Chapter 5: Apakah kamu berpikir bisa hidup normal?
● Anak SMP Klub Basket Ikut Pertandingan ●○●
Hari Minggu.
Sudah berapa lama ya, aku tidak berada di bawah sinar matahari pagi sambil mendengarkan kicauan burung seperti ini?
"Fuaaa..."
Aku mengucek mata yang masih mengantuk.
Sekarang masih jam tujuh pagi. Rasanya terakhir kali aku bangun sepagi ini adalah saat masih zaman SMA dulu. Setidaknya, semenjak datang ke dunia ini, aku tidak pernah bangun jam segini. Sejak masuk kuliah, pola hidupku benar-benar berantakan.
Aku meregangkan tubuh lebar-lebar dan membuang napas panjang.
Udara pagi yang kering terasa sangat menyegarkan. Rasanya hijaunya pepohonan di taman ini mengalir ke seluruh pembuluh darahku!
Sesampainya di tujuan, aku meletakkan barang bawaanku. Di sana terlihat beberapa orang mengenakan pakaian kerja yang tidak biasa, sedang apa mereka ya? Kelihatannya sih bukan sedang ingin berolahraga.
"Hmm...? Yah, sudahlah. Mending pemanasan dulu saja kali ya..."
Karena masih mengantuk dan malas berpikir, aku mulai melakukan pemanasan ringan.
Melakukan gerakan menekuk lutut, lalu melompat kecil.
Sip. Gerakan tubuhku tidak buruk.
Tentu saja ada alasan kenapa aku datang ke sini. Kalau tidak ada alasan penting, tubuhku mana mungkin mau bangun sepagi ini.
"Kak Masato!"
Mendengar suara yang penuh semangat, aku menoleh ke belakang. Berdiri di sana seorang gadis yang sudah sangat akrab bagiku, mengenakan tas *enamel* biru tua di punggungnya.
"Yuka, selamat pagi."
"Iya! Selamat pagi!"
Masih pagi sudah semangat sekali. Senyumannya terlihat berkilau.
Hari ini aku sudah berjanji untuk menemani Yuka latihan pagi. Katanya hari ini ada turnamen, dan dia memintaku menemaninya untuk melakukan pemanasan. Sejujurnya, aku sempat mengirim pesan memalukan kalau aku mungkin tidak bisa bangun karena terlalu pagi... lalu dia memberiku *morning call* jam enam pagi tadi.
Betapa penuh perhatiannya dia~ (datar).
Yah, aku tidak keberatan menemani pemanasan Yuka. Malah, aku memang ingin membantunya kalau bisa, jadi tidak masalah.
"Maaf ya Kak! Sudah merepotkan Kakak sepagi ini...!"
"Nggak apa-apa kok. Aku juga sesekali perlu bangun pagi demi kesehatan..."
Sambil membungkuk berkali-kali, Yuka meletakkan barangnya dan mulai ikut pemanasan.
Rencananya sekitar satu jam saja. Kalau berlebihan malah bisa mengganggu pertandingannya nanti, jadi benar-benar cuma pemanasan ringan.
"Gimana, tegang nggak?"
"Hmm... kayaknya nggak terlalu deh. Soalnya lawan nanti nggak mungkin lebih kuat dari Kakak, kan?"
Be-berani sekali dia... Sepertinya aku sudah menciptakan monster yang luar biasa...
Dalam hati, aku meminta maaf kepada sekolah lawan yang akan dia hadapi nanti.
"Hut!"
"Wih, form yang bagus."
Bola yang dilepaskan Yuka meluncur mulus masuk ke dalam ring. Form tembakannya sangat cantik. Kira-kira ada berapa banyak anak SMP yang bisa melakukan gerakan selevel ini?
"Sip, rasanya sudah enak."
Ekspresi Yuka saat membuka dan menutup telapak tangan kanannya terlihat sangat serius.
Kesenjangan antara dirinya yang biasanya imut dengan dirinya yang serius saat basket ini benar-benar menjadi daya tarik anak ini.
Aku melirik jam yang terpasang di taman. Sebentar lagi jam delapan pagi.
"Yuka! Kita cukupkan ya. Nggak bagus kalau berlebihan, segini saja sudah pas!"
"...! Iya! Terima kasih banyak!"
Sepertinya dia terlalu asyik basket sampai tidak memperhatikan waktu, Yuka terlihat terkejut melihat jam. Dasar bocah gila basket.
Setelah Yuka meminum minuman olahraga dari botol minumnya, dia membereskan bola dan perlengkapan lainnya. Ekspresinya terlihat sedikit kaku, mungkin sebenarnya dia tegang meskipun dia sendiri tidak menyadarinya.
Ah, benar juga.
"Yuka, sebentar boleh?"
"...? Ada apa Kak?"
Aku mengambil sesuatu yang sudah kusiapkan dari dalam tas. Yang kuambil adalah sebuah *wristband* hitam yang dulu sering aku pakai. Aku membelinya untuk pertandingan dulu... tapi karena suatu alasan, barang ini hampir tidak pernah terpakai.
*TL/Note: Wristband adalah gelang kain elastis yang dipakai di pergelangan tangan untuk menyerap keringat agar tangan tetap kering dan grip bola lebih stabil saat bermain.
"Kalau nggak butuh, kamu boleh tolak kok. Ini, kalau mau, silakan dipakai."
"! B-boleh nih Kak!?"
"Tentu saja. Masih baru kok karena hampir nggak pernah dipakai. Ah, tapi di bagian dalamnya ada inisial namaku, jadi kalau kamu nggak suka──"
"Mau pakai!! Begitu saja!! Tolong izinkan saya memakainya!!"
O-ooh, dia sangat antusias.
Begitu kuberikan, dia langsung memasangkannya di pergelangan tangannya. Matanya berbinar-binar seolah baru saja mendapatkan harta karun. Padahal itu bukan barang mewah atau bagaimana...
"Kalau langsung dipakai pas tanding mungkin bakal terasa aneh, jadi coba pakai dulu pas latihan sebelum tanding ya. Kalau terasa nggak nyaman lepas saja. Kalau nggak ada masalah, silakan dipakai terus."
"Baik...! Terima kasih banyak! Benar-benar, saya akan menjaganya dengan sepenuh hati...!"
A-auranya kuat sekali. Padahal bukan barang yang mahal-mahal amat... tapi ya sudahlah, aku senang kalau dia menyukainya.
"Hari ini, saya akan berjuang sekuat tenaga!"
Senyuman Yuka yang merekah itu benar-benar imut.
Setelah Yuka pergi menuju lokasi turnamen sambil melambai-lambai dengan semangat.
"Nah sekarang..."
Sebenarnya, aku sudah mencari tahu di sekolah mana turnamen Yuka diadakan. Dan aku juga tahu kalau orang umum diperbolehkan untuk menonton.
"Lihat pertandingannya saja kali ya~"
Aku ingin melihat bagaimana gaya bermain Yuka saat bertanding. Rasanya aku benar-benar seperti seorang kakak yang pergi menonton pertandingan adiknya. Padahal aku tidak punya adik perempuan.
Begitu sampai di rumah, aku langsung mandi.
Begitu keluar dari kamar mandi, rasa kantuk yang luar biasa menyerangku, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga.
Kalau tidur sekarang, aku pasti baru akan bangun sore hari. Itu adalah hal yang harus kuhindari...
Lokasi turnamen Yuka adalah sebuah sekolah yang bisa dicapai dengan sepeda. Syukurlah, aku jadi bisa menghemat ongkos transport. Setelah beristirahat sejenak dan sarapan agak siang, aku kembali keluar rumah.
Sambil menaiki sepeda yang agak butut, aku mulai mengayuh dengan semangat tanpa memedulikan teriknya matahari musim panas.
Setelah mengayuh sekitar 30 menit, aku sampai di tujuan dan memarkir sepedaku di tempat parkir. Selain suara pantulan bola yang menghantam lantai, aku juga bisa mendengar suara bel khas turnamen basket dan suara decitan sepatu basket, *kyu-kyu*. Di pintu masuk, aku meminjam sandal dan menuju lantai dua tempat penonton.
"Wah~ luas juga ya..."
Gelanggang olahraganya ternyata lebih luas dari dugaanku, dibagi dua di tengah sehingga ada dua pertandingan yang berlangsung sekaligus.
Kalau tidak salah nama sekolah Yuka adalah...
"Oh, sebelah sana ya."
Waktunya sepertinya pas sekali. Sesi pemanasan baru saja berakhir, dan sekarang mereka sedang berbaris rapi. Yuka termasuk tinggi untuk ukuran anak kelas 1 SMP, jadi aku sempat berpikir mungkin akan sulit mengenalinya di barisan... tapi ternyata itu kekhawatiran yang sia-sia.
"Anak itu..."
Bukan dari gaya rambut, bukan juga dari nomor punggungnya.
*Wristband* hitam di lengan kirinya-lah yang pertama kali menarik perhatianku. Dia sudah memastikan kalau itu tidak terasa aneh kan ya?
Padahal tidak usah dipaksakan kalau memang tidak nyaman... tapi, melihatnya benar-benar dipakai membuatku merasa sedikit senang.
Aku bergerak ke posisi yang pas untuk menonton... dan aku bisa melihat ekspresi Yuka.
Wajahnya terlihat jauh lebih serius dari biasanya. Dia sepertinya sedang berkonsentrasi penuh. Aku merasa tidak enak kalau sampai dia menyadari keberadaanku lalu malah jadi tegang, jadi aku memilih untuk tidak duduk di barisan depan yang penuh dengan wali murid, melainkan duduk di barisan belakang sambil mengamati pertandingan.
Singkat kata, Yuka memang tidak normal.
Anak itu terlalu jago. Sejak awal pertandingan dia terus mencetak poin sampai tidak bisa dihentikan, membuat tim lawan harus melakukan *double team* padanya. Tapi *pass-work* Yuka juga bagus. Teman setimnya dari kelas 3 juga jago-jago, jadi kalau mereka bebas dan menerima bola, mereka pasti mencetak angka.
Dulu yang merundung Yuka adalah anak-anak kelas 2, dan dia bilang kakak kelas 3-nya adalah orang-orang baik, sepertinya kerja sama tim mereka memang oke. Para senior kelas 3 itu pun terlihat dengan senang hati mempercayakan bola pada Yuka.
Melihat selisih poin yang terus menjauh, aku merasa ngeri.
Jangan-jangan... "adikku" ini terlalu kuat!? Meskipun bukan kakak kandungnya, aku merasa bangga atas kehebatan Yuka seolah-olah itu prestasiku sendiri.
"Anu, maaf..."
Saat aku sedang menikmati "pembantaian" oleh Yuka, seseorang dari barisan wali murid di depan menyapaku. Seorang pria yang terlihat agak pemalu.
"? Ada apa ya?"
"Apa Anda sedang mendukung sekolah kami?"
"Ah~ yah, bisa dibilang begitu."
"Syukurlah! Kalau begitu, silakan, kenapa tidak menonton di depan saja?"
Oh, jadi itu alasan kenapa para wali murid di depan tadi sering melirik ke arahku. Hmm.
Memang sih dengan selisih poin sejauh ini, rasanya tidak akan terlalu berpengaruh... kan?
Mumpung ada tawaran, aku juga ingin melihat permainannya dari jarak dekat.
"Baiklah, kalau begitu saya terima tawarannya..."
Aku beranjak dan pindah ke barisan depan. Dari sini, jalannya pertandingan terlihat sangat jelas.
"Eh! Anak yang ganteng~! Kamu pendukung siapa?"
"Wah gantengnya! Kamu kakaknya siapa?"
"Apa ada anak yang punya kakak se-ganteng ini ya!?"
Duh, apa-apaan nih, aku malah jadi dikerumuni!
"Saya... semacam kakak dari Yuka... Maeda Yuka."
"Eeh~! Yuka-chan punya kakak!?"
"Pantas saja Yuka-chan juga imut ya!"
Sambil merasa sedikit lelah menghadapi antusiasme para ibu-ibu yang luar biasa itu, aku kembali menatap lapangan. Memasuki babak kedua, selisih poin sudah sangat jauh... tapi Yuka tidak mengendurkan serangannya sedikit pun.
Dia masih dijaga dengan *double team*. Meski begitu, dia menciptakan celah di pertahanan lawan dengan *crossover* andalannya, lalu melakukan *drive* yang tajam untuk menerobos.
*TL/Note: Double team: strategi bertahan di mana dua pemain sekaligus menjaga satu pemain lawan untuk menekan pergerakan atau merebut bola. Crossover: Teknik dribble dengan memindahkan bola cepat dari satu tangan ke tangan lain untuk mengecoh lawan. Drive: Gerakan menyerang dengan menggiring bola cepat menuju ring untuk mencetak poin.
Setelah menarik perhatian pertahanan lawan yang datang membantu, dia seolah ingin mengoper... tapi ternyata itu cuma *pass fake*.
*TL/Note: Pass fake merupakan gerakan pura-pura melakukan operan untuk mengecoh lawan sebelum melakukan aksi sebenarnya seperti dribble atau shooting.
Memanfaatkan celah pertahanan yang terkecoh total, Yuka melakukan *middle jumper*. Dia melompat dengan ringan.
*TL/Note: Middle jumper suatu tembakan lompat yang dilakukan dari area tengah (mid-range), biasanya di dalam garis tiga poin namun tidak terlalu dekat dengan ring.
Itu adalah posisi favoritku juga. Persentase keberhasilan tembakan jarak menengah dari posisi itu sangat bagus, jadi aku sering menembak dari sana dulu.
──Entah kenapa aku melihat diriku sendiri dalam sosok Yuka. Padahal Yuka sudah menjadi pemain yang jauh lebih hebat dariku.
*Form* tembakannya cantik. Tidak mungkin meleset. Begitu dia menembak, aku sudah yakin bola itu akan masuk.
Tepat saat bola masuk ke dalam ring dengan suara *spat* yang memuaskan.
Mataku beradu dengan mata Yuka yang memasang ekspresi terkejut.
Bel berbunyi, tim lawan meminta *timeout*. Tapi, seberapa pun taktik yang mereka susun sekarang, selisih poin dan waktu yang tersisa sudah sangat putus asa bagi mereka.
Kemenangan tim Yuka sudah tidak tergoyahkan lagi.
……Yuka yang berjalan kembali ke bangku pemain terus-terusan melirik ke sini. Aku melambaikan tanganku pelan, tapi aku tetap merasa keputusanku untuk tidak duduk di tempat yang terlihat sejak awal sudah benar. Bisa-bisa malah jadi tekanan yang tidak perlu buat dia. Yuka yang memamerkan lengan dengan *wristband*-nya secara terang-terangan terlihat sangat imut.
──Iya, iya, aku tahu. Tenang saja. Aku melihatnya dengan jelas kok.
Setelah menonton satu pertandingan lagi, aku memutuskan untuk pulang. Aku merasa sangat lelah karena sempat diajak ngobrol nggak jelas sama ibu-ibu wali murid, dan juga diserbu pertanyaan penuh semangat oleh teman-teman Yuka yang dulu pernah kuajari basket saat jam istirahat. Benar-benar deh, anak SMP perempuan itu mengerikan.
Di pertandingan kedua pun Yuka tampil luar biasa. Karena memenangkan dua pertandingan hari ini, masa pensiun kakak kelas 3 sepertinya jadi bertambah panjang. Sosok Yuka yang merayakan kemenangan bersama kakak kelasnya terlihat sangat berkilau.
Pasti setelah ini dia bakal sibuk dengan evaluasi tim atau apa pun itu.
Karena sudah beraktivitas sejak pagi dan capek, aku ingin pulang dan tidur saja...
Aku mengembalikan sandal ke loker sepatu, lalu melangkah keluar──
"Kak Masato!"
……Baru saja mau melangkah, ternyata. Begitu aku menoleh, pahlawan hari ini ada di sana.
"Yuka, selamat bekerja ya."
"Ah, anu, itu, terima kasih banyak sudah datang."
"Nggak apa-apa kok. Malah aku yang minta maaf ya karena datang diam-diam."
"Nggak kok! Aku senang sekali…… anu,"
Yuka menunduk sedikit sambil terlihat gelisah.
Setelah jeda beberapa saat, dia mendongak seolah sudah memantapkan tekad.
"Anu! Sekitar 15 menit lagi evaluasi timnya selesai…… maukah Kakak pulang bareng aku……?"
Jujur saja, tadi aku merasa sangat lelah dan ingin cepat-cepat pulang untuk tidur.
Tapi saat diminta seperti itu oleh pahlawan hari ini, aku sama sekali tidak tega untuk menolaknya.
Setelah itu. Saat aku menunggu di dekat gerbang sekolah, Yuka datang berlari. Aku sempat bingung ada apa karena kakak kelas dan ibu-ibu wali murid di belakangnya meneriakkan sesuatu dengan suara keras, dan Yuka berlari ke arahku dengan wajah merah padam.
Karena Yuka langsung mendorong punggungku dengan kuat, terpaksa aku pun meninggalkan tempat itu.
Aku menaruh tas Yuka di keranjang sepedaku, lalu kami berdua berjalan menyusuri jalanan senja.
"Duh…… kenapa Kakak nggak bilang kalau mau datang?"
"Ya kalau aku bilang kan nanti malah jadi tekanan buat Yuka, kan?"
"Muu……"
Wajahnya saat merengut pun imut. Berbeda jauh dengan saat dia bermain basket.
Tim lawan pasti menganggapnya seperti iblis tadi……
"Ah benar juga, Kak Masato, sebelum pulang main basket dulu yuk?"
"Eh!? Yuka kan pasti capek……?"
"Cuma sebentar kok! Sebentar saja!"
Memang sih, taman yang biasa kami datangi tidak terlalu jauh dari sini.
Tapi Yuka baru saja menyelesaikan dua pertandingan. Aku tidak ingin memaksanya saat dia sedang capek…… lagipula. Aku menatap langit senja yang menyilaukan.
"Bukannya nanti sudah keburu gelap ya?"
"Makanya ayo kita cepat ke sana!"
Baru saja bicara begitu, Yuka menunjuk ke arah sepedaku.
"Aku yang kayuh! Kakak naik di belakang saja!"
"Nggak dong, kalaupun mau gitu ya harusnya sebaliknya!"
"Eh, begitu ya? Kalau begitu, maukah Kakak memboncengku?"
Ugh…… kalau diminta dengan tatapan mata memohon begitu, sulit sekali untuk menolaknya. Yah, sudahlah! Yuka sudah berjuang keras hari ini.
"Baiklah! Ayo naik, kita berangkat!"
"Asyik……! Terima kasih banyak!"
Setelah memastikan Yuka sudah naik di boncengan belakang, aku mulai mengayuh sepeda.
Sambil merasakan hangat tubuh Yuka yang menempel erat di punggungku.
Angin yang berembus terasa sangat nyaman.
"~~♪"
Tanpa menoleh pun aku tahu. Yuka sedang dalam suasana hati yang sangat baik, terlihat dari tangannya yang memeluk pinggangku dengan sangat kuat.
──Yah, sesekali begini tidak buruk juga.
Kejadian itu terjadi tepat setelah kami sampai di taman.
Aku dan Yuka tiba di taman dengan selamat, lalu aku pergi ke tempat parkir untuk menaruh sepeda. Sementara itu, Yuka pergi lebih dulu ke lapangan sambil membawa bola.
Tapi, Yuka malah berdiri mematung di depan lapangan.
"……Ada apa?"
Aku tersentak kaget melihat wajah Yuka yang memucat saat dia berbalik.
Sebenarnya apa yang……?
"Kak Masato…… i-ini……"
Suara Yuka terdengar seperti setengah menangis.
Di pintu masuk lapangan.
Ada sebuah pengumuman yang tertempel di sana. Kalau diingat-ingat, tadi pagi juga sepertinya ada sesuatu yang sedang dikerjakan di sana…….
Aku melihat isi pengumuman itu dari belakang bahu Yuka.
Di sana tertulis: 『Pemberitahuan Pembongkaran Lapangan Basket』.
───● Gadis SMP Klub Basket Memantapkan Tekad ●○●
《Masato》『Boleh saja, tapi aku nggak yakin bisa bangun pagi nih...』
《Yuka》『Ah, anu... kalau Kakak tidak keberatan, bagaimana kalau besok pagi aku telepon?』
《Masato》『Oke! Tolong ya! Kalau aku sampai nggak bangun, beneran maaf banget! Aku bakal berusaha!』
《Yuka》『Kalau begitu besok sekitar jam 6 aku telepon ya! Selamat tidur.』
《Masato》『Siiip! Selamat tidur.』
Melihat kembali obrolan di media sosial kemarin, aku menarik napas panjang.
Sekarang tepat jam 6 pagi. Aku sudah terbiasa bangun jam segini, tapi sepertinya Kak Masato tidak begitu. Biasanya kalau kirim pesan pun datangnya larut malam atau baru dibalas siang hari, jadi aku maklum.
Membangunkan Kak Masato secara paksa rasanya bikin merasa bersalah, tapi ini kan permintaannya... Sambil meyakinkan diri, aku menekan tombol panggil.
Nada pertama, tidak diangkat. Nada kedua, tidak diangkat.
Jantungku mulai berdebar kencang. Lalu, pada nada ketiga, panggilan tersambung.
"Ah, halo, Kak Masato, selamat pagi."
『...』
Hanya suara kain selimut yang bergeser yang terdengar selama beberapa saat.
"Anu... Kak Masato?"
Apa aku benar-benar mengganggunya? Tepat saat rasa bersalah menyerang dadaku...
『...Yuka?』
"~~-!!"
Sebuah bom raksasa baru saja dijatuhkan. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, agak tidak jelas. Jantungku berpacu liar. Padahal tidak ada apa-apa, tapi rasanya aku seperti sedang melakukan sesuatu yang terlarang.
"Se, selamat pagi. Ini Yuka."
『Nghh...』
...E-eh, suaranya terlalu mesum... Jangan mengeluarkan suara seseksi itu, dong!!!
Setelah itu, aku terus menemaninya mengobrol sampai kesadaran Kak Masato pulih sepenuhnya. Lalu aku menutup telepon.
"Apa-apaan ini... kepalaku bisa kacau kalau begini..."
Daya hancur Kak Masato saat baru bangun tidur benar-benar luar biasa.
Jujur, tadi itu sangat berbahaya. Dalam banyak arti. Sambil menarik napas panjang, aku pun berguling-guling di atas kasur selama satu menit untuk menenangkan diri.
Setelah latihan pagi bersama Kak Masato, aku datang ke lokasi turnamen bersama anggota tim lainnya. Kami melakukan pemanasan bersama, dan sebentar lagi pertandingan pertama akan dimulai. Karena sistem gugur, kalau kalah berarti selesai.
Tegang... sepertinya tidak. Aku cuma tidak mau kakak kelas 3 harus pensiun kalau kami kalah. Mengingat lawan nanti tidak mungkin lebih kuat dari Kak Masato, aku merasa sedikit lebih tenang.
"Yuka, kami bakal sering oper bola ke kamu ya, semangat!"
"Baik! Aku akan berjuang!"
Kapten yang menyapaku adalah orang yang sangat baik. Sejak aku tiba-tiba masuk tim utama, dia selalu menyemangatiku dengan lembut. Dia terlihat sangat keren dengan gaya kuncir kuda khas anak klub basket.
Aku berdiri dari kursi lipat dan mengatur napas. Kugenggam erat *wristband* hitam di lengan kiriku. *Wristband* pemberian Kak Masato. Di bagian dalamnya, benar-benar ada tulisan 'MK' dalam huruf latin tegak bersambung.
...Aku sangat senang. Rasanya seperti Kak Masato sedang berjuang bersamaku, itu membuatku merasa kuat.
"Semuanya, silakan berbaris!"
Mendengar instruksi wasit, aku berdiri di lapangan bersama para senior.
Oke. Mari kita berjuang...!
Pelatih bilang aku boleh bermain sebebas mungkin, jadi begitu menerima bola, aku langsung menyerang dengan berani. Pertahanan lawan tidak menakutkan sama sekali, aku bisa mencetak poin terus-menerus di level ini. Sambil mencampur pilihan antara menembak atau mengoper, aku terus berkontribusi dalam perolehan poin.
Lawan sampai menugaskan dua orang untuk menjagaku, tapi aku tidak peduli.
Melawan Kak Masato sendirian saja seribu kali lebih sulit untuk mencetak poin!
"Nice shoot, Yuka! Kamu boleh terus menyerang ya!"
"Baik!!"
Aku melakukan *high-five* ringan dengan Kapten saat kembali ke posisi bertahan. Pertandingan memang menyenangkan!
*TL/Note: High five suatu erakan dua pemain saling menepukkan telapak tangan sebagai bentuk selebrasi atau dukungan.
Memasuki babak kedua, performaku tidak menurun sedikit pun. Hari ini aku merasa sangat fit.
Saat lawan menyerang, aku memperhatikan kalau pantulan bola mereka secara keseluruhan terlalu tinggi. Memanfaatkan celah dalam *dribble* mereka, aku segera melakukan *steal*.
*TL/Note: Steal merupakan aksi merebut bola dari lawan secara langsung saat permainan berlangsung.
"Nice! Yuka, sebelah sini!"
Aku mengoper bola ke senior, lalu aku ikut menyerang. Setelah memastikan lawan sudah kembali bertahan, aku menerima bola lagi.
Ada dua orang penjaga, tapi tidak masalah. Seperti biasa, aku menciptakan celah, lalu menerobos... menipu lawan yang datang membantu dengan *pass fake*.
Aku melakukan *jump shoot* saat hampir bebas. Oke, masuk──.
Tepat saat itu, pandanganku seolah tersedot ke arah ring. Di sana, di kursi penonton, ada seorang laki-laki.
Kak Masato ada di sana.
"Eh, bentar, di kursi penonton ada cowok ganteng banget nggak sih?"
"Eh, bener-bener! Aku juga lihat!"
"Siapa tuh? Kakaknya siapa ya?"
"Kenalin dong ke aku!!"
Du, duh, kenapa jadi begini...
Kami berhasil memenangkan dua pertandingan dan meraih kemenangan telak. Itu hal yang bagus. Tapi setelah pertandingan selesai di ruang ganti, pembicaraan hanya berkisar tentang Kak Masato.
"Katanya ayahku bilang, dia itu kakaknya Yuka lho."
"Eh! Beneran, Yuka!?"
Di sini hanya ada anggota tim yang bertanding. Artinya teman seangkatanku tidak ada di sini... Sebagai anak kelas 1, aku merasa sangat terpojok...
"Ah, anu... itu..."
"Hei Yuka, kenalin dong ke Kakak itu! Keren banget tahu!"
"Namanya siapa? Namanya!?"
Kak Masato itu memang Kakak tapi bukan Kakak kandung... duh kenapa aku jadi bingung begini. Dan soal mengenalkan, jelas tidak boleh!
Aku berusaha keluar dari ruang ganti dan kembali ke tempat semua orang berkumpul. Di sana ada ibuku yang datang menonton. Syukurlah, kalau ada Ibu, salah paham di antara para wali murid pasti bakal lurus...!
"Yuka, apa Ibu punya anak laki-laki se-ganteng itu ya..."
"Duh Ibu juga malah ngomong apa sih!?"
"Habisnya, kalau beneran punya kan Ibu senang sekali..."
"Nggak boleh! Itu nggak boleh!"
Duh, bukan waktunya membicarakan ini. Aku sudah janji mau pulang bareng Kak Masato, jadi aku harus segera pergi...
Pertemuan terakhir sebelum bubar. Kapten membicarakan evaluasi pertandingan dan meningkatkan semangat untuk laga berikutnya. Besok kami sudah mulai latihan klub lagi.
Dan tepat saat akan bubar, Kapten memukul tangannya sekali dengan ekspresi serius.
"Baiklah. Sekarang kita tentukan siapa yang akan dipilih untuk dikenalkan ke kakaknya Yuka."
"Eeeh!?"
Kapten bicara apa sih!?
"Asyiiiik! Aku mau daftar!"
"Aku juga!!"
"Aku juga pengen PDKT sama cowok ganteng!!"
Satu per satu para senior mendaftar. Enggak, itu nggak boleh tahu!?
"Cuma... bercanda kok. Aku nggak akan melakukan itu."
*Fiuh...* Meski para senior bersorak kecewa, aku benar-benar merasa lega dari lubuk hati. Kapten berdeham sekali sebelum melanjutkan.
"Hanya aku sendiri yang akan minta dikenalkan."
Eh...?
"Kapten payah!"
"Dasar brengsek!"
"Lu kan sudah punya pacar!!"
Kali ini Kapten beneran disoraki habis-habisan oleh yang lain...
Namun, Kapten tidak memedulikan itu dan tetap memasang wajah tenang seolah tidak terjadi apa-apa, lalu ia mengalikan pandangannya padaku.
"Yuka, kenalin dong?"
Meski dia menjulurkan lidahnya dengan nakal begitu...
A-aku harus mengatakannya. Bahwa orang itu bukan kakak kandungku...
Lagipula, orang itu adalah... orang itu adalah—!
Aku menarik napas panjang.
"Orang itu adalah calon pacarku, jadi tidak boleh dijadiin rebutan!!!"
Saking malunya, aku langsung berlari kencang seolah ingin melarikan diri.
"Undang ke pernikahanmu ya, Yuka~!"
"Semangat ya Yuka-chan~!"
"Duh, masa muda ya~!"
Suara sorakan riuh dari belakang membuat wajahku makin panas. Di depan gerbang sekolah, terlihat sosok Kak Masato yang sedang menunggu.
"Ayo pergi, Kak Masato!"
"O-oh, ooh...?"
Sambil menahan rasa malu, aku mendorong punggung lebar Kak Masato dengan sekuat tenaga.
Aku membonceng sepeda Kak Masato.
Sambil memeluk punggung lebarnya, aku menikmati waktu yang sangat membahagiakan ini. Syukurlah aku tadi memberanikan diri bersikap egois. Hari ini aku bisa menunjukkan sisi kerenku padanya, dan sekarang aku bisa menempel erat seperti ini, benar-benar hari yang sempurna.
Tanpa sadar, hatiku berbunga-bunga.
"Aku... menyukaimu."
Angin berembus kencang, suaraku yang berada di belakang tidak akan terdengar olehnya. Perasaan yang kugumamkan pelan ini tidak akan sampai padanya. Aku teringat deklarasiku di depan semua orang tadi.
Aku benar-benar ingin pacaran dengan Kak Masato. Aku ingin menjadikannya kekasihku.
Tapi... Kak Masato pasti menganggapku hanya sebagai sosok adik perempuan. Itu sudah jelas dari apa yang dikatakannya di kursi penonton tadi.
Aku kesal. Aku ingin dia menyadariku sebagai seorang perempuan.
Gimana caranya ya?
Aku mengeratkan pelukanku. Memeluknya makin kuat, makin kuat lagi.
Aku tidak ingin melepaskannya. Aku ingin terus seperti ini selamanya.
Gimana caranya supaya kamu menyadari perasaanku ini? Kak Masato.
Selagi Kak Masato pergi memarkir sepeda, aku datang lebih dulu untuk mengamankan lapangan. Karena matahari sudah hampir terbenam, tidak ada orang di sini. Baguslah, pikirku. Tapi saat hendak masuk ke lapangan—
"……?"
Aku menyadari ada sebuah pengumuman asing tertempel di pintu masuk lapangan. Aku membaca isinya.
"Eh……"
Di sana tertulis kalau lapangan ini 『tidak bisa digunakan lagi mulai minggu depan』.
……Kenapa? Padahal baru saja aku merasa sangat bahagia, tapi seketika perasaanku mendingin seolah disiram air es. Tempat ini... akan menghilang.
Tempat pertama kali kita bertemu.
Tempat di mana aku menganggapmu sangat keren.
Tempat yang kudatangi terus-menerus karena ingin bertemu lagi dengannya.
Tempat pertama kali aku memberanikan diri menyapanya.
*『A-anu, maukah Anda... bertanding denganku!』*
*『Eh!?』*
Bermain basket dengan Kak Masato sangatlah menyenangkan... Aku jadi selalu menantikan hari Jumat karenanya.
*『Ha-hari ini aku pasti menang! Dan tempat ini... akan menjadi milikku!!』*
*『Wah, datang juga ya si Bocah ini.』*
Ada kalanya kita kehujanan dan jantungku berdebar kencang.
*『Nih, pakai ini. Karena cuma kaos pendek mungkin nggak seberapa sih. Tapi mendingan lah daripada nggak pakai apa-apa.』*
*『Eh……』*
Aku pernah diselamatkan olehnya.
*『──Sepertinya kalian sedang latihan yang sangat menyenangkan ya.』
*
*『……Kamu sudah berjuang keras ya, Yuka. Kamu keren sekali tadi.』*
Begitu banyak kenangan berputar di kepalaku. Selalu, selalu di sini.
Segala hal tentangku dan Kak Masato ada di tempat ini. Namun sekarang... akan menghilang? Itu artinya, aku tidak akan bisa bertemu
Kak Masato lagi...?
"Ada apa?"
Kak Masato yang baru selesai memarkir sepeda tahu-tahu sudah ada di belakangku. Aku berusaha menahan perasaan sesak ini dan menoleh.
"……Kak Masato, lihat ini……"
Kak Masato ikut menatap pengumuman itu.
"……Serius nih?"
Sepertinya Kak Masato juga terkejut membaca isinya. Benar-benar buruk. Tempat yang penuh kenangan ini akan hilang. Dan mulai minggu
depan, kalau aku tidak bisa bertemu Kak Masato lagi—
"Kita harus cari tempat baru ya."
"Eh……?"
"Eh? Maksudku, kalau di sini hilang, berarti kita harus cari tempat baru, kan?"
Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna kata-katanya.
"Ko-kok santai sekali……"
"Yah, tentu saja aku sangat sedih tempat ini hilang... ini kan tempat aku bertemu Yuka. Tapi kan..."
Sebuah sentuhan di kepalaku. Telapak tangan Kak Masato yang besar.
"Bukan berarti kenangannya ikut hilang, kan? Buktinya sekarang, aku dan Yuka juga bisa bersama di luar taman ini. Kenangan itu akan tetap tersisa di dalam diri kita... dan kita tinggal cari tempat baru untuk membuat kenangan yang baru lagi, kan?"
……Begitu banyak kenyataan yang mengaduk-aduk emosiku. Bahwa aku masih bisa bertemu lagi dengan Kak Masato. Bahwa dia bilang ini tempat pertemuan kami yang penuh kenangan. Bahwa dia berniat mencari tempat baru bersamaku lagi.
Semuanya, semua-semua-semuanya, aku tahu dia mengatakannya demi aku. Dan lagi-lagi, aku merasa sangat bahagia.
Aku menghambur memeluk Kak Masato.
"Uwaa!? ……Ada apa sih, Yuka?"
"Kak Masato, terima kasih…… banyak……! Benar-benar, terima kasih sudah bertemu denganku……!"
"Jangan berlebihan begitu……"
Kepalaku dielus pelan. Ini bukan berlebihan. Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan orang ini. Ternyata—aku memang sangat mencintainya.
Perasaanku mulai tenang... dan saat aku tersadar, aku menyadari
kenyataan kalau aku sedang dielus kepalaku. Ini pasti dilakukan Kak Masato karena dia menganggapku seperti seorang adik.
Perlahan, aku melepaskan pelukanku. Meski berat, tapi ini adalah langkah yang diperlukan.
"Yuka……?"
Aku melangkah masuk ke lapangan. Matahari senja sudah sangat condong, cahayanya menyilaukan. Sebentar lagi pasti akan gelap. Di tengah lapangan, aku berbalik menghadap Kak Masato.
Kak Masato tampak melongo keheranan. Wajahnya yang seperti itu pun terlihat sangat tampan. Benar-benar, aku menyukai segalanya tentangnya.
Karena itu.
──Hei, Masato-san yang sangat kucintai.
"Ayo bertanding, Kak Masato."
Aku sudah memantapkan tekadku.
───● Perasaan Gadis SMP Klub Basket Itu Adalah ●○●
"Ayo bertanding, Kak Masato."
Dengan latar belakang langit senja yang memerah, Yuka mengatakannya padaku.
Senyum lembut di wajahnya sesaat tidak terlihat seperti anak seumurannya, membuatku sempat menahan napas.
Nggak boleh, nggak boleh. Lawanku ini anak SMP.
Menganggap anak SMP "cantik" itu beneran menjijikkan, tahu. Aku membuang pikiran kotor itu dan berhadapan langsung dengan Yuka.
"Bertanding... maksudmu *1-on-1*?"
"Iya."
Satu lawan satu. Hal itu memang biasa kulakukan dengan Yuka... dan sejujurnya, aku belum pernah kalah.
Atau lebih tepatnya, sebagai laki-laki dewasa, mana mungkin aku kalah dari anak SMP. Gengsi, tahu.
...Meski melihat kehebatannya tadi, aku merasa sebentar lagi aku benar-benar akan kalah darinya.
"Tapi, pertandingannya cuma satu kali kesempatan. Kita melakukan *offense* dan *defense* masing-masing satu kali, kalau ada selisih poin berarti selesai. Gimana?"
*TL/Note: Offense: Posisi atau fase saat tim menyerang untuk mencetak poin. Defense: Posisi atau fase saat tim bertahan untuk mencegah lawan mencetak poin.
"……Begitu ya."
Biasanya kami main sampai 5 poin, tapi dia minta satu kali kesempatan saja.
Memang dengan begini, Yuka punya peluang menang. Dalam bola basket, sehebat apa pun pemainnya, tidak ada yang namanya tembakan masuk 100%. Artinya, semakin sedikit percobaan, hasilnya akan semakin tidak menentu.
Apalagi... meski aku sudah tahu gaya mainnya, siapa tahu Yuka punya senjata rahasia. Aku nggak tahu apa aku bisa meresponsnya kalau baru pertama kali melihatnya.
Tapi, kalaupun dia mencetak poin, sulit membayangkan tembakanku bisa dia blokir. Bagaimanapun, dalam olahraga yang mengandalkan tinggi badan ini, keuntungan mutlak ada di tanganku.
"Oke. Lagipula nggak banyak waktu lagi, ayo mulai kalau sudah siap."
"Satu lagi."
Di depanku, Yuka mengangkat jari telunjuknya.
"Yang kalah harus mengabulkan satu permintaan pemenang. Gimana menurut Kakak?"
……Percaya diri sekali dia. Sepertinya aku harus waspada kalau dia beneran punya senjata rahasia.
"……Baiklah. Aku terima tantangannya."
Permintaan ya. Kalau menang, aku mau minta apa ya ke Yuka.
*Morning call* tadi sangat membantuku sih, apa minta itu lagi saja ya?
Aku beneran susah bangun pagi soalnya.
Aku menerima bola dari Yuka dan mulai pemanasan ringan.
"Kamu habis tanding dan capek, jangan dipaksakan ya~! Aku nggak mau tanggung jawab kalau kamu jatuh kayak waktu itu lho!"
"……!"
Yuka mendadak mematung seolah terkejut.
Eh? Apa aku salah bicara?
"Kakak... masih ingat ya."
"Eh, ya iyalah aku ingat. Apa itu sudah lama sekali?"
Perasaan itu terjadi pas baru-baru kita mulai main basket bareng... sekitar tiga bulan yang lalu?
"Fufufu……"
"Ke-kenapa ketawa?"
"Nggak, cuma merasa senang saja!"
Yuka tersenyum lebar.
A-apa-apaan? Sejak kapan anak ini bisa tersenyum sedewasa itu……?
Padahal wajahnya masih imut dan kekanak-kanakan, tapi barusan hatiku sempat berdegup kencang.
Nggak boleh, nggak boleh. Anak ini kelas 1 SMP. Itu kriminal, Masato.
Pemanasan singkat berakhir, saatnya pertandingan dimulai.
Benar juga. Mungkin ini terakhir kalinya kami bertanding di tempat ini.
Memikirkan itu membuatku sedikit emosional. Yuka juga sepertinya sudah siap.
"Ayo kita mulai. Siapa yang duluan?"
"Seperti biasa, Yuka yang tentukan saja."
"Kalau begitu, izinkan aku yang menyerang duluan."
Urutan menyerang memang selalu Yuka yang tentukan. Tidak terlalu berpengaruh pada hasil sih, jadi wajar kalau dia yang pegang kendali soal itu.
Aku menerima bola pantul dari Yuka, lalu memantulkannya beberapa kali di tempat.
Begitu bola ini kukembalikan ke Yuka, pertandingan dimulai.
Yuka memejamkan mata, terlihat sedang berkonsentrasi penuh.
……Serius banget ya dia? Yah, bagus sih……
Berarti aku juga harus serius, kalau tidak itu tidak sopan namanya.
Begitu aku memberikan *bounce pass* ke dia──aku langsung mengambil posisi bertahan.
*TL/Note: Bounce pass adalah operan dengan memantulkan bola ke lantai sebelum diterima rekan setim.
Kaki merendah. Rentangan tangan lebar untuk menutup jalannya.
Ada perbedaan fisik. Kalau lawanku orang biasa, aku tidak mungkin kalah.
Tapi anak ini──.
"──Aku datang."
Dia memang tidak biasa.
Pertama, dia melakukan *shoot fake* di tempat sebagai salam pembukaan.
Aku tentu tidak akan tertipu. Dalam pertandingan satu kali kesempatan, tingkat keberhasilan tembakan Yuka dari jarak ini tidak setinggi itu untuk dipertaruhkan.
Eh, meskipun sebenarnya untuk ukuran anak SMP itu sudah sangat tinggi sih.
Untungnya, sepertinya Yuka terinspirasi oleh gayaku. Gaya bermainku adalah melakukan tusukan ke dalam untuk mengacaukan pertahanan lawan, meski kadang menembak dari luar juga.
Jadi sudah pasti di saat seperti ini dia akan memilih...
"Hut──!"
*Drive*!
*Crossover* dengan perubahan tempo yang sangat tajam.
Kalau lawannya anak SMP seumuran Yuka, pasti tidak akan ada yang bisa mengejarnya. Aku yang zaman SMP dulu pun pasti bakal tertipu mentah-mentah.
Tapi, aku sudah berkali-kali melihat kecepatannya, jadi aku sudah tahu.
Aku bergerak menutup jalur tusukannya tepat di depannya. Kalau dia terus menerjang, itu akan jadi *offense foul*.
"Belum──"
Dia langsung mengeluarkan jurus berikutnya.
*Spin move* (*roll*).
Teknik memutar tubuh dengan memanfaatkan momentum ke arah berlawanan. Ini juga teknik yang dia kuasai sepenuhnya selama latihan bersamaku.
Benar-benar monster kecil yang menakutkan.
Tapi, itu kan aku yang mengajarinya.
"Aku sudah tahu!"
Aku ikut berputar menutup ruang. Karena perbedaan fisik, langkah kakiku tentu lebih lebar. Makanya aku bisa mengejarnya. Inilah kenapa perbedaan fisik menjadi keuntungan absolut dalam olahraga.
"──Sudah kuduga."
Dan Yuka pun tahu kalau aku bisa merespons *spin move*-nya.
Dia menghentikan putarannya di tengah jalan, melakukan *behind the back dribble*, lalu melakukan langkah mundur (*step back*).
*TL/Note: Behind the Back Dribble suatu eknik dribble dengan memindahkan bola ke tangan lain melalui belakang punggung untuk mengecoh lawan.
Dilihat dari mana pun, ini bukan teknik anak kelas 1 SMP. Aku sampai ingin tertawa melihatnya.
──Tepat saat itu. Yuka yang sudah menciptakan jarak dariku melompat
dengan satu kaki.
(Maaf ya! Kalau dari situ, tanganku masih bisa menjangkau, Yuka!)
Begitu dia melompat, hanya ada satu pilihan dalam *1-on-1* ini. Menembak.
Memang benar, *step back* ke belakang tadi menciptakan jarak di antara kami, tapi dari sini pun tanganku masih bisa menjangkau. Karena perbedaan tinggi badan kami.
Ya, begitulah pikirku.
Namun, tangan yang kujulurkan itu──hanya membelah udara.
"Bercanda ya, oi──"
Yuka, dengan satu tangan, melontarkan bola tinggi-tinggi ke udara.
──*Overhand floater shot*.
*TL/Note: Overhand Floater Shot suatu mbakan melambung dengan satu tangan dari atas (overhand) untuk melewati jangkauan pemain bertahan, biasanya dilakukan saat mendekati ring.
Teknik yang bahkan digunakan di dunia profesional untuk menghindari blokade lawan. Yuka mengubah lintasan bolanya sedemikian rupa agar aku pun tidak bisa menjangkaunya.
Aku belum pernah melihatnya melakukan itu sebelumnya.
Bola yang membentuk garis parabola tinggi itu meluncur mulus──dan
terhisap masuk ke dalam ring.
"Dengan begini, aku unggul duluan ya, Kak Masato."
"Oi, oi, serius nih……"
Melihatnya tersenyum penuh kemenangan, aku tidak bisa menghentikan rasa merinding di sekujur tubuhku.
Tinggi badan Yuka memang tergolong besar untuk anak kelas 1 SMP.
Bahkan jika dibandingkan dengan anak kelas 3 SMP sekalipun. Itu artinya, Yuka seharusnya tidak perlu pusing memikirkan cara menghindari blokade tinggi.
Namun, tembakan tadi dilakukan dengan sangat mahir, seolah dia sudah sangat terbiasa.
Dia melatihnya setiap hari.
Itu artinya──.
"Aku melatihnya khusus untuk bisa menang melawan Kak Masato."
"Kamu nggak bercanda ya……!"
Di waktu yang tidak kulihat, entah itu saat kegiatan klub atau waktu lainnya, dia melatih tembakan ini.
A-apa dia sebegitu inginnya merebut tempat ini dariku……?
"Nah, sekarang giliran serangan Kak Masato lho."
"O-oh……"
Sambil sedikit merasa gentar melihat senyum berani Yuka yang tidak seperti biasanya, aku kembali ke posisi awal.
Tenang, sampai titik ini masih dalam batas perkiraanku. Mengingat ini
Yuka, aku sudah tahu dia pasti punya senjata rahasia saat menyerang.
Namun, saat bertahan tidak akan semudah itu.
Menyerang itu soal keberuntungan, tapi bertahan tidaklah demikian.
Sejauh ini, saat aku beneran berniat mencetak angka, aku belum pernah diblokir atau bolanya dicuri oleh Yuka.
Maaf ya Yuka…… tapi aku tidak bisa membiarkan diriku kalah begitu
saja.
Aku menyerahkan bola padanya. Begitu bola ini dikembalikan, seranganku akan dimulai.
"Hei, Kak Masato."
"……Hm?"
Yuka memantulkan bola beberapa kali ke tanah sambil menatap mataku.
Sepasang mata zamrud yang menatap lurus. Tatapan murni yang seolah menghisapku masuk ke dalamnya.
"Kak Masato, sedang cedera, kan?"
Pernyataan yang keluar dari mulut Yuka membuatku tersentak kaget.
"……Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Karena aku sudah berkali-kali melihat gaya main Kak Masato, jadi aku tahu. Antara sikut kanan atau bahu kanan, kan?"
"……"
"Alasan Kakak tidak main basket sekarang──atau olahraga apa pun, apa
karena itu?"
"……Entahlah ya."
Tebakan Yuka tepat sasaran. Sikut kananku memang hancur. Tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, dan ini bukan cerita kelam soal kecelakaan lalu lintas atau semacamnya. Ini murni akibat terlalu sering melakukan olahraga tertentu.
"Aku, masih belum tahu apa-apa soal Kak Masato. Hal yang barusan, atau soal masa lalu Kakak."
Dengan wajah yang terlihat sedikit kesepian, Yuka mengatakan hal itu.
Lalu, *pas*, dia memegang bola dengan kedua tangannya.
"Aku──ingin tahu lebih banyak. Tentang Kak Masato."
"……!"
Kata-katanya terlalu murni, ditambah lagi tatapannya yang mendongak itu... sial, hatiku beneran berdegup kencang.
Tu-tunggu dulu, melawan anak SMP itu beneran bahaya, kan!?
"Se-setelah pertandingan ini selesai ya!"
Sekarang konsentrasi! Apa serangan mental ini juga sudah dia incar?
Kalau benar begitu, Yuka tanpa sadar sudah berubah jadi gadis nakal yang sangat berbahaya…….
"Iya. Setelah ini selesai…… tolong beri tahu aku banyak hal ya, sangat banyak."
Bola dikembalikan padaku dengan *bound pass*.
Sekarang giliranku menyerang.
Gaya bicaranya yang seolah-olah sudah menang itu…… harus aku beri pelajaran!
Yuka menjagaku dengan sangat ketat. Pertahanan tanpa celah yang tidak
bisa dikritik sedikit pun.
Aku melakukan *shoot fake*. Yuka mengikutiku dengan baik.
Tentu saja. Dia tahu persentase tembakan luarku, dan kalau sampai masuk, keunggulan poinnya akan kembali seri. Dia pasti ingin melenyapkan kemungkinan itu. Situasinya benar-benar terbalik dengan
saat aku yang bertahan tadi.
Karena itulah, tercipta sedikit celah──!
Tanpa ragu aku menusuk ke dalam, melakukan *drive* ke kiri.
Aku juga percaya diri dengan kemampuan *dribble* tangan kiriku. Tidak masalah meski dia tahu tangan kananku cedera.
Yuka tetap mengejarku meski sedikit terlambat. Dia tidak membiarkanku maju ke arah ring dengan mudah.
Tapi, kalau sudah sedekat ini dengan ring, sudah cukup.
Aku memegang bola dengan kedua tangan, lalu berniat mencetak angka dengan *fadeaway* sambil berputar──.
*TL/Note: Fadeaway suatu embakan dengan melompat sambil menjauh dari pemain bertahan untuk menciptakan ruang dan menghindari blok.
"Di situ!"
Tepat saat aku memegang bola dengan kedua tangan.
Tangan kanan Yuka yang terjulur menepis bola yang kupegang dengan
sangat akurat.
"Kak Masato cedera tangan kanan. Makanya, saat memegang bola dengan kedua tangan, transisi Kakak ke posisi menembak jadi sedikit terlambat!"
"Bercanda ya……!"
Bola yang ditepis melayang di atas kepalaku.
Dunia seolah bergerak dalam mode *slow-motion*.
Kalau aku tidak bisa mengambil bola ini, aku kalah. Karena tadi aku berniat melakukan *fadeaway*, tumpuan berat badanku ada di belakang.
Aku berusaha meraih kembali bola yang melayang di atas kepalaku──.
"Tidak boleh."
Bahkan usaha itu pun ditepis oleh tangan kanan Yuka.
Bola menggelinding ke arah belakang dengan kejam.
……Aku kalah, ya.
Demi menepis bola tadi sekuat tenaga, Yuka yang bergerak nekat akhirnya menindih tubuhku. Tanpa bisa berbuat apa-apa, aku jatuh terlentang ke belakang.
Yuka berada di atasku, jatuh bersamaan denganku.
Disertai suara *dotak*, punggungku menghantam lantai.
*Ten, ten, ten.*
Hanya suara bola yang menggelinding menjauh yang terdengar.
Saat aku membuka mata yang sempat terpejam menahan benturan. Di depanku, ada wajah Yuka. Dan itu pun. Berada di jarak yang terlalu dekat.
Ada sebuah sensasi di bibirku.
Eh──?
Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat.
Perlahan, wajah Yuka menjauh.
"Hah... hah..."
"Kamu, apa yang kamu lakukan──"
Aku yang berada di bawah, dan di atasku, ada langit senja yang merah padam. Serta wajah Yuka yang memerah, tampak kekanak-kanakan... namun di saat yang sama terlihat dewasa, cantik, dan menawan.
"──Aku tidak mau."
"Eh──?"
"Kalau cuma dianggap adik, aku tidak mau."
"……!"
Terdengar suara detak jantung yang sangat keras. Apa ini detak jantung Yuka? Ataukah──.
"Aku tahu sekarang masih mustahil. Tapi──tolong sadari keberadaanku. Bukan sebagai adik, tapi sebagai seorang perempuan. Itulah permintaanku."
"Itu……"
"Tidak boleh ya? Apa kalau aku masih sekecil ini…… cuma anak SMP, tetap tidak boleh?"
Wajah Yuka yang biasanya terlihat imut dan familier. Tapi kenapa sekarang rasanya terlihat begitu sensual dan menggoda? Tanpa sadar, aku menutupi wajahku dengan tangan kanan. Tunggu, wajahku sekarang
pasti merah banget dan kelihatan payah──.
"Nggak boleh."
"Tunggu──"
Yuka menarik paksa tangan kananku itu, lalu menekannya dengan kuat ke lantai. Tenaganya... kuat sekali...!
"Ngh……!"
Sekali lagi, wajah Yuka ada tepat di depan mataku.
Sekarang aku sudah tidak bisa lagi mencari alasan untuk menghindar.
Ciuman yang memaksa, namun di saat yang sama terasa begitu lembut—seolah-olah dia sedang memanjatkan sebuah doa yang mendalam.
"……!"
"Bagaimana? Apa setelah ini pun... masih tidak boleh?"
Wajah Yuka benar-benar merah padam.
"Aku sangat mencintaimu. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi!
……Sekarang, meski masih mustahil pun tidak apa-apa...! Tapi tolong jangan anggap aku adik... lihatlah aku... lihatlah aku sebagai seorang perempuan."
Senyum lebar Yuka yang bercampur dengan sisa air mata itu memiliki daya hancur yang lebih dari cukup untuk mengobrak-abrik isi hatiku.
Suara detak jantungku terus berpacu dengan hebat. Tubuhku terasa panas membara, dan aku tidak tahu apakah ini karena sisa olahraga tadi atau karena situasi yang sedang kuhadapi sekarang.
Rasa malu yang luar biasa menyerangku. Aku berusaha memalingkan wajah agar dia tidak melihat betapa berantakannya aku, tapi dia memaksaku untuk terus menatap lurus ke arahnya. Aku bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresiku. Kedua tanganku sudah benar-benar terkunci oleh tangan Yuka.
"Hei, Kak Masato."
Sekarang, aku tidak bisa melihat apa pun lagi selain wajah Yuka.
"──Boleh aku melakukannya lagi?"
Melihat ekspresi Yuka yang sudah benar-benar dikuasai oleh gairah itu, aku akhirnya menyadari satu hal.
Siapa sebenarnya yang memegang kendali "di atas" sekarang.
Beberapa puluh menit setelahnya—aku benar-benar dibuat paham dengan seluruh raga dan jiwaku.
───● OL Tsundere Mengajak ●○●
Belakangan ini, aku sering melamun.
Sudah lima hari berlalu sejak kejadian mengejutkan itu... Jujur saja, materi kuliah pun hampir tidak ada yang masuk ke otakku. Suara profesor hanya lewat begitu saja dari telinga kanan ke telinga kiri seperti musik latar.
Yang terus berputar di kepalaku adalah percakapan hari itu.
*『Kakak tidak perlu menjawabnya sekarang. Mulai sekarang dan seterusnya... aku akan terus bersamamu untuk membuktikan perasaanku!』*
Awalnya aku mencoba menepisnya dengan bilang bahwa dia mungkin hanya berfantasi karena aku lebih tua, dan dia mungkin akan berubah pikiran kalau bertemu lebih banyak laki-laki lain. Tapi kalimat tadi langsung membungkamku.
Wajah Yuka saat pulang sambil tersenyum itu... terlihat sangat berseri-seri.
Sejujurnya aku memang berpikir begitu. Anak SMP berada di masa-masa yang sangat sensitif, dan kebetulan kali ini akulah yang ada di sana. Seharusnya dia akan mengalami banyak cinta dan kegagalan di masa depan.
Tapi, kalau dikirimi pernyataan sebahagia itu, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Lagipula dia memang imut. Dan aku juga laki-laki normal.
Sejak saat itu, pesan-pesan dari Yuka pun jadi jauh lebih agresif.
Seperti yang Yuka katakan, selama ini aku hanya menganggapnya sebagai sosok adik perempuan, jadi aku tidak pernah menyangka dia memendam perasaan seperti itu.
Ekspresi dan tindakan Yuka hari itu benar-benar membekas di benakku dan tidak mau hilang.
Di bawah semburat senja, aku ditekan oleh Yuka dari atas...
"Tuh, kan~ melamun lagi!"
"……Maaf, maaf."
Aku tersadar saat mendengar suara Koumi yang duduk di sampingku.
"Nih, buatmu. Masih dingin lho."
"Oh, terima kasih. Tunggu sebentar, aku cari uang receh dulu..."
"Nggak usah, nggak apa-apa! Biar aku saja yang bayar kalau cuma segini."
Hari ini Koumi mengenakan celana pendek cokelat dengan aksen *suede frill* yang berpinggang tinggi, dipadukan dengan atasan lengan pendek tipe *square neck* berwarna putih yang memberikan kesan segar.
Karena Koumi punya proporsi tubuh yang bagus, setelan yang membuat kakinya terlihat panjang seperti ini benar-benar cocok untuknya.
"Cuma mentraktir minuman dari mesin otomatis mah sama sekali nggak kelihatan keren lho?"
"Mizuho juga kemarin beli, kan."
"Kalau aku kan Starbucks! Levelku lebih tinggi!"
Tiba-tiba Mizuho, sahabat Koumi, muncul dari belakangnya. Mizuho juga memakai celana pendek seperti Koumi, tapi warnanya hitam dan atasannya blus *see-through* berwarna merah muda dengan bagian lengan bertipe renda. Fashion yang menonjolkan sisi imut Mizuho ini membuatnya terlihat sangat paham dengan "senjata" yang ia miliki dan tahu cara menggunakannya.
"Tapi Masato belakangan ini beneran kelihatan nggak semangat ya. Ada masalah?"
"Nggak…… nggak ada apa-apa kok."
Meskipun Mizuho memiringkan kepalanya dengan imut, dia akhirnya menyerah saat melihatku mulai meminum jus pemberian Koumi tanpa kata, tanda bahwa aku tidak berniat membicarakannya.
Yah, sudah berapa kali aku ditanya hal yang sama dalam lima hari terakhir ini...
Mungkin aku sendiri memang cukup syok.
Sudah hampir empat bulan sejak aku datang ke dunia ini. Jujur, awalnya aku merasa tidak banyak yang berubah dan aku pikir aku bisa hidup seperti biasa... tapi kejadian itu seolah menamparku bahwa ini memang dunia yang berbeda. Jujur, aku lengah. Aku terlalu senang bisa akrab dengan Yuka dan merasa punya adik perempuan yang imut tanpa memikirkan apa pun lagi.
Aku menatap mereka berdua yang mulai asyik mengobrol.
Aku cukup percaya diri bahwa aku sudah akrab dengan mereka berdua.
Jika ini di duniamu yang dulu, aku pasti akan menjalani hidup tanpa beban, merasa senang karena bisa berteman dekat dengan gadis-gadis imut.
Tapi sekarang berbeda. Perasaan cinta... aku tidak tahu apakah mereka memilikinya atau tidak, tapi setidaknya aku tahu mereka berdua menyukaiku.
Karena itu, aku tidak boleh melangkah lebih jauh lagi. Jika sampai terjadi hubungan asmara, aku hanya akan melukai mereka.
Kalau dipikir-pikir sekarang, rencana perjalanan menginap itu beneran berbahaya ya... Minimal harusnya ada satu cowok lagi yang ikut... Sayangnya, aku tidak punya teman cowok yang akrab selain rekan kerja di bar...
"Minggu depan pasti seru ya!"
"I-iya, sepertinya begitu."
Jawabanku sempat tersendat.
Minggu depan. Libur musim panas sudah di depan mata, dan tepat di awal liburan, kami bertiga berencana pergi ke laut.
Jika itu diriku yang dulu, aku pasti akan ikut dengan santai tanpa rasa khawatir... tapi singkatnya, jika ini di dunia lamaku, situasinya adalah dua orang cowok ganteng dengan tipe berbeda membawa satu orang gadis pergi menginap berdua, kan? Kalau aku jadi teman si gadis, aku pasti bakal cemas dan tanya, "Kamu nggak apa-apa?". Masalahnya, ini beneran "nggak apa-apa" dalam artian yang berbeda.
Makanya aku harus menarik garis yang jelas. Meski rasanya sudah agak terlambat... tapi aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan.
"Hei Masato, dengerin deh. Masa Mizuho bilang mau pakai baju renang yang agak berani gitu──"
"AAAAAA──!! AA──!! Nggak dengar! Nggak dengar!! Nggak ada yang diuntungkan dari obrolan iniii──!"
Koumi yang menggodaku sambil senyum-senyum nakal langsung diterjang oleh Mizuho.
Melihat itu, aku merasa sedikit tenang karena suasana mereka terasa hangat. Belakangan ini aku merasa hubungan mereka agak kaku, dan aku sempat khawatir ada apa-apa. Kalau masalah di antara mereka sudah selesai, syukurlah.
"Kalau begitu, aku menantikannya ya."
"Ugh…… beneran bukan seperti itu kok…… ini buruk sekali…… padahal badanku kerempeng begini……"
Yah, kalau sebatas ini sepertinya masih tidak apa-apa.
Aku sadar sifat yang sudah kubawa selama 18 tahun ini tidak akan mudah berubah. Inilah diriku yang sebenarnya. Tapi aku benar-benar harus memikirkan soal kontak fisik dan jarak pribadi mulai sekarang...
Hari ini hari Jumat.
Karena aku bekerja, seperti biasa sekitar pukul 18.30 Seira-san datang
ke bar.
"Selamat datang, Nona Muda. Terima kasih sudah datang hari ini."
"Iya. Selamat malam, Masato."
Dia mengenakan blus putih lengan pendek dengan rok span setelan kantor. Rambut hitamnya hari ini tidak dikuncir kuda melainkan dibiarkan terurai, memberikan kesan wanita karier yang keren dan sangat menawan.
Jika dipikirkan dengan tenang, caraku berinteraksi dengan orang ini adalah yang tersulit.
Untuk sementara, aku mencoba mengurangi intensitas membalas pesannya... meski aku tidak tahu apakah itu efektif atau tidak.
Masalah utamanya adalah, aku sendiri tidak merasa risih atau benci pada Seira-san. Dia cantik, asyik diajak bicara... dan disukai olehnya pun
sebenarnya membuatku merasa senang. Sekarang kalau dipikir lagi, dia memang sering melakukan kontak fisik... laki-laki mana pun pasti akan merasa melayang diperlakukan begitu.
Setelah melayaninya beberapa saat, Seira-san tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Sebenarnya... hari ini aku datang karena ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."
"Eh……?"
Melihat bungkusan yang dikemas dengan sangat rapi itu, aku sadar bahwa itu adalah sebuah kado.
……Tapi ini kan belum hari ulang tahunku?
"Tu-tunggu sebentar Seira-san, ulang tahunku kan masih lama……"
"Ulang tahun mah nggak akan cuma kukasih barang sekecil ini tahu……
Ini cuma ucapan terima kasih. Karena kemarin kamu sudah mau menemaniku kencan."
Kantong yang diberikan itu tidak terlalu berat atau besar... tapi ada logo *brand* ternama yang bahkan aku pun tahu terukir di sana.
A-aduh, aku kok jadi takut ya mau membukanya…….
"A-apa boleh aku buka?"
"Tentu saja. Itu sudah jadi milikmu sekarang."
Dengan tangan gemetar, aku mencoba membukanya. Setelah mengeluarkan isinya dari kantong belanja, ada kotak persegi lagi di dalamnya. Begitu aku membuka kemasannya dengan hati-hati, isinya adalah set dasi chic berwarna biru tua, lengkap dengan penjepit dasi dan manset (*cufflinks*).
Warnanya tenang dan sangat sesuai dengan seleraku.
Tapi tetap saja, aku jadi kepikiran harganya.
"Wah, keren banget... Ta-tapi ini pasti mahal sekali, kan Seira-san...?"
"Duh... jangan pikirkan soal harganya. Aku membelinya karena menurutku ini akan sangat cocok untuk Masato."
Seira-san memperlihatkan senyuman seolah rencananya menjahiliku berhasil. Perbedaan sikapnya yang biasanya dewasa ini membuat hatiku berdegup kencang.
Gawat nih... sepertinya sejak kejadian Yuka kemarin, aku jadi terlalu reaktif terhadap ekspresi lawan jenis.
"Ta-tapi... tolong, jangan menghamburkan uang terlalu banyak ya..."
"Fufufu... kamu ini imut sekali, ya."
Seira-san yang sejak tadi menopang dagu, menyesap minuman beralkohol di gelas depannya. Lalu dia sedikit menunduk…….
"Sudah kuduga, tidak mungkin Masato sama dengan para pramuniaga bar (*boy*) biasa itu. Teman-temanku yang salah. Masato itu satu-satunya, dan hanya milikku……"
"……Eh?"
"……Bukan apa-apa kok."
Sepertinya dia membisikkan sesuatu tadi…… tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Seira-san mendongak, lalu tiba-tiba dia menatap tubuhku dengan lekat seolah menyadari sesuatu.
"Ngomong-ngomong, belakangan ini ototmu makin kelihatan ya? Padahal pas pertama kali ketemu, kamu kelihatan kurus banget."
"Eeh? Masa sih? Perasaanku nggak gitu-gitu amat deh……"
Memang sih gara-gara main basket bareng Yuka, intensitas olahragaku jadi meningkat…… ah, sial, aku malah jadi teringat kejadian Yuka lagi.
"Tuh lihat, bagian lengan sini……"
Seira-san mendekatkan tubuhnya dan memegang lenganku dengan lembut. Saat itu, mungkin karena aku teringat kejadian Yuka yang "menindihku" tempo hari.
──Secara refleks, aku sedikit menarik diri.
Melihat reaksi itu, Seira-san tampak terkejut dan menarik tangannya kembali.
……Hening sejenak yang terasa sangat canggung.
"──Ke, kenapa?"
"Ah, nggak…… bukan begitu……"
Gawat. Kenapa situasinya jadi begini?
Sepertinya sejak minggu lalu memang ada yang salah dengan diriku.
……Tapi, mungkin ini sebenarnya hal yang benar. Aku harus menjaga jarak dengan benar──.
Tepat saat aku berpikir begitu.
Tanpa kusadari, tangan Seira-san yang sudah merapat tepat di sampingku melingkar ke pinggangku di sisi yang berlawanan. Dia langsung menarik tubuhku dengan kuat ke arahnya.
"Kenapa kamu menghindar, Masato?"
Aroma lembut khas wanita tercium dengan sangat kuat.
"Enggak…… anu, bukannya bermaksud begitu, tapi……"
Mungkin alkohol sudah mulai menguasai Seira-san. Wajahnya terlihat sangat merah. Wajahnya yang cantik itu berada sangat dekat, membuat tubuhku kaku tak bisa bergerak.
"Aku paham. Kamu pasti baru saja diapakan oleh wanita lain, kan?"
"……!"
"Begitu ya. Gadis imut yang kamu layani kemarin? Dia melakukan apa padamu? Cerita saja, aku tidak akan marah."
"Bukan, bukan begitu……"
Tangan kananku digenggam. Tangan kiri Seira-san masih melingkar erat di pinggangku, membuatku tidak bisa bergerak.
"Hei, Masato……"
"I-iya……?"
Jari-jari Seira-san yang lentik dan panjang mulai menyelinap masuk ke sela-sela jariku. Satu per satu. Perlahan-lahan. Hingga akhirnya posisi tangan kami benar-benar saling mengunci, gaya *lover's handlock*.
Genggaman tangannya seolah sedang berbicara dengan lantang tanpa perlu kata-kata: "Aku tidak akan melepaskanmu lagi."
"Kamu suka kadonya, kan?"
"I-iya……"
"Kalau begitu……"
Seira-san mendekatkan wajahnya ke telingaku.
G-gawat. Padahal aku tahu ini tidak benar. Tapi aku tidak bisa
mendorong Seira-san menjauh.
……Ah, begitu ya.
Aku pikir setelah kejadian Yuka, aku harus berhati-hati soal jarak dan
kontak fisik. Tapi ternyata semuanya sudah terlambat.
Dengan senyum yang begitu sensual, Seira-san berbisik di telingaku.
"……Ayo kita lanjut kencan (*after*) setelah jam kerjamu selesai?"
Meski aku berusaha meronta dalam hati pun, semuanya sudah sia-sia.
Ternyata aku sudah terperosok sangat dalam ke dalam rawa yang menyesakkan ini, hingga batas leherku.



Post a Comment