Cerita
Tambahan
Kisah
tentang Lloyd saat ‘Kekang’ Sylpha belum ada.
Setelah bereinkarnasi menjadi Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum,
aku melakukan apa pun sesuka hatiku, persis seperti yang dikatakan ayahanda
Raja dan kakak-kakakku: "Hiduplah semaumu."
Namun, bereinkarnasi dengan bakat sebesar ini menuntut
tempat yang memadai untuk melakukan riset sihir sepuasnya.
Saat bayi, membaca buku saja sudah cukup, tapi seiring
pertumbuhan dan meningkatnya mana, hal yang bisa kulakukan pun bertambah.
Banyak hal yang ingin kucoba.
Karena itulah, aku membangun laboratorium bawah tanah
ini.
Di sini, aku melakukan pembuatan Golem yang memakan
tempat, alkimia, dan berbagai riset lainnya.
Namun, tempat ini pun mulai terasa sempit, sehingga aku
berniat menjalankan rencana selanjutnya.
──Namanya adalah Proyek Terowongan Besar Dunia.
Sesuai namanya, ini adalah rencana membangun terowongan
yang sangat panjang di bawah tanah, menyebarkannya ke seluruh dunia seperti
sarang semut untuk mendapatkan berbagai informasi dari berbagai tempat.
Dunia ini masih memiliki banyak sihir tak dikenal yang
belum kuketahui.
Rencananya berskala dunia: melepaskan sejumlah besar
Golem yang telah kubuat ke dalam terowongan, lalu melakukan investigasi serta
penggalian untuk membawa informasi berharga dan material langka kembali ke
sini.
Dengan begini, aku bisa mendapatkan segala macam
informasi dan sumber daya tanpa perlu turun tangan sendiri.
Hmm, strategi yang luar biasa, bahkan menurutku
sendiri.
Kalau begitu, pertama-tama mari kita lubangi saja secara
asal.
"■■■"
Mantra yang kurapalkan adalah sihir sistem angin Rekkū
Ranga (Taring Badai Pembelah Langit)──tipe konsentrasi.
Bilah-bilah angin menyatu merobek tanah, dan sebuah
lubang berdiameter sekitar sepuluh meter tercipta di hadapanku.
Gumpalan tanah hasil galian kuompres dengan sihir sistem
tanah, kukembalikan ke dinding sebagai penguat agar tidak runtuh.
Dengan begini, aku terus menggali lurus sambil memastikan
kekerasan terowongan.
……Tapi ternyata lambat juga ya. Kecepatannya cuma
sebanding dengan kuda yang berlari.
Yah, mau bagaimana lagi karena aku tidak mengejar daya
hancur, tapi entah butuh berapa lama sampai bisa mencapai ujung benua.
"Mungkin
aku tunggu di laboratorium saja sampai galiannya selesai…… hm?"
Suara
galian menghilang.
Sebagai
gantinya, terdengar suara gemuruh bumi, dododododo.
Yang
muncul dari ujung terowongan adalah jumlah air yang sangat banyak.
Waduh,
apa aku baru saja melubangi sumber air bawah tanah? Sepertinya
aku menembakkannya terlalu sembarangan. Refleksi
diri, refleksi diri.
"Tapi ini bukan waktunya bicara begitu,
kan."
Kalau dibiarkan, laboratoriumku akan tenggelam. Itu
gawat. Harus dicegah.
Aku menadahkan tangan dan membentangkan Mana Barrier.
Aku membendung airnya.
Hmm, tekanannya lumayan besar. Sepertinya aku melubangi
aliran air yang besar.
"Aduh, aduh, aku harus membereskan ini dulu."
Kalau dibiarkan begini, pembangunan terowongan tidak akan
bisa berjalan.
Aku berniat mendorong balik airnya lalu menutup
lubangnya──tapi saat itulah, aku menyadari sesuatu.
Terdengar
suara dug! dug! yang memukul Mana Barrier.
"Nn? Apa itu?"
Dari sisi lain penghalang, sesuatu yang besar seperti
ular sedang melakukan tabrakan fisik.
Dengan sisik biru keperakan, taring tajam, dan mata merah
menyala, ia melotot ke arahku.
Sepertinya itu monster, tapi……
"Apa dia sedang membicarakan sesuatu?"
Mulutnya komat-kamit sambil melotot padaku. Seolah sedang
meneriakkan sesuatu.
Kecuali beberapa pengecualian, pada dasarnya monster
tidak berbicara bahasa manusia.
Kalaupun bicara, biasanya yang berbentuk humanoid, jadi
monster mirip ular yang mengerti bahasa manusia seperti ini mungkin jenis yang
agak langka.
……Menarik. Aku menjentikkan jari, melepaskan sebagian Mana
Barrier.
Seketika, monster itu menjulurkan kepalanya dari lubang
yang terbuka dan berseru.
"Namaku
adalah Monster Laut Leviathan, dewa yang menguasai air!"
Bukan,
dewa apanya…… lihat dari mana pun kamu itu monster.
Terkadang memang ada yang seperti ini.
Karena punya sedikit kekuatan besar, mereka dipuja
oleh manusia di sekitar, lalu salah sangka menganggap diri sendiri sebagai
dewa.
Aduh, aduh, kupikir monster langka yang menarik,
ternyata cuma makhluk yang agak berhalusinasi.
"Kenapa kau memasang wajah bengong begitu! Hei
Manusia! Apa kau yang melubangi tempat ini!?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Memangnya kenapa, katamu!? Gara-gara kau, danau
bawah tanah tempat tinggal kami jadi berlubang! Berkat itu kami jadi tidak bisa
tinggal di sana lagi! Bagaimana pertanggungjawabanmu!"
Danau
bawah tanah…… ada yang seperti itu juga ya.
Kemungkinan saat aku menggali terowongan, lapisan
tanahnya runtuh dan airnya mengalir keluar dari sana.
Aduh, karena di bawah tanah, kupikir tidak perlu
memikirkan dampak sekitar jadi aku menembak sembarangan, tak kusangka ada
monster yang tinggal di sana.
Aku sudah melakukan hal buruk ya.
"Maaf, maaf. Akan aku bereskan, jadi maafkan aku
ya."
"Kau bilang akan membereskannya!? Kerusakan sebesar
ini tidak mungkin bisa diatasi oleh manusia kerdil sepertimu! Bahkan aku yang
seorang dewa pun tidak bisa berbuat apa-apa, tahu!"
"Berarti kamu bukan dewa, dong……"
"Ha? Apa kau mengatakan sesuatu?"
Aduh, aduh, apa pendengarannya buruk ya.
Yah, karena aku yang salah, sebaiknya aku minta maaf
dengan tulus.
"Aku benar-benar akan membereskannya. Jadi
tolong maafkan aku, ya."
"Kau……! Beraninya mempermainkanku sejauh itu!
Dosa menghancurkan tempat tinggalku dan berusaha mencari alasan, bayarlah
dengan nyawamu!"
Bersamaan dengan raungan, Leviathan menciptakan peluru
air raksasa.
Sepertinya dia berniat menyerangku.
"Matilah!"
Peluru air yang dilontarkan itu kuhentikan hanya dengan
menggerakkan ujung jari sedikit.
Di hadapan gumpalan air yang melayang kaku di depanku,
mata Leviathan membelalak.
Aku mengumpulkan air yang sudah kehilangan momentumnya
itu menjadi satu di atas kepala.
"A……
mengendalikan peluru airku dengan bebas……? Kau, apakah
kau seorang penyihir……!"
Sebenarnya hal seperti ini tidak perlu sampai menggunakan
sihir, sih.
Cukup membungkus air dengan sedikit mana yang ada di
atmosfer, ia sudah bisa dikendalikan sesuka hati.
Yah, aku bisa saja membereskannya dengan sihir, tapi
alasan aku tidak melakukannya cuma satu.
"──Kalau aku melenyapkan air yang berharga ini,
jatah air yang harus dikembalikan ke danau bawah tanah jadi berkurang,
kan."
Misalnya, kalau aku menembakkan bola api, air di sini
akan menguap semua.
Meski aku menciptakan air baru, makhluk hidup di dalamnya
tidak akan kembali. Makanya aku menggunakan mana untuk menghentikannya agar
bisa dikembalikan apa adanya.
"Nah, tahan sebentar ya."
Sambil berkata begitu, aku mendorong tangan yang
kuangkat ke depan.
Aku menggerakkan Mana Barrier yang menyumbat
terowongan ke arah belakang sekaligus.
"A──GUOOOOOOOOOOO!?"
Aku pun ikut masuk ke dalam air yang mengalir deras
ke arah sebaliknya.
Setelah
maju beberapa saat…… ketemu.
Ada
lubang besar di langit-langit, sepertinya airnya meluap dari sana.
Aku
mendorong air beserta Leviathan ke atas dengan Mana Barrier, lalu
menyumbatnya.
Di
dalamnya ada air jernih yang cantik, di mana udang dan ikan berputar-putar
karena terbawa arus.
"Oh, sepertinya ekosistemnya aman. Syukurlah."
Makhluk hidup juga bagian dari dunia, ada kemungkinan
mereka bisa menjadi petunjuk sihir.
Karena itulah aku sebisa mungkin menahan diri dari
merusak lingkungan. ……Benar, lho. Aku serius.
Aku mengaku terkadang memang melakukannya berlebihan,
tapi setidaknya aku berusaha meminimalisir kerusakan.
"Sekarang tinggal diperkuat supaya tidak runtuh
lagi……"
Sekalian saja aku ikut masuk ke dalam air dan melakukan
penguatan dinding dengan sihir sistem tanah.
……Sip, kira-kira begini. Ini pasti akan baik-baik saja.
Saat aku naik ke permukaan air, Leviathan tampak
ternganga kaku.
"Bagaimana? Sudah kembali seperti semula, kan?"
"Ba-Bagaimana
mungkin…… danau bawah tanahku kembali seperti sedia kala……! Luar biasa! Apakah
Anda ini adalah dewa yang sesungguhnya!?"
……Bukan,
beda banget.
Ular ini, sikapnya berubah terlalu drastis dari yang
tadi.
Lagipula, apa tidak apa-apa soal dirimu yang mengaku
dewa itu?
"Mana yang sangat besar ini…… tidak salah lagi!
Semuanya, puji sang Dewa!"
"UWO! UWO! UWOUWOUWOUWUUU!"
Bersamaan dengan suara Leviathan, banyak manusia ikan
di daratan bersorak-sorai.
Begitu ya, ini adalah desa monster.
Dan Leviathan dipuja oleh mereka sehingga dia mengaku
sebagai dewa.
"Wahai Dewa, sudikah kiranya Anda menjadikan
kami sebagai pengikut Anda!?"
"Pengikut……
ya."
Melihat Leviathan dan yang lainnya yang matanya
berbinar-binar, aku mengangguk.
Mungkin mereka ini bisa 'berguna'.
Aku kurang tahu soal informasi bawah tanah.
Pasti akan terjadi lagi kejadian melubangi tempat lain
seperti tadi.
Karena keterbatasan sumber daya, jumlah Golem yang bisa
kubuat pun terbatas. Jika para monster ini mau bekerja, rencananya pasti akan
lebih maju.
Dalam menjalankan Proyek Terowongan Besar Dunia, semakin
banyak rekan semakin baik, kan?
"Baiklah, Leviathan! Maukah kalian bekerja di
bawahku?"
"Hamba tunduk! Kami beserta seluruh bawahan kami
akan mengikuti Anda!"
"UWO! UWO! UWOUWOUWOUWUUU!"
Begitulah, Proyek Terowongan Besar Dunia mulai
bergerak ke arah yang tak terduga.
◇
"Nah, selanjutnya harus gali ke arah mana
ya?"
"Kalau begitu, bagaimana jika menggunakan ini?
Hei."
"UWO!"
Yang dibawa oleh para manusia ikan atas perintah
Leviathan adalah selembar kertas.
"Ini adalah peta daerah sekitar sini. Bisa menjadi
referensi untuk membuat jalan."
"Heh, ada benda praktis seperti ini ya."
Dalam peta yang kuterima dari Leviathan, tercatat
banyak desa monster di mana-mana.
Malah, ada beberapa tempat yang sepertinya akan
segera bersentuhan dengan terowongan yang ada sekarang.
"Monster memang rutin membangun desa di bawah
tanah. Terowongan Anda mungkin akan segera dimanfaatkan oleh mereka."
"……Itu gawat."
Terowongan ini terhubung langsung dengan Kastel Saloum.
Jika monster mulai menetap di lubang yang kugali lalu
meluap ke dalam kastel, itu benar-benar krisis negara.
Kalau sampai terjadi, aku tidak akan bisa riset sihir
dengan tenang.
"Oya, padahal bicaranya begitu tapi Anda
terlihat senang ya."
"Fufufu, ketahuan ya."
Tentu saja, tidak akan jadi masalah kalau aku menundukkan
mereka semua.
Malah, dengan banyaknya desa monster, berarti semakin
banyak monster yang bisa kujadikan bawahan.
Proyek Terowongan Besar Duniaku pun akan semakin
cepat.
"Leviathan, desa mana yang paling besar di
sini?"
"Kalau begitu, di arah timur 'bawah' sejauh
beberapa kilometer, ada wilayah kekuasaan Monster Api Volcano. Kami punya
hubungan permusuhan dengannya, dia adalah bajingan yang sangat tidak sopan
karena mengaku sebagai dewa! Lloyd-sama, mari kita berikan hukuman
padanya!"
"Padahal kamu juga tadi mengaku sebagai dewa,
lho……"
"Apa Anda mengatakan sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa. Ya sudahlah. Ayo kita coba
temui dia dulu. ──■■■"
Aku melepaskan Rekkū Ranga yang sudah disesuaikan.
Bilah angin mengikis tanah, menciptakan lubang besar.
"Ooh!
Daya hancur macam apa ini……! Melubangi batuan keras ini seolah
seperti tahu…… Benar-benar Dewa!"
"UWO! UWO! TOUFUUUUUU!"
"Ngomong-ngomong, kalian tahu soal tahu ya……"
"Tentu saja, kami juga sedikit mengetahui pergerakan
di permukaan."
Benar juga, monster kan sering muncul di permukaan. Mungkin
mereka mendapat informasi dari para petualang.
Yah,
terserahlah…… oh, ada tanda-tanda.
Dododododo! Terdengar suara sesuatu yang
mendidih naik.
"Air
bawah tanah lagi?"
"Bukan,
ini adalah……"
Yang
menyembur keluar dari lubang gelap itu adalah gumpalan api, alias lava.
"Tempat tinggal Volcano adalah lautan lava!
Sepertinya Anda menembus tempat itu! Mohon berhati-hati!"
Meski dibilang begitu, api maupun air tidak ada bedanya
bagiku.
Aku membentangkan Mana Barrier dan melakukan
pertahanan. Nah, saatnya mendorongnya balik.
Sambil mencoba mendorong balik, terdengar suara sesuatu
yang memukul penghalang lagi.
Bayangan yang menggeliat di dalam lava. Sepertinya ini yang namanya
Volcano.
Saat
aku melubangi sebagian penghalang, benar saja, dia menjulurkan kepalanya dan
berteriak.
"Namaku
adalah Volcano, dewa yang menguasai api! Apakah kau bajingan yang menembakkan
serangan ke wilayahku!? Pemandian api milikku jadi berlubang, tahu! Bagaimana
pertanggungjawabanmu!"
Monster
seperti harimau itu mengaum.
……Rasanya
mirip-mirip dengan kejadian Leviathan tadi ya.
Lagipula, pemandian api itu apa? Anggap saja seperti bak mandi, mungkin.
"Mu!
Kau Leviathan! ……Begitu ya, kau menggunakan manusia untuk menyerang ke sini!
Pas sekali, aku memang berpikir harus menyelesaikan urusan dengannmu!"
"Heh,
orang ini bukan manusia biasa. Dia adalah Dewa! Rasakan sendiri
kekuatannya!"
Mereka berdua malah asyik sendiri dan mengabaikanku.
Benar juga, mereka tadi bilang sedang bermusuhan ya.
"Jangan bercanda Leviathan! Kau dan aku kan
pernah bersaing memperebutkan gelar dewa! Memanggil anak manusia sebagai dewa,
sepertinya kau sudah benar-benar gila! Tidak perlu sungkan lagi, hari ini akan
kita selesaikan! UOOOOOO!"
Bola api raksasa melayang di sekitar Volcano.
Namun, bola itu mengecil seperti balon yang kempis,
lalu menghilang.
Akulah
yang melakukannya.
"A……
ti-tidak mungkin! Melenyapkan apiku begitu saja…… apa yang sebenarnya kau
lakukan!?"
"Maksudmu
apa? Aku cuma menghilangkannya seperti biasa."
Ini pun
bukan sihir.
Tembakan
butiran mana dari ujung jariku menghancurkan inti dari bola api tersebut.
Aku
bisa saja menghilangkannya dengan sihir sistem air, tapi nanti keluar uap air
dan itu merepotkan.
"Terserahlah, ayo pergi ke pemandian apimu
itu."
"Apa
yang kau…… BUGUOOOO!?"
Aku mendorong penghalang dengan kuat, mengembalikan
aliran lava sekaligus.
Melewati terowongan yang gosong, kami sampai di kolam
lava yang mendidih.
Ooh, seluruh ruangan berwarna merah. Meski sudah
terlindung Mana Barrier, rasanya agak gerah karena uap panas.
Pokoknya lubang yang terbuka kututup dengan sihir
sistem tanah…… sip.
"Nah, harusnya sekarang sudah kembali seperti
semula."
"Ooh!" "Ooh!" "Ooh!"
Yang melompat keluar dari dalam lava adalah monster
seperti bola api, Salamander.
Mereka melompat-lompat dengan penuh semangat. Sepertinya
senang karena lavanya kembali.
"Mustahil! Lava
yang meluap benar-benar kembali…… kau ini sebenarnya siapa……?"
"Sudah kubilang dia Dewa! Nah Volcano, kau juga
harus bersumpah setia pada Dewaku!"
Leviathan yang melayang di sampingku dengan lapisan
air pelindung berkata sambil membusungkan dada.
Bukan, kenapa kamu yang malah jadi sombong begitu.
"Guh……
GokuenkyÅ« (Bola Api Neraka) tadi adalah serangan terkuatku…… Jika itu
saja bisa dihilangkan dengan mudah, aku tidak punya peluang menang. Terlebih
lagi mengembalikan lava yang tumpah, bahkan menutup lubangnya dari jarak jauh,
itu adalah mukjizat yang hanya bisa dilakukan dewa! Aku benar-benar kagum. Aku,
Volcano, bersumpah setia pada Anda."
"Ah,
iya, iya, oke. Mohon bantuannya ya."
"Hamba tunduk!"
"Ooh!" "Ooh!" "Ooh!"
Para Salamander pun ikut melompat-lompat.
Apa pun itu, aku dapat pengikut baru.
Dengan begini jangkauan investigasi akan meluas. Mari
terus tambah pengikut dengan cara seperti ini.
"Nah, selanjutnya target mana lagi ya?"
"Sebenarnya di arah selatan 'atas' dari sini,
ada desa yang bermusuhan dengan kami……"
"Baiklah, ayo kita coba ke sana."
Sesuai kata Volcano, aku mulai menggali terowongan ke
arah itu.
◇
Begitulah,
aku menyeran…… bukan, mengunjungi desa-desa monster secara acak dan menundukkan
mereka satu per satu.
Tanpa
disadari jumlahnya sudah lebih dari sepuluh pemimpin, dengan jumlah bawahan
melebihi sepuluh ribu.
Harusnya
ini jumlah yang cukup untuk memulai rencanaku…… tapi.
"Hei! Akulah pelayan nomor satu sang Dewa! Bukankah
kalian sedikit tidak tahu diri!?"
"Apa! Tidak ada yang lebih memuja Dewa selain aku!
Kaulah yang harus tahu diri!"
"Haaa!? Akulah yang lebih mencintai Dewa,
tahu!"
"Meski waktu yang kuhabiskan bersamanya masih
sedikit, kesetiaanku pada Dewa tidak akan kalah dari kalian."
"Aku juga, aku juga."
"Aku juga, aku juga."
"Kakek juga, kakek juga."
……Hmm, jadi kacau begini ya.
Awalnya aku cuma membuat banyak pengikut mengikuti
informasi yang ada, tapi mereka ini ternyata sangat tidak akur.
Yah, wajar saja karena hampir semuanya tadinya
bermusuhan, tapi mereka terus bertengkar dan sama sekali tidak mau mendengarkan
perintahku.
Lagipula, tubuh dan suara mereka itu besar-besar tidak
karuan, ditambah lagi mereka terus berdebat sehingga suaraku tidak sampai.
Aku tidak suka berteriak kencang…… apa pun itu, aku
tidak bisa bicara kalau mereka tidak berhenti bertengkar.
Apa ada cara untuk mendiamkan mereka……
"Benar juga. Mari coba obat yang kubuat saat riset
alkimia dulu."
Namanya adalah Cairan Harmonisasi Mental. Dengan
meminumkan cairan yang dicampur sebagian tubuh (seperti rambut), mental
seseorang bisa dibagikan kepada orang lain.
Awalnya aku mencoba memasukkannya ke Golem buatanku agar
mereka memiliki mentalku, tapi Golem yang kemasukan mentalku malah cuma mau
mengerjakan hal yang mereka minati saja dan sama sekali tidak mau menurut.
Yah, karena itu aku, jadi mau bagaimana lagi.
Kisah itu sempat kusimpan dalam gudang, tapi jika
menggunakan ini, mungkin para monster ini bisa memahami perasaan satu sama lain
dan berhenti bertengkar.
Aku mencabut paksa bulu dan sebagainya dari
monster-monster yang sedang berdebat, lalu memasukkannya ke cairan obat.
Warna obatnya berubah menjadi belang-belang sambil
mengeluarkan busa.
……Mumu, warnanya agak jelek ya. Mari buat jadi warna
cokelat keemasan saja. Lalu kalau didinginkan, mungkin lebih mudah diminum.
Tinggal tambah jumlahnya dan sesuaikan rasanya…… sip,
kira-kira begini.
Aku menyiapkan barel sesuai jumlah mereka dan
menuangkan cairannya.
"Hei kalian, berdebat itu boleh saja, tapi bagaimana
kalau istirahat sebentar?"
"Ooh! Apakah ini minuman yang disebut Ale itu! Anda
ingin memberi kami penghargaan ya!"
"Terima kasih. Tenggorokanku sudah sangat
kering."
"Puhaa! Aku hidup demi gelas satu ini!"
"Tapi Ale ini rasanya agak aneh ya."
……Itu bukan Ale, lho. Tapi kalian ternyata seleranya
cukup tinggi ya.
Yah, karena tidak ketahuan, anggap saja bagus.
"Ugh!?
Gwa…… a-apa perasaan ini……!?"
"Rasanya tubuhku seperti meleleh……!"
"Tapi entah kenapa, rasanya nyaman……"
Sepertinya obatnya mulai bereaksi, para monster
bertumbangan saling tumpang tindih.
……A-Apakah
baik-baik saja ya?
Kalau diingat-ingat, ini pertama kalinya aku mencobanya
pada makhluk hidup. Sambil sedikit khawatir, aku memantau pergerakan mereka.
Setelah mengamati mereka yang terkapar beberapa saat,
tiba-tiba tubuh mereka bergerak.
Oh, akhirnya mereka sadar ya. Tepat
saat aku berpikir begitu.
Boko! Bokobokoboko, Bokooo!
Tubuh monster yang bertumpukan itu mulai menonjol.
Kulitnya berbuih dan tampak seperti mulai meleleh.
"……Waduh."
Tubuh para monster bercampur menjadi satu, berubah
menjadi gumpalan daging raksasa.
A-Apa yang terjadi? Ini gawat, kan?
"Kalau
tidak salah di buku riset monster pernah tertulis…… 'Monster yang lahir dari
mana bumi adalah entitas yang tidak stabil. Karena itulah mereka memiliki
ukuran raksasa atau kemampuan aneh yang mustahil bagi makhluk hidup biasa',
atau semacam itu."
Aku
kurang paham, tapi secara biologis karena masalah gravitasi dan sebagainya,
hewan biasa dengan ukuran raksasa seperti monster akan sulit bergerak, apalagi
bertarung.
Alasan
hal itu mungkin adalah karena tubuh mereka mengandung banyak mana bumi.
Berkat
itulah mereka bisa menyemburkan api atau bergerak cepat meski ukurannya tidak
masuk akal.
Singkatnya, dari awal tubuh mereka memang tidak
normal.
Karena itulah jika monster mati, mereka akan kembali ke
bumi dalam waktu kurang dari tiga hari…… Jika mereka punya tubuh yang tidak
masuk akal seperti itu, tidak heran kalau obatku memicu perubahan besar, kan?
"UGUOOOOOOAAAAAA!"
Sambil mengaum, monster aneh itu berdiri. Wujudnya seperti campuran ular,
harimau, kadal, dan kelelawar…… seolah para pemimpin di sini yang meminum obat
tadi telah menyatu.
"Anu……
a-apakah kalian baik-baik saja?"
"Ga……
Gwa……!"
Kumpulan para pemimpin itu melotot padaku sambil gemetar
kejang.
Sepertinya gara-gara obat tadi, tubuh mereka
benar-benar menyatu.
Hmm,
jadi begini ya…… sepertinya aku membuat obat yang lebih gawat dari dugaan.
Bisa
dipisahkan tidak ya…… sebelum itu aku harus melakukan sesuatu pada mereka.
Rasanya jahat kalau aku menghajar mereka sekarang, jadi
harus bagaimana ya.
Saat aku sedang berpikir keras, mereka mendekat dan──
"UOOOOO! Luar biasa! Kekuatan meluap ke seluruh
tubuh! Benar-benar Dewa!"
"Benar! Dengan tubuh kami yang menjadi satu, kami
sanggup menghasilkan kekuatan yang sangat besar!"
"Nfufu, terima kasih. Aku sangat senang! Berkat
Dewa, aku bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi."
"Umu, umu, kalau begini kami tidak akan kalah dari
'dia' yang ada di dasar bumi! Benar-benar terima kasih banyak ya!"
Mereka menyampaikan rasa terima kasih secara bergantian.
"O-Oh……"
Meski bingung, aku berusaha membalas perkataan mereka.
Entah kenapa mereka malah senang, jadi syukurlah……
mungkin?
"……Anu, tubuh kalian jadi bercampur begini, apa
tidak masalah?"
"Sama sekali tidak masalah."
"Benar. Bagi monster, kekuatan adalah segalanya!
Jika bisa mendapatkan kekuatan sebesar ini, tidak ada penyesalan meninggalkan
tubuh yang lama."
Mereka menjawab dengan bangga. Sepertinya tidak ada
penyesalan sedikit pun.
Oh begitu…… ya sudah kalau begitu.
"Tapi karena sudah kuatlah aku jadi mengerti. Anda memang benar-benar Dewa ya. Sekarang aku sadar betapa nekatnya
kami yang dulu ingin menantang Anda bertarung."
"Benar sekali. Meski kami sudah punya tubuh ini pun,
kami pasti tidak akan berkutik di hadapan Anda. Tapi jika begini, melawan 'dia' pun…… fufufu."
Bukan, 'dia' itu siapa sih. Lagipula meski sudah punya
tubuh begitu, kalian masih ingin bertarung dengan seseorang ya.
Yah, pokoknya baguslah kalau mereka senang.
"UOOOOO! Kekuatan sebesar ini, aku sudah tidak tahan
lagi! Aku pergi dulu!"
Setelah meraung begitu, mereka mulai menggali lubang
lebih dalam.
"UOOOOOO!"
Sepuluh ribu bawahan pun ikut mengikuti di belakang.
Aku melepas kepergian mereka sambil berkata.
"Semangat yaaa!"
"Anda juga jaga diri baikk-baikk──"
Dalam sekejap mereka sudah tidak terlihat lagi.
Hmm……
rencanaku kali ini gagal ya.
Monster
itu ternyata egoisnya lebih dari dugaan.
Isi
kepala mereka cuma bertarung, sama seperti Golem yang kumasuki mentalku tidak
cocok untuk mencari bahan, mereka juga tidak cocok untuk investigasi.
Memang
segala sesuatu ada kecocokan dan ketidakcocokannya ya. Ini jadi
pelajaran yang bagus.
"Pokoknya aku sudah tahu kalau menggali bawah tanah
itu berbahaya dalam banyak hal, untuk hari ini aku tutup saja lubangnya lalu
pulang."
Karena terlalu asyik aku sampai lupa, sepertinya sudah
lewat setengah hari.
Kalau Albert tahu aku pergi ke suatu tempat lagi, nanti
dia malah curiga yang bukan-bukan.
Di kastel, aku dikenal sebagai orang yang sangat menyukai
sihir pada umumnya. Aku harus menghindari situasi yang mencurigakan.
Demi mendalami sihir, aku perlu mempertahankan lingkungan
terbaik ini.
Untuk itu, aku harus hidup dengan rendah hati.
Setidaknya, untuk saat ini……
"Kalau tidak salah tadi katanya sore ini ada pelayan
baru yang datang ya."
Mungkin aku sedikit terlambat. Yah, kalau cuma pertemuan
pertama dengan pelayan harusnya tidak apa-apa.
Punya satu pelayan tambahan pun tidak akan mengurangi
waktu luangku, kan.
"Ayo cepat selesaikan pertemuannya, lalu mencari hal
menarik lainnya lagi."
──Sekitar satu jam kemudian, aku bertemu dengan Sylpha
untuk pertama kalinya?
Ternyata dia sangat suka mengurus orang lain,
sampai-sampai waktu luangku berkurang drastis…… tapi itu adalah cerita untuk
lain waktu.
Kata
Penutup
Terima kasih banyak karena sudah membaca volume ketujuh
Si Pangeran Ketujuh! Saya Kenkyo na Circle.
Kali ini ada Arc Akademi, cerita yang dibagi menjadi dua
bagian, serta kemunculan musuh terkuat bagi Lloyd-kun!
Menurutku pribadi, volume ini penuh dengan bagian
menarik, tapi bagaimana menurut kalian?
Yah, sebenarnya aku merasa setiap cerita yang kubuat
biasanya bisa saja dibagi menjadi dua bagian.
Namun entah kenapa, semuanya selalu muat dalam satu
volume. Aneh sekali.
Malahan, aku sering dibilang kekurangan jumlah tulisan.
Ujung-ujungnya aku malah harus menulis cerita pendek
tambahan.
Terutama saat Arc Stampede yang lalu.
Sepertinya aku memang kurang ahli dalam menulis
hal-hal di luar urusan sang tokoh utama.
Mari kita anggap saja kalau itu membuat temponya menjadi
bagus. Ya, begitu saja.
Namun saat diingat kembali, ada sedikit penyesalan karena
aku tidak terlalu banyak menulis tentang kehidupan akademi.
Aku juga ingin menulis tentang Sylpha dan yang
lainnya.
Karena itu, aku menulis tentang mereka di SS bonus.
Meski begitu, dalam tulisan yang hanya sekitar seribu
karakter, tidak banyak hal besar yang bisa kuceritakan.
Oh, benar juga. Sepertinya anime-nya akan mulai tayang
bulan April mendatang.
Jadi, pastikan kalian menontonnya, ya. Mohon dukungannya.



Post a Comment