Keesokan harinya, aku pergi ke atap kastil.
"Tuan Lloyd, untuk apa kita pergi ke tempat seperti
ini?"
"Aku
ingin segera mencoba Double Chant."
Karena
sekarang jam istirahat siang, para prajurit penjaga juga sedang pergi
beristirahat sehingga tidak ada orang.
Tentu
saja Barrier sudah kupasang.
Waktunya
singkat, tapi sekarang aku bisa melakukan eksperimen sihir sepuas hati.
"Nah,
bisa bantu aku, Grim? Pertama, mari coba sinkronisasi mantra. Apa kau bisa
merapal mantra Flame Burst Fireball?"
"Tentu saja!"
Semua sihir memiliki mantra.
Hanya saja, kebanyakan penyihir melakukan No-Chant
atau penyederhanaan dengan cara yang sesuai bagi mereka masing-masing.
Sihir level rendah hampir tidak membutuhkan mantra maupun
energi sihir yang banyak, tapi untuk sihir level tinggi, formula saja tidak
cukup untuk menopangnya, sehingga rapalan mantra tetap diperlukan.
Itu
akan dilepaskan secara bersamaan dengan Double Chant.
Kira-kira
efek seperti apa yang akan tercipta…… mendebarkannya.
"Ayo
mulai, Grim."
"Siap!"
Bersamaan
dengan perkataanku, mulut Grim di tangan kananku terbuka.
Sekali lagi, aku memulai rapalan mantra sihir.
"■──"
"Gyaakh!?"
Tiba-tiba, Grim menjerit.
"A-a-apa-apaan tadi itu!?"
"Eh? Aku cuma merapal mantra……"
"Tadi itu!? Saya mendengar mantra dalam jumlah yang
tidak masuk akal secara bersamaan!?"
"Oh, itu Chant Bundle. Aku memasukkan seratus
mantra dalam satu ikatan di setiap satu tarikan napas."
Simbol ■ yang kuucapkan tadi adalah ikatannya.
Kupikir seorang Majin pasti bisa melakukan hal
semacam ini……
"Tidak, itu mustahil! Saya memang tahu soal Chant
Bundle, tapi paling banyak cuma bisa mengikat dua atau tiga saja! Untuk
mengikuti kecepatan rapalan itu, setidaknya harus sihir level rendah…… misalnya Fireball, kalau tidak, mustahil!"
"Fireball kan tidak butuh mantra?"
"I-iya……
tapi bagi saya tetap butuh……"
Aku
terkejut. Sihir level rendah seperti Fireball pun butuh mantra, ya.
Mungkin
budaya sihir kuno memang sangat mementingkan rapalan mantra.
Di sisi
lain, aku menyusun formula yang dikhususkan untuk pemendekan mantra, jadi aku
malah tidak bisa merapal mantra untuk sihir level rendah.
Yah, kalau begitu mau bagaimana lagi.
"Berarti aku harus melakukannya sendiri."
"Sen……! Maksudnya Anda akan melakukan rapalan untuk
dua orang sendirian!?"
"Iya, pertama-tama mari tes apakah aku bisa bicara
normal dengan mulut yang ini…… Tes, tes, hmm. Bisa."
Aku mencoba mengeluarkan suara dari mulut di tangan.
Rasanya aneh, tapi tidak sulit.
Kalau begini, aku bisa melakukan Double Chant
sendirian.
"Sebaiknya aku pasang Barrier untuk
jaga-jaga. Mari kita mulai sekali lagi…… ■■■──"
Aku melakukan Double Chant untuk dua sihir tingkat
atas, Flame Burst Fireball dan Waterfall Burst.
Titik koordinat yang kutentukan di angkasa tepat sasaran,
dan sihirnya aktif dengan akurat──
──Tapi, apa-apaan ini. Aku merasakan gejolak energi sihir
yang luar biasa.
Kalau diteruskan, Barrier-ku tidak akan kuat!
Begitu aku memastikannya, aku memutus suplai energi sihir dan memaksanya
meledak.
Seketika itu juga, dua sihir yang bercampur itu meletus.
Doooooooooooon!
Ledakan besar terjadi, dan Barrier-ku lenyap. Awan di
sekitarnya pun tersapu bersih.
"G-gila, kekuatan macam apa itu……!"
"Ah,
ini benar-benar hebat ya."
Inilah Double
Chant. Padahal aku berniat menahan kekuatannya, tapi ternyata masih sanggup
menembus Barrier-ku.
Bagaimana jadinya kalau aku menembakkannya dengan
kekuatan penuh.
"Suara apa itu! Terdengar ledakan hebat di atas
kastil!"
"Jangan-jangan
ada naga yang muncul!?"
"Lari,
cepat!"
Terdengar
suara para prajurit penjaga dari lantai bawah.
Gawat,
kalau ketahuan aku bisa dimarahi.
Aku
melompat turun dari atap dan berlari kembali ke kamarku.
Sesampainya
di kamar, aku berbaring di tempat tidur.
Pikiranku
dipenuhi oleh Double Chant yang baru saja kucoba.
"Begitu
ya, jika mengaktifkan sihir dengan dua mantra yang berbeda, hasilnya bukan
sekadar 1+1 menjadi 2, tapi menjadi sesuatu yang benar-benar baru……"
Baik Flame
Burst Fireball maupun Waterfall Burst tidak memiliki elemen yang
bisa memicu ledakan cahaya seperti tadi.
Mungkin
karena mantranya saling tumpang tindih, fenomena baru tercipta.
Aku pernah membaca cerita seperti itu di buku istana.
Meskipun itu bukan dilakukan sendirian, melainkan oleh dua orang.
Lagipula, reaksi apa yang akan muncul jika digabung
dengan sihir lain? Aku ingin mencoba berbagai macam hal.
"Hei Grim, apa kau bisa membuat ruangan di dimensi
lain dengan sihir distorsi ruang?"
"Mana mungkin saya bisa melakukan hal itu! Lagipula apa itu, saya belum
pernah mendengarnya!"
Sepertinya
sulit, ya.
Sihir
sistem ruang bahkan bagi aku memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, aku hanya
bisa menggunakan satu atau dua saja.
Mengendalikan ruang raksasa yang cukup untuk
eksperimen sihir memang mustahil.
"Hmm, aku butuh tempat eksperimen……"
Aku tidak bisa menggunakan tempat latihan menembak,
dan keamanan di atap juga pasti akan diperketat setelah kejadian tadi.
"Kenapa
tidak melakukannya di luar kastil saja?"
"Luar
kastil, ya…… Memang benar di luar kastil ada daratan luas yang membentang. Itu
tempat yang cocok untuk uji coba. Tapi kalau ketahuan keluar kastil tanpa izin,
aku pasti akan sangat dimarahi."
Meskipun pangeran ketujuh, aku tetaplah seorang pangeran.
Meski dikatakan bebas melakukan apa saja, tindakan
seenaknya sendiri sampai sejauh itu tidak diizinkan.
"Hehe, tinggal menyelinap keluar saja. Toh tidak
akan ada yang tahu."
"Kalau cuma menyelinap mungkin bisa, tapi kalau
harus pergi dalam waktu lama tanpa ketahuan, itu mustahil."
Masalah terbesarnya adalah Sylpha yang menjabat sebagai
pengawal sekaligus pengasuhku.
Setiap hari dia mengajakku bermain pedang, dan di mana
pun aku bersembunyi untuk membaca buku, dia pasti akan menemukanku dengan
mudah.
……Eh, tunggu dulu. Kalau dipikir-pikir, sekarang ada Grim,
dan jika aku menggunakan benda itu, mungkin aku bisa mengecohnya untuk
waktu singkat.
"……Ada sesuatu yang ingin kucoba. Mau menemaniku, Grim?"
"Tentu saja!"
Sesuatu yang ingin kucoba adalah membuat pengganti dengan
sihir.
Aku merentangkan tanganku di depan cermin sambil melihat
sosokku sendiri, lalu mengumpulkan kekuatan sihir di depanku.
Sebuah benih kecil tercipta di tengah, lalu benih itu
bertunas dan akarnya merambat naik ke udara.
Akar-akar itu perlahan mulai membentuk rupa manusia.
"Ooh……
apa-apaan itu……?"
"Sihir
Sistem Pohon, Wood Replica."
Skill Replica
yang ada pada sistem tertentu adalah sihir untuk membentuk kayu atau batu
menjadi berbagai macam benda dengan kekuatan sihir.
Terutama
Replica dari sistem pohon, karena ia menumbuhkan pohon untuk dibentuk,
ia memiliki elastisitas dan kekerasan yang pas, memungkinkan pembuatan bentuk
yang mendetail.
Dalam
sekejap, sebuah boneka kayu dengan wujud yang persis denganku telah selesai.
"Saya
belum pernah melihat Replica seindah ini. Benar-benar
mengejutkan. Ini mirip sekali dengan Tuan Lloyd."
"Karena aku memang membuatnya supaya
mirip."
Kemiripannya bukan hanya pada penampilan luar.
Dengan menambahkan sistem tanah, aku menjadikan batu
sebagai tulang, lumpur sebagai daging, resin sebagai kulit, serta akar yang
merambat ke seluruh tubuh sebagai saraf, dan mengalirkan kekuatan sihir
layaknya aliran darah sebagai penggerak. Tentu saja ia bisa digerakkan.
Karena terbuat dari tanah dan kayu, ia memang cukup
rapuh, tapi tergantung jumlah energi sihir yang dialirkan, ia bisa beraktivitas
selama beberapa hari.
"Secara penampilan memang tidak ada masalah, tapi
mengendalikannya benar-benar merepotkan……"
Menggerakkan benda ciptaan agar menyerupai manusia itu
butuh konsentrasi tinggi.
Mustahil bagiku untuk pergi keluar melakukan eksperimen
sihir sambil mengendalikan boneka pengganti ini.
"Itu kan sama saja dengan mengendalikan dua tubuh
sekaligus. Bukan kemampuan manusia biasa itu."
"Iya, makanya aku ingin meminta bantuan Grim untuk
mengendalikannya."
"Apa──!?"
Aku melanjutkan perkataanku kepada Grim yang tampak
ternganga.
"Struktur Grim itu berada di antara wujud fisik
dan roh, kan? Kalau begitu, bukankah kau bisa membiarkan wujud fisikmu di
tangan kananku, lalu memindahkan rohmu ke dalam boneka ini?"
"Kalau cuma itu sih, perkara mudah……"
"Urusan menjawab percakapan biar aku yang tangani,
jadi aman. Grim cukup menggerakkan tubuhnya sesuai situasi saja."
Mendengar permintaanku, Grim entah kenapa tampak gelisah.
"……E-eto, apa tidak apa-apa? Belum tentu saya bisa
bersikap sesuai keinginan Tuan Lloyd, lho?"
"Kan aku yang meminta, jadi tidak apa-apa, kan? Cepatlah masuk ke dalam
sini."
"Heh……
kalau begitu……"
Karena
aku mendesaknya, Grim masuk ke dalam tubuh boneka itu dengan ragu.
Mata
boneka itu terbuka, dan Grim mulai menggerakkan tangan dan kaki untuk
memastikan fungsinya.
Hmm,
sepertinya tidak ada masalah.
Setelah berdiri dan memutar lehernya, Grim memunggungi
aku dan menyeringai.
"……Guhihi, tidak bisa dipercaya. Aku sudah
mendapatkan kebebasan seperti ini…… apa dia begitu memercayaiku? Selagi dia
pergi sendirian ke luar, kalau aku bisa memanfaatkan orang-orang di sekitarnya
dengan baik……"
"Grim."
"H-hei, i-iya!"
Begitu aku memanggilnya, Grim tampak terkejut sampai
bahunya gemetar.
Entah kenapa dia menoleh ke arahku dengan
takut-takut, dan aku tersenyum ramah padanya.
"Aku mengandalkanmu, ya."
Mendengar itu, Grim menatapku lekat-lekat dengan
wajah bodoh.
"? Ada apa?"
"T-tidak, bukan apa-apa!"
Dia melambaikan tangannya dengan panik sambil membuang
muka dariku.
"……Wajah itu, apa dia sedang merencanakan sesuatu……?
Ha!? Begitu ya, dia sedang mengujiku! Dia
berpura-pura membiarkanku bebas, tapi kalau aku menunjukkan tanda-tanda
pengkhianatan, dia pasti akan membunuhku! Kuku, untung aku sadar. Sihir bocah
ini benar-benar tidak terduga. Bukan hal aneh kalau dia sudah menyiapkan
formula semacam itu……! Kalau begitu, bertindak gegabah sekarang bukanlah
pilihan bijak. Pertama-tama aku harus fokus mendapatkan kepercayaannya,
ya……"
Dan dia mulai menggumamkan sesuatu lagi.
Kira-kira ada apa dengannya?
"Ada apa Grim, kau tidak apa-apa?"
"T-tidak ada apa-apa! Pokoknya, Grim ini akan
bekerja sampai titik darah penghabisan demi Tuan Lloyd! Hehe,
hehehehehe……"
Melihat Grim yang tertawa canggung, aku memiringkan
kepala.
Dia orang yang banyak bicara sendiri, ya.
Mungkin dia sedang stres secara mental karena tidak
terbiasa hidup di dunia manusia.
Dengan menggunakan Hide, aku menyelinap keluar
dari kastil, lalu menggunakan sihir sistem angin lainnya, Fly, untuk
sampai ke wilayah tandus yang jauh dari kota.
Sejauh mata memandang hanya ada tanah gersang, tidak ada
kota maupun manusia di sekitar.
Hmm, di sini sepertinya aku bisa melakukan eksperimen
sihir sepuas hati.
Waduh, sebelumnya aku harus menghubungi Grim dulu.
Aku menempelkan jari ke pelipis, memejamkan mata, dan
memusatkan pikiran.
"Grim, kau dengar?"
"Iya Tuan Lloyd, saya dengar. Sekarang saya sedang
membaca buku di perpustakaan. Tadi sempat berpapasan dengan
beberapa orang, tapi sepertinya tidak ada yang curiga."
"Begitu ya. Kalau Sylpha datang, beri tahu aku
ya."
"Siap laksanakan!"
Sepertinya urusan Grim tidak ada masalah.
Kalau begini aku bisa fokus pada eksperimen untuk
sementara waktu.
"Kalau dipikir-pikir, mungkin ini pertama kalinya
aku menggunakan sihir dengan kekuatan penuh."
Sejak aku menghancurkan kamar dengan Fireball saat
baru lahir, aku menahan diri untuk tidak menggunakan sihir tipe serangan karena
terlalu berbahaya.
Aku hanya menguasai teorinya lewat buku sihir, lalu
mencoba menembakkannya dengan menahan kekuatan setelah memasang Barrier.
Bagaimana jadinya jika aku menembakkannya dengan kekuatan
penuh, aku merasa takut sekaligus tidak sabar……
Sambil merasa waswas, aku menciptakan mulut di telapak
tangan dan memulai Double Chant.
""■■■, ■, ■■""
Mantra yang kurapal dalam ikatan adalah sihir sistem api
tingkat tertinggi, Scorching Flame Fang, dan sihir sistem tanah tingkat
tertinggi, Vibrating Rock Fang.
Bersamaan dengan rapalan mantra, energi sihir terkumpul
dan aku melepaskannya saat sudah hampir meledak.
Zuzun! Gempa bumi berguncang, dan tanah
menyembul naik dengan hebat.
Bersamaan dengan itu, api menyembur keluar.
Bukan sekadar batu biasa, melainkan bongkahan lahar
yang merah membara.
Panasnya, mari jauhkan sedikit.
Saat aku mengarahkan koordinatnya ke depan, lahar itu
tumpah dan membakar tanah gersang.
Gunung batu yang tersentuh lahar itu mencair sambil
mengeluarkan asap putih, dan peluru lahar yang jatuh ke tanah menciptakan tiang
api.
Ini……
kekuatannya jauh lebih gila dari dugaanku.
Area
seluas dua ratus meter di depan berubah menjadi lautan api.
Padahal
sihir tingkat atas saja biasanya jangkauan efeknya tidak sampai sepuluh meter……
inilah kekuatan Double Chant.
"Tapi
penggabungan api dan tanah menghasilkan lahar, ya. Sesuai bayanganku. Kalau
begini, kombinasi lainnya mungkin juga…… Pokoknya, mari coba berbagai macam
kombinasi lagi."
Aku
terus mencoba menembakkan sihir Double Chant sampai puas.
Bongkahan
es menembus tanah, kilat menyambar di langit, dan angin puyuh mengamuk.
Sambil
melihat suara penghancuran yang dahsyat dan gelombang kejut yang menderu-deru,
aku mengangguk pelan.
"Begitu
ya. Ternyata sihir Double Chant memang menjadi wujud penggabungan dari
dua sihir dasarnya."
Sihir itu sangat dipengaruhi oleh imajinasi.
Jika itu Fireball, sihir tidak akan aktif jika
tidak membayangkan bola api dengan kuat. Begitu pula dengan Waterball
untuk bola air, dan Earthball untuk bola tanah.
Untuk sihir tingkat atas, imajinasi saja tidak cukup,
sehingga perlu diperkuat dengan rapalan mantra, formula sihir, maupun
penggunaan katalis.
Karena itu, Double Chant akan aktif sesuai
imajinasi penggabungan dua sihir dasarnya.
Misalnya api dan tanah menjadi lahar, air dan tanah
menjadi es, api dan angin menjadi petir, angin dan tanah menjadi pasir……
begitulah kira-kira.
Yah, ini sudah masuk dalam dugaanku, atau sebenarnya aku
sudah tahu soal kombinasi-kombinasi ini dari buku.
Meskipun
jarang terlihat, Double Chant sendiri sudah ada sejak dulu.
Karena
orang yang memiliki kemampuan seperti Grim, atau dua orang penyihir yang
kompak, bisa melakukannya.
Tadi itu hanya untuk memastikan apa yang akan terjadi
jika dipraktikkan langsung.
Dibanding itu, ada kombinasi lain yang ingin kucoba.
Pertama yang ini, sihir sistem ilusi, Copy Appearance.
Ini adalah sihir untuk menutupi tubuh dengan lapisan
energi sihir dan mengubah wujud menjadi orang lain.
Ini adalah sihir di mana imajinasi sangat krusial,
kabarnya kita tidak bisa berubah jika bukan menjadi sosok yang sangat kita
kenal, tapi bagaimana jika sihir ini diaktifkan dengan Double Chant?
Jika semuanya berjalan sesuai dugaanku…… aku pun mencoba melakukan Double
Chant untuk Copy Appearance.
Bersamaan
dengan aktivasinya, tubuhku diselimuti oleh cahaya.
"……E-eto,
cermin, cermin…… nah. Wah, lumayan juga."
Yang
terpantul di cermin adalah sosokku yang sedikit lebih tinggi, warna rambut yang
sedikit lebih pudar, dan menjadi sosok pemuda yang cukup tampan.
Ya, aku
melakukan Double Chant pada Copy Appearance, di mana satu sisi
membayangkan diriku, dan sisi lainnya membayangkan Albert.
Imajinasi
sosokku dan Albert bercampur, sehingga penampilanku menjadi tepat berada di
tengah-tengah kami berdua.
Dengan
wujud ini, seandainya ada orang luar yang melihatku pun, identitas asliku tidak
akan ketahuan.
Selain itu aku juga tidak akan merepotkan Albert.
Lagipula tadi aku habis menembakkan sihir tingkat atas
bertubi-tubi, mungkin saja ada orang yang mendekat.
Sebaiknya aku pindah tempat saja.
Bagaimanapun, di depanku sekarang adalah pemandangan
bekas badai penghancuran yang dahsyat.
Kalau aku berada di dekat tempat seperti ini, akan sulit
untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kalau sudah diputuskan……"
Dengan Fly, aku meninggalkan tempat itu.
Aku terbang di antara celah gunung-gunung batu, hingga
sampai di tempat yang cukup jauh dari lokasi tadi.
"Hmm, itu……"
Saat aku melihat ke bawah, kulihat ada seseorang yang
sedang bertarung.
Sepertinya sekelompok monster dan manusia sedang
bertarung.
Ooh, aku belum pernah melihat monster secara
langsung.
Baiklah, aku akan bersembunyi dan mengamatinya.
Aku turun di balik bayangan gunung batu, lalu
mengintip jalannya pertarungan dari sana.
Yang bertarung melawan monster adalah seorang gadis
muda.
Rambut hitamnya yang berkilau diikat di kedua sisi,
digelung membentuk konde lalu dibiarkan terurai panjang.
Mungkin itu yang disebut pakaian bela diri, bajunya
terlihat mudah untuk bergerak dengan bagian dada yang terbuka sejuk, dan di
punggungnya terukir huruf 'Bela Diri'.
Gadis itu mempermainkan monster dengan langkah kaki
yang ringan, sambil bertarung hanya menggunakan tangan kosong.
"Itu mungkin seorang Adventurer."
Adventurer adalah semacam pekerja serabutan, golongan
orang yang berburu monster atau mengumpulkan bahan demi mencari uang.
Mereka dibagi menjadi beberapa kelas berdasarkan
kekuatannya, kalau tidak salah dari peringkat E sampai A.
Jujur saja aku tidak terlalu tertarik, jadi aku tidak
terlalu tahu.
Gadis itu dikelilingi oleh sosok bertubuh besar
dengan wajah babi.
Kalau tidak salah itu Orc, ya. Aku pernah melihatnya di
ensiklopedia monster di istana.
"Seyaaa!"
Begitu gadis itu melayangkan serangan telapak tangan
dengan penuh semangat, Orc itu terpental.
Orc yang tumbang itu mengeluarkan busa dari mulutnya dan
mengalami kejang-kejang.
Jika dilihat baik-baik, di sekelilingnya sudah banyak Orc
yang tergeletak kalah.
Seingatku Orc tertulis sebagai monster yang cukup kuat.
Bisa mengalahkan sebanyak itu sendirian…… anak itu
lumayan hebat juga.
Gadis itu menatap tajam para Orc yang tampak gentar.
"Pugigi!", "Pugii! Pugii!"
Para Orc itu menjerit ketakutan dan langsung melarikan
diri.
Ah, padahal aku masih ingin menonton lebih lama lagi...
Sayang sekali.
"Siapa yang ada di sana?!"
Saat aku sedang melamunkan hal itu, gadis itu tiba-tiba
berseru.
Apa dia menyadariku? Begitu pikirku sembari memunculkan
wajah, dan benar saja, pandangan gadis itu tertuju tepat ke arahku.
Padahal jarak kami cukup jauh, tapi dia bisa
merasakannya... Kabarnya ahli bela diri bisa merasakan hawa keberadaan orang
lain dari kejauhan, jadi kurasa sebaiknya aku menyerah dan keluar saja.
Aku mengangkat kedua tangan, menunjukkan bahwa aku tidak
punya niat memusuhi, lalu melangkah keluar dari balik bayangan batu.
"......Anu, halo. Aku bukan orang mencurigakan,
kok."
"...!?"
Gadis yang melihatku itu sesaat membelalakkan matanya
karena terkejut.
Jangan-jangan kami saling kenal? Tidak, tidak mungkin. Sosok ini kan baru saja kubuat sekarang.
Setelah keheningan yang cukup lama, gadis itu
bergumam pelan.
"......Siapa kau? Kamu itu."
Nama, ya. Kalau dipikir-pikir, aku belum menyiapkan satu
pun.
"Anu...... namaku Ro...... bert. Aku seorang
petualang, tapi aku terpisah dari teman-temanku......"
Akan merepotkan kalau dia terlalu mencurigaiku, jadi aku
memutuskan untuk mengaku sebagai petualang saja.
Mendengar perkataanku, gadis itu berpikir sejenak sebelum
menjawab.
"Aku Tao. Peringkat petualanganku B, dan Job-ku
seperti yang kau lihat, seorang Martial Artist."
"Begitu ya, Tao-san sendirian saja?"
"Aku hanya tidak punya hobi bergaul dengan
orang-orang lemah, itu saja."
Gadis yang memperkenalkan diri sebagai Tao itu menjawab
pertanyaanku dengan nada bosan.
Sepertinya tidak baik berinteraksi terlalu lama
dengan orang yang tidak dikenal.
Waktuku juga tidak selamanya ada.
Kurasa sebaiknya aku segera pergi saja.
Aku pun diam-diam membalikkan badan dari hadapan Tao.
"Ah—kalau begitu, aku permisi dulu......"
"Tunggu dulu!"
Bahuku dicengkeram dengan kuat.
Aduh, aduh, tenaganya kuat sekali.
"Ini adalah padang gurun berbahaya tempat monster
muncul. Kau kelihatan lemah, bisa-bisa kau dimakan sebelum sampai ke kota. Aku
juga mau pulang sekarang, jadi akan kuantar sampai ke kota."
"Tidak, tidak perlu, aku ini juga petualang. Aku bisa bertarung sendirian, jadi aku tidak apa-apa."
"Tidak boleh. Kalau aku mengabaikanmu di sini,
itu akan merusak harga diriku sebagai wanita."
Tatapan matanya yang tajam seolah tidak menerima
bantahan.
Tekanan ini entah kenapa mengingatkanku pada Sylpha.
......Kurasa tidak baik juga menolak kebaikan orang lain
mentah-mentah.
Lagi pula, ini kesempatan bagus untuk mengamati
pertarungan antara petualang dan monster dari dekat.
"Baiklah kalau begitu. Mohon bantuannya."
"Sip, serahkan padaku!"
Melihatku menghela napas, Tao menampakkan senyum lebar.
Lalu dia membalikkan punggungnya dan mulai berjalan.
"(Gilaaaa! Ganteng banget! Tipeku banget, nih!
Kalau aku memberinya budi di sini, aku bisa mengharapkan ucapan terima kasih
sambil kabe-don...... Fuhi, fuhihihihi......)"
......Ada apa, ya. Aku merasa dia sedang memasang
wajah yang sangat jahat.
Yah, sudahlah. Kalau terjadi sesuatu, aku tinggal
lari kencang saja.
Dibawa oleh Tao, aku pun menuju kota dalam keadaan
setengah dipaksa.
"Fun♪ Fufufufuun♪ Fufuun, funfuun♪"
"Tao-san, sepertinya suasana hatimu sedang bagus,
ya."
"Panggil Tao saja. Aku juga akan memanggilmu Robert.
Lagipula sesama petualang tidak perlu bahasa formal."
Tao menjawab sambil bersenandung.
Entah kenapa, apa mungkin seseorang bisa bersikap sebaik
dan seceria ini kepada orang yang baru pertama kali ditemuinya?
Biasanya sesama orang asing akan saling waspada,
tapi......
Ah, apa karena penampilanku? Karena aku menggunakan Copy
Form dalam kondisi biasa, aku masih mengenakan pakaian bangsawan.
Mungkin Tao mengira aku ini anak manja dari keluarga
bangsawan, dan berencana mendapatkan banyak imbalan setelah menolongku.
Akan tidak lucu kalau dia menyimpan dendam padaku
nantinya, jadi sebaiknya aku peringatkan sekarang.
"Anu, Tao? Sekadar informasi, aku tidak punya
uang, lho?"
"Itu tidak masalah. Aku tidak berniat mengambil
uang dari Robert, kok."
Tao hanya memiringkan kepalanya menanggapi perkataanku.
Hmm, apa benar dia tidak mengincar uang?
Lagi pula, sejak tadi wajah Tao terus-menerus
terlihat berseri-seri.
"(Fuhihi, uang atau kekuatan itu tidak penting.
Yang aku mau adalah pacar tampan! Terlahir sebagai putri dojo, sejak kecil aku
hanya menghabiskan waktu dengan bela diri tanpa sempat punya pacar satu pun.
Dan saat usiaku mencapai delapan belas tahun, aku kabur dari dojo demi mencari
pasangan dan menjadi petualang. Tapi para pria tampan hanya mengincar wanita
lemah seperti Priest atau Mage, dan tidak melirik orang sepertiku sama sekali.
Kalau begitu, aku tinggal membalik cara berpikirku. Jika mereka tidak datang,
maka aku yang harus mendatangi mereka......! Dengan kata lain, menyelamatkan
pria tampan yang sedang dalam bahaya dan membuatnya jatuh cinta
padaku—begitulah strateginya! Jika aku melindungi Robert dari
serangan monster dan menunjukkan sisi kerenku, aku pasti bisa mendapatkan pacar
tampan impianku! Kesempatan ini tidak boleh kulewatkan. Fuhi,
fuhihihihi......)"
......Wajahnya benar-benar licik. Licik, tapi dia
memikirkan hal yang bodoh.
Maksudku, dia bergumam sendiri begitu, agak menyeramkan.
Dia benar-benar sudah masuk ke dunianya sendiri.
Saat aku sedang merasa ilfeel, tiba-tiba mata Tao terbuka
lebar.
"Robert, ada monster!"
Tao melompat dengan merentangkan kaki dan tangannya,
lalu merendahkan posisinya.
Apa itu yang disebut kuda-kuda bela diri?
Posisinya seolah-olah binatang buas yang siap
menerkam kapan saja.
Sambil mempertahankan posisi itu, Tao memelototi
sekelilingnya.
"Hiat!"
Bersamaan dengan teriakan singkatnya, sebuah batu di
bawah kaki Tao melayang ke udara.
Seketika, tubuh Tao berputar dengan kecepatan tinggi
bagaikan angin puting beliung.
Pletak! Dengan suara yang tajam, batu itu
terbang jauh ke kejauhan dan melesat masuk ke balik bayangan batu.
"Gyat!"
Terdengar jeritan. Lalu suara sesuatu yang terjatuh.
"Sip, kena."
Tao melakukan pose kemenangan kecil.
Segera setelah itu, sekelompok sosok kecil muncul dari
balik bayangan batu.
Tubuh berwarna tanah dengan perawakan seperti kerdil.
Tanduk kecil dengan mata merah besar yang menyeramkan.
Di tangan mereka tergenggam gada kayu hingga pisau
berkarat.
Kalau tidak salah, itu Goblin, ya?
Seingatku itu adalah monster kelas terlemah.
Namun, itu adalah penilaian untuk individu; dalam buku
tertulis bahwa mereka bisa sangat berbahaya jika berkelompok.
"Muncul juga kalian, para setan kecil. Sini, maju
kalian!"
Hanya dalam satu langkah, Tao menerjang ke tengah-tengah
para Goblin dan melepaskan tendangan terbang yang kuat.
Goblin itu terpental, menghantam dinding batu hingga
terperosok ke dalamnya.
Serangan Tao tidak berhenti di situ.
Begitu mendarat sesaat, dia langsung memberikan
tendangan berputar kepada para Goblin yang sedang kebingungan.
Tumit kecilnya menghantam ubun-ubun para Goblin tanpa
ampun, satu per satu dari mereka pun bertumbangan.
"Gyaa!"
Seorang Goblin mencoba menyerang balik Tao yang baru
saja mendarat dengan mengayunkan gada, tapi Tao sudah tidak ada di sana.
Meninggalkan bayangan semu, Tao sudah berpindah ke
belakang Goblin tersebut.
"—Lambat."
Buk! Pukulannya menghujam dalam, dan
Goblin itu pun tumbang bersimbah tanah.
Sambil melihat Tao yang sedang mengatur napas, para
Goblin yang ketakutan tidak mampu bergerak sedikit pun.
—Kuat.
Tidak mungkin tangan kosong bisa menghasilkan kekuatan
sebesar itu.
Kalau dipikir-pikir, rambut merah muda pucat milik Tao,
mata biru beningnya, dan fitur wajahnya berasal dari negeri asing yang sangat
jauh.
Aku pernah membaca di sebuah buku bahwa di negeri asing,
ada teknik bertarung menggunakan tangan kosong yang diselimuti oleh Qi.
Dikatakan bahwa dengan mengedarkan Qi di dalam
tubuh melalui pernapasan dan mengolahnya, seseorang bisa mengeluarkan kekuatan
yang luar biasa.
Tadinya aku sangsi, tapi setelah melihatnya secara
langsung seperti ini, mau tidak mau aku harus percaya.
Ngomong-ngomong, sejak tadi dia selalu melakukan
pernapasan yang unik.
Mungkin itu adalah kuncinya.
"Gyaa!" "Gya gya!"
Mendengar suara aneh dari belakang, aku menoleh dan
menemukan dua ekor Goblin sudah ada di depanku.
Uwah, aku kaget. Sepertinya aku terlalu asyik menonton
pertarungan Tao.
Tentu saja, karena aku sudah memasang Magic Barrier,
tidak akan ada masalah, tapi—
"Hoattchoooo!"
Seolah-olah meluncur, Tao berpindah tempat dan
menghantamkan serangan telapak tangan ke ulu hati kedua Goblin tersebut secara
bersamaan.
Akibat benturannya, para Goblin itu terbang tinggi ke
angkasa, dan setelah waktu melayang yang cuuuukup lama, mereka menghantam
tanah.
"Gyaaaa!"
Melihat hal itu, para Goblin lainnya berteriak ketakutan.
Mungkin karena merasa ngeri dengan kekuatan Tao, tanpa
sadar para Goblin itu sudah menghilang entah ke mana.
"Terima kasih, Tao. Aku tertolong."
"Hmph, tidak perlu berterima kasih."
Tao berdiri tegak membelakangiku dengan gagah.
......Ada apa ya. Sejak tadi dia terus mempertahankan
posisi itu.
Apalagi dia melirik-lirik ke arah sini seolah
mengharapkan sesuatu. Sebenarnya ada apa?
Sepertinya dia menunggu kata-kata lain selain ucapan
terima kasih tadi...... Hmm.
Saat aku mengikuti arah perginya para Goblin dengan
mataku, aku melihat mereka melarikan diri ke dalam sebuah lubang besar.
Jangan-jangan
itu...... Dungeon!
Dungeon adalah tempat misterius di mana
banyak monster berada.
Katanya di bagian terdalam terdapat harta karun,
bahkan barang sihir atau buku sihir langka.
"Aku tidak bisa tinggal diam!"
Aku langsung berlari tanpa pikir panjang.
—Sihir atribut Angin: Haste. Tubuh yang
diselimuti angin menjadi seringan bulu, memungkinkan pergerakan dengan
kecepatan tinggi.
Saat aku menjejakkan kaki ke tanah, aku berlari
seolah-olah sedang terbang.
"Ah!
Tunggu sebentar Robert, kau mau ke mana! Kau melupakan pernyataan cinta
untukku—!?"
Tao berteriak sesuatu dari belakang sambil mengejarku,
tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena suara angin.
Daripada itu, yang penting sekarang adalah Dungeon.
Aku pun berlari sekuat tenaga menuju Dungeon.
"Ooh, jadi ini yang namanya Dungeon......"
Melihat lubang yang terbuka lebar di depanku, sudut
bibirku tanpa sadar terangkat.
Berbagai jenis monster, ditambah harta karun seperti
barang sihir...... Dungeon itu sendiri tidak diketahui secara pasti
bagaimana asalnya, dan karena bagian dalamnya berbahaya, tidak ada penelitian
yang memadai.
Karena itulah aku ingin mencoba masuk sekali-kali.
Selagi
aku merasa bersemangat, Tao pun menyusul.
"Hah,
hah...... Ro, Robert, kau cepat sekali lari nya......!"
Sambil terengah-engah, Tao mencoba mengatur napasnya.
Ah, maaf aku lupa.
"Fuu............Suuu......"
Dalam sekejap, napas Tao kembali teratur.
Bisa mengejar Haste milikku tanpa menggunakan
sihir sedikit pun, inikah kekuatan Qi?
Tentu saja, aku juga tertarik dengan Qi milik
Tao.
Wah, aku benar-benar senang bisa melihat banyak hal
sejak awal keluar dari istana.
"Tunggu, ini kan Dungeon!?"
"Iya, tadi aku sempat melihat para Goblin
melarikan diri ke sini. Aku mau masuk ke dalam, bagaimana denganmu, Tao?"
Tao
tampak berpikir keras mendengar pertanyaanku.
"(Dungeon......
Sejujurnya ini berbahaya...... Tapi karena tingkat bahayanya tinggi, seharusnya
lebih mudah untuk menaikkan tingkat kesukaan Robert. Sepertinya Robert ini tipe
orang yang sangat peka-less. Kurasa akan sulit membuatnya menyukaiku kalau aku
tidak menolongnya setidaknya seratus kali......)"
Setelah bergumam sendiri cukup lama, Tao mengangguk.
"Baiklah. Kalau Robert pergi, aku juga akan
ikut."
"Oke, sudah diputuskan."
Dengan begitu, kami pun melangkahkan kaki ke dalam Dungeon.
Di dalamnya terdapat gua yang dikelilingi bebatuan. Tidak
ada lampu, tapi bukan berarti tidak kelihatan sama sekali.
Ada batu-batu bercahaya yang tertanam di berbagai tempat,
dan sepertinya itulah yang menjadi sumber cahaya.
"......Kalau tidak salah ini Batu Cahaya, ya. Luar
biasa, bisa memancarkan cahaya sebesar ini tanpa memerlukan formula
sihir."
Sepertinya ini bisa digunakan untuk eksperimen sihir,
jadi aku akan membawa pulang beberapa.
Tao melihat tingkahku itu dengan tatapan heran.
"Buat apa membawa pulang barang seperti itu? Batu
Cahaya akan berubah menjadi batu biasa begitu dibawa keluar dari Dungeon."
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu prinsip
kerjanya saja."
"Heh, kau aneh juga ya."
Batu Cahaya yang kupungut kumasukkan ke dalam tas.
Tas ini
sudah kupasangi sihir atribut Ruang: Expansion.
Sihir
ini hanya bisa dipasang pada benda tertutup seperti kantong atau tas, tapi
fungsinya bisa memperluas ruang di dalamnya dengan bebas.
Berkat itu, tas ini memiliki kapasitas puluhan kali lipat
dari aslinya.
Yah, meski begitu, aku hanya bisa menggunakan satu atau
dua sihir atribut Ruang lainnya selain ini.
Sihir atribut Ruang memiliki tingkat kesulitan yang
sangat tinggi, dan karena tidak ada penggunanya, literaturnya pun sangat
sedikit.
"Maaf sudah membuatmu menunggu. Ayo kita
lanjut."
Batu Cahaya memang menarik, tapi aku tidak punya waktu
untuk terus-terusan terpaku padanya.
Aku pun melanjutkan perjalanan menyusuri Dungeon.
"Berhenti, Robert! Ada monster!"
Tiba-tiba Tao berhenti.
Dengan gerakan lincah seperti kucing, dia menghadap ke
arah dinding dan memangkas jarak dalam sekejap.
Lalu dia menghantamkan serangan telapak tangan ke
dinding tersebut.
Apa
yang sedang dia lakukan...... Tepat di saat aku berpikir demikian.
"Gi......!?"
Terdengar suara rintihan, dan dinding itu pun runtuh.
Jika dilihat baik-baik, dinding itu berubah menjadi
seperti lumpur dan meleleh.
"Apa-apaan ini......"
"Stone Slime. Mereka bersembunyi di bebatuan
untuk melancarkan serangan kejutan. Berbahaya kalau kita terus berjalan
tadi."
"Heh. Menarik juga."
Monster yang bisa berkamuflase, ya. Apalagi
penyamarannya sangat bagus.
Bahkan saat serangan Tao mengenainya pun, aku sama
sekali tidak menyadarinya.
Aku akan membawa pulang sedikit bagian tubuh makhluk
ini juga. Mungkin bisa berguna untuk sesuatu.
Diam-diam aku memasukkan serpihan Stone Slime yang
hancur ke dalam tas.
"Meski begitu, kau hebat juga ya, Tao. Bagiku
itu terlihat benar-benar seperti batu. Katanya pengguna Qi memiliki
kekuatan misterius, apakah yang tadi itu salah satunya?"
"Hou,
Robert tahu soal Qi, ya. Tidak banyak orang di benua ini yang tahu soal
itu, kau rajin belajar juga ya."
"Aku suka membaca buku. Tapi ini pertama kalinya aku
melihatnya secara langsung."
"Itu hal yang sangat bagus. Pengetahuan bisa menjadi
kekuatan yang sama besarnya dengan bela diri."
Tao tersenyum manis, lalu mulai berjalan kembali ke
bagian dalam Dungeon.
Setelah itu, berbagai monster seperti Goblin hingga Orc
muncul, tapi mereka bukan tandingan Tao.
Padahal lengannya sekecil itu, tapi bisa menghasilkan
kekuatan yang luar biasa.
......Qi, ya. Mungkin bisa diterapkan dalam
sihir.
Teknik
pernapasan Tao itu...... seperti ini, ya?
"Suu, haa......"
Sambil berjalan, aku menghirup napas dalam-dalam dan
menghembuskannya perlahan.
Entah kenapa, ini mirip dengan latihan yang dilakukan
oleh calon penyihir yang belum bisa merasakan kekuatan sihir.
Menyatukan pikiran, memusatkan seluruh saraf pada
pernapasan, dan menyadari aliran kekuatan sihir yang bersirkulasi di dalam
tubuh......
Itu adalah dasar dari segala dasar dalam latihan
penyihir, latihan yang bahkan tidak diperlukan oleh penyihir berbakat.
......Karena aku tidak punya bakat sihir di kehidupanku
yang sebelumnya, aku terus melakukan hal ini pada awalnya.
Ya, meski hanya meniru, entah kenapa aku merasa kekuatan
mulai meluap di dalam tubuhku.
Justru karena aku sudah sepenuhnya merasakan kekuatan
sihir, aku jadi mengerti.
Kekuatan yang kurasakan jauh di dalam tubuh......
mungkinkah ini yang disebut Qi?
Bukan hanya milikku sendiri, aku juga bisa merasakan
pernapasan Tao dan hawa pernapasan tipis dari berbagai tempat di Dungeon.
"Hmm, ada sesuatu di depan......?"
Aku merasakan hawa yang kuat dari balik tikungan.
Mendengar perkataanku, Tao membelalakkan matanya karena
terkejut.
"......Aku kaget. Robert juga bisa menggunakan Qi?"
"Karena aku pernah melakukan latihan yang serupa.
Aku mencoba menirunya sedikit karena kelihatannya menarik."
"Menarik......
katamu? Padahal untuk bisa merasakan hawa keberadaan saja
biasanya butuh latihan selama lima tahun. Bisa menggunakannya hanya dengan melihat saja...... bakatmu
benar-benar mengerikan."
Tao menghela napas dengan ekspresi tak percaya.
"Tapi alasan karena 'kelihatannya menarik' itu, aku
sangat suka. Ketertarikan adalah awal dari keahlian. Kalau begitu, akan
kutunjukkan sesuatu yang bagus. Perhatikan baik-baik, ya."
Setelah berkata demikian, Tao menggerakkan tubuhnya
seolah menggambar lingkaran.
Qi yang tercipta dari pusar Tao
bersirkulasi ke seluruh tubuh dan berkumpul di kedua lengannya.
"Hiat!"
Bersamaan dengan teriakannya, dia melepaskan gumpalan Qi
yang telah terkumpul.
Gumpalan itu terbang ke arah depan, ke arah di mana hawa
musuh berada.
Sesaat kemudian—Duum! Suara benturan terdengar,
dan hawa keberadaan monster itu pun musnah.
"Fufun, inilah Qi Blast. Yang tadi sengaja
kutembakkan dengan lambat agar kau bisa melihatnya, tapi tentu saja bisa
dilepaskan dengan kecepatan tinggi."
"Ooh, hebat sekali, Tao."
"Yah, begitulah."
Tao mendengus bangga, lalu membelakangiku.
"(Bisa menggunakan Qi juga, dia ini
benar-benar tangkapan yang luar biasa. Apalagi Robert sangat tertarik dengan Qi...... Aku
bisa mengharapkan romansa cinta antara guru dan murid dengan dalih
mengajarinya. Terlebih lagi, kalau aku mendidiknya menjadi ahli bela diri yang
hebat, kakek yang cerewet itu pasti akan mengakuinya sebagai tunanganku......
Fuhi, ini benar-benar keberuntungan nomplok......)"
Tao menggumamkan sesuatu sambil tertawa menyeramkan.
......Sepertinya dia agak menakutkan, biarkan saja
dan ayo lanjut ke depan.
"Bagus, bakatmu memang oke!"
Melihatku mengedarkan Qi dan mengumpulkannya
di tangan, Tao bertepuk tangan dengan gembira.
Mungkin Tao merasa sangat senang karena aku tertarik
pada Qi, dia dengan baik hati mengajariku banyak hal.
Cara mengajarnya pun bagus, ditambah lagi aku sudah
punya dasarnya, berkat itu aku sudah bisa mengendalikan Qi sampai batas
tertentu.
"Luar biasa ya. Bisa menguasai Qi dalam
waktu sesingkat ini benar-benar membuatku kaget."
"Itu karena cara mengajar Tao bagus. Apalagi aku
bisa melihatmu menggunakan Qi secara langsung, jadi lebih mudah
dimengerti."
"Aduh, dipuji begitu pun aku tidak akan
memberimu apa-apa, lhooo♪"
Tao meliukkan pinggangnya dengan gembira sambil
menyikut punggungku. ......Aku bersyukur dia mau mengajariku, tapi
kekurangannya hanyalah dia agak sedikit menjijikkan.
"Tapi Robert, apa pernapasan Qi-nya tidak
terasa berat? Biasanya kalau belum terbiasa, paru-paru akan terasa sangat
terbebani."
"Tidak juga, kok."
"Tidak mungkin. Pernapasan Qi
itu memberikan rasa sakit seperti paru-paru yang terbakar. Aku saja masih
merasa perih, jadi tidak bisa melakukannya untuk waktu yang lama......"
"Yah, memang terasa sakit sih, tapi ini kan
menyenangkan. Jadi sama sekali tidak terasa berat."
Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan meditasi yang
kulakukan di kehidupan sebelumnya.
Aku sama sekali tidak masalah.
"Be, begitu ya......"
Tao memasang wajah tercengang mendengar perkataanku.
Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?
"Ngomong-ngomong, harta karunnya sama sekali tidak
ada ya."
Kami sudah turun beberapa lantai, tapi sama sekali tidak
menemukan harta karun.
Padahal aku dengar ada harta karun yang tertidur di dalam
Dungeon...... apa ini produk gagal?
"Untuk Dungeon yang hanya memunculkan monster
selevel ini, harta karun hanya akan ada di bagian paling dalam. Mungkin Dungeon
ini baru saja terbentuk."
"Ah, begitu ya."
Dungeon tumbuh layaknya makhluk hidup.
Dungeon yang baru lahir hanya berisi
monster-monster lemah, lantainya dangkal, bosnya lemah, tapi hasilnya juga
sedikit.
Dungeon tingkat tinggi adalah kebalikannya,
musuhnya semakin kuat dan lantainya semakin dalam.
Bahkan ada Dungeon yang belum berhasil ditaklukkan
selama ratusan tahun sampai-sampai kota dibangun di atasnya dan menjadi mata
pencaharian orang-orang.
"Dan sepertinya, ini adalah bagian terdalam."
Begitu menuruni tangga, Tao berhenti, dan di depan kami
terdapat sebuah lubang besar yang menganga.
Di dalamnya, aku bisa merasakan hawa keberadaan kuat yang
belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Kau merasakannya juga ya, Robert. Benar, di bagian
terdalam Dungeon ada bos. Kalau kita mengalahkannya, kita akan
mendapatkan harta karun."
"Ooh, akhirnya......!"
"Meskipun sepertinya ini Dungeon yang baru
lahir, jadi jangan terlalu berharap pada harta karunnya."
Tao tertawa sambil berkata demikian, tapi entah kenapa
aku merasakan kekuatan sihir yang sangat besar.
Untuk ukuran bos yang katanya lemah, bukankah kekuatan
sihirnya terlalu besar?
Apa dia monster tipe penyihir?
"Yah, tidak ada gunanya berlama-lama di sini. Ayo masuk."
Tao pun melangkah masuk dengan mantap.
Aku mengikutinya sambil sedikit waspada.
Bagian dalamnya adalah ruang luas yang remang-remang.
Sepertinya ada semacam kekekalan (barrier) yang
terpasang. Apa ini sumber kekuatan sihir yang kurasakan tadi?
Begitu aku masuk, pintu masuknya tertutup oleh barrier.
Apa-apaan ini. Kita jadi tidak bisa keluar.
Saat kucoba menyentuhnya, tanganku terpental. Tekstur ini...... bukankah ini
bukan sihir?
Berdasarkan
instingku, ini sama seperti Batu Cahaya, sesuatu yang berasal dari kekuatan
sihir yang dimiliki oleh Dungeon.
"Percuma saja. Pintu ini tidak akan terbuka sampai
kita mengalahkan bosnya."
Kalau tidak salah, memang ada beberapa ruangan misterius
di dalam Dungeon.
Ada ruangan warp, ruangan yang penuh monster,
ruangan untuk memulihkan diri, dan lain-lain.
Khusus untuk ruangan bos, kabarnya begitu masuk kau tidak
bisa keluar sampai berhasil mengalahkannya.
Hmm, barrier yang bukan berasal dari sihir,
ya. Benar-benar menarik.
"Grrrrrrrr......!"
Bersamaan dengan suara geraman, seekor binatang
berkaki empat yang besar muncul dari kegelapan ruangan.
Monster dengan bulu abu-abu, mata biru, dan taring
yang tajam.
"Gray
Wolf ya. Berbahaya, jadi Robert mundur saja."
"Gau!"
Tepat
saat Tao memasang kuda-kuda, Gray Wolf itu menerjang.
Tao
menghindar ke belakang sedikit untuk mengelak dari cakaran tajamnya, lalu
melepaskan Qi Blast.
Tembakannya
tepat sasaran, dan meskipun Gray Wolf itu terpental, dia berhasil memperbaiki
posisinya dan mendarat dengan mantap.
Tao
unggul dalam pertarungan ini.
Gray
Wolf yang hanya bisa melakukan serangan jarak dekat tampaknya tidak berdaya
melawan kelincahan dan Qi Blast milik Tao.
Sepertinya untuk saat ini aku bisa menyerahkan semuanya
padanya.
Biarkan aku menyelidiki barrier ini saja.
Toh katanya ini akan menghilang setelah bosnya
dikalahkan.
"(Aku akan menunjukkan sisi kerenku pada
Robert......! Dan...... dia akan menyatakan cinta...... aku pun
akhirnya punya pacar......! Demi itu, kau harus menjadi batu
loncatanku......!)"
"Guooooooo!"
Tao terus bertarung sambil menggumamkan sesuatu, tapi
suaranya tidak terdengar jelas karena tertutup oleh lolongan Gray Wolf.
......Begitu ya, sumber pasokan Mana dari Barrier
ini adalah Dungeon itu sendiri.
Artinya, Barrier ini adalah kemampuan milik Dungeon......?
Karena langsung aktif begitu kita masuk, berarti ini adalah sistem kendali
otomatis.
Sepertinya fitur ini ada di setiap Dungeon, tapi
apa alasannya mereka tidak ingin membiarkan penyusup melarikan diri dari Boss
sampai sejauh itu?
Lagipula, kenapa mereka memancing penyusup untuk masuk?
Mungkin untuk mengalahkan manusia dan menjadikannya
nutrisi......
"Woi, jangan malah bengong ke arah lain
donggg----!?"
Ah, berisik sekali. Aku
jadi tidak bisa berkonsentrasi.
Sihir
atribut Angin: Soundproof. Bagus, sekarang sudah tidak berisik lagi.
Dengan begini, aku bisa berkonsentrasi memikirkan
banyak hal.
"..........!!"
"Uwah! A-apa-apaan ini!?"
Tiba-tiba tubuhku diguncang keras, membuatku tersentak
kaget.
Saat menoleh, aku melihat mulut Tao bergerak cepat seolah
sedang berbicara, tapi tidak ada suara yang keluar.
Ah, aku lupa kalau aku sedang menggunakan Soundproof.
Begitu sihirnya kunonaktifkan, suara Tao langsung
menyerbu telingaku.
"Robert!
Akhirnya kau menjawab juga!"
"A-ah,
maaf, maaf. Aku tadi sedang terlalu konsentrasi."
"Ih, kau sama sekali tidak melihat aksiku saat
mengalahkan Gray Wolf tadi, ya!"
Tao tampak marah sambil menggembungkan pipinya.
Waduh, sepertinya aku sudah melakukan hal yang agak
buruk padanya.
Tapi berkat itu, aku bisa menyelidiki banyak hal
mengenai Barrier milik Dungeon.
Pertama, ruangan tempat Boss berada ini bisa dibilang
adalah bagian jantung dari Dungeon.
Lebih tepatnya, ruangan harta karun yang ada di balik
ruangan Boss adalah pusatnya.
Mulai dari menciptakan Boss hingga memasang Barrier,
semua sumber energinya berasal dari sana.
Kandungan Mana di dalamnya sangat luar biasa,
sepertinya mereka bahkan tidak perlu bergantung pada formula sihir.
Aku merasa mereka menciptakan Barrier dan
monster murni hanya dengan menggunakan Mana dalam jumlah masif.
Mungkin nutrisinya berasal dari monster, manusia,
atau hewan yang mati di dalam Dungeon.
Sebab, saat monster mati, mereka akan kembali ke Dungeon.
Meski efisiensinya sangat buruk, hal ini bisa dilakukan
karena total jumlah Mana mereka memang sangat besar.
Masih banyak hal yang belum kupahami, tapi kira-kira
begitulah gambarannya.
"Sudah cukup, ayo kita segera pergi melihat harta
karunnya."
"Iya, kau benar."
Katanya, di balik ruangan Boss terdapat harta karun.
Kebetulan sekali lokasinya sama dengan jantung Dungeon.
Berarti harta karun itu adalah intinya? Tidak, itu juga
terasa aneh──
"Berhenti, Tao!"
Tiba-tiba, aku merasakan aliran Mana yang sangat pekat
dan langsung menarik tangan Tao.
"Angh♪
A-ada apa tiba-tiba, Robert? Biarpun aku mau, tapi kalau di tempat
seperti ini......"
Sebelum Tao sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bilah
hitam melesat melewati depan matanya.
Itu
sihir atribut Kegelapan: Death Blade.
Kalau
tidak salah, itu sihir yang gemar digunakan oleh monster.
"Eh......
padahal Boss-nya sudah kalah, kenapa masih ada......?"
"Sepertinya masih ada sesuatu yang tersisa."
Saat aku memicingkan mata dengan waspada, sosok musuh
yang melepaskan Death Blade tadi muncul dari kegelapan.
──Itu adalah tengkorak manusia.
Sosok kerangka yang mengenakan tudung hitam
compang-camping, berpenampilan persis seperti seorang penyihir.
"I-itu Lich!"
"Ooh, bukankah Lich itu termasuk monster tingkat
tinggi?"
Tao mengangguk tanpa kata.
Menurut ensiklopedia monster, Lich adalah monster tipe
Undead yang mahir menggunakan sihir.
Mungkin itu sebabnya Tao tidak bisa merasakan Qi-nya.
Aku menyadarinya hanya karena aku merasakannya melalui
Mana. Energi sihir aneh yang kurasakan sejak tadi ternyata
berasal dari makhluk ini.
Seingatku dia termasuk jenis monster tingkat tinggi
yang harus sangat diwaspadai.
Tapi kenapa monster seperti itu ada di tempat seperti
ini?
"......Sepertinya
Lich itu adalah tipe Stray. Dia pasti tersesat sampai ke sini dan
menjadikannya markas. ......Sial sekali."
Tao bergumam dengan nada penuh kebencian.
Stray adalah sebutan untuk monster yang
keluar dari Dungeon asalnya karena suatu alasan.
Entah karena Dungeon-nya hancur atau atas kehendak
sendiri...... pokoknya monster seperti itu biasanya hidup di permukaan atau
masuk ke Dungeon lain.
Namun, kabarnya jarang sekali ada monster dengan
perbedaan level sejauh ini di tempat seperti ini. Jika bertemu, biasanya itu
berarti ancaman pemusnahan total bagi satu kelompok petualang.
"Serahkan tempat ini padaku dan larilah. Dengan
kelincahanku, aku bisa menghindari sihirnya sampai batas tertentu. Aku pasti
bisa mengulur waktu agar Robert bisa kabur."
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Tao?"
"Jangan khawatir, aku akan mencari cara untuk kabur
juga. Jadi cepatlah!"
Segera setelah bicara, Tao berlari menerjang ke arah
Lich.
Wah, kelihatannya menarik. Aku akan berpura-pura lari
lalu menontonnya.
Aku pun bersembunyi di balik bayangan benda dan mengawasi
jalannya pertarungan.
Sambil menghindari bilah-bilah hitam, Tao melepaskan Qi
Blast.
Namun,
Lich membentangkan Magic Barrier dan menangkisnya.
"Cih—"
Sambil
berdecak, Tao merangsek maju ke arah Magic Barrier.
Napasnya
dalam, dan tanah bergetar saat kakinya menjejak kuat.
Duaar! Suara benturan yang dahsyat
bergema.
Kulihat
Magic Barrier itu mulai retak.
──Itu
serangan telapak tangan yang diperkuat dengan Qi.
Hebat juga dia bisa meretakkan Magic Barrier
level setinggi itu dengan tangan kosong.
Terlebih lagi, Tao melancarkan serangan sikut dengan
gerakan mengalir.
Dilanjutkan dengan hook kiri, pukulan punggung
tangan, tebasan tangan, dan tendangan berputar; semuanya dihantamkan tepat di
titik yang sama dengan serangan pertama tanpa melesat sedikit pun.
Tao tidak berhenti. Dan retakannya menjadi semakin
besar serta dalam.
"Aku tidak boleh mati di tempat seperti ini! Aku
sudah berlatih setiap hari tanpa henti sejak usia lima tahun! Saat hujan, saat
salju, tanpa istirahat, setiap hari! Bahkan tanpa sempat punya pacar! Aku yang
sudah menumpuk semua usaha itu! Mana sudi mati di tempat seperti ini sebelum
sempat punya pacaaaarrr!"
Dengan satu jeda singkat, dia melepaskan tendangan
lutut terbang. Magic
Barrier itu
hancur berkeping-keping hingga menyisakan lubang besar.
Ah,
tapi gawat. Dia jadi penuh celah. Apalagi Lich itu juga tidak tinggal diam.
Gigi-gigi
Lich yang berantakan tampak bergetar beradu.
Itu adalah rapalan sihir. Kilatan hitam mulai menyelimuti
Tao.
"Gawat----"
Booom! Ledakan besar terjadi.
Tao terpental, menghantam tanah, dan terguling
beberapa kali.
Dia tampak lemas. Kelihatannya gawat.
"Tao!"
Aku bergegas menghampirinya dan membantunya duduk.
Dengan ekspresi kesakitan, Tao mendongak dan membuka
matanya.
"Uh...... ke-kenapa kau malah kembali......?"
Aku tidak mungkin bilang kalau sebenarnya aku tidak kabur
dan malah menonton dari dekat, jadi aku memilih bungkam.
"Jangan-jangan demi aku......? ......Duh, dasar
bodoh. ......Tapi, tidak apa-apa. Kalau bisa mati bersama pria tampan
seperti Robert, aku rela......"
Setelah berkata begitu, Tao memalingkan wajahnya dariku.
"Hei, hei, kau sudah mau menyerah?"
"Sudah tidak bisa lagi. Tubuhku tidak bisa
digerakkan. Lagipula kalaupun bisa bergerak, tidak mungkin aku bisa menang
melawan Lich......"
"Apa yang kau katakan──"
Seolah memotong perkataanku, kilatan hitam menyelimuti
area sekitar.
Lich melepaskan sihir ke arah kami yang sedang
membelakanginya.
Tao memejamkan matanya rapat-rapat. Sesaat kemudian,
gelombang kejut seharusnya menghantam kami──
──Tapi itu tidak terjadi.
Magic Barrier yang kupasang berhasil menahan sihir
Lich.
Tao yang membuka matanya dengan ragu-ragu tampak
mengerjap kebingungan.
Aku berdiri, lalu menatap lurus ke arah Lich sambil
menyeringai.
"──Bukankah dari sini bagian serunya dimulai?"
"──!"
Lich yang sempat bingung karena serangannya tertahan
kembali sadar, lalu melepaskan Death Blade sekali lagi.
Tapi itu percuma. Magic Barrier yang sudah
kusiapkan menangkisnya dengan mudah.
Bilah hitam itu patah begitu menghantam pelindungku,
hancur berkeping-keping, dan lenyap menjadi kabut.
"......Barusan, apa yang kau lakukan......?"
"Sihir. Aku lupa bilang, tapi aku ini seorang Magician."
Yah, sejak masuk ke Dungeon aku memang
menyerahkan semua pertarungan pada Tao.
Bukannya aku sengaja menyembunyikannya, tapi aku
terlalu fokus melatih Qi sehingga tidak punya kesempatan untuk
menunjukkannya.
"──!"
Sambil mengeluarkan suara tanpa suara, Lich
menembakkan Death Blade secara bertubi-tubi.
Hmm,
sihir atribut Kegelapan, ya.
Karena
sihir yang digunakan monster sering dianggap menjijikkan, hampir tidak ada buku
sihir yang membahasnya.
Karena mumpung ada di sini, sekalian saja aku selidiki.
Mari kita lihat, untuk itu aku harus menurunkan tingkat
pertahanan Magic Barrier-ku, dan sebagai gantinya menaikkan tingkat
elastisitasnya sampai maksimal...... nah.
Sip, oke. Majulah sesukamu.
Jleb! Terdengar suara tumpul saat bilah
hitam itu menancap di pelindungku.
Namun bilah itu tidak menembus, melah terhenti total
setelah kecepatannya diredam.
Aku mengambil bilah hitam yang sudah kehilangan daya
serangnya itu dan memeriksanya.
Terasa ada sensasi kesemutan yang menyengat. Ini......
racun?
"......Heh, jadi kau mengubah Mana menjadi racun
lalu menembakkannya, ya."
Menyebutnya racun mungkin agak kurang tepat.
Karena sisi sihirnya jauh lebih kuat daripada racun
fisik yang nyata, sepertinya istilah yang paling mendekati adalah 'racun
mental'──dengan kata lain, dia memadatkan kutukan lalu menembakkannya.
Serangan yang bekerja pada bagian dalam tubuh
daripada fisiknya, yaitu pada kekuatan hidup.
Jika terkena langsung, kekuatan hidupmu akan terkuras
habis, jadi daya serangnya sepertinya lebih tinggi daripada kelihatannya.
Meski begitu, konsep formulanya tidak jauh berbeda
dengan api atau air, jadi bisa ditahan dengan mudah menggunakan Magic
Barrier.
"──!"
Sepertinya Lich terkejut karena serangannya ditangkis
dengan mudah, dia pun buru-buru mengolah Mana-nya.
Mana yang terkumpul di kedua tangannya jauh lebih
besar daripada sebelumnya.
Lich mempertajam gumpalan Mana di kedua tangannya dan
merentangkannya ke atas dan bawah seperti taring binatang buas.
"Robert, itu berbahaya! Hindari!"
Itu sihir tingkat tinggi atribut Kegelapan: Death
Fang.
Strukturnya mirip, tapi Mana yang terkandung di
dalamnya tidak bisa dibandingkan dengan Death Blade.
Atau mungkin ada efek tambahan lainnya? ......Aku jadi
penasaran.
Melihatku yang tidak bergerak, Lich menyeringai dan
melepaskan bilah hitam dari atas dan bawah.
Bilah yang melesat dengan kecepatan tinggi itu menghantam
Magic Barrier-ku, namun gagal menembusnya.
Setelah kecepatannya diredam, aku memungut bilah yang
terjatuh itu.
"Hmm, ternyata hanya versi tingkat tinggi saja
seperti kelihatannya. Karena namanya sihir kegelapan, kupikir ada jenis kutukan
lain yang berbeda...... ternyata mengecewakan."
Saat aku melirik ke arah Lich, dia tampak sangat panik
karena tidak menyangka serangannya akan tertahan.
Melihat gelagatnya, sepertinya dia tidak punya sihir lain
yang lebih hebat dari itu.
Kurasa tidak ada lagi yang bisa kupelajari dari makhluk
ini.
Ngomong-ngomong, sihir atribut Kegelapan, ya. Setelah
kuselidiki tadi, ternyata kekuatan ini mirip dengan Qi.
Mungkin aku bisa melakukan hal yang sama. Mari kita coba.
Sesuai dengan apa yang diajarkan Tao, aku mengumpulkan Qi
di dalam tubuh ke tangan kanan, lalu mencampurkannya dengan Mana.
Kalau soal Qi aku memang masih pemula, tapi kalau
soal pengendalian Mana, aku cukup percaya diri.
Dengan mencampurkannya dengan Mana, Qi tersebut
mulai membentuk bilah yang tajam.
"Hmm......? Apa teknik ini memberikan beban yang
agak besar?"
Aku berusaha sekuat tenaga menahan rasa ingin batuk
karena rasa sakit akibat pernapasan.
Paru-paruku terasa jauh lebih sakit daripada saat
menggunakan Qi biasa.
Apalagi ini sulit. Mengubah bentuk Qi ternyata
tidak mudah ditangani, aku gagal berkali-kali.
Setiap kali gagal, aku harus mengatur napas ulang, yang
mana cukup memakan waktu.
──Tapi, rasa antusias yang kurasakan jauh lebih kuat
daripada itu.
Qi yang telah kuolah perlahan-lahan mulai
membentuk wujud yang kuinginkan meski harus melalui kegagalan berulang kali.
......Ya, sepertinya aku bisa melakukannya.
Setelah melalui berbagai percobaan, entah bagaimana
caranya aku berhasil menciptakan bilah Qi.
"──!?"
Melihat
hal itu, Lich mencoba memasang Magic Barrier untuk bertahan.
Mari kita lihat, seberapa hebat kekuatan bilah Qi
ini.
"Hup."
Bersamaan dengan seruanku, aku melontarkan bilah Qi
yang telah kuciptakan.
Bilah itu melesat membentuk lengkungan, lalu menebas
tubuh bagian atas dan bawah Lich beserta Magic Barrier-nya sekaligus.
"Ga......"
Sambil meninggalkan rintihan lemah, Lich itu pun musnah.
Heh, kalau dikalahkan dengan serangan Qi, mereka
akan berubah menjadi debu ya.
Kalau tidak salah, buku pernah menyebutkan bahwa monster
tipe Undead lemah terhadap energi kehidupan dan kekuatan suci.
Cara lenyapnya pun persis seperti yang tertulis di buku.
"Ti-tidak bisa dipercaya......!"
Tao bergumam lirih saat menyaksikan hal itu.
"Itu adalah teknik rahasia dari Qi Blast,
yaitu Qi Fang. ......Teknik yang tidak bisa kukuasai meski sudah
berlatih bertahun-tahun. Tapi dia melakukannya dengan begitu mudah, bahkan
tanpa usaha sama sekali......!Tidak, bukan begitu. Ini bukan soal usaha. Robert
hanya menikmati momen saat menyentuh Qi......! Kalau dipikir-pikir,
Kakek pernah bilang. Berlatih itu sudah sewajarnya. Karena itu, orang yang bisa
menikmati usahanya adalah yang terkuat dari segalanya. ──Heh, seingatku aku
juga sangat menikmati latihan saat masih kecil. Setiap kali melakukannya, aku
jadi bisa hal baru. Sejak kapan ya aku tidak bisa menikmati latihan lagi......
aku sudah tidak ingat. Yah, sepertinya aku harus mengulang latihan dari nol.
Kali ini, aku akan berusaha menikmatinya sepuas mungkin."
Entah apa yang sedang dia gumamkan sendiri.
Tao menatapku dengan wajah yang seolah-olah baru saja
mendapat pencerahan.
Ada apa
dengannya ya...... yah, sudahlah.
"Nah, sebaiknya kita ambil harta karunnya lalu
pulang."
Di bagian yang lebih dalam dari ruangan Boss, terdapat
sebuah ruangan kecil.
Di sana, sebuah peti harta karun yang mewah diletakkan.
"Itu
dia. Peti harta karunnya. Robert, sebaiknya kamu yang membukanya."
"Boleh
kah? Bukankah hampir seluruh penjelajahan Dungeon ini dilakukan oleh Tao
sendirian?"
"Tapi kalau tidak ada Robert, aku pasti sudah mati. Jadi Robert punya hak untuk
membukanya."
"Baiklah.
Kalau begitu......"
Aku
melangkah ke depan peti harta karun dan membukanya perlahan.
Di dalamnya, terdapat sebuah belati.
"Oh,
belati ya. Coba kulihat sebentar."
Tao
yang mengintip dari belakangku menatap belati itu lekat-lekat.
Lalu,
dia menepuk dahinya sendiri.
"......Aduh,
sayang sekali. Ini barang zonk."
"Begitukah?
Aku merasa ada semacam kekuatan sihir yang terkandung di dalamnya......"
"Iya,
seperti yang kamu bilang, ini adalah belati yang diberi Enchantment
sihir. Tapi bukan barang istimewa. Pertama, belati dasarnya hanyalah pisau besi
biasa, dan tidak ada hiasan sama sekali. Belati seperti itu tidak bisa
dipasangi sihir yang kuat. Mungkin ini hanya alat latihan untuk melakukan Enchantment."
Belati yang dipasangi sihir oleh seseorang untuk
latihan, ya.
Kalau dilihat-lihat, bilahnya agak gompal dan ada
bekas pemakaian yang lama.
Seolah-olah ini adalah barang milik seseorang. Aneh
juga kalau barang seperti ini jadi harta karun Dungeon.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, peti harta
karunnya mulai tenggelam perlahan ke dalam tanah.
"Jangan-jangan......"
Seketika aku menggunakan sihir atribut Angin: Wind
Cutter untuk menciptakan bilah angin, lalu memotong sebagian dari peti
harta karun tersebut.
Dari potongan peti itu, aku merasakan kekuatan sihir yang
sangat kuat.
......Begitu ya, inilah sosok yang bisa dibilang sebagai
inti dari Dungeon.
Makhluk ini biasanya hidup di dalam tanah, mengambil
barang sihir yang dijatuhkan orang lain, lalu tumbuh menjadi sebuah Dungeon.
Dan saat akan ditaklukkan, dia berpura-pura menjadi peti
harta karun, menyerahkan isinya, lalu melarikan diri di saat korbannya lengah.
Menarik sekali. Strategi yang bagus.
"Robert? Kenapa kamu senyum-senyum
sendiri?"
"Ah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kalau
belati ini tidak terlalu berharga, bolehkah aku menyimpannya?"
"Memang itu tujuanku sejak awal. Silakan saja."
"Terima kasih."
Aku memang agak menginginkan belati yang memiliki Enchantment
sihir.
Tentu saja di istana ada senjata-senjata seperti itu,
tapi semuanya barang mahal jadi aku tidak bisa membongkarnya sesuka hati.
Karena itulah aku belum mencoba sihir atribut Enchantment,
tapi dengan ini aku bisa melakukan eksperimen.
Aku memasukkannya ke dalam tas bersama dengan potongan
peti harta karun tadi.
Tiba-tiba, tanah mulai bergetar hebat.
"Waduh, kalau tidak salah Dungeon akan hancur
setelah harta karunnya diambil, ya."
"Iya, ayo cepat keluar!"
Aku pun berlari keluar dari Dungeon bersama Tao.
Saat sampai di luar, langit sudah mulai menggelap.
"Gawat, celaka......"
Aku benar-benar melupakan Grim.
Apa tidak apa-apa meninggalkannya sendirian sampai
selarut ini?
"Ada apa, Robert? Kok kelihatannya gelisah
begitu."
"......Maaf, tapi aku baru ingat ada urusan
mendesak. Maaf ya!"
Setelah meminta maaf pada Tao, aku langsung
merapalkan Flight dan melompat ke udara.
"Ah! Mau ke mana!?"
"Maaf, aku buru-buru!"
"Tunggu duluuu----! Setidaknya tukar kontak dulu
dongggg----!"
Sambil mendengarkan suara lantang Tao yang menggema,
aku terbang menuju istana.
Agak disayangkan sih, tapi mungkin aku tidak akan
bertemu dengannya lagi.
Meski begitu, aku jadi tahu soal Qi, melihat
banyak monster, dan memungut berbagai macam benda di Dungeon.
Hari yang sangat memuaskan.
Aku kembali ke dalam istana dengan menyembunyikan
keberadaanku, sama seperti saat aku keluar tadi.
Dengan wajah berseri-seri aku kembali ke kamar, dan
di atas tempat tidur, sosokku──maksudku Grim yang sedang menyamar jadi
aku──terkapar tak berdaya.
"Aku
pulang...... Er, anu, Grim? Kamu tidak apa-apa?"
Saat
kupanggil, lehernya bergerak kaku menghadap ke arahku.
Ekspresi wajahnya benar-benar sudah seperti orang
mati.
"......Lloyd-sama, saya sudah berulang kali
memberi tahu lewat pesan kalau pelayan datang berkunjung......"
"Hahaha......
maaf ya, aku lupa."
Sepertinya dia memang sudah mengirim pesan beberapa
kali.
Mungkin
itu saat aku sedang asyik memperhatikan monster tadi...... Entah kenapa kalau
sudah konsentrasi, suara di sekitarku jadi tidak terdengar.
Aku
harus introspeksi diri.
"Yah, saya sudah berusaha mengelabuhinya lewat obrolan dengan alasan Anda mungkin sedang sibuk. Tapi akhirnya saya tetap harus menemaninya main pedang-pedangan. Dan ya, saya dipukuli sampai babak belur. Pelayan itu, kekuatannya benar-benar tidak main-main......"
"Begitulah."
Soalnya,
boneka yang dirasuki Grim itu dibuat dengan menyalin tubuhku.
Bukannya
sombong, tapi aku sangat percaya diri dengan kurangnya kemampuan atletikku.
"Kalau cuma itu sih tidak apa-apa, Tuan. Masalahnya,
setelah menghajar saya sampai babak belur, pelayan itu tiba-tiba menangis dan
bilang, 'Aku akan melatih kembali mental lembek Lloyd-sama'."
"Ah......"
Dia pasti mengira aku sedang malas-malasan.
Biasanya aku menggunakan sihir untuk menyalin teknik
pedang Sylpha, sih.
Sayangnya, itulah kemampuanku yang sebenarnya.
"Karena itulah, sampai barusan saya dipaksa adu
pedang. Dari siang bolong sampai sekarannnggg!"
"......Maaf."
Aku meminta maaf dengan tulus.
Sepertinya aku tidak akan bisa keluar istana untuk
sementara waktu.
"Nah, saatnya memeriksa barang jarahan."
Malam itu, setelah selesai makan malam, aku segera
kembali ke kamar dan membentangkan tasku.
Batu Cahaya yang kubawa dari Dungeon, serpihan
Stone Slime, potongan peti harta karun, dan belati ber-Enchantment
berhamburan di atas tempat tidur.
"Lloyd-sama, apa-apaan itu?"
"Oleh-oleh dari Dungeon."
"Pantas saja Anda lama sekali, ternyata Anda pergi
menaklukkan Dungeon......"
Grim menghela napas panjang dengan wajah jemu.
Sudah kubilang kan, aku minta maaf.
Pertama, aku mengambil Batu Cahaya.
Benar kata Tao, sepertinya batu ini kehilangan cahayanya
begitu dikeluarkan dari Dungeon.
Coba aku kikis sedikit.
Menggunakan sihir atribut Air: Water Blade, aku
mulai mengikis Batu Cahaya itu sedikit demi sedikit.
Untuk mengikis benda keras, Water Blade yang
memiliki massa lebih mudah digunakan daripada Wind Blade yang tidak
bermassa.
Setelah kukikis, aku tidak menemukan hal yang menarik di
bagian dalam batu.
Hanya batu biasa yang bisa ditemukan di mana saja.
"Jika digabungkan dengan hipotesis milikku, inti Dungeon
tumbuh dengan menyerap berbagai macam benda. Mungkin dia menciptakan Dungeon
sambil menyerap batu dan tanah seperti ini."
Artinya, benda yang diambil dari Dungeon akan
kembali ke wujud aslinya begitu meninggalkan tempat itu.
Lalu potongan peti harta karun ini...... tidak bisa. Aku
sama sekali tidak merasakan Mana.
Inti Dungeon kemungkinan adalah makhluk sihir, dan
sepertinya dia mati saat aku memotongnya.
Ngomong-ngomong, serpihan Stone Slime juga sudah kembali
menjadi gumpalan tanah biasa.
Karena sudah jauh dari Dungeon, dia kembali ke
tanah asalnya.
Tapi Lich tadi kelihatannya baik-baik saja meski menjauh
dari Dungeon-nya.
Mungkin monster tingkat tinggi memiliki aturan yang
berbeda.
......Atau, bagaimana jika kita menganggap Dungeon
sebagai satu monster raksasa?
Aku pernah dengar kalau monster kuat punya inti agar
bisa beraktivitas secara mandiri...... yah, ini masih sebatas hipotesis.
"Pokoknya, sedikit demi sedikit aku mulai paham
apa itu Dungeon. Tapi ini masih sebatas teori, aku butuh lebih banyak
sampel. Kapan-kapan aku ingin masuk ke Dungeon lagi."
"Lloyd-sama kan seorang penyihir? Kenapa Anda sampai
menyelidiki Dungeon juga?"
"Karena kita tidak tahu apa yang bisa digunakan
untuk sihir."
"Hah, begitu ya......"
Sihir adalah bidang ilmu yang menggabungkan berbagai
elemen.
Selama itu benar, maka sihir memiliki hubungan dengan
segala fenomena di alam semesta ini.
Lagipula, jika tidak ada api atau air, kita tidak akan
bisa menciptakannya dengan sihir.
Pengetahuan itu akan berguna bagi diri sendiri sebanyak
apa pun jumlahnya.
Siapa tahu pengetahuan ini bisa digunakan untuk sesuatu
suatu hari nanti.
"Cukup
soal Dungeon. Nah, selanjutnya adalah sihir Enchantment."
Ada
cukup banyak buku sihir mengenai atribut Enchantment, tapi untuk
mencobanya dibutuhkan katalis khusus.
Yaitu Magic
Marrow yang dioleskan pada belati ini.
Cairan
ini memiliki daya tahan yang sangat kuat terhadap Mana dan daya serap yang
tinggi, sehingga sering digunakan sebagai katalis.
Karena
termasuk barang langka yang biasanya hanya beredar di kalangan pandai besi
berbakat, aku belum punya kesempatan untuk mendapatkannya.
Banyak
hal lain yang harus kukerjakan, jadi ini sempat terbengkalai dan aku belum
pernah mencobanya secara langsung.
"Pertama, kelupas dulu Magic Marrow-nya......"
Mari kita lihat, caranya kalau tidak salah dengan
merendam bagian yang diolesi ke dalam air panas, lalu digosok sampai lepas.
Aku mendidihkan air dengan sihir, merendam bilah belati
ke dalamnya, lalu menggosoknya dengan sikat hingga muncul cairan seperti
minyak.
Inilah Magic Marrow.
Cairan ini mengelupas karena panas tapi tidak larut dalam
air, sehingga dia mengapung di permukaan air panas.
Aku menyendoknya dan memasukkannya ke dalam botol kecil.
"Hmm, ada kotoran yang mengapung. Mungkin ini
sudah digunakan berulang kali."
Jika sudah tidak diperlukan, Magic Marrow bisa
dikelupas seperti ini dan digunakan kembali untuk sihir Enchantment yang
baru.
Tapi setiap kali dilakukan, kotorannya bertambah dan
kemurniannya menurun.
Jika begitu, tentu saja efek sihir Enchantment-nya
juga akan melemah.
"Kalau begitu, tinggal dibersihkan saja."
Aku menangkupkan tangan di botol kecil itu dan
menyelimutinya dengan Mana.
Seketika, kotoran kecil mulai muncul dari dalam cairan.
"......Lloyd-sama, apa yang sedang Anda
lakukan?"
"Membuang pengotornya."
Sihir atribut Air: Purification.
Ini adalah sihir yang bekerja pada cairan, fungsinya
secara harfiah adalah menyingkirkan pengotor.
Kegunaannya luas, mulai dari mengubah air sungai menjadi
air minum hingga membuang kotoran yang tercampur dalam bahan bakar.
Hanya saja, jika kemurniannya ditingkatkan terlalu
tinggi, campuran tersebut akan terurai sepenuhnya.
Dulu, aku pernah meningkatkan kemurnian teh terlalu
tinggi sampai berubah kembali menjadi air biasa.
"Melakukan hal sedetail itu dengan sihir......? Hah,
saya sadar sekali lagi kalau sihir Lloyd-sama memang luar biasa."
"Bukan aku yang mengembangkannya. Sihir selalu maju,
sekarang sudah banyak hal yang bisa dilakukan dibanding zaman Grim dulu.
......Sip, kotorannya sudah dibuang. Nah, sekarang sudah bersih."
Magic Marrow itu sekarang terlihat jauh lebih
transparan dibanding sebelumnya.
Ngomong-ngomong,
formula sihir apa yang tertanam di dalam cairan ini?
Coba
kulihat sebentar.
Aku
memusatkan kesadaran pada formula yang tertanam dalam cairan itu.
"......Fumu,
ini formula Fortification, ya."
Ini adalah formula paling populer di antara sihir
yang ditanamkan pada benda.
Pedang mahal biasanya diperkuat dengan ini agar tidak
mudah patah.
Tapi formula ini sepertinya sudah digunakan sejak zaman
kuno.
Sangat kuno dan tidak efisien.
Ayo kita tulis ulang sedikit.
Formula seperti ini sebaiknya dibuang saja.
Sekarang kapasitasnya jadi lowong banyak. Kalau
begini, aku bisa merajut tiga lapis Fortification.
Sekalian saja aku tambahkan Elasticity Up.
Dengan ini, logam akan menjadi lebih ulet dan sangat
tangguh.
......Sip, kira-kira begini.
Tinggal dioleskan kembali ke belati, dan selesai.
"Berhasil!"
Bilah belati yang kupegang sekarang berkilau indah,
berbeda dengan sebelumnya.
Saat kucoba menggoreskan bilahnya ke peti harta
karun, belati itu memotongnya dengan sangat mudah dan tajam.
"Ooh,
luar biasa!"
"Iya,
bagus juga."
Jadi
ini yang namanya sihir Enchantment. Lumayan menarik.
Aku
ingin mencoba lebih banyak lagi, tapi aku kehabisan Magic Marrow.
"......Kalau tidak ada, bagaimana kalau aku buat
saja?"
"Bisa melakukan hal seperti itu!?"
"Jika diurai sampai ke tahap bahan mentah, aku bisa
tahu bahan penyusun dan rasionya. Jika digabungkan kembali, seharusnya aku bisa
mereproduksinya."
Oleh karena itu, aku memasukkan sisa Magic Marrow
ke botol kecil dan mengaktifkan Purification.
Namun kali ini, aku memasukkan formula pengurai ke
dalamnya.
Dengan begini, zat tersebut bisa dikembalikan ke bahan
mentahnya.
Setelah sihir dirapalkan beberapa saat, warna Magic
Marrow mulai berubah menjadi kuning.
Terlebih lagi, berbagai kristal mulai terkumpul dari
dalam cairan dan mengendap di dasar.
Sip, penguraian selesai.
"Heh, jadi ini bahan mentah dari Magic Marrow
ya."
"Begitulah.
Bagian cairannya...... hanyalah minyak biasa."
Minyak
memiliki kecocokan yang baik dengan sihir maupun logam.
Jadi ini sudah sesuai prediksiku.
"Kristal
di dalamnya...... utamanya adalah perak. Bisa
diganti dengan koin perak. Butiran merah ini adalah Red Magic Powder."
Red Magic Powder adalah
bubuk yang dihasilkan dari menghancurkan inti yang ada di jantung monster kuat.
Zat ini menghantarkan Mana dengan sangat baik dan
mudah bercampur dengan cairan, sehingga digunakan dalam berbagai material.
Dan Red Magic Powder ini, jika dijajajkan
dengan inti Dungeon, ternyata sangat mirip.
Benar dugaanku, Dungeon memang salah satu
jenis monster.
Artinya, aku bisa menggunakan inti Dungeon
yang kuhancurkan tadi.
Bahan yang ini juga beres.
"Berarti......
sepertinya aku bisa membuat Magic Marrow dengan bahan-bahan yang ada di
sini."
"Ooh, hebat sekali, Lloyd-sama!"
Jika strukturnya sudah dipahami, tidak ada yang tidak
mungkin.
Oke, besok aku akan mengumpulkan bahan dan mencoba
meraciknya.
"Minyak, ya?"
Keesokan paginya, aku menyapa Sylpha yang sedang
menjemur sprei.
Bahan mentah Magic Marrow adalah minyak, dan
pertama-tama aku butuh itu dalam jumlah banyak.
"Iya, aku butuh satu tempayan penuh. Mau kugunakan
untuk eksperimen sihir......"
"Boleh
saja, tapi...... hmm, begini saja. Ada syaratnya."
Sylpha
berkata demikian sambil menyeringai licik.
"Jika
Anda bisa mendaratkan satu serangan saja padaku saat main pedang-pedangan, akan
kuberikan."
Sudah kuduga dia akan bilang begitu.
Sylpha biasanya selalu mengelak dengan alasan itu setiap
kali aku meminta sesuatu.
Biasanya aku akan langsung menyerah, tapi kali ini
aku tidak bisa begitu.
"Baiklah. Ayo kita lakukan, Sylpha."
Begitu aku mengangguk, Sylpha terkejut dan membelalakkan
matanya.
"A-apa itu sungguhan? Saya tidak salah dengar?"
"Iya, karena aku membutuhkannya. Kalau begitu, aku
akan bersiap-siap dan pergi ke halaman tengah, Sylpha juga cepat datang
ya."
"Ba-baik......"
Sambil membelakangi Sylpha yang menjawab dengan linglung,
aku menuju ke halaman tengah.
Beberapa saat kemudian, Sylpha muncul sambil menyeka
matanya dengan saputangan.
"Hiks,
hiks...... Lloyd-sama menunjukkan semangat yang luar biasa...... hiks, Sylpha
sangat bahagia......!"
Entah kenapa Sylpha menangis saking terharunya.
Sejujurnya, aku malah jadi repot kalau dia seterharu itu.
"Ingat ya Sylpha, aku akan menggunakan sihir."
"Ya, tentu saja. Biarpun itu Lloyd-sama, akan sulit
mendaratkan satu serangan padaku hanya dengan ilmu pedang."
Yah, sebenarnya tanpa izin pun aku sudah sering
menggunakannya...... intinya ini hanya untuk membuat alasan.
Jika aku bertarung sambil menggunakan sihir serangan, aku
punya alasan kalau sampai berhasil menang melawan Sylpha.
"Mari, silakan maju kapan saja."
"──Oke."
Aku memegang pedang kayu dengan satu tangan, dan
menciptakan Fireball dengan tangan lainnya.
Batasannya hanya sihir tingkat rendah, dengan kekuatan di
batas minimum.
Level ini seharusnya terlihat wajar untuk anak kecil yang
suka sihir.
Tentu saja, teknik pedang Sylpha sudah sepenuhnya
kusalin.
"Aku datang!"
Aku melepaskan Fireball sebagai serangan
pembuka dan berlari tepat di belakangnya.
Sebisa mungkin, aku melambatkan kecepatan pelurunya.
Lagipula kalau ditembak cepat pun pasti akan dielakkan,
jadi lebih baik digunakan sebagai tameng seperti ini.
"Percuma!"
Begitu Sylpha mengayunkan pedang kayunya, Fireball
itu langsung musnah dengan mudah.
Tentu
saja itu sudah sesuai rencana, Fireball hanyalah pengalih perhatian.
Sambil berlari, aku sudah mengaktifkan Earth Ball.
Setelah api padam, sebuah dinding tanah tercipta di
sana.
"Hah!? T-tanah──!?"
Pedang kayu Sylpha tertancap di dinding tanah dan
tidak bisa ditarik.
Selagi dia berusaha menariknya paksa, aku sudah
berputar ke belakangnya.
──Kena.
Aku mengayunkan pedang kayu ke arah Sylpha dan
menghentikannya tepat di leher──seharusnya begitu.
Namun Sylpha yang seharusnya ada di depanku
menghilang, hanya menyisakan pedang kayunya.
Bo-bohong! Aku menggerakkan mataku ke kiri dan kanan tapi
Sylpha tidak ada. Kalau begitu, di belakang!?
Aku berbalik tapi dia tidak ada. Itu berarti...... atas!
Seketika
aku merapalkan Fireball dan melepaskannya ke arah langit.
"Sayang
sekali, di bawah lho."
Mendengar
suara dari bawah kaki, aku melihat ke bawah. Sylpha
sedang berada tepat di bawahku sambil tersenyum.
Belum sempat aku terkejut, kedua kakiku sudah
dicengkeram dan aku dijatuhkan.
Dia langsung mendudukiku dan mengambil posisi mount.
Sambil menatap Sylpha yang tersenyum manis, aku
memejamkan mata.
"──Aku kalah."
"Ya, kemenangan milik saya."
"Hup. Apa ini sudah cukup, Lloyd-sama?"
Sylpha meletakkan tempayan berisi penuh minyak di sudut
kamarku.
Permukaan airnya beriak pelan.
"Terima kasih. Tapi apa tidak apa-apa? Padahal aku tidak berhasil mendaratkan serangan."
"Meski hanya sesaat, tanpa sadar saya tadi jadi
serius. Itu sama saja seperti Anda berhasil mendaratkan serangan.
......Terlebih lagi, Lloyd-sama yang sedang serius ternyata sudah menjadi
sekuat ini. Sylpha
sangat senang...... hiks."
Sylpha
menangis lagi. Hentikan dong, aku malu tahu.
Sepertinya
dia sangat senang karena aku bertarung dengan serius.
Padahal
itu adalah 'serius' dalam kondisi yang sangat terbatas...... yah, karena dia
senang, anggap saja tidak masalah.
"Melihat
cara bertarung Anda yang sangat lembek tempo hari, saya sempat mengira ada yang
salah...... tapi syukurlah Anda sudah kembali ke performa terbaik. Fufu."
Melihat
Sylpha yang tersenyum, tangan kananku bergetar hebat.
Si Grim
itu, sepertinya dia ketakutan setengah mati sampai-sampai terus bersembunyi
hari ini.
Sepertinya
dihajar saat main pedang-pedangan tempo hari menjadi trauma berat baginya.
"Ahahaha......
waktu itu kondisiku memang sedang agak buruk......"
"Ya,
ya, itu yang namanya slump. Siapa pun pasti pernah mengalaminya.
Dan untuk keluar dari sana, kuncinya hanyalah latihan! Faktanya, pergerakan
Lloyd-sama yang sudah keluar dari masa slump sangatlah luar biasa. Perpaduan antara sihir dan ilmu
pedang...... Sylpha ini benar-benar kagum."
Sylpha berkata demikian sambil membungkuk hormat
dengan sopan.
"Ilmu pedang maupun sihir saya masih sangat hijau.
Tapi Lloyd-sama masih dalam tahap perkembangan. Dan Anda meningkatkan kemampuan
dengan kecepatan yang luar biasa......! Padahal jumlah pendekar yang bisa
menggunakan sihir sangat sedikit, tapi level ilmu pedang Anda tidak terlihat
seperti anak sepuluh tahun. Ditambah lagi, pemahaman Anda soal sihir sampai
membuat Albert-sama kagum. Ah, betapa luar biasanya. Gelar Komandan Ksatria
atau Master Pedang mungkin tidak sebanding bagi Lloyd-sama yang sudah dewasa nanti......
Merupakan kehormatan besar bagi Sylpha ini untuk
menjadi instruktur bagi orang seperti Anda."
......Apa sih yang dia gumamkan sendiri.
Tatapan matanya saat melihatku sejak tadi agak
menyeramkan.
Ngomong-ngomong, dulu Sylpha pernah bilang pada Charles
kalau dia sangat menghargai kemampuan pedangku, ya.
Tidak, kali ini kan aku hanya menggunakan sihir, jadi
seharusnya penilaiannya tidak akan berubah drastis. Kuharap begitu. Iya.
Setelah mendapatkan minyak dalam jumlah banyak,
eksperimen dimulai kembali.
Jika aku berhasil meracik Magic Marrow, hal yang
bisa kulakukan akan bertambah banyak.
Ngomong-ngomong, racikan semacam ini sering kulakukan di
kehidupan sebelumnya.
Aku biasa membeli bahan murah di pasar, lalu meminjam
laboratorium akademi untuk meracik katalis.
Di istana memang ada ruangan yang bisa digunakan untuk
eksperimen, tapi kalau aku melakukannya di sana, aku akan terlalu mencolok.
Mau tidak mau aku harus melakukannya di kamar tanpa
mengotorinya.
"Pertama, pasang Barrier dulu."
Dengan Cataract Canopy, aku mengelilingi satu
sudut ruangan seluas satu meter persegi dengan Barrier, menjadikannya
laboratorium sederhana.
Barrier air memiliki efek tinggi dalam menahan
suara dan guncangan.
Dengan begini, tidak masalah meski terjadi ledakan kecil
di dalam.
Bahan untuk meracik sudah lengkap.
Minyak dalam jumlah banyak, inti Dungeon, dan koin
perak yang cukup dari uang sakuku.
Baru kali ini aku merasa sangat bersyukur terlahir
sebagai keluarga kerajaan.
"Lalu, lelehkan peraknya."
Pertama, aku membuat wadah batu dengan Stone Effigy,
lalu memasukkan koin perak di atasnya.
Titik leleh perak ternyata cukup rendah, jadi kalau
dipanggang dengan api biasanya akan langsung meleleh.
Untuk berjaga-jaga, aku menumpuk satu lagi Cataract
Canopy dan memasukkan Blazing Fireball ke dalamnya.
Jika dibiarkan begini sebentar, peraknya pasti akan
meleleh.
"Sambil menunggu, aku akan menghancurkan inti Dungeon-nya."
Aku
membuat satu lagi wadah batu, lalu memotong-motong inti itu dengan Water
Blade.
Kemudian
aku menambahkan formula perubahan wujud pada Water Blade untuk menambah
jumlah bilahnya.
Aku menekan inti tersebut, lalu menambahkan formula
rotasi kecepatan tinggi dan menekannya lagi.
Gagagagagaga! Terdengar suara bising saat inti itu
terkikis.
Sip, hancur dengan sempurna menjadi bubuk.
Dengan
ini, Red Magic Powder sudah jadi.
"......Lloyd-sama,
sebenarnya berapa banyak sihir yang Anda aktifkan secara bersamaan?"
Grim yang menonton bertanya dengan nada jemu.
"Hmm? Kalau termasuk yang sedang dalam mode standby,
sekitar dua puluh sih......"
"B-begitu ya."
Entah kenapa Grim malah merasa ngeri.
Jumlah sihir yang bisa diaktifkan bersamaan, aku
sendiri tidak tahu karena belum pernah mencobanya.
Kalau sihir tingkat rendah, aku bisa mengaktifkan
jumlah yang tak terhitung secara bersamaan, jadi kurasa tidak ada gunanya
dijawab dengan serius.
"Oh,
sepertinya peraknya sudah meleleh."
Ayo
kita mulai meracik.
Perak
yang sudah meleleh itu bergerak seperti tetesan air jika digulingkan.
Tapi
bukan berarti perak ini akan bercampur kalau dimasukkan ke dalam minyak begitu
saja, di sinilah saatnya teknik ini beraksi.
Aku membuka mulut tangan kananku.
Sihir
atribut Air: Water Fusion dan sihir atribut Tanah: Earth Fusion.
Masing-masing
adalah sihir untuk menyatukan cairan dan benda padat untuk menciptakan zat
baru.
Jika
diaktifkan dengan Double Cast, segala macam racikan benda menjadi
mungkin──
Minyak
di dalam botol dan perak yang meleleh mulai bercampur.
Minyak
yang tadinya berwarna kuning berubah menjadi keperakan dan menjadi cairan yang
berkilauan.
"Lloyd-sama,
bukankah ini Moonlight Silver Medicine?"
"Iya,
mirip sekali ya."
Moonlight
Silver Medicine
adalah obat yang dijual di Persatuan Penyihir.
Kegunaannya
macam-macam, mulai dari menggambar lingkaran sihir hingga menjadi media
pemanggil familiar.
Harganya
sangat mahal dan jumlahnya sangat sedikit, hampir tidak mungkin bagi penyihir
biasa untuk membelinya.
Aku sempat penasaran bagaimana cara pembuatannya......
ternyata begini caranya.
Secara teori, Double Cast bisa dilakukan oleh dua
penyihir asalkan pernapasan mereka selaras.
Tapi baik Water Fusion maupun Earth Fusion
adalah sihir tingkat tinggi, dan jarang ada orang yang memiliki sihir atribut
sintesis yang bersifat non-tempur...... karena tidak bisa dibuat tanpa dua
orang ahli seperti itu, pantas saja barangnya jarang beredar.
Beruntung sekali aku menemukan resepnya di tempat seperti
ini.
Mungkin bisa berguna untuk sesuatu, aku akan menyetoknya
dalam jumlah tertentu.
"Nah, sisanya tinggal menambahkan Red Magic
Powder ke sini, dan selesai."
Aku memasukkan Red Magic Powder ke dalam Moonlight
Silver Medicine sedikit demi sedikit.
Bubuk yang jatuh meresap ke dalam minyak keperakan, dan
asap merah mulai mewarnai cairan tersebut.
Setelah diaduk-aduk, terciptalah sesuatu yang hampir
tidak berbeda dengan Magic Marrow.
"Ooh! Hebat sekali, Lloyd-sama! Luar biasa!"
"Wujudnya saja, sih. Sebelum dicoba langsung, aku
tidak tahu seberapa besar efeknya."
Tapi belatiku kan sudah dipasangi Enchantment, dan
aku hampir tidak pernah punya kesempatan menggunakan senjata.
Karena ada kemungkinan gagal, aku tidak bisa mencobanya
pada senjata pajangan di sekitar sini.
Apa tidak ada tempat yang punya senjata sisa dalam jumlah
banyak ya...... apalagi kalau ada orang yang mau memakainya.
"......Ah, benar juga."
Saat sedang berpikir, aku mendapat ide bagus.
Untuk itu, mari kita temui Albert.
Setelah mencari di seluruh istana, aku menemukan Albert
sedang latihan berkuda.
Begitu melihatku, dia menghentikan kudanya dan turun
menghampiriku.
"Selamat pagi, Albert-niisan."
"Ya, selamat pagi. Aku
senang Lloyd datang menemuiku. ......Hahaha, jangan-jangan ada sesuatu yang
ingin kamu minta?"
Deg, kok dia tahu?
Melihatku yang terdiam karena ketahuan, Albert tertawa
geli.
"Hahahaha, Lloyd memang manis ya. Baiklah,
katakan saja. Nii-san akan mendengarkan."
"Terima kasih. Anu, begini. Sebenarnya belakangan
ini aku sedang belajar sihir Enchantment. Aku ingin mencobanya, jadi aku
butuh senjata dalam jumlah banyak. Jika tidak keberatan, bolehkah aku meminjam
senjata milik pengawal pribadi Albert-niisan?"
Pangeran tingkat atas seperti Albert masing-masing
memiliki belasan pengawal pribadi.
Tentu saja mereka adalah orang-orang berpengalaman,
setidaknya mereka punya beberapa bilah pedang.
Karena mereka berlatih setiap hari, aku bisa
menanyakan kesan pemakaiannya dengan mudah, dan karena mereka pengawal Albert,
rahasianya juga sulit bocor.
"Sihir Enchantment, ya. Katanya itu sihir
yang sangat jarang penggunanya, tapi kamu sudah bisa menggunakannya.
Benar-benar rajin belajar, ya."
"Aku baru saja mulai. Mungkin saja akan gagal,
jadi tidak apa-apa meski senjatanya tidak terlalu mahal......"
"Hmm, begitu ya. Jadi kamu butuh bahan
eksperimen?"
Aku mengangguk menanggapi Albert yang mengedipkan
mata.
"Terima kasih sudah cepat mengerti."
"Hahaha, aku tahu semua yang Lloyd pikirkan.
Lagipula para pengawal juga menginginkan pedang yang dipasangi Enchantment.
Mereka tidak akan protes meski beberapa senjata rusak untuk percobaan. Baiklah,
aku akan bicara pada mereka."
"Terima kasih banyak."
Setelah berterima kasih pada Albert, aku pun meninggalkan
tempat itu.
Keesokan harinya, Albert mengunjungi kamarku dengan
membawa banyak pedang.
Mungkin ada lebih dari seratus bilah.
Pelayan yang menarik gerobaknya pun terlihat sangat
keberatan.
Albert memberikan senyum segar seperti biasanya.
"Ya, selamat pagi. Sesuai janji, aku sudah
mengumpulkan pedang milik para pengawal."
"Ini...... luar biasa ya......"
"Begitu aku ceritakan soal kemarin pada mereka,
tadi pagi mereka membawa pedang sebanyak ini. Bahkan ada satu orang yang
membawa tiga puluh bilah sendirian. Sepertinya mereka sangat ingin pedang
mereka dipasangi sihir Enchantment."
......Sepertinya bukan begitu.
Mungkin karena Albert menceritakan soal aku, mereka
membawa pedang itu demi cari muka.
Jika seorang majikan memerintahkan untuk mengumpulkan
pedang, maka para ksatria yang melayaninya pasti bisa mengumpulkan sepuluh atau
dua puluh bilah dengan mudah.
Aku tidak berpikir sampai ke sana, tapi ini adalah
sebuah kejutan yang menyenangkan.
"Aku ingin sekali melihat Lloyd menggunakan
sihir Enchantment, tapi sebentar lagi aku ada kelas ekonomi. Sayang
sekali, tapi aku pamit dulu ya."
"Terima kasih, Albert-niisan."
Albert mengedipkan sebelah matanya padaku, lalu menutup
pintu.
"Beruntung sekali ya, Lloyd-sama. Dengan jumlah
sebanyak ini, Anda bisa mencoba sihir Enchantment sepuasnya."
"Benar. Sihir Enchantment memberikan beban
yang cukup besar pada senjata, dan kemungkinan gagalnya juga tinggi. Memang
lebih baik punya banyak cadangan."
Mengenai Magic Marrow yang digunakan untuk Enchantment,
jika aku merajut formula yang terlalu kuat, itu akan mengontaminasi senjatanya.
Hal itu akan menggerogoti ikatan antar logam, dan
hasilnya, senjata itu akan patah dengan mudah.
Namun jika formulanya dilemahkan, efek dari penggunaan Magic
Marrow yang berharga ini akan jadi hambar.
Terlalu pekat tidak boleh, terlalu encer pun jangan.
Menentukan titik keseimbangannya sangatlah sulit.
Apalagi meskipun jenis senjatanya sama, ada kemungkinan
beban yang diterima berbeda karena faktor kelelahan logam.
Karena hal-hal semacam itu harus dirasakan langsung oleh
tubuh, latihan dalam jumlah masif sangatlah krusial untuk sihir Enchantment.
"Nah, mari kita mulai sekarang."
Ayo gunakan dari senjata yang kelihatannya paling murah.
......Meski begitu, semuanya terlihat berkualitas bagus.
Mayoritas adalah senjata dari baja yang diperkuat dengan
cara membakar besi kualitas unggul, tapi di antaranya ada pedang yang terlihat
sangat mahal. ......Apa ini pedang sihir?
Yah, karena ini senjata yang diserahkan pada Albert,
tidak mungkin dia memberikan barang murahan.
Sudahlah, akan kugunakan tanpa sungkan.
Pertama, aku mengambil pedang baja yang jumlahnya paling
banyak, ayo coba dari sini.
Aku
membagi Magic Marrow untuk pedang baja, lalu mulai merajut formulanya.
Untuk
sementara, aku akan mencoba kombinasi tiga lapis Fortification ditambah Elasticity
Up.
Kapasitasnya
seharusnya sama dengan belati besi yang waktu itu.
Aku
mengoleskan Magic Marrow yang sudah dirajut formulanya ke pedang baja
pertama, lalu menyandarkannya agar kering.
"......Hm?"
Saat
aku memperhatikannya sejenak, muncul retakan tipis di bagian tengah pedang.
Suara
retakan pishi, pishi terdengar, dan pedang itu patah menjadi dua.
"Lho,
kenapa?"
Seharusnya
baja lebih keras daripada besi, tapi kenapa dia hancur saat diberi sihir Enchantment
yang sama?
Saat
aku sedang memiringkan kepala keheranan, Grim angkat bicara.
"Mungkin
karena Magic Marrow-nya masih baru, efek sihir Enchantment-nya
tersampaikan secara maksimal. Mana milik Lloyd-sama itu luar biasa besar, jadi
baja biasa tidak akan sanggup menahannya."
"Berarti
Magic Marrow yang waktu itu sudah kedaluwarsa ya. Tapi, hebat
juga kau tahu hal seperti itu."
"Hehe, kalau soal pandai besi, saya punya
pengetahuan yang cukup mumpuni. Nama Grimoire sang Pandai Besi cukup terkenal
di dunia iblis. Hehe!"
Grim tertawa bangga.
Sepertinya dia memang memiliki pengetahuan yang luas
sebagai pandai besi.
Kalau
begini, dia bisa membantuku dalam sihir Enchantment.
"Terima
kasih. Aku senang sudah menjadikan Grim sebagai familiar-ku."
Sihir
kuno memang agak kuno dan kurang berguna, tapi kebijaksanaannya sebagai pandai
besi sangat membantu.
Aku sendiri memang tidak terlalu paham hal-hal di
luar sihir.
Saat aku mengangguk-angguk setuju, Grim tampak
melongo.
"Eh, ada apa?"
"Ti-tidak! Bukan apa-apa, Tuan......"
Grim yang sempat tercengang mulai menggumamkan
sesuatu dengan suara pelan.
"Bocah ini, dia bilang senang menjadikanku yang
seorang Iblis ini sebagai familiar? Cih, berlagaklah selagi bisa. ......Tapi, kenapa ya. Anehnya
perasaanku tidak buruk, apa maksudnya ini......? Ah sial, konsentrasiku jadi
kacau!"
Entah
apa yang terjadi padanya, tapi sepertinya ketidakstabilan emosinya itu sudah
jadi makanan sehari-hari.
Lebih
baik aku lanjut mengerjakan sihir Enchantment-nya.
──Pada
akhirnya, setelah mencoba berbagai hal, pedang baja hanya mampu menahan
maksimal dua lapis Fortification.
Senjata
lainnya juga mirip, sepertinya sulit untuk menanamkan banyak lapis formula
penguat pada senjata biasa.
Ngomong-ngomong,
sekitar tiga puluh persennya berakhir gagal dan kupatahkan. Tehee.
"Tinggal
yang ini, ya......"
Yang terakhir tersisa adalah belati dengan bilah
berwarna merah.
Sarungnya memiliki dekorasi yang indah, dan bilahnya
pun diukir dengan pola yang serupa.
Apakah
formula sihirnya sudah tertanam sejak awal?
"Itu
adalah pedang sihir, Tuan."
"Iya,
kemungkinan besar milik Albert-niisan."
Mungkin
dia pikir aku akan bosan kalau hanya pedang baja terus, jadi dia memasukkannya
sebagai bonus untuk latihanku.
Sebagai
catatan, pedang sihir berbeda dengan senjata yang dipasangi Enchantment;
formula sihirnya sudah ditanamkan sejak tahap penempaan pedang.
Sambil
memukul besi, formula dirajut, lalu saat dilipat, formula dirajut lagi.
Dengan
mengulang proses itu berkali-kali, jumlah formula yang tertanam tidak bisa
dibandingkan dengan Enchantment biasa.
Karena
tingkat kerumitannya yang berbeda total, harganya pasti sangat mahal, dan ini
adalah pertama kalinya aku melihatnya secara langsung.
"Bisa memberikan barang seperti ini begitu saja
untuk eksperimen, negara ini benar-benar kaya ya."
Memang benar sekali.
Berkat kekayaan negara inilah aku bisa bermain-main
dengan sihir sesuka hati.
Aku benar-benar berterima kasih pada Ayah, Charles.
"Kalau begitu, mari kita coba Enchantment
pada pedang sihir ini."
Karena pedang sihir sudah memiliki formula yang
tertanam, katanya sangat sulit untuk menambahkan Enchantment lagi ke
dalamnya.
Jika Enchantment yang ditambahkan tidak cocok,
formulanya akan saling tolak, dan pedang itu sendiri akan hancur.
Aku harus berhati-hati.
Aku menyentuh pedang sihir itu dan memusatkan
kesadaranku.
Aku
mulai membaca formulanya.
"......Fumu,
yang tertanam di pedang ini adalah formula Magic Amplification."
Ada dua
tipe pedang sihir; pertama yang mengandung sihir di dalamnya, dan kedua yang
memperkuat sihir. Yang ini adalah tipe kedua.
Karena
Albert juga seorang penyihir, tidak salah lagi.
"Kalau
ini penguat, bagaimana kalau formulanya kuubah menjadi pengganda?"
Sepertinya rasio penguatannya sekitar dua puluh persen.
Jika kuubah menjadi dua kali lipat, efeknya akan
meningkat drastis.
Hanya saja, menulis ulang formula meskipun hanya sebagian
tetap membawa risiko yang cukup besar.
Salah sedikit saja, pedang ini bisa hancur
berkeping-keping.
"Kalau begitu, yang harus dipasang adalah formula
penguat struktur."
Singkatnya, sesuatu untuk meningkatkan kekerasan.
Jika aku mengoleskan ini, mungkin pedangnya akan tahan.
Mungkin.
Yah, daripada cemas lebih baik langsung dicoba.
Pertama adalah menulis ulang formula; mengubah rasio dua
puluh persen menjadi dua kali lipat.
Begitu penulisan ulang selesai, asap putih mulai mengepul
dari pedang tersebut.
"L-Lloyd-sama! Ini gawat!"
Aku tahu karena sudah menghancurkan beberapa pedang
sebelumnya.
Ini adalah tanda-tanda pedang akan hancur.
Aku harus segera menyelesaikan olesan Enchantment
penguatnya.
Sambil menenangkan napas, aku mengoleskan Magic
Marrow-nya.
Seketika, asapnya mereda. Sepertinya formulanya sudah
menyatu dan mulai stabil.
"......Fuu, hampir saja."
Pedang sihir mahal ini nyaris saja patah.
Ada sedikit retakan sih, tapi masih aman di batas
terakhir.
Pokoknya, meskipun ada sedikit pengorbanan, proses Enchantment
selesai dengan selamat.
"Albert-niisan, terima kasih banyak atas
senjata-senjatanya!"
Keesokan harinya, aku mengunjungi Albert untuk berterima
kasih.
Senjata-senjata itu dibawa oleh Sylpha menggunakan
gerobak.
Aku sempat bilang kalau aku bisa membawanya sendiri, tapi
Sylpha menolak mentah-mentah dengan alasan tidak pantas bagi seorang pangeran
melakukan hal seperti itu.
"Cepat sekali, Lloyd. Sudah selesai?"
"Iya, saking asyiknya sampai tidak terasa."
Aku bahkan sampai lupa makan dan tidur karenanya.
Sekalian membolos main pedang-pedangan dengan Sylpha,
tentu saja.
Begitu aku bilang kalau ini permintaan Albert, Sylpha
terpaksa mengalah meski dengan berat hati.
Saat melirik Sylpha, sepertinya dia masih agak kesal.
"Tapi maaf ya. Ada cukup banyak senjata yang
rusak."
Dari 120 bilah, yang sukses dipasangi Enchantment
hanya 50 bilah.
Tidak, awalnya ada sekitar 80 bilah yang tersisa.
Tapi aku jadi penasaran ingin mencoba lebih jauh, jadi
aku mengelupas Magic Marrow-nya dan berkali-kali mencoba memasang
formula di batas maksimal.
Hasilnya, 30 bilah tambahan patah. Mohon maaf.
Meski begitu, aku tidak berani mengutak-atik pedang sihir
itu lebih jauh. Karena kondisinya sudah di batas limit.
Saat aku sedang berdebar-debar karena takut dimarahi
akibat terlalu banyak mematahkan pedang...... Albert justru menatap pedang itu
dengan ekspresi serius.
"Dari 120 bilah, 50 berhasil!? ......Bahkan bagi
penyihir Enchantment kelas satu pun, tingkat keberhasilannya hanya
sekitar 10 persen. Itulah kenapa aku menyuruh para pengawal mengumpulkan
senjata sebanyak mungkin...... Terlebih lagi, pedang sihir yang tidak sengaja
kutaruh pun berhasil dipasangi Enchantment. Memasang Enchantment
pada pedang sihir membutuhkan pengetahuan dan teknik yang berbeda dari
biasanya. Karena itulah sangat sedikit orang yang bisa melakukannya. Namun,
Lloyd berhasil melakukannya di usia segini......? Benar-benar sulit dipercaya.
Bakat macam apa ini, wahai adikku. Sejak dulu aku tahu kau hebat, tapi mungkin
kau jauh melampaui imajinasiku......"
Dia
membelakangiku sambil menggumamkan sesuatu.
Ada apa
ya, apa dia benar-benar marah karena aku mematahkan terlalu banyak pedang......
"Lloyd."
"I-iya!"
Tanpa sadar aku menegakkan punggungku.
Berlawanan dengan dugaanku, Albert yang berbalik justru
menunjukkan senyum lembut.
"Terima kasih. Dengan senjata sebanyak ini, para
pengawal pasti akan senang."
Sepertinya dia senang. Syukurlah kalau begitu.
Setelah menyelesaikan tugas dari Albert, aku melamun
di kamarku.
Memasang Enchantment pada senjata memberikan
banyak penemuan baru yang cukup menyenangkan.
Tapi rasanya ada yang kurang.
Kalau bisa, aku ingin lebih banyak mengutak-atik
pedang sihir.
"Ah benar, di sana kan ada banyak pedang
sihir."
Aku menepuk tanganku saat ingatan masa kecil muncul
kembali.
Di pinggiran kota, terdapat sebuah makam raksasa tempat
peristirahatan para pahlawan yang pernah menyegel iblis-iblis yang muncul di
benua ini.
──Makam Pahlawan. Makam yang dibuka untuk umum dan
dikelilingi taman itu memiliki pintu rahasia di bagian dalamnya yang hanya
diketahui oleh keluarga kerajaan.
Saat berusia sekitar tiga tahun, aku pernah diajak
Charles masuk ke ruang pemakaman utama, dan di sana ada banyak senjata serta
perhiasan yang diletakkan sebagai barang pemakaman.
Sepertinya itu adalah senjata yang dulu digunakan oleh
para pahlawan. Saat itu aku belum paham, tapi pasti itu adalah sejenis pedang
sihir atau alat sihir.
"......Rasanya layak untuk didatangi."
Kebetulan hari ini aku baru saja menyelesaikan latihan
dengan Sylpha. Dia tidak mungkin mengajakku latihan lagi sekarang, jadi ini
adalah kesempatan emas.
Sambil bergumam begitu, aku menyelinap keluar dari istana
secara diam-diam.
"......Oke, sepertinya tidak ada yang
menyadari."
Setelah keluar dari istana dengan sihir penghilang
jejak, aku memastikan tidak ada orang di sekitar lalu membatalkan sihirnya.
"Tapi, apakah ini tidak apa-apa, Lloyd-sama?"
"Hm, ada apa Grim?"
"Jika Anda tidak meninggalkan saya di sana, bukankah
akan ketahuan kalau Anda menyelinap keluar jika ada yang masuk ke kamar?"
"Ah,
soal itu tidak masalah. Sylpha sedang menyiapkan makan malam, dan Albert-niisan
sedang dipanggil Ayah karena ada urusan. Selama pintunya dikunci, tidak akan
ada yang masuk."
Strategi
membiarkan Grim merasuki boneka yang mirip denganku untuk menjaga kamar memang
tidak buruk, tapi membereskannya itu lumayan merepotkan.
Aku
merasa tidak enak menghancurkan tubuh yang mirip denganku, jadi lebih baik
pergi dan pulang dengan cepat.
"Ah, kalau jalan-jalan di luar, aku harus mengubah
penampilanku dulu."
Aku melakukan Double Cast untuk sihir atribut
Ilusi: Shapeshift, lalu berubah menjadi wujud di antara aku dan
Albert──menjadi Roberto.
Tangan dan kakiku jadi lebih panjang sehingga terasa
kurang nyaman, tapi setidaknya dengan ini tidak masalah meski dilihat orang
lain.
Makam Pahlawan, area di sekitarnya adalah taman yang
luas.
Karena hari ini hari libur, orang-orang terlihat sedang
berjalan-jalan atau berolahraga. Damai sekali.
"Fumu, jadi ini makam tempat orang-orang yang
membantai kaum Iblis kami beristirahat, ya. Di tempat seperti ini kok
bisa-bisanya mereka bersantai begitu."
"Ini namanya damai. Sebagai Grim yang pernah
disegel, apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"
"Tidak juga, salah sendiri saya kalah. Di dunia
iblis, kekuatan adalah segalanya. Dulu saya memang benci pada
orang-orang yang menyegel saya, tapi sekarang tidak terlalu. ......Hanya saja,
mereka menyerang saya saat sedang tidur dengan sepuluh orang sekaligus. Mana
mereka pakai Barrier, pakai alat sihir aneh untuk menyegel kekuatan saya
sampai saya tidak bisa bertarung dengan benar, itu yang tidak bisa
dimaafkan......! Yah, melihat orang-orang itu pun tidak bisa menang melawan
umur...... Guhik! Saya jadi ingin tertawa......! Guhik, guhihihihi!"
Grim tertawa dengan ngeri.
Dia dendam sekali ternyata.
"Sudah kubilang ya, aku tidak akan memaafkanmu
kalau kau membuat keributan di makam."
"Sa-saya mengerti! He-hehehe......"
Grim tiba-tiba menjadi rendah diri mendengar
kata-kataku.
Sambil mengobrol seperti itu, makam tersebut mulai
terlihat di antara pepohonan.
Sebuah bangunan raksasa yang terbuat dari jajaran
batu obsidian besar, di ujung tangga panjang di bagian tengahnya terdapat
lubang yang remang-remang.
"Hm, ada seseorang di depan pintu masuk,
Lloyd-sama."
Saat hendak masuk, ada seorang pria yang sedang
tertidur sambil bersandar di dinding.
Seorang pria sangar yang tidak cocok berada di tempat
seperti ini.
"Sepertinya dia sedang tidur siang."
"Begitukah
ya...... Saya rasa tidak ada orang yang mau tidur siang di tempat seperti
ini."
"Tapi kenyataannya dia sedang tidur, kan."
Grim tampak curiga, tapi ini adalah bukti kedamaian.
Pokoknya, aku pun melangkahkan kaki masuk ke dalam makam.
Bagian dalamnya beralaskan lantai batu, dan di kedua
sisinya berjejer patung batu berbentuk prajurit untuk menghormati para
pahlawan.
Lorongnya remang-remang, dan udara dingin seolah mengalir
dari bagian dalam lorong.
Setiap kali aku melangkah, suara ketukan kakiku bergema.
Begitu sampai di bagian dalam, terdapat aula besar yang
berisi jajaran makam untuk masing-masing pahlawan.
"Oya, ada bunga yang diletakkan di sini. Masih baru lagi."
"Benar. Apa ada seseorang yang datang?"
Karena sekarang sudah damai, biasanya tidak banyak
orang yang berkunjung sampai sejauh ini.
Faktanya, aku sama sekali tidak berpapasan dengan siapa
pun sampai sini.
Katanya paling hanya anak kecil yang tersesat, atau
pendeta dan keluarga kerajaan yang berkunjung pada hari raya atau hari
istimewa......
"Oya,
jarang sekali ada orang di tempat seperti ini."
Saat
aku sedang merasa aneh, sebuah suara bergema dari balik bayangan.
Yang
muncul adalah──Tao.
Aku
membelalakkan mata melihat sosok yang tak terduga itu. Dan begitu pula dengan Tao.
"......Halo, Tao."
"Ro-Roberto......!"
Sesaat, Tao menyebut nama samaran yang kugunakan lalu
berlari ke arahku.
Dia kemudian menyambar tanganku dan menggenggamnya
kuat-kali.
Tenaganya kuat sekali. Singkatnya, sakit.
"Bohong! Bohong, bohong, bohong! Bisa bertemu lagi
begini benar-benar sebuah keajaiban!"
"Aku juga. Tidak sangka bisa bertemu di tempat
seperti ini. Aku terkejut."
"Aku juga!"
Melihat Tao yang melompat-lompat kegirangan, Grim
berbisik padaku.
"Lloyd-sama, siapa gadis ini? Dia sok akrab
sekali."
"Seorang petualang yang kukenal saat keluar waktu
itu. Saat kau sedang menjaga kamar."
"Ah,
waktu itu...... tapi kenapa dia ada di tempat seperti ini ya?"
Aku
setuju dengan keraguan Grim.
Kalau
di dalam kota sih tidak apa-apa, tapi bertemu di tempat yang tidak ada
apa-apanya begini tidak bisa disebut sebagai kebetulan belaka.
Jangan-jangan
dia mengincar pedang sihir. Coba kutanyakan.
"Anu, kenapa Tao ada di sini?"
"Kenapa? Ya...... ziarah biasa. Sebagai petualang,
wajar saja kalau kita menghormati pahlawan yang dulu mengalahkan iblis. Makanya
Roberto juga ada di sini, kan?"
Eh, benarkah begitu?
Karena aku hanya mengaku-ngaku sebagai petualang, aku
tidak tahu banyak hal detailnya.
Saat aku sedang memikirkan jawabannya, Tao tertawa kecil.
"......Bercanda kok, petualang biasa biarpun
menghormati pahlawan tidak akan sengaja datang sampai ke sini. Alasan aku
datang ke sini karena leluhurku pernah ditolong oleh para pahlawan ini. Kampung
halamanku ada di negeri seberang yang jauh, tapi dulu leluhurku yang hidup
damai diserang oleh iblis. Serangan mereka sama sekali tidak mempan, dan
orang-orang dibantai tanpa daya oleh iblis yang memiliki kekuatan luar biasa
itu. Saat itulah, pahlawan yang tidur di sini menyelamatkan leluhurku yang hampir
terbunuh. Mereka mengusir iblis itu dan pergi tanpa menyebutkan nama. Sejak
kecil, aku sudah sering mendengar cerita itu berkali-kali. Leluhurku yang
berhasil selamat kemudian menciptakan metode bertarung menggunakan Qi,
yaitu tinju Hyakkaken dengan merujuk pada cara bertarung mereka. Aku
datang ke negara ini untuk mengenang pahlawan yang tak kukenal namanya itu,
lalu menjadi petualang. Karena itulah aku mengunjungi tempat ini sebulan
sekali."
Jika diperhatikan, Tao menyembunyikan bunga di balik
punggungnya.
Bunga yang sama dengan yang diletakkan di makam.
"Begitu ya, jadi dia keturunan korban iblis.
Menjadi petualang karena mengagumi pahlawan, ya. Kalau
sangat dihormati begitu, para pahlawan itu pasti senang. Cih."
Ucap Grim dengan nada mencemooh.
Dia benar-benar dendam ya.
Daripada itu, keberadaan Tao ini merepotkan.
Aku ingin segera membuka jalan rahasia dan pergi ke ruang
pemakaman utama...... saat aku memikirkan itu, aku merasakan aliran angin
sepoi-sepoi.
Di tempat yang tertutup dinding seperti ini, dari
mana angin itu berasal...... saat aku menoleh ke arah datangnya angin, ada
sebuah lubang yang terbuka di dinding.
──Itu jalan rahasia. Hei, aku kan belum membukanya.
"Hm, apakah sejak tadi ada lorong di sana ya?"
Terlebih lagi, sepertinya Tao juga menyadarinya.
"Fumu, aku merasakan keberadaan orang di bagian
dalam. Roberto, mau coba ke sana?"
"......Ah, iya juga ya."
Aku menyerah untuk berkelit dan memutuskan untuk ikut
saja.
Sejujurnya aku ingin dia pulang saja, tapi karena dia
sudah melihat sejauh ini, sepertinya tidak mungkin.
Kalau aku bertindak aneh dia malah akan curiga, lebih
baik kami bergerak bersama.
Paling buruk, aku tinggal membuatnya tidur nanti. Iya.
Aku pun maju menuju jalan rahasia bersama Tao.
"Suasananya terasa berbeda sekali ya. Terang, dan lorong ini panjang sekali."
"Ada banyak Batu Cahaya yang dipasang di
mana-mana. Mungkin tempat ini juga sebuah Dungeon."
Suasananya mirip dengan saat aku menjelajahi Dungeon
sebelumnya.
Hanya saja tidak ada hawa monster, dan aku pernah
membaca di perpustakaan tentang metode memodifikasi Dungeon yang sudah
kehilangan kekuatannya untuk dijadikan sebuah bangunan.
Meskipun metode arsitektur ini sudah hilang sekarang,
pada zaman kuno ketika Dungeon masih tersebar luas, bangunan bawah tanah
dibuat dengan cara seperti itu.
"Wah,
Roberto ternyata berwawasan luas ya!"
"Dulu aku sempat menyelidiki banyak hal......
eh."
Sambil menjelaskan aku pun berhenti, dan melayangkan
pandanganku ke depan.
Wajah Tao juga tampak menegang.
Hawa yang terasa dari bagian dalam tidak salah lagi
adalah manusia, dan jumlahnya pun cukup banyak.
"......Rasanya tidak enak ya. Mereka sedang
memperhatikan kita."
"Sepertinya sudah ada tamu yang datang lebih
dulu."
Saat aku menyelidiki sekeliling dengan Qi, aku
merasakan keberadaan orang di balik bayangan di depan.
Jelas sekali mereka berniat bertarung. Mereka bahkan
tidak menyembunyikan niat untuk menyerang.
"──Ya ampun, hebat juga kalian bisa menyadarinya.
Padahal mereka semua adalah orang yang ahli."
Mungkin karena menyadari kami sudah tahu sepenuhnya dan
menyerah untuk melakukan serangan mendadak, segerombolan pria bersenjata muncul
dari balik bayangan.
Beberapa dari mereka memanggul kantong besar berisi
sesuatu.
Seorang pria paruh baya dengan rambut pirang kusam dan
janggut melangkah maju.
"Sepertinya kalian bukan warga sipil yang tersesat
ya. Dilihat dari penampilannya, apa kalian petualang?"
"Aku Tao, seorang petualang. Kalian sendiri
siapa?"
"Kelompok Penjarah Black Fox, aku adalah
ketuanya, Gaits."
Kelompok penjarah, jadi mereka yang membuka pintu rahasia
ini.
Kantong yang mereka panggul berisi senjata-senjata yang
bersemayam di ruang pemakaman utama.
"Aduh, padahal aku sudah menempatkan penjaga di
luar."
"Maksudmu pria yang menghadang di depan pintu masuk
tadi? Entahlah, karena dia menghalangi jalan jadi kuhajar saja."
Ah, jadi pria yang tidur siang di pintu masuk tadi
dikalahkan oleh Tao ya.
Pantas saja penampilannya terlihat sangat sangar.
"Begitu ya, hebat juga kau Nona. Karena kalian sudah
melihat sampai sini, tidak ada gunanya menyembunyikannya lagi, akan kuberitahu.
Seperti yang kalian lihat, Makam Pahlawan ini punya jalan rahasia dan ada harta
karun di dalamnya. Kami datang untuk menjarahnya. Yah, karena kalian petualang
berarti kita ini masih satu rekanlah, mari kita berteman baik."
"Dih, siapa juga yang mau!"
Pria bernama Gaits itu mengulurkan tangannya, tapi Tao
menolaknya mentah-mentah sambil menjulurkan lidah.
"Aku datang ke sini untuk berziarah ke makam para
pahlawan. Aku tidak mau disamakan dengan kelompok penjarah seperti
kalian."
"Oh ya? Hehe, bukankah kalian para petualang juga
masuk ke Dungeon dan mencuri harta karun di dalamnya? Kurasa apa yang
kami lakukan tidak jauh berbeda, kan?"
"Salah besar! Kalau dibiarkan, Dungeon akan
terus menciptakan monster, jadi kami masuk ke sana untuk membasmi mereka! Itu
pekerjaan yang berguna bagi orang lain. Kalian ini hanya pencuri, tidak sama
sekali!"
"Kami kan hanya mendistribusikan barang yang sudah
tidak terpakai kepada orang-orang yang membutuhkannya, jadi kami juga berguna
bagi orang lain, kan?"
"Ku...... i-itu cuma alasan! Berhenti membela
diri!"
Melihat Tao yang terbungkam, Gaits menyeringai senang.
"Nah, Roberto juga berpikir begitu, kan? Karena
itu, sebagai sesama rekan profesi aku ingin kalian membiarkan kami lewat.
Menemukan jalan rahasia ini butuh banyak tenaga dan biaya. Meski jarang ada
orang yang datang, kami tidak bisa bersantai-santai di sini. ......Tentu saja
kalau kalian menentang, kami terpaksa membereskannya."
Gaits memegang pedang di pinggangnya.
Tao menatapku dengan cemas.
"……Ya ampun, benar-benar argumen yang tidak
masuk akal."
Saat aku menghela napas, alis Gaits berkedut.
"Apa katamu? Apa maksudmu, Anak Muda?"
"Mau dipoles seperti apa pun, yang kalian lakukan
hanyalah perampokan makam. Tindakan ini menodai para pahlawan yang telah
melindungi benua ini."
"Selain itu, dungeon memang tidak dimiliki
siapa pun, tapi Makam Pahlawan ini dikelola oleh Kerajaan Saloum. Barang-barang
yang ingin kalian curi adalah milik para pahlawan masa lalu, dan itu berarti
milik negara ini—"
—dan itu berarti milikku juga, tambahku dalam hati.
Barang negara adalah milikku sebagai pangeran, dan
milikku adalah milikku.
Berani-beraninya gerombolan bajingan ini mencurinya,
bahkan menganggap kami setara dengan mereka. Benar-benar tidak tahu diri.
"Benar! Kami adalah petualang keadilan, kami tidak
akan membiarkan kalian lolos begitu saja!"
Tao berseru dengan penuh semangat setelah mendengar
kata-kataku.
Terlepas dari apakah kami "keadilan" atau
bukan, aku tidak akan membiarkan orang-orang ini mengambil koleksi pedang sihir
yang menjadi tujuanku.
Gaits mendecak kesal ke arah kami yang menghalangi
jalan, lalu memberi isyarat mata kepada anak buahnya.
"Cih, padahal aku berniat melepaskan kalian
kalau kalian mau lewat dengan tenang. Tapi kalau kalian sebegitu ingin matinya,
ya sudah. Semuanya, maju!"
"Hehehe, giliran kami ya?"
Para pria itu menghunus senjata mereka dan berdiri di
hadapan kami.
Jumlahnya ada belasan orang yang kini menatap rendah ke
arah kami sambil menyeringai.
"Hajar mereka sesuka kalian!"
"Dimengerti!"
Menghadapi pria-pria yang merangsek maju, Tao merendahkan
kuda-kudanya dan mengatur napas.
Ia mulai mengolah Qi di dalam tubuhnya.
"Fuuu……
Ha!"
Seketika,
dia menghilang dari pandangan.
Dampak
dari hentakan kakinya membuat lantai batu retak dan hancur di udara.
Dalam
satu langkah, Tao sudah melesat tepat ke bawah kaki pria yang berada di barisan
paling depan.
"A—!?
Ce-cepat—"
Tepat
saat pria itu hendak berseru, sebuah pukulan telapak tangan dari bawah
menghantam dagunya.
Kaan! Bersamaan dengan suara kering
itu, si pria terpental dan bagian atas kepalanya menghantam langit-langit.
Tao
tidak melewatkan celah saat semua orang terpaku karena kecepatannya yang luar
biasa itu.
Meri, suara tumpul terdengar saat tinjunya
menembus rusuk dua pria di sisi kiri dan kanannya.
Saat mereka tumbang dengan ekspresi kesakitan yang luar
biasa, serangan beruntun Tao tidak berhenti.
Dari sana, dia melancarkan sapuan kaki yang mengalir,
pukulan vertikal ke ulu hati, serangan sikut, hingga tendangan memutar.
Sambil merendahkan tubuh kecilnya, dia menjatuhkan
pria-pria itu satu demi satu.
"Bocah apa ini!? Terlalu kuat!"
"Kalian saja yang terlalu lemah."
Sambil meninggalkan kata-kata itu, dia kembali
melancarkan serangan beruntun secepat badai.
Kelompok pria yang tadinya berjumlah belasan berkurang
satu demi satu, hingga jumlahnya tinggal kurang dari setengah.
"Hoachaa!"
"Gu……!"
Tepat saat dia berteriak aneh dan melayangkan tendangan
terbang, lengan seorang pria menangkap lengan kecil Tao.
Pria raksasa yang membuat lorong ini terasa sempit itu
menatap rendah Tao sambil menyeringai, meski hidungnya berdarah.
"……Hehe,
akhirnya tertangkap juga…… Kau tidak bisa lari lagi sekarang……!"
"Begitukah?"
Begitu
dia mengatakannya, tubuh Tao berputar dengan kecepatan tinggi layaknya tornado.
Pusaran itu ikut menyeret si pria raksasa hingga melayang
ke udara.
"Uooooo!?"
Lalu, dia menghempaskannya langsung ke tanah.
Zuzun— kepala pria itu terkubur ke dalam
lantai.
Di tengah debu yang mengepul, Tao menegakkan tubuhnya dan
menepis lengan pria itu.
"—Nah, masih mau lanjut?"
Orang-orang lainnya tampak benar-benar kehilangan niat
bertarung dan mundur dengan ketakutan.
Melihat itu, Grim bersiul pelan.
"Hou, kemampuannya lumayan juga ya. Hebat untuk
ukuran bocah."
"Ya, aku bahkan tidak perlu turun tangan."
Sisanya tinggal mengambil kembali barang-barang yang
mereka curi.
"Menyerahlah dengan tenang! Kalau begitu, aku
tidak akan bertindak kasar lagi!"
Tao berseru, namun Gaits masih menunjukkan senyum
licik.
"……Heh, ternyata kau bukan cuma besar mulut ya,
Nona. Pergerakan yang hebat melawan orang sebanyak
ini."
"Tapi, ini belum cukup untuk membuatku
mengangkat bendera putih."
"Apa……?"
Tanpa disadari, Gaits sudah memegang sebilah pedang
tua.
Atmosfer aneh yang terasa bahkan dari kejauhan…… Apa
itu pedang sihir—?
"Anak muda di sana sepertinya menyadari sesuatu ya.
Benar sekali, ini adalah pedang sihir pembunuh iblis yang digunakan para
pahlawan."
"Menggunakan ini, membunuh kalian bukanlah hal
sulit…… Rasakan ini!"
Gaits mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga.
Seolah merespons ayunan itu, gelombang kejut
dilepaskan ke arah Tao.
"Kh!?"
Tao memasang posisi bertahan, namun gelombang kejut
itu menghantamnya dengan telak.
Hanya bertahan sekejap, Tao terpental dan menghantam
dinding.
"Auh!?"
Mu, gelombang kejut apa itu tadi…… Sepertinya bukan
berasal dari kekuatan sihir, tapi……
Ah, bukan saatnya memikirkan itu. Aku segera berlari ke
arah Tao yang terjatuh.
"Tao! Kamu tidak apa-apa!?"
"Ugh…… He-hebat sekali kekuatannya……!"
Luka Tao sepertinya cukup dalam, dia mencoba berdiri
namun lututnya kembali bertumpu di lantai.
Dinding di belakangnya retak parah, permukaannya runtuh
hingga memperlihatkan lapisan tanah di baliknya.
Melihat itu, Gaits tertawa dengan nada mengejek.
"Khaha! Kekuatan yang luar biasa! Seperti yang
diharapkan dari pembunuh iblis! Ini pasti laku mahal!"
"Tapi kalau salah menggunakannya, makam ini bisa
runtuh ya!? Aku harus hati-hati menggunakannya! Fuhahaha!"
"Ki-kita harus lari! Biarpun Roberto penyihir hebat,
melawan pedang sihir pembunuh iblis itu terlalu berbahaya!"
Tao berseru mengajak lari, namun aku justru melangkah
menuju Gaits.
"Ro-Roberto!?"
"Oi, oi, kamu sudah lihat tadi kan? Menurutku tidak
bijak untuk maju melawanku."
"…………"
Melihatku yang terus berjalan tanpa ragu, ekspresi wajah
Gaits berubah.
"……Begitu ya, dia mengira aku tidak bisa menggunakan
pedang sihir karena takut dinding ini runtuh……?"
"Kupikir dia cuma pria manis biasa, tapi ternyata
nyalinya cukup besar juga."
Gaits bergumam pelan, namun segera kembali memasang
kuda-kuda dengan pedangnya.
"Tapi kamu terlalu meremehkanku. Pengalaman
bertahun-tahun sebagai perampok makam membuatku tahu persis bagian mana yang
harus dihancurkan tanpa meruntuhkan bangunan!"
"Aku akan menghancurkan tempat ini setelah aku
kabur! Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot mengubur mayat kalian!
Hyaaah!"
Pedang diayunkan, melepaskan gelombang kejut yang merayap
di tanah.
Gagagagaga! Serangan itu mendekat sambil mengikis
permukaan lantai.
Aku dengan tenang menjulurkan tangan untuk menerimanya.
Paan! Gelombang kejut itu pecah dengan suara
nyaring.
"A-apa!?"
Gaits dan Tao berseru serempak karena terkejut.
……Ya, dugaanku benar, gelombang kejut ini bukan berasal
dari kekuatan sihir.
Ini hanyalah bilah angin fisik biasa.
Ini adalah efek dari sihir sistem angin Wind Blade,
sihir yang memberikan kekuatan bilah angin pada senjata.
Bukan memperkuat senjata secara permanen, melainkan hanya
memberikan efek sementara.
Aku merasa ada yang aneh sejak awal melihatnya, dan
setelah menerimanya langsung, aku yakin.
Itu bukan pedang sihir.
"……Apa maksudnya ini, Grim?"
"Ah, dulu musuh yang kami lawan sering menggunakan
penyihir untuk memberikan sihir semacam ini pada senjata mereka."
"Karena saat kami di udara, mereka tidak bisa
berkutik. Tapi ya, bilah angin seperti itu jelas tidak akan mempan pada
kami."
Begitu ya, ternyata dulu mereka bertarung dengan senjata
semacam itu.
Tapi serangan seperti ini hanyalah gangguan kecil saja.
Berarti senjata yang mereka curi semuanya hanya seperti
ini ya.
Kecewa sekali, padahal aku datang karena mengira ada
pedang sihir asli.
"Berisik sekali kalian!"
Bilah angin kembali dilepaskan ke arahku yang sedang
merasa kecewa.
Namun
sepertinya sasarannya meleset, serangan itu melewatiku dan meluncur ke
langit-langit.
"Gawat!
……E-eh?"
Gaits
panik, tapi sebenarnya tidak perlu khawatir.
Langit-langit
yang terkena gelombang kejut itu tidak tergores sedikit pun.
"Aku
sudah memasang Barrier di sekitar sini. Silakan saja mengamuk sesukamu,
kalau kamu sanggup."
Dengan
begini, langit-langit tidak akan hancur dan puing-puingnya tidak akan menutupi
jalan keluar.
"S-sialan!
Jangan bercanda!"
Gaits
mengayunkan pedangnya membabi buta, melepaskan gelombang kejut berkali-kali,
namun tak satu pun yang bisa menembus Barrier milikku.
Gelombang
kejut yang terbang ke arahku pun lenyap hanya dengan tiupan napas pelan dari Grim.
"Ke-kenapa
tidak mempan!? Ini adalah pedang sihir pembunuh iblis!"
"Hah, memalukan sekali menyebut senjata sampah ini
sebagai pembunuh iblis. Baiklah, aku akan membiarkanmu merasakan pengalaman
bertemu iblis yang asli."
Begitu Grim bergumam pelan, sebuah bola mata besar
muncul di tangan kananku.
"Hi-hiii!? Mo-monster!?"
"Monster? Salah, lihat baik-baik manusia.
──Inilah Iblis."
Bersamaan dengan kata-kata Grim, haus darah yang
pekat dilepaskan.
Udara terasa bergetar hebat. Gaits yang menerima
tekanan itu secara langsung langsung jatuh pingsan dengan mata memutih dan
mulut berbusa.
"Oi, oi, baru sekali lirik sudah pingsan. Payah sekali dia. Manusia zaman
dulu jauh lebih tangguh."
Grim meludah
ke arah Gaits yang terkapar.
"Tapi
untuk ukuran senjata dari ratusan tahun lalu, efek penguatnya cukup kuat juga.
Pasti…… tidak salah lagi, ini perbuatannya."
"Penyihir terkuat umat manusia yang membuat para
pahlawan menjadi pahlawan…… Aku sih tidak masalah, tapi kalau iblis kroco pasti
akan menerima damage yang cukup besar."
"Kalau kekuatannya tidak menurun seiring waktu,
mungkin aku yang sekarang akan sedikit kesulitan. Ngomong-ngomong, merasakan
sihirnya setelah sekian lama, kualitas sihirnya terasa mirip dengan Lloyd……
Benar-benar monster yang mana sebenarnya."
Grim terus bergumam sendirian.
Sepertinya dia benar-benar tidak suka pada para pahlawan
itu.
Menyimpan dendam dari masa lalu yang sangat jauh,
ternyata dia punya sisi manusiawi juga.
"Fiuh, akhirnya selesai juga."
Tao menghela napas setelah selesai mengikat Gaits dan
kawan-kawannya.
"Tapi Roberto, benarkah aku boleh mengakui semua ini
sebagai prestasiku? Kelompok Perampok Rubah Hitam itu buronan besar lho."
"Ya, aku tidak membutuhkannya. Sebagai
gantinya……"
"Aku tahu. Aku harus merahasiakan soal Roberto,
kan?"
"Aku akan sangat terbantu kalau kamu melakukan
itu."
Roberto sendiri adalah identitas yang tidak ada di
dunia ini.
Akan merepotkan kalau ada rumor aneh yang menyebar.
"Ayo kita kembalikan barang-barang yang mereka
curi."
"Tentu!"
Setelah diperiksa kembali, barang-barang yang ingin
mereka curi hanyalah pedang biasa yang diberi sihir penguat.
Tidak ada gunanya dibawa pulang, jadi sebaiknya
dikembalikan saja.
"Memberikan semua prestasi padaku, dan bahkan
tidak bergeming sedikit pun di depan harta sebanyak ini……"
"Jangan-jangan Roberto ini orang kaya raya?
Kalau tidak salah, pangeran negeri ini adalah penyihir hebat ya. Namanya kalau tidak salah……
bert-bert juga."
"Mungkin
dia sedang menyamar karena tidak ingin identitas aslinya ketahuan. Kalau
begitu, berteman dengannya pasti akan menguntungkan."
"Kalau
beruntung, mungkin aku bisa dinikahi dan jadi kaya mendadak…… Fuhi,
fuhihihi……"
Tao bergumam sendiri dengan tawa yang agak
menyeramkan.
Tapi ya sudahlah, aku harus segera pulang sebelum
matahari terbenam.
"E-eto, Roberto? Setelah ini, maukah kamu minum
teh bersamaku?"
Tao memutar-mutar jarinya dengan malu-malu, tapi
sayangnya aku tidak punya waktu untuk itu.
Aku harus cepat pulang sebelum kaburku ketahuan.
"Maaf, aku sedang terburu-buru. Sampai
jumpa lagi."
"Ah! Tu-tunggu! Roberto? Robertooo!"
Aku berpamitan sepihak, lalu mengaktifkan Flight
untuk melayang ke udara.
Aku naik dengan cepat, hingga sosok Tao terlihat sekecil
butiran kacang.
"Aaah, dia lari lagi!"
Aku mendengar teriakan sayup, tapi aku mengabaikannya dan
segera terbang menjauh dengan kecepatan tinggi.
◇



Post a Comment