Episode 10 “Karena
Akan Terasa Menyakitkan”
“Jangan-jangan ini... Ebi
Chili (udang pedas manis)...!?”
Waktu makan malam. Melihat
hidangan yang berjajar di atas meja, tanpa sadar aku bergumam.
“Eh, kenapa, kamu tidak
suka udang? Jangan-jangan alergi?”
“Ah, tidak, bukan
begitu... tapi...”
“...Ada yang
mengganggumu?”
“Bukan, ...aku cuma baru
sadar kalau orang biasa ternyata bisa membuat masakan seperti ini...”
Nasi goreng porsi besar,
dan di sampingnya tersaji udang pedas manis yang menggunakan udang berukuran
besar.
Selama ini aku menganggap
masakan Tiongkok itu makanan yang dimakan di restoran. Alasan utamanya sih
karena Onee-chan tidak suka semua makanan pedas, jadi kami tidak pernah
membuatnya di rumah.
“Bumbu masakan Tiongkok
yang tinggal campur dan tumis kan banyak dijual, jadi sebenarnya tidak sesulit
itu, lho? Siapa pun bisa membuatnya kalau mengikuti petunjuk yang tertulis,
kan?”
“Tapi Shuri tidak pakai
bumbu instan seperti itu, kan?”
“Yah, memang sih... tapi
udang pedas manis kan bisa dibuat pakai bumbu yang ada di rumah.”
“B, begitu ya!? Bumbu yang
ada di rumah itu... apa saja...!?”
Akhir-akhir ini kalau aku
membuka kulkas, aku agak kaget karena ada berbagai macam bumbu yang tidak
kukenal di dalamnya. Padahal saat aku masih menumpang dulu ukuran kulkasnya
lebih besar, tapi jenis bumbunya tidak sebanyak ini.
Namun, Shuri sepertinya
bisa menggunakan semua bumbu dalam jumlah banyak itu dengan baik. Ada sekitar
empat bumbu berakhiran ‘jan’ yang sama sekali tidak kutahu apa bedanya, apakah
ini yang namanya orang yang pandai memasak.
Lagipula, ‘jan’ itu
sebenarnya apa, sih.
Nasi goreng porsi super
besar—yang rasanya dicetak menggunakan mangkuk besar khusus untuk porsiku
saja—ini bukanlah tipe yang nasinya terpisah-pisah (pera), melainkan tipe yang
sedikit lembap.
Nasi goreng pera seperti
yang dimakan di restoran memang enak, tapi kalau dimakan dalam jumlah banyak,
minyaknya lumayan bikin perut begah.
Katanya ada juga restoran
yang memakai minyak sebanyak orang menggoreng. Dalam hal itu, nasi goreng
lembap ini memiliki rasa nasi goreng yang pas tapi tidak bikin enek,
jadi aku menyukainya.
“Nasi goreng seperti ini,
bagaimana caramu membuatnya? Wajan penggorengan kita kan tidak sebesar itu.”
“Hm? Pakai rice cooker
kok.”
“Bikin nasi goreng pakai
penanak nasi!?”
“Bisa dibuat dengan mudah,
lho~?”
“B, begitu ya...”
Begitu ya, ternyata ada
cara seperti itu.
Sepertinya dia memang
membeli sedikit tambahan peralatan masak, tapi sebagian besar dia memasak hanya
dengan barang yang ada di rumah. Oh begitu, ternyata dia memakai teknik semacam
itu.
Teksturnya yang berbeda
dari masakan restoran itu ternyata karena dibuat pakai penanak nasi, masuk
akal.
Sambil meminum sup telur
dan rumput laut wakame sebagai selingan, aku terus makan dengan fokus,
dan dalam sekejap nasi goreng yang porsinya kira-kira dua gou (sekitar
300 gram) itu lenyap dari piringku.
Saat aku sedang mengunyah
satu-satunya udang yang kusisakan, dengan santai Reni melemparkan udang pedas
manis miliknya ke piringku.
“Kamu mau makan, kan?”
“...Boleh nih?”
“Boleh kok.”
“Kalau begitu, aku terima
dengan senang hati—“
Aku menyendok udang besar
yang sampai meluber dari sendok itu, dan saat aku memasukkannya ke dalam mulut—
Shuri yang duduk di
depanku, membuka mulutnya dengan ekspresi tercengang.
“Re, Reni?”
“...Apa.”
“Yang tadi itu, bukannya
sisa gigitanmu~?”
...Hng?
Saat aku menoleh ke arah
Reni, ia memalingkan wajahnya dengan malu dan berkata, “A, aku salah ngasih.”
“Begitu, ya.”
Yah, kalau salah ngasih ya
mau bagaimana lagi. Tapi omong-omong, udangnya enak sekali. Teksturnya kenyal,
dan bukan cuma manis, tapi rasa pedas yang tertinggal di akhir itu terasa
sangat pas.
Shuri bergumam “Hng~...?”
sejenak, lalu ia menaruh nasi goreng di sendoknya dan mengulurkan tangannya ke
arahku.
“A, ayo buka mulutmu~?”
“Eh, a, iya.”
Aku membuka mulutku. Di
saat sendok itu hendak masuk ke dalam mulutku—
Tepat di ambang batas
antara menyentuh bibirku atau tidak, sendok itu dengan cepat ditarik kembali.
“Hei.”
“M, maaf bercanda, cuma
bercanda kok.”
Padahal kukira aku
benar-benar akan disuapi...
“Kalau mau tambah, masih
ada di penanak nasi kok. Tolong ambil sendiri dari sana ya?”
“O, oke.”
Shuri menatap lekat-lekat
sendoknya. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi yah, kurasa tidak perlu
terlalu dipikirkan.
Saat aku kembali setelah
mengambil tambahan nasi goreng sendiri, seolah-olah sudah menunggu, Reni
menyodorkan sendoknya ke arahku. Di atasnya, terdapat seekor udang.
“Dari tadi beneran nggak
apa-apa nih? Ini udang yang berharga lho.”
“Kalau nggak boleh, aku
nggak bakal ngelakuin ini.”
“...Benar juga, ya.”
Aku membuka mulut. Tidak
ditarik kembali seperti saat Shuri tadi, udang itu masuk ke dalam mulutku
dengan pas, jadi aku langsung menerimanya dan mengunyahnya.
Reni menarik kembali
sendoknya, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyuapkan nasi goreng ke
mulutnya sendiri. Apa udangnya sedikit pedas ya, wajahnya terlihat memerah. Eh,
tapi bukannya dia biasa makan makanan pedas?
Setelah selesai makan,
Shuri mengeluarkan puding tahu almond (annin tofu) kemasan dari kulkas
yang sepertinya dibeli di swalayan. Rupanya hari ini benar-benar festival
masakan Tiongkok sampai akhir.
“Omong-omong Shuri, kamu
tidak membuat dessert ?”
Karena tiba-tiba penasaran
aku pun bertanya, dan Shuri yang memegang tiga buah sendok di tangannya
menggaruk pipi dengan sedikit salah tingkah.
“Ah, yah, bukannya aku
tidak bisa membuatnya sih...”
“Tapi?”
“Waktu kelas 1, aku pernah
membuat kue untuk ulang tahun Reni, tapi porsinya agak terlalu banyak untuk
dihabiskan berdua... Terus pas dibekukan bentuknya malah jadi hancur
berantakan.”
“Aah...”
Benar juga. Ada yang
bilang kalau makanan manis itu punya ruang sendiri di perut, tapi itu hanya
berlaku untuk porsi satu orang.
Mustahil bagi mereka
berdua menghabiskan satu kue utuh, apalagi Reni makannya sedikit.
“Kalau Nogi, apa kamu tipe
yang bisa makan makanan manis sebanyak apa pun?”
“Tidak, kalau soal itu sih
porsiku standar.”
“Benar, kan~. Makanya,
kalau kamu mau makan aku bakal buatkan sih, tapi karena kami tidak bisa banyak
membantu soal menghabiskannya, kalau kamu nyuruh aku bikin, tolong siapkan
mental untuk hal itu ya.”
“O, oke... kalau begitu
untuk saat ini tidak usah deh.”
Aku pernah diajak teman
sekelas pergi ke restoran makan sepuasnya khusus kue, tapi pada akhirnya aku
malah terus-terusan makan kari dan kentang goreng.
Aku baru tahu saat itu
kalau aku tidak bisa makan makanan manis dalam jumlah besar.
Puding tahu almond ini
terasa sangat menyegarkan dan membilas rasa pekat yang tertinggal di dalam
mulutku.
•••
Saat mereka berdua pergi
mandi, aku belajar sendirian. Tak lama kemudian, Reni yang keluar dari kamar
mandi lebih dulu, menatapku dari atas dalam diam.
Aku sudah cukup terbiasa
dengan fakta bahwa Reni memakai kemejaku sebagai pakaian tidurnya, dan sekadar
informasi, ia juga tidak memakai bra sehabis mandi. Pihak sana juga sepertinya
sudah tidak peduli lagi meskipun dilihat.
“Ada apa?”
Mungkin karena baru
selesai mandi, wajah Reni terlihat sedikit memerah.
“Tolong, buka ruang di
situ.”
“Eh, ...di sini?”
Ia mengatakannya sambil
melihat celah antara meja dan tubuhku. Aku sedikit menggeser tubuhku untuk
membuat ruang, dan Reni langsung menyelusup masuk ke sana dengan pas.
Persis seperti kucing maskot
di kafe bergaya modern yang pernah kukunjungi bersama Onee-chan dulu.
Kalau dipikir-pikir, Reni
memang lumayan mirip kucing ya. Dia kan orangnya gampang berubah suasana hati.
Sebaliknya, Shuri itu
lebih mirip anjing. Bukan anjing kecil, melainkan anjing besar yang antusias
dan suka melompat-lompat menempel. Meskipun aku belum pernah memelihara
keduanya jadi ini murni cuma imajinasiku saja.
Si kucing—maksudku
Reni—tanpa mengatakan apa-apa menyandarkan punggungnya padaku, lalu mengambil
ponselnya yang sedang diisi daya di atas meja, dan mulai memainkannya dalam
diam.
Aku benar-benar tidak
mengerti apa maunya, tapi yang jelas ini bukan situasi yang pas untuk belajar,
jadi aku meletakkan penaku di atas meja.
Aroma sampo yang tidak
familier tercium dari rambutnya yang masih sedikit lembap.
“Ah, ini aroma sakura, ya.
Akhir-akhir ini aku merasa kamar ini baunya seperti musim semi, ternyata
asalnya dari rambut Reni, ya.”
“...Ternyata kamu bisa
menyadari hal semacam itu, ya.”
“Hal yang tidak membuatku
percaya diri itu cuma daya ingatku saja.”
Reni tertawa kecil “Kusu,”
dan hal itu bisa kusadari meskipun aku melihatnya dari sudut pandang layaknya
roh pelindung di belakangnya. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya, sih.
“Kamu boleh pakai sampoku,
lho. Kalau pakai sampo murah seperti itu rambutmu bisa rusak, kan.”
“Tidak... aku nggak berani
pakai barang yang kelihatan mahal begitu...”
Botolnya saja sudah
kelihatan mahal. Berapa kali lipat harga sampo yang sudah kupakai sejak dulu
itu. Kupikir harga botolnya saja sudah lebih mahal dari harga sampoku.
“...Padahal kamu punya
uang, tapi kamu tidak terlalu memedulikan hal-hal seperti itu, ya.”
“Mungkin pada dasarnya
mentalitasku ini mental miskin. Toh aku nggak bakal bisa membedakan efeknya
selain dari baunya, dan jujur saja, aku nggak terlalu paham konsep ‘rambut
rusak’ itu seperti apa.”
“...Masa sih?”
“Sejak kapan Reni mengecat
rambut dengan warna senekat ini?”
Hanya bisa disadari jika
dilihat dari jarak yang sangat dekat, tapi bagian akar rambutnya memiliki warna
yang sedikit berbeda. Namun, bukan hitam pekat, melainkan cokelat. Apakah warna
asli rambut akan berubah jika terus-menerus dicat?
“Sekitar 2 tahun yang
lalu, sih.”
“Hmm...?”
“Kenapa, kamu penasaran?”
“Tidak, perawatannya pasti
repot, jadi aku cuma kagum kamu bisa terus melakukannya selama bertahun-tahun.”
“...Oh, gitu.”
Rupanya itu bukan jawaban
yang ia harapkan. Merasa kecewa, Reni menghela napas pelan lalu mendesakkan
punggungnya padaku dengan gemas.
“...Daripada rambut
seperti ini, kamu lebih suka tipe gaya rambut yang seperti itu, ya?”
Suaranya sangat pelan,
tapi aku masih bisa mendengarnya.
Awalnya aku tidak mengerti
apa maksudnya, tapi aku segera sadar bahwa ia sedang membicarakan Onee-chan.
Aku hampir saja menyetujuinya, namun aku menahan diri.
“...Aah, tidak, mungkin
bukan begitu juga.”
“Masa?”
“Lagipula, aku tidak punya
selera khusus soal warna atau gaya rambut.”
“............Hmm.”
Lagipula Onee-chan juga
baru mengecat rambutnya setelah masuk universitas. Ya, warnanya tidak
semencolok Reni, melainkan cokelat gelap. Gaya rambutnya pun selalu
berubah-ubah, kadang dipanjangkan, kadang dipendekkan. Perasaan menyukai gaya
rambut tertentu secara spesifik tidak kumiliki, bahkan sampai sekarang.
Reni tampak sedikit
senang. Karena ada juga pria yang tidak suka rambut berwarna mencolok, mungkin
dia pernah mendapat pandangan seperti itu dari orang lain.
“Nogi.”
“Hm?”
“Ka-kamu, nggak niat cari
pacar?”
Karena ditanya mendadak,
aku menjawab, “...Itu, yah.”
“Untuk sekarang,
sepertinya belum.”
“............Begitu.”
“Dulu Shuri juga pernah
nany—“
“Nanya apa?”
Dia memotong ucapanku
dengan cepat.
“...Shuri pernah nanya
apakah aku tidak mau cari pacar.”
“............Terus kamu
jawab apa?”
Jawaban dari saat itu,
masih belum kutemukan.
“Aku jawab, aku akan
menunggu.”
“Nunggu apa? Nunggu ada
orang yang nembak kamu?”
“Bukan begitu maksudnya.
...Aku jawab, aku akan menunggu sampai muncul seseorang yang bisa membuatku
merasa seperti itu. Katanya, orang yang disukai itu bisa muncul secara
tiba-tiba, kan?”
“............”
Shuri pernah bilang kalau
cinta baru bisa ditemukan hanya dalam waktu 5 detik, tapi apakah itu benar?
Untuk saat ini aku belum bertemu dengan orang yang terasa seperti itu.
Kupikir dia akan
menghinaku lagi, tapi ternyata sikap Reni sedikit berbeda. Dia terlihat seperti
sedang bimbang, seolah sedang memilih kata-kata.
“...Kamu suka yang lebih
tua?”
“Hm? Kenapa tiba-tiba
nanya begitu?”
“Soalnya, yang beda 6
tahun itu kan...”
Oh, maksudnya soal Onee-chan
rupanya.
“Tidak juga kurasa.
Habisnya, pengalaman cinta pertamaku cuma sekali lho. Kalau aku pernah jatuh
cinta pada dua orang dan dua-duanya lebih tua, mungkin aku bisa membenarkannya,
dan kalau sudah tiga orang aku bisa yakin. Tapi kalau cuma satu dari satu
orang, rasanya belum pasti, kan?”
“...Begitu.”
“Siapa tahu... ternyata
aku lebih suka yang lebih muda?”
“Mesum.”
“Aku cuma bercanda...”
Padahal aku cuma bercanda
tapi balasannya kejam sekali. Tolong jangan tancapkan kukumu di tulang
keringku. Itu beneran sakit.
“...Lagipula, Reni juga
kebanyakan bakal dikira lebih muda, kan.”
“Ha, hah!? Dasar mesum!”
“Bukan begitu maksudnya!
Maksudku apa kamu pernah dikira anak kelas 3 SMA!”
“............”
“Laki-laki yang nembak
Reni, apa boleh diputuskan sebagai orang mesum semuanya? Berarti pacarmu nanti
juga pasti masuk kategori mesum dong.”
“............Boleh saja
kok.”
Ternyata boleh.
“...Lagipula, aku nggak
butuh yang namanya pacar...”
Dia mengatakannya dengan
suara yang sangat pelan. Shuri juga bilang begitu, bahkan Onee-chan juga pernah
mengatakan hal yang mirip, jadi kurasa itu bukan pengakuan yang memalukan.
Lagipula, padahal dirinya
sendiri tidak tertarik punya pacar, tapi dia peduli apakah aku mau cari pacar
atau tidak ya. Mengatakan hal itu mengingatkanku pada Shuri yang juga bersikap
serupa. Padahal aku sudah bilang tidak akan mengusir mereka meskipun aku punya
pacar.
“Dooong!”
Tiba-tiba ada benturan di
punggungku. Sepertinya tanpa kusadari Shuri juga sudah selesai mandi.
Tubuhku nyaris terdorong
jatuh oleh massa benda yang ukurannya melampaui manusia normal itu, dan aku
berusaha mendorongnya kembali dengan kekuatan otot punggungku. Kalau tidak,
Reni yang ada di pelukanku bakal kegencet.
“...Tiba-tiba ada apa
sih.”
“Eee, kayaknya curang
banget deh~”
“Cu-curang, curang
apanya.”
Tangan Reni yang memegang
ponsel dengan kedua tangannya gemetar. Kupikir dia sedang menonton video karena
dia diam saja, tapi ternyata tanpa sadar layar ponselnya sudah mati. Dari
belakang sini, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.
“Hm?”
Kupikir Shuri akan terus
bersandar padaku, tapi dia tiba-tiba melepaskanku, membuatku hampir terjengkang
ke belakang karena momentumnya.
“Mau ke mana?”
“Eh, yah... nempel-nempel
begini kayaknya kurang baik deh.”
“Kalau gitu jangan lakuin
dari awal dong...”
Meskipun sudah berdiri,
Shuri tampak bingung harus duduk di mana. Mungkin karena teringat bahwa Reni
sedang tidak duduk di sana, ia pun duduk di sofa bean bag dan
mengulurkan kakinya ke arahku. Kakinya yang menjulur itu menendangku pelan
“pesh,” jadi aku menyingkirkannya.
Kalau dulu sepertinya dia
akan terus menempel padaku seperti ini, tapi akhir-akhir ini aku merasa jarak
di antara kami sedikit menjauh. Mungkin karena aku pernah bilang kalau aku
menolong mereka bukan karena mereka itu spesial?
Sebaliknya, Reni terasa
semakin dekat sejak kejadian itu. Tapi Shuri sedikit menjauh. Hubungan
antarmanusia itu memang sulit, ya.
“Kalau kamu santai, tolong
keringkan rambutku.”
“Padahal aku lagi nggak
santai lho...?”
Padahal sampai kalian
keluar dari kamar mandi aku sedang belajar lho? Lagian apa aku tidak boleh
mandi juga?
Yah, berdebat di sini juga
tidak akan menyelesaikan masalah, jadi dengan terpaksa aku mengambil pengering
rambut yang masih terhubung ke stopkontak.
•••
Nogi yang memegang
pengering rambut mulai mengeringkan rambut Reni.
Kayaknya akhir-akhir ini
dia selalu ngelakuin itu deh, tapi ya ampun, itu sumpah bikin iri banget nggak
sih?
Perempuan itu cuma mau
membiarkan rambutnya disentuh oleh orang yang hubungannya sudah sangat dekat
tahu. Bagi laki-laki mungkin itu cuma bulu yang tumbuh di kepala, tapi bagi
perempuan itu beda maknanya.
...Pasti, dia paaaasti
nggak ngerti soal itu.
Perlahan aku menjulurkan
kakiku dan menempelkannya ke punggung Nogi. Sejenak ia melirik ke arahku, tapi
karena kedua tangannya sibuk, ia tidak bisa menyingkirkannya.
Punggung yang hangat, tapi
sangat keras. Apakah itu otot? Lakuin apa coba sampai punggung bisa berotot?
Karena penasaran, aku menyusupkan ujung jari kakiku dari bawah ujung bajunya,
dan saat bersentuhan dengan kulit aslinya—
—Deg, jantungku
berdegup kencang, dan tanpa sadar aku langsung menarik kakiku.
Nogi menatapku dengan
heran, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
(Enggak, enggak,
enggak, enggak...)
Padahal cuma kulit kami
yang bersentuhan. —cuma itu saja, tapi.
Jantungku masih
berdebar-debar kencang. Wajahku terasa panas, jadi untuk menyembunyikannya aku
membenamkan tubuhku kuat-kuat ke sofa.
“Kamu pusing habis mandi
air panas?”
Ia bertanya begitu padaku.
Ah, ternyata wajah merahku ketahuan ya.
“Ngg~, aku nggak apa-apa
kok~”
“Mending kamu minum air
putih sana.”
“...Ide bagus.”
Aku berdiri dan menuju
dapur, lalu menenggak air keran yang diisi penuh es batu.
Fuuh, aku sudah sedikit
lebih tenang. Aku terus menatap mereka berdua yang sedang asyik mengeringkan
rambut dari dapur, tapi ya ampun, tetap saja bikin iri.
(Tapi yaa...)
Kalau aku minta
dikeringkan juga, dia mungkin bakal melakukannya.
Lagipula Nogi ini kelewat
terbiasa mengeringkan rambut perempuan nggak sih? Cara mengatur suhunya, cara
mengarahkan anginnya, jelas itu bukan gerakan orang amatir. Bukan karena dia
jadi terbiasa setelah mengeringkan rambut Reni, tapi dia memang sudah begitu
sejak awal.
Artinya, selama ini dia
sudah terbiasa menjadikan rutinitas mengeringkan rambut perempuan sebagai
kesehariannya, makanya dia tidak menolak atau merasa enggan. Kalau begitu,
semisal aku tiba-tiba minta dikeringkan rambutnya, sepertinya dia bakal
melakukannya tanpa banyak bertanya—sih, harusnya begitu.
(Nggak, aku nggak
sangguuup...)
Mengeringkan rambut kan
berarti ngebiarin dia nyentuh kepalaku, kan? Walau nggak seintim Reni, tapi
badan kami bakal nempel, kan?
Kalau sampai digituin, aku
bisa mati karena malu. Akhir-akhir ini kalau tatapan kami bertemu saja aku udah
sedikit deg-degan, mana sanggup aku lakuin hal kayak gitu. Aku pasti nggak
bakal kuat nahan malunya.
Sekarang saja, cuma
ngebayangin rambutku dikeringkan olehnya udah bikin aku malu sendiri sampai
harus sembunyi di dapur begini.
(Padahal kalau
dulu...)
Dilihat pakai pakaian
dalam pun, atau pas baru keluar dari kamar mandi, aku merasa itu seperti ngasih
hadiah padanya.
Kalau sekarang, jelas
sudah beda. Aku nggak punya kelonggaran hati buat ngasih hadiah begitu. Tadi
juga aku iseng nempel karena terbawa suasana, tapi karena takut ketahuan
jantungku deg-degan, aku langsung menjauh. Sayang banget ya.
“Shuri.”
“Heea!?”
Tiba-tiba diajak bicara,
aku sampai ngeluarin suara aneh.
“Lagi apa di situ? Bukan
karena pusing kliyengan, kan?”
“Ah, iya, cuma main HP aja
kok. Jangan dipikirin~, ada apa?”
“Rambut. Rambut Reni sudah
selesai, jadi biar aku yang keringkan punya-mu.”
“............Kalau
begitu,”
Saat aku menampakkan wajah
dari dapur, Nogi menatapku dengan wajah keheranan. Tanpa kusadari Reni sudah
kembali ke posisi tetapnya di bean bag, memegang HP dengan kedua tangan
dan wajah sedikit kemerahan.
“K, kalau gitu aku terima
tawaranmu yaa~”
“Sip, kemari. Mumpung
sekalian.”
“Kalau gitu, permi—“
Saat aku kembali ke ruang
tamu, tempat duduk Reni tadi terlihat kosong, jadi aku berniat untuk duduk di
sana—
Melihat ke bawah,
gerakanku untuk duduk langsung berhenti.
“...Ada apa?”
“Maaf, mau ke toilet.”
“O, oh, begitu.”
“Biar kukeringkan sendiri,
kamu mandi duluan aja sana~”
Aku berbalik membelakangi
Nogi yang terlihat heran namun dengan wajah sedikit kecewa. Dari sudut
pandanganku, kulihat Reni menatapku dalam diam.
Begitu aku berlari masuk
ke toilet, lampu notifikasi di HP yang kupegang berkedip.
‘Kamu kabur, kan’
Dari Reni.
‘Kenapa mikir gitu?’
‘Insting aja’
Aku tidak punya kata-kata
untuk membalasnya. Tapi, kalau aku tetap nekat duduk di sana—
(Reni tadi duduk
di mana, sih...!?)
Di antara meja dan Nogi,
celahnya lebih sempit dari yang kubayangkan.
Kalau aku duduk di posisi
seperti itu, bokongku pasti bakal ngegencet ‘bagian penting’ laki-laki
miliknya, kan!? A, apa nggak apa-apa tuh!? Reni sih badannya ringan makanya
aman!? Tapi aku ini kan berat dan lebarnya beda jauh dari Reni...!?
Bagaimanapun juga, aku
nggak punya nyali buat duduk di celah sesempit itu. Biarpun Nogi nggak peduli,
aku yang peduli tahu.
“Aaaahhh............”
Sayang banget aku
melewatkan kesempatan emas... Apakah kesempatan berikutnya bakal datang?
•••
“Lho, ulang tahun Nogi
bulan depan toh.”
Sambil berguling-guling di
tengah kasur main HP, tiba-tiba Shuri mengatakan hal itu.
“Kenapa kamu bisa tahu?”
“...Benarkah?”
Ia mengulurkan tangannya
ke arahku dan Reni yang duduk di sisi ranjang, lalu memperlihatkan layar
HP-nya.
Layar itu menampilkan
aplikasi semacam kalender pengatur jadwal, tapi hampir setiap hari ada
informasi yang tertulis di sana. Rasanya tidak mungkin dia punya acara sebanyak
itu—
Namun, saat kubaca
baik-baik, ternyata itu bukan acara. Yang tertulis di jadwal itu sepertinya
adalah nama orang. Tanggal 12 Juni—di sana tertulis ‘Nogi Meguru’.
“Apaan tuh.”
“Daftar ulang tahun
orang-orang yang pernah kutemui selama ini...”
“”Ngeri banget...””
Reaksiku dan Reni tumpang tindih.
“Hei, reaksi macam apa itu
kalian berdua~”
“...Eh, nggak, seberapa
rajinnya kamu nyatet ginian? Lagipula, aku nggak pernah cerita soal ulang
tahunku ke Shuri, kan?”
“Aku lupa dengar dari
mana, tapi tanggalnya benar, kan?”
“Benar, sih...”
Agak seram lho ini. Kalau
pas hari ulang tahun aku masuk sekolah, mungkin aku pernah keceplosan bilang ke
seseorang, tapi apa dia nyatet hal-hal kecil begitu satu per satu? Apalagi pas
kami belum akrab? Berarti wajarnya tanggal lahir semua anak sekelas ada di
catatannya, dong...
Hampir setiap hari ada
nama seseorang. Berarti jumlahnya lebih dari 365 orang, kan. Seberapa luas sih
jaringan pertemanannya anak ini. Beneran seram lho.
“Ah, tanggal 12 Juni itu
Hari Kekasih, lho. Lagian itu hari libur, mau lakuin hal yang romantis ala
sepasang kekasih?”
“...Bukannya itu sesuatu
yang dilakuin sama pacar?”
“Nggak apa-apa, kan?”
“Emang boleh...!?”
Tapi, andaikan hari
peringatan Hari Kekasih itu memang ada, apa yang wajarnya dilakukan oleh orang
yang tidak memiliki hubungan asmara?
“Katanya hari itu untuk
saling bertukar kado.”
Karena habis mencari tahu
di internet, Reni memberitahukan hal itu kepadaku. Oh begitu, terkesan kasual
ya. Kalau cuma sebatas itu, rasanya nggak masalah meskipun bukan pacar. Walau
mari kita kesampingkan dulu fakta bahwa elemen ‘memberi’ telah ditambahkan pada
hari ulang tahun yang seharusnya cuma tentang ‘menerima’ kado.
“Bertukar kado itu...
bukannya idenya bentrok dengan hadiah ulang tahun?”
“Boleh-boleh aja, kan.”
“...Ya sudahlah.”
“Nogi, ada barang yang
kamu pengen?”
“Kasur.”
“”Selain itu.””
“Kalau gitu futon.”
“”Selain itu.””
“Kalau permintaanku nggak
diturutin, ngapain nanya coba!?”
“Masih ada yang lain, kan.
Kayak benda yang nggak ninggalin wujud fisik, gitu lho.”
“Hadiah yang nggak
ninggalin wujud fisik itu apaan...!? Puisi Jepang kuno gitu...!?”
Kamu nyuruh aku jadi
penyair zaman Heian?
“Hei, Reni pasti ada
sesuatu yang pengen dikasih ke Nogi, kan?”
Reni tersentak kaget.
Ternyata ada!? Hadiah yang nggak ninggalin wujud fisik itu...!?
“Kalau aku sih udah
mutusin mau ngasih apa~”
“Eh,”
Dengan panik Reni menoleh
ke belakang, menatap lekat-lekat ke arah Shuri—
“A, aku juga pilih itu.”
“Benar niiih~? Emangnya
kamu bisaaa~?”
“B, bisa kok!!”
Sepertinya mereka sudah
memutuskan akan memberiku hadiah apa. Tapi, terlepas dari Hari Kekasih itu,
hari itu kan murni ulang tahunku lho. Tolong kasih hadiah biasa yang ada wujud
fisiknya dong. Kasur kek.
“Saling bertukar kado
berarti aku juga harus mikirin mau ngasih apa, ya.”
“Yah, ngikutin suasana pas
hari-H aja nggak sih?”
“Kalau tiba-tiba disuruh
bales puisi sastra, aku nggak bisa lho ya!? Aku nggak punya ilmu sastranya!?”
“Nggak bakal sesulit itu
kok, ya kan?”
“...Kalau begitu, buat
jaga-jaga aku nanya, kapan ulang tahun kalian berdua?”
“Kalau aku bulan
Februari~”
“Oktober.”
“Masih lumayan lama, ya.
...Eh, tunggu, Februari? Berarti Shuri yang ulang tahunnya paling telat di
antara kita!?”
“Eh, iya, emangnya nggak
nyangka?”
“Ya gimana nggak
nyangka...”
Walaupun korelasi antara
bulan kelahiran dan postur fisik hampir tidak ada lagi saat memasuki usia SMA,
tapi hal ini tetap saja mengejutkan.
Shuri, dengan
penampilannya yang seperti ini ternyata lahir di awal tahun (kelahiran muda).
Ditambah lagi Reni sedikit lebih tua dari dia. Jelas-jelas ini kebalik.
“Sesuai pepatah ‘anak yang
banyak tidur akan tumbuh besar’ kali, ya~?”
“...Tapi jam tidur Reni
jelas lebih panjang, lho.”
Biasanya juga dia selalu
tidur sampai batas mepet mau masuk sekolah.
“Reni mah tengah malam
main HP teeruuuus, kan.”
“Hentikan kebiasaan itu!”
“Nggak bisa.”
“Gimana kalau kedua
tanganmu kugenggam biar kamu nggak bisa main HP?”
“Me, mesum!”
Tiba-tiba pinggangku
ditendang dan aku terguling jatuh dari sisi ranjang. Habisnya, alasan mata
minus dan badannya pendek pasti gara-gara begadang main HP, kan.
Aku dan Shuri memiliki
mata yang sehat (tidak butuh kacamata), tapi Reni memakai lensa kontak.
Sepertinya dia tidak suka memakai kacamata karena akan meninggalkan bekas di
hidungnya.
Aku baru menyadari kalau
Reni memakai lensa kontak setelah beberapa saat kami tinggal bersama, tapi
alasan kenapa dia selalu menyipitkan matanya saat baru bangun tidur atau
sehabis mandi adalah karena dia hampir tidak bisa melihat apa-apa tanpa lensa
kontak.
Kalau dipikir-pikir, pas
sehabis mandi jarak layar HP dengan wajahnya memang jauh lebih dekat dari
biasanya, ya.
“Tapi, tengah malam begitu
kamu ngapain aja?”
Karena menyerah, aku
menatap Reni dari bawah sambil duduk di lantai, lalu dia merapatkan pahanya
dengan malu. Padahal apa yang harus dimalu—
...Hm? Dia pakai bawahan
nggak sih ini? Sejenak aku merasa melihat selembar kain berenda, tapi mungkin cuma
perasaanku saja.
“...Baca manga.”
“Aah... begitu ya. Begitu
rupanya.”
“Lho, Nogi nggak baca manga?
Kalau dipikir-pikir aku emang nggak pernah lihat kamu baca sih.”
“Nggak sama sekali. Nggak
ada koleksi komik di rumah, dan aku juga nggak terlalu tertarik sampai mau
beli.”
“Eeeh, kamu melewatkan
asyiknya hidup tahu~”
“Berisik amat.”
Naksir orang yang nggak
boleh ditaksir, beli rumah demi lamaran yang sudah pasti gagal, dan pada
akhirnya nggak baca komik pun dibilang rugi? Berarti hidupku ini isinya rugi
melulu dong.
“Kalau gitu, tebak-tebakan
aja nggak apa-apa, mau jawab pertanyaanku nggak?”
“Eh, o, oke?”
“Semisal ada dua orang heroine,
lalu ada tokoh utama laki-laki yang nggak memilih salah satu tapi malah pacaran
sama dua-duanya... Kalau Nogi, gimana tanggapanmu?”
“...Tes psikologi?”
“Kira-kira begitulah~”
Aku paling tidak suka
hal-hal semacam itu. Hasil diagnosisnya pasti nggak ada yang benar.
“Premisnya kurang jelas.
Apa tanggapan sang heroine mengenai hal itu?”
“Kelihatannya... mereka
setuju?”
“Kalau gitu nggak apa-apa,
kan? Kalau ketiganya setuju, berarti itu adalah penyelesaian yang paling indah,
kan.”
“...Begitu ya.”
Shuri mengangguk-angguk
setuju. Reni—tampak lega. Setidaknya itu bukanlah jawaban terburuk.
“Terus hasilnya apa?”
“Eh? Hasil?”
“Kan tadi katanya tes
psikologi. Kalau hasil diagnosisnya ternyata ‘Laki-laki yang milih pacaran
bertiga itu laki-laki sampah’ atau sejenisnya, aku beneran bakal sakit hati
lho.”
“Aaah... Sebentar ya, aku
baca baik-baik.”
Mereka berbisik-bisik
berdiskusi di atas ranjang, apa hasilnya parah banget?
“Hng~... Kayaknya lebih
baik kamu nggak usah tahu deh.”
“Tunggu! Aku pasti bakal
sakit hati sih, tapi setidaknya kasih tahu jawabannya dong!”
Saat aku buru-buru
berdiri, mereka berdua yang sedang mendekatkan wajah menatap satu layar HP yang
sama, mendongak menatapku.
“Eeh, beneran nggak
apa-apa nih?”
“I, iya. Aku sudah siap
mental.”
“Hmm, kalau gitu—“
Shuri memberi isyarat
memanggilku dengan tangannya. Saat aku mencondongkan badan untuk melihat layar
HP Shuri yang tergeletak di atas ranjang—
“Iniiih maksudnyaa~”
Tiba-tiba Shuri
mengulurkan tangannya, menarik bahuku, dan mendorongku jatuh ke atas kasur.
Monyun, begitu bunyinya.
Tubuhku tertahan oleh bantal yang sangat empuk.
“Hah?”
“Dasar mesuum~”
“Bukan, yang barusan itu
kecelaka—“
Aku mengerahkan tenaga di
kedua tanganku untuk mencoba bangkit, tapi tempat tanganku berpijak itu salah
besar. Itu adalah... dadanya Reni.
Dan sebagai catatan
tambahan, setelah mandi Reni selalu tidak memakai bra.
Wajah Reni memerah padam,
dan dia gemetar hebat—
(Ah,)
Aku bakal dibunuh. Sambil
perlahan menjauhkan tanganku dengan kepasrahan seperti itu, detik berikutnya.
“M, maaf!!”
Reni yang menutupi dadanya
dengan wajah semerah tomat, menatapku tajam—
“...Bukan apa-apa.”
Ia bergumam pelan dan
memalingkan wajahnya dariku.
Padahal aku sudah siap
mental ditinju wajahku, tapi anehnya reaksiku di luar dugaan. Saat aku sedang
kebingungan mencerna kejanggalan ini, tiba-tiba lampu kamar mati.
“Eh,”
“Waktunya tidur.”
“A, oke...”
Aku sempat panik sebentar,
tapi sepertinya ini bukan mati lampu, melainkan Reni yang mematikannya pakai
remot.
“L, lengannya.”
Di dalam kegelapan,
seketika secercah cahaya kecil menyala.
Cahaya layar ponsel Reni
menerangi wajahnya dengan pendar yang lembut.
Dengan suara kecil yang
bergetar, Reni berucap.
“............Pinjamkan,
lenganmu.”
“...Aaah, kalau itu bisa
jadi permohonan maaf, aku akan meminjamkannya sepuasnya.”
Mengandalkan cahaya
remang-remang itu, aku menyelusup ke kasur. Reni menggeser-geser lenganku dan
memposisikannya, lalu ia meletakkan kepala kecilnya di lenganku.
“Eh, curang... Buat aku
permohonan maafnya mana?”
“Kalau kamu mah sengaja,
kan!”
“Meskipun begitu, ...nggak
boleh?”
“...Bukannya, nggak boleh
sih.”
Saat aku menjulurkan
lengan satunya yang masih bebas, Shuri langsung menaruh kepalanya di sana. Dari
awal aku memang sudah diapit dari kiri dan kanan jadi nggak bisa bergerak
leluasa, tapi dengan begini aku benar-benar nggak bisa guling-guling lagi di kasur.
“Nogi,”
“Hm?”
Dengan suara seperti
bisikan di telingaku, Shuri mengajakku berbicara.
“Melakukan hal seperti
ini, kalau menurut definisi ‘keluarga’ versi Nogi, biasa dilakukan?”
“Yah, biasa kan.”
“Beneran?”
“Iya.”
Kami ini tidak sedang
berpacaran. Aku tidak pernah menembak mereka, dan tidak pernah ditembak juga.
Kalau begitu, hubungan
kami bertiga ini seharusnya masih sama seperti pertama kali kami bertemu.
Menyebut orang yang
tinggal serumah sebagai ‘keluarga’, menurutku itu adalah hal yang sangat wajar.
—Namun, benarkah bentuk
keluarga seperti ini?
Jangan-jangan, ada sebutan
lain yang lebih tepat untuk hal ini?
Belakangan ini, pemikiran
seperti itu terkadang melintas di kepalaku.
Namun sampai kapan pun,
aku tak kunjung menemukan jawabannya.
Meski begitu, aku tahu
betul apa alasan yang membuat mereka berdua mau membuka hati sejauh ini.
(Karena aku ini
tidak berbahaya... kan.)
Karena aku, tidak akan
melukai mereka berdua.
Makanya, mereka
mempercayaiku. Setidaknya, hanya hal ini yang tidak mungkin salah.
Kalau begitu, sebagai
seorang pria, aku harus membalas kepercayaan tersebut.
Aku ini, tidak punya
kemampuan untuk menebak-nebak perasaan orang.
Oleh karena itu, aku
memutuskan untuk tidak mempercayai hal apa pun kecuali hal yang diucapkan
secara langsung kepadaku.
Karena jika tidak begitu,
saat aku salah paham lagi, itu akan sangat menyakitkan.
Sampai tiba saatnya mereka
berdua menghilang dari hadapanku, aku akan terus menjadi manusia yang tidak
berbahaya.
—Karena kupikir, hanya
itulah, satu-satunya jalan yang bisa kupilih.



Post a Comment