tubuh mana, memasang atau melepas bagian
tubuh harusnya bukan hal sulit, tapi jika hanya begitu, itu cuma penjumlahan
biasa. Kurasa tidak akan ada
peningkatan kekuatan yang signifikan.
"He-Hei!
Kenapa kau memberikan tatapan dingin lagi!? I-Ini benar-benar hebat, lho!"
"Huuu-nn."
"……Sepertinya
kau belum paham ya. Baiklah, akan kutunjukkan padamu! Keluarlah kalian semua!"
Bersamaan dengan
kata-kata Behal, gumpalan mana tercipta di sekelilingnya. Gumpalan itu
membentuk wujud manusia…… eh, sepertinya aku pernah melihat mereka.
"Itu
kejadian sekitar satu bulan yang lalu, Lloyd-sama!"
"Anda
tidak mungkin lupa dengan pertempuran sengit itu, kan! Itu lho, mereka yang
menyerang di akademi……"
"……Ah,
pernah ada yang seperti itu ya."
Setelah
diingatkan, akhirnya aku mulai teringat. Kalau tidak salah, mereka menyebut
diri mereka sebagai Empat Jenderal Langit Pasukan Iblis atau semacamnya.
"……Hun,
sepertinya kau akhirnya ingat. Benar sekali, mereka adalah bawahan langsungku,
Empat Jenderal Langit──Wilfrey si Merah, Ganjeet si Hijau, Sheraha si Biru, dan
Zen si Hitam. Mereka mengorbankan nyawa demi menghancurkan segelku, namun inti
mereka tetap tertidur di dalam diriku. Jika aku melakukan Fusion dengan mereka, kekuatanku akan berlipat
ganda! Mari kita mulai! Fusion!"
Cahaya terang
menyelimuti Behal, dan tubuh-tubuh mana itu menyatu dengannya.
Dibandingkan
Behal, mereka hanya punya sekitar sepuluh persen mana saja. Maaf saja, tapi
mereka itu sebenarnya kroco.
Aku tidak
yakin melakukan Fusion dengan mereka akan membuatnya jadi jauh lebih
kuat, tapi…… bagaimanapun juga, sosok Behal yang muncul hanya sedikit berubah
penampilannya.
"Ooh…… kalau diperhatikan baik-baik, ciri-ciri dari
Empat Jenderal Langit muncul sedikit demi sedikit di penampilannya ya."
"Muu…… aku merasakan aliran mana yang dahsyat. Inilah Fusion,
ya."
Aku mengerti kenapa Grim dan yang lainnya sampai bergumam
kagum. Memang mananya terasa luar biasa. Mungkin dua…… tidak, hampir tiga kali
lipat dari aslinya.
Ini bukan
sekadar penjumlahan biasa. Namun meski begitu, kurasa ini masih belum cukup
untuk menumbangkan Magic Song milik Holy King……
"Tapi,
bukankah hanya ada tiga orang?"
Katanya melakukan
Fusion dengan Empat Jenderal Langit, tapi tadi aku hanya melihat tiga
tubuh mana saja.
"APAAAA──!?
Benar juga! Kenapa hanya ada tiga orang! Wilfrey! Ke mana perginya kau,
Wilfrey──!"
Sepertinya
Behal sendiri baru menyadari hal itu. Kasihan sekali dia, sampai tidak disadari kehadirannya.
Namun
sekeras apa pun dia berteriak, orang yang satu lagi tidak kunjung muncul.
"Wilfrey itu
bukankah yang pertama kali dikalahkan oleh Lloyd-sama? Karena Anda
menghancurkannya sampai berkeping-keping hingga lenyap, mungkin dia tidak bisa
diserap oleh Behal."
"Sihir Grey
Archdemon Fang waktu itu memang punya kekuatan yang luar biasa, sih.
Apalagi Anda menembakkannya tanpa menahan diri sama sekali, kan? Wajar saja
kalau dia lenyap."
Grim dan Jiriel
mengangguk setuju. Karena itu
adalah sihir buatanku yang pertama, aku memang sangat bersemangat saat itu. Sepertinya
aku melakukannya terlalu berlebihan.
"Gumumu…… menghancurkan inti kaum iblis yang mudah
menguap bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi Wilfrey yang merupakan salah
satu Empat Jenderal Langit, bahkan bagiku pun sulit melakukannya…… tapi kurasa
itulah kehebatan Lloyd."
Behal menggumamkan sesuatu, apa mungkin dia sedang
menggerutu padaku? Meski aku tidak tahu, aku merasa sudah melakukan hal yang
buruk padanya.
"Ah—itu, maaf ya, Behal."
"Apa boleh buat. Kalian berdua pasti punya tekad
masing-masing yang tidak bisa dikalahkan. Tapi ini gawat…… jika Empat Jenderal
Langit tidak lengkap, aku tidak bisa mendapatkan kekuatan penuhku. Kaum iblis
setingkat Wilfrey tidak mudah ditemukan, dan kalaupun ada, gelombang mananya
harus cocok untuk melakukan Fusion, jadi penyesuaiannya akan memakan
waktu lama…… hmm."
"Kalau
begitu, aku akan turun tangan. Aku juga punya tanggung jawab di sini. Yang
penting ada pengganti Wilfrey, kan? Kalau begitu──"
Grim buru-buru
memotong kata-kataku sebelum aku sempat menyelesaikannya.
"Tunggu,
tunggu, tunggu, Lloyd-sama! Jangan bilang Anda berniat menyerahkan aku sebagai penggantinya!? Itu namanya bukan turun tangan, tapi
mengumpankan tangan secara harfiah!"
"Benar, Lloyd-sama!
Meskipun iblis ini mungkin bisa dijadikan pengganti, tapi itu terlalu kejam
bagi siapa pun! Ah, tentu saja aku juga tidak mau, ya!"
Grim dan Jiriel
berteriak panik. Sepertinya mereka mengira akan aku jadikan tumbal.
"……Apa yang
kalian bicarakan? Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu."
"Y-Yah,
soalnya ini Lloyd-sama, kupikir Anda akan melakukannya kalau merasa itu
menarik……"
"Be-Benar juga…… semestinya Lloyd-sama tidak akan
berbuat sejauh itu…… mohon maafkan saya."
Benar-benar
kesalahpahaman yang parah. Padahal niatku sama sekali bukan itu.
"Behal,
aku yang akan jadi penggantinya."
"……Hah?"
Behal
membelalakkan matanya dengan bingung. Grim dan Jiriel pun menunjukkan wajah
melongo.
"E-Ehm…… Lloyd, sepertinya aku baru saja mendengar
sebuah pernyataan yang sangat aneh……"
"Makanya kubilang, aku yang akan menggantikannya untuk
melakukan Fusion."
Soal Fusion itu, jujur aku sangat tertarik. Rasanya
sayang kalau hanya diberikan pada Grim dan yang lainnya.
Saling bercampur antar sesama tubuh mana untuk menjadi
keberadaan yang lebih kuat…… kalau bisa, aku ingin merasakannya sendiri secara
langsung. Hehe.
"Apa-apaan
yang Anda katakan, Lloyd-sama-aaa! Mana mungkin manusia dan iblis bisa
melakukan Fusion! Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi nanti!?"
"Benar, Lloyd-sama!
Ini terlalu berbahaya! Lagipula, bukankah secara teknis itu mustahil!?"
"Tidak
akan tahu kalau tidak dicoba, kan? Lagipula, bukan aku sendiri yang akan
melakukan Fusion."
Sambil
berkata begitu, aku menengadahkan tangan dan memusatkan mana.
Yang aku ciptakan
adalah tubuh mana milikku sendiri.
Sejak pertarungan
melawan Empat Jenderal Langit, aku sudah mempelajari cara mengendalikan tubuh
mana.
Sekarang,
menciptakannya dari nol bukanlah hal yang sulit bagiku.
"O-Oh…… tubuh mana yang persis Lloyd-sama sudah
tercipta…… Terlebih lagi kekuatannya, ini setara dengan level Jenderal
Langit."
"Bahkan rasanya, panjang gelombang mananya identik
dengan iblis yang lenyap itu! Padahal Lloyd-sama sama sekali tidak ingat
sosoknya, kan!?"
Memang benar aku sudah lupa total soal Wil-siapa-gitu, tapi
bagaimanapun juga, dia adalah Jenderal Langit pertama yang kulawan.
Aku mengingatnya dengan baik karena aku mengamati jeroannya
secara mendalam.
……Tapi karena aku lupa wajahnya, jadinya dia berbentuk
seperti diriku.
Berkat membuat Magic Song, aku juga belajar cara
membaca dan menulis panjang gelombang mana.
Kalau hanya sekadar membuatnya diam tanpa bergerak, ini
tidaklah terlalu sulit.
"Tidak,
tidak, meskipun ini terbuat dari mana, tubuh kami ini tetap serumit manusia.
Struktur mana, sirkulasi, dan berbagai detail lainnya bahkan tidak kami pahami
sendiri. Apa mungkin bisa direproduksi semirip itu hanya karena mengamatinya
sekali?"
"Tidak, ini
mungkin karena Lloyd-sama adalah anak emas sihir. Aku pernah dengar kalau
pemahaman terhadap formula sihir punya kaitan dengan pemahaman terhadap tubuh
mana. Bagi Lloyd-sama yang bahkan bisa menciptakan kehidupan buatan, membuat
tubuh mana sendiri mungkin hal yang sepele."
Behal menatap
tajam ke arah tubuh manaku, lalu ia mengerang pelan.
"Fuumu…… Seperti yang diharapkan dari Lloyd. Jika
panjang gelombang mananya semirip ini dengan Wil, memang benar Fusion
bisa dilakukan."
"Kalau begitu, ayo segera!"
"Tapi ingat, Fusion adalah salah satu teknik
terlarang yang mengikat sesama tubuh mana secara kuat. Sekali kau menyatu
denganku, tubuh mana itu akan menyatu sepenuhnya dengan ragaku dan tidak akan
pernah bisa kembali lagi. Kau yakin
tidak apa-apa?"
"Apa ada
masalah?"
"Yah,
begini…… meskipun itu hanya sementara, itu adalah nyawa yang kau ciptakan
sendiri, kan? Setidaknya kau pasti punya rasa sayang padanya."
"Sama sekali
tidak……"
Behal terdiam seribu bahasa dengan wajah seolah tidak
percaya…… apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? Menurutku, mana hanyalah mana.
Saat aku sedang bingung, Grim dan Jiriel masing-masing
menepuk bahu Behal.
"Mungkin Kakak Behal belum tahu, tapi Lloyd-sama memang
orang yang seperti ini."
"Benar, beliau adalah sosok yang melampaui akal sehat
manusia. Sebaiknya jangan mengharapkan reaksi yang normal darinya."
……Rasanya aku dibicarakan dengan cara yang cukup kasar, tapi
yang lebih penting sekarang adalah Fusion.
"Jadi, cepat
lakukan saja."
"U-Umu……
kalau kau berkata begitu……"
Meski dengan
wajah yang agak terpaksa, Behal akhirnya setuju dan memulai proses Fusion.
"K-Kuantitas
mananya gila-gilaan…… Kakak Behal yang sebelumnya saja sudah hebat, tapi ini
benar-benar dimensi yang berbeda. Sebuah pusaran mana yang luar
biasa!"
"Benar…… inilah Fusion kaum iblis…… kami para
malaikat punya teknik yang mirip, tapi ini tidak bisa dibandingkan. Jika diselimuti mana setebal ini, Magic
Song pun pasti tidak akan mempan!"
Dalam sekejap,
mana yang meluap itu memadat dan mulai membentuk wujud manusia kembali.
Wujudnya anehnya
mirip denganku, tapi memiliki tanduk dan ekor layaknya iblis, serta dihiasi
pola hitam seperti tato yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Kukuku…… Fuhahahahaha! Kekuatan macam apa ini! Aku tidak bisa berhenti tertawa! Bahkan jika aku
menyatu dengan seluruh Empat Jenderal Langit sekalipun, aku tidak akan
mendapatkan kekuatan sebesar ini! Inikah tubuh mana milik Lloyd!? Benar-benar mengerikan!
Fuhaaa-ha──"
Tiba-tiba,
tawa Behal terhenti. Ia berlutut lemas dan meringkuk.
"Ga……
ah……!? A-Apa ini…… ada sesuatu yang…… masuk ke tubuhku…… i……
ni……!?"
Behal meronta kesakitan──begitu juga denganku. Rasanya
seperti dipaksa masuk ke dalam sesuatu.
Mual, Sesak napas. Pandanganku berputar-putar. ……Setelah
beberapa saat, akhirnya perasaan itu mereda.
"Aduh…… apa-apaan yang tadi itu……"
Aku mencoba bangkit, tapi rasanya ada yang aneh.
Aku tidak tahu bagaimana cara menyalurkan tenaga, rasanya
seperti ini bukan tubuhku sendiri.
Bahkan suaraku terdengar berbeda, dan pandanganku juga
janggal.
"Hmm,
ada seseorang yang pingsan di depanku?"
Punggung
itu rasanya tidak asing, tapi……
"Lloyd-sama…… tu-tunggu, apa yang terjadi dengan sosok
Anda itu!?"
"Ada apa Grim,
apa ada sesuatu?"
"Li-Lihatlah
ke cermin! Lihat wujud Anda!"
"?"
Sesuai
perintahnya, aku menatap cermin yang ada di kamar itu──dan yang terpantul di
sana bukanlah aku, melainkan wujud Behal yang sudah melakukan Fusion.
"A-Apa-apaan
ini? Kenapa aku jadi Behal?"
Terlebih
lagi, yang terbaring di lantai adalah tubuh asliku. Aku mencoba menyentuhnya
tapi tidak ada reaksi.
Sepertinya
tidak sadarkan diri. Yah, wajar saja karena kesadaranku ada di tubuh yang ini.
"Wooi,
Lloyd!"
"Wah,
kaget aku."
Tiba-tiba,
sebuah suara bergema dari dalam tubuhku. Itu suara Behal.
"Tadi, aku
merasa kesadaranmu menginvasi keberadaanku! Apa yang telah kau lakukan!?"
"Yah, aku
tidak berniat melakukan apa pun, sih……"
"Apa Anda
baik-baik saja, Lloyd-sama? Sepertinya tubuh Anda sudah berubah
ya."
"Aku merasa
jiwa Lloyd-sama melesat keluar. Dan seiring dengan itu, kami juga ikut terseret…… apa sebenarnya
ini……"
Sepertinya
Grim dan yang lainnya juga ikut pindah ke tubuh ini. Semuanya kebingungan. Aku pun sama saja.
"Sepertinya
seluruh kesadaran Lloyd-kun masuk ke tubuhku."
Suara Connie
kembali terdengar dari lubuk tubuhku. Terlalu banyak suara bergema dari dalam tubuh.
Benar-benar kacau.
"Lloyd-kun
pasti memasukkan susunan mantra berbagi kesadaran ke dalam tubuh mana yang
diciptakannya supaya bisa menganalisisnya, kan? Aku rasa gara-gara itu,
kesadaranmu ikut terseret saat proses Fusion dan pindah ke
tubuhku."
"Kau
benar-benar telah mengacaukan segalanya!"
Behal
langsung melontarkan kritik pedasnya.
Yah,
karena ini adalah hal yang menarik seperti Fusion, tentu saja aku ingin
tahu bagaimana kondisinya. Wajar kalau aku melakukan hal sejauh itu.
"Tapi
yang kumasukkan hanyalah susunan mantra berbagi kesadaran. Meskipun menyatu,
bukankah seharusnya hak prioritas tubuh tetap ada pada Behal?"
"Itu karena
keberadaanmu terlalu kuat. Fusion menyatukan tubuh mana, yaitu mantra,
kesadaran, dan segala sesuatunya menjadi satu untuk menghasilkan kekuatan yang
dahsyat."
Kalau
dipikir-pikir, memang ada rasa kesatuan yang berbeda dengan sekadar berbagi
kesadaran biasa.
Tapi, menarik
keluar segalanya mulai dari mantra hingga kesadaranku itu benar-benar gila.
Seberapa kuat
ikatan penyatuan ini sebenarnya?
"……Tapi ini
gawat. Tubuh mana yang sudah menyatu sekali tidak akan bisa dipisahkan
lagi."
"Ngomong-ngomong,
kau memang pernah bilang begitu ya…… Ah!"
Punggungku
mendadak dingin saat akhirnya menyadari besarnya masalah ini. Gawat. Ini
benar-benar gawat.
"Hun,
benar sekali. Mulai sekarang aku dan kau adalah satu jiwa satu raga, ke mana
pun akan selalu bersama. Iblis
dan manusia dalam satu tubuh pasti akan merepotkan bagi satu sama lain. ……Tapi
yah, aku sendiri tidak keberatan. Bersamamu sepertinya tidak akan
membosankan."
Di
samping Behal yang menggumam malu-malu sambil menggaruk pipi, aku bergumam
pelan.
"Bagaimana
kalau ketahuan oleh Kakak Albert dan yang lainnya……"
"Hanya itu
yang kau khawatirkan, hah!?"
Apa maksudmu
'hanya'? Bagiku ini masalah besar, tahu.
Setiap hari
Sylpha dan yang lainnya datang mengurusku, Kakak Albert pun sering kali terlalu
perhatian.
Meski ada sisi
yang patut disyukuri, jujur saja itu agak…… tidak, itu sangat menjengkelkan.
Secara mental rasanya berat.
Kalau mereka tahu
aku menyatu dengan Behal dan jadi seperti ini, entah reaksi apa yang bakal
mereka berikan.
Antara menangis
atau marah, yang jelas pasti bakal jadi urusan yang merepotkan.
Belakangan ini
aku dibiarkan bebas karena sudah mendapatkan kepercayaan mereka, tapi jika
kejadian ini ketahuan, aku pasti akan diawasi dengan ketat.
Kalau
begitu, aku tidak akan bisa meneliti sihir dengan tenang lagi. Itu masalah
besar.
"Pokoknya
aku harus mencari cara untuk membatalkan Fusion ini."
"He-Hei,
bukankah sudah kubilang kalau Fusion tidak bisa dibatalkan……"
Aku mengabaikan
kata-kata Behal dan memusatkan kesadaran ke dalam tubuh. Aku mencari celah di
dalam tubuh mana ini, pasti ada titik sambungannya di suatu tempat.
Jika aku
mencarinya dan menemukannya……, ……, ……Sial, tidak ada. Tidak ketemu.
Namun, perasaan
di mana setiap partikel mana menyatu ini benar-benar mengingatkanku pada
kelahiran sebuah kehidupan. Benar-benar keajaiban yang luar biasa.
"……Bukannya
saatnya untuk kagum. Benar juga. Kalau tidak ada, tinggal buat saja secara
paksa."
Meskipun ini
tubuh mana, konsentrasi mananya tidak mungkin benar-benar seragam secara total.
Ada aku, Behal,
Connie, Grim, Jiriel, bahkan Empat Jenderal Langit; begitu banyak keberadaan
yang bercampur di sini.
Pasti ada celah
di suatu tempat. Saat aku mencari…… ketemu. Ini adalah bagian yang paling lemah. Aku
memusatkan kesadaran ke sana.
Dalam pekerjaan
seperti ini, kekuatan imajinasi adalah kuncinya. Seolah-olah kesadaranku
terpenjara di dalam tubuh ini, aku akan merobek bagian itu…… hap.
Sret, terasa ada sesuatu yang terputus. Rasa
sakit yang hebat dan rasa kehilangan. Mungkin rasanya seperti satu kaki ditebas
putus.
Namun sepertinya
berhasil, sesuatu meluncur keluar dari dalam diriku.
Gumpalan mana
hitam perlahan-lahan kembali mendapatkan warna dan bentuknya. Yang
muncul adalah──Connie.
"A-Eh…… aku……"
Connie melihat sekeliling dengan tatapan heran. Connie
terbelalak, tapi akulah yang paling terkejut.
Niatku ingin memotong bagian dengan hubungan yang paling
lemah, tapi di luar dugaan malah Connie yang sejak awal terhubung dengan Behal
yang keluar.
"Itu mungkin
karena Connie adalah satu-satunya manusia yang punya raga fisik.
Ngomong-ngomong, saat ini yang paling mendominasi tubuh ini adalah kau,
Lloyd."
"……Repot
juga ya."
Itu artinya sudah
tidak ada lagi titik sambungan lainnya.
Tadi saja rasanya
sangat sakit, akan sulit jika harus memisahkan yang lainnya lagi.
"Apa boleh
buat. Sepertinya aku harus mencari metode lain."
"Tidak,
bukankah sudah kubilang itu mustahil……"
"Kata
'mustahil' bagi Lloyd-sama justru akan memberikan efek sebaliknya, Kakak Behal.
Orang ini selalu melangkah jauh melampaui imajinasi kita."
"Mumu,
memang benar rasanya Lloyd akan bisa melakukan sesuatu…… tapi, tetap
saja……"
Grim dan Behal
bergumam entah apa, tapi aku terlalu sibuk memikirkan cara lain sampai tidak
sempat mendengarkan mereka.
……Tapi mumpung
ada kesempatan, aku juga ingin melakukan eksperimen pada tubuh ini.
Kesempatan untuk
menangani tubuh mana secara langsung seperti ini kan jarang ada.
"Lloyd-sama,
niat jahat Anda bocor keluar, lho."
"Oups,
benar juga."
Tidak
boleh, tidak boleh. Aku harus
serius memikirkan solusinya. Sekarang adalah kesempatan selagi semua orang
masih tertidur lelap karena kelelahan festival. Eksperimen bisa dilakukan
setelah semuanya tenang. Sebelum ada yang menyadari──
"Lloyd—? Ah,
ternyata di sini."
Di saat aku
sedang berpikir begitu, pintu terbuka dan Ren yang memakai pakaian pelayan
masuk ke dalam.
"Owaah!?
Re-Ren!"
"……Lloyd?
Pakaian apa itu? Kenapa kau punya tanduk segala?"
Begitu melihatku,
Ren menyipitkan matanya dan memiringkan kepala. Sepertinya lebih baik aku
jelaskan saja secara jujur.
"Ah—itu,
sebenarnya begini dan begitu."
"Eh? Lloyd
jadi iblis?"
"Tepatnya
aku menyatu dengan Raja Iblis. Ngomong-ngomong, tubuhku yang itu."
"Uwaaaaa!? L-Lloyd matiiiiii!?"
Ren berlari mendekat dan memeluk tubuhku. Hei, hei, jangan membunuhku sembarangan.
"……Ah, benar
juga, dia masih bernapas."
"Ya, tapi
kesadaranku pindah ke sini dan tidak bisa dipisahkan lagi. Karena itu Ren,
Connie, tolong bantu aku mengelabui orang-orang sampai aku bisa kembali."
"Kami……?
Mengelabui orang-orang soal Lloyd yang terbaring koma……? Bukankah itu
sulit?"
"Aku
tahu ini permintaan yang mustahil. Tadinya aku berpikir untuk menitipkan
tubuhku pada Grim atau Jiriel, tapi sepertinya tidak bisa."
Mereka
berdua sudah bercampur dengan tubuh mana ini, dan sepertinya tidak mungkin
dipisahkan.
Oleh karena itu,
aku hanya bisa meminta bantuan Ren dan Connie.
"Umm, tapi
kurasa mustahil untuk mengelabui Nona Sylpha."
"Benar juga.
Setidaknya kalau dia tidak terbaring koma mungkin masih bisa, tapi……"
Keduanya
saling pandang dan mengangguk. ……Benar juga. Lawannya adalah Sylpha yang bahkan
menyadari keanehan sekecil apa pun. Mengelabuinya dengan kondisi terbaring koma
memang terlalu berat.
"Kalau
begitu, aku gunakan sihir sistem kontrol──nah."
Aku
mengubah kepribadianku sendiri menjadi sebuah susunan mantra, lalu
menempelkannya ke tubuh asliku.
Ini
adalah hal yang bisa kulakukan karena sekarang aku sudah bisa memodifikasi
mantra sampai ke tingkat yang sangat dalam.
Beberapa saat
kemudian, tubuhku perlahan membuka mata dan menampakkan senyum yang segar.
"Hai Ren,
Connie, selamat pagi. Kalian berdua cantik sekali hari ini."
"Uhuk-uhuk-uhuk!"
Ren tersedak
hebat. Connie mematung.
"Bisa diurus
oleh dua gadis cantik yang menawan seperti kalian, ah, betapa beruntungnya
aku!"
Semua orang di
sana mematung melihat tubuhku melakukan tarian bodoh sambil berputar-putar.
"A-Apa-apaan
benda ini……"
"Kepribadiannya
sama sekali tidak mirip dengan Lloyd-sama!"
"Muu, gagal
ya."
Sepertinya memang
sulit untuk meniru kepribadian sendiri. Kalau begini bakal sulit untuk
mengelabui mereka.
"……Tidak,
tapi ini malah mungkin berhasil. Nona Sylpha sepertinya bakal senang."
"Benar,
terkadang dia pergi keluar dan menitipkan tubuhnya pada Grim atau Jiriel, tapi
anehnya tidak ada yang keberatan. Kalau kami yang membantu, mungkin bakal
baik-baik saja."
Tak kusangka
penilaian mereka berdua cukup bagus.
……Tunggu, soal
aku sering keluar dan menitipkan tubuh pada Grim atau Jiriel itu ternyata sudah
ketahuan, ya.
Yah, lagipula aku
kan Pangeran Ketujuh yang tidak mencolok.
Mungkin mereka
memang tidak terlalu peduli.
Syukurlah kalau
begitu. Ren dan Connie menatapku dengan mata sinis, tapi mungkin itu hanya
perasaanku saja.
"Tapi dari
niat awal ingin balas dendam pada Holy King, malah jadi urusan yang gila begini
ya. Ternyata bergerak hanya karena rasa penasaran itu tidak baik.
……Ngomong-ngomong, ke mana ya dia pergi?"
──Holy King yang menghilang tepat setelah pertunjukan musik
berakhir, padahal aku ada di sampingnya tapi aku tidak merasakan hawa
keberadaannya sama sekali. Holy King, ya. Dia sosok yang misterius, tapi
sebenarnya siapa dia?
◆
"──Apa maksud dari semua ini?"
Suara
bergema di ruangan serba putih. Holy King tampak merasa tidak enak saat menerima pertanyaan itu.
Di balik cadar
putih di hadapannya terdapat sebuah bayangan manusia, yang memancarkan aura
keagungan yang luar biasa.
"Seharusnya
Aku memerintahkanmu untuk membunuh Raja Iblis. Namun, kau tidak memberikan
serangan mematikan, bahkan membiarkan dia bangkit kembali begitu saja. Katakan
padaku, apa alasanmu menentang perintah-Ku yang merupakan Dewa?"
Nada bicaranya
tenang namun penuh penekanan.
Terasa sebuah
kehendak yang tidak akan mentoleransi alasan yang main-main.
Meski berada di
bawah tekanan Dewa yang luar biasa, Holy King menjawab dengan santai.
"Begini ya, Dewa-sama?
Aku selalu berpikir, apakah benar-benar perlu mengalahkan iblis yang bahkan
belum berbuat jahat sama sekali?"
Holy King
memanggil sosok suara itu dengan sebutan Dewa, lalu mulai merangkai
kata-katanya.
"Memang
benar sebagian besar kaum iblis menganggap manusia tidak lebih dari serangga,
bahkan nyawa kaum mereka sendiri dianggap lebih rendah dari sampah. Mereka
benar-benar perwujudan kejahatan. Wajar saja jika ajaran agama menganggap
mereka jahat, dan Aku mengerti sepenuhnya perintah untuk membunuh pemimpin
mereka. Namun, setidaknya sebagai Holy King, Aku merasa perlu memastikan apakah
nyawa yang Aku cabut itu benar-benar jahat atau tidak. Karena itulah Aku
mencoba melihat jati diri Raja Iblis Behal yang sebenarnya."
"Ooh…… lalu, bagaimana hasilnya?"
"Yah,
seperti dugaanku, dia memang sangat agresif dan liar. Kupikir aku bakal mati
tadi. Benar-benar serius. Hahaha."
Holy King
tertawa sambil melanjutkan bicaranya.
"Di
tengah festival penyambutan seluruh negeri, tiba-tiba aku terperangkap dalam
penghalang dan langsung diserang. Wah, 'bumi terbelah dan langit hancur' adalah
ungkapan yang tepat untuk itu. Aku berhasil bertahan dengan Magic Song,
tapi kurasa tidak ada jaminan aku akan selamat di lain waktu."
"Lalu
kenapa kau tidak segera menghabisinya? Bukankah dia keberadaan yang sangat berbahaya?"
"Hanya
karena itu saja. Dia memang mencoba mengalahkanku, tapi dia sama sekali tidak
berniat melibatkan manusia lain. Bagi aku yang cinta damai, menganggap orang
kasar seperti itu sebagai kejahatan mutlak secara sepihak adalah hal yang
sangat sangat──"
Holy King
menggelengkan kepalanya seolah merasa lelah, dan di saat itulah, badai besar
berhembus di sekitarnya. Badai itu seolah mewakili amarah Dewa dan kekuatannya
terus meningkat.
"Bercandamu
sudah keterlaluan. Kekuatan membawa tanggung jawab. Takhta Holy King tidak
semurah itu untuk diberikan pada orang yang tidak punya tekad."
"──Hei, hei,
itu adalah kalimatku."
Tiba-tiba nada bicara Holy King berubah. Tenang, namun sangat tegas. Dia terlihat
benar-benar berbeda dari Holy King yang biasanya.
"Bukankah
dalam ajaran agama dikatakan bahwa setiap nyawa memiliki arti yang sama? Tapi hanya karena dia Raja Iblis, kau
berniat membunuhnya sejak awal. Aku tidak merasa orang yang melakukan hal
sembarangan sepertimu berhak menghakimi segala keberadaan."
"Kau……!"
Dewa menekan
dengan amarah yang kuat, namun Holy King membalasnya dengan berani.
Pertarungan hawa
keberadaan itu menciptakan badai yang dahsyat. Tertiup oleh badai itu, cadar
yang memisahkan keduanya berkibar dengan liar.
"Metode
membunuh lawan tanpa mengenalnya lebih dulu adalah hal yang hanya boleh
dilakukan oleh kaum lemah yang tidak punya pilihan. Di dunia di mana yang kuat
memangsa yang lemah, hal itu mungkin wajar dalam satu sisi. Tapi aku adalah
Holy King, sosok yang bertugas menyampaikan pesan dari Dewa yang merupakan
penguasa mutlak. Oleh karena itu, aku punya kewajiban untuk mendengar perkataan
lawan, melihat tindakannya, dan baru setelah itu menjatuhkan vonis. Aku tidak
mungkin membiarkan kau, pemimpin khayangan dan Dewa, menjatuhkan vonis
sembarangan seperti itu."
"Dasar
bodoh! Jika tindakanmu terlambat dan mengakibatkan hal yang harus dilindungi
menjadi musnah, apa yang akan kau lakukan!?"
"Justru itu
yang kubilang! Itu adalah logika kaum lemah, kakek tua!"
Holy King
berteriak. Wajahnya tidak lagi terlihat lesu seperti biasa, melainkan
menunjukkan raut wajah yang serius. Pusaran tekanan yang berhembus membuat
rambutnya berkibar.
"Melalui
perintahmu, 'Aku' sudah melihat berbagai macam orang. Yang kuat, yang lemah,
yang baik, yang jahat, yang jujur, yang licik, yang adil, yang pengecut, yang
punya alasan, yang tidak punya alasan, manusia, demi-human, bahkan
iblis…… Ada iblis kuat yang menyatukan iblis jahat dan mencegah kerusakan di
sekitar, ada pula manusia lemah yang memprovokasi manusia kuat dan mendatangkan
kekacauan. Tidaklah mudah untuk mengetahui siapa yang jahat dan siapa yang
baik. Namun sepertinya kau hanya memilih target hukumanmu secara asal
saja."
"……Aku bisa
mengetahuinya."
"Jangan
bohong. Waktu itu kau menyuruhku mengalahkan demi-human, tapi setelah
dia mati, segel di tempat itu lepas dan monster-monster bermunculan. Sebelumnya
saat aku membunuh manusia pilihanmu, terjadi pemberontakan besar di daerah itu.
Tidak hanya itu saja. Kasus-kasus serupa ada banyak sekali."
Memori masa lalu
terlintas di benak Holy King.
Tentang bagaimana
dia terus menggunakan kekuatannya sesuai perintah, dan setiap kali pula hal itu
mengundang kekacauan.
Setiap kali
keraguan itu membuncah, ia hanya bisa memendamnya di dalam hati, hingga tanpa
sadar ia menutup hatinya sendiri.
"Dengan
hasil seperti itu, apa kau masih pantas disebut Dewa? Bagiku itu adalah
tindakan yang sangat memalukan, aku tidak sanggup melakukannya."
Tiba-tiba, badai
tekanan yang tadinya berhembus kencang pun berhenti. Holy King tampak bingung.
Di balik cadar, Dewa
tampak sedang menopang dagu dengan santai.
"Oups, apa
kau baru saja menemukan alasan? Atau kau mau menyerah? Ayo, yakinkan aku.
Dengan kebijaksanaan Dewamu itu."
Menanggapi
provokasi Holy King, Dewa hanya memberikan tatapan dingin dan berkata:
"……Sayang
sekali. Padahal Aku sangat mengharapkanmu."
Seketika, cahaya
meluap terang. Sinar itu menelan sosok Holy King dan──
"Kh!?
Tu—"
Belum sempat ia
menyelesaikan kalimatnya, seluruh sekeliling telah terlukis dengan warna putih
bersih.
Dan──Holy
King telah melenyapkan diri dari sana.
Di balik
cadar, sang Dewa mengembuskan napas panjang dengan raut wajah yang tampak
bosan.
◆
"Yah,
sekarang apa yang harus kulakukan?"
Setelah
menyelinap keluar dari kastel, aku mencoba berbagai macam cara untuk
membatalkan Fusion dengan Behal.
──Meditasi.
Kupikir aku bisa
melakukan sesuatu dengan memusatkan kesadaran untuk menguasai setiap sudut
manaku sendiri…… tapi gagal.
Ini bukan lagi
sekadar ikatan, melainkan sudah menyatu dalam tahap seluler.
Menarik keluar
kesadaranku dari tubuh ini ibarat mencoba memisahkan telur mentah dari puding
yang sudah jadi.
Benar
kata Behal, memisahkan diri setelah Fusion sepertinya memang sulit.
──Penghancuran.
Kalau
begitu, aku memutuskan untuk menyiksa tubuhku sendiri sampai batas maksimal.
Ini
adalah latihan keras yang biasa dilakukan para ahli beladiri untuk memacu fisik
mereka. Tentu saja ini punya
efek bagi penyihir, tapi ini pun gagal.
Bagaimanapun
juga, tubuh ini adalah tubuh mana hasil Fusion dari iblis tingkat tinggi
termasuk Behal.
Menabrakkan diri
ke batu sekuat tenaga, tenggelam ke dasar laut dalam, hingga pergi ke tempat
terekstrem panas maupun dingin pun sama sekali tidak memberikan beban apa pun.
──Penyegelan.
Lalu, aku mencoba
menembakkan sihir penyegelan ke diriku sendiri.
Namun, manaku
terlalu kuat sehingga susunan mantra penyegelnya tidak bisa aktif dengan benar.
Sihir memiliki
berbagai batasan yang sudah ditetapkan.
Jika kau
memasukkan mana yang melampaui batas tersebut, susunan mantranya justru akan
hancur berantakan.
Sihir sederhana
dengan batasan longgar mungkin masih bisa, tapi untuk sihir tingkat tinggi, aku
harus repot-repot membuat susunan mantra orisinal dari nol.
Itu kedengarannya
menarik, tapi bakal memakan waktu yang tak terhingga. Jadi, ini pun gagal.
"Aduh, repot
juga. Aku tidak melihat ada cara untuk kembali."
Aku bergumam
pelan sambil memandangi jejak kehancuran yang dahsyat di sekitarku.
"Bukankah
sudah kubilang kalau kalian tidak akan bisa berpisah lagi…… tapi kenapa kau
malah terlihat senang begitu, hah!"
"Kalau
dibilang begitu, aku malah jadi makin semangat, tahu."
Mau
bagaimana lagi, proses coba-coba seperti ini kan menyenangkan.
Tapi, sepertinya
aku memang sudah menemui jalan buntu.
Semua pendekatan
sihir yang bisa kupikirkan sudah kucoba, dan semuanya gagal.
Di benua es
raksasa tak berpenghuni yang terletak di tengah laut—sekitar satu jam
penerbangan dari Saloum—aku melakukan berbagai eksperimen hingga sekelilingku
hancur berkeping-keping.
Wah, wah, aku
melakukannya secara berlebihan ya.
"Lloyd-sama,
monster-monster laut yang terkena imbasnya mulai bermunculan di permukaan,
tuh."
"Sepertinya
mereka jatuh dari es. Mereka menatap kita seolah-olah sedang menyalahkan."
"Oups, maaf ya…… Tunggu sebentar."
Aku menggerakkan ujung jariku dengan ringan, membuat benua
es itu melayang di udara.
Setelah menyatukannya kembali seperti semula dengan sihir,
aku mengembalikannya ke laut.
Byuur!
Gelombang besar menelan monster-monster laut itu, dan
tsunami kecil membasahi pulau di dekatnya.
"……Melihat
Anda membelah benua, aku tidak lagi terkejut. Tapi menyatukan dan memisahkan
bongkahan es sebesar itu layaknya tanah liat…… Bukankah dulu Anda tidak bisa
melakukan hal sejauh ini?"
"Pusaran
mana yang meledak-ledak, dan sepertinya masih banyak ruang yang tersisa. Yah,
karena Lloyd-sama menyatu dengan Raja Iblis itu, wajar saja jika kekuatannya
jadi seperti ini."
Grim dan Jiriel
tampak sangat ilfeel.
Seperti
yang mereka katakan, tubuh ini memang abnormal bahkan di mataku sendiri.
Tanpa
menggunakan sihir khusus, hanya dengan melepaskan mana saja aku bisa mengangkat
seluruh benua, ditambah lagi itu hampir tidak menguras manaku sama sekali.
Meski itu
diriku yang asli, aku tidak akan bisa melakukan atraksi semacam itu tanpa
menggunakan sihir skala besar.
Namun
seperti yang kukatakan sebelumnya, karena saat ini manaku terlalu banyak, sihir
tingkat tinggi tidak bisa langsung kugunakan dan malah jadi berlebihan.
Sebagai
orang yang ingin menguasai segala macam sihir, aku tidak bisa merasa senang
begitu saja.
Aku tidak
yakin Ren dan yang lainnya bisa terus mengelabui orang-orang untuk waktu yang
lama, jadi aku tidak punya waktu untuk bersantai.
"Hmm…… Memang tidak ada cara untuk membatalkan Fusion.
……Tapi, kalau tidak salah ada cerita tentang Raja Iblis dari beberapa generasi
lalu yang menyerang Khayangan."
Tiba-tiba Behal mulai bercerita seolah baru teringat
sesuatu.
"──Gluttony sang Raja Iblis Kerakusan. Sosok yang
menelan segala macam kehidupan melalui Fusion, dia dikenal sebagai Raja
Iblis terkuat sepanjang sejarah. Awalnya dia hanyalah monster kecil, tapi dia
terus melahap berbagai monster, iblis, hingga kaum iblis tingkat tinggi sampai
akhirnya disebut sebagai Raja Iblis Kerakusan yang terbesar dan terkuat."
"A-Aku juga pernah dengar soal itu! Katanya jika dia memutuskan untuk bertarung, dia
akan melakukan penyelidikan mendalam. Begitu melihat lawan lebih kuat
darinya, dia akan segera melarikan diri…… Dia tidak akan pernah melakukan
pertarungan yang merugikannya."
Cara agar tidak pernah kalah adalah dengan tidak bertarung,
ya.
Dengan memegang teguh prinsip itu, dia berhasil menjadi Raja
Iblis. Masuk akal juga.
"Tapi kenapa sosok seperti itu berani mengambil risiko
untuk menyerang Khayangan? Itu tidak logis."
Sejauh yang kudengar dari ceritanya, kepribadiannya bisa
dibilang sangat penakut.
Sepertinya dia bukan tipe orang yang akan mendatangi tempat
berbahaya atas kemauannya sendiri.
"Karena menjadi yang terkuat di Dunia Iblis, Gluttony
akhirnya diincar oleh Dewa. Setiap hari pasukan malaikat menyerbu Dunia Iblis,
hingga akhirnya karena merasa terdesak, dia memutuskan menyerang
Khayangan."
"Menyerang
sebelum diserang, ya. Lalu apa yang terjadi?"
"Umu.
Katanya selama tiga hari tiga malam setelah dia berangkat ke Khayangan, tak
terhitung banyaknya monster dan iblis yang berjatuhan dari langit. Kabarnya di
antara mereka juga ada sosok-sosok yang pernah ditelan oleh Gluttony
sebelumnya. Setelah pertempuran hebat itu, Khayangan kembali tenang dan
Gluttony dikatakan tidak pernah kembali lagi."
"Jadi
Raja Iblis terkuat pun bukan tandingan Dewa."
Behal pun
kalah telak saat melawan Holy King sebelumnya.
Sepertinya
kekuatan Dewa—yang merupakan sumber dari Sihir Suci—memang memiliki efek yang
sangat kuat terhadap kaum iblis.
"Hmm…… Itu artinya, di Khayangan ada cara untuk
membatalkan Fusion!"
"Kemungkinan
besar begitu, meski aku tidak bisa menjaminnya."
Behal
mengangguk. Aku sudah mencoba berbagai hal tadi, dan sepertinya Fusion
ini tidak akan lepas bahkan jika aku mati sekalipun.
Meski
begitu, fakta bahwa Fusion milik Raja Iblis Kerakusan bisa terlepas
berarti Khayangan memegang kunci untuk mengembalikanku ke wujud semula.
"Ngomong-ngomong, aku pernah dengar. Di hadapan Dewa
Yang Maha Esa yang berdiri di atas ke-64 Dewa Khayangan, tidak ada keberadaan
yang bisa memalsukan wujudnya──mungkin hal itu juga berlaku bagi mereka yang
berubah karena Fusion."
"Artinya kalau kita bertemu Dewa itu, Lloyd-sama bisa
kembali ke wujud aslinya!?"
"……Sudah
diputuskan."
Kita pergi ke
Khayangan, bertemu Dewa, dan minta Fusion ini dibatalkan.
Sekalian saja aku
melihat caranya agar bisa menganalisis Fusion lebih dalam, supaya nanti
aku bisa melakukannya sesuka hati.
Hmm, aku jadi
bersemangat.
◇
"Jadi, kita
berangkat sekarang. Jiriel, kau pergi duluan ke Khayangan dan buka
jalannya."
"Siap,
laksanakan!"
Untuk pergi ke
Khayangan, kita harus menembus dinding dimensi.
Namun tempat itu
ibarat kegelapan yang pekat, dan kita tidak akan bisa bergerak jika tidak ada
penanda di tempat tujuan.
Oleh karena itu,
aku berniat menyuruh Jiriel—sang penduduk asli Khayangan—untuk pergi lebih
dulu, tapi──
"Tu-Tunggu
sebentar, Lloyd-sama!"
Jiriel berteriak
dengan wajah panik. Ada apa gerangan?
"G-Gawat!
Gerbang dimensinya tertutup! Dengan begini kita tidak bisa pergi ke
Khayangan!"
"Hei, hei,
apa kau akhirnya benar-benar diusir dari Khayangan, malaikat sialan?"
"Mana
mungkin begitu, dasar iblis bodoh! ……Mungkin, harusnya tidak begitu……!"
Meskipun
membalas, Jiriel terlihat tidak percaya diri.
Hmm, apakah ini
sebuah situasi darurat? Ataukah ini efek karena dia terlalu lama berada di
dunia manusia?
"Entahlah…… tapi kurasa tidak ada masalah."
"……Eh?"
Grim dan Jiriel
membelalakkan mata mereka dengan bingung.
Tanpa
peduli, aku mengaktifkan susunan mantra perpindahan ruang.
"Kita
tinggal mendobraknya saja secara paksa."
"G-Gawat,
Lloyd-sama! Menembus dinding dimensi tanpa jalur itu terlalu nekat! Itu ibarat
mencari sebutir pasir yang jatuh ke dasar samudra!"
"Benar! Jika
kita tersesat di sela-sela dimensi, kita akan kehilangan segalanya dan tidak
akan pernah bisa keluar lagi!? Walaupun itu Anda, ini terlalu gegabah!"
"Yah, nanti
juga bakal beres, kok."
Aku
mengabaikan mereka dan mengaktifkan Space Transfer, lalu melompat ke
dalam dinding dimensi.
Pandanganku
seketika menjadi hitam pekat, suara-suara menghilang, dan segala sesuatunya
menjadi tidak jelas.
"Gyaaaaa!
Gelap! Takut! Berat! Mati, aku mati! Aku bakal matiiii──!"
"Aaah, aku tidak akan bisa mendengar suara Saria-tan
atau Isha-tan lagi…… tidak mauuu──! Aku tidak mau matiii──!"
"Kalian berdua berisik sekali."
Grim dan Jiriel berteriak dengan nada putus asa.
Padahal tidak perlu setakut itu. Soalnya kita sudah hampir
sampai.
"Gyaaaaa! Tidak mauaaa──!"
"Hieeee! Tolong──!"
Kegelapan terbuka, dan kami tiba di atas lautan awan, tapi Grim
dan Jiriel masih meronta-ronta dengan panik.
"Sudah
sampai."
"Bo-Bohong,
kan……?"
"Se-Serius,
ini benar-benar Khayangan!"
Dengan
wajah seolah tidak percaya, keduanya celingak-celinguk melihat sekeliling.
Kan sudah
kubilang. Tidak ada masalah.
"Hmm,
menembus dinding dimensi hanya dengan kecepatan murni, ya. Benar-benar cara
yang kasar…… tapi bagi dirimu yang sekarang, hal semacam ini mungkin memang
tidak sulit."
Seperti
yang dikatakan Behal, aku menerjang dinding dimensi dengan kecepatan super
tinggi, lalu melakukan teleportasi dalam satu garis lurus.
Dulu,
jarak maksimal yang bisa kutempuh dalam sekali jalan paling hanya beberapa
puluh kilometer, dan teleportasi jarak jauh pun mustahil jika tidak ada jalur.
Tapi
sekarang, manaku sudah meningkat pesat hingga menempuh jarak dari ujung dunia
ke ujung dunia lainnya pun hanya akan menghabiskan kurang dari sepuluh persen
saja.
Intinya,
orang tersesat karena mereka berhenti. Jika melesat lurus, menembus dinding
dimensi pun adalah hal yang masuk akal.
Ibarat jika kau
mencoba keluar dari hutan dengan berjalan kaki, kau mungkin akan tersesat. Tapi
jika kau menerjang lurus dalam waktu singkat, kau tidak akan tersesat.
……Meski
begitu, yang tadi menghabiskan sekitar dua puluh persen dari total manaku. Ternyata
dindingnya cukup tebal juga ya.
"Ini…… sepertinya kita berada di ujung Khayangan. Teleportasi yang nekat, tapi sepertinya
kita berhasil sampai."
"Heh—begitu
ya. Pokoknya, aku serahkan pemanduannya padamu, Jiriel."
"Daerah sini
terlalu pelosok, bahkan bagi aku yang merupakan anak kota pun tidak terlalu
paham……"
Bagiku tempat ini
tidak jauh berbeda dengan tempat yang kudatangi sebelumnya…… awan-awanan yang
melayang lembut, tapi bagi malaikat mungkin ada berbagai macam hal yang
berbeda.
"Ah, tidak,
tidak masalah. Seberapa pelosok pun tempat ini, Jiriel ini pasti akan memandu Lloyd-sama
sampai ke hadapan Dewa!"
"Ya, aku
mengandalkanmu."
Jiriel membungkuk
dengan hormat, lalu merogoh ke dalam gumpalan awan di dekatnya.
Dia sepertinya
sedang mencari-cari sesuatu……?
"Dewa
tinggal di istana besar di pusat Khayangan. Karena di Khayangan tidak banyak penanda, kami
bergerak menggunakan kereta kuda. Kami berpindah-pindah dengan cara membiarkan
kudanya mengingat bau yang menjadi penanda. Dan cara untuk memanggil
kudanya adalah…… oh, ada, ada."
Yang dia keluarkan adalah wortel. Eh…… dari mana dia
mengeluarkan benda seperti itu?
"Ini namanya Wortel Awan, biasanya tertanam di ladang
awan."
"Tempat itu
ladang, ya……"
"Karena ini
daerah pelosok. Mungkin ini sebuah keberuntungan. Jika aku mengangkat ini,
segera saja…… oh, itu dia datang."
Saat aku menoleh
ke arah yang ditunjuk Jiriel, aku melihat seekor kuda mendekat dari balik awan.
……Itu bukan kuda
biasa, tapi kuda yang memiliki sayap. Itu adalah Pegasus, ya.
"Hihiiiin!"
"Mari,
silakan naik."
Pegasus itu
berhenti di depan kami, lalu merebut wortel dari tangan Jiriel dan mulai
mengunyahnya dengan lahap.
"Heh, naik
Pegasus ya, Khayangan ternyata tempat yang cukup asyik juga."
"Buhihiiiin!"
"Owa!?
Bahaya!"
Saat Grim sedang
menepuk-nepuk pantat Pegasus itu, kuda tersebut sepertinya marah dan
mengembuskan napas dengan kasar dari hidungnya.
Hei, hei, kalau
kau berdiri di belakang kuda, kau bakal ditendang, tahu.
"Tenang,
tenang."
"Brrr……"
Saat aku mencoba
menenangkannya, Pegasus itu terlihat nyaman dan menggosokkan lehernya padaku.
"Luar biasa Lloyd-sama,
Anda sudah terbiasa menangani kuda ya."
"Aku
diajarkan banyak hal sebagai bagian dari tata krama bangsawan."
Dulu aku pernah
diajari oleh Albert. Sebagai anggota kerajaan, tidak bisa menunggangi kuda
adalah hal yang memalukan. Aku tidak menyangka ilmu itu akan berguna di tempat seperti ini.
"Dan dengan begini…… jika kita memasangkan tali kekang
yang dibuat dari Light Armor, Pegasus akan merasakan mana kita dan bisa
dikendalikan sesuka hati. Seperti ini."
Begitu Jiriel memasangkan tali kekang dengan Light Armor,
Pegasus itu menjadi tenang.
Hmm, sepertinya di sekitar mulutnya ada organ pendeteksi
mana. Jadi dia memanfaatkan hal itu, ya.
Kuda sungguhan pun punya sensasi yang tajam di sekitar
wajahnya (lebih tepatnya, karena bagian tubuh lainnya tertutup otot tebal
sehingga perintah sulit tersampaikan), jadi tali kekang harus dipasangkan di
mulut untuk memberikan instruksi yang mendetail.
"Baiklah, aku juga akan mencobanya."
Begitu aku membuat tali kekang dengan Light Armor dan
hendak memasangkannya ke leher Pegasus, tiba-tiba saja.
"Hihihiiin!?"
Pegasus
itu meringkik dengan suara yang sangat tinggi dan melarikan diri dariku.
Namun
sepertinya dia masih menyayangkan wortelnya, sehingga dia hanya mengawasi dari
kejauhan.
"……Lho?"
"Sepertinya
dia takut dengan mana milik Lloyd-sama."
"Mana Lloyd-sama
saat ini memang luar biasa mengerikan. Mungkin dia takut bakal gosong
jadi abu."
Eeeh…… padahal aku sudah berharap bisa menunggangi monster
suci Khayangan.
Lagipula, membayangkan jadi abu itu berlebihan sekali,
memangnya aku ini insinerator apa.
Padahal aku sudah
berusaha menekan manaku sebisa mungkin, tapi masih kurang ya. Benar-benar tubuh
yang sulit dikendalikan.
"……Hmm?
Kalau begitu, bagaimana kalau aku mengaktifkan sihir penyembuhan di saat yang
bersamaan."
Ibaratnya, aku
adalah api yang akan membakar jika didekati, maka jika di saat bersamaan aku
menyelimutinya dengan hawa dingin, seharusnya tidak akan ada kerusakan yang
terjadi. Mari kita coba.
"Nah,
begini."
"Hihiin!?"
Sambil
memasangkan tali kekang pada Pegasus yang mencoba kabur, aku mengaktifkan sihir
penyembuhan di saat yang bersamaan.
"Buhihihihiiiiiiin!?"
Tiba-tiba Pegasus
itu berdiri dengan kaki belakangnya dan mencakar udara dengan kaki depannya.
Sepertinya dia
bingung dan mulai meronta-ronta dengan mata membelalak.
Hmm—? Apa aku
salah cara ya? Aku
benar-benar tidak tahu takarannya.
Setelah
memperhatikannya sebentar, dia mulai tenang dan menundukkan kepalanya di
hadapanku.
"Hei,
hei, hei, kuda yang tadi mencoba kabur itu tiba-tiba menunduk pada Lloyd-sama!?"
"Melukai
sekaligus menyembuhkan adalah dasar dari penyiksaan. Dengan melakukannya di
saat yang bersamaan, Anda langsung menanamkan hubungan hierarki ke dalam tubuh
Pegasus itu. Luar biasa Lloyd-sama, Anda memang sosok yang menakutkan……"
Grim dan Jiriel
menggumamkan sesuatu, padahal aku berniat memilih cara yang damai, lho.
Bagaimanapun
juga, aku akhirnya menunggangi Pegasus dan melesat membelah langit Khayangan.
◇
Sambil
terbang melintasi langit dengan Pegasus, aku merasakan hembusan angin yang
menyegarkan.
"Wah,
terbang dengan cara selain sihir ternyata pengalaman yang baru juga ya."
Sejak
lahir, aku tidak pernah terbang tanpa bantuan sihir.
"Sekali-sekali
terbang santai begini asyik juga."
"Padahal
Pegasus ini larinya kencang sekali, lho……"
"Bagi
kecepatan terbang Lloyd-sama, ini mungkin setara dengan balita yang baru
belajar jalan."
Aku bertanya pada
Grim dan Jiriel yang terus menggumamkan sesuatu.
"Jadi,
berapa lama sampai ke istana?"
"Dengan
kecepatan ini, mungkin sekitar setengah hari lagi."
"Hmm, agak
lama ya…… Baiklah."
Setelah bergumam
begitu, aku merapalkan sihir penguat tubuh (Physical Enhancement) pada
Pegasus.
"Buhihiiiin!?"
Pegasus itu
meringkik dengan nada tinggi dan mulai berlari dengan sangat kuat.
"Ooh!
Akselerasi yang luar biasa! Itu sihir penguat tubuh, ya!"
"Ya,
aku mencoba menggunakan yang paling lemah, dan masih kukurangi lagi
kekuatannya."
Dengan
memodifikasi susunan mantranya, aku merapalkan penguat tubuh dengan hanya satu
persen dari kekuatan aslinya.
Dengan
manaku yang sekarang, penguatan yang salah justru bisa berujung pada pelemahan.
Sihir
penguat tubuh itu ternyata cukup sensitif, ya. Jika mana yang dialirkan terlalu
kuat, itu justru akan menghancurkan raga fisiknya.
Jika
digunakan pada diri sendiri mungkin tidak masalah, tapi saat digunakan pada
orang lain, pengaturan takarannya benar-benar diperlukan.
Meskipun begitu,
efeknya terlihat jelas, Pegasus itu terus meningkatkan kecepatannya.
"Wah! Cepat
sekali! Kalau begini, tidak sampai satu jam kita akan sampai!"
"Habisnya,
aku tidak bisa menunggu sampai setengah hari."
Selain karena
harus segera kembali, aku juga merasa sangat antusias untuk bertemu Dewa.
Pasti ada banyak
hal menarik lainnya selain membatalkan Fusion. Aku benar-benar ingin
melihatnya sendiri. Hehe.
"Hihiiiin!"
Sambil
mendengarkan ringkikan Pegasus, hatiku berdebar membayangkan pertemuan dengan Dewa
nanti.
◇
"Hmm, apa
itu?"
Di ujung langit
yang tak berbatas, aku melihat sesuatu yang bersinar.
Apa itu ya?
Sepertinya dia mendekat ke arah sini.
"Cahaya itu…… Ha!? Lloyd-sama, bahaya! Mohon merunduk!"
Saat Jiriel
berteriak, cahaya itu sudah berada tepat di depan mata.
Itu adalah panah.
Panah yang dilepaskan dengan kecepatan luar biasa itu menembus penghalang
manaku.
Menghancurkan
penghalangku yang sudah diperkuat…… oh, tapi kalau dipikir-pikir, penghalang
mana tipe otomatis yang kupakai sekarang adalah benda yang kubuat sebelum Fusion,
jadi memang rapuh karena tidak sesuai dengan kapasitas manaku yang sekarang.
Meski begitu,
fakta bahwa dia bisa menembusnya dengan mudah seperti menusuk kertas padahal
Behal pun tidak bisa melakukannya dengan gampang, menunjukkan kekuatan yang
luar biasa.
Saat aku sedang
memikirkan hal itu, panah berikutnya sudah mendekat. Aku tidak apa-apa, tapi
Pegasus ini dalam bahaya.
Tepat sebelum
panah itu mengenainya, aku menepisnya dengan satu tangan! Pang!
Setelah panah itu
menembus awan, sebuah pilar cahaya membubung tinggi.
"A-Anak
panah gila seperti itu ditepis dengan enteng layaknya menepuk nyamuk…… ditambah
lagi kecepatan reaksinya tidak masuk akal. Aku sama sekali tidak melihat apa
yang barusan terjadi……"
"Heh, luar
biasa, Lloyd. Kekuatan murnimu saja sudah di luar nalar. Seperti yang
diharapkan dari rivalku."
Grim dan Behal
terus bergumam, tapi Jiriel tidak punya waktu untuk itu.
Seluruh tubuhnya
gemetar hebat, dan matanya tidak fokus. Ada apa dengannya? Dia terlihat sangat
panik……?
"Pe-Pemilik panah ini…… mana mungkin…… tidak
mungkin……!"
Ke arah pandangan Jiriel, cahaya itu mulai membentuk wujud
manusia.
Seorang pria raksasa berotot kekar mengenakan seragam putih
bersih di tubuh raksasanya.
Di tangan kiri dan kanannya ia memegang rantai besar yang
bergemerincing, dan di sepasang tangan lainnya ia memegang busur dan anak
panah.
Ia memiliki empat lengan, ditambah enam pasang sayap di kiri
dan kanan.
Di balik kacamata hitam yang dipakainya, mata tajamnya
menatap kami dengan rendah.
"De-Dewa Khayangan ke-64…… Tuan Alcatraz……!"
"Hoh,
sepertinya kau tidak melupakanku ya. Jiriel."
Keduanya
saling berhadapan dan bertukar kata.
Sepertinya mereka
saling kenal.
"……Jadi, dia
siapa?"
"Singkatnya,
dia adalah atasan saya. Dia memimpin banyak malaikat dan merupakan pilar yang
menopang Khayangan di bawah Dewa Yang Maha Esa!"
Dewa Khayangan ke-64…… seingatku saat pertama kali bertemu Jiriel,
dia pernah menyebutkan sesuatu yang mirip dengan itu.
"Artinya dia itu manajer tingkat menengah, ya."
Kalau begitu jangan pakai nama Dewa dong. Kan jadi
membingungkan.
Jiriel bertanya dengan nada ketakutan pada Alcatraz yang
perlahan turun.
"Selamat datang, Tuan Alcatraz. Ada keperluan apa Anda
mendatangi kami……?"
"Hei, hei, jangan bilang kau sudah lupa? Dasar tidak
tahu malu, beraninya kau kembali ke Khayangan."
Alcatraz yang memelototi Jiriel perlahan membuka gulungan
kertas yang dibawanya.
"Malaikat Jiriel, kau tidak hanya menjadi famili
manusia, tapi juga hidup berdampingan dengan iblis, kaum iblis tingkat tinggi,
bahkan Raja Iblis. Dosamu yang memengaruhi dunia manusia secara signifikan
sangatlah berat. Oleh karena itu, kau dijatuhi hukuman jatuh ke dunia bawah (å •å¤©)……
tapi itu sebenarnya keputusan dari setengah tahun yang lalu, sih."
"Eh? Eeeeeeeeh!?"
Kalau tidak salah, tadi Jiriel sempat bilang kalau dia tidak
bisa masuk ke Khayangan ya.
Seperti kata Grim, sepertinya dia memang sudah diusir.
……Kasihan sekali.
"Yah, sebagian besar itu gara-gara Lloyd-sama,
sih."
"Meskipun
dia malaikat, menyedihkan sekali……"
Grim dan
Behal melontarkan kritik, tapi aku pura-pura tidak dengar saja.
Mau
bagaimana lagi. Aku kan juga punya hal yang ingin kulakukan.
"I-Itu
memang benar seperti yang Anda katakan, dan mungkin ada bagian yang tak
terhindarkan…… tapi bukankah tidak perlu langsung menyerang seperti itu!?"
"Bodoh,
bukan sosok rendahan sepertimu yang aku incar. ……Hei, Nak."
Alcatraz
mengalihkan pandangannya padaku dan mulai memasang anak panah baru.
Ia
memancarkan aura membunuh yang sangat kuat dan memelototiku dengan tatapan yang
mengintimidasi.
"Lloyd
di Saloum──kau tidak hanya mempekerjakan malaikat dan iblis, tapi sepertinya
kau juga sudah melakukan banyak hal gila. Menepis anak panahku dengan enteng
seperti itu, kau benar-benar…… tidak, kau adalah keberadaan yang sangat unik di
antara manusia. Memiliki ketertarikan pada sihir hingga bisa melangkah sejauh
itu adalah hal yang hebat dalam satu sisi."
"Ah, tidak
sehebat itu, kok."
"Itu bukan
pujian, tahu!? ……Yah, itu saja sebenarnya sudah cukup buruk, tapi
menyembunyikan Raja Iblis adalah hal yang terlarang. Raja Iblis adalah
keberadaan berbahaya yang bahkan mengancam Khayangan, sehingga perlu
dimusnahkan sejak awal. Kau yang sudah menyatu dengannya pun tidak
terkecuali."
"Ooh, jadi
kau mau membatalkan Fusion kami?"
"Sayang sekali, cara untuk membatalkan itu──tidak
ada!"
Alcatraz menjawab pertanyaanku dengan serangan dari rantai
yang ia ayunkan tinggi-tinggi.
Aku mencoba menepisnya dengan tangan kosong, namun rantai
itu meliuk seperti makhluk hidup, menghindari tanganku dan menghantam keningku.
Rantai itu
kemudian melilit sekujur tubuhku dan mengunci pergerakanku.
Hmm, jika
diperhatikan lebih dekat, rantai ini bukan benda padat, melainkan gumpalan
mana.
Karena hampir
terwujud secara fisik, bisa dibilang ini adalah Light Armor dengan
densitas mana yang sangat tinggi.
"Fuhahha! Prisoner
God Chain ini bergerak sesuai kehendakku untuk menangkap musuh! Kekuatannya
lebih keras dari apa pun di permukaan dunia, mustahil untuk dihancurkan! Nah,
menyerahlah dengan tena—"
Brak! Terdengar suara keras saat rantai itu
hancur berkeping-keping.
Rantai yang
hancur berkeping-keping itu jatuh ke tanah, lalu menghilang menjadi partikel
cahaya.
"Ternyata
lebih empuk dari dugaanku. Baru diberi tenaga sedikit saja sudah putus dengan
mudah."
"Si brengsek
itu sombong sekali bilang rantainya paling keras sedunia, tapi sepertinya Lloyd-sama
adalah pengecualian, ya."
"Yah, Lloyd-sama
memang sosok yang seolah menjadi definisi dari penguasa tunggal di langit dan
bumi."
Karena dia
membawa nama Dewa Khayangan ke-64, aku sempat berekspektasi sedikit, tapi yah,
mau bagaimana lagi kalau dia cuma setingkat manajer menengah.
Sepertinya aku
tidak bisa berharap banyak padanya soal pembatalan Fusion. Aku benar-benar harus bertemu
langsung dengan Dewa.
"Tidak
mungkin…… Prisoner God Chain yang membanggakan tingkat kekerasan
tertinggi di antara pusaka suci bisa hancur semudah ini…… ini mustahil……"
"Eks—anu,
sudah selesai, kan? Aku sedang buru-buru, lho."
"MUSTAHIIIIIIIL!"
"Berisik
sekali, kau ini cuma pengganggu kecil!"
Ekor
iblisku bergerak sendiri dan memukul Alcatraz yang mencoba menyerang lagi
hingga ia terpental jauh.
Sepertinya
Behal yang menggerakkannya.
Karena Grim
dan yang lain bersemayam di kedua tanganku, dia memutuskan menggunakan ekor.
"……Hmm, aku
melihat sesuatu lagi di sana."
Saat aku menatap
ke arah terpentalnya Alcatraz, awan hitam tampak bertumpuk seperti gunung.
Kilatan petir
menyambar-nyambar di sana, memancarkan atmosfer yang mencekam.
"Itu adalah
penjara, Tuan. Aku
pernah dengar tempat itu berada di ujung Khayangan."
"Begitu
ya. Jadi Alcatraz itu penjaganya, toh."
"Heh, penjara Khayangan, ya. ……Kedengarannya
menarik."
Orang-orang
yang dikurung di dalam penjara biasanya adalah tipe orang-orang yang unik.
Apalagi
ini di Khayangan. Tidak aneh jika ada satu atau dua orang yang bisa menarik
minatku.
Jiriel
juga sepertinya sudah diusir dari sini, dan kalau Fusion ini sudah
lepas, aku mungkin tidak akan punya kesempatan untuk datang lagi. Lebih baik
aku melihat-lihat selagi sempat. Hehe.
"Baiklah,
ayo kita ke sana."
Aku
kembali menunggangi Pegasus dan memacunya menuju arah penjara.
◆
Di dalam
penjara yang gelap gulita, seorang pria tampak terikat.
Dia
adalah Holy King. Kedua tangan dan kakinya dirantai, seluruh tubuhnya penuh
noda darah dan luka lebam.
Bekas penyiksaan
terlihat sangat menyakitkan di sekujur tubuhnya.
Meskipun begitu,
Holy King menunjukkan wajah yang damai, bahkan terdengar suara dengkuran halus
saat dia tertidur.
Berbanding
terbalik dengannya, malaikat interogator yang berdiri di depannya tampak
bersimbah keringat.
"Cih…… Bangun!"
Si interogator meninggikan suaranya, lalu mengayunkan cambuk
ke arah Holy King.
Cetar! Suara tajam terdengar saat cambuk itu
menghantam kulit. Tubuh Holy King berguncang hebat, ia perlahan membuka mata
dan menguap lebar.
"Fuaaa…… Selamat pagi. Dan terima kasih atas kerja kerasnya. Apa sudah lewat setengah hari?"
Jangankan
setengah hari, kenyataannya sudah dua hari berlalu.
Melihat ekspresi
santai itu, pelipis si interogator berkedut marah.
Ia mengambil besi
panas dan menekannya ke dada Holy King.
Cisss!
Bau daging
terbakar yang menyengat memenuhi ruangan, namun Holy King tetap memasang wajah
tenang.
"……Jangan
melunjak hanya karena kau manusia. Tidak ada masa depan bagi pengkhianat Dewa sepertimu. Nasibmu adalah
disiksa di sini sampai mati!"
"Panas,
panas. Padahal aku sudah cukup introspeksi diri, lho. Makanya aku sengaja menerima penyiksaan
membosankan seperti ini, kan? Harusnya kau menghargai sikapku ini,
sungguh."
"Introspeksi
diri!? Kau sama sekali tidak terlihat menyesal, keparat!"
Interogator itu
memukul wajah Holy King dengan besi panas sekuat tenaga, namun Holy King
membalasnya dengan senyum tanpa beban.
"Memangnya
kamu tahu dari mana? Siapa
tahu dalam hati aku sedang menyesal. Menurutku, penilaian sepihak begitu tidak
baik, lho. Karena itulah kamu tidak naik jabatan dan masih terjebak di
pekerjaan remeh sebagai interogator, kan?"
"……Grrr,
KEPARAT KAU……! Jangan meremehkanku!"
Buk!
Buk! Buk!
Suara
hantaman terus bergema di dalam penjara.
Namun,
kontras dengan si interogator yang napasnya mulai tersengal, Holy King tetap
terlihat biasa saja.
"Aku
jadi ingin memberi sedikit kritik, nih. Belakangan ini Dewa-sama terlalu
memikirkan dunia bawah. Padahal sebagai Dewa, dia harusnya tetap tenang dan
berwibawa. Jangan-jangan, dia sedang merasa takut? Bagaimana menurutmu?"
"Mana
aku tahu!"
Meski
terus dipukul dengan besi panas, Holy King tetap melanjutkan kata-katanya tanpa
peduli.
"Coba
pikirkan baik-baik. Kalau Dewa-sama takut pada orang kuat, bukankah itu berarti
dia tidak jauh berbeda dengan manusia biasa? Apa boleh kita tetap mengikuti
sosok seperti itu? Jika kalian tidak berani mengatakannya, bukankah aku sebagai
Holy King yang harus menyuarakannya? Kalau aku tidak mengatakannya, dia tidak
akan sadar kalau tindakannya aneh, dan itu kasihan bagi Dewa-sama."
"Dewa tidak
memiliki emosi seperti itu!"
"Yah, yah,
tapi karena Dewa-sama marah jugalah aku berakhir disiksa begini…… Ah, di situ,
di situ. Rasanya agak enak."
"Diam! Diam,
diam, diamm!"
Penyiksaan
semakin brutal, namun Holy King sama sekali tidak ambil pusing.
Wajah si
interogator justru semakin terdistorsi oleh rasa gelisah dan ketakutan.
"Yah, Dewa-sama
sudah hidup berapa puluh ribu tahun, sih? Wajar saja kalau dia mulai pikun,
kan? Sudah saatnya dia menyerahkan tugasnya pada generasi berikutnya. Apa tidak
ada aspirasi dari bawah seperti itu? Kalau mau, aku bisa menyampaikannya, lho.
Hukuman setingkat ini sih tidak ada apa-apanya bagiku."
"Dewa adalah
keberadaan yang tunggal dan tiada tara! Kami hanya bertugas mematuhinya! Beliau
tidak perlu mendengar pendapat sampah sepertimu!"
"Aduh, aduh,
benar-benar buta karena iman, ya."
Melihat
Holy King yang menghela napas, si interogator menggertakkan giginya kuat-kuat.
"Cih…… Sepertinya penyiksaan fisik tidak mempan padamu.
Aku sudah dengar rumor tentangmu, tapi aku tidak menyangka akan sejauh
ini……"
"Aha,
sebenarnya ini cukup sakit, lho. Hanya saja, orang setingkatmu mungkin agak
sulit untuk membuatku merasa menderita."
Melihat Holy King
yang tertawa memprovokasi, si interogator membalasnya dengan senyum yang
menyimpang.
"……Kuku,
tapi mari kita lihat sampai kapan kesombonganmu itu bertahan."
"?"
Holy King
menunjukkan tanda tanya di wajahnya. Si interogator berbalik memunggungi sang
tawanan, menengadahkan tangan ke ruang kosong, lalu mulai merapal sesuatu.
"Jawab
panggilanku dan munculah, Jendela Khayangan. Tampilkan pemandangan dunia bawah
ke hadapanku."
Wung! Ruang terdistorsi, menciptakan
sebuah jendela mana.
Di sana
terpampang pemandangan desa agraris yang tenang di permukaan tanah.
Orang-orang
bekerja keras di ladang sambil berbincang dan tertawa riang.
Melihat
Holy King yang terpaku menatap itu, si interogator tersenyum licik.
"Akhirnya
raut wajahmu berubah juga, ya? Kuku…… Benar sekali. Ini adalah desa tempatmu dilahirkan. Sepertinya sekarang sedang musim
panen. Semua orang terlihat sibuk, ya…… Waktu yang damai dan tenang memang
sangat berharga."
Sambil
menyeringai, cahaya mulai berkumpul di ujung jari sang interogator.
Light
Armor, tak
terhitung banyaknya anak panah cahaya yang melingkar membentuk pusaran.
Sejalan
dengan itu, di langit di atas desa tersebut, ribuan anak panah cahaya mulai
berkumpul.
"Ka—kamu
jangan-jangan……!"
"Kuku,
akhirnya kau ketakutan juga, ya? Sialan, harusnya dari awal aku lakukan ini
saja. Dewa Yang Maha Esa ternyata terlalu berhati lembut. Ini adalah hukuman.
Untukmu yang terus bersikap kurang ajar. Inilah akibatnya jika manusia rendahan
berani melawan Malaikat."
Si
interogator menggerakkan jemarinya dengan riang, menatap Holy King dengan penuh
rasa haus akan penderitaan orang lain.
"Nah, kau
tahu kan apa yang akan terjadi pada mereka jika aku menggerakkan jari ini
sedikit saja? Jadi menyerahlah dengan tena—Guberakk!?"
Belum sempat ia
menyelesaikan kalimatnya, leher si interogator tertekuk ke arah yang tidak
masuk akal.
Itu tendangan.
Tepat setelah Holy King menyadari hal itu, ledakan dahsyat berdentum diiringi
debu tanah yang menutupi sekeliling.
"Uhuk, uhuk…… Se-Sebenarnya apa yang terjadi……?"
Di depan mata Holy King yang terbatuk-batuk, kepulan debu
itu bergoyang hebat.
"……Cih, membunuh kecoak seperti itu saja tidak bisa
langsung mati. Sumpah ini benar-benar menyebalkan, membatasi seranganku hanya
boleh dilakukan pada bocah sialan itu."
Dari balik debu yang memudar, muncullah Guisarm.
Sambil mendecak kesal, ia menurunkan kakinya yang baru saja
ia gunakan untuk menendang.
"Giza-Giza,
ya. Jangan-jangan kamu datang untuk menyelamatkanku?"
"Mana
mungkin, dasar otak udang. ……Lagipula, kau tidak butuh bantuanku, kan."
"Kejam
sekali. Padahal aku cuma manusia biasa yang penakut dan lemah, lho?"
"Aku
tidak berminat meladeni lawakan hambar ini. Cepat keluar dari sana."
"Iya, iya,
aku mengerti kok. ~♪"
Sambil
bersenandung, krak! Rantai yang mengunci lengan kirinya hancur
berkeping-keping.
Selanjutnya,
lengan kanan dan kedua kakinya hancur dengan mudah, membuatnya bebas
sepenuhnya.
Guisarm
hanya melirik Holy King yang sedang melakukan peregangan leher dan bahu, lalu
menghela napas.
"Cih,
mana ada manusia biasa yang bisa menghancurkan rantai Khayangan yang jauh lebih
keras dari Light Armor seperti menghancurkan krupuk."
"Versi senandung dari Magic Song: 'Song of
Power'. Yah, aku yang cinta damai ini sebenarnya tidak terlalu suka cara kasar
begini."
"……Terserahlah."
Saat Guisarm mendengus tak peduli, terlihat deretan lubang
besar menembus dinding di belakangnya, memanjang hingga jauh ke depan.
Kekerasan batu Gokuunbo yang membentuk penjara Khayangan tidak bisa
dibandingkan dengan rantai sebelumnya.
Iblis kelas biasa
pun tidak akan bisa menggoresnya sedikit pun.
"Padahal
kamu sendiri monster yang sudah lebih dari cukup, tapi malah mengomentari orang
lain begitu," gumam Holy King.
"Ah?
Kamu bilang sesuatu?"
"Aku
bilang, aku selamat. Aku ini juga punya banyak belenggu diri. Aku tidak bisa
terang-terangan melawan Dewa-sama. Meski begitu, ada banyak hal yang ingin
kusampaikan…… Ah, ini pengaruhmu, lho."
"……Cih."
Guisarm
hanya mendengus, lalu sosoknya menghilang bersama embusan angin.
"Hmm,
dia orang yang sibuk ya."
Seharusnya
sekarang tugasnya sudah selesai, Guisarm yang merupakan iblis berbahaya harus
dikembalikan ke kehampaan…… namun instingnya mengatakan untuk membiarkannya
saja.
Sambil
melepas kepergian sisa-sisa mana yang terbawa angin, Holy King bergumam lirih.
"……Tapi ini
aneh. Seharusnya aku tidak mungkin bisa memutuskan rantai itu."
Holy King bisa
menggunakan kekuatan Dewa melalui Magic Song.
Namun, kekuatan
itu tidak bisa digunakan untuk memberontak kepada Dewa. Itu hal yang wajar. Dewa
tidak mungkin meminjamkan tenaga untuk memukul pipi-Nya sendiri.
Menyerang
interogator sudah jelas termasuk, apalagi melarikan diri dari penjara…… namun
kenapa rantai itu bisa putus dengan begitu mudahnya.
Lagipula,
jika bicara soal aneh, memanggil iblis yang merupakan keberadaan berlawanan
dengan Khayangan saja sudah aneh. Apa sesuatu sedang terjadi……?
"……Yah,
biarlah. Lagipula kekuatan ini dari dulu memang tidak stabil."
Magic
Song sangat
dipengaruhi oleh kondisi mental dan fisik penggunanya, bukan sekadar mana
murni.
Kemampuan
ini memiliki fluktuasi yang besar; terkadang bisa memicu efek di luar
spesifikasi, namun terkadang bisa berakhir gagal total.
Merasa
memikirkannya lebih jauh hanya membuang waktu, Holy King menghentikan
pemikirannya.
"Halo,
Dewa-samaaaa? Aku sudah cukup introspeksi diri nih, boleh keluar, kan?"
Meski ia
mencoba memanggil, tidak ada jawaban dari Dewa.
Duh, payah
sekali, ini namanya kelalaian tugas. Sambil bergumam begitu, Holy King memegang jeruji penjara.
Ia mematahkannya
semudah mematahkan ranting pohon, lalu melangkah keluar dari penjara.
"Kalau
begitu Paman, aku pergi dulu ya. Bye-bye."
Ia
melambaikan tangan kepada si interogator yang terkapar pingsan lalu pergi.
Penjara yang remang-remang itu pun kembali diselimuti kesunyian.
◆



Post a Comment