NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Hari-hari Bagaikan Mimpi

——Sekitar satu minggu telah berlalu sejak upacara penerimaan siswa baru.

Pertengahan April. Hari Jumat di akhir pekan. Saat di mana aku mulai sedikit terbiasa dengan kehidupan sekolah.

Sebenarnya, bagi diriku yang menjalani hidup untuk kedua kalinya, tidak ada istilah "perlu membiasakan diri"—aku ingin berkata begitu, tapi ternyata banyak hal yang luput dari ingatan, membuat hari-hari ini terasa cukup segar.

Suara datar guru matematika menggema di ruang kelas yang hening.

Angin musim semi yang tenang berembus masuk dari jendela, terasa begitu nyaman. Saat aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas, jumlah murid yang tertidur mulai bertambah. Jam pelajaran keenam. Ini adalah pelajaran terakhir hari ini, jadi wajar saja jika semua orang kelelahan.

"——Soal ini menjadi pekerjaan rumah kalian. Hari ini sampai di sini saja."

Tepat ketika guru matematika itu berbicara sambil melirik jam dinding, bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi di waktu yang pas.

"Akhirnya selesai juga!"

Uta yang duduk di bangku depanku berseru sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

"Kamu energik sekali ya, Uta."

Saat aku menanggapi sambil menguap, Uta menopang kedua sikunya di atas mejaku, lalu mencondongkan tubuh.

"Habisnya, besok kan hari libur! Akhirnya! Hari yang dinantikan! Aku sudah muak disuruh belajar mati-matian setiap hari! Dengan begini, aku bisa fokus ke kegiatan klub!"

Uta yang sedang bersukacita itu telah resmi bergabung dengan klub basket putri pada hari kunjungan klub tempo hari.

"Lalu, hari Senin besok hari-hari penuh belajar akan dimulai lagi."

"Orang lagi senang-senang, kenapa malah disodori kenyataan pahit sih!?"

Uta langsung memegangi kepalanya mendengar sindiran tajam dari Reita yang duduk di bangku belakangku, berbicara sambil merapikan buku pelajarannya.

"——Lagipula, besok kita tidak bisa latihan klub, tahu?"

Tatsuya yang datang dari bangkunya yang agak jauh menyela sambil mengernyitkan dahi heran.

Uta memasang ekspresi melongo.

"Eh, maksudnya?"

"Bukankah sudah dibilang kalau Sabtu dan Minggu besok ada renovasi gedung olahraga, jadi kegiatan klub diliburkan?"

"Wali kelas juga sudah menyampaikannya saat jam bimbingan tadi, kok."

"A-Ah, kalau dipikir-pikir memang benar!? Tapi hari ini masih bisa latihan, jadi tidak masalah!"

Mendengar ucapan Tatsuya dan Reita, Uta sempat memegangi kepalanya lagi sebelum akhirnya melakukan guts pose. Gerakan tubuhnya berisik sekali.

"Tapi, kalau begitu Sabtu-Minggu besok jadi senggang ya. Enaknya ngapain?"

"——Kalau begitu, Uta-chan, bagaimana kalau kita pergi main ke suatu tempat?"

Hoshimiya yang entah sejak kapan sudah berada di dekat kami mengajak Uta dengan senyuman yang manis.

"Eh, serius!? Ayo pergi, ayo! Asyik, kencan bareng Hikarin!"

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita main bareng-bareng saja? Aku juga sedang senggang nih."

"Eeeh, Tatsu tidak usah ikut. Kamu sengaja ya mau mengganggu kencanku bersama Hikarin?"

"Sudah-sudah, Uta-chan. Mumpung ada kesempatan, main ramai-ramai pasti bakal lebih seru."

"Kalau Hikari pergi, aku juga ikut. Hari Sabtu jadwal bernyanyiku kosong."

Nanase yang mendekat dengan wajah tenang menyahut dengan nada datar. Tangannya bergerak mengelus kepala Hoshimiya. Selama satu minggu ini aku mulai paham, kalau Nanase ini sangat memanjakan Hoshimiya.

Pandangan Hoshimiya beralih kepadaku. Sesaat aku sempat bingung, sebelum akhirnya menyadari kalau dia ingin tahu jadwalku.

"Aku juga senggang, kok. Lagipula aku anak ekskul jalur pulang, jadi Sabtu atau Minggu pun bebas."

Ah, berbahaya. Mindset bawah sadarku yang terbiasa berpikir "aku tidak akan mungkin diajak orang lain" hampir saja menahan diriku untuk ikut dalam percakapan ini... Kenapa nilai-nilai masa lalu masih saja mengganggu diriku yang sekarang!

"……Berarti, tinggal Reita-kun, ya?"

Menanggapi pertanyaan Hoshimiya, Reita melipat kedua tangannya dengan wajah serius.

"Sepertinya aku baru bisa kalau Sabtu siang. Soalnya pagi hari aku ada latihan klub seperti biasa."

Gedung olahraga yang direnovasi hanya meliburkan klub-klub yang beraktivitas di dalam ruangan saja.

Tentu saja, Reita yang anak klub sepak bola tidak termasuk di dalamnya.

"Ngomong-ngomong, Hoshimiya tidak ada kegiatan klub? Kamu akhirnya masuk klub sastra, kan?"

Mendengar pertanyaan Tatsuya, Hoshimiya mengangguk.

"Iya, tapi cuma dua kali seminggu pada hari biasa. Jadi hari libur aku bebas main kapan saja... Tapi kalau terlalu sering main, aku bakal dimarahi Ibu dan Yuino-chan, jadi harus tahu batas."

"Kalau Hikari dibiarkan begitu saja, nilainya bisa langsung merosot. Jadi aku harus terus mengawasinya."

Melihat Nanase yang mendengus sambil melipat tangan, Uta pun tertawa terbahak-bahak.

"Ahahaha! Rasanya seperti punya dua ibu ya!"

"……Setidaknya, sebut saja aku sebagai kakak perempuanmu, bisa kan?"

Nanase mengerucutkan bibirnya.

Di balik gaya bicara dan atmosfernya yang dewasa, ternyata dia bisa menunjukkan tingkah kekanak-kanakan yang imut juga.

"——Nah, pembahasan soal itu kita lanjut nanti saja. Sudah waktunya piket kelas, kalau tidak segera bergerak bisa gawat."

Setelah jam pelajaran keenam berakhir, waktunya untuk piket kebersihan kelas.

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan area pembersihan mereka masing-masing telah ditentukan.

Di saat kami asyik mengobrol, teman-teman sekelas yang lain sudah mulai bergerak. Bagaimanapun, tidak ada anak berandalan di kelas ini. Tidak ada yang melimpahkan tugas piket mereka kepada orang lain.

Berkat satu ucapan dari Reita, kelompok kami pun bubar untuk sementara waktu.

Sore hari sepulang sekolah.

Di saat yang lain mulai menghilang menuju kegiatan klub masing-masing, diam-diam aku merasa tegang.

——Hari ini, aku berniat untuk mengajak Hoshimiya pulang bersama.

Ini bukan kencan. Hanya sekadar ajakan untuk pulang searah. Bagi diriku yang mengklaim diri sebagai intovert tingkat akut, berani mengajak bicara lawan jenis saja rasanya sudah seperti membalikkan langit dan bumi. Tapi bagi seorang extrovert, hal ini pasti sudah menjadi hal yang biasa.

Jika ditanya kenapa harus hari ini, ada beberapa alasan di baliknya.

Pertama, sekitar satu minggu telah berlalu sejak masuk sekolah, dan hubungan kami sudah tergolong cukup akrab.

Awalnya, ikut menimpali obrolan kelompok saja sudah membuatku mengerahkan seluruh tenaga, tapi sekarang aku sudah bisa mengobrol normal meski hanya berdua atau bertiga. Ini tidak hanya berlaku pada Hoshimiya, melainkan ke semua orang di kelompok kami.

Alasan kedua, karena besok kami berencana pergi main bersama, otomatis kami memiliki topik bahasan yang sama. Tentu saja rencana main itu hanya kebetulan, tapi ini adalah kesempatan bagus karena topiknya mudah untuk dikembangkan.

Alasan ketiga adalah soal waktu. Hoshimiya bergabung dengan klub sastra, dan dia mengikuti kegiatan klub pada hari Selasa dan Kamis, sehingga waktunya tidak pas denganku yang langsung pulang. Kalau aku sengaja menunggunya selesai klub, dia pasti bakal merasa risi.

Lalu pada hari Senin dan Rabu, dia selalu pulang bersama Nanase. Bukannya aku tidak bisa ikut bergabung, tapi menyelinap di antara dua orang yang berasal dari SMP yang sama dan sudah sangat akrab (apalagi lawan jenis) rasanya memiliki tingkat kesulitan yang terlalu tinggi.

Namun pada hari Jumat, Hoshimiya tidak ada kegiatan klub. Ditambah lagi, Nanase memiliki jadwal les di dekat sekolah, sehingga mereka berdua tidak pulang bersama. Selama satu minggu ini, aku sudah menganalisis hal itu sedemikian rupa. Jangan mengataiku menjijikkan, ya.

Demi bisa merengkuh masa muda yang berwarna pelangi, aku tidak keberatan meski harus memaksimalkan kemampuan analisis ala introvert-ku. Itulah harga diriku.

"——Eh, Hoshimiya, hari ini kamu pulang sendirian?"

Aku memanggil Hoshimiya yang berjalan di koridor dari arah belakang. Tentu saja dengan nada suara yang dibuat seolah-olah aku tidak tahu apa-apa.

Hoshimiya berbalik, dan begitu menemukan sosokku, dia mengulas senyuman yang lembut. Manis sekali.

Bukan hanya aku, murid-murid lain yang berlalu-lalang di koridor pun tampak terpesona oleh kecantikan Hoshimiya.

"Iya nih~ Soalnya Yuino-chan ada urusan lain."

"Oh, kalau begitu ayo pulang bareng. Seingatku rumahmu juga searah jalur kereta, kan?"

Meskipun jantungku berdebar sangat kencang karena gugup, aku berusaha sekuat tenaga agar ekspresi wajahku tidak berganti.

Apakah aku sudah berhasil mengajaknya dengan nada yang santai?

"Eh, boleh! Aku naik Jalur Ryomo sampai Stasiun Takasaki. Kalau Natsuki-kun?"

Melihat Hoshimiya mengangguk sambil tersenyum, aku pun bisa menghela napas lega dari lubuk hatiku yang terdalam.

"Sampai Takasaki kita searah. Dari sana aku harus transit ke Jalur Takasaki untuk menuju ke stasiun yang agak jauh berikutnya."

"Natsuki-kun kan lulusan SMP Mizumi, ya. Perjalanan jauh begitu pasti melelahkan."

"Setelah lewat satu minggu, aku sudah mulai terbiasa, kok. Lagipula perjalanannya cuma memakan waktu sekitar satu jam."

"Ah, kalau begitu waktu tempuh kita ternyata tidak jauh berbeda. Soalnya setelah turun di Takasaki, aku masih harus berjalan kaki cukup jauh sampai ke rumah. Makanya aku sedang berpikir untuk naik sepeda saja sampai ke stasiun~"

Berawal dari topik pembicaraan yang kasual, obrolan kami pun mengalir dengan sangat lancar.

Saat aku dan Hoshimiya berjalan berdampingan seperti ini, kami menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar.

Apakah Hoshimiya setiap hari selalu dihujani oleh tatapan yang seperti ini...? Bagaimana ya, rasanya tidak nyaman juga.

Apakah ini kerugian yang harus diterima karena dia terlalu imut?

Atau jangan-jangan kami diperhatikan karena dia sedang berjalan bersama lawan jenis, yang tidak lain adalah diriku?

Kalau dipikir-pikir kembali, rasanya ada banyak tatapan kecemburuan yang tajam mengarah ke arahku.

Fuhahaha! Rasakan itu, wahai para introvert! Kalian tidak akan mungkin bisa meniru pencapaianku untuk pulang bersama Hoshimiya!

Rasa superioritas apa ini! Apakah ini yang dinamakan dengan esensi dari masa muda berwarna pelangi...?

"Hari ini, rasanya pandangan orang-orang tertuju pada kita ya?"

Tepat di saat aku mulai besar kepala, Hoshimiya bergumam dengan nada yang tampak kurang nyaman.

"Benar juga. Memang beda rasanya kalau berjalan bersama Hoshimiya. Seperti yang diharapkan dari gadis tercantik di sekolah."

"Jangan menelan mentah-mentah ucapan Yuino-chan, dong! Lagipula, harusnya itu kalimatku, tahu?"

"……Maksudnya?"

Aku mengernyitkan dahi heran. Secara murni, aku tidak bisa menangkap maksud dari ucapannya barusan.

"Kalau aku sendirian, aku tidak akan pernah diperhatikan sampai segitunya. Aku kan bukan idola. Yang sedang diperhatikan saat ini bukan cuma aku saja, tapi Natsuki-kun juga, lho."

"Aku, diperhatikan?"

……Tidak, tidak, mana mungkin hal seperti itu terjadi.

Memang benar aku sudah melakukan latihan fisik dan berbagai upaya untuk mengubah penampilanku, tapi bagaimanapun juga, aku tetaplah diriku yang dulu.

"Karena berjalan bersama Hoshimiya, jangan-jangan mereka sedang membicarakan hal buruk tentangku?"

"Ah, Natsuki-kun, jangan-jangan kamu ini tipe orang yang tidak peka ya?"

"???"

"……Begitu ya. Hmm, perlahan aku mulai paham tentang dirimu."

Gawat. Aku tidak bisa mengikuti arah pembicaraannya. Tapi melihat Hoshimiya tampak bersenang-senang, kurasa tidak masalah?

Aku tahu dia sedang membicarakan tentang diriku, tapi aku benar-benar tidak paham apa maksudnya.

"Aku kurang mengerti, tapi saat aku sendirian, tidak pernah ada orang yang memperhatikanku tuh."

Meskipun, kadang-kadang ada anak perempuan yang berbisik-bisik saat melihatku.

Walaupun aku adalah seorang introvert yang entah bagaimana bisa menyusup ke dalam kelompok extrovert, tolong hentikan kebiasaan membicarakan orang di belakang...

"Ternyata kamu beneran tidak peka..."

"Tidak peka? Tidak, tidak, di dunia ini jarang ada orang yang se-sensitif diriku, tahu."

Bahkan, dulu aku pernah berpikir kalau anak perempuan yang duduk di sebelahku menyukaiku hanya karena dia bersedia memungut penghapusku yang jatuh.

Belakangan aku baru tahu kalau anak perempuan itu ternyata sudah punya pacar seorang mahasiswa.

……Ah, cerita ini sama sekali tidak membuktikan kalau aku orang yang sensitif. Aku hanya terlalu percaya diri saja.

"Fufu, kalau begitu, untuk hari ini kita anggap saja begitu ya."

Hoshimiya melemparkan senyuman manis ke arahku.

Melihat ekspresi wajahnya, dadaku mendadak berdegup kencang hingga aku tidak bisa memikirkan balasan kalimat yang bagus.

"Besok kita mau ngapain ya? Karena yang lain langsung pergi ke klub, kita belum menentukan rencana detailnya."

Pengalihan topik. Karena aku juga berniat membahas hal itu, aku sudah menyiapkan jawabannya.

"Bagaimana kalau malam ini kita diskusikan lewat RINE saja?"

"Tapi, kita belum membuat grup RINE, kan?"

"——Ah, kalau dipikir-pikir benar juga. Aku sempat mengira grupnya sudah dibuat dari awal."

Aku beralasan begitu, padahal kenyataannya aku hanya tidak memiliki konsep tentang apa itu grup RINE.

Maklum saja, aku adalah orang yang sudah terkenal (?) karena tidak pernah diundang ke dalam grup obrolan kelas...

"Aku juga lupa."

Hoshimiya tertawa cekikikan. Dia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya.

"Kalau begitu, mari kita buat sekarang saja. Grup obrolan untuk kita berenam."

Hoshimiya mulai mengoperasikan ponselnya.

Karena kami sudah saling bertukar kontak RINE saat upacara penerimaan siswa baru, kurasa yang perlu dilakukan sekarang hanyalah membuat grup dan mengundang yang lain... Kurasa begitu.

Aku tidak tahu pasti karena tidak pernah membuatnya sendiri.

"Apa nama grupnya?"

"Hmm, apa saja boleh, bebas."

"Memang bebas sih, tapi kalau terlalu bebas malah bikin bingung ya. Natsuki-kun saja yang tentukan."

"Kalau begitu, nama grupnya 'Klub Penggemar Hoshimiya'."

"Kalau aku yang membuat grup dengan nama seperti itu, bukankah kesannya aneh sekali?"

"Benar juga."

Pandangan kami saling bertemu, lalu kami pun tertawa bersama.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kunamai 'Klub Penggemar Natsuki-kun' saja~"

"Mana mungkin aku punya penggemar..."

"……Hmm. Kalau begitu, mari beri nama 'Keluarga Natsuki-kun'."

"Oi."

Meskipun aku mencoba memprotes, Hoshimiya telanjur membuat grup tersebut secara sepihak.

Saat aku membuka ponselku, sebuah undangan grup memang telah masuk, jadi aku memilih untuk bergabung dengan patuh.

Seorang Natsuki-kun yang bergabung ke dalam grup bernama 'Keluarga Natsuki-kun', lelucon macam apa ini.

"Undangannya sudah masuk?"

"Ah, iya, aku sudah bergabung."

"Ah, benar. Yuino-chan juga sudah masuk. Karena yang lain masih latihan klub, sepertinya mereka belum menyadarinya ya?"

"Pasti begitu."

Ini adalah grup pertamaku yang bersejarah (?). Daftar kontakku yang sangat sedikit (hanya tujuh orang) hampir semuanya telah diundang ke grup ini, menyisakan dua orang saja.

Sebagai catatan, dua orang yang tersisa itu adalah Ibu dan adik perempuanku. Mereka bahkan bukan teman.

"Natsuki-kun, hadap ke sini sebentar."

Mendengar ucapan Hoshimiya, aku langsung mendongakkan wajahku, dan pada detik itulah suara jepretan kamera berbunyi.

"Ehehe, kena foto!"

"Untuk apa kamu memotretku?"

"Tentu saja untuk dijadikan foto profil grup! Kan namanya 'Keluarga Natsuki-kun'!"

"Eeeh, yang benar saja."

Mulutku memang mengeluh, tapi melihat tingkah Hoshimiya yang ceria membuat suaraku kehilangan ketegasannya.

Di saat aku berusaha keras menjaga jarak sosial yang aman, gadis di depanku ini dengan sangat mudahnya berhasil merebut hatiku.

Rasanya seru juga kalau aku membalas tindakannya, kan?

"Kalau begitu, Hoshimiya, sekarang giliranmu hadap ke sini."

"Mmh?"

Aku membuka aplikasi kamera di ponselku, lalu mengambil fotonya tepat di saat Hoshimiya menoleh ke arahku.

Wah, fotonya tercetak dengan sangat cantik. Ini harus kujadikan pusaka keluarga... Ah, bukan begitu maksudku.

Aku langsung menyetel foto Hoshimiya yang baru kuambil tadi sebagai foto profil dari 'Keluarga Natsuki-kun'.

"Tu-Tunggu sebentar!? Natsuki-kun!?"

"Ini namanya balas dendam."

Dengan dalih tersebut, aku berhasil mendapatkan foto wajah Hoshimiya secara legal.

Kalau sudah begini, bagaimanapun caranya, akulah yang keluar sebagai pemenang.

Karena Hoshimiya mengubah kembali profil grup menggunakan fotoku, aku pun tidak mau kalah dan mengubahnya kembali.

Mumu, Hoshimiya mengerucutkan wajahnya sambil memelototiku dengan imut. Karena sama sekali tidak terasa menakutkan, aku pun refleks tertawa.

"Kalau begitu! Bagaimana kalau kita ambil jalan tengah dengan menggunakan foto berdua saja."

Hoshimiya berkata begitu sambil memangkas jarak di antara kami.

Aroma manis yang lembut samar-samar menggelitik hidungku. Detak jantungku mendadak berpacu dengan sangat kencang.

Sebelum sempat aku mencerna apa yang akan dia lakukan, jarak di antara kami sudah begitu dekat hingga lengan kami saling bersentuhan——

"Nah, tersenyum, tersenyum~"

Klik, suara jepretan ponsel berbunyi.

Meskipun dia menyuruhku tersenyum, aku merasa ekspresi wajahku di foto itu pasti terlihat sangat bodoh.

"Selesai! Kalau begini tidak ada yang keberatan, kan!"

Sembari berbicara, Hoshimiya mengubah foto profil grup menggunakan foto berdua tadi.

Saat aku melihatnya di aplikasi RINE, foto itu memang menampilkan potret diriku dan Hoshimiya yang sedang berpose bersama.

Hoshimiya mengulas senyuman manis yang tampak terbiasa di depan kamera, sementara aku memasang senyuman kaku dengan wajah yang memerah.

Hoshimiya menghentikan langkah kakinya, menatap layar ponsel yang menampilkan ruang obrolan grup dengan foto profil baru tersebut.

"……Hei, Hoshimiya."

"A-Ada apa!?"

"……Ini, bukankah rasanya memalukan sekali?"

Mungkin aku saja yang terlalu percaya diri, tapi foto ini membuat kami terlihat seolah-olah sedang memamerkan hubungan kami kepada anggota kelompok yang lain.

"……Lagipula, undangan grup ini kan akan terkirim ke yang lain dengan kondisi foto profil yang seperti ini, kan?"

"……B-Benar juga. Ini memalukan sekali! Mari kita ganti!"

Tampaknya Hoshimiya juga mulai merasa malu, wajahnya kini memerah padam.

Perlahan aku mulai memahami kepribadian Hoshimiya. Dia adalah tipe orang yang bergerak mengikuti dorongan momentum, lalu menyesalinya kemudian setelah berpikir jernih.

Setelah kembali tenang, kami berdua memilih opsi aman dengan memotret deretan pohon sakura di sepanjang jalan menuju stasiun, lalu menjadikannya sebagai foto profil baru.

Mengingat baru Nanase saja yang bergabung ke grup, kami merasa masalah ini telah teratasi dengan aman—— namun, itu hanya dugaan kami saja.

Nanase Yuino: "Bisa tolong jangan bermesraan di grup RINE?"

Tampaknya Nanase menyaksikan seluruh drama pergantian foto profil tadi, dan langsung mengirimkan pesan ke dalam grup.

Dianggap sedang bermesraan dengan Hoshimiya sebenarnya membuatku merasa cukup senang, tapi Hoshimiya murni merasa malu secara sepihak.

Hoshimiya Hikari: "Kami tidak sedang bermesraan!"

Nanase Yuino: "Tapi, siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikir kalau kalian sedang bermesraan..."

Natsuki: "Kalau untuk masalah yang satu ini, ini bukan salahku."

Hoshimiya Hikari: "Kamu mau bilang kalau ini salahku!?"

Natsuki: "Tentu saja."

Nanase Yuino: "Kalian kan sedang jalan bersama, kenapa malah bertengkar lewat RINE sih?"

Natsuki: "Ucapannya benar-benar tepat sasaran."

Hoshimiya Hikari: "Pokoknya, kami tidak sedang bermesraan, ya!"

Nanase Yuino: "Iya, iya."

Mendapat penolakan sekeras itu secara tidak langsung membuatku merasa sedikit terluka. Walaupun tidak kuucapkan lewat mulut, sih.

"Aduh, Yuino-chan ini ada-ada saja..."

Hoshimiya yang kulit putihnya sempat memerah padam kini mengibas-ngibaskan tangannya untuk mendinginkan wajahnya.

Sembari berjalan di sampingnya, diam-diam aku memandangi foto berdua kami yang sudah kusimpan di galeri ponsel. Mari jadikan foto ini sebagai pusaka keluarga.

"Lagipula Nanase tidak benar-benar bermaksud menuduh kita, kok."

Di saat kami sibuk melakukan obrolan tidak penting seperti itu, tanpa disadari kami sudah tiba di area stasiun.

Namun, aku merasa obrolan tidak penting yang seperti inilah yang sebenarnya paling kuinginkan selama ini.

Dunia di mana aku bisa berjalan bersama semua orang——bersama Hoshimiya, terlihat dihiasi oleh warna-warni pelangi.

Dunia ini sangat berbeda dengan dunia abu-abu di masa lalu. Belakangan ini aku baru bisa benar-benar merasakannya.

"Grupnya memang sudah jadi, tapi besok kita mau ngapain?"

"Karena Reita baru selesai latihan klub siang hari, bagaimana kalau kita berkumpul sekitar jam satu atau jam dua siang?"

"Mmh. Tempat berkumpulnya di depan stasiun saja tidak apa-apa, kan? Mengingat ada tiga orang yang naik kereta."

"Kira-kira begitu. Tinggal setelah itu mau ngapain..."

"Karena aku yang mengusulkan, aku merasa setidaknya aku harus memikirkan garis besar rencananya."

"Hmm, bagaimana kalau pergi ke pusat perbelanjaan?"

"Itu juga bagus, kebetulan aku sedang ingin berburu baju baru."

Meskipun merespons begitu, Hoshimiya tampak belum mendapatkan ide yang benar-benar pas.

Berbekal pengetahuan yang kudapatkan dari situs internet bertema 'Tempat Main Anak SMA', aku pun menyebutkan beberapa opsi aktivitas yang bisa dilakukan di dekat stasiun.

Mengingat ini di Prefektur Gunma, pilihannya tentu saja menjadi sangat terbatas.

"Opsi yang terpikirkan di dekat stasiun paling-paling bermain di Spo-cha Round One, karaoke, atau pusat gim konsol? Tapi kalau rumah salah satu dari kita ada yang dekat dari sini, berkumpul di sana juga bisa jadi pilihan."

"Ah, Spo-cha terdengar seru! Kebetulan aku sedang ingin menggerakkan badan, nih~"

Spo-cha adalah sebuah fasilitas hiburan olahraga yang terletak di dalam kompleks taman bermain Round One.

Di sana kami bisa memainkan berbagai macam jenis olahraga mulai dari basket, tenis meja, dart, batting, badminton, hingga tenis.

Sistem tiketnya menggunakan durasi waktu, jadi selama batas waktunya belum habis, pengunjung bebas mencoba wahana apa saja sebanyak yang mereka mau.

Yah, berhubung aku sendiri belum pernah mencobanya, semua ini murni bersumber dari pengetahuan internet saja, sih.

"Ucapanmu barusan terdengar seperti bibi-bibi yang kurang olahraga saja."

"Jangan panggil aku bibi-bibi, dong! Uta-chan dan Tatsuya-kun juga pasti bakal menyukai tempat itu, kan. Mereka bertiga memang selalu berolahraga setiap hari di klub, tapi itu membuktikan kalau mereka sangat menyukai olahraga, kan?"

Sembari mendiskusikan hal tersebut, kami melewati gerbang tiket otomatis dan melangkah masuk ke dalam gerbong kereta.

Mungkin karena faktor jam sibuk, gerbong kereta terasa lumayan padat meskipun Prefektur Gunma terkenal sebagai wilayah yang didominasi oleh pengguna kendaraan pribadi.

"Tinggal masalahnya, apakah Reita masih punya energi untuk bermain di Spo-cha setelah selesai latihan klub atau tidak."

"Ah, kalau soal itu tinggal kita diskusikan lagi nanti saja. Ini kan baru sekadar usul."

Di dalam kereta yang melaju dengan suara gemuruh yang khas, aku bisa melihat beberapa murid yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengan kami.

Ngomong-ngomong,

"Apakah Hoshimiya pandai berolahraga?"

"Sama sekali tidak bisa. Jadi jangan menaruh ekspektasi tinggi padaku, ya?"

Benar juga. Berkat ingatan dari kehidupanku yang sebelumnya, aku sebenarnya sudah tahu tentang hal itu. Makanya aku sempat heran kenapa dia memilih opsi Spo-cha.

"Meskipun tidak pandai, bukan berarti kita tidak boleh menyukainya, kan? Karena aku menyukainya, makanya aku ingin mencobanya."

Ucapan kasual yang meluncur dari mulut Hoshimiya seketika menusuk lubuk hatiku yang terdalam.

"……Benar, juga ya."

Kalimat itu benar-benar tepat sasaran dalam menggambarkan kondisi mentalku saat ini.

Meskipun tidak pandai, bukan berarti tidak boleh menyukainya.

Bagaimanapun aku berusaha menutupinya, pada hakikatnya aku tetaplah seorang introvert.

Berlagak sok extrovert adalah hal yang sulit bagiku, dan sering kali membuat mentalku kelelahan.

Namun, hubungan pertemanan yang kudapatkan dari hasil memaksakan diri tersebut terasa sangat berharga dan menyenangkan untuk dijalani.

Dunia yang dulunya terasa abu-abu saat aku sendirian, kini terlihat dihiasi oleh warna-warni pelangi.

Karena itulah aku menyukainya.

Karena aku menyukainya, makanya aku memilih untuk berdiri di tempat ini sekarang.

Meskipun aku tidak pandai, dan meskipun tempat ini terasa tidak pantas untuk diriku.

"——Terima kasih ya, Hoshimiya."

Aku merasa ucapan Hoshimiya barusan seolah-olah telah menerima segala bentuk keanehan yang ada di dalam diriku.

"Mmh? Kamu bicara sesuatu?"

"……Tidak, aku cuma mau bilang kalau sebentar lagi kita sampai di Takasaki."

Sembari kalimat itu keluar dari mulutku, kereta perlahan melambat hingga akhirnya berhenti total, disusul dengan pintu gerbong yang terbuka lebar.

"Ah, sudah sampai. Kalau begitu Natsuki-kun, sampai ketemu besok!"

"Iya, sampai ketemu besok."

Hoshimiya melambaikan tangannya dengan ceria ke arahku sebagai salam perpisahan.

Sembari meresapi rasa kebahagiaan yang membuncah di dalam dada, aku memandangi sosok Hoshimiya yang melangkah pergi menjauh.

"……Uu-m."

Setelah tiba di rumah, aku memasang ekspresi wajah yang sangat serius.

Sebenarnya aku sedang dilanda kebingungan. Kebingungan yang sangat serius.

——Besok, aku harus memakai baju apa?

Benar sekali. Saat sekolah, aku bisa menyamarkan penampilanku dengan menggunakan seragam, tapi saat hari libur, tentu saja kami harus mengenakan pakaian bebas.

Masalahnya, aku tidak mau membuat mereka merasa risi karena aku datang mengenakan kaus norak dan celana longgar lusuh peninggalan zaman SMP dulu.

"……Haruskah aku pergi membeli baju baru?"

Bukannya aku mau pamer, tapi aku memang sama sekali tidak memiliki selera fesyen.

Walaupun selama empat tahun masa kuliah di kehidupanku yang sebelumnya aku selalu pergi mengenakan pakaian bebas, sih.

Berkat pengalaman tersebut, setidaknya aku tahu jenis kombinasi fesyen aman yang tidak akan terlihat aneh.

Yah, walaupun pakaian yang kukenakan saat itu murni hasil meniru rekomendasi dari para YouTuber fesyen, sih.

Masalah utamanya adalah, dunia saat ini berada di garis waktu tujuh tahun yang lalu.

Meskipun menurut penilaian pribadiku kombinasi bajunya terlihat oke, ada kemungkinan selera fesyen tujuh tahun lalu akan menganggap kombinasi tersebut terlihat norak... Ugh, bagaimana ini.

Di saat aku sedang pusing memikirkannya, ponselku mendadak berdering.

Layar ponsel menampilkan nomor asing yang belum terdaftar di kontak. Aku pun mencoba menekan tombol jawab.

"Halo?"

"Ah, Natsuki? Ini aku."

"……Miori? Ada apa mendadak meneleponku? Lagipula, dari mana kamu bisa tahu nomor ponselku?"

"Aku baru saja memintanya dari Namika-chan, kok."

"Ah, kalau dipikir-pikir, kamu memang akrab dengan adikku ya..."

Itu adalah informasi yang sempat luput dari ingatanku. Di kehidupanku yang sebelumnya, Miori dan Namika memang sering bertukar pesan lewat ponsel.

"Sampai bela-belain meminta nomor ponselku segala, memangnya ada urusan apa?"

"Aku berniat untuk mengumpulkan sedikit informasi, nih. Mengenai Reita-kun milikku."

"Sejak kapan dia resmi menjadi milikmu..."

"Urusan kecil begitu tidak usah dipikirkan. Ngomong-ngomong, bisa keluar sebentar sekarang?"

"Tidak bisa dibicarakan lewat telepon saja?"

"Bisa saja sih, tapi karena rumah kita dekat, bukankah mengobrol secara langsung akan terasa jauh lebih cepat?"

"Benar juga," sahutku menyetujui ajakannya, lalu bergegas melangkah keluar rumah.

Pakaian yang kukenakan saat ini hanyalah setelan celana training olahraga biasa, tapi berhubung lawan bicaraku adalah Miori, kurasa ini sudah lebih dari cukup.

Lagipula, saat ini aku memang tidak memiliki pakaian kasual lain yang layak untuk dipakai, sih.

"Di taman yang biasa, kan?"

"Mmh. Lagipula, aku sudah sampai di lokasi, nih."

Sembari terus mengobrol lewat telepon, aku melangkah kaki beberapa saat hingga akhirnya tiba di taman dekat rumah.

Di bawah guyuran sinar matahari senja yang temaram, sosok Miori tampak sedang duduk di atas ayunan.

Deretan pohon sakura di pinggir jalan kini sudah sepenuhnya berubah warna menjadi hijau subur.

"Uwah, norak banget."

Miori mendongakkan wajahnya, dan kalimat itulah yang pertama kali meluncur dari mulutnya sebagai salam pembuka.

"Kalimat pertamamu langsung menusuk sekali ya. Mana ada istilah norak untuk setelan celana training olahraga biasa."

Meskipun aku membalas ucapannya dengan nada santai, lubuk hatiku sebenarnya merasa sedikit terluka. Perlu diingat kalau mentalku ini selembut kaca, tahu!

"Masa pergi menemui anak perempuan pakaianmu cuma setelan celana training olahraga saja sih?"

"Aku tidak punya pakaian kasual yang layak, tahu. Malah setelan yang ini bisa dibilang sebagai pakaian terbaik yang kupunya saat ini."

"Kamu serius mengatakan hal itu?"

Miori memasang ekspresi wajah melongo yang tampak sangat risi melihat penampilanku.

Di sisi lain, aku harus mengakui kalau pakaian kasual yang dia kenakan saat ini terlihat sangat modis dan cocok untuk dirinya.

Dia mengenakan blus putih berenda khas anak perempuan yang dipadukan dengan celana jins ketat.

……Tapi kalau diperhatikan kembali, anak ini ternyata tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik juga ya.

Mungkin karena aku sudah terlalu terbiasa melihatnya mengenakan seragam sekolah, kontras dari penampilan kasualnya yang jarang kulihat ini membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih imut dari biasanya. Anggap saja begitu.

Padahal saat zaman SD dulu, gaya rambut dan cara berpakaiannya membuat dia sering kali dikira sebagai anak laki-laki (atau lebih tepatnya, bocah celana pendek).

……Kurasa tidak ada salahnya mencoba mengandalkan selera fesyen anak ini. Lagipula, rasanya agak kesal juga kalau harus memberikan informasi secara cuma-cuma tanpa mendapat imbalan.

"Boleh saja kalau mau membahas tentang Reita, tapi ada syaratnya."

"Mmh? Tentu saja boleh, tapi memangnya kamu sudah kesusahan dalam hal apa?"

Miori memiringkan kepalanya sedikit. Rasanya dia tidak perlu menambahkan kata keterangan yang berlebihan seperti 'sudah', kan?

"Sebenarnya, besok aku mau pergi main bersama anak-anak kelompokku..."

"Ah, aku paham sekarang. Kamu tidak punya baju yang layak untuk dipakai, kan?"

Aku mengangguk pasrah menanggapi tebakan Miori yang memasang wajah jengah.

"Kalau cuma mengandalkan seleraku, aku tidak tahu penampilanku bakal jadi seburuk apa. Makanya, aku mohon bantuanmu."

"Kalau acaranya besok, berarti kita harus mencarinya hari ini juga, ya. Karena waktunya mendesak, sepertinya kita cuma bisa memilih baju di Unishiro terdekat. Kalau di sana, paling-paling aku cuma bisa mencarikan kombinasi baju yang aman saja, tidak apa-apa?"

"Kombinasi aman juga tidak masalah, kok. Malah aku lebih memilih opsi yang aman saja."

"Hmm. Kalau begitu, ayo kita langsung berangkat sekarang. Aku juga tidak mau pulang terlalu larut malam."

Aku pun mulai melangkah berjalan berdampingan bersama Miori.

Toko Unishiro terdekat berada di area depan stasiun, jadi kalau berjalan kaki dari sini paling-paling hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit.

Kira-kira kapan dia akan mulai mengorek informasi tentang Reita, ya?

Namun saat aku meliriknya, Miori tampak sibuk berbalas pesan RINE dengan seseorang lewat ponselnya. Selama momen tersebut, kami terus melangkah maju tanpa ada obrolan apa pun di antara kami.

Meskipun Miori memperlakukanku dengan cara yang sama seperti saat kami masih kecil dulu, aku tetap merasa kesulitan untuk mengukur jarak sosial yang tepat di antara kami.

Bagaimanapun juga, Miori yang dulunya punya sifat persis seperti bos geng anak-anak, sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis seutuhnya.

Ditambah lagi, masa kosong selama tiga tahun saat masa SMP terasa sangat besar bagi kami.

Setidaknya, keheningan yang tercipta saat kami hanya tinggal berdua ini terasa cukup canggung, tidak seperti saat kami masih kecil dulu.

"Kita memang tidak bisa langsung kembali akrab seperti waktu dulu lagi, ya."

Gumaman yang keluar dari mulut Miori seolah-olah berhasil membaca isi hatiku yang terdalam.

Aku tersentak kaget lalu mendongakkan wajah, dan di saat itulah aku menyadari kalau Miori sejak tadi ternyata sedang menatap wajahku dengan lekat.

"Tebakanku tepat sasaran, ya? Dari dulu ekspresi wajahmu itu memang sangat mudah dibaca."

"……Kalau lawan bicaraku adalah kamu, aku jadi sering lengah."

Tanpa disadari, aku telah tenggelam ke dalam lautan pikiranku sendiri.

Saat sedang berkumpul bersama Tatsuya dan yang lainnya, aku selalu berhati-hati agar tidak melakukan kecerobohan semacam ini.

Lagipula, terus-menerus diam seribu bahasa hanya akan memberikan kesan yang buruk kepada orang lain.

Namun, di depan Miori yang sudah mengetahui bagaimana sosok diriku yang sebenarnya di masa lalu, aku tidak memiliki keinginan besar untuk gengsi atau sekadar jaga imej.

"Jadi, bagaimana? Bagaimana perkembangan hasil dari strategi high school debut-mu itu?"

"Jangan merangkum seluruh kerja keras dan tetesan air mataku secara singkat dengan istilah high school debut begitu, dong."

Yah, walaupun harus kuakui kalau istilah itu adalah pilihan kata yang paling tepat sasaran untuk menggambarkan kondisiku saat ini.

"Siapa yang menyangka kalau seorang Natsuki bisa bergabung ke dalam satu kelompok yang dipenuhi oleh anak-anak berkilau seperti mereka."

"……Aku juga sadar diri kalau tempat itu sebenarnya tidak pantas buatku."

Saat aku mengerucutkan bibirku, Miori menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tidak juga, kok. Natsuki yang sekarang juga sudah terlihat cukup berkilau, tahu."

"…………O-Oh……"

Tolong hentikan kebiasaan memuji secara mendadak seperti itu, karena hal itu sukses membuat mentalku menjadi goyah.

"Uwah, responsmu barusan beneran menjijikkan. Sekarang aura berkilaumu langsung lenyap sepenuhnya."

"Berisik. Aku cuma tidak terbiasa dipuji orang lain saja."

Saat aku memalingkan wajahku ke arah lain, Miori tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan.

 Tanpa disadari, gestur tubuhnya pun kini sudah terlihat sangat feminin.

Tampaknya waktu tiga tahun sudah lebih dari cukup untuk mengubah kepribadian seseorang.

"Lagipula, melihatmu bisa menjadi sosok yang berkilau seperti sekarang ini sebenarnya terasa sangat menarik bagiku."

"……Karena alasan itulah, sebenarnya aku malas masuk ke SMA yang sama dengan orang yang berasal dari SMP yang sama denganku dulu."

"Benarkah begitu? Bukankah menyedihkan jika di dekatmu tidak ada satu pun orang yang mengetahui bagaimana sosok dirimu yang sebenarnya?"

Aku terdiam seribu bahasa mendengar gumaman yang dilontarkan oleh Miori sembari menatap ke arah langit senja.

Itu adalah kalimat yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Namun, mungkin apa yang dikatakannya memang ada benarnya.

"Satu-satunya orang yang bisa kamu andalkan untuk menunjukkan sifat aslimu saat ini kan cuma aku saja, bukan?"

Meskipun kalimat penuh percaya dirinya itu terasa agak menyebalkan, kenyataan bahwa saat ini aku sedang meminta bantuannya untuk memilih baju membuatku tidak memiliki kata-kata untuk membalasnya.

Memang benar, saat ini aku hanya bisa meminta bantuan kepada Miori saja.

"Karena itulah, bagimu pun, menjadikanku sebagai rekan kerja sama adalah pilihan yang paling tepat."

Miori membalikkan tubuhnya dengan anggun, lalu berdiri tepat di depanku.

"……Rekan kerja sama?"

"Aku kan sudah mengatakannya tempo hari. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Reita-kun, dan aku ingin bisa menjadi lebih akrab dengannya. Jadi, tolong bantu aku. Semuanya pasti akan terasa jauh lebih mudah jika kamu yang berada di dalam kelompok yang sama dengannya bersedia membantuku."

Miori mengulurkan tangannya ke arahku. Menjabat tangan ini berarti kesepakatan kerja sama di antara kami telah resmi terjalin.

"Sebagai gantinya, kamu mau berjanji untuk membantuku jika terjadi sesuatu padaku nanti?"

"Tentu saja. Aku akan menyukseskan rencana high school debut-mu, dan mengubahmu menjadi seorang extrovert terkuat!"

"Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi seorang extrovert terkuat, sih..."

Aku hanya ingin bisa menjalani masa muda yang bisa kuterima dengan lapang dada. Secara spesifik, mengubah warna masa mudaku yang dulunya abu-abu menjadi berwarna pelangi.

Demi mewujudkan ambisi itulah, aku rela berjuang mengulang kembali hidupku saat ini.

Alasan kenapa aku mengincar posisi sebagai seorang extrovert adalah karena aku ingin berteman dengan Tatsuya, ingin bisa berpacaran dengan Hoshimiya, dan ingin memiliki teman-teman akrab seperti sekarang agar bisa menghabiskan hari-hari dengan menyenangkan.

Aku menceritakan garis besar dari isi pikiranku tersebut kepada Miori, tentu saja dengan tetap merahasiakan fakta bahwa aku sedang menjalani hidup untuk yang kedua kalinya.

"——Dengar, ya. Intinya, mengincar posisi high school debut itu hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan utamaku."

"Mmh, mmh…… Berarti intinya kamu cuma ingin punya pacar, kan?"

"Kamu mendengarkan ceritaku tidak, sih?"

"Tujuan utama dari high school debut kan sebagian besar ujung-ujungnya memang ingin punya pacar. Iya, iya, aku paham kok. Aku juga ingin punya pacar yang tampan, sih…… Ingin punya pacar tampan, beneran ingin banget."

"Bisa tolong hentikan kebiasaan mengumbar ambisi yang terlalu realistis seperti itu?"

Citra suci yang miliki tentang anak gadis SMA rasanya jadi hancur berantakan.

"Pokoknya, kalau kamu mau membantuku, aku juga akan membantumu untuk mendapatkan pacar. Lagipula targetmu pasti salah satu dari tiga anak perempuan di kelompokmu itu, kan? Mereka semua kan memang punya visual yang imut."

Mendapat pertanyaan telak seperti itu membuatku kesulitan untuk memberikan jawaban, karena kenyataannya memang seperti itu.

"——Dari-Daripada membahas hal itu, bukankah kamu tadi katanya ingin tahu tentang Reita?"

Melihatku yang secara blak-blakan mencoba mengalihkan topik pembicaraan, Miori bergumam tidak puas, "Ah, kamu kabur ya...", sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraan.

"Iya juga, sih. Tapi dengan membicarakan hal ini, berarti kesepakatan kerja sama di antara kita sudah resmi terjalin, kan?"

"……Yah, lagipula tidak ada kerugian apa pun buatku, jadi boleh saja."

Kenyataannya, aku memang merasa sangat terbantu karena bisa memiliki tempat untuk meminta bantuan seperti Miori saat ini.

Meskipun aku tidak akan pernah mengucapkan hal itu secara langsung di depannya, karena dia pasti akan langsung besar kepala jika mendengarnya.

"Kalau begitu, pertama-tama aku ingin tahu apa saja hal-hari yang disukai oleh Reita-kun——"

Setelah itu, Miori yang mendadak berubah menjadi sangat bersemangat terus memberondongku dengan berbagai macam pertanyaan.

Di saat kami sibuk mengobrol untuk mengorek seluruh informasi yang kuketahui sampai ke akar-akarnya, tanpa disadari kami sudah tiba di depan toko Unishiro.

"Yah, meskipun aku sudah menduganya, tapi ternyata informasi yang kamu punya cuma sebatas ini saja, ya."

Miori berucap demikian sembari menghela napas panjang.

"Tentu saja, habisnya kami kan baru saja masuk sekolah. Wajar saja kalau informasi yang kuketahui baru sebatas hal-hal yang ada di permukaan saja."

"Mmh. Kalau begitu, aku akan menaruh ekspektasi tinggi untuk informasi selanjutnya, ya."

"……Lagipula, memangnya kamu beneran menyukai Reita sampai segitunya?"

"Mmh? Aku memang tertarik dengannya, tapi bukan berarti aku sudah menyukainya saat ini, kok. Aku ini hanyalah tipe orang yang selalu mengumpulkan informasi tentang cowok tampan saja. Lagipula, memandangi cowok berwajah tampan itu kan tidak pernah membosankan, jadi rasanya sangat menyenangkan tahu……"

Miori bergumam sembari menyunggingkan senyuman yang tampak mencurigakan.

Anak gadis SMA zaman sekarang ternyata agresif sekali ya, menyeramkan...

Setelah melalui obrolan panjang tersebut, aku dan Miori pun mulai sibuk memilih kombinasi baju yang sekiranya aman di dalam toko Unishiro terdekat.

Alasan kenapa kami memilih Unishiro bukan hanya karena faktor keterbatasan waktu karena acaranya adalah besok siang, melainkan karena faktor finansial di mana aku tidak memiliki anggaran dana yang cukup untuk membeli baju bermerek yang mahal. Bagaimanapun juga, harga pakaian biasa pun sudah terasa sangat mahal bagi dompet seorang anak SMA...

"……Sepertinya aku harus mulai mencari pekerjaan paruh waktu, nih," gumamku sembari menatap selembar kemeja seharga beberapa ribu yen.

"Memangnya kamu sama sekali tidak punya uang?"

"Bukannya tidak punya uang, tapi kalau dipakai untuk membeli baju seperti ini, tabunganku pasti akan langsung lari lenyap dalam sekejap."

"Ah, kalau soal itu memang benar sih ya~"

Meskipun aku mendapatkan uang saku bulanan secara rutin, sejujurnya nominalnya masih jauh dari kata cukup.

Lagipula aku adalah anak ekskul jalur langsung pulang, jadi aku memiliki banyak waktu senggang di saat teman-teman yang lain sedang sibuk mengikuti kegiatan klub mereka. Mengambil pekerjaan paruh waktu sepertinya bisa menjadi opsi yang bagus.

"Nah, sekarang enaknya pakai yang mana ya?"

Miori memandangi postur tubuhku dari atas sampai bawah dengan lekat, lalu mengetuk dagunya dengan jari sembari memasang wajah serius.

"Hmm, postur tubuhmu kan dasarnya sudah bagus, jadi kurasa kombinasi baju yang simpel akan terlihat jauh lebih cocok untukmu. Dulu badanmu memang sudah tinggi sih, tapi aku tidak menyangka kalau sekarang badanmu bisa menjadi sekurus ini bahkan sampai membentuk otot juga."

Tanpa ada aba-aba apa pun sebelumnya, Miori mendadak menyentuh bagian pinggang sampingku. Sentuhan tiba-tiba itu sukses membuat tubuhku tersentak kaget.

"O-Oi, apa yang kamu lakukan……!?"

"Ada apa? Padahal kamu itu cowok, tapi masa cuma disentuh begitu saja langsung merasa risi sih?"

Miori tertawa cekikikan. Walaupun status kami adalah teman masa kecil, mana mungkin aku tidak merasa goyah saat mendapat body touch secara mendadak dari seorang anak perempuan.

Perlu diingat kalau pengalaman hidupku sebagai seorang introvert itu jauh lebih lama daripada usiaku yang sekarang, tahu!

"Kalau begitu, umm, untuk sementara mari kita ambil yang ini, yang ini, dan…… yang ini! Ayo kita pergi ke ruang ganti!"

Setelah memilih beberapa potong baju secara acak, Miori langsung mendorong punggungku untuk berjalan menuju ke arah ruang ganti pakaian.

Dia tampak sangat menikmati momen ini. Karena Miori adalah seorang anak perempuan, wajar saja jika dia menyukai aktivitas memilih pakaian seperti ini.

"Menjadikan orang lain sebagai boneka peraga busana itu ternyata sangat menyenangkan ya~"

"Boleh saja menjadikanku sebagai boneka peraga busana, tapi pastikan kamu memilih kombinasi baju yang benar, ya?"

"Serahkan saja semuanya padaku. Lagipula bahan dasarnya sudah bagus, jadi hasilnya tidak akan mungkin berubah menjadi sesuatu yang terlihat mengerikan, kok."

Melihat Miori yang bersenandung kecil dengan ceria membuatku tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan seluruh nasib penampilanku ke tangannya, meskipun dalam hati aku merasa sedikit cemas.

"——Terima kasih banyak. Silakan datang kembali~"

Sembari mendengarkan sapaan ramah dari pelayan toko tersebut, kami pun melangkah keluar dari dalam toko di saat hari sudah sepenuhnya berubah menjadi gelap.

Kedua belah tanganku kini terasa sangat berat karena membawa kantong belanjaan yang padat.

Karena aku tidak hanya membeli baju untuk dipakai besok melainkan juga membeli beberapa potong baju tambahan untuk persediaan di kemudian hari, total pengeluaranku hari ini sampai menembus angka di atas sepuluh ribu yen.

Nominal yang sangat menguras isi dompet seorang anak SMA. Rasanya sangat perih, tapi ini adalah pengeluaran wajib demi menunjang penampilanku ke depan.

"Aku ternyata belanja cukup banyak juga ya..."

"Fufu, tapi entah mengapa tadi kamu kelihatan seperti sedang bersenang-senang, kan?"

Apa yang dikatakan oleh Miori memang benar, aku sempat merasa cukup menikmati momen mencoba berbagai macam pakaian di ruang ganti tadi.

Dulu aku selalu berpikir kalau pakaian jenis apa pun rasanya sama saja, tapi berkat postur tubuhku yang sudah jauh lebih proporsional saat ini, baju apa pun yang kupakai jadi terlihat cocok dan membuat suasana hatiku menjadi gembira. Perjuangan kerasku untuk menurunkan berat badan ternyata tidak sia-sia.

"Jadi, besok kamu akan pergi memakai kombinasi baju yang ini, kan?"

"Rencananya memang begitu."

"Semoga sukses, ya. Yah, walaupun ini cuma baju Unishiro yang tidak akan membuatmu terlihat sangat modis seperti model, setidaknya kombinasi ini sudah cukup membuat penampilarmu terlihat layak, kok. Sisanya tinggal masalah postur tubuh dan ekspresi wajahmu saja. Jangan sampai berjalan dengan posisi tubuh yang membungkuk, ya. Tegakkan badanmu!"

Punggungku langsung ditepuk dengan keras olehnya.

Mungkin karena faktor tubuhku yang tinggi, aku memang memiliki kecenderungan refleks untuk berjalan dengan posisi tubuh yang membungkuk. Aku harus lebih berhati-hati lagi ke depannya.

"Kalau ada kesempatan lagi, lain kali aku akan meluangkan waktu yang lebih lama untuk mencarikan kombinasi baju yang jauh lebih modis untukmu. Meskipun harganya pasti akan jauh lebih mahal, sih. Kalau perlu, kita bahkan bisa pergi berburu baju sampai ke Shibuya!"

"Aku tidak punya uang sebanyak itu. ……Kira-kira, enaknya aku ambil pekerjaan paruh waktu apa, ya?"

Aku bergumam pelan sembari menatap ke arah langit malam.

Meskipun saat ini sudah memasuki pertengahan musim semi, hawa dingin yang menusuk kulit masih terasa cukup pekat di malam hari.

"Toko kelontong, kedai kopi, restoran keluarga, karaoke…… bekerja di toko buku sepertinya boleh juga."

Sembari memikirkan beberapa kandidat tempat untuk pekerjaan paruh waktuku nanti, kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.

"Bagaimana kalau bekerja di toko pakaian saja?"

"Mustahil buatku. Aku tidak punya selera fesyen, dan aku juga pasti akan merasa gugup jika harus mengobrol dengan orang asing."

"Selera fesyen sih bisa dipelajari, tapi kalau masalah gugup…… sifat asli seseorang itu memang tidak akan pernah bisa berubah dengan mudah ya~"

"……Kalau mengubah sifat asli itu adalah perkara yang mudah, aku tidak perlu bersusah payah sampai seperti ini, tahu."

Sembari membalas ucapannya, aku mulai menimbang-nimbang opsi yang ada di dalam benakku.

Jika memilih pekerjaan paruh waktu di kedai kopi atau restoran keluarga, aku setidaknya sudah memiliki pengalaman kerja di bidang tersebut saat masa kuliah di kehidupanku yang sebelumnya.

Namun daripada mengambil bidang kerja yang sama, mencoba jenis pekerjaan baru yang belum pernah kualami sebelumnya sepertinya akan terasa jauh lebih menarik untuk dijalani.

……Ugh, bagaimana ya bagusnya.

Dunia kerja paruh waktu pasti memiliki warna masa mudanya tersendiri yang berbeda dari kehidupan sekolah.

Aku harus memilihnya dengan penuh pertimbangan yang matang.

Sembari terus memikirkan hal tersebut, aku dan Miori pun akhirnya saling bertukar salam perpisahan di persimpangan jalan.

Keesokan harinya pukul satu siang.

Karena merasa terlalu tegang, aku sengaja datang tiga puluh menit lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan untuk membunuh waktu.

Di sisi lain, teman-teman yang lain baru mulai berkumpul di lokasi sekitar sepuluh menit sebelum jam satu siang.

Sosok yang tiba paling akhir adalah Tatsuya, tepat dua menit sebelum waktu berkumpul.

"Waduh, aku sempat panik karena mengira bakal datang terlambat hari ini."

Tatsuya berbicara demikian sembari meneguk sebotol air mineral yang baru dibelinya dari mesin penjual otomatis.

Hari ini dia mengenakan kemeja bermotif dengan dominasi warna abu-abu yang dipadukan dengan celana jins ketat model damaged.

Sebuah kalung perak tampak melingkar indah di lehernya.

Kombinasi fesyen tersebut mungkin akan terlihat norak jika dipakai oleh orang biasa, namun gaya tersebut terasa sangat cocok dengan visual wajah dan gaya rambut Tatsuya yang memberikan kesan garang.

Meskipun penampilannya saat ini murni membuatnya terlihat seperti seorang mahasiswa berandal, sih.

"Kenapa janji temu di siang hari bolong begini saja kamu masih hampir datang terlambat, sih?"

Sosok yang menyela dengan dahi mengernyit heran tersebut adalah Nanase.

Hari ini dia mengenakan blus sifon yang dipadukan dengan celana kulot model wide-leg.

Sebuah topi baret putih tampak bertengger dengan manis di atas kepalanya, membuat penampilannya saat ini terlihat seperti perpaduan pakaian kasual yang sangat imut.

Apakah ini yang dinamakan dengan gaya kombinasi pakaian khas musim semi?

"Tatsu dari dulu memang tipe orang yang selalu datang terlambat bahkan di saat dia tidak bangun kesiangan sekalipun, tahu!"

Uta tertawa terbahak-bahak menimpali ucapan Nanase.

Hari ini dia mengenakan gaun terusan model kemeja dengan motif kotak-kotak berwarna gelap.

Kesan dari pakaiannya ini memberikan nuansa vintage yang sangat kental, sebuah pilihan gaya berpakaian berani yang mengekspos bagian bahunya hingga memberikan kesan seksi yang bertolak belakang dengan citra polos dari dirinya.

Meskipun Uta memiliki postur tubuh yang pendek dan kekanak-kanakan, kombinasi baju ini sukses membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dari biasanya. Namun harus kuakui kalau baju itu terasa sangat cocok untuknya.

"Ah, kalau soal itu sepertinya aku juga bisa paham. Kadang-kadang kita jadi terlalu santai saat bersiap-siap karena merasa waktunya masih lama, kan."

Hoshimiya menanggapi ucapan Uta sembari mengulas senyuman manis.

Hari ini dia mengenakan blus putih yang dipadukan dengan celana panjang ketat. Sebuah kombinasi fesyen kasual yang simpel namun memberikan kesan androgini.

Di balik postur tubuhnya yang berada di kisaran rata-rata tinggi anak perempuan pada umumnya, celana ketat itu membuat kaki jenjangnya terlihat dengan sangat jelas.

"Meskipun berkata begitu, Hoshimiya-san adalah tipe orang yang tidak akan pernah datang terlambat, kan."

Reita hari ini mengenakan kaus oblong berwarna krem tua yang dilapisi dengan kaus putih model longgar di bagian dalamnya, disusul dengan kemeja kerah terbuka berwarna krem muda sebagai luaran, serta celana jin model skinny berwarna hitam untuk bawahannya.

Kombinasi pakaian tersebut seolah-olah berhasil mengubah citra Reita yang biasanya tenang dan ramah menjadi terlihat sangat keren.

"Sebaliknya, aku malah datang terlalu cepat sampai kebingungan harus berbuat apa di sini."

Setelah puas mengamati kombinasi pakaian kasual milik semua orang secara diam-diam, aku pun mulai ikut bergabung ke dalam percakapan.

Penampilan kasual mereka hari ini tentu saja terlihat sangat modis, namun pesona mereka yang memancar berkali-kali lipat lebih kuat dari biasanya sukses membuatku terpesona dalam sekejap tanpa bisa mengalihkan pandangan.

Khususnya untuk para anak perempuan. Kontras dari penampilan kasual mereka hari ini benar-benar terasa sangat berbeda jauh dengan citra mereka saat mengenakan seragam sekolah sehari-hari.

Tampaknya mereka bertiga juga menyadari hal tersebut, karena saat ini mereka sedang asyik saling melempar pujian mengenai kombinasi pakaian milik satu sama lain.

Berdasarkan obrolan tersebut, tampaknya Hoshimiya menyukai gaya fesyen yang memberikan kesan keren, Uta menyukai gaya fesyen yang memberikan kesan dewasa, sementara Nanase menyukai gaya fesyen yang memberikan kesan imut.

Karena hari ini adalah hari libur, mereka semua tampak mengenakan riasan wajah tipis yang membuat pesona mereka terlihat semakin berkilau di mataku.

"……Apakah mereka bertiga benar-benar sadar kalau hari ini kita berencana untuk bermain di Spo-cha?" gumam Reita sembari mengedikkan bahunya pasrah.

Karena para anak perempuan sedang asyik mengobrol sendiri, kami para anak cowok pun otomatis berkumpul membentuk kelompok terpisah.

"Kombinasi baju mereka sama sekali tidak cocok dipakai untuk berolahraga ya, meskipun harus kuakui kalau baju-baju itu terlihat sangat pas untuk mereka."

"Lagipula jenis olahraga yang akan kita mainkan di sana nanti kan bukan jenis olahraga berat yang sampai menguras banyak keringat, jadi kurasa pakaian seperti itu tidak akan menjadi masalah, kan?"

Meskipun aku mencoba menenangkan Tatsuya dan Reita yang hanya bisa mengulas senyuman kecut melihat tingkah para anak perempuan, kenyataannya aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki ke dalam wahana Spo-cha dan hanya berbicara bermodalkan informasi yang kubaca dari internet saja, jadi tindakanku barusan murni hanyalah aksi sok tahu belaka.

"Benar juga, sih. Kalau begitu, mari kita langsung berangkat sekarang."

Tatsuya mulai melangkah maju memimpin jalan, diikuti oleh kami semua yang berjalan di belakangnya sembari asyik mengobrol santai.

Mengingat ini adalah momen pertama kalinya kami pergi bermain bersama di hari libur, atmosfer hari ini terasa sangat segar buatku. Lubuk hatiku diliputi oleh rasa antusiasme yang sangat besar.

"……Hei Natsuki-kun, kamu membeli baju itu di toko mana?"

Hoshimiya mendadak memunculkan kepalanya dari arah samping, menatap wajahku dengan lekat sembari melontarkan pertanyaan tersebut.

"Mmh? Kalau baju yang ini, aku membelinya di toko Unishiro biasa, kok…… Memangnya penampilanku terlihat norak, ya?"

Melihat ekspresi cemas yang kutunjukkan, Hoshimiya langsung tertawa cekikikan sebelum akhirnya menggelengkan kepala tanda membantah dugaanku.

"Aduh, Natsuki-kun ini selalu saja berpikiran negatif, ya. Padahal baru saja aku berniat untuk memujimu, lho?"

Mendengar kalimat tersebut membuat lubuk hatiku seketika dilingkupi oleh rasa lega.

Tampaknya selera fesyen pilihan Miori kemarin memang terbukti keakuratannya.

Hari ini aku mengenakan kemeja model oversized yang dipadukan dengan celana bahan longgar berwarna hitam.

Sebuah desain pakaian longgar yang nyaman dipakai serta memberikan siluet postur tubuh yang proporsional.

Aku benar-benar harus berterima kasih kepada Miori karena telah memilihkan kombinasi baju ini untukku.

"Ho-Hoshimiya juga…… baju yang kamu pakai hari ini terlihat sangat cocok untukmu, kok. Kesannya terlihat sangat keren."

Karena Hoshimiya sudah berbaik hati memuji pakaianku terlebih dahulu, rasanya akan terdengar natural jika aku membalas pujiannya dengan memuji pakaian yang dia kenakan saat ini.

Meskipun suaraku sempat agak tersendat di awal kalimat saat mencoba melontarkan pujian tersebut, setidaknya aku berhasil menahan suaraku agar tidak bergetar karena gugup.

"Keren, ya. Berarti bukan imut, nih?" gumam Hoshimiya dengan nada yang dibuat seolah-olah sedang merasa kecewa.

Apakah dia lebih suka dipuji imut? Tapi, kata keren adalah murni kesan jujur yang kurasakan saat melihat penampilannya hari ini.

"Ahahaha, aku cuma bercanda, kok. Aku pribadi memang lebih menyukai gaya fesyen androgini yang memberikan kesan keren seperti ini, sih. Kalau ada pakaian pria yang modelnya kusukai, aku bahkan tidak akan ragu untuk membelinya. Makanya aku merasa sangat senang saat kamu memuji penampilanku hari ini terlihat keren."

Hoshimiya mengulas senyuman manis dengan wajah yang tampak sedikit tersipu malu.

Ekspresi malu-malu yang ditunjukkannya saat ini benar-benar terlihat sangat imut tanpa ada celah sedikit pun.

Tepat di saat obrolan di antara aku dan Hoshimiya berakhir, Tatsuya bergumam dari arah depan, "Kita sebentar lagi sampai, nih."

"Memangnya posisinya ada di sebelah mana? Ini adalah momen pertama kalinya aku berkunjung ke tempat ini."

Nanase mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling area dengan bingung. Sebenarnya, ini juga merupakan momen pertama kalinya buatku, lho.

Di saat aku sedang membatin karena merasa senasib dengan Nanase, Uta mendadak mengarahkan jari telunjuknya ke arah sebuah bangunan besar yang terletak tidak jauh dari posisi kami berdiri.

"Posisinya ada di sebelah sana! Bangunannya bahkan sudah kelihatan jelas dari sini, kan. Kita bertiga kan sering berkunjung ke tempat ini saat zaman SMP dulu."

"Yah, lokasinya memang tergolong cukup dekat jika ditempuh dari SMP Oshima, sih. Aku bahkan masih ingat kalau kita dulu sempat bertengkar hebat hanya karena meributkan pilihan antara mau pergi berkaraoke, bermain di Spo-cha, atau bermain boling. Hari itu adalah momen langka di mana Reita menolak untuk mengalah dan bersikeras ingin bermain boling."

"Habisnya, hari itu suasana hatiku memang sedang ingin bermain boling, sih."

"Rei itu kadang-kadang memang suka keras kepala secara mendadak pada momen-momen tertentu, tahu. Kalau dia sudah dalam kondisi seperti itu, pilihan terbaik adalah jangan pernah mencoba untuk menentang keinginannya."

Mendengar cerita masa lalu dari tiga orang yang berasal dari SMP yang sama tersebut membuat Hoshimiya reflek ikut menyahut ke dalam percakapan.

"Heh~ Memangnya kalian nanti juga akan menunjukkan sisi keras kepala yang seperti itu di depan kami?"

"Hoshimiya-san pasti akan memilih opsi mengalah sebelum obrolannya berubah menjadi pertengkaran, kok. Dua orang di sampingku inilah yang isi kepalanya agak aneh."

"Eeeh, kalau begitu mulai sekarang aku akan mencoba belajar menjadi orang yang keras kepala saja ah," sahut Hoshimiya sembari melemparkan senyuman manis ke arah Reita dengan jarak posisi berdiri yang terasa sangat dekat di antara mereka berdua.

……Meskipun aku sama sekali tidak merasa keberatan saat melihat Uta atau Nanase sedang mengobrol akrab dengan lawan jenis, kenapa hatiku mendadak merasa sangat tidak tenang saat melihat Hoshimiya melakukan hal yang sama dengan Reita?

Apakah perasaan ini dinamakan dengan rasa cemburu? Aku mulai merasa benci dengan kapasitas hatiku sendiri yang ternyata sangat sempit ini.

"Oooii, ayo cepat masuk!"

Tatsuya berseru memanggil kami dari posisi yang sudah berada jauh di depan, sementara kami semua berjalan dengan ritme lambat karena terlalu asyik mengobrol.

Sifat mandiri yang membuatnya selalu melangkah maju sendirian tanpa mempedulikan ritme jalan orang lain di sekitarnya benar-benar mencerminkan pembawaan asli dari seorang extrovert tipe fisik.

Yah, kalau masalah melangkah maju sendirian sih aku juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi untuk melakukannya.

Lagipula, sejak awal aku memang selalu sendirian, kan.

Satu-satunya perbedaan mencolok antara diriku dan Tatsuya hanyalah terletak pada fakta apakah ada orang di sekitar yang bersedia untuk mengikutinya dari belakang atau tidak.

Hahaha, perbedaan kecil yang dampaknya terasa sangat besar ya.

"Ternyata kita sudah sampai."

"Apakah ini pertama kalinya Natsuki berkunjung ke Round One?"

Aku sempat bimbang selama sesaat, sebelum akhirnya memilih untuk mengangguk jujur menanggapi pertanyaan dari Reita.

"Iya. Dulu aku memang sempat beberapa kali berencana untuk pergi ke sini bersama orang lain, tapi nominal biayanya dirasa terlalu mahal untuk ukuran kantong anak SMP."

Dalam situasi seperti ini, aku merasa berlagak sok tahu atau sekadar jaga imej bukanlah pilihan yang bijak.

Lagipula, rasanya wajar-wajar saja jika seorang anak yang baru menginjak tahun pertama SMA belum pernah menginjakkan kakinya ke dalam kompleks hiburan Round One.

Aku menilai risiko yang harus kutanggung akan jauh lebih besar jika kebohonganku sampai terbongkar nanti.

"Ahahaha, benar juga ya. Kami sendiri paling-paling baru berkunjung ke tempat ini sekitar tiga atau empat kali saja, kok."

Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk berjalan kaki dari stasiun menuju ke lokasi Round One yang menjadi tujuan kami hari ini terhitung hanya sekitar tiga menit saja.

Namun tetap saja, pergerakan kelompok kami yang dipenuhi oleh jajaran cowok tampan dan gadis cantik ini sukses menyedot perhatian dari orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar.

Aku bertaruh di dalam benak mereka pasti sedang memikirkan kalimat seperti, "Kalau diperhatikan dengan lekat, ternyata ada satu anak berwajah biasa saja yang terselip di dalam kelompok mereka, ya."

Perlu diingat kalau penampilanku yang sekarang ini adalah hasil dari perjuangan yang sangat keras, tahu!

Mengesampingkan jeritan hati dari seorang introvert yang penuh dengan tetesan air mata tersebut, jajaran anak extrovert di sekelilingku kini mulai melangkah masuk ke dalam gedung Round One.

Kemampuan mereka untuk melangkah masuk ke dalam fasilitas hiburan sebesar ini tanpa ada rasa ragu sedikit pun di dalam diri mereka benar-benar terlihat sangat mengagumkan buatku.

Mereka seolah-olah tidak memiliki rasa takut sama sekali, bahkan jika melihat ekspresi wajah Tatsuya saat ini, dia terlihat seperti sedang memasang wajah yang seolah-olah ingin mendeklarasikan kalimat, 'Akulah tokoh utama di tempat ini'.

"Hei, untuk durasi waktunya enaknya kita ambil paket berapa jam? Dua jam saja?"

"Eeeh? Durasi segitu terlalu sebentar, tahu! Paket enam jam pun aku masih punya sisa energi yang sangat banyak untuk bermain!"

"I-Tidak, kalau durasi segitu rasanya agak berlebihan, deh... Aku tidak yakin fisiku akan sanggup bertahan untuk terus bergerak selama itu."

"Lagipula kalau mengambil durasi sepanjang itu, saat selesai nanti jam dinding pasti sudah menunjukkan pukul tujuh malam, posisi jam yang akan menyulitkan Hikari karena dia memiliki aturan jam malam di rumahnya."

"Mumpung sedang pergi bersama, setelah ini aku juga ingin kita semua menikmati makan malam bersama, sih. Jadi kurasa durasi sekitar tiga jam saja sudah lebih dari cukup, kan?"

Reita dengan sangat cekatan langsung merangkum seluruh opini yang saling bersahutan dari mulut semua orang menjadi satu kesimpulan tunggal.

Setelah memastikan tidak ada satu pun orang yang menyuarakan penolakan atas kesimpulan tersebut, Reita langsung melangkah maju untuk melakukan transaksi tiket dengan pelayan toko.

Tolong berikan kemampuan sosial tingkat tinggi itu kepadaku juga... Sosok Reita benar-benar terlalu sempurna sampai-sampai aku tidak bisa menemukan celah kelemahan sedikit pun di dalam dirinya.

"——Nah, ayo kita masuk."

Karena Reita dan Tatsuya berjalan memimpin di posisi paling depan, aku pun memilih untuk mengikuti langkah mereka dari belakang dengan patuh.

"Uwooo, sudah lama sekali aku tidak ke sini! Enaknya kita main apa dulu ya!? Mau main apa!? Main apa!?"

Uta mengekspresikan rasa antusiasmenya dengan menggerakkan seluruh anggota tubuhnya secara aktif, namun di sisi lain, diriku yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke tempat ini sebenarnya juga sedang menahan rasa kegembiraan yang sangat besar di dalam dada.

Fasilitas di bagian dalam gedung ini terbukti sangat luas. Berbagai macam jenis wahana olahraga tampak berjajar rapi di setiap sudut, dipenuhi oleh kerumunan pengunjung yang sedang asyik bermain.

Heh~ Ternyata atmosfer bagian dalam tempat ini terlihat seperti ini, ya.

Sejak dulu aku memang sudah memendam keinginan yang besar untuk berkunjung ke tempat ini, namun pergi ke tempat hiburan seperti ini sendirian tanpa ada teman yang menemani hanya akan membuat hatiku dilingkupi oleh rasa hampa saja...

"Bagaimana kalau untuk sementara kita mencari wahana yang areanya sedang kosong saja? Wahana tenis meja sepertinya boleh juga, kan?"

Arah telunjuk Reita menunjuk ke arah barisan meja pingpong yang berjajar rapi di salah satu sudut area, di mana memang terlihat ada dua buah meja kosong yang tersisa di sana.

"Opsi yang bagus, tenis meja! Ayo kita main, ayo!"

"Ah, kalau cuma tenis meja, aku setidaknya memiliki tingkat kemampuan yang lumayan, lho. Walaupun untuk jenis olahraga lainnya kemampuanku bisa dibilang hancur lebur, sih."

Hoshimiya melipat kedua tangannya di depan dada sembari memamerkan wajah smug yang tampak bangga. Tatsuya menyunggingkan senyuman lebar menanggapi ucapan tersebut.

"Heh~ Kalau begitu, Hoshimiya. Aku akan memperlihatkan kekuatan pukulan smash-ku kepadamu."

"……Umm, sepertinya aku mau menolak opsi bermain melawan Tatsuya-kun saja, deh. Aura yang kamu pancarkan terlihat sangat menyeramkan, tahu."

Hoshimiya langsung mengambil langkah mundur yang lebar untuk menjauh dari Tatsuya yang mencoba menggertaknya, lalu menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Uta.

"Kalau kamu berani menyentuh Hikarin, kamu harus melangkah melewati mayatku terlebih dahulu!"

"……Kenapa posisiku di sini mendadak berubah menjadi seperti sosok bos penjahat terakhir, sih?"

Meskipun Tatsuya memasang wajah yang tampak tidak terima dengan tuduhan tersebut, dia tetap meladeni tantangan dari Uta yang tampak sangat bersemangat untuk memulai pertandingan di antara mereka berdua.

Melihat situasi tersebut sebagai sebuah kesempatan emas, aku pun langsung bergerak untuk melontarkan ajakan kepada Hoshimiya.

"Kalau begitu, Hoshimiya, bagaimana kalau kita bermain santai di meja sebelah?"

"Oke. Tolong bantu bimbing aku dengan lembut ya?"

Hoshimiya mengulas senyuman manis ke arahku. Hanya dengan melihat ekspresi wajahnya saja sudah membuatku merasa kalau keputusan untuk datang ke tempat ini hari ini adalah sebuah pilihan yang sangat tepat.

Untuk sementara, sistem permainan akan menggunakan sistem pergantian pemain, di mana Reita dan Nanase memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di sesi pertama ini.

Aku bertanding melawan Hoshimiya, sementara Tatsuya bertanding melawan Uta. Kelompok mana pun yang berhasil menyelesaikan pertandingan mereka terlebih dahulu akan langsung bertukar posisi dengan tim yang sedang menunggu di bangku cadangan.

Kami hanya bisa berharap semoga meja ketiga akan segera kosong selagi kami sedang sibuk bertanding saat ini.

"Hikari, semangat ya."

Nanase yang duduk di bangku panjang barisan penonton menyuarakan dukungannya kepada Hoshimiya yang sudah mulai memasang posisi siap dengan bet tenis meja di tangannya.

"Kalau begitu, aku akan menyuarakan dukunganku untuk Natsuki saja, deh. Mumpung suasananya mendukung, bagaimana kalau kita sekalian menerapkan sistem turnamen saja?"

"Ide bagus! Kedengarannya sangat seru!" seru Uta yang suaranya terdengar bersahutan dari meja sebelah, sibuk melakukan reli pukulan yang sengit melawan Tatsuya.

Sebuah level pertandingan yang berada di tingkat yang sangat tinggi.

Mengingat mereka berdua bisa saling membalas pukulan reli dengan kecepatan mengayunkan bet yang secepat itu, kemampuan mereka sudah tidak bisa lagi dikategorikan sebagai kemampuan seorang amatir.

Jajaran anak extrovert tampaknya memang dianugerahi kemampuan refleks fisik yang sangat bagus, sehingga mereka bisa menguasai jenis olahraga apa pun dengan sangat cepat.

Aku benar-benar merasa iri dengan bakat mereka.

Perlu diingat kalau saat jam pelajaran olahraga di masa lalu dulu, aktivitasku hanyalah sebatas luntang-lantung tidak jelas di sudut lapangan saja, tahu!

Habisnya, tidak ada satu pun orang yang bersedia mengoper bola kepadaku, sih.

……Ah, kalau masalah yang satu itu, bukankah penyebab utamanya bukan terletak pada faktor kemampuan fisikmu melainkan pada faktor hubungan sosialmu?

Memikirkan lelucon ironis tentang diriku sendiri seketika membuat suasana hatiku menjadi sedikit sedih.

Meskipun begitu, kemampuan refleks fisikku sebenarnya tidak bisa dikategorikan dalam tingkat yang buruk juga.

Walaupun aku sadar kalau kemampuanku tidak bisa dibilang menonjol, olahraga tenis meja adalah salah satu jenis olahraga yang bisa dibilang cukup kukuasai dengan baik.

"Uwah, kemampuan mereka berdua hebat sekali ya……"

Pandangan mataku mendadak saling bertemu dengan Hoshimiya yang tampak ternganga kagum melihat jalannya pertandingan di meja sebelah, membuatku hanya bisa mengulas senyuman kecut.

"Meskipun judulnya pertandingan, mari kita lakukan permainan ini dengan santai saja, ya."

"Benar juga."

Tak, aku mulai memukul bola pingpong ke arahnya sebagai tanda dimulainya permainan.

Bola memantul di atas meja dengan ritme lambat yang sengaja kubuat agar mudah diterima, dan Hoshimiya pun bergerak untuk membalas pukulan tersebut—— atau setidaknya, begitulah rencana awalnya.

"Eh!?"

——Wussh, ayunan bet milik Hoshimiya murni hanya membelah angin kosong saja.

Umm?

Kira-kira kenapa posisi bet dan bolanya bisa melesat sejauh itu saat ayunan tadi, ya?

"Ma-Maaf! Mungkin karena aku sudah lama tidak memainkannya lagi~"

Wajah Hoshimiya memerah padam karena malu sembari bergegas berlari untuk mengejar bola pingpong yang menggelinding jauh.

……Ya-Yah, wajar saja karena dia sudah lama tidak memainkannya lagi, kan.

Rasa-rasanya wajar jika dia membutuhkan sedikit waktu di awal permainan untuk mengembalikan insting pergerakannya kembali.

Namun, setelah melalui tiga kali momen ayunan kosong berikutnya, Hoshimiya akhirnya mulai bisa membalas pukulan bolaku dengan arah yang benar.

Tentu saja dengan catatan baku di mana aku harus selalu mengarahkan bola tepat ke posisi bagian tengah meja yang paling mudah dijangkau olehnya, serta memukulnya dengan ritme lambat yang sama secara konsisten.

Jika arah bola yang kukirimkan meleset sedikit saja dari posisi standar tersebut, ayunan betnya pasti akan kembali membelah angin kosong, atau bola pingpong tersebut akan melesat terbang ke arah lain yang tidak terduga.

"……Begitu ya, hmm, jadi kemampuannya berada di tingkat seperti ini, ya?"

"A-Ahahaha…… Sepertinya hari ini kondisiku sedang agak kurang fit saja, lho? Hanya untuk hari ini saja, lho?"

Hoshimiya mengibas-ngibaskan bet tenis mejanya di depan permukaan wajahnya yang memerah padam untuk mendinginkan suhu tubuhnya, mencoba mengaburkan fakta tentang kemampuannya yang sebenarnya.

Nanase yang duduk di bangku panjang penonton tidak jauh dari posisi kami berdiri langsung angkat suara ke arahku sembari tertawa cekikikan.

"……Natsuki, kamu boleh saja menunjukkan kenyataan yang sebenarnya kepada dirinya, lho?"

"Hoshimiya…… Dengan tingkat kemampuan yang seperti ini, berani sekali ya kamu mengklaim kalau tenis meja adalah satu-satunya olahraga yang lumayan kamu kuasai……"

"Jangan diperjelas lewat kata-kata dong! Tapi jika dibandingkan dengan jenis olahraga lainnya, aku memang jauh lebih menguasai olahraga yang satu ini, tahu! Sungguhan!"

Hoshimiya mencoba menyuarakan protes pembelaan dirinya dengan wajah yang tampak sangat malu.

Meskipun penampilannya saat ini terlihat sangat imut, di sisi lain aku tetap merasa sangat terkejut karena kemampuannya ternyata berada di tingkat yang sangat buruk.

Jika jenis olahraga yang paling dikuasainya saja berada di tingkat seperti ini, bagaimana nasibnya jika dia mencoba memainkan jenis olahraga lainnya nanti……?

"Satu-satunya kelemahan fatal yang dimiliki oleh Hikari adalah kemampuan refleks fisiknya yang berada di tingkat yang sangat buruk, persis seperti yang kamu saksikan saat ini."

"Eh? Tapi kalau tidak salah ingat, bukankah opsi untuk pergi bermain ke Spo-cha ini adalah usulan yang datang dari Hoshimiya-san sendiri?" gumam Reita sembari memiringkan kepalanya heran, menatap ke arah kami dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya sejak tadi.

"Meskipun aku tidak pandai memainkannya, bukan berarti aku tidak boleh menyukai aktivitas olahraga, kan! Memangnya ada masalah dengan hal itu!?"

Melihat sosok Hoshimiya yang mengayun-ayunkan kedua belah tangannya dengan wajah yang memerah padam demi melayangkan protes terasa sangat segar dan imut di mataku.

Ah, lagipula Hoshimiya mau melakukan gerakan apa pun pasti akan selalu terlihat imut di mataku, sih.

Tapi kalau dipikir-pikir kembali, sepanjang hari ini isi kepalaku rasanya hanya dipenuhi oleh kalimat "Hoshimiya imut sekali" saja ya.

Setelah momen protes tersebut berakhir, aktivitas kami pun berlanjut ke sesi pertandingan berikutnya…… atau lebih tepatnya, sesi di mana aku bertugas sebagai pemompa semangat untuk melatih kemampuan Hoshimiya.

Namun kenyataannya, Hoshimiya tampak sangat menikmati momen permainan tersebut.

Ucapan yang dikatakannya tentang "meskipun tidak pandai memainkannya, bukan berarti tidak boleh menyukai aktivitas olahraga" tampaknya memang terbukti sebagai sebuah kebenaran yang jujur dari dalam hatinya.

Tentu saja, seketat apa pun aku mencoba mengalah dan menahan kekuatanku selama pertandingan, hasil akhirnya tetap dimenangkan oleh diriku secara mutlak, sementara pertandingan di meja sebelah dimenangkan oleh Tatsuya setelah melalui drama pertandingan reli yang sangat sengit.

Uta tampak menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan wajah yang penuh dengan rasa penyesalan karena kalah, sementara Tatsuya justru memanfaatkan momen tersebut untuk mengejek kekalahan Uta dengan mengerahkan seluruh tenaganya.




Pertandingan antara Reita dan Nanase memperlihatkan bahwa keduanya sama-sama memiliki refleks olahraga yang bagus.

Namun, kurasa yang membedakan hasilnya adalah perbedaan pengalaman. Reita sudah sering menemani Tatsuya dan yang lainnya bermain di sini, sedangkan Nanase sepertinya hanya sebatas melakukannya saat pelajaran olahraga.

Tentu saja hal itu berlaku juga untukku, jadi aku kalah telak dari Reita di babak kedua.

Berkat latihan harian, kelincahan kakiku sebenarnya sudah cukup bagus, tetapi aku tetap telak didominasi dalam hal teknik.

"Ayo Reita, saatnya kita selesaikan rivalitas bertahun-tahun ini……!"

"Memangnya Tatsuya sering menang melawanku?"

"Berisik! Yang penting itu menang di saat ini, detik ini juga!"

Diiringi ucapan Tatsuya yang terdengar antara mendalam atau malah dangkal, babak final pun dimulai.

"—Seriusan!? Yang kayak begitu bisa meleset—!?"

Pertandingan puncak antara Tatsuya yang mendapat seed melawan Reita akhirnya dimenangkan oleh Reita. Pertandingannya benar-benar seru.

"Wah, hebat banget ya."

"Padahal aslinya aku yang lebih hebat lho, aslinya!"

"Iya, iya, Uta juga bisa main selevel mereka, kan? Hebat, hebat."

"Tentu saja!"

Sembari menenangkan Uta yang masih merasa gemas karena kalah, aku mengenang kembali pertarungan sengit tadi.

Smash dari Tatsuya sebenarnya sangat kuat, tetapi Reita berhasil mementahkan semuanya dengan sempurna. Jika akurasi smash Tatsuya sedikit lebih baik, kurasa dia yang akan menang, tapi menuntut lebih dari itu rasanya sudah setingkat standar anak klub tenis meja.

"Capeknya…… Berikutnya, yuk pergi ke mana lagi?"

"Bukannya harusnya kamu istirahat dulu, ya?"

Aku mencoba menyahuti Tatsuya yang sudah telentang membentuk huruf X di lantai.

"Bodoh! Waktu kita kan terbatas, mana ada waktu buat santai-santai!?"

"Ka-kamu luar biasa bersemangat, ya……?"

Karena tiba-tiba dibentak, jawabanku agak bergetar ketakutan. Tidak, aku tahu Tatsuya tidak bermaksud buruk. Karena pada dasarnya aku ini seorang introver, aku cenderung takut dengan suara dan kata-kata yang keras…… tapi alasan utamanya adalah karena aku masih terbayang-bayang oleh ingatan masa lalu. Aku harus segera memperbaiki kebiasaan ini.

"Rasa kesal ini cuma bisa dilampiaskan lewat batting! Ayo pergi ke batting cage!"

Kelar berkata begitu, Tatsuya melangkah pergi begitu saja dengan seenak jidatnya.

"Yah, kita juga sudah puas main tenis meja, jadi ayo ikuti Tatsuya. Meski sebenarnya dibiarkan saja juga tidak apa-apa."

"Kejam banget!? Apa begitu cara memperlakukan teman?"

"Teman yang benar-benar akrab itu justru tidak apa-apa kalau dibiarkan saja tahu."

"……Kok rasanya terdengar mendalam, tapi sekaligus dangkal, ya?"

"Aku sih setuju. Itu tandanya hubungan kalian sudah tidak perlu jaim lagi satu sama lain."

Kata-kata Reita itu entah mengapa terus terngiang di telingaku.

……Hubungan yang tidak perlu jaim, ya? Selain dengan keluarga, aku belum pernah bisa membangun hubungan seperti itu.

Bahkan sekarang pun, Reita dan yang lainnya masih bersikap sungkan kepadaku.

Sebagai contoh, Reita yang punya lidah tajam nan menggelitik itu baru menunjukkan sifatnya hanya kepada Tatsuya dan Uta. Tentu saja hal itu wajar karena kami baru seminggu masuk sekolah, tetapi aku berharap suatu saat nanti bisa memiliki hubungan yang seperti itu dengan mereka.

Aku ingin menjadi lebih akrab lagi dengan kelima orang ini.

—Dan dengan Hoshimiya, aku ingin menjadi jauh, jauh lebih akrab lagi.

Karena aku yakin, di ujung jalan sana, masa muda sewarna pelangi yang selama ini kuidamkan telah menanti.

—Setelah itu. Kami mencoba hampir semua permainan mulai dari batting, bulu tangkis, tenis, futsal, hingga dsn dan biliar, sebelum akhirnya beristirahat di area rekreasi.

Tiga orang anak klub olahraga tampaknya masih sangat bugar, sedangkan Hoshimiya dan Nanase sudah tampak kelelahan. Berkat latihan harian, aku sendiri masih punya banyak tenaga tersisa. Liburan musim semi kemarin jauh lebih menyiksa dari ini.

Meski begitu, saat melihat jam, ternyata dua jam sudah berlalu. Hebat juga kami bisa bergerak ke sana kemari selama itu.

"Siapa pun, tolong belikan minuman olahraga……"

Mendengar Hoshimiya yang mengerang sambil menelungkupkan badannya di atas meja, aku pun berinisiatif untuk pergi.

"Ada yang titip lagi? Aku akan belikan sebanyak yang bisa kubawa."

"Ah, kalau begitu aku ikut juga. Sini, kumpulkan uangnya dulu."

Setelah mencatat pesanan mulai dari minuman olahraga, teh, sampai air mineral, aku berjalan berdua bersama Reita menuju mesin penjual otomatis.

Belakangan ini, bergerak berdua bersama Reita sudah menjadi hal yang biasa bagi diriku. Yah, karena kami berada di kelompok yang sama dan sesama cowok.

"Tapi ya, Natsuki, kamu hebat juga."

Reita yang berjalan di sampingku bergumam dengan nada kagum.

"……Hebat kenapa?"

"Kamu bisa mengimbangi kami yang anak klub olahraga ini dengan santai."

"Ah, lagipula kita kan tidak bermain dengan serius."

Biar bagaimana pun, ini semua masih dalam ranah bermain santai. Tidak ada alasan untuk membuatku sampai kelelahan.

……Hoshimiya kelelahan karena fisiknya yang terlalu lemah sehingga membuang tenaga yang tidak perlu, sedangkan Nanase murni karena staminanya yang payah. Sejujurnya, aku masih sanggup bermain sampai lima jam lagi.

Lagipula, ini lumayan menyenangkan.

Berkat melatih tubuh, langkah kakiku menjadi ringan dan tubuhku bisa bergerak sesuai keinginan. Meski tidak membuat refleks fisik bawaanku menjadi lebih baik, setidaknya aku bisa bermain sejajar dengan semua orang.

"Tapi saat main bulu tangkis tadi semuanya serius, kan? Dan Natsuki yang menang."

"Itu karena aku berpasangan dengan Uta. Itu semua berkat dia."

Saat bermain bulu tangkis tadi, kami mengubah sedikit aturannya dan bermain sistem setengah kompetisi dengan cara berpasangan.

Aku berpasangan dengan Uta, Nanase dengan Tatsuya, lalu Reita dengan Hoshimiya, dan aku bersama Uta berhasil menyapu bersih dua kemenangan.

"Lagipula, kamu kan kewalahan karena ditarik mundur oleh Hoshimiya……"

"Aku ingin bilang itu tidak benar…… tapi kenyataannya memang begitu."

Reita tersenyum kecut. Jarang sekali melihat cowok ini berbicara terbata-bata.

"Sebaliknya, menurutku hebat banget kamu bisa bertahan selama itu saat berpasangan dengan Hoshimiya. Aku sempat mengira bakal kalah tadi."

Reita benar-benar terampil dalam melakukan apa pun.

Tatsuya dan aku tipe yang mengandalkan kekuatan fisik, sedangkan Reita tampaknya memiliki bakat yang natural. Dia seperti tipe yang mencari cara bergerak paling efisien, lalu beradaptasi secara bertahap.

"Kalau Tatsuya dan yang lainnya sih aku paham, tapi kurasa aku bisa menang melawan kalian berdua. Aku sudah tahu kemampuan Uta, tapi aku agak meremehkanmu. Untuk ukuran tinggi badanmu, langkah kakimu itu terlalu lincah tahu."

Reita berbicara sambil menyenggol perutku main-main.

Dipuji kemampuan fisiknya oleh orang yang genius dalam bidang olahraga seperti dia membuat usahaku terasa sepadan.

Jika ini adalah diriku yang dulu saat perutnya masih buncit, aku pasti sudah mempermalukan diri sendiri di sini.

Hoshimiya adalah seorang perempuan, jadi meski dia payah dalam olahraga, dia tetap terlihat imut. Namun jika orang sepertiku yang agak sok keren (setidaknya begitulah kelihatannya, padahal aslinya aku hanya canggung berkomunikasi dan pendiam) menunjukkan penampilan menyedihkan seperti itu, efeknya tidak sekadar memalukan saja. Aku bisa-bisa menjadi bahan ejekan setiap ada kesempatan.

Jika itu terjadi, posisiku di dalam kelompok ini akan semakin merosot. Padahal posisiku sekarang saja sudah rendah, kalau apes aku bisa saja didepak dari kelompok ini.

"……Hm? Ada apa, Natsuki?"

"Ah tidak, bukan apa-apa."

……Tentu saja aku tahu kalau Reita dan yang lainnya bukanlah tipe orang yang tega mendepak seseorang dari kelompok hanya karena alasan seperti itu, tetapi aku sudah pernah memiliki pengalaman dibenci dan didepak sebelumnya.

Meskipun itu terjadi karena kesalahanku sendiri jadi mau bagaimana lagi, tetapi trauma tersebut masih tersisa di dalam diriku.

"—Hei, Natsuki."

Kami akhirnya tiba di depan mesin penjual otomatis. Di tengah-tengah kegiatanku memasukkan koin untuk membeli minuman yang dipesan, suara Reita yang terdengar sangat serius menyapa telingaku. Saat aku menoleh ke samping, pandangan mata Reita sedang menatap lurus ke arahku.

"Hm? Ada apa?"

Aku sengaja bertanya dengan nada santai. Karena entah mengapa aku bisa mengendus adanya atmosfer pembicaraan yang berat.

Namun, aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang ingin dibicarakannya.

Kurasa aku belum melakukan kesalahan apa pun sejauh ini…… Aku sudah bertindak dengan sangat hati-hati.

Oleh karena itu, pertanyaan Reita berikutnya benar-benar berada di luar dugaan diriku.

"—Kamu, sebenarnya tidak akur dengan Tatsuya, ya?"

Seketika, aku tidak bisa menjawabnya.

Keheningan sesaat itu justru menjadi jawaban yang membenarkan pertanyaan Reita.

"Ternyata benar."

Sambil tersenyum kecut, Reita berucap.

Dia rupanya sudah tahu sejak awal, dan pertanyaan tadi hanyalah sekadar untuk memastikan.

"……Kenapa kamu bisa berpikir begitu?"

"Bukan hal besar sih, tapi entah kenapa aku merasa kamu cenderung menghindari Tatsuya. Contohnya, kamu lumayan sering berduaan denganku, tapi kamu hampir tidak pernah bergerak berdua saja dengan Tatsuya, kan?"

"……Yah, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin memang benar begitu. Kamu jeli juga ya."

"Haha, sejak dulu aku memang peka dengan keadaan sekitar. ……Malah terkadang terlalu peka. Awalnya kukira kamu hanya belum terbiasa saja jadi kubiarkan, tapi hari ini rasanya ada yang berbeda."

"Ada yang berbeda? Memangnya di matamu kelihatan seperti apa?"

"Kamu kelihatan seperti takut kepada Tatsuya. Kuharap itu cuma perasaanku saja."

Tepat sasaran. Karena itulah aku menjadi bingung harus menjawab apa.

Mengingat dia bertanya dengan penuh keyakinan seperti ini, rasanya percuma saja kalau aku mencoba berkilah sekarang.

Shiraishi Reita benar-benar bisa membaca orang lain dengan baik. Pantas saja dia begitu percaya diri.

"……Memang benar seperti yang kamu katakan."

Oleh karena itu, aku memilih untuk membenarkan pertanyaan Reita. Aku mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya.

"Tapi, ini berbeda. Ini murni masalah pribadiku, bukan salah Tatsuya. Tatsuya sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun. Jadi tolong jangan katakan apa-apa kepadanya. Kurasa, lama-kelamaan sifatku ini juga akan sembuh sendiri."

Itu adalah sebuah fakta. Ini semua karena trauma yang membekas di dalam hatiku. Tentu saja aku tidak bisa bilang kalau aku sedang mengulang kembali masa mudaku, jadi kuharap dia memaafkanku karena aku terpaksa menyembunyikan bagian intinya.

"Paham. Kalau begitu, aku akan diam."

Sambil membuka tutup botol minuman olahraga, Reita mengangguk.

"Beneran tidak apa-apa?"

"Lagipula sejak awal aku tidak punya hak untuk mencampuri urusan kalian. Ini masalah kalian berdua…… tidak, berhubung Tatsuya yang tidak peka itu tidak menyadarinya, ini bahkan belum bisa disebut sebagai masalah, kan? Ini murni karena rasa penasaranku saja."

Setelah meneguk minuman olahraganya dengan rakus, Reita berkata dengan nada santai.

"Hanya saja——kita ini teman, kan?"

Sambil tersenyum lebar, Reita menyenggol dadaku pelan menggunakan botol minumannya.

Cowok yang berada di puncak kasta popularitas ini memang sering melakukan kontak fisik, dan dia juga bisa mengucapkan kalimat yang biasanya bikin merinding dengan wajah lempeng. Hebatnya lagi, hal itu terlihat sangat cocok untuknya.

Itu pasti karena dia melakukannya dengan penuh rasa percaya diri.

"Aku cuma bertanya karena mengira kamu sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak akan bertanya apa 'sesuatu' itu, tapi kalau kamu bilang bisa menyelesaikannya sendiri, aku akan mempercayaimu."

Kata-kata itu meresap jauh ke dalam lubuk hatiku.

Dia mengerti kalau aku tidak bisa menceritakan bagian dasarnya, dan dia memilih untuk memahaminya.

Aku jadi tahu alasan kenapa Reita bisa sangat disukai oleh para perempuan. Bagiku yang sekarang, cowok ini benar-benar terlalu berkilau.

Saat kami kembali membawa minuman, semua orang menyambut kami dengan penuh rasa gembira.

Reita langsung mencairkan suasana seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Kalau begitu, aku juga harus berusaha keras agar bisa membalas kepercayaan dari Reita. Aku harus mengatasi trauma masa lalu ini dan menjadi akrab dengan Tatsuya!

"Puhaa, rasanya seperti hidup kembali—"

"Sudah lama tidak berolahraga membuat tubuhku rasanya mau rontok……"

"Ahaha, Yui-Yui pasti besok bakal mengerang kesakitan karena ototnya tegang."

Tanpa kusadari, Nanase sudah diberi nama panggilan yang aneh oleh Uta.

"Setidaknya panggil Yui saja……"

Nanase yang masih terkulai lemas mencoba memprotes dengan sisa-sisa tenaganya.

Di sekolah dia selalu memasang wajah jaim dan postur tubuh yang tegak, jadi pemandangan ini terasa sangat segar bagiku.

"Hari ini kita bisa melihat sisi lain dari Nanase yang tidak terduga, ya."

Saat aku melontarkan kalimat itu, Hoshimiya menyahut sambil tersenyum lebar.

"Soalnya Yuino-chan selalu jaim kalau di sekolah. Ini adalah bukti kalau dia sudah mulai membuka hatinya kepada kita semua."

"Heh, kalau begitu aku sedikit merasa senang, nih?"

Aku mencoba menggodanya. Alhasil, Nanase langsung memalingkan wajahnya karena malu.

"Lagipula, aku tidak bermaksud untuk jaim kok……"

Astaga, dia imut banget.

Waduh, aku yang sudah bertekad setia kepada Hoshimiya hampir saja goyah nih…….

Nanase memiliki aura yang berbeda dengan anak-anak populer pada umumnya (tipe gadis anggun?), dan karena dia bukan tipe orang yang suka heboh sendiri, diam-diam aku merasa memiliki kemiripan dengannya, tapi daya hancurnya barusan benar-benar dahsyat.

"Nah, ayo kita mulai bergerak lagi."

Tepat di saat semua orang sudah membasahi tenggorokan mereka dan selesai mengambil napas, Tatsuya tiba-tiba berdiri dengan menggebu-gebu.

"Eeeh, tunggu dulu, ayo istirahat sebentar lagi."

"Lagipula, kurasa tidak apa-apa kalau kita keluar dari sini sekarang……"

Hoshimiya dan Nanase melayangkan protes mereka. Sementara Reita melihat ke arah jam di tangannya.

"Yah, kalau kita kelamaan istirahat di sini, waktu sewa kita keburu habis tahu. Hoshimiya-san dan yang lainnya kalau mau istirahat di sini dulu juga tidak apa-apa."

Tanpa memedulikan percakapan ketiga orang itu, Tatsuya menunjuk dengan tegas ke arah kejauhan.

"Alasan kenapa harus sekarang adalah——karena lapangan basketnya akhirnya sudah kosong!"

"Ohh! Akhirnya ya!"

Uta berdiri dengan mata yang berbinar-binar. Keduanya langsung berlari begitu saja menuju ke sana.

Kami hampir menjajal seluruh wahana olahraga yang ada di tempat ini, tetapi hanya basket saja yang kebetulan areanya selalu penuh oleh kelompok lain sehingga kami belum sempat memainkannya.

Tampaknya Tatsuya sengaja beristirahat sembari mengawasi sampai lapangan tersebut kosong.

"Kedua orang itu, bukankah kemarin mereka juga sudah main basket saat kegiatan klub……?"

Saat aku memiringkan kepalaku kebingungan, Hoshimiya hanya bisa tersenyum kecut.

"Mereka berdua sepertinya memang suka banget sama basket ya—"

"Main untuk klub dan main untuk bersenang-senang itu beda rasanya tahu. Aku bisa mengerti perasaan mereka."

Sembari menyetujui hal itu, Reita pun ikut berdiri dari kursinya.

"Kalau begitu, kami akan melihat kalian dari dekat saja ya……"

"Itu ide bagus. Lagipula Nanase kelihatan seolah-olah sudah mau mati sekarang."

"Aku cuma sedikit terlalu bersemangat tadi……"

"Kamu senang banget ya bisa main bareng teman-teman?"

"Hikari, berisik ah."

Sembari tersenyum kecut melihat Nanase dan Hoshimiya yang sedang bercanda, kami pun ikut berjalan di belakang Tatsuya dan Uta.

Kedua orang itu sudah mulai menembakkan bola ke ring sesuka hati mereka sebagai latihan.

"Nih, Natsuki."

Aku menerima operan bola dari Reita. Sensasi tekstur bola di tanganku ini mendatangkan rasa rindu yang familier.

Biar bagaimana pun, aku memang menyukai basket. Karena itulah aku terus memainkannya selama tiga tahun di masa SMA dulu.

Bahkan setelah masuk kuliah pun, aku tidak pernah absen latihan menembak bola sendirian. Yah, meskipun itu karena aku sedang menganggur saja sih.

Dum, aku mulai memantulkan bola.

Sejak mengulang kembali ke masa lalu sampai hari ini, aku memang tidak pernah menyentuh bola basket sekali pun.

Namun, jeda beberapa bulan saja tidak akan membuat insting dribble milikku hilang begitu saja. Bola ini melekat dengan pas di telapak tanganku.

Akan tetapi, akurasi tembakan adalah cerita yang berbeda.

Berbeda dengan memantulkan bola, menembak membutuhkan kepekaan insting yang sangat halus.

Jika tidak melakukannya selama dua atau tiga hari saja, akurasinya bisa langsung kacau.

Meski aku sudah terus-menerus menembakkan bola selama tujuh tahun, aku tidak punya rasa percaya diri untuk bisa memasukkannya dengan mudah sekarang.

——Aku tidak percaya diri. Memang tidak, tapi…… seorang pemain basket memiliki sebuah insting yang khas.

Saat aku mendekati garis tiga angka lalu menatap lurus ke arah ring, seketika aku menyadarinya.

Ah, hari ini kondisiku sedang sangat prima.

"Eh, hebat banget!?"

Suara terkejut Hoshimiya menyapa telingaku.

Tembakan yang kulepaskan bahkan dari jarak yang sedikit lebih jauh di luar garis tiga angka itu sukses mengoyak jala ring tanpa menyentuh pinggirannya sama sekali. Ini sama sekali bukan hal yang mengejutkan.

Di saat kondisi tubuh sedang sangat prima, aku tahu bola akan masuk tepat di saat bola itu terlepas dari ujung jariku.

Kemudian, bola tersebut memantul di lantai dan kembali bergulir ke arahku.

"Bolanya terasa ringan…… tidak, tubuhku yang terasa ringan, ya."

Ini pasti berkat keuntungan dari hasil melatih tubuhku dengan keras, bola basket ini rasanya luar biasa ringan. Karena itulah aku bisa mengendalikannya dengan sangat mudah.

Tembakan tiga angka pada dasarnya adalah hal yang sulit karena kita harus mengantarkan bola basket yang berat ini sampai ke ring, sehingga kita perlu menekuk lutut demi menyalurkan seluruh tenaga tubuh ke bola.

Namun hari ini, aku hanya perlu melompat kecil dan mengayunkan lengan dengan santai untuk mengantarkannya sampai ke ring.

Kekuatan fisik yang kokoh ternyata memang luar biasa hebat ya.

Aku kembali menembakkan bola yang baru saja kembali ke tanganku.

Lewat sebuah gerakan yang santai, bola tersebut terlepas secara alami dari ujung jariku.

——Sebuah keyakinan kuat kalau bola ini akan masuk.

Sesaat kemudian, bola itu sekali lagi mengoyak jala ring dengan mulus.

"Hmm."

Jika efeknya bakal seberbeda ini, harusnya dulu saat aku masih aktif bermain aku juga rajin melakukan latihan beban.

Sekarang aku paham alasan kenapa tim-tim raksasa selalu fokus melatih fisik mereka terlebih dahulu.

Fisik yang kuat adalah fondasi utama dari sebuah teknik. Kalimat itu kini benar-benar kurasakan langsung lewat tubuhku sendiri.

"Ooooh!? Natsu, kamu hebat banget, sih!"

Di saat aku sedang tenggelam dalam lautan pikiranku sendiri, tanpa sadar semua orang di sekitar sudah mulai heboh.

Uta mendekat ke arahku dengan mata yang berbinar-binar, dan yang lainnya juga menunjukkan ekspresi wajah terkejut.

"……He-hebat ya, Natsuki. Kamu ternyata jago main basket?"

Bahkan Reita yang biasanya selalu tenang pun sampai dibuat melongo. Kalau dipikir-pikir secara logis, wajar saja sih kalau dia kaget.

Seorang anak klub nonsains yang harusnya tidak punya pengalaman basket tiba-tiba memasukkan tembakan tiga angka dua kali berturut-turut.

"Yah, lumayanlah. Omong-omong, sepertinya aku memang belum pernah menceritakannya ya."

"Belum pernah tahu! Hebat, hebat banget! Kenapa kamu tidak masuk klub basket saja!?"

Uta yang memujiku dengan penuh semangat itu berdiri dengan jarak yang sangat dekat denganku.

Entah mengapa tercium aroma yang manis darinya, dan jantungku mendadak berdegup kencang.

Hal ini membuatku tersadar kalau Uta yang kekanak-kanakan ini pun ternyata adalah seorang perempuan tulen.

"Ah, ya, soalnya aku belum pernah ikut kegiatan klub basket sebelumnya……"

"Tapi kok bisa sejago ini!? Kamu genius ya!"

Harusnya dulu aku merancang kebohongan untuk latar belakangku dengan lebih matang lagi.

Aku tidak mungkin menceritakan tentang kejadian sebelum aku mengulang waktu, tetapi kemampuanku saat ini jelas bukanlah level seorang amatir.

Namun, kalau aku berbohong dengan bilang kalau aku ikut klub basket saat SMP, kebohongan itu pasti akan langsung terbongkar oleh Miori.

Lagipula, Tatsuya pasti sudah beberapa kali bertanding melawan SMP-ku dulu, dan dia pasti tahu kalau aku tidak ada di dalam tim basket SMP Mizumi kala itu.

"……Di dekat rumahku ada taman yang dilengkapi ring basket, jadi aku lumayan sering main di sana."

Ini bukan kebohongan. Taman itu memang benar-benar ada, dan sebelum mengulang waktu pun aku sering berlatih di sana.

Karena aku tidak mau membohongi mereka semua, aku tidak punya pilihan selain memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.

"Kalau begitu, sekarang juga kita harus menyeretmu masuk ke klub basket! Benar kan, Tatsu!? ……Tatsu?"

Uta yang tadinya heboh mendadak memiringkan kepalanya bingung.

Saat aku ikut mengalihkan pandangan ke arah tatapan matanya, terlihat Tatsuya sedang mempersempit pandangan matanya sambil menatap ke arahku.

"……Ta-Tatsuya, ada apa?"

Saat aku bertanya, Tatsuya tampak tersentak sejenak sebelum akhirnya memasang senyum palsu di wajahnya.

"—Ah tidak, aku cuma terlalu kaget sampai badanku kaku. Kamu seriusan hebat banget tahu."

A-Ada apa sih. Ternyata dia cuma sekadar kaget saja ya. Kupikir ada masalah apa tadi. Bikin jantungan saja.

"Memang ya, setelah sekian lama tidak memainkannya, ternyata ini seru juga."

Aku memantulkan bola mendekati ring, lalu melepaskan sebuah tembakan lay-up.

Karena kekuatan kakiku sudah meningkat, lompatanku menjadi lebih tinggi dari perkiraan sehingga bola menjadi lebih mudah untuk dimasukkan.

Wah, rasanya menyenangkan sekali.

"Kan!? Kalau begitu ayo masuk klub basket! Sekarang juga!"

"U-Umm…… Klub basket ya. Tapi kan aku tidak punya pengalaman bermain sejak SMP?"

"Kalau Natsu pasti tidak apa-apa! Lagipula ini kan baru seminggu masuk sekolah, jadi kamu pasti bisa langsung beradaptasi dengan cepat!"

Sembari melangkah mundur demi menjaga jarak dari Uta yang terus merangsek maju, aku mulai memutar otak.

Bagaimana cara menolaknya ya?

Soalnya di klub basket pada masa lalu, posisiku benar-benar seperti duduk di atas hamparan paku.

Meskipun kurasa sekarang aku bisa mengatasinya dengan sedikit lebih baik, tetapi pada dasarnya aku kan hanya pemain cadangan yang tidak pernah diturunkan bertanding……

"Ah, soalnya aku berencana untuk mulai bekerja paruh waktu, jadi sepertinya bakal sulit kalau ikut kegiatan klub."

"Eeh, begitu ya? Padahal sayang banget lho. Iya kan, Tatsu?"

Mendengar pertanyaan Uta, Tatsuya memutar-mutar bola di ujung jarinya dengan terampil sembari menyahut,

"Yah, aku tidak akan tahu kalau belum melihat permainanmu secara langsung. Memang sih untuk ukuran amatir kamu itu hebat banget, tapi soal apa kemampuanmu itu bisa berguna di klub basket kami atau tidak——benar juga, mari kita buktikan saja langsung."

Tatsuya melemparkan bolanya ke arah Uta, lalu menggerakkan jarinya untuk memprovokasiku.

"—Satu lawan satu. Siapa cepat dia yang dapat tiga angka duluan."

Tatsuya menyeringai penuh tantangan. Senyuman yang penuh rasa percaya diri itu terlihat sangat cocok di wajahnya.

Itu adalah sebuah senyuman yang didasari oleh kemampuan basket yang nyata, karena Tatsuya memang merupakan pemain kartu as di klub basket SMA Ryoumei.

Namun, itu adalah cerita saat dia sudah duduk di kelas tiga nanti.

Untuk ukuran anak kelas satu——terlebih Tatsuya yang baru saja masuk sekolah seperti sekarang, kurasa aku yang sekarang memiliki peluang untuk bisa menang melawannya.

Meskipun statusku hanya pemain cadangan, aku sudah bermain basket selama tiga tahun penuh, dan bahkan setelah masuk kuliah pun aku masih rutin latihan menembak selama empat tahun.

Dari segi pengalaman, aku sudah jauh mengungguli Tatsuya yang baru memulai basket sejak SMP.

"Kelihatannya menarik. Ayo kita lakukan."

Meski aku menjawabnya dengan nada gurauan, secara naluriah hatiku merasa ciut. Rasa takut untuk berhadapan langsung satu lawan satu dengan Tatsuya kembali bangkit.

Namun, bukankah baru saja tadi aku bertekad untuk membalas kepercayaan dari Reita?

Aku harus segera mengatasi trauma masa lalu ini sekarang juga.

Kalau aku terus-menerus bersikap seperti ini, itu namanya tidak sopan kepada Tatsuya yang sama sekali tidak bersalah.

——Demi mewujudkan hal itu, aku akan bertarung dengan mengerahkan seluruh kemampuanku.

Aku akan mengalahkan Tatsuya di sini dan saat ini juga.

Dum, aku memantulkan bola.

Dengan santai, membentuk postur tubuh yang alami.

Agar aku bisa langsung melakukan serangan kapan saja.

"Ayo, Natsu! Kalahkan Tatsu!"

"Natsuki-kun, semangat!"

Suara sorakan dari Uta dan Hoshimiya menyapa telingaku. Semua orang kini tengah menyaksikan pertandingan kami.

"Hei, hei, kenapa tidak ada satu pun yang mendukungku di sini?"

"Yah, anggap saja itu sebagai handicap untuk anak klub basket."

Aku tersenyum kecut menanggapi keluhan dari Tatsuya. Tatsuya hanya bisa menggaruk kepalanya sambil menggumam, "Mau bagaimana lagi ya."

Saat aku mencuri pandang ke arah samping, mataku mendadak berpapasan dengan Hoshimiya yang sedang duduk di bangku panjang di luar lapangan.

Gadis itu tersenyum tipis sambil mengepalkan kedua tangan di depan dadanya.

Gestur tubuh seperti itu rasanya sudah cukup membuktikan kalau dia sedang menyemangati diriku.

——Kalau begitu, aku harus menunjukkan aksi yang keren di depannya.

"Aku datang ya."

"Maju sini."

Sudah empat tahun lamanya aku tidak pernah bertanding satu lawan satu dengan orang lain.

Namun, naluri tubuhku masih mengingat dengan jelas sensasi tersebut.

Ditambah lagi, kondisi fisikku saat ini sudah jauh lebih kuat daripada masa lalu. Karena itulah tubuhku bisa bergerak sesuai keinginan, tidak——malah bergerak dengan jauh lebih cepat lagi.

Crossover. Perubahan gerakan dari diam menjadi melesat cepat itu terjadi dalam sekejap mata bahkan bagi diriku sendiri.

Aku melangkahkan kaki dengan tajam ke sisi kanan Tatsuya, lalu langsung melewatinya begitu saja untuk melepaskan tembakan lay-up.

"Hei, hei, hei…… Seriusan kamu, hah?"

Jika kelincahan kakiku sudah lebih unggul, aku tidak membutuhkan teknik-teknik yang tidak perlu lagi. Drive adalah inti keindahan dari seorang forward, sekaligus senjata terbesar mereka. ——Dulu, Tatsuya-lah yang mengajarkan hal itu kepadaku.

Tampaknya Tatsuya terlalu mewaspadai tembakan tiga angka milikku. Karena baru saja tadi aku memasukkannya dua kali berturut-turut, wajar saja kalau dia berpikiran begitu, tetapi akibatnya jarak bertahannya menjadi terlalu dekat denganku. Alhasil, aku bisa melewatinya dengan sangat mudah.

"Berikutnya."

Kami berganti posisi, sekarang giliran Tatsuya yang melakukan serangan.

Tepat di saat menerima bola, dia melakukan kecohan ke arah kanan lalu melakukan drive ke arah kiri.

Namun, aku sudah bisa membaca gerakan itu. Karena itu adalah pola serangan andalan dari Tatsuya.

Berhubung aku sudah berlatih bersamanya selama tiga tahun penuh, aku sudah hafal luar kepala dengan semua kebiasaan bertandingnya.

Oleh karena itu, tepat di saat dia melakukan kecohan ke kanan, aku sudah menebak kalau dia akan bergerak ke kiri, sehingga aku langsung menjulurkan tangan kiriku ke depan.

Bola itu datang tepat ke arah posisi tanganku, lalu aku langsung menepisnya. Bola yang terlepas dari tangan Tatsuya itu pun kini berhasil kukuasai.

"A-Apa……"

Tatsuya tampak terkejut. Wajar saja sih, karena jurus andalannya berhasil digagalkan bahkan sebelum dia sempat mengeksekusinya.

"Tadi itu cuma kebetulan, ya?"

"Yah, sekitar setengahnya sih murni karena insting."

Berikutnya adalah giliranku untuk menyerang.

Aku melakukan kecohan ke kanan lalu melakukan teknik leg-through untuk melangkah ke kiri, tetapi Tatsuya berhasil mengejar dengan mengandalkan kekuatan fisik yang menjadi kebanggaannya.

Namun, kalau soal kekuatan fisik, aku yang sekarang pun tidak akan kalah darinya.

Aku bisa saja terus merangsek maju dengan menggunakan teknik power dribble, tetapi aku memilih untuk memutar tubuh ke arah kanan menggunakan teknik spin move lalu melepaskan tembakan hook shot.

Akurasi tembakan kait tangan kananku sebenarnya agak meragukan, tetapi untungnya kali ini bola itu berhasil masuk.

Sebagai catatan, akurasi tangan kiriku jauh lebih meragukan lagi, dan teknik fadeaway adalah hal yang paling kubenci sehingga tidak akan pernah masuk ke dalam daftar pilihan seranganku.

Meskipun kekuatan fisik kami berdua saat ini seimbang, aku tidak memiliki banyak pengalaman dalam melakukan teknik power dribble.

Dengan kata lain, poin barusan sebenarnya didapat dengan cara yang cukup nekat, tetapi karena Tatsuya tidak tahu apa kelebihan dan kekuranganku, dia pasti memiliki terlalu banyak pilihan opsi yang harus diwaspadai di dalam kepalanya.

Hal itu membuat reaksinya terlambat satu langkah. Sebaliknya, aku yang sudah tahu betul semua tentang Tatsuya berada di posisi yang sangat diuntungkan.

"Poin kedua nih."

Aku berucap sambil melemparkan senyum tipis ke arah Tatsuya.

……Ternyata memang persis seperti dugaanku ya. Jika lawanku adalah Tatsuya di kelas tiga dulu, aku pasti tidak akan berkutik sama sekali, tetapi Tatsuya yang sekarang masih memiliki banyak celah di permainannya.

Meski aku tidak memiliki bakat alami, aku masih bisa mengatasinya dengan mengandalkan pengalaman dan kemampuanku dalam membaca kebiasaan lawan.

Yah, kurasa faktor besarnya juga dikarenakan Tatsuya yang dasarnya memang payah dalam urusan bertahan sih. Namun sebagai gantinya, kalau soal menyerang——

"Sepertinya aku tidak boleh meremehkanmu lagi ya——aku akan maju dengan serius."

——Cepat sekali. Tidak, melainkan gerakannya sangat tajam. Aku bahkan dilewati sebelum sempat memberikan reaksi apa pun.

Meski aku sudah tahu kebiasaannya kalau dia akan menyerang dari sisi kanan, tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan.

Teknik drive dengan menurunkan posisi pinggang sampai batas maksimal memang merupakan ciri khas dari Tatsuya, tapi…… hebat juga dia bisa mengendalikan tubuh bongsornya itu dengan begitu bebas.

Apakah dia secara tidak sadar menyadari kalau aku bisa membaca kebiasaan gerakannya, lalu langsung memikirkan strategi tandingan agar aku tetap tidak bisa bereaksi meskipun sudah tahu arah serangannya?

Jika benar begitu, dia memang layak disebut sebagai pemain kartu as. Bakat alaminya benar-benar berbeda jauh denganku.

Namun, aku tidak akan mengalah dalam pertandingan ini.

Aku ingin menunjukkan aksi yang keren di depan Hoshimiya——dan aku ingin menang melawanmu sekali saja dalam hidupku.

Di klub basket dulu, aku selalu menjadi pemain cadangan dari Tatsuya yang berada di posisi forward yang sama, dan aku tidak pernah sekali pun diturunkan dalam pertandingan resmi.

Di dalam kehidupan sehari-hari pun, Tatsuya tetap mau berteman denganku sampai akhirnya aku dibenci oleh semua orang, dan dia jugalah yang terus membelaku sampai akhir di saat aku sedang bertingkah menyebalkan kala itu.

Alasan kenapa aku tidak sampai menjadi korban perundungan setelah dikucilkan, dan alasan kenapa aku bisa terus bertahan di dalam klub basket sampai akhir, itu semua adalah berkat bantuan dari Tatsuya.

Dia yang merupakan kapten sekaligus pemain kartu as di tim tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk membicarakanku di belakang.

Meskipun dia sendiri sebenarnya membenciku dan tidak akan mengajakku mengobrol jika tidak ada urusan penting, dia tidak pernah sekali pun melakukan tindakan untuk mendepakku keluar dari tim.

Masa mudaku dulu memang berwarna abu-abu.

Namun, alasan kenapa warnanya bisa bertahan di tingkat abu-abu adalah berkat bantuan dari Tatsuya.

Padahal tidak aneh jika masa mudaku kala itu berakhir diselimuti oleh kegelapan yang pekat.

Karena itulah aku sangat berterima kasih kepada Tatsuya.

Rasa terima kasih ini memang tidak akan bisa kusampaikan kepadanya sekarang setelah aku mengulang waktu, tetapi aku ingin membalas budi baiknya dengan cara yang benar.

"——Tembakan ketiga. Aku datang ya, Tatsuya."

Alasan kenapa aku selalu merasa takut kepada Tatsuya pasti bukan sekadar karena dia adalah sosok yang menjadi saksi kegagalanku saat awal masuk SMA dulu, melainkan karena sosoknya terasa terlalu berkilau di mataku.

"Ayo maju sini! Aku pasti akan menghentikanmu!"

Tatsuya selalu berada di atasku. Dia selalu melangkah lebih maju dariku.

 Aku kalah dalam segala hal darinya.

Aku adalah kebalikan dari Tatsuya——seorang pecundang yang membosankan, tidak bisa melakukan apa pun, dan tidak tahu diri yang dibenci oleh semua orang.

Karena itulah dia terasa terlalu berkilau, sampai-sampai aku tidak sanggup untuk menghadapinya secara langsung.

Aku selalu menganggap kalau kami tidak berada di level yang sejajar. Aku merasa takut kalau dia akan membenciku.

Kurasa hal itu tidak hanya berlaku kepada Tatsuya saja.

Aku merasakan hal yang sama kepada semua orang yang ada di sini. Reita, Uta, Hoshimiya, dan Nanase, mereka semua adalah sosok yang terlalu baik, menyenangkan, keren, dan imut jika dibandingkan dengan diriku, mereka semua terlalu berkilau bagiku.

Karena itulah aku selalu merasa takut kepada teman-teman yang sangat kucintai ini, dan Tatsuya adalah sosok yang paling jelas memicu bangkitnya rasa takut tersebut di dalam diriku.

Sebab, alasan kenapa aku sampai memiliki keinginan yang begitu kuat untuk mengulang kembali masa mudaku, Alasan kenapa aku sampai rela bersusah payah mengubah diri demi menjadi anak populer meskipun aku tahu kalau itu tidak cocok dan tidak pantas untuk diriku,

——Adalah karena kali ini, aku ingin bisa berteman secara tulus denganmu.

Karena aku percaya kalau di dalam masa muda sewarna pelangi yang ingin kuraih itu, sosokmu pasti akan selalu ada di sana.

Demi mewujudkan hal itu, aku akan mengalahkan Tatsuya di sini dan saat ini juga untuk mengatasi trauma masa laluku.

——Aku mulai menyerang. Dari teknik leg-through lalu melakukan drive ke kanan.

Saat menyadari posisinya sudah berpindah untuk menutup jalanku, aku langsung memutar tubuh demi mengecohnya menggunakan teknik rocker motion.

Nah, berikutnya aku harus menyerang lewat mana ya——tepat di saat aku baru memikirkannya di dalam kepala, tubuhku ternyata sudah melayang di udara.

Di saat aku menyadari kalau tembakan ini pasti akan masuk, aku sudah melepaskannya bahkan sebelum sempat berpikir.

Tembakan tiga angka yang kulepaskan lewat sebuah gerakan menembak yang mengalir mulus itu sukses mengoyak jala ring tanpa menyentuh pinggirannya sama sekali.

Itu adalah sebuah momentum tepat di saat aku berhasil mengalihkan kewaspadaan Tatsuya ke arah gerakan drive.

"——Yeeaaah!"

Dengan begini aku yang menang.

Mengingat sistem pertandingannya adalah siapa cepat mendapat tiga angka duluan, giliran menyerang milik Tatsuya berikutnya sudah tidak memiliki arti apa-apa lagi.

 Karena meskipun dia berhasil memasukkannya, poinnya toh hanya akan mentok di angka dua saja.

"Siaaalll! Seriusan nih……"

Aku dan Tatsuya langsung ambruk telentang di atas lapangan.

Padahal harusnya staminaku masih tersisa banyak, tetapi tanpa disadari napas kami berdua sudah terengah-engah dengan hebat.

Memang ya, bertanding dengan serius itu menguras banyak tenaga. Seolah baru tersadar dari ketegangan, keringat seketika langsung mengucur deras membanjiri tubuhku.




"Hebat, hebat! Natsu, kamu keren banget!"

Uta berlari menghampiriku dengan antusiasme maksimal.

Dia langsung mencengkeram kedua tanganku dan mencoba menarikku berdiri, jadi aku pun menurut saja.

Setelah aku berdiri, Uta malah mengubah genggamannya menjadi saling bertautan jari seperti sepasang kekasih, lalu mulai mengayun-ayunkan tangan kami dengan heboh. Gerakan kami berdua persis seperti anak kecil yang sedang membuat lingkaran.

"Hore, menang! Yeah! Menang! Kemenangan besar!"

"Oh, ya, terima kasih."

Uta tampaknya benar-benar merasa gembira dari lubuk hatinya, tetapi jantungku malah berdegup sangat kencang sampai aku tidak bisa fokus.

Anak-anak populer memang selalu punya jarak kedekatan yang terlalu intim, ini benar-benar tidak sehat untuk kesehatan jantungku.

Demi mengimbangi Uta yang sedang kegirangan sambil menggandeng erat kedua tanganku, aku pun terpaksa ikut berputar-putar bersamanya.

Namun di tengah jalan, tubuh Uta langsung ditarik mundur dan dipisahkan dariku oleh Tatsuya.

Sambil mencengkeram kedua bahu Uta, Tatsuya melayangkan protesnya.

"Memangnya kamu tidak punya rasa simpati sedikit pun atas kekalahanku, ya?"

"Tatsu yang kalah melawan seorang amatir itu kelihatan payah banget——tapi, aku sama sekali tidak berpikiran begitu kok!"

"Hah!? Kalau begitu, coba kamu sendiri yang maju bertanding melawannya!"

"Eeeh, tapi kan aku ini perempuan. Aku ini gadis yang lemah lembut, jadi perbedaan postur tubuh kami jelas sangat berpengaruh, kan?"

"Dasar, cuma memanfaatkan status perempuanmu di saat-saat yang menguntungkan saja……"

Tatsuya berdecak kesal lalu melepaskan cengkeramannya dari bahu Uta. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya dan menatapku dengan mata yang sangat serius.

Kali ini, aku bisa balas menatap balik sorot mata Tatsuya tanpa ada lagi rasa ketakutan di dalam diriku. Aku benar-benar sudah bisa menerimanya dengan lapang dada.

Pertandingan satu lawan satu ini adalah sebuah ritual bagiku untuk menanamkan pola pikir bahwa aku dan Tatsuya berada di level yang sejajar sebagai seorang teman.

……Tentu saja pada kenyataannya hampir tidak ada hal di dalam diriku yang bisa mengungguli Tatsuya, dan kalau soal basket pun, dengan bakat alami yang dimilikinya, dia pasti akan langsung bisa melewatiku kembali dalam waktu singkat.

Namun, ini adalah masalah cara pandangku sendiri. Aku sudah merasa puas karena setidaknya aku bisa sedikit mengejar ketertinggalanku dari sosok Nagimura Tatsuya yang selama ini terasa terlalu berkilau, jadi kurasa ini sudah lebih dari cukup.

"Jadi, Natsuki. Kurasa kemampuanmu sudah sangat mumpuni…… kamu beneran tidak berminat masuk klub basket?"

"——Ah, maaf ya."

Aku sudah tidak memiliki penyesalan atau keinginan lagi untuk masuk ke klub basket.

Apakah ini semua karena aku sudah berhasil mengatasi trauma masa laluku?

Sekarang, aku akan melangkah menuju masa muda yang baru demi meraih dunia sewarna pelangi yang selama ini kuidamkan.

Aku tidak akan lagi melewati rute masa lalu yang sama.

Tampaknya Tatsuya bisa merasakan keteguhan hatiku lewat jawaban barusan, sehingga dia tidak lagi mendesakku lebih jauh.

"Hei semuanya, sepertinya waktu sewa kita sudah hampir habis, nih!"

Mendengar panggilan dari Hoshimiya, aku pun langsung melihat ke arah jam dinding. Ternyata waktu sudah menunjukkan lewat pukul empat sore.

Kami masuk ke Round One ini sejak lewat jam satu siang dan mengambil paket tiga jam, jadi memang sudah saatnya waktu sewa kami berakhir.

Reita menepuk tangannya pelan untuk menarik perhatian semua orang sebelum akhirnya berbicara.

"Kalau begitu, maaf ya karena kalian berdua masih kelelahan, tapi ayo kita bergegas keluar dari toko ini sekarang."

Saat kami melangkah keluar, embusan angin yang terasa agak dingin menerpa tubuh kami dengan nyaman.

Suhu udara hari ini agak rendah, dan itu terasa sangat pas untuk mendinginkan tubuh kami yang sedang kegerahan.

Aku memikirkan hal tersebut sembari meneguk habis sisa minuman olah raga di tanganku.

"Wah, kita benar-benar banyak bergerak hari ini!"

"Hikari, kamu kenapa bisa masih sebugar itu, sih……"

"Sebaliknya, kenapa Yuino-chan malah masih lemas begitu!? Padahal menjelang akhir permainan kan kita berdua cuma duduk santai menonton mereka?"

"Huh…… apa kamu pikir staminaku ini bisa langsung pulih hanya dengan istirahat sebentar seperti itu?"

"Kamu tidak apa-apa, Nanase? Kok rasanya pembawaan karaktermu agak aneh ya?"

Saat aku bertanya karena murni merasa khawatir, wajah Nanase langsung memerah sambil membalas, "……Aku cuma bercanda kok."

Hampir saja kukira dia kehilangan jati diri dari karakter aslinya sendiri.

Soalnya aku sendiri sering mengalami hal yang seperti itu, karena pada dasarnya aku ini hanyalah seorang introver yang kuper dan pendiam.

"Kamu sendiri, padahal statusmu cuma anak klub nonsains tapi kenapa staminamu bisa sebanyak itu? Padahal kukira kita ini sepadan."

Aku hanya bisa membalas tatapan sinis dari Nanase dengan sebuah senyuman kecut.

"Nah, tidak baik kalau kita terlalu lama bergerombol di depan toko orang, ayo kita pindah tempat."

"Pindah tempat sih boleh saja, tapi mau ke mana?"

Tatsuya memiringkan kepalanya bingung menanggapi instruksi dari Reita.

"Kita semua pasti mau makan malam bersama, kan? Bagaimana kalau kita langsung masuk ke kedai makan saja? Meskipun masih jam empat sore dan agak terlalu awal, tapi dengan begitu kita bisa mengobrol santai dengan lebih lama, kan?"

"Boleh saja sih, tapi aku lagi tidak punya banyak uang, nih."

"Ah, aku mau ke tempat yang ada fasilitas drink bar-nya!"

Sembari mempertimbangkan masukan dari Tatsuya dan Uta, aku mencoba menunjuk ke arah seberang jalan.

"Bagaimana kalau ke restoran keluarga saja? Murah, dan letaknya juga persis di sebelah sana."

Tempat yang kutunjuk adalah Saizeriya, sebuah restoran yang sudah sangat terkenal akan harganya yang bersahabat.

Restoran ini adalah tempat langgananku dulu saat masih zaman kuliah.

Harganya murah, rasanya enak, tidak terasa canggung meskipun datang sendirian, dan pilihan menunya juga sangat lengkap.

"Ide bagus, ayo kita ke sana."

Karena Reita sudah mengangguk setuju, kami semua pun langsung berjalan bersama menuju Saizeriya.

Lama-kelamaan aku menyadari kalau hak penentu keputusan di dalam kelompok ini memang selalu dipegang oleh Reita.

Padahal dia tidak pernah menggunakan kata-kata yang kasar, dan nada bicaranya juga tidak pernah keras.

Apakah karena dia selalu bisa mengambil momentum yang tepat saat menyela obrolan?

Tentu saja hal itu didasari karena dia memiliki karisma yang tinggi, ditambah lagi Reita memang selalu peka dalam memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

Dia tidak pernah memaksakan kehendaknya sendiri, melainkan selalu merangkum pendapat dari semua orang, sehingga wajar saja jika semuanya berjalan dengan alami seperti ini.

Sembari memikirkan hal tersebut, kami akhirnya tiba di Saizeriya.

Mungkin karena jam masih menunjukkan terlalu sore, kondisi di dalam restoran terasa cukup lengang.

Setelah diantarkan menuju meja terdekat, kami semua pun mulai memesan menu makan malam beserta paket drink bar masing-masing.

Karena perutku rasanya sudah sangat keroncongan akibat terlalu banyak bergerak tadi, aku memutuskan untuk memesan dua menu sekaligus, yaitu Milano-fu Doria dan Pepperoncino.

Sebagai seorang remaja SMA yang sedang dalam masa pertumbuhan, porsi sebanyak ini pasti akan habis kulahap dalam sekejap.

Hebatnya lagi, meskipun aku memesan dua menu sekaligus, total harganya hanya berkisar enam ratus yen saja!

Memang Saizeriya tiada tandingannya.

Yah, berhubung aku juga memesan paket drink bar, harga aslinya tentu jadi sedikit lebih mahal dari itu.

Namun tetap saja, ini adalah nominal yang sangat ramah bagi kantong seorang anak SMA.

Tepat di saat semua orang sudah kembali ke meja setelah mengambil minuman mereka, Uta tiba-tiba mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"Kalau begitu, mari kita bersulang untuk merayakan kelulusan masuk SMA kita!"

Karena Uta sudah mengangkat gelasnya, kami semua pun terpaksa ikut mengangkat gelas kami demi menyesuaikan diri dengannya.

Meskipun aku merasa agak malu karena sempat menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar, tapi melihat anak-anak SMA yang bersulang menggunakan gelas drink bar rasanya hanya akan dianggap sebagai pemandangan yang menggelikan saja bagi mereka.

Reita ikut tersenyum kecut sambil berkomentar,

"Memangnya acara kumpul-kumpul kita hari ini punya tujuan yang seformal itu, ya?"

"Aku baru saja menetapkannya kok! Ini perayaan masuk sekolah! Dan juga, sebagai bukti kalau kita semua di sini sudah resmi menjadi teman akrab!"

"……Kamu hebat ya bisa mengucapkan kalimat seperti itu tanpa merasa malu sedikit pun, Uta-chan."

"Memangnya tidak boleh, ya?"

Uta memiringkan kepalanya bingung menanggapi senyuman kecut dari Hoshimiya. Hoshimiya kemudian mengusap-ngusap kepala Uta dengan penuh rasa sayang.

"Tidak kok, tidak apa-apa. Uta-chan imut banget, sih."

"Hikari juga tidak kalah imut tahu."

"……Eh, tunggu dulu, Yuino-chan!?"

Nanase mendadak ikut mengusap kepala Hoshimiya yang sedang mengusap kepala Uta. Hmm…… apakah ini yang dinamakan dengan hubungan yuri?

Seketika aku merasa seolah-olah ada sebuah pintu dunia baru yang baru saja terbuka di dalam diriku, tetapi jika aku sampai terjerumus ke dalam dunia tersebut, aku merasa peluangku untuk bisa berpacaran dengan Hoshimiya nanti malah akan lenyap, jadi aku pun bergegas menarik kesadaranku kembali ke realitas.

A-Apa-apaan yang kupikirkan barusan……?

"Puuhaa! Enak banget! Memang minuman berkarbonasi itu tiada duanya!"

Uta berucap dengan riang setelah meneguk habis Melon Soda miliknya.

Kemudian, seolah baru teringat sesuatu, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arahku.

"Jadi, Natsu benar-benar tidak mau masuk klub basket, nih?"

"Iya. Maaf ya."

"Begitu ya. Sayang banget sih, tapi mau bagaimana lagi!"

"Lagipula, kenapa kamu yang anak klub basket putri malah sampai seambisius itu membujuknya? Ini kan tidak ada hubungannya denganmu."

Tatsuya memiringkan kepalanya bingung melihat Uta yang tampak lesu.

"Ah! Tatsu kejam banget! Padahal kita kan sesama pencinta basket!"

Uta mengerucutkan bibirnya sambil menatap Tatsuya dengan pandangan kesal.

Rasanya suasananya bakal menjadi canggung kalau dibiarkan terus begini karena masalahku, jadi sebaiknya aku mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan saja.

"Meskipun aku tidak ikut kegiatan klub, aku sebenarnya berencana untuk mulai bekerja paruh waktu. Soalnya aku tidak punya uang. Tapi, aku masih bingung mau bekerja di mana. Kalian ada saran tempat yang bagus tidak?"

Aku mengutarakan masalah pribadiku saat ini…… yah, sebenarnya ini bukan masalah yang berat sih, melainkan hanya sekadar salah satu hal yang sedang kupikirkan saja akhir-akhir ini.

Meminta saran dari orang-orang di sekitar seperti ini rasanya menjadi sebuah pengalaman yang sangat baru bagiku.

Karena selama ini aku selalu memikirkan dan memutuskan segala sesuatunya sendirian.

Dulu aku tidak punya satu pun tempat untuk bertukar pikiran……

"Ah, kerja paruh waktu ya. Aku belum pernah melakukannya jadi aku tidak tahu."

Mendengar Tatsuya yang bergumam sambil meminum Colanya, aku pun mengangguk setuju, "Benar juga ya."

"Kalau pilihan yang paling umum sih, mungkin bekerja di restoran keluarga seperti tempat ini?"

"Pilihan lain yang langsung terlintas di kepala paling-paling minimarket, tempat karaoke, toko pencuci mulut seperti Mister Donut, gerai makanan cepat saji seperti McDonald's, kafe, kedai minum, atau kedai jaringan nasi daging sapi seperti Yoshinoya, ya."

"Ah, pilihan yang ada memang kisaran tempat-tempat itu ya."

Reita dan Hoshimiya membantu menjabarkan beberapa pilihan, tetapi semuanya masih berada di dalam batas jangkauan pemikiranku.

Yah, hal-hal yang bisa dipikirkan oleh mereka tentu saja sudah sempat kupikirkan sebelumnya.

Lagipula mereka semua kan belum pernah bekerja paruh waktu sebelumnya, berbeda denganku yang sudah memiliki pengalaman hidup di masa kuliah dulu.

Sepertinya soal pekerjaan paruh waktu ini lebih baik kupikirkan sendiri saja——

"Bagaimana kalau kamu bekerja di tempat kerjaku saja?"

——Tepat di saat aku membatin hal tersebut, Nanase tiba-tiba berucap sambil mengaduk es di dalam gelas iced coffee miliknya hingga menimbulkan suara gemerincing.

Kalimat tersebut seketika membuat atmosfer di meja kami membeku sesaat, sebelum akhirnya Hoshimiya mengangkat tangannya sambil memegangi dahi.

"……U-Umm? Apa aku tidak salah dengar? Yuino-chan, kamu bekerja paruh waktu?"

"Iya. Di sebuah kafe di dekat sini."

"Aku tidak pernah dengar tuh!?"

"Tentu saja. Karena aku memang belum pernah menceritakannya."

Nanase menyahut dengan santai sembari mengusap kepala Hoshimiya yang sedang syok.

"Aku sudah memulainya sejak liburan musim semi kemarin…… tapi karena menjelaskan alasannya terasa merepotkan, jadi aku memilih untuk diam saja."

"Cuma karena alasan begitu!?"

"Habisnya, kalau aku memberi tahumu, Hikari pasti bakal datang berkunjung ke sana setiap hari, kan?"

"Aku tidak akan datang setiap hari kok! Uangku kan tidak cukup."

"……Jawabanmu itu mengindikasikan kalau kamu pasti bakal tetap datang selama uangmu masih cukup, kan?"

Mendengar komentar kecut dari Reita, Hoshimiya langsung terdiam seribu bahasa seolah-olah baru saja tertangkap basah.

"Jadwalku sendiri sebenarnya cuma dua kali seminggu karena aku juga harus mengikuti kelas les. Berhubung saat ini toko sedang kekurangan staf dan manajer sedang kebingungan, jadi kupikir tidak ada salahnya kalau Haibara-kun mau mencoba mengajukan lamaran ke sana jika kamu punya waktu luang."

"Oh, o-oh…… begitu ya. Tadi kamu bilang kafe di dekat sini, kan?"

"Iya, namanya Kafe Mares. Belakangan ini menu kue pencuci mulut di sana sedang lumayan populer."

"Ah, aku pernah pergi ke sana sekali! Heh, ternyata Yui-Yui bekerja di tempat itu ya!"

Aku membuka ponselku dan mencoba mencari tahu tentang kafe tersebut, dan kelihatannya tempatnya memiliki atmosfer yang sangat nyaman.

Dulu saat masih zaman kuliah, aku adalah tipe orang yang suka pergi ke kafe sendirian untuk membaca buku, jadi pada dasarnya aku memang menyukai kafe.

Ditambah lagi, ini bisa menjadi kesempatan bagus bagiku untuk bisa menjadi lebih akrab dengan Nanase yang merupakan salah satu anggota kelompok kami melalui pekerjaan paruh waktu, jadi rasanya ini boleh juga dicoba.

"Wah, kelihatannya tempatnya bagus sekali."

"Kan? Kurasa bayaran per jam dan fasilitas yang ditawarkan di sana juga tidak terlalu buruk kok."

Nanase tersenyum tipis dengan raut wajah bangga.

 Dia yang kelihatan sedikit senang itu terlihat sangat imut.

"Kapan-kapan aku akan mencoba berkunjung ke sana dulu. Setelah itu baru aku akan memutuskan apakah mau meminta rekomendasi darimu atau tidak."

Aku memang tertarik, tetapi rasanya agak aneh jika aku langsung mendaftarkan diri untuk wawancara di sebuah toko yang bahkan belum pernah kukunjungi sebagai pelanggan sekali pun.

Karena itulah aku menjawabnya dengan cara seperti itu. Lagipula ini kan bukan jenis pembicaraan yang harus diputuskan sekarang juga.

Namun di sisi lain, Hoshimiya yang merasa telah dikhianati karena Nanase menyembunyikan rahasia darinya tampak masih melamun dengan tatapan kosong.

"Tunggu dulu, Hikari? Sampai kapan kamu mau cemberut begitu?"

"……Habisnya aku tidak habis pikir. Kamu menyembunyikannya dariku dengan alasan karena takut aku datangi, tapi kamu malah memberi tahu Natsuki-kun yang sedang mencari pekerjaan paruh waktu dengan begitu mudahnya."

Kalau dipikir-pikir lagi, ucapan Hoshimiya memang ada benarnya juga sih.

——Hah!? J-Jangan-jangan, alasan dia memberi tahuku adalah karena dia diam-diam menaruh hati kepadaku……!?

"Lama-kelamaan aku juga pasti akan menceritakannya kok. Seriusan. Kebetulan saja momentum saat ini terasa sangat pas."

Nanase memasang wajah lempeng sembari memutar-mutar ujung rambut hitamnya yang indah menggunakan jari.

Di wajahnya sama sekali tidak terlihat adanya rona merah karena malu sedikit pun…… iya, dugaanku memang salah ya. Aku sudah terlalu percaya diri. Mohon dimaafkan.

"——Mohon maaf telah membuat Anda menunggu."

Tepat di saat itu, menu makan malam yang sudah kami tunggu-tunggu akhirnya tiba di meja kami.

Setelah itu, kami menghabiskan makanan kami sembari mengobrol santai mengenai materi pelajaran sekolah dan hal-hal lainnya.

Sesudah beristirahat sejenak setelah makan, Hoshimiya tiba-tiba berucap dengan nada tidak enak, "Sepertinya aku harus segera pulang sekarang."

Hoshimiya menangkupkan kedua tangannya di depan dada meminta maaf.

"Maaf ya, semuanya. Aturan jam malam di rumahku agak ketat soalnya……"

"Tanpa disadari waktu ternyata sudah lewat jam tujuh malam ya. Aku sampai kaget."

Ternyata kami sudah mengobrol santai selama tiga jam penuh.

Karena suasananya sangat menyenangkan, waktu rasanya berlalu dalam sekejap mata.

Meskipun aku sudah mengabari orang tuaku kalau aku akan makan malam di luar, jika aku tidak pulang kisaran jam delapan malam, mereka pasti akan mulai merasa khawatir.

"Kalau begitu, mari kita pulang sekarang. Besok pagi aku juga harus kembali mengikuti kegiatan klub."

Kata-kata dari Reita yang mengajak kami semua untuk pulang itu pun resmi menandai berakhirnya hari libur kami yang sangat menyenangkan ini.

——Di dalam hati, aku benar-benar berharap agar kami semua bisa pergi bermain bersama lagi kapan-kapan.

Dalam perjalanan pulang hari itu.

Tepat di saat aku baru saja turun dari kereta dan sedang berjalan di dalam area stasiun, ponsel di dalam sakuku mendadak berdering nyaring.

Nomor yang tertera di layar tidak terdaftar di dalam kontakku, tetapi aku sangat mengenali nomor tersebut.

"……Ada urusan apa?"

"Ara-ara, pembawaan suaramu terdengar suram sekali ya, Natsuki. Jangan-jangan rencanamu hari ini berakhir gagal total?"

Suara khas itu berasal dari orang yang baru saja mengobrol bersamanya denganku kemarin hari. Dia adalah Motomiya Miori.

Apakah dia menelepon karena merasa penasaran dengan penilaian pakaian yang telah dirancangnya untukku tadi?

Ataukah dia sebenarnya hanya ingin menjadikanku sebagai bahan lelucon saja?

Yah, jika di dekatku ada seorang kenalan yang sedang berjuang keras demi mengubah citra dirinya saat masuk SMA, aku pun pasti akan menganggapnya sebagai hiburan yang sangat menarik sih.

"Mana ada orang yang mengangkat telepon dengan nada bicara bersemangat."

Biar bagaimana pun, aku mencoba untuk membalas pertanyaannya dengan senormal mungkin.

Karena jika aku sampai terdengar kegirangan saat mengobrol dengannya, Miori pasti akan langsung menjadikanku sebagai bahan ejekan nantinya.

"Melihat dari caramu membalas perkatakanku barusan, sepertinya acaramu hari ini berjalan dengan lumayan sukses, ya?"

"……Yah, pokoknya menyenangkan kok."

Aku membalas pertanyaannya dengan perasaan campur aduk karena dia seolah-olah bisa membaca maksud tersembunyi di balik kata-kataku.

"Kalau begitu baguslah. Kamu harus berterima kasih kepadaku tahu!"

"Padahal kalau kamu tidak mengatakannya, di dalam hati aku berniat untuk berterima kasih kepadamu dengan tulus, tapi karena kamu sengaja mengungkitnya begitu, rasa terima kasihku malah jadi menguap entah ke mana……"

"Ahaha, Natsuki itu tipe yang seperti itu ya. Tipe anak yang bakal langsung mengamuk sambil bilang 'aku baru saja mau mulai belajar tahu!' di saat ibunya menyuruhnya untuk belajar."

"Berisik ah!"

Kenapa dia bisa membaca isi kepalaku dengan begitu tepat hingga membuatku kesal sendiri begini?

"……Tapi ya, bagaimanapun juga, terima kasih ya. Berkat bantuanmu, aku tidak sampai mempermalukan diri sendiri hari ini."

"Sama-sama."

Saat aku menyampaikan rasa terima kasihku dengan tulus, Miori membalasnya dengan nada bicara yang lembut tanpa berniat untuk mengejekku lagi.

Hal itu entah mengapa malah membuatku…… ya, pokoknya rasanya jadi agak aneh saja sih. Membuat hatiku terasa menggelitik.

"Kamu sekarang sudah sampai di rumah?"

"Belum, ini masih di jalan pulang. Baru saja keluar dari stasiun."

"Ah, kebetulan sekali. Tolong tunggu di sana sekitar sepuluh menit ya."

"Tunggu dulu, bagian mananya yang kamu sebut kebetulan bagi diriku……"

Tepat di saat aku baru mau membalasnya, sambungan telepon ternyata sudah diputuskan secara sepihak.

Dia benar-benar mematikan telepon setelah hanya mengatakan apa yang ingin dikatakannya saja.

Jangan-jangan perempuan ini sama sekali tidak memasukkan opsi penolakan dari diriku di dalam kepalanya ya?

Karena tidak punya pilihan lain, aku terpaksa menyandarkan punggungku di salah satu tiang di dekat gerbang tiket sembari menatap kosong ke arah kerumunan orang yang berlalu-lalang.

"Ah, itu dia. Halo—"

Sosok yang muncul dari balik gerbang tiket adalah seorang gadis yang mengenakan jaket hoodie putih dipadukan dengan rok mini hitam.

Pakaiannya terlihat sangat simpel namun berhasil menonjolkan bentuk tubuhnya yang ideal, sampai-sampai pandangan mataku tanpa sadar langsung tertuju ke arah paha mulusnya.

Bukankah potongan roknya itu terlalu pendek?

Kalau aku adalah ayahnya, aku pasti tidak akan mengizinkanmu memakai pakaian seperti itu tahu!

"……Oh."

Meskipun di dalam hati aku sedang mengomel sendiri, di permukaan aku hanya membalas sapaannya dengan kata-kata yang singkat.

"Kenapa kamu melihatku dengan tatapan intens seperti itu? Jangan-jangan kamu jatuh cinta lagi kepadaku ya?"

Miori melemparkan pertanyaan dengan senyuman yang terlihat sangat menggoda. Gerakan lidahnya yang sedikit menjilat bibir itu terlihat sangat menawan.

"Jatuh cinta apanya, sejak dulu pun aku tidak pernah sekali pun menyukaimu tahu."

"Eh, bohong. Masa sih?"

"Kenapa juga aku harus berbohong soal itu. Waktu zaman dulu kan pembawaanmu itu tidak ada bedanya dengan seorang ketua geng anak-anak."

"Muu…… padahal kukira pesona kelaki-lakianku dulu sudah berhasil membuatmu bertekuk lutut dalam sekali kedip."

"Memangnya aku ini perempuan apa."

"Ahaha, aku cuma bercanda kok, bercanda."

Miori mulai melangkah pergi sembari tertawa lepas, dan aku pun berjalan mengekor di belakangnya.

"Omong-omong, apa yang kamu lakukan seharian ini?"

"Karena hari ini kegiatan klub sedang libur, aku pergi bermain bersama teman-teman SMP-ku dulu. Itu lho, bersama Mayu dan Kana."

Aku mengenali nama-nama tersebut. Mereka adalah jajaran siswi yang menempati kasta teratas di kelasku dulu.

Tapi berhubung pihak sana sendiri sepertinya belum tentu mengingat namaku, kami bahkan tidak bisa disebut sebagai seorang kenalan.

"Oh begitu."

"……Padahal kamu sendiri yang bertanya tapi kenapa reaksimu kelihatan tidak tertarik begitu? Kalau sikapmu seperti itu terus, kamu tidak akan bisa disukai oleh perempuan lho?"

"Ugh……"

Aku tidak bisa membalas perkataan dari Miori yang sedang menatapku dengan pandangan sinis.

Dulu di masa lalu, aku tidak pernah memedulikan apakah aku akan disukai oleh perempuan atau tidak, jadi aku bisa membalas perkataannya sesuka hati, tetapi tujuan utamaku saat ini adalah membuat Hoshimiya jatuh cinta kepadaku.

Dengan kata lain, aku akan berada dalam masalah besar jika aku tidak tahu cara memikat hati seorang perempuan.

"Kalau begitu, aku harus bagaimana?"

"Kamu harus memberikan respons sahutan yang tepat dong. Gunakan nada bicara yang mengindikasikan kalau kamu memang tertarik dengan topik pembicaraannya."

"Hmm……"

"Kalau cuma mendengung seperti itu memang kedengarannya seperti tertarik, tapi ritme obrolannya jadi terasa kurang mengalir, kan? Kamu harus membalasnya dengan nada yang ceria dan ritme yang cepat, seperti 'wah benarkah?' atau 'ah, aku mengerti!' atau 'wah, itu kedengarannya seru ya!' begitu."

"Wah benarkah, itu kedengarannya seru ya!"

"Memberikan sahutan tanpa mendengarkan isi pembicaraannya sama sekali malah akan memberikan efek sebaliknya tahu! Dasar, padahal kalau di depan orang lain kamu bisa bersikap dengan sangat baik, tapi kenapa kalau di depanku kamu malah kembali menjadi sosok yang keras kepala seperti dulu sih……"

Miori mengangkat kedua bahunya pasrah sembari menghela napas.

"Untuk apa juga aku membuang-buang tenaga dengan memakai topeng di depan orang yang sudah tahu betul tentang masa laluku."

"……Begitu ya, jadi caramu berpikir seperti itu toh."

Miori memberikan respons sahutan dengan nada bicara yang terdengar sangat serius sembari menepuk-nepuk bahuku pelan.

Tolong hentikan kontak fisik seperti ini, karena biar bagaimanapun juga kamu itu adalah seorang perempuan, jadi aku tetap saja merasa grogi tahu!

"Lihat, ada mesin penjual otomatis."

Saat aku mengalihkan pandangan ke arah Miori, dia tampak sedang menunjuk ke arah sebuah mesin penjual otomatis.

Pemandangan ini terasa sangat merindukan. Ini adalah mesin penjual otomatis langka yang menjual minuman dengan harga di bawah seratus yen, jadi dulu kami memang sering memanfaatkannya.

"Rumah kita kan sudah dekat dari sini. Kamu bisa minum apa saja sesampainya di rumah nanti, kan?"

"Pakaian yang kamu pakai sekarang itu kan hasil rancanganku lho? Jadi tolong traktir aku ya♪"

Dia tersenyum dengan sangat manis. Yah, kalau cuma mentraktir minuman sekecil ini sih aku tidak keberatan……

Begitu aku memasukkan koin seratus yen ke dalam mesin penjual otomatis yang sudah tua tersebut, Miori tanpa ragu langsung menekan tombol pilihan minuman Strawberry Au Lait kemasan kotak.

"Terima kasih—"

"Kebiasaanmu membeli minuman itu ternyata tidak pernah berubah sejak dulu ya."

Tepat di saat aku mengucapkan kalimat tersebut, gerakan tubuh Miori mendadak langsung terhenti seketika.

"……Eh? Kenapa aku malah membeli minuman ini ya?"

"Kamu ini bicara apa sih."

Apakah kepalanya baru saja mengalami korsleting atau bagaimana?

"Tidak, aku memang menyukai Strawberry Au Lait sih. Tapi belakangan ini aku sudah jarang meminumnya lagi. Entah kenapa, perasaanku rasanya seperti kembali ke masa lalu. Ataukah mungkin karena kebiasaan lamaku mendadak bangkit kembali?"

"Ah, aku bisa mengerti perasaan itu."

Sembari membalas perkatakannya dengan nada seadanya, aku menekan tombol pilihan kopi hitam kemasan kaleng.

"Tunggu dulu, bukankah dalam situasi seperti ini harusnya kamu juga ikut membangkitkan kebiasaan lamamu?"

"Mana ada aku mengingat jenis minuman apa yang sering kubeli di masa lalu."

Lagipula bagi diriku yang sekarang, kejadian di masa lalu itu sudah berlalu selama tambahan tujuh tahun yang lalu tahu.

"Dulu kamu itu selalu membeli minuman jus apel yang ini lho."

"……Benarkah? Kamu ingat saja ya."

"Habisnya, padahal harganya sama-sama seratus yen tapi ukuran kaleng yang ini sedikit lebih besar, kan? Dulu kamu selalu bersikeras menjelaskan kepadaku kalau membeli kaleng yang ini jauh lebih menguntungkan tahu. Lagipula, kenapa kamu sendiri bisa mengingat jenis minuman yang sering kubeli?"

Alasan itu memang kedengarannya sangat mirip dengan pola pikirku saat masih anak-anak dulu. Karena pada masa itu, uang seratus yen rasanya memiliki nilai yang sangat besar.

"Bukan cuma minuman itu saja, pokoknya kamu kan memang menyukai segala hal yang berbau stroberi sejak dulu. Aku cuma mengingat fakta itu saja kok."

"……Entah kenapa, aku merasa agak kesal."

"Kenapa begitu?"

"Soalnya cuma kamu sendiri yang meminum kopi hitam, seolah-olah ingin menunjukkan kalau kamu sudah berubah menjadi orang dewasa saja."

Jika hanya dengan meminum kopi hitam saja sudah bisa membuat seseorang berubah menjadi dewasa, maka hidup ini pasti tidak akan terasa sesulit ini…… tapi di samping itu, karena selama masa kuliah dulu aku terlalu sering meminum kopi, lama-kelamaan lidahku jadi terbiasa dan tidak lagi merasakan rasa pahitnya.

"Manusia itu memang pasti akan berubah ya."

Miori melangkah mundur beberapa langkah menjauh dariku, lalu mulai mengambil foto diriku menggunakan kamera ponselnya secara berturut-turut sesuka hatinya.

"Ucapan itu harusnya menjadi kalimatku tahu."

Siapa juga yang menyangka kalau Miori yang dulunya adalah seorang ketua geng anak-anak berkaki pendek yang selalu memakai celana pendek kini bisa berubah menjadi seorang gadis yang sangat feminin seperti ini.

"Lagipula jangan mengambil fotoku sembarangan ah."

"Tidak apa-apa dong, kan penampilanmu saat ini adalah hasil karyaku."

"Awas saja ya kalau kamu sampai mengunggahnya ke Minstagram tanpa izin. Aku akan menagih biaya royalti pemuatan foto kepadamu nanti."

"Ahaha, padahal penampilanmu baru berubah jadi sedikit lebih keren saja tapi gayamu sudah seperti seorang model profesional saja ya?"

"Kamu ini ya……"

"Jadi, bagaimana penilaian dari teman-temanmu tadi?"

"Tidak ada reaksi yang berlebihan kok. ……Meskipun, ya, mereka ada sedikit memujiku sih."

Pikiran di dalam kepalaku seketika langsung terbayang ke arah momen di saat Hoshimiya melayangkan pujiannya kepadaku tadi. ……Ah, sudut bibirku rasanya mau tersenyum sendiri nih.

"Heh, syukurlah kalau begitu. Tadi kalian pergi ke Spo-Cha, kan?"

"Iya, berkat hasil melatih tubuhku dengan keras selama ini, dari segi stamina aku sama sekali tidak merasa kelelahan, jadi——"

Sembari keasyikan mengobrol dengannya di sepanjang jalan, tanpa disadari aku ternyata sudah sampai di depan rumahku sendiri.

……Eh? Entah kenapa aku merasa seolah-olah sudah menceritakan hampir seluruh kejadian yang kualami hari ini kepadanya ya.

Itu semua karena respons sahutan dari Miori terasa sangat alami dan tepat sasaran, sehingga membuat kata-kata di dalam mulutku mengalir keluar dengan sendirinya begitu saja.

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi ya, Natsuki. Kalau besok-besok ada acara lain yang kelihatan menarik lagi, tolong hubungi aku ya?"

Miori melemparkan senyuman manisnya sebelum akhirnya berjalan pulang menuju ke arah rumahnya sendiri.

Mi-Miori…… Perempuan itu, jangan-jangan dia adalah sosok wanita yang jauh lebih mengerikan dari apa yang kubayangkan selama ini.

Lima hari kemudian. Hari itu adalah hari Kamis sepulang sekolah.

"Kalau begitu Haibara-kun, ayo kita pergi sekarang."

Nanase yang sudah selesai mengemas barang-barang bawaannya berjalan menghampiri mejaku.

Sikap dan ucapan dari Nanase barusan entah mengapa langsung memicu timbulnya suara kasak-kusuk di dalam ruang kelas, ada apa sih sebenarnya?

"Ah, iya."

Aku mengangguk lalu berdiri dari kursi untuk mulai berjalan beriringan bersama Nanase.

Teman-teman kami yang lainnya langsung bergegas pergi menuju kegiatan klub masing-masing tepat setelah sesi wali kelas berakhir.

Hoshimiya yang merupakan anggota klub sastra pun hari ini memiliki jadwal kegiatan klub.

"Meskipun pihak toko bilang akan mengadakan sesi wawancara terlebih dahulu, tapi itu sebenarnya hanya sebatas formalitas saja kok."

Aku dan Nanase saat ini sedang berjalan menuju Kafe Mares.

Nanase pergi ke sana untuk bekerja, sedangkan aku untuk menjalani sesi wawancara.

Dua hari setelah hari libur kami kemarin, aku sempat menyempatkan diri untuk berkunjung ke Kafe Mares sendirian, dan aku langsung menyukai atmosfer tempatnya yang terasa sangat menenangkan.

Karena itulah aku akhirnya meminta rekomendasi dari Nanase.

"Melihat dari pembawaan karaktermu, kurasa kamu pasti akan langsung lulus dengan mudah kok."

"Yah, semoga saja memang begitu."

Dia bilang melihat dari pembawaan karakterku, tapi sebenarnya sejauh mana Nanase sudah berhasil memahami karakter asliku yang sebenarnya ya?

Rasanya sulit bagiku untuk membayangkan sosok diriku yang asli bisa lulus dalam sebuah sesi wawancara kerja dengan mudah.

Meskipun aku tahu kalau ini hanyalah sebuah pekerjaan paruh waktu biasa jadi harusnya bisa diatasi, tetapi ingatan buruk mengenai kegagalanku yang terus-menerus ditolak saat mencari pekerjaan di masa kuliah tingkat empat dulu mendadak kembali terngiang di dalam kepala.

Waktu itu aku sampai ditolak oleh tiga puluh perusahaan berturut-turut, membuatku sempat depresi dan bingung apakah aku harus mengakhiri hidup saja atau tidak.

Meskipun pada akhirnya aku berhasil mendapatkan kepastian kerja, tapi berhubung sekarang aku sudah mengulang kembali waktu ke masa lalu, semua perjuangan itu kini menjadi tidak ada artinya lagi.

Walaupun aku sama sekali tidak menyesalinya sih.

"Bagian dapur yang kekurangan staf, ya?"

"Bagian pelayan depan toko sebenarnya juga kekurangan staf sih. Tapi kondisi di bagian dapur memang jauh lebih parah."

"Kamu sendiri berada di bagian mana, Nanase?"

"Aku berada di bagian depan toko sebagai pelayan. Bukannya aku mau pamer ya, tapi aku memang tidak bisa memasak sama sekali."

"Itu sih jelas bukan hal yang patut dipamerkan……"

"Kamu merasa heran?"

"Yah, soalnya Nanase kelihatan seperti tipe orang yang bisa melakukan apa saja dengan sempurna sih."

"Orang lain juga sering mengatakan hal yang sama kepadaku. Tapi kenyataannya aku ini hanyalah seorang gadis biasa yang tidak ada bedanya dengan yang lain kok. Alasan kenapa aku bisa sedikit menguasai upacara minum teh dan seni kaligrafi itu murni karena aku pernah mengikuti kelas lesnya saja, jadi aku hanya sebatas mengetahui tata caranya saja."

"Hal itu rasanya sudah mulai bisa kupahami belakangan ini."

"……Mendengar penilaianmu yang sewajar itu, entah kenapa di dalam hati aku merasa agak tidak rela ya."

"Pembawaan karaktermu ternyata merepotkan juga ya!?"

Saat aku melayangkan protesku, Nanase langsung terkekeh pelan.

Cara tertawanya yang anggun dengan menangkupkan tangan di depan mulut itu tidak hanya memperlihatkan kualitas dari hasil didikan keluarganya yang baik saja, melainkan juga terlihat sangat imut. Nanase, kamu…… benar-benar sangat menarik untuk didukung tahu.

Dia selalu memasang citra sebagai seorang gadis yang dingin dan anggun, padahal aslinya pembawaan karakter sehari-harinya tidak ada bedanya dengan seorang gadis normal pada umumnya. Bukankah kombinasi ini adalah atribut yang paling mematikan?

"Nah, ayo kita jalan…… eh, ada apa?"

Karena aku terus menatap ke arah Nanase dengan pandangan intens yang menyelidiki, dia akhirnya menyadari pandangan mataku lalu memiringkan kepalanya bingung dengan tatapan polos.

Gestur tubuhnya yang seperti itu memancarkan aura keimutan yang sangat kontras dengan garis wajahnya yang cantik nan anggun.

"Ah tidak, bukan apa-apa."

Ha-Hampir saja…… aku menatapnya terlalu lama.

Lama-kelamaan perasaanku terhadap Nanase ini rasanya sudah hampir menyerupai pola pikir dari seorang penggemar idola yang fanatik saja.

Ini bukan jenis perasaan yang ingin menjadikannya sebagai pacar atau hal semacamnya kok.

Bagaimana ya menjelaskannya, pokoknya Nanase itu murni sangat menarik untuk didukung.

Ya, intinya aku hanya berharap agar dia bisa menjalani kehidupannya dengan penuh rasa bahagia.

Aku melanjutkan obrolan agar pemikiran mesum yang sangat gila itu tidak sampai terendus olehnya.

"Haibara-kun, kamu mengincar posisi dapur, kan?"

"Hmm, ya, meskipun bagian depan juga tidak apa-apa. Tapi kalau bagian dapur memang lebih kekurangan orang, aku pilih itu saja."

Bagiku beneran bebas mau ditempatkan di mana saja.

Hanya saja, esensi diriku sebagai seorang introver sejati tetap tidak akan pernah berubah.

Jika harus memilih, mengobrol dengan orang asing yang tidak kukenal di bagian depan toko rasanya jauh lebih banyak menguras mental ketimbang memasak, jadi aku merasa bagian dapur memang pilihan yang lebih cocok untukku.

"Seberapa pandai kamu dalam memasak?"

"Kalau ditanya seberapa pandainya, agak sulit juga ya menjelaskannya……"

Mengenai urusan masak-memasak, aku sudah sempat mendalaminya sampai ke tingkat mahir saat aku masih tinggal sendirian di zaman kuliah dulu, karena saat itu aku punya banyak waktu luang.

Aku sering menonton berbagai macam video memasak di YouTube, mencari resep di internet, dan selalu memikirkan variasi menu yang unik setiap harinya.

Lagipula, di luar jam kuliah aku memang tidak pernah keluar dari dalam rumah. Jadi aku bisa bereksperimen dengan resep masakan sesuka hatiku. Hahaha!

Orang-orang sering bilang kalau membuat makanan itu merepotkan. Tapi bagiku, melangkah keluar rumah itu jauh lebih merepotkan tahu.

Atau lebih tepatnya, aku memang malas keluar rumah. Karena seluruh siklus kehidupanku saat itu sudah bisa terpenuhi sepenuhnya hanya di dalam rumah saja.

Nanase yang tentu saja tidak tahu sedikit pun mengenai pola pikir kuperku ini tampak mengangguk dengan suasana hati yang sangat riang.

"Fufu, benar juga ya."

"Tapi, kalau cuma level masakan yang dicari untuk sebuah kafe, kurasa aku pasti bisa mengatasinya kok. Di rumah pun aku lumayan sering memasak makanan sendiri, dan karena aku sudah melewati banyak proses eksperimen trial-and-error yang tidak berguna, rata-rata masakan yang kubuat rasanya enak."

Lagipula, aku memang sudah punya pengalaman kerja paruh waktu di bagian dapur kafe saat masih zaman kuliah dulu.

Aku bisa membuat hampir seluruh menu yang ada, dan kalau harus membantu di bagian pelayan depan pun kurasa aku masih sanggup mengatasinya.

"He, kamu kelihatan lumayan percaya diri ya. Kalau begitu, aku akan menantikannya, ya?"

"Memangnya ada kesempatan bagiku untuk menghidangkan masakan untukmu?"

"Aku juga sering memanfaatkan tempat ini sebagai pelanggan kok. Bagaimana kalau aku datang berkunjung khusus di saat kamu sedang masuk sif kerja?"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Nanase tersenyum dengan tatapan yang terlihat jahil.

Sesampainya di Kafe Mares, aku langsung menjalani sesi wawancara, dan hasilnya aku berhasil lulus tanpa ada kendala sedikit pun.

Mengenai jadwal sif kerjaku, diputuskan kalau aku akan masuk sekitar tiga kali seminggu, mulai dari jam enam sore hingga jam sepuluh malam sepulang sekolah.

Sedangkan untuk hari Sabtu dan Minggu, jadwalnya akan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi toko.

"Kalau begitu, mohon bantuannya mulai minggu depan ya."

Manajer toko adalah seorang kakek tua yang terlihat sangat ramah. Senyuman hangat yang menghiasi wajahnya terlihat sangat cocok untuknya.

Syukurlah dia bukan tipe orang yang galak.

Karena jika harus bekerja di bawah tekanan atasan yang galak, aku pasti akan merasa terlalu ketakutan dan malah berujung membuat lebih banyak kesalahan saat bekerja……

"Oh, ada cowok ganteng baru nih. Anggota baru ya?"

Seorang wanita berambut pirang masuk ke dalam toko sambil menyapa dengan nada bicara yang santai.

Kelihatannya dia adalah seorang mahasiswi.

Melihat dari gelagatnya yang langsung melangkah masuk ke balik meja kasir dengan santai, dia pasti salah satu staf yang bekerja di sini.

"Mulai minggu depan saya akan mulai bekerja di sini, nama saya Haibara Natsuki."

"Natsuki-kun ya, salam kenal. Aku Kirishima Mika. Mahasiswi tingkat satu."

Melihat caranya yang menjabat tanganku dengan begitu santainya, aku pun langsung menyadari satu hal. Ini adalah…… jarak kedekatan intim khas anak-anak populer!

"Ah, omong-omong, bukannya waktu itu Yuino sempat bilang kalau ada orang yang mau dikenalkannya kepadaku ya?"

"Iya. Orang itu adalah Haibara-kun yang ada di sana."

Tepat di saat aku baru mau membuka mulut untuk membalas perkatakannya, Nanase yang sedang menyapu area depan toko sudah mendahuluiku untuk menjawabnya.

Kirishima-san menatap ke arah Nanase dengan senyuman penuh arti, sebelum akhirnya dia mendekatkan wajahnya ke telingaku untuk berbisik.

"……Omong-omong, apa dia pacarmu?"

"Aku bisa mendengar suaramu tahu. Tentu saja bukan."

Nanase melayangkan protesnya kepada Kirishima-san dengan raut wajah pasrah.

"Aku kan sedang bertanya kepada anak ini tahu. Bagaimana, Natsuki-kun?"

"Sayang sekali, aku bukan pacarnya. Tapi kalau punya pacar yang seperti dia, aku pasti akan merasa sangat bahagia sih."

"Hee. Hmm? Tuh, dengar sendiri kan, Yuino?"

Saat aku mengangkat kedua bahuku pasrah, Kirishima-san langsung memanggil Nanase dengan nada bicara yang terlihat sangat kegirangan.

……Eh, tunggu dulu? Tadi aku kan hanya sekadar mengutarakan isi hatiku yang sejujurnya saja, tapi jangan-jangan kalimatku barusan terdengar mesum ya?

"Memangnya kenapa kalau dia bilang begitu. Tolong jangan mengada-ada ah."

Nanase menyahut dengan nada bicara yang datar sembari membalikkan badannya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya menyapu lantai toko.

"Hei Kirishima. Jangan terus-menerus menjahili staf baru kita, cepat kembali bekerja sana."

Mendirikan teguran dari manajer toko yang disampaikan sembari tersenyum kecut, Kirishima-san menyahut, "Iyaa," dengan nada malas sebelum akhirnya menghilang ke dalam ruang karyawan.

Berhubung Nanase juga sudah kembali melanjutkan pekerjaannya, kurasa hari ini sebaiknya aku langsung pulang saja.

"Kalau begitu Nanase, sampai jumpa besok ya."

"……Iya, sampai jumpa besok. Dan juga, mohon bantuannya untuk ke depannya ya."

Dengan begitu, tempat kerja paruh waktuku akhirnya resmi diputuskan, dan mulai minggu depannya siklus kehidupan baruku yang memadukan antara sekolah dan kerja paruh waktu pun resmi dimulai.

Saat baru pertama kali memulai kehidupan tinggal sendirian dulu, aku selalu mengandalkan makanan luar untuk menu makan sehari-hariku.

Namun, lama-kelamaan aku mulai merasa malas bahkan hanya untuk sekadar melangkah keluar rumah, sampai-sampai aku terus-menerus mengonsumsi mi instan cup. Karena akhirnya aku mulai merasa bosan dengan menu itu, aku pun terpaksa mulai belajar memasak sendiri.

Memasak itu sebenarnya adalah hal yang mudah. Kita hanya perlu memotong bahan makanan yang ada, lalu tinggal merebus, memanggang, atau menggorengnya saja sampai bentuknya terlihat meyakinkan.

Sisanya, kita hanya perlu menakar takaran bumbu dan menentukan ketepatan waktu memasaknya saja.

Namun, ceritanya akan menjadi sangat berbeda jika masakan yang kita buat ditujukan untuk disajikan kepada orang lain.

Kalau aku memasak hanya untuk dikonsumsi oleh diriku sendiri, tidak akan ada masalah meski hasilnya berakhir gagal sekalipun, tetapi aturan itu jelas tidak berlaku jika kita bekerja di bagian dapur sebuah tempat makan.

Karena pelanggan datang dengan membayar uang demi bisa menikmati makanan yang kami sajikan, aku merasa kami berkewajiban untuk menghidangkan masakan dengan kualitas yang sepadan.

Karena itulah saat aku baru pertama kali memulai kerja paruh waktu di bagian dapur kafe pada masa kuliah tingkat dua dulu, aku sempat merasa sangat tertekan karena adanya perbedaan standar tersebut.

Tentu saja, aku juga harus menyesuaikan diri dengan tata cara memasak yang sudah ditetapkan oleh pihak toko.

——Meski begitu, begitu waktu sudah berjalan selama tiga bulan, aku pun sudah mulai terbiasa dengan ritme kerjanya.

Karena pada dasarnya metode memasak yang digunakan di toko selalu sama, jadi aku hanya perlu menghafalnya saja, ditambah lagi pihak toko juga masih mengizinkan kami untuk memberikan sedikit variasi pada masakannya.

"Natsuki-kun. Tolong buatkan satu porsi Napolitann ya."

"Siap."

Mendengar panggilan dari Kirishima-san, aku pun langsung bergegas memulai proses memasak.

Sembari merebus mi pasta di dalam air mendidih yang sudah diberi taburan garam, aku memotong-motong bahan makanan yang diperlukan seperti bawang bombai, paprika hijau, dan jamur kancing dengan ukuran seadanya.

Aku kemudian mencampurkan saus tomat beserta bumbu-makanan pelengkap lainnya ke dalam satu wadah, lalu mulai menumis bahan-bahan yang sudah dipotong tadi di atas wajan penggorengan.

Setelah mi pastanya matang, aku meniriskan kandungan airnya sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam wajan, menuangkan racikan bumbu yang sudah kubuat tadi, lalu mengaduknya dengan cepat di atas api besar hingga matang.

Napolitann ala diriku pun akhirnya selesai dibuat.

Yah, meskipun metode pembuatannya terkesan sangat standar dan biasa saja, takaran bumbunya sudah kusesuaikan dengan selera pribadiku.

Untungnya di Kafe Mares ini, meski panduan menu dasarnya sudah ditentukan, pihak toko membebaskan kami untuk berkreasi dalam proses memasaknya, sehingga membuat pekerjaan ini terasa sangat menantang dan menyenangkan bagi diriku.

"Kirishima-san, menu Napolitann-nya sudah selesai."

"Wah, cepat banget! Kalau begitu biar langsung kuantarkan ke meja pelanggan ya!"

Sebenarnya, sebelum diizinkan untuk memegang area dapur sepenuhnya, pihak toko mewajibkan adanya semacam ujian memasak terlebih dahulu di mana manajer toko akan mencicipi rasa masakan buatan kami secara langsung.

Berhubung aku berhasil lulus tanpa ada kendala sedikit pun (malah masakan buatanku dipuji habis-habis olehnya), di hari kedua sif kerjaku ini aku sudah bisa langsung dijadikan sebagai andalan utama di dapur.

Aku sudah berhasil menguasai hampir seluruh alur pekerjaan di sini.

"Omong-omong, Natsuki-kun hebat banget ya? Kamu beneran belum pernah bekerja paruh waktu sebelumnya?"

Mungkin karena sudah selesai mengantarkan menu Napolitann tadi, Kirishima-san kembali menghampiriku sambil bertanya dengan nada bicara yang terlihat sangat kagum.

Saat ini kondisi di dalam toko sedang lengang dan hanya diisi oleh dua orang pelanggan saja.

Di saat-saat tertentu tempat ini memang bisa menjadi sangat ramai, tetapi di saat kondisinya sedang sepi seperti sekarang, tidak banyak hal yang harus kami kerjakan sehingga kami masih diizinkan untuk mengobrol santai sejenak.

Dan saat ini adalah momentum yang tepat untuk itu.

"Ah, itu karena aku memang lumayan sering memasak makanan sendiri di rumah sih."

"Tetap saja itu hebat tahu! Siapa juga yang menyangka kalau kamu bisa langsung membuat manajer mengakui kemampuan memasakmu di hari pertama kerja.

Levelmu ini sudah bukan lagi di tahap andalan utama biasa tahu. Hebat banget ya Yuino bisa membawa sosok genius seperti ini ke toko kita? Kerja bagus!"

Mendengar namanya ikut diseret ke dalam obrolan, Nanase yang sedang menghitung jumlah uang di dalam mesin kasir langsung menyahut,

"Aku sendiri pun sebenarnya sama sekali tidak menyangka kalau dia ternyata adalah tipe pria yang serbabisa sampai ke tingkat seperti ini lho."

Nanase melemparkan pandangan matanya ke arahku dengan sorot mata yang terlihat agak rumit. Memangnya ada masalah dengan hal itu?

"……Padahal aku sendiri membutuhkan waktu sampai satu bulan penuh hanya untuk bisa menghafal seluruh alur pekerjaan pelayan di bagian depan toko tahu."

Sorot mata sinis dari Nanase tampak sedang menatapku dengan tajam.

Dia kelihatan sangat tidak puas, padahal menurutku durasi waktu yang dibutuhkannya itu tergolong sangat normal kok.

"Yuino itu termasuk tipe orang yang cepat dalam menangkap pelajaran tahu! Natsuki-kun saja yang dasarnya memang aneh!"

Aku tahu kalau kalimat barusan dimaksudkan untuk memujiku, tapi mendengar kata 'aneh' yang keluar langsung dari mulut seorang mahasiswi yang penampilannya menyerupai seorang gadis populer rasanya tetap saja menusuk langsung ke dalam lubuk hatiku.

Benar, aku ini memang hanyalah seorang siswa SMA introver yang aneh…… Fufufu……

"Tidak kok, Haibara-kun beneran sangat bisa diandalkan di sini. Mohon bantuannya untuk seterusnya ya."

Manajer toko yang baru saja memunculkan kepalanya dari arah ruang dalam tampak menepuk-nepuk bahuku pelan.

……Yah, jadi beginilah situasinya saat ini di mana semua orang di toko terus-menerus melayangkan pujiannya kepadaku.

Padahal bagi diriku yang sudah memiliki pengalaman kerja paruh waktu di bagian dapur kafe selama kurang lebih dua tahun, hal-hal yang kulakukan ini adalah sebuah kewajaran yang sudah semestinya dilakukan, sehingga membuat hatiku terasa agak menggelitik.

Namun, jika aku menceritakan alasan yang sebenarnya kepada mereka, hal itu malah akan berujung menjadi sebuah kebohongan baru, karena jika mereka sampai menyelidiki latar belakangku, kebenarannya pasti akan langsung terungkap dalam sekejap.

"Ah tidak, kemampuan saya sebenarnya tidak sehebat itu kok."

"Haibara-kun itu selalu saja bersikap rendah hati ya. Padahal tidak ada salahnya lho kalau kamu mau sedikit menyombongkan kemampuanmu itu?"

Nanase berucap demikian, tetapi rasanya sangat memalukan jika aku harus bersikap sombong hanya karena pencapaian sekecil ini.

Biar bagaimanapun juga, sekaku dan se-tidak berguna apa pun sosok diriku ini, fakta bahwa aku sudah mengulang kembali waktu dan menjalani ulang kehidupanku dari tujuh tahun yang lalu membuat diriku wajar saja jika memiliki banyak keunggulan di beberapa aspek tertentu jika dibandingkan dengan orang-orang di sekitarku saat ini.

"Tidak kok, alasan kenapa aku bisa memasak sampai ke tingkat seperti ini bukan karena bakatku sendiri, melainkan murni berkat jasa dari sosok orang yang sudah mengajariku dulu."

Karena itulah, alih-alih menyombongkan diri, aku memilih untuk bersikap rendah hati sembari memberikan senyuman kecut demi mengelabui mereka.

Tepat di saat itu, suara bel di pintu masuk toko berbunyi nyaring, menandakan adanya pelanggan baru yang datang. Nanase yang bertugas di bagian depan toko langsung bergegas menyambut mereka.

Nah, sebaiknya aku mulai mencuci tumpukan piring kotor yang ada di bak cucian saja——tepat di saat aku membatin hal tersebut,

"Halo Yui-Yui! Aku datang berkunjung nih!"

Sebuah suara yang sangat tidak asing di telingaku mendadak menggema dengan sangat nyaringnya. Atau lebih tepatnya, suaranya terlalu lantang.

Sembari merasakan adanya firasat buruk di dalam hati, aku mencoba mengalihkan pandanganku ke arah pintu masuk toko, dan di sana tampak berdiri tiga sosok orang yang sangat kukenal.

Pelanggan baru yang datang berkunjung tersebut ternyata adalah Uta, Tatsuya, dan Reita.

"Oh, Nanase. Si Natsu ada di…… eh, anak itu ternyata ditempatkan di bagian dapur ya?"

Tatsuya langsung membelalakkan kedua matanya lebar-lebar setelah mendapati keberadaanku setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko.

"……Mari saya antarkan menuju ke meja Anda. Silakan lewat sebelah sini."

Meskipun wajah Nanase tampak sedikit memerah karena merasa malu, dia tetap berusaha untuk melayani mereka sesuai dengan panduan manual toko.

Saat ada teman dekat yang datang berkunjung ke tempat kerja, kita memang sering merasa bingung harus bersikap seprofesional apa sesuai manual toko ataukah harus mengobrol santai seperti biasa, kan? Aku bisa sangat memahami perasaan itu.

Tatsuya dan Uta langsung mengempaskan tubuh mereka dalam-dalam di atas kursi meja makan.

Mereka berdua pasti merasa sangat kelelahan karena baru saja menyelesaikan kegiatan klub mereka.

Sembari tersenyum kecut melihat kondisi mereka berdua, Reita melayangkan permohonan maafnya kepadaku dan Nanase.

"Tadi siang kami sempat mendengar cerita kalau jadwal sif kalian berdua kebetulan sedang berbarengan hari ini. Jadi kami bertiga sempat mengobrol bersama, dan memutuskan untuk datang berkunjung ke sini secara mendadak sepulang sekolah demi memberikan kejutan untuk kalian berdua…… bagaimana, apa kalian merasa terkejut?"

"Tentu saja kami terkejut tahu. Bisakah lain kali kalian memberi tahu kami terlebih dahulu?"

Reita mencoba untuk menenangkan Nanase yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal.

Meskipun aku masih harus melanjutkan pekerjaanku di dalam dapur, manajer toko tiba-tiba menghampiriku.

"Bagaimana kalau kamu pergi menyapa dan mengobrol bersama mereka sejenak? Mereka itu adalah teman-temanmu, kan?"

"Eh, apa boleh?"




"Hari ini pelanggan juga sedang sepi, kok."

"Terima kasih banyak! Kalau begitu, saya izin ke sana sebentar, ya."

Karena manajer toko sudah berbaik hati memberikan izin, aku membungkuk sopan. Aku kemudian melangkah menuju meja tempat Uta dan yang lainnya duduk.

"Yo. Kalian ke sini sengaja mau menambah pekerjaanku, ya?"

"Eeeh!? Kok ngomongnya begitu! Natsu, kamu enggak senang ya kami datang?"

"Bukannya enggak senang, tapi kan baru saja kita barengan di sekolah……"

Saat aku membalasnya dengan nada datar, Uta langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Mumu!" Pipinya menggembung menggemaskan.

"Natsu, sekarang kamu senang enggak!?"

"Ah, iya?"

Ada apa dengan antusiasme yang meledak-ledak ini? Karena wajah Uta mendadak terasa begitu dekat, aku refleks menarik tubuhku ke belakang.

"Kamu senang enggak, bisa berteman sama aku?"

Mendapat pertanyaan yang terlewat jujur dan langsung menusuk ke inti itu, aku refleks mengalihkan pandangan. Meski begitu, pada akhirnya aku tetap mengangguk.

"Y-ya…… lumayan, sih."

"Kehidupan sekolah bareng kami, menyenangkan enggak?"

"Tentu saja menyenangkan."

"Berarti Natsu sekarang merasa senang, kan!? Kamu senang kan aku datang ke sini!?"

"……Eh, m-maksudnya?"

Secara logika rasanya dua hal itu tidak saling berhubungan.

Namun, melihat senyuman Uta yang berkilau begitu cerah, aku tidak tega untuk merusaknya. Akhirnya, aku pun terpaksa mengangguk pasrah. Lemah sekali diriku ini.

"Ya, begitulah. Anggapan saja begitu!"

"Yeeay!"

"Y-yeeay!"

Uta mengangkat tangannya ke atas. Hal itu membuatku mau tidak mau harus menyambutnya dengan sebuah tepukan high-five.

Gawat. Aku sama sekali tidak bisa mengimbangi energinya! Ini dia yang dinamakan obrolan santai berbasis atmosfer khas anak populer!

"……Kalian berdua akrab sekali, ya."

"Tentu saja! Aku dan Natsu kan sahabat sejati!"

Uta kembali berdiri lalu merangkul bahuku dengan santai. Kubilang juga apa, jaraknya terlalu dekat tahu!?

Karena dia terus berusaha merangkulku, mau tidak mau aku harus sedikit membungkukkan punggungku. Langkah itu kuambil demi menyesuaikan tinggi badan kami.

Tubuh Uta terasa menempel erat di tubuhku. Teksturnya terasa empuk.

Padahal selama ini aku mengira bagian dadanya sedatar papan. Tapi momen ini membuatku sadar kalau dia memanglah seorang gadis remaja. Terlebih lagi, entah kenapa aroma tubuhnya terasa begitu wangi. Padahal dia baru saja selesai latihan klub.

Uta yang tampaknya sama sekali tidak menyadari keteganganku langsung bertingkah ceria. Dia mengacungkan tanda peace ke arah Nanase.

"Yeeay! Yui-Yui, tolong fotoin dong!"

"Eh, tung—"

Sebelum sempat aku menghentikannya, suara jepretan kamera ponsel sudah terdengar nyaring.

Yah, bukannya aku merasa keberatan, sih!

Hanya saja jantungku rasanya mau copot. Tolong beri aku waktu sebentar untuk mengistirahatkan organ tubuhku ini!

Lagipula, respons Nanase cepat sekali, ya? Jangan-jangan sejak awal dia memang sudah bersiap memegang kamera ponselnya.

Sadar kalau aku sedang menatapnya, Nanase hanya bisa tersenyum simpul.

"Mau kuunggah ke Minstagram."

"Bisa pakai foto yang lebih biasa saja enggak? Kalau yang ini rasanya agak……"

"Agak apa, memangnya?"

Nanase melemparkan senyuman yang terlihat sedikit usil.

Tidak, maksudku, kalau fotonya seperti ini kan penampilannya mencolok. Penampilannya kelihatan seperti orang yang sedang pacaran, kan?

Atau jangan-jangan aku saja yang terlalu berlebihan? Apa di dunia anak-anak populer hal seperti ini sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran?

"Eh, anu, Yui-Yui…… mending pakai foto yang lain saja, yuk? Ah, benar juga, bagaimana kalau kita foto bersama saja semuanya!"

"Wah, benarkah? Ya sudah, kalau Sakuramoto-san memang maunya begitu."

Melihat kepanikanku, Nanase langsung membatalkan niatnya. Langkah itu dia ambil berkat usulan dari Uta.

Tapi kurasa alasan Uta mengatakannya bukan karena memiliki pemikiran picik seperti diriku. Dia murni hanya ingin berfoto bersama dengan semuanya saja.

"Ayo semuanya, merapat, merapat!"

Uta mengubah kamera ponselnya ke mode kamera depan. Dia merentangkan tangannya lebar-lebar demi menjangkau seluruh area foto.

Saat tubuhku masuk ke dalam jangkauan kamera, jarakku dengan Uta kembali menjadi sangat dekat. Tapi sudahlah, mau bagaimana lagi. Setelah memastikan semua orang sudah masuk ke dalam bingkai foto, Uta langsung menekan tombol rana. Foto tersebut kemudian langsung dikirimkan ke dalam grup obrolan RINE kami.

Aku pun ikut membuka ponselku untuk melihat foto tersebut. Di sana tampak jelas potret kami berlima yang sedang berfoto bersama.

Entah kenapa…… rasanya sangat menyenangkan bisa memiliki foto seperti ini. Tanpa sadar sudut bibirku sedikit terangkat.

Rasanya seperti kami berhasil mengabadikan sebuah momen kenangan yang menyenangkan ke dalam satu lembar foto.

Sebelum-sebelumnya aku selalu berpikir kalau berfoto itu adalah sebuah hal yang tidak berguna. Tapi…… ternyata dugaanku salah besar.

"Ah, lihat deh! Ada pesan masuk dari Hikarin!"

Mendengar seruan Uta, aku mengalihkan layar ponselku. Aku membukanya dari aplikasi galeri foto kembali ke ruang grup obrolan.

Di sana, Hoshimiya tampak mengirimkan sebuah pesan bertuliskan, Kalian semua curang banget!. Pesan tersebut juga dilengkapi dengan sebuah stiker karakter yang sedang marah besar.

"Eh? Omong-omong, kenapa Hoshimiya tidak ikut bersama kalian?"

"Tadi kami sudah mengajaknya, tapi jam malam di rumahnya sepertinya lumayan ketat. Ditambah lagi, meskipun hari ini klub sastra juga ada kegiatan, jadwal selesai mereka jauh lebih awal ketimbang klub olahraga, jadi waktunya agak kurang pas."

"Ah, pantas saja."

Uta membalas pesan Hoshimiya dengan ketikan bertuliskan, Biarin, wleee!. Sungguh sebuah pemandangan yang terasa sangat menghangatkan hati.

"Aku juga mau mengunggahnya ke Minstagram. Boleh, kan?"

Nanase meminta izin kepada kami semua. Sembari mengangguk bersama yang lain, aku pun ikut menyahut.

"Oh iya, aku belum berteman dengan Nanase di Minstagram. Tolong beri tahu nama akunmu dong."

"Lho? Memangnya kamu juga main Minstagram?"

"Baru-baru ini saja kok. Makanya jumlah pengikutku masih nol."

"Kasihan sekali, ya. Ya sudah, karena aku berbaik hati, biar aku follow akunmu."

"Ah, aku juga mau ikut!"

"Kalau begitu aku juga. Tatsuya, kamu sendiri tidak punya akun ya?"

"Ada sih, tapi cuma akun bodong buat mengintip postingan orang saja. Malas banget rasanya kalau harus membuat postingan sendiri."

Maka begitulah, akhirnya kami semua pun saling terhubung di dalam jejaring sosial Minstagram.

Melalui obrolan barusan, aku baru tahu kalau ternyata semua orang di sini sudah saling terhubung satu sama lain sejak lama.

Karena sempat merasa dikucilkan, makanya beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk mulai membuat akun baru secara diam-diam. Ya, hanya sekadar iseng saja, kok. Benar-benar hanya iseng.

Bagaimanapun juga, anak-anak populer zaman sekarang memang wajib memiliki akun Minstagram, ya.

Padahal di kehidupanku yang dulu, aku hanya menggunakan akun Twister. Akun itu pun hanya digunakan untuk sekadar mengikuti akun-akun berbau jejaring konten otaku saja……

Terlepas dari hal itu, berhubung sekarang kami sudah saling berteman, aku pun mencoba melihat postingan terbaru Nanase. Aku memeriksa postingan yang baru saja mengunggah foto bersama kami tadi.

Di sana terpampang foto senyuman cerah dari kami berlima. Foto itu dilengkapi dengan sebaris takarir berbahasa Jepang di bawahnya.

Semuanya sengaja datang berkunjung ke tempat kerja paruh waktuku Terima kasih banyak yaaa! #KafeMares

"…………Ini siapa, woi!?"

"K-kenapa? Memangnya ada yang salah?"

Nanase langsung membuang mukanya ke arah lain dengan ketus. Namun, kedua pipinya tampak merona sedikit kemerahan.

"Ahahaha! Karakter Yuino di Minstagram beneran beda banget ya, lucu banget!"

"Kalau aku sih sudah mulai terbiasa, tapi wajar saja kalau Natsuki merasa terkejut saat pertama kali melihatnya."

Uta tertawa terpingkal-pingkal mendengar takarir tersebut. Di sebelahnya, Reita hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah Nanase.

"Ah, omong-omong Yuino, Natsu itu ditempatkan di bagian dapur, kan?"

"Iya, benar."

"Berarti kalau sekarang kami memesan makanan, Natsu yang akan memasaknya?"

"Secara teori sih begitu."

"Oi, oi, jangan seenaknya menambah beban pekerjaanku dong."

"Aku sendiri kebetulan sudah mengirimkan pesan ke Ibu kalau malam ini aku tidak makan di rumah. Jadi aku akan sangat terbantu kalau Natsuki mau membuatkan sesuatu untukku. Buatkan menu pasta dong, apa saja yang menjadi keahlianmu."

"Kalau aku masih ada jatah makan malam di rumah, jadi tolong buatkan menu yang porsinya agak ringan saja ya. Berikan menu rekomendasi terbaik dari Natsu!"

"Hal kalau aku sih, yang penting porsinya banyak, menu apa saja bebas."

"Tolong jangan menuntut porsi kuli di sebuah kafe standard dong……"

Satu-satunya kafe yang menyajikan porsi kuli secara tidak masuk akal itu hanyalah Kafe Komeda saja tahu. Sembari tersenyum kecut, aku pun bergegas melangkah kembali menuju ke dalam dapur.

Saat aku melayangkan pandanganku ke arah manajer toko, dia tampak memberikan anggukan hangat kepadaku.

Padahal aku belum sempat mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Tampaknya dia sudah bisa memahami isi pikiranku dengan sangat baik. Sepertinya aku diizinkan untuk membuatkan menu masakan sesuka hatiku khusus untuk teman-temanku.

Bekerja di sebuah toko yang dikelola secara pribadi seperti ini memang terasa sangat menyenangkan karena fleksibilitasnya yang tinggi. Menyenangkan sekali.

"Nah, enaknya buat apa ya……"

Mumpung ini adalah kesempatan langka bagiku untuk menghidangkan masakan kepada teman-temanku, aku ingin membuat sesuatu yang lezat. Aku ingin membuat sesuatu yang bisa membuat mereka merasa senang.

Begitu pemikiran itu terlintas di dalam kepala, entah kenapa aku mendadak merasa sangat gugup.

Selama ini aku memang sudah sering membuatkan masakan untuk para pelanggan. Tetapi ini adalah kali pertama bagiku untuk menyajikan makanan kepada teman-temanku sendiri. Ya, wajar saja sih, karena di kehidupanku yang dulu kan aku memang tidak punya teman. Sebuah fakta mutlak yang sangat logis.

"Kamu mau membuat apa?"

"Lihat saja nanti. Aku akan menunjukkan kemampuan terbaikku yang sesungguhnya kepadamu."

"Aku sih tidak keberatan, tapi jangan terlalu berlebihan sampai-sampai membuat manajer memarahimu, ya?"

Benar juga, rasanya kurang baik jika aku membuat menu yang melenceng terlalu jauh dari standar menu toko. Masalah penentuan harga bahannya nanti juga bisa menjadi kendala.

Ditambah lagi saat ini juga masih ada beberapa pelanggan lain yang berada di dalam toko. Jadi aku tidak boleh membuang-buang waktu terlalu lama.

——Fumu, gairah memasakku mendadak membara, nih.

Setelah melewati berbagai proses, seluruh menu masakan akhirnya selesai kubuat. Nanase pun bergegas mengantarkannya menuju meja mereka.

"Wah, kelihatannya enak banget!"

Uta berseru dengan nada bicara yang terdengar sangat bersemangat.

Meskipun volume suaranya terdengar agak terlalu keras, hal itu tidak menjadi masalah. Berhubung para pelanggan lain kebetulan sudah pulang saat aku sedang memasak tadi, kurasa situasinya aman-aman saja.

Khusus untuk Reita yang menginginkan menu pasta, aku membuatkan hidangan sup pasta hidangan laut. Untuk Uta yang menyukai makanan manis, aku menyajikan kue panekuk yang diberi limpahan krim kocok di atasnya.

Sedangkan untuk Tatsuya yang mengutamakan kuantitas porsi, aku membuatkan menu nasi omelet dengan porsi ekstra besar.

Semua menu itu sebenarnya hanyalah variasi modifikasi dari menu dasar yang sudah ada di toko. Namun, takaran bumbunya sudah kusesuaikan sepenuhnya dengan selera pribadiku.

Sekarang tinggal melihat apakah mereka semua akan menyukai rasa masakan buatanku ini atau tidak. Duh, entah kenapa jantungku mendadak berdegup kencang karena saking gugupnya.

Sembari menahan napas cemas, aku terus mengawasi gerak-gerik mereka dari kejauhan.

Uta menjadi orang pertama yang menyuapkan potongan pertama kue panekuk ke dalam mulutnya. Setelahnya, kedua matanya langsung terbelalak lebar karena terkejut, sebelum akhirnya dia kembali melanjutkan suapan kedua dan ketiganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Oi, mana ulasan rasanya!?

Di saat aku sedang merasa gemas menanti jawabannya, Tatsuya dan Reita juga tampak mulai menyantap makanan mereka masing-masing. Karena hal itu, aku pun memberanikan diri untuk bertanya.

"……Bagaimana, rasanya?"

Namun, entah kenapa tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang bersedia menjawab pertanyaanku.

Jangan-jangan, rasanya beneran tidak enak……?

"E……"

"E?"

"Enak banget, gilaaa!"

Uta berseru dengan lantang mengekspresikan rasa kagumnya.

Melihat tingkah Uta yang energinya mendadak melonjak sampai ke tingkat maksimal, Reita berusaha untuk menenangkannya. Dia menegur Uta dengan nada bicara yang lembut.

"Uta, tolong kecilkan suaramu, nanti bisa mengganggu kenyamanan toko. ……Tapi, aku setuju dengannya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau rasanya bisa se-enak ini. Aku sendiri sebenarnya sudah beberapa kali berkunjung ke sini, tapi masakan buatanmu ini rasanya beneran sudah banyak dimodifikasi ya?"

"Ya. Ini adalah menu masakan yang kubuat menggunakan metodeku sendiri, jadi panduan standar dari toko sengaja kuabaikan sepenuhnya. Tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun, ya."

Aku meletakkan jari telunjukku di depan bibir.

Meskipun aku tahu manajer toko pasti tidak akan marah mendengarnya, sih.

"Enak! Beneran enak banget! Natsu, kamu hebat banget, sih!"

Mungkin karena baru saja mendapat teguran dari Reita, kali ini Uta berseru dengan volume suara yang sedikit lebih pelan dari sebelumnya.

Melihat caranya yang menyantap makanan buatanku dengan begitu lahapnya, aku pun ikut merasa sangat bahagia. Rasanya seluruh jerih payahku saat memasak tadi langsung terbayar lunas.

Tatsuya juga tampak terus menyuapkan nasi omelet ke dalam mulutnya dengan sangat lahap. Sesekali dia tampak bergumam, "Enak banget."

"Aku jadi penasaran ingin mencicipi makanan kalian juga! Tatsu, minta satu suap dong!"

Sembari menatap ke arah nasi omelet milik Tatsuya dengan binar mata yang berkejaran, Uta tampak membuka lebar mulutnya.

……Ini jangan-jangan, dia sedang meminta Tatsuya untuk menyuapinya, ya? Di depan umum seperti ini, mereka beneran bertingkah khas anak-anak populer…… ah, mereka kan memang anak populer deng. Yang kuper di sini kan cuma aku sendiri.

Meski begitu, di antara sekian banyak anak populer, tentu saja masih ada sosok anak populer yang tahu batasan.

Tatsuya yang aslinya memiliki kepribadian yang cukup rasional dan tahu aturan itu sempat terdiam seribu bahasa. Setelahnya, dia memalingkan wajahnya dengan ketus.

"Siapa juga yang mau melakukan hal memalukan seperti itu. Kalau mau makan, ambil saja sendiri."

Ucapnya sembari meletakkan sendoknya di atas piring. Uta yang tampaknya sama sekali tidak merasa keberatan langsung meraih sendok tersebut dengan santai.

"Kalau begitu, aku izin mencicipinya, ya! ……Wah, yang ini juga enak banget!"

Setelah itu, mereka bertiga tampak saling berbagi makanan satu sama lain. Mereka melanjutkan obrolan dengan suasana yang terasa sangat hangat dan harmonis.

Meskipun menurutku menu kue panekuk rasanya sama sekali tidak cocok jika dipadukan dengan menu masakan lainnya…… tapi sudahlah, lupakan saja. Yang terpenting Uta yang menyantapnya terlihat sangat bahagia.

Di sebelahku, Nanase tampak menelan ludahnya dalam-dalam. Apakah dia juga ingin mencicipinya?

Kebetulan perutku sendiri juga sudah mulai terasa lapar. Bagaimana kalau aku mencoba untuk menjahilinya sedikit? Oke, mari kita coba tantangan ini.

Aku menepuk bahu Nanase pelan. Aku melemparkan senyuman jahil sembari bertanya.

"Kamis juga mau makan?"

"Y-ya, mau sih…… tapi kan sekarang aku masih dalam sif kerja. Ah, benar juga, bagaimana kalau nanti menu makan malam karyawan dibuatkan olehmu saja?"

"Tentu saja, kalau cuma masalah itu menyerahkannya saja kepadaku."

Ucapku sembari menepuk dadaku mantap. Aku menggunakan kepalan tanganku untuk menekankan hal itu.

……Bagus, aku berhasil membangun obrolan yang menyenangkan dengannya. Ditambah lagi, aku juga berhasil melakukan kontak fisik secara alami bersamanya.

Anak-anak populer beneran hebat ya karena bisa melakukan hal-hal semacam ini dengan begitu alaminya. Mereka melakukannya layaknya sedang bernapas saja.

Di sisi lain, aku sendiri beneran payah dalam hal menentukan batasan tingkat kedekatan kontak fisik. Kebiasaan ini dipengaruhi oleh keraguanku atas tingkat kedekatan hubungan kami.

Bahkan kepada Nanase yang (menurut asumsi sepihakku saja) hubungannya sudah tergolong sangat dekat denganku saja, menepuk bahunya adalah batas maksimal dari kemampuan terbaikku. Yah, daripada aku salah dalam menentukan jarak kedekatan dan malah berujung membuat orang lain merasa risi, bersikap terlalu hati-hati seperti ini rasanya jauh lebih aman, kan?

Di saat aku sedang asyik mengobrol bersama Nanase, aku mendadak menyadari satu hal.

……Entah kenapa Tatsuya mendadak menjadi sangat pendiam, ya?

"Kalian berdua, jangan malah asyik mengobrol terus dong. Meskipun sedang sepi pelanggan, masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan tahu."

Tepat di saat aku baru mau membuka mulut untuk menyapa Tatsuya, Kirishima-san mendadak memukul kepalaku pelan dari arah belakang.

Meskipun kondisi toko sedang sepi pelanggan, sepertinya kami beneran sudah bertingkah terlalu berisik. Tindakan kami tampaknya sudah melewati batas kewajaran.

Sembari menyahut, "Iya-iya," dengan nada malas, aku dan Nanase terpaksa menyudahi obrolan kami. Kami pun kembali melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.

"……Kamu beneran baru mulai kerja paruh waktu di toko ini, kan?"

Mendirikan pertanyaan yang disampaikan dengan nada datar dari arah belakang, aku pun membalikkan badanku ke arah Tatsuya.

"Eh? Iya, memangnya kenapa?"

"Padahal baru mulai kerja, tapi kok kamu bisa sehebat ini……"

"Ah, itu karena dulu orang tuaku lumayan ketat saat mengajariku memasak di rumah, kok."

Ucapku sembari mengangkat kedua bahu pasrah. Tatsuya yang baru saja menghabiskan suapan terakhir dari nasi omelet miliknya tampak bergumam pelan.

"——Meskipun begitu, kamu beneran hebat tahu. Kamu beneran serbabisa ya, Natsuki."

Mendapat pujian tulus seperti itu darinya membuat lubuk hatiku terasa sangat bahagia.

Tepat di saat itu, suara bel pintu masuk toko kembali berbunyi nyaring.

Karena rombongan pelanggan baru tampak mulai berdatangan masuk ke dalam toko, aku dan Nanase terpaksa mengambil tindakan. Kami bergegas meninggalkan meja tempat Uta dan yang lainnya duduk.

Setelah itu, kondisi di dalam toko mendadak menjadi sangat ramai. Akibatnya, Uta dan yang lainnya memutuskan untuk langsung pulang begitu selesai menghabiskan makanan mereka.

Begitu seluruh urusan pekerjaan paruh waktuku selesai dan aku berhasil sampai di rumah, jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.

Di saat aku sedang bersiap-siap untuk segera mandi dan tidur, suara notifikasi pesan masuk dari ponselku mendadak berdering nyaring.

Saat melihat layarnya, nama Hoshimiya tampak tertera di sana. Aku sempat mengira kalau itu adalah pesan dari grup obrolan, tetapi ternyata itu adalah pesan obrolan pribadi darinya.

Hoshimiya Hikari: Apa benar hari ini kamu memasakkan makanan khusus untuk semuanya!?

Kalau dipikir-pikir kembali, siang tadi Hoshimiya memang sempat menumpahkan kekesalannya di grup RINE. Dia merasa telah dikucilkan oleh kami semua.

Untuk sementara, aku memutuskan untuk mengirimkan pesan balasan demi mengonfirmasi kebenaran hal tersebut.

Yah, meskipun dibilang masakan rumahan buatan sendiri, menu yang kusajikan tadi sebenarnya adalah menu makanan kafe standard sih.

Natsuki: Iya, benar kokー』

Hoshimiya Hikari: Eeeh, curang banget! Aku juga mau mencicipinya!

Natsuki: Datang saja berkunjung ke tempat kerja paruh waktuku, nanti pasti kubuatkan khusus untukmu, haha

Hoshimiya Hikari: Pasti! Lain kali aku pasti akan ikut datang berkunjung!

Natsuki: Rasanya biasa saja kok, jangan terlalu berekspektasi tinggi, haha

Hoshimiya Hikari: Ih, bohong banget. Aku sudah lihat foto makanan yang diunggah Uta-chan di cerita Minstagram miliknya tahu, tampilannya kelihatan lezat banget!

Saat aku mencoba membuka aplikasi Minstagram, sebuah kejutan menantiku. Di bagian fitur cerita milik Uta memang tampak terunggah foto menu masakan hasil buatanku tadi siang.

Kapan coba dia sempat memotretnya……?

Terlepas dari hal itu, sudut pengambilan fotonya beneran bagus sekali. Tampilan masakannya beneran terlihat sangat menggugah selera.

Natsuki: Wah, benar juga. Kapan dia sempat memotretnya ya

Hoshimiya Hikari: Melihat fotonya malah membuatku mendadak merasa lapar nih

Natsuki: Sama, haha. Apa aku buat mi instan cup saja ya sekarang

Hoshimiya Hikari: Ih, curang banget!? Padahal aku sekarang lagi berjuang keras menjalani program diet tahu!

Natsuki: Eh, benarkah? Padahal menurutku tubuhmu sama sekali tidak kelihatan gemuk kok

Hoshimiya Hikari: Bagian-bagian tubuh yang tidak terlihat yang justru paling membuatku merasa khawatir tahu!

Natsuki: Menyantap mi instan cup di tengah malam seperti ini rasanya beneran nikmat tiada tara lho?

Meskipun bumbu pelengkapnya beneran tidak baik untuk kesehatan tubuh…… tapi ya sudahlah. Lagipula aku sendiri sebenarnya sama sekali tidak berniat untuk beneran memakannya kok.

Mengingat saat ini bentuk tubuhku sudah mulai bertransformasi menjadi bentuk tubuh ideal, aku harus menjaganya.

Aku tidak mau merusaknya dengan cara menimbun timbunan lemak baru yang tidak berguna di dalam tubuhku.

Hoshimiya Hikari: Natsuki-kun juga dilarang makan mi instan!

Natsuki: Kejam sekali

Hoshimiya Hikari: Sebab hal itu sama sekali tidak baik untuk kesehatan tubuhmu

Natsuki: Ya sudah deh, apa boleh buat

Setelah mengirimkan pesan balasan tersebut, tidak ada lagi pesan balasan baru yang masuk. Suasana mendadak hening selama beberapa menit ke depan.

Jeda waktu seperti ini entah kenapa selalu sukses membuat hatiku merasa cemas. Jangan-jangan ada yang salah dengan ketikan pesan balasan terakhirku tadi ya?

Apakah sebaiknya aku mencoba melempar topik obrolan baru saja dari sisiku?

Bagi diriku yang sangat ingin mempertahankan kelangsungan obrolan ini, situasi ini beneran menguras pikiran. Mumpung Hoshimiya bersedia mengirimkan pesan RINE kepadaku, aku harus memikirkan masak-masak setiap ketikan pesan yang akan kukirimkan.

Namun di sisi lain, Hoshimiya kemungkinan besar tidak berpikir serumit itu. Dia mengirimkan pesan-pesan ini hanya berdasarkan suasana hatinya saja.

Tidak berselang lama kemudian, status pesan buatanku berubah menjadi terbaca. Sebuah pesan balasan singkat dikirimkan olehnya seolah ingin menyudahi obrolan kami malam ini.

Pesan itu bertuliskan, Aku tidur duluan ya! Sampai jumpa besok!.

Mengingat waktu yang memang sudah larut malam, keputusan itu memang sangat wajar dilakukan, namun tetap saja hal itu sukses meninggalkan sedikit rasa kesedihan di dalam lubuk hatiku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close