NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji Volume 1 Part 1


──Hal terpenting bagi seorang penyihir adalah silsilah keluarga. Berikutnya adalah bakat. Dan yang terakhir adalah usaha.

Leluhur para penyihir, William Bordeaux.

Itulah kalimat pertama yang diucapkan dalam pidato sambutan kepala sekolah saat upacara penerimaan siswa baru di akademi sihir.

Beliau melanjutkan bahwa bagi seorang penyihir, yang utama adalah silsilah dan garis keturunan, baru kemudian bakat. Sedangkan hal seperti usaha, hampir tidak ada artinya sama sekali.

Silsilah keluarga tentu tak perlu dipertanyakan lagi. Keluarga terpandang yang telah bertahan sejak lama mewarisi buku-buku sihir langka serta kekayaan yang melimpah.

Garis darah yang terakumulasi dari generasi ke generasi pun menjadi semakin pekat, dalam, dan murni, demi memberikan keuntungan bagi mereka sebagai penyihir.

Bakat juga tentu saja penting. Sensor dalam mengendalikan sihir, kemampuan membaca, mereproduksi, memahami, hingga kemampuan fisik... mereka yang memiliki bakat luar biasa sering kali mampu melampaui derajat silsilah keluarga.

Dan yang terakhir adalah usaha. Bukan berarti usaha itu sia-sia.

Usaha hanyalah sebuah prasyarat dasar.

Selama seseorang bercita-cita menjadi penyihir, melatih fisik dan mental, tidak pernah melewatkan latihan harian, serta melahap buku-buku sihir adalah hal yang dilakukan oleh semua orang.

──Karena itu, berusahalah dengan giat setiap hari. Begitulah pidato itu ditutup.

Yah, tapi bagiku, hal-hal seperti itu tidaklah penting.

Meski aku terlahir sebagai rakyat jelata dan dikatakan tidak memiliki bakat yang berarti, aku menyukai sihir apa adanya.

Sebuah misteri di mana api, es, dan petir tercipta dari ketiadaan.

Sebuah keajaiban yang menunjukkan berbagai rupa melalui formula sihir.

Serta sebuah kebahagiaan tak terkira saat semua itu terwujud melalui tanganku sendiri.

Bagi aku yang dalam sekejap menjadi tawanan sihir, kehidupan di akademi sihir ini adalah yang terbaik.

Namun, hari-hari itu harus menemui ajalnya.

Awal mulanya adalah insiden pencurian buku sihir milik putra sulung dari sebuah keluarga penguasa.

Seorang bangsawan yang bangga tidak mungkin melakukan pencurian.

Sambil berkata demikian, dia mengarahkan pandangan penuh curiga kepadaku—satu-satunya murid di akademi yang lahir sebagai rakyat jelata.

Memang benar, keluargaku yang rakyat jelata jauh lebih miskin dibandingkan para bangsawan.

Biaya masuk pun baru bisa kubayar setelah bekerja keras, dan aku hanya mampu membeli satu buku sihir dasar sebagai bahan ajar.

Tapi, meski hanya dengan satu buku itu, ada banyak hal yang bisa kulakukan, dan setiap hari selalu ada penemuan baru.

Sihir itu sangat dalam; bahkan dengan sihir dasar sekalipun, kombinasi formula dan katalis saja bisa menciptakan fenomena yang tak terhitung jumlahnya.

Karena itu, aku terlalu sibuk dengan eksperimen dan mencari bahan-bahan hingga sama sekali tidak punya waktu untuk memedulikan urusan orang lain.

Begitu aku mengatakannya, dia menjadi murka dan menantangku berduel.

Sebenarnya aku benci bertarung.

Karena itu aku berniat langsung menolaknya, namun tiba-tiba aku tertegun sejenak.

──Kira-kira sihir seperti apa yang digunakan oleh para bangsawan seperti mereka?

Antara aku yang rakyat jelata dengan mereka yang bangsawan, terdapat perbedaan modal dan bakat yang teramat jauh.

Aku berpikir, mungkinkah aku bisa melihat sihir yang belum pernah kusaksikan sebelumnya?

Begitu memikirkannya, aku menjadi sangat ingin melihatnya, hingga tanpa sadar aku menerima duel tersebut.

Mungkin aku akan merasakan sedikit rasa sakit, tapi meski kalah, nyawaku tidak akan melayang. Begitulah pemikiran naifku saat itu.

──Kesimpulannya, sihir mereka sungguh luar biasa.

Apakah itu yang dinamakan sihir tingkat tinggi? Api raksasa berpusar, badai es mengamuk hebat, dan aku hanya bisa terpaku mengagumi pemandangan itu.

Saking terpesonanya, aku menerimanya tanpa pertahanan apa pun, lalu mati.

──Aku sering diperingatkan bahwa jika sudah asyik dengan sesuatu, aku jadi tidak peduli dengan sekitar, tapi tak kusangka akan berakhir seperti ini. Kebodohanku sendiri sungguh menyedihkan.

Namun, hal terakhir yang kupikirkan bukanlah mengutuk diriku yang bodoh, bukan mendendam pada bangsawan yang menantangku, bukan pula rasa terima kasih pada orang tua yang membesarkanku.

Melainkan sebuah analisis terhadap sihir yang telah membunuhku.

Formula seperti apa itu?

Bagaimana logikanya?

Apa mungkin output sebesar itu dihasilkan sendirian?

Jika iya, berapa jumlah Mana yang dibutuhkan?

Bagaimana strukturnya?

Atau mungkin ada kondisi aktivasi khusus?

Atau menggunakan katalis tertentu?

Ataukah sihir itu dirapal oleh banyak orang sekaligus?

Dan seterusnya...

Semakin aku berpikir, aku bisa merasakan jantungku yang seharusnya berhenti malah berdegup kencang.

Ah, benar-benar amat disayangkan.

Padahal di dunia ini pasti masih banyak sihir yang belum kuketahui, tapi aku harus mati tanpa sempat mengetahui semuanya.

Seandainya bisa, aku ingin mengetahui seluruh sihir yang ada.

Aku ingin memahami, menguasai, dan mencapai puncaknya.

Aku ingin tenggelam lebih dalam lagi ke dalam lubuk sihir.

Sambil memikirkan hal itu, kesadaranku pun mulai menjauh.

Pandanganku kabur.

Tubuhku tidak bisa digerakkan sesuai keinginan.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Rasanya seolah-olah aku bukanlah diriku sendiri.

"──"

Aku mendengar suara seseorang. Suara seorang wanita.

Saat aku memicingkan mata, aku bisa melihat wajahnya.

Cantik. Dan dia sedang membuka pakaian di bagian dadanya.

Tapi rasanya dadanya terlihat sangat besar secara tidak wajar.

"──"

Wanita itu mendekat ke arahku sambil menggumamkan sesuatu.

Merasa terancam, aku berusaha sekuat tenaga menggerakkan tangan dan merapalkan Fireball dalam benakku.

Sihir serangan satu-satunya yang bisa kugunakan untuk menciptakan api kecil.

Hanya cukup untuk mengusir monster lemah, tapi setidaknya bisa untuk gertakan... seharusnya begitu. Namun, ada sesuatu yang aneh.

Merasakan firasat buruk, aku segera mengalihkan sasaran dari wanita itu. Tepat setelahnya──

Dhuuuaaaaaarrrr! Suara ledakan dahsyat bergema.

Saat aku melihatnya, sebuah lubang raksasa telah menganga di dinding.

Wanita itu terkejut, tapi aku pun sama terkejutnya.

Tidak mungkin Fireball milikku memiliki kekuatan sebesar ini.

Apa yang sebenarnya... tepat saat aku berpikir begitu, bayanganku terpantul di cermin besar yang ada di depan mata.

Tubuh yang mungil, tangan dan kaki yang pendek, serta mata besar yang bulat...

Seorang bayi. Aku telah berubah menjadi bayi.

Kalau tidak salah, aku pernah mendengar tentang hal ini.

Bahwa seseorang yang mati bisa terlahir kembali dengan ingatan yang masih utuh.

Apa yang biasa disebut dengan reinkarnasi.

Jika dipikir begitu, kekuatan Fireball tadi jadi masuk akal.

Kasta seorang penyihir ditentukan oleh silsilah dan bakat, dengan kata lain, hampir semuanya ditentukan saat lahir.

Dalam garis keturunan penyihir yang unggul, cukup banyak orang yang sudah bisa menggunakan sihir sejak usia dini.

Jika aku yang sekarang memiliki bakat sebesar itu, tidak aneh jika aku bisa menggunakan sihir sekuat tadi.

...Tapi tunggu dulu? Aku belum pernah mendengar ada contoh orang yang bisa menggunakan sihir sehebat itu sesaat setelah lahir.

Orang-orang di sekitar yang sedang panik pun sepertinya tidak menyadari kalau akulah pelakunya.

Lalu, jika diperhatikan lagi, ruangan ini terasa sangat luas.

Perabotan yang ada di sini adalah barang-barang mewah yang biasa kulihat di museum, dan ada beberapa wanita yang tampak seperti pelayan.

Ruangan seperti ini tidak mungkin dimiliki oleh bangsawan biasa.

Bangsawan tinggi, penguasa wilayah perbatasan, atau mungkin seorang Duke...?

Saat sedang memikirkan hal itu, mataku tertuju pada sebuah lambang dengan dekorasi yang megah.

Aku mengenali lambang itu.

Itu adalah lambang keluarga kerajaan Kerajaan Saloum, tempat di mana aku tinggal dulu.

...Jangan-jangan, aku terlahir di tempat yang luar biasa merepotkan?

Aku, yang dulunya hanyalah rakyat jelata biasa, kehilangan nyawa dalam duel dan entah karena takdir apa, bereinkarnasi sebagai anggota keluarga kerajaan.

Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum, Lloyd di Saloum. Itulah nama baruku.

Sekarang aku sudah berusia sepuluh tahun, dan kurasa aku sudah sangat terbiasa dengan kehidupan ini.

Omong-omong, jika membandingkan pemandangan, budaya, dan suasananya, sepertinya aku bereinkarnasi ke tubuh ini tepat setelah aku mati.

Dulu saat aku masih di akademi, memang ada desas-desus bahwa pangeran baru akan segera lahir.

Aku merasa sedikit bersalah, tapi apa mau dikata, semuanya sudah terjadi.

Kakak-kakakku semuanya sudah dewasa, dan karena jarak usia kami cukup jauh, aku hampir tidak memiliki kaitan dengan perebutan takhta.

Ditambah lagi, tubuhku kecil dan penampilanku biasa saja. Aku juga sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada politik, jadi sepertinya tidak ada yang berharap banyak padaku.

Namun, saat melihat kakak-kakakku belajar tata krama, ilmu pengetahuan, dan bela diri dengan sangat ketat setiap hari demi menjadi raja, aku merasa beruntung.

Berkat itu, aku bisa mempelajari sihir kesukaanku sepuas hati.

Setiap hari aku bangun, mengurung diri di perpustakaan, dan asyik membaca buku-buku sihir.

Koleksi bukunya sangat luar biasa, bahkan buku sihirnya saja ada ratusan jumlahnya.

Mulai dari tingkat dasar hingga yang sangat spesifik, aku telah membaca semuanya.

Mungkin berkat pemahaman dasar yang kuat di kehidupan sebelumnya, aku bisa memahami buku-buku sihir yang sulit sekalipun.

Tentu saja aku juga bisa mempraktikkan sihirnya; saat ini aku sedang menyusun berbagai formula untuk aplikasi sihir yang lebih luas.

Omong-omong, sihir yang membunuhku saat itu ternyata hanyalah serangan kasar yang menggunakan katalis mahal. Sekarang kalau kulihat lagi, sihir itu tidaklah seberapa. Agak mengecewakan.

Meskipun aku tidak menyembunyikan fakta bahwa aku menyukai sihir, aku menyembunyikan kemampuanku—atau lebih tepatnya, daya hancur yang bisa kuhasilkan.

Jika ketahuan aku bisa menggunakan sihir semacam itu, urusannya pasti akan jadi sangat merepotkan, dan aku tidak akan bisa fokus meneliti sihir lagi.

Aku juga akan pusing kalau sampai diberi ekspektasi tinggi untuk urusan takhta.

Pangeran aneh yang penggila sihir; itulah penilaian orang-orang di sekitarku yang seharusnya tetap bertahan.

"Tuan Lloyd! Anda di mana? Tuan Lloyddd!"

Suara seorang wanita memecah keheningan perpustakaan.

Meski aku menjalani hari-hari yang memuaskan, ada beberapa hal yang merepotkan.

Salah satunya adalah pemilik suara itu, pelayan yang ditugaskan sebagai pengasuhku, Sylpha.

Begitu Sylpha menemukanku, dia berlari mendekat, berjongkok, lalu tersenyum lembut.

Rambut perak panjangnya tergerai jatuh, dan dia menyisipkannya dengan jari.

"Sudah kuduga, Anda ada di perpustakaan lagi. Aduh, terus-menerus membaca buku itu tidak baik untuk kesehatan Anda. Bagaimana kalau pergi bermain di luar bersamaku?"

Senyuman itu memiliki aura tekanan yang tidak menerima penolakan.

Bagi Sylpha, normalnya anak-anak itu berlarian dengan ceria di luar rumah. Dia sering mencoba membawaku keluar karena merasa khawatir melihatku terus mengurung diri di perpustakaan.

Sebenarnya ini sedikit mengganggu... tapi karena aku tahu betul dia mengatakannya demi kebaikanku, aku jadi sulit menolaknya.

Aku menghela napas panjang, lalu menyerah dan menutup bukuku.

"...Baiklah, Sylpha."

"Jangan memasang wajah sedih seperti itu. Buku bisa dibaca kapan saja. Lihat, cuacanya sedang sangat bagus. Mari kita ke luar."

Begitulah, dengan tangan yang ditarik oleh Sylpha, aku pun melangkah menuju taman.

"Tuan Lloyd, hari ini mari kita bermain simulasi pedang!"

"Eeeh, lagi?"

"Seorang lelaki setidaknya harus menguasai satu jenis ilmu bela diri. Ayo, silakan pegang pedang kayunya."

Sylpha menyerahkan pedang kayu padaku, lalu dia sendiri memasang kuda-kuda.

"Ayo, seranglah aku dari mana saja!"




Sylpha menyunggingkan senyum lebar.

Postur tubuhnya terlihat santai, namun memancarkan wibawa yang luar biasa.

Wajar saja, ayah Sylpha adalah Komandan Ksatria yang secara turun-temurun menjabat sebagai instruktur ilmu pedang bagi keluarga kerajaan.

Sebagai putrinya, Sylpha memiliki kemampuan yang sangat hebat. Aku pernah melihatnya merebut pedang seorang prajurit yang mengatainya dan langsung menghunuskan ujung bilahnya ke leher lawan dalam sekejap mata.

Dia orang yang serius dan cantik, tapi kaku dan agak menyeramkan. Itulah Sylpha.

Karena itulah, jika aku mencoba bermain-main, dia pasti akan langsung menyadarinya. Aku harus melakukannya dengan serius.

Aku menggenggam kembali pedangku, lalu mengambil posisi kuda-kuda seigan.

"……Aku datang, ya!"

Sylpha menggenggam pedang kayu dan langsung menerjang lurus ke arahku.

Sambil menangkis ayunan pedangnya dengan ringan, aku mengarahkan ujung pedang kayuku kembali ke arah Sylpha.

Sylpha menerima serangan itu, lalu melompat mundur untuk menjaga jarak.

"Ya, bagus sekali, Tuan Lloyd."

Sylpha menyilangkan pedang denganku sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

Bagus, sepertinya aku berhasil mengecohnya dengan baik.

Saat pertama kali Sylpha mengajakku bermain pedang, aku berakhir membuatnya menangis.

Penyebabnya adalah karena aku terlalu lemah.

Padahal waktu itu aku baru berusia sekitar tujuh tahun, kurasa dia agak keterlaluan menuntut hal itu dariku. Namun menurut Sylpha, kelemahanku saat itu terasa seperti aku sedang meremehkannya.

Padahal aku berniat melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tapi yah, jujur saja, sejak kehidupanku yang sebelumnya pun aku memang payah dalam urusan olahraga.

 

Sejak saat itu, pelatihan sparta dari Sylpha dimulai.

Setiap hari aku dipaksa menggenggam pedang kayu dan melakukan tebasan berulang kali ke arah boneka kayu.

Bagi aku yang benci bergerak, itu benar-benar seperti neraka.

Latihannya sudah benar-benar melewati batas "bermain pedang", bahkan sampai ke tahap yang mengganggu waktu membacaku setelahnya.

Karena itu, aku memutuskan untuk sedikit berbuat curang.

Dalam sihir, ada kategori yang digunakan untuk memanipulasi dan mengendalikan benda-benda.

Itu adalah sihir sistem kontrol.

Jika menggunakan ini, aku bisa menggerakkan tubuhku sendiri secara otomatis sesuai dengan program yang telah ditentukan.

Saat ini, aku sedang menjiplak gerakan Sylpha dan mempresentasikannya melalui tubuhku sendiri.

 

Kang! Kang! Gakin!

Suara benturan pedang kayu bergema di sekitar.

"Aha! Luar biasa, Tuan Lloyd!"

Karena aku menjiplak gerakan Sylpha, tentu saja kami bisa bertukar serangan dengan seimbang.

Selama aku tetap dalam posisi bertahan untuk memantau situasi, beban pada tubuhku juga relatif kecil.

"……Fuu, kurasa cukup sampai di sini untuk hari ini."

Setelah beberapa saat, Sylpha yang tampak puas menyeka keringat di dahinya.

Fuu, akhirnya selesai juga.

Meskipun hanya digerakkan secara otomatis, tetap saja ini cukup melelahkan. Tubuhku terasa agak berat.

Saat aku duduk beristirahat, Sylpha menatapku dengan mata yang berbinar-binar.

"Kemampuan pedang Tuan Lloyd meningkat sangat pesat! Dengan begini, hari di mana Anda bisa bertarung seimbang denganku mungkin tidak akan lama lagi!"

"Ahaha…… B-begitukah……"

Mana mungkin aku bisa bilang kalau aku hanya menjiplak teknik pedangnya.

Dia sendiri pasti sedang menahan diri, tapi serangannya perlahan-lahan menjadi lebih cepat dan kuat dibanding awal tadi.

Meskipun begitu, karena aku bisa mengimbanginya, dia merasa aku menjadi jauh lebih kuat.

Padahal yang kulakukan dengan sihir sistem kontrol hanyalah menyesuaikan diri dengan gerakan lawan.

……Yah, kurasa dia tidak akan tiba-tiba menebas dengan serius, jadi kecuranganku dengan sihir ini tidak akan ketahuan untuk sementara waktu.

Kalau ketahuan, barulah aku akan memikirkannya.

Lagipula, ada buku yang belum selesai kubaca, aku ingin segera kembali ke perpustakaan.

 

"Kalau begitu, aku kembali ke perpustakaan dulu, ya."

"Baik, terima kasih atas kerja kerasnya. ……Hmm, hmm, peningkatan yang luar biasa. Kelak Anda mungkin akan menjadi Komandan Ksatria atau Master Pedang…… Fufu, aku menantikan masa depan Anda♪"

Sylpha menggumamkan sesuatu yang terdengar mengerikan, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Sylpha melepas kepergianku yang kembali ke perpustakaan dengan senyuman.

"Hai Lloyd, apa yang sedang kau lakukan?"

Saat aku sedang menikmati waktu membaca seperti biasa, terdengar suara pemuda yang menyegarkan.

Ketika aku menoleh, berdiri seorang pria tampan berambut pirang dengan tubuh tinggi semampai.

Dia adalah kakakku yang terpaut sembilan tahun, Albert.

Pangeran kedua dari Kerajaan Saloum dan juga pewaris takhta urutan kedua.

Namun, dia sangat ahli dalam bidang sastra maupun militer, bahkan ada rumor yang menyebutnya sebagai calon raja berikutnya.

Melihatku sedang membaca buku sihir, Albert tersenyum ramah.

"Kau sedang membaca buku sihir, ya. Boleh aku bergabung?"

"Tentu saja tidak apa-apa, Albert-niisan."

"Terima kasih. Kalau begitu, aku permisi──"

Albert duduk di depanku dengan meja di antara kami.

Buku yang dibawanya adalah buku tentang politik.

Dia melirik tumpukan buku sihir di mejaku, lalu mulai tenggelam dalam bacaannya sendiri.

Kakak-kakakku yang lain sepertinya tidak terlalu mempedulikanku, tapi entah kenapa Albert sering memperhatikanku.

Mungkin dia memang orang yang baik secara alami.

Selain itu, berbeda dengan Sylpha, dia tidak menyuruhku melakukan ini-itu, dan itu menyenangkan.

Aku mengalihkan pandanganku dari Albert kembali ke buku, dan mulai tenggelam lagi dalam bacaan.

Entah sudah berapa lama berlalu, terdengar suara pelan saat Albert menutup bukunya.

"……Fuu, konsentrasi Lloyd memang hebat. Aku menyerah. Kau benar-benar menyukai sihir, ya."

Saat Albert berdiri dan meregangkan tangannya, terdengar suara tulang yang berderak.

Begitu dia memiringkan lehernya, suara berderak kembali terdengar.

Melihat itu, aku tanpa sadar tertawa kecil.

"Terima kasih atas kerja kerasnya, Albert-niisan."

"Aku akan menggerakkan tubuh sedikit untuk menyegarkan pikiran. Kau mau ikut, Lloyd?"

"Ke tempat latihan menembak!?"

"Ah, kau suka kan?"

"Iya!"

Aku langsung menjawab ajakan Albert.

Aku memang tidak suka menggerakkan tubuh, tapi ajakan Albert berbeda.

Bukan karena urusan tingkat kesukaan atau semacamnya.

Sebagai pewaris yang sangat diharapkan, Albert memiliki hak akses ke berbagai fasilitas, dan tempat latihan menembak yang akan kami tuju sangat cocok untuk latihan sihir.

"Kalau begitu, mari berangkat."

Aku mengikuti Albert menuju lapangan luas di bagian belakang kastil.

Setelah menyapa prajurit yang berjaga di gerbang masuk, kami melangkah ke dalam, di mana hamparan rumput hijau membentang luas.

Inilah tempat latihan menembak. Singkatnya, tempat di mana kita bisa melakukan latihan tembak sasaran dengan sihir.

Karena tempat ini juga digunakan untuk eksperimen sihir berskala besar, anak-anak sepertiku tidak diizinkan masuk sendirian karena berbahaya.

"Wah! Seberapa sering pun aku ke sini, tempat ini tetap terasa luas ya."

Para penyihir istana juga terlihat sedang menerbangkan bola sihir api atau air ke arah sasaran.

Sensasi saat menggunakan sihir berbeda bagi setiap orang.

Misalnya, bahkan saat melepaskan Fireball yang sama, kelancaran aliran sihir dari seluruh tubuh ke satu titik, serta kecepatannya, berbeda-beda bagi tiap individu.

Hanya dengan melihatnya saja sudah cukup menyenangkan bagiku.

Melihatku yang tampak sangat tertarik pada para penyihir, Albert tersenyum.

"Hahaha, Lloyd benar-benar menyukai sihir, ya."

"Iya, aku sangat suka."

"Melihatmu senang begitu tulus, rasanya tidak sia-sia aku mengajakmu ke sini. Nah, bagaimana kalau kita juga mulai?"

"Siap!"

Albert mengangguk, lalu memerintahkan para prajurit untuk menyiapkan sasaran.

Sasaran dengan berbagai ukuran yang ditandai dengan angka satu sampai sembilan berjejer di tempat yang berjarak sekitar seratus meter.

Melihat orang lain memang menyenangkan, tapi tentu saja melakukan sendiri adalah yang terbaik.

Karena jarang sekali ada kesempatan untuk menggunakan sihir secara terang-terangan di dalam istana.

Sementara itu, pengaturan sasaran tampaknya sudah selesai.

"Nah, Lloyd boleh mulai duluan."

"Baik."

Tembak sasaran adalah kompetisi sederhana yang tidak butuh banyak penjelasan.

Dibagi menjadi giliran pertama dan kedua, masing-masing melepaskan sepuluh bola sihir, dan yang paling banyak menjatuhkan sasaran dengan angka besar adalah pemenangnya. Begitu saja.

Tentu saja, semakin besar angka sasarannya, ukurannya semakin kecil dan lebih sulit dipukul.

Di depan sasaran, aku mengumpulkan kekuatan sihir di ujung jariku dan menciptakan Fireball.

──Tentu saja, bukan yang biasa.

Ini adalah sihir modifikasi yang sedang kuteliti, yang memasukkan gerakan rotasi.

Dengan mengutak-atik formula sihir yang menyusunnya dan memberikan gaya putar pada inti bola sihir, aku tidak hanya bisa menembakkannya lurus, tapi juga memungkinkannya berubah ke berbagai arah.

Tentu tanpa melakukan hal seperti itu pun, aku bisa mengendalikan gerakannya secara manual untuk berpindah sesuka hati, tapi mengenai sasaran dengan cara seperti itu tidak seru.

Mumpung ada kesempatan untuk bereksperimen, aku ingin mencoba berbagai hal.

"──Pergi!"

Fireball yang dilepaskan terbang dengan kecepatan tinggi sambil berputar, mengincar sasaran nomor sembilan yang memiliki poin tertinggi.

Ngomong-ngomong, aku memberinya putaran samping yang kuat. Seharusnya serangan ini akan melengkung ke kiri sebelum mengenai sasaran.

Fireball itu terbang sesuai rencanaku, menyerempet tepi sasaran dengan sangat tipis.

Karena sasarannya tidak jatuh, ini tidak dihitung sebagai poin.

──Tapi, begini saja sudah cukup.

Kalau aku mengenai tepat di tengah, aku takut akan terlalu menarik perhatian, jadi aku sengaja mengincar titik yang meskipun kena, sasarannya tidak akan jatuh.

Secara perhitungan, tembakanku akan tepat sasaran jika ditembakkan dengan jumlah rotasi, sudut, dan kecepatan peluncuran ini, tapi pada kenyataannya, terkadang tidak terbang sesuai keinginan.

Eksperimen itu penting.

"Sayang sekali, Lloyd. Sekarang giliranku."

Kini Albert berdiri di depan sasaran menggantikanku.

Setelah berkonsentrasi, dia melepaskan Fireball yang tercipta di tangannya.

Fireball yang dua kali lebih besar dari milikku terbang lurus dan tepat mengenai tengah sasaran yang gagal kujatuhkan tadi.

"Hebat sekali, Albert-niisan."

"Terima kasih. Nah, selanjutnya giliranmu, Lloyd."

Kali ini aku berdiri di depan sasaran lagi.

Berikutnya, aku melepaskan Fireball dengan tambahan putaran agar gerakannya menanjak dari bawah ke atas.

Fireball itu membentuk kurva sesuai keinginanku dan menyerempet bagian atas sasaran.

Berikutnya, dan berikutnya lagi, Fireball itu selalu membentuk lintasan sesuai pikiranku dan mengenai titik yang kuincar.

Hmm, hmm, memberikan gaya putar pada bola sihir untuk mengubah gerakannya tidak buruk juga.

Dibandingkan mengendalikannya secara normal untuk membelokkan arah, cara ini jauh lebih menghemat sihir, dan kecepatannya pun tidak bisa dibandingkan.

Bisa dibilang eksperimen ini sukses.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, sayup-sayup terdengar suara bisikan dari kejauhan.

"Tuan Albert memang luar biasa. Beliau berhasil mengenai semuanya dengan sempurna."

"Dibandingkan beliau, Tuan Lloyd memang masih anak-anak. Beliau terus mengincar sasaran berpoin tinggi tapi selalu meleset. Padahal kalau mengincar yang sesuai kemampuannya saja sudah cukup."

Itu adalah perkataan dari para penyihir yang memperhatikan kami.

Bagus, bagus, sepertinya aku berhasil mengecoh mereka dengan baik.

"Astaga, apa kalian tidak bisa melihatnya?"

Tiba-tiba, Albert angkat bicara kepada para penyihir itu.

Ukh, jangan-jangan dia menyadari apa yang kulakukan……?

Aku memasang telinga dengan jantung berdebar-debar.

"Meskipun hanya menyerempet, semua sihir yang dilepaskan Lloyd mengenai sasaran. Terlebih lagi, itu adalah nomor sembilan yang paling kecil. Selain itu, meski sedikit, Fireball itu bergerak menuju sasaran. Sepertinya dia punya bakat dalam sihir sistem kontrol."

"Ooh! J-jadi begitu!"

"Kami sama sekali tidak menyadarinya……"

"Benar-benar payah penglihatan kalian."

……Fuu, sepertinya belum sepenuhnya ketahuan.

Ngomong-ngomong, aku sudah menguasai sihir sistem kontrol sejak usia tujuh tahun.

Karena aku sering membaca buku jenis itu, dia pasti salah paham mengira aku baru mulai menunjukkannya.

"Lloyd punya bakat sihir. Jika dia terus mengembangkan bakatnya sejak kecil, kelak menjadi Penyihir Agung atau Sage bukanlah mimpi. Jika aku menjalin hubungan baik dengannya mulai sekarang, dia pasti akan menjadi kekuatan besar saat aku naik takhta nanti."

Albert bergumam sesuatu dengan suara pelan sambil tersenyum.

Tidak terdengar jelas sih…… tapi ya sudahlah.

Sepertinya tidak ada hubungannya denganku juga.

 

"Lloyd de Saloum, memenuhi panggilan."

Suatu hari, aku dipanggil dan pergi ke ruang singgasana.

Orang yang memanggilku adalah Raja Saloum, ayahku sendiri, Charles de Saloum.

Pria tua bertubuh besar yang duduk di singgasana──Charles menyambutku dengan senyum lebar.

"Oh, kau datang, Lloyd. Sudah lama ya. Mungkin sekitar tiga tahun."

"Benar, sejak ulang tahun ketujuh saya."

Karena banyak anak yang meninggal akibat penyakit atau luka sebelum usia tujuh tahun, ulang tahun itu memiliki makna yang istimewa.

Hanya pada saat itulah Charles yang sibuk menyempatkan diri menemuiku.

Yah, meskipun saat itu kata-kata yang kudapat adalah, "Karena kau adalah putra ketujuh yang usianya terpaut jauh, kau tidak ada hubungannya dengan perebutan takhta, lakukanlah apa pun yang kau suka tanpa beban."

Sebagai raja, dia pasti sangat sibuk. Aku hanya sesekali melihatnya dari kejauhan saat dia berjalan di lorong.

Tapi kenapa dia memanggilku sekarang…… aku jadi gugup.

Kepada aku yang masih menundukkan kepala, Charles berkata dengan nada bosan.

"Hmm, kalau dipikir-pikir, kau memang begini sejak pertemuan terakhir. Terlalu kaku atau mungkin tidak seperti anak-anak…… Kau boleh memeluk ayahmu yang sudah lama tidak bertemu ini, lho?"

"……Anda bercanda. Saya tidak berani melakukan hal lancang seperti itu."

"Hmm, ya sudahlah. Itu bukti kalau kau sudah mempelajari tata krama dengan baik. Kemarilah, mendekat sedikit."

"Baik."

Setidaknya dia sepertinya sedang dalam suasana hati yang baik, dan suasananya tidak seperti akan dimarahi.

Aku berdiri dan mendekat sesuai perintahnya.

Charles menatap wajahku dengan saksama, lalu mengangguk pelan.

"……Ho, tatapan matamu sudah jadi lebih bagus ya."

"Terima kasih banyak."

"Aku dengar dari Sylpha dan Albert, kau sedang berjuang keras dalam ilmu pedang dan sihir, ya?"

"! T-tidak! Saya merasa tersanjung……!"

Mendengar perkataan Charles, aku buru-buru menundukkan kepala.

"Kenapa harus merasa tersanjung! Sylpha, yang melatih putra-putraku dalam ilmu pedang, menjamin bahwa bakat pedangmu adalah yang terbaik di antara para pangeran sepanjang sejarah, dan kau akan menjadi ksatria nomor satu di negeri ini! Albert, yang merupakan salah satu penyihir terbaik di istana pun merasa cemburu pada bakatmu! Dia bilang, saat seusiamu dulu, dia bahkan tidak bisa menerbangkan Fireball dengan benar, sementara kau sudah bisa mengendalikannya dengan sempurna! Bisa membuat kedua orang hebat itu bicara seperti itu, kau benar-benar luar biasa!"

Charles mengangguk-angguk dengan gembira sambil bersedekap.

……Waduh, jadi mereka berdua bilang begitu ya.

Aku sudah berniat menyembunyikan kekuatanku dengan caraku sendiri, tapi sepertinya itu masih kurang.

Memang berbahaya menggunakan sihir di dalam istana.

Kalau penilaian terhadapku terlalu tinggi, ada kemungkinan aku terseret dalam persaingan takhta, dan itu pasti merepotkan.

Aku harus sedikit menahan diri. Tapi mengingat sifatku, aku tidak bisa menghentikan penelitian sihir……

"Aku sangat berharap banyak padamu! Teruslah berjuang seperti itu!"

"E-eto…… b-begitulah……"

Melihat jawabanku yang tidak jelas, wajah Charles menjadi muram.

"……Tapi Lloyd, meskipun kau sangat berbakat, sulit bagiku untuk memasukkanmu ke dalam kandidat pewaris takhta sekarang. Karena pangeran-pangeran tingkat atas termasuk Albert sudah menjalani pendidikan untuk hal itu. ……Jika kau berjuang dengan pemikiran seperti itu, hatiku terasa berat. Karena itulah aku memanggilmu ke sini untuk mengatakannya terlebih dahulu."

──Ah, jadi begitu alasannya.

Singkatnya, Charles salah paham mengira aku berjuang keras demi hak waris takhta.

Tentu saja aku sama sekali tidak punya niat sedikit pun untuk itu, jadi aku menghela napas lega.

"Mohon jangan dipikirkan, Ayahanda. Seperti yang Anda katakan, saya hanya melakukan hal yang saya suka. Sejak awal saya tidak punya ketertarikan pada hak waris takhta."

Mendengar kata-kataku, mata Charles membelalak.

Lalu dia menyipitkan matanya seolah-olah merasa sangat terharu.

"──Umu, umu, kau tidak merasa sakit hati dengan kata-kataku dan justru berkata begitu! Aku senang memiliki putra yang begitu dewasa!"

Bahkan dia terlihat sedikit berkaca-kaca.

……Padahal itu benar-benar isi hatiku yang paling dalam.

Sambil melihat Charles yang terharu, aku menggaruk pipiku yang tidak gatal.

"Tenanglah! Lloyd, kerja kerasmu itu pasti tidak akan sia-sia! Jadi teruslah melangkah maju seperti itu!"

"I-iya……"

"Umu, kalau begitu kau boleh pergi."

Entah apa alasannya, tapi setidaknya aku lega karena sepertinya gaya hidupku selama ini bisa dipertahankan.

Aku menghela napas lega sambil membalikkan badan meninggalkan Charles.

"……Meskipun begitu, tidak tertarik pada takhta dan hanya terus menumpuk usaha dengan sungguh-sungguh…… Baru usia sepuluh tahun tapi sudah sehebat itu. Tidak, mungkin memang seharusnya begitulah sosok seorang raja sejati. Sepertinya aku harus mempertimbangkan kembali mengenai kandidat pewaris takhta."

Charles menggumamkan sesuatu, tapi tidak terdengar jelas.

Yah, mungkin soal politik lah. Maaf saja, aku tidak tertarik.

Daripada itu, aku ingin segera pulang dan membaca buku. Aku pun melangkah cepat meninggalkan ruang singgasana.

 

"Nn~…… Sepertinya aku sudah mulai bosan dengan buku ini……"

Aku bergumam sambil membaca buku sihir yang terbuka.

Sudah berapa puluh kali aku membaca ulang buku ini?

Buku sihir ditulis dengan huruf yang mengandung kekuatan sihir, dan dengan memahaminya, perwujudan sihir menjadi mungkin.

Jika hanya untuk itu, satu atau dua kali baca saja sudah cukup, tapi dengan membaca berulang kali dan memperdalam pemahaman, tingkat penguasaan sihir akan meningkat secara drastis.

Karena itu, penyihir akan membaca buku sihir berkali-kali sampai mereka benar-benar memahaminya secara utuh.

Tapi aku sudah benar-benar memahami seluruh buku sihir di perpustakaan, jadi keadaanku sekarang hanyalah seperti terus melakukan peninjauan ulang saja.

Tentu saja peninjauan ulang itu penting. Sihir yang sudah dihafal pun jika tidak digunakan akan terlupakan, dan jika itu terjadi, tingkat penguasaannya akan merosot tajam.

Yah, meskipun aku menjalani hari-hari seperti itu, terus mengulang hal yang sama memang membosankan.

Aku mulai menginginkan stimulasi baru.

"Hahaha, Lloyd selalu saja membaca buku sihir. Sesekali bagaimana kalau baca buku yang lain?"

Kata Albert yang sedang membaca buku di depanku.

Aku menggelengkan kepala dan menjawab.

"Karena aku sudah membaca seluruh buku sihir yang ada di perpustakaan ini."

"……Heh, kalau begitu bolehkah aku mengujimu?"

Albert menanyakan itu padaku dengan senyum jail di wajahnya.

"Tanah, Air, Api, Angin; ini disebut sebagai empat sistem sihir dasar. Nah, ada berapa buku sihir yang berhubungan dengan hal itu di perpustakaan ini?"

"Yang menjadikannya tema utama ada 145 buku. Kalau termasuk yang menjadikannya sebagai sub-tema, ada 232 buku. Ah, tapi aku bingung apakah buku tentang Golem dan semacamnya harus dimasukkan ke kategori mana…… Bagiku itu termasuk sistem kontrol, tapi pembentukan tubuhnya sangat berkaitan erat dengan empat sistem sihir dasar…… Bagaimana menurutmu, Albert-niisan?"

Saat aku mengangkat pandangan, mata Albert sudah membelalak.

"Jangan-jangan…… kau benar-benar sudah membaca semuanya……?"

"Ah, tidak…… maksudku aku juga belum terlalu memahaminya…… ahaha, sihir memang sangat dalam ya."

Gawat, hampir saja.

Kupikir sudah sewajarnya membaca seluruh buku di perpustakaan, tapi melihat keterkejutannya, sepertinya tidak begitu.

Tatapan curiga Albert terasa menusuk.

"……Aku tidak tahu harus ternganga atau merasa kagum…… Aku cuma mau tanya, apa kau tidak punya ketertarikan pada hal lain selain buku sihir?"

"Maaf sekali, tapi tidak."

"Hmm, kurasa memang begitu……"

Memang sudah sampai batasnya ya, hal-hal yang bisa kulakukan di istana.

Kalau aku bersama Albert, sesekali aku bisa diajak ke tempat latihan menembak, tapi tetap saja aku tidak bisa bergerak bebas.

Setidaknya kalau ada buku sihir dengan level yang lebih tinggi……

"……Ngomong-ngomong, kalau tidak salah ada gudang buku di bawah tanah kastil."

Telingaku langsung bereaksi terhadap kata-kata yang diucapkan Albert secara spontan.

"Aku dengar di perpustakaan bawah tanah banyak tersegel berbagai macam buku sihir terlarang karena dianggap terlalu berbahaya. Di antaranya banyak terdapat buku terlarang, bahkan kabarnya ada yang menyegel iblis yang dulu pernah membuat negara ini hampir musnah."

──Buku sihir terlarang adalah sejenis alat sihir yang mana kekuatan sihirnya ditanamkan ke dalam buku itu sendiri, dan ciri khasnya adalah siapa pun yang menggunakannya akan mendapatkan efeknya.

Hanya saja pembuatannya membutuhkan pengetahuan sihir tingkat tinggi dan waktu yang lama, sehingga nilai kelangkaannya tidak bisa dibandingkan dengan buku sihir biasa.

Bahkan yang menyegel sihir tingkat pemula pun jarang beredar di pasaran, dan karena di istana hanya ada beberapa buku saja, aku pun belum pernah melihatnya secara saksama.




Terutama untuk buku yang menyimpan sihir yang sangat kuat, karena saking berbahayanya, buku-buku tersebut dianggap sebagai Forbidden Book (Kitab Terlarang) dan disimpan dengan pengawasan ketat oleh negara. Kudengar benda-bahu itu hanya akan digunakan saat keadaan darurat saja.

Dulu, kabarnya sebuah Forbidden Book pernah digunakan dalam sebuah perang besar.

Saat mantranya diucapkan, petir menyambar-nyambar turun ke arah pasukan musuh dan menghancurkan mereka dalam sekejap mata.

Namun, sebagai gantinya, si pengguna sihir tersebut mendadak bertambah tua lima puluh tahun akibat efek sampingnya.

Aku sama sekali tidak bisa membayangkan seperti apa rupa Forbidden Book yang menyimpan sihir luar biasa hingga bisa menyegel seorang Majin (Iblis).

Kira-kira seperti apa struktur formula sihir yang terjalin di dalamnya, ya? Aku benar-benar penasaran.

"Dulu pengasuhku sering menakut-nakutiku. Katanya, anak nakal akan dimakan oleh Majin yang tersegel di dalam Forbidden Book…… begitu. Hahaha."

Kalau dipikir-pikir, aku memang merasakan adanya Barrier (Penghalang) kuat yang tidak wajar di bawah tanah kastil ini.

Kupikir itu hanya tempat penyimpanan dokumen penting negara jadi aku tidak terlalu tertarik, tapi kalau urusannya begini, ceritanya jadi lain.

Tiba-tiba saja aku merasa sangat bersemangat.

"Albert-niisan, bisakah Kakak menceritakan hal itu lebih detail lagi!?"

"Oi, oi, Lloyd. Matamu berbinar-binar begitu. Jangan-jangan kau berniat masuk ke sana, ya?"

Meskipun sempat goyah karena langsung ditebak tepat sasaran, aku tetap berusaha memasang wajah polos dan membalasnya dengan senyuman.

"A-ada-ada saja…… Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu, kan? Albert-niisan."

"Tapi senyummu terlihat kaku, lho……"

"I-ini memang wajah asliku dari dulu, kok? Aha, ahahaha……"

Aku berusaha menjawab sebisa mungkin, tapi karena gugup, gerak-gerikku malah jadi canggung.

Aku memang payah kalau urusan akting.

Albert menatapku lekat-lekat untuk beberapa saat, namun tak lama kemudian wajahnya melunak.

"……Yah, benar juga. Lagipula, ruang bawah tanah kastil itu dipasangi Barrier yang dijalin oleh sepuluh penyihir istana sekaligus. Mustahil bisa masuk tanpa ketahuan. Aku pun butuh izin kalau mau masuk ke sana."

"! Apa Albert-niisan pernah masuk ke sana?"

"Ya, tapi cuma sampai pintu masuknya saja. Atau lebih tepatnya, aku tidak bisa masuk lebih jauh dari itu. Pusaran hawa sihir mengerikan yang terpancar dari dalam…… mengingatnya saja sudah membuatku merinding. Aku jadi percaya kalau cerita soal Forbidden Book yang menyegel Majin itu memang nyata."

Albert menggigil hebat.

Itu bukan akting. Wajahnya tampak sedikit pucat. Sepertinya ceritanya memang benar.

"Begitulah ceritanya. Lloyd, kau memang sedikit aneh, tapi kau bukan anak yang suka nekat. Mana mungkin kau akan pergi ke sana, kan……"

"Iya, mana mungkin aku pergi ke sana!"

Aku mengangguk mantap menjawab pertanyaan Albert.

 

Maka dari itu, malam harinya aku memutuskan untuk pergi ke bawah tanah kastil.

Hatiku sedikit perih karena mengkhianati Albert yang sudah memercayaiku, tapi urusan Forbidden Book jauh lebih penting.

Aku ingin melihatnya baik-baik, menyentuhnya, dan mengamati struktur formula sihir seperti apa yang terjalin di sana.

Masuk sebentar, lihat sedikit, lalu langsung pulang. Harusnya tidak masalah, kan? ……Mungkin.

Tengah malam, aku terbangun dari tempat tidur, berganti pakaian yang mudah digunakan untuk bergerak, lalu keluar menuju koridor.

"Waduh, aku harus menyembunyikan keberadaanku supaya tidak ketahuan."

Begitu aku bergumam dan memusatkan pikiran, pusaran udara menyelimuti tubuhku.

──Sihir Sistem Angin, Hide.

Ini adalah sihir yang menciptakan lensa udara dengan aliran angin, memanfaatkan pembiasan cahaya untuk membuat sosok diri sendiri menjadi tidak terlihat.

Karena sihir ini menciptakan pergerakan angin yang tidak wajar, penyihir ahli di sekitar mungkin akan menyadarinya, tapi kalau cuma menghadapi para prajurit kastil, ini sudah lebih dari cukup.

Ngomong-ngomong, sihir Hide yang asli seharusnya akan terlepas jika penggunanya bergerak, tapi milikku sudah kukendalikan agar tetap mengikuti tubuhku selama aku bergerak perlahan.

Meskipun jika bergerak terlalu cepat akan terlihat seperti bayangan sisa, tapi kalau hanya kecepatan berjalan biasa, tidak ada masalah.

Di tengah jalan aku berpapasan dengan beberapa prajurit, tapi sepertinya tidak ada yang menyadari keberadaanku.

 

Perjalanan berjalan lancar. Aku sampai di tangga menuju bawah tanah dengan mudah.

Tidak ada penjaga di pintu masuk, jadi aku langsung menuruni tangga.

Semakin aku menuruni tangga spiral yang tua itu, aku merasakan sensasi seperti kulitku tertusuk-tusuk.

──Jadi ini ya, Barrier-nya.

Terasa semakin jelas saat aku mendekat.

Terlebih lagi, Barrier ini sepertinya tidak dirancang untuk mencegah penyusup dari luar, melainkan dijalin agar sesuatu di dalam tidak bisa menjebol keluar.

Sepertinya sudah pasti ada sesuatu yang gawat di dalam sini.

Setelah sampai di ujung tangga, sekelilingku dikelilingi oleh dinding batu, dan di depanku terdapat sebuah pintu kecil.

Inilah pusat dari Barrier tersebut. Saat aku mencoba menyentuhnya, aku merasakan resistansi yang kuat.

Pertama-tama aku harus melepaskan Barrier ini dulu.

Meski begitu, aku tidak bisa menghancurkannya dengan paksa. Aku tidak boleh meninggalkan jejak penyusupan, kan.

Untuk saat ini, pilihan terbaik adalah mengendalikan Barrier-nya dan melewatinya seolah-olah aku sudah mendapatkan izin akses.

"Sebelum itu, kurasa lebih baik aku memasang Barrier juga."

Jika aku membentangkan satu lapis Barrier lagi dari luar, aku bisa merasa tenang jika terjadi sesuatu di dalam.

Begitu aku memusatkan pikiran, kekuatan sihir berbentuk seperti gelembung menyebar dengan aku sebagai pusatnya.

──Sihir Sistem Air, Waterfall Canopy.

Selain kemampuan Barrier sederhana, sihir ini khusus memiliki kemampuan untuk meredam guncangan dan suara. Meskipun terjadi ledakan besar di dalam sini, orang di luar tidak akan menyadarinya.

Setelah itu, aku memeriksa struktur Barrier utamanya secara perlahan.

……Hmm, hmm, begitu ya. Ini adalah Barrier yang sangat kokoh, tapi sepertinya bagi mereka yang memiliki darah bangsawan atau orang yang diberi izin, mereka bisa mendapatkan akses lewat dengan relatif mudah.

Ubah sistem kontrol Barrier-nya sedikit…… dan, oke. Dengan begini aku bisa lewat tanpa masalah.

Sisanya tinggal membuka kunci fisiknya saja.

──Sihir Sistem Tanah. Aku memasukkan kunci yang kubuat dengan Stone Replica lalu memutarnya, dan pintu itu terbuka dengan mudah.

Begitu pintu terbuka, hawa asing berhembus dari dalam ruangan.

Aliran kekuatan sihir dengan berbagai warna, suara, dan bau…… ini luar biasa.

Sihir penghancur yang mencemari tanah…… lalu kutukan terlarang evolusi yang menyilangkan spesies berbeda untuk menciptakan kehidupan baru…… wah! Bahkan ada manipulasi wabah penyakit lewat sihir!

Luar biasa. Ini benar-benar gunung harta karun.

Tapi yang paling menarik perhatian adalah hawa yang terpancar dari bagian dalam.

Jika harus dijelaskan dengan kata-kata, rasanya seperti aroma bunga yang manis dan harum, namun bercampur dengan sensasi sesuatu yang mengerikan yang sedang melambai mengajakku mendekat.

Mungkin inilah Forbidden Book yang dibicarakan Albert.

 

Nah, harus bagaimana ya…… selagi aku berpikir begitu, kakiku seolah terpancing oleh hawa dari Forbidden Book itu dan tanpa sadar melangkah menuju bagian dalam ruangan.

Ooh, ini sihir Sistem Kontrol, ya? Daya paksanya kuat sekali.

Sepertinya mereka menjalin formula sihir tipe pembatasan gerak lawan dengan cara membuat mereka menghirup aroma ini.

Mungkin Majin yang itu yang sedang menggunakannya.

Jika orang yang tidak tahu apa-apa masuk ke ruangan ini, mereka pasti akan berjalan terhuyung-huyung seperti tersedot untuk melepaskan segel Forbidden Book itu.

Wajar saja jika mereka memasang Barrier yang sangat ketat.

Tentu saja, aku tidak akan menjadi seperti itu.

Cara menghadapi sihir Sistem Kontrol itu mudah. Meskipun kendali tubuh sempat diambil alih, cukup tenang dan timpa saja dengan kendaliku sendiri, maka sihirnya akan terlepas.

Maka dari itu, begitu aku merapal sihir Sistem Kontrol pada diriku sendiri, tubuhku kembali bebas.

Dengan tubuh yang sudah bebas, aku melangkah lebih dalam lagi ke dalam perpustakaan.

"──Oi, oi, oi, oi. Apa kau sudah gila? Bocah?"

Terdengar suara yang berat dan bergema.

Kulihat di bagian terdalam ruangan, di atas sebuah buku yang hitam pekat, terdapat sesuatu yang tampak seperti kabut.

Bentuknya menyerupai manusia, dan sepasang mata merahnya bersinar terang menatapku tajam.

"Bisa lolos dari kendaliku dan malah berjalan mendekat begini. Kau ini pemberani sekali, atau cuma bodoh…… ah, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku adalah Majin Grimoire. Salam kenal, ya."

Kabut hitam itu──Majin Grimoire──menatapku sambil tertawa riang.

"Heh, aku terkejut. Bukannya kau disegel di dalam buku?"

"Kukuku…… ribuan tahun telah berlalu, dan segelnya mulai retak. Itulah sebabnya sebagian kecil tubuhku bisa keluar."

Kalau kulihat, memang benar buku yang diduduki oleh Grimoire itu sudah compang-camping.

Segel yang terjalin di buku itu sudah rusak parah, tidak heran jika sewaktu-waktu bisa kehilangan fungsinya.

"Hei bocah, siapa namamu?"

"Lloyd."

"Hmm, begini Lloyd. Dalam beberapa tahun lagi aku akan menghancurkan segel ini dan bangkit kembali dalam wujud sempurna ke dunia luar. Jika itu terjadi, aku berniat memusnahkan seluruh negeri ini. Karena para penyihir negeri inilah yang menyegelku. Aku punya hak untuk melakukannya. ……Tapi Lloyd, jika kau mau menuruti perkataanku sekarang, aku mungkin bisa mengampuni nyawamu saja."

Sambil berkata begitu, Grimoire menyeringai dan menunjuk ke arah bukunya dengan jari.

"Maukah kau menghancurkan segel benda ini untukku?"

"Kenapa? Apa yang kau ragukan? Toh segel ini akan hancur sendiri dalam beberapa tahun lagi. Jika kau juga seorang penyihir, kau pasti tahu hanya dengan melihatnya, kan? Daripada aku membunuh semuanya nanti, bukankah lebih baik kau menghancurkannya sekarang dan aku akan menjamin nyawamu saja? Bukan tawaran yang buruk, kan?"

Grimoire menatapku sambil menyeringai licik.

Apa dia benar-benar mengira aku akan setuju?

Jawabanku, tentu saja, sudah jelas.

"Aku menolak."

"A…… apa!?"

Aku melanjutkan kata-kataku pada Grimoire yang terkejut.

"Mana mungkin aku membiarkan orang jahat yang berniat menghancurkan negara berkeliaran bebas. Biar aku yang memperbaiki segelnya. Supaya tidak hancur untuk seribu tahun lagi."

"T-t-t-t-tunggu sebentar!"

Grimoire buru-buru menghentikanku saat aku hendak menyentuh buku itu.

"……Aku yang salah. Karena sudah lama tidak bicara dengan manusia, aku jadi terlalu bersemangat. Maaf, aku minta maaf. Aku mohon. Kalau dipikir-pikir, yang menyegelku kan manusia dari ratusan tahun yang lalu, aku tidak punya dendam pada orang-orang di negara ini sekarang. Tentu saja aku tidak akan membunuh mereka!"

Aku menatap lekat-lekat Grimoire yang bicara dengan wajah serius itu.

"Benarkah?"

"Iya, jadi begini, kalau kau melepaskan segelnya, aku akan mengabulkan permintaanmu apa pun itu! Benar, Lloyd, aku akan membuatmu menjadi orang kaya raya! Aku bisa menciptakan emas!"

Sambil berkata begitu, Grimoire membuka tangannya, dan butiran emas berjatuhan dari sana.

Heh, ini sihir Sistem Kreasi, ya.

"Bagaimana? Aku akan memberimu sebanyak apa pun yang kau mau, Lloyd?"

Aku mengambil sebutir emas itu, mengangguk pelan, lalu menghancurkannya dengan jari.

"Apa!?"

"……Sihir Kreasi ini levelnya tidak bisa dibilang tinggi ya. Apa kau memaksa sebongkah batu menjadi emas? Kemurniannya terlalu rendah, dan isinya kopong. Dengan ini, kau bahkan tidak bisa menipu pedagang pemula."

Lagipula, menciptakan emas dengan sihir itu dilarang. Lagi pula, aku ini pangeran jadi aku tidak kekurangan uang.

"Mu, gugu…… k-kalau begitu, keabadian! Aku akan membuatmu menjadi abadi!"

"Maaf, tapi aku tidak suka jika ada formula sihir orang lain yang diterapkan pada tubuhku. Terutama menjalin formula sihir sekuat keabadian ke dalam tubuh manusia, siapa yang tahu risiko apa yang akan muncul."

Sihir itu tidak mahakuasa.

Sihir level rendah mungkin bisa diatasi hanya dengan konsumsi kekuatan sihir, tapi sihir level tinggi akan memberikan beban pada pengguna maupun targetnya.

Hal seperti keabadian, meskipun formulanya dijalin dengan sangat baik, pasti akan membawa risiko yang sangat berat.

Misalnya kelumpuhan saraf yang parah, atau cacat fisik.

Aku tidak bisa menerima formula sihir seperti itu begitu saja.

Sepertinya tebakanku tepat sasaran, karena wajah Grimoire tampak masam.

"……Sepertinya aku harus menyegelmu kembali. Kau terlihat berbahaya."

"T-tunggu! Tunggu dulu! Aku mohon! Aku sama sekali tidak berbahaya! Aku ini Majin yang baik! Aku disegel hanya karena melakukan sedikit kenakalan saja, kok!"

"Hmm, tapi kau bisa saja berbohong. Memang sebaiknya disegel……"

Tepat saat aku hendak menyentuh buku itu.

"K-kalau begitu, bagaimana dengan sihir……!"

Si Majin bergumam pelan.

"Sihir kuno dari ratusan tahun yang lalu! Jika kau seorang penyihir, kau pasti tertarik, kan? Aku akan mengajarkannya padamu! Bagaimana! Lloyd!"

Setelah berpikir sejenak, aku mengangguk.

"──Menarik."

Tak perlu dikatakan lagi, aku memang sangat menyukai sihir.

Sihir kuno, ya. Menurut legenda, aku pernah dengar ada sihir yang bisa mengguncang bumi, menyebabkan banjir, bahkan membelah lautan.

Kira-kira sehebat apa wujud aslinya? Aku benar-benar ingin melihatnya.

Mendengar kata-kataku, ekspresi Grimoire seketika menjadi cerah.

"Kan! Benar kan! Tentu saja, bagi seorang penyihir, sihir yang tidak diketahui itu adalah sesuatu yang sangat diinginkan!"

"Ya, apa kau benar-benar akan mengajarinya padaku?"

"Tentu saja! Jadi, Lloyd, lepaskan segel terkutuk ini!"

"──Baiklah."

Aku menyentuh buku itu dan membuka halamannya.

Karena segelnya memang sudah retak, buku yang terbuka dengan mudah itu mulai membolak-balik halamannya dengan kecepatan luar biasa.

Dari ujungnya, halaman-halaman itu mulai menghitam seperti arang dan hancur berkeping-keping.

Serpihan buku beterbangan di udara. Kemudian angin berhembus, melenyapkan semuanya.

Segelnya telah terlepas sepenuhnya.

"──Ku."

Suara tertahan bergema di dalam ruangan.

"Khahahaha! Luar biasa! Dia benar-benar melepaskan segelnya!"

Kabut hitam itu terkumpul di satu titik, membentuk sosok yang semakin menyerupai manusia.

Kulit biru dengan dua tanduk di dahi, sayap seperti kelelawar dengan ekor seperti naga, tubuh bagian atas yang perkasa, dan tubuh bagian bawah seperti kambing…… wujud yang bukan manusia ini memang pantas disebut Majin.

"Rasanya luar biasa! Aku merasa ingin bernyanyi! Bebas! Akhirnya aku bebas! Hyahahaha!"

Aku menyapa Grimoire yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan gembira.

"Syukurlah kalau begitu. ……Jadi, bisa kita mulai sekarang?"

"Nn, ah. Kau ingin aku mengajarimu soal sihir kuno, kan?"

Grimoire menyeringai, lalu mulai mengumpulkan kekuatan sihir di tangan kanannya.

Wah, kekuatan sihir yang luar biasa. Kalau cuma soal jumlah kekuatan sihir, manusia tidak ada tandingannya.

Benar-benar sosok seorang Majin. Saat aku sedang merasa kagum, Grimoire mengarahkan tangan kanannya ke arahku.

Seketika, pandanganku menjadi gelap gulita.

Doooooooooooon! Ledakan besar terjadi, dan debu tanah membumbung tinggi.

"──Inilah Black Flash Cannon. Bagaimana? Lumayan juga kekuatannya, kan…… yah, aku tidak tahu apa kau masih bisa mendengarku atau tidak, sih."

Terdengar suara tawa kecil. ──Tentu saja, aku bisa mendengarnya dengan jelas.

Aku menciptakan angin untuk meniup debu tanah yang beterbangan.

Begitu melihat sosokku, Grimoire menunjukkan ekspresi terkejut yang luar biasa.

"A…… apa!?"

"……Hmm, sihir yang lumayan menarik. Jadi itu ya, sihir kuno."

Formula sihir yang aneh. Aliran sihir, struktur, cara pembentukan, dan metode aktivasinya unik, tidak seperti yang digunakan di zaman sekarang. ……Sangat menarik.

"Bisa tunjukkan sedikit lagi?"

Begitu aku bertanya, entah kenapa Grimoire menelan ludah.

"K-kau menerima Black Flash Cannon milikku tanpa luka sedikit pun……?"

"Iya, aku bisa memasang Mana Barrier kok, jadi jangan dipikirkan. Ayo tunjukkan lagi lebih banyak."

Aku membalas perkataan Grimoire yang masih terkejut.

Lagipula, untuk sihir tipe serangan, memang banyak hal yang tidak akan diketahui jika tidak merasakannya secara langsung. Hmm, hmm.

Grimoire pasti mengerti hal itu, makanya dia tiba-tiba melepaskannya ke arahku.

Aku sedikit terkejut, tapi kalau dipikir-pikir, aku selalu menyiagakan beberapa lapis Mana Barrier, dan sudah kukendalikan agar aktif secara otomatis jika menerima guncangan di atas tingkat tertentu.

Dia pasti sudah menyadari hal itu. Hebat juga Majin ini, dia sangat mengerti.

Kerja bagus, Grimoire.

"Gu, gugu…… j-jangan bercanda……! Ini adalah sihir yang kupelajari selama lima tahun latihan……!"

Tapi entah kenapa Grimoire malah gemetar sambil menggertakkan gigi.

Kira-kira kenapa, ya?

"Hei Grimoire, apa yang kau lakukan? Cepat lakukan yang berikutnya."

Saat aku mendesaknya, Grimoire mengacak-acak rambutnya dengan kasar.

Lalu dia menatapku dengan penuh kebencian.

……Apa aku melakukan kesalahan?

"Cih…… ah sial, baiklah! Kalau kau berkata sampai sejauh itu, akan kutunjukkan! Sihir terkuatku!"

Grimoire meninggikan suaranya, lalu mengarahkan tangan kanannya yang terbuka ke depanku.

Kulihat ada satu garis di telapak tangannya, yang tampak menggeliat-geliat.

Lalu, garis itu terbuka. Yang muncul dari dalamnya adalah lidah merah dan gigi tajam──alias sebuah mulut.

"Double Chant──"

Begitu dia bergumam, Grimoire mulai merapalkan mantra sihir dengan dua mulut sekaligus.

Wah, ternyata seorang Majin bisa melakukan hal seperti itu.

""Warnailah dengan hitam, hitam, hitam, tusuk dan cungkillah, wahai bilahku──""

Sambil menunggu rapalan mantranya selesai dengan penuh semangat, tubuh Grimoire mulai bersinar terang.

"──Mati kauuuuuuuuu!! Spiral Black Flash Cannon!"

Gooo, aliran kekuatan sihir berhembus kencang.

Tubuhku terdorong sedikit ke belakang oleh tekanannya.

Gelombang sihir hitam ganda yang dilepaskan membentuk spiral dan menerjang ke arahku.

Gelombang sihir itu menghantam Mana Barrier yang aktif secara otomatis dan menimbulkan guncangan yang sangat hebat.

"Gu, gguguu……! Tembuslah, kauuuuuuuuu……!"

Grimoire tampak sangat mengerahkan tenaga.

Sepertinya karena itu output kekuatannya meningkat sedikit demi sedikit.

Tentu saja Mana Barrier milikku tidak tergores sedikit pun, tapi fakta bahwa kekuatannya bisa meningkat karena semangat itu menarik sekali.

Omong-omong…… apa tadi namanya, Spiral sesuatu? Dia sengaja mengendalikannya agar membentuk spiral, ya.

Apa ada maknanya? Padahal terlihat seperti gelombang sihir biasa…… hmm, sulit mengetahuinya jika lewat Mana Barrier.

Mari coba sentuh langsung. Aku mengeluarkan jari dari Mana Barrier dan menyentuh gelombang sihir itu dengan lembut.

Bachin! Terdengar suara letupan dan gelombang kejut berhembus kencang.

"Hah-hah-hah! Kau menerima Spiral Black Flash Cannon milikku dengan tubuh telanjang!? Selesai sudah kau! Meledaklahhhhh!"

Sementara Grimoire meraung-raung entah apa, gelombang sihir itu tertahan di ujung jariku.

Aku menghentikan gelombang sihirnya untuk mengamati strukturnya.

……Hmm, hmm, ternyata bentuk spiral maupun warna hitamnya tidak memiliki makna khusus, ya.

Meskipun begitu, kekuatannya meningkat karena apa yang disebut sebagai "kekuatan perasaan".

Sering terjadi di mana sifat sihir berubah karena luapan emosi seperti kemarahan atau keyakinan yang kuat.

Meskipun begitu, hal itu tidak selalu berdampak baik, terkadang malah menimbulkan efek samping.

Karena itulah sejak suatu masa hal itu tidak lagi dianjurkan…… tapi mungkin sihir kuno justru berevolusi ke arah tersebut.

Menarik juga bahwa hal itu bisa menghasilkan kekuatan sebesar ini.

"Ups, waktunya habis ya."

Karena kuhentikan, pasokan kekuatan sihir dari penggunanya terputus, dan gelombang sihir itu pun lenyap.

Yah, pengamatannya sudah cukup. Lagipula strukturnya tidak terlalu rumit.

Di balik gelombang sihir yang lenyap, Grimoire menunjukkan ekspresi ternganga.

"M-mustahil…… itu adalah sihir dengan kekuatan maksimal milikku……? Kau tahu berapa puluh tahun aku berusaha keras untuk bisa menggunakannya…… tapi kau melakukannya dengan mudah……!?"

Grimoire menatapku dengan wajah terkejut.

"Begitu ya, aku benar-benar bisa merasakan hasil dari berbagai percobaan dan latihanmu pada sihir tadi."

"……Cih! Tentu saja, itu adalah hasil dari usaha yang sampai berdarah-darah!"

"──Iya, pasti sangat menyenangkan melakukannya."

Latihan sihir itu adalah hal yang sangat menyenangkan.

Pasti Majin pun merasakan hal yang sama.

Ternyata manusia dan Majin memang sama dalam hal itu. Hmm, hmm.

"Menyenang……!? K-kau ini bodoh ya!?"

Kenapa dia terkejut begitu?

Apa aku baru saja mengatakan hal yang aneh?

"Sial! Beraninya kau mempermainkanku! Kali ini pasti……!"

Grimoire mulai merapalkan sihir yang sama sekali lagi.

Hmm, kalau yang sama aku tidak perlu melihatnya dua kali.

Lagipula levelnya tidak bisa dibilang terlalu tinggi.

Mungkin sihir kuno memang bukan sesuatu yang memiliki daya serang tinggi.

"Ah, soal serangannya aku sudah mengerti. Tunjukkan yang lain dong."

"Yang lain…… katamu……?"

"Iya, apa saja boleh…… benar juga, misalnya sihir pertahanan. Ah, mungkin akan lebih jelas kalau aku yang menyerang."

Sambil berkata begitu, aku mengarahkan tangan kananku dan mengumpulkan kekuatan sihir.

Mari coba mulai dari sihir tingkat atas yang biasa saja.

"──Flame Burst Fireball."

Aku mengumpulkan api yang sangat besar di ujung jariku dan melepaskannya ke arah Grimoire.

"Nuwaaaaaaaaaa!?"

Api itu mengenainya, dan Grimoire berteriak histeris.

Lho? Kenapa dia tidak bertahan menggunakan Mana Barrier?

"Oi Grimoire. Kau tidak apa-apa?"

Saat aku buru-buru memanggilnya, sebuah bayangan bergoyang di dalam kobaran api.

Kulihat tubuh Grimoire tidak mengalami luka bakar sedikit pun.

"Ku, kuku…… kau mengejutkanku…… tapi kau tidak akan bisa mengalahkan aku yang seorang Majin dengan sihir! Sayang sekali, ya!"




"Eh, benarkah begitu!?"

"Tentu saja. Kalau sihir suci yang digunakan para pendeta, aku mungkin akan menerima sedikit damage. Tapi bagi penyihir biasa, tidak ada cara untuk mengalahkanku! Sayang sekali ya, Lloyd, saat kau membangkitkan aku, kau sudah kalah telak…… Buakh!"

Kali ini aku menghantamnya dengan Waterfall Burst.

Meski terkena hantaman air yang menderu seperti air terjun, Grimoire memang terlihat tidak menerima luka sedikit pun.

"D-dengarkan dulu perkataanku…… kubilang itu percuma…… Gafuakh!?"

"Luar biasa. Ternyata benar-benar tidak mempan, ya."

Aku bergumam sambil melepaskan Earthquake Boulder.

Meski tubuhnya terhimpit batu raksasa, Grimoire tampak baik-baik saja.

Ini benar-benar kejutan. Ternyata Majin memang kebal terhadap sihir!

Kira-kira sampai sejauh mana kekebalannya? Aku ingin tahu, aku ingin mencobanya.

"O-oi, tunggu dulu, kau. Kenapa matamu jadi berbinar-binar begitu!?"

"Aku akan terus menyerang!"

Untuk saat ini, mari coba gunakan sihir yang levelnya sedikit lebih tinggi.

Mumpung ada kesempatan, aku harus mencoba yang lain selain tipe serangan. Racun mungkin juga bagus.

Aku terus menghujaninya dengan berbagai sihir yang terpikirkan, tapi tubuh Grimoire hanya mengeluarkan asap saja.

"Ooh! Hebat sekali, Grimoire! Benar-benar tidak mempan! Bagaimana kalau yang ini?"

"Tu-tunggu, tunggu sebentar! Sudah…… kubilang hentikan! Oi, keparattttt!"

Aku terus menghujani Grimoire dengan segala jenis sihir yang bisa kupikirkan.

"Maafkan saya sebesaaaaaar-besarnya!"

Di depanku, Grimoire menempelkan kedua tangannya ke tanah.

"Oi, oi. Ada apa tiba-tiba? Sampai melakukan dogeza segala."

"Ampuni saya, Tuan Lloyd! Saya tidak akan berbuat nakal lagi! Jadi, ya!? Aku mohon!"

Grimoire memohon sambil meneteskan air mata.

Padahal aku baru menghantamnya dengan sihir beberapa ratus kali saja…… aku tidak mengerti.

"Ya sudah, ayo cepat lanjut lagi. Aku ingin tahu lebih banyak soal sihir kuno."

"Hieee!? T-tunggu sebentar! Tubuhku sudah tidak kuat lagi!"

"Eh, benarkah? Padahal aku masih belum puas sama sekali……"

Mendengar perkataanku, wajah Grimoire entah kenapa menjadi pucat pasi. Dia mundur dengan cepat dan bersujud sampai-sampai kepalanya seolah tertanam ke tanah.

"Grimoire ini bersumpah akan melayani Tuan Lloyd dengan sepenuh hati! Jadi familiar atau apa pun boleh! Jadi tolong! Ampuni saya!"

"Familiar, ya……"

Aku tidak terlalu mengerti, tapi kalau dia sampai memohon begitu, kurasa cukup sampai di sini saja untuk hari ini.

Kalau dia jadi familiar-ku, aku bisa melakukan eksperimen sihir kapan pun aku mau.

……Hmm, tidak buruk.

Aku tersenyum lebar dan mengulurkan tangan ke arah Grimoire.

"Baiklah, kalau begitu mau membuat kontrak denganku?"

"Siap!"

Grimoire langsung memegang tanganku yang terulur.

Cahaya menyilaukan menyelimuti kami, dan kontrak pun selesai.

"……Sial, memikirkan aku yang agung ini menjadi familiar manusia sungguh sebuah penghinaan…… tapi kemampuan bocah ini benar-benar tidak masuk akal. Setelah mendapatkan kepercayaannya, aku akan menghasut dan memanfaatkannya dengan licik. Dengan begitu, menguasai dunia dari balik layar pun bukan hal mustahil. Kuhihi, aku hanya perlu bersabar sampai saat itu tiba……!"

"Hmm? Kau menggumamkan sesuatu?"

"T-tidak, bukan apa-apa! Bukan apa-apa sama sekali, Tuan Lloyd!"

Grimoire tampak panik.

Orang ini sepertinya agak tidak stabil emosinya…… ya sudahlah.

Bagaimanapun, dengan begini, Grimoire resmi menjadi familiar-ku.

"Waduh, fajar hampir menyingsing. Sebaiknya aku membereskan tempat ini sebelum pulang."

Perpustakaan bawah tanah ini agak berantakan karena aku habis bermain dengan Grimoire.

Karena aku sudah memasang Barrier sebelumnya, hampir tidak ada kerusakan fisik, tapi rak buku dan perabotan sedikit berantakan.

"Perlu saya bantu, Tuan Lloyd?"

"Tidak perlu sampai begitu. ……Hup."

Begitu aku merapalkan formula sihir, buku-buku dan alat sihir yang berserakan melayang dan kembali ke tempat asalnya.

Ini adalah formula orisinal yang kususun sendiri.

Sihir ini menelusuri memori benda itu sendiri, memberinya kekuatan, dan membuatnya kembali ke posisi semula secara otomatis.

Efeknya berlaku untuk semua benda padat, bahkan debu sekalipun. Buku Grimoire yang sempat kuhancurkan pun kembali seperti semula.

……Meskipun hanya penampakan luarnya saja, sih.

"Ooh, ini sihir yang luar biasa!"

"Ini belum bisa disebut sebagai sihir, sih. Tapi memang berguna untuk mencari barang atau beres-beres."

Ngomong-ngomong, sesuatu yang dijalin dari energi sihir disebut formula, dan kumpulan formula yang menghasilkan efek tertentu di atas level tertentu disebut sihir.

Hal sepele seperti ini belum pantas disebut sihir.

"Ngomong-ngomong Grimoire, wujudmu itu mencolok sekali. Apa kau tidak bisa mengecil atau menghilang?"

"Bukannya tidak bisa, tapi……"

Grimoire bicara dengan ragu.

Sihir pengubah wujud memang levelnya cukup tinggi.

Selain itu, karena sulit digunakan, hanya penyihir tertentu yang bisa memakainya. Wajar saja jika dia tidak bisa.

"Kalau begitu, tinggallah di dalam tubuhku. Pinjamkan tangan kananmu."

Saat aku mengulurkan tangan kanan, Grimoire menunjukkan ekspresi tidak percaya.

"Ha……? A-apa boleh?"

"Supaya tidak mencolok, kan?"

Grimoire tampak bimbang, namun dia memalingkan wajah dariku dan menyeringai licik.

"……Kuhihi, bocah ini benar-benar gila. Menampung familiar di dalam tubuh sendiri, jika tidak ada hubungan kepercayaan yang sangat kuat, itu sama saja dengan bersiap dibunuh kapan saja. Apa dia tidak tahu hal dasar seperti itu? Dasar anak manja. Kalau dia memberiku satu tangan, membunuh tubuh aslinya itu mudah! Akan kubunuh dia saat sedang tidur dan aku akan mengambil alih tubuhnya……!"

"Oi, kau menggumam apa lagi. Cepatlah."

"Siap! Saya datang!"

Grimoire menjawab dengan penuh semangat, lalu berubah menjadi kabut hitam dan masuk ke tangan kananku.

"A-apa-apaan ini!? Densitas energi sihir di dalam tubuhnya tidak normal! Kalau isinya sepenuh ini, tidak ada ruang bagiku untuk…… m-masuk……! Tangan kanan, tidak mungkin. Kalau begitu setidaknya dari pergelangan tangan ke atas…… Guh, tidak bisa! Satu ujung jari pun, tidak bisa masuk……! Uwoooooooo!"

Setelah raungan itu, sebuah garis muncul di telapak tanganku, dan sebuah mulut terbuka lebar.

Grimoire tampak terengah-engah.

"Hah…… hah…… c-cuma lapisan kulit telapak tangan saja sudah batas maksimal……! Densitas energi sihir macam apa ini……!"

Meski dia menggumamkan sesuatu, sepertinya dia sudah berhasil masuk dengan selamat.

"Oh, mulut itu jangan-jangan yang kau gunakan saat melakukan Double Chant tadi?"

"I-iya, benar sekali! Karena saya tahu Tuan Lloyd tertarik pada Double Chant. Tentu saja karena tubuh ini milik Tuan Lloyd, Anda bisa menggerakkannya sesuka hati."

"Benarkah? Itu terdengar menarik."

Double Chant, ya. Tergantung cara pakainya, sepertinya banyak hal yang bisa dilakukan.

Hmm, aku jadi bersemangat. Nanti akan segera kucoba.

"Mengambil alih tubuh memang mustahil, tapi…… kalau aku menjilat padanya begini, dia pasti akan lengah suatu saat nanti. Tenang, tidak perlu buru-buru…… aku akan melakukannya perlahan. Kuhihihihi."

"Hmm, kau bilang sesuatu, Grimoire?"

"T-tidak ada apa-apa! O-oh iya Tuan Lloyd, panggil saja saya Grim!"

"Begitu ya. Mohon bantuannya ya, Grim."

"S-siap! Saya akan bekerja sampai titik darah penghabisan demi Tuan Lloyd!"

Sambil mengobrol begitu, pembersihan ruangan selesai. Aku keluar dari perpustakaan, kembali ke kamar, dan langsung tidur.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close