NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 8 Part 1


Aku adalah Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum, Lloyd di Saloum. Seorang anak berusia sepuluh tahun yang sangat mencintai sihir.

Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah penyihir miskin tak berarti. Aku sempat menjadi incaran kaum bangsawan dan menerima hukuman mati yang berkedok duel.

Namun, saat melihat sihir tingkat tinggi untuk pertama kalinya, aku malah terpesona hingga lupa bertahan. Serangan itu mengenaku telak dan merenggut nyawaku.

Tapi begitu sadar, aku sudah bereinkarnasi ke dalam tubuh ini. Berbekal bakat yang luar biasa, apalagi statusku hanya Pangeran Ketujuh yang tidak ada hubungannya dengan takhta, aku diminta untuk hidup sesukaku.

Kini, aku pun menikmati kehidupan sihir yang bebas dan santai.

"Hah-hah-ha! Rasakan ini, Lloyd! Demon King Annihilation Black Strike!"

"Tidak semudah itu! Sihir Skala Besar Tiga Rapalan, Heavenly Radiant Fang!"

Zudoooooon! Gelombang kejut meledak hebat, mengakibatkan ruang di sekeliling kami terdistorsi secara drastis.

Dinding batu hancur, tanah terkelupas ke atas, dan bebatuan besar mulai berjatuhan dari langit-langit.

──Tempat ini adalah dungeon tanpa nama yang terletak di ujung utara.

Ini adalah dungeon raksasa yang tercipta akibat berbagai "kenakalan" yang kulakukan di masa lalu. Letaknya berada di negeri antah berantah yang tidak dihuni oleh manusia.

Lingkungannya sangat dingin membeku ditambah banyaknya monster kuat yang berkeliaran, sehingga saat ini tidak ada seorang pun yang mendekat. Karena itulah tempat ini menjadi laboratorium pribadiku.

Meski begitu, karena jaraknya jauh dari Saloum, awalnya aku hanya sesekali datang untuk bersih-bersih agar monster di sini tidak meluap keluar. Namun, belakangan ini aku jadi sering berkunjung.

Alasannya adalah sosok yang ada di hadapanku sekarang.

"Kukuku, kau hebat juga, Lloyd. Sepertinya simpanan trikmu masih banyak, aku benar-benar senang."

Suara tawa serak itu keluar dari seorang gadis berambut hijau cerah dengan pakaian pelayan…… yang di dalamnya bersemayam Raja Iblis Behal.

Gadis pelayan itu──Connie, adalah gadis penyuka alat sihir yang kukenal di Akademi William, sekolah lamaku.

Dia memiliki kondisi Mana Housing Constitution, sebuah kondisi unik di mana ia tidak memiliki mana sendiri, namun sebagai gantinya, jemari tangannya sangat luar biasa terampil.

Kemampuan itu ia curahkan sepenuhnya dalam membuat alat sihir, hingga ia memiliki teknik hebat yang sanggup membuatku terpukau.

Ngomong-ngomong, saat Behal muncul, wujudnya akan mengenakan jubah hitam dengan topeng yang retak secara vertikal di bagian tengah.

Di desa tempat Connie tinggal, banyak penduduknya yang lahir dengan gangguan mana akibat pengaruh kuat dari mana bumi.

Connie mengunjungi akademi demi menciptakan alat sihir yang bisa mengatasi masalah tersebut, namun ternyata di dalam tubuhnya tertidur inti dari Raja Iblis Behal.

Behal yang terbangun ternyata sangat kuat layaknya seorang Raja Iblis, dan aku harus berjuang keras sebelum akhirnya berhasil mengalahkannya.

Namun, Connie berkata bahwa pengetahuan Behal akan sangat mubazir jika dibuang begitu saja. Ia pun mengajukan diri untuk menerima sang Raja Iblis dan menyatu dengannya.

Karena aku tidak bisa membiarkan Connie yang sudah menjadi setengah Raja Iblis begitu saja, akhirnya aku menjadikannya pelayanku.

……Yah, aku sendiri juga menginginkan pengetahuan Behal, sih. Bisa dibilang ini adalah keberuntungan bagi tiga pihak.

Semuanya berakhir bahagia.

Begitulah situasinya, sekarang ada dua kesadaran yang bersemayam di tubuh Connie: dirinya sendiri dan Behal.

Biasanya Connie sendiri yang mengendalikan tubuhnya, namun sesekali Behal akan keluar dan menantangku bertarung seperti ini.

Sepertinya dia masih belum terima karena kalah dariku.

Behal itu tipe orang yang gila bertarung; dia bahkan sengaja menyeberangi lautan dari Dunia Iblis menuju benua ini hanya demi mencari lawan yang kuat.

Meskipun begitu, bagiku ini juga menguntungkan karena aku jadi punya lawan yang sanggup menerima sihirku sekuat tenaga untuk bahan eksperimen.

Kami berada dalam hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.

Tentu saja karena kekuatan tempur Behal sangat dahsyat, aku juga harus meladeninya dengan serius, sehingga kami butuh tempat yang memadai.

Karena itulah kami menggunakan dungeon ini. Karena tempat ini dibangun berdasarkan manaku, areanya sangat luas dan kokoh.

Sangat cocok untuk dijadikan tempat baku hantam yang heboh.

"Bicara-bicara, apa tidak apa-apa beraksi sekasar itu pada Connie sebagai pemilik tubuh?"

Sambil menepis serangannya, aku bertanya. Behal menyeringai lebar dan merangsek maju.

"Jangan khawatirkan hal yang tidak perlu! Tubuh Connie selalu terlindungi oleh manaku!"

"Selama aku tidak menerima luka yang mematikan, dia tidak akan mati. Malah, gaya hidup harian anak ini jauh lebih berbahaya!"

"Pola makannya berantakan, sering begadang, bahkan perawatan kulit pun tidak dilakukan sama sekali…… benar-benar bisa mati muda dia."

Sambil menggerutu, Behal terus memberondongku dengan peluru mana.

Tidak seharusnya kau melakukan hal itu sambil mencemaskan kesehatan kulit dan gaya hidup, tahu.

"Be-Behal, hentikan! Malu tahu!"

"Ini kenyataan. Sayangi dirimu sedikit, dasar bodoh."

Di celah tubuh mana hitam yang menyelimutinya, suara malu-malu Connie terdengar.

Kalimat itu benar-benar tidak cocok untuk seorang Raja Iblis, tapi menjaga kesehatan memang penting.

Ngomong-ngomong, aku tidak punya masalah soal itu karena sudah diurus oleh Sylpha dan Ren. Heh.

"Masalahnya begini, Lloyd-sama! Ini gawat!"

Tiba-tiba, Grim yang berada di telapak tanganku berseru.

"Dungeon-nya tidak akan kuat kalau pertarungannya selama ini! Meski punya fungsi Auto-Repair, tetap saja ada batasnya!"

"Benar. Dinding dan langit-langit tidak sanggup menahan pertarungan kalian berdua, sepertinya akan segera runtuh."

"Bagaimana jika untuk kali ini kita cukupkan saja?"

Dari telapak tanganku yang satu lagi, Malaikat Jiriel ikut bicara.

Keduanya adalah familiku yang saat ini berwujud Magic-Suit Arm──sepasang sarung tangan hitam dan putih yang menyatu di kedua tanganku.

Ini adalah materialisasi mana secara sempurna──sebuah teknik yang dikuasai iblis tingkat tinggi.

Memang butuh waktu untuk merangkainya, tapi dengan menanamkan Grim dan Jiriel ke dalamnya, kemampuan tempurku meningkat drastis.

Karena sejujurnya, akan sulit meladeni Behal jika aku tidak dalam kondisi seperti ini.

Meski begitu, salah satu kekurangannya adalah output kekuatannya jadi terlalu besar, sehingga aku harus memikirkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

"Benar juga, sepertinya tempat ini sudah mencapai batasnya. ……Oi Behal, ayo kita akhiri sekarang."

Begitu kupanggil, Behal melepaskan posisi tempurnya.

"Cih, dungeon di dunia manusia ternyata rapuh sekali. Baiklah, untuk hari ini segini saja dulu."

Behal turun dengan wajah bosan.

Walaupun dungeon ini punya fungsi perbaikan mandiri, tetap saja ada batasnya, kan.

Aku memang selalu begitu kalau sudah asyik dengan sihir, sampai-sampai tidak memedulikan keadaan sekitar.

"Terima kasih ya. Kalau kalian berdua tidak memberi tahu, bisa gawat tadi."

Setelah pertarungan berakhir, Grim dan Jiriel melepas wujud sarung tangan mereka dan kembali menjadi sosok anak kambing dan burung kecil.

"Yah, andaikata dungeon ini runtuh pun, Lloyd-sama pasti bisa meloloskan diri dengan mudah, sih……"

"Behal juga pasti akan melakukan hal yang sama…… Kalian berdua benar-benar mengerikan."

"Kurasa sebentar lagi kalian bisa menguasai dunia, deh."

Oi, oi, mana mungkin aku melakukan hal semacam itu.

Lagi pula, kalau aku melakukan hal merepotkan seperti menaklukkan dunia, aku jadi tidak punya waktu untuk riset sihir kesukaanku, kan.

"Tapi dulu Behal pernah mencoba melakukannya, kan?"

"Hm…… ah. Benar juga."

──Invasi Pasukan Iblis.

Dulu, Behal memimpin pasukan dari Dunia Iblis dan mengamuk di benua ini.

Namun, ia harus berhadapan dengan pasukan manusia yang dipimpin oleh leluhur para penyihir, William Bordeaux, dan tertidur di tanah tersebut──kalau tidak salah begitu ceritanya.




"Omong-omong, aku belum sempat mendengar detailnya. Kali ini, ceritakanlah kejadian saat itu padaku."

Sebenarnya, aku mengajukan satu syarat setiap kali menerima tantangan bertarung dari Behal: ia harus membagikan satu pengetahuan kepadaku sebagai imbalan.

"Ah, aku juga ingin dengar. Tolong ya, Behal."

"Baiklah…… Lagipula, akhirnyahhh kau menanyakan hal itu juga."

Behal menghela napas panjang seolah baru saja melepaskan beban berat. Aku jadi bertanya-tanya, apa maksudnya dengan kata 'akhirnya' itu?

"Aku sudah bersiap-siap sejak lama, menebak-nebak kapan kau akan menanyakannya. Tapi kalian berdua malah selalu menanyakan hal-hal tidak penting setiap saat. Itu membuatku gemas sendiri, tahu!"

"Perasaan aku tidak menanyakan hal yang tidak penting, deh……"

Aku hanya ingin tahu tentang mana hitam unik miliknya, bagaimana rasanya merasuki tubuh manusia, atau posisi sihir di Dunia Iblis.

Ada terlalu banyak hal yang ingin kuketahui sampai-sampai aku belum sempat bertanya tentang latar belakang Behal sendiri.

"Maksudmu, kau ingin kami bertanya tentang dirimu sendiri? Behal, kau ternyata cukup manis ya."

"Apa?! Ja-Jangan bercanda, Connie! Beraninya kau menyebutku manis! Aku ini Raja Iblis!"

"Fufu, iya, iya. Kami akan dengarkan, kok. Jadi, ceritakanlah tentang dirimu."

"Arghhh!"

Behal hanya bisa mengerang frustrasi karena digoda oleh Connie. Melihat mereka, mereka benar-benar terlihat seperti kakak beradik.

"……Haaah, ya sudahlah. Jadi, tentang apa yang terjadi pada saat Invasi Pasukan Iblis dulu, kan? Baiklah, akan kuceritakan. Pasang telinga kalian baik-baik—"

"Ah, sebelum itu, aku buatkan teh dulu ya. Kalian semua pasti haus, kan?"

Connie berdiri dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang sudah disiapkan. Lagi-lagi ceritanya terpotong, membuat bahu Behal merosot lemas. Connie benar-benar tipe orang yang selalu mengikuti ritmenya sendiri.

"Yah, Anda juga tidak jauh berbeda, Lloyd-sama……"

"Malah, Anda jauh lebih parah daripada Connie……"

Aku mengabaikan gerutuan Grim dan Jiriel, lalu mulai memfokuskan pendengaranku pada cerita Behal.

"──Dahulu kala, aku merasa sangat bosan dengan kehidupanku sebagai Raja Iblis. Akhirnya aku membawa para bawahanku menuju benua tempat manusia tinggal. Di Dunia Iblis, sudah lama tidak ada lagi orang yang punya nyali untuk menentangku. Di dunia yang mengagungkan kekuatan, begitu ada sosok yang menonjol sepertiku, para penentang akan langsung lenyap."

Behal menghela napas sambil menyeruput teh dengan banyak gula buatan Connie.

Yah, wajar saja sih kalau tidak ada yang berani menantang sosok sekuat dirinya.

Bagi Behal yang sangat suka bertarung, hari-hari itu pasti terasa sangat membosankan.

"Tapi, kenapa harus benua ini? Apakah reputasi William, sang leluhur penyihir itu, sampai terdengar ke Dunia Iblis?"

"Tidak, aku menyebar bawahanku ke seluruh dunia untuk mencari orang kuat. Aku menerima banyak laporan, tapi hanya satu orang yang kukirim ke benua manusia yang tidak pernah kembali. Dengan kata lain, di sana pasti ada seseorang yang cukup hebat untuk menghabisi bawahanku."

"Main serang saja…… Benar-benar merepotkan……"

Jiriel tampak mengernyitkan dahi. Memang benar sih, mengirim monster ke seluruh dunia pasti akan menimbulkan kekacauan besar.

Iblis itu memiliki kekuatan yang sanggup menghancurkan sebuah negara sendirian. Belum lagi Empat Panglima Iblis, atau bahkan Giza-siapa-gitu yang pernah kulawan dulu, mereka punya kekuatan yang lumayan.

"Ngomong-ngomong, yang kukirim ke benua ini adalah bawahan terbaikku. ……Kukuk, darahku mendidih saat menerima laporan itu. Singkat cerita, setelah mengetahui keberadaan orang kuat yang membuat jantungku berdebar, aku menyeberangi lautan menuju benua ini. Namun, begitu tiba, aku langsung disambut oleh pasukan manusia. Sepertinya mereka sudah menyadari pergerakan kami. Pantai dipenuhi oleh prajurit, dan banyak juga orang hebat yang sanggup mengimbangi iblis. Terutama William, dia sangat kuat. Sering kali aku menyudutkannya, tapi dia selalu berhasil meloloskan diri dengan cerdik. Terlebih lagi, sambil meladeniku, dia juga mampu menyegel iblis-iblis kuat termasuk Empat Panglima. Harus kuakui, dia memang luar biasa."

Behal berdecak kesal, namun ekspresinya tampak sedikit senang. Dia pasti menganggap William sebagai rival sejatinya. Ternyata William Bordeaux memang penyihir yang hebat ya.

"Bagi kami, William itu seperti malaikat maut. Ada pepatah yang mengatakan bahwa siapa pun yang melihat sosoknya akan mati."

"Apa Grim juga disegel oleh William?"

"……Bukan, aku disegel oleh orang yang sama sekali tidak kukenal."

"Buhaha! Itu wajar saja! Iblis kroco sepertimu mana mungkin sampai ditangani oleh William Bordeaux yang agung itu."

"Kau sendiri dasar malaikat sialan! Pasti kau hanya gemetaran sambil bersembunyi di balik bayangan, kan?!"

"Ke-Kenapa kau bisa tahu?!"

Grim dan Jiriel mulai bertengkar. Tapi kalau dipikir-pikir, karena mereka adalah iblis dan malaikat, wajar saja jika mereka ikut dalam perang itu.

Meskipun dari suasananya, sepertinya mereka berdua hanyalah bawahan tingkat rendah.

"……Oi, boleh aku lanjutkan ceritanya?"

"Baik!"

Di bawah tatapan tajam Behal, keduanya langsung duduk tegak dengan kaku. Behal berdehem pelan sebelum melanjutkan.

"Singkat cerita, kami menikmati pertempuran itu. Meskipun para dewa memihak mereka, manusia-manusia itu cukup merepotkan juga. Pertarungan antara pasukanku dan mereka berlangsung sengit, saling desak satu sama lain."

"Hmm? Tapi dengan kekuatan sebesar milikmu, bukankah kau bisa menghancurkan pasukan manusia dengan mudah? Sehebat apa pun William, bukankah dia tetap tidak sebanding denganmu? Kalau kau merangsek maju dengan paksa, bukankah kau bisa melindas mereka? Apa mungkin karena orang-orang dari langit itu terlalu kuat?"

"Tidak, mereka sebenarnya cukup penakut. Kami tidak terlalu kesulitan menghadapi mereka. Namun, ada satu lagi sosok yang sangat merepotkan. ……Argh, mengingatnya saja membuatku kesal."

Berbeda saat menceritakan William, nada bicara Behal kali ini terdengar seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat ia benci dan hindari. Grim tiba-tiba tersentak menyadari sesuatu.

"! Maksud Anda…… sang Holy King?"

Behal mengangguk mantap. Jika bicara soal Holy King, dia adalah sosok yang berada di puncak Holy See, pusat dari segala gereja.

Beberapa tahun sekali, beberapa orang yang menerima wahyu akan menjadi kandidat, dan dari sana, mereka yang berhasil melewati ujian beratlah yang akan terpilih.

Dia adalah eksekutor yang menjalankan kekuatan langsung di bawah Dewa. Itulah sosok Holy King…… seingatku begitulah yang dikatakan oleh rekanku, mantan Paus Gitan.

"Kalau Behal sampai bicara begitu, dia pasti sangat kuat ya."

"Tidak juga, aku bahkan tidak pernah bertarung melawannya sekali pun."

"Eh, apa maksudnya? Bukankah dia lawan yang merepotkan?"

Aku tidak mengerti maksudnya. Saat aku sedang memiringkan kepala dengan bingung, Connie tiba-tiba menepuk tangannya seolah menyadari sesuatu.

"Aku tahu! Pasti kemampuan pertahanan atau penghindarannya sangat luar biasa!"

Mendengar perkataan Connie, aku mengangguk setuju. Benar juga, sihir suci yang dikuasai para pendeta gereja memang unggul dalam hal pertahanan dan pemulihan.

Holy King adalah bos mereka, jadi wajar jika dia bisa menggunakan sihir suci yang sangat hebat. Sampai-sampai Behal yang seorang Raja Iblis pun tidak bisa melawannya dengan normal.

Namun, Behal menggelengkan kepalanya.

"Hmph, dia jauh lebih menyebalkan daripada itu. Argh, sial, mengingatnya saja sudah membuatku muak……"

Behal mulai bergumam tidak jelas. Kekuatan macam apa yang bisa membuat Raja Iblis sekelas Behal merasa kerepotan?

Kemungkinan besar dia memang pengguna sihir suci, tapi…… apa pun itu, ini terdengar menarik.

"Hei Behal, tolong ceritakan lebih detail tentang Holy King itu."

"Sudah kubilang aku tidak mau mengingatnya!"

"Jangan begitu dong."

"Kyaa?! Tu-Tunggu sebentar Lloyd-kun, jangan tiba-tiba memelukku begitu!"

Saat aku mencoba memegang bahunya, Behal malah bersembunyi jauh ke dalam diri Connie.

Ah, sial, dia kabur. Sepertinya dia benar-benar tidak ingin membicarakannya.

Kalau begitu, seharusnya dia tidak menceritakannya setengah-setengah. Ini benar-benar membuatku penasaran setengah mati.

"Aku juga belum pernah melihat sosok Holy King itu. Paling-paling hanya pernah mendengar namanya saja."

"Aku juga…… Tapi aku dengar sosok itu adalah orang yang sangat penting bahkan di kalangan kami para malaikat. Katanya dia memiliki kontrak langsung dengan satu-satunya Dewa yang berada di puncak langit."

Sepertinya mereka berdua juga tidak tahu banyak. Hmm, Holy King ya. Aku sangat penasaran, tapi Holy See itu jauh. Apalagi urusan gereja biasanya dijaga dengan sangat ketat.

Dulu saja saat aku masuk gereja untuk belajar sihir suci, mereka sangat pelit berbagi ilmu. Apalagi pusatnya di Holy See. Mungkin akan sangat sulit untuk menemuinya.

"Aaah, aku ingin sekali bertemu dengannya, sang Holy King……"

"Sepertinya mustahil……"

"Benar-benar mustahil……"

Grim dan Jiriel langsung menyambar gumamanku. Duh, kalian berdua benar-benar tidak punya mimpi ya. Siapa tahu dia tiba-tiba mampir ke Saloum.

"Lloyd-sama, hari sudah pagi."

"Ayo, ayo, kalau tidak segera bangun nanti terlambat."

"Ngh……"

Aku bangkit dan meregangkan tubuh. Setelah mataku terbiasa dengan cahaya yang masuk dari celah tirai, aku melihat dua orang pelayan berdiri di hadapanku.

"Hwaaa…… Selamat pagi, kalian berdua."

Gadis berambut perak itu Sylpha, sedangkan yang berambut ungu itu Ren. Keduanya bekerja setiap hari sebagai pelayan pribadiku.

"Selamat pagi, Lloyd-sama. Sarapan sudah siap."

Sambil berkata demikian, Sylpha dan Ren mulai bekerja sama menyiapkan keperluanku.

Mereka mengelap wajahku, melepaskan baju tidur, lalu memasangkan lengan baju…… dalam sekejap aku sudah selesai berganti pakaian dan langsung dibawa menuju ruang makan.

"Rasanya kalian berdua hari ini lebih terburu-buru dari biasanya. Apa terjadi sesuatu?"

"Ya, kami diminta untuk segera membawa Anda ke sana."

"Kalau tidak cepat bersiap dan menampakkan diri, nanti bisa dimarahi lho!"

Seseorang memanggilku? Tapi Kak Albert pasti masih sibuk dengan urusan pagi, lalu siapa yang…… yah, kalau sudah sampai juga bakal tahu sendiri.

Begitu aku membuka pintu ruang makan, sudah ada seseorang yang duduk di meja dan sedang makan.

"Nyam nyam…… Selafat fagi, Foyd."

"Kak Saria!"

Seorang wanita berambut hitam yang mengenakan kacamata, kakak perempuanku sekaligus Putri Keempat, Saria, sedang memasukkan makanan ke mulutnya hingga pipinya menggembung seperti tupai.

Dia adalah sosok yang mampu memainkan segala jenis alat musik seolah-olah itu adalah anggota tubuhnya sendiri. Nadanya dikatakan mampu memikat bahkan para dewa, benar-benar seorang jenius musik.

Hanya saja, ia tidak tertarik pada hal lain selain musik, bahkan ia tidak ingat nama orang dengan benar.

Ia hanya bisa mengingat namaku entah bagaimana, tapi untuk saudara yang lain, namanya masih sering tertukar.

Tapi, ada angin apa hari ini?

Biasanya dia menghabiskan hampir seluruh waktunya bermain piano di Menara Musik kastel, dan makannya pun dilakukan sembarangan di sana, tapi kenapa sekarang──

"Mmph?!"

Tiba-tiba saja, bakso yang dilempar Saria masuk dengan tepat ke dalam mulutku.

"Lloyd, kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang tidak sopan tentangku, kan?"

"Ti-Tidak kok. Haha, hahaha……"

Sambil tertawa canggung, aku duduk di kursi di hadapan Saria.

Saria itu tipe jenius yang sulit ditebak apa yang ada di pikirannya.

Aku merasa sedikit kurang nyaman karena rasanya dia bisa melihat menembus pikiranku.

"Salfa, Rin, siapkan makanannya."

"Baik."

Sylpha dan Ren segera membawakan makanan ke hadapanku tanpa membantah.

Karena nama mereka sering salah disebut, mereka berdua sudah tidak mau repot-repot mengoreksinya lagi.

Bagaimanapun, aku mulai menyantap sarapan yang sudah disiapkan.

Hmm, masakan Sylpha memang selalu enak. Kemampuan Ren juga sepertinya semakin meningkat.

Di tengah suara denting peralatan makan, aku bertanya pada Saria.

"……Jadi, Kak Saria. Ada urusan apa denganku?"

"Tunggu sebentar lagi. Aku memanggil satu orang lagi."

"Haaah……"

Sesuai perintahnya, aku pun melanjutkan sarapanku. Dia yang memanggil, tapi seenaknya sendiri ya.

Yah, ini bukan hal baru sih. Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah koridor.

"Ma-Maaf saya terlambattt!"

Brak!

Pintu terbuka dan Paus Isha pun muncul. Dulunya dia hanyalah seorang biarawati yang sangat suka bernyanyi, tapi karena berbagai alasan, ia akhirnya menjadi Paus.

Katanya jabatan itu hanya sebagai pajangan, tapi berkat dukungan orang-orang di sekitarnya, ia sepertinya bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Suaranya yang indah dikatakan sampai bergema hingga ke langit.

Terutama saat ia berkolaborasi dengan Saria dalam sebuah konser, bahkan aku yang tidak tertarik pada musik pun sampai terenyuh mendengarnya.

Begitu ya, jadi yang ditunggu adalah Isha.

"Lama tidak jumpa, Isha."

"Ara! Ara ara, Lloyd-kun! Sudah lama sekali ya!"

Begitu menemukanku, Isha langsung berlari kecil dan memelukku dengan erat. Ugh, sesak. Setelah Sylpha berdehem dengan sengaja, Isha tersentak dan melepaskanku.

"Ahaha…… maaf. Refleks……"

"Akhirnya kau datang juga, Isha."

"Iya, maaf membuatmu menunggu, Saria. Tadi ada sedikit pekerjaan yang menumpuk…… ehem."

Isha berdehem kecil, lalu menatapku dengan lekat.

"Alasan kami datang hari ini adalah karena ada sesuatu yang ingin kami minta dari Lloyd-kun. ……Aku akan langsung saja ya. Kami ingin kau bernyanyi bersama kami."

"Aku…… bersama kalian berdua?"

"Iya, sebenarnya kemarin ada pengumuman bahwa sang Holy King akan datang berkunjung ke Kerajaan Saloum ini."

"!"

Sontak aku membelalakkan mata. Ooh, kejadiannya persis seperti dugaanku kemarin. Ternyata dia benar-benar mampir secara tiba-tiba ya. Isha melanjutkan perkataannya dengan nada bersemangat.

"Holy King adalah sosok yang sangat jarang meninggalkan Holy See, bahkan aku pun belum pernah bertemu dengannya. Orang seperti itu datang meninjau Saloum benar-benar kejadian luar biasa yang belum pernah ada sebelumnya! Tentu saja kita harus menyambutnya dengan meriah! Karena itulah, pihak gereja meminta kepada Baginda Raja untuk mengadakan festival besar di seluruh negeri!"

"Di sana, aku dan Isha akan tampil bermain musik. Tapi lawannya adalah Holy King. Musik kami berdua saja tidak bisa dikatakan sebagai penyambutan yang sempurna. Jadi Lloyd, kau juga harus ikut tampil."

Kalau tidak salah, mereka berdua entah kenapa memberikan penilaian yang sangat tinggi pada nyanyianku.

Padahal kalau jujur, nyanyianku itu hanyalah tiruan yang kubuat menggunakan sihir kendali.

Lagipula, kurasa Saria dan Isha saja sudah lebih dari cukup, tapi──

"Kalau begitu, dengan senang hati!"

Tentu saja, tidak ada alasan bagiku untuk menolak.

Aku sama sekali tidak tertarik pada menyanyi, jadi biasanya aku pasti menolak mentah-mentah.

Tapi kalau itu penampilan di depan Holy King, berarti aku akan berada tepat di hadapannya, kan.

Ini kesempatan bagus untuk melihat langsung sosok Holy King yang dibicarakan itu. Untuk tujuan itu, satu atau dua lagu bukanlah masalah besar.

"Meskipun nyanyian Lloyd masih berada di tahap meniru, tapi kualitas suaramu yang mencampurkan tenor yang lembut dengan sopran anak laki-laki yang jernih itu benar-benar unik. Jika Lloyd bergabung, kita pasti bisa mengekspresikan suara agung yang tidak bisa dihasilkan hanya olehku dan Isha saja."

"Iya, benar sekali! Apalagi saat aku mengajakmu dulu kau tampak sangat terpaksa, tapi nyanyian Lloyd-kun itu benar-benar hebat! Karena kali ini orangnya sendiri tampak bersemangat, aku jadi sangat berharap banyak! ……Fufu, rasanya aku mulai terbawa suasana setelah sekian lama!"

Saria dan Isha menggumamkan sesuatu sambil mulai memainkan peralatan makan mereka hingga menimbulkan irama.

Yang satu memakai garpu dan pisau, yang lain bersenandung, tapi suaranya setara dengan konser musik kelas satu.

Biasanya tindakan itu akan ditegur karena dianggap tidak sopan, tapi Sylpha dan Ren malah tampak terpesona.

Mereka berdua benar-benar bersemangat ya. Hanya saja, kuharap latihan kerasnya tidak terlalu berlebihan.

Di dalam kegelapan, seorang pria terbangun. Ia menatap peti mati tempatnya bersemayam dengan mata setajam serigala, lalu bergumam.

"……Di mana ini?"

"Di mana pun tidak masalah, kan? Tidak ada hubungannya denganmu. Tidak penting. Seharusnya begitu."

Suara yang sedikit lebih muda menjawab gumaman pria tersebut.

"Aku juga terkejut. Tidak kusangka kau akan merespons. ……Tapi bukankah hal itu tidak penting bagi kita berdua? Yang penting adalah kau telah bangkit kembali sekarang."

"……Siapa kau?"

"Siapa saja boleh. Ah, tapi akulah orang yang telah membangkitkanmu kembali. Kalau mau berterima kasih, silakan saja."

"Cih, kukukukuku……"

Tepat setelah pria itu mendengus. Sebuah gelombang kejut yang dahsyat meledak mengincar kepala pemuda itu.

Serangan tangan kosong, namun berisi mana yang luar biasa besar, menciptakan lubang besar pada dinding.

"Lancang sekali…… siapa yang memintamu. Kau harus membayar kelancangan itu dengan nyawamu."

Ucapnya dengan nada dingin. Namun──

"Waduh, aku kaget lho. Tiba-tiba saja kau mencoba membunuhku, aku jadi takut. Tapi, rasanya memang harus begini ya."

Pria itu membelalakkan matanya mendengar jawaban tersebut.

Setelah debu menghilang, tampak sosok pemuda yang sama sekali tidak terluka.

Hal yang aneh adalah lubang di dinding itu bergeser cukup jauh dari posisi pemuda itu berdiri.

Padahal ia yakin serangannya sudah tepat sasaran…… keraguan itu cukup untuk membuat pria tersebut terdiam.

"Kau pasti punya tujuan, kan? Jika tidak, bahkan kekuatanku pun tidak akan bisa membangkitkanmu."

"……"

Benar, pria itu punya tujuan. Namun, ia harus kehilangan nyawanya di tengah jalan.

Sedikit demi sedikit ingatannya mulai kembali. Tentang apa yang harus ia lakukan, dan tentang bocah sialan itu.

"Apa kau mau membuang kesempatan itu hanya demi harga diri yang tidak berguna? Yah, bagiku sih tidak masalah. Kalau kau menolak, aku hanya perlu mengembalikanmu ke alam hampa lagi, kan?"

"Kh!"

Seiring dengan perkataan itu, tubuh pria tersebut mulai hancur menjadi butiran debu.

Sepertinya nyawa ini bukanlah miliknya sendiri. Pria itu menatap kehancuran tubuhnya sejenak sambil bimbang, lalu ia pun berkata:

"Aku tidak menyukainya…… tapi baiklah. Meskipun ini tidak menyenangkan, aku akan ikut dalam rencanamu."

"Nah, begitu dong! Wah, untunglah. Aku sempat bingung kalau kau menolak. Habisnya, aku ini kan orangnya lemah lembut."

Pemuda itu menepuk-nepuk bahu si pria dengan akrab.

Meskipun kata-katanya terdengar sangat ringan, namun kehancuran tubuh si pria tiba-tiba saja berhenti. Ia terpaksa harus percaya bahwa kekuatan pemuda itu memang nyata.

"Kukuk, tapi jangan harap aku akan menuruti perkataanmu begitu saja. Begitu kau lengah, aku akan langsung membunuhmu! Jangan pernah lupakan hal itu."

"Aduh, seram sekali. Aku ini cinta damai, jadi tolong kasihanilah aku ya."

Keduanya pun mulai berjalan ke arah yang sama sambil tertawa kecil seolah sedang bersenang-senang.

Firasatku benar-benar tepat, aku harus menjalani latihan yang sangat berat.

Setiap hari diisi dengan penyelarasan musik dan latihan vokal, intinya aku dipaksa terus menyanyi.

……Yah, tapi sebenarnya yang kulakukan adalah mengendalikan boneka kayu yang menyerupai diriku menggunakan sihir kendali dari jarak jauh, sementara aku sendiri asyik membaca buku di ruangan lain, jadi tidak ada masalah sama sekali.

Wah, buku-buku yang kudapat dari akademi benar-benar menarik untuk dibaca.

Meski sudah dibaca berulang kali, aku sama sekali tidak bosan. Ternyata di dunia ini masih banyak sihir yang menarik ya.

Selama itu pula, persiapan di kota sepertinya terus berjalan, hingga akhirnya tibalah hari Festival Penyambutan Holy King.

Dar! Der! Dor!

Kembang api mulai bermunculan, dan keriuhan penduduk kota terdengar sampai ke sini.

Di tengah kemeriahan kota, aku melakukan gladi resik di Menara Musik di pinggiran kastel.

Sambil diiringi permainan piano Saria, aku dan Isha bernyanyi bersama.

"──♪"

Setelah nyanyian berakhir dan kami membungkuk hormat, keheningan sejenak diikuti oleh riuh tepuk tangan yang luar biasa.

Yah, penontonnya hanya ada Sylpha, Ren, dan beberapa prajurit saja sih, tapi tepuk tangan Sylpha terlalu kencang. Dia bahkan sampai terisak-isak.

"Luar biasa…… Lloyd-sama benar-benar luar biasa…… Ah, Tuan Putri Saria dan Tuan Putri Isha juga."

"Duh Sylpha-san, kenapa kami disebutnya cuma seperti tambahan begitu…… tapi anu, kalian bertiga tadi hebat sekali kok!"

Ren mencoba menengahi, tapi ia memperlakukan Saria dan Isha dengan agak sembarangan. Meskipun sepertinya mereka berdua tidak terlalu memedulikannya.

"Ya, kau sudah jauh lebih baik, Lloyd. Benar-benar berbeda dari sebelumnya."

"Benar! Aku baru kali ini bisa menghasilkan suara seperti ini! Ini semua berkat Lloyd-kun!"

Itu karena aku terus meniru bayangan suara terbaik milik Saria dan Isha, sih. ……Lagipula, setiap kali latihan mereka berdua terus bertambah hebat, jadi aku terpaksa harus mengimbanginya.

Sebenarnya sejak awal saja sudah lebih dari cukup, tapi kalau begini, sang Holy King pasti akan sangat terkesan.

Dengan begitu, mungkin ia akan mau mengajariku banyak hal. Fufu, aku jadi tidak sabar. Apalagi para prajurit yang mendengarkan tadi sampai terharu dan tidak bisa berkata-kata.

"Nah, sudah hampir waktunya Holy King tiba. Ayo kita menuju lokasi."

"Benar juga. Ayo berangkat, Lloyd."

"Baik!"

Setelah keluar dari Menara Musik, kami menuju Symphony Hall, bangunan kebanggaan Saloum yang terletak tepat di sebelah kastel.

Bangunan hasil kerja sama gereja dan kerajaan itu mampu menampung sepuluh ribu orang.

Didesain dengan mempertimbangkan akustik ruang, tempat itu biasanya digunakan untuk acara besar atau konser musik.

"Kalau begitu, saya akan memanggil Anda jika sudah waktunya."

"Tolong ya, Salfa."

Begitu Sylpha menutup pintu ruang tunggu, mereka berdua pun mulai fokus. Ruangan itu menjadi sangat sunyi, hanya suara detak jarum jam yang terdengar.

"Fuuuh, ketegangan ini benar-benar tidak main-main ya. Mereka berdua sudah masuk ke dalam dunianya sendiri."

"Bisa mendengar suara Saria-tan dan Isha-tan dari jarak sedekat ini berkali-kali…… meski banyak kejadian yang terjadi, aku benar-benar senang telah mengikuti Lloyd-sama……!"

Jiriel sampai menangis terharu. Tapi tolong ya, jangan menangis saat kami sedang menyanyi nanti.

"Nah, karena masih ada waktu luang, aku mau jalan-jalan sebentar ah."

"Apa Anda yakin, Lloyd-sama? Malah mau keluyuran di saat seperti ini."

"Tenang saja, lagipula nanti aku menyanyi menggunakan sihir kendali yang meniru suaraku. Selain itu, meski sulit bertemu Holy King, setidaknya satu atau dua orang pengawalnya pasti ada yang sedang berkeliaran di luar, kan?"

Tadi aku sempat melihat sekilas, aura yang dipancarkan rombongan Holy King benar-benar luar biasa. Meski sulit bertemu langsung dengan Holy King, siapa tahu ada pengawalnya yang sedang keluar. Itu yang kuincar.

"Yah, entahlah ya……"

"Aku ragu seorang pengawal akan keluyuran begitu saja……"

"Sudahlah, ayo pergi sebelum Sylpha datang menjemput."

Aku menyelinap keluar dari ruang tunggu, lalu berjalan menyusuri koridor menuju aula utama.

Begitu masuk ke dalam aula, aku mengedarkan pandangan ke seluruh kursi penonton…… dan akhirnya kutemukan.

Sekelompok orang yang mengenakan jubah putih. Itulah sang Holy King beserta para pengawalnya.

"Fumu, yah untuk ukuran manusia mananya cukup besar sih, tapi kurasa tidak ada yang istimewa."

"Benar, apa Holy King itu orang yang duduk di tengah? Wajahnya tidak kelihatan dari sini."

Dari balik tudung putih yang berada di tengah rombongan itu, aku merasakan tekanan yang sedikit lebih kuat dari yang lain.

Apakah dia sang Holy King……?

Tapi menurutku tekanannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang dikatakan Behal. Selain itu, ada apa ya?

Untuk ukuran seorang Holy King, entah kenapa rasanya mananya sedikit…… kelam atau jahat.

"Keturunan William saja sudah jadi lemah gara-gara kedamaian yang terlalu lama, mungkin Holy King juga jadi lemah seperti itu, kan?"

"Lagi pula, Holy King yang melayani Dewa tidak membutuhkan kekuatan. Tugas utamanya adalah menyebarkan kedamaian kepada orang-orang. Lloyd-sama tidak perlu terlalu memikirkannya."

"Aduh, aduh, kalian berdua benar-benar tidak mengerti ya."

Bukannya aku ingin bertarung dengan lawan yang kuat. Yang penting adalah apakah mereka punya kekuatan menarik, terutama yang berkaitan dengan sihir.

Seperti kata kalian berdua, aku memang tidak merasakan mana yang begitu kuat dari mereka, tapi sampel sihir suciku masih sangat sedikit.

Jika ia disebut Holy King, ada kemungkinan ia memiliki kekuatan lain yang berbeda.

"Meskipun begitu, aku tidak bisa menemuinya langsung secara terang-terangan. Pasti akan sangat mencolok. Jadi…… aku akan membuat pihak sana yang bergerak."

Sambil berkata demikian, aku menjentikkan jariku.

Setelah menunggu beberapa saat, salah satu pengawal tampak terburu-buru meninggalkan tempat duduknya.

"Ooooh! Pengawalnya bergerak!"

"Apa yang Anda lakukan, Lloyd-sama?"

"Aku hanya membuatnya merasa ingin buang air kecil."

Itu adalah aplikasi dari sihir kendali. Jika dilakukan saat mereka sedang lengah, hal seperti itu mudah saja.

Sebenarnya aku mengincar sang Holy King, tapi seranganku ditepis dan mengenai orang di sebelahnya.

Meski ada jarak yang cukup jauh, dia bisa menahan sihirku…… fufu, menarik juga ya.

Yah, aku akan simpan kesenangannya untuk nanti. Karena tidak ada waktu, orang yang baru saja berdiri itu sudah cukup.

"Anda benar-benar keterlaluan ya……"

"Itu benar-benar serangan yang salah sasaran ya……"

Salah sendiri tidak waspada. Kalau itu Sylpha, dia pasti sudah menyadari hawa keberadaanku dan menghindar.

Dia kurang kesadaran sebagai seorang pengawal. Bagaimanapun, aku pun menuju ke toilet terdekat dari lokasi tersebut.

"Sip, sudah sampai."

Aku menyandarkan punggungku pada pilar di dekat toilet, lalu menghilangkan hawa keberadaanku sambil menunggu. Karena jarang ada orang lewat, aku tidak mungkin melewatkannya.

Nah, sudah hampir waktunya dia datang. Sambil menunggu dengan antusias──

"……Waduh, aku juga jadi kebelet nih."

Mungkin karena berdiri di depan toilet, aku jadi ikut ingin buang air juga. Sial, dia lama sekali datangnya. Gawat, sudah di ujung tanduk nih.

"Apa Anda baik-baik saja, Lloyd-sama? Menahan diri itu tidak baik untuk kesehatan lho."

"Benar, biar kami yang berjaga di sini, jadi silakan Anda masuk saja dulu."

"Benar juga ya."

Aku pun bergegas lari ke dalam toilet, dan kebetulan ada satu bilik yang kosong. Beruntung sekali. Namun, tepat saat aku hendak memegang gagang pintu, ada tangan lain yang memegangnya secara bersamaan.

"Ah."

Aku dan orang itu bersuara secara bersamaan. Ia adalah seorang pemuda biasa yang tidak terlihat istimewa. Tingginya tidak terlalu tinggi namun tidak juga pendek, perawakannya pun sedang-sedang saja.

Rambut hitamnya dipotong rapi, dan pakaian putihnya tidak terlihat mahal namun tidak juga murah, intinya benar-benar biasa.

Wajahnya pun tidak memiliki ciri khas tertentu, benar-benar pemuda yang menggambarkan definisi kata 'biasa' secara keseluruhan.

Pemuda itu tersenyum ramah lalu berkata:

"Wah, maaf ya Nak, tapi bisakah kau memberikan bilik ini padaku? Tadi tiba-tiba saja aku kebelet sekali, aku sudah lari sambil menahannya sekuat tenaga tapi ini benar-benar sudah di ambang batas. Kumohon ya, tolonglah aku!"

Ia menangkupkan kedua tangannya memohon padaku, tapi aku juga harus segera menyelesaikannya agar tidak kehilangan jejak pengawal Holy King itu.




Aku tidak berniat memberikan urutan ini padanya.

"Aku menolak. Tanganku yang lebih dulu memegang gagang pintu ini."

"Aduh, aduh, tapi kan tidak ada saksi mata yang melihatnya? Aku juga berhak mengeklaim kalau aku yang lebih dulu. Kalau begini terus, kita cuma akan berdebat kusir. Paham?"

Apa-apaan orang ini, gigih sekali. Padahal aku tidak punya waktu untuk meladeni perdebatan ini.

"Maaf ya, tapi aku juga sedang buru-buru. Aku tidak berniat mengalah."

"Mumu…… ini cara yang sebenarnya tidak ingin kugunakan, tapi…… baiklah. Ambil ini."

Pemuda itu menyerahkan sekeping koin tembaga padaku. Apa dia menyuruhku pergi membeli minum atau semacamnya?

"Ini namanya diplomasi uang. Ini batas kompromiku. Kumohon ya, Nak."

"Aku bukan anak kecil yang bisa disuap dengan uang jajan. Tentu saja aku menolak."

Biarpun begini, aku ini Pangeran Ketujuh, tahu. Mana mungkin aku bisa disuap dengan uang receh anak kecil.

"Hei, hei, dilihat dari mana pun kau itu anak kecil, kan? Sudahlah, terima saja suapan uang jajan ini. Lagipula, kalau tidak segera masuk, aku bisa mengompol di sini……"

Di tengah perdebatan tidak jelas ini, aku sendiri pun mulai merasa sangat kebelet. Percakapan ini benar-benar buang-buang waktu. Mari kita akhiri dengan cepat.

"Baiklah. Kita tentukan dengan janken saja. Yang menang masuk duluan—"

"Tidak, itu tidak boleh."

Pemuda itu memotong perkataanku.

"Pertikaian adalah hal yang paling kubenci sebagai seorang pasifis. Aku bahkan merasa lebih baik mati daripada harus bertikai. Tentu saja ini cuma prinsip pribadiku jadi aku tidak bermaksud memaksakannya pada orang lain, tapi aku tidak bisa menerima tantangan janken yang memicu pertikaian. Meski begitu, hidup adalah perjuangan. Itulah sebabnya aku yang pasifis ini selalu berpakaian biasa agar tidak memancing perhatian siapa pun. Ah, tentu saja bukan berarti aku mau kalah, ya? Sejarah manusia telah membuktikan bahwa pihak yang kalah tidak akan berakhir baik. Karena itulah, aku meloloskan permintaanku tanpa perlu bertikai. Inilah cara hidupku sebagai seorang pasifis. Kau paham, Nak? Kalau paham, mari kita bicarakan ini secara damai. Tenang saja, sebagai pasifis, aku mempertaruhkan nyawaku untuk tidak bertikai. Demi prinsip itu, aku bahkan sudah siap jika harus sedikit mengompol di celana!"

"Oh, begitu ya."

Di depan pemuda yang terus mengoceh panjang lebar itu, aku langsung menutup pintu toilet dengan keras. Brak!

……Fiuuh, untung sempat.

"Aaaaaah! Tega sekali kau, Nak! Orang masih bicara, tahu! Apa kau ini tidak punya perasaan?!"

"Maaf, maaf. Tapi bilik sebelah baru saja kosong tuh."

Lewat pintu, aku mendengar suara orang keluar dari bilik sebelah di tengah ocehan pemuda itu. Dia terlalu asyik bicara sampai tidak sadar.

Terdengar suara langkah kaki terburu-buru yang berlari masuk ke toilet sebelah.

"Aduh, aduh, kau ini benar-benar ya. Apa kau tidak pernah dibilang tidak punya hati? Kalau aku bukan seorang pasifis, kau pasti sudah celaka tadi. Mulai sekarang berhati-hatilah. Serius, lho."

Dia masih saja bicara. Cerewet sekali ya orang ini.

Dia bilang pasifis, tapi kalau dia mengoceh begitu di depan orang yang salah, dia pasti sudah dipukul sampai pingsan.

Tapi anehnya, aku malah mendengarkan omongannya sampai habis. Pria ini punya aura yang janggal.

"Hmm?"

Aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam genggamanku.

Saat kubuka, di sana ada koin tembaga yang tadi hendak diberikan pemuda itu padaku.

Mustahil. Padahal aku sudah menolaknya, sejak kapan benda ini masuk ke tanganku……?

"……Yah, sudahlah."

Aku menggunakan Teleportation untuk mengembalikan koin itu ke dalam saku pemuda di sebelah.

"Waduh, daripada itu aku harus segera keluar."

Hampir saja aku melupakan tujuanku. Aku segera mencuci tangan dan berlari keluar dari toilet.

"Lloyd-sama, ternyata Anda di sini."

"Geh……"

Pada akhirnya, pengawal itu tidak pernah muncul di toilet ini, dan aku malah tertangkap oleh Sylpha yang datang mencariku. Aku pun diseret kembali menuju ruang tunggu.

"Kalau dipikir-pikir, ada kemungkinan mereka tidak tahu kalau ini toilet terdekat, Tuan."

"Bagi mereka ini tempat asing, jadi mungkin saja mereka pergi ke toilet yang lain."

Seperti kata Grim dan Jiriel, aku terlalu berasumsi kalau mereka akan datang ke sini. Sial, ini kecerobohanku.

"Mau bagaimana lagi. Katanya aku bisa bertemu mereka setelah pertunjukan selesai, jadi aku akan bersabar sampai saat itu."

Lagipula itu tadi cuma iseng-iseng saja. Tidak masalah kalau tidak bisa bertemu sekarang.

"Lloyd-sama, waktu kita sudah mepet. Mohon maaf atas kelancangan saya."

"Tolong ya, Sylpha."

Begitu aku mengangguk, Sylpha langsung menggendongku dan menambah kecepatannya.

Sambil berlari di dinding untuk menghindari orang-orang di koridor, kami pun tiba di ruang tunggu dalam sekejap.

"Ya ampun Lloyd, dilepas sebentar saja langsung menghilang. Kalau mau ke toilet bilang dong."

"Ahaha…… yah, kami juga salah karena terlalu fokus sampai tidak sadar. Malu-maluin saja……"

"Maaf ya, kalian berdua."

"Sudahlah. Yang penting sebentar lagi tirai dibuka. Kita harus segera ke panggung."

"Ayo keluarkan semua hasil latihan kita! Tenang saja, Lloyd-kun pasti bisa!"

……Padahal aku sama sekali tidak ikut latihan, sih. Sambil merasa sedikit berdosa, aku pun melangkah menuju panggung.

"Wah, parah, parah. Kukira tadi aku bakal mengompol beneran."

Pemuda yang baru kembali dari toilet itu menghela napas lega.

"Akhirnya kau kembali juga."

Ujar seorang pria berjubah putih dengan nada kesal.

"Berani sekali kau meninggalkanku sendirian di tengah-tengah manusia. Apa kau tidak takut aku akan mengamuk dan menghancurkan tempat ini?"

Pria berjubah putih itu menyeringai tipis. Namun, si pemuda menggelengkan kepalanya.

"Yah, anggap saja aku percaya padamu. Lagipula kau itu tipe yang bisa bersabar demi tujuan, kan? ……Maksudku, kau 'tidak akan bisa' melakukannya karena sudah aku 'ikat'."

"……Cih."

Pria itu berdecak kesal. Si pemuda mengambil koin tembaga dari sakunya, lalu melambungkannya ke udara. Koin itu tidak jatuh kembali, melainkan menghilang ke dalam kehampaan.

"……Lagipula, aku merasa sesuatu yang menarik akan segera terjadi. Siapa tahu keinginan terpendammu juga akan terkabul?"

"Hoh……?"

Di balik tudungnya, pria itu tersenyum penuh minat sambil menyibakkan poni rambutnya yang panjang.

"Ooooh, ramai sekali."

Melihat dari balik panggung, lautan penonton tampak sudah tidak sabar menunggu pertunjukan dimulai.

"Katanya seluruh kursi pesanan di Symphony Hall langsung ludes dalam sekejap, lho."

"Meski sudah ditambah sepuluh ribu kursi berdiri darurat, semuanya juga langsung habis. Wah, bisa mendengar pertunjukan sehebat ini dari jarak sedekat ini benar-benar sebuah keuntungan."

"Yah, bagiku dalam situasi apa pun, aku tidak akan melewatkan nyanyian Lloyd-sama."

Sylpha dan Ren tampak sangat menantikan pertunjukan ini, tapi pelayan satunya lagi, Connie, malah menunjukkan wajah muram.

"Ada apa, Connie?"

"……Anu, sebenarnya aku sih tidak apa-apa, tapi Behal……"

Connie memejamkan mata dan meletakkan tangan di dadanya, seolah sedang berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

"……Sejak tadi dia tidak mau keluar, tapi hari ini gelagatnya aneh sekali. Sejak sampai di sini, dia bilang perasaannya tidak enak, atau lebih tepatnya…… Behal seperti sedang memancarkan haus darah?"

"Omong-omong, dia memang bilang sangat membenci Holy King, kan."

Lalu saat aku mencoba bertanya, dia malah merajuk dan bersembunyi.

Jangan-jangan dia berniat menyerang penonton secara tiba-tiba?

Kalau Behal sampai mengamuk di sini, bisa jadi bencana besar.

……Tapi, sejujurnya aku ingin sekali melihat pertarungan antara Holy King dan Raja Iblis Behal.

Yah, tentu saja aku akan menghentikannya jika terjadi sesuatu. Tapi tergantung cara menghentikannya, mungkin aku bisa melihat kelanjutannya nanti…… Hmm, sepertinya bakal menarik. Aku jadi bersemangat.

"Orang ini kenapa malah senyam-senyum sendiri sih……"

"Lloyd-sama, sepertinya sudah giliran Anda."

"Ah, benar juga."

Di tengah percakapan itu, giliran kami pun tiba. Bagaimanapun, aku harus menyukseskan pertunjukan ini dulu. Begitu naik ke atas panggung, sorakan gemuruh langsung menyambut kami.

Baru sadar sekarang, tapi penontonnya benar-benar banyak. Apa aku tidak akan terlalu menonjol ya…… ah, mereka semua kan datang untuk melihat Saria dan Isha, jadi aku tidak akan terlalu diperhatikan.

"Lloyd, jangan melamun."

"Baik, Kak Saria."

"Ayo kita mulai. Tiga, dua, satu──♪"

──Suara pun bergema.

Permainan musik Saria, suara nyanyian Isha, dan suara tiruanku mengalir tanpa henti memenuhi aula. Para penonton mulai meneteskan air mata sejak nada pertama menyentuh telinga mereka, bahkan banyak yang sampai terisak hebat.

"Ooh, ternyata mereka mengeluarkan performa terbaik di sini…… kualitasnya terus meningkat setiap detiknya. Suara Lloyd-sama juga seolah tertarik mengikuti mereka berdua! ……Duh, aku pun jadi ingin menangis."

"Hiks…… aku hanya bisa menangis…… suara ini benar-benar bukan berasal dari dunia ini, begitu agung…… air mata ini tidak mau berhenti……!"

Grim dan Jiriel juga tampak sangat terharu. Ren menyeka air mata yang terus mengalir, dan Sylpha bahkan sampai pingsan dalam posisi berdiri.

──Namun, rombongan Holy King sama sekali tidak bergeming.

Meski mata mereka tertutup tudung, mereka tampak tidak terlalu tertarik.

Saria dan Isha yang menyadari hal itu sepertinya merasa tertantang, mereka pun menaikkan volume dan intensitas musik mereka.

Wah, melodi yang sangat indah sekaligus dahsyat. Aku sampai kesulitan untuk terus menirunya. Duh, aku pun jadi harus berusaha keras, kan.

Padahal kalau aku terlalu fokus pada Control Magic, aku jadi kurang memperhatikan sekitar.

──♪

Tetap saja, para pengawal itu tetap tidak berekspresi. Mereka bahkan terlihat menahan kantuk dan menguap bosan.

……Tapi, meski wajahnya tidak kelihatan jelas, gaya berdiri yang sangat 'biasa' hingga justru terasa unik itu, rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat—

Tepat saat aku memikirkan hal itu.

Aku merasakan gelombang mana yang sangat kuat dari balik panggung. Connie──bukan, itu adalah Behal di dalamnya.

Mana hitam yang menyelimuti Connie menampakkan wajah yang mengerikan dan mulai melahap area sekitarnya.

Ini adalah kekosongan spesial yang pernah digunakan oleh Empat Panglima Iblis. Sebuah Special Barrier yang menciptakan dimensi di balik ruang nyata.

Di dalamnya, tidak ada yang bisa menyadari keberadaan apa pun kecuali sang pengguna dan beberapa orang yang diizinkan masuk.

Jangan-jangan Behal berniat melawan Holy King di sini?

Sesaat aku ingin menghentikannya, namun rasa ingin tahuku untuk melihat pertarungan mereka jauh lebih besar.

Argh, aku benci rasa penasaranku sendiri.

"Kenapa Lloyd-sama malah tertawa begitu sih?!"

"Barrier-nya hampir selesai!"

Pakiinnn!

Terdengar suara pecah dan barrier pun terbuka. Ya ampun, padahal secara mental aku sudah berniat menghentikannya, lho. ……Beneran, deh.

Di dalam ruang dimensi itu, kini hanya tersisa Behal, rombongan Holy King, dan aku yang memaksa ikut masuk saat barrier tercipta.

"Mu, kenapa kau masuk juga, Lloyd? Padahal aku sudah memotong ruang ini agar tidak ada yang mengganggu……"

Connie yang berbalut mana hitam──Behal, memanggilku.

"Yah, soal itu, aku cuma penasaran saja."

"Apa kau mencemaskanku? ……Hmph, kau meremehkanku ya. Kau sendiri kan tahu seberapa besar kekuatanku."

Behal tampak tersipu malu karena mengira aku mencemaskannya.

"Tidak, kurasa Lloyd-sama cuma penasaran dengan pertarungannya……"

"Malah, beliau sepertinya lebih tertarik pada Holy King-nya……"

Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu, tapi daripada itu.

"Wah, wah, bukankah kau anak yang tadi? Kebetulan sekali ya."

Holy King──atau lebih tepatnya pengawal yang berdiri di sampingnya, angkat bicara.

Begitu ia membuka tudungnya, wajah di baliknya adalah pemuda yang kutemui di toilet tadi. Behal menatapnya, lalu melepaskan tawa serak.

"……Jadi begitu, kaulah Holy King generasi sekarang."

Mendengar kata-kata itu, barulah aku menyadarinya.

Dia adalah sang Holy King, dan yang duduk di kursi utama tadi kemungkinan hanyalah penyamaran.

"Apa yang ada di bawah tudung putih itu hanya boneka mana?"

"Yah, semacam itulah. Habisnya aku tidak punya banyak teman."

Cetk!

Begitu ia menjentikkan jari, sosok-sosok berjubah putih di sekitarnya lenyap. Jubah-jubah itu jatuh ke lantai begitu saja.

"Pangeran Ketujuh Saloum, Lloyd di Saloum. Ternyata benar kau orangnya. Duh, malasnya. Aku benar-benar tidak bersemangat."

Dalam situasi seperti itu pun, sang Holy King masih saja mengajakku bicara sambil tersenyum. Behal yang merasa diabaikan pun wajahnya mulai berkedut kesal.

"Kukuku…… aku tidak tahu kau generasi keberapa, tapi sifat menyebalkanmu itu sepertinya tidak berubah……!"

Hanya dengan berdiri di sampingnya saja, aku bisa merasakan aliran mana yang luar biasa. Behal benar-benar haus darah sekarang.

Namun, meski menerima tekanan itu secara langsung, sang Holy King tetap memasang wajah tenang sambil memiringkan kepala dan meletakkan tangan di dagunya.

"Anu, kau ini siapa ya…… Aku tidak mungkin melupakan gadis kacamata semanis dirimu…… Ah, apa jangan-jangan kau teman masa kecilku yang dulu sering main bersama? Atau kau penggemarku?"

"Kau ingin bilang kalau kau hanya melihat wadahnya saja, begitu? Provokasi yang cukup berani juga……!"

Behal meraung penuh amarah.

"Baiklah, akan kuberitahu sebagai bekalmu ke akhirat nanti. Aku adalah Behal! Sosok yang dulu pernah bertarung melawan leluhurmu, sang Raja Iblis!"

"Raja Iblis──"

Begitu mendengar kata-kata Behal, Holy King sesaat membelalakkan matanya.

"Ah, jadi kau orangnya? Kukira tadi orangnya itu Lloyd-kun……"

"Bukan aku, tahu!"

Aku sampai hampir terjatuh saking kagetnya. Tidak kusangka dia akan salah sangka sejauh itu.

"Yah, mau bagaimana lagi. Kadang Lloyd-sama memang memancarkan mana yang jauh lebih jahat daripada iblis, sih."

"Apalagi Behal biasanya bersembunyi di dalam Connie. Kalau ditanya siapa yang lebih terlihat seperti iblis, yah memang Lloyd-sama orangnya."

Grim dan Jiriel ikut menyambar, tapi hei, menyamakan anak kecil biasa penyuka sihir sepertiku dengan Raja Iblis itu benar-benar keterlaluan, kan?

"Begitu ya…… Ah, jadi begitu."

Gumam sang Holy King pelan. Ia menyipitkan matanya perlahan, dan seketika aura dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya mulai menyelimuti dirinya.

"Jadi kau benar Raja Iblis ya. Aku dengar kau sudah lenyap setelah kalah melawan Holy King terdahulu."

"Itu cuma keberuntungan. Kali ini aku yang akan menang!"

Mendengar tantangan Behal yang penuh percaya diri, Holy King menjawabnya dengan tenang.

"Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak perlu repot-repot mencarimu. Alasan aku datang ke sini memang untuk melumpuhkanmu."

Selama ini aku bertanya-tanya. Kenapa Holy King yang jarang sekali keluar rumah sampai rela datang jauh-jauh ke Saloum.

Tapi jika melihat waktunya, sudah jelas tujuannya adalah untuk membereskan Raja Iblis yang telah bangkit kembali.

Gereja adalah organisasi pembasmi iblis, mana mungkin mereka membiarkan Behal-sang Raja Iblis-begitu saja.

Mendengar itu, Behal malah menyeringai lebar, seolah memang itu yang ia harapkan.

"Kalau begitu, majulah. Akan kuberitahu bahwa aku yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Aku terus mengumpulkan kekuatan sambil menunggu kesempatan untuk membalas dendam pada kalian. ──Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Akan kuhancurkan kau sampai tidak bersisa!"

Seiring dengan raungannya, seluruh tubuh Behal bersinar hitam pekat.

Sesaat kemudian, pilar cahaya hitam yang tak terhitung jumlahnya turun dari langit. Itu adalah Demon King's Light Prison Column, serangan mana yang terkonsentrasi pada satu titik.

"Waduh, dia langsung mengeluarkan jurus yang bahkan butuh konsentrasi penuh dari Barrier Lloyd-sama untuk menahannya tanpa ragu-ragu."

"Tu-Tunggu, Lloyd-sama! Bagaimanapun dia itu Holy King. Sebaiknya jangan sampai terbunuh……"

"Fuha! Fuha ha ha ha ha ha ha──!"

Umm, Behal bukan tipe yang mau mendengarkan jika disuruh berhenti, sih.

Tapi aneh. Meski terus menerima serangan sehebat itu, Holy King yang terlihat di balik cahaya tetap memasang wajah santai.

Malah, sepertinya dia tidak menangkisnya sama sekali…… serangan itu seolah-olah menghindarinya dengan sendirinya.

"Aaah—"

Di tengah ruang yang ganjil itu, sang Holy King membuka mulutnya.

"Maaf ya meski kau sudah sangat bersemangat, tapi sebagai seorang pasifis, kata-kataku cuma satu. ──Aku tidak akan bertarung."

Seketika, kekuatan besar meledak.

"Gu…… oh……?!"

Guncangan dahsyat menjalar ke sekeliling. Tekanan aneh itu seketika menghentikan gerakan Behal yang hendak melancarkan serangan berikutnya.

"Nu…… gugu…… ugh……?! Ke-Kekuatan apa ini! Jauh lebih kuat dari Holy King yang dulu! Tapi, aku pun tidak tinggal diam selama ini……! Haaaaaaa!"

Meski pembuluh darahnya sampai menonjol karena berusaha bergerak, Behal tetap tidak bisa menggerakkan satu jari pun, tubuhnya hanya gemetar kecil.

"A-Apa-apaan ini? Holy King itu cuma bergumam sebentar, tapi gerakan Behal langsung terkunci?!"

"Menghentikan pergerakan Raja Iblis…… ini benar-benar tidak masuk akal. Sebenarnya apa yang sedang terjadi……?"

Kekuatan yang misterius. Begitu menyentuh gelombang aneh yang terpancar dari Holy King, perasaanku jadi tidak tenang. Rasanya mirip dengan sihir tipe mental, tapi setidaknya ini bukan sihir biasa.

"Heh, sanggup mempertahankan niat bertarung setelah menerima 'Suara'-ku secara langsung, kau hebat juga."

Suara, ya. Benar. Rasanya seolah mana dialirkan langsung ke dalam kata-katanya.

……Bukan, apa dia mengubah kata-katanya menjadi formula sihir itu sendiri?

Ada Protection dari bahasa sihir langit di dalamnya, ditambah lagi susunannya sangat rumit hingga aku pun sepertinya akan kesulitan untuk memecahkannya.

"Tapi sebanyak apa pun kau mencoba, itu tidak akan ada gunanya. Karena aku tidak punya niat untuk bertarung denganmu—"

Sesaat setelah ia bicara, sebuah garis merah muncul di pipi sang Holy King. Detik berikutnya, kursi penonton di belakangnya hancur berkeping-keping.

Asap putih mengepul dari ujung jari Behal yang berhasil ia angkat sedikit. Ia baru saja melepaskan Mana Flash yang sangat padat.

"Ku, kuku…… Meskipun kau tidak punya niat, aku sudah punya niat sejak lama. Mau tidak mau, kau harus meladeniku……!"

Behal belum menyerah. Melihatnya berjalan mendekat dengan hawa bertarung yang berkobar, Holy King hanya menghela napas bosan.

"Umm, tekad dan kegigihanmu benar-benar di luar akal sehat. Kalau kau Raja Iblis, bukannya harusnya kau bertindak lebih licik? Misalnya mundur dulu lalu menyerang dari balik bayangan, atau menyandera seseorang. Ada banyak cara lain daripada mengandalkan otot seperti ini, tahu."

"Tidak berguna…… bertarung melawan orang kuat sepertimu adalah keinginanku…… aku tidak tertarik dengan hal lain selain adu kekuatan secara langsung! Maaf saja, aku tidak berniat mengakhiri ini setengah-setengah……! Lloyd, kau jangan ikut campur, ya."

"Iya, iya, aku mengerti kok."

Aku juga tidak berniat mengganggu. Lagipula aku masuk ke sini memang untuk menonton pertarungan kalian berdua.

Tidak ada alasan bagiku untuk merusak suasana yang sedang seru ini.

Nah, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Karena sepertinya bakal lama, aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi penonton.

"Lloyd-sama, popcorn-nya sudah siap."

"Lloyd-sama, cola-nya juga ada."

"Terima kasih."

Begitulah, aku menonton sambil bersantai. Nah, kalian berdua, tunjukkanlah pertarungan yang menarik. Demi riset sihirku.

"Yah, mau bagaimana lagi, sepertinya kau tidak bisa dikalahkan dengan cara biasa ya. Kalau begitu── Stradi-Varius."

Begitu Holy King bergumam, cahaya menyilaukan menyelimuti dirinya. Perasaan ini── Light Armor, ya. Begitu aku sadar, sebuah biola sudah tergenggam di tangannya.

"A-Apakah itu biola legendaris buatan sang maestro Varius?! Suara yang dihasilkan dari kayu yang telah diawetkan selama seratus tahun, harta karun dunia manusia, sebuah mahakarya sejati! Itulah Stradi-Varius! Terlebih lagi, itu adalah model Odyssey yang memecahkan rekor harga tertinggi empat belas miliar G$! Seingatku Holy See yang memenangkan lelangnya, tapi tidak kusangka Holy King sendiri yang memegangnya……"

Jiriel mulai mengoceh panjang lebar dengan sangat detail. Sepertinya alat musik itu benar-benar barang langka ya.

"Kau terlalu detail lho, dasar malaikat sialan……"

"Bodoh! Ini barang yang sangat terkenal tahu, iblis tolol! Benar kan, Lloyd-sama?!"

……Ditanya begitu pun, aku sebenarnya sama sekali tidak tahu, sih.

Sebenarnya yang lebih membuatku penasaran adalah bagaimana cara ia mengeluarkan benda itu barusan.

Sebuah instrumen musik yang tiba-tiba muncul di ruang hampa…… sepertinya itu bukan diciptakan menggunakan Light Armor. Apakah itu juga salah satu kemampuan sang Holy King?

Namun, meski kemampuannya sehebat itu, aku tidak merasakan Holy King melakukan sesuatu yang signifikan…… Sejak tadi, banyak hal yang terasa janggal.

"Hah! Memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan benda seperti itu?"

Berbanding terbalik denganku yang waspada, Behal malah menertawakan Holy King.

Memang benar, meski aku tidak tahu seberapa berharganya instrumen itu, sulit membayangkan alat musik seperti itu bisa menandingi kekuatan fisik Behal yang brutal…… tapi……

"Uoooooh!"

Seolah menjawab terjangan Behal, sang Holy King mulai menggesek biolanya.

──♪

Begitu suara itu bergema, bulu kudukku seketika meremang.

Kemampuan bermainnya berada di level yang tidak kalah, atau bahkan mungkin melampaui Saria.

……Namun di saat yang sama, aku merasakan sensasi yang sangat tidak menyenangkan. Rasanya seperti jiwaku dibelai secara langsung.

Sensasi ini mirip dengan 'Suara' yang digunakan Holy King tadi, namun kekuatannya meningkat puluhan kali lipat──

"Gu, ooooh……"

"A, agaga……"

"Grim? Jiriel!?"

Tanpa sadar, mereka berdua sudah jatuh ke lantai dengan mulut berbuih.

Apakah ini efek dari serangan (?) barusan? Sepertinya nyawa mereka tidak terancam, tapi mereka tampak tidak bisa bergerak sama sekali.

"Ma, maafkan kami…… Lloyd-sama……!"

"Lagu ini…… seolah-olah menyedot seluruh kekuatan kami……!"

Hm, jadi ini nilai asli dari seorang Holy King.

Bahkan aku sendiri pun merasakan hambatan pergerakan yang cukup signifikan.

"Cih…… Lagu Iblis, ya……!"

Gumam Behal dengan nada benci.

──Lagu Iblis adalah teknik yang diwariskan secara turun-temurun kepada Holy King.

Dengan menyatukan formula khusus ke dalam melodi, teknik ini menghasilkan efek yang mirip dengan sihir.

Logikanya mirip dengan Spell Bundle.

Jika aku fokus pada efisiensi dengan memadatkan mantra dalam jumlah besar menjadi satu kesatuan, Lagu Iblis lebih menekankan pada elemen pertunjukan. Singkatnya, ini adalah sejenis sihir ritual.

Lagu yang dimainkan menciptakan berbagai efek akustik, sehingga memungkinkan penggunanya untuk menyentuh hati pendengar dengan lebih kuat.

……Begitulah kata mantan Paus, Gitan.

Suara Holy King pun pada akhirnya adalah 'suara'. Meski tidak menggunakan instrumen, hal itu bisa dianggap sebagai bagian dari Lagu Iblis.

"……Aku terkejut. Kau masih bisa bicara ya. 'Lagu Perdamaian' ini adalah gubahan lirik dan melodiku sendiri. Sekali mendengarnya, niat bertarungmu akan hilang tak bersisa. Seharusnya Raja Iblis yang merupakan gumpalan niat bertarung tidak akan berdaya setelah mendengarnya. Aku dengar Raja Iblis generasi ini sangat kuat, dan ternyata itu benar. Aku terkesan."

"Gu, oooooo……!"

Seluruh tubuh Behal gemetar hebat, namun ia bahkan tidak bisa menggerakkan satu jari pun.

Sihir memang tidak mempan terhadap iblis yang merupakan entitas mana, namun mereka tidak kebal terhadap serangan yang bekerja langsung pada tubuh seperti teknik pernapasan atau energi fisik.

Terlebih lagi, Lagu Iblis yang dimainkan Holy King tampak seperti mengguncang entitas mana itu sendiri. Efeknya benar-benar luar biasa.

"Waduh, ini bukan waktunya untuk sekadar mengamati."

Aku sudah berjanji akan menjaganya. Aku tidak bisa membiarkan Behal dikalahkan begitu saja.

Sebelum Holy King memberikan serangan pemungkas, aku mengaktifkan Sonic Barrier menggunakan sihir atribut angin.

Ini adalah barrier yang memutus suara dengan cara menggetarkan udara. Aku berniat memutus melodi Holy King dengan ini.

Logikanya, jika ritualnya dibatalkan, maka formula sihir ritual itu sendiri akan gagal. Begitulah pikirku, namun──

"……? Aneh. Tidak aktif……?"

Seharusnya formula sihirnya sudah aktif. Namun, suara yang dimainkan Holy King tetap tidak berhenti.

Ada sesuatu yang mengganggu. Aku mengalihkan pandangan ke arah sumber formula sihir yang melakukan pembatalan terhadap sihirku──

"Akhirnya kau sadar juga. Dasar bocah linglung."

Suara itu terdengar dari ruang hampa. Di saat yang sama, seorang pria jangkung muncul dari kegelapan yang mencair.

Tatapan matanya tajam menusuk, tubuhnya ramping namun berotot, dan rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin. Saat ia menatapku dari atas, mata Grim dan Jiriel membelalak.

"Mustahil…… kau…… bukannya kau sudah mati……!"

"I-Ini jangan-jangan orang yang diceritakan Ren-tan, si……?"

"Gimzal……!"

Si pria itu langsung tersandung jatuh sementara dua pengawalku tampak jijik. ……Eh? Aku salah sebut ya.

Pria itu bangun dengan sempoyongan, lalu menatapku lurus-lurus.

"GI-ZAR-ME! ……Masih saja jadi bocah tengik yang menyebalkan."

Oalah, sepertinya memang itu namanya.

──Gizarme. Iblis yang dulu pernah mengambil alih tubuh Jade.

Dia cukup kuat, tapi seharusnya aku sudah menghanguskannya sampai jadi abu dengan Void milikku. Kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini……?

Kemungkinan besar ini adalah kekuatan sang Holy King, tapi……

"Wah, terima kasih bantuannya, Gizarme. Tanpamu mungkin tadi akan berbahaya."

"……Cih, kekuatan bocah ini malah bertambah dibanding sebelumnya……! Hei! Jangan malah asyik mengobrol!"

"Aku tahu kok, sebentar lagi selesai──!"

"Gugaaaaaaa!?"

──♪ Holy King memejamkan mata dan fokus pada permainannya. Suara yang bergema perlahan semakin kuat dan bertenaga.

Mana hitam yang menyelimuti Connie, yaitu tubuh Behal, mulai terkikis dan menghilang sedikit demi sedikit.

Mau bagaimana lagi, sepertinya kami harus mundur untuk sementara.

"Maaf ya, tapi untuk hari ini kami akan mundur."

"Hahaha, kukira kau mau bicara apa. Kau pikir bisa lari semudah—"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, gerakan Holy King terhenti.

Aku menghasilkan mana dalam jumlah besar dan menyebarkannya ke sekeliling.

Barrier yang dibangun Behal ini memang memiliki kekerasan yang luar biasa, tapi strukturnya sangat sederhana.

Karena si pengguna sudah kehilangan kesadaran, menghancurkannya dengan kekuatan kasar adalah hal yang memungkinkan.

"Luar biasa…… aliran mana yang sungguh mencengangkan. Kekuatannya mengingatkanku pada air terjun yang ada di ujung dunia. Tak salah lagi, kau memang Pangeran Ketujuh yang dirumorkan itu…… pantas saja kau masuk daftar orang yang harus diwaspadai oleh Holy See. Kekuatanku dikhususkan untuk melawan iblis, efeknya lemah terhadap manusia. Apalagi aku ini seorang pasifis. Aku tidak punya keinginan untuk melanjutkan ini lebih jauh."

"Cih…… dia memancarkan mana yang lebih dahsyat dari waktu itu……! Bukan itu saja, ketelitian formulanya pun tidak tertandingi. Sialan…… aku tidak suka ini. Aku ini bangsawan dunia iblis, Tuan Gizarme, tahu!? ……Yah sudahlah, selama tujuanku tercapai, bocah ini bukan tandinganku. Untuk sekarang, akan kubiarkan kau hidup……!"

Holy King dan Gizarme menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak terlalu peduli karena lebih mencemaskan Behal.

Dia tidak sadar dan tubuhnya tampak mengalami kejang-kejang kecil.

Sepertinya aku harus menahan diri dan merasakan Lagu Iblis itu di lain kesempatan.

Sangat disayangkan, namun sambil merasa berat hati, aku menghantamkan mana dalam jumlah besar ke barrier tersebut.

Gooooo! Suara ledakan menggema dan retakan besar muncul di barrier.

"Sampai jumpa."

──Paaan! Terdengar suara seperti sesuatu yang meletus, barrier itu hancur berantakan dan pemandangan kembali ke aula seperti biasa.

Begitu kembali ke aula, kerumunan orang bersorak dengan sangat meriah! "Waaaaaaa!"

Ah, benar juga, pertunjukannya kan masih berlangsung. Holy King sepertinya juga sudah kembali, ia memakai tudungnya lagi.

Ekspresinya benar-benar biasa saja. Dengan senyum ramah yang tersungging di wajahnya, ia pun ikut bertepuk tangan.

Hujan turun dengan derasnya.

Setelah kejadian itu, rombongan Holy King menghilang entah ke mana.

Katanya mereka pulang karena kunjungan kerja sudah selesai, tapi mungkin lebih tepatnya karena tujuan mereka sudah tercapai jadi tidak ada urusan lagi di sini.

Faktanya, setelah pertarungan itu, Behal bahkan tidak bisa menampakkan diri lagi.

"Bagaimana kondisimu, Connie?"

Tanyaku pada Connie yang terbaring di tempat tidur.

"……Aku tidak bisa bilang kalau aku baik-baik saja."

Jawab Connie sambil mengatur napasnya. Karena Behal kehilangan kekuatannya, Connie pun ikut menjadi sangat lemah.

"Bagian dalam tubuhku terasa cenat-cenut. Seperti nyeri saraf. Tidak sampai sakit yang mematikan, tapi ini benar-benar menyiksa."

"Itu karena Connie berbagi 'wadah jiwa' dengan Behal. Luka yang ia terima otomatis menjadi bebanmu juga. Mungkin tidak seberapa, tapi aku akan memberikan sihir penyembuh untukmu."

Meski aku hanya bisa sekadar meredakan rasa sakitnya saja.

Walau begitu, wajah Connie tampak sedikit membaik setelah menerima cahaya penyembuh.

"Terima kasih. Aku merasa lebih mendingan sekarang."

"Jangan memaksakan diri. Ini belum menyelesaikan masalah utamanya."

Selama Behal belum pulih, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Connie.

Sebagai tindakan pencegahan, aku memintanya untuk libur dari pekerjaan pelayan.

Bagaimanapun, stamina itu sangat penting.

"……Kau baik sekali ya, Lloyd. Padahal Behal sendiri yang mengamuk tanpa izin."

"Yah, amukannya itu kan memang sudah biasa."

Habisnya, mereka berdua adalah teman berharga—maksudku, subjek penelitian berhargaku. Aku akan repot jika mereka tidak segera sembuh.

Grim dan Jiriel menatapku dengan tatapan dingin, tapi aku mengabaikan mereka.

"Tapi untunglah kita bisa kabur dari sana. Kalau sampai terjadi pertarungan sungguhan, sejujurnya itu akan berbahaya."

"Pihak lawan juga sudah terkuras staminanya, Tuan. Tapi yang lebih membuatku penasaran adalah bangkitnya si Gizarme itu!"

"Iblis yang dulu dikalahkan Lloyd-sama, ya. Sepertinya ia bangkit karena kemampuan Holy King, tapi……"

"Ya. Bisa menyudutkan Behal sampai seperti itu, dan bahkan membangkitkan Gizarme yang sudah musnah, kita harus berasumsi bahwa jangkauan tekniknya sangat luas."

Biasanya, sihir adalah teknik untuk mewujudkan berbagai fenomena menggunakan formula yang mendetail.

Namun, hal yang bisa dilakukan paling mentok hanyalah fenomena fisik sederhana.

Untuk mereplikasi boneka yang bisa bergerak sendiri, bicara, bahkan memiliki kekuatan tempur seperti Gizarme barusan adalah hal yang mustahil bagi sihir.

Paling banter hanya bisa menggabungkan banyak formula untuk membuat sesuatu yang 'mirip' seperti itu.

"Fenomena sederhana kata Anda…… padahal Tuan sudah bisa mengendalikan manusia dengan mana dan membelokkan ruang……"

"Bagi Lloyd-sama itu mungkin hal sederhana. Tapi membangkitkan iblis yang sudah musnah itu benar-benar sudah menyalahi hukum alam."

Aku sangat tertarik untuk mengetahui bagaimana sistem kerjanya, tapi sekarang pemulihan Behal adalah prioritas utama.

Dengan kondisi Behal yang sangat lemah sekarang, tidak aneh jika ia tiba-tiba lenyap.

Untuk sementara aku melindunginya dengan barrier, tapi masih banyak hal yang tidak kupahami tentang Lagu Iblis, jadi lebih baik waspada.

"Tapi orang itu benar-benar gila ya, bisa mengalahkan Behal sang Raja Iblis dengan semudah itu……"

"Dikatakan bahwa kekuatan Raja Iblis setara dengan Dewa. Berarti kekuatan Holy King itu melampaui Dewa……?"

"Tidak. Seperti yang dikatakan Behal, dia tidak memiliki kekuatan yang sederhana. Mana miliknya sendiri sebenarnya rendah, dan gerakannya saat bertarung pun tidak ada yang istimewa. Yang perlu diwaspadai hanyalah Lagu Iblisnya."

Meskipun teknik itu memang luar biasa sih.

Jika Spell Bundle memadatkan mantra, maka Lagu Iblis memberikan informasi dalam jumlah besar dengan menumpangkan mana pada suara itu sendiri.

Jumlah formula berbanding lurus dengan luasnya fenomena yang bisa diciptakan oleh sihir.

Ditambah lagi, Lagu Iblis menggunakan pendekatan yang berbeda dari sihir biasa, sehingga efeknya sangat luar biasa bahkan terhadap iblis yang biasanya sulit ditembus sihir.

Mengingat ia hanya membawa satu Gizarme, sepertinya ada batasan tertentu.

Namun, bagi lawan yang merupakan iblis, itu adalah teknik yang sangat fleksibel.

Sihir Suci milik Gereja adalah teknik yang meminjam kekuatan surga melalui media musik untuk menyembuhkan manusia dan membasmi kejahatan.

Kekuatan itu memang sangat pantas bagi seseorang yang berdiri di puncak seperti Holy King.

"Lagu Iblis, ya…… Hehe, ini membuatku bersemangat."

Memang sedikit mirip dengan mantra suara, tapi efek dan kekuatannya jauh berbeda.

Kemungkinan besar ia mendapatkan efek yang lebih besar dengan menginterpretasikan ritme, nada, dan melodi sebagai formula sihir.

Mungkin ada rahasia lain di baliknya, tapi aku tidak bisa tahu lebih detail hanya dengan melihatnya sekali. Hmm, aku ingin bertemu dengannya lagi.

"Jangan malah bersemangat begitu, Lloyd-sama! Kekuatannya saja sanggup membuat kami yang berada cukup jauh pingsan seketika! Kalau sampai kena serangan telak lagi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi!"

"Benar! Bahkan Lloyd-sama sendiri kekuatannya sempat tersegel cukup banyak saat itu. Bisa dibilang Behal sangat beruntung masih bisa hidup. Omong-omong, bagaimana kondisi Behal sekarang?"

"Dia sedang meringkuk di dalam Connie. Seperti sedang masuk ke dalam cangkang."

Entitas mananya hampir seluruhnya terkikis, yang tersisa hanyalah bagian inti Behal saja.

Itu pun perlahan-lahan semakin melemah, jika dibiarkan saja bisa berbahaya.

"Muu, padahal sihir penyembuh biasa tidak mempan terhadap entitas mana."

"Ya, meskipun mereka kuat, itu karena ditopang oleh mana yang sangat besar. Jika kehilangan mana sebanyak ini, pemulihan alami tidak bisa diharapkan."

Seperti kata mereka berdua, entitas mana pulih dengan cara disuntikkan mana.

Namun, itu hanyalah pengobatan kasar.

Jika mana di sekelilingnya terkelupas hingga tersisa intinya saja, maka dibutuhkan proses yang lebih halus, dan akan sulit untuk memberikan bantuan dari luar.

Terlebih lagi jika subjeknya adalah Behal yang memiliki mana yang sangat masif.

Biasanya kita hanya bisa menunggu ia pulih dengan sendirinya, tapi……

"Ada cara lain──musik harus dilawan dengan musik."

Setelah mengamati Lagu Iblis sang Holy King, aku mulai sedikit memahami logikanya.

Karena itu, Lagu Iblis dengan sifat yang berlawanan──yaitu yang memiliki efek pemulihan, seharusnya bisa kugunakan sekarang.

Aku tinggal membedah sihir tipe penyembuhan, menjadikannya formula, lalu merangkainya kembali menjadi sebuah lagu.

Mari kita lihat, bagian ini diganti begini, lalu begitu…… oke, selesai.

"Ayo kita coba. ──♪"

Aku menyanyikan lagu yang kubuat secara improvisasi. Mendengar itu, Grim dan Jiriel sampai gemetar.

"Ooh…… suara apa ini yang begitu menggetarkan jiwa…… aku merasa kekuatan meluap-luap dari dasar tubuhku!"

"Efeknya terasa bahkan padaku yang seorang malaikat! Rasanya luka dari Holy King tadi mulai sembuh……"

Hm, sesuai dugaan, efek penyembuhan terhadap entitas mana juga didapatkan.

Kondisi Behal pun sepertinya mulai stabil.

Sepertinya ini cukup efektif. Setelah bernyanyi sejenak, aku berhenti.

"Eh? Kenapa berhenti, Lloyd-sama?"

"Ya, aku sudah tahu kalau ini efektif, tapi kalau hanya nyanyianku saja, pemulihannya akan memakan waktu yang sangat lama."

Meskipun sudah melewati masa kritis, mana milik Behal itu sangat besar.

Jika begini terus, butuh waktu berbulan-bulan sampai ia pulih total.

Aku tidak punya waktu luang sebanyak itu, jadi ini bukan cara yang praktis.

"Daripada itu, akan lebih efisien jika Isha dan yang lainnya yang menyanyi."

Suara Isha yang berhasil naik pangkat menjadi Paus hanya dengan modal nyanyian memiliki kekuatan yang bahkan membuatku terkesan.

Aku akan membuat lagu dengan tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi, meminta Isha menyanyikannya, lalu ditambah dengan iringan musik Saria.

Dengan begini, efeknya pasti akan meningkat pesat. Inilah yang disebut menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Hmm, hmm.

"Begitu ya, jika mereka berdua, mereka pasti bisa membawa lagu buatan Lloyd-sama ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Ide yang luar biasa, Tuan!"

"Ya, ya benar sekali! Membayangkan lagu yang luar biasa itu dimainkan oleh Isha-tan dan Saria-tan…… ah! Membayangkannya saja sudah membuatku menangis……!"

"Kau ini…… masih saja menjijikkan ya……"

Grim tampak jijik melihat Jiriel yang menangis.

Mereka berdua yang selalu ingin melibatkanku dalam hal musik pasti akan dengan senang hati menerimanya.

Dan Lagu Iblis ini, jika diatur dengan baik, tidak hanya bisa digunakan untuk pemulihan, tapi juga efek-efek lainnya.

Jika aku memahami ini dengan benar, aku bisa menerapkannya ke dalam sihir juga. Wah, aku jadi semakin bersemangat.

"Pokoknya, lebih cepat lebih baik. Sampai jumpa Connie, tidurlah yang nyenyak!"

"Ah, baik. Hati-hati di jalan."

Aku pun melangkah menuju gereja dengan perasaan gembira.

Aku mengunjungi kantor pusat Gereja.

Di dalam area yang sangat luas itu, banyak penganut yang sedang berdoa dengan khusyuk.

Terakhir kali aku ke sini adalah saat bertarung melawan Gitan.

Kalau dipikir-pikir, sudah cukup lama juga ya.

"Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku ke sini sejak Isha menjadi Paus."

"Sesekali berkunjunglah ke sini, Tuan. Jangan selalu pihak sana yang mendatangi Anda."

"Lloyd-sama kan pada dasarnya memang mengabaikan hal-hal yang tidak beliau minati. Kalau aku sih sering mengintip ke sini!"

Ya habisnya tidak ada gunanya juga datang kalau tidak ada urusan.

Isha tidak terlalu paham soal sihir suci, jadi Gitan jauh lebih berguna untuk mendapatkan informasi.

Karena itulah aku tidak punya alasan kuat untuk mengunjungi tempat ini. Tapi karena mereka sudah banyak membantuku, mungkin memang sesekali aku harus menampakkan muka.

Tapi masalahnya, Isha itu suka sekali tiba-tiba memelukku, jadi agak merepotkan.

Sambil memikirkan hal itu, akhirnya aku sampai di depan ruangan Paus.

"Aku masuk ya."

Begitu aku membuka pintu dan menyapa, Isha sedang duduk di sofa di bagian dalam ruangan.

Oh, dia ada di sana. Menyadari keberadaanku, ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.

"……Sepertinya ada yang aneh. Biasanya dia langsung lari menghampiri kalau melihat wajah Tuan."

"Benar, lalu langsung mendekap Anda dengan dadanya yang melimpah itu……"

Memang aneh. Kenapa dia tidak bicara ya?

Sambil merasa heran, aku melihatnya memberikan isyarat tangan menyuruhku mendekat.

"Isha?"

"……Maaf, suaraku tidak mau keluar. Uhuk, uhuk."

Ujarnya dengan suara yang sangat lemah dan nada meminta maaf. Suaranya serak dan ia tampak kesulitan bicara.

"Sebenarnya beberapa hari lalu, karena menyanyi di depan Holy King, tenggorokanku jadi sakit…… uhuk."

Benar juga, waktu itu suara nyanyian Isha memang menghasilkan performa berkali-kali lipat dari biasanya. Tidak aneh jika suaranya sampai habis.

"Ah, itu…… apa kau tidak apa-apa?"

"Kondisi tubuhku tidak masalah, tapi…… rasanya sedih sekali tidak bisa menyanyi."

Gumam Isha sambil menghela napas panjang.

"Dia itu kan selalu menyanyi setiap ada kesempatan. Tidak bisa menyanyi pasti membuatnya stres berat."

"Aduh, kasihan sekali Isha-tan! Lloyd-sama, tidak bisakah Anda membantunya?!"

Tanpa diminta pun aku memang berniat membantunya.

Lagipula tujuannya aku ke sini memang karena menginginkan nyanyian Isha.

Tapi kalau aku menyembuhkannya secara terang-terangan dengan sihir, itu akan terlalu mencolok, jadi lebih baik secara diam-diam…… Tepat saat aku menyentuh tenggorokan Isha dan hendak mengaktifkan sihir penyembuh.

"Sudah jadi, Isha."

Pintu terbuka dan yang masuk adalah Babylon dan kawan-kawan dari Lordst.

Begitu melihatku, mata mereka semua membelalak kaget.

"Oya, Lloyd-sama, sedang apa Anda di sini?"

"Aku ada urusan dengan Isha…… tapi kalian sendiri sedang apa?"

"Kami dengar tenggorokannya sedang sakit."

Kalau diperhatikan, mereka semua memakai celemek. Di atas kereta dorong yang didorong Galilea, terdapat banyak tumpukan masakan.

"Aku dengar dari Babylon kalau tenggorokan Isha sakit, jadi aku langsung datang."

"Dulu saat tenggorokan Crow sakit karena terlalu sering menggunakan mantra suara, aku sering membuatkan masakan. Asal tahu saja, masakanku ini sangat manjur lho~"

Mendengar kata-kata Crow dan Talia, Babylon menggaruk pipinya dengan malu-malu.

"Begitulah. Silakan dimakan, Isha."

"──!"

Isha berlari menghampiri mereka, menggenggam tangan mereka dengan mata berkaca-kaca.

Ia membungkuk berkali-kali dan mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang serak.

"Jika Lloyd-sama berkenan, bagaimana kalau ikut makan juga?"

"Boleh juga, aku akan mencicipinya."

Kebetulan aku juga mulai lapar. Sepertinya ada makanan manis juga, jadi aku akan ikut minta sedikit.

"Ada pancake madu dengan banyak jeli persik, teh jahe segar, dan puding ya. Isinya banyak sekali hal-hal yang bagus untuk tenggorokan."

"Ooh! Mata Isha-tan sampai tidak bisa lepas dari makanannya! Air liurnya bahkan sampai menetes!"

"Ya, kelihatannya sangat enak."

Aku pun sangat menyukai makanan manis. Meskipun tenggorokanku tidak sakit, tidak ada salahnya aku menerima tawaran mereka. Setelah menikmati waktu minum teh sejenak.

"Sudah sembuuuuuuuh♪"

Isha mulai menyanyi sambil mengangkat kedua tangannya.

Ia tidak tampak memaksakan diri, suaranya sudah kembali seperti biasa.

"Ini berkat kalian semua. Terima kasih banyak."

"A-Ah…… tapi sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri dulu ya."

"Baik!"

Jawab Babylon yang tampak agak bingung karena kedua tangannya digenggam erat oleh Isha.

Isha tampak sangat senang hingga ia secara alami menyenandungkan melodi. Sepertinya dia sudah pulih sepenuhnya. Syukurlah kalau begitu.

"Tapi ini sebenarnya berkat sihir penyembuh Lloyd-sama kan!?"

"Mana mungkin sembuh secepat itu hanya dengan masakan, seberapa berkhasiat pun itu bagi tenggorokan. Orang-orang Lordst itu juga mulai curiga!"

Kalau diperhatikan, selain Isha, semua orang memberiku tatapan penuh curiga.

Ya ampun, padahal aku sudah memberikan kesempatan bagi mereka untuk tampil sebagai pahlawan. Benar-benar orang-orang yang peka.

"Ini semua berkat Babylon-san dan yang lainnya!"

Berbeda dengan yang lain, Isha menunjukkan senyum yang sangat cerah.

Sebuah kemurnian yang luar biasa, bahkan tanpa terpikir untuk curiga sedikit pun.

Benar-benar deh, aku ingin mereka semua mencontoh kemurnian hati Isha ini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close