PROLOG
"Aku pulang~"
Saat pulang ke rumah, aku selalu berusaha
agar tidak pernah melewatkan ucapan "Aku pulang" ini. Aku ingin
menyampaikan pada Ibu kalau aku sudah pulang dengan selamat, dan sebaliknya,
saat aku sedang di rumah, kalau aku mendengar suara "Aku pulang", aku
jadi bisa mengenali kalau itu adalah Ibu. Mungkin terdengar sepele, tapi aku
punya prinsip tersendiri soal itu.
"Selamat datang."
……Eh?
Saat aku sedang melepas sepatu, suara itu
terdengar dari belakang. Harusnya itu adalah sapaan yang sangat tepat sebagai
jawaban dari "Aku pulang", tapi aku tersentak karena nada suaranya
adalah milik seorang 'laki-laki'.
Sudah puluhan tahun berlalu sejak jumlah
laki-laki di dunia ini berkurang drastis.
Sekarang, rasio laki-laki dan perempuan
di Jepang sudah sangat timpang menjadi 1:5. Gara-gara itu, belakangan ini mulai
muncul kasus-kasus perempuan yang menyerang laki-laki, bahkan ada suara-suara
yang menuntut diterapkannya sistem poligami.
Keluarga kami pun, yang sekarang ini
bukan hal yang aneh lagi, adalah keluarga orang tua tunggal. Tentu saja aku
tidak punya saudara, jadi harusnya tidak mungkin ada laki-laki di rumah kami,
tapi……
Kenapa ada laki-laki di rumahku? Karena
kaget, aku pun menoleh ke belakang.
"O-o-o-ohh-Kakak!?"
"Iya. Yuka, selamat datang."
Orang yang menyambutku dengan senyum
ramah itu adalah Katari Masato-san.
Orang yang aku hormati…… sekaligus orang
yang sangat kucintai.
Tapi, ini bukan waktunya memikirkan hal
itu, kenapa Kak Masato bisa ada di rumahku?
Lagipula kenapa dia menunggu kepulanganku
seolah-olah itu hal yang wajar? Apa ini di surga?
"Hari ini pun kamu sudah berjuang
keras ya, Yuka."
"Hee, anu, itu, iya……?"
Pikiranku nggak sanggup mengejar keadaan
ini. Sebenarnya apa yang terjadi……?
"Yuka, mau makan dulu? Mau mandi
dulu? Atau mau……"
I-ini kan……! Percakapan yang cuma pernah
kulihat di karya fiksi sekarang sedang terjadi tepat di depan mataku. Aku
menelan ludah, menunggu kata-kata selanjutnya.
Lalu Kakak, sambil tersenyum seolah
sedikit merasa malu.
"……Mau Kakak saja?"
"Mau Kakak (jawab cepat)!"
Suara
itu keluar secara refleks. Secepat kilat aku menendang sepatuku dan berniat
menghambur ke pelukan Kakak yang begitu menggemaskan itu──
*Pipipipi, pipipipi, pipipipi.*
"……Yah, memang begitu kenyataannya,
ya……"
Itu adalah sebuah akhir yang, dalam
artian tertentu, sudah sewajarnya terjadi.
Sambil memberikan menepuk ringan ke arah
jam weker yang berbunyi nyaring menandakan pagi telah tiba, aku menghela napas
panjang.
Belakangan ini, aku selalu memimpikan hal
seperti itu. ……Yah, tentu saja salah satu alasannya karena aku memang selalu
memikirkan Kakak sih……
Aku meregangkan tubuh lebar-lebar, lalu
tiba-tiba bola basket yang terletak di posisi yang terlihat dari tempat tidur
masuk ke pandanganku. Bola yang tersimpan di dalam wadahnya itu sekarang hanya
terdiam membisu, hanya tergeletak di sana.
Aku teringat kejadian beberapa waktu
lalu, saat aku menerima "bimbingan" yang agak kelewatan dari para
senior. Jujur, aku sadar kalau aku ini cukup jago main basket dibandingkan
teman seangkatan…… bahkan di antara para senior sekalipun, dan karena aku
sering mengalami perundungan semacam itu di sekolah, aku sudah menyiapkan
mental sampai batas tertentu.
Tapi hari itu benar-benar parah…… tepat
di saat aku berpikir mungkin aku benar-benar akan pingsan.
*『Latihannya
seru banget ya.』*
Hanya dengan mengingatnya saja sekarang,
perasaan saat itu kembali menjalari seluruh tubuhku. Orang yang datang
menolongku adalah Kakak yang sangat kucintai.
Seperti pangeran yang muncul dalam
cerita, Kakak menolongku dengan begitu gagahnya.
Aku benar-benar senang, aku jadi tersadar
kembali kalau aku memang sangat mencintainya, dan aku sampai melupakan semua
rasa maluku saat menghambur memeluknya waktu itu. Perasaan itu pasti tidak akan
pernah kulupakan seumur hidup.
……Tapi.
Aku membuka kedua telapak tanganku, lalu
menatapnya.
Tubuhku yang masih sangat kecil dan
kekanak-kanakan.
Rasanya, dengan aku yang seperti ini,
Kakak tidak akan melihatku sebagai objek cinta.
Seandainya saja aku sedikit lebih dewasa.
"Haaah……"
Belakangan ini, aku hanya memikirkan
hal-hal seperti itu. Sekali lagi, aku mencoba berbaring berguling di tempat
tidur. Rasa kantukku sudah hilang, dan sepertinya aku nggak bakal bisa tidur
lagi meski aku mencoba tidur untuk kedua kalinya.
"……Kalau aku bilang 'aku suka',
bakal jadi gimana ya?"
Setelah itu untuk beberapa saat.
Di dalam selimut, aku hanya terus memandangi foto Kakak yang ada di ponselku.



Post a Comment