Episode 2 “Karena Aku
Tidak Menggunakannya”
Waktu istirahat kerja
paruh waktu. Saat kulihat jam, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 19.00.
Karena sampai beberapa
saat lalu aku terus bergerak mengangkut barang berat, tubuh di balik pakaian
kerjaku dibanjiri keringat.
Saat aku membuka
ritsleting untuk membiarkan angin masuk, embusan angin malam di bulan Maret
terasa sangat menyejukkan.
Pekerjaan paruh waktu di
lokasi konstruksi yang kumulai saat kelas 1 SMA ini, masih belum kutinggalkan
meski sekarang aku sudah memiliki rumah. Malahan, aku bekerja lebih lama
dibandingkan sebelumnya.
Sambil menatap langit
gelap tanpa bintang dan menggigit roti manis yang empuk seperti spons, seorang
pria paruh baya duduk di sebelahku. Dia adalah pria yang kadang-kadang kujumpai
saat bekerja.
“Nogi-kun, akhir-akhir ini
sering terlihat, ya. Padahal ini hari biasa, rajin sekali.”
“...Terima kasih.”
“Ada masalah, kah?”
“Tidak, bukan hal yang
pantas untuk diceritakan, kok.”
“Yah, aku bahkan tidak
pernah duduk di bangku SMP, jadi aku sama sekali tidak paham dengan
permasalahan anak sekolah.”
“.........”
Pria yang tertawa
merendahkan dirinya sendiri itu, mengisap rokok dengan sekaleng kopi di satu
tangannya.
Kuingat dia pernah
bercerita kalau dia harus menghidupi seorang istri dan empat orang anak.
Dibandingkan denganku yang terus meratapi patah hati, dia jauh lebih dewasa.
Dan dengan orang seperti
itulah, aku yang hanya anak SMA biasa ini bekerja berdampingan. Lokasi
konstruksi memang selalu kekurangan tenaga kerja.
“Yah, jalani saja, nanti
juga beres sendiri.”
“...Apa benar begitu, ya.”
“Hei Nogi-kun. Aku tidak
tahu apa yang terjadi, dan mungkin aku tidak bisa memberikan solusi meski
mendengarnya, tapi jangan pasang wajah seolah-olah hidupmu sudah berakhir
begitu.”
“...Memangnya wajahku...”
“Kelihatan, kelihatan
jelas. Dulu aku juga pernah berpikir hidupku benar-benar sudah tamat saat
mantan pacarku kabur membawa semua uangku, tapi sekarang aku sudah menikah dan
punya anak.”
“Itu, cerita kapan?”
“Hng, sekitar 30 tahun
yang lalu, ya?”
“30... butuh waktu berapa
lama untuk bangkit kembali?”
Mendengar pertanyaanku,
pria itu menyeringai dan mengacungkan jarinya. Tiga jari.
“...Tiga tahun?”
“Tiga hari.”
“Tiga hari!?”
“Bukan, bukan begitu,
soalnya banyak yang terjadi. Ada drama epik selama 72 jam...”
Seakan-akan untuk
menghentikan pria yang baru saja ingin mulai bercerita, alarm tanda waktu
istirahat selesai berbunyi. Aku memasukkan sisa rotiku ke dalam mulut dan
berdiri.
“...Lain kali, tolong
ceritakan lagi, ya.”
“Sip.”
Hanya saat aku
menggerakkan tubuhkulah, aku tidak perlu memikirkan apa pun.
Karena itu, baik sepulang
sekolah maupun akhir pekan, aku hampir selalu masuk bekerja sejak patah hati.
Aku hanya libur bekerja
sehari dalam seminggu. Tidur lelap seperti orang mati, lalu kembali bekerja.
Sejak libur musim semi
dimulai, aku mulai berkeliling ke dua lokasi kerja yang berbeda, sehingga aku
menghabiskan lebih dari 12 jam sehari di tempat kerja paruh waktu.
Padahal aku sudah tidak
punya alasan untuk menabung uang lagi.
—Meskipun begitu,
Karena aku tidak tahu cara
lain untuk mengalihkan pikiran selain bekerja, aku terus bekerja tanpa
memikirkan hal lain.
Aku menerima gaji yang
diberikan secara tunai pada tanggal 25, dan mau tidak mau tersenyum kecut
merasakan ketebalan amplop itu. Mungkin, jumlah ini dengan mudah melampaui
rekor gaji terbanyakku saat liburan musim panas lalu.
Waktu libur musim panas,
aku ada rencana bermain dengan teman-teman, dan aku juga belajar untuk
persiapan ujian masuk universitas. Aku bahkan pergi menghadiri open campus.
Oleh karena itu, meskipun
libur musim panas berlangsung lebih dari sebulan, aku tidak pernah bekerja
penuh selama satu bulan kalender.
Tapi, bulan ini berbeda.
Sepulang sekolah, setiap hari aku bekerja sampai pukul 22.00, batas waktu
maksimal anak sekolah diizinkan bekerja. Sama halnya saat libur musim semi
dimulai.
Pantas saja, kalau aku
bekerja sebanyak itu, amplopnya akan setebal ini. Aku menjejalkan amplop tebal
itu dengan sembarangan ke dalam sakuku, lalu berjalan menelusuri jalanan malam.
Lokasi kerja hari ini ada
di pekerjaan perbaikan pipa air dekat distrik hiburan. Kota-kota yang usianya
sudah cukup tua di mana pun biasanya sudah jauh melewati masa pakai pipa air,
jadi pekerjaan semacam ini memang sering dilakukan.
Para pria dewasa yang
bekerja bersamaku ribut membicarakan di mana mereka akan minum-minum dengan
amplop gaji di tangan, tapi tentu saja aku tidak diajak. Wajar karena aku masih
di bawah umur.
Aku menyapa beberapa orang
yang kukenal, lalu berjalan lurus menuju stasiun.
Lampu neon yang terang
benderang terlihat seperti dunia yang berbeda.
Waktu sudah menunjukkan
lewat pukul 22.00. Waktu yang terlalu larut untuk anak SMA berjalan sendirian.
“...Hng?”
Saat aku melewati rute
terpendek menuju stasiun, melewati jalanan yang dipenuhi club host,
club malam, dan hotel cinta, tiba-tiba aku menoleh karena merasa melihat
wajah yang kukenal.
Tidak mungkin ada
kenalanku di tempat seperti ini. Mengingat jamnya juga, ini pasti perasaanku
saja.
—Tapi, ternyata aku salah.
“...Himori?”
Himori Shuri. Siswi
perempuan yang sudah sekelas denganku selama dua tahun.
Tingginya yang sedikit di
atas rata-rata laki-laki, terlihat semakin tinggi karena sepatu hak yang
dikenakannya. Tipe kecantikannya bukan imut, melainkan rupawan dengan proporsi
tubuh idaman. Dia adalah sosok sentral di kelas yang ramah dan bersahabat dengan
siapa saja.
Kenapa Himori ada di
tempat seperti ini?
Keraguan itu berubah
menjadi kepastian saat aku melihat pria yang berjalan di sebelahnya.
Hubunganku dengan Himori
bukan berarti buruk, tapi kami tidak cukup dekat hingga aku berhak ikut campur
perihal pergaulannya. Karena itu, kalau pria itu memang pacarnya, aku tidak
berhak membicarakan perbedaan usia mereka—
—Setidaknya, begitulah
niatku.
Namun tubuhku, kakiku,
melangkah ke arah sana.
Setelah jarak kami cukup
dekat agar suaraku terdengar, Himori akhirnya menyadariku.
“Eh, N-Nogi!? K-kenapa
kamu ada di sini!?”
Bukan pada Himori, aku
menatap pria itu.
—Mata yang merendahkan.
Perut yang buncit. Jam tangan mewah yang memperlihatkan kekayaannya.
Aku langsung tahu bahwa
pria itu bukan pacarnya, karena senyuman Himori jelas terlihat sangat canggung.
Di sekolah, saat dia
bicara dengan siswa laki-laki mana pun, bahkan saat bicara dengan guru yang
dibenci siswi perempuan sekalipun, dia tidak pernah menunjukkan wajah seperti
ini. Kalau ini benar-benar pacarnya, aku akan meminta maaf nanti.
“Berapa?”
Aku bertanya pada pria
itu, bukan Himori. Aku tahu percakapan tidak akan membuahkan hasil dengan
Himori yang sedang panik.
“Lima puluh ribu yen di
luar biaya hotel. Siapa kamu ini? Pacarnya? Temannya? Bisa tolong jangan
mengganggu?”
“Itu bayar setelah
selesai? Atau sebelumnya?”
“Sebelumnya, makanya
kamu—“
“Dia ini anak SMA. Paham?”
“.........”
Saat aku menunjuk Himori,
pria itu terdiam dan memalingkan wajahnya. Wajahnya menunjukkan bahwa dia
menyadarinya.
Aku menarik keluar amplop
yang sebelumnya kumasukkan sembarangan ke dalam saku, lalu menekannya ke tangan
Himori tanpa mengecek isinya.
Entah berapa jumlahnya,
tapi dari ketebalannya, pasti jauh lebih dari lima puluh ribu yen.
“Dasar, jangan jual dirimu
dengan harga murah.”
“...Eh?”
“Hargailah tubuhmu
sedikit. Uang itu tidak perlu dikembalikan juga tidak apa-apa.”
“Eh, tunggu, ...tunggu!”
Sambil mendesah berat,
pria itu menjauh dari Himori. Jika ketahuan membeli siswi SMA dengan uang, yang
akan repot dan kebingungan bukanlah diriku, melainkan pria itu. Kalau sampai
menjadi masalah besar, ia bisa ditangkap polisi.
Jika pria itu sudah
menjauh, tidak ada lagi yang perlu kukatakan.
Namun, kenyataan bahwa
teman sekelasku, apalagi Himori, melakukan hal semacam ini, sejujurnya
membuatku terkejut.
Tapi, aku tidak tahu
apakah ini perbuatan pertamanya atau bukan, dan mungkin ada alasan mengapa dia
sangat membutuhkan uang. Kalaupun dia memang sering melakukannya, tindakanku
tadi benar-benar hanya campur tangan yang tidak perlu.
Hari ini aku
menghentikannya karena kebetulan melihatnya, tapi untuk ke depannya aku tidak
tahu. Aku bukan orang berhati mulia yang merasa harus menyelamatkan semua umat
manusia, dan Himori juga bukan orang yang memiliki hubungan spesial denganku.
Karena urusanku sudah
selesai, aku berniat meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba bahuku ditarik
dengan kuat.
Aku menoleh ke belakang,
tetapi kata-kata yang ingin kuucapkan sudah bulat.
“Tenang saja, aku tidak
akan membocorkan ini ke siapa-siapa, kok.”
“Bu-bukan itu
maksudku...!”
“Ada hal lain lagi?”
“.........Maaf.”
Kalau kamu punya niat
untuk meminta maaf, dari awal jangan lakukan hal semacam ini. Aku mengatupkan
bibirku yang hampir mengucapkan kata-kata itu.
Yang seharusnya mengatakan
hal tersebut bukanlah diriku yang hanya sekadar teman sekelas. Melainkan
keluarga atau seseorang yang memiliki hubungan lebih erat dengannya.
“Duluan, ya.”
Aku menepis tangannya yang
menahanku, berbalik, dan mulai berjalan. Kali ini, langkahku tidak dihentikan
lagi.
Tubuhku, terasa sedikit
lebih ringan dari sebelumnya.
Tindakan menolong orang
lain yang sangat egois, di mana aku hanya memikirkan diriku sendiri.
Meskipun begitu, sesuatu
yang terasa berat dan menyesakkan di dalam hatiku rasanya sedikit berkurang.
Aku membeli kola di mesin
penjual minuman otomatis yang tak sengaja tertangkap oleh mataku.
Aku membukanya saat itu
juga, lalu mulai meminumnya.
Gelembung-gelembung
sodanya meletup di dalam mulutku, tetapi,
—aku tidak merasakan rasa
apa pun.



Post a Comment