NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Chapter 10

Episode 10 “Karena Akan Terasa Menyakitkan”


“Jangan-jangan ini... Ebi Chili (udang pedas manis)...!?”

 

Waktu makan malam. Melihat hidangan yang berjajar di atas meja, tanpa sadar aku bergumam.

 

“Eh, kenapa, kamu tidak suka udang? Jangan-jangan alergi?”

 

“Ah, tidak, bukan begitu... tapi...”

 

“...Ada yang mengganggumu?”

 

“Bukan, ...aku cuma baru sadar kalau orang biasa ternyata bisa membuat masakan seperti ini...”

 

Nasi goreng porsi besar, dan di sampingnya tersaji udang pedas manis yang menggunakan udang berukuran besar.

 

Selama ini aku menganggap masakan Tiongkok itu makanan yang dimakan di restoran. Alasan utamanya sih karena Onee-chan tidak suka semua makanan pedas, jadi kami tidak pernah membuatnya di rumah.

 

“Bumbu masakan Tiongkok yang tinggal campur dan tumis kan banyak dijual, jadi sebenarnya tidak sesulit itu, lho? Siapa pun bisa membuatnya kalau mengikuti petunjuk yang tertulis, kan?”

 

“Tapi Shuri tidak pakai bumbu instan seperti itu, kan?”

 

“Yah, memang sih... tapi udang pedas manis kan bisa dibuat pakai bumbu yang ada di rumah.”

 

“B, begitu ya!? Bumbu yang ada di rumah itu... apa saja...!?”

 

Akhir-akhir ini kalau aku membuka kulkas, aku agak kaget karena ada berbagai macam bumbu yang tidak kukenal di dalamnya. Padahal saat aku masih menumpang dulu ukuran kulkasnya lebih besar, tapi jenis bumbunya tidak sebanyak ini.

 

Namun, Shuri sepertinya bisa menggunakan semua bumbu dalam jumlah banyak itu dengan baik. Ada sekitar empat bumbu berakhiran ‘jan’ yang sama sekali tidak kutahu apa bedanya, apakah ini yang namanya orang yang pandai memasak.

 

Lagipula, ‘jan’ itu sebenarnya apa, sih.

 

Nasi goreng porsi super besar—yang rasanya dicetak menggunakan mangkuk besar khusus untuk porsiku saja—ini bukanlah tipe yang nasinya terpisah-pisah (pera), melainkan tipe yang sedikit lembap.

 

Nasi goreng pera seperti yang dimakan di restoran memang enak, tapi kalau dimakan dalam jumlah banyak, minyaknya lumayan bikin perut begah.

 

Katanya ada juga restoran yang memakai minyak sebanyak orang menggoreng. Dalam hal itu, nasi goreng lembap ini memiliki rasa nasi goreng yang pas tapi tidak bikin enek, jadi aku menyukainya.

 

“Nasi goreng seperti ini, bagaimana caramu membuatnya? Wajan penggorengan kita kan tidak sebesar itu.”

 

“Hm? Pakai rice cooker kok.”

 

“Bikin nasi goreng pakai penanak nasi!?”

 

“Bisa dibuat dengan mudah, lho~?”

 

“B, begitu ya...”

 

Begitu ya, ternyata ada cara seperti itu.

 

Sepertinya dia memang membeli sedikit tambahan peralatan masak, tapi sebagian besar dia memasak hanya dengan barang yang ada di rumah. Oh begitu, ternyata dia memakai teknik semacam itu.

 

Teksturnya yang berbeda dari masakan restoran itu ternyata karena dibuat pakai penanak nasi, masuk akal.

 

Sambil meminum sup telur dan rumput laut wakame sebagai selingan, aku terus makan dengan fokus, dan dalam sekejap nasi goreng yang porsinya kira-kira dua gou (sekitar 300 gram) itu lenyap dari piringku.

 

Saat aku sedang mengunyah satu-satunya udang yang kusisakan, dengan santai Reni melemparkan udang pedas manis miliknya ke piringku.

 

“Kamu mau makan, kan?”

“...Boleh nih?”

 

“Boleh kok.”

 

“Kalau begitu, aku terima dengan senang hati—“

 

Aku menyendok udang besar yang sampai meluber dari sendok itu, dan saat aku memasukkannya ke dalam mulut—

 

Shuri yang duduk di depanku, membuka mulutnya dengan ekspresi tercengang.

 

“Re, Reni?”

 

“...Apa.”

 

“Yang tadi itu, bukannya sisa gigitanmu~?”

 

...Hng?

 

Saat aku menoleh ke arah Reni, ia memalingkan wajahnya dengan malu dan berkata, “A, aku salah ngasih.”

 

“Begitu, ya.”

 

Yah, kalau salah ngasih ya mau bagaimana lagi. Tapi omong-omong, udangnya enak sekali. Teksturnya kenyal, dan bukan cuma manis, tapi rasa pedas yang tertinggal di akhir itu terasa sangat pas.

 

Shuri bergumam “Hng~...?” sejenak, lalu ia menaruh nasi goreng di sendoknya dan mengulurkan tangannya ke arahku.

“A, ayo buka mulutmu~?”

 

“Eh, a, iya.”

 

Aku membuka mulutku. Di saat sendok itu hendak masuk ke dalam mulutku—

 

Tepat di ambang batas antara menyentuh bibirku atau tidak, sendok itu dengan cepat ditarik kembali.

 

“Hei.”

 

“M, maaf bercanda, cuma bercanda kok.”

 

Padahal kukira aku benar-benar akan disuapi...

 

“Kalau mau tambah, masih ada di penanak nasi kok. Tolong ambil sendiri dari sana ya?”

 

“O, oke.”

 

Shuri menatap lekat-lekat sendoknya. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi yah, kurasa tidak perlu terlalu dipikirkan.

 

Saat aku kembali setelah mengambil tambahan nasi goreng sendiri, seolah-olah sudah menunggu, Reni menyodorkan sendoknya ke arahku. Di atasnya, terdapat seekor udang.

 

“Dari tadi beneran nggak apa-apa nih? Ini udang yang berharga lho.”

 

“Kalau nggak boleh, aku nggak bakal ngelakuin ini.”

 

“...Benar juga, ya.”

 

Aku membuka mulut. Tidak ditarik kembali seperti saat Shuri tadi, udang itu masuk ke dalam mulutku dengan pas, jadi aku langsung menerimanya dan mengunyahnya.

 

Reni menarik kembali sendoknya, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyuapkan nasi goreng ke mulutnya sendiri. Apa udangnya sedikit pedas ya, wajahnya terlihat memerah. Eh, tapi bukannya dia biasa makan makanan pedas?

 

Setelah selesai makan, Shuri mengeluarkan puding tahu almond (annin tofu) kemasan dari kulkas yang sepertinya dibeli di swalayan. Rupanya hari ini benar-benar festival masakan Tiongkok sampai akhir.

 

“Omong-omong Shuri, kamu tidak membuat dessert ?”

 

Karena tiba-tiba penasaran aku pun bertanya, dan Shuri yang memegang tiga buah sendok di tangannya menggaruk pipi dengan sedikit salah tingkah.

 

“Ah, yah, bukannya aku tidak bisa membuatnya sih...”

 

“Tapi?”

 

“Waktu kelas 1, aku pernah membuat kue untuk ulang tahun Reni, tapi porsinya agak terlalu banyak untuk dihabiskan berdua... Terus pas dibekukan bentuknya malah jadi hancur berantakan.”

“Aah...”

 

Benar juga. Ada yang bilang kalau makanan manis itu punya ruang sendiri di perut, tapi itu hanya berlaku untuk porsi satu orang.

 

Mustahil bagi mereka berdua menghabiskan satu kue utuh, apalagi Reni makannya sedikit.

 

“Kalau Nogi, apa kamu tipe yang bisa makan makanan manis sebanyak apa pun?”

 

“Tidak, kalau soal itu sih porsiku standar.”

 

“Benar, kan~. Makanya, kalau kamu mau makan aku bakal buatkan sih, tapi karena kami tidak bisa banyak membantu soal menghabiskannya, kalau kamu nyuruh aku bikin, tolong siapkan mental untuk hal itu ya.”

 

“O, oke... kalau begitu untuk saat ini tidak usah deh.”

 

Aku pernah diajak teman sekelas pergi ke restoran makan sepuasnya khusus kue, tapi pada akhirnya aku malah terus-terusan makan kari dan kentang goreng.

 

Aku baru tahu saat itu kalau aku tidak bisa makan makanan manis dalam jumlah besar.

 

Puding tahu almond ini terasa sangat menyegarkan dan membilas rasa pekat yang tertinggal di dalam mulutku.

 

 

•••

 

Saat mereka berdua pergi mandi, aku belajar sendirian. Tak lama kemudian, Reni yang keluar dari kamar mandi lebih dulu, menatapku dari atas dalam diam.

 

Aku sudah cukup terbiasa dengan fakta bahwa Reni memakai kemejaku sebagai pakaian tidurnya, dan sekadar informasi, ia juga tidak memakai bra sehabis mandi. Pihak sana juga sepertinya sudah tidak peduli lagi meskipun dilihat.

 

“Ada apa?”

 

Mungkin karena baru selesai mandi, wajah Reni terlihat sedikit memerah.

 

“Tolong, buka ruang di situ.”

 

“Eh, ...di sini?”

 

Ia mengatakannya sambil melihat celah antara meja dan tubuhku. Aku sedikit menggeser tubuhku untuk membuat ruang, dan Reni langsung menyelusup masuk ke sana dengan pas.

 

Persis seperti kucing maskot di kafe bergaya modern yang pernah kukunjungi bersama Onee-chan dulu.

 

Kalau dipikir-pikir, Reni memang lumayan mirip kucing ya. Dia kan orangnya gampang berubah suasana hati.

 

Sebaliknya, Shuri itu lebih mirip anjing. Bukan anjing kecil, melainkan anjing besar yang antusias dan suka melompat-lompat menempel. Meskipun aku belum pernah memelihara keduanya jadi ini murni cuma imajinasiku saja.

 

Si kucing—maksudku Reni—tanpa mengatakan apa-apa menyandarkan punggungnya padaku, lalu mengambil ponselnya yang sedang diisi daya di atas meja, dan mulai memainkannya dalam diam.

 

Aku benar-benar tidak mengerti apa maunya, tapi yang jelas ini bukan situasi yang pas untuk belajar, jadi aku meletakkan penaku di atas meja.

 

Aroma sampo yang tidak familier tercium dari rambutnya yang masih sedikit lembap.

 

“Ah, ini aroma sakura, ya. Akhir-akhir ini aku merasa kamar ini baunya seperti musim semi, ternyata asalnya dari rambut Reni, ya.”

 

“...Ternyata kamu bisa menyadari hal semacam itu, ya.”

 

“Hal yang tidak membuatku percaya diri itu cuma daya ingatku saja.”

 

Reni tertawa kecil “Kusu,” dan hal itu bisa kusadari meskipun aku melihatnya dari sudut pandang layaknya roh pelindung di belakangnya. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya, sih.

 

“Kamu boleh pakai sampoku, lho. Kalau pakai sampo murah seperti itu rambutmu bisa rusak, kan.”

 

“Tidak... aku nggak berani pakai barang yang kelihatan mahal begitu...”

 

Botolnya saja sudah kelihatan mahal. Berapa kali lipat harga sampo yang sudah kupakai sejak dulu itu. Kupikir harga botolnya saja sudah lebih mahal dari harga sampoku.

 

“...Padahal kamu punya uang, tapi kamu tidak terlalu memedulikan hal-hal seperti itu, ya.”

 

“Mungkin pada dasarnya mentalitasku ini mental miskin. Toh aku nggak bakal bisa membedakan efeknya selain dari baunya, dan jujur saja, aku nggak terlalu paham konsep ‘rambut rusak’ itu seperti apa.”

 

“...Masa sih?”

 

“Sejak kapan Reni mengecat rambut dengan warna senekat ini?”

 

Hanya bisa disadari jika dilihat dari jarak yang sangat dekat, tapi bagian akar rambutnya memiliki warna yang sedikit berbeda. Namun, bukan hitam pekat, melainkan cokelat. Apakah warna asli rambut akan berubah jika terus-menerus dicat?

 

“Sekitar 2 tahun yang lalu, sih.”

 

“Hmm...?”

 

“Kenapa, kamu penasaran?”

 

“Tidak, perawatannya pasti repot, jadi aku cuma kagum kamu bisa terus melakukannya selama bertahun-tahun.”

 

“...Oh, gitu.”

 

Rupanya itu bukan jawaban yang ia harapkan. Merasa kecewa, Reni menghela napas pelan lalu mendesakkan punggungnya padaku dengan gemas.

 

“...Daripada rambut seperti ini, kamu lebih suka tipe gaya rambut yang seperti itu, ya?”

 

Suaranya sangat pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.

Awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi aku segera sadar bahwa ia sedang membicarakan Onee-chan. Aku hampir saja menyetujuinya, namun aku menahan diri.

 

“...Aah, tidak, mungkin bukan begitu juga.”

 

“Masa?”

 

“Lagipula, aku tidak punya selera khusus soal warna atau gaya rambut.”

 

“............Hmm.”

 

Lagipula Onee-chan juga baru mengecat rambutnya setelah masuk universitas. Ya, warnanya tidak semencolok Reni, melainkan cokelat gelap. Gaya rambutnya pun selalu berubah-ubah, kadang dipanjangkan, kadang dipendekkan. Perasaan menyukai gaya rambut tertentu secara spesifik tidak kumiliki, bahkan sampai sekarang.

 

Reni tampak sedikit senang. Karena ada juga pria yang tidak suka rambut berwarna mencolok, mungkin dia pernah mendapat pandangan seperti itu dari orang lain.

 

“Nogi.”

 

“Hm?”

 

“Ka-kamu, nggak niat cari pacar?”

 

Karena ditanya mendadak, aku menjawab, “...Itu, yah.”

 

“Untuk sekarang, sepertinya belum.”

 

“............Begitu.”

 

“Dulu Shuri juga pernah nany—“

 

“Nanya apa?”

 

Dia memotong ucapanku dengan cepat.

 

“...Shuri pernah nanya apakah aku tidak mau cari pacar.”

 

“............Terus kamu jawab apa?”

 

Jawaban dari saat itu, masih belum kutemukan.

“Aku jawab, aku akan menunggu.”

 

“Nunggu apa? Nunggu ada orang yang nembak kamu?”

 

“Bukan begitu maksudnya. ...Aku jawab, aku akan menunggu sampai muncul seseorang yang bisa membuatku merasa seperti itu. Katanya, orang yang disukai itu bisa muncul secara tiba-tiba, kan?”

 

“............”

 

Shuri pernah bilang kalau cinta baru bisa ditemukan hanya dalam waktu 5 detik, tapi apakah itu benar? Untuk saat ini aku belum bertemu dengan orang yang terasa seperti itu.

 

Kupikir dia akan menghinaku lagi, tapi ternyata sikap Reni sedikit berbeda. Dia terlihat seperti sedang bimbang, seolah sedang memilih kata-kata.

 

“...Kamu suka yang lebih tua?”

 

“Hm? Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”

 

“Soalnya, yang beda 6 tahun itu kan...”

 

Oh, maksudnya soal Onee-chan rupanya.

 

“Tidak juga kurasa. Habisnya, pengalaman cinta pertamaku cuma sekali lho. Kalau aku pernah jatuh cinta pada dua orang dan dua-duanya lebih tua, mungkin aku bisa membenarkannya, dan kalau sudah tiga orang aku bisa yakin. Tapi kalau cuma satu dari satu orang, rasanya belum pasti, kan?”

 

“...Begitu.”

 

“Siapa tahu... ternyata aku lebih suka yang lebih muda?”

 

“Mesum.”

 

“Aku cuma bercanda...”

 

Padahal aku cuma bercanda tapi balasannya kejam sekali. Tolong jangan tancapkan kukumu di tulang keringku. Itu beneran sakit.

 

“...Lagipula, Reni juga kebanyakan bakal dikira lebih muda, kan.”

 

“Ha, hah!? Dasar mesum!”

 

“Bukan begitu maksudnya! Maksudku apa kamu pernah dikira anak kelas 3 SMA!”

 

“............”

 

“Laki-laki yang nembak Reni, apa boleh diputuskan sebagai orang mesum semuanya? Berarti pacarmu nanti juga pasti masuk kategori mesum dong.”

 

“............Boleh saja kok.”

 

Ternyata boleh.

 

“...Lagipula, aku nggak butuh yang namanya pacar...”

 

Dia mengatakannya dengan suara yang sangat pelan. Shuri juga bilang begitu, bahkan Onee-chan juga pernah mengatakan hal yang mirip, jadi kurasa itu bukan pengakuan yang memalukan.

 

Lagipula, padahal dirinya sendiri tidak tertarik punya pacar, tapi dia peduli apakah aku mau cari pacar atau tidak ya. Mengatakan hal itu mengingatkanku pada Shuri yang juga bersikap serupa. Padahal aku sudah bilang tidak akan mengusir mereka meskipun aku punya pacar.

 

“Dooong!”

 

Tiba-tiba ada benturan di punggungku. Sepertinya tanpa kusadari Shuri juga sudah selesai mandi.

 

Tubuhku nyaris terdorong jatuh oleh massa benda yang ukurannya melampaui manusia normal itu, dan aku berusaha mendorongnya kembali dengan kekuatan otot punggungku. Kalau tidak, Reni yang ada di pelukanku bakal kegencet.

 

“...Tiba-tiba ada apa sih.”

 

“Eee, kayaknya curang banget deh~”

 

“Cu-curang, curang apanya.”




Tangan Reni yang memegang ponsel dengan kedua tangannya gemetar. Kupikir dia sedang menonton video karena dia diam saja, tapi ternyata tanpa sadar layar ponselnya sudah mati. Dari belakang sini, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.

 

“Hm?”

 

Kupikir Shuri akan terus bersandar padaku, tapi dia tiba-tiba melepaskanku, membuatku hampir terjengkang ke belakang karena momentumnya.

 

“Mau ke mana?”

 

“Eh, yah... nempel-nempel begini kayaknya kurang baik deh.”

 

“Kalau gitu jangan lakuin dari awal dong...”

 

Meskipun sudah berdiri, Shuri tampak bingung harus duduk di mana. Mungkin karena teringat bahwa Reni sedang tidak duduk di sana, ia pun duduk di sofa bean bag dan mengulurkan kakinya ke arahku. Kakinya yang menjulur itu menendangku pelan “pesh,” jadi aku menyingkirkannya.

 

Kalau dulu sepertinya dia akan terus menempel padaku seperti ini, tapi akhir-akhir ini aku merasa jarak di antara kami sedikit menjauh. Mungkin karena aku pernah bilang kalau aku menolong mereka bukan karena mereka itu spesial?

 

Sebaliknya, Reni terasa semakin dekat sejak kejadian itu. Tapi Shuri sedikit menjauh. Hubungan antarmanusia itu memang sulit, ya.

 

“Kalau kamu santai, tolong keringkan rambutku.”

“Padahal aku lagi nggak santai lho...?”

 

Padahal sampai kalian keluar dari kamar mandi aku sedang belajar lho? Lagian apa aku tidak boleh mandi juga?

 

Yah, berdebat di sini juga tidak akan menyelesaikan masalah, jadi dengan terpaksa aku mengambil pengering rambut yang masih terhubung ke stopkontak.

 

•••

 

Nogi yang memegang pengering rambut mulai mengeringkan rambut Reni.

 

Kayaknya akhir-akhir ini dia selalu ngelakuin itu deh, tapi ya ampun, itu sumpah bikin iri banget nggak sih?

 

Perempuan itu cuma mau membiarkan rambutnya disentuh oleh orang yang hubungannya sudah sangat dekat tahu. Bagi laki-laki mungkin itu cuma bulu yang tumbuh di kepala, tapi bagi perempuan itu beda maknanya.

 

...Pasti, dia paaaasti nggak ngerti soal itu.

 

Perlahan aku menjulurkan kakiku dan menempelkannya ke punggung Nogi. Sejenak ia melirik ke arahku, tapi karena kedua tangannya sibuk, ia tidak bisa menyingkirkannya.

 

Punggung yang hangat, tapi sangat keras. Apakah itu otot? Lakuin apa coba sampai punggung bisa berotot? Karena penasaran, aku menyusupkan ujung jari kakiku dari bawah ujung bajunya, dan saat bersentuhan dengan kulit aslinya—

 

Deg, jantungku berdegup kencang, dan tanpa sadar aku langsung menarik kakiku.

 

Nogi menatapku dengan heran, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

 

(Enggak, enggak, enggak, enggak...)

 

Padahal cuma kulit kami yang bersentuhan. —cuma itu saja, tapi.

 

Jantungku masih berdebar-debar kencang. Wajahku terasa panas, jadi untuk menyembunyikannya aku membenamkan tubuhku kuat-kuat ke sofa.

 

“Kamu pusing habis mandi air panas?”

 

Ia bertanya begitu padaku. Ah, ternyata wajah merahku ketahuan ya.

 

“Ngg~, aku nggak apa-apa kok~”

 

“Mending kamu minum air putih sana.”

 

“...Ide bagus.”

 

Aku berdiri dan menuju dapur, lalu menenggak air keran yang diisi penuh es batu.

Fuuh, aku sudah sedikit lebih tenang. Aku terus menatap mereka berdua yang sedang asyik mengeringkan rambut dari dapur, tapi ya ampun, tetap saja bikin iri.

 

(Tapi yaa...)

 

Kalau aku minta dikeringkan juga, dia mungkin bakal melakukannya.

 

Lagipula Nogi ini kelewat terbiasa mengeringkan rambut perempuan nggak sih? Cara mengatur suhunya, cara mengarahkan anginnya, jelas itu bukan gerakan orang amatir. Bukan karena dia jadi terbiasa setelah mengeringkan rambut Reni, tapi dia memang sudah begitu sejak awal.

 

Artinya, selama ini dia sudah terbiasa menjadikan rutinitas mengeringkan rambut perempuan sebagai kesehariannya, makanya dia tidak menolak atau merasa enggan. Kalau begitu, semisal aku tiba-tiba minta dikeringkan rambutnya, sepertinya dia bakal melakukannya tanpa banyak bertanya—sih, harusnya begitu.

 

(Nggak, aku nggak sangguuup...)

 

Mengeringkan rambut kan berarti ngebiarin dia nyentuh kepalaku, kan? Walau nggak seintim Reni, tapi badan kami bakal nempel, kan?

 

Kalau sampai digituin, aku bisa mati karena malu. Akhir-akhir ini kalau tatapan kami bertemu saja aku udah sedikit deg-degan, mana sanggup aku lakuin hal kayak gitu. Aku pasti nggak bakal kuat nahan malunya.

Sekarang saja, cuma ngebayangin rambutku dikeringkan olehnya udah bikin aku malu sendiri sampai harus sembunyi di dapur begini.

 

(Padahal kalau dulu...)

 

Dilihat pakai pakaian dalam pun, atau pas baru keluar dari kamar mandi, aku merasa itu seperti ngasih hadiah padanya.

 

Kalau sekarang, jelas sudah beda. Aku nggak punya kelonggaran hati buat ngasih hadiah begitu. Tadi juga aku iseng nempel karena terbawa suasana, tapi karena takut ketahuan jantungku deg-degan, aku langsung menjauh. Sayang banget ya.

 

“Shuri.”

 

“Heea!?”

 

Tiba-tiba diajak bicara, aku sampai ngeluarin suara aneh.

 

“Lagi apa di situ? Bukan karena pusing kliyengan, kan?”

 

“Ah, iya, cuma main HP aja kok. Jangan dipikirin~, ada apa?”

 

“Rambut. Rambut Reni sudah selesai, jadi biar aku yang keringkan punya-mu.”

 

“............Kalau begitu,”

 

Saat aku menampakkan wajah dari dapur, Nogi menatapku dengan wajah keheranan. Tanpa kusadari Reni sudah kembali ke posisi tetapnya di bean bag, memegang HP dengan kedua tangan dan wajah sedikit kemerahan.

 

“K, kalau gitu aku terima tawaranmu yaa~”

 

“Sip, kemari. Mumpung sekalian.”

 

“Kalau gitu, permi—“

 

Saat aku kembali ke ruang tamu, tempat duduk Reni tadi terlihat kosong, jadi aku berniat untuk duduk di sana—

 

Melihat ke bawah, gerakanku untuk duduk langsung berhenti.

 

“...Ada apa?”

 

“Maaf, mau ke toilet.”

 

“O, oh, begitu.”

 

“Biar kukeringkan sendiri, kamu mandi duluan aja sana~”

 

Aku berbalik membelakangi Nogi yang terlihat heran namun dengan wajah sedikit kecewa. Dari sudut pandanganku, kulihat Reni menatapku dalam diam.

 

Begitu aku berlari masuk ke toilet, lampu notifikasi di HP yang kupegang berkedip.

 

‘Kamu kabur, kan’

 

Dari Reni.

 

‘Kenapa mikir gitu?’

 

‘Insting aja’

 

Aku tidak punya kata-kata untuk membalasnya. Tapi, kalau aku tetap nekat duduk di sana—

 

(Reni tadi duduk di mana, sih...!?)

 

Di antara meja dan Nogi, celahnya lebih sempit dari yang kubayangkan.

 

Kalau aku duduk di posisi seperti itu, bokongku pasti bakal ngegencet ‘bagian penting’ laki-laki miliknya, kan!? A, apa nggak apa-apa tuh!? Reni sih badannya ringan makanya aman!? Tapi aku ini kan berat dan lebarnya beda jauh dari Reni...!?

 

Bagaimanapun juga, aku nggak punya nyali buat duduk di celah sesempit itu. Biarpun Nogi nggak peduli, aku yang peduli tahu.

 

“Aaaahhh............”

 

Sayang banget aku melewatkan kesempatan emas... Apakah kesempatan berikutnya bakal datang?

 

 

•••

 

 

“Lho, ulang tahun Nogi bulan depan toh.”

 

Sambil berguling-guling di tengah kasur main HP, tiba-tiba Shuri mengatakan hal itu.

 

“Kenapa kamu bisa tahu?”

 

“...Benarkah?”

 

Ia mengulurkan tangannya ke arahku dan Reni yang duduk di sisi ranjang, lalu memperlihatkan layar HP-nya.

 

Layar itu menampilkan aplikasi semacam kalender pengatur jadwal, tapi hampir setiap hari ada informasi yang tertulis di sana. Rasanya tidak mungkin dia punya acara sebanyak itu—

 

Namun, saat kubaca baik-baik, ternyata itu bukan acara. Yang tertulis di jadwal itu sepertinya adalah nama orang. Tanggal 12 Juni—di sana tertulis ‘Nogi Meguru’.

 

“Apaan tuh.”

 

“Daftar ulang tahun orang-orang yang pernah kutemui selama ini...”

 

“”Ngeri banget...”” Reaksiku dan Reni tumpang tindih.

 

“Hei, reaksi macam apa itu kalian berdua~”

 

“...Eh, nggak, seberapa rajinnya kamu nyatet ginian? Lagipula, aku nggak pernah cerita soal ulang tahunku ke Shuri, kan?”

“Aku lupa dengar dari mana, tapi tanggalnya benar, kan?”

 

“Benar, sih...”

 

Agak seram lho ini. Kalau pas hari ulang tahun aku masuk sekolah, mungkin aku pernah keceplosan bilang ke seseorang, tapi apa dia nyatet hal-hal kecil begitu satu per satu? Apalagi pas kami belum akrab? Berarti wajarnya tanggal lahir semua anak sekelas ada di catatannya, dong...

 

Hampir setiap hari ada nama seseorang. Berarti jumlahnya lebih dari 365 orang, kan. Seberapa luas sih jaringan pertemanannya anak ini. Beneran seram lho.

 

“Ah, tanggal 12 Juni itu Hari Kekasih, lho. Lagian itu hari libur, mau lakuin hal yang romantis ala sepasang kekasih?”

 

“...Bukannya itu sesuatu yang dilakuin sama pacar?”

 

“Nggak apa-apa, kan?”

 

“Emang boleh...!?”

 

Tapi, andaikan hari peringatan Hari Kekasih itu memang ada, apa yang wajarnya dilakukan oleh orang yang tidak memiliki hubungan asmara?

 

“Katanya hari itu untuk saling bertukar kado.”

 

Karena habis mencari tahu di internet, Reni memberitahukan hal itu kepadaku. Oh begitu, terkesan kasual ya. Kalau cuma sebatas itu, rasanya nggak masalah meskipun bukan pacar. Walau mari kita kesampingkan dulu fakta bahwa elemen ‘memberi’ telah ditambahkan pada hari ulang tahun yang seharusnya cuma tentang ‘menerima’ kado.

 

“Bertukar kado itu... bukannya idenya bentrok dengan hadiah ulang tahun?”

 

“Boleh-boleh aja, kan.”

 

“...Ya sudahlah.”

 

“Nogi, ada barang yang kamu pengen?”

 

“Kasur.”

 

“”Selain itu.””

 

“Kalau gitu futon.”

 

“”Selain itu.””

 

“Kalau permintaanku nggak diturutin, ngapain nanya coba!?”

 

“Masih ada yang lain, kan. Kayak benda yang nggak ninggalin wujud fisik, gitu lho.”

 

“Hadiah yang nggak ninggalin wujud fisik itu apaan...!? Puisi Jepang kuno gitu...!?”

 

Kamu nyuruh aku jadi penyair zaman Heian?

“Hei, Reni pasti ada sesuatu yang pengen dikasih ke Nogi, kan?”

 

Reni tersentak kaget. Ternyata ada!? Hadiah yang nggak ninggalin wujud fisik itu...!?

 

“Kalau aku sih udah mutusin mau ngasih apa~”

 

“Eh,”

 

Dengan panik Reni menoleh ke belakang, menatap lekat-lekat ke arah Shuri—

 

“A, aku juga pilih itu.”

 

“Benar niiih~? Emangnya kamu bisaaa~?”

 

“B, bisa kok!!”

 

Sepertinya mereka sudah memutuskan akan memberiku hadiah apa. Tapi, terlepas dari Hari Kekasih itu, hari itu kan murni ulang tahunku lho. Tolong kasih hadiah biasa yang ada wujud fisiknya dong. Kasur kek.

 

“Saling bertukar kado berarti aku juga harus mikirin mau ngasih apa, ya.”

 

“Yah, ngikutin suasana pas hari-H aja nggak sih?”

 

“Kalau tiba-tiba disuruh bales puisi sastra, aku nggak bisa lho ya!? Aku nggak punya ilmu sastranya!?”

 

“Nggak bakal sesulit itu kok, ya kan?”

 

“...Kalau begitu, buat jaga-jaga aku nanya, kapan ulang tahun kalian berdua?”

 

“Kalau aku bulan Februari~”

 

“Oktober.”

 

“Masih lumayan lama, ya. ...Eh, tunggu, Februari? Berarti Shuri yang ulang tahunnya paling telat di antara kita!?”

 

“Eh, iya, emangnya nggak nyangka?”

 

“Ya gimana nggak nyangka...”

 

Walaupun korelasi antara bulan kelahiran dan postur fisik hampir tidak ada lagi saat memasuki usia SMA, tapi hal ini tetap saja mengejutkan.

 

Shuri, dengan penampilannya yang seperti ini ternyata lahir di awal tahun (kelahiran muda). Ditambah lagi Reni sedikit lebih tua dari dia. Jelas-jelas ini kebalik.

 

“Sesuai pepatah ‘anak yang banyak tidur akan tumbuh besar’ kali, ya~?”

 

“...Tapi jam tidur Reni jelas lebih panjang, lho.”

 

Biasanya juga dia selalu tidur sampai batas mepet mau masuk sekolah.

“Reni mah tengah malam main HP teeruuuus, kan.”

 

“Hentikan kebiasaan itu!”

 

“Nggak bisa.”

 

“Gimana kalau kedua tanganmu kugenggam biar kamu nggak bisa main HP?”

 

“Me, mesum!”

 

Tiba-tiba pinggangku ditendang dan aku terguling jatuh dari sisi ranjang. Habisnya, alasan mata minus dan badannya pendek pasti gara-gara begadang main HP, kan.

 

Aku dan Shuri memiliki mata yang sehat (tidak butuh kacamata), tapi Reni memakai lensa kontak. Sepertinya dia tidak suka memakai kacamata karena akan meninggalkan bekas di hidungnya.

 

Aku baru menyadari kalau Reni memakai lensa kontak setelah beberapa saat kami tinggal bersama, tapi alasan kenapa dia selalu menyipitkan matanya saat baru bangun tidur atau sehabis mandi adalah karena dia hampir tidak bisa melihat apa-apa tanpa lensa kontak.

 

Kalau dipikir-pikir, pas sehabis mandi jarak layar HP dengan wajahnya memang jauh lebih dekat dari biasanya, ya.

 

“Tapi, tengah malam begitu kamu ngapain aja?”

 

Karena menyerah, aku menatap Reni dari bawah sambil duduk di lantai, lalu dia merapatkan pahanya dengan malu. Padahal apa yang harus dimalu—

 

...Hm? Dia pakai bawahan nggak sih ini? Sejenak aku merasa melihat selembar kain berenda, tapi mungkin cuma perasaanku saja.

 

“...Baca manga.”

 

“Aah... begitu ya. Begitu rupanya.”

 

“Lho, Nogi nggak baca manga? Kalau dipikir-pikir aku emang nggak pernah lihat kamu baca sih.”

 

“Nggak sama sekali. Nggak ada koleksi komik di rumah, dan aku juga nggak terlalu tertarik sampai mau beli.”

 

“Eeeh, kamu melewatkan asyiknya hidup tahu~”

 

“Berisik amat.”

 

Naksir orang yang nggak boleh ditaksir, beli rumah demi lamaran yang sudah pasti gagal, dan pada akhirnya nggak baca komik pun dibilang rugi? Berarti hidupku ini isinya rugi melulu dong.

 

“Kalau gitu, tebak-tebakan aja nggak apa-apa, mau jawab pertanyaanku nggak?”

 

“Eh, o, oke?”

 

“Semisal ada dua orang heroine, lalu ada tokoh utama laki-laki yang nggak memilih salah satu tapi malah pacaran sama dua-duanya... Kalau Nogi, gimana tanggapanmu?”

 

“...Tes psikologi?”

 

“Kira-kira begitulah~”

 

Aku paling tidak suka hal-hal semacam itu. Hasil diagnosisnya pasti nggak ada yang benar.

 

“Premisnya kurang jelas. Apa tanggapan sang heroine mengenai hal itu?”

 

“Kelihatannya... mereka setuju?”

 

“Kalau gitu nggak apa-apa, kan? Kalau ketiganya setuju, berarti itu adalah penyelesaian yang paling indah, kan.”

 

“...Begitu ya.”

 

Shuri mengangguk-angguk setuju. Reni—tampak lega. Setidaknya itu bukanlah jawaban terburuk.

 

“Terus hasilnya apa?”

 

“Eh? Hasil?”

 

“Kan tadi katanya tes psikologi. Kalau hasil diagnosisnya ternyata ‘Laki-laki yang milih pacaran bertiga itu laki-laki sampah’ atau sejenisnya, aku beneran bakal sakit hati lho.”

“Aaah... Sebentar ya, aku baca baik-baik.”

 

Mereka berbisik-bisik berdiskusi di atas ranjang, apa hasilnya parah banget?

 

“Hng~... Kayaknya lebih baik kamu nggak usah tahu deh.”

 

“Tunggu! Aku pasti bakal sakit hati sih, tapi setidaknya kasih tahu jawabannya dong!”

 

Saat aku buru-buru berdiri, mereka berdua yang sedang mendekatkan wajah menatap satu layar HP yang sama, mendongak menatapku.

 

“Eeh, beneran nggak apa-apa nih?”

 

“I, iya. Aku sudah siap mental.”

 

“Hmm, kalau gitu—“

 

Shuri memberi isyarat memanggilku dengan tangannya. Saat aku mencondongkan badan untuk melihat layar HP Shuri yang tergeletak di atas ranjang—

 

“Iniiih maksudnyaa~”

 

Tiba-tiba Shuri mengulurkan tangannya, menarik bahuku, dan mendorongku jatuh ke atas kasur.

 

Monyun, begitu bunyinya. Tubuhku tertahan oleh bantal yang sangat empuk.

“Hah?”

 

“Dasar mesuum~”

 

“Bukan, yang barusan itu kecelaka—“

 

Aku mengerahkan tenaga di kedua tanganku untuk mencoba bangkit, tapi tempat tanganku berpijak itu salah besar. Itu adalah... dadanya Reni.

 

Dan sebagai catatan tambahan, setelah mandi Reni selalu tidak memakai bra.

 

Wajah Reni memerah padam, dan dia gemetar hebat—

 

(Ah,)

 

Aku bakal dibunuh. Sambil perlahan menjauhkan tanganku dengan kepasrahan seperti itu, detik berikutnya.

 

“M, maaf!!”

 

Reni yang menutupi dadanya dengan wajah semerah tomat, menatapku tajam—

 

“...Bukan apa-apa.”

 

Ia bergumam pelan dan memalingkan wajahnya dariku.

 

Padahal aku sudah siap mental ditinju wajahku, tapi anehnya reaksiku di luar dugaan. Saat aku sedang kebingungan mencerna kejanggalan ini, tiba-tiba lampu kamar mati.

 

“Eh,”

 

“Waktunya tidur.”

 

“A, oke...”

 

Aku sempat panik sebentar, tapi sepertinya ini bukan mati lampu, melainkan Reni yang mematikannya pakai remot.

 

“L, lengannya.”

 

Di dalam kegelapan, seketika secercah cahaya kecil menyala.

Cahaya layar ponsel Reni menerangi wajahnya dengan pendar yang lembut.

 

Dengan suara kecil yang bergetar, Reni berucap.

 

“............Pinjamkan, lenganmu.”

 

“...Aaah, kalau itu bisa jadi permohonan maaf, aku akan meminjamkannya sepuasnya.”

 

Mengandalkan cahaya remang-remang itu, aku menyelusup ke kasur. Reni menggeser-geser lenganku dan memposisikannya, lalu ia meletakkan kepala kecilnya di lenganku.

 

“Eh, curang... Buat aku permohonan maafnya mana?”

“Kalau kamu mah sengaja, kan!”

 

“Meskipun begitu, ...nggak boleh?”

 

“...Bukannya, nggak boleh sih.”

 

Saat aku menjulurkan lengan satunya yang masih bebas, Shuri langsung menaruh kepalanya di sana. Dari awal aku memang sudah diapit dari kiri dan kanan jadi nggak bisa bergerak leluasa, tapi dengan begini aku benar-benar nggak bisa guling-guling lagi di kasur.

 

“Nogi,”

 

“Hm?”

 

Dengan suara seperti bisikan di telingaku, Shuri mengajakku berbicara.

 

“Melakukan hal seperti ini, kalau menurut definisi ‘keluarga’ versi Nogi, biasa dilakukan?”

 

“Yah, biasa kan.”

 

“Beneran?”

 

“Iya.”

 

Kami ini tidak sedang berpacaran. Aku tidak pernah menembak mereka, dan tidak pernah ditembak juga.

Kalau begitu, hubungan kami bertiga ini seharusnya masih sama seperti pertama kali kami bertemu.

 

Menyebut orang yang tinggal serumah sebagai ‘keluarga’, menurutku itu adalah hal yang sangat wajar.

 

—Namun, benarkah bentuk keluarga seperti ini?

 

Jangan-jangan, ada sebutan lain yang lebih tepat untuk hal ini?

Belakangan ini, pemikiran seperti itu terkadang melintas di kepalaku.

 

Namun sampai kapan pun, aku tak kunjung menemukan jawabannya.

 

Meski begitu, aku tahu betul apa alasan yang membuat mereka berdua mau membuka hati sejauh ini.

 

(Karena aku ini tidak berbahaya... kan.)

 

Karena aku, tidak akan melukai mereka berdua.

 

Makanya, mereka mempercayaiku. Setidaknya, hanya hal ini yang tidak mungkin salah.

 

Kalau begitu, sebagai seorang pria, aku harus membalas kepercayaan tersebut.

 

Aku ini, tidak punya kemampuan untuk menebak-nebak perasaan orang.

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak mempercayai hal apa pun kecuali hal yang diucapkan secara langsung kepadaku.

 

Karena jika tidak begitu, saat aku salah paham lagi, itu akan sangat menyakitkan.

 

Sampai tiba saatnya mereka berdua menghilang dari hadapanku, aku akan terus menjadi manusia yang tidak berbahaya.

 

—Karena kupikir, hanya itulah, satu-satunya jalan yang bisa kupilih.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close