──Hal
terpenting bagi seorang penyihir adalah silsilah keluarga. Berikutnya adalah
bakat. Dan yang terakhir adalah usaha.
Leluhur
para penyihir, William Bordeaux.
Itulah
kalimat pertama yang diucapkan dalam pidato sambutan kepala sekolah saat
upacara penerimaan siswa baru di akademi sihir.
Beliau
melanjutkan bahwa bagi seorang penyihir, yang utama adalah silsilah dan garis
keturunan, baru kemudian bakat. Sedangkan hal seperti usaha, hampir
tidak ada artinya sama sekali.
Silsilah keluarga tentu tak perlu dipertanyakan lagi.
Keluarga terpandang yang telah bertahan sejak lama mewarisi buku-buku sihir
langka serta kekayaan yang melimpah.
Garis darah yang terakumulasi dari generasi ke generasi
pun menjadi semakin pekat, dalam, dan murni, demi memberikan keuntungan bagi
mereka sebagai penyihir.
Bakat juga tentu saja penting. Sensor dalam mengendalikan
sihir, kemampuan membaca, mereproduksi, memahami, hingga kemampuan fisik...
mereka yang memiliki bakat luar biasa sering kali mampu melampaui derajat
silsilah keluarga.
Dan yang terakhir adalah usaha. Bukan
berarti usaha itu sia-sia.
Usaha hanyalah sebuah prasyarat dasar.
Selama seseorang bercita-cita menjadi penyihir, melatih
fisik dan mental, tidak pernah melewatkan latihan harian, serta melahap
buku-buku sihir adalah hal yang dilakukan oleh semua orang.
──Karena itu, berusahalah dengan giat setiap hari.
Begitulah pidato itu ditutup.
Yah, tapi bagiku, hal-hal seperti itu tidaklah penting.
Meski aku terlahir sebagai rakyat jelata dan dikatakan
tidak memiliki bakat yang berarti, aku menyukai sihir apa adanya.
Sebuah misteri di mana api, es, dan petir tercipta dari
ketiadaan.
Sebuah keajaiban yang menunjukkan berbagai rupa melalui
formula sihir.
Serta sebuah kebahagiaan tak terkira saat semua itu
terwujud melalui tanganku sendiri.
Bagi aku yang dalam sekejap menjadi tawanan sihir,
kehidupan di akademi sihir ini adalah yang terbaik.
Namun, hari-hari itu harus menemui ajalnya.
Awal mulanya adalah insiden pencurian buku sihir milik
putra sulung dari sebuah keluarga penguasa.
Seorang bangsawan yang bangga tidak mungkin melakukan
pencurian.
Sambil berkata demikian, dia mengarahkan pandangan
penuh curiga kepadaku—satu-satunya murid di akademi yang lahir sebagai rakyat
jelata.
Memang benar, keluargaku yang rakyat jelata jauh
lebih miskin dibandingkan para bangsawan.
Biaya masuk pun baru bisa kubayar setelah bekerja
keras, dan aku hanya mampu membeli satu buku sihir dasar sebagai bahan ajar.
Tapi, meski hanya dengan satu buku itu, ada banyak
hal yang bisa kulakukan, dan setiap hari selalu ada penemuan baru.
Sihir itu sangat dalam; bahkan dengan sihir dasar
sekalipun, kombinasi formula dan katalis saja bisa menciptakan fenomena yang
tak terhitung jumlahnya.
Karena itu, aku terlalu sibuk dengan eksperimen dan
mencari bahan-bahan hingga sama sekali tidak punya waktu untuk memedulikan
urusan orang lain.
Begitu aku mengatakannya, dia menjadi murka dan
menantangku berduel.
Sebenarnya aku benci bertarung.
Karena itu aku berniat langsung menolaknya, namun
tiba-tiba aku tertegun sejenak.
──Kira-kira sihir seperti apa yang digunakan oleh
para bangsawan seperti mereka?
Antara aku yang rakyat jelata dengan mereka yang
bangsawan, terdapat perbedaan modal dan bakat yang teramat jauh.
Aku berpikir, mungkinkah aku bisa melihat sihir yang
belum pernah kusaksikan sebelumnya?
Begitu memikirkannya, aku menjadi sangat ingin
melihatnya, hingga tanpa sadar aku menerima duel tersebut.
Mungkin aku akan merasakan sedikit rasa sakit, tapi meski
kalah, nyawaku tidak akan melayang. Begitulah pemikiran naifku saat itu.
──Kesimpulannya, sihir mereka sungguh luar biasa.
Apakah itu yang dinamakan sihir tingkat tinggi? Api
raksasa berpusar, badai es mengamuk hebat, dan aku hanya bisa terpaku mengagumi
pemandangan itu.
Saking terpesonanya, aku menerimanya tanpa pertahanan apa
pun, lalu mati.
──Aku sering diperingatkan bahwa jika sudah asyik dengan
sesuatu, aku jadi tidak peduli dengan sekitar, tapi tak kusangka akan berakhir
seperti ini. Kebodohanku sendiri sungguh menyedihkan.
Namun, hal terakhir yang kupikirkan bukanlah mengutuk
diriku yang bodoh, bukan mendendam pada bangsawan yang menantangku, bukan pula
rasa terima kasih pada orang tua yang membesarkanku.
Melainkan sebuah analisis terhadap sihir yang telah
membunuhku.
Formula seperti apa itu?
Bagaimana logikanya?
Apa mungkin output sebesar itu dihasilkan sendirian?
Jika iya, berapa jumlah Mana yang dibutuhkan?
Bagaimana strukturnya?
Atau mungkin ada kondisi aktivasi khusus?
Atau menggunakan katalis tertentu?
Ataukah sihir itu dirapal oleh banyak orang sekaligus?
Dan seterusnya...
Semakin aku berpikir, aku bisa merasakan jantungku yang
seharusnya berhenti malah berdegup kencang.
Ah, benar-benar amat disayangkan.
Padahal di dunia ini pasti masih banyak sihir yang belum
kuketahui, tapi aku harus mati tanpa sempat mengetahui semuanya.
Seandainya bisa, aku ingin mengetahui seluruh sihir yang
ada.
Aku ingin memahami, menguasai, dan mencapai puncaknya.
Aku ingin tenggelam lebih dalam lagi ke dalam lubuk
sihir.
Sambil memikirkan hal itu, kesadaranku pun mulai menjauh.
◇
Pandanganku kabur.
Tubuhku tidak bisa digerakkan sesuai keinginan.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Rasanya seolah-olah aku bukanlah diriku sendiri.
"──"
Aku mendengar suara seseorang. Suara seorang wanita.
Saat aku memicingkan mata, aku bisa melihat wajahnya.
Cantik. Dan dia sedang membuka pakaian di bagian dadanya.
Tapi rasanya dadanya terlihat sangat besar secara tidak
wajar.
"──"
Wanita itu mendekat ke arahku sambil menggumamkan
sesuatu.
Merasa terancam, aku berusaha sekuat tenaga
menggerakkan tangan dan merapalkan Fireball dalam benakku.
Sihir serangan satu-satunya yang bisa kugunakan untuk
menciptakan api kecil.
Hanya cukup untuk mengusir monster lemah, tapi setidaknya
bisa untuk gertakan... seharusnya begitu. Namun, ada sesuatu yang aneh.
Merasakan firasat buruk, aku segera mengalihkan sasaran
dari wanita itu. Tepat setelahnya──
Dhuuuaaaaaarrrr! Suara
ledakan dahsyat bergema.
Saat aku melihatnya, sebuah lubang raksasa telah menganga
di dinding.
Wanita itu terkejut, tapi aku pun sama terkejutnya.
Tidak mungkin Fireball milikku memiliki kekuatan
sebesar ini.
Apa yang sebenarnya... tepat saat aku berpikir begitu,
bayanganku terpantul di cermin besar yang ada di depan mata.
Tubuh yang mungil, tangan dan kaki yang pendek, serta
mata besar yang bulat...
Seorang bayi. Aku telah berubah menjadi bayi.
Kalau tidak salah, aku pernah mendengar tentang hal
ini.
Bahwa seseorang yang mati bisa terlahir kembali
dengan ingatan yang masih utuh.
Apa yang biasa disebut dengan reinkarnasi.
Jika dipikir begitu, kekuatan Fireball tadi
jadi masuk akal.
Kasta seorang penyihir ditentukan oleh silsilah dan
bakat, dengan kata lain, hampir semuanya ditentukan saat lahir.
Dalam garis keturunan penyihir yang unggul, cukup banyak
orang yang sudah bisa menggunakan sihir sejak usia dini.
Jika aku yang sekarang memiliki bakat sebesar itu, tidak
aneh jika aku bisa menggunakan sihir sekuat tadi.
...Tapi tunggu dulu? Aku belum pernah mendengar ada
contoh orang yang bisa menggunakan sihir sehebat itu sesaat setelah lahir.
Orang-orang di sekitar yang sedang panik pun sepertinya
tidak menyadari kalau akulah pelakunya.
Lalu, jika diperhatikan lagi, ruangan ini terasa sangat
luas.
Perabotan yang ada di sini adalah barang-barang mewah
yang biasa kulihat di museum, dan ada beberapa wanita yang tampak seperti
pelayan.
Ruangan seperti ini tidak mungkin dimiliki oleh bangsawan
biasa.
Bangsawan tinggi, penguasa wilayah perbatasan, atau
mungkin seorang Duke...?
Saat sedang memikirkan hal itu, mataku tertuju pada
sebuah lambang dengan dekorasi yang megah.
Aku mengenali lambang itu.
Itu adalah lambang keluarga kerajaan Kerajaan Saloum,
tempat di mana aku tinggal dulu.
...Jangan-jangan, aku terlahir di tempat yang luar biasa
merepotkan?
Aku, yang dulunya hanyalah rakyat jelata biasa,
kehilangan nyawa dalam duel dan entah karena takdir apa, bereinkarnasi sebagai
anggota keluarga kerajaan.
Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum, Lloyd di Saloum. Itulah
nama baruku.
Sekarang aku sudah berusia sepuluh tahun, dan kurasa aku
sudah sangat terbiasa dengan kehidupan ini.
Omong-omong, jika membandingkan pemandangan, budaya, dan
suasananya, sepertinya aku bereinkarnasi ke tubuh ini tepat setelah aku mati.
Dulu saat aku masih di akademi, memang ada desas-desus
bahwa pangeran baru akan segera lahir.
Aku merasa sedikit bersalah, tapi apa mau dikata,
semuanya sudah terjadi.
Kakak-kakakku semuanya sudah dewasa, dan karena jarak
usia kami cukup jauh, aku hampir tidak memiliki kaitan dengan perebutan takhta.
Ditambah lagi, tubuhku kecil dan penampilanku biasa saja.
Aku juga sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada politik, jadi
sepertinya tidak ada yang berharap banyak padaku.
Namun, saat melihat kakak-kakakku belajar tata krama,
ilmu pengetahuan, dan bela diri dengan sangat ketat setiap hari demi menjadi
raja, aku merasa beruntung.
Berkat itu, aku bisa mempelajari sihir kesukaanku sepuas
hati.
Setiap hari aku bangun, mengurung diri di perpustakaan,
dan asyik membaca buku-buku sihir.
Koleksi bukunya sangat luar biasa, bahkan buku sihirnya
saja ada ratusan jumlahnya.
Mulai dari tingkat dasar hingga yang sangat spesifik, aku
telah membaca semuanya.
Mungkin berkat pemahaman dasar yang kuat di kehidupan
sebelumnya, aku bisa memahami buku-buku sihir yang sulit sekalipun.
Tentu saja aku juga bisa mempraktikkan sihirnya; saat ini
aku sedang menyusun berbagai formula untuk aplikasi sihir yang lebih luas.
Omong-omong, sihir yang membunuhku saat itu ternyata
hanyalah serangan kasar yang menggunakan katalis mahal. Sekarang kalau kulihat
lagi, sihir itu tidaklah seberapa. Agak mengecewakan.
Meskipun aku tidak menyembunyikan fakta bahwa aku
menyukai sihir, aku menyembunyikan kemampuanku—atau lebih tepatnya, daya hancur
yang bisa kuhasilkan.
Jika ketahuan aku bisa menggunakan sihir semacam itu,
urusannya pasti akan jadi sangat merepotkan, dan aku tidak akan bisa fokus
meneliti sihir lagi.
Aku juga akan pusing kalau sampai diberi ekspektasi
tinggi untuk urusan takhta.
Pangeran aneh yang penggila sihir; itulah penilaian
orang-orang di sekitarku yang seharusnya tetap bertahan.
"Tuan Lloyd! Anda di mana? Tuan Lloyddd!"
Suara seorang wanita memecah keheningan perpustakaan.
Meski aku menjalani hari-hari yang memuaskan, ada
beberapa hal yang merepotkan.
Salah satunya adalah pemilik suara itu, pelayan yang
ditugaskan sebagai pengasuhku, Sylpha.
Begitu Sylpha menemukanku, dia berlari mendekat,
berjongkok, lalu tersenyum lembut.
Rambut perak panjangnya tergerai jatuh, dan dia
menyisipkannya dengan jari.
"Sudah kuduga, Anda ada di perpustakaan lagi. Aduh,
terus-menerus membaca buku itu tidak baik untuk kesehatan Anda. Bagaimana kalau
pergi bermain di luar bersamaku?"
Senyuman itu memiliki aura tekanan yang tidak menerima
penolakan.
Bagi Sylpha, normalnya anak-anak itu berlarian dengan
ceria di luar rumah. Dia sering mencoba membawaku keluar karena merasa khawatir
melihatku terus mengurung diri di perpustakaan.
Sebenarnya ini sedikit mengganggu... tapi karena aku tahu
betul dia mengatakannya demi kebaikanku, aku jadi sulit menolaknya.
Aku menghela napas panjang, lalu menyerah dan menutup
bukuku.
"...Baiklah, Sylpha."
"Jangan memasang wajah sedih seperti itu. Buku bisa
dibaca kapan saja. Lihat, cuacanya sedang sangat bagus. Mari kita ke
luar."
Begitulah, dengan tangan yang ditarik oleh Sylpha, aku
pun melangkah menuju taman.
"Tuan Lloyd, hari ini mari kita bermain simulasi
pedang!"
"Eeeh, lagi?"
"Seorang lelaki setidaknya harus menguasai satu
jenis ilmu bela diri. Ayo, silakan pegang pedang kayunya."
Sylpha menyerahkan pedang kayu padaku, lalu dia sendiri
memasang kuda-kuda.
"Ayo, seranglah aku dari mana saja!"
Sylpha menyunggingkan senyum lebar.
Postur tubuhnya terlihat santai, namun memancarkan wibawa
yang luar biasa.
Wajar saja, ayah Sylpha adalah Komandan Ksatria yang
secara turun-temurun menjabat sebagai instruktur ilmu pedang bagi keluarga
kerajaan.
Sebagai putrinya, Sylpha memiliki kemampuan yang sangat
hebat. Aku pernah melihatnya merebut pedang seorang prajurit yang mengatainya
dan langsung menghunuskan ujung bilahnya ke leher lawan dalam sekejap mata.
Dia orang yang serius dan cantik, tapi kaku dan agak
menyeramkan. Itulah Sylpha.
Karena itulah, jika aku mencoba bermain-main, dia pasti
akan langsung menyadarinya. Aku harus melakukannya dengan serius.
Aku menggenggam kembali pedangku, lalu mengambil posisi
kuda-kuda seigan.
"……Aku datang, ya!"
Sylpha menggenggam pedang kayu dan langsung menerjang
lurus ke arahku.
Sambil menangkis ayunan pedangnya dengan ringan, aku
mengarahkan ujung pedang kayuku kembali ke arah Sylpha.
Sylpha menerima serangan itu, lalu melompat mundur untuk
menjaga jarak.
"Ya, bagus sekali, Tuan Lloyd."
Sylpha menyilangkan pedang denganku sambil menyunggingkan
senyum di sudut bibirnya.
Bagus, sepertinya aku berhasil mengecohnya dengan baik.
Saat pertama kali Sylpha mengajakku bermain pedang, aku
berakhir membuatnya menangis.
Penyebabnya adalah karena aku terlalu lemah.
Padahal waktu itu aku baru berusia sekitar tujuh tahun,
kurasa dia agak keterlaluan menuntut hal itu dariku. Namun menurut Sylpha,
kelemahanku saat itu terasa seperti aku sedang meremehkannya.
Padahal aku berniat melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Tapi yah, jujur saja, sejak kehidupanku yang sebelumnya pun aku memang payah
dalam urusan olahraga.
Sejak saat itu, pelatihan sparta dari Sylpha dimulai.
Setiap hari aku dipaksa menggenggam pedang kayu dan
melakukan tebasan berulang kali ke arah boneka kayu.
Bagi aku yang benci bergerak, itu benar-benar seperti
neraka.
Latihannya sudah benar-benar melewati batas
"bermain pedang", bahkan sampai ke tahap yang mengganggu waktu
membacaku setelahnya.
Karena itu, aku memutuskan untuk sedikit berbuat curang.
Dalam sihir, ada kategori yang digunakan untuk
memanipulasi dan mengendalikan benda-benda.
Itu adalah sihir sistem kontrol.
Jika menggunakan ini, aku bisa menggerakkan tubuhku
sendiri secara otomatis sesuai dengan program yang telah ditentukan.
Saat ini, aku sedang menjiplak gerakan Sylpha dan
mempresentasikannya melalui tubuhku sendiri.
Kang! Kang! Gakin!
Suara benturan pedang kayu bergema di sekitar.
"Aha! Luar biasa, Tuan Lloyd!"
Karena aku menjiplak gerakan Sylpha, tentu saja kami bisa
bertukar serangan dengan seimbang.
Selama aku tetap dalam posisi bertahan untuk memantau
situasi, beban pada tubuhku juga relatif kecil.
"……Fuu, kurasa cukup sampai di sini untuk hari
ini."
Setelah beberapa saat, Sylpha yang tampak puas menyeka
keringat di dahinya.
Fuu, akhirnya selesai juga.
Meskipun hanya digerakkan secara otomatis, tetap saja ini
cukup melelahkan. Tubuhku terasa agak berat.
Saat aku duduk beristirahat, Sylpha menatapku dengan mata
yang berbinar-binar.
"Kemampuan pedang Tuan Lloyd meningkat sangat pesat!
Dengan begini, hari di mana Anda bisa bertarung
seimbang denganku mungkin tidak akan lama lagi!"
"Ahaha……
B-begitukah……"
Mana
mungkin aku bisa bilang kalau aku hanya menjiplak teknik pedangnya.
Dia
sendiri pasti sedang menahan diri, tapi serangannya perlahan-lahan menjadi
lebih cepat dan kuat dibanding awal tadi.
Meskipun begitu, karena aku bisa mengimbanginya, dia
merasa aku menjadi jauh lebih kuat.
Padahal yang kulakukan dengan sihir sistem kontrol
hanyalah menyesuaikan diri dengan gerakan lawan.
……Yah, kurasa dia tidak akan tiba-tiba menebas dengan
serius, jadi kecuranganku dengan sihir ini tidak akan ketahuan untuk sementara
waktu.
Kalau ketahuan, barulah aku akan memikirkannya.
Lagipula, ada buku yang belum selesai kubaca, aku ingin
segera kembali ke perpustakaan.
"Kalau begitu, aku kembali ke perpustakaan dulu,
ya."
"Baik, terima kasih atas kerja kerasnya. ……Hmm, hmm, peningkatan yang luar biasa. Kelak Anda mungkin akan menjadi Komandan Ksatria atau Master
Pedang…… Fufu, aku menantikan masa depan Anda♪"
Sylpha
menggumamkan sesuatu yang terdengar mengerikan, tapi mungkin itu cuma
perasaanku saja.
Sylpha melepas kepergianku yang kembali ke perpustakaan
dengan senyuman.
"Hai Lloyd, apa yang sedang kau lakukan?"
Saat aku sedang menikmati waktu membaca seperti biasa,
terdengar suara pemuda yang menyegarkan.
Ketika aku menoleh, berdiri seorang pria tampan berambut
pirang dengan tubuh tinggi semampai.
Dia adalah kakakku yang terpaut sembilan tahun, Albert.
Pangeran kedua dari Kerajaan Saloum dan juga pewaris
takhta urutan kedua.
Namun, dia sangat ahli dalam bidang sastra maupun
militer, bahkan ada rumor yang menyebutnya sebagai calon raja berikutnya.
Melihatku sedang membaca buku sihir, Albert tersenyum
ramah.
"Kau sedang membaca buku sihir, ya. Boleh aku
bergabung?"
"Tentu saja tidak apa-apa, Albert-niisan."
"Terima kasih. Kalau begitu, aku permisi──"
Albert duduk di depanku dengan meja di antara kami.
Buku yang dibawanya adalah buku tentang politik.
Dia melirik tumpukan buku sihir di mejaku, lalu mulai
tenggelam dalam bacaannya sendiri.
Kakak-kakakku yang lain sepertinya tidak terlalu
mempedulikanku, tapi entah kenapa Albert sering memperhatikanku.
Mungkin dia memang orang yang baik secara alami.
Selain itu, berbeda dengan Sylpha, dia tidak
menyuruhku melakukan ini-itu, dan itu menyenangkan.
Aku mengalihkan pandanganku dari Albert kembali ke
buku, dan mulai tenggelam lagi dalam bacaan.
◇
Entah sudah berapa lama berlalu, terdengar suara
pelan saat Albert menutup bukunya.
"……Fuu, konsentrasi Lloyd memang hebat. Aku
menyerah. Kau benar-benar menyukai sihir, ya."
Saat Albert berdiri dan meregangkan tangannya,
terdengar suara tulang yang berderak.
Begitu dia memiringkan lehernya, suara berderak
kembali terdengar.
Melihat itu, aku tanpa sadar tertawa kecil.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Albert-niisan."
"Aku akan menggerakkan tubuh sedikit untuk
menyegarkan pikiran. Kau mau ikut, Lloyd?"
"Ke tempat latihan menembak!?"
"Ah, kau suka kan?"
"Iya!"
Aku langsung menjawab ajakan Albert.
Aku memang tidak suka menggerakkan tubuh, tapi ajakan
Albert berbeda.
Bukan karena urusan tingkat kesukaan atau semacamnya.
Sebagai pewaris yang sangat diharapkan, Albert memiliki
hak akses ke berbagai fasilitas, dan tempat latihan menembak yang akan kami
tuju sangat cocok untuk latihan sihir.
"Kalau begitu, mari berangkat."
Aku mengikuti Albert menuju lapangan luas di bagian
belakang kastil.
Setelah menyapa prajurit yang berjaga di gerbang masuk,
kami melangkah ke dalam, di mana hamparan rumput hijau membentang luas.
Inilah tempat latihan menembak. Singkatnya, tempat di
mana kita bisa melakukan latihan tembak sasaran dengan sihir.
Karena tempat ini juga digunakan untuk eksperimen sihir
berskala besar, anak-anak sepertiku tidak diizinkan masuk sendirian karena
berbahaya.
"Wah! Seberapa sering pun aku ke sini, tempat ini
tetap terasa luas ya."
Para penyihir istana juga terlihat sedang menerbangkan
bola sihir api atau air ke arah sasaran.
Sensasi saat menggunakan sihir berbeda bagi setiap orang.
Misalnya, bahkan saat melepaskan Fireball yang
sama, kelancaran aliran sihir dari seluruh tubuh ke satu titik, serta
kecepatannya, berbeda-beda bagi tiap individu.
Hanya dengan melihatnya saja sudah cukup menyenangkan
bagiku.
Melihatku yang tampak sangat tertarik pada para penyihir,
Albert tersenyum.
"Hahaha, Lloyd benar-benar menyukai sihir, ya."
"Iya, aku sangat suka."
"Melihatmu senang begitu tulus, rasanya tidak
sia-sia aku mengajakmu ke sini. Nah, bagaimana kalau kita juga mulai?"
"Siap!"
Albert mengangguk, lalu memerintahkan para prajurit untuk
menyiapkan sasaran.
Sasaran dengan berbagai ukuran yang ditandai dengan angka
satu sampai sembilan berjejer di tempat yang berjarak sekitar seratus meter.
Melihat orang lain memang menyenangkan, tapi tentu
saja melakukan sendiri adalah yang terbaik.
Karena jarang sekali ada kesempatan untuk menggunakan
sihir secara terang-terangan di dalam istana.
Sementara itu, pengaturan sasaran tampaknya sudah
selesai.
"Nah, Lloyd boleh mulai duluan."
"Baik."
Tembak sasaran adalah kompetisi sederhana yang tidak
butuh banyak penjelasan.
Dibagi menjadi giliran pertama dan kedua, masing-masing
melepaskan sepuluh bola sihir, dan yang paling banyak menjatuhkan sasaran
dengan angka besar adalah pemenangnya. Begitu saja.
Tentu saja, semakin besar angka sasarannya, ukurannya
semakin kecil dan lebih sulit dipukul.
Di depan sasaran, aku mengumpulkan kekuatan sihir di
ujung jariku dan menciptakan Fireball.
──Tentu saja, bukan yang biasa.
Ini adalah sihir modifikasi yang sedang kuteliti, yang
memasukkan gerakan rotasi.
Dengan mengutak-atik formula sihir yang menyusunnya dan
memberikan gaya putar pada inti bola sihir, aku tidak hanya bisa menembakkannya
lurus, tapi juga memungkinkannya berubah ke berbagai arah.
Tentu tanpa melakukan hal seperti itu pun, aku bisa
mengendalikan gerakannya secara manual untuk berpindah sesuka hati, tapi
mengenai sasaran dengan cara seperti itu tidak seru.
Mumpung ada kesempatan untuk bereksperimen, aku ingin
mencoba berbagai hal.
"──Pergi!"
Fireball yang dilepaskan terbang dengan
kecepatan tinggi sambil berputar, mengincar sasaran nomor sembilan yang
memiliki poin tertinggi.
Ngomong-ngomong, aku memberinya putaran samping yang
kuat. Seharusnya serangan ini akan melengkung ke kiri
sebelum mengenai sasaran.
Fireball itu
terbang sesuai rencanaku, menyerempet tepi sasaran dengan sangat tipis.
Karena sasarannya tidak jatuh, ini tidak dihitung sebagai
poin.
──Tapi, begini saja sudah cukup.
Kalau aku mengenai tepat di tengah, aku takut akan
terlalu menarik perhatian, jadi aku sengaja mengincar titik yang meskipun kena,
sasarannya tidak akan jatuh.
Secara perhitungan, tembakanku akan tepat sasaran jika
ditembakkan dengan jumlah rotasi, sudut, dan kecepatan peluncuran ini, tapi
pada kenyataannya, terkadang tidak terbang sesuai keinginan.
Eksperimen itu penting.
"Sayang sekali, Lloyd. Sekarang giliranku."
Kini Albert berdiri di depan sasaran menggantikanku.
Setelah berkonsentrasi, dia melepaskan Fireball
yang tercipta di tangannya.
Fireball yang
dua kali lebih besar dari milikku terbang lurus dan tepat mengenai tengah
sasaran yang gagal kujatuhkan tadi.
"Hebat sekali, Albert-niisan."
"Terima kasih. Nah, selanjutnya giliranmu,
Lloyd."
Kali ini aku berdiri di depan sasaran lagi.
Berikutnya, aku melepaskan Fireball dengan
tambahan putaran agar gerakannya menanjak dari bawah ke atas.
Fireball itu membentuk kurva sesuai keinginanku
dan menyerempet bagian atas sasaran.
Berikutnya, dan berikutnya lagi, Fireball itu
selalu membentuk lintasan sesuai pikiranku dan mengenai titik yang kuincar.
Hmm, hmm, memberikan gaya putar pada bola sihir untuk
mengubah gerakannya tidak buruk juga.
Dibandingkan mengendalikannya secara normal untuk
membelokkan arah, cara ini jauh lebih menghemat sihir, dan kecepatannya pun
tidak bisa dibandingkan.
Bisa dibilang eksperimen ini sukses.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, sayup-sayup
terdengar suara bisikan dari kejauhan.
"Tuan Albert memang luar biasa. Beliau berhasil
mengenai semuanya dengan sempurna."
"Dibandingkan beliau, Tuan Lloyd memang masih
anak-anak. Beliau terus mengincar sasaran berpoin tinggi tapi selalu meleset.
Padahal kalau mengincar yang sesuai kemampuannya saja sudah cukup."
Itu adalah perkataan dari para penyihir yang
memperhatikan kami.
Bagus, bagus, sepertinya aku berhasil mengecoh mereka
dengan baik.
"Astaga, apa kalian tidak bisa melihatnya?"
Tiba-tiba, Albert angkat bicara kepada para penyihir itu.
Ukh, jangan-jangan dia menyadari apa yang
kulakukan……?
Aku memasang telinga dengan jantung berdebar-debar.
"Meskipun hanya menyerempet, semua sihir yang
dilepaskan Lloyd mengenai sasaran. Terlebih lagi, itu adalah nomor sembilan
yang paling kecil. Selain itu, meski sedikit, Fireball itu bergerak
menuju sasaran. Sepertinya dia punya bakat dalam sihir sistem kontrol."
"Ooh! J-jadi begitu!"
"Kami sama sekali tidak menyadarinya……"
"Benar-benar payah penglihatan kalian."
……Fuu, sepertinya belum sepenuhnya ketahuan.
Ngomong-ngomong, aku sudah menguasai sihir sistem kontrol
sejak usia tujuh tahun.
Karena aku sering membaca buku jenis itu, dia pasti salah
paham mengira aku baru mulai menunjukkannya.
"Lloyd punya bakat sihir. Jika dia terus
mengembangkan bakatnya sejak kecil, kelak menjadi Penyihir Agung atau Sage
bukanlah mimpi. Jika aku menjalin hubungan baik dengannya mulai sekarang, dia
pasti akan menjadi kekuatan besar saat aku naik takhta nanti."
Albert bergumam sesuatu dengan suara pelan sambil
tersenyum.
Tidak terdengar jelas sih…… tapi ya sudahlah.
Sepertinya tidak ada hubungannya denganku juga.
"Lloyd de Saloum, memenuhi panggilan."
Suatu hari, aku dipanggil dan pergi ke ruang
singgasana.
Orang yang memanggilku adalah Raja Saloum, ayahku
sendiri, Charles de Saloum.
Pria tua bertubuh besar yang duduk di
singgasana──Charles menyambutku dengan senyum lebar.
"Oh,
kau datang, Lloyd. Sudah lama ya. Mungkin sekitar tiga tahun."
"Benar,
sejak ulang tahun ketujuh saya."
Karena
banyak anak yang meninggal akibat penyakit atau luka sebelum usia tujuh tahun,
ulang tahun itu memiliki makna yang istimewa.
Hanya
pada saat itulah Charles yang sibuk menyempatkan diri menemuiku.
Yah,
meskipun saat itu kata-kata yang kudapat adalah, "Karena kau adalah putra
ketujuh yang usianya terpaut jauh, kau tidak ada hubungannya dengan perebutan
takhta, lakukanlah apa pun yang kau suka tanpa beban."
Sebagai raja, dia pasti sangat sibuk. Aku hanya sesekali
melihatnya dari kejauhan saat dia berjalan di lorong.
Tapi kenapa dia memanggilku sekarang…… aku jadi gugup.
Kepada aku yang masih menundukkan kepala, Charles berkata
dengan nada bosan.
"Hmm, kalau dipikir-pikir, kau memang begini sejak
pertemuan terakhir. Terlalu
kaku atau mungkin tidak seperti anak-anak…… Kau boleh memeluk ayahmu yang sudah
lama tidak bertemu ini, lho?"
"……Anda bercanda. Saya tidak berani melakukan
hal lancang seperti itu."
"Hmm, ya sudahlah. Itu bukti kalau kau sudah
mempelajari tata krama dengan baik. Kemarilah, mendekat sedikit."
"Baik."
Setidaknya dia sepertinya sedang dalam suasana hati
yang baik, dan suasananya tidak seperti akan dimarahi.
Aku berdiri dan mendekat sesuai perintahnya.
Charles menatap wajahku dengan saksama, lalu mengangguk
pelan.
"……Ho, tatapan matamu sudah jadi lebih bagus
ya."
"Terima kasih banyak."
"Aku dengar dari Sylpha dan Albert, kau sedang
berjuang keras dalam ilmu pedang dan sihir, ya?"
"! T-tidak! Saya merasa tersanjung……!"
Mendengar perkataan Charles, aku buru-buru
menundukkan kepala.
"Kenapa harus merasa tersanjung! Sylpha, yang
melatih putra-putraku dalam ilmu pedang, menjamin bahwa bakat pedangmu adalah
yang terbaik di antara para pangeran sepanjang sejarah, dan kau akan menjadi
ksatria nomor satu di negeri ini! Albert, yang merupakan salah satu penyihir
terbaik di istana pun merasa cemburu pada bakatmu! Dia bilang, saat seusiamu
dulu, dia bahkan tidak bisa menerbangkan Fireball dengan benar,
sementara kau sudah bisa mengendalikannya dengan sempurna! Bisa membuat kedua
orang hebat itu bicara seperti itu, kau benar-benar luar biasa!"
Charles mengangguk-angguk dengan gembira sambil
bersedekap.
……Waduh, jadi mereka berdua bilang begitu ya.
Aku sudah berniat menyembunyikan kekuatanku dengan
caraku sendiri, tapi sepertinya itu masih kurang.
Memang berbahaya menggunakan sihir di dalam istana.
Kalau penilaian terhadapku terlalu tinggi, ada
kemungkinan aku terseret dalam persaingan takhta, dan itu pasti merepotkan.
Aku harus sedikit menahan diri. Tapi mengingat sifatku,
aku tidak bisa menghentikan penelitian sihir……
"Aku sangat berharap banyak padamu! Teruslah berjuang seperti
itu!"
"E-eto……
b-begitulah……"
Melihat
jawabanku yang tidak jelas, wajah Charles menjadi muram.
"……Tapi
Lloyd, meskipun kau sangat berbakat, sulit bagiku untuk memasukkanmu ke dalam
kandidat pewaris takhta sekarang. Karena pangeran-pangeran tingkat atas
termasuk Albert sudah menjalani pendidikan untuk hal itu. ……Jika kau berjuang
dengan pemikiran seperti itu, hatiku terasa berat. Karena
itulah aku memanggilmu ke sini untuk mengatakannya terlebih dahulu."
──Ah, jadi begitu alasannya.
Singkatnya, Charles salah paham mengira aku berjuang
keras demi hak waris takhta.
Tentu saja aku sama sekali tidak punya niat sedikit pun
untuk itu, jadi aku menghela napas lega.
"Mohon jangan dipikirkan, Ayahanda. Seperti yang
Anda katakan, saya hanya melakukan hal yang saya suka. Sejak awal saya tidak
punya ketertarikan pada hak waris takhta."
Mendengar kata-kataku, mata Charles membelalak.
Lalu dia menyipitkan matanya seolah-olah merasa sangat
terharu.
"──Umu, umu, kau tidak merasa sakit hati dengan
kata-kataku dan justru berkata begitu! Aku senang memiliki putra yang begitu
dewasa!"
Bahkan dia terlihat sedikit berkaca-kaca.
……Padahal itu benar-benar isi hatiku yang paling dalam.
Sambil melihat Charles yang terharu, aku menggaruk pipiku
yang tidak gatal.
"Tenanglah! Lloyd, kerja kerasmu itu pasti tidak
akan sia-sia! Jadi teruslah melangkah maju seperti itu!"
"I-iya……"
"Umu, kalau begitu kau boleh pergi."
Entah apa alasannya, tapi setidaknya aku lega karena
sepertinya gaya hidupku selama ini bisa dipertahankan.
Aku menghela napas lega sambil membalikkan badan
meninggalkan Charles.
"……Meskipun begitu, tidak tertarik pada takhta dan
hanya terus menumpuk usaha dengan sungguh-sungguh…… Baru usia sepuluh tahun
tapi sudah sehebat itu. Tidak, mungkin memang seharusnya begitulah sosok
seorang raja sejati. Sepertinya aku harus mempertimbangkan kembali mengenai
kandidat pewaris takhta."
Charles menggumamkan sesuatu, tapi tidak terdengar jelas.
Yah, mungkin soal politik lah. Maaf saja, aku tidak
tertarik.
Daripada itu, aku ingin segera pulang dan membaca
buku. Aku pun
melangkah cepat meninggalkan ruang singgasana.
"Nn~……
Sepertinya aku sudah mulai bosan dengan buku ini……"
Aku bergumam sambil membaca buku sihir yang terbuka.
Sudah berapa puluh kali aku membaca ulang buku ini?
Buku sihir ditulis dengan huruf yang mengandung
kekuatan sihir, dan dengan memahaminya, perwujudan sihir menjadi mungkin.
Jika hanya untuk itu, satu atau dua kali baca saja
sudah cukup, tapi dengan membaca berulang kali dan memperdalam pemahaman,
tingkat penguasaan sihir akan meningkat secara drastis.
Karena itu, penyihir akan membaca buku sihir
berkali-kali sampai mereka benar-benar memahaminya secara utuh.
Tapi aku sudah benar-benar memahami seluruh buku
sihir di perpustakaan, jadi keadaanku sekarang hanyalah seperti terus melakukan
peninjauan ulang saja.
Tentu saja peninjauan ulang itu penting. Sihir yang sudah
dihafal pun jika tidak digunakan akan terlupakan, dan jika itu terjadi, tingkat
penguasaannya akan merosot tajam.
Yah, meskipun aku menjalani hari-hari seperti itu, terus
mengulang hal yang sama memang membosankan.
Aku mulai menginginkan stimulasi baru.
"Hahaha, Lloyd selalu saja membaca buku sihir.
Sesekali bagaimana kalau baca buku yang lain?"
Kata Albert yang sedang membaca buku di depanku.
Aku menggelengkan kepala dan menjawab.
"Karena aku sudah membaca seluruh buku sihir yang
ada di perpustakaan ini."
"……Heh, kalau begitu bolehkah aku mengujimu?"
Albert menanyakan itu padaku dengan senyum jail di
wajahnya.
"Tanah,
Air, Api, Angin; ini disebut sebagai empat sistem sihir dasar. Nah, ada berapa
buku sihir yang berhubungan dengan hal itu di perpustakaan ini?"
"Yang
menjadikannya tema utama ada 145 buku. Kalau termasuk yang menjadikannya
sebagai sub-tema, ada 232 buku. Ah, tapi aku bingung apakah buku tentang Golem
dan semacamnya harus dimasukkan ke kategori mana…… Bagiku itu termasuk sistem
kontrol, tapi pembentukan tubuhnya sangat berkaitan erat dengan empat sistem
sihir dasar…… Bagaimana menurutmu, Albert-niisan?"
Saat
aku mengangkat pandangan, mata Albert sudah membelalak.
"Jangan-jangan……
kau benar-benar sudah membaca semuanya……?"
"Ah,
tidak…… maksudku aku juga belum terlalu memahaminya…… ahaha, sihir memang
sangat dalam ya."
Gawat,
hampir saja.
Kupikir
sudah sewajarnya membaca seluruh buku di perpustakaan, tapi melihat
keterkejutannya, sepertinya tidak begitu.
Tatapan
curiga Albert terasa menusuk.
"……Aku
tidak tahu harus ternganga atau merasa kagum…… Aku cuma mau tanya, apa kau
tidak punya ketertarikan pada hal lain selain buku sihir?"
"Maaf
sekali, tapi tidak."
"Hmm,
kurasa memang begitu……"
Memang
sudah sampai batasnya ya, hal-hal yang bisa kulakukan di istana.
Kalau
aku bersama Albert, sesekali aku bisa diajak ke tempat latihan menembak, tapi
tetap saja aku tidak bisa bergerak bebas.
Setidaknya
kalau ada buku sihir dengan level yang lebih tinggi……
"……Ngomong-ngomong,
kalau tidak salah ada gudang buku di bawah tanah kastil."
Telingaku
langsung bereaksi terhadap kata-kata yang diucapkan Albert secara spontan.
"Aku
dengar di perpustakaan bawah tanah banyak tersegel berbagai macam buku sihir
terlarang karena dianggap terlalu berbahaya. Di antaranya banyak terdapat buku
terlarang, bahkan kabarnya ada yang menyegel iblis yang dulu pernah membuat
negara ini hampir musnah."
──Buku
sihir terlarang adalah sejenis alat sihir yang mana kekuatan sihirnya
ditanamkan ke dalam buku itu sendiri, dan ciri khasnya adalah siapa pun yang
menggunakannya akan mendapatkan efeknya.
Hanya
saja pembuatannya membutuhkan pengetahuan sihir tingkat tinggi dan waktu yang
lama, sehingga nilai kelangkaannya tidak bisa dibandingkan dengan buku sihir
biasa.
Bahkan
yang menyegel sihir tingkat pemula pun jarang beredar di pasaran, dan karena di
istana hanya ada beberapa buku saja, aku pun belum pernah melihatnya secara
saksama.
Terutama
untuk buku yang menyimpan sihir yang sangat kuat, karena saking berbahayanya,
buku-buku tersebut dianggap sebagai Forbidden Book (Kitab Terlarang) dan
disimpan dengan pengawasan ketat oleh negara. Kudengar
benda-bahu itu hanya akan digunakan saat keadaan darurat saja.
Dulu, kabarnya sebuah Forbidden Book pernah
digunakan dalam sebuah perang besar.
Saat mantranya diucapkan, petir menyambar-nyambar turun
ke arah pasukan musuh dan menghancurkan mereka dalam sekejap mata.
Namun, sebagai gantinya, si pengguna sihir tersebut
mendadak bertambah tua lima puluh tahun akibat efek sampingnya.
Aku sama sekali tidak bisa membayangkan seperti apa rupa Forbidden
Book yang menyimpan sihir luar biasa hingga bisa menyegel seorang Majin
(Iblis).
Kira-kira seperti apa struktur formula sihir yang
terjalin di dalamnya, ya? Aku benar-benar penasaran.
"Dulu pengasuhku sering menakut-nakutiku.
Katanya, anak nakal akan dimakan oleh Majin yang tersegel di dalam Forbidden
Book…… begitu. Hahaha."
Kalau dipikir-pikir, aku memang merasakan adanya Barrier
(Penghalang) kuat yang tidak wajar di bawah tanah kastil ini.
Kupikir itu hanya tempat penyimpanan dokumen penting
negara jadi aku tidak terlalu tertarik, tapi kalau urusannya begini, ceritanya
jadi lain.
Tiba-tiba saja aku merasa sangat bersemangat.
"Albert-niisan,
bisakah Kakak menceritakan hal itu lebih detail lagi!?"
"Oi, oi, Lloyd. Matamu berbinar-binar begitu. Jangan-jangan
kau berniat masuk ke sana, ya?"
Meskipun sempat goyah karena langsung ditebak tepat
sasaran, aku tetap berusaha memasang wajah polos dan membalasnya dengan
senyuman.
"A-ada-ada
saja…… Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu, kan? Albert-niisan."
"Tapi
senyummu terlihat kaku, lho……"
"I-ini
memang wajah asliku dari dulu, kok? Aha, ahahaha……"
Aku
berusaha menjawab sebisa mungkin, tapi karena gugup, gerak-gerikku malah jadi
canggung.
Aku
memang payah kalau urusan akting.
Albert
menatapku lekat-lekat untuk beberapa saat, namun tak lama kemudian wajahnya
melunak.
"……Yah,
benar juga. Lagipula, ruang bawah tanah kastil itu dipasangi Barrier
yang dijalin oleh sepuluh penyihir istana sekaligus. Mustahil
bisa masuk tanpa ketahuan. Aku pun butuh izin kalau mau masuk ke sana."
"! Apa Albert-niisan pernah masuk ke sana?"
"Ya, tapi cuma sampai pintu masuknya saja. Atau
lebih tepatnya, aku tidak bisa masuk lebih jauh dari itu. Pusaran hawa sihir mengerikan
yang terpancar dari dalam…… mengingatnya saja sudah membuatku merinding. Aku
jadi percaya kalau cerita soal Forbidden Book yang menyegel Majin
itu memang nyata."
Albert menggigil hebat.
Itu bukan akting. Wajahnya tampak sedikit pucat.
Sepertinya ceritanya memang benar.
"Begitulah ceritanya. Lloyd, kau memang sedikit
aneh, tapi kau bukan anak yang suka nekat. Mana
mungkin kau akan pergi ke sana, kan……"
"Iya, mana mungkin aku pergi ke sana!"
Aku mengangguk mantap menjawab pertanyaan Albert.
Maka dari itu, malam harinya aku memutuskan untuk pergi
ke bawah tanah kastil.
Hatiku sedikit perih karena mengkhianati Albert yang
sudah memercayaiku, tapi urusan Forbidden Book jauh lebih penting.
Aku ingin melihatnya baik-baik, menyentuhnya, dan
mengamati struktur formula sihir seperti apa yang terjalin di sana.
Masuk sebentar, lihat sedikit, lalu langsung pulang. Harusnya tidak masalah, kan?
……Mungkin.
Tengah
malam, aku terbangun dari tempat tidur, berganti pakaian yang mudah digunakan
untuk bergerak, lalu keluar menuju koridor.
"Waduh,
aku harus menyembunyikan keberadaanku supaya tidak ketahuan."
Begitu aku bergumam dan memusatkan pikiran, pusaran udara
menyelimuti tubuhku.
──Sihir Sistem Angin, Hide.
Ini adalah sihir yang menciptakan lensa udara dengan
aliran angin, memanfaatkan pembiasan cahaya untuk membuat sosok diri sendiri
menjadi tidak terlihat.
Karena sihir ini menciptakan pergerakan angin yang tidak
wajar, penyihir ahli di sekitar mungkin akan menyadarinya, tapi kalau cuma
menghadapi para prajurit kastil, ini sudah lebih dari cukup.
Ngomong-ngomong, sihir Hide yang asli seharusnya
akan terlepas jika penggunanya bergerak, tapi milikku sudah kukendalikan agar
tetap mengikuti tubuhku selama aku bergerak perlahan.
Meskipun jika bergerak terlalu cepat akan terlihat
seperti bayangan sisa, tapi kalau hanya kecepatan berjalan biasa, tidak ada
masalah.
Di tengah jalan aku berpapasan dengan beberapa prajurit,
tapi sepertinya tidak ada yang menyadari keberadaanku.
Perjalanan berjalan lancar. Aku sampai di tangga menuju
bawah tanah dengan mudah.
Tidak ada penjaga di pintu masuk, jadi aku langsung
menuruni tangga.
Semakin aku menuruni tangga spiral yang tua itu, aku
merasakan sensasi seperti kulitku tertusuk-tusuk.
──Jadi ini ya, Barrier-nya.
Terasa semakin jelas saat aku mendekat.
Terlebih lagi, Barrier ini sepertinya tidak
dirancang untuk mencegah penyusup dari luar, melainkan dijalin agar sesuatu di
dalam tidak bisa menjebol keluar.
Sepertinya sudah pasti ada sesuatu yang gawat di dalam
sini.
Setelah sampai di ujung tangga, sekelilingku dikelilingi
oleh dinding batu, dan di depanku terdapat sebuah pintu kecil.
Inilah pusat dari Barrier tersebut. Saat aku
mencoba menyentuhnya, aku merasakan resistansi yang kuat.
Pertama-tama aku harus melepaskan Barrier ini
dulu.
Meski begitu, aku tidak bisa menghancurkannya dengan
paksa. Aku tidak boleh meninggalkan jejak penyusupan, kan.
Untuk saat ini, pilihan terbaik adalah mengendalikan Barrier-nya
dan melewatinya seolah-olah aku sudah mendapatkan izin akses.
"Sebelum itu, kurasa lebih baik aku memasang Barrier
juga."
Jika aku membentangkan satu lapis Barrier lagi
dari luar, aku bisa merasa tenang jika terjadi sesuatu di dalam.
Begitu aku memusatkan pikiran, kekuatan sihir
berbentuk seperti gelembung menyebar dengan aku sebagai pusatnya.
──Sihir
Sistem Air, Waterfall Canopy.
Selain
kemampuan Barrier sederhana, sihir ini khusus memiliki kemampuan untuk
meredam guncangan dan suara. Meskipun terjadi ledakan besar di
dalam sini, orang di luar tidak akan menyadarinya.
Setelah itu, aku memeriksa struktur Barrier
utamanya secara perlahan.
……Hmm, hmm, begitu ya. Ini adalah Barrier yang
sangat kokoh, tapi sepertinya bagi mereka yang memiliki darah bangsawan atau
orang yang diberi izin, mereka bisa mendapatkan akses lewat dengan relatif
mudah.
Ubah sistem kontrol Barrier-nya sedikit…… dan,
oke. Dengan begini aku bisa lewat tanpa masalah.
Sisanya tinggal membuka kunci fisiknya saja.
──Sihir Sistem Tanah. Aku memasukkan kunci yang
kubuat dengan Stone Replica lalu memutarnya, dan pintu itu terbuka
dengan mudah.
Begitu pintu terbuka, hawa asing berhembus dari dalam
ruangan.
Aliran kekuatan sihir dengan berbagai warna, suara,
dan bau…… ini luar biasa.
Sihir penghancur yang mencemari tanah…… lalu kutukan
terlarang evolusi yang menyilangkan spesies berbeda untuk menciptakan kehidupan
baru…… wah! Bahkan ada manipulasi wabah penyakit lewat sihir!
Luar biasa. Ini benar-benar gunung harta karun.
Tapi yang paling menarik perhatian adalah hawa yang
terpancar dari bagian dalam.
Jika harus dijelaskan dengan kata-kata, rasanya
seperti aroma bunga yang manis dan harum, namun bercampur dengan sensasi
sesuatu yang mengerikan yang sedang melambai mengajakku mendekat.
Mungkin
inilah Forbidden Book yang dibicarakan Albert.
Nah,
harus bagaimana ya…… selagi aku berpikir begitu, kakiku seolah terpancing oleh
hawa dari Forbidden Book itu dan tanpa sadar melangkah menuju bagian
dalam ruangan.
Ooh, ini sihir Sistem Kontrol, ya? Daya paksanya kuat
sekali.
Sepertinya mereka menjalin formula sihir tipe
pembatasan gerak lawan dengan cara membuat mereka menghirup aroma ini.
Mungkin Majin yang itu yang sedang
menggunakannya.
Jika orang yang tidak tahu apa-apa masuk ke ruangan
ini, mereka pasti akan berjalan terhuyung-huyung seperti tersedot untuk
melepaskan segel Forbidden Book itu.
Wajar saja jika mereka memasang Barrier yang
sangat ketat.
Tentu saja, aku tidak akan menjadi seperti itu.
Cara menghadapi sihir Sistem Kontrol itu mudah.
Meskipun kendali tubuh sempat diambil alih, cukup tenang dan timpa saja dengan
kendaliku sendiri, maka sihirnya akan terlepas.
Maka dari itu, begitu aku merapal sihir Sistem
Kontrol pada diriku sendiri, tubuhku kembali bebas.
Dengan tubuh yang sudah bebas, aku melangkah lebih
dalam lagi ke dalam perpustakaan.
"──Oi, oi, oi, oi. Apa kau sudah gila? Bocah?"
Terdengar suara yang berat dan bergema.
Kulihat di bagian terdalam ruangan, di atas sebuah
buku yang hitam pekat, terdapat sesuatu yang tampak seperti kabut.
Bentuknya menyerupai manusia, dan sepasang mata merahnya
bersinar terang menatapku tajam.
"Bisa lolos dari kendaliku dan malah berjalan
mendekat begini. Kau ini pemberani sekali, atau cuma bodoh…… ah, aku lupa
memperkenalkan diri. Namaku adalah Majin Grimoire. Salam kenal,
ya."
Kabut hitam itu──Majin Grimoire──menatapku sambil
tertawa riang.
"Heh, aku terkejut. Bukannya kau disegel di dalam
buku?"
"Kukuku……
ribuan tahun telah berlalu, dan segelnya mulai retak. Itulah sebabnya sebagian
kecil tubuhku bisa keluar."
Kalau
kulihat, memang benar buku yang diduduki oleh Grimoire itu sudah
compang-camping.
Segel
yang terjalin di buku itu sudah rusak parah, tidak heran jika sewaktu-waktu
bisa kehilangan fungsinya.
"Hei
bocah, siapa namamu?"
"Lloyd."
"Hmm,
begini Lloyd. Dalam beberapa tahun lagi aku akan menghancurkan segel ini dan
bangkit kembali dalam wujud sempurna ke dunia luar. Jika itu terjadi, aku
berniat memusnahkan seluruh negeri ini. Karena para penyihir negeri inilah yang
menyegelku. Aku punya hak untuk melakukannya. ……Tapi Lloyd, jika kau mau
menuruti perkataanku sekarang, aku mungkin bisa mengampuni nyawamu saja."
Sambil berkata begitu, Grimoire menyeringai dan
menunjuk ke arah bukunya dengan jari.
"Maukah kau menghancurkan segel benda ini
untukku?"
"Kenapa? Apa yang kau ragukan? Toh segel ini akan hancur sendiri dalam beberapa tahun lagi. Jika kau
juga seorang penyihir, kau pasti tahu hanya dengan melihatnya, kan? Daripada
aku membunuh semuanya nanti, bukankah lebih baik kau menghancurkannya sekarang
dan aku akan menjamin nyawamu saja? Bukan tawaran yang buruk, kan?"
Grimoire menatapku sambil menyeringai licik.
Apa dia benar-benar mengira aku akan setuju?
Jawabanku, tentu saja, sudah jelas.
"Aku
menolak."
"A……
apa!?"
Aku melanjutkan kata-kataku pada Grimoire yang terkejut.
"Mana mungkin aku membiarkan orang jahat yang
berniat menghancurkan negara berkeliaran bebas. Biar aku yang memperbaiki
segelnya. Supaya tidak hancur untuk seribu tahun lagi."
"T-t-t-t-tunggu sebentar!"
Grimoire buru-buru menghentikanku saat aku hendak
menyentuh buku itu.
"……Aku yang salah. Karena sudah lama tidak bicara
dengan manusia, aku jadi terlalu bersemangat. Maaf, aku minta maaf. Aku mohon.
Kalau dipikir-pikir, yang menyegelku kan manusia dari ratusan tahun yang lalu,
aku tidak punya dendam pada orang-orang di negara ini sekarang. Tentu saja aku
tidak akan membunuh mereka!"
Aku menatap lekat-lekat Grimoire yang bicara dengan wajah
serius itu.
"Benarkah?"
"Iya, jadi begini, kalau kau melepaskan segelnya,
aku akan mengabulkan permintaanmu apa pun itu! Benar, Lloyd, aku akan membuatmu
menjadi orang kaya raya! Aku bisa menciptakan emas!"
Sambil berkata begitu, Grimoire membuka tangannya, dan
butiran emas berjatuhan dari sana.
Heh, ini sihir Sistem Kreasi, ya.
"Bagaimana? Aku akan memberimu sebanyak apa pun
yang kau mau, Lloyd?"
Aku mengambil sebutir emas itu, mengangguk pelan,
lalu menghancurkannya dengan jari.
"Apa!?"
"……Sihir Kreasi ini levelnya tidak bisa dibilang
tinggi ya. Apa kau memaksa sebongkah batu menjadi emas? Kemurniannya
terlalu rendah, dan isinya kopong. Dengan ini, kau bahkan tidak bisa menipu
pedagang pemula."
Lagipula, menciptakan emas dengan sihir itu dilarang.
Lagi pula, aku ini pangeran jadi aku tidak kekurangan uang.
"Mu,
gugu…… k-kalau begitu, keabadian! Aku akan membuatmu menjadi abadi!"
"Maaf, tapi aku tidak suka jika ada formula sihir
orang lain yang diterapkan pada tubuhku. Terutama menjalin formula sihir sekuat
keabadian ke dalam tubuh manusia, siapa yang tahu risiko apa yang akan
muncul."
Sihir itu tidak mahakuasa.
Sihir level rendah mungkin bisa diatasi hanya dengan
konsumsi kekuatan sihir, tapi sihir level tinggi akan memberikan beban pada
pengguna maupun targetnya.
Hal seperti keabadian, meskipun formulanya dijalin dengan
sangat baik, pasti akan membawa risiko yang sangat berat.
Misalnya kelumpuhan saraf yang parah, atau cacat fisik.
Aku tidak bisa menerima formula sihir seperti itu begitu
saja.
Sepertinya tebakanku tepat sasaran, karena wajah Grimoire
tampak masam.
"……Sepertinya aku harus menyegelmu kembali. Kau
terlihat berbahaya."
"T-tunggu! Tunggu dulu! Aku mohon! Aku sama sekali
tidak berbahaya! Aku ini Majin yang baik! Aku disegel hanya karena
melakukan sedikit kenakalan saja, kok!"
"Hmm, tapi kau bisa saja berbohong. Memang sebaiknya disegel……"
Tepat saat aku hendak menyentuh buku itu.
"K-kalau begitu, bagaimana dengan sihir……!"
Si Majin bergumam pelan.
"Sihir kuno dari ratusan tahun yang lalu! Jika
kau seorang penyihir, kau pasti tertarik, kan? Aku akan mengajarkannya padamu!
Bagaimana! Lloyd!"
Setelah berpikir sejenak, aku mengangguk.
"──Menarik."
Tak perlu dikatakan lagi, aku memang sangat menyukai
sihir.
Sihir kuno, ya. Menurut legenda, aku pernah dengar
ada sihir yang bisa mengguncang bumi, menyebabkan banjir, bahkan membelah
lautan.
Kira-kira sehebat apa wujud aslinya? Aku benar-benar
ingin melihatnya.
Mendengar kata-kataku, ekspresi Grimoire seketika
menjadi cerah.
"Kan! Benar kan! Tentu saja, bagi seorang
penyihir, sihir yang tidak diketahui itu adalah sesuatu yang sangat
diinginkan!"
"Ya, apa kau benar-benar akan mengajarinya
padaku?"
"Tentu saja! Jadi, Lloyd, lepaskan segel terkutuk
ini!"
"──Baiklah."
Aku menyentuh buku itu dan membuka halamannya.
Karena segelnya memang sudah retak, buku yang terbuka
dengan mudah itu mulai membolak-balik halamannya dengan kecepatan luar biasa.
Dari ujungnya, halaman-halaman itu mulai menghitam
seperti arang dan hancur berkeping-keping.
Serpihan buku beterbangan di udara. Kemudian angin
berhembus, melenyapkan semuanya.
Segelnya telah terlepas sepenuhnya.
"──Ku."
Suara tertahan bergema di dalam ruangan.
"Khahahaha! Luar biasa! Dia benar-benar
melepaskan segelnya!"
Kabut hitam itu terkumpul di satu titik, membentuk
sosok yang semakin menyerupai manusia.
Kulit biru dengan dua tanduk di dahi, sayap seperti
kelelawar dengan ekor seperti naga, tubuh bagian atas yang perkasa, dan tubuh
bagian bawah seperti kambing…… wujud yang bukan manusia ini memang pantas
disebut Majin.
"Rasanya luar biasa! Aku merasa ingin bernyanyi!
Bebas! Akhirnya aku bebas! Hyahahaha!"
Aku menyapa Grimoire yang sedang tertawa
terbahak-bahak dengan gembira.
"Syukurlah
kalau begitu. ……Jadi, bisa kita mulai sekarang?"
"Nn,
ah. Kau ingin aku mengajarimu soal sihir kuno, kan?"
Grimoire menyeringai, lalu mulai mengumpulkan kekuatan
sihir di tangan kanannya.
Wah, kekuatan sihir yang luar biasa. Kalau cuma soal
jumlah kekuatan sihir, manusia tidak ada tandingannya.
Benar-benar sosok seorang Majin. Saat aku
sedang merasa kagum, Grimoire mengarahkan tangan kanannya ke arahku.
Seketika, pandanganku menjadi gelap gulita.
Doooooooooooon!
Ledakan besar terjadi, dan debu tanah membumbung tinggi.
"──Inilah
Black Flash Cannon. Bagaimana? Lumayan juga kekuatannya, kan…… yah, aku
tidak tahu apa kau masih bisa mendengarku atau tidak, sih."
Terdengar
suara tawa kecil. ──Tentu saja, aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku
menciptakan angin untuk meniup debu tanah yang beterbangan.
Begitu
melihat sosokku, Grimoire menunjukkan ekspresi terkejut yang luar biasa.
"A……
apa!?"
"……Hmm, sihir yang lumayan menarik. Jadi itu ya,
sihir kuno."
Formula sihir yang aneh. Aliran sihir, struktur, cara
pembentukan, dan metode aktivasinya unik, tidak seperti yang digunakan di zaman
sekarang. ……Sangat menarik.
"Bisa tunjukkan sedikit lagi?"
Begitu aku bertanya, entah kenapa Grimoire menelan ludah.
"K-kau menerima Black Flash Cannon milikku
tanpa luka sedikit pun……?"
"Iya, aku bisa memasang Mana Barrier kok,
jadi jangan dipikirkan. Ayo tunjukkan lagi lebih banyak."
Aku membalas perkataan Grimoire yang masih terkejut.
Lagipula, untuk sihir tipe serangan, memang banyak hal
yang tidak akan diketahui jika tidak merasakannya secara langsung. Hmm, hmm.
Grimoire pasti mengerti hal itu, makanya dia tiba-tiba
melepaskannya ke arahku.
Aku sedikit terkejut, tapi kalau dipikir-pikir, aku
selalu menyiagakan beberapa lapis Mana Barrier, dan sudah kukendalikan
agar aktif secara otomatis jika menerima guncangan di atas tingkat tertentu.
Dia pasti sudah menyadari hal itu. Hebat juga Majin
ini, dia sangat mengerti.
Kerja bagus, Grimoire.
"Gu,
gugu…… j-jangan bercanda……! Ini adalah sihir yang kupelajari selama
lima tahun latihan……!"
Tapi entah kenapa Grimoire malah gemetar sambil
menggertakkan gigi.
Kira-kira kenapa, ya?
"Hei Grimoire, apa yang kau lakukan? Cepat lakukan
yang berikutnya."
Saat aku mendesaknya, Grimoire mengacak-acak rambutnya
dengan kasar.
Lalu dia menatapku dengan penuh kebencian.
……Apa aku melakukan kesalahan?
"Cih……
ah sial, baiklah! Kalau kau berkata sampai sejauh itu, akan kutunjukkan!
Sihir terkuatku!"
Grimoire meninggikan suaranya, lalu mengarahkan tangan
kanannya yang terbuka ke depanku.
Kulihat ada satu garis di telapak tangannya, yang tampak
menggeliat-geliat.
Lalu, garis itu terbuka. Yang muncul dari dalamnya adalah
lidah merah dan gigi tajam──alias sebuah mulut.
"Double Chant──"
Begitu dia bergumam, Grimoire mulai merapalkan mantra
sihir dengan dua mulut sekaligus.
Wah, ternyata seorang Majin bisa melakukan hal
seperti itu.
""Warnailah dengan hitam, hitam, hitam, tusuk
dan cungkillah, wahai bilahku──""
Sambil menunggu rapalan mantranya selesai dengan penuh
semangat, tubuh Grimoire mulai bersinar terang.
"──Mati
kauuuuuuuuu!! Spiral Black Flash Cannon!"
Gooo, aliran kekuatan sihir berhembus
kencang.
Tubuhku terdorong sedikit ke belakang oleh tekanannya.
Gelombang sihir hitam ganda yang dilepaskan membentuk
spiral dan menerjang ke arahku.
Gelombang sihir itu menghantam Mana Barrier
yang aktif secara otomatis dan menimbulkan guncangan yang sangat hebat.
"Gu, gguguu……! Tembuslah, kauuuuuuuuu……!"
Grimoire tampak sangat mengerahkan tenaga.
Sepertinya karena itu output kekuatannya meningkat
sedikit demi sedikit.
Tentu saja Mana Barrier milikku tidak tergores
sedikit pun, tapi fakta bahwa kekuatannya bisa meningkat karena semangat itu
menarik sekali.
Omong-omong……
apa tadi namanya, Spiral sesuatu? Dia sengaja mengendalikannya agar
membentuk spiral, ya.
Apa ada maknanya? Padahal terlihat seperti gelombang
sihir biasa…… hmm, sulit mengetahuinya jika lewat Mana Barrier.
Mari coba sentuh langsung. Aku mengeluarkan jari dari
Mana Barrier dan menyentuh gelombang sihir itu dengan lembut.
Bachin! Terdengar suara letupan dan
gelombang kejut berhembus kencang.
"Hah-hah-hah! Kau menerima Spiral Black Flash Cannon milikku dengan
tubuh telanjang!? Selesai sudah kau! Meledaklahhhhh!"
Sementara
Grimoire meraung-raung entah apa, gelombang sihir itu tertahan di ujung jariku.
Aku menghentikan gelombang sihirnya untuk mengamati
strukturnya.
……Hmm, hmm, ternyata bentuk spiral maupun warna
hitamnya tidak memiliki makna khusus, ya.
Meskipun begitu, kekuatannya meningkat karena apa yang
disebut sebagai "kekuatan perasaan".
Sering terjadi di mana sifat sihir berubah karena luapan
emosi seperti kemarahan atau keyakinan yang kuat.
Meskipun begitu, hal itu tidak selalu berdampak baik,
terkadang malah menimbulkan efek samping.
Karena itulah sejak suatu masa hal itu tidak lagi
dianjurkan…… tapi mungkin sihir kuno justru berevolusi ke arah tersebut.
Menarik juga bahwa hal itu bisa menghasilkan kekuatan
sebesar ini.
"Ups, waktunya habis ya."
Karena kuhentikan, pasokan kekuatan sihir dari
penggunanya terputus, dan gelombang sihir itu pun lenyap.
Yah, pengamatannya sudah cukup. Lagipula strukturnya
tidak terlalu rumit.
Di balik gelombang sihir yang lenyap, Grimoire
menunjukkan ekspresi ternganga.
"M-mustahil……
itu adalah sihir dengan kekuatan maksimal milikku……? Kau tahu
berapa puluh tahun aku berusaha keras untuk bisa menggunakannya…… tapi kau
melakukannya dengan mudah……!?"
Grimoire menatapku dengan wajah terkejut.
"Begitu ya, aku benar-benar bisa merasakan hasil
dari berbagai percobaan dan latihanmu pada sihir tadi."
"……Cih! Tentu saja, itu adalah hasil dari usaha yang
sampai berdarah-darah!"
"──Iya, pasti sangat menyenangkan
melakukannya."
Latihan sihir itu adalah hal yang sangat menyenangkan.
Pasti Majin pun merasakan hal yang sama.
Ternyata manusia dan Majin memang sama dalam hal
itu. Hmm, hmm.
"Menyenang……!? K-kau ini bodoh ya!?"
Kenapa dia terkejut begitu?
Apa aku baru saja mengatakan hal yang aneh?
"Sial! Beraninya kau mempermainkanku! Kali ini
pasti……!"
Grimoire mulai merapalkan sihir yang sama sekali lagi.
Hmm, kalau yang sama aku tidak perlu melihatnya dua kali.
Lagipula levelnya tidak bisa dibilang terlalu tinggi.
Mungkin sihir kuno memang bukan sesuatu yang memiliki
daya serang tinggi.
"Ah,
soal serangannya aku sudah mengerti. Tunjukkan yang lain dong."
"Yang
lain…… katamu……?"
"Iya,
apa saja boleh…… benar juga, misalnya sihir pertahanan. Ah, mungkin akan lebih
jelas kalau aku yang menyerang."
Sambil
berkata begitu, aku mengarahkan tangan kananku dan mengumpulkan kekuatan sihir.
Mari
coba mulai dari sihir tingkat atas yang biasa saja.
"──Flame
Burst Fireball."
Aku
mengumpulkan api yang sangat besar di ujung jariku dan melepaskannya ke arah
Grimoire.
"Nuwaaaaaaaaaa!?"
Api itu
mengenainya, dan Grimoire berteriak histeris.
Lho?
Kenapa dia tidak bertahan menggunakan Mana Barrier?
"Oi
Grimoire. Kau tidak apa-apa?"
Saat
aku buru-buru memanggilnya, sebuah bayangan bergoyang di dalam kobaran api.
Kulihat
tubuh Grimoire tidak mengalami luka bakar sedikit pun.
"Ku,
kuku…… kau mengejutkanku…… tapi kau tidak akan bisa mengalahkan aku yang
seorang Majin dengan sihir! Sayang sekali, ya!"
"Eh,
benarkah begitu!?"
"Tentu
saja. Kalau sihir suci yang digunakan para pendeta, aku mungkin akan menerima
sedikit damage. Tapi bagi penyihir biasa, tidak ada cara untuk
mengalahkanku! Sayang sekali ya, Lloyd, saat kau membangkitkan aku, kau sudah
kalah telak…… Buakh!"
Kali ini aku menghantamnya dengan Waterfall Burst.
Meski terkena hantaman air yang menderu seperti air
terjun, Grimoire memang terlihat tidak menerima luka sedikit pun.
"D-dengarkan dulu perkataanku…… kubilang itu percuma……
Gafuakh!?"
"Luar biasa. Ternyata benar-benar tidak mempan,
ya."
Aku bergumam sambil melepaskan Earthquake Boulder.
Meski tubuhnya terhimpit batu raksasa, Grimoire
tampak baik-baik saja.
Ini benar-benar kejutan. Ternyata Majin memang
kebal terhadap sihir!
Kira-kira sampai sejauh mana kekebalannya? Aku ingin
tahu, aku ingin mencobanya.
"O-oi, tunggu dulu, kau. Kenapa
matamu jadi berbinar-binar begitu!?"
"Aku akan terus menyerang!"
Untuk saat ini, mari coba gunakan sihir yang levelnya
sedikit lebih tinggi.
Mumpung ada kesempatan, aku harus mencoba yang lain
selain tipe serangan. Racun mungkin juga bagus.
Aku terus menghujaninya dengan berbagai sihir yang
terpikirkan, tapi tubuh Grimoire hanya mengeluarkan asap saja.
"Ooh! Hebat sekali, Grimoire! Benar-benar tidak
mempan! Bagaimana kalau yang ini?"
"Tu-tunggu, tunggu sebentar! Sudah…… kubilang hentikan! Oi,
keparattttt!"
Aku
terus menghujani Grimoire dengan segala jenis sihir yang bisa kupikirkan.
◇
"Maafkan
saya sebesaaaaaar-besarnya!"
Di
depanku, Grimoire menempelkan kedua tangannya ke tanah.
"Oi, oi. Ada apa tiba-tiba? Sampai melakukan dogeza
segala."
"Ampuni saya, Tuan Lloyd! Saya
tidak akan berbuat nakal lagi! Jadi, ya!? Aku mohon!"
Grimoire memohon sambil meneteskan air mata.
Padahal aku baru menghantamnya dengan sihir beberapa
ratus kali saja…… aku tidak mengerti.
"Ya sudah, ayo cepat lanjut lagi. Aku ingin tahu
lebih banyak soal sihir kuno."
"Hieee!? T-tunggu sebentar! Tubuhku sudah tidak
kuat lagi!"
"Eh, benarkah? Padahal aku masih belum puas sama
sekali……"
Mendengar perkataanku, wajah Grimoire entah kenapa
menjadi pucat pasi. Dia mundur dengan cepat dan bersujud sampai-sampai
kepalanya seolah tertanam ke tanah.
"Grimoire ini bersumpah akan melayani Tuan Lloyd
dengan sepenuh hati! Jadi familiar atau apa pun boleh! Jadi tolong!
Ampuni saya!"
"Familiar, ya……"
Aku tidak terlalu mengerti, tapi kalau dia sampai memohon
begitu, kurasa cukup sampai di sini saja untuk hari ini.
Kalau dia jadi familiar-ku, aku bisa melakukan
eksperimen sihir kapan pun aku mau.
……Hmm, tidak buruk.
Aku tersenyum lebar dan mengulurkan tangan ke arah
Grimoire.
"Baiklah, kalau begitu mau membuat kontrak
denganku?"
"Siap!"
Grimoire langsung memegang tanganku yang terulur.
Cahaya menyilaukan menyelimuti kami, dan kontrak pun
selesai.
"……Sial, memikirkan aku yang agung ini menjadi familiar
manusia sungguh sebuah penghinaan…… tapi kemampuan bocah ini benar-benar tidak
masuk akal. Setelah mendapatkan kepercayaannya, aku akan menghasut dan
memanfaatkannya dengan licik. Dengan begitu, menguasai dunia dari balik layar
pun bukan hal mustahil. Kuhihi, aku hanya perlu bersabar sampai saat itu
tiba……!"
"Hmm? Kau menggumamkan sesuatu?"
"T-tidak, bukan apa-apa! Bukan apa-apa sama sekali,
Tuan Lloyd!"
Grimoire tampak panik.
Orang ini sepertinya agak tidak stabil emosinya…… ya
sudahlah.
Bagaimanapun, dengan begini, Grimoire resmi menjadi familiar-ku.
"Waduh, fajar hampir menyingsing. Sebaiknya aku
membereskan tempat ini sebelum pulang."
Perpustakaan bawah tanah ini agak berantakan karena
aku habis bermain dengan Grimoire.
Karena aku sudah memasang Barrier sebelumnya,
hampir tidak ada kerusakan fisik, tapi rak buku dan perabotan sedikit
berantakan.
"Perlu saya bantu, Tuan Lloyd?"
"Tidak
perlu sampai begitu. ……Hup."
Begitu
aku merapalkan formula sihir, buku-buku dan alat sihir yang berserakan melayang
dan kembali ke tempat asalnya.
Ini
adalah formula orisinal yang kususun sendiri.
Sihir
ini menelusuri memori benda itu sendiri, memberinya kekuatan, dan membuatnya
kembali ke posisi semula secara otomatis.
Efeknya
berlaku untuk semua benda padat, bahkan debu sekalipun. Buku
Grimoire yang sempat kuhancurkan pun kembali seperti semula.
……Meskipun hanya penampakan luarnya saja, sih.
"Ooh, ini sihir yang luar biasa!"
"Ini belum bisa disebut sebagai sihir, sih. Tapi
memang berguna untuk mencari barang atau beres-beres."
Ngomong-ngomong, sesuatu yang dijalin dari energi sihir
disebut formula, dan kumpulan formula yang menghasilkan efek tertentu di atas
level tertentu disebut sihir.
Hal sepele seperti ini belum pantas disebut sihir.
"Ngomong-ngomong Grimoire, wujudmu itu mencolok
sekali. Apa kau tidak bisa mengecil atau menghilang?"
"Bukannya tidak bisa, tapi……"
Grimoire bicara dengan ragu.
Sihir pengubah wujud memang levelnya cukup tinggi.
Selain itu, karena sulit digunakan, hanya penyihir
tertentu yang bisa memakainya. Wajar saja jika dia tidak bisa.
"Kalau begitu, tinggallah di dalam tubuhku.
Pinjamkan tangan kananmu."
Saat aku mengulurkan tangan kanan, Grimoire menunjukkan
ekspresi tidak percaya.
"Ha……? A-apa boleh?"
"Supaya tidak mencolok, kan?"
Grimoire tampak bimbang, namun dia memalingkan wajah
dariku dan menyeringai licik.
"……Kuhihi, bocah ini benar-benar gila. Menampung
familiar di dalam tubuh sendiri, jika tidak ada hubungan kepercayaan
yang sangat kuat, itu sama saja dengan bersiap dibunuh kapan saja. Apa dia
tidak tahu hal dasar seperti itu? Dasar anak manja. Kalau dia memberiku satu
tangan, membunuh tubuh aslinya itu mudah! Akan kubunuh dia saat sedang tidur
dan aku akan mengambil alih tubuhnya……!"
"Oi, kau menggumam apa lagi. Cepatlah."
"Siap! Saya datang!"
Grimoire menjawab dengan penuh semangat, lalu berubah
menjadi kabut hitam dan masuk ke tangan kananku.
"A-apa-apaan ini!? Densitas energi sihir di
dalam tubuhnya tidak normal! Kalau
isinya sepenuh ini, tidak ada ruang bagiku untuk…… m-masuk……! Tangan kanan,
tidak mungkin. Kalau begitu setidaknya dari pergelangan tangan ke atas…… Guh,
tidak bisa! Satu ujung jari pun, tidak bisa masuk……! Uwoooooooo!"
Setelah
raungan itu, sebuah garis muncul di telapak tanganku, dan sebuah mulut terbuka
lebar.
Grimoire tampak terengah-engah.
"Hah…… hah…… c-cuma lapisan kulit telapak tangan saja sudah batas
maksimal……! Densitas energi sihir macam apa ini……!"
Meski
dia menggumamkan sesuatu, sepertinya dia sudah berhasil masuk dengan selamat.
"Oh,
mulut itu jangan-jangan yang kau gunakan saat melakukan Double Chant
tadi?"
"I-iya,
benar sekali! Karena saya tahu Tuan Lloyd tertarik pada Double Chant. Tentu
saja karena tubuh ini milik Tuan Lloyd, Anda bisa menggerakkannya sesuka
hati."
"Benarkah?
Itu terdengar menarik."
Double
Chant, ya.
Tergantung cara pakainya, sepertinya banyak hal yang bisa dilakukan.
Hmm, aku jadi bersemangat. Nanti akan segera kucoba.
"Mengambil
alih tubuh memang mustahil, tapi…… kalau aku menjilat padanya begini, dia pasti
akan lengah suatu saat nanti. Tenang, tidak perlu buru-buru…… aku akan
melakukannya perlahan. Kuhihihihi."
"Hmm,
kau bilang sesuatu, Grimoire?"
"T-tidak
ada apa-apa! O-oh iya Tuan Lloyd, panggil saja saya Grim!"
"Begitu
ya. Mohon bantuannya ya, Grim."
"S-siap!
Saya akan bekerja sampai titik darah penghabisan demi Tuan Lloyd!"
Sambil mengobrol begitu, pembersihan ruangan selesai.
Aku keluar dari perpustakaan, kembali ke kamar, dan langsung tidur.
◇



Post a Comment