Chapter 2
Hari-hari Bagaikan Mimpi
——Sekitar
satu minggu telah berlalu sejak upacara penerimaan siswa baru.
Pertengahan
April. Hari Jumat di akhir pekan. Saat di mana aku mulai sedikit terbiasa dengan kehidupan sekolah.
Sebenarnya, bagi
diriku yang menjalani hidup untuk kedua kalinya, tidak ada istilah "perlu
membiasakan diri"—aku ingin berkata begitu, tapi ternyata banyak hal yang
luput dari ingatan, membuat hari-hari ini terasa cukup segar.
Suara
datar guru matematika menggema di ruang kelas yang hening.
Angin
musim semi yang tenang berembus masuk dari jendela, terasa begitu nyaman. Saat
aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas, jumlah murid yang tertidur mulai
bertambah. Jam pelajaran
keenam. Ini adalah pelajaran terakhir hari ini, jadi wajar saja jika semua
orang kelelahan.
"——Soal ini
menjadi pekerjaan rumah kalian. Hari ini sampai di sini saja."
Tepat ketika guru
matematika itu berbicara sambil melirik jam dinding, bel tanda berakhirnya
pelajaran berbunyi di waktu yang pas.
"Akhirnya
selesai juga!"
Uta yang duduk di
bangku depanku berseru sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Kamu
energik sekali ya, Uta."
Saat aku
menanggapi sambil menguap, Uta menopang kedua sikunya di atas mejaku, lalu
mencondongkan tubuh.
"Habisnya,
besok kan hari libur! Akhirnya! Hari yang dinantikan! Aku sudah muak disuruh
belajar mati-matian setiap hari! Dengan begini, aku bisa fokus ke kegiatan
klub!"
Uta yang
sedang bersukacita itu telah resmi bergabung dengan klub basket putri pada hari
kunjungan klub tempo hari.
"Lalu,
hari Senin besok hari-hari penuh belajar akan dimulai lagi."
"Orang
lagi senang-senang, kenapa malah disodori kenyataan pahit sih!?"
Uta
langsung memegangi kepalanya mendengar sindiran tajam dari Reita yang duduk di
bangku belakangku, berbicara sambil merapikan buku pelajarannya.
"——Lagipula,
besok kita tidak bisa latihan klub, tahu?"
Tatsuya yang
datang dari bangkunya yang agak jauh menyela sambil mengernyitkan dahi heran.
Uta memasang
ekspresi melongo.
"Eh,
maksudnya?"
"Bukankah
sudah dibilang kalau Sabtu dan Minggu besok ada renovasi gedung olahraga, jadi
kegiatan klub diliburkan?"
"Wali kelas
juga sudah menyampaikannya saat jam bimbingan tadi, kok."
"A-Ah, kalau
dipikir-pikir memang benar!? Tapi hari ini masih bisa latihan, jadi tidak
masalah!"
Mendengar ucapan
Tatsuya dan Reita, Uta sempat memegangi kepalanya lagi sebelum akhirnya
melakukan guts pose. Gerakan tubuhnya berisik sekali.
"Tapi, kalau
begitu Sabtu-Minggu besok jadi senggang ya. Enaknya ngapain?"
"——Kalau
begitu, Uta-chan, bagaimana kalau kita pergi main ke suatu tempat?"
Hoshimiya yang
entah sejak kapan sudah berada di dekat kami mengajak Uta dengan senyuman yang
manis.
"Eh,
serius!? Ayo pergi, ayo! Asyik, kencan bareng Hikarin!"
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita main bareng-bareng saja? Aku juga sedang senggang
nih."
"Eeeh,
Tatsu tidak usah ikut. Kamu
sengaja ya mau mengganggu kencanku bersama Hikarin?"
"Sudah-sudah, Uta-chan. Mumpung ada kesempatan, main
ramai-ramai pasti bakal lebih seru."
"Kalau
Hikari pergi, aku juga ikut. Hari Sabtu jadwal bernyanyiku kosong."
Nanase
yang mendekat dengan wajah tenang menyahut dengan nada datar. Tangannya
bergerak mengelus kepala Hoshimiya. Selama satu minggu ini aku mulai paham,
kalau Nanase ini sangat memanjakan Hoshimiya.
Pandangan
Hoshimiya beralih kepadaku. Sesaat aku sempat bingung, sebelum akhirnya
menyadari kalau dia ingin tahu jadwalku.
"Aku
juga senggang, kok. Lagipula aku anak ekskul jalur pulang, jadi Sabtu atau
Minggu pun bebas."
Ah,
berbahaya. Mindset bawah sadarku yang terbiasa berpikir "aku tidak akan
mungkin diajak orang lain" hampir saja menahan diriku untuk ikut dalam
percakapan ini... Kenapa
nilai-nilai masa lalu masih saja mengganggu diriku yang sekarang!
"……Berarti,
tinggal Reita-kun, ya?"
Menanggapi
pertanyaan Hoshimiya, Reita melipat kedua tangannya dengan wajah serius.
"Sepertinya
aku baru bisa kalau Sabtu siang. Soalnya pagi hari aku ada latihan klub seperti
biasa."
Gedung
olahraga yang direnovasi hanya meliburkan klub-klub yang beraktivitas di dalam
ruangan saja.
Tentu
saja, Reita yang anak klub sepak bola tidak termasuk di dalamnya.
"Ngomong-ngomong,
Hoshimiya tidak ada kegiatan klub? Kamu akhirnya masuk klub sastra, kan?"
Mendengar
pertanyaan Tatsuya, Hoshimiya mengangguk.
"Iya, tapi
cuma dua kali seminggu pada hari biasa. Jadi hari libur aku bebas main
kapan saja... Tapi kalau terlalu sering main, aku bakal dimarahi Ibu dan
Yuino-chan, jadi harus tahu batas."
"Kalau
Hikari dibiarkan begitu saja, nilainya bisa langsung merosot. Jadi aku harus
terus mengawasinya."
Melihat Nanase
yang mendengus sambil melipat tangan, Uta pun tertawa terbahak-bahak.
"Ahahaha!
Rasanya seperti punya dua ibu ya!"
"……Setidaknya,
sebut saja aku sebagai kakak perempuanmu, bisa kan?"
Nanase
mengerucutkan bibirnya.
Di balik gaya
bicara dan atmosfernya yang dewasa, ternyata dia bisa menunjukkan tingkah
kekanak-kanakan yang imut juga.
"——Nah,
pembahasan soal itu kita lanjut nanti saja. Sudah waktunya piket kelas, kalau
tidak segera bergerak bisa gawat."
Setelah jam
pelajaran keenam berakhir, waktunya untuk piket kebersihan kelas.
Siswa dibagi
menjadi beberapa kelompok, dan area pembersihan mereka masing-masing telah
ditentukan.
Di saat kami
asyik mengobrol, teman-teman sekelas yang lain sudah mulai bergerak.
Bagaimanapun, tidak ada anak berandalan di kelas ini. Tidak ada yang
melimpahkan tugas piket mereka kepada orang lain.
Berkat satu
ucapan dari Reita, kelompok kami pun bubar untuk sementara waktu.
*
Sore hari
sepulang sekolah.
Di saat
yang lain mulai menghilang menuju kegiatan klub masing-masing, diam-diam aku
merasa tegang.
——Hari
ini, aku berniat untuk mengajak Hoshimiya pulang bersama.
Ini bukan kencan.
Hanya sekadar ajakan untuk pulang searah. Bagi diriku yang mengklaim diri
sebagai intovert tingkat akut, berani mengajak bicara lawan jenis saja
rasanya sudah seperti membalikkan langit dan bumi. Tapi bagi seorang extrovert,
hal ini pasti sudah menjadi hal yang biasa.
Jika ditanya
kenapa harus hari ini, ada beberapa alasan di baliknya.
Pertama, sekitar
satu minggu telah berlalu sejak masuk sekolah, dan hubungan kami sudah
tergolong cukup akrab.
Awalnya, ikut
menimpali obrolan kelompok saja sudah membuatku mengerahkan seluruh tenaga,
tapi sekarang aku sudah bisa mengobrol normal meski hanya berdua atau bertiga.
Ini tidak hanya berlaku pada Hoshimiya, melainkan ke semua orang di kelompok
kami.
Alasan kedua,
karena besok kami berencana pergi main bersama, otomatis kami memiliki topik
bahasan yang sama. Tentu saja rencana main itu hanya kebetulan, tapi ini adalah
kesempatan bagus karena topiknya mudah untuk dikembangkan.
Alasan ketiga
adalah soal waktu. Hoshimiya bergabung dengan klub sastra, dan dia mengikuti
kegiatan klub pada hari Selasa dan Kamis, sehingga waktunya tidak pas denganku
yang langsung pulang. Kalau aku sengaja menunggunya selesai klub, dia pasti
bakal merasa risi.
Lalu pada hari
Senin dan Rabu, dia selalu pulang bersama Nanase. Bukannya aku tidak bisa ikut
bergabung, tapi menyelinap di antara dua orang yang berasal dari SMP yang sama
dan sudah sangat akrab (apalagi lawan jenis) rasanya memiliki tingkat kesulitan
yang terlalu tinggi.
Namun pada hari
Jumat, Hoshimiya tidak ada kegiatan klub. Ditambah lagi, Nanase memiliki jadwal
les di dekat sekolah, sehingga mereka berdua tidak pulang bersama. Selama satu
minggu ini, aku sudah menganalisis hal itu sedemikian rupa. Jangan mengataiku menjijikkan,
ya.
Demi bisa
merengkuh masa muda yang berwarna pelangi, aku tidak keberatan meski harus
memaksimalkan kemampuan analisis ala introvert-ku. Itulah harga diriku.
"——Eh,
Hoshimiya, hari ini kamu pulang sendirian?"
Aku memanggil
Hoshimiya yang berjalan di koridor dari arah belakang. Tentu saja dengan nada
suara yang dibuat seolah-olah aku tidak tahu apa-apa.
Hoshimiya
berbalik, dan begitu menemukan sosokku, dia mengulas senyuman yang lembut.
Manis sekali.
Bukan hanya aku,
murid-murid lain yang berlalu-lalang di koridor pun tampak terpesona oleh
kecantikan Hoshimiya.
"Iya nih~
Soalnya Yuino-chan ada urusan lain."
"Oh,
kalau begitu ayo pulang bareng. Seingatku rumahmu juga searah jalur kereta, kan?"
Meskipun
jantungku berdebar sangat kencang karena gugup, aku berusaha sekuat tenaga agar
ekspresi wajahku tidak berganti.
Apakah aku sudah
berhasil mengajaknya dengan nada yang santai?
"Eh, boleh!
Aku naik Jalur Ryomo sampai Stasiun Takasaki. Kalau Natsuki-kun?"
Melihat Hoshimiya
mengangguk sambil tersenyum, aku pun bisa menghela napas lega dari lubuk hatiku
yang terdalam.
"Sampai
Takasaki kita searah. Dari sana aku harus transit ke Jalur Takasaki untuk
menuju ke stasiun yang agak jauh berikutnya."
"Natsuki-kun
kan lulusan SMP Mizumi, ya. Perjalanan jauh begitu pasti melelahkan."
"Setelah
lewat satu minggu, aku sudah mulai terbiasa, kok. Lagipula perjalanannya cuma
memakan waktu sekitar satu jam."
"Ah, kalau
begitu waktu tempuh kita ternyata tidak jauh berbeda. Soalnya setelah turun di
Takasaki, aku masih harus berjalan kaki cukup jauh sampai ke rumah. Makanya aku
sedang berpikir untuk naik sepeda saja sampai ke stasiun~"
Berawal dari
topik pembicaraan yang kasual, obrolan kami pun mengalir dengan sangat lancar.
Saat aku dan
Hoshimiya berjalan berdampingan seperti ini, kami menjadi pusat perhatian
orang-orang di sekitar.
Apakah Hoshimiya
setiap hari selalu dihujani oleh tatapan yang seperti ini...? Bagaimana ya,
rasanya tidak nyaman juga.
Apakah ini
kerugian yang harus diterima karena dia terlalu imut?
Atau
jangan-jangan kami diperhatikan karena dia sedang berjalan bersama lawan jenis,
yang tidak lain adalah diriku?
Kalau
dipikir-pikir kembali, rasanya ada banyak tatapan kecemburuan yang tajam
mengarah ke arahku.
Fuhahaha! Rasakan
itu, wahai para introvert! Kalian tidak akan mungkin bisa meniru
pencapaianku untuk pulang bersama Hoshimiya!
Rasa superioritas
apa ini! Apakah ini yang dinamakan dengan esensi dari masa muda berwarna
pelangi...?
"Hari ini,
rasanya pandangan orang-orang tertuju pada kita ya?"
Tepat di saat aku
mulai besar kepala, Hoshimiya bergumam dengan nada yang tampak kurang nyaman.
"Benar juga.
Memang beda rasanya kalau berjalan bersama Hoshimiya. Seperti yang diharapkan
dari gadis tercantik di sekolah."
"Jangan
menelan mentah-mentah ucapan Yuino-chan, dong! Lagipula, harusnya itu
kalimatku, tahu?"
"……Maksudnya?"
Aku mengernyitkan
dahi heran. Secara murni, aku tidak bisa menangkap maksud dari ucapannya
barusan.
"Kalau aku
sendirian, aku tidak akan pernah diperhatikan sampai segitunya. Aku kan bukan
idola. Yang sedang diperhatikan saat ini bukan cuma aku saja, tapi Natsuki-kun
juga, lho."
"Aku,
diperhatikan?"
……Tidak, tidak,
mana mungkin hal seperti itu terjadi.
Memang benar aku
sudah melakukan latihan fisik dan berbagai upaya untuk mengubah penampilanku,
tapi bagaimanapun juga, aku tetaplah diriku yang dulu.
"Karena
berjalan bersama Hoshimiya, jangan-jangan mereka sedang membicarakan hal buruk
tentangku?"
"Ah,
Natsuki-kun, jangan-jangan kamu ini tipe orang yang tidak peka ya?"
"???"
"……Begitu
ya. Hmm, perlahan aku mulai paham tentang dirimu."
Gawat.
Aku tidak bisa mengikuti arah pembicaraannya. Tapi melihat Hoshimiya tampak
bersenang-senang, kurasa tidak masalah?
Aku tahu
dia sedang membicarakan tentang diriku, tapi aku benar-benar tidak paham apa
maksudnya.
"Aku
kurang mengerti, tapi saat aku sendirian, tidak pernah ada orang yang
memperhatikanku tuh."
Meskipun,
kadang-kadang ada anak perempuan yang berbisik-bisik saat melihatku.
Walaupun
aku adalah seorang introvert yang entah bagaimana bisa menyusup ke dalam
kelompok extrovert, tolong hentikan kebiasaan membicarakan orang di
belakang...
"Ternyata
kamu beneran tidak peka..."
"Tidak
peka? Tidak, tidak, di dunia ini jarang ada orang yang se-sensitif diriku,
tahu."
Bahkan,
dulu aku pernah berpikir kalau anak perempuan yang duduk di sebelahku
menyukaiku hanya karena dia bersedia memungut penghapusku yang jatuh.
Belakangan
aku baru tahu kalau anak perempuan itu ternyata sudah punya pacar seorang
mahasiswa.
……Ah, cerita ini
sama sekali tidak membuktikan kalau aku orang yang sensitif. Aku hanya terlalu
percaya diri saja.
"Fufu, kalau
begitu, untuk hari ini kita anggap saja begitu ya."
Hoshimiya
melemparkan senyuman manis ke arahku.
Melihat ekspresi
wajahnya, dadaku mendadak berdegup kencang hingga aku tidak bisa memikirkan
balasan kalimat yang bagus.
"Besok kita
mau ngapain ya? Karena
yang lain langsung pergi ke klub, kita belum menentukan rencana
detailnya."
Pengalihan
topik. Karena aku juga berniat membahas hal itu, aku sudah menyiapkan
jawabannya.
"Bagaimana
kalau malam ini kita diskusikan lewat RINE saja?"
"Tapi,
kita belum membuat grup RINE, kan?"
"——Ah,
kalau dipikir-pikir benar juga. Aku sempat mengira grupnya sudah dibuat dari
awal."
Aku
beralasan begitu, padahal kenyataannya aku hanya tidak memiliki konsep tentang
apa itu grup RINE.
Maklum
saja, aku adalah orang yang sudah terkenal (?) karena tidak pernah diundang ke
dalam grup obrolan kelas...
"Aku juga
lupa."
Hoshimiya tertawa
cekikikan. Dia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya.
"Kalau
begitu, mari kita buat sekarang saja. Grup obrolan untuk kita berenam."
Hoshimiya mulai
mengoperasikan ponselnya.
Karena kami sudah
saling bertukar kontak RINE saat upacara penerimaan siswa baru, kurasa
yang perlu dilakukan sekarang hanyalah membuat grup dan mengundang yang lain...
Kurasa begitu.
Aku tidak tahu
pasti karena tidak pernah membuatnya sendiri.
"Apa nama
grupnya?"
"Hmm, apa
saja boleh, bebas."
"Memang
bebas sih, tapi kalau terlalu bebas malah bikin bingung ya. Natsuki-kun saja
yang tentukan."
"Kalau
begitu, nama grupnya 'Klub Penggemar Hoshimiya'."
"Kalau aku
yang membuat grup dengan nama seperti itu, bukankah kesannya aneh sekali?"
"Benar
juga."
Pandangan kami
saling bertemu, lalu kami pun tertawa bersama.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kunamai 'Klub Penggemar Natsuki-kun' saja~"
"Mana
mungkin aku punya penggemar..."
"……Hmm.
Kalau begitu, mari beri nama 'Keluarga Natsuki-kun'."
"Oi."
Meskipun aku
mencoba memprotes, Hoshimiya telanjur membuat grup tersebut secara sepihak.
Saat aku membuka
ponselku, sebuah undangan grup memang telah masuk, jadi aku memilih untuk
bergabung dengan patuh.
Seorang
Natsuki-kun yang bergabung ke dalam grup bernama 'Keluarga Natsuki-kun',
lelucon macam apa ini.
"Undangannya
sudah masuk?"
"Ah, iya,
aku sudah bergabung."
"Ah, benar. Yuino-chan juga sudah masuk. Karena yang
lain masih latihan klub, sepertinya mereka belum menyadarinya ya?"
"Pasti begitu."
Ini adalah grup pertamaku yang bersejarah (?). Daftar
kontakku yang sangat sedikit (hanya tujuh orang) hampir semuanya telah diundang
ke grup ini, menyisakan dua orang saja.
Sebagai catatan, dua orang yang tersisa itu adalah Ibu dan
adik perempuanku. Mereka bahkan
bukan teman.
"Natsuki-kun,
hadap ke sini sebentar."
Mendengar ucapan
Hoshimiya, aku langsung mendongakkan wajahku, dan pada detik itulah suara
jepretan kamera berbunyi.
"Ehehe, kena
foto!"
"Untuk apa
kamu memotretku?"
"Tentu
saja untuk dijadikan foto profil grup! Kan namanya 'Keluarga Natsuki-kun'!"
"Eeeh, yang
benar saja."
Mulutku memang
mengeluh, tapi melihat tingkah Hoshimiya yang ceria membuat suaraku kehilangan
ketegasannya.
Di saat aku
berusaha keras menjaga jarak sosial yang aman, gadis di depanku ini dengan
sangat mudahnya berhasil merebut hatiku.
Rasanya seru juga
kalau aku membalas tindakannya, kan?
"Kalau
begitu, Hoshimiya, sekarang giliranmu hadap ke sini."
"Mmh?"
Aku membuka
aplikasi kamera di ponselku, lalu mengambil fotonya tepat di saat Hoshimiya
menoleh ke arahku.
Wah,
fotonya tercetak dengan sangat cantik. Ini harus kujadikan pusaka keluarga... Ah, bukan begitu maksudku.
Aku langsung
menyetel foto Hoshimiya yang baru kuambil tadi sebagai foto profil dari
'Keluarga Natsuki-kun'.
"Tu-Tunggu
sebentar!? Natsuki-kun!?"
"Ini namanya
balas dendam."
Dengan dalih
tersebut, aku berhasil mendapatkan foto wajah Hoshimiya secara legal.
Kalau sudah
begini, bagaimanapun caranya, akulah yang keluar sebagai pemenang.
Karena Hoshimiya
mengubah kembali profil grup menggunakan fotoku, aku pun tidak mau kalah dan
mengubahnya kembali.
Mumu, Hoshimiya
mengerucutkan wajahnya sambil memelototiku dengan imut. Karena sama sekali
tidak terasa menakutkan, aku pun refleks tertawa.
"Kalau
begitu! Bagaimana kalau kita ambil jalan tengah dengan menggunakan foto berdua
saja."
Hoshimiya berkata
begitu sambil memangkas jarak di antara kami.
Aroma manis yang
lembut samar-samar menggelitik hidungku. Detak jantungku mendadak berpacu dengan sangat
kencang.
Sebelum
sempat aku mencerna apa yang akan dia lakukan, jarak di antara kami sudah
begitu dekat hingga lengan kami saling bersentuhan——
"Nah,
tersenyum, tersenyum~"
Klik, suara jepretan ponsel berbunyi.
Meskipun
dia menyuruhku tersenyum, aku merasa ekspresi wajahku di foto itu pasti
terlihat sangat bodoh.
"Selesai!
Kalau begini tidak ada yang keberatan, kan!"
Sembari
berbicara, Hoshimiya mengubah foto profil grup menggunakan foto berdua tadi.
Saat aku
melihatnya di aplikasi RINE, foto itu memang menampilkan potret diriku
dan Hoshimiya yang sedang berpose bersama.
Hoshimiya
mengulas senyuman manis yang tampak terbiasa di depan kamera, sementara aku
memasang senyuman kaku dengan wajah yang memerah.
Hoshimiya
menghentikan langkah kakinya, menatap layar ponsel yang menampilkan ruang
obrolan grup dengan foto profil baru tersebut.
"……Hei,
Hoshimiya."
"A-Ada
apa!?"
"……Ini,
bukankah rasanya memalukan sekali?"
Mungkin aku saja
yang terlalu percaya diri, tapi foto ini membuat kami terlihat seolah-olah
sedang memamerkan hubungan kami kepada anggota kelompok yang lain.
"……Lagipula,
undangan grup ini kan akan terkirim ke yang lain dengan kondisi foto profil
yang seperti ini, kan?"
"……B-Benar
juga. Ini memalukan sekali! Mari kita ganti!"
Tampaknya
Hoshimiya juga mulai merasa malu, wajahnya kini memerah padam.
Perlahan aku
mulai memahami kepribadian Hoshimiya. Dia adalah tipe orang yang bergerak
mengikuti dorongan momentum, lalu menyesalinya kemudian setelah berpikir
jernih.
Setelah kembali
tenang, kami berdua memilih opsi aman dengan memotret deretan pohon sakura di
sepanjang jalan menuju stasiun, lalu menjadikannya sebagai foto profil baru.
Mengingat baru
Nanase saja yang bergabung ke grup, kami merasa masalah ini telah teratasi
dengan aman—— namun, itu hanya dugaan kami saja.
Nanase Yuino:
"Bisa tolong jangan bermesraan di grup RINE?"
Tampaknya
Nanase menyaksikan seluruh drama pergantian foto profil tadi, dan langsung
mengirimkan pesan ke dalam grup.
Dianggap
sedang bermesraan dengan Hoshimiya sebenarnya membuatku merasa cukup senang,
tapi Hoshimiya murni merasa malu secara sepihak.
Hoshimiya
Hikari: "Kami tidak sedang bermesraan!"
Nanase
Yuino: "Tapi, siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikir kalau kalian
sedang bermesraan..."
Natsuki:
"Kalau untuk masalah yang satu ini, ini bukan salahku."
Hoshimiya
Hikari: "Kamu mau bilang kalau ini salahku!?"
Natsuki:
"Tentu saja."
Nanase Yuino:
"Kalian kan sedang jalan bersama, kenapa malah bertengkar lewat RINE
sih?"
Natsuki:
"Ucapannya benar-benar tepat sasaran."
Hoshimiya
Hikari: "Pokoknya, kami tidak sedang bermesraan, ya!"
Nanase Yuino:
"Iya, iya."
Mendapat
penolakan sekeras itu secara tidak langsung membuatku merasa sedikit terluka.
Walaupun tidak kuucapkan lewat mulut, sih.
"Aduh,
Yuino-chan ini ada-ada saja..."
Hoshimiya yang
kulit putihnya sempat memerah padam kini mengibas-ngibaskan tangannya untuk
mendinginkan wajahnya.
Sembari berjalan
di sampingnya, diam-diam aku memandangi foto berdua kami yang sudah kusimpan di
galeri ponsel. Mari jadikan foto ini sebagai pusaka keluarga.
"Lagipula
Nanase tidak benar-benar bermaksud menuduh kita, kok."
Di saat kami
sibuk melakukan obrolan tidak penting seperti itu, tanpa disadari kami sudah
tiba di area stasiun.
Namun, aku merasa
obrolan tidak penting yang seperti inilah yang sebenarnya paling kuinginkan
selama ini.
Dunia di mana aku
bisa berjalan bersama semua orang——bersama Hoshimiya, terlihat dihiasi oleh
warna-warni pelangi.
Dunia ini sangat
berbeda dengan dunia abu-abu di masa lalu. Belakangan ini aku baru bisa
benar-benar merasakannya.
"Grupnya
memang sudah jadi, tapi besok kita mau ngapain?"
"Karena
Reita baru selesai latihan klub siang hari, bagaimana kalau kita berkumpul
sekitar jam satu atau jam dua siang?"
"Mmh. Tempat
berkumpulnya di depan stasiun saja tidak apa-apa, kan? Mengingat ada tiga orang yang naik
kereta."
"Kira-kira
begitu. Tinggal setelah itu
mau ngapain..."
"Karena aku
yang mengusulkan, aku merasa setidaknya aku harus memikirkan garis besar
rencananya."
"Hmm,
bagaimana kalau pergi ke pusat perbelanjaan?"
"Itu juga
bagus, kebetulan aku sedang ingin berburu baju baru."
Meskipun
merespons begitu, Hoshimiya tampak belum mendapatkan ide yang benar-benar pas.
Berbekal
pengetahuan yang kudapatkan dari situs internet bertema 'Tempat Main Anak SMA',
aku pun menyebutkan beberapa opsi aktivitas yang bisa dilakukan di dekat
stasiun.
Mengingat ini di
Prefektur Gunma, pilihannya tentu saja menjadi sangat terbatas.
"Opsi yang
terpikirkan di dekat stasiun paling-paling bermain di Spo-cha Round One,
karaoke, atau pusat gim konsol? Tapi kalau rumah salah satu dari kita ada yang
dekat dari sini, berkumpul di sana juga bisa jadi pilihan."
"Ah, Spo-cha terdengar seru! Kebetulan aku sedang ingin menggerakkan badan,
nih~"
Spo-cha adalah sebuah fasilitas hiburan
olahraga yang terletak di dalam kompleks taman bermain Round One.
Di sana
kami bisa memainkan berbagai macam jenis olahraga mulai dari basket, tenis
meja, dart, batting, badminton, hingga tenis.
Sistem
tiketnya menggunakan durasi waktu, jadi selama batas waktunya belum habis,
pengunjung bebas mencoba wahana apa saja sebanyak yang mereka mau.
Yah,
berhubung aku sendiri belum pernah mencobanya, semua ini murni bersumber dari
pengetahuan internet saja, sih.
"Ucapanmu
barusan terdengar seperti bibi-bibi yang kurang olahraga saja."
"Jangan
panggil aku bibi-bibi, dong! Uta-chan dan Tatsuya-kun juga pasti bakal menyukai
tempat itu, kan. Mereka bertiga memang selalu berolahraga setiap hari di klub,
tapi itu membuktikan kalau mereka sangat menyukai olahraga, kan?"
Sembari
mendiskusikan hal tersebut, kami melewati gerbang tiket otomatis dan melangkah
masuk ke dalam gerbong kereta.
Mungkin
karena faktor jam sibuk, gerbong kereta terasa lumayan padat meskipun Prefektur
Gunma terkenal sebagai wilayah yang didominasi oleh pengguna kendaraan pribadi.
"Tinggal
masalahnya, apakah Reita masih punya energi untuk bermain di Spo-cha
setelah selesai latihan klub atau tidak."
"Ah, kalau
soal itu tinggal kita diskusikan lagi nanti saja. Ini kan baru sekadar usul."
Di dalam
kereta yang melaju dengan suara gemuruh yang khas, aku bisa melihat beberapa
murid yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengan kami.
Ngomong-ngomong,
"Apakah
Hoshimiya pandai berolahraga?"
"Sama sekali
tidak bisa. Jadi jangan menaruh ekspektasi tinggi padaku, ya?"
Benar juga.
Berkat ingatan dari kehidupanku yang sebelumnya, aku sebenarnya sudah tahu
tentang hal itu. Makanya aku sempat heran kenapa dia memilih opsi Spo-cha.
"Meskipun
tidak pandai, bukan berarti kita tidak boleh menyukainya, kan? Karena aku
menyukainya, makanya aku ingin mencobanya."
Ucapan kasual
yang meluncur dari mulut Hoshimiya seketika menusuk lubuk hatiku yang terdalam.
"……Benar,
juga ya."
Kalimat itu
benar-benar tepat sasaran dalam menggambarkan kondisi mentalku saat ini.
Meskipun tidak
pandai, bukan berarti tidak boleh menyukainya.
Bagaimanapun aku
berusaha menutupinya, pada hakikatnya aku tetaplah seorang introvert.
Berlagak sok extrovert
adalah hal yang sulit bagiku, dan sering kali membuat mentalku kelelahan.
Namun, hubungan
pertemanan yang kudapatkan dari hasil memaksakan diri tersebut terasa sangat
berharga dan menyenangkan untuk dijalani.
Dunia yang
dulunya terasa abu-abu saat aku sendirian, kini terlihat dihiasi oleh
warna-warni pelangi.
Karena itulah aku
menyukainya.
Karena aku
menyukainya, makanya aku memilih untuk berdiri di tempat ini sekarang.
Meskipun aku
tidak pandai, dan meskipun tempat ini terasa tidak pantas untuk diriku.
"——Terima
kasih ya, Hoshimiya."
Aku merasa ucapan
Hoshimiya barusan seolah-olah telah menerima segala bentuk keanehan yang ada di
dalam diriku.
"Mmh? Kamu
bicara sesuatu?"
"……Tidak,
aku cuma mau bilang kalau sebentar lagi kita sampai di Takasaki."
Sembari kalimat
itu keluar dari mulutku, kereta perlahan melambat hingga akhirnya berhenti
total, disusul dengan pintu gerbong yang terbuka lebar.
"Ah, sudah
sampai. Kalau begitu Natsuki-kun, sampai ketemu besok!"
"Iya, sampai
ketemu besok."
Hoshimiya
melambaikan tangannya dengan ceria ke arahku sebagai salam perpisahan.
Sembari meresapi
rasa kebahagiaan yang membuncah di dalam dada, aku memandangi sosok Hoshimiya
yang melangkah pergi menjauh.
*
"……Uu-m."
Setelah tiba di
rumah, aku memasang ekspresi wajah yang sangat serius.
Sebenarnya
aku sedang dilanda kebingungan. Kebingungan yang sangat serius.
——Besok,
aku harus memakai baju apa?
Benar
sekali. Saat sekolah, aku bisa menyamarkan penampilanku dengan menggunakan
seragam, tapi saat hari libur, tentu saja kami harus mengenakan pakaian bebas.
Masalahnya,
aku tidak mau membuat mereka merasa risi karena aku datang mengenakan kaus
norak dan celana longgar lusuh peninggalan zaman SMP dulu.
"……Haruskah
aku pergi membeli baju baru?"
Bukannya
aku mau pamer, tapi aku memang sama sekali tidak memiliki selera fesyen.
Walaupun
selama empat tahun masa kuliah di kehidupanku yang sebelumnya aku selalu pergi
mengenakan pakaian bebas, sih.
Berkat
pengalaman tersebut, setidaknya aku tahu jenis kombinasi fesyen aman yang tidak
akan terlihat aneh.
Yah,
walaupun pakaian yang kukenakan saat itu murni hasil meniru rekomendasi dari
para YouTuber fesyen, sih.
Masalah
utamanya adalah, dunia saat ini berada di garis waktu tujuh tahun yang lalu.
Meskipun
menurut penilaian pribadiku kombinasi bajunya terlihat oke, ada kemungkinan
selera fesyen tujuh tahun lalu akan menganggap kombinasi tersebut terlihat
norak... Ugh, bagaimana ini.
Di saat
aku sedang pusing memikirkannya, ponselku mendadak berdering.
Layar
ponsel menampilkan nomor asing yang belum terdaftar di kontak. Aku pun mencoba menekan tombol jawab.
"Halo?"
"Ah,
Natsuki? Ini aku."
"……Miori?
Ada apa mendadak meneleponku? Lagipula, dari mana kamu bisa tahu nomor
ponselku?"
"Aku baru
saja memintanya dari Namika-chan, kok."
"Ah, kalau
dipikir-pikir, kamu memang akrab dengan adikku ya..."
Itu adalah
informasi yang sempat luput dari ingatanku. Di kehidupanku yang sebelumnya,
Miori dan Namika memang sering bertukar pesan lewat ponsel.
"Sampai
bela-belain meminta nomor ponselku segala, memangnya ada urusan apa?"
"Aku berniat
untuk mengumpulkan sedikit informasi, nih. Mengenai Reita-kun milikku."
"Sejak kapan
dia resmi menjadi milikmu..."
"Urusan
kecil begitu tidak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, bisa keluar sebentar
sekarang?"
"Tidak bisa
dibicarakan lewat telepon saja?"
"Bisa saja
sih, tapi karena rumah kita dekat, bukankah mengobrol secara langsung akan
terasa jauh lebih cepat?"
"Benar
juga," sahutku menyetujui ajakannya, lalu bergegas melangkah keluar rumah.
Pakaian yang
kukenakan saat ini hanyalah setelan celana training olahraga biasa, tapi
berhubung lawan bicaraku adalah Miori, kurasa ini sudah lebih dari cukup.
Lagipula, saat
ini aku memang tidak memiliki pakaian kasual lain yang layak untuk dipakai,
sih.
"Di taman
yang biasa, kan?"
"Mmh.
Lagipula, aku sudah sampai di lokasi, nih."
Sembari terus
mengobrol lewat telepon, aku melangkah kaki beberapa saat hingga akhirnya tiba
di taman dekat rumah.
Di bawah guyuran
sinar matahari senja yang temaram, sosok Miori tampak sedang duduk di atas
ayunan.
Deretan pohon
sakura di pinggir jalan kini sudah sepenuhnya berubah warna menjadi hijau
subur.
"Uwah, norak
banget."
Miori
mendongakkan wajahnya, dan kalimat itulah yang pertama kali meluncur dari
mulutnya sebagai salam pembuka.
"Kalimat
pertamamu langsung menusuk sekali ya. Mana ada istilah norak untuk setelan
celana training olahraga biasa."
Meskipun aku
membalas ucapannya dengan nada santai, lubuk hatiku sebenarnya merasa sedikit
terluka. Perlu diingat kalau mentalku ini selembut kaca, tahu!
"Masa pergi
menemui anak perempuan pakaianmu cuma setelan celana training olahraga saja
sih?"
"Aku tidak
punya pakaian kasual yang layak, tahu. Malah setelan yang ini bisa dibilang
sebagai pakaian terbaik yang kupunya saat ini."
"Kamu serius
mengatakan hal itu?"
Miori memasang
ekspresi wajah melongo yang tampak sangat risi melihat penampilanku.
Di sisi lain, aku
harus mengakui kalau pakaian kasual yang dia kenakan saat ini terlihat sangat
modis dan cocok untuk dirinya.
Dia mengenakan
blus putih berenda khas anak perempuan yang dipadukan dengan celana jins ketat.
……Tapi kalau
diperhatikan kembali, anak ini ternyata tumbuh menjadi seorang gadis yang
cantik juga ya.
Mungkin karena
aku sudah terlalu terbiasa melihatnya mengenakan seragam sekolah, kontras dari
penampilan kasualnya yang jarang kulihat ini membuatnya terlihat berkali-kali
lipat lebih imut dari biasanya. Anggap saja begitu.
Padahal saat
zaman SD dulu, gaya rambut dan cara berpakaiannya membuat dia sering kali
dikira sebagai anak laki-laki (atau lebih tepatnya, bocah celana pendek).
……Kurasa
tidak ada salahnya mencoba mengandalkan selera fesyen anak ini. Lagipula,
rasanya agak kesal juga kalau harus memberikan informasi secara cuma-cuma tanpa
mendapat imbalan.
"Boleh saja
kalau mau membahas tentang Reita, tapi ada syaratnya."
"Mmh? Tentu
saja boleh, tapi memangnya kamu sudah kesusahan dalam hal apa?"
Miori memiringkan
kepalanya sedikit. Rasanya dia tidak perlu menambahkan kata keterangan yang
berlebihan seperti 'sudah', kan?
"Sebenarnya,
besok aku mau pergi main bersama anak-anak kelompokku..."
"Ah, aku
paham sekarang. Kamu tidak punya baju yang layak untuk dipakai, kan?"
Aku mengangguk
pasrah menanggapi tebakan Miori yang memasang wajah jengah.
"Kalau cuma
mengandalkan seleraku, aku tidak tahu penampilanku bakal jadi seburuk apa.
Makanya, aku mohon bantuanmu."
"Kalau
acaranya besok, berarti kita harus mencarinya hari ini juga, ya. Karena
waktunya mendesak, sepertinya kita cuma bisa memilih baju di Unishiro terdekat.
Kalau di sana, paling-paling aku cuma bisa mencarikan kombinasi baju yang aman
saja, tidak apa-apa?"
"Kombinasi
aman juga tidak masalah, kok. Malah aku lebih memilih opsi yang aman
saja."
"Hmm.
Kalau begitu, ayo kita langsung berangkat sekarang. Aku juga tidak mau pulang
terlalu larut malam."
Aku pun
mulai melangkah berjalan berdampingan bersama Miori.
Toko
Unishiro terdekat berada di area depan stasiun, jadi kalau berjalan kaki dari
sini paling-paling hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit.
Kira-kira kapan
dia akan mulai mengorek informasi tentang Reita, ya?
Namun saat aku
meliriknya, Miori tampak sibuk berbalas pesan RINE dengan seseorang
lewat ponselnya. Selama momen tersebut, kami terus melangkah maju tanpa ada
obrolan apa pun di antara kami.
Meskipun Miori
memperlakukanku dengan cara yang sama seperti saat kami masih kecil dulu, aku
tetap merasa kesulitan untuk mengukur jarak sosial yang tepat di antara kami.
Bagaimanapun
juga, Miori yang dulunya punya sifat persis seperti bos geng anak-anak,
sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis seutuhnya.
Ditambah lagi,
masa kosong selama tiga tahun saat masa SMP terasa sangat besar bagi kami.
Setidaknya,
keheningan yang tercipta saat kami hanya tinggal berdua ini terasa cukup
canggung, tidak seperti saat kami masih kecil dulu.
"Kita memang
tidak bisa langsung kembali akrab seperti waktu dulu lagi, ya."
Gumaman yang
keluar dari mulut Miori seolah-olah berhasil membaca isi hatiku yang terdalam.
Aku tersentak
kaget lalu mendongakkan wajah, dan di saat itulah aku menyadari kalau Miori
sejak tadi ternyata sedang menatap wajahku dengan lekat.
"Tebakanku
tepat sasaran, ya? Dari dulu ekspresi wajahmu itu memang sangat mudah
dibaca."
"……Kalau
lawan bicaraku adalah kamu, aku jadi sering lengah."
Tanpa disadari,
aku telah tenggelam ke dalam lautan pikiranku sendiri.
Saat sedang
berkumpul bersama Tatsuya dan yang lainnya, aku selalu berhati-hati agar tidak
melakukan kecerobohan semacam ini.
Lagipula,
terus-menerus diam seribu bahasa hanya akan memberikan kesan yang buruk kepada
orang lain.
Namun, di depan
Miori yang sudah mengetahui bagaimana sosok diriku yang sebenarnya di masa
lalu, aku tidak memiliki keinginan besar untuk gengsi atau sekadar jaga imej.
"Jadi, bagaimana? Bagaimana perkembangan hasil dari
strategi high school debut-mu itu?"
"Jangan merangkum seluruh kerja keras dan tetesan air
mataku secara singkat dengan istilah high school debut begitu,
dong."
Yah, walaupun
harus kuakui kalau istilah itu adalah pilihan kata yang paling tepat sasaran
untuk menggambarkan kondisiku saat ini.
"Siapa yang
menyangka kalau seorang Natsuki bisa bergabung ke dalam satu kelompok yang
dipenuhi oleh anak-anak berkilau seperti mereka."
"……Aku juga
sadar diri kalau tempat itu sebenarnya tidak pantas buatku."
Saat aku
mengerucutkan bibirku, Miori menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak juga,
kok. Natsuki yang sekarang juga sudah terlihat cukup berkilau, tahu."
"…………O-Oh……"
Tolong hentikan
kebiasaan memuji secara mendadak seperti itu, karena hal itu sukses membuat
mentalku menjadi goyah.
"Uwah,
responsmu barusan beneran menjijikkan. Sekarang aura berkilaumu langsung lenyap
sepenuhnya."
"Berisik.
Aku cuma tidak terbiasa dipuji orang lain saja."
Saat aku
memalingkan wajahku ke arah lain, Miori tertawa kecil sambil menutupi mulutnya
dengan tangan.
Tanpa disadari, gestur tubuhnya pun kini sudah
terlihat sangat feminin.
Tampaknya waktu
tiga tahun sudah lebih dari cukup untuk mengubah kepribadian seseorang.
"Lagipula,
melihatmu bisa menjadi sosok yang berkilau seperti sekarang ini sebenarnya
terasa sangat menarik bagiku."
"……Karena
alasan itulah, sebenarnya aku malas masuk ke SMA yang sama dengan orang yang
berasal dari SMP yang sama denganku dulu."
"Benarkah
begitu? Bukankah menyedihkan jika di dekatmu tidak ada satu pun orang yang
mengetahui bagaimana sosok dirimu yang sebenarnya?"
Aku terdiam
seribu bahasa mendengar gumaman yang dilontarkan oleh Miori sembari menatap ke
arah langit senja.
Itu adalah
kalimat yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Namun, mungkin apa yang
dikatakannya memang ada benarnya.
"Satu-satunya
orang yang bisa kamu andalkan untuk menunjukkan sifat aslimu saat ini kan cuma
aku saja, bukan?"
Meskipun kalimat
penuh percaya dirinya itu terasa agak menyebalkan, kenyataan bahwa saat ini aku
sedang meminta bantuannya untuk memilih baju membuatku tidak memiliki kata-kata
untuk membalasnya.
Memang benar,
saat ini aku hanya bisa meminta bantuan kepada Miori saja.
"Karena
itulah, bagimu pun, menjadikanku sebagai rekan kerja sama adalah pilihan yang
paling tepat."
Miori membalikkan
tubuhnya dengan anggun, lalu berdiri tepat di depanku.
"……Rekan
kerja sama?"
"Aku kan
sudah mengatakannya tempo hari. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Reita-kun,
dan aku ingin bisa menjadi lebih akrab dengannya. Jadi, tolong bantu aku.
Semuanya pasti akan terasa jauh lebih mudah jika kamu yang berada di dalam
kelompok yang sama dengannya bersedia membantuku."
Miori mengulurkan
tangannya ke arahku. Menjabat tangan ini berarti kesepakatan kerja sama di
antara kami telah resmi terjalin.
"Sebagai
gantinya, kamu mau berjanji untuk membantuku jika terjadi sesuatu padaku
nanti?"
"Tentu saja.
Aku akan menyukseskan rencana high school debut-mu, dan mengubahmu
menjadi seorang extrovert terkuat!"
"Sebenarnya
aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi seorang extrovert terkuat,
sih..."
Aku hanya ingin
bisa menjalani masa muda yang bisa kuterima dengan lapang dada. Secara
spesifik, mengubah warna masa mudaku yang dulunya abu-abu menjadi berwarna
pelangi.
Demi mewujudkan
ambisi itulah, aku rela berjuang mengulang kembali hidupku saat ini.
Alasan kenapa aku
mengincar posisi sebagai seorang extrovert adalah karena aku ingin
berteman dengan Tatsuya, ingin bisa berpacaran dengan Hoshimiya, dan ingin
memiliki teman-teman akrab seperti sekarang agar bisa menghabiskan hari-hari
dengan menyenangkan.
Aku menceritakan
garis besar dari isi pikiranku tersebut kepada Miori, tentu saja dengan tetap
merahasiakan fakta bahwa aku sedang menjalani hidup untuk yang kedua kalinya.
"——Dengar,
ya. Intinya, mengincar posisi high school debut itu hanyalah sebuah
sarana, bukan tujuan utamaku."
"Mmh, mmh…… Berarti intinya kamu cuma ingin punya
pacar, kan?"
"Kamu
mendengarkan ceritaku tidak, sih?"
"Tujuan
utama dari high school debut kan sebagian besar ujung-ujungnya memang
ingin punya pacar. Iya, iya, aku paham kok. Aku juga ingin punya pacar yang
tampan, sih…… Ingin punya pacar tampan, beneran ingin banget."
"Bisa
tolong hentikan kebiasaan mengumbar ambisi yang terlalu realistis seperti
itu?"
Citra
suci yang miliki tentang anak gadis SMA rasanya jadi hancur berantakan.
"Pokoknya,
kalau kamu mau membantuku, aku juga akan membantumu untuk mendapatkan pacar. Lagipula targetmu pasti salah satu dari
tiga anak perempuan di kelompokmu itu, kan? Mereka semua kan memang punya
visual yang imut."
Mendapat
pertanyaan telak seperti itu membuatku kesulitan untuk memberikan jawaban,
karena kenyataannya memang seperti itu.
"——Dari-Daripada
membahas hal itu, bukankah kamu tadi katanya ingin tahu tentang Reita?"
Melihatku yang
secara blak-blakan mencoba mengalihkan topik pembicaraan, Miori bergumam tidak
puas, "Ah, kamu kabur ya...", sebelum akhirnya melanjutkan
pembicaraan.
"Iya juga,
sih. Tapi dengan membicarakan hal ini, berarti kesepakatan kerja sama di antara
kita sudah resmi terjalin, kan?"
"……Yah,
lagipula tidak ada kerugian apa pun buatku, jadi boleh saja."
Kenyataannya, aku
memang merasa sangat terbantu karena bisa memiliki tempat untuk meminta bantuan
seperti Miori saat ini.
Meskipun aku
tidak akan pernah mengucapkan hal itu secara langsung di depannya, karena dia
pasti akan langsung besar kepala jika mendengarnya.
"Kalau
begitu, pertama-tama aku ingin tahu apa saja hal-hari yang disukai oleh
Reita-kun——"
Setelah itu,
Miori yang mendadak berubah menjadi sangat bersemangat terus memberondongku
dengan berbagai macam pertanyaan.
Di saat kami
sibuk mengobrol untuk mengorek seluruh informasi yang kuketahui sampai ke
akar-akarnya, tanpa disadari kami sudah tiba di depan toko Unishiro.
"Yah,
meskipun aku sudah menduganya, tapi ternyata informasi yang kamu punya cuma
sebatas ini saja, ya."
Miori berucap
demikian sembari menghela napas panjang.
"Tentu saja,
habisnya kami kan baru saja masuk sekolah. Wajar saja kalau informasi yang
kuketahui baru sebatas hal-hal yang ada di permukaan saja."
"Mmh. Kalau
begitu, aku akan menaruh ekspektasi tinggi untuk informasi selanjutnya,
ya."
"……Lagipula,
memangnya kamu beneran menyukai Reita sampai segitunya?"
"Mmh? Aku
memang tertarik dengannya, tapi bukan berarti aku sudah menyukainya saat ini,
kok. Aku ini hanyalah tipe orang yang selalu mengumpulkan informasi tentang
cowok tampan saja. Lagipula, memandangi cowok berwajah tampan itu kan tidak
pernah membosankan, jadi rasanya sangat menyenangkan tahu……"
Miori
bergumam sembari menyunggingkan senyuman yang tampak mencurigakan.
Anak
gadis SMA zaman sekarang ternyata agresif sekali ya, menyeramkan...
*
Setelah
melalui obrolan panjang tersebut, aku dan Miori pun mulai sibuk memilih
kombinasi baju yang sekiranya aman di dalam toko Unishiro terdekat.
Alasan
kenapa kami memilih Unishiro bukan hanya karena faktor keterbatasan waktu
karena acaranya adalah besok siang, melainkan karena faktor finansial di mana
aku tidak memiliki anggaran dana yang cukup untuk membeli baju bermerek yang
mahal. Bagaimanapun juga, harga pakaian biasa pun sudah terasa sangat mahal
bagi dompet seorang anak SMA...
"……Sepertinya
aku harus mulai mencari pekerjaan paruh waktu, nih," gumamku sembari
menatap selembar kemeja seharga beberapa ribu yen.
"Memangnya
kamu sama sekali tidak punya uang?"
"Bukannya
tidak punya uang, tapi kalau dipakai untuk membeli baju seperti ini, tabunganku
pasti akan langsung lari lenyap dalam sekejap."
"Ah, kalau
soal itu memang benar sih ya~"
Meskipun aku
mendapatkan uang saku bulanan secara rutin, sejujurnya nominalnya masih jauh
dari kata cukup.
Lagipula aku
adalah anak ekskul jalur langsung pulang, jadi aku memiliki banyak waktu
senggang di saat teman-teman yang lain sedang sibuk mengikuti kegiatan klub
mereka. Mengambil pekerjaan paruh waktu sepertinya bisa menjadi opsi yang
bagus.
"Nah,
sekarang enaknya pakai yang mana ya?"
Miori memandangi
postur tubuhku dari atas sampai bawah dengan lekat, lalu mengetuk dagunya
dengan jari sembari memasang wajah serius.
"Hmm, postur
tubuhmu kan dasarnya sudah bagus, jadi kurasa kombinasi baju yang simpel akan
terlihat jauh lebih cocok untukmu. Dulu badanmu memang sudah tinggi sih, tapi
aku tidak menyangka kalau sekarang badanmu bisa menjadi sekurus ini bahkan
sampai membentuk otot juga."
Tanpa ada aba-aba
apa pun sebelumnya, Miori mendadak menyentuh bagian pinggang sampingku.
Sentuhan tiba-tiba itu sukses membuat tubuhku tersentak kaget.
"O-Oi, apa
yang kamu lakukan……!?"
"Ada apa?
Padahal kamu itu cowok, tapi masa cuma disentuh begitu saja langsung merasa
risi sih?"
Miori tertawa
cekikikan. Walaupun status kami adalah teman masa kecil, mana mungkin aku tidak
merasa goyah saat mendapat body touch secara mendadak dari seorang anak
perempuan.
Perlu diingat
kalau pengalaman hidupku sebagai seorang introvert itu jauh lebih lama
daripada usiaku yang sekarang, tahu!
"Kalau begitu, umm, untuk sementara mari kita ambil
yang ini, yang ini, dan…… yang ini! Ayo kita pergi ke ruang ganti!"
Setelah memilih beberapa potong baju secara acak, Miori
langsung mendorong punggungku untuk berjalan menuju ke arah ruang ganti
pakaian.
Dia tampak sangat
menikmati momen ini. Karena Miori adalah seorang anak perempuan, wajar saja
jika dia menyukai aktivitas memilih pakaian seperti ini.
"Menjadikan
orang lain sebagai boneka peraga busana itu ternyata sangat menyenangkan
ya~"
"Boleh saja
menjadikanku sebagai boneka peraga busana, tapi pastikan kamu memilih kombinasi
baju yang benar, ya?"
"Serahkan
saja semuanya padaku. Lagipula bahan dasarnya sudah bagus, jadi hasilnya tidak
akan mungkin berubah menjadi sesuatu yang terlihat mengerikan, kok."
Melihat Miori
yang bersenandung kecil dengan ceria membuatku tidak memiliki pilihan lain
selain menyerahkan seluruh nasib penampilanku ke tangannya, meskipun dalam hati
aku merasa sedikit cemas.
*
"——Terima
kasih banyak. Silakan datang kembali~"
Sembari
mendengarkan sapaan ramah dari pelayan toko tersebut, kami pun melangkah keluar
dari dalam toko di saat hari sudah sepenuhnya berubah menjadi gelap.
Kedua belah
tanganku kini terasa sangat berat karena membawa kantong belanjaan yang padat.
Karena aku tidak
hanya membeli baju untuk dipakai besok melainkan juga membeli beberapa potong
baju tambahan untuk persediaan di kemudian hari, total pengeluaranku hari ini
sampai menembus angka di atas sepuluh ribu yen.
Nominal
yang sangat menguras isi dompet seorang anak SMA. Rasanya sangat perih, tapi
ini adalah pengeluaran wajib demi menunjang penampilanku ke depan.
"Aku
ternyata belanja cukup banyak juga ya..."
"Fufu,
tapi entah mengapa tadi kamu kelihatan seperti sedang bersenang-senang,
kan?"
Apa yang
dikatakan oleh Miori memang benar, aku sempat merasa cukup menikmati momen
mencoba berbagai macam pakaian di ruang ganti tadi.
Dulu aku
selalu berpikir kalau pakaian jenis apa pun rasanya sama saja, tapi berkat
postur tubuhku yang sudah jauh lebih proporsional saat ini, baju apa pun yang
kupakai jadi terlihat cocok dan membuat suasana hatiku menjadi gembira. Perjuangan kerasku untuk menurunkan berat
badan ternyata tidak sia-sia.
"Jadi,
besok kamu akan pergi memakai kombinasi baju yang ini, kan?"
"Rencananya
memang begitu."
"Semoga
sukses, ya. Yah, walaupun ini cuma baju Unishiro yang tidak akan membuatmu
terlihat sangat modis seperti model, setidaknya kombinasi ini sudah cukup
membuat penampilarmu terlihat layak, kok. Sisanya tinggal masalah postur tubuh
dan ekspresi wajahmu saja. Jangan sampai berjalan dengan posisi tubuh yang
membungkuk, ya. Tegakkan badanmu!"
Punggungku
langsung ditepuk dengan keras olehnya.
Mungkin
karena faktor tubuhku yang tinggi, aku memang memiliki kecenderungan refleks
untuk berjalan dengan posisi tubuh yang membungkuk. Aku harus lebih
berhati-hati lagi ke depannya.
"Kalau
ada kesempatan lagi, lain kali aku akan meluangkan waktu yang lebih lama untuk
mencarikan kombinasi baju yang jauh lebih modis untukmu. Meskipun harganya
pasti akan jauh lebih mahal, sih. Kalau perlu, kita bahkan bisa pergi berburu
baju sampai ke Shibuya!"
"Aku
tidak punya uang sebanyak itu. ……Kira-kira, enaknya aku ambil pekerjaan paruh waktu apa, ya?"
Aku bergumam
pelan sembari menatap ke arah langit malam.
Meskipun saat ini
sudah memasuki pertengahan musim semi, hawa dingin yang menusuk kulit masih
terasa cukup pekat di malam hari.
"Toko
kelontong, kedai kopi, restoran keluarga, karaoke…… bekerja di toko buku
sepertinya boleh juga."
Sembari
memikirkan beberapa kandidat tempat untuk pekerjaan paruh waktuku nanti, kami
pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
"Bagaimana
kalau bekerja di toko pakaian saja?"
"Mustahil
buatku. Aku tidak punya selera fesyen, dan aku juga pasti akan merasa gugup
jika harus mengobrol dengan orang asing."
"Selera
fesyen sih bisa dipelajari, tapi kalau masalah gugup…… sifat asli seseorang itu
memang tidak akan pernah bisa berubah dengan mudah ya~"
"……Kalau
mengubah sifat asli itu adalah perkara yang mudah, aku tidak perlu bersusah
payah sampai seperti ini, tahu."
Sembari membalas
ucapannya, aku mulai menimbang-nimbang opsi yang ada di dalam benakku.
Jika memilih
pekerjaan paruh waktu di kedai kopi atau restoran keluarga, aku setidaknya
sudah memiliki pengalaman kerja di bidang tersebut saat masa kuliah di
kehidupanku yang sebelumnya.
Namun daripada
mengambil bidang kerja yang sama, mencoba jenis pekerjaan baru yang belum
pernah kualami sebelumnya sepertinya akan terasa jauh lebih menarik untuk
dijalani.
……Ugh, bagaimana
ya bagusnya.
Dunia kerja paruh
waktu pasti memiliki warna masa mudanya tersendiri yang berbeda dari kehidupan
sekolah.
Aku harus
memilihnya dengan penuh pertimbangan yang matang.
Sembari
terus memikirkan hal tersebut, aku dan Miori pun akhirnya saling bertukar salam
perpisahan di persimpangan jalan.
*
Keesokan harinya
pukul satu siang.
Karena merasa
terlalu tegang, aku sengaja datang tiga puluh menit lebih awal dari jadwal yang
sudah ditentukan untuk membunuh waktu.
Di sisi lain,
teman-teman yang lain baru mulai berkumpul di lokasi sekitar sepuluh menit
sebelum jam satu siang.
Sosok yang tiba
paling akhir adalah Tatsuya, tepat dua menit sebelum waktu berkumpul.
"Waduh,
aku sempat panik karena mengira bakal datang terlambat hari ini."
Tatsuya
berbicara demikian sembari meneguk sebotol air mineral yang baru dibelinya dari
mesin penjual otomatis.
Hari ini
dia mengenakan kemeja bermotif dengan dominasi warna abu-abu yang dipadukan
dengan celana jins ketat model damaged.
Sebuah
kalung perak tampak melingkar indah di lehernya.
Kombinasi
fesyen tersebut mungkin akan terlihat norak jika dipakai oleh orang biasa,
namun gaya tersebut terasa sangat cocok dengan visual wajah dan gaya rambut
Tatsuya yang memberikan kesan garang.
Meskipun
penampilannya saat ini murni membuatnya terlihat seperti seorang mahasiswa
berandal, sih.
"Kenapa
janji temu di siang hari bolong begini saja kamu masih hampir datang terlambat,
sih?"
Sosok
yang menyela dengan dahi mengernyit heran tersebut adalah Nanase.
Hari ini
dia mengenakan blus sifon yang dipadukan dengan celana kulot model wide-leg.
Sebuah
topi baret putih tampak bertengger dengan manis di atas kepalanya, membuat
penampilannya saat ini terlihat seperti perpaduan pakaian kasual yang sangat
imut.
Apakah
ini yang dinamakan dengan gaya kombinasi pakaian khas musim semi?
"Tatsu
dari dulu memang tipe orang yang selalu datang terlambat bahkan di saat dia
tidak bangun kesiangan sekalipun, tahu!"
Uta tertawa
terbahak-bahak menimpali ucapan Nanase.
Hari ini
dia mengenakan gaun terusan model kemeja dengan motif kotak-kotak berwarna
gelap.
Kesan
dari pakaiannya ini memberikan nuansa vintage yang sangat kental, sebuah
pilihan gaya berpakaian berani yang mengekspos bagian bahunya hingga memberikan
kesan seksi yang bertolak belakang dengan citra polos dari dirinya.
Meskipun
Uta memiliki postur tubuh yang pendek dan kekanak-kanakan, kombinasi baju ini
sukses membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dari biasanya. Namun harus kuakui kalau baju itu terasa
sangat cocok untuknya.
"Ah, kalau
soal itu sepertinya aku juga bisa paham. Kadang-kadang kita jadi terlalu santai
saat bersiap-siap karena merasa waktunya masih lama, kan."
Hoshimiya
menanggapi ucapan Uta sembari mengulas senyuman manis.
Hari ini dia
mengenakan blus putih yang dipadukan dengan celana panjang ketat. Sebuah
kombinasi fesyen kasual yang simpel namun memberikan kesan androgini.
Di balik postur
tubuhnya yang berada di kisaran rata-rata tinggi anak perempuan pada umumnya,
celana ketat itu membuat kaki jenjangnya terlihat dengan sangat jelas.
"Meskipun
berkata begitu, Hoshimiya-san adalah tipe orang yang tidak akan pernah datang
terlambat, kan."
Reita
hari ini mengenakan kaus oblong berwarna krem tua yang dilapisi dengan kaus
putih model longgar di bagian dalamnya, disusul dengan kemeja kerah terbuka
berwarna krem muda sebagai luaran, serta celana jin model skinny
berwarna hitam untuk bawahannya.
Kombinasi
pakaian tersebut seolah-olah berhasil mengubah citra Reita yang biasanya tenang
dan ramah menjadi terlihat sangat keren.
"Sebaliknya,
aku malah datang terlalu cepat sampai kebingungan harus berbuat apa di
sini."
Setelah
puas mengamati kombinasi pakaian kasual milik semua orang secara diam-diam, aku
pun mulai ikut bergabung ke dalam percakapan.
Penampilan
kasual mereka hari ini tentu saja terlihat sangat modis, namun pesona mereka
yang memancar berkali-kali lipat lebih kuat dari biasanya sukses membuatku
terpesona dalam sekejap tanpa bisa mengalihkan pandangan.
Khususnya untuk
para anak perempuan. Kontras dari penampilan kasual mereka hari ini benar-benar
terasa sangat berbeda jauh dengan citra mereka saat mengenakan seragam sekolah
sehari-hari.
Tampaknya mereka
bertiga juga menyadari hal tersebut, karena saat ini mereka sedang asyik saling
melempar pujian mengenai kombinasi pakaian milik satu sama lain.
Berdasarkan
obrolan tersebut, tampaknya Hoshimiya menyukai gaya fesyen yang memberikan
kesan keren, Uta menyukai gaya fesyen yang memberikan kesan dewasa, sementara
Nanase menyukai gaya fesyen yang memberikan kesan imut.
Karena hari ini
adalah hari libur, mereka semua tampak mengenakan riasan wajah tipis yang
membuat pesona mereka terlihat semakin berkilau di mataku.
"……Apakah
mereka bertiga benar-benar sadar kalau hari ini kita berencana untuk bermain di
Spo-cha?" gumam Reita sembari mengedikkan bahunya pasrah.
Karena para anak
perempuan sedang asyik mengobrol sendiri, kami para anak cowok pun otomatis
berkumpul membentuk kelompok terpisah.
"Kombinasi
baju mereka sama sekali tidak cocok dipakai untuk berolahraga ya, meskipun
harus kuakui kalau baju-baju itu terlihat sangat pas untuk mereka."
"Lagipula
jenis olahraga yang akan kita mainkan di sana nanti kan bukan jenis olahraga
berat yang sampai menguras banyak keringat, jadi kurasa pakaian seperti itu
tidak akan menjadi masalah, kan?"
Meskipun aku
mencoba menenangkan Tatsuya dan Reita yang hanya bisa mengulas senyuman kecut
melihat tingkah para anak perempuan, kenyataannya aku sendiri belum pernah
menginjakkan kaki ke dalam wahana Spo-cha dan hanya berbicara
bermodalkan informasi yang kubaca dari internet saja, jadi tindakanku barusan
murni hanyalah aksi sok tahu belaka.
"Benar juga,
sih. Kalau begitu, mari kita langsung berangkat sekarang."
Tatsuya mulai
melangkah maju memimpin jalan, diikuti oleh kami semua yang berjalan di
belakangnya sembari asyik mengobrol santai.
Mengingat ini
adalah momen pertama kalinya kami pergi bermain bersama di hari libur, atmosfer
hari ini terasa sangat segar buatku. Lubuk hatiku diliputi oleh rasa antusiasme
yang sangat besar.
"……Hei
Natsuki-kun, kamu membeli baju itu di toko mana?"
Hoshimiya
mendadak memunculkan kepalanya dari arah samping, menatap wajahku dengan lekat
sembari melontarkan pertanyaan tersebut.
"Mmh? Kalau
baju yang ini, aku membelinya di toko Unishiro biasa, kok…… Memangnya
penampilanku terlihat norak, ya?"
Melihat ekspresi
cemas yang kutunjukkan, Hoshimiya langsung tertawa cekikikan sebelum akhirnya
menggelengkan kepala tanda membantah dugaanku.
"Aduh,
Natsuki-kun ini selalu saja berpikiran negatif, ya. Padahal baru saja aku
berniat untuk memujimu, lho?"
Mendengar kalimat
tersebut membuat lubuk hatiku seketika dilingkupi oleh rasa lega.
Tampaknya selera
fesyen pilihan Miori kemarin memang terbukti keakuratannya.
Hari ini aku
mengenakan kemeja model oversized yang dipadukan dengan celana bahan
longgar berwarna hitam.
Sebuah desain
pakaian longgar yang nyaman dipakai serta memberikan siluet postur tubuh yang
proporsional.
Aku benar-benar
harus berterima kasih kepada Miori karena telah memilihkan kombinasi baju ini
untukku.
"Ho-Hoshimiya juga…… baju yang kamu pakai hari ini
terlihat sangat cocok untukmu, kok. Kesannya terlihat sangat keren."
Karena Hoshimiya sudah berbaik hati memuji pakaianku
terlebih dahulu, rasanya akan terdengar natural jika aku membalas pujiannya
dengan memuji pakaian yang dia kenakan saat ini.
Meskipun suaraku sempat agak tersendat di awal kalimat saat
mencoba melontarkan pujian tersebut, setidaknya aku berhasil menahan suaraku
agar tidak bergetar karena gugup.
"Keren, ya. Berarti bukan imut, nih?" gumam
Hoshimiya dengan nada yang dibuat seolah-olah sedang merasa kecewa.
Apakah dia lebih
suka dipuji imut? Tapi, kata keren adalah murni kesan jujur yang kurasakan saat
melihat penampilannya hari ini.
"Ahahaha,
aku cuma bercanda, kok. Aku pribadi memang lebih menyukai gaya fesyen androgini
yang memberikan kesan keren seperti ini, sih. Kalau ada pakaian pria yang
modelnya kusukai, aku bahkan tidak akan ragu untuk membelinya. Makanya aku
merasa sangat senang saat kamu memuji penampilanku hari ini terlihat
keren."
Hoshimiya
mengulas senyuman manis dengan wajah yang tampak sedikit tersipu malu.
Ekspresi
malu-malu yang ditunjukkannya saat ini benar-benar terlihat sangat imut tanpa
ada celah sedikit pun.
Tepat di saat
obrolan di antara aku dan Hoshimiya berakhir, Tatsuya bergumam dari arah depan,
"Kita sebentar lagi sampai, nih."
"Memangnya
posisinya ada di sebelah mana? Ini adalah momen pertama kalinya aku berkunjung
ke tempat ini."
Nanase
mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling area dengan bingung. Sebenarnya,
ini juga merupakan momen pertama kalinya buatku, lho.
Di saat aku
sedang membatin karena merasa senasib dengan Nanase, Uta mendadak mengarahkan
jari telunjuknya ke arah sebuah bangunan besar yang terletak tidak jauh dari
posisi kami berdiri.
"Posisinya
ada di sebelah sana! Bangunannya bahkan sudah kelihatan jelas dari sini, kan. Kita bertiga kan sering berkunjung
ke tempat ini saat zaman SMP dulu."
"Yah,
lokasinya memang tergolong cukup dekat jika ditempuh dari SMP Oshima, sih. Aku
bahkan masih ingat kalau kita dulu sempat bertengkar hebat hanya karena
meributkan pilihan antara mau pergi berkaraoke, bermain di Spo-cha, atau
bermain boling. Hari itu adalah momen langka di mana Reita menolak untuk
mengalah dan bersikeras ingin bermain boling."
"Habisnya,
hari itu suasana hatiku memang sedang ingin bermain boling, sih."
"Rei itu
kadang-kadang memang suka keras kepala secara mendadak pada momen-momen
tertentu, tahu. Kalau dia sudah dalam kondisi seperti itu, pilihan terbaik
adalah jangan pernah mencoba untuk menentang keinginannya."
Mendengar cerita
masa lalu dari tiga orang yang berasal dari SMP yang sama tersebut membuat
Hoshimiya reflek ikut menyahut ke dalam percakapan.
"Heh~
Memangnya kalian nanti juga akan menunjukkan sisi keras kepala yang seperti itu
di depan kami?"
"Hoshimiya-san
pasti akan memilih opsi mengalah sebelum obrolannya berubah menjadi
pertengkaran, kok. Dua orang di sampingku inilah yang isi kepalanya agak
aneh."
"Eeeh, kalau
begitu mulai sekarang aku akan mencoba belajar menjadi orang yang keras kepala
saja ah," sahut Hoshimiya sembari melemparkan senyuman manis ke arah Reita
dengan jarak posisi berdiri yang terasa sangat dekat di antara mereka berdua.
……Meskipun aku
sama sekali tidak merasa keberatan saat melihat Uta atau Nanase sedang
mengobrol akrab dengan lawan jenis, kenapa hatiku mendadak merasa sangat tidak
tenang saat melihat Hoshimiya melakukan hal yang sama dengan Reita?
Apakah perasaan
ini dinamakan dengan rasa cemburu? Aku mulai merasa benci dengan kapasitas
hatiku sendiri yang ternyata sangat sempit ini.
"Oooii, ayo
cepat masuk!"
Tatsuya berseru
memanggil kami dari posisi yang sudah berada jauh di depan, sementara kami
semua berjalan dengan ritme lambat karena terlalu asyik mengobrol.
Sifat mandiri
yang membuatnya selalu melangkah maju sendirian tanpa mempedulikan ritme jalan
orang lain di sekitarnya benar-benar mencerminkan pembawaan asli dari seorang extrovert
tipe fisik.
Yah, kalau
masalah melangkah maju sendirian sih aku juga memiliki tingkat kepercayaan diri
yang tinggi untuk melakukannya.
Lagipula, sejak
awal aku memang selalu sendirian, kan.
Satu-satunya
perbedaan mencolok antara diriku dan Tatsuya hanyalah terletak pada fakta
apakah ada orang di sekitar yang bersedia untuk mengikutinya dari belakang atau
tidak.
Hahaha, perbedaan
kecil yang dampaknya terasa sangat besar ya.
"Ternyata
kita sudah sampai."
"Apakah ini
pertama kalinya Natsuki berkunjung ke Round One?"
Aku sempat
bimbang selama sesaat, sebelum akhirnya memilih untuk mengangguk jujur
menanggapi pertanyaan dari Reita.
"Iya. Dulu
aku memang sempat beberapa kali berencana untuk pergi ke sini bersama orang
lain, tapi nominal biayanya dirasa terlalu mahal untuk ukuran kantong anak
SMP."
Dalam situasi
seperti ini, aku merasa berlagak sok tahu atau sekadar jaga imej bukanlah
pilihan yang bijak.
Lagipula, rasanya
wajar-wajar saja jika seorang anak yang baru menginjak tahun pertama SMA belum
pernah menginjakkan kakinya ke dalam kompleks hiburan Round One.
Aku menilai
risiko yang harus kutanggung akan jauh lebih besar jika kebohonganku sampai
terbongkar nanti.
"Ahahaha,
benar juga ya. Kami sendiri paling-paling baru berkunjung ke tempat ini sekitar
tiga atau empat kali saja, kok."
Waktu tempuh yang
dibutuhkan untuk berjalan kaki dari stasiun menuju ke lokasi Round One yang
menjadi tujuan kami hari ini terhitung hanya sekitar tiga menit saja.
Namun tetap saja,
pergerakan kelompok kami yang dipenuhi oleh jajaran cowok tampan dan gadis
cantik ini sukses menyedot perhatian dari orang-orang yang berlalu-lalang di
sekitar.
Aku bertaruh di
dalam benak mereka pasti sedang memikirkan kalimat seperti, "Kalau
diperhatikan dengan lekat, ternyata ada satu anak berwajah biasa saja yang
terselip di dalam kelompok mereka, ya."
Perlu diingat
kalau penampilanku yang sekarang ini adalah hasil dari perjuangan yang sangat
keras, tahu!
Mengesampingkan
jeritan hati dari seorang introvert yang penuh dengan tetesan air mata
tersebut, jajaran anak extrovert di sekelilingku kini mulai melangkah
masuk ke dalam gedung Round One.
Kemampuan mereka
untuk melangkah masuk ke dalam fasilitas hiburan sebesar ini tanpa ada rasa
ragu sedikit pun di dalam diri mereka benar-benar terlihat sangat mengagumkan
buatku.
Mereka
seolah-olah tidak memiliki rasa takut sama sekali, bahkan jika melihat ekspresi
wajah Tatsuya saat ini, dia terlihat seperti sedang memasang wajah yang
seolah-olah ingin mendeklarasikan kalimat, 'Akulah tokoh utama di tempat ini'.
"Hei, untuk
durasi waktunya enaknya kita ambil paket berapa jam? Dua jam saja?"
"Eeeh?
Durasi segitu terlalu sebentar, tahu! Paket enam jam pun aku masih punya sisa
energi yang sangat banyak untuk bermain!"
"I-Tidak,
kalau durasi segitu rasanya agak berlebihan, deh... Aku tidak yakin fisiku akan
sanggup bertahan untuk terus bergerak selama itu."
"Lagipula
kalau mengambil durasi sepanjang itu, saat selesai nanti jam dinding pasti
sudah menunjukkan pukul tujuh malam, posisi jam yang akan menyulitkan Hikari
karena dia memiliki aturan jam malam di rumahnya."
"Mumpung
sedang pergi bersama, setelah ini aku juga ingin kita semua menikmati makan
malam bersama, sih. Jadi kurasa durasi sekitar tiga jam saja sudah lebih dari
cukup, kan?"
Reita dengan
sangat cekatan langsung merangkum seluruh opini yang saling bersahutan dari
mulut semua orang menjadi satu kesimpulan tunggal.
Setelah
memastikan tidak ada satu pun orang yang menyuarakan penolakan atas kesimpulan
tersebut, Reita langsung melangkah maju untuk melakukan transaksi tiket dengan
pelayan toko.
Tolong berikan kemampuan sosial tingkat tinggi itu kepadaku
juga... Sosok Reita benar-benar terlalu sempurna sampai-sampai aku tidak bisa
menemukan celah kelemahan sedikit pun di dalam dirinya.
"——Nah, ayo kita masuk."
Karena Reita dan Tatsuya berjalan memimpin di posisi paling
depan, aku pun memilih untuk mengikuti langkah mereka dari belakang dengan
patuh.
"Uwooo,
sudah lama sekali aku tidak ke sini! Enaknya kita main apa dulu ya!? Mau main
apa!? Main apa!?"
Uta
mengekspresikan rasa antusiasmenya dengan menggerakkan seluruh anggota tubuhnya
secara aktif, namun di sisi lain, diriku yang baru pertama kali menginjakkan
kaki ke tempat ini sebenarnya juga sedang menahan rasa kegembiraan yang sangat
besar di dalam dada.
Fasilitas
di bagian dalam gedung ini terbukti sangat luas. Berbagai macam jenis wahana
olahraga tampak berjajar rapi di setiap sudut, dipenuhi oleh kerumunan
pengunjung yang sedang asyik bermain.
Heh~
Ternyata atmosfer bagian dalam tempat ini terlihat seperti ini, ya.
Sejak
dulu aku memang sudah memendam keinginan yang besar untuk berkunjung ke tempat
ini, namun pergi ke tempat hiburan seperti ini sendirian tanpa ada teman yang
menemani hanya akan membuat hatiku dilingkupi oleh rasa hampa saja...
"Bagaimana
kalau untuk sementara kita mencari wahana yang areanya sedang kosong saja?
Wahana tenis meja sepertinya boleh juga, kan?"
Arah
telunjuk Reita menunjuk ke arah barisan meja pingpong yang berjajar rapi di
salah satu sudut area, di mana memang terlihat ada dua buah meja kosong yang
tersisa di sana.
"Opsi yang bagus, tenis meja! Ayo kita main, ayo!"
"Ah, kalau cuma tenis meja, aku setidaknya memiliki
tingkat kemampuan yang lumayan, lho. Walaupun untuk jenis olahraga lainnya
kemampuanku bisa dibilang hancur lebur, sih."
Hoshimiya melipat kedua tangannya di depan dada sembari
memamerkan wajah smug yang tampak bangga. Tatsuya menyunggingkan
senyuman lebar menanggapi ucapan tersebut.
"Heh~ Kalau begitu, Hoshimiya. Aku akan memperlihatkan kekuatan pukulan smash-ku
kepadamu."
"……Umm,
sepertinya aku mau menolak opsi bermain melawan Tatsuya-kun saja, deh. Aura
yang kamu pancarkan terlihat sangat menyeramkan, tahu."
Hoshimiya
langsung mengambil langkah mundur yang lebar untuk menjauh dari Tatsuya yang
mencoba menggertaknya, lalu menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Uta.
"Kalau kamu
berani menyentuh Hikarin, kamu harus melangkah melewati mayatku terlebih
dahulu!"
"……Kenapa
posisiku di sini mendadak berubah menjadi seperti sosok bos penjahat terakhir,
sih?"
Meskipun Tatsuya
memasang wajah yang tampak tidak terima dengan tuduhan tersebut, dia tetap
meladeni tantangan dari Uta yang tampak sangat bersemangat untuk memulai
pertandingan di antara mereka berdua.
Melihat situasi
tersebut sebagai sebuah kesempatan emas, aku pun langsung bergerak untuk
melontarkan ajakan kepada Hoshimiya.
"Kalau
begitu, Hoshimiya, bagaimana kalau kita bermain santai di meja sebelah?"
"Oke. Tolong
bantu bimbing aku dengan lembut ya?"
Hoshimiya
mengulas senyuman manis ke arahku. Hanya dengan melihat ekspresi wajahnya saja
sudah membuatku merasa kalau keputusan untuk datang ke tempat ini hari ini
adalah sebuah pilihan yang sangat tepat.
Untuk sementara,
sistem permainan akan menggunakan sistem pergantian pemain, di mana Reita dan
Nanase memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di sesi pertama ini.
Aku
bertanding melawan Hoshimiya, sementara Tatsuya bertanding melawan Uta.
Kelompok mana pun yang berhasil menyelesaikan pertandingan mereka terlebih
dahulu akan langsung bertukar posisi dengan tim yang sedang menunggu di bangku
cadangan.
Kami
hanya bisa berharap semoga meja ketiga akan segera kosong selagi kami sedang
sibuk bertanding saat ini.
"Hikari,
semangat ya."
Nanase
yang duduk di bangku panjang barisan penonton menyuarakan dukungannya kepada
Hoshimiya yang sudah mulai memasang posisi siap dengan bet tenis meja di
tangannya.
"Kalau
begitu, aku akan menyuarakan dukunganku untuk Natsuki saja, deh. Mumpung
suasananya mendukung, bagaimana kalau kita sekalian menerapkan sistem turnamen
saja?"
"Ide bagus!
Kedengarannya sangat seru!" seru Uta yang suaranya terdengar bersahutan
dari meja sebelah, sibuk melakukan reli pukulan yang sengit melawan Tatsuya.
Sebuah
level pertandingan yang berada di tingkat yang sangat tinggi.
Mengingat
mereka berdua bisa saling membalas pukulan reli dengan kecepatan mengayunkan
bet yang secepat itu, kemampuan mereka sudah tidak bisa lagi dikategorikan
sebagai kemampuan seorang amatir.
Jajaran
anak extrovert tampaknya memang dianugerahi kemampuan refleks fisik yang
sangat bagus, sehingga mereka bisa menguasai jenis olahraga apa pun dengan
sangat cepat.
Aku
benar-benar merasa iri dengan bakat mereka.
Perlu
diingat kalau saat jam pelajaran olahraga di masa lalu dulu, aktivitasku
hanyalah sebatas luntang-lantung tidak jelas di sudut lapangan saja, tahu!
Habisnya,
tidak ada satu pun orang yang bersedia mengoper bola kepadaku, sih.
……Ah,
kalau masalah yang satu itu, bukankah penyebab utamanya bukan terletak pada
faktor kemampuan fisikmu melainkan pada faktor hubungan sosialmu?
Memikirkan
lelucon ironis tentang diriku sendiri seketika membuat suasana hatiku menjadi
sedikit sedih.
Meskipun begitu,
kemampuan refleks fisikku sebenarnya tidak bisa dikategorikan dalam tingkat
yang buruk juga.
Walaupun aku
sadar kalau kemampuanku tidak bisa dibilang menonjol, olahraga tenis meja
adalah salah satu jenis olahraga yang bisa dibilang cukup kukuasai dengan baik.
"Uwah,
kemampuan mereka berdua hebat sekali ya……"
Pandangan mataku
mendadak saling bertemu dengan Hoshimiya yang tampak ternganga kagum melihat
jalannya pertandingan di meja sebelah, membuatku hanya bisa mengulas senyuman
kecut.
"Meskipun
judulnya pertandingan, mari kita lakukan permainan ini dengan santai saja,
ya."
"Benar
juga."
Tak, aku mulai memukul bola pingpong ke
arahnya sebagai tanda dimulainya permainan.
Bola memantul di
atas meja dengan ritme lambat yang sengaja kubuat agar mudah diterima, dan
Hoshimiya pun bergerak untuk membalas pukulan tersebut—— atau setidaknya,
begitulah rencana awalnya.
"Eh!?"
——Wussh,
ayunan bet milik Hoshimiya murni hanya membelah angin kosong saja.
Umm?
Kira-kira kenapa
posisi bet dan bolanya bisa melesat sejauh itu saat ayunan tadi, ya?
"Ma-Maaf!
Mungkin karena aku sudah lama tidak memainkannya lagi~"
Wajah Hoshimiya
memerah padam karena malu sembari bergegas berlari untuk mengejar bola pingpong
yang menggelinding jauh.
……Ya-Yah, wajar
saja karena dia sudah lama tidak memainkannya lagi, kan.
Rasa-rasanya
wajar jika dia membutuhkan sedikit waktu di awal permainan untuk mengembalikan
insting pergerakannya kembali.
Namun, setelah
melalui tiga kali momen ayunan kosong berikutnya, Hoshimiya akhirnya mulai bisa
membalas pukulan bolaku dengan arah yang benar.
Tentu saja dengan
catatan baku di mana aku harus selalu mengarahkan bola tepat ke posisi bagian
tengah meja yang paling mudah dijangkau olehnya, serta memukulnya dengan ritme
lambat yang sama secara konsisten.
Jika arah bola
yang kukirimkan meleset sedikit saja dari posisi standar tersebut, ayunan
betnya pasti akan kembali membelah angin kosong, atau bola pingpong tersebut
akan melesat terbang ke arah lain yang tidak terduga.
"……Begitu
ya, hmm, jadi kemampuannya berada di tingkat seperti ini, ya?"
"A-Ahahaha……
Sepertinya hari ini kondisiku sedang agak kurang fit saja, lho? Hanya untuk
hari ini saja, lho?"
Hoshimiya
mengibas-ngibaskan bet tenis mejanya di depan permukaan wajahnya yang memerah
padam untuk mendinginkan suhu tubuhnya, mencoba mengaburkan fakta tentang
kemampuannya yang sebenarnya.
Nanase yang duduk
di bangku panjang penonton tidak jauh dari posisi kami berdiri langsung angkat
suara ke arahku sembari tertawa cekikikan.
"……Natsuki,
kamu boleh saja menunjukkan kenyataan yang sebenarnya kepada dirinya,
lho?"
"Hoshimiya…… Dengan tingkat kemampuan yang seperti ini,
berani sekali ya kamu mengklaim kalau tenis meja adalah satu-satunya olahraga
yang lumayan kamu kuasai……"
"Jangan
diperjelas lewat kata-kata dong! Tapi jika dibandingkan dengan jenis olahraga
lainnya, aku memang jauh lebih menguasai olahraga yang satu ini, tahu!
Sungguhan!"
Hoshimiya mencoba
menyuarakan protes pembelaan dirinya dengan wajah yang tampak sangat malu.
Meskipun
penampilannya saat ini terlihat sangat imut, di sisi lain aku tetap merasa
sangat terkejut karena kemampuannya ternyata berada di tingkat yang sangat
buruk.
Jika jenis
olahraga yang paling dikuasainya saja berada di tingkat seperti ini, bagaimana
nasibnya jika dia mencoba memainkan jenis olahraga lainnya nanti……?
"Satu-satunya
kelemahan fatal yang dimiliki oleh Hikari adalah kemampuan refleks fisiknya
yang berada di tingkat yang sangat buruk, persis seperti yang kamu saksikan
saat ini."
"Eh? Tapi
kalau tidak salah ingat, bukankah opsi untuk pergi bermain ke Spo-cha
ini adalah usulan yang datang dari Hoshimiya-san sendiri?" gumam Reita
sembari memiringkan kepalanya heran, menatap ke arah kami dengan senyuman yang
terus menghiasi wajahnya sejak tadi.
"Meskipun
aku tidak pandai memainkannya, bukan berarti aku tidak boleh menyukai aktivitas
olahraga, kan! Memangnya ada masalah dengan hal itu!?"
Melihat sosok
Hoshimiya yang mengayun-ayunkan kedua belah tangannya dengan wajah yang memerah
padam demi melayangkan protes terasa sangat segar dan imut di mataku.
Ah, lagipula
Hoshimiya mau melakukan gerakan apa pun pasti akan selalu terlihat imut di
mataku, sih.
Tapi kalau
dipikir-pikir kembali, sepanjang hari ini isi kepalaku rasanya hanya dipenuhi
oleh kalimat "Hoshimiya imut sekali" saja ya.
Setelah
momen protes tersebut berakhir, aktivitas kami pun berlanjut ke sesi
pertandingan berikutnya…… atau lebih tepatnya, sesi di mana aku bertugas
sebagai pemompa semangat untuk melatih kemampuan Hoshimiya.
Namun
kenyataannya, Hoshimiya tampak sangat menikmati momen permainan tersebut.
Ucapan yang
dikatakannya tentang "meskipun tidak pandai memainkannya, bukan berarti
tidak boleh menyukai aktivitas olahraga" tampaknya memang terbukti sebagai
sebuah kebenaran yang jujur dari dalam hatinya.
Tentu saja,
seketat apa pun aku mencoba mengalah dan menahan kekuatanku selama
pertandingan, hasil akhirnya tetap dimenangkan oleh diriku secara mutlak,
sementara pertandingan di meja sebelah dimenangkan oleh Tatsuya setelah melalui
drama pertandingan reli yang sangat sengit.
Uta tampak menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan wajah yang penuh dengan rasa penyesalan karena kalah, sementara Tatsuya justru memanfaatkan momen tersebut untuk mengejek kekalahan Uta dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Pertandingan
antara Reita dan Nanase memperlihatkan bahwa keduanya sama-sama memiliki
refleks olahraga yang bagus.
Namun, kurasa
yang membedakan hasilnya adalah perbedaan pengalaman. Reita sudah sering
menemani Tatsuya dan yang lainnya bermain di sini, sedangkan Nanase sepertinya
hanya sebatas melakukannya saat pelajaran olahraga.
Tentu saja hal
itu berlaku juga untukku, jadi aku kalah telak dari Reita di babak kedua.
Berkat latihan
harian, kelincahan kakiku sebenarnya sudah cukup bagus, tetapi aku tetap telak
didominasi dalam hal teknik.
"Ayo Reita,
saatnya kita selesaikan rivalitas bertahun-tahun ini……!"
"Memangnya
Tatsuya sering menang melawanku?"
"Berisik!
Yang penting itu menang di saat ini, detik ini juga!"
Diiringi
ucapan Tatsuya yang terdengar antara mendalam atau malah dangkal, babak final
pun dimulai.
"—Seriusan!?
Yang kayak begitu bisa meleset—!?"
Pertandingan
puncak antara Tatsuya yang mendapat seed melawan Reita akhirnya dimenangkan
oleh Reita. Pertandingannya benar-benar seru.
"Wah,
hebat banget ya."
"Padahal
aslinya aku yang lebih hebat lho, aslinya!"
"Iya,
iya, Uta juga bisa main selevel mereka, kan? Hebat, hebat."
"Tentu
saja!"
Sembari
menenangkan Uta yang masih merasa gemas karena kalah, aku mengenang kembali
pertarungan sengit tadi.
Smash
dari Tatsuya sebenarnya sangat kuat, tetapi Reita berhasil mementahkan semuanya
dengan sempurna. Jika akurasi smash Tatsuya sedikit lebih baik, kurasa dia yang
akan menang, tapi menuntut lebih dari itu rasanya sudah setingkat standar anak
klub tenis meja.
"Capeknya…… Berikutnya, yuk pergi ke mana lagi?"
"Bukannya
harusnya kamu istirahat dulu, ya?"
Aku mencoba
menyahuti Tatsuya yang sudah telentang membentuk huruf X di lantai.
"Bodoh!
Waktu kita kan terbatas, mana ada waktu buat santai-santai!?"
"Ka-kamu
luar biasa bersemangat, ya……?"
Karena tiba-tiba
dibentak, jawabanku agak bergetar ketakutan. Tidak, aku tahu Tatsuya tidak
bermaksud buruk. Karena pada dasarnya aku ini seorang introver, aku cenderung
takut dengan suara dan kata-kata yang keras…… tapi alasan utamanya adalah
karena aku masih terbayang-bayang oleh ingatan masa lalu. Aku harus segera
memperbaiki kebiasaan ini.
"Rasa kesal
ini cuma bisa dilampiaskan lewat batting! Ayo pergi ke batting
cage!"
Kelar
berkata begitu, Tatsuya melangkah pergi begitu saja dengan seenak jidatnya.
"Yah, kita
juga sudah puas main tenis meja, jadi ayo ikuti Tatsuya. Meski sebenarnya
dibiarkan saja juga tidak apa-apa."
"Kejam
banget!? Apa begitu cara memperlakukan teman?"
"Teman yang
benar-benar akrab itu justru tidak apa-apa kalau dibiarkan saja tahu."
"……Kok
rasanya terdengar mendalam, tapi sekaligus dangkal, ya?"
"Aku
sih setuju. Itu tandanya hubungan kalian sudah tidak perlu jaim lagi satu sama
lain."
Kata-kata Reita
itu entah mengapa terus terngiang di telingaku.
……Hubungan
yang tidak perlu jaim, ya? Selain dengan keluarga, aku belum pernah bisa
membangun hubungan seperti itu.
Bahkan
sekarang pun, Reita dan yang lainnya masih bersikap sungkan kepadaku.
Sebagai
contoh, Reita yang punya lidah tajam nan menggelitik itu baru menunjukkan
sifatnya hanya kepada Tatsuya dan Uta. Tentu saja hal itu wajar karena kami
baru seminggu masuk sekolah, tetapi aku berharap suatu saat nanti bisa memiliki
hubungan yang seperti itu dengan mereka.
Aku ingin
menjadi lebih akrab lagi dengan kelima orang ini.
—Dan
dengan Hoshimiya, aku ingin menjadi jauh, jauh lebih akrab lagi.
Karena aku yakin,
di ujung jalan sana, masa muda sewarna pelangi yang selama ini kuidamkan telah
menanti.
*
—Setelah itu.
Kami mencoba hampir semua permainan mulai dari batting, bulu tangkis, tenis,
futsal, hingga dsn dan biliar, sebelum akhirnya beristirahat di area rekreasi.
Tiga orang anak
klub olahraga tampaknya masih sangat bugar, sedangkan Hoshimiya dan Nanase
sudah tampak kelelahan. Berkat latihan harian, aku sendiri masih punya banyak
tenaga tersisa. Liburan musim semi kemarin jauh lebih menyiksa dari ini.
Meski begitu,
saat melihat jam, ternyata dua jam sudah berlalu. Hebat juga kami bisa bergerak
ke sana kemari selama itu.
"Siapa pun,
tolong belikan minuman olahraga……"
Mendengar
Hoshimiya yang mengerang sambil menelungkupkan badannya di atas meja, aku pun
berinisiatif untuk pergi.
"Ada yang
titip lagi? Aku akan belikan sebanyak yang bisa kubawa."
"Ah, kalau
begitu aku ikut juga. Sini, kumpulkan uangnya dulu."
Setelah mencatat
pesanan mulai dari minuman olahraga, teh, sampai air mineral, aku berjalan
berdua bersama Reita menuju mesin penjual otomatis.
Belakangan ini,
bergerak berdua bersama Reita sudah menjadi hal yang biasa bagi diriku. Yah,
karena kami berada di kelompok yang sama dan sesama cowok.
"Tapi ya,
Natsuki, kamu hebat juga."
Reita
yang berjalan di sampingku bergumam dengan nada kagum.
"……Hebat
kenapa?"
"Kamu
bisa mengimbangi kami yang anak klub olahraga ini dengan santai."
"Ah,
lagipula kita kan tidak bermain dengan serius."
Biar bagaimana
pun, ini semua masih dalam ranah bermain santai. Tidak ada alasan untuk
membuatku sampai kelelahan.
……Hoshimiya
kelelahan karena fisiknya yang terlalu lemah sehingga membuang tenaga yang
tidak perlu, sedangkan Nanase murni karena staminanya yang payah. Sejujurnya,
aku masih sanggup bermain sampai lima jam lagi.
Lagipula, ini
lumayan menyenangkan.
Berkat melatih
tubuh, langkah kakiku menjadi ringan dan tubuhku bisa bergerak sesuai
keinginan. Meski tidak membuat refleks fisik bawaanku menjadi lebih baik,
setidaknya aku bisa bermain sejajar dengan semua orang.
"Tapi saat
main bulu tangkis tadi semuanya serius, kan? Dan Natsuki yang menang."
"Itu
karena aku berpasangan dengan Uta. Itu semua berkat dia."
Saat
bermain bulu tangkis tadi, kami mengubah sedikit aturannya dan bermain sistem
setengah kompetisi dengan cara berpasangan.
Aku
berpasangan dengan Uta, Nanase dengan Tatsuya, lalu Reita dengan Hoshimiya, dan
aku bersama Uta berhasil menyapu bersih dua kemenangan.
"Lagipula,
kamu kan kewalahan karena ditarik mundur oleh Hoshimiya……"
"Aku
ingin bilang itu tidak benar…… tapi kenyataannya memang begitu."
Reita
tersenyum kecut. Jarang sekali melihat cowok ini berbicara terbata-bata.
"Sebaliknya,
menurutku hebat banget kamu bisa bertahan selama itu saat berpasangan dengan
Hoshimiya. Aku sempat mengira bakal kalah tadi."
Reita
benar-benar terampil dalam melakukan apa pun.
Tatsuya
dan aku tipe yang mengandalkan kekuatan fisik, sedangkan Reita tampaknya
memiliki bakat yang natural. Dia seperti tipe yang mencari cara bergerak paling
efisien, lalu beradaptasi secara bertahap.
"Kalau
Tatsuya dan yang lainnya sih aku paham, tapi kurasa aku bisa menang melawan
kalian berdua. Aku sudah tahu kemampuan Uta, tapi aku agak meremehkanmu. Untuk
ukuran tinggi badanmu, langkah kakimu itu terlalu lincah tahu."
Reita
berbicara sambil menyenggol perutku main-main.
Dipuji
kemampuan fisiknya oleh orang yang genius dalam bidang olahraga seperti dia
membuat usahaku terasa sepadan.
Jika ini
adalah diriku yang dulu saat perutnya masih buncit, aku pasti sudah
mempermalukan diri sendiri di sini.
Hoshimiya
adalah seorang perempuan, jadi meski dia payah dalam olahraga, dia tetap
terlihat imut. Namun jika orang sepertiku yang agak sok keren (setidaknya
begitulah kelihatannya, padahal aslinya aku hanya canggung berkomunikasi dan
pendiam) menunjukkan penampilan menyedihkan seperti itu, efeknya tidak sekadar
memalukan saja. Aku bisa-bisa
menjadi bahan ejekan setiap ada kesempatan.
Jika itu terjadi,
posisiku di dalam kelompok ini akan semakin merosot. Padahal posisiku sekarang
saja sudah rendah, kalau apes aku bisa saja didepak dari kelompok ini.
"……Hm? Ada
apa, Natsuki?"
"Ah tidak,
bukan apa-apa."
……Tentu saja aku
tahu kalau Reita dan yang lainnya bukanlah tipe orang yang tega mendepak
seseorang dari kelompok hanya karena alasan seperti itu, tetapi aku sudah
pernah memiliki pengalaman dibenci dan didepak sebelumnya.
Meskipun itu
terjadi karena kesalahanku sendiri jadi mau bagaimana lagi, tetapi trauma
tersebut masih tersisa di dalam diriku.
"—Hei,
Natsuki."
Kami akhirnya
tiba di depan mesin penjual otomatis. Di tengah-tengah kegiatanku memasukkan
koin untuk membeli minuman yang dipesan, suara Reita yang terdengar sangat
serius menyapa telingaku. Saat aku menoleh ke samping, pandangan mata Reita
sedang menatap lurus ke arahku.
"Hm? Ada
apa?"
Aku sengaja
bertanya dengan nada santai. Karena entah mengapa aku bisa mengendus adanya
atmosfer pembicaraan yang berat.
Namun, aku sama
sekali tidak bisa menebak apa yang ingin dibicarakannya.
Kurasa aku belum
melakukan kesalahan apa pun sejauh ini…… Aku sudah bertindak dengan sangat hati-hati.
Oleh
karena itu, pertanyaan Reita berikutnya benar-benar berada di luar dugaan
diriku.
"—Kamu,
sebenarnya tidak akur dengan Tatsuya, ya?"
Seketika, aku
tidak bisa menjawabnya.
Keheningan sesaat
itu justru menjadi jawaban yang membenarkan pertanyaan Reita.
"Ternyata
benar."
Sambil
tersenyum kecut, Reita berucap.
Dia
rupanya sudah tahu sejak awal, dan pertanyaan tadi hanyalah sekadar untuk
memastikan.
"……Kenapa
kamu bisa berpikir begitu?"
"Bukan hal
besar sih, tapi entah kenapa aku merasa kamu cenderung menghindari Tatsuya.
Contohnya, kamu lumayan sering berduaan denganku, tapi kamu hampir tidak pernah
bergerak berdua saja dengan Tatsuya, kan?"
"……Yah,
kalau dipikir-pikir lagi, mungkin memang benar begitu. Kamu jeli juga ya."
"Haha, sejak
dulu aku memang peka dengan keadaan sekitar. ……Malah terkadang terlalu peka.
Awalnya kukira kamu hanya belum terbiasa saja jadi kubiarkan, tapi hari ini
rasanya ada yang berbeda."
"Ada yang
berbeda? Memangnya di matamu kelihatan seperti apa?"
"Kamu
kelihatan seperti takut kepada Tatsuya. Kuharap itu cuma perasaanku saja."
Tepat sasaran.
Karena itulah aku menjadi bingung harus menjawab apa.
Mengingat dia
bertanya dengan penuh keyakinan seperti ini, rasanya percuma saja kalau aku
mencoba berkilah sekarang.
Shiraishi Reita
benar-benar bisa membaca orang lain dengan baik. Pantas saja dia begitu percaya
diri.
"……Memang
benar seperti yang kamu katakan."
Oleh karena itu,
aku memilih untuk membenarkan pertanyaan Reita. Aku mengutarakan isi hatiku
yang sebenarnya.
"Tapi, ini
berbeda. Ini murni masalah pribadiku, bukan salah Tatsuya. Tatsuya sama sekali
tidak melakukan kesalahan apa pun. Jadi tolong jangan katakan apa-apa
kepadanya. Kurasa, lama-kelamaan sifatku ini juga akan sembuh sendiri."
Itu adalah sebuah
fakta. Ini semua karena trauma yang membekas di dalam hatiku. Tentu saja aku
tidak bisa bilang kalau aku sedang mengulang kembali masa mudaku, jadi kuharap
dia memaafkanku karena aku terpaksa menyembunyikan bagian intinya.
"Paham.
Kalau begitu, aku akan diam."
Sambil membuka
tutup botol minuman olahraga, Reita mengangguk.
"Beneran
tidak apa-apa?"
"Lagipula
sejak awal aku tidak punya hak untuk mencampuri urusan kalian. Ini
masalah kalian berdua…… tidak, berhubung Tatsuya yang tidak peka itu tidak
menyadarinya, ini bahkan belum bisa disebut sebagai masalah, kan? Ini murni karena rasa penasaranku
saja."
Setelah meneguk
minuman olahraganya dengan rakus, Reita berkata dengan nada santai.
"Hanya
saja——kita ini teman, kan?"
Sambil
tersenyum lebar, Reita menyenggol dadaku pelan menggunakan botol minumannya.
Cowok
yang berada di puncak kasta popularitas ini memang sering melakukan kontak
fisik, dan dia juga bisa mengucapkan kalimat yang biasanya bikin merinding
dengan wajah lempeng. Hebatnya lagi, hal itu terlihat sangat cocok untuknya.
Itu pasti
karena dia melakukannya dengan penuh rasa percaya diri.
"Aku cuma
bertanya karena mengira kamu sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak akan bertanya
apa 'sesuatu' itu, tapi kalau kamu bilang bisa menyelesaikannya sendiri, aku
akan mempercayaimu."
Kata-kata itu
meresap jauh ke dalam lubuk hatiku.
Dia mengerti
kalau aku tidak bisa menceritakan bagian dasarnya, dan dia memilih untuk
memahaminya.
Aku jadi tahu
alasan kenapa Reita bisa sangat disukai oleh para perempuan. Bagiku yang
sekarang, cowok ini benar-benar terlalu berkilau.
*
Saat kami kembali
membawa minuman, semua orang menyambut kami dengan penuh rasa gembira.
Reita langsung
mencairkan suasana seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Kalau begitu, aku
juga harus berusaha keras agar bisa membalas kepercayaan dari Reita. Aku harus
mengatasi trauma masa lalu ini dan menjadi akrab dengan Tatsuya!
"Puhaa,
rasanya seperti hidup kembali—"
"Sudah lama
tidak berolahraga membuat tubuhku rasanya mau rontok……"
"Ahaha,
Yui-Yui pasti besok bakal mengerang kesakitan karena ototnya tegang."
Tanpa kusadari,
Nanase sudah diberi nama panggilan yang aneh oleh Uta.
"Setidaknya
panggil Yui saja……"
Nanase yang masih
terkulai lemas mencoba memprotes dengan sisa-sisa tenaganya.
Di sekolah dia
selalu memasang wajah jaim dan postur tubuh yang tegak, jadi pemandangan ini
terasa sangat segar bagiku.
"Hari ini
kita bisa melihat sisi lain dari Nanase yang tidak terduga, ya."
Saat aku
melontarkan kalimat itu, Hoshimiya menyahut sambil tersenyum lebar.
"Soalnya
Yuino-chan selalu jaim kalau di sekolah. Ini adalah bukti kalau dia sudah mulai
membuka hatinya kepada kita semua."
"Heh, kalau
begitu aku sedikit merasa senang, nih?"
Aku mencoba
menggodanya. Alhasil, Nanase langsung memalingkan wajahnya karena malu.
"Lagipula,
aku tidak bermaksud untuk jaim kok……"
Astaga, dia imut
banget.
Waduh, aku yang
sudah bertekad setia kepada Hoshimiya hampir saja goyah nih…….
Nanase memiliki
aura yang berbeda dengan anak-anak populer pada umumnya (tipe gadis anggun?),
dan karena dia bukan tipe orang yang suka heboh sendiri, diam-diam aku merasa
memiliki kemiripan dengannya, tapi daya hancurnya barusan benar-benar dahsyat.
"Nah,
ayo kita mulai bergerak lagi."
Tepat di
saat semua orang sudah membasahi tenggorokan mereka dan selesai mengambil
napas, Tatsuya tiba-tiba berdiri dengan menggebu-gebu.
"Eeeh,
tunggu dulu, ayo istirahat sebentar lagi."
"Lagipula,
kurasa tidak apa-apa kalau kita keluar dari sini sekarang……"
Hoshimiya
dan Nanase melayangkan protes mereka. Sementara Reita melihat ke arah jam di tangannya.
"Yah, kalau
kita kelamaan istirahat di sini, waktu sewa kita keburu habis tahu.
Hoshimiya-san dan yang lainnya kalau mau istirahat di sini dulu juga tidak
apa-apa."
Tanpa memedulikan
percakapan ketiga orang itu, Tatsuya menunjuk dengan tegas ke arah kejauhan.
"Alasan
kenapa harus sekarang adalah——karena lapangan basketnya akhirnya sudah
kosong!"
"Ohh!
Akhirnya ya!"
Uta
berdiri dengan mata yang berbinar-binar. Keduanya langsung berlari begitu saja
menuju ke sana.
Kami
hampir menjajal seluruh wahana olahraga yang ada di tempat ini, tetapi hanya
basket saja yang kebetulan areanya selalu penuh oleh kelompok lain sehingga
kami belum sempat memainkannya.
Tampaknya Tatsuya
sengaja beristirahat sembari mengawasi sampai lapangan tersebut kosong.
"Kedua orang
itu, bukankah kemarin mereka juga sudah main basket saat kegiatan klub……?"
Saat aku
memiringkan kepalaku kebingungan, Hoshimiya hanya bisa tersenyum kecut.
"Mereka
berdua sepertinya memang suka banget sama basket ya—"
"Main untuk
klub dan main untuk bersenang-senang itu beda rasanya tahu. Aku bisa mengerti
perasaan mereka."
Sembari
menyetujui hal itu, Reita pun ikut berdiri dari kursinya.
"Kalau
begitu, kami akan melihat kalian dari dekat saja ya……"
"Itu ide
bagus. Lagipula Nanase kelihatan seolah-olah sudah mau mati sekarang."
"Aku
cuma sedikit terlalu bersemangat tadi……"
"Kamu
senang banget ya bisa main bareng teman-teman?"
"Hikari,
berisik ah."
Sembari
tersenyum kecut melihat Nanase dan Hoshimiya yang sedang bercanda, kami pun
ikut berjalan di belakang Tatsuya dan Uta.
Kedua
orang itu sudah mulai menembakkan bola ke ring sesuka hati mereka sebagai
latihan.
"Nih,
Natsuki."
Aku menerima
operan bola dari Reita. Sensasi
tekstur bola di tanganku ini mendatangkan rasa rindu yang familier.
Biar
bagaimana pun, aku memang menyukai basket. Karena itulah aku terus memainkannya
selama tiga tahun di masa SMA dulu.
Bahkan
setelah masuk kuliah pun, aku tidak pernah absen latihan menembak bola
sendirian. Yah, meskipun itu karena aku sedang menganggur saja sih.
Dum, aku
mulai memantulkan bola.
Sejak
mengulang kembali ke masa lalu sampai hari ini, aku memang tidak pernah
menyentuh bola basket sekali pun.
Namun,
jeda beberapa bulan saja tidak akan membuat insting dribble milikku hilang
begitu saja. Bola ini melekat dengan pas di telapak tanganku.
Akan
tetapi, akurasi tembakan adalah cerita yang berbeda.
Berbeda
dengan memantulkan bola, menembak membutuhkan kepekaan insting yang sangat
halus.
Jika
tidak melakukannya selama dua atau tiga hari saja, akurasinya bisa langsung
kacau.
Meski aku
sudah terus-menerus menembakkan bola selama tujuh tahun, aku tidak punya rasa
percaya diri untuk bisa memasukkannya dengan mudah sekarang.
——Aku
tidak percaya diri. Memang tidak, tapi…… seorang pemain basket memiliki sebuah
insting yang khas.
Saat aku
mendekati garis tiga angka lalu menatap lurus ke arah ring, seketika aku
menyadarinya.
Ah, hari
ini kondisiku sedang sangat prima.
"Eh,
hebat banget!?"
Suara terkejut
Hoshimiya menyapa telingaku.
Tembakan yang
kulepaskan bahkan dari jarak yang sedikit lebih jauh di luar garis tiga angka
itu sukses mengoyak jala ring tanpa menyentuh pinggirannya sama sekali. Ini
sama sekali bukan hal yang mengejutkan.
Di saat kondisi
tubuh sedang sangat prima, aku tahu bola akan masuk tepat di saat bola itu
terlepas dari ujung jariku.
Kemudian,
bola tersebut memantul di lantai dan kembali bergulir ke arahku.
"Bolanya terasa ringan…… tidak, tubuhku yang terasa
ringan, ya."
Ini pasti berkat keuntungan dari hasil melatih tubuhku
dengan keras, bola basket ini rasanya luar biasa ringan. Karena itulah aku bisa
mengendalikannya dengan sangat mudah.
Tembakan tiga angka pada dasarnya adalah hal yang sulit
karena kita harus mengantarkan bola basket yang berat ini sampai ke ring,
sehingga kita perlu menekuk lutut demi menyalurkan seluruh tenaga tubuh ke
bola.
Namun hari ini, aku hanya perlu melompat kecil dan
mengayunkan lengan dengan santai untuk mengantarkannya sampai ke ring.
Kekuatan fisik yang kokoh ternyata memang luar biasa hebat
ya.
Aku kembali
menembakkan bola yang baru saja kembali ke tanganku.
Lewat sebuah
gerakan yang santai, bola tersebut terlepas secara alami dari ujung jariku.
——Sebuah
keyakinan kuat kalau bola ini akan masuk.
Sesaat kemudian,
bola itu sekali lagi mengoyak jala ring dengan mulus.
"Hmm."
Jika efeknya
bakal seberbeda ini, harusnya dulu saat aku masih aktif bermain aku juga rajin
melakukan latihan beban.
Sekarang aku
paham alasan kenapa tim-tim raksasa selalu fokus melatih fisik mereka terlebih
dahulu.
Fisik yang kuat
adalah fondasi utama dari sebuah teknik. Kalimat itu kini benar-benar kurasakan
langsung lewat tubuhku sendiri.
"Ooooh!?
Natsu, kamu hebat banget, sih!"
Di saat aku
sedang tenggelam dalam lautan pikiranku sendiri, tanpa sadar semua orang di
sekitar sudah mulai heboh.
Uta mendekat ke
arahku dengan mata yang berbinar-binar, dan yang lainnya juga menunjukkan
ekspresi wajah terkejut.
"……He-hebat
ya, Natsuki. Kamu ternyata jago main basket?"
Bahkan Reita yang
biasanya selalu tenang pun sampai dibuat melongo. Kalau dipikir-pikir secara
logis, wajar saja sih kalau dia kaget.
Seorang anak klub
nonsains yang harusnya tidak punya pengalaman basket tiba-tiba memasukkan
tembakan tiga angka dua kali berturut-turut.
"Yah,
lumayanlah. Omong-omong, sepertinya aku memang belum pernah menceritakannya
ya."
"Belum
pernah tahu! Hebat, hebat banget! Kenapa kamu tidak masuk klub basket
saja!?"
Uta yang
memujiku dengan penuh semangat itu berdiri dengan jarak yang sangat dekat
denganku.
Entah
mengapa tercium aroma yang manis darinya, dan jantungku mendadak berdegup
kencang.
Hal ini membuatku
tersadar kalau Uta yang kekanak-kanakan ini pun ternyata adalah seorang
perempuan tulen.
"Ahー, ya, soalnya aku belum pernah ikut
kegiatan klub basket sebelumnya……"
"Tapi kok
bisa sejago ini!? Kamu genius ya!"
Harusnya dulu aku
merancang kebohongan untuk latar belakangku dengan lebih matang lagi.
Aku tidak mungkin
menceritakan tentang kejadian sebelum aku mengulang waktu, tetapi kemampuanku
saat ini jelas bukanlah level seorang amatir.
Namun, kalau aku
berbohong dengan bilang kalau aku ikut klub basket saat SMP, kebohongan itu
pasti akan langsung terbongkar oleh Miori.
Lagipula, Tatsuya
pasti sudah beberapa kali bertanding melawan SMP-ku dulu, dan dia pasti tahu
kalau aku tidak ada di dalam tim basket SMP Mizumi kala itu.
"……Di
dekat rumahku ada taman yang dilengkapi ring basket, jadi aku lumayan sering
main di sana."
Ini bukan
kebohongan. Taman itu memang benar-benar ada, dan sebelum mengulang waktu pun
aku sering berlatih di sana.
Karena aku tidak
mau membohongi mereka semua, aku tidak punya pilihan selain memilih kata-kata
dengan sangat hati-hati.
"Kalau
begitu, sekarang juga kita harus menyeretmu masuk ke klub basket! Benar
kan, Tatsu!? ……Tatsu?"
Uta yang tadinya heboh mendadak memiringkan kepalanya
bingung.
Saat aku ikut mengalihkan pandangan ke arah tatapan matanya,
terlihat Tatsuya sedang mempersempit pandangan matanya sambil menatap ke
arahku.
"……Ta-Tatsuya, ada apa?"
Saat aku bertanya, Tatsuya tampak tersentak sejenak sebelum
akhirnya memasang senyum palsu di wajahnya.
"—Ah tidak, aku cuma terlalu kaget sampai badanku kaku.
Kamu seriusan hebat banget
tahu."
A-Ada apa sih.
Ternyata dia cuma sekadar kaget saja ya. Kupikir ada masalah apa tadi. Bikin
jantungan saja.
"Memang ya,
setelah sekian lama tidak memainkannya, ternyata ini seru juga."
Aku memantulkan
bola mendekati ring, lalu melepaskan sebuah tembakan lay-up.
Karena kekuatan
kakiku sudah meningkat, lompatanku menjadi lebih tinggi dari perkiraan sehingga
bola menjadi lebih mudah untuk dimasukkan.
Wah, rasanya
menyenangkan sekali.
"Kan!? Kalau
begitu ayo masuk klub basket! Sekarang juga!"
"U-Umm…… Klub basket ya. Tapi kan aku tidak punya pengalaman bermain
sejak SMP?"
"Kalau Natsu
pasti tidak apa-apa! Lagipula ini kan baru seminggu masuk sekolah, jadi kamu
pasti bisa langsung beradaptasi dengan cepat!"
Sembari melangkah
mundur demi menjaga jarak dari Uta yang terus merangsek maju, aku mulai memutar
otak.
Bagaimana cara
menolaknya ya?
Soalnya di klub
basket pada masa lalu, posisiku benar-benar seperti duduk di atas hamparan
paku.
Meskipun kurasa
sekarang aku bisa mengatasinya dengan sedikit lebih baik, tetapi pada dasarnya
aku kan hanya pemain cadangan yang tidak pernah diturunkan bertanding……
"Ahー, soalnya aku berencana untuk mulai
bekerja paruh waktu, jadi sepertinya bakal sulit kalau ikut kegiatan
klub."
"Eeh,
begitu ya? Padahal sayang banget lho. Iya kan, Tatsu?"
Mendengar
pertanyaan Uta, Tatsuya memutar-mutar bola di ujung jarinya dengan terampil
sembari menyahut,
"Yah,
aku tidak akan tahu kalau belum melihat permainanmu secara langsung. Memang sih
untuk ukuran amatir kamu itu hebat banget, tapi soal apa kemampuanmu itu bisa
berguna di klub basket kami atau tidak——benar juga, mari kita buktikan saja
langsung."
Tatsuya
melemparkan bolanya ke arah Uta, lalu menggerakkan jarinya untuk
memprovokasiku.
"—Satu
lawan satu. Siapa cepat dia yang dapat tiga angka duluan."
Tatsuya
menyeringai penuh tantangan. Senyuman yang penuh rasa percaya diri itu terlihat
sangat cocok di wajahnya.
Itu
adalah sebuah senyuman yang didasari oleh kemampuan basket yang nyata, karena
Tatsuya memang merupakan pemain kartu as di klub basket SMA Ryoumei.
Namun, itu adalah
cerita saat dia sudah duduk di kelas tiga nanti.
Untuk ukuran anak
kelas satu——terlebih Tatsuya yang baru saja masuk sekolah seperti sekarang,
kurasa aku yang sekarang memiliki peluang untuk bisa menang melawannya.
Meskipun statusku
hanya pemain cadangan, aku sudah bermain basket selama tiga tahun penuh, dan
bahkan setelah masuk kuliah pun aku masih rutin latihan menembak selama empat
tahun.
Dari segi
pengalaman, aku sudah jauh mengungguli Tatsuya yang baru memulai basket sejak
SMP.
"Kelihatannya
menarik. Ayo kita lakukan."
Meski aku
menjawabnya dengan nada gurauan, secara naluriah hatiku merasa ciut. Rasa takut
untuk berhadapan langsung satu lawan satu dengan Tatsuya kembali bangkit.
Namun, bukankah
baru saja tadi aku bertekad untuk membalas kepercayaan dari Reita?
Aku harus segera
mengatasi trauma masa lalu ini sekarang juga.
Kalau aku
terus-menerus bersikap seperti ini, itu namanya tidak sopan kepada Tatsuya yang
sama sekali tidak bersalah.
——Demi mewujudkan
hal itu, aku akan bertarung dengan mengerahkan seluruh kemampuanku.
Aku akan
mengalahkan Tatsuya di sini dan saat ini juga.
Dum, aku
memantulkan bola.
Dengan santai,
membentuk postur tubuh yang alami.
Agar aku bisa
langsung melakukan serangan kapan saja.
"Ayo, Natsuー! Kalahkan Tatsu!"
"Natsuki-kun,
semangatー!"
Suara sorakan
dari Uta dan Hoshimiya menyapa telingaku. Semua orang kini tengah menyaksikan
pertandingan kami.
"Hei, hei,
kenapa tidak ada satu pun yang mendukungku di sini?"
"Yah, anggap
saja itu sebagai handicap untuk anak klub basket."
Aku tersenyum
kecut menanggapi keluhan dari Tatsuya. Tatsuya hanya bisa menggaruk kepalanya
sambil menggumam, "Mau bagaimana lagi ya."
Saat aku mencuri
pandang ke arah samping, mataku mendadak berpapasan dengan Hoshimiya yang
sedang duduk di bangku panjang di luar lapangan.
Gadis itu
tersenyum tipis sambil mengepalkan kedua tangan di depan dadanya.
Gestur tubuh
seperti itu rasanya sudah cukup membuktikan kalau dia sedang menyemangati
diriku.
——Kalau begitu,
aku harus menunjukkan aksi yang keren di depannya.
"Aku datang
ya."
"Maju
sini."
Sudah empat tahun
lamanya aku tidak pernah bertanding satu lawan satu dengan orang lain.
Namun, naluri
tubuhku masih mengingat dengan jelas sensasi tersebut.
Ditambah lagi,
kondisi fisikku saat ini sudah jauh lebih kuat daripada masa lalu. Karena
itulah tubuhku bisa bergerak sesuai keinginan, tidak——malah bergerak dengan
jauh lebih cepat lagi.
Crossover.
Perubahan gerakan dari diam menjadi melesat cepat itu terjadi dalam sekejap
mata bahkan bagi diriku sendiri.
Aku melangkahkan
kaki dengan tajam ke sisi kanan Tatsuya, lalu langsung melewatinya begitu saja
untuk melepaskan tembakan lay-up.
"Hei, hei, hei…… Seriusan kamu, hah?"
Jika kelincahan kakiku sudah lebih unggul, aku tidak
membutuhkan teknik-teknik yang tidak perlu lagi. Drive adalah inti keindahan
dari seorang forward, sekaligus senjata terbesar mereka. ——Dulu, Tatsuya-lah
yang mengajarkan hal itu kepadaku.
Tampaknya Tatsuya
terlalu mewaspadai tembakan tiga angka milikku. Karena baru saja tadi aku
memasukkannya dua kali berturut-turut, wajar saja kalau dia berpikiran begitu,
tetapi akibatnya jarak bertahannya menjadi terlalu dekat denganku. Alhasil, aku
bisa melewatinya dengan sangat mudah.
"Berikutnya."
Kami berganti
posisi, sekarang giliran Tatsuya yang melakukan serangan.
Tepat di saat
menerima bola, dia melakukan kecohan ke arah kanan lalu melakukan drive ke arah
kiri.
Namun, aku sudah
bisa membaca gerakan itu. Karena itu adalah pola serangan andalan dari Tatsuya.
Berhubung aku
sudah berlatih bersamanya selama tiga tahun penuh, aku sudah hafal luar kepala
dengan semua kebiasaan bertandingnya.
Oleh karena itu,
tepat di saat dia melakukan kecohan ke kanan, aku sudah menebak kalau dia akan
bergerak ke kiri, sehingga aku langsung menjulurkan tangan kiriku ke depan.
Bola itu
datang tepat ke arah posisi tanganku, lalu aku langsung menepisnya. Bola yang terlepas dari tangan Tatsuya itu
pun kini berhasil kukuasai.
"A-Apa……"
Tatsuya tampak
terkejut. Wajar saja sih, karena jurus andalannya berhasil digagalkan bahkan
sebelum dia sempat mengeksekusinya.
"Tadi itu
cuma kebetulan, ya?"
"Yah,
sekitar setengahnya sih murni karena insting."
Berikutnya adalah
giliranku untuk menyerang.
Aku melakukan
kecohan ke kanan lalu melakukan teknik leg-through untuk melangkah ke kiri,
tetapi Tatsuya berhasil mengejar dengan mengandalkan kekuatan fisik yang
menjadi kebanggaannya.
Namun, kalau soal
kekuatan fisik, aku yang sekarang pun tidak akan kalah darinya.
Aku bisa saja
terus merangsek maju dengan menggunakan teknik power dribble, tetapi aku
memilih untuk memutar tubuh ke arah kanan menggunakan teknik spin move lalu
melepaskan tembakan hook shot.
Akurasi tembakan
kait tangan kananku sebenarnya agak meragukan, tetapi untungnya kali ini bola
itu berhasil masuk.
Sebagai catatan,
akurasi tangan kiriku jauh lebih meragukan lagi, dan teknik fadeaway adalah hal
yang paling kubenci sehingga tidak akan pernah masuk ke dalam daftar pilihan
seranganku.
Meskipun kekuatan
fisik kami berdua saat ini seimbang, aku tidak memiliki banyak pengalaman dalam
melakukan teknik power dribble.
Dengan kata lain,
poin barusan sebenarnya didapat dengan cara yang cukup nekat, tetapi karena
Tatsuya tidak tahu apa kelebihan dan kekuranganku, dia pasti memiliki terlalu
banyak pilihan opsi yang harus diwaspadai di dalam kepalanya.
Hal itu membuat
reaksinya terlambat satu langkah. Sebaliknya, aku yang sudah tahu betul semua
tentang Tatsuya berada di posisi yang sangat diuntungkan.
"Poin kedua
nih."
Aku berucap
sambil melemparkan senyum tipis ke arah Tatsuya.
……Ternyata
memang persis seperti dugaanku ya. Jika lawanku adalah Tatsuya di kelas tiga
dulu, aku pasti tidak akan berkutik sama sekali, tetapi Tatsuya yang sekarang
masih memiliki banyak celah di permainannya.
Meski aku
tidak memiliki bakat alami, aku masih bisa mengatasinya dengan mengandalkan
pengalaman dan kemampuanku dalam membaca kebiasaan lawan.
Yah,
kurasa faktor besarnya juga dikarenakan Tatsuya yang dasarnya memang payah
dalam urusan bertahan sih. Namun sebagai gantinya, kalau soal menyerang——
"Sepertinya
aku tidak boleh meremehkanmu lagi ya——aku akan maju dengan serius."
——Cepat sekali.
Tidak, melainkan gerakannya sangat tajam. Aku bahkan dilewati sebelum sempat
memberikan reaksi apa pun.
Meski aku sudah
tahu kebiasaannya kalau dia akan menyerang dari sisi kanan, tubuhku sama sekali
tidak bisa digerakkan.
Teknik drive
dengan menurunkan posisi pinggang sampai batas maksimal memang merupakan ciri
khas dari Tatsuya, tapi…… hebat juga dia bisa mengendalikan tubuh bongsornya itu dengan begitu
bebas.
Apakah
dia secara tidak sadar menyadari kalau aku bisa membaca kebiasaan gerakannya,
lalu langsung memikirkan strategi tandingan agar aku tetap tidak bisa bereaksi
meskipun sudah tahu arah serangannya?
Jika
benar begitu, dia memang layak disebut sebagai pemain kartu as. Bakat alaminya
benar-benar berbeda jauh denganku.
Namun,
aku tidak akan mengalah dalam pertandingan ini.
Aku ingin
menunjukkan aksi yang keren di depan Hoshimiya——dan aku ingin menang melawanmu
sekali saja dalam hidupku.
Di klub
basket dulu, aku selalu menjadi pemain cadangan dari Tatsuya yang berada di
posisi forward yang sama, dan aku tidak pernah sekali pun diturunkan dalam
pertandingan resmi.
Di dalam
kehidupan sehari-hari pun, Tatsuya tetap mau berteman denganku sampai akhirnya
aku dibenci oleh semua orang, dan dia jugalah yang terus membelaku sampai akhir
di saat aku sedang bertingkah menyebalkan kala itu.
Alasan
kenapa aku tidak sampai menjadi korban perundungan setelah dikucilkan, dan
alasan kenapa aku bisa terus bertahan di dalam klub basket sampai akhir, itu
semua adalah berkat bantuan dari Tatsuya.
Dia yang
merupakan kapten sekaligus pemain kartu as di tim tidak pernah mengizinkan
siapa pun untuk membicarakanku di belakang.
Meskipun
dia sendiri sebenarnya membenciku dan tidak akan mengajakku mengobrol jika
tidak ada urusan penting, dia tidak pernah sekali pun melakukan tindakan untuk
mendepakku keluar dari tim.
Masa
mudaku dulu memang berwarna abu-abu.
Namun,
alasan kenapa warnanya bisa bertahan di tingkat abu-abu adalah berkat bantuan
dari Tatsuya.
Padahal
tidak aneh jika masa mudaku kala itu berakhir diselimuti oleh kegelapan yang
pekat.
Karena itulah aku
sangat berterima kasih kepada Tatsuya.
Rasa terima kasih
ini memang tidak akan bisa kusampaikan kepadanya sekarang setelah aku mengulang
waktu, tetapi aku ingin membalas budi baiknya dengan cara yang benar.
"——Tembakan
ketiga. Aku datang ya, Tatsuya."
Alasan
kenapa aku selalu merasa takut kepada Tatsuya pasti bukan sekadar karena dia
adalah sosok yang menjadi saksi kegagalanku saat awal masuk SMA dulu, melainkan
karena sosoknya terasa terlalu berkilau di mataku.
"Ayo maju
sini! Aku pasti akan menghentikanmu!"
Tatsuya
selalu berada di atasku. Dia
selalu melangkah lebih maju dariku.
Aku kalah dalam segala hal darinya.
Aku
adalah kebalikan dari Tatsuya——seorang pecundang yang membosankan, tidak bisa
melakukan apa pun, dan tidak tahu diri yang dibenci oleh semua orang.
Karena
itulah dia terasa terlalu berkilau, sampai-sampai aku tidak sanggup untuk
menghadapinya secara langsung.
Aku
selalu menganggap kalau kami tidak berada di level yang sejajar. Aku merasa
takut kalau dia akan membenciku.
Kurasa
hal itu tidak hanya berlaku kepada Tatsuya saja.
Aku merasakan hal
yang sama kepada semua orang yang ada di sini. Reita, Uta, Hoshimiya, dan
Nanase, mereka semua adalah sosok yang terlalu baik, menyenangkan, keren, dan
imut jika dibandingkan dengan diriku, mereka semua terlalu berkilau bagiku.
Karena itulah aku
selalu merasa takut kepada teman-teman yang sangat kucintai ini, dan Tatsuya
adalah sosok yang paling jelas memicu bangkitnya rasa takut tersebut di dalam
diriku.
Sebab, alasan
kenapa aku sampai memiliki keinginan yang begitu kuat untuk mengulang kembali
masa mudaku, Alasan kenapa aku sampai rela bersusah payah mengubah diri demi
menjadi anak populer meskipun aku tahu kalau itu tidak cocok dan tidak pantas
untuk diriku,
——Adalah karena
kali ini, aku ingin bisa berteman secara tulus denganmu.
Karena aku
percaya kalau di dalam masa muda sewarna pelangi yang ingin kuraih itu, sosokmu
pasti akan selalu ada di sana.
Demi mewujudkan
hal itu, aku akan mengalahkan Tatsuya di sini dan saat ini juga untuk mengatasi
trauma masa laluku.
——Aku mulai
menyerang. Dari teknik leg-through lalu melakukan drive ke kanan.
Saat menyadari
posisinya sudah berpindah untuk menutup jalanku, aku langsung memutar tubuh
demi mengecohnya menggunakan teknik rocker motion.
Nah, berikutnya
aku harus menyerang lewat mana ya——tepat di saat aku baru memikirkannya di
dalam kepala, tubuhku ternyata sudah melayang di udara.
Di saat aku
menyadari kalau tembakan ini pasti akan masuk, aku sudah melepaskannya bahkan
sebelum sempat berpikir.
Tembakan tiga
angka yang kulepaskan lewat sebuah gerakan menembak yang mengalir mulus itu
sukses mengoyak jala ring tanpa menyentuh pinggirannya sama sekali.
Itu adalah sebuah
momentum tepat di saat aku berhasil mengalihkan kewaspadaan Tatsuya ke arah
gerakan drive.
"——Yeeaaah!"
Dengan
begini aku yang menang.
Mengingat
sistem pertandingannya adalah siapa cepat mendapat tiga angka duluan, giliran
menyerang milik Tatsuya berikutnya sudah tidak memiliki arti apa-apa lagi.
Karena meskipun dia berhasil memasukkannya, poinnya toh hanya akan mentok
di angka dua saja.
"Siaaalll!
Seriusan nih……"
Aku dan
Tatsuya langsung ambruk telentang di atas lapangan.
Padahal
harusnya staminaku masih tersisa banyak, tetapi tanpa disadari napas kami
berdua sudah terengah-engah dengan hebat.
Memang
ya, bertanding dengan serius itu menguras banyak tenaga. Seolah baru tersadar
dari ketegangan, keringat seketika langsung mengucur deras membanjiri tubuhku.
"Hebat,
hebat! Natsu, kamu keren banget!"
Uta
berlari menghampiriku dengan antusiasme maksimal.
Dia
langsung mencengkeram kedua tanganku dan mencoba menarikku berdiri, jadi aku
pun menurut saja.
Setelah
aku berdiri, Uta malah mengubah genggamannya menjadi saling bertautan jari
seperti sepasang kekasih, lalu mulai mengayun-ayunkan tangan kami dengan heboh.
Gerakan kami berdua persis seperti anak kecil yang sedang membuat lingkaran.
"Hore,
menang! Yeah! Menang! Kemenangan besar!"
"Oh,
ya, terima kasih."
Uta
tampaknya benar-benar merasa gembira dari lubuk hatinya, tetapi jantungku malah
berdegup sangat kencang sampai aku tidak bisa fokus.
Anak-anak
populer memang selalu punya jarak kedekatan yang terlalu intim, ini benar-benar
tidak sehat untuk kesehatan jantungku.
Demi
mengimbangi Uta yang sedang kegirangan sambil menggandeng erat kedua tanganku,
aku pun terpaksa ikut berputar-putar bersamanya.
Namun di
tengah jalan, tubuh Uta langsung ditarik mundur dan dipisahkan dariku oleh
Tatsuya.
Sambil
mencengkeram kedua bahu Uta, Tatsuya melayangkan protesnya.
"Memangnya
kamu tidak punya rasa simpati sedikit pun atas kekalahanku, ya?"
"Tatsu yang
kalah melawan seorang amatir itu kelihatan payah banget——tapi, aku sama sekali
tidak berpikiran begitu kok!"
"Hah!? Kalau
begitu, coba kamu sendiri yang maju bertanding melawannya!"
"Eeeh, tapi
kan aku ini perempuan. Aku ini gadis yang lemah lembut, jadi perbedaan postur
tubuh kami jelas sangat berpengaruh, kan?"
"Dasar, cuma
memanfaatkan status perempuanmu di saat-saat yang menguntungkan saja……"
Tatsuya berdecak
kesal lalu melepaskan cengkeramannya dari bahu Uta. Setelah itu, dia
mengalihkan pandangannya dan menatapku dengan mata yang sangat serius.
Kali ini, aku
bisa balas menatap balik sorot mata Tatsuya tanpa ada lagi rasa ketakutan di
dalam diriku. Aku benar-benar sudah bisa menerimanya dengan lapang dada.
Pertandingan satu
lawan satu ini adalah sebuah ritual bagiku untuk menanamkan pola pikir bahwa
aku dan Tatsuya berada di level yang sejajar sebagai seorang teman.
……Tentu saja pada
kenyataannya hampir tidak ada hal di dalam diriku yang bisa mengungguli
Tatsuya, dan kalau soal basket pun, dengan bakat alami yang dimilikinya, dia
pasti akan langsung bisa melewatiku kembali dalam waktu singkat.
Namun, ini adalah
masalah cara pandangku sendiri. Aku sudah merasa puas karena setidaknya aku
bisa sedikit mengejar ketertinggalanku dari sosok Nagimura Tatsuya yang selama
ini terasa terlalu berkilau, jadi kurasa ini sudah lebih dari cukup.
"Jadi,
Natsuki. Kurasa kemampuanmu sudah sangat mumpuni…… kamu beneran tidak berminat masuk klub
basket?"
"——Ah,
maaf ya."
Aku sudah
tidak memiliki penyesalan atau keinginan lagi untuk masuk ke klub basket.
Apakah ini semua
karena aku sudah berhasil mengatasi trauma masa laluku?
Sekarang, aku
akan melangkah menuju masa muda yang baru demi meraih dunia sewarna pelangi
yang selama ini kuidamkan.
Aku tidak akan
lagi melewati rute masa lalu yang sama.
Tampaknya Tatsuya
bisa merasakan keteguhan hatiku lewat jawaban barusan, sehingga dia tidak lagi
mendesakku lebih jauh.
"Hei
semuanya, sepertinya waktu sewa kita sudah hampir habis, nih!"
Mendengar
panggilan dari Hoshimiya, aku pun langsung melihat ke arah jam dinding.
Ternyata waktu sudah menunjukkan lewat pukul empat sore.
Kami
masuk ke Round One ini sejak lewat jam satu siang dan mengambil paket tiga jam,
jadi memang sudah saatnya waktu sewa kami berakhir.
Reita menepuk
tangannya pelan untuk menarik perhatian semua orang sebelum akhirnya berbicara.
"Kalau
begitu, maaf ya karena kalian berdua masih kelelahan, tapi ayo kita bergegas
keluar dari toko ini sekarang."
*
Saat kami
melangkah keluar, embusan angin yang terasa agak dingin menerpa tubuh kami
dengan nyaman.
Suhu udara hari
ini agak rendah, dan itu terasa sangat pas untuk mendinginkan tubuh kami yang
sedang kegerahan.
Aku memikirkan
hal tersebut sembari meneguk habis sisa minuman olah raga di tanganku.
"Wah, kita
benar-benar banyak bergerak hari ini!"
"Hikari,
kamu kenapa bisa masih sebugar itu, sih……"
"Sebaliknya,
kenapa Yuino-chan malah masih lemas begitu!? Padahal menjelang akhir
permainan kan kita berdua cuma duduk santai menonton mereka?"
"Huh…… apa kamu pikir staminaku ini bisa langsung pulih
hanya dengan istirahat sebentar seperti itu?"
"Kamu tidak
apa-apa, Nanase? Kok rasanya pembawaan karaktermu agak aneh ya?"
Saat aku bertanya
karena murni merasa khawatir, wajah Nanase langsung memerah sambil membalas,
"……Aku cuma bercanda kok."
Hampir saja
kukira dia kehilangan jati diri dari karakter aslinya sendiri.
Soalnya aku
sendiri sering mengalami hal yang seperti itu, karena pada dasarnya aku ini
hanyalah seorang introver yang kuper dan pendiam.
"Kamu
sendiri, padahal statusmu cuma anak klub nonsains tapi kenapa staminamu bisa
sebanyak itu? Padahal kukira kita ini sepadan."
Aku hanya bisa
membalas tatapan sinis dari Nanase dengan sebuah senyuman kecut.
"Nah, tidak
baik kalau kita terlalu lama bergerombol di depan toko orang, ayo kita pindah
tempat."
"Pindah
tempat sih boleh saja, tapi mau ke mana?"
Tatsuya
memiringkan kepalanya bingung menanggapi instruksi dari Reita.
"Kita semua
pasti mau makan malam bersama, kan? Bagaimana kalau kita langsung masuk ke
kedai makan saja? Meskipun masih jam empat sore dan agak terlalu awal, tapi
dengan begitu kita bisa mengobrol santai dengan lebih lama, kan?"
"Boleh saja
sih, tapi aku lagi tidak punya banyak uang, nih."
"Ah,
aku mau ke tempat yang ada fasilitas drink bar-nya!"
Sembari
mempertimbangkan masukan dari Tatsuya dan Uta, aku mencoba menunjuk ke arah
seberang jalan.
"Bagaimana
kalau ke restoran keluarga saja? Murah, dan letaknya juga persis di sebelah
sana."
Tempat yang
kutunjuk adalah Saizeriya, sebuah restoran yang sudah sangat terkenal akan
harganya yang bersahabat.
Restoran ini
adalah tempat langgananku dulu saat masih zaman kuliah.
Harganya murah,
rasanya enak, tidak terasa canggung meskipun datang sendirian, dan pilihan
menunya juga sangat lengkap.
"Ide bagus,
ayo kita ke sana."
Karena Reita
sudah mengangguk setuju, kami semua pun langsung berjalan bersama menuju
Saizeriya.
Lama-kelamaan aku
menyadari kalau hak penentu keputusan di dalam kelompok ini memang selalu
dipegang oleh Reita.
Padahal dia tidak
pernah menggunakan kata-kata yang kasar, dan nada bicaranya juga tidak pernah
keras.
Apakah karena dia
selalu bisa mengambil momentum yang tepat saat menyela obrolan?
Tentu saja hal
itu didasari karena dia memiliki karisma yang tinggi, ditambah lagi Reita
memang selalu peka dalam memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Dia tidak pernah
memaksakan kehendaknya sendiri, melainkan selalu merangkum pendapat dari semua
orang, sehingga wajar saja jika semuanya berjalan dengan alami seperti ini.
Sembari
memikirkan hal tersebut, kami akhirnya tiba di Saizeriya.
Mungkin karena
jam masih menunjukkan terlalu sore, kondisi di dalam restoran terasa cukup
lengang.
Setelah
diantarkan menuju meja terdekat, kami semua pun mulai memesan menu makan malam
beserta paket drink bar masing-masing.
Karena perutku
rasanya sudah sangat keroncongan akibat terlalu banyak bergerak tadi, aku
memutuskan untuk memesan dua menu sekaligus, yaitu Milano-fu Doria dan
Pepperoncino.
Sebagai seorang
remaja SMA yang sedang dalam masa pertumbuhan, porsi sebanyak ini pasti akan
habis kulahap dalam sekejap.
Hebatnya lagi,
meskipun aku memesan dua menu sekaligus, total harganya hanya berkisar enam
ratus yen saja!
Memang Saizeriya
tiada tandingannya.
Yah, berhubung
aku juga memesan paket drink bar, harga aslinya tentu jadi sedikit lebih
mahal dari itu.
Namun tetap saja,
ini adalah nominal yang sangat ramah bagi kantong seorang anak SMA.
Tepat di saat
semua orang sudah kembali ke meja setelah mengambil minuman mereka, Uta
tiba-tiba mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
"Kalau
begitu, mari kita bersulang untuk merayakan kelulusan masuk SMA kita!"
Karena Uta sudah
mengangkat gelasnya, kami semua pun terpaksa ikut mengangkat gelas kami demi
menyesuaikan diri dengannya.
Meskipun aku
merasa agak malu karena sempat menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar,
tapi melihat anak-anak SMA yang bersulang menggunakan gelas drink bar
rasanya hanya akan dianggap sebagai pemandangan yang menggelikan saja bagi
mereka.
Reita ikut
tersenyum kecut sambil berkomentar,
"Memangnya
acara kumpul-kumpul kita hari ini punya tujuan yang seformal itu, ya?"
"Aku baru
saja menetapkannya kok! Ini perayaan masuk sekolah! Dan juga, sebagai bukti
kalau kita semua di sini sudah resmi menjadi teman akrab!"
"……Kamu
hebat ya bisa mengucapkan kalimat seperti itu tanpa merasa malu sedikit pun,
Uta-chan."
"Memangnya
tidak boleh, ya?"
Uta memiringkan
kepalanya bingung menanggapi senyuman kecut dari Hoshimiya. Hoshimiya kemudian
mengusap-ngusap kepala Uta dengan penuh rasa sayang.
"Tidak
kok, tidak apa-apa. Uta-chan imut banget, sih."
"Hikari
juga tidak kalah imut tahu."
"……Eh, tunggu dulu, Yuino-chan!?"
Nanase mendadak ikut mengusap kepala Hoshimiya yang sedang
mengusap kepala Uta. Hmm…… apakah ini yang dinamakan dengan hubungan yuri?
Seketika aku merasa seolah-olah ada sebuah pintu dunia baru
yang baru saja terbuka di dalam diriku, tetapi jika aku sampai terjerumus ke
dalam dunia tersebut, aku merasa peluangku untuk bisa berpacaran dengan
Hoshimiya nanti malah akan lenyap, jadi aku pun bergegas menarik kesadaranku
kembali ke realitas.
A-Apa-apaan yang
kupikirkan barusan……?
"Puuhaa!
Enak banget! Memang minuman berkarbonasi itu tiada duanya!"
Uta
berucap dengan riang setelah meneguk habis Melon Soda miliknya.
Kemudian,
seolah baru teringat sesuatu, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Jadi,
Natsu benar-benar tidak mau masuk klub basket, nih?"
"Iya. Maaf
ya."
"Begitu ya.
Sayang banget sih, tapi mau bagaimana lagi!"
"Lagipula,
kenapa kamu yang anak klub basket putri malah sampai seambisius itu
membujuknya? Ini kan tidak ada hubungannya denganmu."
Tatsuya
memiringkan kepalanya bingung melihat Uta yang tampak lesu.
"Ah! Tatsu
kejam banget! Padahal kita kan sesama pencinta basket!"
Uta mengerucutkan
bibirnya sambil menatap Tatsuya dengan pandangan kesal.
Rasanya
suasananya bakal menjadi canggung kalau dibiarkan terus begini karena
masalahku, jadi sebaiknya aku mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan saja.
"Meskipun
aku tidak ikut kegiatan klub, aku sebenarnya berencana untuk mulai bekerja
paruh waktu. Soalnya aku tidak punya uang. Tapi, aku masih bingung mau bekerja
di mana. Kalian ada saran tempat yang bagus tidak?"
Aku mengutarakan
masalah pribadiku saat ini…… yah, sebenarnya ini bukan masalah yang berat sih,
melainkan hanya sekadar salah satu hal yang sedang kupikirkan saja akhir-akhir
ini.
Meminta saran
dari orang-orang di sekitar seperti ini rasanya menjadi sebuah pengalaman yang
sangat baru bagiku.
Karena selama ini
aku selalu memikirkan dan memutuskan segala sesuatunya sendirian.
Dulu aku tidak
punya satu pun tempat untuk bertukar pikiran……
"Ahー, kerja paruh waktu ya. Aku belum pernah
melakukannya jadi aku tidak tahu."
Mendengar
Tatsuya yang bergumam sambil meminum Colanya, aku pun mengangguk setuju,
"Benar juga ya."
"Kalau
pilihan yang paling umum sih, mungkin bekerja di restoran keluarga seperti
tempat ini?"
"Pilihan
lain yang langsung terlintas di kepala paling-paling minimarket, tempat
karaoke, toko pencuci mulut seperti Mister Donut, gerai makanan cepat saji
seperti McDonald's, kafe, kedai minum, atau kedai jaringan nasi daging sapi
seperti Yoshinoya, ya."
"Ahー, pilihan yang ada memang kisaran
tempat-tempat itu ya."
Reita dan
Hoshimiya membantu menjabarkan beberapa pilihan, tetapi semuanya masih berada
di dalam batas jangkauan pemikiranku.
Yah, hal-hal yang
bisa dipikirkan oleh mereka tentu saja sudah sempat kupikirkan sebelumnya.
Lagipula mereka
semua kan belum pernah bekerja paruh waktu sebelumnya, berbeda denganku yang
sudah memiliki pengalaman hidup di masa kuliah dulu.
Sepertinya soal
pekerjaan paruh waktu ini lebih baik kupikirkan sendiri saja——
"Bagaimana
kalau kamu bekerja di tempat kerjaku saja?"
——Tepat di saat
aku membatin hal tersebut, Nanase tiba-tiba berucap sambil mengaduk es di dalam
gelas iced coffee miliknya hingga menimbulkan suara gemerincing.
Kalimat tersebut
seketika membuat atmosfer di meja kami membeku sesaat, sebelum akhirnya
Hoshimiya mengangkat tangannya sambil memegangi dahi.
"……U-Umm?
Apa aku tidak salah dengar? Yuino-chan, kamu bekerja paruh waktu?"
"Iya.
Di sebuah kafe di dekat sini."
"Aku
tidak pernah dengar tuh!?"
"Tentu saja.
Karena aku memang belum pernah menceritakannya."
Nanase menyahut
dengan santai sembari mengusap kepala Hoshimiya yang sedang syok.
"Aku sudah
memulainya sejak liburan musim semi kemarin…… tapi karena menjelaskan alasannya
terasa merepotkan, jadi aku memilih untuk diam saja."
"Cuma karena
alasan begitu!?"
"Habisnya,
kalau aku memberi tahumu, Hikari pasti bakal datang berkunjung ke sana setiap
hari, kan?"
"Aku
tidak akan datang setiap hari kok! Uangku kan tidak cukup."
"……Jawabanmu
itu mengindikasikan kalau kamu pasti bakal tetap datang selama uangmu masih
cukup, kan?"
Mendengar
komentar kecut dari Reita, Hoshimiya langsung terdiam seribu bahasa seolah-olah
baru saja tertangkap basah.
"Jadwalku
sendiri sebenarnya cuma dua kali seminggu karena aku juga harus mengikuti kelas
les. Berhubung saat ini toko sedang kekurangan staf dan manajer sedang
kebingungan, jadi kupikir tidak ada salahnya kalau Haibara-kun mau mencoba
mengajukan lamaran ke sana jika kamu punya waktu luang."
"Oh, o-oh…… begitu ya. Tadi kamu bilang kafe di dekat sini,
kan?"
"Iya,
namanya Kafe Mares. Belakangan ini menu kue pencuci mulut di sana sedang
lumayan populer."
"Ah, aku
pernah pergi ke sana sekali! Heh, ternyata Yui-Yui bekerja di tempat itu
ya!"
Aku membuka
ponselku dan mencoba mencari tahu tentang kafe tersebut, dan kelihatannya
tempatnya memiliki atmosfer yang sangat nyaman.
Dulu saat masih
zaman kuliah, aku adalah tipe orang yang suka pergi ke kafe sendirian untuk
membaca buku, jadi pada dasarnya aku memang menyukai kafe.
Ditambah lagi,
ini bisa menjadi kesempatan bagus bagiku untuk bisa menjadi lebih akrab dengan
Nanase yang merupakan salah satu anggota kelompok kami melalui pekerjaan paruh
waktu, jadi rasanya ini boleh juga dicoba.
"Wah,
kelihatannya tempatnya bagus sekali."
"Kan? Kurasa
bayaran per jam dan fasilitas yang ditawarkan di sana juga tidak terlalu buruk
kok."
Nanase tersenyum
tipis dengan raut wajah bangga.
Dia yang kelihatan sedikit senang itu terlihat
sangat imut.
"Kapan-kapan
aku akan mencoba berkunjung ke sana dulu. Setelah itu baru aku akan memutuskan
apakah mau meminta rekomendasi darimu atau tidak."
Aku memang
tertarik, tetapi rasanya agak aneh jika aku langsung mendaftarkan diri untuk
wawancara di sebuah toko yang bahkan belum pernah kukunjungi sebagai pelanggan
sekali pun.
Karena itulah aku
menjawabnya dengan cara seperti itu. Lagipula ini kan bukan jenis pembicaraan
yang harus diputuskan sekarang juga.
Namun di sisi
lain, Hoshimiya yang merasa telah dikhianati karena Nanase menyembunyikan
rahasia darinya tampak masih melamun dengan tatapan kosong.
"Tunggu
dulu, Hikari? Sampai kapan kamu mau cemberut begitu?"
"……Habisnya
aku tidak habis pikir. Kamu menyembunyikannya dariku dengan alasan karena takut
aku datangi, tapi kamu malah memberi tahu Natsuki-kun yang sedang mencari
pekerjaan paruh waktu dengan begitu mudahnya."
Kalau
dipikir-pikir lagi, ucapan Hoshimiya memang ada benarnya juga sih.
——Hah!?
J-Jangan-jangan, alasan dia memberi tahuku adalah karena dia diam-diam menaruh
hati kepadaku……!?
"Lama-kelamaan
aku juga pasti akan menceritakannya kok. Seriusan. Kebetulan saja momentum saat
ini terasa sangat pas."
Nanase memasang
wajah lempeng sembari memutar-mutar ujung rambut hitamnya yang indah
menggunakan jari.
Di wajahnya sama
sekali tidak terlihat adanya rona merah karena malu sedikit pun…… iya, dugaanku
memang salah ya. Aku sudah terlalu percaya diri. Mohon dimaafkan.
"——Mohon
maaf telah membuat Anda menunggu."
Tepat di saat
itu, menu makan malam yang sudah kami tunggu-tunggu akhirnya tiba di meja kami.
Setelah itu, kami
menghabiskan makanan kami sembari mengobrol santai mengenai materi pelajaran
sekolah dan hal-hal lainnya.
Sesudah
beristirahat sejenak setelah makan, Hoshimiya tiba-tiba berucap dengan nada
tidak enak, "Sepertinya aku harus segera pulang sekarang."
Hoshimiya
menangkupkan kedua tangannya di depan dada meminta maaf.
"Maaf ya,
semuanya. Aturan jam malam di rumahku agak ketat soalnya……"
"Tanpa
disadari waktu ternyata sudah lewat jam tujuh malam ya. Aku sampai kaget."
Ternyata kami
sudah mengobrol santai selama tiga jam penuh.
Karena suasananya
sangat menyenangkan, waktu rasanya berlalu dalam sekejap mata.
Meskipun aku
sudah mengabari orang tuaku kalau aku akan makan malam di luar, jika aku tidak
pulang kisaran jam delapan malam, mereka pasti akan mulai merasa khawatir.
"Kalau
begitu, mari kita pulang sekarang. Besok pagi aku juga harus kembali mengikuti
kegiatan klub."
Kata-kata dari
Reita yang mengajak kami semua untuk pulang itu pun resmi menandai berakhirnya
hari libur kami yang sangat menyenangkan ini.
——Di dalam hati,
aku benar-benar berharap agar kami semua bisa pergi bermain bersama lagi
kapan-kapan.
*
Dalam perjalanan
pulang hari itu.
Tepat di saat aku
baru saja turun dari kereta dan sedang berjalan di dalam area stasiun, ponsel
di dalam sakuku mendadak berdering nyaring.
Nomor
yang tertera di layar tidak terdaftar di dalam kontakku, tetapi aku sangat
mengenali nomor tersebut.
"……Ada
urusan apa?"
"Ara-ara,
pembawaan suaramu terdengar suram sekali ya, Natsuki. Jangan-jangan
rencanamu hari ini berakhir gagal total?"
Suara khas itu berasal dari orang yang baru saja mengobrol
bersamanya denganku kemarin hari. Dia adalah Motomiya Miori.
Apakah dia menelepon karena merasa penasaran dengan
penilaian pakaian yang telah dirancangnya untukku tadi?
Ataukah dia sebenarnya hanya ingin menjadikanku sebagai
bahan lelucon saja?
Yah, jika di dekatku ada seorang kenalan yang sedang
berjuang keras demi mengubah citra dirinya saat masuk SMA, aku pun pasti akan
menganggapnya sebagai hiburan yang sangat menarik sih.
"Mana
ada orang yang mengangkat telepon dengan nada bicara bersemangat."
Biar
bagaimana pun, aku mencoba untuk membalas pertanyaannya dengan senormal
mungkin.
Karena
jika aku sampai terdengar kegirangan saat mengobrol dengannya, Miori pasti akan
langsung menjadikanku sebagai bahan ejekan nantinya.
"Melihat
dari caramu membalas perkatakanku barusan, sepertinya acaramu hari ini berjalan
dengan lumayan sukses, ya?"
"……Yah,
pokoknya menyenangkan kok."
Aku
membalas pertanyaannya dengan perasaan campur aduk karena dia seolah-olah bisa
membaca maksud tersembunyi di balik kata-kataku.
"Kalau
begitu baguslah. Kamu harus berterima kasih kepadaku tahu!"
"Padahal
kalau kamu tidak mengatakannya, di dalam hati aku berniat untuk berterima kasih
kepadamu dengan tulus, tapi karena kamu sengaja mengungkitnya begitu, rasa
terima kasihku malah jadi menguap entah ke mana……"
"Ahaha,
Natsuki itu tipe yang seperti itu ya. Tipe anak yang bakal langsung mengamuk
sambil bilang 'aku baru saja mau mulai belajar tahu!' di saat ibunya
menyuruhnya untuk belajar."
"Berisik
ah!"
Kenapa dia bisa
membaca isi kepalaku dengan begitu tepat hingga membuatku kesal sendiri begini?
"……Tapi ya,
bagaimanapun juga, terima kasih ya. Berkat bantuanmu, aku tidak sampai mempermalukan diri sendiri hari
ini."
"Sama-sama."
Saat aku
menyampaikan rasa terima kasihku dengan tulus, Miori membalasnya dengan nada
bicara yang lembut tanpa berniat untuk mengejekku lagi.
Hal itu entah
mengapa malah membuatku…… ya, pokoknya rasanya jadi agak aneh saja sih. Membuat
hatiku terasa menggelitik.
"Kamu
sekarang sudah sampai di rumah?"
"Belum, ini
masih di jalan pulang. Baru saja keluar dari stasiun."
"Ah,
kebetulan sekali. Tolong tunggu di sana sekitar sepuluh menit ya."
"Tunggu
dulu, bagian mananya yang kamu sebut kebetulan bagi diriku……"
Tepat di saat aku
baru mau membalasnya, sambungan telepon ternyata sudah diputuskan secara
sepihak.
Dia benar-benar
mematikan telepon setelah hanya mengatakan apa yang ingin dikatakannya saja.
Jangan-jangan
perempuan ini sama sekali tidak memasukkan opsi penolakan dari diriku di dalam
kepalanya ya?
Karena tidak
punya pilihan lain, aku terpaksa menyandarkan punggungku di salah satu tiang di
dekat gerbang tiket sembari menatap kosong ke arah kerumunan orang yang
berlalu-lalang.
"Ah, itu dia. Halo—"
Sosok yang muncul dari balik gerbang tiket adalah seorang
gadis yang mengenakan jaket hoodie putih dipadukan dengan rok mini
hitam.
Pakaiannya terlihat sangat simpel namun berhasil menonjolkan
bentuk tubuhnya yang ideal, sampai-sampai pandangan mataku tanpa sadar langsung
tertuju ke arah paha mulusnya.
Bukankah potongan
roknya itu terlalu pendek?
Kalau aku adalah
ayahnya, aku pasti tidak akan mengizinkanmu memakai pakaian seperti itu tahu!
"……Oh."
Meskipun di dalam
hati aku sedang mengomel sendiri, di permukaan aku hanya membalas sapaannya
dengan kata-kata yang singkat.
"Kenapa kamu
melihatku dengan tatapan intens seperti itu? Jangan-jangan kamu jatuh cinta
lagi kepadaku ya?"
Miori melemparkan
pertanyaan dengan senyuman yang terlihat sangat menggoda. Gerakan lidahnya yang
sedikit menjilat bibir itu terlihat sangat menawan.
"Jatuh cinta
apanya, sejak dulu pun aku tidak pernah sekali pun menyukaimu tahu."
"Eh, bohong.
Masa sih?"
"Kenapa juga
aku harus berbohong soal itu. Waktu zaman dulu kan pembawaanmu itu tidak ada
bedanya dengan seorang ketua geng anak-anak."
"Muu…… padahal kukira pesona kelaki-lakianku dulu sudah
berhasil membuatmu bertekuk lutut dalam sekali kedip."
"Memangnya
aku ini perempuan apa."
"Ahaha, aku
cuma bercanda kok, bercanda."
Miori mulai
melangkah pergi sembari tertawa lepas, dan aku pun berjalan mengekor di
belakangnya.
"Omong-omong,
apa yang kamu lakukan seharian ini?"
"Karena hari
ini kegiatan klub sedang libur, aku pergi bermain bersama teman-teman SMP-ku
dulu. Itu lho, bersama Mayu dan Kana."
Aku mengenali
nama-nama tersebut. Mereka adalah jajaran siswi yang menempati kasta teratas di
kelasku dulu.
Tapi berhubung
pihak sana sendiri sepertinya belum tentu mengingat namaku, kami bahkan tidak
bisa disebut sebagai seorang kenalan.
"Oh
begitu."
"……Padahal
kamu sendiri yang bertanya tapi kenapa reaksimu kelihatan tidak tertarik
begitu? Kalau sikapmu seperti itu terus, kamu tidak akan bisa disukai oleh
perempuan lho?"
"Ugh……"
Aku tidak bisa
membalas perkataan dari Miori yang sedang menatapku dengan pandangan sinis.
Dulu di masa
lalu, aku tidak pernah memedulikan apakah aku akan disukai oleh perempuan atau
tidak, jadi aku bisa membalas perkataannya sesuka hati, tetapi tujuan utamaku
saat ini adalah membuat Hoshimiya jatuh cinta kepadaku.
Dengan kata lain,
aku akan berada dalam masalah besar jika aku tidak tahu cara memikat hati
seorang perempuan.
"Kalau
begitu, aku harus bagaimana?"
"Kamu harus
memberikan respons sahutan yang tepat dong. Gunakan nada bicara yang
mengindikasikan kalau kamu memang tertarik dengan topik pembicaraannya."
"Hmm……"
"Kalau cuma
mendengung seperti itu memang kedengarannya seperti tertarik, tapi ritme
obrolannya jadi terasa kurang mengalir, kan? Kamu harus membalasnya dengan nada
yang ceria dan ritme yang cepat, seperti 'wah benarkah?' atau 'ah, aku
mengerti!' atau 'wah, itu kedengarannya seru ya!' begitu."
"Wah
benarkah, itu kedengarannya seru ya!"
"Memberikan
sahutan tanpa mendengarkan isi pembicaraannya sama sekali malah akan memberikan
efek sebaliknya tahu! Dasar, padahal kalau di depan orang lain kamu bisa
bersikap dengan sangat baik, tapi kenapa kalau di depanku kamu malah kembali
menjadi sosok yang keras kepala seperti dulu sih……"
Miori mengangkat
kedua bahunya pasrah sembari menghela napas.
"Untuk apa
juga aku membuang-buang tenaga dengan memakai topeng di depan orang yang sudah
tahu betul tentang masa laluku."
"……Begitu
ya, jadi caramu berpikir seperti itu toh."
Miori memberikan
respons sahutan dengan nada bicara yang terdengar sangat serius sembari
menepuk-nepuk bahuku pelan.
Tolong hentikan
kontak fisik seperti ini, karena biar bagaimanapun juga kamu itu adalah seorang
perempuan, jadi aku tetap saja merasa grogi tahu!
"Lihat, ada
mesin penjual otomatis."
Saat aku
mengalihkan pandangan ke arah Miori, dia tampak sedang menunjuk ke arah sebuah
mesin penjual otomatis.
Pemandangan ini
terasa sangat merindukan. Ini adalah mesin penjual otomatis langka yang menjual
minuman dengan harga di bawah seratus yen, jadi dulu kami memang sering
memanfaatkannya.
"Rumah kita
kan sudah dekat dari sini. Kamu bisa minum apa saja sesampainya di rumah nanti,
kan?"
"Pakaian
yang kamu pakai sekarang itu kan hasil rancanganku lho? Jadi tolong traktir aku ya♪"
Dia
tersenyum dengan sangat manis. Yah, kalau cuma mentraktir minuman sekecil ini
sih aku tidak keberatan……
Begitu
aku memasukkan koin seratus yen ke dalam mesin penjual otomatis yang sudah tua
tersebut, Miori tanpa ragu langsung menekan tombol pilihan minuman Strawberry
Au Lait kemasan kotak.
"Terima
kasih—"
"Kebiasaanmu
membeli minuman itu ternyata tidak pernah berubah sejak dulu ya."
Tepat di saat aku
mengucapkan kalimat tersebut, gerakan tubuh Miori mendadak langsung terhenti
seketika.
"……Eh?
Kenapa aku malah membeli minuman ini ya?"
"Kamu ini
bicara apa sih."
Apakah kepalanya
baru saja mengalami korsleting atau bagaimana?
"Tidak, aku
memang menyukai Strawberry Au Lait sih. Tapi belakangan ini aku sudah jarang
meminumnya lagi. Entah kenapa, perasaanku rasanya seperti kembali ke masa lalu.
Ataukah mungkin karena kebiasaan lamaku mendadak bangkit kembali?"
"Ahー, aku bisa mengerti perasaan itu."
Sembari membalas
perkatakannya dengan nada seadanya, aku menekan tombol pilihan kopi hitam
kemasan kaleng.
"Tunggu
dulu, bukankah dalam situasi seperti ini harusnya kamu juga ikut membangkitkan
kebiasaan lamamu?"
"Mana ada
aku mengingat jenis minuman apa yang sering kubeli di masa lalu."
Lagipula bagi
diriku yang sekarang, kejadian di masa lalu itu sudah berlalu selama tambahan
tujuh tahun yang lalu tahu.
"Dulu kamu
itu selalu membeli minuman jus apel yang ini lho."
"……Benarkah?
Kamu ingat saja ya."
"Habisnya,
padahal harganya sama-sama seratus yen tapi ukuran kaleng yang ini sedikit
lebih besar, kan? Dulu kamu selalu bersikeras menjelaskan kepadaku kalau
membeli kaleng yang ini jauh lebih menguntungkan tahu. Lagipula, kenapa kamu
sendiri bisa mengingat jenis minuman yang sering kubeli?"
Alasan itu memang
kedengarannya sangat mirip dengan pola pikirku saat masih anak-anak dulu.
Karena pada masa itu, uang seratus yen rasanya memiliki nilai yang sangat
besar.
"Bukan cuma
minuman itu saja, pokoknya kamu kan memang menyukai segala hal yang berbau
stroberi sejak dulu. Aku cuma mengingat fakta itu saja kok."
"……Entah
kenapa, aku merasa agak kesal."
"Kenapa
begitu?"
"Soalnya
cuma kamu sendiri yang meminum kopi hitam, seolah-olah ingin menunjukkan kalau
kamu sudah berubah menjadi orang dewasa saja."
Jika hanya dengan
meminum kopi hitam saja sudah bisa membuat seseorang berubah menjadi dewasa,
maka hidup ini pasti tidak akan terasa sesulit ini…… tapi di samping itu,
karena selama masa kuliah dulu aku terlalu sering meminum kopi, lama-kelamaan
lidahku jadi terbiasa dan tidak lagi merasakan rasa pahitnya.
"Manusia itu
memang pasti akan berubah ya."
Miori melangkah
mundur beberapa langkah menjauh dariku, lalu mulai mengambil foto diriku
menggunakan kamera ponselnya secara berturut-turut sesuka hatinya.
"Ucapan itu
harusnya menjadi kalimatku tahu."
Siapa juga yang
menyangka kalau Miori yang dulunya adalah seorang ketua geng anak-anak berkaki
pendek yang selalu memakai celana pendek kini bisa berubah menjadi seorang
gadis yang sangat feminin seperti ini.
"Lagipula
jangan mengambil fotoku sembarangan ah."
"Tidak
apa-apa dong, kan penampilanmu saat ini adalah hasil karyaku."
"Awas
saja ya kalau kamu sampai mengunggahnya ke Minstagram tanpa izin. Aku akan
menagih biaya royalti pemuatan foto kepadamu nanti."
"Ahaha,
padahal penampilanmu baru berubah jadi sedikit lebih keren saja tapi gayamu
sudah seperti seorang model profesional saja ya?"
"Kamu ini
ya……"
"Jadi,
bagaimana penilaian dari teman-temanmu tadi?"
"Tidak
ada reaksi yang berlebihan kok. ……Meskipun, ya, mereka ada sedikit memujiku sih."
Pikiran di dalam
kepalaku seketika langsung terbayang ke arah momen di saat Hoshimiya
melayangkan pujiannya kepadaku tadi. ……Ah, sudut bibirku rasanya mau tersenyum
sendiri nih.
"Heh,
syukurlah kalau begitu. Tadi
kalian pergi ke Spo-Cha, kan?"
"Iya, berkat
hasil melatih tubuhku dengan keras selama ini, dari segi stamina aku sama
sekali tidak merasa kelelahan, jadi——"
Sembari keasyikan
mengobrol dengannya di sepanjang jalan, tanpa disadari aku ternyata sudah
sampai di depan rumahku sendiri.
……Eh? Entah
kenapa aku merasa seolah-olah sudah menceritakan hampir seluruh kejadian yang
kualami hari ini kepadanya ya.
Itu semua karena
respons sahutan dari Miori terasa sangat alami dan tepat sasaran, sehingga
membuat kata-kata di dalam mulutku mengalir keluar dengan sendirinya begitu
saja.
"Kalau
begitu, sampai jumpa lagi ya, Natsuki. Kalau besok-besok ada acara lain yang
kelihatan menarik lagi, tolong hubungi aku ya?"
Miori melemparkan
senyuman manisnya sebelum akhirnya berjalan pulang menuju ke arah rumahnya
sendiri.
Mi-Miori…… Perempuan itu, jangan-jangan dia adalah sosok
wanita yang jauh lebih mengerikan dari apa yang kubayangkan selama ini.
*
Lima hari
kemudian. Hari itu adalah hari Kamis sepulang sekolah.
"Kalau
begitu Haibara-kun, ayo kita pergi sekarang."
Nanase yang sudah
selesai mengemas barang-barang bawaannya berjalan menghampiri mejaku.
Sikap dan ucapan
dari Nanase barusan entah mengapa langsung memicu timbulnya suara kasak-kusuk
di dalam ruang kelas, ada apa sih sebenarnya?
"Ah,
iya."
Aku mengangguk
lalu berdiri dari kursi untuk mulai berjalan beriringan bersama Nanase.
Teman-teman kami
yang lainnya langsung bergegas pergi menuju kegiatan klub masing-masing tepat
setelah sesi wali kelas berakhir.
Hoshimiya yang
merupakan anggota klub sastra pun hari ini memiliki jadwal kegiatan klub.
"Meskipun
pihak toko bilang akan mengadakan sesi wawancara terlebih dahulu, tapi itu
sebenarnya hanya sebatas formalitas saja kok."
Aku dan Nanase
saat ini sedang berjalan menuju Kafe Mares.
Nanase pergi ke
sana untuk bekerja, sedangkan aku untuk menjalani sesi wawancara.
Dua hari setelah
hari libur kami kemarin, aku sempat menyempatkan diri untuk berkunjung ke Kafe
Mares sendirian, dan aku langsung menyukai atmosfer tempatnya yang terasa
sangat menenangkan.
Karena itulah aku
akhirnya meminta rekomendasi dari Nanase.
"Melihat
dari pembawaan karaktermu, kurasa kamu pasti akan langsung lulus dengan mudah
kok."
"Yah,
semoga saja memang begitu."
Dia
bilang melihat dari pembawaan karakterku, tapi sebenarnya sejauh mana Nanase
sudah berhasil memahami karakter asliku yang sebenarnya ya?
Rasanya
sulit bagiku untuk membayangkan sosok diriku yang asli bisa lulus dalam sebuah
sesi wawancara kerja dengan mudah.
Meskipun
aku tahu kalau ini hanyalah sebuah pekerjaan paruh waktu biasa jadi harusnya
bisa diatasi, tetapi ingatan buruk mengenai kegagalanku yang terus-menerus
ditolak saat mencari pekerjaan di masa kuliah tingkat empat dulu mendadak
kembali terngiang di dalam kepala.
Waktu itu
aku sampai ditolak oleh tiga puluh perusahaan berturut-turut, membuatku sempat
depresi dan bingung apakah aku harus mengakhiri hidup saja atau tidak.
Meskipun
pada akhirnya aku berhasil mendapatkan kepastian kerja, tapi berhubung sekarang
aku sudah mengulang kembali waktu ke masa lalu, semua perjuangan itu kini
menjadi tidak ada artinya lagi.
Walaupun aku sama
sekali tidak menyesalinya sih.
"Bagian
dapur yang kekurangan staf, ya?"
"Bagian
pelayan depan toko sebenarnya juga kekurangan staf sih. Tapi kondisi di bagian
dapur memang jauh lebih parah."
"Kamu
sendiri berada di bagian mana, Nanase?"
"Aku berada
di bagian depan toko sebagai pelayan. Bukannya aku mau pamer ya, tapi aku
memang tidak bisa memasak sama sekali."
"Itu sih
jelas bukan hal yang patut dipamerkan……"
"Kamu merasa
heran?"
"Yah,
soalnya Nanase kelihatan seperti tipe orang yang bisa melakukan apa saja dengan
sempurna sih."
"Orang lain
juga sering mengatakan hal yang sama kepadaku. Tapi kenyataannya aku ini
hanyalah seorang gadis biasa yang tidak ada bedanya dengan yang lain kok.
Alasan kenapa aku bisa sedikit menguasai upacara minum teh dan seni kaligrafi
itu murni karena aku pernah mengikuti kelas lesnya saja, jadi aku hanya sebatas
mengetahui tata caranya saja."
"Hal itu
rasanya sudah mulai bisa kupahami belakangan ini."
"……Mendengar
penilaianmu yang sewajar itu, entah kenapa di dalam hati aku merasa agak tidak
rela ya."
"Pembawaan
karaktermu ternyata merepotkan juga ya!?"
Saat aku
melayangkan protesku, Nanase langsung terkekeh pelan.
Cara
tertawanya yang anggun dengan menangkupkan tangan di depan mulut itu tidak
hanya memperlihatkan kualitas dari hasil didikan keluarganya yang baik saja,
melainkan juga terlihat sangat imut. Nanase, kamu…… benar-benar sangat
menarik untuk didukung tahu.
Dia selalu memasang citra sebagai seorang gadis yang dingin
dan anggun, padahal aslinya pembawaan karakter sehari-harinya tidak ada bedanya
dengan seorang gadis normal pada umumnya. Bukankah kombinasi ini adalah atribut
yang paling mematikan?
"Nah, ayo kita jalan…… eh, ada apa?"
Karena aku terus menatap ke arah Nanase dengan pandangan
intens yang menyelidiki, dia akhirnya menyadari pandangan mataku lalu
memiringkan kepalanya bingung dengan tatapan polos.
Gestur tubuhnya yang seperti itu memancarkan aura keimutan
yang sangat kontras dengan garis wajahnya yang cantik nan anggun.
"Ah tidak,
bukan apa-apa."
Ha-Hampir saja…… aku menatapnya terlalu lama.
Lama-kelamaan perasaanku terhadap Nanase ini rasanya sudah
hampir menyerupai pola pikir dari seorang penggemar idola yang fanatik saja.
Ini bukan jenis perasaan yang ingin menjadikannya sebagai
pacar atau hal semacamnya kok.
Bagaimana ya
menjelaskannya, pokoknya Nanase itu murni sangat menarik untuk didukung.
Ya, intinya aku
hanya berharap agar dia bisa menjalani kehidupannya dengan penuh rasa bahagia.
Aku melanjutkan
obrolan agar pemikiran mesum yang sangat gila itu tidak sampai terendus
olehnya.
"Haibara-kun,
kamu mengincar posisi dapur, kan?"
"Hmm, ya,
meskipun bagian depan juga tidak apa-apa. Tapi kalau bagian dapur memang lebih
kekurangan orang, aku pilih itu saja."
Bagiku beneran
bebas mau ditempatkan di mana saja.
Hanya saja,
esensi diriku sebagai seorang introver sejati tetap tidak akan pernah berubah.
Jika harus
memilih, mengobrol dengan orang asing yang tidak kukenal di bagian depan toko
rasanya jauh lebih banyak menguras mental ketimbang memasak, jadi aku merasa
bagian dapur memang pilihan yang lebih cocok untukku.
"Seberapa
pandai kamu dalam memasak?"
"Kalau
ditanya seberapa pandainya, agak sulit juga ya menjelaskannya……"
Mengenai urusan
masak-memasak, aku sudah sempat mendalaminya sampai ke tingkat mahir saat aku
masih tinggal sendirian di zaman kuliah dulu, karena saat itu aku punya banyak
waktu luang.
Aku sering
menonton berbagai macam video memasak di YouTube, mencari resep di internet,
dan selalu memikirkan variasi menu yang unik setiap harinya.
Lagipula, di luar
jam kuliah aku memang tidak pernah keluar dari dalam rumah. Jadi aku bisa bereksperimen dengan
resep masakan sesuka hatiku. Hahaha!
Orang-orang
sering bilang kalau membuat makanan itu merepotkan. Tapi bagiku, melangkah
keluar rumah itu jauh lebih merepotkan tahu.
Atau
lebih tepatnya, aku memang malas keluar rumah. Karena seluruh siklus
kehidupanku saat itu sudah bisa terpenuhi sepenuhnya hanya di dalam rumah saja.
Nanase
yang tentu saja tidak tahu sedikit pun mengenai pola pikir kuperku ini tampak
mengangguk dengan suasana hati yang sangat riang.
"Fufu,
benar juga ya."
"Tapi,
kalau cuma level masakan yang dicari untuk sebuah kafe, kurasa aku pasti bisa
mengatasinya kok. Di rumah pun aku lumayan sering memasak makanan sendiri, dan
karena aku sudah melewati banyak proses eksperimen trial-and-error yang
tidak berguna, rata-rata masakan yang kubuat rasanya enak."
Lagipula,
aku memang sudah punya pengalaman kerja paruh waktu di bagian dapur kafe saat
masih zaman kuliah dulu.
Aku bisa
membuat hampir seluruh menu yang ada, dan kalau harus membantu di bagian
pelayan depan pun kurasa aku masih sanggup mengatasinya.
"Heー, kamu kelihatan lumayan percaya diri ya.
Kalau begitu, aku akan menantikannya, ya?"
"Memangnya
ada kesempatan bagiku untuk menghidangkan masakan untukmu?"
"Aku juga
sering memanfaatkan tempat ini sebagai pelanggan kok. Bagaimana kalau aku
datang berkunjung khusus di saat kamu sedang masuk sif kerja?"
Setelah
mengucapkan kalimat itu, Nanase tersenyum dengan tatapan yang terlihat jahil.
*
Sesampainya di
Kafe Mares, aku langsung menjalani sesi wawancara, dan hasilnya aku berhasil
lulus tanpa ada kendala sedikit pun.
Mengenai jadwal
sif kerjaku, diputuskan kalau aku akan masuk sekitar tiga kali seminggu, mulai
dari jam enam sore hingga jam sepuluh malam sepulang sekolah.
Sedangkan untuk
hari Sabtu dan Minggu, jadwalnya akan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi
toko.
"Kalau
begitu, mohon bantuannya mulai minggu depan ya."
Manajer toko
adalah seorang kakek tua yang terlihat sangat ramah. Senyuman hangat yang
menghiasi wajahnya terlihat sangat cocok untuknya.
Syukurlah dia
bukan tipe orang yang galak.
Karena jika harus
bekerja di bawah tekanan atasan yang galak, aku pasti akan merasa terlalu
ketakutan dan malah berujung membuat lebih banyak kesalahan saat bekerja……
"Oh,
ada cowok ganteng baru nih. Anggota baru ya?"
Seorang
wanita berambut pirang masuk ke dalam toko sambil menyapa dengan nada bicara
yang santai.
Kelihatannya dia
adalah seorang mahasiswi.
Melihat dari
gelagatnya yang langsung melangkah masuk ke balik meja kasir dengan santai, dia
pasti salah satu staf yang bekerja di sini.
"Mulai
minggu depan saya akan mulai bekerja di sini, nama saya Haibara Natsuki."
"Natsuki-kun
ya, salam kenalー. Aku Kirishima
Mika. Mahasiswi tingkat satu."
Melihat caranya
yang menjabat tanganku dengan begitu santainya, aku pun langsung menyadari satu
hal. Ini adalah…… jarak kedekatan intim khas anak-anak populer!
"Ah, omong-omong, bukannya waktu itu Yuino sempat
bilang kalau ada orang yang mau dikenalkannya kepadaku ya?"
"Iya. Orang
itu adalah Haibara-kun yang ada di sana."
Tepat di saat aku
baru mau membuka mulut untuk membalas perkatakannya, Nanase yang sedang menyapu
area depan toko sudah mendahuluiku untuk menjawabnya.
Kirishima-san
menatap ke arah Nanase dengan senyuman penuh arti, sebelum akhirnya dia
mendekatkan wajahnya ke telingaku untuk berbisik.
"……Omong-omong, apa dia pacarmu?"
"Aku bisa mendengar suaramu tahu. Tentu saja
bukan."
Nanase melayangkan protesnya kepada Kirishima-san dengan
raut wajah pasrah.
"Aku
kan sedang bertanya kepada anak ini tahu. Bagaimana, Natsuki-kun?"
"Sayang
sekali, aku bukan pacarnya. Tapi kalau punya pacar yang seperti dia, aku pasti
akan merasa sangat bahagia sih."
"Heeー. Hmmー? Tuh, dengar sendiri kan, Yuino?"
Saat aku
mengangkat kedua bahuku pasrah, Kirishima-san langsung memanggil Nanase dengan
nada bicara yang terlihat sangat kegirangan.
……Eh, tunggu
dulu? Tadi aku kan hanya sekadar mengutarakan isi hatiku yang sejujurnya saja,
tapi jangan-jangan kalimatku barusan terdengar mesum ya?
"Memangnya
kenapa kalau dia bilang begitu. Tolong jangan mengada-ada ah."
Nanase menyahut
dengan nada bicara yang datar sembari membalikkan badannya untuk kembali
melanjutkan pekerjaannya menyapu lantai toko.
"Hei
Kirishima. Jangan terus-menerus menjahili staf baru kita, cepat kembali bekerja
sana."
Mendirikan
teguran dari manajer toko yang disampaikan sembari tersenyum kecut,
Kirishima-san menyahut, "Iyaaー," dengan nada malas sebelum akhirnya menghilang ke dalam ruang
karyawan.
Berhubung Nanase
juga sudah kembali melanjutkan pekerjaannya, kurasa hari ini sebaiknya aku
langsung pulang saja.
"Kalau
begitu Nanase, sampai jumpa besok ya."
"……Iya,
sampai jumpa besok. Dan juga, mohon bantuannya untuk ke depannya ya."
Dengan begitu,
tempat kerja paruh waktuku akhirnya resmi diputuskan, dan mulai minggu depannya
siklus kehidupan baruku yang memadukan antara sekolah dan kerja paruh waktu pun
resmi dimulai.
*
Saat baru pertama
kali memulai kehidupan tinggal sendirian dulu, aku selalu mengandalkan makanan
luar untuk menu makan sehari-hariku.
Namun,
lama-kelamaan aku mulai merasa malas bahkan hanya untuk sekadar melangkah
keluar rumah, sampai-sampai aku terus-menerus mengonsumsi mi instan cup. Karena
akhirnya aku mulai merasa bosan dengan menu itu, aku pun terpaksa mulai belajar
memasak sendiri.
Memasak itu
sebenarnya adalah hal yang mudah. Kita hanya perlu memotong bahan makanan yang
ada, lalu tinggal merebus, memanggang, atau menggorengnya saja sampai bentuknya
terlihat meyakinkan.
Sisanya, kita
hanya perlu menakar takaran bumbu dan menentukan ketepatan waktu memasaknya
saja.
Namun, ceritanya
akan menjadi sangat berbeda jika masakan yang kita buat ditujukan untuk
disajikan kepada orang lain.
Kalau aku memasak
hanya untuk dikonsumsi oleh diriku sendiri, tidak akan ada masalah meski
hasilnya berakhir gagal sekalipun, tetapi aturan itu jelas tidak berlaku jika
kita bekerja di bagian dapur sebuah tempat makan.
Karena pelanggan
datang dengan membayar uang demi bisa menikmati makanan yang kami sajikan, aku
merasa kami berkewajiban untuk menghidangkan masakan dengan kualitas yang
sepadan.
Karena itulah
saat aku baru pertama kali memulai kerja paruh waktu di bagian dapur kafe pada
masa kuliah tingkat dua dulu, aku sempat merasa sangat tertekan karena adanya
perbedaan standar tersebut.
Tentu saja, aku
juga harus menyesuaikan diri dengan tata cara memasak yang sudah ditetapkan
oleh pihak toko.
——Meski begitu,
begitu waktu sudah berjalan selama tiga bulan, aku pun sudah mulai terbiasa
dengan ritme kerjanya.
Karena pada
dasarnya metode memasak yang digunakan di toko selalu sama, jadi aku hanya
perlu menghafalnya saja, ditambah lagi pihak toko juga masih mengizinkan kami
untuk memberikan sedikit variasi pada masakannya.
"Natsuki-kunー. Tolong buatkan satu porsi Napolitann
ya."
"Siap."
Mendengar
panggilan dari Kirishima-san, aku pun langsung bergegas memulai proses memasak.
Sembari merebus
mi pasta di dalam air mendidih yang sudah diberi taburan garam, aku
memotong-motong bahan makanan yang diperlukan seperti bawang bombai, paprika
hijau, dan jamur kancing dengan ukuran seadanya.
Aku kemudian
mencampurkan saus tomat beserta bumbu-makanan pelengkap lainnya ke dalam satu
wadah, lalu mulai menumis bahan-bahan yang sudah dipotong tadi di atas wajan
penggorengan.
Setelah mi
pastanya matang, aku meniriskan kandungan airnya sebelum akhirnya memasukkannya
ke dalam wajan, menuangkan racikan bumbu yang sudah kubuat tadi, lalu
mengaduknya dengan cepat di atas api besar hingga matang.
Napolitann ala
diriku pun akhirnya selesai dibuat.
Yah, meskipun
metode pembuatannya terkesan sangat standar dan biasa saja, takaran bumbunya
sudah kusesuaikan dengan selera pribadiku.
Untungnya di Kafe
Mares ini, meski panduan menu dasarnya sudah ditentukan, pihak toko membebaskan
kami untuk berkreasi dalam proses memasaknya, sehingga membuat pekerjaan ini
terasa sangat menantang dan menyenangkan bagi diriku.
"Kirishima-san,
menu Napolitann-nya sudah selesai."
"Wah, cepat
banget! Kalau begitu biar langsung kuantarkan ke meja pelanggan ya!"
Sebenarnya,
sebelum diizinkan untuk memegang area dapur sepenuhnya, pihak toko mewajibkan
adanya semacam ujian memasak terlebih dahulu di mana manajer toko akan
mencicipi rasa masakan buatan kami secara langsung.
Berhubung aku
berhasil lulus tanpa ada kendala sedikit pun (malah masakan buatanku dipuji
habis-habis olehnya), di hari kedua sif kerjaku ini aku sudah bisa langsung
dijadikan sebagai andalan utama di dapur.
Aku sudah
berhasil menguasai hampir seluruh alur pekerjaan di sini.
"Omong-omong,
Natsuki-kun hebat banget ya? Kamu beneran belum pernah bekerja paruh waktu
sebelumnya?"
Mungkin
karena sudah selesai mengantarkan menu Napolitann tadi, Kirishima-san kembali
menghampiriku sambil bertanya dengan nada bicara yang terlihat sangat kagum.
Saat ini
kondisi di dalam toko sedang lengang dan hanya diisi oleh dua orang pelanggan
saja.
Di
saat-saat tertentu tempat ini memang bisa menjadi sangat ramai, tetapi di saat
kondisinya sedang sepi seperti sekarang, tidak banyak hal yang harus kami
kerjakan sehingga kami masih diizinkan untuk mengobrol santai sejenak.
Dan saat
ini adalah momentum yang tepat untuk itu.
"Ahー, itu karena aku memang lumayan
sering memasak makanan sendiri di rumah sih."
"Tetap saja
itu hebat tahu! Siapa juga yang menyangka kalau kamu bisa langsung membuat
manajer mengakui kemampuan memasakmu di hari pertama kerja.
Levelmu ini sudah
bukan lagi di tahap andalan utama biasa tahu. Hebat banget ya Yuino bisa
membawa sosok genius seperti ini ke toko kita? Kerja bagus!"
Mendengar namanya
ikut diseret ke dalam obrolan, Nanase yang sedang menghitung jumlah uang di
dalam mesin kasir langsung menyahut,
"Aku sendiri
pun sebenarnya sama sekali tidak menyangka kalau dia ternyata adalah tipe pria
yang serbabisa sampai ke tingkat seperti ini lho."
Nanase
melemparkan pandangan matanya ke arahku dengan sorot mata yang terlihat agak
rumit. Memangnya ada masalah dengan hal itu?
"……Padahal
aku sendiri membutuhkan waktu sampai satu bulan penuh hanya untuk bisa
menghafal seluruh alur pekerjaan pelayan di bagian depan toko tahu."
Sorot mata sinis
dari Nanase tampak sedang menatapku dengan tajam.
Dia kelihatan
sangat tidak puas, padahal menurutku durasi waktu yang dibutuhkannya itu
tergolong sangat normal kok.
"Yuino itu
termasuk tipe orang yang cepat dalam menangkap pelajaran tahu! Natsuki-kun saja
yang dasarnya memang aneh!"
Aku tahu kalau
kalimat barusan dimaksudkan untuk memujiku, tapi mendengar kata 'aneh' yang
keluar langsung dari mulut seorang mahasiswi yang penampilannya menyerupai
seorang gadis populer rasanya tetap saja menusuk langsung ke dalam lubuk
hatiku.
Benar,
aku ini memang hanyalah seorang siswa SMA introver yang aneh…… Fufufu……
"Tidak
kok, Haibara-kun beneran sangat bisa diandalkan di sini. Mohon bantuannya untuk
seterusnya ya."
Manajer
toko yang baru saja memunculkan kepalanya dari arah ruang dalam tampak
menepuk-nepuk bahuku pelan.
……Yah,
jadi beginilah situasinya saat ini di mana semua orang di toko terus-menerus
melayangkan pujiannya kepadaku.
Padahal
bagi diriku yang sudah memiliki pengalaman kerja paruh waktu di bagian dapur
kafe selama kurang lebih dua tahun, hal-hal yang kulakukan ini adalah sebuah
kewajaran yang sudah semestinya dilakukan, sehingga membuat hatiku terasa agak
menggelitik.
Namun,
jika aku menceritakan alasan yang sebenarnya kepada mereka, hal itu malah akan
berujung menjadi sebuah kebohongan baru, karena jika mereka sampai menyelidiki
latar belakangku, kebenarannya pasti akan langsung terungkap dalam sekejap.
"Ah
tidak, kemampuan saya sebenarnya tidak sehebat itu kok."
"Haibara-kun
itu selalu saja bersikap rendah hati ya. Padahal tidak ada salahnya lho kalau
kamu mau sedikit menyombongkan kemampuanmu itu?"
Nanase berucap
demikian, tetapi rasanya sangat memalukan jika aku harus bersikap sombong hanya
karena pencapaian sekecil ini.
Biar bagaimanapun
juga, sekaku dan se-tidak berguna apa pun sosok diriku ini, fakta bahwa aku
sudah mengulang kembali waktu dan menjalani ulang kehidupanku dari tujuh tahun
yang lalu membuat diriku wajar saja jika memiliki banyak keunggulan di beberapa
aspek tertentu jika dibandingkan dengan orang-orang di sekitarku saat ini.
"Tidak kok,
alasan kenapa aku bisa memasak sampai ke tingkat seperti ini bukan karena
bakatku sendiri, melainkan murni berkat jasa dari sosok orang yang sudah
mengajariku dulu."
Karena itulah,
alih-alih menyombongkan diri, aku memilih untuk bersikap rendah hati sembari
memberikan senyuman kecut demi mengelabui mereka.
Tepat di saat
itu, suara bel di pintu masuk toko berbunyi nyaring, menandakan adanya
pelanggan baru yang datang. Nanase yang bertugas di bagian depan toko langsung bergegas menyambut
mereka.
Nah,
sebaiknya aku mulai mencuci tumpukan piring kotor yang ada di bak cucian
saja——tepat di saat aku membatin hal tersebut,
"Halo
Yui-Yui! Aku datang berkunjung nih!"
Sebuah
suara yang sangat tidak asing di telingaku mendadak menggema dengan sangat
nyaringnya. Atau lebih tepatnya, suaranya terlalu lantang.
Sembari
merasakan adanya firasat buruk di dalam hati, aku mencoba mengalihkan
pandanganku ke arah pintu masuk toko, dan di sana tampak berdiri tiga sosok
orang yang sangat kukenal.
Pelanggan
baru yang datang berkunjung tersebut ternyata adalah Uta, Tatsuya, dan Reita.
"Oh,
Nanase. Si Natsu ada di…… eh, anak itu ternyata ditempatkan di bagian dapur
ya?"
Tatsuya
langsung membelalakkan kedua matanya lebar-lebar setelah mendapati keberadaanku
setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko.
"……Mari saya
antarkan menuju ke meja Anda. Silakan lewat sebelah sini."
Meskipun wajah
Nanase tampak sedikit memerah karena merasa malu, dia tetap berusaha untuk
melayani mereka sesuai dengan panduan manual toko.
Saat ada teman
dekat yang datang berkunjung ke tempat kerja, kita memang sering merasa bingung
harus bersikap seprofesional apa sesuai manual toko ataukah harus mengobrol
santai seperti biasa, kan? Aku bisa sangat memahami perasaan itu.
Tatsuya dan Uta
langsung mengempaskan tubuh mereka dalam-dalam di atas kursi meja makan.
Mereka berdua
pasti merasa sangat kelelahan karena baru saja menyelesaikan kegiatan klub
mereka.
Sembari tersenyum
kecut melihat kondisi mereka berdua, Reita melayangkan permohonan maafnya
kepadaku dan Nanase.
"Tadi siang
kami sempat mendengar cerita kalau jadwal sif kalian berdua kebetulan sedang
berbarengan hari ini. Jadi kami bertiga sempat mengobrol bersama, dan
memutuskan untuk datang berkunjung ke sini secara mendadak sepulang sekolah
demi memberikan kejutan untuk kalian berdua…… bagaimana, apa kalian merasa
terkejut?"
"Tentu saja
kami terkejut tahu. Bisakah lain kali kalian memberi tahu kami terlebih
dahulu?"
Reita mencoba
untuk menenangkan Nanase yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal.
Meskipun aku
masih harus melanjutkan pekerjaanku di dalam dapur, manajer toko tiba-tiba
menghampiriku.
"Bagaimana
kalau kamu pergi menyapa dan mengobrol bersama mereka sejenak? Mereka itu
adalah teman-temanmu, kan?"
"Eh, apa boleh?"
"Hari ini
pelanggan juga sedang sepi, kok."
"Terima
kasih banyak! Kalau begitu, saya izin ke sana sebentar, ya."
Karena manajer
toko sudah berbaik hati memberikan izin, aku membungkuk sopan. Aku kemudian
melangkah menuju meja tempat Uta dan yang lainnya duduk.
"Yo. Kalian
ke sini sengaja mau menambah pekerjaanku, ya?"
"Eeeh!? Kok
ngomongnya begitu! Natsu, kamu enggak senang ya kami datang?"
"Bukannya
enggak senang, tapi kan baru saja kita barengan di sekolah……"
Saat aku
membalasnya dengan nada datar, Uta langsung mengerucutkan bibirnya dengan
kesal. "Mumu!" Pipinya menggembung menggemaskan.
"Natsu,
sekarang kamu senang enggak!?"
"Ah,
iya?"
Ada apa
dengan antusiasme yang meledak-ledak ini? Karena wajah Uta mendadak terasa
begitu dekat, aku refleks menarik tubuhku ke belakang.
"Kamu
senang enggak, bisa berteman sama aku?"
Mendapat
pertanyaan yang terlewat jujur dan langsung menusuk ke inti itu, aku refleks
mengalihkan pandangan. Meski begitu, pada akhirnya aku tetap mengangguk.
"Y-ya…… lumayan, sih."
"Kehidupan
sekolah bareng kami, menyenangkan enggak?"
"Tentu
saja menyenangkan."
"Berarti
Natsu sekarang merasa senang, kan!? Kamu senang kan aku datang ke sini!?"
"……Eh,
m-maksudnya?"
Secara
logika rasanya dua hal itu tidak saling berhubungan.
Namun,
melihat senyuman Uta yang berkilau begitu cerah, aku tidak tega untuk
merusaknya. Akhirnya, aku pun terpaksa mengangguk pasrah. Lemah sekali diriku
ini.
"Ya,
begitulah. Anggapan saja begitu!"
"Yeeay!"
"Y-yeeay!"
Uta
mengangkat tangannya ke atas. Hal itu membuatku mau tidak mau harus
menyambutnya dengan sebuah tepukan high-five.
Gawat. Aku sama
sekali tidak bisa mengimbangi energinya! Ini dia yang dinamakan obrolan santai
berbasis atmosfer khas anak populer!
"……Kalian
berdua akrab sekali, ya."
"Tentu saja!
Aku dan Natsu kan sahabat sejati!"
Uta kembali
berdiri lalu merangkul bahuku dengan santai. Kubilang juga apa, jaraknya
terlalu dekat tahu!?
Karena dia terus
berusaha merangkulku, mau tidak mau aku harus sedikit membungkukkan punggungku.
Langkah itu kuambil demi menyesuaikan tinggi badan kami.
Tubuh Uta terasa
menempel erat di tubuhku. Teksturnya terasa empuk.
Padahal selama
ini aku mengira bagian dadanya sedatar papan. Tapi momen ini membuatku sadar
kalau dia memanglah seorang gadis remaja. Terlebih lagi, entah kenapa aroma
tubuhnya terasa begitu wangi. Padahal dia baru saja selesai latihan klub.
Uta yang
tampaknya sama sekali tidak menyadari keteganganku langsung bertingkah ceria.
Dia mengacungkan tanda peace ke arah Nanase.
"Yeeay!
Yui-Yui, tolong fotoin dong!"
"Eh,
tung—"
Sebelum sempat
aku menghentikannya, suara jepretan kamera ponsel sudah terdengar nyaring.
Yah, bukannya aku
merasa keberatan, sih!
Hanya saja
jantungku rasanya mau copot. Tolong beri aku waktu sebentar untuk
mengistirahatkan organ tubuhku ini!
Lagipula, respons
Nanase cepat sekali, ya? Jangan-jangan sejak awal dia memang sudah bersiap
memegang kamera ponselnya.
Sadar kalau aku
sedang menatapnya, Nanase hanya bisa tersenyum simpul.
"Mau
kuunggah ke Minstagram."
"Bisa pakai
foto yang lebih biasa saja enggak? Kalau yang ini rasanya agak……"
"Agak apa,
memangnya?"
Nanase
melemparkan senyuman yang terlihat sedikit usil.
Tidak, maksudku,
kalau fotonya seperti ini kan penampilannya mencolok. Penampilannya kelihatan
seperti orang yang sedang pacaran, kan?
Atau
jangan-jangan aku saja yang terlalu berlebihan? Apa di dunia anak-anak populer
hal seperti ini sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran?
"Eh, anu, Yui-Yui…… mending pakai foto yang lain saja,
yuk? Ah, benar juga, bagaimana kalau
kita foto bersama saja semuanya!"
"Wah,
benarkah? Ya sudah, kalau Sakuramoto-san memang maunya begitu."
Melihat
kepanikanku, Nanase langsung membatalkan niatnya. Langkah itu dia ambil berkat
usulan dari Uta.
Tapi kurasa
alasan Uta mengatakannya bukan karena memiliki pemikiran picik seperti diriku.
Dia murni hanya ingin berfoto bersama dengan semuanya saja.
"Ayo
semuanya, merapat, merapat!"
Uta
mengubah kamera ponselnya ke mode kamera depan. Dia merentangkan tangannya
lebar-lebar demi menjangkau seluruh area foto.
Saat tubuhku
masuk ke dalam jangkauan kamera, jarakku dengan Uta kembali menjadi sangat
dekat. Tapi sudahlah, mau bagaimana lagi. Setelah memastikan semua orang sudah
masuk ke dalam bingkai foto, Uta langsung menekan tombol rana. Foto tersebut
kemudian langsung dikirimkan ke dalam grup obrolan RINE kami.
Aku pun ikut
membuka ponselku untuk melihat foto tersebut. Di sana tampak jelas potret kami berlima yang
sedang berfoto bersama.
Entah kenapa…… rasanya sangat menyenangkan bisa memiliki
foto seperti ini. Tanpa sadar sudut bibirku sedikit terangkat.
Rasanya seperti kami berhasil mengabadikan sebuah momen
kenangan yang menyenangkan ke dalam satu lembar foto.
Sebelum-sebelumnya aku selalu berpikir kalau berfoto itu
adalah sebuah hal yang tidak berguna. Tapi…… ternyata dugaanku salah besar.
"Ah, lihat
deh! Ada pesan masuk dari Hikarin!"
Mendengar
seruan Uta, aku mengalihkan layar ponselku. Aku membukanya dari aplikasi galeri
foto kembali ke ruang grup obrolan.
Di sana,
Hoshimiya tampak mengirimkan sebuah pesan bertuliskan, 『Kalian semua curang bangetー!』. Pesan tersebut juga dilengkapi dengan sebuah
stiker karakter yang sedang marah besar.
"Eh?
Omong-omong, kenapa Hoshimiya tidak ikut bersama kalian?"
"Tadi
kami sudah mengajaknya, tapi jam malam di rumahnya sepertinya lumayan ketat.
Ditambah lagi, meskipun hari ini klub sastra juga ada kegiatan, jadwal selesai
mereka jauh lebih awal ketimbang klub olahraga, jadi waktunya agak kurang
pas."
"Ah, pantas
saja."
Uta membalas
pesan Hoshimiya dengan ketikan bertuliskan, 『Biarin, wleee!』. Sungguh sebuah pemandangan yang terasa sangat
menghangatkan hati.
"Aku juga
mau mengunggahnya ke Minstagram. Boleh, kan?"
Nanase meminta
izin kepada kami semua. Sembari mengangguk bersama yang lain, aku pun ikut
menyahut.
"Oh iya, aku
belum berteman dengan Nanase di Minstagram. Tolong beri tahu nama akunmu
dong."
"Lho?
Memangnya kamu juga main Minstagram?"
"Baru-baru
ini saja kok. Makanya jumlah pengikutku masih nol."
"Kasihan
sekali, ya. Ya sudah, karena aku berbaik hati, biar aku follow akunmu."
"Ah, aku
juga mau ikut!"
"Kalau
begitu aku juga. Tatsuya, kamu sendiri tidak punya akun ya?"
"Ada sih,
tapi cuma akun bodong buat mengintip postingan orang saja. Malas banget rasanya
kalau harus membuat postingan sendiri."
Maka
begitulah, akhirnya kami semua pun saling terhubung di dalam jejaring sosial
Minstagram.
Melalui obrolan
barusan, aku baru tahu kalau ternyata semua orang di sini sudah saling
terhubung satu sama lain sejak lama.
Karena sempat
merasa dikucilkan, makanya beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk mulai
membuat akun baru secara diam-diam. Ya, hanya sekadar iseng saja, kok. Benar-benar hanya iseng.
Bagaimanapun
juga, anak-anak populer zaman sekarang memang wajib memiliki akun Minstagram,
ya.
Padahal
di kehidupanku yang dulu, aku hanya menggunakan akun Twister. Akun itu pun hanya digunakan untuk sekadar
mengikuti akun-akun berbau jejaring konten otaku saja……
Terlepas dari hal
itu, berhubung sekarang kami sudah saling berteman, aku pun mencoba melihat
postingan terbaru Nanase. Aku memeriksa postingan yang baru saja mengunggah
foto bersama kami tadi.
Di sana
terpampang foto senyuman cerah dari kami berlima. Foto itu dilengkapi dengan
sebaris takarir berbahasa Jepang di bawahnya.
『Semuanya
sengaja datang berkunjung ke tempat kerja paruh waktuku ♡
Terima kasih banyak yaaa! #KafeMares』
"…………Ini
siapa, woi!?"
"K-kenapa?
Memangnya ada yang salah?"
Nanase langsung
membuang mukanya ke arah lain dengan ketus. Namun, kedua pipinya tampak merona
sedikit kemerahan.
"Ahahaha!
Karakter Yuino di Minstagram beneran beda banget ya, lucu banget!"
"Kalau aku
sih sudah mulai terbiasa, tapi wajar saja kalau Natsuki merasa terkejut saat
pertama kali melihatnya."
Uta
tertawa terpingkal-pingkal mendengar takarir tersebut. Di sebelahnya, Reita
hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah Nanase.
"Ah,
omong-omong Yuino, Natsu itu ditempatkan di bagian dapur, kan?"
"Iya,
benar."
"Berarti
kalau sekarang kami memesan makanan, Natsu yang akan memasaknya?"
"Secara
teori sih begitu."
"Oi, oi,
jangan seenaknya menambah beban pekerjaanku dong."
"Aku sendiri
kebetulan sudah mengirimkan pesan ke Ibu kalau malam ini aku tidak makan di
rumah. Jadi aku akan sangat terbantu kalau Natsuki mau membuatkan sesuatu
untukku. Buatkan menu pasta dong, apa saja yang menjadi keahlianmu."
"Kalau aku
masih ada jatah makan malam di rumah, jadi tolong buatkan menu yang porsinya
agak ringan saja ya. Berikan menu rekomendasi terbaik dari Natsu!"
"Hal kalau
aku sih, yang penting porsinya banyak, menu apa saja bebas."
"Tolong
jangan menuntut porsi kuli di sebuah kafe standard dong……"
Satu-satunya
kafe yang menyajikan porsi kuli secara tidak masuk akal itu hanyalah Kafe
Komeda saja tahu. Sembari tersenyum kecut, aku pun bergegas melangkah kembali
menuju ke dalam dapur.
Saat aku
melayangkan pandanganku ke arah manajer toko, dia tampak memberikan anggukan
hangat kepadaku.
Padahal aku belum
sempat mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Tampaknya dia sudah bisa
memahami isi pikiranku dengan sangat baik. Sepertinya aku diizinkan untuk
membuatkan menu masakan sesuka hatiku khusus untuk teman-temanku.
Bekerja di sebuah
toko yang dikelola secara pribadi seperti ini memang terasa sangat menyenangkan
karena fleksibilitasnya yang tinggi. Menyenangkan sekali.
"Nah,
enaknya buat apa ya……"
Mumpung ini
adalah kesempatan langka bagiku untuk menghidangkan masakan kepada
teman-temanku, aku ingin membuat sesuatu yang lezat. Aku ingin membuat sesuatu
yang bisa membuat mereka merasa senang.
Begitu pemikiran
itu terlintas di dalam kepala, entah kenapa aku mendadak merasa sangat gugup.
Selama ini aku
memang sudah sering membuatkan masakan untuk para pelanggan. Tetapi ini adalah
kali pertama bagiku untuk menyajikan makanan kepada teman-temanku sendiri. Ya,
wajar saja sih, karena di kehidupanku yang dulu kan aku memang tidak punya
teman. Sebuah fakta mutlak yang sangat logis.
"Kamu mau
membuat apa?"
"Lihat saja
nanti. Aku akan menunjukkan kemampuan terbaikku yang sesungguhnya
kepadamu."
"Aku sih
tidak keberatan, tapi jangan terlalu berlebihan sampai-sampai membuat manajer
memarahimu, ya?"
Benar juga,
rasanya kurang baik jika aku membuat menu yang melenceng terlalu jauh dari
standar menu toko. Masalah penentuan harga bahannya nanti juga bisa menjadi
kendala.
Ditambah lagi
saat ini juga masih ada beberapa pelanggan lain yang berada di dalam toko. Jadi
aku tidak boleh membuang-buang waktu terlalu lama.
——Fumu, gairah
memasakku mendadak membara, nih.
*
Setelah melewati
berbagai proses, seluruh menu masakan akhirnya selesai kubuat. Nanase pun
bergegas mengantarkannya menuju meja mereka.
"Wah,
kelihatannya enak banget!"
Uta
berseru dengan nada bicara yang terdengar sangat bersemangat.
Meskipun
volume suaranya terdengar agak terlalu keras, hal itu tidak menjadi masalah.
Berhubung para pelanggan lain kebetulan sudah pulang saat aku sedang memasak
tadi, kurasa situasinya aman-aman saja.
Khusus untuk
Reita yang menginginkan menu pasta, aku membuatkan hidangan sup pasta hidangan
laut. Untuk Uta yang menyukai makanan manis, aku menyajikan kue panekuk yang
diberi limpahan krim kocok di atasnya.
Sedangkan untuk
Tatsuya yang mengutamakan kuantitas porsi, aku membuatkan menu nasi omelet
dengan porsi ekstra besar.
Semua menu itu
sebenarnya hanyalah variasi modifikasi dari menu dasar yang sudah ada di toko.
Namun, takaran bumbunya sudah kusesuaikan sepenuhnya dengan selera pribadiku.
Sekarang tinggal
melihat apakah mereka semua akan menyukai rasa masakan buatanku ini atau tidak.
Duh, entah kenapa jantungku mendadak berdegup kencang karena saking gugupnya.
Sembari menahan
napas cemas, aku terus mengawasi gerak-gerik mereka dari kejauhan.
Uta menjadi orang
pertama yang menyuapkan potongan pertama kue panekuk ke dalam mulutnya.
Setelahnya, kedua matanya langsung terbelalak lebar karena terkejut, sebelum
akhirnya dia kembali melanjutkan suapan kedua dan ketiganya tanpa mengucapkan
sepatah kata pun.
Oi, mana ulasan
rasanya!?
Di saat aku
sedang merasa gemas menanti jawabannya, Tatsuya dan Reita juga tampak mulai
menyantap makanan mereka masing-masing. Karena hal itu, aku pun memberanikan
diri untuk bertanya.
"……Bagaimana,
rasanya?"
Namun, entah
kenapa tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang bersedia menjawab
pertanyaanku.
Jangan-jangan,
rasanya beneran tidak enak……?
"E……"
"E?"
"Enak
banget, gilaaa!"
Uta
berseru dengan lantang mengekspresikan rasa kagumnya.
Melihat
tingkah Uta yang energinya mendadak melonjak sampai ke tingkat maksimal, Reita
berusaha untuk menenangkannya. Dia menegur Uta dengan nada bicara yang lembut.
"Uta,
tolong kecilkan suaramu, nanti bisa mengganggu kenyamanan toko. ……Tapi, aku setuju dengannya. Aku sama
sekali tidak menyangka kalau rasanya bisa se-enak ini. Aku sendiri sebenarnya
sudah beberapa kali berkunjung ke sini, tapi masakan buatanmu ini rasanya
beneran sudah banyak dimodifikasi ya?"
"Ya. Ini
adalah menu masakan yang kubuat menggunakan metodeku sendiri, jadi panduan
standar dari toko sengaja kuabaikan sepenuhnya. Tolong rahasiakan hal ini dari
siapa pun, ya."
Aku meletakkan
jari telunjukku di depan bibir.
Meskipun aku tahu
manajer toko pasti tidak akan marah mendengarnya, sih.
"Enak!
Beneran enak banget! Natsu, kamu hebat banget, sih!"
Mungkin
karena baru saja mendapat teguran dari Reita, kali ini Uta berseru dengan
volume suara yang sedikit lebih pelan dari sebelumnya.
Melihat
caranya yang menyantap makanan buatanku dengan begitu lahapnya, aku pun ikut
merasa sangat bahagia. Rasanya seluruh jerih payahku saat memasak tadi langsung
terbayar lunas.
Tatsuya
juga tampak terus menyuapkan nasi omelet ke dalam mulutnya dengan sangat lahap.
Sesekali dia tampak bergumam, "Enak banget."
"Aku
jadi penasaran ingin mencicipi makanan kalian juga! Tatsu, minta satu suap
dong!"
Sembari
menatap ke arah nasi omelet milik Tatsuya dengan binar mata yang berkejaran,
Uta tampak membuka lebar mulutnya.
……Ini
jangan-jangan, dia sedang meminta Tatsuya untuk menyuapinya, ya? Di depan umum seperti ini, mereka
beneran bertingkah khas anak-anak populer…… ah, mereka kan memang anak populer
deng. Yang kuper di sini kan cuma aku sendiri.
Meski
begitu, di antara sekian banyak anak populer, tentu saja masih ada sosok anak
populer yang tahu batasan.
Tatsuya
yang aslinya memiliki kepribadian yang cukup rasional dan tahu aturan itu
sempat terdiam seribu bahasa. Setelahnya, dia memalingkan wajahnya dengan
ketus.
"Siapa
juga yang mau melakukan hal memalukan seperti itu. Kalau mau makan, ambil saja sendiri."
Ucapnya sembari
meletakkan sendoknya di atas piring. Uta yang tampaknya sama sekali tidak
merasa keberatan langsung meraih sendok tersebut dengan santai.
"Kalau
begitu, aku izin mencicipinya, ya! ……Wah, yang ini juga enak banget!"
Setelah itu,
mereka bertiga tampak saling berbagi makanan satu sama lain. Mereka melanjutkan
obrolan dengan suasana yang terasa sangat hangat dan harmonis.
Meskipun
menurutku menu kue panekuk rasanya sama sekali tidak cocok jika dipadukan
dengan menu masakan lainnya…… tapi sudahlah, lupakan saja. Yang terpenting Uta
yang menyantapnya terlihat sangat bahagia.
Di sebelahku,
Nanase tampak menelan ludahnya dalam-dalam. Apakah dia juga ingin mencicipinya?
Kebetulan perutku
sendiri juga sudah mulai terasa lapar. Bagaimana kalau aku mencoba untuk
menjahilinya sedikit? Oke, mari kita coba tantangan ini.
Aku menepuk bahu
Nanase pelan. Aku melemparkan senyuman jahil sembari bertanya.
"Kamis juga
mau makan?"
"Y-ya, mau
sih…… tapi kan sekarang aku masih dalam sif kerja. Ah, benar juga, bagaimana
kalau nanti menu makan malam karyawan dibuatkan olehmu saja?"
"Tentu saja,
kalau cuma masalah itu menyerahkannya saja kepadaku."
Ucapku sembari
menepuk dadaku mantap. Aku menggunakan kepalan tanganku untuk menekankan hal
itu.
……Bagus, aku
berhasil membangun obrolan yang menyenangkan dengannya. Ditambah lagi, aku juga
berhasil melakukan kontak fisik secara alami bersamanya.
Anak-anak
populer beneran hebat ya karena bisa melakukan hal-hal semacam ini dengan
begitu alaminya. Mereka melakukannya layaknya sedang bernapas saja.
Di sisi
lain, aku sendiri beneran payah dalam hal menentukan batasan tingkat kedekatan
kontak fisik. Kebiasaan ini dipengaruhi oleh keraguanku atas tingkat kedekatan
hubungan kami.
Bahkan
kepada Nanase yang (menurut asumsi sepihakku saja) hubungannya sudah tergolong
sangat dekat denganku saja, menepuk bahunya adalah batas maksimal dari
kemampuan terbaikku. Yah, daripada aku salah dalam menentukan jarak kedekatan
dan malah berujung membuat orang lain merasa risi, bersikap terlalu hati-hati
seperti ini rasanya jauh lebih aman, kan?
Di saat
aku sedang asyik mengobrol bersama Nanase, aku mendadak menyadari satu hal.
……Entah
kenapa Tatsuya mendadak menjadi sangat pendiam, ya?
"Kalian
berdua, jangan malah asyik mengobrol terus dong. Meskipun sedang sepi
pelanggan, masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan tahu."
Tepat di
saat aku baru mau membuka mulut untuk menyapa Tatsuya, Kirishima-san mendadak
memukul kepalaku pelan dari arah belakang.
Meskipun
kondisi toko sedang sepi pelanggan, sepertinya kami beneran sudah bertingkah
terlalu berisik. Tindakan kami tampaknya sudah melewati batas kewajaran.
Sembari
menyahut, "Iya-iyaー,"
dengan nada malas, aku dan Nanase terpaksa menyudahi obrolan kami. Kami pun kembali melanjutkan pekerjaan
kami masing-masing.
"……Kamu
beneran baru mulai kerja paruh waktu di toko ini, kan?"
Mendirikan
pertanyaan yang disampaikan dengan nada datar dari arah belakang, aku pun
membalikkan badanku ke arah Tatsuya.
"Eh? Iya,
memangnya kenapa?"
"Padahal
baru mulai kerja, tapi kok kamu bisa sehebat ini……"
"Ah, itu
karena dulu orang tuaku lumayan ketat saat mengajariku memasak di rumah,
kok."
Ucapku sembari
mengangkat kedua bahu pasrah. Tatsuya yang baru saja menghabiskan suapan
terakhir dari nasi omelet miliknya tampak bergumam pelan.
"——Meskipun
begitu, kamu beneran hebat tahu. Kamu beneran serbabisa ya, Natsuki."
Mendapat pujian
tulus seperti itu darinya membuat lubuk hatiku terasa sangat bahagia.
Tepat di saat
itu, suara bel pintu masuk toko kembali berbunyi nyaring.
Karena rombongan
pelanggan baru tampak mulai berdatangan masuk ke dalam toko, aku dan Nanase
terpaksa mengambil tindakan. Kami bergegas meninggalkan meja tempat Uta dan
yang lainnya duduk.
Setelah itu,
kondisi di dalam toko mendadak menjadi sangat ramai. Akibatnya, Uta dan yang
lainnya memutuskan untuk langsung pulang begitu selesai menghabiskan makanan
mereka.
*
Begitu seluruh
urusan pekerjaan paruh waktuku selesai dan aku berhasil sampai di rumah, jarum
jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.
Di saat aku
sedang bersiap-siap untuk segera mandi dan tidur, suara notifikasi pesan masuk
dari ponselku mendadak berdering nyaring.
Saat melihat
layarnya, nama Hoshimiya tampak tertera di sana. Aku sempat mengira kalau itu
adalah pesan dari grup obrolan, tetapi ternyata itu adalah pesan obrolan
pribadi darinya.
Hoshimiya Hikari:
『Apa benar hari ini kamu memasakkan makanan
khusus untuk semuanya!?』
Kalau
dipikir-pikir kembali, siang tadi Hoshimiya memang sempat menumpahkan
kekesalannya di grup RINE. Dia merasa telah dikucilkan oleh kami semua.
Untuk sementara,
aku memutuskan untuk mengirimkan pesan balasan demi mengonfirmasi kebenaran hal
tersebut.
Yah, meskipun
dibilang masakan rumahan buatan sendiri, menu yang kusajikan tadi sebenarnya
adalah menu makanan kafe standard sih.
Natsuki: 『Iya, benar kokー』
Hoshimiya
Hikari: 『Eeeh,
curang banget! Aku juga mau mencicipinya!』
Natsuki: 『Datang saja berkunjung ke tempat kerja
paruh waktuku, nanti pasti kubuatkan khusus untukmu, haha』
Hoshimiya
Hikari: 『Pasti!
Lain kali aku pasti akan ikut datang berkunjung!』
Natsuki: 『Rasanya biasa saja kok, jangan terlalu
berekspektasi tinggi, haha』
Hoshimiya
Hikari: 『Ih,
bohong banget. Aku sudah lihat foto makanan yang diunggah Uta-chan di cerita
Minstagram miliknya tahu, tampilannya kelihatan lezat banget!』
Saat aku mencoba
membuka aplikasi Minstagram, sebuah kejutan menantiku. Di bagian fitur cerita
milik Uta memang tampak terunggah foto menu masakan hasil buatanku tadi siang.
Kapan coba dia
sempat memotretnya……?
Terlepas dari hal
itu, sudut pengambilan fotonya beneran bagus sekali. Tampilan masakannya
beneran terlihat sangat menggugah selera.
Natsuki: 『Wah, benar juga. Kapan dia sempat
memotretnya ya』
Hoshimiya
Hikari: 『Melihat
fotonya malah membuatku mendadak merasa lapar nih』
Natsuki: 『Sama, haha. Apa aku buat mi instan cup
saja ya sekarang』
Hoshimiya
Hikari: 『Ih,
curang banget!? Padahal aku sekarang lagi berjuang keras menjalani program diet
tahu!』
Natsuki: 『Eh, benarkah? Padahal menurutku tubuhmu
sama sekali tidak kelihatan gemuk kok』
Hoshimiya
Hikari: 『Bagian-bagian
tubuh yang tidak terlihat yang justru paling membuatku merasa khawatir tahu!』
Natsuki: 『Menyantap mi instan cup di tengah malam
seperti ini rasanya beneran nikmat tiada tara lho?』
Meskipun bumbu
pelengkapnya beneran tidak baik untuk kesehatan tubuh…… tapi ya sudahlah.
Lagipula aku sendiri sebenarnya sama sekali tidak berniat untuk beneran
memakannya kok.
Mengingat saat
ini bentuk tubuhku sudah mulai bertransformasi menjadi bentuk tubuh ideal, aku
harus menjaganya.
Aku tidak mau
merusaknya dengan cara menimbun timbunan lemak baru yang tidak berguna di dalam
tubuhku.
Hoshimiya
Hikari: 『Natsuki-kun
juga dilarang makan mi instan!』
Natsuki: 『Kejam sekali』
Hoshimiya
Hikari: 『Sebab
hal itu sama sekali tidak baik untuk kesehatan tubuhmu』
Natsuki: 『Ya sudah deh, apa boleh buat』
Setelah
mengirimkan pesan balasan tersebut, tidak ada lagi pesan balasan baru yang
masuk. Suasana mendadak hening selama beberapa menit ke depan.
Jeda waktu
seperti ini entah kenapa selalu sukses membuat hatiku merasa cemas.
Jangan-jangan ada yang salah dengan ketikan pesan balasan terakhirku tadi ya?
Apakah sebaiknya
aku mencoba melempar topik obrolan baru saja dari sisiku?
Bagi diriku yang
sangat ingin mempertahankan kelangsungan obrolan ini, situasi ini beneran
menguras pikiran. Mumpung Hoshimiya bersedia mengirimkan pesan RINE kepadaku,
aku harus memikirkan masak-masak setiap ketikan pesan yang akan kukirimkan.
Namun di sisi
lain, Hoshimiya kemungkinan besar tidak berpikir serumit itu. Dia mengirimkan
pesan-pesan ini hanya berdasarkan suasana hatinya saja.
Tidak berselang
lama kemudian, status pesan buatanku berubah menjadi terbaca. Sebuah pesan
balasan singkat dikirimkan olehnya seolah ingin menyudahi obrolan kami malam
ini.
Pesan itu
bertuliskan, 『Aku
tidur duluan ya! Sampai jumpa besok!』.
Mengingat waktu
yang memang sudah larut malam, keputusan itu memang sangat wajar dilakukan,
namun tetap saja hal itu sukses meninggalkan sedikit rasa kesedihan di dalam
lubuk hatiku.



Post a Comment