NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji Volume 1 Part 3


"Hai Lloyd, senang kamu datang."

"Iya, Albert-niisan."

Suatu hari, aku dipanggil oleh Albert.

Sambil bertanya-tanya ada apa, Albert tersenyum ramah padaku.

"Sebenarnya Ayahanda menugaskanku untuk memburu monster, apa kamu mau ikut juga, Lloyd?"

"! Berburu monster ya."

Monster adalah binatang buas raksasa yang memiliki kekuatan sihir.

Ada yang sangat cerdas dan bisa memahami bahasa manusia.

Umumnya mereka tidak jinak, hidup menyendiri, dan sering merusak saluran air atau ladang, bahkan kadang menghancurkan desa kecil.

Aku pernah melihatnya sekali di kehidupan sebelumnya, saat itu seekor babi hutan raksasa setinggi lima meter menghancurkan tembok kota.

Butuh sepuluh prajurit penjaga untuk bisa mengusirnya.

Sebagai catatan, setelah jadi pangeran aku baru tahu kalau monster berbahaya bagi rakyat jelata adalah objek buruan bagi kaum bangsawan.

Aku sering mendengar cerita perburuan monster dari kakak-kakakku seperti Charles atau Albert.

Aku memang sudah lama ingin mencobanya sekali.

"Iya, Ayahanda menugaskanku. Lusa, aku akan pergi bersama para pengawal kerajaan. Kamu pasti suka hal seperti ini kan? Anggap saja ini balasan untuk bantuanmu kemarin. Bagaimana?"

"Ikut! Aku mau ikut!"

Aku langsung menyetujuinya tanpa ragu.

Aku bisa keluar istana secara terang-terangan, dan ini kesempatan bagus untuk melihat langsung efek sihir penguat milikku saat para pengawal bertarung.

Selain itu, ada sihir yang ingin aku coba jika harus bertarung dengan monster.

Tidak ada alasan untuk menolak.

"Mohon maaf mengganggu pembicaraan Anda. Tuan Albert, bolehkah saya ikut mendampingi?"

Sylpha maju setengah langkah dan menunduk dengan hormat.

"Tentu, kamu adalah pengawal sekaligus pengasuh Lloyd. Tentu saja kamu harus ikut."

"Terima kasih banyak."

Sylpha kembali memberi hormat lalu mundur.

"Baiklah, sudah diputuskan. Lusa pagi, datanglah ke kamarku bersama-sama. Mengerti?"

"Iya!"

Aku menjawab dengan semangat lalu meninggalkan kamar Albert.

Sylpha mengikutiku dari belakang dengan langkah tanpa suara di lorong istana.

"Ngomong-ngomong, Sylpha pernah melihat monster?"

"Iya, saya pernah beberapa kali ikut Ayah dalam perburuan monster. Mengepung mereka bersama ksatria lainnya sangat menyenangkan. Tuan Lloyd pasti akan menyukainya."

"Wah, aku jadi tidak sabar!"

Melihat senyum lebarku, Sylpha memalingkan wajahnya sedikit.

"Perburuan monster pertama…… Berkat latihan pedang setiap hari, kemampuan Tuan Lloyd sudah meningkat pesat, mungkin tidak buruk untuk mencoba pertarungan sungguhan sekarang."

"Bagaimanapun juga, seni pedang tidak akan bisa dipahami sepenuhnya tanpa digunakan dalam pertarungan nyata. Ini kesempatan bagus bagi Tuan Lloyd untuk menyadari dirinya sebagai pendekar pedang."

"Lalu, mungkin saja ini kesempatan untuk melihat kekuatan penuh Tuan Lloyd. Fufu, saya jadi bersemangat……"

Apa yang sedang dia gumamkan ya?

"Hehe, semuanya sangat tertarik pada Tuan Lloyd lho."

"Masa sih?"

Tidak mungkin pangeran ketujuh yang tidak mencolok ini jadi pusat perhatian.

Ya sudahlah, yang penting aku tidak sabar menunggu lusa.

Hari perburuan monster pun tiba setelah segala persiapan selesai.

Sekitar lima belas pengawal kerajaan yang dipimpin Albert menunggangi kuda, masing-masing membawa senjata yang telah kuberi sihir penguat.

Albert berada di tengah-tengah kawalan, aku di sebelahnya, dan Sylpha mengikuti sedikit di belakang.

"Omong-omong, ini pertama kalinya Lloyd keluar istana ya. Bagaimana perasaanmu melihat pemandangan di luar?"

Sebenarnya aku sih sering menyelinap keluar.

Lagipula di kehidupan sebelumnya aku hidup sebagai rakyat jelata biasa, jadi pemandangan luar kota bukanlah hal yang langka.

"Iya, banyak sekali orang yang berbeda-beda, melihatnya saja sudah tidak membosankan."

Tapi tentu saja aku tidak akan bilang begitu.

Kalau aku menunjukkan rasa senang yang luar biasa, pasti aku akan diajak lagi nanti.

Sesuai rencana, Albert mengangguk puas.

"Wah, itu Tuan Albert. Mau ke mana ya dengan pasukan sebanyak itu!"

"Pasti mau berburu monster! Ah, dia melihat ke arah sini!"

"Kyaa! Tuan Albert!"

Saat melewati kota, para gadis muda bersorak histeris saat melihat Albert.

Populer sekali ya. Memang sih, Albert adalah sosok pangeran sempurna dari sudut pandang mana pun, jadi wajar saja jika para wanita memujanya.

"Ngomong-ngomong, anak kecil itu siapa ya?"

"Baru pertama kali lihat. Pakaiannya sangat bagus, mungkin adik laki-lakinya."

"Hmm, wajahnya memang imut, tapi kalau dibandingkan dengan Tuan Albert…… ya begitulah."

Sepertinya perhatian mereka juga tertuju padaku.

Meskipun sepertinya mereka tidak terlalu tertarik.

Saat aku memikirkan hal itu, Sylpha menghela napas panjang dengan berat.

Lalu dia memberikan tatapan tajam ke arah para wanita itu.

Mereka pun berteriak ketakutan dan segera menghilang di balik kerumunan.

"Fiuh, para wanita itu benar-benar tidak paham ya. Tuan Albert memang luar biasa, tapi Tuan Lloyd pun tidak kalah hebat."

"Tidak, jika melihat potensinya di masa depan, beliau adalah bakat yang bahkan melampaui Tuan Albert…… Dasar tidak punya mata. Sebagai sesama wanita, saya sangat menyayangkan hal ini."

Gumamannya itu lho.

Haus darahnya bocor sampai membuatku merinding. ……Aku harus menjauh sedikit.

Aku menendang perut kudaku agar berjalan lebih depan.

Setelah keluar kota, kami langsung menuju hutan.

Lokasi monster tersebut berada di sebuah danau besar di balik desa kecil di dalam hutan.

Danau itu sudah lama menjadi sumber air penting bagi desa, namun suatu hari tiba-tiba monster muncul di sana.

Penduduk desa yang kesulitan sempat meminta bantuan pada Persatuan Petualang, tapi karena upahnya kecil dan lokasinya terpencil, tidak ada yang mau mengambil pekerjaan memburu monster di sana.

Akhirnya pihak Persatuan menyerahkan masalah ini pada negara.

Pekerjaan pelayanan publik seperti ini memang tugas negara.

Ngomong-ngomong, perburuan monster juga berfungsi sebagai latihan tempur bagi prajurit dan hiburan bagi bangsawan.

"Tuan Albert."

Sylpha bersuara.

Atmosfer tegang yang dipancarkannya membuat Albert dan para pengawal menyadari adanya bahaya. Mereka menghentikan kuda dan menghunus senjata.

Tentu saja aku sudah menyadarinya sejak tadi.

Aku merasakan Qi aneh yang tidak menyenangkan di sekitar sini. Ini adalah monster.

Formasi lingkaran dibentuk untuk melindungi Albert dan aku, lalu Sylpha mengambil sebilah pisau lempar dari balik rok pelayannya.

Pisau itu melesat ke semak-semak, lalu terdengar suara tumpul seolah menusuk sesuatu yang lunak.

"Aooooooo!?"

Lalu terdengar suara rintihan kesakitan.

Sepertinya serangannya tepat sasaran.

Semak-semak bergoyang, lalu muncullah monster humanoid berwajah anjing.

Kalau tidak salah itu Kobold. Monster penghuni hutan yang berburu dalam kawanan.

Kobold adalah monster yang mahir menggunakan alat dan senjata.

Kemampuan mereka jauh di atas Goblin.

Ditambah lagi, senjata di tangan mereka adalah pedang baja.

Melihat itu, ekspresi para pengawal kerajaan langsung berubah tegang.

"Kh, mereka membawa senjata yang bagus……"

"Iya, pasti hasil rampasan dari para petualang. Ini akan jadi pertarungan yang sulit."

Jika kemampuan fisik setara, perbedaan kualitas senjata seringkali menjadi penentu kemenangan.

Fumu, jumlah kami dan mereka hampir sama, ini kesempatan bagus untuk menguji senjata hasil sihir penguatku.

"Ooooooon!"

Kobold-kobold itu menyerang sambil melolong keras.

Para pengawal menghunus pedang mereka dan menyambut serangan itu.

Pedang baja Kobold berbenturan dengan pedang baja pengawal yang mencoba menahannya.

"……Eh?"

Baik pengawal maupun Kobold sama-sama berseru terkejut.

Pedang baja milik Kobold patah tanpa perlawanan sama sekali, sementara pedang pengawal terus melaju dan menebas tubuh Kobold.

Luka tebasan besar pun merobek tubuh monster itu.

"Guaaaaa!?"

Darah segar menyembur dan Kobold itu pun tumbang.

Di tempat lain pun sama, pedang baja yang kuberi sihir penguat mematahkan senjata Kobold satu demi satu.

"Ke-kekuatan tebasan apa ini……?"

"Jadi inikah kekuatan sihir penguat…… Memotong bulu Kobold yang sekeras baja semudah membalik telapak tangan……!"

Para pengawal sepertinya sangat terkejut dengan ketajaman senjata mereka.

Syukurlah, sihir penguatnya bekerja dengan baik.

Dengan keunggulan senjata, para pengawal berhasil mengusir kawanan Kobold dalam sekejap.

"Hahaha! Lihat itu, inilah kemampuan adikku! Kalian hebat kan! Jangan lupa sampaikan terima kasih padanya nanti!"

Albert tertawa bangga.

Duh, tolong hentikan. Aku kan tidak mau jadi pusat perhatian.

Saat aku memberikan tatapan datar padanya, Albert justru tersenyum lebar dan menepuk kedua bahuku.

"Luar biasa, Lloyd. Bukan hanya tingkat keberhasilannya, tapi ketajamannya benar-benar gila. Aku benar-benar terkejut kamu bisa menggunakan sihir penguat sehebat itu."

"E-eto…… haha……"

Gawat, apa aku melakukannya berlebihan?

Evaluasinya jauh melampaui dugaanku.

Kupikir tidak masalah sedikit berlebihan karena jarang ada yang mahir, tapi sepertinya itu malah jadi bumerang.

Saat aku sedang berpikir bagaimana menjawabnya, Albert melanjutkan perkataannya.

"Lloyd yang biasanya hanya baca buku dan mengurung diri di kamar, aku yakin kamu pasti sedang melakukan sesuatu, tapi aku tidak menyangka kamu sudah menguasai sihir penguat sampai sejauh ini."

"Pasti kamu meminta Sylpha mengumpulkan alat-alatnya ya? Bakat yang luar biasa. Benar-benar adikku tercinta."

……Sepertinya aku saja yang terlalu khawatir.

Aku pun menghela napas lega.

"I-iya. Benar kata Albert-niisan. Sepertinya aku memang punya bakat di bidang sihir penguat…… ahaha."

"Iya, iya, tentu saja. ……Bagaimana kalau setelah ini kamu terus membantu kami memberikan sihir penguat? Aku yang akan mengurus semua peralatannya. Tolong ya."

"Peralatan!? Benarkah!?"

"Tentu saja!"

Alat-alat yang kugunakan tadi hanyalah yang dasar, sihir penguat sebenarnya membutuhkan banyak bahan material lainnya.

Jika Albert yang mengumpulkan semua itu dengan kekuasaannya…… aku pasti bisa melakukan lebih banyak hal lagi mulai sekarang.

"Fufufu, Lloyd benar-benar menunjukkan bakat yang luar biasa. Jarang ada orang seusia ini yang bisa berlatih sihir penguat sepuasnya dengan dana yang melimpah!"

"Jika terus begini, bukan tidak mungkin dia akan menjadi penyihir penguat nomor satu di negeri ini, bahkan di dunia……!"

Albert terus bergumam sendiri, sementara kepalaku sudah penuh membayangkan berbagai kombinasi sihir penguat.

Perjalanan berlanjut dengan lancar, saat kami hampir tiba di danau tersebut.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah keberadaan.

Apa ya…… bukan haus darah, tapi aku merasa ada seseorang yang memperhatikan kami.

Dia sepertinya tidak menyembunyikan keberadaannya, tapi tidak ada orang lain yang menyadarinya.

"Sylpha, kamu merasakan sesuatu?"

"……? Maksud Tuan apa?"

Sylpha memiringkan kepalanya dengan heran.

Muu, bahkan Sylpha pun tidak sadar ya.

Aneh, padahal dia pasti ada di sana……

Ya sudah, biar aku paksa dia keluar saja.

Aku melepaskan sihir sistem angin Wind Cutter dengan kekuatan paling lemah ke arah keberadaan tersebut.

Bilah angin kecil melesat dari ujung jariku dan menghilang ke dalam semak-semak tanpa disadari siapa pun.

"Gyaaaaa!"

Suara teriakan yang melengking tinggi terdengar di sekitar kami.

Para pengawal kerajaan segera bersiaga dengan senjata mereka.

Ternyata benar ada seseorang. ……Ngomong-ngomong, aku merasa pernah mendengar suara teriakan itu sebelumnya.

"Siapa di sana! Tunjukkan dirimu!"

Saat Albert berseru, pemilik suara itu perlahan mendekat ke arah kami.

"Aduh, aduh…… tiba-tiba ada serangga yang menyengat tanganku."

Sambil mengusap tangannya yang sedikit bengkak, seorang gadis ahli bela diri keluar dari balik semak-semak—dia adalah Tao.

"Ta—"

Aku hampir saja memanggil namanya tapi segera bungkam.

Bahaya, bahaya, hampir saja aku bersuara.

Aku harus berpura-pura tidak mengenalnya.

"Itu petualang wanita pengguna teknik pernapasan yang kita temui kemarin ya. Kebetulan sekali bertemu di sini…… apa kaburmu tidak ketahuan nanti?"

"Penampilanku berbeda dengan yang kemarin, jadi pasti aman…… mungkin."

Tao menatap mataku, tapi sepertinya dia tidak sadar.

Syukurlah aku sudah mengubah penampilanku. Bahaya sekali.

Tao berjalan santai ke arah Albert.

"Namaku Tao, seorang petualang. Aku bukan orang mencurigakan kok."

"Fumu, aku Albert di Saloum. Pangeran kedua dari negeri ini."

"Pa-pangeran!? ……Ma-mohon maaf atas kelancangan saya……! Tolong maafkan saya!"

"Tidak apa-apa. Kamu kan tidak tahu. Aku tidak keberatan kok."

"Terima kasih banyak ya."

Tao menunduk sambil berbicara dengan logatnya yang unik.

Di negeri lain mungkin beda cerita, tapi di Saloum yang damai, bersikap sedikit kurang sopan pada keluarga kerajaan tidak akan langsung dihukum mati.

Keluarga kerajaan sendiri memang dididik untuk tidak bersikap sombong meskipun kami bangsawan.

Karena itulah keluarga kerajaan kami cukup akrab dan dicintai rakyat, bahkan terkadang kami makan bersama di rumah rakyat jelata saat sedang berburu monster.

"Omong-omong, apa yang dilakukan seorang petualang di tempat seperti ini?"

"Aku mendapat tugas untuk memperbaiki kuil di danau depan sana, sekarang aku sedang dalam perjalanan ke sana."

"Lalu di tengah jalan, aku melihat wajahmu sekilas yang mirip dengan seseorang yang kukenal. Jadi aku mengikutimu begitu saja."

Tao membungkukkan badannya.

Namun cara dia menatap Albert dari bawah ke atas terlihat agak mencurigakan.

Sylpha turun dari kudanya dengan wajah datar dan berdiri menghalangi jalan Tao.

"……Mencurigakan sekali wanita ini. Jika memang penasaran, kenapa tidak menyapa secara terang-terangan saja dan malah mendekat sambil menyembunyikan keberadaanmu? Lagipula caramu bicara pun sangat mencurigakan."

"Apa-apaan! Logat bicaraku ini memang begini! Masalah menyembunyikan keberadaan, aku tidak sengaja melakukannya, caraku bernapas memang sudah jadi kebiasaan!"

Ah, begitu ya. Teman-teman yang lain tidak menyadari keberadaan Tao karena teknik pernapasan Qi miliknya.

Hanya aku yang menyadarinya karena aku juga bisa menggunakan Qi.

Sekarang aku paham setelah dia berada dekat. Tao yang menggunakan pernapasan Qi membuat aliran Qi di dalam tubuhnya tidak terbuang keluar, sehingga kehadirannya tidak terasa.

"Hou, lalu tatapan penuh nafsu ke arah Tuan Albert tadi?"

"A-aku cuma berpikir dia tampan sekali! Tidak ada niat buruk sama sekali!"

Melihat Tao yang panik secara terang-terangan, Sylpha semakin mendekatinya.

"Ada atau tidak, katakan yang jelas."

"—Sylpha, sudahlah sampai di situ saja. Eto, Tao? Kamu santai saja."

Begitu Albert bersuara, Sylpha melirik tajam ke arah Tao sejenak lalu mundur ke belakang.

Meskipun begitu, jarinya masih tetap berada pada gagang senjata agar bisa menyerang kapan saja.

Tao seolah baru bisa bernapas lega dan langsung duduk bersimpuh.

"Fiuh. Terima kasih, Tuan Albert. Kamu menolongku. Wanita ini cantik tapi menyeramkan sekali ya……"

"Omong-omong, Tao. Kamu bilang aku mirip dengan kenalanmu, tapi aku belum pernah bertemu denganmu. Apa kamu tidak salah orang?"

"……Fumu, memang sih orang yang kucari namanya Roberto. Namanya berbeda. Auranya pun sedikit berbeda dengan Tuan Albert."

Gawat, Tao ternyata mencariku ya.

Habisnya aku tiba-tiba terbang kabur sih. Wajar saja dia mencariku.

Tapi ya sudahlah, penampilanku kan sudah berubah, dia tidak mungkin sadar.

Saat aku melirik ke arahnya, ternyata Tao sedang menatapku dengan sangat tajam.

"Mumu…… anak itu punya aura Qi yang mirip dengan Roberto…… tapi penampilannya jelas berbeda. Apa perasaanku saja ya……? Tapi tetap saja……"

Tao terus bergumam sambil menatapku.

Meskipun dia tidak mungkin tahu, tapi ini benar-benar tidak baik untuk jantungku.

"Fun fun fun fun~ fun fun~ fun fun fun~"

Tao berjalan di depan pasukan kami sambil bersenandung riang.

Karena tujuannya sama, dia meminta izin untuk ikut bersama kami dan Albert mengizinkannya.

Tentu saja dia tidak sekadar ikut, dia juga ikut bertarung saat monster muncul.

Kemampuan bertarungnya sepertinya dua tingkat di atas para pengawal kerajaan.

Bahkan sepertinya tekniknya jauh lebih tajam dibanding terakhir kali kami bertemu.

Apa dia terus berlatih setelah itu? Dia berhasil menghabisi hampir separuh monster sendirian.

Melihat kekuatannya, para pengawal yang awalnya waspada mulai merasa tenang bersamanya.

"Benar-benar, Tuan Albert terlalu baik mengizinkan gadis mencurigakan itu ikut serta. Iya kan, Tuan Lloyd?"

"Ahaha…… iya juga ya."

Hanya Sylpha yang sepertinya masih tidak suka pada Tao.

Aku sendiri mencoba untuk tidak menatap matanya, tapi Tao terus melirik ke arahku.

……Dia tidak mungkin sadar kalau itu aku, kan?

"Menatap-……"

Tanpa kusadari, Tao sudah berada di dekatku dan menatapku dengan lekat. Uwah, dia benar-benar mengejutkan saja.

"Hei Kamu, apa kita pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya?"

"E-entahlah... Aku tidak tahu, ya..."

Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat pandanganku bergerak gelisah.

"Muuu, rasanya mencurigakan. ...Tapi aku pun tahu seharusnya kita tidak mungkin pernah bertemu. Tapi apa sebenarnya perasaan ini...?"

Gawat. Sepertinya tatapannya itu benar-benar sedang mencurigaiku.

Penyebabnya sudah pasti karena pernapasan Qi. Sampai beberapa saat lalu, Aku memang terus melakukan pernapasan Qi untuk latihan.

Mungkin dia curiga karena cara bernapasku mirip dengan Roberto. ...Aku melakukan kesalahan.

Meski begitu, jika Aku berhenti mendadak malah akan terasa tidak alami. Satu-satunya pilihan adalah berpura-pura tidak tahu sampai akhir.

Untunglah saat itu Aku sedang mengubah wujud, benar-benar keberuntungan di tengah kemalangan.

"Tuan Lloyd, lihatlah ke arah hutan itu. Bukankah bangunan batu itu kuil yang sedang dia cari?"

Mengikuti suara Grim, Aku mengalihkan pandangan ke arah hutan. Di sela-sela pepohonan, tampak sebuah bangunan batu tua yang usang.

Kerja bagus, Grim. Ini adalah kesempatan untuk mengusirnya.

"Tao, bukankah itu kuil yang ingin Kamu tuju?"

"Oh! Benar sekali, itu kuilnya! Terima kasih, ya! Para prajurit juga, terima kasih atas bantuannya. Kalau begitu, aku permisi dulu!"

Tao membungkuk terburu-buru, lalu berlari pergi dengan kecepatan yang luar biasa.

Firasatku lega. Syukurlah Aku bisa mengusirnya sebelum identitasku terbongkar.

"Terima kasih, Grim."

"Heh, jangan dipikirkan. Sebagai familiar Tuan Lloyd, ini sudah jadi hal yang sewajarnya..."

"Lagi pula, jika bisa membeli kepercayaanmu dengan hal sekecil ini, itu sangatlah murah. Khuhu."

"Hm? Kamu bilang sesuatu?"

"T-tidak, bukan apa-apa! D-daripada itu, kuil tadi rasanya punya aura yang aneh."

"Begitukah?"

Hmm, Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas dari kejauhan. Tapi karena Aku tidak bisa bertindak sendirian, mungkin Aku akan ke sana jika ada kesempatan.

 

"Tuan Albert, danau sudah terlihat."

Salah satu pengawal kerajaan yang berada di depan berseru. Saat Aku menyipitkan mata, di sela pepohonan terlihat permukaan danau yang berkilauan memantulkan cahaya matahari.

"Baiklah, mari kita beristirahat di sini."

Atas perintah Albert, kami mendirikan perkemahan di dekat danau dan mengistirahatkan tubuh sejenak. Fuuu, naik kuda itu ternyata cukup melelahkan.

Berlari atau terbang sendiri jauh lebih cepat dan terasa lebih nyaman. Saat Aku duduk di atas batu untuk beristirahat, Sylpha menyodorkan secangkir teh yang masih mengepul.

"Silakan, Tuan Lloyd."

"Terima kasih."

Aku meniupnya perlahan agar dingin, lalu meminumnya sedikit demi sedikit. Aroma segar yang khas seolah meresap ke dalam tubuhku yang lelah.

"...Fuuu, teh buatan Sylpha masih tetap enak seperti biasanya."

"Suatu kehormatan bagi saya menerima pujian Anda."

Sylpha membungkuk hormat lalu mundur. Para pengawal membagi tugas menjadi dua; sebagian mendirikan tenda, dan sebagian lagi berburu hewan dengan busur untuk makan malam.

 

"Boleh Aku duduk di sebelahmu?"

"Tentu saja."

Albert yang sudah selesai memberi instruksi duduk di sampingku.

"Sylpha, berikan Aku teh juga."

"Baik, segera saya siapkan."

Setelah memerintah Sylpha, Albert diam-diam mendekatkan wajahnya ke arahku.

"Lloyd. Kamu hebat juga, ya."

"Eh!? A-apa maksud Kamu...?"

"Jangan berpura-pura. Gadis bernama Tao tadi. Sepertinya dia tertarik padamu."

"Hah!? A-apa sebenarnya yang Kamu bicarakan!"

Mendengar kata-kata Albert, Aku spontan menyemburkan tehku.

"Hahaha, tidak perlu malu begitu. Sebagai kakak, Aku senang melihat adikku tercinta disukai oleh wanita."

"Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Aku kan masih anak-anak."

"Tidak, itu sangat mungkin. Setidaknya tatapannya tadi bukan tatapan untuk anak kecil biasa."

"Tentu dia tidak berniat melakukan apa pun sekarang, tapi matanya seolah berkata... di masa depan nanti. Kamu mungkin tidak sadar, tapi belakangan ini tatapan Sylpha padamu juga sedikit berubah, lho."

Sylpha atau Tao menyukaiku? Itu benar-benar tidak masuk akal. Tiba-tiba bicara melantur apa dia ini.

Tanpa memedulikan tatapan dinginku, Albert hanya mengangguk-angguk sendiri.

"Sebagai anggota keluarga kerajaan, bukan hal aneh jika wanita memberikan tatapan seperti itu. Yah, singkatnya Kamu populer..."

"Tapi jangan remehkan mereka, ya? Cara wanita menilai kita itu sangat kejam. Kalau Kamu terlalu sembrono, mereka bisa saja menyirammu dengan air dingin."

"H-hah..."

Orang ini bicara apa sih dengan wajah seserius itu? Jangan-jangan Albert pernah mengalami kejadian buruk dengan wanita.

 

"—Tuan Albert."

"Uwah!?"

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang yang membuat bahu Albert berjengit kaget. Saat menoleh, Sylpha sudah berdiri di sana dengan senyum lebar di wajahnya.

Sambil tetap tersenyum, Sylpha menyodorkan teko teh yang dibawanya.

"Maaf jika saya mengejutkan Anda. Tehnya sudah siap."

"A-ah, terima kasih..."

Albert menerima tuangan teh dari Sylpha, lalu menyeruputnya dalam-dalam. Detik berikutnya, dia tampak hampir menyemburkannya kembali namun sekuat tenaga menahannya.

Entah karena terlalu panas, terlalu pahit, atau malah keduanya. Albert sampai terbatuk-batuk hebat.

"Meskipun Anda adalah Tuan Albert, saya mohon jangan memberikan pengetahuan yang tidak perlu kepada Tuan Lloyd."

"A-ah. Tentu saja!"

"Mendengarnya membuat saya tenang. Kalau begitu, silakan dinikmati."

Sylpha tersenyum manis, lalu berbalik dan pergi meninggalkan kami.

 

"...Lihat? Menakutkan, kan?"

Ucap Albert sambil tersenyum kecut. Tidak, menurutku itu murni karena kesalahanmu sendiri.

"Tuan Albert, kami membawa hasil buruan!"

"Saya juga!"

"Kami mendapatkan rusa!"

Tak lama kemudian, para pengawal kerajaan kembali satu per satu membawa hasil buruan.

Mulai dari kelinci, ular, burung, ikan, sampai rusa dan babi hutan.

Melihat hasil yang melimpah itu, Albert tampak sangat terkejut.

"Ini banyak sekali. Padahal baru sebentar, apa yang terjadi?"

"Bukan begitu, Tuan Albert. Hutan ini punya banyak sekali hewan! Terlebih lagi, mereka semua sangat tidak waspada."

"Kita bisa mengambil sebanyak yang kita mau! Bagaimana kalau nanti Anda ikut berburu juga?"

Para pengawal bercerita dengan nada penuh semangat. Yah, memang menyenangkan kalau bisa mendapat buruan sebanyak itu.

Albert menatap deretan hasil buruan itu sambil berpikir sejenak.

"...Hm, tapi hewan hutan adalah sumber daya berharga bagi desa. Meski mudah didapat, tidak baik jika berlebihan."

"Porsi untuk makan hari ini saja sudah cukup. Tidak perlu berburu lagi. Sampaikan ini kepada yang lain."

"B-baik!"

Setelah ditegur Albert, para pengawal segera memberi hormat dengan gugup.

 

Bagaimanapun, persiapan makan pun dimulai.

Hewan-hewan dikuliti, darahnya dibersihkan, dan daging yang sudah diproses dibawa ke hadapan Sylpha.

Sylpha memotong, merebus, dan memanggangnya hingga tersaji rapi di atas meja. Kecekatan tangannya membuat para pengawal berdecak kagum.

"Semuanya, terima kasih telah menunggu. Silakan dinikmati."

Masakan selesai, dan hidangan mewah kini tersaji di atas meja.

Steak dengan sari daging yang menetes, sup kelinci hutan, sate burung, hingga salad tanaman liar—semuanya tampak lezat.

Melihat para pengawal makan dengan lahap, Aku jadi ikut lapar.

"Silakan untuk Anda berdua juga."

"Ah, terima kasih, Sylpha."

"Selamat makan."

Aku menyatukan tangan, lalu mulai menyantap hidangan yang tertata cantik itu. Pertama-tama, dagingnya... nyam, nyam. Oh! Ini enak sekali.

Apa daging hewan liar memang bisa selezat ini?

 

"Ini enak sekali, Sylpha!"

"Ya, padahal ini daging hewan yang baru saja ditangkap, tapi hampir tidak ada bau amis darah sama sekali. Kemampuan yang luar biasa."

Albert pun ikut memuji kelezatan masakan itu.

"Saya senang jika sesuai dengan selera Anda. Saya menggunakan bagian daging yang aroma darahnya paling tipis."

"Selain itu, karena banyak rempah-rempah yang tumbuh di sekitar sini, saya menggunakannya sebagai penghilang bau."

"Hee, Kamu sangat tahu banyak ya. Sylpha memang hebat."

"Ini hanyalah etika dasar seorang pelayan."

Sylpha membungkuk dengan sopan. Aku pun menikmati hidangan itu sepuas hati.

 

"Fuuu, kenyang sekali."

Setelah teh selesai diminum, kami bersantai sejenak. Matahari sudah mulai tenggelam, jadi perburuan monster dijadwalkan besok pagi.

Saat sedang memakan buah manis untuk pencuci mulut, Aku menyadari wajah Albert tampak serius.

"Ada apa, Albert-niisan?"

"Tidak, Aku merasa ada yang aneh. Hewan-hewan itu terlalu banyak yang tertangkap."

"Kelinci, rusa, babi hutan—semuanya punya masa aktivitas yang berbeda. Namun fakta bahwa mereka bisa ditangkap semudah ini, pasti ada sesuatu yang salah."

Albert menopang dagu sambil berpikir keras. Aku tidak terlalu paham ekologi hewan, tapi sejak masuk ke hutan ini memang ada perasaan janggal.

Apa mungkin terjadi sesuatu?

"UOOOOOOOOOOON!!"

Tiba-tiba, raungan binatang bergema keras. Saat menoleh ke arah suara, terlihat seekor serigala raksasa muncul dari dalam hutan.

"M-monster!"

Para pengawal yang sedang beristirahat bergegas berdiri sambil menghunus senjata dan mengepung monster itu.

Bulu hitam tebal seperti kawat dengan mata merah delima. Dari mulut besarnya, taring-taring tajam terlihat mengintip.

Dan juga, ukurannya terlalu besar untuk disebut seekor serigala. Kalau tidak salah, itu adalah Bearwolf. Tubuhnya membengkak karena kekuatan sihir hingga bisa dikira seekor beruang.

"Kita mulai! Lloyd, Kamu juga kemari!"

"Baik!"

Tanpa perlu disuruh pun, Aku segera berdiri dan mengikuti Albert.

"GAOOOOOOOOOO!"

Bearwolf itu menerjang maju sambil mengeluarkan raungan keras. Para pengawal memasang kuda-kuda pedang untuk menyerang balik—tapi tidak berguna.

Bearwolf itu mengabaikan tebasan mereka dan mementalkan para pengawal dengan kasar.

Dengan momentum yang sama, ia melesat lurus ke arah kami.

"Kalian berdua, mohon mundur!"

Sylpha mengibaskan roknya dan berdiri di depan kami.

Dari balik roknya yang tersingkap sekilas, terlihat banyak sekali pisau lempar yang tersimpan.

Dia mencabut dan melemparkan pisau-pisau itu ke arah Bearwolf dengan kecepatan yang tak tertangkap mata.

Satu pisau menancap di dahi, dua di mata, dan satu lagi tepat masuk ke dalam mulutnya yang terbuka lebar.

"UGOOOOOO!?"

"Blazing Fireball!"

Ke arah Bearwolf yang sedang meronta kesakitan, Albert melepaskan bola api raksasa.

Dhuarrr!

Api itu menghantam Bearwolf dan membakar habis seluruh bulunya.

Meski sempat mengamuk sebentar, api sihir itu tidak padam hingga akhirnya ia kehabisan tenaga.

"Ga... a...!"

Bearwolf itu mengerang pelan, lalu jatuh terkapar di tanah.

Melihat monster itu sudah tidak bergerak, para pengawal pun bersorak sorai.

"UOOOOO! Luar biasa, Tuan Albert!"

"Tadi itu adalah sihir yang sangat mengagumkan!"

Dalam sekejap, Albert sudah dikelilingi oleh para pengawal kerajaan.

Suasananya meriah seolah-olah mereka ingin mengaraknya.

"Cih, itu semua berkat pedang sihir Tuan Lloyd. Itu bukan murni kekuatannya sendiri. Dasar, mereka semua benar-benar tidak punya mata."




Grim yang melihat pemandangan itu mulai mengumpat habis-habisan.

Sepertinya dia merasa sangat kesal karena suatu hal.

"Kenapa kamu marah-marah begitu?"

"Tentu saja saya marah! Harusnya Tuan Lloyd yang dipuji, tapi kenapa malah si brengsek itu yang..."

"……?"

Grim tiba-tiba bungkam sebelum menyelesaikan kalimatnya.

"A-apa yang barusan aku katakan...? Kalau bocah ini dipuji semua orang, nanti kan malah susah dimanfaatkan. Seharusnya ini menguntungkan buatku... Sial, aku tidak mengerti... Tapi apa-apaan rasa kesal ini...?"

Lalu, dia mulai berkomat-kamit sendiri seperti biasanya.

Benar-benar makhluk yang sulit dimengerti.

 

"Lloyddd—!"

Dari tengah kerumunan pengawal, Albert berteriak lantang.

"Ini semua berkat pedang sihir yang kamu berikan padaku—!"

Sambil berteriak begitu, dia melambaikan tangannya dengan semangat. Aku hanya bisa tersenyum kaku sambil membalas lambaian tangannya.

Yah, setidaknya pedang sihir yang kuberikan bekerja dengan baik. Syukurlah.

"Perburuan monster berhasil dengan sukses! Ini semua berkat kalian, terima kasih!"

"OOOOOOO—!"

Mendengar kata-kata Albert, para pengawal mengangkat tangan mereka dan bersorak kegirangan. Hmm, padahal aku baru saja keluar kastel, tapi ternyata sudah selesai ya.

Ujung-ujungnya aku tidak sempat bertarung dengan monster, rasanya ada yang kurang.

 

"Matahari sudah hampir terbenam. Kita akan menginap di sini hari ini, dan baru kembali besok."

Tanpa kusadari, hari sudah senja. Cahaya matahari terbenam terpantul di permukaan danau, terlihat sangat indah.

Aku berpikir, apa nanti malam aku bisa menyelinap keluar untuk latihan sihir ya...? Saat sedang melamunkan itu,

"Tuan Lloyd, tenda kita sudah siap."

Sylpha yang baru selesai mendirikan tenda tersenyum ke arahku. Itu tenda yang ukurannya cukup kecil.

Apa kami akan tidur berdua di tempat seperti ini...?

Kalau aku mencoba menyelinap keluar, dia pasti akan langsung terbangun.

Kalau itu Sylpha, aku sudah tidak ragu lagi.

Haaah, sayang sekali, sepertinya acara jalan-jalan kali ini berakhir sampai di sini. Padahal aku juga ingin berburu monster.

"Nah, saya akan menyiapkan makan malam. Tuan Lloyd, mohon tunggu di sini—"

Auuuuuuuu— suara rendah terdengar tumpang tindih dengan suara Sylpha. Gonggongan anjing? Bukan, ini adalah...

"Apakah itu serigala...?"

"Bukan, suaranya terdengar sedikit lebih berat..."

Serigala biasa melolong dengan nada yang lebih tinggi. Meski sulit didengar karena jauh, suaranya mirip sekali dengan Bearwolf.

 

Auuuuu—

Auuuuuuuu—

Lolongan itu terdengar semakin mendekat.

Terlebih lagi, suaranya tidak hanya satu, tapi terdengar dari seluruh penjuru hutan.

Di titik ini, para pengawal pun mulai merasakan kejanggalan dan mulai panik.

"A-apa-apaan raungan ini!?"

"Suaranya semakin dekat!"

"Kalian yang sedang istirahat, cepat keluar!"

Orang-orang yang tadinya beristirahat di dalam tenda pun keluar berbondong-bondong. Semua orang menyiapkan senjata dengan raut wajah tegang.

"Lloyd, kemari."

Aku berlari kecil menuju tempat Albert, sementara para pengawal membentuk formasi lingkaran dengan kami sebagai pusatnya. Suasana di sekitar mulai terasa sangat mencekam.

"Grrrrrrr...!"

Suara geraman terdengar tepat di dekat kami. Srek, srek, semak-semak bergoyang, dan dari sana muncullah seekor serigala raksasa.

—Sudah kuduga, Bearwolf.

"Monster! Ternyata masih ada!?"

"Grrr!" "Gao!" "Guooooooo!"

Tidak hanya satu. Dua, tiga ekor mulai melompat keluar dari dalam hutan. Dalam sekejap, kami sudah terkepung oleh kawanan Bearwolf.

Tak hanya itu, dari kedalaman hutan pun lolongan-lolongan lain terus bermunculan.

"Mustahil... Harusnya monster tidak berkumpul dalam kelompok... Kenapa jumlahnya bisa sebanyak ini...?"

Semua orang tampak panik, tapi bagiku ini adalah kesempatan.

Para pengawal saja kesulitan melawan satu monster, jadi kalau jumlahnya sebanyak ini, tidak masalah kan kalau aku ikut menghabisi mereka?

Tentu saja aku tidak berniat menggunakan sihir selain Lower Class Magic, tapi itu pun sudah lebih dari cukup. Sip, semangatku mulai membara.

"Albert-niisan, aku juga akan bertarung!"

"...! Ah, baiklah. Aku mengandalkanmu, Lloyd!"

"Mereka datang!"

Hampir bersamaan dengan seruan Sylpha, kawanan Bearwolf itu menerjang maju.

 

"GAOOOOOO!"

"Ckh! Lindungi Tuan Albert dan Tuan Lloyd!"

Para pengawal merapatkan barisan, menciptakan dinding manusia di depan kami. Dari balik barisan itu, Albert melepaskan Blazing Fireball.

Bearwolf itu meronta-ronta saat dilalap api yang membara. Baiklah, giliranku.

"Terimalah ini—!"

Dengan nada yang sedikit datar, aku melepaskan Fireball.

Bola api yang melesat itu membakar ujung hidung Bearwolf dan membuatnya gentar.

Saat itulah para pengawal melancarkan tebasan mereka dan memaksa monster itu mundur.

"Tuan Lloyd, kenapa Anda tidak menggunakan sihir yang lebih kuat saja? Kalau Anda pakai satu saja High Class Magic, monster-monster ini pasti langsung mati dalam sekali serang."

"Habisnya, kalau mereka langsung musnah kan tidak seru."

Jarang-jarang aku punya kesempatan menggunakan sihir melawan monster. Kalau bisa, aku ingin menikmatinya lebih lama.

"Benar juga, kalau monster yang tumbang kuberi sihir penyembuh, bukannya aku bisa menikmatinya lebih lama lagi?"

Sekalian saja kuberikan pada para pengawal agar menjadi mesin tempur abadi.

Ide yang bagus, Lloyd. Benar-benar kilasan ide yang iblis.

"S-saya rasa sebaiknya Anda jangan melakukan hal itu..."

Namun, Grim langsung memprotes dengan wajah yang sangat ilfeel.

Benar juga, kalau dipikir-pikir sihir penyembuh tidak bisa memulihkan stamina mental, bisa-bisa para pengawal mati terbunuh karena lengah di tengah pertempuran panjang.

Rasanya bakal tidak enak kalau ada yang mati gara-gara eksperimenku, jadi kubatalkan saja.

Tapi kalau cuma pakai Fireball terus, sepertinya membosankan.

"Kalau begitu, minimal aku akan mencoba Qi."

Karena baru saja mempelajarinya, aku belum sempat mengujinya pada makhluk hidup. Targetnya banyak, jadi aku bisa menembak sepuasnya.

Sambil mengatur napas, aku mengumpulkan Qi di dalam tubuhku menuju tangan kanan. Ini adalah teknik Qi Bullet yang dilakukan Tao.

Dulu paru-paruku terasa sangat sakit saat melakukannya, tapi jika aku menggunakan sihir penyembuh tepat di paru-paru saat eksekusi, rasa sakitnya bisa diredam. ...Sip, bisa.

"Hah!"

Aku menyamarkannya dengan menyelubunginya menggunakan Fireball, lalu melepaskannya. Peluru energi itu melesat lurus dan menghantam tubuh Bearwolf.

"GUOOOOO!?"

Bearwolf itu terpental sambil menjerit, tapi dia segera bangkit kembali. Sepertinya kurang mempan.

Jika hanya mengandalkan serangan Qi murni, aku masih jauh di bawah level Tao.

 

"T-Tuan Lloyd, apa-apaan barusan itu...?"

"Ah, itu Qi. Aku diajari oleh Tao."

"A-apa...!?"

Grim tampak sangat terkejut mendengar perkataanku.

"Qi itu bukannya teknik yang digunakan orang asing saat perang zaman dahulu kala, ya...? Katanya butuh latihan bertahun-tahun... Padahal Anda baru bertemu gadis itu beberapa hari yang lalu, kan? Anda bilang sudah menguasainya dalam waktu sesingkat itu...? Benar-benar tidak masuk akal..."

Grim kembali memasang wajah ilfeel.

Mungkin dia mengira aku sengaja menahan diri untuk memperlama pertarungan. Sayang sekali, padahal aku sudah serius, lho.

Memang benar, mengendalikan Qi itu sulit.

"Hah, hah... T-ternyata melelahkan juga ya—"

Sudah berapa puluh kali aku menembakkan Qi Bullet? Kalau sihir sih bukan masalah, tapi soal Qi, aku ini masih pemula.

Aku harus sangat memperhatikan pernapasan, sehingga kelelahan mental mulai menumpuk.

"Tapi, aku sudah mulai terbiasa...!"

Dibandingkan saat awal, kecepatan mengumpulkan Qi sudah meningkat drastis.

Bukan hanya kecepatan, tapi jarak tempuh dan kekuatannya juga semakin meningkat seiring aku melakukannya. Rasanya sangat menyenangkan.

Pertarungan melawan para monster ini juga terasa seimbang, apa pertarungan ini bisa lebih lama lagi, ya?

Saat sedang memikirkan itu, aku menyadari Albert yang berada di sampingku mulai bernapas tersengal-sengal.

 

"Jumlah monster ini sama sekali tidak berkurang...! Para pengawal dan Sylpha memang tidak menunjukkannya di wajah mereka, tapi gerakan mereka mulai melambat. Lloyd juga sudah mulai terengah-engah. Di usia semuda itu menggunakan sihir sebanyak itu, wajar saja dia kelelahan... Tidak, aku tidak punya waktu mengkhawatirkan orang lain. Aku sendiri pun sudah mulai mencapai batas...! Tapi sebagai kakak, aku tidak boleh menunjukkan sosok yang memalukan... Tersenyumlah, tersenyum Albert! Di saat seperti inilah kamu harus terlihat tak gentar!"

Sambil menggumamkan sesuatu, Albert memasang senyum di bibirnya.

Oh, hebat juga Albert-niisan. Sepertinya dia masih punya banyak tenaga.

"...Lloyd, kamu masih bisa berjuang?"

"Iya! Masih bisa terus kok!"

"Anak pintar. Nah, sekaranglah saatnya kita bertahan...!"

Albert mengayunkan pedang sihirnya dan melepaskan Blazing Fireball.

Seharusnya dia sudah kehabisan Mana sejak tadi... tapi melihat ekspresinya, sepertinya dia senang karena kekuatan serangannya meningkat berkat pedang sihir.

Memang benar, sihir tipe serangan punya indikator kekuatan yang jelas, jadi lebih mudah menjaga motivasi. Hehe. Aku juga tidak boleh kalah.

Kecuali ada elemen spesial—misalnya ada bantuan datang—situasi seimbang ini akan terus berlanjut, dan selama itu aku bisa terus latihan Qi

"HOATTAAAA—!"

Baru saja terpikirkan, sesosok bayangan mungil—Tao—melompat masuk sambil berteriak nyaring.

Satu tendangan kilat menghantam Bearwolf hingga monster itu terpental jauh sampai ke danau.

Tao berputar di udara lalu mendarat dengan pose yang gagah.

"Aku datang membantu, aru!"

Sorak sorai pun pecah menyambut kehadirannya.

"Tao! Syukurlah kamu datang! Kamu menyelamatkan kami!"

"Untung aku sempat. Akan kuhabisi mereka dengan cepat!"

Setelah membalas Albert dengan kedipan mata, Tao mulai mengamuk di tengah kawanan monster.

Aksinya benar-benar luar biasa, seperti singa yang sedang mengamuk.

Dengan tubuhnya yang ringan, Tao bergerak bebas di medan tempur dan menghabisi Bearwolf yang lengah satu per satu.

Karena kami bertarung dengan fokus pada pertahanan, situasi ini menjadi serangan menjepit yang sempurna, membuat jumlah monster berkurang dengan cepat.

...Siapa sangka bantuan dari Tao benar-benar akan datang.

Kalau aku menggunakan Qi di depan Tao, identitasku bisa terbongkar, dan pertarungan ini pun tidak akan bertahan lama lagi.

Ahhh, sudah berakhir ya. Aku pun melepaskan Fireball dengan malas-malasan.

"Ini yang terakhirrr—!"

Qi Bullet milik Tao menghantam Bearwolf terakhir hingga menabrak pohon besar dan pingsan.

Belasan Bearwolf yang terkapar di sekitar sudah tidak berdaya lagi untuk bergerak.

"UOOOOOO! Kemenangan ada di tangan kitaaa!"

Para pengawal saling berpelukan membagi kegembiraan mereka. Hah, sayang sekali.

Padahal aku ingin menikmatinya sedikit lebih lama lagi.

 

"Fuuu, syukurlah semuanya sudah tumbang..."

Saat Tao menyeka keringat di dahi dan mengatur napas, Albert mengulurkan kedua tangannya untuk berjabat tangan.

"Terima kasih, Tao. Kamu benar-benar membantu."

"Tidak perlu dipikirkan. Untung saja aku sempat. ...Fuhihi."

Tao menyambut jabat tangan itu.

Dia meremas-remas tangan Albert dengan wajah yang terlihat sangat kegirangan.

Albert sampai terlihat sedikit risi.

"O-omong-omong, Tao. Bagaimana kamu tahu kalau kami sedang diserang monster?"

"Iya, soalnya kuil itu kan berada di tempat tinggi. Aku bisa melihat Tuan Albert dan yang lain sedang diserang kawanan monster dari sana."

Tempat yang ditunjuk Tao adalah sebuah kuil batu yang berada di atas tebing curam. Hanya saja, kuil itu sepertinya sudah hampir hancur karena usia. Pasti akan sangat sulit untuk memperbaikinya.

"...Sudah cukup hancur, ya. Kalau tidak salah kamu ke sana untuk memperbaikinya. Sepertinya kami sudah mengganggu pekerjaanmu. Nanti kami akan bantu sebagai rasa terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa kami."

"Wah, itu sangat membantu! Terima kasih! Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kapan-kapan kita makan bareng?"

Tao mengajak Albert makan bersama. Oi, oi, lawan bicaramu itu seorang pangeran, lho. Benar-benar... orang yang sangat kuat mentalnya.

 

"—Tuan Lloyd, bisa bicara sebentar?"

Grim bicara dengan nada suara yang serius.

"Ada apa?"

"Kuil itu, aku baru ingat. Itu adalah kuil tempat penyegelan Demon, sama sepertiku."

"Apa...? Tapi kuil itu sepertinya sudah hancur..."

"Benar, Demon yang di dalam sepertinya sudah keluar. Dan dia... ada di dekat sini...!"

Seolah merespons kata-kata Grim, Bokon!

Tubuh salah satu Bearwolf melonjak kaget.

Bearwolf itu berdiri dengan dua kaki, sementara kedua lengannya menjuntai lemas tak bernyawa.

"I-ia hidup kembali!? Semuanya, ambil senjata!"

Atas perintah Albert, para pengawal mengepung Bearwolf tersebut.

Namun yang bangkit bukan hanya satu ekor. Bearwolf yang tadinya terkapar mulai bangkit kembali satu per satu.

Jika diperhatikan baik-baik, tubuh mereka diselimuti oleh kabut hitam tipis.

"Khufufufufu, manusia-manusia ini ternyata hebat juga..."

Suara serak terdengar dari dalam mulut Bearwolf itu.

Di balik taring tajamnya, terlihat wajah pucat pasi yang menyerupai orang tua sekaligus kera.

Matanya luar biasa besar dan di dahinya tumbuh tanduk panjang yang tajam.

Jelas itu bukan seorang manusia.

Keanehan itu membuat para pengawal gemetar ketakutan.

"S-siapa kau sebenarnya!"

Albert berteriak sekuat tenaga, lalu pria tua itu menyeringai dengan ngeri.

"Aku adalah Pazuzu. Demon Pazuzu. Wahai manusia-manusia bodoh. Beraninya kalian menyiksa bawahanku. Kalian akan membayar harganya dengan nyawa."

Pria tua—Pazuzu—menutup mulut Bearwolf itu lalu membuatnya berdiri tegak dengan dua kaki.

Tubuh raksasanya terlihat semakin besar, mungkin karena pengaruh sihir Pazuzu.

Mata merah Bearwolf itu kini tumpang tindih dengan mata jahat si pria tua.

"Hei Grim, apa itu mirip dengan caraku meminjamkan tubuh padamu?"

"Beda jauh! Di sini kan Tuan Lloyd yang memegang kendali penuh!! Ibaratnya saya ini cuma aksesori tambahan saja. ...Kalau yang itu, si brengsek Pazuzu yang mengambil alih tubuh monster itu secara paksa."

Katanya Demon adalah makhluk setengah nyata yang bisa menyatu dengan tubuh makhluk hidup lain.

Seperti Grim yang masuk ke tangan kananku, Pazuzu juga masuk ke dalam tubuh monster.

Hanya saja, kendali penuh berada di tangannya. Bearwolf raksasa—Pazuzu—mulai melangkah mendekat sambil menggeram.

 

"Nah, bangkitlah! Para bawahanku!"

Atas perintah Pazuzu, Bearwolf yang tadinya terkapar kini kembali memiliki sinar di matanya.

Tubuh mereka yang mulai bangkit perlahan diselimuti oleh kabut hitam tipis. —Itu pasti kekuatan sihir Pazuzu.

Monster adalah hewan yang memakan materi bermana, lalu menjadi kuat dan besar.

Hewan yang sudah menjadi monster akan lebih suka memakan hal-hal yang mengandung sihir agar bisa menjadi lebih kuat lagi.

Pazuzu pasti memberikan sihirnya sendiri untuk memulihkan luka para monster itu.

Aku pernah membaca di buku kalau penjinak monster biasanya mengendalikan mereka dengan cara seperti itu.

"...Fumu fumu, setelah dilihat langsung aku jadi paham, itu bukan sekadar sihir biasa."

Sepertinya dia mengubah sifat sihirnya agar lebih mudah diterima oleh tubuh para monster. Memang benar, sihir orang lain itu bukanlah sesuatu yang mudah diterima begitu saja.

Karena itulah dia mengubah sifatnya agar sinkron. Kalau ada orang dengan sihir kuat di dekatku, itu biasanya sangat mengganggu.

Makanya aku selalu menekan sihirku saat beraktivitas, dan itu sebenarnya cukup melelahkan.

Begitu ya, ternyata sihir bisa digunakan seperti itu juga. Menarik.

"Grrrrr..." "Gruuuuu..."

Para pengawal mundur ketakutan melihat Bearwolf yang menggeram.

Luka-luka di tubuh Bearwolf yang bangkit itu menutup dengan cepat, bahkan tubuh mereka terlihat sedikit lebih besar dari sebelumnya.

"M-mustahil...!?"

"Padahal tadi sudah kita kalahkan..."

Kekacauan mental terjadi karena musuh yang seharusnya sudah mati kini bangkit kembali.

Seakan ingin menambah tekanan, Pazuzu mengeluarkan raungan keras.

"GUOOOOOOOOO—!"

Menjadi aba-aba, kawanan Bearwolf itu kembali menerjang.

Para pengawal mencoba bertahan, tapi mental mereka sudah jatuh duluan.

Ditambah lagi, ada sosok Pazuzu yang berukuran jauh lebih besar. Semuanya bertarung dengan ragu-ragu.

Pazuzu tidak akan menahan diri hanya karena itu, satu ayunan tangannya yang besar langsung mengenai beberapa pengawal sekaligus.

"Gwaaaa—!?"

Hanya dengan satu tebasan, para pengawal terlempar jauh.

Pedang salah satu pengawal yang mencoba menahan tendangannya patah berkeping-keping, membuat sang pemilik tersungkur di tanah.

Satu per satu pengawal ditumbangkan oleh Pazuzu.

Mereka yang sedang berhadapan dengan Bearwolf lain pun wajahnya memucat melihat pemandangan itu.

"Hiiih! K-kuat sekali...!"

"Itu adalah Demon... t-tidak mungkin bisa dihentikan...!"

Karena perbedaan kekuatan yang luar biasa, para pengawal mulai kehilangan semangat tempur.

Garis pertahanan kacau balau, dan saat semuanya tampak akan segera dihancurkan, sebuah hembusan angin melintas di antara mereka.

 

"—Aku pinjam ya."

Suara yang lantang itu terdengar bersamaan dengan melesatnya Sylpha.

Di kedua tangannya, tergenggam pedang yang sepertinya baru saja dia ambil dari sarung pedang para pengawal.

Pedang ganda itu berkilau saat memantulkan cahaya.

"Langris Style Twin Sword Technique—Rising Twin Dragon."

Sambil menyeret pedang yang dihunusnya ke tanah, Sylpha berlari menuju Pazuzu.

Setelah menggambar dua garis di tanah dan sampai di kaki Pazuzu, dia melompat vertikal.

Kilatan pedang dilepaskan saat dia melesat naik.

Bekas sabetan pedang terlihat jelas mulai dari kedua kaki, badan, hingga bahu sang monster.

"Nuguu!?"

Pazuzu mengerang kesakitan menerima sabetan dahsyat sambil dipanjat tubuhnya.

Dengan menjadikan bahu Pazuzu sebagai pijakan, Sylpha berputar setengah lingkaran di udara.

Kini dia memegang kedua pedangnya dengan posisi terbalik.

"Selanjutnya, Langris Style Twin Sword Technique—Descending Flying Bird."

Pedang ganda itu menancap di punggung Pazuzu.

Gagagagagagagaga!

Sabetan bertubi-tubi dilepaskan Sylpha saat dia meluncur turun dan mendarat.

Permainan pedang yang sangat mengagumkan dan tak tertangkap mata. Wah, hebat. Jadi ini keseriusan Sylpha.

"Makhluk kecil ini... lincah sekali!"

Namun sepertinya tidak ada damage berarti, Pazuzu melancarkan tendangan ke arah Sylpha yang baru saja mendarat.

—Tapi, terlambat. Yang dia serang hanyalah bayangan Sylpha.

Di depan kaki yang tersisa, Sylpha sudah bersiap dengan posisi pedang menyilang.

"Twin Tiger—Claw and Fang...!"

Darah menyembur akibat empat serangan beruntun dari segala arah.

"Hah!?"

Ekspresi Sylpha berubah. Akibat serangan yang masuk terlalu dalam, pedangnya patah.

Dia segera membuang pedang itu, menarik diri kembali ke barisan, lalu bergumam pelan.

"...Keras sekali ya. Semuanya, bolehkah aku meminjam pedang kalian?"

"O-oh, tentu!"

Para pengawal mengangguk mantap, lalu mereka mengumpulkan pedang cadangan dan menancapkannya ke tanah.

Jumlahnya dua belas bilah.

Sylpha menatapnya dengan sedikit ragu, tapi dia segera menguatkan tekad dan mencabut dua pedang.

"Pelayan Kerajaan Saloum sekaligus Instruktur Teknik Pedang, Sylpha Langris. Maju menghadapi lawan—!"

Pedang ganda yang dihunus Sylpha memancarkan cahaya yang dingin.

"Nuuu... dasar perempuan..."

Saat perhatian Pazuzu teralih sepenuhnya pada Sylpha, saat itulah terdengar suara... Suuuuuu—!

Suara napas yang dalam. Di kaki monster itu, ada sesosok bayangan mungil yang menyilangkan kedua tangannya.

Itu Tao. Dia merendahkan kuda-kudanya, lalu menghantamkan kedua telapak tangannya sambil memutarnya.

"Hah!"

Dzuuun!

Suara dentuman rendah bergema.

Serangan yang dipenuhi dengan Qi. Gelombang kejut menjalar di kaki Pazuzu, membuat tubuh raksasa itu terhuyung dan akhirnya tumbang.

"──Thunderbolt Break, gerakannya memang lama dan sulit kena, tapi daya hancurnya benar-benar nomor satu."

Tao tersenyum lebar. Ia membalikkan telapak tangannya ke arah Pazuzu yang terjatuh, lalu memberikan isyarat memanggil dengan jarinya.

"Calon penerus ke-108 aliran Hyakkaken, Tao Yuifa. Majulah!"

Melihat serangan kedua orang itu, ekspresi para pengawal langsung berubah.

"K-kita juga harus beraksi!"

"Benar! Inilah saatnya menunjukkan kejantanan kita!"

Dengan tangan gemetar, mereka menggenggam erat pedang masing-masing dan berbalik menghadapi para Bearwolf. Sepertinya mereka sudah berhasil mengumpulkan keberanian kembali.

Melihat hal itu, Albert mengangguk seolah telah memantapkan tekadnya.

"Semuanya, bisakah kalian bertahan sedikit lagi saja…?"

Ia kemudian menatap tajam ke arah Pazuzu dan melanjutkan kata-katanya.

"Aku akan menggunakan sihir tingkat tertinggi…!"

 

Oho, begitu ya. Tapi daripada itu, bagaimana ya cara mengubah sifat dari energi sihir?

Aku memperhatikan dengan penuh minat pada energi sihir yang dipancarkan oleh Pazuzu.

"Api yang berkobar, api yang menari, api yang menghujam, wahai api yang membinasakan segalanya tanpa pandang bulu. Datanglah, datanglah, datanglah──"

Albert mulai merapal mantra. Itu adalah rapalan mantra untuk sihir api tingkat tertinggi, Scorch Burn Fang.

Seingatku Albert hanya bisa menggunakan sihir tingkat tinggi. Entah sejak kapan dia mempelajarinya.

Hanya saja, sepertinya dia belum bisa melakukan rapalan cepat dengan teknik spell stack. Dia melakukannya dengan rapalan normal.

Setiap kali mantra diucapkan, lingkaran sihir tercipta di sekeliling Albert. Pola-pola indah muncul dengan warna cerah lalu menghilang silih berganti.

Kalau menggunakan spell stack, semua proses itu dilewati sehingga rasanya agak kurang seni. Meski begitu, seingatku rapalan penuh seperti ini memakan waktu yang cukup lama.

Rencananya pasti Tao dan Sylpha yang akan menahan Pazuzu sampai rapalan itu selesai.

"Haa!"

"Iyaaa!"

Serangan mereka berdua tidak mempan secara maksimal. Meski memberikan sedikit luka, luka itu segera pulih kembali.

Sepertinya bagi seorang Majin yang separuh tubuhnya adalah entitas roh, serangan fisik sulit untuk memberikan dampak permanen.

"Tuan Lloyd, sekuat apa pun sihir tingkat tertinggi, itu tidak akan mempan pada makhluk seperti Majin!"

"Ngomong-ngomong, sepertinya kamu pernah bilang begitu sebelumnya. Tapi anehnya, waktu itu kamu langsung menyerah dengan cepat."

"Ya habisnya, kalau kena serangan seperti itu siapa yang tidak tumbang!?"

Dalam hati aku membatin, sebenarnya yang mana yang benar.

"Yah, sudahlah. Lebih dari itu, Grim, apa kamu termasuk yang ahli dalam mengubah sifat energi sihir?"

"Hah, Anda masih membahas soal itu!?"

Apa maksudnya dengan "masih"? Ini kan prioritas utama.

"Haa, yah, Majin memang ahli dalam mengubah sifat sihir. Aku tahu caranya, tapi... bukankah gawat kalau membiarkan mereka lalu asyik mengajar?"

Grim melirik ke arah Albert dan yang lainnya yang sedang bertarung.

"Tidak apa-apa. Sejak tadi aku sudah merapalkan sihir penyembuhan pada mereka."

Kalau musuh bisa pulih, kita juga harus bisa. Tadi aku sudah menempelkan Mana Mark pada mereka semua.

Ini semacam tanda untuk menargetkan sihir secara otomatis. Sekali dipasang, aku tidak perlu membidik ulang untuk mengirimkan sihir pada mereka.

Sihir yang kugunakan adalah sihir penyembuhan Recovery Breath. Sihir ini akan memulihkan luka sedikit demi sedikit sesuai dengan kedalaman napas mereka.

Karena sifatnya yang memulihkan perlahan dalam waktu lama, sihir ini sangat cocok digabungkan dengan Mana Mark. Lagipula, ini sulit ketahuan kalau aku pelakunya.

Sihir tipe penyembuhan semuanya berada di tingkat atas, jadi akan merepotkan kalau sampai ketahuan.

Orang-orang yang terluka dan tumbang mulai berdiri kembali setelah luka mereka sembuh. Ya, kalau begini mereka tidak akan kalah dengan mudah.

"Nah, sekarang lanjut ke obrolan tadi."

"Haa, baiklah saya mengerti... Ehem. Mengubah sifat energi sihir itu bukan dilakukan pada formula sihirnya, tapi saat menghasilkan energi sihir itu sendiri."

"Bukan sekadar mengeluarkan energi sihir, tapi jika diberikan sedikit modifikasi, sifatnya pun akan berubah."

"Heh, aku tidak pernah terpikir sampai ke sana."

Selama ini aku hanya mengeluarkan energi sihir secara biasa saja.

Kalau diingat kembali, sihir kuno Grim yang bisa berubah warna atau bentuk gelombang itu bukan karena formula sihirnya, tapi karena dia mengubah sifat energinya.

Dulu kukira itu tidak berguna, tapi ternyata sihir memang sangat dalam.

"Langkah dasarnya dimulai dari mengubah warna. Mau mencobanya?"

"Tentu saja."

"Kuncinya adalah imajinasi. Bayangkan dengan kuat energi sihir yang berwarna. Tapi yah, ini bukan hal yang bisa dikuasai dalam semalam..."

Imajinasi, ya? Mirip seperti sihir perubahan wujud Copy Appearance.

Kalau begitu aku ahli. Imajinasi, imajinasi.

Aku membayangkan warna biru dengan kuat, lalu mulai menghasilkan energi sihir dari telapak tanganku. Seketika, energi sihir berwarna biru muda meluap keluar.

"Oh! Jadi ini yang namanya mengubah sifat energi sihir?"

Merah, putih, hijau. Energi sihir itu berubah warna sesuai keinginanku. Ini menyenangkan.

Saat aku sedang asyik bermain, Grim menatapku dengan wajah penuh keterkejutan.

"A... apa? Hanya dengan mendengar penjelasannya, Anda langsung bisa melakukannya begitu saja...!?"

"Aku juga bisa menggerakkannya. Meski sepertinya tidak ada gunanya..."

Aku mengirim imajinasi "bergeraklah" pada energi sihir itu, dan ia mulai bergerak meliuk-liuk sambil berubah warna. Grim hanya bisa melongo melihatku mengendalikannya dengan bebas.

Begitu ya. Pazuzu menambahkan bau dan rasa pada energinya agar disukai oleh para monster.

"──Wahai api, berkumpullah dan jadilah taring yang mengoyak segalanya. ……Scorch Burn Fang!"

Selagi aku melakukan itu, sepertinya rapalan Albert sudah selesai.

Sylpha dan Tao yang menyadari hal itu segera menjaga jarak dari Pazuzu. Sesaat kemudian, taring api yang tak terhitung jumlahnya menghujam ke arah Pazuzu.

"GAAAAAH!?"

Api yang sangat luas membakar area sekitarnya. Para Bearwolf menjerit sebelum akhirnya bertumbangan satu per satu.

"Berhasil! Daya hancurnya luar biasa!"

"Luar biasa, Tuan Albert. Dengan ini dia tidak akan bisa bangkit lagi."

Keduanya bersorak kegirangan. Sebaliknya, ekspresi Albert justru tampak muram.

"Ya, kuharap begitu..."

Albert tiba-tiba berlutut. Napasnya tersengal-sengal, dan seluruh tubuhnya gemetar seolah kehabisan tenaga.

Itu adalah gejala kehabisan energi sihir. Wajahnya menjadi pucat.

"Tuan Albert!?"

"Kamu tidak apa-apa!?"

"Haha... aku sudah mengeluarkan seluruh kekuatanku... energi sihirku sudah mencapai batas. Kalau dia masih hidup setelah ini, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi..."

Tao dan Sylpha yang menopang Albert yang tertawa lemah itu pun sudah tampak sangat kelelahan. Sihir penyembuhan memang bisa mengobati luka, tapi tidak bisa memulihkan energi sihir atau kelelahan fisik.

Tentu saja, para pengawal pun hanya bisa berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Di tengah wajah-manusia yang penuh doa sambil menatap kobaran api itu──

DUM! Tanah bergetar hebat.

Di dalam api, sebuah bayangan raksasa bergoyang pelan.

"Khkhkh, khfufufufu... Tidak buruk untuk ukuran manusia."

Pazuzu muncul dari balik api tanpa luka sedikit pun. Di belakangnya, para Bearwolf juga mulai bangkit kembali meskipun tampak terhuyung-huyung.

Melihat pemandangan itu, wajah semua orang berubah menjadi pucat pasi karena putus asa.

"T-tidak mungkin...?"

Melihat wajah Albert yang terkejut, Pazuzu menyeringai lebar.

"Naif sekali. Aku adalah seorang Majin. Sihir manusia tidak akan mempan padaku."

Saat Pazuzu tertawa, ia mengembuskan napas hitam. Tanpa disadari, kabut hitam itu telah menyelimuti area sekitar.

"Ugh...!?"

"Guh...!"

Para pengawal mengerang kesakitan lalu tumbang. Begitu juga dengan Tao dan Sylpha. Semuanya jatuh terjerembap satu per satu.

"Khwahahaha! Siapa pun yang menghirup energi sihirku akan kehilangan kesadaran dan menjadi boneka penurut! Untuk ukuran manusia kalian bertahan cukup lama, tapi cukup sampai di sini. Tenang saja, setelah ini kalian akan kubuat berguna sebagai budakku!"

Pazuzu tertawa keras, tapi wajahnya tiba-tiba menegang. Tatapannya tertuju lurus ke arahku.

"T-tidak mungkin!? Kenapa kau masih sadar setelah menghirup energi sihirku!"

"Eh? Entahlah..."

Aku menjawab dengan kepala miring ke arah Pazuzu yang panik.

"Cih... karena masih bocah, jumlah napasnya sedikit sehingga tidak mempan? ……Kalau begitu, makanlah ini secara langsung!"

Pazuzu menarik napas dalam-dalam, lalu menyemburkan asap hitam pekat dengan kencang. Asap hitam itu menggumpal dan menelan tubuhku.

"Wah! Berasap!"

Aku memejamkan mata sambil mengibaskan tangan untuk mengusir asap. Sialan, berani-beraninya dia menyemburkan benda aneh padaku. Bikin kaget saja.

Lagipula baunya aneh. Apa dia tidak pernah sikat gigi?

Saat aku keluar dari asap sambil terbatuk, aku melihat Pazuzu dengan wajah terperangah.

"Ba-bagaimana bisa...?"

"Bukan 'bagaimana bisa'. Apa-apaan kau ini, tiba-tiba menyerang orang."

Melihatku menghela napas, Pazuzu menelan ludah.

"K-kau... kenapa tidak terjadi apa-apa setelah terkena energi sihirku?"

"Hmm? Tidak ada yang aneh, kok..."

Kenapa dia terkejut sekali sejak tadi? Apa dia baru saja melancarkan serangan? Oh, tapi sepertinya tercium aroma manis...?

Saat aku sedang bingung, Grim tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha! Napas bau milikmu itu tidak mempan padanya!"

Pazuzu membelalakkan mata saat melihat telapak tanganku—tempat Grim berada.

"Nu... kau adalah seorang Majin. Kenapa kau berada di telapak tangan manusia?"

"B-berisik! Bukan urusanmu! Aku punya alasan sendiri!"

"……Humu, begitu ya. Jadi kau telah menjadi familiar manusia itu. Pasti dia memanfaatkan celah saat kau bangkit dan memaksamu melakukan kontrak pelayan... Dijadikan familiar oleh manusia rendahan, kau benar-benar mempermalukan kaum Majin. Benar-benar memalukan."

Heh, jadi begitu ya. Memang sih, karena terkurung di dalam buku, Grim pasti tidak dalam kondisi puncaknya.

"Tapi aku tidak akan seceroboh itu! Aku bangkit dengan persiapan matang! Lihatlah pasukanku ini!"

Oh, benar juga. Bagaimana cara dia mengumpulkan monster yang biasanya tidak suka berkelompok? Karena penasaran, aku pun bertanya.

"Bagaimana sebenarnya kau mengumpulkan Bearwolf sebanyak ini?"

"Khfufu, simpel saja. Agar monster yang tak suka berkelompok mau berkumpul di hutan ini, aku menggunakan energi sihirku untuk memikat banyak hewan buruan sebagai umpan! Jika tempat ini penuh dengan energi sihir dan makanan, para monster akan berkumpul... Di sanalah aku membunuh induk mereka dan mengambil anak-anaknya untuk dibesarkan! Meski aslinya mereka penyendiri, jika dibesarkan bersama sejak kecil, mereka akan terbiasa berkelompok. Yah, usahaku memang sangat berat, tapi lihatlah hasilnya! Tidak akan ada yang bisa menang melawan pasukan monster sebanyak ini! Khwahahahaha!"

Membunuh orang tua, menculik anak-anak, lalu melatih mereka sejak kecil... Benar-benar orang jahat. Bahkan aku pun tidak akan melakukan hal sekejam itu.

Melihat Pazuzu tertawa keras, Grim angkat bicara.

"Hei, boleh aku tanya sesuatu?"

"Apa? Majin bodoh."

"Sudah berapa lama kau melakukan hal ini?"

"Sekitar seratus tahun. Aku benar-benar berjuang keras demi ini."

"Pantas saja..."

Grim menghela napas dengan wajah lelah. Seratus tahun, itu waktu yang sangat lama. Bahkan bagi Grim yang seorang Majin, itu adalah hal yang luar biasa.

"Setelah persiapan selesai, aku sangat berhati-hati dengan menyerang desa terlebih dahulu. Dengan begitu, tentara kerajaan ini akan keluar. Jika aku menang, kekuatan pasukanku terbukti... Dan aku telah menghancurkan kalian tanpa sisa! Kalian tidak berdaya menghadapi monster yang tidak bisa mati! Sekaranglah saatnya persiapan invasi selesai! Fuhahahaha!"

Pazuzu tertawa sombong, tapi Grim hanya mencibirnya.

"Oi oi, menghancurkan tanpa sisa? Jelas-jelas masih ada satu orang yang berdiri tegak di sini."

"Mu? ……Ah, benar juga. Hanya bocah lemah dan familiar-nya. Tidak masalah. Akan segera kulumat sampai hancur."

Pazuzu mengangkat tangannya, lalu para Bearwolf mulai mengepung kami. Mata mereka merah menyala sambil mengeluarkan geraman rendah.

"Ayo pergi! Gigit dan bunuh mereka!"

"GAOOOOO!"

Saat para Bearwolf melompat hendak menghunjamkan kuku dan taring tajam mereka ke arahku, sesuatu terjadi. Mereka berhenti menyerang, mendarat dengan tenang, lalu bersimpuh di kakiku.

"Kyun..."

"Kyun kyun..."

Mereka merintih manja sambil menggosok-gosokkan tubuh ke arahku. Ada juga yang menggoyangkan ekor dengan kencang sambil berbaring telentang menunjukkan perut mereka. Belasan Bearwolf itu semuanya justru mengajakku bermain.

"A-apa...? Hei kalian, apa yang kalian lakukan!? Cepat bunuh dia!"

"Uuuuu...!"

Meskipun Pazuzu memberi perintah, para Bearwolf itu tidak mau beranjak dari sisiku. Sebaliknya, mereka menatap Pazuzu dengan tatapan penuh permusuhan.

"──Hmm, mungkin kira-kira seperti ini?"

Gumamku sambil menghasilkan energi sihir dari telapak tanganku. Energi sihir yang tampak seperti kabut putih menyelimuti sekelilingku.

"……Tuan Lloyd, apa yang sebenarnya Anda lakukan?"

"Ini modifikasi sifat energi sihir yang kita bicarakan tadi. Aku membayangkan dengan kuat rasa dan aroma daging yang kumakan tadi siang, lalu melepaskannya."

Masakan Sylpha tadi siang memang sangat enak. Mengingatnya saja sudah membuat air liurku menetes. Para Bearwolf pun sepertinya menyukainya, mereka mandi dalam energi sihirku dengan wajah yang sangat nyaman.

"GUOOOOAAAAAA...!?"

Bearwolf yang tadi dirasuki Pazuzu pun mulai mengerang kesakitan. Sepertinya dia juga menghirup energi sihir yang kulepaskan.

"O-oi! Jangan ikut bercanda! Berhenti! Jangan dimuntahkan! Kugh, guooooooo!?"

Sambil meneteskan air liur, Bearwolf itu memuntahkan kabut hitam dari mulutnya. Kabut itu memadat menjadi sosok Pazuzu. Oh, jadi itu wujud aslinya.

Setelah memuntahkan Pazuzu, Bearwolf itu berlari ke arahku.

"Kuun, kuun."

Ia menggoyangkan ekornya sambil berlari memutariku. Lucu sekali.

"Haa, haa... Guh, tidak mungkin... I-ini tidak mungkin terjadi...!"

Pazuzu yang tertinggal menampakkan ekspresi kesakitan dengan napas terengah-engah.

"Tidak akan kumaafkan! Tidak akan kumaafkan! Bocah sialan! Berani-beraninya mengganggu Kekaisaran Monsterrku! Akan kucabik-cabik kau!"

Kabut hitam yang melayang di sekitar mulai berkumpul ke arah Pazuzu dan menyelimuti tubuhnya. Udara bergetar hebat, membuat para Bearwolf yang menempel padaku langsung memasang posisi waspada.

Energi sihir Pazuzu yang telah menyerap kabut itu meningkat pesat. Pazuzu bertransformasi menjadi kera raksasa dengan bulu perak dan sayap hitam pekat.

Ini adalah perubahan wujud karena dia tidak memiliki tubuh fisik yang tetap. Bisa dibilang inilah wujud aslinya yang mengeluarkan seluruh kekuatannya. Jumlah energi sihirnya jauh berbeda dibanding sebelumnya.

"──Bunuh."

Pazuzu yang telah membesar bergumam singkat, lalu melesat ke arahku. Dia mendekat dengan kecepatan tinggi. Para Bearwolf di sisiku berdiri menghadang.

"Gau!"

"GRRRUOOOO!"

Apa mereka mencoba melindungiku? Tapi itu berbahaya. Aku mencoba menyuruh mereka minggir, tapi sudah terlambat.

"Jangan menghalangi!"

Pazuzu mengayunkan kedua lengannya, melempar para Bearwolf itu hingga terpental.

"Kyain!"

Para Bearwolf menjerit saat menghantam tanah. Bajingan ini... bahkan pada bawahannya sendiri...! Benar-benar keterlaluan.




Pazuzu tidak memedulikan para Bearwolf yang terkapar. Ia langsung menerjang lurus ke arahku.

Duakk!

Tubuhku terpental hingga ke tengah danau bersama Mana Barrier yang aktif otomatis.

──Namun, aku segera mengaktifkan sihir elemen angin, Flight.

Tubuhku yang terselimuti angin meluncur mulus di atas permukaan air dan berhenti tepat di tengah danau.

"Syahhh!"

Pazuzu membentangkan sayapnya, menendang tanah, dan langsung merangsek maju untuk mengejarku.

Aku menahan gelombang energi sihir yang dilepaskan dari tangan kanannya dengan Mana Barrier.

"Hei, mereka itu bawahan berhargamu yang kau besarkan sendiri, kan? Tega sekali kau memukul mereka."

"Apa katamu! Anjing-anjing bodoh yang berani menentangku bukan lagi bawahanku! Setelah membunuhmu, akan kucekik mereka semua sampai mati!"

"Kejamnya. Bukannya kamu mau membangun kekaisaran yang penuh makhluk berbulu halus?"

"Kekaisaran Monster, Tahu!!"

Wajah Pazuzu memerah padam saat ia terus menghujaniku dengan pukulan.

Meski tidak memberikan damage sama sekali, kekuatannya cukup untuk membuat Mana Barrier berderit.

Ini bukan sekadar pukulan biasa.

...Ini pasti efek dari perubahan sifat energi sihir.

"Kamu mengumpulkan energi sihir di kedua tangan untuk mengeraskannya, lalu membayangkan peningkatan daya serang, ya?"

Menarik juga. Apa aku coba juga?

Tapi kalau tangan kosong rasanya kurang pas... Oh iya, seingatku ada senjata di dalam tas.

Sebuah belati besi yang pernah kugunakan untuk sihir Enchant. Kalau pakai itu, aku bisa melakukan hal yang sama dengan pedang.

Tepat saat aku hendak merogoh tas, Pazuzu berseru.

"Kau lengah! Mati kau!"

Pazuzu melepaskan gelombang energi sihir.

"Tuan Lloyd, bahaya!"

Untuk menyambut serangan itu, tangan kananku──Grim, melepaskan gelombang energi sihir hitam.

Kedua gelombang itu berbenturan dan meledak di udara.

"Nuuh, seorang Majin malah membantu manusia!"

"Heh, daya hancurmu cuma seujung kuku!"

Pazuzu dan Grim saling adu tembakan energi sihir. Kilatan cahaya dahsyat terus memercik berulang kali tepat di depan mataku.

"Enyahlah dari sana! Tubuh bocah itu akan menjadi inang baru bagi ragaku yang hilang!"

"Siapa juga yang mau memberikan dia padamu. Tubuhnya ini kelak akan menjadi milikku, tahu!"

Aku tidak terlalu mendengar percakapan mereka karena bisingnya suara benturan energi, tapi sepertinya mereka sedang mengobrol. Mungkin mereka sedang membakar semangat persaingan sesama Majin.

"Tuan Lloyd! Serahkan bagian ini padaku, silakan Anda lakukan apa pun yang Anda mau!"

"Ah, oke. Grim, jangan paksakan diri, ya."

Sebenarnya kalau dibiarkan pun bisa kutahan dengan Mana Barrier. Tapi karena dia sudah menawarkan diri, tidak enak juga kalau kutolak mentah-mentah.

Katanya, seorang bangsawan tidak boleh sembarangan menolak saran dari bawahannya.

"Eeto, mungkin begini ya?"

Dengan cara yang sama seperti tadi, aku menciptakan energi sihir dengan imajinasi bilah pedang yang kuat dan keras, lalu menyelimutkannya ke pedang.

Ditambah lagi, aku menggunakan sihir Control untuk meniru teknik pedang Sylpha yang kulihat tadi.

Sip, mari kita coba. Aku membungkam mulut Grim dan menggenggam erat belati besi itu.

"Aku datang──"

Aku menendang permukaan danau dan melesat lurus ke arah Pazuzu.

Pedang yang kupasang dalam posisi rendah terus memecah permukaan air, menciptakan pilar air yang mengikuti tepat di belakangku.

"Nuuh!?"

Gelombang energi sihir yang dilepaskan Pazuzu menghujam bagai hujan badai, namun aku menghindari semuanya dan berhasil mencapai kaki Pazuzu.

Aku melepaskan seluruh kekuatan yang telah kukumpulkan dalam satu tebasan ke atas.

"Teknik Belati Aliran Langris──Rising Dragon Bite."

Slash! Kilatan pedang membelah danau menjadi dua.

Energi itu terus melesat menembus langit, membelah awan, dan tentu saja, membelah tubuh Pazuzu.

Karena hanya bermodal satu belati, ini hanyalah tiruan yang kualitasnya lebih rendah, tapi kekuatannya sudah cukup.

Sepertinya aku berhasil melakukan perubahan sifat energi dengan benar.

"Gugugu...! Mustahil! Membelah tubuhku... apa kau juga bisa menggunakan teknik yang sama denganku!?"

"Bukan, ini baru pertama kali aku menggunakannya."

Sepertinya dia terkejut karena menerima luka.

Kalau tidak salah, dia bilang sihir tidak mempan pada Majin, ya?

Sihir biasa mengubah energi menjadi kekuatan fisik melalui formula, jadi efeknya lemah terhadap Majin yang separuh tubuhnya adalah entitas roh.

Sedangkan perubahan sifat energi sihir itu sederhananya seperti meningkatkan kualitas energi itu sendiri untuk "memukul" secara langsung.

Itulah kenapa serangannya efektif terhadap ras iblis yang merupakan entitas roh.

"Bagus, Tuan Lloyd! Hajar dia sampai babak belur!"

"Benar juga. Mari kita coba sedikit lagi."

Yang tadi output kekuatannya terlalu besar. Jika dibuat lebih kecil dan tajam, daya rusaknya pasti lebih efisien.

Sesuai imajinasiku, energi sihir yang menyelimuti belati menjadi lebih kecil namun jauh lebih tajam.

"Teknik Belati Aliran Langris──Descending Swallow."

Aku melesat cepat ke belakang Pazuzu, memegang belati dengan posisi terbalik, lalu menghujamkan rentetan serangan sambil menjatuhkan diri.

Tebasan tak terhitung jumlahnya melenyapkan sisi kiri tubuh Pazuzu.

Sip, penyesuaian kekuatannya sudah terasa pas. Tapi harusnya bisa lebih tajam lagi.

"K-KAUUUUU!!"

"Tiger Jaw."

Sambil menghindari serangan balasan dari tangannya yang tersisa, aku membelah Pazuzu menjadi tiga bagian dengan serangan ganda.

Pazuzu lenyap, hanya menyisakan bagian kepalanya saja.

──Namun, sebagai gantinya, belati di tanganku hancur berkeping-keping.

"Ups."

Meski sudah dilapisi energi sihir, sepertinya beban pada senjatanya tetap tidak bisa dihindari sepenuhnya.

Melihat pedangku hancur, Pazuzu menyeringai. Sambil tertawa, ia mulai memulihkan tubuhnya.

"Khfufufufu, aku sempat terkejut, tapi mana mungkin belati biasa bisa menahan jumlah energi sihir sebesar itu. Tentu saja, itu berlaku juga untuk tubuhmu."

Mendengar kata-kata Pazuzu, aku menyadari ada yang aneh dengan diriku.

Tangan dan kakiku gemetar. Tenagaku seperti hilang.

"Kau sudah menggunakan terlalu banyak tenaga, kan!? Sepertinya kau sudah tidak bisa bergerak lagi!"

"A-ada apa, Tuan Lloyd!"

"Tsu... Aduh... gawat..."

Aku menjawab kekhawatiran Grim dengan suara tertahan.

"Gawat nih... aku kena Muscle Pain."

Ughh... badanku sakit semua sampai tidak bisa bergerak sesuai keinginan.

Ini pasti karena aku meniru kekuatan penuh Sylpha. Karena aku masih muda, nyeri ototnya langsung terasa. Maklum, aku kan baru sepuluh tahun.

"N-nyeri otot... ya..."

"Iya, sebaiknya aku tidak banyak bergerak dulu."

Ucapku sambil memijat lengan. Kalau terlalu dipaksakan, nanti sembuhnya lama.

Melihatku seperti itu, Grim entah kenapa tampak lelah menghadapi tingkahku.

"Gugugu... j-jangan bercanda kauuu!"

Pazuzu menghujamkan pukulan demi pukulan ke arahku.

Mana Barrier mengeluarkan suara derit yang menyedihkan. Memang kekuatannya luar biasa.

"Hei, aku mau tanya sedikit. Kalau kamu sekuat ini, kenapa harus repot-menerop mengumpulkan monster?"

"Sudah jelas! Daripada aku sendiri yang menjadi kuat, mengumpulkan bawahan jauh lebih efisien untuk meningkatkan kekuatan tempur!"

"Jadi kamu menambah teman supaya jadi lebih kuat?"

"Benar! Hari-hariku penuh dengan kerja keras dan usaha! Aku sampai repot-repot menyiapkan lingkungan yang nyaman bagi para monster, dan berulang kali menjinakkan mereka agar mudah dikendalikan! Itu adalah pekerjaan yang sangat menyusahkan, tapi akhirnya... akhirnya semua akan membuahkan hasil! Tapi gara-gara kauuuu!"

Duar! Satu pukulan penuh amarah melontarkan tubuhku ke udara.

Akibat serangan telak itu, Mana Barrier hancur berkeping-keping.

"Mati kau!"

Namun, gelombang energi sihir yang dilepaskan berikutnya mendadak lenyap tepat di depan mataku.

Melihat dinding transparan yang terpasang di depanku, Pazuzu berdecak kesal.

"Cih... Mana Barrier lagi? Tapi benda seperti itu akan kuhancurkan berkali-kali sampai──!?"

Pazuzu terdiam saat melihat ke sekelilingnya.

Yang kupasang bukanlah Mana Barrier, melainkan sebuah Boundary.

Sihir elemen ruang, Dimensional Canopy. Sihir ini memakan banyak energi sihir sehingga hanya bertahan sebentar, namun ini adalah dinding dimensi yang tidak bisa ditembus oleh serangan apa pun.

Aku mengurung Pazuzu di dalamnya.

"Hm, ngomong-ngomong..."

Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

Grim bilang sihir tidak mempan pada Majin, tapi sebenarnya mempan atau tidak sih?

Kesempatan bertemu Majin itu langka, jadi aku harus mencobanya.

"Double Cast──"

Aku membuka mulut di tangan kananku dan mulai merapal mantra.

Earthquake Rock Fang, Great Tide Sea Fang, Scorch Burn Fang, Gale Storm Fang.

Sihir tingkat tertinggi dari empat elemen dasar (Tanah, Air, Api, Angin) kurapal seratus kali secara beruntun.

Aku membentangkan formula sihir kecepatan tinggi, merajutnya tiga kali lebih cepat dari biasanya.

““■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■””

Tujuh tumpukan mantra terucap dalam satu tarikan napas, dirapal secara bersamaan oleh dua mulut.

Gerbang sihir yang tak terhitung jumlahnya berjejer, dan bagian dalam Boundary mulai bersinar menyilaukan.

"A-apa-apaan rapalan cepat itu...! Kau merajut tumpukan mantra dengan kepadatan setinggi itu tanpa jeda sedikit pun...!? Guuh! K-kepalaku rasanya mau pecah...!"

"Aku mulai──"

Lalu, aku melepaskan formula sihirnya.

Gerbang sihir terbuka, dan ribuan sihir meluncur keluar dari sana.

"Bu──!?"

Suara Pazuzu sempat terdengar sekejap, namun langsung tertelan oleh aliran penghancur yang mengamuk di dalam Boundary.

Satu siklus per detik, berarti 240 kali sihir tingkat tertinggi beruntun dalam satu menit. Ini adalah serangan yang sama dengan yang kulakukan pada Grim dulu.

"...Hm?"

Beberapa detik kemudian, aku menyadari ada yang aneh.

Umpan balik dari dalam Boundary sudah hilang. Aku menghapus formula sihir dan melepaskan Boundary.

Dari kepulan asap yang membubung, Pazuzu yang sudah kering kerontang seperti mumi jatuh ke danau.

Mumi Pazuzu terapung-apung sambil menggerakkan mulutnya sedikit.

"Ugh... ugh..."

Melihat kondisi Pazuzu, Grim tertawa.

"Heh, omong besarnya tadi tidak sebanding dengan hasilnya ya?"

"Hus, jangan mengejeknya, Grim."

Lagipula kamu juga dulu bicara besar, kan? Tapi Grim bisa bertahan sekitar 30 menit, sih. Yah, tidak jauh beda.

"Tapi ternyata dia tetap terkena damage. Apa benar sihir tidak mempan pada Majin?"

"Normalnya begitu. Tapi bagi Majin yang separuh tubuhnya roh, rasa tidak nyaman dari suara atau cahaya bisa menjadi damage langsung. Meski cuma sedikit, kalau terus-menerus dihujani..."

"Jadinya bakal seperti ini, ya."

Ternyata mereka cukup sensitif kalau bisa terluka karena suara atau cahaya. Mungkin Majin tidak sehebat itu.

...Eh? Pazuzu mengatakan sesuatu.

Aku memungut Pazuzu yang kering kerontang itu.

"Ke-kenapa... usahaku... begitu mudahnya... Kenapa, aku tidak bisa menang..."

"Pazuzu, kamu selalu bilang betapa berat dan susahnya usahamu, tapi harusnya kamu melakukan hal-hal itu dengan lebih senang."

"Se-senang...?"

"Iya, soalnya kalau kamu terpaksa melakukan hal yang tidak kamu sukai, hasilnya tidak akan maksimal. Perasaan itu juga pasti tersampaikan ke para monster bawahanmu. Kalau tersampaikan, mereka pasti malas mengikuti perintahmu. Kalau saja kamu berinteraksi dengan mereka dengan rasa senang, kurasa mereka tidak akan berkhianat meski aku memberi mereka sedikit energi sihir."

Meski baru sebentar berhadapan, sikap Pazuzu pada para monster memang tidak bisa dibilang baik.

Pemberian energi sihirku hanyalah pemicu, harusnya tidak aneh jika sewaktu-waktu mereka berbalik menyerangnya.

"Lagipula kalau mau jadi kuat, bukankah lebih baik melatih tubuhmu sendiri? Itu jauh lebih efisien daripada repot-repot mengumpulkan bawahan."

Sesuatu bisa terus berlanjut tanpa rasa terbebani jika kita merasa senang melakukannya.

Dilihat dari gaya bertarungnya, Pazuzu adalah tipe yang ahli dalam pertarungan fisik.




Daripada mengumpulkan bawahan dan memberi perintah, melatih tubuh sendiri sepertinya memang lebih cocok dengan sifatnya.

Aku pun bisa terus berkutat dengan sihir siang dan malam karena aku murni merasa senang melakukannya.

"Aku juga pernah menjalani pelatihan sihir, tapi itu bukan hal yang mudah. Kau harus memuntah darah, melakukan pengulangan yang membosankan, dan menumpuk usaha sedikit demi sedikit sampai bisa menguasainya."

"Tapi Lloyd melakukannya dengan wajah yang sangat gembira. Setiap hari, setiap saat, dari dulu, dan pasti sampai selamanya."

"……Orang yang cuma bisa bicara soal 'usaha' mana mungkin bisa menang melawan orang seperti dia……!"

Grim bergumam sendiri, tapi suaranya tidak terdengar jelas karena bisingnya deru angin. Mendengar perkataanku, Pazuzu hanya bisa menyunggingkan senyum pahit.

"Kh, fufu…… Penyebab kekalahanku adalah karena aku tidak bisa menikmatinya, ya…… Kau benar-benar bicara hal yang mustahil bagiku……"

Setelah meninggalkan kata-kata itu, tubuh Pazuzu perlahan hancur menjadi butiran debu seperti pasir dan lenyap.

"Ups, tunggu dulu."

Grim membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai menghisap sisa-sisa Pazuzu yang menghilang menjadi debu. Sepertinya dia sedang memakan energi sihir tersebut.

"Hehehe, energi sihir seorang Majin memang paling mantap…… Kekuatanku sudah pulih cukup banyak……!"

"Kalau berada di dekat bocah ini, aku tidak akan kekurangan asupan energi sihir berkualitas. Suatu saat nanti aku pasti bisa mengambil alih tubuhnya……!"

Grim menyeringai sambil terus bergumam licik. Kekuatannya memang terlihat sedikit meningkat setelah memakan energi sihir tersebut.

"Aku tidak peduli kau mau apa, tapi awas ya kalau sampai sakit perut."

"T-tentu saja tidak! He, hehehe……"

Grim buru-buru menjawab teguranku.

 

"Albert-niisan, apa Nii-san baik-baik saja!?"

Setelah mengalahkan Pazuzu, aku kembali ke daratan dan mengguncang bahu Albert yang terkapar untuk membangunkannya.

Sepertinya pengaruh energi sihir musuh sudah hilang karena dia langsung membuka mata.

"Ugh…… L-Lloyd……? Apa yang sebenarnya terjadi…… Ah! Apa semuanya selamat!? Bagaimana dengan si Majin itu!?"

Albert bangkit berdiri dan menoleh ke sana kemari dengan bingung. Aduh…… gawat, bagaimana cara menjelaskannya, ya?

Mana mungkin aku bilang kalau aku yang mengalahkannya sendiri.

"Tenanglah, Albert-niisan…… E-itu…… begini! Aku juga pingsan, dan saat bangun semuanya sudah tergeletak! Si Majin itu juga sudah tidak ada di mana-mana!"

Saat aku sibuk mengarang alasan, Albert menunjukkan wajah yang seolah kurang yakin.

"Begitu, ya…… Maaf, sepertinya aku terlalu panik. Mari kita bangunkan yang lain."

"Baik!"

Sepertinya aku berhasil mengelabuhinya. Sambil menghela napas lega, orang-orang lain pun mulai terbangun.

Albert memastikan keselamatan semua orang lalu mengangguk mantap.

"Semuanya, yang terpenting kalian selamat. Bisa bertahan hidup setelah diserang Majin adalah sebuah keajaiban."

"Namun saat bertarung, aku terkena kabut hitam darinya dan kehilangan kesadaran, jadi aku tidak ingat kenapa dia bisa menghilang. Apa ada yang melihatnya?"

Albert menatap ke arah semua orang, tapi tidak ada satu pun yang bersuara. Sylpha juga hanya menggelengkan kepala pelan.

Fuh, syukurlah. Sepertinya identitasku tidak terbongkar.

 

"──Aku melihatnya, lho."

"Pfftt!"

Aku spontan tersedak mendengar perkataan Tao.

"Ada apa, Tuan Lloyd?"

"T-tidak, bukan apa-apa……"

Aku terbatuk-batuk berkali-kali sambil dipijat punggungnya oleh Sylpha. Jangan-jangan dia benar-benar melihatku?

Jantungku berdegup kencang saat mendengarkan kata-kata Tao selanjutnya.

"Yang menyelamatkan kita saat tumbang dan mengalahkan si Majin itu adalah──Roberto."

"Pfftt!"

Aku kembali tersedak untuk kedua kalinya.

"Tuan Lloyd!"

Sylpha mengelus punggungku berkali-kali dengan cemas karena aku terus terbatuk.

"Roberto, katamu…… Apa dia petualang yang dulu pernah menolongmu itu?"

"Iya! Saat kesadaranku hampir hilang dan kupikir semuanya sudah berakhir, dia muncul dengan gagahnya!"

"Lalu dia berhadapan dengan Majin itu dan melakukan pertarungan luar biasa di atas danau. Dia menang dengan mudah. Memang tidak salah kalau dia adalah pria yang sudah berjanji sehidup semati denganku!"

Tao memerah, ia menggeliatkan tubuhnya dengan malu-malu. Ternyata dia belum benar-benar pingsan.

Untungnya dia sedikit salah paham, jadi identitasku sepertinya tidak ketahuan. Lagipula, sejak kapan aku berjanji sehidup semati dengannya?

"Humu…… bisa mengalahkan Majin berarti dia petualang yang sangat terkenal. Kapan-kapan aku harus mencarinya dan mengucapkan terima kasih."

Masalahnya, tidak ada petualang yang namanya Roberto…… Tapi ya sudahlah. Aku akan pura-pura tidak tahu saja.

 

"On! On!"

Tiba-tiba, terdengar suara gonggongan dari dalam hutan.

Yang melompat keluar dari balik semak-semak adalah sekumpulan anjing besar berbulu putih bersih.

Kawanan anjing itu langsung mengerumuniku dengan manja.

"Wah, apa-apaan kalian ini!"

Eh, kalau dilihat-lihat, anjing-anjing yang sekarang terlihat sangat lucu ini adalah para Bearwolf yang tadi.

Aku bisa tahu karena aliran energi sihir di dalam tubuh mereka sama. Walaupun wujudnya berubah, pola energinya tidak mungkin berbohong.

"Monster itu wujud dan sifatnya mudah berubah tergantung energi sihir yang mereka makan. Karena terkena energi sihir Tuan Lloyd, mereka pun berubah jadi seperti ini."

"On!"

Anjing itu menggonggong seolah membenarkan perkataan Grim. Salah satu dari mereka duduk manis di depanku.

Anjing yang paling depan menatapku dengan mata berbinar-binar sambil mengibaskan ekornya kencang.

"Sepertinya yang ini adalah yang tadi dikendalikan langsung oleh Pazuzu. Dia sudah mengakui Tuan Lloyd sebagai majikannya."

"Sepertinya memang begitu."

Tapi mana mungkin aku membawanya pulang ke istana. Meski lucu, dia tetaplah monster.

Aku berpikir begitu sambil melirik ke arah Sylpha.

"Aduh, anjing ini sepertinya sangat menyayangi Tuan Lloyd, ya!"

Namun, Sylpha justru tersenyum senang melihat anjing yang bermanja-manja padaku.

Kupikir dia pasti akan melarangku, tapi ternyata reaksinya sangat positif.

"Kenapa Anda memasang wajah heran begitu? Anjing adalah hewan yang setia dan bisa menjadi rekan yang baik bagi para pejuang."

"Karena itulah keluarga Langris sudah memelihara banyak anjing sejak dulu. Ini kesempatan yang bagus. Anak ini terlihat kuat, bagaimana kalau Anda memeliharanya?"

Albert juga mengangguk setuju dengan saran Sylpha.

"Benar. Aku juga suka anjing. Lagipula, monster berbulu putih konon dianggap membawa keberuntungan. Dia pasti akan menjadi teman yang baik bagi Lloyd."

"On! On on!"

Anjing itu menggonggong berkali-kali seolah mendesakku untuk setuju.

Ya sudah kalau mereka mengizinkan. Lagipula, aku juga ingin meneliti banyak hal tentang monster.

"Lloyd, sebaiknya kau beri dia nama."

"Nama, ya…… Hmm, kalau begitu Shiro saja."

"On!"

Karena putih, jadi Shiro. Alasan yang sederhana, tapi Shiro sepertinya sangat menyukai nama itu.

 

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi semuanya."

Setelah kembali ke kota, kami pun berpisah dengan Tao.

Sebagai catatan, para Bearwolf selain Shiro tetap tinggal di hutan. Grim bilang kemungkinan masih ada anak-anak mereka yang belum tumbuh besar di sana.

"On!"

Shiro menggonggong dengan penuh percaya diri, seolah meyakinkanku kalau semua akan baik-baik saja.

Yah, lagipula wujudnya sekarang cuma terlihat seperti anjing biasa. Warga desa pun tidak akan ketakutan tanpa alasan.

Hanya saja, rasanya kapasitas energi sihir mereka jadi jauh lebih besar daripada sebelumnya…… tapi mari abaikan saja.

Beberapa hari kemudian, aku dipanggil ke ruang takhta bersama Albert.

Biasanya kalau mata kami bertemu, dia akan memberiku kedipan mata, tapi kali ini ekspresinya sangat serius. Apa telah terjadi sesuatu?

"Oh, Albert. Dan juga Lloyd. Senang kalian sudah datang."

Charles menyambut kami dengan suara berat yang memenuhi ruangan.

"Pertama, Albert. Kau sudah menjalankan tugas pembasmian monster dengan baik. ……Namun, sepertinya ada banyak masalah yang terjadi."

"Bisa selamat tanpa luka setelah diserang Majin adalah keberuntungan yang luar biasa. Kau adalah pangeran kedua, namun pergi hanya dengan pengawal pribadi adalah tindakan yang ceroboh."

"Benar, Ayah. Aku tidak punya pembelaan untuk itu."

Mendengar teguran keras Charles, Albert tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam. Albert sepertinya benar-benar menyesali kecerobohannya kali ini.

"Humu, berhati-hatilah di masa depan. ……Dan Lloyd."

"I-iya!"

Ugh, giliranku kena omel ya? Aku menunggu kata-kata Charles dengan tegang.

"──Kerja bagus."

Namun di luar dugaan, kata-kata yang kudengar justru adalah sebuah pujian.

Aku spontan mendongak, dan Charles mengangguk sambil tersenyum bangga di balik janggutnya yang lebat.

"Aku sudah dengar dari Albert. Kau memberikan kekuatan pada para pengawal dan berani menghadapi kepungan monster. Untuk anak seusiamu, itu luar biasa."

"Haaa……"

Kupikir aku juga akan dimarahi, ternyata meleset. Charles mencondongkan tubuhnya ke depan dan melanjutkan.

"Aku juga sudah sering mendengar bakatmu dari Sylpha. Bisa memberikan hasil dari tugas yang diberikan adalah salah satu hal terpenting bagi seorang raja."

"Bagaimana? Meski sedikit tidak biasa, aku berniat memberimu hak waris takhta."

"Apa……!?"

Aku berteriak karena terkejut setengah mati.

Kalau hal itu terjadi, aku harus belajar cara menjadi raja dan berebut takhta dengan pangeran lain. Aku kan cuma ingin meneliti sihir dengan tenang!

"Raja!"

Albert berdiri mendadak. Dia pasti akan menentangnya, syukurlah.

"Itu ide yang sangat bagus. Lloyd pasti akan menjadi sosok yang menopang negara ini. Pelajaran sebagai raja pasti akan berguna bagi masa depannya."

"Meski persaingan takhta dengan Lloyd adalah ancaman bagiku, tapi jika lawannya Lloyd, aku tidak keberatan jika harus kalah. Malah aku merasa terhormat bisa bersaing dengannya."

Ternyata Albert malah setuju! Oi oi, tunggu dulu. Aku buru-buru berdiri.

"T-tunggu sebentar! ……Terima kasih atas kehormatan ini. Tapi, aku bukanlah orang yang pantas menjadi raja. Dengan segala hormat, aku menolaknya."

"Mu──"

Mendengar kata-kataku, Charles berpikir sejenak lalu akhirnya mengangguk pelan.

"……Begitu ya, sayang sekali."

Fuh, syukurlah. Sepertinya aku berhasil menolak tawaran gila itu.

"Begitu ya. Jadi maksudmu, Lloyd, wadahmu tidak bisa hanya menampung satu negara ini saja?"

"Benar. Kau ingin menjadi penguasa dunia yang menyatukan semuanya. ……Fufu, meski anakku, kau punya ambisi yang luar biasa besar."

"Wadah yang tidak cukup hanya untuk negara ini…… Mungkin dia akan tumbuh menjadi penyihir agung yang menjelajahi dunia seperti Tuan William Bordeaux."

Charles dan Albert menggumamkan sesuatu yang aneh. Mereka berdua tersenyum-senyum licik, tapi yang penting aku aman.

"Lloyd! Kalau begitu, teruslah berusaha dengan giat!"

"Aku menantikan masa depanmu, Lloyd."

"I-iya!"

Entah kenapa mereka berdua menatapku dengan mata yang penuh harapan tinggi. Tapi setidaknya, aku berhasil menghindari tanggung jawab berat itu.

Satu minggu telah berlalu.

Pada dasarnya hari-hariku tidak banyak berubah, aku tetap melakukan apa yang kusukai.

Perubahan kecilnya adalah Albert jadi sering mengajakku ke tempat latihan sihir, dan latihan pedang Sylpha jadi makin intens.

"Tuan Albert, sekarang waktunya Tuan Lloyd berlatih pedang."

"Itu kan sudah kemarin. Hari ini waktunya latihan sihir."

"Apa yang Anda katakan? Ini waktunya pedang."

"Bukan, ini waktu sihir."

Mereka berdua saling bertatapan tajam seolah ada percikan listrik di udara.

……Melihat mereka berdua memperebutkanku terkadang membuat kepalaku pening. Apalagi rumor soal Tao yang mencariku masih terus terdengar.

"Anda populer sekali ya, Tuan Lloyd…… Guhehe, aku bakal dapat banyak keuntungan saat mengambil alih tubuh Anda nanti……!"

"On!"

Grim tertawa licik, dan Shiro menggonggong dengan semangat di kakiku. Benar-benar berisik, padahal aku hanya ingin mendalami sihir sampai ke puncaknya.

──Di dunia ini, masih ada sihir yang belum pernah kulihat.

Aku ingin melihat semuanya. Mengingatnya. Mempelajarinya. Aku mendambakan jurang sihir yang belum terjamah, lalu menatap langit biru yang cerah.

──Hal terpenting bagi seorang penyihir adalah silsilah keluarga. Lalu bakat. Dan yang terakhir adalah usaha.

Kata "terakhir" itu berlaku bagi mereka yang menganggap usaha sebagai beban. Namun bagi mereka yang bisa menikmatinya, hal itu adalah kekuatan terbesar.

……Eh? Bagaimana kalau ada orang yang memiliki semuanya?

Ahaha, itu sih cerita yang menyeramkan. Setidaknya, aku tidak sudi bertarung melawannya.

"……Begitu ya, itu yang dikatakan si bajingan itu dulu."

Grim bergumam pelan dengan nada nostalgia.

"Ada apa, Grim?"

"Tidak, bukan apa-apa. Ah, sepertinya Kakak Sylpha menang suitnya."

Saat aku menoleh, sepertinya mereka berdua baru saja melakukan suit, dan aku melihat Sylpha yang menang sedang berlari ke arahku.

"Tuan Lloydー!"

Sylpha melambaikan tangan dengan riang sambil membawa pedang kayu. Sambil menghela napas pasrah, aku pun melangkah menuju halaman tengah untuk berlatih.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close