NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Dekkai Gyaru ke Chicchai Gyaru ga Shitsuren Shita Ore no Shinkyo ni Iribitatte Iru Volume 1 Bonus Story

Bonus Cerita Pendek Versi E-book

“Kecelakaan Terjadi Saat Kita Mulai Lengah”


“Aah............”

 

Aku mengguyur kepalaku dengan shower membasuh keringat dan rasa lelah.

 

Proyek hari ini berat sekali. Pihak kontraktor utama pun pasti tidak menyangka kalau di subkontraktor dari subkontraktor dari subkontraktor dari subkontraktornya... ada pekerja di bawah umur.

 

Pengawas lapangan dari pihak kontraktor utama entah dia masih pemula atau bagaimana, tapi sepertinya dia bukan tipe orang yang bisa mengawasi keadaan sekitar dengan baik. Alhasil, pekerjaan di lapangan bisa berjalan hanya bermodalkan keterampilan dan semangat dari masing-masing pekerja.

 

Kalau pekerjaan itu bisa diselesaikan dengan sempurna dan tepat waktu, pada akhirnya itu akan menjadi nilai plus bagi sang pengawas. Struktur masyarakat memang sekejam itu.

 

“Menjadikan ini sebagai pekerjaan tetap bakal berat banget, ya...”

 

Bukan berarti aku punya cita-cita tinggi untuk menjadi pekerja kantoran berdasi. Aku juga tidak terlalu mendambakan pekerjaan yang hanya perlu mengetik di depan komputer di dalam kantor ber-AC. Malahan, terkadang aku berpikir bekerja di lapangan seperti ini juga tidak buruk.

Yah, meski kekhawatiran soal pendapatan juga menjadi masalah besar. Walau aku bekerja 8 jam sehari sekalipun, pendapatanku nanti bisa saja lebih rendah dari hasil kerja sambilanku yang sekarang.

 

Meski begitu, jika sesekali aku kebagian proyek seperti hari ini, aku langsung berpikir ulang dan merasa mustahil untuk bisa berkarier di industri konstruksi ini.

 

Orang dewasa itu, sejak kapan mereka mulai memikirkan masa depan, ya? Tinggal bersama Reni—yang bahkan sudah mengambil sertifikasi sejak SMP demi masa depannya—mau tak mau membuatku memikirkan hal itu.

 

Sebaliknya, ada apa dengan Shuri yang hidupnya terlihat begitu santai dan mengalir padahal dia selalu bersama Reni? Padahal ini sudah musim semi di kelas 3 SMA, tapi katanya dia belum memutuskan mau lanjut kuliah atau langsung bekerja.

 

“...Hm?”

 

Saat aku sedang berendam di bak mandi, terdengar suara pintu depan terbuka. Sepertinya Shuri dan Reni sudah pulang.

 

Mereka berdua datang ke depan wastafel di ruang ganti pakaian sambil mengobrol. Mungkin mau membersihkan make up.

 

Tumben hari ini aku selesai kerja lebih dulu jadi aku mandi duluan, padahal biasanya aku selalu mendapat giliran mandi ketiga.

 

“Nggak, nggak, nggak, mustahil kan? Lagian kenapa Reni bisa ngelakuin hal kayak gitu dengan santainya sih?”

 

“Kenapa ya... soalnya aku pengin? Shuri nggak pengin?”

 

“Pengin pun aku nggak bisa lho~”

 

“Lemah.”

 

“Berisik~”

 

Obrolan khas gadis SMA terdengar olehku.

 

Sungguh, kenapa dua orang ini bisa akrab banget ya. Karena kukira mandi bareng antarteman perempuan itu hal yang normal, aku pernah bertanya pada anak perempuan di kelas. Jawabannya,

 

“Kalau di tempat pemandian air panas sih boleh-boleh aja, tapi kalau di rumah kayaknya nggak deh.” Hampir semua orang memberikan reaksi yang sama saat kutanya, dan alasan utamanya adalah “sempit”.

 

Sebagai catatan, Shuri juga ada di sana saat aku bertanya, dan dia ikut setuju dengan pendapat mereka dengan santainya. Reni sampai menatapnya dengan ekspresi seolah berkata, ’Kamu ngomong apa sih’.

 

Gimana ya bilangnya, karena kepribadian mereka benar-benar bertolak belakang, rasanya mereka justru cocok dan saling melengkapi. Jarang ada anak-anak seperti ini di kelompok pertemanan perempuan SMA, jadi hubungan mereka ini cukup unik.

 

Memang terdengar tidak sopan karena seperti menguping, tapi karena struktur kamar mandinya, mau tidak mau aku bisa mendengar percakapan mereka berdua yang sedang mengobrol tepat di sebelahnya.

 

Dengan pintu setipis ini yang tidak kedap suara sama sekali, tidak mungkin mereka berpikir kalau aku yang ada di dalam kamar mandi tidak mendengarnya. Mereka sepertinya sedang antusias membahas sesuatu, tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bahas.

 

Hal yang Reni bisa lakukan tapi Shuri tidak bisa—ah, game, ya!

 

Meskipun kelihatannya begitu, Reni sangat jago main game.

 

Jujur saja, kuku super panjangnya itu tidak mungkin tidak mengganggu pergerakan jarinya, tapi biarpun begitu dia tetap jago. Ya, dia jago cuma karena dulu dia pernah sangat mendalaminya.

 

Bukan berarti dia tertarik dengan game-game terbaru, dan dia juga tidak pernah menyalakan game kalau bukan karena diajak oleh Shuri. Herannya, kenapa dia bisa terus-terusan jago.

 

“Lagian ini kan buat bulan depan. Kamu beneran bisa?”

 

“Aku malah lebih khawatirin Shuri tahu.”

 

“............Ya, aku bisa kok, aku bakal lakuin lho?”

 

“Serius? Nanti pas mau mulai kamu nggak bakal ciut kan?”

 

“Itu, yah, mungkin aja sih, tapi...”

 

“Momentum itu penting tahu. Kamu harus buang akal sehatmu.”

 

“Membuang... akal sehat...”

 

Saran macam apa itu. Ini beneran lagi ngomongin game, kan? Game yang baru bisa dimaikan kalau buang akal sehat, game macam apa itu. Setidaknya tetap pakai akal sehat dong kalau cuma main game.

 

“Aah pokoknya, kita nggak ada pilihan lain selain memicu event yang pas buat bikin progress kan!?”

 

“Picu saja kalau begitu? Gampang, kan?”

 

“...Ngg, yah, iya sih. Memang gampang. Contohnya, kita masuk ke dalam begini—“

 

—Srrk.

 

Pintu kamar mandi dibuka.

 

“Eh.”

 

Aku yang sedang menyandarkan kepala di pinggiran bak sambil menatap langit-langit, refleks menoleh ke arah pintu karena sama sekali tidak menyangka pintu akan dibuka.

 

Bagian dalam kamar mandi memang penuh dengan uap, tapi—

 

—Brak!

 

Pintu ditutup dengan keras dan ditutup rapat.

 

“Eh, apaan?”

 

“Aah............, Eeh............”

 

“Haid?”

 

“Bukan itu. Eeto, aah............”

 

Di balik pintu berlapis kaca buram itu, dari sisi kamar mandi aku bisa melihat bayangan Shuri sedang memegangi kepalanya. Aku juga saat ini sedang memegangi kepalaku.

 

“Kenapa sih...?”

 

—Srrk. Masuk ke season 2!

 

Kali ini aku tidak menolehkan wajah ke arah pintu, dan dengan kecepatan kilat aku membalikkan badanku membelakangi mereka.

 

“............?”

 

Namun, Reni tidak peduli dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

 

“Re, Reni!? Di dalam! Di dalam ada orang!!!!”

 

“Di dalam............?”

 

Reni yang sudah memutar gagang shower, melihat bagian belakang kepalaku yang sedang berendam di dalam bak—

 

Ia langsung mengarahkan pancurannya ke arahku. Dalam diam.

 

“Dingin, waah dingin banget!!!!”

 

Parahnya lagi dia mengubah airnya jadi air dingin!!

 

Saat aku menoleh untuk mematikan air, sosok Reni sudah tidak ada di sana. Kepala pancuran air itu terjatuh mengikuti gravitasi—beruntung aku bisa menangkapnya tepat sebelum benda itu menghantam lantai.

 

“Hampir...... saja......!!”

 

Pancuran air dingin itu mengenai wajahku, rasanya dingin banget sial! Terus gara-gara saking paniknya mencondongkan badan, perutku kepentok pinggiran bak dan itu lumayan sakit.

 

Setelah memutar gagang pancuran untuk mematikannya, dari ruang ganti Reni memukul pintu dalam diam.

 

“...Eee, buat jaga-jaga aku mau tanya,”

“Apa.”

 

Dari balasannya yang cuma satu kata saja aku tahu dia lagi ngamuk, tapi apa aku boleh menanyakan hal ini, ya.

 

“Kejadian barusan, salahku?”

 

“Hah? Ya iya lah?”

 

“...Begitu ya, maaf.”

 

Rupanya itu salahku. Padahal aku merasa sama sekali tidak melakukan apa-apa lho. Lagian, sadar dong sebelum nyalain airnya.

 

...Pikirku, tapi benar juga, Reni kan punya mata minus parah.

 

Dia pernah bilang kalau dia cuma mengandalkan rabaan untuk mengingat letak benda di kamar mandi, jadi dia pasti tidak sadar kalau aku sedang berendam di dalam bak. Harusnya dia bisa sadar secepat Shuri tadi, dong.

 

“Eeto, Nogi?”

 

“...Apa.”

 

Shuri memanggilku dari balik pintu dengan nada suara takut-takut.

 

“A, apa kelihatan?”

 

“Kalau aku bilang tidak lihat apa-apa itu bohong sih, tapi kan kacanya berembun dan aku langsung memalingkan pandangan.”

 

“...Terus?”

 

“Aku cuma lihat siluetnya saja.”

 

“............”

 

Beberapa saat berlalu dalam keheningan—

 

“Aku percaya.”

 

“Syukurlah.”

 

Seolah sedang mensugesti dirinya sendiri, Shuri membalas.

 

Setidaknya, aku tidak berbohong. Sungguh, aku hampir tidak melihat apa-apa.

 

Yah, seperti yang kubilang padanya, bukan berarti aku tidak melihat apa-apa sama sekali, sih.

 

(Begini jadinya kalau... ...)

 

Memang beginilah jadinya kalau pria dan wanita tinggal di bawah satu atap yang sama.



Previous Chapter | ToC

0

Post a Comment

close