Chapter 1 – Pertemuan Takdir Yang Sepihak
───● Tipe JD yang Terkadang
Menakutkan ●○●
Itu terjadi pada hari ketika sinar
matahari terasa lebih menyengat dari biasanya untuk ukuran musim semi.
“Masato! Ini udah siang tahu~!”
“Iya, iyaaa, ini mau keluar kok.”
Sudah satu bulan sejak aku berpindah ke
dunia ini.
Setelah beberapa lama, aku baru sadar
kalau tempat ini bukanlah dunia lain yang benar-benar asing, melainkan lebih
mirip dunia paralel.
Entah kenapa, aku punya kartu keluarga di
sini, dan nama “Katari Masato” sudah tercatat sejak awal. Aku dianggap sudah
lulus SMA dari dunia lamaku, dan prosedur pendaftaran universitas yang
seharusnya dimulai musim semi ini juga sudah selesai.
Awalnya aku cemas banget bisa hidup normal
atau nggak, tapi sekarang aku sudah bisa menjalani hari-hari tanpa kendala
berarti.
Kalau ditanya semua ini berkat siapa…
“Masato! Hari ini kamu ada shift kan! Jam
18.00 harus sudah di toko ya!”
“Siaaap, dimengerti.”
Suara yang memanggilku dari luar rumah
sedari tadi adalah milik Ibu Tsukuda Aika.
Dia seperti dewi penyelamat yang
menemukanku saat aku tergeletak di gang sempit tak lama setelah berpindah
dunia. Karena keadaan, dia langsung menjadi waliku. Omong-omong, dia sudah
menikah, tapi katanya sudah lama nggak ketemu suaminya. Ceritanya gelap sekali.
Ibu Aika nggak cuma jadi waliku, dia
bahkan mengizinkanku kuliah. Tentu saja aku pakai beasiswa, jadi nanti aku yang
akan kerja sendiri buat melunasinya.
Intinya, aku berhutang budi besar sama
beliau. Kehidupanku sekarang ini sepenuhnya berkat Ibu Aika.
Begitu aku membuka pintu depan, Ibu Aika
sudah melambaikan tangan dengan santai.
“Selamat pagi.”
“Pagi? Ini udah siang lho.”
Ibu Aika memakai pakaian santai. Rambut
cokelat bergelombangnya diikat ke samping.
Gaya rambut yang sama seperti saat pertama
kali kami bertemu. Meski sudah hampir 30 tahun, dia tetap cantik. Mungkin
karena tuntutan pekerjaan, dia sangat memperhatikan penampilan.
Apartemen yang kutempati ini adalah milik
Ibu Aika yang disewakan. Karena lokasinya dekat dengan tokonya, kadang dia
datang menyapaku di pagi hari seperti ini.
“Gimana? Sudah dapat teman di kampus?”
“Ah~… ya, begitulah… kayaknya…?”
“Mencurigakan sekali. Jangan sampai kena
tipu cewek aneh ya. Kalau mau menginap di luar, harus lapor dulu ke aku! Terus,
berhenti pakai bahasa formal!”
“Iyaaa! Berangkat dulu ya!”
Merasa malu, aku langsung mengakhiri
percakapan dan kabur. Di belakang terdengar suara protesnya, “Tuh kan,
ujung-ujungnya masih formal!”
Meski baru kenal sebentar, aku sudah cukup
akrab dengannya. Tapi meski disuruh berhenti bicara formal, susah buatku
melepas bahasa sopan ke orang yang baru kukenal satu bulan, apalagi dia
penolongku. Aku memang tipe orang yang kaku.
Lagipula, mendengar peringatan 'jangan
kena tipu cewek aneh' bikin aku makin sadar kalau dunia ini memang sudah jauh
berbeda dari duniaku yang dulu.
Setelah berpisah dengan Ibu Aika, aku
berangkat ke universitas. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Matahari menyinari
bumi tanpa ampun.
Karena sedang menuju musim panas, suhu di
jam segini memang tinggi banget.
Sambil menyeka keringat di dahi dengan
sapu tangan, aku melirik jam tangan favoritku.
“Gawat, jam kedua nggak bakal sempat…”
Jam kedua mulai pukul 11.10. Kalau jalan
kaki terus, pasti telat. Tapi lari di cuaca panas begini rasanya berat… Yah,
mau nggak mau harus lari deh.
Tepat saat aku membulatkan tekad, ponsel
di kantongku bergetar disertai suara piron.
Begitu aku mengeluarkannya, ada satu
notifikasi media sosial.
“Penyelamat banget~ Memang punya teman itu
hal terbaik!”
Niatku untuk lari langsung urung. Aku
mengubah langkah jadi jalan cepat sambil membalas stiker terima kasih, lalu
memasukkan ponsel lagi. Kalau kursi sudah dipesanin, telat sedikit nggak
masalah.
Yang paling neraka itu datang telat, nggak
dapat kursi, terus terpaksa duduk di depan mata dosen!
Sambil berterima kasih dalam hati ke
Koumi, aku melanjutkan perjalanan ke kampus.
Begitu aku masuk ke ruang kelas, kuliahnya
ternyata sudah dimulai.
Aku telat sekitar sepuluh menit, tapi
karena ini ruang kuliah umum yang besar, nggak jadi masalah. Universitas ini
cukup santai soal beginian. Prioritas utamaku sekarang adalah mencari Koumi
yang sudah pesenin kursi.
(Masato! Sini, sini…!)
Setelah nempelkan kartu mahasiswa ke
pemindai absen, aku menoleh ke sekeliling dan menemukan kepala berambut flaxen
yang melambai-lambai di kursi pojok belakang.
Aku langsung berjalan cepat melewati
barisan belakang dan berhasil duduk di kursi yang dijaga Koumi dengan tasnya.
“Makasih banyak ya, Koumi. Penyelamat
banget.”
Gadis berambut short bob yang tersenyum
polos ke arahku ini adalah Igarashi Koumi. Bisa dibilang, dia satu-satunya
teman yang kupunya di universitas ini.
Senyumnya yang khas terlihat imut seperti
iblis kecil, dan mata merahnya berkilau seperti kelereng kaca.
Karena kekacauan saat perpindahan dunia
membuat pendaftaran kuliahku tertunda, aku baru bisa ikut kuliah satu bulan
lebih lambat dari mahasiswa baru lainnya.
Bulan pertama bagi mahasiswa baru itu
sangat krusial. Biasanya kelompok pertemanan sudah terbentuk, klub juga sudah
dipilih.
Aku yang datang telat aslinya sudah pasrah
bakal jadi mahasiswa penyendiri… tapi di saat itu Koumi muncul.
Padahal Koumi punya kepribadian ceria dan
seharusnya mudah bergabung dengan kelompok lain, tapi entah kenapa dia malah
sangat baik sama aku yang penyendiri ini.
Tapi ya… perkembangan yang terlalu
menguntungkan ini mungkin juga karena dunia ini punya moralitas gender yang
terbalik.
…Hah, jangan-jangan cewek ini jatuh cinta
pada pandangan pertama sama aku!?
…Bahaya, bahaya. Hampir saja mode “perjaka
penuh delusi” ku aktif.
Saat aku sedang mikir begitu, lengan kaos
pendekku tiba-tiba ditarik.
“…Hei, mumpung aku sudah pesenin kursi,
hari ini ayo makan bareng.”
…Makhluk imut apa ini?
Daya hancur gadis yang mengajak kencan
dengan senyum polos ini benar-benar luar biasa.
Anting mutiara kecil yang sesekali
kelihatan dari balik rambut short bob flaxen-nya menciptakan kontras manis
dengan wajah polosnya.
Apalagi kaos putih off-shoulder yang
dipakainya, jadi saat dia mendekat, kulit bahunya terlihat jelas dan bikin
jantungku berdegup kencang.
…Tenang, tenang. Di saat seperti ini aku
harus tetap cool. Aku ini pria yang kalem.
“Ah~… Maaf banget, hari ini aku ada kerja
sambilan.”
“Eeeh. Apa Masato selalu ada kerja
sambilan setiap hari Jumat?”
“Iya, hampir selalu sih.”
“Begitu ya~ Kalau gitu, hari Senin depan
gimana!”
“Kalau Senin boleh kok, nggak masalah.”
“Yess!”
Koumi melakukan gerakan kepalan tangan
kecil tanda kemenangan, lalu kembali ke posisi duduknya.
Eh, bukannya dia terlalu imut?
Ini pasti disengaja, kan?! Berhenti dong
melakukan itu!! Tapi ya… karena dia imut dimaafkan deh!
…Aku menghela napas pendek dan mencoba
fokus ke perkuliahan. Sebenarnya hampir semua jadwal kuliahku sama dengan
Koumi.
Itu bisa terjadi karena Koumi membantuku
saat registrasi mata kuliah susulan.
Kebetulan kami satu fakultas, jadi dia
dengan baik hati kasih tau mata kuliah apa saja yang wajib, lalu ambil yang
sama denganku. Apa dia ini dewi?
…Tapi kalau dipikir dengan tenang, aku
jadi merasa nggak enak.
Dia kan cewek yang imut, pasti dia juga
ingin kuliah bareng teman-teman dari kelompoknya…
“…Hei, apa beneran nggak apa-apa? Daripada
kuliah sama aku, kamu pasti lebih mau kuliah bareng teman-temanmu yang lain,
kan…?”
Karena kami berbisik, suara kami nggak
menggema di kelas. Setelah memastikan volumenya tertutup suara dosen, aku
melanjutkan.
“Maksudku, sesekali kamu kuliah bareng
teman-temanmu juga boleh kok. Lagian aku sudah terbiasa sendiri.”
Gadis sepopuler ini pasti punya satu atau
dua teman di kelas besar ini. Itulah yang kupikirkan, tapi…
“Kenapa?”
Seketika, aku merasa suhu di sekitar turun
sekitar 10 derajat.
Koumi masih tersenyum, tapi entah kenapa
matanya nggak ikut tersenyum.
“Eh, nggak, maksudku… mana tahu kamu ingin
kuliah bareng teman yang lain gitu.”
“Apa Masato nggak suka kuliah bareng aku?
Jangan-jangan kamu ingin kuliah bareng cewek lain?”
“Enggak, enggak, enggak! Bukan begitu! Aku
beneran berterima kasih, dan nggak ada yang lebih bahagia daripada kuliah
bareng cewek cantik sepertimu, beneran! Lagian aku nggak punya teman lain
selain kamu!”
Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi
instingku bilang ini bahaya, jadi aku langsung mengoceh pembelaan dengan
kecepatan tinggi.
Duh, aku benar-benar nggak paham
perempuan. Bagian mana sih yang salah? Kenapa jadi serem begini?
Tapi begitu aku bilang “cewek cantik”,
ekspresi Koumi perlahan cerah kembali.
“Ga-gadis cantik? Masa sih? Apa menurut
Masato aku imut?”
Tiba-tiba dia jadi tersipu.
“I-iya lah. Kamu imut kok. Kamu boleh kok
lebih percaya diri.”
Fiuh… sepertinya aku lolos dari maut.
Perempuan di dunia ini benar-benar sulit
dimengerti ya…
Melihat Koumi yang tersenyum seperti
mentega meleleh, untuk saat ini aku hanya bisa melegakan dadaku.
───● Teman Masa Kecil Tipe Mahasiswi Menyadari
Perasaannya ●○●
Apa sih sebenarnya definisi dari
"jatuh cinta pada pandangan pertama"?
Apakah itu berarti saat kau melihat
seseorang, kau langsung jatuh hati karena wajah, aura, atau bentuk tubuhnya
sesuai seleramu?
Jika itu adalah definisi mutlaknya, maka
aku bisa bilang kalau aku *tidak* jatuh cinta pada pandangan pertama.
Di momen jantungku berdegup kencang tak
terkendali itulah aku menyadari perasaan ini.
Rasanya, tidak salah jika cinta ini
dikategorikan sebagai "jatuh cinta pada pandangan pertama," pikirku.
Sejak lahir hingga hari ini, aku sudah
bertemu dengan cukup banyak laki-laki. Meski tidak pernah sampai jatuh hati,
ada beberapa yang kukenal.
Meski jumlahnya sedikit, di kelasku dulu
ada sekitar 3 sampai 4 orang laki-laki, dan di gim daring yang kumainkan
sebagai hobi pun ada beberapa pemain laki-laki.
Namun, setiap kali aku melihat sifat asli
mereka, aku selalu merasa muak dengan gelagat para laki-laki yang merasa seolah
mereka berada di "posisi yang memilih."
Mayoritas laki-laki berpikir bahwa karena
mereka langka, maka sudah sewajarnya mereka diperlakukan dengan sangat
istimewa. Karena itulah mereka bersikap sok kuat dan arogan terhadap kami para
perempuan.
Aku sama sekali tidak bisa menerima hal
itu. Mereka bahkan tidak bisa berinvestasi pada penampilan sendiri. Tidak punya
kelebihan yang menonjol. Kepribadiannya pun tidak bisa dibilang sangat baik.
Tapi, mereka memberikan tatapan tajam yang
seolah berkata, "Kamilah yang menentukan pilihan."
Saat ada yang bilang, "Boleh deh
kalau mau pacaran sama aku," aku merasa merinding saking jijiknya. Saat
ada yang bilang, "Aku mau kok jadi temanmu," aku merasa emosi.
Aku benar-benar tidak paham kenapa aku
harus merasa seperti sedang diberi belas kasihan seperti itu.
"Haaah..."
"Kenapa, Koumi~? Kalau dari pagi
sudah menghela napas begitu, kamu nggak bakal kuat sampai jam kelima nanti
lho!"
"Rasanya memang nggak bakal
kuat..."
"Padahal kamu imut lho, Koumi! Kalau
lesu begitu nanti nggak laku! Demi kehidupan kampus impian kita, kita harus
semangat!!"
"Tensi kamu tinggi banget sih dari
pagi, Mizuho..."
"Tentu saja! Masa-masa baru masuk
kuliah begini adalah kesempatan emas...! Aku akan menangkap cowok
ganteng~!"
Temanku, Mizuho, adalah tipe orang yang
sangat memuja visual.
Dia suka laki-laki tampan, dan jika
melihat yang sesuai seleranya, dia akan langsung bergerak mendekat. Karena itu
juga dia sering ditolak mentah-mentah. Sebagai sesama perempuan, dia sebenarnya
anak yang sangat baik untuk dijadikan teman, tapi...
Melihat kelas yang mulai sepi, aku baru
saja hendak bangkit dari kursi ketika Mizuho, yang baru saja melirik ponselnya,
memberi isyarat padaku untuk mendekat.
"Ngomong-ngomong, Koumi, di klub bulu
tangkis kamu lagi ngincer siapa?"
"Eh...?"
"Kok 'eh'? Ya ampun, pasti ada dong
satu orang yang kamu incer?"
Aku dan Mizuho tergabung dalam klub bulu
tangkis yang sama. Memang benar aku masuk ke klub itu dengan harapan bisa
bertemu orang yang menarik, jadi aku tidak bisa membantah kalau ada sedikit
niat terselubung. Namun...
"Eeeh!? Serius? Kak Keito kan lumayan
ganteng tuh!"
"Iya sih, memang..."
"Padahal Koumi imut banget, tapi
ternyata nggak seagresif itu ya? Kamu harus lebih semangat! Nanti malah jadi
'sisa' lho!"
'Sisa', ya.
Aku rasa apa yang dikatakan Mizuho mungkin
tidak salah. Jumlah laki-laki memang lebih sedikit. Negara bilang sendiri akan
menerapkan sistem poligami, tapi aku ragu orang-orang di dunia ini bisa
mengubah nilai-nilai mereka semudah itu.
Kalau begitu, orang sepertiku mungkin
benar-benar akan "tersisa". Orang yang "tidak mau berusaha agar
dipilih oleh laki-laki."
Lagi-lagi, aku menghela napas panjang.
"Yah."
Saat berjalan di koridor gedung kampus
menuju ruang kuliah jam kedua, aku menyadari ada surel masuk dari universitas.
Pemberitahuan yang sangat mendadak.
"Kuliah kosong ya... Apa ada teman
yang jam segini lagi nggak ada kelas, ya..."
Mizuho yang tadi bersamaku sudah pergi ke
kelas lain.
Teman-teman akrabku yang lain kebanyakan
belum sampai di kampus atau sedang berada di tengah perkuliahan.
Untuk makan siang juga rasanya masih
terlalu awal... sepertinya aku terpaksa menghabiskan waktu sendirian.
"Panasnya... hm?"
Sinar matahari dari luar sangat
menyilaukan. Meski masih musim semi, kalau matahari bersinar seterang ini, hawa
panasnya tetap terasa.
Aku merasa pilihanku memakai celana pendek
hari ini sudah tepat. Tepat saat aku hendak mengambil topi hitam favoritku dari
dalam tas...
Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah
bangku panjang di koridor gedung. Di sana, ada seorang pemuda yang sedang
memegangi kepalanya di depan laptop yang terbuka.
Kalau ditanya apakah dia sangat tampan,
aku tidak tahu pasti. Menurutku dia memang keren, tapi bukan tipe yang seperti
aktor atau selebritas. Namun, tanpa sadar, kakiku melangkah ke arah pemuda itu.
Aku malah menyapanya.
"Anu... apa Anda sedang melakukan
registrasi mata kuliah?"
"Eh!?... Ah, iya. Ada alasan tertentu
yang membuat pendaftaran kuliah saya jadi terlambat..."
Jantungku berdegup kencang. Laki-laki ini
tersenyum ke arahku dengan begitu natural.
Entah sudah berapa lama aku tidak melihat
senyum setulus itu dari seorang pria.
Tingginya tidak terlalu mencolok, tapi
sepertinya di atas rata-rata dan badannya terlihat semampai.
Rambut hitamnya ditata dengan *perm* yang
longgar. Dia memakai kemeja putih lengan pendek dengan rompi warna gandum di
atasnya, terlihat sangat bersih dan rapi.
Ditambah lagi, senyumannya itu terlihat
sangat ramah.
Detak jantungku otomatis menjadi sedikit
lebih cepat.
"Ka-kalau tidak keberatan, apa mau
saya bantu?"
Gawat! Aku malah gagap!
Tidak heran kalau dia akan merasa aku
aneh. Seketika wajahku terasa pucat karena malu.
Kalau dipikir dengan tenang, tiba-tiba
menyapa lalu menawarkan bantuan bukannya sudah jelas-jelas itu namanya
*nanpa*...?!
"Eh! Boleh? Tapi tunggu, jam kedua
kan sudah mau mulai..."
Dia... nggak merasa risih, kan? Malahan,
apa aku baru saja diterima?
Dengan panik, aku mencoba menyambung
percakapan.
"Ah, bukan begitu! Kuliah jam keduaku
baru saja ditiadakan, jadi kebetulan aku lagi senggang, kok—"
"Serius?! Wah, ini benar-benar
menolong! Terima kasih banyak ya~"
Pada saat itu juga, dia tiba-tiba bergeser
dari posisi duduknya di bangku panjang itu.
...Eh? Artinya aku boleh duduk di
sampingnya? ...Eh?
Saking tak terduga, sirkuit pikiranku
langsung membeku.
"Aku dari fakultas dan jurusan ini,
sih..."
Lho, kok dia mulai mengobrol dengan
santai? Berarti aku boleh duduk, kan? Aku tidak
sedang salah paham yang fatal, kan?
Nanti kalau aku sudah duduk, dia nggak
bakal pasang muka "Lho, kok duduk?" kan? Kalau itu sampai terjadi,
aku bisa menangis di tempat umum meski sudah sedewasa ini tahu!
"...Lho? Ada apa?"
"A-a-aaa! Nggak ada apa-apa kok!
Se-sekarang aku duduk, ya, ahaha."
Du-duh, tegang sekali. Sudah berapa tahun
ya aku tidak duduk sedekat ini dengan laki-laki?
Aku mengambil napas dalam-dalam untuk
menenangkan hati lalu duduk di sampingnya... dan saat melihat layar laptopnya,
aku tersentak.
"Ah... fakultas dan jurusan kita
sama."
"Eh! Serius? Wah, beruntung banget
bisa dibantu langsung sama kakak tingkat—"
Hm? Kakak tingkat...? Ah, benar juga.
Karena aku yang menyapa duluan, dia pasti mengira aku seniornya. Eh? Kalau
begitu lebih baik pakai bahasa santai saja?
Tapi kalau baru pertama kali bertemu sudah
pakai bahasa santai, bukannya itu lancang sekali...
"Ah, maaf. Aku... juga maba tahun
pertama, kok..."
Maksudku, padahal sama-sama mahasiswa baru
tapi sok-sokan mau membantu registrasi itu bukannya belagu banget? Apa dia
bakal mengira aku menyapanya karena punya niat terselubung...?
Duh gawat, kepalaku mulai berputar...
"Lho—"
Wajahnya tampak bengong.
"Oh,, ternyata sama-sama tingkat
satu! Soalnya aku belum punya kenalan teman seangkatan! Ini benar-benar
membantu! Aku Katari Masato! Kamu siapa?"
Dia terlihat sangat senang dari lubuk
hatinya yang terdalam.
Aku tidak tahu pasti. Kecuali kalau dia
jenius dalam berakting, setidaknya di mataku dia terlihat tulus.
Aku mencubit pahaku sendiri agar dia tidak
melihatnya.
Aku tidak boleh menunjukkan gelagat
memalukan lagi. Aku memaksa jantungku yang berpacu kencang untuk tenang. Mulai
dari sini, aku harus memberikan kesan yang baik...!
"Namaku Igarashi Koumi! Salam kenal,
ya!"
Aku tidak lupa memasang senyum. Aku akan
membentuk citra diriku yang jauh lebih baik daripada saat aku bersama orang
lain...!
"Igarashi-san, ya. Oke! Langsung saja
ya, jujur aku benar-benar bingung mau ambil mata kuliah yang mana..."
Dia... Katari Masato-kun, sepertinya
memang sedang kesulitan. Dia terus menggulir layar laptopnya. Jadwal kuliahnya
memang masih kosong melompong.
(*...Eh, tunggu sebentar. Bukannya ini
ke-sem-pa-tan yang luar biasa?!*)
Masato-kun dan aku satu fakultas dan satu
jurusan. Artinya, mata kuliah yang harus diambil pun sama.
Kalau begitu, kalau aku minta dia
mengambil semua mata kuliah yang sama denganku, bukannya aku bisa kuliah bareng
dia setiap hari...?
"...Igarashi-san?"
"Duh...!"
Saat aku melihat ke arahnya, mataku terasa
silau karena jarak kami yang terlalu dekat.
Dadaku terasa sesak dan panas, sejak tadi
keringatku tidak mau berhenti mengalir.
Tapi sekarang aku harus menahannya.
Demi masa depan kehidupan kampus yang
gemilang...!
Eh? Tapi ini nggak aneh, kan? Kalau
dipikir secara normal, apa bagi laki-laki itu rasanya seperti neraka kalau
harus bertemu perempuan yang sama setiap hari secara tetap?
Gawat, aku harus cari alasan, cari
alasan...!
Aku harus menunjukkan kalau aku tidak
punya niat terselubung...!
"Ah, nggak, maksudku begini! Aku
memang nggak terlalu tahu mata kuliah lain, tapi kalau yang kuambil sendiri kan
aku sudah paham. Lagipula ada beberapa kelas yang sudah berjalan dua kali, jadi
aku bisa meminjamkan materi yang sudah dibagikan sebelumnya. Kayaknya bakal
lebih 'untung' buatmu."
Apa-apaan coba bilang "untung"!
Aku sendiri merasa risih dengan caraku
bicara yang cepat dan aneh tadi. Lalu dengan was-was, aku mengintip
ekspresinya.
"Igarashi-san, jangan-jangan kamu
ini—"
Ah, habis sudah. Kali ini benar-benar
tamat. Dia pasti bakal bilang, "Kamu lagi ngincer aku ya?" dan
semuanya berakhir. Terima kasih atas pertandingannya. Perang selesai. Selesai.
Tamat. *Siumai*. *Maimai*. Meski singkat,
aku sudah cukup bahagia bisa bermimpi.
*TL/Note: Dalam konteks ini Frasa 'Siumai. Maimai.' adalah tambahan
non-literal dari saya sendiri untuk menekankan perasaan 'game over', kekalahan,
atau keputusasaan total yang berlebihan, sering digunakan dalam konteks
slang/meme untuk humor.
"Seorang jenius ya?"
Hah?
"Wah, beneran deh, ini sangat
membantu. Tapi nggak apa-apa? Bukannya Igarashi-san nggak dapat untung sama
sekali?"
"Eng-enggak kok! Untungnya banyak
banget! Banyak banget, jadi nggak apa-apa!"
Kehidupan kampus yang bisa kuhabiskan
bersamamu! Itu saja sudah lebih dari sekadar "untung", itu berkah
tau. Hah? Aku bicara apa sih?
Mungkin kalau mataku bisa digambar dalam
bentuk manga, sekarang pasti sudah jadi mata
yang berputar-putar. Aku sendiri sampai
nggak paham lagi apa yang sedang kuucapkan!
"Be-begitu ya? Kalau kamu nggak
keberatan sih syukurlah... Eh, kalau gitu boleh aku lihat jadwal
kuliahmu?"
"Iya! Tentu saja!"
Aku segera membuka ponsel dan menunjukkan
jadwal kuliahku.
"Anu... jam pertama hari Senin itu
yang ini, jam kedua yang ini, jam ketiga..."
Di depan mataku, jadwal kuliahnya perlahan
mulai terisi. Jadwal yang sama persis denganku.
Eh? Berarti ini secara teknis kami punya
barang kembaran? Apa ini awal dari *couple look*?
Aduh, aku benar-benar bisa gila kalau
begini terus...
"Wah, makasih banyak ya! Kamu
benar-benar menolongku!"
"Sama-sama! Aku senang kalau bisa
membantu!"
Mungkin sudah sekitar 30 menit berlalu.
Bagiku, itu terasa hanya sekejap.
Begitu menyenangkannya mengobrol dengan
dia... Masato. Meski di tengah jalan aku sempat tegang sampai tidak tahu bicara
apa.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya!
Kartu mahasiswaku belum jadi, jadi percuma juga kalau aku masuk kelas
sekarang."
"Oh, gitu ya! Kalau gitu, nanti kalau
kartu mahasiswamu sudah jadi, kita ketemu di kelas ya."
Begitu ya... jadi mulai sekarang kami bisa
bertemu setiap hari... Gawat, aku refleks jadi senyam-senyum sendiri. Sambil
menyadari tubuhku yang menghangat, aku melambaikan tangan untuk berpamitan.
Namun, dia yang seharusnya sudah berbalik
badan dan berjalan pergi, entah kenapa malah kembali lagi ke arahku.
Ada apa ya? Apa ada barang yang
ketinggalan...?
"Ada apa?"
"Ah, nggak, itu... gimana ya
bilangnya... Aku mau minta tolong sesuatu ke Igarashi-san, atau lebih
tepatnya..."
Sambil menggaruk pipi, dia tampak ragu
untuk mengatakan sesuatu.
Minta tolong? Apa pun itu, kalau aku bisa
melakukannya, pasti akan kukabulkan!
Saat itu, aku sudah merasa sangat gembira.
Namun di detik berikutnya, seolah telah
membulatkan tekad, dia menatap lurus tepat ke mataku. Dan aku yakin, kata-kata
yang dia ucapkan saat itu tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku, kata demi
kata.
"Kalau boleh... maukah kamu jadi
temanku?"
Kata-kata yang pernah dilemparkan
laki-laki kepadaku di masa lalu terngiang-ngiang kembali di kepala. Dan
seketika itu juga, semuanya pecah dan sirna.
Rasanya seolah seluruh isi duniaku sedang
dicat ulang dengan satu warna baru.
Pemandangan di sekitar. Suara. Semuanya
mendadak tak terdengar lagi.
Mataku tak bisa beralih dari sosoknya yang
ada di hadapanku sekarang.
"Tentu saja."
Hanya suara itu yang berhasil kupaksakan
keluar dari tenggorokanku.
Lalu, dia yang ada di depanku kembali
menunjukkan senyum ramahnya itu.
"Yess! Makasih ya! Soalnya aku nggak
punya teman satu pun di sini! Kalau gitu, aku pergi dulu ya! Berkat
Igarashi-san, aku jadi mulai sedikit menikmati kuliah di sini!"
Aku terus menatap punggungnya yang menjauh
dengan riang.
Sampai dia benar-benar menghilang dari
pandangan.
Lalu aku terduduk lemas di tempat itu. Aku
menekan dadaku dengan kuat.
Namun, aku tidak bisa membendungnya.
Gelombang emosi yang meluap-luap ini tidak
mungkin bisa kutahan lagi.
(*Nggak sanggup. Apa-apaan ini. Dia
benar-benar seorang pangeran.*)
Dia adalah perwujudan ideal yang sempurna.
Kepribadiannya, penampilannya, auranya.
Semuanya.
Aku bisa merasakan urutan prioritas di
dalam diriku berubah dengan kecepatan yang luar biasa.
Detak jantungku tak mau berhenti bertalu.
Aku harus memilikinya.
Aku sudah tidak bisa memikirkan orang lain
selain dia. Aku menginginkan segalanya tentang dia.
"Masato...-kun.”
Nama orang yang menjadi takdirku itu,
kuulangi berkali-kali di dalam kepalaku.
──● Anak SMP Anggota Ekskul
Basket Terkadang Aneh ●○●
Setelah menyelesaikan perkuliahan di
universitas.
Karena hari ini aku hanya ada kelas di jam
kedua dan ketiga, jam baru menunjukkan lewat pukul 15.00.
Meski hari sudah mulai beranjak sore,
sinar matahari yang tidak seperti musim semi biasanya masih menyinari bumi
tanpa ampun. Ke mana perginya hawa musim semi yang seharusnya terasa pas dan
nyaman?
Masih ada waktu sebelum jadwal kerja
sambilan dimulai. Aku memutuskan melakukan
rutinitas hari Jumatku: pulang sebentar ke
rumah, lalu melangkahkan kaki menuju taman di dekat tempat tinggal.
Walau puncak hawa panas sudah lewat, tetap
saja rasanya gerah.
Aku mengeluarkan handuk dari tas ransel
hitam dengan garis biru milikku, lalu menyeka keringat tipis di dahi.
Sedikit lagi sampai ke tujuan.
"Sip. Sampai juga."
Taman ini selalu memiliki udara yang segar
dengan pepohonan yang rimbun. Di salah satu sudutnya, berdiri sebuah ring
basket yang tampak agak terpencil.
"Kekurangan dunia ini adalah sulitnya
melakukan olahraga dengan santai..."
Sejak sebelum berpindah dunia, aku memang
lumayan suka olahraga.
Aku suka menggerakkan tubuh, dan di
antaranya, basket dan bisbol adalah yang paling serius kupelajari.
Karena itulah, setelah sampai di sini pun
aku terkadang ingin memainkannya, tapi...
"Fasilitas umum di sini isinya
perempuan semua, jadi agak canggung kalau mau masuk... Belum lagi klub olahraga
di kampus, aku ragu apa mereka beneran niat olahraga atau cuma
kumpul-pikir..."
Dulu aku pernah terpikir ingin
melihat-lihat klub bulu tangkis tempat Koumi bergabung, tapi entah kenapa Koumi
melarangku dengan sangat keras. Katanya, lebih baik jangan.
Karena tidak ada teman di universitas yang
lebih akrab darinya, aku hanya bisa menuruti perkataannya.
"Yah, kalau di sini aku bisa main
tanpa perlu sungkan, dan yang paling penting orangnya sedikit."
Taman ini memang sering ramai di hari
libur, tapi kalau hari biasa, suasananya cukup sepi.
Aku menaruh tas di bangku dan mengeluarkan
bola basket.
Aku memantulkannya dua-tiga kali ke tanah
untuk memastikan anginnya tidak kurang.
"...Oke."
Sepertinya tidak ada masalah karena tadi
aku sudah memompa bolanya di rumah. Bola yang memantul kembali dari tanah
terasa sangat pas di tanganku.
Baru saja aku hendak melakukan lemparan
pertama ke arah ring—
"Ka-Kakak!"
"Hah?"
Posisi tanganku baru saja membentuk *form*
"tangan kiri hanya sebagai penopang", tapi aku terpaksa menghentikan
gerakan karena suara imut yang memanggil dari belakang.
Di sana berdiri seorang gadis dengan
penampilan yang menunjukkan dia memang datang untuk bermain basket, berdiri
tegak dengan bola diapit di pinggangnya.
Rambut hitam pendeknya yang tampak segar
kontras dengan jepit rambut biru bermotif bunga yang cantik.
Dia memakai kaus hitam yang terlihat
nyaman untuk bergerak, dengan aksen garis merah muda yang memberikan kesan imut
dan feminin.
Tingginya mungkin hanya sebatas dadaku,
tapi dia berdiri dengan tegap, seolah-olah sedang berusaha keras untuk
menatapku dengan tajam. Sangat manis.
"Ha-hari ini aku pasti menang! Dan
Kakak harus... menyerahkan tempat ini padaku!!"
"Datang juga ya, si bocah."
"Aku bukan bocah!!! Yuka sudah jadi
anak SMP tahu!!"
Hubunganku dengan si bocah ini—Maeda
Yuka—sudah dimulai sejak sesaat setelah aku berpindah ke dunia ini.
Waktu itu aku sangat ingin bermain basket,
jadi aku membeli bola dan mencari tempat di sekitar sini yang punya lapangan
basket, lalu menemukan taman ini.
Sejak saat itu aku jadi sering datang ke
sini, dan rupanya Yuka sudah sejak lama bermain di sini. Karena kami sama-sama
menggunakan lapangan di sore hari, waktu kami jadi sering bentrok.
Awalnya komunikasi kami hanya satu arah
dariku seperti, "Pakai saja lapangannya, aku sudah mau pulang kok—",
tapi suatu saat dia mengajakku, "Mau main basket bareng?" dan sejak
saat itu hubungan kami jadi cukup akrab.
Entah sejak kapan, entah kenapa
pembicaraan kami berubah jadi "kalau menang tanding, pemenangnya dapat hak
kepemilikan tempat ini". ...Padahal ini kan fasilitas umum.
"Ha-hari ini aku pasti akan merebut
kembali tempat ini...!"
Tapi, aku tidak benci berinteraksi dengan
gadis ini.
"Hahahaha, memangnya kamu pernah
menang dariku sekali saja, wahai Gadis Muda~?"
"Ha-hari ini aku punya taktik
rahasia!"
Waktu pertama kali bertemu dia masih kelas
6 SD, sekarang dia sudah kelas 1 SMP.
Tentu saja tidak ada alasan bagiku yang
sudah semester 1 universitas untuk kalah.
Lagipula, basket adalah olahraga yang
memiliki tembok absolut bernama "tinggi badan".
Secara teori, sulit bagi Yuka untuk menang
dariku. ...Tapi.
(*Anak ini beneran jago banget, sih.*)
Aku tidak tahu standar di dunia ini, tapi
Yuka benar-benar mahir bermain basket.
Karena dunia ini sepertinya lebih antusias
dengan olahraga wanita, mungkin memang ada persepsi kalau perempuan lebih jago,
tapi anak ini tetap terasa terlalu mahir meski tanpa melihat faktor itu.
Sekarang aku masih bisa menang dengan cara
"curang" memanfaatkan perbedaan tinggi badan, tapi kalau masa
pertumbuhannya selesai dan tingginya mencapai rata-rata, aku tidak tahu lagi.
Aku pasti bakal kalah telak.
"Ke-kenapa malah melamun! Ki-kita
tanding satu lawan satu (1vs1), kan?"
Yuka sering menunjukkan sikap yang aku
tidak tahu apakah dia sedang percaya diri atau malah gugup. Sepasang mata
berwarna giok yang polos itu tampak bergetar pelan. Mungkin dia masih bingung
menentukan jarak yang pas saat berinteraksi dengan lawan jenis yang lebih tua.
Yah, tapi di situlah letak keimutannya.
"Boleh saja~. Tapi, pemanasan yang
benar dulu ya? Nanti malah cedera lho."
"T-tentu saja. Yang begitu sih sudah
selesai."
"Eh? Kamu kan baru saja
sampai...?"
Memangnya dia melakukan pemanasan di mana?
"Sudah tidak usah cerewet, a-ayo
mulai!!"
Dia mengambil bola yang dibawanya lalu
melakukan *bound pass* ke arahku. Di saat yang sama, dia mengambil posisi
bertahan (*defense*). Sepertinya aku yang mendapat giliran menyerang duluan.
Ukuran bolanya mengikuti ukuran Yuka, jadi
kami memakai bola miliknya.
Bola ukuran dewasa pasti terlalu besar
untuk anak perempuan SMP.
"Mendadak sekali... Oke, aku mulai
ya~"
Aku menerima bola dan mulai melakukan
*dribble* untuk memperpendek jarak dengan Yuka. Meski bolanya sedikit lebih
kecil, tidak ada masalah dengan kendali tanganku.
Aku segera melakukan *cut-in* ke sisi kiri
Yuka.
"Nggak akan kubiarkan...!"
Hal yang mengagumkan darinya adalah
kelincahannya (*agility*).
Dia bergerak dengan sangat cepat ke depan
jalur kiriku dan menutup ruang gerakku.
"Sampai di sini saja ya, hap!"
"Ah!"
Tapi aku sudah tahu kalau dia pasti bisa
mengejar gerakan sekecil itu. Kami kan sudah sering tanding.
Pilihan yang kuambil adalah berhenti
mendadak setelah melakukan akselerasi cepat. Lalu dari sana, aku melakukan
tembakan. Aku langsung masuk ke gerakan *shooting* dan memasukkan bola dari
jarak menengah (*middle range*).
"Sip, poin pertama buatku ya~... hm?
Yuka-chan?"
Begitu mengambil bola yang masuk ke ring
dan hendak mengembalikannya pada Yuka, aku melihat Yuka mematung di tempat.
Padahal saat aku melakukan *jump shot*
tadi, aku kira dia setidaknya akan melompat untuk mencoba melakukan blok meski
tidak sampai, tapi sepertinya gerakan itu pun tidak ada.
"...Ada apa?"
"Haeeh..."
Wajahnya tampak agak memerah. Hm? Apa dia
lagi sakit?
"Oi, wajahmu merah sekali lho? Apa
kamu kena *heatstroke*? Mau istirahat di bangku dulu?"
"A-aaaaa!? Bukan, bukan! Aku nggak
apa-apa! Ce-cepat kasih bolanya! Aku bakal segera menyamakan kedudukan!"
Yuka bergegas kembali ke titik awal dengan
langkah kaki yang terburu-buru. Ada apa dengan dia sebenarnya?
Aku memberikan bola dengan *bound pass*
kepada Yuka, dan sekarang giliran aku yang melakukan *defense*. Kalau aku
lengah, dia bisa benar-benar melewatiku dengan mudah, jadi aku merendahkan
posisi tubuh dan bersiap menghadapi *drive* dari Yuka.
"Aku datang ya...!"
Begitu dia mengatakannya, Yuka langsung
melakukan tusukan tajam ke sisi kiriku. Itu adalah *drive* ke arah tangan
dominannya, spesialisasi Yuka.
"Aku sudah tahu itu, hap!"
Tanpa ragu, aku menutup jalur itu. Pola
andalan Yuka sudah berulang kali dia lakukan padaku sampai aku benar-benar
menghafalnya.
Namun, dari *drive* ke arah tangan kanan
itu, Yuka tiba-tiba melakukan *crossover*... dia memindahkan titik berat
tubuhnya ke arah tangan kiri dalam sekejap.
(*Tetap saja, dia cepat... tapi aku juga
sudah tahu yang itu!*)
Itu adalah salah satu teknik Yuka jika dia
gagal lewat dalam sekali coba.
*Crossover* ini memang sangat sulit
dihadapi saat pertama kali melihatnya karena tumpuan berat badan berpindah
secara mendadak ke arah berlawanan. Namun, aku sudah pernah melihat ini
sebelumnya.
"Memang sudah seharusnya Kakak bisa
menahannya...!"
Tapi Yuka yang hari ini ternyata punya
kelanjutannya.
"Apa...!"
Setelah melakukan serangan balik dengan
*crossover*, Yuka sudah membelakangiku.
(...Roll!)
Teknik melewati lawan dengan memanfaatkan
putaran tubuh sambil membelakangi lawan...
"Ah...!"
Sepertinya dia memang kurang pemanasan.
Saat melakukan putaran, kakinya tersangkut dan keseimbangan Yuka goyah.
"...Hup!"
Refleksku cukup bagus, kalau boleh
kubilang sendiri. Aku melompat dari samping untuk menangkap Yuka yang hampir
jatuh, menjadikannya bantal sebelum dia menghantam tanah agar dia terlindungi
dari benturan.
Pandanganku berputar, lalu aku memejamkan
mata dengan rapat. Aku refleks meringis merasakan hantaman keras di punggungku,
meski itu hanya sesaat.
"Aduh... kamu nggak apa-apa,
Yuka?"
"..."
Hanya suara pantulan bola yang
menggelinding ke arah ring yang terdengar di keheningan itu.
"Yuka...?"
Posisi kami sekarang benar-benar tidak
bagus. Yuka sepenuhnya menindih tubuhku.
...Anak ini harum juga ya.
Hah! Gawat! Kalau begini terus aku bisa
terlihat seperti penjahat kelamin yang suka anak kecil!
"Hawa..."
"...Hawa?"
Tubuhnya ringan jadi aku sama sekali tidak
merasa keberatan, tapi aku merasa dia harus segera menyingkir... Tepat saat aku
memikirkan itu, Yuka akhirnya memberikan reaksi.
"Hawawawawawawa!"
"Eh, ada apa?!"
Wajah Yuka memerah padam dan dia malah
bertingkah seperti perangkat elektronik yang sedang korsleting. Masih dalam
posisi menindihku.
"Ada-ada saja..."
Terpaksa, aku akhirnya menggendong Yuka
dan membawanya ke bangku di bawah naungan pohon. Aku membaringkannya telentang
dan memberikan lipatan handuk sebagai pengganti bantal.
Dilihat dari dekat seperti ini, fitur
wajahnya benar-benar teratur. Bulu matanya lentik, dan kulitnya tampak halus
dan segar. Saat ini memang kesan kekanak-kanakannya masih dominan, tapi aku
bisa membayangkan dia akan menjadi wanita yang sangat cantik di masa depan.
(*Tunggu, kenapa aku malah menganalisis
dengan tenang begini...*)
Aku belum terlalu mengenal dirinya.
Mungkin saja di usia segini dia sudah punya pacar.
Anak SMP zaman sekarang kan sudah pada
dewasa (aku yakin itu).
"...Latihan *shooting* saja
deh."
Aku sempat memberikan angin padanya
menggunakan alas tulis dari ransel sebagai kipas, tapi karena rona merah di
wajahnya sudah mulai mereda, aku memutuskan untuk pergi melakukan latihan
*shooting* sendirian.
──● Anak SMP Anggota Ekskul
Basket Menyadari Perasaannya ●○●
Aku suka bola basket.
Pada dasarnya aku memang suka menggerakkan
tubuh, dan suara *swish* saat bola masuk dengan mulus ke dalam ring terasa
sangat memuaskan, hingga dalam sekejap aku jatuh cinta pada olahraga ini.
"Yuka-cchi, semangat ya~ Aku pulang
duluan~"
"Ah, iya! Dadah!"
Aula olahraga SD.
Karena sedang libur musim semi, sekolah
membebaskan kami yang sudah lulus untuk menggunakan fasilitasnya dengan bebas.
Karena itulah, aku bermain basket bersama teman-temanku... tapi baru lewat
tengah hari, semuanya sudah mau pulang.
(*Mau bagaimana lagi, ya.*)
Sebenarnya aku masih ingin latihan sedikit
lagi, tapi mengikuti kemauan teman juga penting.
Aku pun dengan enggan merapikan
barang-barangku untuk pulang.
"Eh! Rika, jadian sama
Shoya-kun!?"
"Begitu aku nembak pas upacara
kelulusan, ternyata diterima~!"
Di jalan pulang, teman-temanku sedang
heboh membicarakan soal asmara dengan anak laki-laki.
"Eh? Tapi bukannya Shoya-kun pacaran
sama Suzuka?"
"Kayaknya sudah putus? Yaah, kalaupun
belum, nggak masalah sih buatku!"
Jatuh cinta, menyatakan perasaan, pacaran,
menjadi sepasang kekasih.
Aku memang punya kekaguman pada hal-hal
itu, tapi aku tidak punya seseorang yang membuatku ingin melakukan itu semua.
Di kelas maupun di ekskul basket memang
ada anak laki-laki, tapi aku sama sekali tidak merasa mereka menarik.
"....? Kenapa melamun begitu, Yuka.
Kamu nggak nembak siapa-siapa?"
"Eh? Aku? Hmm, soalnya aku nggak
punya orang yang kusuka..."
Itu kenyataan.
Anak laki-laki sebayaku semuanya
kekanak-kanakan, tapi entah kenapa banyak dari mereka yang suka meremehkan, aku
tidak suka...
"Yuka ini beneran 'gila basket' sih
ya~"
"Hebat ya. Aku memang masuk ekskul
basket karena ingin main, tapi sejujurnya ada niat ingin mengincar anak
laki-laki juga sih."
"Kamu jujur banget! Ya aku juga ada
sedikit harapan soal itu sih!"
Basket adalah olahraga yang jumlah pemain
laki-lakinya lumayan banyak.
Aku sangat terkejut saat mendengar ada
orang yang masuk ekskul basket hanya untuk mendapatkan kesempatan berinteraksi
dengan anak laki-laki dari kelas lain.
Padahal aku murni hanya ingin bermain
basket, dan meski tidak kukatakan pada siapa pun, aku sangat ingin memenangkan
lebih banyak pertandingan.
Karena sifatku yang seperti itu sudah
diketahui, aku pikir mereka tidak akan mengarahkan topik ini padaku... tapi
ternyata aku salah.
"Tapi ya, Yuka itu kelihatannya saja
gila basket, padahal sebenarnya dia itu *mesum terelubung* tahu."
Bom baru saja dijatuhkan.
"Apa...! E-enggak kok!?"
"Nggak usah disembunyikan~ Kita semua
tahu kok kalau Yuka itu *mesum*."
"N-nggak begitu! Aku normal! Aku
normal tahu!"
Begitu menoleh ke sekeliling,
teman-temanku semuanya mengangguk-angguk setuju... Eh?! Kenapa kalian semua
pasang muka seolah itu sudah jadi rahasia umum!?
"Eeeh? Habisnya Yuka pas jam
pelajaran sering baca buku 'begituan' sambil senyam-senyum sendiri, kan?"
"!?"
"Iya, terus pas aku main ke rumah
Yuka, di bawah tempat tidurnya ada barang yang mencurigakan lho."
"Waaaa! Berhenti! Beneran deh!"
Rasanya kepalaku mau meledak!
Aku juga kan anak perempuan, wajar dong
kalau punya ketertarikan pada laki-laki!
"Fix, ini sih fix *mesum
terselubung*."
"Si Yuka-cchi yang *mesum*, ya."
"Sudah dong, berhenti...!"
Ketertarikanku itu masih dalam batas wajar
tahu! Wajar!
"Daaaah!"
"Sampai ketemu di SMP ya!"
Aku berpamitan pada teman-temanku. Hampir
semuanya akan masuk ke SMP yang sama di daerah ini, jadi meski sudah lulus kami
tidak akan terpisah.
"Hmm..."
Setelah melambai, aku membuka dan
mengepalkan tangan kananku berkali-kali.
Jujur, aku masih belum puas menggerakkan
tubuh. Begitu mendongak, langit biru masih membentang indah dengan silau
matahari yang cerah.
"Ke taman saja kali, ya."
Aku pun memutuskan untuk menuju taman di
dekat rumah yang memiliki ring basket.
*Dung, dung, dung.*
Aku suka suara bola basket yang memantul
di atas tanah.
Tapi, fakta bahwa suara ini sudah
terdengar padahal aku belum sampai di tujuan berarti... sudah ada orang lain di
sana.
(*Tumben jam segini ada orang...*)
Bukan berarti aku harus langsung pulang
begitu tahu ada orang lain. Kalau cuma dua orang, kami bisa bergantian
melakukan *shooting*, tidak ada masalah. Begitu pikirku sambil terus melangkah
maju.
Lalu, sosok orang yang sedang bermain
basket itu mulai terlihat.
"...Laki-laki?"
Yang sedang bermain basket adalah seorang
laki-laki. Mungkin anak SMA atau mahasiswa.
Keberadaannya sendiri tidak terlalu aneh.
Tapi melihat seorang laki-laki latihan sendirian, itu baru situasi yang
langka... mungkin?
Aku berjalan hingga dekat lapangan, sampai
ke jarak di mana wajahnya terlihat jelas. Dan... aku merasakan guncangan paling
dahsyat dalam hidupku.
"Hup...!"
*Dribble*-nya cepat. Kendali bolanya
seolah menempel di tangan. *Crossover, back-behind*.
*TL/Note: Dribble: Menggiring bola sambil dipantulkan ke lantai
saat bergerak.
Crossover: Gerakan cepat pindah arah dribble dari satu tangan ke
tangan lain buat mengecoh lawan.
Behind-the-back: Pindah dribble lewat belakang punggung, biasanya
biar bola nggak direbut atau buat tipuan arah.
Segala macam teknik yang sangat ingin
kukuasai.
Lalu setelah itu, dia melesat menuju ring
bagaikan angin...
"Hap."
*Layup shot*. Itu pun bukan dari depan,
melainkan dari belakang dengan asumsi ada pemain bertahan yang menghalangi,
sebuah *back layup*.
*TL/Note: Layup shot itu
tembakan jarak dekat ke ring yang dilakukan sambil melangkah atau melompat,
biasanya menggunakan satu tangan, sedangkan Back Layup teknik memasukkan bola
ke ring dengan cara meluncur di bawah ring dan melakukan tembakan dari sisi
seberangnya untuk menghindari blok lawan.
"...!"
Tanpa sadar mataku terpaku. Aku sudah
sering melihat permainan yang hebat lewat video.
Tapi ini benar-benar berbeda. Ini pertama
kalinya aku melihat secara langsung seorang laki-laki bermain dengan begitu
anggun dan indah tepat di depan mataku.
Keren. Hanya kata itu yang ada di benakku.
"Hm...?"
Mata kami bertemu.
Wajahnya teratur, dia adalah seorang kakak
yang tampan. Tiba-tiba jantungku berdebar kencang.
"Ah, aku sudah mau pulang kok,
silakan dipakai lapangannya!"
"...Eh? Ah, iya, terima kasih
banyak..."
Sudah mau pulang!?
Hah, apa karena aku datang? Ya tentu saja,
kalau aku berdiri mematung sambil mengapit bola begini, siapa pun tahu kalau
aku datang untuk main basket.
Selagi aku bengong, kakak itu sudah
memasukkan bolanya ke dalam ransel dan bersiap-siap pulang.
Aku ingin, aku ingin menyapanya. Kalau aku
melewatkan momen ini, mungkin kesempatan kedua tidak akan pernah datang lagi!
Aku ingin mengobrol dengannya, sekali saja juga tidak apa-apa...!
"A-anu!"
"...?"
Kakak itu menoleh ke arahku.
...Tapi, aku harus bilang apa?
"Tadi keren banget"? Enggak,
kalau bilang begitu dia pasti bakal risih!
"Minta kontaknya dong"? Itu sih
kelihatan banget niat terselubungnya!
"Main basket bareng aku dong"?
Mana mungkin, ini kan baru pertama kali bertemu!
"N-nggak ada apa-apa kok..."
"? Begitu ya? Kalau begitu aku pulang
duluan ya!"
Aaah!!... aku malah mengacaukannya.
Padahal aku ingin sedikit mengobrol...
Kakak itu berjalan menjauh dan akhirnya
menghilang dari pandangan. Kini aku sendirian di lapangan.
Aku bisa merasakan suhu tubuhku yang tadi
memanas perlahan mendingin.
*Deg-deg, deg-deg*, aku bisa mendengar
suara detak jantungku sendiri.
Dia keren sekali.
Tapi bukan hanya itu. Aura yang
dimilikinya, suaranya, semuanya terasa menembus tepat ke hatiku.
"Kenapa... aku nggak bisa menyapanya
ya... bodohnya aku."
Sambil mengutuk ketidakberdayaan diri
sendiri, aku bergumam pelan.
Tapi tentu saja aku tidak akan menyerah.
Mana mungkin aku menyerah! Aku ini Maeda
Yuka, perempuan yang tidak kenal kata menyerah!
Hari ini aku pasti akan bertemu lagi
dengan kakak keren itu!
"Kalau gitu aku pulang ya!"
"Eh!? Yuka, tunggu sebentar, hari ini
kan ada penjelasan ekskul!"
"Nggak apa-apa, kan ujung-ujungnya
aku pasti masuk ekskul basket juga!"
Sejak hari itu, aku selalu pergi ke taman
tersebut setiap ada waktu luang.
Waktu itu aku bertemu dengannya sekitar
lewat jam 3 sore. Dia sepertinya sudah cukup lama latihan, jadi kalau aku
datang sedikit lebih awal, kemungkinannya pasti lebih besar!
Meskipun sejak saat itu, aku belum bertemu
lagi dengan kakak itu walau sudah datang setiap hari.
Tapi hari ini hari Jumat, hari yang sama
saat pertemuan kami waktu itu, jadi kemungkinannya pasti tinggi!
"Yuka, kamu kenapa sih akhir-akhir
ini?"
"Apa kamu mulai jadi *fangirl* grup
idola atau semacamnya?"
Teman-teman sekelas mulai mencurigaiku
yang tidak-tidak, tapi aku tidak peduli. Karena sekarang aku sedang sibuk!
"Itu dia...!"
Jam menunjukkan pukul 14.30.
Akhirnya... akhirnya aku bisa bertemu lagi
dengan kakak itu! Rasanya lega sekali, padahal ada kemungkinan besar kami tidak
akan bertemu lagi. Aku sempat terpikir, bagaimana kalau waktu itu dia cuma
orang dari jauh yang kebetulan mampir saja?
Gerakan kakinya masih sama seperti waktu
itu.
*Form* menembaknya pun sangat indah.
Dia benar-benar keren...
Aku membulatkan tekad dan melangkah menuju
bangku di dekat lapangan. Lalu, kakak yang sedang latihan itu menyadari
keberadaanku.
"Lho, bukannya kamu yang waktu
itu..."
*Deg!* Aku bisa merasakan jantungku
mencelup.
Bohong, dia masih ingat? Padahal cuma
sebentar sekali?
Meski aku merasa itu mustahil, rasa senang
karena diingat membuat wajahku sudah terasa panas membara.
Hari ini harus bisa! Setidaknya hari ini
aku harus berani minta kontaknya...!
Selama seminggu ini, sembari mencarinya,
aku merasa sangat cemas kalau kami tidak akan bisa bertemu lagi. Maksudku,
meski aku tahu kemungkinannya kecil, aku tidak mau menyerah. Aku tidak ingin
merasakan lagi ketakutan akan kemungkinan tidak bisa bertemu dengannya
selamanya!
"A-anu...!"
Aku memaksakan suara keluar.
Sesuatu, aku harus bilang sesuatu.
"Aku... sebenarnya memang sering
latihan di sini."
"Heh! Ternyata begitu ya."
A-ada apa denganku? Kenapa aku malah
bicara hal yang sama sekali berbeda?
Aku ingin mencoba main basket bareng.
Terus minta kontaknya... ah, tapi apa ini bakal dianggap *nanpa*? Apa aku bakal
dilaporkan ke polisi?
Duh gimana nih, aku harus bilang apa...
"Jadi, aku juga mau latihan di
sini."
"Oh! Maaf ya, kalau gitu aku pulang
saja biar kamu bisa pakai lapangannya!"
"Eh, bu-bukan begitu!"
Gawat, aku malah berteriak. Tapi aku tidak
mau mengulangi kesalahan yang sama seperti waktu itu...!
Kakaknya juga sampai kaget... Aku harus
segera meluruskan kesalahpahaman ini.
"A-anu, denganku..."
Harus kukatakan. Harus kusampaikan dengan
benar...! Tanpa kusadari, kakak itu sedikit membungkuk agar tatapan kami
sejajar. Dia mendengarkan kata-kataku.
Aku harus bilang main basket bareng, harus
bilang...!
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Bertandinglah denganku!"
"Eeeh!?"
Satu jam pun berlalu.
"Wah, Yuka-chan jago banget ya!? Aku
sampai kaget."
"Terima kasih... banyak..."
Aku sama sekali bukan tandingan kakak ini.
Sejak melihat permainannya aku sudah tahu dia jago, tapi ternyata aku
benar-benar tidak berkutik. Tapi itu bagus. Malah lebih baik begitu.
Pertandingannya sangat menyenangkan, dan
di sela-sela tanding aku bisa menanyakan namanya. **Katari Masato**. Itulah
nama kakak ini.
Dan ada satu hal lagi.
"Hahahaha! Tapi kamu tetap belum bisa
mengalahkanku ya~. Berarti sesuai janji, aku masih boleh latihan di sini,
kan?"
Karena aku sudah berjanji, selama aku
menantangnya dengan segenap tenaga dan aku kalah, dia akan berjanji untuk
datang ke sini lagi. Janji yang sedikit aneh, tapi ini janji hanya antara aku
dan dia.
Memikirkan hal itu membuat dadaku terasa
sesak.
"Lain kali... lain kali aku tidak
akan kalah."
"Hahaha, napasmu sampai
tersengal-sengal begitu lho? Yuka-chan, minum dulu sana."
Benar juga, aku belum minum sejak sampai
di sini. Sesuai arahannya, aku berjalan menuju bangku dan duduk.
Lalu aku mencari botol minum di ransel...
"Lho...?"
Botol minumku tidak ada. Apa tertinggal di
sekolah, atau di rumah ya...
"Ada apa?"
"Ah, nggak, sepertinya botol minumku
tertinggal."
"Waduh."
"Tapi nggak apa-apa kok! Aku punya
uang saku, jadi aku akan beli!"
Untungnya di dalam dompet masih ada
beberapa koin. Ada mesin penjual otomatis di dekat sini, aku akan beli minuman
isotonik saja.
"Eh, sayang uangnya tahu. Pakai
punyaku saja kalau kamu mau. Nih."
"...Eh?"
Saat aku hendak berdiri, dia menyodorkan
sebuah botol plastik. Begitu kuterima, isinya sudah... "berkurang".
Artinya, botol ini sudah dibuka. Dengan
kata lain, dia sudah meminumnya.
...Eh?
Bukankah ini berarti ciuman tidak langsung
(*indirect kiss*)? Iya kan!?
Nggak, nggak, nggak, mustahil, tapi gawat!
Kalau ketahuan aku memikirkannya, dia pasti risih! Aku mau minum! Mau banget!
Dalam berbagai arti! Tapi kalau ketahuan aku baper, mungkin dia nggak mau
menemuiku lagi!
Harus segera! Cepat! Minum! Yang natural!
Sebisa mungkin senatural mungkin! Tenanglah, diriku!!
"Te-te-te-te-te-terima kasih
banyak!"
"Kamu kenapa!? Wajahmu merah padam
begitu!?"
Sama sekali tidak bisa natural. Tanganku
gemetar.
Buka tutupnya, terus cepat minum.
Perlahan aku mendekatkannya ke bibir.
Detak jantungku berisik sekali.
Panas. Panas. Jantungku panas.
Lho, pandanganku...
"Unyaaa..."
"Yuka-chan!? Eeeh!?"
Kesadaranku menjauh... Ah... ciuman tidak
langsungku... Melihat kak Masato yang tampak panik, aku pun berpikir.
Jatuh cinta itu ternyata membahagiakan ya.
Pasti sejak pertama kali bertemu.
Hatiku sudah benar-benar tertawan oleh kakak ini tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.
───● Si OL Tsundere adalah Orang yang Baik ●○●
Selesai
main basket bareng Yuka, waktu menunjukkan hampir pukul 18.00.
Meski
siang tadi terasa panas untuk ukuran musim semi, ceritanya jadi lain kalau
matahari sudah terbenam. Sekeliling mulai menggelap, dan angin sejuk berhembus
melewati sisi tubuhku.
Setelah
tadi Yuka bangun dan meminta maaf dengan kecepatan kilat, aku menyerahkan
handuk yang kujadikan bantal untuknya sambil bilang "pakai saja ini",
lalu pulang.
Selesai
mandi untuk membersihkan keringat, aku berangkat ke tempat kerja sambilan.
Tempat
kerjaku hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari rumah.
Mungkin
karena suhunya sudah mulai bersahabat, jalan kaki 10 menit malah terasa
menyenangkan karena terpaan anginnya.
"Nah...
waktunya kerja..."
Jujur,
aku masih belum terbiasa dengan dekorasi toko yang terlalu gemerlap ini.
"Permisi,
selamat malam..."
Aku
masuk lewat pintu belakang dan memunculkan wajah di ruang istirahat.
"Ooo~
Masato! Kami sudah menunggumu!"
"Masa-chin,
yossu~ Apa kabar? Sehat?"
Suara
ramah yang menyapaku itu adalah milik para laki-laki—yang dianggap langka di
dunia ini.
Memang
ini adalah kesempatan berinteraksi dengan sesama jenis (padahal di kampus juga
ada sih, tapi jarang mengobrol). Masalahnya adalah, sejauh mata memandang,
isinya cuma rambut pirang, cokelat, dan perak.
Kalung-kalung
yang menyilaukan dan berbagai macam aksesoris.
Bahkan
ada yang tangannya membuatku ingin bertanya, "Itu pakai cincin berapa
biji?"
Pokoknya
silau. Ingin rasanya mengeluh kalau dandanan mereka itu sudah kelewat batas.
Tapi,
ada alasan di balik itu. Para senior laki-laki itu memakai sesuatu yang mirip
pelat nama di dada mereka.
"Ahahaha...
ya begitulah, saya sehat kok, Kak."
Kenapa
aku bekerja di sini? Alasannya simpel. Karena bar ini dikelola oleh Ibu Aika.
Ibu
Aika memberikan syarat agar aku bekerja sambilan di sini sebagai ganti dia
mengurus kebutuhan hidupku.
Awalnya
aku memang sempat gentar mendengar kata "Boys' Bar", tapi karena
sebelum berpindah dunia pun aku sudah sering kerja sambilan di bidang
pelayanan, aku pikir "ya sudahlah" dan setuju. Namun ternyata, ini
cukup berat.
Pekerjaannya
sendiri tidak terlalu sulit, dan hubungan antar karyawannya pun tidak masalah.
Semuanya orang baik. Yang berat itu adalah perbedaan "suhu" antara
aku dan lingkungan sekitar.
(*Jujur,
aku nggak sanggup mengikuti aura 'anak gaul' yang kelewat asyik ini...*)
Padahal
mereka adalah sedikit dari laki-laki yang berbuat baik padaku dan aku ingin
akrab dengan mereka, tapi suasananya itu lho, berat banget.
Melihat
mereka bertingkah *manja* di depan pelanggan juga rasanya... perih. Ya, aku
tahu ini tuntutan pekerjaan sih. Memang tidak ada pilihan lain.
Terlebih
lagi aku masih di bawah umur, jadi aku tidak boleh minum alkohol. Meski aku
menyajikan alkohol, aku sendiri tidak bisa minum, jadi aku hanya bisa ikut
"mabuk" terbawa suasana.
Karena
itulah, meski aku sudah mulai bekerja di sini, hampir tidak ada pelanggan yang
memintaku secara khusus (*nominate*). Ya iyalah. Kemampuanku paling cuma senyum
ramah dan mendengarkan curhatan. Karena aku tidak bisa diajak minum bareng
dengan asyik, wajar saja kalau tidak ada yang memilihku.
Penampilanku
juga jauh lebih mencolok-biasa dibanding yang lain.
Karena
para senior jauh lebih ahli dalam memberikan pelayanan, orang aneh yang
memilihku itu... ya, sangat sedikit.
Meski
buatku, lebih sedikit lebih bagus sih.
"Ayo
ayo, toko sudah mau buka! Masato, awalnya kamu di bagian penerima tamu dan
aula!"
Yusee-san
(mungkin nama samaran) yang umurnya sekitar empat tahun di atasku memberikan
instruksi.
Aku
pun mengikutinya, berganti pakaian kerja berupa setelan jas kasual berwarna
biru tua, lalu menuju meja penerima tamu.
Lewat
jam 19.00. Pelanggan mulai bertambah dan suasana di dalam toko menjadi ramai.
Karena
ini hari Jumat malam, para pelanggan juga lebih royal dari biasanya.
Di
tengah keramaian itu, terdengar berbagai macam percakapan.
"Eeeh~
Kakak hebat banget!"
"Luar
biasa, Tuan Putri! Keren sekali~!!"
....
Ya, aku tahu. Mau bagaimana lagi? Dunia ini memang seperti ini, kan?
Tapi
tetap saja... rasanya perih, kan?
Tentu
saja ada juga yang gayanya "laki banget" (?) dan bersikap keren. Tapi
mereka yang jelas-jelas bertingkah menggoda itu, melihatnya saja membuatku
merasa... gimana ya, sulit dijelaskan.
Main
sentuh-sentuhan fisiknya juga terang-terangan sekali... Apa memang boleh yang
seperti itu...? Justru karena aku tahu aslinya mereka itu orang baik saat
mengobrol di belakang, rasa janggalnya jadi makin kuat.
Saat
aku sedang memikirkan hal itu sambil mengambil es batu besar dari belakang dan
menghancurkannya dengan pemecah es, Yusee-san datang menghampiriku.
"Hei
Masato, ada yang minta kamu nih. Meja nomor 3, ya."
"Eh?
Serius, Kak?"
"Serius.
Lagian itu orang yang biasanya. Bagus kan kamu akhirnya punya pelanggan tetap.
Semangat ya~"
"Ah...
oke, mengerti."
Orang
yang biasanya. Begitu dibilang begitu, hanya ada satu orang yang terlintas di
pikiranku yang sering memintaku.
Bahkan,
bukannya hampir setiap minggu? Sejak pertama kali aku melayaninya, sepertinya
dia selalu memilihku setiap minggu... Aku memasukkan beberapa pecahan es ke
dalam gelas, membawa gelas untukku sendiri, lalu menuju meja nomor 3.
Begitu
sampai di meja nomor 3, sudah ada beberapa orang yang sedang melayani pelanggan
lain, dan ada satu orang yang duduk sendirian dengan postur tubuh yang terlalu
tegak—menungguku. Orang ini sepertinya selalu terlihat tegang begini. Saat aku
duduk perlahan di sampingnya, kedua bahunya yang ramping tampak tersentak.
"Selamat
malam. Anda datang lagi ya."
Aku
menaruh dua gelas di atas meja dan menuangkan *highball* ke salah satunya.
Rambut
hitam legamnya diikat model *ponytail*. Tubuhnya yang ramping terbalut setelan
jas formal, penampilannya benar-benar mencerminkan sosok wanita karier yang
handal.
Di
dunia ini, kata-kata "wanita karier" mungkin terasa salah tempat,
tapi dalam persepsiku hanya itu kata yang paling pas.
Tinggi
badannya cukup proporsional dan memberikan kesan semampai, tapi bagian-bagian
tubuhnya tetap menunjukkan lekuk kedewasaan yang anggun.
Apa
dia terlihat jauh lebih menggoda dibanding saat pertama kali bertemu? Begitulah
pikirku.
"Te-kebetulan
saja aku sedang senggang..."
Pasti
bohong, deh. Matanya bergerak gelisah ke sana kemari.
Mana
mungkin setiap Jumat malam di jam-jam tersibuk dia bisa selalu "kebetulan
senggang".
Teman-teman
sekantornya sepertinya melihat ke arah kami sambil senyam-senyum.
"Masato-kun!
Seira itu beneran naksir berat sama kamu lho! Tolong diladeni ya!"
"Miki-san,
berhenti!"
Orang
bernama Miki-san yang tertawa terbahak-bahak—sepertinya teman kantornya—sudah
terlihat sangat mabuk dengan wajah merah padam.
"Ehem...
e-enggak kok, beneran, ini cuma kebetulan. Aku diajak senior, jadi terpaksa
ikut.
Terus,
karena bicara denganmu itu yang paling mendingan dibanding yang lain, makanya
aku memanggilmu. Paham?"
"Hahaha...
terima kasih banyak. Saya memang cuma bisa mendengarkan saja, tapi saya sendiri
sebenarnya cukup suka mendengarkan cerita Seira-san."
"...!"
Tangan
Seira-san yang memegang minuman terhenti sejenak dan wajahnya memerah.
Eh?
Aku salah ngomong sesuatu??
"Ka-kamu
ini ya... pasti sering bilang begitu ke semua orang, kan?"
"Eh?...
Tidak kok... Orang aneh yang mau memilih saya cuma Seira-san saja lho...?"
"...Be-begitu
ya. Kalau begitu syukurlah. Benar juga. Mana ada orang lain yang mau memilih
anak yang bahkan tidak minum alkohol sepertimu selain aku..."
"Memang
benar begitu kok."
Seira-san
membuang muka dan meminum *highball*-nya sedikit demi sedikit.
Saat
pertama kali bertemu, pipinya tampak tirus dan ada lingkaran hitam yang jelas
di bawah matanya. Matanya pun tidak bercahaya.
(*Kesannya
berubah banget ya...*)
Dulu
aku langsung mengkhawatirkan kesehatannya, tapi belakangan ini dia terlihat
jauh lebih segar.
Saat
aku sedikit mengintip wajahnya, mata ungu kehitamannya tampak penuh dengan
semangat hidup.
Syukurlah.
Aku ingin wanita cantik tetap sehat dan ceria.
"Beneran
deh, bos brengsek itu harusnya musnah saja! Apa-apaan coba bilang 'pantesan
kamu diputusin', dasar bego! Tak bunuh lho nanti!"
"Ahahaha..."
Seira-san
kalau sudah minum alkohol beneran meledak-ledak. Serius. Benar-benar gas pol.
Wajahnya
sudah sangat merah, sepertinya dia sudah cukup mabuk.
"Lagian
itu kan bukan proyek yang aku pegang, kenapa nenek sihir itu malah
ngomel-ngomelnya ke aku sih, beneran deh!"
"Seira-san
memang nggak salah apa-apa sih ya..."
Meski
aku hanya berperan sebagai pendengar, tapi kalau mendengar ceritanya, bosnya
memang terdengar brengsek. Ternyata di dunia ini pun bos brengsek tetap
merajalela...
Sudah
sekitar dua jam berlalu. Cukup lama juga sejak aku mulai melayani Seira-san.
Normalnya
pelanggan lain akan berganti pendamping setelah 30 menit, tapi Seira-san rela
membayar ekstra demi menjagaku di sisinya. ...Selama dua jam. Kenapa coba???
Yah,
aku sih tidak keberatan karena tidak ada yang memintaku di meja lain, dan bagi
toko pun ini hal yang bagus, jadi ya sudahlah.
Lagi
pula bagiku sendiri Seira-san itu sangat cantik, dan entah kenapa saat dia
mabuk dan wajahnya memerah begini dia jadi terlihat seksi. Benar-benar
memanjakan mata, jadi aku tidak masalah sama sekali.
"Seira~!
Ayo pulang~! Sampai kapan mau bermesraan terus sama Masato-kun! Ayo!"
"Ha-haah!?
Siapa juga yang bermesraan! Sama sekali nggak begitu tahu! Lagian dia cuma...
cuma cowok krempeng... cowok krempeng yang..."
"Iya,
iya. Saya memang cowok krempeng. Sering-sering datang lagi ya."
Sepertinya
dia tidak bisa menemukan kata makian lain selain "krempeng". Padahal
tadi dia bisa menyumpah serapah bosnya dengan begitu lancar, orang yang aneh.
Aku
memegang tangan Seira-san yang berjalan sempoyongan dan menuntunnya sampai ke
pintu keluar. Menuntun tangannya seperti ini sudah menjadi semacam tradisi
setiap kali dia pulang.
Sepertinya
tagihannya dibayar sekalian oleh rekan kerjanya. Karena langkah kaki Seira-san
jauh lebih tidak stabil dari biasanya, aku memegang lengannya untuk
menopangnya.
Tiba-tiba,
Seira-san menyandarkan seluruh berat badannya padaku. Persis seperti pasangan
pria dan wanita harmonis yang terkadang kulihat di jalanan kota.
Kepalanya
tertunduk, jadi aku tidak bisa melihat ekspresinya.
"......
Seira-san?"
"......"
Genggaman
tangannya di lengan jas duniaku terasa sedikit lebih kuat.
"......
Nggak boleh ya."
"......
Eh?"
"Jangan
terima... pesanan khusus dari orang lain selain aku......"
Tanpa
sadar, aku tersenyum kecil. Itu adalah permintaan yang sangat egois.
Tapi,
melihat Seira-san yang mengajukan permintaan mustahil seperti itu, aku malah
merasa dia sangat imut.
"Tenang
saja. Saya kan cuma masuk hari Jumat."
"......
Begitu ya."
"Dan
setiap hari Jumat itu, Seira-san selalu memesan saya dengan setia, kan?"
"......
Iya."
Wajahnya
masih tidak terlihat.
Tapi,
aku merasa Seira-san sedikit tersenyum. Syukurlah. Aku senang kalau dia bisa
banyak tertawa dan kembali bersemangat. Mungkin inilah yang namanya kepuasan
kerja.
Setelah
itu, rekan kerjanya membantu memapah Seira-san yang sudah mabuk berat untuk
pulang.
......
Apa dia beneran bisa sampai rumah dengan selamat ya? Aku jadi khawatir.
Tapi
kalau dipikir-pikir, di dunia asalku pun banyak pegawai kantoran yang mabuk
habis pesta dan tumbang di sekitar stasiun, jadi sebenarnya sama saja ya.
Dunia
yang luar biasa......
"......
Masato."
"......?
Eh, Ibu Aika, selamat malam."
Setelah
mengantar mereka, aku kembali ke dalam toko dan menemukan Ibu Aika dengan raut
wajah yang serius.
"Kan
sudah kubilang jangan pakai bahasa formal...... Hei Masato, kamu harus
hati-hati ya."
"Eh?"
Mungkin
karena wajahnya terlihat jauh lebih serius dari biasanya, aku jadi agak merasa
tertekan.
"Orang-orang
seperti itu bisa saja melakukan tindakan kriminal lho. Misalnya, menjadi
penguntit (*stalker*)."
"E-eeh?
Bukannya itu terlalu berlebihan? Bagiku dia cuma pelanggan yang menganggapku
sebagai 'anak favorit' di bar ini saja......"
Memang
aku merasa kalau Seira-san menyukaiku. Lagipula yang memesanku secara khusus
cuma dia, dia datang setiap minggu, dan selalu mengunci jadwalku selama dua jam
penuh.
Tapi,
aku tidak merasa dia akan sampai senekat itu.
"Bodohnya.
Kamu itu terlalu longgar dalam segala hal. Lebih baik waspada daripada menyesal
nanti. Kalau ada hal aneh yang terjadi, segera bilang padaku. Paham!?"
"I-iya......"
Apa
memang seserius itu ya?
Aku
dengar Seira-san tadinya punya pacar, dan dia tidak terlihat seperti tipe orang
seperti itu.
(*Ibu
Aika memang terlalu protektif......*)
Aku
sangat bersyukur pada Ibu Aika dan sudah mulai menganggapnya seperti keluarga
sendiri. Tapi, terkadang aku merasa dia sedikit terlalu protektif.
Ibu
Aika menegaskan sekali lagi, "Pastikan kamu lapor padaku, ya,"
sebelum mengambil rokok dari saku dadanya dan berjalan menuju pintu belakang
toko.
Malam
itu, sekitar pukul 00.00 tengah malam.
"Hoaaaam......"
Selesai
bekerja di *Boys' Bar*, aku memutuskan untuk langsung pulang. Di sepanjang
jalan keluar toko, terlihat beberapa orang yang tumbang karena mabuk.
(*Benar-benar
kerasa malam Jumatnya ya......*)
Aku
berjalan menyelinap di antara orang-orang itu menuju rumah. Apartemenku berada
di tempat yang cukup dekat jika aku memotong jalan lewat taman di dekat
stasiun.
Ibu
Aika memang menyiapkan tempat yang dekat dengan toko untukku.
"Besok......
libur ya. Aku mau tidur sampai siang ah......"
Hari
ini banyak sekali kejadian. Aku sangat lelah dan sepertinya akan tidur nyenyak.
Setelah
memastikan di ponsel kalau besok tidak ada jadwal apa pun, aku mematikan
layarnya.
Tak
lama kemudian, aku sampai di apartemenku. Aku mengeluarkan gantungan kunci
favoritku dan hendak mengambil kunci rumah......
(......?)
Saat
itu, aku merasakan sebuah tatapan.
Aku
buru-buru menoleh ke belakang, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan orang.
"Cuma
perasaan saja, mungkin."
Mungkin
aku memang benar-benar lelah. Sebaiknya segera tidur. Aku membuka pintu, lalu
menguncinya. Untuk berjaga-jaga, aku juga memasang kunci rantai.
Aku
mandi sebentar, lalu langsung terjun ke tempat tidur.
Saat
mandi pun aku merasa seperti ada yang mengawasi dan itu membuatku tidak nyaman,
tapi begitu masuk ke dalam selimut, aku segera melupakannya.
Aku
tertidur tanpa menyadari bahwa seharusnya aku mewaspadai rasa janggal yang
kurasakan saat itu lebih awal.
───● Si OL Tsundere
Menghancurkan Dirinya Sendiri ●○●
Apa gunanya aku hidup?
Lulus kuliah lalu bekerja. Karena
universitas tempatku belajar punya nilai akreditasi yang lumayan, mencari kerja
pun terasa cukup lancar.
Di kampus, bersenang-senang dengan teman
perempuan sangatlah asyik, jadi kurasa masa mudaku cukup menyenangkan.
Pacar juga... yah, setidaknya aku pernah
merasa memilikinya.
Walaupun kalau diingat kembali, pacar itu
benar-benar seperti neraka.
"Haaah... pengin mati saja."
"Hei Seira, kalau sampai kedengaran
Kepala Seksi gimana...!"
"Maaf..."
Hari ini pun aku kembali berhadapan dengan
komputer. Kalau cuma bekerja di depan layar sih tidak masalah.
Masalahnya adalah atasan.
Apalagi atasan yang berada di satu ruangan
yang sama sepanjang hari.
"Anu, Mochizuki-san? Dokumen yang
tadi, kan sudah kubilang masukkan nama perusahaan di sini dan di sini? Kok
nggak ada?"
"Eh... tidak, tadi saya sudah
konfirmasi dan Kepala Seksi bilang tidak perlu..."
"Hah? Kapan aku bilang begitu? Kamu
pasti salah dengar, kan?"
"..."
Setiap hari. Selalu saja begini. Apa
gunanya hidup kalau cuma untuk dimaki oleh Kepala Seksi yang pendek dan picik
ini?
"Duh, duh. Pantas saja kamu ditinggal
lari laki-laki, habisnya sering salah dengar begini sih~?"
"...!"
Niat membunuh hampir saja meluncur dari
tenggorokanku, namun kutahan dengan tekad baja. Karena Kepala Seksi bicara
dengan suara keras, bisik-bisik dari sekitar mulai terdengar.
"Eh, Mochizuki-san ditinggal lari
laki-laki...?"
"Itu cerita tahun lalu. Baru sebulan
kerja. Katanya sih, pihak laki-lakinya bahkan nggak merasa mereka itu
pacaran."
"Hah, parah banget. Apa-apaan
itu."
Benar-benar memuakkan. Tanpa kata, aku
kembali ke kursi dan mulai mengerjakan ulang dokumen yang diminta.
Saat zaman kuliah, aku punya pacar...
seharusnya begitu.
Karena kelompok pertemananku termasuk
"kasta atas", dan teman-teman di sekitarku sudah punya pacar, aku
merasa minder karena hanya aku yang belum punya. Jadi, saat aku mendapatkan
pacar menjelang kelulusan, aku benar-benar bahagia.
Itu adalah pacar pertamaku seumur hidup.
Dan dia... menghancurkan kebahagiaanku itu
sampai ke dasar jurang.
Bukannya marah atau benci, aku justru
mengutuk kebodohanku sendiri. Kenapa aku bisa segembira itu hanya karena bisa
pacaran dengan orang seperti dia?
Apa aku pikir siapa pun laki-lakinya boleh
asal dia laki-laki? Aku merasa mual pada diriku sendiri.
Akhirnya kami putus bahkan sebelum dua
bulan berlalu, dan aku langsung memutus semua kontak. Media sosial pun
kublokir.
Sejak saat itu, aku selalu sendirian.
Karena aku tinggal sendiri, pulang ke
rumah pun tetap sendirian.
Tanpa sengaja, aku membuka media sosial.
Teman-teman kuliahku mengunggah foto pergi
ke taman bermain dengan pacar, kencan ke sana-sini, dan postingan sejenisnya
berderet tanpa henti.
Rasa iri atau semacamnya sudah lama
hilang.
...Apa gunanya aku hidup?
"Eh? Boys' Bar?"
"Iya! Aku pikir Seira-chan juga
butuh!"
Hari ini adalah hari bebas lembur di
kantor.
Karena besok hari libur, aku ingin segera
pulang, tapi Miki-san, seniorku, menahanku.
Orang ini sudah sering menolongku, jadi
aku tidak bisa menolaknya...
Dan senior itu mengajakku pergi ke *Boys'
Bar*.
"Kami sesekali suka pergi ke toko
langganan kalau besoknya libur! Ada cowok ganteng lho, bagus! Bagus buat
kesehatan mata!"
"Haaah..."
Sejujurnya, aku ingin pulang dan tidur.
Sejak pagi aku sudah lelah karena gangguan
dari Kepala Seksi brengsek itu, fisik dan mentalku benar-benar sudah di ambang
batas.
"Belakangan Seira-chan kurang
semangat... aku cuma ingin kamu sedikit ceria..."
"..."
Aku tahu Miki-san, seniorku di kantor,
mengkhawatirkanku.
Rasanya tidak enak kalau aku menolak niat
baiknya mentah-mentah.
"Baiklah, aku ikut."
"Eh, beneran!? Wah, senang sekali!
Aku yakin Seira-chan pasti bakal suka!"
Tanganku ditarik dan diguncang-guncang ke
atas bawah.
Hmm, jujur aku belum pernah ke toko
sejenis itu, dan aku tidak merasa bisa menikmatinya.
Aku sadar kalau diriku adalah perempuan
yang membosankan, aku malah khawatir akan merusak kesenangan orang lain.
"Siapa ya yang cocok mendampingi
Seira-chan!"
"Eh~ orang itu saja gimana?"
"Eh, tapi biaya *nominate*-nya mahal
lho. Buat pemula apa nggak berlebihan?"
"Mending orang yang nggak terlalu
agresif saja, kan?"
Mereka malah heboh sendiri tanpa
melibatkanku. ...Yah, mengobrol ringan saja lalu pulang.
Orang yang bekerja di tempat seperti itu
pasti sudah terbiasa menghadapi perempuan. Setidaknya dia pasti bisa
mengimbangi obrolanku.
Berjalan sebentar dari depan stasiun,
sepertinya lokasi yang cukup strategis inilah tujuan kami hari ini.
Miki-san memimpin jalan dan membuka pintu
toko.
"Selamat datang~! ...Ah, Miki-san!
Kamu datang lagi ya!"
...Eh?
Jujur, dari awal saja aku sudah merasa
*ilfeel*.
Dari percakapannya, sepertinya Miki-san
sering ke sini. Mungkin cara bicara seperti itu adalah standar di sini... tapi
tetap saja, aku sampai meragukan telingaku sendiri saat mendengar nada suaranya
yang berubah drastis begitu. Namun, sang *boy* sama sekali tidak memedulikan
reaksiku dan mengantar kami ke bagian dalam toko.
"Tuan Putri, lima orang ke meja nomor
3! Selamat datang~!"
"Selamat datang, Tuan Putri!"
Wah, luar biasa.
Begitu orang di meja penerima tamu
bersuara, seluruh staf di dalam toko ikut menyambut.
Dan semuanya... benar-benar berwajah
tampan.
...Harus kuakui, ini sedikit menaikkan
suasana hati.
Setelah duduk, kami berlima duduk di sofa
panjang dengan jarak yang cukup lebar satu sama lain.
Eh? Kenapa? Kenapa jaraknya sejauh ini?
Karena penasaran, aku mendekatkan tubuh ke
Miki-san dan bertanya.
"Eh? Kenapa jaraknya jauh-jauh
begini?"
"Nanti di sela-sela itu, para *boy*
akan datang!"
"Ah, di sela-sela!?"
Ternyata, formatnya adalah seorang
laki-laki akan masuk di antara para perempuan.
Begitu ya, meskipun datang rombongan, pada
dasarnya kami akan mengobrol satu lawan satu.
Eh, aku jadi gugup... Padahal aku pikir
aku cuma perlu mengimbangi obrolan mereka saja...
"Selamat datang, Miki. Hari ini
teman-temanmu mau langsung didampingi *boy*?"
"Ah, Yusee-kun. Aku mau konsultasi
sedikit..."
Miki-san sedang meminta sesuatu kepada
pihak toko.
Sepertinya sedang merundingkan siapa *boy*
yang akan mendampingi kami, ya?
"Oh, begitu ya, mengerti. Kalau
begitu... ah, ini hari Jumat, mungkin dia cocok.
...Terus, Miki?"
Duh, perih sekali melihatnya.
Aku tidak ingin melihat sisi seniorku yang
sangat kuhormati seperti ini.
"Permisi, Tuan Putri sekalian."
Satu per satu para *boy* berdatangan dan
duduk mendampingi masing-masing dari kami.
Lagi-lagi, siapa pun yang datang semuanya
tampan, ditambah lagi mereka memakai aksesoris yang berkilauan, membuatku
merasa terintimidasi.
Di sampingku masih kosong. Tapi melihat
laki-laki yang berdandan mencolok ini... orang yang melakukan bisnis seperti
ini pasti di dalam hatinya sedang menertawakan kami, kan?
Pikiranku mulai mengarah ke hal negatif
dan aku membenci diriku sendiri karena berpikiran begitu.
Kalaupun memang begitu, mereka yang bicara
dengan senyum tanpa menunjukkan wajah kesal sama sekali sebenarnya tidak salah.
Belakangan ini pikiranku memang selalu
mengarah ke hal-hal negatif.
Di sebelahku, Miki-san sudah asyik
bermesraan dengan Yusei (?), dan teman-teman yang lain sepertinya sudah mulai
"oleng" karena *boy* favorit mereka telah tiba.
Hei, bukannya tadi kalian bilang mau
menghiburku?
Aku menghela napas. Jujur saja, aku tidak
merasa bisa menikmati ini. Aku merasa tidak akan pernah nyambung bicara dengan
laki-laki tipe begini. Aku benar-benar wanita yang membosankan.
"Permisi, Tuan Putri."
Akhirnya ada suara yang menyapaku. Aku
mendongak.
"...!"
Hari itu, aku bertemu dengan seorang
malaikat.
"Salam kenal, namaku Masato. Kalau
boleh tahu, nama Kakak siapa...?"
"A, anu, Seira."
"Seira-san! Salam kenal ya."
Jujur, kalau bicara soal kadar ketampanan,
mungkin para *boy* yang datang sebelumnya jauh lebih tampan. Aksesoris mereka
juga lebih mewah.
Tapi, dia yang datang kepadaku... terlihat
sangat tenang dan punya kesan lugu.
Pakaiannya juga bagus. Dia tidak berdandan
berlebihan; setelan jasnya berwarna biru tua pekat, memberikan kesan yang kalem
dan rapi.
Wajahnya yang imut (*baby face*) juga poin
plus. Kesan "anak muda yang berusaha tampil dewasa dengan setelan
jas" itu benar-benar memancing insting melindungiku.
"Apa hari ini Kakak baru pulang
kerja?"
"I-iya... soalnya besok libur."
Dia menuangkan es dan minuman ke gelasku.
Selama melakukan itu, senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya.
"Wah, asyik ya~! Aku juga menantikan
hari libur besok. Kenapa ya kalau malam Jumat itu suasananya terasa sesemangat
ini?"
"Fufu, benar juga."
...Eh, barusan aku tertawa?
Mungkin karena dia yang menemaniku ini
berbeda jauh dari bayanganku—seorang anak yang lebih muda dariku. Rasa tegangku
mendadak sirna, berganti dengan perasaan rileks yang aneh.
"Seira-san rencana mau ngapain pas
hari libur nanti~?"
"I-itu... belakangan ini aku lagi
suka main gim..."
Begitu mengucapkannya, aku tersentak.
Duh, masa topik pertama langsung hobi main
gim? Bukannya itu terlalu kelihatan kuper? Di acara kencan biasa aku pasti
tidak akan pernah mengatakannya, tapi sepertinya aku sudah terlalu santai di
depannya. Harusnya aku bilang baca buku saja tadi.
"Wah! Seru dong! Gim apa yang Kakak
mainkan?"
Namun, kekhawatiran itu ternyata hanya
ketakutan yang berlebihan.
Melihat ekspresinya yang sama sekali tidak
berubah dan menatapku dengan tulus, aku tersadar bahwa aku ke sini memang untuk
bersenang-senang. Memikirkan hal kecil seperti itu malah terasa tidak keren.
Dia sama sekali tidak menunjukkan wajah heran, malah terlihat sangat tertarik
dengan ceritaku.
"Ya, begitulah, gim RPG, atau tipe
membangun kota..."
"Aku juga suka banget RPG! Waktu
kecil aku main 'Dora-Dora Fantasy'! Seru banget kan! Kalau Kakak punya
rekomendasi, kasih tahu aku ya!"
Sepanjang waktu, dia terus tersenyum
lebar. Tidak terasa ada kepalsuan sama sekali.
Bisa saja dia memang jenius dalam
berakting sementara sebenarnya dia merasa ilfeel, tapi setidaknya aku sama
sekali tidak merasakan gelagat itu. Malah, aku merasa dia juga tulus
menikmatinya.
Mungkin karena itulah, aku merasa sangat
senang dan minuman di gelasku pun mengalir makin lancar.
"Makanya, bos brengsek itu!! Sengaja
banget bilang aku ditinggal lari laki-laki di depan semua orang...!"
"Parah banget ya itu..."
Eh, sejak kapan topiknya jadi begini?
Karena minumanku mengalir lancar, aku jadi merasa sangat melayang.
Jarak Masato-kun yang dekat membuat
kepalaku pening sekaligus berdebar. Karena sudah merasa "masa bodoh",
tanpa sadar aku menumpahkan semua kekesalanku belakangan ini.
Sepertinya aku sedikit terlalu
bersemangat.
Aku meminum entah gelas keberapa, lalu
menghembuskan napas panjang.
"...Tapi ya, aku yang bodoh. Aku yang
salah karena terlalu kegirangan dan percaya kalau dia beneran mau pacaran
denganku."
"Eh? Tapi laki-laki itu yang menembak
Kakak, kan?"
"Yah, begitulah..."
Benar, memang begitu kenyataannya. Sambil
senyam-senyum, bajingan itu yang bilang kalau dia mau pacaran denganku.
Karena itu adalah pernyataan cinta pertama
dalam hidupku, aku jadi melayang, padahal harusnya sejak saat itu aku sadar ada
yang janggal.
"Itu jahat sekali! Seira-san nggak
salah apa-apa, kan? Kalau dipikir pakai logika mana pun, yang salah itu kan
pihak sana!"
Dia yang ada di depanku ikut merasa marah
seolah-olah ini masalahnya sendiri. Hal itu entah kenapa membuatku merasa
sangat bahagia.
"Tapi ya memang begitulah
kenyataannya. Kami perempuan... pada akhirnya nggak punya hak untuk
memilih."
Aku menambahkan kata-kata itu dengan nada
mengejek diri sendiri.
Lalu—"Aku... beneran nggak bisa
terima hal itu."
"Eh?"
Dia tiba-tiba memajukan tubuhnya ke
arahku. Jaraknya yang dekat membuat jantungku berdegup kencang.
"Memang benar jumlah laki-laki
mungkin sedikit. Tapi, apa itu bisa jadi alasan kalau laki-laki itu hebat? Aku
benci laki-laki yang sombong dan besar kepala karena hal itu."
Ini adalah pertama kalinya aku mendengar
pemikiran seperti ini.
Aku sudah bicara dengan cukup banyak laki-laki, tapi baru dialah orang pertama yang mengatakan hal semacam ini kepadaku. Saat aku masih terpaku karena terkejut, dia melanjutkan dengan nada yang sedikit malu-malu.
"Kalau aku ada di posisi itu... aku
sih bakal mau banget pacaran sama orang yang cantik fisik maupun hatinya kayak
Seira-san."
──Di
saat itu, aku merasa ada sesuatu di dalam diriku yang hancur, seolah seluruh
pertahananku baru saja jebol.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment