NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 8 Part 3


"Ooh. Jadi ini penjara Khayangan."

Tempat yang kami capai adalah bangunan berwarna hitam pekat.

Awan hitam bergelayut di sekelilingnya, diiringi suara guntur yang menggelegar.

Berbeda drastis dengan atmosfer Khayangan sebelumnya, suasana di sini benar-benar mencekam.

"Tapi bangunan Khayangan ini rasanya aneh ya."

"Awan Khayangan bisa berubah bentuk dan sifat tergantung tempat pengambilannya. Yang digunakan untuk bangunan adalah Sekiuunbo, dan yang digunakan untuk penjara ini disebut Gokuunbo, jenis yang sangat keras."

Heh, jadi sifat awannya berbeda-beda tergantung lokasi, ya.

Kalau diingat-ingat, awan yang mengapung tadi mirip kembang gula, tapi yang di sini rasanya agak lengket.

Apa ada awan yang sekeras batu juga? Menarik sekali.

"Hmm? Tapi bukannya itu ada lubangnya?"

Saat mengamati bangunan dari luar, aku menemukan bekas reruntuhan.

Lubang pada dinding yang katanya terbuat dari Gokuunbo itu menembus sampai ke dalam bangunan.

"Nuaaa!? Apa-apaan ini!?"

"Ini terlihat seperti bekas sesuatu yang menerjang masuk dengan paksa."

"Bisa ditembus seperti dinding tanah biasa…… Apa material ini benar-benar keras?"

Grim dan Behal melirik sinis. Jiriel pun panik dan mencoba menjelaskan.

"I-Ini benar, lho! Bahkan sihir Lloyd-sama pun tidak akan mudah menghancurkannya!"

"Hmm, masa sih."

"Minggir."

Sesaat setelah suara itu terdengar, Behal di dalam diriku mengayunkan ekor yang ia tempati.

Duarrr! Terdengar suara dentuman keras dan dinding itu hancur berantakan.

"Lagi pula…… cih, dinding level begini tidak mungkin tidak bisa dihancurkan oleh Lloyd."

Behal mengibaskan ekornya dengan bangga untuk mengusir debu. Ah, aku tidak ikut-ikut, ya.

"A-Awan Gokuunbo yang membanggakan kekerasan tertinggi di Khayangan dihancurkan semudah itu……"

"Tidak perlu kaget sekarang. Kalau Lloyd-sama mau, seluruh bangunan ini pun bisa dia hancurkan."

"Dasar bodoh. Pemahaman kalian masih dangkal! Jika itu Lloyd, bukan cuma bangunan, seluruh Khayangan pun bisa dia jadikan abu!"

Hei, hei, kalian ini menganggapku apa, sih.

Kalian tidak sopan sekali menyebut orang seperti barang berbahaya. Kalaupun aku bisa melakukannya, aku tidak akan melakukan hal seperti itu.

"……Tapi awan Unbo ini cukup menarik minatku."

Semakin dilihat, ini adalah zat yang sangat unik.

Waktu dulu ke Khayangan aku tidak menyadarinya, tapi meski terlihat seperti benda mati, aku merasakan aktivitas kehidupan yang samar.

Saat kulihat dengan Appraisal, ini tampak lebih dekat dengan tumbuhan.

Mungkin sihir penyembuh juga bisa bekerja pada ini. Mari kita coba sedikit.

Begitu aku menempelkan tangan, dinding itu perlahan mulai kembali ke bentuk semula.

"Geh!? Dindingnya kembali seperti semula!? Menjijikkan!"

"Ada cerita bahwa jika bangunan Khayangan hancur, para Dewa tingkat tinggi akan memperbaikinya dengan menuangkan mana. Melakukannya seorang diri, Lloyd-sama memang luar biasa."

"Tadi setelah kupukul aku jadi paham, material ini punya resistansi kuat terhadap mana. Bahkan bagi Dewa pun, sihir penyembuh yang dasarnya lemah akan memakan waktu lama untuk perbaikan. Namun, kau memperbaikinya dengan begitu mudah. Hebat, Lloyd. Memang pantas kau jadi rivalku! Fuhahahaha!"

Ketiga orang ini entah kenapa jadi bersemangat sendiri, tapi sebenarnya siapa yang tadi melubangi dinding ini?

Behal memang bisa menghancurkannya dengan mudah, tapi kekerasan dinding ini bukan level yang bisa dihadapi oleh orang seperti si Alka-siapa-tadi…… yah, lupakan saja.

Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah masuk, lalu suara gaduh terdengar dari ujung lorong.

"Hmm, apa itu penjaga atau semacamnya?"

"Penyusupan kita ketahuan…… walau sebenarnya kita sama sekali tidak bersembunyi sih."

"Yah, dengan suara sekeras tadi, wajar saja kalau jadi keributan."

"Tidak peduli. Semua malaikat hanya perlu dibantai habis!"

Aduh, berisik sekali mereka.

Meski begitu, pertarungan melawan malaikat memang yang kuinginkan.

Si Alka-siapa-tadi terlalu lemah jadi aku tidak bisa bereksperimen sama sekali. Aku pun bersiap jika mereka datang, tapi—

"……Kok tidak datang-datang, ya."

"Malah hawa keberadaan mereka semakin menipis……"

Namun suara pertarungan masih terdengar.

Sepertinya mereka sedang bertarung di dalam dengan pihak lain yang tidak ada hubungannya denganku. Apa ini ada hubungannya dengan orang yang melubangi dinding tadi?

Saat aku mendekat diam-diam dan mengintip, di sana ada seorang pemuda yang sedang menginjak-injak beberapa prajurit malaikat.

"Holy King……!"

"Oya, bukannya ini Lloyd-kun. Kebetulan sekali bertemu di tempat seperti ini."

Ia melambaikan tangannya dan mendekat ke arahku yang sedang terkejut.

Kenapa orang ini ada di sini……? Saat aku bertanya-tanya, Behal di dalam diriku mengibaskan ekornya dengan liar.

"Khahahaha! Berani sekali kau menampakkan diri di hadapanku, Holy King! Akhirnya kita bertemu juga, sekarang bersiaplah untuk matiiii!"

"Tunggu, tunggu, mari kita dengarkan dulu ceritanya."

Aku buru-buru menahan Behal yang hendak menerjang. Aku tahu mereka bergabung agar bisa bertarung melawan Holy King, tapi sekarang bukan saatnya.

"Lho—? Lloyd-kun, rasanya ada yang sedikit berbeda darimu ya?"

"Banyak hal yang terjadi. Kamu sendiri kenapa babak belur begitu."

"Hahaha, sebenarnya tepat setelah konser itu aku dipanggil oleh Dewa-sama. Aku memberi sedikit kritik kalau tindakan Dewa untuk membasmi Raja Iblis yang belum melakukan apa pun itu bermasalah, eh malah jadi begini nasibku."

"Apa!? Apa maksudnya itu!?"

Behal di dalam ekorku berteriak, membuat Holy King membelalakkan mata.

"Oya Raja Iblis, aku merasa ada yang aneh, ternyata sekarang kau diserap oleh Lloyd-kun ya, bukan oleh si gadis kacamata manis itu?"

"Itu tidak penting! Cepat jelaskan maksud ucapanmu tadi!"

"Ah, itu ya. Begini, meskipun dia Raja Iblis, kalau dia tidak melakukan apa-apa tapi langsung disegel dan dibunuh itu kan tidak baik? Dewa-sama marah besar, tapi aku yang cinta damai ini tidak setuju. Karena serangga, binatang, manusia, dewa, bahkan iblis sekalipun, semuanya adalah rekan yang sama-sama hidup di dunia ini."

"Hah? Bodoh sekali…… Iblis dan manusia adalah keberadaan yang saling berlawanan, kalau bertemu ya harus saling membunuh, itu sudah hukum alam."

Menanggapi sanggahan Behal, Holy King berpikir sejenak lalu menjawab.

"—Aku lahir di desa terpencil yang isinya hanya gunung. Saat bekerja di ladang, sering ada binatang liar yang datang merusak. Orang desa membasmi mereka, tapi sebaliknya, banyak juga orang yang terbunuh oleh binatang itu. Jika masing-masing punya prinsip yang tidak bisa dikompromikan, benturan itu wajar terjadi. Itu berlaku juga untuk iblis dan manusia."

Apa yang dikatakan Holy King tidak salah.

Jika kepentingan saling tumpang tindih, pertarungan akan terjadi tanpa memandang ras.

"Lalu kenapa kau membiarkan Behal pergi? Bukankah kalian musuh bebuyutan?"

"Yah, sebagai penganut paham damai, aku rasa konflik antara manusia dan iblis itu tidak terhindarkan. Tapi jika berlebihan itu tidak boleh. Manusia membakar hutan demi keserakahan, binatang buas yang menggila membunuh manusia, iblis yang membunuh manusia demi kesenangan, dan Dewa yang membunuh iblis yang tidak melakukan apa-apa hanya karena mereka 'tampaknya' akan berbuat jahat. Perbuatan Dewa-sama sudah jelas berlebihan. Sudah kewajibanku sebagai penengah untuk menghentikannya."

Jawab Holy King sambil menatap lurus ke depan.

Sorot matanya tampak serius, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kupikir dia cuma pria konyol, tapi ternyata dia berpikir cukup dalam.

"Setelah melihat Raja Iblis secara langsung, rasanya dia tidak seperti rumornya, malah kelihatan seperti orang baik. Makanya aku tidak memberikan serangan pamungkas."

"O-Orang baik? Berani sekali kau bicara omong kosong begitu di depan Sang Raja Iblis……"

"Tapi itu kenyataan. Saat bertarung kau memasang penghalang agar rakyat tidak terlibat, dan kau juga membaur dengan dunia manusia. Terlebih lagi, banyak orang yang bergerak demi menyelamatkanmu. Itu bukti kalau kau dipercaya."

Holy King mengedipkan mata padaku.

Begitu ya, jadi itu alasan dia membantu kebangkitan Raja Iblis.

"Hanya karena mereka iblis, aku tidak akan merampas nyawa mereka yang hidup dengan tenang secara tidak adil, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun melakukannya—itulah harga diriku sebagai penganut paham damai."

"……Cih, makanya aku benci orang-orang seperti kalian."

Behal bergumam kecil, dan niat bertarung yang tadi meluap-luap mulai memudar.

Mungkin alasan Behal bilang dia tidak suka pada Holy King adalah karena sifatnya yang seperti ini.

"Fuh, semangatku langsung hilang. ……Jadi, kau sedang dalam proses melarikan diri?"

"Waduh, benar juga. Yah, aku berencana menyampaikan sepatah dua patah kata pada Dewa. Kalau kalian mau, bagaimana kalau ikut denganku?"

"Tanpa kau minta pun, aku memang berniat menemui Dewa."

"Ahha! Kebetulan sekali. —Kalau begitu aku yang akan jadi pemandunya. Aku tahu jalan pintas."

Holy King mengangguk penuh percaya diri, lalu memimpin jalan di depan kami.

"Lho lho lho? Kok aneh ya?"

Holy King memiringkan kepala sambil berjalan semakin jauh ke dalam penjara.

Katanya ada jalan pintas makanya kami ikut, tapi tidak ada tanda-tanda kami akan sampai ke tujuan.

"Masih belum sampai juga?"

"Hmm, seingatku lewat sebelah sini deh……"

Katanya begitu sambil celingak-celinguk dan mondar-mandir.

Mencurigakan. Apa benar jalan pintas itu ada?

"Jangan-jangan ini jebakan? Tapi rasanya dia bukan karakter tipe begitu……"

"Si brengsek itu, jangan-jangan dia cuma buta arah?"

"Bisa jadi. Pergi ke bagian dalam penjara rasanya tidak akan menjadi jalan pintas menuju istana. Hei, jangan main-main ya."

"A-Ahahaha…… Tenang saja, mungkin, pasti sampai kok."

Ditatap sinis oleh Grim dan yang lain, Holy King mulai berkeringat dingin.

Yah, kalau mau keluar tinggal terjang saja penjaranya, dan kalau ini benar, sepertinya akan jadi hal yang menarik. Mari kita ikuti sebentar lagi.

Jalan yang semakin ke dalam semakin menyerupai labirin itu terus kami lalui hingga akhirnya kami menemukan cahaya.

"Ah! Lihat itu Lloyd-kun! Tuh, ada cahaya kelihatan. Tuh kan, aku tidak tersesat!"

Holy King mendengus bangga. Ia hendak berlari keluar, tapi—

"Ofuuh!?"

Ia terhempas setelah terkena ribuan anak panah cahaya.

Itu adalah pasukan malaikat yang keluar sambil berteriak gaduh.

"Ada penyusup!"

"Jangan biarkan lewat dari sini!"

Sepuluh, dua puluh…… bahkan lebih.

Melihat jumlah ini, sudah pasti ada sesuatu di depan sana.

"……Hmm, apa itu?"

Di balik kegelapan, terlihat sesuatu seperti lampu.

Itu…… sel penjara? Sepertinya ada seseorang yang dikurung di sana.

"Pokoknya kita ke sana dulu."

"Halo, Lloyd-kun—? Aku sedang bertarung nih—? Tidak ada niatan membantu—?"

Aku mengabaikan teriakan Holy King dan melangkah menuju lampu itu.

"Lloyd-sama jahat sekali! Yah, walau aku ragu dia bakal kalah lawan malaikat kroco begitu sih."

"Yang lebih mengerikan adalah kemampuan Lloyd-sama menghilangkan hawa keberadaan. Bahkan malaikat di dekatnya pun tidak sadar……"

"Yah, kalaupun mereka menyerang pasti langsung mati dalam sekejap. Malah bisa dibilang mereka beruntung."

Aku pun tidak suka pembunuhan yang sia-sia.

Mengabaikan gerutuan Grim dan yang lain, aku berdiri di depan sel. Di dalamnya ada seorang kakek tua.

"……Mumu, selanjutnya harus ditaruh di mana ya……"

Di balik jeruji, ia bergumam sendiri sambil menumpuk batu.

Rambut dan jenggotnya putih bersih dan dibiarkan memanjang, kacamata yang dipakainya retak, dan pakaiannya robek di mana-mana. Kakinya dirantai agar tidak bisa lari.

Meski dalam situasi begitu, pria itu terus menumpuk batu.

"Oho! ♪ Berhasil, berhasil. Wah, sudah ratusan tahun sejak terakhir kali aku mencapai tiga ratus tingkat."

……Dia terlihat sangat menikmatinya.

"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan kakek tua ini……"

"Sepertinya dia terlalu senggang sampai main tumpuk batu……"

"Apa dia sudah pikun……?"

Grim dan yang lain memasang wajah lelah, namun orang yang dikurung di penjara Khayangan tidak mungkin orang biasa.

Pasti dia tahu sesuatu yang menarik. Berpikir begitu, aku mendekat dan menyapanya secara tiba-tiba.

"Halo—"

"……Mu? Siapa Anda……"

Pria itu membetulkan posisi kacamatanya dan menoleh padaku.

Gara-gara gerakan itu, kakinya menyenggol tumpukan batu. Gubrak, menara batu itu pun runtuh.

"NOAAAAA! Padahal aku hampir memecahkan rekor baru dalam seribu tahun terakhirrrr!"

Pria itu lesu seketika. Aku mengerti perasaannya, tapi reaksinya terlalu berlebihan.

Di tengah tatapan dingin semua orang, kakek itu menghela napas dan menatapku.

"Hmm? ……Apa Anda manusia? Walau sekarang sepertinya tercampur banyak hal."

"Heh, kau tahu ya."

"Ya, begitulah. Tapi melihat manusia masuk ke penjara ini adalah hal yang langka. Apa yang telah Anda lakukan?"

"Tidak ada. Aku datang cuma karena tempat ini kelihatannya menarik."

"Menarik…… be-begitu ya……"

"Oit, kalau manusia, di sini juga ada lho! Holy King hadir di sini!"

Holy King yang baru saja sampai berpose dengan bangga. Sepertinya dia sudah membereskan para malaikat.

Bukannya apa-apa, tapi kalau dia terlalu heboh begitu, aku jadi agak malu.

"Mumu…… Holy King!? Jadi Anda adalah Holy King yang itu. Luar biasa. Anda juga tertangkap?"

"Iya, tapi aku memutuskan untuk keluar sekarang. Sekalian mau protes sedikit pada Dewa-sama. Aku sedang menuju ke sana bersamanya!"

"Hoho! Menuju Dewa. Itu sangat mengagumkan. Jika berkenan, bolehkah Anda menghancurkan belenggu saya juga?"

"Eh, tidak mau."

Holy King menolak mentah-mentah dan melanjutkan ucapannya.

"Kalau tertangkap, berarti kakek melakukan tindak kejahatan, kan? Tidak bisa semudah itu. Apalagi kakek dikurung jauh di dalam sini. Bagaimana kalau kakek ternyata penjahat kelas kakap? Ih, ngeri."

Holy King berpura-pura ketakutan. Kakek itu menghela napas dan mengangguk.

"……Baiklah. Saya akan ceritakan alasannya, barangkali Anda bisa maklum. —Dulu saya adalah pelayan yang melayani Dewa. Namun, saya tidak sengaja memecahkan piring kesayangan-Nya. Sebagai hukuman, saya dijebloskan ke penjara ini, dan sudah lebih dari seribu tahun saya di sini."

"Cuma gara-gara itu seribu tahun…… Bukankah hukumannya terlalu berat?"

"Sepertinya saya sudah dilupakan oleh-Nya. Hahaha."

Kakek itu tertawa dengan aura kesedihan.

Uhm, malang sekali nasibnya.

"Tidak, Lloyd-sama juga tipe orang yang suka melupakan orang lain, sih."

"Aku juga pernah dilupakan berkali-kali, lho."

"Aku juga. Membuat Raja Iblis menunggu adalah hal yang tidak termaafkan."

Grim dan yang lain mengirimkan tatapan dingin.

……Pernah ada kejadian begitu ya? Mungkin saja ada. Mau bagaimana lagi, aku kan sibuk.

Saat aku memalingkan wajah dari tatapan mereka, Holy King menghela napas dan memotong jeruji besi itu.

"Ooh! Menghancurkan jeruji penjara dengan begitu mudahnya……"

"Hukuman seribu tahun cuma karena memecahkan piring itu terlalu berat. Kakek juga sepertinya tidak bohong."

Setelah menghancurkan belenggu tangan dan kaki kakek itu, ia berkata;

"Sekarang kakek bebas. Pergilah ke mana pun kakek suka."

"Terima kasih banyak. Jika berkenan, izinkan saya memberikan tanda terima kasih."

"Tanda terima kasih?"

"Ya, alasan Anda sekalian datang ke sini adalah untuk mencari jalan pintas menuju istana Dewa, kan? Saya tahu di mana letaknya."

"Benarkah!?"

Ternyata cerita soal jalan pintas itu benar.

"Tapi arahnya justru berlawanan dari sini, lho."

"A-Ahaha? Masa sih?"

Holy King mencoba tertawa garing sementara Grim dan yang lain menatapnya sinis.

"Saya sudah lama bekerja di istana, jadi serahkan pemanduan pada saya. ……Tapi sebelum itu, penampilanku sekarang agak kurang pantas. —Hup!"

Begitu kakek itu menanggalkan pakaian compang-campingnya, ia diselimuti cahaya terang.

Setelah cahaya memudar, muncullah pria dengan pakaian rapi, rambut dan jenggot yang tertata, penampilannya benar-benar seperti seorang kepala pelayan (butler).

Sepertinya ia menciptakan pakaian itu menggunakan Light Armor.

"Fuh, sudah lebih segar. Izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya adalah Rigo. Mohon bantuannya."

"Aku Lloyd. Salam kenal."

"Salam kenal juga. Kalau begitu, mari kita berangkat."

Rigo berjalan dengan mantap.

Ternyata memang benar-benar di arah yang berlawanan. Terlebih lagi tujuannya cukup dekat, kami sampai setelah berjalan beberapa menit.

Namun tidak ada apa pun di sekeliling kami. Mengabaikan kebingungan kami, Rigo mulai menyentuh dinding di depannya.

"Eeto, seingatku di sekitar sini…… Oh, ada. Tekan di sini."

Terdengar suara klik, lalu dinding itu pun terangkat.

Yang muncul adalah sebuah ruangan kecil. Di lantainya tergambar sesuatu yang menyerupai lingkaran sihir.

"Ooh! Magic Circle! Lagipula tulisan yang tertulis di sana terlihat menarik!"

Sistem sihir yang digunakan di Khayangan seperti Light Armor ditulis dengan bahasa sihir yang berbeda dari yang biasa kami gunakan.

Itu adalah Karakter Dewa. Sampelnya sangat sedikit, apalagi yang ditulis langsung seperti ini, benar-benar sangat berharga.

Aku pun berjongkok dan mulai mengamatinya dengan saksama.

"……Fumu fumu, sepertinya ini jenis sihir teleportasi. Tapi agak berbeda dengan bahasa sihir yang digunakan di Light Armor, ya?"

"Oya, Anda tahu ya. Lingkaran sihir ini memang sudah ada sejak zaman kuno. Namun bisa menguraikannya dengan mudah seperti itu, Anda sungguh luar biasa."

"Begitu ya, jadi lingkaran teleportasi ini terhubung ke istana tempat Dewa tinggal. Baiklah, mari kita coba sedikit."

Begitu aku melempar batu kecil ke dalamnya, batu itu langsung diselimuti cahaya terang dan melesat ke atas dengan kecepatan luar biasa.

Setelah itu, ia melewati lubang di langit-langit dan menyentuh awan yang mengapung tepat di atasnya, lalu melesat jauh karena lingkaran sihir yang tertulis di sana.

"A-Apa yang sebenarnya terjadi tadi!?"

"Heh, bukannya teleportasi, ini lebih seperti perpindahan kecepatan super ya."

Sihir teleportasiku adalah berpindah secara instan melalui lorong yang diciptakan oleh rumus sihir menuju dimensi yang berbeda.

Sedangkan lingkaran ini cara kerjanya sederhana, yaitu memberikan daya dorong yang luar biasa untuk melompat.

"Kecepatannya luar biasa. Benar-benar seperti cahaya, metode transportasi yang hanya bisa dilakukan oleh tubuh mana. Manusia biasa bisa langsung mati kalau mencoba ini."

"E-Eeto, Lloyd-kun? Kalau begitu, apa jangan-jangan aku tidak bisa ikut teleportasi?"

"Ah, benar juga……"

Aku benar-benar lupa kalau Holy King itu cuma manusia biasa.

Jika aku bisa mengendalikan Magic Barrier dengan sangat presisi tergantung arah terbangnya, mungkin dampaknya bisa diredam……

"Tapi pengendalian sepresisi itu tidak mungkin dilakukan oleh siapa pun kecuali Lloyd-sama."

"Bukannya pamer, tapi aku memang payah dalam urusan sihir. Hahahaha!"

Benar-benar bukan sesuatu yang bisa dipamerkan. Yah, sihir memang sulit dipahami bagi orang yang tidak tertarik, jadi mau bagaimana lagi.

"Fumu. Kalau begitu aku akan membungkus tubuh Holy King dengan Magic Barrier yang punya tingkat kekerasan super tinggi. Kalau penghalangnya difokuskan penuh pada pertahanan, mungkin akan baik-baik saja."

Meskipun terjadi benturan kecepatan super, tidak akan ada masalah selama ada kekerasan yang bisa menahannya.

"Eeh…… tapi bukannya dampak guncangannya tetap akan sampai kepadaku yang ada di dalam penghalang?"

"Aku akan masukkan awan ini sebagai bantalan. Kalau aku beri sihir penyembuh maksimal, harusnya dia bisa menahan deformasi. Mungkin."

"Hei, kata-katamu banyak 'mungkin' dan 'harusnya' ya?"

"Tenang saja, percaya padaku. Kalaupun gagal, dengan kekuatanku yang sekarang, aku masih bisa menghidupkanmu kembali dari serpihan daging asalkan baru saja mati."

Sambil berkata begitu, aku membungkusnya dengan Magic Barrier.

"Dia tadi mau bilang sesuatu sebelum terkurung……"

"Uumu, malang sekali……"

"Wajahnya terlihat sangat ketakutan tadi……"

Grim dan yang lain tampak ngeri, tapi yah, pasti baik-baik saja. Mungkin.

Karena itu, aku pun naik ke lingkaran sihir dan mengaktifkan rumusnya.

Waktu sedikit berputar mundur. Saria yang terbaring sakit di tempat tidur tiba-tiba terbangun.

Keadaan di sekitarnya remang-remang, dan dari kejauhan terdengar gaung berbagai jenis musik.

"……Kalau tidak salah, ini sudah waktunya festival dimulai ya."

Saria bangkit dari tempat tidur, dan dengan langkah yang masih goyah, ia menuju ke lokasi acara.

"Onn!"

Yang menyokong tubuhnya adalah Shiro. Anjing itu mengesekkan bulunya yang empuk ke kaki Saria.

"Shiro, kau…… mau membawaku ke sana?"

"Onn!"

"Terima kasih, ya."

Saria mengusap kepala Shiro yang menjilati wajahnya, lalu ia naik ke punggung anjing itu.

Shiro berlari secepat angin, hingga akhirnya mereka sampai di lokasi festival.

Tempat itu diselimuti hawa antusiasme yang luar biasa, dan suara permainan dari berbagai grup musik terdengar campur aduk.

Saria mencari suara yang dimainkan oleh Isha dan yang lainnya dengan telinganya, dan ia langsung menemukannya.

Suara yang bening seperti kristal ini adalah milik Isha. Permainan alat musik yang sangat terampil ini pasti milik Holy King. Dan suara ketukan yang menimpali itu adalah──jangan-jangan castanet?

"Sepertinya itu Lloyd."

Dalam lembaran musik yang ia lihat sebelumnya, memang masih ada celah kosong. Jika castanet digunakan untuk mengisi celah itu, maka semuanya masuk akal.

Bagaimanapun, jalan menuju panggung terlalu sesak oleh manusia, mustahil baginya untuk lewat jika tetap menunggangi Shiro.

"Terima kasih. Cukup sampai di sini saja, Shiro."

"Kwuun."

Saria turun dari punggung Shiro, lalu melangkah menuju panggung dengan langkah kaki yang ringan.

Tubuhnya terasa enteng seolah sakit yang tadi ia rasakan hanyalah bohong belaka.

Permainan musik itu benar-benar luar biasa. Itu sudah setara…… tidak, bahkan melampaui dirinya.

Sambil merasakan rasa iri sekaligus lega, ia seolah tersedot untuk melangkah maju ke depan.

"Ngomong-ngomong, pria hitam kemarin bilang kalau aku butuh motivasi selain semangat bertarung agar bisa bermain lagi. Dia menyuruhku mencari titik awalku."

Saria teringat ia jatuh pingsan karena mencoba menggali ingatannya sesuai perintah pria itu, dan tahu-tahu ia sudah terbangun di tempat tidur.

"Tapi saat itu, sepertinya aku hampir mengingat sesuatu…… Tsuh!?"

Saria meringis karena sakit kepala yang tiba-tiba menyerang.

Ia belum bisa mengingatnya secara utuh, namun ia merasa sudah hampir bisa menggenggam sesuatu.

Ia tidak tahu apa itu, tapi itu adalah "sesuatu". Jawabannya ada di depan sana.

Seolah didorong oleh sesuatu, ia terus menuju panggung dan akhirnya sampai di sana.

──♪

Yang tertangkap oleh matanya adalah sosok Isha dan yang lainnya yang sedang bermain musik di atas golem aneh buatan kakak-kakaknya.

Di sana ada Holy King, dan juga Lloyd. Ternyata benar, pemilik castanet itu adalah Lloyd.

Melihat pemandangan mereka yang sedang bermusik, perasaan yang sempat terlupakan bangkit kembali dari dasar hati Saria.

──Benar, itu terjadi pada hari ketika Lloyd lahir.

Di kota sedang diadakan festival, dan seluruh tempat dipenuhi suasana perayaan atas kelahiran pangeran baru.

Hari itu, Saria diajak oleh kakak-kakaknya untuk mengintip ke kamar sang bayi guna melihat adik yang baru lahir itu.

Di saat kakak-kakaknya begitu bersemangat, Saria sendiri merasa dingin.

Ia sudah punya banyak adik, jadi apa pedulinya jika bertambah satu lagi?

Lagipula, Saria memang tidak punya ketertarikan besar pada orang lain.

Namun di saat ia menengadah ke langit──langit itu meledak. Bola api melambung tinggi ke angkasa, dan ledakan besar terjadi.

Kakak-kakaknya terbelalak kaget melihat langit yang membara dengan suara gemuruh.

Namun, Saria justru terpikat oleh "suara" yang dihasilkan oleh ledakan itu daripada apinya sendiri.

──♪

Itu adalah melodi yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Tentu saja itu hanyalah suara ledakan biasa.

Namun, dari dasar suara itu, ia merasakan sebuah tekad yang sangat, sangat kuat.

Seolah suara itu berteriak dengan lantang bahwa ia ingin menguasai sesuatu hingga ke puncaknya.

Tanpa sadar Saria terpesona oleh tekad yang membara itu.

Sebuah perasaan kalah untuk pertama kalinya. Hal itu terukir dalam di hati kecilnya.

Jika dipikir-pikir, mungkin semuanya dimulai sejak saat itu.

Agar tidak kalah dari tekad itu, ia pun menanamkan api di dalam hatinya.

──Aku tidak mau kalah. Saria yang memancangkan tekad kuat itu di hatinya juga memutuskan untuk menguasai sesuatu.

"Aku ingat…… alasanku bermain musik adalah untuk menang melawan 'itu'……!"

Begitulah awal mula Saria mulai menggeluti musik dengan serius.

Hari demi hari, ia tidak pernah berhenti bermain meski jemarinya terkilir atau saat ia sedang flu, hingga akhirnya ia menjadi pemusik nomor satu di Saloum.

Titik awal Saria bermusik tidak lain dan tidak bukan adalah semangat bertarung.

Pantas saja ia tidak menemukannya saat mencari hal lain. Karena hal itu sudah lama bersemayam di dalam hatinya.

Setelah menyadari hal itu, segala keraguan lenyap dari mata Saria.

"Kak Saria!?"

Kehadiran Saria yang tiba-tiba membuat semua orang di sana terkejut, namun Isha tetap tidak berhenti menyanyi.

Holy King pun tidak berhenti, dan tentu saja aku pun tidak bisa berhenti.

Saria melangkah mendekati Holy King, lalu memaksa duduk di kursi piano yang sama hingga mendorong setengah tubuh Holy King keluar.

"Hai Saria-chan. Ada apa tiba-tiba?"

"Aku hanya ingin bermain. Itu saja."

Saria menjawab singkat, lalu menabrakkan sepuluh jemarinya ke atas tuts piano.

──♪

Jemari yang bergerak lincah, melodi yang indah namun terasa mengerikan.

Itu benar-benar suara Saria yang dulu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya dia sudah pulih sepenuhnya.

"Uwooooo! Saria-tan bangkit kembali! Saria-tan bangkit! Saria-tan BANG-KIT-KEM-BA-LI!"

"Kau terlalu bersemangat, Malaikat Sialan. ……Tapi syukurlah ya, Lloyd-sama. Akhirnya Sang Kakak bisa bermain lagi."

Permainan Saria yang luar biasa seolah memaksa Holy King untuk mengikutinya.

Bukan hanya pulih total, tapi ini lebih dari itu. Dia berkali-kali lipat lebih hebat dari Saria yang sebelumnya.

"……Aku terkejut. Permainanmu melampauiku, ya. Selamat atas kebangkitanmu. Boleh aku tanya apa yang terjadi sebagai referensi?"

"Tidak ada yang khusus. ……Jika harus dibilang, aku hanya ingat. Alasan kenapa aku mulai bermusik."

"Tapi bagaimanapun aku melihatnya, itu adalah semangat bertarung, kan? Aku bisa merasakannya dari caramu bermain. Padahal aku yakin sudah mematahkan semangat itu sampai ke akar-akarnya."

"Iya, dasarku memang adalah semangat bertarung. Tapi selama ini, tanpa sadar aku menganggap semua orang di sekitarku sebagai musuh. Karena sekarang aku menyadarinya dengan jelas, aku jadi teringat pada sosok yang benar-benar tidak ingin kukalahkan."

Sambil berbicara dengan Holy King, Saria melirik ke arahku.

Eh? Kenapa aku? Bukan Holy King?

……Entahlah, aku tidak terlalu paham, yang jelas aku sendiri sudah kewalahan mengikuti irama agar susunan mantranya tidak hancur.

"Karena itulah aku tidak akan kalah. Aku akan melampaui batasan apa pun──!"

Bersamaan dengan kata-katanya, ketajaman jemari Saria semakin meningkat.

Hei, hei, sampai sejauh mana kau mau menaikkannya? Aku sudah hampir mencapai batas, lho.

Karena ritme lagunya berubah terlalu cepat, pembaharuan sihir sistem kontrolku tidak bisa mengejar.

Lagipula, jika perubahannya seekstrim ini, secara struktur anatomi tubuh manusia sudah mustahil untuk diikuti dengan castanet.

Tanganku rasanya mau kram…… eh, tunggu dulu.

Benar, Magic Song harus dibalas dengan Magic Song. Selain castanet, aku tinggal menciptakan Magic Song tambahan saja.

"■"

Melalui pelafalan berkas sihir, aku menciptakan ribuan sihir mikro yang tak terhitung jumlahnya.

Api yang meledak, air yang mengalir, batu yang pecah, angin yang berhembus; berbagai fenomena yang diciptakan melalui sihir menghasilkan suara, menciptakan sebuah lagu.

 ──Pada dasarnya, Magic Song adalah susunan mantra yang dimasukkan ke dalam suara itu sendiri.

Aku melakukan hal yang sebaliknya; aku mengubah suara yang dihasilkan dari sihir menjadi sebuah lagu.

"Uwooooo! Sebuah lagu yang begitu murni hingga membuat segala hal yang terjadi tadi terlihat seperti mainan anak-anak! Kekuatan yang bahkan menelan permainan Saria-tan yang tadi menelan segalanya! Inilah pertunjukan musik melalui sihir milik Lloyd-sama!"

"Ternyata ini benar-benar 'Lagu Sihir' ya. Terlebih lagi, lagu sihir ini menciptakan lagu sihir lainnya sehingga membentuk sebuah loop. Hanya butuh konsumsi mana di awal saja, lalu setelahnya akan terus berlanjut tanpa batas…… efisiensi yang mengerikan!"

Seperti yang dikatakan Grim, suara yang dihasilkan oleh sihir menenun Magic Song baru, yang kemudian memicu aktivasi sihir selanjutnya.

Satu sihir bisa dimanfaatkan berkali-kali, dan menghasilkan suara yang lebih bagus pula.

Meski begitu, jika tidak diberikan senDewa tangan, kekuatannya akan melemah perlahan, dan jika ada gangguan suara (noise), efeknya tidak akan muncul, jadi tidak benar-benar mahakuasa.

"Aku bisa melakukan ini karena menyesuaikan diri dengan Magic Song milik Holy King dan suara milik Saria."

Loop sihir tak terbatas melalui Magic Song.

Namun karena cara ini tidak menggunakan instrumen musik, aku pasti akan sangat dicurigai dalam pertunjukan biasa.

Aku tidak akan bisa menggunakannya kecuali dalam situasi seperti ini, tapi sekarang tidak masalah karena tidak ada orang yang punya waktu luang untuk memperhatikan hal detail seperti itu. Nah, mumpung sedang di sini, mari kita naikkan lagi levelnya.

──♪

"Lloyd……! Fufu, akhirnya aku mengerti. Inilah keunikanmu. ……Baiklah. Kali ini aku akui kekalahanku. Tapi setelah ini, aku akan memintamu menemaniku berkali-kali. Asal kau tahu saja, semangat bertarungku tidak akan pernah patah lagi untuk kedua kalinya, jadi bersiaplah."

Saria menggumamkan sesuatu, tapi setidaknya lagu ini akhirnya mulai stabil.

Mereka bertiga mengikutiku, dan kami terus memainkan Magic Song sesuai keinginan hati.

──♪

Pusaran suara yang dihasilkan oleh sihir bergema, terasa seperti hujan warna-warni yang turun membasahi bumi.

Yah, aku memang tidak terlalu tertarik pada musik, tapi melihat berbagai susunan mantra yang terjalin dengan indah ini rasanya sangat menyenangkan.

Jika formatnya seperti ini, mungkin sesekali aku tidak keberatan untuk bermain musik lagi.

Dalam suasana hati yang menyenangkan itu, lagu pun mencapai bagian akhirnya.

──Akibat sisa-sisa keindahan permainan yang terlalu luar biasa, suasana di sekitar menjadi sunyi senyap. Tidak ada satu pun orang yang bersuara, semuanya membeku.

Seluruh penonton dalam jangkauan pandangan terlihat meneteskan air mata, gemetar dalam sukacita yang meluap.

Hanya suara napas terengah-engah dari Isha dan yang lainnya yang kelelahan yang terdengar di telinga.

Di tengah keheningan itu, sekelebat kilat menyambar.

Bersamaan dengan suara gemuruh, petir menyambar area di sekitar tenda belakang panggung.

 Menembus puing-puing tenda yang hancur, sesosok bayangan manusia melambung tinggi ke angkasa.

"Fuhahahahaaaa! AKU TELAH BANGKIT KEMBALI!"

Sosok yang bersedekap dan berteriak lantang itu, tentu saja, adalah Behal.

Sepertinya dia sudah pulih sepenuhnya, tubuh Connie kini diselimuti oleh tubuh mana hitam dan topeng hitam.

Oh, sepertinya berhasil.

Dalam perhitunganku, jika dia pulih sekitar dua puluh persen saja itu sudah sangat bagus, tapi mungkin karena kami menaikkan level permainan terlalu tinggi, efek yang muncul melampaui ekspektasi.

Mana milik Behal tampak meluap-luap hampir pecah, bahkan terasa lebih kuat daripada sebelumnya.

"Oups, ternyata aku berada di depan para manusia. Kukuku, mari perkenalkan diriku sekali lagi. ──Dengarlah wahai kalian yang berada di kejauhan, dan lihatlah wahai kalian yang berada di dekatku! Akulah Raja Iblis Behal! Penguasa dunia iblis! Bersujudlah! Fuhahahaha!"

Behal tertawa terbahak-bahak, namun──seluruh orang di sana, kecuali aku, tidak ada yang menoleh ke arah suaranya.

Saria jatuh tersungkur kelelahan, Isha berbaring telentang karena lelah bernyanyi, Albert dan yang lainnya pingsan karena terlalu terharu, dan para penonton tampak kehilangan kesadaran diri.

"……E-Eh……? Hei, aku ini Raja Iblis, lho…… Hei, apa yang sebenarnya terjadi, Lloyd!?"

"Sepertinya permainan kami tadi membuat semua orang kehilangan kesadaran."

Sejak pertengahan lagu, para penonton mulai tumbang satu per satu.

Mungkin permainan kami memberikan rangsangan yang terlalu kuat.

Saria dan yang lainnya saja sampai kelelahan dan pingsan. Sepertinya kami benar-benar sudah melampaui batas yang seharusnya.

"O-Oh…… begitu ya…… yah, tidak masalah soal para manusia itu! Incaranku adalah Holy King! KAU! Saatnya aku membalas dendaaaam!"

Behal menunjuk tajam ke arah panggung, namun──Holy King sudah menghilang entah sejak kapan.

"APA──!? Ke-Ke mana perginya si Holy King itu!?"

"Dia pergi sesaat sebelum kau muncul."

Segera setelah pertunjukan selesai, Holy King menghilang entah ke mana.

Kemungkinan besar dia sudah tahu efek apa yang akan dihasilkan dari permainan musik tadi.

"Tapi jika dia tahu dan tetap mau bekerja sama…… apa sebenarnya yang dia pikirkan?"

Padahal awalnya dia datang untuk menyegel Raja Iblis, tapi dia malah membantu proses kebangkitannya.

Apa alasannya?

Apa demi memenuhi tanggung jawabnya pada Saria?

Atau dia menilai bahwa Behal sebenarnya tidak berbahaya?

……Aku sama sekali tidak bisa membaca niatnya.

"Hei Lloyd? Kau juga mau mengabaikanku? Bukankah perlakuanku ini terlalu kejam?"

Sambil mengabaikan rengekan Behal, aku terus tenggelam dalam pikiranku sendiri.

"Kau, apa maumu? Kenapa kau membantu kebangkitan Raja Iblis?"

"Hmm?"

Di tengah kegelapan malam, Holy King membalas pertanyaan Guisarm dengan suara yang santai.

"Tujuanmu adalah menyegel Raja Iblis, kan? Aku bertanya kenapa kau melakukan hal yang sebaliknya."

"……Kenapa, ya? Entahlah."

"Hei……"

"Jika harus memberi alasan, mungkin karena itu kelihatannya lebih menarik. Yah, pekerjaan ini ternyata cukup membuat stres. Sesekali aku ingin bergerak sesuai keinginanku sendiri, bukan hanya melakukan apa yang diperintahkan."

"……Kukuku, alasan yang konyol. Kau gagal sebagai Holy King yang merupakan utusan Dewa."

"Apa kau berhak bicara begitu? Bukankah kau sendiri juga memberikan saran pada gadis berkacamata itu? Wahai kaum iblis~?"

"……Hanya iseng," jawab Guisarm sambil berdecak karena merasa diawasi.

"Aku juga sama. Tapi hal-hal seperti itulah yang justru bisa dinikmati."

Holy King terkekeh pelan melihat Guisarm yang bergumam setuju.

"Begitu ya. Kau biasanya terlihat seperti orang bodoh yang tidak memikirkan apa pun, tapi sebenarnya kau hanya 'berusaha' untuk tidak memikirkan apa pun, kan? Kukuku, sepertinya kau sangat membenci Dewamu itu. Kupikir Holy King adalah pria yang kaku dan membosankan, tapi ternyata kau orang yang cukup menarik."

"Aku juga tidak membencimu, kok. Giza-giza-kun."

"Tutup mulutmu, manusia."

Sambil saling melontarkan gurauan, Holy King menatap ke langit malam.

"Dewa, ya……"

Gumamannya yang pelan tertiup angin dingin dan menghilang begitu saja.

Selagi semua orang masih pingsan, kami meninggalkan lokasi acara.

Di kamar tempat Connie tidur, aku menceritakan apa yang terjadi selama Behal kehilangan kesadaran.

"──Begitulah kejadiannya."

"Fuumu…… hal seperti itu terjadi saat aku sedang tumbang ya…… kukuku, benar-benar memalukan."

Melihat Behal yang baru bangkit itu mengejek dirinya sendiri, Jiriel langsung melompat keluar untuk menyela.

"Benar itu, Behal! Kau dihajar habis-habisan oleh Holy King, dan bahkan bangkit kembali berkat musiknya. Kau benar-benar badut, renungkanlah itu!"

"……Jangan berisik, kutu busuk. Akan kulenyapkan kau."

"Hiiih! T-Lloyd-sama……!"

Namun, hanya dengan satu lerekan dari Behal, Jiriel langsung bersembunyi di dalam tanganku. ……Lemah sekali. Padahal kalau takut tidak usah bicara macam-macam.

"Yah, perkataan Malaikat Sialan itu ada benarnya juga, sih. Holy King itu memang hebat. Jika kau membalas dendam dengan sembarangan, kau pasti akan kalah lagi."

"……Hun, waktu itu aku hanya belum serius saja. Lain kali aku pasti akan menjatuhkannya. Fuhaha!"

Behal tertawa pongah, tapi…… dia terlihat memalukan seperti penjahat kelas teri.

Ke mana perginya wibawa sebagai Raja Iblis?

Aku pun sebenarnya ingin melihat pertarungan ulang dengan Holy King, tapi jika kondisinya begini, sepertinya dia bakal kalah lagi dalam sekejap.

"T-Tatapannya apa itu, Lloyd! Asal kau tahu, kekuatan sejatiku tidak hanya segitu, lho!? Jika aku menggunakan kekuatan 'itu', Holy King bukanlah apa-apa!"

"Heh—begitu ya—……"

"Muu…… kau tidak percaya? Aku akan menunjukkan rahasia terdalam kaum iblis, jurus pamungkas 'Fusion'!"

"Fusion?"

Mendengar kata kunci yang menarik, aku langsung terpancing. Behal pun melanjutkan bicaranya dengan wajah bangga.

"Umu! Kami para tubuh mana bisa melakukan Fusion untuk mendapatkan peningkatan kekuatan yang luar biasa!"

"Heh…… rasanya sudah biasa ya."

Karena kami adalah tubuh mana, memasang atau melepas bagian tubuh harusnya bukan hal sulit, tapi jika hanya begitu, itu cuma penjumlahan biasa. Kurasa tidak akan ada peningkatan kekuatan yang signifikan.

"He-Hei! Kenapa kau memberikan tatapan dingin lagi!? I-Ini benar-benar hebat, lho!"

"Huuu-nn."

"……Sepertinya kau belum paham ya. Baiklah, akan kutunjukkan padamu! Keluarlah kalian semua!"

Bersamaan dengan kata-kata Behal, gumpalan mana tercipta di sekelilingnya. Gumpalan itu membentuk wujud manusia…… eh, sepertinya aku pernah melihat mereka.

"Itu kejadian sekitar satu bulan yang lalu, Lloyd-sama!"

"Anda tidak mungkin lupa dengan pertempuran sengit itu, kan! Itu lho, mereka yang menyerang di akademi……"

"……Ah, pernah ada yang seperti itu ya."

Setelah diingatkan, akhirnya aku mulai teringat. Kalau tidak salah, mereka menyebut diri mereka sebagai Empat Jenderal Langit Pasukan Iblis atau semacamnya.

"……Hun, sepertinya kau akhirnya ingat. Benar sekali, mereka adalah bawahan langsungku, Empat Jenderal Langit──Wilfrey si Merah, Ganjeet si Hijau, Sheraha si Biru, dan Zen si Hitam. Mereka mengorbankan nyawa demi menghancurkan segelku, namun inti mereka tetap tertidur di dalam diriku. Jika aku melakukan Fusion dengan mereka, kekuatanku akan berlipat ganda! Mari kita mulai! Fusion!"

Cahaya terang menyelimuti Behal, dan tubuh-tubuh mana itu menyatu dengannya.

Dibandingkan Behal, mereka hanya punya sekitar sepuluh persen mana saja. Maaf saja, tapi mereka itu sebenarnya kroco.

Aku tidak yakin melakukan Fusion dengan mereka akan membuatnya jadi jauh lebih kuat, tapi…… bagaimanapun juga, sosok Behal yang muncul hanya sedikit berubah penampilannya.

"Ooh…… kalau diperhatikan baik-baik, ciri-ciri dari Empat Jenderal Langit muncul sedikit demi sedikit di penampilannya ya."

"Muu…… aku merasakan aliran mana yang dahsyat. Inilah Fusion, ya."

Aku mengerti kenapa Grim dan yang lainnya sampai bergumam kagum. Memang mananya terasa luar biasa. Mungkin dua…… tidak, hampir tiga kali lipat dari aslinya.

Ini bukan sekadar penjumlahan biasa. Namun meski begitu, kurasa ini masih belum cukup untuk menumbangkan Magic Song milik Holy King……

"Tapi, bukankah hanya ada tiga orang?"

Katanya melakukan Fusion dengan Empat Jenderal Langit, tapi tadi aku hanya melihat tiga tubuh mana saja.

"APAAAA──!? Benar juga! Kenapa hanya ada tiga orang! Wilfrey! Ke mana perginya kau, Wilfrey──!"

Sepertinya Behal sendiri baru menyadari hal itu. Kasihan sekali dia, sampai tidak disadari kehadirannya.

Namun sekeras apa pun dia berteriak, orang yang satu lagi tidak kunjung muncul.

"Wilfrey itu bukankah yang pertama kali dikalahkan oleh Lloyd-sama? Karena Anda menghancurkannya sampai berkeping-keping hingga lenyap, mungkin dia tidak bisa diserap oleh Behal."

"Sihir Grey Archdemon Fang waktu itu memang punya kekuatan yang luar biasa, sih. Apalagi Anda menembakkannya tanpa menahan diri sama sekali, kan? Wajar saja kalau dia lenyap."

Grim dan Jiriel mengangguk setuju. Karena itu adalah sihir buatanku yang pertama, aku memang sangat bersemangat saat itu. Sepertinya aku melakukannya terlalu berlebihan.

"Gumumu…… menghancurkan inti kaum iblis yang mudah menguap bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi Wilfrey yang merupakan salah satu Empat Jenderal Langit, bahkan bagiku pun sulit melakukannya…… tapi kurasa itulah kehebatan Lloyd."

Behal menggumamkan sesuatu, apa mungkin dia sedang menggerutu padaku? Meski aku tidak tahu, aku merasa sudah melakukan hal yang buruk padanya.

"Ah—itu, maaf ya, Behal."

"Apa boleh buat. Kalian berdua pasti punya tekad masing-masing yang tidak bisa dikalahkan. Tapi ini gawat…… jika Empat Jenderal Langit tidak lengkap, aku tidak bisa mendapatkan kekuatan penuhku. Kaum iblis setingkat Wilfrey tidak mudah ditemukan, dan kalaupun ada, gelombang mananya harus cocok untuk melakukan Fusion, jadi penyesuaiannya akan memakan waktu lama…… hmm."

"Kalau begitu, aku akan turun tangan. Aku juga punya tanggung jawab di sini. Yang penting ada pengganti Wilfrey, kan? Kalau begitu──"

Grim buru-buru memotong kata-kataku sebelum aku sempat menyelesaikannya.

"Tunggu, tunggu, tunggu, Lloyd-sama! Jangan bilang Anda berniat menyerahkan aku sebagai penggantinya!? Itu namanya bukan turun tangan, tapi mengumpankan tangan secara harfiah!"

"Benar, Lloyd-sama! Meskipun iblis ini mungkin bisa dijadikan pengganti, tapi itu terlalu kejam bagi siapa pun! Ah, tentu saja aku juga tidak mau, ya!"

Grim dan Jiriel berteriak panik. Sepertinya mereka mengira akan aku jadikan tumbal.

"……Apa yang kalian bicarakan? Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu."

"Y-Yah, soalnya ini Lloyd-sama, kupikir Anda akan melakukannya kalau merasa itu menarik……"

"Be-Benar juga…… semestinya Lloyd-sama tidak akan berbuat sejauh itu…… mohon maafkan saya."

Benar-benar kesalahpahaman yang parah. Padahal niatku sama sekali bukan itu.

"Behal, aku yang akan jadi penggantinya."

"……Hah?"

Behal membelalakkan matanya dengan bingung. Grim dan Jiriel pun menunjukkan wajah melongo.

"E-Ehm…… Lloyd, sepertinya aku baru saja mendengar sebuah pernyataan yang sangat aneh……"

"Makanya kubilang, aku yang akan menggantikannya untuk melakukan Fusion."

Soal Fusion itu, jujur aku sangat tertarik. Rasanya sayang kalau hanya diberikan pada Grim dan yang lainnya.

Saling bercampur antar sesama tubuh mana untuk menjadi keberadaan yang lebih kuat…… kalau bisa, aku ingin merasakannya sendiri secara langsung. Hehe.

"Apa-apaan yang Anda katakan, Lloyd-sama-aaa! Mana mungkin manusia dan iblis bisa melakukan Fusion! Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi nanti!?"

"Benar, Lloyd-sama! Ini terlalu berbahaya! Lagipula, bukankah secara teknis itu mustahil!?"

"Tidak akan tahu kalau tidak dicoba, kan? Lagipula, bukan aku sendiri yang akan melakukan Fusion."

Sambil berkata begitu, aku menengadahkan tangan dan memusatkan mana.

Yang aku ciptakan adalah tubuh mana milikku sendiri.

Sejak pertarungan melawan Empat Jenderal Langit, aku sudah mempelajari cara mengendalikan tubuh mana.

Sekarang, menciptakannya dari nol bukanlah hal yang sulit bagiku.

"O-Oh…… tubuh mana yang persis Lloyd-sama sudah tercipta…… Terlebih lagi kekuatannya, ini setara dengan level Jenderal Langit."

"Bahkan rasanya, panjang gelombang mananya identik dengan iblis yang lenyap itu! Padahal Lloyd-sama sama sekali tidak ingat sosoknya, kan!?"

Memang benar aku sudah lupa total soal Wil-siapa-gitu, tapi bagaimanapun juga, dia adalah Jenderal Langit pertama yang kulawan.

Aku mengingatnya dengan baik karena aku mengamati jeroannya secara mendalam.

……Tapi karena aku lupa wajahnya, jadinya dia berbentuk seperti diriku.

Berkat membuat Magic Song, aku juga belajar cara membaca dan menulis panjang gelombang mana.

Kalau hanya sekadar membuatnya diam tanpa bergerak, ini tidaklah terlalu sulit.

"Tidak, tidak, meskipun ini terbuat dari mana, tubuh kami ini tetap serumit manusia. Struktur mana, sirkulasi, dan berbagai detail lainnya bahkan tidak kami pahami sendiri. Apa mungkin bisa direproduksi semirip itu hanya karena mengamatinya sekali?"

"Tidak, ini mungkin karena Lloyd-sama adalah anak emas sihir. Aku pernah dengar kalau pemahaman terhadap formula sihir punya kaitan dengan pemahaman terhadap tubuh mana. Bagi Lloyd-sama yang bahkan bisa menciptakan kehidupan buatan, membuat tubuh mana sendiri mungkin hal yang sepele."

Behal menatap tajam ke arah tubuh manaku, lalu ia mengerang pelan.

"Fuumu…… Seperti yang diharapkan dari Lloyd. Jika panjang gelombang mananya semirip ini dengan Wil, memang benar Fusion bisa dilakukan."

"Kalau begitu, ayo segera!"

"Tapi ingat, Fusion adalah salah satu teknik terlarang yang mengikat sesama tubuh mana secara kuat. Sekali kau menyatu denganku, tubuh mana itu akan menyatu sepenuhnya dengan ragaku dan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Kau yakin tidak apa-apa?"

"Apa ada masalah?"

"Yah, begini…… meskipun itu hanya sementara, itu adalah nyawa yang kau ciptakan sendiri, kan? Setidaknya kau pasti punya rasa sayang padanya."

"Sama sekali tidak……"

Behal terdiam seribu bahasa dengan wajah seolah tidak percaya…… apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? Menurutku, mana hanyalah mana.

Saat aku sedang bingung, Grim dan Jiriel masing-masing menepuk bahu Behal.

"Mungkin Kakak Behal belum tahu, tapi Lloyd-sama memang orang yang seperti ini."

"Benar, beliau adalah sosok yang melampaui akal sehat manusia. Sebaiknya jangan mengharapkan reaksi yang normal darinya."

……Rasanya aku dibicarakan dengan cara yang cukup kasar, tapi yang lebih penting sekarang adalah Fusion.

"Jadi, cepat lakukan saja."

"U-Umu…… kalau kau berkata begitu……"

Meski dengan wajah yang agak terpaksa, Behal akhirnya setuju dan memulai proses Fusion.

"K-Kuantitas mananya gila-gilaan…… Kakak Behal yang sebelumnya saja sudah hebat, tapi ini benar-benar dimensi yang berbeda. Sebuah pusaran mana yang luar biasa!"

"Benar…… inilah Fusion kaum iblis…… kami para malaikat punya teknik yang mirip, tapi ini tidak bisa dibandingkan. Jika diselimuti mana setebal ini, Magic Song pun pasti tidak akan mempan!"

Dalam sekejap, mana yang meluap itu memadat dan mulai membentuk wujud manusia kembali.

Wujudnya anehnya mirip denganku, tapi memiliki tanduk dan ekor layaknya iblis, serta dihiasi pola hitam seperti tato yang menjalar di sekujur tubuhnya.

"Kukuku…… Fuhahahahaha! Kekuatan macam apa ini! Aku tidak bisa berhenti tertawa! Bahkan jika aku menyatu dengan seluruh Empat Jenderal Langit sekalipun, aku tidak akan mendapatkan kekuatan sebesar ini! Inikah tubuh mana milik Lloyd!? Benar-benar mengerikan! Fuhaaa-ha──"

Tiba-tiba, tawa Behal terhenti. Ia berlutut lemas dan meringkuk.

"Ga…… ah……!? A-Apa ini…… ada sesuatu yang…… masuk ke tubuhku…… i…… ni……!?"

Behal meronta kesakitan──begitu juga denganku. Rasanya seperti dipaksa masuk ke dalam sesuatu.

Mual, Sesak napas. Pandanganku berputar-putar. ……Setelah beberapa saat, akhirnya perasaan itu mereda.

"Aduh…… apa-apaan yang tadi itu……"

Aku mencoba bangkit, tapi rasanya ada yang aneh.

Aku tidak tahu bagaimana cara menyalurkan tenaga, rasanya seperti ini bukan tubuhku sendiri.

Bahkan suaraku terdengar berbeda, dan pandanganku juga janggal.

"Hmm, ada seseorang yang pingsan di depanku?"

Punggung itu rasanya tidak asing, tapi……

"Lloyd-sama…… tu-tunggu, apa yang terjadi dengan sosok Anda itu!?"

"Ada apa Grim, apa ada sesuatu?"

"Li-Lihatlah ke cermin! Lihat wujud Anda!"

"?"

Sesuai perintahnya, aku menatap cermin yang ada di kamar itu──dan yang terpantul di sana bukanlah aku, melainkan wujud Behal yang sudah melakukan Fusion.

"A-Apa-apaan ini? Kenapa aku jadi Behal?"

Terlebih lagi, yang terbaring di lantai adalah tubuh asliku. Aku mencoba menyentuhnya tapi tidak ada reaksi.

Sepertinya tidak sadarkan diri. Yah, wajar saja karena kesadaranku ada di tubuh yang ini.

"Wooi, Lloyd!"

"Wah, kaget aku."

Tiba-tiba, sebuah suara bergema dari dalam tubuhku. Itu suara Behal.

"Tadi, aku merasa kesadaranmu menginvasi keberadaanku! Apa yang telah kau lakukan!?"

"Yah, aku tidak berniat melakukan apa pun, sih……"

"Apa Anda baik-baik saja, Lloyd-sama? Sepertinya tubuh Anda sudah berubah ya."

"Aku merasa jiwa Lloyd-sama melesat keluar. Dan seiring dengan itu, kami juga ikut terseret…… apa sebenarnya ini……"

Sepertinya Grim dan yang lainnya juga ikut pindah ke tubuh ini. Semuanya kebingungan. Aku pun sama saja.

"Sepertinya seluruh kesadaran Lloyd-kun masuk ke tubuhku."

Suara Connie kembali terdengar dari lubuk tubuhku. Terlalu banyak suara bergema dari dalam tubuh. Benar-benar kacau.

"Lloyd-kun pasti memasukkan susunan mantra berbagi kesadaran ke dalam tubuh mana yang diciptakannya supaya bisa menganalisisnya, kan? Aku rasa gara-gara itu, kesadaranmu ikut terseret saat proses Fusion dan pindah ke tubuhku."

"Kau benar-benar telah mengacaukan segalanya!"

Behal langsung melontarkan kritik pedasnya.

Yah, karena ini adalah hal yang menarik seperti Fusion, tentu saja aku ingin tahu bagaimana kondisinya. Wajar kalau aku melakukan hal sejauh itu.

"Tapi yang kumasukkan hanyalah susunan mantra berbagi kesadaran. Meskipun menyatu, bukankah seharusnya hak prioritas tubuh tetap ada pada Behal?"

"Itu karena keberadaanmu terlalu kuat. Fusion menyatukan tubuh mana, yaitu mantra, kesadaran, dan segala sesuatunya menjadi satu untuk menghasilkan kekuatan yang dahsyat."

Kalau dipikir-pikir, memang ada rasa kesatuan yang berbeda dengan sekadar berbagi kesadaran biasa.

Tapi, menarik keluar segalanya mulai dari mantra hingga kesadaranku itu benar-benar gila.

Seberapa kuat ikatan penyatuan ini sebenarnya?

"……Tapi ini gawat. Tubuh mana yang sudah menyatu sekali tidak akan bisa dipisahkan lagi."

"Ngomong-ngomong, kau memang pernah bilang begitu ya…… Ah!"

Punggungku mendadak dingin saat akhirnya menyadari besarnya masalah ini. Gawat. Ini benar-benar gawat.

"Hun, benar sekali. Mulai sekarang aku dan kau adalah satu jiwa satu raga, ke mana pun akan selalu bersama. Iblis dan manusia dalam satu tubuh pasti akan merepotkan bagi satu sama lain. ……Tapi yah, aku sendiri tidak keberatan. Bersamamu sepertinya tidak akan membosankan."

Di samping Behal yang menggumam malu-malu sambil menggaruk pipi, aku bergumam pelan.

"Bagaimana kalau ketahuan oleh Kakak Albert dan yang lainnya……"

"Hanya itu yang kau khawatirkan, hah!?"

Apa maksudmu 'hanya'? Bagiku ini masalah besar, tahu.

Setiap hari Sylpha dan yang lainnya datang mengurusku, Kakak Albert pun sering kali terlalu perhatian.

Meski ada sisi yang patut disyukuri, jujur saja itu agak…… tidak, itu sangat menjengkelkan. Secara mental rasanya berat.

Kalau mereka tahu aku menyatu dengan Behal dan jadi seperti ini, entah reaksi apa yang bakal mereka berikan.

Antara menangis atau marah, yang jelas pasti bakal jadi urusan yang merepotkan.

Belakangan ini aku dibiarkan bebas karena sudah mendapatkan kepercayaan mereka, tapi jika kejadian ini ketahuan, aku pasti akan diawasi dengan ketat.

Kalau begitu, aku tidak akan bisa meneliti sihir dengan tenang lagi. Itu masalah besar.

"Pokoknya aku harus mencari cara untuk membatalkan Fusion ini."

"He-Hei, bukankah sudah kubilang kalau Fusion tidak bisa dibatalkan……"

Aku mengabaikan kata-kata Behal dan memusatkan kesadaran ke dalam tubuh. Aku mencari celah di dalam tubuh mana ini, pasti ada titik sambungannya di suatu tempat.

Jika aku mencarinya dan menemukannya……, ……, ……Sial, tidak ada. Tidak ketemu.

Namun, perasaan di mana setiap partikel mana menyatu ini benar-benar mengingatkanku pada kelahiran sebuah kehidupan. Benar-benar keajaiban yang luar biasa.

"……Bukannya saatnya untuk kagum. Benar juga. Kalau tidak ada, tinggal buat saja secara paksa."

Meskipun ini tubuh mana, konsentrasi mananya tidak mungkin benar-benar seragam secara total.

Ada aku, Behal, Connie, Grim, Jiriel, bahkan Empat Jenderal Langit; begitu banyak keberadaan yang bercampur di sini.

Pasti ada celah di suatu tempat. Saat aku mencari…… ketemu. Ini adalah bagian yang paling lemah. Aku memusatkan kesadaran ke sana.

Dalam pekerjaan seperti ini, kekuatan imajinasi adalah kuncinya. Seolah-olah kesadaranku terpenjara di dalam tubuh ini, aku akan merobek bagian itu…… hap.

Sret, terasa ada sesuatu yang terputus. Rasa sakit yang hebat dan rasa kehilangan. Mungkin rasanya seperti satu kaki ditebas putus.

Namun sepertinya berhasil, sesuatu meluncur keluar dari dalam diriku.

Gumpalan mana hitam perlahan-lahan kembali mendapatkan warna dan bentuknya. Yang muncul adalah──Connie.

"A-Eh…… aku……"

Connie melihat sekeliling dengan tatapan heran. Connie terbelalak, tapi akulah yang paling terkejut.

Niatku ingin memotong bagian dengan hubungan yang paling lemah, tapi di luar dugaan malah Connie yang sejak awal terhubung dengan Behal yang keluar.

"Itu mungkin karena Connie adalah satu-satunya manusia yang punya raga fisik. Ngomong-ngomong, saat ini yang paling mendominasi tubuh ini adalah kau, Lloyd."

"……Repot juga ya."

Itu artinya sudah tidak ada lagi titik sambungan lainnya.

Tadi saja rasanya sangat sakit, akan sulit jika harus memisahkan yang lainnya lagi.

"Apa boleh buat. Sepertinya aku harus mencari metode lain."

"Tidak, bukankah sudah kubilang itu mustahil……"

"Kata 'mustahil' bagi Lloyd-sama justru akan memberikan efek sebaliknya, Kakak Behal. Orang ini selalu melangkah jauh melampaui imajinasi kita."

"Mumu, memang benar rasanya Lloyd akan bisa melakukan sesuatu…… tapi, tetap saja……"

Grim dan Behal bergumam entah apa, tapi aku terlalu sibuk memikirkan cara lain sampai tidak sempat mendengarkan mereka.

……Tapi mumpung ada kesempatan, aku juga ingin melakukan eksperimen pada tubuh ini.

Kesempatan untuk menangani tubuh mana secara langsung seperti ini kan jarang ada.

"Lloyd-sama, niat jahat Anda bocor keluar, lho."

"Oups, benar juga."

Tidak boleh, tidak boleh. Aku harus serius memikirkan solusinya. Sekarang adalah kesempatan selagi semua orang masih tertidur lelap karena kelelahan festival. Eksperimen bisa dilakukan setelah semuanya tenang. Sebelum ada yang menyadari──

"Lloyd—? Ah, ternyata di sini."

Di saat aku sedang berpikir begitu, pintu terbuka dan Ren yang memakai pakaian pelayan masuk ke dalam.

"Owaah!? Re-Ren!"

"……Lloyd? Pakaian apa itu? Kenapa kau punya tanduk segala?"

Begitu melihatku, Ren menyipitkan matanya dan memiringkan kepala. Sepertinya lebih baik aku jelaskan saja secara jujur.

"Ah—itu, sebenarnya begini dan begitu."

"Eh? Lloyd jadi iblis?"

"Tepatnya aku menyatu dengan Raja Iblis. Ngomong-ngomong, tubuhku yang itu."

"Uwaaaaa!? L-Lloyd matiiiiii!?"

Ren berlari mendekat dan memeluk tubuhku. Hei, hei, jangan membunuhku sembarangan.

"……Ah, benar juga, dia masih bernapas."

"Ya, tapi kesadaranku pindah ke sini dan tidak bisa dipisahkan lagi. Karena itu Ren, Connie, tolong bantu aku mengelabui orang-orang sampai aku bisa kembali."

"Kami……? Mengelabui orang-orang soal Lloyd yang terbaring koma……? Bukankah itu sulit?"

"Aku tahu ini permintaan yang mustahil. Tadinya aku berpikir untuk menitipkan tubuhku pada Grim atau Jiriel, tapi sepertinya tidak bisa."

Mereka berdua sudah bercampur dengan tubuh mana ini, dan sepertinya tidak mungkin dipisahkan.

Oleh karena itu, aku hanya bisa meminta bantuan Ren dan Connie.

"Umm, tapi kurasa mustahil untuk mengelabui Nona Sylpha."

"Benar juga. Setidaknya kalau dia tidak terbaring koma mungkin masih bisa, tapi……"

Keduanya saling pandang dan mengangguk. ……Benar juga. Lawannya adalah Sylpha yang bahkan menyadari keanehan sekecil apa pun. Mengelabuinya dengan kondisi terbaring koma memang terlalu berat.

"Kalau begitu, aku gunakan sihir sistem kontrol──nah."

Aku mengubah kepribadianku sendiri menjadi sebuah susunan mantra, lalu menempelkannya ke tubuh asliku.

Ini adalah hal yang bisa kulakukan karena sekarang aku sudah bisa memodifikasi mantra sampai ke tingkat yang sangat dalam.

Beberapa saat kemudian, tubuhku perlahan membuka mata dan menampakkan senyum yang segar.

"Hai Ren, Connie, selamat pagi. Kalian berdua cantik sekali hari ini."

"Uhuk-uhuk-uhuk!"

Ren tersedak hebat. Connie mematung.

"Bisa diurus oleh dua gadis cantik yang menawan seperti kalian, ah, betapa beruntungnya aku!"

Semua orang di sana mematung melihat tubuhku melakukan tarian bodoh sambil berputar-putar.

"A-Apa-apaan benda ini……"

"Kepribadiannya sama sekali tidak mirip dengan Lloyd-sama!"

"Muu, gagal ya."

Sepertinya memang sulit untuk meniru kepribadian sendiri. Kalau begini bakal sulit untuk mengelabui mereka.

"……Tidak, tapi ini malah mungkin berhasil. Nona Sylpha sepertinya bakal senang."

"Benar, terkadang dia pergi keluar dan menitipkan tubuhnya pada Grim atau Jiriel, tapi anehnya tidak ada yang keberatan. Kalau kami yang membantu, mungkin bakal baik-baik saja."

Tak kusangka penilaian mereka berdua cukup bagus.

……Tunggu, soal aku sering keluar dan menitipkan tubuh pada Grim atau Jiriel itu ternyata sudah ketahuan, ya.

Yah, lagipula aku kan Pangeran Ketujuh yang tidak mencolok.

Mungkin mereka memang tidak terlalu peduli.

Syukurlah kalau begitu. Ren dan Connie menatapku dengan mata sinis, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.

"Tapi dari niat awal ingin balas dendam pada Holy King, malah jadi urusan yang gila begini ya. Ternyata bergerak hanya karena rasa penasaran itu tidak baik. ……Ngomong-ngomong, ke mana ya dia pergi?"

──Holy King yang menghilang tepat setelah pertunjukan musik berakhir, padahal aku ada di sampingnya tapi aku tidak merasakan hawa keberadaannya sama sekali. Holy King, ya. Dia sosok yang misterius, tapi sebenarnya siapa dia?

"──Apa maksud dari semua ini?"

Suara bergema di ruangan serba putih. Holy King tampak merasa tidak enak saat menerima pertanyaan itu.

Di balik cadar putih di hadapannya terdapat sebuah bayangan manusia, yang memancarkan aura keagungan yang luar biasa.

"Seharusnya Aku memerintahkanmu untuk membunuh Raja Iblis. Namun, kau tidak memberikan serangan mematikan, bahkan membiarkan dia bangkit kembali begitu saja. Katakan padaku, apa alasanmu menentang perintah-Ku yang merupakan Dewa?"

Nada bicaranya tenang namun penuh penekanan.

Terasa sebuah kehendak yang tidak akan mentoleransi alasan yang main-main.

Meski berada di bawah tekanan Dewa yang luar biasa, Holy King menjawab dengan santai.

"Begini ya, Dewa-sama? Aku selalu berpikir, apakah benar-benar perlu mengalahkan iblis yang bahkan belum berbuat jahat sama sekali?"

Holy King memanggil sosok suara itu dengan sebutan Dewa, lalu mulai merangkai kata-katanya.

"Memang benar sebagian besar kaum iblis menganggap manusia tidak lebih dari serangga, bahkan nyawa kaum mereka sendiri dianggap lebih rendah dari sampah. Mereka benar-benar perwujudan kejahatan. Wajar saja jika ajaran agama menganggap mereka jahat, dan Aku mengerti sepenuhnya perintah untuk membunuh pemimpin mereka. Namun, setidaknya sebagai Holy King, Aku merasa perlu memastikan apakah nyawa yang Aku cabut itu benar-benar jahat atau tidak. Karena itulah Aku mencoba melihat jati diri Raja Iblis Behal yang sebenarnya."

"Ooh…… lalu, bagaimana hasilnya?"

"Yah, seperti dugaanku, dia memang sangat agresif dan liar. Kupikir aku bakal mati tadi. Benar-benar serius. Hahaha."

Holy King tertawa sambil melanjutkan bicaranya.

"Di tengah festival penyambutan seluruh negeri, tiba-tiba aku terperangkap dalam penghalang dan langsung diserang. Wah, 'bumi terbelah dan langit hancur' adalah ungkapan yang tepat untuk itu. Aku berhasil bertahan dengan Magic Song, tapi kurasa tidak ada jaminan aku akan selamat di lain waktu."

"Lalu kenapa kau tidak segera menghabisinya? Bukankah dia keberadaan yang sangat berbahaya?"

"Hanya karena itu saja. Dia memang mencoba mengalahkanku, tapi dia sama sekali tidak berniat melibatkan manusia lain. Bagi aku yang cinta damai, menganggap orang kasar seperti itu sebagai kejahatan mutlak secara sepihak adalah hal yang sangat sangat──"

Holy King menggelengkan kepalanya seolah merasa lelah, dan di saat itulah, badai besar berhembus di sekitarnya. Badai itu seolah mewakili amarah Dewa dan kekuatannya terus meningkat.

"Bercandamu sudah keterlaluan. Kekuatan membawa tanggung jawab. Takhta Holy King tidak semurah itu untuk diberikan pada orang yang tidak punya tekad."

"──Hei, hei, itu adalah kalimatku."

Tiba-tiba nada bicara Holy King berubah. Tenang, namun sangat tegas. Dia terlihat benar-benar berbeda dari Holy King yang biasanya.

"Bukankah dalam ajaran agama dikatakan bahwa setiap nyawa memiliki arti yang sama? Tapi hanya karena dia Raja Iblis, kau berniat membunuhnya sejak awal. Aku tidak merasa orang yang melakukan hal sembarangan sepertimu berhak menghakimi segala keberadaan."

"Kau……!"

Dewa menekan dengan amarah yang kuat, namun Holy King membalasnya dengan berani.

Pertarungan hawa keberadaan itu menciptakan badai yang dahsyat. Tertiup oleh badai itu, cadar yang memisahkan keduanya berkibar dengan liar.

"Metode membunuh lawan tanpa mengenalnya lebih dulu adalah hal yang hanya boleh dilakukan oleh kaum lemah yang tidak punya pilihan. Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, hal itu mungkin wajar dalam satu sisi. Tapi aku adalah Holy King, sosok yang bertugas menyampaikan pesan dari Dewa yang merupakan penguasa mutlak. Oleh karena itu, aku punya kewajiban untuk mendengar perkataan lawan, melihat tindakannya, dan baru setelah itu menjatuhkan vonis. Aku tidak mungkin membiarkan kau, pemimpin khayangan dan Dewa, menjatuhkan vonis sembarangan seperti itu."

"Dasar bodoh! Jika tindakanmu terlambat dan mengakibatkan hal yang harus dilindungi menjadi musnah, apa yang akan kau lakukan!?"

"Justru itu yang kubilang! Itu adalah logika kaum lemah, kakek tua!"

Holy King berteriak. Wajahnya tidak lagi terlihat lesu seperti biasa, melainkan menunjukkan raut wajah yang serius. Pusaran tekanan yang berhembus membuat rambutnya berkibar.

"Melalui perintahmu, 'Aku' sudah melihat berbagai macam orang. Yang kuat, yang lemah, yang baik, yang jahat, yang jujur, yang licik, yang adil, yang pengecut, yang punya alasan, yang tidak punya alasan, manusia, demi-human, bahkan iblis…… Ada iblis kuat yang menyatukan iblis jahat dan mencegah kerusakan di sekitar, ada pula manusia lemah yang memprovokasi manusia kuat dan mendatangkan kekacauan. Tidaklah mudah untuk mengetahui siapa yang jahat dan siapa yang baik. Namun sepertinya kau hanya memilih target hukumanmu secara asal saja."

"……Aku bisa mengetahuinya."

"Jangan bohong. Waktu itu kau menyuruhku mengalahkan demi-human, tapi setelah dia mati, segel di tempat itu lepas dan monster-monster bermunculan. Sebelumnya saat aku membunuh manusia pilihanmu, terjadi pemberontakan besar di daerah itu. Tidak hanya itu saja. Kasus-kasus serupa ada banyak sekali."

Memori masa lalu terlintas di benak Holy King.

Tentang bagaimana dia terus menggunakan kekuatannya sesuai perintah, dan setiap kali pula hal itu mengundang kekacauan.

Setiap kali keraguan itu membuncah, ia hanya bisa memendamnya di dalam hati, hingga tanpa sadar ia menutup hatinya sendiri.

"Dengan hasil seperti itu, apa kau masih pantas disebut Dewa? Bagiku itu adalah tindakan yang sangat memalukan, aku tidak sanggup melakukannya."

Tiba-tiba, badai tekanan yang tadinya berhembus kencang pun berhenti. Holy King tampak bingung.

Di balik cadar, Dewa tampak sedang menopang dagu dengan santai.

"Oups, apa kau baru saja menemukan alasan? Atau kau mau menyerah? Ayo, yakinkan aku. Dengan kebijaksanaan Dewamu itu."

Menanggapi provokasi Holy King, Dewa hanya memberikan tatapan dingin dan berkata:

"……Sayang sekali. Padahal Aku sangat mengharapkanmu."

Seketika, cahaya meluap terang. Sinar itu menelan sosok Holy King dan──

"Kh!? Tu—"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, seluruh sekeliling telah terlukis dengan warna putih bersih.

Dan──Holy King telah melenyapkan diri dari sana.

Di balik cadar, sang Dewa mengembuskan napas panjang dengan raut wajah yang tampak bosan.

"Yah, sekarang apa yang harus kulakukan?"

Setelah menyelinap keluar dari kastel, aku mencoba berbagai macam cara untuk membatalkan Fusion dengan Behal.

──Meditasi.

Kupikir aku bisa melakukan sesuatu dengan memusatkan kesadaran untuk menguasai setiap sudut manaku sendiri…… tapi gagal.

Ini bukan lagi sekadar ikatan, melainkan sudah menyatu dalam tahap seluler.

Menarik keluar kesadaranku dari tubuh ini ibarat mencoba memisahkan telur mentah dari puding yang sudah jadi.

Benar kata Behal, memisahkan diri setelah Fusion sepertinya memang sulit.

──Penghancuran.

Kalau begitu, aku memutuskan untuk menyiksa tubuhku sendiri sampai batas maksimal.

Ini adalah latihan keras yang biasa dilakukan para ahli beladiri untuk memacu fisik mereka. Tentu saja ini punya efek bagi penyihir, tapi ini pun gagal.

Bagaimanapun juga, tubuh ini adalah tubuh mana hasil Fusion dari iblis tingkat tinggi termasuk Behal.

Menabrakkan diri ke batu sekuat tenaga, tenggelam ke dasar laut dalam, hingga pergi ke tempat terekstrem panas maupun dingin pun sama sekali tidak memberikan beban apa pun.

──Penyegelan.

Lalu, aku mencoba menembakkan sihir penyegelan ke diriku sendiri.

Namun, manaku terlalu kuat sehingga susunan mantra penyegelnya tidak bisa aktif dengan benar.

Sihir memiliki berbagai batasan yang sudah ditetapkan.

Jika kau memasukkan mana yang melampaui batas tersebut, susunan mantranya justru akan hancur berantakan.

Sihir sederhana dengan batasan longgar mungkin masih bisa, tapi untuk sihir tingkat tinggi, aku harus repot-repot membuat susunan mantra orisinal dari nol.

Itu kedengarannya menarik, tapi bakal memakan waktu yang tak terhingga. Jadi, ini pun gagal.

"Aduh, repot juga. Aku tidak melihat ada cara untuk kembali."

Aku bergumam pelan sambil memandangi jejak kehancuran yang dahsyat di sekitarku.

"Bukankah sudah kubilang kalau kalian tidak akan bisa berpisah lagi…… tapi kenapa kau malah terlihat senang begitu, hah!"

"Kalau dibilang begitu, aku malah jadi makin semangat, tahu."

Mau bagaimana lagi, proses coba-coba seperti ini kan menyenangkan.

Tapi, sepertinya aku memang sudah menemui jalan buntu.

Semua pendekatan sihir yang bisa kupikirkan sudah kucoba, dan semuanya gagal.

Di benua es raksasa tak berpenghuni yang terletak di tengah laut—sekitar satu jam penerbangan dari Saloum—aku melakukan berbagai eksperimen hingga sekelilingku hancur berkeping-keping.

Wah, wah, aku melakukannya secara berlebihan ya.

"Lloyd-sama, monster-monster laut yang terkena imbasnya mulai bermunculan di permukaan, tuh."

"Sepertinya mereka jatuh dari es. Mereka menatap kita seolah-olah sedang menyalahkan."

"Oups, maaf ya…… Tunggu sebentar."

Aku menggerakkan ujung jariku dengan ringan, membuat benua es itu melayang di udara.

Setelah menyatukannya kembali seperti semula dengan sihir, aku mengembalikannya ke laut.

Byuur!

Gelombang besar menelan monster-monster laut itu, dan tsunami kecil membasahi pulau di dekatnya.

"……Melihat Anda membelah benua, aku tidak lagi terkejut. Tapi menyatukan dan memisahkan bongkahan es sebesar itu layaknya tanah liat…… Bukankah dulu Anda tidak bisa melakukan hal sejauh ini?"

"Pusaran mana yang meledak-ledak, dan sepertinya masih banyak ruang yang tersisa. Yah, karena Lloyd-sama menyatu dengan Raja Iblis itu, wajar saja jika kekuatannya jadi seperti ini."

Grim dan Jiriel tampak sangat ilfeel.

Seperti yang mereka katakan, tubuh ini memang abnormal bahkan di mataku sendiri.

Tanpa menggunakan sihir khusus, hanya dengan melepaskan mana saja aku bisa mengangkat seluruh benua, ditambah lagi itu hampir tidak menguras manaku sama sekali.

Meski itu diriku yang asli, aku tidak akan bisa melakukan atraksi semacam itu tanpa menggunakan sihir skala besar.

Namun seperti yang kukatakan sebelumnya, karena saat ini manaku terlalu banyak, sihir tingkat tinggi tidak bisa langsung kugunakan dan malah jadi berlebihan.

Sebagai orang yang ingin menguasai segala macam sihir, aku tidak bisa merasa senang begitu saja.

Aku tidak yakin Ren dan yang lainnya bisa terus mengelabui orang-orang untuk waktu yang lama, jadi aku tidak punya waktu untuk bersantai.

"Hmm…… Memang tidak ada cara untuk membatalkan Fusion. ……Tapi, kalau tidak salah ada cerita tentang Raja Iblis dari beberapa generasi lalu yang menyerang Khayangan."

Tiba-tiba Behal mulai bercerita seolah baru teringat sesuatu.

"──Gluttony sang Raja Iblis Kerakusan. Sosok yang menelan segala macam kehidupan melalui Fusion, dia dikenal sebagai Raja Iblis terkuat sepanjang sejarah. Awalnya dia hanyalah monster kecil, tapi dia terus melahap berbagai monster, iblis, hingga kaum iblis tingkat tinggi sampai akhirnya disebut sebagai Raja Iblis Kerakusan yang terbesar dan terkuat."

"A-Aku juga pernah dengar soal itu! Katanya jika dia memutuskan untuk bertarung, dia akan melakukan penyelidikan mendalam. Begitu melihat lawan lebih kuat darinya, dia akan segera melarikan diri…… Dia tidak akan pernah melakukan pertarungan yang merugikannya."

Cara agar tidak pernah kalah adalah dengan tidak bertarung, ya.

Dengan memegang teguh prinsip itu, dia berhasil menjadi Raja Iblis. Masuk akal juga.

"Tapi kenapa sosok seperti itu berani mengambil risiko untuk menyerang Khayangan? Itu tidak logis."

Sejauh yang kudengar dari ceritanya, kepribadiannya bisa dibilang sangat penakut.

Sepertinya dia bukan tipe orang yang akan mendatangi tempat berbahaya atas kemauannya sendiri.

"Karena menjadi yang terkuat di Dunia Iblis, Gluttony akhirnya diincar oleh Dewa. Setiap hari pasukan malaikat menyerbu Dunia Iblis, hingga akhirnya karena merasa terdesak, dia memutuskan menyerang Khayangan."

"Menyerang sebelum diserang, ya. Lalu apa yang terjadi?"

"Umu. Katanya selama tiga hari tiga malam setelah dia berangkat ke Khayangan, tak terhitung banyaknya monster dan iblis yang berjatuhan dari langit. Kabarnya di antara mereka juga ada sosok-sosok yang pernah ditelan oleh Gluttony sebelumnya. Setelah pertempuran hebat itu, Khayangan kembali tenang dan Gluttony dikatakan tidak pernah kembali lagi."

"Jadi Raja Iblis terkuat pun bukan tandingan Dewa."

Behal pun kalah telak saat melawan Holy King sebelumnya.

Sepertinya kekuatan Dewa—yang merupakan sumber dari Sihir Suci—memang memiliki efek yang sangat kuat terhadap kaum iblis.

"Hmm…… Itu artinya, di Khayangan ada cara untuk membatalkan Fusion!"

"Kemungkinan besar begitu, meski aku tidak bisa menjaminnya."

Behal mengangguk. Aku sudah mencoba berbagai hal tadi, dan sepertinya Fusion ini tidak akan lepas bahkan jika aku mati sekalipun.

Meski begitu, fakta bahwa Fusion milik Raja Iblis Kerakusan bisa terlepas berarti Khayangan memegang kunci untuk mengembalikanku ke wujud semula.

"Ngomong-ngomong, aku pernah dengar. Di hadapan Dewa Yang Maha Esa yang berdiri di atas ke-64 Dewa Khayangan, tidak ada keberadaan yang bisa memalsukan wujudnya──mungkin hal itu juga berlaku bagi mereka yang berubah karena Fusion."

"Artinya kalau kita bertemu Dewa itu, Lloyd-sama bisa kembali ke wujud aslinya!?"

"……Sudah diputuskan."

Kita pergi ke Khayangan, bertemu Dewa, dan minta Fusion ini dibatalkan.

Sekalian saja aku melihat caranya agar bisa menganalisis Fusion lebih dalam, supaya nanti aku bisa melakukannya sesuka hati.

Hmm, aku jadi bersemangat.

"Jadi, kita berangkat sekarang. Jiriel, kau pergi duluan ke Khayangan dan buka jalannya."

"Siap, laksanakan!"

Untuk pergi ke Khayangan, kita harus menembus dinding dimensi.

Namun tempat itu ibarat kegelapan yang pekat, dan kita tidak akan bisa bergerak jika tidak ada penanda di tempat tujuan.

Oleh karena itu, aku berniat menyuruh Jiriel—sang penduduk asli Khayangan—untuk pergi lebih dulu, tapi──

"Tu-Tunggu sebentar, Lloyd-sama!"

Jiriel berteriak dengan wajah panik. Ada apa gerangan?

"G-Gawat! Gerbang dimensinya tertutup! Dengan begini kita tidak bisa pergi ke Khayangan!"

"Hei, hei, apa kau akhirnya benar-benar diusir dari Khayangan, malaikat sialan?"

"Mana mungkin begitu, dasar iblis bodoh! ……Mungkin, harusnya tidak begitu……!"

Meskipun membalas, Jiriel terlihat tidak percaya diri.

Hmm, apakah ini sebuah situasi darurat? Ataukah ini efek karena dia terlalu lama berada di dunia manusia?

"Entahlah…… tapi kurasa tidak ada masalah."

"……Eh?"

Grim dan Jiriel membelalakkan mata mereka dengan bingung.

Tanpa peduli, aku mengaktifkan susunan mantra perpindahan ruang.

"Kita tinggal mendobraknya saja secara paksa."

"G-Gawat, Lloyd-sama! Menembus dinding dimensi tanpa jalur itu terlalu nekat! Itu ibarat mencari sebutir pasir yang jatuh ke dasar samudra!"

"Benar! Jika kita tersesat di sela-sela dimensi, kita akan kehilangan segalanya dan tidak akan pernah bisa keluar lagi!? Walaupun itu Anda, ini terlalu gegabah!"

"Yah, nanti juga bakal beres, kok."

Aku mengabaikan mereka dan mengaktifkan Space Transfer, lalu melompat ke dalam dinding dimensi.

Pandanganku seketika menjadi hitam pekat, suara-suara menghilang, dan segala sesuatunya menjadi tidak jelas.

"Gyaaaaa! Gelap! Takut! Berat! Mati, aku mati! Aku bakal matiiii──!"

"Aaah, aku tidak akan bisa mendengar suara Saria-tan atau Isha-tan lagi…… tidak mauuu──! Aku tidak mau matiii──!"

"Kalian berdua berisik sekali."

Grim dan Jiriel berteriak dengan nada putus asa.

Padahal tidak perlu setakut itu. Soalnya kita sudah hampir sampai.

"Gyaaaaa! Tidak mauaaa──!"

"Hieeee! Tolong──!"

Kegelapan terbuka, dan kami tiba di atas lautan awan, tapi Grim dan Jiriel masih meronta-ronta dengan panik.

"Sudah sampai."

"Bo-Bohong, kan……?"

"Se-Serius, ini benar-benar Khayangan!"

Dengan wajah seolah tidak percaya, keduanya celingak-celinguk melihat sekeliling.

Kan sudah kubilang. Tidak ada masalah.

"Hmm, menembus dinding dimensi hanya dengan kecepatan murni, ya. Benar-benar cara yang kasar…… tapi bagi dirimu yang sekarang, hal semacam ini mungkin memang tidak sulit."

Seperti yang dikatakan Behal, aku menerjang dinding dimensi dengan kecepatan super tinggi, lalu melakukan teleportasi dalam satu garis lurus.

Dulu, jarak maksimal yang bisa kutempuh dalam sekali jalan paling hanya beberapa puluh kilometer, dan teleportasi jarak jauh pun mustahil jika tidak ada jalur.

Tapi sekarang, manaku sudah meningkat pesat hingga menempuh jarak dari ujung dunia ke ujung dunia lainnya pun hanya akan menghabiskan kurang dari sepuluh persen saja.

Intinya, orang tersesat karena mereka berhenti. Jika melesat lurus, menembus dinding dimensi pun adalah hal yang masuk akal.

Ibarat jika kau mencoba keluar dari hutan dengan berjalan kaki, kau mungkin akan tersesat. Tapi jika kau menerjang lurus dalam waktu singkat, kau tidak akan tersesat.

……Meski begitu, yang tadi menghabiskan sekitar dua puluh persen dari total manaku. Ternyata dindingnya cukup tebal juga ya.

"Ini…… sepertinya kita berada di ujung Khayangan. Teleportasi yang nekat, tapi sepertinya kita berhasil sampai."

"Heh—begitu ya. Pokoknya, aku serahkan pemanduannya padamu, Jiriel."

"Daerah sini terlalu pelosok, bahkan bagi aku yang merupakan anak kota pun tidak terlalu paham……"

Bagiku tempat ini tidak jauh berbeda dengan tempat yang kudatangi sebelumnya…… awan-awanan yang melayang lembut, tapi bagi malaikat mungkin ada berbagai macam hal yang berbeda.

"Ah, tidak, tidak masalah. Seberapa pelosok pun tempat ini, Jiriel ini pasti akan memandu Lloyd-sama sampai ke hadapan Dewa!"

"Ya, aku mengandalkanmu."

Jiriel membungkuk dengan hormat, lalu merogoh ke dalam gumpalan awan di dekatnya.

Dia sepertinya sedang mencari-cari sesuatu……?

"Dewa tinggal di istana besar di pusat Khayangan. Karena di Khayangan tidak banyak penanda, kami bergerak menggunakan kereta kuda. Kami berpindah-pindah dengan cara membiarkan kudanya mengingat bau yang menjadi penanda. Dan cara untuk memanggil kudanya adalah…… oh, ada, ada."

Yang dia keluarkan adalah wortel. Eh…… dari mana dia mengeluarkan benda seperti itu?

"Ini namanya Wortel Awan, biasanya tertanam di ladang awan."

"Tempat itu ladang, ya……"

"Karena ini daerah pelosok. Mungkin ini sebuah keberuntungan. Jika aku mengangkat ini, segera saja…… oh, itu dia datang."

Saat aku menoleh ke arah yang ditunjuk Jiriel, aku melihat seekor kuda mendekat dari balik awan.

……Itu bukan kuda biasa, tapi kuda yang memiliki sayap. Itu adalah Pegasus, ya.

"Hihiiiin!"

"Mari, silakan naik."

Pegasus itu berhenti di depan kami, lalu merebut wortel dari tangan Jiriel dan mulai mengunyahnya dengan lahap.

"Heh, naik Pegasus ya, Khayangan ternyata tempat yang cukup asyik juga."

"Buhihiiiin!"

"Owa!? Bahaya!"

Saat Grim sedang menepuk-nepuk pantat Pegasus itu, kuda tersebut sepertinya marah dan mengembuskan napas dengan kasar dari hidungnya.

Hei, hei, kalau kau berdiri di belakang kuda, kau bakal ditendang, tahu.

"Tenang, tenang."

"Brrr……"

Saat aku mencoba menenangkannya, Pegasus itu terlihat nyaman dan menggosokkan lehernya padaku.

"Luar biasa Lloyd-sama, Anda sudah terbiasa menangani kuda ya."

"Aku diajarkan banyak hal sebagai bagian dari tata krama bangsawan."

Dulu aku pernah diajari oleh Albert. Sebagai anggota kerajaan, tidak bisa menunggangi kuda adalah hal yang memalukan. Aku tidak menyangka ilmu itu akan berguna di tempat seperti ini.

"Dan dengan begini…… jika kita memasangkan tali kekang yang dibuat dari Light Armor, Pegasus akan merasakan mana kita dan bisa dikendalikan sesuka hati. Seperti ini."

Begitu Jiriel memasangkan tali kekang dengan Light Armor, Pegasus itu menjadi tenang.

Hmm, sepertinya di sekitar mulutnya ada organ pendeteksi mana. Jadi dia memanfaatkan hal itu, ya.

Kuda sungguhan pun punya sensasi yang tajam di sekitar wajahnya (lebih tepatnya, karena bagian tubuh lainnya tertutup otot tebal sehingga perintah sulit tersampaikan), jadi tali kekang harus dipasangkan di mulut untuk memberikan instruksi yang mendetail.

"Baiklah, aku juga akan mencobanya."

Begitu aku membuat tali kekang dengan Light Armor dan hendak memasangkannya ke leher Pegasus, tiba-tiba saja.

"Hihihiiin!?"

Pegasus itu meringkik dengan suara yang sangat tinggi dan melarikan diri dariku.

Namun sepertinya dia masih menyayangkan wortelnya, sehingga dia hanya mengawasi dari kejauhan.

"……Lho?"

"Sepertinya dia takut dengan mana milik Lloyd-sama."

"Mana Lloyd-sama saat ini memang luar biasa mengerikan. Mungkin dia takut bakal gosong jadi abu."

Eeeh…… padahal aku sudah berharap bisa menunggangi monster suci Khayangan.

Lagipula, membayangkan jadi abu itu berlebihan sekali, memangnya aku ini insinerator apa.

Padahal aku sudah berusaha menekan manaku sebisa mungkin, tapi masih kurang ya. Benar-benar tubuh yang sulit dikendalikan.

"……Hmm? Kalau begitu, bagaimana kalau aku mengaktifkan sihir penyembuhan di saat yang bersamaan."

Ibaratnya, aku adalah api yang akan membakar jika didekati, maka jika di saat bersamaan aku menyelimutinya dengan hawa dingin, seharusnya tidak akan ada kerusakan yang terjadi. Mari kita coba.

"Nah, begini."

"Hihiin!?"

Sambil memasangkan tali kekang pada Pegasus yang mencoba kabur, aku mengaktifkan sihir penyembuhan di saat yang bersamaan.

"Buhihihihiiiiiiin!?"

Tiba-tiba Pegasus itu berdiri dengan kaki belakangnya dan mencakar udara dengan kaki depannya.

Sepertinya dia bingung dan mulai meronta-ronta dengan mata membelalak.

Hmm—? Apa aku salah cara ya? Aku benar-benar tidak tahu takarannya.

Setelah memperhatikannya sebentar, dia mulai tenang dan menundukkan kepalanya di hadapanku.

"Hei, hei, hei, kuda yang tadi mencoba kabur itu tiba-tiba menunduk pada Lloyd-sama!?"

"Melukai sekaligus menyembuhkan adalah dasar dari penyiksaan. Dengan melakukannya di saat yang bersamaan, Anda langsung menanamkan hubungan hierarki ke dalam tubuh Pegasus itu. Luar biasa Lloyd-sama, Anda memang sosok yang menakutkan……"

Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu, padahal aku berniat memilih cara yang damai, lho.

Bagaimanapun juga, aku akhirnya menunggangi Pegasus dan melesat membelah langit Khayangan.

Sambil terbang melintasi langit dengan Pegasus, aku merasakan hembusan angin yang menyegarkan.

"Wah, terbang dengan cara selain sihir ternyata pengalaman yang baru juga ya."

Sejak lahir, aku tidak pernah terbang tanpa bantuan sihir.

"Sekali-sekali terbang santai begini asyik juga."

"Padahal Pegasus ini larinya kencang sekali, lho……"

"Bagi kecepatan terbang Lloyd-sama, ini mungkin setara dengan balita yang baru belajar jalan."

Aku bertanya pada Grim dan Jiriel yang terus menggumamkan sesuatu.

"Jadi, berapa lama sampai ke istana?"

"Dengan kecepatan ini, mungkin sekitar setengah hari lagi."

"Hmm, agak lama ya…… Baiklah."

Setelah bergumam begitu, aku merapalkan sihir penguat tubuh (Physical Enhancement) pada Pegasus.

"Buhihiiiin!?"

Pegasus itu meringkik dengan nada tinggi dan mulai berlari dengan sangat kuat.

"Ooh! Akselerasi yang luar biasa! Itu sihir penguat tubuh, ya!"

"Ya, aku mencoba menggunakan yang paling lemah, dan masih kukurangi lagi kekuatannya."

Dengan memodifikasi susunan mantranya, aku merapalkan penguat tubuh dengan hanya satu persen dari kekuatan aslinya.

Dengan manaku yang sekarang, penguatan yang salah justru bisa berujung pada pelemahan.

Sihir penguat tubuh itu ternyata cukup sensitif, ya. Jika mana yang dialirkan terlalu kuat, itu justru akan menghancurkan raga fisiknya.

Jika digunakan pada diri sendiri mungkin tidak masalah, tapi saat digunakan pada orang lain, pengaturan takarannya benar-benar diperlukan.

Meskipun begitu, efeknya terlihat jelas, Pegasus itu terus meningkatkan kecepatannya.

"Wah! Cepat sekali! Kalau begini, tidak sampai satu jam kita akan sampai!"

"Habisnya, aku tidak bisa menunggu sampai setengah hari."

Selain karena harus segera kembali, aku juga merasa sangat antusias untuk bertemu Dewa.

Pasti ada banyak hal menarik lainnya selain membatalkan Fusion. Aku benar-benar ingin melihatnya sendiri. Hehe.

"Hihiiiin!"

Sambil mendengarkan ringkikan Pegasus, hatiku berdebar membayangkan pertemuan dengan Dewa nanti.

"Hmm, apa itu?"

Di ujung langit yang tak berbatas, aku melihat sesuatu yang bersinar.

Apa itu ya? Sepertinya dia mendekat ke arah sini.

"Cahaya itu…… Ha!? Lloyd-sama, bahaya! Mohon merunduk!"

Saat Jiriel berteriak, cahaya itu sudah berada tepat di depan mata.

Itu adalah panah. Panah yang dilepaskan dengan kecepatan luar biasa itu menembus penghalang manaku.

Menghancurkan penghalangku yang sudah diperkuat…… oh, tapi kalau dipikir-pikir, penghalang mana tipe otomatis yang kupakai sekarang adalah benda yang kubuat sebelum Fusion, jadi memang rapuh karena tidak sesuai dengan kapasitas manaku yang sekarang.

Meski begitu, fakta bahwa dia bisa menembusnya dengan mudah seperti menusuk kertas padahal Behal pun tidak bisa melakukannya dengan gampang, menunjukkan kekuatan yang luar biasa.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, panah berikutnya sudah mendekat. Aku tidak apa-apa, tapi Pegasus ini dalam bahaya.

Tepat sebelum panah itu mengenainya, aku menepisnya dengan satu tangan! Pang!

Setelah panah itu menembus awan, sebuah pilar cahaya membubung tinggi.

"A-Anak panah gila seperti itu ditepis dengan enteng layaknya menepuk nyamuk…… ditambah lagi kecepatan reaksinya tidak masuk akal. Aku sama sekali tidak melihat apa yang barusan terjadi……"

"Heh, luar biasa, Lloyd. Kekuatan murnimu saja sudah di luar nalar. Seperti yang diharapkan dari rivalku."

Grim dan Behal terus bergumam, tapi Jiriel tidak punya waktu untuk itu.

Seluruh tubuhnya gemetar hebat, dan matanya tidak fokus. Ada apa dengannya? Dia terlihat sangat panik……?

"Pe-Pemilik panah ini…… mana mungkin…… tidak mungkin……!"

Ke arah pandangan Jiriel, cahaya itu mulai membentuk wujud manusia.

Seorang pria raksasa berotot kekar mengenakan seragam putih bersih di tubuh raksasanya.

Di tangan kiri dan kanannya ia memegang rantai besar yang bergemerincing, dan di sepasang tangan lainnya ia memegang busur dan anak panah.

Ia memiliki empat lengan, ditambah enam pasang sayap di kiri dan kanan.

Di balik kacamata hitam yang dipakainya, mata tajamnya menatap kami dengan rendah.

"De-Dewa Khayangan ke-64…… Tuan Alcatraz……!"

"Hoh, sepertinya kau tidak melupakanku ya. Jiriel."

Keduanya saling berhadapan dan bertukar kata.

Sepertinya mereka saling kenal.

"……Jadi, dia siapa?"

"Singkatnya, dia adalah atasan saya. Dia memimpin banyak malaikat dan merupakan pilar yang menopang Khayangan di bawah Dewa Yang Maha Esa!"

Dewa Khayangan ke-64…… seingatku saat pertama kali bertemu Jiriel, dia pernah menyebutkan sesuatu yang mirip dengan itu.

"Artinya dia itu manajer tingkat menengah, ya."

Kalau begitu jangan pakai nama Dewa dong. Kan jadi membingungkan.

Jiriel bertanya dengan nada ketakutan pada Alcatraz yang perlahan turun.

"Selamat datang, Tuan Alcatraz. Ada keperluan apa Anda mendatangi kami……?"

"Hei, hei, jangan bilang kau sudah lupa? Dasar tidak tahu malu, beraninya kau kembali ke Khayangan."

Alcatraz yang memelototi Jiriel perlahan membuka gulungan kertas yang dibawanya.

"Malaikat Jiriel, kau tidak hanya menjadi famili manusia, tapi juga hidup berdampingan dengan iblis, kaum iblis tingkat tinggi, bahkan Raja Iblis. Dosamu yang memengaruhi dunia manusia secara signifikan sangatlah berat. Oleh karena itu, kau dijatuhi hukuman jatuh ke dunia bawah (堕天)…… tapi itu sebenarnya keputusan dari setengah tahun yang lalu, sih."

"Eh? Eeeeeeeeh!?"

Kalau tidak salah, tadi Jiriel sempat bilang kalau dia tidak bisa masuk ke Khayangan ya.

Seperti kata Grim, sepertinya dia memang sudah diusir. ……Kasihan sekali.

"Yah, sebagian besar itu gara-gara Lloyd-sama, sih."

"Meskipun dia malaikat, menyedihkan sekali……"

Grim dan Behal melontarkan kritik, tapi aku pura-pura tidak dengar saja.

Mau bagaimana lagi. Aku kan juga punya hal yang ingin kulakukan.

"I-Itu memang benar seperti yang Anda katakan, dan mungkin ada bagian yang tak terhindarkan…… tapi bukankah tidak perlu langsung menyerang seperti itu!?"

"Bodoh, bukan sosok rendahan sepertimu yang aku incar. ……Hei, Nak."

Alcatraz mengalihkan pandangannya padaku dan mulai memasang anak panah baru.

Ia memancarkan aura membunuh yang sangat kuat dan memelototiku dengan tatapan yang mengintimidasi.

"Lloyd di Saloum──kau tidak hanya mempekerjakan malaikat dan iblis, tapi sepertinya kau juga sudah melakukan banyak hal gila. Menepis anak panahku dengan enteng seperti itu, kau benar-benar…… tidak, kau adalah keberadaan yang sangat unik di antara manusia. Memiliki ketertarikan pada sihir hingga bisa melangkah sejauh itu adalah hal yang hebat dalam satu sisi."

"Ah, tidak sehebat itu, kok."

"Itu bukan pujian, tahu!? ……Yah, itu saja sebenarnya sudah cukup buruk, tapi menyembunyikan Raja Iblis adalah hal yang terlarang. Raja Iblis adalah keberadaan berbahaya yang bahkan mengancam Khayangan, sehingga perlu dimusnahkan sejak awal. Kau yang sudah menyatu dengannya pun tidak terkecuali."

"Ooh, jadi kau mau membatalkan Fusion kami?"

"Sayang sekali, cara untuk membatalkan itu──tidak ada!"

Alcatraz menjawab pertanyaanku dengan serangan dari rantai yang ia ayunkan tinggi-tinggi.

Aku mencoba menepisnya dengan tangan kosong, namun rantai itu meliuk seperti makhluk hidup, menghindari tanganku dan menghantam keningku.

Rantai itu kemudian melilit sekujur tubuhku dan mengunci pergerakanku.

Hmm, jika diperhatikan lebih dekat, rantai ini bukan benda padat, melainkan gumpalan mana.

Karena hampir terwujud secara fisik, bisa dibilang ini adalah Light Armor dengan densitas mana yang sangat tinggi.

"Fuhahha! Prisoner God Chain ini bergerak sesuai kehendakku untuk menangkap musuh! Kekuatannya lebih keras dari apa pun di permukaan dunia, mustahil untuk dihancurkan! Nah, menyerahlah dengan tena—"

Brak! Terdengar suara keras saat rantai itu hancur berkeping-keping.

Rantai yang hancur berkeping-keping itu jatuh ke tanah, lalu menghilang menjadi partikel cahaya.

"Ternyata lebih empuk dari dugaanku. Baru diberi tenaga sedikit saja sudah putus dengan mudah."

"Si brengsek itu sombong sekali bilang rantainya paling keras sedunia, tapi sepertinya Lloyd-sama adalah pengecualian, ya."

"Yah, Lloyd-sama memang sosok yang seolah menjadi definisi dari penguasa tunggal di langit dan bumi."

Karena dia membawa nama Dewa Khayangan ke-64, aku sempat berekspektasi sedikit, tapi yah, mau bagaimana lagi kalau dia cuma setingkat manajer menengah.

Sepertinya aku tidak bisa berharap banyak padanya soal pembatalan Fusion. Aku benar-benar harus bertemu langsung dengan Dewa.

"Tidak mungkin…… Prisoner God Chain yang membanggakan tingkat kekerasan tertinggi di antara pusaka suci bisa hancur semudah ini…… ini mustahil……"

"Eks—anu, sudah selesai, kan? Aku sedang buru-buru, lho."

"MUSTAHIIIIIIIL!"

"Berisik sekali, kau ini cuma pengganggu kecil!"

Ekor iblisku bergerak sendiri dan memukul Alcatraz yang mencoba menyerang lagi hingga ia terpental jauh.

Sepertinya Behal yang menggerakkannya.

Karena Grim dan yang lain bersemayam di kedua tanganku, dia memutuskan menggunakan ekor.

"……Hmm, aku melihat sesuatu lagi di sana."

Saat aku menatap ke arah terpentalnya Alcatraz, awan hitam tampak bertumpuk seperti gunung.

Kilatan petir menyambar-nyambar di sana, memancarkan atmosfer yang mencekam.

"Itu adalah penjara, Tuan. Aku pernah dengar tempat itu berada di ujung Khayangan."

"Begitu ya. Jadi Alcatraz itu penjaganya, toh."

"Heh, penjara Khayangan, ya. ……Kedengarannya menarik."

Orang-orang yang dikurung di dalam penjara biasanya adalah tipe orang-orang yang unik.

Apalagi ini di Khayangan. Tidak aneh jika ada satu atau dua orang yang bisa menarik minatku.

Jiriel juga sepertinya sudah diusir dari sini, dan kalau Fusion ini sudah lepas, aku mungkin tidak akan punya kesempatan untuk datang lagi. Lebih baik aku melihat-lihat selagi sempat. Hehe.

"Baiklah, ayo kita ke sana."

Aku kembali menunggangi Pegasus dan memacunya menuju arah penjara.

Di dalam penjara yang gelap gulita, seorang pria tampak terikat.

Dia adalah Holy King. Kedua tangan dan kakinya dirantai, seluruh tubuhnya penuh noda darah dan luka lebam.

Bekas penyiksaan terlihat sangat menyakitkan di sekujur tubuhnya.

Meskipun begitu, Holy King menunjukkan wajah yang damai, bahkan terdengar suara dengkuran halus saat dia tertidur.

Berbanding terbalik dengannya, malaikat interogator yang berdiri di depannya tampak bersimbah keringat.

"Cih…… Bangun!"

Si interogator meninggikan suaranya, lalu mengayunkan cambuk ke arah Holy King.

Cetar! Suara tajam terdengar saat cambuk itu menghantam kulit. Tubuh Holy King berguncang hebat, ia perlahan membuka mata dan menguap lebar.

"Fuaaa…… Selamat pagi. Dan terima kasih atas kerja kerasnya. Apa sudah lewat setengah hari?"

Jangankan setengah hari, kenyataannya sudah dua hari berlalu.

Melihat ekspresi santai itu, pelipis si interogator berkedut marah.

Ia mengambil besi panas dan menekannya ke dada Holy King.

Cisss!

Bau daging terbakar yang menyengat memenuhi ruangan, namun Holy King tetap memasang wajah tenang.

"……Jangan melunjak hanya karena kau manusia. Tidak ada masa depan bagi pengkhianat Dewa sepertimu. Nasibmu adalah disiksa di sini sampai mati!"

"Panas, panas. Padahal aku sudah cukup introspeksi diri, lho. Makanya aku sengaja menerima penyiksaan membosankan seperti ini, kan? Harusnya kau menghargai sikapku ini, sungguh."

"Introspeksi diri!? Kau sama sekali tidak terlihat menyesal, keparat!"

Interogator itu memukul wajah Holy King dengan besi panas sekuat tenaga, namun Holy King membalasnya dengan senyum tanpa beban.

"Memangnya kamu tahu dari mana? Siapa tahu dalam hati aku sedang menyesal. Menurutku, penilaian sepihak begitu tidak baik, lho. Karena itulah kamu tidak naik jabatan dan masih terjebak di pekerjaan remeh sebagai interogator, kan?"

"……Grrr, KEPARAT KAU……! Jangan meremehkanku!"

Buk! Buk! Buk!

Suara hantaman terus bergema di dalam penjara.

Namun, kontras dengan si interogator yang napasnya mulai tersengal, Holy King tetap terlihat biasa saja.

"Aku jadi ingin memberi sedikit kritik, nih. Belakangan ini Dewa-sama terlalu memikirkan dunia bawah. Padahal sebagai Dewa, dia harusnya tetap tenang dan berwibawa. Jangan-jangan, dia sedang merasa takut? Bagaimana menurutmu?"

"Mana aku tahu!"

Meski terus dipukul dengan besi panas, Holy King tetap melanjutkan kata-katanya tanpa peduli.

"Coba pikirkan baik-baik. Kalau Dewa-sama takut pada orang kuat, bukankah itu berarti dia tidak jauh berbeda dengan manusia biasa? Apa boleh kita tetap mengikuti sosok seperti itu? Jika kalian tidak berani mengatakannya, bukankah aku sebagai Holy King yang harus menyuarakannya? Kalau aku tidak mengatakannya, dia tidak akan sadar kalau tindakannya aneh, dan itu kasihan bagi Dewa-sama."

"Dewa tidak memiliki emosi seperti itu!"

"Yah, yah, tapi karena Dewa-sama marah jugalah aku berakhir disiksa begini…… Ah, di situ, di situ. Rasanya agak enak."

"Diam! Diam, diam, diamm!"

Penyiksaan semakin brutal, namun Holy King sama sekali tidak ambil pusing.

Wajah si interogator justru semakin terdistorsi oleh rasa gelisah dan ketakutan.

"Yah, Dewa-sama sudah hidup berapa puluh ribu tahun, sih? Wajar saja kalau dia mulai pikun, kan? Sudah saatnya dia menyerahkan tugasnya pada generasi berikutnya. Apa tidak ada aspirasi dari bawah seperti itu? Kalau mau, aku bisa menyampaikannya, lho. Hukuman setingkat ini sih tidak ada apa-apanya bagiku."

"Dewa adalah keberadaan yang tunggal dan tiada tara! Kami hanya bertugas mematuhinya! Beliau tidak perlu mendengar pendapat sampah sepertimu!"

"Aduh, aduh, benar-benar buta karena iman, ya."

Melihat Holy King yang menghela napas, si interogator menggertakkan giginya kuat-kuat.

"Cih…… Sepertinya penyiksaan fisik tidak mempan padamu. Aku sudah dengar rumor tentangmu, tapi aku tidak menyangka akan sejauh ini……"

"Aha, sebenarnya ini cukup sakit, lho. Hanya saja, orang setingkatmu mungkin agak sulit untuk membuatku merasa menderita."

Melihat Holy King yang tertawa memprovokasi, si interogator membalasnya dengan senyum yang menyimpang.

"……Kuku, tapi mari kita lihat sampai kapan kesombonganmu itu bertahan."

"?"

Holy King menunjukkan tanda tanya di wajahnya. Si interogator berbalik memunggungi sang tawanan, menengadahkan tangan ke ruang kosong, lalu mulai merapal sesuatu.

"Jawab panggilanku dan munculah, Jendela Khayangan. Tampilkan pemandangan dunia bawah ke hadapanku."

Wung! Ruang terdistorsi, menciptakan sebuah jendela mana.

Di sana terpampang pemandangan desa agraris yang tenang di permukaan tanah.

Orang-orang bekerja keras di ladang sambil berbincang dan tertawa riang.

Melihat Holy King yang terpaku menatap itu, si interogator tersenyum licik.

"Akhirnya raut wajahmu berubah juga, ya? Kuku…… Benar sekali. Ini adalah desa tempatmu dilahirkan. Sepertinya sekarang sedang musim panen. Semua orang terlihat sibuk, ya…… Waktu yang damai dan tenang memang sangat berharga."

Sambil menyeringai, cahaya mulai berkumpul di ujung jari sang interogator.

Light Armor, tak terhitung banyaknya anak panah cahaya yang melingkar membentuk pusaran.

Sejalan dengan itu, di langit di atas desa tersebut, ribuan anak panah cahaya mulai berkumpul.

"Ka—kamu jangan-jangan……!"

"Kuku, akhirnya kau ketakutan juga, ya? Sialan, harusnya dari awal aku lakukan ini saja. Dewa Yang Maha Esa ternyata terlalu berhati lembut. Ini adalah hukuman. Untukmu yang terus bersikap kurang ajar. Inilah akibatnya jika manusia rendahan berani melawan Malaikat."

Si interogator menggerakkan jemarinya dengan riang, menatap Holy King dengan penuh rasa haus akan penderitaan orang lain.

"Nah, kau tahu kan apa yang akan terjadi pada mereka jika aku menggerakkan jari ini sedikit saja? Jadi menyerahlah dengan tena—Guberakk!?"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, leher si interogator tertekuk ke arah yang tidak masuk akal.

Itu tendangan. Tepat setelah Holy King menyadari hal itu, ledakan dahsyat berdentum diiringi debu tanah yang menutupi sekeliling.

"Uhuk, uhuk…… Se-Sebenarnya apa yang terjadi……?"

Di depan mata Holy King yang terbatuk-batuk, kepulan debu itu bergoyang hebat.

"……Cih, membunuh kecoak seperti itu saja tidak bisa langsung mati. Sumpah ini benar-benar menyebalkan, membatasi seranganku hanya boleh dilakukan pada bocah sialan itu."

Dari balik debu yang memudar, muncullah Guisarm.

Sambil mendecak kesal, ia menurunkan kakinya yang baru saja ia gunakan untuk menendang.

"Giza-Giza, ya. Jangan-jangan kamu datang untuk menyelamatkanku?"

"Mana mungkin, dasar otak udang. ……Lagipula, kau tidak butuh bantuanku, kan."

"Kejam sekali. Padahal aku cuma manusia biasa yang penakut dan lemah, lho?"

"Aku tidak berminat meladeni lawakan hambar ini. Cepat keluar dari sana."

"Iya, iya, aku mengerti kok. ~♪"

Sambil bersenandung, krak! Rantai yang mengunci lengan kirinya hancur berkeping-keping.

Selanjutnya, lengan kanan dan kedua kakinya hancur dengan mudah, membuatnya bebas sepenuhnya.

Guisarm hanya melirik Holy King yang sedang melakukan peregangan leher dan bahu, lalu menghela napas.

"Cih, mana ada manusia biasa yang bisa menghancurkan rantai Khayangan yang jauh lebih keras dari Light Armor seperti menghancurkan krupuk."

"Versi senandung dari Magic Song: 'Song of Power'. Yah, aku yang cinta damai ini sebenarnya tidak terlalu suka cara kasar begini."

"……Terserahlah."

Saat Guisarm mendengus tak peduli, terlihat deretan lubang besar menembus dinding di belakangnya, memanjang hingga jauh ke depan.




Kekerasan batu Gokuunbo yang membentuk penjara Khayangan tidak bisa dibandingkan dengan rantai sebelumnya.

Iblis kelas biasa pun tidak akan bisa menggoresnya sedikit pun.

"Padahal kamu sendiri monster yang sudah lebih dari cukup, tapi malah mengomentari orang lain begitu," gumam Holy King.

"Ah? Kamu bilang sesuatu?"

"Aku bilang, aku selamat. Aku ini juga punya banyak belenggu diri. Aku tidak bisa terang-terangan melawan Dewa-sama. Meski begitu, ada banyak hal yang ingin kusampaikan…… Ah, ini pengaruhmu, lho."

"……Cih."

Guisarm hanya mendengus, lalu sosoknya menghilang bersama embusan angin.

"Hmm, dia orang yang sibuk ya."

Seharusnya sekarang tugasnya sudah selesai, Guisarm yang merupakan iblis berbahaya harus dikembalikan ke kehampaan…… namun instingnya mengatakan untuk membiarkannya saja.

Sambil melepas kepergian sisa-sisa mana yang terbawa angin, Holy King bergumam lirih.

"……Tapi ini aneh. Seharusnya aku tidak mungkin bisa memutuskan rantai itu."

Holy King bisa menggunakan kekuatan Dewa melalui Magic Song.

Namun, kekuatan itu tidak bisa digunakan untuk memberontak kepada Dewa. Itu hal yang wajar. Dewa tidak mungkin meminjamkan tenaga untuk memukul pipi-Nya sendiri.

Menyerang interogator sudah jelas termasuk, apalagi melarikan diri dari penjara…… namun kenapa rantai itu bisa putus dengan begitu mudahnya.

Lagipula, jika bicara soal aneh, memanggil iblis yang merupakan keberadaan berlawanan dengan Khayangan saja sudah aneh. Apa sesuatu sedang terjadi……?

"……Yah, biarlah. Lagipula kekuatan ini dari dulu memang tidak stabil."

Magic Song sangat dipengaruhi oleh kondisi mental dan fisik penggunanya, bukan sekadar mana murni.

Kemampuan ini memiliki fluktuasi yang besar; terkadang bisa memicu efek di luar spesifikasi, namun terkadang bisa berakhir gagal total.

Merasa memikirkannya lebih jauh hanya membuang waktu, Holy King menghentikan pemikirannya.

"Halo, Dewa-samaaaa? Aku sudah cukup introspeksi diri nih, boleh keluar, kan?"

Meski ia mencoba memanggil, tidak ada jawaban dari Dewa.

Duh, payah sekali, ini namanya kelalaian tugas. Sambil bergumam begitu, Holy King memegang jeruji penjara.

Ia mematahkannya semudah mematahkan ranting pohon, lalu melangkah keluar dari penjara.

"Kalau begitu Paman, aku pergi dulu ya. Bye-bye."

Ia melambaikan tangan kepada si interogator yang terkapar pingsan lalu pergi. Penjara yang remang-remang itu pun kembali diselimuti kesunyian.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close