Chapter 2: Pikiran yang Berputar di Tengah Keseharian
───● Sahabat Masa Kecil Si Mahasiswi Balas Memukul ●○●
Universitas adalah fasilitas pendidikan
di mana waktu yang terbuang setiap harinya sangat bergantung pada kemandirian
tiap individunya, begitulah menurutku.
Orang yang tidak punya semangat biasanya
menitipkan absensi pada orang lain lalu pergi bermain, sementara mereka yang
bersemangat akan menghadiri banyak kelas untuk mengamankan SKS.
Tentu saja, mungkin di universitas lain
tidak seperti itu.
Aku sendiri berada di tengah-tengah;
mengambil kelas secukupnya, dan mengambil libur juga secukupnya.
Di antara hari-hari itu, hari ini bisa
dibilang adalah hari libur bagiku.
Jam ketiga sudah berakhir, dan hari ini
aku tidak punya kelas lagi yang harus dihadiri.
"Nghhh~! Capek banget! Duh, minggu
depan ada kuis ya~ aku nggak percaya diri nih."
"Tenang saja, pasti bisa kok!"
"Mizuho, kamu selalu bilang gitu
tapi ujung-ujungnya selalu mepet kan..."
"Karena justru pas mepet itulah
hasilnya jadi oke!"
Hari ini pun kami bertiga mengikuti
perkuliahan bersama.
Belakangan ini, sepertinya aku mulai
terbiasa beraktivitas bersama mereka bertiga.
Aku mencuri pandang ke arah samping wajah
Masato yang sedang tertawa mendengar kata-kata Mizuho tadi.
Justru karena sudah terbiasa... aku jadi
merasa ciut saat memikirkan bagaimana kalau aku mengutarakan perasaanku pada
Masato lalu hasilnya gagal.
Tapi, kalau aku terus-terusan membiarkan
hubungan ini menggantung, Masato itu orangnya gampang bikin cemas, jadi bisa
saja dia direbut orang lain.
Hanya itu, hanya hal itu yang benar-benar
tidak boleh terjadi.
"……? Koumi, ada apa?"
"Nggak! Nggak ada apa-apa! Kalau
begitu, ayo pergi ke tempat *batting center* yang sudah kita janjikan! Letaknya
nggak jauh kok kalau naik kereta!"
*TL/Note: Batting center adalah
fasilitas yang menyediakan tempat berlatih memukul bola bisbol atau sofbol
dengan mesin pelempar otomatis.
"Oh, boleh saja."
Hari ini memang dari awal aku sudah punya
janji dengan Masato untuk pergi ke *batting center*.
Begini-begini aku ini lulusan klub sofbol
lho, dan aku punya kepercayaan diri dalam memukul bola. Tapi biarpun bilang
begitu, Masato sama sekali tidak percaya padaku, jadi hari ini aku akan
membuktikannya! Begitulah janjinya hari ini.
"Mizuho juga ikut, kan?"
Gadis kuncir dua yang ceria di sampingku
ini juga tipe orang yang jago olahraga.
Belakangan ini sepertinya dia sudah makin
akrab dengan Masato, jadi kupikir dia pasti mau ikut. Tapi...
"Eh? Ah... ahaha! Hari ini aku ada
janji lain... kalian berdua nikmati saja ya berduaan!"
"Lho? Begitu ya?"
"Iya, iya! Habisnya Mizuho-chan yang
sangat populer ini kan sibuk banget... hiks hiks hiks."
Dia bicara begitu, tapi menurutku ini
aneh sekali.
Aku sudah lama berteman dengan Mizuho,
dan biasanya kalau aku ajak, dia tipe yang bakal datang sambil
"mengibaskan ekor" kegirangan...
"Mizuho, kamu ada urusan apa?"
"……-!"
Masato sepertinya juga merasa heran, lalu
dia mencondongkan wajahnya memperhatikan ekspresi Mizuho.
"Du-duh! Jadi bingung nih. Ternyata
Masato kepingin banget ya Mizuho-chan ikut.
“Tapi hari ini nggak bisa! Maaf ya! Kalau
begitu, sampai jumpa besok kalian berdua~!"
"Ah, tunggu sebentar, Mizuho!"
Mizuho yang membetulkan posisi topi
*marine cap*-nya langsung lari seketika.
Kenapa buru-buru sekali? Padahal kan
harusnya kita bareng sampai stasiun...
"Mizuho agak aneh ya tadi."
"Ah..."
Mendengar kata "aneh", aku pun
tersadar.
Mizuho sedang perhatian padaku. Dia
sengaja menghindar supaya aku dan Masato bisa berkencan berdua...
"Mizuho bodoh... padahal nggak usah
sebegitunya juga nggak apa-apa..."
"? Kenapa?"
"Nggak ada apa-apa! Ayo
berangkat!"
Besok kalau ketemu aku harus bilang
padanya dengan benar.
Aku juga suka waktu yang kita habiskan
bertiga, dan kalau cuma ke *batting center* saja sih nggak masalah kalau pergi
bertiga.
Di universitas, memang benar waktu kami
bertiga makin banyak, tapi aku sama sekali tidak merasa Mizuho itu mengganggu.
Lagipula kan aku sendiri yang
mengenalkannya.
Karena bagaimanapun, aku juga sayang
banget sama Mizuho.
Sekitar 10 menit naik kereta dari stasiun
terdekat universitas.
Aku dan Masato sampai di stasiun tempat
*batting center* berada.
Begitu keluar gerbang tiket, di depan
mata sudah terlihat atap gedung yang dikelilingi jaring.
Suara denting logam yang khas saat
pemukul mengenai bola juga sesekali terdengar sampai ke bawah.
"Wah, aku jadi semangat nih bisa
memukul bola lagi setelah sekian lama."
"Fufu, Masato kayak anak kecil
saja."
"Hal kayak begini tuh paling asyik
kalau kita kembali ke jiwa kanak-kanak kita!"
Aku mengejar Masato yang berjalan dengan
riang menuju lift.
Masato waktu kecil ya... anak seperti apa
dia dulu. Apa dari dulu dia sudah ganteng ya.
Kami naik lift menuju atap.
Setelah memasukkan uang 1.000 yen ke
mesin tiket, keluarlah tiket untuk empat kali giliran memukul.
"Siapa yang mau duluan?"
"Silakan Masato duluan saja, dari
tadi matamu sudah berbinar-binar gitu kok."
"Ahaha, ketahuan ya?"
Beneran kayak anak kecil. Bagian itu pun
terasa imut dan manis bagiku.
Masato melangkah cepat menuju kotak
pemukul... tapi.
"Masato, di situ kecepatannya 130
km/jam lho? Masa langsung dari awal..."
"Nggak apa-apa, tenang saja! Aku
lumayan jago lho!"
"Masa sih..."
Itu adalah kotak pemukul dengan kecepatan
bola tercepat kedua di tempat ini.
Bahkan buat laki-laki pun, memukul bola
secepat itu cukup sulit menurutku...
"Ah, maaf. Bisa tolong pegangkan
ini?"
"Ah, iya."
Sebelum Masato masuk ke kotak pemukul,
dia menyerahkan ransel, jam tangan, dan kalungnya padaku.
……Eh, bukannya ini terasa mirip pacaran
banget? Perasaan saat membawakan barang milik cowok itu, rasanya benar-benar
seperti seorang pacar, kan!?
Sudahlah, anggap saja aku pacarnya
(kesimpulan sendiri).
Bahagia sekali...
"Oke! Mari kita mulai!"
Masato masuk ke posisi pemukul sebelah
kanan, menyingsingkan lengan bajunya, dan bersiap.
Aku memperhatikannya dari balik jaring.
Monitor menyala, dan gambar pelempar bola
virtual mulai melakukan gerakan melempar.
Sesuai dengan gerakan gambar itu, bola
pun melesat keluar.
"Hup!"
Masato mengayunkan pemukulnya dengan
gerakan tajam dan mengenai bola tepat sasaran. Terdengar suara denting logam
yang nyaring. Bola itu melesat indah ke arah tengah lapangan.
"Eh, hebat! Kamu beneran hebat ya,
Masato!"
"Kan sudah kubilang tadi! Hup!"
Bola berikutnya pun kena. Kali ini ke
arah kanan.
Karena dia mengayunkan pemukul dari sisi
dalam, bola yang dipukul melesat kuat ke arah kanan.
Eh, dia jago banget... gawat! Kalau
begini aku jadi nggak bisa membuktikan kalau aku lebih jago!
Tapi mengesampingkan hal itu, melihat
gaya Masato saat memukul dari belakang benar-benar terlihat sangat keren.
Tanpa sadar aku sampai terpana melihatnya
dan lupa harus mengobrol.
Ah, benar juga. Aku rekam saja ah.
Aku ingin menontonnya lagi nanti pas
sudah pulang.
Aku mengeluarkan ponsel dan menyalakan
kamera. Aku merekam sosok Masato dalam bentuk video.
"Hup!"
"Eh, hebat, hebat! Hampir semuanya
kena ya!"
"Kalau segini sih gampang!"
Jantungku berdegup kencang.
Percakapan ini pun terekam jelas di
ponselku.
Kalau hal seperti ini aku unggah ke media
sosial... bukannya itu bakal terlihat seperti dia pacarku?
Apa sebaiknya aku mulai
"mengamankan" dia pelan-pelan lewat media sosial saja ya? Menurutku
itu ide yang brilian.
Ujung-ujungnya, Masato berhasil memukul
balik hampir semua bola dengan sangat rapi.
"Wah~ seru banget! Padahal sudah
lama nggak main tapi ternyata masih bisa!"
"Beneran deh, aku kaget lho.
Ternyata ucapanmu tadi bukan omong kosong ya."
"Kan sudah kubilang!"
Melihat Masato yang semangatnya lagi
tinggi begini, aku pun ikut tersenyum.
Nah, sekarang giliranku buat menunjukkan
kemampuanku.
"Kalau gitu, sekarang giliranku
ya!"
"Eh, eh, tunggu dulu, Koumi juga mau
memukul di kotak yang itu?"
"? Iya, emangnya kenapa?"
"Bukankah itu terlalu cepat? Mending
di kotak yang lain saja..."
Hooo.
Sepertinya Masato masih meremehkanku ya?
"Nih! Pegang ini!"
"O-oh, oke."
Kali ini aku menyerahkan kembali
barang-barang Masato yang tadi kupegang, ditambah barang-banku sendiri,
semuanya aku tumpuk ke Masato.
Baiklah! Akan kutunjukkan padamu.
Aku masuk ke kotak pemukul dan memasukkan
tiketnya.
Tanpa ragu aku menekan tombol *start*.
Untung hari ini aku pakai celana pendek
ketat (*hot pants*) dan sepatu kets.
Karena aku sudah menduga bakal olahraga,
pilihanku untuk memakai pakaian yang nyaman buat bergerak ini ternyata tepat.
Bola yang melesat dari pelempar bola di
monitor itu... aku ayunkan pemukulku dengan tajam ke arahnya.
Yash! Tepat ke tengah lapangan!
"Wuih~! Serius nih!?"
"Tuh kan! Sudah kubilang tadi!"
Masato terlihat kaget. Hmm, hmm, reaksi
ini yang aku mau!
Sejak kecil aku sudah punya kesempatan
untuk bersentuhan dengan dunia bisbol, dan dari situ entah kenapa aku terus
lanjut bermain sofbol.
Tanpa sadar aku jadi cukup jago, dan pas
SMA pun aku berjuang lumayan keras di klub.
Lagipula, dari awal aku memang suka
olahraga, sih.
Begitu selesai memukul satu bola, jiwa
sofbolku langsung membara.
Okeee, mulai sekarang nggak akan ada satu
bola pun yang kubiarkan lolos begitu saja!
Aku memukul bola-bola yang datang satu
demi satu tepat di titik tengahnya.
Ke tengah, ke kanan, ke kiri. Tanpa
mengangkat kaki kiri terlalu tinggi, aku melakukan perpindahan berat badan.
Kekuatan untuk menerbangkan bola jauh
memang berkurang, tapi sebagai gantinya, akurasi pukulanku jadi meningkat.
Tanpa sadar aku jadi terlalu asyik
memukul balik bola-bola itu.
Setelah urusan di *batting center*
selesai.
Aku dan Masato sedang beristirahat
sejenak di sebuah gerai makanan cepat saji yang ada di lantai satu gedung
tersebut.
...Tapi.
(A-aku melakukannya berlebihan~~~~....)
Aku sedang dalam masa penyesalan yang
luar biasa.
Tadi itu, aku jadi terlalu bersemangat
dan memukul terlalu banyak.
Tapi, kalau dari sudut pandang Masato,
gimana perasaannya? Baru sekarang aku kepikiran soal itu.
Padahal sudah susah payah pergi bareng,
kalau Masato nggak bisa menikmati waktunya... lagipula nggak ada gunanya kalau
aku nggak bisa bikin Masato merasa kalau aku ini gadis yang "oke" di
matanya!
Tapi aku malah terbawa suasana dan cuma
fokus memukul bola terus-terusan...
Duh, gimana kalau dia mikir *'Buset~,
cewek ini jago banget mukulnya, serem...'* gitu. Mau mati rasanya...
"Maaf membuatmu menunggu~"
Saat aku sedang tertelungkup di meja,
Masato datang membawa nampan berisi pesanan kami.
"Wah~ seru banget ya tadi—eh,
kenapa, Koumi?"
"Nggak... ahahaha..."
Gimana nih, aku beneran berlebihan ya...
mending aku coba tanya Masato saja deh buat memastikan.
Aku mencoba bertanya pada Masato yang
sedang meminum jusnya dengan wajah heran.
"Kalau menurut Masato... gimana
pandanganmu soal cewek yang jago olahraga?"
"Gimana, maksudnya?"
"Anu~ ya itu~ maksudku tipe cewek
kesukaanmu? Kalau disuruh milih antara suka atau nggak suka gitu~"
A-aku harus bungkus pertanyaannya sehalus
mungkin.
Biar nggak terlalu sakit kalau dugaanku
benar...!
"Entah ya, mungkin karena dulu teman
akrabku sering olahraga bareng, jadi kayaknya aku lumayan suka sih. Orang yang
jago olahraga."
"……Gitu ya."
Teman akrab dulu...
Begitu ya, benar juga. Masato juga punya
masa lalu, dan cowok seganteng ini mana mungkin nggak punya kenangan apa-apa
sampai sekarang.
Padahal jawabannya sudah bagus, tapi aku
jadi benci pada diriku sendiri yang malah jadi murung begini.
"Koumi sudah main sofbol dari
kapan?"
"Eh? Kalau tidak salah dari kelas 5
atau 6 SD ya?"
"Begitu ya~ terus lanjut sampai SMA.
Pantas saja kamu jago banget."
Masato mengangguk kagum sambil mengunyah
kentang gorengnya.
A-apa boleh aku merasa senang...? Dia
bilang nggak benci sama cewek yang jago olahraga, berarti boleh senang kan
ya...?
Kami naik kereta untuk menempuh
perjalanan pulang.
Ujung-ujungnya, aku tidak sempat bertanya
lebih dalam soal masa kecil Masato.
Yah, ke depannya kan masih banyak
kesempatan buat mengobrol... pasti akan tiba waktunya buat bertanya lagi.
"Oke, aku transit di sini ya."
"Ah, iya! Semangat ya! Sampai ketemu
besok!"
Aku melambaikan tangan mengantar
kepergian Masato yang turun dari kereta.
Jujur saja, hubungan kami yang sekarang
ini terasa nyaman.
Di kampus bisa beraktivitas bareng, bisa
kirim pesan kapan saja, dan dia mau diajak pergi jalan-jalan yang rasanya sudah
kayak kencan... yah, meski orangnya sendiri pasti nggak merasa kalau kami ini
lagi pacaran sama sekali.
Aku tidak mau menyerahkan dia ke orang
lain. Itu pasti.
Tapi di saat yang sama, aku juga takut
kalau hubungan yang sekarang ini hancur.
Kalau sampai aku nggak bisa bareng Masato
lagi... aku pasti bakal hancur.
*Pilon.*
Notifikasi ponselku berbunyi.
Kira-kira siapa ya, pikirku sambil
mengeluarkan ponsel. Di sana terpampang nama《Masato》.
Ada apa ya. Apa ada barangnya yang lupa
aku kembalikan...?
《Masato》『Terima kasih buat hari ini! Seru banget!』
《Masato》【Mengirimkan gambar】
Gambar dari Masato...?
Segera aku ketuk gambarnya untuk
melihatnya.
Di sana terlihat sosokku yang sedang
fokus memukul bola, dengan ekspresi serius bersiap menunggu bola datang.
Itu adalah foto yang diambil dari arah
samping belakang.
《Masato》『Aku curi-curi foto nih, hehe. Kamu beneran keren
banget tadi! Pertandingan hari ini aku ngalah deh, aku anggap aku kalah!』
──Ah.
Kenapa orang ini bisa begini.
Tanpa sadar, aku memeluk ponselku di
dada.
Sambil duduk di kursi kereta, aku
berusaha meresapi perasaan ini sedalam-dalamnya.
Dia melakukan hal-hal yang aku inginkan.
Dia memberikan kata-kata yang ingin aku dengar.
"Aku benar-benar mencintaimu…… aku
sangat mencintaimu……!"
Aku bergumam pelan.
Suara detak jantungku begitu riuh,
sampai-sampai suara guncangan kereta tak lagi terdengar di telingaku.
───● Si Mahasiswi Ceria Mendapatkan Informasi ●○●
Belakangan ini, aku merasa aneh.
"Mizuho, kamu punya fotokopi materi
kuliah yang kemarin nggak?"
"Ah, iya, ada kok."
"……Kamu nggak apa-apa? Wajahmu
kelihatan agak murung……"
"N-nggak kok! Aku sehat walafiat dan
penuh semangat, lho!"
Aku mengakhiri percakapan itu dengan
paksa.
Sejak dikenalkan oleh Koumi, aku jadi
sering beraktivitas bertiga dengan Masato dan Koumi di kampus. Bahkan kelas
yang sedang berlangsung sekarang pun kami ambil bareng.
Sebenarnya aku senang, bahkan merasa agak
bangga.
Di kampus, punya grup yang ada
laki-lakinya saja sudah bikin iri, apalagi kalau laki-lakinya ganteng seperti
dia.
Tapi, aku tahu perasaan yang dimiliki
Koumi terhadap Masato.
Koumi mengenalkan Masato padaku karena
dia tahu hal itu. Itu adalah sebuah bentuk kepercayaan. Tentu saja, mungkin ada
hubungannya dengan fakta bahwa aku sudah bertemu "orang takdirku",
tapi itu tidak lain karena dia merasa aku adalah orang yang aman untuk
dipercaya.
Padahal begitu.
Tapi tiap kali bersama orang ini……
bersama Masato, aku jadi merasa aneh.
Sejak kejadian Kak Keito waktu itu,
hatiku terus merasa melayang. Apa hatiku ini memang semudah itu goyah?
Aku ingin mencari orang takdirku.
Perasaan itu tidak berubah. Karena saat itu, aku benar-benar terselamatkan.
Memikirkan kalau orang itu mungkin ada di universitas ini, aku beneran ingin
bertemu dan menyampaikan perasaan ini.
Tapi kalau begitu, perasaan apa yang
sekarang aku miliki untuk Masato?
Aku yakin aku bukan tipe orang yang bakal
suka sama siapa saja asal dia laki-laki.
Harusnya begitu. Tapi entah kenapa, aku
tetap saja merasa tertarik pada Masato.
Padahal dia orang yang disukai Koumi.
Padahal aku sama sekali tidak boleh jatuh cinta padanya.
Makin aku memikirkannya, dadaku makin
terasa sakit.
Materi kuliah sama sekali tidak masuk ke
otakku.
Catatanku tetap kosong melompong. Aku
tidak tahu harus berbuat apa. Kabut yang menyelimuti hatiku tak kunjung hilang.
Hanya waktu yang terus berlalu begitu saja.
"Nghhh~! Capek banget! Duh, minggu
depan ada kuis ya~ aku nggak percaya diri nih."
"Tenang saja, pasti bisa kok!"
"Mizuho, kamu selalu bilang gitu
tapi ujung-ujungnya selalu mepet kan..."
"Karena justru pas mepet itulah
hasilnya jadi oke!"
Kuliah selesai, dan kami sedang di jalan
pulang. Saat berjalan seperti ini, aku bisa melupakan semuanya. Baik perasaanku
yang rumit, maupun hubungan antara Koumi dan Masato. Aku hanya bisa merasakan
waktu yang menyenangkan.
"Kalau begitu, ayo pergi ke tempat
*batting center* yang sudah kita janjikan! Letaknya nggak jauh kok kalau naik
kereta!"
"Oh, boleh saja."
"Mizuho juga ikut, kan?"
Tapi tiba-tiba, hal seperti ini terjadi.
Seketika dadaku terasa sesak.
Koumi ingin pergi berduaan dengan Masato.
Kalau aku ada di sana, aku cuma bakal
jadi pengganggu. Karena Koumi suka pada Masato. Di kampus aku sudah merampas
waktu berdua mereka, kalau di luar kampus pun aku rampas juga…… aku beneran
bakal jadi orang jahat.
*Semangat, diriku,* gumamku dalam hati.
"Eh? Ah... ahaha! Hari ini aku ada
janji lain... kalian berdua nikmati saja ya berduaan!"
"Lho? Begitu ya?"
"Iya, iya! Habisnya Mizuho-chan yang
sangat populer ini kan sibuk banget... hiks hiks hiks."
Nggak buruk.
Aku bisa berakting seperti biasanya.
Begini saja sudah cukup.
Karena dari awal, aku sudah tahu hal ini
bakal terjadi.
"Mizuho, kamu ada urusan apa?"
"……-!"
Masato mencondongkan wajahnya
memperhatikanku.
Sepasang mata yang murni tanpa niat
buruk. Wajah yang rapi dan tampan.
Jangan.
Jangan begitu, dong.
Aku menarik napas panjang.
"Du-duh! Jadi bingung nih. Ternyata
Masato kepingin banget ya Mizuho-chan ikut. Tapi hari ini nggak bisa! Maaf ya!
Kalau begitu, sampai jumpa besok kalian berdua~!"
"Ah, tunggu sebentar, Mizuho!"
Tanpa sadar, aku sudah mulai berlari.
Tentu saja aku tidak punya janji apa pun.
Tapi, kalau terus bersama mereka lebih
lama lagi, jantungku yang terasa perih ini rasanya tidak akan sanggup bertahan.
Dalam perjalanan pulang, aku sempat
keluar dari gerbang tiket di stasiun transit.
Karena masih dalam jangkauan kartu
langgananku (*teiki*), tidak akan memakan biaya tambahan.
Aku berjalan tanpa tujuan. Saat berjalan
sendirian, aku bisa menenangkan perasaanku.
"Ah..."
Sambil berjalan begitu, aku sampai di
depan sebuah toko kosmetik (*drugstore*) yang terasa familier. Ini adalah
tempat aku dan orang takdirku bertemu.
Kalau aku jalan-jalan di sini, apa
mungkin aku bakal bertemu lagi dengannya ya…… nggak mungkin lah ya. Waktu dan
harinya beda dengan saat itu.
Kalau sampai bertemu secara kebetulan,
itu sih namanya keajaiban.
Tapi…… saat ini aku sangat ingin bertemu
dengan orang takdirku.
Karena kalau perasaanku bisa mantap ke
dia, aku tidak perlu merasa bersalah lagi saat sedang bertiga. Aku pasti bisa
membuang perasaan yang mulai tertarik pada Masato ini.
"Lihat-lihat kosmetik saja kali
ya……"
Aku masuk ke dalam toko. Toh aku juga
lagi luang.
Lalu.
"Terima kasih banyak, ditunggu
kedatangannya kembali~"
"Sama-sama! Mari~!"
Seorang laki-laki berjalan keluar dari
arah kasir.
Seragamnya…… aku mengenali seragam itu.
Itu seragam yang sama dengan yang dipakai
orang takdirku.
*Deg*, jantungku berdegup kencang.
Aku memperhatikan wajahnya…… tapi
wajahnya beda. Lagipula warna rambutnya terlalu mencolok. Orang itu rambutnya
tidak semencolok itu, dan tinggi badannya pun jauh lebih pendek dari orang
takdirku.
Jelas sekali dia orang yang berbeda, tapi
kalau pakai seragam yang sama, kemungkinan besar dia bekerja di tempat yang
sama.
Atau malah, hampir pasti begitu.
Hampir tanpa sadar, aku memanggilnya.
"Anu, permisi!"
"……? Iya, ada apa?"
Ga-gawat. Aku memanggilnya karena terbawa
suasana, tapi aku jadi kelihatan kayak orang aneh banget.
"Ah, e-itu, anu."
"……?"
Ha-harus tanya apa ya.
Ah, benar! Tanya saja apa ada mahasiswa
yang kerja sampingan di sana!
"Anu, apa di toko itu ada mahasiswa
yang kerja sampingan juga……?"
"Mahasiswa? ……Hmm. Ah, iya, ada
kok."
Ada!
Tapi, rasanya aneh kalau nggak ada
mahasiswa yang kerja sampingan ya……?
Aku butuh informasi lebih banyak lagi…….
Mumpung ada kesempatan, aku nggak boleh
menyia-nyiakannya!
"Anu, si-siapa namanya ya……"
"Hmm, maaf ya, karena ini menyangkut
privasi toko, sepertinya aku nggak bisa kasih tahu. Maaf ya."
"Be-benar juga ya! Maafkan
saya!"
Ya iyalah bodoh, bodoh! Aku beneran
kelihatan kayak orang mencurigakan kalau begini!
"Ah, kalau gitu ini buatmu. Kalau
kamu penasaran, mending datang saja langsung ke sini."
"Eh……? Terima kasih banyak."
Pemuda berambut perak dengan wajah tampan
tipe imut itu menyerahkan sebuah kartu nama padaku. Sampai ada kartu namanya
segala ya…….
"Kalau begitu, mari. Kami tunggu
kedatangannya, Nona Muda."
"……?"
Sambil melambaikan tangan, kakak-kakak
(?) itu pergi. Dia bukan tipeku sih, tapi menurutku dia sangat tampan. Bukan
tampan yang gagah, tapi lebih ke imut?
Aku merasa lega karena tidak merasa
deg-degan meski dibilang begitu, itu berarti perasaanku memang tidak tertuju
pada sembarang orang.
Aku melihat kartu namanya. Di sana ada
gambar gelas yang berkilau dengan latar belakang pemandangan malam.
Pokoknya, bisa tahu nama tempatnya saja
sudah kemajuan besar.
Mari kita lihat, apa namanya.
"Boys Bar 'Festa'…… tunggu, Boys
Bar!?"
Me-memang sih orang yang tadi maupun
orang takdirku itu ganteng, tapi!
Ini benar-benar di luar dugaan. Di kartu
nama itu, tertulis nama "Yuta".
"E-eh...!?"
Tadinya kupikir kalau sudah tahu
tempatnya, aku akan langsung pergi ke sana. Tapi kalau ternyata sebuah *Boys
Bar*, ceritanya jadi beda lagi. Maksudku, apa orang takdirku itu ternyata
seorang *host* atau pramuniaga bar laki-laki...!
"A-aku harus gimana..."
Informasi baru yang baru kuketahui ini
terus berputar-putar di kepalaku. Pikiranku tak kunjung tenang. Selama beberapa
menit, aku hanya terpaku di tempat tanpa bisa bergerak.
Akhirnya, aku sampai di rumah. Aku
berguling-guling di kasur sambil memainkan ponsel. Saat aku mencoba mencari
tahu tentang tokonya, sepertinya orang berusia 18 tahun ke atas sudah boleh
masuk, jadi secara teknis aku bisa ke sana. Tapi... biayanya pasti mahal, dan
tentu saja aku belum pernah menginjakkan kaki ke *Boys Bar* seumur hidupku.
Lagipula.
"Apa dia bersikap baik karena dia
seorang *host* ya..."
Satu keraguan mulai muncul di benakku.
Apa itu cuma bagian dari pelayanan tokonya saja? Tapi...
Saat aku memejamkan mata, aku bisa
mengingatnya seolah kejadian itu baru terjadi kemarin. Senyuman itu,
kata-katanya yang lembut, dan kepeduliannya. Aku tidak percaya kalau itu semua
palsu. Apalagi waktu itu aku bukan pelanggannya. Apa mungkin dia akan bertindak
sejauh itu di luar toko?
*Pilon.*
Notifikasi. Ada notifikasi media sosial
di ponselku. Sambil tetap berbaring, aku mengintip pesannya tanpa memberikan
tanda centang biru (R).
Koumi ternyata sadar juga. Tapi tidak
apa-apa. Kalau Koumi merasa senang, itu sudah cukup bagi...
Tepat saat aku berpikir begitu,
notifikasi lain muncul bertubi-tubi.
Seketika dadaku terasa sesak. Aku
mencengkeram bagian dadaku dengan kuat.
Kenapa?
Kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa sesak
sekali?
Aku ingin bilang "syukurlah"
padanya. Aku ingin bilang "kalau begitu sih kalian sudah kayak pacaran
tahu". Aku ingin mengatakannya dengan nada ceriaku yang seperti biasanya!
Tapi kenapa.
Kenapa rasanya sesakit ini...?
Tiba-tiba, benda yang tadi kuletakkan di
atas meja masuk ke pandanganku. Aku mengulurkan tangan dan mengambilnya. Kartu
nama. Kartu nama *Boys Bar* yang aku dapatkan di jalan pulang tadi. Sambil
berbaring telentang di atas kasur, aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi
dan menatap kartu itu untuk beberapa saat.
……Aku menghela napas panjang, lalu
menjatuhkan tangan kananku hingga menutupi wajahku sendiri.
"……Aku… harus pergi."
Demi mengakhiri perasaan ini.
Demi agar aku tidak menyakiti sahabatku,
dan juga diriku sendiri.
Aku pun memantapkan tekadku.
───● Gadis SMP Klub Basket Punya Senyum yang
Bagus ●○●
Hari Minggu, saat panas teriknya musim
panas mulai terasa benar-benar menyengat.
Suara tonggeret (*semi*) juga sudah mulai
terdengar sangat berisik. Di tengah cuaca seperti ini, sejak bangun tidur aku
cuma mengurung diri di rumah tanpa ada kegiatan khusus.
"Panas banget……"
Sumpah, ini sih keterlaluan panasnya!
Sebenarnya ada AC di kamarku, tapi karena
aku ingin sebisa mungkin menghemat tagihan listrik, biasanya tidak kunjung
kunyalakan. Bisa saja sih aku cari alasan kalau panas begini ya wajar kalau
pakai AC, tapi ini kan baru awal musim panas.
Kalau sekarang saja sudah manja pakai AC
terus, aku nggak berani bayang ke depannya gimana.
"……Keluar saja kali ya."
Mungkin orang bakal bilang di luar malah
lebih panas. Memang benar sih, tapi ini soal perasaan. Daripada cuma mengerang
kepanasan di dalam ruangan, lebih baik beraktivitas di luar sekalian.
Aku mandi sebentar untuk membilas
keringat, lalu ganti baju dengan pakaian yang nyaman buat bergerak. Aku
masukkan bola basket, handuk, dan perlengkapan lainnya ke dalam ransel.
"……Mungkin saja Yuka ada di
sana……"
Begitu mengecek ponsel, ternyata cuma ada
satu pesan singkat dari tadi pagi.
Sebagai gadis klub basket yang sehat,
mungkin saja sekarang dia juga sedang latihan.
Entah kenapa, aku sendiri kaget menyadari
kalau aku mulai menantikan main basket bareng Yuka. Habisnya, anak itu makin
lama makin jago sih. Seru melihat perkembangannya. Rasanya sebentar lagi tempat
rahasiaku itu bakal beneran dia rebut dariku. Sedih sih, tapi ya mau gimana
lagi!
Beneran deh, dia itu beneran anak SMP ya?
"Oke. Berangkat."
Aku mengunci pintu dan menuju taman.
Matahari musim panas beneran membakar aspal dengan ganasnya, tapi entah kenapa
udara di luar terasa sedikit lebih menyegarkan.
Sepertinya karena ini Minggu sore,
lapangan basket di taman sudah ada
penghuninya.
"Yah, nggak mungkin seberuntung
itu…… eh."
Aku merasakan *deja vu* yang kuat. Begitu
sampai di jarak di mana aku bisa melihat sosok orang di lapangan, aku tersadar.
Satu dari empat gadis yang sedang main
basket di sana adalah orang yang sangat kukenal.
"Itu kan Yuka."
Rambut hitam pendek dengan jepit rambut
biru.
Mungkin karena hari ini dia tidak pakai
jaket klub tapi pakai setelan yang biasa dia pakai kalau main basket bareng
aku, makanya aku bisa langsung menemukannya.
Jangan-jangan…… dirundung lagi?
Kejadian waktu itu langsung terlintas.
Karena punya firasat buruk, aku pun mendekat ke arah lapangan.
"Ke sini!"
"Iya!"
"Tembak saja!"
"Nice shot!"
Ah, syukurlah, ternyata aman.
Ekspresi mereka berempat terlihat serius,
dan berbeda dengan waktu itu, aku bisa langsung tahu kalau mereka sedang
bermain basket dengan sepenuh hati.
"Capeknya~!"
"Istirahat sebentar yuk."
Ooh…… pemandangan yang segar. Yuka
menunjukkan jiwa kepemimpinannya.
Mendengar percakapan mereka sepertinya
mereka teman seangkatan, dan kalau tidak salah Yuka itu satu-satunya anak kelas
satu yang terpilih masuk tim utama buat bertanding, jadi wajar saja kalau dia
jadi sosok pemimpin.
Mereka berempat menuju bangku di pinggir
lapangan.
Hmm, gimana ya. Nggak enak juga kalau aku
mengganggu Yuka dan teman-temannya yang lagi asyik latihan. Tapi, aku sudah
jauh-jauh datang mau main basket dan rasanya sayang kalau nggak menyentuh bola
sama sekali.
……Kalau aku membelakangi mereka dan cuma
latihan menembak (*shooting*) doang, ada peluang nggak bakal ketahuan kan?
Latihan sebentar saja habis itu pulang.
Sip. Itu rencananya.
Aku mengeluarkan bola dari ransel dan
masuk ke lapangan secara diam-diam agar tidak ketahuan. Aku membelakangi
mereka, lalu mulai mendribel bola beberapa kali.
Pemanasan ringan.
Melewatkan bola di sela-sela kaki, lalu
lewat belakang punggung……
Sip, bolanya terasa pas di tangan.
Setelah memantulkan bola satu-dua kali ke
tanah, aku melakukan *jump shot* dari jarak menengah.
*Swish!* Terdengar suara yang enak banget
saat bola masuk ke dalam jaring.
Hmm, kalau jarak segini persentase
masuknya memang tinggi, baguslah.
"Kakak."
Tepat saat aku mau mengambil posisi
menembak lagi.
Terdengar suara yang sangat kukenali dari
belakang.
A-apa…… katanya……?
"Ko-kok bisa ketahuan……"
"Menurut Kakak sudah berapa kali aku
melihat gaya main Kakak……? Kalau cuma segitu sih, aku bisa langsung tahu."
Ternyata Yuka sudah ada di belakangku dan
memanggilku. Senyumnya yang merekah itu terlihat sangat menyilaukan.
"Iya, iya, maaf ya. Aku pikir nggak
enak kalau mengganggu kalian, jadi aku niatnya mau langsung pulang kok."
"Eh? Kakak mau pulang?"
"Kalian tim satu klub, kan? Nggak
apa-apa. Fokus latihan saja sana."
Nggak enak juga kalau aku merusak waktu
latihan dia bareng teman-teman seangkatannya. Sambil melambaikan tangan ke arah
Yuka, aku bermaksud menggendong bola dan undur diri. Setidaknya aku sudah
sempat menembak beberapa kali tadi.
"Tunggu!"
Saat aku sedang berjongkok mau memasukkan
bola ke ransel, seseorang memanggilku. Begitu menoleh, ternyata tiga gadis
teman setim Yuka sudah datang menghampiriku bersama-sama.
A-ada apa nih.
Eeeh……
Sepertinya permintaan mereka agar aku
mengajar itu di luar dugaan Yuka, sampai-sampai mereka berempat malah berdebat
sendiri.
……Atau lebih tepatnya, Yuka yang
marah-marah sendirian sementara tiga temannya cuma menanggapi dengan santai……
Apa aku sudah melakukan kesalahan pada
Yuka ya.
"Anu, Yuka, kayaknya aku pulang saja
deh. Nggak enak soalnya."
"Ah! N-nggak! Kakak…… Ja-jangan
pulang dulu……"
"……? Begitu ya?"
Wajahnya merah banget. Dia nggak apa-apa
kan ya.
"Tolong ajari kami basket juga, sama
seperti Kakak mengajari Yuka!"
"Kalau cuma hal-hal yang aku bisa
sih, boleh saja……"
Melihat permainan mereka tadi, memang
Yuka yang paling menonjol di grup ini.
Anak-anak yang lain sih kesannya seperti
siswi SMP anggota klub basket pada umumnya. Mereka sudah cukup jago, tapi kalau
level segitu, aku masih sanggup lah mengajari mereka satu-dua hal.
"Asyik!! Namaku Suzuka, mohon
bantuannya ya Kak!""Namaku Kaho!"
"Aku Miho~!"
Wah, semangat mereka luar biasa…… masih
muda ya.
Apa aku ini sudah jadi Om-om ya…… Saat
mereka mengulurkan tangan, aku menjabatnya dan mereka menggoyang-goyangkan
tanganku dengan semangat.
Energinya ngeri banget…….
"Duh, beneran deh!!!!"
Yuka kelihatan kesal banget. Ternyata
beneran mengganggu ya……
Nanti pas sudah selesai aku harus minta
maaf secara pribadi lewat chat saja deh…….
Entah karena mereka masih SMP atau apa,
tapi daya serap teknik mereka cepat sekali.
Apa yang kuajarkan langsung dipraktikkan
dan bisa segera mereka kuasai.
Oalah. Sekarang aku paham kenapa ada
orang yang bilang "anak SMP itu yang terbaik". Entah kata siapa itu,
dan kayaknya aslinya soal anak SD sih.
"Kakak, Kakak!"
Mungkin karena Yuka memanggilku
"Kakak" (*Onii-san*), anak-anak klub basket yang lain pun jadi
ikut-ikutan memanggilku begitu. Malah Miho-chan memanggilku
"Abang" (*Onii-chan*). Yuka
langsung marah besar. Serem euy.
Anak yang dikuncir kuda ini…… kalau nggak
salah namanya Suzuka-chan ya.
"Bagi Kakak, Yuka-chan itu sosok
yang seperti apa sih!?"
"Suzuka!! Apa-apaan sih
kamu!!??"
Yuka langsung mengunci leher Suzuka-chan
dengan sangat bertenaga.
Eh, itu kayaknya beneran sakit lho…….
Karena Yuka pasti nggak mau kalau sampai
ada salah paham, oke, aku harus bilang yang sejujurnya di sini. Anggap saja ini
buat memulihkan poin kesukaanku di mata Yuka.
"Yuka ya…… hmmm. Meskipun kami belum
lama kenal, tapi bagiku, dia itu sudah seperti sosok adik perempuan
sendiri."
Itu benar-benar kata-kata jujur dariku.
Tanpa kusadari aku mulai menantikan main basket bareng Yuka, dan kami jadi
sering mengobrolkan hal-hal di luar basket. Aku sendiri merasa cukup suka
menghabiskan waktu mengobrol dengan Yuka.
Apa aku terlalu lancang ya……? Tapi karena
Yuka cukup manja padaku, aku ingin percaya kalau dia nggak bakal benci dibilang
begitu……
"A-adik……"
Ah, maaf. Sepertinya dia nggak suka
dibilang gitu.
Mau nangis rasanya. Ternyata aku cuma
salah paham ya.
"Oke, sekarang giliranku tanya!
Kakak punya pacar nggak sih~!?"
Kali ini pertanyaan datang dari Miho-chan
yang gayanya gaul banget mirip *gyaru*.
Genit juga ya~ apa anak SMP zaman
sekarang memang begini?
"Nggak ada kok. Aku jomblo."
"Eeeh~ nggak nyangka banget! Oke
oke! Kalau gitu aku mau mencalonkan diri jadi pacarnya!"
"MIHO!!!"
Wah~ Yuka beneran marah besar. Tadi dia
sempat murung, terus sekarang marah lagi. Aku jadi khawatir sama kestabilan
emosi Yuka.
Tapi ya, sampai langsung bilang mau
mencalonkan diri jadi pacar segala, sepertinya anak SMP memang masih di fase
"jatuh cinta pada konsep cinta" itu sendiri.
"Sama-sama, aku juga terima kasih ya
sudah diajak gabung~"
Tiga orang selain Yuka kembali menuju
bangku taman. Miho-chan bahkan sempat bilang, "Tiga tahun lagi aku bakal
datang buat nembak Kakak!" segala. Gayanya memang kayak *gyaru*, tapi dia
anak yang ceria dan baik. Paling tiga tahun lagi dia sudah lupa sama
keberadaanku...
"Anu, terima kasih banyak ya. Kak...
Kak Masato."
"Hm? Nggak apa-apa kok. Aku juga
minta maaf ya sudah mengganggu."
Entah perubahan suasana hati macam apa
yang terjadi, tapi Yuka mulai memanggilku "Kak Masato". Aku sih nggak
masalah, tapi apa yang tadi soal dia nggak suka dianggap adik itu cuma
perasaanku saja ya...?
"Teman-temanmu anak baik ya. Dijaga
baik-baik pertemanannya."
"Iya. Kalau Kakak nggak keberatan,
kapan-kapan datanglah lihat pertandinganku."
"Oh, tentu saja. Aku juga mau lihat
gimana aksi Yuka pas lagi tanding."
Kira-kira orang umum boleh masuk nggak ya
kalau ada pertandingan. Kalau turnamen sih harusnya bisa nonton, kan...?
"A-anu..."
"Hm?"
Terpapar cahaya senja, entah kenapa pipi
Yuka terlihat memerah. Tapi ya, kalau dilihat-lihat begini, meski masih muda,
wajah Yuka itu punya garis-garis lembut yang feminin dan menurutku dia imut.
Sepasang mata berwarna giok (*jade*) miliknya juga terlihat jernih dan indah.
Kelak, dia pasti bakal jadi wanita
cantik.
Sempat ada jeda sesaat.
"Nggak... nggak ada apa-apa."
"……? Begitu ya? Kalau gitu, sampai
ketemu lagi ya. Aku bakal temani latihan kapan saja kok."
Aku nggak tahu apa yang dipikirkan Yuka
dalam beberapa detik tadi.
Tapi dia terlihat seperti sedang menelan
kembali kata-kata yang hampir diucapkannya.
"Iya. Lain kali, aku ingin... kita
latihan berdua saja."
"Hahaha, benar juga ya. Kalau mau
mengajarimu, memang lebih enak kalau berduaan saja."
Level teknik yang bisa kuajarkan padanya
beda jauh dengan anak-anak yang lain.
Dalam artian itu pun, latihan berdua
bakal lebih membantu Yuka buat mengasah kemampuannya.
"Iya!! Mohon bantuannya lagi
ya!"
Senyum Yuka saat membalas ucapanku dengan
riang di akhir pertemuan kami itu, beneran imut.
───● Gadis SMP Klub Basket Beneran Serius ●○●
Teman-teman seangkatanku di klub basket
itu kebanyakan anak baik.
Bahkan saat aku sedang dirundung oleh
para senior, mereka semua selalu berada di pihakku. ……Ah, soal perundungan itu
sendiri, berkat bantuan Kakak, sekarang sudah jauh berkurang dibanding
sebelumnya. Benar-benar deh, aku cuma bisa berterima kasih pada Kakak.
Pokoknya, aku dan teman-teman seangkatan
itu sangat akrab dan saling percaya.
Makanya, aku sempat berpikir kalau nanti
kami sudah kelas 3, aku ingin kami semua berjuang bareng-bareng di turnamen.
"Eeeh~~ siapa sih cowok ganteng
itu!! Duh Yuka, kenapa ada orang kayak gitu kamu nggak kenalin ke kami!?"
"Kayaknya aku mau ke sini tiap hari
deh……"
"Yuka pasti mau memonopoli orang itu
sendirian, kan! Selama ini apa saja yang sudah kalian lakukan! Hal mesum ya!
Pasti kalian sudah mesum, kan! Sampai mana? Sudah sampai mana hah!? Dasar kamu
Menteri Mesum yang pura-pura alim!"
……Rasanya detik ini juga aku bakal
membenci mereka.
Kenapa sih situasinya jadi begini?
Hari ini kebetulan tidak ada kegiatan
klub, dan karena semuanya sedang luang, kami sepakat buat main basket bareng.
Sempat ada obrolan mau pakai GOR umum
saja, tapi karena di dalam GOR itu pengap dan panas, akhirnya diputuskan buat
main di lapangan luar saja.
Untungnya aku tahu taman tempat Kakak
biasa main basket, jadi aku mengusulkan tempat itu.
……Padahal itu kan tempat
"khusus" aku dan Kakak, jadi sebenarnya aku agak berat hati
menyarankannya, tapi……
Begitulah ceritanya sampai kami berakhir
main basket di taman ini. Tapi saat kami sedang istirahat sebentar, ada seorang
laki-laki yang mulai memakai lapangan untuk main basket sendirian.
"Eh! Pas Miho dan yang lain lagi
istirahat malah tempatnya diambil orang~!"
"……Tunggu sebentar, itu laki-laki
kan. Jarang-jarang ya ada yang main sendirian."
Mendengar ucapan temanku, aku pun melihat
ke arah orang itu…… dan aku langsung tahu kalau itu Kakak.
Tinggi badannya, auranya, dan juga…… gaya
main basketnya.
Cukup satu dari itu saja aku pasti sudah
tahu, apalagi kalau ketiganya ada, mana mungkin aku nggak tahu.
Orang yang sangat kucintai.
"Eh, Yuka mau ke mana?"
"Yuka jangan! Biar kata kamu
Yuka-chin yang mesum, tapi kalau ke orang asing itu namanya kriminal lho!"
……Kalian keterlaluan banget nggak sih?
Aku nggak mesum tahu! Aku itu normal!
Standar rata-rata!!
Jadi begitulah…… awalnya sih bagus aku
bisa memanggil Kakak, tapi……
Tahu-tahu mereka bertiga sudah ikut
datang, dan berani-beraninya mereka malah minta diajari basket sama Kakak!
Pa-padahal itu kan hak istimewaku……
"A-anu, Kakak itu adalah orang yang
mengajariku secara pribadi……"
"Diajari apa tuch~~??"
"Bimbingan pribadi soal cinta……
tolong jelaskan detailnya."
"Pantas saja belakangan ini kamu
kelihatan makin dewasa, ternyata itu alasannya ya……"
"Bukan begitu tahu!!! Duh, beneran
deh aku benci banget!! Jangan bilang hal yang nggak sopan ke Kakak,
dong!?"
Duh, kacau.
Nggak tahu deh mereka bakal bilang apa
saja ke Kakak kalau begini……
"Anu, Yuka, kayaknya aku pulang saja
deh. Nggak enak soalnya."
"Ah! N-nggak! Kakak…… Ja-jangan
pulang dulu……"
"……? Begitu ya?"
Aku sama sekali nggak ingin Kakak pulang.
Tapi aku juga cemas kalau mereka bertiga
bakal bilang hal aneh-aneh ke Kakak.
Duh, aku sudah nggak tahu lagi harus
gimana~~!!
Sementara aku panik, mereka bertiga malah
dengan ceria memperkenalkan diri ke Kakak.
A-aman nggak ya……
Ah. Miho malah memegang tangan Kakak
erat-erat……
Ugh~~ rasanya sesak banget di dada~~
Padahal Kakak itu kan Kakak-ku……
"Duh, beneran deh!!!!"
Tahu bakal begini, mending nggak usah
kukasih tahu soal taman ini tadi!?
Anehnya, begitu masuk ke tahap diajari
basket, semuanya mendadak jadi anteng mengikuti instruksi.
Ternyata mereka semua beneran suka basket
ya.
Mengetahui hal itu, aku merasa sedikit
senang. Kakak juga mengajar sesuai dengan level masing-masing, dan tentu saja
tetap mengajariku dengan benar.
Tiap kali Kakak bilang, "Seperti
yang pernah kubilang ke Yuka sebelumnya~", aku merasa sangat senang karena
merasa diperlakukan spesial.
Waktu yang kuhabiskan berdua dengan Kakak
adalah hal yang tak tergantikan bagiku.
Aku bakal senang banget kalau Kakak juga
merasa begitu.
"Kakak, oper!"
"Kakak hebat banget~!"
……Tapi di samping itu, kenapa semuanya
ikutan panggil "Kakak"?
Orang itu kan Kakak-ku, tapi kenapa…… ah,
aku bisa gila kalau begini terus.
Po-pokoknya, kalau semuanya panggil
"Kakak", aku harus ganti panggilanku.
Masato-san……? Tapi dulu dia bilang senang
kalau kupanggil Kakak……
Masato-nii-san. Oke, pakai itu saja.
"Kakak, Kakak!"
Saat istirahat, Suzuka lari menghampiri
Kak Masato.
……Duh, firasatku nggak enak.
"Bagi Kakak, Yuka-chan itu sosok
yang seperti apa sih!?"
"Suzuka!! Apa-apaan sih
kamu!!??"
Kamu ngomong apa sih!!!
Segera aku amankan Suzuka dengan mengunci
kepalanya.
"Sakit, sakit! ……Tapi Yuka juga
penasaran, kan?"
"Ugh……"
Te-tentu saja aku penasaran. Bagi Kak
Masato, aku ini…… aku bakal senang kalau dia menganggapku orang yang berharga
bagi dirinya……
A-apalagi ada kejadian waktu itu…… siapa
tahu, dia jadi suka padaku……
"Yuka ya…… hmmm. Meskipun kami belum
lama kenal, tapi bagiku, dia itu sudah seperti sosok adik perempuan
sendiri."
Seketika, dadaku terasa sedikit perih.
"A-adik……"
Adik.
Memang sih, kalau bicara soal kedekatan,
itu memang posisi yang dekat.
Aku juga bisa merasakan kalau dia sangat
menjagaku.
Tapi kalau cuma "adik", itu
nggak cukup.
Karena.
Selama aku hanya dianggap sebagai adik,
dia nggak akan pernah jatuh cinta padaku.
Dia nggak akan menjadikanku sebagai
pacarnya.
Aku menyukai Kak Masato.
Makanya, aku ingin dia juga menyukaiku.
Rasa perih di dadaku perlahan mulai
menjalar luas.
"Kakak punya pacar nggak
sih~!?"
Tunggu, Miho!? Itu pertanyaan yang
terlalu frontal tahu!?
"Nggak ada kok. Aku jomblo."
*Fiuh……!* Syu-syukurlah.
Kalau tadi dia jawab punya, mungkin aku
sudah menangis. Beneran nggak bohong.
Aku pasti bakal menangis dan langsung
pulang begitu saja.
"Eeeh~ nggak nyangka banget! Oke
oke! Kalau gitu aku mau mencalonkan diri jadi pacarnya!"
"MIHO!!!"
Miho itu beneran gampang banget ya kalau
soal begini!
Lagipula Miho, bukannya kamu bilang kamu
baru saja jadian!?
Setelah latihan berakhir.
Setelah mengatur napas, aku mendatangi
Kak Masato untuk berterima kasih.
Sendirian.
"Anu, terima kasih banyak ya. Kak...
Kak Masato."
"Hm? Nggak apa-apa kok. Aku juga
minta maaf ya sudah mengganggu…… Teman-temanmu anak baik ya. Dijaga baik-baik
pertemanannya."
"Iya. Kalau Kakak nggak keberatan,
kapan-kapan datanglah lihat pertandinganku."
"Oh, tentu saja. Aku juga mau lihat
gimana aksi Yuka pas lagi tanding."
……Aku senang sekali.
Hanya dengan kata-kata seperti itu saja,
hatiku sudah terasa hangat.
Aku benar-benar orang yang sederhana
ya…….
Nah. Justru karena itulah, aku ingin
mengubah pandangannya yang hanya menganggapku sebagai adik.
Tanpa sadar, suaraku keluar lebih dulu.
"A-anu……"
"Hm?"
Tapi, aku harus bilang apa.
Begitu banyak kata-kata yang muncul di
kepala, lalu menghilang lagi.
Aku tidak punya keberanian untuk
menyatakan cinta.
Tapi aku juga tidak bisa bilang
"tolong lihat aku sebagai seorang perempuan". Itu sih sudah hampir
sama saja dengan menyatakan cinta.
Bukannya aku benci diperlakukan seperti
adik.
Aku senang saat dia mengelus kepalaku
atau memujiku.
Tapi aku ingin hubungan yang selangkah
lebih maju.
"……Nggak, nggak ada apa-apa."
"……? Begitu ya? Kalau begitu, sampai
ketemu lagi ya. Aku bakal temani latihan kapan saja kok."
Dasar aku pengecut.
Di dalam hati, aku memaki diriku sendiri.
Tapi, di depan Kak Masato, aku tetap
memberikan senyuman.
"Iya. Lain kali, aku ingin kita
latihan berdua saja."
"Hahaha, benar juga ya. Kalau mau
mengajarimu, memang lebih enak kalau berduaan saja."
Kata-kata itu membuat jantungku berdegup
kencang.
Apa Kak Masato juga berpikir kalau lebih
enak kalau cuma berdua?
……Suatu saat nanti, pasti. Aku akan
membuat Kak Masato makin sadar akan keberadaanku.
"Iya!! Mohon bantuannya lagi
ya!"
Karena aku beneran serius.
Malam harinya.
Aku sudah berganti pakaian tidur dan
berbaring di tempat tidur, memikirkan semuanya sendirian.
Yang terngiang di kepalaku adalah
kata-kata Kak Masato tadi siang.
Adik ya, adik. Gimana caranya supaya aku
bisa "lulus" jadi seorang adik?
"Pokoknya, aku harus bikin dia sadar
dulu kalau aku ini perempuan, kan."
Cara membuat orang yang disukai berbalik
melihat kita…… meski sudah kucari di internet pun, jujur aku tetap tidak paham.
Sedikit sekali pola yang membahas soal cowok yang lebih tua, jadi tidak terlalu
bisa dijadikan referensi.
Tapi, pokoknya yang penting adalah
membuatnya sadar.
Sadar…… lewat apa ya?
Memeluknya? Nggak, jangan. Kemarin aku
sudah melakukannya karena terbawa suasana, tapi ujung-ujungnya cuma dielus-elus
kepalaku.
Hanya berakhir sebagai kontak fisik antar
kakak-adik.
Pegangan tangan? Hmm, pelukan saja
kastanya lebih tinggi kan?
Kalau begitu, yang lebih tinggi dari
pelukan itu……
"Ciuman…… gitu."
Seketika wajahku terasa sangat panas.
Aku menenggelamkan wajahku dalam-dalam ke
bantal.
Nggak nggak nggak! Mana boleh begitu.
Tapi, memang sepertinya itu ide bagus.
Kalau sampai melakukan itu, dia pasti bakal sadar.
Yang terbayang di kepalaku adalah wajah
Kak Masato yang tampan.
Di wajah itu…… di bibir itu……
"……-!!"
Ke-kepalaku jadi pening.
A-apa aku bisa ya? Tapi kalau seandainya
aku bisa melakukannya, betapa indahnya hal itu.
Ciuman pertama yang kuberikan untuk cinta pertamaku, kira-kira betapa manis rasanya ya?
"Haaah……"
Gantian bantal yang sekarang kudekap
erat-erat.
Sensasi saat aku menghambur memeluk Kak
Masato waktu itu...
Tak pernah sekalipun kulupakan. Aku masih
bisa mengingatnya dengan sangat jelas.
Kalau seandainya aku sampai menciumnya...
Makin aku memikirkannya, kepalaku makin
pening saja.
Bahkan, mungkin saja bakal berlanjut ke
hal yang lebih dari itu...
Aaah.
……Sepertinya, malam ini aku nggak bakal
bisa tidur.
───● Gadis Sastra SMA Ingin Membantu ●○●
Hari Sabtu.
Bagiku, Sabtu telah menjadi hari
penentuan seminggu sekali.
"Harus cepat pulang...!"
Aku baru saja menyelesaikan pelajaran
pagi dan sedang berlari kencang menuju rumah.
Cepat pulang, mandi, pakai baju yang
imut, lalu bersiap untuk *event* kedatangan Tuan Masato.
"...Hm?"
Saat itu, ponsel di saku bergetar.
Notifikasi media sosial.
Apa sudah ada kabar dari Kak Masato?
Ternyata grup chat. Mereka kok ngomong
seenaknya sendiri sih???
Memang Tuan Masato itu seorang pangeran,
tapi kalau mau ambil foto kan harus minta izin...
Curi-curi foto? Duh, nggak enak juga
kalau sampai begitu...
Pasti bukan tugas yang mendesak. Sambil
berterima kasih pada teman-teman baruku itu... tadinya aku mau mengabaikan
notifikasi selanjutnya sampai di rumah.
Apaan sih!
Karena merasa terganggu, terpaksa aku
membuka ponsel sekali lagi.
...
Huft.
Aku menutup ponsel pelan-pelan.
Oke.
Aku mau berhenti berteman sama mereka.
Tiba-tiba, aku menutup novel yang sedang
kubaca dan melihat jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Biasanya sepuluh
sampai lima menit sebelumnya bel rumah sudah bunyi, tapi Tuan Masato belum
datang juga.
"...Tumben ya?"
Bagiku... nggak, mungkin bagi siapa pun,
Tuan Masato itu manusia sempurna yang jarang sekali terlambat.
Apalagi 30 menit yang lalu dia sudah
mengirim pesan seperti biasa, "Bentar lagi sampai stasiun ya~". Kalau
begitu, harusnya dia sudah sampai sekarang.
Aku keluar kamar dan turun tangga. Tentu
saja Kak Masato tidak ada di sana.
"Bu, Kak Masato belum datang
ya?"
"Hm? Iya ya. Tumben sekali. Padahal
biasanya jam segini sudah sampai."
Aku melihat jam di ruang tamu. Tepat
pukul 15.00. Di ponsel pun belum ada notifikasi masuk. Kalau dia sampai di
stasiun di jam tadi, harusnya dia sudah sampai...
Aku punya firasat buruk.
"Bu, aku ke stasiun sebentar
ya."
"Eh?"
"Jalannya cuma satu arah kok, pasti
nanti papasan. Aku pergi dulu ya."
Dadaku berdebar kencang, aku buru-buru
memakai sepatu. Kalau tidak ada apa-apa ya syukurlah. Tapi dia itu laki-laki
yang sangat tampan.
Bukan hal aneh kalau dia diganggu orang
asing. Aku langsung berlari keluar dari pintu depan.
Sambil menggenggam ponsel, aku terus
melangkah. Seperti yang kubilang pada Ibu, jalan dari rumahku ke stasiun ada
beberapa, tapi kalau mau lewat jalan yang paling mudah ya cuma satu. Kak Masato
pasti lewat jalan ini.
Saat aku hampir sampai di stasiun...
Aku melihat sosok yang kukenal di
kejauhan.
Hari ini dia juga terlihat segar dengan
gaya rompi warna gandum di atas kaus putih polos. Tidak mungkin salah lagi. Itu
Kak Masato!
Dia sedang dikelilingi oleh dua wanita
bersetelan jas.
Eh, digoda!?
"Tolong pertimbangkan dulu! Kami
tidak akan menyuruh Anda melakukan hal yang tidak masuk akal kok!"
"A-anu... seperti yang saya bilang
dari tadi, saya tidak bisa, apalagi sekarang saya sedang buru-buru..."
Aku mendekat. Dari percakapannya...
sepertinya bukan sedang digoda. Apa mereka sedang menawarinya jadi model atau
semacamnya...?
Memang sih, Kak Masato itu sangat tampan
jadi wajar saja hal itu terjadi, tapi...
Kenapa dia tidak punya pertahanan diri
sama sekali sih!? Terobos saja harusnya kalau diganggu begitu!?
Ah, dasar Kak Masato yang terlalu baik
hati. Dia pasti mendengarkan mereka dengan serius. Dan sekarang dia kesulitan
untuk menolak... pasti begitu.
Tunggu dulu...
Sebuah kemungkinan melintas di benakku.
Kalau aku membantunya di sini, apa mungkin tingkat kesukaannya padaku bakal
langsung melonjak drastis!?!? *Event* kenaikan *affection level* secara drastis
akhirnya datang juga... kalau aku bisa menyelamatkannya dengan keren...!
Sudah dataaaang!!!!
Kemenangan besar. Gue menang telak nih.
...Eh, bentar dulu.
Gimana caranya menyelamatkan dia dengan
keren?
Levelnya terlalu tinggi!
Terlalu berlebihan kalau tiba-tiba
bersikap kayak pacar!! Yang lain apa?
Karakternya berat banget. Aku nggak bisa
akting kayak adik begitu.
Gimana ya, apa ada ide bagus yang lain!?
"Kalau begitu, setidaknya kontaknya
saja! Boleh kita tukaran kontak!"
"Duh, anu..."
"Nomor telepon saja cukup kok. Nanti
kami hubungi lagi..."
Gawat!
Aku tidak bisa diam saja. Sebelum Kak
Masato beneran tukaran kontak!!
Meskipun aku belum menentukan gaya
penyelamatannya, aku harus menolongnya!!
Aku berlari sekencang mungkin menuju
tempat Kak Masato berada.
Apa pun jadinya terserah! Yang penting
lakukan saja!
[ Mode: Cewek Gaul Genit (Gyarurun) —
AKTIF! ]
"A-anuuuuuu!!"
"...?"
Mungkin suaraku terlalu keras, kedua
wanita bersetelan jas itu menoleh ke arahku.
Aduh, tekanannya kuat banget.
Kalian pikir aku ini cuma bekicot apa??
Ta-tapi aku nggak bakal kalah!
Aku menghela napas berat, tanganku
bertumpu pada lutut yang gemetar.
"Hah... hah...!"
Benar juga. Fisikku ini kan selemah siput
tak berdaya. Belum juga sampai rumah, aku sudah kehabisan napas dan tepar di
pinggir jalan.
Aku melirik ke arah Kak Masato yang masih
kugandeng tangannya. Dia tampak tidak berkeringat sedikit pun, malah menatapku
dengan tatapan campur aduk—antara bingung, heran, dan mungkin sedikit kasihan.
"Shi... Shiori-chan? Tadi itu...
ninja Iga?"
Mati aku. Wajahku rasanya lebih panas
daripada aspal musim panas ini.
Ingin rasanya aku tenggelam ke dalam
bayangan dan menghilang seperti ninja sungguhan.
Niatnya ingin jadi ksatria yang
menyelamatkan pangeran dengan keren, tapi kenapa malah jadi komedi absurd
begini!?
"Ma-maaf... hah... itu... akting!
Iya, akting untuk klub sastra!" aku mencoba berkelit sambil mengatur napas
yang tersenggal.
Kak Masato terdiam sejenak, lalu
tiba-tiba dia tertawa kecil. Tawa yang sangat lembut dan menenangkan.
"Terima kasih ya. Tadi itu
sebenarnya aku bingung sekali cara menolaknya. Berkat 'ninja Iga' yang
tiba-tiba muncul, aku jadi bisa kabur."
Dia tersenyum tulus ke arahku.
*DEG.*
Tunggu sebentar. Meskipun cara menolongku
jauh dari kata keren, tapi barusan dia bilang terima kasih kan? Dia bilang aku
membantunya kan?
Ini... apakah ini tetap terhitung sebagai
*event* kenaikan *affection level*!?
"Fufu... fufufu. Te-tentu saja!
Serahkan saja pada saya, Tuan Masato!"
Sambil menahan rasa malu yang masih tersisa, aku mencoba menegakkan punggungku kembali. Meskipun aku lemas dan hampir pingsan, kemenangan tetap ada di tanganku!
Tapi, sepertinya mereka nggak mengejar.
Syukurlah, sepertinya aku berhasil
mengecoh mereka...
"Tuan... Masato... Anda tidak
apa-apa...?"
Aduh, beneran deh, ini yang terburuk.
Rencanaku hancur total.
Padahal harusnya aku menolong dengan
lebih keren supaya dia makin jatuh cinta padaku...
Tapi kalau diingat-ingat lagi, tadi itu
aku memalukan banget.
Dia pasti *ilfeel*... ya kan... gimana
cara menutupinya ya.
Itu bukan hal yang pantas dilakukan oleh
seorang "Gadis Anggun"...
"……Fufu…… Ahahahaha!!"
"Kak Masato?"
Saat aku menoleh, Kak Masato sedang
tertawa sampai air mata keluar dari sudut matanya.
Di saat aku sedang melongo keheranan, Kak
Masato yang sudah selesai tertawa pun menghapus air matanya dan berkata begini:
"Terima kasih... terima kasih ya,
Shiori-chan! Lagipula... ternyata Shiori-chan bisa bicara seperti itu ya!"
"A-ah, tidak, anu, tolong lupakan
saja... beneran deh, tadi itu aku cuma terlalu tegang saja..."
M-mampus... dia dengar semuanya dengan
jelas... ya iyalah, kan dia ada di situ.
Parah banget... padahal aku sudah
berusaha keras memerankan sosok nona muda yang anggun dengan sempurna...
(menurut versiku sendiri).
"Beneran deh, maaf ya. Nggak
seharusnya aku tertawa. Terima kasih sudah menolongku. Aku sangat terbantu.
Terus, maaf ya aku jadi telat. Mereka tadi lumayan gigih... aku sampai nggak
bisa lepas."
"E-eh. Iya, benar. Mereka
kelihatannya memang sangat gigih ya..."
"Tapi, entah kenapa ya."
"……?"
……Ah, kalau dipikir-pikir, tanganku masih
menggenggam tangannya...
"Aku jadi ingin melihat sisi
Shiori-chan yang seperti itu lebih banyak lagi."
"……Eh?"
"Habisnya, Shiori-chan itu selalu
terlihat seperti... sedang membangun tembok di antara kita. Tadi itu, meski
memang kelihatannya kamu lagi panik banget... tapi kamu kelihatan sedang
bersenang-senang, tahu? Makanya... aku ingin melihat berbagai macam ekspresimu
yang lain, bukan cuma wajah yang biasa kamu perlihatkan padaku saja."
"……"
Aku reflek menggenggam tangannya lebih
kuat.
Aku ingin menyembunyikan detak jantungku
yang rasanya hampir tersalurkan padanya.
Nggak boleh. Pasti nggak boleh.
Kalau aku memperlihatkan sisi dalamku
yang seperti ini, dia pasti bakal
membenciku.
Tapi.
Ada sisi lain dalam diriku yang ingin
mencoba bersikap apa adanya di depannya.
Bukan sebagai gadis yang seperti
*heroine* di dalam cerita.
Keinginan egois agar dia menyukai diriku
yang aslinya cuma "Penduduk Desa B" ini mulai muncul ke permukaan.
"……Bakal aku... pikirkan."
"Sip."
Aku melepaskan tangan kami yang
bertautan.
Jantungku yang masih berdegup kencang
ini, pasti bukan cuma karena aku baru saja lari sekencang tenaga.
Saat ini aku memang belum punya
keberanian.
Tapi kalau orangnya adalah dia.
Mungkinkah dia bakal... menerimaku apa adanya.



Post a Comment